It supposed to be me : Part 1 [PILOT]

Author: Okada Kana

Category: PG-15, Romance, Chapter, Family

Cast:

Cho Kyuhyun, Lee Donghae, Choi Minho, Kwon Yunji, Kim Yura, Choi Sooyoung

Kwon Yuri, Kim Ryeowook, Shim Changmin, Kim Suho, etc…

Disclaimer:

Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi atau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Jadilah pembaca yang baik dan sopan. No bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Saran dan kritik membangun akan diterima dengan senang hati. Selamat membaca!!!

.

.

It supposed to be me : [PILOT]

It’s starting from here

.

.

Kyuhyun’s POV

Gimpo International Airport

.

Aku kembali. Setelah 5 tahun berlalu, akhirnya aku merasakan hawa familiar ini lagi. Kehangatan Seoul yang begitu ku rindukan. Aku sudah benar-benar berada di rumah. Bahkan kehangatan kota ini membuatku melupakan suasana menyejukkan pantai di Pulau Jeju yang ku tinggalkan. Aku sudah membiasakan diri beraktifitas dengan kondisi waktu setempat. Enam bulan tinggal di Pulau Jeju membuat jet lag yang ku alami telah terobati sepenuhnya. Aku hanya perlu membiasakan diri dengan suasana kota Seoul yang begitu ramai. Tidak begitu sulit, mengingat aku cukup terbiasa dengan keramaian kota San Francisco selama lebih dari 4 tahun menetap disana. Awalnya aku berencana untuk tinggal lebih lama disana. Lalu kembali setelah aku menyelesaikan kuliahku. Namun abeoji memintaku segera kembali, untuk alasan yang belum ku ketahui. Dan disinilah aku, berdiri di depan lobby kedatangan dalam negeri bandar udara Gimpo, menunggu siapapun yang akan datang menjemputku. Aku bukan sedang bersikap manja, hanya saja ini adalah kali pertamaku kembali ke Seoul setelah lebih dari 4 tahun menetap di SF (meskipun aku sudah sempat menetap di Jeju selama setengah tahun). Aku tidak pernah kembali satu kalipun ke Seoul. Karena keluargaku selalu memilih untuk datang mengunjungiku disana sembari berlibur bersama.

Bunyi klakson mengalihkan pandanganku dari layar ponsel ditanganku. Sebuah mobil SUV berwarna maroon keluaran terbaru Hyundai melaju pelan mendekat ke arahku. Ahra nuna datang menjemputku bersama Woohyuk hyung, suaminya. Aku memberikan senyum tipisku pada mereka yang menghentikan mobil tepat di hadapanku. Ahra nuna keluar dari mobil, lalu berjalan memutar mendekat padaku. Diikuti dengan Woohyuk hyung yang juga keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang di belakang. Ahra nuna memberikan pelukan selamat datangnya padaku sambil menggoyang – goyangkan tubuhku ke kiri dan kanan. “Aigoo… Uri kangaji dochakhaessguna… (Ternyata puppy ku sudah sampai…)” kata nuna setelahnya. Aku membalas pelukannya dan menepuk-nepuk punggungnya dengan canggung. Aku bukan sedang menunjukkan penolakanku atas afeksi yang diberikan oleh nuna. Hanya saja menurutku sikapnya sedikit berlebihan. Kami baru bertemu beberapa minggu yang lalu di Jeju saat mereka sekeluarga menghabiskan 1 minggu liburan musim panas mereka disana. Setiap orang yang melihat sikap nuna akan mengira bahwa aku baru kembali setelah berpuluh tahun meninggalkan Seoul. Sedangkan aku akan terlihat seperti adik kurang ajar yang tidak menyayangi kakak perempuannya.

Setelah lebih dari 1 menit memelukku dengan dramatis, akhirnya nuna melepaskan pelukannya. Aku menghela napas pelan mengutarakan kelegaanku atas berakhirnya adegan drama keluarga akhir pekan itu. Woohyuk hyung berdesis, tertawa kecil karena menyadari rasa jengahku pada sikap nuna. Tawa Woohyuk hyung menular padaku, menertawakan diriku sendiri. Woohyuk hyung pun menyambutku dengan tepukak di lengan atasku, mengerti bahwa aku menolak afeksi yang berlebihan atas kedatanganku. Kemudian hyung meraih tas pakaianku dan memasukkannya ke kursi penumpang.

“Kau sudah makan siang?” tanya Ahra nuna.

“Eo… Aku sudah makan sebelum penerbangan. Lagipula sekarang sudah jam 3. Sudah bukan waktu yang tepat untuk menyebutnya siang”, jawabku.

“Abeoji dan eomeoni sedang menghadiri sebuah acara dengan rekan-rekan mereka di komunitas. Mungkin baru akan kembali saat makan malam”, kata Woohyuk.

“Begitu? Kalau begitu, hyung, bisakah hyung mengantarku ke Apgujeong saja? Tas ku biarkan di mobil hyung saja. Toh hyung nanti akan kembali ke rumah juga”, pintaku.

“Apgujeong? Kenapa? Kau memiliki janji untuk bertemu dengan seseorang? Apa yang ingin kau lakukan disana?” tanya Ahra nuna.

“Mwo… Apapun. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di Apgujeong”, jawabku santai.

“Tidak boleh. Kau tidak akan kemanapun. Kau harus kembali ke rumah dan beristirahat. Kau baru sampai, Kyuhyun-ah” titah Ahra nuna dengan nada bicara khas seorang ibu miliknya.

“Bukankah di rumah tidak ada orang? Nuna dan hyung pasti akan kembali ke rumah sakit setelah ini. Jiwoo juga masih di sekolah, bukan? Lebih baik aku berjalan-jalan saja sebentar”, jawabku.

“Baiklah. Aku akan mengantarmu ke Apgujeong”, kata Woohyuk hyung mengambil keputusan dengan cepat.

“Oppa! Ada apa denganmu? Kenapa kau tidak mendukung pendapatku?” protes Ahra nuna.

“Apa? Yang dikatakan Kyuhyun benar, Ahra-ya. Lebih baik dia berjalan-jalan sebentar di apgujeong daripada harus berada di rumah seorang diri”, jawab Woohyuk hyung.

“Kyuhyun bisa beristirahat dirumah. Dia baru saja sampai, oppa” balas Ahra nuna.

“Jiwoo eomma, Kyuhyun tidak ingin beristirahat. Lagipula penerbangan Jeju ke Seoul tidak memakan waktu yang lama. Dia tidak lelah, yeobo” kata Woohyuk hyung menyanggah ucapan nuna lagi.

“Tapi tetap saja sebaiknya Kyuhyun beristirahat dulu setelah melakukan perjalanan, bukan?” Ahra nuna tetap bersikeras.

“Jeogiyo, ahjussi, ahjumma, sampai kapan kita akan berdebat tentang hal ini? Tas ku sudah berada di mobil, aku akan naik taksi ke apgujeong jika kalian tidak berhenti memperdebatkan hal kecil ini”, kataku memberikan solusi lain yang pasti akan menuai protes dari Ahra nuna.

“Masuklah ke mobil, Kyuhyun-ah. Kau juga, Cho Ahra. Kita akan mengantarnya”, kata Woohyuk hyung mengucapkan keputusan akhirnya.

Tentu saja Ahra nuna tidak lagi membantah keputusan Woohyuk hyung. Namun raut kesal terlihat di wajahnya. Aku terkekeh melihat ekspresi di wajah Ahra nuna. Tindakan ku itu berbuah sebuah tinju pelan yang dilayangkan Ahra nuna ke lengan kiriku sesaat sebelum aku masuk ke dalam mobil. Aku cukup beruntung dengan kehadiran Woohyuk hyung diantara kami. Jika hanya ada aku dan nuna dalam situasi yang baru saja terjadi, maka aku tidak akan pernah bisa memenangkan keinginanku melawan nuna. Hakku sebagai seorang adik dapat disingkirkan dengan mudah oleh kakak perempuanku satu-satunya ini. Aku memutuskan akan menggunakan Woohyuk hyung sebagai senjata ku mulai hari ini.

