Beautiful Tomorrow: Part 7

Author: Okada Kana

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast:

Cho Kyuhyun, Lee Hyesoo (OC)

Seo Kangjun, Bae Suzy, Kang Soyu, Kim Jaejoong, Kim Ryeowook, etc.

Disclaimer:

Annyeonghaseyo!!! Kana kembali hadir dengan “Beautiful Tomorrow”. Kisah Kyuhyun dan Hyesoo kembali berlanjut dalam seri sekuel ini. Kisah keduanya menjadi semakin rumit dengan peristiwa naas yang terjadi pada kedua orang tua Hyesoo. Setelah dihadapkan dengan kepergian ayahnya, apakah yang akan terjadi pada keduanya?

FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi atau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com. Please, no bash, spam, mengejek, mengolok, dan menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Mari saling menghargai satu sama lain. Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 6

“Kau tidak baik-baik saja, Hyesoo-ya”.

“Tidak ada satu pun orang di luar sana yang akan mengetahuinya. Bisakah kau memberikan janji itu padaku?”

“Bahkan Cho Kyuhyun?”

“Terutama Cho Kyuhyun”.

“Bagaimana dengan dokter Seo?”

————————-

“Jadi, kau juga berpikir bahwa aku salah?”

“Tentu saja. Mereka berdua hanya berteman, Cho Kyuhyun. Katakan padaku, Cho Kyuhyun. Bagaimana kau bisa mengetahui keberadaan Seo Kangjun disana? Siapa orang itu?”

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Choi Sooyoung.”

“Bae Suzy? Apa yang dia katakan padamu hingga kau menjadi begitu marah pada Hyesoo eonni? Apa kau masih menyukainya?”

“Tentu saja tidak. Kenapa kau berpikir seperti itu?”

“Di titik ini, situasi akan menjadi lebih masuk akal jika Hyesoo eonni yang meluapkan amarahnya padamu karena kau lebih mendengarkan ucapan mantan kekasihmu daripada kenyataan yang diungkapkan oleh istrimu sendiri, Cho Kyuhyun. Hyesoo eonni sedang mengandung. Entah kau mengakui bayi itu atau tidak, dia tetap ada disana, di dalam tubuh istrimu! Jika kau tetap bersikeras berpikir bahwa kau mencintainya, maka tolong jauhi Bae Suzy, Cho Kyuhyun”.

————————-

“Dimana Hyesoo?”

“Empat hari yang lalu, Hyesoo mengajukan cuti selama sepuluh hari padaku”.

“Apakah mungkin kondisi Hyesoo sunbae semakin parah sampai harus mengajukan cuti selama itu?”

“Apa maksudmu? Apa yang terjadi padanya?”

“Aku pernah melihat wajah Hyesoo sunbae yang pucat beberapa kali. Aku bahkan pernah melihat Hyesoo sunbae hampir pingsan di koridor lantai dua”.

“Beruntung, karena hari itu aku ada disana untuk menangkapnya”.

“Apakah kau tahu dimana Hyesoo sekarang, dokter Seo?”

“Kondisi Hyesoo sudah mulai membaik. Dia sempat tidak bisa makan, tapi selalu mual dan muntah. Aku sampai harus memberikan infuse padanya selama satu hari penuh. Hari berikutnya, Hyesoo sudah mulai bisa makan buah dan biskuit. Walaupun hanya sedikit”.

“Dimana Hyesoo?”

“Sayang sekali, saya juga tidak mengetahuinya. Maaf karena tidak bisa membantu anda”.

————————-

“Aku selalu melewati setiap hariku mencoba untuk menahan egoku agar dapat memahamimu. Kau kembali membuka luka lama yang pernah kau berikan padaku. Entah seberapa besar rasa sakit yang kuberikan padamu saat aku meninggalkanmu bertahun lalu, hingga kau bersikap seperti ini padaku. Aku menyerah. Aku harap kau bisa menemukan seseorang yang bisa lebih memahamimu”.

 “Apa maksudmu? Kau akan meninggalkanku?”

“Saat ini rasanya begitu sulit untuk bersamamu”.

“Tidak, Hyesoo-ya. Kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku”.

 “Kau juga sudah berjanji untuk tidak menyakitiku lagi!”

“Katakan bahwa kau tidak akan meninggalkanku. Hyesoo-ya… Lee Hyesoo”.

“Berhenti memanggilku! Aku bahkan mendengar suaramu memanggil namaku dengan nada menyebalkan itu dalam mimpiku. Aku lelah. Berhenti mengurungku dengan sikapmu ini. Beri aku sedikit jarak darimu”.

————————-

“Hyeri-ya… Apa yang terjadi?”

“Seharusnya aku tidak perlu bicara apapun. Aku memberitahu eomma dan appa tentang kehamilan eonni. Aku tidak mengatakan apapun tentang masalah kalian berdua.  Aku hanya mengatakan bahwa eonni mungkin membutuhkan keberadaan mereka”.

“Lalu apa hubungannya dengan tangisanmu ini?”

“Pesawat yang membawa eomma dan appa ke Seoul mengalami kecelakaan saat akan mendarat. Sampai saat ini belum ada kabar apapun mengenai kondisi korban”.

“Ada apa dengan kalian berdua? Apakah kalian sedang bekerjasama untuk merusak suasana hatiku hari ini? Bisakah kau memilih kesempatan di hari yang lain untuk mengatakan gurauanmu?”

“Ryeowook oppa akan menemaniku ke pusat informasi maskapai penerbangan”.

“Aku akan ikut dengan kalian”.

Stay with me. Kita bisa menunggu disini, di ruanganku”.

“Siapa yang menghubungimu?”

“Apakah itu telepon dari Ryeowook? Atau Hyeri? Atau Lee Taemin? Cho Kyuhyun, katakan sesuatu!”

“Lee Taemin”.

“Lalu, apa yang dia katakan? Bagaimana kondisi kedua orangtuaku?”

Tuan Lee Hyun Joong meninggal di lokasi kejadian, Direktur”.

————————-

.

.

.

Beautiful Tomorrow

Part 7

.

.

Kyuhyun segera memutus sambungan teleponnya dengan Taemin. Seluruh saraf di tubuh Kyuhyun sontak menegang setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh Taemin. Isi kepalanya mendadak kosong. Kyuhyun memejamkan matanya selama beberapa saat. Rasa pusing menghampirinya tiba-tiba, seolah sebuah tongkat besi baru saja dibenturkan dengan keras ke kepalanya. Keseimbangannya menjadi tidak kokoh seperti sebelumnya. Seolah ada suara dengungan yang luar biasa keras menutupi fungsi pendengarannya. Reaksi ini bukan sekedar disebabkan oleh keterkejutan akan berita yang baru saja ia dengar. Kekhawatiran akan keadaan Hyesoo lebih memiliki andil yang besar atas reaksi tubuhnya saat ini. Segala macam kemungkinan muncul di benaknya, membuat Kyuhyun ragu untuk bicara pada Hyesoo. Hingga cengkraman kuat tangan Hyesoo di lengan Kyuhyun menariknya keluar dari lamunannya, membawa Kyuhyun kembali ke masa sekarang, dimana Hyesoo sedang menuntut jawaban darinya.

.

“Kenapa kau diam? Apa yang dikatakan oleh Lee Taemin?” tanya Hyesoo.

.

Kedua mata Kyuhyun sudah terbuka lebar, menatap waspada pada Hyesoo yang menunjukkan kekhawatirannya. Kyuhyun pun menghela napasnya dengan begitu perlahan agar tidak membuat Hyesoo menjadi lebih khawatir. Kemudian Kyuhyun menyentuh kedua bahu Hyesoo, sambil mencoba bersikap tetap tenang. “Kita akan menunggu sampai Taemin tiba disini”, jawab Kyuhyun.

.

“Jangan lakukan ini padaku, Cho Kyuhyun. Lee Taemin sudah menghubungimu. Pasti dia sudah mendapatkan informasi mengenai orangtuaku, ‘kan? Katakan padaku. Jangan sembunyikan apapun dariku”, desak Hyesoo.

.

“Duduk bersamaku, Hyesoo-ya”, ajak Kyuhyun sambil mencoba menarik pelan lengan Hyesoo agar berjalan menuju sofa bersamanya.

.

Namun, Hyesoo justru melepaskan genggaman tangan Kyuhyun di lengannya dengan kuat, menolak ajakan Kyuhyun yang bicara dengan nada pelan padanya. “Aku tidak mau. Sebelum kau memberitahukan semua hal yang Lee Taemin katakan padamu, aku tidak akan menuruti ucapanmu”, jawab Hyesoo memberikan penolakan kerasnya.

.

Kyuhyun tetap berusaha untuk bersikap tenang. Ia terus mengendalikan emosinya agar bisa tetap menenangkan Hyesoo yang terlihat lebih cemas. Namun, ia tidak benar-benar bisa berpura-pura bersikap seolah tidak ada hal buruk yang terjadi. Ada retak di hatinya akibat kabar kematian ayah mertuanya yang baru ia dengar beberapa menit yang lalu. Retakan itu menjadi semakin parah saat dilihatnya wajah muram yang menunjukkan kecemasan dan ketakutan dihadapannya. Jauh di lubuk hatinya, ada keinginan besar untuk berkata jujur pada Hyesoo tentang semua hal. Namun, Kyuhyun tidak punya cukup keberanian untuk menyaksikan lebih banyak kehancuran yang mungkin akan dirasakan oleh wanita yang sangat dicintainya. ‘Aku tidak punya pilihan lain. Situasi tidak akan berubah meski Hyesoo mengetahuinya sekarang, atau nanti. Walau sedikit, aku akan menggunakan waktu yang kupunya ini untuk menenangkannya. Aku akan menanggung akibat dari kebohonganku. Aku juga akan menerima kemarahannya tanpa mengelak. Tapi, semua itu akan terjadi nanti. Aku memilih untuk tidak mengkhawatirkan detik berikutnya. Aku akan hidup untuk detik ini. Detik yang sedang kujalani‘, kata Kyuhyun didalam kepalanya.

.

“Koneksinya sangat buruk. Kami tidak bisa mendengar suara satu sama lain. Taemin belum mengatakan apapun padaku, Hyesoo-ya”, kata Kyuhyun berbohong. “Kita akan mengetahuinya saat dia tiba disini. Karena itu, ayo, duduk bersamaku”, ajak Kyuhyun sekali lagi.

.

Meski tampak ragu, Hyesoo pun menuruti permintaan Kyuhyun. Ia duduk bersama Kyuhyun di sisi tempat tidur. Hyesoo tidak bisa menutupi kerisauan yang ia rasakan. Namun, Kyuhyun tetap tidak mengatakan apapun padanya. Hyeri dan Ryeowook pun tidak kunjung menghubunginya. Kepalanya berdenyut sangat kuat. Hyesoo tidak pernah suka perasaan ini, dimana ia hanya digantungkan tanpa kepastian apapun. Ia membutuhkan informasi, penjelasan yang mungkin bisa membuatnya merasa lebih tenang. Sebuah ketukan pintu terdengar, memunculkan sosok Hyosung beberapa detik setelah Kyuhyun memberikan ijin padanya untuk masuk. Hyosung hanya menatap Kyuhyun tanpa kata, yang dibalas dengan sebuah anggukan kepala oleh Kyuhyun. Tangan dingin Kyuhyun kemudian menyentuh lembut pipi Hyesoo, diikuti dengan tatapan khawatir yang sangat Hyesoo kenal. Hyesoo pun mengalihkan tatapannya dari Kyuhyun. Ia sedang tidak memiliki suasana hati yang baik untuk mengetahui apapun selain kondisi kedua orangtuanya.

