Beautiful Tomorrow : Part 2

Author: Okada Kana

Category: PG-18, Romance, Chapter

Cast:

Cho Kyuhyun, Lee Hyesoo (OC)

Kang Soyu, Choi Sooyoung, Seo Kangjun, Kim Jaejoong, Kim Ryeowook, etc.

Disclaimer:

Annyeonghaseyo!!! Kana kembali hadir dengan FF Sequel berjudul “Beautiful Tomorrow”. Setelah part perdana yang berjalan tenang, part ini kembali menyajikan alur yang masih cukup tenang untuk dibaca oleh para readers yang setia menunggu kelanjutan FF ini. Jawaban atas pertanyaan kalian di part perdana akan terjawab di part ini. Perhatian! Tokoh lain akan kembali muncul disini. Kejadian baru juga akan muncul untuk menghantui dugaan-dugaan kalian selama membaca part-part selanjutnya.

FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi atau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com. Please, no bash, spam, mengejek, mengolok, dan menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Mari saling menghargai satu sama lain. Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 1

“Cho Kyuhyun, apakah kau bersedia menerima Lee Hyesoo sebagai istrimu?”

“Saya bersedia”.

“Lee Hyesoo, apakah kau bersedia menerima Cho Kyuhyun sebagai suamimu?”

“Saya bersedia”.

“Sekarang saya nyatakan kalian sebagai suami dan istri”.

————————-

“Ada apa dengan wajah ini? Kenapa senyuman yang muncul sedikit sekali?”

“Aku hanya merindukanmu. Begitu merindukanmu, meski saat ini kau berada dihadapanku”.

“Kau sudah beristirahat dengan cukup? Kudengar masih ada satu operasi lagi malam ini”.

“Energiku bertambah dengan sangat cepat setelah menyentuhmu dan menatap wajahmu”.

“Apakah kau menjalani hari dengan baik selama aku tak ada?”

“Tentu saja. Tapi saat tiba dirumah, aku begitu merindukanmu. Rasanya sulit sekali hanya untuk melalui hari tanpamu”.

————————-

“Bagaimana persiapan pernikahanmu?”

“Kira-kira sudah 88 sampai 92 persen, kurasa”.

“Lalu, apa saja hal-hal dalam 8 sampai 12 persen yang tersisa?”

“Kami masih harus melakukan fitting terakhir. Aku harap bentuk tubuhku tidak berubah”.

“Bentuk tubuhmu masih sama sejak tiga bulan yang lalu”.

“Bagaimana jika aku benar-benar bertambah gemuk?”

“Kau bisa meminta sepupu keras kepalamu itu untuk memberikan tips membentuk badannya”.

“Eonni, apakah kita sedang membicarakan Cho Kyuhyun?”

“Benar. He’s so hot after his New York trip”.

“Eonni pasti sedang membicarakan pria lain yang juga bernama Kyuhyun”.

“Percayalah, Sooyoung-ah. Entah apa yang merasukinya”.

“Lee Hyesoo?”

————————-

.

 

 

.

 

 

 

.

Beautiful Tomorrow

Part 2

.

 

 

 

.

Author’s POV

Food Court Shinsung Hospital

.

“Seo Kang Jun!” seru Hyesoo.

.

“Ternyata benar dirimu”, senyum mengembang diwajah pria yang bernama Seo Kang Jun itu.

.

Keduanya berpelukan dengan erat setelahnya. Tatapan mereka tidak teralihkan dari satu sama lain bahkan setelah pelukan mereka terlepas. Belum ada kata yang kembali terucap diantara mereka. Hanya tawa dan ekspresi takjub yang dapat terlihat. Wajah keduanya berseri, merasa sangat senang karena bisa kembali bertemu. Sooyoung ikut terlarut dalam kebahagiaan yang ditularkan oleh Hyesoo dan pria dihadapannya itu, walaupun ia tidak mengenal pria itu.

.

“Aku tidak sedang salah mengenali seseorang, ‘kan? Aku yakin benar kesadaran sudah memenuhiku. Aku tidak sedang berhalusinasi, ‘kan?”, tanya Hyesoo pada dirinya sendiri. “Kau bisa melihatnya, ‘kan? Dia bukan sejenis makhluk yang mungkin muncul di Rumah Sakit, ‘kan?” Kali ini Hyesoo bertanya pada Sooyoung.

.

Sooyoung tertawa karena mendengar pertanyaan Hyesoo. Ia merasa pertanyaan yang dilontarkan oleh Hyesoo terdengar cukup konyol. “Tentu saja aku bisa melihatnya. Kau baru saja memeluk seorang manusia, eonni. Jangan berpikiran yang tidak-tidak”, kata Sooyoung setelahnya.

.

“Kau pikir aku hantu? Yah… Lee Hyesoo, kau membuatku kecewa. Inikah sikapmu saat bertemu dengan teman lama?” tanya Kangjun.

.

“Maaf… Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya terlalu terkejut melihatmu berada disini”, kata Hyesoo. “Aku sangat senang bisa bertemu denganmu lagi. Apa kabar?”

.

“Seperti yang sedang kau lihat. Luar biasa, sehat, bahagia, dan tentu saja tampan”, jawab Kangjun dengan nada jenakanya.

.

Hyesoo tertawa mendengar jawaban Kangjun yang bicara dengan sikap narcissism-nya. Pria itu belum berubah. Ia masih Seo Kangjun yang Hyesoo kenal. Senyum diwajah Kangjun selalu menyertai kemanapun langkahnya. Saat berada di London, Kangjun adalah salah satu teman dekatnya di Universitas. Mereka menjalani masa internship bersama. Sejak Kangjun pindah ke Swiss dan Hyesoo kembali ke Seoul, komunikasi diantara keduanya terputus begitu saja. Baik Hyesoo maupun Kangjun, keduanya sangat jarang menggunakan social media. Karena itu, selama kurang lebih waktu dua tahun keduanya belum pernah bertemu, dan bicara pada satu sama lain.

.

“Apa yang kau lakukan disini? Menjenguk seseorang?” tanya Hyesoo.

.

“Tidak. Aku sedang mengurus kepindahan sementaraku disini”, jawab Kangjun.

.

“Benarkah? Kau akan bekerja di Rumah Sakit ini?” tanya Hyesoo dengan nada terkejut. “Tapi, kenapa hanya sementara?”

.

“Rumah Sakit tempatku bekerja di Swiss memiliki hubungan kerjasama dengan Shinsung Hospital. Rumah Sakit mengadakan program pertukaran dokter selama setahun setiap tiga tahun sekali. Tahun ini, aku mengajukan diri untuk datang ke Seoul. Salah seorang kerabatku akan menikah. Aku juga harus mengunjungi nenekku. Aku tidak ingin dianggap cucu yang durhaka karena tidak pernah mengunjunginya”, jawab Kangjun disertai dengan gurauannya seperti biasa.

.

“Begitu rupanya. Lalu, bagaimana kelanjutan prosesnya? Apakah kau sudah mengurus semua hal?” tanya Hyesoo.

.

“Aku baru saja bertemu dengan Direktur Choi Sang Wook. Beliau mengatakan aku harus bertemu dengan Direktur Choi. Karena Direktur Choi yang lain inilah yang memiliki andil dalam penempatanku. Direktur Choi Sang Wook tidak memberikan informasi lain mengenai Direktur Choi lainnya. Auh… Ini membuatku bingung. Beliau hanya mengatakan bahwa Direktur Choi yang sedang kucari adalah seorang wanita”, kata Kangjun menjelaskan. Keningnya berkerut karena bingung.

.

Hyesoo tertawa mendengar penjelasan Kangjun yang memang membingungkan. Namun, tentu saja Hyesoo mengerti maksud dari perkataan Direktur Choi Sang Wook. Tidak jauh dari keduanya, Sooyoungpun ikut tertawa kecil tanpa suara. Ayahnya kembali bersikap jahil. Menurut Sooyoung, pria tua itu sudah kekurangan hiburan. Beliau menyediakan hampir seluruh waktunya untuk Rumah Sakit. Sooyoung sangat jarang melihat ayahnya bersantai untuk waktu yang lama. Karena itu, Sooyoung sudah hafal betul tingkah ayahnya yang mengerjai setiap orang baru yang akan bekerja di Rumah Sakit itu.

.

“Kalau begitu, sebagai temanmu yang sangat baik, aku akan memecahkan kebingunganmu itu. Ayo, kemarilah”, kata Hyesoo sambil menarik tangan Kangjun agar duduk bersamanya.

.

“Aku sedang kebingungan, Lee Hyesoo. Aku harus mencari Direktur Choi yang merupakan seorang wanita ini. Kenapa kau justru mengajakku duduk?” protes Kangjun.

.

“Karena aku akan membantumu menemukan Direktur Choi yang merupakan seorang wanita itu”, kata Hyesoo dengan tawa kecilnya saat keduanya sudah duduk bersama mengelilingi satu meja. “Direktur Choi Sooyoung, ayahmu kembali bersikap jahil pada seseorang”, kata Hyesoo pada Sooyoung.

.

“Hhh… Begitulah sikapnya akhir-akhir ini. Eonni tahu benar bagaimana sikap appa”, balas Sooyoung. “Dokter Seo, tolong maafkan sikap jahil ayahku. Akhir-akhir ini, pria tua itu seringkali merasa bosan”, kata Sooyoung pada Kangjun.

.

“Ne? Ah… Jadi, anda adalah Direktur Choi yang dibicarakan oleh Direktur Choi Sang Wook?” tanya Kangjun yang baru mengerti situasi yang terjadi disekitarnya.

.

“Benar sekali. Senang bisa bertemu denganmu”, sapa Sooyoung.

.

“Ah, ne. Senang akhirnya bisa bertemu dengan anda”, balas Kangjun.

.

“Jadi, apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?” tanya Sooyoung.

.

Kangjunpun menjelaskan setiap prosedur yang ia butuhkan untuk melengkapi berkasnya. Hyesoo meninggalkan keduanya untuk bicara. Ia kembali masuk ke minimarket, membeli minuman untuk Kangjun. Saat ia kembali duduk dimeja bersama Sooyoung dan Kangjun, diskusi yang mereka lakukan sudah selesai. Kemudian Sooyoung mengeluarkan sebuah pena yang ada di saku celananya, lalu menandatangani berkas yang dibawa oleh Kangjun. Ini adalah kali pertama bagi Hyesoo menyaksikan penandatangan berkas penting di sebuah cafetaria. Senyum lebar tergambar diwajah Hyesoo saat menyaksikan kegiatan itu.

.

“Selamat datang di Shinsung Hospital, dokter Seo”, kata Sooyoung sambil menjulurkan tangan kanannya, serta menutup berkas dengan tangan kirinya dalam waktu yang bersamaan.

.

“Terima kasih, Direktur Choi”, kata Kangjun yang menyambut tangan Sooyoung.

.

