It supposed to be me : Part 5

Author: Okada Kana

Category: PG-15, Romance, Chapter, Family

Cast:

Cho Kyuhyun, Kwon Yunji (OC), Lee Donghae, Kwon Yuri

Choi Sooyoung, Kim Yura, Hong Jonghyun, Choi Siwon, etc…

Disclaimer:

Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi atau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Jadilah pembaca yang baik dan sopan. No bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Saran dan kritik membangun akan diterima dengan senang hati. Selamat membaca!!!

Jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com

.

.

Review Part 4

“Aku baik-baik saja”.

No. You’re not”.

I am. Aku akan… [baik-baik saja]”.

“Jangan seperti ini, Yunji-ya”.

“Jangan lakukan ini padaku. Jangan mengatakan apapun lagi”.

“Aku hanya akan menjadi penopangmu selama beberapa saat seperti ini”.

————————-

“Tuan Hong, perkenalkan, anak perempuan termuda keluarga kami”.

“Kau tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik”.

“Gamsahabnida”.

“Hong Jong Hyun ibnida. Senang bertemu denganmu, Yunji-ssi”.

“Aku juga sedang bertemu denganmu”.

————————-

“Aku pikir nuna tidak akan datang”.

“Kenapa [kau datang]?”

“Hari ini adalah perayaan peringatan tahun ke-10 kerjasama antara Tuan Kwon Dae Young dan Tuan Choi Tae Sung dalam membangun SJ Enterprises Inc. Dan……”

“Dan?”

“Hari ini adalah hari pertunangan kakakmu dan kakakku, Siwon hyung dan Yuri nuna”.

————————-

“Selamat atas pertunangan kalian”.

“Jangan lakukan itu juga padaku”.

“Sudah seharusnya aku mengatakan itu, oppa”.

“Kau tahu benar aku tidak berada dalam posisi sangat bahagia menerima ucapan selamat atas hubungan ini”.

“Aku selalu merasa seperti orang yang tidak tahu apapun”.

“Aku tahu ini salahku. Kau sangat mengetahui siapa gadis yang kucintai”.

————————-

“Aku sudah terlanjur memulai cinta sepihak pada seorang gadis”.

“Bagaimana jika dia tidak bisa membalas perasaanmu?”

“Saat sudah memutuskan untuk menjalaninya, kau sudah harus menyiapkan hati untuk menerima resiko apapun”.

“Apa aku mengenalnya?”

“Kau menanyakan tentang dirimu sendiri. Aku sudah memulai cinta sepihakku padamu”.

————————-

.

.

It supposed to be me : Part 5

“I don’t want to hide it anymore”

.

.

Author’s POV

At Y University

.

“Jangan bercanda, Lee Donghae. Tidak lucu”, kata Yunji.

.

“Aku tidak sedang bercanda, Kwon Yunji”, balas Donghae.

.

Yunji tertawa begitu lepas, membuat Donghae ikut tertawa bersamanya. Yunji bahkan sampai menggelengkan kepalanya karena merasa ucapan Donghae terdengar konyol baginya. Tawa Yunji terhenti sesaat. Ia menatap Donghae yang juga menghentikan tawanya. Kening Yunji kembali berkerut. Ia ingin memastikan apa yang baru saja didengarnya bukanlah sebuah halusinasi. Senyuman kembali mengembang diwajah Donghae. Ia tertawa tanpa suara setelah melihat ekspresi Yunji.

.

“Kau gila”, kata Yunji setelahnya.

.

“Mungkin saja. Aku mengakuinya”, kata Donghae tidak menyangkalnya.

.

“Hhh… Cinta sepihak…” kata Yunji yang masih tidak percaya dengan pengakuan Donghae. “Kenapa? Bagaimana bisa?” tanya Yunji.

.

“Ch… Kwon Yunji-ssi, kau tidak pernah jatuh cinta? Kau bicara seolah tidak pernah merasakannya. Pertanyaan itu tidak akan bisa dijawab dengan mudah dalam situasi seperti ini”, kata Donghae yang tidak menjawab pertanyaan Yunji.

.

“Tidak. Bukan itu maksudku. Hanya saja… Hm… Ouh… Aku tidak dapat menemukan kata apapun untuk kukatakan saat ini”, keluh Yunji pada dirinya sendiri.

.

“Gunakan waktu sebanyak yang kau butuhkan untuk berpikir, Yunji-ya. Aku akan menunggu”, kata Donghae dengan senyuman dibibirnya.

.

“Tidak. Aku sudah menemukannya. Yang ingin kukatakan adalah… Kau dan aku, kita berdua berteman untuk waktu yang cukup lama. Aku bahkan mengetahui kisah cintamu yang begitu manis bersama Yoona. Bagaimana bisa kau… apa kata yang kau gunakan? Ah, cinta sepihak. Bagaimana bisa kamu memulai cinta sepihakmu padaku begitu saja?”

.

“Percayalah, aku juga tidak mengetahuinya. Terjadi begitu saja”, jawab Donghae. “Aku ingin tahu, apa yang kau pikirkan, Yunji-ya? Aku yakin ini bukan kali pertama kau mendengar pernyataan cinta dari seorang laki-laki. Kau hanya perlu membiarkannya berlalu seperti yang selalu kau lakukan. Tidak perlu dipikirkan”, sambung Donghae.

.

“Kau temanku, Lee Donghae… Aku tidak ingin menyakiti seorang teman”, kata Yunji yang secara tidak langsung sedang menggoreskan batas diantara mereka. “Jangan terlalu berharap padaku, Donghae-ya. Aku tidak ingin kau terluka”, sambung Yunji.

.

“Aku mengerti. Aku akan mengingat pesanmu dengan baik”, balas Donghae.

.

“Aku bersungguh-sungguh, Lee Donghae”, kata Yunji yang menatap Donghae tepat dimatanya.

.

“Begitupun denganku, Kwon Yunji. Aku akan baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku tidak akan membebanimu”, kata Donghae meyakinkan Yunji, tetap dengan senyuman yang mengembang diwajahnya.

.

“Benarkah kau akan baik-baik saja? Aku bisa menyakitimu tanpa kusadari suatu saat nanti. Apakah aku benar-benar tidak perlu mengkhawatirkanmu? Kau temanku, Lee Donghae”, kata Yunji yang masih mengutarakan kekhawatirannya.

.

“Kau sudah mengatakannya dua kali, Yunji-ya. Sudah cukup melakukan pembuatan batas yang sepertinya tidak akan bisa kulewati itu. Aku akan kehilangan energiku jika kau mengatakannya tiga kali. Tidak. Aku bergurau. Aku akan baik-baik saja. Hanya itu yang perlu kau tahu. Anggap saja aku sedang mengalihkan pikiranku. Atau kau bisa menyebutnya dengan proses menyembuhkan luka hati. Bagaimana?” kata Donghae.

.

“Baiklah. Kali ini aku akan membiarkannya”, jawab Yunji.

.

“Ini baru Kwon Yunji yang kukenal. Tapi, ini pertama kalinya aku melihatmu terlihat begitu khawatir. Entah kenapa aku justru merasa sedikit senang. Apakah aku menjadi si jahat dengan kesenangan ini?” tanya Donghae.

.

“Tidak apa. Kau boleh menjadi si jahat. Aku tidak akan protes. Jika aku berada di posisi itu suatu saat nanti, maka kita akan impas. Setidaknya aku punya satu kesempatan untuk jahat padamu”, jawab Yunji dengan santai.

.

“Sekarang aku merasa tidak terlalu senang setelah mendengar ucapanmu”, kata Donghae menanggapi ucapan Yunji. “Tidak. Tidak. Aku baik-baik saja. Kwon Yunji dikenal dengan sifatnya yang sangat baik. Aku percaya dia tidak akan menjadi terlalu jahat”, sambung Donghae sambil tersenyum.

.

“Pertahankan kepercayaanmu itu, Donghae-ya. Aku pergi. Sampai bertemu”, kata Yunji yang segera beranjak meninggalkan Donghae.

.

‘Aku tidak sebaik yang kau kira, Donghae-ya. Banyak orang yang mungkin sudah tersakiti akibat perbuatan maupun perkataanku. Aku tidak sebaik itu’, kata Yunji dalam pikirannya. Ia berjalan menjauh tanpa kembali menoleh pada Donghae yang melambaikan tangan padanya. Senyum yang semula tergambar diwajahnya saat bicara dengan Donghae sudah lenyap terbawa angin yang baru saja berhembus. Tatapan mata cemerlang itupun meredup, selaras dengan suasana hatinya.

.

.

.

Kyuhyun’s POV

Pukul 4 sore di taman Fakultas Teknik

.

Kelas Profesor Shin sudah berakhir satu jam yang lalu, tapi keinginan untuk meninggalkan kampus belum menghampiriku. Saat ini aku sedang duduk dalam sebuah lingkaran kecil bersama teman-temanku diatas rerumputan hijau taman terdekat dari gedung fakultas. Terakhir kali aku berada dalam kesadaranku bersatu dengan pembicaraan mereka, sebuah tugas kelompok dan post-test mingguan sedang dibicarakan. Fokusku sudah teralihkan sejak 15 atau 20 menit yang lalu, kurasa. Pikiranku melayang jauh ke tempat yang tidak kuketahui. Seolah sebuah roll film sedang dimainkan dengan kecepatan luar biasa cepat, hingga aku tidak bisa benar-benar menangkap gambaran yang jelas akan hal yang sedang mengalihkan pikiranku. Ada resah yang aku rasakan tanpa kutahu dari mana datangnya. Ketenangan tidak kunjung datang padaku seperti biasanya. Akupun tidak benar-benar tahu apakah Suho dan Changmin yang duduk tidak jauh dari kami menyadari keresahan yang kurasakan. Aku hanya tahu mereka berdua beberapa kali menatapku untuk waktu yang cukup lama. Setelahnya, kupikir diskusi mengenai mata kuliah sudah berakhir, seiring dengan terdengarnya tawa lepas dari teman-temanku –yang rupanya tidak lantas mengusik lamunanku.

.

Samar-samar kudengar Sunggyu menceritakan kejadian yang dialaminya pagi ini, saat ia salah memasuki ruangan kelas. Seolhyun, Minah, dan Yonghwapun tertawa mendengar kisah yang diceritakan oleh Sunggyu dengan nada bicaranya yang kekanakan. Aku masih dalam zona melamunku hingga tidak benar-benar menangkap topik pembicaraan mereka selanjutnya. Ekspresi ceria di wajah mereka membawa ingatanku kembali ke beberapa jam yang lalu. Saat aku melihat Yunji tersenyum dan tertawa pada Lee Donghae. Aku menyadari perubahan suasana hatiku saat itu. Tapi rupanya ada hal lain yang kusadari. Ada sebuah kesedihan yang terpancar dari mata Yunji, bahkan saat ia tertawa riang pada Lee Donghae. Senyum mengembang yang membuat kedua tulang pipinya terangkat tinggipun tidak mampu menutupi ungkapan suasana hati Yunji yang sesungguhnya. Inikah penyebab keresahan yang kurasakan? Tapi, kenapa? Kenapa aku merasa resah hanya karena melihat ekspresi janggal di wajah Yunji?

.

“Changmin-ah, bukankah itu Kwon Yunji?” Suara Suho yang kurasa sedang mengunyah makanannya sambil bicara pada Changmin tertangkap oleh indera pendengaranku. Suho hanya menduganya, pikirku.

.

“Dimana?” Changmin balas bertanya.

.

“Disana. Gadis yang mengenakan T-shirt hitam dan jeans abu-abu muda”, jawab Suho dengan keyakinan dalam nada bicaranya.

.

“Oh, kau benar. Itu memang Kwon Yunji. Ada apa dengan ekspresi wajahnya hari ini? Tidak biasanya”, kata Changmin. Aku berusaha mengumpulkan kesadaranku, keluar dari lamunan yang menyelimutiku sejak tadi.

.

“Apakah dia sedang sedih? Tidak biasanya”, kata Suho berkomentar. “Yah… Dia bahkan tetap terlihat cantik dengan ekspresi seperti itu. Tentu saja, Kwon Yunji”, sambung Suho mengungkapkan kekagumannya.

.

Saat kesadaran kembali padaku sepenuhnya, aku segera menoleh pada kedua temanku, lalu mengikuti arah pandangan mata mereka. Seketika mataku terkunci pada sosok gadis yang memang terlihat sedang dalam keadaan tidak baik itu. Yunji yang berwajah muram berjalan di sepanjang trotoar dengan headset terpasang di telinganya. Tidak ada senyuman yang menghiasi wajahnya. Rahangnya mengatup keras. Ia tidak membalas sapaan siapapun seperti yang sering dilakukannya. Kedua mata Yunji hanya tertuju pada langkah kakinya diatas trotoar.

.

“Ada apa dengan Kwon Yunji? Tidak biasanya…” kali ini Minah memberikan tanggapan.

.

“Apa maksudmu?” tanya Yonghwa.

.

“Aku hanya tidak pernah melihatnya seperti itu. Biasanya Kwon Yunji selalu tersenyum ramah pada orang lain hingga membuatku berpikir ia tidak memiliki masalah dalam hidupnya. Ternyata aku salah. Kwon Yunji juga bisa terlihat muram”, Minah menjelaskan.