.

“Aku akan segera kembali. Cobalah untuk beristirahat. Kau membutuhkannya”, kata Kyuhyun mengisi keheningan diantara mereka.

.

Namun, Hyesoo tidak mengatakan apapun sebagai balasan. Hyesoo lebih memilih menatap jauh keluar jendela ruangan itu, mencoba mengambil sedikit saja ketenangan diluar sana untuk dirinya sendiri. Karena ia begitu membutuhkannya. Hyesoo begitu lelah dengan keresahan tanpa akhir yang ia rasakan. Kepalanya terasa berdenyut semakin kuat setiap detiknya. Hyesoo benar-benar membutuhkan ketenangan.

.

“Aku tidak akan pergi jika kau keberatan”, kata Kyuhyun sekali lagi.

.

Hyesoo tetap tidak menjawabnya. Kyuhyun pun bangkit berdiri, beranjak menuju sisi kanan Hyesoo. Kyuhyun duduk di hadapan Hyesoo, mencoba membuat Hyesoo menatapnya lagi. Kedua mata mereka pun bertemu. Ada berbagai ungkapan perasaan yang terlihat dari tatapan mata Hyesoo. Kesedihan, kelelahan, keresahan, ketakutan, kemarahan, hingga kerinduan ada disana. Kyuhyun kembali menyentuh pipi Hyesoo, merasakan temperatur tubuh Hyesoo yang hangat di tangannya.

.

“Pergilah”, kata Hyesoo akhirnya.

.

“Tidak. Kurasa lebih baik aku tetap berada disini bersamamu”, balas Kyuhyun.

.

“Pergi saja, Cho Kyuhyun. Kau punya tanggung jawab yang harus kau lakukan”, ujar Hyesoo.

.

Kyuhyun menghela napas panjang setelah mendengar ucapan Hyesoo yang memintanya pergi. Ia pun diliputi keraguan selama beberapa saat. “Baiklah. Aku benar-benar hanya akan pergi sebentar. Aku akan kembali secepat mungkin. Dan, aku ingin kau tetap berada disini saat aku kembali”, kata Kyuhyun.

.

“Cepat pergi. Kau pasti sudah ditunggu oleh banyak orang”, kata Hyesoo tidak menghiraukan permintaan Kyuhyun.

.

“Berjanjilah padaku, Hyesoo-ya. Yakinkan aku bahwa kau akan berada disini saat aku kembali. Atau aku tidak akan pergi kemanapun”, kata Kyuhyun.

.

Okay. Jika itu yang kau inginkan”, balas Hyesoo.

.

Tiba-tiba, Kyuhyun bergerak mendekat, meraih tubuh Hyesoo ke dalam pelukannya. Pelukan itu begitu erat, namun tidak menyesakkan. Kyuhyun memejamkan matanya, lalu menenggelamkan wajahnya di leher Hyesoo. Jauh di lubuh hatinya, ia merutuki dirinya sendiri. Kesedihannya semakin membengkak saat merasakan tubuh hangat Hyesoo dalam pelukannya. Sebuah kebohongan besar sedang ia sembunyikan. Kyuhyun merasa tidak sanggup melihat Hyesoo yang terlihat resah dan sedih. Namun, Kyuhyun akan lebih merasa tidak sanggup membiarkan Hyesoo mengetahui kabar menyakitkan itu lebih cepat. Kyuhyun mengungkapkan kesedihan dan rasa bersalahnya yang begitu besar dalam rengkuhannya atas Hyesoo.

.

Hingga sebuah ketukan pelan di pintu kembali terdengar, membuat Hyesoo melepaskan diri dari Kyuhyun dengan cepat. Hyesoo bangkit berdiri menghampiri pintu, berharap sosok Taemin yang akan muncul saat Hyesoo membukanya. Namun, harapannya pupus saat menemukan Sooyoung berdiri di depan pintu. Tidak ada kata yang terucap dari keduanya. Hanya sebuah pelukan erat yang kemudian terlihat melingkari tubuh Hyesoo. Kyuhyun yang merasa semakin khawatir dengan keadaan Hyesoo pun bergerak mendekati keduanya. Kyuhyun menyentuh pelan punggung Hyesoo, membuat Sooyoung menoleh cepat pada Kyuhyun. Tatapan Sooyoung bertemu dengan Kyuhyun, seolah menyiratkan pertanyaan yang sama, yang sampai saat ini belum terjawab. Kyuhyun hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, menjawab pertanyaan tak terucap Sooyoung dengan jawaban yang ambigu. Kyuhyun tidak benar-benar menjawabnya dengan sebuah jawaban. Seperti yang ia lakukan pada Hyesoo beberapa saat yang lalu.

.

Kemudian Hyesoo melepas pelukan Sooyoung dari tubuhnya. Sekali lagi ia menatap mata Sooyoung tanpa kata. Dalam diam, Hyesoo mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang Sooyoung tunjukkan padanya. Hyesoo pun berbalik, lalu melesak ke pelukan Kyuhyun, mengejutkan Kyuhyun yang lantas menjadi bingung selama beberapa saat. Itu adalah kali pertama Hyesoo meraih Kyuhyun lebih dulu. Selama situasi buruk terjadi diantara keduanya, Hyesoo tidak pernah mendekat pada Kyuhyun. Hyesoo cenderung lebih memilih menjauh dari Kyuhyun untuk menghindari pertengkaran yang lebih buruk diantara mereka. Namun, kali ini justru Hyesoo yang datang pada Kyuhyun.

.

“Aku takut. Jangan pergi. Sepertinya aku akan merasa tidak tenang tanpamu”, kata Hyesoo di dada Kyuhyun.

.

“Jangan takut. Aku bersamamu”, kata Kyuhyun yang balas memeluk Hyesoo setelahnya.

.

Tatapan Kyuhyun dan Sooyoung kembali bertemu. Melihat kondisi Hyesoo, Sooyoung merasa bahwa ia membutuhkan jawaban atas pertanyaannya dari Kyuhyun secepatnya. Sooyoung pun kembali bertanya pada Kyuhyun. Kali ini ia hanya mengucapkan kalimat pertanyaan itu pada Kyuhyun tanpa suara agar tidak didengar oleh Hyesoo. Pertanyaan ‘apakah semua baik-baik saja?’ yang diajukan oleh Sooyoung pun dijawab dengan gelengan yang sangat pelan oleh Kyuhyun. Air mata sontak menggenang di kedua mata Sooyoung. Sebuah kerutan kecil lantas muncul di kening Kyuhyun, seolah ia sedang meneriakkan protesnya atas reaksi Sooyoung. Kyuhyun berusaha memberitahu Sooyoung untuk tidak membuat Hyesoo khawatir jika melihat reaksinya. Sooyoung pun menghapus jejak air mata di pipinya dengan cepat, lalu berusaha mengendalikan dirinya lagi. Namun, ia merasa tidak sanggup saat bayangan akan kesedihan Hyesoo menghampiri pikirannya.

.

“Eonni, aku meninggalkan sesuatu di ruangan Jaejoong oppa. Aku akan segera kembali”, kata Sooyoung dengan suara bergetar, sebelum air matanya kembali menetes.

.

Sooyoung berbalik, lalu berjalan menuju pintu utama ruangan Kyuhyun. Hanya satu meter sebelum sampai disana, pintu itu terbuka. Langkah kaki Sooyoung terhenti. Tanpa sadar Kyuhyun pun meremas punggung Hyesoo, sementara kerutan di keningnya menjadi semakin dalam. Sooyoung sempat menoleh pada Kyuhyun selama beberapa saat, sebelum kembali menatap Taemin yang tampak ragu di ambang pintu. Taemin pun lantas menutup pintu utama ruangan itu. Hyesoo yang merasakan ada kejanggalan dengan suasana ruangan itu pun segera melepaskan pelukannya di tubuh Kyuhyun. Hyesoo mengangkat kepalanya, menatap Kyuhyun lebih dulu untuk mengumpulkan keberaniannya. Namun, Hyesoo justru melihat ada raut yang berbeda di wajah itu. Rahang Kyuhyun mengatup keras, memunculkan garis-garis tegas di beberapa sisi. Saat Kyuhyun menyadari tatapan Hyesoo padanya, Kyuhyun menundukkan kepalanya. Namun, Hyesoo sudah lebih dulu berbalik menghadap ke pintu utama, menyisakan kekhawatiran dalam diri Kyuhyun pada Hyesoo. Kyuhyun memejamkan matanya, merasa menyesal karena tidak pergi dari kamar itu beberapa saat yang lalu. Jika ia pergi sejak tadi, mungkin ia bisa lebih dulu menemui Taemin di luar ruangan sebelum membiarkannya masuk menemui Hyesoo.

.

“Taemin-ssi, informasi apa yang kau dapatkan?” tanya Hyesoo tanpa basa-basi.

.

Taemin tidak langsung menjawab pertanyaan Hyesoo. Ia menatap Kyuhyun lebih dulu, meminta ijin dari atasannya itu untuk bicara. Semula Kyuhyun tampak ragu. Namun, Kyuhyun merasa bahwa Hyesoo berhak untuk tahu kondisi sebenarnya. Kyuhyun tidak ingin menyiksa Hyesoo lebih lama lagi. Hyesoo akan lebih merasa tersakiti jika ia menyembunyikan kenyataan itu lebih lama. Kyuhyun pun mengangguk pelan, memberikan ijin pada Taemin untuk memberitahu Hyesoo.

.

Taemin menghela napas pelan sebelum akhirnya bicara pada Hyesoo mengenai kabar kedua orangtuanya. “Daftar nama korban kecelakaan pesawat sudah dikeluarkan oleh pihak maskapai, Mrs. Cho. Nama tuan Lee Hyun Joong ada dalam daftar korban yang meninggal dunia”, kata Taemin menjelaskan dengan berat hati.

.

“Tidak mungkin. Pasti ada kesalahan dalam proses identifikasi. Mereka pasti salah”, kata Hyesoo yang berjalan mendekat menghampiri Taemin.

.

“Maafkan saya, Mrs. Cho. Saya turut berduka atas kejadian ini”, kata Taemin sambil menundukkan kepalanya.

.

“Kau tidak boleh mempercayai mereka juga, Taemin-ssi. Mereka salah mengidentifikasi data korban. Kau harus memastikannya dengan benar. Ayahku baik-baik saja. Dia tidak akan pergi begitu saja”, kata Hyesoo yang memegang bahu Taemin dengan kuat.

.

“Saya sudah melihat jenasah beliau secara langsung, Nyonya. Sekali lagi saya turut berduka cita atas kehilangan yang anda rasakan”, ujar Taemin memberikan kepastian yang tidak bisa disangkal lagi oleh Hyesoo.

.