Mobil kembali menepi beberapa meter sebelum persimpangan di pusat keramaian Apgujeong. Aku turun dari mobil lalu melambaikan tanganku pada Woohyuk hyung dan Ahra nuna yang baru saja memberikan pesan padaku untuk pulang ke rumah sebelum makan malam. Aku mengangguk tegas, menyanggupi permintaan keduanya. Mobil yang dikemudikan Woohyuk hyung pun melaju meninggalkanku di trotoar. Mereka harus kembali ke rumah sakit. Pekerjaan keduanya sebagai dokter, tidak memberikan keleluasaan waktu di jam seperti ini. Aku pun kembali seorang diri. Sudah menjadi nasib seorang laki-laki lajang yang selama 1 tahun terakhir tidak memiliki seorang gadispun untuk dikencani, berjalan sendirian dimanapun. Aku bukan tipe seorang pemilih. Aku juga bukan tipe laki-laki yang tidak bisa bertahan tanpa seorang gadis di sampingku. Hatiku hanya belum menemukan orang yang mampu membuatnya bertekuk lutut. Lagipula aku cukup menikmati kesendirianku. Meski aku berpikir bahwa aku akan merasa kesepian, mengingat aku tidak memiliki banyak teman di Seoul. Aku akan terbiasa dengan ini.

Aku mulai berjalan di sepanjang pertokoan yang berjajar di Apgujeong. Toko yang menjual mulai dari pakaian, sepatu, tas, sampai pernak-pernik lainnya dapat ditemukan dengan mudah sepanjang jalan. Cafe dan restaurant yang menyajikan beragam makanan pun terlihat dengan nama-nama yang menarik perhatian pengunjung. Aku tidak sedang mencari apapun. Karena itu aku tidak melangkahkan kakiku masuk ke salah satu pertokoan. Aku tidak terlalu suka kegiatan berbelanja tanpa perencanaan sebelumnya. Menurutku kegiatan itu terlalu melelahkan dan membuang waktu. Akupun mengeluarkan benda dari dalam tas yang dapat membantuku menghilangkan kejenuhan ditengah keramaian jalan ini. Aku selalu membawa sebuah kamera kemanapun di dalam tasku. Aku bukan seorang fotografer. Aku hanya mengabadikan momen dengan lensa kameraku sebagai hobi. Beberapa kegiatan dan situasi di jalan ini menarik perhatianku. Ada sudut-sudut artistik yang bisa ku jadikan koleksi. Hasilnya juga bisa aku jadikan refrensi jika ingin kembali kesini untuk membeli sesuatu.

Setelah hampir 1 jam berjalan tanpa tujuan dan mengabadikan banyak momen dengan kameraku, aku memutuskan untuk mengakhirinya dengan membeli minuman. Aku terlalu larut dalam kegiatanku hingga melupakan tenggorokanku yang sudah menjerit karena kering. Akupun berhenti melangkah, menimbang kemana tujuanku selanjutnya. Ada 3 buah cafe di hadapanku, 2 di kanan dan 1 di kiri. Meski tidak ada hubungannya dengan fakta bahwa aku seorang right-handed, tapi biasanya aku akan selalu memilih kanan sebagai hasil akhir pertimbanganku. Hanya saja kondisi cafe di sebelah kanan begitu ramai. Aku sudah lelah dengan keramaian. Aku butuh sedikit ketenangan yang nyaman. Dan suasana itu dapat terlihat di satu-satunya cafe di sebelah kiriku. Aku pun memutuskan untuk pergi kesana. Aku tidak ingin menduga apapun mengenai cafe yang terlihat sepi itu. Selera setiap orang berbeda. Mungkin saja cafe itu tidak menghidangkan minuman maupun makanan sesuai keinginan kebanyakan orang.

Aku sempat berhenti tepat di depan cafe. ‘Aigre-doux?’ tanyaku dalam pikiranku. Nama cafe ini terasa familiar. Aku memutar otakku mencari arti dari kata itu. Bittersweet. Kata itu muncul diotakku setelah melakukan proses menerjemahkan dengan cepat. Nama yang cukup unik untuk sebuah cafe. Seperti rasa yang terkadang dimunculkan setelah menyesap kopi. Seperti sebuah teh yang tidak diberikan banyak gula. Seperti hidup yang dapat berubah setiap detiknya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Bittersweet. Aku mengulangi kata itu dalam kepalaku sekali lagi seperti sebuah mantra. Aku merasa begitu melankolis akhir-akhir ini. Mungkin ini salah satu efek kembali ke rumah. Karena seperti yang dikatakan oleh banyak orang, kau dipaksa menjadi kuat saat tidak ada siapapun disisimu yang bisa membantumu selain dirimu sendiri, tapi kau akan kembali menjadi lemah saat banyak orang disisimu yang mengulurkan tangannya untuk membantumu dan memperhatikan setiap kebutuhanmu. Gawat…

Aku menggelengkan kepalaku singkat, mengusir pikiran random yang muncul di kepalaku. Aku datang ke cafe ini untuk membeli kopi, bukan untuk berfilosofi. Aku pun melangkahkan kakiku masuk ke dalam cafe sambil mengalungkan kamera ditanganku ke leherku. Aroma kopi sontak menyapa indera penciumanku. Aromanya saja sudah mampu menekan stress dalam diriku. Aku berdiri dalam antrian di depan kasir sambil memilih makanan kecil di etalase. Saat giliranku tiba, Yang Min Ji, perempuan yang berdiri dibelakang kasir menyapaku dengan senyum ramahnya dan menanyakan pesananku. “Satu ice caramel moccachino dan croissant plain”, kataku padanya. Pesananku datang hanya berselang beberapa menit setelahnya. Aku segera mengambil sedotan diujung konter serta beberapa lembar tissue yang sepertinya akan ku butuhkan. Aku sempat berpikir untuk menghabiskan keduanya sambil kembali melanjutkan perjalananku. Tapi ternyata kakiku sudah menyerah. Kedua betisku terasa kencang, telapak kakiku terasa sedikit panas karena terus digunakan untuk berjalan. Aku akan duduk sebentar untuk menghabiskan minuman dan makananku, serta untuk mengumpulkan tenagaku kembali.

Situasi cafe tidak terlalu ramai. Aku bisa memilih posisi tempat duduk manapun yang ku inginkan. Aku tidak suka tempat duduk yang terlalu gelap. Aku juga tidak terlalu suka dengan sinar matahari di tempat duduk dekat jendela. Aku juga tidak suka berada di posisi tengah. Rasanya seperti menjadi perhatian banyak orang, tidak nyaman. ‘Kalau begitu bawa pulang saja ke rumah, bodoh!‘, gerutu Cho Kyuhyun si pemarah dalam otakku. Akhirnya aku berjalan ke salah satu tempat duduk yang menempel di dinding, dengan sofa yang terlihat cukup nyaman untuk digunakan bersantai sejenak. Lokasinya tidak terlalu dalam, tidak di tengah, dan tidak terlalu dekat dengan jendela, walaupun sinar matahari masih dapat dirasakan dari tempat itu. Aku meletakkan nampan ditanganku ke meja, lalu tas disisi kananku, dan mengambil kamera dari leherku. Satu tegukkan kopi di hadapanku pun mampu menjernihkan pikiranku. Aku merasa lega hanya dengan minuman dingin yang mengalir di tenggorokkanku. Mungkin aku memang sudah lelah. Atau mungkin karena aku merasa tidak terlalu nyaman dengan keramaian diluar sana. Entahlah. Aku tidak benar-benar tahu mana yang sedang ku rasakan.

