[not] attached: Part 2

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast:

Cho Kyuhyun, Park Hana (OC)

Choi Minho, Jung Eunji, Choi Siwon, Kwon Yuri, Han Sunhwa, Lee Junho, etc.

Disclaimer:

Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi atau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Maaf untuk typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Please, no bash, spam, mengejek, mengolok, dan menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun dan untuk alasan apapun. Selamat membaca.

.

.

[not] attached

– 2 –

.

.

KYUHYUN

At Cronus Incorporation

.

Rapat hari ini terasa lebih membosankan dari hari lainnya. Aku harus mendengarkan penjelasan panjang mengenai proses pembangunan resort di daerah Jeungdo. Kali ini pembahasannya tidak hanya seputar anggaran. Mereka juga membahas material dan design yang ingin digunakan. Di akhir rapat ini mereka pasti akan meminta keputusanku mengenai kelanjutan pembangunan yang sudah berlangsung selama satu bulan itu. Aku bisa membuat keputusanku dengan mudah setelah mendengarkan materi dan membaca berkas mengenai rapat panjang hari ini. Di tengah diskusi yang sedang berlangsung, pikiranku justru disibukkan dengan hal lain. Lokasi pembangunan resort ini menarik perhatianku. Aku mencoba untuk mengingat kembali kenapa aku memilih daerah Jeungdo sebagai lahan untuk mengembangkan bisnisku. Aku bahkan tidak benar-benar tahu dimana daerah yang bernama Jeungdo itu. Mungkin setelah rapat aku harus menanyakan pada Choi Minho apa alasanku ingin membangun resort di daerah Jeungdo. Seperti yang selalu terjadi, Choi Minho lebih tahu banyak hal tentangku, kadang lebih dari diriku sendiri.

.

Suasana rapat menjadi lebih menjemukan saat materi yang dibahas memasuki bagian anggaran. Aku tidak pernah benar-benar tertarik mendengarkan materi ini. Rincian perkiraan anggaran sudah dibuat dan didiskusikan di rapat pertama berbulan-bulan yang lalu. Jika ada perubahan, maka anggaran yang dikeluarkan hanya perlu menyesuaikannya saja. Aku merasa pembahasan itu tidak terlalu membutuhkan kehadiranku. Mereka cukup membicarakannya dengan pihak finance, yang selanjutnya akan mendiskusikannya denganku. Entah kenapa mereka merasa perlu membawa pembicaraan itu di lingkaran rapat dengan kehadiran banyak orang seperti ini.

.

Kebosanan yang kurasakan akhirnya justru membawa pikiranku menuju hal lain. Aku kembali teralihkan. Suara-suara di dalam ruang rapat yang sebelumnya kudengar mulai menipis hingga tak terdengar. Bayangan wajah Park Hana yang tertidur pulas di mobilku kembali muncul dalam resolusi besar di dalam pikiranku. Suaranya yang melantun perlahan namun penuh kepastian saat mengutarakan isi pikirannya menggema di telingaku. Helaan napas teraturnya yang memenuhi setiap sudut mobilku malam itu berhasil menenangkan ritme napasku. Hingga mata indah yang dibingkai oleh bulu mata lentiknya yang cantik menggangguku. Apa yang sedang Nona Park lakukan saat ini? Hari masih cukup pagi. Malam itu, ia mengatakan bahwa aku bisa menemuinya di La Verde atau di Morning Sunshine Café setiap siang hari menjelang sore. Berarti Park Hana akan berada di kampus di pagi hari. Seperti apa dia saat di kampus? Aku menemukan diriku membayangkan sosoknya sebagai seorang mahasiswa. Aku bahkan menduga-duga bagaimana ekspresi di wajahnya saat sedang fokus pada materi kuliahnya di dalam kelas. Kenapa kau harus memikirkannya? Suara di dalam kepalaku kembali mempertanyakan pikiran aneh yang akhir-akhir ini mengalihkanku.

.

“Hanya itu yang bisa saya sampaikan dalam rapat kali ini”, kata seorang karyawan bagian finance menutup pembahasan materinya.

.

Aku masih tidak terlalu tertarik untuk membahasnya. Hari akan menjadi lebih panjang jika kubiarkan rapat ini berlangsung lebih lama. Dan, aku ingin sekali melihat wajah Park Hana lagi. Hey! Jaga pikiranmu, Cho Kyuhyun! Aku tidak tahu darimana asal pikiran itu datang. Aku hanya tahu satu hal. Park Hana benar-benar sudah mengalihkanku. Bukan hal menyenangkan untuk orang sepertiku. Aku memiliki pekerjaan yang jauh lebih penting daripada memikirkan Park Hana yang tidak memiliki hubungan apapun denganku. Tapi, dia mengenal Choi Siwon. Lalu apa urusanmu dengan hal itu? Aku mulai tidak mengenal diriku. Entah mana yang lebih dominan saat ini. Park Hana yang mengalihkan pikiranku karena aku merasa ia berbeda atau karena ia mengenal Choi Siwon.

.

“Bawa laporan anggaran itu ke ruanganku dalam waktu satu jam. Bawa juga rincian perencanaan anggaran awal yang sudah dibahas di rapat sebelumnya. Aku ingin menggunakan material dengan fungsi terbaik. Kokoh dan menjamin keselamatan adalah prioritasku. Mengenai design yang ingin digunakan, kirimkan rincian design yang sudah direncanakan melalui e-mail pada Choi Minho. Aku akan memeriksanya dengan terperinci. Aku ingin melihat eksteriornya terlebih dahulu. Kita akan melakukan pembangunan ini dengan perlahan dan hati-hati. Aku tidak ingin ada kesalahan”, kataku mengutarakan keputusanku.

.

“Baik, Presidir”, jawab semua orang yang ada di dalam ruangan rapat ini.

.

Tanpa membuang waktu lebih lama, aku segera beranjak di kursiku, diikuti oleh beberapa orang lainnya. Aku berjalan mendekati Choi Minho dan rekannya –yang belum bisa kuingat namanya—untuk meminta ponselku. Benar, aku jarang menggunakan ponsel saat rapat. Aku membuka ponselku hanya untuk melihat beberapa pemberitahuan yang muncul di layar, memutuskan mana yang harus kutangani terlebih dahulu. Satu persatu karyawan yang mengikuti rapat mulai meninggalkan rapat, sambil memberikan salam padaku saat melewati tempatku berdiri. Aku membiarkan Choi Minho dan rekannya yang membalas salam mereka untuk mewakiliku.

.

“Anda sangat teralihkan hari ini, Presidir”, kata suara berat seseorang yang menghampiriku.

.

Aku sangat mengenal pemilik suara itu. Aku terlalu mengenalnya hingga membuat suasana hatiku memburuk dengan begitu mudah. Choi Siwon. Bahkan dari nada suaranya saja aku bisa mengetahui ada senyuman di wajahnya. Senyuman yang selalu dipuja banyak wanita yang melihatnya, yang sayangnya membuatku lelah.

.

“Aku tidak tahu kau memperhatikanku, Choi Siwon”, balasku santai sambil menyimpan ponselku ke dalam saku. “Apakah sangat terlihat?” tanyaku setelahnya.

.

“Entah. Aku tidak tahu. Mungkin karena aku sangat mengenalmu, sehingga aku bisa menangkapnya dengan mudah”, jawab Choi Siwon.

.

Omong kosong apa yang sedang dia bicarakan? Melihat senyuman di wajahnya membuatku ingin sekali melemparnya ke bawah melewati jendela. “Begitu? Sangat tidak menyenangkan. Seharusnya aku bisa menyembunyikannya lebih baik lagi. Aku sudah berusaha”, kataku.

.

Lalu, ia tertawa kecil. Ia menemukan gurauan dalam ucapanku. “Aku tidak sedang mengeluhkan apapun padamu. Kau juga manusia yang bisa teralihkan. Sangat wajar”, balasnya.

.

“Tentu saja. Aku tahu itu. Tapi, sangat tidak pantas melakukan itu saat sedang memimpin sebuah rapat. Contoh yang buruk dari seorang pemimpin. Bukan begitu, Choi Siwon?” tanyaku. Aku menghunusnya dengan perkataanku. Aku pemimpin disini, Choi Siwon. Kau bekerja untukku.

.

Ada rasa kemenangan yang kurasakan jauh dalam diriku. Namun, ekspresi wajahnya yang tidak menunjukkan perubahan apapun membuat perasaan itu mengambang, terasa kebas tanpa pijakan.

.

“Mungkin benar. Jika kau berpikir seperti itu”, ujar Choi Siwon.

.