Tubuh Hyesoo sontak menjadi lemas. Air matanya sudah meleleh membasahi kedua pipinya. Beruntung, Kyuhyun sudah berdiri tepat di belakang Hyesoo. Kyuhyun menyentuh kedua bahu Hyesoo, lalu membalikkan tubuh Hyesoo agar menghadap padanya. Kedua mata mereka bertemu. Pandangan mata Hyesoo sudah menjadi kabur karena genangan air mata. Hyesoo pun terisak, tangisannya pecah. Kyuhyun segera meraih tubuh Hyesoo ke dalam pelukannya. Hyesoo kembali menenggelamkan wajahnya di dada Kyuhyun. Ia menjerit disana. Kepedihan yang ia rasakan seolah sudah membuat tubuhnya meledak, menghempaskan panas ke seluruh sudut ruangan. Perlahan kaki Hyesoo melemah. Tubuhnya merosot ke lantai. Kyuhyun pun ikut duduk bersamanya diatas lantai yang begitu dingin. Kemeja yang dikenakan oleh Kyuhyun sudah basah oleh air mata Hyesoo. Sementara sisi jasnya sudah terbentuk lipatan-lipatan kecil karena remasan dari kedua tangan Hyesoo.

.

Kyuhyun berusaha menenangkan Hyesoo dengan mengusap lembut punggung serta kepala Hyesoo. Namun, Kyuhyun tahu benar bahwa tindakannya itu tidak akan memberikan pengaruh apapun. Sooyoung pun berjalan mendekati keduanya, ikut berjongkok agar menyamakan tinggi mereka. Kyuhyun segera menghapus air mata di pipinya, lalu menatap Sooyoung yang menangis disamping Hyesoo. Kyuhyun melepaskan pelukannya di tubuh Hyesoo setelahnya, memindahkan tubuh yang lemas itu pada Sooyoung. Kyuhyun bangkit berdiri, kemudian berjalan menjauh bersama Taemin yang mengikuti di belakangnya. Keduanya keluar dari ruangan Kyuhyun menuju ke meja Taemin di sisi kiri.

.

“Saya turut berduka cita, Direktur Cho”, kata Taemin setelahnya.

.

Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali. Kyuhyun sedang mengambil waktu sebanyak yang ia bisa untuk berpikir. Pikirannya begitu kacau. Terlalu banyak hal yang sedang ia pikirkan. Kyuhyun bahkan tidak bisa menentukan kata apa yang harus ia ucapkan pada Taemin.

.

“Bagaimana dengan eomeoni? Apakah kau sudah mendengar kabarnya juga?” tanya Kyuhyun pada Taemin dengan suara pelan.

.

“Ibu mertua anda selamat dari kecelakaan itu, Direktur. Namun, saat ini beliau masih dalam kondisi kritis. Kabar terakhir yang saya terima, beliau sudah dipindahkan ke Shinsung Hospital atas permintaan Nyonya Presidir. Saat ini beliau masih dalam keadaan tidak sadarkan diri”, jawab Taemin menjelaskan.

.

Kyuhyun menghela napas panjang setelah mendengar penjelasan Taemin. Ia menyentuhkan jari-jarinya di kening, kemudian menjalar menuju belakang kepalanya. Kyuhyun meremas pelan rambutnya. Ia merasakan denyutan hebat di kepalanya. “Baiklah. Kau sudah bekerja dengan baik, Lee Taemin”, kata Kyuhyun setelahnya.

.

“Sudah menjadi kewajiban saya, Direktur”, balas Taemin.

.

“Aku masih membutuhkan bantuanmu untuk mengurus keperluan persemayaman. Bisakah kau melakukan persiapannya?” tanya Kyuhyun.

.

“Tentu saja, Direktur. Saya akan segera mengurus semua keperluannya”, jawab Taemin.

.

“Terima kasih”, kata Kyuhyun yang dijawab dengan anggukkan oleh Taemin. “Batalkan seluruh janjiku sampai waktu yang tidak ditentukan. Dan, tolong ambil alih pekerjaan Lee Taemin hari ini, Hyosung-ssi”, kata Kyuhyun pada Hyosung setelahnya.

.

“Baik. Saya mengerti, Direktur Cho”, jawab Hyosung.

.

.

.

Di Tempat Persemayaman

.

Hari sudah beranjak larut. Jarum jam sudah melewati waktu tengah malam. Namun, ruangan itu dipenuhi dengan orang-orang berpakaian hitam dengan ekspresi datar yang menghiasi wajah mereka. Disisi kanan altar persemayaman, seorang pria muda yang mengenakan setelah lengkap berwarna hitam lengkap dengan tiga garis yang yang mengelilingi lengannya berdiri dengan sisa kekuatan yang dimilikinya. Ia menerima penghormatan yang diberikan para tamu dengan begitu tegar. Wanita muda yang sempat mendampinginya kini berpindah ke sisi gadis muda yang duduk begitu jauh dari altar persemayaman peti ayahnya itu. Sementara seorang yang lain tetap bertahan di sisi kiri altar tanpa kata yang terucap dari bibirnya. Ia menolak untuk bicara, atau melakukan apapun. Tidak ada yang mampu membujuknya. Ia tidak ingin beranjak. Ia tidak ingin bergerak. Bahkan jauh di lubuh hatinya, ia tidak ingin hidup dengan merasakan kepedihan itu lebih dalam lagi. Hatinya terluka. Jiwanya terbawa pergi oleh gumpalan kabut. Ia begitu muram, redup tanpa cahaya yang meninggalkannya.

.

Kemudian, Hyesoo membuat gerakan pertamanya. Ia mengangkat kepalanya, menatap tepat ke foto pria paruh baya yang tersenyum ramah diantara tumpukan bunga krisan putih. Ekspresi di wajahnya tidak terbaca. Namun, kesedihan begitu jelas terlihat di kedua matanya. Ia masih diam, membisu setelah meneriakkan kesedihannya di ruangan Kyuhyun beberapa jam yang lalu. Belum ada yang mampu merengkuhnya. Hyesoo menolak semua orang yang mencoba mendekat untuk menenangkannya. Semua orang, kecuali Kyuhyun yang belum tiba disana. Setelah pembicaraannya dengan Taemin diluar ruangannya, Kyuhyun meminta bantuan Sooyoung untuk menjaga Hyesoo. Kyuhyun meninggalkan ruangan itu untuk mengurus perawatan untuk ibu mertuanya. Kyuhyun bicara dengan para dokter ahli, mengurus ruangan, serta kebutuhan lainnya. Kyuhyun tidak menjauh sedikitpun dari ruangan tempat ibu mertuanya berbaring. Tubuh lelah, serta hatinya yang resah tidak mampu menghalanginya. Kyuhyun mengajukan diri untuk mengambil alih tugas mengurus perawatan ibu mertuanya itu selama keluarganya yang lain menghadiri persemayaman ayah Hyesoo.

.

Hingga sosok bertubuh tinggi dan tegap itu muncul di rumah duka saat jam dinding sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Kyuhyun masuk melalui lorong dengan langkah yang berat. Ia merasa begitu lelah. Bukan hanya tubuhnya, tapi juga pikiran dan perasaannya. Satu persatu kejadian buruk datang menguras tenaganya tanpa memberikan waktu untuk beristirahat. Rasa lelah, kesedihan, dan kekhawatiran seolah sedang menyelubungi tubuhnya bagai lilitan ular. Hanya saja, semua itu tidak lantas melemahkannya. Ia harus menjadi kuat demi dua orang yang sangat dicintainya. Kekuatannya pun menjadi semakin besar saat melihat sosok Hyesoo yang begitu lemah duduk disisi kiri altar. Hyesoo-nya. Ibu dari bayinya.

.

Kyuhyun berjalan mendekat ke area altar, memberikan penghormatan pada ayah mertuanya, lalu pada Donghae sebagai wakil dari keluarga Lee. Tidak ada kata yang terucap darinya. Hanya sebuah pelukan hangat yang mengungkapkan kesedihan serupa diberikan pada Donghae, sahabat sekaligus saudara ipar laki-lakinya. Kyuhyun pun menghampiri Hyesoo setelahnya. Ia duduk bersila tanpa kata disisi Hyesoo yang masih menatap foto mendiang ayahnya dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Kemudian, Sooyoung datang menghampirinya, membisikkan kata yang dibalas dengan anggukkan pelan oleh Kyuhyun setelahnya. Kyuhyun menyentuh jari-jari kurus Hyesoo setelah Sooyoung meninggalkan mereka berdua disana. Tangan Hyesoo begitu dingin, tanpa tenaga. Kyuhyun pun meremas pelan jari-jari itu untuk menarik perhatian Hyesoo. Namun, Hyesoo tetap tidak bergeming.

.

“Hyesoo-ya…” panggil Kyuhyun dengan suara pelan.

.

Hyesoo tetap tidak menghiraukan Kyuhyun. Melihat itu, Kyuhyun lantas menyentuh wajah Hyesoo dengan kedua tangannya, mengarahkan wajah Hyesoo agar menoleh padanya. Kedua mata mereka bertemu. Namun, tatapan Hyesoo begitu kosong. Sinar di mata sayunya sudah meredup. Kyuhyun pun mengusap pelan pipi kanan Hyesoo, memberikan sedikit kekuatan yang dimilikinya pada Hyesoo melalui sentuhannya.

.

“Aku tahu akan sangat mustahil untuk memintamu makan saat ini. Tapi, setidaknya kau harus minum sedikit air”, bujuk Kyuhyun.

.

“Tidak”, jawab Hyesoo sambil menggelengkan kepalanya pelan.

.

“Sayang… Ini sudah larut malam. Abeoji tidak akan merasa senang jika melihat anak dan cucunya kekurangan asupan nutrisi”, bujuk Kyuhyun sekali lagi.

.

Tangis Hyesoo sontak pecah. Air mata mengalir membasahi kedua pipinya dari matanya yang terpejam. Hyesoo melesak ke dalam pelukan Kyuhyun setelahnya, menumpahkan kesedihan yang ia rasakan di tempat nyamannya. Air mata yang sempat berhenti mengalir selama beberapa saat, kini kembali bisa ia keluarkan saat kulit Kyuhyun menyentuh lembut tubuhnya. Kyuhyun pun memeluk erat tubuh Hyesoo, melindunginya dari terpaan angin dari pendingin ruangan. Sebuah kecupan lembut mendarat di puncak kepala Hyesoo dan tetap bertahan disana untuk waktu yang cukup lama.

.

“Kyuhyun-ah… Appa…”

.

“Aku tahu… Aku tahu, sayang. Maafkan aku…”

.

“Kyuhyun-ah…”

.

“Menangislah… Keluarkan semua kesedihanmu, Hyesoo-ya. Tapi, kumohon setelahnya kau harus berusaha untuk tegar”, pinta Kyuhyun. “Kita harus mengantar kepergian abeoji dengan hati yang ikhlas, agar abeoji bisa beristirahat dengan tenang. Kita juga tidak boleh membiarkan bayi kecil kita ikut merasakan kesedihan ini berlarut-larut. Berikan kesempatan padanya untuk hidup dengan kebahagiaan. Hm?”

.

“Apa yang sudah aku lakukan sampai appa harus mengalami ini?” kata Hyesoo dalam tangisnya.

.

“Hei… Hei… Tidak, sayang. Jangan bicara seperti itu. Hentikan…” kata Kyuhyun yang kemudian mengecup kening Hyesoo. “Tidak ada yang harus disalahkan. Peristiwa ini murni sebuah kecelakaan. Kau tidak memiliki andil apapun atas kejadian ini. Jangan salahkan dirimu, Hyesoo-ya. Jangan…”

.

“Peristiwa ini tidak akan terjadi jika ak……”

.

