It supposed to be me : Part 6

Author: Okada Kana

Category: PG-15, Romance, Chapter, Family

Cast:

Cho Kyuhyun, Kwon Yunji (OC), Lee Donghae, Kwon Yuri

Choi Minho, Hong Jonghyun, etc…

Disclaimer:

Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi atau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Jadilah pembaca yang baik dan sopan. No bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Saran dan kritik membangun akan diterima dengan senang hati. Selamat membaca!!!

Jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com

.

.

.

It supposed to be me : Part 6

Please, let me in…

.

.

Author’s POV

Y University

.

Taksi yang dinaiki oleh Yunji akhirnya tiba di pelataran kampus. Yunji pun keluar dari taksi dengan ekspresi muram di wajahnya. Ia menutup separuh wajahnya dengan masker, serta tidak lupa memasang headset di kedua telinganya. Yunji tidak sedang dalam suasana hati yang cukup baik untuk memberikan sapaan selamat pagi pada semua orang yang berpapasan dengannya saat ini. Yunji berjalan diatas trotoar menuju gedung fakultasnya. Ia masih harus menempuh jarak kira-kira 20 meter dari tempatnya turun tadi. Sebenarnya, taksi yang dinaiki oleh Yunji bisa saja berhenti tepat di depan gedung. Hanya saja Yunji tidak meninginkannya. Yunji membutuhkan waktu lebih banyak untuk menenangkan dirinya sebelum masuk ke kelas. Yunji sudah mencoba untuk tetap tenang sepanjang perjalanan. Namun, sepertinya usaha Yunji belum membuahkan hasil. Rasa tidak nyaman itu tetap bersarang dalam dirinya, membuatnya sesak dan mual. Yunjipun memutuskan untuk duduk sebentar di salah satu bangku taman yang terdekat darinya. Kerutan kecil di kening Yunji terlihat setelahnya karena rasa tidak nyaman itu muncul seketika. Terlalu banyak hal yang berputar dalam pikiran Yunji. Ia tidak bisa berkonsentrasi pada satu hal saat ini. Kilasan peristiwa yang terjadi beberapa saat yang lalu kembali meresahkan Yunji. Ada penyesalan yang dirasakan oleh Yunji atas sikapnya pada Kyuhyun. Semarah apapun dirinya, Kyuhyun tidak sepantasnya menerima amarah Yunji yang meluap. Kyuhyun mengatakan hal yang benar. Yunjilah yang memintanya untuk datang. Maka suka atau tidak, Kyuhyun pasti terlibat. Setelahnya, Yunji menghembuskan napas panjangnya, yang terdengar begitu berat.

.

Ditempat berbeda, Kyuhyun hanya berdiam diri dengan wajah muramnya di salah satu taman yang terletak tidak jauh dari Gedung Pertunjukan Fakultas Seni. Kyuhyun merebahkan tubuhnya diatas padang rumput. Sinar matahari pagi itu terhalang oleh rimbunnya pohon besar, menghalau sinar untuk mengenai wajahnya. Angin yang bertiup membuat dedaunan saling bergesekan, menimbulkan suara yang meramaikan suasana teduh di taman itu. Kyuhyun tidak seorang diri disana, beberapa kelompok kecil mahasiswa fakultas seni juga terlihat sedang melakukan kegiatan mereka. Beberapa diantara mereka terlihat sedang menari diiringi oleh petikan gitar yang mengalun indah. Beberapa yang lainnya justru menari tanpa iringan musik apapun. Suasana di taman itu bertambah ramai dengan bergabungnya suara kicauan burung yang berterbangan dari satu pohon ke pohon lainnya. Namun, dalam keramaian itu pandangan mata Kyuhyun yang kosong justru tetap tidak teralihkan. Bahkan suara Ryeowook yang sedang berlatih untuk pertunjukan musikal pun tidak bisa menarik perhatiannya.

.

“Kau masih belum mendapatkan jawabannya?” tanya Ryeowook yang menghentikan sejenak latihannya. “Kau sudah berdiam diri seperti itu selama hampir setengah jam. Apakah tetap tidak ada kesimpulan yang bisa kau buat?”

.

“Jangan mengajakku bicara. Aku sedang berpikir”, jawab Kyuhyun datar.

.

“Ah… Aku bisa gila. Kalau begitu, berpikirlah di tempat lain! Kau mengganggu konsentrasiku dalam berlatih saja”, keluh Ryeowook.

.

“Bagaimana bisa aku mengganggumu? Aku tidak melakukan apapun sejak tadi, Kim Ryeowook”, bantah Kyuhyun.

.

“Justru karena kau hanya berbaring menatap ke langit tanpa mengatakan apapun, yang akhirnya menggangguku”, ujar Ryeowook. “Apa yang sedang kau pikirkan dengan begitu keras seperti itu? Hm? Apakah masih pertanyaan yang sama? Kenapa Kwon Yunji marah padamu?” tanya Ryeowook setelahnya.

.

“Memangnya ada masalah selain itu sejak tadi?” balas Kyuhyun yang menghela napas panjang setelahnya. “Dia membuatku merasa sangat bingung. Dia meneleponku, meminta bantuanku. Aku datang secepat mungkin. Kau tahu, Ryeowook-ah? Awalnya dia baik-baik saja. Lalu suasana hatinya berubah karena sebuah kejadian kecil. Aku sudah membantu untuk mengatasinya. Tapi, dia justru marah padaku”, kata Kyuhyun mengutarakan kebingungannya pada sahabatnya itu.

.

“Apakah kau menyukai Kwon Yunji?” tanya Ryeowook keluar dari topik pembicaraan utama mereka.

.

“Apakah sejak tadi kau tidak mendengarkan aku? Ada apa denganmu? Tiba-tiba saja mengalihkan pembicaraan dengan pertanyaan seperti itu”, kata Kyuhyun keberatan.

.

“Apakah pertanyaanku sulit? Jawab saja”, ujar Ryeowook.

.

“Entah. Aku tidak tahu”, jawab Kyuhyun malas. “Apa hubungannya hal itu dengan masalah yang sedang kupikirkan?” tanya Kyuhyun setelahnya.

.

“Karena kau terlalu keras memikirkan masalah itu, Kyuhyun-ah”, jawab Ryeowook.

.

“Tentu saja aku harus berpikir dengan keras. Dia marah padaku untuk hal yang tidak kumengerti, Ryeowook-ah”, ujar Kyuhyun.

.

“Ch… Kau bahkan tidak mengerti dengan perasaanmu sendiri. Bagaimana bisa kau mencoba untuk mengerti Yunji?” balas Ryeowook yang menunjukkan seringaian kecil di sudut bibirnya.

.

Kyuhyun kembali menghela napas panjang. Kemudian ia bangun dari posisi tidurnya, lalu duduk menghadap pada Ryeowook. “Sejauh ini kupikir aku sudah bisa benar-benar mengerti dirinya. Yunji begitu rumit. Aku harus berpikir  keras hanya untuk memahaminya. Aku selalu berusaha melakukan yang kubisa untuk membantunya. Dia tetap tidak terbaca. Tapi, aku tidak punya cukup kemampuan untuk membiarkannya seorang diri”, kata Kyuhyun menjelaskan.

.

“Kau menyukainya, Cho Kyuhyun”, kata Ryeowook. Kali ini kalimat yang diucapkannya itu berupa sebuah pernyataan, bukan pertanyaan.

.

“Tentu saja. Dia temanku juga, inma”, jawab Kyuhyun.

.

“Bukan rasa suka sebagai seorang teman. Tapi, sebagai seorang laki-laki pada seorang gadis”, kata Ryeowook memperjelas.

.

“Aku? Benarkah? Aku?” tanya Kyuhyun ragu.

.

Ryeowookpun menganggukkan kepalanya pelan, yakin akan ucapannya. “Benar. Kau. Aku bisa mengetahuinya dengan mudah setelah melihat dan mendengarmu. Yunji begitu mudah untuk dicintai, Cho Kyuhyun. Tapi, meraihnya adalah hal yang sangat berbeda”, kata Ryeowook.

.

Hening pun menyelimuti keduanya selama beberapa saat. Kyuhyun tidak menyadari bahwa dirinya tetap pada kebungamannya sambil menatap Ryeowook. Kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Ryeowook seolah sedang berputar didalam kepalanya. Kyuhyun berusaha mencari maksud sebenarnya dibalik ucapan itu, yang Kyuhyun rasa sangat jauh berbeda jika diartikan seperti yang terucap. Kyuhyun yakin ada hal lain dibalik kata-kata yang diucapkan Ryeowook padanya.

.

“Kenapa kau beranggapan bahwa Yunji sulit untuk diraih? Laki-laki yang bernama Choi Siwon pernah berhasil”, ujar Kyuhyun.

.

Kini giliran Ryeowook yang merebahkan tubuhnya diatas rerumputan. Ryeowook menopang kepalanya dengan kedua tangannya yang dijadikan bantalan. “Masa itu sangat berbeda dengan sekarang, inma. Yunji yang ceria masih berada disana. Maksudku Yunji yang benar-benar ceria, tanpa pura-pura. Saat itu kebahagiaan benar-benar murni Yunji rasakan. Tidak seperti saat ini. Tentu saja Siwon sunbae berhasil meraihnya dalam kondisi seperti itu. Kau tahu? Saat itu keduanya sangat bahagia”, kata Ryeowook.

.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Kyuhyun penasaran.

.

“Aku juga berada di masa itu”, jawab Ryeowook santai. “Hm… Bisa dikatakan bahwa aku adalah versi berjarak dari Lee Donghae”, sambung Ryeowook.

.

“Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun yang merasa bingung dengan ucapan terakhir Ryeowook.

.

Sebuah helaan napas panjang terdengar dari Ryeowook setelahnya. Ryeowook pun memejamkan matanya perlahan sambil meraih tasnya untuk menggantikan tugas kedua tangannya sebagai bantal dibawah kepalanya. “Saat itu aku seperti Lee Donghae di masa ini”, jawab Ryeowook mengawali penjelasannya. “Hanya saja, aku tidak memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Yunji seperti yang dimiliki oleh Lee Donghae saat ini. Aku menyukai Yunji, menjadi temannya, dan duduk di kelas yang sama dengannya selama dua tahun di bangku SMA. Kwon Yunji yang cantik seperti saat ini. Hanya saja senyuman tulus dan tawa lepas lebih sering terlihat dari wajahnya kala itu. Dia tidak berpura-pura bahagia seperti sekarang, Kyuhyun-ah. Kurasa kau juga mengetahuinya, bukan?” kata Ryeowook.

.

“Kadang ada saat dimana Yunji benar-benar merasa bahagia, Ryeowook-ah. Meski senyum diwajahnya lebih sering digunakan sebagai tameng, tapi senyum tulus itu masih ada disana. Begitu pula dengan tawa riangnya”, ujar Kyuhyun menyanggah ucapan Ryeowook.

.

“Hal yang satu itu adalah poin tambahmu, Cho Kyuhyun”, kata Ryeowook yang tiba-tiba saja keluar dari topik utama pembicaraan mereka. Setidaknya hal itulah yang dipikirkan oleh Kyuhyun. Namun, sebenarnya Ryeowook masih membicarakan hal yang sama sejak tadi, yaitu seberapa tepatnya kehadiran Kyuhyun bagi Yunji.

.

“Poin tambah?” tanya Kyuhyun bingung.

.

“Benar. Poin tambah”, jawab Ryeowook menekankan. “Ketahuilah, di kampus ini hanya ada dua kategori orang-orang yang berada disekitar Yunji. Pertama, orang-orang yang melihatnya sebagai Yunji yang ceria, tenang, dan tanpa beban. Dan kedua, orang-orang yang sudah menduga [kepura-puraan Yunji], tapi tetap tidak bisa mengetahuinya. Sebagian besar dari mahasiswa di kampus ini berada di kategori pertama dan Lee Donghae masuk ke dalam kategori kedua. Seberapa keras pun Lee Donghae berusaha, Yunji tidak pernah mengatakan apapun padanya. Lalu ada kau yang tidak masuk dalam kategori manapun. Karena kau sudah melangkah masuk ke dalam lingkarannya, tapi masih berada dekat dengan garis pembatas. Jika diibaratkan dengan sebuah ruangan, kau baru saja masuk dan langkahmu terhenti dibalik pintu. Kau belum benar-benar masuk. Tapi tetap saja, kau sudah masuk”, kata Ryeowook menjelaskan maksud dari ucapannya.

.

“Jadi, maksudmu adalah aku sudah berada didalam, tapi jarakku masih cukup jauh dari pusat. Begitu?” tanya Kyuhyun memastikan pemahamannya akan ucapan Ryeowook.

.

“Entahlah. Aku justru merasa jarak pintu yang kau lewati itu tidak terlalu jauh dari pusatnya. Karena kenyataan yang terjadi begitu jauh dari perkiraan. Kau mampu membaca Yunji dengan mudah, disaat Donghae yang berada didekat Yunji bertahun lamanya bahkan tidak mampu melakukan itu. Terlebih melihat sikap Yunji yang bisa mengungkapkan dirinya padamu dengan bebas tanpa ragu. Hal itu sudah menjelaskan bahwa kau tidak termasuk dalam dua kategori yang kusebutkan tadi. Dan, jarakmu tidak jauh. Karena tanpa sadar perlahan Yunji juga menarikmu masuk ke dalam lingkarannya. Dalam bahasa yang lebih sederhana, Yunji juga menyukaimu. Dia hanya merasa ragu karena situasi disekitarnya”, kata Ryeowook yang akhirnya meringkas semua pendapat yang dimilikinya tentang situasi diantara Yunji dan sahabatnya itu.

