I’m walking towards you : Part 14

Category: PG-18, Romance, Chapter, Sad

Cast:

Cho Kyuhyun, Lee Hyesoo (OC), Kim Jaejoong, Kang Soyu

Kim Ryeowook, Lee Donghae, Im Yoona, Choi Sooyoung, etc…

Disclaimer:

Caution! Cast dalam FF ini juga akan cukup banyak. Entah hanya sebagai cameo atau sebagai peran pendukung. Karena itu, fokuslah wahai para readers-nim. FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasia tau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com

Aku tidak bosan untuk selalu berpesan, jadilah pembaca yang baik dan sopan. Biasakan untuk tidak bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Karena aku yakin para readers adalah orang-orang yang terpelajar dan mengerti sopan santun. Benar? Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 13

“Kau juga berpikir bahwa Hyesoo masih mencintaiku?”

“Seharusnya kau yang paling menyadari hal itu”.

“Dia bicara padamu meski harus menutupi kebencian dan kesedihannya”.

“Hyesoo menyadari bahwa dia telah menemukan satu-satunya pengusir mimpi buruknya. Kau. Cho Kyuhyun yang begitu menyakitinya. Orang yang sama yang telah mengusir mimpi-mimpi buruknya, menenangkannya, dan masih dicintainya. Meski dia menyumpahimu, menolakmu, berteriak padamu, tapi dia mendengarkan semua yang kau katakan”.

————————-

“Aku bertemu dengannya. Kami bicara. Kami juga berdebat. Hanya itu”.

“Tatapan mata, nada bicara, dan bahasa tubuhmu berlawanan dengan jawabanmu, Lee Hyesoo”.

“Aku mendapatkan tidur lelapku kembali saat bersamanya”.

“Kau masih terus mencoba untuk menyangkalnya. Meski kau menyadari bahwa kau membutuhkannya”.

“Apa yang sedang kau coba lakukan, Lee Soohyuk?”

“Aku ingin kau mendapatkan apa yang kau butuhkan. Perlahan. Tidak perlu terburu-buru. Gunakan waktumu. Tidak ada yang sedang mengejar kita”.

————————-

“Dia tidak memberikanku waktu untuk mengerti keadaannya, Sooyoung-ah. Aku selalu memberikan kesempatan padanya untuk memperbaiki keadaan, Sooyoung-ah. Dia yang bersikeras untuk membuatku pergi”.

“Kyuhyun jatuh dari bukit itu. Jantungnya benar-benar terkejut. Dia tidak sadarkan diri untuk waktu yang cukup lama. Tidak ada senyuman cerah penuh harapan lagi di wajahnya. Hanya ada senyuman lembut pasrah darinya. Kyuhyun pun sudah menyerah dengan hidupnya”.

“Tidak ada hal selain kematian yang aku inginkan saat itu. Tapi aku terlalu berdosa pada gadis ini. Walau apapun yang terjadi padaku, penderitaan ataupun rasa sakit, aku akan tetap bertahan untuknya”.

“Eonni masih mencintaimu, Cho Kyuhyun”.

“Tapi dia terluka karena mencintaiku, juga karena aku begitu mencintainya… Seharusnya cinta tidak melukainya”.

————————-

“Aku tidak memiliki keyakinan untuk memberikan kesempatan apapun padanya”.

“Setidaknya berhenti berlari darinya sebentar saja. Dia yang harus memperbaiki keadaan”.

“Aku sudah mencoba untuk mengerti segala keraguan, ketakutan, dan rasa bersalahnya. Dia menyakitiku karena mencintaiku. Bagian mana dari kalimat itu yang masuk akal?”

“Bagi siapapun yang mendengar Kyuhyun, rasa bersalahnya akan terdengar sebagai omong kosong. ‘Aku sangat mencintaimu disaat aku mensyukuri setiap petaka yang menimpamu. Aku mensyukuri kematiannya disaat aku bahkan mendapatkan kehidupan baru karenanya’. Adakah diantara kedua hal itu yang terdengar baik? Keduanya terdengar begitu jahat”.

‘Aku yang harus pergi. Aku akan membiarkanmu pergi dariku. Kau yang akan pergi, dengan cara apapun. Meski aku harus membuatmu membenciku’. Dia tidak pernah mencintai siapapun sebesar ini”.

————————–

.

.

I’m walking towards you : Part 14

.

.

Author’s POV

BGM: SALTNPAPER – GO (Korean Version)

.

Hyesoo berjalan masuk ke dalam rumah sakit dengan langkah cepat, sambil menyeka air matanya. Hyesoo berjalan secepat yang bisa ia lakukan agar segera mendapatkan jarak yang cukup jauh dari pria yang ditinggalkannya di taman. Hyesoo mendekat ke salah satu lift terdekat, lalu menekan tombol dengan jari-jarinya yang tampak gemetar. Lift belum menunjukkan tanda-tanda akan segera terbuka. Hyesoo menunggu dengan cemas di depan pintu lift. Air matanya tidak kunjung berhenti menetes dipipi. Hingga akhirnya salah satu lengan Hyesoo diraih oleh sebuah genggaman kuat yang membuat tubuh Hyesoo berputar sesaat setelahnya. Di detik yang sama, Hyesoo dapat melihat wajah Kyuhyun dihadapannya. Kyuhyun menatap wajah Hyesoo dengan ekspresi yang tak dapat diartikan dengan mudah. Ada keraguan, kecemasan, dan rasa takut yang tergambar di wajah lelah itu. Sulit untuk mengatakan mana yang lebih dominan dari ketiganya. Napas Kyuhyun terdengar memburu. Ia terengah setelah melakukan sprint agar dapat mengejar Hyesoo.

.

Tidak ada kata yang terucap dari keduanya. Mereka hanya saling memandang, membaca kesedihan yang terpancar dari mata masing-masing. Keduanya saling mengalirkan bermacam emosi yang dirasakan melalui sentuhan tangan mereka. Helaan napas mereka terdengar bersautan, menimbulkan ritme yang teratur. Panel lift masih menunjukkan angka 7, menandakan bahwa lift belum akan sampai di lantai itu. Hyesoo pun akhirnya menyentuh genggaman tangan Kyuhyun di lengannya. Hyesoo mencoba melepaskan genggaman kuat itu dengan kemampuannya. Namun tangan Kyuhyun tidak kunjung terlepas. Kyuhyun menolak untuk melepas Hyesoo. Kyuhyun tidak memiliki kemampuan untuk melakukan itu lagi. Kali ini ia akan meraih Hyesoo tanpa pernah berpikir untuk melepaskannya lagi.

.

“Tidak, Cho Kyuhyun…” kata Hyesoo akhirnya dengan suara pelan yang terdengar serak. “Jangan…… Jangan seperti ini……” sambung Hyesoo sambil tetap berusaha membuat tangan Kyuhyun terlepas.

.

“Aku mohon, Hyesoo-ya…” pinta Kyuhyun agar Hyesoo tidak pergi lagi darinya. “Aku tidak bisa melepasmu lagi. Aku tidak mampu…”

.