“Sudah cukup, Hyesoo-ya. Tidak perlu diteruskan. Seperti kataku, tidak ada yang benar atau salah dalam peristiwa ini”, kata Kyuhyun memotong ucapan Hyesoo. “Sekarang kumohon, penuhi permintaanku. Kau harus makan atau minum sesuatu. Demi dia…” sambung Kyuhyun sambil menyentuh perut Hyesoo.

.

“Sebentar saja Kyuhyun-ah…” kata Hyesoo sambil melepaskan pelukannya, lalu mengusap air mata yang membasahi pipinya. “Biarkan aku tetap disini sebentar saja. Aku ingin berada disisi appa sebentar lagi”, sambung Hyesoo.

.

“Kita bisa kembali lagi kesini nanti. Lagipula, abeoji tidak sendirian. Donghae ada disini untuk menjaganya. Disana”, kata Kyuhyun sambil menunjuk Donghae yang duduk tidak jauh di hadapan mereka.

.

Hyesoo menoleh mengikuti arah jari Kyuhyun menunjuk. Disana ada Donghae yang menganggukkan kepalanya pelan, meminta Hyesoo untuk ikut bersama Kyuhyun. Hyesoo menatap peti serta foto ayahnya sekali lagi. Ia benar-benar tidak ingin pergi dari tempat itu. Namun, Kyuhyun mengatakan hal yang benar. Ia tidak boleh melupakan bayinya yang juga membutuhkannya.

.

“Baiklah. Aku akan ikut denganmu”, kata Hyesoo setuju.

.

“Ayo, kubantu kau untuk bangun”, kata Kyuhyun setelahnya.

.

Keduanya bangkit berdiri, kemudian berjalan meninggalkan tempat itu. Kyuhyun menggenggam tangan Hyesoo, membawanya menuju sudut ruangan yang tidak ditempati siapapun. Sooyoung datang menghampiri mereka dengan makanan diatas nampan di tangannya, sesaat setelah keduanya duduk bersama diatas alas duduk. Hyesoo tidak terlalu menghiraukan makanan yang dihidangkan di hadapannya. Ia lebih memilih untuk bersandar di bahu Kyuhyun dalam kebungkamannya. Ia lebih membutuhkan topangan tubuh kokoh Kyuhyun daripada makanan-makanan yang justru membuatnya merasa mual itu. Kyuhyun menyadari itu. Karena, Hyesoo melingkarkan kedua tangannya di lengan Kyuhyun, seolah mengungkapkan penolakannya untuk menyentuh sendok yang ada diatas meja. Namun, Kyuhyun tidak ingin menyerah. Kyuhyun mengambil botol air mineral di hadapannya, lalu membukakannya sebelum menyodorkan botol itu pada Hyesoo. Gelengan kepala pelan diterima Kyuhyun sebagai jawaban dari Hyesoo.

.

“Kumohon, Hyesoo-ya…” pinta Kyuhyun.

.

“Sampai kapan kau akan memohon, Kyuhyun-ah?” tanya Hyesoo dengan suara pelannya, membuat Kyuhyun kembali meletakkan botol air mineral di tangannya ke meja.

.

“Seumur hidupku jika perlu”, jawab Kyuhyun.

.

Pertahanan Hyesoo runtuh setelah mendengar jawaban Kyuhyun. Hyesoo membuka mata, kemudian menjauhkan kepalanya dari bahu Kyuhyun. Hyesoo menoleh, menatap wajah Kyuhyun yang menatap lurus ke meja di hadapannya tanpa kata. Hyesoo bisa melihat kesedihan di wajah muram suaminya itu. Tidak ada lagi wajah dengan ekspresi kuat penuh keyakinan disana. Kedua matanya bahkan terlihat lebih sayu saat Hyesoo benar-benar memperhatikannya. Hyesoo pun menyentuh pelipis Kyuhyun dengan lembut, membuat Kyuhyun sontak menoleh padanya karena terkejut. Sentuhan itu kemudian menjalar menuju rambut ikal legam Kyuhyun yang tampak sedikit berantakan. Hyesoo mengusap pelan rambut Kyuhyun dari puncak hingga ke belakang kepalanya, merasakan perasaan menyenangkan aneh yang masih muncul dalam dirinya saat tangannya menyentuh rambut Kyuhyun seperti itu. Hyesoo kembali menggerakkan tangannya, menyentuh kening, lalu ke alis tebal Kyuhyun, bergerak turun menuju tulang pipi Kyuhyun yang menonjol, hingga tulang rahang Kyuhyun yang membentuk sebuah garis tegas sampai dagu. Hyesoo menyentuh dan memperhatikannya satu persatu tanpa terlewat.

.

“Kau tampak begitu lelah”, kata Hyesoo pelan.

.

“Aku baik-baik saja”, ujar Kyuhyun yang meraih tangan Hyesoo untuk ia genggam setelahnya.

.

“Kau tidak seperti Cho Kyuhyun yang kukenal”, sambung Hyesoo.

.

“Kau juga tidak seperti si kuat Lee Hyesoo, istriku” balas Kyuhyun.

.

Hyesoo tidak lantas membalas ucapan Kyuhyun. Hyesoo justru bergerak mendekat pada Kyuhyun, melesak ke pelukannya. Hyesoo menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Kyuhyun, menghirup aroma tubuh Kyuhyun yang begitu ia rindukan. Meski ragu, Kyuhyun melingkarkan kedua tangannya di tubuh Hyesoo. Sesaat setelahnya, Hyesoo mengangkat kepala, menopangkannya di bahu Kyuhyun.

.

“Aku berjanji akan minum setelah ini”, kata Hyesoo yang memejamkan kedua matanya, dengan suara pelan. “Biarkan aku tetap seperti ini sebentar saja, Kyuhyun-ah”, sambung Hyesoo.

.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun cemas.

.

“Tidak. Tapi, kau membuatnya sedikit lebih baik. Meski aku tidak yakin apa alasannya”, jawab Hyesoo.

.

Hyesoo pun menenggelamkan wajahnya ke dalam rengkuhan Kyuhyun. Hidungnya menyentuh tepat di celah kancing teratas kemeja Kyuhyun yang terbuka. Ujung hidungnya yang dingin menyentuh kulit Kyuhyun yang terasa begitu hangat. Mata Hyesoo terpejam, merasakan kedamaian yang sudah cukup lama menjauhinya. Kyuhyunlah yang mampu membawa kembali kedamaian itu padanya. Hyesoo sangat tahu akan hal itu.

.

“Kau bisa mencari alasannya lain kali. Tidak perlu terburu-buru. Kau punya banyak waktu”, kata Kyuhyun dengan suara beratnya, sambil mengusap rambut Hyesoo.

.

“Semoga ucapanmu benar”, balas Hyesoo dengan suara yang begitu pelan, bahkan terlalu pelan untuk didengar oleh Kyuhyun.

.

“Lee Soohyuk datang, Hyesoo-ya”, kata Kyuhyun memberitahu Hyesoo.

.

“Aku akan menemuinya nanti. Saat ini, yang kutahu aku hanya membutuhkanmu. Begitu membutuhkanmu hingga rasanya aku tidak ingin beranjak kemanapun. Aku akan menggunakan setiap detik yang kulewati saat ini. Aku tidak ingin menyesali apapun suatu saat nanti”, kata Hyesoo.

.

“Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun.

.

“Biarkan aku menikmati momen tanpa jarak ini denganmu. Anggap saja aku sedang meminta sebuah hadiah kecil darimu”, kata Hyesoo yang tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun.

.

“Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi. Kau boleh tetap seperti ini sampai kapapun, tidak terbatas oleh waktu. Aku milikmu, Hyesoo-ya, ingat?” ujar Kyuhyun, yang kembali tidak dijawab oleh Hyesoo.

.

Percayalah, Cho Kyuhyun, aku juga sangat ingin berpikir begitu’, kata Hyesoo dalam pikirannya. Hyesoo bergumam pelan setelahnya untuk membalas ucapan Kyuhyun dengan jawaban tanpa kepastian apapun. Hyesoo tidak memiliki keyakinan untuk mengutarakan apapun pada Kyuhyun. Perasaan dan pikirannya sedang tidak benar-benar berjalan bersama. Keduanya memiliki keputusannya masing-masing. Hyesoo sudah berusaha untuk menenangkan keduanya dan mencari jalan keluar. Namun, hatinya justu menjadi semakin sakit setelahnya, hingga ia memutuskan untuk tidak berpikir lagi untuk sementara waktu. Hyesoo ingin menikmati keheningan dan ketenangan yang ia rasakan dalam pelukan Kyuhyun saat kesempatan masih menghampirinya.

.

“Kyuhyun-ah…” kata Hyesoo dengan suara pelan.

.

“Hm?”

.

“Bolehkah aku tidur sebentar? Mataku terasa begitu berat”, tanya Hyesoo.

.

“Tentu, Hyesoo-ya. Tapi, bisakah kau minum air ini sedikit saja. Kumohon…” pinta Kyuhyun. Hyesoo pun menjauhkan diri dari Kyuhyun untuk meminum air dari dalam botol yang diberikan oleh Kyuhyun. Sesaat setelahnya, Hyesoo kembali melesak ke dalam pelukan Kyuhyun. “Tidurlah… Aku akan menjagamu”, kata Kyuhyun setelahnya.

.

“Apakah kau akan tetap bersamaku?” tanya Hyesoo sekali lagi.

.

“Selalu”, jawab Kyuhyun.

.

Hanya berselang selama beberapa menit saja, kedua mata Hyesoo yang terpejam mengantarkannya ke tidur yang begitu lelap. Gemuruh suara para tamu yang berdatangan ia tinggalkan jauh di alam sadarnya. Hyesoo sudah terlalu lelah untuk berada disana. Hyesoo hanya membutuhkan ketenangan dari suhu tubuh Kyuhyun dan sentuhan lembut tangan Kyuhyun di punggungnya. Dalam waktu sekejap, kegelisahan meninggalkan dirinya, membentuk ruang hampa jauh di lubuk hatinya. Ia mati rasa. Segala bentuk emosi yang sempat memenuhinya seolah mengapung di udara. Perlahan menguap sedikit demi sedikit bersama angin. Hanya satu yang masih menahan kakinya berpijak pada tanah. Hawa yang begitu menghangatkan di sekujur tubuhnya, membuatnya merasa begitu rindu. Terlalu rindu sampai kakinya mulai kehilangan kekuatan. Ia merasa begitu lemah dan tak berdaya. Penopang yang selalu bersamanya berdiri berjarak dengannya. Ia mampu meraihnya, namun tak ingin. Hingga penopang itu ikut melebur bersama angin. Menghilang, dan semakin menghilang, mengantar Hyesoo menuju lubang yang lebih dalam.

.

“Hyesoo-ya…” suara pelan yang memanggil namanya terdengar lembut di telinga Hyesoo. “Sayang… Hyesoo-ya… Wake up…” kata suara itu setelahnya.

.

Kedua mata Hyesoo yang masih terasa berat pun terbuka perlahan. Cahaya dari lampu menyambut keduanya dengan begitu bersemangat. Suasana di sekitarnya sudah tidak seramai saat ia akan beranjak tidur. Keheningan tidak lantas berada disana. Suara dentingan dari piring dan gelas yang saling bersentuhan terdengar dari arah berlawanan, mengundang Hyesoo untuk melihatnya. Namun, tatapan mata sayu yang penuh ketenangan sudah lebih dulu mencuri perhatiannya. Kyuhyun tersenyum begitu lembut padanya, membuat Hyesoo dengan mudah ikut tersenyum padanya. Aroma khas Kyuhyun yang selama ini menjadi kesukaan Hyesoo masih bertahan di tubuh tegap yang kini terlihat semakin lelah.

