It supposed to be me : Part 4

Author: Okada Kana

Category: PG-15, Romance, Chapter, Family

Cast:

Cho Kyuhyun, Kwon Yunji (OC), Lee Donghae, Choi Minho

Kwon Yuri, Choi Siwon, Hong Jong Hyun, etc…

Disclaimer:

Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi atau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maaf yang sebesar-besarnya. Aku meminta maaf sebelumnya untuk semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Jadilah pembaca yang baik dan sopan. No bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Saran dan kritik membangun akan diterima dengan senang hati. Selamat membaca!!!

Jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com

.

 

 

.

Review Part 3

“Kau tidak ingin menemuinya?”

“Tidak perlu. Dia bisa menemuiku di kampus nanti”.

“Kau bisa bertemu dengannya saat ini, dengan memintanya kesini”.

“Kau tidak menginginkannya”.

“Aku tidak pernah berkata seperti itu”.

“Tadi aku sudah melihat Lee Donghae sebelum kau mengganti posisimu. Aku sempat berpikir kau sedang menghindarkanku darinya”.

————————-

“Kau tidak sedang berada dalam keadaan mood yang baik”.

“Begitulah…”

“Jika aku menanyakan alasannya, kau tidak akan mengatakan apapun padaku, bukan?”

“Tidak”.

“Aku bertanya hanya karena memikirkan kemungkinan kau akan mengubah pikiranmu untuk memberitahuku”.

“Aku tidak mengubah pikiranku dengan mudah, Lee Donghae”.

“Tentu saja. Aku sangat mengetahuinya”

————————-

“Eomma merindukanmu, Yunji-ya”

“Apa yang membuat eomma harus menyiakan waktu berharga eomma hanya untuk datang kesini?”

“Sebuah pesta akan diadakan di rumah besok.Kau harus berada disana”.

“Dan bagaimana jika aku menolak untuk datang?”

“Kau tidak diberikan pilihan untuk itu”.

“Aku tidak ingin datang… atas alasan apapun”

————————-

.

 

 

 

 

.

It supposed to be me : Part 4

“I’m here… with you”

.

 

 

 

 

.

Author’s POV

At Yunji’s Apartment

.

Sudut bibir Nyonya Kwon tertarik membentuk sebuah senyuman tipis saat mendengarkan penolakan yang dilontarkan oleh anak perempuan termudanya. Ini adalah percakapan pertama mereka setelah hampir tiga bulan lamanya tidak saling bertemu maupun bicara. Percakapan diantara ibu dan anak ini bahkan tidak terdengar manis dan penuh dengan kasih sayang seperti selayaknya hubungan dalam keluarga. Keduanya tetap bersikeras berdiri mempertahankan apa yang dianggap benar. Situasi dalam keluarga mereka belum berubah selama beberapa tahun terakhir. Jarak yang terbentang semakin melebar. Terutama yang terjadi diantara Yunji dan anggota keluarga Kwon yang lain. Namun, meski begitu, keluarga Kwon tetap mengetahui kehidupan Yunji diluar rumah dengan menugaskan beberapa orang untuk mengawasi Yunji. Setiap kegiatan yang Yunji lakukan selalu dilaporkan pada kedua orang tuanya. Walaupun kenyataannya, masih ada hal yang tidak diketahui dari Yunji. Semua pekerjaan paruh waktu yang dilakukan Yunji berada di dalam ruangan, tersamarkan oleh lokasi pekerjaannya. Sampai saat ini, tidak satupun anggota keluarga yang mengetahui bahwa Yunji memiliki pekerjaan paruh waktu diluar kegiatan kuliahnya. Keluarga Kwon tetap beranggapan bahwa Yunji hanya menggunakan waktunya untuk kuliah. Hubungan Yunji dengan keluarganya semakin jauh dari kata membaik.

.

“Aku sudah mengatakannya padamu, sayang. Kau tidak memiliki pilihan untuk itu”, kata Nyonya Kwon tetap pada pendiriannya.

.

“Kehadiranku disana tidak akan memberikan pengaruh apapun. Eomma tahu itu dengan sangat baik”, balas Yunji.

.

“Aku tahu. Meski begitu, kau masih memiliki kewajiban sebagai seorang anak dari keluarga Kwon, Yunji-ya. Jangan lupa akan hal itu”, kata Nyonya Kwon dengan nada bicaranya yang teratur.

.

“Kewajiban mana yang eomma maksud? Kewajiban untuk melakoni peran sebagai seorang anak yang dilimpahi dengan kebahagiaan dari keluarganya? Jika kewajiban itu yang sedang eomma bicarakan saat ini, maka maaf, aku tidak bisa melakukannya lagi”, kata Yunji mempertegas penolakannya.

.

“Sayang, kenapa kau bicara seperti itu? Kau bicara seolah keluarga kita memiliki perilaku yang tidak baik. Jangan seperti itu, Yunji-ya”, kata Nyonya Kwon dengan nada bicaranya yang masih begitu tenang.

.

“Kenapa, eomma? Aku salah?” tanya Yunji dengan emosi yang masih berusaha ia redam. “Apa yang eomma inginkan dariku? Aku harus hadir di acara itu, ditengah keluarga dengan citra bahagia, sambil memberikan senyum ceria pada setiap tamu yang datang layaknya seorang anak yang begitu dibanggakan oleh keluarganya? Eomma tahu benar situasi sebenarnya. Tidak ada kebahagiaan dalam keluarga ini selama beberapa tahun terakhir”, sambung Yunji.

.

Sebuah helaan napas terdengar dari Nyonya Kwon. Kedua tangannya dilipat didepan dada. Nyonya Kwon mengalihkan pandangannya dari Yunji, kemudian melangkahkan kakinya menuju sofa yang berada di ruang tv. Ia duduk dengan anggun di sisi paling kiri sofa. Yunji menatap setiap pergerakan yang dilakukan oleh ibunya dengan sikap waspada. Ada sebuah kerutan kecil dikening Yunji. Setelah beberapa bulan, Yunji kembali merasa tidak tenang. Beberapa orang yang selalu dihindari oleh Yunji muncul satu persatu mengusik ketenangannya dalam satu hari yang sama. Ia bahkan belum bisa bernapas dengan lega jika mengingat sosok yang dilihatnya tadi pagi. Kini keresahannya justru bertambah dengan kehadiran ibunya yang masih bersikap sangat tenang dihadapannya. Salah satu tangan Yunji mengepal kuat disamping tubuhnya. Ia masih mencoba menekan emosi yang bergumul dalam hatinya. Sementara disisi lain, Nyonya Kwon masih bersikap sangat tenang dihadapan Yunji. Sesaat kemudian, Nyonya Kwon kembali menatap Yunji dengan tatapan dan ekspresi wajah yang tidak terbaca. Sebuah senyum tipis kembali muncul dibibirnya, membuat rambut halus di tangan Yunji meremang setelahnya.

.

“Kwon Yunji, jaga bicaramu. Kau sudah diajarkan untuk bersikap dengan baik sejak kecil. Tidak baik melupakan ajaran yang sudah kau dapatkan”, tegur Nyonya Kwon dengan ketenangan dalam dirinya. “Dan kau tidak perlu mengatakan hal itu untuk dijadikan alasan atas ketidakbersediaanmu datang ke acara yang begitu penting bagi appa mu. Lagipula situasi keluarga kita tidak seburuk itu. Semua dalam keadaan baik-baik saja. Kau tidak boleh lupa bahwa kau yang memilih untuk meninggalkan rumah. Kau yang memilih untuk tidak menjadi bagian dari kebahagiaan dalam keluarga kita. Bukan kami yang memintamu”, sambung Nyonya Kwon, membalikkan fakta pada Yunji.

.

“Benar. Memang aku yang memilihnya. Aku keluar dari rumah karena memiliki perasaan tidak nyaman yang tidak dimiliki oleh anggota keluarga lain. Aku tidak bisa merasakan kebahagiaan hampa yang ada dalam rumah itu. Hanya aku yang merasa seperti itu. Aku yang aneh, begitu, eomma? Aku yang selalu berada diposisi dimana ak……”

.

“Benar. Kami tidak melakukan apapun”, Nyonya Kwon memotong ucapan Yunji dengan cepat. “Apakah kami yang menanamkan perbedaan cara pandang dalam pikiranmu? Apakah kami pernah memaksamu? Tidak, Yunji-ya. Tidak pernah sekalipun. Sejak awal kau yang memilih untuk menjadi berbeda. Kau yang menarik dirimu. Kau menentang apa yang sudah ditetapkan padamu”, sambung Nyonya Kwon, kini dengan penekanan disetiap kata yang diucapkannya.

.

“Aku memilih jalan hidupku sendiri tanpa menyulitkan siapapun. Aku melakukan apa yang aku inginkan dengan tetap bertanggungjawab atas pilihanku. Apakah itu adalah sebuah kesalahan bagi eomma? Tidakkah aku memiliki hak untuk menentukan pilihanku?” tanya Yunji dengan emosi yang mulai memenuhi dadanya.

.

“Kami pasti akan memberikan dukungan jika kau memilih hal yang lebih baik untuk dilakukan. Jangan katakan bahwa kami tidak menyampaikan hal itu padamu, Yunji-ya”, jawab Nyonya Kwon. “Tapi apa yang kau lakukan? Kau membuat kami kecewa dengan pilihanmu. Sastra? Penulis? Dunia penerbitan? Omong kosong! Jika kau ingin diberikan kebebasan untuk memilih, maka pilihlah hal yang lebih baik dari kakakmu! Bukan justru yang jauh tidak berguna”, sambung Nyonya Kwon.

.

“Pilihanku menjadi tidak berguna karena eomma begitu mengagungkan profesi sebagai seorang dokter yang eomma pilihkan untuk eonni. Aku tidak menginginkannya, eomma. Kenapa kami tidak boleh berbeda? Kalaupun berbeda, kenapa harus ada yang lebih baik diantara kami? Kenapa harus selalu ada perbandingan, eomma?” tanya Yunji.

.

“Jangan mengatakan apapun dengan nada bicara yang menyatakan seolah kau sudah melakukan hal yang benar, Yunji-ya. Tidak akan pernah ada perbandingan jika kau tidak menentang keputusan kami untuk menjadikanmu seorang dokter seperti Yuri. Jika kau tidak ingin dibandingkan dengan siapapun, maka tunjukkan pada eomma seberapa bermanfaatnya pilihanmu itu. Sampai saat ini kau bahkan belum pernah membuktikan apapun pada kami. Yuri memiliki prestasi yang sangat baik saat masih kuliah. Nilai-nilainya tidak pernah mengecewakan. Tapi apa yang sudah kau lakukan untuk membanggakan kami?” tanya Nyonya Kwon dengan tatapan tajam yang tertuju pada Yunji, seolah tatapan itu bisa menembus kedalam diri Yunji dengan mudah.

.

“Apa yang harus aku lakukan? Dan, untuk apa aku melakukannya? Apapun yang aku lakukan, tidak pernah ada yang bisa membuat eomma dan appa bangga. Karena sejak dulu hanya eonni yang terbaik bagi kalian. Eonni mewujudkan semua keinginan kalian. Eonni memiliki semua hal dan aku tidak. Nama Kwon Yuri selalu menjadi bahan pembicaraan eomma dan kolega eomma. Eonni selalu didahulukan dalam segala hal. Kwon Yuri adalah puteri kebanggaan keluarga Kwon. Dia cantik, memiliki ketenaran, luar biasa berbakat, dan seorang dokter. Eomma mendapatkan kebanggaan hanya dengan membesarkan seorang anak sepertinya. Sementara aku, siapa Kwon Yunji? Sejak dulu aku hanya memiliki predikat sebagai ‘adik perempuan Kwon Yuri’. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya bayangannya. Aku hanya pelengkap dalam keluarga Kwon. Aku hanya dianggap penggenap jumlah anggota keluarga ini. Sekarang eomma mempertanyakannya lagi, ‘apa yang sudah aku lakukan untuk membanggakan eomma’. Aku akan mengembalikannya pada eomma. Apakah aku diberikan kesempatan untuk melakukan itu? Atau, apakah eomma pernah membuka diri, menerima kebaikan apapun yang aku lakukan untuk menjadikannya sebuah kebanggaan bagi eomma? Tidak, eomma. Tidak pernah. Eomma hanya peduli pada semua hal yang eonni lakukan. Sementara semua hal yang aku lakukan adalah kesalahan”, kata Yunji mengungkapkan isi hatinya. Air mata sudah mulai menumpuk di pelupuk mata Yunji.

.

“Apa yang membuatnya terlihat seperti sebuah kebenaran? Kau hanya kuliah di fakultas sastra, Yunji-ya. Kau menolak keputusan kami yang ingin menjadikanmu seorang dokter hanya karena menuruti kecintaanmu pada dunia sastra. Eomma tidak melihat kebenaran dalam hal itu, Yunji-ya. Setidaknya jika bukan dokter, kau bisa memilih bisnis agar dapat menjadi penerus keluarga Kwon. Atau kau bisa bekerja di pemerintahan. Apapun yang lebih baik dari sekedar mempelajari bahasa dan karya tulis. Kau tidak mendapatkan tekanan dalam belajar seperti Yuri. Kau tidak menghadapi kesulitan sepertinya. Tapi kau bahkan tidak bisa mendapatkan beasiswa dari kampusmu. Apa hasil dari kegiatan belajar yang kau impikan itu?” balas Nyonya Kwon yang masih teguh mempertahankan pendapatnya, menyalahkan pilihan Yunji.

.

“Hhh… Beasiswa? Apa eomma pikir mendapatkan beasiswa adalah hal yang mungkin untuk dilakukan? Eomma membicarakan tentang bagaimana payahnya seorang Kwon Yunji yang tidak bisa mendapatkan beasiswa di fakultas sastra, tanpa melihat terlebih dahulu alasan dibalik semua itu”, balasYunji.

.

“Apapun alasannya, jika kau tidak ingin dibandingkan dengan Yuri, meski dengan latar belakang pendidikanmu, seharusnya kau bisa mendapatkan hasil terbaik di fakultasmu. Kau tidak semestinya mencari alasan untuk dijadikan sebuah pembelaan atas situasimu, Yunji-ya”, kata Nyonya Kwon yang bangkit berdiri dari sofa.

.

