[not] attached: Part 1

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast:

Cho Kyuhyun, Park Hana (OC)

Choi Minho, Choi Siwon, etc

Disclaimer:

Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi atau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Maaf untuk typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Please, no bash, spam, mengejek, mengolok, dan menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun dan untuk alasan apapun. Selamat membaca.

.

.

[not] attached

-PILOT-

.

.

KYUHYUN

.

Cahaya lampu yang tiba-tiba menyala menarikku keluar dari dunia di dalam kepalaku. Suara berlembar-lembar kertas yang diratakan dengan menghentakkannya diatas meja kayu mengikuti setelahnya. Sebuah botol teremas pelan tidak sengaja di kejauhan. Saat aku mengangkat kepalaku, sebuah pulpen terjatuh membentur lantai marmer. Pandanganku langsung tertuju pada si pelaku yang menjatuhkan pulpennya. Seorang karyawan magang yang duduk di salah satu bangku disisi ruangan diluar lingkaran meja kayu memandang gugup padaku. Aku hanya bisa menghela napasku pelan saat melihat ekspresi di wajahnya. Aku tidak semenakutkan itu, kawan. Ku alihkan pandanganku untuk mengurangi rasa gugupnya. Dari sudut mataku, aku masih bisa menangkap gerakannya saat mengambil pulpen yang kini tergeletak tidak jauh dari kaki jenjangnya itu. Dia mempunyai kaki yang indah. Aku akan memaafkan gangguan yang dibuatnya kali ini.

.

Kini giliran aku yang dikejutkan oleh tatapan beberapa pria dewasa berpakaian rapi lengkap dengan jas dan dasi mereka, beberapa wanita muda yang merias diri mereka dengan sangat baik, dan tentu saja tiga dari empat pria paruh baya yang duduk tepat di sisi kanan dan kiriku. Beberapa diantara mereka menatapku tanpa ekspresi. Beberapa yang lain menatapku dengan senyum kecil di bibir mereka –kebanyakan pelakunya adalah para wanita berblazer dengan paras cantik, yang belum bisa menarik perhatianku—. Sementara yang lain memunculkan ekspresi khawatir di wajah tegang mereka. Sebagian besar dari mereka yang menatap cemas memikirkan responku pada presentasi yang saja selesai ditunjukkan. Sementara dua orang yang lain lebih mencemaskan responku pada tindakan mereka menyalakan lampu dengan tiba-tiba. Keduanya tahu bahwa aku terganggu dengan tindakan itu. Syukurlah kau menyadarinya, Choi Minho. Aku masih memerlukan waktu untuk mengingat nama wanita muda dengan blouse berwarna magenta yang duduk disebelah Choi Minho. Terakhir kali kuingat, ia bermarga Jung. Aku sempat bingung saat ia menyapaku pagi ini. Ternyata warna rambut yang baru ia ubah menjadi alasan kebingunganku.

.

“Apa kesimpulannya?” Aku berusaha kembali menjadi seorang profesional yang –berpura-pura—mengikuti jalannya presentasi membosankan ini.

.

“Pihak Gon Industry berencana untuk menarik saham mereka jika rencana pembangunan di Suwon tidak dilanjutkan sesuai dengan yang tertera di proposal awal, Presidir”, kata Manager Kim yang masih berdiri di sisi layar.

.

“Biarkan mereka melakukannya”, kataku berpendapat.

.

“Tapi, Presidir……”

.

Suara-suara yang mengajukan keberatan atas pendapatku mulai terdengar mengisi ruangan dingin ini. Aku langsung menarik mundur indera pendengaranku dari ruangan itu, mengaktifkan modus hening dalam otakku. Aku tidak tertarik mendengar pendapat mereka yang cenderung bersifat subjektif. Aku sudah menduga betapa klisenya alasan yang mereka ajukan. Gon Industry sudah menjadi partner bisnis perusahaan ini sejak puluhan tahun yang lalu. Hubungan kerja kedua perusahaan sudah terjalin begitu erat sampai hari ini. Bahkan hubungan itu sudah bukan lagi sekedar hubungan pekerjaan. Kakekku dan pendiri Gon Industry sudah berteman baik untuk waktu yang lama. Hubungan pertemanan itu dilanjutkan oleh ayahku. Namun, sayangnya aku tidak tertarik dengan hubungan pertemanan yang seharusnya kulanjutkan itu. Penerus Gon tidak memiliki kepribadian yang baik seperti pendahulunya. Keputusan yang dibuatnya cenderung mengandalkan kekuasaan. Choi Minho sempat memberitahuku latar belakang pria yang kini memimpin Gon Industry. Seorang pria muda yang lulus dengan nilai memuaskan dari kampus milik keluarganya, namun dengan absensi minim setiap semesternya.

.

Sir?” Choi Minho kembali membawa kewarasanku ke ruangan yang kini sudah menjadi lebih hening dari sebelumnya.

.

“Apakah tidak ada alasan lain yang bisa meyakinkanku untuk menahan mereka agar tetap bersama kita? Hubungan kerja bertahun-tahun, pertemanan dari sesama pendiri, saling membantu melengkapi kebutuhan satu sama lain…” Aku menghela napasku sejenak, meredakan emosiku sebelum benar-benar meledak. “Aku lelah mendengarnya. Apakah hanya itu alasan yang bisa kalian ajukan padaku? Aku tahu betul seberapa lama hubungan kerja ini terjalin. Aku sangat mengetahuinya, sampai aku dibuat mual akhir-akhir ini. Pertemanan? Hubungan itu hanya dijalin oleh harabeoji dan abeoji saja. Saat ini, aku yang duduk di kursi ini. Dan aku tidak berteman dengan mereka. Simpan alasan itu jika abeoji sedang berkunjung. Atau saat harabeoji menghantui tidur malam kalian. Tapi, jangan harap kunjungan mereka bisa mengubah keputusanku”.

.

“Apakah anda tidak bisa mempertimbangkannya lagi, Presidir? Jika kita kehilangan investasi mereka pada tahap ini……”

.

“Kita tidak akan mengalami kerugian apapun”. Aku memotong ucapan Manager Ryu yang sontak terdiam saat mendengar pendapatku.

.

Seketika aku teringat kali pertama kami bertemu. Kala itu, Manager Ryu masih menjadi seorang karyawan magang. Dan aku hanya berkunjung kesini atas permintaan ayahku. Ryu Hyoyoung. Seingatku kami lahir di tahun yang sama. Sepertiku, ia banyak menaruh perhatian pada bidang matematika. Aku sempat melihat dokumen yang berisikan data dirinya secara diam-diam. Aku mengingat betul sosoknya hari itu. Ia mengenakan setelan blazer dan skirt berwarna pink muda senada, bukan maroon yang mencolok seperti hari ini. Rambut hitamnya yang lurus dibiarkan tergerai bebas di punggungnya. Senyum ramah di wajahnya tidak bisa menutupi kegugupan yang dirasakannya. Kurasa sosok itu sudah tertinggal di hari itu. Ryu Hyoyoung yang menarik perhatianku saat itu tidak lagi berada disini. Dia adalah wanita yang pintar. Sayang sekali dia mudah terpengaruh oleh orang-orang tua di perusahaan ini.

.

“Investasi yang ditanamkan oleh Gon Industry pada proyek ini bahkan tidak memiliki peran yang terlalu penting”, kataku setelah meninggalkan bayangan sosok Ryu Hyoyoung di masa lalu jauh di dalam ingatanku. “Proyek ini tetap bisa berjalan tanpa mereka. Jika mereka memberikan ancaman akan menarik saham mereka, maka biarkan saja. Mereka sedang berusaha menggali kubur mereka sendiri. Kenapa kita harus ikut mengotori tangan kita? Gon akan mengawali keterpurukan mereka di detik mereka menarik sahamnya dari Cronus Incorporation. Case closed. Tetap lanjutkan proyek ini sesuai dengan yang tertera pada revisi terakhir proposal yang aku tandatangani. Rapat ditutup”.

.

