Beautiful Tomorrow : Part 4

Author: Okada Kana

Category: PG-18, Romance, Chapter, Sad, Sequel

Cast:

Cho Kyuhyun, Lee Hyesoo (OC)

Seo Kangjun, Bae Suzy, Kang Soyu, Kim Ryeowook, Lee Jinki, etc.

Disclaimer:

Annyeonghaseyo!!! Kana kembali hadir dengan kelanjutan dari FF Sequel “Beautiful Tomorrow”. Kyuhyun mulai menunjukkan kekhawatirannya pada kehadiran Seo Kangjun dalam hubungannya dengan Hyesoo. Sementara Hyesoo yang masih belum menyadari kerisauan Kyuhyun justru kembali mendapatkan mimpi buruknya. Belum ada masalah yang benar-benar terjadi. Belum ada pula pertanyaan yang terjawab. Kehadiran dua tokoh baru juga belum menyebabkan banyak perubahan di part sebelumnya. Apakah akan ada sebuah masalah yang terjadi di part ini? Hm… Part ini cukup panjang, readersnim-deul. Part ini juga akan diwarnai dengan Kyuhun’s POV yang membuatku senyum-senyum saat menulisnya, tapi juga mengerutkan kening disaat bersamaan. Well, aku hanya bisa bilang kalau kalian akan menemukan kejutan dalam part ini.

FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi atau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com. Please, no bash, spam, mengejek, mengolok, dan menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Mari saling menghargai satu sama lain. Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 3

“Aku minta maaf karena sudah berperilaku buruk padamu”.

“Aku sudah melupakannya. Jadi, apakah ada gadis lain yang kau berikan perilaku buruk setelah aku?”

“Sayangnya aku sempat melakukannya. Kala itu, situasinya jauh lebih buruk dari yang kau alami”.

“Lalu, apa yang terjadi pada gadis itu?”

“Gadis itu terluka, tentu saja. Dia bahkan sangat membenciku. Dan, meninggalkanku…”

“Gadis itu tidak bisa memaafkanmu dan melupakan perbuatanmu dengan sikap yang santai sepertiku, bukan?”

“Hebatnya dia memaafkanku. Dia memiliki hati yang sangat baik”.

“Dan, kau jatuh cinta padanya”.

Yes, I did [fall in love with her]. Dia sangat mudah untuk dicintai, Bae Suzy”.

“Ah… Did?”.

“Apa maksud dibalik tawamu itu?”

“Aku hanya baru menyadari maksud dari ucapanmu. Kau mengatakan ‘did’. Semula kupikir kau masih…”

————————-

“Kau tidak sedang baik-baik saja, dalam arti yang baik”.

“Aku melewatkan sarapanku beberapa hari belakangan. Aku selalu mual dan tidak nafsu makan”.

“Dan kau masih tidak melakukan pemeriksaan apapun?”

“Aku terlalu sibuk untuk menyadari semua itu sebelumnya”.

“Jadi, kapan haid terakhirmu?”

“Satu bulan yang lalu, kurasa. Jika aku tidak salah menghitung, seharusnya aku hanya terlambat haid selama satu minggu bulan ini”.

“Apakah kau yakin hanya terlambat selama satu minggu? Bukan satu bulan?”

Oh my God…”

————————-

“Mungkin dokter Lee sedang berada di ruangan dokter Seo, Direktur”.

“Seorang dokter laki-laki?”

“Benar, Direktur”.

“Untuk apa Hyesoo datang ke ruangannya? Ini bukan kali pertama Hyesoo menemuinya?”

“Saya juga tidak dapat membantu anda akan pertanyaan itu, Direktur”.

“Awasi pria itu. Jika setelah hari ini dia masih berani menyentuh Hyesoo, segera laporkan padaku”.

“Apakah anda ingin saya memeriksa latar belakangnya juga, Direktur?”

“Aku tidak tertarik untuk melakukannya. Aku akan menunjukkan padanya apa yang akan terjadi jika dia berani menyentuh yang bukan miliknya”.

————————-

Kedua mataku terbuka lebar dengan keterkejutan yang menyelubungiku. Gemetar kurasakan disekujur tubuhku. Napasku terengah. Aku masih berada dikamarku. Genggaman tangan dalam mimpiku terasa begitu nyata. Aku menggelengkan kepalaku perlahan. Aku hanya bermpimpi. Mungkin Kyuhyun yang menggenggam tanganku erat. Namun, saat kutolehkan kepalaku ke sisi kananku, Kyuhyun tidak ada disana. Oh, tidak. Kenapa aku kembali mengalami mimpi buruk ini?

————————-

.

.

.

Beautiful Tomorrow

Part 4

.

.

Author’s POV

Kyuhyun’s Mansion

.

Kyuhyun masih berada di ruang kerjanya setelah melakukan telepon konferensi dengan beberapa pegawainya di New York selama hampir dua jam. Kyuhyun harus bicara dengan orang kepercayaannya yang diberikan tanggung jawab untuk mengurus semua kepentingan disana. Sebuah masalah terjadi, dan mereka harus mendengarkan pendapat Kyuhyun agar dapat menangani masalah tersebut. Kyuhyun segera menerima panggilan itu tanpa sempat mengenakan pakaian apapun selain celana piyamanya. Karena itu, Kyuhyun tetap pada kondisinya itu, hanya mengenakan celana piyama yang menggantung dipinggangnya. Kyuhyun menyentuhkan jari-jarinya ke tengkuk, lalu ke belakang kepalanya. Ia meremas pelan rambut bangun tidurnya yang masih berantakan. Helaan napasnya terdengar kasar, ungkapan rasa frustrasi yang dirasakannya.

.

“Aku tidak bisa mengubah jadwalku untuk tiga bulan kedepan. Kuharap kau bisa mengurus semua hal sebaik mungkin”, Kyuhyun memberikan keputusan akhirnya.

.

Saya mengerti, Direktur. Saya akan melakukan semua hal yang saya bisa”, balas seseorang diseberang telepon.

.

“Jelaskan rinciannya padaku”, pinta Kyuhyun.

.

Kyuhyun kembali menghela napas panjang. Ia memijat pelan keningnya. Kepalanya seketika terasa sakit karena pekerjaan yang selalu menyita perhatiannya itu. Terlebih dengan kehadiran seorang pria yang terlihat begitu dekat dengan Hyesoo di Rumah Sakit. Pikiran Kyuhyun sedang terbagi saat ini. Jika ia bisa memilih, maka selalu berada di Seoul akan berada di urutan teratas hal yang ingin ia lakukan. Suara general manager Do diseberang telepon menyadarkan Kyuhyun dari pikirannya, mengembalikan Kyuhyun kembali pada dirinya. Pembicaraan diantara mereka berlanjut setelahnya. Kyuhyun bangkit berdiri, kemudian meletakkan sebelah tangannya di pinggang, sementara tangan lainnya masih memegang ponsel. Panggilan telepon baru berakhir 15 menit setelahnya.

.

Kyuhyun mematikan lampu di ruang kerjanya sebelum bergegas keluar untuk kembali ke kamar. Seorang pegawai yang sedang berada di dapur sontak menundukkan kepalanya, terkejut karena kemunculan Kyuhyun yang melintasi ruang besar tiba-tiba. Kyuhyun sempat menoleh padanya, namun memilih untuk tidak mempedulikan keberadaan gadis muda yang tersipu malu itu. Kyuhyun melangkah menaiki anak tangga sambil memeriksa e-mail yang dikirimkan untuknya. Sesampainya didepan pintu kamar, Kyuhyun menyentuh gagang pintu, kemudian membukanya dengan perlahan agar tidak membangunkan Hyesoo yang tertidur pulas saat ia keluar dua jam yang lalu. Kondisi ruangan yang gelap membuat Kyuhyun sedikit kesulitan untuk berjalan masuk. Kyuhyunpun berjalan mendekat ke sisi ranjangnya yang diterangi oleh cahaya termaram dari lampu diatas meja kecil. Sesaat setelahnya, Kyuhyun baru menyadari kondisi ranjang yang kosong. Hyesoo tidak berada disana. Hanya ada bed cover tersimbak diatas ranjang.

.

Kyuhyun segera menyalakan seluruh lampu di ruangan itu. Kepanikan menyelimuti dirinya dalam waktu singkat. “Hyesoo-ya, dimana kau? Lee Hyesoo!” Seruan Kyuhyun memenuhi seluruh ruangan.

.

“Aku di kamar mandi, Kyuhyun-ah”, Hyesoo menjawab dengan suara seraknya.

.

Kyuhyun segera berlari masuk melalui pintu disisi kanan ruangan, melewati ruang pakaian menuju kamar mandi yang berada didalam. “Apa kau baik-baik saja? Kau membuatku khawatir”, Kyuhyun tidak dapat menyembunyikan nada khawatir dalam suaranya.

.

Suara Kyuhyun yang terdengar lebih keras membuat Hyesoo tersentak. Hyesoo meletakkan handuk kecil yang baru saja ia gunakan untuk menyeka air dari wajahnya. “Aku baik-baik saja. Aku hanya sedang……buang air kecil”. Kedua mata Hyesoo menatap waspada kearah pintu saat menjawab pertanyaan Kyuhyun dengan keraguan dalam nada bicaranya.

.

“Ada apa dengan suaramu? Kau terdengar berbeda”, tanya Kyuhyun yang menyadari perbedaan dalam suara Hyesoo.

.

Hyesoo berdeham pelan, memastikan keadaannya yang sempat kacau sebelumnya. Hyesoo meraih gagang pintu, lalu membukanya perlahan. Sosok Kyuhyun terlihat dari balik pintu yang kini terbuka lebar. “Aku baik-baik saja. Jangan berlebihan”, kata Hyesoo sambil memberikan senyum tipisnya, berusaha bersikap setenang mungkin.

.

Hyesoo berjalan melewati Kyuhyun, kembali ke ruang utama kamar mereka. Kyuhyun berjalan dibelakang Hyesoo dengan sikap waspadanya. Ia masih merasakan perbedaan dalam sikap yang ditunjukkan oleh Hyesoo padanya. Kyuhyun menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran tak berdasar yang ada dalam kepalanya. Kyuhyun melangkah lebih cepat untuk menyamakan langkahnya dengan Hyesoo. Kyuhyun menyentuh bahu Hyesoo yang terasa begitu tegang ditangannya. “Ayo kembali ke tempat tidur. Kau butuh istirahat”, kata Kyuhyun setelahnya.

.

Namun, Hyesoo justru menghentikan langkahnya. Hyesoo meraih kedua tangan Kyuhyun yang berada dibahunya, melepaskan hangatnya tangan itu dari tubuhnya. “Aku ingin minum terlebih dahulu. Aku akan menyusul”, Hyesoo beralasan.

.

“Akan aku ambilkan minuman untukmu”, kata Kyuhyun.

.

“Tidak. Aku bisa mengambilnya sendiri. Aku akan segera kembali”, Hyesoo bersikeras.

.

“Hyesoo-ya, biarkan aku, ya?” Kyuhyun berusaha membujuk Hyesoo. Namun, sebuah panggilan telepon kembali masuk ke ponselnya. Kyuhyun memejamkan matanya, lalu menghela napas kasar. Rentetan panggilan telepon dari kantor cabang J Corp di New York ternyata belum benar-benar berakhir.

.

“Angkat teleponnya. Mereka membutuhkanmu. Aku akan mengambil minumanku sendiri”, kata Hyesoo dengan suara pelan.

.

“Baiklah. Segera kembali ke kamar setelahnya”, kata Kyuhyun menyerah. Ia tidak memiliki pilihan lain. Masalah yang terjadi di New York harus segera ia selesaikan agar tidak ada lagi yang bisa mengganggunya malam ini.

.