“Jangan lakukan ini padaku…” kali ini Hyesoo yang memberikan permintaan Kyuhyun. Suaranya terdengar parau. Kelelahan begitu jelas mengiringi kalimat yang diucapkannya.

.

Hyesoo menggelengkan kepalanya, bersikeras meminta Kyuhyun untuk melepaskannya. Sesaat setelahnya, lift dibelakang Hyesoo terbuka. Dentingan lift membuat keduanya menoleh serempak. Beruntung, tidak ada satu orang pun di dalam lift. Sehingga adegan melelahkan di depan lift itu tidak disaksikan oleh siapapun. Hyesoo pun menahan tombol lift dengan tangannya yang lain, mencegah lift untuk kembali tertutup. Sesaat setelahnya Hyesoo kembali menoleh pada Kyuhyun, memberikan tatapan memohon padanya meski tidak mengatakannya secara langsung. Hyesoo meminta Kyuhyun untuk melepaskannya. Namun Kyuhyun tetap pada pendiriannya. Tangan Kyuhyun tetap menggenggam Hyesoo kuat tanpa menimbulkan rasa sakit di lengan Hyesoo. Mata Hyesoo sontak terpejam, air mata kembali mengalir di pipi Hyesoo. Kening Hyesoo berkerut dalam karena sikap keras kepala Kyuhyun yang tetap tidak ingin membiarkan Hyesoo pergi dari tempat itu. Mata Kyuhyun melebar menyaksikan pemandangan yang kembali menghentak jantungnya. Seketika setiap otot di tubuhnya melemah. Otot-otot tegang di tubuhnya mengendur, membuat jari-jarinya sontak melonggarkan genggamannya di lengan Hyesoo. Kyuhyun melepaskan lengan Hyesoo dari tangannya. Di detik yang sama, Hyesoo membuka matanya, terkejut akan sikap Kyuhyun yang mampu melunak dengan cepat. Hyesoo tidak pernah mengetahui sisi ini dari diri Kyuhyun. Hyesoo tidak pernah melihat Cho Kyuhyun yang mengalah pada orang lain.

.

Hyesoo pun mengangkat kepalanya, agar tatapannya sejajar dengan wajah Kyuhyun. Namun Kyuhyun sudah mengalihkan pandangannya ke lantai. Kyuhyun menghela napas panjang setelahnya. Hyesoo masih menatap Kyuhyun dengan keterkejutan yang membuatnya melupakan niat untuk pergi dari tempat itu. Kyuhyun berdeham, kemudian menyentuhkan tangannya di tengkuknya. Kyuhyun memijat pelan tengkuknya sambil memejamkan matanya. Sesaat setelah tangan Kyuhyun kembali ke samping tubuhnya, Kyuhyun berbalik dan berjalan menjauh dari Hyesoo, meninggalkan Hyesoo yang masih berdiri terpaku dengan situasi yang baru saja disaksikannya. Kyuhyun melepaskannya. Baru beberapa detik yang lalu Kyuhyun bersikeras menahan kepergiannya. Namun seketika saja Kyuhyun melepaskan Hyesoo, membiarkannya pergi tanpa menjadi penghalang lagi. Hyesoo memandang punggung Kyuhyun yang semakin menjauh darinya. Kyuhyun berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Getar ponsel di saku jubah menyadarkan Hyesoo dari lamunannya. Sebuah panggilan dari bangsal department bedah saraf mengalihkan perhatiannya. Hyesoo menghapus jejak air mata di pipinya dengan cepat, kemudian masuk ke dalam lift. Hyesoo mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya itu, masih sambil terus menatap kepergian Kyuhyun yang sudah semakin jauh. Hingga pintu lift yang tertutup menghilangkan sosok Kyuhyun dari pandangannya.

.

.

.

Malam harinya

Balkon lantai 3 Shinsung Hospital

BGM: Parc Jae Jung – Two Men (Feat. Kyuhyun)

.

Kyuhyun bersandar dipagar pembatas balkon. Ia sudah menghabiskan waktu hampir dua jam hanya berdiam diri disana. Pemandangan malam kota Seoul menemani Kyuhyun yang tetap bertahan dalam kebungkamannya. Lampu-lampu dari kendaraan yang berlalulalang menerangi malam tanpa bintang. Sesekali terdengar suara helaan berat mengisi keheningan balkon. Kyuhyun mencoba menenangkan dirinya disana. Namun bukan ketenangan yang dirasakannya, melainkan keresahan yang semakin menyiksanya. Bayangan akan sosok Hyesoo mengisi setiap sudut kepalanya. Jantungnya bahkan berdetak lebih cepat hanya dengan terngiangnya nama Hyesoo. Kyuhyun memejamkan matanya, merasakan angin malam yang berhembus menyentuh wajah dan permukaan kulit ditubuhnya, menerbangkan rambut ikalnya. Kyuhyun begitu terhanyut dengan suasana hening disekelilingnya. Hingga ia tidak mendengar suara deritan pintu yang terbuka. Seseorang yang sedang melalui koridor menyadari keberadaan Kyuhyun di balkon, meski setelan jas, celana, hingga rambut hitam Kyuhyun seharusnya tersamar di kegelapan.

.

“Jika kali ini kau ingin bunuh diri lagi, maka aku tidak akan mencegah atau menghalangimu”, kata suara bernada sarkastis yang menghampiri Kyuhyun yang sontak membuka matanya.

.

“Ch…” Kyuhyun berdesis setelah mendengar sindiran Jaejoong yang ternyata sudah berada di balkon bersamanya. Kyuhyun menoleh kearah datangnya suara pengganggu ketenangannya. “Apa yang kau lakukan disini, Kim Jaejoong?” tanya Kyuhyun setelahnya.

.

“Mencari udara segar”, jawab Jaejoong yang ikut bersandar di pagar pembatas balkon, kira-kira satu meter disisi kiri Kyuhyun. “Aku sangat berharap akan mendapatkannya. Udaranya tidak akan jadi segar jika kau melakukan percobaanmu lagi”.

.

“Anhae! Anhandago! Geogjeongma! (Tidak akan ku lakukan! Jangan khawatir!)” seru Kyuhyun dengan tawa kecil yang mengiringi seruannya pada Jaejoong. Kyuhyun kembali mengarahkan pandangannya ke pemandangan malam kota Seoul yang membentang dihadapannya.

.

Senyum Jaejoong mengembang mendengar keluhan yang diserukan pria yang tidak pernah ia duga akan menjadi temannya itu. “Aku tidak khawatir padamu, inma! Aku khawatir pada kondisi kejiwaanku. Menonton kejadian menakutkan yang terjadi tepat di depan mata bukan kegemaranku”, Jaejoong mengejek Kyuhyun sekali lagi. Jaejoong merogoh saku jubahnya, kemudian mengeluarkan sekaleng minuman yang dijulurkan pada Kyuhyun. “Ini. Minumlah…”

.

Kyuhyun menoleh pada Jaejoong, kemudian melihat kaleng yang dijulurkan oleh Jaejoong. “Cola? Kau hanya bisa memberikan ini?” tanya Kyuhyun dengan nada bergurau. Ia tetap mengambil kaleng itu dari tangan Jaejoong setelahnya.

.