Aku beranjak dari kursiku, bermaksud ingin meninggalkan ruangan itu. Beberapa orang yang tampaknya setuju dengan pendapatku –atau memilih untuk setuju agar mempercepat waktu—ikut beranjak dari kursi mereka. Sementara yang lainnya masih berdebat dengan keputusan sepihakku yang mereka anggap tidak mengandung pertimbangan matang. Derap langkah setengah berlari kudengar bergerak mendekat ke arah dua pintu yang ada di dua sisi berbeda. Para karyawan magang menawarkan diri untuk menjadi petugas pembuka pintu, membuatku merasa jengah dengan pelayanan tanpa pamrih namun mencari simpati yang mereka lakukan. Langkah kakiku terhenti hanya satu meter dari pintu saat kudengar suara-suara yang sedang berdebat itu menjadi lebih keras dari sebelumnya. Aku pun memutuskan untuk berbalik, lalu berjalan kembali ke arah kursiku. Ruangan sontak menjadi hening, diikuti dengan ekspresi gugup di wajah para karyawan magang yang berdiri di dekat pintu. Semua mata tertuju padaku, kecuali Choi Minho yang sepertinya sudah mengetahui dengan baik isi pikiranku. Aku mengulur waktu beberapa detik dengan mengetuk-ngetukkan jari telunjukku diatas meja kayu. Suara ketukannya mengisi ruangan sunyi itu.

.

“Hubungan kerja bertahun-tahun, pertemanan dari sesama pendiri, saling membantu melengkapi kebutuhan satu sama lain”. Aku mengulangi tiga alasan yang mereka ajukan sebagai kriteria dalam mempertahankan Gon Industry dalam lingkaran bisnis Cronus. Aku menatap sekelilingku setelahnya, yang kemudian membuatku berhasil menangkap tatapan penuh harap padaku. “Dengan tetap membiarkan nama mereka tercantum dalam daftar rekan bisnis perusahaanku tanpa mengharapkan keuntungan besar apapun, aku sudah mempertimbangkan tiga alasan itu bagi mereka. Saham yang mereka tanamkan di perusahaan ini tidak sebesar saham yang kutanamkan di beberapa anak perusahaan mereka. Jadi, apakah ‘kejam’ masih menjadi panggilanku?”

.

Aku segera berlalu meninggalkan ruangan itu tanpa berniat mendengar jawaban mereka. Aku sudah memberikan keputusan yang sudah kupikirkan dengan matang. Bukan aku yang hanya mengandalkan perasaan dalam melakukan pekerjaan. Aku juga berpikir saat bekerja. Aku hanya sedang tidak ingin menjadi pendengar hari ini. Kepalaku sudah terlanjur penat sesaat setelah meninggalkan rumah tadi pagi. Eomeoni menjatuhkan ancamannya padaku saat sarapan pagiku belum benar-benar sampai ke lambungku. Aku bahkan tidak mengunjungi rumah itu setiap hari. Tapi, eomeoni selalu saja meributkan hal yang sama setiap kali kedua matanya menangkap sosokku didekatnya. Gadis. Masih topik yang sama selama dua tahun terakhir. Entah siapa sosok yang mendorong eomeoni untuk mendesakku. Usiaku baru 30 tahun. Aku masih mempunyai cukup waktu untuk memikirkan tentang itu suatu saat nanti. Saat ini, aku berada di usia yang tepat untuk membangun karirku, membangun hidupku. Seorang gadis akan datang ke kehidupanku suatu saat nanti.

.

“Jika anda tidak membuka diri anda, meski gadis itu dekat sekalipun, anda tidak akan menemukannya”.

.

Choi Minho membuat sakit di kepalaku semakin parah dengan pendapatnya saat kami berada di dalam lift. Aku menatap tidak setuju padanya, mengutarakan protesku pada pendapatnya dengan tatapan mataku. Namun, tatapan itu sudah tidak berpengaruh padanya. Dia sangat menjengkelkan. Choi Minho dan pendapatnya yang lebih sering benar daripada salah. Meski pendapatnya membuatku semakin sakit kepala, aku tidak bisa melakukan apapun untuk menghukumnya. Choi Minho sudah menjadi PA (Personal Assistant) yang mengatur semua keperluanku sejak empat tahun yang lalu. Ia adalah PA terbaik yang bekerja untuk perusahaanku. Belum ada yang mampu menggantikannya. Hanya satu atau dua orang yang menjadi rekan semejanya yang terus berganti setiap tahunnya. Entah rekannya kali ini akan bertahan berapa lama di mejanya. Gadis berambut cokelat muda yang belum bisa kuingat namanya itu sudah kembali ke belakang mejanya di depan ruanganku. Ia yang akan mengendalikan situasi selama kepergianku keluar kantor hari ini.

.

Saat pintu lift terbuka, beberapa orang yang sudah menunggu di depan pintu sontak menundukkan kepalanya, memberikan salam padaku. Aku sedang tidak memiliki suasana hati yang baik untuk membalas mereka dengan senyuman seperti yang sering kulakukan setiap harinya. Aku hanya berlalu melewati mereka tanpa membalas salam yang mereka berikan padaku. Aku akan meminta maaf dengan sikapku yang lebih baik lain kali. Aku terus berjalan menuju lobby utama yang tidak terlihat terlalu ramai di hari menjelang siang. Aku menyempatkan diri untuk melihat kondisi sekeliling lobby, sambil berharap tidak menemukan kejanggalan apapun. Hingga sapaan para resepsionis menghentikan langkahku. Aku menoleh pada empat orang yang berdiri di belakang meja dengan kedua tangan mereka yang masih berada di depan perut. Ekspresi wajah mereka terliha tenang, namun kedua mata mereka berkedip cepat menunjukkan kecemasan mereka atas sikapku. Aku pun berjalan mendekati mereka yang sontak menegakkan posisi tubuh mereka. Seorang di paling kanan langsung merapikan dasinya yang sedikit miring. Namun, sayangnya bukan itu yang menarik perhatianku saat ini.

.

“Apakah kau tertarik bekerja di gudang?” tanyaku pada laki-laki muda yang berdiri di tengah.

.

“Maaf, Presidir?” tanyanya tidak mengerti dengan pertanyaanku.

.

“Kau tidak perlu memperhatikan penampilanmu jika bekerja di gudang. Kau bahkan tidak perlu mengenakan setelan jas dan kemeja yang merepotkan itu. Bukan begitu?” kataku sambil menunjuk kemeja putih yang ia kenakan.

.

Resepsionis muda itu pun lantas melihat ke bawah, memeriksa kemejanya yang kutunjuk barusan. Satu kancing tepat diatas ikat pinggangnya tidak masuk ke lubangnya. Ia bahkan lupa mengancing jasnya saat berdiri dari posisi duduknya, membuat lubang di kemeja yang tidak terkancing itu semakin terlihat jelas olehku. Ia pun segera berbalik untuk merapikan pakaiannya, lalu meminta maaf padaku saat ia kembali berbalik menghadap padaku. Aku sudah tidak memiliki kata lain untuk diucapkan padanya. Karena itu, aku mengalihkan pandanganku darinya. Namun, pandanganku justru bertemu dengan tatapan heran di kedua mata besar Choi Minho. Salah satu matanya menyipit, mengungkapkan rasa herannya pada sikapku. Tatapan itulah yang akhirnya menyadarkanku bahwa aku sendiri bahkan tidak mengerti dengan sikapku hari ini. Oh, apa yang harus aku lakukan pada eomeoni?

.

Aku segera berbalik dan kembali berjalan menuju pintu utama lobby. Kurasa lebih baik aku segera meninggalkan gedung ini sebelum aku membuat lebih banyak orang merasa kesal padaku. Namun, aku justru menghentikan langkahku sekali lagi. Sebuah pemandangan diluar gedung menarik perhatianku. Choi Siwon sedang bicara dengan seorang gadis di depan lobby. Aku tidak bisa melihat wajah gadis itu, karena ia berdiri membelakangiku. Aku hanya bisa melihat wajah Choi Siwon yang terlihat begitu sumringah saat bicara dengan gadis berpenampilan sederhana itu. Gadis itu membawa pot berukuran cukup besar, lengkap dengan bunga-bunga segar dengan warna lembut yang senada dengan pakaian yang dikenakannya. Sayang sekali, aku tidak bisa melihat gadis itu secara keseluruhan. Ia mengenakan long coat hijau army yang menutupi kakinya sampai ke lutut. Aku menduga ia mengenakan sebuah T-shirt dan celana pendek dibaliknya. Seharusnya ia tidak perlu menutupi kaki indah itu. Jaga pikiranmu, Cho Kyuhyun!

