I’m walking towards you : Part 15

Author: Okada Kana

Category: PG-18, Romance, Chapter

Cast:

Cho Kyuhyun, Lee Hyesoo (OC)

Kim Jaejoong, Kang Soyu, Kim Ryeowook, Lee Donghae

Im Yoona, Choi Sooyoung, Lee Hyeri, Lee Soohyuk, Suho

Irene, D.O, Wendy, Baekhyun, Changmin, Minho, Park Jungsoo, Choi Siwon, etc…

Disclaimer:

Caution! Cast dalam FF ini juga akan cukup banyak. Entah hanya sebagai cameo atau sebagai peran pendukung. Karena itu, fokuslah wahai para readers-nim. FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasia tau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com

Aku tidak bosan untuk selalu berpesan, jadilah pembaca yang baik dan sopan. Biasakan untuk tidak bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Karena aku yakin para readers adalah orang-orang yang terpelajar dan mengerti sopan santun. Benar? Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 14

“Kau ingin berhenti?”

“Aku merasa aku harus [berhenti]. Dia tersakiti karena mencintaiku”.

“Rasa sakit juga termasuk emosi yang ada didalam cinta. Keduanya berjalan berdampingan, saling bergandengan, menyamakan langkah satu sama lain”.

“Apa kau tetap berpikir Hyesoo akan menerimaku kembali?”

“Mungkin saja”.

————————-

“Apa yang sudah kau lakukan padaku, Cho Kyuhyun?”

Ada apa, Hyesoo-ya?

“Setelah semua hal yang kau lakukan padaku, kau bahkan masih menyakitiku dalam mimpiku”.

“Maafkan aku…”

“Jangan pergi…”

“Aku tidak akan kemanapun, Hyesoo-ya”.

————————-

“Keadaanmu jauh lebih baik pagi ini”.

“Sunbae bertemu dengan Hyesoo? Kau bersamanya semalam?”

“Benarkah? Akhirnya? Bagaimana?”

“Dia kembali padaku…”

“Apa yang kau lakukan padanya semalam?”

“Tentu saja aku meminta maaf padanya dan menenangkannya”.

“Michin saekki…”

————————-

“Bagaimana bisa kau menolak sekaligus menerimanya dalam hari yang sama?”

“Aku sangat keterlaluan. Aku tahu…”

“Lee Hyesoo, kau berkencan dengan siapa? Apakah pria itu juga seorang dokter?”

“Bukan urusanmu”.

“Pria yang berkencan dengan dokter Lee Hyesoo ada disini. Sayang sekali pria ini bukan seorang dokter”.

“Apakah kau menyadari bahwa ekspresi diwajahmu sangat konyol?”

“Aku tidak peduli. Aku sedang bahagia saat ini”.

————————-

“Aku tidak pernah seperti ini pada wanita lain. Kau yang pertama”.

“Aku harus senang mendengarnya?”

“Tentu saja. Kau selalu menjadi yang pertama. Bahkan satu-satunya bagiku”.

“Lee Hyesoo benar-benar beruntung, bukan?”

“Menikahlah denganku, Hyesoo-ya…”

————————–

.

.

I’m walking towards you : Part 15

.

.

Author’s POV

At Kyuhyun’s Apartment

BGM: Jung Jin Woon – You walking toward me

.

“Tidak. Aku tidak bisa…” jawab Hyesoo. “Maafkan aku…”

.

Kyuhyun tersentak mendengar jawaban yang diutarakan Hyesoo padanya. Napasnya sempat tercekat sepersekian detik karena terkejut. Kyuhyun tidak merasakan kekecewaan dalam dirinya. Kyuhyun sudah menduga sebelumnya bahwa Hyesoo tidak akan menerimanya. Permintaan yang Kyuhyun ajukan sangat tidak masuk akal, mengingat mereka baru saja kembali berhubungan. Karena itu, Kyuhyun tidak menaruh harapan apapun. Kyuhyun sangat mengetahui hal itu. Hanya saja Kyuhyun tidak menduga kalau Hyesoo akan menjawabnya dengan cepat. Terlebih jawaban yang diberikan Hyesoo berisikan sebuah penolakan, lengkap dengan ekspresi penuh keraguan diwajah Hyesoo. Kyuhyun bahkan tidak menduga dirinya merasa terkejut atas hal yang sudah ia duga sebelumnya. Namun setelahnya, senyum Kyuhyun justru mengembang, membuat kening Hyesoo berkerut karena merasa bingung. Kyuhyun meremas pelan tangan Hyesoo dalam genggamannya. Kemudian ia bergerak maju, mendekatkan posisi duduknya pada Hyesoo.

.

“Tidak. Tidak apa. Jangan meminta maaf. Kau tidak melakukan kesalahan apapun”, kata Kyuhyun meyakinkan Hyesoo.

.

“Aku… Aku tidak bisa memikirkan hal itu sekarang. Aku……”

.

“Hei… Aku mengerti”, kata Kyuhyun memotong ucapan Hyesoo yang merasa resah. “Sudah… Tidak perlu dipikirkan”, sambung Kyuhyun.

.

“Aku sudah menolakmu”, kata Hyesoo dengan suara pelan berbisik.

.

“Aku tahu. Lalu?” tanya Kyuhyun.

.

“Apakah kau akan meninggalkanku?” Hyesoo balas bertanya.

.

“Hhh…” Kyuhyun berdesis. Senyum kembali muncul diwajahnya. Kyuhyun menyatukan kedua tangan Hyesoo, lalu meletakkannya diatas lutut Hyesoo, mengecupnya singkat, dan menggelengkan kepala setelahnya.

.

“Jawab aku. Apakah kau akan meninggalkan aku?” desak Hyesoo dengan pertanyaannya.

.

“Apa yang kau katakan? Tidak akan. Aku tidak akan bertindak bodoh lagi, Hyesoo-ya” jawab Kyuhyun yang masih tersenyum.

.

“Meski aku tidak mau menikah denganmu?” tanya Hyesoo lagi.

.

“Apakah kau tidak mau menikah denganku karena kau ingin meninggalkanku?” Kyuhyun mengembalikan pertanyaan Hyesoo dengan pertanyaan serupa yang ia ajukan.

.

“Tidak. Tidak seperti itu”, jawab Hyesoo.

.

“Kalau begitu aku tidak akan melakukan apapun meski kau tidak mau menikah denganku. Semua sudah lebih dari cukup hanya dengan kau berada disisiku, Hyesoo-ya. Aku hanya takut kehilangan dirimu. Karena itu aku memintamu menikah denganku”, kata Kyuhyun menjelaskan.

.

“Aku tidak akan pergi kemanapun”, ujar Hyesoo.

.

“Aku tahu…” kata Kyuhyun sambil mengangguk cepat. “Lagipula aku tidak akan membiarkanmu pergi kemanapun”, sambung Kyuhyun.

.

Hyesoo menatap Kyuhyun dalam diam. Kekhawatiran terpancar dari tatapan matanya. Sikap Kyuhyun yang begitu tenang menghadapi penolakannya membuat Hyesoo merasakan keresahan yang tidak beralasan. Seharusnya Hyesoo merasa lega. Karena Kyuhyun mau mengerti keadaannya tanpa menuntut apapun dari Hyesoo. Bahkan Kyuhyun sudah meyakinkan Hyesoo bahwa tidak akan ada yang berubah meski Hyesoo sudah menolaknya. Namun Hyesoo tetap merasakan ketidaknyamanan dalam hatinya. Hal itu juga tidak serta merta dapat mengubah jawaban Hyesoo atas permintaan Kyuhyun. Karena bagi Hyesoo, saat ini hal yang paling ia butuhkan adalah waktu. Hyesoo membutuhkan waktu dengan segala ketenangannya, untuk berpikir dan memutuskan segala hal dengan baik. Kyuhyun yang menyadari keresahan Hyesoo kembali memberikan senyum lembutnya pada Hyesoo.

.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Kyuhyun.

.

“Kau menunjukkan sikap yang sangat baik padaku”, jawab Hyesoo.

.

“Apakah ada masalah dengan hal itu?” tanya Kyuhyun.

.

Hyesoo terdiam. Ia hanya menatap Kyuhyun tanpa menjawab pertanyaannya. Sesekali Hyesoo mengalihkan pandangannya ke tangan Kyuhyun yang masih menggenggam tangannya dengan lembut. Saat tatapan mereka kembali bertemu, Hyesoo dapat melihat kerutan di kening Kyuhyun yang seolah sedang meminta Hyesoo untuk menjawabnya. Namun Hyesoo tetap tidak mengatakan apapun padanya. Kemudian Hyesoo turun dari sofa untuk duduk dilantai bersama Kyuhyun. Hyesoo melepaskan genggaman tautan tangan mereka lalu berhambur ke pangkuan Kyuhyun. Hyesoo merangkulkan kedua tangannya di leher Kyuhyun dan memeluk tubuh Kyuhyun dengan erat.

.

“Kyuhyun-ah……” Hanya nama Kyuhyun yang keluar dari bibir Hyesoo yang memejamkan matanya.

.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun sambil membelai rambut Hyesoo.

.

“Jangan lakukan ini lagi padaku”, jawab Hyesoo dengan suara pelan.

.

“Apa yang ingin kau katakan sebenarnya, Hyesoo-ya? Tolong, buat aku mengerti”, pinta Kyuhyun.

.

“Terakhir kali kau bersikap sangat baik padaku, semuanya berakhir dengan kau meninggalkanku terluka. Aku belum siap merasakannya lagi”, jawab Hyesoo.

.

“Ssshh… Kenapa kau berpikir seperti itu? Hm?” Kyuhyun melepaskan pelukan Hyesoo, kemudian mengarahkan wajah Hyesoo sejajar dengannya. Tatapan mereka bertemu. Keresahan yang dirasakan Hyesoo begitu terlihat dari tatapan matanya, membuat kening Kyuhyun berkerut karenanya.

.

“Kau bersikap sangat baik, normal, dan tenang bahkan disaat aku baru saja menolakmu. Kau membuatku takut. Kilasan kejadian yang terjadi beberapa tahun yang lalu tiba-tiba saja muncul dalam pikiranku”, kata Hyesoo menjelaskan isi hatinya.

.

“Hyesoo-ya, dengar, percayalah padaku, beberapa saat yang lalu aku merasakan sedikit kekecewaan karena penolakanmu. Tapi aku tidak akan melakukan apapun karena itu. Ini bukan hal yang dapat dipaksakan. Kau membutuhkan waktu. Aku akan memahami itu. Dan semua kesalahan yang sudah aku lakukan padamu adalah tindakan paling bodoh dalam hidupku. Aku sudah menyesalinya. Aku tidak akan pernah melakukannya lagi. Aku bersikap baik padamu karena memang sejak awal aku begitu. Saat itu pikiranku hanya sedang sangat dikacaukan dengan hal yang tidak masuk akal dan konyol. Aku bersikap baik padamu sekarang bukan karena aku ingin meninggalkanmu lagi. Aku bersikap seperti ini karena kau pantas mendapatkannya, Hyesoo-ya. Aku juga ingin menebus semua kesalahanku padamu. Maafkan aku karena membuatmu meragukanku, Hyesoo-ya” kata Kyuhyun menjelaskan.

.

“Tidak, Kyuhyun-ah. Bukan salahmu. Aku yang merasa terlalu khawatir. Aku hanya tidak siap untuk hal itu lagi. Tidak sekarang. Tidak dalam waktu dekat. Dan akan membutuhkan waktu yang lebih lama untukku menyembuhkan lukanya jika hal itu benar-benar terjadi lagi padaku”, ujar Hyesoo.

.

“Tidak akan terjadi apapun padamu. Aku tidak akan kemanapun. Aku tetap disini, bersamamu. Meski apapun yang terjadi. Justru aku yang harus merelakannya jika kau ingin pergi dariku. Aku harus melakukan itu jika aku kembali menyakitimu”, balas Kyuhyun.

.

“Aku sudah pernah melakukannya, mencobanya. Kau menyaksikannya sendiri. Kita sama-sama merasakan penderitaannya. Tapi akhirnya aku tetap kembali. Hanya saja…… Pernikahan…… Tidak sekarang, Kyuhyun-ah……” kata Hyesoo.

.

I know, baby… Aku mengerti. Aku akan menunggu. Kau bisa menggunakan waktumu sampai kapanpun. Aku akan tetap menunggu”, kata Kyuhyun meyakinkan Hyesoo.

.

“Kau kembali bersikap terlalu baik padaku”, kata Hyesoo dengan nada bicaranya yang sudah kembali menunjukkan perbaikan mood dalam dirinya.

.

“Lalu apa yang harus aku lakukan agar kau bisa menerima sikapku dengan tenang?” tanya Kyuhyun.

.

“Kau memahamiku, mengabulkan permintaanku, dan memberikan waktu padaku. Tidakkah ada timbal balik yang kau inginkan untuk semua itu? Jika kau melakukannya dengan cuma-cuma, maka kau tidak terlihat seperti Cho Kyuhyun yang ku kenal”, kata Hyesoo dengan nada bicara riangnya.

.

“Hyesoo-ya, aku sudah tidak menginginkan apapun lagi sekarang. Kau kembali padaku, membutuhkanku, berada di pangkuanku……” ucapan Kyuhyun terputus karena sebuah senyum lebar mendesak muncul di bibirnya. Keriangan dalam nada bicara Hyesoo sudah menjalar padanya. “Semua itu sudah cukup bagiku. Sungguh”, sambung Kyuhyun.

.

“Tidak. Tidak. Kau harus membuat permintaan. Ajukan satu permintaan saja. Aku akan mencoba untuk mengabulkannya jika aku bisa”, desak Hyesoo yang disambut dengan gelengan kepala oleh Kyuhyun. “Oh, come on, big man! One wish. Hm?” bujuk Hyesoo.

.

“Baiklah. Aku akan mengajukan satu permintaan. Tapi, bisakah aku memikirkannya lebih dahulu? Aku akan memberitahukannya padamu setelah berpikir”, pinta Kyuhyun.

.

“Tidak. Aku bukan manusia luar biasa baik sepertimu. Seorang pria sudah menghilangkan sisi baik itu bertahun yang lalu. Aku tidak akan memberikan waktu padamu. Kau harus mengatakannya sekarang. Waktumu hanya satu menit”, kata Hyesoo.

.

“Satu menit? Kau tidak adil, nona Lee. Bagaimana bisa waktu yang sudah ku berikan padamu dibandingkan dengan satu menitmu?” kata Kyuhyun protes.

.

“Kau sudah menghabiskan waktu 20 detik mu, tuan Cho” kata Hyesoo mengingatkan.

.

“Baiklah. Baiklah. Aku punya satu permintaan”, kata Kyuhyun.

.

