Beautiful Tomorrow : Part 1

Author: Okada Kana

Category: NC-17, Romance, Chapter

Cast:

Cho Kyuhyun, Lee Hyesoo (OC)

Kang Soyu, Choi Sooyoung, Kim Ryeowook, Bae Irene, Kim Jaejoong, etc.

Disclaimer:

Annyeonghaseyo!!! Kana kembali hadir dengan Sequel dari FF “I’m walking towards you”. Para readers yang sudah membaca FF sebelumnya pasti tahu bagaimana kisah para tokoh. Untuk readers yang baru berkunjung ke blog-ku, kalian tidak dilarang untuk membaca FF ini. Tapi kalian akan kehilangan sensasi yang diberikan kisah para tokoh dalam FF ini kalau kalian tidak membaca FF sebelumnya. Okay! FF ini akan menceritakan kehidupan Kyuhyun dan Hyesoo setelah pernikahan mereka. Caution! Part perdana ini memuat adegan NC. Bagi yang berusia dibawah 17 tahun, harap mematuhi aturan dengan tidak membacanya, atau melewati part yang mengandung NC dalam FF ini.

FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi atau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com. Please, no bash, spam, mengejek, mengolok, dan menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Mari saling menghargai satu sama lain. Akhir kata, selamat membaca!!!

.

 

 

 

.

Beautiful Tomorrow

Part 1

.

 

 

 

.

Hyesoo’s POV

Pukul 3 di Shinsung Hospital

.

Musim semi sudah mendekati penghujung waktunya. Keberadaannya akan segera digantikan oleh musim panas yang saat ini masih melakukan persiapan. Hawa dingin sisa musim salju sudah lama pergi. Sebagai gantinya, sinar matahari dan angin semilir hadir untuk menyertai hari. Aku sudah menjadi penikmat keduanya sejak beberapa menit yang lalu. Berbaring di salah satu kursi malas di balkon yang terhubung dengan ruang kerja Kyuhyun. Tempat ini menjadi salah satu tempat beristirahat favouriteku. Karena disini aku bisa mendapatkan lebih banyak asupan oksigen untuk menjernihkan pikiranku, serta memulihkan lelah yang kurasakan disetiap bagian tubuhku. Hari sudah beranjak sore. Namun, matahari tampaknya masih menikmati permainan petak umpetnya bersama awan. Sayang sekali awan lebih sering kalah, sehingga matahari selalu mendapat kesempatan untuk bersembunyi. Angin memiliki intensitas lebih banyak untuk menyapaku hari ini. Beruntungnya aku, karena udara musim semi menghangatkan sentuhan angin dikulitku. Sentuhan itu membawaku berlari menghampiri memory manis diwaktu lalu.

.

.

.

Flashback

.

Aku duduk di dalam sebuah ruangan tanpa rasa ragu. Gemetar kecil sesekali menghampiriku. Detak jantung berdegup tidak menentu. Aku mencoba menenangkan diri dengan meyakinkan diriku bahwa semua akan baik-baik saja. Namun rasa gugup tidak segera meninggalkan diriku. Kecemasan justru semakin memenuhi kepalaku. Bagaimana jika kakiku terlalu lemas untuk berjalan? Bagaimana jika tangan ini terlalu gemetar untuk menggenggam? Bagaimana jika tidak ada satupun kata yang mampu kuucapkan karena terlalu gugup? Semua pemikiran itu membuatku gila. Aku jadi merasa mual karena memikirkannya. Hingga pintu ruangan terbuka, memunculkan sosok beberapa orang yang menghampiriku. Mereka membawaku berjalan keluar dari ruangan itu. Tuntunan mereka disisi kanan dan kiri membuatku mampu berjalan tanpa membuat kesalahan apapun. Hingga kedua mataku menangkap sosok appa yang menantiku dengan senyum bahagia diwajahnya. Ia meraih tanganku, lalu merangkulkannya dilengan kirinya. Aku merasa begitu aman dalam tuntunannya. Seolah tidak ada siapapun yang bisa menjatuhkanku.

.

Lantunan piano yang mulai mengalun indah justru mengembalikan kegilaanku. Suara dentingannya seolah bergema dalam kepalaku, memunculkan rasa gugup yang sempat hilang. Tanpa sadar, akupun meremas pelan lengan appa, membuatnya menoleh padaku. Sebuah tepukan lembut sebanyak dua kali kudapatkan darinya, menjadi sumber keyakinanku bahwa semua memang akan baik-baik saja. Appa tidak akan membiarkan apapun terjadi padaku. Appa mulai melangkah setelahnya, membuatku ikut melangkah bersamanya. Aku tidak dapat mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Leherku sontak terasa begitu kaku. Kedua mataku hanya mampu menangkap gambaran kelopak-kelopak bunga yang jatuh menyentuh dasar dengan cantik. Appa mengatakan seseorang berdiri dengan begitu gagah dan tampan didepan sana, membuatku tergerak untuk melihatnya juga. Disanalah aku menemukannya, yang berdiri dengan senyum mengembangnya. Gerakan bahunya yang terjatuh pelan menandakan bahwa ia baru saja menghela napas panjang untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ternyata aku bukan satu-satunya orang yang gugup disini.

.

Tatapan mata kami bertemu, terkunci pada satu sama lain tanpa penghalang. Ia terlihat begitu bahagia dalam kegugupan yang tidak tertutupi dengan mudah itu. Seolah ia bisa berlari berkeliling andai tidak ada upacara yang harus dilakukan terlebih dahulu. Senyumnya semakin melebar, memunculkan barisan gigi rapi dan mata yang berbentuk seperti bulan sabit. Tanpa kusadari, jarak diantara kami sudah semakin menipis. Senyum lebarnya mereda, digantikan dengan senyum hangat yang disertai tatapan lembut. Tangannya terjulur, menyambut tanganku yang diserahkan padanya oleh appa setelahnya. Aku menoleh pada appa yang menatap haru pada kami berdua. Appa menganggukkan kepalanya pelan beberapa kali, menguatkanku agar mantap melangkah. Aku memeluk erat tubuh appa sebelum menuju tempatku disisi pria yang akan segera menjadi segalaku. Kemudian Kyuhyun meletakkan tanganku di lengannya, membawaku serta bersamanya melangkah menuju ke depan altar.

.

“Kau sempurna, Lee Hyesoo”, kata Kyuhyun memujiku dengan suara pelan.

.

“Aku harus menyesuaikan diri denganmu”, kataku balas memujinya dengan kata yang tersirat.

.

Kami tiba didepan altar. Senyum diwajahnya kembali mengembang. Ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Kyuhyun terlihat seperti seorang anak kecil disaat seperti ini. Ia terlihat begitu bahagia, polos, dan manis. Aku tidak dapat melihat dan mendengar yang lainnya dalam ruangan ini. Hanya suara Kyuhyun yang terdengar. Hanya wajah Kyuhyun yang kulihat. Karena dalam waktu sekejap, pria ini akan menjadi milikku. Hanya milikku. Kyuhyun selalu berkata bahwa aku tidak akan bisa membayangkan kebahagiaan yang ia rasakan saat akhirnya aku menjadi miliknya. Iapun selalu menyatakan rasa cintanya yang lebih besar daripada cintaku padanya. Aku tidak akan menyanggahnya. Karena bagiku, tidak perlu mementingkan siapa yang memiliki cinta lebih besar dari yang lainnya. Kami saling mencintai. Dan kami bahagia dengan cinta yang kami miliki. Semua itu sudah lebih dari cukup untuk dijadikan alasan tetap bertahan hidup.

.

“Cho Kyuhyun, apakah kau bersedia menerima Lee Hyesoo sebagai istrimu?” tanya Pendeta.

.

“Saya bersedia”, jawab Kyuhyun tanpa ragu.

.

“Lee Hyesoo, apakah kau bersedia menerima Cho Kyuhyun sebagai suamimu?” Pendeta memberikan pertanyaan yang sama padaku.

.

Aku menghela napas pelan sebelum akhirnya menjawabnya. “Saya bersedia”, jawabku.

.

“Sekarang saya nyatakan kalian sebagai suami dan istri”, kata Pendeta setelahnya. “Silahkan mencium mempelaimu”.

.

Kyuhyun mendekat padaku, menghapus jarak diantara kami. Kalimat yang diucapkan oleh Pendeta sudah ia tunggu sejak lama. Masa persiapan pernikahan yang cukup lama sempat membuatnya tidak terkendali. Ia terlalu memikirkan banyak hal hingga fisik dan psikisnya pun dibuat lelah. Namun, kini semua penantian itu telah berakhir. Semua usahanya telah terbayar dengan kebahagiaan yang tidak terbayangkan. Semua luka, kesedihan, dan rasa sakit yang kami alami seolah hilang tanpa jejak. Kyuhyun yang bahagiapun tidak menyiakan waktunya. Ia meraih pinggangku mendekat, kemudian menyentuh rahangku dengan tangannya yang lain. Didetik berikutnya, bibirnya sudah melesak diantara bibir atas dan bawahku. Kyuhyun memperdalam ciumannya yang tidak terhalang apapun. Tepuk tangan para tamu bahkan tidak dianggap sebagai pengganggu olehnya.

.

Flashback end…

.

.

.

“Aigoo… Disini kau rupanya, Lee Hyesoo”, kata suara seorang wanita yang membangunkanku dari tidur singkatku.

.

Aku membuka kedua mataku yang masih terasa berat. Gambaran yang berbayang menyambut pandangan pertamaku. Saat semua berubah menjadi lebih jelas, aku menemukan sosok Soyu yang sedang duduk dihadapanku. Soyu memiringkan kepalanya, seolah itu bisa membantu untuk melihat wajahku, memastikan kesadaranku. Akupun menumpukan kepala tanpa bantalku dengan sebelah tangan, kemudian menatapnya dengan mataku yang belum terbuka lebar. Sebuah senyum tipis kuberikan padanya untuk menambahkan bukti bahwa aku sudah bangun dari tidurku.

.

Aku menghela napasku sebelum bertanya padanya. “Apakah ada yang mencariku?” tanyaku pada Soyu. Suaraku terdengar sedikit serak.

.

“Eo…” jawabnya singkat.

.

“Siapa? Ada kasus emergency?” tanyaku lagi sambil meregangkan otot.

.

“Tidak”, jawab Soyu masih dengan jawaban singkatnya.

.

“Lalu, siapa yang mencariku?” Aku kembali bertanya.

.

“Aku”, jawabnya disertai dengan senyuman tipis dibibirnya.

.

“Hhh… Kukira ada sebuah kasus penting yang butuh penangananku”, kataku sambil kembali memejamkan mataku.

.

“Masalahku tidak kalah pentingnya, Lee Hyesoo”, kata Soyu. Nada bicaranya terdengar bersungguh-sungguh, membuatku kembali membuka mata.

.

“Apa yang terjadi?” tanyaku dengan suara yang sudah sepenuhnya kembali normal.

.

Soyu memejamkan matanya, lalu menghela napas panjang. Aku baru menyadari kedua tangannya yang bertaut diatas pangkuannya. Ada sebuah kerutan kecil dikeningnya, menyatukan kedua alisnya menjadi satu garis. Aku tidak pernah melihat Soyu resah seperti ini. Ingatan akan Soyu dengan bahu terjatuh lunglai tidak pernah ada dalam kepalaku. Ia tidak segera menjawab pertanyaanku. Sehingga membuat kerutan yang sama akhirnya muncul dikeningku.

.

“Kang Soyu, kau sedang berdoa?” tanyaku mencoba menghapus keheningan yang tidak nyaman diantara kami.

.

“Ya! Lee Hyesoo! Bagaimana bisa kau bercanda disaat seperti ini? Tidak bisakah kau memahamiku?” kata Soyu melayangkan protesnya padaku.

.

“Aku tidak sedang bercanda”, kataku sambil beranjak bangun. Aku melipat kakiku, duduk bersila menghadap Soyu. “Bagaimana aku bisa memahamimu? Kau bahkan belum mengatakan apapun padaku. Ada apa? Katakan”, tanyaku sekali lagi.

.