Aku membuka kembali galeri foto yang ku abadikan selama satu jam ke belakang. Hasilnya tidak buruk. Meskipun tidak luar biasa seperti hasil fotografer profesional. Lumayan. Kata itu yang akan ku gunakan untuk menggambarkan hasil foto yang ku ambil. Tiba-tiba ponselku bergetar beberapa kali, memberitahuku bahwa ada pesan yang masuk. Aku mengambil ponselku dari saku jeans, lalu melihat yang tertera di layar. Pesan teratas dikirim oleh eomma yang mengatakan permintaan maafnya karena tidak berada dirumah saat aku sampai di Seoul. Pesan selanjutnya mengenai penggunaan kartu kredit yang baru beberapa menit lalu aku gunakan untuk mengisi perutku. Nama pengirim pesan yang terakhir akhirnya menggangguku. Madam Ahra. Aku tidak menghiraukan pesan yang dikirim oleh Ahra nuna, lalu meletakkan ponselku diatas meja. Namun ponselku justru bergetar sekali lagi. Aku mengintip ke layar, berjaga-jaga jika ternyata pesan yang baru saja masuk adalah pesan yang penting. Ternyata masih Ahra nuna. Tiga pesan dikirim olehnya sekaligus. ‘Seharusnya dia bisa mengirim pesan dengan satu paragraf panjang saja‘, keluhku dalam pikiranku. Aku tahu sejak kecil jika eomma dan appa sedang bekerja, nunalah yang mengurusku. Ia membantuku dalam banyak hal. Tapi tetap saja. Aku sudah cukup dewasa untuk mengurus diriku sendiri. Lagipula aku bukan anaknya. Bersamaan dengan berakhirnya keluhan dalam pikiranku, ponselku kembali bergetar. Kini getarannya terjadi cukup lama. Seseorang meneleponku menggunakan video call. Aku kembali mengintip ke layar. ‘Mungkin saja eomma’, pikirku. Tapi sekali lagi, nama yang tertera di layar adalah Madam Ahra. Aku memutuskan untuk mengacuhkannya saja.

Hingga aku menyadari suatu hal. Aku menangkap sepasang mata dari sisi kiri yang sedang menatapku dari sudut mataku. Tatapannya cukup tenang, namun tajam. Seolah sedang mengutarakan keluhannya dengan suara getaran yang dimunculkan ponselku. Aku sontak menoleh, memastikan penglihatan sekilasku tadi. Disana aku hanya menemukan seseorang duduk tanpa menatapku. Mungkin aku salah. Mungkin tadi hanya dugaan berlebihanku saja. Namun aku justru menemukan diriku tidak berpaling dari orang itu. Seorang gadis yang duduk berbatas satu meja lebih dalam dari pinggir. Ia duduk membelakangi jendela, sehingga cahaya tidak menyilaukannya. Gadis berkacatama yang begitu cantik, meski tanpa riasan apapun yang menghiasi wajahnya. Ia begitu fokus pada buku dan notebook di hadapannya. Sesekali gadis itu menaikkan kacamatanya yang bergerak turun ke hidungnya. Terkadang ada bentuk V yang terlihat saat ia mengerutkan keningnya.

Gadis itu berpenampilan sangat sederhana. Ia mengenakan T-shirt putih, celana jeans biru muda dan sneakers yang juga berwarna putih. Rambutnya diikat ekor kuda dengan sebuah kacatama berframe hitam yang menggantung di hidungnya yang mancung. Sebuah tas berukuran sedang dan parka berwarna hitam diletakkan di kursi sebelah kanannya. Sesekali ia menggigit pensil mekanik berwarna merah ditangan kanannya sambil membaca lembaran kertas ditangannya yang lain. Hingga seorang pramusaji datang menghampirinya. Gelas kedua yang dipesannya. Ice chocolate dan smoked beef sandwich. Perpaduan yang menyenangkan. Ia membutuhkan glukosa dalam darahnya, bersama rasa asin untuk menyeimbangkannya. Mataku sedikit melebar saat melihat pemandangan yang lebih menyenangkan. Aku tidak tahu mengapa aku seolah merasakan ketenangan dan kenyamanan dalam diriku. Gadis itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih dengan tulus pada pramusaji. Ekspresi yang jauh berbeda dengan ekspresi saat dirinya fokus pada kegiatan sebelumnya. Keduanya mengobrol selama beberapa saat sebelum sang pramusaji kembali ke tempatnya. Setelahnya, gadis itu pun menyantap sandwich di hadapannya sambil kembali membaca berkas ditangannya.

Sebuah ide muncul dalam pikiranku. Ide yang cukup konyol dan berbahaya untuk dilakukan. Aku akan mengabadikan momen menenangkan gadis itu dengan kameraku. Gadis itu terlalu memukau untuk dilewatkan begitu saja. Akupun memfokuskan lensa kameraku ke arahnya. Kemudian menekan tombol disudut paling kanan beberapa kali. Berhasil. Aku mendapatkan fotonya tanpa disadari olehnya. Di detik yang sama aku merasa seperti seorang stalker. Aku mengembalikan posisi tubuhku ke semula dengan cepat, sebelum ada orang yang mencurigaiku. Aku buka galeri foto di kameraku, memastikan gadis itu memang berada disana. Aku khawatir laki-laki lajang bernama Cho Kyuhyun ini hanya sedang berhalusinasi melihat seorang gadis cantik duduk disana. Sudut bibirku tertarik saat melihat hasil foto di galeriku. Gadis itu memang berada disana. Ia nyata. Wajah cantik, kesederhanaan berpenampilan, dan pembawaan anggunnya benar-benar nyata. Aku masih waras.

Kembali. Ponselku bergetar panjang. Madam Ahra belum menyerah rupanya. Namun aku tetap menyempatkan diri melihat nama yang tertera di layar ponselku. Eomma’s calling… Kali ini benar-benar eomma. Atau Madam Ahra menggunakan ponsel eomma untuk menghubungiku. Entahlah. Yang terpenting adalah aku harus segera mengangkat sambungan telepon itu sebelum siapapun yang melakukan panggilan itu mengeluh sepanjang hari padaku nanti. ‘Yoboseyo?‘ kataku setelah menekan panel hijau di layar. Benar eomma. Suara lembutnya menyambut sapaanku. Ia sudah sampai di rumah dan tidak menemukanku disana. Eomma menanyakan keberadaanku, lalu mengobrol santai tentang hal yang ku lakukan di Apgujeong seorang diri. Eomma memintaku untuk kembali ke rumah saat makan malam. Tapi tiba-tiba saja aku justru merasa rindu padanya. Aku pun memutuskan untuk pulang, meninggalkan pemandangan mengagumkan di meja nomor 15 di belakangku dengan harapan akan bertemu lagi dengannya suatu hari.

Makan malam pertamaku di Seoul setelah hampir 5 tahun berlalu. Suasana nya sedikit berbeda dari kali terakhir momen ini terekam dalam ingatanku. Kali ini ada Jiwoo kecil yang bergabung bersama kami di meja makan. Bocah laki-laki berusia 2,5 tahun itu terlihat begitu semangat dengan makan malamnya. Ia melahap habis makan yang ada di piringnya. Ia pun bercerita tentang kegiatannya di Day Care hari ini. Semua orang mendengarkannya dengan seksama sambil sesekali memberikan tanggapan secara bergantian. Aku memilih untuk menyelesaikan makananku sambil memberikan respon tersenyum dan tertawa pada pembicaraan Jiwoo. Aku baru merasakan kelelahanku. Bayangan akan sosok gadis itu juga kembali ke pikiranku. Membuatku semakin tidak fokus pada situasi disekitarku. Hingga suara deritan kursi menyadarkanku dari lamunanku. Acara makan malam sudah berakhir tanpa aku sadari. Beruntung karena tidak ada yang menyadari hilangnya konsentrasiku malam ini.

.

Keesokkan harinya

.

