[not] attached : Part 9 (b)

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast:

Cho Kyuhyun, Park Hana (OC)

Choi Minho, Bang Minah, Kim Jisoo, etc

Disclaimer:

Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi tau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Maaf untuk typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Please, no bash, spam, mengejek, mengolok, dan menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun dan untuk alasan apapun. Selamat membaca.

.

 

 

 

.

[not] attached

9 (b)

.

 

 

 

.

HANA

Elfride Share House

Yeonmi-dong, Mapo-gu, Seoul

.

Aku pasti akan terdengar sangat konyol kalau menyuarakan isi kepalaku saat ini. Aku bahkan ragu bisa memilih kata yang tepat untuk menggambarkannya. Aku sangat menyukai hangat tubuh seorang Cho Kyuhyun. Aroma tubuhnya juga sangat menenangkan. Aku tidak mengatakan apapun padanya tentang ini. Tapi, aku sangat bersyukur dengan keputusannya mengenakan sebuah T-shirt di dalam hoodie jacket biru laut yang dikenakannya. Hoodie jacket itu berakhir dengan tergeletak di sofa single dekat lemari buku di ujung ruangan, membuatku bisa menyentuh lengan bawahnya yang tidak tertutup apapun. Kalau aku menceritakan ini pada Minah dan Jisoo, pasti mereka berdua mengatakan bahwa lengan bawah Cho Kyuhyun adalah fetish-ku. Kadang ucapan mereka memang menjurus ke arah yang tidak semestinya. Mereka sangat suka mengartikan ucapanku ke maksud yang lain.

.

Kyuhyun belum mengatakan apapun sejak tadi. Ia hanya ikut berbaring bersamaku diatas tempat tidur, memelukku dalam diam. Ia tidak mendesakku lagi untuk memberitahunya tentang pertemuanku dengan istri appa. Tapi, aku justru merasa tidak nyaman dengan kebungkamannya. Satu sisi di dalam diriku merindukan Cho Kyuhyun yang suka memaksa, yang tidak akan berhenti sebelum keinginannya terkabul. Akhir-akhir ini, ia seolah sedang menahan dirinya. Kesabarannya menghadapiku membuatku cukup terkejut, meski aku lebih sering merasa tidak nyaman dibuatnya. Kyuhyun sangat berhati-hati dengan tindakannya, seolah ia memperhitungkannya di dalam kepalanya setiap saat. I need him to be reckless sometimes. Aku menemukan kesenangan tersendiri saat melihatnya bertindak sesuai dengan keinginannya tanpa banyak berpikir.

.

So, you will never tell me.” Itu jelas bukan sebuah pertanyaan.

.

What?” tanyaku memancingnya.

.

“Aku selalu berharap kau bisa memberitahuku sedikit saja tentang harimu, Hana-ya. Terutama tentang masalah yang berhubungan dengan ibu tirimu,” jawabnya.

.

“Dia datang menemuiku di La Verde. Itu saja,” ujarku berkilah.

.

“Apa yang dia katakan? Aku yakin dia tidak datang hanya untuk menyapamu atau membawakan makanan buatan rumah untukmu.” Cho Kyuhyun yang sarkastik jarang sekali kudengar. Menarik. Aku menyukainya.

.

Of course… Ada beberapa juru masak di rumah. Dia tidak pernah memasak.” Aku menanggapi ucapannya.

.

“Park Hana……” Kesabarannya mulai goyah, dan aku tidak ingin mengujinya.

.

.

.

Flashback

La Verde Florist

Tiga hari yang lalu

.

“Hana-ya!” Yuri eonni memanggilku dari luar ruang peralatan.

.

“Ada apa, eonni?” Kujawab panggilannya dengan suara yang cukup keras. Bicara dengan suara normal cenderung tidak terdengar dari tempat ini.

.

“Jaemin terjebak macet, jadi aku yang harus mengantar bouqet ini.” Yuri eonni menjelaskan. “Dan, ada seseorang yang mencarimu di depan. Dia ingin membeli satu pot kecil bunga. Dia juga ingin bertemu denganmu,” sambungnya.

.

“Bertemu denganku?” tanyaku memastikan. Yuri eonni menjawabku dengan sebuah anggukan pelan. “Ah… Apakah seseorang dari Cronus?” Hampir saja aku lupa kalau tadi pagi Choi Minho bilang ia akan datang membeli karangan bunga untuk neneknya

.

“Bukan. Seorang wanita. Paruh baya.” Jawaban Yuri eonni menepis dugaanku.

.

Seorang wanita paruh baya datang ke tempat ini untuk mencariku. “Siapa?” Mungkinkah ibu Cho Kyuhyun?

.

“Aku tidak tahu. Tapi, Hana-ya, penampilannya sangat mengintimidasi. Kau tahu? Seperti istri seorang pengusaha kaya atau semacamnya.”

.

Ibu Cho Kyuhyun. Itu dugaan yang paling bisa kubenarkan di dalam pikiranku. Seorang wanita paruh baya dengan penampilan luar biasa yang membuat Yuri eonni sampai mengeluarkan kata ‘mengintimidasi’. Pasti beliau yang datang. Meski jauh dalam diriku, ada sisi yang menyangkal dugaan itu. Terakhir kali bertemu dengan beliau, tidak ada kesan mewah atau mengintimidasi yang beliau berikan. Beliau terlihat begitu sederhana.

.

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku akan lewat pintu belakang agar tidak perlu memutar. Aku titip toko padamu, Hana-ya.” Yuri eonni berpamitan padaku sebelum berlalu menuju pintu belakang.

.

“Hati-hati, eonni,” balasku setelahnya.

.

Setelah memastikan pintu belakang tertutup, aku segera berjalan keluar dari ruang penyimpanan barang. Kurapikan rambut dan apron sebisaku, membuatnya paling tidak terlihat sedikit lebih rapi dari sebelumnya. Aku pun menyibak gorden transparan berwarna merah muda yang menjadi pembatas antara ruang penyimpanan dan ruang utama toko. Kedua mataku menangkap sosok seorang wanita paruh baya, persis seperti yang Yuri eonni katakan padaku barusan, sedang berdiri membelakangiku, menatap ke arah luar toko.

.

“Maaf sudah membuat an……” Ucapanku terhenti saat sosok itu membalikkan tubuhnya padaku. Kakiku bahkan kehilangan kemampuannya untuk melangkah.

.

Ia tersenyum padaku. “Lama tidak bertemu, Hana-ya.” Sinar itu masih ada disana, di kedua matanya. Aku tidak pernah bisa mengartikan sinar matanya sejak dulu. Tapi, satu yang kutahu, aku masih saja merasa tidak nyaman saat menatapnya.

.

What are you doing here?” Entah kenapa suaraku terdengar goyah saat menanyakan itu.

.

“Sepertinya aku sudah mengatakannya pada rekan kerjamu. Apa dia tidak mengatakan apapun?”  Ia balas bertanya.

.

“Membeli bunga?” Alasan itu lantas membuatku tertawa kecil. “Hhh… Kau pikir aku akan mempercayai itu? Aku tahu dengan benar kalau kelasmu sudah begitu tinggi sekarang.”

.

“Ada apa denganmu, Hana-ya? Kenapa kau bicara seperti itu pada eomma?”

.

Ia bukan wanita yang pernah kukenal dulu. Ia sudah berubah. Tentu saja. Wanita yang pernah mengaku sangat menyayangiku itu sudah tertinggal di masa lalu. Ia yang berdiri di hadapanku adalah seorang wanita yang terlihat begitu percaya diri, bahkan di usianya yang tidak lagi muda. Riasan di wajahnya begitu halus, sehalus blouse satin berwarna putih yang ia kenakan di dalam blazer berwarna magenta yang senada dengan tulip skirt-nya. Tapi, penampilannya yang sudah berubah tetap tidak bisa mengubah apa yang telah tertanam begitu dalam di kepalaku. Apapun yang ia lakukan, ia tidak akan pernah bisa mengubahnya.

.

“Aku tidak punya eomma. Dia sudah meninggal delapan tahun yang lalu.” Kukatakan itu dengan jelas padanya.

.

“Tentu aku tahu itu,” katanya sambil menyeringai kecil. “Anyway, aku memang datang untuk membeli bunga. Aku juga ingin menjengukmu. Sebagai seorang ibu, aku harus tahu kondisi anakku, ‘kan?”

.

You must be joking…

.

Ingin sekali kutertawai ucapannya yang terdengar konyol itu. Tapi, aku bahkan tawaku tidak menyambut baik kehadirannya. Amarahku padanya belum padam meski bertahun sudah berlalu setelah kepergian ibu kandungku. Keserakahannya selama satu tahun terakhir membuatku semakin menaruh kebencian padanya. Kedatangannya ke tempat ini membuat sel-sel di otakku bekerja dengan begitu cepat, mencari alasan atau pembenaran yang tepat atas keberadaannya. Bukan sebuah alasan atau dugaan yang lantas kudapatkan, melainkan sebuah rencana kecil membuat sebuah dinding pertahanan untukku berlindung.