“Inilah salah satu masalah dalam keluarga kita, eomma. Tidak pernah ada pendapat yang didengar. Tidak pernah ada yang ingin berusaha untuk mendengar, maupun memahami. Aku mulai bertanya-tanya dalam pikiranku, sebenarnya apa yang eomma inginkan dariku? Jika aku mendapatkan beasiswa, lalu apa? Keuntungan apa yang eomma dapatkan? Kebanggaan? Omong kosong! Eomma sudah mendapatkannya dari Yuri eonni. Sampai kapanpun, hanya eonni yang mampu membuat eomma tersenyum bangga. Kebahagiaan? Akankah eomma merasa bahagia hanya dengan sebuah beasiswa dari seorang anak yang memilih fakultas tak berarti? Aku tidak yakin dengan hal itu. Jadi, apa? Uang? Dengan mendapatkan beasiswa itu, maka aku tidak perlu lagi menggunakan uang kalian untuk membiayai kuliah tidak bergunaku. Begitu?” tanyaYunji.

.

“Kau tidak pantas mengatakan itu pada eomma, Yunji-ya. Kau bahkan tidak bisa mendapatkan beasiswa itu. Untuk apa kau membicarakan keuntungan setelahnya? Kau bisa mengetahui keuntungan apa yang akan keluarga kita dapatkan, hanya jika kau mendapatkan beasiswa dari kampusmu”, jawabNyonya Kwon.

.

“Kalau begitu beritahu aku bagaimana caranya, eomma? Beritahu aku cara untuk mendapatkan beasiswa itu”, tanya Yunji sekali lagi.

.

“Kau cukup pintar untuk mengetahui caranya, Yunji-ya. Kau hanya perlu belajar dengan tekun untuk mendapatkan beasiswa itu. Kau bahkan tidak tahu akan hal itu?” Nyonya Kwon balas bertanya, sambil kembali melipat kedua tangannya didepan dada.

.

“Tidak. Aku sangat mengetahuinya. Tapi untuk kasusku, menjadi pintar saja tidak cukup, eomma. Dan, eomma benar, aku tidak bodoh. Aku cukup pintar…” kata Yunji yang mengambil jeda dalam ucapannya. “Aku cukup pintar untuk tidak mengusahakan hal yang sangat tidak mungkin untuk didapatkan. Eomma pikir aku tidak mendapatkan beasiswa karena aku bodoh? Karena aku tidak belajar dengan tekun? Atau karena nilaiku jauh dari sempurna? Pernahkah eomma meluangkan waktu untuk melihat hasil belajarku? Setelah mendengar ucapan eomma, aku baru menyadari bahwa selama ini aku memang tidak dipedulikan. Aku selalu dipandang rendah oleh keluargaku sendiri. Tahukah eomma? Ada satu hal yang eomma lupakan. Eomma, tolong jawab pertanyaanku. Bagaimana bisa aku mendapatkan beasiswa di universitas yang menampilkan nama Tuan Kwon Dae Young dalam daftar donaturnya? Keluarga Kwon selalu memberikan donasi bagi mahasiswa berprestasi dari kalangan keluarga menengah kebawah di Y University. Dan sekarang eomma ingin aku menggunakan donasi itu untuk diriku sendiri? Benarkah, eomma?” tanya Yunji dengan kerutan di kening yang semakin dalam.

.

Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Nyonya Kwon setelahnya. Kedua matanya sempat terlihat sedikit melebar, seolah baru menyadari sebuah fakta yang sudah ia lupakan. Walaupun ia tidak pernah benar-benar mengetahui prestasi belajar Yunji di kampus, tapi ia tahu benar bahwa sesempurna apapun hasil yang didapatkan Yunji, beasiswa adalah hal yang sangat mustahil untuk didapatkan. Namun, bahkan setelah menyadari hal itu pun, Nyonya Kwon tidak menurunkan tembok pertahanannya dan membiarkan Yunji menang dalam perdebatan itu. Nyonya Kwon pun kembali mengalihkan pandangannya dari Yunji, menghindari tatapan penuh emosi yang diberikan oleh Yunji.

.

“Otakku bekerja cukup baik untuk mendapatkan beasiswa yang eomma inginkan itu. Hasil belajarku di kampus sangat mungkin untuk dijadikan kandidat penerima beasiswa. Eomma pikir aku tidak menginginkannya juga? Aku sangat menginginkannya, eomma. Sangat…” sambung Yunji dengan penekanan dalam tiap kata yang diucapkannya. “Aku selalu ingin mendapatkan beasiswa di kampus. Karena dengan mendapatkannya, maka aku bisa membiayai kuliahku sendiri. Tapi aku tidak cukup beruntung dalam posisi ini, eomma. Kenapa? Apa alasan yang tidak pernah ingin eomma ketahui itu? Karena aku adalah Kwon Yunji, anak dari keluarga Kwon. Selama ini aku tidak pernah menyadarinya, tapi kini aku mengerti, menjadi anak dari keluarga Kwon tidak memberikan keuntungan bagiku dalam hal ini. Akan menjadi mudah jika tidak ada nama keluarga Kwon dalam namaku”.

.

“Eomma bilang jaga bicaramu, Yunji-ya”, kata Nyonya Kwon dengan ketegasan dalam nada bicaranya kali ini.

.

“Kenapa, eomma? Aku salah bicara lagi?” tanya Yunji dengan dua ekspresi yang berbeda diwajahnya. Bibirnya tersenyum tipis, namun matanya mengungkapkan rasa sakit yang ia miliki dalam hatinya. “Eomma meremehkanku dengan mengatakan bahwa aku tidak memiliki cukup kemampuan untuk mendapatkan beasiswa di fakultas sastra. Eomma tidak pernah ingin mengetahui alasan dibalik ketidakmampuanku itu. Aku hanya memiliki satu penghalang, eomma. Jika tidak ada nama keluarga Kwon dalam namaku, maka aku pasti akan dengan mudah mendapatkan beasiswa yang eomma inginkan. Lalu namaku juga bisa disebut dalam perbincangan eomma dengan teman-teman eomma, seperti yang selalu eomma lakukan saat membicarakan eonni”, sambung Yunji sambil berdesis pelan.

.

Ekspresi diwajah Yunji pun kembali menjadi datar. Luka yang selama ini dirasakannya terpancar dengan jelas dari kedua matanya. Air mata yang semula sudah menumpuk, tidak kunjung menetes karena perubahan emosi yang terjadi dalam diri Yunji. Ia tidak lagi merasakan kesedihan, melainkan rasa kesal dan kebencian yang perlahan muncul. “Aku memiliki sebuah saran, eomma”, kata Yunji dengan ketenangan dalam nada bicaranya. “Jika eomma memang sangat menginginkan aku untuk mendapatkan beasiswa itu, kenapa tidak eomma hapus saja nama keluarga Kwon dari namaku?” sambung Yunji sambil menatap tepat ke mata ibunya.

.

“Kwon Yunji!” seru Nyonya Kwon kali ini.

.

“Ah, tidak boleh. Tidak bisa seperti itu, bukan? Jika tidak ada nama Kwon didepan namaku, bagaimana bisa eomma mendapatkan citra di mata para kolega dan teman-teman eomma? Tanpa nama keluarga Kwon, aku bisa mendapatkan beasiswaku, tapi eomma akan kehilangan citra itu. Lalu, bagaimana, eomma? Apa yang harus kita lakukan? Tolong beritahu aku. Eomma tahu segalanya, bukan?” sambung Yunji tanpa menghiraukan teguran dari ibunya.

.

Namun sikap yang ditunjukkan Nyonya Kwon justru berbanding terbalik dengan seruan yang ia ungkapkan beberapa saat yang lalu. Setelah menghela napas panjang, ekspresi diwajah Nyonya Kwon kembali tenang seperti semula. Tidak ada kemarahan yang terlihat disana. Bahkan tatapan tajamnya sudah menghilang. Seolah ada sebuah tombol on-off yang bisa ditekan kapanpun. Ekspresi dan bahasa tubuh Nyonya Kwon berubah dengan begitu cepat. Ia menunjukkan sikap tenangnya lagi, seolah ia tidak pernah mendengar kata apapun dari anak perempuannya itu. Sebuah kerutan kecil terlihat di kening Yunji setelah melihat perubahan dalam diri ibunya yang terjadi begitu cepat.

.

“Rupanya kau sudah pintar membalas ucapanku sekarang, Yunji-ya”, kata Nyonya Kwon dengan ketenangan yang dengan mudah kembali muncul dari dirinya. “Kau benar. Aku sudah melupakan fakta itu. Akan menjadi sangat tidak sopan jika kau menggunakan uang donasi perusahaan untuk dirimu sendiri. Sudahlah, kita lupakan saja tentang semua pembicaraan ini. Tidak ada yang bisa kita lakukan. Semua hal sudah tidak pada jalurnya saat kau menentukan pilihanmu. Aku juga akan menganggap pembicaraan diantara kita tidak pernah terjadi”, sambung Nyonya Kwon.

.

“Hhh… Eomma melakukannya lagi. Tidak pernah ada pembicaraan yang benar-benar selesai. Eomma selalu menghentikannya sesuai dengan kehendak eomma tanpa pernah ingin menyelesaikannya. Aku benar kali ini. Tidak ada yang berubah dari keluarga ini”, kata Yunji menanggapi sikap yang diberikan ibunya.

.

Sebuah senyum tipis terlihat diwajah Nyonya Kwon setelah mendengar ucapan Yunji. “Anyway, kau harus menunjukkan dirimu di rumah. Tidak ada alasan yang akan diterima. Kau harus datang. Jangan buat dirimu menyesali keputusanmu yang menolak untuk datang. Kau tidak akan menginginkan hal yang bisa kami lakukan untuk membuatmu datang, Yunji-ya. Kali ini eomma bersungguh-sungguh”.

.

Nyonya Kwon mulai melangkah setelahnya. Ia berhenti tepat disebelah kanan Yunji untuk membenarkan letak kerah blouse Yunji yang masuk ke dalam sweater, sambil menyunggingkan senyum tipisnya. Yunji memilih untuk mengalihkan pandangannya, menolak untuk menatap ibunya. Nyonya Kwon pun kembali melangkah melalui lorong menuju pintu apartment. Derap langkahnya terdengar begitu teratur di ruang apartment yang sunyi itu. Suara pintu terbuka dan tertutup terdengar setelahnya. Kemudian ruangan menjadi benar-benar hening. Yunji masih berdiri ditempatnya semula. Napasnya yang teratur perlahan berubah menjadi berat. Seolah tidak ada cukup udara dalam ruangan itu. Kerutan kecil kembali terlihat di kening Yunji. Air muka Yunji berubah dengan cepat. Ketegangan terlihat diwajah kurusnya justru setelah ibunya keluar dari ruangan itu.

.

Keheningan ruang apartment terisi dengan suara deritan pintu kamar yang dibuka oleh Kyuhyun. Yunji masih tidak menunjukkan pergerakan apapun. Pikirannya sedang tidak berada di tempat itu. Kyuhyun pun berjalan mendekat pada Yunji tanpa bersuara. Kyuhyun mendengar semua hal yang dibicarakan oleh Yunji dan ibunya. Kini Kyuhyun mengetahuinya, hal tersembunyi dibalik sikap yang dijadikan tameng oleh Yunji. Ia menghalangi sisi terluka itu dengan tameng yang ia pegang dengan kuat, sehingga tidak ada satupun orang yang dapat mengetahuinya dengan mudah. Hari ini, tameng itu mendapatkan hantaman kuat sebanyak dua kali. Hantaman pertama tadi pagi masih dapat dilawan oleh Yunji. Namun, hantaman kedua beberapa saat yang lalu mulai membuatnya goyah. Sosok Yunji yang selalu terlihat tenang dan kuat, berubah menjadi lebih risau. Kyuhyun berjalan semakin mendekat pada Yunji, hingga hanya tersisa jarak setengah meter saja diantara mereka.

.

“Yunji-ya……” kata Kyuhyun dengan suara beratnya yang tenang.

.

Mata Yunji berkedip cepat saat mendengar suara berat Kyuhyun yang menyadarkannya. Ia berdeham setelahnya. Tangannya yang semula mengepal kuat, terbuka lebar lalu disentuhkan ke pahanya. Yunji terlihat kikuk saat menggerakkan tubuhnya. Ia tidak melangkah kemanapun. Hanya gerakan-gerakan kecil saja yang terlihat oleh kedua mata Kyuhyun. Tangan Yunji pun bergerak naik, menyelipkan rambutnya ke telinga kiri, lalu meyentuhkan hawa dingin di telapak tangannya ke leher. Kyuhyun yang menyadari kecanggungan Yunji pun memutuskan untuk tidak melakukan apapun. Ia memilih untuk menunggu respon apapun yang akan diberikan Yunji.

.

“Hhh… Ada apa denganku?” tanya Yunji pada dirinya sendiri. “Seharusnya aku melampiaskan amarahku. Kenapa aku diam saja seperti ini? Sepertinya ada yang salah denganku hari ini”, sambung Yunji, masih bicara pada dirinya sendiri.

.

“Yunji-ya…” kata Kyuhyun sekali lagi sambil menyentuh bahu Yunji perlahan.

.

Yunji berbalik untuk menatap Kyuhyun. “Hm?” tanya Yunji dengan gumamannya. Ekspresi diwajahnya terlihat begitu berbeda. Ada sebuah senyum tipis disana, namun senyuman itu tidak benar-benar mewakilkan isi pikiran dan hatinya.

.

“Kau……” Kyuhyun berhenti. Ia merasa ragu untuk menyelesaikan kalimatnya.

.

“Jangan katakan apapun, Cho Kyuhyun”, kata Yunji sambil menatap tepat ke mata Kyuhyun.

.

“Aku tahu. Aku tidak akan mengatakan apapun”, balas Kyuhyun.

.

“Aku baik-baik saja”, kata Yunji yang seolah mengerti makna dibalik tatapan yang diberikan oleh Kyuhyun padanya.

.

No. You’re not (Tidak. Kau tidak baik-baik saja)”, kata Kyuhyun.

.

I am (Aku baik-baik saja)”, kata Yunji masih dengan penyangkalannya. “I really am… (Aku benar-benar baik-baik saja…)”, sambung Yunji mencoba meyakinkan Kyuhyun. Namun, Kyuhyun justru menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Yunji. “Aku akan… [baik-baik saja]”.

.

“Jangan seperti ini, Yunji-ya. Tidak masalah jika kau mengatakan apapun yang sedang kau rasakan saat ini padaku”, kata Kyuhyun.

.

“Tolong, Cho Kyuhyun. Jangan lakukan ini padaku. Jangan mengatakan apapun lagi”, pinta Yunji.