“Apa itu?” tanya Hyesoo.

.

“Dan kau akan mengabulkannya?” Kyuhyun balas bertanya.

.

“Sesuai dengan kemampuanku”, jawab Hyesoo.

.

“Kau sangat mampu”, balas Kyuhyun.

.

“Benarkah? Kalau begitu katakan”, kata Hyesoo.

.

“Tinggal bersamaku, Lee Hyesoo. Dimanapun yang kau inginkan, tapi bersamaku”, kata Kyuhyun mengutarakan permintaannya.

.

“Mwoya… Bukankah sama saja dengan permintaanmu sebelumnya?” protes Hyesoo.

.

“Tidak. Ini berbeda. Tidak ada ikatan dalam permintaan ini”, jawab Kyuhyun.

.

“Kyuhyun-ah, kau harus ingat dengan budaya di tempat kita tinggal saat ini. Kita belum menikah. Bagaimana bisa kita tinggal bersama?” tanya Hyesoo.

.

“Aku tahu. Aku sudah memintamu menikah denganku. Kau yang menolakku. Karena itu, aku memberikan waktu sebanyak apapun padamu untuk mempertimbangkan permintaanku. Tapi aku tidak ingin kau menjauh dariku. Aku merasa gundah disetiap waktuku tanpa kau bersamaku. Aku sangat mengetahui budaya disekitarku. Tapi tidak ada yang dirugikan jika kita tinggal bersama, bukan? Tidak ada pemaksaan maupun penculikan yang terjadi”, jawab Kyuhyun.

.

“Kita bisa bertemu setiap hari di rumah sakit. Kita berdua berada di tempat kerja yang sama. Setelahnya kita juga selalu bisa saling menginap seperti ini. Selama ini kita tidak menemukan kesulitan untuk bersama, bukan?” kata Hyesoo.

.

“Baiklah. Kita buat masalah ini menjadi lebih mudah”, kata Kyuhyun mencoba mempermudah pembicaraan diantara mereka. “Kau menolak lamaranku. Aku memberikan waktu padamu. Apakah kau akan meninggalkanku dalam jangka waktu tak terbatas yang ku berikan padamu?” tanya Kyuhyun setelahnya.

.

“Tidak. Aku sudah mengatakannya padamu tadi”, jawab Hyesoo.

.

“Apakah kita akan kembali berpisah?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Aku pikir tidak”, jawab Hyesoo.

.

“Aku juga berpikir begitu. Karena itu, apa salahnya jika kita tinggal bersama? Paling tidak kita bisa menganggapnya sebagai pengenalan sebelum suatu saat nanti kita benar-benar menikah. Kita bisa saling menyesuaikan diri dengan keberadaan satu sama lain. Kau bisa menumbuhkan keyakinanmu terhadapku. Dan aku tidak akan merasakan kegundahan lagi karena kau tidak berada disisiku. Kita berdua mendapatkan manfaatnya, bukan?” kata Kyuhyun mengutarakan pendapatnya.

.

Hyesoo tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun. Ia hanya menatap Kyuhyun dalam diam. Hyesoo memperhatikan wajah Kyuhyun, mencoba membaca semua hal yang tergambar disana. Hyesoo menemukan keyakinan, ketulusan dan kesungguhan dalam tatapan matanya. Hyesoo hampir tidak pernah menemukan Kyuhyun yang main-main dengan sikap dan ucapannya. Bahkan saat melakukan kesalahan yang ia anggap kebodohan, Kyuhyun tidak main-main dengan keinginannya membuat Hyesoo pergi darinya, meninggalkannya. Dalam kebungkamannya, Hyesoo memikirkan semua ucapan Kyuhyun. Hyesoo meyakinkan dirinya bahwa semua perkataan Kyuhyun tidaklah salah. Keraguan hanya sedang menyelimuti diri Hyesoo, membuatnya kurang dapat memberikan respon cepat pada apapun, selain pada pekerjaannya di rumah sakit.

.

“Sudah. Hentikan keheningan ini”, kata Kyuhyun sebelum Hyesoo mengatakan satu katapun. “Baiklah, aku menyerah. Kita tidak akan menikah. Bukan. Belum akan. Tidak sekarang atau dalam waktu dekat. Kau juga tidak perlu tinggal bersamaku. Kita kembali saja ke momen dimana aku mengatakan bahwa aku tidak menginginkan apapun. Semuanya sudah cukup hanya dengan keberadaanmu disisiku. Selesai. Tidak ada permintaan apapun dariku”, kata Kyuhyun dengan nada frustrasinya. Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari Hyesoo setelahnya.

.

Senyum Hyesoo mengembang. Keluhan yang diutarakan Kyuhyun terdengar seperti anak laki-laki yang sedang menggerutu karena permintaannya tidak dikabulkan. Perbedaannya hanya pada sikap Kyuhyun yang tidak menghentak-hentakkan kaki seperti seorang anak laki-laki. “Kau marah?” tanya Hyesoo.

.

“Tidak. Aku hanya mempermudah perdebatan yang tidak perlu menjadi rumit ini”, jawab Kyuhyun tanpa menatap Hyesoo.

.

“Kau menghindari tatapanku”, kata Hyesoo dengan tidak menyinggung perdebatan mereka sebelumnya.

.

“Kau tidak menanggapi pendapatku”, balas Kyuhyun.

.

“Kyuhyun-ah, kau benar-benar akan bersikap seperti ini padaku?” tanya Hyesoo mencoba meringankan suasana diantara mereka.

.

Kyuhyun pun menghela napas panjang. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum kembali menatap Hyesoo. Tidak ada ekspresi apapun yang terbaca dari wajah Kyuhyun. Ia hanya menatap tepat ke mata Hyesoo tanpa kata apapun yang terucap dari bibirnya. Kyuhyun bahkan tidak menjawab pertanyaan yang diberikan Hyesoo. Tapi sikap Kyuhyun tidak lantas membuat Hyesoo menyerah. Menurut Hyesoo, Kyuhyun tidak benar-benar sedang merajuk. Kyuhyun yang merajuk akan pergi menjauh dan mencari ketenangannya sendiri. Saat ini Hyesoo Kyuhyun masih berada di tempatnya. Hyesoo pun masih berada di pangkuan Kyuhyun. Hyesoo yakin Kyuhyun masih bisa dirayu dengan beberapa hal.

.

“Kau juga tidak menciumku”, kata Hyesoo lagi saat tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan Kyuhyun akan bicara padanya. Hyesoo menangkap ada perubahan diwajah Kyuhyun. Kedipan matanya sempat berhenti 3-4 detik saat mendengar ucapan Hyesoo. Sudut bibir Hyesoo hampir saja membentuk sebuah senyuman jika Hyesoo tidak segera menyadari bahwa saat ini ia sedang adu pertahanan dengan Kyuhyun.

.

I did. Everywhere you’ll never forget (Aku sudah melakukannya. Disetiap tempat yang tidak akan kau lupakan)”, kata Kyuhyun dengan suara beratnya berbisik.

.

You don’t……now (Kau tidak melakukannya…… sekarang)”, kata Hyesoo, tidak mau kalah dalam misinya menggoda Kyuhyun.

.

Should I? (Haruskah aku?)” tanya Kyuhyun yang memutuskan ikut dalam permainan Hyesoo.

.

Yes”, jawab Hyesoo dengan suara berbisiknya.

.

What if I don’t want to? (Bagaimana jika aku tidak ingin?)” tanya Kyuhyun masih bersikeras dengan peran merajuknya.

.

“Jadi, kau benar-benar akan bersikap sejauh itu padaku?” tanya Hyesoo yang sudah mulai tidak bisa bertahan dalam permainannya sendiri.

.

“Mungkin saja. Tergantung dengan keadaan”, jawab Kyuhyun santai.

.

Oh, damn you, Cho Kyuhyun! Baiklah! Aku akan mengabulkan permintaanmu!” seru Hyesoo yang menyerah dengan pertahanan Kyuhyun.

.

Sebuah senyuman sontak muncul diwajah Kyuhyun dengan mudah. Kyuhyun bahkan terkekeh setelahnya. “Baiklah kau akan menikah denganku?”

.

Whatever! Aku tidak akan menanggapimu lagi”, kata Hyesoo yang kini mengutarakan frustrasi dalam dirinya karena seorang Cho Kyuhyun. Hyesoo baru akan beranjak bangkit dari pangkuan Kyuhyun saat tubuh Hyesoo kembali ditarik oleh Kyuhyun ke dalam rengkuhannya.

.

“Kau masih berhutang sebuah ciuman padaku, Lee Hyesoo” kata Kyuhyun mengingatkan.

.

“Aku tidak mau”, jawab Hyesoo sambil memalingkan wajahnya dari Kyuhyun.

.

Senyum lebar kembali menghiasi wajah Kyuhyun. Tidak segera membiarkan Hyesoo melepaskan diri darinya, Kyuhyun justru melingkarkan tangannya di pinggang Hyesoo. “Baiklah. Tidak masalah”, kata Kyuhyun sambil bergerak mendekat pada Hyesoo. Sebuah kecupan lantas mendarat di bawah rahang kanan, batas teratas leher Hyesoo. “Aku saja yang memberikannya padamu”, kata Kyuhyun setelahnya.

.

Hyesoo sontak menoleh pada Kyuhyun, menatap tepat ke mata Kyuhyun dengan tatapan protes. Namun tatapan protes yang diberikan Hyesoo justru lebih terlihat seperti anak rusa yang kelelahan daripada yang seharusnya seperti singa betina yang terganggu tidur siangnya. Kyuhyun mengangkat bahu membalas tatapan protes Hyesoo. Kyuhyun melingkarkan tangannya di pinggang Hyesoo, menahan tubuh Hyesoo agar tidak menjauh lagi darinya. Tapi Hyesoo tidak memberikan respon apapun pada Kyuhyun. Hyesoo tetap menatap Kyuhyun dalam diam.

.

“Bisakah kita berdamai sekarang?” tanya Kyuhyun.

.

“Tergantung bagaimana kau bersikap”, jawab Hyesoo dengan suara pelan.

.

Kyuhyun tersenyum. Tentu saja Kyuhyun tidak benar-benar marah pada Hyesoo. Kyuhyun hanya memainkan permainan lain untuk membalas Hyesoo. “Aku mencintaimu…” kata Kyuhyun setelahnya. “Kau tidak perlu mengabulkan permintaanku jika kau tidak menginginkannya juga. Aku baik-baik saja. Sungguh”, sambung Kyuhyun.

.

Tatapan Hyesoo pada Kyuhyun sontak berubah menjadi lebih lembut. Hyesoo pun menyentuhkan tangannya di kedua sisi wajah Kyuhyun, merasakan garis rahang Kyuhyun yang terasa kasar karena rambut-rambut halus yang mulai tumbuh disana. Hyesoo mendekatkan diri pada Kyuhyun, memejamkan matanya, lalu memberikan sebuah kecupan di bibir Kyuhyun. Tentu saja Kyuhyun tidak akan membiarkan kecupan itu berakhir begitu saja. Kyuhyun menarik tubuh Hyesoo mendekat padanya. Kemudian Hyesoo melingkarkan kedua tangannya di leher Kyuhyun, membuat tautan bibir mereka semakin dalam. Hyesoo bersikap jahil dengan menggigit pelan bibir bawah Kyuhyun, membuat Kyuhyun tersenyum karena perbuatan Hyesoo. Senyum itu menular pada Hyesoo. Keduanya pun tertawa bersama tanpa menjauhkan diri dari satu sama lain. Suasana diantara mereka pun kembali tenang dan dipenuhi dengan cinta disetiap sudutnya.

.

.

.

Kyuhyun’s Office

Shinsung Hospital

Keesokkan harinya

.

Empat orang pria yang bersahabat kembali berkumpul di ruangan direktur Shinsung Hospital yang juga merupakan salah satu diantara mereka. Tiga orang dokter baru saja mendapatkan waktu untuk beristirahat, sementara sang direktur sedang ingin bermalasan. Mereka berada dalam satu ruangan yang sama, namun memilih posisi mereka masing-masing, menyebar di seluruh ruangan. Kim Jaejoong memilih untuk merebahkan tubuhnya di sofa panjang sambil memejamkan matanya. Operasi yang baru saja ia tangani memakan waktu hingga 8 jam lamanya. Itupun belum dijumlahkan dengan durasi operasi-operasi sebelumnya. Seluruh tubuhnya sudah terasa sangat lemas. Karena itu, saat ia masuk ke ruangan Kyuhyun, Jaejoong langsung menetapkan singgasana teritorinya. Sementara sofa dihadapan Jaejoong sudah dikuasai oleh Donghae yang sedang sibuk memainkan sebuah game di ponselnya. Ia sudah mengganti posisinya dari duduk bersandar, merebahkan tubuhnya terlentang, duduk bersila, hingga tidur tengkurap dengan kedua siku menumpu tubuh bagian atasnya.

.

Pemandangan yang cukup berbeda justru terlihat dari balik meja pemilik ruangan itu. Biasanya dalam keadaan seperti itu Kyuhyun akan mengganggu Donghae yang sedang main game. Kyuhyun masih bertahan dengan posisinya sejak satu jam yang lalu. Ia duduk bersandar di kursinya sambil sesekali memutar penuh atau hanya sekedar menggoyangkannya. Terkadang tatapannya terlihat kosong. Kyuhyun sedang memikirkan sesuatu dengan keras di dalam kepalanya. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi, seolah jiwanya sedang tidak berada di dalam tubuhnya saat ini. Kondisi tersebut tidak serta merta membuat ruangan menjadi sunyi. Jaejoong dan Kyuhyun memang sedang dalam keadaan yang tidak mengeluarkan suara apapun. Bahkan Donghae yang sedang bermain game tidak mengaktifkan suara di ponselnya. Suara justru terdengar dari Ryeowook yang duduk di lantai sudut ruangan. Ponsel ditangannya sedang dalam proses charging. Mata Ryeowook tidak pernah terlepas dari layar ponselnya. Sesekali ia menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya. Seolah sedang bicara dengan ponselnya, Ryeowook mengeluh, protes, bertanya, terkadang memaki layar ponselnya. Awalnya tidak ada satupun diantara 3 orang lainnya yang merasa terganggu. Hingga salah seorang dari mereka, Kim Jaejoong, tidak bisa lagi menahan suara bising yang dibuat pria yang sedang duduk di lantai tepat di belakang sofa yang ditempatinya. Jaejoong melempar salah satu bantal sofa tepat ke wajah Ryeowook dengan keras.

.

“Ah, wae?! Wae?!” protes Ryeowook.

.

“Sikkeureo ish!!!” seru Jaejoong, membuat Kyuhyun akhirnya menoleh pada keributan mereka. “Jika kau ingin marah-marah seperti itu, gunakan saja ruangan mu sendiri, atau masuk ke kamar Kyuhyun, inma!”

