Beautiful Tomorrow: Part 8

Author: Okada Kana

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast:

Cho Kyuhyun, Lee Hyesoo (OC)

Seo Kangjun, Lee Soohyuk, Kang Soyu, Kim Jaejoong, Kim Ryeowook, etc.

Disclaimer:

Annyeonghaseyo!!! Kana kembali hadir dengan “Beautiful Tomorrow”. FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi atau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com. Please, no bash, spam, mengejek, mengolok, dan menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Mari saling menghargai satu sama lain. Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 7

“Bahkan saat kondisi eomma belum menunjukkan perkembangan apapun, aku justru merasa begitu khawatir pada keadaanmu”.

“Maafkan aku. Karena sudah membuatmu khawatir padaku di waktu yang tidak tepat. Aku bahkan tidak pantas dikhawatirkan olehmu saat ini”.

“Pergilah, Kyuhyun-ah. Beristirahat atau lakukan hal lain. Kau menyiksaku dengan bersikap seperti ini”.

“Baiklah. Aku akan mengurus beberapa pekerjaan dan kembali kesini secepat mungkin”.

“Tidak hanya pekerjaan. Bisakah kau beristirahat juga? Tidurlah selama beberapa jam”.

“Jika aku harus beristirahat, maka itu hanya akan terjadi dengan kau bersamaku”.

————————-

“Bukankah kau mengatakan bahwa kau akan mencoba untuk mencintai Soyu? Apakah usahamu tidak berhasil sedikit pun?”

“Percayalah, aku juga mencintainya. Tapi, cintaku padanya tidak mampu menendangmu keluar dari hatiku”.

“Kau tahu, aku juga menyukaimu, Soohyuk-ah. Sangat”.

“Tapi, kau sangat mencintainya. Bahkan setelah apa yang telah dia lakukan padamu”.

“Aku tidak bisa berpikir, Soohyuk-ah”.

“Aku hanya menginginkan kebahagiaanmu, Hyesoo-ya”.

“Bukankah kau sudah melihatnya? Aku tidak bahagia saat ini”.

“Tapi, kau tidak boleh melupakan bahwa kebahagiaanmu ada padanya”.

————————-

“Aku tidak ingin eomma juga pergi, Kyuhyun-ah. Begitu juga denganmu”.

“Tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada eomeoni. Percayalah padaku, Hyesoo-ya”.

“Kau jatuh ke jurang dalam mimpiku karena aku lengah. Aku tidak bisa menghentikanmu. Kau…… kau jatuh kesana setelah aku……”

“Maafkan aku, Hyesoo-ya. Aku bersamamu. Aku disini. Maafkan aku…”

“Jika Siwon oppa tidak pernah bertemu denganku, mungkin dia masih hidup sampai detik ini. Jika kita tidak pernah bertemu, maka kita berdua tidak akan pernah merasa begitu tersakiti seperti ini. Appa dan eomma juga tidak akan mengalami kecelakaan”.

“Jangan menyalahkan dirimu atas semua ini. Kepergian Siwon hyung dan abeoji murni karena sebuah kecelakaan. Tidak ada hubungannya denganmu, atau dengan siapapun”.

————————-

.

.

.

Beautiful Tomorrow

Part 8

.

.

Author’s POV

Unit Gawat Darurat

Shinsung Hospital

.

Kyuhyun masih duduk dalam diam di sisi ranjang Hyesoo yang baru saja kembali tertidur setelah sadarkan diri beberapa menit yang lalu. Kesedihan dan kelelahan sudah benar-benar menelan seluruh tenaga Hyesoo, menyisakan tubuh lemah yang berbaring diatas ranjang UGD. Butuh waktu hampir sepuluh menit bagi Kyuhyun untuk meyakinkan Hyesoo bahwa keadaan ibunya akan baik-baik saja meski Hyesoo beristirahat sebentar. Kedatangan Donghae kesana juga menambah keyakinan Hyesoo untuk menuruti permintaan Kyuhyun. Setengah jam yang lalu, Kyuhyun menghubungi Donghae, memintanya datang sebentar ke UGD untuk sekedar meyakinkan Hyesoo agar menerima perawatan. Keduanya pun berbohong mengenai kondisi Nyonya Lee pada Hyesoo. Mereka meyakinkan Hyesoo bahwa keadaan tetap terkendali, meski sesungguhnya tidak ada satu pun diantara mereka yang mengetahui kondisi sebenarnya di dalam ruang operasi. Namun, kebohongan yang mereka buat ternyata berhasil membuat Hyesoo mengerti. Keberadaan bayi dalam kandungan Hyesoo pun membantu mereka dalam membujuk Hyesoo.

.

“Pergilah ke food court untuk makan, Cho Kyuhyun. Kondisimu tidak terlihat cukup baik”, kata Soyu yang datang menghampiri Kyuhyun.

.

“Tidak sekarang, Kang Soyu” tolak Kyuhyun dengan suara pelan.

.

“Kondisi Hyesoo sudah lebih baik, Cho Kyuhyun. Aku akan menjaganya. Kau bisa makan saat dia masih tertidur”, bujuk Soyu sekali lagi.

.

“Aku akan makan nanti”, Kyuhyun bersikeras menolak bujukan Soyu.

.

“Kau ini… benar-benar keras kepala. Jika Hyesoo tahu kau bersikap seperti ini, dia pasti akan marah padamu. Kau membuatnya merasa khawatir, Cho Kyuhyun. Kau tahu itu?” ujar Soyu.

.

“Aku tahu. Hyesoo juga mengatakannya padaku. Aku akan menanggung kemarahannya, Kang Soyu. Sebesar apapun itu”, balas Kyuhyun.

.

“Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Tapi, pastikan kau makan sesuatu saat Hyesoo sudah bangun. Semarah apapun Hyesoo padamu, dia tetap tidak akan senang melihatmu seperti ini”, kata Soyu.

.

“Aku mengerti”, jawab Kyuhyun singkat.

.

Anyway… Hyesoo bisa dipindahkan ke ruangan lain jika kau mau. Kau tahu, disini mungkin tidak terlalu nyaman baginya”, ujar Soyu.

.

“Benarkah? Hm… Baiklah, aku akan… hm…… ya, aku akan mencari Taemin untuk mengurus ruangannya”, kata Kyuhyun yang terlihat linglung.

.

“Sudah. Tidak perlu. Aku yang akan mengurusnya”, kata Soyu menawarkan diri. “Kali ini aku bersungguh-sungguh, Cho Kyuhyun. Kau butuh asupan makanan dan istirahat. Kau sangat sangat kacau”, sambung Soyu yang merasa prihatin dengan kondisi Kyuhyun.

.

I will. Just…

.

“Tidak sekarang. Aku tahu. Tapi, kau harus. Nanti. Berjanjilah pdaku”, kata Soyu memotong ucapan Kyuhyun.

.

I promise”, jawab Kyuhyun sambil mengangguk pelan.

.

Okay. Aku akan segera kembali”, kata Soyu sambil menyentuh bahu Kyuhyun.

.

“Terima kasih banyak, Kang Soyu”, balas Kyuhyun.

.

Don’t mention it”, ujar Soyu yang segera meninggalkan Kyuhyun untuk mengurus kepindahan Hyesoo ke ruang perawatan.

.

Kyuhyun pun menyentuh tangan Hyesoo yang tida terpasang selang infus. Ia menggenggam tangan hangat itu, lalu sesekali menciumnya lembut. Kyuhyun benar-benar melupakan kondisinya sendiri. Ia tidak mempedulikan tubuh lelahnya yang membutuhkan asupan banyak asupan tenaga. Beberapa hari terakhir telah menjadi hari-hari yang buruk bagi Kyuhyun. Banyak hal yang harus ia urus. Mulai dari pekerjaan sampai urusan perawatan orang tua Hyesoo. Meski banyak orang yang bisa membantunya, tak jarang Kyuhyun memilih untuk melakukannya sendiri. Saat ini, setidaknya Kyuhyun sudah bisa duduk dengan perasaan yang sedikit tenang. Donghae dan Jaejoong sudah berada di ruang operasi untuk memantau kondisi ibu mertuanya. Sementara Hyesoo sudah tertidur dengan pulas dihadapannya. Tidak ada hal lain lagi yang ia butuhkan.

.

Hari semakin beranjak larut saat dua orang perawat yang bertugas di UGD datang menghampiri Kyuhyun. Ruang perawatan untuk Hyesoo sudah selesai diurus oleh Soyu. Karena itu, keduanya datang untuk membantu kepindahan Hyesoo ke ruangan. Kyuhyun segera melepaskan genggaman tangannya dan mempersilahkan kedua perawat untuk melakukan tugas mereka. Hyesoo pun sontak terbangun saat pengunci tempat tidurnya dilepas agar tempat tidur itu bisa didorong menuju ruangan. Hyesoo menolak untuk dipindahkan dengan cara itu. Menurutnya, kondisinya tidak terlalu parah hingga memerlukan cara itu. Akhirnya, Hyesoo dipindahkan dengan menggunakan kursi roda yang Kyuhyun dorong sendiri melalui koridor, diikuti dengan seorang perawat yang berjalan disisi kiri Hyesoo. Mereka pun tiba di ruang perawatan VVIP di lantai 5 rumah sakit. Perawat yang mengantar Hyesoo undur diri setelahnya, meninggalkan Kyuhyun dan Hyesoo dalam keheningan. Kyuhyun meminta Hyesoo untuk kembali tidur agar kondisinya semakin pulih. Hyesoo sempat menolaknya, mengatakan bahwa ia ingin mengetahui keadaan ibunya terlebih dahulu. Kyuhyun bersikeras ingin Hyesoo tetap beristirahat lebih lama.

