[not] attached : Part 9 (a)

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast:

Cho Kyuhyun, Park Hana (OC)

Choi Minho, Bang Minah, Kim Jisoo, etc

Disclaimer:

Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi tau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Maaf untuk typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Please, no bash, spam, mengejek, mengolok, dan menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun dan untuk alasan apapun. Selamat membaca.

.

 

 

 

.

[not] attached

9 (a)

.

 

 

 

.

KYUHYUN

.

Sepuluh menit yang lalu, aku harus bersusah payah meninggalkan apartemen seorang diri. Choi Minho yang banyak bicara dan Im Jaeyoung yang selalu diam tapi pemaksa bersikeras ingin mengantarku. Mereka tidak ingin membiarkanku mengemudikan mobilku sendiri. Hari sudah beranjak malam. Jam kerja mereka pun sudah selesai. Tapi, keduanya masih saja menempel padaku seperti permen karet. Kurasa mereka sudah terlalu terbiasa dengan rutinitas itu. Aktivitasku yang hanya berputar di lingkaran pekerjaan sepeninggal abeoji dari perusahaan membuatku membutuhkan bantuan mereka untuk mengantarku kemanapun. Aku bisa memahami mereka. Selama sikap posesif mereka berdua padaku tidak menjadi semakin parah. Sepertinya aku harus lebih sering mengemudi sendiri mulai sekarang.

.

Aku baru saja melewati Jembatan Banpo, dan tiba di Yongsan-gu untuk menuju ke Mapo-gu. Jam digital di dashboard sudah menunjukkan pukul 7.29 malam. Lalu lintas sudah lebih lengang dari sebelumnya. Hujan gerimis belum menunjukkan tanda akan berhenti. Semua orang yang memiliki kendaraan mungkin sudah sampai di rumah mereka masing-masing, menyisakan orang-orang yang masih berjibaku di kendaraan umum yang mereka naiki. Sebagian orang lainnya mungkin masih memilih untuk beristirahat sejenak di café atau rumah makan favourite mereka. Aku bersyukur dalam diam untuk situasi yang menguntungkanku ini. Karena dengan begitu, aku bisa tiba di tujuanku lebih cepat dari yang kuperkirakan.

.

Lampu merah menghentikan laju mobilku sejenak, memberikan kesempatan bagi mereka yang ingin menyebrangi jalan. Aku jarang menyaksikan pemandangan ini dari balik kaca mobilku. Aku lebih sering duduk di kursi belakang, dengan perhatian yang teralihkan pada layar i-Pad atau ponselku. Pemandangan di luar mobil selalu hanya menjadi pemandangan yang berlalu begitu saja bagiku. Kini, saat melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku dibuat takjub dengan keindahan yang mungkin bagi sebagian orang dianggap tidak seberapa hebat. Sesaat kemudian, saat lampu berubah menjadi hijau, ingatanku membawaku kembali pada pertemuanku dengan Park Hana beberapa hari yang lalu. Ia tidak memberikan kepastian padaku dalam setiap kata yang diucapkannya. Meski begitu, aku mendapatkan sebuah harapan hanya dengan menatap kedua matanya kala itu.

.

.

.

Flashback…

.

Come back to me, Hana. Please…

.

“Cho Kyuhyun…” katanya sambil mendorong tubuhku menjauh.

.

Rengkuhanku di tubuhnya pun lepas begitu saja, membuat kedua tanganku jatuh ke sisi tubuhku. Aku tidak punya keberanian untuk mengangkat wajahku menatapnya. Aku belum siap menerima kekecewaan lain darinya. Aku sudah pernah merasakannya satu kali, saat ia pergi begitu saja dariku, dua bulan yang lalu. Ada rasa takut dalam diriku yang tidak menginginkan kejadian yang sama kembali menghampiriku. Ini jelas bukan kali pertamaku ditinggalkan. Hana juga bukan orang pertama yang meninggalkanku. Orang lain mungkin akan berpendapat bahwa seharusnya aku bisa lebih tangguh dalam menghadapi situasi ini. Karena aku sudah merasakannya berkali-kali. Tapi, aku yakin, di luar sana ada pula orang yang akan memaklumiku, memahami sikapku yang justru menjadi takut untuk kembali terluka. Kali ini, aku akan membiarkan siapapun berpendapat bahwa aku adalah seorang pria yang lemah. Kali ini saja.

.

“Tatap aku…”

.

Suara pelan Hana yang terdengar berbisik menarikku kembali ke kehidupan nyata di hadapanku. Salah satu tangannya bahkan sudah menggenggam jari-jari tanganku. Hana meremas pelan jari-jariku yang terlihat sangat besar jika dibandingkan dengannya. Ia menungguku untuk memberikan respon atas ucapannya barusan. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku merasa seolah waktu sedang berhenti berputar di sekelilingku, bersama dengan kerja saraf di tubuhku.

.

Please… Look at me…” pinta Hana sekali lagi.

.