“Aku sedang dalam shift malam, Cho Kyuhyun. Lagipula kau belum diijinkan meminum bir bahkan satu tetes saja. Seharusnya kau bersyukur aku mau memberikannya padamu”, kata Jaejoong.

.

“Baiklah… Terima kasih”, kata Kyuhyun.

.

“Aish… Michin nom…” keluh Jaejoong yang mengernyitkan keningnya. “Jangan katakan itu. Tidak terdengar bagus saat keluar dari bibirmu”.

.

“Ch… Kau benar. Aku pun merasa heran, bagaimana bisa aku mengucapkannya padamu”, ujar Kyuhyun sambil membuka kaleng cola ditangannya, lalu menenggak cola itu setelahnya.

.

“Hhh… Apa ada hal buruk yang terjadi? Kau tidak terlihat baik”, tanya Jaejoong mengutarakan pertanyaan yang sejak awal ingin ditanyakannya.

.

“Memangnya kapan terakhir kali kau melihatku dalam keadaan baik? Semua hal dalam hidupku belum menjadi baik, Kim Jaejoong. Mungkin tidak akan lagi. Aku belum menemukan titik terang apapun sampai saat ini. Keadaan hatiku masih gelap”, ujar Kyuhyun.

.

“Mwo… Mungkin kau benar”, kata Jaejoong setuju. “Apakah terasa begitu berat?” tanya Jaejoong setelahnya.

.

“Lebih dari yang ku perkirakan. Aku tidak pernah menduga akan seberat ini. Awalnya aku pikir aku mampu menghadapi ini dengan baik. Tapi ternyata keadaan tidak akan membiarkanku menyelesaikan ini dengan mudah. Aku terlalu bersalah untuk mendapatkan kemudahan. Akan tidak adil jika seperti itu”, jawab Kyuhyun.

.

“Semua hal terasa salah untuk dilakukan”, kata Jaejoong mengucapkan kalimat yang dapat diartikan sebagai pertanyaan maupun pernyataan.

.

“Bahkan lebih buruk…” sambung Kyuhyun.

.

“Aku mencium adanya keputusasaan dalam ucapanmu. Kau tidak seperti Cho Kyuhyun yang ku kenal. Kau seperti versi yang belum di upgrade. Apa yang terjadi kali ini? Kau ingin menyerah lagi?” tanya Jaejoong.

.

“Haruskah aku?” Kyuhyun justru balas bertanya.

.

Jaejoong menoleh, menatap Kyuhyun yang kembali memejamkan matanya. Jaejoong bungkam, tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, begitu tenang, dingin, dan datar. Sesaat setelahnya, Jaejoong kembali mengalihkan pandangannya. Ia menatap ke sisi kirinya yang sunyi dan gelap. Pemandangan gedung-gedung bertingkat hadir dihadapannya. Beberapa lampu gedung-gedung itu sudah dipadamkan, menandakan sudah tidak adanya orang yang berada didalamnya. Tanpa Jaejoong sadari, helaan napas panjang keluar dari hidungnya. Jaejoong merasakan situasi Kyuhyun dalam dirinya. Jaejoong pun ikut memejamkan matanya, membiarkan angin menyentuh permukaan kulitnya yang memang sudah dingin karena ia baru saja keluar dari ruang operasi. Jaejoong membuka matanya tidak lama setelah itu.

.

Bayangan akan saat-saat yang telah dilewatinya kembali berputar dalam pikirannya. Jaejoong pernah berada di posisi Kyuhyun beberapa tahun yang lalu. Cinta dan rasa bersalah yang ada dalam hatinya begitu mengganggu kerja otaknya. Choi Sooyoung yang diam-diam masuk ke dalam hatinya membuatnya merasa begitu kacau. Saat itu Sooyoung membencinya. Bagi Sooyoung, kesalahan yang dilakukan Jaejoong lebih besar dari kesalahan yang sudah Kyuhyun lakukan pada Hyesoo. Jaejoong harus melawan dirinya sendiri dalam mengalahkan dua perasaan yang saling berlawanan itu. Hingga akhirnya Jaejoong memutuskan untuk menebus kesalahannya dengan mencintai dan meraih Sooyoung. Karena itu, Jaejoong menjadi satu-satunya orang yang mengerti akan perasaan yang sedang dirasakan Kyuhyun saat ini. Keraguan, keresahan, dan rasa takut yang dirasakan Kyuhyun pernah ia rasakan. Jaejoong mengerti, hanya saja ia tidak pernah benar-benar menyatakannya.

.

“Berikan alasanmu. Setelah mendengarnya, aku akan mempertimbangkan”, kata Jaejoong setelah menggunakan waktu sesaat untuk berpikir.

.

“Apakah alasanku akan berpengaruh?” tanya Kyuhyun.

.

“Tidak tahu. Kau belum mengatakannya”, jawab Jaejoong, mendorong Kyuhyun untuk mengutarakannya.

.

“Hyesoo semakin terluka karena aku. Rasa sakitnya begitu terlihat dari kedua matanya. Bahkan sentuhannya membuatku meremang. Seolah kepedihan yang dirasakannya baru saja dialirkan ke tubuhku. Hyesoo sudah mengetahui semuanya. Alasanku, kebodohanku, bahkan semua hal yang terjadi padaku selama kepergiannya. Seharusnya aku merasa lega karena walaupun Hyesoo tidak ingin memaafkanku, setidaknya Hyesoo mengetahui semua itu. Tapi aku justru menemukan diriku tidak merasa tenang setelah Hyesoo mengetahuinya. Hyesoo justru menjadi lebih tersakiti. Hyesoo merasakan kepedihannya lagi disaat mungkin saja hal itu sudah hampir berhasil dia sembuhkan selama lima tahun yang berlalu”, kata Kyuhyun mengutarakan perasaannya.

.

Tidak ada kata yang terdengar diantara mereka setelahnya. Kyuhyun kembali meneguk cola ditangannya untuk melegakan tenggorokannya yang terasa begitu kering. Jaejoong hanya diam dengan ekspresi datar di wajahnya, seolah sedang menggunakan waktu untuk memikirkan ucapan Kyuhyun. Namun sebuah tanggapan tidak kunjung keluar dari bibir Jaejoong. Kyuhyun pun memejamkan matanya. Kepalanya terasa begitu sakit, seolah ada sebuah palu besar yang sedang dihantamkan diatasnya.

.

“Begitu rupanya…” kata Jaejoong memberikan tanggapannya, membuat Kyuhyun sontak membuka matanya.

.

“Mwoya…” keluh Kyuhyun pada tanggapan singkat Jaejoong sambil berdesis. Sebuah smirk terlihat disudut bibirnya. Namun ekspresi wajahnya berubah di detik setelahnya. Ekspresi diwajah Kyuhyun mengeras seketika. Seakan jiwanya yang sempat melayang ditarik dengan cepat kembali ke tubuhnya. “Bagaimana? Haruskah aku berhenti?” tanya Kyuhyun.

.

“Kau bisa?” Jajeoong balas bertanya.

.

“Aku tidak yakin”, jawab Kyuhyun jujur.

.

“Kau ingin berhenti?” tanya Jaejoong lagi.