.

“Apakah kita tidak akan pernah berangkat, Sir?” tanya Choi Minho menambah teguran pada pikiranku yang teralihkan.

.

Choi Minho dan kalimat sarkastiknya yang tidak pernah bisa benar-benar membuatku marah. Pria ini selalu saja bicara padaku disaat yang tidak tepat. Aku pun menjawab pertanyaannya dengan tatapan keberatanku yang lain karena ia sudah dengan tidak sopan mengganggu konsentrasiku yang sedang tertuju pada gadis penarik perhatian Choi Siwon itu. Namun, kali ini aku tidak bisa membalas Choi Minho. Karena aku memang benar-benar harus segera beranjak pergi dari sini. Ada seorang klien yang menungguku di suatu tempat yang tidak ingin kuketahui lokasi pastinya. Aku membiarkan Choi Minho memiliki andil sepenuhnya pada jadwalku hari ini. Aku sedang tidak ingin berpikir.

.

.

.

#########################

.

.

.

Nona berkaki indah di depan lobby tadi siang rupanya benar-benar mengganggu pikiranku. Aku bukan sedang menaruh perhatianku padanya. Aku hanya teringat pada senyum sumringah di wajah Choi Siwon saat bicara padanya. Aku tahu aku tidak perlu meluangkan waktu berhargaku untuk memikirkan Choi Siwon dan lingkungan sekitarnya. Aku hanya tidak bisa mengendalikan pikiranku dengan mudah. Secara otomatis, otakku sudah memiliki memberikan julukannya pada Choi Siwon tanpa kuminta. Ada sebuah program di otakku yang menjuluki Choi Siwon sebagai sainganku. Aku mengakuinya. Meskipun dalam persaingan itu aku lebih sering menang darinya. Aku mengenal Choi Siwon sejak duduk di bangku SMP. Di tahun kedua, kami berada di kelas yang sama. Aku tidak pernah duduk bersamanya. Hubungan sosialnya dengan banyak orang terlalu ramai bagiku. Aku tidak terlalu suka dengan keramaian. Aku sempat meragukannya saat melihat pergaulannya yang begitu luas dengan siswa-siswa di sekolah. Namun, ternyata ia menepis keraguanku dengan prestasinya yang ternyata mengancamku. Kami berdua selalu berada di peringkat teratas.

.

Kedua orangtuaku tidak pernah menekanku untuk menjadi yang terbaik di sekolah. Mereka memberikan kebebasan padaku dalam belajar. Choi Siwon-lah yang membuatku tetap ingin berada diatas. Banyak siswa di sekolah yang mengagungkan Choi Siwon. Selain karena prestasinya yang baik, Choi Siwon juga terkenal dengan kemampuan sosialisasi dan olahraganya. Choi Siwon juga bergabung dengan organisasi siswa di sekolah. Aku tidak mempedulikan hal itu sebelumnya. Sampai beberapa komentar terdengar oleh kedua telingaku. Mereka mulai membandingkan aku dengannya. Mereka menggambarkan kami sebagai dua kutub berbeda yang tidak akan pernah bertemu. Bagai dua sisi magnet berlawanan yang saling menolak satu sama lain. Mereka bahkan menyebutku sebagai Choi Siwon dalam sisi gelap. Aku menjadi si anak beruntung yang mendapatkan segalanya dengan dukungan orangtuaku. Mereka juga menganggap prestasi yang kudapatkan adalah hasil dari bimbingan belajar dari guru-guru hebat yang dibayar oleh orangtuaku. Semula aku tidak mempedulikannya. Namun, semakin lama aku dibuat jengah karenanya. Sejak saat itu, aku memulai persainganku dengannya. Aku tidak ingin kalah darinya.

.

Kami berdua sempat bicara satu sama lain sekali waktu. Kepala sekolah meminta kami untuk mewakili kompetisi sains antar sekolah. Aku sempat keberatan dengan tawaran itu. Jujur saja aku tidak tertarik dengan kompetisi apapun. Akhir dari masa sekolahku akan berujung di tempat yang sama, di balik meja ruangan teratas Cronus Inc. Kala itu, aku hanya tertarik dengan persainganku melawan sang bintang sekolah, Choi Siwon. Sesaat setelah keluar dari ruangan kepala sekolah, Choi Siwon mengajakku bicara. Ia mengatakan bahwa kami harus bekerja sama untuk membawa nama baik sekolah kami. Masa puber benar-benar mengujiku. Egoku mengajakku untuk menentangnya. Aku tidak ingin bekerja sama dengannya. Aku ingin melawannya. Aku mengundurkan diri dari kompetisi dan memutuskan untuk belajar lebih giat demi mempersiapkan ujian semester yang diadakan beberapa hari setelah kompetisi diadakan. Namun, rupanya aku belajar terlalu giat. Di hari ujian berlangsung, aku jatuh sakit. Eomeoni sudah memaksaku untuk tetap di rumah dan beristirahat. Tapi, aku menolak untuk melakukan ujian susulan. Aku ingin bersaing dengannya secara langsung di waktu yang sama. Akhirnya hasil ujianku jauh dari perkiraan. Choi Siwon mengalahkanku untuk pertama kalinya. Aku tidak pernah melupakan itu sampai hari ini.

.

“Anda membutuhkan bantuan, Sir?” tanya Choi Minho sesaat setelah ia mengangkat teleponnya.

.

“Tolong ke ruanganku sekarang”, kataku melalui sambungan telepon.

.

Yes, Sir!” jawab Choi Minho.

.

Ia datang dua menit setelahnya dengan membawa serta buku catatan pusaka miliknya yang berwarna hitam di tangan kirinya. Sebuah kacamata dengan lensa bulat menggantung di hidung tingginya. Choi Minho menyunggingkan senyum tipis setelah menutup pintu di belakangnya dan berjalan mendekat padaku. Seolah ia sudah tahu aku akan memanggilnya ke ruanganku. Seolah ia sudah mengetahui isi pikiranku. Seringkali aku dibuat kesal dengan kenyataan itu. Choi Minho lebih mengetahui banyak hal tentangku dibandingkan dengan diriku sendiri.

.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanyaku pada Choi Minho.

.

“Saya tahu kenapa anda memanggil saya kesini, Sir”, jawab Choi Minho.

.

“Kau selalu saja asal menduga, Choi Minho. Kau sudah membuatku kesal dua kali hari ini. Jangan menambah daftarmu lagi”, ujarku.

.

“Gadis itu bekerja untuk toko bunga La Verde. Lokasi toko bunga itu tidak jauh dari sini. Hanya enam blok ke arah barat. Namanya tidak ada dalam list pengantar bunga di Cronus. Keberadaannya di depan lobby Cronus kemarin hanya karena seorang pengantar yang biasa bertugas disini sedang berhalangan. Dia memiliki jadwal reguler mengantarkan bunga ke gedung yang berada di blok lain. Dia adalah seorang mahasiswi yang bekerja paruh waktu, tiga hari dalam seminggu. Tinggi badan 165 centimeter, berat 48 kilogram, berusia 25 tahun, bernama……”

.

“Hentikan!” seruku menghentikan penjelasan Choi Minho.

.

“Ada apa, Presidir?” tanyanya bingung.

.

“Aku akan mengetahui namanya dengan caraku sendiri”, jawabku.

.

“Iyah… Anda sangat keren, Presidir”, ujar Choi Minho.

.

“Kau baru menyadarinya sekarang? Sudah berapa lama kau bekerja denganku?”

.

“Ini adalah kali pertama anda menaruh perhatian secara terus terang pada seorang gadis. Selama ini anda lebih tertarik dengan pekerjaan dan kesempatan mengembangkan bisnis anda. Sebagai orang yang mendukung ibu anda dalam hal kisah asmara anda, tentu saja saya merasa perhatian yang anda berikan pada gadis itu sebagai sebuah kemajuan”, kata Choi Minho.

.

“Ch… Pergilah! Kau membuatku sakit kepala”.

.