.

“Aku sudah tidur untuk waktu yang cukup lama, Kyuhyun-ah. Aku hanya ingin tahu kondisi eomma saja”, kata Hyesoo.

.

“Hyesoo-ya, kumohon penuhi permintaanku kali ini. Aku tidak ingin kau terlalu lelah. Beristirahatlah lebih lama. Aku akan menghubungi Donghae atau Jaejoong untuk mengetahui kondisi eomeoni. Hm?” bujuk Kyuhyun.

.

“Baiklah. Aku akan memenuhi permintaanmu kali ini”, kata Hyesoo setuju.

.

Hyesoo pun kembali memejamkan matanya, berusaha untuk tidur meski pikirannya melayang keluar dari ruangan itu. Kyuhyun sangat mengetahui sifat keras kepala Hyesoo yang akan tetap bersikeras sampai keinginannya terwujud meski dalam kondisi lemah seperti itu. Karena itu, Kyuhyun terus membujuk Hyesoo untuk tetap beristirahat agar kondisinya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Suara ketukan pelan di pintu terdengar sesaat setelahnya. Kyuhyun sontak menatap Hyesoo yang ternyata sudah terlelap. Kyuhyun pun bangkit berdiri, kemudian berjalan menuju pintu. Ia tidak ingin siapapun masuk ke dalam dan kembali membangunkan Hyesoo. Ia meraih gagang pintu lalu membukanya. Seorang perawat berdiri didepan pintu dengan ekspresi ramahnya. Kyuhyun segera keluar dari ruangan dan menutup pelan pintu dibelakangnya.

.

“Direktur Cho, maaf mengganggu anda”, kata perawat Han.

.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun.

.

“Dokter Seo Kangjun meminta anda untuk datang ke ruangannya”, kata perawat Han.

.

“Baiklah, aku akan menemuinya. Tolong jaga istriku. Dan, hubungi aku jika sesuatu terjadi padanya”, kata Kyuhyun memberikan pesan pada perawat Han.

.

“Tentu, Direktur”, jawab perawat Han.

.

.

.

Ruangan Seo Kang Jun

Lantai 3 Shinsung Hospital

.

Kyuhyun mengetuk pintu berwarna abu-abu gelap diujung lorong sebelah barat. Setelah melakukan perubahan di berbagai tempat, sejak beberapa hari terakhir, sebagian besar lantai 3 Shinsung Hospital digunakan untuk ruangan para dokter yang bertugas disana. Masing-masing pintu ruangan di cat sesuai dengan keinginan dokter yang menempati ruangan tersebut. Karena itu, tidak ada papan nama yang tertera di setiap pintu. Hanya warna pintu yang menjadi tanda pemilik ruangan tersebut. Setelah pemilik ruangan berpintu abu-abu gelap itu memberikan ijin untuk masuk, Kyuhyun pun membuka pintu itu dan masuk ke dalam ruangan. Disana, sudah ada Soohyuk yang duduk santai di ujung sofa.

.

“Silahkan duduk, Direktur Cho”, kata Seo Kangjun mempersilahkan.

.

“Terima kasih”, balas Kyuhyun yang kemudian duduk di sofa single dihadapan Seo Kangjun. “Ada apa? Apakah semua baik-baik saja?” tanya Kyuhyun setelahnya.

.

“Saya harap semua tetap baik-baik saja, Direktur Cho. Tapi, sayangnya kondisi Hyesoo kembali memburuk. Dia sangat stres dan tertekan. Mungkin karena kejadian yang menimpanya belakangan ini. Walaupun saya yakin, masalah itu bukan satu-satunya alasan”, jawab Seo Kangjun.

.

“Benar. Hyesoo sering menolak untuk makan akhir-akhir ini”, kata Kyuhyun membenarkan.

.

“Hyesoo juga memiliki riwayat psikologis yang cukup mengkhawatirkan”, sambung Soohyuk.

.

“Selain yang dialaminya akhir-akhir ini? Kau tidak pernah membicarakannya. Bisakah kau memberikan informasi itu padaku? Atau… Mungkin ‘kami’ lebih tepatnya. Karena kupikir Direktur Cho juga tidak mengetahuinya, melihat ekspresi di wajahnya saat ini”, pinta Seo Kangjun.

.

“Apakah ada hubungannya dengan mimpi buruk?” tanya Kyuhyun.

.

“Kau mengetahuinya juga?” Soohyuk balas bertanya.

.

“Aku pernah melihat Hyesoo terbangun karena mimpi buruk, secara langsung. Satu kali. Kurasa sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu. Hyesoo juga pernah menceritakan padaku tentang mimpi buruknya. Kemarin malam, kurasa”, jawab Kyuhyun.

.

“Dia memang mimpi buruk”, sambung Soohyuk.

.

“Kau juga mengetahuinya?” tanya Kyuhyun.

.

“Aku keluar dari ruangan untuk mengambilkan minum, kau ingat?” jawab Soohyuk

.

“Benar… Aku ingat. Jadi, karena itu…”

.

Keheningan mengelimuti ruangan itu setelahnya. Tiga pria yang sedang duduk bersama itu pun lantas tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Tidak ada kata yang terucap dari bibir ketiganya. Sebuah kerutan kecil sempat terlihat di kening Kyuhyun. Hingga sebuah dehaman pelan dari Seo Kangjun mengakhiri keheningan diantara mereka.

.

“Apa yang terjadi dalam mimpi Hyesoo lebih tepatnya? Apakah Hyesoo menjelaskannya pada anda?” tanya Seo Kangjun kali ini.

.

“Aku tidak terlalu mengingatnya. Saat itu, Hyesoo mengatakan ada seseorang, mereka di padang rumput. Orang itu juga selalu meminta maaf pada Hyesoo”, jawab Kyuhyun.

.

“Masih mimpi yang serupa”, ujar Soohyuk.

.

“Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun.

.

“Sebenarnya, Hyesoo tidak akan suka jika kau mengetahuinya. Tapi, kurasa kau berhak untuk mengetahui ini, Cho Kyuhyun”, kata Soohyuk yang kemudian terdiam selama beberapa saat. “Setelah kecelakaan yang dialami Hyesoo 10 tahun yang lalu, Hyesoo sering mendapatkan mimpi buruk yang serupa. Tidak setiap malam, hanya sesekali. Mimpi buruk yang kau katakan adalah salah satu dari akhir seri mimpi buruk itu. Namun, sebuah peristiwa yang terjadi pada kalian berdua bertahun lalu memicu kembalinya mimpi buruk itu”, sambung Soohyuk menjelaskan.

.

“Aku mengerti. Jadi, mimpi buruk itu tidak datang setiap malam?” tanya Seo Kangjun.

.

“Kurasa tidak. Aku tidak tahu. Bukan aku yang tidur bersamanya setiap malam”, jawab Soohyuk dengan nada bergurau.

.

“Kau sudah bosan hidup?” Kyuhyun memberikan responnya.

.

“Apa aku salah?” tanya Soohyuk.

.

“Sudah. Sudah. Kita tidak punya waktu untuk berdebat tentang itu sekarang”, Seo Kangjun menghentikan keduanya. “Lalu, bagaimana dengan mimpi buruk yang diceritakan oleh Hyesoo kemarin, Direktur Cho?” tanya Seo Kangjun setelahnya.

.

“Hyesoo bilang aku jatuh ke jurang. Dan, dia tidak tidak bisa menghentikanku, dia lengah. Hyesoo terlihat begitu ketakutan saat mengatakan hal itu”, jawab Kyuhyun.

.

“Kurasa Hyesoo sedang mempertimbangkan banyak hal”, ujar Soohyuk. Seo Kangjun dan Kyuhyun lantas memandang Kyuhyun bersamaan, memintanya untuk melanjutkan ucapannya. “Aku sudah dengar tentang kecelakaanmu di Jepang beberapa tahun yang lalu, Cho Kyuhyun. Saat itu, kalian sedang berpisah. Hyesoo pergi darimu dan kau berusaha mencarinya. Secara tidak langsung, dan tidak sepenuhnya sama, kejadian itu hampir kembali terjadi. Hyesoo mempertimbangkan keputusan yang ingin dia lakukan untuk mengatasi masalah diantara kalian. Tapi, Hyesoo takut akan akibat dari keputusannya nanti”, sambung Soohyuk menjelaskan.

.

“Hyesoo memang ingin pergi. Menurutnya, keberadaannya disini membawa akibat buruk pada semua orang. Dia mengatakannya dengan jelas padaku. Sebelumnya dia memintaku untuk pergi. Tapi, kemarin dia yang ingin pergi”, ujar Kyuhyun.

.

“Dimana anda saat Hyesoo mengalami mimpi buruk kemarin?” tanya Seo Kangjun.

.