.

“Aku merasa aku harus [berhenti]. Aku sudah sangat menyakitinya. Dia sangat terluka. Aku tidak sanggup melihatnya begitu”, jawab Kyuhyun dengan kesungguhannya.

.

“Kau mampu?” tanya Jaejoong sekali lagi.

.

“Kau tahu jawabannya bahkan tanpa perlu bertanya”, jawab Kyuhyun dingin kali ini.

.

“Kau bisa berhenti. Kau boleh berhenti”, kata Jaejoong.

.

“Begitukah?” tanya Kyuhyun yang masih tidak memiliki keyakinan dalam dirinya.

.

“Setelahnya hanya akan ada dua kemungkinan…” kata Jaejoong. “Pertama, kau melakukan hal yang benar dengan berhenti. Mungkin kau benar. Kau, keberadaanmu, kehadiranmu, membuat Hyesoo semakin terluka. Kesedihan dan rasa sakit yang seharusnya sudah meninggalkannya justru menjadi semakin besar karenamu. Kau sekali lagi menjadi penyebab atas ketidakbahagiaannya. Karena itu, dengan kau berhenti mengejarnya, mungkin Hyesoo akan lebih bahagia tanpamu. Kepedihan itu juga akan hilang dengan perlahan sehingga Hyesoo dapat melanjutkan hidupnya dengan ketenangan yang selama ini dia butuhkan”.

.

“Benar…” kata Kyuhyun setuju.

.

“Tapi kau masih memiliki kemungkinan kedua, Cho Kyuhyun” kata Jaejoong melanjutkan. “Yaitu kenyataan bahwa kau justru melakukan kesalahan dengan berhenti. Semua orang beranggapan bahwa Hyesoo masih mencintaimu. Dia tidak pernah bisa berhenti. Aku yakin kau pun mengetahui dan menyadari hal itu. Dengan memutuskan untuk berhenti, kau akan memperdalam lubang dihatinya. Kau justru menambah rasa sakit yang dirasakannya dengan kembali meninggalkannya, atau yang selalu kau sebut dengan istilah ‘melepasnya’. Lalu Hyesoo akan semakin terluka, hingga luka itu tidak akan pernah bisa disembuhkan. Kemungkinannya sebanding. Fifthy : fifthy. Keduanya memiliki kemungkinan terjadi yang sama besar. Hanya saja tidak ada yang tahu kemungkinan mana yang akan terjadi. Tidak siapapun. Begitupun denganku. Tapi aku rasa kau tahu. Karena memang seharusnya kau yang mengetahuinya”, kata Jaejoong sambil menoleh dan memberikan senyum tipis pada Kyuhyun.

.

“Dia tersakiti karena mencintaiku”, kata Kyuhyun masih berusaha mengajukan alasannya untuk berhenti.

.

“Begitulah yang semestinya”, balas Jaejoong dengan ucapan tidak terduganya.

.

“Seharusnya cinta tidak menyakitinya”, kata Kyuhyun.

.

“Siapa yang mengatakannya?” tanya Jaejoong. “Rasa sakit juga termasuk emosi yang ada didalam cinta, Cho Kyuhyun. Keduanya berjalan berdampingan, saling bergandengan, menyamakan langkah satu sama lain. Semakin besar cinta yang kau rasakan, maka semakin besar pula rasa sakit yang mungkin kau dapatkan. Karena didetik yang sama saat kau memutuskan untuk mencintai seseorang, kau juga sudah menyetujui untuk menerima rasa sakit yang mungkin akan kau dapatkan”, kata Jaejoong menjelaskan hal yang pernah dialaminya.

.

“Kalian sudah mengalaminya…” kata Kyuhyun menyinggung keadaan Jaejoong dan Sooyoung beberapa tahun yang lalu.

.

“Kami berhasil melewatinya”, ujar Jaejoong.

.

Kyuhyun kembali menghela napas beratnya. “Apa kau tetap berpikir Hyesoo akan menerimaku kembali?” tanya Kyuhyun setelahnya.

.

“Mungkin…” jawab Jaejoong sambil mengedikkan bahunya. “Mengingat sikap Hyesoo yang masih memberikan celah padamu seperti ini. Mungkin saja…”

.

“Celah?”

.

“Benar. Hyesoo memberikan celah padamu untuk bergerak maju. Kau hanya terlalu khawatir celah itu tidak akan berhasil kau lalui”, kata Jaejoong.

.

“Aku khawatir akan merobek celah itu dan meninggalkan bekas yang menyakitkan”, sambung Kyuhyun.

.

“Ijinkan dirimu untuk berhenti berpikir seperti itu sekali saja. Kau harus menjadi Cho Kyuhyun si mahasiswa yang menyebalkan saat ini. Cho Kyuhyun yang tidak kenal kata menyerah dan mundur. Cho Kyuhyun yang begitu yakin akan mendapatkan apapun yang diinginkannya”, kata Jaejoong memberikan saran.

.

“Semua orang membenci sisi itu dari Cho Kyuhyun. Sisi itu juga yang membuat Hyesoo pergi dariku, Kim Jaejoong” kata Kyuhyun.

.

“Ah… Kau benar… Benar. Kau benar…” kata Jaejoong yang seolah baru menyadarinya, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ah, molla! Pikirkan sendiri jalan keluarnya. Kau membuatku merasakan hal ini lagi. Aku sudah lulus dari cobaan ini, inma!” sambung Jaejoong sambil mengibas-kibaskan tangannya diatas kepalanya. Seolah sedang mengusir segala pikiran melelahkan yang disebabkan oleh Kyuhyun.

.

Kyuhyun berdesis mendengar keluhan Jaejoong. Ia menggelengkan kepalanya dengan senyum lelah yang tergambar diwajahnya. Meski tidak benar-benar mendapatkan keyakinan akan keputusan yang ingin diambilnya, tapi setidaknya Kyuhyun sudah mendapatkan sedikit ketenangan dalam hatinya. Kyuhyun tidak pernah berhenti bersyukur atas semua hal yang dimilikinya setelah hidupnya terasa hancur karena kepergian Hyesoo. Kepergian Hyesoo membuat Kyuhyun mendapatkan teman-teman yang mendukungnya dan menenangkan dirinya. Bahkan seorang Kim Jaejoong yang dulu sempat menjadi rivalnya kini berada disisinya untuk memberikan dukungannya pada Kyuhyun.

.

.

.

Kyuhyun’s POV

BGM: Echae En Route – Night Drive

.

Jaejoong berlalu menuju UGD setelah sebuah panggilan darurat diterimanya. Aku kembali berada ditempat ini seorang diri. Situasi ini tidak asing bagiku. Seorang diri dalam kesunyian sudah menjadi bagian dari keseharianku bahkan sejak aku baru berusia 5 tahun. Mereka tidak akan mempercayaiku jika aku mengatakannya pada mereka. ‘Cho Kyuhyun bukan seorang penyendiri’. ‘Cho Kyuhyun tidak pernah berada dalam kesendirian. Dunianya begitu ramai’. ‘Cho Kyuhyun dikelilingi oleh banyak orang. Mustahil dia merasa kesepian’. Tidak ada yang pernah melihat ke dalam diriku. Ada seorang penyendiri yang hidup dalam diriku. Ia tidak pernah berhubungan dengan siapapun selain dirinya sendiri. Ia bahkan memiliki zona sunyinya sendiri dalam kegelapan. Semua orang akan menyangkal hal itu dengan teguh mempertahankan pendapat mereka atasku. Aku tidak akan memperdebatkannya. Aku memang terlihat seperti itu dimata semua orang. Tameng pelindungku menunjukkan hal itu pada semua orang. Karena aku yang membuatnya begitu.