Aku kembali mengelilingi kota Seoul hari ini. Setelah 4,5 tahun berada di luar negeri, aku kembali mengunjungi Namsan Tower, Istana Kerajaan, serta beberapa galeri seni yang sedang menggelar pertunjukkan. Keadaan dirumah tidak jauh berbeda dengan kemarin. Semua orang sudah menghilang saat aku keluar dari kamarku. Bukan pemandangan yang mengejutkan. Aku tidak pernah merasa terganggu dengan keadaan itu. Aku pun menggunakan waktu luangku untuk berjalan-jalan. Setelah aku kembali ke Korea setengah tahun lalu, kedua orangtuaku sudah mengurus segala hal yang ku perlukan. Termasuk dengan kepindahanku ke salah satu Universitas di Seoul. Barang-barangku yang ada di San Francisco pun sudah dikirim langsung ke rumah. Semua sudah selesai tanpa perlu aku melakukan apapun. Perjalananku hari ini ku selesaikan sebelum petang. Bus berhenti di halte terdekat dengan tempat tinggalku. Aku masih harus berjalan kurang lebih 10 menit untuk sampai ke rumah. Di tengah perjalananku, aku memutuskan untuk mampir ke sebuah minimarket. Penjaga kasir yang menurut dugaanku masih duduk di SMA pun menyapaku dengan ramah saat aku masuk. Aku segera menuju ke rak tempat berbagai kimbab berjajar dengan rapi, menggoda mata dan perutku. Aku terdiam dihadapan mereka sejenak, berpikir jenis kimbab apa yang ingin ku makan saat ini. Hingga suara yang ku kenal mengalihkan perhatianku dari kimbab-kimbab menggoda itu. Suara yang sejak kemarin mengisi kepalaku. Semula aku mengira aku kembali mengkhayalkan tentang gadis itu. Hingga kedua mataku benar-benar menemukan sosoknya berdiri di depan kasir, sedang membayar barang yang dibelinya.

“Nuna, kau baru saja kembali darimana?” tanya penjaga kasir yang ternyata mengenal gadis itu.

“Memberikan tutor pada anak sepertimu”, jawab gadis itu dengan senyuman khasnya.

“Benarkah?” tanya anak laki-laki itu terkejut. “Kapan nuna akan tidur? Tadi pagi nuna baru kembali dari perpustakaan setelah belajar semalaman. Lalu sekarang nuna kembali setelah memberikan tutor. Apa kau tidak mengantuk?”

“Aku sudah tidur selama beberapa jam. Aku langsung tidur sampai siang hari saat tiba dikamarku. Aku hanya memberikan tutor dari siang hingga sore”, jawabnya.

Mwoya… Apa hubungan keduanya? Apakah anak laki-laki itu adiknya? Tapi mereka tidak mirip sama sekali. Tadi gadis itu mengatakan bahwa ia baru saja kembali dari mengajar anak seperti penjaga kasir itu. Mungkin anak laki-laki itu hanya salah satu dari muridnya?’, tanyaku dalam pikiranku.

“Kau melewatkan sarapanmu? Lagi? Nuna sedang diet?” penjaga kasir kembali bertanya padanya dengan nada protes.

“Ya! Kim Kyung Joon! Lihat aku dengan baik… Apa yang harus aku hilangkan lagi dari tubuhku? Diet apanya…” jawab gadis itu.

“Kalau begitu seharusnya kau tidak melewatkan jam makanmu, bukan? Ch…”

“Aku sibuk… Lagipula aku masih terlihat sehat ‘kan saat ini? Melewatkan satu kali jam makan dalam sehari tidak akan melemahkanku”, gadis itu kini menyombongkan dirinya dengan nada bicaranya yang ceria. Cantik…

“Ah, nuna, aku hampir saja lupa mengatakannya padamu”, kata penjaga kasir saat mengingat hal yang hampir dilupakannya.

“Apa?” tanya gadis itu sambil memasukkan potongan kimbab gulung ke dalam mulut setelahnya.

“Nilai ujian Bahasa Inggrisku sudah keluar. Cukup meningkat dibandingkan hasil ujianku terdahulu. Kali ini aku mendapatkan score B+, nuna” kata penjaga kasir dengan senyum mengembangnya, bangga pada dirinya sendiri.

“Benarkah?!” gadis itu bertanya dengan keterkejutan di dalam nada bicaranya. “Kerja bagus! Kau harus mempertahankannya, atau jika bisa kau harus meningkatkannya. Kau mengerti?”

“Ne, nuna. Aku akan terus berusaha. Terima kasih, nuna. Semua itu berkat bantuan nuna”, katanya.

“Tidak. Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya memberikan sedikit……sekali bantuan padamu. Itu adalah hasil kerja kerasmu, keberhasilanmu”, kata gadis itu.

Bunyi pintu minimarket yang terbuka mengalihkan pandangan gadis itu dari lawan bicaranya. Seolah mendapatkan alarm pemberitahuan akan keberadaannya, gadis segera mengambil barang-barang yang dibelinya dari atas meja kasir, lalu memasukkannya ke tas.

“Ya! Aku tidak boleh berlama-lama disini. Kau sedang bekerja. Aku pulang dulu. Masih ada yang harus aku kerjakan”, kata gadis itu.

“Ah, ne. Baiklah, nuna. Beritahu aku jika jadwal nuna kosong. Aku ingin mentraktir nuna makan karena sudah membantuku belajar”, ujar penjaga kasir.

Okay. Aku akan menghubungimu. Sampai nanti. Bekerja dengan giat, Kim Kyung Joon!” kata gadis itu sambil melangkah ke arah pintu.

“Ne! Hati-hati dijalan, nuna!” serunya.

Gadis itu hanya membalas pesannya dengan melambaikan tangan tanpa menoleh lagi. Sosoknya pun menghilang dibalik tembok pembatas toko yang berada tepat di sebelah minimarket, meninggalkan rasa kecewa dalam diriku. ‘Seharusnya dia tidak perlu terburu-buru pergi’, kataku dalam pikiranku. Aku pun kembali pada kimbab-kimbab yang masih menungguku. Aku memutuskan untuk membeli masing-masing satu tiap jenisnya. Aku tidak ingin memilih. Lebih baik aku beli semuanya, setelah itu aku bisa memutuskan mana yang menjadi kesukaanku. Mungkin pilihanku akan sama dengan kimbab yang baru saja dimakan oleh gadis itu.

#########################

Satu minggu berlalu. Hari-hari tanpa kegiatanku pun dimulai. Aku sampai pada kondisi yang begitu malas untuk keluar rumah dan bepergian kemanapun. Aku masih memiliki satu minggu lainnya sebelum masuk kuliah. Aku tidak ingin melakukan survey seperti yang disarankan eomma dan Ahra nuna. Teknologi modern bernama internet dan GPS dapat membantuku sampai ke kampus tanpa perlu bersusah payah. Lagipula aku bisa naik bus atau taksi jika aku tidak ingin repot mencari jalan. Hari ini aku hanya ingin berada di rumah sepanjang hari, menikmati kesunyian suasana rumah. Tentu saja aku tidak seorang diri di rumah. Ada Jung ahjumma, Seo ahjumma, Han ahjumma, dan Lim ahjussi di rumah ini. Tapi aku percaya mereka tidak akan membuat keributan seperti yang akan dilakukan eomma dan anak perempuannya yang berisik itu. Seperti yang terlihat oleh kedua mataku saat ini, tidak ada satupun orang yang terlihat di ruang keluarga. Entah mereka sedang berada dimana. Aku memberikan kebebasan pada mereka untuk melakukan apapun yang mereka inginkan. Aku juga memberikan kebebasan pada diriku hari ini. Aku berjalan malas menuju salah satu sofa panjang yang menghadap ke tv. Aku melemparkan tubuhku ke sofa tanpa ragu. Lalu memejamkan mataku. Rasanya begitu nyaman. Suasana tenang, bunyi gemericik air di taman belakang, dan aroma rumah membuat otot-otot tubuhku terasa rileks.

