Beautiful Tomorrow: Part 6

Author: Okada Kana

Category: PG-15, Romance, Chapter, Sad, Sequel

Cast:

Cho Kyuhyun, Lee Hyesoo (OC)

Seo Kangjun, Bae Suzy, Kang Soyu, Kim Jaejoong, Kim Ryeowook, etc.

Disclaimer:

Annyeonghaseyo!!! Kana kembali hadir dengan lanjutan FF Sequel “Beautiful Tomorrow”. Kisah Kyuhyun dan Hyesoo kembali berlanjut, masih dengan pertengkaran keduanya yang belum menemui ujung. Apakah yang akan terjadi setelahnya?

FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi atau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com. Please, no bash, spam, mengejek, mengolok, dan menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Mari saling menghargai satu sama lain. Akhir kata, selamat membaca!!!

.

 

 

.

Review Part 5

“Apakah kau merasa cemburu karena melihat istrimu begitu dekat dengan dokter Seo Kangjun?”

“Bagaimana kau tahu?”

“Siapapun akan memiliki perasaan yang sama denganmu jika melihat wanita yang kau cintai dekat dengan seorang pria, meski pria itu hanya berstatus sebagai temannya. Kedekatan mereka ‘sebagai teman’ sudah terjadi sejak mereka kuliah bersama di London, Kyuhyun-ah.”

“Jadi, bukan hanya Lee Soohyuk yang pernah berhubungan dekat dengan Hyesoo?”

“Kenapa istrimu tidak menceritakan tentang dokter Seo Kangjun juga padamu?”

“Apa yang kau ketahui, yang justru tidak kuketahui?”

“Kudengar dari seorang temanku, dokter Seo dan dokter Lee sempat berhubungan. Tentu saja hubungan yang dimaksud oleh temanku bukanlah sebuah hubungan pertemanan”.

“Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?”

“Tidakkah kau salah mengajukan pertanyaan? Seharusnya kau bertanya padanya”.

————————-

“Kyuhyun mulai mendekatiku. Rupanya hubungan pertemanan tidak cukup baginya. Sejak saat itu, aku menjadi satu-satunya gadis yang dekat dengannya. Saat kami kembali bertemu di Jeju, aku begitu terkejut. Dia bukan Kyuhyun yang kukenal bertahun lalu. Sikap, cara bicara, dan tatapannya sangat berbeda. Dulu Kyuhyun terlihat sangat bebas. Dia melakukan apapun yang diinginkannya. Dia terlihat seperti pria dengan banyak beban di bahunya, banyak pikiran didalam kepala besarnya. Saat bertemu denganmu, dokter Lee, akhirnya aku memahami darimana datangnya perubahan dalam diri Kyuhyun”.

“Apa maksudmu?”

“Aku hanya ingin mengatakan bahwa perubahan dalam diri Kyuhyun sangat beralasan. Kau mengubahnya menjadi pria dewasa yang bertanggungjawab dengan hidupnya. Aku tidak sedang mengatakan bahwa ada kesalahan dalam perubahan itu. Hanya saja, aku tidak tahu Kyuhyun akan berubah sebanyak ini”.

————————-

“Jangan membantahku!”

“Berhenti bersikap seperti ini. Kau membuatku tercekik dengan sikapmu”.

“Aku bersikap selayaknya, sebagai suamimu, Lee Hyesoo”.

“Kau hanya mementingkan dirimu dan perasaanmu. Tapi, kau lupa bahwa aku sedang mengandung, Cho Kyuhyun. Kau bahkan tidak benar-benar yakin bahwa bayi ini adalah milikmu”.

“Kau mengalihkan pembicaraan, Lee Hyesoo. Kita sedang membicarakan pria itu”.

“Kau bahkan menghindar dari topik pembicaraan mengenai bayi dalam kandunganku. Apakah kau bahkan memikirkannya sedikit saja? Memikirkanku?”

“Tentu saja. Aku sangat mencintaimu, Lee Hyesoo”.

“Aku tidak sedang mempertanyakan cintamu padaku, Cho Kyuhyun! Lupakan aku pernah mengatakan bahwa bayi ini adalah milikmu. Kau memiliki kebebasan sepenuhnya untuk memiliki anggapanmu sendiri”.

————————-

“Kau tidak mengindahkan peringatanku, Lee Hyesoo. Kenapa kau harus mengajaknya?”

“Aku tidak datang bersamanya. Kenapa kau tidak mau mendengarkanku?”

“Jangan bohongi aku, Lee Hyesoo”.

“Siapa orang dibalik kecurigaan tidak masuk akalmu ini?”

“Dia hanya mengatakan apa yang dilihatnya”.

“Hyeri dan Sooyoung bersamaku. Apakah dia juga mengatakan hal itu padamu?”

“Kau ingin aku mempercayainya begitu saja?”

Fine! Jangan mempercayainya! Jangan mempercayai aku, istrimu! Kau bahkan tidak mempercayai bahwa bayi ini adalah darah dagingmu, bukan? Untuk apa kau mempercayai omong kosongku?”

“Lee Hyesoo! Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku meragukannya!”

“Sekarang aku yang akan memintamu. Tolong ragukan saja. Jangan percaya bahwa bayi ini adalah darah dagingmu”.

“Jaga bicaramu, Lee Hyesoo! Jangan libatkan hubunganmu dengan pria itu. Bayi itu milikku!”

“Terserah padamu, Cho Kyuhyun. Aku sudah lelah berdebat denganmu. You’re so fucked up!

————————-

.

 

 

.

 

 

.

Beautiful Tomorrow

Part 6

.

 

 

.

Author’s POV

.

Ketenangan dan kegembiraan yang Hyesoo rasakan hanya datang padanya dalam waktu yang singkat. Suasana hatinya kembali rusak karena pertengkaran yang terjadi. Setelah panggilan telepon tak terduga dari Kyuhyun, Hyesoo langsung bergegas menemui Hyeri dan Sooyoung untuk berpamitan. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah sakit lebih cepat dari rencana semula. Hyeri dan Sooyoung yang tidak menyadari kondisi Hyesoo hanya bisa membiarkan Hyesoo pergi tanpa menanyakan alasan kepergiannya yang mendadak. Beruntung karena Seo Kangjun sedang bicara di telepon saat Hyesoo kembali kesana. Sehingga Hyesoo tidak perlu memberikan alasan apapun atas ekspresi di wajahnya yang pasti dengan sangat mudah dapat dibaca oleh Seo Kangjun. Hyesoo berjalan dengan langkah panjangnya menuju eskalator. Senyuman yang tergambar di wajahnya sudah menghilang pergi bersama setiap kata yang diucapkannya pada Kyuhyun. Kini hanya sendu yang tersisa disana. Hyesoo memperlambat langkahnya ia saat tiba di lantai satu. Napasnya yang memburu memunculkan rasa tidak nyaman dalam tubuhnya. Seketika mual menghampirinya bersama dengan gemetar di kedua telapak tangannya. Pandangan Hyesoo sempat menjadi buram saat ia berada di eskalator. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Hyesoo bisa kembali menenangkan diri agar bisa terus berjalan menuju pintu utama pusat perbelanjaan itu.

.

Sebuah taksi berhenti untuk menurunkan penumpangnya tepat didepan pintu utama mall. Hyesoo pun masuk ke taksi itu setelah penumpang sebelumnya keluar. Shinsung Hospital menjadi tempat yang dituju oleh Hyesoo. Taksi melaju ditengah lalu lintas kota yang tidak terlalu padat. Cerahnya cuaca hari itu tidak membuat suasana hati Hyesoo lantas menjadi lebih baik dengan mudah. Bahkan bunga-bunga yang mekar diluar sana tidak dapat menarik perhatian Hyesoo. Tatapan mata Hyesoo memang tertuju kearah luar jendela, namun tatapan itu begitu kosong, tanpa obyek yang dijadikan pusat pandangan satupun. Sesaat setelahnya, Hyesoo memejamkan kedua matanya. Ia merasa begitu lelah. Rasa mual yang menghampirinya beberapa saat yang lalu di pusat perbelanjaan belum juga meninggalkan dirinya. Kini ditambah dengan rasa sakit di kepalanya, menyebabkan hilangnya konsentrasi Hyesoo. Saat Hyesoo membuka matanya, pandangannya kembali menjadi buram. Sebagian besar yang dilihatnya adalah cahaya terang kekuningan, memberikan rasa sakit yang lebih kuat di kepalanya. Hyesoo pun bergerak mundur, menjauhi jendela mobil. Ia kembali memejamkan matanya. Salah satu tangan Hyesoo bergerak menyentuh kening yang ternyata sudah dibasahi dengan keringat. Hyesoo dapat merasakan gemetar di telapak tangannya yang bersentuhan dengan kulit di keningnya.

.

“Apakah anda baik-baik saja, nona?” tanya supir taksi pada Hyesoo.

.

Hyesoo sontak membuka matanya, kemudian berdeham pelan. “Saya baik-baik saja, ahjussi”, jawab Hyesoo dengan suara bergetar.

.

“Apakah saya harus berhenti di depan UGD, nona?” tanya supir taksi itu lagi.

.

“Tidak perlu, ahjussi. Tolong berhenti di lobby utama saja”, jawab Hyesoo.

.

“Baik, nona. Saya mengerti”, balas supir taksi yang tampaknya udah berusia setengah baya itu.

.

Taksi pun memasuki area komplek rumah sakit. Menyadari hal itu, Hyesoo mengusap wajahnya, berusaha memperoleh kekuatannya kembali. Rasa mual dan sakit kepala masih dirasakannya. Namun, Hyesoo tetap mencoba bertahan agar dapat tiba di ruangannya. Berselang beberapa menit, taksi tiba di depan lobby utama. Seorang petugas keamanan berjalan menghampiri taksi yang sudah berhenti sepenuhnya. Hyesoo meraih tas tangan dan ponsel yang sempat ia letakkan di jok mobil. Pintu di sebelah kiri Hyesoo terbuka, memunculkan sosok ahjussi supir taksi yang memegang tuas pintu. Pria paruh baya itu memberikan senyuman tulusnya pada Hyesoo yang masih berada dalam kondisi terkejut atas tindakan yang dilakukan olehnya. Pria itu bergerak lebih cepat dibandingkan petugas keamanan yang seharusnya membukakan pintu bagi Hyesoo. Sebuah senyum tipis pun muncul di bibir Hyesoo setelahnya untuk membalas keramahan ahjussi supir taksi itu padanya. Hyesoo segera keluar dengan perlahan. Ia memegang sisi luar pintu yang terbuka untuk menjaga keseimbangan. Ahjussi supir taksi yang sudah menyadari keadaan Hyesoo sejak tadi hanya bisa memandang khawatir tanpa bisa secara langsung membantu Hyesoo. Menurutnya, ia tidak bisa menyentuh pelanggannya –meski hanya di lengan dan untuk alasan membantu— jika tidak ada permintaan yang terucap padanya.

.

Hyesoo memberikan salam dan ucapan terima kasih pada ahjussi supir taksi setelah memberikan uang padanya. Ahjussi itu membalas ucapan Hyesoo dengan keramahan yang serupa, sambil tetap menatap khawatir pada Hyesoo yang masih terlihat lemah. Setelahnya, Hyesoo berjalan memasuki gedung rumah sakit tanpa menoleh lagi pada ahjussi itu. Sapaan ramah diterima oleh Hyesoo dengan sisa kekuatan yang masih ia miliki. Senyum tipisnya sontak menghilang saat lift yang kosong sudah menyembunyikan sosoknya dari banyak mata yang memperhatikannya. Hyesoo menyandarkan tubuhnya di dinding lift sambil menggenggam erat pegangan yang terbuat dari besi di setiap sisi lift. Efek yang ditimbulkan oleh pergerakan lift semakin membuat Hyesoo merasa mual. Sakit kepala yang dirasakannya kini bercampur dengan rasa pusing yang menyebabkan pandangannya kembali kabur. Helaan napas panjang Hyesoo terdengar cukup keras di dalam lift yang hanya berisikan dirinya itu. Keringat dingin semakin membasahi tubuhnya bersamaan dengan semakin menghilangnya kekuatan di kedua kakinya. Sesaat setelahnya, lift pun terbuka, membuat kedua mata Hyesoo sontak terbuka. Ia segera keluar dari lift dengan langkah tergesa menuju ruangannya. Sofa menjadi tujuan utama Hyesoo setelah tiba di ruangannya. Tas dan ponsel di tangannya dibiarkan tergeletak begitu saja di lantai. Hyesoo pun duduk bersandar di sofa, lalu menutup kedua matanya dengan tangan. Napasnya masih memburu dengan dengungan cukup keras yang kini terdengar di telinganya. Tiba-tiba, pintu ruangan Hyesoo terbuka memunculkan sosok seseorang yang tidak bisa Hyesoo lihat. Hanya langkah kaki yang semakin mendekat yang dapat didengar oleh Hyesoo.

.

“Apakah kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” tanya Soyu yang sudah duduk disebelah Hyesoo.

.

Hyesoo segera melepas kedua tangan dari matanya, kemudian memindahkannya ke atas pangkuan. “Aku baik-baik saja. Sepertinya aku kelelahan setelah berkeliling pusat perbelanjaan”, jawab Hyesoo dengan suara pelannya yang masih terdengar bergetar.

.

“Astaga, Hyesoo-ya!” seru Soyu setelah menyentuh lengan Hyesoo. “Jangan coba membohongiku. Tubuhmu begitu dingin. Keringat juga membasahi pakaianmu. Kelelahan tidak akan berakibat seburuk ini”, sambung Soyu.

.

“Jangan berlebihan, Soyu-ya. Kondisiku tidak seburuk yang terdengar dari nada bicaramu”, ujar Hyesoo. Namun, reaksi tubuhnya justru berbanding terbalik dengan ucapannya. Hyesoo merasakan mual yang begitu hebat setelahnya, membuat sebuah kerutan yang dalam tergambar di keningnya. “Apakah semua baik-baik saja?” tanya Hyesoo setelahnya, berusaha untuk mengalihkan rasa mual yang menghampirinya.