“Kedua orang tua Yesung oppa akan tiba di Seoul dalam dua hari. Dia ingin aku menemui mereka”, jawab Soyu.

.

Oh my God…” kataku memberikan reaksi atas jawabannya.

.

Kim Yesung. 33 tahun. Seorang dokter obgyn yang bekerja di Wooseung Hospital di wilayah Incheon. Keduanya bertemu kira-kira satu tahun yang lalu saat menjadi relawan di Afrika. Saat itu, hubungan Soyu dan Soohyuk tidak berlanjut karena keadaan Soohyuk yang tidak bisa meninggalkan London, serta Soyu yang bersikeras tidak ingin meninggalkan Seoul. Soyupun menjalin hubungan pertemanan dengan Yesung selama beberapa bulan, sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih delapan bulan yang lalu. Sepanjang pengetahuanku akan hubungan keduanya, aku tidak pernah mendengar ada masalah yang berarti diantara mereka. Hubungan keduanya sangat baik. Mereka saling memahami dan mengerti satu sama lain. Hanya saja, beberapa minggu terakhir Soyu sesekali mengutarakan keraguannya. Aku tidak benar-benar yakin apa yang mendasari keraguan yang dirasakannya itu. Setelah kembali memikirkan tanggapanku akan ucapannya beberapa saat yang lalu, aku merasa telah menggunakan nada bicara yang salah. Seharusnya aku mengucapkannya dengan nada yang lebih riang. Aku tidak bermaksud membuat tiga kata yang kuucapkan itu terdengar tidak cukup baik.

.

“Apakah seburuk itu?” tanya Soyu.

.

“Tidak…” jawabku cepat dengan nada yang tepat kali ini. “Itu adalah berita yang bagus. Sedikit mengejutkan. Tapi dalam arti yang positif. Anyway, kenapa kau menunjukkan ekspresi itu diwajahmu?” tanyaku setelahnya.

.

“Entahlah, Hyesoo-ya. Aku hanya belum menemukan keyakinanku sepenuhnya”, jawab Soyu. “Apakah kau tidak berpikir bahwa ini terlalu cepat? Kami baru berhubungan selama beberapa bulan……”

.

“Delapan bulan”, kataku memotong ucapannya, memberikan angka pasti dari lamanya hubungan mereka.

.

“Benar. Delapan bulan”, kata Soyu yang ucapannya sempat terhenti karenaku. “Apakah sudah tiba waktunya untukku bertemu dengan kedua orangtuanya?”

.

“Kau hanya perlu bertemu dengan mereka. Apakah sulit untuk dilakukan?” tanyaku.

.

“Lee Hyesoo, kau bertemu dengan kedua orang tua Kyuhyun lima tahun sejak pertama kali kalian saling mengenal. Tentu tidak akan sulit bagimu. Tapi, berbeda denganku. Kami baru saling mengenal selama satu tahun. Hubungan kamipun baru menginjak usia delapan bulan”, jawab Soyu.

.

“Hm… Baiklah. Pertama, Kyuhyun sudah bertemu dengan keluargaku bahkan sebelum kami saling mengenal. Kedua, kau tidak dihadapkan dengan masalah saling donor atau masalah rumit seperti yang terjadi padaku. Ketiga, kau tidak bisa menghitung masa lima tahun perpisahan kami. Aku dan Kyuhyun tidak saling berhubungan selama itu. Intinya, aku bertemu dengan keluarga Kyuhyun dalam jangka waktu satu tahun setelah kami benar-benar saling mengenal”, kataku memberikan penjelasan pada Soyu.

.

“Jangan lupa, ada darah Cho Kyuhyun yang mengalir dalam tubuhmu”, kata Soyu tetap mencoba membuat perbedaan diantara mereka.

.

“Apa hubungannya? Soyu-ya, ada apa denganmu? Kenapa kau merasa ragu untuk bertemu dengan orang tua Yesung……oppa?” tanyaku yang hampir melupakan imbuhan oppa dalam sebutanku pada kekasih Soyu. “Apa ada hubungannya dengan Soohyuk? Kau masih belum benar-benar bisa melupakannya?”

.

“Apa? Tidak. Soohyuk tidak ada hubungannya dalam hal ini. Kenapa kau berpikir begitu?” Soyu balas bertanya.

.

“Entahlah. Aku hanya menduga. Karena, kau tahu… Kalian berdua tidak berpisah karena sebuah masalah. Kalian tidak saling menyakiti satu sama lain. Kalian juga tidak saling tersakiti. Hubungan kalian hanya dipisahkan karena jarak dan perbedaan prinsip. Semua hal selain itu berjalan dengan baik”, jawabku.

.

“Kami masih berhubungan dengan sangat baik sampai sekarang. Sebagai teman. Tapi, keraguanku benar-benar tidak ada hubungannya dengan Soohyuk”, kata Soyu. “Hanya saja… Aku tidak tahu, Hyesoo-ya. Selalu ada hal yang membayangiku. Seakan hal itu berada tepat dibelakangku dengan jarak kurang dari setengah meter dari punggungku”.

.

“Masa lalu? Jangan lakukan itu, Soyu-ya. Kau sudah melihat situasiku dengan mata kepalamu sendiri. Masa lalu menyakitiku dan Kyuhyun. Kami terjebak dalam usaha kami untuk menyelesaikan hal yang terjadi di masa lalu. Aku tidak ingin kau melakukan hal yang sama. Kita sudah tidak hidup disana [masa lalu]”, kataku.

.

“Tapi, kalian berdua berhasil terbebas dan hidup bahagia saat ini”, ujar Soyu.

.

“Jadi, kau ingin mencobanya?” tanyaku.

.

“Apa?” Soyu balas bertanya.

.

“Berkutat dengan masa lalu. Jika kau ingin mencobanya, maka lakukan saja. Terperangkap didalamnya [masa lalu] hingga salah satu diantara kau dan Yesung oppa terluka. Kita lihat siapa yang akan bertahan dan siapa yang akan pergi”, jawabku memberikan tantangan tak berdasar pada Soyu.

.

“Apa maksudmu?” tanya Soyu.

.

“Setiap orang diciptakan berbeda dengan yang lainnya, Soyu-ya. Aku yakin kau sangat mengetahui hal itu. Aku dan Kyuhyun pernah mengalaminya. Kami terhubung dalam masa lalu yang tidak cukup menyenangkan. Kami berusaha memperbaikinya, tapi justru hanya luka yang kami dapatkan”, jawabku. “Kau benar, kami memang berhasil terbebas dan menjadi bahagia saat ini. Mungkin kau juga bisa mendapatkan kebahagiaan yang sama. Tapi, bagaimana jika keadaannya berbeda? Ketika salah satu diantara kalian terluka, apakah kau memiliki jaminan bahwa kebahagiaan itu akan kau capai dengan mudah setelahnya? Selama lima tahun, aku dan Kyuhyun melewati hari kami dengan harapan dan keputusasaan, Soyu-ya. Kami berharap semua akan baik-baik saja. Tapi disaat yang sama, kami pasrah dengan segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Kau siap merasakannya? Kau siap kehilangan dia?” sambungku setelahnya.

.

“Tidak…” kata Soyu dengan suara pelan sambil memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya. “Aku sudah banyak kehilangan, Hyesoo-ya. Kali ini aku tidak ingin lagi. Aku mencintainya”, sambung Soyu.

.

“Kalau begitu, temui saja kedua orangtuanya. Kau adalah wanita yang percaya diri. Kau pasti bisa menghadapinya”, kataku mencoba meyakininya.

.

“Bagaimana jika mereka membicarakan tentang pernikahan?” tanya Soyu.

.

“Kembali padamu, apakah kau pernah memikirkan tentang pernikahan dengan Yesung?” tanyaku yang benar-benar melupakan sebutan oppa untuk kekasih Soyu itu.

.

“Tentu saja. Aku sudah berada dalam kategori usia yang sangat cukup untuk memikirkannya. Aku hanya belum benar-benar yakin akan melakukannya dalam waktu dekat”, jawab Hyesoo.

.

That’s it! Kalau kau sudah memiliki jawabannya, kenapa kau masih bertanya padaku? Hhh…” tanyaku.

.

“Kau benar”, jawab Soyu. “Hhh… Aku terlihat begitu kacau hari ini, bukan?”

.

“Lebih kacau dari yang pernah kulihat sebelumnya”, jawabku jujur. “Aku rasa kau butuh udara segar, Kang Soyu”.

.

“Sangat. Aku melakukan hal yang benar dengan mencarimu. Aku bisa mengutarakan masalah yang membuatku penat dan juga mendapatkan udara segar di balkon pribadi milik direktur muda berkepribadian buruk itu”, kata Soyu yang sudah kembali ke dirinya yang semula.

.

“Bukankah seharusnya kau berterimakasih pada pria berkepribadian buruk itu setelahnya, Kang Soyu?” tanya sebuah suara berat yang begitu familiar ditelingaku.

.

Speak of the devil…” respon Soyu pada kehadiran Kyuhyun diantara kami. “Sejak kapan kau berada disini?” tanya Soyu setelahnya.

.

“Hm… Sejak Hyesoo mengatakan ‘oh my God…‘ dengan nada bicara yang kurasa tidak sengaja dia buat seperti itu”, jawab Kyuhyun. “Sayang, aku bersungguh-sungguh, jangan diulangi”, kata Kyuhyun padaku, sambil melangkah mendekat.

.

Aku mengangguk cepat beberapa kali. “Aku tahu. Aku tidak sengaja melakukannya”, kataku menyesal.

.

“Tentu saja. Kau terlihat menyesal sesaat setelah kata itu keluar dari bibirmu”, kata Kyuhyun yang sudah duduk bersamaku, sambil membelai lembut kepalaku.

.

“Apakah kau akan mengatakan sesuatu yang lain untuk meyakinkan Soyu juga?” tanyaku pada Kyuhyun.

.

“Kurasa tidak perlu. Kau sudah memberikan penjelasan yang sangat baik padanya”, jawab Kyuhyun. “Hm… Tapi, mungkin aku harus mengatakan sesuatu. Kang Soyu, dari pengamatanku, entah kenapa aku memiliki keyakinan lebih dari 80% bahwa dia akan memintamu menikah dengannya”, sambung Kyuhyun menggoda Soyu.

.

“Kyuhyun-ah! Apa yang kau katakan? Jangan menggodanya!” kataku menegur Kyuhyun sambil menepuk pelan lengannya.

.

“Cho Kyuhyun, kau sudah bosan hidup dengan tenang?” protes Soyu.

.

“Kenapa? Ada apa dengan kalian berdua? Apa itu hal yang salah? Aku tidak menemukan kesalahan apapun dari keinginan seorang pria untuk menikahi wanita yang dicintainya”, kata Kyuhyun.

.

“Dari mana asalnya keyakinanmu itu?” tanyaku.

.

“Aku mengenal Yesung hyung dengan cukup baik, Hyesoo-ya. Dia adalah pria yang sangat setia. Yesung hyung lebih memilih menjadi pihak yang tersakiti daripada menyakiti. Aku pernah mendengar tentang hubungannya dengan seorang gadis yang berlangsung cukup lama. Kalau aku tidak salah mengingat, kira-kira……”

.

“Berteman baik selama dua tahun, lalu menjadi sepasang kekasih. Mereka berhubungan selama enam tahun, hingga gadis itu meninggalkan Yesung oppa demi laki-laki lain”, kata Soyu memotong ucapan Kyuhyun.

.

“Rupanya kau mengetahuinya dengan sangat baik”, respon Kyuhyun.

.

“Park Jung Ah. Junior dua tahun dibawahnya di fakultas kedokteran. Dia sering disebut sebagai bidadari fakultas kedokteran H University. Siapa yang mengira dia bukan angel melainkan devil?” kata Soyu dengan nada sarkastiknya.

.

“Kau pernah bertemu dengannya? Dia sangat cantik. Dia juga memiliki tubuh yang indah”, kata Kyuhyun mencoba menambahkan bensin pada api yang sudah berkobar dalam diri Soyu.

.