Hyesoo bertepuk tangan tanpa membuat suara yang keras. Setelah tautan tangan Sooyoung dan Kangjun terlepas, Hyesoo segera memberikan minuman kaleng yang dibelinya pada Kangjun. Senyum lebar terlihat diwajah tampan Kangjun. Ketiganya melanjutkan perbincangan mereka sambil menyantap makanan yang dibeli Hyesoo. Sesekali terdengar suara tawa yang memenuhi ruangan saat mereka membahas masa-masa kuliah Hyesoo dan Kangjun di London. Pembicaraan mengenai pernikahan Sooyoung kembali diangkat, kini dengan Kangjun yang ikut serta memberikan pendapatnya. Mereka belum berniat untuk beranjak dari sana bahkan setelah makanan dihadapan mereka sudah habis tanpa sisa.

.

“Ah, dokter Seo, aku lupa memberitahumu. Jika dalam beberapa bulan kedepan kau kembali membutuhkan tanda tangan atau pengurusan berkas lainnya, kau bisa menemui dokter Kim Jaejoong. Karena mulai dari beberapa minggu kedepan, kurasa, dia yang akan menggantikan posisiku”, kata Sooyoung.

.

“Jadi, kau benar-benar akan mundur, Sooyoung-ah?” tanya Hyesoo.

.

“Benar, eonni. Sudah cukup dengan kegiatan mencari pengalaman bekerja yang kulakukan. Aku seorang lulusan fakultas seni pertunjukan. Apa yang aku lakukan di Rumah Sakit? Lebih baik posisi itu dipegang oleh Jaejoong oppa, yang memang bekerja dan mengerti akan bidang ini”, jawab Sooyoung.

.

“Apakah dokter Kim Jaejoong juga bekerja di Rumah Sakit ini?” tanya Kangjun.

.

“Eo… Jaejoong sunbae saat ini masih menjabat sebagai Kepala Bagian UGD”, jawab Hyesoo. “Lalu, Sooyoung-ah, apa rencana yang kau miliki?” tanya Hyesoo pada Sooyoung.

.

“Setelah menikah, tentu aku akan berbulan madu terlebih dahulu”, kata Sooyoung sambil tersenyum senang, tersipu dengan semburat berwarna merah muda diwajahnya. “Lalu, Jaejoong oppa akan menduduki posisi sebagai direktur di Rumah Sakit ini. Sementara aku akan mengurus agensi milik JC Corp, menggantikan eomma. Aku juga akan ikut dalam pertunjukan sesekali. Tentu saja jika Jaejoong oppa memberikan ijin”, jawab Sooyoung.

.

“Aku rasa kau mengambil keputusan yang benar. Aku akan selalu mendukung semua keputusanmu”, kata Hyesoo.

.

“Terima kasih, eonni. Kau memang kakak iparku yang terbaik”, kata Sooyoung yang disambut dengan tawa kecil Hyesoo.

.

“Hm… Mungkin sebaiknya kau mengantar Kangjun untuk bertemu dengan Jaejoong sunbae, Sooyoung-ah. Kurasa jadwal operasinya belum dimulai”, kata Hyesoo.

.

“Benar. Aku akan mengantarmu bertemu dengan dokter Kim Jaejoong, dokter Seo”, kata Sooyoung. Ketiganya bangkit berdiri.

.

“Ah, ne. Baiklah”, jawab Kangjun.

.

“Hhh… Tidak perlu bicara dan bersikap formal padaku. Aku bukan lagi Direktur Rumah Sakit ini dalam waktu singkat”, kata Sooyoung.

.

“Aku mengerti”, balas Kangjun.

.

“Apakah eonni akan ikut bersama kami?” tanya Sooyoung.

.

“Tidak. Aku harus melihat keadaan Direktur lain dari Rumah Sakit ini yang mungkin masih terlelap dalam tidurnya”, jawab Hyesoo.

.

“Baiklah. Pria keras kepala itu tidak akan bangun dengan sendirinya jika sudah tertidur pulas. Berjuang, eonni!” kata Sooyoung memberikan semangat pada Hyesoo.

.

Hyesoo tertawa kecil mendengar ucapan Sooyoung. Hyesoo melambaikan tangan setelahnya pada Sooyoung dan Kangjun yang berjalan keluar dari cafetaria. Senyum tetap terlihat diwajah Hyesoo hingga punggung Sooyoung dan Kangjun tidak terlihat lagi olehnya. Hyesoopun meraih plastik pembungkus makanan, serta botol air mineralnya yang sudah kosong, kemudian membuangnya ke tempat sampah. Hyesoo melangkah keluar dari cafetaria menuju lift yang akan membawanya ke tempat tujuannya.

.

.

.

Ruangan Kyuhyun

Shinsung Hospital

.

Pintu lift terbuka, Hyesoo berjalan menuju ke ruangan Kyuhyun yang berada diujung koridor. Tidak seperti saat ia keluar dari sana, kini Lee Taemin, sekertaris Kyuhyun sudah duduk disalah satu meja yang berada didepan ruangan Kyuhyun. Ia terlihat rapi dan ramah seperti biasanya. Hyesoo membalas salam yang diberikan oleh Taemin dengan sebuah senyum tulus. Keberadaan Taemin yang masih duduk dengan tenang dimejanya menandakan bahwa Kyuhyun belum bangun dari tidur lelapnya. Karena jika direktur keras kepala itu sudah bangun, maka Taemin tidak akan bisa duduk setenang itu saat ini. Tiba-tiba Hyesoo menghentikan langkahnya tepat didepan pintu ruangan Kyuhyun. Ia berbalik menghadap Taemin, membuat Taemin melonjak dari bangkunya dan berdiri siaga menatap Hyesoo.

.

“Taemin-ssi, kau sudah sarapan?” tanya Hyesoo.

.

“Sudah, Mrs. Cho… Um… Maksud saya, dokter Lee”, jawab Taemin. Ungkapan bingung terlihat jelas diwajah dengan kening berkerutnya.

.

“Hhh… Kau boleh memanggilku dengan sebutan apapun, Taemin-ssi. Jangan terlalu formal denganku. Aku bukan bosmu”, kata Hyesoo yang menyadari kecanggungan Taemin.

.

“Maafkan saya, Mrs. Cho. Sepertinya otak saya sedang mengalami kesulitan dalam memilah kata. Sangat membingungkan jika bertemu dengan anda di Rumah Sakit”, kata Taemin jujur.

.

Hyesoo tertawa kecil mendengar ucapan Taemin. “Kau bahkan kuijinkan untuk memanggilku nuna, Taemin-ssi”, ujar Hyesoo.

.

“Ne? Anibnida, Mrs. Cho. Saya tidak akan mengambil risiko mendapat teguran dari direktur Cho”, kata Taemin sambil menundukkan kepalanya.

.

Hyesoo kembali tertawa mendengar ucapan Taemin yang menurutnya adalah sebuah kebenaran yang diketahui oleh semua orang. Suami Hyesoo yang keras kepala itu juga memiliki sifat pemarah dalam dirinya. Ia tidak akan segan melontarkan ucapan tajamnya pada siapapun yang membuatnya marah. Sebagai istrinya, Hyesoo bahkan kadang merasa kesal saat menghadapi Cho Kyuhyun yang marah. Ia lebih suka menjaga jarak aman dari Kyuhyun jika saat itu tiba.

.

“Kau bisa memanggilku dengan sebutan apapun, Taemin-ssi”, kata Hyesoo setelah tawanya reda. “Pilihlah sebutan yang paling membuatmu nyaman. Walaupun sebenarnya aku merasa sedikit canggung dengan sebutan ‘Mrs. Cho‘. Tapi, aku akan menerimanya untuk meringankan beban moril-mu pada Cho Kyuhyun”, sambung Hyesoo.

.

“Terima kasih atas pengertian anda”, kata Taemin dengan senyum kekanakan khasnya.

.

“Baiklah”, kata Hyesoo sambil kembali berbalik. Namun, sesuatu kembali menghentikan tangannya yang hampir menyentuh tuas pintu. “Hm… Haruskah aku membiarkan direktur pemarah itu tetap tidur? Dengan begitu kau bisa beristirahat lebih lama”, tanya Hyesoo setelah kembali berbalik.

.

“Ne? Apakah direktur Cho ada didalam?” tanya Taemin.

.

Hyesoo mengangguk cepat, menjawab pertanyaan Taemin. “Saat aku keluar beberapa jam yang lalu, dia belum bangun. Aku rasa dia masih tidur sekarang”, jawab Hyesoo. “Hm… Aku bisa menahannya tetap berada didalam jika kau membutuhkan waktu untuk sekedar minum kopi, mungkin?” kata Hyesoo memberikan penawarannya.

.

“Ah, tidak perlu, Mrs. Cho, terima kasih. Sebenarnya, Direktur Cho harus menghadiri rapat direksi pagi ini. Jadi, saya pikir, mungkin sebaiknya beliau bangun sekarang”, jawab Taemin.

.

“Begitu? Pukul berapa rapatnya akan diadakan?” tanya Hyesoo.

.

“Pukul 9”, jawab Taemin.

.

“Masih ada waktu sekitar satu jam. Kalau begitu, aku akan membangunkannya. Kau bisa mempersiapkan berkas yang diperlukan untuk rapat. Aku yang akan mengurus Cho Kyuhyun”, kata Hyesoo.

.

“Baik, saya mengerti. Terima kasih, Mrs. Cho”, kata Taemin.

.

“Tidak perlu berterimakasih”, balas Hyesoo. “Hm… Sebenarnya akan lebih mudah jika meja itu sudah terisi kembali. Apakah kau belum menemukan kandidat yang bisa menempati meja itu?” tanya Hyesoo sambil menunjuk meja disebelah Taemin.

.

“Proses perekrutan sudah sampai pada tahap akhir. Meja itu mungkin akan ditempati tiga sampai lima hari dari sekarang”, jawab Taemin.

.

“Baguslah. Hm… Taemin-ssi, bisakah aku meminta satu bantuan?” tanya Hyesoo.

.

“Tentu saja, Mrs. Cho. Saya akan dengan senang hati membantu anda”, jawab Taemin.

.

“Tolong buatkan secangkir teh untuk Kyuhyun”, pinta Hyesoo.

.

“Baik, Mrs. Cho. Bagaimana dengan anda?” tanya Taemin.

.

“Tidak, terima kasih”, jawab Hyesoo sambil tersenyum manis pada Taemin. “Aku masuk sekarang. Direktur pemarah itu harus segera bangun untuk menyelesaikan pekerjaannya”, sambung Hyesoo sambil menarik tuas pintu. Sementara Taemin membungkukkan tubuhnya 90 derajat pada Hyesoo.

.