“Selamat pagi, General Manager Choi”, kata seorang karyawan yang menghampirinya. Seorang wanita.

.

“Selamat pagi, Im Yoona-ssi”, balas Choi Siwon. Dia bahkan tahu nama karyawan itu.

.

“Mobil anda sudah selesai diperbaiki. Saat ini sudah berada di tempat parkir. Saya masih merasa tidak enak karena sudah merepotkan anda. Sekali lagi saya minta maaf. Dan, tentu saja terima kasih karena sudah sangat membantu saya”, kata karyawan yang bernama Im Yoona itu.

.

“Sudah cukup, Im Yoona-ssi. Aku baik-baik saja. Aku justru merasa senang karena sudah bisa memberikan bantuan untukmu. Kau sudah minta maaf dan berterimakasih padaku berkali-kali. Aku bisa kuwalahan jika kau tidak menghentikannya”, kata Choi Siwon.

.

“Ah, begitu. Saya min…” Im Yoona menghentikan ucapannya, lalu tersenyum. Choi Siwon pun tertawa kecil menyadari itu. “Berhenti meminta maaf. Saya tahu. Baiklah. Ini yang terakhir kalinya. Saya berjanji. Terima kasih banyak, General Manager Choi. Semoga hari anda menyenangkan”, sambung Im Yoona.

.

“Begitu pun denganmu, Im Yoona-ssi”, ujar Choi Siwon.

.

Im Yoona lantas berbalik, menemukanku yang masih berdiri tidak jauh dari Choi Siwon. Kedua matanya melebar karena terkejut melihatku. Ekspresi cerah di wajahnya langsung menghilang. Wajahnya yang semula berseri sontak memucat saat tatapannya bertemu denganku.  Ekspresi yang tidak menyenangkan, namun hebatnya mampu menaikkan suasana hatiku. Para gadis biasanya tersipu karena wajah ini, Im Yoona-ssi. Kau yang pertama. Lalu pikiranku kembali teralihkan dengan mudah sesaat setelahnya. Bagai roll film yang berputar cepat mengulang adegan demi adegan yang sudah terlewatkan. Aku mengenal gadis lain yang tidak tersipu olehku. Ia bahkan menatapku dengan kedua mata indahnya yang dipenuhi emosi dan rasa takut. Park Hana. Ia bisa begitu cepat kembali masuk ke pikiranku meski sudah kucoba hilangkan dari sana.

.

“Selamat pagi, Presidir. Semoga hari anda juga menyenangkan”, kata Im Yoona canggung.

.

“Kembali padamu”, balasku singkat. “Dan, kembali bekerja. Kalian berdua”, kataku merujuk pada Choi Siwon dan Im Yoona yang berdiri di hadapanku.

.

“Baik, Presidir”, jawab Im Yoona. Aku hanya menangkap sebuah senyum kecil di wajah Choi Siwon yang kemudian menundukkan kepalanya padaku sebelum aku pergi meninggalkan ruangan itu.

.

Dalam perjalanan, kalimat yang diucapkan Im Yoona pada Choi Siwon, serta ekspresi di wajahnya yang berubah saat melihatku kembali terulang di dalam pikiranku. Itu bukan kali pertama aku menemukan ekspresi terkejut yang berubah pucat dari karyawan perusahaan ini. Im Yoona mungkin gadis pertama yang melakukannya secara terus terang di hadapanku. Ia menunjukkan padaku gambaran sosokku di hadapan banyak orang di gedung ini. Aku memang tidak menunjukkan banyak ekspresi di wajahku. Aku merasa tidak memerlukan hal itu. Tapi, bukan sosok menakutkan yang ingin aku tunjukkan pada semua karyawan perusahaan ini. Aku tidak semenakutkan itu. Paling tidak, Choi Minho mengetahui itu dengan sangat baik. Beberapa kepala direksi tua juga mengetahui itu. Aku hanya tidak menunjukkan perasaanku pada orang asing. Aku tidak menyukai afeksi yang berlebihan pada dan dari orang lain. Biasanya aku tidak mempermasalahkannya. Namun, ekspresi Im Yoona beberapa saat yang lalu justru menimbulkan efek yang berbeda.

.

Bayangan adegan yang terjadi beberapa saat yang lalu masih berputar di kepalaku sepanjang perjalananku menuju ruangan. Tampaknya Choi Minho mengetahui hal itu. Ia tidak bicara padaku meski ada banyak hal yang sebenarnya harus kami bicarakan. Choi Minho memilih untuk bicara dengan rekannya –gadis muda bermarga Jung—mengenai jadwalku selama satu minggu ke depan. Terima kasih karena sudah sangat membantu saya. Kalimat itu tercetak dengan highlight berwarna hijau terang di dalam otakku. Choi Siwon melakukan sesuatu untuk membantu Im Yoona. Sesuatu yang sampai melibatkan mobilnya. Kenapa aku harus begitu memikirkannya? Aku tidak memiliki jawaban atas pertanyaan itu. Seharusnya kupindahkan saja Choi Siwon ke kantor cabang sejak dulu.

.

“Apa yang sebenarnya mengganggu anda?” tanya Choi Minho saat kami sudah masuk ke dalam ruanganku. Nona Jung tidak ikut bersama kami seperti biasanya. Ia tahu batasan yang ku tetapkan.

.

“Apa maksudmu?” aku balas bertanya sambil melepas jasku dan meletakkan ponsel diatas meja.

.

“Mana yang lebih mengganggu pikiran anda? Sikap Im Yoona-ssi yang sangat berbeda saat menyapa anda atau sikap General Manager Choi yang bicara dengan santai pada anda?” tanya Choi Minho dengan lebih rinci kali ini.

.

“Aku tidak mengerti maksud dari ucapanmu, Choi Minho. Aku baik-baik saja. Tidak ada yang menggangguku”, sangkalku. “Lagipula keduanya berhubungan dengan Choi Siwon”, sambungku.

.

“Ternyata benar. Sepertinya persaingan itu tidak akan pernah berakhir. Dia bahkan bukan lagi seorang anak kecil”, balas Choi Minho dengan suara pelan.

.

“Aku mendengarnya, Choi Minho”, kataku.

.

“Syukurlah kalau begitu, Presidir. Berarti anda tidak memiliki masalah kesehatan apapun”, balas Choi Minho sambil membuka buku catatannya.

.

“Hah… Benar-benar… Cobaan hidupku begitu berat. Eomeoni selalu saja mendesak, Choi Siwon muncul setiap saat, lalu masih ada PA yang menyebalkan. Kesalahan apa yang sudah kulakukan sampai harus mengalami hal ini”, keluhku.

.

Choi Minho tertawa kecil karena mendengar keluhan kekanakanku. Kedua matanya masih menatap lekat pada buku catatannya. Kurasa ia sedang memeriksa kembali jadwal kegiatanku selama satu minggu ke depan. Aku tidak menghiraukannya dan memilih untuk memeriksa tumpukan e-mail baru yang ada di kotak masukku. Aku membiarkannya melakukan apapun yang ia inginkan. Aku bukan orang yang menakutkan. Aku juga bukan orang yang kaku. Aku bisa menjaga emosiku tetap berada dalam keadaan baik selama tidak ada yang mengusikku. Bicara mengenai hal itu, hanya ada beberapa orang yang kuijinkan menggangguku bahkan disaat suasana hatiku sedang buruk. Selain keluargaku, hanya Choi Minho, PA keduaku yang bermarga Jung, Gong ahjussi (supir pribadiku), Han ahjumma (pegawai rumah tangga yang bekerja di apartmentku), dan satu orang kepercayaanku yang lain, yang boleh menginterupsi kegiatanku kapanpun. Tentu saja dengan batasan yang kubuat. Interupsi yang mereka lakukan harus berdasarkan hal yang penting.

.

Dan, tentu saja batasan itu tidak pernah bisa kuberikan pada eomeoni. Ponselku bergetar hebat diatas meja, mengejutkanku dan Choi Minho bersamaan. Kami berdua sontak menoleh pada pembuat keributan di tengah keheningan ruanganku itu. Aku bisa gila jika seperti ini terus. Aku tidak pernah bisa menghindar dari eomeoni. Kurasa desakannya sudah masuk dalam kategori sangat serius. Sebelumnya eomeoni tidak pernah mendesakku sekeras ini. Kali ini eomeoni bersikap seperti seorang rentenir yang sedang menagih hutang. Aku sampai menduga eomeoni tidak pernah melepaskan ponsel dari tangannya. Intensitasnya dalam menghubungiku naik hampir seratus persen. Jika dibiarkan seperti ini terus, aku mungkin akan benar-benar kehilangan akal sehatku.

.