“Presidir, anda benar-benar tidak ingin mengetahui nama gadis itu? Namanya sangat cantik. Benar-benar sesuai dengan kehidupan yang dijalaninya. Bukankah akan lebih mudah untuk mendekatinya jika anda mengetahui namanya?” kata Choi Minho mencoba membujukku.

.

“Choi Minho…”

.

Yes, Sir!” sahut Choi Minho.

.

“Apa kau tidak pernah berkencan dengan seorang gadis seumur hidupmu?” tanyaku.

.

“Apa? Tentu saja pernah. Bagaimana bisa anda mengatakan hal itu pada seorang laki-laki dengan rupa tampan seperti saya?” protes Choi Minho. “Tapi, kenapa anda bertanya seperti itu, Presidir?”

.

“Kau benar-benar tidak pernah berkencan, ‘kan? Ch… Aku sudah menduganya. Dengar, Choi Minho. Jika kau sudah mengetahui nama seorang gadis saat mendekatinya, maka gadis itu justru akan merasa takut padamu. Kau pikir aku ini seorang stalker?” jawabku.

.

“Memangnya bukan?” balas Choi Minho.

.

“Ya!”

.

“Bukan saya ingin menyebut anda stalker, Presidir. Tapi, tindakan anda yang mencari data tentangnya secara diam-diam saja sudah mirip seperti seorang stalker. Gadis itu hanya tidak mengetahuinya saja”, kata Choi Minho.

.

“Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan mengetahui namanya dengan caraku sendiri? Aku akan melakukan cara tradisional untuk itu, Choi Minho. Aku akan menemuinya dan menanyakan namanya seperti yang dilakukan oleh orang-orang pada umumnya”, kataku membela diri.

.

“Anda bahkan tidak tahu jadwal kerjanya di toko bunga itu. Anda juga tidak benar-benar tahu dimana lokasi toko itu. Anda memiliki dua cara yang lebih mudah untuk mengetahui nama gadis itu, tapi anda justru menolaknya”, balas Choi Minho.

.

“Dua cara?” tanyaku.

.

“Benar. Dua cara. Membiarkan saya memberitahu anda, atau menanyakannya pada General Manager Choi”, jawab Choi Minho.

.

“Ya! Kau sudah bosan hidup?” kataku sambil melempar bantal sofa yang ada di belakang punggungku padanya.

.

“Dugaan saya benar, bukan? Lagi-lagi anda ingin bersaing dengan General Manager Choi. Apakah anda tidak lelah selalu bersaing dengannya? Sampai persoalan tentang gadis saja anda bersaing dengannya. Banyak gadis yang menunggu dalam barisan panjang untuk berkenalan dengan anda, Presidir. Anda tidak perlu susah payah melakukan persaingan dengan General Manager Choi”, ujar Choi Minho.

.

“Tidak begitu, Choi Minho. Aku tidak berniat untuk bersaing dengannya, apalagi untuk mendapatkan seorang gadis. Aku hanya penasaran pada gadis itu. Dia terlihat berbeda dari gadis-gadis yang ingin eomeoni jodohkan denganku”, kataku beralasan.

.

“Maafkan saya, Presidir Cho. Tapi, saya meragukan ucapan anda. Saya sudah bekerja pada anda selama empat tahun terakhir. Anda tidak pernah tertarik pada gadis yang belum pernah anda lihat kedua matanya. Kemarin anda hanya melihat sisi belakang gadis itu. Bagaimana bisa anda tertarik padanya. Berbeda apanya. Melihat wajahnya saja belum”, balas Choi Minho.

.

“Ya, Choi Minho! Kau tidak keluar dari ruanganku? Aku sudah menyuruhmu pergi, ‘kan? Pergi sana!” seruku.

.

“Dimengerti, Sir!” Choi Minho balas berseru padaku, lalu segera keluar dari ruanganku tanpa menoleh lagi padaku.

.

Ah… Bocah itu benar-benar membuatku sakit kepala. Bagaimana bisa dia mengenalku sebaik itu? Choi Minho dan kemampuan menganalisanya yang jarang meleset. Jujur, aku merasa beruntung memiliki seorang PA yang bekerja sebaik dirinya. Pekerjaannya tidak pernah mengecewakanku. Choi Minho hanya membuatku merasa kesal sesekali. Terutama dengan kemampuannya membacaku dengan mudah. Aku ingin sekali melupakan persaingan apapun antara diriku dengan Choi Siwon. Namun, rupanya aku tidak bisa melakukan itu dengan mudah. Setiap kali aku melihat wajahnya, aku selalu teringat dengan kekalahanku saat itu. Aku tidak suka dengan perasaan kecil yang muncul dalam diriku saat berhadapan dengannya. Bahkan disaat posisiku di perusahaan ini lebih tinggi darinya.

.

.

.

#########################

.

.

.

Empat hari kemudian

Morning Sunshine Cafe

.

Hari melelahkan lainnya dalam minggu ini. Aku bahkan baru menyadari bahwa hari ini adalah hari sabtu. Setelah melakukan konferensi melalui video call dengan perusahaan cabang di US di malam hari, menghadiri rapat direksi di pagi harinya, akhirnya aku bisa kembali ke Seoul. Aku baru kembali dari perjalan bisnisku ke Tokyo selama tiga hari. Hari sudah beranjak sore saat mobil yang dikemudikan oleh Gong ahjussi mendekati daerah Yeouido. Perjalanan bisnis kali ini cukup menyenangkan, sekaligus menguntungkan untuk perusahaanku. Lelah yang kurasakan bukan hanya karena perjalanan bisnis dan kurangnya waktu tidurku. Melainkan karena desakan eomeoni yang tidak henti kuterima bahkan saat aku bekerja di luar negeri. Eomeoni belum bosan mendesakku untuk segera mencari seorang pendamping hidup. Aku sudah menjelaskan padanya berulang kali bahwa aku akan mencarinya suatu saat nanti. Namun, tentu saja eomeoni menolak untuk menyetujui pendapatku. Menurutnya, kehadiran seorang istri disampingku akan membuat hidupku jauh lebih tenang dan pekerjaanku menjadi lebih mudah. Aku bahkan tidak tahu apa maksud dari ucapan eomeoni.

.

Choi Minho mengajakku untuk minum kopi di cafe yang jaraknya sangat jauh dari bandara. Bisa kukatakan, lokasi cafe ini justru lebih dekat dengan apartmentku. Aku sudah memberikan kartu kreditku padanya agar ia gunakan untuk membeli makanannya sendiri. Berada dekat dengan apartment membuatku ingin segera naik ke tempat tidur untuk merebahkan tubuh lelahku. Namun, Choi Minho memaksaku untuk bersantai terlebih dahulu di cafe yang baru pertama kali kudatangi ini. Aku pernah melihat cafe ini beberapa kali setiap kali aku melewati jalan ini menuju ke rumah orangtuaku. Hanya saja, aku tidak pernah menaruh ketertarikan untuk berkunjung ke tempat ini. Design interior dan eksterior cafe ini bukan seleraku. Mereka menggunakan warna yang terlalu terang. Kesan yang mereka tunjukkan juga terlalu ceria. Sangat remaja, menurutku. Karena itulah aku tidak terlalu tertarik untuk datang kesini.

.

“Ini pesanan anda. Selamat menikmati”, kata seorang pegawai cafe yang mengantarkan pesanan dengan ramah.

.

Aku hanya menganggukkan kepala pelan dan membalas senyumnya dengan senyuman tipis di bibirku. Bahkan otot wajahku sudah sangat lelah untuk tersenyum. Senyum di wajah pegawai cafe itu melebar setelah menerima balasan senyum dariku, menimbulkan sebuah kerutan kecil di keningku. Aku mencoba untuk menerka maksud dibalik senyum lebar di wajah yang baru kusadari terlihat sangat cantik itu. Ia tidak sedang mencoba untuk menggodaku, aku sangat menyadari itu. Senyum di wajahnya terlihat begitu tulus dan dengan mengejutkan begitu menghiburku. Suasana hatiku menjadi lebih baik setelahnya. Aku menggelengkan kepalaku cepat untuk menghilangkan pikiran aneh yang tiba-tiba saja muncul di kepalaku. Aku pun meraih cangkir kopi di hadapanku setelahnya. Aroma kopi yang muncul memberikan ketenangan padaku, menenangkan saraf-saraf di dalam kepalaku yang belum beristirahat sejak 33 jam terakhir. Aku meneguk kopi di dalam cangkir itu perlahan, tidak ingin melewatkan sensasi menenangkannya meski sebentar saja. Choi Minho muncul di hadapanku saat aku menikmati tegukan keempatku.