.

“Hhh… Jangan bicara yang tidak-tidak, Ryeowook-ah. Aku tahu Yunji menyukaiku, tapi hanya sebagai seorang teman. Dia tidak mungkin memiliki perasaan lain padaku. Dia bahkan marah padaku saat aku mengatakan bahwa aku adalah kekasihnya pada kakaknya tadi”, sangkal Kyuhyun.

.

“Tentu saja dia marah padamu”, kata Ryeowook yang segera kembali ke posisi duduknya. “Memangnya apa yang kau harapkan? Yunji mengucapkan terima kasih padamu, lalu memberikan pelukan hangat? Hhh… Jangan katakan bahwa kau pikir dengan menyatakan diri sebagai kekasihnya didepan kakak perempuannya, maka kau sudah membantunya. Lalu setelahnya dengan mudah kau mengambil kesimpulan bahwa Yunji hanya menyukaimu sebagai seorang teman. Karena jika benar, maka kau sudah salah menilainya, inma”.

.

“Aku semakin tidak mengerti dengan ucapanmu. Jika memang begitu, persis seperti yang kau katakan. Lalu, kenapa dia sangat marah padaku? Aku memang melakukan itu untuk membantunya, Kim Ryeowook”, kata Kyuhyun masih berada dalam kebingungannya.

.

“Karena kau tahu banyak hal tentangnya, Cho Kyuhyun. Seperti yang selalu kau ceritakan padaku, kau mampu membacanya dengan mudah. Dan, kau sudah termasuk orang yang benar-benar mengenalnya, tentu saja selain ketiga sahabatnya dan beberapa orang terdekatnya. Dalam posisimu, seharusnya kau tahu bahwa mengatakan hal itu justru akan menambah masalahnya. Yunji tidak sedang berada dalam situasi yang menyenangkan untuk menambah jumlah orang dalam permasalahannya. Kau sendiri yang menceritakan padaku bahwa ada seorang laki-laki yang Yunji temui di pesta keluarganya sabtu lalu. Jika ada banyak laki-laki yang ditemuinya, maka kau tidak perlu memikirkan apapun. Tapi, hanya ada satu laki-laki, Kyuhyun-ah. Apa kau tidak tahu arti dibalik kejadian yang dibuat seolah tidak direncanakan itu?” kata Ryeowook mencoba memancing akal sehat Kyuhyun agar berjalan sesuai yang ia inginkan.

.

“Apa yang sedang kau coba bicarakan? Jadi, maksudmu mereka berencana menjodohkan Yunji dengan laki-laki itu? Tidak mungkin”, kata Kyuhyun dengan sangkalan kerasnya.

.

“Kenapa? Tidak ada alasan yang bisa menjadikan hal itu tidak mungkin. Seorang laki-laki muda hadir bersama kedua orangtuanya dalam sebuah pesta dengan hawa bisnis disekitar mereka. Perjodohan adalah alasan terkuat atas kehadiran laki-laki itu, Cho Kyuhyun. Ch… Aku tidak menduga kau akan……sepolos ini. Karena itulah aku sering memaksamu menuruti keinginan Presidir Cho untuk ikut bersamanya menghadiri pertemuan bisnis. Disana kau bisa menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri ada nyala yang berbeda di mata para tamu yang hadir. Sebagian besar dari mereka haus akan peluang bisnis. Mereka akan mencari peluang sekecil apapun dalam diri setiap pebisnis sukses yang hadir seorang diri, maupun bersama anak-anaknya. Cobalah untuk ikut sesekali. Mungkin tawaran perjodohan juga akan datang padamu”, kata Ryeowook dengan santai.

.

Kyuhyun terdiam. Ucapan Ryeowook kembali berputar di kepalanya. Beberapa pernyataan bergaung seperti bisikan-bisikan yang saling bersautan. Sementara pernyataan lainnya terdengar seperti seruan untuk menyadarkan Kyuhyun dari ketidakpekaannya. Kyuhyunpun kembali merebahkan tubuhnya diatas rerumputan. Ia menggunakan tas Ryeowook sebagai penyangga kepalanya. Tangan kanan Kyuhyun bergerak dari sisi tubuhnya, perlahan mendekati wajahnya, dan berakhir sebagai penutup matanya yang terpejam. Berbagai pikiran muncul didalam kepala Kyuhyun. Ada sisi dalam diri Kyuhyun yang merasa bahwa semua hal yang dikatakan oleh Ryeowook tidak salah. Namun disaat yang sama, Kyuhyun justru meragu. Kyuhyun menyangkal semua hal yang ia dengar dari Ryeowook. Sesaat setelahnya, Kyuhyun sudah semakin terlarut dalam pikirannya. Ia kembali menghilang dalam dunianya. Suara Ryeowook yang melantunkan bait demi bait yang tertulis di sebuah kertas ditangannya bahkan tidak mampu menggugah Kyuhyun. Sementara disisi lain kampus itu, sebuah mobil berhenti diseberang jalan, tepat didepan Yunji yang masih duduk di salah satu bangku dipinggir trotoar. Seorang wanita muda dengan setelan blazer dan skirt selutut keluar dari mobil itu setelahnya. Yunji tetap tidak bergeming di posisinya, meski atmosfir yang mengintimidasi yang muncul akibat kehadiran mobil hitam itu begitu terasa. Kedua mata Yunji bergerak gugup memperhatikan lingkungan sekitarnya. Sebuah helaan napas lega terdengar begitu pelan dibalik masker yang menutupi separuh wajahnya. Wajah Yunji mengeras saat derap langkah kaki jenjang wanita itu semakin mendekat padanya. Langkah kaki itu berhenti kurang dari satu meter disisi kiri Yunji.

.

“Selamat siang, Nona……”

.

“Apa yang anda inginkan?” tanya Yunji memotong sapaan tidak terselesaikan dari wanita itu tanpa menatapnya. Kemudian Yunji melepaskan masker serta headsetnya untuk mempermudah melakukan pembicaraan yang sesungguhnya membuat Yunji merasa kesal.

.

“Nama saya Shin Ji Hyun. Saya……”

.

“Aku tanya, apa yang anda inginkan?” tanya Yunji sekali lagi. Kali ini dengan tatapan tajam tepat ke kedua mata wanita yang memperkenalkan diri sebagai Shin Ji Hyun itu.

.

“Nyonya Kwon meminta saya untuk menjemput anda, nona. Beliau ingin anda menemuinya”, kata Shin Ji Hyun.

.

“Baiklah. Aku akan menemuinya setelah kuliahku selesai”, kata Yunji.

.

“Saya khawatir Nyonya Kwon tidak ingin menunggu selama itu, nona”, ujar Shin Ji Hyun.

.

“Kalau begitu katakan padanya untuk tidak menunggu. Aku tidak akan datang”, balas Yunji berpegang pada ucapannya.

.

Shin Ji Hyun menghela napas pelan dibalik senyum tipisnya pada Yunji. Kini ekspresi diwajahnya terlihat sekeras Yunji. “Baiklah, jika anda bersikeras. Sepertinya saya harus meminta maaf pada anda, nona. Karena saya rasa saya harus memaksa anda untuk ikut bersama saya dengan bantuan beberapa orang yang ada didalam mobil. Nyonya Kwon memberikan perintah itu pada saya. Dan, saya memiliki kebebasan penuh untuk melakukan itu dengan cara apapun yang bisa saya lakukan”, ancam Shin Ji Hyun.

.

Yunji sontak menyeringai, kemudian tawa kecil menyertai seringaian itu, menjadikan tawa Yunji terdengar seperti sebuah sarkasme. “Hhh… Aku sedikit terkejut. Seharusnya aku sudah menduganya sejak awal. Tentu saja Nyonya Kwon akan mempekerjakan orang-orang yang memiliki sifat serupa dengannya. Tentu saja…” kata Yunji yang kemudian menghela napas panjang. Senyum diwajah Yunji sudah menghilang, digantikan dengan ekspresi wajah mengerasnya yang kembali. “Aku tidak ingin menyusahkan siapapun. Hari masih terlalu pagi untuk membuat keributan dan menarik perhatian banyak orang”, sambung Yunji sambil bangkit berdiri, lalu berjalan mendahului Shin Ji Hyun menuju mobil yang menunggunya diseberang jalan.

.

Seorang pria keluar dari pintu depan sebelah kanan mobil, lalu membukakan pintu belakang untuk Yunji. Ia membungkukkan badannya untuk memberikan salam pada Yunji, sambil tetap memegangi pintu yang sudah terbuka. Namun, Yunji tidak sedang dalam suasana hati yang cukup baik untuk membalas salam dari pria itu. Yunji merasa begitu marah saat ini. Sikap baik tidak sedang menyelimuti dirinya. Tiba-tiba Yunji menghentikan langkahnya saat jaraknya dengan mobil kurang dari setengah meter. Hal itu membuat pria yang berdiri didekat Yunji lantas bersikap siaga akan semua hal yang mungkin akan Yunji lakukan. Sikap yang tidak jauh berbeda juga ditunjukkan oleh Shin Ji Hyun yang sudah berdiri di pintu lain di seberang Yunji. Keduanya memperhatikan Yunji dengan tatapan waspada. Yunji menyadar kewaspadaan yang terjadi diantaranya itu. Sebuah senyum tipis dibibirnya membuktikan bahwa dirinya menganggap konyol sikap yang ditunjukkan oleh dua orang yang notabene adalah utusan dari ibunya sendiri. Kemudian Yunji mengangkat wajahnya, menatap tajam pada Shin Ji Hyun dihadapannya. Senyum tipis diwajah Yunjipun berubah menjadi seringaian kecil sesaat setelahnya.

.

“Shin Ji Hyun-ssi”, sebut Yunji.

.

“Ne”, jawab Shin Ji Hyun tegas.

.

“Bisakah aku menanyakan sesuatu?” tanya Yunji.

.

“Tentu saja, Nona”, jawab Shin Ji Hyun.

.

“Pada siapa anda bekerja? K Dome Corp atau Nyonya Kwon?” tanya Yunji.

.

“Saya bekerja untuk K Dome Corp, Nona. Presidir Kwon yang mempekerjakan saya, jika anda ingin mengetahuinya juga”, jawab Shin Ji Hyun menambahkan penjelasannya.

.

“Begitu… Jadi, kau juga tahu bahwa aku memiliki saham yang cukup besar disana, bahkan melebihi ibuku, bukan?” Yunji kembali mengajukan pertanyaannya.

.

“Ne?” Shin Ji Hyun mengutarakan keterkejutannya pada pertanyaan Yunji, membuat senyum diwajah Yunji melebar karena mendengarnya.

.

“Rupanya kau tidak tahu. Menarik… Ah, aku tidak sedang memberikan tes padamu. Aku hanya ingin memberikan informasi lebih banyak padamu. Setidaknya kau harus tahu bahwa aku punya kemampuan yang lebih besar untuk mempertahankan atau memecatmu, dibandingkan dengan ibuku”, kata Yunji dengan nada datar.

.

“Apakah anda sedang mengancam akan memecat saya setelah ini, Nona?” tanya Shin Ji Hyun ragu.

.

“Tidak. Kenapa aku harus melakukan itu? Merusak kehidupan orang lain hanya karena merasa kesal bukan keahlianku. Nyonya Kwon sepertinya tidak mewariskan kemampuan itu padaku. Sayang sekali…” kata Yunji dengan nada sarkastiknya. “Tapi, ketahuilah, Shin Ji Hyun-ssi, nyonya Kwon tidak punya kekuasaan sebesar itu. Kusarankan padamu, sebaiknya kau bekerja untuk Kwon Yuri saja. Dia akan lebih menguntungkanmu”, sambung Yunji. “O! Tapi, berhati-hatilah. Kemampuan Kwon Yuri dalam menghancurkan hidup orang lain tidak dapat diremehkan. Dia tidak menolerir kesalahan sedikitpun. Aku hanya memberikan saran padamu, Ji Hyun-ssi. Aku tidak ingin kau terluka karena sudah bekerja pada orang yang salah”.

.

“Baik, Nona. Saya akan mengingat ucapan anda dengan sangat baik”, jawab Shin Ji Hyun dengan keteguhan dalam sikap dan kata yang diucapkannya.

.