.

“Kau yang tidak terlihat baik, Lee Hyesoo. Khawatirkan dirimu sendiri lebih dulu sebelum kau mengkhawatirkan yang lainnya”, ujar Soyu sambil melepaskan jubah putihnya, lalu meletakkannya di tangan sofa. Soyu pun meraih kotak tisu, lalu menarik beberapa lembar yang kemudian ia gunakan untuk menyeka keringat dingin dari kening dan leher Hyesoo. Namun, Hyesoo merebut pelan tisu di tangan Soyu dengan cepat untuk menyeka keringatnya sendiri. Soyu hanya bisa menghela napas pelan melihat sahabatnya yang selalu tidak pernah ingin menyusahkan orang lain itu. “Hubungi dokter Seo jika kau memang merasa tidak enak badan. Jangan paksakan dirimu. Karena sekarang bukan hanya kesehatanmu sendiri yang harus kau pikirkan”, sambung Soyu.

.

“Mungkin aku hanya sedang mengalami hal yang juga dialami oleh wanita hamil kebanyakan. Usia janin dalam kandunganku masih muda, kau ingat? Kelelahan sangat berpotensi membuat kondisiku seperti ini”, ujar Hyesoo.

.

“Mungkin kau benar. Tapi, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter Seo, ‘kan? Jika kau tidak ingin, maka setidaknya lakukanlah demi aku, dan calon bayimu”, pinta Soyu.

.

‘Percayalah, Soyu-ya. Aku juga sangat ingin melakukan itu. Tapi, situasiku saat ini sangat tidak memungkinkan untuk melakukannya’, kata Hyesoo dalam pikirannya. “Aku baik-baik saja, Soyu-ya. Percayalah… Jika kondisiku memburuk, aku pasti akan menemui Seo Kangjun. Saat ini aku hanya butuh istirahat”, ujar Hyesoo sambil menegakkan posisi duduknya agar dapat bernapas lebih baik.

.

“Apa kau yakin? Hyesoo-ya, aku adalah sahabatmu, kau ingat? Kau bisa mengatakan apapun padaku”, kata Soyu yang sudah menyadari bahwa Hyesoo sedang menghadapi sebuah masalah dan kemudian menyembunyikannya untuk dirinya sendiri.

.

“Aku tahu, Soyu-ya. Aku tidak akan pernah lupa. Tapi, aku memang baik-baik saja”, jawab Hyesoo.

.

Namun, yang Hyesoo rasakan justru berbanding terbalik dengan apa yang baru saja ia katakan pada Soyu. Mual yang sempat dirasakan Hyesoo justru kembali dan menjadi semakin bertambah. Seolah makanan dan minuman apapun yang berada di dalam perut Hyesoo sudah sampai di pangkal tenggorokkannya, siap untuk dikeluarkan. Hyesoo lantas menyentuh bibirnya setelah menyadari hal itu, seolah tindakannya itu bisa mengurangi mual yang dirasakan olehnya. Hyesoo segera berpura-pura menyeka sisa keringat yang melembapkan kulit disekitar bibirnya saat Soyu menoleh menatap wajahnya. Sesaat setelah Soyu kembali mengalihkan pandangannya, Hyesoo meletakkan jari telunjuknya dibawah hidung untuk menghalangi aroma apapun yang mungkin dapat semakin memacu rasa mual dalam dirinya. Kepalanya pun kembali terasa pusing. ‘Baiklah… Kau begitu, aku akan membiarkanmu istirahat’. Samar-samar Hyesoo mendengar ucapan Soyu yang menatapnya dengan senyuman tipis diwajahnya. Hyesoo hanya membalas ucapan Soyu dengan sebuah gumaman pelan.

.

Hyesoo berencana untuk terus berusaha semampunya tetap bertahan hanya sampai Soyu menghilang dibalik pintu. Namun, rupanya Hyesoo dikhianati oleh tubuhnya sendiri. Mual yang ia rasakan sudah tidak tertahan lagi. Hyesoo pun segera menghambur secepatnya ke kamar mandi di dalam ruangannya. Hyesoo mengeluarkan isi perutnya yang sebagian besar hanya air ke kloset. Melihat hal itu, Soyu segera melangkah cepat menghampiri Hyesoo di kamar mandi. Ada kerutan kecil di kening dan ekspresi khawatir di wajahnya. Dengan cekatan, Soyu meraih rambut Hyesoo, menahannya tetap berada di punggung Hyesoo yang sedang menunduk diatas kloset. Rasa mual itu masih memberikan desakan kuat di dalam tubuh Hyesoo, bahkan setelah tidak ada lagi yang mampu Hyesoo keluarkan dari perutnya. Soyu menarik beberapa lembar tisu dengan tangannya yang lain, lalu ia berikan pada Hyesoo untuk membersihkan bibirnya. Sesaat setelahnya, Hyesoo menekan tombol flush, lalu menutup kloset yang kemudian ia jadikan tempat untuk duduk. Hyesoo pun menyentuhkan jari-jarinya ke setiap sisi wajahnya untuk menghapus jejak keringat. Ia juga menyeka air yang keluar dari matanya akibat tekanan yang terjadi saat desakan rasa mual menghantamnya.

.

“Kau tidak baik-baik saja, Hyesoo-ya. Ini bukan hanya karena kelelahan, ‘kan?” tanya Soyu memastikan sekali lagi.

.

Hyesoo tidak segera menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Soyu padanya. Ia menghela napas panjang, lalu memejamkan matanya. Hyesoo menggunakan jari-jarinya untuk menghapus jejak air mata yang masih melembapkan kelopak matanya, sebelum akhirnya kembali membuka mata dan menatap Soyu dengan tatapan lemahnya. Kedua tangannya diletakkan diatas pangkuan, mengepal dan membuka berulang-ulang, mencoba menghilangkan gemetar yang dirasakannya akibat serangan mual beberapa saat yang lalu. Sebuah helaan napas kembali terdengar, kali ini diikuti dengan sebuah dehaman pelan dari Hyesoo.

.

“Apapun yang terjadi dan terlihat di ruangan ini, tetap akan berada disini. Tidak ada satu pun orang di luar sana yang akan mengetahuinya”, kata Hyesoo yang seolah tidak menanggapi ucapan Soyu. “Bisakah kau memberikan janji itu padaku?” tanya Hyesoo setelahnya.

.

“Siapapun? Bahkan Cho Kyuhyun?” Soyu balas bertanya.

.

“Terutama Cho Kyuhyun”, kata Hyesoo mengoreksi. Suara yang keluar dari bibirnya hanya terdengar bagai hembusan napas dengan kata yang terangkai menjadi sebuah kalimat, begitu pelan dan tidak bertenaga. Hal itu membuat Soyu tersadar bahwa masalah yang sedang dihadapi oleh Hyesoo kali ini kembali berpusat pada pria yang sama.

.

“Bagaimana dengan dokter Seo? Bukankah dia harus mengetahuinya?” tanya Soyu yang berusaha untuk tetap bicara dengan nada tenangnya.

.

“Aku yang akan bicara padanya”, jawab Hyesoo.

.

Kini giliran Soyu yang menghela napas panjang karena mendengar permintaan dari Hyesoo. Ia merasa begitu khawatir dengan kondisi Hyesoo yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Namun, ia juga tidak bisa menolak permintaan Hyesoo begitu saja. Kerutan kecil di kening Soyu pun kembali seiring dengan kebimbangannya untuk memutuskan tindakan mana yang harus ia lakukan. Terlebih setelah mengetahui bahwa Kyuhyun mungkin merupakan salah satu penyebab dibalik kondisi Hyesoo saat ini. Entah apa yang terjadi diantara keduanya, Soyu tidak ingin menduga terlalu jauh. Soyu hanya merasa heran dengan situasi yang tiba-tiba saja berubah dengan cepat. Selama ini hubungan Hyesoo dan Kyuhyun terlihat baik-baik saja.

.

“Baiklah…” kata Soyu yang kemudian menghela napas panjang. “Tapi, aku ingin kau menghubungiku disaat kau membutuhkan bantuan. Terutama jika kondisimu kembali seperti ini. Mengerti?” sambung Soyu.

.

Hyesoo menganggukkan kepalanya cepat, menyetujui permintaan Soyu. “Mengerti. Aku akan mengingatnya”, jawab Hyesoo.

.

“Dan kau tidak boleh menolak apapun yang kuberikan. Ka\rena saat ini aku akan mengambilkan air hangat untukmu. Mengerti, anak muda?” kata Soyu dengan nada memaksanya.

.

Hyesoo pun terkekeh dibuatnya. Soyu memaksanya dengan nada bicara dan tingkah yang begitu aneh menurut Hyesoo. Soyu berkacak pinggang, menatap Hyesoo dengan tatapan tajam yang dibuat-buat. Tentu saja hal itu membuat Hyesoo tertawa kecil meski kondisinya sedang tidak begitu baik.

.

“Cepat pergi dan ambilkan saja air hangatnya, sebelum aku menjadi semakin mual karena tertawa terus melihat tingkahmu”, kata Hyesoo dengan senyum lemah di wajahnya.

.

“Baiklah… Baiklah… Sebelumnya kubantu kau kembali ke sofa terlebih dahulu”, ujar Soyu sambil meraih lengan Hyesoo. Soyu menggandeng Hyesoo, berjalan kembali ke ruangan sampai di sofa yang semula diduduki oleh Hyesoo. “Aku tahu kau tidak akan mengatakan apapun masalah yang sedang kau alami meski aku menanyakannya berkali-kali. Aku tidak akan memaksamu. Suatu saat nanti kau pasti akan mengatakannya. Tapi, bisakah kau meyakinkanku akan satu hal, Hyesoo-ya? Apakah akan ada masalah besar setelah ini? Aku harus mempersiapkan diri menjadi pendukungmu jika memang itu yang akan terjadi”, sambung Soyu dengan sedikit nada humor dalam ucapannya.

.

Ucapan Soyu berhasil mengundang sebuah senyuman di bibir Hyesoo. Sebuah desisan juga terdengar setelahnya. Hyesoo menghembuskan napas panjang saat tubuhnya sudah kembali berada diatas sofa. Hyesoo berdeham sebelum menjawab pertanyaan Soyu dengan ketenangan yang sejak tadi ia coba pertahankan. “Maafkan aku. Dan, aku benar, aku akan mengatakannya padamu suatu saat nanti. Semua akan baik-baik saja, Soyu-ya. Aku akan berusaha membuatnya begitu”, balas Hyesoo.

.

.

.

Kyuhyun’s POV

Satu minggu kemudian

.

Situasi diantara kami belum juga membaik. Satu minggu sudah berlalu sejak pertengkaran yang terjadi melalui sambungan telepon itu. Sejak saat itu, aku tidak lagi mendengar suaranya. Satu kata pun tidak kudapatkan dalam sebuah pesan singkat. Aku dan egoku, serta kebungkaman Hyesoo, berlari bersama di jalan tanpa ujung. Tidak ada titik temu yang terlihat. Mungkin kami tersesat, atau titik itu justru semakin tertarik menjauh dari tempat kami berpijak. Aku selalu berusaha menekan ego dalam diriku agar dapat kembali memahami Hyesoo. Namun, setiap kali aku ingin kembali menjadi diriku yang waras, kejadian demi kejadian datang dan justru membuatku menjadi semakin gila. Setiap kata yang keluar dari bibirku tidak dapat kucegah, meninggalkan penyesalan yang perlahan melumpuhkanku. Aku merindukannya. Hyesoo tidak melakukan kesalahan dengan kebungkamannya. Ia sangat berhak melakukan itu setelah apa yang kulakukan padanya. Namun, hati ini tidak lantas ingin mengalah. Amarah dan ego masih memenuhinya, membuatku ragu untuk kembali melangkah.

.

Kujejakkan kaki di pelataran rumah. Bahkan suasana rumah ini juga menjadi dingin. Kehangatan yang selalu kunantikan setiap kali kembali ke rumah nampaknya sudah menghilang bersama ketenangan kami. Aku merindukannya. Biasanya, langkah ringan kaki Hyesoo sudah terdengar dari dalam rumah menuju ke tempatku berdiri saat ini. Pintu putih itu akan terbuka setelahnya, memunculkan sosok anggun dengan senyum mengembangnya yang manis. Hanya berselang beberapa saat saja sebelum hangat tubuhnya menyentuh permukaan kulitku, menyebarkan kehangatannya di sekujur tubuhku. Aku merasa sangat beruntung jika setelahnya Hyesoo memberikan sebuah kecupan manis di pipi serta bibirku. Kemudian tangan kurusnya akan meraihku, menarikku dengan tidak sabar untuk masuk ke dalam rumah bersamanya. Namun, saat ini hanya ada aku seorang diri. Keriangan dan kehangatan itu tidak datang padaku hari ini. Hanya angin dingin yang menyambut kepulanganku, bersama dengan beberapa pengurus rumah yang hanya memberikan keramaian sesaat dalam hariku.

.

“Selamat datang kembali, Tuan Muda”, kata Hong ahjussi menyambutku.

.

“Terima kasih, ahjussi” balasku sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Min ahjussi mengikuti di belakangku dengan sikap tenang khasnya.

.

“Apakah anda ingin makan siang sekarang? Kami akan menyiapkannya untuk anda”, ujar Hong ahjussi menawarkan.

.

“Tidak perlu, ahjussi. Aku kembali ke rumah hanya untuk berganti pakaian. Aku akan langsung ke rumah sakit. Ada pekerjaan yang harus segera kuselesaikan”, jawabku.

.

Aku mengedarkan pandanganku ke setiap sisi rumah, berharap bisa menemukan sosok yang kurindukan, meski dengan kebungkamannya. Namun, ia tidak ada dimanapun. Hyesoo pasti bermalam di rumah sakit lagi untuk menghindariku. Hanya helaan napas panjang yang bisa kugunakan sebagai ungkapan kehampaan yang kurasakan tanpanya. Aku sangat merindukannya. Hawa rumah ini sungguh berbeda dari yang kuingat, membuatku ingin segera kembali keluar meninggalkan hawa dingin yang mulai menyentuhku. Saat langkah kakiku terhenti di ruang utama, Min ahjumma dan pengurus rumah lainnya sudah berdiri disisi kiri dekat dapur. Mereka memberikan salam selamat datang padaku dengan senyum tulus di wajah mereka. Keramahan ini seharusnya bisa meringankan ketidaknyamanan yang kurasakan. Sepertinya aku sudah tidak bisa merasakan apapun lagi sekarang.