Aku pun mengangkat wajahku, untuk menemukan tatapan matanya yang terlihat cemas. Kedua alisnya bahkan bertaut, membentuk sebuah kerutan kecil di keningnya. Tubuhku kembali menemukan cara untuk bekerja. Aku balas genggaman tangannya yang baru kusadari terasa begitu dingin menyentuh kulitku.

.

Come back to me, Park Hana… I beg…

.

“Aku tidak bisa…”

.

“Kenapa?” tanyaku sebelum Hana bisa bicara lebih banyak.

.

“Aku tidak tahu,” katanya sambil menggelengkan kepalanya pelan. Ada keresahan yang tergambar di wajahnya saat mengatakan itu. “[Hubungan] Ini tidak akan berhasil.”

.

“Kau tidak akan pernah tahu itu sebelum kau mencobanya. Kita bahkan belum menjalaninya, Hana-ya. Berikan kesempatan padaku, dan pada dirimu sendiri untuk melakukannya.”

.

I’m scared…” ujar Hana cepat, menghentikan ucapanku. “Aku tahu, semua orang berbeda. Aku tahu, aku tidak bisa menyamaratakan penilaianku pada setiap orang…” Hana terdiam selama sesaat. Ia hanya menatapku tepat di kedua mataku. Ia menarik napas panjang sebelum kembali bicara padaku. “Aku tahu, kau bukan ayahku. Tapi, meski mengetahui itu, aku tetap merasa takut. Aku ingin menghentikan ini semua. Aku hanya tidak bisa. Aku tidak menemukan caranya.”

.

Luka itu terpampang jelas di hadapanku. Bukan hanya bibirnya yang mengatakan itu. Bahkan tatapan mata dan ekspresi di wajahnya menjelaskan padaku luka yang ia rasakan. Luka yang meskipun terjadi bertahun lalu, tapi masih meninggalkan bekas yang membuat Hana merasakan nyeri saat luka itu kembali disentuh. Luka yang berjalan beriringan dengan luka yang kurasakan.

.

“Aku ingin bersamamu. Tapi, aku tidak ingin menyakitimu,” sambung Hana setelahnya. “Kau sudah cukup tersakiti. Aku tidak ingin menjadi orang yang menambah rasa sakit itu.”

.

“Kau menyakitiku dengan meninggalkanku, Hana-ya.”

.

Kalimat itu akhirnya keluar dari bibirku. Kalimat yang seharusnya kukatakan padanya dua bulan yang lalu untuk mencegahnya pergi. Aku menyimpannya di dalam kepalaku, membiarkannya tertimbun diantara ribuan sel di otakku. Aku merasa begitu lega setelah mengatakannya, membiarkan Hana mengetahui apa yang sebenarnya kurasakan.

.

No…” kata Hana sambil menggeleng pelan. “Kau akan lebih tersakiti kalau terus bersamaku.”

.

“Biarkan aku merasakannya,” balasku, mengundang pertanyaan dari Hana yang terlihat jelas dari tatapan matanya. “I let myself fall for you. Dengan membuat keputusan itu, aku tentu sudah mempersiapkan diri untuk tersakiti olehmu. Love is not always about happiness. Rasa sakit juga termasuk di dalamnya, Hana-ya. Suka atau tidak.”

.

“Aku tidak ingin memilih ‘rasa sakit’ untuk kujadikan hal yang bisa kuberikan padamu.” Hana tetap bersikeras dengan penolakannya.

.

Kusentuh puncak kepalanya dengan tanganku yang bebas. Kubelai rambutnya yang halus, sampai menyentuh sisi kanan wajahnya. Meski tidak seperti tangannya di genggamanku, tapi suhu tubuhnya yang kurasakan di tanganku tetap terasa dingin.

.

“Itu bukan sebuah pilihan, Park Hana,” ujarku. “It’s included in one package. Aku tidak akan mengeluarkannya dari dalam kotak paket itu. Apa kau tidak merasa kecewa kalau ada satu barang saja yang tidak termasuk dalam paketmu? If it’s me, I’m not going to be angry. I’ll be furious, Hana-ya.”

.

“Kenapa kau melakukan ini, Cho Kyuhyun? Kenapa kau membiarkan dirimu masuk ke lingkaran ini?” tanya Hana setelahnya.

.

“Aku tidak bisa tanpamu, Hana-ya. Aku tidak bisa…”

.

I know… I feel it, too…

.

.

Flashback end…

.

.

.

Elfride Share House

Yeonmi-dong, Mapo-gu, Seoul

.

Ingatan akan kejadian hari itu kembali muncul di kepalaku. Siang itu, sesaat setelah Hana meninggalkanku, aku mengikutinya dari kejauhan. Hari itu adalah kali pertamaku datang ke tempat ini. Hari itu, aku terluka. Aku menatap bangunan rumah ini dengan rasa sakit yang kurasakan. Hari itu, saat matahari bersinar sangat terang, aku merasa seperti sedang berdiri dalam kegelapan. Tapi hari ini, saat kegelapan sedang berada di sekelilingku, aku justru merasa sedang melihat cahaya yang menyambut kedatanganku. Kini aku kembali dengan kondisi yang jauh berbeda. Aku kembali berharap. Meski aku tidak mempunyai jaminan akan harapan ini, tapi aku tidak lantas pergi menjauh. Aku sudah memilih untuk bergerak maju. Kata ‘berhenti’ sudah meninggalkan kepalaku. Aku sudah membuang waktu untuk terpuruk mengasihani diriku sendiri yang ia tinggalkan. Kali ini, aku tidak ingin lagi berdiam. Aku akan meraihnya. Tidak akan ada lagi yang pergi. Everyone should stay.