“Jadi, kau yang sudah bertemu dengannya. Begitu rupanya. Sangat cantik? Tubuhnya indah? Sepertinya kau pernah jatuh cinta padanya juga, Cho Kyuhyun-ssi”, kataku.

.

“Sepertinya begitu, Hyesoo-ya. Dia bahkan tidak segan mengatakan bahwa gadis itu memiliki tubuh yang indah”, balas Soyu.

.

“Tidak. Bukan begitu, Hyesoo-ya. Aku hanya mengatakan apa yang terlihat oleh kedua mataku. Aku tidak mengatakan bahwa aku pernah jatuh cinta padanya”, kata Kyuhyun mencoba memberikan penjelasannya.

.

“Aku juga hanya bertanya padamu. Apakah dia sangat cantik? Bertubuh indah? Lebih dariku?” tanyaku lagi.

.

“Kenapa kau membandingkan dirimu dengannya? Kau tidak mendengar ucapan Soyu tadi? Gadis itu adalah devil. Dia meninggalkan Yesung hyung untuk pria lain. Dia tidak bisa disejajarkan denganmu. Begitupun dengan Soyu. Lagipula, kau lupa? Aku selalu mengatakan padamu bahwa kau yang paling sempurna bagiku”, kata Kyuhyun.

.

“Ah… Menggelikan. Jangan katakan itu saat aku berada disekitarmu, Cho Kyuhyun. Kau mengganggu sistem pencernaanku [re: membuat mual]”, protes Soyu.

.

“Hhh… Kau akan terbiasa nanti, Soyu-ya”, kataku sambil tertawa kecil karena melihat ekspresi jengah diwajah Soyu. “Tapi, Kyuhyun-ah, benarkah gadis itu begitu cantik? Uri Soyu-do yeppeunde… Deo yeppeulgeol… (Soyuku juga cantik… Pasti lebih cantik…)”, sambungku.

.

“Kau benar. Uri Soyu-ga deo yeppeo…” ujar Kyuhyun.

.

“Ya! Kenapa kau juga mengatakan ‘uri’, Cho Kyuhyun?” tanyaku.

.

“Kenapa? Soyu juga sahabatku”, Kyuhyun balas bertanya.

.

“Kau tidak boleh menggunakan kata ‘uri’ untuk memanggil gadis lain dihadapan istrimu, Cho Kyuhyun! Kau sangat tidak peka!” kataku memulai perdebatan dengan Kyuhyun.

.

“Tunggu sebentar. Kenapa hanya aku yang salah disini? Kau juga tidak boleh memanggil suamimu dengan sebutan ‘ya!’, Lee Hyesoo. Kau lupa?” Kyuhyun menyatakan diri ikut dalam perdebatan tidak penting yang kumulai.

.

“Kau yang memancingku!” balasku.

.

“Apa yang sudah kulakukan? Kenapa kau menyalahkanku terus?” tanya Kyuhyun protes atas tuduhanku.

.

“Ya! Ya! Ya! Hentikan! Kalian masih saja bertengkar untuk hal kecil”, kata Soyu berusaha menghentikan kami.

.

“Kami tidak bertengkar, Kang Soyu. Kami sedang berkomunikasi dengan beragam nada”, kata Kyuhyun dengan santai.

.

“Ch… Michin nom… Sudahlah. Aku bisa bertambah pusing jika terus berada disini bersama kalian. Aku akan tidur di kamar jaga saja”, kata Soyu yang bangkit berdiri. “Hyesoo-ya, terima kasih. Kau memang selalu menjadi yang terbaik”, sambungnya. Aku memberikan lambaian tangan dan sebuah senyuman sebagai balasan.

.

“Bagaimana denganku?” tanya Kyuhyun.

.

“Saya permisi, Cho sajangnim. Tolong jangan rusak mood saya hari ini. Selamat siang”, kata Soyu mengutarakan penolakannya pada Kyuhyun.

.

“Ch… Pergilah…” kata Kyuhyun yang berdesis.

.

“Dan, Cho Kyuhyun! Mendengarkan pembicaraan orang lain adalah hal yang buruk untuk dilakukan. Jangan mengulanginya”, kata Soyu sebelum benar-benar pergi.

.

“Aku mengerti”, balas Kyuhyun sambil tersenyum pada Soyu.

.

.

.

Author’s POV

Kamar Pribadi Kyuhyun

Shinsung Hospital

.

Hyesoo dan Kyuhyun beranjak dari balkon setelah kepergian Soyu. Angin yang berhembus di balkon mulai berubah semakin kencang. Semula Hyesoo ingin tetap berada disana selama beberapa saat. Namun suami protektifnya sedang dalam kondisi tidak bisa dilawan maupun dibujuk. Pekerjaan yang begitu menyibukkan Kyuhyun beberapa bulan terakhir membuat mood pria itu menjadi tidak menentu. Rasa lelah akibat bekerja terlalu keras membuat Kyuhyun lebih mudah marah dari biasanya. Hyesoo sangat mengetahui hal itu. Karenanya, Hyesoo lebih memilih untuk tidak memperdebatkan masalah kecil dengan Kyuhyun. Terlebih dengan kondisi Hyesoo yang sama lelahnya saat ini. Keduanya berjalan masuk kedalam ruang kerja Kyuhyun yang baru saja selesai dibersihkan oleh seorang office boy. Kyuhyun menyentuh bahu Hyesoo dengan kedua tangannya, mengarahkan Hyesoo agar berjalan masuk ke sebuah ruangan yang ada dibelakang meja kerjanya.

.

Setelah menutup pintu ruangan kamar dibelakangnya, Kyuhyun melepaskan jasnya, lalu melepaskan jubah putih yang dikenakan oleh Hyesoo juga. Kyuhyun meletakkan jubah itu serta jasnya dipunggung sofa yang terletak tidak jauh darinya. Kyuhyun menjulurkan tangannya, meminta tangan Hyesoo yang sejak tadi hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun. Hyesoopun tersenyum, lalu memberikan tangannya pada Kyuhyun yang hanya tersenyum tipis padanya. Kyuhyun menatap tangan Hyesoo dalam genggamannya, kemudian menarik tangan Hyesoo perlahan untuk menghapus jarak diantara mereka. Hyesoo melangkah maju, mendekat pada pria yang tidak mengalihkan pandangan darinya sedikitpun. Saat jarak diantara mereka hanya tersisa kurang dari satu meter, Kyuhyun menyentuh siku kanan Hyesoo dengan tangan kirinya yang bebas. Sebuah helaan napas terdengar setelahnya, dan senyum diwajah Kyuhyunpun melebar.

.

“Apakah menurutmu Soyu akan baik-baik saja?” tanya Hyesoo, menghapus keheningan diantara mereka.

.

Kyuhyun menganggukkan kepala pelan. “Tentu saja. Kenapa dia harus merasa tidak baik-baik saja?” Kyuhyun balas bertanya pada Hyesoo.

.

“Entahlah. Aku hanya mengkhawatirkannya”, jawab Hyesoo.

.

“Kau mengkhawatirkan terlalu banyak orang, Hyesoo-ya. Kau akan terlihat seperti seorang nenek di usiamu ke 30 kelak”, kata Kyuhyun tanpa ekspresi jenakanya.

.

“Benarkah? Aku akan terlihat seperti halmeoni diusia ke 30. Jika terjadi seperti yang kau katakan, apa yang akan kau lakukan?” tanya Hyesoo mencoba meningkatkan mood diantara mereka dengan nada bicaranya yang ceria.

.

“Hm… Apa yang harus aku lakukan? Kurasa aku tidak punya pilihan lain”, jawab Kyuhyun masih tanpa perubahan ekspresi sedikitpun. “Aku tidak bisa kemanapun. Semua yang ada pada diriku sudah terikat padamu”, sambung Kyuhyun.

.

“Ah… Begitu? Jadi kau akan tetap bersama halmeoni ini?” tanya Hyesoo yang masih berusaha.

.

“Hmm…” gumam Kyuhyun menjawab pertanyaan Hyesoo. Ada sebuah senyuman diwajahnya yang menyertai. “Aku sudah terlanjur mencintaimu, Lee Hyesoo. Aku tidak bisa pergi darimu. Sayangnya…” sambung Kyuhyun bergurau, namun dengan ekspresi wajah yang tidak mendukung ucapannya.

.

“Hhh… Selera humormu semakin bertambah buruk saja, ahjussi. Tapi……” Hyesoo menghentikan ucapannya, menggunakan jeda selama beberapa detik untuk berpikir. “Ada apa dengan wajah ini? Kenapa senyuman yang muncul sedikit sekali?” tanya Hyesoo setelahnya.

.

Kyuhyun menggeleng pelan, disertai dengan sebuah senyuman tipis. “Tidak ada”, jawabnya.

.

“Tolong katakan sesuatu. Kau bersikap tidak seperti biasanya. Kyuhyun-ah, ada apa? Apakah kau baik-baik saja?” tanya Hyesoo yang membutuhkan jawaban meyakinkan dari Kyuhyun.

.

“Aku baik-baik saja, Hyesoo-ya. Aku hanya merindukanmu”, jawab Kyuhyun. “Begitu merindukanmu, meski saat ini kau berada dihadapanku. Satu bulan tanpamu terasa begitu menyiksaku”, sambung Kyuhyun.

.

“Beberapa saat yang lalu, saat Soyu bersama kita, kau terlihat jauh berbeda. Kau lebih banyak bicara dengan nada yang menyenangkan. Keheningan ini mulai membuatku takut”, kata Hyesoo.

.

Kini senyum diwajah Kyuhyun melebar, berubah menjadi tawa kecil tanpa suara. “Aku baik-baik saja. Percayalah…” kata Kyuhyun mencoba meyakinkan Hyesoo. “Dan, sebagai pengingat, kita berdebat beberapa saat yang lalu. Nada bicara yang kita gunakan tidak termasuk dalam kategori menyenangkan”, sambung Kyuhyun.

.

“Aku lebih suka mendengarmu bicara seperti itu. Setidaknya dengan begitu aku tahu bahwa kau baik-baik saja”, kata Hyesoo.

.

Kyuhyunpun tersenyum setelah mendengar ucapan Hyesoo. Kyuhyun melepaskan genggaman tangannya atas Hyesoo. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hyesoo setelahnya, meraih tubuh Hyesoo mendekat padanya. Kyuhyun menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga Hyesoo. Setelahnya, Hyesoo meletakkan kedua tangannya didada Kyuhyun, menyentuh pria yang tidak ditemuinya selama satu bulan lamanya itu. Hyesoo membalas senyuman Kyuhyun dengan senyum tipisnya. Tatapan keduanya bertemu, seolah bicara tanpa kata yang terucap. Tangan Kyuhyun sudah kembali ketempatnya semula di pinggang Hyesoo, merengkuhnya erat. Kedua tangan Hyesoo mulai beranjak naik menuju bahu, lalu melingkar di leher Kyuhyun. Perlahan Hyesoo mendekat pada Kyuhyun, memperkecil jarak diantara mereka. Kyuhyun yang mengerti tindakan yang sedang dilakukan Hyesoo pun tidak ingin menerimanya begitu saja. Kyuhyun ingin menjadi orang yang menghapus jarak diantara mereka. Kyuhyun menyentuh bibir Hyesoo dengan bibirnya terlebih dahulu, kemudian memisahkan bagian atas dan bawah bibir Hyesoo untuk memperdalam ciumannya. Kyuhyun seolah mencurahkan kerinduan yang dirasakannya melalui setiap lumatan yang ia berikan pada bibir Hyesoo. Sebagai gantinya, Hyesoo menahan kepala Kyuhyun dengan lingkaran tangannya di leher Kyuhyun agar tetap berada dalam jarak terdekat.

.