“Hhh… Sifatmu cukup menarik. Kau tidak tergoyahkan. Aku menyukainya…” kata Yunji melontarkan pujiannya pada Shin Ji Hyun. ‘Tapi, bagaimana ini, Ji Hyun-ssi? Ada hal lain yang mungkin sudah kau ketahui. Atau belum… melihat sikapmu saat ini. Kau tahu? Anak perempuan termuda Presidir Kwon Dae Young, namanya Kwon Yunji, jika kau perlu penjelasan yang lebih rinci, dia tidak pernah suka duduk bersama orang asing. Dan, memaksanya berada dalam mobil yang sama dengan orang yang sudah membuatnya kesal? Kau bercanda…” sambung Yunji dengan tawa kecil yang menyertai ucapannya. Namun, tiba-tiba tawa itu lenyap, digantikan dengan ekspresi datarnya. “Dia sangat membencinya, Ji Hyun-ssi. Ah! Nyonya Kwon tidak memintaku mengatakan itu padamu. Tapi, aku punya hak penuh untuk melakukannya padamu. Hm… Ada banyak taksi disekitar sini. Jadi, sampai bertemu di rumah, Shin Ji Hyun-ssi”, kata Yunji mengutip ucapan yang dikatakan oleh Shin Ji Hyun sebelumnya.

.

Yunji pun segera masuk ke dalam mobil. Pria yang membukakan pintu bagi Yunji segera menutupnya rapat dan masuk ke tempatnya semula. Yunji bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia meminta pengemudi untuk segera meninggalkan tempat itu, tanpa mempedulikan Shin Ji Hyun yang masih berdiri diluar dalam keadaan terkejut. Baik Yunji maupun Shin Ji Hyun, keduanya tidak pernah membayangkan situasi itu akan terjadi. Sikap Shin Ji Hyun membuat Yunji merasa begitu jengkel, hingga ia harus mengatakan hal yang sebenarnya sangat dibenci olehnya. Yunji tidak pernah suka menggunakan kekuasaan untuk membuat orang lain merasa kecil dihadapannya. Namun, ucapan Shin Ji Hyun rupanya membuat Yunji merasa semakin kesal. Amarah yang dirasakan Yunji akibat kejadian sebelumnya bertambah berkali lipat hanya karena mendengar ucapan Shin Ji Hyun. Dalam perjalanannya menuju rumah, Yunji lantas merutuki dirinya karena perbuatan yang selalu dihindarinya itu. Ia memarahi dirinya sendiri didalam kepalanya, sambil berjanji untuk tidak pernah melakukannya lagi pada siapapun di kesempatan yang lain.

.

.

.

Kediaman Keluarga Kwon

.

Sudah 15 menit Yunji terkurung dalam ruang perpustakaan milik keluarganya. Beberapa pelayan sudah datang dan pergi beberapa kali untuk menawarkan makanan atau minuman pada Yunji, namun Yunji selalu menolaknya dengan tegas. Yunjipun duduk disebuah sofa yang terletak di bagian utama perpustakaan itu. Ia memegang sebuah buku dipangkuannya. Namun, pikiran Yunji justru tidak berada disana bersamanya. Ia memikirkan kemungkinan demi kemungkinan alasan tindakan yang dilakukan oleh ibunya saat ini. Yunji sudah yakin akan beberapa hal. Pertemuan Yuri dengan Kyuhyun beberapa jam yang lalu tentu berada dalam daftar alasan pemanggilan Yunji ke rumah. Kemudian, hubungan keluarga Kwon dengan keluarga Hong berada di urutan kedua yang bisa Yunji pastikan. Selama 15 menit keheningannya di ruangan itu, Yunji belum menemukan dugaan lain yang bisa ia jadikan alasan. Kecemasan akhirnya menyelimuti Yunji. Ruangan yang berhawa dingin itu semakin membuat saraf-saraf dalam tubuhnya menegang. Rumah itu memang sudah tidak memberikan kenyamanan padanya sejak bertahun lalu. Hingga suara pintu yang terbuka menarik kembali pikiran Yunji ke tubuhnya. Nyonya Kwon masuk kedalam ruangan dengan ekspresi marah diwajahnya. Derap langkah yang terdengar dari high heels hitamnya terdengar seperti dentuman keras di telinga Yunji. Nyonya Kwon membawa hawa permusuhan dengannya saat jarak diantara mereka mulai terhapus perlahan, mengencangkan pegangan erat jantung Yunji agar tetap berada ditempatnya.

.

“Siapa laki-laki itu?” tanya Nyonya Kwon tanpa basa-basi.

.

Keheningan sempat melanda keduanya saat Yunji tidak segera menjawab pertanyaan ibunya. “Siapa yang eomma bicarakan?” Yunji balas bertanya.

.

“Tidak perlu berpura-pura tidak tahu, Yunji-ya. Eomma sudah tahu semuanya. Yuri memberitahu eomma sesampainya dia di rumah. Jadi, siapa laki-laki itu?” tanya Nyonya Kwon lagi.

.

“Dia hanya seorang laki-laki yang tidak perlu eomma khawatirkan”, kata Yunji yang tidak memberikan jawaban yang diinginkan oleh ibunya.

.

“Kau ingin bermain-main dengan eomma?” tanya Nyonya Kwon dengan penekanan dalam tiap kata yang diucapkannya.

.

“Tidak, terima kasih. Ada banyak pekerjaan yang lebih penting untuk kulakukan”, jawab Yunji.

.

“Kwon Yunji…”

.

Yunjipun bangkit berdiri, berusaha untuk mempertahankan ucapannya. “Aku sudah memberikan jawabanku pada eomma. Dia memang hanya seorang laki-laki yang tidak perlu eomma khawatirkan. Eomma hanya perlu mengabaikannya. Dia tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga ini. Dia tidak akan membahayakan inventaris keluarga ini, jika eomma ingin aku mengutarakan apa dugaanku tentang kekhawatiran yang eomma rasakan”, kata Yunji menjelaskan.

.

“Dia memiliki hubungan denganmu”, kata Nyonya Kwon yang lantas membuat kening Yunji berkerut.

.

Yunji merasa kalimat yang diucapkan oleh ibunya terdengar sedikit janggal. Kalimat itu seharusnya mengandung nada pertanyaan didalamnya. Namun, Nyonya Kwon justru mengucapkannya seperti sebuah pernyataan. Yunjipun menyadari bahwa ibunya memang tidak sedang bertanya padanya. Nyonya Kwon sedang menekankan hal yang ia yakini adalah sebuah kebenaran, dengan makna yang jauh berbeda dari yang Yunji pikirkan. Hubungan yang dimaksud oleh ibunya merujuk pada sebuah hubungan diluar pertemanan. ‘Tentu saja. Kyuhyun mengaku sebagai kekasihku pada Yuri eonni’, kata Yunji dalam pikirannya.

.

“Lalu? Apakah itu menjadi sebuah masalah bagi eomma?” tanya Yunji kali ini.

.

Yunji merutuki dirinya sendiri didalam pikirannya. Pertanyaan yang Yunji ajukan benar-benar memiliki arti yang ambigu. Yunji tidak menyangkal ucapan ibunya, namun Yunji juga tidak membenarkannya. Seseorang dalam kepala Yunji meneriakkan titahnya dengan lantang agar Yunji berhenti bicara. Namun, Yunji tidak bisa tetap berdiam saat seseorang memojokkannya, bahkan jika orang itu adalah ibunya sendiri.

.

“Jadi, Yuri mengatakan hal yang benar?” Nyonya Kwon balas bertanya.

.

“Aku tidak pernah tahu bahwa eomma bisa meragukan eonni”, kata Yunji tidak menjawab pertanyaan ibunya.

.

“Aku tidak meragukannya. Aku hanya tidak ingin mendengar sesuatu hanya dari satu pihak”, sanggah Nyonya Kwon.

.

“Eomma baru saja melakukannya. Eomma menarik kesimpulan yang menurut eomma benar adanya. Eomma bahkan tidak menjawab pertanyaanku. Apakah hubunganku dengan laki-laki itu menjadi sebuah masalah bagi eomma? Bukankah apapun yang terjadi padaku tidak akan mempengaruhi eomma?” tanya Yunji.

.

“Kau harus mengakhiri hubunganmu dengannya”, titah Nyonya Kwon tanpa mempedulikan ucapan Yunji beberapa detik yang lalu. “Eomma tidak ingin mendengar alasan apapun. Eomma juga tidak ingin mengetahui apapun mengenai laki-laki itu. Eomma hanya akan mengingat namanya. Kyuhyun. Dia akan berada dalam daftar orang yang tidak boleh kau temui mulai sekarang”, sambung Nyonya Kwon.

.
“Apa? Kenapa? Eomma tidak bisa melakukan itu padaku!”

.

“Kenapa eomma tidak bisa? Eomma punya hak penuh untuk melakukan itu. Siapapun orang yang berhubungan denganmu, harus melalui persetujuan eomma. Dan, eomma tidak menyetujui hubungan apapun yang kau miliki dengan laki-laki itu atau laki-laki manapun. Eomma sudah memilih putera keluarga Hong. Kau harus menuruti eomma, suka atau tidak”, kata Nyonya Kwon bersikeras.

.

“Tidak. Aku tidak akan menuruti keinginan eomma. Tidak akan pernah”, tolak Yunji.

.

“Eomma sudah mengatakannya padamu. Kau harus menuruti eomma, meskipun kau tidak ingin”, balas Nyonya Kwon.

.

“Sampai matipun aku tidak akan menuruti keinginan eomma”, kini Yunji yang bersikeras dengan pendapatnya.

.

“Apa? Kwon Yunji, ingatlah bahwa kau sudah pernah melakukan sebuah kesalahan. Kau sudah pernah membantah kami. Dan, kami sudah membiarkanmu melakukan apa yang kau inginkan selama ini. Tapi, eomma tidak akan membiarkannya lagi. Kau akan melakukan apa yang kami inginkan”.

.

“Yang eomma inginkan. Eomma yang menginginkannya. Aku tidak pernah mendengar apapun dari appa. Aku bahkan ragu appa mempedulikan hal ini. Tolong, eomma, jangan mengatasnamakan appa dalam keinginan eomma ini”, kata Yunji memotong ucapan ibunya. “Aku sudah mengatakannya dengan jelas, eomma. Sampai matipun aku tidak akan menuruti keinginan eomma untuk mendekatkanku dengan Hong Jonghyun”.

.

“Eomma tidak sedang memberikan pilihan padamu, Kwon Yunji. Putera keluarga Hong adalah pilihan terbaik bagimu. Keluarga, pendidikan, dan kualitas yang dimilikinya tidak perlu diragukan. Eomma tidak akan pernah membiarkan puteri eomma berhubungan dengan laki-laki yang berasal dari keluarga tanpa kejelasan identitas”, kata Nyonya Kwon.

.

“Hhh… Mulia sekali tujuan eomma. Tapi, maaf, eomma. Aku tidak terenyuh pada tujuan eomma. Aku tetap tidak akan menerima rencana apapun yang eomma miliki untukku. Jika menurut eomma Hong Jonghyun adalah pilihan terbaik, maka bagiku dia adalah pilihan terburuk yang bisa menjatuhkanku”, balas Yunji sambil membanting buku ditangannya ke sofa.

.

“Jangan bicara yang tidak-tidak, gadis kecil. Kau tidak tahu latar belakang yang dimiliki oleh keluarga Hong. Dari semua partner bisnis K Dome Corp, perusahaan keluarga Hong memiliki kualitas yang lebih dari perkiraan siapapun. Kau tidak boleh mengatakan hal yang tidak kau ketahui, Kwon Yunji. Dan, eomma bersungguh-sungguh pada ucapan eomma. Kau tidak sedang diberikan kesempatan untuk memilih. Hong Jonghyun tetap menjadi pilihan eomma. Dia adalah laki-laki terbaik yang bisa membahagiakanmu. Eomma hanya ingin kau hidup lebih baik”, kata Nyonya Kwon.

.

“Hidup seperti apa yang eomma anggap lebih baik? Hidup yang bergelimang harta? Atau hidup yang dihantui oleh kebencian orang lain?” tanya Yunji.

.

“Kebencian? Siapa yang akan membencimu karena berhubungan dengan Jonghyun? Tidak akan ada yang berani berkata apapun pada kalian. Eomma sangat meyakini itu. Lihat yang terjadi pada Yuri. Hubungannya dengan Siwon berjalan dengan baik. Tidak ada yang mengatakan apapun pada mereka”, jawab Nyonya Kwon.

.

“Karena yang tersakiti atas hubungan mereka adalah seorang gadis yang bahkan tidak dianggap dalam keluarganya. Sampai saat ini aku juga meyakini bahwa eomma akan membantah hal itu. Bagi eomma, eonni selalu melakukan hal yang benar. Eomma hanya mempedulikan kebahagiaan eonni. Lalu, setelah semua hal yang terjadi padaku, haruskah aku percaya bahwa eomma memilih Hong Jonghyun demi kebahagiaanku? Bukan demi keserakahan eomma?”

.

“Kwon Yunji!”

.

“Benar, eomma! Aku Kwon Yunji! Aku selalu mengatakannya pada eomma, bukan? Aku bukan Kwon Yuri! Aku berbeda dengannya. Mungkin Yuri eonni bisa melakukannya tanpa memikirkan perasaan orang lain. Tapi, tidak denganku, eomma. Aku tidak akan melukai gadis yang Hong Jonghyun sukai hanya demi ego eomma. Karena aku sangat mengetahui rasa sakit dari tindakan itu, eomma. Aku tidak ingin orang lain mendapatkan luka yang sama denganku. Mereka saling menyukai. Kenapa aku harus merusak kebahagiaan mereka?” kata Yunji.