.

Rencana itu yang kemudian berhasil membuat kedua kakiku kembali melangkah. Aku berjalan ke meja kasir. Aku membuat pergerakanku terlihat sewajar mungkin. Sesampainya disana, aku segera membuka laci yang terkunci. Aku tahu, ia tidak akan mungkin datang sendiri untuk menemuiku. Di luar sana, pasti ada beberapa orang yang siap membantunya kapanpun ia memanggil mereka. Tapi meski begitu, ia tetap mengawasiku dengan jeli.

.

Aku meraba cukup dalam untuk menemukan sebuah cutter dan ponsel milikku. Kutarik keduanya mendekat ke arahku. Aku segera mengaktifkan perekam suara tanpa menimbulkan kecurigaan darinya. Aku pun mengeluarkan cutter itu, lalu meletakkannya di atas meja, masih dalam pengawasannya. Sebuah senyum tipis terlihat di wajahnya. Aku menduga, ia berhasil kukelabuhi. Cutter adalah barang yang wajar dicari oleh seorang penjaga toko bunga. Tentu aku membutuhkannya untuk memotong batang-batang bunga yang dimintanya. Cepat-cepat kumasukkan ponselku ke dalam kantung apron saat ia sudah berbalik untuk menyentuh bunga-bunga segar yang masih berada di dalam ember-ember besar.

.

“Langsung saja katakan apa tujuan kedatanganmu kesini,” kataku saat beranjak meninggalkan meja kasir.

.

Ia mengambil sebatang dahlia dari dalam ember. “Tujuanku tidak pernah berubah, sayang. Aku bukan orang yang mudah menyerah. Aku juga tidak mudah dialihkan.” Senyuman di wajahnya berubah mengembang setelahnya.

.

Aku segera mengalihkan pandanganku darinya sebelum ia menyadarinya. “Ada apa dengan orang-orang suruhanmu?” tanyaku sok berani. “Apa sudah lelah berlari mengejarku, sampai kau harus datang sendiri ke tempat ini? Tubuh mereka terlihat besar. Kupikir tubuh besar itu berisi kekuatan.” Aku jelas sedang membual. Tubuh orang-orang suruhannya lebih dari sekedar besar. Mereka terlihat seperti yeti.

.

“Mereka jauh lebih kuat darimu, honey. Mereka bisa meremukkan tulang-tulang di tanganmu hanya dengan menggenggamnya.” Ia bicara perlahan dengan nada bicaranya yang terdengar keibuan. Sayang sekali, ucapannya berisikan sebuah ancaman.

.

“Benarkah? Lalu, kenapa mereka tidak melakukannya?” tantangku.

.

Ia lantas meletakkan setangkai dahlia di tangannya kembali ke dalam ember. “Tentu saja karena aku mencegah mereka,” katanya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Kau masih membutuhkan tulang-tulang itu, anak manis. Kau masih harus melakukan tugas terpentingmu dengan tangan itu.”

.

Tanpa sadar aku sudah berdesis, hingga tawa kecil keluar dari bibirku. “Aku hampir saja dibuat tersanjung dengan ucapanmu.” Tapi, tawaku tidak berlangsung lama. Selera humornya tidak sebaik itu sampai aku harus tertawa untuknya. “Sesaat kau terdengar seperti seorang ibu yang sangat menyayangi anak suaminya. Mengesankan.”

.

Giliran ia yang tertawa karena ucapanku. Tawanya terdengar begitu geli di telingaku. Kurasa gurauan sarkastikku sesuai dengan seleranya. “Kau memilih kata yang bagus untuk mengambarkanna, Hana-ya. ‘Menyayangi anak suaminya’. Pemilihan kata yang cerdas. Rupanya keputusanmu untuk melanjutkan kuliah tidak sia-sia.”

.

Tiba-tiba tubuhku membeku. Selama ini aku sudah berusaha menyembunyikan diriku dari siapapun. Aku selalu memilih jalan kecil yang tidak mudah terlacak setiap kali berangkat ke kampus. Aku bahkan memilih tempat-tempat yang jauh dari kampus untuk tinggal dan melakukan pekerjaan paruh waktu. Rupanya perhitunganku masih meleset. Ia masih bisa menemukanku. Seketika saja kecemasan menyelimutiku. Keberadaan Minah dan Jisoo menjadi pusat perhatianku selama beberapa saat. Dalam kebungkaman, aku berharap ia belum menemukan tempat tinggalku. Aku tidak ingin melibatkan Minah dan Jisoo dalam masalah ini. Mereka tidak memiliki kepentingan apapun akan semua ini.

.

“Kau sudah bertindak di luar batasanmu, Nyonya Jung Seon Hee. Hanya karena kau menikah dengan ayahku, bukan berarti kau bisa mencampuri hidupku,” ujarku.

.

“Justru karena aku menikah dengan ayahmu, maka aku bisa memperhatikanmu, sayang. Aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri, kau ingat?” balasnya.

.

Darah yang mengalir di dalam tubuhku sontak memanas, membuat napasku perlahan memburu. Ia berhasil menguji kesabaranku. Emosiku terpancing begitu mudah olehnya. Dan, ia menikmati pemandangan yang dilihatnya di wajahku. Aku pun menghembuskan napasku keras, lalu memejamkan kedua mataku selama beberapa saat, berharap kewarasanku bisa kembali secepatnya. Hingga bel di pintu yang terbuka berbunyi, menarikku keluar dari meditasi singkatku.

.

“Hana-ssi! Maaf aku terlambat…” Choi Minho masuk ke dalam toko dengan napas memburu. Ada sebuah senyuman yang terlihat di wajahnya. Tapi, sinar di kedua matanya jelas mengatakan hal yang berbeda. “Pekerjaanku banyak sekali hari ini. Dan juga, tidak ada yang bisa kutunda.” Ia terkekeh pelan setelahnya.

.

“Begitu… Tidak apa-apa, Minho-ssi,” balasku canggung.

.

“Hmm… Apa pesananku sudah selesai?” tanya Choi Minho.

.

“Ya?”

.

Aku ingat betul, ia belum memesan apapun padaku. Tapi setelah melihat kedua matanya yang terpejam selama satu sampai dua detik, aku mengerti maksud dari pertanyaannya. Ia sedang berusaha membantuku keluar dari situasi menyesakkan bersama istri ayahku ini. Aku pun segera memberikan ekspresi terkejut yang dibuat-buat. Tidak lupa, ekspresi wajah bersalah yang kuberikan pada Choi Minho.

.

Oh no… Bagaimana ini? Aku lupa, Minho-ssi. Bodohnya aku… Aku benar-benar lupa. Maafkan aku, Minho-ssi.” Aku melengkapi aktingku dengan ungkapan penyesalanku. “Maaf, Nyonya…” kataku pada ibu tiriku. “Kalau anda tidak keberatan, maukah anda menunggu selama sepuluh menit? Saya akan membuatkan pesanan anda setelah saya menyelesaikan pesanan pria di belakang anda.”

.

Ia lantas menoleh singkat pada Choi Minho, membuat jantungku berdetak lebih cepat. Sedikit kelegaan kutemukan dalam diriku saat menyadari ada sebuah kacamata yang menggantung di hidung mancung Choi Minho. Kuharap kacamata itu bisa menyamarkan wajahnya, meski sedikit.

.

“Kepentinganku tidak sedang diburu waktu. Kau bisa gunakan waktumu untuk melayani pelangganmu yang lain,” katanya sambil tersenyum.

.

“Ah, begitu? Saya benar-benar minta maaf, Nyonya. Saya sangat ceroboh. Saya harap saya tidak mengecewakan anda,” ujarku.

.

“Kau tidak perlu meminta maaf. Aku memakluminya. Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku mungkin akan kembali lain kali. Sampai bertemu, Hana-ya,” katanya sambil berlalu pergi, keluar dari La Verde.

.

.

.

Flashback ends…

.

.

“Choi Minho mengetahui itu dan tidak memberitahuku?” Kyuhyun bertanya pada dirinya sendiri.

.

“Aku yang memintanya untuk merahasiakan kejadian itu darimu.” Aku menjawab pertanyaan yang tidak tertuju untukku itu. “Don’t do anything to him. Please…” pintaku.

.

Hembusan napas panjangnya menyentuh puncak kepalaku setelahnya. Sebelah tangannya menyentuh belakang kepalaku, membelai rambutku perlahan. “Memangnya aku bisa berbuat apa?” Ia bicara dengan suara berbisik. “Aku justru harus berterimakasih karena dia sudah membantumu keluar dari situasi itu.”

.

