It supposed to be me : Part 3

Author: Okada Kana

Category: PG-15, Romance, Chapter, Family

Cast:

Cho Kyuhyun, Kwon Yunji (OC), Lee Donghae, Choi Minho

Kim Yura, Choi Sooyoung, Kwon Yuri, Shim Changmin, Kim Suho, etc…

Disclaimer:

Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi atau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Jadilah pembaca yang baik dan sopan. No bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Saran dan kritik membangun akan diterima dengan senang hati. Selamat membaca!!!

Jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com

.

 

 

.

Review Part 2

“Tidakkah kau pikir sikapnya cukup keterlaluan?”

“Aku hanya sedikit khawatir kekasihmu tidak akan menyukainya jika aku menghubungimu”.

Good manner. Tapi kau menggunakannya untuk keadaan yang tidak tepat”.

“Apa maksudmu dengan tidak tepat?”

“Sampai detik ini aku bahkan tidak pernah tahu bahwa aku memiliki seorang kekasih”.

“Dia bukan kekasihmu?”

“Siapa dia?”

“Laki-laki yang berjalan bersama mu setelah kau bicara denganku?”

“Lee Donghae? Hanya teman”.

“Kau menganggapnya sebagai teman”.

————————-

“Ternyata hanya kau”.

“Apa ada masalah?”

“Aku tidak ingin ada mahasiswa yang tahu bahwa aku bekerja disini”.

“Kau bekerja disini? Aku pikir kau sedang belajar atau mengerjakan tugasmu”.

“Aku memang bekerja sambil belajar. Terkadang aku mengerjakan tugasku juga”.

“Kenapa? Kau tidak dalam keadaan sangat membutuhkan uang untuk hidup. Kau sudah memilikinya. Aku hanya tidak mengerti”.

“Banyak hal dalam hidup yang tidak perlu kau mengerti, Kyuhyun-ah”.

————————-

“Kenapa kau hidup seperti ini?”

“Aku hanya ingin (seperti itu). Aku tidak sedang melakukan kejahatan, bukan?”

“Kau hanya melakukan hal yang tidak biasa dilakukan oleh gadis dengan latar belakang sepertimu”.

“Itu hanya sebuah latar belakang, Cho Kyuhyun. Selalu ada fakta yang tidak dipedulikan oleh setiap orang”.

And you don’t?”

Never”.

“Kau tidak mengkhawatirkan apapun?”

“Kau tahu, Cho Kyuhyun? Terkadang ada kalanya kita tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak harus dikhawatirkan”.

————————-

Yunji-ya, kau dimana?

“Yoboseyo?”

Siapa kau?

“Cho Kyuhyun ibnida. Yunji se……”

Kenapa ponsel Yunji ada bersamamu? Dimana dia?

“Yunji sedang mandi, aku rasa. Bisakah aku mengetahui dengan siapa aku bicara saat ini?”

Lee Donghae”.

————————-

.

 

 

 

 

.

It supposed to be me : Part 3

“I [don’t] know you”

.

 

 

 

 

.

Kyuhyun’s POV

.

Lee Donghae. Aku merasa seperti pernah mendengar nama itu. Aku mencari nama itu dalam pikiranku secepat yang ku bisa. Hingga akhirnya suara Yunji yang menyebutkan nama laki-laki itu kemarin kembali muncul dalam pikiranku. Ah… Ternyata laki-laki itu. Laki-laki yang memberikan tatapan tajam padaku hari itu. Lee Donghae. Benar. Dia orangnya. “Ah, ne, Lee Donghae-ssi. Yunji sedang mandi saat ini. Kau bisa meninggalkan pesanmu padaku. Aku akan menyampaikannya”, kataku dengan kepercayaandiri dalam suaraku, yang aku sendiri tidak tahu berasal darimana.

 

.

Tidak perlu. Aku akan menghubunginya lagi nanti”, kata Donghae dengan suara angkuhnya.

.

 

“Baiklah kalau begitu. Aku akan menyampaikannya pada Yunji”, kataku.

 

.

Sambungan telepon langsung terputus begitu saja setelahnya. Tanpa ucapan terima kasih maupun salam, walaupun aku juga tidak benar-benar mengharapkannya. Aku meletakkan ponsel Yunji di atas meja dihadapanku, kemudian kembali membesarkan volume televisi yang sempat ku kecilkan saat menerima panggilan telepon di ponsel Yunji. Aku belum menghilangkan kebiasaanku menonton siaran berita setiap pagi. Hidup seorang diri di San Fransisco menuntutku untuk selalu waspada pada hal apapun. Aku terbiasa menjaga diriku sendiri. Dan siaran berita membuatku sedikit merasa tenang untuk menjalani hariku. Berita yang disiarkan tidak jauh berbeda dengan kemarin. Pembunuhan yang terjadi pada malam hari diluar Seoul, kecelakaan karena pengemudi mabuk, hingga pejabat yang terlibat kasus tidak menyenangkan. Belum ada berita yang menarik perhatianku.

.

 

Akupun membuka ponselku. Aku harus memeriksa kotak masuk e-mailku, serta mengirim pesan pada Yunho hyung untuk memastikan e-mail yang ku kirimkan tadi pagi sudah benar-benar diterima olehnya. Pesan balasan dari Yunho hyung yang ku terima meyakinkanku bahwa semua hal sudah ku selesaikan dengan baik. Aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Hingga kekhawatiran ku justru muncul untuk hal yang lain. Suara kenop pintu yang dibuka mengalihkan pandanganku. Sosok Yunji muncul dari balik pintu kamarnya, hanya berbalutkan handuk yang menutupi tubuhnya sampai paha, dan sebuah handuk lainnya yang membelit di kepalanya. Salah satu tangannya memegang tautan ujung handuk, sementara tangannya yang lain memasukkan helaian rambut yang keluar dari handuk kecil di kepalanya. Kedua mataku terbelalak dan tidak ada satu katapun yang terucap dari bibirku. Tentu saja. Aku laki-laki normal. Kondisi seperti ini sangat mampu menghentikan detak jantung dan mencekat napasku. Yunji memiliki bentuk tubuh yang sempurna. Ia tidak kurus, namun tidak memiliki bentuk tubuh yang berlebihan. Setiap lekuk ditubuhnya terlihat begitu tepat pada porsinya. Sebuah helaan napas mampu ku keluarkan dengan sangat lambat dari hidungku. Saat itu juga tatapan kami bertemu. Yunji menghentikan langkahnya dan terdiam. Tidak ada keterkejutan diwajahnya. Wajahnya terlihat terlalu tenang untuk kondisi seperti ini.

 

.

“Aku juga seorang laki-laki, Kwon Yunji”, kataku dengan suara pelan dan sedikit serak yang ku harap tidak terdengar olehnya.

.

 

“Ah, maaf. Aku lupa ada seorang laki-laki disini. Aku terbiasa seorang diri. Kalaupun ada orang lain, pasti seorang perempuan. Sekali lagi maaf”, kata Yunji yang segera berbalik kembali ke kamarnya.

 

.

Aku baru bisa menghela napasku dengan lancar saat pintu kamar Yunji kembali tertutup, menghilangkan sosok Yunji yang sepertinya tidak mudah untuk ku lupakan ke depannya. Benar-benar pemandangan yang mampu membangunkan setiap saraf dalam tubuhku. Aku sudah kehilangan kantukku sepenuhnya. Seolah baru saja dipukul oleh seorang petinju profesional, otak di dalam kepalaku ini langsung bekerja dengan sangat baik untuk mencerna banyak hal. Cara terampuh yang bisa membangunkan diriku dengan cepat. Aku mencoba mengalihkan pikiran manusiawiku ini pada siaran di televisi. Tapi ternyata hal itu tidak mudah untuk dilakukan. Pasalnya, Yunji kembali keluar dari kamarnya. Aku pikir reaksi yang ditimbulkan oleh kemunculannya akan berbeda. Tapi aku masih merasakan keterkejutan yang sama. Perbedaan dalam diri Yunji hanya pada T-shirt yang dikenakannya diluar handuk yang membungkus tubuhnya. Ia masih mengenakan handuk dengan tinggi yang sama (sebatas paha).

.

 

“Kwon Yunji, apa bedanya dengan yang tadi?” protesku sambil mengalihkan pandanganku ke arah lain untuk menghindarinya.

 

.