.

“Jadi, itu masalahnya? Oh, ayolah, dear. Kau sudah dewasa. Kau harus mulai mencoba berpikir seperti orang dewasa. Kyuhyun dan gadis itu hanya dua dari sekian banyak orang yang datang dalam hidup kalian. Mereka akan pergi pada waktunya. Dengar, Yunji-ya. Kau memiliki masa depan bersama Jonghyun. Kalian akan saling melengkapi untuk menghadapi kehidupan kalian di masa yang akan datang. Kau membutuhkan Jonghyun, begitupun sebaliknya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan gadis itu. Jonghyun juga akan menyadari peran pentingmu dalam hidupnya. Hubungannya dengan gadis itu tidak akan berlangsung lama. Kedua orang tua Jonghyun sangat menyukaimu. Kamipun menyukai Jonghyun. Kedua keluarga sudah saling mengenal satu sama lain dengan baik. Tidak ada satu orangpun yang bisa menghalangi kalian. Termasuk gadis itu, ataupun Kyuhyun”, kata Nyonya Kwon tetap pada pendiriannya.

.

“Benarkah, eomma? Apakah aku benar-benar sedang bicara dengan eomma yang selama ini kukenal? Aku seperti sedang mendengarkan ucapan orang lain saat ini”, kata Yunji yang menghela napas panjang setelah mendengar ucapan ibunya. Yunji tidak pernah menduga ibunya memiliki pikiran setega itu, terlebih pada orang-orang yang Yunji kenal dengan baik. “Inikah cara eomma mengajarkan anak-anak eomma? Dengan merebut cinta orang lain? Aku tidak pernah menduganya eomma. Kumohon, berhenti disini saja. Aku tidak ingin menduga terlalu jauh, eomma. Aku ingin berhenti disini sebelum aku berpikir bahwa dulu eomma juga melakukan hal yang sama pada perempuan lain. Karena jika benar, maka kini akulah yang sedang menerima karma atas perbuatan eomma. Akh!”

.

Sebuah tamparan keras baru saja mendarat dipipi kanan Yunji. “Jaga bicaramu, Kwon Yunji! Keluarga ini sudah mengajarkanmu bagaimana cara beretika, bahkan disetiap hela napasmu. Kau harus tahu setiap batas yang tidak boleh kau lewati”, seru Nyonya Kwon setelahnya.

.

Rahang Yunji mengatup keras. Napasnya memburu. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Namun, Yunji tetap berusaha agar tidak ada satu tetes pun yang keluar. “Jadi, eomma ingin mengatakan bahwa melukai orang lain, terlebih adik kandungnya sendiri, adalah sebuah perbuatan yang menerapkan etika? Atau… apakah memang benar dugaanku bahwa aku bukan adik kandungnya?” tanya Yunji dengan kemarahan yang sudah berkumpul dalam dirinya.

.

“Kwon Yunji! Kau sudah melewati batasanmu!” seru Nyonya Kwon sekali lagi.

.

“Apa, eomma? Apa batasan yang kulewati? Aku hanya bertanya. Dan eomma hanya perlu menjawabku. Buat aku mengerti! Sadarkah eomma jika selama ini tidak pernah ada satupun pertanyaanku yang terjawab? Semua menggantung begitu saja. Eomma menyalahkanku karena ucapanku sudah melewati batas, seolah aku sudah mengatakan hal yang salah. Tapi, eomma juga tidak pernah berusaha untuk menyangkalnya. Tidak bisakah eomma menjawabnya saja? Apakah aku anak kandung keluarga ini, eomma?” tanya Yunji sekali lagi.

.

“Tentu saja! Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa yang membuatmu meragukan kenyataan itu? Jangan bodoh! Gunakan akal sehatmu!” jawab Nyonya Kwon.

.

“Bagaimana bisa aku menggunakan akal sehatku di rumah ini, eomma? Di satu sisi, kakak kandungku sendiri sudah menghancurkanku, menyakitiku sampai aku benar-benar membenci diriku sendiri karena tidak bisa melakukan apapun. Lalu keberadaan appa yang tidak pernah menentu selama ini. Kemudian disisi lain, aku harus menyaksikan perselingkuhan yang eomma lakukan dengan mata kepalaku sendiri. Bagian mana dari ketiganya yang bisa meyakinkanku akan identitasku, eomma?”

.

“Yunji-ya… Kau……”

.

“Mengetahuinya? Benar, aku sangat mengetahuinya, eomma”, kata Yunji memotong ucapan menggantung ibunya karena terkejut. “Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri beberapa kali. Saat eomma pulang ke rumah dalam keadaan mabuk bersama seorang pria muda. Eomma bahkan membawanya masuk ke dalam rumah. Seolah hal itu tidak cukup, eomma menemuinya diluar rumah, menikmati sore eomma di sebuah bar bersamanya. Hingga beberapa bulan yang lalu, aku kembali melihatnya saat eomma pergi ke sebuah club bersamanya. Eomma berpesta bersama seorang pria muda, menari, dan mabuk bersamanya. Saat itu aku merasa begitu malu dengan diriku sendiri. Lalu, sekarang eomma bertanya padaku apa yang membuatku ragu? Semua, eomma! Aku tidak bisa mempercayai apapun! Siapa aku sebenarnya, benarkah ini  tempatku semestinya berada, kenapa aku harus mengalami semua ini, pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantuiku. Karena itu, tolong buat aku mengerti, eomma. Siapa aku? Benarkah aku anak dari keluarga ini? Benarkah aku anak kalian berdua? Bukan hanya salah satu diantara kalian? Atau, mungkinkah aku adalah anak appa dengan wanita lain?” sambung Yunji.

.

“Apa yang kau katakan, Yunji-ya? Tentu saja kau anak kami berdua. Appa-mu adalah seorang pria yang bermartabat. Dia tidak akan pernah melakukan itu. Dia adalah pria yang sangat baik, Yunji-ya”, jawab Nyonya Kwon.

.

“Tapi, eomma melakukannya. Jika appa adalah pria yang sangat baik, kenapa eomma mengkhianatinya?”

.

“Karena appa-mu hanya bisa menerima cinta, Yunji-ya. Appa-mu, Kwon Dae Young, dia adalah pria yang tidak bisa mengerti perasaan orang lain. Eomma selalu berusaha untuk memahaminya. Eomma tidak pernah menuntut apapun darinya. Eomma hanya ingin appa-mu memberikan cinta pada keluarga ini, pada eomma. Tapi, dia bahkan tidak bisa hanya sekedar memikirkannya saja. Appa-mu lebih mementingkan pekerjaan dan kehidupannya sendiri. Kau benar, Yunji-ya. Keberadaan appa-mu memang tidak menentu. Bahkan eomma tidak mengetahuinya. Dia sangat sulit dihubungi. Dia melakukan semua hal yang diinginkannya tanpa pernah peduli pada perasaan orang-orang yang memikirkannya. Dia adalah pria yang tidak bisa memberikan cinta pada siapapun, Yunji-ya. Dia hanya mencintai dirinya sendiri”, jawab Nyonya Kwon dengan mata berkaca-kaca.

.

“Tidak, eomma. Aku masih ingat Yuri eonni pernah menceritakan kisah cinta kalian berdua saat aku masih kecil. Yuri eonni mengatakan bahwa kalian berdua saling mencintai dan eomma begitu bahagia dengan kehidupan eomma bersama appa”, kata Yunji.

.

“Itu semua terjadi sebelum kau lahir. Saat itu aku sangat bahagia, Yunji-ya. Tapi, setelah kelahiranmu dia mulai jarang terlihat di rumah. Dia hanya pulang sesekali. Alasan yang selalu digunakannya adalah pekerjaan. Eomma selalu berusaha untuk memahaminya. Eomma selalu berusaha untuk menutupi kekosongan rumah ini karena ketidakhadirannya. Eomma memiliki kewajiban untuk membuat kalian tetap mendapatkan kasih sayang disaat dia tidak berada di rumah. Tapi, setelah dia kembali ke rumah, dia bahkan tidak memberikan kebahagiaan apapun padaku”, kata Nyonya Kwon.

.

“Setelah aku lahir……” kata Yunji berbisik pada dirinya sendiri. Kepala Yunji tertunduk. Tiga kata itu seolah sedang berputar di kepala Yunji. Tiga kata yang membuat Yunji merasa tidak nyaman pada dirinya sendiri. “Jadi karena itu eomma membenciku?” tanya Yunji setelahnya.

.

“Apa? Tidak. Aku tidak membencimu, sayang”, kata Nyonya Kwon yang mencoba mendekat pada Yunji, namun Yunji justru bergerak menjauh darinya. “Aku menyayangimu, begitupun dengan appa-mu. Kami tidak pernah membenci siapapun. Kau juga anak kami, seperti Yuri dan Yunjae. Kami akan melakukan apapun untuk kalian. Kami sudah melihat kebahagiaan Yuri. Kami juga ingin melihatmu bahagia. Dan semua hal yang kami lakukan semata-mata hanya demi kebaikanmu”.

.

“Hatiku menolak untuk mempercayainya, eomma. Sudah terlalu banyak kekecewaan yang kurasakan. Hari demi hari kulewati dengan kecemasan dan rasa tidak nyaman. Aku merasa seperti seorang tahanan kota yang selalu diawasi setiap langkahku. Kalian mencekikku. Semua hal yang kalian lakukan padaku selama beberapa tahun terakhir tidak memberikan kebahagiaan apapun. Aku lelah, eomma. Kalian seolah memberikan kebebasan padaku, namun disaat yang bersamaan kalian mengikatku. Setiap kali aku melangkah di jalan yang menurut kalian salah, kalian akan mengencangkan ikatan itu hingga aku tidak bisa bernapas. Rasanya begitu sulit hanya untuk bertahan hidup di keluarga ini. Hingga aku merasa bahwa menjadi orang lain mungkin akan lebih baik dibandingkan menjadi seorang anak dari keluarga ini”, kata Yunji.

.

“Yunji-ya! Kau tidak boleh memiliki pikiran seperti itu!”

.

“Aku berhak atas pikiranku sendiri, eomma! Aku memiliki hak penuh atas semua hal yang ada dalam pikiranku. Jika eomma bisa melakukan apapun yang eomma inginkan terhadapku, maka aku juga bisa melakukan apapun yang kuinginkan untuk diriku sendiri”, bantah Yunji.

.

“Benar. Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan untuk dirimu sendiri. Tapi tidak mengenai hubunganmu dengan Kyuhyun. Apapun hubungan yang kalian miliki, eomma harap kau segera mengakhirinya. Karena eomma tidak akan mengubah keputusan eomma. Hanya putera keluarga Hong yang boleh menginjakkan kaki di rumah ini”, kata Nyonya Kwon yang kembali mengingatkan Yunji akan keputusannya semula.

.

“Hhh… Aku tidak peduli, eomma”, kata Yunji yang lantas berjalan keluar dari ruangan itu.

.

“Berhenti disana, Yunji-ya! Kwon Yunji!” seru Nyonya Kwon mencoba menghentikan Yunji. Namun, Yunji tidak memiliki niat untuk menuruti perintah ibunya saat ini. Ia terus berjalan melewati pintu, meninggalkan ibunya yang memandang marah padanya.

.

Air mata baru menetes di pipi Yunji setelah pintu ruangan dibelakangnya tertutup rapat. Yunji pun segera menghapus jejak air mata itu sebelum ada orang yang melihatnya. Meski rasa sakit begitu dirasakannya, namun Yunji tidak lantas menghentikan langkah kakinya. Tangan kanan Yunji menggenggam kuat ponselnya, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menyeka sisa air matanya. Hingga tatapan seseorang dari arah dapur menghentikan langkahnya. Yuri yang berdiri dibalik meja bar dapur dengan segelas air mineral ditangannya menatap Yunji yang hanya berjarak beberapa meter dihadapannya.

.

“O! Adik kecilku ternyata sedang berkunjung ke rumah. Senang bisa melihatmu lagi”, kata Yuri sambil meletakkan gelasnya. “Apa yang membuatmu kembali menginjakkan kaki di rumah ini? Apakah kau kehabisan uang saku? Atau sedang memohon untuk dibelikan sesuatu? Hm… Tapi, dari ekspresi yang terlihat di wajahmu, sepertinya kau baru saja mendapat teguran”, sambung Yuri yang kini menyilangkan kedua tangannya didada.

.

“Hhh… Benarkah? Aku terkejut mendengarnya. Karena jujur saja, wajah eonni justru tampak tidak terlalu senang dengan keberadaanku disini. Dan, eonni benar. Aku memang baru saja mendapat teguran keras, berkat seseorang”, kata Yunji.

.

“Jangan bicara seperti itu, adik kecil. Aku hanya sedikit terkejut melihatmu disini. Tidak biasanya kau datang ke rumah di pagi hari”, ujar Yuri.

.

“Eonni pikir eonni bisa membodohiku? Aku tahu semuanya. Terima kasih pada eonni, akhirnya aku bisa merasakan suasana pagi di rumah ini lagi”, balas Yunji dengan nada sarkastik dalam ucapannya.