“Angkat teleponnya, Presidir. Saya rasa anda tidak ingin mengambil risiko kedatangan beliau di ruangan ini, bukan?” kata Choi Minho dari tempatnya duduk.

.

“Tidak bisakah kau mengangkatnya untukku? Katakan saja pada eomeoni aku sedang menghadiri rapat”, pintaku, mencoba mencari alasan untuk menghindari eomeoni.

.

“Saya sangat menyukai pekerjaan saya, Presidir. Saya tidak ingin dipecat hanya karena membantu anda berbohong. Ibu anda mengetahui seluruh jadwal anda minggu ini, Presidir”, ujar Choi Minho.

.

“Apa? Bagaimana bisa?”

.

“Hah… Presidir! Saya mohon, angkat teleponnya. Akan lebih baik jika kita mengawali minggu ini dengan tenang”, desak Choi Minho.

.

“Ah, aku tidak mau! Topik yang akan eomeoni bicarakan pasti akan tetap sama. Aku sudah lelah mendengarnya. Kepalaku akan terasa sakit sepanjang hari”, tolakku dengan sikap kekanakan. Aku bahkan terkejut dengan sikap yang kutunjukkan barusan.

.

Choi Minho sontak bangkit berdiri, lalu berlari kecil mendekat ke mejaku. “Jangan kekanakan, Presidir. Hadapi ibu anda dengan jantan, eo?” kata Choi Minho setelahnya.

.

Choi Minho pun menggeser panel hijau di layar ponselku dengan gerakan cepat, lalu menekan simbol pengeras suara setelahnya. Ia berlari cepat kembali ke sofa saat aku baru saja ingin melayangkan tinjuku ke lengannya. ‘Kau sudah gila? Apa yang sudah kau lakukan?‘ kataku pada Choi Minho tanpa suara. Di tempatnya duduk, Choi Minho hanya tersenyum lebar karena merasa puas sudah bisa membuatku terjebak dalam diskusi panjang bersama eomeoni yang baru akan kumulai.

.

“Yoboseyo?” sapaku pada eomeoni.

.

Kyuhyun-ah, kau sudah makan siang?” tanya eomeoni di seberang telepon dengan suara lembutnya.

.

Ada apa dengan eomeoni? Apa amarahnya padaku sudah surut? Aku menggunakan waktu kira-kira dua detik untuk memikirkan perbedaan di nada bicara eomeoni padaku kali ini. Seingatku, eomeoni begitu marah padaku terakhir kali kami bicara di telepon.

.

“Belum, eomeoni. Aku baru selesai rapat”, jawabku akhirnya.

.

Benar dugaanku. Kau ini. Sampai kapan kau mau hidup tidak teratur seperti itu? Jika kau sudah beris……

.

“Aku punya dua PA yang bias mengurus makan siangku, eomeoni”, kataku memotong ucapan eomeoni.

.

Ternyata aku salah menduga sikap eomeoni. Tentu saja, eomeoni tidak akan semudah itu menyerah dalam mendesakku. Isi pembicaraannya pun belum juga berganti. Dugaanku kali ini, eomeoni akan kembali memaksaku untuk datang ke pertemuan yang direncanakannya sabtu ini. Aku harus memikirkan alasan apa lagi yang harus kubuat untuk menghindari pertemuan itu. Aku pun bangkit berdiri dari kursiku, lalu berjalan menuju dinding kaca di belakang meja kerjaku. Disaat yang sama, pintu ruanganku terbuka. Aku akan membiarkan Choi Minho mengatasi itu untukku.

.

Tentu saja itu berbeda, Kyuhyun-ah. Mempunyai seorang istri dan dua orang PA adalah hal yang sangat berbeda. Kedua PA yang kau pekerjakan memiliki batasan waktu untuk mengurusmu. Kau membutuhkan seseorang yang bisa……

.

“Aku sudah dewasa, eomeoni. Umurku sudah 30 tahun. Aku bukan anak-anak lagi. Aku bisa mengurus diriku sendiri dengan bantuan dua orang PA yang siap membantuku kapanpun”. Aku memotong ucapan eomeoni sekali lagi. Dalam diam, aku merasa telah melakukan hal yang buruk pada eomeoni. Tidak seharusnya aku bersikap seperti ini padanya.

.

Kau ini… Tidak pernah mau mendengarkanku”, keluh eomeoni. “Baiklah. Jika kau tetap bersikeras, maka terserah padamu”. Sampailah kami pada pembicaraan ini. Aku sudah menduga kalimat apa yang akan eomeoni ucapkan setelahnya. “Aku juga akan tetap bersikeras. Aku sudah merencanakan pertemuan ini dengan baik. Kau harus pulang karena aku mengundang Min Seyeon untuk makan siang bersama di rumah”, sambung eomeoni.

.

“Eomeoni…” kataku. Aku menghentikan kalimatku sejenak untuk menghela napas panjang. “Bisakah kita tidak melakukan ini? Eomeoni sudah melakukan ini berkali-kali, tapi tidak pernah berhasil. Aku sudah lelah, eomeoni. Apakah eomeoni tidak merasa lelah juga? Kapan eomeoni akan berhenti?” tanyaku pada eomeoni, mencoba bernegosiasi.

.

Tidak”, jawab eomeoni tegas. Ya, tentu saja, sambungku dalam pikiranku. “Aku tidak lelah. Jika kau tidak menemukan gadis pilihanmu sendiri, aku tidak akan pernah berhenti. Aku akan berhenti jika sudah melihatmu datang berkunjung ke rumah dengan seorang gadis bersamamamu. Tapi, aku sangat mengenal dirimu, adeul. Kau tidak akan melakukan itu secepat yang ku inginkan. Karena itu, aku harus ikut campur dalam hal ini. Seharusnya kau berterimakasih padaku, ‘kan? Kau tidak perlu lagi mencari. Aku sudah menemukannya untukmu”, kata eomeoni.

.

“Ya… Ya…” kataku memberikan respon dengan malas.

.

Jadi, kita akan bertemu sabtu ini di rumah. Mengerti?

.

“Kita lihat saja nanti, eomeoni”, jawabku.

.

Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku, Kyuhyun-ah. Jika kau tidak datang, maka aku akan menyeretmu pulang dengan caraku”, kata eoemoni membuatku sedikit terkejut dengan ucapannya. Eomeoni tidak pernah sekeras ini padaku.

.

“Aku mengerti. Eomeoni, bisakah kita bicara lagi nanti? Aku harus mengurus sesuatu”, kataku.

.

Baiklah. Jangan lupakan makan siangmu, adeul”, balas eomeoni.

.

“Sampai nanti, eomeoni”.

.

Aku langsung memutus sambungan telepon dengan eomeoni tanpa menunggu balasan darinya. Aku tahu sikapku sangat tidak baik padanya. Hanya saja, suasana hatiku berubah dengan mudah jika eomeoni sudah memulai pembahasan tentang gadis yang tidak berujung itu. Lagipula, aku tidak sepenuhnya berbohong pada eomeoni. Aku memang harus mengurus sesuatu. Manager Do yang masuk ke ruanganku beberapa saat yang lalu masih menungguku. Sepertinya berkas yang ia bawa tidak bisa hanya diserahkan pada Choi Minho.

.

“Selamat siang, Presidir”, kata Manager Do memberikan salam.

.

“Ada apa?” tanyaku.

.

“Manager Do datang untuk memberikan berkas anggaran yang anda minta di rapat tadi, sekaligus membahasnya dengan anda, Presidir”, kata Choi Minho menjelaskan.

.

Anggaran. Tiba-tiba saja sebuah ide terbersit di kepalaku. Walaupun ide ini sedikit gila, tapi tidak ada salahnya untuk dicoba. Kemungkinan akan berhasil memang sangat tipis. Aku bahkan belum tentu bisa melakukannya. Seharusnya ini tidak akan terlalu sulit, mengingat data dirinya yang sudah kubaca kemarin. Namun, tidak ada rincian kepribadian dalam data itu. Aku belum bisa benar-benar membacanya. Pertemuan kami sabtu lalu terlalu singkat untuk menggambarkan sifatnya. Aku harus punya alasan yang kuat untuk melakukan rencanaku ini.

.

.

.

#########################

.

.

.

HANA

At La Verde Florist

.