Hyesoo masuk ke ruang kerja Kyuhyun yang hening. Pemilik ruangan itu mungkin masih meringkuk dibawah selimutnya. Ruangan bertema monokrom itu terasa begitu dingin. Hyesoo tidak menyadari ukuran ruangan yang begitu luas sebelumnya. Dominasi warna putih dan beberapa perabot yang terbuat dari kaca membuat ruangan itu tampak luas. Hyesoo berhenti melangkah tepat didekat sofa. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Seketika Hyesoo merasa sesekali perlu memberikan reward pada siapapun yang bertugas membersihkan serta merapikan ruangan ini. Setiap barang selalu kembali ke tempatnya semula, meski Kyuhyun akan tetap membuat ruangan ini berantakan nantinya. Hyesoo menghela napas panjang dengan perlahan. Seharusnya Hyesoo sudah terbiasa dengan suasana ruangan itu. Namun, Hyesoo masih merasa tidak nyaman berada didalam ruangan itu jika tanpa Kyuhyun disana. ‘Ah, benar! Aku harus segera membangunkan Kyuhyun‘, kata Hyesoo dalam pikirannya saat mengingat hal yang seharusnya ia lakukan. Hyesoopun bergegas menuju kamar yang berada dibelakang meja kerja Kyuhyun.

.

Hyesoo membuka pintu kamar dengan perlahan, meski ia tahu bahwa suara deritan pintu tidak akan dengan mudah membangunkan Kyuhyun. Dan seperti dugaannya, Kyuhyun masih berada disana, disisi tempat tidurnya dengan posisi yang belum berganti sejak beberapa jam yang lalu. Hyesoo segera membuka jubahnya, lalu meletakkan jubah itu di sofa yang berada disisi kanan ruangan. Hyesoo juga melepaskan sepatunya sebelum naik keatas ranjang, merangkak mendekat pada pria yang selalu bisa melemahkannya. Hyesoo membaringkan tubuh disisi Kyuhyun, menumpu tubuh bagian atasnya dengan kedua siku. Hyesoo menatap wajah Kyuhyun yang begitu teduh saat tidur. Tidak ada kerutan didahinya. Tidak ada garis keras juga dirahangnya. Kyuhyun terlihat sangat santai. Helaan napasnya yang lembut memberikan efek menenangkan pada Hyesoo. Dimata Hyesoo, Kyuhyun tidur seperti seorang anak kecil. Hyesoopun bergerak lebih dekat pada Kyuhyun. Hyesoo sangat yakin bahwa Kyuhyun tidak akan bangun dengan mudah dengan suara apapun. Karena itu, Hyesoo naik keatas tubuh Kyuhyun untuk membangunkannya. Usaha Hyesoo berhasil, Kyuhyun mulai bergerak karena merasakan beban diatas tubuhnya.

.

“Hei, sleepyhead. Kau tidak akan bekerja hari ini?” tanya Hyesoo dengan suara pelan.

.

“Hmm…” Kyuhyun menjawab pertanyaan Hyesoo dengan gumaman pelan, tanpa melakukan pergerakan apapun.

.

Baby, wake up”, kata Hyesoo berbisik ditelinga Kyuhyun. “Baby, come on, wake up”, kata Hyesoo sekali lagi.

.

Give me 10 minutes”, kata Kyuhyun dengan suara seraknya.

.

“Aku ingin kau bangun sekarang”, balas Hyesoo sambil mengusap kening Kyuhyun.

.

Kyuhyun menghela napasnya dengan kasar. Kemudian ia bergerak, merentangkan kedua tangannya keluar dari selimut, lalu melingkarkannya ditubuh Hyesoo. “Aku masih mengantuk, tapi disaat yang sama aku juga sangat merindukanmu. Sudah lebih dari satu tahun kita menikah, tapi kau masih saja membuatku gila”, kata Kyuhyun yang menyentuhkan hidungnya di bahu Hyesoo.

.

“Hhh… Baiklah. Jadi, kau ingin tidur lebih lama?” tanya Hyesoo.

.

“Aku mencintaimu. Sangat”, kata Kyuhyun tanpa menjawab pertanyaan Hyesoo. Kedua mata Kyuhyun masih tertutup, menolak untuk bangun dari tidurnya.

.

Hyesoo tidak mengatakan apapun sebagai balasan. Tentu saja Hyesoo mengetahui hal itu. Hyesoo adalah orang yang paling mengetahuinya. Karena Kyuhyun tidak pernah melewatkan harinya tanpa mengucapkan kata cinta pada Hyesoo. Meskipun Hyesoo jarang membalas pernyataan itu dengan kata cinta yang sama, namun Hyesoo seringkali membalasnya dengan tindakan. Kadang Hyesoo akan memeluk erat tubuh Kyuhyun, atau memberikan kecupan lembut dibibir Kyuhyun. Selama ini Kyuhyun tidak menuntut Hyesoo untuk melakukan lebih banyak. Kyuhyun sudah bisa menemukan cinta miliknya bahkan hanya dari tatapan mata Hyesoo, serta sentuhan kecil yang ia terima.

.

“Mulai hari ini aku off sampai tiga hari kedepan. Semua waktuku menjadi milikmu”, kata Hyesoo dengan tatapan lembut dan senyum manis diwajahnya.

.

Kyuhyun sontak membuka matanya dengan mudah. Ia tersenyum lebar setelah mendengar ucapan Hyesoo. “Kau milikku”, kata Kyuhyun, yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh Hyesoo. Kyuhyunpun mengecup singkat bibir Hyesoo. “Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Kyuhyun setelahnya.

.

“Aku rindu suasana rumah…” kata Hyesoo yang kemudian merebahkan kepalanya di dada Kyuhyun, membuat Kyuhyun terdiam sambil menatap langit-langit. Hyesoo tersenyum tipis, mengetahui bahwa Kyuhyun tidak terlalu senang dengan ucapannya barusan. “…dengan aroma tubuh Cho Kyuhyun sebagai pemanis yang melengkapinya”, sambung Hyesoo, membuat sebuah senyuman kembali mengembang diwajah Kyuhyun. “Rumah itu hanya memiliki aroma perabot, pewangi ruangan, dan pewangi lantai selama satu bulan. Ah, dan juga aroma masakan lezat yang selalu dihidangkan oleh Min ahjumma. Tidak ada aroma Cho Kyuhyun disana. Aku tidak menyukainya”, kata Hyesoo lagi, mengundang Kyuhyun untuk kembali menatapnya.

.

“Kau sangat menyukaiku, ‘kan?” tanya Kyuhyun dengan nada jenaka yang baru saja kembali dari persembunyiannya.

.

“Tidak. Aku sangat menyukai aroma tubuhmu. Bukan kau. Tapi, mungkin aku juga menyukaimu, sedikit”, jawab Hyesoo sambil melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun, berpindah membaringkan tubuhnya disisi ranjang tepat disebelah kiri Kyuhyun.

.

“Begitu? Jadi, kau tidak terlalu menyukaiku?” tanya Kyuhyun yang memiringkan tubuhnya untuk menatap Hyesoo.

.

“Hm…” jawab Hyesoo dengan gumamannya. “Aku tidak menyukaimu. Karena kau pergi sangat lama sehingga membuatku kesal karena terlalu merindukanmu”, sambung Hyesoo yang melesak kedalam pelukan Kyuhyun setelahnya.

.

I know. I’m sorry”, kata Kyuhyun menyesal. “Tapi, ada apa ini? Sepertinya kau sangat suka berada dalam pelukanku sejak kemarin. Kemana perginya wake-up-call yang kudengar beberapa saat yang lalu?” tanya Kyuhyun.

.

“Biarkan aku memelukmu sebentar lagi. Aku masih harus melakukan visite pukul 8 sampai 10 sebelum diperbolehkan untuk pulang. Kau juga harus menghadiri rapat direksi pukul 9”, jawab Hyesoo.

.

Kyuhyun menghela napas, mengungkapkan rasa frustasinya pada pekerjaan yang mencuri waktunya bersama Hyesoo. “Aku benci menghadiri rapat saat sedang memiliki kesempatan untuk bersamamu”, keluh Kyuhyun. “Ijinkan aku bertanya satu hal padamu”, sambung Kyuhyun.

.

“Katakan”, kata Hyesoo.

.

“Aku hanya ingin mendengar pendapatmu. Apa yang akan kita lakukan di rumah nanti?” tanya Kyuhyun.

.

“Hmm… Kita bisa memasak, makan siang bersama, atau mungkin menonton apapun yang ditayangkan di televisi. Kita juga bisa berenang. Kembali tidur juga bukan ide yang buruk”, jawab Hyesoo santai, meski ia sudah menyadari nada nakal menggoda yang tersembunyi dalam suara Kyuhyun.

.

“Aku punya ide yang lebih baik”, kata Kyuhyun dengan smirk dibibirnya.

.

“Apa itu?” tanya Hyesoo berpura-pura tidak tahu isi pikiran suaminya itu.

.

“Hm… Setelah memasak dan makan siang bersama, kita bercumbu di sofa, membiarkan televisi yang menonton kita, lalu kita bisa melakukan-nya di kolam renang setelahnya. Jika sudah lelah, barulah kita kembali tidur. Bagaimana?” kata Kyuhyun mengajukan idenya.

.

Hyesoo memutar matanya. Kemudian Hyesoo melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun ditubuhnya. Ia sontak beranjak bangun, lalu menjauh dari ranjang. Hyesoo merapikan seragamnya yang tampak tidak rapi karena sempat tertindih oleh tubuhnya. “Sebaiknya aku segera bergegas untuk melakukan visite”, kata Hyesoo setelahnya sambil berjalan kearah sofa untuk mengambil jubahnya.

.

“Apa? Bukankah kau ingin tetap berbaring di tempat tidur bersamaku selama beberapa saat?” tanya Kyuhyun yang beranjak duduk dalam hitungan detik. “Kenapa sekarang kau ingin meninggalkanku?” tanya Kyuhyun setelahnya.

.

“Karena waktuku berharga, direktur Cho. Aku diberikan gaji yang cukup besar oleh Rumah Sakit untuk bekerja, bukan untuk bermalas-malasan. Begitupun denganmu”, jawab Hyesoo sambil mengenakan jubahnya.

.

“Jika kau pergi, apa yang harus aku lakukan?” Kyuhyun kembali mengajukan pertanyaan untuk menahan Hyesoo tetap bersamanya.

.

“Kau bisa bangun, lalu masuk ke ruangan itu, dan mandi”, jawab Hyesoo sambil menunjuk pintu kamar mandi. “Jangan lupa bersihkan juga pikiranmu itu. Sangat kotor!”

.

“Apa? Lee Hyesoo, kenapa kau berkata seperti itu pada suamimu?” protes Kyuhyun.

.

“Karena pikiran suamiku sekarang memang harus dibersihkan. Kotor sekali didalam sana”, jawab Hyesoo yang tersenyum, menggoda Kyuhyun. “Anyway, kau sudah bangun, jadi tugasku telah selesai. Aku harus kembali bekerja”, sambung Hyesoo sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jubahnya..

.

“Tidak bisakah kau menciumku sekali saja?” tanya Kyuhyun sambil menyentuhkan jari telunjuk ke bibirnya. “Aku akan menghadiri rapat direksi yang melelahkan. Aku butuh kekuatan untuk bertahan disana”, kata Kyuhyun beralasan.