.

“Kenapa tidak sunbae saja yang melakukan itu? Tidurlah di kamar Kyuhyun!” balas Ryeowook.

.

“Michin nom… Kenapa harus aku? Aku tiba di ruangan ini lebih dulu!” kata Jaejoong keberatan.

.

“Ya! Ya! Hentikan! Kalian berdua seperti anak remaja saja bertengkar karena hal kecil”, kata Kyuhyun sambil berjalan ke arah lemari es. “Jaejoong benar. Kau yang salah, Kim Ryeowook. Kenapa kau bertingkah seperti itu?”

.

“Aish… Baiklah. Aku yang salah. Maafkan aku…” kata Ryeowook menyesal. “Anak-anak dari keluarga Lee tidak pernah membiarkan hidupku tenang satu hari saja”, sambung Ryeowook.

.

“Gae gateun sorihagoitne… Mworago? (Omong kosong… Apa yang kau katakan?)” kali ini Donghae yang melontarkan protesnya pada Ryeowook. Ia menekan tombol pause di game ponselnya.

.

“Siapa lagi yang membuat keributan selain Lee Donghae?” tanya Jaejoong yang sudah meredakan rasa kesalnya, kembali ke posisi awalnya.

.

“Lee Hyeri… Gadis itu membuatku gila…” jawab Ryeowook.

.

“Aku mengakui keahlian yang satu itu dari anak perempuan keluarga Lee”, sambung Kyuhyun yang duduk diantara mereka di sofa. “Ada masalah apa kali ini?”

.

“Aku melupakan hari jadi kami yang ke 4. Kemarin aku harus menangani sebuah operasi selama berjam-jam bersama Professor Choi. Apa yang bisa aku lakukan dalam posisi seperti itu? Haruskah aku mengesampingkan status kehidupan seseorang hanya demi perayaan hari jadi? Tidak bisa dipercaya… Bahkan dengan alasan yang penting seperti itu Hyeri masih menyalahkanku dengan mengatakan, ‘Seharusnya oppa bisa menghubungiku. Jika tidak bisa menelepon, paling tidak mengirimkan ucapan via pesan singkat’. Huh… Aku bahkan tidak tahu dimana ponselku berada kemarin”, kata Ryeowook menjelaskan.

.

“Apakah peringatan hari jadi begitu penting?” tanya Kyuhyun.

.

“Mungkin. Yoona juga menganggapnya penting. Aku pernah melupakannya satu kali. Aku harus menerima sikap dinginnya selama satu bulan”, jawab Donghae.

.

“Hyesoo tidak pernah meributkan hal seperti itu”, kata Kyuhyun.

.

“Hhh… Kau bercanda? Memangnya kalian pernah benar-benar berhubungan dengan serius? Berkaca dan berpikir dulu sebelum bicara, Cho Kyuhyun”, balas Donghae.

.

“Aku bertaruh, Hyesoo pasti akan meributkan hal yang sama suatu saat nanti. Kalian baru mulai menghitung hari. Seratus hari dari hari dimana kalian memutuskan untuk kembali berhubungan, jika sunbae melupakan hari itu, sunbae akan merasakannya”, ujar Ryeowook.

.

“Aku lebih suka jika Sooyoung meributkan hal itu…” kata Jaejoong yang akhirnya ikut serta dalam pembicaraan teman-temannya.

.

“Dia sedang tidak waras. Seorang dokter yang sedang kelelahan tidak perlu didengarkan ucapannya selain mengenai hal medis”, kata Donghae.

.

“Aku bersungguh-sungguh…” kata Jaejoong yang beranjak bangun dan duduk. “Aku akan menerima kemarahan Sooyoung tanpa mengeluhkan apapun”.

.

“Ada apa denganmu juga hari ini, Kim Jaejoong?” tanya Kyuhyun.

.

“Sooyoung menolak lamaranku”, jawab Jaejoong dengan suara pelan sambil bertukar pandang dengan Kyuhyun dan Donghae yang menatapnya.

.

Damn! What?!” kata Donghae terkejut.

.

“Kau bercanda… Kenapa? Bukankah kalian berdua saling mencintai?” tanya Ryeowook yang sudah berpindah ke sofa disamping Donghae.

.

“Maja… Uri seoro saranghaessneunde…… (Benar. Kami memang saling mencintai, tapi…)” jawab Jaejoong yang menghentikan ucapannya.

.

“Haessneunde? (Tapi?)” tanya Ryeowook mengulangi kata terakhir yang diucapkan Jaejoong.

.

“Dia masih tidak memiliki keyakinan”, sambung Jaejoong.

.

“Bahkan setelah berhubungan selama beberapa tahun?” tanya Donghae yang dijawab dengan anggukkan oleh Jaejoong.

.

“Kenapa? Apa alasannya? Apa yang kurang meyakinkan dari sunbae?” tanya Ryewoook juga.

.

“Bukan aku. Tapi Sooyoung yang merasa tidak yakin pada dirinya sendiri”, jawab Jaejoong.

.

“Kenapa Sooyoung merasa tidak yakin pada dirinya?” tanya Donghae.

.

“Entahlah… Bagaimana aku bisa mengetahui hal itu?” Jaejoong justru balas bertanya. Ia meremas rambut disisi belakang kepalanya. Jaejoong pun mengalihkan pandangannya. Tatapan mata Jaejoong sontak bertemu dengan Kyuhyun yang menatapnya tanpa ekspresi. “Kenapa kau menatapku seperti itu?”

.

“Kau tidak ingin mengatakan apapun, Cho Kyuhyun?” Donghae ikut bertanya pada Kyuhyun.

.

“Apa?” Kyuhyun balas bertanya.

.

“Sejak tadi sunbae tidak memberikan tanggapan apapun. Sunbae dan Sooyoung adalah saudara sepupu, apakah sunbae tidak tahu tentang hal ini?” sambung Ryeowook.

.

“Bagaimana aku bisa mengetahuinya? Jaejoong saja tidak mengetahuinya. Aku bertaruh kedua orangtuanya pasti belum mengetahuinya juga”, jawab Kyuhyun.

.

“Kalau begitu, menurutmu… Kenapa Sooyoung menolakku? Apa yang membuat dirinya merasa tidak yakin?” tanya Jaejoong.

.

“Dalam kasusku… Dia belum sembuh benar dari luka yang ku berikan padanya”, jawab Kyuhyun.

.

“Apa yang sedang kau bicarakan? Kenapa kau justru membicarakan dirimu sendiri?” protes Donghae.

.

Jaejoong pun memutar matanya, setuju dengan Donghae yang tidak puas dengan jawaban Kyuhyun. Ryeowook sempat menoleh dan menunjukkan smirknya karena jawaban tidak membantu dari Kyuhyun. Kemudian ketiga pria itu kembali menatap Kyuhyun bersamaan. Tatapan mereka seolah mendesak Kyuhyun untuk segera menjawab pertanyaan Donghae. Kyuhyun membalas tatapan ketiga sahabatnya itu secara bergantian, menilai maksud dibalik tatapan tajam mereka. Kyuhyun tetap memasang ekspresi datar di wajahnya.

.

“Sebentar……” kata Ryeowook yang membuat tiga orang lainnya mengalihkan pandangan mereka padanya. “Kau bilang Kyuhyun sunbae sedang membicarakan dirinya sendiri?” tanya Ryeowook yang baru menyadari ucapan Donghae.

.

Tatapan Donghae, Ryeowook, dan Jaejoong kembali pada Kyuhyun. Mereka baru benar-benar menyadari maksud sebenarnya dari perkataan Kyuhyun beberapa saat yang lalu. Tatapan ketiganya bertambah tajam dari sebelumnya. Karena sejak tadi Kyuhyun belum mengatakan apapun. Kyuhyun justru mengalihkan pandangannya dari ketiga pria penasaran dihadapannya. Kyuhyun mencoba mengacuhkan mereka. Namun sepertinya mereka tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera menyerah dengan usaha mereka mendesak Kyuhyun. Akhirnya Kyuhyun menyerah dan kembali menatap ketiganya. Kyuhyun mengangkat bahunya kemudian menganggukkan kepalanya beberapa kali.

.

“Hyesoo menolakku juga. Tapi aku tidak frustrasi seperti dia”, kata Kyuhyun sambil menunjuk Jaejoong dengan dagunya. “Aku sudah menduga bahwa Hyesoo akan menolakku. Karena itu aku tidak terlalu kecewa dengan penolakannya”, sambung Kyuhyun.

.

“Benarkah?” tanya Donghae meragukan ucapan Kyuhyun.

.

“Tentu saja. Setelah sekian lama, akhirnya Hyesoo kembali padaku. Kami juga baru saja kembali berhubungan. Pernikahan bukanlah hal yang harus segera kami lakukan”, jawab Kyuhyun.

.

“Lalu kenapa kau diam saja seperti manusia tanpa nyawa sejak tadi?” tanya Donghae.

.

“Aku? Kapan aku melakukan itu?” sangkal Kyuhyun.

.

“Atmosfer di ruangan ini sudah sangat gelap sejak aku masuk. Segelap suasana hati pemiliknya”, ujar Jaejoong.

.

“Hhh… Itu hanya perasaanmu saja, Kim Jaejoong. Aku hanya merasa lelah. Beberapa pekerjaan yang sempat ku abaikan kini menumpuk dan datang secara bertubi-tubi. Energi ku habis dengan cepat”, kata Kyuhyun menjelaskan.

.

“Lalu, bagaimana sunbae menanggapi penolakan Hyesoo? Ekspresi wajahmu saat merasa kecewa sangat mudah dibaca. Apakah Hyesoo tidak melihatnya diwajahmu, sunbae?” tanya Ryeowook mengembalikan topik pembicaraan yang hampir saja berhasil dialihkan oleh Kyuhyun.

.

“Aku tidak akan berbohong dengan mengatakan bahwa tidak ada ekspresi apapun di wajahku saat mendapatkan penolakkannya. Karena, Hyesoo tidak seperti Sooyoung, yang menurut dugaanku sudah memberikan penolakan menggantung pada Jaejoong. Sooyoung mungkin akan mengatakan, ‘Aku tidak tahu’, atau ‘Aku tidak yakin’. Benar?” tanya Kyuhyun pada Jaejoong, yang dijawab dengan anggukkan lemas dari Jaejoong. “Tidak ada hal yang dapat dipastikan dari jawaban itu. Tapi, kalian tahu? Lee Hyesoo menjawabku langsung pada intinya. Dia mengatakan dengan sangat jelas, ‘Tidak. Aku tidak bisa’. Dan kasus ditutup. Menurut kalian, ekspresi apa yang bisa muncul diwajahku ini?”

.

“Yaaahh… Meski dia saudara kembarku, aku tidak menyangka dia akan bersikap setega itu pada seorang pria”, kata Donghae menanggapi cerita Kyuhyun.

.

“Tidak. Tidak. Dia melakukan hal yang benar, Donghae-ya”, sanggah Kyuhyun sambil mengarahkan telunjuknya pada Donghae.

.

“Dan alasanmu mengatakan itu adalah?” tanya Ryeowook.

.

“Dia bersikap bijaksana. Hyesoo mengatakan bahwa dia tidak ingin menikah denganku dalam waktu dekat. Hyesoo hanya meminta lebih banyak waktu. Kami harus membuat situasi diantara kami menjadi lebih baik dari masa sekarang, masa suram selama lima tahun terakhir, dan bahkan lebih baik dari masa dimana hubungan kami masih berjalan baik dulu. Kami tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama”, kata Kyuhyun menjelaskan alasannya. “Dalam kasusmu, Sooyoung juga memiliki kebijaksanaan yang sama. Walaupun dia menunjukkannya dengan jawaban menggantung padamu. Yang mereka berdua butuhkan hanya waktu, Jaejoong-ah. Jika waktu adalah salah satu hal yang dapat membuatnya tetap berada disisimu, tanpa pernah memiliki pemikiran untuk meninggalkanmu, maka berikan saja. Kau tidak akan kehilangan apapun hanya karena memberikan waktu padanya”, sambung Kyuhyun yang menujukan ucapannya langsung pada Jaejoong.

.

“Lagipula kasus kalian berbeda”, celetuk Donghae tiba-tiba. “Kau tidak pernah menyakiti Sooyoung hingga membuat Sooyoung pergi darimu selama 5 tahun penuh, Kim Jaejoong. Sooyoung tidak mengalami hal buruk seperti, dibuat jatuh cinta, kemudian disakiti, dilepaskan, lalu diraih kembali. Kasusmu tidak semenyedihkan itu”, sambung Donghae sambil menyelipkan ejekannya untuk Kyuhyun dalam ucapannya pada Jaejoong.

.

“Ch… Disaat seperti ini, aku sangat berharap Hyesoo tidak memiliki saudara kembar”, sambung Kyuhyun dengan nada bergurau dan sebuah smirk di bibirnya.

.

“Jadi? Apa alasan dibalik wajah muram sunbae beberapa saat yang lalu?” Ryeowook yang menanyakan pertanyaan itu kali ini.

.

“Aku sedang berpikir”, jawab Kyuhyun singkat. Bukan tipe jawaban yang diinginkan Ryeowook, maupun Donghae dan Jaejoong.

.

“Tentang?” tanya Donghae dan Ryeowook bersamaan. Sementara Jaejoong sudah kembali merebahkan tubuhnya diatas sofa, meski kali ini tanpa memejamkan matanya.

.

“Kenapa kalian sangat ingin tahu tentang itu? Apapun isi pikiranku, aku rasa hal itu tidak akan memberikan efek berarti pada kehidupan kalian”, kata Kyuhyun sambil menatap heran pada Donghae dan Ryeowook.

.

“Tentu saja kami harus tahu. Karena apapun yang kau pikirkan, rencana apapun yang sedang kau pertimbangkan, hal itu akan menjadi parameter keberhasilan usaha kami dalam mendukungmu selama 5 tahun ke belakang”, jawab Donghae.

.

“Kami tidak ingin usaha kami menjadi sia-sia”, sambung Ryeowook.

.

“Kalian tidak perlu khawatir. Tidak ada usaha kalian yang menjadi sia-sia”, kata Kyuhyun meyakinkan Donghae dan Ryeowook. Jaejoong sudah kembali ke alam tidurnya. Pria itu lebih membutuhkan tidur daripada ucapan pemberi semangat untuk suasana hatinya yang sedang tidak menentu.

.

“Begitu? Apa kau akan melamar Hyesoo lagi dengan keyakinan bahwa dia akan menerimamu kali ini?” tanya Donghae.

.