.

“Apakah anda sudah bertemu dengannya? Anda sudah menanyakan namanya? Bagaimana rupanya? Cantik, bukan? Senyumnya juga sangat manis. Apakah anda sudah mencoba bicara dengannya juga?” tanya Choi Minho tanpa jeda. Aku hanya membalas pertanyaannya dengan tatapan keberatan karena ia sudah mengganggu moment menenangkanku dengan pertanyaan anehnya. Seolah mengerti dengan tatapan—tidak mengerti—yang kuberikan padanya, kedua mata Choi Minho lantas melebar. “Jangan katakan… Presidir! Bagaimana bisa anda melewatkan kesempatan itu? Gadis pengantar bunga itu baru saja menghidangkan kopi untuk anda, dan anda justru tidak menghiraukannya. Bagaimana bisa anda melakukan itu, Presidir?” protes Choi Minho.

.

Aku pun tersedak setelah mendengar ucapan Choi Minho. Aku baru menyadari alasan sebenarnya Choi Minho mengajakku ke cafe ini. Gadis yang bicara dengan Choi Siwon hari itu rupanya bekerja di tempat ini. Choi Minho menyembunyikan hal ini dariku. Ia tidak mengatakan apapun tentang pekerjaan paruh waktu gadis itu di sebuah cafe yang tanpa kuduga sangat dekat dengan apartmentku. Aku segera meletakkan cangkir di tanganku kembali ke meja, lalu meraih tisu untuk membersihkan cipratan kopi yang mengenai tanganku. Namun, Choi Minho sudah lebih dulu mengambil tumpukan tisu diatas meja yang kemudian ia sembunyikan dibalik jasnya.

.

“Anda baik-baik saja?” tanya seorang pegawai yang sedang membersihkan meja tidak jauh dari tempat kami duduk.

.

“Beliau baik-baik saja. Kami hanya membutuhkan tisu disini, Park Hana-ssi”, jawab Choi Minho dengan senyum lebar diwajahnya.

.

“Ah, tunggu sebentar. Saya akan mengambilkannya”, kata pegawai itu.

.

Sebentar. Aku mengenal suara itu. Aku pun segera menoleh pada pegawai yang rupanya sudah berlalu meninggalkan meja kami untuk mengambilkan tisu. Aku tidak bisa melihat wajah pegawai itu. Namun, aku sangat yakin pada pendengaranku. Pegawai yang bicara pada kami barusan adalah pegawai yang sama yang mengantarkan pesanan meja ini sebelumnya. Cipratan kopi ditanganku mulai mengangguku. Aku pun membersihkannya dengan celana yang kukenakan, karena sepertinya Choi Minho tidak berniat untuk memberikan selembar tisu pun padaku, dan pegawai cafe itu tidak kunjung datang. Di kursi seberang, Choi Minho memajukan bibir bawahnya karena kecewa dengan tindakanku. Usahanya menyembunyikan tisu gagal setelah aku membersihkan tanganku dengan cara apapun yang kubisa. Aku hanya membalas tatapan kecewanya dengan ekspresi datar di wajahku. Tiba-tiba, ponsel di saku dalam jasku bergetar. Segera kuambil ponsel itu untuk melihat siapa orang pertama yang menghubungiku setibanya di Seoul. Apa lagi kali ini? Pertanyaan itu dengan mudah muncul di kepalaku saat melihat identitas penelepon yang menggetarkan ponselku. Eomeoni. Dalam diam aku berharap eomeoni hanya akan menanyakan kabarku setelah bekerja keras di luar negeri.

.

“Yoboseyo?” kataku setelah menggeser panel hijau di layar dan mendekatkan ponsel ke telingaku.

.

Adeul, bagaimana kabarmu? Kau belum menghubungiku selama tiga hari berturut-turut”, tanya eomeoni di seberang telepon.

.

“Aku baik-baik saja. Tiga hari kemarin aku sangat sibuk, eomeoni. Aku baru kembali dari Tokyo hari ini”, jawabku.

.

Benarkah? Kau tidak mengatakan apapun padaku”, kata eomeoni.

.

“Mungkin aku lupa. Maaf, eomeoni”, aku beralasan.

.

Jika kau sibuk bekerja tiga hari kemarin, maka aku simpulkan kau tidak membaca pesanku juga. Benar, ‘kan?” tanya eomeoni. “Aku mengirim pesan padamu tentang pertemuan dengan puteri bungsu Tuan Min yang sudah kuatur. Kau harus menemuinya minggu depan. Aku akan memberitahukan padamu tempat dan waktunya nanti”, sambung eomeoni tanpa berniat mendengar jawaban dari pertanyaannya padaku sebelumnya.

.

Oh, tidak lagi. Tentu saja aku membaca pesan mengerikan itu. Di tengah rapat yang sedang diadakan di ruang konferensi Cronus Hotel Tokyo, perhatianku teralihkan oleh pesan yang eomeoni kirim. Meski sudah menduga isi dari pesan itu, aku tetap membacanya. Aku bahkan membaca ulang pesan itu saat aku tiba di kamarku hanya untuk memastikan jika isi pesan yang kubaca saat rapat tidak salah. Pertemuan yang lain dengan gadis yang dipilihkan oleh eomeoni. Aku bahkan tidak pernah tertarik dengan pertemuan yang akan terasa begitu lama itu. Eomeoni selalu saja berusaha meski aku sudah menolaknya. Aku tidak tahu sampai kapan rutinitas ini akan berakhir. Sikap eomeoni menambah alasan sakit kepala yang kurasakan saat ini. Namun, di tengah rasa penat yang kurasakan, suasana hatiku seolah dengan mudah mendapatkan sebuah penghiburan. Pegawai cafe itu kembali menghampiri meja kami dengan beberapa lembar tisu diatas baki kecilnya, masih disertai dengan senyum ramah di wajah manisnya.

.

Adeul?” kata eomeoni setelah menunggu responku yang terdiam selama beberapa saat.

.

“Aku akan menghubungi eomeoni lagi nanti”, kataku cepat pada eomeoni, lalu memutus sambungan telepon begitu saja.

.

“Ini tisu yang anda minta”, kata pegawai cafe yang sebelumnya dipanggil Park Hana oleh Choi Minho sesaat setelah tiba di samping meja kami.

.

“Terima kasih banyak, Park Hana-ssi. Maaf merepotkan”, kata Choi Minho yang sudah kembali tersenyum sumringah.

.

“Tidak perlu berterimakasih. Sudah menjadi kewajiban saya”, balas Park Hana dengan sopan.

 

.

Park Hana meninggalkan meja kami setelahnya, meninggalkan senyum ramah di wajah lelahnya dalam ingatanku. Meninggalkanku yang masih menatapnya tanpa kata apapun yang terucap dari bibirku. Sosok Park Hana yang berjalan menjauh berhasil menarik perhatianku. Aku tidak pernah menaruh perhatian sebesar ini pada seorang gadis selain klien –yang memiliki andil besar— di perusahaanku. Namun, ada sesuatu dalam diri Park Hana yang berhasil menarikku keluar lebih jauh dari tubuhku sendiri. Aku bahkan tidak dapat menghitung berapa kali aku menyebut namanya dalam pikiranku. Namanya mungkin akan menari indah di lidahku saat aku menyebutnya. Apa? Darimana asal pikiran itu, Cho Kyuhyun?

 

.

Sir, anda baik-baik saja?” Samar-samar kudengar suara Choi Minho memanggilku. Namun, kesadaranku belum kembali ke tubuhku. “Presidir Cho? Sir? Apa anda mendengar saya? Cho Kyuhyun-ssi?” Panggilannya yang terakhir berhasil menarikku ke alam sadarku.

.

“Apa katamu?”

.

“Pre-si-dir Cho, apakah anda mendengar saya?” kata Choi Minho mengulangi pertanyaannya.

