Beautiful Tomorrow : Part 5

Author: Okada Kana
Category: PG-15, Romance, Chapter, Sad
Cast:
Cho Kyuhyun, Lee Hyesoo (OC)
Bae Suzy, Seo Kangjun, Choi Sooyoung, Lee Hyeri, Kang Soyu, etc.
Disclaimer:
Annyeonghaseyo!!! Kana kembali hadir dengan “Beautiful Tomorrow”. Setelah beristirahat selama lebih dari dua bulan, akhirnya FF ini kembali hadir menemani kalian. Aku harap kalian belum melupakan jalan cerita dari FF Sequel ini.
FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi atau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com. Please, no bash, spam, mengejek, mengolok, dan menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Mari saling menghargai satu sama lain. Akhir kata, selamat membaca!!!
.

.
.

.
Review Part 4
“Hyesoo-ya, dimana kau?”
“Aku di kamar mandi, Kyuhyun-ah”.
“Apa kau baik-baik saja? Kau membuatku khawatir”.
“Aku baik-baik saja. Jangan berlebihan”.
“Ayo kembali ke tempat tidur. Kau butuh istirahat”.
“Aku ingin minum terlebih dahulu. Aku akan menyusul”.
“Akan aku ambilkan minuman untukmu”.
“Tidak. Aku bisa mengambilnya sendiri. Aku akan segera kembali”.
“Baiklah. Segera kembali ke kamar setelahnya”.
————————-
“Nyonya, apakah anda baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja, Kwon Rumi”.
“Saya pikir anda menangis beberapa saat yang lalu. Sekali lagi, saya minta maaf atas kelancangan saya, Nyonya”.
“Kwon Rumi… Bisakah aku mempercayaimu?”
“Tentu saja, Nyonya”.

“Tolong jangan katakan apapun yang kau lihat dan kau dengar malam ini pada siapapun. Bahkan pada Kyuhyun yang mungkin akan memaksamu untuk memberitahunya”.
“Saya akan melakukannya untuk anda, Nyonya”.
————————-
“Annyeonghaseyo, Bae Suzy ibnida”.
“Annyeonghaseyo, dokter bedah saraf, Lee Hyesoo ibnida”.
“Apa yang membawamu datang ke UGD, Lee Hyesoo?”
“Karena seorang dokter yang cantik sudah datang, maka aku tidak boleh ke UGD sekarang?”
“Aigoo… Siapa kami berani melarangmu datang kesini, Nyonya Direktur…”
“Jangan lakukan itu padaku. Posisiku di Rumah Sakit ini sama seperti kalian”.
“Tapi, kau juga istri Direktur Cho Kyuhyun, sunbae. Tetap saja berbeda”.
“Sudahlah. Aku pergi saja. Kalian ini…”
————————-
“Jangan katakan kau tidak ingin berpisah dengan pria itu”.
“Cho Kyuhyun, jangan konyol! Pria mana yang sedang kau bicarakan?”
“Seo Kangjun! Aku bersungguh-sungguh saat mengatakan bahwa aku akan memecatnya”.
“Aku tidak akan menjauh darinya. Aku membutuhkannya”.
“Lebih dari kau membutuhkanku?”
“Damn it! Cho Kyuhyun, apa yang ada dipikiranmu? Kau adalah suamiku. Aku mencintaimu. Sementara Seo Kangjun adalah sahabatku, dokterku. Kalian memiliki posisi yang berbeda dalam hidupku”.
“Jika kau mencintaiku, seharusnya kau sudah sangat memahamiku”.
“Dia adalah seorang dokter kandungan. Aku hamil, Kyuhyun-ah. Aku sering menemuinya untuk memeriksakan kandunganku”.
“Apa? Kau…… hamil? Bayiku? Kau……. benarkah? Apakah itu ben……”
“Apa ini? Kyuhyun-ah… Kau pikir bayi yang ada didalam rahimku bukan milikmu, begitu?”
“Bukan begitu. Aku hanya……”
“Lepaskan aku! Mundur! Jangan sentuh aku! Aku tidak bisa bicara denganmu”.
“Hyesoo-ya, jangan pergi”.
“Kau membuatku meragukan banyak hal tentang kita berdua. Dan, kupikir aku akan menjadi sangat marah jika tetap berada disini bersamamu”.
————————-
.
.

.
Beautiful Tomorrow
Part 5

.

.
.
Kyuhyun’s POV
Malam itu di tempat berbeda
Shinsung Hospital

Kesunyian mengisi setiap sisi ruangan ini. Tidak ada penerangan yang membuatnya tampak mempesona seperti biasanya. Hanya ada satu cahaya temaram yang terlihat dari sebuah lampu diatas meja kecil di samping sofa. Meski cahaya bulan sedikit membantu penerangan, namun kegelapan yang terjadi tetap tidak terelakkan. Karena kegelapan yang ada bukan hanya disebabkan oleh kurangnya sumber penerangan, melainkan juga karena buruknya suasana hatiku saat ini. Tubuhku sudah terbaring di sofa panjang ini sejak beberapa jam yang lalu. Aku meletakkan kepalaku pada lengan sofa, dengan sebuah bantal sebagai penumpu. Sebelah lengan kugunakan untuk menutup mataku, menghalangi cahaya dari pandanganku. Aku tetap bertahan dalam posisi ini setelah pertengkaran dengan Hyesoo. Aku memutuskan untuk tidak kembali ke rumah. Aku khawatir keberadaanku di rumah justru akan mengganggu emosi Hyesoo.
.

Aku merasa begitu lelah, bukan karena pekerjaan yang biasanya menguras tenagaku. Aku terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini. Otakku bekerja setiap saat. Setiap kemungkinan selalu datang tanpa memberikan jeda untukku beristirahat. Aku tidak pernah merasakan keresahan sebesar ini sebelumnya. Bahkan disaat Kim Jaejoong mendekati Hyesoo bertahun lalu, atau saat Lee Soohyuk memiliki hubungan yang begitu dekat dengan Hyesoo. Kali ini aku dapat merasakan perbedaannya. Api membakarku begitu mudah, menyulut emosiku hingga meluap tanpa batas. Aku kembali melakukan sebuah kesalahan. Pada akhirnya hanya penyesalan yang kumiliki setelah semua kata yang kuucapkan pada Hyesoo. Entah apa yang merasuki diriku. Aku tidak kuasa menahan amarahku. Setelah semua hal yang kulakukan pada Hyesoo di masa yang lalu, setelah kata maaf yang diberikan oleh Hyesoo padaku, aku kembali memberikan goresan di hatinya. Seharusnya aku bisa mengendalikan diriku, bahkan saat hati ini merasa begitu resah.

.
“Kau sangat bodoh, Cho Kyuhyun”, kata itu keluar bersama helaan napas beratku.
.

.
.
Author’s POV
Flashback
Tadi siang di Shinsung Hospital
Beberapa jam sebelum pertengkaran

.
Kyuhyun berjalan seorang diri di sepanjang koridor lantai dasar Rumah Sakit tanpa pendampingan dari siapapun. Setelah kembali dari kantor pusat J Corp, Kyuhyun memberikan waktu pada Lee Taemin dan Byun Baekhyun untuk beristirahat. Sebuah panggilan darurat dari Rumah Sakit yang masuk ke ponsel Hyesoo pagi ini membuatnya harus merelakan Hyesoo pergi. Jam tangannya menunjukkan 23 menit sudah terlewatkan dari pukul 2 siang. Satu jam yang lalu Kyuhyun sudah menerima panggilan telepon dari Hyesoo yang mengatakan bahwa operasi yang ditanganinya sudah selesai. Karena itu, Kyuhyun melangkah cepat, lengkap bersama senyum mengembang di wajahnya menyusuri koridor Rumah Sakit. Kyuhyun ingin segera menemui Hyesoo. Ia akan merasa lebih beruntung jika sebuah senyuman manis juga didapatkannya dari Hyesoo. Kyuhyun berjalan masuk melalui pintu bangsal bedah, lalu disambut dengan begitu ramah oleh seorang perawat yang berpapasan dengannya. Kyuhyun langsung menanyakan keberadaan Hyesoo padanya. Perawat itu mengatakan bahwa Hyesoo sudah keluar dari bangsal kurang lebih 20 menit yang lalu untuk makan siang. Ucapan terima kasih dan sebuah senyuman pun Kyuhyun berikan pada perawat yang memberikan informasi itu padanya. Kyuhyun kembali berjalan tergesa, menuju food court yang selalu didatangi oleh Hyesoo jika sedang dalam keadaan sangat lapar.
.

Langkah Kyuhyun melambat saat hampir tiba di food court. Ia mengatur napasnya yang sempat terengah karena berjalan terlalu cepat dan terlalu bersemangat. Kyuhyun juga merapikan jas serta dasinya beberapa meter dari food court. Langkah Kyuhyun terhenti di pintu masuk food court. Ia menemukan keberadaan Hyesoo di salah satu meja ditengah ruangan. Senyumnya mengembang saat melihat wajah berseri Hyesoo yang tertawa dengan senyum terbaiknya. Namun, senyum diwajah Kyuhyun sontak menghilang saat kedua matanya mengikuti arah tatapan Hyesoo. Seo Kangjun duduk tepat dihadapan Hyesoo dengan senyum yang serupa dengan Hyesoo. Tawapun hadir diantara mereka setelahnya. Keriangan jelas berada diantara keduanya. Hyesoo terlihat begitu bersemangat saat berbicara pada Kangjun. Hyesoo bahkan menyentuh lengan Kangjun, lalu mengayun-ayunkannya pelan dengan wajah yang begitu sumringah. Hyesoo tidak menyadari kehadiran Kyuhyun yang memperhatikannya dari kejauhan. Amarah menyelimuti Kyuhyun begitu cepat. Tanpa sadar kedua tangan yang berada disamping tubuhnya sudah mengepal kuat. Senyum lebar yang terlihat diwajah Yunji dan Kangjun semakin membakar emosi Kyuhyun, hingga ia tidak ingin melihatnya lebih lama lagi. Kyuhyun pun berbalik, lalu melangkah pergi membawa serta kemarahan yang dirasakannya. Kyuhyun terus berjalan tanpa ingin berbalik sedikitpun, membuatnya melewatkan situasi yang sebenarnya terjadi. Soyu dan Ryeowook menghampiri Hyesoo dan Kangjun beberapa menit setelahnya dengan nampan berisikan makan siang di tangan mereka.

.
Jarak Kyuhyun dengan food court sudah cukup jauh saat ia sontak melambatkan langkahnya karena melihat sekelompok karyawan rumah sakit beberapa meter dihadapannya. Kyuhyun menghela napas panjang setelahnya untuk meredakan amarah yang ia rasakan. Ia tidak ingin terlihat kacau dihadapan para karyawan yang berpapasan dengannya. Namun, Kyuhyun tidak bisa menutupi kerisauan yang dirasakannya begitu saja. Terbukti dengan ekspresi dingin yang tetap bertahan diwajahnya saat karyawan-karyawan itu menyapanya. Kyuhyun hanya membalas salam dari para karyawan dengan sebuah anggukan pelan, tanpa kata apapun yang keluar dari bibirnya. Kedua tangannya masih terkepal kuat dan rahangnya masih terkatup keras. Hingga seseorang menyentuh bahu kiri Kyuhyun dari arah belakang. Kyuhyun menoleh cepat, diikuti dengan tatapan tajam yang ia berikan pada orang yang menyentuhnya. Kerut dikeningnya seketika menghilang saat ia melihat sosok yang baru saja menyentuh bahunya pelan.
.

“Hari masih terlalu dini untuk meledak, Cho Kyuhyun. Tenangkan dirimu. Tidak baik jika para karyawan melihat ekspresi menyeramkan ini diwajah direktur mereka”, kata Suzy.

.
“Aku sudah berusaha”, balas Kyuhyun singkat.
.

“Usahamu tidak membuahkan hasil yang cukup baik”, kata Suzy. “Ne, selamat siang”, Suzy membalas sapaan seorang karyawan dengan senyum cerahnya.

.
“Senyummu terlalu lebar, Bae Suzy”, kata Kyuhyun dengan nada datarnya, membuat Suzy mengernyitkan keningnya.
.