Hyesoo tersenyum tipis untuk membalas ucapan Kyuhyun. Ia segera berlalu, keluar dari kamar tanpa menoleh lagi pada Kyuhyun. Hyesoo berjalan menyusuri koridor, kemudian menuruni anak tangga dengan langkah ringannya. Kedua tangannya bersatu, menggenggam ponsel yang sejak tadi terus dibawanya. Ia sedang menunggu balasan e-mail dari seseorang yang begitu diandalkannya untuk mengatasi masalahnya saat ini. Beberapa saat yang lalu, ketika dirinya masih berada didalam kamar mandi, Hyesoo mengirimkan sebuah e-mail pada Soohyuk. Begitu banyak pertanyaan dalam kepala Hyesoo yang tidak bisa ia jawab sendiri. Mimpi buruk yang sempat menjauhi tidurnya, kini kembali menghantuinya. Hyesoo tidak tahu apa penyebabnya. Hyesoo khawatir mimpi buruk itu akan mempengaruhi kondisi psikologisnya, terutama saat dirinya sedang mengandung.

.

From: Hyesoo Lee

Subject: Nightmare just came back

Date: April 9th, 2016 00:17 KST

To: Soohyuk Lee

Hubungi aku saat kau ada waktu

Please…

.

Sesampainya di lantai dasar, Hyesoo segera melangkahkan kaki telanjangnya dilantai dingin ruang besar. Kondisi rumah yang gelap membuat perasaan Hyesoo semakin diliputi dengan kekhawatiran. Ia merasa tidak tenang. Kerutan kecil dikeningnya mempertegas suasana hatinya saat ini. Beberapa lampu redup yang sengaja diletakkan disetiap sudut ruangan memberikan sedikit pencahayaan. Hyesoopun mempercepat langkahnya menuju daput. Saat ini Hyesoo sangat membutuhkan air yang mungkin bisa sedikit menenangkannya. Langkah kaki Hyesoo sudah semakin dekat dengan dapur. Disana, seorang pegawai yang bernama Kwon Rumi sedang berdiri didepan kompor yang menyala, dengan sebuah panci berada diatasnya. Kwon Rumi melonjak terkejut dengan kedatangan Hyesoo ke dapur. Ia segera mematikan kompor saat tatapannya bertemu dengan Hyesoo.

.

“Kwon Rumi? Apa yang sedang kau lakukan tengah malam di dapur?” Hyesoo menjaga suaranya agar tetap terdengar tenang dan teratur, sambil tetap mempertahankan volume yang tidak terlalu berlebihan.

.

“Maafkan saya, Nyonya muda. Saya tidak bermaksud lancang dengan menggunakan dapur untuk kepentingan pribadi. Saya mohon, jangan pecat saya”, kata Kwon Rumi mengungkapkan penyesalannya.

.

“Siapa yang ingin memecatmu?” Hyesoo bertanya dengan nada bicaranya yang lembut. “Aku hanya bertanya padamu, apa yang kau lakukan di dapur tengah malam seperti ini? Bukankah besok kau harus kuliah? Kudengar kau sedang menghadapi ujianmu minggu ini”, Hyesoo mempertegas pertanyaannya pada Rumi yang bekerja paruh waktu di rumah itu.

.

“Benar, Nyonya. Saya sedang belajar. Tapi, tiba-tiba saya merasa lapar. Karena itu, saya ke dapur untuk membuat ramyun. Maaf atas kelancangan saya, Nyonya”, Rumi sekali lagi menyatakan penyesalannya pada Hyesoo. “Saya akan membersihkannya sekarang juga, Nyonya”.

.

Hyesoo tersenyum ramah mendengar ucapan Rumi yang terkesan takut padanya. Hyesoo tidak pernah bersikap terlalu keras pada setiap orang yang bekerja di rumah itu. Hyesoo tidak ingin memberikan tekanan apapun pada mereka yang sudah banyak membantunya dan Kyuhyun dalam mengurus segala keperluan. Hyesoo baru saja ingin bicara pada Rumi saat sebuah e-mail masuk ke ponselnya. Soohyuk akhirnya membalas e-mail yang dikirim oleh Hyesoo.

.

“Kwon Rumi, bisa tolong ambilkan aku segelas air?” Hyesoo meminta pertolongan Rumi dengan sopan. Kedua matanya terpaku pada layar ponsel. Sesaat setelahnya, segelas air mineral sudah dibawakan oleh Rumi ke hadapannya. “Terima kasih. Dan, lanjutkan saja memasak ramyun-nya. Kau butuh energi untuk belajar”, sambung Hyesoo, memberikan ijin pada Rumi.

.

“Terima kasih atas pengertian anda, Nyonya. Terima kasih banyak”, balas Rumi. Hyesoo hanya membalas ucapan terima kasih Rumi dengan sebuah senyuman. Perhatiannya lebih tertuju pada e-mail yang dikirimkan oleh Soohyuk padanya.

.

From: Soohyuk Lee

Subject: Nightmare just came back

Date: April 9th, 2016 15:28

To: Hyesoo Lee

Kau bisa bicara?

Saat ini sudah tengah malam di Seoul

.

Hyesoo segera menyentuhkan ibu jarinya dilayar ponsel dengan cepat. Semula ia bermaksud ingin menghubungi Soohyuk. Namun, Hyesoo menyadari kondisi disekitarnya yang tidak memungkinkan baginya. Kyuhyun yang berada di lantai dua jelas belum beranjak tidur karena masih harus mengurus pekerjaannya. Sementara didekat Hyesoo ada Rumi yang sedang memasak ramyun. Akhirnya Hyesoo memutuskan untuk menggunakan aplikasi chatting untuk menghubungi Soohyuk. Hyesoo meneguk seluruh isi gelas sebelum memulai pembicaraan dengan Soohyuk.

.

S.H Lee

.

Kau disana?

Apa yang terjadi?

Tidak tahu

Aku terbangun

Mimpi-mimpi itu

tiba-tiba saja kembali

The trigger?

Accident?

Kau baik-baik saja?

No clue

I’m totally fine

Pikirkan lagi

Ada hal lain yg terjadi?

Kurasa

2 atau 3 kali

Seperti kilasan kilat sebuah adegan

Sering membuatku sakit kepala

Dan mimpimu?

Menangkap gambaran jelasnya?

Tempat, waktu, apapun

Tidak ada orang lain?

Kejadian-kejadian

Latar yang selalu berbeda

Padang rumput

Convety

Rugby

Laut

Kali ini berbeda

Latar terang jarang muncul

dalam mimpimu sebelumnya

Pernah mengalami kejadian serupa?

Tidak yakin…

.

Ada jeda yang digunakan oleh Hyesoo untuk berpikir. Soohyukpun tidak segera mengirimkan balasannya. Ia tahu Hyesoo sedang mencoba untuk mengingat apapun yang tersisa dalam ingatannya. Tiba-tiba, kedua mata Hyesoo melebar. Ia menyadari sesuatu yang tidak ia pikirkan beberapa saat yang lalu.

.

S.H Lee

.

Damn!!

Oh, no..

Apa?

Damn what?

Kau ingat sesuatu?

Choi Siwon

Ada foto2 dikamarnya

Kami berdua

Padang rumput, rugby, convety

Kemeriahan yang sama

Dan laut?

Aku tidak tahu

Cobalah untuk mengingat

Memory loss (lupa ingatan), ingat?

Tetap coba untuk mengingat sesuatu

Bukan dari masa lalu yang kau lupakan

Tentu saja…

Minum obatmu jika terus berlanjut

Aku tidak bisa

Maksudku, dengan obatnya

Habis?

Kehilangan resepnya?

Aku bisa membuatkannya lagi

Jangan jadikan alasan atas rasa malasmu

PREGNANT.

Obatnya hamil???

JEZZ!!!

YOU ARE!!!

WHEN? HOW?

Kau bertanya ‘how’?

Benarkah?

Sorry. My bad :p

Berapa usianya?

9 weeks

Kurasa

I see

Aku akan memberikan resep lain

Baiklah

Bisakah kita bicara lagi besok?

Aku harus kembali ke kamar

K. Keep in touch

Sleep well

Laters, H

.

Hyesoo membeku dalam keheningan dirinya. Ia memandang kosong ke meja kayu yang terasa dingin menyentuh lengannya. Sebelumnya Hyesoo tidak pernah berpikir untuk mengaitkan mimpi buruk yang menghampirinya dengan kisah antara dirinya dan Siwon di masa lalu. Namun gambaran yang ia dapatkan dalam mimpinya beberapa saat yang lalu terasa sangat jelas baginya. Hyesoo mengingat kejadian itu seperti sebuah kilas balik, seolah ia mengingat saat dimana ia berada di masa itu, bukan hanya sekedar melihatnya dalam foto yang berjajar diatas bufet di kamar Siwon. Ada kerutan kecil yang muncul dikening Hyesoo setelahnya. Kepalanya terasa berdenyut kencang, menimbulkan rasa sakit yang berbeda dari saat ia belajar untuk ujian akhirnya semasa sekolah. Hyesoo baru saja menyembunyikan sesuatu dari Soohyuk, sahabat sekaligus psikiater yang mengetahui semua hal yang terjadi pada Hyesoo dimasa terpuruknya. Hyesoo tidak berbohong pada Soohyuk mengenai foto-foto di kamar Siwon. Hanya saja, Hyesoo tidak menceritakan pada Soohyuk bahwa beberapa ingatan seolah baru saja kembali padanya.

.

Hyesoo menghela napas panjangnya yang berat sambil menjalankan telapak tangannya bergerak menuju keningnya. Beberapa ruas jarinya menutupi kedua matanya yang terasa lelah dan panas. Tiba-tiba ia merasakan desakan air mata di pelupuk matanya. Panas dimatanya sangat tidak tertahankan. Setiap detik yang terjadi didalam mimpinya terasa begitu nyata. Seolah jika Hyesoo tidak terbangun diwaktu yang tepat, maka mimpi itu dapat mengancam jiwanya. Hyesoo merasa begitu lelah, kuwalahan. Air matapun akhirnya menetes dipipinya. Hyesoo mencoba bertahan untuk tidak terisak. Namun satu isakan lolos begitu saja. Ia tidak mampu menahannya. Kemudian Hyesoo menarik napas panjang, lalu menghembuskannya. Ia segera menghapus jejak air mata dipipinya. Kerutan di keningnya belum menghilang. Karena saat ini, Hyesoo masih berada dalam kondisinya yang tidak sepenuhnya mengerti maksud dibalik air mata yang baru saja menetes dari matanya.

.

“Nyonya, apakah anda baik-baik saja?” Hyesoo segera berdeham pelan saat menyadari kehadiran Rumi yang sudah berada disisi kirinya, berdiri dengan hawa kekhawatiran yang begitu Hyesoo rasakan.

.

“Aku baik-baik saja, Kwon Rumi”, Hyesoo mencoba untuk tetap tersenyum saat menjawab pertanyaan Rumi.

.

“Maaf jika saya lancang. Hanya saja, saya pikir anda menangis beberapa saat yang lalu. Sekali lagi, saya minta maaf atas kelancangan saya, Nyonya”, Rumi menundukkan kepalanya sebagai ungkapan penyesalannya atas sikap yang ia rasakan kurang pantas untuk dilakukan.

.

Senyum diwajah lelah Hyesoopun melebar. Ia merasa tidak enak hati karena sudah membuat Rumi bersikap begitu sungkan padanya. “Kwon Rumi…”

.

“Ne!” Rumi yang tersentak mendengar panggilan Hyesoo sontak menegakkan kembali tubuhnya, bersikap siaga untuk menerima segala hal yang mungkin akan diperintahkan oleh Hyesoo.

.

“Bisakah aku mempercayaimu?” Siapapun yang mendengar suara yang keluar dari bibir Hyesoo pasti akan menyadari betapa lelahnya Hyesoo saat ini.

.

“Tentu saja, Nyonya”, Rumi menjawab Hyesoo dengan kepercayaandirinya.

.

