Beautiful Tomorrow : Part 3

Author: Okada Kana

Category: PG-18, Romance, Chapter, Sequel, Sad

Cast:

Cho Kyuhyun, Lee Hyesoo (OC)

Seo Kangjun, Bae Suzy, Lee Taemin, Kang Soyu, Choi Sooyoung, etc.

Disclaimer:

Annyeonghaseyo!!! Kana kembali hadir dengan kelanjutan kisah dari FF sequel yang berjudul “Beautiful Tomorrow”. Setelah part 2 berakhir dengan kehadiran tokoh baru bernama Bae Suzy, kira-kira apa yang akan terjadi dalam part ini? Siapakah Suzy? Dan apakah Suzy memiliki hubungan dengan Cho Kyuhyun? Sementara di Seoul, keadaan Hyesoo sedang tidak dalam kondisi yang cukup baik. Hyesoo masih memegang keyakinan bahwa dirinya hanya sedang merasa kelelahan. Namun, dugaan siapakah yang akhirnya benar? Hyesoo atau kedua temannya? Kalian akan menemukan jawabannya dalam part ini, readersnim-deul. Part 3 ini akan menjadi awal kisah yang akan menarik kalian masuk ke permasalahan diantara Kyuhyun dan Hyesoo. Kehidupan mereka tidak akan selalu indah seperti yang dihadirkan dalam dongeng. Hujan deras akan tetap datang bahkan setelah badai berlalu. Badai yang lain mungkin akan menyusul setelahnya.

FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi atau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com. Please, no bash, spam, mengejek, mengolok, dan menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Mari saling menghargai satu sama lain. Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 2

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku sedang mengurus kepindahan sementaraku disini”.

“Bagaimana kelanjutan prosesnya?”

“Aku baru saja bertemu dengan Direktur Choi Sang Wook. Beliau mengatakan aku harus bertemu dengan Direktur Choi”.

“Senang akhirnya bisa bertemu dengan anda”.

“Selamat datang di Shinsung Hospital, dokter Seo”.

“Terima kasih, Direktur Choi”.

————————-

“Aku sangat suka Cho Kyuhyun yang baru saja pulang ke rumah setelah bekerja seharian”.

“Kenapa?”

“Karena disini tidak ada satupun orang yang bisa membawamu pergi dariku. Kau hanya milikku”.

“Aku selalu milikmu, Hyesoo-ya. Dimanapun itu”.

“Kau begitu mudah teralihkan setelah kembali. Ada apa?”

“Hanya merindukanmu”.

“Saat ini aku sedang bersamamu”.

“Tetap merindukanmu”.

————————-

“Lee Hyesoo, apakah kau baik-baik saja?”

“Selain kedua kakiku yang menjerit kesakitan, aku baik-baik saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Aneh. Mungkin tanganku yang dingin”.

“Lee Jinki, ada apa?”

“Suhu tubuhmu cukup tinggi. Wajahmu juga memerah. Kurasa kau demam”.

“Mungkin aku hanya kelelahan”.

————————-

“Kau demam Hyesoo-ya. Apakah kau tidak merasa pusing?”

“Tidak. Aku baik-baik saja, seperti biasanya”.

“Apa kau sudah sarapan?”

“Aku sedikit mual pagi ini. Mungkin karena suhu pendingin ruangan dikamarku terlalu rendah semalaman”.

“Kau tidak memikirkan kemungkinan lain?”

“Kemungkinan lain, seperti?”

“Sepertinya aku belum mendengar keluhan atas menstruasimu akhir-akhir ini. Mungkin kau sedang……”

“Mungkin datang terlambat. Jangan berpikir terlalu jauh, Soyu-ya”.

“Kau bisa memeriksanya. Hanya untuk memastikan”.

“Aku akan mempertimbangkannya. Tapi, tidak sekarang. Kurasa aku hanya terlalu kelelahan”.

————————-

“Direktur, apakah anda baik-baik saja? Anda tampak berbeda hari ini”.

“Aku terlihat kacau, aku tahu. Mungkin aku hanya kelelahan, dan merindukan Hyesoo”.

“Apakah anda ingin secangkir teh?”

“Tidak perlu. Aku akan keluar sebentar untuk menjernihkan pikiran”.

“Baik, Direktur”.

“Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini, Cho Kyuhyun”.

“Bae Suzy?”

————————-

.

.

.

Beautiful Tomorrow

Part 3

.

.

Author’s POV

Skyline Hotel

Jeju Island

.

“Ternyata memang dirimu. Kupikir aku sudah salah mengenali orang”, kata Suzy.

.

“Syukurlah memang diriku. Jika bukan, maka orang itu sudah kau marahi saat ini”, balas Kyuhyun sambil memberikan ponsel Suzy yang terjatuh.

.

“Kembali padamu. Kau tidak akan setenang ini jika bukan aku yang bertabrakan denganmu”, kata Suzy.

.

“Aku meragukan pendapatmu, Bae Suzy”, ujar Kyuhyun yang tertawa kecil. “By the way, maaf untuk ponselmu. Jika terjadi kerusakan, katakan saja padaku. Aku akan bertanggungjawab”, sambung Kyuhyun.

.

“Hm… Sekarang kau justru tidak seperti dirimu. Ini bukan Cho Kyuhyun yang kukenal”, kata Suzy dengan nada bergurau.

.

Sebuah kembali senyuman muncul diwajah Kyuhyun. Ucapan Suzy dapat meringankan emosinya yang tidak menentu sejak tadi pagi. Nada sarkastik yang keluar dari bibir Suzy begitu familiar ditelinga Kyuhyun. Seolah ia sedang bertualang kembali ke masa lalu, masa mudanya yang begitu bebas tanpa beban pekerjaan apapun. Kyuhyun dapat merasakan perubahan yang dimaksud Suzy dalam ucapannya. Ia memang sudah tidak seperti Cho Kyuhyun yang dikenal oleh Suzy. Peristiwa yang terjadi setelah masa-masa bersama Suzy berakhir mengubahnya perlahan. Beruntung karena perubahan yang dialaminya tidak menuju kearah yang lebih buruk.

.

“Apa yang kau lakukan disini? Apakah kau tinggal di Jeju sekarang?” tanya Kyuhyun.

.

“Tidak. Aku harus menghadiri sebuah konferensi yang diadakan besok di ballroom hotel ini. Aku datang satu hari lebih awal untuk berlibur sejenak”, jawab Suzy. “Bagaimana denganmu? Kau tidak terlihat seperti penduduk sekitar”.

.

“Aku datang ke Jeju untuk bekerja”, jawab Kyuhyun singkat.

.

“Bekerja? Jadi, rupanya Cho Kyuhyun memang sudah berubah sekarang. Aku cukup terkejut mendengarnya. Pergi kemana kebebasan yang kau sukai itu?” tanya Suzy.

.

“Sudah pergi menjauh bertahun lalu. Aku tidak berubah sebanyak itu, Bae Suzy. Aku masih Cho Kyuhyun yang kau kenal”, jawab Kyuhyun.

.

“Sepertinya begitu. Kau hanya lebih……dewasa, kurasa”, kata Suzy. “Hm… Aku ingin mengatakan hal ini padamu sejak tadi. Apakah kau tidak keberatan?” tanya Suzy.

.

“Tentu tidak. Katakan saja”, jawab Kyuhyun mempersilahkan.

.

“Jangan tersinggung. Kau terlihat sangat kacau saat ini, Cho Kyuhyun. Apakah sesuatu yang buruk terjadi?” tanya Suzy.

.

“Tidak”, kata Kyuhyun sambil tersenyum, mencoba meyakinkan Suzy. “Aku baik-baik saja. Hanya lelah dan sedikit sakit kepala karena pekerjaan”, jawab Kyuhyun.

.

“Kurasa aku punya solusi untuk itu”, kata Suzy sambil tersenyum. “Coffee?” Suzy menawarkan.

.

Sure. Aku traktir. Anggap saja ini adalah permintaan maafku karena sudah menabrak dan menjatuhkan ponselmu”, kata Kyuhyun.

.

“Dengan senang hati”, ujar Suzy.

.

Keduanya berjalan berdampingan di koridor menuju lift yang sudah terbuka, menunggu keduanya. Selama perjalan menuju cafe yang berada di lantai dasar hotel, Kyuhyun dan Suzy membicarakan banyak hal. Kehidupan mereka setelah SMA lebih banyak dibicarakan dari yang lainnya. Topik pembicaraan keduanya hanya berkisar seputar kehidupan di bangku Universitas dan hal umum lainnya. Tidak ada hal pribadi yang dibicarakan. Keduanya juga memilih untuk tidak membahas tentang hubungan mereka yang sudah lama berakhir.

.

Pintu lift terbuka. Kyuhyun mempersilahkan Suzy untuk berjalan terlebih dahulu didepannya, membuat kening Suzy berkerut dengan sikap Kyuhyun yang tidak pernah dilihatnya. manajer cafe membukakan pintu bagi mereka sambil membungkukkan badan dan memberikan senyum ramahnya. Pria berpenampilan sangat rapi itu memberikan salam formalnya seperti yang selalu ia lakukan untuk menyambut tamu hotel lainnya. Beberapa saat yang lalu, Kyuhyun sudah lebih dulu memberikan sinyal padanya untuk bersikap sewajarnya. Kyuhyun seolah mengatakan bahwa ia tidak masuk kesana untuk bekerja. Namun, tentu saja pria itu melakukan kewajibannya pada Kyuhyun selaku pemilik hotel itu. Ia mengantar Kyuhyun dan Suzy ke tempat duduk paling nyaman di cafe itu. Pria itu memberikan pelayanan eksklusifnya pada mereka.