“Tidak. Aku sudah berjanji akan memberikannya waktu. Tapi aku akan melakukannya lagi suatu saat nanti. Tidak dalam waktu dekat”, jawab Kyuhyun.

.

“Eeiiii… Lalu apa yang membuat sunbae yakin bahwa usaha kami tidak akan sia-sia?” tanya Ryeowook kali ini.

.

“Apakah tidak cukup dengan Hyesoo kembali padaku, lalu berjanji padaku untuk tidak pernah meninggalkanku dan memintaku melakukan hal sebaliknya? Dia tidak menolakku karena ingin meninggalkanku”, kata Kyuhyun.

.

“Kau percaya padanya?” tanya Donghae.

.

“Kau tidak?” Kyuhyun balas bertanya.

.

“Aku bertanya padamu, Cho Kyuhyun. Aku sangat mempercayainya. Begitupun dengan Ryeowook dan Jaejoong. Kami percaya pada Hyesoo. Dia selalu melakukan apa yang sudah dia katakan”, jawab Donghae yang diiringi dengan anggukkan yakin dari Ryeowook. Tidak perlu mengharapkan respon dari Jaejoong. Karena saat ini ia bahkan sudah mengubah posisi tidurnya menjadi memunggungi ketiga sahabatnya itu.

.

“Aku tidak punya alasan untuk meragukannya. Aku mempercayainya lebih dari siapapun”, kata Kyuhyun.

.

“Bahkan lebih dari kami?” tanya Ryeowook dengan nada berguraunya.

.

“Kau yang paling sulit untuk dipercaya, Kim Ryeowook. Kau tidak tahu itu? Ch… Tapi aku akan mempertimbangkannya lagi. Mengingat mungkin saja suatu saat nanti kita akan menjadi satu keluarga. Itupun jika setelah ini hubunganmu dan Hyeri masih bisa diselamatkan”, kata Kyuhyun mengingatkan Ryeowook pada masalah yang sebenarnya.

.

“Aish… Aku jadi lupa akan hal itu…” keluh Ryeowook yang kembali ke posisinya semula, dilantai bersama ponsel dan pesan Hyeri yang merajuk.

.

.

.

Beberapa hari kemudian

Bangsal Department Bedah Saraf

Shinsung Hospital

.

Hari berganti meninggalkan hari-hari lalu yang tinggal didalam ingatan. Tidak ada yang bisa mengubah semua hal yang terjadi di hari kemarin. Karena semuanya tetap tertinggal disana. Yang tersisa hanyalah sebuah tugas untuk tidak memperbaikinya saat ini. Hyesoo kembali dengan kesibukkannya di bangsal department bedah saraf. Ia baru saja menyelesaikan sebuah operasi pengangkatan tumor pada seorang pasien anak. Hyesoo duduk di salah satu kursi di nurse station untuk memeriksa data pasiennya yang lain. Soyu duduk disampingnya, sedang membaca data pasien lain menggunakan komputer di hadapannya. Perhatian keduanya memang fokus pada hal-hal yang sedang terlihat oleh kedua mata mereka. Namun Hyesoo dan Soyu tidak lantas hanya berdiam diri satu sama lain. Mereka berdua membicarakan banyak hal, mulai dari hal serius seperti kondisi pasien dan mendiskusikan terapi yang akan diberikan pada pasien, hingga pembicaraan ringan tentang menu baru di restaurant favourite keduanya. Tentu saja pembicaraan tentang pria, orang-orang sekitar, dan hubungan tidak terlewatkan oleh Hyesoo dan Soyu.

.

“Kau tidak menyesal melakukan itu?” tanya Soyu.

.

Hyesoo menghembuskan napasnya, lalu menoleh pada Soyu dengan memperlihatkan puppy’s eyes nya. “Aku telah melakukan kesalahan dengan menolaknya, bukan? Ah… Aku juga sempat berpikir begitu saat Kyuhyun menerima penolakanku dengan sangat tenang”, kata Hyesoo.

.

“Tidak. Kau tidak melakukan kesalahan, Hyesoo-ya. Menurutku justru kau sudah melakukan hal yang benar”, kata Soyu.

.

“Benarkah?” tanya Hyesoo memastikan.

.

“Benar. Karena kalian baru saja kembali berhubungan setelah masa-masa menyedihkan selama 5 tahun. Tentu saja kau membutuhkan waktu untuk memikirkannya lebih lama. Kau justru mungkin akan melakukan kesalahan dengan menerimanya tanpa berpikir terlebih dahulu”, jawab Soyu.

.

“Menurutmu begitu?” tanya Hyesoo lagi.

.

“Eo…” jawab Soyu sambil menganggukkan kepalanya. “Hei, ada apa dengan ekspresimu? Kau menyesal sebesar itu? Hhh…” goda Soyu.

.

“Aku hanya merasa sedikit khawatir. Kyuhyun yang ku kenal tidak pernah bersikap semanis itu sebelumnya”, jawab Hyesoo dengan senyum tipisnya.

.

“Hhh… Kalau begitu kau sudah melihatnya dengan mata kepalamu sendiri, bukan? Kyuhyun yang kau kenal dulu sudah berubah sekarang”, kata Soyu. “Dia memang menjadi lebih lembut dan manis. Sesekali. Tapi dia juga menjadi lebih menyebalkan. Jika kau ingin mengetahui sisi itu juga darinya”, sambung Soyu.

.

“Sisi itu tidak pernah bisa dihilangkan darinya, Soyu-ya. Namanya bukan Cho Kyuhyun jika tanpa sisi menyebalkan itu”, kata Hyesoo.

.

“Aku sangat setuju denganmu”, ujar Soyu. “Tapi, Hyesoo-ya, bolehkah aku memberikan sedikit saran untukmu?” tanya Soyu.

.

“Tentu saja. Apa itu?” tanya Hyesoo.

.

“Mungkin akan terdengar aneh. Karena aku baru saja mengatakan bahwa kau melakukan tindakan yang benar dengan menolaknya. Tapi aku juga berpikir bahwa kau tidak boleh menggunakan waktu terlalu lama untuk berpikir”, jawab Soyu.

.

“Dan alasannya adalah?”

.

“Beberapa petinggi yayasan rumah sakit ini sering membicarakan kedekatan hubungan keluarga Cho dan keluarga Seo. Mereka sudah saling mengenal bahkan sebelum anak-anak mereka lahir. Hm… Bagaimana aku harus mengatakannya? Hm… Yah, aku hanya…… Hm… Apa kau tidak khawatir jika suatu saat nanti kedua keluarga akan saling menjodohkan anak-anak mereka?” tanya Soyu dengan smirk tergambar dibibirnya.

.

“Kau hanya sedang menggodaku, ‘kan?” tanya Hyesoo.

.

“Ya dan tidak”, jawab Soyu sambil tertawa kecil. “Benar, aku menggodamu. Tapi, tidak, karena kedua keluarga itu memang saling mengenal. Aku hanya memberitahukannya padamu supaya kau tahu saja”, sambung Soyu.

.

“Terima kasih atas pemberitahuanmu. Kau sudah membuatku menjadi lebih khawatir karena hal itu”, kata Hyesoo dengan nada sarkastik.

.

“Hahaha… Tidak perlu mengkhawatirkannya, Lee Hyesoo. Tidakkah kau menyadari bahwa kau sudah membuat dunia seorang Cho Kyuhyun hanya berpusat padamu?” tanya Soyu.

.

“Aku menyadarinya. Tapi tidak dalam konteks yang extreme seperti yang terdengar dari ucapanmu barusan”, jawab Hyesoo.

.

“Keadaan Kyuhyun sudah terlanjur berada dalam keadaan se-extreme itu, Lee Hyesoo”, kata Soyu meyakinkan. “Kau tidak bisa lari lagi. Tidak. Kau masih bisa berlari. Karena aku yakin Kyuhyun akan melepasmu jika kau memintanya. Dia yang tidak akan pergi”, sambung Soyu.

.

“Benarkah begitu? Apakah kau juga berpikir bahwa Kyuhyun tidak akan pergi kemanapun sepertiku?” tanya Hyesoo.

.

“Aku sangat yakin akan hal itu. Akhir-akhir ini dia terlihat seperti baru saja kembali dari kematian. Dia sangat kacau sebelumnya”, jawab Soyu.

.

“Syukurlah… Aku tidak perlu mengkhawatirkan hal itu sekarang”, kata Hyesoo sambil menulis dalam data pasien dihadapannya.

.

Soyu menghela napas panjang. Kini giliran Soyu yang menoleh pada Hyesoo, menatapnya dengan ekspresi yang tidak dapat dimengerti. Seolah Soyu sedang mencoba membaca Hyesoo, memastikan bahwa sahabatnya itu mengatakan hal yang benar-benar sedang dirasakannya. Sementara Hyesoo tidak menyadari tatapan Soyu. Ia membalikkan kertas ke halaman selanjutnya perlahan, membaca setiap keterangan dengan teliti, tidak ingin melewatkan apapun. Sesekali Hyesoo menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya, menopang dagunya dengan tangannya yang bebas, dan mengeluarkan lagi rambut yang ia selipkan sebelumnya. Kebiasaan yang sering Hyesoo lakukan saat sedang berpikir. Tidak ada kerutan di keningnya, membuat Soyu yakin bahwa Hyesoo tidak sedang memikirkan apapun selain kondisi pasien yang sedang dibacanya. Sesaat setelahnya, Soyu berdesis. Ia tertawa kecil. Soyu merasa terlalu khawatir pada hal yang tidak sedang terjadi. Ia merasa seperti seorang ibu yang sedang mengkhawatirkan anak gadisnya yang baru beranjak remaja. Kemudian Soyu kembali menoleh pada Hyesoo. Kali ini dengan ekspresi riangnya yang telah kembali.

.

“Lee Hyesoo!” kata Soyu memanggil Hyesoo.

.

“Hm?” jawab Hyesoo.

.

“Aku selalu menjadi pendengarmu, tapi kau tidak pernah ingin mengetahui tentang diriku. Apakah kau tidak berpikir bahwa kau bersikap tidak adil padaku?”

.

Hyesoo sontak menoleh cepat pada Soyu. Hyesoo menjalankan tatapan matanya ke setiap sisi tubuh Soyu, memastikan bahwa keadaan Soyu baik-baik saja. Soyu hanya menatap Hyesoo dengan ekspresi datar. Hingga tatapan keduanya bertemu, Soyu menghelas napas panjang. Ia memberikan tatapan yang mengajukan protesnya pada Hyesoo.

.

“Apa terjadi sesuatu padamu?” tanya Hyesoo akhirnya.

.

“Eo… Ch… Kau bahkan tidak menyadarinya”, jawab Soyu.

.

“Apa? Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?” tanya Hyesoo lagi.

.

“Kau tidak bisa melihatnya?” Soyu balas bertanya.

.

“Berhenti bermain teka-teki denganku, Kang Soyu. Cepat katakan. Apa yang terjadi?”

.

“Hm… Haruskah aku mengatakannya padamu?” tanya Soyu menggoda Hyesoo.

.

“Kang Soyu!” protes Hyesoo.

.

“Baiklah… Baiklah…” kata Soyu sambil tertawa kecil setelahnya. “Siap-siap mendengarkan ini. Hm… Aku……”

.

“Ya? Kau apa? Cepat katakan!” kata Hyesoo yang tidak bisa lebih lama lagi bersabar.

.

“Aku jatuh cinta”, jawab Soyu dengan senyum mengembangnya.

.

“Ch… Hanya itu? Aku pikir kau……” Ucapan Hyesoo terhenti sesaat setelahnya. Salah satu saraf di otak baru saja tiba di pusat, menyampaikan ucapan Soyu dengan jelas. Kedua mata Hyesoo terlihat melebar saat proses penyampaian pesan itu diproses diotaknya. “Apa?! Kau apa?!” tanya Hyesoo yang terkejut. “Bagaimana? Pada siapa? Em… Kau tidak sedang bercanda, ‘kan?”

.

“Kau sangat berisik, Lee Hyesoo” kata Soyu yang tertawa setelahnya. “Kenapa begitu terkejut? Apakah kau baru pertama kali mendengarku mengatakan bahwa aku sedang jatuh cinta?” tanya Soyu.

.

“Tidak. Bukan itu. Hanya saja… Akhir-akhir ini kau sangat sibuk. Kapan kau memiliki waktu untuk bertemu dengan seorang pria?” tanya Hyesoo.

.

“Aku punya banyak sekali waktu. Ada begitu banyak pria di dalam gedung ini. Kau tidak tahu?” kata Soyu.

.

“Jadi, pria itu berada di gedung ini?” tanya Hyesoo.

.

“Tidak”, jawab Soyu dengan singkat.

.

“Lalu?” tanya Hyesoo sambil mengerutkan keningnya karena jawaban membingungkan dari Soyu.

.

“Dia sedang berada di Pulau Jeju bersama anak laki-lakinya”, jawab Soyu sambil tersenyum.

.

“Jeju? Kenapa begitu jauh?” tanya Hyesoo sekali lagi. Hyesoo menoleh sesaat ke lembaran kertas dihadapannya, sebelum kegiatannya itu kembali terhenti. Hyesoo memandang kosong ke tegak lurus ke hadapannya, lalu menoleh pada Soyu dengan ekspresi datar diwajahnya. “Lee Soohyuk?”

.

“Bingo!” seru Soyu dengan riang.

.

“Benarkah? Auh… Kau sangat tidak beruntung, Kang Soyu. Dari semua pria yang memujamu, kenapa harus Lee Soohyuk?” tanya Hyesoo dengan nada sarkastiknya.

.

“Kenapa? Aku tidak menemukan kesalahan apapun dalam dirinya. Dia sempurna. Dia adalah pria yang selama ini aku tunggu”, ujar Soyu.

.

“Karena itu…… Dia sempurna. Dia kurang menyenangkan. Terkadang membosankan. Dia sudah menjadi seorang ahjussi, Soyu-ya. Dia juga bisa membacamu dengan sangat tepat. Sisi itu sedikit menyebalkan…” kata Hyesoo.

.

“Bukankah semua itu sempurna? Dan kau pasti mengetahuinya dengan sangat baik, Lee Hyesoo, dia sangat tampan dan…… seksi”, kata Soyu dengan wajah tersipu.

.

Hyesoo menatap sahabatnya itu dengan ekspresi herannya. Kemudian Hyesoo tersenyum tipis dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Hyesoo berdesis dan tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya melihat wajah berseri Soyu. Tentu saja ucapan Hyesoo sebelumnya tidak berarti bahwa Hyesoo tidak menyukai Soohyuk. Hyesoo sangat menyukai Soohyuk, sebagai teman baiknya. Selama 5 tahun terakhir Soohyuk selalu ada untuk membantunya dalam situasi apapun. Perkataan yang diucapkan Hyesoo tadi justru menunjukkan kedekatannya pada Soohyuk. Hyesoo bisa mengatakan hal itu kapan saja, bahkan dihadapan Soohyuk sekalipun.