“Aku duduk di luar ruangan. Sudah ada Soohyuk di dalam. Jadi, kupikir aku tidak perlu membebani Hyesoo dengan keberadaanku disana”, jawab Kyuhyun.

.

“Sekarang aku bisa mendapatkan gambaran jelasnya”, ujar Seo Kangjun.

.

“Tentang apa?” tanya Soohyuk.

.

“Direktur Cho, seperti yang Soohyuk katakan, andalah yang selalu bersama Hyesoo setiap malam. Dan, saya punya keyakinan bahwa anda selalu berada disisi Hyesoo dan membuatnya bahagia setelah kalian kembali bersama. Tadi, anda mengatakan bahwa anda pernah menyaksikan mimpi buruk itu hanya satu kali. Itu artinya, Hyesoo tidak pernah mengalami mimpi buruk selama bersama anda, bukan?” kata Seo Kangjun.

.

Kyuhyun terdiam selama beberapa saat, memikirkan ucapan Seo Kangjun sambil mencoba mengingat kebelakang setiap hal dalam hidupnya bersama Hyesoo. Kyuhyun pun mengangguk pelan sesaat kemudian.

.

“Benar. Aku tidak pernah menyaksikannya lagi”, jawab Kyuhyun.

.

“Tapi, sayangnya anda kembali melukai Hyesoo akhir-akhir ini. Karena itu, mimpi buruk kembali menghantui Hyesoo. Well, masalah sudah terpecahkan. Kita tidak perlu memikirkan apapun lagi”, ujar Seo Kangjun.

.

“Kesimpulan yang bagus, Seo Kangjun. Aku juga berpikir seperti itu selama ini”, sambung Soohyuk.

.

“Apa yang kalian berdua bicarakan? Tolong, katakan dengan bahasa yang bisa kumengerti”, pinta Kyuhyun.

.

“Hyesoo tidak membutuhkan obat maupun terapi psikologis apapun, Direktur Cho”, jawab Seo Kangjun.

.

“Apa maksud anda?” tanya Kyuhyun.

.

.

.

Ruang Perawatan VVIP

Shinsung Hospital

.

Setelah perbincangan yang cukup panjang, Kyuhyun kembali ke ruangan Hyesoo, bersama Soohyuk dan Seo Kangjun yang berjalan di belakangnya. Saat keluar dari ruangan Seo Kangjun, Kyuhyun tampak berjalan tergesa-gesa. Namun, langkahnya justru melambat saat ia masuk ke pintu utama Ruang Perawatan VVIP di Shinsung Hospital. Keraguan kembali menghampirinya. Berbagai pertanyaan dan kemungkinan memenuhi pikirannya. Situasi yang jauh berbeda justru terlihat di belakangnya. Ekspresi di wajah Soohyuk dan Seo Kangjun justru terlihat jauh lebih tenang dari sebelumnya. Menurut keduanya, satu masalah sudah bisa mereka pecahkan. Mereka tidak menyadari kondisi Kyuhyun yang justru merasa begitu risau hingga mereka melihat Kyuhyun menghentikan langkahnya beberapa meter dari pintu ruangan Hyesoo. Kyuhyun hanya menatap pintu bercat putih gading di depannya tanpa melakukan apapun. Kerutan kembali terlihat di keningnya. Kedua tangannya mengepal kuat, helaan napasnya pun menjadi berat. Melihat situasi itu, Soohyuk dan Seo Kangjun pun berjalan menghampirinya.

.

“Ada apa?” tanya Soohyuk sambil menyentuh bahu Kyuhyun yang menegang.

.

“Aku menyebabkan mimpi buruk itu kembali padanya”, kata Kyuhyun yang kemudian mengambil jeda beberapa saat untuk berpikir. “Mungkin Hyesoo mengatakan hal yang benar. Aku harus pergi darinya, Soohyuk-ah. Agar Hyesoo tidak tersakiti lagi olehku”, sambung Kyuhyun.

.

“Dan membiarkan mimpi buruk kembali menghampirinya? Kurasa itu bukan ide yang menyenangkan, Cho Kyuhyun”, kata Soohyuk memberikan tanggapannya.

.

“Keberadaan anda di sisi Hyesoo memiliki potensi yang lebih besar untuk mengembalikan dirinya yang dulu, Direktur Cho. Saya setuju dengan Soohyuk. Pergi dari Hyesoo bukan ide yang baik untuk dilakukan. Tidak untuk kalian berdua. Saya pikir sebaiknya anda masuk ke dalam dan menemani Hyesoo”, sambung Seo Kangjun.

.

“Tapi, bagaimana kalau kondisi Hyesoo justru menjadi lebih buruk dengan keberadaanku?” tanya Kyuhyun yang masih terpaku menatap pada pintu ruangan.

.

“Kita bisa memikirkannya lagi nanti. Lebih baik mencoba sebuah kemungkinan kecil daripada tidak melakukan apapun, Cho Kyuhyun. Masuklah. Jangan biarkan Hyesoo sendiri terlalu lama”, jawab Soohyuk yang lantas menepuk pelan bahu Kyuhyun.

.

“Aku akan masuk nanti. Saat Hyesoo sudah benar-benar terlelap”, ujar Kyuhyun dengan suara pelan.

.

Soohyuk pun menghela napas panjang setelahnya. Ia lantas berjalan menuju tempat kosong tepat di hadapan Kyuhyun. Soohyuk menatap Kyuhyun yang masih tertunduk lemas sambil menutup matanya. Kedua tangannya ia lipat di depan dada, masih sambil menatap Kyuhyun yang sangat berbeda dari dirinya sebelumnya.

.

“Aku jadi merasa heran. Ada apa dengan kalian berdua? Sepertinya kondisi psikologis kalian sama-sama tidak cukup baik saat ini”, kata Soohyuk.

.

Ucapan Soohyuk pun berhasil menarik perhatian Kyuhyun. Kedua matanya terbuka dan kepalanya terangkat. Kepalan di kedua tangannya sudah lama terlepas. Kyuhyun menatap tepat ke kedua mata Soohyuk dengan tatapan lelahnya yang terlihat begitu sayu. Tidak ada kata yang terucap dari bibir Kyuhyun. Ia merasa begitu lelah, rasa sakit pun terasa begitu kuat di kepalanya. Sudah tidak ada celah sedikit pun dalam kepalanya untuk mencerna ucapan Soohyuk barusan. Kyuhyun hanya meminta Soohyuk untuk melanjutkan ucapannya dengan sebuah kerutan kecil di keningnya.

.

“Pertama, Hyesoo menginginkan sebuah perpisahan karena berpikir semua hal akan menjadi baik dengan kepergiannya. Lalu, sekarang kau juga memiliki pikiran yang sama. Tidak bisakah kalian mengambil jalan keluar yang lebih sederhana dengan tetap bersama dan saling melindungi satu sama lain? Semua hal akan baik-baik saja jika kalian kembali hidup dengan bahagia seperti sebelumnya. Tidak akan ada yang terluka dengan keberadaanmu disisinya, begitu juga sebaliknya. Jika kau pergi, maka aku tidak bisa memberikan jaminan apapun padamu. Mungkin aku akan merebutnya darimu dan membahagiakannya dengan caraku. Aku yakin kau tidak akan merasa senang dengan hal itu. Begitu pun Hyesoo yang tidak lantas akan merasa bahagia jika ada seorang wanita yang mendekatimu”, kata Soohyuk sambil menyelipkan kalimat-kalimat ringan untuk meredakan ketegangan diantara mereka.

.

“Tidak, Soohyuk-ah. Dalam situasi ini aku justru akan sangat berterimakasih pada siapapun yang dapat membuat Hyesoo bahagia”, balas Kyuhyun.

.

“Jangan bodoh, Kyuhyun-ah. Kau pikir Hyesoo akan bahagia tanpamu? Hyesoo hanya akan mendapatkan mimpi-mimpi buruk itu jika kau tidak berada disisinya”, ujar Soohyuk yang kembali ke sisi seriusnya.

.

“Untuk hal itu aku setuju padamu, Soohyuk-ah”, sambung Seo Kangjun.

.

“Hanya itu? Lalu hal apa yang tidak kau setujui dari ucapanku?” tanya Soohyuk dengan nada bicaranya yang riang.

.

“Tentang kau akan merebutnya dari Direktur Cho dan membahagiakannya dengan caramu. Aku tidak melihat ada keberhasilan dalam ucapanmu itu”, jawab Seo Kangjun santai.

.

“Apa maksudmu? Kau meragukan kemampuanku?” tanya Soohyuk yang sampai mengganti posisi berdirinya menghadap pada Seo Kangjun.

.

“Maaf, Tuan-tuan, suami wanita yang sedang kalian bicarakan masih hidup dan berdiri disamping kalian. Kalian meributkan hal yang tidak berguna”, sambung Kyuhyun yang berhasil ditarik keluar dari kemurungannya oleh Soohyuk dan Seo Kangjun.

.

Soohyuk dan Seo Kangjun lantas menoleh bersamaan pada Kyuhyun. Sebuah senyum kecil akhirnya muncul di bibir Kyuhyun, mengundang tawa ringan Soohyuk dan Seo Kangjun setelahnya. Namun, senyum itu menghilang seketika saat kedua mata Kyuhyun menangkap sosok wanita yang berjalan mendekat pada mereka. Seo Kangjun yang menyadari tatapan Kyuhyun lantas menoleh, mengikuti arah pandangan Kyuhyun. Senyum lebar pun terlihat di wajah Seo Kangjun saat kedua matanya menemukan sosok wanita yang dilihat oleh Kyuhyun. Tangan kanannya merentang pada wanita itu, yang kemudian disambut hangat olehnya.