.

“Silahkan pesanan anda, Nona”, kata pria dengan nama Kang Taeyoung di nametag-nya.

.

Cafe breve untukku…” kata Suzy menyebutkan pesanannya. “Cho Kyuhyun? Latte? Atau espresso?” tanya Suzy.

.

“Tuan, anda……” kata Kang Taeyoung yang menoleh dengan cepat pada Kyuhyun saat mendengar jenis kopi yang ditawarkan oleh Suzy. Namun, Kyuhyun sudah lebih dulu menghentikannya dengan mengangkat rendah sebelah tangannya.

.

Milk tea untukku. Terima kasih”, kata Kyuhyun dengan tenang.

.

“Baik, Tuan”, kata Kang Taeyoung yang segera undur diri menuju meja bar.

.

“Kau berbohong. Kau bilang kau tidak berubah banyak. Tapi, apa itu? Milk tea? Benarkah, Cho Kyuhyun?” tanya Suzy heran.

.

“Aku tidak minum kopi, Bae Suzy. Tubuhku sudah lama menolak minuman itu”, jawab Kyuhyun.

.

“Hhh… Apa lagi yang berubah darimu? Ceritakan padaku. Kau membuatku penasaran dengan perubahanmu”, kata Suzy.

.

Kyuhyun tertawa kecil mendengar ucapan Suzy. Ia menaikkan bahunya sesaat sebelum menghela napas panjang, memikirkan jawaban atas pertanyaan Suzy. “Seperti yang kukatakan padamu, aku tidak banyak berubah. Aku hanya sedikit lebih sabar, tenang, dan terkontrol. Aku lebih banyak berpikir selama beberapa tahun terakhir. Aku memang sangat membutuhkan sikap itu. Aku tidak bisa terus menjadi pria pemberontak, bukan?” kata Kyuhyun menjelaskan.

.

“Benar. Dan kau melakukannya dengan sangat baik. Kau membuatku terkejut hanya dengan perubahanmu itu. Tapi, kau melupakan satu hal”, kata Suzy yang membuat alis Kyuhyun terangkat, seolah menanyakan hal yang menurut Suzy sudah dilupakannya. “Kau lebih banyak bicara… Ah, dan dengan nada yang tenang serta stabil”, sambung Suzy.

.

Senyum mengembang diwajah Kyuhyun, memperlihatkan barisan giginya yang rapi. Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan beberapa kali, menyangkal ucapan Suzy tentangnya. “Hanya sekedar pemberitahuan, aku membentak seorang pria yang beberapa tahun lebih tua dariku beberapa menit sebelum bertemu denganmu, Bae Suzy. Kurasa fakta itu sudah mematahkan pendapatmu tentangku”, kata Kyuhyun.

.

“Auh… Malang sekali pria itu. Hari masih pagi dan pria pemarah ini sudah menghancurkan harinya. Jika aku berada diposisinya, aku sudah menyumpahimu, Cho Kyuhyun”, kata Suzy dengan nada sarkastik.

.

“Aku juga meyakini itu. Kupikir kau juga sudah banyak menyumpahiku karena perilakuku padamu. Benar?” tanya Kyuhyun.

.

“Sangat. Aku menghabiskan hariku untuk menyumpahimu kala itu. Hingga aku kelelahan, lalu memutuskan untuk menyudahinya”, kata Suzy sambil tertawa kecil.

.

“Aku tahu ini sudah terlambat. Tapi, aku minta maaf karena sudah berperilaku buruk padamu”, kata Kyuhyun bersungguh-sungguh.

.

“Aku sudah melupakannya. Tapi, permintaan maafmu akan kuterima. Jika itu bisa membuatmu senang”, ujar Suzy. “Jadi, apakah ada gadis lain yang kau berikan perilaku buruk setelah aku?” tanya Suzy dengan nada bergurau.

.

“Hhh… Jika kupikirkan sekarang, sebenarnya aku berharap tidak pernah melakukannya lagi. Tapi, sayangnya aku sempat melakukannya. Kala itu, situasinya jauh lebih buruk dari yang kau alami”, jawab Kyuhyun.

.

“Separah itu? Kau benar-benar kejam, Cho Kyuhyun. Lalu, apa yang terjadi pada gadis itu? Kau pasti tidak segera minta maaf padanya. Kau saja harus melewati waktu bertahun-tahun sampai akhirnya meminta maaf padaku”, tanya Suzy.

.

“Gadis itu terluka, tentu saja. Dia bahkan sangat membenciku. Dan, meninggalkanku…” Ada luka yang tertoreh dalam kalimat menggantung yang diucapkan oleh Kyuhyun. Rasa sakit akan kepergian Hyesoo masih ia rasakan bahkan setelah bertahun berlalu. Kyuhyun menghela napas panjang untuk mengembalikan dirinya yang sempat menghilang dalam kenangan buruk masa lalu. “Aku berperilaku sangat buruk padanya. Well, kau kembali menangkap poin utamanya. Aku memang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk meminta maaf padanya. Aku harus menebus kesalahan yang kulakukan padanya. Aku masih selalu berusaha”, sambung Kyuhyun.

.

Suzy yang merasakan perubahan nada bicara Kyuhyun hanya bisa memberikan senyum tipisnya. “Gadis itu tidak bisa memaafkanmu dan melupakan perbuatanmu dengan sikap yang santai sepertiku, bukan? Jika kudengar dari nada bicaramu, sepertinya perbuatanmu sudah sangat kelewatan padanya”, kata Suzy dengan nada riangnya, berusaha tetap membuat suasana diantara mereka tidak ikut terseret oleh kemuraman nada bicara Kyuhyun.

.

“Hebatnya dia memaafkanku. Kadang aku masih tidak bisa mempercayai kenyataan itu. Dia memaafkanku dan bersikap seolah tidak pernah ada masalah apapun diantara kami. Dia memiliki hati yang sangat baik”, ujar Kyuhyun memuji Hyesoo dalam kata yang diucapkannya.

.

“Dan, kau jatuh cinta padanya”, Suzy memberikan tanggapan atas ucapan Kyuhyun.

.

Yes, I did [fall in love with her]. Dia sangat mudah untuk dicintai, Bae Suzy. Bahkan oleh semua orang, bukan hanya aku”, kata Kyuhyun jujur. ‘Aku jatuh cinta padanya satu kali. Dan, aku tetap mencintainya sampai saat ini. Bahkan semakin bertambah setiap harinya, sambung Kyuhyun dalam pikirannya. Sayangnya Kyuhyun tidak menjelaskan maksud dibalik ucapannya itu pada Suzy.

.

“Ah… Did? (bentuk past tense. Bisa diartikan sebagai kejadian yang sudah berlalu)”, tanya Suzy sambil tertawa.

.

Kyuhyun mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan sikap Suzy yang tertawa karena ucapannya. “Apa maksud dibalik tawamu itu? Aku tidak merasa mengatakan hal yang lucu”, tanya Kyuhyun.

.

Tawa Suzy perlahan terhenti. Ia menghela napas panjang setelahnya untuk menghilangkan sisa tawanya. “Aku hanya baru menyadari maksud dari ucapanmu. Kau mengatakan ‘did’. Semula kupikir kau masih……”

.

Ucapan Suzy belum terselesaikan saat Kyuhyun refleks menoleh kearah dapur setelah mendengar suara pecahan kaca. Keadaan cafe yang tidak terlalu ramai membuat suara pecahan kaca itu mudah terdengar oleh Kyuhyun. Sesaat setelahnya, seorang gadis yang mengenakan seragam pegawai cafe itu keluar dari dapur dengan tergesa. Ia berlari keluar melewati pintu, lalu masuk kedalam taksi yang berada tepat didepan lobby hotel. Kyuhyunpun bangkit berdiri, lalu berjalan dengan tenang menghampiri Kang Taeyoung yang berdiri tidak jauh dari meja bar.

.

“Apa yang terjadi?” tanya Kyuhyun, mencoba tetap menjaga nada bicaranya tetap tenang.

.

“Masalah pribadi, Direktur. Gadis itu baru saja mendapatkan kabar bahwa neneknya terjatuh di kamar mandi rumah mereka. Dia terkejut dan menjatuhkan teko kaca yang sedang dibawanya”, jawab Kang Taeyoung memberikan penjelasan pada Kyuhyun.

.

“Aku mengerti. Pastikan para tamu yang ada disini mengetahui kebenarannya. Aku tidak ingin ada rumor palsu yang beredar hanya karena dugaan konyol akibat tidak mendapatkan keterangan apapun tentang ini. Kau jelaskan pada mereka dengan caramu. Dan, tolong hubungi Lee Taemin untukku. Secepatnya”, kata Kyuhyun memberikan instruksinya.

.

“Baik, Direktur”, kata Kang Taeyoung menyanggupi perintah Kyuhyun. Ia bergegas menuju kantornya untuk melakukan tugas yang diberikan oleh Kyuhyun.

.