.

Aku menghela napasku panjang, sebelum melangkah menuju pekarangan rumah. Aku hanya berdiam diri di depan pintu selama beberapa saat. Keraguan menghampiriku, menarik sisi pengecutku ke permukaan. Cepat-cepat kusingkirkan pengecut itu, sebelum ia merenggut keberanianku lebih jauh. Aku lantas memindahkan kotak pizza dan kotak donat di tangan kananku ke tangan kiriku yang sedang memegang plastik berisikan beberapa kaleng soda dan beer. Kutekan bel di sisi kiri pintu itu. Suara seseorang dari dalam rumah menyahut setelahnya. ‘Tunggu sebentar.’ Hanya itu yang kudengar dari seseorang di dalam sana melalui intercom. Aku menjawabnya singkat sambil mengangguk, berharap siapapun itu bisa melihatnya dari layar. Langkah kaki seseorang terdengar tidak lama kemudian, seolah sedang menuruni tangga. Sepertinya share house ini disewakan terpisah, lantai atas dan bawah. Aku harap aku menekan bel yang benar. Pintu berwarna putih di hadapanku terbuka beberapa saat setelahnya, diikuti dengan kemunculan seorang perempuan yang terlihat tidak asing.

.

“Annyeonghaseyo,” sapa perempuan itu sambil tersenyum tipis padaku. Dari caranya menyapaku, sepertinya ia tahu siapa aku.

.

“Annyeonghaseyo,” balasku padanya.

.

Aku baru teringat padanya setelah menggunakan waktu singkatku untuk berpikir. Aku pernah melihat wajahnya saat aku mengantar Hana ke kampus berbulan yang lalu. Aku rasa ia adalah Bang Minah, teman Hana sejak masih duduk di bangku sekolah. Kudengar, seorang yang bernama Kim Jisoo adalah mahasiswi undergraduate di kampus itu. Kemungkinan Kim Jisoo berada di kampus bersama Hana sangat kecil. Gedung mereka bahkan berbeda. Jadi, sudah pasti Bang Minah yang menunggu Hana di pelataran kampus hari itu.

.

“Ah… Apa Hana ada di dalam?” tanyaku setelah menggunakan terlalu banyak waktu untuk berpikir.

.

“Tentu. Silahkan masuk, Presdir Cho.” Dugaanku benar. Ia memang mengenalku.

.

“Terimakasih……” Aku menggantungkan kalimatku, memintanya memperkenalkan diri padaku secara tidak langsung.

.

“Aku Bang Minah, teman Hana,” katanya, seolah tahu maksudku.

.

“Senang bertemu denganmu, Bang Minah-ssi,” ujarku dengan sopan.

.

“Aku juga, Cho Kyuhyun-ssi,” balasnya.

.

Aku pun berjalan melewati ambang pintu, masuk ke dalam. Bang Minah menutup pintu di belakangku perlahan setelahnya. Sebuah lorong pendek menyambut kedatanganku. Ada dua buat pintu yang terbuat dari kayu di sisi kiriku. Kedua pintu itu tertutup rapat, membuatku menduga kalau itu bukan arah yang harus kutuju. Di sisi kanan di ujung lorong, sebuah lubang di dinding sebesar pintu terlihat. Aku berjalan ke arah itu. Bang Minah yang berjalan di belakangku tidak menghentikanku. Aku pun berasumsi kalau aku berjalan ke arah yang benar. Rupanya ada sebuah tangga yang disana. Sisi kirinya terbuat dari dinding batu yang membatasi tangga dan lorong. Ada sebuah pegangan yang terbuat dari kayu di sisi kanan tangga, membuat ruang kecil tempat menaruh sepatu terlihat dengan jelas.

.

“Cho Kyuhyun-ssi…” kata Bang Minah saat aku baru saja akan melangkah ke anak tangga pertama.

.

“Ya?” tanyaku sambil berbalik.

.

“Hmm… Hana……” Nada bicaranya menggantung, membuatku memikirkan banyak kemungkinan buruk di dalam pikiranku.

.

“Ada apa dengan Hana?”

.

“Dia……” Bang Minah terlihat ragu untuk mengatakannya. “…sedang haid,” sambungnya dengan suara pelan.

.

So?” Aku tidak bisa menebak maksud dibalik ucapannya itu. Entah apa hubungannya dengan kedatanganku saat ini.

.

“Jadi… Maksudku adalah…… Dia sedikit sulit untuk dihadapi. Kau tahu? Pengaruh hormone. Dia sangat sensitif saat haid. Hmm… Aku hanya ingin memberitahu saja. Setidaknya untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu padamu nanti,” katanya menjelaskan.