.

Kyuhyun pun menghela napas panjang, lalu mendekat pada Yunji. “Baiklah. Aku akan berhenti bicara”, kata Kyuhyun menyanggupi permintaan Yunji. Ia melangkah lebih dekat, menghapus jarak diantara mereka dan meraih Yunji ke dalam pelukannya. “Aku hanya akan menjadi penopangmu selama beberapa saat seperti ini”, sambung Kyuhyun.

.

Kyuhyun memeluk erat tubuh Yunji yang berhawa dingin. Ia menepati janjinya untuk tidak mengatakan apapun pada Yunji. Kyuhyun bisa merasakan otot-otot ditubuh Yunji yang menegang karena perdebatan dengan ibunya beberapa saat yang lalu. Perlahan ketegangan itu mulai menghilang, ditandai dengan helaan napas panjang yang terdengar oleh Kyuhyun. Yunji menyerah. Ia merasa tidak cukup mampu untuk terus bersembunyi dibalik tameng pelindungnya. Kedua tangan Yunji mulai menunjukkan pergerakan. Awalnya ia hanya meraih sisi samping long-sleeves milik Kyuhyun. Namun, kedua tangannya perlahan bergerak menyusuri pinggang Kyuhyun dan berakhir di punggung. Yunji berdeham pelan setelahnya, seolah sedang menahan sesuatu yang tidak ingin ia keluarkan dari bibirnya.

.

“Jika kau membutuhkan waktu untuk dirimu sendiri, aku bisa pergi”, kata Kyuhyun.

.

“Tidak. Jangan pergi… Tetaplah disini, Cho Kyuhyun”, balas Yunji.

.

Pelukan Yunji ditubuh Kyuhyun menjadi semakin erat. Yunji bahkan mencengkram pakaian Kyuhyun yang tersentuh oleh kedua telapak tangannya. Yunji menenggelamkan wajahnya di dada Kyuhyun, membuat dagu Kyuhyun menyentuh tepat diatas kepalanya. Isakan tertahan Yunji terdengar setelahnya. Kyuhyun dapat merasakan tubuh Yunji yang bergetar karena tangis yang sedang Yunji tahan dengan sekuat tenaga. Tangan kanan Kyuhyun pun bergerak, beralih dari punggung menuju kepala Yunji. Kyuhyun membelai pelan kepala Yunji, berusaha untuk sedikit menenangkannya. Sementara tangan Kyuhyun yang lain menepuk pelan punggung Yunji. Tidak ada kata diantara mereka setelahnya. Suasana didalam ruangan apartment itu kembali hening seperti sebelumnya.

.

.

Keesokkan harinya

Sabtu pagi di Apartment Yunji

.

Pagi menjelang, menggantikan hari kemarin yang pergi bersama gelapnya malam. Suasana apartment yang kelabu sudah digantikan dengan suasana teduh dan tenang. Alunan musik acoustic dari pemutar musik mengisi setiap sudut ruangan apartment Yunji. Belum terdengar suara siapapun disana. Tirai jendela besar sudah terbuka, memperlihatkan suasana pagi kota Seoul yang mulai menampakkan kesibukannya. Suara deritan pintu yang terbuka terdengar, menambahkan satu suara lain dalam ruangan itu. Yunji keluar dari kamarnya dengan wajah mengantuk khas bangun tidurnya. Ia berjalan malas menuju sumber suara petikan gitar dari pemutar musik. Sebuah senyuman manispun menyambut kedatangan Yunji ke dapur. Kyuhyun sudah berada disana sejak setengah jam yang lalu. Sebuah apron berwarna hitam sudah melekat ditubuhnya. Kedua tangannya penuh, digunakan untuk menggenggam kuat wajan di tangan kiri serta spatula di tangan kanan.

.

“Wow… Seorang laki-laki dengan spatulanya berada di dapurku. Pertama kalinya…” Yunji mengatakan kata pertamanya pagi itu pada Kyuhyun yang masih memberikan senyum cerahnya.

.

Kyuhyun tertawa kecil mendengar ucapan Yunji. “Kenapa? Apakah chef di rumah keluarga Kwon adalah seorang perempuan?” Kyuhyun melayangkan candaan sarkastiknya pada Yunji.

.

“Tidak. Seorang laki-laki. Pria tua yang sangat baik lebih tepatnya”, jawab Yunji yang sedang mengeluarkan kotak susu dari lemari es.

.

“Ah… Jadi, itu sumber komentar pagimu beberapa saat yang lalu? Kau kecewa karena chef yang melayanimu hari ini jauh lebih muda dari yang seharusnya?” tanya Kyuhyun pada Yunji yang berjalan menuju meja makan.

.

“Kau bercanda? Aku? Kecewa? No way…” ujar Yunji yang sedang menuangkan susu ke sebuah gelas yang berada di meja makan. “Susu?” tanya Yunji pada Kyuhyun, yang dijawab dengan anggukkan setelahnya. “Seorang Cho Kyuhyun sedang memasak di dapurku pukul 7 pagi. Kau tidak tahu betapa menyenangkannya hal ini jika aku bisa menyebarluaskannya pada seluruh gadis yang memujamu di kampus. Mereka akan lebih mengenalku…dan akan lebih membenciku”, sambung Yunji sambil tertawa kecil disela ucapannya. Yunji meneguk susu dari gelas ditangannya setelah itu.

.

“Kwon Yunji… Aku baru mengetahuinya. Ternyata kau sangat senang mengumpulkan musuh”, balas Kyuhyun yang ikut tertawa bersama Yunji.

.

“Menyenangkan bisa membagi sisi ini denganmu”, balas Yunji dengan nada bergurau. “Ah… Ada apa denganku pagi ini? Aku bangun dengan kepala yang terasa sakit”, sambung Yunji sambil menopang kepalanya dengan sebelah tangan.

.

“Kau menangis sepanjang malam, ingat? Matamu juga terlihat sedikit membengkak. Meski kau tetap terlihat cantik dengan mata bengkakmu itu, tapi kau tidak terlihat baik pagi ini”, kata Kyuhyun.

.

“Kau benar. Sepertinya aku menangis terlalu lama”, ujar Yunji.

.

“Aku pikir mungkin kau akan terlihat seperti kodok saat ini jika rasa kantuk tidak menghampirimu hingga membuatmu tertidur pulas pukul 4 tadi pagi”, balas Kyuhyun.

.

“Hhh… Kau mengejekku setelah memujiku terlebih dahulu. You’re so sweet, Mr. San Francisco”, kata Yunji dengan nada sarkastik dan tawa kecil yang bergaung di gelas susunya.

.

Thank you for your compliment, Miss still-amazingly-beautiful even after ‘cry me a river’ night (Terima kasih atas pujianmu, Nona yang-tetap-cantik-dengan-mengagumkan bahkan setelah menangis tersedu sepanjang malam)”, balas Kyuhyun.

.

“Baiklah… Ini mulai terdengar berlebihan. Kita hentikan sampai disini”, kata Yunji sambil memasukkan kembali kotak susu ke dalam lemari es.

.

“Kenapa? Aku tidak mengatakan hal yang salah”, kata Kyuhyun mempertahankan sisi benarnya.

.

Senyum diwajah Yunjipun mengembang saat mendengar perkataan Kyuhyun. Yunji merasa seolah baru saja mendapatkan asupan mood tambahan untuk menghadapi harinya. Setelah pintu lemari es tertutup rapat, Yunji bersandar disana sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Yunji memperhatikan Kyuhyun dalam diam. Saat ini Kyuhyun sedang menyelesaikan scrambled eggnya. Dua buah bacon dan sebuah beberapa potong kentang sudah tersaji di masing-masing piring yang terletak tidak jauh dari Kyuhyun. Yunji mengatakan hal sebenarnya beberapa saat yang lalu. Kyuhyun adalah laki-laki pertama yang menggunakan dapurnya. Bahkan Kyuhyun adalah laki-laki pertama yang menghabiskan waktu selama lebih dari 12 jam di apartment Yunji. Sebelumnya tidak pernah ada hawa maskulin di apartement itu. Selama dua tahun terakhir, setiap barang yang ada di apartment Yunji hanya tersentuh oleh tangan-tangan feminine gadis yang tinggal, atau hanya sekedar berkunjung kesana. Kenyataan itupun akhirnya mampu mengundang senyum mengembang diwajah Yunji.

.

“Kau tidak keberatan dengan makanan berat untuk sarapan, bukan?” tanya Kyuhyun, menyadarkan Yunji dari lamunannya.

.

“Hhh… Cho Kyuhyun… Kau lupa? Kita sarapan dengan Samgyetang kemarin”, jawab Yunji dengan tawa kecil yang menyertai ucapannya.

.

“Kau benar…” kata Kyuhyun yang ikut tertawa bersama Yunji. “Seharusnya aku membuat makanan yang lebih berat. Kau membutuhkan banyak energy hari ini”, sambung Kyuhyun.

.

“Aku tidak butuh banyak energy hari ini, Cho Kyuhyun. Aku hanya akan bersantai dirumah seharian hari ini”, kata Yunji.

.

“Kau tidak akan menghadiri pesta yang diadakan di rumahmu?” tanya Kyuhyun sambil menoleh singkat pada Yunji.

.

Yunji menggeleng cepat menjawab pertanyaan Kyuhyun. Namun sesaat kemudian Yunji sadar bahwa Kyuhyun tidak sedang menatapnya. Gelengan kepala yang baru saja ia lakukan tidak terlihat oleh Kyuhyun. “Tidak. Aku tidak tertarik dengan apapun yang akan diadakan disana. Pesta akan tetap berlangsung meski tanpa kehadiranku”, jawab Yunji.

.

“Mungkin kau benar…” kata Kyuhyun yang membuat jeda dalam kalimat yang diucapkannya. “Pesta akan tetap berjalan. Para tamu mungkin hanya akan mempertanyakan ketidakhadiranmu untuk sementara waktu. Semua hal akan kembali seperti semula, seolah tidak pernah terjadi apapun. Tapi, diwaktu yang sama, kau sudah mengaku kalah pada siapapun yang sedang kau lawan saat ini”, sambung Kyuhyun.

.

“Apa maksudmu? Kenapa aku yang kalah dalam hal ini?” tanya Yunji pada Kyuhyun yang sedang melepaskan apron dari tubuhnya.

.

Kyuhyun berjalan santai menuju meja makan dengan dua buah piring dikedua tangannya. Kyuhyun berbalik dan bersandar di meja makan setelah meletakkan piring-piring itu di meja. Ia menatap Yunji yang masih menunggu jawaban atas pertanyaannya. Kyuhyun mengangkat bahu singkat setelahnya, membuat kening Yunji berkerut melihatnya. Kyuhyun tidak lantas menjawab pertanyaan Yunji. Ia melipat kedua tangannya didepan dada, seolah sedang menimbang kata yang harus diucapkannya.

.

“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” desak Yunji.

.

“Aku ragu untuk mengatakannya. Seharusnya aku tidak mengatakan apapun sejak awal. Aku tidak punya hak untuk menilaimu. Maafkan aku”, kata Kyuhyun.

.

“Permintaan maaf diterima”, ujar Yunji. “Tapi, kau sudah terlanjur mengatakannya. Aku ingin mendengar penjelasanmu. Tidak apa. Katakan saja”, sambung Yunji dengan sikap tenangnya, sambil berjalan mendekat pada Kyuhyun. Yunji berdiri kira-kira satu meter dihadapan Kyuhyun, dengan tubuhnya yang bersandar pada meja bar dapur.

.

Kyuhyun menghela napas panjang setelah mendengar perkataan Yunji. Kyuhyun menganggukkan kepalanya beberapa kali sambil memegang tengkuknya, sikap khas yang selalu ia lakukan saat mempertimbangkan sesuatu. Tatapan Kyuhyun kembali bertemu dengan Yunji yang masih menunggu dalam diam.

.

“Aku mendengar semua permbicaraanmu dengan ibumu kemarin”, kata Kyuhyun memulai penjelasannya.

.

“Mustahil jika kau tidak [mendengarnya]”, kata Yunji memotong ucapan Kyuhyun dengan cepat, secara tidak langsung menjelaskan bahwa ia mengetahui hal itu tanpa Kyuhyun harus menjelaskannya.

.

“Setelah kau mengungkapkan perasaan dan pikiranmu, beliau tetap pada pendiriannya bersikeras memintamu datang ke pesta yang akan diadakan malam ini. Bahkan setelah semua pengakuan yang dilakukan oleh seorang anak atas sikap yang diterimanya dari keluarganya sendiri”. Kyuhyun menghentikan kalimatnya untuk kembali menghela napas panjang. “Aku tidak mengetahui apapun, Yunji-ya. Aku adalah orang asing dalam masalah ini. Sejak semalam aku tidak pernah sekalipun mencoba menenangkanmu dengan mengatakan bahwa aku mengerti apa yang kau rasakan. Karena kenyataannya, aku tidak mengerti apapun. Pernahkah aku mengatakan padamu bahwa dimataku kau memiliki dua orang yang berbeda dengan penampilan yang sama?” tanya Kyuhyun. “Semua orang di kampus melihatmu sebagai seorang gadis mandiri yang ceria, tenang, dan tegar. Tapi, saat hanya ada aku dihadapanmu, kau tidak tampak seperti gadis itu. Senyum tidak selalu menghiasi wajahmu, meski kau tetap bersikap sangat tenang, tapi kau menunjukkan sisi seorang Yunji yang lelah dan merisaukan banyak hal. Aku sempat ragu saat memikirkan sisi sebenarnya dari seorang Kwon Yunji. Kini aku sudah menyadarinya. Gadis ceria, tenang, dan tegar itu hanya akan muncul saat kau menghadapi banyak orang, saat kau tidak ingin menunjukkan dirimu pada siapapun”.

.

“Dan, menurutmu hal itulah yang akan membuatku kalah?” tanya Yunji.

.

“Semua keputusan ada padamu. Selama ini kau menggunakan tamengmu dengan sangat baik dihadapan banyak orang. Dengan kau memutuskan untuk tidak menghadiri pesta itu, maka saat itu kaupun telah membuka tamengmu dan memperlihatkan kelemahan serta kerisauanmu pada mereka. Sampai saat ini, kau sudah dengan susah payah keluar dari rumah, hidup seorang diri, dan menjalani hidup yang kau pilih. Lalu kau ingin membuat mereka melihatmu bersembunyi seperti ini. Benarkah kau menginginkan itu, Yunji-ya? Tentu tidak, bukan?” kata Kyuhyun.