.

Aku tidak pernah menduga akan mendengar hal ini sebelumnya. Rupanya sosok Yunji dilihat sebagai seorang gadis yang penuh keceriaan dalam hidupnya oleh orang lain. Yunji lebih sering menunjukkan sisi ceria dengan senyum ramah pada setiap orang disekitarnya. Seketika ingatanku kembali pada hari kunjungan ibu Yunji ke apartment. Kala itu aku melihat sisi lain dari seorang Kwon Yunji. Wajah ceria dan tenangnya seakan terhapus begitu saja. Garis keras tulang rahang bawahnya dan tatapan tajam kedua bola mata indahnya yang kemudian menggantikan. Keramahan dan senyum manis yang sering ia tunjukkan pada orang lain seakan pudar begitu saja. Hari itu adalah hari dimana aku mempertanyakan jati diri Yunji yang sebenarnya. Hingga ia menjawab langsung pertanyaanku padanya. Sosok Yunji yang tertangkap oleh kedua mataku adalah ia yang sesungguhnya.

.

Yunji masih melangkah dalam kebungkamannya. Ia seolah sedang tidak berniat untuk bersikap manis pada siapapun. Saat ini Yunji sedang berada di dunianya, dengan angin berhembus dan musik yang mengalun menemani langkahnya. Sebuah helaan napas panjang terlihat jelas dari gerakan kedua bahunya. Langkah Yunji perlahan melambat, diikuti oleh gerakan berkedip dengan ritme serupa. Yunji melepas salah satu perangkat headset dari telinganya, lalu mengangkat wajah. Sesaat setelahnya, ia menoleh kearah taman, kearahku. Aku tidak pernah berpikir bahwa Yunji akan menemukan keberadaanku dengan mudah ditengah beberapa teman yang berada disekitarku. Namun, senyum sedih diwajah muram itu menjelaskan padaku bahwa ia telah menemukanku. Yunji menghentikan langkahnya. Ia tetap berdiam diposisinya, menatapku yang juga sedang menatapnya. Aku tidak menyadari gerakan keningku yang berkerut setelahnya, seolah sedang menanyakan ‘ada apa?’ pada Yunji.Kening indah Yunji ikut berkerut kecil, kurasa karena menerima tatapanku. Yunji menghela napas panjang sebelum berjalan kearahku, membuatku refleks bangun dari tempatku duduk. Beberapa meter sebelum benar-benar mendekat padaku, ia melepas salah satu perangkat headset yang masih berada di telinganya. Senyum tipis itu belum menghilang dari wajahnya, begitupun dengan kesedihan yang masih setia melengkapinya. Akupun melangkah mendekat padanya, keluar dari lingkaran kecil teman-teman disekelilingku. Tangan kanan Yunji terangkat, seolah ingin meraihku. Namun ia meragu dan menurunkan tangannya kembali sepersekian detik setelahnya.

.

“Aku ingin tersenyum lebar dan melambaikan tangan padamu beberapa saat yang lalu. Ternyata aku tidak cukup mampu melakukannya”, kata Yunji.

.

Akupun sangat ingin membalas ucapan Yunji dengan sebuah senyuman tipis untuk sekedar menenangkannya. Namun, rupanya akupun tidak cukup mampu untuk melakukannya. “Kau menang?” tanyaku mengalihkannya.

.

Yunji mengangkat bahunya pelan, lalu tersenyum tipis. “Entahlah…” kata Yunji sambil menghela napas panjang. Kemudian Yunji menundukkan kepalanya, memutus tatapan matanya dariku. “Aku tidak memikirkannya. Yang aku tahu saat ini adalah…” Yunji kembali menghela napas panjang sebelum  mengembalikan tatapan matanya padaku dan melanjutkan ucapannya. “I’m a mess right now. Big mess… (Aku kacau saat ini. Kekacauan besar)”, sambung Yunji dengan suara pelan, cenderung berbisik. Kurasa hanya aku yang dapat mendengar suara lembutnya itu. “Aku bahkan tidak bisa memikirkan apapun. Sejak pagi aku merasa tidak sedang menjadi diriku sendiri. Sepertinya aku harus mencari kesibukan untuk menyadarkan diri. Aku tidak boleh seperti ini. Rasanya begitu kacau”.

.

Sebuah hentakan aneh kurasakan didalam diriku. Kupikir wajah muram dihadapanku inilah yang menyebabkannya. Helaan napas panjangnya, serta tatapan letih Yunji seolah menarik keluar oksigen dalam tubuhku. Tanpa kusadari, kakiku sudah melangkah lebih dekat padanya. Kedua tanganku meraih bahu Yunji, lalu bergerak melingkar di punggungnya. Aku tidak tahu apa yang mendasari tindakanku ini. Aku bahkan tidak mengerti dengan cara kerja otakku saat ini. Yunjipun tersentak menerima afeksi spontanku. Ia berhenti bernapas selama sepersekian detik kira-kira dua menit yang lalu, kurasa. Aku mendengar sebuah helaan napas lega setelahnya. Beban berat di bahu tegang Yunji seolah baru saja terhempas jauh. Aku dapat mendengar suara berbisik dari beberapa orang yang ada disekitarku. Mereka bertanya-tanya serta merasa heran dengan tindakanku. Namun, aku tidak tergerak untuk menghiraukan mereka. Kemudian aku merasakan lengan Yunji yang melingkar memeluk pinggangku. Ia menenggelamkan wajahnya dalam rengkuhanku. Keningnya menyentuh sisi leherku bagian kiri, sementara hidung tingginya menyentuh tulang selangkaku yang tertutup kemeja flanel biru-hitam yang kukenakan. Aku menggerakkan kepalaku, mendekatkan wajahku padanya. Rahang bawah sebelah kirikupun menyentuh kepalanya. Aroma shampoo yang dikenakan Yunji terhirup oleh indera penciumanku. Aroma yang sesungguhnya dapat menjadi begitu menenangkan. Aku menemukan diriku memejamkan mata menikmati aroma shampoo bersama dengan aroma tubuh Yunji yang mulai memenuhi kepalaku. Hingga lingkaran tangannya yang semakin erat menyadarkanku. Aku merasakan basah disisi depan kemejaku. Yunji terisak kecil, namun berusaha menyembunyikannya di dadaku. Ia menangis. Aku dapat merasakan sebuah cengkraman kuat di kemejaku dari salah satu tangan Yunji yang berada di punggungku.

.

Segera kuletakkan tangan kananku di belakang kepalanya. Kubelai lembut rambut halusnya. “It’s okay. Semua akan baik-baik saja”, kataku mencoba menenangkan Yunji.

.

Yunji melepaskan lingkaran tangannya di pinggangku. Ia menyeka air matanya dengan salah satu punggung tangannya, sementara tangannya yang lain masih memegang erat kemeja di punggungku. “I don’t know why it feels so hard. Is it me being weak? (Aku tidak tahu kenapa ini terasa begitu berat. Apakah aku menjadi lemah?)” tanya Yunji dengan suara pelannya yang terdengar bergetar.

.

No… No… Kau hanya kelelahan”, jawabku sambil menyingkirkan helaian rambut yang menempel di pipinya.“Kau tidak lemah, Kwon Yunji. Semua akan baik-baik saja. Kau tidak sendiri. Aku bersamamu”, kataku meyakinkan Yunji sekali lagi.

.

Yunji menatap tepat ke mataku, seolah sedang mencari kebohongan dalam ucapanku. Namun, ia tidak menemukannya, karena aku bersungguh-sungguh dengan setiap kata yang kuucapkan. Sesaat setelahnya, kedua sudut bibir Yunjipun tertarik membentuk sebuah senyum tipis yang tetap terlihat begitu manis di wajah sehabis menangisnya. Sekali lagi Yunji menyeka jejak air mata yang masih terlihat di pipi dengan punggung tangannya. Tindakan kecilnya itu dengan mudah mengundang senyum di bibirku. Ia terlihat lebih muda dari usianya, seperti seorang anak kecil yang baru saja mengakhiri sesi menangisnya. Wajah tanpa riasan Yunji menambah kesan memukau bagiku. Kurasa Yunji sudah menghabiskan waktunya untuk menangis sebelum bertemu denganku. Karena warna merah muda di kulit sekitar matanya terlihat lebih menyala dari sebelumnya. Aku baru menyadari betapa lelahnya Yunji dari sorot dengan sinar yang redup itu. Rasa gugup tiba-tiba saja menghampiriku saat tatapan mata cemerlang itu menarikku kembali ke dunia nyata. Tatapan tajamnya yang lembut disaat bersamaan membuatku salah tingkah. Tatapan itu tidak terlepas dari kedua mataku sejak tadi. Seolah menembus masuk kedalam tubuhku tanpa penghalang. Hingga tatapan kami terputus saat Yunji menopangkan keningnya di dadaku. Aku kembali mendengar helaan napas panjangnya. Salah satu tangannya yang semula berada di punggungku sudah mencengkram bagian lain dari kemejaku. Kini kedua sisi pinggangku yang menjadi sasaran cengkraman tangan-tangan kurus Yunji.

.

Hanya beberapa detik berselang, aku menangkap sosok seorang laki-laki bertubuh tegap dari sudut mataku. Aku dapat mengenali sosok itu dengan mudah tanpa harus benar-benar menatapnya. Ini bukan kali pertama ia hadir diantara kami, hingga aku mulai terbiasa dengan gangguannya. Gangguan? Benarkah, Cho Kyuhyun? Sejak kapan hal seperti itu menggangguku? Aku memejamkan mata, mencoba menghilangkan pikiran tidak rasional yang kembali mengusikku. Sepertinya aku membutuhkan pengendalian diri yang lebih baik. Kerja otakku akhir-akhir ini sudah mulai menunjukkan ketidakkompetenannya. Karena beberapa saat yang lalu aku menganggap Lee Donghae sebagai pengganggu diantara aku dan Yunji. Padahal kenyataannya, akulah yang lebih patut dianggap sebagai pengganggu yang tiba-tiba saja hadir diantara mereka. Saat aku berkutat dengan isi pikiranku, sebuah gerakan kecil yang dilakukan oleh Lee Donghae –dengan menakjubkan— dapat tertangkap oleh kedua mataku. Lee Donghae baru saja meremas sesuatu di tangannya. Sebuah cardigan, kurasa, berwarna kuning mustard yang kuyakini adalah milik Yunji. Ksatria berbaju besi dalam diriku mengencangkan kasutnya dan mulai naik keatas pelananya. Kuda mulai berpacu menuju sang penantang disisi lain padang saat tanganku menyentuh punggung Yunji dan menepuknya pelan untuk menenangkannya. Sebuah isakan kecil diiringi dengan dehaman pelan kudengar setelahnya, tanpa mengalihkan perhatianku dari desakan aneh yang sedang bergemuruh dalam diriku. Yunji kembali bergerak mendekat, menopangkan tubuh lelahnya padaku. Kugunakan kesempatan itu untuk kembali merengkuhnya. Kembali kubelai rambutnya dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku tetap menepuk punggungnya pelan. Hingga kuputuskan untuk memastikan pandangan kaburku atas sosok di kejauhan yang sejak tadi menggangguku. Saat itu juga, tatapan kami bertemu. Aku menemukan gejolak serupa di matanya, atau mungkin lebih besar. Aku bukan seorang bodoh yang tidak mengerti apapun. Aku tahu arti dibalik tatapan Lee Donghae. Akupun sangat sadar bahwa aku tidak ingin mempedulikannya.

.

.

.

Author’s POV

.

Cengkraman di cardigan Yunji semakin kuat saat Donghae menyaksikan tindakan Kyuhyun yang seolah memberikan tamparan keras padanya. Tatapannya tidak berpaling sedikitpun dari sosok laki-laki yang sedang memeluk erat gadis yang ia sukai. Donghae berdengus kesal menerima perlakuan itu dari Kyuhyun. Sementara Kyuhyun tetap pada sikap tidak pedulinya. Kyuhyun memutus tatapannya dari Donghae. Perhatian Kyuhyun kembali pada gadis yang sedang mencoba menyembunyikan isakan dalam pelukannya. Kyuhyun mengeratkan pelukannya, menenggelamkan tubuh mungil Yunji dalam rengkuhannya. Kyuhyun tidak menghiraukan apapun atau siapapun disekitar mereka saat ia menyentuhkan hidungnya di rambut Yunji, menghirup aroma menenangkan itu untuk dirinya sendiri. Kyuhyun tidak ingin melepaskan Yunji sedikitpun, bahkan saat tangis Yunji sudah mulai mereda. Bola matanya kembali bergerak, mencari sosok Donghae yang ternyata masih berada ditempatnya. Tatapan Kyuhyun tidak setajam sebelumnya. Ia menatap Donghae dengan ketenangan yang selalu menjadi tameng terkuatnya. Kemudian Yunji berdeham, menandakan bahwa sesi menangisnya sudah kembali berakhir. Namun Kyuhyun tetap tidak menunjukkan pergerakan apapun.

.