“Sekarang aku mengenakan sebuah T-shirt”, jawab Yunji sambil berlalu menuju dapur. “Ah, aku juga sudah mengenakan pakaian dalamku”, sambung Yunji dengan santai.

.

 

“Apa? Yah… Kau bahkan membicarakan hal itu dengan santai pada seorang laki-laki. Akan lebih berbeda jika kau sudah mengenakan celanamu”, kataku.

 

.

“Terlalu lama. Aku buru-buru. Sudah terlalu sakit”, kata Yunji.

.

 

Aku pun sontak menoleh kearahnya. Yunji membuka freezer dan mengeluarkan wadah es batu yang kemudian ia letakkan diatas meja bar. Aku berjalan menuju dapur dengan cepat, tanpa memikirkan hal apapun. Yunji melebarkan sapu tangan yang dibawanya dari kamar. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Dari yang ku lihat, aku pikir Yunji sedang membuat kompres, entah untuk apa. Tadi Yunji sempat mengatakan kata sakit dan buru-buru. Akupun membantunya meletakkan potongan es ke atas sapu tangan saat mengingat ucapannya itu.

 

.

“Apa yang terjadi? Kau terluka?” tanyaku sambil membungkus beberapa potongan es itu dengan sapu tangan dan memberikannya pada Yunji.

.

 

“Terima kasih”, kata Yunji yang menerima kompres itu dari tanganku. Ia membuka mulutnya, lalu memasukkan setengah dari kompres itu ke dalam. “Lidahku tergigit saat sedang menggosok gigi. Sepertinya aku masih mengantuk”, sambung Yunji menjawab pertanyaanku.

 

.

“Hhh… Aku bahkan ragu kau sudah tidur dengan cukup”, kataku.

.

 

“Maaf karena mengejutkanmu”, kata Yunji dengan senyuman dibibirnya.

 

.

“Tidak apa. Kau membantuku mendapatkan kesadaran dengan cepat. Kantukku hilang sepenuhnya”, kataku jujur sambil menuangkan air ke dua buah gelas dihadapanku.

.

 

“Sayang sekali. Padahal kau masih bisa menggunakan waktu beberapa jam untuk kembali tidur”, kata Yunji.

 

.

“Benar. Kau sudah menghilangkan kesempatan berharga itu”, balasku setelah meneguk air dari gelasku. “Karena itu kau harus bertanggung jawab”.

.

 

Sebuah kerutan kecil di kening terlihat di wajahnya yang memberikan raut bingung. Namun ada sebuah senyum tipis dibibirnya. Perpaduan yang unik, dua ekspresi dalam satu wajah. “Bagaimana?” tanya Yunji sambil meletakkan kompres di bak pencuci piring.

 

.

“Ayo kita keluar dan membeli sarapan”, jawabku.

.

 

“Sarapan? Kau sudah melakukannya beberapa saat yang lalu”, kata Yunji heran.

 

.

“Sandwich itu hanya sebagai makanan pembuka, Yunji-ya. Kau dan aku sama-sama merasa lelah pagi ini. Kita membutuhkan lebih banyak asupan tenaga untuk menjalani hari, bukan? Ayolah…” bujukku.

.

 

Yunji meraih gelas yang berisi penuh dengan air di hadapannya. Ia memandangku masih dengan kerutan kecil dikeningnya, seolah sedang mempertimbangkan ajakanku. Yunji menenggak setengah isi gelas itu kemudian meletakkannya kembali di meja. “Kau tidak merasa kenyang?” tanya Yunji yang masih berusaha bernegosiasi denganku.

 

.

“Aku sangat ingin makan samgyetang sejak beberapa hari yang lalu”, kataku tanpa menjawab pertanyaannya.

.

 

Call!” kata Yunji dengan cepat, membuatku tersentak. Ia menyetujuiku dengan mudah. “Ada sebuah rumah makan yang menghidangkan samgyetang di dekat sini. Sangat enak. Aku akan bersiap dan kembali dalam lima menit. Jangan mengubah pikiranmu”, kata Yunji yang segera melesat meninggalkan dapur dan masuk ke kamarnya.

 

.

“Tidak akan. Gunakan waktumu”, kataku sebelum terdengar suara pintu yang tertutup.

.

 

Aku tidak tahu alasan dibalik tindakanku kali ini. Ucapan laki-laki bernama Lee Donghae itu seolah memberikan alarm padaku. ‘Aku tidak menemukanmu‘. Aku membuat kesimpulan bahwa laki-laki itu sedang mencari Yunji. Aku menduga ia datang ke perpustakaan untuk menjemput Yunji. Ada kemungkinan ia akan datang kesini. Dan saat ini aku sedang berusaha menghilangkan kesempatan laki-laki itu untuk menemui Yunji dengan mengajaknya keluar dari apartment menggunakan alasan sarapan. Samgyetang menyelamatkanku. Padahal aku baru memakannya dua hari yang lalu dengan Woohyuk hyung. Aku benar-benar sudah tidak mengerti pada jalan pikiranku. Apa tujuanku sebenarnya? Aku tidak punya hak untuk melarang Yunji menemui siapapun, termasuk laki-laki itu. Tapi saat ini aku bahkan berbohong pada Yunji hanya untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan oleh Cho Kyuhyun si pemberontak dalam diriku.

 

.

“Ayo berangkat”, kata Yunji menyadarkanku dari pikiran rumitku.

.

 

Aku menoleh cepat pada Yunji. Kembali aku dibuat sedikit terkejut olehnya. Yunji hanya mengenakan celana training berwarna abu-abu gelap yang pas di kakinya, sebuah hoodie putih gading yang sedikit kebesaran, sambil membawa dompet ditangannya. Ia berbalik menuju ruang tv untuk mengambil ponselnya diatas meja. Tidak ada riasan apapun diwajahnya. Rambutnya yang masih basah pun dibiarkan tergerai begitu saja. Ia kembali menjadi Kwon Yunji yang ku temui di sebuah cafe di Apgujeong. Yunji yang sederhana tanpa riasan dan pakaian rapi sesuai trend masa kini. Seketika aku merasa bahwa dugaanku benar. Ia sedang menyembunyikan diri. Kini aku bahkan mendapatkan keraguan dalam diriku untuk menentukan mana diantara keduanya yang benar dirinya. Kwon Yunji yang begitu terkenal di kampus, atau Kwon Yunji yang sangat sederhana dan santai dihadapanku.

 

.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Yunji saat menyadari caraku memandangnya.

.

 

“Hanya berpikir”, jawabku singkat sambil berjalan ke arah sofa untuk mengambil dompetku yang ada di dalam tas.

 

.

“[Berpikir] Tentangku……” kata Yunji menyatakan dugaannya. “Katakan. Apa yang kau pikirkan?” tanya Yunji setelahnya.

.

 

Aku tidak langsung menjawab pertanyaan yang diberikan Yunji. Aku berusaha mengulur waktu dengan mencari dompet di dalam tas ku. Aku sudah menduganya, Yunji pasti memberikan pertanyaan itu. Ucapannya masih teringat dalam pikiranku. ‘Seolah kau bisa membacaku’. Saat ini akulah yang merasakannya. Ia bisa membacaku dengan mudah. Kami membaca satu sama lain, dan mengeluarkan semua kata dengan mudah setelahnya. Aku tidak tahu apakah ini adalah hal yang baik atau tidak. Mengingat kami baru saling bicara belum lama ini. Aku pun berbalik menatapnya setelah berhasil mendapatkan dompet dari dalam tas. Aku memandangnya selama beberapa detik, menimbang ucapan yang ingin keluar begitu saja dari bibirku. Aku ragu untuk menanyakannya langsung pada Yunji. Namun aku tahu benar, jawaban dari pertanyaan ini hanya bisa diberikan olehnya.

 

.

Which one is the real Yunji? The one I know? Or the one people know? (Mana yang benar-benar Yunji? Yang aku tahu? Atau yang orang-orang tahu?)”, tanyaku akhirnya.

.

 

Ia sontak tersenyum. Bukan senyum palsu yang menutupi emosi lain dalam dirinya, melainkan senyum tulus yang mengungkapkan isi hatinya. “Jawaban apa yang ingin kau dengar?” Yunji balas bertanya padaku.

 

.

“Jawaban sebenarnya”, jawabku bersungguh-sungguh.

.