“Tolong jangan katakan apapun yang kau lihat dan kau dengar malam ini pada siapapun. Bahkan pada Kyuhyun yang mungkin akan memaksamu untuk memberitahunya”. Hyesoo bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia tidak ingin membuat orang lain terlalu mengkhawatirkannya seperti yang terjadi bertahun lalu selepas kecelakaan yang menimpanya. “Bisakah kau melakukan itu untukku?” Hyesoo meminta Rumi untuk menyanggupi keinginannya.

.

“Saya akan melakukannya untuk anda, Nyonya. Saya harap anda bisa mempercayai saya”, kata Rumi yang menyanggupi permintaan Hyesoo.

.

“Terima kasih… Suatu saat nanti kau akan tahu betapa ucapanmu itu sangat menenangkanku”, balas Hyesoo yang memberikan tatapan lembut ungkapan kelegaan yang dirasakannya. Hyesoo segera bangkit berdiri setelahnya. “Baiklah. Aku tidak ingin mengganggu jam belajarmu. Kau juga masih harus menghabiskan ramyunmu. Semoga sukses dengan ujianmu”, kata Hyesoo sambil berlalu meninggalkan dapur, serta Rumi yang menundukkan kepalanya pada Hyesoo.

.

Hyesoo melangkahkan kaki jenjangnya menaiki tiap anak tangga. Pikirannya kembali dihampiri oleh berbagai hal. Hyesoo masih berada dalam kondisi terkejutnya. Jauh sebelumnya, bertahun yang lalu, Hyesoo tidak pernah benar-benar menelusuri maksud yang tersimpan dibalik mimpi buruk yang dialaminya. Terlebih dengan adanya hubungan antara Siwon dan mimpi buruknya. Hyesoo merasa seolah masa lalu yang sudah ia coba lupakan kembali menghantuinya. Tanpa disadari, langkah kakinya sudah membawanya tiba di lantai dua rumah itu. Hyesoo berhenti, berdiam diri, lalu menghela napas panjang sebelum kembali melangkah menuju kamarnya.

.

Pintu kamar yang tadi ia tinggalkan ternyata masih terbuka beberapa senti, memunculkan sinar lampu yang sedikit memberikan penerangan pada koridor. Hyesoo menyentuh gagang pintu, kemudian membukanya perlahan. Disaat yang sama, kedua mata Hyesoo menangkap sosok Kyuhyun yang masih berdiri ditempatnya semula. Kali ini dengan sebuah T-shirt ditangannya. Namun perhatian Kyuhyun justru tertuju pada layar ponsel yang diletakkannya diatas buffet. Ponsel Kyuhyun berbunyi, menandakan sebuah e-mail baru saja masuk. Hyesoo menyandarkan punggungnya di pintu yang sudah ia tutup dengan sangat perlahan. Hyesoo melipat kedua tangannya didepan dada, memperhatikan setiap gerakan yang dibuat oleh Kyuhyun dihadapannya. Ada sebuah kerutan kecil yang terlihat di kening Kyuhyun. Ia terlihat sangat fokus menatap layarnya, hingga T-shirt yang berada ditangannya dibiarkan menggantung disalah satu tangannya, tidak kunjung masuk melalui kepalanya. Kyuhyun menggunakan kedua tangannya untuk menggenggam ponsel, lalu kedua ibu jarinya bergerak lincah mengetikkan pesan balasan untuk e-mail yang diterimanya. Pesan itu sudah dikirim oleh Kyuhyun saat ponsel kembali diletakkan diatas buffet dan tangan kanannya kembali meraih T-shirt yang menggantung dilengan kirinya. Kyuhyun baru saja ingin mengenakan T-shirtnya saat Hyesoo justru merampas T-shirt itu dari tangan Kyuhyun, kemudian melemparkannya asal ke lantai.

.

Hyesoo memeluk tubuh Kyuhyun yang bertelanjang dada dari sisi belakang dengan erat. Kyuhyun sempat merasa terkejut dengan tindakan tiba-tiba yang dilakukan oleh Hyesoo. Namun hangat tubuh Hyesoo mampu meredakan keterkejutannya dengan mudah. “Kau sudah kembali. Kenapa membuang T-shirtku?”

.

“Aku tidak menyukainya”, Hyesoo memberikan kecupan lembut di punggung telanjang Kyuhyun setelahnya.

.

Senyum Kyuhyun mengembang, lalu ia menyentuh tangan Hyesoo yang melingkar dipinggangnya. “Jangan bercanda. Kau adalah orang yang sangat menyukainya lebih dari siapapun”.

.

“Saat ini aku tidak suka dia [T-shirt Kyuhyun] menutupi tubuhmu”, ujar Hyesoo.

.

Senyum Kyuhyun tidak kunjung mereda karena mendengar ucapan Hyesoo. Iapun melonggarkan lingkaran tangan Hyesoo dipinggangnya, lalu berbalik menghadap Hyesoo. “Jadi, kau lebih suka aku tidak mengenakannya?” tanya Kyuhyun sambil menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Hyesoo. Kedua tangan Kyuhyun melingkar di pinggang ramping Hyesoo, menariknya agar kembali mendekat padanya.

.

Ekspresi di wajah Hyesoo tidak menunjukkan perubahan apapun. Ia hanya menatap Kyuhyun dengan tatapan lembutnya. Kemudian Hyesoo melingkarkan tangannya dileher Kyuhyun, menimbulkan pergerakan di kedua alis Kyuhyun yang mengungkapkan kebingungannya atas sikap Hyesoo. Sebuah senyum tipis akhirnya muncul dibibir Hyesoo, membuat tautan kedua alis Kyuhyun menjadi semakin dalam. Hyesoopun mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun, lalu memberikan sebuah kecupan padanya. Hyesoo tidak langsung menjauhkan diri dari Kyuhyun saat tautan bibir mereka terlepas. Hyesoo melepaskan lingkaran tangannya di leher Kyuhyun. Kedua tangan lembut itu bergerak turun, menyentuh bahu kemudian dada Kyuhyun. Kening keduanya masih saling bersentuhan selama beberapa saat. Kyuhyun sudah lebih dulu membuka matanya, menatap Hyesoo yang masih memejamkan mata. Senyum yang semula bertahan di bibir Kyuhyun sontak memudar. Ia menyadari sebuah ungkapan lain dibalik ekspresi di wajah Hyesoo.

.

Akhirnya Kyuhyun yang lebih dahulu menjauhkan wajahnya dari Hyesoo. Ia membelai wajah Hyesoo, menatap wajah muram yang baru tertangkap oleh inderanya. “Apa kau baik-baik saja? Apakah sesuatu yang buruk terjadi?”

.

Hyesoo membuka matanya perlahan, kemudian menggelengkan kepala. Kedua mata sayu Hyesoo memberikan tatapan lembut pada Kyuhyun. “Tidak. Semua baik”, jawab Hyesoo setelahnya.

.

Kyuhyun membelai wajah Hyesoo sekali lagi, merasakan lembut kulit Hyesoo. Kedua mata Kyuhyun menatap tajam pada Hyesoo saat ia menyadari ada kelembapan berbeda di pipi Hyesoo, seolah air mata baru saja dihapuskan dari pipinya.  “Wajahmu tidak berkata begitu”.

.

Hyesoo segera meraih tangan Kyuhyun dipipinya. “Aku baik-baik saja. Mungkin karena hari sudah larut”, Hyesoo mencoba untuk meyakinkan Kyuhyun.

.

Kyuhyun menghela napas perlahan, menyerah pada Hyesoo yang bersikeras menyangkal pendapatnya. “Naik ke tempat tidur?” tanya Kyuhyun setelahnya sambil menyentuhkan tangan yang semula digenggam oleh Hyesoo beralih menyentuh leher Hyesoo, mengalirkan hawa dingin ke permukaan kulit Hyesoo. Sebuah helaan napas berat terdengar oleh Kyuhyun, diikuti dengan kedua mata Hyesoo yang kembali terpejam.

.

Hyesoo menggelengkan kepala setelahnya. Kedua mata sayu itu kembali terbuka, menatap Kyuhyun dengan nyala yang sepenuhnya berbeda. “Tidak. Tidak sekarang. Aku belum ingin”, ujar Hyesoo.

.

Tangan Kyuhyun bergerak naik ke rahang Hyesoo, menangkup wajah Hyesoo dengan tangannya yang besar. “Sesuatu memang terjadi, bukan? Tolong, jangan sembunyikan apapun dariku, Hyesoo-ya”.

.

Hyesoo bergerak mendekat, membuat tangan Kyuhyun menjalar di permukaan kulitnya, berpindah menuju leher lalu tengkuk. Hyesoo menyentuhkan bibirnya di tulang selangka Kyuhyun. Helaan napasnya menyentuh permukaan kulit telanjang Kyuhyun. “Aku baik-baik saja, Kyuhyun-ah. Sungguh”, kata Hyesoo.

.

“Lalu, ada apa dengan ekspresi wajahmu?” tanya Kyuhyun setelah mengecup singkat puncak kepala Hyesoo.

.

Hyesoo menjauhkan diri dari Kyuhyun, namun tetap mempertahankan jarak terdekatnya. Hyesoo kembali mencium Kyuhyun, kali ini dengan sebuah lumatan kecil di bibir bawah Kyuhyun. “Aku sangat merindukanmu. Kau lebih banyak menghabiskan waktu diluar daripada bersamaku. Rasanya seperti kehilangan beberapa persen tenaga dan napasku”, kata Hyesoo setelahnya. Ada tatapan curiga dimata Kyuhyun. Namun, tatapan itu seolah menghilang begitu saja saat Hyesoo mencium bibir Kyuhyun sekali lagi. Hyesoo menggigit bibir bawah Kyuhyun, memberikan celah bagi Hyesoo untuk memperdalam ciumannya.

.

Kyuhyun melepaskan tautan bibir mereka. Ia menghela napas kasar, entah karena rasa frustrasi atas hal yang disembunyikan oleh Hyesoo, atau karena pertahanannya yang sedang digoda oleh Hyesoo. “Aku tetap merasa ada hal lain. Seolah kau sedang mengalihkan pikiranmu dari suatu hal”, kata Kyuhyun mengutarakan isi pikirannya.

.

I’m fine”, kata Hyesoo dengan suara berbisiknya.

.

Ada kerutan kecil dikening Kyuhyun. Ia tetap merasa tidak yakin dengan ucapan Hyesoo. Namun tatapan Hyesoo sekali lagi mampu melemahkannya. Ia tidak ingin terlalu memaksa Hyesoo untuk bercerita padanya. Kyuhyunpun menyentuh dagu Hyesoo, lalu memberikan kecupan singkat di bibir Hyesoo. “Bisakah kita ke tempat tidur sekarang?” tanya Kyuhyun setelahnya.

.

Kyuhyun melepaskan diri dari Hyesoo, kemudian berjalan menuju tempat tidur. Kyuhyun duduk disisi tempat tidur, lalu menepuk pelan sisi lain disebelahnya. Ia berusaha untuk membujuk Hyesoo agar kembali tidur bersamanya. “Baiklah…” kata Hyesoo setuju. Ia berjalan mendekat pada Kyuhyun. “Tapi, tidak untuk tidur”. Tiba-tiba Hyesoo naik ke pangkuan Kyuhyun, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Kyuhyun.

.

Hyesoo mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun, menautkan bibir mereka. Kini giliran Kyuhyun yang menggigit bibir Hyesoo, membuatnya terbuka. Kyuhyun memanfaatkan kesempatan itu untuk memperdalam ciumannya di bibir Hyesoo. Kedua tangan Kyuhyun menyentuh pinggang Hyesoo, bergerak lebih dalam menyentuh kulit Hyesoo yang masih tertutup oleh T-shirt. Tautan bibir keduanya belum terlepas saat Kyuhyun meraih ujung T-shirt Hyesoo, kemudian menariknya keluar melalui kepala Hyesoo. Hal itu otomatis menjauhkan mereka dari satu sama lain, hingga membuat Kyuhyun dapat melihat pemandangan yang membelalakkan matanya meski ini bukan kali pertamanya. Kyuhyun menangkap tubuh tanpa helaian benang satupun milik Hyesoo dengan tatapan membaranya.