Kesabaran Donghae hampir mencapai ambang batas akhir. Niatnya yang semula ingin menunggu kepergian Kyuhyun menguap begitu saja ke udara. Setelah menyaksikan tindakan yang dilakukan oleh Kyuhyun, Donghae sangat yakin bahwa Kyuhyun tidak akan memberikan kesempatan itu padanya. Tidak akan, bahkan untuk satu detik saja. Karena, setelah ia menunggu untuk waktu yang cukup lama, Kyuhyun tetap berada disana, berdiri tegak menjadi tameng penghalang baginya. Yunji tidak teraih olehnya saat Kyuhyun berada diantara mereka. Kedua lengan kuat Kyuhyun masih melingkar posesif di tubuh Yunji. Bahkan jarak keduanya tidak kunjung meregang meski waktu terus berjalan. Donghae tidak dapat menahan gejolak amarah dalam dirinya. Namun, ia tidak dapat melakukan apapun saat Yunji masih berada disana. Fakta bahwa dirinya tidak memiliki hubungan khusus apapun dengan Yunji juga menjadi alasan atas ketidakberdayaan Donghae saat ini. Donghaepun memutuskan untuk melangkah pergi, membawa serta amarahnya pada laki-laki selalu menjadi penghalangnya. Langkahnya semakin cepat saat amarah dalam dirinya semakin membara. Donghae ingin membuat jarak sejauh mungkin dari sumber kemarahannya itu. Ia tidak ingin kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

.

Perlahan Yunji membuat pergerakan kecil dalam pelukan tubuh besar Kyuhyun. Saat itulah Kyuhyun mendapatkan kesadarannya, kembali ke dunia nyata dimana ada banyak mata yang mungkin saja sedang memperhatikannya saat ini. Kyuhyun kembali mengedarkan pandangannya, mencari sosok Donghae di tempatnya semula. Namun, Donghae sudah tidak ada disana. Sosoknya sudah menghilang tanpa Kyuhyun sadari. Kyuhyun melepaskan pelukannya dari tubuh Yunji setelahnya. Ia menyentuh bahu Yunji lalu menatap wajah sendu dihadapannya itu. Yunjipun menyeka asal sisa air mata yang masih terasa lembap di pipinya. Melihat hal itu, Kyuhyun menyentuhkan tangannya di pipi Yunji, kemudian menghapus titik air mata yang belum berhasil diseka oleh Yunji dengan ibu jarinya. Senyum kecil muncul di bibir Kyuhyun saat kedua mata Yunji bertemu dengan matanya. Garis keras di rahang Kyuhyun sudah menghilang, menambah kesan lembut pada ekspresi wajahnya. Kyuhyunpun mengacak rambut Yunji perlahan, mencoba mengembalikan atmosfir disekitar mereka.

.

Yunji menghela napas sambil menjatuhkan kedua bahunya yang sempat menegang. “Ah… Kenapa aku membuat suasana kembali menjadi muram? Aku harus menyeka air mataku lagi, dan lagi”, kata Yunji mengeluh pada dirinya sendiri.

.

“Bukan pemandangan yang mengejutkanku”, balas Kyuhyun masih dengan senyum tipisnya.

.

“Hhh… Bagaimana ini? Kau mulai terbiasa denganku”, ujar Yunji dengan nada jenakanya, namun masih dengan suaranya yang bergetar.

.

Kyuhyun mengangkat cepat kedua bahunya. “Harus bagaimana lagi? Aku tidak berdaya. Dari semua orang yang berada di taman ini, hanya aku yang tahu sisi sebenarnya seorang Kwon Yunji”, ujar Kyuhyun. “Aku akan berada dalam masalah jika terus seperti ini, bukan?” sambungnya disertai dengan tawa kecil bergurau.

.

“Aku yang berada dalam masalah, Cho Kyuhyun. Aku”, balas Yunji dengan tawa yang menular dari Kyuhyun.

.

Kyuhyun berhasil menaikkan suasana diantara mereka. Senyum di wajahnya semakin mengembang setelah mendengar tawa kecil Yunji, meski nada bicara Yunji masih terdengar muram. “Kau baru saja membuat berita baru, Kwon Yunji. Setelah ini, seluruh kampus akan membicarakan Kwon Yunji yang menangis dipelukan seorang mahasiswa baru”, kata Kyuhyun.

.

Ucapan Kyuhyunpun mengundang senyuman di wajah Yunji. Sudut bibir Yunji tertarik, memunculkan senyum mengembang di wajah sendunya. “Seorang mahasiswa baru yang luar biasa tampan dan sudah menjadi bahan pembicaraan selama beberapa minggu terakhir. Double attack. Kau memperburuk berita yang akan beredar”, tambah Yunji sambil menghapus air yang masih berada di sudut matanya.

.

“Luar biasa tampan? Apakah aku tidak salah mendengarnya? Wah… Beruntung sekali Kwon Yunji kalau begitu”, goda Kyuhyun yang kemudian mengundang tawa Yunji. “Lihat, senyum manis, tawa riang, dan lesung pipi itu sudah kembali. Senang melihatnya lagi”, kata Kyuhyun sambil menunjuk lesung pipi yang terlihat diwajah Yunji.

.

“Kali ini ‘The Real’ Kwon Yunji yang melakukannya (tersenyum dan tertawa)”, ujar Yunji sambil menggerakkan jari-jarinya membentuk sebuah tanda kutip.

.

“Hhh… Aku menyukai itu. The real Kwon Yunji”, ujar Kyuhyun kali ini. “Kau sudah makan siang?” tanya Kyuhyun mengalihkan pembicaraan.

.

Yunji menggeleng pelan. “Belum. Nafsu makan menjauhiku disaat seperti ini”, jawab Yunji.

.

Sebuah kerutan kecil muncul di kening Kyuhyun. “Kapan terakhir kali kau makan dengan layak? Kau tidak terlihat baik hari ini”, tanya Kyuhyun lagi.

.

“Apa maksud dari ‘makan dengan layak’? Makanan apa yang tidak terhitung layak olehmu?” Yunji bertanya, mengalihkan pembicaraan inti dari pertanyaan Kyuhyun.

.

“Maksudku… Kau tahu… Makanan berat yang bisa memberikan kekuatan pada otot-ototmu”, jawab Kyuhyun. “Kau belum menjawabku. Kapan terakhir kali kau makan?” tanya Kyuhyun tetap bersikeras menuntut jawaban atas pertanyaannya.

.

“Entahlah… Aku makan beberapa kue yang dihidangkan di pesta itu. Tapi, aku tidak benar-benar bisa menikmatinya”, kata Yunji menjelaskan dengan jujur.“Hm… Sabtu pagi? Kurasa…” kata Yunji yang tidak begitu yakin dengan jawabannya.

.

“[Apa yang kau makan] Kemarin?” Kyuhyun menuntut penjelasan lebih rinci dari Yunji.

.

“Roti mentega…” jawab Yunji menggantung. Kerutan di kening Kyuhyun menjadi lebih dalam, seolah menuntut lebih banyak jawaban dari pertanyaannya itu. “…dan sebuah pisang, jika aku tidak salah mengingatnya”, sambung Yunji.

.

“Ayo kita makan sesuatu”, ajak Kyuhyun setelahnya tanpa jeda.

.

Yunji menggeleng pelan. “Aku akan makan nanti……di apartment”, tolak Yunji.

.

“Bagaimana jika aku bersikeras untuk memaksamu makan saat ini?” tanya Kyuhyun dengan nada memaksa, namun masih menanyakan pendapat Yunji atas paksaannya.

.

Tatapan tajam di wajah tenang Kyuhyun membuat Yunji menyerah. “Hhh… Kalau begitu aku tidak akan melawannya”, jawab Yunji.

.

Kyuhyun tersenyum puas mendengar jawaban yang keluar dari bibir Yunji. Kemudian Kyuhyun menunjuk hamparan luas rerumputan di belakang Yunji dengan dagunya, meminta Yunji untuk segera berjalan meninggalkan taman. Kyuhyun sempat menoleh pada Changmin dan Suho sebelum mengikuti Yunji yang sudah berbalik. Kyuhyun hanya mengangkat tangan kanannya sebagai sebuah salam untuk berpamitan pada kedua temannya. Changmin membalas salam yang diberikan dengan anggukkan santai tanpa rasa keberatan apapun. Sementara Suho membalas Kyuhyun dengan lambaian tangan malasnya. Kyuhyunpun berjalan di belakang Yunji yang sudah melangkahkan kakinya di detik yang sama saat Changmin menganggukkan kepalanya pada Kyuhyun. Namun, Kyuhyun berhenti dilangkahnya yang ke empat saat Suho memanggilnya. Kyuhyun kembali menoleh untuk menanggapi panggilan Suho. Kyuhyun mengerutkan keningnya, menanyakan maksud dari panggilan yang dilakukan oleh Suho padanya.

.

“Kau tidak boleh melupakan janji kita malam ini. Aku sudah mengatur jadwalku dengan susah payah untuk itu”, kata Suho.

.

“Hhh… Tentu saja, penggerutu. Aku tidak akan melupakannya. Aku pergi dulu. Sampai nanti”, balas Kyuhyun.

.

“Hati-hati di jalan……” kata Changmin dengan nada menggantung, mengundang kerutan di kening Kyuhyun. “…Yunji-ssi”, sambung Changmin yang ternyata memberikan ucapan itu pada Yunji.

.

“Tentu. Terima kasih, Changmin-ssi”, balas Yunji dengan senyum manisnya.

.

“Bisa kita pergi sekarang?” tanya Kyuhyun.

.

Senyum Yunji mengembang saat mendengar pertanyaan yang baru saja diberikan oleh Kyuhyun. “Sure. Lead the way. (Tentu. Tunjukkan jalannya.)”, jawab Yunji dengan senyuman yang belum memudar dari wajahnya.

.

No. You go first. (Tidak. Kau duluan.)” kata Kyuhyun.

.

Yunji menghela napas panjang, seolah mengetahui makna dibalik nada bicara Kyuhyun yang keras kepala. Yunjipun melangkah mundur mendekat pada Kyuhyun. Langkahnya terhenti tepat disamping Kyuhyun yang hanya menatapnya tanpa tanya. “Sekarang lebih baik. Sejak beberapa menit yang lalu, aku kehilangan selera untuk berjalan seorang diri. Berdampingan seperti ini kurasa akan lebih menyenangkan”, kata Yunji.

.

“Baiklah. Apapun untukmu”, balas Kyuhyun.

.

Kyuhyun dan Yunji mulai melangkahkan kaki mereka, berjalan bersama keluar dari taman. Wajah tenang Kyuhyun masih terlihat tanpa ekspresi apapun. Matanya waspada, mengawasi perubahan ekspresi maupun suasana hati Yunji. Kontras dengan Kyuhyun, sebuah senyuman justru menghiasi wajah Yunji. Meski tidak selebar sebelumnya, namun senyum itu sudah mampu menjalarkan ketenangan pada Kyuhyun yang mulai menunjukkan senyum tipisnya. Mata Kyuhyun sesekali menyipit saat Yunji menghela napas panjang, seolah sedang meningkatkan kemampuannya untuk membaca Yunji. Tiba-tiba Yunji berdeham, menlenyapkan keheningan diantara mereka. Keheningan itu tampaknya membuat Yunji merasa kurang nyaman. Karena jarak tempat parkir mobil Kyuhyun masih berada 12 meter di depan mereka.

.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Yunji tiba-tiba. “Sejak tadi aku memikirkannya dalam kepalaku”, sambung Yunji yang secara tidak langsung menegaskan bahwa pertanyaan yang ingin diutarakannya adalah pertanyaan yang wajib dijawab oleh Kyuhyun.

.

“Katakan”, jawab Kyuhyun ragu.

.

“Apakah kau memiliki janji dengan Kim Suho dan Shim Changmin untuk pergi ke sebuah club malam?” tanya Yunji.

.

Pertanyaan Yunji sontak mengundang desisan keluar dari bibir Kyuhyun yang diikuti dengan sebuah tawa kecil. “Kenapa? Kau ingin ikut?” tanya Kyuhyun yang tidak menjawab pertanyaan Yunji.

.

“Jadi, aku benar?” Yunji balas bertanya.

.

“Apakah aku terlihat seperti anak rumahan yang tidak pernah keluar malam? Kau tidak berpikir bahwa aku selalu menghabiskan malamku dengan belajar di rumah, bukan?” tanya Kyuhyun.

.

“Tidak begitu. Hanya saja…… O! Kau tidak menjawab pertanyaanku, Cho Kyuhyun”, kata Yunji yang baru menyadari pengalihan yang dilakukan oleh Kyuhyun.

.

Senyum Kyuhyun melebar mendengar keriangan dalam suara Yunji. Ia menggeleng pelan setelahnya. “Jawaban apa yang kau butuhkan dariku, Kwon Yunji?” tanya Kyuhyun. Yunji mengangkat bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan Kyuhyun padanya. “Pergi ke club malam adalah jadwal Suho yang sudah dikacaukan olehku dan Changmin. Tapi, bukan berarti aku benar-benar seorang anak rumahan yang tidak pernah pergi ke club malam”, jawab Kyuhyun.

.

Well, bukan aku yang menyebutmu anak rumahan. Aku hanya menduga bahwa kau bukan tipe laki-laki yang menjadikan aktivitas mengunjungi club malam sebagai sebuah rutinitas”, kata Yunji.

.

“Hhh… Sudah kuduga. Kau begitu mudah membacaku”, ujar Kyuhyun.

.