Aku sudah mencarinya diseluruh sudut flatku semalam. Pagi ini pun aku masih mencoba mencarinya sekali lagi. Seingatku, kemarin aku membawanya bersamaku. Aku hanya memiliki waktu tiga hari untuk melunasi biaya kuliahku yang sudah menunggak sampai semester ini hampir berakhir. Jika aku tidak melunasinya dalam tiga hari, maka surat yang sama akan dikirim oleh pihak kampus ke rumahku. Bukan hal yang menyenangkan untuk dihadapi. Aku sudah menghubungi Morning Sunshine tadi pagi untuk menanyakan surat itu pada siapapun yang sedang bertugas disana. Namun, mereka mengatakan tidak ada satu pun barangku yang tertinggal disana. Bodohnya aku. Kemarin malam pikiranku terlalu kacau karena orang-orang menyebalkan yang tidak pernah lelah mengejarku. Aku sudah tahu cepat atau lambat mereka pasti menemukanku. Sepertinya aku harus kembali mengundurkan diri dari pekerjaanku karena mereka sudah mengetahui keberadaanku disana. Aku tidak ingin membuat siapapun yang berada disana merasa tidak nyaman karena keberadaanku.

.

Saat ini kau harus mementingkan surat itu terlebih dahulu, Park Hana! Aku harus menyelamatkan diriku terlebih dahulu dengan menemukan surat itu. Aku tidak memiliki jadwal bekerja di Morning Sunshine sampai besok lusa. Aku masih memiliki waktu untuk memikirkan orang-orang menyebalkan itu lagi nanti. Saat ini, aku harus menemukan surat yang menghilang sejak kemarin malam itu. Benar. Kemarin malam. Aku memegang surat itu kemarin malam, sebelum akhirnya aku dikejar oleh mereka, dan masuk ke mobil milik pengusaha muda yang datang ke café bersama Choi Minho. Astaga! Aku pasti sudah meninggalkan surat itu di mobilnya saat keluar dengan terburu-buru kemarin. Kau sangat ceroboh, Park Hana! Surat keramat itu pasti belum sempat kumasukkan kembali ke dalam tas sebelum aku tertidur di mobil itu. Bagaimana ini?

.

Tiba-tiba, denting bel berbunyi nyaring, menandakan ada seorang pelanggan yang datang. Aku segera berbalik kembali menghadap ke depan, lalu menundukkan kepalaku untuk menyapa pelanggan itu. Aku bisa mendengar derap langkah kakinya yang perlahan mendekat ke meja kasir tempatku berdiri. Belum ada kata apapun yang terdengar darinya, membuatku segera mengangkat kepalaku untuk melihatnya. Choi Minho? Sungguh kebetulan yang cukup menyenangkan, namun memunculkan rasa tidak nyaman yang tiba-tiba saja memenuhiku.

.

“Choi Minho-ssi?”

.

“Selamat siang, Park Hana-ssi”, Choi Minho balas menyapaku.

.

“Em… Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku ragu.

.

“Karena itu saya datang kesini”, jawab Choi Minho.

.

“Oh? Anda datang untuk membeli bunga?” tanyaku sekali lagi.

.

Choi Minho sontak tertawa mendengar pertanyaanku. “Tentu saja. Memangnya apa lagi yang orang lain lakukan saat datang kesini selain membeli bunga?” Choi Minho balas bertanya.

.

Ucapannya membuatku merasa lebih tenang dengan mudah. Aku ikut tertawa bersamanya. Ini adalah kali kedua ia melakukan itu padaku. Kami membicarakan kemampuannya membuat orang lain merasa lebih baik dengan ucapan dan nada bicaranya kemarin di Morning Sunshine. Menurutnya, kemampuan itu ia dapatkan setelah bekerja untuk atasannya yang cukup keras kepala selama beberapa tahun. Ingatanku langsung menemukan wajah pria muda pemilik mobil yang dipanggil Presidir oleh Choi Minho kemarin. Aku sudah menduganya, sangat terlihat dari wajahnya. Ah! Suratku! Tidak. Tidak. Aku harus melayaninya terlebih dahulu sebelum menanyakan suratku.

.

“Jadi, anda ingin membuat sebuah buket atau hanya membeli beberapa batang?” tanyaku.

.

“Tidak keduanya”, jawab Choi Minho. Ada sebuah kerutan kecil di keningnya, seolah memberitahuku bahwa pesanannya kali ini akan membuatku heran. “Saya membutuhkan karangan beberapa bunga di dalam pot. Tidak perlu besar. Karangan sederhana saja”, sambung Choi Minho.

.

“Ah, begitu. Bunga apa saja yang anda inginkan?” tanyaku kali ini.

.

“Bunga apa yang bisa anda rekomendasikan, Park Hana-ssi?” Choi Minho balas bertanya.

.

Just Hana”, pintaku padanya. “Um… Jika saya boleh tahu, anda membutuhkannya untuk apa? Maksud saya, apakah hanya untuk diletakkan di meja kerja, atau untuk diberikan pada orang lain?” tanyaku meminta penjelasan lebih rinci darinya.

.

Choi Minho terdiam selama beberapa detik setelah mendengar pertanyaanku. Aku menemukan ekspresi bingung di wajahnya, meski ia sudah menyembunyikannya dengan sangat baik. Kerutan kecil di keningnya terlihat sekali lagi. Ia benar-benar sedang berpikir keras hanya untuk menjawab pertanyaanku. Aku menduga ada sebuah kejanggalan yang tersembunyi dibalik tujuannya. Disisi lain, aku merasa cukup terhibur karena ekspresi di wajahnya terlihat sangat lucu saat bingung seperti itu. Seolah ia sedang merasa tidak nyaman dengan perasaan bingung yang sedang dirasakannya.

.

“Untuk…” Choi Minho berdeham pelan setelahnya. “…diberikan pada… eomeoni?” katanya tidak yakin dengan jawabannya sendiri.

.

“Eomeoni?” tanyaku mengulangi ucapannya. Choi Minho pun mengangguk cepat. “Kalau begitu, apakah anda tahu apa kesukaan ibu anda?” sambungku.

.

“Um… Sayangnya bukan untuk ibu saya”, jawabnya, membuatku bingung.

.

Seperti ada sebuah lampu yang tiba-tiba menyala di film kartun, aku bisa menebak dengan cepat maksud ucapannya. “Eomeoni dari Tuan Presidir?” tanyaku.

.

“Benar”, jawabnya bersamaan dengan helaan napas panjangnya. Masih ada keraguan dalam ucapannya. “Karena itu, saya meminta pendapat anda, Hana-ssi”, sambung Choi Minho.

.

“Tuan Presidir tidak memberitahu anda apa kesukaan ibunya, ‘kan? Sayang sekali…” kataku tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanku.

.

“Saya bahkan ragu dia mengetahuinya, Hana-ssi”, ujar Choi Minho bersungguh-sungguh. “Saya mengetahui lebih banyak hal tentang Presidir Cho dibandingkan dirinya sendiri”, sambung Choi Minho menjelaskan.

.

WowSuch a tough job”, kataku bergurau. “Sorry, saya tidak bermaksud sarkastik”, sambungku.

.

“Sebenarnya, pekerjaan ini lebih menyenangkan dari yang anda bayangkan”, balasnya. “Jadi?”

.

“Ah, benar. Mari, saya tunjukkan beberapa pilihan bunga yang mungkin akan disukai oleh Tuan Presidir”, ajakku.

.

Kami pun berjalan menuju sisi lain toko. Choi Minho menceritakan padaku beberapa sifat ibu dari Presidir yang ia tahu. Penjelasan Choi Minho tentang sosok ibu yang tangguh namun berhati lembut membawa kami ke deretan bunga dengan warna lembut yang tidak terlalu mencolok. Kami pun menggabungkan karakteristik Presidir muda itu dengan ibunya untuk menentukan pilihan kami. Bunga lily putih, mawar pink muda, pink tua, dan putih, bunga gerbera pink, serta aster putih dan pink. Semua jenis bunga itu kurangkai di sebuah vas putih tinggi yang berukuran sedang. Saat perhatianku sedang berada pada rangkaian bunga yang sedang menyibukkan kedua tanganku, Choi Minho tidak lantas membiarkan keheningan menyelimuti kami. Ia membicarakan banyak hal, mulai dari kejadian-kejadian menyenangkan selama hidupnya, sampai pengalamannya bekerja pada Presidir Cho. Oh! Aku lupa tentang suratku. Pembicaraan menyenangkan yang dimulai oleh Choi Minho hampir saja membuatku melupakan surat yang sedang sangat kubutuhkan.

.

“Minho-ssi, bolehkah saya menanyakan sesuatu?” tanyaku hati-hati.

.

“Tentu saja, Hana-ssi. Anda boleh menanyakan apapun”, jawab Choi Minho.

.

“Apakah ada barang milik saya yang tertinggal di mobil Presidir Cho?” tanyaku.

.

“Anda kehilangan sesuatu, Hana-ssi? Barang apa lebih tepatnya?” Choi Minho balas bertanya.