.

Hingga ekspresi di wajah Min ahjumma menarik perhatianku. Dibalik senyum ramah di wajahnya, aku menangkap sebuah ungkapan lain disana. Seolah ada sebuah kesedihan yang ia rasakan. Seseorang dalam diriku mengajakku untuk bertanya padanya. Namun, tubuhku tidak menunjukkan pergerakan apapun. Bahkan kini tubuhku sudah tidak bekerja sesuai dengan keinginan hatiku. Setelah menjawab sapaan mereka dengan senyum tipis yang mampu kuberikan, aku kembali melangkah menuju kamarku yang berada di lantai dua. Aku membuang jauh dugaan tidak berdasarku dan memutuskan untuk tidak bertanya pada Min ahjumma. Mungkin aku hanya sedang terlalu sensitif dengan sekitarku.

.

Setelah berganti pakaian, aku bergegas meninggalkan rumah, seperti yang kukatakan sebelumnya pada Hong ahjussi. Aku bahkan tidak mempertimbangkan untuk memeriksa ruangan satu persatu demi bertemu dengan Hyesoo. Karena aku yakin bahwa meski Hyesoo berada di rumah, bertemu denganku adalah hal yang sangat tidak ia inginkan untuk terjadi. Aku memilih untuk tetap memikirkan kemungkinan keberadaan Hyesoo di rumah sakit saat ini, sambil tetap berharap Hyesoo tidak sedang bersama pria itu. Perjalanan menuju rumah sakit pun terasa begitu sunyi, meski Baekhyun menyalakan pemutar musik dengan volume suara yang cukup keras. Hingga kusadari, bukan suasana mobil ini yang sunyi, melainkan diriku yang sedang diliputi oleh kesunyian. Dari sudut mataku, aku bisa menangkap bayangan Taemin yang beberapa kali menoleh kearahku. Entah apa yang sedang ingin ia pastikan dariku. Pandanganku tetap tertuju pada setiap hal diluar jendela. Keramaian yang terjadi di sepanjang trotoar, ekspresi ceria orang-orang yang berlalu lalang, hingga kehebohan di salah satu restaurant yang sedang memberikan promosi potongan harga besar-besaran. Semua itu bahkan tidak berhasil memperbaiki suasana hatiku.

.

.

.

At Shinsung Hospital

.

Baekhyun pun menghentikan mobil di depan pintu UGD, sesuai dengan permintaanku. Aku tidak tahu apa tujuanku melakukan ini. Sebelumnya aku sudah sempat menyerah berusaha untuk bertemu dengan Hyesoo. Namun, seseorang yang keras kepala dalam diriku tetap ingin bergantung pada kemungkinan lain yang mungkin dapat terjadi. Aku bahkan tidak tahu jadwal Hyesoo di unit ini. Aku hanya ingin menggunakan peluang kecilku untuk melihatnya disini. Aku sempat meragu untuk masuk melalui pintu kaca itu. Kedua kakiku menolak untuk diajak melangkah. Butuh waktu hingga beberapa menit sampai akhirnya aku melangkah masuk kesana. Suasana UGD yang tidak terlalu ramai memudahkan perawat yang duduk di balik meja untuk melihatku. Perawat itu menundukkan kepalanya sesaat, lalu menyapaku sambil memberikan sapaan paginya padaku. Aku hanya membalas sapaannya dengan sebuah anggukkan pelan tanpa kata yang terucap dari bibirku. Aku akan meminta maaf atas kelancanganku ini nanti. Saat ini aku sedang sangat tidak ingin bicara terlalu banyak. Kedua mataku memulai patrolinya, memeriksa setiap sudut ruangan besar ini, berharap dapat menemukan sosok Hyesoo. Namun, aku kembali tidak dapat menemukannya. Ia tidak ada disini. Mungkin Hyesoo tidak memiliki jadwal di UGD hari ini.

.

Langkah kakiku berubah menjadi lebih cepat, melewati pintu lainnya menuju koridor dalam rumah sakit. Langkah kaki yang kupercayai milik Taemin terdengar tidak jauh di belakangku. Aku tidak bisa membohongi diriku. Setiap kali kucoba untuk memahami Hyesoo dengan tidak memaksakan diri bertemu dengannya, aku justru merasa semakin ingin melihatnya. Setiap tempat yang kulewati meninggalkan ingatan akan keberadaannya. Aku merindukannya. Aku sangat membutuhkannya. Aku pun menghentikan langkahku di salah satu koridor yang terlihat lebih sepi dari sebelumnya. Aku menopang beban tubuhku dengan tangan yang menyentuh salah satu pilar di sisi kanan. Aku memejamkan mataku, berusaha menghilangkan kecemasan yang semakin mengacaukan pikiranku ini. Dari belakangku, sebuah dehaman pelan terdengar. Sekali lagi aku menduga Taemin adalah pemiliknya. Aku sangat mengetahui sikap yang akan ditunjukkan oleh Taemin saat ia merasa ragu untuk melakukan suatu hal yang menurutnya akan menggangguku. Aku selalu menegurnya dan memintanya untuk menghilangkan keraguan yang ia rasakan. Namun, saat ini keinginan untuk melakukan hal itu tidak menghampiriku. Aku tidak ingin melakukan apapun saat ini.

.

“Direktur, apakah anda baik-baik saja?” tanya Taemin akhirnya.

.

Aku menghela napas panjang. Sikapku ini mungkin akan membuat Taemin mundur beberapa langkah dariku karena sungkan. “Aku baik-baik saja”, jawabku setelahnya.

.

Aku segera membuka kedua mataku. Aku juga menegakkan posisi berdiriku. Setelahnya, kualihkan pandanganku ke ujung koridor. Aku tidak benar-benar tertarik untuk memperhatikan sekitarku saat ini. Namun, sosok yang begitu kukenali muncul beberapa saat kemudian. Aku mengerjapkan mataku beberpaa kali, memastikan bahwa sosok yang kulihat itu nyata. Akhir-akhir ini pikiranku tidak bekerja dengan cukup baik. Aku hanya perlu memastikannya saja.

.

“Sooyoung-ah!” kataku setelah benar-benar yakin dengan penglihatanku.

.

Sosok yang kupanggil itu pun menoleh ke arahku. Sebuah senyum tipis muncul sesaat kemudian di wajah datarnya. “Cho Kyuhyun. Kau sudah kembali? Kapan?” tanya Sooyoung sambil berjalan mendekat padaku.

.

“Pagi ini”, jawabku singkat. “Bagaimana dengan persiapan pernikahanmu?”

.

“Semuanya berjalan dengan baik. Sudah hampir selesai. Aku hanya perlu melakukan check list beberapa hal”, jawab Sooyoung yang menghentikan langkahnya kira-kira satu meter di hadapanku.

.

“Apakah bantuanku diperlukan?” tanyaku lagi. Sebagai kakak sepupu yang sekaligus merangkap sebagai pengganti Siwon hyung baginya, aku memiliki kewajiban untuk melakukan hal itu.

.

“Hhh… Not really. Seperti yang kukatakan, persiapannya sudah hampir selesai. Jadi, bantuanmu tidak terlalu diperlukan”, jawab Sooyoung dengan senyum tipis di wajahnya. Hela napas panjang mengikuti setelahnya, membuat kedua bahunya bergerak turun mempertegas  helaan napasnya. “Lagipula, kau bahkan tidak bisa membantu dirimu sendiri. Untuk apa menawarkan bantuan pada orang lain?” tanya Sooyoung setelahnya. Senyum itu sudah menghilang sepenuhnya saat kata demi kata keluar dari bibirnya.

.

Pertanyaan Sooyoung seolah memberikan hantaman keras padaku. Tatapan matanya begitu dingin, seperti kata yang baru saja terucap. Hawa yang dibawa olehnya juga tidak bersahabat, begitu asing kurasakan, mengundang pertanyaan keluar dari bibirku. “Apa maksudmu?”

.

“Kenapa kau melakukannya, Cho Kyuhyun?” Sooyoung kembali bertanya padaku tanpa menjawab pertanyaanku beberapa detik yang lalu.

.

“Aku tidak mengerti. Apa yang sedang kau bicarakan?” tanyaku meminta penjelasan padanya.

.

“Seharusnya kau tidak boleh melakukan itu lagi, Cho Kyuhyun. Apakah tidak cukup rasa sakit yang pernah Hyesoo eonni rasakan dulu?” ujar Sooyoung.

.

Disanalah jawaban atas pertanyaanku diletakkan. Pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Sooyoung menjelaskan arti dibalik tatapan dan sikap dinginnya padaku. Keheningan pun lantas menyelubungi kami berdua. Tidak ada kata yang terucap dari bibirku. Otakku bekerja begitu cepat, hingga tidak ada ada satu kata pun yang mampu kupilih untuk menjawab pertanyaan Sooyoung. Adik sepupuku yang hangat kini sedang berperan sebagai seorang yang lain. Tidak ada senyum cerah serta peluk erat yang selalu menyambutku. Kedua tangannya bahkan berada di dalam saku celananya, seolah menunjukkan sikap defense atas diriku. Sooyoung tetap berada di tempatnya, bertahan memandangku dengan tatapan menuntut jawaban atas pertanyaannya padaku. Sementara aku masih kesulitan untuk menemukan jawaban yang tepat untuknya.

.

“Bagaimana kau mengetahuinya? Hyesoo bicara padamu?” tanyaku mengalihkan pertanyaan Sooyoung.

.

Sooyoung tetap menatapku tajam tanpa kata. Butuh waktu hingga lima sampai enam detik hingga ia mengalihkan tatapannya dariku, menuju jendela besar yang terpampang luas di sebelah kanannya. Tatapan Sooyoung kembali padaku dengan sebuah gelengan pelan yang menyertainya, seolah sedang ia gunakan untuk mengawali jawaban yang akan ia katakan padaku.

.

“Hyesoo eonni tidak akan pernah mengatakan apapun, pada siapapun. Bahkan pada saudara kandungnya sendiri. Aku menyaksikannya. Aku melihat dan mendengar pertengkaran kalian. Kau……sudah melakukan sebuah kesalahan, Cho Kyuhyun”, jawab Sooyoung.

.

“Aku tahu. Tapi, kesalahan itu tidak sepenuhnya hanya milikku”, balasku dengan separuh keegoisan yang muncul begitu saja dari dalam diriku.

.

“Lalu? Siapa lagi pemiliknya selain kau? Hyesoo eonni? Seo Kangjun?” tanya Sooyoung. Tatapan tajam itu kembali tertuju tepat ke kedua mataku. Namun, sesaat setelahnya Sooyoung justru berdesis, diikuti dengan sebuah seringaian kecil di bibirnya. “Hhh… Baiklah. Kita sebut saja seperti itu. Kau memiliki hak untuk berpikir begitu. Tapi, aku juga memiliki hak yang sama untuk menyalahkanmu”, kata Sooyoung setelahnya.

.

“Jadi, kau juga berpikir bahwa aku salah?” tanyaku tanpa maksud menantangnya. Aku membutuhkan opini lain untuk kugunakan sebagai penguatku. Entah untuk membantuku meyakinkan diri bahwa aku benar, atau justru salah.

.

“Tentu saja. Kau tidak berpikir dengan baik sebelum bertindak. Mereka berdua hanya berteman, Cho Kyuhyun. Aku bisa menjaminnya dengan hidupku. Hari itu, aku juga berada di Lotte World bersama Hyesoo eonni. Aku dan Hyeri mengajaknya berbelanja karena kami tahu bahwa suasana hati eonni sedang tidak baik. Keberadaan Seo Kangjun disana adalah sebuah kebetulan, seperti yang eonni katakan padamu, yang sayangnya tidak ingin kau percayai”, Sooyoung menjelaskan. “Katakan padaku, Cho Kyuhyun. Bagaimana kau bisa mengetahui keberadaan Seo Kangjun disana? Setahuku, bahkan teknologi pelacak pun tidak bisa memberikan informasi itu padamu. Siapa orang itu?”

.

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Choi Sooyoung.” Aku mencoba untuk menyangkal tuduhan Sooyoung. Kutolehkan wajahku ke sisi lain, berharap aku bisa menghindari tatapan tidak bersahabat Sooyoung.

.

“Bae Suzy?” tanya Sooyoung dengan suara pelannya yang tetap terdengar tegas dan dingin. Aku tidak mengerti dengan kerja saraf di dalam tubuhku. Karena, hanya dengan mendengar ucapan Sooyoung, sontak aku kembali menatap tepat di kedua matanya. “Ternyata benar… Apa yang dia katakan padamu hingga kau menjadi begitu marah pada Hyesoo eonni? Apa kau masih menyukainya?” tanya Sooyoung sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

.

“Apa maksudmu? Tentu saja tidak. Kenapa kau berpikir seperti itu?” sangkalku.

.

“Di titik ini, situasi akan menjadi lebih masuk akal jika Hyesoo eonni yang meluapkan amarahnya padamu karena kau lebih mendengarkan ucapan mantan kekasihmu daripada kenyataan yang diungkapkan oleh istrimu sendiri, Cho Kyuhyun. Apakah kau tidak berpikir bahwa yang telah kau lakukan itu sudah keterlaluan? Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?” tanya Sooyoung dengan nada bicara yang lebih tinggi dari sebelumnya, namun tetap menjaganya tetap terdengar pelan. “Hyesoo eonni, istrimu, sedang mengandung, Cho Kyuhyun. Entah kau mengakui bayi itu atau tidak, dia tetap ada disana, di dalam tubuh istrimu! Bahkan orang asing pun mengerti bahwa seorang wanita yang sedang hamil memerlukan ketenangan. Bukan tekanan psikis seperti yang kau berikan, i-nappeun nom-ah!” seru Sooyoung kali ini dengan luapan emosi yang tidak bisa ditahannya lagi.