.

“Bagaimana terakhir kali kau memanggilku? Coba ulangi”, kataku.

.

“Cho Kyuhyun-ssi”, jawab Choi Minho cepat dengan santai.

.

“Kau benar-benar sudah bosan hidup rupanya, Choi Minho. Sejak beberapa hari yang lalu kau selalu memancingku”, kataku tanpa ada kesungguhan dalam ucapanku.

.

“Tidak seperti itu, Presidir. Aku tidak akan berani melakukannya pada anda”, balas Choi Minho. “Bagaimana, Sir? Dia sangat cantik, ‘kan? Suaranya juga bagus”, tanya Choi Minho setelahnya.

.

“Apa kau sedang berlatih menjadi seorang juri kontes menyanyi? Sampai menilai suaranya…” balasku tidak menghiraukan pertanyaan awal yang diajukannya.

.

“Auh… ‘Benar. Dia sangat cantik. Suaranya memang terdengar bagus.’ Dengan melihat ekspresi di wajah anda saja saya sudah bisa mendengar jawaban itu dari anda, Presidir. Terlihat dengan jelas”, kata Choi Minho.

.

Alih-alih membalas dugaan sepihaknya, aku justru tidak mengatakan apapun. Aku mengalihkan perhatianku pada e-mail yang baru masuk. Aku membiarkan Choi Minho mengoceh seorang diri di hadapanku tanpa membalas atau menegurnya. Aku memilih untuk menyibukkan diri membaca e-mail yang kuterima. Tanpa kusadari sebuah senyuman tersungging di bibirku, menghentikan ocehan Choi Minho yang sepertinya sama terkejutnya denganku. Tatapanku bertemu dengan Choi Minho saat aku mengangkat kepalaku.

.

“Presidir, apa anda baik-baik saja?” tanya Choi Minho dengan senyum jahil di wajahnya.

.

Tawaku keluar begitu saja saat melihat wajah konyol Choi Minho di hadapanku. Aku melempar pelan ponselku ke atas meja, kemudian melipat kedua tanganku di depan dada. Choi Minho ikut tertawa bersamaku setelahnya. Jika ada yang datang dan menanyakan apa yang sedang kami tertawakan, aku akan menggunakan wajah konyol Choi Minho untuk mengatakan bahwa aku juga tidak mengetahuinya. Aku sendiri merasa begitu konyol saat ini. Seorang gadis dengan mudah mengalihkan perhatianku dan mengacaukan konsentrasiku. Aku tidak pernah teralihkan seperti ini sebelumnya. Namun, bukannya merasa terganggu, aku justru menikmatinya. Tawa lepas seperti ini tidak mudah kudapatkan di tengah jadwal padatku setiap hari. Aku akan terus mengingat hari ini, saat aku bisa tertawa lepas dengan asisten pribadiku, di sebuah cafe yang memperkerjakan seorang pegawai cantik bernama Park Hana. Gadis pengalih perhatian yang –tidak benar-benar—mengganggu pikiranku.

.

Kualihkan pandanganku ke luar jendela. Rupanya matahari sudah mulai terbenam, memunculkan cahaya orange yang terlihat begitu lembut. Cahaya itu terlihat seperti goresan rapi warna dari crayon. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku bersantai sambil menikmati pemandangan indah seperti ini. Padatnya lalu lintas di luar sana bahkan tidak mampu mengalihkan kekagumanku pada pemandangan langit orange itu. Aku sangat menikmati moment kembaliku ke Seoul kali ini. Semua hal yang terjadi di Seoul satu jam belakangan benar-benar menghiburku. Kecuali…

.

“Presidir, ibu anda kembali menelepon”, Choi Minho memberitahuku.

.

“Aku mendengarnya. Rasanya ponsel itu bergetar lebih kuat saat nama eomeoni yang muncul di layar”, kataku dengan malas.

.

“Anda tidak akan mengangkat teleponnya?” tanya Choi Minho hati-hati.

.

“Apa aku sudah gila? Aku masih ingin hidup tenang, inma”, balasku, mengundang cengiran canggung Choi Minho. “Eomeoni?” kataku saat telepon tersambung.

.

Berhenti menghindariku, Cho Kyuhyun! Kau ini tidak pernah berubah. Saat kuminta kau untuk mencari pendampingmu sendiri, kau selalu mengelak dengan alasan sibuk. Sekarang aku sudah turun tangan membantumu, kau masih saja tidak menghiraukan aku. Sampai kapan kau……

.

Suara eomeoni tidak terdengar lagi saat kujauhkan ponsel dari telingaku. Aku meneguk kopi dari cangkirku sekali lagi sebelum bangkit berdiri. Aku memberikan kode pada Choi Minho untuk ikut beranjak pergi dari cafe itu bersamaku. Aku tahu benar kemana arah keluhan eomeoni selanjutnya. Jika aku tetap tidak menghiraukannya, maka eomeoni akan mengerahkan segala cara untuk menemukanku lalu membawaku dengan paksa kembali ke rumah. Aku bahkan bukan anak kecil lagi sekarang.

.

“Eomeoni, tarik napas. Bicaralah dengan perlahan”, kataku pada eomeoni yang masih terhubung di seberang telepon.

.

Kau bilang perlahan? Adeul! Aku sudah bicara padamu dengan sangat perlahan sejak dulu. Tapi, kau tidak pernah mendengarkannya. Cara itu sudah tidak berhasil padamu. Aku harus……

.

Aku kembali menjauhkan ponselku untuk membalas ucapan terima kasih dari pegawai cafe yang berdiri di belakang etalase dengan sebuah anggukan dan senyum tipis yang cukup ramah. Diam-diam kedua mataku mencari sosok pengalih perhatian itu diantara mereka. Park Hana tidak ada disana. Ada kekecewaan kecil yang muncul dalam diriku setelahnya. Aku cukup terkejut dengan perasaan aneh itu. Namun, saat ini aku tidak sedang dalam posisi untuk mempedulikan hal itu. Eomeoni masih mengeluh panjang lebar padaku di seberang telepon. Aku harus mengendalikan kemarahannya terlebih dahulu.

.

Saat aku sampai di pelataran cafe, Choi Minho sudah menungguku di samping mobil yang ia bukakan pintunya. Aku masuk ke dalam mobil setelahnya, sambil masih mendengarkan keluhan eomeoni. Aku tahu benar keluhan ini tidak akan selesai dalam waktu dekat.  Pintu mobil di samping kananku ditutup oleh Choi Minho, menghilangkan cahaya lampu cafe yang sebelumnya memberikan penerangan. Aku pun bergeser ke sisi kiri mobil, posisi yang lebih kusukai. Dari dalam mobil, aku bisa melihat bayangan Choi Minho berjalan memutar menuju kursi pengemudi. Tiba-tiba, pintu disampingku kembali terbuka, membuat cahaya menyilaukan dari cafe kembali masuk ke mobil. Cahaya itu kembali menghilang saat pintu ditutup pelan setelahnya. Aku sontak menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka itu. Park Hana. Gadis pengalih perhatian itu berada di dalam mobilku.

.

“Apa yang anda lakukan di mobil saya?” tanyaku dengan nada datar padanya, seketika melupakan eomeoni yang masih tersambung di seberang telepon.

.

Park Hana langsung menoleh padaku, menatap tepat ke kedua mataku. Napasnya tersengal, alisnya bertaut, dan ada butiran keringat di keningnya. Sepertinya ia baru saja berlari sebelum masuk ke mobilku. Cahaya termaram kemudian muncul saat Choi Minho membuka pintu di samping kursi pengemudi. Kini aku bisa melihat kedua matanya dengan jelas. Aku tidak menyadari ada keterkejutan dari tatapanku padanya. Keningku bahkan ikut berkerut, seolah bercermin pada ekspresi di wajahnya. Ada berbagai luapan emosi yang kutemukan di kedua matanya. Ia terlihat begitu cemas dan takut. Namun, ada kemarahan juga disana. Kemarahan yang perlahan mulai mendominasi emosi lainnya. Aku sontak melupakan segalanya. Sebuah pertanyaan hanya menggantung di ujung lidahku, tidak mampu ku ajukan padanya.

.