.

“Beberapa lembar kertas. Saya sudah mencarinya di flat, bahkan sampai di Morning Sunshine. Tapi, saya masih tidak menemukannya. Saya pikir, mungkin saja jatuh di mobil Presidir Cho saat saya tertidur”, jawabku.

.

“Ah… Jadi, ini bagian dari rencananya?” Samar-samar kudengar Choi Minho mempertanyakan dirinya sendiri. Kalimatnya yang diucapkannya seolah sedang merujuk pada seseorang yang tidak kuketahui. “O! Aku terlambat!”

.

“Ada apa, Minho-ssi?” tanyaku, berharap aku bisa mendapatkan penjelasan lebih rinci tentang ucapannya barusan.

.

“Ya? Ah, bukan apa-apa. Hanya saja, saya melupakan sebuah tugas penting lain yang harus saya lakukan”, jawab Choi Minho.

.

“Kalau begitu, anda harus segera mengerjakannya sebelum menjadi lebih terlambat. Saya bisa mengantarkan karangan bunga ini langsung ke rumah Presidir Cho. Saya hanya perlu memberikannya pada ibu dari Presidir Cho, bukan?” tanyaku.

.

“Itulah yang baru mau saya katakan, Hana-ssi. Presidir ingin memberikan bunga itu pada ibunya secara langsung. Karena itu, saya ingin meminta anda untuk mengantarkannya ke Cronus”, jawab Choi Minho.

.

“Baiklah. Itu justru jauh lebih mudah untuk dilakukan. Saya akan mengantarkannya ke meja resepsionis, lalu menujukan karangan bunga ini pada Presidir Cho. Anda tidak perlu khawatir. Karangan bunga ini akan sampai di Cronus secepatnya”, kataku meyakinkannya.

.

“Tentang itu, Hana-ssi…” kata Choi Minho yang menghentikan kalimatnya karena merasa ragu. Butuh waktu sampai tiga detik sebelum Choi Minho kembali bicara. “Presidir tidak pernah mengijinkan terlalu banyak orang masuk ke dalam ruangannya”, sambung Choi Minho.

.

“Jadi? Bukankah rencana saya sudah benar? Saya akan mengantar karangan bunga ini ke resepsionis agar diberikan pada Presidir Cho setelahnya”. Aku kembali dibuat bingung oleh Choi Minho.

.

“Tidak ada satupun resepsionis yang pernah masuk ke dalam ruangan Presidir Cho, Hana-ssi. Semua kiriman yang datang ke resepsionis untuk Presidir Cho hanya bisa masuk ke dalam ruangannya melalui dua orang sekertaris pribadinya, yaitu saya dan rekan saya, Jung Eunji. Kami berdua yang akan secara langsung mengambil kiriman apapun yang ditujukan pada Presidir Cho di resepsionis”, kata Choi Minho menjelaskan.

.

Baiklah. Bisakah kita membicarakan inti dari permasalahan itu? tanyaku dalam pikiranku. “Lalu, karena anda sedang tidak ada di kantor, maka saya harus memberikan karangan bunga ini langsung pada Jung Eunji-ssi. Benar, begitu?” tanyaku untuk ke sekian kalinya.

.

“Sayangnya, kali ini saya harus merepotkan anda, Hana-ssi. Presidir Cho ingin anda mengantarkannya langsung ke ruangan beliau”, jawab Choi Minho dengan sebuah senyuman kecil khas seorang sekertarisnya.

.

“Apa? Kenapa begitu? Maksud saya… Hmm… Anda mengatakan bahwa Presidir Cho tidak mengijinkan terlalu banyak orang masuk ke ruangannya. Lalu, kenapa beliau justru ingin saya mengantarkannya langsung ke dalam?” tanyaku bingung, tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini menuju.

.

“Saya pikir, mungkin ada hubungannya dengan lembaran kertas yang sedang anda cari, Hana-ssi”, jawab Choi Minho singkat, menjawab seluruh pertanyaanku padanya dalam satu waktu. “Bisakah anda melakukannya? Karena saya sudah dikejar waktu saat ini”, sambung Choi Minho, menyadarkanku yang sempat tenggelam dalam pikiranku sendiri.

.

“Ya, tentu saja. Saya bisa melakukannya. Anda tidak perlu khawatir, Minho-ssi. Anda bisa mempercayakan karangan bunga ini pada saya. Presidir Cho akan menerimanya langsung dari saya”, kataku meyakinkan Choi Minho.

.

“Senang mendengarnya. Kalau begitu, terimalah ini”, kata Choi Minho sambil memberikan sebuah amplop kecil yang terbuat dari kertas aster, dengan cetakan sebuah gambar yang tampak seperti lambang di sudut kanan bawah amplop. “Berikan amplop itu pada resepsionis saat anda masuk ke Cronus. Nanti salah satu dari mereka akan mengantar anda langsung menuju ke ruangan Presidir Cho”, sambungnya.

.

“Bagaimana jika mereka meragukan saya dan tidak mau membiarkan saya masuk? Apa yang harus saya lakukan dengan karangan bunga ini?” tanyaku setelah memikirkan kemungkinan lain yang bisa terjadi.

.

“Percayalah, Hana-ssi. Saya harap hal itu tidak akan pernah terjadi. Karena, jika ada satu karyawan saja di Cronus yang mengacuhkan amplop itu, maka di hari yang sama dia telah mengucapkan selamat tinggal pada pekerjaannya. Cara yang tidak menyenangkan untuk kehilangan pekerjaan”, kata Choi Minho. “Tapi, jika hal itu benar-benar terjadi, maka anda bisa membawa karangan bunga itu kembali ke La Verde. Setelah urusan saya selesai, saya akan mengambilnya sendiri”, sambungnya.

.

Seketika, rambut halus di tanganku dibuat meremang. Hanya karena mengacuhkan sebuah amplop kecil berwarna cokelat tua ini, seseorang bisa kehilangan pekerjaannya. Aku pun kembali memikirkan ulang penilaianku pada Presidir Cho yang diceritakan oleh Choi Minho beberapa menit yang lalu. Dari ceritanya tadi, aku bisa mengetahui bagaimana kepribadian seorang Presidir Cho dari kacamata seorang Choi Minho. Seorang pria yang harus meneruskan bisnis besar keluarganya saat ayahnya memutuskan untuk pensiun secara tiba-tiba. Ia harus memimpin perusahaan besar itu di usianya yang masih cukup muda. Meski pekerjaan yang berat sering membuatnya menjadi terlalu lelah, sehingga kesehatannya terganggu, Presidir Cho tetap tidak melalaikan pekerjaannya sedikitpun. Disaat pria lain seusianya sedang membangun hidup di kehidupan dewasa yang baru dimulai, Presidir Cho justru sudah disibukkan dengan tugas untuk mengembangkan perusahaan keluarganya. Aku pun kehilangan alasanku untuk merutuki sikap dinginnya kemarin malam, lantas memaklumi sikapnya yang menggunakan kekuasaan untuk menjalankan perusahaan itu.

.

“Karangan bunga ini akan diterima langsung oleh Presidir Cho, Minho-ssi. Saya bisa menjaminnya. Anda bisa mengerjakan tugas penting anda dengan tenang”, kataku meyakinkannya sekali lagi.

.

“Baiklah. Saya bergantung pada anda, Hana-ssi. Kalau begitu, saya pamit dulu. Ah, jangan lupa berikan nota pembayarannya pada Jung Eunji-ssi di depan ruangan Presidir. Saya pamit sekarang. Semoga hari anda menyenangkan”, kata Choi Minho dengan senyum mengembangnya.

.

“Begitupun dengan anda”, balasku pada Choi Minho yang lantas berjalan menuju pintu. Suara bel yang bergemerincing menandakan bahwa ia sudah keluar dari toko tidak lama setelahnya.

.

.

.

#########################

.

.

.

Karangan bunga yang dipesan oleh Choi Minho bisa kuselesaikan 25 menit setelah kepergiannya dari sini. Sebenarnya aku bias menyelesaikannya lebih cepat. Hanya saja, Yuri eonni, seorang karyawan lain, yang tadi ada disini menjaga toko bersamaku sedang keluar untuk mengantarkan pesanan. Karena itu, saat ada pelanggan yang datang, aku harus melayaninya terlebih dahulu. Kwon Yuri sudah kembali lima menit yang lalu. Kini giliranku bertugas mengantarkan pesanan ke Cronus Inc. Langkahku sontak menjadi berat hanya karena mengingat nama perusahaan itu saja. Membayangkan Presidir Cho berada di suatu tempat di gedung itu dengan tatapan dinginnya membuat nyaliku mengecil dengan mudah. Kau harus berani, Park Hana! Demi surat keramat itu, kataku meyakinkan diri. Aku berjalan menuju meja kasir untuk mengambil nota pembayaran yang menurut Choi Minho harus kuserahkan pada rekannya yang bersama Jung Eunji. Yuri eonni sudah membuatkan nota itu untukku. Aku hanya perlu menyebutkan jumlah dan jenis bunga yang kupakai, lalu Yuri eonni yang melakukan perhitungannya.