.

“Jadi, maksudmu, aku sedang menunjukkan kelemahanku pada mereka dengan memutuskan untuk tidak hadir dalam pesta itu, begitu? Baiklah, katakan saja memang akan terlihat seperti itu. Aku tidak ingin hadir karena aku tidak mampu menghadapi mereka. Tapi, jika aku hadir disana, apa yang aku dapatkan? Apakah perbedaan dan perubahan akan terjadi dalam hidupku? Aku tidak yakin, Kyuhyun-ah…” balas Yunji.

.

“Mungkin kau benar. Kau tidak akan mendapatkan keuntungan. Apapun yang mereka katakan dan pikirkan juga tidak akan berpengaruh pada kehidupanmu. Tapi, tidakkah kau ingin menunjukkan pada mereka bahwa kau baik-baik saja? Kau hidup dengan baik. Kau bisa mengatasi masalahmu sendiri. Kau melakukan hal yang benar dengan menentukan pilihanmu sendiri. Tidakkah kau ingin menunjukkannya pada mereka? Kau harus menggunakan tamengmu disaat seperti ini, Yunji-ya. Kau harus berada di medan perangmu. Kau tidak boleh bersembunyi dibalik benteng perlindunganmu. Kau harus menghadapi mereka. Dengan begitu kau tidak akan menjadi seorang yang kalah sebelum bertarung”, kata Kyuhyun.

.

“Aku tidak tahu, Cho Kyuhyun. Aku tidak yakin dengan hal itu. Aku pernah melawan mereka. Saat itu aku berhasil dan mendapatkan semua hal yang kuinginkan. Pendidikan, apartment, hingga kehidupan diluar keluargaku. Aku tidak punya cukup keberanian untuk kembali masuk ke lingkaran peperangan itu. Aku lelah berperang seorang diri melawan mereka”, kata Yunji mengungkapkan isi hatinya.

.

Sebuah senyum tipis muncul diwajah Kyuhyun. Ia bergerak, membenarkan posisi tubuhnya, lalu berjalan perlahan mendekat pada Yunji. “Apa yang kau takutkan? Mereka memang menentang semua keinginan dan cara pandangmu pada kehidupan. Tapi, mereka tetap keluarga. Kau adalah bagian dari keluarga itu apapun yang sudah atau akan terjadi. Yunji-ya, percayalah pada dirimu sendiri. Kau pernah menghadapinya. Aku yakin kau mampu melakukannya lagi kali ini”, kata Kyuhyun yang lantas meraih tangan Yunji untuk digenggamnya.

.

Yunji tidak memberikan tanggapan apapun atas perkataan Kyuhyun padanya. Yunji menghindari tatapan Kyuhyun yang berdiri cukup dekat dihadapannya. Ia menyentuhkan salah satu tangannya yang bebas ke tengkuknya. “Saat itu tidak ada siapapun yang mengobati lukamu. Kau berperang seorang diri. Kau terluka seorang diri. Kau menanggung rasa sakitmu sendiri”, sambung Kyuhyun. “Saat ini keadaannya berbeda. Kau tidak seorang diri, Yunji-ya. Aku bersamamu. Aku memang tidak akan mendampingimu disana. Tapi aku akan bersamamu setelahnya. Aku akan bersorak bersamamu saat kau menang. Akupun akan menguatkanmu saat kau kalah. Aku temanmu, bukan?”

.

Yunji menghela napas panjang sebagai responnya kali ini. Ia berdeham pelan, kemudian mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk. Kini tatapannya sejajar dengan Kyuhyun yang masih menunggunya mengatakan apapun yang ada dalam pikirannya. Tatapan keduanya sudah bertemu, namun masih belum ada kata yang terucap dari bibir Yunji. Ia masih merasakan keraguan dalam dirinya. Ia tidak bisa menghilangkan kerisauan yang dirasakannya. Meskipun sikap dan perkataan Kyuhyun sudah memberikan sedikit ketenangan dan perasaan terjaga padanya. Namun Yunji masih ragu untuk membuat keputusan.

.

“Yunji-ya……” kata Kyuhyun dengan suara lembut. Sebuah kerutan kecil terlihat dikeningnya, menegaskan keyakinannya pada kemampuan Yunji. “Tidak apa. Kau tidak perlu melakukannya jika kau tidak ingin. Tidak apa…” sambung Kyuhyun sambil menepuk pelan lengan atas Yunji.

.

“Kau benar… Aku akan melakukannya”, kata Yunji akhirnya. “Aku akan datang…” kata Yunji yang kembali menghela napas panjang setelahnya. “Kali ini aku akan datang”, kata Yunji sekali lagi, seolah sedang menyebutkan mantra berkali-kali untuk menguatkan dan meyakinkan dirinya sendiri.

.

Sebuah senyuman mengembang diwajah Kyuhyun, diikuti dengan sebuah helan napas lembut. Kyuhyun menyentuhkan tangannya ke kepala Yunji, mengusap lembut disana. Kemudian Kyuhyun mendekatkan wajahnya pada Yunji, menyejajarkan tatapannya dengan tatapan Yunji yang kembali menundukkan kepalanya. Kyuhyun tersenyum tipis saat tatapan mereka bertemu. “Kita makan sekarang?” tanya Kyuhyun yang dijawab dengan anggukkan pelan oleh Yunji.

.

.

.

Sabtu Malam

Kediaman Keluarga Kwon

.

Sebuah pesta meriah diadakan di sebuah rumah megah milik seorang pengusaha ternama, Kwon Dae Young, pemilik K Dome Corp. Beberapa tamu penting sudah terlihat berada di ruangan utama rumah itu. Pasangan suami istri pemilik rumah megah itupun sudah berada disana untuk menyambut setiap tamu yang datang dengan senyum mengembang diwajah mereka. Anak tertua keluarga Kwon juga berada disana, mengenakan gaun berwarna fuscia terbaiknya, menampilkan lekuk indah tubuhnya, memukau setiap pasang mata yang memandangnya. Yuri menyapa setiap tamu yang datang dengan senyum ramah dan tutur kata manis yang menambah teduh suasana pesta itu. Tidak ada satupun tamu yang bicara dengannya tanpa mengutarakan pujian atas kecantikan gadis itu. Sementara dilantai dua rumah itu, Kwon Yunji masih berdiri disisi pagar pembatas serambi yang memperlihatkan situasi pesta dilantai satu. Ia tetap berdiam disana, merasa ragu untuk melangkah turun bergabung dengan yang lainnya. Hingga Nyonya Kwon menoleh padanya. Ia menatap dan memberikan senyumnya pada Yunji, seolah memberi tanda agar Yunji segera bergabung bersama mereka. Yunji tidak memberikan reaksi selama beberapa saat. Ia hanya bisa menghela napas panjang dengan perlahan tanpa mengubah ekspresi wajahnya.

.

Yunjipun mengalihkan pandangannya, memutus tatapan keduanya. Yunji mulai melangkahkan kakinya mendekat pada tangga. Namun, langkahnya kembali terhenti. Keraguan belum benar-benar hilang dari dirinya. Ia masih merasa enggan untuk bergabung dengan keramaian yang sedang terjadi dibawah sana. Yunji menyentuhkan tangan kanannya ke rambutnya yang tertata rapi. Kemudian tangannya bergerak lebih jauh ke belakang kepalanya, menyentuh jepit pengait gulungan rambutnya. Yunji melepaskan penjepit itu, melepaskan rambut halusnya dari pengait dan membiarkannya tergerai bebas dibahu kanannya. Ia menyisir rambutnya dengan jari-jari panjangnya, mengatur ulang bentuk rambutnya yang sebelumnya telah diatur oleh seorang hairstylist yang bekerja dengan keluarga Kwon. Yunji melangkahkan kakinya menuruni anak tangga setelahnya. Yunji berhasil menyita perhatian beberapa tamu dengan kehadirannya. Ia mengenakan gaun berwarna emerald blue tanpa lengan dengan potongan rendah dibagian dada. Yunji terus berjalan menuruni tangga dengan ekspresi datar diwajahnya yang justru semakin menunjukkan keanggunannya pada setiap tamu yang menatapnya. Hal pertama yang ia lakukan saat tiba di lantai satu rumahnya adalah menuju tempat terjauh dari keramaian. Yunji memutuskan untuk berdiam disalah satu sisi sambil menyesap segelas anggur putih ditangannya. Ia menatap keluar ruangan melalui jendela besar yang ada didekatnya.

.

Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri Yunji, mengalihkan perhatiannya dari pemandangan diluar ruangan. Yunji menoleh padanya, kemudian meletakkan gelas ditangannya ke nampan yang dibawa oleh pelayan itu. Yunji kembali menoleh keluar ruangan setelahnya. Pelayan itu tidak lekas meninggalkannya disana. Yunji tidak mempedulikan keberadaan pelayan itu, berpikir pelayan itu sedang menjalankan tugasnya. Namun pelayan itu berdiri menghadap padanya sambil menundukkan kepalanya. Akhirnya Yunji mengerti dengan situasi yang terjadi. Pelayan itu memang menjalankan tugasnya, namun bukan tugas yang dipikirkan oleh Yunji. Pelayan itu pasti telah diminta untuk memanggil Yunji oleh Nyonya rumah itu. Yunji menghela napas panjang saat akhirnya menyadari hal itu. Iapun berjalan mendekat pada kedua orangtuanya yang sedang berbincang dengan sebuah keluarga. Mereka menoleh pada Yunji yang semakin berjalan mendekat. Senyum lembut keibuan terlihat diwajah ibu dan istri rekan ayah Yunji. Senyum lebar lainnya terlihat diwajah ayah dan dua orang pria yang berdiri bersama mereka.

.

“Mendekatlah, Yunji-ya”, kata Nyonya Kwon pada Yunji dengan senyum manis diwajahnya.

.

“Ne”, jawab Yunji pelan dengan senyum tipis yang ia paksakan.

.

“Tuan Hong, perkenalkan, anak perempuan termuda keluarga kami”, kata Tuan Kwon pada rekannya. “Yunji-ya, perkenalkan dirimu”.

.

“Annyeonghaseyo, Kwon Yunji ibnida. Senang bertemu dengan anda”, kata Yunji memperkenalkan dirinya.

.

“Rupanya Yunji sudah sebesar ini. Kau tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik”, kata Nyonya Hong memuji Yunji.

.

“Gamsahabnida”, balas Yunji dengan sopan.

.

“Yunji-ya, Tuan Hong sudah menjadi rekan kerja appa selama bertahun-tahun. Eomma dan Nyonya Hong juga berada dalam komunitas yang sama untuk waktu yang lama”, kata Nyonya Kwon memperkenalkan keluarga Hong pada Yunji. “Dan yang berdiri diantara mereka adalah putera termuda mereka, Jonghyun”, sambung Nyonya Kwon.

.

“Annyeonghaseyo, Hong Jong Hyun ibnida. Suatu kehormatan bisa berkenalan dengan gadis cantik sepertimu. Senang bertemu denganmu, Yunji-ssi”, sapa Jonghyun.

.

“Ne, aku juga sedang bertemu denganmu”, balas Yunji setengah hati.

.

“Ja, Yunji-ya, bagaimana jika kau mengajak Jonghyun untuk menikmati beberapa sajian disana? Dia belum makan apapun sejak datang”, pinta Nyonya Kwon pada Yunji.

.

“Ne, algesseubnida (Baiklah, aku mengerti)”, jawab Yunji. “Mari, aku akan mengantarmu”, kata Yunji pada Jonghyun setelahnya.

.

Yunji berjalan bersama Jonghyun menjauh dari orang tua mereka. Keduanya berjalan beriringan menuju snack corner­ disisi kiri ruangan. Banyak mata yang memandang keduanya. Proporsi tubuh Yunji dan Jonghyun yang serasi membuat beberapa tamu berdecak iri saat memandang keduanya. Namun tidak ada satupun diantara mereka berdua yang menyadari tatapan orang disekitar mereka. Keduanya menunjukkan ekspresi datar yang sama diwajah mereka, membuat keduanya semakin terlihat seperti model yang sedang berjalan di catwalk sebuah acara fashion show untuk merek terkemuka. Yunji dan Jonghyunpun tiba di snack corner. Keduanya berdiri berdampingan, memilih makanan kecil mereka masing-masing.

.

“Tampaknya kau tidak terlalu menikmati acara”, kata Jonghyun berusaha menghapus keheningan diantara mereka.

.

“Bagaimana denganmu?” Yunji justru bertanya pada Jonghyun.

.

“Pesta ini lebih baik dari yang kuperkirakan sebelumnya. Aku cukup menikmatinya”, jawab Jonghyun.

.

“Syukurlah. Kepuasan tamu akan sebuah pesta adalah hal yang terpenting”, kata Yunji dengan senyum kecilnya yang tulus. “Tapi, apa maksud dari ucapan ‘lebih baik dari yang kuperkirakan sebelumnya’? Memangnya, apa yang kau pikirkan sebelum datang kesini, Jonghyun-ssi?” tanya Yunji.

.

“Hm… Bukan hal yang buruk. Hanya saja… Kau tahu… Pesta dengan para tamu yang sebagian besar berasal dari kalangan pebisnis, orang terpelajar dan terpandang terasa membosankan. Aku jarang sekali tertarik untuk menghadiri pesta seperti ini”, jawab Jonghyun.

.

Yunji berdesis kemudian tertawa kecil setelah mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Jonghyun. Ia tidak menduga Jonghyun akan mengatakan hal yang selalu ada dipikirannya. Sebelumnya Yunji mengira Jonghyun adalah salah seorang diantara para tamu yang lain. Yunji baru mengetahui bahwa Jonghyun juga tidak menyukai lingkungan sosial keluarganya seperti yang setiap kali dirasakan oleh Yunji. Jonghyunpun tersenyum lebar saat menyadari tawa kecil Yunji yang tersembunyi.

.

“Melihat tawamu, aku mengasumsikan bahwa kau sudah salah menilaiku”, kata Jonghyun, membuat Yunji menoleh padanya dengan sebuah senyuman kecil diwajahnya. “Dan ada sebuah suara dipikiranmu yang mengatakan, ‘akhirnya seseorang dari planetku datang menyelamatkanku dari semua ini”, sambung Jonghyun.

.