.

You’re here”, kata Seo Kangjun pada wanita itu.

.

Been awhile”, balasnya.

.

“Perkenalkan, Direktur Cho. Ini istri saya, Emma” kata Seo Kangjun yang kembali menatap Kyuhyun.

.

I’m so sorry about your lost and Hyesoo’s condition”, kata Emma sambil menjabat tangan Kyuhyun.

.

Thank you”, balas Kyuhyun.

.

“Kau datang kesini sendirian?” tanya Soohyuk.

.

Yeah”, jawab Emma singkat.

.

“Sudah menemui Hyesoo?” tanya Soohyuk sekali lagi.

.

“Aku yang menemani Hyesoo saat kalian, boys, bicara cukup lama”, jawab Emma. “Apa kau akan pulang malam ini?” tanya Emma setelahnya pada Seo Kangjun.

.

Yes, I’ll go home with you”, jawab Seo Kangjun.

.

“Kalau begitu aku akan menunggumu di lobby”, kata Emma.

.

Okay. Aku akan segera menyusulmu”, balas Seo Kangjun.

.

Emma pun menganggukkan kepalanya, berpamitan pada Kyuhyun. Ia juga memeluk Soohyuk sebelum meninggalkan ketiganya disana. Emma menoleh sekali lagi dan memberikan senyum kecilnya sebelum benar-benar keluar dari pintu utama Ruang Perawatan VVIP. Seo Kangjun yang tidak melepaskan pandangan dari istrinya yang berjalan menjauh pun kembali menoleh pada Kyuhyun. Ia hanya menatap Kyuhyun dalam diam, menimbang setiap kata yang ingin ia katakan pada Kyuhyun yang kembali tertunduk menatap lantai koridor ruangan.

.

“Direktur Cho, ketahuilah, saya sangat mencintai keluarga saya. Kami sudah memiliki dua orang anak dan hidup tanpa masalah yang berarti sampai hari ini. Saya hanya ingin memberikan keyakinan yang lebih kuat pada anda. Saya memang menyayangi Hyesoo, sebagai seorang sahabat yang sangat baik”, kata Seo Kangjun menjelaskan pada Kyuhyun tentang hubungannya dengan Hyesoo. Seolah ia mengetahui masalah yang terjadi diantara Hyesoo dan Kyuhyun.

.

“Saya mengerti”, balas Kyuhyun.

.

“Cho Kyuhyun yang kekanakan”, sambung Soohyuk sambil tertawa kecil.

.

“Syukurlah kau mengetahui itu, Lee Soohyuk”, balas Kyuhyun yang juga menyunggingkan senyum kecilnya.

.

“Baiklah. Sepertinya lebih baik saya pulang. Saya percaya anda akan menjaga Hyesoo dengan sangat baik, Direktur Cho. Segera hubungi saya jika terjadi sesuatu. Saya akan siaga kapan pun anda membutuhkan bantuan saya”, kata Seo Kangjun sambil menjulurkan tangannya pada Kyuhyun.

.

“Terima kasih. Dan… Tolong, maafkan saya. For everything”, kata Kyuhyun yang menyambut tangan Seo Kangjun dan menjabatnya erat.

.

“Tidak masalah”, balas Seo Kangjun.

.

“Aku juga akan pulang. Jinu menungguku di rumah”, sambung Soohyuk.

.

“Itu lebih baik. Cepat pergi. Aku tidak akan menahanmu”, kata Kyuhyun sambil tertawa kecil, lalu menepuk pelan bahu Soohyuk. “Sampaikan salamku pada Jinu”, sambungnya.

.

“Jinu tidak terlalu menyukaimu. Kau sudah merebut aunt Hye kesayangannya”, balas Soohyuk.

.

“Katakan padanya bahwa kesempatannya merebut aunt Hye sudah hilang. Karena, aunt Hye sedang mengandung bayi milik uncle Kyu”, kata Kyuhyun yang sudah terdengar lebih riang dari sebelumnya.

.

“Akan aku sampaikan. Hhh… Kau dan Jinu memang benar-benar mirip”, kata Soohyuk yang ikut tertawa bersama Kyuhyun.

.

“Hati-hati di jalan”, kata Kyuhyun akhirnya.

.

.

.

Ruangan VVIP 3

Shinsung Hospital

.

Kyuhyun akhirnya masuk ke ruangan Hyesoo beberapa menit setelah kepergian Soohyuk dan Seo Kangjun. Meski dengan keraguan yang masih menyelimutinya, Kyuhyun terus mencoba meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Ruangan itu masih terasa begitu sunyi seperti saat ia meninggalkannya. Pencahayaan di ruangan itu juga terjaga tetap redup temaram. Kyuhyun berjalan perlahan menuju kursi yang masih berada tepat di sebelah tempat tidur Hyesoo. Saat tiba disanalah akhirnya Kyuhyun mengetahui bahwa Hyesoo tidak sedang tertidur pulas seperti dugaannya. Hyesoo berbaring dengan posisi miring ke arah kanan, menghadap tepat pada Kyuhyun. Namun, ia tidak menatapnya. Hyesoo menatap kosong jauh ke belakang Kyuhyun tanpa kata. Kyuhyun yang menyadari itu pun segera mendekat pada Hyesoo, lalu duduk didekatnya.

.

“Hyesoo-ya, apa kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun sambil menyentuh lembut kepala Hyesoo.

.

I’m done, Cho Kyuhyun”, kata Hyesoo yang tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun.

.

“Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun bingung.

.

Hyesoo pun menggerakkan tubuhnya, lalu beranjak bangun dari posisi berbaringnya. Kemudian, Hyesoo duduk di tepi tempat tidur dan tidak mengatakan apapun setelahnya. Kyuhyun masih berada disisinya, menatap Hyesoo dengan sikap siaga. Berbagai kemungkinan sikap yang akan dilakukan oleh Hyesoo lantas muncul di kepalanya bagai sebuah roll film yang berputar cepat. Kyuhyun sudah siap dengan reaksi apapun yang mungkin akan diberikan oleh Hyesoo.

.

“Aku kelelahan, Cho Kyuhyun. Semua ini begitu menghancurkanku”, kata Hyesoo akhirnya.

.

“Aku tahu, Hyesoo-ya. Aku tahu semua ini begitu berat bagimu. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Aku juga tidak bisa mengatakan bahwa semuanya akan segera baik-baik saja. Karena aku tahu keadaan tidak akan menjadi lebih baik semudah dan secepat itu. Tapi, percayalah, Hyesoo-ya, aku akan tetap berada disisimu untuk menjagamu. Aku tidak akan pernah menjauh darimu bahkan untuk sedetik saja. Kau tidak sendiri, Hyesoo-ya. Kau bisa membagi kesedihanmu padaku”, balas Kyuhyun yang duduk dihadapan Hyesoo sambil menggenggam tangannya.

.

“Aku sudah selesai, Cho Kyuhyun. Ini bukan lagi tentangmu, tapi tentangku. Aku tidak memiliki kepercayaan diri lagi untuk bertahan tetap bersamamu”, ujar Hyesoo yang menatap tepat ke kedua mata Kyuhyun.

.

“Apa yang kau katakan? Kau akan baik-baik saja jika bersamaku, Hyesoo-ya. Tetaplah bersamaku. Jangan tinggalkan aku”, pinta Kyuhyun.

.

“Ini sudah terlalu jauh”, kata Hyesoo sambil melepaskan genggaman tangan Kyuhyun. “Aku…… Aku… Aku tidak bisa menemukan alasan apapun lagi untuk meyakinkan diriku bahwa semua akan baik-baik saja. Karena, kenyataannya aku tidak kunjung kembali merasa baik. Aku seperti sedang kembali ke titik nol. Seolah jiwaku sedang ditarik untuk mengarungi waktu, kembali ke masa dimana kau memintaku untuk menikah denganmu. Kau tahu? Seperti yang kurasakan kala itu, saat inipun aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tapi, aku selalu merasa seperti dihantui oleh bayang-bayang sikapmu yang menyakitiku, atau akan [menyakitiku]. Saat ini perasaan itu menjadi semakin kuat. Aku merasa sangat takut. Rasa takut ini tidak lagi hanya karenamu, tapi juga karena diriku sendiri. Aku takut, suatu saat nanti aku akan menyakitimu. Jauh lebih sakit dari yang kurasakan karenamu”, sambung Hyesoo.

.

“Jangan berkata seperti itu, Hyesoo-ya. Aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku padamu. Apapun itu. Tapi, aku mohon, percayalah padaku. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kumohon, jangan pernah pergi dariku. Meskipun kau menyakitiku, aku akan tetap bersamamu. It’s okay. You can hurt me. Just don’t leave me”, pinta Kyuhyun sekali lagi.

.