.

“Siapa yang memesan karangan bunga yang mahal itu?” tanya Yuri eonni.

.

“CEO Cronus Inc”, jawabku.

.

“Presidir Cho Kyuhyun?” tanya Yuri eonni.

.

“Orang yang sama”. Kurasa, sambungku.

.

“Benarkah? Luar biasa…” Yuri eonni menggabungkan ekspresi terkejut dan takjubnya dalam satu waktu.

.

“Eonni mengenalnya?” tanyaku kali ini.

.

“Siapa aku ini bisa mengenal orang seperti dia, Hana-ya?” kata Yuri eonni sambil tertawa kecil. “Sangat tidak biasa. Presidir Cho tidak pernah memesan bunga secara langsung. Mungkinkah untuk keperluan pribadi? Untuk kekasihnya mungkin?”

.

“Sekertarisnya bilang ini untuk ibunya”, kataku menghapus dugaan-dugaan liar Yuri eonni.

.

“Luar biasa… Benar-benar luar biasa… Apa lagi yang kurang darinya? Dia masih muda, tampan, ramah, kaya, hebat, berkharisma, kini ditambah dengan perhatiannya pada ibunya. Bagaimana bisa dia hidup sesempurna itu?” respon Yuri eonni kali ini.

.

“Eonni pernah bertemu dengannya?” tanyaku sambil memeriksa ulang nota pembayaran yang akan kubawa bersamaku. Sambil menggali informasi lebih banyak tentang Tuan Presidir yang akan kutemui beberapa menit lagi.

.

“Tentu saja, Hana-ya. Aku tidak akan bisa bicara seperti ini jika aku belum pernah bertemu dengannya. Aku bertemu dengannya beberapa kali di lobby Cronus Inc. saat aku datang untuk mengantarkan bunga. Semua karyawan disana langsung membungkukkan badan saat sosoknya muncul di lobby. Tentu saja aku langsung ikut memberikan salam padanya. Kupikir dia akan pergi begitu saja. Tapi, ternyata dia membalas sapaan para karyawan dengan sangat ramah. Sampai saat ini aku masih ingat betul senyum ramah di wajah tampannya itu”, kata Yuri eonni menjelaskan.

.

Sangat berbeda dengan yang terekam dalam ingatanku. Sosok Presidir muda dalam ingatanku tidak seterang sosok yang diceritakan oleh Yuri eonni. Ia bukan sosok Presidir ramah malam itu. Tatapan matanya begitu tajam. Rahangnya terkatup, membentuk sebuah garis keras seperti sebuah pahatan. Hawa yang diberikannya begitu dingin, membuatku takut untuk sekedar menatapnya lebih lama. Aku seperti sedang mendengarkan cerita tentang sosok orang lain dari Yuri eonni.

.

“Eonni, aku mengantarkan bunga ini dulu padanya. Aku akan segera kembali”, kataku berpamitan pada Yuri eonni.

.

“Baiklah. Hati-hati membawanya. Jangan lupa bernapas saat menatapnya. Semoga berhasil”, balas Yuri eonni dengan gurauannya.

.

Aku segera keluar dari took dengan satu vas penuh dengan bunga di tanganku. Jarak Cronus Inc. tidak terlalu jauh dari La Verde. Karena itu, aku memutuskan untuk berjalan kaki menuju kesana. Aku bisa mempersiapkan diriku sebelum bertemu dengan Presidir yang memiliki kesan berbeda-beda itu. Kenapa aku harus mempersiapkan diri? Aku mempertanyakan isi kepalaku sendiri. Perbedaan mencolok dari sosok yang kutemui kemarin malam dengan sosok yang diceritakan oleh Yuri eonni membuatku bertanya-tanya. Tanpa sadar, aku merasa sedikit gugup. Perasaan ini menjadi semakin kuat di setiap langkahku yang semakin mendekati gedung perusahaan itu. Jarakku hanya sekitar sepuluh meter saat jantungku mulai berdegup lebih cepat. Aku mencoba untuk menghela napas panjang agar membuatku lebih tenang. Namun, sepertinya usaha itu tidak terlalu berpengaruh padaku. Hingga sapaan petugas keamanan di depan pintu lobby menyadarkanku. Ini bukan kali pertamaku bertemu dengannya. Karena itu, ia menyapaku dengan sangat ramah dan hangat, seolah kami sudah mengenal untuk waktu yang lama. Kecemasanku sedikit mereda setelah menerima sapaan hangatnya. Aku akan berterimakasih padanya nanti. Dan, tibalah aku di lobby Cronus Inc. yang tampak megah meski dengan design interiornya yang tidak berlebihan. Aku tidak menyadari langkah kakiku yang menjadi semakin cepat saat aku berjalan menghampiri resepsionis. Aku merasa beruntung karena pernah menggantikan Sangjun oppa mengantarkan bunga ke perusahaan ini. Sehingga aku tidak merasa begitu canggung saat bicara dengan resepsionis yang sudah pernah kutemui ini.

.

“Selamat siang”, sapaku.

.

“O? Park Hana-ssi? Bukankah Go Sangjun-ssi sudah mengantarkan semua bunga tadi pagi?” tanya seorang resepsionis yang bernama Han Sunhwa.

.

“Benar, Han Sunhwa-ssi. Saya datang kesini untuk mengantarkan pesanan yang lain”, jawabku.

.

“Oh, begitu. Kalau begitu, anda bisa memberikannya pada saya. Lalu, tolong anda tuliskan di sisi kanan buku ini pengirim serta penerima bunga ini”, kata Han Sunhwa menjelaskan.

.

“Sayangnya, saya diminta mengantarkannya secara langsung pada orang yang memesan bunga ini. Saya tidak boleh menitipkannya pada siapapun”, kataku.

.

“Benarkah? Tapi, biasanya setiap kiriman paket atau barang apapun yang datang ke perusahaan ini harus disampaikan melalui kami. Dan, saya khawatir saya tidak bisa membiarkan anda masuk ke dalam perusahaan. Karena, perusahaan melarang orang asing, selain klien perusahaan ini untuk masuk ke dalam”, Han Sunhwa menjelaskan sekali lagi.

.

Sudah kuduga. Sepertinya ini saatnya untuk menggunakan amplop menyeramkan itu. “Saya mengerti, Han Sunhwa-ssi. Tapi, saya datang dengan membawa ini bersama saya”, kataku sambil mengeluarkan amplop kecil berwarna cokelat tua dari saku belakang celanaku.

.

Aku bisa melihat perubahan yang tergambar di wajah Han Sunhwa setelah melihat amplop cokelat itu. Jika aku tidak salah menilai, ia tampak sedikit memucat. Ia sangat terkejut melihat amplop itu, seolah ia baru saja melakukan kesalahan besar yang bisa mengancam dirinya. Dalam diam, aku ikut merasa takut sepertinya. Efek yang diberikan amplop itu begitu besar pada karyawan perusahan ini. Bahkan rekan Han Sunhwa, resepsionis yang lain, menunjukkan ekspresi yang sama saat ikut melihat amplop itu. Dua orang di sisi kiri Han Sunhwa langsung meraih gagang telepon mereka. Satu diantara mereka menghubungi pihak keamanan, sedangkan yang lainnya seperti sedang bicara dengan pihak teknisi gedung. Sementara Han Sunhwa langsung menarikan jari-jarinya diatas keyboard komputernya. Aku menduga ia sedang menuliskan laporan yang akan langsung ditujukan ke ruang sekertaris Presidir.

.

“Mari, Hana-ssi, saya akan mengantar anda”, kata Lee Junho, salah satu dari para resepsionis itu.

.

“Ya? Oh, baiklah”, kataku menunjukkan respon bingungku secara terang-terangan.

.

“Saya minta maaf karena sudah menahan anda terlalu lama disini, Park Hana-ssi”, kata Han Sunhwa menyesal.

.

“Tidak apa-apa, Han Sunhwa-ssi. Anda tidak melakukan kesalahan apapun. Tidak perlu meminta maaf”, balasku.

.

“Mari, Hana-ssi”, kata Lee Junho sekali lagi.

.

“Baiklah”, jawabku.

.