Senyum Yunjipun mengembang, lalu berubah menjadi tawa ringan yang akhirnya dilepaskan oleh Yunji. “Planet?” tanya Yunji masih sambil menahan tawanya dengan menutup bibirnya dengan sebelah tangan. “Aku tidak sampai memikirkan kata itu untuk kugunakan. Tapi setelah mendengarnya darimu, aku rasa kau sudah menggunakan kata yang bagus untuk mengumpamakan situasi saat ini”, sambung Yunji.

.

Tawa Yunji akhirnya menular dengan mudah pada Jonghyun. Seperti yang dilakukan oleh Yunji, Jonghyun mengepal tangan kanannya, kemudian ia gunakan sebagai penutup bibir untuk menyembunyikan tawanya. Jonghyunpun berdeham, mencoba menghentikan tawanya. “Apakah kata yang kugunakan terdengar keterlaluan?” tanya Jonghyun disertai dengan senyum lebarnya.

.

“Aku rasa tidak”, jawab Yunji sambil menggelengkan kepala pelan. “Hanya saja, setiap kata yang kau ucapkan tidak sesuai dengan wajahmu. Orang lain akan mengira kau adalah seorang eksekutif muda, pebisnis yang meneruskan perusahaan keluarga, atau pengusaha dengan banyak usaha yang menyertakan namamu sebagai merek dagangnya”, sambung Yunji memberikan penjelasannya.

.

“Hhh… Aku bukan seorang eksekutif muda ataupun seorang yang meneruskan perusahaan keluarga. Tapi kau tidak salah akan satu hal. Aku memang seorang pebisnis dan juga pengusaha. Hanya saja, aku tidak menggunakan namaku sebagai merek dagang. Aku punya sebuah restaurant ayam goreng yang sudah bercabang di dua kota lain diluar Seoul. Aku juga seorang fotografer, merangkap pemain teater diwaktu senggang”, kata Jonghyun yang kini mendeskripsikan dirinya pada Yunji.

.

“Wow… Luar biasa. Semua itu tidak tergambar dari wajahmu. Mengejutkan…” kata Yunji memberikan tanggapannya.

.

Jonghyun kembali dibuat tertawa dengan ucapan Yunji. “Eksekutif muda, pebisnis dan pengusaha adalah tanggapan yang mungkin dimiliki oleh orang lain terhadapku. Bagaimana denganmu? Maksudku, kesan pertamamu saat melihatku”, tanya Jonghyun.

.

“Hm… Model?” jawab Yunji ragu-ragu. “Kau memiliki semua aspek. Tinggi dan bentuk badan, wajah, ekspresi, bahasa tubuh, style, semuanya. Pemilik restaurant ayam goreng sangat tidak terlihat dari wajahmu”, kata Yunji dengan nada bergurau.

.

“Aku akan terima kata-katamu sebagai pujian, Yunji-ssi”, balas Jonghyun yang tersenyum lebar pada Yunji.

.

Tiba-tiba ponsel disaku celana Jonghyun bergetar kuat beberapa kali, menandakan ada sebuah panggilan telepon yang masuk. Jonghyun merogoh sakunya dengan cepat, kemudian melihat nama yang tertera pada layar. Jonghyun mengalihkan tatapan matanya dari layar pada Yunji setelahnya, meminta maaf atas hal yang menyela perbincangan mereka. Yunjipun mengangkat bahunya singkat sambil memberikan sebuah senyuman pada Jonghyun, seolah mempersilahkan Jonghyun untuk menerima panggilan telepon tersebut. Jonghyun menggeser panel hijau dilayar dengan cepat, kemudian mendekatkan ponselnya ke telinga setelahnya. Jonghyun kembali tersenyum pada Yunji setelah kata sapaan pertamanya pada seseorang diseberang telepon. Suasana ruangan yang sudah semakin ramai membuat Jonghyun tidak dapat mendengar dengan jelas ucapan dari lawan bicaranya di telepon. Karena itu, Jonghyun memutuskan untuk menjauh dari keramaian, meninggalkan Yunji selama beberapa saat.

.

Yunjipun kembali berada seorang diri di pesta itu. Yunji memutuskan untuk mencicipi kue-kue yang tersaji dihadapannya. Sesungguhnya Yunji tidak benar-benar merasa seperti orang asing di pesta itu. Yunji mengenal banyak wajah disana. Ia sempat melihat beberapa keluarga, sahabat kedua orang tuanya, serta rekan bisnis ayahnya hadir di pesta itu. Yunji hanya merasa tidak nyaman dan tidak terbiasa dengan suasana yang terlalu formil. Ia merasa seperti sedang berada di ruang sidang yang menegangkan setiap saraf dan otot didalam tubuhnya. Yunji kembali memfokuskan dirinya pada beberapa kue kesukaannya yang dihidangkan dengan cantik dihadapannya. Cheese cake, opera, dan macaron dengan potongan kecil sudah menarik perhatiannya sejak tadi. Yunji mencicipi kue-kue itu satu persatu. Perlahan rasa nyaman mulai menyelimutinya. Ia tidak lagi merasa sesak berada di pesta yang terasa asing baginya itu. Setiap potong kue yang ia makan berhasil menaikkan moodnya sedikit demi sedikit.

.

“Nuna tidak khawatir tubuhmu akan menjadi gemuk setelah ini?” tanya Minho yang ternyata sudah berdiri tidak jauh dari Yunji sejak beberapa menit yang lalu.

.

Yunji menatap Minho selama beberapa detik sebelum ia kembali menyibukkan diri dengan kue yang belum ia cicipi. “Berat badanku tidak naik dengan mudah, Choi Minho”, kata Yunji.

.

“Kalau begitu nuna bisa makan semuanya tanpa ragu”, balas Minho yang menyunggingkan senyumannya pada Yunji. “Kalian terlihat serasi”, sambung Minho.

.

“Siapa?” tanya Yunji.

.

“Nuna dan laki-laki yang bersama denganmu beberapa saat yang lalu”, jawab Minho.

.

“Benarkah? Jika kau mengatakan sebuah pujian, maka aku harus berterimakasih”, kata Yunji.

.

Minhopun berdesis setelah mendengar perkataan Yunji. Ia tahu Yunji akan berkata seperti itu. Yunji tidak pernah menganggap serius topik pembicaraan yang menghubungkannya dengan laki-laki manapun. Karena itu, ia selalu memberikan respon santai saat topik pembicaraan itu diangkat. “Aku pikir nuna tidak akan datang”, kata Minho setelahnya.

.

“Akupun tidak menduga akan bertemu denganmu disini”, balas Yunji yang kini meninggalkan kue-kuenya dan menatap Minho. “Kenapa [kau datang]? Bosan dengan suasana ramai di club?” tanya Yunji.

.

“Tentu tidak. Aku tetap lebih suka ke club, nuna sangat mengetahui hal itu. Hanya saja, kali ini tidak bisa kuhindari. Acara ini cukup penting”, jawab Minho.

.

“Benarkah?” tanya Yunji sambil meletakkan piring kecil ditangannya.

.

“Ucapan mana dariku yang mengundang pertanyaan ‘benarkah?’ darimu, nuna? Apakah pernyataan ‘aku lebih suka ke club’ atau yang lain?” Minho balas bertanya.

.

“Bukan itu. Tadi kau bilang acara ini cukup penting. Kenapa?” Yunji kembali bertanya pada Minho.

.

“Jangan katakan… Nuna sudah berada ditengah keramaian ini cukup lama tapi nuna masih belum mengetahui maksud dibalik diadakannya pesta ini? Sejak awal nuna tidak mengetahuinya?” Minho kembali membalas pertanyaan Yunji dengan pertanyaan lainnya.

.

“Tidak. Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai seorang anak. Aku tidak tertarik untuk mengetahui rincian apapun mengenai pesta ini”, jawab Yunji.

.

“Tentu saja. Jawaban yang baru saja kudengar sangat khas seorang Kwon Yunji. Aku mungkin tidak akan menghiraukannya dikesempatan lain. Tapi kali ini nuna harus mengetahuinya”, kata Minho yang mengambil jeda sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya. “Hari ini adalah perayaan peringatan tahun ke-10 kerjasama antara Tuan Kwon Dae Young [ayah Yunji) dan Tuan Choi Tae Sung [ayah Minho] dalam membangun SJ Enterprises Inc. Dan……” Minho membiarkan ucapannya menggantung begitu saja untuk menarik ketertarikan Yunji.

.

“Dan?” tanya Yunji.

.

“Hari ini kita juga merayakan bergabungnya dua keluarga yang disatukan oleh sebuah ikatan”, jawab Minho.

.

Yunji menghela napas panjang setelah mendengar jawaban yang diutarakan oleh Minho. Iapun memberikan tatapan tajam pada Minho. “Choi Minho, bisakah satu kali saja kau memberikan penjelasan lengkap dan jelas padaku? Aku sedang tidak tertarik memainkan kuis ‘menebak arti dibalik kata’ yang kau lakukan ini”, protes Yunji.

.

“Baiklah. Baiklah. Aku akan mengatakannya dengan jelas padamu, nuna. Hm… Jadi, maksudku, hari ini adalah hari pertunangan kakakmu dan kakakku, Siwon hyung dan Yuri nuna”, kata Minho memberikan penjelasan pada Yunji.

.

Mata Yunji sempat membesar saat mendengar ucapan Minho. Namun, ia mengembalikan ekspresi wajahnya seperti semula dengan cepat sesaat setelahnya. Yunji menutupi keterkejutan yang dirasakannya dengan sebuah senyum tipis dibibirnya. Senyum itu perlahan mengembang, namun dengan intensi yang berbeda. Ia tidak tersenyum karena perasaan senang sedang menyelimuti dirinya. Saat ini Yunji tersenyum karena merasa bahwa semua hal yang terjadi padanya terdengar sangat konyol. Yunji berdesis pelan, semakin memperjelas rasa herannya pada situasi yang sedang terjadi saat ini. Yunji kembali menunjukkan dua ekspresi berbeda diwajah yang sama. Bibir Yunji memang sedang menyunggingkan senyumnya, namun mata Yunji justru mengatakan hal lain. Ia begitu waspada dan menjaga diri, berusaha menyembunyikan semua perasaan yang ia miliki dari serangan apapun dan siapapun. Yunji juga menunjukkan keresahannya dari tatapan mata tajam itu.

.

“Nuna, katakan sesuatu”, pinta Minho, menyadarkan Yunji, membawa Yunji kembali ke dunia nyata.

.

“Luar biasa. Aku tidak pernah menyangka akan sampai disini”, kata Yunji.

.

“Nuna benar. Aku juga tidak pernah mengira akhirnya mereka bersatu setelah bertahun berselang”, ujar Minho dengan senyum polos diwajahnya.

.

“Benar. Akhirnya…” kata Yunji dengan suara pelan yang tidak terdengar oleh Minho. “Hm… Bukankah sebaiknya aku menemui pasangan berbahagia itu untuk memberikan ucapan selamat? Tidak baik jika aku hanya berdiam diri di pesta pertunangan kakakku sendiri, bukan?” tanya Yunji yang dijawab dengan anggukkan singkat oleh Minho. “Dimana mereka?” Yunji kembali bertanya.

.

“Aku rasa disebelah sana”, kata Minho sambil menunjuk snack corner lain yang terletak tidak jauh dari tangga.

.

“Baiklah. Kita bicara lagi nanti, Minho-ya”, kata Yunji.

.

Yunji memberikan sebuah senyuman pada Minho sebelum pergi meninggalkannya menuju tempat yang ditunjuk oleh Minho. Yunji berjalan dengan tenang sambil tetap menorehkan senyuman diwajah cantiknya, membuat setiap mata yang memandangnya menangkap sisi anggun yang jarang diperlihatkan olehnya. Disaat yang sama, Jonghyun baru saja kembali masuk ke dalam ruangan. Ia menatap Yunji yang berjalan menghampiri seseorang yang tidak dikenalnya. Senyum diwajah Yunji sempat mereda saat matanya menangkap sosok yang selama dua tahun terakhir ia hindari. Sosok itu tidak berubah, masih mempesona seperti dalam ingatannya. Saat jarak diantara keduanya semakin menipis, Yunji kembali menyunggingkan senyum tipisnya, melangkah semakin mendekat padanya. Yunji mengalihkan pandangannya ke barisan kue yang ada dihadapannya. Yunji meraih sebuah piring kecil, kemudian meletakkan sebuah sus buah diatasnya. Yunji mengedarkan pandangannya disepanjang meja, lalu memilih croissant cokelat mini sebagai teman sus dipiringnya. Yunji masih mengedarkan pandangannya, seolah sedang mempertimbangkan kue lain untuk diambil. Namun, sesungguhnya ia sudah menyadari tatapan seseorang padanya. Tatapan itu begitu intense hingga ia bisa menyadarinya dengan cepat. Akhirnya Yunji mengangkat kepalanya, membuat tatapan matanya bertemu dengan tatapan intense yang sejak tadi sedikit mengganggunya.

.

“Kwon Yunji”, kata laki-laki itu dengan suara pelan.

.

Yunji menunjukkan ekspresi terkejutnya pada laki-laki itu, kembali memainkan perannya. Ia tersenyum lebar setelahnya, seolah benar-benar menunjukkan keterkejutannya. “O! Siwon oppa? Lama tidak bertemu. Kau tampak luar biasa”, kata Yunji memberikan sapaannya.

.

“Begitupun denganmu. Kau tetap cantik seperti yang kuingat”, balas Siwon dengan senyum tipis yang dipaksakan.

.

“Benarkah? Tidak ada yang berubah dariku? Hm… Itu tidak baik…” kata Yunji santai.

.

Siwon mengangguk pelan menjawab pertanyaan Yunji. “Bagaimana kabarmu?” tanya Siwon setelahnya.

.

“Bagaimana yang terlihat olehmu?” Yunji mengembalikan pertanyaannya pada Siwon.

.

“Kau terlihat baik. Luar biasa”, jawab Siwon. “Dan sempurna…” sambungnya dengan suara pelan.

.

“Hhh… Tentu tidak sesempurna tunanganmu, bukan? By the way, selamat atas pertunangan kalian. Akhirnya harapan kalian terwujud”, kata Yunji sambil menyunggingkan senyum.

.

“Jangan. Jangan lakukan itu juga padaku”, kata Siwon.

.

“Apa? Mengucapkan selamat padamu? Sudah seharusnya aku mengatakan itu, oppa. Apa aku salah bicara?” tanya Yunji.

.

“Kau tahu benar aku tidak berada dalam posisi sangat bahagia menerima ucapan selamat atas hubungan ini. Terlebih darimu”, jawab Siwon.

.