Tiba-tiba ingatanku kembali membawaku pada sosok gadis cantik yang mencuri perhatianku beberapa waktu belakangan. Wajahnya yang cantik meski tanpa riasan, penampilannya yang selalu sederhana, suaranya, caranya berbicara, hingga caranya berjalan. Semua hal itu terekam rapi dalam pikiranku. Bagaikan adegan sebuah film yang bergerak lambat. Setiap kedipan mata dan gerakan kecil jari-jarinya bahkan mampu membuatku terdiam menatap tanpa bosan. Dua hari setelah pertemuan keduaku dengannya di minimarket, aku kembali bertemu dengannya di sebuah kedai tteokpokki pinggir jalan. Ia masih mengenakan parka dan tas hitamnya. Malam itu ia mengenakan T-shirt hitam dan jeans abu-abu muda, serta sneakers tosca yang begitu mencolok jika dibandingkan dengan keseluruhan warna di tubuhnya. Tidak seperti kesempatan sebelumnya, aku datang lebih dulu hari itu. Aku sudah menghabiskan setengah piring tteokpokki dihadapanku saat ia duduk di salah satu kursi yang berseberangan denganku. Tentu saja, seperti yang selalu dilakukannya, ia menyapa ahjumma pemilik kedai dengan ramah, disertai dengan senyum mengembang diwajah tanpa riasannya. Kacamata membacanya sedang tidak menggantung diatas hidungnya, membuatku bisa melihat mata besarnya yang dibingkai dengan bulu mata lentik, menambah daftar hal yang mempesonaku dari dirinya. Ahjumma pemilik kedai mengajaknya mengobrol. Sepertinya gadis itu sudah sangat sering datang ke kedainya. Karena sikap yang diberikan ahjumma sangat lembut padanya, layaknya sikap pada anak perempuannya sendiri. Tatapan mata gadis itu sempat melirik sekilas ke arahku. Aku rasa ia menyadari tatapanku padanya. Namun tatapan itu segera berpaling saat anak perempuan ahjumma juga mengajaknya bicara. Ia tidak menoleh lagi setelahnya.

Aku membuka mataku dengan cepat. Suasana ruang keluarga masih sepi seperti sebelumnya. Tidak ada siapapun disini selain aku. Perasaan itu langsung menarikku ke alam nyata. Seketika aku merasa familiar dengan semua hal yang ku lihat darinya. Aku merasa pernah bertemu dengannya. Bukan hanya satu minggu yang lalu, melainkan jauh sebelum waktu ini. Wajah itu tidak asing dalam ingatanku. Tatapan yang sama, kebiasaan menggigit pensil yang sama, dan senyuman yang sama. Aku pernah melihatnya bertahun lalu. Tapi aku tidak bisa menemukan tempat dan waktu tepatnya. Aku yakin sekali dengan dugaanku. Namun beberapa hal membuatku meragu. Gadis itu memberikan atmosfer yang berbeda dari dirinya. Gadis dalam ingatanku di masa lalu tidak pernah seorang diri. Ia begitu ceria dan tidak terlihat sederhana. Kedua gadis itu terlihat serupa, namun memberikan aura yang berbeda. Mungkin aku salah. Mungkin keduanya adalah gadis yang berbeda. Aku hanya terlalu memikirkan gadis canti berkacamata itu hingga salah mengenalinya dengan gadis lain.

.

.

Author’s POV

46 Days Later

Y University

.

Jadwal kuliah sudah dimulai. Kini Kyuhyun sudah resmi menjadi salah satu mahasiswa di Universitas terkemuka di Seoul, Y University. Kyuhyun sudah menjalani masa-masa kuliahnya selama lebih dari satu bulan disana. Kyuhyun tidak mengulang kuliahnya dari awal. Beruntung karena Universitas yang dipilihkan ayahnya itu memiliki jurusan yang sama dengan jurusan Kyuhyun sebelumnya di SF. Teknik Arsitektur. Selama lebih dari satu bulan, Kyuhyun cukup mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial disekitarnya. Tawaran untuk bergabung di kegiatan kemahasiswaan pun berdatangan padanya. Namun Kyuhyun menolak tawaran itu dengan sopan. Kyuhyun belum tertarik untuk melakukan apapun selain kuliah saat ini. Ada dua orang teman yang cukup dekat dengan Kyuhyun di kelasnya. Kim Suho dan Shim Changmin. Keduanya menghadiri beberapa kelas yang sama dengan Kyuhyun. Komunikasi diantara mereka berjalan dengan baik. Keduanya juga sudah banyak membantu Kyuhyun beradaptasi dengan suasana kampus. Karena itu, Kyuhyun mudah menjalin kedekatan dengan Suho dan Changmin. Sebenarnya Kyuhyun memiliki seorang sahabat yang sejak kecil sudah berteman dengannya. Kim Ryeowook. Hanya saja Ryeowook berasal dari jurusan Modern Music and Performing Art. Gedung perkuliahan mereka cukup berjauhan. Sehingga mereka tidak bisa sering bertemu selain diluar kampus.

Kelas baru saja berakhir. Kyuhyun keluar dari kelas bersama Suho dan Changmin menuju taman yang terletak tidak jauh dari gedung Fakultas Teknik. Sepanjang perjalanan, ketiganya masih membicarakan materi yang diberikan Profesor Shin. Ketiganya begitu larut dalam pembicaraan mereka, hingga tidak menyadari banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Sesampainya di taman, ketiganya duduk bersama di tempat duduk yang berada di pinggir taman. Topik pembicaraan mereka mulai berganti menjadi pertandingan baseball akhir pekan lalu, siaran NBA besok malam, hingga game terbaru yang sedang sering dimainkan oleh Changmin. Keriuhan dan tawa keras sesekali mewarnai pembicaraan mereka. Namun keriuhan itu ternyata tidak hanya ada diantara mereka. Lingkungan sekitar mereka pun memberikan keriuhan yang serupa. Hanya saja dengan suara-suara pelan banyak orang di kelompok kecil mereka masing-masing yang kemudian berkumpul menjadi gemuruh suara yang begitu ribut. Kyuhyun menyadari hal itu. Ekspresi wajahnya sempat berubah karena merasa terganggu. Tapi Suho dan Changmin justru menunjukkan penerimaan yang tidak terduga. Seolah keduanya tidak terganggu sedikitpun dengan ramainya suasana disekitar mereka.

“Teman-teman, tempat ini menjadi lebih ramai”, kata Kyuhyun disela pembicaraan mereka.

“Memang selalu seperti ini”, kata Suho.

“Kalian tidak merasa terganggu?” tanya Kyuhyun.

“Kami sempat terganggu. Sekarang sudah tidak. Kami menjadi sangat terbiasa dengan keramaian yang terjadi disekitar kami”, jawab Changmin.

“Aku rasa akhir-akhir ini menjadi lebih ramai karena keberadaanmu”, sambung Suho.

“Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun tidak mengerti.

“Mereka membicarakanmu, memperhatikanmu” jawab Suho.

“Apa yang bicarakan? Aku tidak mengerti”, ujar Kyuhyun.

“Sebelumnya hanya ada kami, lalu kau hadir dan bahan pembicaraan mereka pun bertambah. Seperti itu”, jawab Changmin kali ini.

“Jadi, maksud kalian, sebelumnya kalian sudah menjadi bahan pembicaraan dan kini menjadi semakin dibicarakan karena kehadiranku diantara kalian berdua. Begitu?” tanya Kyuhyun memastikan kesimpulannya.

“Anak pintar!” kata Changmin.

“Jadi, kenapa mereka membicarakan kalian? Apa kalian pernah melakukan hal aneh? Atau sesuatu yang memalukan pernah terjadi? Lalu kalian sesame pelaku berkumpul. Begitu?” tanya Kyuhyun lagi.

“Wah… Keterlaluan sekali…” keluh Suho. “Seharusnya aku marah karena mendengar pertanyaanmu itu, Cho Kyuhyun. Tapi karena kau tidak tahu apapun, aku menahan emosiku dengan cukup keras. Dugaanmu jahat sekali…”

Changmin justru tertawa mendengar keluhan yang diutarakan Suho. “Apa kami terlihat aneh dimatamu?” tanya Changmin setelahnya. Kyuhyun menggeleng menjawabnya. “Kau berteman dengan kami karena kami terlihat wajar dan normal, bukan?” tanya Changmin lagi, yang dijawab dengan anggukkan oleh Kyuhyun. “Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaanmu”.