“Apa semua baik-baik saja?” tanya Suzy yang menghampiri Kyuhyun.

.

“Hm? Ah, ya, semua baik-baik saja”, jawab Kyuhyun.

.

“Jadi, kau adalah seorang Direktur di hotel ini? Kenapa kau menyembunyikannya dariku?” tanya Suzy.

.

“Aku tidak menyembunyikannya. Kita hanya tidak pernah menyinggung tentang hal itu dalam pembicaraan kita sejak tadi”, jawab Kyuhyun.

.

Sesaat setelahnya, Taemin sudah tiba di cafe. Ia berjalan cepat menghampiri Kyuhyun yang sudah melihatnya masuk melalui pintu. “Anda memanggil saya, Direktur?” tanya Taemin.

.

“Kirim seseorang untuk pergi ke rumah salah seorang pegawai. Tanyakan identitas dan alamat gadis itu pada Manajer Kang. Dia baru saja mengalami sebuah musibah. Pastikan semua hal diurus dengan baik”, kata Kyuhyun.

.

“Saya mengerti, Direktur. Apa ada hal lain yang anda butuhkan?” tanya Taemin.

.

“Apa ada telepon untukku? Aku sedang mengisi ulang baterai ponselku saat keluar dari ruangan. Aku tidak membawanya bersamaku saat ini”, kata Kyuhyun.

.

“Tentang itu, Direktur…” Taemin menghentikan ucapannya, ragu untuk mengatakannya didepan umum.

.

“Aku mengerti. Katakan padaku nanti”, kata Kyuhyun yang mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja bar. Ia memikirkan hal yang harus dilakukannya setelah ini. “Bae Suzy, sepertinya aku harus pergi sekarang. Maafkan aku”, kata Kyuhyun pada Suzy.

.

“Tidak perlu meminta maaf. Seperti katamu, kau datang kesini untuk bekerja. Lakukan pekerjaanmu. Kita masih bisa bicara lagi lain kali”, kata Suzy.

.

“Terima kasih atas pengertianmu. Jika ada waktu luang, aku akan berusaha untuk menemuimu”, kata Kyuhyun.

.

“Jangan memaksakan jadwalmu. Aku mengerti jika kau sangat sibuk”, ujar Suzy. “Apa kau masih tinggal di Seoul?” tanya Suzy setelahnya.

.

“Benar, aku masih tinggal di Seoul”, jawab Kyuhyun.

.

“Kita bisa bertemu di Seoul nanti. Aku akan mengikuti pelatihan disebuah Rumah Sakit di Seoul selama beberapa minggu. Aku juga akan pindah ke salah satu Rumah Sakit disana. Masih ada banyak waktu untuk bertemu”, kata Suzy.

.

“Baiklah kalau begitu. Sampai bertemu”, kata Kyuhyun sambil tersenyum tipis.

.

“Selamat bekerja. Sampai bertemu”, balas Suzy.

.

Kyuhyun sudah berlalu bersama Taemin saat Suzy membalas salam perpisahan yang diucapkan oleh Kyuhyun. Sosok keduanya menghilang dibalik pintu dengan cepat. Derap langkah tegas Kyuhyun terdengar jelas diatas lantai marmer lobby hotel. Ekspresi wajahnya yang dingin sudah kembali. Rahangnya terkatup kuat dan matanya memandang tajam lurus kedepan. Beberapa pegawai hotel yang berpapasan dengan Kyuhyun memberikan salam padanya, namun tentu saja salam mereka tidak dibalas oleh Kyuhyun. Suasana hatinya kembali memburuk karena kejadian yang terjadi diluar kontrolnya. Sebagai gantinya, Taeminlah yang menjawab salam para pegawai dengan senyum tipisnya yang tulus. Pintu lift terbuka, memunculkan sosok tiga orang pegawai didalamnya. Taemin memberikan sinyal pada ketiganya untuk keluar dari lift, menyadari suasana hati Kyuhyun yang buruk. Ketiga pegawai itu segera keluar dengan tenang dari lift, mempersilahkan Kyuhyun dan Taemin untuk masuk kedalam.

.

“Katakan”, perintah Kyuhyun saat pintu lift sudah tertutup kembali.

.

“Nyonya Lee menghubungi ponsel anda beberapa saat yang lalu dan……” ucapan Taemin terhenti saat menerima tatapan tajam tiba-tiba dari Kyuhyun. Taeminpun menundukkan kepalanya setelah menyadari kesalahan yang baru saja dibuatnya. “Nyonya Cho terdengar sangat marah, Direktur. Tampaknya beliau sudah mencoba menghubungi anda berkali-kali sebelumnya. Ada puluhan panggilan tidak terjawab yang muncul di layar ponsel anda. Saya pikir suasana hati beliau sedang kurang baik”, sambung Taemin yang sudah memperbaiki sebutannya pada Hyesoo.

.

“Apa yang Hyesoo katakan? Apa dia baik-baik saja?” tanya Kyuhyun yang merasa khawatir akan keadaan Hyesoo.

.

“Hm… Saat ini aku sangat marah padamu. Jika kau tetap tidak menghubungiku sebelum pukul 12, maka aku tidak akan pernah menghubungimu lagi. Seenaknya saja kau memintaku untuk selalu menghubungimu setiap kali aku berpergian. Jangan menuntutku untuk melakukan semua keinginanmu disaat kau sendiri bahkan tidak menepatinya. Dasar Cho Kyuhyun bodoh! Aku tidak menyukaimu!” kata Taemin dengan nada bicara yang digunakan oleh Hyesoo beberapa saat yang lalu. Akibatnya, Kyuhyun memukul pelan perut Taemin setelahnya.

.

“Kau mengatai aku bodoh? Beraninya kau, Lee Taemin”, kata Kyuhyun.

.

“Anda meminta saya untuk mengatakan pesan yang diberikan oleh istri anda. Saya hanya melakukan perintah anda, Direktur. Kenapa anda justru memukul saya?” protes Taemin.

.

“Kau ‘kan bisa mengatakannya menggunakan posisimu sebagai orang ketiga. Ch… Michin nom…” kata Kyuhyun.

.

Taemin tersenyum setelah Kyuhyun kembali berbalik menghadap ke depan. Taemin tahu bahwa atasannya ini tidak sedang benar-benar marah padanya. Ia juga tahu bahwa sebenarnya suasana hati Kyuhyun sudah membaik setelah mendengar pesan yang ditinggalkan oleh Hyesoo untuknya. Karena sebelum meninggalkan ruangan, Kyuhyun sempat mengatakan bahwa ia sangat merindukan Hyesoo. Tentu saja Taemin tahu kata ganti orang mana yang harus ia gunakan untuk menyampaikan pesan yang diberikan padanya. Taemin hanya ingin sedikit menghibur atasannya yang sedang moody itu. Meski setelahnya ia harus menerima tinju dari Kyuhyun.

.

Sesampainya di ruangan kamar, Kyuhyun segera menghubungi Hyesoo sesuai dengan permintaan Hyesoo, sebelum pukul 12. Kyuhyun menyentuh panel speaker di layar ponselnya, untuk mengurangi risiko telinganya yang mungkin akan menjadi panas jika Hyesoo membentaknya. Ternyata benar dugaan Kyuhyun. Sesaat setelah telepon itu tersambung, Hyesoo langsung melontarkan bentakannya pada Kyuhyun. Sebagian besar ucapan Hyesoo berisikan kemarahannya pada Kyuhyun yang belum menghubunginya hari itu sejak pagi. Hyesoo juga mengatakan bahwa Kyuhyun adalah penyebab hilangnya nafsu makan Hyesoo. Kemarahan Hyesoo belum berakhir bahkan saat menit ke lima sudah berlalu. Sepanjang hubungan telepon, Kyuhyun lebih banyak diam mendengarkan ucapan Hyesoo. Saat ini ia sedang berperan sebagai suami yang melakukan kesalahan berat karena tidak menghubungi istri yang tampaknya sedang tidak dalam suasana hati yang baik.

.

Tiba-tiba Kyuhyun melonjak dari sofa saat mendengar nada bicara Hyesoo yang mereda. Nada manja yang biasa digunakan Hyesoo saat sedang merasa lelah atau bosan mulai terdengar melalui speaker. Ungkapan kerinduan Hyesoo pada Kyuhyunpun menyertai setelahnya. Mendengar itu, Kyuhyun segera menyentuh panel speaker sekali lagi sambil memberikan sinyal pada Taemin dengan tangannya, meminta Taemin meninggalkan ruangan. Namun, Taemin justru menuliskan pada sebuah kertas, ‘Saya harus melakukan pekerjaan saya, Direktur’. Hal itupun membuat Kyuhyun jengkel padanya. Kyuhyun melempar sebuah bantal sofa tepat ke kaki Taemin, mengusir Taemin dari hadapannya. Taemin tertawa kecil setelah menerima perlakuan kekanakan dari atasannya itu. Ia baru akan pergi saat Kyuhyun menjentikkan jarinya, menyuruh Taemin mengembalikan batal sofa yang dilemparnya itu kembali ke tempatnya semula. Taeminpun melempar pelan bantal itu ke spot kosong tepat disisi kanan tubuh Kyuhyun. Ia segera berlari cepat keluar dari ruangan sebelum Kyuhyun kembali melemparkan bantal itu padanya.

.

.

.