.

Mereka tidak sepenuhnya salah. Duniaku memang ramai. Ada begitu banyak orang disekelilingku. Terkadang jarak mereka begitu dekat, namun terkadang justru sangat jauh hingga tidak dapat ku raih. Semua itu tidak memberikan arti apapun padaku. Keberadaan semua orang disekitarku tidak memberikan makna apapun dalam hidupku. Mereka hanya berada disana, disekelilingku, meramaikan suasana disekitarku, tanpa benar-benar masuk ke dalam lingkaran kehidupanku. Mereka membuat pelindung diri mereka sendiri. Batas antara dunia pribadiku dan dunia pribadi mereka. Sehingga tidak ada yang dapat saling melewatinya dan melanggar batas yang telah dibuat. Sehingga tidak ada yang dapat saling bersentuhan. Mereka tetap meninggalkanku dalam duniaku yang sunyi. Mereka tidak ingin masuk, maupun membiarkanku masuk. Mereka memenjarakanku dalam keramaian yang mereka buat untuk menyamarkan pandangan orang lain atasku. Mengejutkan saat mengetahui kenyataan bahwa aku menikmatinya. Aku menikmati kesunyian dalam diriku di tengah keramaian yang dibuat semua orang disekitarku. Aku sudah terlalu terbiasa dengan kebohongan yang menyelubungi hari-hariku. Sehingga aku menunjukkan senyum bangga diwajahku atas kepalsuan yang menjadi gambaran diriku di mata semua orang.

.

Sampai seorang Lee Hyesoo datang ke dalam hidupku. Hyesoo membawa luka dan masa lalunya berjalan beriringan bersama ketegaran yang dimilikinya. Keberadaan Hyesoo mengusik diriku yang selama ini memberontak di sudut kesunyianku. Tameng pelindungku runtuh dengan mudah di hadapan Hyesoo. Ia dapat menemukan diriku yang bersembunyi jauh sekali di dalam kegelapan. Hyesoo mampu menarik keluar diriku yang tidak pernah tertarik dengan dunia diluar duniaku. Ia membagi kisahnya denganku, membawaku ikut berjalan bersamanya, menyamakan derap langkahku. Pintu besar yang sudah ku tutup rapat dalam hatiku seketika dibuka dengan lebar olehnya. Hyesoo membuatku merasakan hal yang tidak pernah terbayangkan dalam pikiranku. Cinta. Kata yang tidak pernah benar-benar ku ucapkan, ataupun ku terima. Aku tidak mengenal cinta. Aku tidak mempercayainya. Aku mengeluarkan kata itu dari kamus kehidupanku. Tidak pernah ada yang memberiku cinta. Tidak ada yang pernah menerimanya dariku. Aku tidak memilikinya untuk siapapun, bahkan untuk diriku sendiri. Aku pun memutuskan untuk tidak bersinggungan dengan kata itu seumur hidupku. Tapi Hyesoo menghantamku dengan keras menggunakan kata itu. Hyesoo menorehkan kata itu begitu dalam dihatiku. Pena yang Hyesoo gunakan begitu tajam hingga meninggalkan bekas yang tidak dapat dihilangkan dengan cara apapun. Membuat bekasnya terasa begitu menyakitkan saat Hyesoo meninggalkanku.

.

Aku memejamkan mataku, kembali membiarkan angin malam membelai lembut kulitku. Aku membiarkan tubuhku meremang karena udara dingin yang mengejutkanku, membangunkan saraf-sarafku yang tertidur karena kelelahan. Aku membiarkannya menerbangkan rambutku yang sudah tidak beraturan, berhadap semua hal yang membuat kepalaku terasa berdenyut ikut terbang bersamanya. Aku ingin menenangkan pikiran dan hatiku sejenak. Melupakan semua hal yang memenuhi diriku selama beberapa saat, meski aku tahu bahwa aku tidak akan pernah mampu. Ketenangan sudah meninggalkanku di detik yang sama saat Hyesoo pergi menjauh dariku. Semua hal yang Hyesoo harapkan terjadi padaku. Aku mendapatkan balasan yang sesuai dengan perbuatanku. Aku sudah jatuh sampai ke dasar dimana tidak ada seorang pun yang mampu menolongku untuk kembali bangun. Aku melewati hari-hari terangku dengan awan gelap yang menyelimutiku. Aku melalui malam-malam tanpa lelapku dengan kebencian yang Hyesoo tancapkan tepat di dadaku.

.

Jangan lakukan ini padaku…

Suara Hyesoo kembali terngiang di telingaku. Nada bicaranya yang terdengar begitu tidak berdaya, ekspresi lelah diwajahnya, dan kepedihan dalam tatapan matanya. Hatiku hancur menjadi debu hanya dengan mengingat semua itu. Aku membuat Hyesoo kembali memohon padaku karena sikap yang ku berikan padanya. Kali ini Hyesoo tidak mengucapkannya. Hyesoo membuatku merasakannya melalui setiap bahasa tubuh yang ia tunjukkan padaku. Aku merasa begitu tidak berdaya saat mendengar suara lirihnya. Rasanya seperti baru saja sebuah papan kayu menampar keras wajahku. Aku kembali menghela napas panjang. Entah sudah berapa kali aku melakukannya. Aku merasa begitu lelah, kakiku sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahannya. Semua hal ini begitu rumit dan melelahkan. Tenagaku habis dengan cepat bahkan disaat aku tidak memiliki banyak kegiatan untuk dilakukan.

.

Aku pun memutuskan untuk meninggalkan balkon ini. Aku membutuhkan beberapa waktu untuk meregangkan otot tegangku. Aku masuk ke dalam gedung, lalu berjalan melalui koridor menuju sebuah lift terdekat dari tempatku berada. Aku masuk ke dalam lift dan menekan tombol 9 menuju ruanganku. Aku berjalan dengan sisa tenaga yang ku miliki menuju kamar yang terletak tepat dibelakang tempat dudukku. Aku tidak ingin kembali ke apartment. Suasananya begitu dingin dengan kenangan akan kehadiran Hyesoo yang begitu mudah dapat di rasakan disetiap sudut. Bayangan akan langkah Hyesoo yang begitu ringan berjalan berpindah dari sudut satu ke sudut lainnya bahkan masih membekas dalam ingatanku. Aku tidak dalam keadaan yang baik untuk mengenang hal itu. Beruntung karena Baekhyun selalu memeriksa isi lemari pakaian di kamar ini. Sehingga aku dapat menemukan beberapa pakaian yang dapat ku kenakan kapanpun. Aku meraih sebuah celana bahan berwarna hitam yang tidak terlalu longgar, serta T-shirt yang berwarna senada dan sweater abu-abu tua untuk menghangatkan tubuhku yang kini terasa menggigil karena udara dingin di balkon beberapa saat yang lalu.