.

“Ah… Jadi, kau kembali ke rumah karena kejadian pagi ini? Aigoo… Maafkan aku, Yunji-ya. Seharusnya kau mengatakan padaku bahwa hubunganmu dan Kyuhyun harus dirahasiakan. Saat di cafe, kau tidak mengatakan apapun padaku”, kata Yuri.

.

“Kenapa eonni melakukan ini padaku? Apakah aku melakukan kesalahan lain pada eonni?” tanya Yunji.

.

“Tidak… Tidak, Yunji-ya. Kenapa kau bicara seperti itu? Aku tidak melakukan ini untuk menyulitkanmu”, jawab Yuri.

.

“Dan, eonni pikir aku akan mempercayainya?”

.

“Tentu saja kau tidak perlu mempercayainya, Yunji-ya. Bukankah itu yang selalu kau lakukan? Kita tidak sedang berada dalam situasi saling mempercayai satu sama lain. Bukan begitu?”

.

“Kenapa, eonni? Kenapa eonni melakukan ini padaku? Eonni sudah mendapatkan apa yang eonni inginkan. Aku tidak melakukan apapun pada eonni meski aku sudah tersakiti dengan tindakan eonni. Aku tidak tetap berdiam diri meski eonni telah merebut Siwon oppa dariku. Apakah rasa sakit yang kurasakan belum cukup bagi eonni? Apa lagi yang ingin eonni lakukan padaku?” tanya Yunji.

.

“Karena semua hal masih belum terasa benar bagiku. Aku belum mendapatkan apapun meski telah berhasil merebut Siwon darimu. Jangan pernah berpikir aku sudah merasa cukup hanya karena bisa bertunangan dengannya”, jawab Yuri.

.

“Lalu, apa yang eonni inginkan? Apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan semua ini? Aku pikir dengan tidak melakukan apapun untuk membalas perbuatan eonni, maka itu sudah cukup bagi eonni. Rupanya aku salah. Apa lagi yang harus kukorbankan demi kebahagiaan eonni? Eonni, sebenarnya apa alasan eonni begitu membenciku? Apa salahku padamu?” tanya Yunji sekali lagi.

.

“Semuanya sudah salah sejak awal, Kwon Yunji”, kata Yuri dengan nada rendahnya. Ekspresi diwajahnya sontak mengeras, dengan tatapan tajam di matanya. Yuri pun mulai melangkahkan kakinya, mendekat pada Yunji yang berdiri didekat meja makan. Kaki jenjang Yuri berhenti melangkah kira-kira satu meter dihadapan Yunji.

.

“Apa maksud eonni?” tanya Yunji.

.

“Dulu hanya ada satu anak perempuan di rumah ini. Aku merasa sangat bahagia berada ditengah keluarga ini. Saat itu hanya ada appa, eomma, dan Yunjae oppa. Lalu semuanya berubah sejak kau lahir. Sebelumnya semua orang begitu memperhatikanku. Semua orang begitu menyayangiku. Tapi kemudian aku tidak lagi menjadi prioritas bagi siapapun. Eomma dan appa selalu memperhatikan Yunjae oppa karena dia adalah satu-satunya anak laki-laki di keluarga ini. Yunjae oppa adalah penerus appa dalam bisnisnya. Aku bisa memahami hal itu. Karena memang sejak awal itulah yang kuketahui. Tapi, ternyata eomma dan appa juga lebih mencintaimu dibandingkan aku. Karena kau adalah anak termuda mereka. Kau lebih membutuhkan perhatian mereka. Setiap hari aku selalu mendengar mereka memujamu. ‘Kau begitu cantik, manis, dan pintar. Kau begitu mudah untuk dicintai’. Mereka melupakanku begitu saja. Posisiku di rumah ini berubah menjadi seorang anak yang tinggal dan dibesarkan disini. Hanya itu”, kata Yuri memulai penjelasannya.

.

“Dan, eonni merasa cemburu karena hal itu? Eonni, semua yang eonni pikirkan tidak benar. Eomma dan appa juga menyayangimu sebesar mereka menyayangiku dan Yunjae oppa. Tidak ada yang membedakan satu dengan yang lainnya”, kata Yunji.

.

“Kau benar. Aku cemburu. Aku merasa aku sudah menjadi seorang anak yang tidak istimewa dibandingkan kedua saudaraku. Saat itu eomma mengetahui kecemburuanku. Lalu dengan ucapan manisnya eomma meyakinkanku bahwa kecemburuanku itu tidak berdasar. Aku tetap anak perempuannya yang istimewa, seperti yang baru saja kau katakan. Bodohnya saat itu aku mempercayai ucapannya. Sampai pada suatu hari, saat aku mengikuti lomba pianoku, mereka berdua tidak datang. Eomma dan appa tidak ada di tempat duduk mereka. Aku mencoba untuk mengerti. Appa harus bekerja demi keluarga ini, untuk memberikan kenyamanan bagi kita. Eomma juga harus pergi ke Busan sebagai perwakilan appa untuk menghadiri sebuah event. Aku sudah berusaha untuk mengerti. Dan saat itu aku mengobati rasa kecewaku dengan sebuah kalimat penghiburanku sendiri, ‘Tidak apa-apa, Yuri-ya. Mereka bekerja untuk keluarga ini, untukku juga. Lagipula, Yunjae oppa dan Yunji ada disini untuk memberikan dukungan. Itu sudah lebih dari cukup’. Aku terus mencoba memahami situasi itu…”

.

“Tapi, apa yang kudapatkan? Aku kembali mendapatkan kekecewaan. Semua pengertian yang kumiliki untuk mereka berdua langsung menguap ke udara. Aku lantas menarik kembali kata-kataku. Aku tidak bisa berpura-pura mengerti lagi. Karena, kau tahu? Appa dan eomma membatalkan perjalanan bisnis mereka saat Yunjae oppa harus mengikuti lomba Taekwondo. Tidak hanya itu, appa bahkan menunda rapat direksi yang begitu penting, hanya agar dapat menghadiri pertunjukkan menarimu di taman kanak-kanak. Saat itu akhirnya aku menyadarinya. ‘Ternyata dugaanku benar. Aku tidak seistimewa mereka berdua. Yunjae oppa tetap menjadi yang paling istimewa. Dan Yunji tetap menjadi puteri kesayangan appa’. Mereka berdua datang, Yunji-ya! Mereka berdua berusaha untuk datang! Kenapa mereka tidak bisa melakukan itu juga untukku? Apakah aku bukan anak mereka juga? Akhirnya mulai saat itu aku memutuskan untuk berhenti berharap pada mereka. Aku tidak lagi memaksa, tidak lagi memohon, atau mengharapkan apapun dari mereka berdua…”

.

“Lalu tiba saat dimana anak laki-laki istimewa itu menentang keinginan mereka. Yunjae oppa menolak untuk menjadi penerus di perusahaan appa. Yunjae oppa bersikeras ingin mengejar impiannya. Dia memberontak, pergi dari rumah, bahkan memutus komunikasi dengan keluarga ini. Ah, tidak…” kata Yuri menggantungkan ucapannya. Sebuah seringaian kecil muncul dibibirnya. Kemudian seringaian itu menghilang saat kedua matanya bertemu dengan Yunji. “Tidak denganmu. Saat itu, bahkan Yunjae oppa lebih menyayangimu dibandingkan aku. Kau adalah adik kecil kesayangannya. Dia tetap bicara padamu dan menemuimu. Lalu situasi dalam keluarga ini menjadi semakin buruk. Mereka melakukan segala cara agar anak istimewa itu kembali ke rumah. Seolah lupa bahwa masih ada anak lainnya di rumah besar ini. Hingga suatu malam, oppa kembali. Mereka berhasil menyeretnya pulang ke rumah. Kemudian mereka mengurungnya, memberikan penjagaan ketat padanya, berharap keinginan mereka akan terwujud suatu saat nanti. Tapi, anak yang dibanggakan itu justru kembali menyakiti mereka. Dia lebih memilih mati daripada menuruti keinginan kedua orang tuanya”.

.

“Setelah kejadian mengerikan itu, rumah ini menjadi seperti neraka. Penjagaan ketat diberikan pada kau dan aku. Seperti yang kau lihat, aku tidak pernah mempermasalahkannya. Kau yang justru mulai menunjukkan sisi memberontakmu. Lalu, paksaan yang sempat diterima oleh Yunjae oppa datang padaku, tapi tidak padamu. Mereka menginginkan aku untuk menjadi seorang dokter. Apakah kau pikir aku menginginkannya? Aku juga punya mimpi, Yunji-ya. Aku ingin suatu saat nanti aku berdiri ditengah panggung, menyelesaikan tarianku, dan mendapatkan gemuruh tepuk tangan dari pada penonton yang menyukai penampilanku”.

.

“Tapi eonni menerima keputusan mereka begitu saja. Eonni bahkan tidak pernah mencoba untuk memperjuangkan impian eonni”, sela Yunji.

.

“Tentu saja. Karena aku sadar bahwa menjadi seorang penari bukanlah takdir dari keturunan keluarga ini. Aku tidak bodoh sepertimu yang menolak keinginan mereka tanpa berpikir sedikitpun. Aku juga tidak bodoh seperti Yunjae oppa yang lebih memilih untuk mengakhiri hidupku demi sebuah mimpi yang belum tentu dapat terwujud”, kata Yuri.

.

“Eonni! Aku rasa ucapan eonni sudah keterlaluan. Eonni tidak perlu membawa Yunjae oppa dalam perdebatan ini. Yunjae oppa hanya melakukan apa yang menurutnya benar”, kata Yunji dengan nada tegasnya.

.

“Benar. Kau pun begitu. Tapi seperti yang selalu kau katakan, kita berbeda. Aku lebih memilih untuk mengikuti keinginan mereka. Aku belajar sekuat tenaga untuk menjadi diriku yang sekarang. Kau sudah melihatnya. Mereka menyukaiku lagi. Aku kembali menjadi anak yang istimewa dalam keluarga ini. Aku merasa cukup terhibur dengan kebahagiaan dan kebanggaan yang mereka rasakan. Tapi, kemudian kau kembali membuat masalah saat paksaan itu datang padamu. Kau membangkang, mengatakan bahwa menjadi seorang dokter bukan keinginanmu. Lalu, apa lagi yang kau katakan? Ah… Kau tidak ingin disamakan dengan Yuri. Kau bukan Yuri. Kau berbeda. Saat itu, aku kembali merasa kecewa. Bukan karena kau tidak ingin disamakan denganku. Tapi, karena mereka mempertimbangkannya. Kau mendengarku? Appa dan eomma mempertimbangkan keinginanmu! Kau! Aku begitu marah saat mengetahuinya. Rupanya kau masih menjadi prioritas mereka. Saat itu kau bahkan sudah menentang mereka. Tentu saja aku tidak bisa menerimanya”, kata Yuri dengan nada bicaranya yang naik satu tingkat.

.

Yuri segera berusaha untuk mengatur napasnya yang memburu karena amarah yang dirasakannya. Semua memory yang pernah menyakitinya kini harus ia ungkapkan dihadapan Yunji. Setiap kejadian yang membuatnya kecewa di masa lalu kembali berputar di kepalanya, membuat setiap aliran darahnya merasakan ketegangan akibat arus emosinya yang bergejolak. Yuri pun menundukkan kepala lalu memejamkan matanya, berharap emosinya kembali mereda. Beberapa saat setelahnya, tatapan mata Yuri kembali seperti semula. Ia kembali menatap Yunji yang masih berdiri dengan sikap waspada. Sebuah kerutan kecil di kening Yunji dapat terlihat oleh Yuri meski dengan adanya jarak diantara mereka. Yuri pun kembali melangkahkan kakinya dengan keanggunan di setiap gerakannya. Ia melangkah semakin mendekat pada Yunji. Kemudian Yuri pun bersandar di meja makan dengan tenang. Ia menata Yunji yang belum melepaskan pandangannya pada Yuri. Emosi yang sempat bergejolak dalam diri Yuri perlahan kembali mereda.

.

“Lalu, aku melihat kesempatan lain yang bisa kugunakan untuk melawanmu”, kata Yuri melanjutkan penjelasannya. “Dengan merebut Siwon dari sisimu. Aku melakukan semua hal yang kuperlukan. Mulai dari mencari semua informasi tentangnya. Tentang kehidupannya sampai keadaan perusahaan milik keluarganya. Kemudian, aku mulai menjalankan rencanaku. Aku menemuinya, berkenalan dengannya, lalu menjadi temannya, mendekati keluarganya, dan rencanaku pun berhasil. Aku merebutnya darimu. Lalu, tiba-tiba saja eomma berada dipihakku. Hhh… Eomma begitu bahagia melihat keberhasilanku. Dan, tentu saja, kau sangat marah padaku. Kau pun meninggalkan rumah. Tahukah kau betapa bahagianya aku saat itu? Akhirnya tiba hari dimana anak kesayangan keluarga ini melakukan pemberontakannya juga dan pergi dari rumah”, kata Yuri dengan tawa kecil yang menyertai ucapannya. Namun, tawa itu juga menghilang dalam waktu yang sangat singkat. Kemarahan kembali terlihat dari ekspresi wajah Yuri. Sebuah helaan napas panjang semakin menjelaskan suasana hati Yuri yang berubah.