“Aku sudah berterimakasih padanya lebih dulu. Kau tidak perlu melakukan itu. Lagipula, aku yang berada dalam situasi itu, bukan kau,” balasku.

.

He helped you for me. That’s what I should thank for.” Kyuhyun melonggarkan pelukannya, lalu bergerak mundur, memudahkannya untuk mengecup pelan keningku.

.

“Kenapa kau seyakin itu? Bagaimana kalau dia melakukan itu untuk dirinya sendiri?” Aku menggodanya dengan sebuah gurauan, berharap ia akan melupakan pembahasan ini perlahan.

.

“Kenapa dia melakukan itu untuk dirinya sendiri?” Aku tidak menduga Kyuhyun akan menanggapi gurauanku.

.

“Karena menyukaiku?”

.

Aku bisa merasakan senyumannya yang mengembang di keningku. Bibirnya sudah menempel disana sejak beberapa saat yang lalu, membuatku bisa merasakan setiap pergerakannya. Kali ini, tawa kecil ikut menyertai senyumannya.

.

“Kenapa kau tertawa? Apa pertanyaanku terdengar konyol?” tanyaku.

.

“Hmm…” Ia bergumam menjawab pertanyaanku. “Kau bukan tipenya, Hana-ya,” ujarnya.

.

“Kau tahu tipenya?” tanyaku lagi setelah cukup yakin kalau aku sudah berhasil mengalihkannya dari pembicaraan kami sebelumnya.

.

He likes younger girl,” katanya sambil membetulkan posisi berbaringnya, membuat puncak kepalaku menyentuh bagian bawah dagunya.

.

And, I’m not?” Kalau aku tidak salah mengingatnya, usiaku lebih muda beberapa tahun dari Choi Minho. Bukan maksudku ingin dimasukkan dalam kategori wanita idamannya.

.

“Kau kurang muda untuknya.” Tawanya muncul sekali lagi, membuatku merasakan ketenangan yang tidak semestinya kurasakan saat ini.

.

“Seberapa muda wanita yang disukainya?” tanyaku terus menggali pengetahuannya tentang orang yang berada paling dekat dengannya itu.

.

“Kim Jisoo? Aku tidak yakin… Seleranya tidak mudah ditebak. Dia mudah mengubah preferensinya.”

.

Suaranya terdengar lebih pelan dari sebelumnya. Sepertinya rasa lelah mulai menyelubungi tubuhnya. Belaian tangannya di kepalaku juga sudah semakin berkurang. Aku bahkan mendengar hembusan napasnya yang teratur, lembut dan lebih tenang dari sebelumnya. Aku rasa, hanya butuh beberapa menit saja sampai ia benar-benar terlelap.

.

“Sepertinya mereka berdua memang sudah ditakdirkan untuk satu sama lain, bahkan sebelum kita pertemukan.” Aku menguji tingkat kesadarannya melalui responku atas ucapannya barusan. Kalau ia masih membalas ucapanku, berarti ia belum tertidur.

.

I think so…” Ia semakin mengantuk. Jawaban yang diberikannya semakin pendek dan tidak terdengar. Suaranya sangat pelan, bahkan dari jarakku yang begitu dekat dengannya. Aku mensyukurinya dalam diam, merasa berhasil karena sudah mengalihkannya dari pembicaraan kami sebelumnya. “Hana-ya…” Rupanya ia masih cukup sadar untuk memanggil namaku.

.

“Hmm?” Kucoba menjawabnya, sambil menduga-duga apakah ia hanya sedang mengigau saat ini.

.

Can I kiss you?” Pertanyaan itu jelas tidak mungkin keluar dari Cho Kyuhyun yang sedang mengigau. Ia masih terjaga.

.

Pertanyaannya mengundang senyumku, membuatku kesulitan untuk menolaknya. Aku pun menjauhkan kepalaku dari tubuhnya. Aku lantas mengangkat wajahku agar bisa melihat wajahnya. Meski terlihat lelah dan mengantuk, tapi kedua matanya terbuka lebar. Ia menatapku sambil tersenyum tipis. Aku benar-benar sedang dalam masalah. Ia berhasil membuatku tidak bisa menolaknya hanya dengan menatapku seperti ini.

.

Yes, please,” kataku memberikan ijin padanya.

.

Senyumannya melebar, membuat matanya yang terbuka lebar tadi berubah menjadi sebuah garis tipis melengkung seperti bulan sabit. Tangan kirinya yang berada di pinggangku lantas berpindah ke bawah rahangku. Aku bisa melihat senyumannya yang menghilang dan matanya yang terpejam. Kyuhyun mendekatkan wajahnya padaku, membuatku ikut memejamkan mataku perlahan. Bayangan wajahnya pun menghilang dari padanganku. Aku hanya bisa merasakan bibirnya yang menyentuh lembut bibirku setelahnya. Ia membuka bibir atas dan bawahku, membuat sebuah celah yang kemudian ia isi dengan bibirnya. Sentuhan tangannya di leherku terasa mengalirkan hangat tubuhnya padaku.

.

Aku pun membalas ciumannya perlahan, sambil memberikan kesempatan padanya untuk melakukan apapun yang ia inginkan. Ia melenguh pelan saat merasakan gigitan kecilku di bibir bawahnya. Aku merasakan sentuhan lidahnya di bibirku, membuat kesadaran seolah perlahan mencoba meninggalkanku. Cepat-cepat kugenggam erat kesadaranku. Aku harus kembali mengeratkannya di tubuhku. Aku lantas melepaskan diri darinya, menjauhkan wajahku sambil merutuki Cho Kyuhyun dalam pikiranku. Umpatan ringan bahkan kuteriakkan padanya dalam diam. Tindakannya barusan benar-benar mempermainkan hormone di dalam tubuhku saat ini. Aku benar-benar harus mengurangi kontak fisik yang berlebihan dengannya saat sedang haid.

.

Saat kedua mata kami kembali bertemu, ada senyuman yang disunggingkannya padaku. Kyuhyun pun mengecup singkat bibirku sekali lagi, sebelum menyentuhkan bibirnya di keningku selama beberapa saat. Setelah ia menjauhkan bibirnya, aku lantas mengubah posisi berbaringku. Aku berbalik memunggunginya sambil menghembuskan napasku kasar, seolah sedang mengeluhkan rasa sakitku akibat pergerakan yang kubuat.

.

“Ugh… Rasanya nyeri sekali.” Aku menambahkan keluhanku dengan sebuah kalimat untuk meyakinkannya. “Tidak apa ‘kan kalau aku tidur sepeti ini?” tanyaku setelahnya.

.

Sure…” jawabnya sambil mengeratkan pelukannya. “Now sleep, baby.

.

“Apa kau akan tetap pulang setelah aku tidur?”

.

No, I’ll stay.” Park Hana yang manja dalam diriku meneriakkan kegirangannya setelah mendengar jawaban Kyuhyun. “Lagipula, aku terlalu lelah untuk mengemudi,” sambung Kyuhyun setelahnya.

.

Okay…” Aku harap suaraku tidak terdengar terlalu riang. “Good night,” sambungku.

.

Sleep well.” Kemudian Kyuhyun memberikan kecupan selamat tidurnya di puncak kepalaku.

.

Aku pun menjulurkan tanganku menuju tombol lampu di meja kecil di sisi tempat tidurku. Cahaya di ruangan ini sekejap menghilang, menyisakan kegelapan yang begitu hening. Tidak ada sinar bulan malam ini, karena sepertinya hujan telah mengusirnya pergi. Sebuah lampu jalan yang menyumbangkan sedikit sinarnya ke ruangan ini melalui celah kecil di jendela. Tidak seperti kata yang kuucapkan pada Kyuhyun beberapa saat yang lalu, kantuk tidak kunjung datang padaku. Sementara hembusan napas yang terdengar begitu halus, sudah terdengar mengalun dari belakangku.

.

Entah ia yang terlelap begitu cepat, atau aku yang tidak menyadari waktu yang sudah berjalan di sekitarku. Kurasa aku yang sudah terlalu lama memandangi cahaya lampu jalan yang menyelip dari celah jendela. Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri, sambil merutuki diriku yang sudah menyembunyikan potongan lain dari kejadian hari itu. Aku masih memerlukan lebih banyak waktu untuk memproses setiap kata yang diucapkan wanita itu padaku. Aku ingin mengolahnya, merangkainya menjadi kemungkinan akan sebuah kejadian di masa depan. Kejadian yang kuharap tidak akan melibatkan Kyuhyun di dalamnya. Aku pun berusaha mengubur bayangan kejadian itu dalam kantuk yang kujemput setelahnya.

.

.

.

Flashback

(Potongan kejadian yang Hana sembunyikan dari Kyuhyun)

.

“Kau sudah bertindak di luar batasanmu, Nyonya Jung Seon Hee.”

.