.

Setelah aku ingat-ingat lagi, aku memang belum pernah menghadapi Hana dalam situasi itu. Kurasa peringatan yang Bang Minah berikan barusan cukup berguna untukku.

.

Okay. Aku akan mengingatnya baik-baik,” balasku.

.

Bang Minah menganggukkan kepala setelahnya. Ia mempersilahkan aku untuk kembali menaiki anak tangga menuju lantai dua rumah ini. Tapi aku tidak lantas melangkahkan kakiku. Aku meminta Bang Minah untuk berjalan lebih dulu di depanku. Ini adalah tempat tinggalnya. Sudah seharusnya ia berjalan lebih dulu. Lagipula kalau ada sebuah pintu lain di atas sana, aku akan kesulitan untuk membukanya. Kedua tanganku sudah terlalu sibuk memegang plastik-plastik besar ini. Bang Minah berjalan tanpa ragu mendahuluiku. Dugaanku benar. Ada sebuah pintu lain tidak jauh dari anak tangga teratas.

.

“Silahkan masuk, Cho Kyuhyun-ssi.” Bang Minah mempersilahkanku untuk masuk lebih dulu kali ini. “Apa itu untuk……” Kalimat yang Bang Minah ucapkan menggantung. Sementara jari telunjuk tangan kanannya menunjuk ke arah dua plastik besar di tanganku.

.

“Ah… Aku sengaja membawanya untuk kalian. Aku harap kalian tidak sedang diet,” kataku menjawab pertanyaannya yang belum selesai.

.

“Berikan padaku. Biar aku yang membawanya masuk.” Kedua tangannya menjulur padaku, memberikan bantuan.

.

“Ini. Terimakasih,” kataku sambil menyerahkan dua plastik besar itu padanya.

.

“Seharusnya aku yang bilang terimakasih padamu. Terimakasih banyak,” katanya sambil kembali berjalan masuk ke dalam ruangan. “Hana sedang berbaring di sofa ruang televisi. Ingat, Cho Kyuhyun-ssi, hati-hati saat bicara padanya.” Bang Minah member peringatan padaku sekali lagi.

.

Aku membalas peringatannya dengan sebuah senyuman yang berubah menjadi tawa kecil tidak lama setelahnya. Sebelum berjalan ke arah ruang makan di sebelah kanan, Bang Minah sempat menunjukkan letak ruang televisi yang ia bicarakan barusan. Aku hanya menganggukkan kepalaku singkat untuk membalasnya. Dan, aku pun menemukannya, sedang berbaring di sofa panjang seperti yang Bang Minah katakan. Kurasa ia tidak menyadari keberadaanku. Suara berisik dari plastik besar yang dibawa Bang Minah sepertinya tidak berhasil menarik perhatiannya juga. Hana tetap berbaring disana sambil menonton program hiburan di televisi. Sekilas aku menoleh ke arah dapur. Ada seseorang yang lain disana –Kim Jisoo kurasa—sedang bicara di telepon. Aku menundukkan kepalaku singkat untuk menyapanya, begitu pun sebaliknya. Hana baru menoleh padaku saat aku berjalan mendekat ke arah sofa.

.

“Cho Kyuhyun-ssi?” Akhirnya Hana menyadari keberadaanku.

.

Hana memindahkan kedua kakinya dari pinggir ke sisi sofa yang terdalam, memberikan sedikit space di sofanya untukku. Aku menggelengkan kepalaku pelan untuk menjawabnya. Aku pun berjalan melewati space kecil di sofanya, mendekat ke sisi sofa tempat tubuh bagian atas dan kepalanya berbaring. Tanpa berpikir panjang, aku duduk di lantai yang tertutup karpet halus yang terasa cukup hangat, membuat kedua mata Hana sedikit melebar karena melihatnya. Aku rasa empat mata yang lain di belakangku juga melebar seperti milik Hana. Aku bisa merasakannya meski tidak melihatnya secara langsung.

.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Hana setelahnya.

.

“Menemuimu,” jawabku santai. Ada kerut kecil yang muncul di keningnya setelah mendengar jawabanku. “Atau kau lebih suka kalau aku bilang alasanku datang kesini untuk menemui Bang Minah-ssi atau Kim Jisoo-ssi?” Aku mempertaruhkan keselamatanku dengan melontakan gurauan pada Hana yang sedang dalam kondisi sensitif.

.

“Bagaimana kau tahu namaku?” tanya seseorang di belakangku, Kim Jisoo kurasa. Sepertinya sambungan teleponnya sudah berakhir. Aku tidak menyadarinya.

.

“Dia bahkan tahu nomor rekening bank, ukuran pakaian, dan nomor identitasku, Jisoo-ya. Nama kalian berdua adalah hal paling pertama yang dia tahu setelah alamat rumah ini saat aku pindah kesini.”

.