.

“Awalnya kupikir semua akan berakhir disana. Tapi, aku salah. Kau tetap anak kesayangan mereka. Bahkan setelah pemberontakanmu, penolakanmu, dan tindakan kekanakanmu, mereka tetap melindungimu. Kau memang keluar dari rumah. Tapi mereka memberikan sebuah apartment untukmu. Tidak hanya itu, mereka juga membiarkanmu memilih jurusan seperti yang kau inginkan. Mereka selalu memastikan anak kesayangan mereka tidak kekurangan suatu apapun dalam hidupnya. Kau tahu? Hampir setiap pagi aku merasa muak mendengar laporan tentang keberadaanmu. Laporan yang kudengar selalu, ‘Nona Yunji baik-baik saja. Nona Yunji sudah berangkat ke kampus. Nona Yunji tetap aman’. Laporan yang mereka berikan selalu sama. Hingga aku berpikir, tidak bisakah mereka baru datang ke rumah jika ada hal buruk yang terjadi pada gadis kecil itu? Tentu sekarang kau akan berpikir bahwa aku keterlaluan, bukan? Benar. Aku memang keterlaluan. Aku bahkan ingin sekali melempar piringku untuk menghentikan ucapan mereka, karena aku tidak ingin mendengarnya lagi. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena, meski aku sudah melakukan banyak hal untuk keluarga ini, Kwon Yunji tetaplah gadis kecil yang paling dicintai oleh appa. Bahkan eomma tidak bisa mengalahkan besarnya cinta appa padamu. Oh, aku melupakan seseorang. Tentu saja, bahkan Siwon tidak bisa melupakanmu disaat aku sudah memberikan semua yang kumiliki padanya. Sekarang coba pikirkan, Yunji-ya. Buatlah sebuah kesimpulan seperti yang selalu kau lakukan. Kenapa aku melakukan ini padamu? Tapi, jangan lupa untuk memikirkan apa yang sudah kau lakukan padaku”, kata Yuri.

.

“Eonni benar. Aku memang berpikir bahwa eonni sudah keterlaluan”, Yunji menghela napas panjang setelahnya. “Ternyata itulah sebabnya. Ternyata bukan Siwon oppa yang membuat eonni membenciku. Awalnya kupikir eonni membenciku karena aku berhubungan dengan Siwon oppa disaat eonni sudah lebih dulu menyukainya. Ternyata aku salah. Ternyata eonni memang sudah tidak menyukaiku sejak aku dilahirkan. Jadi, eonni hanya memanfaatkan Siwon oppa? Apakah eonni tidak benar-benar menyukainya?” tanya Yunji.

.

“Itu bukan urusanmu, Kwon Yunji. Sekarang Siwon sudah menjadi milikku. Kau tidak perlu merasa berhak untuk mengetahui apapun tentangnya”, jawab Yuri.

.

“Benar… Maafkan aku. Seperti yang eonni katakan, aku tidak berhak untuk mengetahuinya. Dan, maafkan aku, eonni. Maafkan aku karena tidak mengetahui semua hal yang eonni rasakan. Maafkan aku karena tidak pernah mencoba untuk melihat dari sudut pandang eonni. Maafkan aku juga karena tidak pernah berada disisi eonni untuk mendukung eonni. Mungkin eonni benar. Aku adalah penyebab dari semua kekecewaan yang eonni rasakan selama ini. Jika diperlukan, aku juga akan meminta maaf karena sudah dilahirkan dan merebut kebahagiaan eonni. Tapi, eonni harus ingat akan satu hal. Aku tidak pernah menyakiti eonni dengan tanganku, ucapanku, atau tindakanku. Aku tidak pernah melakukan apapun padamu. Tidak sekalipun”, kata Yunji bersungguh-sungguh.

.

“Tapi, bisakah eonni menjawab pertanyaanku ini? Tolong jawab aku, eonni. Apakah aku yang harus disalahkan atas besarnya cinta appa padaku? Apakah aku yang harus disalahkan karena dilahirkan sebagai adikmu? Apakah aku juga yang bersalah jika appa lebih menyayangiku daripada kau?” tanya Yunji setelahnya dengan nada bicaranya yang naik.

.

“Apa katamu? Katakan sekali lagi! Kau menyebutku dengan sebutan apa? ‘Kau’? Jangan lupakan posisimu di rumah ini, Kwon Yunji!” seru Yuri yang lantas bangkit berdiri dari tempat duduknya.

.

“Kenapa? Apakah aku kembali melakukan kesalahan? Lalu, kali ini apa yang akan kau lakukan padaku? Sejauh mana kau akan menghancurkanku?” tantang Yunji.

.

Sebuah tamparan kembali mendarat diwajah Yunji. Emosi yang Yuri rasakan sudah tidak bisa ia pendam lagi. “Jaga bicaramu, Kwon Yunji!” seru Yuri.

.

Namun, tamparan itu tidak lantas membuat Yunji gentar. Ia kembali menatap Yuri yang berada dihadapannya. Rasa takut sudah lama meninggalkannya. Kali ini ia merasa ia harus melawan Yuri dengan kekuatan yang tersisa dalam dirinya. “Kau belum menjawabku. Aku bertanya padamu, apakah semua itu salahku? Benarkah aku yang bersalah akan hal itu? Apakah aku pantas untuk disalahkan? Apakah dengan menerima semua kasih sayang, perhatian, dan cinta mereka, maka aku lantas menjadi penyebab kesedihanmu hingga kau membalasku seperti ini? Jika memang benar begitu, maka aku minta maaf. Aku bilang aku minta maaf! Demi kau! Eonni! Aku akan mengakuinya sebagai kesalahanku. Aku harap kau akan merasa bahagia setelah mendapatkan semua yang kau inginkan. Meski aku tidak menjadi bagian dalam kebahagiaan itu. Meski aku yang akhirnya tersakiti atas kebahagiaanmu. Selamat atas keberhasilanmu dalam menghancurkanku. Dan, kau memiliki kebebasan untuk melakukan apapun padaku. Sakiti dan lukai aku sebanyak yang kau inginkan”, kata Yunji dengan suaranya yang terdengar gemetar.

.

Yunji pun segera meninggalkan Yuri yang tidak bergeming diposisinya. Langkah Yunji menjadi semakin cepat saat desakan amarah mulai berkumpul di kepalanya. Dua orang pelayan yang berjalan ke arahnya sontak membungkuk memberikan salam pada Yunji yang tidak berniat untuk membalas salam itu. Yunji sudah terlalu marah untuk melakukan apapun selain keluar dari rumah itu. Baik ibunya maupun Yuri, keduanya kompak membuat suasana hati Yunji memburuk. Tiba-tiba seorang kepala pelayan muncul dari sisi kanan. Yunji menangkap sosok yang sudah mulai menua itu dari sudut matanya. Meski usianya tidak lagi muda dan anak-anaknya yang beranjak dewasa sudah mampu menggantikan tugasnya sebagai pencari nafkah bagi keluarga, Goo Sang Min ahjussi masih setia bekerja pada Keluarga Kwon. Langkah teratur Goo ahjussi sontak berubah semakin cepat saat menyadari ekspresi diwajah Yunji. Ia berlari secepat mungkin untuk meraih gagang pintu utama. Yunji pun memperlambat langkahnya saat Goo ahjussi memberikan senyum ramah padanya, serta membungkukkan tubuhnya.

.

“Selamat siang, Agassi”, sapa Goo ahjussi.

.

“Selamat siang, ahjussi”, balas Yunji datar, masih dengan suasana hatinya yang buruk.

.

“Apakah anda tidak ingin makan siang terlebih dahulu sebelum pergi? Saya bisa meminta seseorang untuk membuatkan makanan kesukaan agassi”, tanya Goo ahjussi dengan nada ramahnya.

.

“Tidak, terima kasih banyak, ahjussi. Aku harus kembali ke kampus sekarang. Ada kelas yang kutinggalkan tadi”, jawab Yunji menolak Goo ahjussi dengan sopan.

.

“Baiklah, Agassi. Jika memang itu yang Agassi inginkan. Saya tidak akan memaksa”, balas Goo ahjussi dengan nada bicaranya yang tenang.

.

“Sampai bertemu lagi, ahjussi. Aku harap ahjussi tidak melewatkan makan siang ahjussi”, kata Yunji.

.

“Kembali pada anda, Agassi”, kata Goo ahjussi.

.

Kali ini Yunji benar-benar meninggalkan rumah itu. Tawaran seorang supir pun ditolak oleh Yunji tanpa berpikir dua kali. Yunji benar-benar sedang tidak ingin berurusan dengan siapapun dari rumah itu. Yunji membutuhkan waktu untuk berpikir seorang diri. Yunji berjalan setengah berlari menuju gerbang yang berjarak cukup jauh dari pintu utama rumahnya. Sapaan dari beberapa pekerja taman tidak Yunji hiraukan. Tidak lama berselang setelah Yunji sampai di gerbang rumahnya, sebuah taksi terlihat berjalan kearahnya. Yunji pun langsung memberhentikan taksi itu, sebelum ada seseorang lain yang diperintahkan untuk menghentikan Yunji. Kemudian taksi melaju meninggalkan pelataran rumah keluarga Kwon dengan kecepatan sedang menuju alamat tujuan yang disebutkan oleh Yunji. Namun, alamat yang beberapa saat yang lalu disebutkan oleh Yunji ternyata bukan alamat kampusnya –seperti yang dikatakan oleh Yunji pada Goo ahjussi. Yunji justru menyebutkan alamat apartmentnya. Kampus sudah tidak lagi menjadi tujuan Yunji. Setelah semua hal yang terjadi di rumahnya, datang ke kampus sudah menjadi tidak mungkin baginya. Konsentrasinya sudah cukup dibuyarkan oleh kejadian tadi pagi di café, lalu semakin buruk karena perlakuan yang diterimanya dari ibu serta kakaknya.

.

.

.

Satu minggu kemudian

Apartment Yunji

.

Hari-hari berlalu begitu saja tanpa perubahan apapun. Yunji tidak berpergian kemanapun selain kampus dan tempat kerja paruh waktunya. Sisa waktu yang Yunji miliki dihabiskan untuk mengurung diri didalam apartmentnya. Tentu saja Yunji melakukan hal itu tidak dengan alasan apapun. Selama enam hari belakangan, Nyonya Kwon sudah melakukan tindakannya untuk mengawasi Yunji. Setiap harinya, ada dua sampai tiga orang yang mengawasi Yunji dari kejauhan. Bahkan beberapa hari terakhir orang-orang itu sampai datang ke apartment Yunji untuk membawanya kembali ke rumah. Tidak segan, orang kepercayaan Nyonya Kwon yang terakhir kali datang menjemput Yunji di kampus, Shin Ji Hyun, kembali datang untuk membawa Yunji pulang. Namun, tentu saja Yunji menolaknya dengan keras. Shin Ji Hyun tidak lantas menyerah dengan penolakan Yunji. Ia sampai datang ke apartment Yunji dan mencoba membuka pintu apartment dengan kode sandi yang telah diberikan oleh Nyonya Kwon. Sayangnya, jauh sebelum hal itu terjadi, Yunji sudah terlebih dahulu mengganti kode sandi apartmentnya.

.

Hingga tiba hari dimana Yunji sudah tidak bisa lagi menahan rasa tidak nyaman yang ia rasakan. Tindakan yang dilakukan oleh ibunya sudah membuat kesabaran Yunji habis. Ia merasa sangat terganggu dengan pengawasan yang diterimanya. Beberapa hari pertama memang tidak ada siapapun yang menyadari kehadiran orang-orang utusan Nyonya Kwon di kampus. Namun, banyak mahasiswa yang menyadarinya di hari yang lain. Rumor pun mulai beredar di kampus mengenai jati diri Yunji sebenarnya. Beberapa diantara mereka mempunyai dugaan yang hampir tepat dari kenyataannya. Sedangkan yang lainnya tidak jarang yang menduga Yunji adalah anak dari seorang mafia. Bahkan dugaan sebagai seorang gadis yang mengejar pria kaya sempat terdengar di telinga Yunji saat ia berjalan melewati sekelompok kecil mahasiswi. Yunji tidak ingin mempedulikannya. Saat ini, ada hal yang jauh lebih penting daripada memikirkan rumor-rumor itu. Yunji harus berusaha menjauh dari pengawasan ini terlebih dahulu sebelum nantinya ia harus mencari cara untuk menyelesaikan masalahnya.

.