Ia tidak menggubris peringatanku padanya. “Kekasihmu tampan juga, Hana-ya. Kalian berdua terlihat sangat serasi. Kapan kau berencana untuk mengenalkannya pada kami?” Ia melangkah perlahan mendekat padaku. Senyuman di wajahnya membuat rambut halus di tubuhku berdiri dengan sendirinya.

.

Pertanyaan itu tidak pernah kuduga akan keluar dari bibirnya. Otot-otot di tubuhku sontak menegang dibuatnya. Rupanya pengawasanku pada lingkungan sekitarku melemah. Aku tidak pernah tahu ia mengawasi gerak-gerikku sedekat ini. Ia bahkan mengetahui keberadaan Kyuhyun di dekatku. Aku pun berusaha semampuku untuk tidak memunculkan ekspresi berlebihan di wajahku. Aku tidak boleh terlihat takut maupun khawatir di hadapannya. Sikap itu hanya akan membuatnya semakin merasa tertarik pada Kyuhyun.

.

Kuhela napasku panjang dengan sangat perlahan. “Urus saja urusanmu sendiri. Kau tidak punya hak untuk ikut campur atas hidupku.” Aku harap getaran dalam suaraku tidak terdengar.

.

“Ada apa denganmu, Hana-ya?” tanya wanita itu sambil membelai rambutku. “Eomma hanya memberikan perhatian padamu. Apa itu salah?”

.

Amarah dalam diriku mengundangku untuk tertawa karena ucapannya yang terdengar sangat konyol itu. Tapi, aku terlalu marah. Hingga tidak ada sepatah tawa pun yang bisa kulontarkan padanya. Setelah semua yang dilakukannya untuk mendapatkan tanda tanganku, beraninya ia berkata begitu.

.

“Aku sudah mengatakannya berulang kali padamu, aku tidak punya eomma,” tegasku.

.

Wanita itu lantas menunjukkan seringaiannya padaku. Ia jelas tidak menghiraukan ucapanku barusan. Baginya, ucapanku hanya angin lalu yang bisa dihempas tanpa perlu menyentuhnya bahkan untuk satu detik saja.

.

“Sepertinya pria itu dari keluarga baik-baik…” Ia melanjutkan ucapannya sambil menyentuh kelopak bunga mawar di dekatnya. “Penampilannya menawan, layaknya seorang eksekutif muda. Ternyata kau pintar memilih seorang pria untuk diajak berkencan. Apa pekerjaannya? Dari yang kulihat, aku menduga usianya tidak jauh berbeda dari Haneul. Berapa usianya?” tanyanya sekali lagi.

.

Aku masih bersikeras menentangnya.“Itu bukan urusanmu.”

.

Tapi dalam diam, aku merasakan kelegaan kecil dalam diriku. Ucapannya mengungkapkan padaku bahwa dirinya tidak banyak mengetahui tentang Kyuhyun. Atau belum. Aku tidak tahu apakah wanita itu sedang berpura-pura di depanku atau tidak. Bertahun-tahun tinggal terpisah darinya membuat aku kehilangan sedikit kemampuan untuk membacanya. Aku tidak bisa dengan mudah mengartikan maksud dibalik gerakan dan ucapan tersembunyinya. Aku hanya bisa berharap ia benar-benar tidak mengetahui banyak hal tentang Kyuhyun. Atau… Paling tidak, aku ingin diijinkan untuk berharap Kyuhyun selalu menjaga identitasnya dari dunia luar.

.

Ada satu hal lain yang baru saja kusadari. Wanita ini sudah mengetahui keberadaanku di La Verde. Ternyata keputusanku untuk keluar dari Morning Sunshine tidak sepenuhnya berhasil membuyarkan jejakku dari mereka. Wanita ini tetap bisa menemukanku dengan cara apapun yang tidak pernah bisa kuketahui. Kini aku merasa terkepung. Area bebasku di kota ini menjadi semakin sempit. Mungkin hanya butuh waktu beberapa hari, atau minggu, untuknya menemukan tempat bersembunyiku yang lain. Aku sempat memikirkan rencana lain beberapa minggu belakangan. Ingin sekali kutinggalkan Seoul, agar tidak ada orang lain yang perlu terkait dalam masalah ini. Tapi, setelah menduga kalau wanita ini mungkin mengetahui lebih banyak hal dari yang kupikirkan, aku mengurungkan niatku. Meninggalkan Seoul hanya akan menambah masalah bagi orang-orang di sekitarku.

.

“Kau benar. Itu bukan urusanku.” Ucapannya menarikku kembali berpijak di ruangan yang tiba-tiba saja terasa memanas. “Maafkan aku, sayang. Aku terlalu terbawa suasana. Aku terlalu senang karena akhirnya bisa bertemu denganmu.” Ia menyunggingkan senyumannya padaku. “Aku juga merasa senang karena persahabatanmu dengan Minah masih terjalin kuat sampai sekarang. Ah… Bagaimana kabarnya? Sepertinya kalian berdua sering terlihat bersama. Apa kalian tinggal bersama?”

.

Detak jantungku seolah berhenti selama beberapa saat. Aku bahkan lupa cara untuk bernapas. Dugaanku benar. Ia memang tahu lebih banyak tentangku dari yang kupikirkan. ‘Sepertinya kalian berdua sering terlihat bersama.’ Kalimat itu terdengar berulang di dalam pikiranku, seperti gema di dalam sebuah goa. Otot-otot di tubuhku terasa seolah melemah, membuat kecemasan mendominasi sekujur tubuhku. Tanpa sadar, nama Kyuhyun terdengar di dalam kepalaku. Aku mengharapkan keberadaannya di tempat ini untuk melindungiku. Tapi sisi lain dalam diriku justru merutukiku, menghalangiku memiliki harapan itu, mengingatkanku akan keinginanku untuk menjauhkan Kyuhyun dari masalah ini. Aku pun hanya bisa berharap, aku tidak mengekspresikan kecemasanku sehingga ia akan merasa menang.

.

Aku menyempatkan untuk menghembuskan napas panjangku perlahan sebelum kembali bicara padanya. “Hentikan omong kosongmu. Aku lelah mendengarnya.” Aku lantas mengalihkan pandanganku darinya, lalu menatap ke arah pintu. “Tinggalkan tempat ini, kalau tidak ada yang ingin kau lakukan lagi disini.”

.

Ia tertawa pelan. Ia tahu ancamannya sudah mempengaruhiku. Aku tidak menghiraukannya. Aku tidak ingin. “Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu lagi,” katanya setuju.

.

Kemudian langkah kakinya terdengar mendekat padaku. Ia berhenti tepat di hadapanku. Tangannya terjulur untuk menyentuh wajahku, tapi aku sudah cepat-cepat menepis tangannya dengan tanganku. Ia lantas hanya tersenyum menerima perlakuanku. Senyuman tipis yang tidak akan pernah kuartikan sebagai senyuman ramah yang mengungkapkan sebuah kebahagiaan. Aku jelas bukan pembawa kebahagiaan baginya.

.

“Tapi, Hana-ya…… Urusan yang belum terselesaikan diantara kita berdua……bukan urusan mereka, ‘kan?” tanyanya, menarik perhatianku. Aku tidak menyadari tanganku yang sudah terkepal kuat, sampai salah satu kuku di jariku menimbulkan rasa sakit di telapak tanganku. “Bagaimana perasaanmu kalau mereka ikut terseret dalam masalah ini? Kau pasti akan sangat sedih kalau terjadi sesuatu pada mereka. Bukan begitu?” Ia mengancamku sekali lagi.

.

“Berhenti disana, Nyonya Jung Seon Hee. Hanya karena kau menikah dengan ayahku, bukan berarti kau bisa mencampuri hidupku.” Aku berusaha menghentikannya dengan sisa keberanian yang kumiliki. Meski aku tahu betul, usahaku tidak akan membuatnya mundur.

.

Ia tertawa sekali lagi. Kali ini ia tertawa keras sambil menatapku. Ucapanku terdengar sangat konyol baginya. “Justru karena aku menikah dengan ayahmu, maka aku bisa memperhatikanmu, sayang. Aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri, kau ingat?”

.

Flashback ends…

.

.

.

KYUHYUN

Keesokkan harinya

Elfride Share House

Yeonmi-dong, Mapo-gu, Seoul

.

Aku keluar dari kamar Hana setelah memberitahunya tentang jadwal kerjaku hari ini. Ia hanya bergumam membalasku, lalu memberikan sebuah kecupan kecil setelahnya. Suasana rumah ini sangat tenang di pagi hari. Hanya ada suara berdesis dari magic jar di dapur. Aku sempat bertemu dengan Bang Minah yang baru saja kembali dari rutinitas lari paginya. Ia menawarkan secangkir kopi padaku sebelum pergi, yang segera kutolak dengan sopan. Sebuah keraguan kecil lantas menghampiriku. Aku merasa kurang yakin kalau Hana mendengarkanku tadi. Karena itu, aku menjelaskan jadwal kerjaku sekali lagi pada Bang Minah. Aku harap ia akan memberitahukannya pada Hana nanti.