“Wajahmu terlalu kaku, Cho Kyuhyun. Like a statue. Ayo, ikut denganku. Kau butuh lebih banyak oksigen didalam kepalamu”, balas Suzy sambil menarik Kyuhyun agar ikut bersamanya.

.
Meski sempat enggan, namun akhirnya Kyuhyun setuju dengan ajakan Suzy. Ia melangkah tidak jauh dibelakang Suzy, mengikuti kemanapun Suzy membawanya. Suzy sempat berhenti didepan vending machine untuk membeli dua kaleng minuman dingin. Suzy menyerahkan sekaleng jus jeruk pada Kyuhyun sebelum kembali berjalan. Kyuhyun sempat berdiam diri sambil menatap kaleng jus jeruk yang dingin ditangannya. Suzy sampai harus kembali menariknya untuk membuat Kyuhyun kembali berjalan bersamanya. Keduanya pun tiba di balkon rumah sakit yang menghadap ke arah barat, sehingga matahari tidak menyentuh mereka. Suzy pun berjalan mendekat pada pagar pembatas yang terbuat dari beton tebal dengan banyak tanaman yang diletakkan disana. Ia melepaskan jubah putihnya, lalu bersandar menghadap pada Kyuhyun yang masih berdiri tidak jauh dari pintu kaca. Kaki Kyuhyun tidak lantas melangkah mendekat dengan mudah. Kejadian yang pernah terjadi padanya di Jepang meninggalkan jejak ingatan yang tidak mudah ia lupakan. Setelah kejadian itu, berdiri terlalu pinggir disebuah daratan dengan ketinggian tempat yang lebih dari satu meter tidak lagi menjadi pilihan hal yang ingin dilakukannya.
.

“Kenapa kau hanya berdiri disana? Kemari, mendekatlah. Pemandangan disini sangat indah”, kata Suzy.

.
“Tidak. Aku lebih nyaman tetap disini”, tolak Kyuhyun dengan halus.
.

“Kau lebih nyaman berada disana atau kau tidak ingin berada dalam jarak yang dekat denganku?” tanya Suzy.

.
“Tidak seperti itu, Suzy-ya. Aku mengatakan hal yang sesungguhnya. Jarak ini adalah zona amanku. Kau tidak memiliki andil apapun atas sikap waspadaku saat ini… dalam konteks positif, tentu saja”, jawab Kyuhyun meyakinkan Suzy.
.

“Baiklah, jika kau tetap bersikeras. Aku tidak akan memaksamu”, kata Suzy santai. “Tapi, bolehkah aku menanyakan sesuatu?” tanya Suzy.

.
“Kau baru saja mengajukan sebuah pertanyaan”, kata Kyuhyun dengan senyum tipis yang akhirnya muncul dari bibirnya.
.

“Hhh… Kau tersenyum. Aku anggap itu sebagai sebuah persetujuan”, kata Suzy yang kemudian berjalan mendekat pada Kyuhyun. Ia pun duduk disebuah bangku panjang berwarna cokelat tua, lalu memangku jubah yang berada di tangannya. “Aku hanya ingin tahu, Kyuhyun-ah. Kau boleh tetap diam jika tidak ingin menjawab pertanyaanku. Tapi, aku ingin sekali membantumu. Apa yang membuatmu begitu marah, Cho Kyuhyun?” tanya Suzy.

.
“Sesuatu yang tidak perlu kau khawatirkan”, jawab Kyuhyun dengan ketenangan yang sudah mulai kembali padanya.
.

“Aku mengerti. Aku tidak bermaksud membuatmu mengatakannya disaat kau tidak ingin membahas hal itu pada siapapun. Tapi, kita berteman, bukan? Aku bisa melihat kerisauan yang sedang kau rasakan itu. Ada apa? Apakah kau merasa cemburu karena melihat istrimu begitu dekat dengan dokter Seo Kangjun?” tanya Suzy kali ini. Seolah bisa membaca isi pikiran Kyuhyun, Suzy mengucapkannya dengan mudah.

.
“Bagaimana kau tahu?” Kyuhyun balas bertanya pada Suzy.
.

“Aku bukan seseorang yang baru mengenalmu kemarin, Cho Kyuhyun. Ekspresi yang muncul diwajahmu saat melihat mereka berdua tertawa bersama cukup menjelaskan segalanya. Aku tidak terlalu terkejut melihatnya”, jawab Suzy.

.
“Hhh… Seharusnya kau terkejut, Bae Suzy. Karena aku tidak pernah terlihat seperti ini sebelumnya, saat kau berada disekitarku”, kata Kyuhyun.
.

“Maksudku, bukan ekspresi diwajahmu yang tidak mengejutkanku. Tapi, kecemburuan yang muncul dalam dirimu yang tidak membuatku terkejut. Siapapun akan memiliki perasaan yang sama denganmu jika melihat wanita yang kau cintai dekat dengan seorang pria, meski pria itu hanya berstatus sebagai temannya. Aku tidak sedang mencoba untuk memperburuk suasana hatimu, Cho Kyuhyun. Aku hanya ingin kau merasa lebih relaks dalam menghadapi situasi ini. Mereka berdua hanya berteman. Aku tahu, mereka memang berhubungan cukup dekat dan itu membuatmu tidak nyaman. Tapi, kurasa kau harus berpikiran positif. Kedekatan mereka ‘sebagai teman’ sudah terjadi sejak mereka kuliah bersama di London, Kyuhyun-ah. Jadi, tidak heran jika istrimu terlihat begitu nyaman berada dekat dengan dokter Seo Kangjun”, kata Suzy dengan sikap yang santai.

.
“Tunggu. Apa maksudmu? Kau bilang, mereka sudah berhubungan dekat sejak masa kuliah di London? Jadi, bukan hanya Lee Soohyuk yang pernah berhubungan dekat dengan Hyesoo?” tanya Kyuhyun.
.

“O! Ternyata kau juga mengenal dokter Lee Soohyuk. Aku tidak menduganya. Tapi, kenapa istrimu tidak menceritakan tentang dokter Seo Kangjun juga padamu?” tanya Suzy.

.
“Entahlah… Mungkin karena aku tidak pernah menanyakannya”, jawab Kyuhyun nada muram.
.

“Mungkin kau benar…” balas Suzy setuju dengan pernyataan Kyuhyun. “…atau mungkin juga tidak”, sambung Suzy yang lantas mengundang emosi dalam diri Kyuhyun untuk kembali muncul.

.
Amarah yang kembali dalam diri Kyuhyun terlihat jelas dari tatapan matanya yang tajam. Sebuah kerutan kecil di keningnya juga terlihat setelahnya, diikuti dengan rahangnya yang mengatup keras. “Apa yang kau ketahui, yang justru tidak kuketahui?” tanya Kyuhyun.
.

“Aku sudah mengatakannya padamu. Istrimu dan dokter Seo berhubungan dekat saat kuliah. Saat itu, dokter Lee Soohyuk memiliki hubungan yang fluktuatif dengan kekasih yang selanjutnya menjadi istrinya. Aku sempat belajar di salah satu kampus di London kala itu. Saat tiba di Seoul dan bertemu dengan mereka berdua, aku merasa pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. Hingga aku benar-benar mengingatnya. Aku sering melihat mereka berempat berpergian bersama waktu itu. Tidak pernah ada yang lainnya, hanya ada dokter Lee Soohyuk dan kekasihnya, serta dokter Seo dan dokter Lee. Kudengar dari seorang temanku, dokter Seo dan dokter Lee sempat berhubungan. Tentu saja hubungan yang dimaksud oleh temanku bukanlah sebuah hubungan pertemanan”, jawab Suzy menjelaskan.

.
“Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?” tanya Kyuhyun.
.

“Karena kau tidak pernah bertanya. Lagipula, kenapa aku harus mengatakannya padamu? Aku tidak ingin merusak hubungan kalian hanya dengan sebuah cerita di masa lalu. Dan, aku baru melihat kecemburuanmu hari ini, Cho Kyuhyun. Jangan lupakan hal itu”, jawab Suzy. “Tapi, Cho Kyuhyun, tidakkah kau salah mengajukan pertanyaan? Seharusnya kau bertanya padanya. Bukan padaku. Hanya dokter Lee yang bisa memberikan alasan atas sikapnya yang tidak pernah menceritakan hubungan pertemanannya dengan dokter Seo sejak lama”, sambung Suzy.

.
Sebuah helaan napas kasar terdengar setelahnya. Kyuhyun menundukkan kepalanya, lalu memejamkan matanya rapat-rapat. Amarah yang ia rasakan tidak dapat terbendung lagi. Ia merasa benar-benar marah. Ternyata hubungan diantara Hyesoo dan Seo Kangjun tidak sesederhana yang ada dalam pikirannya. Keinginannya untuk menyingkirkan pria itu dari hadapannya menjadi semakin besar. Kyuhyun ingin sekali segera menghampiri pria itu dan menendangnya keluar dari rumah sakit. Namun, Kyuhyun tidak bisa melakukannya begitu saja. Karena meskipun ia begitu ingin melakukan hal itu, ia tetap harus menjaga perasaan Hyesoo. Amarah yang Kyuhyun rasakan setelah mengetahui hubungan keduanya di masa lalu tidak serta merta membuatnya merasa marah juga pada Hyesoo. Ia tetap Cho Kyuhyun yang akan berusaha melindungi Hyesoo. Kyuhyun hanya ingin menjauhkan pria itu dari istrinya, dengan cara apapun yang mampu dilakukannya.
.
.

Flashback end…
Cerita bersambung ke pertengkaran Kyuhyun dan Hyesoo
di Beautiful Tomorrow Part 4

.

.
.

Hyesoo’s POV
Keesokkan harinya
Shinsung Hospital

.

Hari kembali berganti dengan cepat. Kegelapan malam telah disingkirkan oleh matahari yang bersinar terang diluar sana. Aku baru saja menyelesaikan jadwalku di poliklinik untuk menangani pasien-pasien yang melakukan rawat jalan. Dua sampai tiga jam mendatang, aku harus kembali melayani pasien-pasien yang akan datang untuk konsultasi. Aku belum kembali ke rumah. Aku sedang tidak ingin. Ruangan kerjaku sepertinya lebih bisa membuatku merasa nyaman. Suasana hatiku tidak kunjung membaik sejak pertengkaranku dengan Kyuhyun kemarin. Sakit kepala yang kurasakan akibat kurang tidur semalam bahkan semakin memperburuk suasana hatiku. Aku merasakan lelah di sekujur tubuhku, namun lelap mulai menjauhi tidurku. Pertengkaran yang terjadi kemarin memberikan efek luar biasa pada tubuhku. Seolah angin kencang yang begitu dingin menghantamku dengan keras, gemetar kurasakan disetiap inchi tubuhku karenanya. Sesak yang dulu pernah menghampiriku kembali memunculkan rasa sakit di dadaku. Aku kuwalahan. Bahkan sebelum mimpi buruk itu datang menghantui tidurku, aku sudah dibuat kelelahan.
.

Tiba-tiba sebuah ketukan pintu yang cukup keras mengejutkanku. Aku mempersilahkan si pengetuk untuk masuk setelahnya. Pintu pun terbuka, memunculkan sosok ibu mertuaku yang memberikan senyum hangatnya. Senyum yang tidak biasa. Beliau memang tersenyum, tapi ada kekhawatiran dibalik senyum itu. Arti lain perlahan mulai terungkap dari balik senyuman itu. Ada sebuah rasa penyesalan, seolah beliau sedang meminta maaf padaku. Setelah berdiam diri di ambang pintu untuk waktu yang cukup lama, beliau pun masuk ke dalam, menutup rapat pintu dibelakangnya. Aku segera bangkit berdiri, kemudian mempersilahkan beliau untuk duduk di sofa. Kami duduk bersama. Belum ada kata apapun yang terucap sejak tadi, memunculkan kecemasan kecil dalam diriku. Aku masih belum mengetahui apa makna yang tersimpan dibalik tatapan menyesal itu. Aku juga belum mengetahui maksud kedatangan beliau ke ruanganku. Rasanya jauh lebih menenangkan jika beliau memanggilku ke ruangannya, atau ke rumahnya.