“Park Hana-ssi?” kata Choi Minho sesaat setelah menyadari kehadiran Park Hana di dalam mobil.

.

“Choi Minho-ssi, saya mohon ijinkan saya tetap disini”, pinta Park Hana. Ada rasa kecewa dalam diriku saat mendengar permintaannya, mengingat akulah pemilik mobil ini, bukan Choi Minho.

.

“Apa yang terjadi? Kenapa anda terlihat ketakutan?” Choi Minho akhirnya mengajukan pertanyaan yang sejak tadi menggantung diujung lidahku.

.

“Kelelahan”, koreksi Park Hana. Nada tegas itu membuatku tertegun menatapnya. Ia tidak ingin menggunakan kata takut untuk mengungkapkan kondisinya saat ini. Menarik. “Biarkan saya tetap disini. Anda lajukan saja mobilnya ke tujuan anda. Ijinkan saya menumpang sampai jarak yang cukup jauh dari cafe ini”, sambungnya. Hey! Ini mobilku! Seharusnya kau meminta ijin padaku terlebih dulu padaku, keluhku dalam pikiranku.

.

Aku bahkan tidak bisa mengatakan hal itu dengan keras seperti yang kulakukan di dalam pikiranku. Aku hanya bisa menatapnya dalam diam, mengunci rapat mulutku tanpa berniat mengatakan padanya bahwa aku bisa membaca dirinya melalui kedua matanya. Aku bisa mematahkan ucapannya yang bersikeras menolak kata takut yang diberikan oleh Choi Minho padanya. Namun, aku menelannya dalam-dalam. Aku membiarkannya membentengi diri dengan kata lelah yang ia pilih. Samar-samar kudengar Choi Minho memanggilku, seolah mewakili Park Hana meminta ijin dariku untuk mengabulkan permintaannya. Aku hanya memberikan anggukkan pelan pada Choi Minho. Saat itulah Park Hana baru menatapku. Benar-benar menatap kedua mataku. Mata indah dengan ungkapan terluka itu seolah menghadangku dengan keras. Ada rasa tidak nyaman yang kemudian menjalar di sekujur tubuhku, membuatku lantas mengalihkan tatapanku darinya. Aku pun kembali memasukkan ponselku ke dalam saku jas. Dalam diam, aku bersyukur dengan respon cepatku memutus sambungan telepon eomeoni saat Choi Minho menyebut nama Park Hana beberapa saat yang lalu. Aku bahkan mematikan ponselku untuk mencegah telepon masuk lain dari eomeoni dalam waktu dekat. Keadaan akan menjadi lebih rumit jika Park Hana terjerat dalam masalahku dengan eomeoni.

.

“Seberapa jauh yang anda butuhkan, Nona Park?” tanyaku tanpa menatapnya.

.

“Sejauh mungkin jika perlu. Tapi, saya tidak ingin menghambat perjalanan anda. Saya tidak keberatan jika anda ingin menurunkan saya dimana pun”, jawab Park Hana.

.

“Dimana anda tinggal?” tanyaku.

.

“Ya? Oh, anda tidak perlu mengantar saya, Tuan. Saya tidak ingin merepotkan anda. Saya bersungguh-sungguh saat mengatakan anda bisa menurunkan saya dimana pun”, kata Park Hana tanpa menjawab pertanyaanku.

.

Gadis ini tentu saja tidak mengenalku. Aku tidak suka jika ada orang yang tidak memberikan jawaban tepat pada pertanyaanku. Terlebih dalam kondisi yang jauh dari suasana santai penuh gurauan seperti ini. Namun, sekali lagi, aku bahkan tidak bisa protes pada gadis ini. Kemarahan sesaat itu justru terpendam kembali dalam diriku, menyiksaku dalam gelapnya penerangan di dalam mobil.

.

“Kami tidak berencana untuk kembali ke rumah secepatnya. Lagipula apartmentku sudah jauh terlewati di belakang sana. Kau bisa memberitahukan alamat rumahmu pada Choi Minho. Dia akan mengemudikan mobil ini sampai kesana”, kataku.

.

“Benarkah? Saya minta maaf karena sudah membuat kalian mengemudi terlalu jauh. Sekali lagi, saya minta maaf. Dan, anda tidak perlu melakukannya, Tuan. Saya tidak keberatan diturunkan disini. Saya benar-benar tidak ingin merepotkan kalian”, tolak Park Hana sekali lagi, mengundang amarahku yang sempat tersimpan.

.

Aku pun melipat kedua tanganku di depan dada, kemudian menghela napas panjang perlahan. Kubenarkan posisi dudukku menjadi lebih santai dari sebelumnya. Aku menyandarkan kepalaku di bantalan jok, lalu memejamkan mataku.

.

“Mobil ini tidak akan berhenti sebelum tiba tepat di depan rumah Park Hana. Kau mengerti, Choi Minho?” kataku.

.

“Baik, Presidir”, jawab Choi Minho cepat.

.

Aku tidak menghiraukan suara apapun setelahnya. Ku acuhkan suara Park Hana yang masih mencoba membujuk Choi Minho untuk tidak perlu mengantarnya sampai ke rumah. Aku tidak berniat menarik kembali perintahku pada Choi Minho. Dan, aku tahu Choi Minho tidak akan pernah memiliki pikiran sedikit pun untuk menentang perintahku. Choi Minho hanya akan menuruti perkataanku jika ia juga berpikir bahwa keputusanku benar. Kali ini aku tidak membuat keputusan bodoh. Aku berniat baik ingin mengantar Park Hana kembali ke rumah dengan aman. Dan, aku akan melakukannya tanpa mempedulikan penolakan apapun. Beberapa menit berselang, Park Hana menyerah. Ia pun memberitahukan alamat rumahnya pada Choi Minho. Suasana mobil menjadi hening setelahnya, menyisakan suara klakson kendaran yang berbaris panjang di luar sana. Tidak ada satu pun diantara kami bertiga yang menghiraukannya. Kami hanya duduk diam dengan tenang di tempat kami masing-masing. Aku harap Park Hana bisa beristirahat meski hanya sebentar. Kau mulai lagi. Jangan terlalu jauh, Cho Kyuhyun!

.

Mobil pun berhenti kira-kira setengah jam kemudian. Jika perhitunganku tidak meleset, seharusnya jarak ini bisa ditempuh hanya dalam sepuluh menit. Kemacetan malam ini benar-benar tidak masuk akal. Entah apa yang dilakukan warga Seoul di hari sabtu malam. Seharusnya mereka beristirahat di rumah mereka masing-masing. Tidak semua orang single sepertimu, Cho Kyuhyun. Kalimat protes dari dalam kepalaku menarikku keluar ke alam sadar. Aku pun membuka lebar mataku. Sesaat kemudian, aku menemukan hal yang janggal. Mobil ini sudah berhenti hampir lima menit lamanya, membuatku bingung dengan Choi Minho yang tidak segera mengemudikannya lagi kembali menuju apartment. Hingga kusadari keberadaan Park Hana yang belum turun dari mobilku. Aku segera menoleh padanya, menemukan tubuhnya yang tergulai lemah, tidur dengan sangat pulas di sampingku. Kedua bola mata indah itu terpejam, menyisakan wajah cantiknya yang membuatku tertegun.

.

“Choi Minho”, kataku pelan.

.

Yes, Sir?” jawab Choi Minho.

.

“Kau membutuhkan secangkir kopi?” tanyaku padanya.

.

“Bagaimana anda bisa mengetahuinya?” Choi Minho balas bertanya.

.

“Kau menguap beberapa kali selama perjalanan kesini. Belilah sekaleng kopi di minimarket di seberang jalan. Kau masih harus mengemudi sampai ke apartment, bukan? Kita juga sebaiknya memberikan waktu lebih lama pada Park Hana untuk tidur”, kataku.

.

“Baik, Presidir. Apakah anda membutuhkan sesuatu?” tanya Choi Minho.

.

“Tidak untukku. Mungkin kau bisa membeli satu banana milk untuk Park Hana”, jawabku.

.

“Saya mengerti, Presidir”, jawab Choi Minho yang lantas keluar dari mobil.

.