Yunji tersenyum, merasa bangga dengan kemampuannya. Namun, tiba-tiba ia mengerutkan keningnya, membuat ekspresi Kyuhyun berubah mengikutinya. “Tidakkah kau berpikir bahwa aktivitas saling membaca satu sama lain ini mulai terasa semakin menakutkan?” tanya Yunji.

.

Kerutan di kening Kyuhyun menghilang, namun ekspresi datar di wajahnya tetap bertahan. Kyuhyun mengangguk pelan beberapa kali, seolah sedang menimbang kata yang ingin diucapkannya. Setelahnya, Kyuhyun justru menggelengkan kepalanya, membuat kerutan di kening Yunji menjadi semakin dalam. “Kurasa tidak semenakutkan jumlah makanan yang masuk ke perutmu dalam tiga hari terakhir”, jawab Kyuhyun akhirnya.

.

“Ah… Benar… Tentu saja… Makanan… Tepat sekali…” kata Yunji bicara pada dirinya sendiri tanpa menatap Kyuhyun.

.

Tawa kecilpun keluar dari bibir Kyuhyun saat menyaksikan sikap Yunji yang bicara pada dirinya sendiri sebagai cara untuk menghindar dari tatapan Kyuhyun. Yunji menoleh pada Kyuhyun setelahnya. Saat tatapan mereka bertemu, sontak tawa keluar dari bibir mereka. Suasana muram yang sebelumnya menyelimuti mereka berdua kini telah menghilang. Keduanyapun kembali berjalan bersama menuju mobil Kyuhyun yang jaraknya sudah semakin dekat. Kyuhyun membukakan pintu untuk Yunji, yang kemudian disambut dengan senyum merekah oleh Yunji. Sesaat setelahnya, mobil Kyuhyun melaju meninggalkan lapangan parkir, keluar dari kampus dan meninggalkan semua kemuraman yang sempat terjadi diantara mereka jauh di belakang. Sebuah restaurant yang menyajikan makanan Perancispun menjadi tempat persinggahan keduanya. Mereka saling bicara mengenai banyak hal. Kyuhyun tidak melewatkan kesempatan untuk menanyakan jalannya pesta yang diadakan oleh keluarga Yunji akhir pekan lalu, tentu saja tanpa menyinggung kejadian yang menghilangkan senyum di wajah Yunji. Tatapan mata Kyuhyun tidak pernah terlepas dari sosok Yunji yang berada di hadapannya. Meski seorang pramusaji cantik yang datang untuk mencatat pesanan mereka sempat mencoba menarik perhatian Kyuhyun, tatapan mata tajam yang tenang itu tetap bertahan pada fokus perhatiannya. Terutama saat Yunji menjalankan jari-jari panjangnya untuk mengatur rambut hitam tebalnya. Senyuman di bibir Kyuhyun sontak melebar disaat yang sama. Kyuhyun bahkan tidak dapat menyembunyikan kekagumannya pada gerakan kecil yang Yunji lakukan, hingga membuat Yunji tersipu setelahnya. Akhirnya hanya ada senyuman dan tawa yang terlihat dari keduanya sepanjang waktu makan siang mereka.

.

.

.

Saat malam menjelang

Di Apartment Yunji

.

Yunji belum beranjak dari sofa meski Yura sudah memanggilnya dari arah dapur untuk makan malam. Setelah makan siangnya bersama Kyuhyun usai, Yunji sempat mengajak Kyuhyun untuk mengunjungi sebuah toko buku yang terletak tidak jauh dari restaurant tempat mereka makan. Dua buah buku sastrapun menjadi pilihan Yunji untuk menambah jumlah penghuni rak buku yang berada di kamarnya. Saat ini, Yunji masih berkutat dengan sebuah buku karya Jane Austen yang berjudul Mansfield Park. Ia sudah membaca hampir setengah buku sejak sore tadi. Perhatian Yunji tersita sepenuhnya pada barisan kata yang terangkai dalam buku Austen yang digemarinya. Kedua matanya belum beralih sedikitpun, meski kedua sahabatnya berlalu di hadapannya sekalipun. Yura dan Sooyoung mengejutkan Yunji dengan datang ke apartmentnya satu jam setelah Kyuhyun pergi dari sana. Mereka berdua berniat untuk menginap malam ini. Keduanya sudah mengetahui suasana hati Yunji sejak tadi pagi, namun belum memiliki kesempatan untuk menghiburnya. Karena itu, Sooyoung dan Yura memutuskan untuk menghabiskan waktu semalaman bersama Yunji –yang justru terlihat lebih dari baik-baik saja tanpa perlu dihibur.

.

Yura yang menyerah karena panggilannya tidak dihiraukan oleh Yunji datang dari arah dapur, mendekat untuk duduk bersama Yunji di sofa. Yura meraih remote control yang berada di meja kecil disamping sofa, kemudian menyalakan televisi di hadapannya. Keduanya disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing. Hingga suara kerasSooyoung terdengar dari arah kamar mandi. Hanya Yura yang menoleh ke lorong sebagai reaksi atas suara Sooyoung yang didengarnya. Sementara Yunji, tetap tidak teralihkan dari buku di tangannya. Suara kunci pintu terbuka dan derit pintu kamar mandi terdengar setelahnya. Sosok Sooyoung dengan ekspresi terkejutpun muncul dari dalam kamar mandi, berjalan di lorong dengan langkah tergesa. Derap langkah kaki jenjang Sooyoung terdengar bahkan ditengah suara televisi yang sedang menayangkan program home shopping yang begitu ramai.

.

“Kwon Yunji, apa ini?” tanya Sooyoung setibanya di ruang tv.

.

“Apa?” Yunji balas bertanya tanpa menoleh pada Sooyoung.

.

“Barang yang kubawa ini”, jawab Sooyoung dengan volume suaranya yang hanya mengecil beberapa bar.

.

“O! Sepertinya itu bukan T-shirt perempuan”, seru Yura sambil menunjuk T-shirt yang dibawa oleh Sooyoung. Sontak Yunjipun menoleh cepat pada Sooyoung setelah mendengar seruan Yura.

.

“Milik siapa ini?” tanya Sooyoung sekali lagi. Kali ini ia sambil mengerutkan keningnya dan menatap curiga pada Yunji.

.

Ekspresi di wajah Yunjipun seketika mereda. Namun sebuah kerutan kecil terlihat di kening Yunji setelahnya. “Ah… Itu…… Hm……” kata Yunji yang ragu untuk menjawab pertanyaan Sooyoung.

.

“Ah, hm, itu, hm, apa? Siapa?” tanya Sooyoung lagi menuntut jawaban pada Yunji secepatnya.

.

“Milik seseorang……kurasa”, jawab Yunji menggantung.

.

“Siapa? Sepupu? Kekasih?” kini giliran Yura yang bertanya pada Yunji.

.

“Hm? Tidak… Seorang teman”, jawab Yunji kali ini.

.

“Apa? Hm… Itu justru terdengar lebih aneh bagiku, Kwon Yunji. Seorang teman mandi di apartmentmu. Aku ralat. Seorang teman laki-laki. Benarkah?” tanya Sooyoung heran.

.

“Eo…” jawab Yunji singkat sambilmenganggukkan kepalanya.

.

“Eo??? Kau menjawabnya dengan sangat mudah. Sikap santaimu ini sudah semakin membuatku heran. Benarkah, Yunji-ya? Seorang laki-laki?” tanya Sooyoung sekali lagi untuk memastikan.

.

“Siapa laki-laki itu? Apa kami mengenalnya juga?” tanya Yura penasaran.

.

“Mung…kin?” jawab Yunji ragu.

.

“Kau tidak kembali berhubungan dengan Siwon oppa, bukan?” tanya Yura lagi dengan kecurigaannya.

.

“Apa aku sudah gila? Kenapa aku harus kembali padanya?” Yunji balas bertanya dengan nada bicara yang naik setengah oktaf.

.

“Kim Yura, ini peringatan pertama untukmu. Bukankah kita sudah sepakat bahwa nama itu terlarang? Tidak boleh ada yang menyebutnya lagi”, kata Sooyoung memperingatkan Yura.

.

Sebuah desisan justru keluar dari bibir Yunji setelah mendengar ucapan Sooyoung pada Yura baru saja. “Hhh… Terlarang… Kalian ini… Sangat kekanakan”, ujar Yunji.

.

“Aku lupa. Maaf…” kata Yura.

.

Yunjipun tertawa mendengar kata maaf yang diucapkan oleh Yura. Ia menepuk pelan lutut Yura yang duduk disampingnya, lalu mengubah posisi duduknya menghadap pada Yura. “Kim Yura, kenapa kau meminta maaf? Kau juga, Choi Sooyoung, kenapa masih saja bersikap seperti itu? Sudahlah… Choi Siwon sudah berlalu. Kalian bisa menyebut namanya dimanapun kalian suka. Tidak akan mempengaruhiku”, kata Yunji meyakinkan kedua sahabatnya.

.

Sooyoungpun berjalan mendekat pada Yunji dan Yura, kemudian duduk disofa bersama mereka. “Anyway, kita kembali ke topik awal.Aku sedikit ragu dengan dugaanku. Tapi aku benar-benar penasaran. Aku sangat ingin mengetahuinya”, kata Sooyoung. “Apakah T-shirt ini…… milik Cho Kyuhyun?” tanya Sooyoung setelahnya.

.

“Heol… Apa kau sedang membicarakan Cho Kyuhyun yang sama yang kita tahu, Sooyoung-ah? Cho Kyuhyun, mahasiswa arsitektur yang sering dibicarakan oleh banyak orang di kampus?” tanya Yura yang terkejut dengan dugaan Sooyoung.“Benarkah, Yunji-ya?” tanya Yura pada Yunji kali ini.

.

Senyumpun mengembang di wajah Yunji. Bukan senyum yang menunjukkan sebuah kebahagiaan, melainkan sebuah senyuman yang menunjukkan sebuah keterkejutan pada ucapan yang didengarnya. “Choi Sooyoung, kau belajar ilmu meramal? Akhir-akhir ini dugaanmu tidak pernah meleset”, kata Yunji dengan santai sambil meletakkan bukunya di meja. Kemudian, Yunji bangkit berdiri dan berjalan menuju meja makan untuk minum segelas air.

.

“Wah… Apa ini? Jadi, benar Cho Kyuhyun? Kwon Yunji…” kata Yura masih dengan ungkapan keterkejutannya.

.

Yunji tidak menjawab pertanyaan Yura. Ia justru berjalan ke dapur untuk mengambil jus jeruk didalam lemari es. Yunji tidak mengetahui bahwa sebuah pesan baru saja masuk ke ponselnya yang tergeletak bebas diatas meja. Sooyoung yang menyadari hal itu segera mengambil ponsel Yunji dengan perlahan. Kedua mata Yura melebar saat ia melihat nama pengirim pesan itu. Sooyoung segera melingkarkan tangannya di lengan Yura, mencegah Yura untuk megatakan apapun sebelum ia memeriksa isi pesan itu. Yura dan Sooyoung akhirnya membaca isi pesan itu bersama. Yura dengan kepribadian riangnya kembali menunjukkan ekspresi terkejut serta girang di wajahnya. Sesaat setelahnya, Yunji kembali dengan segelas jus jeruk ditangannya. Yunji menarik sebuah kursi di ruang makan, lalu duduk menghadap pada kedua sahabatnya yang sedang menatapnya dengan penuh kecurigaan.

.

“Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Yunji yang tidak menyadari keberadaan ponselnya ditangan Sooyoung.

.

“Kau yakin kalian hanya berteman? Lalu, apa ini?” tanya Sooyoung sambil menunjukkan ponsel Yunji pada pemiliknya. “‘Kwon Yunji, bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja? Apa aku harus kesana?‘ Itu yang Cho Kyuhyun katakan dalam pesannya. Bisa kau jelaskan pada kami? Benarkah hanya teman?”

.

“Kami benar-benar hanya berteman, Choi Sooyoung. Kenapa kau tidak mempercayaiku?” ujar Yunji.

.

“Karena sikap kalian sangat mencurigakan. Kalian terlalu dekat untuk ukuran sebuah hubungan pertemanan biasa. Apakah kau tidak berpikir bahwa kedekatan kalian terlalu berlebihan?” kata Sooyoung mengungkapkan pendapatnya.

.

“Bagian mana dari pertemanan kami yang terlihat berlebihan? Aku bersikap sewajarnya, sama seperti sikapku pada kalian”, sanggah Yunji.

.

“Sebentar. Berhenti disana, kalian berdua. Sekarang aku sudah mengerti”, kata Yura menyela pembicaraan Sooyoung dan Yunji.

.

“Apa yang kau mengerti?” tanya Yunji.

.

“Aku mengerti maksud ucapan Sooyoung. Cho Kyuhyun adalah seorang laki-laki, Yunji-ya. Kau tidak bisa menyamakannya dengan kami begitu saja. Hubungan pertemanan kita bertiga sangat dekat. Tapi, kita tidak akan pernah ‘romantically involved‘. Lain halnya dengan hubungan ‘pertemanan’mu dengan Cho Kyuhyun”, kata Yura menjelaskan maksudnya.

.

“Tepat sekali”, kata Sooyoung setuju.

.