.
“Apa kau baik-baik saja, Hyesoo-ya?” tanya eomeoni akhirnya.
.

Aku menghela napas panjang secara perlahan, berusaha menutupi ketegangan yang kurasakan hingga beberapa saat yang lalu. “Aku baik-baik saja, eomeoni. Kenapa eomeoni bertanya seperti itu padaku?” jawabku.

.
“Aku sudah mengetahui semuanya”, jawab eomeoni.
.

“Ne?” tanyaku bingung.

.
“Aku berniat untuk menemui Kyuhyun kemarin. Tapi, pertengkaran kalian menghentikanku. Aku sudah mendengar semuanya”, jawab eomeoni. Kali ini senyum diwajahnya benar-benar menghilang. Aku menduga dalam pikiranku mungkinkah ini tujuan utamanya datang menemuiku.
.

“Eomeoni… Maafkan aku”, kataku menyesal. Aku memang tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh ibu mertuaku. Tapi, kurasa meminta maaf terlebih dahulu tidak ada salahnya.

.
“Kenapa kau meminta maaf padaku, sayang? Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Kyuhyun yang bersalah dalam hal ini. Dia tidak bisa berpikir jernih”, kata eomeoni menjawab setiap dugaan didalam kepalaku. Beliau tidak datang untuk menyalahkanku.
.

“Mungkin suasana hati Kyuhyun hanya sedang tidak baik, eomeoni. Dia terlalu lelah bekerja”, kataku. Aku tidak sedang mencari simpati dari ibu mertuaku sendiri. Aku juga tidak sedang berpura-pura mengerti kondisi Kyuhyun. Karena jauh dalam diriku, pengertian itu muncul dengan sendirinya. Seolah aku sudah terbiasa dengan sifat yang dimiliki oleh Kyuhyun.

.
“Kau sedang membelanya?” tanya eomeoni.
.

Aku mulai terbata. Tatapan beliau saat bertanya padaku terlalu tajam hingga membuatku kehilangan keteguhan hatiku. Seolah aku baru saja mengatakan hal yang salah. Mulutku sudah terbuka selama beberapa detik, namun satu kata pun belum keluar untuk memberikan jawabanku pada eomeoni. “Aku hanya memilih untuk berpikir kearah yang lebih positif tentangnya”, jawabku akhirnya.

.
“Kau terlalu sering mengalah darinya, Hyesoo-ya. Sampai kapan kau harus selalu begitu? Kyuhyun begitu pencemburu. Dia selalu berubah menjadi seorang pemarah jika kecemburuan sedang membakarnya. Dia bahkan tidak sadar bahwa sikapnya itu bisa menyakitimu”, kata eomeoni. Ucapan beliau seolah menjadi pukulan keras yang membawaku ke dunia nyata. Benarkah itu situasi yang selalu terjadi diantara kami? Apakah hanya aku yang selalu mengalah padanya? Pertanyaan itu muncul didalam pikiranku tanpa kusadari.
.

“Dia mencintaiku, eomeoni. Mungkin itu alasan dibalik sikap yang ditunjukkannya”. Kalimat itu keluar dari bibirku begitu saja. Hati dan pikiranku kembali tidak berjalan bersama.

.
Eomeoni menyentuh tanganku, kemudian membawanya ke pangkuannya. Beliau menggenggam tanganku dengan lembut. “Percayalah, aku tahu dia sangat mencintaimu. Dia tidak pernah mencintai seorang perempuan selain keluarganya sebesar ini. Tapi sikapnya semakin tidak mudah untuk dimengerti. Entah apa yang membuatnya bersikap begitu posesif padamu”, ujar eomeoni.
.

“Mungkin itulah sebabnya dia bersikap begitu posesif padaku. Eomeoni ingat? Aku pernah meninggalkannya. Dia begitu hancur kala itu. Aku yang membuat sikap posesif itu muncul dalam dirinya”, balasku.

.
“Kau kembali mencoba untuk mengerti dirinya. Jangan lupa, Hyesoo-ya, my dear, saat itu Kyuhyun telah menyakitimu. Kau lebih hancur darinya. Dia menuai akibat dari apa yang telah dilakukannya padamu. Tapi, kau tidak pantas mendapatkan rasa sakit itu. Begitupun dengan yang kau rasakan kali ini. Jangan salahkan dirimu, sayang. Salahkan si bodoh itu”, kata eomeoni yang kemudian mengundang senyum tipis diwajahku. Ini adalah kali pertama bagiku mendengar eomeoni menyebut anak laki-lakinya itu bodoh.
.

“Hhh… Kurasa Kyuhyun sedang tidak dalam kondisi untuk disalahkan. Dia sudah terlalu marah saat ini, eomeoni”, balasku.

.
“Aigoo… Kau ini”, kata eomeoni sambil menepuk pelan tanganku di pangkuannya. “Kenapa kau tetap bersikap sebaik ini dalam menghadapi anak nakal itu? Seharusnya kau menghukumnya”, sambung eomeoni dengan kesungguhan dalam ucapannya.
.

Senyum di bibirku semakin mengembang dibuatnya. “Percayalah, eomeoni. Aku sangat ingin memukulnya saat ini. Tapi, aku lebih membutuhkannya. Aku sangat merindukannya”, kataku jujur. Tiba-tiba saja air matatu menetes. Apa ini? Bibirku jelas sedang tersenyum, tapi apa ini? Keningku pun berkerut setelahnya, diikuti dengan hilangnya senyum di bibirku. “Ada apa denganku? Aku sangat melankolis akhir-akhir ini”, sambungku sambil menghapus jejak air mataku, mencoba mengalihkan pikiranku secepatnya.

.
“Kemarilah, anakku”, kata eomeoni yang segera meraihku kedalam pelukannya. “Menangislah, jika itu bisa melegakan hatimu. Tapi jangan terlalu bersedih. Kau tetap harus memikirkan bayimu”, sambung eomeoni.
.

Aku menganggukkan kepalaku cepat. “Aku mengerti, eomeoni”, kataku dengan suara serak karena terisak.

.
“Apapun yang terjadi, aku akan menjagamu. Jangan khawatir”, kata eomeoni setelahnya.
.

.
#########################
.

.
Kunjungan singkat ibu mertuaku rupanya mampu memberikan lebih banyak ketenangan padaku. Dukungan yang beliau berikan memberikan kekuatan padaku. Kesedihan yang kurasakan memang tidak menghilang sepenuhnya. Namun, paling tidak sudah berkurang dari sebelumnya. Seolah aku baru saja mendapatkan sedikit ruang untuk bernapas. Aku sudah berjalan mengelilingi rumah sakit ini sejak satu jam yang lalu. Aku tidak memiliki tujuan. Aku hanya ingin menenangkan pikiranku sejenak, mencari pemandangan yang mampu melegakanku. Hingga sudut mataku menangkap sebuah senyuman dari jarak beberapa meter didepanku. Dokter Bae Suzy yang sedang berdiri didepan vending machine memberkan senyum ramahnya padaku. Aku pun berjalan menghampirinya. Sejak awal masa kerjanya di rumah sakit ini, aku belum pernah meluangkan waktuku untuk bicara dengannya. Aku tidak ingin dianggap bersikap sombong karena hal itu.
.

“Annyeonghaseyo, dokter Lee”, sapanya dengan ramah.

.
“Annyeonghaseyo, dokter Bae”, balasku dengan senyuman yang mampu kuberikan padanya, meski tidak secerah miliknya.
.

“Apakah jadwal anda sedang kosong?” tanya dokter Bae.

.
“Benar”, jawabku singkat. “Um… Tolong jangan terlalu formal denganku. Santai saja”, sambungku.
.

“Ah, ne. Maaf karena aku membuat suasana menjadi canggung”, ujarnya.

.
“Tidak. Bukan salahmu. Kau tidak perlu meminta maaf”, balasku tulus. “Apakah kau baru akan memulai shift-mu, atau justru baru menyelesaikannya?” tanyaku.
.

“Aku baru datang. Pergantian shift baru dimulai satu jam mendatang. Karena itu, aku berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit agar lebih mengenal tata letak setiap ruang disini”, jawabnya. “Kau mau cokelat? Aku memilih merek ini karena tidak menyadari merek cokelat kesukaanku diletakkan disudut atas. Dan, sepertinya aku tidak bisa memakan keduanya”, sambungnya sambil memberikan sebungkus cokelat padaku.

.
“Terima kasih”, kataku sambil menerima pemberiannya. “Jika kau tidak keberatan, aku bisa menemanimu berkeliling”, kataku menawarkan diri.
.

“Tentu”, jawab dokter Bae setuju.

.
Kami berdua berkeliling disekitar rumah sakit. Aku menunjukkan beberapa ruangan staf rumah sakit yang sedikit sulit untuk ditemukan jika hanya mengandalkan petunjuk arah. Perjalanan kami sesekali berhenti saat kami berpapasan dengan beberapa keluarga pasienku. Beruntung dokter Bae tidak merasa terganggu dengan obrolan singkat itu. Kami kembali meneruskan tour berkeliling rumah sakit kami. Hingga kami terhenti di koridor dengan deretan kaca disebelah kiri kami, yang membatasi ruangan dalam rumah sakit dengan balkon. Balkon lantai dua. Sebelum menikah dengan Kyuhyun, aku sering menghabiskan waktuku di balkon ini bersama Soyu, Ryeowook, Donghae, dan Jaejoong sunbae. Tidak terasa waktu itu sudah berlalu cukup lama. Kini kami bahkan tidak memiliki waktu terlalu lama untuk bertemu dan berbincang dengan satu sama lain. Kesibukan pekerjaan kami begitu menyita waktu kebersamaan kami. Entah mengapa, hari ini aku begitu merindukan saat-saat santai itu. Aku merindukan mereka.
.

“Dokter Lee, apakah balkon ini terbuka untuk umum?” tanya dokter Bae menyadarkanku.

.
“Tentu saja. Mari, kutunjukkan pintunya”, jawabku.
.

Kami pun berjalan menuju balkon yang begitu teduh itu. Tanaman dalam pot besar yang ditanam di balkon ini sudah tumbuh besar dan lebat. Beberapa bangku lama sudah digantikan dengan yang lebih baru dan kokoh. Sebuah air mancur kecil juga diletakkan disudut kiri, menambah kesan teduh. Hanya kenanganku di balkon ini yang tertinggal. Menyisakan kerinduanku pada masa lalu. Hhh… Kenapa kau selalu dibuntuti oleh masa lalu, Lee Hyesoo? kata suara dalam kepalaku. Kemudian sebuah suara percikan air mengalihkan perhatianku. Dokter Bae memasukkan tangannya di kolam kecil yang menampung air dari pancuran, memunculkan suara gemericik. Sejenak aku merasa iri padanya. Ia terlihat begitu riang, seolah tidak ada masalah yang mampu mengganggunya. Langkahnya begitu ringan, gerakannya begitu lepas. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali diriku terlihat seperti itu. Atau bahkan mungkin tidak pernah, sambungku. Aku berjalan mendekat, kemudian duduk di sebuah bangku diseberang dokter Bae, masih dengan tatapan takjub serta iri karena keriangan yang dimilikinya.

.
“Tempat ini menyenangkan. Jika seseorang yang sedang muram datang kesini, kurasa ia akan kembali merasa tenang dengan cepat setelah datang ke tempat ini”, kata dokter Bae.
.

“Kau benar. Tempat ini sangat teduh dan tidak terlalu terpapar oleh sinar matahari, baik di pagi hari maupun di sore hari. Suara dari dalam ruangan juga tidak terdengar terlalu keras dari sini. Hanya alarm emergency saja yang mungkin terdengar”, kataku menjelaskan.

.
“Aku jadi teringat rooftop sekolahku dulu. Aku dan Kyuhyun sering menghabiskan waktu istirahat kami disana. Entah hanya untuk sekedar bicara atau hanya duduk diam menikmati angin”, kata dokter Bae. Ucapannya sontak memberikan alarm padaku. Aku bisa merasakan kelopak mataku yang sedikit melebar saat mendengar nama Kyuhyun terucap darinya.
.

“Kyuhyun?” tanyaku.