“Sadarkah kau, apa yang sudah terjadi padaku akhir-akhir ini? Semua hal menjadi sangat kacau. Saat masalahku denganmu belum terselesaikan, peristiwa menakutkan ini datang. Aku kelelahan, Kyuhyun-ah. Aku bahkan tidak memiliki kepercayaan lagi pada diriku sendiri. Aku tidak punya keyakinan untuk memberikan kebahagiaan pada siapapun. Semua orang yang bersamaku mengalami hal-hal yang begitu buruk. Aku memberikan penderitaan pada semua orang. Mereka tersakiti karena aku. Dimana letak kebahagiaan yang seharusnya kuberikan itu? Pada akhirnya, kau mengatakan hal yang benar, Kyuhyun-ah. Aku yang telah gagal untuk memahamimu. Aku mengaku sangat mengenalmu. Tapi, memahamimu pun aku tidak mampu. Aku bahkan mengatakan bahwa aku mencintaimu. Bagaimana bisa aku menyakitimu?” balas Hyesoo.

.

“Tidak, Hyesoo-ya. Aku yang terlalu kekanakan. Kau sangat memahamiku. Kau bahkan sering mengalah karena keegoisanku. Dan, kau bukan penyebab dari semua hal buruk yang terjadi ini. Semua itu sudah ditakdirkan untuk terjadi. Kau hanya kurang beruntung berada di dalamnya. Untuk itu, aku tidak akan membiarkanmu berada disana seorang diri. Jangan katakan bahwa kau tidak bisa memberikan kebahagiaan pada siapapun. Keberadaanmu disisiku adalah kebahagiaan terbesar yang kau berikan padaku. Terlebih dengan kehadiran bayi dalam kandunganmu. Aku tidak pernah membayangkan kebahagiaan yang lebih besar dari ini. Kita hanya sedang diberikan cobaan, Hyesoo-ya. Kebahagiaan itu akan kembali datang setelah semua ini berakhir. Tidak akan ada lagi yang tersakiti”, kata Kyuhyun.

.

“Kau tidak perlu mengalah padaku, Kyuhyun-ah. Semua orang tidak mengatakan hal yang benar tentangku. Aku tidak sebaik ucapan mereka. I’m a mess. Keberadaanku disini memperburuk semua hal. Seharusnya aku tidak perlu kembali kesini. Seharusnya aku tetap berada di tempatku, jauh darimu, jauh dari semua orang. Semua mimpi buruk ini menjadi nyata karena keputusan bodohku yang ingin kembali berada disini. Aku telah melakukan kesalahan yang begitu besar”, kata Hyesoo.

.

“Tidak seperti itu. Tidak pernah. Kenapa kau berpikir seperti itu? Kehadiranmu kembali di hidupku adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi, Hyesoo-ya. Aku yakin bukan hanya aku yang merasakan itu. Semua orang yang menyayangimu pasti merasakannya juga. Hidup kami menjadi lengkap dengan kembalinya kau ke kehidupan kami”, kata Kyuhyun mencoba meyakinkan Hyesoo.

.

“Kau hanya belum menyadarinya, Cho Kyuhyun. Sekarang, tolong jawab pertanyaanku dengan jujur. Apakah aku sudah mengubahmu? Apakah selama ini kau berusaha untuk menyesuaikan diri denganku? Apakah aku yang sudah membuatmu berubah menjadi seorang yang bukan dirimu?” tanya Hyesoo.

.

“Apa maksudmu? Kenapa kau berkata seperti itu?” Kyuhyun yang tidak mengerti dengan pertanyaan Hyesoo balas bertanya pada Hyesoo.

.

“Tolong, jawab saja pertanyaanku”, pinta Hyesoo.

.

“Benar. Kau memang mengubahku. Tapi, aku menjadi seorang pria yang jauh lebih baik karenamu, Hyesoo-ya”, jawab Kyuhyun.

.

“Ternyata benar. Aku sudah mengubahmu. Aku mengubahmu menjadi seseorang yang bukan dirimu. Aku sudah mengekangmu. Aku membuatmu mengikuti alurku. Kau terperangkap karena aku”, kata Hyesoo bicara pada dirinya sendiri.

.

“Apa yang kau bicarakan? Itu tidak benar. Aku tidak pernah terkekang ataupun terperangkap. Ada apa denganmu? Kenapa kau memiliki pemikiran seperti itu?” tanya Kyuhyun.

.

“Benar, ada apa denganku? Kenapa aku tidak pernah menyadarinya? Kau mencintaiku, tapi aku membuatmu hidup dengan menyesuaikan alurku, menjadi seseorang yang kuinginkan. Itu sebabnya kau tidak percaya padaku, meragukanku, dan terluka karena aku. Seharusnya aku membiarkanmu menjadi dirimu. Pada akhirnya, aku memang telah melakukan sebuah kesalahan”, kata Hyesoo tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.

.

“Apa? Tidak! Darimana asalnya semua pikiran aneh ini? Tidak, Hyesoo-ya! Tidak pernah seperti itu!” sangkal Kyuhyun.

.

“Akh…” Tiba-tiba, Hyesoo merintih sambil memegangi kepalanya. Denyut hebat menghampiri kepala Hyesoo. Tubuh Hyesoo sontak menjadi lemah. Hyesoo mencoba menopang tubuhnya dengan kedua tangannya. Matanya masih terpejam, merasakan sakit yang begitu hebat di kepalanya. Kyuhyun yang panik pun segera mendekat pada Hyesoo. Kyuhyun membantu Hyesoo menopang tubuhnya. Kyuhyun berusaha membuat Hyesoo untuk kembali berbaring di tempat tidur, namun Hyesoo bersikeras menolaknya.

.

“Hyesoo-ya, ada apa? Apa kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun yang tidak dijawab oleh Hyesoo. “Aku akan panggilkan dokter”, sambung Kyuhyun.

.

Namun, saat Kyuhyun baru berjalan beberapa langkah, ucapan Hyesoo menghentikannya. “Apakah itu alasan dibalik tindakan Siwon oppa?” kata Hyesoo. Kyuhyun lantas menoleh padanya, menatap bingung pada Hyesoo karena pertanyaan yang baru saja Hyesoo ajukan. Di hadapannya, Hyesoo sudah membuka kedua matanya. Hyesoo masih menopang tubuhnya dengan sebelah tangan. Sementara tangan yang lain Hyesoo gunakan untuk mengusap keningnya yang berkeringat.

.

“Kau tahu? Dia meninggalkanku demi perempuan lain”, sambung Hyesoo. “Dia mencintaiku. Begitu pula denganku padanya. Tapi, aku tidak bisa memberikan cinta yang dia inginkan. Aku membuatnya terperangkap dalam tuntutanku yang menginginkan banyak hal darinya. Aku merenggut kebebasannya. Aku juga merenggut kebebasan Cho Kyuhyun”, kata Hyesoo sambil perlahan mengangkat wajahnya, menatap Kyuhyun.

.

“Hyesoo-ya, apa yang kau katakan? Sudah. Jangan bicara lagi”, kata Kyuhyun yang kembali mendekat pada Hyesoo.

.

Hyesoo memejamkan kedua matanya lagi. Ada sebuah kerutan kecil di kening Hyesoo. Ia menahan rasa sakit yang masih dirasakannya. “Siwon oppa bersikap sangat baik padaku. Dia melakukan banyak hal untukku. Dia membuatku merasa begitu aman dan nyaman berada bersamanya…”

.

“Hyesoo-ya, ada apa? Kenapa kau kembali mengungkitnya? Kumohon, bicara padaku”, desak Kyuhyun sambil mengguncang pelan bahu Hyesoo.

.

Hyesoo membuka kedua matanya, menatap lemah pada Kyuhyun. Air mata sudah menggenang disana. Pilu tergambar jelas dari tatapannya pada Kyuhyun. Selama beberapa saat, Hyesoo hanya menatap Kyuhyun tanpa kata, membiarkan isi hatinya tergambar melalui tatapannya. “Cho Kyuhyun juga melakukan hal yang sama. Cho Kyuhyun yang dikenal dingin oleh banyak orang, bersikap sangat baik padaku. Cho Kyuhyun bukan orang yang mudah dibujuk, tapi dia melakukan semua hal yang kuinginkan. Ekspresinya keras pada semua orang, tapi dia tersenyum padaku. Siwon oppa selalu tersenyum padaku…”

.

“Hyesoo-ya, jawab aku! Bicara padaku! Ada apa denganmu?” kata Kyuhyun sekali lagi.

.

Namun, Hyesoo justru mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun. Ia menatap ke sebuah sofa di sisi lain ruangan itu. “Siwon oppa meninggalkanku. Bahkan eomma dan appa pun meninggalkanku. Cho Kyuhyun juga akan meninggalkanku”, kata Hyesoo yang masih tidak menanggapi ucapan Kyuhyun. Air mata sudah menetes deras di kedua pipinya. Isakan kecil juga terdengar dari Hyesoo sesekali. “Seorang gadis akan kembali merebut cintaku. Lee Hyesoo kembali gagal menjaga cintanya. Lee Hyesoo kembali akan kehilangan cintanya. Cho Kyuhyun percaya pada gadis itu. Dia sangat cantik, menawan, dan pintar. Dia sempurna. Lee Hyesoo bukan siapa-siapa jika dibandingkan dengannya. Cho Kyuhyun akan…… Siwon oppa……”

.