 

“Mwo… Walaupun aku menjawab dengan sembarangan, kau mungkin bisa mengetahui kebenarannya dengan mudah. Seperti kataku, kau bisa membacaku dengan mudah. Kau selalu tahu saat dimana aku sedang menyembunyikan sesuatu. Auh… Sangat mengganggu jika memikirkan hal itu. Kau sedikit menakutkan”, kata Yunji sambil tertawa kecil, belum memberikan jawabannya padaku.

 

.

“Jadi, kau akan menjawabku?” tanyaku.

.

 

“Tidak”, jawab Yunji singkat, membuat alisku terangkat karena bingung. “Kau sudah mengetahui jawabannya, Cho Kyuhyun. Kenapa kau masih saja bertanya?” kata Yunji yang tertawa kecil sambil melangkah menuju lorong ke arah pintu.

 

.

Ia mengatakan seolah dugaanku benar. Yunji yang berada dihadapanku saat ini adalah Yunji yang sebenarnya. Ia tidak pernah mencoba menyembunyikan dirinya dariku. Meski Yunji tidak pernah menyatakan dirinya dengan jelas hingga aku menyadarinya sendiri. Aku pun mengikutinya dari belakang. Aku menemukan diriku bersikap siaga dan waspada akan setiap hal yang mungkin akan Yunji katakan setelah ini. Aku masih menimbang satu hal dalam pikiranku. Panggilan telepon untuk Yunji saat ia masih berada dikamar mandi. Satu sisi dalam diriku memintaku untuk mengatakannya pada Yunji. Namun sisi lain melarangku habis-habisan. Yunji membuka pintu dan berjalan keluar dengan santai. Tidak ada kata yang terucap lagi darinya. Ia tidak sedang marah. Wajahnya tidak berkata begitu. Yunji begitu tenang, yang justru mengkhawatirkan bagiku. Aku keluar setelah mengenakan sepatuku. Ia memberikan senyumannya padaku, entah apa maksud dibalik senyuman itu. Kami berjalan bersama menyusuri koridor menuju lift setelah memastikan pintu sudah kembali terkunci secara otomatis.

.

 

“Aku menerima sebuah panggilan telepon di ponselmu saat kau mandi”, kataku akhirnya. Aku memutuskan untuk mengatakannya pada Yunji. Aku tidak punya hak apapun untuk menyembunyikannya. Yunji mungkin akan mengetahuinya juga nantinya jika ia memeriksa ponselnya.

 

.

“Dari siapa?” tanya Yunji.

.

 

“Lee Donghae”, jawabku singkat.

 

.

“Ah… Dia mengatakan sesuatu?” tanya Yunji lagi sambil memencet tombol lift untuk turun.

.

 

“Dia akan menghubungimu lagi nanti”, jawabku jujur.

 

.

“Baiklah…” kata Yunji menanggapi ucapanku.

.

 

Disaat yang sama, pintu lift terbuka. Kami masuk ke dalam lift yang kosong bersama. Yunji tidak mengatakan apapun lagi setelah kata terakhirnya, membuatku kembali memikirkan reaksi tenang Yunji yang tidak biasa bagiku. “Kau tidak ingin menghubunginya?” tanyaku.

 

.

“Untuk? Kau bilang dia akan menghubungiku nanti”, jawab Yunji santai.

.

 

“Kau benar-benar hanya menganggapnya teman”, kataku mengutarakan kesimpulanku atas sikapnya.

 

.

“Hhh… Aku ‘kan sudah mengatakannya padamu kemarin. Ternyata kau tidak mudah percaya pada ucapan orang lain”, kata Yunji sambil menyentuhkan bahunya pada lenganku.

.

 

Sebuah tawa kecil yang keluar dari bibir Yunji menular padaku. Kami tertawa bersama seraya keluar dari lift. Kami berjalan menyusuri lobby dengan senyum lebar yang menghiasi wajah kami masing-masing. Aku mengalihkan wajahku dari Yunji yang tidak berhenti mengejekku karena sikapku yang ia anggap kaku. Senyum diwajahku seketika mereda saat kedua mataku menangkap sosok yang ku kenal, ku rasa. Lee Donghae. Ia benar-benar datang kesini untuk menemui Yunji. Aku sontak mengubah posisiku menuju sebelah kiri Yunji untuk menutupi pandangan Yunji agar tidak melihatnya, sekaligus menutupi sosok Yunji dari pandangan mata Donghae. Yunji sempat menatapku dengan kening yang berkerut, bingung pada tindakan tiba-tiba yang ku lakukan, namun segera mengalihkan pandangannya kembali setelahnya. Seseorang di dalam kepalaku pun melayangkan protesnya, mempertanyakan alasanku melakukan hal kekanakan ini. Aku masih belum benar-benar menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Sikap ini muncul begitu saja. Aku melakukannya tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Alasan, maksud, tujuan, tidak ada jawaban yang muncul dalam pikiranku untuk ketiga pertanyaan itu. Aku hanya bisa terus menyamakan langkah kaki Yunji yang sudah mengarah berbelok ke jalan di sebelah kanan gedung apartmentnya, menjauh dari sosok Donghae yang baru saja memasuki gedung tanpa menyadari keberadaan Yunji.

 

.

Kami masuk ke sebuah rumah makan yang menyediakan samgyetang. Tempat itu terlihat sudah cukup tua. Aku tidak memberikan pendapat itu karena baru saja melihat rupa pemilik rumah makan ini. Hanya saja, hawa yang dihadirkan oleh rumah makan ini terasa begitu hangat dan menenangkan. Rasanya seperti pengalaman berkunjung ke rumah nenek setelah bergumul dengan hiruk pikuk kota besar. Begitu menenangkan. Aku pikir perasaan itu juga dirasakan oleh Yunji. Sejak melewati ambang pintu tempat ini, sebuah senyum lebar yang tulus tergambar diwajahnya. Wanita paruh baya yang baru saja keluar dari dapur pun menyambut kedatangan Yunji dengan senyum yang serupa. Ia mempersilahkan kami duduk di salah satu meja dekat jendela. Menurutnya ini adalah tempat yang sangat baik untuk disinggahi di pagi hari. Karena sinar matahari akan lebih dulu mencapai tempat ini, sehingga kami bisa menjadi yang paling awal untuk mendapatkan anugerahnya. Seketika aku teringat pada mendiang nenekku. Filosopinya akan matahari tidak jauh berbeda dengan wanita pemilik rumah makan ini. Matahari adalah anugerah kehidupan paling awal dalam memulai hari, begitu kata nenekku.

.

 

Kami bukan pelanggan pertama di rumah makan ini. Sudah ada dua orang eksekutif muda dan seorang paman yang sedang menikmati sarapan pagi mereka. Ketiganya terlihat terburu. Waktu yang mereka punya tidak seleluasa waktuku dan Yunji. Aku menatap mereka dengan senyum tipis dibibirku. Aku sangat mengerti dengan sikap tergesa itu. Tuntutan kehidupan yang tidak bisa dihindari. Aku hanya bisa berharap mereka akan baik-baik saja setelah makan dengan ritme cepat seperti itu. Sebuah jentikan jari tiba-tiba muncul tepat di depan wajahku. Yunji mengalihkan perhatianku. Aku pun menoleh cepat padanya. Yunji menatapku dengan kerutan di keningnya, seolah menanyakan apa yang sedang ku pikirkan saat melihat pengunjung lain di tempat ini. Aku menjawab pertanyaan tak terucapnya dengan sebuah senyuman dan gelengan pelan. Yunji tersenyum padaku setelahnya.

 

.

Perhatianku kini terpaku pada hal yang sedang dilakukan oleh Yunji. Ia mengeluarkan sendok dan sumpit dari tempat penyimpanan, lalu membersihkannya dengan tisu sebelum meletakkannya di meja. Ia melakukannya dengan gerakan yang alami. Kesan yang ditunjukkan Yunji padaku selalu mampu meningkatkan mood ku. Aku tidak pernah memiliki ekspektasi buruk akan Yunji. Hanya saja, aku tidak pernah menduganya. Kwon Yunji. Nama itu tercatat sebagai seorang anak dari pengusaha besar yang cukup dikenal. Kemudahan selalu ada di hadapannya. Ia tidak perlu melakukan banyak hal untuk dirinya sendiri. Karena akan selalu ada orang disekitarnya yang membantunya. Tapi itu hanya profil yang diketahui dan diyakini banyak orang. Aku menyaksikan fakta lain dengan kedua mataku. Tidak ada yang membantunya. Ia meninggalkan semua kemudahan itu. Yunji menjalani hidup untuk dirinya sendiri. Aku terpukau akan hal itu. Meski sampai saat ini aku masih mempertanyakan alasan yang dimiliki Yunji dalam kepalaku.