Suasana berubah hening diantara mereka. Hanya suara yang berasal dari televisi saja yang terdengar. Yunji menatap kedua sahabatnya bergantian. Dalam diam ia memikirkan perkataan Yura yang menurutnya tidak sepenuhnya salah. Namun, hati kecilnya masih menolak teori itu untuk disetujui. Selama Yunji tidak pernah memikirkan bahwa hubungannya dengan Kyuhyun akan melibatkan perasaan, seperti yang dikatakan oleh Yura. Hubungan diantara mereka berdua terjadi begitu saja dengan mengandalkan hubungan pertemanan yang belum sempat terjadi saat mereka masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Yunji bahkan tidak pernah mengetahui alasan dibalik kecocokkan dan kenyamanan yang ia rasakan saat bicara dengan Kyuhyun. Semua terjadi begitu saja, tanpa ada usaha keras yang dibutuhkan untuk saling memahami satu sama lain. Yunjipun semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri, mengabaikan tatapan Yura dan Sooyoung yang belum terlepas darinya.

.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Gerakan tiba-tiba Yura yang melonjak kaget membawa Yunji kembali ke dunia nyata, keluar dari alam pikirannya yang dalam. Ponsel Yunji bergetar hebat, menandakan ada sebuah panggilan yang masuk. Tentu saja, alasan dibalik melonjaknya Yura adalah nama yang tertera di layar ponsel. Cho Kyuhyun. Laki-laki yang sedang menjadi topik pembicaraan Yunji dan kedua sahabatnya menghubungi Yunji disaat yang kurang tepat. Menyadari hal itu, Yunji segera merebut ponselnya dari tangan Sooyoung. Saat ia ingin beranjak dari sofa, Yura sudah memeluk erat pinggang Yunji untuk menahannya tetap duduk disana bersama mereka. Yunji menyerah. Iapun menyentuh panel hijau di layar ponselnya untuk menerima panggilan telepon dari Kyuhyun. Kemudian Sooyoung menjentikkan jarinya tepat didepan wajah Yunji, meminta perhatian Yunji agar menoleh padanya. Saat Yunji menoleh, Sooyoung memberikan isyarat padanya untuk mengaktifkan pengeras suara agar pembicaraan Yunji dan Kyuhyun dapat terdengar. Yunji terpaksa menuruti keinginan Sooyoung sebelum keributan yang tidak ia inginkan datang dari kedua sahabatnya itu.

.

“Yoboseyo?” sapa Yunji.

.

Kwon Yunji, apa kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun tanpa menjawab sapaan Yunji.

.

“Eo… Kenapa kau berpikir aku tidak akan baik-baik saja?” Yunji balas bertanya.

.

Karena kau hanya membaca pesanku tanpa membalasnya untuk waktu yang cukup lama”, jawab Kyuhyun.

.

“Ah, maaf… Aku lupa. Sepertinya aku hanya membuka pesanmu tanpa benar-benar membacanya. Aku sedang melakukan sesuatu saat ini”, kata Yunji memberikan alasannya pada Kyuhyun.

.

Jadi, kau baik-baik saja saat ini?” Kyuhyun mengulangi pertanyaannya lagi pada Yunji.

.

“Tentu saja”, jawab Yunji singkat.

.

Syukurlah…” kata Kyuhyun jujur mengutarakan kelegaannya. “Kau memerlukan sesuatu? Membutuhkan seorang teman? Aku bisa kesana. If you want me to”, sambung Kyuhyun.

.

Sontak Sooyoung& Yurapunmerasa girang. Mereka ingin bersorak namun tidak bisa mengeluarkan suara karena Kyuhyun masih tersambung diseberang telepon. Karena itu, keduanya hanya menggerakan tangan dan menunjukkan ekspresi senang di wajah mereka.Tiba-tiba, karena merasa terlalu senang kaki Yura membentur meja yang ada dihadapannya. Sooyoung dan Yunji berusaha menyembunyikan tawa mereka, sekaligus merasa kasihan pada Yura. Namun, Yura justru mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengisyaratkan pada Yunjiuntukmembiarkan Kyuhyun datang ke apartment. Yunji menggelengkan kepalanya, menolak permintaan Yura. Kemudian Sooyoungpun ikut serta membantu Yura dalam membujuk Yunji.

.

Yunji-ya?” kata Kyuhyun yang tidak  mendengar suara Yunji diseberang telepon untuk waktu yang cukup lama.

.

“Hm? Ah… Tidak. Tidak perlu, Cho Kyuhyun. Ini sudah larut. Semua akan baik-baik saja setelah aku mendapatkan tidur yang cukup”, kata Yunji menolak tawaran Kyuhyun secara halus.

.

Baiklah. Jadi, kita akan bertemu besok di kampus?” tanya Kyuhyun memastikan.

.

“Tentu. Kita bertemu besok di kampus”, jawab Yunji meyakinkan Kyuhyun.

.

Tidur lebih awal hari ini, Yunji-ya. Jangan pikirkan apapun”, kata Kyuhyun setelahnya yang mengundang senyum mengembang diwajah Sooyoung dan Yura.

.

“Baiklah. Aku mengerti”, jawab Yunji.

.

Dan sampaikan salamku pada kedua temanmu”, kata Kyuhyun, membuat senyum diwajah Sooyoung dan Yura seketika menghilang karena terkejut. “Mereka bisa bersuara lagi setelah aku menutup teleponku. Walaupun sebenarnya aku lebih suka mereka bersuara sekarang. Karena dengan begitu aku bisa percaya bahwa kau akan baik-baik saja”, sambung Kyuhyun.

.

“Hhh… Aku baik-baik saja, Kyuhyun-ah. Hentikan sikap alami petugas keamanan dalam dirimu itu. Anyway, akan kusampaikan pesanmu pada mereka”, ujar Yunji.

.

Selamat tidur, Yunji-ya. Dan untuk teman-temanmu juga”, kata Kyuhyun.

.

“Untukmu juga”, balas Yunji.

.

Sambungan teleponpunterputus, menyisakan sorakan senang dari Sooyoung dan Yura. Keduanya bergerak girang hingga mengguncang sofa yang mereka duduki. Sementara disamping mereka, Yunji hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala melihat tingkah kedua sahabatnya. Dibalik sikapnya yang terlihat seolah tidak terjadi apa-apa, Yunji berusaha menyembunyikan semburat merah muda yang mungkin dapat terlihat dari kedua pipinya. Ia tidak tahu apa yang menyebabkan degup jantungnya menjadi semakin cepat saat mendengar suara tenang Kyuhyun diseberang telepon beberapa saat yang lalu.

.

“Kau mengerti maksudku sekarang ‘kan, Yura-ya? Sikapnya tidak seperti seorang teman biasa. ‘Tidur lebih awal, Yunji-ya. Jangan pikirkan apapun’. Ouh… Manisnya. Perhatian Cho Kyuhyun pada Yunji benar-benar mengejutkanku”, kata Sooyoung berpendapat.

.

“Benar… Suara Cho Kyuhyun yang berat terdengar begitu tenang meski sedang mengkhawatirkanmu. Apakah gaya bicaranya selalu seperti itu? Kau membuatku iri, Yunji-ya”, kata Yura.

.

“Benarkah? Hingga membuatmu iri, Yura-ya? Hm… Kurasa seharusnya kau tidak perlu sampai seperti itu. Hong Jonghyun juga memiliki suara yang tenang”, balas Yunji.

.

“Siapa Hong Jonghyun?” tanya Sooyoung yang terkejut dengan ekspresi serius di wajahnya.

.

“Percayalah, Sooyoung-ah, aku juga sangat penasaran akan hal itu. Jadi, bagaimana sikap Hong Jonghyun padamu, Kim Yura?”, kata Yunji.

.

“Apakah kau mengenal Jonghyun oppa? Bagaimana?” tanya Yura yang tidak kalah terkejutnya dengan Sooyoung.

.

“Oppa? Aigoo… Benar ternyata. Apakah dia kekasihmu, Yura-ya? Apakah dia tampan? Bagaimana dengan penampilannya?” tanya Sooyoung tanpa melewatkan kesempatan untuk menggoda Yura.

.

“Tentu saja dia tampan, Sooyoung-ah. Sahabat kita, Yura, memiliki selera yang bagus dalam mencari seorang kekasih. Ah, sebentar. Aku sedikit penasaran. Apakah kalian sudah menjadi sepasang kekasih?” tanya Yunji.

.

“Aku justru lebih penasaran akan satu hal, Yunji-ya. Bagaimana caranya kau bisa mengenal Jonghyun oppa?” Yura balas bertanya.

.

“Aku bertemu dengannya sabtu lalu. Ayahnya termasuk dalam daftar undangan kolega Presidir Kwon”, jawab Yunji.

.

“Lalu, apakah Jonghyun oppa mengatakan sesuatu padamu? Maksudku, sesuatu tentangku, begitu?” tanya Yura lagi.

.

“Tidak. Aku masih menjadi seorang polos yang tidak tahu apa-apa, sampai saat aku bertemu dengan Minho di Guavalare minggu pagi. Minho yang memberitahuku. Minhopun mengetahui hubungan kalian berdua dari seorang teman clubbing-nya yang gagal mendapatkan Hong Jonghyun”, kata Yunji menjelaskan.

.

“Jadi, Jonghyun oppa tidak mengatakan apapun tentang ‘kami’?”, tanya Yura yang dijawab dengan gelengan pelan oleh Yunji. “Apakah kalian tidak saling bicara?”

.

“Tentu saja aku bicara dengannya. Dia adalah salah satu tamu ‘normal’ selain Minho bagiku di acara itu. Dia juga sudah menyelamatkanku dari percakapan menjengkelkan dengan eonni dan tunangannya”, jawab Yunji.

.

“Aigoo… Bagaimana ini, Yura-ya? Jonghyun oppa-mu datang ke pesta di rumah Yunji sabtu lalu bersama orang tuanya. Bagaimana jika mereka berdua dijodohkan? Dari yang kudengar, tampaknya Jonghyun oppa-mu memiliki frekuensi yang sama dengan Yunji”, kata Sooyoung menggoda Yura sekali lagi.

.

Yunji berdeham pelan, lalu melirik pada Sooyoung sambil memberikan isyarat melalui gerakan alisnya. Kerutan kecil muncul di kening Yunji yang juga menggelengkan kepalanya pelan. Ekspresi di wajah Sooyoung sontak berubah kembali menjadi datar. Sooyoung menyadari bahwa yang ia katakan memang atau mungkin akan terjadi. Beruntung karena saat ini Yura sedang menunduk, mengambil ponselnya yang jatuh sehingga ia tidak menyadari komunikasi tanpa suara yang terjadi antara Yunji dan Sooyoung. Saat Yura kembali menegakkan tubuhnya, Yunji dan Sooyoungpun mengakhiri komunikasi diantara mereka, lalu segera mencoba bersikap seperti semula. Yunji kembali meraih buku Sastra Inggrisnya, sementara Sooyoung menyibukkan diri dengan ponselnya. Tiba-tiba Yura meraih remote control, lalu mengecilkan volume televisi. Baik Sooyoung maupun Yunji menyadari hal itu. Namun, mereka tidak segera menoleh pada Yura.

.

“Apakah Sooyoung benar, Yunji-ya?” tanya Yura akhirnya.

.

“Hm? Tentang apa?” Yunji balas bertanya.

.

“Oh, ayolah… Aku tahu kau mendengarnya juga tadi”, kata Yura.

.

“Hhh… Well, lantas kenapa jika hal itu benar-benar terjadi? Aku tidak gila, Yura-ya. Jika kau dan Hong Jonghyun saling menyukai, kenapa aku harus berada diantara kalian sebagai perusak? Kau pikir aku akan melakukan hal itu juga, setelah aku pernah mengalaminya? Tolong, Yura-ya, jangan menyamakan aku dengannya. Aku tidak suka merusak kebahagiaan orang terdekatku”, kata Yunji bersungguh-sungguh.

.

“Maafkan aku, Yunji-ya. Aku tidak bermaksud untuk mengungkitnya”, kata Yura menyesal.

.

“Sudahlah, Yura-ya, jangan meminta maaf. Aku yang salah. Seharusnya aku tidak perlu menggodamu dengan ucapan seperti itu”, sambung Sooyoung yang juga merasa bersalah.

.

“Hei, teman-teman, ada apa ini? Kenapa suasana diantara kita menjadi seperti ini? Sudah, tidak perlu terlalu dipikirkan. Tidak ada hal buruk lain yang akan menghampiri kalian dan kita bertiga, meski apapun yang terjadi. Aku tidak akan membiarkannya”, kata Yunji mencoba meyakinkan kedua sahabatnya. “Lagipula, kurasa kalian akan setuju padaku jika aku mengatakan bahwa Cho Kyuhyun memiliki potensi yang lebih besar untuk menarik perhatianku. Benar, ‘kan?” sambung Yunji sambil bangkit berdiri.

.

“Apa?!” seru Sooyoung dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.

.

“Omo! Benarkah yang kudengar barusan? Apa kau benar-benar tertarik pada Cho Kyuhyun, Yunji-ya?” tanya Yura pada Yunji yang sudah berlalu menuju dapur.

.