.

“Kenapa kau menikahinya dulu?” sambung Sooyoung. Ia sempat mengambil jeda beberapa saat, seolah menunggu reaksiku atas ucapannya. Namun, kenyataannya tidak ada kata yang mampu terucap dari bibirku. “Jangan katakan karena kau mencintainya. Karena rasanya begitu sulit untuk mempercayai itu sekarang. Tapi, jika kau tetap bersikeras berpikir bahwa kau mencintainya, maka tolong jauhi Bae Suzy, Cho Kyuhyun. Aku memang tidak tahu apa yang sudah dia lakukan padamu, pada kalian. Apapun itu, jauhi dia. Hatiku mengatakan bahwa dia memiliki tujuan yang tidak baik pada kalian. Hentikan semua ini, Cho Kyuhyun. Demi Hyesoo eonni, demi dirimu sendiri. Aku tidak ingin kau menyesal saat semuanya sudah terlambat. Dan… Aku masih sangat mengharapkan kehadiran Hyesoo eonni di upacara pernikahanku. Meski aku tidak tega untuk melakukan itu padanya. Dia begitu tersakiti dengan sikapmu. Lagi.”

.

Tanpa berniat untuk mendengarkanku, Sooyoung segera pergi menjauh dariku. Tidak ada kata maupun salam selamat tinggal yang ia berikan padaku. Ucapan Sooyoung benar-benar menamparku dengan keras. Setiap kata yang terucap seolah membangunkan akal sehatku yang sempat menghilang entah dimana. Aku tetap berdiam di tempatku, memandang sosok Sooyoung yang semakin tidak terjangkau oleh pandangan mataku. Seketika pikiranku menjadi kosong. Semua hal yang semula berkeliaran mengelilingi setiap sudut di dalam kepalaku mendadak menghilang. Aku tidak bisa memikirkan apapun. Seolah ragaku baru saja tertarik oleh hisapan putaran angin yang menuju sebuah lubang gelap, aku kehilangan diriku. Aku tenggelam dalam dunia bawah sadarku, semakin terlarut dalam lamunan panjangku. Di saat itulah, Taemin mengetahui bahwa aku membutuhkan waktu untuk diriku sendiri. Langkah kaki yang terdengar di telingaku memberitahuku bahwa Taemin memutuskan untuk meninggalkanku. Dalam diam aku bersyukur akan hal itu.

.

Aku tidak menyadari waktu yang telah kugunakan untuk berdiam diri di koridor sunyi itu. Hingga langkah kaki seseorang yang kuduga mengenakan sepasang high heels mendekat ke arahku. Aku tidak lantas menoleh pada sumber suara sepatu itu. Namun, aku tahu bahwa sudah saatnya aku kembali ke dunia nyata yang begitu menekanku. Aku menghela napas panjang sebelum akhirnya benar-benar keluar dari lamunan panjangku. Langkah kaki itu sudah berhenti beberapa saat yang lalu, menyisakan jarak yang tidak terlalu jauh dariku. Sungguh, dalam hati aku berharap bahwa Hyesoo-lah yang datang menghampiriku. Keegoisanku pun menginginkan hal itu menjadi nyata. Saat otakku kembali bekerja untuk mengisi pikiranku, hal pertama yang muncul adalah betapa aku menginginkan harapanku menjadi kenyataan. Karena dengan begitu, saat aku menoleh pada sosok yang berada didekatku itu, maka sebuah sentuhan dari telapak tangannya yang hangat akan menyentuh lembut wajahku. Sentuhan itu mungkin akan menjalar ke leher, bahu, dan punggungku, yang kemudian berakhir dengan sebuah pelukan hangat darinya. Andai aku bisa mendapatkannya semudah itu, harapku.

.

“Apa kau baik-baik saja, Cho Kyuhyun?” tanya sebuah suara yang kukenali.

.

Aku pun segera menoleh padanya, menatapnya tanpa ekspresi. Kusunggingkan sebuah senyuman tipis padanya, mencoba memberitahukan keadaanku yang sebenarnya pada wanita yang berdiri di dekatku itu. “Aku baik-baik saja, Bae Suzy”, jawabku berbohong.

.

“Wajahmu tidak berkata seperti itu”, ujar Suzy yang menangkap kebohongan dalam ucapanku. “Apakah sesuatu telah terjadi? Ada apa? Aku bisa menjadi pendengarmu, jika kau tidak keberatan”, sambung Suzy.

.

“Tidak ada kejadian lain yang menyita pikiranku selain yang sudah terjadi belakangan. Bukan sesuatu yang perlu kau khawatirkan. Aku hanya sedang sangat merindukannya. Kami tidak bicara selama beberapa hari ini. Aku bahkan belum melihat wajahnya hari ini. Kurasa dia sedang sibuk”, jawabku tanpa mengungkapkan apapun secara jelas pada Suzy.

.

“Aku sangat ingin bisa membantumu. Tapi, melihatmu dalam keadaan seperti ini saja aku sudah tidak bisa memikirkan apapun”, ujar Suzy.

.

“Tidak perlu, Bae Suzy. Aku baik-baik saja. Tapi, terima kasih atas niatmu yang ingin membantuku. Aku menghargainya”, balasku.

.

“Jika aku boleh memberikan saranku padamu, kurasa sebaiknya kau bertanya saja pada dokter Seo. Istrimu dan dokter Seo berteman sangat baik. Mereka saling mengenal dan mengerti satu sama lain. Mereka juga sering menghabiskan waktu bersama akhir-akhir ini, bukan? Mungkin saja dokter Seo bisa memberikan pendapatnya”, kata Suzy.

.

Sontak rasa tidak nyaman muncul dalam diriku. Kali ini hingga menimbulkan rasa nyeri di kepalaku. Aku pun menolehkan pandanganku sambil memejamkan mataku sesaat. “Sudah cukup, Suzy-ya. Tolong jangan buat aku semakin sakit kepala. Aku bisa menyelesaikannya sendiri, dengan caraku. Kau tidak perlu ikut campur”. Tiba-tiba kemarahan menyelimuti setiap kata yang keluar dari bibirku.

.

“O! Maafkan aku karena sudah membuatmu berpikir seperti itu. Aku tidak bermaksud untuk ikut campur dalam urusan rumah tanggamu dengan dokter Lee. Aku harap kau tidak benar-benar marah padaku. Aku hanya ingin membantumu sebagai seorang teman”, kata Suzy setelah mendengar ucapanku.

.

Rasa bersalah pun menghampiriku. Tidak seharusnya aku bicara dengan nada yang tidak bersahabat seperti itu. Suzy tidak memiliki hubungan dengan masalah yang kuhadapi. “Tidak. Kau tidak perlu minta maaf. Aku hanya sedang sangat emosional akhir-akhir ini. Amarahku tersulut dengan mudah. Maafkan kata-kataku barusan”, kataku menyesal tanpa menatapnya.

.

“Tidak apa. Aku mengerti”, balas Suzy.

.

.

.

Author’s POV

.

“Tidak. Kau tidak perlu minta maaf. Aku hanya sedang sangat emosional akhir-akhir ini. Amarahku tersulut dengan mudah. Maafkan kata-kataku barusan”, kata Kyuhyun yang tidak lantas menatap Suzy.

.

“Tidak apa. Aku mengerti”, balas Suzy setelahnya.

.

Kyuhyun menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya. Pandangannya tetap terkunci pada pemandangan di luar jendela. Kyuhyun tidak mengetahui bahwa amarah akan muncul dengan begitu mudah dalam dirinya. Kembali, ia memejamkan matanya untuk mengembalikan dirinya ke keadaan semula. Sementara sosok yang berdiri tidak jauh darinya itu dapat dengan bebas menyunggingkan seriangan di bibirnya. Ada kepuasan yang tergambar di wajahnya saat menatap Kyuhyun di hadapannya. Seringaian itu semakin mengembang menjadi sebuah senyuman kemenangan. Namun, sontak menghilang saat Kyuhyun membuka mata. Suzy berdeham pelan, mencoba menghilangkan perasaan senangnya yang hanya bisa ia ungkapkan selama beberapa saat saja.

.

“Aku harus pergi. Masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan”, kata Kyuhyun setelahnya.

.

“Baiklah. Aku harap masalahmu bisa segera terselesaikan, Cho Kyuhyun. Sangat tidak menyenangkan melihat keadaanmu seperti ini. Dan, jangan pernah merasa sungkan untuk bicara padaku jika kau membutuhkan seorang pendengar. Kita berteman, bukan?” balas Suzy.

.

Kyuhyun lantas menoleh pada Suzy, kemudian memberikan senyum tipisnya. “Terima kasih. Aku akan mengingatnya”, kata Kyuhyun.

.

Kyuhyun pun mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Suzy yang kemudian melipat kedua tangannya di depan dada. Senyum kemenangan itu kembali terlihat di wajahnya saat punggung Kyuhyun semakin jauh dari jangkauannya. Bahkan tawa kecil muncul dengan mudah menghiasi wajah cantiknya. Kemudian, Suzy memberikan sebuah lambaian tangan pelan pada Kyuhyun yang bahkan tidak melihatnya. Ia menggelengkan kepalanya masih sambil menyunggingkan senyum lebarnya. Namun, ia tidak ingin terlihat terlalu mencurigakan. Suzy pun segera berdeham pelan untuk menghilangkan kegembiraan yang meluap dalam dirinya. Sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan tempat itu dengan rasa puas pada apa yang telah ia perbuat.

.

.

.

3 hari kemudian

.

Tiga hari berlalu dengan begitu datar. Tidak ada kejadian berarti yang mampu mengubah suasana menjadi buruk. Semua hal berjalan begitu wajar, dengan ketenangan yang sangat kuat. Bahkan terlalu kuat hingga membuat Kyuhyun justru merasa resah. Ia kembali melewati hari-hari yang panjang tanpa bisa melihat sosok Hyesoo disekitarnya. Dugaan-dugaan positifnya akan kesibukan Hyesoo pun semakin terkikis seiring waktu. Ia merasa ada hal yang telah terjadi tanpa sepengetahuannya. Ekspresi Min ahjumma dan Sooyoung beberapa hari yang lalu kembali terbersit dalam ingatannya, menimbulkan rasa cemas yang lebih besar dalam dirinya. Berbagai pilihan makanan untuk sarapan sudah tersaji di hadapannya. Namun, Kyuhyun bahkan tidak menyentuh gagang cangkir teh yang letaknya tidak jauh dari jari-jari tangannya yang sejak tadi tidak henti mengetuk permukaan kayu meja makan. Dari sudut matanya, Kyuhyun dapat menangkap sosok para pegawai rumah tangannya yang berjajar menantikan perintah apapun yang mungkin diucapkan oleh Kyuhyun. Hingga sesuatu yang mengganjal menarik perhatian Kyuhyun. Wajah seorang diantara para pegawai rumah tangga yang ia kenal tidak berada disana. Bahkan ada wajah baru yang tidak dikenal oleh Kyuhyun berdiri bersama yang lainnya.

.

“Aku tahu kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku”, kata Kyuhyun pada para pegawai rumah tangganya yang berdiri tertunduk.

.

“Tanpa bermaksud untuk bicara lancang, saya tidak mengerti apa maksud ucapan Tuan muda”, balas Hong ahjussi.

.

“Apa yang sedang kalian semua sembunyikan dariku? Katakan padaku sebelum aku menjadi sangat marah”, perintah Kyuhyun.

.

“Apa yang ingin anda ketahui, Tuan muda?” tanya Min ahjumma dengan tenang.

.

“Apakah kebungkaman kalian ada hubungannya dengan Hyesoo?” Kyuhyun balas bertanya.

.

“Benar, Tuan muda”, jawab Min ahjumma singkat.

.

“Apa yang terjadi selama kepergianku?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Apakah anda tidak menyadari apapun, Tuan muda? Hari berlalu dengan begitu sunyi di rumah ini. Tidakkah anda merasa kekurangan suatu apapun?” Min ahjumma balas bertanya dengan ketenangan dalam nada bicaranya.

.

“Jadi, benar dugaanku. Hyesoo tidak berada di rumah. Dimana Hyesoo?” tanya Kyuhyun akhirnya.

.

“Maafkan saya yang tidak bisa menjawab pertanyaan anda itu, Tuan muda. Nyonya muda meninggalkan rumah tanpa mengatakan tujuannya pada kami”, jawab Min ahjumma.

.

“Jadi, kalian sudah mengetahui kepergian Hyesoo, tapi tidak mengatakan apapun padaku. Apa maksud dari semua ini?” seru Kyuhyun yang bangkit dari kursinya. “Apa tujuan kalian melakukan ini padaku? Seharusnya kalian memberitahuku di hari aku menginjakkan kaki di rumah ini beberapa hari yang lalu. Ada apa dengan jalan pikiran kalian semua?” sambung Kyuhyun dengan amarah yang menyelimutinya.

.

“Karena anda tidak bicara maupun menanyakan apapun perihal keberadaan istri anda. Kami tidak memiliki hak untuk mengatakan hal yang dilarang oleh atasan kami. Nyonya muda meminta kami untuk tidak mengatakan apapun pada anda sebelum anda menyadarinya sendiri. Kami hanya menjalankan perintah, Tuan muda”, jawab Min ahjumma tanpa terpengaruh dengan amarah Kyuhyun yang meledak.

.

“Persetan! Beraninya kalian menyembunyikan hal sepenting itu dariku. Pembicaraan ini belum selesai. Saat aku kembali ke rumah, aku ingin kalian semua berada di tempat ini tanpa terkecuali. Mengerti?” bentak Kyuhyun.

.

“Kami mengerti, Tuan muda”, jawab pada pegawai rumah tangga secara serentak.

.

“Taemin, katakan pada Baekhyun untuk menyiapkan mobil. Aku harus segera ke rumah sakit”, kata Kyuhyun pada Taemin yang berdiri tidak jauh darinya.

.