Kyuhyun langsung memeluk erat tubuh Hyesoo, menghentikan ucapan Hyesoo yang akhirnya tidak terselesaikan. Hyesoo pun semakin terisak karenanya. Hyesoo membiarkan kesedihan yang ia rasakan menghambur keluar melalui air mata dan isakannya dalam pelukan Kyuhyun. Hyesoo menopangkan berat tubuhnya pada Kyuhyun, membiarkannya bersandar dalam pelukan hangat pria itu.

.

“Cukup, Hyesoo-ya. Sudah. Jangan bicarakan itu lagi. Sudah cukup”, pinta Kyuhyun.

.

“Kau juga akan meninggalkanku seperti yang Siwon oppa lakukan dulu”, ujar Hyesoo dengan suara pelannya.

.

“Tidak. Aku bukan dia, Hyesoo-ya. Aku tidak akan mampu meninggalkanmu”, sanggah Kyuhyun. Keheningan pun menyelimuti mereka berdua setelahnya sampai Kyuhyun bisa memastikan kondisi Hyesoo menjadi lebih tenang. Kemudian, Kyuhyun melepaskan pelukannya, lalu mengusap lembut kedua pipi Hyesoo untuk menghapus jejak air mata disana. “Come to bed? Kau masih butuh banyak istirahat”, pinta Kyuhyun setelahnya dengan senyum tipis yang tergambar di bibirnya.

.

“Kau akan pergi?” tanya Hyesoo.

.

Kyuhyun menggeleng cepat. “Tidak akan pernah”, jawabnya.

.

.

.

Kyuhyun’s POV

.

Hyesoo terlelap dengan cepat, lebih cepat dari malam-malam sebelumnya. Kurasa dia kelelahan karena berpikir terlalu keras dan menangis tanpa henti. Keheningan kembali menyelimuti ruangan ini. Keheningan yang begitu memilukan. Bukan keheningan yang kusukai. Aku bahkan tidak akan pernah menggunakan kata suka untuk menggambarkan perasaanku atas suasana ini. Keheningan ini membuatku terpuruk lebih dalam. Namun, setelah menyaksikan kepedihan yang diutarakan oleh Hyesoo beserta dengan isak tangisnya beberapa saat yang lalu, kurasa keheningan ini tidak terlalu buruk untuk dijadikan sebagai teman bermalam. Melihatnya tidur dengan begitu lelap dan tenang, membuatku kembali bisa bernapas dengan lega. Tidak ada isak tangisnya, atau kata-kata yang terucap dengan pilu. Tidak ada pula jeritan menyakitkan yang bersembunyi dibalik isakan yang membuat tubuhnya bergetar hebat. Hyesoo terlelap dengan sangat nyaman. Jika kuingat beberapa hari kebelakang, sepertinya lelap tidur Hyesoo saat ini adalah hal terbaik yang kusaksikan dengan kedua mata lelahku.

.

Aku masih terjaga sampai detik ini. Sesaat aku teringat akan janjiku untuk makan dan istirahat pada Kang Soyu. Aku adalah seorang yang selalu mencoba menepati janji yang telah kubuat. Tapi, entah mengapa rasanya begitu sulit menepati janjiku pada Kang Soyu. Aku tidak akan berbohong dengan mengatakan bahwa aku tidak lelah, ataupun lapar. Tubuhku sudah memberikan sinyal padaku beberapa kali. Tapi, aku tetap bersikeras menolaknya. Kedua kakiku tidak ingin melangkah menjauh. Tubuhku bahkan tidak memiliki kekuatan untuk itu. Berada didekat Hyesoo dan melihatnya dalam keadaan tenang sudah cukup memberikan kekuatan padaku. Seperti yang Kang Soyu katakan padaku, Hyesoo mungkin akan sangat marah padaku jika mengetahuinya. Aku akan menerimanya. Semarah apapun Hyesoo nanti, aku akan menerima kemarahan itu seperti yang selalu kulakukan. Setidaknya, dengan amarah yang Hyesoo limpahkan padaku, Hyesoo bisa mengutarakan perasaannya. Kurasa itu jauh lebih baik daripada menyimpannya hingga akhirnya terluka seorang diri.

.

Respon tubuhku semakin menajam setelah kejadian buruk yang datang bertubi-tubi pada kami. Saraf-saraf di tubuhku sontak menegang saat sudut mataku menangkap sebuah remasan kuat di selimut yang menutupi tubuh Hyesoo. Remasan kuat itu mengantarku ke pemandangan yang belum pernah kulihat secara langsung sebelumnya. Sebuah kerutan tergambar begitu dalam di kening Hyesoo. Bulir keringat juga terlihat mulai membasahi keningnya. Helaan napas Hyesoo berubah menjadi lebih berat dari sebelumnya. Perlahan gumaman keluar dari bibirnya, seolah ia ingin mengucapkan sebuah kata. Sontak kusentuh lengannya, mencoba membangunkannya dengan perlahan. Aku pun dikejutkan dengan dinginnya kulit Hyesoo yang menyentuh tanganku. Aku baru menyadarinya. Inilah mimpi buruk yang dibicarakan oleh Soohyuk beberapa jam yang lalu di ruangan Seo Kangjun. Mimpi buruk yang kembali pada Hyesoo. Mimpi buruk yang mereka bilang hanya bisa diusir dengan keberadaanku.

.

“Hyesoo-ya… Bangun, Hyesoo-ya. Aku ada disini bersamamu. Kumohon, bangun dari tidurmu. Tinggalkan mimpi buruk itu. Hyesoo-ya…”

.

Aku mencoba mengguncang tubuhnya dengan terus memanggil namanya. Namun, Hyesoo tidak lantas bangun dari tidurnya. Gumamannya perlahan berubah menjadi rintihan menyakitkan. Mimpi buruk itu menyakitinya begitu dalam hingga air mata pun menetes dari sudut matanya. Hyesoo mulai menggumamkan sebuah kata. ‘Jangan… Jangan lakukan itu’, kata Hyesoo. Entah apa yang terjadi dalam mimpi buruknya. Entah siapa yang sedang menyiksanya seperti ini. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk mengetahuinya. Aku hanya bisa terus memohon Hyesoo untuk bangun. Aku kembali mengguncang bahunya, sambil menyeka keringat di keningnya. Kata demi kata yang terucap dari bibirnya kini berubah menjadi isak tangis. Aku mulai diselimuti rasa takut akan keadaan Hyesoo yang menjadi semakin buruk. Baru saja aku akan bergegas memanggil perawat, saat Hyesoo akhirnya terbangun dari tidurnya.

.

“Cho Kyuhyun!” seru Hyesoo yang akhirnya membuka kedua matanya.

.

“Aku disini, Hyesoo-ya. Aku bersamamu. Aku disini”, kataku sambil mencium keningnya. “It’s okay now. I’m here. Semuanya akan baik-baik saja, ya? Aku akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu. Sebentar saja”, sambungku.

.

“Jangan. Aku baik-baik saja”, larang Hyesoo.

.

“Kau tidak baik-baik saja, Hyesoo-ya. Aku akan memanggil seseorang”, kataku bersikeras.

.

I said don’t! Don’t……” seru Hyesoo melarangku sekali lagi.

.

Genggaman tangannya begitu kuat menahanku agar tidak pergi meninggalkannya. Keraguan pun bergumul dalam pikiranku. Tangannya begitu dingin menggenggamku. Keadaan Hyesoo jelas tidak baik-baik saja jika tangannya bahkan terasa begitu dingin seperti ini. Tapi, Hyesoo sangat bersikeras melarangku memanggil dokter untuk memeriksanya. Kecemasan tergambar begitu jelas diwajahnya. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka, memunculkan sosok perawat yang sedang bertugas malam ini di bangsal VVIP. Kurasa seruan Hyesoo beberapa saat yang lalu terdengar hingga keluar ruangan. Perawat itu pun bergegas masuk dan menyalakan lampu ruangan.

.

“Aku baik-baik saja, perawat Park. Semua baik-baik saja”, kata Hyesoo pada perawat Park. Ia melepaskan genggamannya di tanganku setelahnya.

.

“Kau tidak terlihat baik, dokter Lee”, balas perawat Park yang berjalan mendekat pada Hyesoo. Aku lantas mengambil langkah mundur untuk memberikan ruang padanya.

.

“Park Luna… Kumohon… Aku baik-baik saja”, kata Hyesoo sekali lagi untuk meyakinkan perawat Park.

.

“Baiklah. Tapi, ijinkan aku untuk mengganti pakaianmu, Hyesoo-ya”, kata perawat Park, yang juga merupakan teman baik Hyesoo di rumah sakit ini.

.

“Baiklah…” kata Hyesoo setuju.

.

“Direktur Cho, bisakah anda keluar dari ruangan ini sebentar?” tanya perawat Park padaku dengan sopan.

.

“Tidak! Aku tetap disini”, aku menolak permintaannya dengan keras. Perawat Park memintaku keluar dengan begitu sopan, namun permintaannya justru membuat emosiku muncul begitu saja. Aku tidak bisa menemukan kata untuk menjelaskan sikap burukku ini.

.

“Biarkan dia tetap disini, Luna-ya”, kata Hyesoo pada perawat Park. ‘Lihat! Hyesoo bisa mengerti diriku dengan baik, kataku dalam pikiranku.