Suara tawa renyah Yunji terdengar mengisi ruangan dapur. Yunji tidak segera menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Yura. Ia justru tetap melanjutkan kegiatannya, membuka lemari es untuk mencari plain yoghurt kesukaannya yang tersembunyi dibalik butiran apel. Yura dan Sooyoung yang tidak sabar menunggu jawaban Yunji pun datang ke dapur untuk mendesak Yunji. Namun, Yunji memilih bungkam dengan penutup yoghurt yang terbuat dari plastik berada dibibirnya. Yunji berjalan menuju meja makan, menarik salah satu kursi, lalu duduk disana. Begitupun yang dilakukan oleh Yura dan Sooyoung disamping kanan dan kirinya. Yunji masih bertahan dengan kebungkamannya, hingga tatapan tajam kedua sahabatnya yang begitu gigih membuat Yunji menyerah. Yunji menghela napas pelan, lalu menatap Yura dan Sooyoung bergantian.

.

“Baiklah. Apa yang kalian inginkan?” tanya Yunji.

.

“Jawaban atas pertanyaan Yura”, jawab Sooyoung. “Apakah kau benar-benar tertarik pada Cho Kyuhyun?” tanya Sooyoung setelahnya.

.

“Jawab dengan jujur”, kata Yura menambahkan.

.

Yunji mengangkat kedua bahunya pelan, mengekspresikan keraguannya. “Entahlah. Mungkin? Aku tidak tahu. Karena sampai saat ini, aku belum merasakan apapun”, jawab Yunji.

.

“Kau mungkin hanya belum menyadarinya”, kata Sooyoung.

.

Yunji kembali bangkit berdiri, meninggalkan kedua sahabatnya. “Mungkin kau benar. Aku benar-benar tidak tahu. Hanya waktu yang bisa menjawabnya”, ujar Yunji yang berjalan keluar dari dapur.

.

Yura bersorak riang mendengar ucapan Yunji. Ekspresi di wajahnya semakin memperjelas kegembiraan yang ia rasakan. “Aku harap waktu itu segera datang. Saat akhirnya seorang laki-laki bernama Cho Kyuhyun mampu menghapus bayang-bayang Siwon oppa dari hidup Yunji”, kata Yura.

.

Mendengar hal itu, Yunji hanya melambaikan tangannya pada Yura. Ia tidak benar-benar tertarik untuk membicarakannya. Ia bahkan tidak mempedulikan hal itu saat ini. Yunji sudah merasa cukup lega karena mampu mengalihkan perhatian Yura dari masalah perjodohan yang memang mungkin bisa terjadi. Awalnya, Yunji tidak ingin mempedulikan rencana apapun yang dibuat oleh ibunya, rencana apapun. Namun, saat ia bicara pada Minho pagi itu, Yunji telah memutuskan untuk sekali lagi menentang keinginan ibunya. Bukan karena keinginan ibu Yunji tidak dapat diwujudkan. Karena, faktanya keinginan itu masih bisa diwujudkan selama tidak ada ikatan resmi apapun diantara Jonghyun dan Yura. Yunji hanya tidak ingin melakukan tindakan bodoh yang dapat menyakiti orang lain. Ia tidak ingin Yura tersakiti seperti dirinya dulu. Yunjipun melangkah menyusuri lorong, lalu masuk kedalam kamar mandi. Dalam diam, Yunji juga merutuki dirinya sendiri karena sudah menggunakan Kyuhyun sebagai tameng untuk melindungi dirinya.

.

.

.

Keesokkan harinya

.

Yunji berjalan keluar melalui pintu utama lobby apartmentnya. Ia tidak mengenakan riasan apapun di wajahnya. Rambut hitamnya yang panjang ia biarkan tergerai bebas. Sebuah long cardigan berwarna baby blue melekat sempurna di tubuh tinggi Yunji, menutupi siluette tubuh Yunji yang berbalut T-shirt putih dan jeans biru muda. Sebuah tas ransel hitam berukuran sedang sudah menggantung di bahu kanannya. Penampilan Yunji terlihat sama mendungnya dengan warna langit Seoul pagi ini. Dua jam yang lalu, Sooyoung dan Yura sudah lebih dulu berangkat ke kampus karena jadwal kuliah pagi yang mereka miliki. Karena itu, Yunji harus sarapan seorang diri. Namun, saat ini Yunji sedang tidak dalam suasana hati ingin membuat sarapannya sendiri. Itulah sebabnya kedua kaki jenjang Yunji berjalan dengan pasti menuju sebuah coffee shop yang terletak tidak terlalu jauh dari apartmentnya, kira-kira hanya delapan blok jauhnya. Lonceng di kedai itu berbunyi saat Yunji mendorong pintu untuk masuk kedalam. Sapaan dari seseorang dibalik etalase mengikuti setelahnya, mengundang senyum di wajah Yunji untuk mengembang. Yunji berjalan mendekat, melihat satu persatu jenis kue dan roti yang disajikan oleh kedai itu pagi ini. Setelah memutuskan pilihannya, Yunji bergeser kedepan kasir. Ia menyebutkan pesanan yang kemudian diproses oleh kasir yang membalasnya dengan sangat ramah. Yunjipun duduk di salah satu bangku setelah menyelesaikan pembayaran.

.

Alunan musik instrumental memenuhi seisi ruangan, memberikan kesan sapaan pagi yang menenangkan bagi para pengunjung. Yunji merupakan salah satu pengunjung kedai yang terbuai dengan alunan musik manis itu. Senyum di wajah Yunji semakin mengembang saat suara cello menyelinap diantara lantunan lembut grand piano. Kemudian pramusaji yang datang mengalihkan perhatian Yunji. Secangkir cokelat panas dan sandwich isi daging asap tersaji dihadapan Yunji. Sapaan ramah dan ucapan terima kasihpun Yunji berikan pada pramusaji yang telah melayaninya. Namun, senyum manis di wajahnya sontak menghilang kala kedua matanya bertemu dengan sepasang mata tajam yang sangat dikenalnya. Sepasang mata yang tidak pernah ingin Yunji lihat lagi. Sepasang mata yang pernah mempesonanya. Choi Siwon berada disana, di salah satu tempat duduk dekat jendela, sisi terjauh dari Yunji. Garis rahangnya yang keras begitu kontras saat bersanding dengan ekspresi wajahnya yang terlihat muram dan sendu. Seketika degup jantung Yunji memberikan reaksi atas tatapan Siwon padanya. Jantungnya berdetak cepat, disertai dengan rasa sakit yang tidak pernah Yunji tahu berasal dari mana. Tatapan keduanya saling mengunci pada satu sama lain. Mereka saling menatap dalam diam untuk waktu yang lama.

.

Hingga sebuah jari-jari lentik menyentuh pipi kanan Siwon, mengalihkan pandangan Yunji dari objek pertamanya. Tentu saja. Jari-jari lentik itu adalah milik Yuri yang duduk tepat di sebelah Siwon. Dalam kebungkamannya, Yunji tidak henti memaki dirinya karena sudah dengan bodoh menatapi wajah laki-laki yang sudah bukan miliknya itu. Tiba-tiba, Yuri menoleh padanya setelah mengikuti arah pandang Siwon. Kini Yunji merasa lebih ingin mengeluarkan sumpah serapahnya pada Siwon. Laki-laki itu kembali tidak mampu menahan dirinya untuk terus memandang Yunji, meski ia tahu Yuri berada disampingnya. Siwon tidak pernah mempedulikan akibat dari perbuatannya itu pada dirinya. Namun, Siwon lupa bahwa perbuatannya itu dapat berakibat tidak menyenangkan pada gadis yang dicintainya. Seperti yang saat ini terjadi, Yuri menatap wajah adik perempuannya dengan tatapan tajam, tanda dirinya merasa tidak sedang dengan kehadiran Yunji. Kini jantung Yunji tidak hanya berdetak cepat, tapi justru nyaris terhenti saat menerima tatapan Yuri. Yunjipun segera meraih ponselnya, melupakan makanan yang ada dihadapannya untuk membuka daftar kontak di ponselnya. Yunji berusaha secepat mungkin menimbang keputusan untuk menghubungi salah satu nama yang ada disana, berharap siapapun bisa membantunya. Akhirnya ibu jari Yunji menyentuh sebuah nama dalam daftar kontaknya untuk dihubungi dengan cepat. Nada sambung terdengar setelahnya, menambah ketegangan yang Yunji rasakan. Napas Yunji menjadi lebih berat saat orang diseberang telepon tidak segera menerima panggilannya. Yunji hampir saja memutus sambungan telepon saat akhirnya seseorang bicara padanya.

.

“Cho Kyuhyun?” kata Yunji memotong sapaan selamat pagi Kyuhyun.

.

Eo, Yunji-ya. Aku baru saja sampai dikampus. Ada apa? Suaramu tidak terdengar baik saat memanggil namaku”, kata Kyuhyun.

.

“Kyuhyun-ah, bisakah kau datang? Sam’s Morning (nama sebuah cafe), depalan blok dari apartmentku. Please… Now, please……” kata Yunji dengan suara pelan hampir berbisik, tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.

.

Baiklah. Tetap disana. Aku segera datang”, jawab Kyuhyun tanpa mempertanyakan apapun lagi setelahnya.

.

Sambungan teleponpun terputus, meninggalkan Yunji yang menunggu dengan ketegangan dan kecemasan dalam dirinya. Dari sudut matanya, Yunji dapat menangkap gerak tubuh Yuri yang mendekat pada Siwon. Yuri menyandarkan kepalanya di bahu tegap Siwon yang tidak segera menggubrisnya. Kepala Yunji tidak bergerak menuruti perintah otaknya. Ia menoleh pada pasangan yang seharusnya ia hindari. Yunji menatap kebersamaan kakak perempuannya dengan laki-laki yang segera akan menjadi kakak iparnya. Pakaian yang dikenakan oleh Yuri didalam mantelnya menjelaskan bahwa dirinya baru saja kembali dari jadwal malamnya di rumah sakit. Meski begitu, Siwon tetap tidak bergeming, hingga Yuri membuat Siwon menoleh padanya agar hanya menatapnya. Siwonpun mengalihkan pandangannya, menatap Yuri yang berada sangat dekat dengannya. Sudut bibir Yuri yang tertarik membentuk sebuah seringaian mengungkapkan bahwa dirinya menyadari tatapan Yunji pada mereka dari kejauhan. Ia merasa kembali menjadi pemenang.

.

Disaat yang sama, tatapan Yunjipun teralihkan. Kyuhyun menepati janjinya untuk datang secepat mungkin. Sentuhan tangan dingin Kyuhyun yang kemudian meremas jari-jari kurus Yunji yang mengalihkan perhatiannya beberapa saat yang lalu. Kyuhyun segera duduk disebelah Yunji saat tatapan mereka bertemu. Ada kekhawatiran dalam tatapan lembut Kyuhyun. Mata Yunji tampak sedikit melebar saat menyadari helaan napas Kyuhyun yang terengah pelan disampingnya. Yunjipun balas meremas jari-jari Kyuhyun sebagai wujud terima kasihnya atas kedatangan Kyuhyun untuknya.

.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun setelahnya.

.

“Tidak”, jawab Yunji dengan suara pelan.

.

“Ada apa? Apa yang terjadi?” Kyuhyun kembali bertanya pada Yunji. Disaat yang sama, Siwon menoleh pada keduanya, diikuti dengan tatapan tajamnya beberapa saat kemudian.

.

“Tidak apa. Bukan sesuatu yang perlu kau khawatirkan”, jawab Yunji dengan senyum tipisnya.

.

“Kau ingin pergi dari sini?” tanya Kyuhyun kali ini.

.

“Sebentar… Kita duduk disini sebentar saja. Aku tidak punya cukup kekuatan dikakiku”, jawab Yunji sambil menopang kepala dengan tangannya yang bebas.

.

“Kau tidak dalam keadaan baik, Yunji-ya. Tanganmu terasa begitu dingin”, ujar Kyuhyun.

.

“Aku sudah mengatakannya padamu, Kyuhyun-ah. Aku memang tidak baik-baik saja”, balas Yunji.

.

“Tolong beritahu apa yang harus kulakukan”, pinta Kyuhyun dengan nada khawatir dalam suaranya.

.

“Tetap bersamaku. Kumohon… Aku tidak pernah menduganya. Tapi secara mengejutkan, kau memiliki kemampuan untuk membuatku merasa lebih baik. So, stay. Please… Sebentar saja”, pinta Yunji kali ini.

.

Okay. We’ll stay. I’m with you (Baiklah. Kita tetap disini. Aku bersamamu)”, jawab Kyuhyun.

.

Keheningan segera menyelinap diantara keduanya. Kyuhyun tetap berada di tempatnya, memandang Yunji yang memejamkan matanya dan berusaha menenangkan diri. Setiap helaan napas terlihat begitu berat. Remasan tangan Yunji pada Kyuhyunpun tidak kunjung meregang, meski gemetar sudah pergi sejak beberapa saat yang lalu. Perlahan kedua mata itu terbuka, membuat Kyuhyun lantas bersikap siaga dalam ketenangan ekspresi wajahnya. Tatapan mereka bertemu, menimbulkan sebuah kerutan di kening Kyuhyun sebagai ungkapan atas pertanyaannya atas maksud tatapan Yunji padanya. Yunji tidak mengatakan apapun, hanya sebuah senyum tipis yang muncul dibibirnya. Seorang pramusaji datang menghampiri mereka, mengantarkan pesanan Kyuhyun. Yunji memberikan senyuman manis dan ucapan terima kasihnya pada pramusaji yang segera meninggalkan mereka berdua setelahnya. Yunjipun memindahkan cangkir kopi agar lebih dekat pada Kyuhyun.