Keduanya saling melepaskan, menyisakan helaan napas yang saling bersautan. Mereka belum menjauhkan diri. Kening dan hidung mereka masih saling bersentuhan. Hyesoopun memberikan kecupan singkat yang dalam sebelum benar-benar menjauhkan wajahnya dari Kyuhyun. Mata mereka terbuka, membuat dua pasang mata saling bertatapan. Sebuah kerutan sangat kecil muncul dikening Hyesoo. Tatapan mata Kyuhyun padanya dirasakan begitu intense. Jika tatapan mata itu diterima oleh orang lain yang tidak mengenal Kyuhyun, maka orang tersebut mungkin akan merasa terintimidasi. Tatapan Kyuhyun begitu kuat, seolah sedang menerawang masuk kedalam tubuh Hyesoo. Tatapan itu dipenuhi dengan sikap protektif dan rasa memiliki yang disertai dengan kerinduan Kyuhyun pada sosok wanita dalam rengkuhannya itu. Didetik setelahnya, Hyesoo menyentuhkan sebelah tangannya dipipi kanan Kyuhyun. Tangan Hyesoo yang terasa dingin seolah membawa kembali Cho Kyuhyun yang lembut padanya. Tatapan kuat itu mereda seketika, tergantikan dengan tatapan lembut penuh cinta. Helaan napas Kyuhyun terdengar setelahnya oleh Hyesoo.

.

“Kau sudah beristirahat dengan cukup? Kudengar masih ada satu operasi lagi malam ini”, tanya Kyuhyun sambil meraih tangan Hyesoo dipipinya. Kyuhyun mengecup telapak tangan Hyesoo setelahnya.

.

“Lebih dari cukup. Energiku bertambah dengan sangat cepat setelah menyentuhmu dan menatap wajahmu. Hangat tubuhmu selalu bisa diandalkan untuk menenangkan otot-otot lelahku”, jawab Hyesoo yang kembali melesak kedalam pelukan Kyuhyun setelahnya.

.

“Senang mendengarnya”, kata Kyuhyun memberikan tanggapan atas ucapan Hyesoo. “Tapi, apakah kau menjalani hari dengan baik selama aku tak ada?” tanya Kyuhyun setelahnya.

.

“Tentu saja. Aku menjalani hari dengan sangat baik”, jawab Hyesoo santai. Hyesoopun bergerak, membuat hidungnya menyentuh leher Kyuhyun. “Tapi saat tiba dirumah, aku begitu merindukanmu. Kala itu, aku mampu bertahan selama lima tahun berpisah denganmu. Sekarang rasanya sulit sekali hanya untuk melalui hari tanpamu”, sambung Hyesoo.

.

“Jika terasa sulit melalui hari tanpaku, kenapa kau jarang sekali menghubungiku? Kau selalu membuatku menunggu kabar darimu”, tanya Kyuhyun.

.

“Aku seorang dokter, Kyuhyun-ah. Aku tidak bisa memikirkan diriku sendiri. Aku harus selalu berada ditempatku saat pasien membutuhkanku”, kata Hyesoo sambil mengeratkan pelukannya.

.

“Kau tidak memikirkan dirimu sendiri hanya karena menyisakan beberapa waktumu untuk menghubungiku. Aku juga membutuhkan perhatianmu, Nyonya Cho”, balas Kyuhyun.

.

“Jika aku sering menghubungimu, aku khawatir setelahnya aku akan meraih kunci mobilku, mengemudi ke bandara, dan naik ke salah satu pesawat untuk menyusulmu. Pertahananku tidak cukup baik jika menyangkut dirimu”, sambung Hyesoo. “Aku sangat merindukanmu, Kyuhyun-ah”.

.

“Hhh… Syukurlah bukan hanya aku yang merasa gila karena perpisahan sesaat itu”, kata Kyuhyun. “Tapi, Hyesoo-ya…” sambung Kyuhyun sambil melepaskan pelukan mereka. Kedua tangan Kyuhyun masih berada di pinggang Hyesoo, hanya kepala mereka saja yang berjauhan.

.

“Hm?” tanya Hyesoo dengan gumamannya.

.

“Apakah kau baru saja mandi?” Kyuhyun balas bertanya.

.

“Benar. Aku sudah mandi sebelum tertidur di balkon. Kenapa?” Hyesoo kembali bertanya pada Kyuhyun.

.

Senyum Kyuhyun mengembang, diikuti dengan gelengan pelan kepalanya. Kening Hyesoo justru berkerut karena pemandangan yang baru saja dilihatnya. Hyesoo tidak mengerti dengan maksud dibalik senyum cerah dan gelengan kepala Kyuhyun. Namun, sesuatu seolah baru saja memukul kepalanya, memberikan kesadaran padanya. Tatapan mata intense di mata Kyuhyun telah kembali. Hyesoopun mengerti arti dari tatapan itu saat senyuman di bibir Kyuhyun mereda. Kyuhyun tidak sedang mencoba membacanya. Kyuhyun juga tidak sedang mencoba mengintimidasi dirinya. Kyuhyun sedang mengobati kerinduannya, serta mengutarakan keinginan tertahannya.

.

“Auh… Dasar mesum”, protes Hyesoo sambil menepuk pelan bahu kanan Kyuhyun. “Disini?”

.

“Kenapa? Tidak boleh?” tanya Kyuhyun sambil mendaratkan sebuah kecupan di leher Hyesoo.

.

“Tentu tidak boleh. Lihat tempatmu berada sekarang, direktur Cho”, jawab Hyesoo yang mendorong bahu Kyuhyun agar menjauh darinya.

.

“I know where I am right now, Mrs. Cho. Ini kamar pribadiku. Apa yang salah dari keinginanku?” tanya Kyuhyun yang kembali memberikan kecupannya, kini di rahang dekat telinga Hyesoo. Napas Hyesoopun tercekat karenanya.

.

“Tapi……” Hyesoo mencoba bicara ditengah kondisi napas tertahannya.

.

“Aku punya sedikit saran untukmu, sayang”, kata Kyuhyun sambil melangkahkan kaki, membawa Hyesoo berjalan bersamanya. “Bagaimana jika kau ikuti saja alurnya?” sambung Kyuhyun saat punggung Hyesoo menyentuh dinding ruangan itu.

.

Tangan dingin Kyuhyun menyentuh leher Hyesoo setelahnya, membuat kedua mata Hyesoo sontak terpejam. Bibir Kyuhyun sudah menuruni leher Hyesoo menuju tulang selangka Hyesoo yang mengintip dibalik seragam biru tua berkerah V yang dikenakan Hyesoo. Sebuah kecupanpun kembali diberikan oleh Kyuhyun disana. Kemudian Kyuhyun menggunakan giginya untuk menarik baju Hyesoo menjauh, hingga memperlihatkan sebelah bahunya. Kyuhyun menyesap kulit yang berada tepat dibawah tulang selangka Hyesoo, membuat sebuah tanda merah kecil muncul disana. Kyuhyun sengaja menarik baju Hyesoo terlebih dahulu untuk mencegah tanda merah yang dibuatnya itu terlihat setelah kegiatannya berakhir nanti. Kedua tangan Hyesoo mencengkram kemeja Kyuhyun, menahan desakan gejolak dalam tubuhnya. Hyesoo menggigit bibir bawahnya, mencegah suara apapun yang mungkin bisa keluar dari bibirnya. Kyuhyun menjauhkan kepalanya, kembali pada posisinya semula, sejajar dengan kepala Hyesoo. Kyuhyun menatap wajah Hyesoo masih dengan tatapan menginginkannya. Tangan Kyuhyun yang semula berada di leher Hyesoopun merambah naik mendekat ke rahang Hyesoo. Kyuhyun menyentuhkan ibu jarinya di dagu Hyesoo, menyentuh tepat dibawah bibir Hyesoo yang masih digigit oleh pemiliknya. Hyesoo membuka matanya perlahan. Tatapan keduanya bertemu bersamaan dengan helaan napas panjang Kyuhyun yang terdengar mengisi ruangan sunyi itu. Kemudian Kyuhyun melepaskan gigitan bibir Hyesoo dengan ibu jarinya.

.

I wanna bite it too”, kata Kyuhyun dengan suara seraknya, diikuti dengan sebuah lumatan setelahnya.

.

Kyuhyun benar-benar melakukan apa yang baru saja dikatakannya. Ia memberikan gigitan pelan dibibir bawah Hyesoo, kemudian melumatnya. Ia memperdalam ciumannya, mengungkapkan hasrat menggebu dalam dirinya yang hampir meledak karena sentuhan wanita dalam rengkuhannya. Kyuhyunpun menambahkan kerja lidah dalam kegiatannya itu. Tentu Hyesoo akan ikut serta. Hyesoo tidak memiliki pertahanan yang cukup kuat untuk melawan efek sentuhan Kyuhyun ditubuhnya. Kedua tangan Kyuhyun bergerak menuruni punggung Hyesoo. Kemudian kedua tangannya menarik ujung baju Hyesoo keatas, membuat tautan bibir mereka terlepas. Baju Hyesoo lolos begitu saja melewati kepalanya. Kyuhyun membuang baju itu ke lantai tanpa banyak berpikir. Tatapan keduanya kembali bertemu. Kini kilatan yang sama terlihat dari tatapan mereka. Kedua tangan Kyuhyun kembali menyentuh tubuh Hyesoo, menyalurkan hawa dinginnya dari pinggang hingga punggung Hyesoo. Kerah Kyuhyun sudah lebih dulu diraih oleh Hyesoo sebelum kedua tangan Kyuhyun sampai di punggung atasnya. Kini giliran Hyesoo yang memberikan serangan dibibir Kyuhyun. Hyesoo memberikan gigitan yang sama dibibir bawah Kyuhyun, membuat pemilik bibir itu mengeluarkan desahan kecil. Hyesoo membuka satu persatu kancing kemeja Kyuhyun, sebelum menyingkirkannya dari tubuh Kyuhyun. Hyesoo menjauhkan kepalanya, melepaskan bibirnya dari bibir Kyuhyun saat salah satu tangannya menyentuh sesuatu yang terasa asing baginya. Hyesoo menahan dada Kyuhyun, lalu mengedarkan tatapan matanya ke tubuh bagian atas Kyuhyun yang sudah tidak tertutup pakaian apapun. Hyesoo menemukan pemandangan yang cukup mengejutkannya. Otot keras terbentuk disana, ditubuh pria yang tidak pernah mengecewakannya.

.

“Wow… Apa ini? Benarkah kau Cho Kyuhyun yang kukenal? Suamiku? Apa yang terjadi? Bagaimana bisa?” tanya Hyesoo dengan nada terkejut sambil menyentuh perut Kyuhyun.

.

“Hasil dari menahan hasratku untuk bertemu denganmu dan menyentuhmu. Aku harus menghilangkan bayanganmu dalam pikiranku. Aku pergi ke gym hampir setiap hari dalam satu bulan. Kau selalu muncul dalam pikiranku setiap malam, Hyesoo-ya. Bayangan dirimu sangat menyiksaku. Aku tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaanku jika terus berada dalam keadaan seperti itu”, jawab Kyuhyun. “Ada apa? Kau tidak menyukainya?” tanya Kyuhyun setelahnya.

.

“Aku sudah gila jika tidak menyukainya”, jawab Hyesoo sambil menyentuhkan jari-jarinya di perut six pack Kyuhyun.

.

Sebuah helaan napas panjang kembali terdengar oleh Hyesoo, membuatnya segera menatap wajah Kyuhyun. Pria itu baru saja menelan salivanya, membuat jakunnya bergerak naik turun. Matanya juga terpejam sesaat sebelum kembali bertatapan dengan Hyesoo. Ada kilatan hasrat menggebu dibalik tatapan mata Kyuhyun, membuat senyum kecil menghiasi wajah Hyesoo setelahnya.

.

“Jangan menyentuhku seperti itu, sayang. Kau membuatnya terbangun dengan cepat”, kata Kyuhyun sambil menoleh kebawah tubuhnya selama sepersekian detik.

.

Hyesoopun memutar posisi mereka. Kini punggung Kyuhyun yang menyentuh dinding dingin dibelakangnya. “Memang itu tujuannya”, balas Hyesoo sambil membuka ikat pinggang Kyuhyun.

.

Celana Kyuhyun berhasil dibuka oleh Hyesoo dalam waktu singkat. Salah satu tangan Hyesoo menyentuh pusat tubuh Kyuhyun yang sudah mengeras setelahnya, membuat napas pemiliknya tercekat karena sentuhan tiba-tiba itu. Hyesoopun turun kebawah, berdiri dengan lutunya, mensejajarkan wajahnya dengan pusat tubuh Kyuhyun yang masih tertutup. Hyesoo membuka pakaian terakhir yang masih melekat ditubuh Kyuhyun dengan perlahan.