.

Beautiful”, kata Kyuhyun dengan suara beratnya yang terdengar serak.

.

So are you”, balas Hyesoo.

.

Kyuhyunpun menyentuhkan kedua tangannya di pinggang Hyesoo, memberikan hawa dingin di kulit Hyesoo yang terasa memanas. “Kau ke dapur hanya dengan berpakaian seperti itu?” tanya Kyuhyun yang dijawab dengan anggukan pelan oleh Hyesoo. “Jangan gigit bibirmu…” kata Kyuhyun setelahnya sambil melepaskan gigitan bibir Hyesoo dengan ibu jarinya. “…terutama dalam kondisi seperti ini”.

.

Sudut bibir Hyesoo tertarik, memunculkan sebuah senyuman menggoda yang ia tujukan pada Kyuhyun. Hyesoo melingkarkan tangannya dileher Kyuhyun setelahnya. “Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku tetap melakukannya?” tanya Hyesoo yang menguji Kyuhyun dengan pertanyaan menantangnya.

.

“Kau ingin mengetahuinya?” tanya Kyuhyun yang perlahan mempertipis jarak diantara mereka.

.

Yes. Say it…” jawab Hyesoo dengan suara berbisik, membuat rambut halus di sekujur tubuh Kyuhyun meremang.

.

Jarak diantara keduanya semakin tipis. Hidung mereka sudah saling bersentuhan. Hingga hanya seutas benang wool saja yang mungkin dapat melintasi celah diantara Hyesoo dan Kyuhyun. “Aku akan melakukan hal yang sama padamu. But, harder…and deeper”, balas Kyuhyun.

.

Akhirnya Hyesoo yang menyentuhkan bibirnya lebih dulu pada Kyuhyun. Ia menyentuhkannya beberapa kali untuk menggoda Kyuhyun. Namun, pertahanannya sendiri justru runtuh saat kedua tangan dingin Kyuhyun bergerak naik ke punggungnya. “I’ll beg you to [do that], then (Kalau begitu, aku akan memintamu untuk melakukannya)”, kata Hyesoo dibibir Kyuhyun.

.

Tiba-tiba Kyuhyun membalikkan posisi mereka, menjatuhkan tubuh Hyesoo ke ranjang untuk mengurung Hyesoo dibawahnya. Beruntung kamar mereka cukup kedap suara. Karena setiap pegawai mungkin akan terkejut dan segera berlari menuju kamar mereka saat mendengar jeritan Hyesoo yang terkejut atas tindakan Kyuhyun. Tentu Kyuhyun tidak akan senang akan hal itu, mengingat istrinya saat ini tidak mengenakan apapun dari pinggang keatas. Suara tawa Hyesoo mengisi ruangan itu setelahnya, menimbulkan senyum mengembang diwajah Kyuhyun. Sebuah lumatan dibibir Kyuhyun membuat senyum itu menghilang seketika. Napas Kyuhyun berubah menjadi lebih berat. Kilatan dimatanya menunjukkan betapa ia menginginkan wanita dihadapannya ini untuk dirinya sendiri. Mata Kyuhyun terpejam. Kali ini ia benar-benar menghapus jarak diantara mereka berdua dengan menurunkan tubuhnya. Kyuhyunpun membalas Hyesoo dengan ciumannya yang dalam dan menuntut, tanpa ingin membiarkan ada kata lagi yang terdengar dalam ruangan itu setelahnya.

.

.

.

Kyuhyun’s POV

Keesokkan harinya

Kyuhyun’s Mansion

.

Suasana pagi yang begitu teduh. Suara kicauan burung yang terdengar dari taman diluar jendela menambah kesan riang pagiku di rumah. Kupikir matahari sudah muncul dari persembunyiannya. Aku tidak benar-benar yakin akan hal itu. Aku belum ingin bangun dari tidurku. Aku merasa enggan untuk membuka mataku. Kedua kelopak ini masih terasa begitu berat. Tapi, aku juga tidak tidur sepenuhnya. Karena aku sempat merasakan gerakan ranjang, tanda Hyesoo sudah beranjak dari tempatnya. Jika otak malasku ini tidak salah melakukan perhitungan, kupikir Hyesoo sudah beranjak sejak 30 menit yang lalu. Aku ingin sekali meraih tubuh indah itu untuk mencegahnya meninggalkanku. Hanya saja, tubuhku masih terlalu malas untuk melakukan pergerakan apapun. Hingga sebuah aroma memabukkan menyentuh indera penciumanku. Aroma yang selalu berhasil membuai dan membuatku menginginkannya dengan egoku. Saat aroma itu tercium lebih kuat, akupun yakin bahwa Hyesoo kembali.

.

Aku bergerak mengubah posisiku kesisi kiri, dimana aroma itu berasal. Seketika inderaku menangkap lebih banyak rangsangan. Aku bisa mendengar helaan napas halusnya dan gesekan sisir dirambutnya dengan jelas. Suara merdu Hyesoo yang bersenandung menggelitik sarafku yang lain untuk segera keluar dari alam tidurku. Perlahan kedua matakupun terbuka. Sosok wanita luar biasa yang sudah menjadi istriku selama hampir dua tahun terakhir itu kembali menjadi pemandangan pertama yang tertangkap oleh kedua mataku di pagi hari. Ia masih sosok wanita yang sama, hanya dengan pakaian yang berbeda. Pakaian yang dikenakannya tidak pernah gagal memunculkan senyum dibibirku. Sebuah baju piyama berwarna abu-abu dan putih dengan corak garis terlihat terlalu besar ditubuhnya. Aku juga bisa melihat potongan celana pendek berwarna biru muda yang mengintip dari ujung piyama itu. Aku masih merasakan euphoria yang sama ketika melihatnya mengenakan pakaianku untuk tidur. Kaki jenjangnya mengalihkan perhatianku. Aku sangat suka saat keduanya sedang melingkar dipinggangku, atau hanya sekedar ia letakkan diatas pangkuanku. Kemudian sebelah tangannya bertumpu di pinggang saat tangannya yang lain sedang bergerak pelan membelah rambutnya. Akupun tergerak untuk menyentuhnya. Hyesoo sontak menoleh, terkejut saat tanganku meraih pergelangan tangannya. Ekspresi terkejut diwajahnya berubah menjadi senyuman lembut yang begitu menenangkan. Aku menarik lengannya perlahan, membuatnya mendekat padaku.

.

Kaki Hyesoo sudah menyentuh sisi ranjang, tepat seperti jarak yang kuinginkan. “Bisakah kau kembali ke tempat tidur? Aku membutuhkanmu disini. Tempat tidur ini terasa lebih dingin tanpamu”.

.

“Tidak. Kau harus bekerja hari ini”, Hyesoo menolakku.

.

“Hanya aku?” tanyaku saat menyadari maksud dibalik ucapannya.

.

“Hari ini jadwalku dimulai pada siang hari”, jawab Hyesoo. Sempurna…

.

“Kalau begitu aku masih memiliki waktu sampai saat itu. Aku bisa datang terlambat sesekali. Kemarilah. Mendekat padaku”. Aku kembali menarik tangan Hyesoo agar lebih dekat padaku. Aku tidak menyukai jarak yang terlalu jauh saat Hyesoo ada dihadapanku.

.

Hyesoo duduk ditepi ranjang, kemudian menyentuh keningku dengan begitu lembut.  “Kau tidak boleh bertindak sesukamu seperti itu, Kyuhyun-ah”. Oh, tidak, sayang. Tentu aku boleh.

.

“Siapa yang akan melarangku? Aku lebih dari sekedar bisa untuk melakukannya jika aku ingin”. Dan aku bersungguh-sungguh, Lee Hyesoo. Kau hanya perlu memintaku.

.

“Jangan nakal. Banyak orang yang bergantung padamu”, cegah Hyesoo. Aku suka bersikap nakal padamu.

.

Aku memutar otakku untuk menemukan alasan lain yang dapat mencegah Hyesoo untuk pergi dariku pagi ini. Karena sudah terlambat bagiku untuk membangun pertahanan agar tidak tergoda olehnya. “Mereka bisa mengurus diri mereka sendiri dengan baik. Aku tidak [bisa]. Aku sangat membutuhkan istriku sekarang”, bujukku.

.

“Apa yang terjadi di New York? Apakah semuanya baik-baik saja?” Hyesoo mengalihkan pembicaraan.

.

“Bagaimana kau tahu?” tanyaku.

.

“Bukankah tadi malam Kim Kibum  menghubungimu? Atau ada Kim Kibum lain yang bekerja di Seoul?” Hyesoo dengan rasa ingintahunya. Menyenangkan melihatnya peduli pada hal yang kulakukan.

.

“Tidak. Hanya ada satu Kim Kibum. Mereka mendapatkan sedikit masalah. Tapi, semua baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kau pikirkan”, kataku.

.

“Lalu, siapa klien yang kau temui setelah kembali ke Seoul?” tanya Hyesoo. Kini aku tersesat diujung kata yang diucapkannya. Aku tidak tahu kemana arah pertanyaan yang Hyesoo ajukan. “Pikirkan terlebih dahulu kata yang akan kau ucapkan untuk menjawab pertanyaanku. Jika kemarin kau menemui klien wanita seperti dugaanku, maka aku akan membunuhmu”. Cho Kyuhyun yang berada jauh dalam diriku tertawa kegirangan setelah mendengar ucapannya. Kini aku mengerti maksud dari ucapannya. Aku tidak mungkin lupa pada larangan mengenakan kemeja hitam untuk menemui seorang klien wanita, Hyesoo-ya.

.

Tanpa kusadari, senyum dibibirku mengembang. Tawa kecil bahkan keluar dari bibirku setelahnya. “Benarkah? Kalau begitu, mendekat padaku dan bunuh aku”.

.

“Jadi, benar seorang wanita?” Oh, istriku sedang dalam wujud pencemburunya saat ini.

.

Tawaku lepas mendengar pertanyaannya yang menuntut. “Bukan. Seorang pria tua yang begitu sulit untuk dibujuk”, jawabku menggambarkan seorang klien keras kepala yang kutemui kemarin. Aku tidak boleh menggodanya lebih lama lagi. Hyesoo mungkin akan merajuk jika aku tidak segera menjawabnya dengan sungguh-sungguh. “Aku hanya menemui satu wanita saat mengenakan kemeja hitam itu. Wanita itu sangat cantik. Dan……menggoda. Terutama kemarin malam. Tapi, sayangnya wanita cantik itu lebih suka aku tidak mengenakan apapun. Bahkan sebuah kemeja hitam favourite-nya”, sambungku.

.

Sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyum manis dibibir lembutnya. “Kau sedang mencoba untuk menggodaku?” Tidakkah kau sadar bahwa dirimu lebih menggoda saat ini, Hyesoo-ya?

.

“Apakah aku bisa?” tanyaku. Aku tergelitik untuk mendengar lebih banyak kata terucap darinya.

.

Tiba-tiba Hyesoo bangkit berdiri. Semula kukira ia hanya akan naik ke ranjang untuk berbaring bersamaku. Namun, ternyata Hyesoo justru naik keatas tubuhku, duduk tepat diatas perutku. “Kau meragukan kemampuanmu?” tanya Hyesoo. Sudah lama aku tidak mendapatkan ujian pagiku.

.

“Sesekali? Karena, kau tahu, seingatku pertahanan Lee Hyesoo tidak mudah diruntuhkan”. Aku tertantang untuk mencoba meruntuhkan pertahanannya saat ini. Kedua tanganku sudah menyentuh kulit terbukanya. Ia tidak bergeming dengan sentuhanku. Namun, saat aku mendengar helaan napasnya yang berat, aku berpikir mungkin usahaku berhasil kali ini.