.

“Jika aku bertanya lagi padamu, maukah kau menjawabnya?” tanya Kyuhyun menghapus keheningan diantara mereka.

.

“Apa?” tanya Yunji yang menoleh pada Kyuhyun, menatap tepat pada kedua mata Kyuhyun.

.

“Apa yang terjadi? Kau tidak terlihat baik sejak tadi. Aku tahu kau sudah mengatakan bahwa aku tidak perlu khawatir. Tapi, setidaknya ijinkan aku untuk sekedar mengetahuinya”, ujar Kyuhyun.

.

Yunji menghela napas panjang perlahan, menimbang kata yang bisa diucapkan pada Kyuhyun. Ia berdeham setelahnya, mencoba menjernihkan pikirannya agar dapat menjawab pertanyaan Kyuhyun. “Mereka ada disini. Yuri eonni dan tunangannya”, jawab Yunji akhirnya. “Kurasa keduanya menyadari keberadaanku. Tapi, mereka saling bungkam pada satu sama lain akan hal itu. Awalnya kupikir semua akan baik-baik saja setelah bertahun berlalu. Aku akan merasa kebas dan kebal pada efek yang mereka berikan padaku. Tapi, rupanya aku belum benar-benar mampu. Gemetar masih menghampiriku saat tatapanku bertemu dengan kedua mata mereka. Seharusnya aku tidak bersikap seperti ini, bukan? Seharusnya aku baik-baik saja”, sambung Yunji sambil mencoba menyunggingkan senyuman dibibirnya.

.

“Tidak, Yunji-ya”, kata Kyuhyun sambil menggelengkan kepala dan membalas senyum Yunji. “Tidak ada aturan yang bisa melarangmu untuk merasakan hal itu. Tidak ada yang menuntutmu untuk selalu merasa baik-baik saja. Tidak ada keharusan apapun, Yunji-ya”.

.

Sekali lagi Yunji menghela napas panjang. “Tentu ada. It’s called ‘big sister’s rule’. To be fine with their existence is an order for me. (Hal itu disebut ‘peraturan kakak perempuan’. Tetap merasa baik-baik saja dengan keberadaan mereka adalah sebuah perintah bagiku).  Mungkin aku bisa melanggarnya. Hanya saja, aku sangat enggan untuk melakukannya”, jawab Yunji.

.

“Tidak. Bagiku, kau memiliki hak penuh atas semua hal yang terjadi pada dirimu. Kedua orang tuamu mungkin memiliki hak separuhnya. Tapi, hanya jika mereka sudah melakukan kewajiban mereka padamu. Dan, aku tidak membicarakan uang, Yunji-ya. Aku membicarakan apa yang kau rasakan dalam hatimu”, kata Kyuhyun tetap pada pendiriannya.

.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak dapat memikirkan apapun saat ini”, tanya Yunji.

.

“Kau sudah mengatakannya padaku, Yunji-ya. Keputusanmu sudah terucap. Kita akan tetap disini sampai kau merasa lebih baik, dengan aku bersamamu”, jawab Kyuhyun meyakinkan Yunji. “Sekarang, bisakah kuminta kau untuk menyentuh makananmu?”

.

“Entahlah, Cho Kyuhyun. Sepertinya nafsu makanku sudah hilang”, jawab Yunji menolak.

.

“Kau tetap harus makan, Yunji-ya. Kau bisa melewatkan jam makanmu saat kau seorang diri atau sedang bersama orang lain. Tapi, tidak jika kau sedang bersamaku. Please, eat… Atau setidaknya minum cokelat panasmu”, bujuk Kyuhyun.

.

“Baiklah…” kata Yunji setuju.

.

Kyuhyun tersenyum mendengar ucapan Yunji yang setuju untuk menghabiskan makanannya. Kyuhyunpun melepaskan genggaman tangannya pada Yunji agar memudahkan Yunji untuk makan. Sebuah gigitan sandwich rupanya dapat membuat senyuman di wajah Kyuhyun semakin mengembang. Yunji menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menyingkirkan helaian rambut yang bergerak menutupi wajahnya, karena kedua tangannya sudah kotor terkena saus dan mayonaise. Melihat hal itu, Kyuhyun segera menjulurkan tangannya. Yunji mengira Kyuhyun ingin membantunya. Namun, ternyata Kyuhyun justru mengacak rambut Yunji, membuat Yunji memajukan bibir bawahnya karena perbuatan Kyuhyun. Tawapun muncul dari keduanya. Kali ini Kyuhyun benar-benar membantu Yunji untuk menyingkirkan helaian rambut itu dari wajah Yunji. Kyuhyun menyelipkan helaian rambut itu ke belakang telinga Yunji, memperlihatkan wajah tanpa riasan Yunji yang tetap terlihat begitu manis dan mempesona Kyuhyun. Yunjipun bisa meneruskan kegiatan makannya setelah rambut yang sempat mengganggunya disingkirkan oleh Kyuhyun.

.

Senyum dan tawa kecil masih sempat menghiasi wajahnya sebelum muram kembali menghampirinya. Yuri dan Siwon datang mendekat, bergabung dengan Yunji dan Kyuhyun. Sebuah senyum riang terlihat di wajah Yuri, berbanding terbalik dengan Siwon yang justru terlihat sangat enggan terlibat dalam suasana itu. Sontak kedua mata Yunji melebar melihat kakak perempuannya yang tiba-tiba saja duduk bersama mereka. Nafsu makan benar-benar meninggalkannya kali ini. Yunji meletakkan sandwichnya kembali ke piring, kemudian membersihkan tangannya dengan tissue yang berada di meja. Yunji berdeham pelan, mencoba untuk bersikap wajar agar bisa menghadapi Yuri dan Siwon.

.

“O! Adikku berada disini juga rupanya. Rasanya begitu tidak biasa melihatmu sarapan diluar seperti ini”, kata Yuri menyapa Yunji.

.

“Hhh… Aku tahu eonni sudah menyadari keberadaanku sejak tadi. Tidak perlu berpura-pura terkejut seperti itu, eonni”, balas Yunji.

.

“Aku memang sudah melihatmu sejak tadi. Hanya saja aku tidak begitu yakin dengan penglihatanku.  Wajar saja, aku baru kembali dari jadwal malamku. Jadi, mataku sudah terlalu lelah sekarang”, sangkal Yuri.

.

“Jika eonni lelah, kenapa eonni tidak segera pulang dan beristirahat saja? Aku juga akan segera ke kampus setelah ini”, ujar Yunji.

.

“Kau benar. Tapi aku merasa punya kewajiban untuk menyapa adik kecilku yang manis ini terlebih dahulu sebelum pulang. Terutama setelah melihat ada seorang laki-laki yang menemaninya. Siapa dia? Kekasihmu?” tanya Yuri pada Yunji. Namun, Yunji tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Yuri. Ia tetap bungkam tanpa reaksi apapun. Yuri tidak lantas menyerah meski Yunji bersikap seperti itu padanya. Yuripun menoleh pada Kyuhyun, lalu memberikan senyum padanya. “Halo, aku Yuri, kakak Yunji. Adikku tidak sepertinya belum ingin memperkenalkanmu padaku. Tapi, aku tidak bisa menutupi rasa keingintahuanku. Aku harus tahu siapa laki-laki yang sedang dekat dengan adikku, bukan? Jadi, bolehkah aku tahu siapa dirimu?” tanya Yuri pada Kyuhyun kali ini.

.

“Kyuhyun-ibnida”, jawab Kyuhyun singkat dengan ekspresi datar di wajahnya. Yunji yang semula bersikap tidak peduli, kini menoleh perlahan kearah Kyuhyun. Ada kerutan kecil di keningnya setelah mendengar jawaban Kyuhyun pada Yuri beberapa saat yang lalu. Kyuhyun memang menjawab pertanyaan Yuri dengan menyebutkan namanya. Namun, ada satu hal yang tertinggal dari jawaban Kyuhyun. Tidak ada nama ‘Cho’ terdengar dari jawaban Kyuhyun. Hal itu membuat Yunji merasa bingung dengan sikap Kyuhyun.

.

“Chingu? Namjachingu?” tanya Yuri kali ini.

.

Kali ini pertanyaan yang diajukan oleh Yuri benar-benar mengganggu Yunji. Ia menoleh cepat pada kakak perempuannya. Amarah yang sudah ia coba tahan sejak awalpun mulai memunculkan dirinya. “Apa yang sedang eonni lakukan? Kenapa eonni begitu memaksa sejak tadi?” tanya Yunji dengan nada keberatannya.

.

“Kwon Yunji, aku sedang bertanya pada Kyuhyun. Bukan padamu. Kenapa kau yang merasa keberatan?” tanya Yuri dengan sebuah seringaian dibibirnya, membuat Yunji semakin merasakan amarah dalam dirinya akan segera memuncak.

.

Namun, Yunji hanya bisa menghela napas panjang untuk meredakan amarahnya pada kakak perempuan yang sangat tidak ingin ditemuinya itu. Keheningan menghampiri mereka berempat. Yunjipun menoleh pada Kyuhyun, menatapnya dengan kecemasan atas jawabannya yang akan diberikan oleh Kyuhyun. Sesaat setelahnya, Kyuhyun balas menatap Yunji. Tatapan itu tetap tenang, namun dengan rasa tidak nyaman yang dapat Yunji lihat dengan jelas. Keduanya saling menatap dalam diam, seolah sedang bicara pada satu sama lain melalui tatapan mata mereka. Melihat itu, akhirnya Siwon yang sejak awal menunjukkan sikap enggannya justru tertarik pada pembahasan yang sedang terjadi di meja itu. Siwon menatap Yunji untuk waktu yang cukup lama, hingga Yuri menyadari tatapan Siwon yang mulai membuatnya merasa tidak nyaman.

.

Akhirnya Yuri mengajukan pertanyaannya sekali lagi, “Jadi, Kyuhyun, apa hubunganmu dengan adikku?”

.

Kyuhyun tidak segera memberikan jawaban atas pertanyaan Yuri padanya. Tatapannya masih terkunci pada Yunji yang seolah sedang mencegahnya untuk mengatakan apapun. Namun, rupanya Kyuhyun sudah memikirkan rencana lain. Kyuhyun menghela napasnya yang berat perlahan, membuat kerutan di kening Yunji menjadi semakin dalam. “Aku adalah kekasih Yunji”, jawab Kyuhyun tiba-tiba.

.

Suara tawa Yuri terdengar setelahnya, mengusir keheningan canggung diantara mereka. Sebuah tepukan tanganpun menyertai tawa riang Yunji yang justru terdengar memaksa. Sementara Yunji tetap bertahan dengan tatapannya pada Kyuhyun. Ada berbagai ekspresi yang terungkap dari tatapan Yunji. Namun, Kyuhyun tidak bisa menemukan jawaban apapun atas pertanyaannya. Yunji tidak dapat terbaca olehnya. Kilatan amarah, kecemasan, perasaan bingung, semua menyatu dalam satu tatapan tajam yang Yunji berikan. Sebuah dengusan pelan yang terdengar dari arah Siwon bahkan tidak dapat memecah tautan mata keduanya dengan mudah.

.

“Ternyata benar dugaanku. Selamat untukmu, Yunji-ya. Akhirnya kau menemukan seorang laki-laki yang cocok denganmu. Kau harus mengajaknya berkunjung ke rumah lain waktu”, kata Yuri.

.

Yunjipun sontak memutus tatapannya dari Kyuhyun. Ia menundukkan kepalanya, lalu menghela napas pelan setelah mendengar ucapan Yuri yang membuatnya merasa lebih kesal dari sebelumnya. Saat Yunji kembali mengangkat kepalanya untuk menatap Yuri, Yunji memberikan senyum tipis di wajah marahnya, “Aku sudah terlambat ke kampus, eonni. Sampai bertemu. Segera, kurasa”, kata Yunji tanpa membalas ucapan Yuri padanya. Yunji segera bangkit berdiri, lalu menolehkan kepalanya pada Kyuhyun, “Tadi kau bilang ada kelas pagi, bukan? Ayo, kita pergi”, ajak Yunji dengan nada dinginnya.

.

Kyuhyunpun berjalan mengikuti dibelakang Yunji. Langkah Yunji yang begitu cepat menunjukkan bagaimana perasaannya saat ini. Kyuhyun menyadari hal itu. Namun, ia merasa tidak benar-benar tahu pada siapa perasaan itu Yunji tujukan. Yunji tetap terus berjalan tanpa bicara ataupun menoleh pada Kyuhyun. Saat itulah Kyuhyun menyadari, ada sesuatu yang salah telah terjadi diantara mereka. Saat keduanya sampai disamping mobil Kyuhyun, Yunji masuk kedalam mobil begitu saja, lalu menutup pintunya tanpa membalas tatapan Kyuhyun. Yunji bahkan menatap lurus ke depan, meski ia menyadari keberadaan Kyuhyun diluar jendelanya. Kyuhyunpun menyerah. Ia segera berjalan memutar, lalu masuk dan duduk dibelakang kemudi. Kyuhyun tahu Yunji tetap tidak akan bicara padanya. Karena itu, Kyuhyun segera melajukan mobilnya ke jalan tanpa berniat untuk membahas apapun sampai perasaan Yunji menjadi lebih baik. Sepanjang perjalanan, Yunji hanya menatap keluar jendela disampingnya. Ia benar-benar menghindari tatapan Kyuhyun yang tetap menunggunya.