Kami pun berjalan menuju sisi kiri gedung yang terlihat lebih sepi dari sisi kanan, tempat lalu lalang para karyawan. Sepertinya ini adalah sisi khusus yang digunakan oleh tamu yang datang untuk menemui Presidir. Sebuah pembatas bahkan di pasang di depan lorong yang dijaga oleh dua orang petugas keamanan. Tubuh kedua petugas itu jauh lebih besar dan tegap dibandingkan dengan petugas yang berada di depan lobby. Aku rasa dugaanku memang benar. Lorong ini hanya digunakan oleh tamu penting Presidir saja.

.

“Kenapa lorong ini begitu sepi, Junho-ssi? Apakah karyawan lain tidak mau menggunakan lift di lorong ini?” tanyaku mencari pembenaran atas dugaanku.

.

“Bukan begitu, Hana-ssi. Lift di lorong ini hanya boleh digunakan oleh orang-orang tertentu saja”, jawab Lee Junho.

.

“Maksud anda hanya para tamu Presidir?” tanyaku lagi.

.

Aku bisa melihat sebuah senyum ramah terbentuk di wajah tenang Lee Junho saat kami masuk ke dalam lift. “Tidak. Para tamu yang datang menemui Presidir menggunakan lift yang sama dengan yang lainnya. Lift ini hanya digunakan oleh Presidir dan keluarganya. Dan, tamu penting seperti anda”, kata Lee Junho menjelaskan.

.

“Ah, amplop cokelat itu? Choi Minho-ssi yang memberikannya pada saya. Dia bilang saya harus menunjukkannya pada resepsionis saat saya tiba disini”, kataku menjelaskan darimana datangnya amplop coklat yang kugunakan itu.

.

“Amplop coklat itu hanya digunakan oleh tamu penting selain keluarga dari Presidir”, sambung Lee Junho.

.

“Jadi, sudah ada berapa orang yang menggunakannya?” tanyaku. Aku bukan bermaksud ingin mencari tahu lebih banyak tentang perusahaan ini. Aku hanya tidak ingin kami menjadi canggung pada satu sama lain hanya karena kedatanganku dengan amplop cokelat itu bersamaku. Aku tidak suka diperlakukan istimewa oleh siapapun.

.

“Anda yang pertama, Hana-ssi”, jawab Lee Junho singkat dengan ramah.

.

Tiba-tiba, pintu lift terbuka. Kami tiba di lantai sebelas gedung ini dalam waktu singkat. Lee Junho keluar dari lift mendahuluiku, lalu berhenti di depan lift untuk mempersilahkanku berjalan di depannya. Sesaat setelah aku keluar dari lift, sebuah ruangan yang dibatasi oleh kaca menyambutku. Ruangan itu tampak begitu luar biasa, memukauku meskipun warna yang menghiasi dindingnya hanya gabungan antara hitam, putih, dan abu-abu. Seorang wanita muda yang mengenakan blazer dan rok pensil berwarna abu-abu muda, dengan blouse putih satin didalamnya, serta sepasang sepatu high heels hitam berjalan mendekat ke dinding kaca yang kemudian terbuka setelahnya. Kurasa wanita muda ini adalah Jung Eunji-ssi, rekan Choi Minho, sesama asisten pribadi Presidir Cho. Jung Eunji-ssi tersenyum ramah, memberikan salam padaku. Senyum yang begitu kukenal dari wajah Choi Minho.

.

“Selamat datang, Park Hana-ssi. Presidir Cho sudah menunggu anda”, kata Jung Eunji dengan nada bicaranya yang teratur. “Biarkan saya membawakan vas ini untuk anda”, sambungnya.

.

“Bisakah aku membawanya sendiri pada Presidir Cho?” tanyaku mengejutkan Jung Eunji.

.

Ia kembali tersenyum ramah padaku setelahnya. “Tentu saja, Nona. Jika itu yang anda inginkan. Mari, saya antar ke dalam”, jawab Jung Eunji.

.

“Terima kasih karena sudah mengantarku, Junho-ssi”, kataku pada Lee Junho.

.

“Terima kasih kembali, Hana-ssi”, balasnya.

.

.

.

KYUHYUN

At Cronus Inc. Building 11th floor

.

Suara lift yang terbuka menghentikan jari-jariku yang sibuk berlari diatas keyboard sejak tadi. Ada harap yang muncul dalam diriku, orang yang baru saja datang itu bukan Choi Minho yang kembali tanpa hasil, melainkan Park Hana akan datang sendiri ke tempat ini. Tanpa sadar, aku menghitung detik demi detik waktu yang terasa bergerak begitu lama. Hingga suara dentingan yang datang dari lift memberikan harapan padaku. Aku yakin seseorang dari meja resepsionis datang kesini untuk bertugas sebagai pengantar. Itu berarti Park Hana memang datang kesini. Sebuah ketukan di pintu terdengar setelahnya, mengundangku untuk mempersilahkan tamu istimewa itu masuk ke dalam. Hari ini semua karyawan bekerja dengan baik. Mulai dari resepsionis, hingga Jung Eunji. Aku akan melewatkan nama Choi Minho. Ia selalu bekerja dengan baik. Bukti pekerjaannya sudah ada di depan mataku. Park Hana, dengan sebuah vas berisikan bunga-bunga yang cantik di tangannya.

.

“Silahkan masuk, Park Hana-ssi”, kataku menyambutnya. “Dan, berikan vas itu pada Jung Eunji”, sambungku.

.

“Baik”, jawabnya dengan suara pelan. Entah mengapa aku tidak suka mendengarnya. Seolah ia sedang merasa takut padaku. Aku tidak sedang mencoba menakutimu, Park Hana.

.

“Tolong kirimkan itu ke rumah orangtuaku, Jung Eunji”, titahku dengan sopan.

.

“Apakah anda ingin menyertakan kartu ucapan, Presidir?” tanya Jung Eunji. Ide bagus.

.

“Tentu. Katakan saja, ‘Semoga bisa menenangkanmu. Maafkan sikapku. Aku menyayangimu. Cho Kyuhyun’. Hanya itu”, jawabku.

.

“Apakah anda ingin menggunakan pilihan kertas yang lebih berwarna?” tanya Jung Eunji sekali lagi. Aku baru ingat ia sempat bekerja pada eomeoni selama beberapa bulan. Tentu ia mengetahui banyak hal tentang eomeoni.

.

“Aku serahkan padamu. Lakukan yang terbaik”, jawabku memberi kebebasan sekaligus tanggungjawab padanya.

.

“Ada lagi yang anda butuhkan, Presidir?” tanya Jung Eunji memastikan.

.

Ah, tamu istimewaku. “Kau mau minum sesuatu, Park Hana?” tanyaku pada Park Hana yang berdiri tidak jauh dari Jung Eunji.

.

Ia melonjak pelan mendengar pertanyaanku, seolah aku baru saja membuatnya terkejut meski dengan suaraku yang tidak keras. “Tidak, terima kasih”, jawabnya.

.

“Kalau begitu, aku tidak membutuhkan apapun, Jung Eunji. Terima kasih”, kataku pada Jung Eunji.

.

“Kembali, Presidir”, balas Jung Eunji yang segera berlalu meninggalkan ruanganku.

.

“Silahkan duduk, Park Hana”, kataku.

.

“Terima kasih. Boleh saya bicara jujur?” tanya Park Hana.

.

“Tentu saja. Tidak ada hal yang lebih baik dari sebuah kejujuran”, jawabku.

.

“Anda sangat perhatian pada ibu anda. Saya tidak menduganya. Anda cukup mengejutkan saya”, kata Park Hana.

.

“Itu bukan apa-apa. Aku punya banyak hal yang bisa membuatmu lebih terkejut”, balasku.

.

Park Hana tidak mengatakan apapun setelahnya. Ia mulai bergerak menuju sofa single di sisi terjauh dariku. Ia duduk dengan tenang tanpa bicara apapun. Kedua kaki jenjangnya yang tersembunyi dibalik celana jeans biru muda yang ia kenakan merapat, menyatu dalam satu gari lurus. Penampilannya yang santai dan sederhana seolah membawa hawa yang sama pada ruangan ini. Sekali lagi, ia berhasil menenangkan pikiranku dengan mudah. Ia berdeham pelan setelahnya, menyadarkanku untuk kembali ke alam nyata.

.

“Jadi, apa tujuanmu datang kesini?” tanyaku padanya.

.

“Saya kira anda yang meminta saya untuk datang kesini. Bukankah seharusnya saya yang menanyakan itu pada anda?” balas Park Hana.

.