Yunji pun segera bangkit dari sofa tempatnya duduk selama berjam-jam. Tidak ada ekspresi apapun diwajahnya. Hanya sebuah kerutan kecil di kening yang terlihat tetap bertahan disana. Yunji melangkah santai masuk ke kamarnya. Sesampainya di dalam, Yunji meraih sebuah koper dari bawah tempat tidur, lalu memasukkan tumpukan pakaian dari dalam lemari. Satu-satunya jalan keluar yang Yunji miliki adalah pergi dari tempat itu, meski Yunji belum memiliki tempat yang bisa ia tuju. Kemudian kaki jenjang Yunji membawanya menuju kamar mandi untuk mengemas peralatan mandinya. Setelah kopernya selesai dikemas, Yunji segera meraih backpacknya, memasukkan buku-buku serta benda-benda kecil lain yang dibutuhkannya. Disaat yang sama, Yunji meraih ponselnya yang ia letakkan diatas meja beberapa saat yang lalu. Yunji membuka daftar kontak di ponselnya, lalu menghubungi Yura untuk meminta bantuan sambil kembali meneruskan kegiatan berkemasnya. Suara operator diseberang telepon memberitahu Yunji bahwa Yura tidak mengangkat teleponnya. Yunji terus mencoba untuk kedua kalinya, namun jawaban yang ia terima tetap sama. Yunji pun mencoba menghubungi Sooyoung meski Yunji tahu bahwa Sooyoung pasti sedang berada didalam kelas.

.

“Sooyoung-ah?” kata Yunji saat telepon tersambung.

.

Eo, Yunji-ya…” jawab Sooyoung.

.

“Apakah kau sedang ada kelas? Bisakah aku meminta bantuanmu?” tanya Yunji memastikan.

.

Aku belum masuk ke kelas. Ada apa, Yunji-ya?” tanya Sooyoung kali ini.

.

“Aku harus segera keluar dari apartment. Aku sudah menghubungi Yura, tapi tidak ada jawaban darinya. Tolong bantu aku, Sooyoung-ah. Aku tunggu secepatnya”, jawab Yunji yang terdengar terburu-buru. Yunji pun memutus sambungan teleponnya tanpa mendengar jawaban dari Sooyoung terlebih dahulu.

.

Yunji kembali disibukkan dengan aktivitas berkemasnya. Ia berusaha untuk memasukkan barang-barang penting yang dibutuhkan ke dalam tas-tas yang akan dibawanya. Sebuah goodie-bag berwarna hitam yang terbuat dari kanvas dengan ukuran yang cukup besar akhirnya Yunji gunakan untuk membawa barang-barang lain yang tidak mendapatkan tempat di backpack maupun kopernya. Setelahnya, Yunji segera meraih kemeja flanel berwarna abu-abu dan jeans hitam dari lemarinya. Yunji pun melesat ke kamar mandi untuk bersiap-siap pergi dari apartmentnya. Butuh waktu 15 menit hingga Yunji selesai membersihkan diri dan bersiap-siap. Tiba-tiba, bel berbunyi, diikuti dengan ketukan pintu setelahnya. Yunji sempat berdiam diri ditempatnya, menerka siapa orang yang membunyikan bel serta mengetuk pintunya dengan begitu antusias. Kaki Yunji mulai melangkah saat dirinya yakin bukan salah satu dari utusan ibunya yang datang. Karena mereka tidak akan sampai mengetuk pintu apartment Yunji seperti itu. Langkah Yunji pun terhenti didepan intercom. Sosok yang terlihat di layar kecil intercom membuat kening Yunji berkerut dalam. Wajah Kyuhyun terlihat tidak setenang biasanya, membuat Yunji merasa bingung. Bukan hanya karena kedatangan Kyuhyun yang secara tiba-tiba, tapi juga karena raut wajah tidak biasa itu. Yunji pun segera berjalan menuju pintu, lalu membukakannya untuk Kyuhyun.

.

“Apapun tujuanmu datang kesini, kumohon pergilah, Kyuhyun-ah. Aku ingin sendirian saat ini”, kata Yunji sesaat setelah Kyuhyun menginjakkan kaki masuk ke apartment Yunji.

.

“Aku tidak bisa, Yunji-ya. Karena aku datang atas permintaan temanmu, Choi Sooyoung”, kata Kyuhyun.

.

“Apa maksudmu?” tanya Yunji yang bingung dengan ucapan Kyuhyun.

.

“Choi Sooyoung tidak bisa datang karena tes mendadak di kelasnya. Tadi dia datang padaku untuk meminta bantuanku. Melihat sikapnya yang begitu tergesa-gesa, aku menduga ada sesuatu yang buruk terjadi padamu”, jawab Kyuhyun.

.

Napas Yunji sontak menjadi berat. Yunji sudah sebisa mungkin untuk menyembunyikan masalah ini dari Kyuhyun. Ia tidak ingin Kyuhyun terlibat sedikitpun. “Baiklah, aku sudah mendengarnya. Kau bisa pergi sekarang”, kata Yunji setelahnya.

.

“Apa? Kenapa aku harus pergi? Aku datang untuk membantumu, Yunji-ya”, tanya Kyuhyun yang terkejut.

.

“Aku tahu. Terima kasih atas niat baikmu. Tapi, ini bukan saat yang tepat”. Aku harus menjauhkanmu dari semua ini, sambung Yunji dalam pikirannya.

.

“Ini adalah saat yang paling tepat, Yunji-ya. Karena aku melihat dua orang berpakaian serba hitam sedang bicara dengan petugas keamanan apartment. Mereka memperkenalkan diri sebagai utusan dari K Dome Corp. Aku yakin hal itu tidak memiliki arti yang baik bagimu”, kata Kyuhyun.

.

“Aku mengerti. Aku akan segera meninggalkan tempat ini. Terima kasih karena sudah memberitahuku. Sekarang pergilah, kumohon”, kata Yunji yang hendak berbalik menuju lorong untuk masuk kedalam apartmentnya.

.

Namun, Kyuhyun sudah lebih dulu menahan Yunji dengan meraih lengannya, membuat Yunji menoleh cepat setelahnya. “Tidak, Yunji-ya. Aku sedang tidak dalam suasana hati yang baik untuk menerima penolakan”, kata Kyuhyun dengan suara rendahnya.

.

Sesaat kemudian, Kyuhyun melepaskan genggaman tangannya di lengan Yunji. Lalu Kyuhyun segera melangkah masuk ke apartment Yunji, meninggalkan Yunji yang masih terkejut dengan perubahan singkat sikap Kyuhyun padanya. Kesadaran Yunji pun kembali ke tubuhnya saat ia mendengar suara berisik dari arah kamarnya. Yunji segera berjalan masuk untuk memeriksa apa yang sedang dilakukan oleh Kyuhyun di dalam sana. Langkah kaki terhenti di ruang tv saat sosok Kyuhyun baru saja keluar dari kamarnya dengan membawa tas dan kopernya. Kyuhyun membawa tiga barang yang terbilang berat itu dengan kedua tangannya. Fokus Yunji yang semula ingin mencegah Kyuhyun pun kembali teralihkan dengan pemandangan yang baru disaksikannya. Degup jantungnya yang menjadi lebih cepat semakin memperjelas rasa gugup yang tiba-tiba saja dirasakannya karena seorang Cho Kyuhyun.

.

“Apakah ada barang lain yang perlu kau bawa? Atau kau sudah memasukkan semuanya ke dalam tas-tas ini?” tanya Kyuhyun dengan ketenangan dirinya yang sudah kembali.

.

“Eo… Sudah semua”. Yunji memerlukan waktu kira-kira empat detik untuk sekedar menjawab pertanyaan Kyuhyun. Pemandangan yang dilihat Yunji beberapa saat yang lalu seolah kembali berhasil menarik jiwanya keluar dari tubuhnya. “Berikan padaku, Cho Kyuhyun. Aku bisa membawanya”, kata Yunji setelahnya sambil melangkah mendekat pada Kyuhyun.

.

“Sayangnya aku tidak akan membiarkanmu. Dan, kali ini aku kembali memaksa”, tolak Kyuhyun dengan halus. “Kurasa kau bisa membantuku dengan membukakan pintu”, sambung Kyuhyun.

.

“Baiklah. Aku mengerti”, jawab Yunji.

.

Yunji pun melakukan seperti yang dipinta Kyuhyun. Mereka segera keluar dari apartment. Yunji menunjukkan jalan lain menuju tempat parkir melalui lift yang terletak disebelah kanan gedung. Karena seperti yang Kyuhyun katakan, dua orang utusan ibunya sedang bicara dengan pihak keamanan apartment. Jika mereka menggunakan jalan utama, maka usaha Yunji untuk menghindar tidak akan berhasil. Beruntung, Kyuhyun memarkirkan mobilnya diarah yang sama dengan jalan pilihan Yunji. Mereka pun dapat dengan mudah mencapai mobil Kyuhyun tanpa terlihat oleh siapapun. Namun, langkah Yunji melambat saat jaraknya dengan mobil yang ditunjuk Kyuhyun semakin dekat. Keningnya berkerut kecil saat melihat mobil itu. Yunji ingat betul bentuk dan warna mobil yang dibawa Kyuhyun sebelumnya. Disaat yang sama, Yunji baru menyadarinya. Dua mobil yang sebelumnya Kyuhyun gunakan juga berbeda. Yunji tidak pernah benar-benar menyadari hal itu sebelumnya. Pertanyaan akan siapa Kyuhyun sebenarnya pun mulai bermunculan di kepala Yunji. Namun, kemudian dibiarkan tersimpan begitu saja oleh Yunji. Karena saat ini Yunji harus pergi terlebih dahulu dari tempat itu.

.

.

.

Yunji’s POV

.

Mobil sedan berwarna abu-abu –yang kuyakini adalah koleksi terbaru Mercedes Benz— milik Kyuhyun memasuki pelataran gedung bertingkat di daerah Gangnam. Seorang petugas keamanan yang kami lewati sempat memberikan salamnya saat Kyuhyun membuka jendelanya untuk melakukan hal yang sama. Pikiranku kembali melayang ke pertanyaan yang muncul di kepalaku beberapa waktu yang lalu. Selama ini aku tidak pernah menyadari apapun yang Kyuhyun kenakan, atau apapun yang Kyuhyun gunakan. Sikapnya yang begitu sederhana membuatku tidak tertarik untuk mengetahuinya. Namun, kali ini aku benar-benar dibuat berpikir karenanya. Hari dimana aku bertemu dengan Kyuhyun di perpustakaan, lalu saat kami makan siang bersama, hingga saat Kyuhyun menjemputku di Sam’s Morning, ia selalu menggunakan mobil yang berbeda. Baik, katakanlah Kyuhyun meminjam mobil orangtuanya. Tapi, bukankah sama saja? Pada akhirnya kesimpulan yang dapat dibuat adalah Kyuhyun berasal dari keluarga yang tidak biasa. Aku merasa cukup bodoh karena tidak memikirkan hal itu. Padahal sebelumnya aku pernah bertemu dengan kedua orangtuanya di acara penggalangan dana atau pesta yang dihadiri oleh kedua orangtuaku.

.

Entah apa yang tidak kuketahui tentangnya, yang mungkin sedang Kyuhyun sembunyikan dariku. Aku pun tidak tahu efek yang mungkin bisa berpengaruh dengan keadaanku saat ini. Hanya saja, tiba-tiba aku merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Ada kecemasan yang diliputi dengan ketakutan dalam diriku. Terlebih setelah mengingat hari itu Kyuhyun tidak menyebutkan nama keluarganya pada Yuri eonni. Disisi lain aku menduga Kyuhyun tidak benar-benar menutupi jati dirinya dari orang lain. Buktinya, ia tetap Cho Kyuhyun yang dikenal cukup banyak mahasiswa di kampus. Kyuhyun hanya menutupi identitasnya dari Yuri eonni. Entah untuk alasan apa.

.

“Yunji-ya? Apa kau baik-baik sjaa?” tanya Kyuhyun menyadarkanku dari pikiranku.

.

“Hm? Eo… Aku baik-baik saja. Kenapa?” Aku balas bertanya padanya.

.

“Kau hanya diam sejak tadi. Kita sudah sampai”, kata Kyuhyun.

.

“Ah, sudah sampai… Sepertinya aku melamun”, kataku.

.

“Apakah benar kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun sekali lagi untuk memastikan kondisiku, sambil melepaskan seat belt dari tubuhku.

.

“Aku baik-baik saja. Hanya lelah hingga melamun begitu lama, kurasa. Tapi, aku baik-baik saja. Sungguh”, jawabku mencoba meyakinkan Kyuhyun. Aku tidak pernah baik-baik saja belakangan ini, Cho Kyuhyun. Jika kau menyadari itu.

.

“Baiklah. Ayo, kita turun sekarang. Kau bisa beristirahat didalam”, kata Kyuhyun yang kujawab dengan anggukkan pelan.

.

Kemudian Kyuhyun keluar dari mobil, meninggalkanku yang masih mengumpulkan kesadaranku setelah lamunan panjang itu. Aku mengedarkan mataku ke sekitarku. Ternyata kami memang sudah sampai di tempat parkir. Sebuah tanda yang tertulis di salah satu tiang kokoh tidak jauh didepan memberitahuku bahwa tempat parkir ini berada di lantai tiga gedung. Sepertinya lamunan itu benar-benar menyita perhatianku. Aku bahkan tidak tahu kemana Kyuhyun akan membawaku setelah ini. Eksterior gedung tidak tampak seperti sebuah hotel, tapi tidak juga seperti gedung perkantoran, maupun apartment –karena gedung ini terlalu kecil untuk ukuran sebuah apartment. Tiba-tiba pintu disebelah kananku terbuka. Kyuhyun membukakannya untukku. Untuk sesaat, senyum yang muncul di wajah Kyuhyun menularkan ketenangan padaku dengan mudah. Seolah ia sedang meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja dengan keberadaannya bersamaku. Hatiku menyatakan keyakinan serupa dengan menyebarkan ketenangan itu ke seluruh tubuhku.