.
“Ah… Rupanya Cho Kyuhyun belum memberitahumu”, ujarnya. Ada keterkejutan dan rasa menyesal dalam nada bicaranya. Seolah ia baru saja mengatakan hal yang tidak seharusnya. Tapi, disaat yang sama aku justru menemukan kilatan lain di matanya. Ada maksud lain dari ucapannya tadi, yang belum bisa kutemukan.
.

“Kau bisa mengetahuinya dari nada bicaraku barusan, bukan?” kataku.

.
“Maafkan aku, dokter Lee. Aku tidak bermaksud untuk mengatakan hal yang tidak seharusnya kukatakan. Seharusnya aku bertanya pada Kyuhyun terlebih dahulu. Aku tidak pantas mengatakan ini sebelum Kyuhyun yang mengatakannya sendiri padamu”, kata dokter Bae dengan nada menyesal yang lain.
.

“Tidak. Kau tidak perlu meminta maaf padaku, dokter Bae. Aku baik-baik saja. Baik mendengarnya darimu atau dari Kyuhyun, keduanya sama saja bagiku”, balasku. Tidak! Tentu tidak akan sama! Sampai kapan kau akan menjadi Lee Hyesoo yang selalu mencoba untuk memahami orang lain? sambung suara dalam kepalaku yang berseru keras padaku.

.
“Jadi, bisakah aku menganggap bahwa kau tidak akan keberatan jika aku menceritakannya padamu?” tanya Bae Suzy. Aku tidak tahu apa yang mempengaruhi pikiranku. Hanya saja, tiba-tiba aku merasa tidak ingin memanggilnya dengan sebutan dokter Bae lagi.
.

“Tentu tidak. Lanjutkan saja”, jawabku, berbohong.

.
“Kami berada di kelas yang sama sejak kelas 10. Saat itu, Kyuhyun bukan siswa yang mudah didekati. Diluar dari situasi disekitarnya yang selalu dijaga oleh cukup banyak orang, Kyuhyun juga bersikap dingin pada siswa lain yang tidak dikenalnya. Hingga suatu hari seseorang mengatakan padaku bahwa Kyuhyun mengejarku. Dan, di hari setelahnya, Kyuhyun mulai mendekatiku. Awalnya aku berpikir dia hanya ingin menjadi temanku. Tapi, rupanya hubungan pertemanan tidak cukup baginya. Semula aku menolaknya. Kau tahu, dia begitu dingin, keras kepala, dan tidak bisa dibantah. Selain itu, aku juga sedikit takut untuk masuk lebih jauh kedalam hidupnya yang penuh penjagaan itu. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku mendapatkan rasa nyaman yang tidak biasa saat bersamanya. Kupikir Kyuhyun adalah laki-laki yang lebih suka mengandalkan orang lain. Ternyata yang kutemukan darinya justru sebaliknya. Dia memang dijaga oleh banyak ‘pengawal’, tapi dia juga bisa menjagaku dengan baik. Sejak saat itu, aku menjadi satu-satunya gadis yang dekat dengannya”, kata Bae Suzy.
.

Rasa tidak nyaman mulai kurasakan dalam diriku. Ada sebuah hantaman yang mendesak ruang dadaku, memberikan sesak yang perlahan semakin mengembang. Ingatanku kembali ke beberapa tahun yang lalu, saat Kyuhyun mengatakan bahwa aku adalah satu-satunya gadis yang ia kejar. Ia tidak pernah benar-benar meletakkan hatinya pada seorang gadis, hanya aku. Rupanya semua itu hanya sebuah kebohongan yang digunakannya untuk membuatku mendekat padanya. Kyuhyun sudah membohongiku dengan ucapannya. Hal itu memang sudah terjadi bertahun lalu. Banyak hal pun sudah terjadi diantara kami. Kebohongan itu tidak akan menjadi masalah jika dibandingkan banyaknya masalah yang sudah kami lewati. Hanya saja, kebohongan itu menjadi tidak termaafkan saat gadis yang pernah bersama Kyuhyun berada tepat dihadapanku. Gadis itu bahkan membicarakan masa-masa kebersamaan mereka tanpa ada beban. Dan, fakta bahwa Kyuhyun tidak pernah menceritakan padaku perihal hubungannya dengan Bae Suzy –yang notabene sudah bekerja di rumah sakit ini— benar-benar tidak dapat meringankan rasa tidak nyaman dalam diriku.

.
“Beberapa minggu yang lalu, kurasa, saat kami kembali bertemu di Jeju, aku begitu terkejut. Kyuhyun sangat berubah. Dia bukan Kyuhyun yang kukenal bertahun lalu. Dia menjadi pria yang memiliki hidup teratur. Dia juga memiliki pekerjaan tetap, yang tidak pernah disukainya dulu. Dia selalu memberikan kritik pada kehidupan kedua orangtuanya yang selalu disibukkan dengan pekerjaan. Kyuhyun sudah tidak menjadi seorang yang bebas seperti dulu. Dia kembali mengejutkanku dengan sikap yang ditunjukkannya. Sikap, cara bicara, dan tatapannya sangat berbeda. Dulu Kyuhyun terlihat sangat bebas. Dia melakukan apapun yang diinginkannya. Dia terlihat lebih bahagia. Tapi kini dia justru terlihat seperti pria dengan banyak beban di bahunya, banyak pikiran didalam kepala besarnya. Saat bertemu denganmu, dokter Lee, akhirnya aku memahami darimana datangnya perubahan dalam diri Kyuhyun”, kata Bae Suzy.
.

“Apa maksudmu?” tanyaku datar.

.
“Jangan salah paham, dokter Lee. Aku hanya ingin mengatakan bahwa perubahan dalam diri Kyuhyun sangat beralasan. Kau mengubahnya menjadi pria dewasa yang bertanggungjawab dengan hidupnya. Aku tidak sedang mengatakan bahwa ada kesalahan dalam perubahan itu. Setiap orang pasti akan berubah seiring dengan pertambahan usia dan tingkat kedewasaan masing-masing. Hanya saja, aku tidak tahu Kyuhyun akan berubah sebanyak ini”, jawab Bae Suzy.
.

Aku tidak menemukan kesalahan apapun dalam ucapannya. Hanya saja, aku merasa ada arti lain dari setiap kata yang diucapkannya. Seolah ia sedang mengatakan bahwa Kyuhyun yang dikenalnya dulu adalah seorang laki-laki yang bahagia. Sementara Kyuhyun yang dilihatnya sekarang sudah berubah menjadi Kyuhyun yang tidak bahagia. Bae Suzy memang tidak mengatakannya secara langsung padaku. Namun, ia menyiratkan pernyataannya yang menyalahkanku atas semua perubahan yang terjadi pada Kyuhyun. Setiap kata yang diucapkannya menusukku tepat pada sasaran, menjatuhkanku disaat aku bahkan tidak sedang mencoba untuk berjalan naik. Apakah aku memang penyebab perubahan sifat dan sikap Kyuhyun? Apakah benar aku menghilangkan kebahagiaan dalam hidup Kyuhyun seperti yang tersirat dalam ucapan Bae Suzy? Apakah selama ini aku tidak menyadari kesalahan yang sudah aku lakukan pada Kyuhyun?, tanyaku dalam pikiranku. Tiba-tiba, ponselku bergetar hebat didalam saku jubahku, menyadarkanku dari pikiran dalam kepalaku.

.
“Hm… Maafkan aku, dokter Bae. Jadwal poliklinikku akan segera dimulai. Kita bicara lagi lain waktu. Semoga harimu menyenangkan”, kataku padanya. Aku segera berlalu pergi meninggalkannya di balkon tanpa mendengar balasan dari ucapanku.
.

.
.

Author’s POV
Saat hari menjelang petang

.

Matahari sudah terbenam, meninggalkan tempatnya diatas sana. Meski sinar berwarna orange masih terlihat menerangi langit di ufuk barat, namun bulan sudah bersiap menggantikan tugas matahari untuk menerangi gelapnya langit malam. Sudah sejak satu jam yang lalu Hyesoo menyelesaikan jadwal polikliniknya. Sesaat setelah pasien terakhir keluar dari ruang poliklinik, Hyesoo tidak membuang waktu untuk tetap berada di ruangannya. Hyesoo segera keluar dan berjalan menuju tempat yang sudah menjadi tujuannya sejak siang hari. Dan, sampai saat ini, sudah 40 menit berlalu sejak Hyesoo datang ke ruangan Seo Kangjun. Hyesoo merasa membutuhkan sebuah sesi konsultasi dengan sahabatnya itu. Kali ini tidak ada pembicaraan santai ataupun canda tawa diantara mereka. Pertemuan Hyesoo dengan Seo Kangjun lebih banyak membahas tentang kondisinya yang tidak cukup baik akhir-akhir ini. Terlebih setelah mimpi buruk yang kembali menghampirinya tadi malam. Hyesoo merasa khawatir kondisinya itu akan mempengaruhi bayi yang berada didalam tubuhnya. Beruntung, Seo Kangjun bersedia untuk meluangkan waktunya untuk Hyesoo, meski seharusnya ia sudah bisa meninggalkan rumah sakit sejak dua jam yang lalu.
.

Hembusan napas panjang Hyesoo terdengar mengisi keheningan ruangan Seo Kangjun. Berbicara dengan Lee Soohyuk menjadi salah satu pilihan yang diberikan oleh Seo Kangjun. Hyesoo pun menyatakan bahwa ia sudah memikirkan hal itu sebelumnya. Namun, ia masih merasa ragu untuk melibatkan Lee Soohyuk. Hyesoo tidak ingin merepotkan siapapun lagi untuk mengatasi masalahnya. Seo Kangjun pun mengerti maksud ucapan Hyesoo. Namun, Seo Kangjun tetap mengajukan pilihan itu untuk Hyesoo lakukan agar bayi yang dikandung Hyesoo dapat berkembang dengan baik. Setelahnya, Hyesoo bangkit berdiri sambil mengganggukkan kepalanya pelan. Ia meyakinkan Seo Kangjun bahwa dirinya akan berusaha untuk memikirkan pilihan yang Seo Kangjun berikan padanya. Ia pun melangkah menuju pintu dengan Seo Kangjun berjalan tepat dibelakangnya. Sesampainya didepan pintu, Hyesoo berbalik kembali menghadap pada Seo Kangjun. Sebuah senyum tipis muncul di bibirnya, sebagai ungkapan terima kasihnya pada Seo Kangjun yang telah bersedia meluangkan waktu untuknya. Seo Kangjun menganggukkan kepalanya pelan membalas senyuman di wajah muram Hyesoo. Tidak ada satupun diantara mereka berdua yang menyadari kehadiran orang lain yang sedang memperhatikan keduanya dari kejauhan.

.
Hyesoo pun berpamitan pada Seo Kangjun setelah itu, kemudian berjalan menjauh menyusuri lorong untuk kembali ke ruangannya. Suara pintu yang tertutup dibelakangnya membuat senyum di wajah Hyesoo sontak menghilang. Bahunya pun terkulai jatuh bersama dengan helaan napasnya yang terasa berat. Ia melambatkan langkah kakinya, seolah merasa enggan untuk segera kembali ke ruang sunyinya. Hingga langkah kaki seseorang berjalan tergesa-gesa mendekat pada Hyesoo. Tidak ada prasangka apapun yang Hyesoo rasakan. Ia tetap berjalan tanpa mempedulikan langkah kaki yang semakin mendekat itu. Tiba-tiba, lengan kanan Hyesoo diraih dan ditarik dengan cukup keras, membuat Hyesoo terkejut. Kyuhyun melangkah dengan cepat sambil terus menarik Hyesoo bersamanya. Napas Hyesoo memburu bersama dengan luapan emosi Kyuhyun yang terungkap dari cengkraman kuat tangan Kyuhyun di lengan Hyesoo. Kyuhyun mendorong pintu darurat dengan keras, menimbulkan suara yang cukup mengejutkan Hyesoo, mempercepat detak jantungnya. Keduanya menuruni anak tangga dengan terburu-buru, lalu keluar melalui pintu di lantai yang lain. Kyuhyun tidak lantas melepaskan cengkramannya meski Hyesoo sudah berusaha melepaskan diri.
.

“Aku bisa berjalan sendiri tanpa perlu kau seret seperti ini, Cho Kyuhyun”, kata Hyesoo.