 

.

Perubahan ekspresi diwajah Yunji menyadarkan ku dari monolog dalam kepalaku. Yunji tersenyum lebar saat dua mangkuk samgyetang mendekat pada kami. Kedua matanya mengikuti gerakan tangan pramusaji yang memindahkan kedua mangkuk itu ke atas meja. Ia menyukainya, ekspresi itu yang ku tangkap dari wajahnya. Yunji mengucapkan terima kasih pada pramusaji yang hendak kembali ke dapur dengan nada riang, membuat senyum sang pramusaji ikut terkembang bersamanya. Tentu saja. Ucapan terima kasih yang diberikan Yunji sangat mudah membuat suasana pagi menjadi lebih cerah dari biasanya. Ia mengucapkannya dengan ketulusan yang tidak dapat diukur oleh apapun. Bahkan senyum diwajah pramusaji itu terus bertahan sepanjang perjalanannya menuju dapur.

.

 

Yunji memasukkan suapan pertamanya tanpa ragu. Suapan selanjutnya mengikuti setelahnya. Tanpa ku sadari, tanganku mengikuti ritmenya. Memasukkan suapan demi suapan ke dalam mulutku. Tiba-tiba sebuah getaran diatas meja mengalihkan perhatian kami. Ponsel Yunji bergetar, memunculkan deretan nomor yang tidak dapat ku lihat dari tempatku. Yunji hanya melirik sekilas sebelum kembali menyuapkan sepotong ayam ke dalam mulutnya. Ponselnya masih terus bergetar, membuat Yunji akhirnya menyentuh panel hijau di layar. Ia juga menekan tombol spreaker untuk mempermudah dalam berbicara. Beruntung karena sudah tidak ada lagi pengunjung lainnya dalam ruangan ini yang bisa mendengarkan apapun isi pembicaraan yang akan dilakukan oleh Yunji dengan lawan bicaranya di telepon.

.

 

“Yoboseyo?” kata Yunji dengan santai.

 

.

Yunji-ya… balas suara diseberang telepon. Aku mengenal suara itu. Suara yang sama yang ku dengar kurang lebih satu jam yang lalu.

.

 

“Eo? Lee Donghae? Kau mengganti nomor ponselmu?” tanya Yunji.

 

.

Benar. Beberapa hari yang lalu”, jawab Donghae. “Apa kau sedang berada di apartment?” tanya Donghae setelahnya.

.

 

“Tidak. Kenapa?” Yunji balas bertanya.

 

.

Kau dimana? Tadi aku sempat ke perpustakaan untuk menjemputmu, tapi kau sudah tidak berada disana. Saat ini aku sedang berada disekitar apartmentmu, kata Donghae. Dugaanku benar. Ia memang datang untuk Yunji. Bahkan sejak pagi-pagi sekali.

.

 

“Benarkah? Hm… Aku sedang sarapan. Apa ada masalah?” tanya Yunji lagi, masih dengan nada santainya.

 

.

Tidak ada. Semua baik-baik saja, jawab Donghae.

.

 

“Begitu… Aku ada jadwal kuliah siang ini. Kita bisa bertemu di kampus nanti, jika kau mau”, kata Yunji, mengejutkanku. Aku bahkan tidak benar-benar tahu alasanku merasa terkejut dengan ucapan Yunji. Aku hanya sempat berpikir Yunji akan memintanya untuk datang padanya.

 

.

Baiklah. Sampai nanti, kata Donghae datar.

.

 

“Sampai bertemu”, balas Yunji.

 

.

Sambungan telepon terputus setelahnya. Aku masih memandang heran pada Yunji yang justru tidak mempedulikan apapun dan melanjutkan kegiatan makannya dengan tenang. Berbagai pertanyaan kembali berdatangan ke dalam pikiranku. Aku mulai mempertanyakan sosok sesungguhnya dibalik wajah gadis yang sedang duduk dihadapanku ini. Ia ramah pada setiap orang yang dikenalnya, tapi disaat yang bersamaan ia juga menutup dirinya dari siapapun. Seketika aku mengingat kata-kata yang diucapkan oleh Suho hari itu. Tidak ada yang pernah bertemu dengan Yunji diluar kampus. Kehidupannya diluar kampus tidak diketahui siapapun, kecuali teman-teman dekatnya. Aku mengetahui beberapa bagian tersembunyi dari kehidupan itu. Begitukah? Apa hal yang aku ketahui dari Yunji tidak diketahui oleh orang lain?

.

 

“Ada apa? Tidak sesuai seleramu?” tanya Yunji saat mengetahui tatapanku padanya, menyadarkanku kembali dari monolog dalam pikiranku.

 

.

“Tidak. Ini enak”, jawabku.

.

 

“Lalu kenapa kau hanya menatapku dan tidak memakannya?” tanya Yunji.

 

.

“Tidak apa. Hanya terpukau dengan caramu makan”, kataku mencari alasan.

.

 

“Hhh… Apa aku terlihat jelek saat makan?” tanya Yunji sambil tersipu.

 

.

“Tidak mungkin. Semua orang terlihat luar biasa saat makan”, jawabku. “Tapi, Yunji-ya……” Aku menghentikan ucapanku, membiarkannya menggantung saat keraguan menghampiriku. Aku tidak benar-benar yakin untuk bertanya padanya.

.

 

“Ada apa?” tanya Yunji.

 

.

“Kau tidak ingin menemuinya? Maksudku, Lee Donghae. Dia bilang dia sedang berada disekitar sini”, kataku. Aku bersungguh-sungguh saat berpikir bahwa aku tidak harus menanyakan hal ini. Apapun alasan yang dimiliki Yunji, tidak satupun yang menjadi urusanku.

.

 

“Tidak perlu. Dia bisa menemuiku di kampus nanti”, jawab Yunji dengan santai sambil menyantap samgyetang dihadapannya.

 

.

Ia kembali mengejutkanku dengan jawabannya. Aku bisa merasakan sebelah alisku yang otomatis terangkat setelah mendengar jawabannya. “Kenapa? Kau bisa bertemu dengannya saat ini, dengan memintanya kesini”, tanyaku lagi.

.

 

Yunji tersenyum, lalu meletakkan sendoknya di dalam mangkuk. “Karena kau tidak menginginkannya”, jawab Yunji sambil menatap tepat ke mataku. Suaranya pelan seperti berbisik, tapi masih memiliki kekuatan dalam nadanya.

 

.

Aku dibuat tersentak oleh perkataannya. Seolah Yunji sedang mengatakan isi kepalaku dengan keras didepan wajahku. Tatapannya seolah mengatakan betapa pengecutnya diriku karena tidak bisa mengungkapkan kalimat yang begitu mudah itu. Senyum diwajahnya memudar dengan cepat, digantikan dengan ekspresi datar yang menyembunyikan banyak arti. “Aku? Aku tidak pernah berkata seperti itu”, kataku mencoba menyangkal setelahnya.

.

 

Senyuman tipis kembali tergambar diwajahnya. “Benar. Kau tidak mengatakannya. Kau melakukannya”, kata Yunji.

 

.

“Kapan? Aku tidak melakukan apapun”, kataku masih mencoba untuk menyangkal ucapan Yunji tentangku, yang mungkin saja benar.

.

 

“Kau tahu, Cho Kyuhyun? Kau tidak menunjukkan semangat yang cukup besar dalam mengungkapkan keinginanmu untuk makan samgyetang”, kata Yunji yang kembali menjelaskan sikapku dengan sangat berterus terang. Siapa yang sedang kau coba bohongi? Tadi aku sudah melihat Lee Donghae sebelum kau mengganti posisimu, saat kita keluar dari lobby. Saat itu aku menyadarinya, ‘ah… kau tidak ingin bertemu dengannya’, begitu pikirku. Aku bisa saja memanggilnya. Tapi tidak aku lakukan. Karena aku pikir kau tidak menginginkannya, sambung Yunji menjelaskan alasan dibalik sikapnya pada Donghae yang sempat ku pertanyakan dalam pikiranku.

 

.