“Tapi, Direktur……”

.

“Lakukan perintahku!” seru Kyuhyun.

.

“Baik, Direktur”, jawab Taemin yang segera meninggalkan ruang makan menuju ke pintu utama.

.

Kyuhyun meraih ponselnya dari atas meja makan dengan kasar. Ibu jarinya bergerak dengan cepat mencari kontak seseorang yang perlu ia hubungi. Setelah dering ketiga, telepon pun tersambung. Kyuhyun bicara dengan seseorang di seberang telepon dengan tegas dan cepat. Satu persatu perintah ia berikan pada orang tersebut untuk mencari keberadaan Hyesoo. Ia bahkan tidak mengijinkan orang di seberang telepon memotong ucapannya sedikitpun. Kyuhyun segera meraih jasnya dari atas kursi setelah sambungan telepon berakhir. Dikenakannya jas itu tanpa berniat memasang salah satu kancing setelahnya. Kyuhyun mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruang makan. Namun, Min ahjumma menghentikan langkah Kyuhyun sesaat setelahnya.

.

“Nyonya muda memintaku untuk memastikan anda tetap sarapan selama kepergiannya. Saya harap anda bisa mempertimbangkannya”, pinta Min ahjumma.

.

“Ahjumma masih bisa mengatakan hal itu dalam situasi seperti ini? Bagaimana aku bisa makan saat aku bahkan tidak mengetahui keberadaan dan keadaan Hyesoo saat ini?” balas Kyuhyun dengan nada bicaranya yang dingin, namun masih berusaha tetap bicara dengan sopan pada wanita paruh baya yang selama bertahun-tahun merawatnya.

.

Kyuhyun segera meninggalkan meja makan setelahnya tanpa mengatakan apapun lagi. Mobil sudah disiapkan saat ia tiba di teras depan rumahnya. Taemin dengan sigap membukakan pintu penumpang untuk Kyuhyun. Setelahnya, Taemin segera masuk ke kursi samping kemudi. Mobil pun melaju meninggalkan pelataran rumah menuju rumah sakit. Dengan kecepatan yang diminta oleh Kyuhyun, mobil tiba di lobby utama rumah sakit hanya dalam waktu kurang dari 20 menit. Tanpa menunggu Taemin, Kyuhyun membuka sendiri pintunya, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Kyuhyun berjalan dengan langkah cepat tanpa membalas salam yang ia terima dari pegawai rumah sakit yang berpapasan dengannya. Ruangan pertama yang ia tuju adalah milik Jaejoong. Namun, rupanya sahabatnya itu tidak sedang berada di ruangannya. Kyuhyun pun bergegas menuju ruangan dokter yang terletak tidak jauh dari UGD. Disanalah mereka berada. Jaejoong, Soyu, dan Suho terlihat sedang membahas pasien bedah saraf yang berada dalam penanganan khusus di ruang perawatan intensif. Sementara Ryeowook sedang membaca beberapa buku yang sepertinya ia perlukan untuk menangani pasiennya.

.

.

.

Unit Gawat Darurat

Shinsung Hospital

.

“Dimana Hyesoo?” tanya Kyuhyun tanpa mengucapkan salam atau sekedar menyapa teman-temannya itu.

.

“Bukankah dia di rumah?” Ryeowook balas bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku-buku di hadapannya.

.

“Aku tidak akan bertanya pada kalian jika dia berada di rumah”, jawab Kyuhyun.

.

“Lalu, kenapa kau mencarinya disini? Kau juga tidak akan menemukannya. Empat hari yang lalu, Hyesoo mengajukan cuti selama sepuluh hari padaku”, kata Jaejoong.

.

“Cuti?” tanya Kyuhyun terkejut.

.

“Apa ini? Kau tidak tahu? Hm… Semula kukira Hyesoo sengaja mengambil cuti agar bisa berlibur bersamamu. Kemana dia? Mungkinkah Hyesoo pergi berlibur seorang diri? Kenapa aku justru berpikir ini mencurigakan, ya?” ujar Soyu kali ini.

.

“Kenapa mencurigakan?” tanya Jaejoong santai.

.

“Hyesoo tidak pernah mengajukan cuti selama itu untuk pergi seorang diri, sunbae. Akan mungkin dilakukan jika dia pergi bersama Kyuhyun. Sepuluh hari seorang diri bukan waktu yang singkat untuk Hyesoo”, jawab Soyu.

.

“Apakah mungkin kondisi Hyesoo sunbae semakin parah sampai harus mengajukan cuti selama itu?” tanya Suho yang menyela dengan dugaannya.

.

“Apa maksudmu? Kondisi Hyesoo semakin parah? Apa yang terjadi padanya?” Kyuhyun balas bertanya.

.

“Aku pernah melihat wajah Hyesoo sunbae yang pucat beberapa kali. Saat kutanya, Hyesoo sunbae hanya mengatakan bahwa dia kelelahan sampai merasa mual. Aku sudah memintanya untuk makan, tapi Hyesoo sunbae selalu menolak permintaanku. Hyesoo sunbae juga sering duduk sambil memejamkan matanya dan menyentuhkan jari-jarinya di kepala karena merasa pusing. Aku bahkan pernah melihat Hyesoo sunbae hampir pingsan di koridor lantai dua”, kata Suho menjelaskan.

.

“Beruntung, karena hari itu aku ada disana untuk menangkapnya”, kata Kangjun yang baru saja datang menghampiri mereka.

.

“O! Selamat pagi, dokter Seo Kangjun”, sapa Suho.

.

“Selamat pagi, dokter Kim Suho”, balas Suho. “Dokter Kang Soyu, bisakah aku meminta data pasien atas nama Min Seo Jin yang masuk UGD pagi ini? Aku mendapat laporan bahwa dia sedang mengandung”, sambung Seo Kangjun mengutarakan tujuannya datang ke UGD.

.

“Tentu saja. Aku akan mengirimkannya via e-mail padamu”, jawab Soyu. “Tapi, apakah kau tahu dimana Hyesoo sekarang, dokter Seo?” tanya Soyu setelahnya.

.

Seo Kangjun tidak lantas menjawab pertanyaan Soyu. Ia hanya memberikan sebuah senyum ramahnya, membuat orang-orang yang menatapnya merasa bingung. Bahkan Ryeowook yang semula sangat fokus pada buku-buku dihadapannya, dibuat menoleh karena Seo Kangjun tidak segera memberikan jawaban atas pertanyaan Soyu.

.

“Kondisi Hyesoo sudah mulai membaik. Hyesoo memang sangat kacau beberapa hari belakangan. Dia sempat tidak bisa makan, tapi selalu mual dan muntah. Hyesoo pun menolak untuk makan, seperti yang dikatakan oleh dokter Kim Suho. Aku sampai harus memberikan infuse padanya selama satu hari penuh. Hari berikutnya, Hyesoo sudah mulai bisa makan buah dan biskuit. Walaupun hanya sedikit”, kata Seo Kangjun yang justru menjelaskan hal lain, bukan memberikan jawaban atas pertanyaan Soyu.

.

“Dimana Hyesoo?” tanya Kyuhyun tanpa basa-basi.

.

Seo Kangjun pun menoleh pada Kyuhyun yang berada dalam jarak beberapa meter darinya. Tatapan tajam dari Kyuhyun tidak serta merta dibalas dengan sikap yang sama oleh Seo Kangjun. Ia justru tersenyum tipis pada Kyuhyun yang sedang begitu marah, namun juga khawatir. “Bukankah seharusnya anda yang lebih mengetahuinya, Direktur Cho?” kata Seo Kangjun memberikan respon atas pertanyaan Kyuhyun tanpa menjawabnya.

.

“Katakan saja. Dimana Lee Hyesoo?” tanya Kyuhyun sekali lagi.

.

“Sayang sekali, saya juga tidak mengetahuinya. Maaf karena tidak bisa membantu anda”, jawab Kangjun santai.

.

“Apa maksudmu? Kau baru saja memberitahukan kondisi Hyesoo pada kami. Tapi, kau justru mengatakan bahwa kau tidak mengetahui keberadaannya. Bagaimana bisa?” tanya Ryeowook kali ini.

.

“Selama ini Hyesoo yang selalu datang untuk memeriksakan diri padaku. Hyesoo datang ke rumah sakit beberapa kali, dan ke klinikku di hari lainnya. Setiap kali aku menawarkan untuk mengantarnya pulang, Hyesoo selalu menolak dengan alasan ada seorang supir yang menunggunya. Dan, memang selalu ada sebuah mobil SUV hitam yang menunggunya, yang kupercayai adalah milik keluarga Cho. Karena model dan bentuknya serupa dengan milik anda dan ibu anda, Direktur Cho”, jawab Seo Kangjun menjelaskan alasan ketidaktahuannya. “Baiklah, kalau begitu aku undur diri. Jadwal poliklinikku akan dimulai sebentar lagi. Sampai nanti, semuanya”, sambung Seo Kangjun berpamitan.

.

Seo Kangjun pun beranjak dari tempat itu tanpa bisa menjawab pertanyaan besar perihal keberadaan Hyesoo saat ini, meninggalkan suasana ruangan yang menjadi tegang setelah penjelasannya. Namun, tiba-tiba Seo Kangjun menghentikan langkahnya. Ia berbalik kembali menatap mereka yang masih berada di tempatnya masing-masing. Senyum di wajahnya sudah menghilang. Keramahan yang semula dapat dirasakan dari sikap dan tutur katanya pun seolah terbang tertiup angin.

.

“Ijinkan saya menyampaikan hal ini, direktur Cho Kyuhyun”, kata Seo Kangjun yang membuat semua orang menoleh padanya, termasuk Kyuhyun. “Sebagai salah seorang teman dari istri anda, saya sangat menyesal dengan situasi yang terjadi belakangan ini. Meski saya tidak mengetahui apapun, selaku dokter yang menangani istri anda, saya tahu ada sebuah masalah yang terjadi. Kondisi istri anda tidak berada dalam keadaan sangat baik saat ini. Saya harap masalah itu dapat segera diselesaikan. Dan setelah melihat kondisi anda, diam-diam saya ingin Hyesoo datang ke rumah sakit. Setidaknya dengan begitu anda bisa bertemu dan bicara secara baik-baik dengannya. Tapi, justru selaku dokternya, saya tidak benar-benar menginginkan kunjungan Hyesoo ke rumah sakit. Karena hal itu menandakan bahwa kondisinya tidak begitu baik. Saya harap anda tidak salah mengartikan ucapan saya. Semoga berhasil, direktur Cho”, kata Seo Kangjun sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu.

.

Sepeninggal Seo Kangjun, ruangan itu menjadi hening. Semua perhatian tertuju pada sang tokoh utama yang baru saja menjadi terduga atas kepergian Hyesoo. Menyadari situasi yang menjadi dingin, Suho memutuskan untuk meninggalkan ruangan. Ia menyadari posisinya yang tidak berhak mengetahui terlalu jauh mengenai kehidupan pribadi orang lain yang tidak memiliki hubungan dekat dengannya. Ryeowook pun bangkit dari kursinya, berjalan mendekat pada Soyu dan Jaejong yang masih menatap Kyuhyun yang bungkam setelah mendengar ucapan Seo Kangjun. Ada kerutan kecil di kening Jaejoong, menyiratkan sebuah pertanyaan yang ingin ia ajukan pada sahabatnya itu.

.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi? Ada apa dengan reaksimu pada Seo Kangjun, Cho Kyuhyun? Aku sangat mengenal atmosfir tidak menyenangkanmu ini”, tanya Jaejoong.

.

“Apakah kepergian Hyesoo ada hubungannya dengan sikapmu ini, sunbae? Apa lagi kali ini? Cemburu? Jangan katakan…” Ryeowook menambahkan.

.

Kyuhyun tidak menjawab pertanyaan kedua sahabatnya itu. Ia hanya menghela napas panjang tanpa mengatakan apapun setelahnya. Melihat hal itu, Soyu pun menyadari bahwa yang sedang terjadi memang tepat seperti yang dikatakan oleh Ryeowook barusan.

.

“Benar rupanya. Jadi kecemburuanmu pada Seo Kangjun yang memicu pertengkaran kalian. Aku sudah menduga ada sebuah masalah diantara kalian sejak aku menemukan Hyesoo dengan kondisi yang sangat buruk di ruangannya seminggu yang lalu. Saat itu, Hyesoo tidak mau memberitahuku apapun. Tapi, aku sangat yakin bahwa masalah yang terjadi padanya adalah tentangmu, meski Hyesoo terus meyakinkanku bahwa dirinya hanya kelelahan. Apa kau sudah gila? Dimana kau letakkan akal sehatmu, Cho Kyuhyun? Istrimu sedang mengandung. Kenapa kau justru memulai pertengkaran dengannya hanya karena kecemburuanmu itu?” kata Soyu.

.

“Berhenti disitu, Kang Soyu”, kata Kyuhyun yang akhirnya bersuara. “Cukup. Aku akan menyelesaikan masalahku hanya dengan Hyesoo. Dan, bisakah kalian melanjutkan amarah kalian nanti? Saat ini keberadaan Hyesoo jauh lebih penting bagiku, mengerti?” sambung Kyuhyun.

.

“Jika sesuatu terjadi pada Hyesoo, kali ini kupastikan akan sangat sulit untuk memaafkanmu, Cho Kyuhyun. Apapun alasannya”, kata Jaejoong sebelum Kyuhyun meninggalkan ruangan itu dengan membawa serta amarahnya.

.