.
“Diam”, kata Kyuhyun tanpa menoleh pada Hyesoo yang berjalan dibelakangnya.
.

Keduanya menyusuri koridor yang tampak sepi dibandingkan dengan hari lainnya. Hingga keduanya tiba di balkon yang dikunjungi oleh Hyesoo siang tadi bersama Bae Suzy. Tiba-tiba saja Hyesoo merasa mual. Sesak dalam dada dan rasa sakit di kepalanya kembali memberikan rasa tidak nyaman padanya. Seolah sebuah lonceng sedang dibunyikan dengan keras, memekakkan telinganya hingga keseimbangannya menurun dengan perlahan. Rasa tidak nyaman itu pun memberikan hentakan keras pada Hyesoo, membuatnya kembali berusaha melepaskan cengkraman tangan Kyuhyun yang begitu kuat membakar lengannya.

.
“Lepaskan aku”, kata Hyesoo sambil terus mencoba melepaskan diri.
.

“Kubilang diam!” seru Kyuhyun.

.
“Kau menyakitiku”, kata Hyesoo dengan suara pelan.
.

“Kau tidak pernah mengindahkan perintahku”, kata Kyuhyun.

.
“Kau menyakitiku, Cho Kyuhyun!” seru Hyesoo yang berhasil melepaskan lengannya dari Kyuhyun dengan sebuah hentakan keras yang dibuatnya. Tindakan Hyesoo sontak membuat Kyuhyun berbalik menatap istrinya dengan tatapan tajam. Kemarahan jelas sedang membakarnya. Karena bahkan setelah Hyesoo berseru dengan keras padanya, ia tidak terlihat menyesal sedikitpun. “Kau menyakitiku lagi, Cho Kyuhyun”, kata Hyesoo sekali lagi dengan suara yang lebih pelan.
.

“Kau yang membuatku melakukannya”, ujar Kyuhyun.

.
“Benar. Salahku. Semua ini memang hanya kesalahanku”, balas Hyesoo. Ia menghela napas dan memejamkan matanya sejenak sebelum kembali bicara pada Kyuhyun. “Apa maumu?” tanya Hyesoo setelahnya.
.

“Aku sudah mengatakannya dengan jelas padamu untuk tidak menemuinya”, kata Kyuhyun. Rahangnya terkatup keras memunculkan garis tegas di tulang pipinya.

.
“Dia adalah dokter kandunganku”, ujar Hyesoo.
.

“Rumah sakit ini memiliki lima dokter kandungan, Lee Hyesoo”, balas Kyuhyun.

.
“Bukankah kenyamanan pasien adalah prioritas utama rumah sakit ini, direktur Cho? Aku menemuinya sebagai seorang pasien”, kata Hyesoo memberikan pembelaannya.
.

“Jangan membantahku!” seru Kyuhyun.

.
“Aku hanya mengutarakan keinginanku. Dan, tolong, berhenti bersikap seperti ini. Kau membuatku tercekik dengan sikapmu”, kata Hyesoo mencoba tetap tenang dalam menghadapi kemarahan Kyuhyun.
.

“Aku bersikap selayaknya, sebagai suamimu, Lee Hyesoo”, ujar Kyuhyun yang terdengar lebih seperti sebuah bentakan daripada pernyataan.

.
“Tentu saja. Kau bersikap sebagai suami yang sangat protektif pada istrinya. Kau hanya mementingkan dirimu dan perasaanmu. Tapi, kau lupa bahwa aku sedang mengandung, Cho Kyuhyun”, kata Hyesoo dengan amarah yang mulai muncul dalam dirinya. Hyesoo merasa sangat kecewa dengan tindakan Kyuhyun yang menariknya berjalan dengan terburu-buru, bahkan hingga menuruni tangga. “Ah… Tentu saja. Kenapa aku bisa melupakannya? Kau bahkan tidak benar-benar yakin bahwa bayi ini adalah milikmu. Untuk apa kau mempedulikannya? Benar, bukan?” sambung Hyesoo setelahnya.
.

“Kau mengalihkan pembicaraan, Lee Hyesoo. Kita sedang membicarakan pria itu”, kata Kyuhyun.

.
“Hhh… Kau bahkan menghindar dari topik pembicaraan mengenai bayi dalam kandunganku. Kau sungguh luar biasa, Cho Kyuhyun. Apakah kau bahkan memikirkannya sedikit saja? Memikirkanku?” tanya Hyesoo dengan amarah dalam nada bicaranya.
.

“Tentu saja. Aku sangat mencintaimu, Lee Hyesoo”, jawab Kyuhyun.

.
“Aku tidak sedang mempertanyakan cintamu padaku, Cho Kyuhyun!” seru Hyesoo. Napas Hyesoo mulai memburu. Air mata sudah mulai menggenang di pelupuk matanya. Gemetar perlahan mulai merambat naik ke tangannya. Rasa sakit yang sempat menghilang kembali Hyesoo rasakan. Luapan emosinya barusan mengungkapkan seberapa terluka besar pria yang berdiri dihadapannya itu melukai dirinya. “Hhh… Ternyata kita benar-benar tidak sepaham, Cho Kyuhyu. Baik dulu maupun sekarang, rupanya kita tetap tidak berada di jalan yang sama. Lupakan aku pernah mengatakan bahwa bayi ini adalah milikmu. Kau memiliki kebebasan sepenuhnya untuk memiliki anggapanmu sendiri”, sambung Hyesoo yang lantas berlalu pergi meninggalkan Kyuhyun seorang diri di balkon itu.
.

Hyesoo berjalan semakin jauh tanpa berniat untuk kembali menoleh pada Kyuhyun. Langkah kakinya yang menjadi semakin cepat membawanya sampai di ruangan dalam waktu singkat. Hyesoo lantas menanggalkan jubah putihnya, kemudian meraih tasnya dan berjalan keluar dari ruangannya. Hyesoo segera naik ke lift yang sepertinya sedang berpihak pada Hyesoo. Suasana lift begitu sepi tanpa siapapun berada didalamnya, memberikan kesempatan pada Hyesoo untuk menenangkan diri. Lift berdenting tidak lama setelahnya. Hyesoo pun segera menghapus jejak air matanya dan berjalan keluar dari lift. Ia kembali melangkah dengan cepat menuju lobby utama, hingga sudut matanya melihat sosok yang ia kira sudah tidak berada di rumah sakit. Hyesoo kembali menyentuhkan jari-jarinya ke wajahnya dengan gerakan yang alami untuk memeriksa jejak air mata yang mungkin masih bertahan disana.

.
“Hyesoo-ya, ada apa?” tanya Seo Kangjun saat jarak diantara mereka semakin dekat.
.

“Hm? Tidak ada. Kenapa kau bertanya seperti itu?” Hyesoo balas bertanya.

.
“Langkah cepat, wajah muram, hidung kemerahan…” ucapan Seo Kangjun menggantung saat ia mendekatkan wajahnya untuk melihat wajah Hyesoo lebih dekat. “…bulu mata yang masih basah, dan area mata yang sedikit lembap. Kau tidak bisa membohongiku. Katakan padaku”, sambung Seo Kangjun.
.

“Aku bersungguh-sungguh. Tidak ada apapun. Aku baik-baik saja. Mungkin hanya merasa terlalu lelah, kemudian hormonku mempermainkan emosiku dengan mudah”, jawab Hyesoo berbohong.

.
“Baiklah. Aku akan mempercayaimu untuk sementara. Well, apakah kau akan pulang ke rumah?” tanya Seo Kangjun.
.

“Hm…” jawab Hyesoo dengan gumaman dan anggukkan pelan.

.
“Aku akan mengantarmu”, ujar Seo Kangjun.
.

“Tidak perlu. Aku baik-baik saja”, tolak Hyesoo secara halus.

.
“Aku sudah menyetujui untuk tidak memperdebatkan kebohonganmu itu, Lee Hyesoo. Karena itu, kau harus setuju dengan ajakanku sebagai balasannya”, kata Seo Kangjun kembali membujuk Hyesoo.
.

“Terima kasih untuk ajakanmu. Tapi, aku menolakmu bukan karena aku ingin menghindarimu. Hanya saja, seorang supir sudah menungguku di depan lobby. Aku tidak boleh menyiakan waktu yang sudah dia gunakan untuk menungguku”, kata Hyesoo.

.
“Baiklah. Aku menyerah. Aku tidak bisa memaksamu jika situasinya seperti itu”, ujar Seo Kangjun.
.

“Lain kali, mungkin” balas Hyesoo dengan keraguan dalam ucapannya.

.
“Lain kali…” balas Seo Kangjun mengulangi ucapan Hyesoo sambil menganggukkan kepalanya.
.

“Sampai bertemu besok”, kata Hyesoo.

.
“Sampai bertemu besok. Jaga dirimu. Dan, segera hubungi aku jika sesuatu terjadi padamu. Meski aku tahu suamimu akan siap siaga didekatmu”, kata Seo Kangjun yang dibalas dengan sebuah senyuman tipis di bibir Hyesoo.
.

“Hati-hati dalam mengemudi”, kata Hyesoo sebagai salam perpisahannya.

.
Hyesoo pun kembali melangkahkan kakinya menuju lobby utama. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya memberikan salam dengan canggung saat melihat wajah Hyesoo yang begitu muram. Menyadari hal itu, Hyesoo berusaha sebisanya untuk membalas salam mereka dengan senyuman tulus di bibirnya. Seperti yang dikatakan oleh Hyesoo pada Seo Kangjun, Kang ahjussi memang sudah menunggu Hyesoo di pelataran lobby. Kang ahjussi dengan senyuman ramah khasnya menyambut kedatangan Hyesoo, lalu membukakan pintu mobil untuk Hyesoo. Namun, Hyesoo hanya mampu memberikan ucapan selamat malam padanya tanpa senyum ramah yang menyertai setelahnya. Kang ahjussi sudah sangat memahami sikap Hyesoo. Karena itu, ia tidak merasa kecewa dengan sapaan datar yang Hyesoo berikan padanya. Pintu mobil tertutup setelah Kang ahjussi memastikan Hyesoo sudah duduk dengan nyaman didalam mobil.
.

.
.

Kyuhyun’s Mansion

.

Kesunyian menyelimuti rumah yang sudah menjadi kediaman Kyuhyun dan Hyesoo selama dua tahun terakhir. Kesunyian yang terjadi kali ini sangat tidak biasa. Kesedihan dan kelabu seolah ikut menjadi penyelubung disetiap sudut rumah itu. Sudah lebih dari dua jam sejak Hyesoo tiba di rumah, namun Hyesoo belum keluar dari sebuah kamar yang berada disudut lain lorong lantai dua. Hanya sebuah pernyataan yang keluar dari sana melalui Min ahjumma, yaitu Hyesoo tidak ingin diganggu oleh siapapun, dan semua karyawan diijinkan untuk beristirahat lebih awal. Dari dalam kamar, kesunyian lebih terasa seperti sebuah kutukan, dimana hanya ada kegelapan yang akan mengisi ruangan itu tanpa ada sinar yang mampu mengalahkannya (hanya sebuah perumpamaan). Setelah membersihkan diri, Hyesoo tetap berada ditempatnya, diatas sofa yang diletakkan dekat dengan jendela, menghadap ke arah taman sebelah utara rumahnya. Hanya cahaya bulan yang memberikan penerangan pada ruangan itu. Dari kejauhan, Hyesoo bisa melihat sinar terang dari lampu rumah utama kediaman keluarga Cho. Dalam diam Hyesoo merasa lega, karena kemuramannya tidak berpengaruh dengan suasana bangunan utama itu.
.