.

Wow… Wow… Hyesoo-ya… Perlahan…” kata Kyuhyun dengan suara serak dan napas tertahannya saat merasakan sebuah benda lunak menyentuhnya dibawah sana.

.

Tangan Kyuhyun segera menjalar melalui dinding menuju pintu kamar. Ia mengunci pintu ruangan itu dengan cepat. Tangannya yang lain menyentuh sebuah remote kecil berwarna putih. Kyuhyun menekan dua tombol diatasnya. Tirai bergerak menutup jendela besar ruangan itu setelahnya. Kemudian lampu berwarna kekuningan disisi tempat tidur pun menyala. Kyuhyun membebaskan desahan tertahannya, kemudian memejamkan matanya saat merasakan lumatan diujung pusat tubuhnya. Ia menoleh ke bawah, menyaksikan kegiatan Hyesoo yang sedang sangat menyiksanya. Kyuhyunpun menyentuh kedua bahu Hyesoo, membawa Hyesoo kembali berdiri dihadapannya. Kyuhyun segera melumat bibir Hyesoo dengan tergesa setelahnya. Kyuhyun mengangkat tubuh Hyesoo keatas lemari pendek yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Kyuhyun melepaskan semua pakaian yang masih melekat ditubuh Hyesoo setelahnya, termasuk sepatu dan kaus kaki Hyesoo. Kemudian ia mengangkat kedua kaki Hyesoo agar melingkar di pinggangnya, membawa tubuh Hyesoo bersamanya. Kyuhyun melepaskan kedua sepatunya sambil melangkah menuju tempat tidur. Tautan dibibir mereka tidak pernah terlepas. Hingga tubuh Hyesoo terhempas keatas tempat tidur, membuat ciuman mereka terlepas dan keduanya kembali saling menatap satu sama lain. Kyuhyun bergerak mendekat, mengurung tubuh Hyesoo dengan tubuhnya. Kemudian Kyuhyun menyentuhkan bibirnya dibawah telinga Hyesoo sambil menyatukan pusat tubuh mereka. Sebuah desahan keluar dari bibir Hyesoo, bersamaan dengan remasan pelan di rambut belakang kepala Kyuhyun.

.

So, no more ‘but’? (Jadi, tidak ada lagi ‘tapi’?)” tanya Kyuhyun sambil memberikan tatapan menggodanya pada Hyesoo.

.

Shut your mouth! Just move… (Tutup mulutmu! Bergerak saja…)”, kata Hyesoo.

.

Keduanya tersenyum pada satu sama lain. Kemudian sebuah kecupan kembali Kyuhyun  berikan pada Hyesoo, seiring dengan pergerakan lambatnya yang membuat Hyesoo meremas rambut dibelakang kepala Kyuhyun. Tautan bibir mereka terlepas, digantikan dengan desahan tertahan keduanya. Helaan napas berat sesekali terdengar memenuhi ruangan itu. Sebuah erangan keluar dari bibir Kyuhyun saat ia mempercepat gerakan pinggulnya. Erangan kuat Kyuhyunpun terbungkam dalam tautan bibir keduanya, menyatu dengan desahan yang belum sempat keluar dari bibir Hyesoo. Tangan Hyesoopun berpindah ke bahu kokoh Kyuhyun, kemudian turun menuju punggungnya. Tiga buah garis putih tergoreskan disana bersamaan dengan menjalarnya jari-jari Hyesoo dipunggung pria keras kepala itu. Kyuhyun memindahkan bibirnya ke bahu Hyesoo, menyentuh kulit wanita itu dengan caranya yang begitu sensual. Kyuhyun membuat sebuah tanda kemerahan lain disana saat pelepasan menghampiri mereka, sementara Hyesoo meremas kuat bahu Kyuhyun dengan jari-jarinya. Napas keduanya memburu, mengisi keheningan ruangan. Namun, tentu saja Kyuhyun tidak akan berhenti disana. Ia belum menuntaskan kerinduannya yang terpendam untuk waktu yang cukup lama. Kyuhyun melingkarkan kedua kaki Hyesoo dipinggangnya, kemudian membawa tubuh Hyesoo untuk duduk dipangkuannya. Tatapan keduanya bertemu. Hasrat yang begitu kuat masih terlihat dengan jelas di mata menyala Kyuhyun. Sebuah kecupan dibawah telinga Hyesoopun mengawali petualangan Kyuhyun selanjutnya.

.

Hyesoo terbangun oleh suara alarm dari ponselnya. Kedua matanya terbuka perlahan. Pandangannya masih berbayang, membuat semua hal yang tertangkap oleh matanya terlihat kabur. Ia merasakan dua hawa yang berbeda dikulitnya. Hawa dingin dari pendingin ruangan menyentuh wajahnya, menghilangkan butiran keringat yang membasahi keningnya beberapa jam yang lalu. Sementara tubuhnya meraskan kehangatan (yang akan berubah panas) dari rengkuhan Kyuhyun ditubuhnya. Kedua tangan Kyuhyun membungkus tubuh Hyesoo dengan begitu protektif. Sentuhan dada Kyuhyun di punggung Hyesoo membuktikan betapa eratnya rengkuhan Kyuhyun. Beruntung, Hyesoo masih bisa mengeluarkan salah satu tangannya untuk menyentuh ponsel yang ia letakkan tidak jauh dari tempat tidur. Hyesoo mematikan ponselnya agar dering alarm tidak terus berbunyi dan membuat kepalanya terasa sakit. Pukul 7.19 p.m. Satu jam sebelum jadwal operasinya dimulai. Hyesoo kembali meletakkan ponselnya dimeja kecil yang terletak disisi ranjang. Ia memejamkan matanya selama beberapa detik untuk mengumpulkan kesadarannya, sebelum kembali membuka matanya. ‘Ini mulai terasa panas’, kata Hyesoo dalam pikirannya. Hyesoo mulai menggerakkan tubuhnya, berharap pergerakan itu bisa membuatnya terlepas dari rengkuhan Kyuhyun. Hyesoo berhasil membuat lingkaran tangan Kyuhyun ditubuhnya menjadi sedikit longgar karena pergerakannya.

.

Hyesoo membalikkan tubuhnya, menghadap pada pria keras kepala yang dicintainya. Kyuhyun masih terlelap, tidak terganggu sedikitpun oleh gerakan yang terjadi beberapa saat yang lalu. Hyesoo memandang wajah polos Kyuhyun yang terlihat santai. Wajah itu terlihat begitu menyenangkan, jauh dari kekhawatiran serta garis keras yang biasa Hyesoo lihat saat Kyuhyun sedang bekerja. Hyesoopun menyentuhkan jari-jarinya diwajah Kyuhyun. Ia menyentuh alis tebal Kyuhyun, kemudian turun menuju tulang pipinya, lalu menyusuri tulang hidungnya yang tajam. Hyesoo tidak melewatkan bibir tebal yang selalu membuatnya menyerah, baik oleh tindakan yang dilakukannya, maupun oleh setiap kata yang keluar dari sana. Jari-jari Hyesoo berakhir dibagian favouritenya, rahang kuat Kyuhyun yang selama ini selalu menarik untuk disentuh dengan bibir merahnya. Mata Hyesoo bergerak cepat, teralihkan oleh sebuah tatapan sayu yang terlihat dari sudut matanya beberapa saat yang lalu. Pemilik wajah itu terbangun karena sentuhan jari-jari lentik Hyesoo dikulitnya. Tatapan sayu Kyuhyun bertemu dengan tatapan segar Hyesoo yang sudah bekerja lebih dulu darinya. Sudut bibir Kyuhyunpun tertarik ke dua sisi yang berbeda, membentuk sebuah senyuman tipis yang masih terlihat malas untuk mengembang.

.

“Menikmati pemandanganmu?” tanya Kyuhyun dengan suara serak khas bangun tidurnya.

.

“Aku tidak pernah melewatkan kesenangannya”, jawab Hyesoo yang kini memindahkan tangannya ke bahu Kyuhyun. “Apakah aku membangunkanmu?” tanya Hyesoo setelahnya.

.

“Tidak sejak awal. Sentuhan terakhirmu di rahangku yang berhasil membangunkanku. Efek sentuhanmu disana selalu berbeda”, jawab Kyuhyun yang berkedip pelan, masih dalam sleepy mode-nya. Suara seraknya belum menghilang, mengalirkan efek menggelitik diperut Hyesoo.

.

Oh!‘ kata Hyesoo dalam pikirannya. Mata Hyesoo melebar dibuatnya. Ia tersentak oleh jutaan kupu-kupu yang berterbangan dalam dirinya. “Berhenti disana. Jangan bicara lagi”, kata Hyesoo setelahnya.

.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun dengan nada malasnya.

.

“Suara serakmu menimbulkan efek yang tidak biasa pada diriku”, jawab Hyesoo.

.

“Dan, kau tidak menikmati efek itu?” tanya Kyuhyun sekali lagi. Suara beratnya yang masih terdengar serak membuat Hyesoo memejamkan matanya untuk beberapa saat.

.

“Aku khawatir aku akan terlalu menikmatinya”, jawab Hyesoo.

.

“Kau memiliki kebebasan penuh untuk itu, Hyesoo-ya. Pria ini adalah milikmu”, kata Kyuhyun.

.

“Aku tahu. Aku sangat mensyukuri hal itu. Tapi, pria ini kembali dalam wujud yang begitu menggoda. Aku harus membiasakannya terlebih dahulu”, kata Hyesoo.

.

Kali ini Hyesoo membuat senyum diwajah Kyuhyun benar-benar mengembang. “Kalau begitu, gunakan waktu sebanyak yang kau butuhkan. Aku tidak akan menghalangimu”, kata Kyuhyun yang memberikan sebuah ciuman dalam pada Hyesoo setelahnya.

.

“Oh, tidak. Aku tidak suka perasaan ini”, kata Hyesoo sambil menjauhkan kepalanya, membuat jarak diantara mereka. Sayangnya Hyesoo tidak berhasil membebaskan tubuhnya dari rengkuhan Kyuhyun. “Cho Kyuhyun dan bibir tidak sopannya. Jangan menggodaku, Cho Kyuhyun”, kata Hyesoo setelahnya.

.

“Kau tidak pernah tahu betapa kau lebih membuatku tergoda hanya dengan berada dihadapanku, Lee Hyesoo”, kata Kyuhyun sambil mendaratkan sebuah kecupan lembut di rahang Hyesoo.

.

Napas Hyesoo tercekat, membuatnya kesulitan untuk bernapas. Efek sentuhan bibir Kyuhyun dikulitnya terasa benar-benar berbeda kali ini. “Jangan lakukan ini padaku. Kau tahu bahwa aku tidak bisa mengendalikan diriku dalam situasi seperti ini. Aku harus tetap berada dalam keadaan waras”, kata Hyesoo sambil berusaha memperkuat pertahanannya.

.

“Kau tidak perlu mengendalikan dirimu, sayang”, kata Kyuhyun dengan bibirnya yang kini sudah berada dileher Hyesoo.

.

“Tidak. Aku harus”, kata Hyesoo yang kembali menjauhkan diri dari Kyuhyun. “Aku masih harus menangani sebuah operasi, kau ingat? Seorang pasien membutuhkan penangananku. Dokter Lee harus melakukan pekerjaannya, direktur Cho”, sambung Hyesoo setelahnya.

.

Kyuhyun menghela napas dengan kasar setelah mendengarnya. Kali ini ia tidak dapat menahan Hyesoo agar tetap bersamanya. Kekecewaan terlihat jelas diwajahnya. Ia harus kembali mengalah. Keselamatan seorang pasien harus selalu didahulukan. “Baiklah. Aku tidak akan menahanmu. Meski aku sangat benci untuk membiarkanmu pergi saat ini”, kata Kyuhyun menyerah.

.