.

Kedua tangan Hyesoo berpindah, dari permukaan ranjang menuju lenganku. “Semula begitu…” Kini ia menyentuhkan jari-jari lentiknya didadaku, lalu turun menuju perutku. “Tapi, suamiku mengubah penampilannya. Entah apa yang mempengaruhi pikirannya”, sambung Hyesoo dengan suara berbisiknya yang membuat rambut halus di sekujur tubuhku meremang.

.

“Apakah kau tidak menyukai perubahan yang terjadi pada suamimu itu?” tanyaku disela helaan napasku yang mulai terasa berat akibat pengaruh dari sentuhannya.

.

Hyesoo terkekeh. Tawanya terdengar begitu ringan dan renyah. Pagi ini ia begitu ceria, membuatku ingin menahannya tetap berada di rumah bersamaku. Perlahan Hyesoo mendekatkan tubuhnya padaku. Kedua tangannya berpijak disisi kiri dan kanan tubuhku. “Kau bercanda? Dia berubah menjadi sangat……seksi. Bagaimana bisa aku tidak menyukainya?” kata Hyesoo yang sudah berada dalam jarak yang sangat dekat denganku.

.

Sontak seluruh isi kepalaku seolah menghilang. Aku tidak bisa memikirkan apapun dalam kondisi seperti ini dengan Hyesoo. Bibir lembutnya lantas menyentuh sudut kanan bibirku. Sesaat kemudian bibirnya sudah menyatu dengan sempurna denganku. Tubuh Hyesoo sudah terbaring sempurna diatas tubuhku. Ia memiringkan kepalanya, lalu memperdalam ciumannya. Aku tidak salah saat mengatakan bahwa saat ini Hyesoo begitu menggoda. Tidak. Ia sudah sangat menggoda sejak kemarin malam. Entah untuk alasan apa pendapat itu muncul dalam pikiranku. Caranya berjalan mendekat padaku, menyentuhku, dan bicara padaku, terasa begitu mempesonaku. Aku benar-benar yakin wajah cantiknya masih sangat bersih tanpa riasan apapun. Namun, bibirnya terasa begitu manis menyentuh lidahku. Dan ketika kegirangan itu sedang menghampiriku, Hyesoo sontak menjauhkan dirinya, melepaskan bibirnya dariku. Sebuah seringaian terlihat diwajah Hyesoo setelahnya, disaat aku masih berada dalam kondisi tercekatku.

.

Sebuah kecupan singkat mendarat di keningku, diikuti dengan senyum manis dewi penggoda diwajahnya. “Aku datang untuk mengajakmu sarapan, tampan. Min ahjumma sudah menyiapkan makanan yang sepertinya sangat lezat”, bisik Hyesoo di telingaku. Hyesoo sudah beranjak dari atas tubuhku dalam waktu singkat, meninggalkanku dengan hasrat yang dibiarkan menguap di udara.

.

Aku menangkap tangannya secepat yang kubisa. Aku tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. “Tidak bisakah aku menikmati sarapan yang kuinginkan?” tanyaku. Aku merasa seperti seorang pervert saat tanpa sadar jakunku bergerak karena gerakan menelan saliva yang terjadi disana.

.

“Apakah kau ingin makan sesuatu? Aku bisa meminta pada Min ahjumma untuk membuatkannya”, tanya Hyesoo. Seharusnya kau tahu jawabannya, sayang.

.

“Sarapanku tidak bisa dibuatkan oleh juru masak manapun, sayang”, jawabku jujur.

.

“Ah… Begitu? Makanan apa yang tidak bisa dibuatkan oleh seluruh juru masak?” Hyesoo kembali bertanya padaku, menguji kesabaranku.

.

“Kau”. Aku bahkan tidak percaya suara serak yang sebagian besar hanya berisikan udara itu dapat keluar dari bibirku. Aku akan dengan sukarela mengakui bahwa saat ini aku sangat menginginkan wanita ini untuk diriku sendiri.

.

Hyesoo tersenyum, melumpuhkanku dengan serangan ganda. “No… Aku tidak suka dikunyah, Tuan Cho Kyuhyun”. Hyesoo mengedipkan sebelah matanya padaku sambil melepaskan genggaman tanganku di pergelangan tangannya. “Cepat turun dari tempat tidur. Kau tahu ‘kan aku tidak suka menunggu terlalu lama?” kata Hyesoo yang benar-benar berlalu meninggalkanku begitu saja.

.

Yes, Ma’am”, jawabku pasrah.

.

Aku segera beranjak, turun dari tempat tidur. Saat ini aku hanya mengenakan sebuah celana piyama –pasangan dari baju piyama yang dikenakan oleh Hyesoo. Aku harus mengenakan T-shirt terlebih dahulu sebelum turun kebawah. Tapi saat langkahku sudah begitu dekat dengan lemari panjang, aku justru merasa enggan untuk mengenakan apapun. Aku lantas keluar begitu saja, meninggalkan ponsel dan sandal rumahku di kamar. Aku menuruni anak tangga, tidak peduli dengan tanggapan siapapun yang akan melihatku nanti. Ia disana, penyihir cantik yang sudah menanamkan mantranya padaku. Hyesoo sedang menikmati berries smoothie-nya yang berwarna merah keunguan. Bibirnya akan terasa manis setelahnya. Aku berdeham pelan, menghilangkan pikiran itu dari otakku. Perhatian Hyesoo hanya tertuju sepenuhnya pada gelas di tangannya. Ia tetap menenggak setiap cairan yang ada di gelasnya bahkan saat tatapan kami bertemu. Kedua mata Hyesoo melebar saat melihat penampilanku, respon otomatis yang muncul dari Hyesoo karena saat ini bukan hanya kami berdua yang ada di ruang makan. Min ahjumma dan dua orang gadis lain –siapa nama mereka? Kwon Rumi dan Go Danbi, kurasa— berdiri disisi meja makan yang lain.

.

“Kau sudah mulai makan. Inikah bentuk protesmu karena tidak bangun pagi? Dengan tidak menungguku?” Aku mengungkapkan protesku sebelum Hyesoo bicara apapun.

.

Hyesoo menjauhkan gelas dari bibirnya. Aku bersungguh-sungguh saat mengatakan bahwa bibir itu akan terasa manis setelah ini. Dan, kesempatan untuk mencicipi dan membuktikan pendapatku benar-benar datang. Ada sebuah garis putih yang cukup tebal diatas bibir Hyesoo. Sisa smoothie yang diminumnya, kurasa. Didetik selanjutnya, aku tahu bahwa Hyesoo akan mulai menyuarakan protesnya juga padaku. “Tindakan apa yang ingin kau lakukan dengan penampilan ini?” Oh, ini dia… “Inikah bentuk pro……” Aku segera mengangkat dagu Hyesoo, lalu menghentikan kalimat yang keluar dari bibirnya dengan bibirku. Rasa manis dari bermacam buah dan yogurt menyapa lidahku setelahnya, membuatku ingin menikmatinya lebih lama. Aku memperdalam ciumanku, melumat bibirnya yang lembut. Hyesoo membalas ciumanku, namun tidak dengan intensitas yang serupa. Sesaat setelahnya, ia mendorong tubuhku pelan, berusaha melepaskan diri dariku. “Hei… Lihat sekitarmu sebelum bertindak”, kata Hyesoo.

.

Aku tidak dapat menahan senyum yang akhirnya muncul di bibirku. Hyesoo tetap berhati-hati seperti biasanya. Tidak sepertiku yang jarang mempedulikan sekitarku, Hyesoo selalu menjaga sikap saat berada disekitar orang lain. Tapi, kabar baik, dia tidak marah ataupun keberatan dengan tindakanku barusan. Ada sebuah senyum manis di wajah tanpa riasannya. Biasanya Hyesoo akan meninju pelan lengan atau perutku jika aku bertindak sembarangan. Kali ini, respon yang diberikannya sangat menyenangkan. “Apa? Aku mencium istriku di rumahku sendiri”, kataku sambil duduk disebelahnya. Aku sedang tidak ingin duduk di kursiku saat ini. Jaraknya terlalu jauh dari Hyesoo –walaupun sebenarnya hanya berjarak kurang dari satu meter. “Aku tidak menemukan kesalahan atas tindakanku. Terutama setelah wanita ini meninggalkanku begitu saja beberapa saat yang lalu. Kau tahu? Itu bukan perbuatan yang menyenangkan, sayang”, sambungku.

.

“Maaf… Aku sangat lapar. Kuharap kau bisa memahamiku”, ujar Hyesoo.

.

I do. I always do (Aku selalu memahamimu)”, balasku bersungguh-sungguh.

.

“Bacon?” Hyesoo menawarkan pilihan makanan untuk sarapan padaku.

.

Sebuah ide jahil menghampiriku. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya sebentar saja. Mood-nya begitu menyenangkan sejak kemarin. Aku tidak ingin melewatkannya. “Aku masih mengharapkan sarapanku sebelumnya”, kataku berbisik di telinganya.

.

“Cho Kyuhyun”, tegur Hyesoo. Ada semburat merah muda di pipinya. Oh, dia tersipu. Begitu manis.

.

Yes, bacon, please”, jawabku dengan tawa kecil yang tidak dapat kutahan.

.

“Kantor cabang mana yang harus kau kunjungi berikutnya? Diluar Seoul? Atau diluar negeri?” Pengalihan pembicaraan lainnya. Lee Hyesoo-ku yang begitu sopan pada semua orang sudah kembali.

.

Aku menghela napas pelan. Jawaban dari pertanyaan Hyesoo sempat berputar di kepalaku sebelum akhirnya meluncur keluar dari bibirku. “Tokyo. Aku akan berangkat lusa. Maafkan aku”, kataku menyesal. Aku harus kembali meninggalkannya.

.

“Tidak. Jangan meminta maaf. Sudah tugasmu. Pada akhirnya kau akan selalu kembali ke rumah”, kata Hyesoo mencoba meyakinkanku.

.

“Jika kau bersikap seperti ini, aku semakin tidak ingin pergi”, balasku dengan kejujuran penuh dalam setiap kata yang kuucapkan. “Maukah kau ikut denganku?”

.

Hyesoo meletakkan gelas air mineralnya, kemudian menoleh sesaat padaku. Ia menggeleng pelan, tanda penolakannya atas ajakanku. “Kau tahu aku tidak bisa meninggalkan rumah sakit selain hari liburku”, ujar Hyesoo.

.

Aku bergerak mendekat, lalu memeluk tubuh Hyesoo, membenamkan wajahku di bahunya, dan menghirup aroma menyegarkan dari lehernya. Seketika, aku memejamkan mataku begitu saja, menikmati sensasi menenangkan ini. Derap langkah beberapa orang terdengar setelahnya. Kurasa semua pegawai yang sebelumnya berada disekitar kami sudah pergi meninggalkan kami. “Aku sedang tidak ingin berpisah darimu. Aku bahkan ragu pada kemampuanku untuk berada jauh darimu”, kataku.

.

“Kau sangat manja pagi ini”, kata Hyesoo sambil mengusap lembut kepalaku.

.

“Kau yang membuatku seperti ini”, balasku.

.

“Apakah setelah perjalan ke Tokyo tidak akan ada lagi perjalanan keluar Seoul lainnya?” tanya Hyesoo sambil meletakkan piring di meja dihadapanku.

.

Akupun melepaskan pelukanku di tubuhnya. Selain merindukannya, aku juga sedang sangat lapar –kali ini untuk makanan. “Hanya Daegu dan Ulsan”, jawabku.

.

“Baiklah. Kalau begitu, bulan depan aku akan mengajukan cuti beberapa hari……atau minggu?” kata Hyesoo.

.