.

“Kau baru saja bangun, Kyuhyun-ah. Kekuatan yang kau butuhkan sudah berkumpul ditubuhmu dengan sendirinya”, kata Hyesoo memberikan penolakannya untuk menggoda Kyuhyun.

.

“Aku tidur untuk memulihkan tubuhku dari rasa lelah karena perjalan panjang berjam-jam. Aku juga melepas rindu pada istriku dengan cara yang begitu melelahkan. Kekuatan yang kudapatkan dari tidur pulas tidak cukup, Hyesoo-ya”, kata Kyuhyun dengan alasannya yang lain.

.

“Itu salahmu. Kenapa kau melakukan kegiatan yang melelahkan hanya beberapa jam setelah mendarat? Kau menerima akibat dari perbuatanmu sendiri”, balas Hyesoo.

.

“Ah, sudahlah. Sulit sekali mendapatkan satu ciuman saja dari istriku. Benar. Aku yang salah”, kata Kyuhyun merajuk, sambil keluar dari selimutnya.

.

Hyesoo terkekeh melihat tingkah Kyuhyun yang kekanakan. Kyuhyun yang berdiri disamping ranjang segera meraih ponselnya yang berada di meja kecil, lalu membuka e-mail yang masuk. Kedua matanya tidak teralihkan dari layar ponsel. Sesaat setelahnya, kedua ibu jari Kyuhyun sudah disibukkan dengan kegiatan mengetik balasan e-mail yang diterimanya. Fokus Kyuhyun teralihkan dengan cepat oleh pekerjaannya. Melihat itu, Hyesoopun berjalan mendekat pada Kyuhyun dengan perlahan. Namun, Kyuhyun justru meletakkan ponselnya kembali ke meja dan mulai melangkahkan kakinya, beranjak dari tempatnya berdiri. Hyesoo segera meraih tubuh Kyuhyun, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Kyuhyun yang sontak memandangnya. Tidak ada ekspresi yang terlihat diwajah Kyuhyun, menunjukkan bahwa dirinya memang benar-benar sedang merajuk.

.

“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” kata Kyuhyun.

.

“Kau mau kemana?” tanya Hyesoo.

.

“Kenapa kau bertanya? Tidak perlu mempedulikan aku. Pergilah melakukan visite-mu. Lepaskan aku! Aku mau mandi”, kata Kyuhyun lagi.

.

“Tidak mau. Bukankah tadi kau meminta sebuah ciuman?” balas Hyesoo menggoda Kyuhyun.

.

“Aku sudah tidak menginginkannya lagi. Mood-ku sudah menguap diudara”, kata Kyuhyun yang merajuk.

.

“Benarkah? Sayang sekali…” kata Hyesoo yang kemudian melingkarkan tangannya dileher Kyuhyun dan mengecup bibir Kyuhyun. “Padahal aku juga belum mandi pagi ini”, kata Hyesoo dibibir Kyuhyun. Hyesoo kembali menyatukan bibir mereka, memberikan lumatan pelan dibibir Kyuhyun. “Karena Cho Kyuhyun sedang merajuk, sepertinya terpaksa aku harus mandi di tempat lain”, sambung Hyesoo menggoda Kyuhyun sambil mulai menjauhkan wajahnya perlahan dari wajah Kyuhyun.

.

Kyuhyun meraih pinggang Hyesoo dengan cepat, menahan tubuh wanita yang selalu menguji pertahanannya. “Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, Lee Hyesoo”, kata Kyuhyun.

.

Kyuhyun mengeratkan rengkuhannya ditubuh Hyesoo. Sesaat setelahnya, Kyuhyun kembali menyatukan bibir mereka. Ia memperdalam ciumannya, tidak berniat untuk melepaskan Hyesoo seperti yang dikatakannya. Hyesoopun melakukan hal serupa. Hyesoo salah satu tangan Hyesoo sudah berada di belakang kepala Kyuhyun, meremas pelan rambut bangun tidur Kyuhyun. Sementara tangan Hyesoo yang lain berada di tengkuk Kyuhyun, menahan kepala Kyuhyun agar tidak menjauh darinya. Salah satu tangan Kyuhyun perlahan naik ke punggung Hyesoo. Kyuhyun menjauhkan tubuhnya dari Hyesoo saat salah satu tangannya menarik ujung jubah Hyesoo. Kedua tangan Hyesoopun menjauh dari kepala Kyuhyun yang sedang berusaha untuk menarik keluar jubah dari tubuh Hyesoo. Kyuhyun melemparkan jubah itu ke sofa setelah berhasil ia lepaskan.

.

Kyuhyun baru saja ingin mengangkat tubuh Hyesoo saat sebuah ketukan dipintu terdengar. Hyesoo memberikan reaksi spontan dengan melepaskan bibirnya dari Kyuhyun. Lain hal dengan yang dilakukan oleh Kyuhyun. Ia justru kembali meraih bibir Hyesoo tanpa mempedulikan suara ketukan pintu itu. Namun, Hyesoo segera mendorong tubuh Kyuhyun dengan salah satu tangannya yang sudah berada didada Kyuhyun. Hyesoo menoleh kearah pintu yang tidak henti diketuk oleh seseorang diluar sana. Kyuhyun menghela napas kasar, tanda rasa kesalnya pada si pengetuk pintu.

.

“Siapa?” kata Kyuhyun dengan nada membentak.

.

“Saya Lee Taemin, Direktur”, jawab Taemin diluar ruangan.

.

“Apakah dia tidak punya pekerjaan lain selain menggangguku?” kata Kyuhyun dengan suara pelan, merasa kesal dengan interupsi yang dilakukan oleh Taemin.

.

Senyum Hyesoo mengembang saat mendengarkan protes yang diucapkan oleh Kyuhyun. Direktur pemarah Cho Kyuhyun sudah kembali dari persembunyiannya. “Dia sedang melakukan pekerjaannya, Direktur Cho”, kata Hyesoo dengan nada lembut sambil menjauhkan diri dari Kyuhyun. “Masuklah, Sekertaris Lee. Pintunya tidak dikunci”, kata Hyesoo setelahnya pada Taemin.

.

Kyuhyun meletakkan dahinya di bahu Hyesoo, menyerah dengan kondisi pekerjaan yang tidak pernah membiarkannya beristirahat satu haripun. Sebelah tangan Kyuhyun masih berada di pinggang Hyesoo, menolak untuk melepaskannya meski Hyesoo sudah berusaha menjauhkan diri dari Kyuhyun. Hyesoo tertawa kecil melihat tingkah suaminya yang pemarah itu. Hanya berselang beberapa detik setelahnya, pintu kamar terbuka, memunculkan sosok Taemin yang berjalan canggung masuk ke dalam ruangan pribadi milik Kyuhyun. Ia memegang sebuah dokumen dan pena ditangannya.

.

“O! Maaf atas kelancangan saya”, kata Taemin sambil menundukkan kepalanya.

.

“Syukurlah kau masih bisa menyadarinya”, protes Kyuhyun yang sudah kembali mengangkat kepalanya dari bahu Hyesoo. “Apa maumu?” tanya Kyuhyun galak.

.

“Saya membawa sebuah dokumen yang harus anda tandatangani, Direktur”, jawab Taemin. “Dan, rapat direksi akan dimulai dalam 37 menit”, sambung Taemin menyebutkan sisa waktu yang dimiliki oleh Kyuhyun untuk bersiap.

.

“Itu adalah pekerjaan yang kujadikan alasan untuk membangunkanmu tadi”, kata Hyesoo. “Jadi……” kata Hyesoo menggantung sambil menyentuh tangan Kyuhyun untuk melepaskan tangan itu dari pinggangnya.

.

No. Kau tidak akan kemanapun”, tolak Kyuhyun yang segera menggenggam lengan Hyesoo setelahnya.

.

“Banyak pasien yang menungguku, Direktur Cho”, kata Hyesoo memberikan alasannya.

.

“Aku tidak sedang bicara sebagai seorang Direktur, Lee Hyesoo”, balas Kyuhyun tetap pada pendiriannya untuk menahan Hyesoo tetap bersamanya.

.

Oh, come on, big boy! Mari mengawali hari dengan tenang dan membiarkan semua orang melakukan pekerjaannya dengan baik”, kata Hyesoo yang akhirnya berhasil melepaskan genggaman tangan Kyuhyun dilengannya. Kemudian Hyesoo melangkah mendekat, menyentuh bahu Kyuhyun dengan tangan kirinya, dan memberikan kecupan singkat dipipi Kyuhyun. “See you soon, grumpy”, kata Hyesoo setelahnya.

.

Hyesoo berbalik, lalu melangkahkan kakinya menjauh dari Kyuhyun yang masih memandanginya. Hyesoo kembali berbalik untuk menatap Kyuhyun sebelum keluar dari ruangan itu. Senyumnya mengembang saat melihat wajah merajuk Kyuhyun yang tampak kekanakan. Hyesoo melayangkan kata ‘love you’ pada Kyuhyun tanpa suara sebelum akhirnya benar-benar keluar dari ruangan itu.

.

.

.

Kyuhyun’s POV

Kediaman Keluarga Cho

Kyuhyun’s Mansion

.

Matahari sudah mulai bersiap kembali ke persembunyiannya saat aku berjalan melewati pintu lobby beberapa saat yang lalu. Rona berwarna orange cerah menyertaiku sepanjang perjalanan kembali ke rumah. Dengan sangat menyesal, aku tidak bisa mengabulkan permintaan yang diajukan oleh Hyesoo padaku pagi ini. Hyesoo merindukan suasana rumah dengan aku yang berada disana. Tapi, para orang tua itu menghalangiku dengan sebuah rapat direksi. Aku bahkan tidak dapat berkonsentrasi saat menghadiri rapat itu. Pikiranku hanya tertuju pada Hyesoo. Aku sudah bertahan selama satu bulan karena perjalanan bisnisku ke New York. Aku sangat tidak menyukai situasi dimana kesempatanku untuk bersama Hyesoo hilang begitu saja.

.

Aku sudah kembali ke Seoul. Jarak sudah tidak lagi menjadi penghalangku untuk bertemu dengan Hyesoo. Tapi, para orang tua yang sangat gembira saat aku menikah dengan Hyesoo justru menghalangiku. Sepertinya rasa kesal yang kurasakan tidak akan hilang dengan mudah. Terlebih dengan cara mengemudi Baekhyun sore ini. Aku ingin sekali melemparkan salah satu sepatuku ke kepalanya dengan keras. Bagaimana bisa dia mengemudi begitu lambat disaat aku sedang begitu ingin tiba dirumah secepatnya? Hari ini adalah hari keberuntungannya (Baekhyun). Aku harus menahan amarahku saat ini. Aku tidak ingin mood-ku rusak hanya karena merasa kesal padanya. Mood-ku harus tetap terjaga dengan baik sebelum bertemu dengan Hyesoo.

.