.

“Aku rasa kami akan menjadi pasangan yang cocok. Apa kau juga berpikir begitu?” tanya Soyu.

.

“Mwo… Mungkin saja. Tidak ada yang mengetahuinya”, jawab Hyesoo. “Hm… Kau butuh bantuanku? Aku bisa mempertemukan kalian berdua. Atau aku bisa mempengaruhi Soohyuk untuk mendekatimu”, kata Hyesoo menawarkan bantuan.

.

“Tidak perlu. Kami sudah saling bicara tanpa bantuanmu”, jawab Soyu.

.

“Benarkah? Bagaimana?” tanya Hyesoo.

.

“Aku sudah bertemu dengannya. Kami sempat berbincang dan saling bertukar nomor telepon”, jawab Soyu.

.

“Kalian bertemu dimana? Setahuku Soohyuk belum kembali dari Jeju”, tanya Hyesoo lagi.

.

“Di bandara. Di hari keberangkatannya ke Jeju”, kata Soyu sambil meraih cangkir disisi kanannya dan meneguk kopi didalam cangkirnya. “Saat itu aku sedang menunggu kedatangan Profesor Byun disebuah coffee shop. Lalu Lee Soohyuk dan Jinu masuk. Kami bertemu di kasir dan berakhir dengan berbincang untuk waktu yang cukup lama”.

.

“Bagaimana dengan Jinu? Dia menyukaimu?” tanya Hyesoo.

.

“Dia lebih menyukai Aunt Hye nya”, jawab Soyu.

.

“Aku tahu. Aku yang paling disukainya”, kata Hyesoo menyombongkan diri. “Tapi dia anak yang baik, Soyu-ya. Jika Jinu tidak menginterupsi saat kau bicara dengan Soohyuk, maka dia menyukaimu. Jinu akan melakukan apapun untuk mengganggu pembicaraan Soohyuk dengan siapapun yang tidak dia sukai”, sambung Hyesoo meyakinkan Soyu.

.

“Dia akan menyukaiku juga sebesar dia menyukaimu, kan?” tanya Soyu.

.

“Suatu saat nanti. Bersabarlah… Lagipula jika Soohyuk menyukaimu, maka Jinu tidak akan menyakiti hatimu”, kata Hyesoo dengan senyum tulus dibibirnya. “Jadi, apakah ada tanda-tanda Soohyuk menyukaimu?” tanya Hyesoo setelahnya.

.

“Aku pikir begitu. Dia selalu menjadi yang pertama menyapaku baik melalui pesan singkat maupun telepon”, jawab Soyu.

.

“Kang Soyu, percayalah padaku. Dia menyukaimu. Lee Soohyuk tidak bisa menutupi apapun dengan baik dari orang yang disukainya. Dia adalah buku yang terbuka lebar. Dia sudah menunjukkannya padamu dengan sangat jelas”, kata Hyesoo memberitahu Soyu. “Aku akan mengatakan ini karena kau adalah sahabat baikku. Kau tahu? Kau adalah tipe wanita idamannya. Sangat Lee Soohyuk. Aku tahu itu dengan sangat baik”.

.

“Tipe seperti apa? Cantik, mempesona, dan seksi?” tanya Soyu memastikan.

.
“Hhh… Bukan. Percaya diri, sarkastik, dan terus terang”, jawab Hyesoo.

.

“Apa?! Ah apa itu……” protes Soyu yang tidak terlalu senang dengan ucapan Hyesoo.

.

“Hahaha aku bercanda”, kata Hyesoo. “Eo? Tidak juga. Aku tidak benar-benar bercanda. Aku tidak mengatakan hal yang buruk tentangmu. Kau memang wanita seperti itu. Aku tidak mengatakannya dengan intensi negatif didalamnya. Kau memang percaya diri, sedikit sarkastik, dan terus terang dalam berbicara. Dimana aku mengagumi semua hal itu dalam dirimu. Kau juga pintar. Cantik, mempesona dan seksi hanya poin tambahan dari semua hal yang ku sebutkan sebelumnya”, sambung Hyesoo menjelaskan ucapannya.

.

“Hhh… Lee Hyesoo… Kau memang selalu mampu membuatku luluh dengan cepat. Aku sangat menyayangimu”, kata Soyu.

.

Oh Gosh… Jangan katakan itu. Persahabatan kita tidak pernah melibatkan kata-kata manis seperti itu, Kang Soyu. Hentikan…” kata Hyesoo dengan ekspresi jengah yang dibuat-buat.

.

“Kenapa? Sesekali tidak apa, ‘kan? Aku justru berpikir untuk mengatakannya setiap hari mulai sekarang. Saranghae…” kata Soyu dengan nada berguraunya.

.

Oh no… Jangan pernah lakukan itu. Memikirkannya pun jangan. Aku lebih suka kata-kata itu keluar dari bibir seksi Cho Kyuhyun”, kata Hyesoo membalas gurauan Soyu.

.

“Aish… Kau merusak suasana saja. Berhenti membuatku iri dengan hubungan kalian! Kau sangat tidak sopan mengatakan hal itu pada wanita single yang cantik sepertiku”, protes Soyu.

.

Hyesoo tertawa mendengar ucapan Soyu yang protes dan memuji diri sendiri secara bersamaan. Hyesoo bersungguh-sungguh dengan ucapannya beberapa saat yang lalu. Hyesoo benar-benar mengagumi sosok Soyu yang begitu percaya diri dan terus terang. Soyu tidak pernah terlihat ragu dengan setiap hal yang akan dilakukannya. Soyu selalu mampu membuat orang-orang disekitarnya merasa tenang hanya dengan keberadaannya. Sikap yang ditunjukkannya sangat menenangkan. Karena itu, Hyesoo tidak merasa khawatir pada setiap tindakan yang dilakukan oleh Soyu. Hyesoo juga tidak akan menghalangi hubungan Soyu dan Soohyuk. Hyesoo justru merasa senang jika keduanya dapat berhubungan dengan baik. Hyesoo ingin kedua sahabatnya itu mendapatkan kebahagiaan yang selama ini mereka cari untuk diri mereka sendiri. Hyesoo tidak ingin hanya menjadi seorang teman yang selalu menerima kebahagian dari keduanya. Hyesoo ingin memberikannya juga pada mereka.

.

.

.

Beberapa minggu setelahnya

Shinsung Hospital

BGM: Jo Jung Seok – Gimme a Chocolate

.

Hari-hari sibuk di Seoul berlalu dengan cepat. Hampir disetiap sudut kota ditemukan kesibukan orang-orang yang tinggal di kota itu. Begitu pula dengan Kyuhun dan Hyesoo. Setelah kesepakatan keduanya ditetapkan, Kyuhyun dan Hyesoo memang sudah tinggal bersama di apartment Kyuhyun. Tapi kesibukan keduanya tidak lantas membuat mereka dapat menghabiskan waktu bersama setiap saat. Jadwal kerja Hyesoo yang tidak sama setiap harinya membuat waktu diantara mereka berkurang. Terlebih dengan kesibukan Kyuhyun sebagai salah satu direktur rumah sakit itu. Kyuhyun sering melakukan perjalanan keluar kota hingga luar negeri untuk mengurus pekerjaannya di cabang lain yayasan rumah sakit milik keluarganya itu. Beruntung keduanya dapat mengatasi setiap kesibukan mereka dan menggunakan waktu senggang untuk tetap saling berkomunikasi. Kyuhyun yang sebelumnya bersikap sangat protektif pun perlahan menjadi lebih santai dengan segala hal yang terjadi disekitar Hyesoo. Kyuhyun mulai terlihat seperti Hyesoo yang selalu tenang dan santai menghadapi segala sesuatu. Keduanya tidak lagi meributkan hal kecil seperti tidak saling menghubungi satu sama lain dalam satu hari.

.

Selama satu minggu terakhir Hyesoo disibukkan dengan pekerjaannya. Salah satu dokter bedah saraf sedang mengambil cuti melahirkan. Karena itu Hyesoo mendapatkan jadwal yang begitu padat. Hyesoo bahkan belum pulang selama tiga hari terakhir. Disisi lain, Kyuhyun juga harus menyelesaikan pekerjaannya di cabang rumah sakit yang berada di Jepang. Kyuhyun baru saja sampai di Seoul pukul 11. Kyuhyun hanya kembali ke apartment untuk mandi dan berganti pakaian. Ia kembali ke rumah sakit setelahnya untuk menghadiri rapat direksi. Sesaat setelah ia memasuki lobby rumah sakit, Kyuhyun tidak langsung menuju ruang rapat. Kyuhyun justru berbelok menuju UGD. Ia masuk ke UGD diikuti oleh dua orang dengan setelan jas serba hitam mereka. Kyuhyun berada disana tidak untuk menghampiri Hyesoo, melainkan masuk ke sebuah ruangan kecil dimana kepala ruangan berada. Kyuhyun menghabiskan waktu sekitar 10 menit berbicara dengan kepala perawat. Kyuhyun pun keluar dari ruangan itu. Kedua matanya menangkap sosok Hyesoo yang sedang berdiri bersandar di salah satu meja sambil membaca rekam medik pasien ditangannya. Kyuhyun berjalan mendekat, lalu berhenti. Ia menjaga jarak dari Hyesoo, berdiri tidak terlalu dekat dengan Hyesoo.

.

“[Kau] sudah makan siang?” tanya Kyuhyun dengan ekspresi datar diwajahnya.

.

Hyesoo menoleh singkat pada sumber suara, lalu mengembalikan pandangannya ke rekam medik ditangannya. “Akan”, jawab Hyesoo singkat.

.

Kyuhyun menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Good”, kata Kyuhyun setelahnya, sama singkatnya dengan jawaban Hyesoo. Kyuhyun pun kembali melangkahkan kakinya berjalan di depan Hyesoo. “Jangan hanya secara verbal. Tapi benar-benar dilakukan”, sambung Kyuhyun sambil berlalu menjauh menuju pintu UGD.

.

“Aku mengerti”, balas Hyesoo dengan suara lelahnya. “Semoga berhasil dengan rapat hari ini”, sambung Hyesoo setelahnya.

.

Kyuhyun mendengar itu. Ia pun melambaikan tangannya sesaat tanpa berbalik menatap Hyesoo. Begitupun dengan Hyesoo yang tidak benar-benar melihat lambaian tangan yang diberikan Kyuhyun untuk menjawab ucapannya. Hyesoo tetap fokus pada data pasien yang sedang dibacanya. Soyu yang juga berada disana melihat keduanya. Soyu mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan sikap yang ditunjukkan Kyuhyun dan Hyesoo. Soyu merasakan sebuah keanehan pada sikap keduanya. Soyu menduga ada suatu hal yang terjadi diantara mereka. Soyu pun menghela napas panjang setelah mendapat kesimpulan dikepalanya bahwa Kyuhyun dan Hyesoo kembali bertengkar. Soyu meletakkan rekam medik ditangannya ke meja, lalu berjalan mendekat pada Hyesoo. Soyu ikut bersandar pada meja tinggi yang sedang dijadikan tumpuan tubuh oleh Hyesoo. Soyu menatap sahabatnya itu, dan tentu saja Hyesoo tidak menyadari tatapan yang ditujukan Soyu padanya.

.

“Apa lagi yang terjadi kali ini?” tanya Soyu.

.

“Apa?” Hyesoo balas bertanya.

.

“Sikap kalian aneh hari ini. Apa kalian kembali bertengkar?” tanya Soyu lagi.

.

“Siapa?” Hyesoo kembali membalas pertanyaan Soyu dengan sebuah pertanyaan singkat.

.

“Kau dan Kyuhyun”, jawab Soyu.

.

“Kami baik-baik saja”, ujar Hyesoo.

.

“Tidak mungkin. Kalian tidak terlihat seperti biasanya. Katakan padaku, Hyesoo-ya. Apa yang terjadi? Apa lagi yang dilakukan pria bodoh bernama Cho Kyuhyun itu?” tanya Soyu dalam wujud pembela sahabat pemusnah pria jahat.

.

“Hhh… Memang biasanya kami seperti apa, Soyu-ya?” tanya Hyesoo yang berdesis, sambil menutup rekam medik ditangannya dan berjalan masuk ke nurse station. “Apa yang salah dengan sikap kami hari ini?” tanya Hyesoo yang sedang membuka sebuah file di komputer.

.

“Biasanya kalian tidak seperti ini”, jawab Soyu.

.

“Kang Soyu… Apa yang sedang kau coba katakan? Bicara dengan jelas”, kata Hyesoo.

.

“Seingatku sejak kalian kembali berhubungan, jika kalian berada dalam ruangan yang sama Cho Kyuhyun tidak bisa berada jauh denganmu. Tapi hari ini dia berbeda. Kau juga tidak menghiraukannya”, kata Soyu menjelaskan.

.

“Hhh… Karena itu? Kau tidak perlu memikirkannya, Kang Soyu. Kami baik-baik saja. Hanya sedang merasa lelah”, kata Hyesoo.

.

“Pada satu sama lain?” tanya Soyu.

.

“Tidak. Pada pekerjaan. Kau tahu aku belum mendapatkan cukup waktu untuk tidur, bukan? Cho Kyuhyun juga baru kembali dari perjalanan kerja yang aku lupa dimana letaknya”, kata Soyu menjelaskan. “Lagipula, bagi seorang wanita single, bukankah menyenangkan jika tidak ada pemandangan yang membuat iri hati?” tanya Hyesoo menggoda Soyu.

.

“Kau benar-benar melakukan ini padaku? Lee Hyesoo?” protes Soyu namun dengan sebuah senyuman diwajahnya.

.

Keduanya pun tertawa bersama. Tentu saja Soyu tidak benar-benar melayangkan protesnya pada ucapan Hyesoo. Soyu bahkan tidak merasa tersinggung sama sekali dengan ucapan itu. Kepribadian keduanya yang santai membuat mereka selalu bisa menghadirkan suasana santai bagi semua orang disekitar mereka. Tidak perlu ada kekhawatiran akan membuat salah satu diantara Hyesoo atau Soyu merasa tersinggung dengan ucapan yang mereka dengar. Hyesoo dan Soyu masih meneruskan obrolan mereka. Tawa dan gurauan tidak lepas dari ucapan satu sama lain. Bahkan sesekali keduanya saling mengejek dengan nada bercanda. Waktu yang singkat untuk mendapatkan penyegaran bagi pikiran dan tubuh lelah mereka. Karena setelahnya, UGD kembali menjadi ramai kedatangan pasien. Waktu luang untuk bersantai pun berakhir seketika.