Kebahagiaan menghampiriku dengan begitu mudah. Senyum dibibirku mengikuti setelahna. “Lee Hyesoo…” Hyesoo menoleh padaku, menunjukkan ekspresi bertanya atas panggilanku padanya. Ia menunggu kata yang ingin kuucapkan. Akupun kembali bergerak mendekat, lalu memberikan kecupan singkat dibibirnya. “I love you”, kataku setelahnya.

.

Hyesoo tersenyum. “Love you, too. Sekarang habiskan sarapanmu. Aku ingin berendam setelah ini. Seluruh tubuhku terasa sangat pegal”, kata Hyesoo yang sudah hampir selesai dengan sarapannya.

.

“Aku bisa membantumu. Kurasa itu bisa menghilangkan rasa pegalmu, karena kau tidak perlu menggunakan tanganmu sendiri”, kataku mengajukan bantuan –yang kurasa lebih menguntungkanku. Hmm… Bacon dan telur arik ini begitu lezat. Min ahjumma tidak pernah mengecewakanku.

.

Ada sebuah seringaian diwajahnya. “Aku justru percaya kau bisa membuatku merasa lebih pegal setelahnya”. Hyesoo bisa menebak isi pikiranku seperti biasanya.

.

Senyum yang masih bertahan dibibirku mengembang lebih lebar setelahnya. “Aku tidak akan menyangkalnya”, kataku jujur dengan makanan didalam mulutku.

.

Hyesoo bangkit berdiri, kemudian berjalan menuju bak cuci piring untuk meletakkan piringnya. Tidak ada pembicaraan setelahnya. Hyesoo membersihkan alat makan, seperti yang selalu dilakukannya. Sementara aku tetap pada posisiku, menikmati sarapanku yang perlahan mengisi perut laparku. Hyesoo tidak pernah ingin terlalu bergantung pada pegawai di rumah ini untuk melakukan pekerjaan yang bisa ia tangani sendiri. Aku tidak ingin melarangnya. Selama Hyesoo senang melakukannya dan tidak terluka, aku tidak akan keberatan. Suara air yang mengalir dari keran berhenti, tanda Hyesoo telah selesai mencuci piringnya. Ia berjalan melewati meja makan tanpa menoleh padaku. Akupun tidak memperhatikan pergerakannya. Cream soup dihadapanku membutuhkan lebih banyak perhatianku saat ini. Namun, langkah kaki Hyesoo tidak lagi terdengar oleh telingaku. Kurasa Hyesoo menghentikan langkahnya. Aku segera memutus pandanganku dari mangkuk ditanganku, lalu menoleh pada Hyesoo. Ia bersandar pada salah satu dinding sambil memandangku. Tidak ada ekspresi apapun diwajahnya, membuatku mengerutkan keningku karena bingung dengan sikapnya.

.

“Hanya ingin kau tahu, aku tidak mengatakan bahwa aku keberatan dengan idemu”, Hyesoo menjawab pertanyaan tak terucapku.

.

Which idea?” tanyaku memastikan.

.

“Jadwalku dimulai siang hari. Aku masih punya cukup waktu untuk kembali tidur. Kurasa, merasa lebih pegal bukan ide yang buruk”, jawab Hyesoo yang mengedipkan sebelah matanya padaku setelahnya.

.

Ah… Ide itu. Sontak aku bangkit berdiri, meninggalkan makananku begitu saja. Makanan penutup istimewa yang Hyesoo tawarkan tidak boleh kulewatkan, bukan? Aku berlari pada Hyesoo, lalu meraih kepalanya dengan kedua tanganku. Aku mencium bibirnya yang terasa seperti cream soup lebih dalam. Lidahku mengecap rasa asin yang kini begitu dominan. Hyesoo membalas ciumanku. Kedua tangannya juga sudah melingkar sempurna dileherku. Akupun mengangkat kedua kakinya untuk melingkar dipinggangku. Kuangkat tubuhnya agar memudahkanku melangkah. Apa yang terjadi selanjutnya? Hanya aku dan Hyesoo yang akan mengetahuinya.

.

.

.

Author’s POV

Shinsung Hospital

.

Hyesoo berjalan disepanjang koridor menuju UGD. Hyesoo baru saja selesai menangani sebuah operasi darurat setelah sebuah panggilan diterimanya tadi pagi. Hyesoo merasakan pegal diseluruh tubuhnya. Pasalnya, ia tidak bisa  kembali ke tempat tidur seperti rencananya semula. Ia harus datang ke Rumah Sakit secepatnya tanpa menunda apapun. Akibatnya, saat ini energi Hyesoo terasa seperti ditarik keluar dari tubuhnya. Kemudian pintu UGD terbuka, memunculkan suasana ruangan yang cukup tenang. Kerutan kecil terlihat di kening Hyesoo karena rasa herannya pada suasana santai di UGD. Dari kejauhan, tampak pemandangan yang menyenangkan di meja nurse station. Para dokter dan perawat yang bertugas berbincang bersama beberapa intern dan residen yang tidak sedang menangani pasien. Hyesoo berjalan mendekat dengan senyum tipis dibibirnya. Salah seorang perawat yang menyadari kehadiran Hyesoo segera menundukkan kepalanya, memberikan salam pada Hyesoo. Lalu beberapa orang yang lainpun ikut menoleh setelahnya.

.

“O! Lee Hyesoo!” seru Lee Jinki menyapa Hyesoo.

.

“Annyeonghaseyo, dokter Lee”, sapa perawat Kang.

.

“Annyeonghaseyo, perawat Kang”, balas Hyesoo. “Tampaknya hari ini penduduk Seoul sedang diberikan kesehatan sehingga para petugas UGD dapat beristirahat”, sambungnya.

.

“Benar sekali, sunbae. Situasi seperti ini sudah bertahan sejak pagi. Jujur saja, aku mulai merasa bosan karena tidak banyak pasien yang perlu ditangani”, kata Irene.

.

“Lalu, kau ingin situasi UGD menjadi ramai seperti biasanya?” tanya Hyesoo yang dijawab dengan anggukkan oleh Irene. “Yah… Kau ini. Apakah semua dokter bedah jantung memang seperti ini?”

.

“Seperti apa maksudmu?” tanya Lee Jinki.

.

“Tidak punya hati. Kalian selalu melakukan pembedahan di daerah jantung. Kurasa hal itu sedikit memberikan pengaruh”, jawab Hyesoo. [Ket: jantung & hati kadang diartikan dengan kata yang sama]. “Situasi UGD yang tenang seperti ini dapat memberikan waktu istirahat yang lebih lama pada junior-juniormu, Irene-ah. Kau pernah merasakan berada diposisi mereka, bukan? Lihatlah mereka. Beberapa pounds sudah hilang dari tubuh mereka”, sambung Hyesoo.

.

“Ah… Kau benar, sunbae. Aku sangat tidak peka. Maafkan aku, hoobae-deul”, kata Irene dengan senyum riang khasnya.

.

“Tapi, kenapa kau sudah berada disini? Bukankah seharusnya kau baru datang ke Rumah Sakit disore hari?” tanya Lee Jinki.

.

“Ada sebuah panggilan darurat untuk operasi tadi pagi. Karena itu, aku majukan saja semua jadwal soreku. Ah, apa kau tahu dimana Soyu dan Ryeowook? Mereka tidak mengangkat teleponku dari tadi”, tanya Hyesoo.

.

Lee Jinki sontak menunjuk perawat Kang untuk menjawab pertanyaan Hyesoo. Karena seperti yang terlihat dari wajahnya, Lee Jinki tampak tidak tahu tentang keberadaan rekan-rekannya itu. “Dokter Kang sedang berada di ICU. Hm… Dokter Kim sedang menangani sebuah operasi, dokter Lee. Seharusnya sekarang sudah selesai”, jawab perawat Kang.

.

“Begitu rupanya…” ujar Hyesoo.

.

“Ah, Lee Hyesoo. Aku sampai lupa mengenalkan padamu”, kata Lee Jinki. “Kenalkan, ini dokter Bae Suzy. Dia adalah dokter bedah umum yang akan bertugas di UGD mulai hari ini”, sambung Jinki memperkenalkan Suzy yang duduk tidak jauh darinya.

.

Suzy segera bangkit berdiri, kemudian menundukkan kepala memberikan salam pada Hyesoo. “Annyeonghaseyo, Bae Suzy ibnida”, sapa Suzy.

.

“Ah, ne. Annyeonghaseyo, dokter bedah saraf, Lee Hyesoo ibnida. Senang bertemu dengan anda, dokter Bae”, balas Hyesoo dengan sopan.

.

“Begitupun dengan saya, dokter Lee”, jawab Suzy yang kembali duduk setelahnya.

.

“Apa yang membawamu datang ke UGD, Lee Hyesoo? Apakah ada hal yang terjadi?” tanya Jinki.

.

“Kenapa? Karena seorang dokter yang cantik sudah datang, maka aku tidak boleh ke UGD sekarang?” Hyesoo balas bertanya dengan nada jenakanya.

.

“Aigoo… Siapa kami berani melarangmu datang kesini, Nyonya Direktur…” balas Irene dengan gurauannya.

.

“Ah, apa yang kau katakan, Irene-ah? Jangan lakukan itu padaku. Posisiku di Rumah Sakit ini sama seperti kalian. Aku adalah seorang dokter yang bekerja disini”, kata Hyesoo keberatan dengan sebutan yang diberikan Irene padanya.

.

“Memang. Tapi, kau juga istri Direktur Cho Kyuhyun, sunbae. Tetap saja berbeda”, goda Irene.

.

Beberapa diantara mereka –termasuk para residen dan intern— menganggukkan kepala pelan, setuju dengan ucapan Irene. Perhatian mereka sedang tertuju pada Hyesoo, sang topik pembicaraan. Mereka tidak menyadari ada perubahan ekspresi diwajah Suzy. Mata Suzy sedikit melebar saat mendengar ucapan Irene yang mengatakan bahwa Hyesoo adalah istri dari Cho Kyuhyun. Suzy terkejut dengan hal yang baru didengar olehnya itu. Selama ini Suzy bahkan tidak pernah tahu jika Kyuhyun sudah menikah. Suzy tersadar dari lamunannya saat perbincangan disekitarnya kembali dimulai.

.

“Kau benar. Jika dokter Lee Hyesoo tergores sedikit saja, maka Direktur Cho tidak akan memaafkan kita”, Jinki ikut turun tangan dalam menggoda Hyesoo. Senyum mengembang terlihat dengan jelas diwajah setiap orang yang mendengarnya. Hanya Suzy yang menunjukkan senyum tipisnya saat mendengar ucapan Jinki.

.

“Sampai kapan kalian akan menggodaku?” protes Hyesoo tetap dengan senyum manis diwajahnya. “Sudahlah. Aku pergi saja. Kalian ini…” kata yang hendak beranjak pergi dari sana. Namun, langkahnya terhenti. “Perawat Kang, bisakah aku meminta bantuanmu?”

.

“Tentu saja, dokter Lee”, jawab perawat Kang.

.

“Tolong minta Soyu untuk menghubungiku setelah dia keluar dari ICU”, ujar Hyesoo.

.

“Baik, dokter Lee, akan saya sampaikan”, jawab perawat Kang. “Dan, dokter Kim?”

.

“Aku akan menemuinya di ruang operasi saja”, jawab Hyesoo. “Terima kasih, perawat Kang”, sambung Hyesoo.

.

“Sama-sama, dokter Lee”, balas perawat Kang.

.

Everyone, aku pergi dulu. Selamat beristirahat”, kata Hyesoo.

.

“Selamat makan siang, Nyonya Direktur”, seru Jinki yang hanya dijawab dengan lambaian tangan oleh Hyesoo.

.

.

.

Sore hari di Ruangan Kyuhyun

Shinsung Hospital

.