Kilasan pembicaraannya dengan Bae Suzy tadi siang kembali muncul dalam pikirannya. Meski sebuah rasa tidak nyaman mulai menjalar di sekujur tubuhnya, namun Hyesoo tidak lantas ingin membuang ingatan itu dari kepalanya. Setiap kata yang Suzy ucapkan seolah menjadi anak panah yang dilepaskan ke arahnya. Bae Suzy jelas berusaha untuk menyalahkan Hyesoo atas perubahan yang terjadi pada diri Kyuhyun. Ia hanya tidak mengatakannya secara langsung. Hyesoo meyakini itu sebagai sebuah kebenaran. Kemudian ingatan lain muncul dan menyentuh tali penyambung pada hal yang sebelumnya dipikirkan oleh Hyesoo. Kisah dari kejadian yang sempat menimpanya bertahun lalu –yang ia dengar dari Sooyoung— mulai bergaung dalam kepalanya. Hyesoo mulai mengaitkan perubahan yang terjadi dalam diri Kyuhyun seperti yang dikatakan oleh Suzy dengan masalah yang terjadi diantara mereka. Ia merasa semakin yakin bahwa kemarahan dan kecemburuan Kyuhyun bermula dari sikap posesif Kyuhyun akibat kepergiannya bertahun yang lalu. Kejadian yang menimpa dirinya dan Siwon pun ikut mengalihkan pikiran Hyesoo. Ia mulai menyalahkan dirinya, menjadikan dirinya sebagai penyebab dari kejadian yang menimpa Siwon. Karena memang rentetan kejadian menyakitkan itu bermula dari kecemburuan Soyu pada Jaejoong yang menyukai Hyesoo. Perlahan Hyesoo menjadikan dirinya sebagai penyebab dari semua masalah yang terjadi pada orang-orang yang ia sayangi.

.
Hyesoo memejamkan matanya, mencoba kembali pada kondisi terbaiknya. Namun, hal itu rupanya tidak mudah untuk dilakukannya. Semua hal yang ia pikirkan tetap mengganggu ketenangannya, memperburuk suasana hatinya malam itu. Hyesoo pun tidak beranjak dari tempatnya hingga jarum jam pendek tiba di angka sembilan. Ia terus mencoba menata ulang isi kepalanya, menjadi berpikir dengan lebih logis. Hingga ia beranjak bangkit dari sofa menuju tempat tidur yang terasa asing di tubuhnya. Namun, Hyesoo terlalu lelah untuk mempedulikan hal itu. Ia membutuhkan istirahat panjang dari semua hal yang mencekiknya beberapa hari terakhir. Hyesoo pun membaringkan tubuhnya miring dibalik selimut yang menutupi tubuhnya sampai ke bahu. Lampu tidur disisi kanannya dibiarkan menyala dengan cahaya kuning termaram. Tidak lama berselang, kedua kelopak matanya terpejam, menyisakan helaan halus napas Hyesoo yang semakin terlelap.
.

Kesunyian ini belum meninggalkanku. Langit masih tampak kelabu. Angin berhembus begitu kencang, membuatku merasa menggigil karena hawa dingin yang dihantarkannya. Gemetar masih berada di kedua kakiku, berharap bagian tubuhku yang lain tidak akan ikut merasakannya. Tiba-tiba, cahaya terang yang begitu menyilaukan memberikan kehangatan pada tubuhku. Seolah berperan sebagai penunjuk jalan, cahaya itu mengajakku berjalan bersamanya. Aku melangkah tanpa ragu, meyakinkan diriku bahwa tidak akan ada hal buruk yang terjadi padaku. Hingga seseorang dengan hawa yang begitu kukenal meraih tanganku. Sentuhan tangannya mengalirkan kehangatan pada tubuhku yang menggigil. Kami pun berjalan bersama menuju cahaya. Aku merasa begitu tenang bersamanya. Genggaman tangannya memberikan keyakinan padaku untuk terus melangkah. Kami hanya perlu berjalan sedikit lagi hingga ke ujung cahaya. Sampai akhirnya kami berhasil melewatinya. Semua tampak jelas, terang, dan bersinar. Aku menolehkan kepalaku pada sosok disampingku yang telah dengan begitu murah hati bersedia menuntunku menuju cahaya.

.
Senyumku seketika mengembang saat kutemukan wajah yang begitu kukenal. Seperti sebuah cermin, aku dapat melihat senyumku tergambar sempurna di wajah cerianya. Kerutan kening, rahang yang mengatup keras, dan tatapan tajam tidak lagi terlihat di wajah tampannya. Hanya kebahagiaan dan kenyamanan yang kurasakan dari sentuhan tangan besarnya. Kami kembali melangkah dengan gelak tawa yang menghiasi percakapan sunyi kami. Namun, tiba-tiba angin berhembus begitu kencang, menimbulkan bunyi gemerincing dari lonceng diatas bukit. Suara itu semakin lama semakin keras, membuat telingaku terasa sakit. Aku menggenggam tangan Kyuhyun, berharap ia akan membantuku menopang tubuhku yang tertiup angin. Namun tangan itu justru berubah menjadi panas. Begitu panas hingga aku tidak dapat bertahan untuk terus menyentuhnya. Aku memberontak, mencoba melepaskan tanganku dari sentuhan kulitnya. Tidak lantas melepaskanku, Kyuhyun justru bergerak ke belakangku lalu memeluk tubuhku erat, mengalirkan hawa panas membara itu ke sekujur tubuhku. Aku tetap pada rupaku, namun dengan tubuh yang terasa begitu terbakar. Aku meronta untuk melepaskan diri dari rengkuhannya yang terasa begitu kuat, seolah tubuhku bisa dihancurkan jika aku tidak berhasil bebas.

.
“Lepaskan aku!” seru Hyesoo yang tiba-tiba terbangun sambil menepis tangan yang menyentuhnya.
.

“Eonni, ini aku, Hyeri”, kata Hyesoo dengan kekhawatiran yang jelas terdengar dari nada bicaranya.

.
Hyesoo beranjak duduk dan bersandar di kepala tempat tidur. Hyesoo memejamkan matanya, mencoba mengumpulkan kesadarannya kembali, berharap ia mampu menghapus bayangan suram dalam mimpinya. Ia mengusap keningnya yang basah karena keringat, kemudian turun menuju pelipis, pipi, hingga ke lehernya. “Hyeri-ya…” kata Hyesoo setelahnya dengan suara berbisik yang terdengar parau.
.

Lampu kamar sontak menyala, memunculkan cahaya yang menerangi setiap sudut ruangan. “Apa yang terjadi? Eonni baik-baik saja?” tanya Hyeri yang sudah kembali ke sisi Hyesoo sambil memberikan segelas air pada kakaknya itu.

.
“Aku baik-baik saja, Hyeri-ya”, kata Hyesoo yang lantas menerima gelas yang diberikan oleh Hyeri.
.

“Jangan bohong, eonni. Kau berteriak dalam tidurmu, meminta untuk dilepaskan. Tubuhmu dibasahi oleh keringat. Wajah eonni juga terlihat pucat. Tolong katakan padaku, ada apa?” pinta Hyeri.

.
“Sungguh, Hyeri-ya, aku baik-baik saja. Hanya mimpi buruk”, ujar Hyesoo setelah menenggak seluruh isi gelas.
.

“Aku baru kembali dari rumah sakit. Aku bertemu dengan Kangjun oppa. Dia memintaku untuk menemui eonni dan memastikan kondisi eonni baik-baik saja. Katanya eonni sedang tidak dalam kondisi yang cukup baik. Kangjun oppa merasa khawatir pada eonni. Kini aku ikut merasa khawatir”, kata Hyeri.

.
Hyesoo menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya sebelum kembali bicara pada Hyeri. “Mungkin aku terlalu lelah. Bukan hal yang baru. Aku hanya perlu banyak istirahat. Tapi, sepertinya aku belum mendapatkan ijin untuk beristirahat sekarang. Lihat aku. Saat ini aku justru merasa lebih lelah karena mimpi burukku tadi”, ujar Hyesoo dengan senyum tipis di bibirnya.
.

“Eonni yakin hanya itu penyebabnya? Karena kelelahan?” tanya Hyeri sekali lagi.

.
“Tentu saja. Atau, haruskah aku membuatnya lebih dramatis?” jawab Hyesoo dengan nada jenakanya.
.

“Kenapa mimpi buruk kembali menghampiri eonni? Kukira eonni sudah tidak pernah mengalaminya lagi”, tanya Hyeri.

.
“Kelelahan, Lee Hyeri. Aku hanya kelelahan. Percayalah padaku”, jawab Hyesoo. “Aku harus mengganti pakaianku terlebih dahulu. Apakah kau akan tetap disini saat aku selesai?” tanya Hyesoo setelahnya.
.
BGM: Urban Zakapa – Wish
.

Hyeri menjawab pertanyaan Hyesoo dengan sebuah anggukkan pelan. Kecemasan yang dirasakannya tidak dapat ia sembunyikan begitu saja. Hyeri sangat yakin bahwa mimpi buruk sudah tidak pernah mengganggu tidur kakak perempuannya itu selama beberapa tahun terakhir. Hyeri bahkan lupa kapan terakhir kali melihat sosok kakaknya yang muram seperti saat ini. Hyeri tahu ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Hyesoo. Namun, Hyeri tidak ingin terlalu memaksa Hyesoo untuk memberitahunya. Hyeri tidak ingin membuat Hyesoo merasa lebih tidak nyaman dengan pertanyaannya. Sementara itu, di dalam ruang pakaian, senyum yang sempat Hyesoo berikan pada Hyeri sontak menghilang. Hyesoo bersandar dibalik pintu dengan kedua mata yang terpejam. Ada sebuah kerutan dalam di keningnya. Ia merasakan sesak yang begitu hebat dalam dadanya. Napasnya memburu, menjelaskan seberapa cepat detak jantungnya saat ini. Efek dari mimpi buruk yang dialaminya belum sepenuhnya menghilang. Ketakutan masih menyelimutinya, memberikan gemetar yang begitu mengganggu di sekujur tubuhnya. Keberadaan Hyeri di kamarnya membuat Hyesoo tidak mampu untuk menunjukkan ketakutan dan lelah yang dirasakannya.

.
“Eonni, apakah eonni mau kubuatkan secangkir teh?” tanya Hyeri dari luar, menarik Hyesoo kembali ke alam sadarnya.
.

“Tentu saja, jika tidak merepotkanmu”, jawab Hyesoo yang berusaha mengendalikan suaranya yang bergetar.

.
“Tidak pernah merepotkanku, eonni. Aku akan segera kembali”, balas Hyeri.
.

“Baiklah”, kata Hyesoo.

.
Suara pintu yang tertutup memberitahu Hyesoo bahwa adiknya sudah keluar dari kamar. Tubuh Hyesoo pun terkulai lemas, jatuh ke lantai. Seluruh tenaganya bagai tertarik keluar dari tubuhnya. Mual kembali dirasakannya, memberikan rasa tertekan pada perutnya. Tanpa Hyesoo sadari, air mata menetes di pipinya. Hyesoo pun menutup kedua matanya dengan tangan. Hingga tangan itu digunakannya untuk menutupi bibirnya agar isak tangisnya tidak terdengar oleh siapapun. Hyesoo tidak mengerti apa penyebab tangisan yang tiba-tiba saja datang. Entah karena ketakutan akibat mimpi buruknya, atau kesedihan yang dirasakannya sejak beberapa hari belakangan. Hyesoo tidak bisa terus menahannya. Sesuatu dalam dirinya rasanya ingin meledak, meluap keluar dari tubuhnya. Kemarahan, kesedihan, ketakutan, kepedihan, dan kekecewaan seolah siap untuk menghancurkan tubuhnya hingga berkeping-keping. Ia merasa kuwalahan dengan semua perasaan yang menghantam jantungnya dan mulai melemahkannya. Hyesoo bahkan tidak mampu mencari cara untuk memperbaiki situasi yang terjadi padanya. Hyesoo bahkan merasa ragu untuk tetap berpijak ditempatnya.
.

.
.