“Lalu, kenapa kalian diperhatikan oleh banyak orang?” tanya Kyuhyun.

“Koreksi. Kita. Karena keramaian yang terjadi saat ini adalah akibat dari kehadiranmu diantara kami”, kata Changmin mengoreksi pertanyaan Kyuhyun.

“Karena kami populer? Tampan? Berprestasi? Begitulah…” kata Suho menyombongkan diri dengan senyum konyolnya. “Kesimpulannya, mereka juga menganggapmu begitu. Case closed”, sambung Suho.

“Hanya karena hal itu?” tanya Kyuhyun heran. Changmin menjawabnya dengan anggukkan pasti. “Konyol…” sambung Kyuhyun.

A little…” kata Suho setuju dengan ucapan Kyuhyun.

“Aku merasa tidak nyaman”, kata Kyuhyun.

“Jangan dihiraukan. Kau akan segera terbiasa”, kata Changmin.

“Bisakah kita pergi saja dari sini?” tanya Kyuhyun.

“Kenapa? Hanya karena kau merasa tidak nyaman dengan semua ini? Oh ayolah, Cho Kyuhyun… Kelas selanjutnya masih sekitar 3 jam lagi. Dan keadaan cafetaria sedang sangat ramai. Kita disini saja selama 1 jam, setelah itu kita bisa pergi untuk makan siang”, kata Suho.

“Tapi……”

“Tidak ada tapi!” Suho memotong ucapan Kyuhyun dengan cepat. “Berikan sedikit toleransimu padaku, teman. Aku masih merasakan hangover karena berpesta semalam”, pinta Suho.

“Sudahlah, Kyuhyun-ah. Turuti saja keinginannya. Kau bisa memintanya membelikan makanan enak nanti”, bujuk Changmin.

Kyuhyun pun menyerah dan mencoba bertahan dengan pandangan banyak orang yang tertuju pada mereka. Pembicaraan ketiganya pun berlanjut. Kali ini pesta yang didatangi Suho kemarin malam lah yang menjadi pembicaraan mereka. Kyuhyun akhirnya menanyakan tempat-tempat hiburan yang bagus di Seoul. Rasa risih yang dirasakannya perlahan menghilang. Kyuhyun bahkan sudah tidak begitu mempedulikan suara para gadis yang terdengar sedang membicarakan penampilannya. Seketika pembicaraan para gadis itu berubah. Nama Kyuhyun, Suho dan Changmin sudah tidak terdengar lagi dari suara mereka. Beberapa gadis membicarakan seorang gadis lain yang dikatakan sebagai penjilat. Bahkan mereka menyebutnya sebagai pencari perhatian. Nama-nama yang tidak Kyuhyun kenal mulai disebut oleh para gadis dalam pembicaraan mereka.

Perhatian Kyuhyun pun teralihkan. Kyuhyun menoleh ke salah satu kelompok kecil terdekat dengannya. Tidak ada yang menyadari tatapan Kyuhyun. Sekelompok gadis itu sedang menatap dan menunjuk kearah yang sama. Ekspresi diwajah mereka menunjukkan ketidaksukaan pada subjek yang sedang mereka bicarakan. Kemudian Kyuhyun mengarahkan tatapannya pada kearah yang sama dengan tatapan para gadis itu. Sekelompok kecil para gadis lainnya baru saja bergabung di taman itu. Sontak mata Kyuhyun melebar. Wajah yang begitu dikenalinya juga berada disana. Gadis yang memenuhi pikirannya duduk diantara para gadis disana. Kyuhyun tidak pernah tahu jika gadis itu juga salah seorang mahasiswi di kampus itu. Suho yang duduk di hadapan Kyuhyun menyadari perubahan ekspresi diwajah Kyuhyun. Ia mengikuti arah pandang Kyuhyun setelahnya. Kemudian kembali ke posisinya semula dengan senyum tipis diwajahnya.

“Kwon Yunji. English Literature tingkat 2”, kata Suho.

“Apa?” tanya Kyuhyun yang teralihkan oleh ucapan Suho.

“Gadis yang menjadi pusat perhatian itu. Namanya Kwon Yunji. Seperti yang kau lihat, dia sangat cantik. Kepribadiannya juga baik. Kau bukan satu-satunya laki-laki yang memberikan tatapan memuja padanya”, jawab Suho.

“Aku? Aku tidak begitu…” sangkal Kyuhyun.

“Kau begitu, Cho Kyuhyun” kata Changmin.

“Kau tidak perlu menyangkal. Banyak mahasiswa dikampus ini yang terpesona padanya. Bahkan para gadis senang berada di sekitarnya. Tentu saja ada diantara mereka yang justru menjauh darinya karena iri”, kata Suho menjelaskan.

“Wajahnya sangat familiar. Sepertinya aku pernah bertemu dengannya”, kata Kyuhyun kembali mengingat dugaannya.

“Dimana? Di kampus atau di luar kampus? Di luar kampus tidak pernah ada yang bertemu dengannya selain teman-teman dekatnya. Rumor yang beredar, pergaulan Yunji sangat berbeda dengan mahasiswa kebanyakan. Dia termasuk golongan sosialite”, kata Suho.

“Aku pikir tidak begitu. Dia terlihat begitu jauh dari image glamour seorang sosialite”, kata Kyuhyun tidak setuju.

“Aku juga berpikir begitu. Di kampus Yunji terlihat begitu sederhana. Dia tidak pernah meninggalkan kesan yang berlebihan pada orang lain”, kata Changmin setuju dengan pendapat Kyuhyun. “Dimana kau bertemu dengannya?” tanya Changmin setelahnya.

“Di sebuah café. Dia terlihat sangat sederhana, tanpa make up, dengan kacamata bacanya, serta buku dan laptop dihadapannya. Lalu di sebuah minimarket dan kedai tteokpokki. Masih dengan penampilan sederhananya. Sangat cantik”, jawab Kyuhyun.

“Yaaaahhh… Kau mengakuinya. Kau sudah terpesona padanya, Cho Kyuhyun. Tapi, benar tanpa make up? Senang sekali menjadi dirimu. Bagaimana wajahnya? Kau tahu ‘kan terkadang ada gadis yang memiliki wajah berbeda saat tidak menggunakan make up”, tanya Suho dengan rasa penasarannya.

“Hmm… Aku tidak tahu bagaimana harus menggambarkannya. Rasanya seperti bertemu dengan gadis yang tinggal di sebelah rumahmu. Kau mengetahuinya sejak kecil, lalu menyaksikan pertumbuhannya menjadi gadis yang memukau. Bukan memukau karena penampilannya yang luar biasa, tapi memukau dengan kehangatan yang dia tularkan pada orang disekitarnya. Seperti itu?” kata Kyuhyun mencoba menjelaskan pada kedua temannya.

“Aku tahu rasa itu. Seperti melihat nuna baik hati yang tinggal di sebelah rumahku. Rasanya begitu nyaman dan santai saat bertemu dengannya”, kata Changmin.

“Tepat seperti itu”, jawab Kyuhyun. “Tapi entah kenapa aku merasa seperti sudah mengenalnya jauh sebelum ini. Hanya saja aku belum mengingatnya”, sambung Kyuhyun.

“Benarkah? Kalau begitu hampiri saja dia. Mungkin kau akan ingat jika bicara dengannya. Dan kalau ternyata dugaanmu salah, maka paling tidak kau sudah berkenalan dengannya. Tidak perlu khawatir akan ditolak. Yunji bersikap baik pada semua orang”, kata Suho.