.

“Berapa lama aku tertidur?” tanya Hyesoo dengan suara seraknya.

.

“Sepanjang malam. Saat ini sudah pukul 9”, jawab Kyuhyun, masih dengan senyuman lembut di wajahnya.

.

“Kenapa kau tidak membangunkanku?” tanya Hyesoo sambil menguap.

.

“Kalian butuh istirahat”, jawab Kyuhyun yang mengecup puncak kepala Hyesoo setelahnya. “Lagipula, semua orang juga beristirahat semalam”, sambung Kyuhyun.

.

Hyesoo pun menjauhkan diri, keluar dari pelukan Kyuhyun. Ia meregangkan tubuhnya yang terasa begitu pegal karena tidur dalam posisi duduk sepanjang malam. Ucapan Kyuhyun benar, semua orang memang beristirahat. Di sisi lain ruangan itu, Donghae tertidur di lantai, dekat peti jenasah ayah mereka. Sementara Hyeri tidur bersama Yoona dan Sooyoung di sisi yang lebih hangat. Ryeowook dan Jaejoong yang memiliki jadwal operasi kemarin malam pun sudah berada disana, meringkuk di sela jajaran meja. Sontak Hyesoo menyadari satu hal. Hanya dirinya dan Kyuhyun yang masih dalam posisi duduk. Hyesoo pun menoleh cepat pada Kyuhyun, menatap kedua mata yang tidak pernah lengah mengawasi Hyesoo itu. Kedua mata Kyuhyun terlihat begitu lelah, bahkan memerah. Air mukanya tidak secerah pagi-pagi sebelumnya yang ia ingat. Kekhawatiran masih jelas terpancar dari raut wajahnya, dibuktikan dengan tangan Kyuhyun yang masih menyentuh lembut punggung bawah Hyesoo meski tubuh itu sudah menjauh darinya.

.

“Ada apa?” Hyesoo yang menatapnya tanpa kata mengundang Kyuhyun untuk bertanya padanya.

.

“Kau tidak tidur semalaman?” tanya Hyesoo tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun. Butuh waktu selama beberapa detik sebelum Kyuhyun menjawab Hyesoo dengan sebuah gelengan pelan. “Kenapa?” tanya Hyesoo setelahnya.

.

“Aku harus menjaga kalian berdua. Aku harus memastikan kalian berdua terlelap tanpa terbangun sedikitpun. Dengan begitu, kecemasanku akan berkurang”, jawab Kyuhyun.

.

Sebuah pukulan keras seakan menghantam dada Hyesoo saat itu juga. Dirinya kembali dilanda kebimbangan yang begitu besar. Kyuhyun kembali menjadi seorang yang rela memberikan semua hal padanya. Senyum tipis di wajah Kyuhyun begitu melemahkannya. Hyesoo sangat ingin menghambur ke pelukan pria itu. Namun, sesuatu dalam dirinya menahannya begitu kuat. Ia tidak mampu bergerak mendekat, menyisakan tatapan penuh kesedihan yang kini bertaut dengan kedua mata Kyuhyun yang lelah. Keheningan diantara mereka berlangsung cukup lama, hingga seseorang menghampiri mereka. Kyuhyun dan Hyesoo pun menoleh bersamaan. Donghae duduk di sebelah kiri Kyuhyun sambil menyentuh bahu sahabatnya itu.

.

“Terima kasih karena sudah menjaganya”, kata Donghae.

.

“Sudah kewajibanku, Donghae-ya” balas Kyuhyun.

.

Donghae mengangguk pelan menanggapi ucapan Kyuhyun. “Bisakah kau melakukan satu hal lagi untukku?” pinta Donghae.

.

“Tentu”, jawab Kyuhyun singkat.

.

“Bisakah kau meminta orang lain saja untuk melakukannya? Dia terlihat begitu lelah. Biarkan dia istirahat”, kata Hyesoo menyela diantara pembicaraan dua pria di hadapannya.

.

“Maafkan aku, Hyesoo-ya. Hanya Kyuhyun yang bisa melakukannya”, kata Donghae pada Hyesoo. “Kyuhyun-ah, tolong bawa Hyesoo pulang setelah ini. Ryeowook akan membawa Hyeri dan Yoona kembali ke rumah. Aku yang akan mengurus pemakaman appa”, sambung Donghae mengutarakan permintaannya.

.

“Apa? Aku tidak mau. Aku akan ikut ke pemakaman. Aku tidak ingin pulang, atau kemanapun”, tolak Hyesoo.

.

“Benar, Donghae-ya. Jangan paksakan dirimu untuk melakukan semua hal seorang diri. Aku akan membantumu”, sambung Kyuhyun.

.

“Aku tidak sendiri. Jaejoong dan Sooyoung akan pergi bersamaku. Hyeri sudah terlalu lelah. Aku tidak ingin dia juga sakit jika memaksakan diri pergi kesana. Hyesoo dan Yoona sedang hamil. Kalian berdua sedang tidak dalam keadaan yang memperbolehkan kalian untuk memikirkan diri kalian sendiri. Aku punya alasan yang kuat dibalik keputusanku itu, ‘kan?” kata Donghae menjelaskan. Namun, ekspresi di wajah Hyesoo tampak seolah masih tidak menyetujui keputusan sepihak yang Donghae buat.

.

“Baiklah. Kalau kau tidak ingin pulang, aku tidak akan memaksamu. Tapi, aku tetap tidak akan membiarkanmu ikut ke pemakaman. Kau bisa berkunjung kesana saat kondisimu sudah lebih baik. Kumohon, turuti permintaanku kali ini, Hyesoo-ya. Demi semua orang yang menyayangimu. Aku tidak akan memaksamu pulang. Kau bisa ke rumah sakit mengunjungi eomma. Kau tahu, eomma selalu merasa lebih tenang saat kau ada bersamanya, ‘kan?” bujuk Donghae kali ini.

.

Tidak ada kata yang terucap dari bibir Hyesoo. Dalam diam, Hyesoo memikirkan setiap kata yang diucapkan oleh Donghae. “Aku akan mengantarnya ke rumah sakit. Hyesoo bisa beristirahat di ruanganku saat dia lelah”, kata Kyuhyun mengambil keputusan bagi Hyesoo. “Ini bukan perintah, Hyesoo-ya. Ini sebuah permintaan dari seorang pria yang mencintai istri dan anaknya”, sambung Kyuhyun.

.

“Baiklah. Aku percayakan mereka padamu, Kyuhyun-ah. Aku harus pergi mengurus keperluan pemakaman. Pastikan kau juga beristirahat. Kau terlihat sangat kacau, inma” kata Donghae sambil bangkit berdiri.

.

“Kau juga. Segera beristirahat setelah semuanya selesai. Aku akan menjaga eomeoni untukmu. Kita bisa bergantian nanti”, balas Kyuhyun.

.

Donghae mengangguk pelan sambil tersenyum pada Kyuhyun. Kemudian, ia segera meninggalkan keduanya, menghilang di balik tembok pembatas. Saat Kyuhyun menoleh pada Hyesoo, tatapan penuh pertanyaan milik Hyesoo sudah menantinya. Belum ada kata yang terucap dari Hyesoo, namun Kyuhyun seolah sudah menyiapkan diri untuk menerima semua kata yang akan terucap dari bibir Hyesoo.

.

“Kenapa kau melakukannya?” tanya Hyesoo, persis seperti dugaan Kyuhyun.

.

“Karena aku sangat mencintaimu”, jawab Kyuhyun.

.

“Kenapa?” tanya Hyesoo sekali lagi.

.

“Tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu, Hyesoo-ya” jawab Kyuhyun.

.

Kenapa kau harus mencintaiku sebesar ini?’ tanya Hyesoo dalam pikirannya.

.

“Aku sangat mencintaimu, Hyesoo-ya. Hanya itu yang kutahu. Aku tidak menemukan alasan apapun untuk menjawab pertanyaan lain”, ujar Kyuhyun.

.

Bisakah kau berhenti mencintaiku agar rasanya tidak sesakit ini?

.

.

.

At Shinsung Hospital

.

Sudah selama lebih dari dua jam Hyesoo hanya berdiam duduk disisi ranjang ibunya. Ia sudah mengganti hanbok hitamnya dengan pakaian yang lebih nyaman. Sebuah kaos long sleeves dan jeans yang serempak berwarna hitam sudah membalut tubuhnya. Tatapan Hyesoo belum teralihkan sedikitpun dari wajah tenang yang tertidur lelap di hadapannya. Begitu pun dengan Kyuhyun yang masih setia duduk di sofa yang tidak jauh dari ranjang, memperhatikan Hyesoo dari tempatnya. Kantuk seolah sudah benar-benar meninggalkannya. Meski sudah terjaga sepanjang malam, Kyuhyun tidak lantas merasa lelah. Ia tetap bersikap siaga menjaga Hyesoo dalam jarak terdekat. Hyesoo sudah meminta Kyuhyun untuk beristirahat di ruangannya. Kyuhyun menolak keras permintaan Hyesoo. Ia hanya akan beranjak kesana jika Hyesoo ikut bersamanya. Namun, tentu saja Hyesoo menolaknya. Karena itu, keduanya tetap berada di ruang perawatan itu selama dua jam terakhir.

.

Dalam diam, Hyesoo tidak bisa mengubur kekhawatirannya pada kondisi Kyuhyun. Hyesoo mengingat kembali setiap detik ke belakang sebelum rentetan peristiwa ini terjadi. Sejak saat ia kembali bertemu dengan Kyuhyun di lobby rumah sakit untuk kembali berdebat, wajah Kyuhyun sudah terlihat tidak begitu baik. Kyuhyun tidak terlihat seperti dirinya sendiri. Jika Hyesoo hitung sampai detik ini, Kyuhyun belum sekali pun memejamkan matanya untuk beristirahat. Setiap detik Kyuhyun lalui untuk menjaga Hyesoo, menjaga semua orang yang mampu teraih oleh kedua tangannya. Kenyataan itulah yang akhirnya membuat Hyesoo menyerah, meruntuhkan pertahanan sudah ia jaga dengan keras.

.

Hyesoo pun meletakkan tangan ibunya yang selalu ia genggam ke atas ranjang. Hyesoo menegakkan posisi tubuhnya, membuat Kyuhyun ikut bergerak waspada di belakang punggung Hyesoo. Sebuah helaan napas panjang yang terdengar dari tempat Hyesoo duduk membuat kecemasan Kyuhyun meningkat tanpa alasan. Hingga saat Hyesoo bangkit berdiri, lalu berbalik menghadap Kyuhyun. Hyesoo berjalan mendekatinya, kemudian duduk disisi kanan Kyuhyun yang tidak pernah sedikitpun memutus tatapannya dari Hyesoo. Kedua mata mereka bertemu, memancarkan ungkapan perasaan yang berbeda. Hyesoo terlihat jauh lebih tenang dari sebelumnya, sedangkan tatapan Kyuhyun tetap dipenuhi dengan kecemasan yang terlihat dengan begitu jelas. Lalu Hyesoo menjulurkan tangannya yang mendarat di sisi kiri wajah Kyuhyun. Kedua mata Kyuhyun lantas terpejam, merasakan emosi yang tersalurkan melalui sentuhan tangan Hyesoo di kulitnya.