Di luar ruangan, Kyuhyun segera mengeluarkan ponselnya. Setelah kesekian kalinya, ia kembali mencoba menghubungi Hyesoo. Namun, jawaban yang ia dapatkan tetap sama. Ponsel Hyesoo tidak bisa dihubungi. Langkah kaki Kyuhyun semakin cepat. Ia berjalan menyusuri koridor tanpa tujuan yang pasti. Hingga ponsel di tangannya bergetar kuat. Kyuhyun segera mengangkat panggilan itu, mengira Hyesoo membalas panggilan teleponnya beberapa saat yang lalu. Namun, suara yang terdengar di seberang telepon adalah milik Taemin. Kyuhyun pun menjawab Taemin dengan nada bicaranya yang dingin. Hingga kabar yang diberikan oleh Taemin mengembalikan harapannya. Taemin mengatakan bahwa ia baru saja melihat Hyesoo di rumah sakit. Setelah mengetahui lokasi terakhir Taemin melihat Hyesoo, Kyuhyun memutus sambungan teleponnya. Ia segera berlari menuju lobby utama secepat yang mampu ia lakukan. Dan, disanalah Hyesoo, sedang bicara dengan seorang perawat. Langkah kaki Kyuhyun melambat, seiring dengan usahanya untuk mengembalikan laju pernapasannya yang tersengal akibat berlari. Kesiagaannya kembali saat perbincangan Hyesoo dan perawat itu berakhir. Ia bergegas mengejar Hyesoo yang hendak berjalan menuju pintu utama. Hanya dengan beberapa langkah saja Kyuhyun mampu meraih lengan Hyesoo yang terkejut. Kyuhyun pun menarik Hyesoo agar ikut dengannya menuju sisi kiri lobby yang terlihat sepi.

.

“Cho Kyuhyun, apa yang kau lakukan? Apakah kau sudah tidak bisa bersikap dengan baik lagi sekarang?” tanya Hyesoo yang masih terkejut.

.

“Apa yang kau inginkan, Lee Hyesoo?” tanya Kyuhyun yang tidak menghiraukan pertanyaan Hyesoo.

.

Hyesoo pun melepaskan cengkraman tangan Kyuhyun di lengannya secara pelahan. “Apa lagi sekarang? Apakah kau tidak lelah bersikap seperti ini terus?” balas Hyesoo setelahnya.

.

“Jawab aku”, titah Kyuhyun.

.

“Aku ingin pulang. Hawa Rumah Sakit ini membuatku mual”, ujar Hyesoo.

.

“Apa?” tanya Kyuhyun. Kerutan kecil di keningnya menggambarkan kebingungannya akan jawab yang diberikan oleh Hyesoo padanya.

.

“Bukankah kau bertanya apa yang kuinginkan? Aku ingin pulang, Cho Kyuhyun”, kata Hyesoo memperjelas ucapannya.

.

“Dimana kau selama ini? Apakah sekarang aku sudah tidak memiliki hak untuk mengetahui apapun tentangmu? Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku? Aku suamimu. Tapi aku bahkan tidak tahu apapun tentangmu. Sedangkan pria itu, dia mengetahui keadaanmu dengan sangat baik. Apa yang kau inginkan, Hyesoo-ya? Kenapa kau memperlakukanku seperti ini?” tanya Kyuhyun tanpa jeda.

.

“Kembali padamu, Cho Kyuhyun. Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Kenapa kau tetap memperlakukan aku seperti ini? Seolah aku sudah membuat kesalahan besar padamu. Seolah yang kulakukan adalah kesalahanku sepenuhnya. Apa yang sudah menutup matamu untuk setiap kesungguhan yang kukatakan?” balas Hyesoo.

.

“Kau tidak mengindahkan permintaanku, Lee Hyesoo. Bukankah sudah kukatakan untuk tidak menemui pria itu lagi? Tapi, apa kenyataan yang justru kuterima? Aku mengetahui kondisimu melalui pria itu beberapa saat yang lalu. Apa yang membuatmu bersikap seperti ini padaku? Apa yang telah diberikan oleh pria itu padamu sehingga kau menolak untuk mendengarkanku?” kata Kyuhyun.

.

“Jadi, kau masih memiliki prasangka buruk itu padaku dan Kangjun?” tanya Hyesoo. “Kumohon, Kyuhyun-ah, jauhkan pikiran itu sebentar saja. Aku sangat lelah mendengarnya. Kapan kau bisa mempercayaiku? Kangjun tidak melakukan apapun. Kami hanya berhubungan sebagai teman baik. Hubungan lain yang kami miliki hanya sebatas hubungan profesional antara dokter dan pasiennya. Tidak bisakah kau berpikir secara lebih sederhana seperti itu? Kau dan prasangka burukmu itulah yang memperumit semua hal. Apa yang sudah kulakukan padamu sehingga kau begitu meragukanku?”

.

“Kau sudah berjanji padaku untuk mencoba saling memahami satu sama lain, untuk alasan apapun, Hyesoo-ya. Tidakkah kau mengingatnya? Kau justru tidak dapat memahamiku dengan membantahku demi pria itu. Aku sudah memberikan pilihan padamu sebelumnya, Hyesoo-ya. Jika kau mendengarkan aku dan menentukan pilihanmu, maka masalah ini sudah berakhir sejak saat itu. Kau memintaku untuk memahami dan mempercayaimu. Tapi, kau selalu membuatku kesulitan untuk melakukan itu. Aku hanya ingin kau memahamiku. Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa kau memiliki kedekatan dengannya, Hyesoo-ya. Aku hanya memintamu untuk menjaga jarak darinya. Jika kau memutuskan untuk mengundurkan diri, aku bisa membuat sebuah klinik, atau Rumah Sakit sekalipun untukmu. Apapun akan kulakukan untukmu. Tapi, kau memilih untuk membuatku merasakan kekacauan dalam diriku. Kau yang telah lebih dulu memperumit situasi diantara kita”, kata Kyuhyun.

.

“Hhh… Tentu saja. Pada akhirnya memang benar yang telah kukatakan. Akulah yang bersalah disini, bukan? Hanya aku yang telah melakukan kesalahan. Bukan hanya satu kesalahan, melainkan banyak kesalahan. Kau yang selalu benar. Aku yang telah mengingkari janjiku. Aku tidak bisa memahamimu. Aku menentangmu. Aku menyulitkanmu. Apa lagi, Cho Kyuhyun? Beritahu aku, apa yang ada di dalam pikiranmu? Aku menghiraukan peringatanmu? Membantah perintahmu? Mengkhianatimu? Atau berselingkuh darimu?” tanya Hyesoo.

.

“Aku tidak pernah menuduhmu seperti itu, Hyesoo-ya”, sangkal Kyuhyun.

.

“Tidak. Kau memang tidak mengatakannya secara langsung padaku. Tapi, sikapmu yang telah meneriakkannya dengan keras di depan wajahku, Cho Kyuhyun. Tatapan matamu, bahasa tubuhmu, dan sentuhanmu menjelaskan semua hal yang tidak terucap dari bibirmu. Aku tidak bisa melupakan ekspresi terkejut di wajahmu di hari aku memberitahukan kehamilanku padamu. Memang tidak ada kata yang terucap darimu. Tapi tatapanmu mengungkapkan keraguanmu dengan sangat jelas. Dan itu sangat menyakitiku”, ujar Hyesoo yang kemudian terisak.

.

“Semula kupikir semua akan baik-baik saja jika aku tidak tertalu memikirkannya”, sambung Hyesoo. “Kupikir tidak akan ada hal buruk apapun lagi yang akan terjadi dalam hubungan kita. Kupikir luka yang sempat tersimpan dalam diriku dapat benar-benar menghilang tanpa bekas. Ternyata hanya butuh beberapa tahun untuk membukanya lagi.

.

“Aku selalu melewati setiap hariku mencoba untuk menahan egoku agar dapat memahamimu. Aku selalu menjadikanmu prioritasku, bahkan sebelum diriku sendiri. Tapi, akhirnya semua hal yang kulakukan untukmu hanya terbuang sia-sia seperti ini. Kau kembali membuka luka lama yang pernah kau berikan padaku. Aku lelah, Cho Kyuhyun. Aku sudah sangat lelah. Aku kuwalahan menghadapimu. Entah kesalahan apa yang sudah kulakukan padamu hingga membuatmu kehilangan kepercayaanmu padaku. Entah seberapa besar rasa sakit yang kuberikan padamu saat aku meninggalkanmu bertahun lalu, hingga kau bersikap seperti ini padaku”, kata Hyesoo sambil menyeka air matanya.

.

“Jangan pernah lupakan bahwa aku bukan sebuah barang yang bisa kau miliki dan kau atur sesuai dengan keinginanmu, Cho Kyuhyun. Meski aku telah menjadi istrimu, tapi aku masih memiliki hak sepenuhnya atas hidupku. Aku melakukan apa yang kuanggap benar. Dan bagiku, tetap berhubungan baik dengan Kangjun bukanlah sebuah kesalahan besar yang pantas dibayar dengan hilangnya kepercayaanmu padaku. Maafkan aku jika kau menganggapku tidak dapat memahamimu. Tidak. Maafkan aku karena tidak dapat memahamimu. Aku menyerah. Aku tidak mampu, Cho Kyuhyun. Maaf karena aku akan mengingkari janjiku. Aku harap kau bisa menemukan seseorang yang bisa lebih memahamimu”, sambung Hyesoo yang mulai melangkah menjauh dari Kyuhyun setelahnya.

.

Namun, Kyuhyun dengan sigap menahan lengan Hyesoo. Ucapan terakhir Hyesoo seolah menjadi alarm pengingat baginya, yang membangunkan saraf-saraf di tubuhnya. “Apa maksudmu? Kau akan meninggalkanku?” tanya Kyuhyun waspada.

.

Hyesoo kembali melepaskan sentuhan tangan Kyuhyun di lengannya, kemudian melangkah mundur untuk menjaga jarak dari Kyuhyun. “Kau yang memintaku untuk menentukan pilihan, Cho Kyuhyun. Aku sudah memilih. Aku akan menuruti keinginanmu. Aku sudah mengundurkan diri dari Shinsung Hospital. Semoga sekarang kau bisa merasa senang, Direktur Cho”, kata Hyesoo yang berlalu pergi setelahnya.

.

“Tunggu! Hyesoo-ya, berhenti! Bicara padaku”, kata Kyuhyun yang kembali berhasil menghentikan Hyesoo. “Katakan bahwa kau hanya berhenti dari Shinsung Hospital, tapi tidak akan meninggalkanku. Tolong katakan bahwa kau tidak akan kemanapun. Katakan bahwa kau akan kembali ke rumah bersamaku”, pinta Kyuhyun dengan kecemasan yang telihat jelas di wajahnya.

.

“Jangan mengharapkan apapun dariku, Cho Kyuhyun. Saat ini rasanya begitu sulit untuk bersamamu. Kau sangat mencekikku”, ujar Hyesoo.

.

“Apa? Tidak, Hyesoo-ya. Kau tidak boleh melakukan itu. Kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku”, kata Kyuhyun sambil memeluk tubuh Hyesoo.

.

Hyesoo pun meronta, mencoba melepaskan diri dari rengkuhan Kyuhyun. Butuh kekuatan lebih untuk benar-benar terlepas dari Kyuhyun, karena Kyuhyun memeluk tubuhnya dengan begitu erat. “Kau juga sudah berjanji untuk tidak menyakitiku lagi! Tapi, lihat apa yang sudah kau lakukan padaku. Aku butuh udara untuk bernapas, Cho Kyuhyun. Berada didekatmu membuatku merasa sesak”, balas Hyesoo.

.

“Tidak. Kau tidak akan kemanapun, Hyesoo-ya. Tidak akan kuijinkan”, larang Kyuhyun.

.

“Aku tidak sedang meminta ijinmu, Cho Kyuhyun. Aku sangat berharap akan ada pilihan lain”.

.

“Hyesoo-ya, tolong, jangan seperti ini”, kata Kyuhyun memotong ucapan Hyesoo. “Katakan bahwa kau tidak akan meninggalkanku. Hyesoo-ya… Lee Hyesoo”.

.

Stop it! Berhenti memanggilku!” seru Hyesoo sambil menutup telinganya. “Hentikan…” sambung Hyesoo. Butuh waktu selama beberapa detik sampai akhirnya Hyesoo melepaskan kedua tangan dari telinganya dan kembali bicara pada Kyuhyun. “Semua hal yang terjadi diantara kita begitu menghantuiku. Aku bahkan mendengar suaramu memanggil namaku dengan nada menyebalkan itu dalam mimpiku. Aku lelah. Kau membuatku……sangat lelah. Jadi, kumohon hentikan, Cho Kyuhyun. Berhenti mengurungku dengan sikapmu ini. I need spaces… Beri aku sedikit jarak…darimu”.

.

Hyesoo benar-benar bisa pergi meninggalkan Kyuhyun kali ini. Karena Kyuhyun tidak bergerak sedikitpun selama beberapa saat. Otak Kyuhyun seolah berhenti bekerja setelah mendengar seruan Hyesoo. Hingga langkah ketiga Hyesoo menyadarkannya. Jiwa Kyuhyun yang seolah sempat meninggalkan tubuhnya sudah kembali ke tempat asalnya. Kyuhyun pun segera beranjak untuk mengejar Hyesoo. Namun, kakinya justru melakukan hal yang berlawanan dengan keinginan hatinya. Langkah kaki Kyuhyun tidak bergerak dengan cepat untuk segera menghentikan Hyesoo. Ada jarak yang terlihat diantara mereka, seolah ia tidak benar-benar ingin menahan Hyesoo bersamanya. Setiap kata yang dikatakan oleh Hyesoo berubah menjadi sebuah garis tegas yang tidak bisa dilangkahi olehnya. Jauh dalam lubuk hatinya, ia ingin melepas Hyesoo yang terlihat begitu menderita karenanya. Kyuhyun pun membiarkan jarak diantara mereka menjadi semakin lebar, seiring dengan melambatnya langkah kakinya. Namun, jarak itu justru semakin mengecil. Kyuhyun tidak menyadari kehadiran Hyeri yang menghentikan Hyesoo.

.

Hyeri menyentuh lengan Hyesoo, menghentikannya. Hyesoo sempat mencoba untuk melepaskan tangan Hyeri di lengannya karena menduga Hyeri sedang membantu Kyuhyun untuk menghentikannya. Namun, gelengan kepala Hyeri, serta air mata yang menetes di pipi Hyeri menyangkal dugaan itu. Isak tangis Hyeri semakin menjadi saat tatapan matanya bertemu dengan Hyesoo. Kyuhyun pun mendekat pada keduanya. Kyuhyun menyadari ada suatu hal yang tidak mampu dikatakan oleh Hyeri. Hal yang tidak memiliki arti baik dibaliknya.