Kyuhyun menatap Suho yang memberikan anggukkan padanya, mendorongnya untuk berkenalan dan bertanya pada Yunji. Namun Kyuhyun masih merasa ragu. Jika Kyuhyun memang hanya ingin sekedar mengenalnya, pasti Kyuhyun sudah melakukannya saat ia bertemu dengan Yunji sebelumnya. Hanya saja Kyuhyun ingin meyakinkan dirinya terlebih dahulu. Dugaannya menjadi lebih kuat saat melihat wajah Yunji lagi. Ia benar-benar merasa pernah bertemu dengan Yunji jauh sebelum ini. Kyuhyun pun mengangkat bahunya cepat, memilih untuk tidak melakukan anjuran Suho. Gerakan yang sama juga dilakukan oleh Suho. Ia tidak akan memaksa Kyuhyun untuk melakukan hal yang tidak diinginkannya. Pembicaraan mereka kembali dilanjutkan. Mereka bahkan tidak menyadari Yunji yang berjalan melewati mereka. Hingga sebuah teriakan mengalihkan ketiganya. Sebuah sepeda melaju dengan kencang, hampir menabrak Yunji yang ingin menyeberangi jalan. Buku-buku ditangan Yunji berserakan di permukaan aspal. Pengemudi sepeda itu jatuh karena kehilangan keseimbangannya setelah hampir menabrak Yunji. Kyuhyun sontak berdiri melihat kejadian itu. Namun ia tidak menemukan sosok Yunji di dekat buku-bukunya yang berserakan. Ternyata Yunji sudah berlari menghampiri pengemudi sepeda yang sedang mencoba bangun, satu setengah meter dari posisinya.

“Maafkan aku, sunbae. Aku tidak sengaja. Rem sepedaku bermasalah. Maafkan aku…” kata pengemudi sepeda mengatakan penyesalannya.

“Tidak. Tidak. Tidak apa. Aku baik-baik saja. Kau tidak menabrakku”, kata Yunji. “Kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?” tanya Yunji setelahnya.

“Aku baik-baik saja, sunbae. Hanya luka kecil. Akibat kecerobohanku. Sekali lagi maafkan aku, sunbae”, kata pengemudi sepeda itu sekali lagi.

“Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Segera obati lukamu. Jangan sampai infeksi”, kata Yunji.

“Ne, sunbae” jawab pengemudi sepeda dengan penyesalan yang tergambar diwajahnya.

“Hati-hati mengendarai sepedamu”, kata Yunji memberikan pesan padanya.

Pengemudi sepeda itu hanya menganggukkan kepalanya. Yunji memberikan senyuman padanya kemudian berbalik menuju buku-bukunya yang ia tinggalkan begitu saja karena khawatir dengan keadaan pengemudi sepeda yang terjatuh. Langkah Yunji sempat terhenti saat melihat seorang laki-laki sedang mengambil buku-buku Yunji satu persatu. Ia juga membersikan sampulnya yang terkena debu. Yunji kembali melangkah mendekat pada laki-laki itu. Tatapan mereka bertemu. Yunji memberikan senyumannya sebagai wujud terima kasihnya. Senyuman Yunji dibalas dengan senyuman tulus yang sama oleh laki-laki itu.

“Ini. Milikmu”, kata Kyuhyun sambil menyerahkan buku-buku milik Yunji.

“Terima kasih banyak. Seharusnya kau tidak perlu melakukannya. Maaf merepotkanmu. Terima kasih”, kata Yunji.

“Tidak perlu berterimakasih. Aku melakukannya dengan senang hati. Apa kau terluka?” tanya Kyuhyun.

“Tidak. Sepeda itu tidak menabrakku. Aku hanya terkejut. Sepertinya aku mengejutkan banyak orang dengan teriakan berlebihanku”, jawab Yunji yang tiba-tiba merasa malu karena menyadari tindakannya beberapa saat yang lalu.

“Syukurlah…” ujar Kyuhyun. “Benar. Kau mengejutkan banyak orang. Eric baru saja dibuang ke sungai oleh prajurit Freya (Film The Huntsman : Winter Wars) saat kau berteriak”, sambung Kyuhyun.

“Hhh… Maaf mengganggu obrolan seru kalian”, kata Yunji. “Tapi… Sebentar… Sepertinya aku mengenalmu”.

“Hm?” tanya Kyuhyun dengan gumaman.

“Kita pernah bertemu sebelumnya”, jawab Yunji.

Kyuhyun tersentak dengan ucapan Yunji. Bayangan adegan pertemuan mereka satu setengah bulan yang lalu kembali berputar di kepalanya. Hari itu di café, Kyuhyun menangkap tatapan tajam dari arah tempat duduk Yunji meski saat ia menoleh Yunji tidak sedang menatapnya. Di kesempatan selanjutnya, di minimarket, tatapan mereka tidak bertemu. Hanya satu kali kesempatan dimana tatapan keduanya benar-benar bertemu. Itupun hanya untuk waktu yang sangat singkat. Kyuhyun tidak tahu momen mana yang sedang dibicarakan Yunji. ‘Mungkinkah Yunji benar-benar menatapnya saat di café? Atau Yunji mengingat saat tatapan kami bertemu di kedai tteokpokki?’ tanya Kyuhyun dalam kepalanya. Kyuhyun berpikir dengan keras, mencoba menebak apa yang sedang ada didalam pikiran Yunji. Kyuhyun tidak bisa mengatakan dugaannya begitu saja pada Yunji. Karena ada kemungkinan dugaan Kyuhyun salah dan akhirnya Kyuhyun justru diduga sebagai stalker yang mengikuti Yunji kemanapun.

“Seoul International Middle School?” tanya Yunji menyadarkan Kyuhyun dari lamunannya.

“Apa?” tanya Kyuhyun terkejut.

“Kau pernah sekolah disana, ‘kan? Seoul International Middle School”, tanya Yunji.

“Benar… Aku pernah sekolah disana selama 2 tahun”, jawab Kyuhyun.

“Hmm… Cho Kyuhyun?” tanya Yunji sekali lagi.

Mata Kyuhyun melebar saat mendengar Yunji menyebut namanya dengan tepat dan jelas. “Kau mengenalku?” tanya Kyuhyun mengutarakan keterkejutannya.

“Secara tidak terduga, ya, aku mengenalmu”, kata Yunji dengan tawa kecilnya. “Kau pindah saat kenaikan kelas. Kita belum sempat duduk dikelas yang sama. Sayang sekali…”

“Benar. Aku pindah ke San Francisco saat kenaikan kelas. Ternyata dugaanku pun tepat. Pantas saja aku merasa seperti sudah mengenalmu sejak lama. Wajahmu tidak asing dalam ingatanku”, kata Kyuhyun.

“Dugaan?” tanya Yunji sambil mengernyitkan keningnya.

“Benar. Kita pernah sebelum ini. Lebih tepatnya aku yang melihatmu”, kata Kyuhyun memberitahu Yunji pada akhirnya.

“Kapan?” tanya Yunji.

“Hm… Di café Aigre-doux di Apgujeong. Kau sedang mengerjakan sesuatu dengan buku dan laptopmu saat ini. Lalu di minimarket, saat penjaga kasir disana berterimakasih padamu atas bantuan yang kau berikan. Dan di kedai tteokpokki beberapa hari setelahnya”, kata Kyuhyun menjelaskan.

“Benarkah? Wah… Ingatanmu bagus sekali. Hanya saja kau melupakan fakta bahwa kita pernah berada di sekolah yang sama”, kata Yunji menyayangkan dengan nada berguraunya.

“Maafkan aku tentang satu hal itu. Wajah dan penampilanmu sedikit berubah. Karena itu aku sempat ragu. Aku pikir aku salah mengenali orang lain”, kata Kyuhyun meyakinkan Yunji.

“Tapi beruntung bukan hanya aku yang mengenalimu. Kau juga mengenaliku meski ragu”, kata Yunji sambil tersenyum. “Kapan kau kembali ke Seoul?” tanya Yunji setelahnya.

“Satu bulan yang lalu. Kedua orangtuaku memaksaku pulang. Aku tidak bisa menolak”, jawab Kyuhyun.

“Begitu… Dan kabar kedua orang tuamu?” tanya Yunji lagi.