Ia benar. Semua yang Yunji katakan benar. Aku memang tidak menginginkannya. Meski aku tidak bisa menemukan alasan atas semua sikapku, tapi aku rasa aku tahu akan satu hal. Ini bukan tentangku. Aku tidak melakukan semua hal diluar akal sehatku ini untuk diriku sendiri. Aku tidak memiliki hubungan maupun kepentingan apapun dengan laki-laki bernama Lee Donghae. Aku banyak tidak benar-benar mengenalnya. Namun sesuatu dalam diriku merasa tidak nyaman dengan keberadaannya disekitar Yunji. Aku tidak seharusnya merasa terancam akan hal itu. Dia bukan siapa-siapa. Tapi begitu pula denganku. Aku juga bukan siapa-siapa. Aku tidak punya alasan apapun untuk mendasari sikapku ini.

.

 

“Aku sempat berpikir kau justru sedang menghindarkanku darinya”, sambung Yunji.

 

.

Ya. Kau benar. Itu tujuan sebenarnya. Yunji mengetahuinya dengan baik. Hal yang bahkan tidak bisa ku nyatakan dengan mudah. Ia mengatakan semuanya tepat dihadapanku. Tidak ada keraguan dalam setiap kata yang diucapkannya. Ia merasa cukup yakin dengan setiap pernyataan yang keluar dari bibirnya. Tatapannya pun tidak menunjukkan adanya pertanyaan lain atas sikapku. Seolah ia sudah memahaminya, bahkan melebihi diriku sendiri. Tubuhku meremang dalam diam. Ada getaran yang menggelitik isi perutku, menimbulkan perasaan tidak nyaman yang sedikit mengganggu. Aku hanya bisa menghela napasku setelahnya. Aku kembali meraih gagang sendokku, lalu menggerakkannya seolah aku ingin menggunakannya untuk melanjutkan kegiatan makanku. Sesungguhnya aku sudah tidak benar-benar bisa berkonsentrasi pada makanan disaat seperti ini.

.

 

“Hhh… Ternyata ini rasanya...” kataku dengan suara rendah. Kau benar. Menakutkan. Kita bisa saling membaca satu sama lain dengan mudah. Terlalu mudah hingga membuatku tidak merasa terkejut saat kenyataan itu ku sadari untuk kesekian kalinya”, sambungku.

 

.

Ada sebuah desisan yang terdengar oleh indera pendengaranku. Lalu suara dentingan sendok logam yang menyentuh pinggiran mangkuk terdengar setelahnya. Yunji sudah kembali ke samgyetang di mangkuknya. “Benar. Apa kau juga merasa aneh akan hal itu?” tanya Yunji.

.

 

Ini lebih dari sekedar aneh. Tapi aku tidak bisa menemukan kosakata apapun di kamus terbatas dalam otakku untuk menggantikan kata itu. “Aneh? Sepertimu?” tanyaku dengan nada bercanda, mencoba meringankan suasana diantara kami.

 

.

“Kau sama anehnya, Cho Kyuhyun”, balas Yunji dengan tawa kecil yang menyertai ucapannya.

.

 

Begitu mudah menenangkan atmosfer diantara kami. Hawa menegangkan dengan pembicaraan serius bisa berubah dengan cepat hanya dengan mengalihkan sedikit pembicaraan. Kami pun tidak pernah menyatakan keberatan atas pengalihan topik pembicaraan yang kami lakukan. Situasi kembali seperti adanya, tanpa perlu memikirkan hal lain. Semangat makan Yunji juga kembali dengan cepat. Seolah tidak pernah ada pembicaraan apapun diantara kami. Seolah tidak ada kebenaran yang baru saja terungkap diantara kami. Aku sempat tertegun dengan kemampuannya mengenal diriku yang tersembunyi. Namun hal itu tidak lantas membuatku merasa risih atau terganggu. Yunji selalu mampu membuat suasana diantara kami tetap pada jalurnya.

 

.

Aku merasakan getaran kuat di saku celanaku. Kini giliran ponselku yang menunjukkan tanda ada sebuah panggilan yang ditujukan padaku. Aku segera mengeluarkan ponsel dari saku. Nama Ahra nuna muncul di layar ponselku. Aku bisa merasakan keningku yang sontak berkerut karena heran. Tidak biasanya. Ahra nuna tidak pernah meneleponku di pagi hari sebelumnya. Meski aku tidak kembali ke rumah beberapa hari pun, Ahra nuna sangat jarang bertanya padaku akan hal itu. Aku pun menyentuh panel hijau di layar ponselku dan menggesernya dengan cepat. Kemudian mendekatkan ponsel ke telingaku.

.

 

“Eo, nuna…” sapaku padanya. Mata Yunji sontak menatapku, kemudian diikuti dengan senyuman manis diwajahnya. “Ada apa?”

 

.

Aku dengar kau tidak pulang ke rumah tadi malam”, kata Ahra nuna.

.

 

“Begitupun dengan nuna”, balasku. Yunji sudah kembali disibukkan dengan samgyetang miliknya.

 

.

Ya! Aku bekerja di rumah sakit”, kata Ahra nuna memberikan pembelaan pada dirinya. “Bagaimana denganmu? Apa alasanmu?

.

 

“Aku tertidur di perpustakaan”, jawabku jujur. Senyum Yunji kembali mengembang, seolah akhirnya mengetahui alasan dibalik panggilan telepon yang dilakukan Ahra nuna.

 

.

Hhh… Kau bercanda…” kata Ahra nuna mengutarakan ketidakpercayaannya pada ucapanku. “Kau bilang tidur di perpustakaan? Dan aku harus mempercayainya?

.

 

“Eo! Tentu saja! Aku tidak berbohong”, jawabku dengan penekanan dalam kata-kata yang ku ucapkan.

 

.

Jadi, kau bukan bersama seorang gadis, tapi tidur di perpustakaan?” tanya Ahra nuna lagi. Aku sempat merasa sangat malas untuk menanggapinya. Namun saraf diotakku baru saja menangkap sebuah kata yang diucapkan nuna. Gadis? Maksudnya Yunji? Bagaimana……

.

 

“Bagaimana nuna bisa tahu aku bersama seorang gadis?” tanyaku akhirnya. Yunji mengangkat wajahnya, kembali menatapku. Kini ada sebuah kerutan kecil di keningnya. “Em… Maksudku, sekarang aku memang sedang bersama seorang gadis. Tapi semalam aku benar-benar tidur di perpustakaan”, kataku mencoba meluruskan pertanyaanku sebelumnya yang mungkin terdengar ambigu.

 

.

Aku sedang melihat kalian berdua saat ini”, jawab Ahra nuna dengan nada riang khasnya. “Aku baru keluar dari toko roti di seberang jalan saat melihat kepala besarmu di kejauhan”, sambung Ahra nuna.

.

 

“Toko roti seberang jalan?” tanyaku mengulangi. Yunji menoleh perlahan ke tempat yang baru saja ku ucapkan.

 

.

Aku jadi penasaran dengan wajah gadis itu. Sepertinya cantik. Wajahnya tidak terlihat jelas dari sini. Haruskah aku kesana menghampiri kalian?”, tanya Ahra nuna.

.

 

“Apa yang nuna lakukan di daerah ini?” tanyaku cepat, mengalihkan pembicaraan.

 

.

Ekspresi diwajah Yunji terlihat datar, tanpa kekhawatiran yang berarti. Yunji bahkan tersenyum saat kembali mengarahkan tatapannya padaku. Pembicaraanku dengan Ahra nuna memberi kesan lucu pada Yunji yang menunjukkan senyum lebar padaku setelahnya. Beruntung karena kaca pembatas rumah makan ini tertutup sebagian, jadi nuna hanya bisa melihat mata Yunji dari kejauhan. Tapi tiba-tiba sinar dimata Yunji sontak menghilang. Air muka Yunji yang semula tenang dan ceria seketika berubah muram. Perubahan emosi yang kembali mengejutkanku. Aku tidak pernah memiliki prediksi apapun atas perubahan emosi pada diri Yunji. Kini ada kecemasan dan kerisauan yang muncul dari bahasa tubuhnya. Yunji kembali menoleh ke arah Ahra nuna dengan perlahan. Seolah ia ingin memastikan sesuatu yang ia lihat sebelumnya. Kerutan di keningnya terlihat jelas dan dalam. Helaan napasnya yang berat juga terdengar di telingaku.

.

 

Tentu saja membeli roti. Kau tidak dengar kataku tadi?” kata Ahra nuna dengan tawa kecil yang menyertai ucapannya. “Tapi sepertinya sekarang aku punya tujuan lain. Aku ingin bertemu dengan gadis yang sedang dikencani adikku. Aku tidak akan bersikap buruk padanya”, kata Ahra nuna.