Derap langkah Kyuhyun terdengar memenuhi ruangannya. Sudah sejak 15 menit yang lalu ia berjalan kesana kemari dalam ruangan itu. Kyuhyun merasa tidak tenang, bahkan cenderung marah. Pemandangan yang dilihatnya satu jam yang lalu tidak membuatnya merasa senang. Hyesoo kembali menemui dokter baru yang diketahuinya bernama Seo Kangjun. Saat sedang melintasi food court di lantai dasar, Kyuhyun melihat Hyesoo sedang makan siang bersama Kangjun. Mereka saling bicara dan tertawa bersama. Keakbraban yang ditunjukkan oleh keduanya membuat Kyuhyun terbakar oleh api cemburu. Semula Kyuhyun berpikir untuk tidak mempedulikannya saat melihat kedekatan mereka berdua kemarin. Namun, kali ini ia tidak bisa menahan gejolak amarah dalam dirinya lagi. Kyuhyun tidak ingin ada pria yang tidak ia kenal mendekati istrinya.

.

“Lee Taemin, panggil Lee Hyesoo kesini. Sekarang! Tidak peduli apapun yang sedang dilakukannya, kecuali jika dia sedang menangani sebuah operasi”, titah Kyuhyun.

.

“Baik, direktur”, jawab Taemin yang menghilang dibalik pintu setelahnya.

.

Kyuhyun menjalankan jari-jari tangannya ke belakang rambutnya yang sudah berantakan, seolah ia sudah meremasnya berkali-kali sebelumnya. Helaan napasnya terdengar kasar dan berat. Kyuhyun tidak pernah merasakan kecemburuan sebesar ini sebelumnya. Ia merasa sangat tidak tenang. Emosinya tersulut begitu mudah. Wajahnya bahkan memerah karena marah. Kemarahan Kyuhyun bukan hanya disebabkan oleh kedekatan Hyesoo dengan Kangjun, tapi juga karena kenyataan bahwa Hyesoo tidak pernah menceritakan apapun mengenai hubungannya dengan Kangjun. Kerutan di keningnya menjadi semakin dalam saat berbagai dugaan muncul di kepalanya. Kyuhyun semakin merasa tidak tenang. Ia membuka kancing teratasnya, lalu melonggarkan dasi dilehernya. Sesaat setelahnya, pintu terbuka, memunculkan sosok Hyesoo yang tersenyum manis padanya. Hyesoopun berjalan mendekat padanya.

.

“Kyuhyun-ah, aku punya kabar yang harus kukatakan padamu”, kata Hyesoo dengan keriangan diwajahnya.

.

“Tunggu, Hyesoo-ya. Aku yang akan bicara terlebih dahulu padamu”, cegah Kyuhyun.

.

“Baiklah, katakan. Ada apa?” tanya Hyesoo.

.

“Aku punya permintaan. Aku harap kau bisa melakukannya untukku”, kata Kyuhyun yang mencoba mengucapkan setiap kata dengan tenang.

.

“Tentu aku akan melakukannya untukmu, jika kau memang sangat menginginkannya. Apa itu? Katakan padaku”, ujar Hyesoo.

.

“Aku ingin kau berhenti bekerja di Rumah Sakit ini, Hyesoo-ya”, pinta Kyuhyun dengan nada ragu.

.

Wow… It’s so random. Benarkah? Kau sedang bercanda, ‘kan? Darimana datangnya permintaan ini?” tanya Hyesoo yang merasa bingung dengan sikap Kyuhyun.

.

“Tidak, aku bersungguh-sungguh. Aku ingin kau berhenti bekerja di Rumah Sakit ini. Aku bisa membangun sebuah klinik atau Rumah Sakit khusus saraf untukmu, dimanapun. Aku akan melakukannya untukmu. Asalkan kau berhenti dari Rumah Sakit ini”, jawab Kyuhyun dengan tatapan tajamnya.

.

“Kyuhyun-ah, ini tidak lucu. Kita tidak pernah membahas ini sebelumnya. Apa yang terjadi? Apa alasannya? Apakah ada hubungannya dengan statusku sebagai istrimu? Apakah ada larangan pasangan suami-istri bekerja di tempat yang sama?” tanya Hyesoo.

.

“Tidak. Peraturan seperti itu tidak pernah ada di Rumah Sakit maupun di J Corp. Itu murni keinginanku. Bisakah kau melakukannya saja untukku?” kata Kyuhyun.

.

“Kau tidak memberikan alasan yang masuk akal atas permintaanmu itu. Jawabannya tidak, Kyuhyun-ah. Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu”, tolak Hyesoo.

.

“Shit! Apa alasanmu menolak permintaanku? Katakan padaku!” seru Kyuhyun, membuat Hyesoo terkejut karena amarah Kyuhyun yang muncul tiba-tiba. “Jangan katakan…kau tidak ingin berpisah dengan pria itu. Benar? Kau ingin terus menemuinya saat aku tidak ada?” tanya Kyuhyun yang akhirnya mengungkapkan dugaannya.

.

“Apa? Cho Kyuhyun, jangan konyol! Pria mana yang sedang kau bicarakan?” tanya Hyesoo yang merasa bingung.

.

“Kau bilang aku konyol? Hhh… Lalu apa yang akan kau katakan jika aku membuat pilihan ini untukmu? Lee Hyesoo, kau yang berhenti dari pekerjaanmu atau dia yang akan dipecat dari rumah sakit ini?” kata Kyuhyun masih dengan nada tingginya.

.

“Tunggu sebentar… Kau bilang dipecat? Jadi, pria itu bekerja disini juga? Siapa yang sedang kau bicarakan?” Hyesoo kembali mempertanyakan pria yang yang sedang dibicarakan oleh Kyuhyun.

.

“Tentu saja pria yang sering bersamamu akhir-akhir ini, Hyesoo-ya. Seo Kangjun! Aku bersungguh-sungguh saat mengatakan bahwa aku akan memecatnya. Keputusan akhir ada ditanganmu”, ancam Kyuhyun.

.

“Hhh… Apa yang sudah dilakukan oleh Kangjun? Hmm? Apa alasanmu untuk memecatnya? Jika cemburu adalah alasanmu, maka aku akan menentangnya. Kau sangat kekanakkan, Kyuhyun-ah. Kenapa kau tidak melakukan pemeriksaan latar belakang a la stalker-mu yang sering kau lakukan untuk mengetahui identitasnya? Paling tidak kau akan mengetahui siapa dia, sebelum pikiran negatif ini muncul dalam kepalamu”, kata Hyesoo yang terbawa dengan alur emosi Kyuhyun.

.

“Jadi, selain konyol, sekarang aku kekanakan?”

.

“Benar! Kau konyol dan kekanakan”. Kini giliran Hyesoo yang berseru pada Kyuhyun. Kondisi emosinya sedang sangat dipengaruhi oleh hormon masa kehamilannya. Suasana hatinya mudah berubah-ubah.

.

“Aku hanya membuat keputusan yang akan menenangkan keadaan, Lee Hyesoo. Aku tidak suka kau berhubungan terlalu dekat dengan pria manapun. Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau sering mengunjungi ruangan pria itu? Aku bahkan melihat kalian berpelukan di depan ruangannya. Dia bahkan memegang tanganmu dengan sangat erat. Jangan lupakan posisimu! Kau adalah istri dari direktur rumah sakit. Jaga sikapmu!” bentak Kyuhyun.

.

“Apa yang salah dari mengunjungi ruangannya? Aku tidak merasa bahwa tindakanku adalah sebuah kesalahan. Jangan salahkan aku jika anggapanmu meleset jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Dan, aku mengetahui dengan sangat baik apa posisiku di Rumah Sakit ini”, balas Hyesoo.

.

“Kenyataan mana yang sedang kau bicarakan? Aku sudah melihat faktanya dengan mata kepalaku sendiri. Kau sering berkunjung ke ruangan pria itu. Memalukan!”

.

“Hhh… Sebenarnya apa yang kau pikirkan tentangku, Cho Kyuhyun? Apa kau yakin saat ini aku masih kau anggap sebagai istrimu?” tanya Hyesoo.

.

“Sekarang kau meragukan posisimu dalam hidupku?” tanya Kyuhyun.

.

“Tidak! Kau yang meragukannya. Aku adalah istrimu! Aku adalah istri yang seharusnya kau berikan kepercayaan, bukan keraguan. Jika kau saja meragukanku, bagaimana dengan orang lain?” Hyesoo balas bertanya.

.

“Aku tidak meragukanmu, Lee Hyesoo”, ujar Kyuhyun.

.

“Kau meragukanku, Cho Kyuhyun! Itu kenyataan yang terjadi saat ini!” seru Hyesoo yang sudah tidak bisa menahan rasa sesak didadanya akibat pertengkaran tidak berdasar ini.

.

“Aku hanya tidak suka melihatmu bertemu dengannya, Lee Hyesoo! Aku ingin kau menjauh darinya!” balas Kyuhyun dengan nada bicara yang sama.

.

“Tidak. Aku tidak bisa. Aku tidak mau. Kenapa aku harus menjauh darinya? Kami tidak melakukan kesalahan apapun”, tolak Hyesoo.

.

“Apa? Benarkah, Lee Hyesoo?” tanya Kyuhyun.

.

“Benar. Aku tidak akan menjauh darinya. Aku membutuhkannya”, jawab Hyesoo.

.

“Lebih dari kau membutuhkanku?” Kyuhyun kembali bertanya. Kerutan dikeningnya menjadi semakin dalam. Ada amarah yang membara di matanya.

.

“Kenapa kau membandingkan dirimu dengannya?” Hyesoo balas bertanya. Ada rasa frustrasi dalam nada bicaranya. Ia tidak tahu bagaimana caranya membuat Kyuhyun mengerti.

.

“Jadi, aku bahkan sudah tidak sebanding dengan pria itu?” tanya Kyuhyun yang salah mengambil kesimpulan dari ucapan Hyesoo.

.

Damn it! Cho Kyuhyun, apa yang ada dipikiranmu? Kau adalah suamiku. Aku mencintaimu. Sementara Seo Kangjun adalah sahabatku, dokterku. Kalian memiliki posisi yang berbeda dalam hidupku”, jawab Hyesoo.

.

“Jika kau mencintaiku, seharusnya kau sudah sangat memahamiku. Aku tidak suka kau berhubungan sangat dekat dengan pria selain aku, Hyesoo-ya. Tidak peduli walau dia adalah doktermu. Ada banyak dokter perempuan di Rumah Sakit ini. Kau tidak harus menemuinya. Jangan berikan alasan apapun padaku”, kata Kyuhyun tetap pada pendiriannya.

.

“Tidak semua dokter dapat menanganiku. Dia adalah seorang dokter kandungan. Aku hamil, Kyuhyun-ah. Aku sering menemuinya untuk memeriksakan kandunganku. Aku terlalu paranoid dengan semua hal, bahkan sampai hal terkecil yang terjadi padaku. Karena ini adalah kehamilan pertamaku. Ini adalah bayi pertamaku, bayimu”, kata Hyesoo yang akhirnya memberitahu Kyuhyun tentang kehamilannya. “Aku menunggu untuk memberitahumu dengan cara yang benar. Aku tidak pernah menduga harus mengatakan berita besar ini dalam sebuah pertengkaran”, sambung Hyesoo.

.

Mata Kyuhyun melebar. Ia terkejut dengan hal yang baru saja diungkapkan oleh Hyesoo. Otaknya seolah berhenti bekerja. “Apa? Kau…… hamil? Bayiku? Kau……. benarkah? Apakah itu ben……”

.

“Benar, Kyuhyun-ah! Ten……” kata Hyesoo memotong kalimat Kyuhyun. Namun, kalimatnya juga terhenti, menggantung begitu saja. Hyesoo dikejutkan dengan kalimat terakhir yang Kyuhyun ucapkan. Ia menyadari makna dibalik pertanyaan Kyuhyun. Seolah kepalanya baru saja dipukul dengan sebuah batu besar. Ia merasakan keterkejutan yang begitu hebat. “Apa ini? Kyuhyun-ah… Kau… Kau… Kau benar-benar meragukanku? Kau pikir bayi yang ada didalam rahimku bukan milikmu, begitu?” tanya Hyesoo setelahnya.