“Begitu? Oppa pikir aku sangat mengetahuinya? Aku tidak yakin, oppa. Aku selalu merasa seperti orang yang tidak tahu apapun. Mungkin oppa salah menduga”, sanggah Yunji.

.

“Yunji-ya, aku tahu ini salahku. Aku tidak mencegahnya. Aku tidak melakukan apapun untuk menghentikan hubungan ini. Tapi, kau sangat mengetahui siapa gadis yang kucintai. Jangan katakan padaku bahwa kau juga tidak mengetahuinya. Jangan lakukan itu padaku, Yunji-ya”, kata Siwon.

.

“Seharusnya oppa tidak membicarakan hal yang sudah berlalu sangat lama disini. Hari ini adalah hari pertunanganmu. Cerita masa lalu seharusnya sudah terkubur bersama waktu. Bukan begitu?” kata Yunji masih dengan sikap tenangnya.

.

“Baiklah. Kau benar. Aku tidak pantas mengungkitnya lagi. Aku sudah menyakitimu. Seharusnya aku bersyukur karena kau masih mau bicara padaku. Kaupun sepertinya sudah melanjutkan hidupmu”, kata Siwon.

.

“Tentu saja. Aku tidak ingin terperangkap dimasa lalu terus menerus. Tetap berada disana tidak memberikan manfaat apapun padaku. Aku akan dirugikan jika melakukan itu”, balas Yunji.

.

“Kau tampak cantik hari ini, Yunji-ya”, kata Yuri yang menghampiri mereka. “Benar ‘kan?” tanya Yuri pada Siwon setelahnya.

.

“Kau benar”, jawab Siwon dengan suaranya yang terdengar lirih.

.

“Bagaimana makanannya? Aku memilih sendiri setiap jenis kue yang ada disini. Aku sedikit khawatir para tamu akan kecewa dengan rasanya”, tanya Yuri.

.

“Eonni bertanya padaku? Hm… Aku rasa eonni tidak akan mendapatkan jawaban yang eonni inginkan. Aku sangat menyukai kue. Semua kue terasa enak dilidahku, eonni ingat?” kata Yunji dengan nada yang dibuat lebih bersahabat pada Yuri.

.

“Ah, kau benar. Kau adalah seorang mania kue. Aku tidak seharusnya bertanya padamu. Tapi, rasanya baik-baik saja, bukan?” tanya Yuri sekali lagi.

.

“Aku tidak menemukan rasa aneh apapun sampai saat ini”, jawab Yunji.

.

“Syukurlah kalau begitu”, ujar Yuri.

.

“Aku lihat eonni begitu khawatir. Mungkin aku bisa membantu dengan menanyakan pendapat orang lain. Hm… Coba kita lihat siapa yang bisa membantu……” Ucapan Yunji terhenti saat kedua matanya menangkap sosok Jonghyun yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. “Jonghyun-ssi!” kata Yunji memanggil Jonghyun yang kemudian menoleh cepat padanya. “Kemarilah”, sambung Yunji.

.

Melihat itu, eskpresi Siwon berubah dengan cepat. Ia mengatupkan rahangnya kuat. Perasaan tidak nyaman itu masih menghampirinya setiap kali ia melihat Yunji dekat dengan laki-laki lain. Sementara Yuri justru tersenyum menyaksikan situasi yang terjadi dihadapannya. Yuri merasa senang karena Yunji tidak menaruh perhatian pada Siwon dan justru menghadirkan laki-laki lain diantara mereka. Namun, disaat yang sama, Yuri tidak menyadari bahwa perasaan yang dimiliki Siwon pada Yunji ternyata belum hilang sedikitpun. Yuri menikmati pemandangan yang seharusnya membuatnya khawatir.

.

“Kwon Yunji, apakah ini piring yang sama atau kau sudah mengangkat piring yang lain?” tanya Jonghyun dengan senyum mengembangnya.

.

Senyum mengembang Jonghyunpun dengan cepat menular pada Yunji. Keduanya bahkan tertawa pada satu sama lain. “Ini piring yang berbeda. Aku ketahuan. Memalukan…” jawab Yunji.

.

“Tolong katakan padaku ini adalah piring kedua, bukan ketiga atau bahkan kelima”, kata Jonghyun kembali menggoda Yunji.

.

“Tentu bukan. Ini piringku yang kedua. Percayalah…” balas Yunji.

.

“Hm… Sepertinya kalian sudah saling mengenal”, kata Yuri menyela diantara pembicaraan Yunji dan Jonghyun.

.

“Ah, annyeonghaseyo, Hong Jong Hyun ibnida. Selamat atas pertunangan kalian berdua. Aku melihat foto kalian didepan. Kalian sangat serasi”, kata Jonghyun.

.

“Terima kasih, Jonghyun-ssi. Aku Kwon Yuri, kakak Yunji. Dan ini adalah tunanganku, Choi Siwon”, kata Yuri memperkenalkan dirinya dan Siwon pada Jonghyun.

.

“Senang bertemu denganmu”, kata Siwon menyapa dengan nada datarnya.

.

“Hm… Jika boleh aku berpendapat, kalian berdua juga tampak sangat serasi berdiri berdampingan seperti ini”, kata Yuri.

.

“Ah, eonni, hentikan. Aku sudah cukup bosan mendengarnya”, kata Yunji.

.

“Kau sudah cukup bosan?” tanya Jonghyun bingung dengan ucapan Yunji.

.

“Eo… Sejak tadi banyak orang yang mengatakan hal itu padaku”, jawab Yunji berbohong. “Mereka mengatakan kita berdua terlihat seperti model yang sedang melakukan peragaan busana. Mereka juga mengatakan semua hal yang terlihat dari kita berdua sangat serasi. Ah… Aku bisa gila…” sambung Yunji dengan tawa kecilnya.

.

“Oh… Benarkah? Aku merasa terhormat mendapatkan pujian seperti itu, meski aku tidak mendengarnya secara langsung. Saying sekali”, kata Jonghyun.

.

“Ah, benar. Aku sampai lupa tujuanku memanggilmu”, kata Yunji mengalihkan pembicaraan. “Hm… Eonni sedikit khawatir dengan rasa kue yang dihidangkan saat ini. Semua ini pilihannya. Aku tidak bisa memberikan penilaian karena menurutku semua terasa enak. Bagaimana pendapatmu?” tanya Yunji.

.

“Semua baik-baik saja. Rasa kue-kue ini enak. Rasa manisnya pun tidak kurang, tidak juga berlebihan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Yuri-ssi. Aku bersungguh-sungguh”, jawab Jonghyun.

.

“Syukurlah kalau begitu. Aku harap kau tidak sedang bersikap baik demi mendapatkan restu untuk mendekati adikku, Jonghyun-ssi”, kata Yuri.

.

“Hmm… Aku tidak berpikir sampai kesana. Kau tidak boleh melakukan itu, Jonghyun-ssi. Itu sama saja dengan bermain curang”, sambung Yunji.

.

“Ne? Tidak. Tidak seperti itu. Aku bersungguh-sungguh mengatakannya tanpa tujuan terselubung apapun”, kata Jonghyun.

.

“Aku permisi ke toilet sebentar. Aku akan kembali”, kata Siwon pada Yuri. “Aku harap kalian bisa menikmati pesta ini”, kata Siwon pada Yunji dan Jonghyun setelahnya.

.

“Ah, ne, gamsahabnida”, balas Jonghyun dengan sopan.

.

Sebuah smirk terbentuk dibibir Yunji menyadari perubahan sikap Siwon setelah kehadiran Jonghyun diantara mereka. Ia memutuskan untuk tidak mempedulikannya, meski sesungguhnya hal itu sedikit mengganggunya. Yunji kembali bicara pada Jonghyun yang berada disampingnya. Sementara itu, Yuri belum melepaskan pandangannya dari sosok Siwon yang sudah berjalan menjauh darinya. Ia terus menatapnya hingga sosok laki-laki itu menghilang dibalik kerumunan tamu. Senyuman berbeda tampak diwajah Yuri. Ia menganggap sikap yang ditunjukkan oleh Siwon sebagai awal kemenangannya. Yuri berpikir bahwa saat ini Siwon menyadari sikap Yunji yang membuat jarak dari hubungan mereka. Yuri mengira dengan begitu jalannya untuk mendapatkan hati Siwon sepenuhnya mulai terbuka semakin lebar. Yuri tidak menyadari bahwa sesungguhnya sikap yang ditunjukkan Siwon justru menjelaskan bahwa sampai saat ini Siwon belum bisa melupakan Yunji yang pernah menjalin hubungan dengannya untuk waktu yang cukup lama. Yuri belum bisa mendapatkan hati Siwon seperti yang ia duga.

.

Tiba-tiba, seseorang memanggil Jonghyun, membuatnya harus meninggalkan Yunji bersama kakak perempuan yang sudah cukup lama tidak ia temui. Ekspresi diwajah Yunji sontak berubah setelah kepergian Jonghyun. Ia menatap kakak perempuannya yang masih belum mengalihkan pandangan dari Siwon itu dengan tatapan datar. Ini adalah kali pertama bagi dirinya berdiri dalam jarak yang begitu dekat dengan kakak kandungnya itu. Yunjipun kembali mengedarkan pandangannya ke hidangan dihadapannya. Ia berusaha mengalihkan perhatiannya dari Yuri yang kini menatapnya.

.

“Aku senang melihatmu hadir dipesta ini, Yunji-ya”, kata Yuri.

.

“Aku juga merasa senang dengan pertunangan kalian. Aku tulus mengatakannya, tanpa maksud apapun dibaliknya”, balas Yunji.

.

“Cukup mengejutkan. Aku pikir kau akan menjadi orang yang menentangnya”, ujar Yuri.

.

“Kenapa aku harus melakukannya? Sudah semestinya aku merasa sangat senang dengan pertunangan kakak perempuanku. Akhirnya eonni berhasil sampai pada tahap ini, setelah usaha keras yang eonni lakukan untuk menghancurkan hubunganku dengan Siwon oppa. Selamat padamu, eonni. Aku harap sekarang aku sudah bisa bahagia dengan hidupku”, kata Yunji.

.

“Hhh… Kenapa baru sekarang, Yunji-ya? Kau sudah bisa berbahagia dengan hidupmu sejak dulu”, kata Yuri.

.

“Tidak. Aku tidak bisa benar-benar bahagia dengan hidupku sebelumnya. Akupun tidak benar-benar yakin apakah setelah ini aku bisa merasakan kebahagiaan itu. Tapi setidaknya dengan pertunangan eonni dengan Siwon oppa, satu penghalang kebahagiaanku sudah menghilang. Eonni tidak akan mencampuri hidupku lagi. Eonni tidak akan merasa terancam dengan keberadaanku lagi. Eonni akan menikah dengan Siwon oppa. Eonni sudah mendapatkan apa yang eonni inginkan dariku. Jangan mencampuri hidupku lagi mulai sekarang, eonni. Aku tidak menyukainya”, kata Yunji.

.

Yunji segera pergi meninggalkan Yuri tanpa berniat untuk mendengarkan kata apapun lagi dari Yuri. Ia tidak bisa menahan diri untuk berpura-pura bersikap tenang dalam menghadapi kakak perempuannya yang selalu terlihat lebih dalam segala hal darinya. Yunji selalu berusaha meninggalkan semua hal yang terjadi diwaktu lalu dan mencoba melanjutkan hidupnya. Namun, setiap kali ia menatap Yuri, Yunji kembali diingatkan pada rasa sakit yang seharusnya sudah bisa dilupakannya. Rasa sakit itu kembali menghampirinya. Seolah baru kemarin Yuri, kakak perempuannya sendiri, berusaha menghancurkan hubungan Yunji dan Siwon dengan menggunakan perjodohan untuk membesarkan nama perusahaan keluarga mereka. Yuri menggunakan alasan itu demi mendapatkan laki-laki yang ia sukai, tanpa mempedulikan perasaan orang lain. Bahkan perasaan adiknya sendiri. Yunji sempat mengira usaha yang dilakukan oleh Yuri tidak akan berhasil karena ia percaya Siwon tidak akan mengkhianatinya. Namun, dugaan Yunji salah. Siwon tidak melakukan apapun untuk menentang perjodohan itu. Ia menerimanya tanpa bantahan apapun. Yunji mendapatkan kekecewaan berlipat ganda dari dua orang yang (saat itu) sangat ia sayangi dan percayai. Yunji pikir semua ingatan itu sudah menghilang dari pikirannya. Rupanya ingatan itu kembali dengan mudah hanya karena pertemuan dengan Yuri dan Siwon dalam waktu yang singkat.

.

Yunji terus melangkah pergi, menjauh dari Yuri. Ia merasa kewajibannya untuk berada di pesta itu sudah selesai. Yunji tidak ingin berlama-lama berada disana. Yunji ingin kembali ke kehidupan sunyinya. Yunji sudah terbiasa hidup jauh dari keramaian yang selalu mengelilingi keluarganya. Yunji melangkah cepat melewati setiap tamu yang hadir disana. Ia berusaha untuk mempercepat langkahnya, namun suasana pesta yang ramai menghalanginya. Disaat yang sama, Nyonya Kwon menyadari sikap Yunji yang ingin meninggalkan pesta. Saat Yunji sudah melangkah mendekat dengannya, Nyonya Kwonpun berusaha menghentikan Yunji dari usahanya untuk meninggalkan pesta.

.

“Yunji-ya? Kenapa kau berjalan terburu-buru?” tanya Nyonya Kwon yang membuat beberapa orang disekitarnya ikut menatap Yunji.

.

“Aku mau pulang, eomma”, jawab Yunji santai.

.

Nyonya Kwon tersentak mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Yunji. Ia tidak menduga Yunji akan mengatakannya dengan mudah dalam situasi seperti itu. “Apa maksudmu? Kau sudah berada dirumah”, ujar Nyonya Kwon sambil berjalan mendekat pada Yunji.

.

“Aku mau pulang ke rumahku, eomma. Aku sudah menghadiri pesta ini, bertemu dengan beberapa tamu, hingga memberikan ucapan selamatku pada pasangan yang bertunangan hari ini. Aku sudah melakukan semua hal yang perlu kulakukan. Aku pikir aku bisa pulang sekarang, eomma”, kata Yunji.

.

“Kita harus bicara, Yunji-ya”, kata Nyonya Kwon.

.

“Kita sudah bicara terlalu banyak sejak kemarin, eomma. Aku ingin beristirahat”, tolak Yunji.

.