Keesokkan harinya

Shinsung Hospital

.

Hyesoo kembali menghabiskan malam di Rumah Sakit. Bukan karena ia harus menangani sebuah operasi, tapi karena ia tidak ingin kembali ke rumah yang terlampau sunyi. Suasana rumahnya memang tidak benar-benar sepi, karena masih ada beberapa pegawai rumah tangga, petugas keamanan dan pengurus taman serta supir yang tinggal disana. Namun, Hyesoo tidak terlalu suka berada di rumah saat Kyuhyun sedang bekerja diluar kota. Suasana Rumah Sakit yang terkadang sangat ramai justru menjadi lebih nyaman bagi Hyesoo. Setelah menikah dengan Kyuhyun, Hyesoo tidak terbiasa dengan kesendiriannya. Padahal sebelumnya Hyesoo bisa menghabiskan waktu berhari-hari di rumah tanpa merasa tidak nyaman sedikitpun.

.

Kyuhyun baru saja melakukan tugasnya untuk menghubungi Hyesoo hari ini. Kyuhyun memberitahukan setiap jadwal yang dimilikinya selama satu hari penuh. Hyesoo merasa senang sekaligus sedikit kesal setelah mendengarnya. Hyesoo senang karena Kyuhyun memberikan kabar padanya. Namun, Hyesoo juga merasa kesal karena dengan padatnya jadwal Kyuhyun, maka waktu untuk berkomunikasi dengannya akan berkurang, bahkan cenderung menuju hilang. Suasana hati Hyesoo kembali menjadi tidak menentu karena hal itu. Ia sudah melakukan beberapa hal untuk menanganinya. Salah satunya dengan makan cokelat yang dibelinya di minimarket kemarin malam. Namun, suasana hatinya tetap tidak menunjukkan perubahan. Hyesoo kembali berpikir untuk mengunjungi UGD meski hari ini belum ada panggilan satupun untuknya.

.

Hyesoo berjalan menyusuri koridor dengan kedua tangan berada didalam saku jubah putihnya. Ia berjalan melewati barisan bangku didepan poli yang sudah dipadati oleh pasien yang datang. Banyaknya orang di tempat itu membuat Hyesoo sedikit kesulitan untuk melewatinya. Hingga salah seorang wanita muda yang berpapasan dengannya menghentikan langkahnya. Aroma parfum yang dikenakan oleh wanita itu membuat kening Hyesoo berkerut, memunculkan lekukan dalam disana. Tiba-tiba, pusing menghampiri Hyesoo. Rasa mualpun tidak dapat dihindari olehnya. Hyesoo segera berlari menuju toilet terdekat yang bisa diraihnya saat rasa mual semakin menyiksanya. Hyesoo memuntahkan isi perutnya di toilet, sebagian besar air karena Hyesoo belum makan apapun sejak pagi. Setelahnya, Hyesoo keluar dari bilik toilet untuk membersihkan mulutnya dan mencuci muka di wastafel. Kemudian, Hyesoo meraih tisu untuk mengeringkan wajahnya, sebelum ia merasa yakin untuk keluar dari sana.

.

Hyesoo dikejutkan oleh Kangjun yang berdiri bersandar didinding dekat pintu toilet wanita. Kangjun memberikan botol air mineral ditangannya pada Hyesoo yang masih mengeringkan jejak air diwajah dan tangannya. Hyesoo menerima botol itu setelah membuang bekas tisu ditangannya. Hyesoo membuka tutup botol yang ternyata sudah dibuka terlebih dahulu oleh Kangjun, kemudian mengalirkan cairan bening itu ke tenggorokannya yang terasa panas sehabis muntah. Keduanya berjalan bersama disepanjang koridor. Belum ada pembicaraan apapun yang terjadi diantara mereka. Hingga Kangjun menyentuh lengan Hyesoo untuk menghentikan langkah Hyesoo. Kemudian Kangjun menarik tangan Hyesoo, membawa Hyesoo agar ikut dengannya masuk kedalam ruangannya yang berada disisi kanan koridor. Kangjun menarik salah satu kursi untuk mempersilahkan Hyesoo duduk. Setelahnya, ia bersandar pada meja kerjanya, menghadap pada Hyesoo yang menatapnya dengan ekspresi penuh pertanyaan diwajahnya.

.

“Aku sudah memperhatikanmu selama beberapa hari, Lee Hyesoo. Sikap, perilaku, ekspresi, emosi, gerak tubuh dan nada bicaramu. Aku memperhatikannya satu persatu untuk menguatkan dugaanku. Hingga aku sampai pada kesimpulan bahwa kau tidak sedang baik-baik saja, dalam arti yang baik”, kata Kangjun yang melipat tangannya didepan dada.

.

“Aku baru saja muntah, Seo Kangjun. Aku menduga kau juga mengetahuinya. Tentu aku tidak baik-baik saja. Tapi, ini baru terjadi satu kali. Aku tidak pernah sampai muntah sebelumnya”, kata Hyesoo.

.

“Aku menggarisbawahi kalimat yang kau ucapkan. ‘Aku tidak pernah sampai muntah sebelumnya’. Jadi, aku menduga sebelumnya kau sudah mengalami gejala yang mungkin dapat menyebabkan muntah jika menjadi lebih parah. Benar?” tanya Kangjun.

.

“Benar. Aku melewatkan sarapanku beberapa hari belakangan. Aku selalu mual dan tidak nafsu makan”, jawab Hyesoo.

.

“Dan kau masih tidak melakukan pemeriksaan apapun?” tanya Kangjun.

.

“Aku bahkan baru benar-benar menyadarinya kemarin, Kangjun-ah. Lee Jinki dan Kang Soyu memberitahukan gejala yang mereka temukan kemarin. Aku terlalu sibuk untuk menyadari semua itu sebelumnya”, jawab Hyesoo.

.

“Kau sudah mencoba periksa dengan test pack?” tanya Kangjun lagi.

.

Hyesoo menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Kangjun. “Aku butuh hasil yang lebih akurat”, kata Hyesoo setelahnya.

.

“Aku bisa melakukan pemeriksaan padamu. Aku seorang dokter kandungan, kau ingat?” kata Kangjun.

.

Oh, no… Aku lebih memilih seorang dokter perempuan untuk memeriksaku”, tolak Hyesoo.

.

“Kenapa? Kau meragukan kemampuanku?” tanya Kangjun.

.

“Tidak sama sekali. Aku hanya menghindari situasi rumit yang mungkin terjadi setelahnya. Mengingat suamiku adalah seorang pria pencemburu, bahkan pada kakak laki-lakiku”, jawab Hyesoo dengan tawa kecilnya.

.

“Hhh… Baiklah, aku mengerti. Jadi, kapan haid terakhirmu?” tanya Kangjun.

.

“Hm… Satu bulan yang lalu, kurasa. Pikiranku sedikit kacau karena Kyuhyun sering berpergian untuk bekerja di luar negeri. Jika aku tidak salah menghitung, seharusnya aku hanya terlambat haid selama satu minggu bulan ini”, jawab Hyesoo tidak yakin dengan ucapannya.

.

“Kau yakin? Tapi, Hyesoo-ya, entah kenapa aku justru memikirkan kemungkinan lain saat ini”, kata Kangjun.

.

“Kemungkinan lain? Apa?” tanya Hyesoo.

.

“Apakah kau yakin kau hanya terlambat selama satu minggu? Bukan satu bulan?” Kangjun balas bertanya, mengutarakan dugaannya. “Saat pertama kali aku tiba di Rumah Sakit ini, bukankah saat itu suamimu baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya ke New York selama satu bulan? Itu berarti kau tidak berhubungan dengannya selama satu bulan. Apakah kau mengalami haid selama itu? Ini mudah, Hyesoo-ya. Seharusnya kau haid beberapa hari setelah keberangkatannya. Were you? (Apakah kau [mengalami haid]?)” sambung Kangjun.

.

Damn……” kata Hyesoo dengan suara pelan yang masih bisa didengar oleh Kangjun.

.

You were not (kau tidak). Kasus ditutup”, kata Kangjun sambil menepuk tangannya satu kali. “Apa kau masih ingin memastikannya? Aku bisa mengantarmu menemui salah seorang temanku. Aku berani bertaruh satu juta Won dia akan mengatakan bahwa kau sedang hamil”, sambung Kangjun.

.

Oh my God…” Hanya itu yang dapat dikatakan oleh Hyesoo karena keterkejutannya.

.

“Apa makna dibalik ‘oh my God‘ yang kau ucapkan itu? Baik atau buruk? Kesedihan atau kebahagiaan? Aku tidak bisa mengartikan nada bicaramu sama sekali”, kata Kangjun yang mengerutkan keningnya.

.

Hyesoo tersenyum lebar setelahnya. Ia menutup bibirnya dengan kedua tangan untuk menyembunyikan tawa kecil ungkapan kebahagiaannya. Matanya tampak berkaca-kaca dan ekspresi wajahnya begitu bahagia. Warna pucat pasi yang sebelumnya terlihat diwajah tirus Hyesoo berubah menjadi berseri merah muda. Kebahagiaan itu sontak menular pada Kangjun yang masih menatap Hyesoo. Tawa juga menghampiri Kangjun. Namun, tawa itu lebih mengungkapkan perasaannya yang menganggap reaksi Hyesoo sangat aneh dan berbeda dari para wanita hamil yang datang berkonsultasi padanya.