.

“Hyeri-ya, berhenti menangis”, kata Kyuhyun sambil menyentuh bahu Hyeri. “Tarik napas panjang, lalu katakan apa yang sudah terjadi hingga membuatmu seperti ini”, sambung Kyuhyun.

.

“Eonni, maafkan aku…” kata Hyeri dengan suaranya yang bergetar. Tangannya yang memegang lengan Hyesoo sontak terlepas. Kedua telapak tangan Hyeri pun menyatu di depan wajahnya, menegaskan rasa menyesalnya pada tindakan yang telah dilakukannya.

.

“Ada apa, Hyeri-ya? Maaf untuk apa?” tanya Kyuhyun mewakili Hyesoo yang terdiam melihat kondisi adiknya.

.

“Maafkan aku…” kata Hyeri sekali lagi.

.

“Aku mengerti. Hyesoo pun mengerti. Tapi, ada apa, Hyeri-ya? Kumohon katakan dengan jelas agar kami bisa membantumu”, pinta Kyuhyun.

.

“Hyeri-ya… Apa yang terjadi? Kenapa kau terus meminta maaf padaku?” tanya Hyesoo akhirnya.

.

“Seharusnya aku tidak perlu bicara apapun. Seharusnya aku menutup mulutku saja. Seharusnya… Seharusnya setelah mengetahui masalah yang terjadi pada eonni dan Kyuhyun oppa aku tidak perlu melakukan apapun. Seharusnya aku percaya bahwa kalian bisa menyelesaikannya sendiri. Tapi, aku terlalu khawatir dengan keadaan eonni. Aku memberitahu eomma dan appa tentang kehamilan eonni. Aku tidak mengatakan apapun tentang masalah kalian berdua.  Aku hanya mengatakan bahwa eonni mungkin membutuhkan keberadaan mereka”, kata Hyeri menjelaskan. Namun, kemudian ucapannya terhenti. Ia tidak sanggup untuk melanjutkannya karena desakan air matanya kembali melemahkannya.

.

“Lalu? Lalu apa, Hyeri-ya? Jawab aku!” seru Hyesoo sambil mencengkram salah satu pergelangan tangan Hyeri. “Lalu apa hubungannya dengan tangisanmu ini? Lee Hyeri! Aku bilang, jawab aku!” sambung Hyesoo yang menangkap hal buruk dibalik ucapan Hyeri padanya.

.

“Hyesoo-ya, biarkan Hyeri mengambil waktu untuk menenangkan dirinya. Jangan memarahinya seperti ini”, pinta Kyuhyun.

.

“Diam, Cho Kyuhyun. Kau tidak perlu ikut campur”, balas Hyesoo. “Kau masih tidak mau menjawabku, Lee Hyeri?” tanya Hyesoo pada Hyeri lagi.

.

“Pesawat yang membawa eomma dan appa ke Seoul mengalami kecelakaan saat akan mendarat. Sampai saat ini belum ada kabar apapun mengenai kondisi korban”, jawab Hyeri akhirnya.

.

Cengkraman di pergelangan tangan Hyeri pun terlepas seiring dengan rasa lemas yang sontak menghampiri tubuh Hyesoo. Ia hanya menatap adik perempuan yang berdiri di hadapannya itu dengan tatapan kosong. Bibir Hyesoo terkatup, menghapus setiap kata yang semula berbaris rapi diujung lidahnya. Atmosfir yang tergambar diantara ketiganya menjadi begitu dingin dan sunyi. Tidak ada satu kata pun yang terdengar dari ketiganya. Sesaat setelahnya, Hyesoo menggelengkan kepalanya pelan, menolak untuk percaya pada setiap kata yang Hyeri ucapkan. Ia mengalihkan tatapannya pada apapun selain dua sosok yang berada dekat dengannya. Hyesoo meletakkan salah satu tangannya di pinggang, seperti yang selalu ia lakukan saat berusaha untuk berpikir meski ia tahu hal itu sangat mustahil untuk dilakukan. Hyesoo kembali menatap Hyeri. Kali ini ia juga menatap Kyuhyun, kemudian kembali pada Hyeri. Hyesoo terus menatap keduanya secara bergantian selama beberapa saat. Hingga sebuah helaan napas panjang terdengar setelahnya.

.

“Ada apa dengan kalian berdua? Apakah kalian sedang bekerjasama untuk merusak suasana hatiku hari ini? Aku sudah cukup muak dengan masalah yang tidak kunjung selesai dengan Cho Kyuhyun. Kau juga tahu itu, Hyeri-ya. Bisakah kau memilih kesempatan di hari yang lain untuk mengatakan gurauanmu?” protes Hyesoo.

.

“Eonni, maafkan aku… Semua ini terjadi karena kebodohanku. Aku mohon maafkan aku, eonni”, kata Hyeri yang terus saja meminta maaf pada Hyesoo.

.

“Lee Hyeri, kau tidak mendengarku? Aku bilang, hentikan gurauanmu! Aku tidak ingin mendengarnya!” seru Hyesoo.

.

“Donghae oppa dan Yoona eonni sedang dalam perjalanan menuju Seoul saat ini”, kata Hyeri sambil menyeka jejak air mata yang ada di pipinya. “Ryeowook oppa akan menemaniku ke pusat informasi maskapai penerbangan. Kembalilah ke rumah bersama Kyuhyun oppa, eonni. Aku akan memberikan kabar pada eonni secepatnya”, sambung Hyeri.

.

Sesaat kemudian, Ryeowook muncul dari arah lobby utama, membuat Hyesoo dan Kyuhyun menoleh bersamaan padanya. Ia sudah menanggalkan jubah putihnya. Dasi sudah tidak terikat di lehernya. Bahkan kancing teratas kemejanya pun ia biarkan terbuka. Tidak keceriaan yang biasa terlihat di wajahnya. Hanya ada tatapan sendu yang serupa dengan Hyeri di kedua mata Ryewook. Menyadari semua itu, Hyesoo pun mengalihkan tatapannya dari Ryeowook. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Tangan kiri Hyesoo bergerak naik, yang kemudian Hyesoo gunakan untuk menutup kedua matanya. Hyesoo menghembuskan napas panjang setelahnya. Kyuhyun yang berdiri tidak jauh dari Hyesoo pun bergerak mendekat. Kedua tangannya menyentuh bahu Hyesoo, kemudian menarik Hyesoo ke dalam pelukannya. Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya saat Hyesoo menenggelamkan wajah di dadanya. Perlahan isakan Hyesoo pun terdengar, diikuti dengan cengkraman kuat di sisi kanan dan kiri jas yang dikenakan oleh Kyuhyun. Hyesoo tidak bisa lagi menahan emosi yang bercampur satu dengan lainnya di dalam dirinya. Ia bahkan tidak mampu lagi menyangkal ucapan Hyeri setelah melihat ekspresi di wajah Ryeowook. Hyesoo menyerah, membiarkan air matanya meleleh turun menuju pipinya, yang kemudian membasahi kemeja Kyuhyun.

.

“Pulanglah ke rumah bersama Kyuhyun sunbae, Hyesoo-ya. Aku akan segera menghubungimu setelah mendapatkan kabar dari kedua orangtuamu”, kata Ryeowook yang kini merangkul bahu Hyeri dengan salah satu lengannya.

.

Namun, Hyesoo justru melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun dan berbalik menatap Ryeowook. “Tidak”, kata Hyesoo sambil menghapus jejak air mata di pipinya. “Aku akan ikut dengan kalian”, sambung Hyesoo.

.

“Tidak perlu, Hyesoo-ya. Belum ada informasi resmi yang dikeluarkan oleh pihak maskapai. Situasi disana pasti sangat ramai saat ini. Kondisimu tidak cukup memungkinkan untuk berada disana”, larang Kyuhyun sambil menyentuh bahu Hyesoo.

.

“Tapi, aku ingin ikut bersama mereka. Biarkan aku pergi, Kyuhyun-ah. Aku ingin kesana”, pinta Hyesoo bersikeras.

.

“Kyuhyun sunbae benar, Hyesoo-ya. Kau sedang hamil saat ini. Disana pasti sudah dipenuhi dengan keluarga korban lainnya, serta para wartawan yang memburu berita. Situasinya pasti sangat tidak memungkinkan untukmu. Lebih baik kau kembali ke rumah saja bersama Kyuhyun sunbae. Aku berjanji akan segera menghubungimu, hm?” bujuk Ryeowook. Sementara tangis Hyeri yang berdiri disamping Ryeowook pecah. Ia menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Ryeowook setelahnya. Hyeri merasa sangat bersalah atas kejadian yang menimpa kedua orangtuanya. Ryeowook pun mengusap pelan punggung Hyeri untuk menenangkannya.

.

“Kita tunggu kabar dari mereka di rumah, Hyesoo-ya, ya? Kumohon…” bujuk Kyuhyun kali ini.

.

“Tidak, Kyuhyun-ah. Aku tidak mau pulang”.

.

Hyesoo tetap bersikeras menolak ajakan Kyuhyun untuk kembali ke rumah mereka. Ketenangan pikiran Hyesoo sudah benar-benar menghilang saat ini. Berada di rumah tidak akan bisa membuatnya menjadi lebih tenang. Hyesoo pun menyadari bahwa kondisi tubuhnya saat ini tidak memungkinkan untuk berada di tengah keramaian yang pasti sudah terjadi di pusat informasi penerbangan. Namun, ia tetap ingin pergi kesana untuk memastikan kondisi kedua orangtuanya juga. Hyesoo tidak ingin hanya berdiam di rumah dengan kegelisahan yang membuatnya semakin sakit kepala.

.

“Kumohon, Hyesoo-ya. Jika bukan untuk dirimu, maka lakukanlah untuk bayi kita. Stay with me”, pinta Kyuhyun sekali lagi. “Kita tidak akan kembali ke rumah jika kau menolak. Kita bisa menunggu disini, di ruanganku. Aku akan mengutus Taemin untuk ikut bersama Ryeowook dan Hyeri”, sambung Kyuhyun yang kembali meraih Hyesoo ke dalam pelukannya.

.

“Tidak perlu, sunbae. Sekertaris Lee memiliki pekerjaan yang harus ia lakukan. Kami bisa pergi berdua saja”, tolak Ryeowook secara halus.

.

“Aku tidak akan membiarkanmu mengemudi dalam kondisi seperti ini. Taemin yang akan mengantar kalian. Duduklah bersama Hyeri di belakang dan tenangkan dia”, ujar Kyuhyun.

.

“Baiklah, sunbae. Kalau begitu, kami akan berangkat sekarang”, kata Ryeowook. “Apakah kau masih ingin ikut denganku?” tanya Ryeowook pada Hyeri yang menjawabnya dengan anggukkan pelan. Ryeowook pun membalas anggukkan Hyeri dengan senyum tipisnya. “Kami berangkat sekarang, sunbae”.

.

“Aku akan segera meminta Taemin untuk mengambil mobil. Hubungi kami secepatnya, Ryeowook-ah”, kata Kyuhyun yang disambut dengan anggukkan oleh Ryeowook. “Ayo, Hyesoo-ya. Kita tunggu mereka di ruanganku”, ajak Kyuhyun setelahnya.

.

Mereka pun berpisah dengan tujuan mereka masing-masing. Setelah memerintahkan Taemin untuk mengantar Ryeowook dan Hyeri, Kyuhyun segera membawa Hyesoo menuju ruangannya. Kyuhyun meminta Hyesoo untuk masuk ke ruangan terlebih dahulu, karena ia harus mengurus beberapa hal penting yang tidak bisa ditunda. Kyuhyun berjalan menuju pantri yang berada di belakang meja sekertaris yang terlihat kosong saat ia tiba disana. Tanpa ragu, Kyuhyun membuatkan secangkir teh dengan dua sendok madu untuk menenangkan Hyesoo. Derap langkah kaki seseorang yang mengenakan high heels terdengar mendekat pada Kyuhyun dengan langkah setengah berlari. Sekertaris baru Kyuhyun, Jeon Hyosung, terkejut saat melihat sosok Kyuhyun dari luar pantri. Ia segera berlari menuju pantri untuk menghampiri atasannya itu.

.

“Direktur Cho, apa yang sedang anda lakukan disini? Anda hanya perlu mengatakan yang anda butuhkan. Saya akan membuatkannya untuk anda”, kata Hyosung.

.

“Tidak perlu, Hyosung-ssi. Aku hanya sedang membuatkan teh untuk istriku”, balas Kyuhyun tanpa menoleh pada Hyosung.

.

“Oh, istri anda berada di dalam, Direktur? Adakah yang bisa saya lakukan? Apakah anda memerlukan makanan kecil atau yang lainnya?” tanya Hyosung.

.

“Tidak. Aku hanya ingin kau membatalkan semua janji pertemuanku. Kosongkan jadwalku sampai tiga hari ke depan”, jawab Kyuhyun.

.

“Baik, Direktur. Akan saya laksanakan segera. Tapi, jika saya boleh tahu, apa alasan anda membatalkannya, Direktur?” tanya Hyosung kali ini.

.

“Katakan pada mereka bahwa ada sebuah peristiwa buruk yang sedang terjadi padaku. Aku akan menerima setiap konsekuensi atas tindakanku membatalkan semua itu”, jawab Kyuhyun.

.

“Maaf karena bersikap lancang, Direktur. Satu pertanyaan terakhir. Apakah anda baik-baik saja?” tanya Hyosung.

.

“Tidak, Hyosung-ssi. Aku tidak baik-baik saja”, jawab Kyuhyun dengan senyum tipis di bibirnya. “Ayah dan ibu mertuaku mengalami kecelakaan. Aku meminta Taemin untuk mencari informasi tentang kondisi mereka. Untuk sementara waktu, aku minta kau mengisi kekosongan Taemin. Jika ada dokumen penting yang harus segera aku tandatangani, bawa saja ke dalam ruanganku. Aku ada di dalam ruangan bersama istriku. Dan, jika ada yang datang kesini, pastikan kau melakukan konfirmasi terlebih dahulu padaku. Apakah jelas?” tanya Kyuhyun.