 

.

“Dia bukan [kekasihku]. Jangan berpikir yang tidak-tidak”, kataku.

.

 

Kalau begitu aku hanya akan bertemu dengan teman adikku. Apa aku juga tidak boleh melakukan itu?” tanya Ahra nuna tetap pada keinginannya untuk datang.

 

.

“Ah, nuna… Ada apa denganmu? Tidak perlu. Untuk apa kau datang kesini?” protesku. Tiba-tiba Yunji menggenggam tanganku. Begitu kencang hingga mengejutkanku. Tatapan kami bertemu. Aku tertegun saat menatap kedua mata yang memancarkan kegelisahan itu. Aku belum pernah melihat tatapan mata ini sebelumnya. Yunji tidak pernah memberikan tatapan ini pada siapapun. Yunji menggeleng cepat padaku setelahnya. Seolah memohon padaku untuk mencegah kedatangan Ahra nuna. Bibirnya bergerak pelan, mengatakan kata ‘tolong’ tanpa suara. Ia mengulangi kata itu lagi setelahnya, menekankan permohonannya. “Aku akan memperkenalkannya padamu suatu saat nanti, nuna. Tapi tidak sekarang. Tolong, mengertilah…” sambungku.

.

 

Baiklah, jika kau berkata begitu. Tapi, kau benar-benar harus memperkenalkannya padaku saat kau sudah benar-benar berkencan dengannya. Kau mengerti?

 

.

“Eo… Aku mengerti”, kataku menyetujui. Tatapanku masih terpaku pada kedua mata Yunji yang juga menatapku dengan tatapan penuh dengan hal tersembunyi.

.

 

Baiklah. Aku harus kembali ke rumah sakit. Aku masih harus menangani sebuah operasi jam 10 nanti. Nikmati sarapanmu dan kembali ke rumah”, kata Ahra nuna berpesan padaku.

 

.

“Hm…” jawabku dengan bergumam.

.

 

Sambungan telepon terputus setelahnya. Meninggalkan aku dan Yunji yang masih saling menatap dalam diam. Yunji menghela napas panjang, lalu menundukkan kepalanya sambil memejamkan mata. Tanganku masih berada dalam genggamannya. Ia belum melonggarkan genggaman itu sejak tadi. Sebuah helaan napas berat kembali ku dengar dari Yunji, diikuti dengan dehaman setelahnya. Aku masih berada di titik buta. Aku tidak mempunyai gambaran, dugaan, atau perkiraan apapun atas sikap Yunji. Hanya ada satu objek diantara kami beberapa saat yang lalu, Ahra nuna. Tapi, Yunji bahkan tidak mengenal Ahra nuna. Yunji terlihat santai sebelumnya. Ia tersenyum saat melihat Ahra nuna yang berdiri di seberang jalan. Lalu sikap, ekspresi, dan bahasa tubuhnya berubah seketika. Semua ini berawal dari perubahan emosinya. Yunji melepaskan genggamannya ditanganku, lalu menjalankan jari-jari panjangnya di rambut hitamnya yang halus. Tangan itu berhenti di tengkuknya, meremas pelan disana. Matanya terpejam, seolah sedang menghilangkan bayangan buruk di kepalanya.

 

.

Seolah baru saja mendapatkan pukulan keras menggunakan tongkat baseball di kepala, aku menyadarinya. Ini bukan tentang Ahra nuna. Yunji tidak bersikap seperti ini karena keberadaan Ahra nuna. Yunji bahkan sempat tersenyum saat mengetahui keberadaan nuna di seberang jalan. Senyum di bibir Yunji menghilang saat kedua matanya menemukan objek lain untuk dilihat. Sosok seseorang yang membuat air mukanya berubah dengan cepat. Seorang perempuan juga berada disana, bersama Ahra nuna. Perempuan dengan penampilan luar biasa mempesona, meski dengan pakaian dokter dan wajah tanpa riasannya. Seketika aku mendapatkan keyakinan bahwa perempuan itu adalah penyebab dari perubahan emosi Yunji. Ekspresi Yunji tiba-tiba saja berubah saat kedua matanya menangkap sosok itu. Raut wajah cerianya menjadi muram dalam waktu singkat.

 

.

Entah kenapa aku merasa wajah perempuan itu begitu familiar. Wajah itu terasa tidak asing dalam ingatanku. Aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Aku mengalihkan pandanganku dari Yunji untuk mencoba menggali ingatanku. Saat aku kembali mengalihkan pandanganku pada Yunji, tatapan kami bertemu. Aku dapat merasakan sepersekian detik keterkejutan Yunji pada tatapanku yang tiba-tiba tertuju padanya. Ia tersentak, terlihat dari kelopak matanya yang bergerak membesar. Lalu Yunji memberikan senyum tipisnya padaku, seolah mengatakan bahwa saat ini ia sudah baik-baik saja. Ia mencoba meyakinkanku dengan senyuman dan tatapan lembut yang ia berikan. Itu dia. Aku menemukannya. Aku tidak pernah bertemu dengan perempuan itu. Aku hanya sering melihat wajah dengan ciri serupa. Aku tidak benar-benar yakin dengan dugaanku. Hanya saja ada keyakinan dalam hatiku yang menyatakan satu kemungkinan dalam hal ini. Aku selalu tahu bahwa Yunji sedang menyembunyikan sesuatu dibalik semua hal yang ditunjukkannya pada orang lain. Aku pun mengetahui bahwa statusnya merupakan salah satu hal yang ia sembunyikan. Beberapa saat yang lalu di apartment pun, Yunji dengan jelas mengatakan bahwa ia menolak setiap panggilan dari keluarganya. Dugaanku pun semakin kuat. Seorang perempuan yang berdiri di seberang jalan mampu mengubah suasana hati Yunji dengan cepat. Mereka memiliki ciri serupa dalam diri mereka berdua.

.

 

Dia pasti Kwon Yuri. Kakak perempuan Yunji. Aku pernah melihat profilnya di majalah bisnis yang menulis artikel tentang keluarga pengusaha Kwon Daeyoung. Yunji juga berada dalam majalah yang diterbitkan hanya untuk kalangan terbatas itu. Ada seorang perempuan lain dalam foto keluarga itu. Aku sangat yakin ia adalah perempuan yang sama. Kwon Yuri. Kakak perempuan Yunji yang bekerja sebagai dokter bedah estetik di rumah sakit yang sama dengan Ahra nuna. Aku juga pernah mendengar nuna menyebut namanya saat sedang menerima panggilan telepon di rumah. Nuna pernah mengatakan ada seorang junior yang sangat membanggakannya. Aku yakin junior yang dibicarakan nuna adalah perempuan yang sama. Tapi kenapa Yunji terlihat seolah tidak menyukainya?

.

 

.

.

Author’s POV

At Y University

.

Kelas siang yang dihadiri Yunji sudah berakhir satu jam yang lalu, namun Yunji belum berniat untuk kembali ke apartment. Ia ingin menghabiskan waktu lebih lama berada diluar tembok-tembok pembatas yang menyembunyikan dirinya. Ia ingin merasakan angin yang menyentuh kulitnya lebih lama lagi. Karena itu, Yunji datang ke salah satu taman air yang berada tidak jauh dari gedung fakultasnya. Tidak terlalu banyak mahasiswa yang berkunjung kesana. Hanya mereka yang butuh ketenangan yang akan terlihat mengunjungi taman itu. Yunji termasuk salah satu diantaranya. Kehidupannya begitu ramai akhir-akhir ini. Terlalu banyak suara yang ia dengar, terlalu banyak hal yang ia lihat. Yunji ingin mengembalikan ketenangan dirinya ke garis awal, menyegarkan pikirannya dari semua hal yang memusingkan.

.