.

Kurasa emosiku ini muncul karena kelelahan yang sedang kurasakan. Aku tidak bermaksud membalas permintaan perawat Park dengan sebuah seruan. Nada tinggi itu keluar begitu saja dari bibirku. Aku belum sempat menahannya. Beruntung karena Hyesoo bisa memahamiku. Benar, Cho Kyuhyun. Hanya Hyesoo yang mampu memahamimu, kata seseorang dalam kepalaku mengutarakan pendapat dengan nada kesalnya. Aku bisa melihat dengan jelas ada raut kesal di wajah perawat Park saat mendengar ucapanku beberapa saat yang lalu. Namun, ekspresi di wajah Hyesoo justru berbanding terbalik darinya. Hyesoo terlihat begitu tenang saat meminta perawat Park membiarkanku tetap berada di ruangan ini. Selama beberapa saat aku merasa aku benar-benar telah melakukan kesalahan yang begitu besar pada Hyesoo. Aku dan sikap burukku telah menyakitinya sekali lagi.

.

Tidak lama setelahnya, perawat Park yang sudah selesai mengganti pakaian Hyesoo pun meminta ijin untuk meninggalkan ruangan. Hanya ada senyum tipis di bibirnya saat ia bicara padaku. Aku memahami sikapnya padaku. Aku akan meminta maaf padanya nanti. Kembali, ruangan ini terasa begitu hening. Hyesoo sudah kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Ia menarik selimutnya sampai ke atas dada. Dalam diam aku mendekat padanya, lalu duduk di sisi tempat tidurnya.

.

“Apa kau sudah merasa lebih baik?” tanyaku memastikan.

.

Hyesoo menggunakan waktu selama beberapa detik untuk menatapku. Tidak ada ekspresi yang tergambar di wajahnya, menyulitkanku untuk membacanya. Namun, ia mengangguk untuk menjawab pertanyaanku setelahnya. Ia menjawab pertanyaanku, tapi tidak ingin bicara padaku. Entah aku harus merasa lebih tenang atau justru menjadi khawatir.

.

“Tolong, bicara padaku, Hyesoo-ya. Beritahu aku apa yang harus kulakukan”, pintaku sambil menyentuh jari-jarinya yang terasa begitu kurus.

.

“Aku sedang tidak ingin bicara, Cho Kyuhyun”, kata Hyesoo.

.

Ia menolak untuk bicara padaku, namun tetap membiarkanku menyentuhnya. Bagiku ini sudah lebih dari cukup. Aku tidak boleh serakah dengan meminta terlalu banyak padanya. “Baiklah. Aku akan membiarkanmu tidur. Aku akan kembali setelah kau terlelap”, balasku.

.

“Kau mau kemana? Aku lelah, Cho Kyuhyun”, kata Hyesoo yang membuatku bingung.

.

“Aku tahu. Karena itu, aku akan keluar untuk membiarkanmu tidur. Kupikir dengan begitu kau akan lebih tenang”, kataku.

.

No. Mendekatlah…” pinta Hyesoo.

.

“Ada apa? Aku sudah berada cukup dekat denganmu. Apa kau membutuhkan sesuatu?” tanyaku padanya.

.

“Aku membutuhkanmu”, jawab Hyesoo yang lantas membuka selimutnya. “Kemarilah”, pinta Hyesoo setelahnya sambil bergeser, memberikan tempat padaku di tempat tidurnya.

.

“Hyesoo-ya…” Aku meragu pada permintaannya.

.

“Lakukan saja”, kata Hyesoo.

.

Aku pun menuruti permintaannya dengan berbaring bersamanya di tempat tidur. Hanya selang beberapa saat hingga Hyesoo memegang lenganku, lalu meletakkannya dibawah lehernya. Hyesoo menjadikan lenganku sebagai tumpuan kepalanya. Entah sudah berapa lama aku tidak merasakan ini. Yang kutahu, hal kecil ini membuat jantungku berdebar lebih cepat karena perasaan senang yang tiba-tiba saja menghampiriku. Beberapa saat setelahnya, Hyesoo mendekat padaku, meletakkan kepalanya di dadaku. Tangannya melingkar posesif di pinggangku. Matanya lantas terpejam, diikuti dengan helaan napasnya yang menyentuh lembut permukaan kulitku.

.

“Bisakah kau memelukku? Dan, jangan melepasnya. Aku ingin tidur dengan nyenyak malam ini”, pinta Hyesoo dengan suara pelannya yang terdengar sedikit serak.

.

“Tentu saja”, jawabku sambil merengkuh tubuhnya dan mengecup lembut puncak kepalanya. “Aku tidak akan melepasmu. Tidak akan pernah lagi”.

.

.

Author’s POV

Keesokkan harinya

.

Matahari sudah terbit untuk menggantikan tugas bulan yang menghiasi langit gelap sepanjang malam. Sinar yang begitu terang dan kehangatan yang kini mendominasi suasana pagi kota Seoul. Sinar terang itu yang kemudian membangunkan Kyuhyun dari tidur lelapnya. Lelah di tubuhnya membuatnya tertidur dengan sangat pulas sepanjang malam. Terlebih dengan kehadiran Hyesoo di pelukannya. Namun, saat Kyuhyun membuka matanya, Hyesoo sudah tidak lagi berada disana. Sisi tempat tidur di sebelahnya sudah kosong, membangunkan saraf-saraf lelahnya dengan cepat. Sikap siaganya muncul tanpa perlu dipanggil terlebih dahulu. Kedua mata Kyuhyun sontak menelusuri setiap sudut ruangan. Hingga pintu kaca yang terbuka menarik perhatian Kyuhyun. Ia sontak melonjak dari tempat tidur dan berlari menuju pintu balkon yang terbuka lebar itu.

.

Disanalah Kyuhyun menemukan Hyesoo yang sedang berdiri seorang diri. Dinginnya udara di balkon tidak lantas membuat Hyesoo bergeming. Ia tetap berdiri disana tanpa kata, melipat kedua tangannya di depan dada untuk melindunginya dari angin yang menerpa tubuhnya.

.

“Hyesoo-ya, apa yang kau lakukan disini? Udara di luar sangat dingin. Ayo, kita masuk”, kata Kyuhyun pada Hyesoo.

.

Namun, tidak ada jawaban apapun dari Hyesoo. Ia tetap berdiam disana tanpa kata. Hyesoo tidak menoleh, bahkan tidak bergerak sedikit pun. Hal itu membuat Kyuhyun menjadi khawatir padanya. Kyuhyun lantas berjalan mendekat pada Hyesoo.

.

“Hyesoo-ya… Aku mohon…” kata Kyuhyun sambil menyentuh siku Hyesoo yang terasa begitu dingin karena terpaan angin.

.

“Mimpi buruk itu tidak datang semalam. Aku bisa tidur dengan nyenyak”, kata Hyesoo akhirnya.

.

“Itu bagus, ‘kan? Dengan begitu, kau bisa tidur dengan nyenyak. Kau membutuhkan istirahat yang cukup, Hyesoo-ya”, balas Kyuhyun.

.

“Kau berhasil mengusirnya. Mimpi buruk itu pergi karena kau ada bersamaku”, ujar Hyesoo yang masih belum bergeming meski dengan sentuhan tangan Hyesoo. “Aku takut”, sambung Hyesoo setelahnya.

.

“Kenapa? Apa yang kau takutkan?” tanya Kyuhyun yang semakin merasa khawatir pada Hyesoo.

.

“Aku terlalu bergantung padamu. Aku tidak bisa melewati malam dengan tenang tanpamu. Saat kau pergi dariku, apa yang harus aku lakukan?” ujar Hyesoo.

.

“Apa maksudmu? Aku tidak akan pernah pergi, Hyesoo-ya. Aku akan selalu bersamamu”, balas Kyuhyun meyakinkan Hyesoo.

.

“Suatu saat pasti kau akan meninggalkanku. Seperti Siwon oppa yang meninggalkanku, kau juga akan melakukannya padaku…” kata Hyesoo dengan suara lirihnya.

.

“Hentikan pemikiran bodohmu ini, Lee Hyesoo! Aku tidak akan pergi!” seru Kyuhyun.

.

“Bae Suzy lebih mengerti dirimu. Dia tidak mengubahmu. Kau tetap menjadi dirimu sendiri saat bersamanya. Dia lebih memahamimu”, ujar Hyesoo.

.

“Cukup dengan Bae Suzy! Jangan katakan apapun lagi! Aku tidak akan pergi kemanapun, Hyesoo-ya. Tidak akan!” kata Kyuhyun bersikeras.

.

Akhirnya Hyesoo menoleh pada Kyuhyun. Air mukanya berubah. Emosi sontak menyelimutinya. Tiba-tiba saja ia merasakan rasa sakit dalam dadanya. “Kau akan pergi. Seperti yang selalu terjadi padaku. Kau harus pergi”, kata Hyesoo.

.

“Jangan bodoh! Aku tidak akan melakukan itu padamu. Aku tidak akan pernah pergi kemanapun, Lee Hyesoo. Kenapa kau tidak bisa mempercayaiku?” tanya Kyuhyun.

.