.

.

.

Malam harinya

Kyuhyun’s Apartment

BGM: Ra.D – Lovesome

.

Hyesoo duduk di salah satu kursi meja dapur, memperhatikan Kyuhyun yang berdiri memunggunginya karena sedang membersihkan peralatan masak yang beberapa saat yang lalu digunakan oleh Hyesoo untuk memasak. Lantunan suara merdu yang terdengar dari music player di sudut meja memenuhi seluruh ruangan, memberikan rasa nyaman yang menghilangkan penat dalam diri keduanya. Hyesoo yang merasa lelah menutup matanya sesekali. Lalu kembali membukanya saat suara sentuhan piring dan gelas terdengar di telinganya. Pekerjaan mencuci alat masak dan alat makan memang tidak pernah bisa dilakukan dengan keheningan. Terlebih jika hal itu dilakukan oleh seorang Cho Kyuhyun. Hyesoo tidak dapat menghindari tawa yang akhirnya keluar dari bibirnya, meski sesungguhnya ia sudah merasa terlalu lelah bahkan hanya untuk tertawa.

.

“Kenapa kau tertawa? Apa ada hal lucu?” tanya Kyuhyun tanpa menoleh pada Hyesoo, masih berkonsentrasi dengan pekerjaan mencucinya.

.

“Eo… Kau”, jawab Hyesoo.

.

“Aku? Kenapa?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Kau sangat berisik hanya dengan melakukan pekerjaan mencuci alat masak dan alat makan. Aku pikir kau akan memecahkan satu atau dua piring setelah ini jika terus mencuci seperti itu”, jawab Hyesoo.

.

“Hhh… Aku tidak terlalu terbiasa dengan ini. Kau tahu… aku bisa memasak. Tapi kemudian memberikan pekerjaan mencuci pada ahjumma yang sedang bertugas. Karena biasanya aku akan merasa kenyang dan tidak ingin melakukan apapun setelah makan”, kata Kyuhyun.

.

“Lalu kenapa hari ini kau melakukannya?” tanya Hyesoo sambil menenggak wine dari gelas ditangannya.

.

Kyuhyun meletakkan piring terakhir yang berhasil dicucinya tanpa kecelakaan apapun ke sisi kanan bak pencuci piring. Kemudian ia melepaskan sarung tangannya yang berwarna biru dan berbalik menghadap Hyesoo. Kyuhyun meraih gelas berisi wine miliknya yang ia letakkan tidak jauh dari tempatnya berdiri, lalu menyesapnya perlahan. Kyuhyun tersenyum pada Hyesoo setelahnya, belum memberikan jawaban apapun pada Hyesoo. Senyumnya mengembang, memunculkan barisan giginya yang rapi. Hyesoo mengerutkan keningnya sambil tetap tersenyum pada Kyuhyun, seolah memberikan pertanyaannya kembali pada Kyuhyun melalui tatapannya.

.

“Mungkin… karena kau ada disini bersamaku?” jawab Kyuhyun.

.

“Hhh… Karena itu? Really?” tanya Hyesoo dengan nada ragu.

.

“Aku tidak tahu”, jawab Kyuhyu sambil tertawa kecil. Ia melangkah mendekat pada Hyesoo, lalu duduk di sebelah Hyesoo. Kyuhyun memutar kursi yang diduduki Hyesoo agar menghadap padanya. “Aku melakukan banyak hal untuk pertama kalinya karenamu, Lee Hyesoo. Kau adalah hantu yang mengatur ulang setiap program dalam otakku”, sambung Kyuhyun.

.

“Hantu yang cantik?” goda Hyesoo.

.

“Hantu yang luar biasa cantik”, jawab Kyuhyun yang mengundang senyum lebar di bibir Hyesoo.

.

“Aku bersyukur karena matamu dalam keadaan yang sangat sehat”, kata Hyesoo yang secara tidak langsung memuji dirinya sendiri.

.

“Kau benar…” kata Kyuhyun setuju. “Otakku yang tidak”, sambungnya.

.

Hyesoo tertawa dibuatnya. Tawa itu bahkan menular dengan cepat pada Kyuhyun. Hanya saja Kyuhyun tidak mengeluarkan suara dalam tawanya. Ada dua hal yang tidak berkesinambungan di wajah Kyuhyun. Bibirnya tertarik lebar hingga memperlihatkan barisan giginya, tertawa bersama Hyesoo. Namun matanya memunculkan ekspresi berbeda. Mata Kyuhyun menatap tajam pada Hyesoo, memperhatikan setiap gerakan Hyesoo hingga yang paling kecil. Seolah Kyuhyun tidak ingin melewatkan satu gerakan pun dari gadis yang membuatnya menyuarakan pujaan disetiap detiknya.

.

“Ceritakan harimu”, kata Kyuhyun mengubah topik diantara mereka.

.

Oh no… Kau memang memiliki masalah di otakmu. What? Ceritakan hariku? Aku bahkan tidak melakukan itu pada eomma. Sejak kapan kita melakukan hal itu, by the way?” tanya Hyesoo.

.

“Sejak hari ini. Kita akan memulainya hari ini”, jawab Kyuhyun.

.

“Kenapa kau ingin mengetahuinya?” tanya Hyesoo.

.

“Aku tidak tahu. Aku tidak memiliki jawaban atas pertanyaan itu. Aku rasa sepertinya aku hanya ingin mendengar suaramu. Menyenangkan mendengarnya”, jawab Kyuhyun sambil meraih tangan Hyesoo, kemudian menggenggamnya.

.

“Cho Kyuhyun… Tidakkah kau berpikir bahwa kau melakukan terlalu banyak hal untukku?” tanya Hyesoo.

.

“Melakukan apa?” Kyuhyun balas bertanya.

.

“Semua hal”, jawab Hyesoo. “Kau mengalah padaku, berdebat denganku kemudian mengalah padaku, menerima kemarahanku, semuanya”, tanya Hyesoo.

.

“Apakah melakukan semua itu adalah kesalahan?” balas Kyuhyun.

.

“Tidak salah. Hanya saja…… Kenapa?” Hyesoo kembali bertanya.

.

“Lee Hyesoo…… Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu tetap seperti ini. Berada disisiku. Bersamaku. Tidak meninggalkanku. Aku tidak menginginkan yang lainnya”, jawab Kyuhyun. “Apa dengan bersikap seperti ini, aku mencekikmu? Atau membuatmu tidak nyaman?” tanya Kyuhyun setelahnya.

.

Hyesoo menggeleng perlahan. Kemudian Hyesoo memberikan senyum tipisnya pada Kyuhyun. “Aku tidak akan kemanapun. Kau tahu itu. Aku tidak bisa kemanapun, Cho Kyuhyun. Aku tidak ingin. Kau tidak perlu melakukan semua ini hanya untuk membuatku tetap bersamamu”, kata Hyesoo.

.

“Aku tahu… Aku tidak akan melakukannya jika kau tidak ingin [aku untuk melakukannya]. Aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman”, kata Kyuhyun.

.

Hyesoo berdesis, lalu memejamkan matanya sesaat sebelum kembali menatap tepat ke kedua mata Kyuhyun. Tiba-tiba Hyesoo bangkit berdiri sambil mengarahkan kedua tangan Kyuhyun ke pinggangnya. Hyesoo menyentuh bahu Kyuhyun dengan kedua tangannya, lalu merambat menuju ke leher. Hyesoo pun duduk di pangkuan Kyuhyun sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Kyuhyun. Hyesoo memberikan kecupan singkat di bibir Kyuhyun sebelum kembali menjauhkan kepalanya untuk menatap setiap inchi wajah Kyuhyun dengan tatapan lembutnya.

.

“Mungkinkah [aku bisa merasa tidak nyaman]? Pergi keluar sana dan tanyakan pada setiap gadis yang kau temui. Kau tidak akan mendapatkan kata itu dari mereka”, kata Hyesoo.

.

Senyum diwajah Kyuhyun mereda. Kyuhyun menatap Hyesoo dengan tatapan lembutnya yang juga menunjukkan kelelahan yang dirasakan tubuhnya. Kyuhyun menghela napas pelan sambil melingkarkan tangannya di pinggang Hyesoo. “Lee Hyesoo…… do you love me?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.

.

Hyesoo menghindari tatapan Kyuhyun. Ia justru mendekatkan kepalanya ke sisi sebelah kanan Kyuhyun. Hyesoo memeluk Kyuhyun tanpa menjawab pertanyaannya. Kyuhyun hanya tersenyum saat menyadari Hyesoo yang menghindari pertanyaannya. Kyuhyun menggerakan salah satu tangannya ke punggung Hyesoo, membelainya lembut. Hyesoo menempelkan hidungnya di bahu Kyuhyun sambil memejamkan matanya, menghirup aroma mint dari tubuh Kyuhyun yang sejak tadi menyapa indra penciumannya. Hidung Hyesoo bergerak naik menuju leher Kyuhyun, dan berakhir di belakang telinga Kyuhyun. Tiba-tiba Hyesoo mendaratkan sebuah kecupan disana, membuat Kyuhyun meremang setelahnya. Kyuhyun memejamkan matanya, merasakan darah yang mengalir cepat ke seluruh tubuhnya. Tubuh Hyesoo bergerak menjauh, namun kecupannya tetap berada disana, menjalar perlahan menuju rahang keras Kyuhyun, menyusuri garis keras itu hingga mendekati dagu.

.

Tangan dingin Hyesoo yang menyentuh leher sebelah kiri Kyuhyun membuatnya kembali membuka matanya. Hyesoo menjauhkan wajahnya dari Kyuhyun. Seketika salah satu tangan Kyuhyun sudah berada disalah satu sisi wajah Hyesoo, menyentuh kulit Hyesoo yang terasa begitu halus ditangannya. Kyuhyun menyentuh bibir Hyesoo dengan ibu jarinya dari sudut terjauh hingga terdekat dari telapak tangannya. Hyesoo menggigit bibir bawahnya setelah ibu jari Kyuhyun menjauh. Kyuhyun melepaskan gigitan itu dengan ibu jarinya lagi. Kemudian tanpa menunggu lebih lama lagi, ibu jari Kyuhyun pun digantikan dengan bibirnya yang langsung melumat bibir Hyesoo dalam. Kyuhyun memagut bibir Hyesoo, tidak memberikan kesempatan pada Hyesoo untuk menjauhkan diri darinya. Salah satu tangan Kyuhyun yang sebelumnya berada di pinggang Hyesoo sudah menjalar masuk ke dalam T-shirt yang digunakan Hyesoo, memberikan sentuhan dingin. Perlahan Hyesoo membalas ciuman Kyuhyun dengan ritme yang sama. Helaan napas berat pun terdengar di ruangan itu. Hyesoo berdesis saat merasakan ada tonjolan keras yang menyentuh pahanya. Keduanya saling melepaskan diri dan tertawa menyadari arti dibalik desisan Hyesoo. Dahi mereka masih saling bersentuhan. Mata keduanya pun masih saling terpejam.

.

“Kyuhyun-ah, aku belum tidur dengan cukup selama tiga hari”, kata Hyesoo dengan suara berbisik.

.

“Maafkan aku, Hyesoo-ya. Aku belum bisa membiarkanmu tidur malam ini”, balas Kyuhyun dengan suaranya yang terdengar serak.

.

Tanpa diduga, tangan Hyesoo ternyata sudah berada di kerah sweater Kyuhyun. Hyesoo menjauhkan kepalanya, kemudian menarik sweater itu keluar dari kepala Kyuhyun dengan cepat. Hyesoo membuang sweater hitam ditangannya itu ke lantai tanpa melihatnya sedikitpun. Tatapan keduanya bertemu. Hyesoo pun memberikan tatapan menggodanya pada Kyuhyun. “Kau pikir aku ingin [tidur]?” tanya Hyesoo masih dengan suara berbisiknya. Hyesoo menggelengkan kepala setelahnya. Tiba-tiba Kyuhyun bangkit berdiri, membawa serta tubuh Hyesoo di tangannya. Kedua kaki Hyesoo melingkar di pinggang Kyuhyun, begitu pula dengan kedua tangan Hyesoo yang melingkar sempurna di leher Kyuhyun. Hyesoo mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun. Namun Kyuhyun justru menghindarinya. Kyuhyun justru mendaratkan bibirnya di leher Hyesoo. Kyuhyun mulai melangkahkan kakinya menjauh dari dapur, menuju ke sofa terdekat yang dapat dijangkaunya. Kyuhyun tidak bisa mentolerir jarak kamarnya yang jauh lagi dalam keadaan seperti itu.

.

.

.

Suatu hari di bulan Februari

Donghae & Yoona’s Wedding

Crown Group Hotel Ballroom & Convention Hall

BGM: Sweet Sorrow – Beautiful

.

Para tamu sudah memenuhi ballroom megah di hotel milik Crown Group, tempat pemberkatan pernikahan yang baru saja dilangsungkan. Tema yang diangkat dalam pernikahan itu adalah ‘Vintage Garden’. Warna-warna lembut seperti baby pink, fuscia, baby blue, violet, dan velvet dapat ditemukan di setiap sudut ruangan. Alunan piano, gitar, biola, dan cello mengiringi acara yang memberikan kehangatan bagi para tamu yang datang. Janji setia kedua mempelai sudah terucap, disaksikan oleh seluruh tamu. Sejak hari itu, Donghae dan Yoona sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Kini kedua mempelai sedang melakukan dansa pertama mereka di hadapan semua orang. Gemuruh tepuk tangan dan seruan terdengar saat Donghae mencuri sebuah ciuman dari Yoona yang tersipu karena tindakan tiba-tiba suaminya itu. Di sisi barat ruangan, tiga pasang pendamping pengantin sedang mengistirahatkan tubuh mereka, masing-masing duduk dengan pasangannya. Ryeowook dan Hyeri disibukkan dengan kegemaran makan mereka, mencicipi hidangan khas hotel yang terkenal dengan pelayanan profesionalnya. Sementara Jaejoong dan Sooyoung masih membicarakan mengenai keseluruhan acara pernikahan yang sedang berlangsung, sekaligus merencanakan pernikahan yang mereka inginkan. Benar. Sooyoung akhirnya menerima lamaran Jaejoong. Karena itu, Jaejoong yang terkenal sebagai dokter bedah saraf yang tegas dan cukup dingin, hari ini terlihat penuh dengan senyuman dan tawa. Tatapannya tidak pernah terlepas dari wanita yang berhasil meluluhkan hatinya itu. Di meja yang berbeda, Kyuhyun dan Hyesoo sedang menyaksikan adegan manis yang sedang ditunjukkan oleh kedua mempelai. Kyuhyun mendekatkan kursinya, duduk tepat di belakang Hyesoo. Ia duduk diujung kursi agar bisa memeluk tubuh Hyesoo. Kyuhyun meletakkan kepalanya di bahu kiri Hyesoo. Keduanya tersenyum lebar melihat kebahagiaan yang begitu terpancar dari Donghae dan Yoona.