“Ikut eomma. Sekarang”, titah Nyonya Kwon pada Yunji tanpa memberikan pilihan lain.

.

Nyonya Kwon meraih pergelangan tangan Yunji, lalu menuntunnya agar berjalan berdampingan bersamanya. Yunji memberikan perlawanannya dengan memperlambat langkahnya. Namun, Nyonya Kwon tetap menarik tangan Yunji agar ikut bersamanya sambil masih menyunggingkan senyuman pada setiap tamu yang menatap mereka. Yuri yang sempat melihat tindakan yang dilakukan oleh ibunya justru memilih untuk bersikap tidak peduli. Nyonya Kwon membawa Yunji berjalan menuju salah satu kamar yang berada disisi belakang rumah itu, jauh dari keramaian. Nyonya Kwon menarik Yunji masuk ke dalam kamar, kemudian menutup rapat pintu kamar itu.

.

“Lepaskan aku, eomma! Jangan perlakukan aku seperti ini!” kata Yunji yang akhirnya bisa menyuarakan isi pikirannya.

.

Nyonya Kwon sontak melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tangan Yunji yang kini tampak memerah. “Kau tidak pantas berkata seperti itu pada eomma setelah apa yang kau lakukan diluar sana”, kata Nyonya Kwon setelahnya.

.

“Memangnya apa yang sudah kulakukan? Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku sudah menghadiri pesta ini. Aku setuju untuk ambil bagian dalam drama keluarga bahagia ini. Apakah aku masih melakukan suatu kesalahan dimata eomma?” tanya Yunji.

.

“Kau bahkan tidak menyadari perbuatanmu. Kwon Yunji, tidakkah kau sadar apa yang baru saja kau lakukan beberapa saat yang lalu? Secara tidak langsung kau telah memberitahu semua orang bahwa kau tidak tinggal di rumah ini”, kata Nyonya Kwon dengan nada bicaranya yang semakin tinggi.

.

“Lalu apa masalahnya? Aku memang tidak tinggal di rumah ini, eomma”, balas Yunji.

.

“Tapi semua orang tidak perlu mengetahui hal itu, Yunji-ya. Itu bukan berita yang perlu disebarluaskan pada banyak orang, terutama rekan kerja ayahmu. Seharusnya kau memikirkan reputasi keluarga kita sebelum kau mengatakan hal bodoh seperti itu”, kata Nyonya Kwon masih dengan emosinya yang meluap.

.

“Aku tidak mengatakan hal bodoh apapun, eomma. Itulah kenyataan yang terjadi. Aku memang tidak tinggal di rumah ini. Lagipula aku pikir itu bukan hal yang buruk. Banyak anak yang memutuskan untuk hidup mandiri diluar keluarganya. Saat ini eomma hanya sedang membesar-besarkan masalah kecil. Eomma terlalu khawatir pada reputasi, citra, dan pamor keluarga ini. Seolah jika semua itu tidak eomma dapatkan, maka akan terjadi petaka besar dalam kehidupan kita”.

.

“Cukup, Yunji-ya! Hentikan ucapanmu! Sikap, cara bicara, bahasa, dan perilakumu menjadi semakin buruk setelah keluar dari rumah. Kau tidak lagi menjaga sopan santunmu. Seharusnya kami tidak membiarkanmu keluar. Seharusnya kami justru memberikan penjagaan ketat padamu. Kau menjadi sa…”

.

“Eomma ingin memberikan penjagaan ketat padaku agar aku berakhir seperti Yunjae oppa?” tanya Yunji memotong ucapan Nyonya Kwon yang sontak menatap Yunji dengan mata yang melebar.

.

“Kwon Yunji! Kau sudah melewati batas!” seru Nyonya Kwon.

.

“Batas apa yang sudah kulewati, eomma? Aku mengatakan kebenaran. Kalian menentukan semua hal dalam hidup oppa, seolah oppa adalah boneka yang bisa kalian kendalikan. Lalu, apa yang terjadi setelahnya? Apakah dia bahagia? Apa saat ini dia menjadi pria sukses seperti yang kalian inginkan? Tidak. Hal itu tidak pernah dan tidak akan pernah terjadi, eomma. Saat ini aku bahkan tidak bisa melihat sosok itu didalam rumah yang kalian banggakan ini”, kata Yunji.

.

“Berhenti disitu, Yunji-ya. Kita sudah sepakat untuk tidak membahasnya lagi. Jangan membuka luka lama yang sudah terobati. Kita sudah melanjutkan hidup setelah berusaha terbebas dari kesedihan”, kata Nyonya Kwon berusaha mencegah Yunji.

.

“Kenapa tidak boleh [membahasnya]? Apakah kejadian itu harus aku lupakan begitu saja? Lalu membiarkan keluarga ini melakukan kesalahan yang sama?” tanya Yunji dengan kondisi mata yang sudah sangat basah. “Kalian ingin mengulangi perbuatan yang kalian lakukan pada oppa. Kali ini aku yang akan menjadi sasarannya. Bukan begitu?”

.

“Cukup, Yunji-ya. Eomma tidak ingin mendengarnya lagi”, kata Nyonya Kwon.

.

“Aku masih ingat betul kalimat yang tertulis dalam headline berita hari itu, eomma” kata Yunji melanjutkan, tidak menghiraukan ucapan ibunya. “Kwon Yunjae, anak tertua keluarga Kwon meninggal karena kecelakaan”, sambung Yunji, kembali membicarakan peristiwa yang terjadi pada keluarganya bertahun lalu. “Kalian bercanda? Kecelakaan apa yang kalian bicarakan? Apakah oppa tertabrak truk? Jatuh ke jurang? Atau mengalami kecelakaan lalu lintas? Jika itu yang terjadi, lalu kenapa tidak ada luka apapun ditubuhnya selain luka jerat dilehernya? Dan kenapa ditemukan sebuah surat yang mengungkapkan kesedihannya? Kenapa, eomma?”

.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Yunji-ya? Katakanlah… Kenapa kau kembali membahas peristiwa yang sudah lama tertutup rapat?” tanya Nyonya Kwon dengan suara lirihnya.

.

“Aku tidak menginginkan apapun, eomma. Aku hanya ingin eomma, appa, atau siapapun tidak memaksakan hal yang tidak dapat dilakukan dan diwujudkan. Aku tidak ingin menjalani hidupku dibawah tekanan. Aku tidak ingin hidupku berakhir karena tuntutan yang kalian berikan”, kata Yunji mengutarakan isi hatinya.

.

“Apakah semua hal yang kami berikan padamu tidak cukup? Kami mengabulkan permintaan tidak bertanggungjawab yang kau ajukan. Kami membiarkanmu menentukan pilihanmu sendiri. Tidak bisakah eomma meminta sedikit saja darimu? Eomma hanya ingin kau bersikap dengan baik dan tetap mengikuti aturan yang berlaku dalam keluarga ini. Kau, suka atau tidak, tetaplah anak dari keluarga Kwon”, kata Nyonya Kwon. “Kami tidak memberikan tuntutan yang memberatkanmu. Kami hanya ingin kau menjaga nama baik keluarga ini dengan cara apapun. Tapi, kau sudah menorehkan sebuah goresan dengan tindakanmu. Pertama, kau menentang keputusan kami atas pendidikanmu. Kedua, kau memilih untuk tinggal diluar rumah. Kami berusaha untuk memahami keputusanmu dengan mentolerir sikapmu dan tetap memberikan fasilitas padamu. Tapi, kau justru kembali berperilaku buruk hari ini. Jika kau tidak bisa bersikap sebaik Yuri, maka setidaknya bersikap baiklah dengan caramu!” sambung Nyonya Kwon berseru pada Yunji.

.

“Lagi… Eomma kembali melakukannya. Eomma kembali membandingkanku dengan eonni. Aku bukan Kwon Yuri, eomma. Bisakah eomma berhenti membandingkanku dengannya sekali saja? Eomma selalu berpihak padanya. Eomma hanya mempedulikan, membanggakan, dan mengutamakannya. Aku tahu, eonni sangat hebat dalam segala hal. Aku mengakui hal itu. Tapi, aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa kalian memperlakukanku dengan cara berbeda hanya karena aku tidak sehebat eonni. Apakah salah jika aku berbeda? Kami dua orang yang berbeda, eomma”, kata Yunji.

.

“Kalian berasal dari keluarga yang sama, Yunji-ya. Kau, Yuri, bahkan Yunjae. Kalian bertiga mendapatkan pendidikan dasar yang sama dari keluarga ini. Kami mendidik kalian dengan cara yang sama. Kami hanya menginginkan hasil yang terbaik dari kalian. Tapi kenapa hanya Yuri yang mampu melakukannya? Kami hanya berusaha agar peristiwa yang terjadi pada Yunjae tidak terulang kembali. Kami ingin kau menjadi seorang dewasa yang bijaksana dalam menjalani hidup, tidak menjadi lemah dengan menyerah pada kehidupan. Kami menginginkan masa depan yang terbaik bagimu. Apakah itu salah? Yuri sudah melakukannya. Apakah kami tidak boleh mengharapkan setidaknya kau bisa menjadi sepertinya?” balas Nyonya Kwon masih bertahan pada pendiriannya.

.

“Jika ada satu anak yang tidak sehebat lainnya, apakah itu sebuah kesalahan? Tidak bolehkah dia menerima kebahagiaan yang sama karena dia berbeda?” Yunji justru balas bertanya pada ibunya. “Aku juga ingin membuat eomma dan appa bangga padaku. Tapi aku…… aku tidak pernah bisa melakukannya, eomma. Bukan karena aku tidak mampu. Tapi karena aku selalu salah dimata kalian. Bagi kalian, aku hanya anak pembangkang yang tidak bisa diatur. Aku ingin melakukan hal yang benar dengan caraku. Tapi, eomma hanya menginginkan seorang anak seperti Yuri eonni”, kata Yunji.

.

“Karena Yuri memang lebih baik darimu dalam banyak hal. Yuri tidak menginginkan karir sebagai seorang dokter sepertimu saat ayahmu memaksanya kala itu. Tapi, lihat Yuri sekarang. Yuri berhasil menjalani pendidikannya dengan baik. Dia mampu melakukan pekerjaannya tanpa hambatan. Karirnya juga cemerlang. Yuri bahkan bertunangan dengan seorang laki-laki yang berasal dari keluarga terpandang. Semua itu terjadi berkat pilihan yang ditentukan oleh ayahmu, Yunji-ya. Pilihan yang sudah kau tolak demi impian kekanakanmu”, kata Nyonya Kwon.

.

“Tidak, eomma. Tidak semua. Pilihan yang dibuat appa bagi eonni hanya berhasil memberikan eonni karir yang selalu eomma banggakan. Hal yang terakhir eomma sebutkan tidak termasuk didalamnya”, sanggah Yunji. “Anak perempuan yang eomma banggakan itu, Yuri eonni, dia bisa bertunangan dengan laki-laki itu setelah berhasil menghancurkan adik kandungnya sendiri. Dia mengorbankan perasaan orang lain demi kebahagiaannya”, sambung Yunji mengungkapkan rahasia yang selama ini ia simpan dari keluarganya.

.

“Apa maksudmu? Jangan bicara yang tidak-tidak tentang kakakmu. Kau tidak boleh melampiaskan rasa kesalmu dengan cara menjelekkan orang lain, Yunji-ya. Yuri tidak mungkin menyakitimu dengan cara apapun. Dia sangat menyayangimu”, kata Nyonya Kwon menolak pernyataan yang dikemukakan oleh Yunji.

.

“Hhh… Ternyata benar dugaanku. Selama ini aku menyembunyikan semua itu, tidak pernah mengungkapkannya karena berpikir eomma tidak akan mempercayaiku. Ternyata benar. Eomma tetap membela eonni meski dia sudah melakukan kesalahan”, kata Yunji sambil mengusap air mata yang jatuh ke pipinya. “Aku selalu menahan diri untuk tidak memikirkan hal ini, eomma. Tapi, sekarang aku justru kembali memikirkannya. Hal yang tidak seharusnya kupikirkan. Hal yang tidak perlu kuragukan. Hari ini aku kembali meragukannya. Eomma tahu? Terkadang aku merasa seperti tidak dilahirkan dalam keluarga ini”, sambung Yunji.

.

Nyonya Kwon tersentak dengan perkataan Yunji. Ia tidak pernah menduga kalimat itu akan keluar dari bibir anak perempuan termudanya. Untuk pertama kalinya Nyonya Kwon merasakan kepedihan yang terungkap dari kata yang diucapkan oleh Yunji. Luka yang diungkapkan Yunji berhasil menyentuhnya, memunculkan getar pilu yang mengundang sesak dalam dadanya. Air matapun menetes dipipinya. Namun Yunji tidak menyaksikan hal itu. Yunji sudah keluar dari kamar itu sesaat setelah mengatakan kalimat terakhirnya. Ia pergi meninggalkan ibunya yang terdiam dalam tangisnya.

.

.

.

Dua hari kemudian

Awal minggu di Y University

.

Yunji kembali memulai harinya yang baru. Awal minggu yang tenang, tanpa kepenatan akibat rangkaian peristiwa yang terjadi akhir pekan lalu. Sejak keluar dari rumah sabtu malam lalu, Yunji selalu berusaha menenangkan dirinya. Yunji melakukan banyak hal. Ia berjalan seorang diri didinginnya malam sepanjang Sungai Han, lalu bersepeda pagi setelahnya. Yunji memberikan tutor pada beberapa siswa seperti hari minggu lainnya. Selain itu, Yunji juga menawarkan diri untuk menggantikan shift rekan kerjanya di perpustakaan pada malam hari. Ia kembali ke apartment pagi-pagi sekali, lalu menggunakan waktu selama beberapa jam untuk tidur. Kuliah pagi membuatnya harus tiba di kampus pukul 10. Awalnya Yunji berpikir bahwa ia tidak akan bisa fokus dengan mata kuliah yang diberikan oleh dosen karena rasa kantuk yang mungkin akan menghampirinya di kelas. Tapi ternyata konsentrasi Yunji justru dibuyarkan oleh ingatan akan setiap kejadian dipesta sabtu lalu. Ia tidak berhasil mengalihkan pikirannya. Setiap kejadian dalam pesta itu terus berputar dalam pikirannya. Yunji tidak mampu menghilangkannya bahkan setelah kelas berakhir dan dosen keluar dari kelas.

.