Hana menjawab pertanyaan Kim Jisoo untukku, meski dengan nada bicaranya yang terdengar sarkastik. Ucapannya mengundang tawaku dengan mudah. Nada bicaranya barusan tidak menggangguku sedikitpun. Aku sudah terbiasa mendengar nada itu dari Choi Minho. Bocah itu tidak akan bisa melewati satu hari saja tanpa bicara denan nada itu padaku.

.

“Maafkan aku, Jisoo-ssi. Aku hanya ingin memastikan kalau Hana berada di tempat yang aman,” sesalku.

.

“Apa pemilik perusahaan besar lainnya juga sepertimu? Maksudku, memeriksa latar belakang orang-orang di sekitarnya,” tanya Kim Jisoo sekali lagi.

.

“Tidak semua,” jawabku singkat dengan keyakinan dalam nada bicaraku. Aku mengatakan yang sebenarnya. Karena seorang diantaranya berada di dekatku. Min Seyeon.

.

“Apa terjadi sesuatu?” Sentuhan tangan Hana yang terasa dingin di punggung tanganku mengalihkan perhatianku, membuatku kembali menoleh padanya. “What is it?

.

Aku menggeleng pelan, berusaha meyakinkannya. “Nothing.” Aku merutuki diriku sendiri jauh di dalam pikiranku. Kata itu tidak terdengar tulus sama sekali. Hana pasti akan menyadarinya dengan mudah. “Apa kau sudah makan?” tanyaku untuk mengalihkannya.

.

Hana menggelengkan kepalanya pelan. Kedua matanya terpejam selama beberapa saat. Telapak tangannya yang semula berada di punggung tanganku sudah bergerak masuk ke dalam sela lengan hoodie jacket berwarna navy yang kukenakan. Sepertinya Hana merasa kedinginan. Hujan gerimis masih mengguyur rata setiap jalan di luar sana. Hana yang berbaring miring lantas sedikit melipat kedua kakinya, agar selimut yang berada di atas tubuhnya bisa menutupi hingga bagian lengannya.

.

“Nafsu makan Hana menghilang setiap haid. Dia lebih suka makan buah-buahan dan yoghurt di saat seperti ini.” Bang Minah datang dari arah dapur dengan kotak pizza dan donat yang sudah terbuka di kedua tangannya.

.

“Aku membawa pizza dan donat. Kau tidak mau?” tanyaku.

.

“Apa kau sudah makan?” Hana justru balas bertanya padaku.

.

“Belum. Aku ingin makan bersamamu,” jawabku.

.

“Kau saja yang makan. Aku sedang tidak ingin.” Hana menolaknya dengan suara pelan. “Jisoo-ya, apa yang kau bawa?” tanya Hana pada Kim Jisoo yang berjalan mendekat dengan membawa beberapa kaleng minuman di tangannya.

.

“Ada coke dan beer,” jawab Kim Jisoo.

.

Give me one, Jisoo-ya. Beer,” kata Hana.

.

“Kau belum makan sejak siang, Hana-ya,” cegah Bang Minah yang pandangannya terpusat ke layar televisi.

.

“Kau harus makan, Park Hana.” Aku menambahkan.

.

“Aku hanya ingin minum,” tolaknya.

.

Aku mengambil waktu beberapa saat untuk menghela napas panjang dengan perlahan. Beberapa tahun hidupku kuhabiskan dengan bekerja. Aku selalu memberikan keputusan dan perintah pada banyak orang. Sebagian besar dari mereka melakukan sesuai dengan perkataanku. Dalam bahasa sederhana, jarang sekali ada yang membantahku. Aku sudah terlanjur terbiasa dengan ritme kehidupan baruku. Karena itu, aku merasa sedikit tidak nyaman saat ada yang menolak atau membantahku. Tapi kali ini berbeda. Bukan seorang karyawan yang sedang berada di hadapanku. Hana yang sedang bicara padaku. Aku tidak boleh melakukan itu padanya. Aku harus mencoba membiasakan diri untuk menerima penolakan kecil darinya.

.

“Setelah makan. Tolong jangan membantahku, Hana-ya. Makan adalah peraturan paling dasar sebelum minum beer. Kalau kau tidak makan, besok perutmu akan sakit.” Aku akan terus mencoba membujuk Hana sampai ia setuju dengan permintaanku.

.

“Tidak perlu menunggu sampai besok. Perutku sudah sakit sekarang.” Hana masih bersikeras menolakku.

.

“Karena itu… Perutmu bisa semakin sakit kalau kau minum tanpa makan lebih dulu. Setidaknya makan satu slice pizza. Atau, kau mau donat?” bujukku.

.

You’re so bossy,” ujarnya.

.

To make you eat? Yes, I am.

.

Hana menatapku selama beberapa saat sebelum menghela napas panjang. Ia menyerah. Kurasa Hana sudah mulai terbiasa dengan sikapku. Aku bisa melihatnya di kedua matanya. Hana memahamiku. Tapi meski begitu, ia tetap berusaha membantahku. Rupanya kami berdua sedang berusaha saling menyesuaikan diri dengan satu sama lain.

.

Okay! Aku akan makan,” ujarnya setuju.

.