.

Aku pun segera keluar dari mobil. Kedua mataku kembali diberikan pemandangan yang mengejutkan saat aku melihat tas-tasku sudah berada diluar mobil. Kurasa konsentrasiku benar-benar buyar hari ini. Aku lambat sekali menyadari hal yang terjadi disekitarku. Atau Kyuhyun yang bergerak terlalu cepat hingga aku tidak menyadarinya. Sesaat setelahnya, ia sudah mengajakku berjalan ke sebuah slide door terbuat dari kaca yang terlihat buram pada separuh bagian. Kyuhyun pun meletakkan salah satu tasku di tangannya, kemudian memindai sebuah kartu dari saku celananya hingga pintu itu terbuka untuknya. Kyuhyun mempersilahkanku untuk masuk lebih dahulu, sementara ia kembali meraih tasku yang ia letakkan tadi. Seorang petugas kebersihan yang kebetulan berada di lorong menekan tombol lift untuk kami berdua, dengan sapaan ramah yang mengikuti setelahnya. Rupanya lantai tiga merupakan batas teratas tempat parkir di gedung ini. Setelah melihat beberapa hal, aku mulai yakin bahwa tempat ini adalah sebuah apartment. Meski aku masih beranggapan gedung ini terlalu kecil untuk ukuran sebuah apartment.

.

Lift pun membawa kami ke lantai 8 gedung apartment ini. Saat pintu lift terbuka, kedua mataku sontak melebar saat melihat interior di lantai ini. Lantai marmer berwarna abu-abu tua begitu kontras dengan dinding putih gading, serta beberapa lampu yang menempel ditembok menambah kesan modern pada interiornya. Aku melangkahkan kakiku keluar dari lift, lalu menoleh ke arah kiriku. Ada sebuah pintu berwarna hitam dope diujung lorong. Sementara lainnya dengan warna yang sama ada di sebelah kanan lorong, tidak jauh dari lift. Jangan katakan… Apakah ini lantai eksklusif seperti dugaanku? Dengan hanya ada dua unit di satu lantai? Pertanyaan itu tentu saja diikuti dengan sebuah pertanyaan lain yang belum terjawab hingga kini. Siapa Cho Kyuhyun sebenarnya? Laki-laki yang sedang menyita pikiranku ini justru berjalan dengan santai ke arah kiri lorong tanpa mengatakan apapun padaku. Sesampainya di depan pintu, ia menekan rangkaian kode untuk membukanya. Pintu pun terbuka setelahnya. Seperti yang dilakukan sebelumnya, Kyuhyun mempersilahkan aku untuk berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam apartment asing ini. Lampu ruangan sontak menyala setelahnya tanpa perlu menekan apapun. Interior unit apartment ini kembali menjadi penyegar bagi mata lelahku. Penataan ruangan dan warna yang dipilih benar-benar teduh. Ruangan di dominasi oleh warna putih, abu-abu tua, dan hitam. Beberapa barang yang berwarna sedikit mencolok, seperti mint, fusscia, dan baby yellow terlihat begitu kontras dengan warna dasar ruangan itu.

.

“Kau bisa mengenakan ini”, kata Kyuhyun menyadarkanku dari kegiatanku mengamati ruangan, sambil menunjuk sebuah slipper berwarna hijau tosca.

.

“Cho Kyuhyun, apartment siapa ini?” tanyaku. Mungkin pertanyaanku terdengar bodoh, tapi aku hanya ingin memastikan. Masih ada kemungkinan apartment ini milik seseorang yang tidak kukenal.

.

“Milikku”, jawab Kyuhyun singkat sambil mengenakan slipper hitamnya.

.

“Sejak kapan kau punya sebuah apartment? Kau tidak pernah mengatakannya padaku”, tanyaku sekali lagi. Aku menanyakan hal itu bukan tanpa alasan dan bukan bermaksud untuk bersikap kurang sopan. Karena yang kutahu, Kyuhyun tidak pernah mengutarakan niatnya untuk tinggal di sebuah apartment sepertiku.

.

“Karena aku baru membelinya”, jawab Kyuhyun yang sudah berjalan masuk ke dalam. Ia meletakkan tas-tasku di ruang tv, didekat sofa single berwarna mint yang begitu menarik perhatianku.

.

“Begitu… Kenapa kau tiba-tiba membelinya? Setahuku kau lebih suka tinggal di rumah”, tanyaku sekali lagi sambil ikut melangkah masuk.

.

“Kau benar. Bagiku tinggal di rumah memang jauh lebih nyaman”, jawab Kyuhyun. Lihat, aku tidak salah berpendapat. Kyuhyun lebih suka tinggal di rumah. “Aku membeli apartment ini hanya untuk berjaga-jaga jika ada keperluan yang mendesak. Tidak kusangka akan terpakai secepat ini”, sambung Kyuhyun yang berlalu menuju dapur.

.

“Jadi, jika aku tidak pernah berada dalam situasi sulit seperti sekarang, maka apartment ini tidak akan pernah kau gunakan?” tanyaku dengan maksud bergurau dalam pertanyaanku.

.

“Mungkin? Entahlah…” jawab Kyuhyun yang ternyata mengerti gurauanku. Kyuhyun pun kembali ke ruang tv dengan segelas air yang kemudian ia berikan padaku. “Aku bahkan tidak pernah memikirkan kapan apartment ini harus kugunakan. Aku tidak memiliki perkiraan waktu yang pasti. Tujuanku pun berubah-ubah beberapa kali. Tapi, saat ini aku merasa senang karena bisa menjadikan apartment ini sebagai tempat pelarianmu”, kata Kyuhyun.

.

“Hhh… Pemilihan kata yang luar biasa, Cho Kyuhyun. Kau membuatnya terdengar seperti tujuan awal kau membeli apartment ini. Seolah kau sudah menduga hal yang akan terjadi padaku. Seolah kau menyiapkan apartment untukku. Untuk membantuku”, balasku, masih dengan nada bergurau yang kubuat terdengar bersungguh-sungguh.

.

“Memang itu tujuan awalku, Yunji-ya”, ujar Kyuhyun. Kali ini dengan nada bicara yang tidak dapat kutebak maksud dibaliknya. Ia tersenyum, tapi tidak terdengar sedang bergurau.

.

“Apa maksudmu?” tanyaku memastikan dugaanku.

.

“Apartment ini memang kubeli untukmu”.

.

.

.

.

TBC

.

Note:

Annyeonghaseyo, readersnim-deul!

Another part just ended smoothly (I think). Bagaimana kabar kalian? Semoga selalu baik-baik dan sehat-sehat. Akhirnya aku kembali berhasil menyelesaikan part ini ditengah banyak kegiatan yang harus aku lakukan, dan mood yang naik turun setiap harinya. Jadi, menurut kalian bagaimana cerita di part ini? Apakah part ini sudah mulai membuat kalian bosan karena tidak ada adegan romance didalamnya? Aku berharap belum ada yang mundur atau menyerah dari FF-ku yang satu ini. Perkembangan hubungan Yunji dengan ‘siapapun’ laki-laki dalam FF ini memang sengaja aku buat lambat, karena aku ingin membuat kalian mengetahui kisah Yunji terlebih dahulu. Aku akan menambah porsi romance dalam FF ini jika waktunya sudah tiba, dan sepertinya akan segera tiba, SOON!

Dalam FF ini terbuka sudah alasan dibalik tindakan Yuri. Fakta lain yang tidak pernah dibahas dalam part sebelumnya juga terungkap disini, seperti kisah keluarga Kwon yang terungkap melalui pembicaraan Yunji dan ibunya. Hm… Jadi, apa pendapat kalian setelah membaca part ini? Sudah dapat pencerahan kah? Pertanyaan mulai bermunculan? Atau justru tambah bingung? Say your words, readersnim. Tuangkan pertanyaan-pertanyaan kalian dalam comment kalian (bagi yang bersedia comment sih… *author lagi baper).  Mungkin setelah membaca comment kalian yang berisi apapun itu, aku bisa menjadikannya ide untuk part selanjutnya dari FF ini. Okay! Sepertinya cukup sampai disini chit-chat dariku.  Aku akan terus berusaha untuk update secepat yang kubisa. Sampai bertemu di part selanjutnya dan di FF lainnya. Kana pamit! Annyeonghigaseyo… Have a nice day…

Advertisements

12 thoughts on “It supposed to be me : Part 6

  1. aku rasa yunji terlalu ngalah sama yuri, sampe minta maaf beberapa kali yaampun. dan kalo ibu yunji tau kyu yg sebenernya, pasti dia bakal nyengir kaku !!!

    Like

  2. Omg part ini bnr2 menguras emosi yunji, kyu u bodoh amat sihhh ma perasaan sendiri aja gak tahu. Untung reywook punya pemikiran yg rasional n mungkin bisa menydarkan kyu juga. Wahhhh kyu bnr2 ank org kaya yaaa, gmn yaa kira2 reaksi ibu yunji lw tahu sosok kyu sebenarnya, apa dia kan menarik ucapannya. Mereka berdua sebenarnya sdh merasakan perasaan masing2 tp gak sadar. Mungkin harus d uji dulu yaaa agar mereka sadar. Next d tunggu cinggu

    Like

  3. Yang jadi kekhawatiran sekarang lo kluarga kwon & cho itu musuh, saingan bisnis mungkin. Karena lo dari status & latar belakang kyu yg anak chaebol juga mestinya udah g masalah, setara ma yunji. Tapi lo hubungan keluarga mereka g baik, bakalan lebih ribet lagi. Yang paling menyedihkan itu yuri, karena lo dia g bisa merubah sifat & mindsetnya maka selamanya g akan bisa bahagia. Apapun yg dia miliki & raih akan selalu terasa kurang, karena dasarnya dia sendiri yg bermasalah. Penuh kedengkian & iri, g bisa bersyukur

    Like

  4. Kkkkkkkkkk kangen bgt m nie ff^^ stelah sekian lm muncul jg^^ yunji di buat penasaran m jt diri kyuhyun ^^ awww kyuhyun keren bgt….klo nyonya kwon tau tentang jt diri kyuhyun yg asli mungkin dia g bkl ngomong kyk gt k yunji….

    Like

  5. Jd selama ini yunji g sdr klo kyuhyun t sbenernya tajir^^ wah daebak….t klo ibunya yunji tau siapa kyuhyun yg sbenernya mungkin bkl kena serangan jantung kali…n klo saudaranya yunji tau tentang kyuhyun yg sbenernya mungkin dia bakal sebel….karna siwon bisa jd kalah tajir dr kyuhyun….akkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk daebak makin seru j nih^^akkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk smoga j next part ny bisa cepet rilis yh^^

    Like

  6. Aduh ini masalah orang kaya😪,ini beda jarang nemuin kan ff dgn konflik sma keluarga,saudara sendiri,as always sll ditunggu ko kelanjutanya chingu especially momen antara yunji dn kyuhyun nya😁

    Like

  7. Aku rasa yuri hanya merasa dan mengambul kesimpulan sebelab pihak tentang perlakuan Tuan dan Ny. CHO. Semua yg di rasain berbanding terbalik dengan yg Yunji juga rasain tentang perlakuan Tn dan Ny. Cho. Gereget sama Ny.Cho. dia belum tahu aja kyuhyun itu siapa. Mungkin saja Kyuhyun lebih kaya dari Hing Jonghyun. Karena jati diri Kyuhyun belim terlihat dengan jelas di permukaan. Jika seandainya benar Kyuhyun adalah anak dari seorang Chaebol dan kekayaannya melebihi Hong Jonghyun dan Siwon itu bisa jadi point tambahan nantinya Ny.Chi makin cinta sama Yunji dan itu artinya hingga detik itu semua twrungkap Yunji masih satu langkah lebih jauh lebih beruntung daei Yuri.

    Like

  8. Apa mksd omongn kyu apartemen ini di beli utk yunji,apa kyu tahu mslh keluarga yunji,ternyata keluarga yunji sgt rumit ya,kshn yunjinya
    Kurng byk adegn kyu yunjinya

    Like

  9. wahaaa…. jdii kyuu ituu anaak chaebol jugaa..
    jd apaa iaa samaa dgn yunji yg menyembunyikan statusnyaa????
    why??? setidaknyaa hubungan keluargaa kyuu tidak sepraha dgn kluargaa yunjii kann???
    huaaa…
    ehh btw apaa kyuu muu nyatainn cintanyaa???
    masaa iaa diaa nyiapin apartemen sebaguss ituu buat yunjiii???
    im still cant believe it

    Like

  10. anyong author 🙂 ijin baca ya tp bc dr part 6 nanti bc mundur ke part 1 hehe…. di sini greget ke ibu yunji kekeh bnget pngen jodohin yunji,yuri jg dendam amat ama ade sendiri tega ngancurin ade sendiri ,pdahal yunji ga salah apa” keterlaluan :(:(

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s