.

“Apakah temanmu seorang perempuan?” tanya Hyesoo saat tawanya mereda.

.

“Wanita dengan dua anak”, ralat Kangjun.

.

“Apakah dia bekerja di Rumah Sakit ini?” tanya Hyesoo.

.

“Tidak. Dia mempunyai kliniknya sendiri di daerah Yongsan. Aku bisa mengantarmu kesana jika kau mau”, jawab Kangjun.

.

“Sore ini?” tanya Hyesoo.

.

“Sore ini?” Kangjun mengembalikan pertanyaan Hyesoo yang mengangguk cepat dengan bersemangat. “Baiklah, sore ini. Aku akan menghubunginya”, sambung Kangjun.

.

“Baiklah. Aku harus ke ICU untuk memeriksa pasienku. Kita bertemu lagi nanti”, kata Hyesoo yang lantas bangkit berdiri.

.

“Kau tidak ingin memberitahu suamimu terlebih dahulu?” tanya Kangjun.

.

“Hm… Aku akan memastikannya terlebih dahulu. Lagipula kupikir lebih baik memberitahunya saat ia sudah kembali ke Seoul”, jawab Hyesoo. “Dan, jangan beritahu siapapun tentang ini. Aku ingin Kyuhyun menjadi orang pertama yang mengetahuinya”, sambung Hyesoo.

.

“Aku orang pertama yang mengetahuinya, babo-ya. Lalu, masih ada temanku yang akan memeriksamu nanti. Dokter Lee Jinki dan dokter Kang Soyu juga sudah menduganya kemarin. Suamimu tidak akan pernah menjadi yang pertama”, kata Kangjun sambil tertawa kecil.

.

Oh, shut up! Kalian semua adalah dokter. Jangan menyamakannya”, protes Hyesoo yang ikut tertawa.

.

“Baiklah, aku mengerti. Rahasia. Sekarang pergilah, selesaikan pekerjaanmu dan segera istirahat. Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu”, kata Kangjun.

.

Okay. Bye, handsome Jun. Love you”, kata Hyesoo saat meraih gagang pintu.

.

Love you too. Take care, beautiful”, balas Kangjun.

.

.

.

Kyuhyun’s POV

Satu minggu kemudian

.

Sungguh dua minggu yang menguras energi. Aku harus merelakan diriku bertahan berada diluar Seoul selama dua minggu penuh untuk menyelesaikan pekerjaanku. Rasanya aku baru saja melalui hari-hari berlangit kelabu. Aku tidak sedang bersikap kekanakan, atau berlebihan. Aku baru saja kembali ke Seoul setelah berpergian ke New York selama satu bulan. Setelahnya aku hanya memiliki kurang dari 72 jam untuk bersama Hyesoo. Sesaat aku merasa kurang beruntung karena tidak memiliki saudara kandung lain dalam keluargaku. Mungkin aku harus memikirkan beberapa kemungkinan setelah ini. Tidak ada salahnya untuk mencari orang kepercayaan yang bisa melakukan pekerjaan diluar Seoul. Mobil yang dikemudikan oleh Baekhyun tiba di pelataran Rumah Sakit saat pembicaraan dalam pikiranku sampai di garis akhir. Seseorang diluar sana membukakan pintu mobil untukku sambil menyapaku dengan ramah. Aku membalasnya dengan senyuman paling tulus yang dapat kuberikan padanya –meski aku tidak yakin jika senyumanku ini terlihat tulus.

.

Akupun segera berjalan masuk ke lobby utama Rumah Sakit bersama Lee Taemin yang berjalan satu langkah dibelakangku. Aku berjalan secepat yang kubisa, membalas salam setiap karyawan Rumah Sakit dengan senyum tipis dan anggukkan singkat. Aku bahkan tidak benar-benar tahu keberadaan Hyesoo saat ini. Aku juga tidak berpikir untuk bertanya pada siapapun. Aku berbelok ke kiri dipersimpangan pertama, berjalan menuju tujuan pertamaku, UGD. Semua orang terlihat sangat sibuk disana. Aku bertanya pada seorang perawat –yang kurasa masih baru di Rumah Sakit ini– tentang keberadaan Hyesoo. Ia benar-benar masih baru disini. Tapi, beruntung karena ia mengenal Hyesoo dengan baik. Perawat itu mengatakan Hyesoo belum datang ke UGD sejak pagi. Akupun segera mengambil langkah seribu keluar dari UGD. Aku tidak ingin menghabiskan waktuku dengan menaiki lift untuk menuju ke lantai 2 dimana ruangan Hyesoo berada. Aku memilih eskalator sebagai caraku sampai keatas. Meski lebih melelahkan, paling tidak aku bisa bergerak, tidak berdiam diri saja diruang tertutup rapat.

.

Aku mempercepat langkahku saat tiba di lantai 2. Langkahku semakin cepat saat berjalan di koridor yang tidak terlalu ramai. Aku membuka pintu ruangan Hyesoo tanpa ingin bersusah payah mengetuk terlebih dahulu. Aku hanya perlu meminta maaf jika sedang terjadi pertemuan penting didalam sana. Namun, yang kutemukan hanyalah ruangan kosong tanpa pemiliknya. Aku menghela napas panjang karena hal itu, seketika merasa khawatir karena tidak dapat menemukan Hyesoo dimanapun. Lee Taemin baru tiba saat aku menutup pintu dibelakangku. Akhir-akhir ini gerakannya menjadi semakin lambat. Atau kondisi kesehatannya sedang tidak baik? Entahlah. Aku akan memikirkannya nanti, setelah aku menemukan Hyesoo.

.

Aku kembali memilih eskalator untuk menuju ke lantai 3. Aku menduga mungkin saja Hyesoo berada di bangsal bedah saraf saat ini, melakukan visite-nya. Kali ini Lee Taemin bisa menyamakan langkahku. Aku melebarkan langkahku agar dapat secepat mungkin tiba disana. Hingga ketenangan menghampiriku saat kedua mataku menangkap cahaya terang yang terpancar dari tempat tujuanku. Pintu utama bangsal bedah saraf mengundang sebuah senyuman keluar, muncul dibibirku. Salah seorang perawat yang baru saja keluar dari bangsal menahan pintu untukku sambil memberikan salamnya. Sayangnya aku tidak bisa bertanya padanya, karena ia terlihat sedang terburu-buru. Akupun berjalan masuk ke dalam bangsal, menyusuri lorong menuju meja utama, meninggalkan pintu yang terbuka pada Lee Taemin untuk menutupnya. Sapaan dan senyuman ramah perawat yang berada di nurse station menyambutku, mengajakku membalas sapaan itu dengan keramahan yang serupa. Seorang perawat baru lainnya. Kuharap dia juga mengenal Hyesoo dengan baik.

.

“Selamat pagi, Direktur. Ada yang bisa saya bantu?” tanya perawat itu dengan ramah. Well, dia mengenalku.

.

“Apakah dokter Lee sedang melakukan visite-nya?” tanyaku.

.

“Maaf, Direktur?” tanya perawat itu, merasa kurang jelas dengan pertanyaanku. Sial! Aku sedang tidak dalam suasana hati yang baik untuk mengulangi pertanyaanku dua kali. Tanpa sadar, aku menghela napas kasar, merasa frutrasi dengan ketidaktahuannya. Memangnya ada berapa dokter Lee yang bertugas di bangsal ini?

.

“Selamat pagi, Direktur Cho. Bisakah saya mengambil alih untuk membantu anda?” tanya perawat Kim yang datang setelah menangkap situasi tidak menyenangkan yang sedang kuhadapi. “Saya harap saya bisa membantu anda, tapi sayangnya dokter Lee belum melakukan visite-nya hari ini, Direktur. Apakah anda sudah mencari di ruangan beliau?” tanya perawat Kim lagi. Lihat dan perhatikan caranya bekerja, perawat baru!

.

 

“Tidak ada siapapun disana. Begitu pula di UGD”, jawabku dengan nada datar yang keluar dari suara rendahku.

.

“Mungkin dokter Lee sedang berada di ruangan dokter Seo, Direktur”, kata perawat Kim memberikan pendapatnya padaku.

.

“Dokter Seo Joohyun?” tanyaku ragu.

.

“Bukan, Direktur. Yang saya maksud adalah dokter Seo Kangjun”, jawab perawat Kim.

.

Siapa lagi kali ini? Kenapa banyak sekali orang baru yang berdatangan selama kepergianku. Seo Kang Jun? “Seorang dokter laki-laki?” tanyaku setelah menyadarinya.

.

“Benar, Direktur”, jawab perawat Kim yang terlihat sedikit mengerutkan keningnya.

.

“Siapa dia? Aku tidak pernah mendengarnya”. Aku sangat menyadari nada menjengkelkan yang mengiringi pertanyaanku itu. Aku harap perawat Kim tidak berpikir bahwa aku sedang meluapkan amarahku padanya.

.

“Dokter Seo Kangjun adalah salah satu dokter yang mengikuti program pertukaran dokter dalam kerjasama Shinsung Hospital dengan Greendale Hospital di Swiss. Beliau sudah bertugas di Shinsung selama dua minggu terakhir. Beliau merupakan dokter dengan kemampuan yang sangat baik dalam bidangnya”, Lee Taemin menyela ditengah pembicaraanku dengan perawat Kim.