“Kau mengenal mereka juga?” Kyuhyun balas bertanya.

“Kebetulan yang lain. Orang tua kita saling mengenal. Aku pernah bertemu dengan mereka dalam sebuah acara. Sudah cukup lama. Kira-kira hampir satu atau satu setengah tahun yang lalu”, jawab Yunji.

“Kebetulan yang lain…” kata Kyuhyun mengulangi ucapan Yunji. “Mereka baik-baik saja. Mungkin aku harus menanyakan tentangmu pada mereka”, kata Kyuhyun dengan nada bergurau. “Kebetulan yang menyenangkan”, sambung Kyuhyun dengan senyum mengembang diwajahnya.

“Kebetulan yang menyenangkan… Ungkapan yang bagus untuk digunakan” kata Yunji sambil tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ah, aku harus masuk ke kelas. Aku sampai lupa. Kita lanjutkan mengobrol lain kali, Cho Kyuhyun”.

“Eo… Baiklah” kata Kyuhyun. “Hm… Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?” tanya Kyuhyun.

“Tentu. Tentu saja”, jawab Yunji.

“Ini. Masukkan nomormu”, kata Kyuhyun sambil menyerahkan ponselnya pada Yunji.

Yunji mengetik barisan nomor di ponsel Kyuhyun, kemudian menyimpannya di kontak. “Ini. Sudah ku masukkan”, kata Yunji sambil mengembalikan ponsel Kyuhyun. “Baiklah, aku harus pergi sekarang. Tuan yang baru kembali dari luar negeri, jika kau membutuhkan bantuanku, hubungi aku saja. Aku akan membantumu”, kata Yunji dengan nada bercandanya.

Sure!” kata Kyuhyun menyetujui tawaran Yunji.

Bye…” kata Yunji yang kemudian berbalik.

Bye…” balas Kyuhyun dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.

Yunji berjalan menyeberangi jalan yang kosong dengan berlari kecil. Saat langkah kakinya sudah naik ke trotoar, ia berbalik menatap Kyuhyun yang masih memandangnya, kemudian melambaikan tangannya dengan senyuman mengembang diwajah cantiknya. Kyuhyun pun membalas lambaian tangan Yunji dan memberikan senyum yang serupa, seolah mereka sedang bercermin pada satu sama lain. Yunji tertawa kecil melihat ekspresi cerah diwajah Kyuhyun. Kemudian Yunji berbalik, kembali melangkah menjauh menyusuri trotoar menuju Gedung Fakultas Sastra yang hanya berjarak kira-kira 200 meter dari sana. Di tengah perjalanannya, derap langkah seseorang yang berlari kecil mendekat padanya. Derap langkah itu melambat dan berhenti disamping Yunji, menyamakan langkahnya dengan langkah Yunji. Orang itu berdeham, membuat Yunji menoleh padanya.

“Hai”, sapa Donghae sambil tersenyum.

“Hai! Aku kira kau orang tidak dikenal yang tiba-tiba berjalan disampingku”, kata Yunji mengutarakan kekhawatiran sesaatnya. “Aku baru melihatmu sejak pagi. Kau baru datang?” tanya Yunji setelahnya.

“Aku tidak punya jadwal di pagi hari”, jawab Donghae.

“Senangnya…” kata Yunji mengutarakan rasa irinya dengan senyum mengembang diwajahnya.

Donghae balas tersenyum padanya. Saat Yunji kembali memalingkan wajahnya ke depan, ekspresi di wajah Donghae sontak beruubah. Ia diam selama beberapa saat, menimbang kata-kata yang ingin diucapkannya pada Yunji. “Siapa dia?” tanya Donghae akhirnya.

“Siapa?” tanya Yunji.

“Laki-laki yang bicara padamu beberapa saat yang lalu”, jawab Donghae.

“Ah… Dia temanku”, kata Yunji menjawab pertanyaan Donghae.

“Teman?” tanya Donghae tidak percaya, yang dijawab dengan anggukkan oleh Yunji. “Aku tidak pernah mengetahuinya. Dia terlihat asing”.

“Hhh… Kau tidak memiliki keharusan untuk mengetahuinya”, kata Yunji santai.

Donghae pun menoleh, ke tempat dimana Yunji berbicara dengan laki-laki yang menurutnya asing itu. Ia berjalan menyamping agar tetap menyamakan langkahnya dengan Yunji. Kyuhyun masih berdiri disana, menatap punggung Yunji yang menjauh. Tatapan Donghae dan Kyuhyun bertemu. Wajah Kyuhyun tidak terbaca. Ia menatap Donghae dengan ekspresi datar diwajahnya. Sebaliknya, Donghae justru mengutarakan rasa tidak sukanya pada Kyuhyun melalui tatapan tajam dimatanya.

“Lee Donghae! Berjalanlah dengan benar. Lihat ke depan. Kau bisa terjatuh”, kata Yunji yang memegang lengan Donghae, memberi peringatan pada Donghae agar berhati-hati.

“Aku mengerti…” jawab Donghae.

Donghae kembali menoleh pada Kyuhyun. Kali ini ekspresi diwajahnya berubah. Salah satu sudut bibirnya tertarik, memunculkan smirk yang ia tujukan pada Kyuhyun. Tatapan tajam kini tampak dimata Kyuhyun, mengutarakan rasa terganggunya dengan smirk yang diberikan Donghae. Kyuhyun pun berbalik dan kembali pada teman-temannya.

.

.

TBC

.

Note:

Hello, readersnim!!!

Part pilot/perdana dari FF “It supposed to be me” akhirnya mengudara!!! Sebelumnya aku sudah memberikan sinopsisnya pada kalian, bukan? Dalam synopsis yang ku berikan, sudah mencakup garis besar dari isi cerita FF ini. Part perdana ini keseluruhan no flashback, no think hard, no suspicious person, alur terjaga tetap aman. Seperti yang bisa kalian baca diatas, ada deretan cast dalam FF ini. Tapi di part perdana ini hanya beberapa yang muncul. Sabar, readersnim… Ini masih pendahuluan. Kalau semua muncul diawal, akan jadi sangat crowd ceritanya. Mereka akan muncul satu persatu di part-part selanjutnya. Semoga tidak ada satu namapun yang tertinggal karena aku lupa sama mereka ya…

So, bagaimana part perdana ini? Apakah sesuai dengan ekspektasi kalian? FF ini cukup berbeda dengan FF-ku lainnya, bukan? FF ini tidak mengangkat cerita yang rumit dan penuh dengan teka-teki. Masalah akan tetap ada, tapi tidak akan membutuhkan fokus berlebihan dari kalian para pembaca untuk mengungkapnya. We talk about take a slow movement, guys. Aku ingin membuat cerita yang sedikit calm dan tidak membuat emosi kalian naik turun seperti FF ku sebelumnya. Aku harap kalian tetap bisa menikmati FF ini dengan baik. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana kelanjutan kisah Kyuhyun? Apa hubungan diantara Yunji dan Donghae? Temukan jawaban kalian di part selanjutnya! Kana pamit!!! Annyeonghigaseyo…

Advertisements

21 thoughts on “It supposed to be me : Part 1 [PILOT]

  1. hae ituu pacar yunjii kahh????
    wahh smogaa bukannn…
    btw koqq bisaa sikap yunji super ramah gituu?? sabarnyaaa… tp krn ituu jg org2 jd mandang diaa buruk…

    Like

  2. eonn bilang ini ff yg sedikit ringan tp menurutku mm sama kaya ff eonn laennya, yg slalu bikin penasaran,ketagihan untuk baca ffnya
    Huwaaaa eonni ini emanx daebak, slalu keren n susah ditebak kelanjutannya gimana

    Serius aq slalu nunggu kelanjutan ff eonn
    Pokoknya semangat eonn buat ff nya

    Like

  3. Bener^ gak bisa ditebak, cerita yg menarik, yg aku pikirin salah besar, alurnya jugak enak, gak cepet gak lama, sepertinya konflik udah mau dimulai..
    #hwaiting 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s