Mobil yang dikendarai Baekhyun ––dengan kecepatan kura-kura–– akhirnya masuk ke pelataran rumah. Aku bersyukur sifat keras kepala Baekhyun yang sangat menyebalkan tidak sedang berada dalam dirinya. Ia mengendarai mobil melewati Main Mansion (rumah utama kediaman keluarga Cho, tempat orang tua dan nenek Kyuhyun tinggal) dengan cepat tanpa berniat untuk mampir kesana. Butuh waktu kira-kira 3 menit dengan mobil untuk sampai ke tempat dimana Hyesoo berada. Lampu yang berada disisi kiri dan kanan jalan sudah dinyalakan seperti biasanya. Hyesoo sangat suka cahaya lampu pekarangan rumah yang menyatu dengan warna langit petang hari yang mulai gelap. Sebelumnya, aku tidak pernah benar-benar memperhatikannya. Tapi, aku mulai menyukainya. Meski tidak sebesar aku menyukai seseorang yang mungkin sedang menungguku dibalik pintu itu. Seseorang yang berjaga disana pasti sudah memberitahu Hyesoo perihal kedatanganku. Aku tidak sabar untuk melihat wajah cantiknya lagi. Tidak. Mungkin ia justru sedang duduk dengan ekspresi muram karena aku baru bisa kembali ke rumah sekarang.

.

Baekhyun menghentikan mobil tepat didepan pelataran rumah. Aku turun dengan terburu-buru, tanpa menunggu Baekhyun membukakan pintu mobil untukku. Aku segera mengambil langkah besar menuju pintu. Hwang Chansung sudah berada disana, memberikan salam singkat padaku sebelum membukakan pintu besar itu. Aku masuk melewati pintu, menuruni tiga anak tangga, lalu bergegas berjalan masuk menuju ruang besar ditengah bangunan rumah. Suara TV yang menyala mengalihkan perhatianku. Aku menghentikan langkahku, kemudian menoleh. Aku tidak melihat siapapun yang sedang menonton televisi. Namun, suara sebuah benda yang terjatuh diatas karpet membuatku melangkah mendekat. Ternyata Hyesoo berada disana. Tampaknya ia tertidur di sofa karena kelelahan. Aku membuka sepatuku, lalu naik keatas karpet agar bisa mendekat padanya. Aku meraih remote diatas meja dan mematikan televisi yang entah sejak kapan menonton istriku tertidur.

.

Aku membuka jasku perlahan, melonggarkan dasi yang masih melingkar kuat di leherku, lalu kubuka kancing teratas kemejaku, serta kancing yang berada di lenganku. Hyesoo bergerk pelan, mengubah posisi tidurnya saat aku menggulung lengan kemejaku sampai ke siku. Akupun duduk diatas karpet, tepat disisi sofa. Menonton Hyesoo yang tertidur sudah menjadi salah satu aktivitas yang kusukai selama dua tahun terakhir. Helaan napas Hyesoo terdengar begitu lembut, mengisi ruangan besar yang begitu sunyi. Ia masih Hyesoo yang kukenal, begitu cantik dan luar biasa memukau. Hanya saja tubuh Hyesoo terlihat lebih kurus saat ini. Kenapa aku baru menyadarinya? Kemarin malam aku terlalu teralihkan hingga tidak menyadarinya, bahkan saat aku mengangkat tubuhnya. Tulang pipi dan rahangnya terlihat lebih tegas. Tulang selangkanya pun tergambar jelas bagai sebuah pahatan. Aku suka menyentuhnya dengan bibirku –lalu lidahku. Napasku tercekat selama sepersekian detik karena pikiran yang menghampiriku itu. Aku sedikit terkejut dengan helaan napasku yang begitu berat. Aku segera mengusir pikiran itu dengan cepat. Tiba-tiba Hyesoo kembali bergerak. Ia melenguh pelan sambil meregangkan ototnya. Kedua mata indah itupun terbuka, bertemu dengan kedua mataku yang tidak pernah terlepas darinya. Hyesoo berkedip beberapa kali dengan cepat, mencoba memperjelas pandangannya.

.

“Kau sudah pulang?” tanya Hyesoo dengan suara pelannya yang terdengar sedikit serak. Kendalikan diriku, Cho Kyuhyun. Hyesoo baru saja bangun dari tidurnya.

.

“Hmm…” jawabku bergumam.

.

“Kau lelah, ya?” tanya Hyesoo sambil mengusap lembut rambutku. Fokusku teralihkan dengan cepat karena melihat wajah lelahnya. Seolah tubuhku sudah kembali berpijak di bumi.

.

“Tidak lagi”, jawabku jujur.

.

“Kau sudah makan malam?” tanya Hyesoo lagi.

.

“Bagaimana denganmu?” aku balas bertanya.

.

Ia menggeleng pelan sambil memejamkan matanya. Gerakan itu. Hyesoo selalu berhasil membuat hatiku menyerah hanya dengan sebuah gerakan kecil yang ia buat. Darahku berdesir kencang menuju ke setiap bagian terkecil tubuhku. Egoku berteriak memintaku untuk membebaskan kemejaku dari dalam celana, lalu bergabung bersamanya berbaring di sofa. Tapi, Hyesoo belum makan malam ––begitu pula denganku. Aku tidak bisa menuruti egoku dan membiarkannya melewatkan makan malam. Tiba-tiba Hyesoo beranjak dari sofa dengan gerakan cepat yang ringan namun tetap terlihat begitu anggun, seolah ia sedang menari. Lalu Hyesoo melesak cepat ke pangkuanku. Ia melingkarkan tangannya dileherku. Tangan kanannya melingkari lenganku sampai ke bahu untuk menyediakan tempat bagi kepalanya di bahuku. Aku masih berada dalam keadaan terkejutku saat Hyesoo menyentuhkan hidungnya dileherku, menyusul bibirnya yang memberikan kecupan singkat disana.

.

“Aku sangat suka Cho Kyuhyun yang baru saja pulang ke rumah setelah bekerja seharian”, kata Hyesoo.

.

“Kenapa?” tanyaku sambil melingkarkan tanganku ditubuh beraroma buah-buahannya.

.

“Karena disini tidak ada satupun orang yang bisa membawamu pergi dariku. Kau hanya milikku”, kata Hyesoo. Oh, aku sangat suka Hyesoo yang possessive.

.

“Aku selalu milikmu, Hyesoo-ya. Dimanapun itu”, kataku bersungguh-sungguh.

.

“Tidak”, kata Hyesoo yang melepaskan pelukannya. “Kau adalah Direktur Cho Kyuhyun di Rumah Sakit. Banyak orang yang bergantung padamu disana”, sambung Hyesoo sambil membuka kancing kemejaku satu persatu dengan perlahan. “Aku harus membagimu dengan mereka”. Apa yang sedang kau lakukan, sayang?

.

“Begitu pula denganku. Semua pasienmu jauh lebih penting dibandingkan aku”, balasku sambil berusaha mengendalikan kewarasanku.

.

“Tentu saja”, kata Hyesoo yang sudah berhasil membuka seluruh kancing kemejaku sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.

.

Hyesoo menarik keluar kemejaku dari kedua lenganku, menyisakan T-shirt putih yang masih kukenakan. Kemudian kedua tangannya menarik keluar T-shirt dari celanaku. Ia mengangkat sisi depan T-shirt, lalu membuka pengait ikat pinggangku. Aku memperhatikan setiap gerakan yang dibuatnya. Dalam diam aku begitu menginginkannya. Hyesoo mampu melemahkanku bahkan tanpa kata apapun yang keluar dari bibir manisnya. Napasku tercekat saat mendengar helaan napas Hyesoo yang begitu lembut berada dekat dengan telingaku. Hyesoo mengerahkan tenaganya untuk melepaskan ikat pinggangku yang kemudian ia lemparkan begitu saja ke atas sofa. Tatapan kami bertemu. Ia tetap terlihat tenang dengan ekspresi datar diwajahnya. Aku benar-benar menginginkanmu.

.

“Hyesoo-ya, aku harus memastikan kau menyantap makan malammu”, kataku berusaha melawan degupan jantungku yang semakin berpacu.

.

“Aku tahu”, jawabnya santai. “Kita memang akan makan malam”, kata Hyesoo setelahnya. “Aku sudah meminta Min ahjumma untuk menyiapkan makanan kesukaanmu untuk makan malam”, sambung Hyesoo sambil beranjak dari pangkuanku, meninggalkanku dalam kebingungan yang menyelimuti pikiran kotorku.

.

“Kita akan makan malam?” tanyaku heran.

.

“Benar. Kau juga belum makan malam sepertiku. Tentu saja kita harus makan sesuatu”, kata Hyesoo yang berjalan menjauh.

.

“Lalu, apa maksud dari tindakanmu barusan?” tanyaku.

.

Langkahnya terhenti. Ia berbalik untuk kembali menatapku. “Apa?” tanya Hyesoo yang mengerutkan keningnya, bingung dengan pertanyaanku. Senyum lebar terlihat diwajah cantik itu setelahnya, membuat hatiku sekali lagi menyerah padanya. “Kenapa pikiranmu menjadi sangat kotor setelah kembali dari New York, Mr. Cho?” sambung Hyesoo.

.

“Tidak seperti itu. Hanya saja…… Kupikir kau…… Kupikir kau juga menginginkanku seperti aku menginginkanmu saat ini”, kataku jujur.

.

Kerutan dikeningnya menghilang, namun senyum itu tetap bertahan disana. Wajahnya berseri. Kantuk sepertinya sudah benar-benar meninggalkannya. Hyesoo berjalan kembali mendekat padaku. Ia mengangkat tangan kanannya dihadapanku, memintaku untuk meraihnya. Akupun menggenggam tangan lembutnya, lalu beranjak bangun, berdiri bersamanya. Tangan kirinya bergerak cepat menyentuh dadaku, kemudian menjalar menuju bahu hingga leher. Hyesoo memberikan tekanan disana, menariknya pelan agar mendekat padanya. Sebuah kecupan lembut mendarat dibibirku. Hyesoo membuka bibirku dengan perlahan untuk memperdalam ciumannya. Bibirnya terasa begitu manis saat menyentuh indera pengecapku. Tanganku yang bebas refleks melingkar dipinggangnya, meraih tubuhnya lebih dekat padaku. Aku melumat bibir manisnya, mengutarakan apa yang kurasakan sejak awal aku menontonnya tidur beberapa saat yang lalu. Namun sebuah dorongan kurasakan didadaku. Aku tidak menyadari gerakan tangannya yang sudah meninggalkan leherku. Ia melepaskan bibirnya dariku, menjauh dari rengkuhanku. Aku masih bisa merasakan temperatur tubuhnya dari keningnya yang masih menempel dikeningku. Aku menghela napas kasar sebagai ekspresi kekecewaanku atas sikapnya yang mencegahku.

.