.

Setelah mengganti pakaian, aku mencoba merebahkan tubuhku di atas kasur. Berharap kantuk akan datang padaku, menghilangkan rasa sakit di kepalaku yang semakin berdenyut. Tapi tentu saja hal itu tidak akan terjadi dengan mudah. Aku memang merasakan kelelahan, tapi tidak dengan mata dan otakku. Titik lelah masih jauh dari jangkauan keduanya. Aku pun kembali bangun dan duduk selama beberapa saat. Penat kembali mengisi kepalaku, meneriakkan udara segar sebagai kebutuhan utamanya. Aku berjalan mendekat pada jendela besar di sisi kanan tempat tidurku, membuka lebar tirai yang menutupinya. Aku membuka tuas jendela, lalu keluar dari kamar, kembali ke sebuah balkon. Kali ini pemandangan kota Seoul terlihat dari lantai 9 gedung rumah sakit.

.

.

.

Hyesoo’s POV

.

Aku berjalan dalam kegelapan malam tanpa cahaya. Tidak ada siapapun disekitarku. Hanya suara malam kota Seoul yang masih terjaga yang menemaniku. Aku terus melangkah di permukaan yang luas ini, tanpa mengetahui tujuanku sebenarnya. Udara dingin menusuk kulitku, masuk hingga menyentuh tulangku. Aku menggigil, udaranya terlalu dingin untuk cuaca dibulan Oktober. Permukaan rata dihadapanku mulai terlihat dengan bantuan sinar bulan yang tiba-tiba meneranginya. Entah kemana perginya bulan beberapa saat yang lalu, sehingga baru sekarang ia datang menerangi jalanku. Aku terus berjalan, berharap dapat menemukan tempat yang lebih terang dan hangat, atau paling tidak bertemu dengan seseorang yang bisa menemaniku dalam kesunyian ini. Suara kendaraan yang masih berlalu lalang di jalan raya kota Seoul terdengar semakin jelas di telingaku. Aku menduga langkahku sedang membawaku ke sebuah jalan ramai dengan banyak orang yang masih melakukan aktifitas malam mereka. Tapi kemudian sebuah batu besar menghalangiku. Langkahku terhenti. Batu itu terlalu besar untuk ku lewati. Aku harus naik ke puncaknya agar bisa kembali berjalan lurus ke depan.

.

Suara tawa seseorang membuatku mengalihkan pandanganku dari kebingungan yang memenuhi pikiranku. Aku berbelok, berjalan mengikuti sumber suara yang semakin terdengar jelas. Dugaanku benar. Ada seseorang disana yang sedang bersorak kegirangan atas suatu hal yang terjadi padanya. Aku berjalan menghampiri orang itu, namun jarak kami tidak kunjung mendekat. Hingga gambaran pandangan mataku sontak berubah. Orang itu berada sangat dekat denganku, hanya berjarak satu setengah meter disisi kananku, seorang laki-laki. Ia mengenakan T-shirt dan celana panjang berwarna hitam. Rambutnya ikal berantakan diterpa angin. Suara tawanya begitu riang, kedua tangannya terangkat keatas, menunjukkan betapa bahagia perasaannya. Ia menurunkan kedua tangannya kemudian menghela napas panjang. Orang itu menyadari kehadiranku yang selama beberapa saat menyaksikan euphoria kegembiraannya akan sesuatu. Ia menoleh cepat padaku. Cho Kyuhyun. Ia berada di hadapanku. Wajahnya begitu cerah. Ia merasa begitu gembira. Ada sebuah senyum mengembang diwajahnya. Kyuhyun bahkan menunjukkan tawanya padaku. Kyuhyun mengubah posisi tubuhnya, kini mengarah padaku. Ia berjalan ke arahku sambil menggerakkan tubuhnya, menari tanpa iringan musik.

.

“Kau datang…” kata Kyuhyun. Suaranya terdengar bergema.

.

“Aku hanya berjalan menuju cahaya. Disana terlalu gelap”, kataku meluruskan dugaannya yang mengira aku datang padanya. Aku dikejutkan dengan suaraku yang juga terdengar bergema.

.

“Kau tetap datang padaku”, kata Kyuhyun sekali lagi.

.

“Terserah padamu…” kataku, tidak ingin berdebat dengannya.

.

“Kau tahu? Aku sedang merasa begitu bahagia”, ujar Kyuhyun.

.

“Aku bisa melihatnya”, balasku.

.

“Kau tidak ingin mengetahui alasannya?” tanya Kyuhyun.

.

“Bukan urusanku”, jawabku dingin.

.

“Aku tetap akan memberitahumu”, kata Kyuhyun yang kemudian tersenyum lebar padaku. “Aku tetap hidup, Hyesoo-ya. Bahkan setelah semua hal yang ku lakukan, aku tetap hidup. Dia begitu kuat”, sambung Kyuhyun sambil menyentuh dada sebelah kirinya. “Aku tidak akan melakukan apapun lagi. Aku akan bertahan untukmu”, kata Kyuhyun setelahnya.

.

Aku memilih untuk tidak menanggapi ucapannya. Namun Kyuhyun tetap berjalan ke arahku, masih sambil menari senang. Jarak kami semakin dekat. Aku pun memalingkan wajahku, menghindari tatapannya. Kyuhyun menggumamkan nada-nada yang membentuk sebuah lagu indah yang sering didengarkannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku, kepalaku kembali menoleh padanya. Senyum Kyuhyun semakin mengembang saat tatapan kami bertemu. Namun sebuah pemandangan justru membuat mataku melebar karena terkejut. Kyuhyun sedang berjalan diatas pagar pembatas balkon rumah sakit. Ia menari tanpa mempedulikan apapun. Ia terus berjalan mendekat padaku dengan langkahnya yang ringan. Hingga salah satu kakinya gagal berpijak. Kyuhyun kehilangan keseimbangannya, membuat kakinya yang lain terpeleset dan tubuhnya terpelanting ke sisi lain yang menjauhiku.

.

“Cho Kyuhyun!!!” seruku.

.

Napasku tercekat. Aku kehabisan oksigen. Tubuhku gemetar. Kedua tanganku menggenggam selimut dengan kuat. Aku bisa merasakan keringat yang membasahi tubuhku. Pandanganku kabut dan kepalaku terasa berputar. Kegelapan menyambut kedua mataku yang membuka lebar karena terkejut. Aku membutuhkan waktu beberapa detik untuk memproses semua hal disekitarku. Masih kesunyian dan aroma yang sama. Akhirnya aku menyadari keberadaanku. Aku sedang berbaring di tempat tidurku, di kamar apartmentku. Jam disisi kiriku masih menunjukkan pukul 1 dini hari. Aku hanya tertidur selama 2 jam. Mimpi buruk kembali datang dalam tidurku. Kali ini dengan cara yang begitu menakutkan. Aku tidak pernah merasakan efek seperti ini selama lima tahun terakhir. Aku merasa begitu lelah. Seolah aku baru saja melakukan marathon mengelilingi sungai Han saat tertidur. Dan bukan Siwon oppa yang datang dalam mimpiku. Melainkan Cho Kyuhyun. Sebelumnya Kyuhyun tidak pernah muncul sedikitpun dalam mimpiku. Malam ini dia datang dalam suasana yang membuatku begitu takut.