.

“Kau mengetahuinya dan tidak memberitahuku?” protesku pada Lee Taemin yang menunjukkan ekspresi santainya padaku. Bocah ini benar-benar tidak bersimpati padaku sedikitpun.

.

“Setiap nama dokter yang mengikuti program itu disebutkan dalam rapat direksi yang anda hadiri dua minggu yang lalu, Direktur”, kata Taemin memberikan penekanan dalam setiap kata yang ia katakan padaku, membuatku menoleh cepat padanya. Dia sedang mengolokku rupanya. Dan dia kembali tersenyum. Kau akan berurusan denganku, Lee Taemin.

.

“Untuk apa Hyesoo datang ke ruangannya?” tanyaku pada perawat Kim, melupakan posisi Hyesoo di Rumah Sakit ini. Aku sedang mencari istriku saat ini, bukan dokter bedah saraf Lee Hyesoo. Perawat muda yang masih berada disamping perawat Kim menundukkan kepalanya dengan canggung saat mengetahui dokter Lee mana yang sedang kucari. Ingat itu baik-baik, nona! Hanya ada satu dokter Lee yang akan secara langsung kutemui di ruangan ini.

.

“Saya kurang tahu tentang hal itu, Direktur. Saya hanya menerima pesan dari dokter Lee yang meminta saya untuk mencoba menghubungi ruangan dokter Seo jika tidak bisa menemukan dokter Lee dimanapun”, jawab perawat Kim.

.

“Jadi, ini bukan kali pertama Hyesoo menemuinya?” tanyaku lagi. Aku mulai terdengar seperti seorang pria yang sangat pencemburu. Aku harus menenangkan diriku.

.

“Saya juga tidak dapat membantu anda akan pertanyaan itu, Direktur”, jawab perawat Kim dengan senyum ramah khasnya.

.

Aku memejamkan mataku selama beberapa saat, lalu mengindari tatapan siapapun saat kembali membukanya. Aku kembali menghembuskan napas dengan kasar tanpa kusadari. Kedua tanganku mencengkram kuat pinggiran meja dihadapanku. Lee Taemin menyentuh pelan lenganku, membuatku menoleh cepat padanya. Lee Taemin memberikan senyum tipisnya padaku, seolah sedang mengingatkan untuk menjaga sikapku dan menahan amarahku yang dirasakan begitu familiar olehnya. Aku kembali menghela napas, kali ini lebih teratur dari sebelumnya. Senyum diwajah Lee Taemin menjadi lebih lebar karenanya. Aku tidak mempedulikannya. Pria muda ini terlalu ceria untuk kuhadapi. Suasana hati kami sedang tidak seirama, hanya akan membuatku kesal jika menanggapinya.

.

“Terima kasih atas informasinya, perawat Kim”, kali ini aku tulus berterimakasih padanya. Ia memang sudah cukup membantuku. Aku berusaha untuk memberikan senyumku padanya. Kuharap perawat Kim menyadari ketulusanku.

.

“Tidak perlu sungkan, Direktur Cho. Saya senang dapat membantu anda”, balas perawat Kim dengan keramahan yang belum meninggalkan wajahnya.

.

Aku segera meninggalkan meja besar ditengah bangsal itu sesaat setelahnya. Lee Taemin memberitahukan letak ruangan dokter baru itu padaku ditengah perjalanan kami. Derap langkahnya terdengar seirama denganku diposisinya yang berada tepat satu langkah dibelakangku. Akupun berjalan menuju sisi lain gedung, masih dilantai yang sama. Aku harus melihat secara langsung siapa dokter Seo yang sudah menyembunyikan Hyesoo dariku. Hyesoo bahkan tidak hanya satu kali berkunjung ke ruangannya. Kuharap tujuannya berada disana untuk membahas apapun mengenai pekerjaan, tidak lebih. Aku berusaha keras menyingkirkan dugaan tidak berdasar lainnya dari kepalaku.

.

Hingga langkahku terhenti dipersimpangan koridor. Kedua mataku menangkap sosok Hyesoo yang baru saja keluar dari sebuah ruangan, diikuti oleh seorang pria yang juga mengenakan jubah putih sepertinya. Senyuman riang tergambar diwajah keduanya. Bahkan tawa kecil muncul setelahnya. Usaha untuk tetap menjaga pikiranku tetap berada dalam lingkaran sepertinya akan melebur dalam waktu singkat. Mereka berdua terlihat terlalu dekat untuk ukuran sebuah hubungan profesional yang baru berjalan selama dua minggu. Hyesoo dan Lee Jinki bahkan membutuhkan waktu satu bulan untuk terlihat sedekat itu. Dalam diam, aku merasakan debaran jantungku yang semakin memacu. Rahangku terkatup kuat saat melihat pria yang bernama Seo Kangjun itu menyentuh tangan Hyesoo dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. Aku segera berbalik meninggalkan tempat itu sebelum kemarahanku menyeruak keluar dari tubuhku. Keceriaan dan ketenangan Lee Taemin menghilang seketika. Ia berjalan dengan sikap waspada dibelakangku.

.

“Awasi pria itu. Jika setelah hari ini dia masih berani menyentuh Hyesoo, segera laporkan padaku”. Aku memberikan perintah yang tidak dapat terulang pada Lee Taemin. Aku tidak akan pernah menarik perintahku.

.

“Apakah anda ingin saya memeriksa latar belakangnya juga, Direktur?” tanya Lee Taemin dengan sikap sigapnya, mengajukan pendapat yang cukup masuk akal untuk situasi seperti ini.

.

“Aku tidak tertarik untuk melakukannya”, kataku menjawab pertanyaannya. Saat ini aku hanya ingin menjauhkannya dari Hyesoo. Aku tidak peduli akan identitas pria itu. “Aku akan menunjukkan padanya apa yang akan terjadi jika dia berani menyentuh yang bukan miliknya”.

.

.

.

Hyesoo’s POV

Kyuhyun’s Mansion

Saat hari sudah beranjak malam

.

Hari ini terasa begitu melelahkan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Aku tidak benar-benar mengetahui apakah rasa lelah ini hanya berasal dari sugestiku saja, atau memang karena aku melakukan terlalu banyak kegiatan hari ini. Jika aku tidak salah mengingat, aku tidak menangani terlalu banyak operasi. Pasien yang harus kukunjungi untuk follow up juga tidak sebanyak biasanya. Beberapa pasien sudah kembali ke rumah mereka –aku bersyukur untuk hal itu. Sesaat aku berpikir mungkin rasa lelah ini menjadi lebih kurasakan karena masa kehamilan yang sedang kulalui. Sontak kusentuh permukaan perutku setelah pikiran itu menghampiriku. Bolehkah aku menggunakan alasan itu, baby? Senyum terkembang diwajahku hanya dengan memikirkannya saja. Aku sering melakukannya akhir-akhir ini. Bicara dengannya yang bahkan tidak bisa menjawabku. Namun, aku yakin bayiku mendengar suaraku dengan senang hati.

.

Aku langsung teringat ucapan perawat Kim yang memberitahukanku perihal kedatangan Kyuhyun ke bangsal. Kyuhyun sudah kembali ke Seoul, tapi ia tidak memberitahuku. Cho Kyuhyun dan kebiasaannya. Ia selalu berhasil membuatku pusing karena rasa frustrasi yang kualami akibat menghadapi sikapnya. Setelah menerima kabar kedatangannya, aku segera bergegas menuju ke ruangannya. Namun, ia tidak berada disana, begitu pula dengan Lee Taemin. Aku juga sudah mencoba untuk menghubunginya beberapa kali. Ponselnya tidak dapat dihubungi. Aku menyerah saat memikirkan kemungkinan jadwalnya yang disibukkan oleh banyaknya pekerjaan. Oh, aku merindukannya. Aku menghabiskan 10 sampai 20 menitku di kamarnya siang ini. Kyuhyun sempat mampir kesana untuk mengganti pakaiannya. Aku menemukan jasnya yang masih tergeletak begitu saja diranjang. Aroma tubuhnya begitu tercium dari jas yang sepertinya sudah ia kenakan sejak berangkat dari Jeju. Selama dua minggu kepergiannya, aku tidak pernah menghabiskan waktu satu haripun tanpa mengunjungi ruangannya. Setiap malamku tanpanya kulewati dengan mengenakan pakaiannya untuk tidur. Karena dengan begitu aku merasa seolah ia bersamaku. Memeluk erat tubuhku, menyentuh lembut permukaan kulitku, dan mencium puncak kepalaku seperti yang selalu ia lakukan.

.

Mataku sontak terbuka karena pikiran akan Kyuhyun yang kembali menghampiriku. Senyum mengembang dibibirku saat aku menyadari mobil yang dikemudikan oleh Kang ahjussi sudah memasuki pelataran rumah. Aku bersorak riang dalam keheninganku. Suara teriakan bersemangatku sudah memenuhi seluruh sisi kepalaku. Aku akan bertemu dengan Kyuhyun hanya dalam waktu beberapa menit saja. Namun, seketika keraguan menghampiriku. Hari ini setelah kedatangannya, aku bahkan tidak bisa menemukannya disisi manapun di Rumah Sakit. Hatiku tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya akan keberadaan Kyuhyun saat ini. Aku khawatir Kyuhyun tidak akan berada di rumah saat ini. Jadwalnya sangat padat beberapa bulan terakhir. Ia tidak mempunyai waktu senggang yang cukup untuk sekedar berada di rumah bersamaku. Sejenak pikiran itu menggangguku dan meredupkan semangat yang sempat muncul dalam diriku.