“Kau pikir aku tidak mengetahuinya? Aku tidak berada dalam kondisi yang cukup baik, Cho Kyuhyun. Ingatan di masa lalu perlahan kembali padaku. Rasanya begitu menyakitkan. Aku tidak mampu menahannya. Mungkin akan tiba saat dimana aku akan kehilangan ingatanku yang lain. Bahkan ingatan akan kau. Dan, sebelum hal itu terjadi, aku mohon tinggalkan aku. Pergi dariku. Aku tidak ingin membuat hidup siapapun kembali ke titik nol bersamaku. Kalian harus melanjutkan hidup kalian. Aku tidak ingin ada satu orang pun yang terjebak bersamaku. Karena itu, saat masa itu tiba, kumohon tinggalkan aku. Dan, jika saatnya sudah tiba, bawa bayi dalam kandunganku bersamamu”, kata Hyesoo.

.

“Tidak! Tidak, Lee Hyesoo! Jangan pernah berkata begitu. Aku tidak akan kemanapun. Kau akan baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu. Aku tidak akan pergi. Begitupun denganmu. Kita akan tetap bersama apapun yang terjadi”, ujar Kyuhyun.

.

“Aku lelah, Kyuhyun-ah. Kejadian ini selalu berulang. Mimpi buruk ini tidak pernah benar-benar pergi dariku. Mimpi buruk ini akan selalu menghantuiku, membayangi hidupku sampai kapanpun. Tidak ada yang tahu apakah mimpi buruk ini akan berakhir atau justru memperburuk keadaanku. Bagaimana aku bisa membuatmu mengerti?” tanya Hyesoo.

.

“Aku yang akan mengusirnya, Hyesoo-ya. Bukankah mimpi buruk itu tidak datang padamu saat aku bersamamu? Aku akan selalu berada disisimu untuk mengusir mimpi-mimpi buruk itu. Aku tidak akan membiarkannya mengganggu tidurmu”, balas Kyuhyun.

.

Hyesoo tidak membalas ucapan Kyuhyun. Ia justru terdiam dan memejamkan kedua matanya. Perlahan sebuah kerutan kecil muncul di keningnya. Kerutan itu menjadi semakin dalam hingga membuat Hyesoo menarik napas panjang setelahnya.

.

“Hyesoo-ya? Ada apa? Apa kau baik-baik saja? Hyesoo-ya, bicara padaku”, kata Kyuhyun.

.

Kyuhyun lantas menyentuh kedua bahu Hyesoo, bersiap menopang tubuh Hyesoo jika terjadi sesuatu pada Hyesoo. Namun, Hyesoo justru menggerakkan bahunya untuk membuat tangan Kyuhyun terlepas darinya. Kedua matanya sudah terbuka, dengan tatapan waspada yang tergambar disana. Hyesoo mengalihkan pandangannya, kembali menatap jauh ke depan. Hyesoo pun berjalan menjauh, semakin mendekat ke pagar pembatas balkon. Kyuhyun sontak berjalan mendekat pada Hyesoo. Langkah Kyuhyun terhenti saat Hyesoo menoleh, memberikan tatapan tajam padanya. Hyesoo kembali berbalik, menatap jauh ke depan, memandang kota Seoul dari tempatnya berdiri.

.

“Hyesoo-ya, anginnya terlalu kencang disini. Lebih baik kita masuk ke dalam, hm?” bujuk Kyuhyun.

.

“Aku jatuh dari jurang dengan ketinggian yang sama. Tingginya hampir sama… Jatuh…… Tidak… Hanya hampir… Aku hidup…” kata Hyesoo.

.

Kyuhyun kembali mendekat pada Hyesoo dengan langkah perlahan. “Hyesoo-ya, apa yang kau bicarakan? Kemari. Mendekat padaku. Bicara padaku, Hyesoo-ya”, pinta Kyuhyun.

.

“Siwon oppa menabrak mobilku dengan sangat keras. Aku marah padanya. Dia menyakitiku… Dia tidak mencintaiku… Dia melukaiku… Dia meninggalkanku…” kata Hyesoo bicara pada dirinya sendiri.

.

“Kumohon bicara padaku, Hyesoo-ya. Tatap aku. Kumohon, jangan seperti ini. Aku ada disini, Hyesoo-ya. Ini aku, Cho Kyuhyun”, kata Kyuhyun terus mencoba bicara pada Hyesoo.

.

“Siwon oppa datang. Aku melihatnya. Dia menangis. Duduk… Menangis… Tidak ada siapapun. Dia duduk disisi ranjang. Monitor berbunyi sangat keras… Siwon oppa datang. Menangis…” kata Hyesoo sekali lagi dengan nada bicaranya yang semakin melemah. Air mata sudah menetes di pipinya.

.

“Lee Hyesoo!” seru Kyuhyun dengan rasa frustrasi yang dirasakannya karena Hyesoo tidak lantas menjawabnya.

.

“Lee Hyesoo… Siwon oppa juga mengatakannya”, ujar Hyesoo masih pada dirinya sendiri. “Aku mencintaimu… Bertahan… Tetap hidup… Siwon oppa ada disana bersamaku. Dia tidak meninggalkanku”, sambung Hyesoo.

.

“Lee Hyesoo, kumohon, dengar aku!” seru Kyuhyun sambil membalikkan tubuh Hyesoo agar menghadap padanya. “Dengarkan aku. Siwon hyung sudah tidak ada. Dia sudah pergi. Aku disini bersamamu. Kumohon… Bicara padaku, Hyesoo-ya. Ini aku, Cho Kyuhyun. Kumohon, jangan seperti ini”, pinta Kyuhyun.

.

“Lepaskan aku…” kata Hyesoo, membuat Kyuhyun bingung karenanya.

.

“Hyesoo-ya, ada apa denganmu?” tanya Kyuhyun tanpa melepaskan bahu Hyesoo.

.

“Kau siapa? Aku tidak mengenalmu. Lepaskan aku!”

.

.

.

.

TBC

.

Note:

Annyeonghaseyo, readersnim-deul!

Apa kabar kalian semua? Ah, sebelumnya, aku ingin mengucapkan Selamat Idul Fitri 1438 H untuk kalian semua yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin. Sekalian minta maaf juga karena update FF ini mundur lamaaaaaaaa sekali. Aku benar-benar minta maaf. Alasanku ya… same old same old. Ide yang tidak kunjung datang, stuck, buntu, dan penyakit lain sejenisnya. Selain itu, karena libur lebaran, aku disibukkan dengan banyak kegiatan (salah satunya jelas LIBURAN). Baru beberapa hari terakhir aku kembali megang laptop untuk nulis (biasanya cuma untuk nonton drama). Dan, akhirnya FF ini baru bisa aku selesaikan. Sekali lagi aku minta maaf.

Well, cerita kembali berlanjut dengan keadaan Hyesoo yang menjadi semakin parah. Keadaan diantara Kyuhyun dan Hyesoo juga semakin kacau. Mulai dari pemikiran Hyesoo untuk meninggalkan Kyuhyun, sampai munculnya ingatan tentang Siwon. Mendekati akhir part 8 ini, Hyesoo juga mulai tidak menghiraukan Kyuhyun. Kira-kira, apa yang akan terjadi pada Hyesoo? Apa yang akan terjadi setelah ini? Bagaimana kondisi Hyesoo setelahnya? Tunggu kelanjutan kisahnya ya. Kana pamit! Annyeonghigaseyo!

Advertisements

6 thoughts on “Beautiful Tomorrow: Part 8

  1. kayaknya ribet banget alur hidupnya hyesoo, ribet dibuat sendiri maksudnya. Kalo aku jadi hyesoo cuek ajalah, yang berlalu ya biarlah dan cukup dijadikan sbg pembelajaran, yang ada cuman masa sekarang belum tentu besok masih ada jadi kita harus manfaatin waktu sekarang sebaik mungkin. Tp kalo hyeso kelamaan gitu apa psikisnya dia baik-baik aja? Bisa aja dia jadi gila kan setelahnya. Serius aku greget kelewat enek sama pribadinya hyesoo disini, dia sukanya ngawur banget ga mau hargain suaminya sendiri. Kalo suaminya aja ga dipercaya apalagi sama orang lain bahkan orang terdekatnya dia sendiri

    Like

  2. Stres berat si hyesoo. Selalu mengucaokan di tinggal kyuhyun tapi aku malah takutnya si Hyesoo yg ninggalin Kyuhyun. Tidak jangan lagi jangan ada lagi lupa ingatan. Aku mikirin bayu nya.

    Like

  3. kaloo ginii kyknyaa emank hyesoo udaa stress berat..
    sungguh tertekan diaa dalam bebrapa waktu belakangan…
    kasiann onnieee….
    bisakah diaa sadar kembaliii

    Like

  4. Sedih banget. Ketakutan hyeso bener-bener udah akut. Dia mungkin takut kejadian masa lalu akan terulang ato karena hyeso punya penyakit lain? Udah nggak bisa comment apa2 lagi ni. Baca ini emosi ttng kehilangan seseorang bener-bener dapet. 😌

    Like

  5. Ya ampun knp hyeso tambah parah sihhhhh, kyu cepat sadarkan hyeso dr imajinasinya n bawalah hyeso k dirimu. Semoga hyeso tdk kenpa2 n baby nya sehat.

    Like

  6. Pingback: Library | FanWorld FanFiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s