Good boy”, kata Hyesoo sambil membelai kepala Kyuhyun dengan lembut. Hyesoo tersenyum tipis saat menyadari ekspresi kecewa yang terlihat diwajah mengantuk Kyuhyun yang bahkan tampak seksi dimatanya.

.

“Pukul berapa operasinya akan dimulai?” tanya Kyuhyun.

.

“Satu jam dari sekarang, kurasa. Karena itu, aku harus bersiap dan bergegas pergi. Tentu saja aku harus mandi terlebih dahulu sebelumnya”, jawab Hyesoo.

.

“Jadi, itu perintah bagiku untuk melepaskanmu, bukan? Baiklah… Aku mengerti. Kau bebas sekarang”, kata Kyuhyun sambil melepaskan rengkuhannya pada tubuh Hyesoo. Kyuhyun berguling, mengubah posisi tubuhnya menjadi terlentang diatas ranjang dengan selimut yang menutupi tubuh tanpa pakaiannya.

.

Senyum Hyesoo mengembang setelah menyaksikan sikap Kyuhyun yang terlihat seperti anak remaja yang sedang merajuk. Sikap itu membuat Hyesoo tertawa kecil tanpa suara. Hyesoopun bergerak mendekat, memposisikan tubuhnya diatas tubuh Kyuhyun. Hyesoo menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang diletakkan disisi kanan dan kiri kepala Kyuhyun. Namun, mata Kyuhyun tertutup rapat, menolak untuk menatap wanita yang sedang berada diatas tubuhnya itu. Kemudian Hyesoo mendekat, menghapus jarak diantara mereka, membiarkan kulitnya kembali menyentuh kulit Kyuhyun. Hyesoo mendaratkan sebuah kecupan dibibir Kyuhyun. Sikap Kyuhyun yang menolak untuk memberikan reaksi apapun, membuat Hyesoo merasa tertantang untuk meruntuhkan pertahanan Kyuhyun. Hyesoo menyentuhkan bibirnya di dagu Kyuhyun, kemudian bergerak menjalar mengikuti garis tulang rahang Kyuhyun menuju ke bawah telinganya.

.

Damn… Kau ingin menyiksaku?” tanya Kyuhyun yang akhirnya membuka kedua matanya.

.

Hyesoo tersenyum menang. Ia kembali mengangkat tubuhnya, menopang dengan kedua tangannya. Kini tatapan keduanya bertemu. Hyesoo dapat melihat dengan jelas hasrat tertahan yang tergambar diwajah suaminya itu. Tatapan tajam, serta rahangnya yang terkatup kuat lebih menjelaskan segalanya. Kyuhyun sedang berusaha dengan kuat untuk menjaga pertahanannya.

.

“Bukankah aku baru saja mengatakan bahwa dalam satu jam aku harus menangani sebuah operasi, dan aku harus segera mandi?” tanya Hyesoo dengan santai.

.

“Benar. Dan aku sudah melepaskanmu”, jawab Kyuhyun.

.

“Kau tidak ingin bergabung bersamaku? Kemana perginya Cho Kyuhyun yang sangat mendukung aksi penghematan air?” tanya Hyesoo dengan senyum menggodanya.

.

Tatapan Kyuhyun melembut. Garis keras di tulang rahangnya perlahan menghilang. Sebuah kerutan kecil di kening Kyuhyun muncul menggantikan ekspresi dingin sebelumnya. Sudut bibir tebal pria itupun tertarik setelahnya, memunculkan senyum riang kekanakan yang selalu menjadi kesukaan Hyesoo. Kedua tangan Kyuhyun melingkar ditubuh Hyesoo setelahnya, membalik posisi mereka dengan cepat. Hyesoo kembali berada dibawah kurungan tubuh Kyuhyun dalam hitungan sepersekian detik saja. Sebuah ciuman dalam diberikan oleh Kyuhyun sebelum tubuh Hyesoo terangkat dengan mudah dari tempat tidur. Sosok keduanya menghilang dibalik pintu kamar mandi yang ditutup dengan cepat oleh Kyuhyun menggunakan kakinya.

.

.

.

Kyuhyun’s POV

Ruang Operasi Shinsung Hospital

.

Pukul 12 dini hari. Aku masih duduk dibangku tunggu ruang operasi setelah tiga jam lamanya. Entah mengapa aku merasa cemas meskipun aku bukan salah satu anggota keluarga pasien yang sedang berada didalam ruangan dingin itu. Rasa kantuk yang seharusnya sudah menghampiriku bahkan tidak kunjung memberatkan kelopak mataku. Aku terjaga, menatap cemas ke pintu yang masih tertutup rapat. Aku menoleh kesana sebanyak tiga kali dalam lima menit. Aku belum benar-benar menemukan alasan dibalik rasa cemasku ini. Mungkin kecemasan ini muncul karena aku sedang merasa bersalah. Aku membuat Hyesoo kelelahan, bahkan setelah mengetahui bahwa ia belum mendapatkan tidur yang cukup selama dua hari terakhir. Aku tidak memikirkannya dengan baik beberapa jam yang lalu. Sangat sulit untuk berada dalam akal sehat yang baik saat berdekatan dengan Hyesoo. Keberadaannya selalu berhasil mengacaukan pikiranku. Namun, saat aku melihat punggung Hyesoo menghilang dari balik pintu kamar yang tertutup, aku merasakan kecemasan yang tidak beralasan. Aku harap dia baik-baik saja.

.

Kecemasanku sontak menghilang saat pintu ruang operasi terbuka lebar, memunculkan sosok Hyesoo dengan baru operasinya. Masker masih menggantung dilehernya, dan sebuah cap masih menutupi rambutnya. Ia berbicara dengan keluarga pasien yang menunggu didepan pintu. Hyesoo terlihat begitu tenang. Matanya menatap tegas dan tajam, memberikan keyakinan yang menenangkan keluarga pasien. Sebuah senyuman haru terlihat diwajah wanita paruh baya yang kupikir adalah ibu dari pasien itu. Pria paruh baya yang berdiri disampingnya memeluk wanita itu dengan erat setelahnya. Begitu pula dengan seorang pria muda yang baru saja tampak menghapus jejak air mata dipipinya. Saat-saat seperti ini terasa begitu familiar. Seolah aku baru merasakannya kemarin. Tidak. Aku tidak pernah merasakannya. Aku hanya pernah mendengar beberapa orang menceritakan pengalaman mereka. Kali ini yang berbeda. Bukan aku yang berada didalam.

.

Tatapan tajam dimata Hyesoo berubah saat menoleh padaku. Sebuah kerutan kecil tampak dikeningnya, diikuti dengan senyum tipis setelahnya. Tanpa sadar, aku baru saja menghela napas panjang. Kelegaan menghampiriku setelah melihat wajah Hyesoo meski dalam jarak yang cukup jauh. Akupun bangkit berdiri, kemudian menjulurkan tanganku, memintanya mendekat padaku. Aku harus meyakini diriku bahwa sosok yang sedang kulihat adalah Lee Hyesoo yang sejak tadi kutunggu. Bukan ilusi, ataupun mimpi yang datang sementara aku tertidur dibangku tunggu. Sosok yang kuyakini adalah Hyesoo mulai melangkahkan kakinya, berjalan mendekat padaku. Ia melepas cap dari kepalanya, membuat rambut lembutnya yang terikat jatuh disepanjang tengkuknya. Senyum mengembang diwajahnya membuatku lebih yakin bahwa ini bukan ilusiku. Wanita yang sedang berjalan mendekat padaku adalah Lee Hyesoo, milikku.

.

“Hai”, sapa Hyesoo yang semakin dekat padaku.

.

“Hai”, aku balas menyapanya.

.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Hyesoo sambil meletakkan tangannya diatas telapak tanganku. Suaranya yang lembut seolah bergaung dalam kepalaku.

.

“Menunggumu”, jawabku singkat. Aku masih terpesona dengan sosoknya yang begitu anggun meski hari sudah begitu larut.

.

Hyesoo kembali melangkahkan kakinya, kali ini mengajakku bersamanya. “Kenapa kau tidak melanjutkan tidurmu? Kau baru saja kembali dari New York”, tanya Hyesoo lagi.

.

“Setelah akhirnya bisa kembali bertemu denganmu, aku tidak akan pernah tidur tanpamu, Hyesoo-ya”, jawabku sambil menautkan jari-jari kami satu sama lain.

.

“Hhh… Seharusnya kau menungguku dikamar. Kau terlihat lelah, Kyuhyun-ah”, kata Hyesoo dengan nada khawatirnya.

.

“Begitupun denganmu. Dan, aku menyesal karena akulah yang membuatmu terlihat begitu [lelah]. Kuharap kau bisa memaafkan aku”, kataku bersungguh-sungguh.

.

“Kau tidak perlu meminta maaf. Kau membuatku lelah dengan cara yang menyenangkan. Aku tidak merasa keberatan”, kata Hyesoo meyakinkanku.

.

Glad to hear that”, kataku sambil memberikan sebuah senyum tipis padanya.

.

Hyesoo lantas melepaskan tautan jari-jari kami, lalu merangkul lenganku dengan erat. Hidungnya menyentuh bahuku saat aku memasukkan tanganku ke saku celana. Sebuah kecupan mendarat disana setelahnya. Ia menjauhkan kepalanya, lalu menyentuhkan tangannya yang lain di bisepku. Kami melangkah bersama menyusuri koridor rumah sakit. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti. Hyesoo menoleh kearah pintu timur gedung yang berada disebelah kiri kami. Ia menoleh cepat padaku setelahnya, seolah sedang membuat pertimbangan. Aku mengerutkan keningku, bertanya apa yang sedang ia pikirkan dalam diam.

.

“Ayo kita makan sesuatu”, kata Hyesoo yang membuatku melebarkan mataku karena terkejut dengan permintaannya. “Ada sebuah restauran cepat saji tidak jauh dari rumah sakit”, sambungnya.

.

“Hyesoo-ya, kau tahu saat ini sudah pukul berapa?” tanyaku.

.

“Tengah malam. Aku sangat mengetahuinya. Lalu?” Hyesoo balas bertanya.

.

“Kau tidak ingin kembali ke tempat tidur saja?” tanyaku lagi.

.

“Aku lapar. Untuk makanan”, jawab Hyesoo. “Oh, ayolah. Ada apa denganmu? Kau takut aku akan menjadi gendut hanya karena makan pada di malam hari? Kau tidak suka jika istrimu menjadi gemuk, ya, direktur Cho?” tanya Hyesoo setelahnya sambil menarik tanganku agar berjalan bersamanya menuju pintu keluar.

.

“Tidak. Justru aku akan sangat senang jika kau menjadi gemuk. Karena dengan begitu, tidak akan ada pria lain yang menatapmu dan menginginkan milikku”, kataku dengan nada riang yang menular darinya.

.

“Ch… Kau ingin aku menjadi gemuk, sementara kau terlihat seksi dengan bentuk tubuh barumu ini? Curang…” kata Hyesoo sambil meninju pelan perutku. Ia tertawa kecil setelahnya.

.

“Aku tidak keberatan untuk membuat tubuhku membesar jika kau menginginkannya”, kataku, ikut dalam gurauan riangnya.

.

“Lakukan jika kau berani! Kau akan mendapatkan akibatnya. Jangan kau pikir aku akan membiarkanmu”, balas Hyesoo.

.

“Tidak adil. Kau berkata seperti itu sambil mencoba untuk membuat tubuhmu membesar dengan makan junk food dimalam hari”, kataku.

.

“Aku mencintaimu”, kata Hyesoo mengubah topik pembicaraan.

.

Aku menoleh menatapnya dengan tatapan tajam, merasa keberatan dengan perubahan topik pembicaraan yang baru saja ia lakukan. Namun, Hyesoo justru tersenyum lebar, lalu tertawa kecil. Kemudian Hyesoo menyentuhkan dagunya dibahuku tanpa melepaskan tatapannya dariku. Senyum itu menular padaku dengan mudah, membuat tawanya semakin terdengar riang. Ia mengalihkan pandangannya menuju jalan yang membentang dihadapannya. Aku menggelengkan kepalaku, tidak percaya bahwa wanita ini mampu membuatku menyerah begitu saja dengan cepat. Hyesoo kembali menoleh padaku, begitupun aku padanya. Kerutan kecil kembali muncul dikeningku. Hyesoo menganggukkan kepalanya dengan cepat, sebelum kembali memandang lurus kedepan.