“Percayalah, aku juga menginginkanmu untuk diriku sendiri. Tapi, saat ini aku lebih lapar akan makanan”, kata Hyesoo sambil menjauhkan kepalanya dariku. Saat aku membuka mataku, kedua matanya menangkapku dalam perangkapnya dengan mudah. “Makan malam?” tanya Hyesoo.

.

Aku mengangguk cepat untuk menjawab pertanyaannya. Senyum manis itu kembali diwajah lelahnya. Hyesoopun mulai melangkahkan kakinya. Ia menarik tanganku yang masih digenggamnya, agar berjalan bersamanya menuju ruang makan. Min ahjumma dan dua orang pegawai lain –yang tidak kuingat namanya— sudah menunggu kami dengan makanan yang sudah terhidang diatas meja. Hyesoo sudah duduk terlebih dahulu di kursinya saat aku berhenti sejenak untuk berpikir. Aku menarik sebuah kursi disebelah kiri Hyesoo, lalu duduk disana. Aku menangkap keterkejutan singkat yang ditunjukkan oleh dua orang yang berdiri disamping Min ahjumma saat melihat tindakanku. Sementara Min ahjumma hanya menunjukkan senyum tipisnya padaku. Kedua perempuan yang terlihat masih cukup muda itu tetap berdiri ditempat mereka tanpa melakukan apapun. Min ahjumma tidak memberikan protesnya pada mereka. Ia justru melangkah mendekati meja, lalu mengambil set peralatan makan yang sebelumnya sudah disiapkan ditempat duduk yang sedang tidak ingin kutempati untuk makan saat ini (tempat duduk utama yang biasa diduduki oleh kepala keluarga). Kemudian Min ahjumma meletakkan peralatan makan itu dihadapanku tanpa mengatakan apapun. Ia adalah pengurus rumah terbaik yang dimiliki oleh keluargaku. Saat aku memutuskan untuk meninggalkan rumah utama dan menempati rumahku sendiri, aku secara langsung memintanya bekerja untukku. Beruntung ia tidak keberatan dengan permintaan itu. Aku cukup bergantung padanya seumur hidupku.

.

“Kau sangat menyusahkan”, kata Hyesoo menegurku dengan nada berguraunya. “Terima kasih, ahjumma. Maaf karena menyusahkanmu”, kata Hyesoo pada Min ahjumma yang sedang menuangkan air digelasku.

.

“Tidak perlu berterimakasih, Agassi. Aku senang melakukannya untuk Tuan Muda”, kata Min ahjumma dengan nada keibuannya.

.

“Terima kasih, ahjumma. Kau memang sangat mengerti diriku”, kataku memujinya.

.

“Ne, Tuan Muda”, balas Min ahjumma.

.

Sesaat setelahnya, Min ahjumma dan dua orang –yang kurang berguna itu— meninggalkan ruang makan. Min ahjumma masih sangat peka seperti biasanya. Ia begitu mengerti suasana hatiku. Saat ini aku hanya ingin bersama Hyesoo, tidak dengan yang lainnya. Hariku sudah tersita dengan pekerjaan yang melelahkan. Aku tidak akan membiarkan siapapun menggangguku lagi selama hari lepas Hyesoo dua hari kedepan.

.

“Udang atau kepiting?” tanya Hyesoo menyadarkanku dari lamunanku saat menatap wajahnya.

.

“Hm? Ah, kepiting”, jawabku.

.

“Kau begitu mudah teralihkan setelah kembali. Ada apa?” tanya Hyesoo sambil meletakkan potongan daging kepiting yang sudah dikeluarkan dari cangkangnya.

.

“Tidak ada. Hanya merindukanmu”, jawabku.

.

“Hhh… Apakah kau bahkan sedang menjawab pertanyaanku saat ini?” tanya Hyesoo yang merasa bingung.

.

“Tentu saja. Aku mendengarmu dengan sangat jelas, Hyesoo-ya. Tidak ada hal yang terjadi. Aku begitu mudah teralihkan karena aku merindukanmu. Itu adalah jawaban atas pertanyaanmu”, jawabku memberikan penjelasan padanya.

.

“Saat ini aku sedang bersamamu”, kata Hyesoo.

.

“Tetap merindukanmu”, kataku jujur.

.

“Baiklah. Tunda dulu kerinduanmu itu. Sekarang kau harus makan. Aku tidak suka melihatmu menjadi kurus”, kata Hyesoo.

.

“Begitupun denganku. Bicara tentang itu, apakah kau tidak makan dengan baik selama kepergianku? Ada apa dengan bentuk tubuhmu yang menjadi semakin kurus ini?” protesku sambil mengambil potongan kimchi.

.

“Aku makan dengan baik. Aku hanya melewatkan waktu untuk makan sesekali. Jadwal operasi yang harus kutangani seringkali melebihi durasi operasi yang biasanya kutangani. Kasus yang dimiliki pasien semakin rumit akhir-akhir ini. Beberapa diantara mereka memiliki masalah lain dalam tubuhnya. Karena itu, operasi kolaborasi harus dilakukan. Dan waktu yang dibutuhkan tidak sebentar”, kata Hyesoo menjelaskan.

.

“Aku akan memastikan kau makan tepat waktu selama bersamaku. Kau tidak akan bisa mengelak dariku sedikitpun”, kataku.

.

Hyesoo tersenyum setelah mendengar ucapanku. Sebuah senyuman darinya mampu membuat mood-ku membaik dengan mudah. Entah apa yang terjadi dengan tubuhku. Reaksinya sangat berlebihan jika berhubungan dengan Hyesoo. Kelegaan juga menghampiriku dengan begitu cepat saat melihatnya makan.

.

“Bagaimana dengan rapatmu hari ini? Wajahmu tidak terlihat begitu baik saat kembali ke rumah”, tanya Hyesoo.

.

“Wajahku sudah tidak terlihat baik didetik aku mengetahui bahwa hari ini aku harus menghadiri sebuah rapat, Lee Hyesoo. Aku sangat merindukanmu dan ingin menghabiskan waktuku bersamamu. Tapi, mereka mengurungku di ruang rapat itu”, kataku.

.

“Jadi, ekspresi wajahmu seperti ini bukan karena hasil rapat yang tidak menyenangkan?” tanya Hyesoo dengan senyum riangnya.

.

Aku menggeleng menjawab pertanyaannya. “Aku bahkan ragu aku mendengarkan semua hal yang dibahas dalam rapat itu”, kataku menambahkan.

.

“Hhh… Kau ini. Ah, apakah pengunduran diri Sooyoung juga dibahas disana?” tanya Hyesoo penasaran.

.

Aku menjawabnya dengan anggukkan kali ini, sambil mengunyah makanan dalam mulutku. “Prosesnya sudah selesai. Sooyoung bisa meninggalkan kantornya kapanpun dia mau. Kudengar Kim Jaejoong juga sudah melakukan beberapa pekerjaan Sooyoung selama seminggu terakhir. Dia (Sooyoung) sudah melakukan hal yang tepat”, kataku.

.

“Kupikir juga begitu. Sooyoung tidak pernah benar-benar menyukai pekerjaannya. Dia memiliki jiwa bebas dalam dirinya. Pertunjukkan adalah dunianya. Rumah sakit bukan tempat yang baik untuk gadis riang itu”, kata Hyesoo.

.

“Kau sangat menyukai Choi Sooyoung”, kataku. Darimana asalnya pemikiran konyol ini?

.

“Kau benar. Sooyoung sudah kuanggap seperti adikku sendiri, seperti Hyeri”, kata Hyesoo. “Tapi, aku lebih menyukaimu”, sambung Hyesoo.

.

“Kau lebih banyak menghabiskan waktumu bersama Sooyoung”, protesku. Aku terdengar seperti pria pencemburu sekarang. Ada apa denganmu hari ini, Cho Kyuhyun?

.

“Hhh… Kau mulai lagi”, kata Hyesoo sambil bangkit berdiri, membawa serta peralatan makan kami ke bak cuci piring. “Tentu saja aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersamanya. Kau sudah lupa? Seorang Direktur yang bernama Cho Kyuhyun sangat sibuk. Dia selalu bekerja. Menyebalkan…” sambung Hyesoo dengan nada jenakanya. Senyum riang itu kembali menghiasi wajah cantiknya.

.

Senyumannya dengan mudah menular padaku. Hari ini Hyesoo begitu riang. Setiap ucapan yang keluar dari bibirnya, setiap tindakan yang ia lakukan, dan setiap gerakan yang ditunjukkannya begitu menyenangkan. Ia meredakan emosi bergejolakku dengan begitu mudah. Ia juga membuatku menyerah padanya hanya dengan tindakan kecil yang dilakukannya. Hyesoo menggangguku dan menggodaku disaat yang bersamaan. Ia membuatku frustrasi, serta meredakannya dengan mudah setelahnya. Sepertinya aku sudah dibuat gila olehnya. Gerakan yang Hyesoo lakukan kembali mengalihkanku. Ia berjalan di dapur dengan kaki telanjang, kesana kemari meletakkan setiap barang kembali ke tempatnya. Hyesoo membuka lemari es, lalu mengeluarkan botol jus jeruk. Ia menuangkannya ke gelas yang diraihnya dari rak penyimpanan. Sesaat setelahnya, cairan kuning itu sudah memasuki mulutnya, bergerak melalui tenggorokannya, membuat sebuah pergerakan disana. Membuatku ingin menyentuhnya, menyesapnya. Aku berdeham setelahnya untuk menghilangkan pikiran ini dari otakku. Hyesoo benar. Aku begitu mudah teralihkan setelah kembali dari New York. Setelah aku kembali bertemu dengannya.

.

“Aku akan memberitahu Min ahjumma bahwa kita sudah selesai makan. Kau masuk saja ke kamar dan mandi”, kata Hyesoo menyadarkanku dari khayalanku.

.

“Kau tidak ikut bersamaku?” tanyaku. Pertanyaan apa itu?

.

“Tidak. Pertama, aku sudah mandi. Kedua, airnya cukup dingin. Dan kau mengetahuinya dengan baik bahwa aku tidak terlalu suka mandi dengan air hangat”, Hyesoo menjawabku dengan santai.

.

“Airnya tidak akan terasa dingin jika bersamaku”, balasku. Hentikan, Cho Kyuhyun…

.

“Rupanya Cho Kyuhyun si anak remaja ikut kembali ke rumah ini. Sulit sekali membuatmu pergi mandi”, protes Hyesoo.

.

“Aku sangat malas, Hyesoo-ya. Kalau kau bersikeras, kau bisa membantuku mandi”, kataku.

.

“Ide bagus”, kata Hyesoo, membuatku mengerutkan keningku karena terkejut dengan ucapannya. “Aku bisa meminta Min ahjumma untuk membantumu. Kau sudah terbiasa dimandikan olehnya sejak kecil, bukan?” sambung Hyesoo.

.

“Lupakan saja…”

.