Lima hari kemudian
J Hotel dan Lounge
Tokyo, Jepang

.
Lima hari sudah berlalu sejak pertengkaran Kyuhyun dan Hyesoo di balkon lantai dua rumah sakit. Sudah dua hari pula berlalu dari jadwal kepulangan Kyuhyun ke Seoul yang sebenarnya. Namun, Kyuhyun justru memutuskan untuk tetap berada di Jepang selama beberapa hari untuk menjernihkan pikirannya. Ucapan terakhir Hyesoo di balkon petang itu memberikan tamparan keras padanya. Kemarahan yang terungkap dari ucapan Hyesoo terasa begitu menyakitkan saat bayangan akan ekspresi Hyesoo tergambar jelas dalam kepala Kyuhyun. Seketika Kyuhyun merasakan ketakutan yang begitu hebat. Ingatan akan kepergian Hyesoo yang sempat menghancurkannya bertahun lalu kembali menghantuinya. Kala itu semua hal menjadi buram. Kyuhyun tidak dapat melihat apapun dengan jelas. Hanya sosok Hyesoo yang ia cari setiap detik dalam hidupnya. Kala itu, Kyuhyun melihat ekspresi dan tatapan yang serupa. Kyuhyun sudah bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah membiarkan dirinya melihat kesedihan dan rasa sakit itu terpancar dari ekspresi di wajah Hyesoo. Namun, sepertinya ia justru akan berakhir dengan sebuah penyesalan karena sudah melakukan kesalahan sekali lagi.
.

Tiba-tiba, ponsel Kyuhyun bergetar. Semula ia merasa enggan untuk menerima panggilan yang masuk itu hingga ponselnya berhenti bergetar. Namun, saat ponselnya bergetar sekali lagi, Kyuhyun segera meraihnya dari dalam saku jas yang maih dikenakannya. Nama Suzy muncul di layar, disertai dengan foto perempuan itu yang memenuhi hampir seluruh layar ponselnya. Kyuhyun kembali merasa ragu untuk mengangkatnya. Saat ini Kyuhyun benar-benar sedang tidak ingin bicara dengan siapapun. Ia membutuhkan ketenangan untuk memikirkan semua hal yang semakin terasa tidak tepat dalam hidupnya. Namun, ponselnya terus saja bergetar, membuatnya merasa tidak nyaman untuk mengabaikan panggilan itu. Kyuhyun pun menyentuh panel hijau di layar, kemudian mendekatkan ponselnya ke telinga.

.
Cho Kyuhyun, kau dimana? Apakah kita bisa bertemu hanya untuk sekedar minum kopi bersama? Ah, benar. Kau tidak minum kopi. Aku akan mengijinkanmu untuk memilih tempat kali ini. Bagaimana?” tanya Suzy dari seberang telepon.
.

“Maafkan aku. Mungkin lain kali, Suzy-ya”, jawab Kyuhyun singkat, mencoba untuk menolak ajakan Suzy secara halus.

.
Kenapa? Apakah istrimu tidak mengijinkanmu?” tanya Suzy.
.

“Tidak. Bukan itu. Hanya saja, saat ini aku sedang berada di Tokyo. Karena itu aku tidak bisa menemuimu”, jawab Kyuhyun.

.
Tokyo?” tanya Suzy setengah berseru. “Kupikir kau ada disini juga. Aigoo… Apakah aku mengganggumu? Maafkan aku”, sambung Suzy.
.

“Kau bilang disini? Dimana?” tanya Kyuhyun menghiraukan pertanyaan Suzy.

.
Lotte World Shopping Malls”, jawab Suzy singkat.
.

“Dan, kenapa kau berpikir aku sedang berada disana?” Kyuhyun kembali bertanya.

.
Karena aku baru saja melihat seorang wanita yang mirip dengan istrimu. Dokter Lee ikut bersamamu, bukan? Sepertinya aku berhalusinasi”, jawab Suzy.
.

“Tidak. Hyesoo memang tidak ikut bersamaku”, ujar Kyuhyun.

.
Oh, benarkah? Kalau begitu, tidak ada yang salah dengan penglihatanku. Pantas saja aku merasa sangat familiar dengan sosoknya yang begitu anggun. Kenapa kau tidak mengajaknya bersamamu?” tanya Suzy.
.

“Hyesoo tidak sedang dalam keadaan yang memungkinkan untuk berpergian terlalu jauh”, jawab Kyuhyun.

.
Omo! Apakah dugaanku benar juga kali ini? Apakah istrimu sedang hamil?” tanya Suzy dengan nada terkejutnya.
.

“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” Kyuhyun balas bertanya tanpa menjawab pertanyaan Suzy dengan pasti.

.
Aku melihatnya di toko perlengkapan bayi. Dia sedang melihat-lihat pakaian dan botol susu. Seharusnya kau membatalkan perjalanan bisnismu dan menemaninya, babo-ya. Istri yang sedang hamil biasanya lebih senang jika suaminya bisa menemaninya berpergian”, jawab Suzy. “Tapi, kurasa suami yang sibuk bekerja sepertimu tidak terlalu diperlukan. Istrimu sangat beruntung, karena memiliki teman baik yang mau menemaninya”, sambung Suzy.
.

“Siapa yang menemani Hyesoo? Apakah seorang pria?” tanya Kyuhyun dengan amarah yang kembali menghampirinya seketika.

.
O! Apakah kau punya indera keenam atau sejenisnya? Bagaimana kau bisa mengetahuinya dengan baik? Kau membuatku merinding saja”, kata Suzy.
.

“Katakan. Siapa yang bersamanya?” tanya Kyuhyun sekali lagi tanpa menghiraukan ucapan Suzy.

.
Dokter obgyn, Seo Kangjun. Beruntungnya istrimu memiliki sahabat yang sekaligus merangkap sebagai dokternya. Aktivitas belanja yang dilakukan oleh dokter Lee akan terjamin keamanannya dengan seorang dokter obgyn yang siaga disekitarnya”, jawab Suzy dengan sebuah tawa kecil yang menyertai ucapannya.
.

Kyuhyun memutus sambungan teleponnya dengan Suzy. Amarah benar-benar kembali membakarnya. Rasa takut akan kehilangan Hyesoo yang semula menghampirinya menghilang begitu saja. Ia tidak mampu lagi mengendalikan pikiran dan perasaannya. Kyuhyun sontak melempar ponselnya ke permukaan yang terbuat dari bebatuan. Sebuah retakan kecil terlihat di layar ponsel Kyuhyun yang menyala. Kedua tangan Kyuhyun segera bergerak ke belakang kepalanya, meremas kuat rambut hitam Kyuhyun. Ia menundukkan kepalanya, mencoba untuk mengendalikan dirinya. Namun, amarah sudah terlanjur memenuhi dirinya. Sebuah teriakan pun keluar dari bibir Kyuhyun sebagai ungkapan amarah yang dirasakannya.
.

.
.

Waktu yang sama di Seoul
Lotte World Shopping Mall

.
Sebuah senyuman tergambar diwajah Hyesoo. Kali ini senyuman itu terlihat begitu tulus mengungkapkan suasana hati Hyesoo hari itu. Ia melangkah dari satu section ke section lainnya, mencari sepotong pakaian berukuran mini yang menarik perhatiannya. Setelah mencari dengan teliti, akhirnya Hyesoo mengambil sebuah sweater berwarna biru langit dengan sepasang sayap terpasang disisi punggung sweater itu. Hyesoo pun menunjukkan sweater yang dipilihnya dengan begitu percaya diri. Namun, bukan sebuah pujian yang diterimanya, melainkan gelak tawa tanda ketidaksetujuan pada pilihan Hyesoo. Tawa itu bahkan disertai dengan sebuah kerutan kecil di kening karena merasa heran dengan sweater yang Hyesoo pilih. Tidak lama berselang, Seo Kangjun muncul sambil menunjukkan sebuah long johns putih dengan motif mobil berwarna-warni. Sontak keriuhan tepuk tangan menghujani Seo Kangjun karena pilihan pakaiannya.
.

“Kenapa kalian bertepuk tangan? Apakah kalian berpikir bahwa pilihannya lebih bagus dariku?” tanya Hyesoo yang merasa heran.

.
“Eo… Pilihan Kangjun oppa jauh lebih masuk akal dibandingkan pilihan eonni”, jawab Hyeri tanpa ragu.
.

“Kenapa? Sudah jelas pilihanku lebih baik. Bayiku akan terlihat seperti malaikat jika mengenakan sweater ini”, sanggah Hyesoo.

.
“Eonni, sweater yang kau pilih itu mungkin baru bisa dikenakan oleh anakmu saat usianya menginjak dua tahun. Dan, sampai saat itu tiba, sweater itu sudah tidak menjadi trend di pasaran”, kata Sooyoung yang kali ini berpendapat.
.

“Lalu, menurut kalian aku harus memakaikan long johns ini pada bayiku?” tanya Hyesoo.

.
“Tentu saja. Long johns ini akan sangat nyaman untuk dikenakan”, jawab Seo Kangjun dengan kepercayaan dirinya akan pakaian yang ia pilihkan untuk bayi Hyesoo kelak.
.

“Tutup mulutmu. Kau tidak perlu ikut berpendapat”, sergah Hyesoo.

.
“Kenapa? Aku sedang mencoba membantumu agar kelak bayimu terlihat stylist seperti pamannya ini”, sanggah Seo Kangjun.
.

“Bukankah kau datang kesini untuk menemui kakakmu? Pergilah! Kenapa kau masih berada disini?” kata Hyesoo mencoba mengusir Seo Kangjun karena pilihannya kalah dari sahabatnya itu.

.
Ketiganya pun sontak mengejek Hyesoo karena tidak bisa menerima kekalahannya. Namun, Hyesoo justru tertawa menerima ejekan itu dari tiga orang yang sudah berhasil memperbaiki suasana hatinya. Kesunyian dan kabut yang sempat menyelimuti hari-hari Hyesoo perlahan menghilang, meski mimpi buruk belum benar-benar meninggalkan malam panjangnya. Hyesoo akhirnya bisa merasakan kebahagiaan sederhana yang begitu dirindukanya. Tawa juga kembali menghiasi wajahnya. Keriangan yang dibawa oleh Hyeri dan Sooyoung mampu menarik keluar sisi bahagian seorang Lee Hyesoo yang hampir tenggelam bersama kesedihan yang dialaminya beberapa hari yang lalu. Hyeri dan Sooyoung masih sibuk dengan bujukkannya pada Hyesoo untuk membeli pakaian pilihan Seo Kangjun untuk diberikan pada bayi Hyesoo yang belum lahir. Tentu saja Seo Kangjun tidak ingin melewatkan moment itu hanya dengan berdiam diri. Ia pun ikut serta bersama Hyeri dan Sooyoung memberikan kata-kata manis tentang penampilan bayi Hyesoo jika mengenakan pakaian yang dipilihnya. Senyum Hyesoo pun mengembang. Bujukan ketiganya membuat Hyesoo tertawa hanya dengan menyaksikannya. Hyesoo baru saja ingin menjawab bujukan mereka, saat ponselnya bergetar kuat dari dalam saku celananya. Hyesoo pun menunda jawabannya atas bujukan Hyeri, Sooyoung, dan Seo Kangjun untuk menerima panggilan yang masuk ke ponselnya. Senyum di wajah Hyesoo sontak mereda saat ia melihat nama penelepon yang muncul di layar. Hyesoo segera menyentuh panel hijau di layar tanpa ragu.
.

Dimana kau, Lee Hyesoo?” tanya Kyuhyun tanpa berniat untuk memberikan salam terlebih dahulu.

.
“Yoboseyo. Itu adalah kata yang harus kau katakan diawal sambungan telepon”, kata Hyesoo tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.
.

Jawab aku”, kata Kyuhyun datar.

.
“Aku sedang berbelanja di Lotte World. Ada apa?” tanya Hyesoo.
.

Apa yang kau lakukan di toko perlengkapan bayi? Kenapa kau pergi kesana dengannya?” Kyuhyun balas bertanya.

.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Hyesoo yang merasa heran.
.

Jangan jawab aku dengan pertanyaan!” seru Kyuhyun diseberang telepon. Napasnya yang terdengar memburu menjelaskan pada Hyesoo betapa marahnya Kyuhyun saat ini.

.
“Apa ini, Cho Kyuhyun? Jangan katakan padaku bahwa kau sudah mengetahui keberadaanku bahkan sebelum kau menanyakannya padaku. Benarkah?” tanya Hyesoo. Namun, Hyesoo tidak mendapatkan jawaban apapun dari Kyuhyun. Pria yang berada diseberang telepon tetap bungkam hingga detik jam memasuki detik ke 30. “Jadi, sekarang kau sampai harus mengutus seseorang untuk mengikutiku? Sebesar itukah kecurigaanmu padaku?” tanya Hyesoo yang didengar oleh Sooyoung.
.