Hana pun mulai menggerakkan tubuhnya. Ia berusaha untuk bangun. Ada kerut kecil di keningnya saat kepalanya sudah menjauh dari lengan sofa. Tangan kirinya digunakan untuk menopang tubuhnya yang sudah mulai beranjak duduk. Ia meringis kesakitan setelahnya, membuatku segera bangun dari lantai untuk membantunya.

.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyaku setelah Hana sudah duduk bersandar.

.

Hana menoleh padaku dengan wajah cemberutnya. “Apa aku terlihat baik-baik saja? Rasanya sangat sakit,” keluhnya sambil menyentuh punggung bawahnya dengan tangan kanan.

.

“Apa yang bisa aku lakukan untukmu?”

.

Aku lantas duduk di sebelah kirinya. Kuselipkan tangan kananku ke belakang punggungnya. Hana menarik tangannya saat mengetahui tanganku sudah berada di punggungnya untuk menggantikan tugas tangannya itu. Hana belum menjawabku. Ia hanya menjauhkan tubuhnya dari sandaran sofa untuk memberikan space bagi tanganku di punggungnya. Aku mengepalkan tanganku, lalu memukul pelan punggung bawah Hana. Sangat pelan, agar tidak menambah rasa sakitnya. Hana kembali menopang tubuhnya. Kini ia menggunakan kedua tangannya. Tangan kanannya menopang diatas sofa, sementara tangan kirinya berada di atas lututku.

.

“Katakan saja. Tidak perlu mempedulikan kami berdua.”

.

Kim Jisoo beranjak bangun dari sofa single menuju dapur setelah mengatakan itu. Aku baru mengerti situasi itu. Sepertinya Hana berkomunikasi dengan kedua temannya lewat tatapan. Karena itu Hana hanya diam saja selama beberapa menit.

.

“Aku sudah terbiasa melihat Minah eonni bermesraan dengan kekasihnya di rumah ini,” sambung Kim Jisoo.

.

“Kapan aku melakukan itu?!” protes Bang Minah yang belum mengalihkan pandangannya dari layar televisi.

.

“Beberapa kali dalam satu bulan. Keterlaluan sekali. Sangat tidak menjaga perasaanku yang belum juga punya kekasih,” balas Kim Jisoo yang mengundang tawa Bang Minah dan Hana disaat yang bersamaan.

.

Kim Jisoo segera meraih ponselnya yang bergetar di atas meja makan. Kemudian ia duduk di salah satu bangku. Perhatiannya masih berada di layar ponselnya. Tiba-tiba Hana menyentuh tanganku di punggungnya, membuatku menoleh padanya. Hana menghentikanku, tapi tidak lantas menyingkirkan tanganku dari punggungnya. Sesaat setelahnya, Hana menaikkan kedua kakinya ke atas sofa, lalu mendorong tubuhku agar bersandar di sofa. Awalnya aku tidak mengerti apa yang sedang Hana lakukan. Tapi gerakan Hana setelahnya membuatku mengerti dengan mudah. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku, diikuti dengan tubuhnya di dadaku. Hana melesak ke dalam pelukanku, kemudian kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

.

“Jisoo-ya, apa kau mau kukenalkan dengan pria tampan itu? Aku dengar dia sudah putus dengan kekasihnya. Kalau dia menolakmu, Presdir Cho bisa membantumu,” kata Hana menggoda Kim Jisoo.

.

“Siapa?” tanyaku setelah mendengar namaku ikut dibawa dalam pembicaraan yang belum kumengerti ini.

.

“Choi Minho,” jawab Hana yang masih tertawa kecil.

.

“Eonni! Kapan aku bilang begitu? Tidak, Presdir Cho. Hana eonni hanya bercanda,” sanggah Kim Jisoo. Tapi kedua matanya jelas mengatakan hal yang berbeda.

.

“Kau menyukai Choi Minho? Kenapa?” tanyaku santai.

.

Tiba-tiba Hana memukul dadaku pelan. “Kau tanya kenapa? Pertanyaan apa itu? Tentu saja karena dia tampan,” kata Hana.

.

“Aku juga.” Aku tidak mau kalah. Apalagi kali ini berhubungan dengan bocah bernama Choi Minho itu. Kalau dibandingkan dengannya, aku tidak kalah tampan.

.

“Dia masih muda.”

.

Kali ini giliran Bang Minah yang bicara. Ia mengatakan fakta yang tidak bisa kubantah. Aku jelas kalah telak kalau membicarakan itu. Choi Minho tiga atau empat tahun lebih muda dariku. Ugh… Aku bahkan tidak bisa mengingatnya dengan benar. Untuk Kim Jisoo, usiaku jelas terpaut jauh. Bang Minah melirik sesaat ke arahku setelahnya. Ia memeriksa ekspresi di wajahku setelah mendengar ucapannya. Aku mendengar tawa keras dari Kim Jisoo dari arah dapur. Sebuah gelak tawa lainnya terdengar sangat dekat denganku. Hana ikut tertawa karena ucapan Bang Minah. Tanpa kusadari, aku ikut tertawa bersama mereka. Tawa Hana semakin riang saat kedua mata kami bertemu. Ia tertawa geli setelah menatapku. Hana pun menyembunyikan wajahnya di sela leherku. Sangat menyenangkan mendengarnya tertawa seperti ini.