.

Aku menarik kedua lengan hoodie jacket biruku setelah menutup pintu di belakangku. Udara di luar rumah masih terasa cukup dingin akibat hujan yang turun semalaman. Mungkin ini adalah alasan yang membuat Hana enggan bangun dari tempat tidurnya. Sebenarnya jauh dalam diriku, ada sebuah keinginan yang tidak bisa kulakukan. Ingin sekali aku melewatkan jadwal rapatku pagi ini untuk sekedar berbaring lebih lama dengan Hana di tempat tidur. Tapi, itu jelas bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Aku harus melakukan tanggung jawab yang cukup menguras energiku ini. Suka atau tidak.

.

Aku pun lantas berjalan menjauh dari pintu. Beberapa orang sudah terlihat berlalu-lalang di depan rumah. Beberapa siswa SMA berjalan sambil menatap layar ponsel mereka, dengan earphone yang menggantung di telinga. Beberapa karyawan perusahaan yang berjalan sambil menyantap sarapannya atau meneguk kopi hangat di cup mereka. Ada pula sekumpulan lansia yang berjalan bersama menikmati udara pagi yang sejuk sambil berolahraga. Hingga sebuah pemandangan mencurigakan menarik perhatianku.

.

Dua buah mobil sedan Benz berwarna hitam parkir beberapa meter dari mobilku. Saat aku tiba disini kemarin malam, keduanya tidak ada disana. Pukul 1 tengah malam saat aku kembali dari kamar kecil, kedua mobil itu juga belum ada disana. Aku segera mengeluarkan ponsel dari saku hoodie jacket-ku. Cepat-cepat kuambil foto plat keduanya tanpa menunjukkan gerakan yang mencurigakan. Im Jaeyoung pernah mengajariku melakukan ini dua tahun yang lalu. Tak kusangka akan tiba saat dimana aku harus menggunakan kemampuanku ini. Setelah memastikan nomor plat kedua mobil itu terlihat jelas di foto yang kuambil, aku bergegas masuk ke dalam mobilku. Kecemasan lantas menggerayangi sekujur tubuhku. Aku memperhatikan foto yang kuambil, sambil mengingat-ingat bentuk keduanya. Dalam sekali berpikir, aku bisa memastikan kalau keduanya bukan milik keluargaku.

.

Dugaanku langsung menemukan dua orang lainnya, yaitu ibu tiri Hana dan Min Seyeon. Keduanya memiliki potensi yang sangat besar untuk melakukan tindakan ini. Aku lantas mencoba berpikir lebih keras untuk menemukan petunjuk. Tapi, kecemasan yang kurasakan membuat otakku berhenti berfungsi. Si bodoh Cho Kyuhyun datang disaat yang tidak tepat. Pembicaraanku dengan Min Seyeon hari itu bisa kujadikan alasan atas kejadian ini. Tapi, pertemuan Hana dengan ibu tirinya beberapa hari yang lalu tidak bisa kuabaikan begitu saja.

.

Aku menghembuskan napas panjangku yang terasa berat. Pening menghampiri kepalaku begitu pagi. Pembicaraanku dengan Hana kemarin malam kembali terdengar di dalam kepalaku. Aku tahu, Hana tidak menceritakan semuanya padaku. Ia menyuntingnya menjadi cerita yang ‘perlu kudengar’. Ada bagian yang ia sembunyikan dariku. Aku membiarkannya semalam. Karena, aku tahu kejadian itu sudah cukup mempermainkan perasaannya. Aku tidak ingin memperburuk suasana hatinya. Tapi, aku tidak pernah menduga akan menghadapi suasana pagi yang tidak menyenangkan seperti ini.

.

Aku harus mulai melakukan sesuatu. Meski Hana tidak akan menyukainya, aku tetap akan melakukannya. Mungkin tanpa perlu Hana tahu akan ini. Aku pun segera menyentuh pelan layar ponselku untuk menyalakannya kembali. Nomor Choi Minho langsung muncul di layarku setelah kutekan tombol 0 cukup lama. Aku hitung detik demi detik yang membuatku semakin cemas, sebelum akhirnya suara Choi Minho terdengar di seberang telepon.

.

“Choi Minho, lakukan perintahku tanpa menanyakan apapun.” Aku tidak membalas sapaan selamat pagi yang ia berikan padaku. “Tolong beritahu Im Jaeyoung, aku membutuhkannya saat ini. Minta dia menjemput Hana dan kedua temannya di Elfride, lalu antar mereka ke kampus.”

.

Apa saya perlu meminta beberapa orang untuk berjaga juga, Presdir?” Seolah bisa membacaku hanya dengan mendengar suaraku, Choi Minho tidak menanyakan hal lain padaku.

.

“Ya. Tapi, jangan sampai Hana mengetahuinya.” Itu adalah point terpenting dalam tugas yang kuberikan padanya.

.

Seberapa cepat anda membutuhkan mereka?” Choi Minho adalah seorang PA profesional. Ia tahu apa yang harus ia lakukan tanpa perlu mendengar lebih banyak penjelasan dariku.

.

“Apa ada beberapa dari mereka yang tinggal di dekat Yeonmi-dong?” Aku balas bertanya padanya.

.

Go Namsun dan Han Pilsu tinggal di Sinsu-dong, sementara Song Jiyeol tinggal di Yeonnam-dong.” Choi Minho menjawabku dengan cepat dan jelas.

.

“Sementara menunggu Im Jaeyoung, minta mereka bertiga datang secepatnya untuk berjaga. Aku akan menunggu sampai salah satu dari mereka datang,” ujarku.

.

Baik, Presdir.

.

“Aku akan mengirimkan foto plat nomor dari dua buah mobil. Aku ingin kau cari tahu siapa pemiliknya,” pintaku.

.

Yes, Sir. Apa anda membutuhkan yang lainnya?” tanya Choi Minho akhirnya.

.

“Siapkan semua keperluanku untuk ke kantor. Dan, katakan pada Kim Hyoyeon kalau aku tidak akan sarapan pagi ini. Itu saja,” jawabku.

.

Saya mengerti, Presdir.” Sambungan teleponku dengan Choi Minho terputus setelahnya.

.

.

.

Dua hari kemudian

Cronus Inc. Headquarter Building

Gangnam-gu, Seoul

.

Aku tidak salah menduga. Wajah salah satu dari dua orang yang kuduga sebagai pelaku terlihat di dokumen yang Choi Minho berikan padaku. Entah apa yang Min Seyeon inginkan dariku, sampai ia berani melakukan ini tepat di depan kedua mataku. Aku pun dibuat berpikir lebih jauh setelah kejadian dua hari yang lalu. Min Seyeon mengirim suruhannya untuk memantau Elfride. Hari itu, keberuntungan sedang berada di pihakku, sehingga aku bisa mengetahui perbuatannya. Kalau ia sudah sampai melakukan itu, lalu apa saja yang sudah dilakukannya dua bulan terakhir? Pemikiran itu membuat jantungku berdegup kencang, mengalirkan darahku dengan cepat, membuat tubuhku meremang setelahnya.

.

Aku melonggarkan pengawasanku padanya untuk waktu yang cukup lama. Meski tidak kuminta, Choi Minho memang sesekali memberikan laporan tentang keadaan Hana. Tapi, ia tidak pernah mengatakan apapun tentang Min Seyeon padaku. Aku percaya Choi Minho tidak akan menyembunyikan sesuatu dariku, terlebih jika berhubungan dengan Hana. Hanya urusan pribadinya saja yang tidak pernah ia katakan secara gamblang padaku. Seberapa jauh yang sudah Min Seyeon lakukan sejak perbincangan kami hari itu? Aku tahu betul ia tidak menyukai keberadaan Hana. Tatapan matanya hari itu mengungkapkannya dengan jelas. Awalnya, aku hanya menduga Min Seyeon akan melakukan pencarian informasi tentang latar belakang Hana. Rupanya ia sampai memantau tempat tinggal Hana.

.

Sejak kedatangannya dengan amplop ditangannya, aku dan Choi Minho sudah memikirkan banyak rencana yang bisa kami lakukan untuk melindungi Hana. Aku berpikir untuk mengajak Hana tinggal bersamaku di apartemen, lalu memberikan pengamanan untuk Minah dan Jisoo di Elfride. Tapi, Choi Minho tidak setuju dengan ideku. Ia bilang Hana pasti tidak akan menyetujuinya. Tentu saja. Aku juga berpikir begitu. Aku tidak bisa mengajak Hana tinggal bersamaku tanpa memberikan alasan apapun padanya. Dan, kalau aku memberitahu Hana tentang tindakan Min Seyeon, maka Hana pasti akan lebih memilih tetap tinggal disana untuk melindungi kedua temannya. Situasi akan lebih terkendali kalau Hana tidak mengetahuinya. Sampai sebuah ide lain datang padaku.