.

“Mereka sangat bahagia”, kata Hyesoo.

.

“Kau bahagia?” tanya Kyuhyun.

.

“Tentu saja. Aku bahagia”, jawab Hyesoo. “Kau?”

.

“Kebahagiaanku ada padamu, Hyesoo-ya”, jawab Kyuhyun.

.

Hyesoo menghela napas pelan, lalu mengubah posisi duduknya. Ia menatap Kyuhyun yang kini menumpukan kepalanya dengan salah satu tangan. Siapapun yang melihat Kyuhyun akan mengetahui seberapa besar ia memuja wanita yang ada dihadapannya itu. Hyesoo mengangkat alisnya, seolah menanyakan alasan dibalik tatapan Kyuhyun yang tidak pernah terlepas darinya itu. Kyuhyun hanya tersenyum menanggapi tatapan Hyesoo padanya, kemudian menggeleng pelan setelahnya.

.

“Kau sangat cantik hari ini, Lee Hyesoo” kata Kyuhyun.

.

Oh, stop it! Kau tidak perlu menegaskan sesuatu yang sudah diketahui semua orang”, kata Hyesoo dengan nada bergurau.

.

“Hhh… Kau benar…” kata Kyuhyun.

.

“Bagaimana perasaanmu hari ini?” tanya Hyesoo.

.

“Luar biasa. Kondisi terbaik yang pernah ku alami”, jawab Kyuhyun.

.

Hyesoo pun menyentuhkan jari-jarinya ke kening Kyuhyun, merapikan rambut Kyuhyun yang sempat berantakan karena terkena keringat. Hyesoo juga menghapus jejak keringat yang belum mengering di pelipis Kyuhyun dengan sentuhan lembutnya. Hyesoo menyentuhkan telapak tangannya di pipi Kyuhyun setelahnya, sambil menatap mata Kyuhyun dengan lembut. “I love you, Cho Kyuhyun” kata Hyesoo.

.

Kyuhyun tersentak. Kedua matanya melebar. Senyum diwajahnya pun sontak menghilang. Ia terkejut. Ini adalah kali pertama Kyuhyun mendengar kalimat itu terucap dari bibir Hyesoo setelah 5 tahun berpisah. Napas Kyuhyun tercekat, jantungnya seolah berhenti berdetak. Kyuhyun membuka bibirnya, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun tidak ada kata yang keluar dari bibirnya.

.

Baby, breathe…” pinta Hyesoo.

.

Kyuhyun menghembuskan napasnya seperti permintaan Hyesoo. Senyum mengembang mulai terlihat diwajahnya. Keningnya berkerut mengutarakan ketidakpercayaannya pada kalimat yang baru saja didengarnya. Kyuhyun menggelengkan kepalanya cepat, masih merasa terkejut dengan ucapan Hyesoo. “I love you so much”, kata Kyuhyun akhirnya.

.

“Aku tahu… Aku sangat mengetahuinya”, kata Hyesoo.

.

“Terima kasih karena tetap mencintaiku”, kata Kyuhyun.

.

BGM: Kyuhyun – Smile

.

“Kau berhutang padaku”, ujar Hyesoo.

.

“Aku akan membayarnya seumur hidupku”, kata Kyuhyun dengan senyum mengembang diwajahnya.

.

“Ya! Kenapa kalian berdua hanya duduk saja disana? Ayo turun ke lantai dansa”, ajak Soyu yang sudah bergandengan dengan Soohyuk menuju lantai dansa.

.

“Kalian duluan saja”, kata Hyesoo pada Soyu dan Soohyuk yang sudah berjalan menjauh.

.

Tiba-tiba Kyuhyun bangkit berdiri, lalu berjalan ke samping Hyesoo. Ia menjulurkan tangannya pada Hyesoo yang menatapnya heran. “Nona Lee Hyesoo, berdansa denganku?” pinta Kyuhyun.

.

Senyum Hyesoo mengembang, tertawa kecil dengan tingkah Kyuhyun yang tidak diduganya. Hyesoo pun menumpukan tangannya diatas tangan Kyuhyun, menerima ajakannya. “Dengan senang hati”, jawab Hyesoo.

.

Kyuhyun membawa Hyesoo ke lantai dansa. Ia meletakkan tangan Hyesoo di bahunya. Kemudian Kyuhyun menyentuhkan kedua tangannya melingkar di pinggang Hyesoo. Mereka bergerak mengikuti iringan musik yang mengalun. Langkah mereka berpadu begitu serasi, melengkapi langkah satu sama lain. Tatapan mereka tidak pernah terlepas. Senyum masih menghiasi wajah keduanya. Kebahagiaan yang mereka ciptakan semakin melengkapi suasana pesta pernikahan itu. Sesekali Kyuhyun dan Hyesoo tertawa bersama, meski keduanya tidak sedang bicara pada satu sama lain. Kyuhyun bertanya pada Hyesoo tanpa suara, meminta ijin Hyesoo untuk menciumnya. Namun Hyesoo menggelengkan kepalanya, menolak permintaan Kyuhyun. Sebuah senyum lembut pun Kyuhyun berikan untuk menanggapi penolakan yang diterimanya dari Hyesoo. Sebagai gantinya, Kyuhyun menyentuhkan keningnya di kening Hyesoo. Kyuhyun memejamkan matanya, membiarkan kakinya bergerak dengan mengandalkan naluri. Hyesoo pun ikut memejamkan matanya bersama Kyuhyun. Keduanya tetap menari sesuai iringan musik selama beberapa saat. Hingga saat Hyesoo membuka matanya. Sebuah ide tiba-tiba saja muncul dalam pikirannya. Kyuhyun masih memejamkan matanya, sehingga ia tidak melihat senyuman tipis di wajah Hyesoo yang menghilang dengan cepat setelahnya. Hyesoo menjauhkan keningnya, membuat Kyuhyun membuka matanya. Hyesoo bicara pada Kyuhyun tanpa bersuara, mengatakan pada Kyuhyun bahwa ia ingin pergi ke kamar kecil. Kyuhyun hanya mengangguk pelan menanggapinya.

.

Kyuhyun dan Hyesoo pun berjalan keluar dari lantai dansa menuju tempat duduk mereka sebelumnya. Sudah tidak ada siapapun disana. Karena Ryeowook, Hyeri, Jaejoong dan Sooyoung sedang berada di lantai dansa saat ini. Hyesoo berjalan menjauh, meninggalkan Kyuhyun di meja mereka. Sosok Hyesoo menghilang dengan cepat diantara banyak tamu yang hadir disana. Kyuhyun pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk menghilangkan kebosanannya sepeninggal Hyesoo. Kyuhyun membuka semua aplikasi yang memungkinkan untuk dibuka. Mulai dari media sosial, aplikasi berita elektronik, hingga games ponsel tanpa mengaktifkan modus suara. Kyuhyun mulai merasakan kecemasan. Pasalnya, Hyesoo tidak segera kembali setelah pergi lebih dari 20 menit lamanya. Kyuhyun bangkit berdiri sambil memasukkan ponselnya ke saku celananya kembali. Kyuhyun menyapukan pandangannya ke setiap sudut yang dapat tertangkap olehnya, berharap menemukan sosok Hyesoo di suatu tempat. Namun Kyuhyun tidak lantas menemukan Hyesoo. Bahkan Hyesoo sedang tidak bersama keluarga maupun teman-temannya. Tiba-tiba ponsel di dalam sakunya bergetar. Kyuhyun mengeluarkannya, melihat nama Hyesoo muncul di layar telepon, membuat Kyuhyun menyentuh panel hijau di layar dengan cepat.

.

“Lee Hyesoo, kau dimana? Kenapa belum kembali?” tanya Kyuhyun.

.

Kau harus mendengarkanku mulai detik ini. Kau tidak boleh melanggar atau menolak. Kau harus melakukan semua hal yang ku katakan”, kata Hyesoo tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.

.

.

BGM: Jung Joon Young – Where Are U

 .

.

“Apa? Apa maksudmu? Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Kyuhyun.

.

Shut up! Berhenti protes dan dengarkan kata-kataku”, perintah Hyesoo. “Sekarang kau harus keluar dari ballroom melalui pintu timur. Now!

.

Kyuhyun melakukan perintah Hyesoo tanpa protes. Ia berjalan keluar melewati pintu timur seperti keinginan Hyesoo. Kyuhyun menghentikan langkahnya setelah tiba diluar ruangan. Tidak ada siapapun disana. Hanya beberapa orang yang berlalu lalang dan beberapa penjaga keamanan.

.

“Lalu?” tanya Kyuhyun.

.

Keluar dari hotel, lalu berjalan 40 meter ke kanan. Ingat! Berjalan”, kata Hyesoo.

.

“Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan, Lee Hyesoo?” tanya Kyuhyun sambil berjalan menuju pintu keluar.

.

Lakukan saja dan temukan aku”, kata Hyesoo yang kemudian memutus sambungan telepon mereka.

.

“Yoboseyo? Yoboseyo? Lee Hyesoo?!” seru Kyuhyun. “Aish… gadis ini membuatku semakin gila”, keluh Kyuhyun.

.

Kyuhyun berhasil keluar dari hotel, kemudian berjalan mengikuti petunjuk yang sudah diberikan oleh Hyesoo. Ia berjalan sejauh 40 meter ke kanan dari pintu utama hotel. Kyuhyun berhenti tepat di meter ke 40. Ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, berusaha menemukan Hyesoo. Namun ia tetap tidak menemukan sosok Hyesoo dimanapun. Hingga suara lonceng kecil yang dipasang disudut pintu sebuah toko berbunyi, menandakan seseorang sedang melewatinya. Kyuhyun menoleh cepat, mengira Hyesoo akan keluar dari tempat itu. Namun yang ditemukannya justru salah satu pegawai yang membawa tas kertas ditangannya. Kyuhyun baru akan mengalihkan pandangannya kembali saat pegawai yang dilihatnya itu justru menghampirinya.

.

“Apakah anda Cho Kyuhyun?” tanya pegawai kedai itu.

.

“Benar. Bagaimana anda bisa mengetahuinya?” Kyuhyun balas bertanya.

.

“Seorang wanita bernama Lee Hyesoo berpesan untuk memberikan ini pada anda”, jawab pegawai itu sambil menyerahkan tas kertas pada Kyuhyun.

.

“Ah… Ne, terima kasih” kata Kyuhyun sambil menerima tas itu. “Apakah ini sudah dibayar?” tanya Kyuhyun setelahnya.

.

“Ne, sudah” jawabnya. “Saya permisi. Selamat menikmati”.

.

Kyuhyun menundukkan kepalanya singkat, memberikan salam pada pegawai kedai yang berlalu masuk kembali ke dalam kedai. Kyuhyun menatap tas kertas di tangannya dengan tatapa bingung. Hyesoo membeli satu porsi sandwich tapi meninggalkannya agar diambilkan oleh Kyuhyun. ‘Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan, Lee Hyesoo?’ tanya Kyuhyun dalam pikirannya. Ponsel ditangan Kyuhyun kembali bergetar. Kali ini sebuah pesan baru saja masuk. Kyuhyun membuka ponselnya untuk membaca pesan itu. Kembali. Hyesoo memberikan sebuah tugas pada Kyuhyun. Hyesoo mengirimkan pesan beserta dengan sebuah foto sepasang sepatu di salah satu toko. Letak tokonya hanya beberapa meter dari tempat Kyuhyun berdiri.

.

From: Hyesoo

Aku melihatnya kemarin

Aku sangat menginginkannya

Aku bahkan bermimpi Cho Kyuhyun membelikannya untukku

.

Kyuhyun pun berjalan menuju toko yang terpisah dua gedung dari toko roti. Kyuhyun masuk ke dalam toko yang dipenuhi dengan banyak sepatu dari berbagai merk ternama. Kyuhyun kembali melihat foto yang dikirim oleh Hyesoo, memastikan bentuk, merk, dan jenis sepatu yang diinginkan oleh Hyesoo. Kyuhyun bukan tipe pria yang menyukai kegiatan belanja. Karena itu, ia lebih memilih untuk menunjukkan foto itu pada pegawai toko yang berdiri tidak jauh darinya. Pegawai itu kemudian mengambilkan sepatu yang diminta Kyuhyun. Tanpa memikirkan hal lain, Kyuhyun segera membayar sepatu itu dengan kartu kredit nya. Seorang pegawai memberikan sebuah amplop berwarna merah maroon pada Kyuhyun saat kasir sedang memproses pembayaran. Kyuhyun membuka amplop itu sesaat setelah menerimanya.

.

Dear Kyuhyun,

Apakah kau lelah? Aku pikir kau tidak akan merasa terlalu lelah.

Kau hanya berjalan sejauh 40 meter. Bukan jarak yang jauh untuk pria yang tangguh, bukan?

Jika kau membaca surat ini, itu berarti kau sudah mendapatkan sepatu yang ku inginkan.

Betapa beruntungnya seorang Lee Hyesoo memiliki kekasih seperti Cho Kyuhyun.

Kau membelikan sepatu itu dengan mudah.

Sepertinya lain kali aku harus meminta sebuah rumah padamu. Lol…

Hmm… Setelah ini, kau belum bisa beristirahat. Aku tidak akan membiarkanmu.

Kau harus berjalan ke seberang, lalu melangkah maju kira-kira 10 meter saja.

Kau akan membelikanku satu porsi green tea tutty frutty bingsu

Lalu kau akan keluar dan masuk ke toko bunga yang berada tepat di sebelah kirinya

Aku ingin seikat bunga mawar merah.

Kau mendapatkan kebebasan untuk menentukan jumlahnya.

Aku tahu kau akan kesulitan untuk membuka ponselmu setelah mendapatkan semua itu.

Maka, aku akan memberitahukan tujuan akhirmu dalam surat ini.

Temui aku di rooftop apartment mu.

Love you…

 

Yours,

H

.

“Ch… Wanita ini sudah gila rupanya…” keluh Kyuhyun dengan suara pelan.

.

“Ini kartu anda, Tuan Cho” kata kasir.

.

“Anda mengenal saya?” tanya Kyuhyun bingung sambil memasukkan kartu kreditnya kembali ke dalam dompet. “Tidak ada struk?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Saya tidak memproses pembayaran anda, tuan. Toko ini adalah salah satu anak perusahaan dari Cho Corp. Anda memiliki kebebasan penuh untuk melakukan transaksi di toko kami”, jawab kasir itu.

.

“Begitu… Ne, terima kasih. Selamat bekerja”, kata Kyuhyun sambil meraih tas berisikan kotak sepatu permintaan Hyesoo.