.

“Aku tidak kalah tampan saat seusianya.” Aku menambahkan pembelaanku meski aku tahu aku tidak punya kesempatan lain untuk menang.

.

“Berapa puluh tahun yang lalu saat masa itu terjadi?” tanya Kim Jisoo yang kembali ke ruang televisi dengan ponsel di tangannya.

.

“Berapa puluh…… Wah…… Keterlaluan sekali. Usiaku baru 30 tahun. Aku tidak setua itu,” protesku.

.

“Aku rasa seharusnya kau menggunakan kata ‘sudah’ untuk menggantikan kata ‘baru’, Cho-Kyu-Hyun-ssi.” Hana mengeja namaku dengan suaranya yang terdengar begitu riang.

.

Really, Park Hana?” ujarku keberatan dengan ucapannya. Tentu saja aku tidak sungguh-sungguh merasa keberatan. Aku hanya mengikuti alur pembicaraan mereka.

.

“Paling tidak Kyuhyun-ssi masih satu tahun lebih muda dari Skylar, Hana-ya. Patut disyukuri.” Bang Minah menambahkan. Tanpa sadar, aku benar-benar mensyukuri itu dalam pikiranku.

.

“Sudah. Sudah. Jangan menggodanya lagi,” kata Hana sambil mengambil satu potong pizza. Aku sudah merasa lega hanya dengan melihat itu. “Kita akui saja kalau dia terlihat lebih muda dari usianya. Kalau tidak, makanan ini akan membuat kita tersedak nanti karena disumpahi olehnya,” sambungnya sambil kembali melesak ke pelukanku.

.

Aku mencium puncak kepala Hana setelahnya. Ia mengangkat wajahnya sesaat untuk menatapku. Potongan pizza yang ada di tangannya pun masuk ke mulutnya, membuat rasa legaku semakin besar. Hana memotong pinggiran pizza yang berisikan sosis dan keju, lalu menyuapkannya ke mulutku. Ia mencoba berbuat curang dengan mengurangi porsi makanannya. Ia tertawa kecil setelahnya, seolah tahu kalau perbuatannya sudah ketahuan olehku. Aku membiarkannya melakukan itu. Sebagai gantinya, aku akan membuat Hana memakan potongan pizza kedua yang kuambil dari kotaknya.

.

Sudah lama sekali aku tidak merasakan suasana makan malam seperti ini. Setelah menggantikan abeoji di perusahaan, aku lebih sering menghabiskan waktu makan malamku dengan Choi Minho di kantor atau di ruang kerjaku di apartemen. Saat aku punya waktu untuk makan malam di ruang makan pun aku masih menghabiskannya dengan keberadaan iPad dan Choi Minho –kadang ditambah dengan sambungan telepon interlokal—di sekitarku. Aku bisa merasakan makan malam yang nyaman malam ini. Terlebih dengan keberadaan Hana yang menempel seperti permen karet padaku. Kalau bisa, aku ingin menukar apapun yang kumiliki dengan moment seperti ini.

.

Makan malam kami selesai dengan hanya menyisakan beberapa kaleng yang sudah kosong dan dua potong donat yang belum dimakan. Hana berhenti makan setelah setengah bagian dari potongan pizza yang aku suapkan padanya berhasil melewati kerongkongannya. Setelahnya, Hana lebih memilih sekaleng beer dan talk show di televisi untuk menemani malamnya. Sesekali Hana membantuku untuk mengambil potongan pizza atau donat untukku. Bobot tubuh Hana yang ia sandarkan padaku membuatku tidak bisa banyak bergerak. Aku juga menggunakan tangan kananku untuk mengelus pelan punggung bawahnya. Sampai acara talk show di televisi berganti, obrolan ketiga perempuan muda di sekitarku ini belum menunjukkan tanda akan berakhir. Tapi satu setengah jam kemudian, suasana sudah mulai hening. Kim Jisoo sudah disibukkan dengan aktivitas menulis blog pribadinya. Sedangkan Bang Minah lebih tertarik dengan timeline media sosialnya. Aku sudah tidak mendengar suara Hana sejak sekitar dua puluh menit yang lalu. Entah ia sedang fokus dengan tayangan di televisi atau mungkin sudah tertidur.

.

“Tidurlah di kamar, Hana-ya.” Bang Minah yang sempat menoleh pada Hana menegaskan dugaanku. Hana benar-benar sudah tertidur di pelukanku. Sekarang ‘kan sudah ada Kyuhyun-ssi. Kau bisa tidur dengan nyenyak,” sambungnya, membuatku berpikir dua kali untuk mengartikan maksud ucapannya barusan.

.

“Ah… Aku akan pulang setelah Hana tidur, Minah-ssi,” kataku saat akhirnya bisa mengartikan maksud ucapannya.

.

“Kau akan pulang?” tanya Hana yang akhirnya menggerakkan tubuhnya di pelukanku.