.

Kang ahjussi membukakan pintu untukku saat aku masih terperangkap dalam kekhawatiran dalam pikiranku. Bahkan senyum yang diberikan olehnya tidak mampu meredakan kekhawatiran itu. Aku rasa aku terlalu merindukan Kyuhyun. Aku tidak benar-benar siap untuk menerima kenyataan bahwa ia tidak berada di rumah seperti harapanku. Aku sudah terlalu merindukannya hingga tidak ingin kekecewaan itu menghampiriku sedikit saja. Seolah mengetahui kerisauan yang kurasakan, Kang ahjussi mendekat padaku, membuatku menoleh padanya sesaat setelahnya. Kang ahjussi kembali tersenyum ramah padaku, senyum yang tidak kumengerti maksud dibaliknya. Senyum itu mengembang karena kebingungan yang tergambar jelas diwajahku. Kang ahjussipun melangkah mundur sambil mengarahkan tangannya ke sisi kiri tubuhnya. Aku mengerutkan keningku karena bingung dengan sikapnya. Aku baru menyadarinya saat Kang ahjussi menjulurkan tangannya, menunjuk kearah sebuah mobil yang diparkirkan beberapa meter didepan mobil yang baru saja membawaku pulang ke rumah. Ternyata Kang ahjussi menunjukkan padaku bahwa Kyuhyun berada di rumah. Sontak senyum lebar menghampiriku, yang kemudian menular padanya.

.

Aku berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat. Aku harus segera bertemu dengan pria yang selalu membuat emosiku meningkat itu. Cho Kyuhyun tidak menghubungiku saat kembali ke Seoul bahkan disaat aku sedang sangat menunggunya. Jika aku yang melakukan hal itu, Kyuhyun pasti sudah sangat marah padaku. Aku ingin sekali melakukan hal yang selalu dilakukan olehnya, marah besar padanya. Namun, kerinduan yang kurasakan jauh lebih besar dari amarahku. Aku hanya ingin menghambur ke pelukannya saat ini. Aku ingin menghirup aroma menenangkan yang kusukai langsung dari sumbernya. Aku ingin merasakan panas tubuhnya. Aku bahkan merindukan setiap kata yang keluar dari bibir jahatnya. Bibir itu bisa melakukan hal luar biasa lainnya. Oh… Seketika aku merasakan ribuan kupu-kupu berterbangan dalam perutku. Aku percaya hormonku yang sedang mengendalikanku saat ini. Dan, pria itu ada disana. Berdiri tidak jauh dari meja bar dapur. Langkahku terhenti saat melihat punggung tegap itu berada beberapa meter dihadapanku. Kemeja hitamnya sudah keluar dari celana abu-abunya. Kedua lengannya sudah tergulung hingga keatas sikunya. Aku percaya dua kancing teratasnya sudah terbuka, memperlihatkan kulit putih dan tulang selangka yang menonjol dibaliknya. Rambut belakangnya terlihat sedikit berantakan, seolah ia sudah meremasnya beberapa kali dengan jari-jari panjangnya. Aku harap Kyuhyun tidak mengenakan kemeja itu untuk bertemu dengan klien perempuan. Karena aku akan menjadi sangat marah jika ia benar-benar melakukannya.

.

Tiba-tiba, Kyuhyun berbalik kearahku. Ekspresinya datar, bibir atas dan bawahnya terpisah dengan jarak yang sangat kecil. Aku ingin melesakkan bibirku disana. “Kau sudah pulang?” tanya Kyuhyun dengan nada datar. Apa ini? Tanpa senyuman? Benarkah, Cho Kyuhyun?

.

“Ada apa denganmu?” Aku berjalan mendekat padanya. Ia tidak segera menjawab pertanyaanku. Kyuhyun justru kembali berbalik untuk meraih gagang lemari es. Ia mengeluarkan jus jeruk, kemudian menuangkannya ke sebuah gelas sebelum diberikan padaku.

.

“Ini. Minumlah. Kau pasti lelah”, katanya kali ini, masih tanpa ekspresi yang menyenangkan diwajahnya. Apakah dia juga sedang merasa lelah? Pikiran itu menggangguku selama beberapa saat. Oh, aku mohon jangan lelah malam ini.

.

“Terima kasih”, jawabku sambil menerima gelas dari tangannya.

.

Aku meminum jus jeruk yang diberikan oleh Kyuhyun tanpa melepas tatapanku darinya. Kyuhyun melakukan hal yang sama denganku. Tatapannya mengunci padaku dengan intensitas yang berbeda. Tentu saja. Ia sedang memastikan aku menghabiskan jus jerukku, seperti yang selalu dilakukannya. Aku memberikan gelas kosong ditanganku padanya setelah semua isi gelas masuk ke dalam perutku. Aku hampir melupakan bayiku karena terlalu fokus pada sosok pria dihadapanku. Kuharap kau menyukai rasa jus itu, baby. Kyuhyun meletakkan gelas kosong itu di bak pencuci piring sebelum kembali menatapku. Kini sebuah kerutan tergambar dikeningnya, membuatku ingin segera menghapusnya. Dengan bibirku… Aku berdeham pelan menyingkirkan pikiran yang sepenuhnya dipengaruhi oleh hormonku saat ini.

.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Kyuhyun bingung.

.

“Ada apa dengan ekspresimu?” Aku balas bertanya padanya tanpa ingin menjawab pertanyaannya.

.

“Aku baik-baik saja. Ini bukan kali pertama bagimu melihat ekspresi ini diwajahku”, jawab Kyuhyun. Ada apa dengan kondisi emosinya saat ini? Meski dengan kondisi emosi tidak menentunya ini, aku tetap menginginkannya.

.

“Aku sedang tidak ingin melihat ekspresi ini diwajahmu”, kataku jujur. Sebelum ia kembali membalasku dengan ucapannya yang mungkin akan terdengar sarkastik, aku menghentikannya dengan ucapanku. “Tahukah kau betapa aku merindukanmu saat ini? Aku marah padamu karena tidak menghubungiku setelah kembali ke Seoul. Aku juga marah padamu karena berpikir mungkin kau bertemu dengan seorang klien perempuan dengan kemeja hitammu ini. Tapi, aku tidak bisa marah padamu karena saat ini aku lebih merindukanmu”. Dan menginginkanmu…

.

Ekspresi diwajahnya tidak menunjukkan perubahan apapun. Namun kedua tangannya melingkar dipinggangku, mewakili kata yang tidak terucap dari bibirnya. Kyuhyun memelukku erat, bernapas dirambutku, menimbulkan getaran lain dalam diriku. Darahku berdesir kencang saat menerima sentuhan lembutnya. Ia merengkuh tubuhku kuat, seolah sedang memiliku untuk dirinya sendiri. Kyuhyun menarik diri dariku saat kedua tanganku baru saja ingin menyentuh punggungnya. Kedua matanya menatapku, mengungkapkan kerinduan yang sama dengan yang kurasakan padanya. Bibirnya terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu padaku. Namun tidak ada kata yang kunjung keluar dari bibir itu. Tatapannya yang intens perlahan melemahkanku. Disaat yang sama aku menemukan keraguan dalam dirinya. Ia sedang menimbang tindakan yang bisa ia lakukan. Aku bisa melihatnya dengan jelas dari sorotan matanya. Jangan ragu, Kyuhyun-ah. Aku tidak memberikan ruang padamu untuk meragu.

.

Namun, Kyuhyun benar-benar meragu. Kyuhyun melepaskan sentuhannya ditubuhku perlahan, menimbulkan kekecewaan dalam diriku. Akupun kembali meraihnya. Kulingkarkan kedua tanganku dilehernya, membuat kedua matanya melebar menatapku. Aku menekan bibirku padanya sebelum ia bisa mengatakan apapun yang akan menunda keinginanku. Ia masih berdiri kaku karena menerima tindakan spontanku. Kedua tangannya kembali mendekap tubuhku saat helaan napasku menyentuh permukaan kulitnya. Kyuhyun merengkuh tubuhku, menarik pinggangku mendekat erat ke tubuhnya. Ia membalas ciumanku dengan intensitas yang berbeda. Ada sebuah tuntutan dalam setiap ciuman yang Kyuhyun berikan. Rambut disekujur tubuhku meremang saat menerima sentuhannya. Kupu-kupu yang berterbangan diperutku mulai meningkatkan kecepatan mereka. Darahku berdesir, mengalir ke setiap bagian terkecil tubuhku. Seketika kurasakan udara disekitarku yang berubah panas. Disaat yang sama, Kyuhyun mengangkat tubuhku, menuntun kedua kakiku agar melingkar dipinggangnya. Kyuhyun melepaskan bibirnya dariku, memindahkannya ke dagu, rahang, hingga leherku. Ia menghadiahkan dirinya sebuah desahan panjang yang keluar begitu saja dari bibirku.

.

I want you. Now. Here”, kata Kyuhyun dengan suara seraknya yang begitu menggoda.

.

.

.

.