.

“Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu berhenti bersikap seperti ini?” tanya Hyesoo dengan suara pelan.

.

Pertanyaan itu mengundang Kyuhyun untuk kembali ke alam sadar. Kedua matanya terbuka, menatap cemas pada Hyesoo yang baru saja mengucapkan yang baginya terdengar aneh. “Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun.

.

“Sadarkah kau bahwa kau sudah membuatku merasa khawatir? Bahkan saat kondisi eomma belum menunjukkan perkembangan apapun, aku justru merasa begitu khawatir pada keadaanmu”, kata Hyesoo.

.

“Maafkan aku”, kata Kyuhyun yang menurunkan tangan Hyesoo dari wajahnya, menuju keatas pangkuannya.

.

“Apa alasanmu meminta maaf padaku?” tanya Hyesoo.

.

“Karena sudah membuatmu khawatir padaku di waktu yang tidak tepat. Aku bahkan tidak pantas dikhawatirkan olehmu saat ini”, jawab Kyuhyun.

.

“Jika kau menyadarinya, kenapa kau tidak menuruti permintaanku? Pergilah ke ruanganmu dan beristirahat, Kyuhyun-ah. Kau sangat membutuhkannya. Seperti yang dikatakan oleh Donghae, kau terlihat begitu kacau. Aku tidak menyukainya”, ujar Hyesoo.

.

“Kau sudah tidak menyukaiku akhir-akhir ini, Hyesoo-ya. Aku hanya perlu menanggung itu. Maaf karena tidak bisa menuruti permintaanmu. Saat ini, aku lebih mengkhawatirkan kalian dibandingkan diriku sendiri”, balas Kyuhyun.

.

“Kau juga melupakan pekerjaanmu untuk tetap berada disini. Itu tidak benar, Cho Kyuhyun. Kau tidak bisa mengorbankan ribuan orang hanya karena kau mengkhawatirkanku. Pergilah, Kyuhyun-ah. Beristirahat atau lakukan hal lain. Kau menyiksaku dengan bersikap seperti ini”, pinta Hyesoo.

.

“Aku tidak bisa berada jauh darimu, Hyesoo-ya. Aku tidak mampu. Aku ingin selalu bersamamu, menjagamu”, tolak Kyuhyun sekali lagi.

.

Tiba-tiba, suara pintu ruangan yang tertutup membuat Kyuhyun dan Hyesoo menoleh bersamaan ke arah pintu. “Aku bisa menggantikanmu untuk menjaganya, Cho Kyuhyun. Kau tidak perlu khawatir. Tidak akan ada hal apapun yang terjadi pada Hyesoo. Aku menjanjikan itu. Bisakah kau mempercayaiku?” tanya Soohyuk yang berjalan mendekat pada keduanya.

.

“Sekarang kau sudah punya seorang pengganti. Aku akan baik-baik saja, Kyuhyun-ah. Aku sudah tidur semalaman. Kau sudah menjagaku dengan baik. Kini, giliran kau menjaga kondisimu sendiri. Dan, ini adalah sebuah permintaan. Bisakah kau mengabulkannya untukku? Kumohon”, pinta Hyesoo.

.

“Jangan khawatir, Cho Kyuhyun. Aku akan menjaganya dengan sangat baik. Jika perlu, aku akan memberitahukan keadaan Hyesoo tiap sepuluh menit padamu. Bagaimana? Hm? Kau terlihat benar-benar kacau, dude. Kau butuh istirahat”, sambung Soohyuk.

.

“Baiklah. Hanya selama beberapa jam. Aku akan mengurus beberapa pekerjaan dan kembali kesini secepat mungkin”, kata Kyuhyun setuju.

.

“Tidak hanya pekerjaan. Bisakah kau beristirahat juga? Tidurlah selama beberapa jam”, kata Hyesoo.

.

“Tidak, Hyesoo-ya. Jika aku harus beristirahat, maka itu hanya akan terjadi dengan kau bersamaku”, tolak Kyuhyun dengan tegas.

.

“Kumohon. Demi aku…” pinta Hyesoo.

.

“Jawabanku tetap tidak. Aku akan kembali secepat yang kubisa”, kata Kyuhyun yang lantas mengecup kening Hyesoo sebelum beranjak keluar dari ruangan.

.

Pintu ruangan tertutup perlahan, menelah sosok Kyuhyun yang menghilang menuju cahaya lampu di sepanjang koridor. Hyesoo menghela napasnya panjang menatap pintu yang sudah tertutup rapat. Rasa lelahnya bertambah setelah mendengar ucapan Kyuhyun yang begitu keras kepala. Ia tetap tidak mampu membujuk Kyuhyun dengan cara apapun. Sisi dalam diri Kyuhyun yang tidak bisa ia kalahkan jika sedang berada di puncaknya. Soohyuk yang menyadari keresahan Hyesoo hanya bisa menepuk pelan bahu Hyesoo untuk mencoba sedikit menenangkannya. Hyesoo pun menoleh pada Soohyuk yang kemudian memberikan senyum tipis padanya. Otot-otot di tubuh Hyesoo yang tegang berangsur menjadi lebih tenang dengan keberadaan Soohyuk bersamanya. Hyesoo kembali bisa bernapas dengan lega hanya dengan melihat wajah Soohyuk yang tenang. Seolah ia baru saja mendapatkan jaminan bahwa semua akan baik-baik saja.

.

“Soohyuk-ah, bisakah kau mengalihkan pikiranku?” tanya Hyesoo yang bersandar di badan sofa.

.

“Apa yang sedang kau pikirkan sampai aku harus mengalihkannya?” Soohyuk balas bertanya.

.

“Banyak hal. Salah satunya tentang kondisi pria keras kepala itu. Kumohon, alihkan pikiranku”, kata Hyesoo.

.

How?” tanya Soohyuk.

.

“Bagaimana keadaan Jinu? Sudah cukup lama aku tidak mendengar kabarnya”, ujar Hyesoo.

.

“Keadaannya sangat baik. Setelah aku memberitahukan kebenarannya pada orang tua Shin Ae, Jinu jadi lebih banyak menghabiskan waktu bersama mereka”, jawab Soohyuk.

.

“Jadi, saat ini Jinu sedang berada di Jeju?” tanya Hyesoo lagi.

.

“Tidak. Kali ini abeonim dan eomeonim yang datang ke Seoul untuk menemui Jinu. Mereka membantuku untuk menjaganya. Karena itu, sekarang aku ada di hadapanmu”, jawab Soohyuk.

.

“Apa ini, Lee Soohyuk? Selama ini kau tinggal di Seoul? Kau sudah membohongiku?” tanya Hyesoo yang menjadi sedikit marah pada Soohyuk.

.

“Aku baru tinggal disini selama beberapa minggu, Hyesoo-ya. Aku tidak benar-benar membohongimu”, jawab Soohyuk santai.

.

“Benarkah? Kau tidak sedang membohongiku lagi?”

.

“Tidak. Maafkan aku karena sudah berbohong padamu. Tapi, saat kau memberitahukan kehamilanmu padaku, aku memang sedang berada di London. Selebihnya aku berada di Seoul. Aku sudah mendapatkan pekerjaan di salah satu pusat rehabilitasi”, kata Soohyuk yang akhirnya bicara jujur pada Hyesoo.

.

“Lalu, kenapa kau berbohong, Soohyuk-ah? Bahkan padaku”, kata Hyesoo dengan tenang. “Apakah semua ini masih ada hubungannya dengan Soyu? Karena kau mau menghindarinya? Aku bahkan masih tidak mengerti dengan alasanmu mengakhiri hubungan kalian. Kau mengatakan padanya bahwa Jinu tidak mau diajak tinggal di Seoul. Padahal kenyataannya Jinu sangat menikmati hari-harinya bersama kedua orang tua Shin Ae. Sejak awal Jinu tidak pernah menjadi halanganmu. Semuanya menjadi lebih mudah saat kau mengetahui bahwa Jinu bukan anak kandungmu, melainkan anak Shin Ae dari laki-laki yang meninggalkannya dulu. Apa alasan sebenarnya, Soohyuk-ah?” tanya Hyesoo.

.

“Kau mengetahui alasannya dengan sangat baik, Hyesoo-ya. Sama seperti dirimu yang tidak bisa berhenti mencintai Cho Kyuhyun meski dia telah menyakitimu. Begitu pun aku yang tidak bisa memberikan hatiku sepenuhnya pada Soyu. Karena sejak awal aku sudah terlanjur memberikan cintaku pada orang lain”, jawab Soohyuk.

.

“Bukankah kau mengatakan bahwa kau akan mencoba untuk mencintai Soyu? Apakah usahamu tidak berhasil sedikit pun?” tanya Hyesoo.

.

“Justru karena usahaku berhasil. Aku tidak ingin menyakitinya, Hyesoo-ya. Percayalah, aku juga mencintainya. Tapi, cintaku padanya tidak mampu menendangmu keluar dari hatiku”, kata Soohyuk dengan nada bergurau untuk meringankan suasana diantara mereka. “Aku jahat, ‘kan?” sambung Soohyuk.

.

“Sangat. Tapi, aku juga merasa cukup keterlaluan. Karena tidak bisa membencimu yang sudah melukai Soyu. Kau tahu, aku juga menyukaimu, Soohyuk-ah. Sangat”, ujar Hyesoo.

.

“Sebagai seorang teman. Aku tahu. Tapi, kau sangat mencintainya. Cho Kyuhyun. Bahkan setelah apa yang telah dia lakukan padamu”, kata Soohyuk.

.

Hyesoo menghela napas panjang, menemukan kebenaran mutlak dalam ucapan Soohyuk yang  tidak bisa dibantahnya. “Masalah ini tidak akan pernah ada jika pria yang kucintai adalah Lee Soohyuk”, balas Hyesoo dengan santai kali ini.

.

“Penyesalan memang selalu datang terlambat, Hyesoo-ya. Tapi, kurasa kau belum terlambat”, ujar Soohyuk dengan ekspresi jenakanya.

.

“Untuk mencintaimu? Kau gila…” kata Hyesoo dengan sebuah senyuman yang akhirnya muncul di wajah lelahnya. “Andai saja yang kau katakan dapat dilakukan dengan mudah. Tapi, percayalah, saat ini aku jauh lebih menyukaimu daripada Cho Kyuhyun, Soohyuk-ah” sambung Hyesoo.

.

Tapi, cintamu padanya terlalu besar untuk kulampaui, Hyesoo-ya’, kata Soohyuk dalam pikirannya. “Kenapa kau tidak menyukainya? Dia melakukan sesuatu yang membuatmu lebih marah?  Atau karena dia tetap bersikeras ingin berada disisimu?” tanya Soohyuk setelahnya.

.

“Begitulah…”

.

“Aku tidak mengerti pada masalah diantara kalian berdua sejak dulu. Sangat sulit untuk menyelesaikannya. Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanay Soohyuk kali ini.

.

“Entah. Aku tidak bisa berpikir, Soohyuk-ah” ujar Hyesoo.

.

“Pikirkan lagi nanti, Hyesoo-ya. Jangan mempertimbangkan apapun disaat seperti ini. Kau harus berpikir dengan hati dan pikiran yang tenang. Karena hanya dengan cara itu maka kau akan mendapatkan keputusan yang terbaik. Aku dan semua orang yang menyayangimu hanya menginginkan kebahagiaanmu, Hyesoo-ya” kata Soohyuk.