.

“Tentu… Tidak mungkin aku bermalam di rumah yang dihuni oleh tiga orang perempuan. Aku seorang pria. Aku tahu tata krama,” jawabku dengan suara pelan.

.

“Aku tidak menemukan alasan yang mengatakan itu tidak mungkin untuk dilakukan,” balas Hana memberikan sedikit kesan ‘menahan’ padaku.

.

“Benar. Kau menginap saja, Kyuhyun-ssi. Lagipula, aku rasa Hana bisa tidur nyenyak kalau kau bersamanya. Mungkin bayangan nyonya besar yang mendatanginya di toko bunga akan hilang setelah tidur nyenyak,” ujar Bang Minah.

.

“Minah-ya…” Hana jelas sudah menyembunyikan sesuatu dariku. Dan Bang Minah baru saja mengungkapkannya tanpa sengaja.

.

“Nyonya besar? Siapa yang…… Ibu tirimu mendatangimu? Kapan?” tanyaku. Tapi, sepertinya Hana tidak ingin memberitahuku. “Hana-ya?” tanyaku sekali lagi, mendesaknya.

.

“Ternyata dia tidak tahu……” sesal Bang Minah dengan suara berbisik.

.

“Tentu tidak. Kau lihat sendiri reaksinya saat mendengar ucapanmu itu.” Hana lantas beranjak menegakkan tubuhnya. Ia masih tidak menghiraukan pertanyaanku. Ia duduk tegak sambil meregangkan ototnya, lalu menoleh padaku. “Jadi, apa kau akan menginap? Aku mau masuk ke kamarku. Aku sudah sangat mengantuk,” katanya padaku setelahnya.

.

“Aku masih menunggu jawaban dari pertanyaanku, Park Hana. Jawab aku,” ujarku.

.

“Baiklah… Aku akan menjawabnya. Bisa kita bicara di kamarku saja? Aku benar-benar ingin berbaring di tempat tidur sekarang,” balasnya, yang dengan terpaksa harus kujawab dengan anggukkan pelan.

.

 

.

.

 

.

To be continued…

.

Author’s Note:

.

Halo readers!

Pertama, aku mau minta maaf karena update part 9 FF ini lama sekali. Seperti yang sudah-sudah, ada sedikit kendala dalam penulisan. Sampai sekarang pun kendalanya belum hilang. Mood buat lanjut nulis tiba-tiba hilang. Jadi, aku nggak bisa berbuat apa-apa.

Kedua, aku mau minta maaf lagi. Kali ini karena part 9 ini aku bagi jadi dua bagian, a dan b. Alasannya… Seperti yang aku bilang sebelumnya, mood dan ideku masih melayang-layang di udara. Ada banyak hal lain yang harus aku kerjakan juga. Jadi, setelah berpikir dua tiga kali, aku putuskan untuk membagi dua part ini. Aku belum yakin kapan bisa menyelesaikan part 9 ini secara utuh. Aku pikir, daripada membuat readers menunggu terlalu lama, aku update dulu sebagian.

Aku akan berusaha menyelesaikan part ini secara utuh secepatnya. Aku harap kalian nggak terlalu kecewa dengan keputusanku ini. Semoga cerita yang kubuat ini juga masih bisa kalian nikmati. Sekali lagi, aku minta maaf. Dan, selamat membaca! 🙂

Love,

Kana

Advertisements

11 thoughts on “[not] attached : Part 9 (a)

  1. Pingback: Library | FanWorld FanFiction

  2. asli asliiii kan ketidakpastian dari hana tuh manis bgt sihhhh ga kuat dah kyuhyun sebegini manisnya kalo udah sayang sama cewe hhhhhhhh gemessss dong aaaaaahhhhh lanjuuutt lagi lanjuuuuttt

    Like

  3. Akhirnya d lanjut juga, wahhhh hubungan mereka sdh mulai berkembang yaaa, mereka so sweet banget sihhh dlm bersikap. Apa hubungan mereka akan seperti itu trs tanpa kejelasan. Kyu yakinkanlah hana n hilangkan traumanya. Next d tunggu

    Like

  4. Aku kok greggett ya sm part iniii…
    Kyu hana manis bangt ya ampunn… 😍😍😍
    Belon pacaran pan…??? Msih ngegantungg…???
    Aku ngakak loh pas si minah ngasih tau kyu klo hana lagi M…
    Pertanyaaanku jg sm kek kyu….
    #JADI…?
    aku pikir otaknya minah lagi terkontaminasi… kekkekek
    *otakku kali ya yg terkontaminasi.. 😂😂😂

    Ditunggu part selanjutnya authornim, semoga semangt nulisnya kembali lagiii…

    Like

  5. Aduuhh kak terimakasih banget akhirnya ini di Post. Ini manis manis manis banget. Lebih santai karena mereka ga cekcok. Aku bacanya cengar cengir sendiri 😂 kira kira nyonya besar medusa itu bilang apa ya ke Hana. 9b nya semiga lwbih banyak lagi manis”nya hehehehe. Next part selalu di tunggu kak 😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s