.

“Aku tahu. Kau juga mencintaiku”, katanya, bicara pada dirinya sendiri. Tawaku keluar begitu saja setelah mendengarnya.

.

“Benar. Bahkan jika kau menjadi gemuk sekalipun”, ujarku.

.

“Sepertinya akan menyenangkan jika kita menjadi gemuk bersama. Haruskah kita mencobanya?” tanya Hyesoo dengan senyum cerahnya. Tanpa sadar, aku menggeleng dengan cepat, mengundang tawa Hyesoo yang menenangkan hatiku. Akhirnya aku merasa sudah benar-benar kembali ke rumah.

.

.

.

Author’s POV

Keesokkan harinya

.

Matahari belum benar-benar muncul sepenuhnya. Waktu masih menunjukkan pukul 5.47 pagi.  Setelah makan malam di restauran cepat saji dini hari tadi, Kyuhyun membawa Hyesoo kembali ke kamarnya untuk tidur disana, meski Hyesoo sempat menolaknya. Butuh waktu selama beberapa menit untuk membuat Hyesoo setuju dengan permintaannya. Pagi-pagi sekali, Hyesoo bangun untuk melakukan follow up pada pasien yang dioperasi olehnya kemarin. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Hyesoo keluar dari kamar, meninggalkan Kyuhyun yang masih tertidur pulas. Hyesoo naik kedalam lift, lalu berjalan menyusuri sepanjang koridor menuju ruang UGD. Ia memberikan senyum ramahnya, menyapa para perawat dan karyawan rumah sakit yang berpapasan dengannya.

.

Hyesoo berbelok dipersimpangan koridor, masuk ke kamar jaga yang digunakan oleh para residen dan intern untuk beristirahat. Ia berdiri diambang pintu, menatap para residen dan intern yang bertugas semalam tertidur dengan sangat pulas. Sebuah senyum mengembang diwajahnya saat melihat Do Kyungsoo yang tertidur dengan sebuah buku dipelukannya, serta Yook Sungjae yang tidur hanya dengan sebelah sepatu diranjang tepat dibawah Kyungsoo. Di tempat tidur seberang keduanya, ada Wendy yang tidur dengan posisi miring. Rambutnya hampir menutupi seluruh wajahnya. Sebelah tangannya menggantung, dengan ponsel yang berada dilantai. Hyesoo menduga Wendy sedang menggenggam ponselnya sebelum tertidur. Sementara diranjang tepat diatas Wendy, Yerin tidur dengan lembaran kertas yang menutupi sebagian wajahnya. Mereka berempat tertidur begitu pulas, hingga tidak mendengar dengkuran Sungjae yang cukup keras.

.

Hyesoopun menutup pintu kamar dengan perlahan agar tidak membangunkan mereka berempat. Ia kembali melangkah menuju UGD setelahnya. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku jubah karena hawa dingin dari AC yang menyentuh kulitnya. Beberapa meter sebelum sampai di UGD, Hyesoo mengikat rambutnya dengan rapi. Sesaat setelah ia melewati pintu UGD, Hyesoo menyapa beberapa perawat yang melihatnya. Ia memberikan sapaan selamat pagi serta senyum tulus pada para perawat yang sudah berjaga sepanjang malam. Hyesoo sudah mendapatkan energinya kembali. Meski Kyuhyun sempat membuatnya lelah sebelum melakukan operasi kemarin malam, namun ia sudah mendapatkan tidur lelap berkat kehadiran pria yang memeluknya sepanjang malam. Hyesoo berjalan masuk ke ruang perawatan khusus untuk mengunjungi pasiennya, diikuti oleh perawat Park yang membawa rekam medik pasien tersebut.

.

“Bagaimana tanda vitalnya pagi ini, perawat Park?” tanya Hyesoo.

.

“Tekanan darah, nadi, suhu, dan pernapasan pasien berada dalam kondisi yang stabil, dokter. Pasien sadar pukul 1 dini hari. Dokter Do sudah memeriksanya. Dokter Wendy juga sudah melakukan pemeriksaan kembali pukul 5 tadi. Pasien bisa menggerakkan anggota tubuhnya dengan sangat baik”, jawab perawat Park.

.

“Syukurlah. Lakukan pemeriksaan yang sudah dijadwalkan saat pasien bangun nanti. Pastikan seluruh pemeriksaan dilakukan sebelum pukul 9”, kata Hyesoo memberikan pesannya.

.

“Baik, dokter. Saya mengerti”, jawab perawat Park.

.

“Terima kasih, perawat Park. Kau sudah bekerja keras”, kata Hyesoo sambil berjalan keluar dari ruangan.

.

“Begitupun denganmu, dokter”, kata perawat Park yang berjalan disisi kiri Hyesoo. “Apakah kau sudah mendapatkan istirahat yang cukup tadi malam, dokter Lee? Kau terlihat begitu lelah kemarin”, tanya perawat Park setelahnya.

.

“Apakah terlihat begitu? Kemarin, ada beberapa hal yang membuatku lebih lelah dari yang seharusnya. Tapi aku sudah tidur dengan sangat lelap tadi malam. Maaf karena tidak berjaga disini bersama kalian”, kata Hyesoo.

.

“Jangan meminta maaf, dokter. Kau sudah menangani banyak operasi kemarin. Kau juga terlihat sangat lelah. Terlebih direktur Cho sudah kembali dari perjalanan bisnisnya. Tentu kau membutuhkan waktu untuk bertemu dengan suamimu, bukan?” kata perawat Park menggoda Hyesoo.

.

“Hhh… Kau sangat mengerti diriku. Aku sangat senang bekerja dengan perawat yang begitu perhatian sepertimu, perawat Park. Saranghaeyo, Park ganhosanim”, kata Hyesoo dengan santai.

.

“Nado saranghaeyo, Lee seonsaengnim”, balas perawat Park dengan senyum tulusnya. “Tapi, pagi ini ada yang berbeda. Biasanya jika direktur Cho ikut bermalam di rumah sakit, maka beliau juga akan muncul di UGD pada pagi harinya”, kata perawat Park.

.

“Dia masih tidur dengan sangat pulas. Dia bahkan tidak mendengar suara yang kubuat saat berlalu lalang disekitarnya. Kurasa dia akan kembali menyusahkan Lee Taemin [sekertaris pribadi Kyuhyun] dan Byun Baekhyun pagi ini”, kata Hyesoo.

.

“Kurasa keduanya sudah sangat terlatih untuk hal itu, dokter”, ujar perawat Park yang sudah berteman dekat dengan Hyesoo selama dua tahun terakhir.

.

“Kupikir juga begitu”, balas Hyesoo. “Yah… Kim Ryeowook, kau terlihat seperti zombie”, kata Hyesoo saat melihat Ryeowook yang baru saja datang ke UGD setelah menyelesaikan sebuah operasi.

.

“Jangan katakan apapun, Lee Hyesoo. Atau aku akan memberikan sedikit efek zombieku padamu”, kata Ryeowook mengajukan protesnya pada ucapan Hyesoo. “Apakah ada hal baik yang terjadi? Kau terlihat terlalu cerah pagi ini. Tidak setia kawan…” sambung Ryeowook masih sambil menyelipkan keluhannya.

.

“Tentu saja karena direktur Cho Kyuhyun sudah kembali, sunbae. Rasa lelah dan penat yang dirasakan oleh dokter Lee Hyesoo seakan menghilang begitu saja setelah melihat wajah suaminya”, kata Irene yang juga datang ke UGD, menjawab pertanyaan Ryeowook.

.

“O! Bagaimana kau tahu Kyuhyun sudah kembali?” tanya Hyesoo yang terkejut dengan ucapan Irene.

.

“Bagaimana aku tidak mengetahuinya? Setelah kembali dari istirahat makan siangku, Kyuhyun sunbae langsung menodongku didepan pintu dengan pertanyaan, ‘Kau tahu dimana Hyesoo? Semua orang yang kutanyakan tidak mengetahui keberadaannya. Dimana Lee Hyesoo? Dia tidak ada dimanapun’, lengkap dengan kepanikan yang ia coba sembunyikan”, kata Irene menjelaskan.

.

“[Sikap Kyuhyun] Menyebalkan bukan?” tanya Ryeowook pada Irene.

.

“Aku setuju. Dia menyebalkan”, kini giliran Hyesoo yang menjawab pertanyaan Ryeowook.

.

“Apa maksud kalian? Bagian mana dari sikap direktur Cho yang menyebalkan? Sikapnya itu justru membuatku iri. Kekasihku tidak pernah khawatir padaku seperti itu”, kata Irene.

.

“Kau menyebut sikap itu adalah ungkapan kekhawatiran? Bukan, imma! Kyuhyun sunbae sedang memperlihatkan sikap protektifnya pada Hyesoo. Dia lebih terlihat seperti orang gila daripada khawatir”, kata Ryeowook.

.

“Tapi, tetap saja. Direktur Cho menunjukkan perhatiannya pada Hyesoo sunbae”, sanggah Irene lagi.

.

“Kau akan merasa lelah jika menghadapi sikap itu setiap saat”, kata Hyesoo. “Dan, berhenti memanggilnya direktur Cho. Memangnya kau sedang mengincar kenaikan jabatan?” tanya Hyesoo dengan nada bergurau.

.

“Tidak!” sangkal Irene dengan cepat. “Aku hanya memanggilnya seperti itu karena memang seharusnya begitu, sunbae. Kyuhyun sunbae adalah direktur rumah sakit ini. Aku, sebagai dokter yang bekerja di rumah sakit miliknya, tentu saja harus memanggilnya seperti itu”, sambung Irene.

.

“Yang dikatakan dokter Bae tidak salah”, kata perawat Park ikut bicara.

.

“Tetap saja… Aku tidak menyukainya”, kata Hyesoo.

.

“Membuatku merinding”, sambung Ryeowook.

.

“Keningku jadi berkerut karena mendengarnya”, balas Hyesoo.

.

“Aku jadi sakit kepala”, kata Ryeowook menambahkan.

.

Anyway, jangan panggil dia dengan sebutan direktur dihadapanku. Aku terbiasa mendengar kau memanggilnya dengan sebutan ‘sunbae gila’. Rasanya aneh mendengar sebutan direktur dari suara yang sama”, kata Hyesoo pada Irene.

.

“Baiklah. Aku akan kembali memanggilnya Kyuhyun sunbae. Tapi, hanya saat didepanmu saja, sunbae”, kata Irene.

.

“Hhh… Lagipula kau ada-ada saja, Lee Hyesoo. Kau akan membuatnya berada dalam masalah jika melarangnya memanggil Kyuhyun sunbae dengan sebutan direktur. Keterlaluan sekali”, kata Ryeowook sambil tertawa kecil.

.

“Geunyang jaseyo, Kim seonsaeng. (Kau tidur saja, dokter Kim). Kondisi tubuhmu yang lelah terlihat jelas dari wajahmu. Pergilah…” kata Hyesoo pada Ryeowook.

.

“Hyesoo sunbae benar, sunbae. Kau terlihat sangat kelelahan. Saat ini kau tidak terlihat seperti dirimu”, sambung Irene.

.

“Baiklah… Sepertinya aku memang harus segera tidur. Otakku tidak bekerja dengan begitu baik saat ini”, kata Ryeowook. “Perawat Park, tolong hubungi aku jika ada kondisi darurat”, kata Ryeowook pada perawat Park setelahnya.

.

“Baik, dokter Kim”, jawab perawat Park.

.

“Dokter Lee Hyesoo, direktur Choi ingin bertemu denganmu”, kata perawat Song pada Hyesoo.

.

“Choi Sooyoung? Dimana dia?” tanya Hyesoo.

.

“Beliau menunggumu dipintu samping”, jawab perawat Song.

.

“Terima kasih, perawat Song”, kata Hyesoo.

.