.

“Apakah ada sebuah rumah yang dijual atau disewakan di sekitar sana?” tanyaku tiba-tiba pada Choi Minho.

.

“Apa anda berencana untuk pindah?” Ia balas bertanya padaku, sambil menyelesaikan pekerjaannya di sofa single kesukaannya, di ruanganku.

.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Aku masih saja dibuat kesal dengan Choi Minho dan kebiasaannya membalas pertanyaanku dengan pertanyaan lain. “Dan, ya, aku akan pindah. Kalau itu diperlukan.”

.

Choi Minho lantas menunjukkan iPad di tangannya padaku. Foto sebuah rumah dua lantai terlihat disana, membuat alisku bertaut mempertanyakan maksudnya. “Ada sebuah rumah minimalis dua lantai dengan ruang terbuka di bagian atap. Dua kamar besar, satu kamar kecil, ruang tv, dua kamar mandi, laundry room, dan dapur. Lengkap dengan pemanas ruangan, pemanas air, car port, dan perapian. Letaknya hanya berbeda satu gang dengan Elfride,” katanya menjelaskan.

.

He’s really a professional Personal Assistant. Aku tidak pernah meragukan kemampuannya. Tapi, tetap saja hasil kerjanya mampu mengejutkanku. Setahuku ia sedang menyelesaikan pekerjaannya. Tidak kuduga ia bisa menyelesaikan pekerjaannya sambil mencarikan solusi untukku. Meski menyebalkan, ternyata ia bekerja dengan sangat baik.

.

“Beli rumah itu secepatnya,” kataku tanpa menanyakan apapun lagi padanya. “Kalau rumah itu hanya untuk disewakan, maka bujuk pemiliknya sampai mau menjualnya. Akan sulit memasang alat keamanan di setiap sudut rumah yang hanya disewakan. Lebih baik, aku membelinya sekalian.”

.

“Presdir…… “ Choi Minho memotong kalimatku, membuatku lantas menoleh padanya. Ia menatapku dengan ekspresi datar di wajahnya. Aku bisa melihat keterkejutan di kedua matanya, meski terhalang dengan kacamatanya sekalipun. “…anda serius?”

.

“Apa aku terlihat sedang bercanda?” Aku membalasnya dengan pertanyaan lain, seperti yang biasa ia lakukan padaku. “Lagipula, untuk apa kau sampai menunjukkan foto dan menjelaskan fasilitas rumah itu kalau akhirnya kau hanya akan meragukan tujuanku?”

.

“Bukan begitu… Hanya saja…… Haruskah anda sampai melakukan itu?”

.

“Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, Choi Minho. Kejadian yang menimpa Sora, tidak ingin kualami lagi. Tidak akan pernah,” jawabku.

.

Choi Minho terdiam, mungkin sedang memikirkan ucapanku, atau karena teringat pada mendiang kakak perempuannya itu. Ada sebuah keyakinan dalam diriku yang kurasa tidak akan meleset. Aku yakin Choi Minho hanya sedang mempertimbangkan keputusan spontanku. Ia selalu melakukan itu. Disaat aku memberikan sebuah perintah tanpa banyak berpikir, Choi Minho yang akan memikirkan akibat di masa depan yang mungkin akan terjadi, baik atau buruk. Choi Minho bukan seorang pria yang melankolis. Peristiwa yang terjadi pada Sora tidak mudah mempengaruhi kesehariannya. Tidak sepertiku yang membutuhkan banyak waktu untuk memulihkan diriku.

.

“Kalau begitu, kenapa anda tidak menyewa lantai bawah di Elfride saja? Bukankah anda bilang penghuni yang sekarang menyewanya akan pindah sabtu ini?” Choi Minho membenarkan keyakinanku dengan pertanyaannya. Ia diam untuk memikirkan cara lain yang bisa kulakukan untuk melindungi Hana.

.

“Aku juga akan menyewanya,” jawabku santai sambil bangkit berdiri, lalu berjalan menghampirinya di sofa.

.

“Apa? Anda akan menyewa sebuah rumah dan lantai bawah Elfride? Kenapa? Untuk apa?” Choi Minho jelas sedang menganggap keputusanku konyol. Aku tidak akan mengelaknya.

.

“Kudengar ada empat kamar di lantai bawah rumah itu. Dua kamar lebih besar dari yang lainnya, dua kamar mandi, satu dapur, dan sebuah ruangan besar. Penghangat ruangan masih berfungsi, water heater juga berfungsi. Ada sebuah ruang kecil tempat peralatan berkebun dan yang lainnya. Halamannya luas, pekarangannya juga cukup luas untuk mobil kalian.”

.

“Kapan anda mencari tahu semua itu?” Choi Minho kembali memotong kalimatku. “Bagaimana bisa dia tahu sebanyak itu?” sambungnya dengan suara pelan.

.

“Aku punya caraku sendiri. Bukan kau saja yang bisa bekerja dengan teliti, Sekertaris Choi,” jawabku.

.

“Lalu, apa anda akan tinggal di kedua tempat itu? Apa tidak merepotkan?” tanya Choi Minho.

.

“Tidak. Kau dan Im Jaeyoung yang akan tinggal di Elfride . Kau bisa mengajak tiga atau empat orang lainnya. Kim Hyoyeon juga akan tinggal disana. Ah… Maksudku, dia akan tinggal di lantai dua bersama Hana dan teman-temannya.” Keputusan sepihak lain yang kubuat.

.

“Sebentar, Presdir. Ada yang tidak saya mengerti disini. Kenapa aku jadi terlibat?” Aku sudah menduganya. Choi Minho pasti akan merasa keberatan dengan keputusan itu.

.

“Kenapa? Kau tidak mau? Dua bulan belakangan kau yang paling semangat menyelidiki Min Seyeon. Kenapa sekarang kau berubah?” tanyaku.

.

“Tidak… Bukan begitu… Saya memang bersemangat menyelidiki mantan calon tunangan anda itu.” Aku menoleh cepat menatapnya, membuat ucapannya terhenti karena menyadari tatapanku. “Mantan.” Choi Minho menegaskannya sekali lagi. “Tapi, bukan berarti saya harus tinggal disana juga, ‘kan? Saya bisa tetap tinggal di apartemen saya sendiri.”

.

“Kau sangat menyukai apartemenmu itu rupanya, Choi Minho.”

.

“Tentu saja!” sahutnya dengan suara lantang. “Apartemen itu sangat nyaman. Lagipula, saya hanya tinggal sendiri disana, Presdir. SEN-DI-RI!” Ia bahkan sampai menegaskan kata itu.

.

“Baiklah, kalau itu maumu,” ujarku santai sambil membaca ­e-mail dari Seattle di ponselku.

.

“Benarkah, Presdir? Apa saya benar-benar tidak perlu tinggal di Elfride?” tanya Choi Minho dengan nada riangnya yang sudah kembali.

.

“Kau bilang kau sangat suka apartemenmu, ‘kan?” tanyaku. Meski tidak melihatnya secara langsung, tapi aku bisa menangkap bayangan kepalanya yang mengangguk mantap dari ujung mataku.

.

“Benar, Presdir. Saya suka tinggal di apartemen itu.” Choi Minho menegaskan anggukkannya dengan secara lisan.

.

“Apa kau mau bekerja di apartemen nyamanmu itu juga?” tanyaku sambil menoleh singkat padanya. Senyum di wajahnya sontak menghilang. Sebelum ia menatapku tajam dengan kedua mata besarnya, aku sudah menatap layar ponselku lebih dulu. “Kudengar office mereka sedang membutuhkan karyawan di bagian HRD. Gaji yang mereka tawarkan tidak buruk, meski tidak sebesar yang aku berikan. But, I’m sure that’t not a big loss for you. Because… You have your apartment too, don’t you?

.

“Presdir… Apa maksud dari ucapan anda itu? Apa anda akan memberhentikan saya dari Cronus?” Nada bicaranya terdengar kesal. Aku berhasil mempermainkannya. Kadang tempramennya seperti anak remaja. Begitu mudah menarik keluar emosi kekanakannya.

.

“Kau yang bilang kalau kau sangat suka dengan apartemenmu itu. Disana sangat nyaman. Kau bisa sen-di-rian.” Aku mengucapkan kata ‘sendirian’ sejelas mungkin dengan nada bicaraku yang kekanakan. “Bukankah disini kau tidak bisa sendirian? Disini ada aku yang akan selalu mengganggumu. Bukan begitu?”

.

“Wah… Jahat sekali…… Jadi, demi tinggal di apartemen itu, saya harus mempertaruhkan pekerjaan saya? Luar biasa… Selama ini saya tahu anda sangat menyebalkan. Tapi, saya tidak pernah menduga level menyebalkan anda akan setinggi ini, Presdir,” keluhnya. Kini ia baru terdengar seperti seseorang lebih muda dariku.