Tinggallah aku bersama Park Hana di dalam mobil ini. Aku menjulurkan tanganku menuju lampu yang berada di tengah tanpa mengalihkan pandanganku darinya. Cahaya termaram menerangi pandanganku setelahnya, memperjelas lekuk di wajah Park Hana. Sepertinya ia tidak berbohong saat mengatakan bahwa dirinya kelelahan. Karena saat ini ia tidur begitu pulas. Perlahan posisi dudukku berubah menghadapnya. Aku menatapnya begitu lekat, seolah aku sedang mempelajari makna di balik lukisan di sebuah galeri. Napasnya kini terdengar begitu teratur, bagai musik pengiring di belakang adegan sebuah film. Aku kehilangan diriku saat tangan kananku terjulur mendekati wajahnya. Aku menyentuh rambut halusnya dengan jari-jariku, menyingkirkannya dari depan matanya. Aku butuh melihat wajahnya dengan jelas tanpa terhalangi.

.

Sesaat setelahnya ia bergerak, mengejutkan saraf-saraf di tubuhku. Aku pun menarik tanganku dengan cepat dan kembali ke posisi dudukku semula. Kedua tangan Park Hana terentang setelahnya, membuatku terkejut sekaligus terhibur dengan sikap santainya. Tangan kurus itu menghilang cepat dari pandanganku, membuatku menoleh kearah sang pemilik tangan setelahnya. Park Hana sudah membuka lebar kedua matanya. Ekspresi wajahnya menunjukkan keterkejutan saat menyadari tempatnya duduk saat ini. Dia mengalami disorientasi. Sangat manis. Park Hana melihat ke sekelilingnya, juga memeriksa keluar jendela di sebelah kanannya. Tiba-tiba, ia bergerak tergesa. Panik menyelimutinya. Ia mengambil tas dan ponselnya dari atas jok, lalu dengan cepat membuka pintu mobil.

.

“Park Hana, kau mau kemana?” tanyaku menghentikannya.

.

“Saya minta maaf. Saya sudah lancang tidur di mobil anda. Saya mohon maafkan saya”, kata Park Hana disaat aku bahkan tidak sedang memarahinya karena sudah tidur di mobilku.

.

“Tidak perlu tergesa-gesa. Jangan sampai ada barangmu yang tertinggal. Perlahan”, balasku.

.

Sesaat setelahnya, Park Hana sudah turun dari mobil. Sebelum menutup pintu mobil, Park Hana menunduk untuk menatapku. “Sekali lagi, saya minta maaf. Terima kasih banyak karena sudah mengantarkan saya kembali ke rumah. Saya benar-benar sudah merepotkan anda. Terima kasih juga atas bantuan anda. Saya akan membalasnya. Anda bisa mencari saya di cafe atau di La Verde setiap sore. Saya tidak akan menghindari anda. Selamat malam. Semoga anda selamat sampai ke rumah”, kata Park Hana yang berlalu masuk ke dalam gedung flatnya setelah menutup pintu mobil di belakangnya.

.

Tatapanku belum teralihkan darinya sampai sosok itu menghilang di balik pintu. Berselang beberapa menit kemudian, Choi Minho kembali masuk ke dalam mobil dengan sebotol susu pisang di tangannya. Sayang sekali, pemilik susu itu sudah pergi dengan tergesa keluar dari mobil, meninggalkanku yang hanya bisa tersenyum menatap botol susu yang diberikan oleh Choi Minho padaku.

.

“Park Hana-ssi sudah masuk ke apartmentnya?” tanya Choi Minho.

.

“Seperti yang terlihat”, jawabku santai sambil mengambil botol susu dari tangan Choi Minho.

.

“Pasti anda membangunkan Park Hana-ssi dengan cara yang buruk sampai dia masuk ke dalam dengan terburu-buru, ‘kan?” tanya Choi Minho menduga.

.

“Kau tidak ingin pulang ke rumah? Cepat jalan!” perintahku mengacuhkan pertanyaan Choi Minho.

.

“Jika tidak, katakan saja tidak…” balas Choi Minho dengan suara pelan.

.

Kemudian Choi Minho menyalakan mesin mobil, lalu mengemudikannya kembali ke jalan. Choi Minho dan kalimat sarkastiknya. Aku sudah terbiasa dengan hal itu. Choi Minho pun  sudah terbiasa menerima respon yang kuberikan padanya. Kami tidak pernah menganggap serius percapakan seperti itu. Kami berdua sudah terlalu mengenal satu sama lain dengan baik. Suasana hati Choi Minho pun tidak lantas menjadi buruk hanya karena nada bicaraku menjadi naik saat memberikan perintah padanya. Choi Minho bahkan tidak pernah benar-benar mempedulikan tempramenku. Keriangannya sudah kembali sesaat lagu favoritnya dimainkan di radio.

.

Mobil berhenti di lampu merah beberapa blok sebelum apartmentku. Banyak orang yang saling bertemu dan berbincang di cafe-cafe yang berjajar di sepanjang jalan. Choi Minho bahkan menikmati pemandangan itu, sambil mengeluh pelan karena tidak bisa ikut dalam keramaian itu malam ini. Aku hanya menertawainya tanpa ikut merasakan apa yang dirasakannya. Hingga beberapa lembar kertas di samping kananku mengalihkanku dari ejekanku pada Choi Minho. Aku merasa tidak mengenal kertas-kertas itu. Aku bahkan tidak pernah membiarkan berkas apapun tergeletak begitu saja tanpa tersusun dengan rapi dalam sebuah folder. Aku pun meraih lembaran kertas itu dan membacanya dengan hati-hati. Nama Park Hana tertera disana, menjelaskan siapa pemilik berlembar-lembar kertas ini.

.

“Choi Minho, kau bilang waktu itu kalau Park Hana adalah seorang mahasiswa, bukan?” tanyaku.

.

“Benar, Presidir. Apa ada masalah?” Choi Minho balas bertanya.

.

“Tidak ada. Hanya saja, sepertinya Nona Park Hana membutuhkan sedikit bantuan”, kataku dengan suara pelan.

.

Aku pun meletakkan kembali lembaran kertas itu ke atas jok, membiarkan setiap tulisan yang tertera diatasnya membekas dalam ingatanku. Anggaran Biaya Kuliah.

.

.

.

.

To be continued…

 

PS:

Halo, para pembaca. Terima kasih karena sudah membaca FF karyaku. Ini adalah part paling awal/pilot dari FF berjudul [not] attached ini. Tokoh yang ada di dalam FF ini belum aku tuliskan semuanya. Nantinya aku akan menuliskannya sesuai dengan kemunculan mereka. Aku harap sampai akhir part pilot ini kalian tidak merasa kecewa dengan alur ceritanya. Aku akan meninggalkan sebuah pertanyaan untuk part selanjutnya. Apa yang Kyuhyun rencanakan? Sampai ketemu di part selanjutnya!

Advertisements

9 thoughts on “[not] attached: Part 1

  1. Waaahhhh…. aku suka ceritanya, menarik, jg ringann….
    Gampang dicerna… hihihi
    Bikin penasarann

    Kyu bakal bantuin hana lunasin biaya kuliahny..
    Atau kyu mau nikahin nara (?) . 😁😁😁😁

    Like

  2. Sekedar punggung Kyuhyun udah Jatuh cinta. Bahkan itu bukan cinta pandangan pertama. Karena yg di kihat hanya punggung. Hana seperti orang di kejar” rentenir. Cerita baru, kelanjutan di tunggu.

    Like

  3. ohyeah setelah sekian lama akhirnya publisssssssssshh new storyyyy hihi kangen bgt cerita2 bgt dan beautiful tomorrow terlalu sedih dan tarik ulur aku jd bingung bacanya hahaha trs cerita on going yg satunya lagi aku lupa apa judulnya ituuu aku harus baca ulang dari awal kayanya sih hahahaha btw seneng bgt ini jalan ceritanyaaa wow padahal baru pilotnya hahahaha lanjut lagi lagiiii

    Like

  4. Yeayyyy cerita baruuuuuu

    Penasaran nih sama kelanjutannya
    Penasaran jg sama sosok hana, dan knp tiba2 hana bisa ikut numpang sama kyuuu
    Lanjut lagi eon lanjut^^

    Like

  5. Pingback: Library | FanWorld FanFiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s