 

Kedua sahabat Yunji, Yura dan Sooyoung, sedang berada di kelas mereka masing-masing. Jadwal ketiganya tidak selalu sama. Ada kalanya Yunji harus menerima kesendiriannya. Namun Yunji tidak sendiri. Ada Lee Donghae yang duduk bersamanya di taman itu. Keduanya bertemu di trotoar sesaat setelah Yunji keluar dari lobby gedung. Keduanya duduk dalam diam di taman yang sejuk itu. Yunji menopang tubuhnya dengan kedua tangannya. Kakinya dibiarkan menjulur membentuk garis lurus menyentuh rerumputan. Yunji memejamkan mata dan menengadahkan kepalanya, menikmati sinar matahari sore hari yang menyentuh permukaan kulit wajahnya. Terdengar helaan napas panjang dari Yunji yang masih bertahan dengan posisinya selama lebih dari 10 menit. Sementara Donghae sedang disibukkan dengan kamera ditangannya. Ia sudah mengabadikan puluhan objek yang menarik perhatiannya. Mulai dari daun-daun yang bergerak karena sentuhan angin, bunga bakung yang sedang bertumbuh, hingga tarian burung pelican yang begitu lincah menyentuh permukaan air di danau. Tentu saja Donghae tidak akan melewatkan objek yang berada tepat disebelah kirinya. Yunji selalu menjadi sasaran lensa kameranya, meski apapun yang sedang dilakukan Yunji.

.

 

Sesaat setelahnya, Yunji membuka matanya lalu menegakkan posisi tubuhnya. Ia menekuk kedua kakinya, lalu menyentuhkan tangannya ke ujung kakinya. Yunji membuka sneakers yang dikenakannya, beserta dengan kaus kakinya yang berwarna mint. Yunji bangkit berdiri, berjalan diatas rerumputan yang terasa hangat akibat paparan sinar matahari yang belum menghilang. Yunji berjalan tanpa tujuan, ke kanan dan kiri, barat dan timur, hingga membentuk sebuah putaran. Sebuah senyum pun terkembang diwajah Donghae saat menyaksikan Yunji. Ia mengarahkan lensa kameranya pada Yunji beberapa kali, menangkap moment mempesona yang diperlihatkan Yunji secara cuma-cuma. Yunji menggerakan tangannya menjauh dari sisi tubuhnya, seolah sedang menyapa angin yang berhembus pelan. Yunji kembali memejamkan mata dan menengadahkan kepalanya, membiarkan sinar matahari yang sudah berada di sebelah barat menyentuh wajahnya.

 

.

“Kakimu tidak terasa panas?” tanya Donghae, membuat Yunji membuka mata dan menoleh padanya.

.

 

“Sedikit. Tidak terlalu menyakitkan”, jawab Yunji dengan senyum diwajahnya.

 

.

“Telapak kakimu akan kasar setelahnya”, kata Donghae mengingatkan.

.

 

“Aku bisa merawat mereka [telapak kaki] setelahnya”, balas Yunji dengan senyumnya yang melebar. Yunji mengalihkan pandangannya lagi setelahnya.

 

.

“Aku sedang mengambil fotomu”, kata Donghae yang kembali mengarahkan lensa kameranya pada Yunji.

.

 

“Kau selalu melakukannya. Untuk apa kau mengatakannya lagi?” kata Yunji sambil tertawa kecil.

 

.

“Hanya memberitahumu. Meminta ijin secara tidak langsung”, jawab Donghae yang ikut tertawa bersama Yunji. Donghae membuka folder foto yang telah tersimpan di kameranya, memeriksanya satu persatu. “Kau tidak sedang berada dalam keadaan mood yang baik”, kata Donghae mengungkapkan kesimpulan yang didapatkannya setelah melihat beberapa foto yang ia dapatkan.

.

 

“Begitulah…” kata Yunji memberikan jeda pada ucapannya. “Tidak terlalu baik”, sambung Yunji.

 

.

“Jika aku menanyakan alasannya, kau tidak akan mengatakan apapun padaku, bukan?” tanya Donghae yang menatap Yunji dari tempatnya duduk.

.

 

Yunji menoleh pada Donghae, kemudian tersenyum dan menggeleng pelan. “Tidak. Maaf…”

 

.

“Aku tahu. Kau tidak perlu meminta maaf. Aku bertanya hanya karena memikirkan kemungkinan kau akan mengubah pikiranmu untuk memberitahuku. Ternyata belum saatnya”, kata Donghae yang juga tersenyum pada Yunji.

.

 

“Hhh… Aku tidak mengubah pikiranku dengan mudah, Lee Donghae”, ujar Yunji.

 

.

“Tentu saja. Aku sangat mengetahuinya”, kata Donghae setuju dengan ucapan Yunji.

.

 

“Bagaimana kabar Yoona?” tanya Yunji mengalihkan topik pembicaraan mereka. Yunji tidak ingin membicarakan hal yang sedang ia coba redam.

 

.

“Kenapa kita harus membicarakannya?” Donghae balas bertanya dengan nada keberatan dalam suaranya.

.

 

“Kenapa? Tidak ada yang salah dengan itu. Aku hanya memberikan sebuah pertanyaan. Aku pikir itu adalah pertanyaan yang sangat umum. Kau bisa menjawabnya, atau tidak”, kata Yunji. “Intensi dalam pertanyaan itu akan berbeda jika aku mengatakan bahwa aku masih berpikir kalian adalah pasangan yang serasi. Sayang sekali jika hubungan kalian berakhir begitu saja”.

 

.

“Dia sudah berbohong padaku, Yunji-ya”, kata Donghae dengan ekspresi datar diwajahnya.

.

 

“Setiap orang pasti pernah melakukannya [berbohong], Lee Donghae. Tentu dengan intensitas dan berat yang berbeda. Siapa yang tidak [berbohong]? Bahkan aku yakin kau pun melakukannya. Apapun alasannya”, kata Yunji.

 

.

“Aku belum bisa memaafkannya. Dia membuatku sangat kecewa dengan sikapnya”, ujar Donghae. “Kami sudah selesai. Cerita kami telah berakhir. Itu adalah alasan yang cukup kuat untuk tidak membicarakannya lagi”, sambung Donghae yang mengakhiri topik pembicaraan tentang mantan kekasihnya, Yoona.

.

 

“Hhh… Baiklah. Aku mengerti. Case closed!” kata Yunji sambil tertawa kecil.

 

.

Donghae berdesis sebelum ikut tertawa bersama Yunji. Namun tawa Yunji justru mereda sesaat setelahnya. Yunji merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya yang bergetar. Senyum Yunji kembali mengembang saat ia menatap layar ponselnya yang menunjukkan nama orang yang sedang menghubunginya. Yunji kembali melangkahkan kakinya sambil menekan panel hijau yang ada di layar ponselnya. Nama yang disebutkan oleh Yunji sesaat setelah ponsel berwarna putih itu mendekat ke telinganya membuat Donghae mengerutkan keningnya sambil menatap Yunji.

.

 

“Eo, Kyuhyun-ah?” sapa Yunji.

 

.

Yunji-ya, kau sedang berada dimana saat ini?” tanya Kyuhyun diseberang telepon.

.

 

“Aku masih di kampus. Ada apa?” jawab Yunji.

 

.

Tidak ada hal yang penting. Aku hanya ingin meminta ijin untuk masuk ke apartmentmu. Sepertinya charger ponselku tertinggal di kamarmu”, kata Kyuhyun menjelaskan.

.

 

“Ah… Masuk saja. Tidak apa”, kata Yunji memberikan ijinnya. “Kau dimana? Masih berada di kampus?” tanya Yunji setelahnya.

 

.

Tidak. Aku sudah berada di tempat parkir gedung apartment mu”, jawab Kyuhyun.

.

 

“Begitu… Hm… Aku bisa kembali jika kau ingin menungguku”, kata Yunji.

 

.

Tidak perlu. Aku tidak ingin mengganggumu. Kau teruskan saja kegiatanmu. Aku hanya ingin mengambil charger ku”, kata Kyuhyun.

.

 

“Eo? Jadi kau melarangku kembali ke apartment?” tanya Yunji dengan nada bergurau.

 

.

Tidak. Bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin mengganggumu. Baiklah, aku akan menunggumu”, kata Kyuhyun yang sempat tertawa kecil dengan gurauan Yunji.

.

 

“Jangan tunggu di lobby atau didepan pintu”, pinta Yunji, bersamaan dengan bunyi tombol kombinasi angka yang terdengar di telinga Yunji.

 

.

Hhh… Kau dengar itu? Aku baru saja membuka pintu apartmentmu”, kata Kyuhyun memperjelas posisinya.

.

Good boy. Ada beberapa makanan di lemari es yang bisa dihangatkan. Jangan sungkan untuk memakannya. Dan kau tidak perlu khawatir, semua makanan itu belum basi”, kata Yunji sambil berjalan menuju bangku batu yang diduduki oleh Donghae.

.