Aku mendengus pelan mendengar ucapannya. Hilang sudah harapanku. Semula kupikir Hyesoo benar-benar menyetujui ideku. Jangan bermimpi Cho Kyuhyun... Akupun beranjak dari kursiku, kemudian berjalan meninggalkan ruang makan. Tawa kecil Hyesoo terdengar begitu riang. Meski sedang merasakan kekecewaan, tapi aku begitu bahagia. Hyesoo terlihat begitu santai di rumah. Aku sangat menyukainya. Hyesoo yang sibuk di Rumah Sakit seringkali membuatku khawatir. Terlebih dengan kebiasaannya yang sering melupakan makan saat sedang sibuk dengan pekerjaannya. Mendapatinya berada di rumah dengan semua kebiasaannya begitu menenangkan hatiku.

.

.

.

Hyesoo’s POV

Beberapa hari kemudian

Shinsung Hospital

.

Sesi konsultasiku dengan keluarga pasien baru saja selesai. Aku merasa sangat lega atas perkembangan pasienku yang begitu pesat. Senyum yang tergambar diwajah kedua orang tuanya membuatku ikut merasakan kehangatan. Kebahagiaan datang dengan cara yang sederhana padaku. Hanya saja, kebahagiaan itu tidak bisa mengalihkan perhatianku. Saat ini aku sedang merasa terganggu. Pria pemarah itu belum memberikan kabar apapun padaku hari ini. Mungkin dia masih tidur. Tidak… Mustahil! Saat ini sudah pukul 10. Mungkin Kyuhyun sedang menghadiri sebuah rapat dengan salah satu kliennya. Akupun tidak memahami emosiku yang begitu fluktuatif hari ini. Aku marah karena hal kecil. Aku juga mudah tergganggu dengan hal sepele. Entah apa yang terjadi padaku.

.

Aku melirik kearah sebuah kalender yang berdiri disisi kiri mejaku. Ini adalah hari ke-8 kepergian Kyuhyun. Ia menghabiskan waktu satu minggu sebelumnya di Tokyo. Seharusnya saat ini Kyuhyun sudah memberi kabar padaku. Menurut jadwal, pesawatnya mendarat di Pulau Jeju pukul delapan. Dua jam sudah berlalu, tapi tidak ada satupun kabar yang kuterima. Bahkan Lee Taemin… Aku menghela napasku dengan kasar, merasa frustrasi dengan tindakan yang dilakukan Kyuhyun. Aku sangat ingin memukulnya saat ini. Tapi, kurasa aku harus menunggu satu minggu lainnya untuk bertemu dan memukulnya dengan keras. Itupun jika amarahku belum mereda. Kehadiran Kyuhyun disekitarku terlalu mudah mengalihkanku. Aku tidak bisa mempertahankan amarahku dengan mudah saat bersamanya.

.

Aku mulai merasa bosan. Aku masih mempunyai waktu kira-kira empat jam sebelum jadwal operasi selanjutnya. Aku tidak lapar, meski aku belum makan apapun sejak pagi. Nafsu makan sedang tidak berpihak padaku hari ini. Kyuhyun akan protes dengan perilakuku. Dia tidak disini, Lee Hyesoo. Akupun memutuskan untuk keluar dari ruangan dan mengunjungi UGD. Aku bisa memeriksa keadaan disana. Aku juga bisa memberikan sedikit bantuan. Awalnya kupikir situasi diluar ruanganku akan lebih ramai. Tapi, ternyata dugaanku salah. Situasi Rumah Sakit hari ini lebih sepi dari yang kupikirkan. Tidak banyak orang berlalu lalang di koridor. Ruang tunggu didepan ruangan poli juga tidak dipenuhi dengan pasien. Aku merasa semakin bosan. Kakiku juga terasa pegal. Tidak biasanya. Aku tidak pernah merasa sepegal ini saat mengenakan high heels. Aku harus segera ke kamar jaga untuk mengganti sepatuku. Seingatku ada sepatu kets yang kutinggalkan di lemari penyimpanan. Aku masuk kedalam lift yang juga tidak berisikan satu orangpun. Kemana perginya semua orang hari ini?

.

Pintu lift terbuka. Aku tiba di lantai dasar. Kakiku benar-benar menyerah bahkan sebelum aku sampai di kamar jaga para residen dan intern.

Akupun melepaskan kedua sepatuku, lalu membawa serta keduanya saat aku kembali melangkahkan kakiku. Rasanya begitu nyaman berjalan tanpa heels tinggi ini. Seolah ikatan kencang yang menghalangi kakiku sudah terlepas membebaskan langkahku. Aku sedikit terkejut dengan ketidakpedulianku pada setiap mata yang memandangku. Sebelumnya, wajahku akan memerah dengan mudah jika menjadi pusat perhatian banyak orang dalam satu waktu. Tapi, kali ini aku tidak peduli. Kenyamanan yang kurasakan mengalahkan rasa risihku akan tatapan banyak orang. Seketika aku merasa seperti bukan diriku.

.

“Lee Hyesoo, apa yang terjadi dengan sepatumu? Kau melukainya?” tanya Lee Jinki yang menghentikan langkahnya saat berpapasan denganku di koridor.

.

Oh, shut up! Aku korbannya kali ini”, kataku meladeni gurauannya.

.

“Kau mau kemana dengan bertelanjang kaki seperti ini?” tanya Jinki.

.

“Kamar jaga. Aku menyimpan sepatu kets disana”, jawabku.

.

“Aku akan memberikan saran padamu. Kenakan sepatumu sebentar saja. Direktur Choi sedang berkeliaran bersama dewan direksi yang lain di lantai ini”, kata Jinki sambil tersenyum jahil.

.

Aku menghela napas pelan mendengarnya. Waktunya sangat tidak tepat. Akupun segera mengenakan sepatuku. Aku cukup kesulitan untuk mengenakan sepatuku yang lain. Jinki menawarkan bantuannya untuk memegang tanganku agar aku bisa menjaga keseimbanganku saat mengenakan sepatuku. “Sepatu ini membunuhku. Ototku seperti tertarik dengan kencang”, kataku.

.

“Anda sudah bekerja dengan sangat keras, Nyonya Direktur”, ujar Jinki kembali menggodaku.

.

“Berhenti menggodaku, Lee Jinki. Kau tidak akan senang jika sepatu ini juga menyakiti kepalamu”, balasku.

.

“Whoa… Kau jahat sekali, Nyonya Cho. Aku sudah membantumu, tapi kau ingin memukul kepalaku dengan high heels pembunuhmu itu”, kata Jinki sambil tertawa kecil.

.

“Kau yang memancingku untuk melakukannya”, balasku.

.

“Tapi, Lee Hyesoo, apakah kau baik-baik saja?” tanya Jinki dengan kerutan kecil di keningnya.

.

“Selain kedua kakiku yang menjerit kesakitan, aku baik-baik saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?” Aku balas bertanya.

.

“Begitu? Hm… Aneh. Mungkin tanganku yang dingin”, kata Jinki sambil menyentuhkan tangannya dikeningnya sendiri.

.

“Lee Jinki, ada apa?” Aku kembali bertanya padanya.

.

“Suhu tubuhmu cukup tinggi. Wajahmu juga memerah. Kurasa kau demam. Kau yakin tidak merasakan apapun? Pusing, mungkin?” tanya Jinki.

.

“Aku baik-baik saja, Lee Jinki. Mungkin aku hanya kelelahan”, jawabku. “Sudahlah. Aku harus segera menyingkirkan sepatu ini”, sambungku.

.

“Kau benar. Cepat pergi sebelum kakimu benar-benar menyerah”, ujar Jinki.

.

“Baiklah. Sampai nanti”, kataku padanya.

.

Aku kembali berjalan menuju kamar jaga. Tidak ada siapapun disana. Semua orang sedang menjalankan tugas mereka masing-masing. Aku masuk kedalam ruangan yang sudah tidak berbentuk itu untuk mencari sepatuku. Beruntung karena sepatu yang kutinggalkan masih tetap berada pada tempatnya. Aku segera keluar dari ruangan setelah mengenakan sepatu kets-ku. Suasana di UGD tidak seramai seperti dugaanku. Ryeowook sedang menangani sebuah operasi, begitu pula dengan Jaejoong sunbae. Tidak ada pasien gawat darurat yang datang. Aku bersyukur akan hal itu. Tapi, disaat yang sama aku juga merasa semakin bosan. Setiap pasien yang datang sudah ditangani dengan baik oleh para intern. Meski sudah datang ke UGD -dengan sangat siksaan yang diberikan oleh sepatuku- aku tetap menjadi dokter tanpa kesibukan. Akupun duduk disalah satu kursi kosong. Kusibukkan diriku dengan membaca rekam medik pasien yang tertumpuk rapi dihadapanku. Setidaknya kegiatan ini lebih baik daripada duduk diam di dalam ruanganku.

.

“Lee Hyesoo, kau mabuk?” tanya Soyu yang menghampiriku sekembalinya dari ruang ICU.

.

“Apa kau sudah gila? Apakah kepalamu terbentur mesin di ruang ICU? Aku bahkan tidak pernah minum alkohol sampai mabuk, Kang Soyu. Ada apa denganmu?” protesku.

.

“Bukan begitu”, kata Soyu sambil tertawa kecil. “Apakah kau tidak menyadarinya? Wajahmu memerah seperti seseorang yang sedang mabuk, Hyesoo-ya. Itulah sebabnya aku bertanya padamu”, sambung Soyu menjelaskan alasannya. “O! Kau sakit? Apakah kau sedang demam?” tanya Soyu yang berubah khawatir.

.

“Kau bukan orang pertama yang mengatakannya. Kau punya cermin atau sesuatu yang lain. Aku ikut penasaran ingin melihat kondisi wajahku”, kataku.

.

“Kau sudah mendengar hal itu sebelumnya dan kau masih tidak mencurigai apapun? Dokter macam apa kau, Lee Hyesoo”, protes Soyu kali ini sambil memberikan cermin yang diambilnya dari laci meja.

.

Kedua mataku melebar saat melihat kondisi wajahku dengan mata kepalaku sendiri. Aku menyentuhkan jari-jariku disekitar pipiku. Wajahku benar-benar memerah. Warnanya begitu kontras terlihat saat berdampingan dengan kulit tanganku seperti ini. Aneh sekali. Aku tidak merasakan apapun. Warna merahnya tidak terlalu jelas seperti seseorang yang sedang terserang alergi. Warnanya lebih terlihat seperti semburat merah muda. Tepat seperti yang dikatakan oleh Jinki beberapa saat yang lalu. Siapapun yang melihatku, mereka pasti akan mengira aku sedang demam. Mungkinkah aku memang sedang demam?

.

“Tolong sentuh aku”, pintaku pada Soyu.

.

“Apa?” tanya Soyu bingung.

.

“Jinki mengatakan suhu tubuhku sedikit hangat saat menyentuh tanganku. Aku tidak bisa merasakan apapun jika menyentuhnya dengan tanganku sendiri”, jawabku.

.