.

“Bisakah kau hentikan mobilnya?” kata Yunji akhirnya.

.

“Apa? Kenapa? Kita baru setengah jalan menuju kampus”, jawab Kyuhyun.

.

“Tolong pinggirkan mobilmu, Cho Kyuhyun”, pinta Yunji. Nada dingin dalam suara Yunji tetap bertahan, membuat suasana diantara mereka semakin muram.

.

Kyuhyunpun menuruti keinginan Yunji. Mobil Kyuhyun berhenti di pinggir seperti yang Yunji inginkan. “Ada apa? Ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya Kyuhyun setelahnya.

.

“Kenapa kau melakukan itu padaku?” Yunji balas bertanya, tetap tanpa menatap Kyuhyun.

.

“Apa? Apa yang sudah kulakukan padamu?” tanya Kyuhyun tidak mengerti.

.

Tell me!” seru Yunji yang akhirnya menatap Kyuhyun dengan tatapan dipenuhi dengan amarah yang terpancar di matanya.

.

“Apa maksudmu? Sebenarnya apa yang sudah kulakukan hingga kau bersikap seperti ini padaku?” tanya Kyuhyun sekali lagi.

.

How dare you…” kata Yunji dengan suara pelan berbisiknya.

.

Kening Kyuhyun berkerut. Ia benar-benar tidak mengerti dengan sikap yang Yunji tunjukkan padanya. “Look, Yunji-ya. Jika saat ini kau sedang mengungkapkan kemarahanmu atas perkataanku pada kakakmu tadi, maka aku minta maaf karena membuatmu marah. Tapi, ketahuilah, aku tidak akan meminta maaf karena sudah berkata seperti itu padanya”, kata Kyuhyun bersungguh-sungguh.

.

“Karena itulah aku bertanya padamu. Kenapa kau melakukan hal itu padaku?” tanya Yunji menjelaskan sumber kemarahannya.

.

“Sebenarnya apa masalahnya? Aku tidak mengatakan hal yang buruk. Yang kukatakan akan terdengar sama dengan mengatakan bahwa aku adalah orang terdekatmu atau sahabatmu. Aku tidak mengatakan bahwa aku adalah tunanganmu atau semacamnya, bukan? Aku juga tidak mengatakan bahwa kita akan menikah besok. It’s not a big deal. Kenapa kau begitu marah? Tolong, buat aku mengerti”, kata Kyuhyun yang mulai kehilangan ketenangannya.

.

“Kau benar. Ini memang bukan masalah besar. Bagimu. Saat kau mengatakan hal itu, tidakkah terpikir sedikitpun olehmu apa akibat yang dapat menghampiriku? Kedua mata kita saling bertemu, Cho Kyuhyun. Apakah kau melihatku sedang merasa sangat bahagia akan pertemuan dengan kakak sempurnaku itu? Have you ever thought, just A LITTLE, that I AM in a situation which I REALLY REALLY want to GET AWAY from everything about that F*CKING…… (Pernahkah kau berpikir, SEDIKIT saja, bahwa AKU sedang dalam situasi dimana aku SANGAT TERAMAT ingin MENJAUH dari semua hal tentang……) Shit…” Yunji menghentikan ucapannya yang dapat berujung dengan sumpah serapah itu. Napasnya memburu. Kemarahan benar-benar sedang memenuhinya. Ia menghela napasnya dengan kasar, mencoba mengaturnya kembali untuk meredakan amarahnya.

.

“Tidak. Hhh… Tentu tidak. Jika kau memikirkannya dengan baik, maka kata sialan itu tidak akan keluar dari bibirmu”, kata Yunji masih dengan kemarahannya yang tidak kunjung mereda. Yunjipun mengusap kedua matanya yang terpejam, lalu keningnya sambil menarik napas dalam. “Kau tahu…… Selama ini aku berpikir bahwa semua hal terasa lebih baik saat kau berada disekitarku. Tapi, kurasa itu hanya opini butaku semata. Kali ini rasanya begitu salah melibatkanmu. Lebih baik kita tidak bertemu untuk sementara waktu, Cho Kyuhyun”, sambung Yunji yang kemudian membuka seatbelt-nya.

.

Namun, Kyuhyun segera mencegah Yunji. “Tidak. Kau tidak akan kemanapun. Kita belum selesai bicara. Kau tidak diijinkan untuk pergi pergi sebelum kita selesai”, tolak Kyuhyun.

.

“Apa lagi yang bisa kita bicarakan? Apakah dengan bicara lebih banyak maka semua hal yang terjadi beberapa menit yang lalu akan menghilang begitu saja seperti debu?” tanya Yunji.

.

“Tidak. Tentu tidak, Yunji-ya. Tidak ada kata yang bisa ditarik kembali. Kata itu sudah terucap dan terdengar”, jawab Kyuhyun dengan tenang. “Aku tidak akan keberatan dengan amarahmu. Aku bahkan akan menerimanya dengan sangat baik. Tapi, biarkan aku mengingatkanmu, Kwon Yunji. Kau belum menjelaskan apapun padaku. Jangan mengharapkan aku untuk menduga-duga apapun hal yang akan terjadi padamu akibat perkataanku itu. Karena, aku tidak tahu. Beritahu aku. Apa yang akan terjadi padamu? Karena dengan mengetahuinya, maka aku dapat mengukur seberapa besar kesalahanku. Lalu setelahnya aku dapat memikirkan bagaimana cara membantumu untuk mengatasinya”, sambung Kyuhyun.

.

“Untuk apa aku mengatakannya padamu? Dan untuk apa kau memikirkannya? Aku yang akan menerimanya. Bukan kau. Seharusnya kau tidak perlu melibatkan dirimu, Cho Kyuhyun”, ujar Yunji.

.

“Jangan lupa bahwa kau yang menghubungiku. Kau yang memintaku untuk datang, Kwon Yunji. Suka atau tidak, kau harus menerima kenyataan bahwa entah saat ini atau suatu hari nanti aku pasti terlibat”, balas Kyuhyun.

.

“Karena itu…… Itulah letak kesalahanku. Seharusnya aku tidak membiarkanmu terlibat, Cho Kyuhyun. Hidupku sudah begitu rumit dengan masalah yang belum terselesaikan. Kini masalah justru bertambah disaat aku sedang benar-benar ingin melepaskan diri. Seperti kataku, lebih baik kita tidak bertemu ataupun bicara untuk sementara waktu. Bukan hanya untuk kebaikanku, tapi juga untukmu. Hati-hati dalam mengemudi, Cho Kyuhyun. Aku harus memikirkan hidupku saat ini. Jadi, kumohon jangan buat aku mengkhawatirkanmu juga”, kata Yunji.

.

Yunji segera membuka pintu disampingnya dan keluar dari mobil Kyuhyun. Yunji melangkah menjauh setelah menutup pintu dibelakangnya, tanpa menoleh lagi pada Kyuhyun yang terdiam dibalik kemudinya. Kyuhyun hanya bisa melihat punggung Yunji yang semakin menjauh dari pandangannya. Ia menghembuskan napas panjang sambil mengusap kening dengan tangan kanannya. Kemudian sebuah pukulan keras Kyuhyun layangkan ke kemudinya. Ia sudah menahan diri, mencoba bersikap tenang dalam menghadapi semua hal yang terjadi pagi itu. Sebuah teriakanpun mengikuti setelahnya. Kyuhyun meluapkan emosi yang dirasakannya pada dirinya sendiri. Rasa kesal juga menyelimutinya karena saat ini ia tidak dapat memikirkan apapun untuk dilakukan selain tetap berdiam ditempatnya.

.

.

.

.

TBC

.

Note:

FINALLY… fiuhh…

Akhirnya aku bisa menyelesaikan part kelima dari FF ini setelah sekian lama. FF ini sudah tertunda sangaaaaaattt lama. Bahkan sudah disela oleh FF Beautiful Tomorrow sebanyak 4 part. Seperti biasa, aku selalu sudah mempersiapkan alur dan konsep cerita untuk setiap part. Tapi, merangkai kata selalu jadi masalahku. Aku selalu menghadapi kesulitan dalam mengembangkan konsep yang sudah kubuat. Akhirnya update FF pun tertunda berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Untuk itu, aku ingin meminta maaf pada kalian dengan tulus dari lubuk hati paling dalam.

Well, annyeonghaseyo, readers-nim. Bagaimana kabar kalian? Sepertinya note terakhirku tahun lalu di FF Beautiful Tomorrow jadi kenyataan. Saat itu aku tidak bersungguh-sungguh ingin mengucapkan Happy New Year sekaligus. Karena, aku sempat berpikir untuk update satu FF sebelum tahun baru dan pernikahan kakakku. Tapi, sepertinya aku terjebak ucapanku sendiri. Sekali lagi, aku minta maaf pada kalian yang sudah menunggu update dariku untuk waktu yang sangat lama.

Okay! Kisah Yunji dan Kyuhyun berlanjut. Kali ini dengan fakta-fakta baru yang terungkap. Pertama, Yunji menolak Donghae. Kedua, ternyata laki-laki yang sedang dekat dengan Yura adalah Hong Jonghyun. Um… Kejadian saat Yunji dan Minho bertemu hari minggu pagi sengaja tidak aku ceritakan dalam FF ini untuk mempersingkat cerita dan lebih mengungkapkan kejadian lain yang menurutku lebih penting. Semoga kalian tidak kecewa dengan keputusanku itu. Dan, Kyuhyunpun membuat keputusan yang mengejutkan dengan mengatakan pada Yuri bahwa dirinya adalah kekasih Yunji, di hadapan Siwon juga. Bagaimana kelanjutannya? Semoga kalian masih bersedia menunggu part selanjutnya dari FF ini. Aku akan berusaha mendapatkan inspirasi untuk meneruskan FF ini secepatnya. Dan, tentu aku juga tidak akan mengabaikan FF Beautiful Tomorrow yang saat ini masih aku kerjakan. So, sampai ketemu lagi, readers-nim. Kana pamit! Annyeonghigaseyo…

Advertisements

13 thoughts on “It supposed to be me : Part 5

  1. kok malah jadi gini sih? kenapa respon yunji jauh banget dari ekspetasi aku? sungguh amat susah ditebak jalan pikiran yunji. kyu gimana ini?

    Like

  2. Sikap yunji terlalu membingungkan buat kyuhyun dia hanya coba membantu krna yunji yg ngehubungin kyu lbh duku dan minta bantuan tapi ini apa knpa yunji jadi balik marah ke kyuhyun
    Aku ga ngerti deh sma yunji di saat dia ngerasa nyaman sma kyuhyun di saat bersamaan juga dia gmw kyuhyun terlibat sma masalahnya
    Hmmmm

    Like

  3. Knp yunji marah2 sama kyu,kn dia yg minta tolong,hrsny dia bertrima kasih,ini mlh marH2,selama ini kyu selalu ada buat dia,yunji ga inget kebaikn kyu.kshn kyunya
    Kurng byk moment kyu yunjinya

    Like

  4. Ko kesan.nya yunji jd nyalahin kyu karna dia marah karna ketemu siwon dan kakaknya bukanya dgn kyu mengatakan dia ‘pacar’ yunji setidaknya memberikan kesan kalo yunji bukan wanita lemah dan bisa move on tp malah marah2 kaya orang lg cemburu+blum move on dr siwon dan kyu benar sejak awal knpa yunji nelpon kyu kalo gx mau ngelibatin kyu toh dia cuma nolong doang ah entahlah gw blum liat dr sudut pandang yunji jd masih bingung

    Like

  5. Wahhhh kyu d sini serba salah dehhhh, seharusnya hyunji tdk bersikap spt itu thd kyu, walaupun kyu salah sihhh bilang kekasihn hyunjin. Tp walau gimanapun kyu sdh menyelamatkan yunjin dr situasi itu. Mudah2 hub mereka tdk renggang. Next d tunggu

    Like

  6. Apa Yunji punya rasa trauma dalam hubungan? Atau Yunji sebenarnya takut kalau ibunya datang dan beetanya lebih banyak tentang hubungannya dia? Aku benar” buntu dan merasa rumit dengan pemikiran Yunji. Apa yg dia takuti sebenarnya?. Kyuhyun pasti ada alasan di balik kenapa dia ga ngucapin marganya. Apa kyuhyun juga anak dari Chaebol?

    Like

  7. wahaaa.. akhirnyaa lanjutt…awalnyaa agak lamaa sihh nginget kisah sebelumnyaa…
    hahah…
    mkin komplit yaa masalah mrekaa.. kokk kyk gk slesai2 malsalahnya… n d saat hubungan mrekaa mkin dekatt ehhh adaa ajaa yg menjauhii mrekaa skrng…

    Like

  8. Pingback: Library | FanWorld FanFiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s