.

“Selalu ada pilihan dalam hidup, Choi Minho. Saat ini, kau memiliki dua pilihan yang harus segera kau pilih. Kau yang putuskan. Aku tidak punya banyak waktu untuk memikirkanmu,” balasku.

.

“Baiklah! Kalau begitu, saya akan melakukan pemanasan.” Itu adalah tanda yang diberikannya sebelum memulai pemberontakan kekanakannya. “Karena sebentar lagi saya tidak akan bekerja disini…… O! Aku tidak perlu bicara terlalu formal juga kalau begitu. Aku bisa memanggilmu ‘hyung’, karena aku bukan PA lagi disini.” Ia bahkan menanggalkan bahasa formal yang selalu digunakannya.

.

Aku hanya berdesis pelan mendengar rengekannya. “Hhh… Kau konyol sekali, Choi Minho… Aku sudah menyuruhmu memanggilku ‘hyung’ sejak beberapa tahun yang lalu,” kataku mengingatkannya. “Kemana perginya ingatan bagusmu itu? Ternyata aku tidak membuat keputusan yang salah memintamu bekerja di apartemen.” Aku terus menggodanya, dengan cara yang tidak kalah kekanakan.

.

“Baiklah, kalau itu maumu! Kalau begitu, aku akan memanggilmu ‘Kyuhyun-ssi’ saja. Bagaimana?” Ia menantangku lagi.

.

Setelah menekan logo send di layar ponsel, aku segera menaruhnya di atas sofa. Choi Minho yang duduk di hadapanku sudah bersiap-siap menutupi tubuhnya dengan bantal sofa. “Apa kau sudah bosan hidup?” tanyaku sambil meregangkan ototku. “Aku ini lebih tua darimu, ingat?”

.

“Kenapa? Hana-ssi juga memanggilmu begitu!” balasnya.

.

Are you my girlfriend?” Kali ini aku membuka kancing di kedua pergelangan tanganku. Kemudian kugulung lengan kemejaku sampai di bawah siku.

.

She’s not even your girlfriend!” Aku terjebak dalam permainanku sendiri. Ternyata Choi Minho bisa menandingiku kali ini. Dia bahkan berhasil membuatku kesal.

.

“Ternyata kau sudah benar-benar sudah bosan hidup,” kataku sambil mengambil bantal di sofa panjang.

.

Choi Minho langsung bangkit berdiri dengan membawa serta bantal sofa bersamanya untuk dijadikan tameng. “Ternyata aku benar! Kau belum juga mengungkapkan perasaanmu padanya, kan?”

.

“Apa katamu? Ulangi sekali lagi!” Aku mulai mengejarnya. Choi Minho pun berjalan mundur menjauhiku sambil sesekali melirik ke belakang, memeriksa apakah ada barang di belakangnya.

.

“Kau belum juga mengungkapkan perasaanmu padanya. Benar, ‘kan?” Ia benar-benar mengulangi ucapannya. Ia pikir aku tuli?

.

“Kau memanggilku apa? ‘Kau’? Katakan sekali lagi!” Kali ini kulempar bantal sofa itu padanya. “Kau bilang ‘Kau’?”

.

Aku berhenti di belakang meja kerjaku. Aku tidak mengejarnya lagi. Kurangnya jam tidurku selama dua hari terakhir membuatku mudah kelelahan. Choi Minho yang juga berhenti melarikan diri dariku pun berdeham pelan. Bantal sofa yang sejak tadi dibawanya masih berada di pelukannya.

.

“Benar, ‘kan? Anda pasti belum mengungkapkan perasaan anda padanya. Sudah kuduga,” katanya sekali lagi. “Ch… Payah sekali,” sambungnya.

.

“Ya! Bocah ini benar-benar……” Choi Minho sudah mengambil sikap siaga untuk kembali melarikan diri, tapi tidak segera melakukannya karena aku tidak lantas melakukan pergerakan apapun. “Ambil itu,” kataku sambil menunjuk bantal sofa yang tergeletak di atas lantai setelah kulempar tadi.

.

Yes, Sir!” jawabnya sambil berjalan menyebrangi sofa untuk mengambil bantal yang tergeletak di atas lantai.

.

Is that even necessary? Aku selalu mengungkapkannya dengan tindakan,” kataku sambil berjalan mendekati kursiku, lalu duduk disana. Aku sudah terengah karena mengejarnya sebentar saja. Sepertinya aku benar-benar butuh tidur. Sulit sekali terlelap dua hari terakhir ini. Mungkin aku harus menginap di Elfride agar bisa tidur nyenyak seperti malam itu.

.

“Memangnya itu sama……hyung?” Ia bicara dengan hati-hati. Aku bisa melihat keterkejutannya pada dirinya sendiri yang hampir lupa menambahkan panggilan ‘hyung’ kada kalimat dengan bahasa informalnya. “Hati memang bergerak lebih cepat dari kata. Tapi, apa kau bisa menjamin hatinya akan menjadi milikmu kalau kau terlambat mengucapkannya dengan kata, hyung?” sambungnya.

.

Aku menemukan sebuah kebenaran yang terlihat jelas dari ucapan Choi Minho barusan. Hatiku memang menyadari perasaanku pada Hana lebih cepat dari sisi manapun di tubuhku. Bahkan sebelum aku bisa mengucapkan bahwa aku tidak bisa bertahan tanpanya disisiku lagi. Aku pun tidak memiliki jaminan apapun atas perasaannya padaku. Hana tidak pernah mengucapkannya. Hana juga tidak pernah secara jelas mengungkapkannya melalui tindakan. Berulang kali aku ingin mengucapkannya pada Hana, mengutarakan perasaanku padanya. Tapi, ucapannya hari itu selalu menghentikanku.

.

Ketakutan Hana akan peristiwa yang terjadi pada ibunya masih menghantuinya. Ketakutan itu kini mulai melebarkan langkahnya, berusaha meraihku ke dalam cengkramannya. Kecemasan akan respon Hana sudah mengelilingiku sejak hari itu. Kalau aku mengucapkannya dengan kata, respon apa yang akan Hana berikan padaku? Bagaimana kalau ia justru lari dariku? Aku segera menutup rapat mulutku setiap kali kecemasan itu muncul dalam diriku.

.

“Ya, Choi Minho! Tetapkan pilihanmu. Kau mau memanggilku ‘hyung’ atau ‘Presdir’?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan kami. Mengalihkan pikiranku juga, sambil berharap Choi Minho tidak menyadari kebungkaman sesaatku barusan. “Jangan mencampur bahasa formal dan informal dalam ucapanmu. Kau tidak terdengar seperti dirimu,” sambungku.

.

“Kalau anda sudah mengungkapkan perasaan anda pada Hana-ssi, saya akan memanggil anda hyung.” Ia kembali menjadi Choi Minho yang selalu ada di sisiku, seorang PA profesional.

.

“Bocah ini… Terserah kau saja!” balasku sambil melonggarkan dasi yang melingkar kuat di leherku. “Ah, tolong hubungi Im Jaeyoung. Minta dia untuk menjemput Hana di kampus. Kami punya janji makan bersama siang ini,” pintaku.

.

“Tapi, Presdir, anda punya janji conference call pukul 12 dengan anggota direksi di Washington. Keputusan untuk Grindelist sudah hampir mendekati deadline.”

.

Damn…  Aku lupa akan jadwal itu. Conference call kali ini adalah jadwal yang kutunda sejak kemarin. Aku tidak bisa menundanya lagi. Kami harus segera merundingkan proses pembelian saham di Grindelist Inc. di Vancouver. Keputusan harus segera kami dapatkan secepat mungkin, sebelum perusahaan lain mendahului kami. Aku pun segera mengambil ponselku untuk menghubungi Hana. Lebih baik aku meminta Hana datang kesini saja. Lagipula dengan begitu, kami bisa berangkat ke restoran bersama.

.

“Choi Minho, bisakah kau hubungi Im Jaeyoung dan minta dia menjemput Hana di kampus? Sepertinya masih ada waktu sebelum kelasnya berakhir. Minta Im Jaeyoung pergi secepatnya. Aku khawatir Hana sudah terlanjur berangkat ke café,” titahku pada Choi Minho.

.

“Saya mengerti, Presdir,” jawabnya menyanggupi perintahku. Ia segera berbalik sambil menaruh bantal yang masih ada di tangannya kembali ke sofa. Nada sambung ke ponsel Hana sudah kudengar dari ponselku. Samar-samar kudengar suara Choi Minho yang sudah sangat dekat dengan pintu. “Jangan-jangan dia juga melupakan acara penting jum’at besok,” katanya dengan suara pelan.

.

“Choi Minho, berhenti disana!” kataku. Ia lantas kembali berbalik menghadapku. “Acara apa yang sedang kau bicarakan?” tanyaku.