Soyu segera menyentuhkan telapak tangannya di keningku. Sensasi dingin ditangannya membuat mataku terpejam cepat sesaat karena terkejut. “Kau demam Hyesoo-ya. Apakah kau tidak merasakan apapun?” tanya Soyu sambil melepaskan tangannya.

.

Aku menggeleng perlahan, tidak benar-benar yakin dengan jawabanku. “Aku merasa baik-baik saja. Aku tidak merasakan keanehan apapun”, jawabku.

.

“Apakah kau tidak merasa pusing?” tanya Soyu lagi.

.

“Tidak. Aku baik-baik saja, seperti biasanya”, jawabku.

.

“Apa kau sudah sarapan?” tanya Soyu.

.

“Aku sedang tidak nafsu makan. Aku sedikit mual pagi ini. Mungkin karena suhu pendingin ruangan dikamarku terlalu rendah semalaman”, jawabku.

.

“Apa kau yakin? Kau tidak memikirkan kemungkinan lain?” tanya Soyu dengan nada curiga.

.

“Kemungkinan lain, seperti?” Aku balas bertanya padanya.

.

“Sepertinya aku belum mendengar keluhan atas menstruasimu akhir-akhir ini. Mungkin kau sedang……hm?” kata Soyu mengutarakan dasar dugaannya.

.

“Mungkin datang terlambat. Akhir-akhir ini aku kelelahan dan sedikit stres dengan pekerjaan. Itu adalah hal yang wajar. Jangan berpikir terlalu jauh, Soyu-ya”, kataku.

.

“Aku hanya menduga. Karena, kau tahu, kau selalu mengeluh saat sedang menstruasi. Entah karena kram perut, atau karena pinggulmu yang terasa pegal. Aku belum mendengar keluhan itu darimu. Tapi, kau mungkin benar. Kau memang terlalu sibuk bekerja, Hyesoo-ya”, kata Soyu.

.

“Aku lebih memilih bekerja daripada berdiam diri di rumah seorang diri, Soyu-ya. Kyuhyun sangat sibuk dengan pekerjaannya”, keluhku.

.

“Kau merindukannya?” tanya Soyu.

.

“Sangat”, jawabku jujur. “Aku benci saat dia terlalu sibuk dan mengabaikan teleponku. Bahkan Lee Taemin juga tidak menjawab ponselnya. Sepertinya aku harus mempekerjakan seorang yang lain sebagai pemberi informasi untukku”, sambungku.

.

“Sekarang kau mulai bersikap sepertinya, Hyesoo-ya. Darimana datangnya Lee Hyesoo yang possessive ini?” goda Soyu.

.

“Ah… Kau benar. Kurasa sikap possessive Cho Kyuhyun mulai menular padaku”, kataku sambil meletakkan kepalaku diatas meja.

.

“Hhh… Ini bukan berita yang baik. Kuharap kau hanya akan possessive padanya, tidak pada yang lain”, kata Soyu dengan nada jenakanya, mengundangku untuk ikut tertawa bersamanya. “Tapi, Hyesoo-ya…”

.

“Hmm?” tanyaku dengan gumaman.

.

“Apakah kau benar-benar tidak ingin menduga apapun? Maksudku, kau bisa memeriksanya. Hanya untuk memastikan. Hamil adalah hal yang wajar untuk seorang wanita yang sudah menikah”, kata Soyu.

.

“Aku tidak ingin kecewa karena terlalu berharap, Soyu-ya. Aku akan mempertimbangkannya. Jika kondisiku semakin mengarah pada gejala kehamilan, maka aku akan segera memeriksanya. Tapi, tidak sekarang. Kurasa aku hanya terlalu kelelahan”, kataku.

.

Soyu menganggukkan kepalanya, setuju dengan keputusanku. Aku tidak pernah memikirkan apapun tentang kehamilan sebelumnya. Aku dan Kyuhyun terlalu sibuk dengan pekerjaan kami, sehingga kami melupakan beberapa hal yang mungkin saja terjadi. Aku mulai meragukan pendapatku sendiri. Aku kembali memikirkan kemungkinan yang dibicarakan oleh Soyu. Bukan hanya pagi ini aku merasakan mual. Akupun begitu mudah merasa lelah. Aku tidak pernah mengeluhkan high heels-ku sebelumnya. Menstruasiku memang datang sedikit terlambat bulan ini. Tapi, itu adalah hal yang wajar saat aku sedang terlalu stres. Emosiku berubah fluktuatif akhir-akhir ini. Dan, kurasa hormonku juga menunjukkan perubahan. Fokusku tidak pernah teralihkan oleh bentuk tubuh pria. Ada ratusan bahkan ribuan pasien pria yang memiliki bentuk tubuh mendekati sempurna. Tapi, Kyuhyun mampu mengalihkanku dengan mudah hanya dengan tatapan matanya. Oh, apa yang kau pikirkan, Lee Hyesoo? Tentu saja kau teralihkan olehnya. Dia adalah suamimu. Aku menghela napas pelan setelahnya. Kurasa aku sudah membuat keputusan yang benar. Aku akan memeriksakannya jika kondisiku semakin mengarah pada gejala kehamilan. Sampai saat itu terjadi, aku akan berhati-hati dengan tubuhku.

.

.

.

Author’s POV

At the same time in Jeju

.

“Laporan apa ini? Kenapa kalian tidak bisa melakukan pekerjaan dengan benar?” bentak Kyuhyun pada seorang manajer.

.

“Saya minta maaf, Direktur. Saya akan memperbaikinya”, kata manajer itu.

.

“Aku tunggu revisi dari laporan itu setelah makan siang. Aku tidak akan menerima alasan apapun atau permintaan maaf untuk kedua kalinya. Pergilah…” kata Kyuhyun.

.

“Baik, Direktur”, jawabnya.

.

Manajer Gong keluar dari kamar Kyuhyun dengan ekspresi muram diwajahnya. Ia harus menerima kemarahan Kyuhyun karena satu kesalahan yang dilakukan oleh timnya. Terdapat satu huruf dengan penulisan yang salah dalam laporan itu. Kyuhyun bisa saja memaafkannya. Hanya saja, suasana hati Kyuhyun sedang tidak secerah cuaca di Pulau Jeju. Amarah Kyuhyun sudah berkumpul sejak jadwal penerbangannya tertunda selama hampir dua jam. Selain itu, mobil yang menjemputnya di bandara mengalami kerusakan ditengah perjalanan mereka menuju hotel. Akhirnya amarah Kyuhyun meledak saat kekacauan ketiga terjadi dihadapannya. Manajer Gong terpaksa harus berlapangdada menanggung akumulasi kemarahan Kyuhyun.

.

“Direktur, apakah anda baik-baik saja?” tanya Taemin yang berdiri disisi kanan Kyuhyun.

.

“Kenapa kau bertanya seperti itu padaku?” Kyuhyun balas bertanya.

.

“Anda tampak berbeda hari ini, Direktur. Anda tidak pernah semarah ini sebelumnya, bahkan disaat masalah yang anda hadapi lebih berat dari masalah yang terjadi hari ini”, jawab Taemin.

.

“Aku terlihat kacau, aku tahu. Tapi, aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya kelelahan, dan merindukan Hyesoo”, kata Kyuhyun sambil memijat keningnya.

.

“Saya mengerti, Direktur. Apakah anda ingin secangkir teh?” tanya Taemin menawarkan solusi untuk meredakan amarah Kyuhyun.

.

“Tidak perlu. Aku akan keluar sebentar untuk menjernihkan pikiran”, kata Kyuhyun yang segera beranjak dari kursinya.

.

“Baik, Direktur”, kata Taemin sambil menundukkan kepalanya.

.

Kyuhyun keluar dari kamar hotel tempatnya menginap dan melakukan pekerjaannya selama berada di Pulau Jeju. Kyuhyun meninggalkan jasnya didalam kamar, serta melepaskan dasinya. Ia memilih untuk berjalan-jalan hanya dengan mengenakan celana panjang dan kemeja yang sudah tergulung dibagian lengan. Kyuhyun sendiri bahkan tidak tahu hal mana yang lebih membuatnya tergganggu. Kelelahan dan merindukan Hyesoo, ia merasakan keduanya. Dua hari penuh bersama Hyesoo yang ia lalui satu minggu yang lalu dirasakan belum cukup untuk mengobati kerinduannya.

.

‘Lee Taemin benar. Aku tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Aku memang bukan pria yang lembut dan tidak pernah marah. Hanya saja, membentak karyawan seperti yang kulakukan beberapa saat yang lalu sangat tidak seperti diriku. Terlebih hanya karena kesalahan dalam penulisan satu kata. Ada apa denganku? Emosiku begitu tidak terkendali akhir-akhir ini. Sepertinya aku memang harus memikirkan untuk mengajukan cuti. Aku terlalu sibuk bekerja selama beberapa tahun ini’, kata Kyuhyun dalam pikirannya.

.

Kyuhyun terlalu sibuk dengan pikirannya, hingga ia tidak memperhatikan langkahnya. Ia menabrak seseorang saat sedang berjalan di koridor menuju lift. Ponsel milik seseorang yang ditabrak oleh Kyuhyun terjatuh didekat kakinya. Kyuhyun segera menunduk untuk mengambil ponsel itu. Sepasang kaki jenjang yang mengenakan sepatu high heels melangkah mendekat pada Kyuhyun. Ia kembali menegakkan tubuhnya untuk mengembalikan ponsel itu dan meminta maaf atas kecerobohannya. Namun, sosok wanita yang berdiri dihadapannya itu justru membuat keningnya berkerut, memunculkan v kecil disana.

.

“Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini, Cho Kyuhyun”.

.

“Bae Suzy?”

.

.

.

.

TBC

.

Note:

Hello, readersnim-deul!!! Satu part lagi terlewati. Seperti yang kukatakan sebelumnya, pertanyaan kalian sudah terjawab di part kedua ini. Benar. Seo Kangjun adalah teman kuliah Hyesoo di London. Ia datang ke Seoul karena pertukaran dokter selama setahun. Hm… Sepertinya sampai akhir part ini belum ada masalah yang benar-benar terlihat, ‘kan? Hubungan Hyesoo dan Kyuhyun masih aman tentram tanpa gangguan.

Nah… Mulai ada dugaan kehamilan Hyesoo. Apakah Hyesoo benar-benar hamil? Atau justru hanya seperti dugaan Hyesoo yang menyatakan bahwa dirinya kelelahan dan stres. Satu lagi tokoh yang muncul di part ini. Bae Suzy. Kali ini tokoh baru yang muncul mengenal Kyuhyun. Siapakah Bae Suzy? Apa hubungannya dengan Kyuhyun? Nantikan kelanjutan kisahnya di part selanjutnya. Kana pamit! Annyeonghigaseyo…

Advertisements

19 thoughts on “Beautiful Tomorrow : Part 2

  1. Kayanya dugaan soyu bener deh klo hyunsoo hamil, semoga aja bner, mereka kan udh 1 thn nikah
    Dan apa itu ? Siapa itu? Bae suzy? Bakalan jadi masalah ga aya dia

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s