Apakah Seo Kangjun juga ada disana?” Kyuhyun balas bertanya tanpa menjawab pertanyaan Hyesoo.

.
Kyuhyun kembali menghancurkan suasana hatinya dengan mudah. Hyesoo pun menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya agar tidak terpancing dengan amarah Kyuhyun diseberang telepon. “Dia baru saja selesai menemui seseorang saat kami bertemu”, jawab Hyesoo.
.

Persetan! Kenyataannya adalah dia ada disana bersamamu, Lee Hyesoo! Jangan membuat alasan lain!” seru Kyuhyun.

.
“Ada apa denganmu? Aku tidak pernah menanyakan apapun perihal jadwal kunjunganmu yang melewati batas. Karena aku ingin memberikan waktu padamu untuk menenangkan diri hingga nanti saat kau kembali, kita bisa bicara secara baik-baik. Kukira dengan memberikan waktu padamu kau akan berpikir dengan jernih. Tapi, apa ini?” tanya Hyesoo.
.

Kau tidak mengindahkan peringatanku, Lee Hyesoo. Berapa kali aku harus mengatakan padamu bahwa aku tidak suka kau bersamanya untuk alasan apapun? Kenapa kau tidak pergi kesana dengan orang lain? Kenapa kau harus mengajaknya?” Kyuhyun tetap bersikeras menolak untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Hyesoo. Ia hanya menuntut jawaban atas pertanyaannya.

.
Disaat yang sama, tatapan mata Hyesoo bertemu dengan Sooyoung. Hyesoo pun memberikan senyum tipisnya pada Sooyoung sebelum beranjak keluar dari toko menuju tempat yang lebih sepi. “Astaga… Aku sudah mengatakannya padamu. Aku tidak mengajaknya. Aku tidak datang bersamanya. Kenapa kau tidak mau mendengarkanku?” tanya Hyesoo mencoba meyakinkan Kyuhyun.
.

Jangan bohongi aku, Lee Hyesoo. Hanya karena aku tidak berada disana, maka kau bisa membodohiku, begitu?” ujar Kyuhyun.

.
“Jadi, sekarang aku menjadi Lee Hyesoo yang selalu berbohong padamu?” tanya Hyesoo mencoba menetralkan hawa panas yang mulai meningkat dalam pembicaraan mereka.
.

Damn! Jangan alihkan pembicaraan!” seru Kyuhyun sekali lagi.

.
Kali ini Hyesoo sudah tidak bisa menahannya lagi. Meski apapun jawaban yang diberikannya pada Kyuhyun, pria itu tetap tidak bisa mempercayainya. “Benar, kau bodoh! Siapa orang dibalik kecurigaan tidak masuk akalmu ini? Apa yang dia ucapkan hingga membuatmu tidak mau mendengar penjelasan apapun dariku?” tanya Hyesoo setengah berseru agar tidak menarik perhatian pengunjung mall.
.

Dia hanya mengatakan apa yang dilihatnya”, jawab Kyuhyun dengan nada datarnya.

.
“Ternyata benar… Ada seseorang. Apa yang dilihatnya? Hanya Seo Kangjun yang sedang bersamaku, begitu? Jika dia adalah seorang wanita, maka dia memiliki penglihatan yang bagus karena bisa menangkap sosok pria tampan itu ditengah keramaian”, kata Hyesoo yang justru menuangkan bensin pada kayu yang terbakar.
.

Apa!” seru Kyuhyun.

.
“Hyeri dan Sooyoung bersamaku. Apakah dia juga mengatakan hal itu padamu? Tentu tidak, bukan? Karena orang itu hanya disibukkan dengan keinginannya untuk membuatmu bersikap seperti ini padaku”, kata Hyesoo.
.

Sekarang kau menggunakan Hyeri dan Sooyoung untuk melindungimu. Kau ingin aku mempercayainya begitu saja?” tanya Kyuhyun.

.
Fine! Jangan mempercayainya! Memang hanya aku yang salah. Kau bebas mempercayai siapapun yang memberikan laporan sampah itu padamu. Jangan mempercayai aku, istrimu! Kau bahkan tidak mempercayai bahwa bayi ini adalah darah dagingmu, bukan? Untuk apa kau mempercayai omong kosongku?” kata Hyesoo dengan kemarahan yang mulai memenuhi dirinya.
.

Lee Hyesoo! Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku meragukannya!” balas Kyuhyun dengan memberikan penekanan di setiap kata yang diucapkannya.

.
“Tidak. Sekarang aku yang akan memintamu. Tolong ragukan saja. Jangan percaya bahwa bayi ini adalah darah dagingmu. Kau boleh menganggap bayi dalam kandunganku adalah milik Kangjun. Karena, kau tahu? Mungkin aku akan sangat bersyukur dan merasa lebih bahagia jika memang dialah ayah dari bayiku. Setidaknya dia akan membuatku tetap tenang selama masa kehamilanku. Dia akan melindungiku. Dan, dia juga akan sangat menyayangi bayi ini dengan sepenuh hatinya. Tidak seperti kau yang justru melukaiku dengan pikiran burukmu!” kata Hyesoo. Air matanya pun mengalir setelahnya, membasahi pipi hingga ke dagunya.
.

Jaga bicaramu, Lee Hyesoo! Kau harus ingat siapa dirimu. Kau adalah istriku! Kau tidak bisa bicara seperti itu padaku. Jika bayi itu memang milikku, tidak boleh ada argumen lain yang boleh dikatakan selain kenyataan itu. Jangan libatkan hubunganmu dengan pria itu. Bayi itu milikku!

.
“Terserah padamu, Cho Kyuhyun. Aku sudah lelah berdebat denganmu. Sangat lelah. Kau begitu sulit untuk dihadapi. You’re so fucked up!”
.

Sambungan telepon diantara mereka terputus setelahnya, meninggalkan Hyesoo yang terisak karena pertengkaran yang kembali terjadi diantara mereka. Hyesoo menengadahkan kepalanya, mencoba menghentikan air mata yang terus keluar dari matanya. Tangan kanan Hyesoo pun sudah berkali-kali mengusap pipinya untuk menghapus jejak air mata disana. Namun, air matanya tidak mudah untuk dihentikan kali ini. Rasa sakit yang ditahannya kembali muncul, memberikan sesak yang begitu kuat di dadanya. Sementara itu, seseorang memperhatikan Hyesoo dari kejauhan. Bukan tatapan simpati yang terlihat, melainkan sebuah seringaian kecil di wajah cantiknya. Gadis itu menggelengkan kepalanya, kemudian berlalu meninggalkan tempatnya berdiri.

.
“Ini menjadi semakin menarik, Cho Kyuhyun” kata Suzy.
.

.
.

TBC

.
Note:
Annyeonghaseyo, readersnim-deul!!!
Yeay! Akhirnya FF Sequel ini bisa diteruskan dan diselesaikan! Sudah lebih dari dua bulan sejak Beautiful Tomorrow part 4 yang lalu (walaupun sebelum part ini muncul aku sudah update kelanjutan FF dengan judul lain). Pertama, tentu saja aku minta maaf karena harus menghabiskan waktu dua bulan untuk menyelesaikan part ini. Kedua, lagi-lagi minta maaf. Kali ini karena aku justru merasa sangat senang setelah berhasil menyelesaikan part ini, disaat ending part ini justru memberikan feel yang berbanding terbalik dengan kegembiraan aku. Ketiga, aku harap kalian belum melupakan jalan ceritanya. Karena, kalau lupa, aku akan sangat sedih ㅜㅜ
Nah, readersnim, cukup ramah tamahnya. Sekarang kita masuk ke cerita dalam part ini. Entah kenapa aku merasa ada satu atau dua orang diantara kalian (yang “mungkin” comment) yang akan ngata-ngatain satu tokoh bernama Bae Suzy. Betul? Aku pun (padahal aku yang menciptakan karakter itu. hm…) Masalah diantara Kyuhyun dan Hyesoo menjadi semakin rumit karena kehadiran Suzy diantara mereka. Siapa setuju? Atau justru ada diantara kalian yang juga menyalahkan Kangjun? Hm… Boleh… Boleh… Kalian berhak menentukan pilihan siapa yang akan lebih kalian tidak sukai. Kira-kira akan kemana arah cerita ini? Apakah akan berakhir bahagia? Atau justru “tidak terlalu” bahagia? FYI sih readersnim, Beautiful Tomorrow tidak selamanya akan memiliki arti sebuah happy ending loh. Hm… Aku tidak sedang memberikan clue untuk akhir cerita kok. Tenang saja. Semua hal bisa terjadi. Well, sepertinya cukup sampai disini obrolan dariku. Semoga kalian masih bisa menikmati kisah ini. Kana pamit! Annyeonghigaseyo!!!

Advertisements

23 thoughts on “Beautiful Tomorrow : Part 5

  1. Nafsu pengen cekik suzy.serius
    Huwaaasa jamvret tyh orang..kyu juga dongok mau aja percaya tnpa cr tau meski se cemburu apa pun.

    Like

  2. Alamak baca part ini ikut emosi sendiri deng!!! Paling kesel sama kyuhyun waktu ngeraguin anaknya sendiri itu😡Kesel sama hyesoo karena keras kepala juga apa salahnya juga konsultasi ke dokter yg lain biar gak salah paham kan kyuhyun udah bilang gk suka,meskipun mereka cuma sahabat apa salahnya hindari hal2 yg memicu perpisahan lagi😭😭😭💔jangan sampek deng,nih dua orang emang keras kepala😒😞tuh lagi karakter yeoja baru yg so damn parasit deh.

    Like

  3. Yak,kesel sama bae Suzy
    Kasihan ibu hamil dibuat stres
    Dasar…,..,pingin jambak cakar sekalian

    Hyesoo fighting
    Kyuhyun toyor sini lah,oon banget sih

    Like

  4. Setelah sekian lama menunggu akhirnya d lanjut juga, yaaaa bnr2 tuhhh suzy mengadu domba kyu n hyeso. Kyu u bidoh amat sihhhhh, bknnya mencari kebenarannya malah menuduh hyeso yg gak2. Sekarang hyeso bnr2 sakit hati hati dg sikapmu. Apa u mw hyeso pergi lagi dr kehidupanmu???? Sepertinya kyu hrs d sadaekan dehhhh, kmn tmn2nya knp gak da yg menyadarkan kyu sihhhh. Semoga hub merka bisa baik n memperbaiki kesalahfahamn. Pecat tu suzy agar tdk membuat kacau aja.

    Like

  5. Huh tarik napas keluarkan tarik napas kluaran tarik napas kluarkan huhhhh
    Bnran yaaaa aku kesel bgt bacanya ternyata si suzy yg ngadu domba dsr jalang murahan sialan
    Kyu lu harusnya percaya sma hyunsoo knpa msti percya sma omongan orang lainn

    Hyunsoo ya udh deh tunggalin aja kyuhyun lagi sma seo kangjun skalian aja

    Like

  6. Kyuhyun g cm meragukan hyesoo tp dy scr g sadar melukai ny, pecemburu ,sikap posesif nya bnr” parah kyuhyun bnr” nguras kesabaran hyesoo yg lg mengandung y alloh smg za kyu dibuat nyesel dg apa yg dy lkuin kali ini , dan g dim’fin dg mudah sm hyesoo suzy dy perusak rmhtngga kyusoo yg tdny harmonis nyebelliiiiiiiinn .. Dasar nenek sihir jahat 😀

    Like

  7. sebelumnya fanfict ini terinspirasi dr lagunya park hyo shin bukan? Kalo iya ya rada tau alurnya nanti kemana. Tadi sempet mikir fikiran aku salah kalo suzy perannya antagonis, eh ternyata bener dia antagonis -,- suzy sedang berusaha balas dendam atau dia emang pure suka ke kyuhyun hingga dia berbuat gini? Dan kyuhyun yang dulunya udah prnh ditinggalin dikasih kesempatan lagi sama hyesoo tp kesempatannya malah disia-siain. Kalo misal nanti hyesoo udah bener-bener marah wassalam deh kayaknya si kyuhyun XD
    Dannnn kak please part ini sering2 dilanjutnya ya kak, aku lebih suka sama yg ini

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s