.

Aku menyibakkan selimutku lalu beranjak duduk. Pandanganku berbayang, membuat semua hal disekitarku seolah sedang bergerak berputar. Aku tetap duduk selama beberapa saat untuk mendapatkan ketenangan. Setelah meyakinkan diri, aku bangkit berdiri dan berjalan keluar dari kamar menuju dapur. Aku meraih sebuah gelas diatas meja bar dapur lalu menuangkan air mineral ke dalamnya. Aku menenggak air itu dengan cepat, berharap dapat meredakan napasku yang memburu. Namun air itu tidak memberikan efek apapun. Tanganku masih gemetar dan kakiku terasa lemas. Aku pun berjalan menuju sofa ruang tv, meletakkan gelas ditanganku ke atas meja dan duduk di sofa. Gemetar di tanganku seolah menjalar ke seluruh tubuhku, menimbulkan efek merinding di permukaan kulitku. Keresahan menyelimuti setiap inchi tubuhku. Aku tidak dapat mengartikan perasaan yang sedang bergejolak dalam diriku. Aku merasa cemas, sekaligus takut luar biasa. Napasku masih terengah meski sudah disiram dengan air dingin. Aku meraih ponsel ku yang tergeletak diatas meja dengan cepat. Aku mengetikkan sebuah pesan dengan kecepatan yang mampu dilakukan oleh jari-jariku yang gemetar.

.

To: Soohyuk

Aku terbangun

Kali ini bukan Siwon

Dia datang dalam mimpiku

Mimpi yang lebih buruk dari yang lainnya

.

Aku menggenggam kuat ponselku dengan tangan gemetar yang belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Aku menggerak-gerakkan kakiku tidak tenang. Aku memejamkan mataku, kembali membukanya, lalu kembali memijat tengkukku, kembali meremas ponselku, begitu seterusnya. Aku benci menunggu di saat seperti ini. Aku tahu aku tidak seharusnya bersikap seperti ini. Aku berada di posisi yang salah karena sudah mengganggu istirahat malam orang lain hanya untuk memberikan solusi padaku. Tapi aku sangat membutuhkannya saat ini. Dan Soohyuk tidak pernah absen memberikan solusinya padaku. Berselang dua menit setelah pesan ku kirim, Soohyuk membalasnya. Aku membuka ponselku dengan tergesa.

.

From: Soohyuk

Hubungi dia

Temui dia

Lakukan apapun

Jangan mengelak lagi, Hyesoo-ya

Hanya dia yang berhasil menghapus mimpimu

Kau juga menyadari hal itu dengan baik

Kau membutuhkan dia, bukan aku

.

Aku sudah menduganya. Jawaban itu sangat mungkin dikatakan oleh Soohyuk. Selama ini Soohyuk selalu mendorongku untuk memberikan kesempatan pada Kyuhyun, meski sedikit. Soohyuk selalu mengatakan hal itu disaat ia mengetahui bahwa aku tidak mampu. Aku tidak memiliki keyakinan untuk melakukan itu. Rasa sakit yang diberikan Kyuhyun kembali muncul setiap kali aku melihat wajahnya. Bahkan Kyuhyun membuatku merasa lelah hanya dengan mendengar namanya. Aku tidak bisa. Belum. Meskipun semua alasan yang dimilikinya sudah ku ketahui. Meskipun mengetahui kondisinya selama 5 tahun terakhir yang tidak lebih baik dariku. Aku tetap belum menemukan keyakinan itu. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku yang merasakan ketakutan ini. Kejadian di Jepang yang diceritakan Sooyoung padaku muncul dalam mimpiku, dengan aku yang berada disana untuk menyaksikan kejadian menakutkan itu. Gemetar di tubuhku semakin menjadi saat detik demi detik kejadian itu kembali berputar di kepalaku. Dia menghilang dari pandanganku dengan cara yang begitu menakutkan. Aku tidak bisa menenangkan diriku. Aku tidak bisa. Aku menyerah.

.

Aku menyentuh layar ponselku, kemudian menyentuh salah satu nomor telepon dengan cepat. Ku dekatkan ponsel ke telingaku, memunculkan nada sambung pertama yang menandakan terhubungnya panggilan teleponku. Suara nada sambung terdengar begitu lambat. Tidak ada yang mengangkat panggilanku, membuatku merasa lebih cemas dari sebelumnya. Sambungan terputus karena tidak ada yang mengangkatnya. Aku mencobanya sekali lagi, berharap kali ini ada seseorang yang mengangkat panggilan teleponku, siapapun itu. Nada sambung yang lambat ini membuatku gila. Kesabaranku hampir habis. Ketenanganku sudah mencapai ambang batas akhirnya. Entah kemana pemilik ponsel itu dan siapapun yang selalu berada disekitarnya. Selama sesaat aku melupakan fakta bahwa saat ini jam menunjukkan pukul 1.17 dini hari.

.

Yoboseyo?” sebuah suara berat yang tenang terdengar dari seberang telepon. Suaranya datar dan tidak memberikan kesan bangun tidur. Dia belum tidur.

.

“Cho Kyuhyun……” kataku setelahnya. Aku terkejut menyadari betapa lirihnya suaraku saat menyebut namanya.

.

Benar. Ini aku, Hyesoo-ya”, katanya.

.

Oh ayolah… Aku tahu itu kau. Katakan hal lain…’ Lee Hyesoo yang cemas berteriak dalam pikiranku. Aku memejamkan mataku. Ada dua sisi Lee Hyesoo yang sedang bertengkar dalam diriku. Sisi pertama sedang merutukiku karena menghubungi laki-laki yang sudah menyakitiku dan menghancurkanku. Tapi sisi yang lain justru mendorongku untuk mengatakan hal yang begitu mustahil untuk ku lakukan. Tanpa ku sadari, aku menghembuskan napas beratku. Tubuhku jatuh ke lantai. Aku memeluk kedua kakiku dengan tanganku yang bebas. Kepalaku tertunduk. Ketegangan yang terjadi padaku beberapa saat yang lalu seolah mulai meninggalkan tubuhku secara perlahan.

.

“Apa yang sudah kau lakukan padaku, Cho Kyuhyun?” hanya pertanyaan itu yang mampu keluar dari bibirku.

.

Ada apa, Hyesoo-ya? Hm?” tanya Kyuhyun dengan nada khawatir khasnya.

.

‘Oh, tidak… Kenapa nada bicara itu terasa melemahkanku?’ pikirku. “Otak ini mengendalikan tubuhku untuk tetap mempertahankan pendirianku. Tapi sampai saat ini, aku tetap tidak bisa membohongi perasaanku. Hatiku tidak bisa menghentikan semua kegilaan ini”, kataku setelahnya.

.