Sesuai dugaanku. Ia adalah wanita cerdas dibalik kesederhanaannya itu. Data dirinya yang sudah kubaca berulang kali tidak memberikan informasi palsu tentangnya. “Aku memang memiliki tujuanku sendiri. Tapi, saat ini aku bertanya padamu, apa tujuanmu? Dari ekspresi di wajahmu dan bahasa tubuhmu, aku yakin kau sedang membutuhkan sesuatu dariku. Maafkan aku jika aku salah menduga”, tantangku.

.

Ia terdiam. Seolah aku baru saja menemukan hal yang sedang ia sembunyikan rapat-rapat. Ia tampak ragu, menimbang dua atau tiga hal di dalam pikirannya. Kedua alisnya sontak bergerak, membentuk sebuah kerutan kecil di puncak hidungnya. Dalam diam, aku merasa sedikit frustrasi dengan sikapnya. Aku ingin sekali mengetahui isi pikirannya, alasan dibalik kerutan kecil di keningnya yang ingin sekali kuhapus dengan menyentuhkan jari-jariku disana. Kemana arah pemikiranmu, Cho Kyuhyun?

.

“Saya tidak punya tujuan apapun, Presidir Cho. Saya hanya menduganya saja. Tapi, saya tidak benar-benar yakin”, kata Park Hana menggangtungkan maksud tersembunyinya di ujung lidahnya. Say it, Park Hana.

.

“Apa yang kau duga, Park Hana?” tanyaku padanya. Aku merasa cukup heran padanya. Sikap yang ditunjukkannya padaku begitu sopan. Tapi, sampai saat ini ia belum mengutarakan keberatannya pada tata bahasa yang kugunakan untuk bicara padanya.

.

“Apakah semalam saya meninggalkan beberapa kertas di mobil anda tanpa sengaja? Kemarin malam saya terburu-buru keluar dari mobil. Saya pikir, saya sudah meninggalkan beberapa kertas penting disana”, kata Park Hana akhirnya.

.

“Kertas?” tanyaku berpura-pura.

.

“Benar, kertas. Apakah saya tidak meninggalkannya di mobil anda?” tanya Park Hana.

.

“Apa yang kau maksud adalah kertas-kertas menyeramkan yang dipenuhi angka itu? Surat peringatan batas pembayaran kuliah, tagihan pembayaran kuliah semester ini, tagihan pembayaran biaya telepon seluler, tagihan pembayaran sewa flat, tagihan pembayaran listrik, dan tagihan pembayaran air. Apakah kau sedang memulai hobi mengoleksi bukti tagihan? Kenapa tagihanmu sebanyak ini?” tanyaku.

.

“Maaf, saya yakin itu bukan urusan anda, Presidir Cho”, kata Park Hana. Wow… apa dia marah?

.

“Aku tahu, Park Hana. Tapi, kau sudah melibatkan aku secara tidak langsung di detik kau meninggalkan kertas-kertas itu di mobilku kemarin. Dan, aku sudah merasa terganggu dengan semua ini”, balasku.

.

“Jika anda merasa terganggu, maka anda tidak perlu menghiraukannya. Anda hanya perlu mengembalikan kertas-kertas itu pada saya. Bisakah anda melakukan itu agar urusan ini segera selesai dan saya bisa segera meninggalkan ruangan ini agar tidak mengganggu anda lebih lama?” tanya Park Hana dengan nada bersungguh-sungguh di suaranya.

.

“Tidak semudah itu, Park Hana”, ujarku.

.

“Kenapa? Itu adalah hal termudah yang bisa anda lakukan”, tanya Park Hana.

.

“Dua tagihan akan jatuh tempo besok lusa. Tagihan lainnya harus dibayar sebelum hari jumat. Membacanya saja aku sudah merasa sakit kepala”, kataku tidak menghiraukan pertanyaannya barusan.

.

“Karena itu, saya meminta anda untuk tidak menghiraukannya. Anda tidak memiliki kewajiban apapun untuk memikirkannya, Tuan Cho Kyuhyun”, balas Park Hana.

.

Konsentrasiku sontak meninggalkan diriku di detik lidah Park Hana melafalkan namaku. Cho Kyuhyun. Suaranya terdengar berbeda saat menyebut namaku. Ia terdengar sedikit marah saat mengucapkan kalimat yang lain. Namun, suaranya terdengar begitu lembut saat nama itu keluar dari bibirnya.

.

“Sayang sekali, Park Hana. Sudah sangat terlambat bagiku untuk tidak menghiraukannya. Aku bukan tipe orang yang bisa mengacuhkan masalah seperti ini dengan mudah”, kataku bersikeras. Sangat terlambat untuk melepasmu, sambungku dalam pikiranku.

.

“Saya benar-benar tidak mengerti dengan maksud anda. Bisakah anda bicara langsung pada intinya?” tanya Park Hana.

.

“Aku suka sikap tegasmu itu. To the point, tidak bertele-tele”, kataku. “Aku sudah mengatakannya tadi kalau aku memiliki tujuanku sendiri, bukan? Aku hanya ingin memberikan penawaran padamu, Park Hana. Penawaran yang akan memberikan keuntungan padamu, juga padaku”, sambungku menjawab pertanyaannya.

.

“Penawaran? Untuk apa?” tanya Park Hana.

.

“Untuk melunasi semua tagihanmu. Aku akan melakukan itu tanpa memintamu untuk membayarku kembali. Hanya, jika kau bersedia untuk membantuku”, kataku membuka lebar tawaranku di depannya.

.

“Entahlah, Presidir. Tapi, bagi saya penawaran anda sangat tidak masuk akal. Anda tidak terlihat seperti orang yang sedang membutuhkan bantuan. Lagipula, anda memiliki dua orang PA yang sangat bisa diandalkan”, kata Park Hana yang mengisyaratkan sebuah penolakan padaku.

.

“Kau tidak bisa menilai seseorang hanya dengan melihat sekali waktu, Park Hana. Anyway, terima kasih atas pujianmu pada mereka berdua. Pujian itu sangat pantas mereka dapatkan untuk kerja keras yang sudah mereka lakukan. Tapi, sayangnya ada beberapa hal yang tidak bisa dibantu oleh mereka berdua”, kataku.

.

“Jadi, menurut anda, saya bisa membantu anda? Haruskah saya yang membantu anda? Kenapa?” tanya Park Hana meminta penjelasan lebih rinci dari penawaranku. Dia bukan gadis yang sangat cerdas. Sangat menarik.

.

“Karena aku hanya ingin kau yang membantuku. Bukan yang lainnya. Lagipula, seingatku kau yang mengatakan bahwa kau akan membalas bantuanku kemarin, bukan? Saat ini aku sedang memintanya darimu”.

.

“Baiklah. Katakan saya akan mempertimbangkan penawaran anda. Lalu, bantuan apa yang anda butuhkan dari saya?” tanya Park Hana yang menarikku ke topik utama pembicaraan diantara kami berdua.

.

Aku merasa sedikit ragu untuk menjawab pertanyaannya. Ada bagian dalam diriku yang merasa khawatir ia akan menolak penawaranku begitu saja tanpa bisa kubujuk lagi. Namun, sisi lain dalam diriku justru mendorongku dengan keras. Katakan saja, Cho Kyuhyun! Aku pun menghela napas panjangku dengan perlahan karena pergumulan dalam kepalaku itu. Ini dia. Kita benar-benar sampai pada pembicaraan ini.

.

“Aku ingin kau ikut denganku ke rumah orangtuaku sabtu ini. Dan, perkenalkan dirimu pada ibuku… sebagai kekasihku”.

.

.

.

.

To be continued…

Advertisements

11 thoughts on “[not] attached: Part 2

  1. Ugggghhhhhh….
    Kyuhyun inii apaa2 kebayang mulu sama hana, tuh otak perlu diperbaharui keknya… 😂😂

    Hana setuju gak yaaa, sehara hana orgnya ituu…
    Gimn gtuuu…

    Like

  2. Tepat sekali, Kyuhyun si pemanfaat waktu dan keadaan. Jadinya mau main kekasih palsu 😆😆 ga masalah Cho. Btw aku suka banget sama karakter Choi Minho disini. Kalau lihat dia berasa kyuhyun bisa di kendalikan.

    Like

  3. kyu bkin gemessss……pengen gue bawa pulang ajah haahaha…fighting dpetin hana. tp knp yoona jg sprtinya mngalihkan prsanya kyu. bmbang kah?

    Like

  4. Ah greget bgt ama kyu cara PDKT kyu pd hana anti mainstream tp manis dan suka bgt sifat hana yg lembut tp tegas dan cerdas penasaran bgt part selanjutnya

    Like

  5. Pingback: Library | FanWorld FanFiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s