 

Aku tetap akan memeriksa tanggal kadaluarsanya untuk berjaga-jaga”, kata Kyuhyun dengan tawa kecil yang menyertai ucapannya.

 

.

“Hhh… Eo… Silakan periksa semuanya, Cho Kyuhyun-ssi. Jangan lewatkan satu makanan pun”, kata Yunji sambil meraih tasnya.

.

 

Yunji memasukkan kaus kaki ke dalam tasnya, lalu mengenakan sneakernya dengan cepat. Ia melambaikan tangannya pada Donghae untuk berpamitan setelahnya. Yunji berjalan menjauh dari Donghae yang menatapnya dengan tatapan tajam. Suasana hati Donghae sontak berubah sesaat setelah mendengar nama yang disebut oleh Yunji. Donghae tidak mengenal laki-laki yang bernama Cho Kyuhyun itu. Donghae hanya mengetahui satu hal, ada perubahan dalam diri Yunji setelah bertemu dengan laki-laki itu. Bukan perubahan yang buruk, namun tidak bisa disebut baik untuk Donghae.

 

.

Laksanakan, kapten!” kata Kyuhyun menanggapi ucapan Yunji. “Eo! Yunji-ya…

.

 

“Kenapa?” tanya Yunji.

 

.

Kau sudah sampai? Cepat sekali…” jawab Kyuhyun.

.

 

“Apa yang kau katakan? Aku masih di kampus, sedang berjalan keluar dari taman belakang yang luas”, jawab Yunji.

 

.

Lalu, siapa yang……” ucapan Kyuhyun terhenti, membuat langkah Yunji ikut melambat karenanya. “Eo! Password yang dimasukkan salah. Siapa itu?” sambung Kyuhyun seolah bicara pada dirinya sendiri.

.

 

“Apa yang terjadi, Cho Kyuhyun? Tolong jelaskan padaku”, pinta Yunji.

 

.

Ada seseorang yang sedang mencoba masuk ke apartmentmu. Sepertinya dia bukan orang asing. Karena dia tidak membunyikan bel. Tapi password yang dimasukkannya salah. Aku sedang berjalan menuju intercom untuk memeriksanya”, kata Kyuhyun menjelaskan.

.

 

“Apa? Siapa yang……” ucapan Yunji pun terhenti seketika.

 

.

“Yunji-ya! Ini eomma!” seru suara seorang wanita yang terdengar dari seberang telepon. Langkah Yunji benar-benar terhenti kali ini. Matanya melebar dan napasnya sempat tercekat saat mendengar suara wanita yang menyebut dirinya eomma.

.

 

Yunji-ya… Eomma……” kata Kyuhyun dengan suara pelan.

 

.

“Jangan buka pintunya, Cho Kyuhyun. Biarkan saja. Aku akan datang secepatnya”, kata Yunji yang kini mempercepat langkah kakinya. Yunji melangkah setengah berlari menuju gerbang terdekat dari posisinya. “Masuklah ke kamarku, lalu kunci pintunya. Dia pasti akan menghubungi petugas keamanan untuk membukakan pintu apartmentku. Jangan lakukan apapun setelahnya”, kata Yunji.

.

 

Baiklah. Aku mengerti”, kata Kyuhyun dengan suara berbisik.

 

.

.

At Yunji’s Apartment

.

Sambungan telepon keduanya terputus. Kyuhyun segera melakukan apa yang diminta oleh Yunji. Ia mengambil sneakers dan membawanya masuk ke kamar Yunji, lalu mengunci pintunya. Sementara Yunji terus saja berlari menyusuri trotoar menuju apartment nya yang berjarak tidak terlalu jauh dari kampusnya. Dugaan Yunji benar-benar terjadi. Ibunya memanggil petugas keamanan untuk membukakan pintu apartment Yunji. Ia masuk dengan mudah setelahnya. Seorang wanita paruh baya dengan penampilan memukau layaknya istri pengusaha kebanyakan. Ia mengenakan setelan blazer dan celana panjang berwarna fuscia, dengan blouse putih di dalam blazernya. Stiletto 10 sentinya digantikan dengan sandal dalam rumah milik Yunji. Ia meletakkan tas Channel nya di sofa ruang tv, lalu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Wanita anggun itu pun melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia membuka lemari es, kemudian mengeluarkan botol jus jeruk dari dalam. Ia menuangkan jus jeruk itu ke salah satu gelas yang berada di meja makan. Suara tombol password pun terdengar setelah satu teguk jus jeruk melalui tenggorokan ibu Yunji. Langkah tergesa terdengar setelahnya. Ibu Yunji meletakkan gelasnya di meja. Ada sebuah senyum tipis dibibirnya. Ia melangkah kembali ke ruang tv, menemukan Yunji yang menatapnya dengan ekspresi datar diwajahnya, namun mata Yunji memberikan tatapan tajam yang menandakan ketidaksukaannya pada kehadiran wanita itu disana.

.

 

“Kau sudah pulang?” tanya Nyonya Kwon dengan nada tenang khasnya.

 

.

“Apa alasan dari kunjungan tak diharapkan eomma kali ini?” tanya Yunji tanpa menjawab pertanyaan ibunya.

.

 

“Apa eomma tidak boleh mengunjungi anak perempuan termuda eomma? Eomma merindukanmu, Yunji-ya” jawab Nyonya Kwon.

 

.

“Hhh… Dan aku harus mempercayainya? Begitu?” tanya Yunji. “Sudahlah, eomma. Katakan saja. Apa yang membuat eomma harus menyiakan waktu berharga eomma hanya untuk datang kesini?”

.

 

“Sebuah pesta akan diadakan di rumah besok. Kau harus berada disana”, kata Nyonya Kwon yang akhirnya mengatakan alasannya datang ke apartment Yunji.

 

.

“Aku harus datang sebagai apa, eomma?” tanya Yunji.

.

 

“Hhh… Kau yang menentukannya. Kau tahu eomma selalu memberikan kebebasan untukmu, bukan? Anyway, kau harus datang pukul 3. Eomma harus memilihkan gaun untukmu, lalu memberikan riasan diwajah cantikmu itu”, jawab Nyonya Kwon.

 

.

“Dan bagaimana jika aku menolak untuk datang?” tanya Yunji.

.

 

“Kau tidak diberikan pilihan untuk itu”, jawab Nyonya Kwon yang tersenyum tipis.

 

.

“Aku tidak ingin datang…atas alasan apapun”, kata Yunji.

.

 

 

.

.

 

 

.

TBC

 

Note:

Halo, readersnimdeul! Bagaimana kabar kalian?

Aku tidak akan pernah bosan untuk bertanya, bagaimana pendapat kalian dengan part ini? Membosankan? Membingungkan? Terlalu berat? Aku minta maaf jika kalian merasa seperti itu. Aku sudah berusaha membuat jalan cerita seringan mungkin. Memang, tetap ada rahasia yang masih belum terungkap, tapi aku akan selalu berusaha untuk menggunakan alur yang mudah diterima.

Satu tokoh kembali muncul di part ini. Yup! Kwon Yuri, kakak perempuan Yunji. Sikap Yunji yang berubah setelah melihat Yuri sekali lagi menjelaskan bahwa ada sesuatu yang terjadi di keluarga Kwon. Kedatangan Nyonya Kwon ke apartment Yunji pun mempertegas hal itu. Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya? Apa yang terjadi di keluarga Kwon? Apakah Yunji akan datang ke acara itu? Dan, bagaimana dengan sikap Kyuhyun setelah mendengar percakapan Yunji dan ibunya dari dalam kamar Yunji? Hm… masih banyak yang akan diungkap dari FF ini. Nantikan kelanjutannya ya! Kana pamit! Annyeonghigaseyo… Have a nice day!

Advertisements

18 thoughts on “It supposed to be me : Part 3

  1. agak heran juga sih liat sikap welcome yunji ke kyu, kenapa dia ngelakuin itu? padahal kyu cuma kawan sekolah jaman dulu, apa dulu mereka deket banget? tapi kyu aja lupa sama yunji. iya ini agaknya konflik keluarga, tapi tetep yaa di buat mikir sambil baca hahaha

    Like

  2. perselisihan antara keluarga, sebenarnya ada masalah apa yunji dengan keluarganya? kyu dan yunji juga seperti memiliki ikatan yang tak nampak namun kuat.
    aku langsung baca part ini dan blm baca part sebelumnya. ceritanya seru dan menarik. ditunggu kelanjutan critanya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s