.

“Ulang tahun pernikahan orangtua anda. Jangan katakan…… anda tidak melupakannya juga, kan?” Choi Minho menatap cemas padaku.

.

“Tadi kau bilang hari apa acara itu?” tanyaku sekali lagi. Hana masih belum mengangkat teleponku.

.

“Jum’at ini. Pukul 7 malam, di kediaman keluarga anda. Tamu-tamu penting akan datang di acara itu. Termasuk Tuan Sa Jin Seok, klien baru anda dari Rinder Group, dan rekan bisnis yang paling berpengaruh bagi Cronus, Nyonya Vivian Kang, pemilik Tunic Group Hospital. Ah, ibu anda juga ingin Hana-ssi datang bersama anda,” jawab Choi Minho secara rinci.

.

Aku segera mematikan sambungan teleponku pada Hana setelahnya. “Eomeoni bilang begitu padamu?” tanyaku.

.

“Tidak. Beliau memberitahukannya langsung pada anda. Tertulis jelas pada pesan yang beliau kirim satu minggu lalu pukul 2 siang. Saya hanya menambahkan dua tamu penting itu untuk diberitahukan pada anda,” jawab Choi Minho.

.

“Kenapa aku tidak tahu itu?” Aku sangat menyadari pertanyaan bodoh yang keluar dari bibirku ini.

.

“Bagaimana saya tahu?” Aku juga sudah menduga akan mendengar pertanyaan itu dari Choi Minho.

.

Aku berada dalam masalah. Pesan itu masuk ke ponselku disaat hubunganku dengan Hana masih dalam keadaan buruk. Aku terlalu disibukkan dengan usahaku menghindari kesedihan dan kemarahanku akan kepergian Hana. Hingga aku tidak menghiraukan pesan dari eomeoni. Hari dilangsungkannya acara itu sudah semakin dekat. Pekerjaan tidak bisa kujadikan alasan untuk tidak datang. Aku tidak mungkin menghindar dari acara penting itu. Bukan hanya karena ada tamu pentingku yang datang di acara itu. Tapi, karena acara itu memang penting untuk kuhadiri.

.

Meski terkesan tak acuh pada eomoeni, aku bukan seorang anak kurang ajar yang akan melewatkan hari perayaan pernikahan kedua orangtuaku. Aku bisa saja mengatakan kalau Hana sedang berhalangan. Tapi, akan sangat berbahaya kalau eomeoni menghubungi Hana atau bahkan mendatangi Hana secara langsung. Haruskah aku memberitahu Hana? Aku tidak perlu memaksanya untuk ikut bersamaku. Aku hanya perlu memberitahunya. Aku bisa menyerahkan keputusan pada Hana. Ia yang akan memutuskan, apakah akan ikut bersamaku atau tidak.

.

“Hana-ssi pasti mau ikut. Jangan khawatir,” ujar Choi Minho, seolah tahu apa yang sedang ada dalam pikiranku.

.

“Bagaimana kau tahu Hana mau ikut bersamaku?” tanyaku.

.

“Karena Hana-ssi adalah perempuan berhati baik?” Ia menjawabku dengan nada bertanya.

.

“Apa hanya karena dia baik? Bukan karena dia menyukaiku?” tanyaku bergurau.

.

“Ch… Bagaimana kau tahu Hana-ssi menyukaimu kalau kau saja belum mengungkapkan perasaanmu…… hyung?” Ia mulai lagi dengan keluhannya. Aku pun mengatupkan rahangku sambil menatapnya tajam. “Auh… Menyebalkan. Apa yang harus aku lakukan agar kau segera mengungkap……” Choi Minho lantas berdeham saat melihat tatapanku padanya. “…kannya, hyung?” sambungnya. Sebutan ‘hyung’ itu selalu kembali saat ia berusaha bebas dari keluhanku.

.

“Bukankah aku sudah memberikan tugas padamu untuk menghubungi Im Jaeyoung?” tanyaku dengan suara pelan. “Apa yang kau tunggu disini? Christmas?” tanyaku sekali lagi, kali ini dengan nada bicara yang sedikit lebih tinggi. “Pergi!”

.

“Aku mengerti! Aku mengerti! Aku juga baru mau pergi!” Choi Minho balas berseru, sambil kembali berbalik menuju pintu. “Emosinya benar-benar seperti anak remaja…” keluhnya dengan suara pelan saat berjalan melewati pintu, keluar dari ruanganku.

.

.

.

 

 

.

To be continued…

.

Note:

Hi, readers!

Kana kembali dengan kelanjutan FF [not] attached! Lagi-lagi aku harus minta maaf ke kalian karena update part 9b ini jauh lebih lama dari perkiraanku. Aku pikir, aku bisa update part ini satu minggu setelah part 9a. Ternyata mundur lumayan jauh. Sebagai permintaan maafku, part 9b ini aku buat lebih panjang dari part 9a. Tapi sayangnya sweet moment Kyuhyun dan Hana nggak terlalu banyak di part ini. I’m so sorry for that. Cerita harus terus berlanjut, kan? Kalau manis-manis terus, nanti nggak selesai-selesai ceritanya.

Jujur aja, sebagai orang yang menulis cerita ini, aku dibuat gemas sendiri sama bromance-nya Kyuhyun dan Minho. Padahal awalnya aku nggak berniat membuat kesan itu. Tapi, setelah aku baca ulang tulisanku, hubungan mereka berdua ternyata menarik untuk ditonjolkan juga. Dan, sedikit bocoran nih… Aku nggak [atau belum] kepikiran mau memasukkan kisah cinta segitiga segiempat atau segilima ke dalam cerita ini. Sampai saat ini, masih THE TWO OF THEM AGAINST THE WORLD, and I love that.

So, seperti biasanya, aku mau dengar pendapat kalian tentang part kali ini. Aku juga mau minta tolong, toloooong banget. Kalau kalian merasa bosan, atau merasa ceritanya kepanjangan, atau ada kritik lainnya, please tell me. Aku terbuka untuk kritik dan saran apapun. Well! Sepertinya aku sudah terlalu banyak berpesan ini-itu. Saatnya aku pamit. Doakan saja semoga part selanjutnya bisa dikebut sebelum liburan akhir tahun [karena kemungkinan aku akan break akhir tahun nanti]. Kana pamit! See you guys again!

Love,

Kana

Advertisements

10 thoughts on “[not] attached : Part 9 (b)

  1. Udah begini aja seru kok jgn sampe ada orang ketiga keempat kelima dan jadi cinta segi banyak.
    Udah cukup banyak ff yg kayak gitu dan rata2 kontennya sama bikin bosen

    Like

  2. Moment Kyuhyun dan Hana nya singkat tapi mampu buat deg deg gan dan hati jadi hangat. Apa hanya karena debuah Yayasan yang di tinggalkan oleh Ibu dari seorang Hana, ibu tirinya sampai ngusik sejauh itu? Bahkan hana sampai takut hubungannya di ketahui. Sampai kapan perempuan rubah 0aruh baya itu enyah. Menyebalkan sekali wanit a tua gila harta.

    Like

  3. Aq masih bingung masalah apa antara hana sm ibu tirinya,
    Emang panjang kak,gpp biar readernya kenyang😂semangat nulisnya😊,wait for the next chap sm mungkin ada cerita2 yg lain baru

    Like

  4. Seganas apa sih ibu tirinya hana, kok sampe kyu protect bangt gtuuu, ampe mo beli rumah trus tinggal rame2… 😂😂😂
    Keren itu idenya, hihihi
    Itujg mantan calon istrinya kyuu…
    Moment hana sm mamanya kyuu, aku kangenn…
    Kapan2 kyu ajakin hana kerumahnya lagi aja….

    Like

  5. Ya ampun hidup hanya gak pernah nyaman yaaa selalu di kelilingi ancaman dan bahaya, semoga kyu bisa menjaga hana selalu. Kyu ungkapkan perasaanmu n buat hanya yakin n percaya padamu.
    Wahhhh minho bnr2 dehhh membuat rmosi kyu aja, tapi mereka bnr2 so sweet banget. Next d tunggu

    Like

  6. Sy dk cerita yg panjang, puas bnget bscanya, tp msh sebel sm kyuhyun kok nggak ngungkspin perasaan nya ke hana, lucu ya minho klau udah berdebst sm kyuhyun, pokoe ditunggu klanjutan nya lah

    Like

  7. kyaaa jangannn tambahhh cintaa segibrapapun jtuu… wkwkk…
    kasihann pihak yang kalah..
    harus menelan pil pahit…
    dr awal hanya mrkaa berdua.. akan lbih baik ttp mrekaa berduaaa…..
    masalah d aekitar ituu birlahh selesaii terlebihdahuluu…
    kasian hana yang selalu tehimpit masalaggg

    Like

  8. Pingback: Library | FanWorld FanFiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s