.

“Sangat jelas, Direktur. Saya turut sedih atas kejadian yang menimpa keluarga anda”, kata Hyosung.

.

“Terima kasih, Hyosung-ssi. Bantu aku dengan tetap melakukan pekerjaanmu. Maaf karena sudah menambah tugasmu”, balas Kyuhyun.

.

“Tidak masalah, Direktur. Saya akan segera melakukan semua yang anda perintahkan”, ujar Hyosung.

.

“Sekali lagi terima kasih”, kata Kyuhyun yang kemudian berlalu meninggalkan pantri dan masuk ke ruangannya.

.

Kyuhyun pun masuk ke ruangannya, menemukan Hyesoo yang duduk di sofa sambil menopang kepala dengan tangan yang berada di atas lututnya. Kyuhyun berjalan mendekat, kemudian meletakkan cangkir yang berisi teh di atas meja. Lalu Kyuhyun melepas dasi dan jasnya, meletakkannya begitu saja di sofa single di sisi kanannya. Kyuhyun lantas duduk tepat di sebelah Hyesoo. Ia hanya bisa menatap istrinya itu dengan tatapan cemas. Selama beberapa minggu belakangan, kehidupan mereka berdua sudah diwarnai dengan banyaknya masalah yang sampai saat ini belum juga terselesaikan. Bahkan keduanya masih bertengkar hebat di lantai terbawah gedung rumah sakit itu. Tidak pernah ada yang bisa menyangka bahwa situasi diantara mereka berubah dengan cepat. Semua ego akhirnya diruntuhkan karena sebuah kejadian naas yang menimpa orang tua mereka. Dalam waktu yang begitu singkat, Kyuhyun pun mendapatkan perasaan cemas pertamanya yang begitu besar pada bayi dalam kandungan Hyesoo. Selama ini hanya Hyesoo yang selalu menjadi pusat perhatiannya. Ia akan melakukan apapun demi wanita yang dicintainya itu. Namun, rupanya, peristiwa yang baru saja terjadi berhasil membagi fokus perhatiannya. Kyuhyun merasa sangat cemas pada kondisi Hyesoo. Dan, disaat yang sama ia juga mencemaskan bayinya.

.

Tiba-tiba, Hyesoo mengangkat kepalanya, menimbulkan sikap siaga dalam diri Kyuhyun. Seolah ia akan berada dalam posisi siap untuk melakukan apapun yang akan Hyesoo minta. Namun, kesiagaan itu tidak berujung pada permintaan apapun. Hyesoo menoleh padanya dalam diam, menatap tepat pada kedua matanya. Kerutan kecil muncul di kening Hyesoo setelahnya, diikuti dengan helaan napas pelan. Melihat itu, Kyuhyun pun mendekat pada Hyesoo. Kyuhyun mengecup kening Hyesoo untuk menghapus kerutan kecil itu, lalu meraih Hyesoo ke dalam pelukannya. Hyesoo membalas pelukan erat Kyuhyun dengan kekuatan yang serupa. Hyesoo mencengkram pelan kemeja abu-abu gelap yang dikenakan oleh Kyuhyun. Tidak ada kata yang terucap dari bibir keduanya. Namun, kesedihan yang mereka rasakan justru menguap, memenuhi seluruh ruangan. Hyesoo pun membenamkan wajahnya di lekukan leher Kyuhyun dan memejamkan matanya, seolah menyerap suhu dingin kulit Kyuhyun untuk menghilangkan sakit di kepalanya. Kemudian Kyuhyun mengecup puncak kepala Hyesoo, membiarkannya tetap berada disana selama beberapa saat. Semua masalah yang terjadi diantara mereka terlupakan dan terbenam jauh untuk sementara waktu, tidak terucap atau terpikirkan bahkan untuk satu detik pun.

.

Tiga jam berlalu setelah kepergian Ryeowook, Hyeri, dan Taemin. Kabar terakhir yang Kyuhyun dan Hyesoo terima adalah tentang proses identifikasi korban yang sedang dilakukan. Setelah memastikan seluruh dokumen selesai ditandatangani, Kyuhyun membawa Hyesoo masuk ke kamar yang berada di belakang meja kerjanya. Hyesoo masih bungkam tanpa kata. Tidak ada percakapan sedikitpun antara keduanya. Mereka hanya saling mengungkapkan perasaan mereka lewat sentuhan tangan. Tatapan Kyuhyun pun lebih sering dihindari oleh Hyesoo. Kyuhyun yang semakin merasa cemas dengan keadaan Hyesoo tidak henti meminta Hyesoo untuk makan atau minum sesuatu. Namun, Hyesoo terus saja menolaknya. Bahkan teh madu yang Kyuhyun buat tiga jam yang lalu hanya diminum separuh oleh Hyesoo. Kyuhyun tidak lantas menyerah. Ia meminta Hyosung untuk membelikan semangkuk bubur yang Hyesoo sukai. Kyuhyun akan melakukan apapun untuk membuat Hyesoo makan, bahkan jika ia harus membeli makanan kesukaan Hyesoo yang berada diluar Seoul.

.

“Kumohon…” pinta Kyuhyun dengan sesendok bubur yang ia sodorkan pada Hyesoo.

.

“Berhenti dengan ‘kumohon’mu itu, Kyuhyun-ah. Aku tidak lapar. Aku tidak ingin makan apapun”, tolak Hyesoo yang akhirnya bicara pada Kyuhyun.

.

“Aku mengerti, Hyesoo-ya. Aku pun tidak ingin makan. Tapi, bagaimana dengannya? Dia pasti kelaparan”, kata Kyuhyun yang membicarakan bayinya. “Meski hanya beberapa suap, kumohon makanlah, Hyesoo-ya”, pinta Kyuhyun sekali lagi.

.

“Baiklah”, kata Hyesoo setuju. “Berikan sendok itu padaku. Aku masih bisa makan dengan tanganku sendiri”, pinta Hyesoo.

.

“Aku mengerti. Ini.” kata Kyuhyun yang memberikan sendok di tangannya pada Hyesoo. “Aku akan sangat senang jika kau bisa menghabiskan bubur itu. Tapi, aku tidak akan memaksamu”, sambung Kyuhyun.

.

Setelah melihat Hyesoo memasukkan suapan pertamanya ke dalam mulut, Kyuhyun bangkit berdiri. Ia berjalan menuju meja yang ada di sudut ruangan, tempat dimana ponselnya diletakkan untuk pengisian ulang daya. Senyum di wajah Kyuhyun menghilang, digantikan dengan kerutan kecil di keningnya. Ia membaca setiap e-mail yang masuk ke ponselnya dengan seksama. Kyuhyun tetap berusaha melakukan pekerjaan sebisanya meski dengan perhatian yang terbagi ke banyak hal. Tiba-tiba, ponsel di tangannya bergetar kuat, memunculkan nama Taemin di layarnya. Tidak segera menerima panggilan itu, Kyuhyun justru terdiam mematung memandangi layar ponsel. Pikirannya mendadak kosong. Kecemasan yang dirasakannya sontak meningkat tajam. Ia memang menunggu kabar dari Taemin sejak tadi. Namun, disaat yang sama ia tidak memiliki keberanian untuk mendengar kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi. Akhirnya Kyuhyun menerima panggilan itu di dering kelima. Ia mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Tidak ada kata yang terucap dari bibir Kyuhyun. Ia hanya membiarkan Taemin yang bicara padanya. Kebungkaman Kyuhyun pun menarik perhatian Hyesoo. Tatapan kosong Kyuhyun bahkan membuat Hyesoo meletakkan mangkuk bubur di tangannya ke atas meja.

.

“Siapa yang menghubungimu?” tanya Hyesoo.

.

Kyuhyun pun menoleh pada Hyesoo, masih tanpa kata. Wajah Kyuhyun berubah memucat, membuat Hyesoo menjadi semakin merasa khawatir. Jantung Hyesoo memacu lebih cepat setelahnya. Banyak dugaan yang muncul dalam pikirannya. Kyuhyun tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti itu saat menerima kabar buruk dari kantor cabang manapun. Kyuhyun selalu bisa mengatasi masalah yang terjadi dalam pekerjaannya. Hal itu semakin meyakinkan Hyesoo bahwa panggilan yang diterima Kyuhyun bukanlah dari salah satu karyawannya, atau dari anggota direksi cabang manapun. Hyesoo bangkit berdiri, kemudian berjalan perlahan mendekat pada Kyuhyun yang hanya berdiri mematung menatapnya.

.

“Apakah itu telepon dari Ryeowook? Atau Hyeri? Atau Lee Taemin?” tanya Hyesoo. Namun, Kyuhyun masih diam tanpa kata. Tidak ada jawaban atas pertanyaan Hyesoo. “Cho Kyuhyun, katakan sesuatu!” seru Hyesoo setelahnya.

.

“Lee Taemin”, kata Kyuhyun akhirnya pada Taemin yang bicara diseberang telepon, meminta Taemin untuk mengatakan inti dari penjelasan panjangnya tentang situasi yang terjadi disana. Kata yang terucap dari bibir Kyuhyun sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan Hyesoo.

.

“Lalu, apa yang dia katakan? Bagaimana kondisi kedua orangtuaku?” Kembali, tidak ada jawaban dari Kyuhyun. “Cho Kyuhyun!” seru Hyesoo memaksa Kyuhyun untuk mengatakan sesuatu padanya.

.

Sementara itu, helaan napas Taemin menjadi pembuka dari kabar yang akan ia berikan pada Kyuhyun. “Tuan Lee Hyun Joong meninggal di lokasi kejadian, Direktur”, kata Taemin dari seberang telepon.

.

.

.

.

TBC

.

Note:

Annyeonghaseyo, readersnim-deul!

Apa kabar kalian semua? Lagi-lagi aku dihadapkan pada situasi dimana aku harus minta maaf pada kalian. Maafkan aku karena update yang sangat terlambat ini. Sudah hampir 1 bulan, ya? Maaf ya, readersnim-deul. Karena banyak peristiwa tidak mengenakkan yang terjadi, proses penulisan FF ini jadi terhambat. Aku kehilangan semangat, niat, dan ide. Jadi, sampai sebulan deh baru selesai.

Rasanya berat sekali menulis kisah di part ini. Karena kalau dilihat, tidak ada moment bahagianya sedikit pun. Welcome to the Darkest Part of this FF. Masalah belum selesai, sudah muncul kejadian menyedihkan lainnya. Hyesoo pergi dari rumah tanpa sepengetahuan siapapun. Bahkan Kangjun tidak tahu keberadaan Hyesoo. Setelah kembali bertemu, Kyuhyun dan Hyesoo justru bertengkar lagi. Tapi, kemudian sebuah kecelakaan justru menimpa orang tua Hyesoo dan merenggut nyawa ayahnya. Bagaimana dengan keadaan ibunya? Apakah dengan kejadian itu akan melenyapkan masalah diantara Kyuhyun dan Hyesoo? Tunggu kelanjutannya di part selanjutnya. Kana pamit! Annyeonghigaseyo…

Advertisements

10 thoughts on “Beautiful Tomorrow: Part 6

  1. Ya ampun q telat bacanya, wahhhh kyu bnr2 nyebelin banget sihhh sifat u. Gak mw dengerin penjelasan dulu tp sukanya buat presepsi sendiri n terlalu percaya ma org lain drpd istri sendiri. Giliran hyeso yg sdh gak tahan n ingin pergi lagi u baru sadar, n mereka emg blm baikan tp dg kejadian kecelakaan ortu hyeso keadaan mereka sdh mulai tenang tp membuat hyeso tambah berguncang. Trs apa yaa reaksi hyeso lw tahu appanya tdk selamat. Next d tunggu cinggu

    Like

  2. Kshn sm hyesoo cobaan dtg bertubi” sm dy ,kira” akhirnya dy milih prg dr kyuhyun g ya? Kl misal hyesoo mau brsikap egois mikir gara” mslh kyu yg cemburu kemudian rumah tanggga mrk retak kemudian smp ortunya ada yg meninggal gt dy jd benci bgt sm kyu q setuju eon hehe … Abiz egois bgt kyu nyebelliiiiiiiinn tega bgt dy gituin hyesoo yg lg ngandung

    Like

  3. Aku bingung. Ini semacam 2 hal yang belum tahu ujungnya gimana. Aku harap dengan kejadian yg terjadi dengan oranf tua Hyesoo, hubungan RT mereka ga jadi retak. Tapi aku ada ke khawatiran kalau” nanti Hyesoo ga bisa bertahan di tengah cobaan yg bertubi tubi.

    Like

  4. wahhh kasiannn bangett hyesoo… bertubi tubii masalah mendatanginyaaa… padahal diaa lg hamill
    hikss.. hikss..
    ehh btw bner suzu ituu punya niat ajahat yaa???
    apaa ituu???
    masaa iaa dia oengen ngerebut kyuu… gak keganjengan.a??

    Like

  5. Nyesek,,,,,, cuma berharp hyesso g menyalahkan diri sendiri atas kematian ayahnya,karena akibatnya besar & parah banget. G cuma memperburuk kondidi fisik & psikis hyesso, tapi juga mengancam kelanjutan hubungan mereka ( kyu & hyesso)

    Like

  6. Y ampun….kenapa nasib Hye soo gini amat….satu masalah belum kelar…muncul masalah lagi…..mn bad news yg kedua ayahnya Hye soo meninggal…..
    Awas j klo kyuhyun bikin Hye soo tambah sedih lg….aku jambak juga tuh rambut

    Like

  7. hah kasian sama hyesoo kok jadinya gini ya.berita kehamilan hyesoo kenapa malah ngundang kerjadian tidak mengenakan disana-sini. Aku berharap ada salah satu dr temen kyuhyun dan hyesoo bisa memperingati bae suzy buat jauhin mereka. Ditambah kecelakaan pesawat 😥 😥 😥

    Like

  8. Pingback: Library | FanWorld FanFiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s