“Sama-sama, dokter”, balas perawat Song.

.

Hyesoopun menoleh kearah pintu samping UGD, seperti yang dikatakan oleh perawat Song. Disanalah wajah Sooyoung terlihat dari pintu kaca. Sooyoung memberikan senyum cerah serta lambaian tangannya pada Hyesoo, menularkan senyum yang sama pada wajah Hyesoo. Setelah menandatangani sebuah dokumen, Hyesoo segera bergegas menuju gadis yang sedang menunggunya itu. Sooyoung segera memeluk tubuh Hyesoo sesaat setelah pintu terbuka.

.

“Eonni, aku merindukanmu!” seru Sooyoung.

.

“Aku juga, Sooyoung-ah. Kapan kau kembali?” tanya Hyesoo.

.

“Kemarin sore”, jawab Sooyoung. “Karena terlalu lelah, sesaat setelah sampai dirumah aku langsung tertidur. Padahal awalnya aku berencana untuk menemui eonni”, sambung Sooyoung dengan nada riang.

.

“Lalu, kenapa kau datang pagi-pagi sekali ke rumah sakit? Seharusnya kau beristirahat lebih banyak dirumah”, kata Hyesoo.

.

“Hm… Pertama, karena aku merindukanmu. Kedua, karena tubuhku sudah terlalu lelah untuk tidur. Ketiga, karena aku ingin menceritakan banyak hal padamu. Jaejoong oppa mengatakan eonni berada di rumah sakit sampai nanti sore. Karena itu, aku datang kesini pagi-pagi sekali untuk mengajakmu sarapan bersama”, kata Sooyoung.

.

“Kau datang kesini tanpa sarapan?” tanya Hyesoo yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Sooyoung. “Kau ini! Sama saja dengan Cho Kyuhyun. Jika memiliki keinginan, maka semua hal penting akan diabaikan”, protes Hyesoo. “Ayo, kita cari sesuatu untuk dimakan”, kata Hyesoo mengajak Sooyoung berjalan bersamanya.

.

“Ah, tapi, dimana pria berkepala batu itu, eonni? Apakah dia sudah kembali dari New York?” tanya Sooyoung.

.

“Dia masih tidur dengan sangat pulas dikamarnya. Sepertinya dia kelelahan”, jawab Hyesoo.

.

“Di…rumah? Apa dia tidak akan pergi bekerja hari ini?” tanya Sooyoung lagi.

.

“Bukan. Kyuhyun menginap disini semalam. Kurasa dia belum kembali ke rumah”, jawab Hyesoo.

.

“Ah… Begitu. Sekarang aku benar-benar yakin bahwa kami bersaudara”, kata Sooyoung dengan nada berguraunya.

.

“Kau belum kembali ke rumah sejak kemarin? Jangan katakan…… Kau justru bermalam di apartment Jaejoong sunbae? Benar begitu?” tanya Hyesoo.

.

“Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat merindukannya, eonni. Terlebih karena potongan rambutnya yang baru. Bagaimana bisa aku bertahan untuk tidak menemuinya segera?” kata Sooyoung menjelaskan alasannya.

.

“Ch… Kau dan Kyuhyun memang sama saja. Hanya nama keluarga kalian yang berbeda”, kata Hyesoo sambil tertawa bersama Sooyoung.

.

Keduanya berjalan memasuki food court yang masih belum dipenuhi oleh banyak orang. Jam dinding masih menunjukkan pukul 7 pagi. Karena itu, hanya keluarga pasien dan petugas kesehatan yang bermalam di rumah sakit saja yang akan datang ke food court di jam seperti ini. Lagipula, hanya beberapa kios yang menyediakan hidangan untuk sarapan saja yang sudah buka. Sebagian besar kios belum menunjukkan kegiatan apapun. Hyesoo dan Sooyoung yang sudah sangat mengenal hidangan yang dijual di food court, memilih untuk membeli makanan di minimarket yang terletak disisi sebelah kanan. Keduanya memilih kimbab dan air mineral untuk mengisi perut mereka dipagi hari. Setelah keluar dari minimarket, Sooyoung dan Hyesoo duduk disalah satu tempat duduk yang letaknya paling dekat dengan minimarket.

.

“Bagaimana persiapan pernikahanmu?” tanya Hyesoo.

.

“Kira-kira sudah 88 sampai 92 persen, kurasa. Semua vendor sudah ditentukan. Begitu pula dengan ball room dan wedding organizer yang akan kami gunakan”, jawab Sooyoung.

.

“Hhh… Kau menggunakan angka yang cukup rumit untuk diperkirakan”, kata Hyesoo sambil tertawa kecil. “Lalu, apa saja hal-hal dalam 8 sampai 12 persen yang tersisa?” tanya Hyesoo setelahnya sambil membuka botol airnya.

.

“Kami masih harus melakukan fitting terakhir. Ah… Aku harap bentuk tubuhku tidak berubah dalam 53 hari kedepan”, kata Sooyoung mengutarakan kekhawatirannya.

.

“Choi Sooyoung, bentuk tubuhmu masih sama sejak terakhir kali aku bertemu denganmu tiga bulan yang lalu”, kata Hyesoo.

.

“Tapi, apapun bisa terjadi dalam 53 hari, eonni”, kata Sooyoung.

.

“Kau benar. Tentu saja. Apapun bisa terjadi. Termasuk bentuk tubuhmu yang mungkin berubah jika kau makan sangat banyak karena terlalu khawatir”, ujar Hyesoo.

.

“Eonni benar. Bagaimana ini, eonni? Bagaimana jika aku benar-benar bertambah gemuk?” tanya Sooyoung dengan nada cemasnya sambil meletakkan kimbabnya diatas meja.

.

Oh my God… Sepertinya aku kembali mengatakan hal yang salah”, kata Hyesoo bicara pada dirinya sendiri. “Choi Sooyoung, tarik napas. Kau tidak perlu mencemaskan hal itu. Selama ini kau makan lebih banyak dariku. Tapi bentuk tubuhmu tidak berubah sedikitpun. Tidakkah kau menyadari hal itu?” kata Hyesoo mencoba meyakinkan Sooyoung.

.

“Benar… Eonni benar. Bentuk tubuhku tidak mudah berubah hanya karena aku makan dalam porsi yang banyak. Bolehkah aku mengabaikannya begitu saja, eonni? Berat badanku tidak akan naik jika aku mengabaikannya, bukan?” tanya Sooyoung.

.

Hyesoo sontak tertawa setelah mendengar ucapan Sooyoung. Ia bahkan hampir tersedak karena beberapa saat yang lalu Hyesoo sedang menenggak minumannya. “Tidak akan terjadi apapun padamu, Sooyoung-ah. Percayalah padaku”, kata Hyesoo meyakinkan Sooyoung. “Jika memang terjadi sesuatu pada bentuk ataupun berat badanmu, kau bisa meminta sepupu keras kepalamu itu untuk memberikan tips membentuk badannya padamu”, sambung Hyesoo.

.

“Sepupuku yang keras kepala? Dia memiliki tips untuk membentuk badan? Eonni, apakah kita sedang membicarakan Cho Kyuhyun?”, tanya Sooyoung bingung.

.

“Benar”, jawab Hyesoo singkat, lalu memasukkan potongan terakhir kimbabnya ke dalam mulut. “He’s so hot after his New York trip (Dia sangat seksi setelah perjalannya ke New York)”, sambung Hyesoo.

.

“Maksud eonni, hot-headed (pemarah), bukan?” tanya Sooyoung memastikan.

.

Hot body. He’s so damn hot. Dia memiliki abs sempurna diperutnya. Bisepnya pun terasa begitu kuat. Bisakah kau mempercayainya?” kata Hyesoo mencoba menggambarkan penampilan terakhir Kyuhyun pada Sooyoung.

.

“Eonni pasti sedang membicarakan pria lain yang juga bernama Kyuhyun. Karena Cho Kyuhyun yang kukenal sudah meninggalkan gym setelah merasa sangat bosan dengan program cardio nya. Dia bahkan sangat malas untuk berolahraga, eonni”, kata Sooyoung sambil tertawa kecil.

.

“Percayalah, Sooyoung-ah, aku masih tidak bisa mempercayainya bahkan setelah menyentuh otot-otot itu dengan jari-jariku. Entah apa yang merasukinya”, kata Hyesoo yang ikut tertawa bersama Sooyoung.

.

Keduanya tertawa bersama, memadukan ejekan yang diutarakan Sooyoung dengan ungkapan takjub yang diutarakan Hyesoo. Sooyoung bahkan tidak segan mengungkapkan kebiasaan buruk sepupunya itu, yang sudah tidak asing lagi ditelinga Hyesoo. Acara sarapan pagi mereka berlanjut menjadi kegiatan membicarakan direktur rumah sakit itu. Keduanya terlarut dalam pembicaraan mereka, hingga tidak menyadari kehadiran seorang pria yang sedang berjalan mendekati mereka.

.

“Lee Hyesoo?” Seseorang memanggil nama Hyesoo sambil menyentuh bahunya.

.

Hyesoo menoleh dengan cepat pada pria itu, begitupun dengan Sooyoung yang ikut menatap pria yang berdiri dibelakang Hyesoo. Mata Hyesoo melebar, lalu ia bangkit berdiri karena terkejut dengan keberadaan pria itu dihadapannya. Hyesoopun menutup mulutnya dengan dua tangan, terkejut dengan sosok yang sedang dilihatnya.

.

“Seo Kang Jun?!” kata Hyesoo dengan nada terkejutnya.

.

“Ternyata memang benar dirimu”, senyum mengembang diwajah pria yang bernama Seo Kang Jun itu.

.

Keduanya berpelukan dengan erat setelahnya. Tatapan mereka tidak teralihkan dari satu sama lain bahkan setelah pelukan mereka terlepas. Belum ada kata yang kembali terucap diantara mereka. Hanya tawa dan ekspresi takjub yang dapat terlihat. Wajah keduanya berseri, merasa sangat senang karena bisa kembali bertemu. Sooyoung ikut terlarut dalam kebahagiaan yang ditularkan oleh Hyesoo dan pria dihadapannya itu, walaupun ia tidak mengenal pria itu.

.

.

.

TBC

.

Note:

Hello, readersnim-deul!!!

Apa kabar? Aku kembali dengan Sequel dari salah satu FF favourite-ku. Yup! Beautiful Tomorrow adalah sequel dari FF I’m walking towards you. Seperti yang aku katakan diawal, untuk para new readers, sebaiknya kalian bawa FF sebelumnya terlebih dahulu. Karena, dengan membaca FF sebelumnya, kalian lebih bisa memahami karakter para cast di FF ini.

Okay! Kembali ke Beautiful Tomorrow. Adakah diantara kalian yang menanyakan, ‘Kenapa judulnya Beautiful Tomorrow’? Walaupun tidak ada yang bertanya, aku akan tetap menjelaskan pada kalian. Kenapa? Karena [tentu saja] semua orang menginginkan hari esok yang indah, bukan? Tapi, tidak pernah ada yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi besok. Entah hari esok akan indah atau justru memberikan kesedihan. Beautiful Tomorrow adalah bentuk harapan agar hari esok menjadi indah. Meski apapun yang terjadi hari ini, harapan itu akan selalu ada dalam hati setiap orang. Nah, judul FF kali ini terinspirasi dari judul lagu yang dinyanyikan oleh Park Hyo Shin dengan judul yang sama. Bagi pecinta ballad, wajib denger lagu ini. Aku merekomendasikan lagu indah [sedikit menyakitkan] ini pada kalian.

Well, bagaimana part perdananya, readersnim? Ini adalah part pembuka. Jadi, belum ada masalah berarti didalamnya. Masih panas-panasnya [ceritanya atau alurnya? Lol!] Mendekati TBC ada sebuah kejutan yang datang dengan hadirnya seorang pria bernama Seo Kang Jun. Kira-kira, apakah masalah akan bermula dari kehadirannya? Atau, justru karena sebab lain? Nantikan kelanjutannya! Kana pamit! Annyeonghigaseyo! Have a nice day!

Advertisements

20 thoughts on “Beautiful Tomorrow : Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s