Gemuruh suara banyak orang yang bicara diwaktu bersamaan menyadarkan Yunji dari lamunannya. Akhirnya Yunji menyadari keadaan kelas yang sudah sepi. Hanya ada dirinya dan empat orang lainnya didalam kelas. Yunjipun bangkit berdiri dan beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan kelas seperti mahasiswa yang lain. Ia berjalan menyusuri koridor dengan tatapan kosong dan pikiran yang meninggalkan tubuhnya. Kini suara lift yang menyadarkannya dari lamunan panjang. Yunji menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir ingatan buruk akan pesta dirumahnya hari itu. Yunji mengela napas panjang setelahnya. Seperti yang selalu dilakukannya, Yunji memutuskan untuk melupakan semua hal yang telah terjadi. Ia tidak ingin semua itu menghalangi kebahagiaan yang mungkin sedang menunggunya dihari menjelang.

.

Yunji memilih untuk menggunakan tangga dengan maksud ingin menyibukan pikiran dan tubuhnya. Ia tidak ingin terdiam didalam lift hingga membuatnya kembali teringat akan pesta itu. Yunji tiba di lantai satu gedung fakultas sastra dalam waktu singkat. Yunji berjalan keluar dari gedung. Sesaat setelahnya, langkah Yunji terhenti. Ternyata Donghae sudah menunggunya disalah satu bangku batu tidak jauh dari pelataran gedung. Sebuah senyum manis menyambut Yunji, menularkannya dengan cepat pada Yunji. Senyum yang sama akhirnya muncul diwajah lelah Yunji. Donghae bangkit berdiri, lalu berjalan mendekat pada Yunji. Mereka berjalan bersama menyusuri trotoar. Suasana hati Donghae yang ceria membuat Yunji melupakan sejenak semua hal yang mengganggu pikirannya selama sisa akhir pekan. Donghae dan Yunji mulai membicarakan banyak hal. Mulai dari kegiatan memancing yang dilakukan Donghae diakhir pekan, hingga hubungan Donghae dan Yoona yang sudah membaik setelah Donghae memutuskan memaafkannya.

.

“Akhirnya kau mau membuka hati untuk memaafkannya? Syukurlah…” kata Yunji.

.

“Aku harus melakukannya. Kami harus melanjutkan hidup kami masing-masing”, ujar Donghae.

.

“Sebentar…” kata Yunji yang menghentikan langkahnya, kemudian menoleh menatap Donghae. “Kau bilang, melanjutkan hidup masing-masing? Jadi, maksudmu, kalian tidak kembali berhubungan? Kenapa? Bukankah kau sudah memaafkannya?” tanya Yunji mengungkapkan kebingungannya.

.

“Entah. Aku memang sudah memaafkannya. Tapi……”

.

“Tapi?” tanya Yunji memotong ucapan Donghae bahkan sebelum Donghae bisa menjelaskannya pada Yunji.

.

“Aku sudah terlanjur memulai cinta sepihak pada seorang gadis”, jawab Donghae dengan senyuman manis dibibirnya.

.

“Hhh… Lee Donghae… Aku tidak bisa mempercayai ini. Cinta sepihak? Kenapa?” tanya Yunji lagi. Mereka berdua kembali melangkahkan kakinya, meneruskan perjalanan tak bertujuan mereka.

.

“Apa maksudmu dengan kenapa? Ada yang salah dengan cinta sepihak?” Donghae balas bertanya.

.

“Tidak. Bukan begitu. Hanya saja… You loved Yoona… or maybe you still love her. Kau memiliki cinta yang terbalas. Setidaknya begitulah situasimu sebelum cinta sepihak ini muncul”, kata Yunji memberikan pendapatnya. “Tidak banyak cinta sepihak yang berakhir baik, Donghae-ya. Kau bahkan tidak mengetahui perasaan yang dimiliki gadis itu, bukan? Bagaimana jika dia tidak bisa membalas perasaanmu?” tanya Yunji setelahnya.

.

“Itulah seni dibalik cinta sepihak, Yunji-ya. Saat kau sudah memutuskan untuk menjalaninya, maka disaat yang sama, kau sudah harus menyiapkan hati untuk menerima resiko apapun”, jawab Donghae santai.

.

Yunji kembali menghentikan langkahnya. Ia berbelok menuju sebuah pendopo kecil disisi kiri trotoar. Letaknya menjorok kedalam. Beberapa pohon besar tumbuh disekitarnya, menambah sejuk udara disana. Yunji duduk disalah satu bangku panjang yang terbuah dari batu, mengajak Donghae untuk duduk bersamanya. Donghaepun ikut duduk disana bersama Yunji, menunggu tanggapan yang akan diberikan oleh Yunji setelahnya.

.

“Aku jadi merasa penasaran… Siapa gadis itu? Apa aku mengenalnya?” tanya Yunji.

.

Donghae menatap Yunji dengan tatapan yang tidak dapat dimengerti. Ada sebuah senyuman diwajahnya, membuat Yunji semakin penasaran dengan gadis yang diceritakan oleh Donghae. Yunji mengubah posisi duduknya. Yunji mengangkat kedua kakinya agar dapat duduk bersila menghadap pada Donghae. Kedua mata Yunji memicing, menatap curiga pada Donghae yang tiba-tiba mengubah sikapnya. Donghae pun menghela napas setelahnya, masih dengan sebuah senyum manis diwajahnya. Yunji menaikkan kedua alisnya, seolah mendesak Donghae untuk segera menjawab pertanyaannya. Tawa kecil keluar dari bibir Donghae setelahnya karena melihat ekspresi Yunji yang menurutnya terlihat sangat lucu. Iapun melipat kedua tangannya didepan dada, seolah sedang merasa ragu untuk memberitahu Yunji.

.

“Ah, sudahlah… Aku sudah tidak ingin mengetahuinya”, kata Yunji sambil memutar matanya.

.

“Tapi, aku baru mau memberitahumu”, kata Donghae.

.

“Kalau begitu, katakan. Ini kesempatan terakhirmu. Kali ini kau harus menjawabku. Apa aku mengenal gadis itu?” tanya Yunji sekali lagi.

.

“Aku rasa kau mengenalnya”, jawab Donghae kali ini.

.

“Kau rasa? Jadi, kau tidak benar-benar yakin?” tanya Yunji.

.

“Begitulah… Entahlah… Terkadang gadis itu tidak benar-benar mengenal dirinya”, jawab Donghae dengan kata yang terdengar ambigu.

.

“Apa maksudmu? Tadi aku bertanya padamu ‘apakah aku mengenal gadis itu’. Kita bukan sedang membicarakan gadis itu. Aku tidak mengerti dengan ucapanmu, Lee Donghae”, kata Yunji yang merasa bingung.

.

“Hhh… Apa yang tidak kau mengerti, Yunji-ya? Ini begitu mudah…” kata Donghae.

.

“Kalau begitu, permudah lagi bahasamu, agar aku dapat benar-benar mengerti”, pinta Yunji.

.

“Kau menanyakan tentang dirimu sendiri”, kata Donghae. Kening Yunji yang berkerut semakin dalam mengundang tawa kecil yang keluar dari bibir Donghae. “Kwon Yunji, aku sudah memulai cinta sepihakku padamu”.

.

“Jangan bercanda, Lee Donghae. Tidak lucu”, kata Yunji.

.

“Aku tidak sedang bercanda, Kwon Yunji”, balas Donghae.

.

Kerutan dikening Yunjipun menghilang, digantikan dengan tatapan heran. Kedua matanya sedikit melebar. Tatapan heran Yunji perlahan berubah menjadi tawa setelah otaknya berhasil mencerna pengakuan yang dilakukan oleh Donghae. Yunji tertawa begitu lepas, membuat Donghae ikut tertawa bersamanya. Yunji bahkan sampai menggelengkan kepalanya karena merasa ucapan Donghae terdengar konyol baginya. Tawa Yunji dan Donghae tidak kunjung berhenti. Keduanya sudah terlarut dalam pembicaraan mereka. Tidak ada satupun diantara mereka yang menyadari keberadaan Kyuhyun dibalik salah satu pohon terdekat dari pendopo. Kyuhyun sudah berada disana cukup lama. Ia mendengar hampir keseluruhan pembicaraan Yunji dan Donghae yang berlangsung di pendopo itu. Ada hal yang berbeda terlihat dari ekspresi Kyuhyun kali ini. Kyuhyun tidak terlihat setenang biasanya. Tatapannya waspada,  bibirnya terkatup rapat memunculkan garis keras dirahang kanan dan kirinya, salah satu tangannya pun mengepal kuat disamping tubuhnya. Ia tidak merasa cukup senang dengan apa yang baru saja didengarnya. Kyuhyunpun meninggalkan tempat itu setelahnya.

.

.

.

.

TBC

.

Note:

Annyeonghaseyo, readersnim-deul!!!

[Kedua tangan diperut, kemudian membungkukkan badan] mianhabnida karena aku baru update sekarang. Banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Banyak hal yang harus dilakukan, mood menghilang, ide entah sedang pergi kemana, dan niat? jangan ditanya… lenyap selama berhari-hari. Tapi akhirnya aku berhasil menyelesaikannya. Fiuh…

Bagaimana kabar kalian, readersnim-deul? Aku harap semoga kalian dalam keadaan baik dan sehat. Setelah memutar otak, jungkir balik, bertapa, dan bersembunyi didalam goa, akhirnya part ini bisa kuselesaikan dengan cukup masuk akal (semoga). Jadi, bagaimana cerita dalam part ini? Apakah membosankan? Membingungkan? Kurang menarik? Atau terlalu bertele-tele? Please, feel free to tell me what’s on your mind.

Kyuhyun mulai mengetahui masalah yang terjadi dalam keluarga Yunji. Masalah itu juga terungkap dalam kisah part kali ini. Tokoh Siwon muncul sebagai tunangan dari kakak Yunji, Yuri. Selain itu, ternyata Siwon adalah mantan kekasih Yunji. Hm… Selain Siwon, seorang pesaing lain kembali muncul. Yup! Hong Jong Hyun, laki-laki bertubuh tinggi dan berwajah tampan, serta mampu berkomunikasi dengan Yunji. Dan…… Donghae mengakui perasaannya pada Yunji. (Duh… Kyuhyun belum maju sampai sekarang). Kira-kira apa balasan Yunji? Apakah sebenarnya Yunji masih memiliki perasaan pada Siwon? Apa yang akan dilakukan oleh Kyuhyun setelah mendengar pengakuan Donghae pada Yunji? Tunggu kisahnya di part selanjutnya! Kana pamit! Doakan semoga part selanjutnya tidak terhambat oleh apapun. Annyeonghigaseyo!

Advertisements

13 thoughts on “It supposed to be me : Part 4

  1. manusia yg sempurna emang gak ada ya, gila gila gak nyangka kalo yuri nusuk banget anaknya, tega ngancurin kebagian adeknya sendiri, wajar yunji benci dengan keluarganya sendiri. kyu perjuangin yunji jangan menyerah karna denger pernyataan nya donghae

    Like

  2. maaf baru komen soalnya akunnya terlogout sendiri hiks 😢

    suka sm part ini… kyuhyun mulai rasain namanya cemburu 😍
    mereka mengungkapkan perasaan dengan tindakan bukan kata2 😍

    Like

  3. Greget banget ma eommanya yunji,pilih kasihnya g ketahan…?.yuri juga kayanya bermuka dua,munafik….
    Kyu ayo buruan maju dong, udah keduluan donghae tuh. Lum lagi ntar lo jonghyun ikut nimbrung,makin ribet lo kebanyakan saingan,,,

    Like

  4. Emang g enk bgt kl sll dibandingkan sm sodara sndr eon q jg ngalamin tu rsny g enk ktka apa yg kita lakuin sll salah dimata ortu pdhal kita sll berusaha sebaik baiknya yg kt bs tp tetep aja salah Skt bgt rasanya huhuhuuu sedih bgt akhirnya tau ttg masa lalu yunji jg tinggal ttg kyu yunji ada apa dimasa lalu mrk ?? Kyuhyun jealous kah pas liat yunji donghae kyny sih hehehe …. Neeeeeeext fighting eon 😀

    Like

  5. Ini benar2 panjang cinggu, q gak nyangka ortu yunji tega seperti itu. Trs yuri melakukan berbagai cara agar hub yunji n siwon hancur.
    Qahhh donghae mengungkapkan perasaannya n kyu mendengarnya, makin penasaran apa yg akan d lakukan kyu yaaaa

    Like

  6. Aku suka bgt m nih cerita^^
    N g bkl bosen buat nunggu kelanjutannya…karna ceritanya selalu bikin seorang pembaca penasaran….akkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk q daftar buat jd fans u authornim^^

    Like

  7. Hidup hyunji begitu rumit,, kadihan yunji, yuri yg dipandang orangtuanya adalah seorg anak yg sgt membanggakan tp sebbrnya dy rela menyakiti adiknya sendiri demi cinta sepihaknya
    Aq harap yunji m kyuhyun aj eonn walopun jong hyun mungkin menarik heeeeee tp aq harap m kyuhyun aj y, sepertinya kyuhyun jg menyukai hyunji n donghae apakah akan diterima m hyunji? Y ampun hyunji sebenarnya dy itu sdh jd pemenang y di keluarganya, pa lg m yuri, yuri begitu sempurna disegala tp buat apa jika org yg dicintai itu mencintai org laen anii tp adiknya sendiri
    y ampunnn bersemangatlah yunji, heeee
    oz semangat jg buat eonni ngelanjutin ff nya
    semoga ide”nya mengalir lancar y
    fighting

    Like

  8. Sumpah… Kisah yunji sedih banget, ampe bikin gw nangis malah
    Yunji yang heba . Menutup rapat segala permasalahan dengan tawa dan senyuman meskipun hidup yang terisolasi
    Hwaiting yunji_ya…
    Kyuhyun yakin masih tetap berpijak pada porosmu tanpa suatu tindakan apapun, itu bukan dirimu sekali Oppa… Meski banyak pesaing dan mungkin kesempatan itu kecil tak mengapa asala udah usaha, benr kan? Entah hasilnya bagaimana itu kembali pada author mau kasih restu pada siapa… 👅🙏🙏🙏🙏

    Like

  9. Hohoho jadi Yunji mantan Siwon tohh. Kwon Yuri tarnyata cukup berbi😁. Jadi pengen tau kejadian apa yg mereka (yuri, siwon, yunji) alami dulu. Satu lagiii pengen banget ngelem mulut ny.Kwin pakai lakban hitam. Nyerocos mulu macam kereta apai.

    Like

  10. Pingback: Your Library | FanWorld FanFiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s