.

Kyuhyun segera keluar dari toko yang ternyata merupakan bagian dari perusahaan milik keluarganya itu. Ini adalah kali pertama baginya berbelanja sebuah barang yang berasal dari toko milik perusahaannya. Kali pertama yang lain karena seorang Lee Hyesoo. Kyuhyun pun berjalan menyeberangi jalan, menuju kedai bingsu yang disebut oleh Hyesoo dalam suratnya. Kemudian ia membeli satu ikat bunga mawar merah berukuran sedang dengan jumlah bunga sebanyak 30 tangkai. Dugaan Hyesoo akan keadaan Kyuhyun benar-benar terjadi. Kini kedua tangan Kyuhyun dipenuhi dengan barang-barang yang dipesan Hyesoo padanya. Kyuhyun bahkan kesulitan untuk membuka pintu taksi yang baru saja di berhentikannya. Sebenarnya Kyuhyun bisa saja menggunakan mobilnya sendiri. Tapi, dalam situasi itu Kyuhyun bahkan kesulitan untuk meraih ponsel disakunya untuk memanggil supir pribadinya. Karena itu, Kyuhyun memilih menggunakan taksi untuk menuju ke tempat dimana Hyesoo berada.

.

Kyuhyun membutuhkan waktu kira-kira 10 menit untuk sampai di gedung apartmentnya. Ia segera masuk ke lift hingga lantai teratas yang dapat diraih oleh lift itu. Setelahnya, Kyuhyun masih harus menaiki tangga melewati dua lantai untuk mencapai rooftop. Pintu rooftop sudah terbuka saat ia tiba di pijakan teratas tangga. Kyuhyun keluar melalui pintu itu. Tidak ada siapapun disana. Kyuhyun pun berjalan memutati rooftop. Langkahnya terhenti saat ia menemukan sebuah meja makan dengan dua buah kursi, lengkap dengan bunga, lampu-lampu disekitarnya dan lilin di sisi kanan rooftop. Kyuhyun segera meletakkan dua tas yang berisikan bingsu dan sandwich di atas meja, tas berisikan kotak sepatu di salah satu kursi, dan bunga di kursi lainnya. Tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Sebuah panggilan telepon baru saja masuk. Kyuhyun merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponsel yang tidak berhenti bergetar itu. Nama Hyesoo kembali muncul dilayar ponselnya. Kyuhyun menyentuh panel hijau kemudian menggesernya agar panggilan itu tersambung dengannya. Lalu Kyuhyun menempelkan ponsel itu di telinganya tanpa mengatakan apapun pada Hyesoo.

.

Yoboseyo?” kata Hyesoo di seberang telepon.

.

“Kau dimana?” tanya Kyuhyun langsung pada poin utama.

.

Aku akan segera kesana”, jawab Hyesoo dengan nada riang.

.

“Lee Hyesoo… Apa yang sedang kau lakukan? Apa rencanamu sebenarnya? Kau yang memintaku membeli semua ini, lalu kesini untuk menemuimu. Tapi kau bahkan belum ada disini. Apa ini?” protes Kyuhyun.

.

Kau sudah melihat dekorasinya?” tanya Hyesoo tidak menghiraukan protes dari Kyuhyun.

.

“Sudah”, jawab Kyuhyun singkat.

.

Bagaimana pendapatmu?” tanya Hyesoo lagi.

.

“Cozy dan indah. Sangat Lee Hyesoo”, jawab Kyuhyun.

.

Apa kau menemukan kekurangan disana?” tanya Hyesoo.

.

“Eung…”, jawab Kyuhyun dengan gumaman.

.

Apa?

.

“Kau”.

.

Hhh… Aku sudah bilang aku akan segera kesana”, kata Hyesoo.

.

“Cepatlah…” perintah Kyuhyun.

.

Arasseo… Sebelumnya, bisakah kau membacakan kata yang tertulis di tembok?” pinta Hyesoo.

.

“Kata? Kata apa?” tanya Kyuhyun sambil menoleh kearah tembok yang dimaksud Hyesoo. Kyuhyun baru menyadari ada sebuah kata yang tertulis disana. “Hanya ada kata YES disana”, kata Kyuhyun setelahnya.

.

Bagaimana perasaanmu saat membacanya?” tanya Hyesoo.

.

“Aku harus membacanya dengan perasaan?” Kyuhyun balas bertanya.

.

Bodoh… Tentu saja!” seru Hyesoo.

.

“Perasaan apa yang harus ku miliki saat membacanya?” Kyuhyun kembali bertanya.

.

Bahagia? Terkejut? Tidak bisa berkata-kata? Apapun selain kesedihan dan kemarahan”, kata Hyesoo yang merasa cukup frustrasi dengan ketidakpekaan Kyuhyun.

.

“Dan alasan aku harus merasa seperti itu adalah?” tanya Kyuhyun sekali lagi.

.

Di detik yang sama saat Kyuhyun mengatakan kata terakhir dalam pertanyaannya, Hyesoo sampai di rooftop. Ia berdiri dibelakang Kyuhyun, namun Kyuhyun tidak menyadari keberadaan Hyesoo sama sekali. “Cho Kyuhyun, apa ada masalah dengan kepalamu hari ini? Kau masih tidak tahu? Kenapa kau sangat tidak peka?” protes Hyesoo.

.

Kyuhyun pun berbalik dengan cepat saat mendengar suara Hyesoo. Ada ketenangan diwajahnya setelah akhirnya menemukan Hyesoo yang menghilang darinya beberapa saat yang lalu. Senyum tipis muncul dibibirnya. Tatapannya perlahan melembut. “Bagaimana aku bisa mengetahuinya jika kau tidak memberitahuku?” tanya Kyuhyun setelahnya.

.

Hyesoo menghela napasnya, lengkap dengan gerakan bahu untuk menunjukkan rasa frustrasinya pada Kyuhyun. Sebuah senyum manis menghiasi wajahnya hanya beberapa saat setelahnya, mengubah suasana diantara mereka menjadi lebih menenangkan. Hyesoo berdeham pelan sebelum kembali tersenyum pada Kyuhyun. “Cho Kyuhyun… Aku mau menikah denganmu”.

.

Senyum diwajah Kyuhyun sontak menghilang, digantikan dengan raut terkejut yang terlihat jelas diwajahnya. Kyuhyun tidak memberikan tanggapan apapun. Ia terdiam. Ia terlalu terkejut untuk berkata-kata. Kalimat yang baru saja diucapkan Hyesoo lebih mengejutkannya dibandingkan dengan kata cinta yang hampir satu jam lalu didengarnya. Napasnya benar-benar tercekat. Jantungnya berdetak begitu cepat. Kakinya bahkan terasa lemas seperti agar-agar. Kyuhyun merasa seolah jiwanya baru saja meninggalkan tubuhnya. Bahkan angin yang dapat dirasakan diatas rooftop tidak mampu membawanya kembali ke alam nyata.

.

Happy birthday”, kata Hyesoo mengucapkan ucapan selamat ulang tahun pada Kyuhyun darinya yang terlambat tiga hari.

.

Akhirnya Kyuhyun dapat menghela napas panjang setelahnya. Wajahnya belum menunjukkan ekspresi apapun, membuat senyum Hyesoo semakin mengembang karenanya. Tiba-tiba Kyuhyun menundukkan tubuhnya 90° sambil memegang kedua lututnya, lalu kembali berdiri tegak. Ia sudah mampu bergerak. Kyuhyun berbalik, menghindari tatapan Hyesoo yang bisa membuat otot di seluruh tubuhnya semakin melemah. Kyuhyun menjalarkan jari-jari tangan kanannya ke belakang kepala, meremas rambut ikalnya. Kemudian ia kembali berbalik menghadap pada Hyesoo. Bibirnya terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun tidak ada satu katapun yang keluar.

.

“Waaahhh… Aku bisa gila! Aku sudah gila! Hah… Aku tidak bisa berpikir. Tanganku… Tubuhku gemetar. Kakiku lemas sekali. Lee Hyesoo! Apa yang kau lakukan padaku? Aku… Aku…” kata Kyuhyun dengan terbata.

.

Hyesoo tertawa kecil mendengar ucapan Kyuhyun. Hyesoo menutup wajahnya karena tersipu dengan sikap yang ditunjukkan oleh Kyuhyun. Hyesoo merasa wajahnya akan memerah setelahnya. Melihat itu, Kyuhyun pun segera berjalan dengan cepat ke arah Hyesoo. Kyuhyun meraih kedua tangan yang menutupi wajah Hyesoo. Kyuhyun memberikan senyuman tulus mengembang padanya. Dapat terlihat genangan air di kedua matanya. Kyuhyun pun sontak mencium bibir Hyesoo. Ciuman lembut yang menyerukan perasaannya pada wanita dihadapannya itu. Hyesoo melepaskan genggaman tangan Kyuhyun ditangannya, lalu melingkarkan tangannya di leher Kyuhyun dan membalas ciuman yang diberikan oleh Kyuhyun. Kedua tangan Kyuhyun menyentuh pinggang Hyesoo, kemudian merengkuh tubuh Hyesoo mendekat padanya. Kyuhyun melepaskan ciumannya, lalu menatap Hyesoo dengan tatapan memuja yang tidak pernah hilang dari matanya.

.

“Terima kasih… Terima kasih, Hyesoo-ya… Aku… Aku… huh… Aku tidak bisa mengatakan apapun”, kata Kyuhyun sambil mengatur napasnya yang memburu.

.

“Kyuhyun-ah… I love you…” kata Hyesoo.

.

I love you the most”, balas Kyuhyun yang memeluk tubuh Hyesoo dengan erat setelahnya.

.

.

.

.

THE END

.

Note:

SURPRISE!!! Ternyata part ini adalah part terakhir dari FF I’m walking towards you. Fiuuhh… Sebentar… Aku bernapas dulu. Setelah sekiaaaaaannn lama berpikir, akhrinya aku berhasil menyelesaikan part akhir ini dengan selamat. Seperti harapan banyak readers, kita menemukan… Happy Ending! *tepuktangan *90°bow

Bagaimana, readers? Apakah kalian puas dengan akhir bahagia yang super panjang ini? Aku harap ending dari FF ini tidak mengecewakan kalian. Aku juga berharap kalian tidak menemukan banyak typo di part ini. Aku juga berharap tidak ada readers yang lagi baca pesanku ini sambil bilang “Lah? Gini doang?” Semooooga tidak ada.

Setelah 15 part penuh kesedihan, kemarahan, kebencian, moment manis, moment lucu, akhirnya kata THE END muncul. Perjalanan kisah Hyesoo dan Kyuhyun berakhir dengan kebahagiaan. Tidak hanya untuk mereka berdua, tapi juga untuk semua cast dalam FF ini. Aku sangat berharap di part terakhir ini kalian bisa memberikan comment yang sedikit lebih panjang mengenai kesan-kesan kalian pada FF ini. Tapi aku tidak memaksa. Feel free to write anything you want. Kalau kalian nggak mau comment apapun juga nggak apa-apa…… *nangisdipelukanleesoohyuk

Terima kasih banyak para readers yang sudah setia menunggu kelanjutan FF ini setiap minggunya. Terima kasih kalian sudah mau bersabar setiap kali ada keterlambatan update. Terima kasih atas pengertian yang kalian berikan pada author yang punya penyakit moody ini. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu kalian untuk memberikan komentar, berbagi kesan kalian tentang FF ini disetiap part-nya. Terima kasih juga untuk pada pembaca rahasia yang mungkin masih bersembunyi. Salam kenal dari Kana. Semoga karyaku tidak mengecewakan kalian juga. Dan maaf untuk semua hal yang tidak berkenan dihati kalian dalam FF ini. Semoga FF ku yang selanjutnya (It supposed to be me) dapat diterima sehangat ini juga oleh kalian. I’m walking towards you pamit!!! Annyeonghigaseyo…

Advertisements

28 thoughts on “I’m walking towards you : Part 15

  1. Akhir yang bahagia.
    Sneng bngt kyuhyun bisa kmbli brsma Hyesoo, stlah bnyak rintangan yg menghadang mreka.
    Dn smuanya juga pda Bahagia.

    Like

  2. Puas??? Gak akan ada dikamus, ini seperti candu,,,ohhhhh kyuhyeeeee
    mian gak bs terus komen, tapi aku salah satu penikmat tulisanmu yang sangat berterima kasih *sangat udah bisa baca disini. Aku harus komen 4 kali baru masuk dan itu nyiksa buat manusia super penasaran kek saya,,mian bukan reader yang baik. Tetep semangat!!! Ini tulisan ke-4, aku yakin ini kekirim, #fighting!

    Like

  3. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION – evilkyu0203

  4. Happyyyy ending yaaayyyyy 💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕 ff nya sumpah bagus banget ya…. jalan ceritanya menarik 😙😙😙 keren deh ditunggu ff yang lainnya yak … semangat nulis

    Like

  5. akhirnya selesai jga bacanya,, semalem nyerah di part 14,, uda pnsaran tpi apa boleh buat,, matanya udh gak bisa bgadang..
    Wkwkwkw
    Dan finally… Mereka nikahhhh…
    senyum gaje ajalah,,, wkwkkw

    Like

  6. wooowww akhirnyaaa.. yeeeyyy… happy ending.. kukiraa pas soyuu ngomong2 soal hub keluarga seo ama cho nnti bakal asa maslah lagi yg berkaitan dgn perjodohan keluargaa.. haha.. ternyataa enggakkk…

    Like

  7. Akhirnya ya setelah melewati proses yang panjang kenahagiaan menghampiri mereka ,, lima tahun berpisah tidk bisa menghapus cinta mereka ,,penantian panjang yang akhirnya membuat hyesoo mau menikah dengan lyuhyun ,, caranya cukup romantis ,, hyesoo mau di lamar tapi dia yang mempersiapkan semuanya

    Like

  8. Akhirnya setelah sekian lama melewati kesedihan dan sakit hati kyuso bersama lagi. Senangnya semua berakhir dengan happy ending. Dibalik kesakitan yang mereka alami ada kebahagiaan yang datang.

    Like

  9. Telat baca part ini .. ternyata end … yg memuaskan walu ga nyampe ke wedding .. heeehee tp god job buat hana yg sukses bikin aku senyum2 gaje… ngakak karna kekonyolan para cast’y… dn mendebarkan dengan aksi hyeso yg ngerjain kyu….

    Lanjut fokus ke ff baru mu kana d tnggu lanjutan setiap partnya ….. 🙂 😉

    Like

  10. kyaa….. akhirnya…… happy ending.
    setelah semua yang mereka lalui mereka bisa bersama dan semuanya berakhir bahagia.

    ditunggu karyamu yang lain kana.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s