.

“Bukankah kau sudah melihatnya? Aku tidak bahagia saat ini”, kata Hyesoo.

.

“Tapi, kau tidak boleh melupakan bahwa kebahagiaanmu ada padanya. Tanyakan pada hatimu. Dia memiliki jawabannya jauh di dalam sana. Jika memang kebahagiaanmu sudah tidak lagi berada di tangannya, mungkin saja berpindah ke pelukanku…” kata Soohyuk menyisipkan nada gurauan dalam ucapannya, membuat senyum kecil muncul di bibir Hyesoo. “…maka saat itu kau boleh memilih perpisahan sebagai jalan keluarnya. Kau tahu, aku selalu mendukung keputusanmu, ‘kan? Tapi, ketahuilah Hyesoo-ya, perpisahanmu dengan Kyuhyun tidak pernah berada dalam daftar pilihanku.” sambung Soohyuk.

.

“Aku mengerti, dokter Lee”, balas Hyesoo sambil tersenyum kecil.

.

.

.

#########################

.

Seberkas cahaya begitu menyilaukanku, menyentuh tepat ke kelopak mataku yang terpejam. Semilir angin menyentuh permukaan kulitku, memberikan kesejukkan pada hatiku yang terbelenggu. Suara gesekan daun menjadi musik pengiring yang begitu menenangkan jiwaku, menggelitikku untuk membuka mata, menyaksikan nyanyian mereka. Hamparan padang rumput yang begitu hijau memanjakan kedua mataku sesaat setelahnya. Bunga-bunga indah juga hadir disana sebagai pemanis yang mewarnai setiap sisi padang. Sebuah sentuhan lembut pun menyadarkanku dari keterpukauanku akan keindahan alam di hadapanku. Aku menoleh pada pemilik tangan yang duduk di sisi kananku, memberikan paha kanannya untuk kujadikan bantal bagi kepalaku yang terbaring. Ia tersenyum dengan begitu manis, senyum yang sangat kurindukan. Tangannya beralih mendekati wajahku. Ia menyingkirkan helaian rambut dari wajahku. Katanya ia ingin melihat wajahku tanpa penghalang apapun.

.

Aku bangun dari posisiku, beranjak duduk di sebelahnya. Wajahnya yang terhalang cahaya kini tampak begitu jelas. Senyuman di bibir tebalnya lantas mengembang, menaikkan tulang pipinya. Rambut ikal legamnya bergerak mengikuti hembusan angin, mengundangku untuk menyentuhnya. Sekali lagi ia menyentuh perutku yang sudah membesar. Sontak sebuah tendangan kurasakan dengan keras dari dalam sana. Bayiku begitu girang menyambut sapaan ayahnya. Mungkin ia sedang terkekeh karena merasa geli dengan elusan lembut tangan Kyuhyun yang begitu besar. Dari sudut mataku, dapat kurasakan intensnya tatapan Kyuhyun padaku, membuatku tidak sabar untuk menatapnya. Tatapan itu begitu intens, namun lembut disaat yang bersamaan. Kyuhyun bergerak mendekat, mencoba menghapus jarak diantara kami. Matanya terpejam saat tangannya yang lain menyentuh sisi kanan wajahku. Bibirnya pun menyentuh bibirku setelahnya. Lembut kurasakan kecupannya. Aku terbuai dengan mudah karena sentuhan kecilnya. Namun, ia segera melepaskan diri dariku, membuatku merasakan kekecewaan dalam diriku. Saat aku membuka mataku, Kyuhyun sudah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tangannya sudah tidak berada di tubuhku, menambah kekecawaan yang lain dalam diriku.

.

Tiba-tiba, Siwon datang menghampiri kami, entah dari arah mana. Aku tidak menyadari kehadirannya. Namun, sepertinya Kyuhyun sudah menyadari itu sejak awal. Tatapan tidak bersahabat muncul di kedua mata Kyuhyun. Ada kilatan amarah yang dibalut dengan kesedihan dan pilu disana. Wajahnya mengeras, hingga tulang rahangnya memunculkan garis keras bagai sebuah pahatan. Sebaliknya, Siwon justru tersenyum padaku. Ia menatapku dengan sayang. Kemudian, Siwon mengajukan tangan kanannya padaku, diikuti dengan sebuah anggukkan setelahnya. Aku tidak mengerti apa maksud dari tindakannya. Namun, ajakan yang ia utarakan setelahnya menyadarkanku. Aku tersentak dengan perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba saja muncul dalam diriku. Aku meragu. Aku tidak seharusnya merasakan hal itu. Aku sudah memiliki kebahagiaanku bersama Kyuhyun. Namun, di lubuk hatiku yang terdalam, aku mempertimbangkan ajakan Siwon padaku.

.

Aku pun menoleh pada Kyuhyun, mencoba meyakinkan diriku untuk tetap bersamanya. Hingga suara Siwon mulai menggangguku. Ia tidak lagi sekedar mengajakku, melainkan memohon padaku untuk ikut bersamanya. Ajakan Siwon perlahan menghipnotisku, membuatku tidak dapat berpaling darinya untuk waktu yang cukup lama. Tiba-tiba, sebuah tendangan dari dalam perutku membawaku kembali ke alam sadarku. Bayiku tetap menjadi pendukung setia ayahnya. Bayiku menginginkan aku untuk tidak mengindahkan ajakan Siwon. Aku segera menoleh pada Kyuhyun untuk mendapatkan pijakanku kembali. Namun, ia sudah tidak berada disana. Kyuhyu sudah berada jauh dariku. Kyuhyun sempat menoleh padaku, memberikan senyum tipis khasnya saat ia sedang mencoba meyakinkanku bahwa dirinya baik-baik saja. Senyum itu menghilang dengan cepat, digantikan dengan ekspresi muram yang meresahkanku. Aku bangkit berdiri untuk mengejarnya.

.

Hingga aku dikejutkan dengan pemandangan yang berada tepat di hadapan Kyuhyun. Ia berdiri di tepi jurang yang terlihat menyala semerah api. Dadaku sontak terasa begitu pilu. Ketakutan menyelimutiku. Kyuhyun tersenyum sekali lagi sebelum mulai melangkahkan satu kakinya. Siwon memanggil namaku, untuk mengalihkan perhatianku. Aku kembali menoleh pada Kyuhyun, memastikan ia tidak melakukan hal gila itu lagi. Kyuhyun masih berdiri disana, dengan wajah muram yang begitu pedih untuk kulihat. Ia tidak melangkahkan kakinya. Aku sempat merasa lega. Namun, sesaat setelahnya, ia menjatuhkan tubuhnya kesana. Aku pun bersiap untuk berlari. Namun, tangan Siwon menggenggamku, menahanku tetap berada disana bersamanya.

.

“Hyesoo-ya, kau baik-baik saja?” tanya Soohyuk yang merasa cemas.

.

Kedua mata Hyesoo terbuka lebar. Napasnya tersengal-sengal, seolah ia baru saja berlari mengelilingi halaman rumah sakit ini sebanyak sepuluh kali. Tangannya menggenggam kuat lengan Soohyuk, menimbulkan warna merah di kulit pucat pria itu. Hyesoo pun bangun dari posisi berbaringnya, kemudian duduk di sofa. Ia melepaskan genggamannya di lengan Soohyuk untuk mengusap kedua kelopak matanya yang terasa begitu berat.

.

“Apa yang terjadi kali ini?” tanya Soohyuk masih dengan kecemasannya.

.

“Hm?” Hyesoo balas bertanya dengan sebuah gumaman.

.

“Kau mimpi buruk lagi, Hyesoo-ya. Kali ini reaksi tubuhmu lebih buruk dari sebelumnya. Rasakan ini…” kata Soohyuk sambil menuntun tangan Hyesoo untuk menyentuh leher dan keningnya. “Kau berkeringat begitu banyak, dan dingin. Tubuhmu gemetar, tanganmu mencengkram begitu kuat. Kau pun berteriak, Hyesoo-ya. Tolong katakan padaku. Apa yang terjadi kali ini?” tanya Soohyuk setelahnya.

.

“Bisakah kau mengambilkan segelas air dingin untukku? Please…” kata Hyesoo sambil menyeka keringat dari kening dan lehernya.

.

“Baiklah. Tetap disini. Aku akan segera kembali”, kata Soohyuk yang lantas bangkit berdiri, lalu berjalan menuju pintu.

.

Cahaya pun masuk ke ruangan dengan sedikit penerangan itu saat Soohyuk membukanya. Soohyuk keluar dari ruangan untuk mengambilkan air dingin yang diminta Hyesoo. Beberapa saat setelah situasi menjadi hening, pintu ruangan kembali terbuka. Kali ini sosok Kyuhyun yang muncul dari balik pintu. Kyuhyun menekan tombol lampu di dekatnya, menghadirkan cahaya terang yang memenuhi ruangan itu. Kyuhyun pun berjalan mendekat pada Hyesoo yang masih tampak terkejut di tempatnya duduk.

.

“Hei… Apa kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun yang sudah duduk di sebelah Hyesoo.

.

“Kau sudah kembali”, ujar Hyesoo tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.

.

“Aku sudah duduk diluar sejak 2 jam yang lalu”, jawab Kyuhyun. Keheningan menghampirinya selama beberapa saat. “Aku berpikir selama itu”, sambung Kyuhyun.

.

“Begitupun denganku”, balas Hyesoo.

.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Kyuhyun.

.

“Bisakah kita bicara diluar?” tanya Hyesoo sambil menatap tepat ke kedua mata Kyuhyun.

.

“Tentu”, jawab Kyuhyun singkat.

.

Kyuhyun segera membantu Hyesoo untuk berdiri, lalu mempersilahkan Hyesoo untuk berjalan di depannya. Keduanya keluar dari ruangan itu bersama. Hyesoo tidak lantas menghentikan langkahnya saat mereka sudah berada di luar ruangan. Hyesoo berjalan menuju ujung lorong sebelah kanan, tepat disisi jendela besar yang mempertontonkan pemandangan kota Seoul di malam hari. Keduanya berdiri berhadapan tanpa kata. Hyesoo menyilangkan tangannya di depan dada, sementara Kyuhyun dengan sabar menunggu Hyesoo untuk bicara. Ada sebuah kerutan kecil di kening Hyesoo yang begitu akrab dalam ingatan Kyuhyun. Hyesoo sedang mempertimbangkan sesuatu dalam pikirannya. Dan, Kyuhyun menyadari bahwa akan ada hal yang tidak begitu baik terjadi setelah ini.

.

“Aku akan pergi, Cho Kyuhyun. Aku tidak boleh berada di tempat ini”, kata Hyesoo setelahnya.

.

“Apa yang kau katakan? Kenapa kau tidak boleh berada disini?” tanya Kyuhyun.

.

“Kumohon, pergi dariku, Cho Kyuhyun. Menjauh dariku. Kau memiliki kehidupan”, kata Hyesoo tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.

.

Kyuhyun yang merasa bingung pun melangkah mendekat pada Hyesoo. Namun, Hyesoo justru melangkah mundur setelahnya. Kyuhyun menghentikan langkah kakinya dalam jarak yang cukup dekat dengan Hyesoo, tetap memberikan jarak pada Hyesoo yang tampak begitu sedih. “Kau hidupku, Hyesoo-ya” kata Kyuhyun setelahnya.