.

“Bu… Bukan begitu. Aku hanya……”

.

“Ragu. Ya, kau ragu. Hhh…” Hyesoo kembali memotong ucapan Kyuhyun. Kini giliran otak Hyesoo yang berhenti bekerja. Hyesoo tercekat, seolah oksigen dalam paru-parunya menguap keluar dari tubuhnya. Ia tidak pernah menduga akan datang saat seperti ini dalam hidupnya. Sebelumnya Hyesoo sudah berangan-angan Kyuhyun akan tersenyum bahagia saat menerima kabar ini. Tapi, ia justru mendapatkan keraguan dari suaminya itu. Hyesoo menghela napas panjang, berusaha mengumpulkan setiap kata yang ingin diucapkannya. “Apa yang mendasari keraguanmu itu? Darimana datangnya keraguan itu? Apakah kau meragukanku karena aku tidak pernah secara langsung mengatakan bahwa aku mencintaimu? Karena aku tidak pernah menunjukkan bahwa aku mencintaimu? Atau… karena aku pernah meninggalkanmu? Atau justru semata karena kau menganggapku sebagai seorang wanita tidak bermartabat yang menduakan suaminya?”

.

“Lee Hyesoo……” kata Kyuhyun menghentikan ucapan Hyesoo. Seketika rasa sakit menghampiri dirinya. Ucapan Hyesoo menusuknya seperti sebilah pedang yang ditancapkan tepat didadanya.

.

“Aku mengerti”, kata Hyesoo dengan suara yang mulai terdengar serak.

.

“Hyesoo-ya, bukan begitu. Dengarkan aku dulu”, kata Kyuhyun yang meraih bahu Hyesoo.

.

“Lepaskan aku!” kata Hyesoo sambil melangkah mundur, melepaskan diri dari Kyuhyun.

.

“Hyesoo-ya… Aku sedang kacau. Aku tidak bisa mencerna semua ini dengan baik dalam pikiranku. Jangan seperti ini. Bicara padaku. Kita bicarakan ini baik-baik”, pinta Kyuhyun yang sekali lagi mendekat untuk meraih tubuh Hyesoo.

.

“Aku bilang, lepaskan aku! Mundur! Jangan sentuh aku!” seru Hyesoo. “Aku tidak bisa bicara denganmu, Cho Kyuhyun. Sejak awal kau sudah tidak bisa diajak bicara. Dan saat ini, kita berdua tidak dalam keadaan untuk bicara”, sambung Hyesoo. Air mata sudah menumpuk di pelupuk matanya. Hyesoo melangkah mundur, membuat jarak diantara mereka semakin melebar.

.

“Hyesoo-ya, jangan pergi”, kata Kyuhyun.

.

“Aku membutuhkan waktu untuk berpikir, Cho Kyuhyun. Kau membuatku meragukan banyak hal tentang kita berdua. Dan, kupikir aku akan menjadi sangat marah jika tetap berada disini bersamamu. Aku harus menjaga emosiku demi kesehatan bayi-KU”, kata Hyesoo dengan menekankan kata -ku dalam ucapannya.

.

“Hyesoo-ya……”

.

Hyesoo segera keluar dari ruangan Kyuhyun. Ia membanting pintu dibelakangnya, membuat Taemin sontak menoleh karena terkejut. Taemin belum sempat menanyakan keadaannya, Hyesoo sudah berlalu menuju lift dengan langkah yang cepat. Taemin hanya terpaku berdiri di tempatnya. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Kyuhyunpun tidak memberikan perintah apapun padanya, bahkan untuk mengejar Hyesoo. Satu hal yang sangat Taemin ketahui, air mata menetes dipipi Hyesoo saat sosoknya muncul dari balik pintu, sesaat sebelum ia berlalu menghilang dari jangkauannya. Tiba-tiba, terdengar sebuah pecahan kaca dan suara gaduh benda yang dilempar serta membentur satu sama lain dari dalam ruangan Kyuhyun. Saat itu Taemin mengetahui bahwa situasi diantara Kyuhyun dan Hyesoo tidak akan baik-baik saja setelah ini. Dan, ia harus bersiap untuk menerima setiap kemungkinan perubahan sikap Kyuhyun.

.

Hari beranjak malam. Hyesoo memutuskan untuk tidak kembali ke rumah. Setelah keluar dari ruangan Kyuhyun beberapa jam yang lalu, Hyesoo hanya berdiam dalam ruangannya. Ia hanya keluar sesekali untuk melakukan visite pada pasiennya. Tidak ada tanda kehadiran Kyuhyun. Hyesoo bertahan dalam kesunyian ruangannya tanpa bicara pada siapapun. Sesaat setelah kembali dari memeriksa kondisi seorang pasien, Hyesoo masuk ke ruangan Jaejoong yang sedang melakukan seminar diluar kota, bermaksud untuk menggunakan kamar jaga pribadi miliknya. Hyesoo menutup pintu dibelakangnya, kemudian mengunci pintu itu. Hyesoo merebahkan tubuhnya diatas ranjang setelah meletakkan jubahnya disebuah kursi. Hyesoo berbaring miring, meringkuk seolah sedang melindungi dirinya dan bayi kecil dalam kandungannya. Hyesoo tidak dapat memikirkan apapun saat ini. Suasana hatinya sedang tidak cukup baik untuk berpikir. Ia tidak ingin memaksakan diri untuk memikirkan pertengkaran antara dirinya dan Kyuhyun. Karena jika ia memaksakan dirinya, mungkin keadaannya justru tidak akan kunjung membaik. Hyesoo tidak ingin membahayakan bayinya hanya karena keegoisannya.

.

Aku membuka mata perlahan karena lantunan musik folk yang tertangkap oleh telingaku. Aku berada di sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan menengah. Lampu kota masih terlihat temaram ditengah suasana hari yang berubah petang. Sinar berwarna orange terlihat dari sisi jendela disebelah kiriku. Ketenangan yang diberikan oleh suasana mobil ini begitu membuaiku. Suara penyiar radio muncul setelah lagu berakhir. Ia menceritakan kejadian konyol yang dialaminya satu minggu yang lalu. Suara tawa yang terdengar renyah mengalihkan perhatianku dari matahari terbenam yang sempat menghipnotisku. Siwon oppa berada disana, dibalik kemudinya. Ia terlihat begitu muda, tampan, dan bahagia. Senyum diwajahnya begitu manis, membuatku ingin menyentuh lesung pipi yang terbentuk indah di pipi tirusnya. Ia mencium telapak tanganku, mengalirkan rasa geli yang disebabkan oleh rambut halus yang mulai tumbuh di dagunya. Sebuah lagu country kini berkumandang memenuhi mobil yang kami naiki. Kemudian Siwon oppa menceritakan setiap hal yang ia lakukan dimasa senggangnya di asrama kampus. Mulai dari perjalanan ke Forks, memburu matahari terbenam di Phoenix, hingga pertandingan rugby yang dimenangkannya. Suara beratnya terdengar begitu menyenangkan, serta menenangkanku. Namun, suaranya perlahan menghilang bersama dengan siaran radio yang tidak lagi terdengar. Laju mobil menjadi semakin cepat seiring dengan menghilangnya sinar matahari di Barat. Aku berpegangan erat pada handle pintu karena kecepatan laju mobil yang mulai membuatku takut. Aku kembali menoleh pada Siwon oppa, bermaksud untuk menghentikannya. Namun, ia sudah tidak berada disana. Sosok Siwon oppa sudah digantikan dengan Kyuhyun yang terlihat dingin dan marah di hari pertama pertemuan kami. Ia menatap lurus ke depan tanpa mempedulikan seruanku. ‘Aku akan berhenti jika aku ingin’, begitu seruannya. Suara klakson yang sangat kencang membuatku ikut melihat ke depan. Sebuah truk dengan laju yang sama kencang mendekat kearah kami. Sinar lampunya menyilaukanku, mempercepat degup jantungku.

.

Mata Hyesoo terbuka lebar. Napasnya memburu dan keringat membasahi tubuhnya. Hyesoo beranjak duduk, lalu bersandar ke dinding terdekat. Hyesoo kembali mendapatkan mimpi buruk dengan Siwon didalamnya. Namun, kali ini air mata menetes dipipinya. Hyesoo yang menyadari hal itu, segera menyeka pipinya. Ada kebingungan yang menghampirinya saat melihat air mata di jari-jari tangannya yang gemetar. “Ada apa denganku?”

.

.

.

.

TBC

.

Note:

Part 4 done!!! Fiuh… Akhirnya…

Annyeonghaseyo, readersnim-deul. Hm… sepertinya aku nggak boleh menyapa dengan riang setelah menulis adegan menyedihkan di akhir part ini, ya? However, apa kabar? Aku minta maaf karena aku kembali membuat kalian menunggu lama untuk kelanjutan FF Sequel ini. Aku sedang mengerjakan banyak hal akhir-akhir ini. Aku harus curi-curi waktu di malam hari untuk melanjutkan tulisanku ini –walau kadang aku justru ketiduran dan nggak jadi nulis. Oh, ya! Sebenarnya aku sedang memikirkan sesuatu akhir-akhir ini. Tentang rating FF ini. Kalian semua tahu ‘kan bagaimana isi FF ini? Terkadang ada adegan yang [seharusnya] hanya bisa dibaca untuk kalian yang sudah cukup umur. Tapi, aku juga merasa adegan-adegan itu tidak terlalu ‘dewasa’ hingga perlu diberi rate NC. Nah, aku berpikir, apakah FF ini perlu aku berikan rate NC? Atau cukup dengan PG-15 atau PG-18? Tolong utarakan pendapat kalian.

Dan… Masalah benar-benar datang. Mendekati akhir part 4 ini, Kyuhyun tiba-tiba murka. Aku belum menceritakan kejadian yang dilihatnya. Aku akan menjelaskan pada kalian melalui flashback di part selanjutnya. Hubungan harmonis yang sempat ada diantara Kyuhyun dan Hyesoo tiba-tiba saja berubah jadi sebuah pertengkaran hebat. Hyesoo sudah jelas karena pengaruh hormonnya yang membuat emosinya mudah terpancing. Bagaimana dengan Kyuhyun? Apa yang menyebabkan kemarahannya? Dan, bagaimana kelanjutan hubungan mereka jika sudah seperti ini? Kalian bisa menemukan jawabannya di part selanjutnya. Hm… Aku ingin minta maaf terlebih dahulu untuk update yang mungkin akan kembali lama di part 5 nanti. Karena, pertama, it’s Christmas Holiday. Kedua, aku sedang sangat disibukkan dengan persiapan pernikahan kakak tertuaku. So, mohon memaklumi kondisiku. Aku janji akan update secepat mungkin. Jadi, please… tetap setia menunggu kelanjutan FF ini ya. Kalau begitu, Kana pamit! Selamat Natal untuk yang merayakan! Selamat liburan untuk yang lainnya! Happy New Year, maybe? Annyeonghigaseyo!!! *bow

Advertisements

17 thoughts on “Beautiful Tomorrow : Part 4

  1. cemburu nya kyu mulai susah ditanganin. nyesek juga jadi hyesoo pas denger respon kyu tentang kehamilannya. tapi kyu itu gak maksud meragukan, dia cuma bingung berkata kata. kangjun kayaknya aman, tapi gimana dengan suzy? dia kayaknya shock tau kyu udah nikah. kyu belum tau kalo suzy kerja di rs dia

    Like

  2. What have you done kyu????!!!!! Hyeso kembali dihantui mimpi buruk disaat hyeso keadaan hamil, its so dangerous!!! g cuma keselamatan hidup hyeso & janinnya yg dipertaruhkan tapi juga kelangsungan hubungan pernikahan mereka,,,,
    agak sedikit curiga ma suzy,,perlu diwaspadai kayanya….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s