Aku berjalan di sebuah padang rumput dengan pepohonan rindang disekelilingku. Sinar matahari terlalu terang hingga menyilaukan mataku. Rambutku terurai bebas, menari bersama angin yang berhembus. Aku tidak sendiri disini. Aku bisa mendengar sorak-sorai dari kejauhan. Aku melangkahkan kakiku mendekat pada sumber suara itu. Banyak orang sedang berkumpul disini. Mereka sedang merayakan sesuatu, atau sedang menonton sesuatu. Aku berjalan melewati kerumunan banyak orang. Hingga sebuah lapangan besar membuat kedua mataku membesar. Pertandingan rugby sedang berlangsung. Aku tidak mengenal kedua tim yang sedang bertanding. Namun, aku menikmati suasana yang diberikan oleh pertandingan ini. Begitu banyak kegembiraan dan semangat yang menggebu disekitarku. Tidak lama berselang sorakan disekitarku semakin bergemuruh. Beberapa convety dinyalakan untuk menyemarakan suasana. Akupun menyadari bahwa tim yang didukung oleh orang-orang disekitarku baru saja memenangkan pertandingan. Aku menolehkan kepalaku ke kanan dan kiri, menikmati sukacita diwajah setiap orang yang dapat kulihat. Tiba-tiba seseorang meraih tanganku, mengajakku berjalan bersamanya. Ia berjalan terlalu cepat, sehingga aku harus berlari untuk menyamakan langkahku dengannya. Kami berjalan menuruni tangga, melewati kerumunan orang yang masih bernyanyi riang karena kemenangan yang baru saja terjadi. Aku berusaha tetap memperhatikan langkahku meski sangat sulit untuk dilakukan ditengah keramaian. Namun, tangan itu menggenggamku dengan sangat erat agar aku tidak terjatuh karena berjalan terlalu cepat bersamanya. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena sinar matahari yang terlalu terang mengarah padaku. Aku hanya bisa merasakan sentuhan tangannya yang menggenggamku.

.

Seketika aku merasakan kedekatan yang tidak biasa dari sentuhannya. Seolah aku sudah sangat mengenalnya. Seolah aku bisa bergantung padanya. Saat aku sedang disibukkan dengan pikiranku itu, kakiku sudah menyentuh rerumputan yang basah oleh embun. Aku kehilangan sepatu yang semula kukenakan. Aku ingin memberitahukan hal itu padanya. Namun, sepertinya ia tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti hanya untuk mendengarkanku. Sesaat aku melihat pergerakan lehernya. Ia menoleh padaku. Sebuah senyuman manis dapat tertangkap oleh kedua mataku. Mungkin aku dapat melihat wajahnya dengan jelas jika ia tidak buru-buru memalingkan wajahnya kembali dariku. Perhatianku terpusat olehnya hingga aku tidak menyadari langkah kami yang terhenti. Ia bicara, memintaku untuk berhenti menatapnya. Suara tawa kecilnya membuatku tersenyum hanya dengan mendengarnya saja. Kemudian ia memintaku untuk melihat ke depan. Aku terkejut dengan pemandangan yang tersaji dihadapanku. Birunya laut lepas memukauku. Suara burung-burung yang berterbangan diatasku menambah sensasi yang kurasakan akan kedamaian ini. Deru ombak menarik jiwaku menari bersamanya. Akupun menemukan diriku tertawa bersamanya yang masih menggenggam tanganku. Dinginnya angin yang menyentuh kulitku bahkan tidak dapat membuatku mundur dari tempatku. Aku begitu menikmati setiap hal yang kulihat. Hingga seseorang mendorong tubuhku kuat melewati pagar pembatas. Tubuhku terlempar ke jurang melawan gravitasi. Aku ditinggalkan tanpa genggaman tangannya. Aku dibiarkan terhempas bersama angin, terombang-ambing tanpa tujuan dialam yang tidak kuketahui.

.

Kedua mataku terbuka lebar dengan keterkejutan yang menyelubungiku. Gemetar kurasakan disekujur tubuhku. Keringat membasahi pakaianku. Napasku terengah, seolah aku baru saja lari mengelilingi sungai Han puluhan kali tanpa henti. Aku menatap sekelilingku, menegaskan pandanganku yang terasa kabur beberapa saat yang lalu. Aku masih berada dikamarku. Tidak. Ini bukan kamarku. Suasana dan tata ruangnya berbeda. Kebingungan menyelimutiku selama beberapa saat. Hingga aku menyadari benar keberadaanku. Ini memang kamarku. Kamar yang kutempati bersama Kyuhyun selama hampir dua tahun terakhir. Aku berdeham, lalu mengatur napas, mencoba menenangkan diriku. Aku tidak menyadari salah satu tanganku yang sedang menggenggam erat bed cover yang menyelimuti tubuhku. Aku melepaskan genggaman itu, lalu menatap tanganku dengan tatapan bingung. Genggaman tangan dalam mimpiku terasa begitu nyata. Aku masih bisa merasakan kehangatannya ditelapak tanganku. Aku menggelengkan kepalaku perlahan. Aku hanya bermpimpi. Mungkin Kyuhyun yang menggenggam tanganku erat. Namun, saat kutolehkan kepalaku ke sisi kananku, Kyuhyun tidak ada disana. Oh, tidak. Kenapa aku kembali mengalami mimpi buruk ini?

.

.

.

.

TBC

.

Note:

Annyeonghaseyo, readersnim-deul!

Apakah pertanyaan kalian sudah terjawab di part ini mengenai siapa Bae Suzy dan Seo Kangjun? Jika kalian belum menemukannya, tenang… Kalian mungkin akan menemukannya di part-part selanjutnya. Akhirnya kehamilan Hyesoo sudah dipastikan oleh Kangjun. Adegan Hyesoo yang menemui dokter kandungan (teman Kangjun) sengaja tidak aku jabarkan disini untuk menghemat rangkaian cerita yang hampir memasuki tahap-tahap mengkhawatirkan ini. Ah, jika ada diantara kalian yang bingung dengan perhitungan usia kehamilan Hyesoo, aku akan mencoba menjelaskannya. Yang Kangjun maksud dalam ucapannya adalah mungkin Hyesoo bukan hanya terlambat haid selama satu minggu. Mungkin Hyesoo bahkan lupa kalau dia sudah tidak haid selama 2 bulan. Karena setelah Kyuhyun berangkat ke NY, seharusnya dalam beberapa hari Hyesoo haid. Lalu, saat Kyuhyun kembali dari NY (sebulan kemudian), seharusnya Hyesoo kembali haid. Hyesoo mengira dia hanya tidak haid setelah Kyuhyun pulang dari NY. Hyesoo lupa dengan jadwalnya sebulan yang lalu. Begitu, readersnim. Kalau ada kesalahan dalam penjelasanku, aku minta maaf. *bow

Kyuhyun yang pencemburu mulai memanas di part ini. Kehadiran Seo Kangjun diantara mereka menjadi pemicu munculnya kecemburuan itu. Apakah kecemburuan Kyuhyun akan menimbulkan masalah nantinya? Siapakah Seo Kangjun sebenarnya? Dan, bagaimana hubungannya dengan Hyesoo saat berada di London? Sementara itu, Hyesoo kembali mendapatkan mimpi buruknya setelah dua tahun hidupnya yang tenang. Benar, readersnim. Dikisahkan dalam FF sequel ini, Hyesoo tidak pernah mendapatkan mimpi buruk selama hampir dua tahun terakhir kehidupannya bersama Kyuhyun. Namun, tiba-tiba mimpi itu justru kembali disaat Hyesoo sedang sangat bahagia dengan kehadiran bayi dalam kandungannya. Kira-kira adakah hubungan antara mimpi buruk Hyesoo dengan situasi yang sedang terjadi disekitarnya? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Nantikan kisahnya di part selanjutnya. Kana pamit! Annyeonghigaseyo! Have a superb weekend!

Advertisements

11 thoughts on “Beautiful Tomorrow : Part 3

  1. berharapnya si,, kyu gak bkalan mdah terpancing,, ya walaupun cemburu.. Tpi bisa mngatasi dgn lebih bijak,, apalgi kan ktnya mood orng hamil mengerikan,, wkwkw
    Kalo gak bisa kontrol emosi,, wahhh nrunyam lagi masalhnya…

    Like

  2. Yess dugaan benar haesoo hamil. Jadi runyem mungkin kyuhyyn dan haesoo sama” ngidam pake amarah. Emosi mereka ga ke kontrol. Kyuhyun kemana? Kik jadi takut ya. Takut kyu slaah oaham sama bayi yg di kandung haesoo dan takut kalo haesoo salah oaham smaa hub kyuhyun dan suzy.

    Like

  3. keliatannya yang bikin cemas bukan kangjun nantinya tapi mungkinkah bae suzy? Soalnya kyuhyun tampak dekeeet banget sama wanita satu itu, dulunya mereka kaya pernah berhubungan sesuatu ya? tp seriusan aku greget banget sama hyesoo dia dokter tp ga mau cepet-cepet periksain kondisi dia, bikin aku sebagai pembaca rasanya pengen nabok dia biar cepetan cek ke dokter. Kayaknya juga marahnya kyuhyun bukan masuk ke marah yang ringan euww

    Like

  4. Pingback: Library | FanWorld FanFiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s