.

“Apakah setelah semua hal yang terjadi, kau masih belum mengerti? Semua orang yang kucintai dan mencintaiku pergi satu persatu. Mulai dari Siwon oppa, lalu appa”, kata Hyesoo.

.

“Apa yang sedang kau bicarakan?” tanya Kyuhyun.

.

“Jaejoong oppa mendapatkan kebahagiaannya setelah melepaskanku, Kyuhyun-ah. Donghae sudah memiliki Yoona dan Dongjun bersamanya. Mereka juga akan memiliki seorang bayi lain dalam beberapa bulan. Sementara Hyeri akan dijaga dengan baik oleh Ryeowook. Jika aku tetap berada disini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada eomma. Sudah cukup Siwon oppa dan appa yang pergi”, kata Hyesoo dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.

.

“Apa yang kau pikirkan, Hyesoo-ya? Kepergian abeoji dan Siwon hyung bukan karena kesalahanmu. Hidup kita sudah ditakdirkan sejak kita lahir. Bukan kau penyebabnya”, ujar Kyuhyun mencoba menenangkan Hyesoo.

.

“Aku tidak ingin eomma juga pergi, Kyuhyun-ah. Begitu juga denganmu. Aku sudah terluka terlalu dalam. Aku tidak sanggup lagi menerima rasa sakit yang lain”, balas Hyesoo.

.

“Tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada eomeoni. Percayalah padaku, Hyesoo-ya”, kata Kyuhyun mencoba meyakinkan Hyesoo sekali lagi.

.

“Kau jatuh ke jurang dalam mimpiku karena aku lengah. Aku tidak bisa menghentikanmu. Kau…… kau jatuh kesana setelah aku……”

.

“Hei… sayang…” Kyuhyun meraih Hyesoo dalam pelukannya, meredam isak tangis Hyesoo di dadanya. “Itu hanya mimpi buruk. Aku disini. Aku baik-baik saja. Maafkan aku, Hyesoo-ya. Aku bersamamu. Aku disini. Maafkan aku… Seharusnya aku segera menemuimu. Ini kesalahanku karena duduk diluar terlalu lama. Maafkan aku…” sambung Kyuhyun yang tidak henti meminta maaf pada Hyesoo.

.

“Tidak, Kyuhyun-ah” kata Hyesoo yang melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun. “Semua ini sudah menjadi begitu buruk sejak awal karena aku. Jika Siwon oppa tidak pernah bertemu denganku, mungkin dia masih hidup sampai detik ini. Jika kita tidak pernah bertemu, maka kita berdua tidak akan pernah merasa begitu tersakiti seperti ini. Appa dan eomma juga tidak akan mengalami kecelakaan. Sejak awal semua ini sudah menjadi salah karena kehadiranku, Kyuhyun-ah. Biarkan aku pergi”, sambung Hyesoo.

.

“Tidak seperti itu, Hyesoo-ya. Jangan menyalahkan dirimu atas semua ini. Kepergian Siwon hyung dan abeoji murni karena sebuah kecelakaan. Tidak ada hubungannya denganmu, atau dengan siapapun. Takdir hidup kita sudah digariskan sejak awal. Kehadiranmu tidak memiliki andil apapun dalam peristiwa ini”, kata Kyuhyun mencoba meyakinkan Hyesoo.

.

“Tapi, appa dan eomma tidak akan datang ke Seoul jika mereka tidak tahu mengenai kondisiku, Cho Kyuhyun. Memang aku yang bersalah atas peristiwa ini”, ujar Hyesoo yang bersikeras menyalahkan dirinya sendiri.

.

“Sudah cukup, Hyesoo-ya”, kata Kyuhyun yang kembali meraih Hyesoo ke dalam pelukannya. “Jangan diteruskan. Sudah…”

.

Tiba-tiba, derap langkah kaki terdengar dari sisi kiri lorong, membuat Kyuhyun dan Hyesoo menoleh cepat bersamaan. Tiga orang perawat berjalan dengan langkah cepat bersama Soohyuk menuju ruang perawatan. Hyesoo pun segera melepaskan pelukan Kyuhyun. Ia berlari bersama Kyuhyun di belakangnya, ke kamar ibunya dengan hati cemas. Sesampainya di ambang pintu, Soohyuk bersama dengan tiga orang perawat muncul dari dalam ruangan, mendorong tempat tidur ibu Hyesoo bersama-sama. Kyuhyun dengan sigap menarik Hyesoo ke pelukannya, memberikan jalan untuk mereka. Kyuhyun dapat merasakan tubuh Hyesoo yang bergetar hebat dalam pelukannya. Kyuhyun pun membawa Hyesoo berjalan bersamanya, mengikuti arah mereka membawa ibu Hyesoo. Kyuhyun tidak sedikit pun melepaskan Hyesoo dari rangkulannya di sepanjang koridor menuju ruang operasi.

.

Baik Hyesoo, Kyuhyun, maupun Soohyuk, tidak diijinkan masuk ke dalam ruangan. Ketiganya menunggu di depan pintu. Beberapa menit berselang, Donghae datang bersama Jaejoong. Salah seorang perawat pun keluar, meminta Jaejoong untuk masuk ke dalam ruang operasi. Sepeninggal Jaejoong, suasana di luar ruangan menjadi semakin tegang. Hyesoo tidak bisa menahan dirinya untuk tetap tenang. Tubuhnya terasa begitu lemas, dan air mata tidak henti menetes di pipinya. Donghae yang berada disana pun tidak bisa melakukan apapun. Ia tidak bisa menenangkan Hyesoo, disaat kondisinya sendiri sedang tidak memungkinkan. Donghae sama terpukulnya dengan Hyesoo. Kekuatan di tubuhnya sama lenyapnya dengan Hyesoo.

.

Hanya Kyuhyun dan Soohyuk yang mampu mencoba untuk menenangkan situasi. Soohyuk pun memutuskan untuk mengambilkan minuman bagi Donghae dan Hyesoo. Suasana menjadi begitu hening. Dalam kebungkamannya, Kyuhyun merasa begitu khawatir dengan kondisi Hyesoo. Beberapa kali Hyesoo berjalan mondar-mandir di depan pintu. Kyuhyun ingin sekali menghentikannya karena mengetahui kondisi Hyesoo yang tidak begitu baik. Namun, ia tidak bisa. Ia tidak ingin lebih mengacaukan suasana hati Hyesoo. Hingga saat Hyesoo menghentikan langkahnya di sisi kiri pintu, Kyuhyun langsung bersikap siaga. Hyesoo menyentuh keningnya yang dipenuhi dengan peluh keringat. Lalu tangannya yang dingin menuju ke leher. Ia memijat pelan belakang lehernya, untuk meredakan denyutan kuat di kepalanya. Tidak ada yang terjadi setelahnya. Kekhawatiran Kyuhyun sempat mereda. Namun, tiba-tiba, tubuh Hyesoo terjatuh ke lantai. Kyuhyun dan Donghae pun segera menghampiri Hyesoo.

.

“Hyesoo-ya! Hyesoo-ya! Buka matamu, Hyesoo-ya!” seru Kyuhyun.

.

“Cepat bawa dia ke UGD! Aku akan menyusul setelah ada informasi dari dalam”, kata Donghae.

.

“Baiklah. Soohyuk akan segera datang. Jaga dirimu”, kata Kyuhyun yang lantas mengangkat tubuh Hyesoo dan membawanya ke UGD.

.

Bangun, Hyesoo-ya. Buka matamu. Kumohon…

.

.

.

.

TBC

Note:

Annyeonghaseyo, readers-nim.

Lama tidak bersua. Apa kabar? Kuharap kalian semua dalam keadaan baik.

Seperti yang aku lakukan disetiap akhir FF-ku, aku harus meminta maaf pada kalian karena update yang terlalu lama. Maafkan aku, readers-nim. Aku benar-benar sudah berusaha untuk menyelesaikan part ini secepat mungkin. Tapi, apa dayaku. FF ini sedang memasuki masa kelamnya. Kadang saat suasana hatiku sedang tidak baik, meneruskan FF ini adalah salah satu hal yang membuatku menjadi kesal. Aku sangat membutuhkan suasana hati yang baik untuk menyelesaikan ini. Karena itu, part ini baru bisa selesai dan di update. Sekali lagi, aku minta maaf.

Nah! Masuk ke cerita dalam part ini. Di dalam part ini, masalah utama Kyuhyun dan Hyesoo tidak terlalu jelas terlihat. Part ini lebih banyak berkutat di peristiwa sedih yang terjadi di keluarga Lee. Tapi, kalau kalian sadar. Mendekati akhir, sikap Hyesoo pada Kyuhyun kembali menimbulkan pertanyaan. Kyuhyunnya sudah menuju insyaf, tapi Hyesoo justru jadi aneh. Kira-kira apa yang akan terjadi sama mereka, readers-nim? Aku benar-benar ingin tahu pendapat kalian tentang part ini.

Sedikit bocoran, akan ada kejadian yang “mungkin” tidak kalian duga sebelumnya. Ah! Coba kalian tuliskan dugaan kalian. Mungkin kalian bisa menebak kejadian yang akan terjadi di part selanjutnya. Okay! Kalau begitu Kana pamit. Have a nice day! Annyeonghigaseyo…

Advertisements

8 thoughts on “Beautiful Tomorrow: Part 7

  1. ternyata soohyuk ada perasaan sama hyesoo? dan aku pikir hyesoo bakal nyalahin kyu atas semua peristiwa ini, tapi dia malah nyalahin diri sendiri. gimana ini hyesoo kayaknya mau ninggalin kyu. kasian kyu. peristiwa apa ya kira2? ngeblank nih gak bisa mikir, tapi semoga peristiwa yg bisa buat semua jadi lebih baik

    Like

  2. Kemungkinan” selalu terbayang. Apakah ibu hyesoo akan meninggal? Atau koma?. Aku ga suka sama pemikiran hyesoo tentang dirinya adalah penyebab org” yg dia cintai. Seandainya hyesoo ninggalin Kyu, apa hyesoo bisa jamin kyuhyun ga bakalan buat nekad kaya yg dulu”. Sekali lagi kak please jangan buat hyeso ninggalin Kyuhyun 😢😢

    Like

  3. Menurutku next part….ibu Hye soo klo gak meninggal y koma….n karna hal itu Hye soo bakal milih untuk pergi ninggalin kyuhyun lagi…tp please jgn sampe sad ending yh….

    Like

  4. Yaaaaa kenapa masalah kyu n hyeso selalu berhubungan dg kesedihan sihhhh. Cinggu jgn buat mereka berpisah dongggg, baru aja mereka mw baikan jgn lagi buat mereka sedihhhh. Next d tunggu cinggu

    Like

  5. aku harap kejadian yang tak terduga adalah semua ini mimpinya hyesoo dimalam hari karna ia terlalu capek. Tapi ketimbang itu aku lebih berharap hyesoo akan sadar dan dia ga mikir yang tidak-tidak terutama ke kyuhyun.

    Like

  6. Hadeuh,,,,,,nyesek y….. hyeso malah makin parah & mikir aneh2,,jangan sampe kyu lengah & ngebiarin hyeso pergi. Sementara udah cukup masalah yg dateng,,suzy jauh2 deh. Jangan sampe dia ngerusuh lagi,udah kacau banget

    Like

  7. Pingback: Library | FanWorld FanFiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s