Lee Hyesoo, tolong katakan padaku. Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Kyuhyun. Kali ini dengan nada frustrasi dalam ucapannya.

.

I want to see you. Right now...” dua kalimat itu akhirnya meluncur bebas keluar dari bibirku.  Kalimat yang sejak tadi diperdebatkan oleh dua Lee Hyesoo dalam pikiranku. Kalimat yang ragu untuk ku katakan. Kini mengalun dengan mudah menuju laki-laki malang yang berada di seberang telepon. “Datanglah, Cho Kyuhyun. Temui aku…” sambungku seolah menegaskan kalimatku sebelumnya.

.

.

.

Author’s POV

BGM : Jay Park – Eyes

.

Kyuhyun terdiam. Kalimat yang diucapkan Hyesoo beberapa saat yang lalu seperti halusinasi baginya.  Seolah ia sedang berada dalam alam mimpi yang seringkali datang dalam tidurnya. Hanya saja kali ini Hyesoo bukan meninggalkannya, melainkan memintanya untuk datang. Kyuhyun berdiri terpaku, membeku dalam posisinya. Ucapan Hyesoo membuatnya terkejut, namun tidak sampai menghentikan jantungnya. Suara helaan napas Hyesoo di seberang telepon akhirnya menyadarkan Kyuhyun dari keterkejutannya.

.

“Apa? Apa yang baru saja kau katakan?” tanya Kyuhyun dengan terbata.

.

“Tidak… Tidak… Lupakan apa yang baru saja aku katakan. Lupakan saja…” kata Hyesoo setelahnya.

.

“Tidak. Aku akan kesana. Dimana kau saat ini?” tanya Kyuhyun sebelum Hyesoo benar-benar mengubah pikirannya.

.

“Apartment”, jawab Hyesoo dengan suara pelan.

.

“Tunggu aku”, kata Kyuhyun yang kemudian memutus sambungan telepon mereka.

.

Kyuhyun mengambil sneakers nya yang terletak di lemari kecil dekat pintu kamar, kemudian mengenakannya dengan terburu-buru. Kyuhyun pun meraih kunci mobilnya diatas nakas dengan cepat kemudian berhambur keluar dari ruangannya. Kyuhyun bergerak gelisah saat lift yang dinaikinya bergerak dengan kecepatan yang tidak diharapkannya. Segera setelah pintu lift terbuka, Kyuhyun berlari menuju mobilnya dan mengemudikannya keluar dari tempat parkir. Kyuhyun hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di apartment Hyesoo. Kyuhyun tidak ingin melakukan kebodohan lainnya dengan menunggu dengan gelisah di dalam lift. Karena itu, Kyuhyun menggunakan tangga darurat untuk sampai di lantai tempat apartment Hyesoo berada. Kyuhyun menekan tombol password dengan tergesa, membuat kombinasi yang ditekannya salah. Kyuhyun mencobanya sekali lagi dan kali ini pun berhasil. Hyesoo yang masih berada dalam posisi duduk memeluk kedua kaki pun mengangkat kepalanya saat mendengar suara kombinasi password ditekan. Hyesoo juga dapat mendengar suara pintu yang terbuka lalu kembali tertutup setelahnya.

.

Kyuhyun membuka sepatunya dengan sembarang sebelum berlari masuk ke dalam. Pandangan matanya menemukan sosok Hyesoo yang duduk lantai sambil memeluk kakinya. Hyesoo segera bangkit berdiri saat matanya bertemu dengan tatapan Kyuhyun yang berjalan dengan cepat ke arahnya. Hyesoo langsung melesak ke dalam pelukan Kyuhyun. Hyesoo memeluk tubuh Kyuhyun dengan sangat erat, seolah Kyuhyun akan menghilang jika Hyesoo tidak menahannya. Hyesoo dapat mendengar detak jantung Kyuhyun yang berdegup begitu kencang, serta napas Kyuhyun yang terdengar terengah. Tidak jauh berbeda dengan Kyuhyun yang tersentak saat merasakan suhu tubuh Hyesoo yang begitu dingin dan dipenuhi keringat. Kyuhyun juga mendengar Hyesoo yang terisak pelan.

.

“Hyesoo-ya, ada apa? Tubuhmu gemetar dan berkeringat. Apa yang terjadi?” tanya Kyuhyun cemas.

.

“Kau jatuh ke jurang. Kau menghilang di depan mataku. Kau… Kau… Kau…berusaha meninggalkanku dengan cara yang begitu jahat. Aku hanya mendengar teriakanmu tanpa bisa melakukan apapun. Kau menghilang dari pandanganku dengan cepat……”

.

“Hyesoo-ya, apa yang sedang kau bicarakan? Jurang apa? Hm? Apa yang terjadi? Aku baik-baik saja…” kata Kyuhyun memotong ucapan Hyesoo.

.

“Nappeun nom… Setelah semua hal yang kau lakukan padaku, kau bahkan masih menyakitiku dalam mimpiku. Seharusnya aku pergi darimu. Seharusnya aku membencimu”, kata Hyesoo tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.

.

“Maafkan aku, Hyesoo-ya. Aku memang bersalah. Benci aku sekuat tenagamu. Lukai aku sepuasmu. Aku akan membiarkanmu melakukan semua hal itu padaku”, kata Kyuhyun.

.

“Kau pria yang sangat jahat. Kau menghancurkanku”, sambung Hyesoo.

.

“Maafkan aku… Meski kau tidak ingin mendengarnya, aku tetap akan selalu mengatakannya. Maafkan aku… Aku mohon maafkan aku. Aku sangat menyesal…” kata Kyuhyun yang memeluk erat tubuh Hyesoo dalam rengkuhannya.

.

“Jangan pergi…” kata Hyesoo dengan suara pelan setelahnya.

.

“Aku tidak akan kemanapun, Hyesoo-ya. Tidak pernah…” ujar Kyuhyun.

.

“Tidak”, kata Hyesoo yang melepaskan pelukannya. Hyesoo menyentuhkan tangannya di lengan Kyuhyun untuk menjaga jarak diantara keduanya. Hyesoo menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Kyuhyun. “Kau kembali meragu. Aku melihatnya dengan jelas dimatamu. Kau sempat berpikir untuk kembali pergi. Kau melepasku begitu saja hari ini, kau ingat?” kata Hyesoo mengingatkan Kyuhyun.

.

Kyuhyun menyentuhkan salah satu tangannya diwajah Hyesoo, mencoba membuat Hyesoo menatapnya. Mata keduanya bertemu, memunculkan tatapan muram di mata Hyesoo. Kyuhyun pun menghapus jejak air mata dipipi Hyesoo. “Aku melakukan hal itu karena aku melihatmu tersakiti karena keberadaanku…” kata Kyuhyun sambil memindahkan tangannya ke bahu Hyesoo. “Aku tidak bisa menyaksikannya, Hyesoo-ya. Aku tidak ingin menyakitimu lagi. Sudah terlalu banyak kesalahan yang ku lakukan. Kau sudah sangat menderita karena aku. Apa yang harus aku lakukan? Hm?” kata Kyuhyun setelahnya.

.

Tiba-tiba Hyesoo menyentuhkan kedua tangannya disisi kanan dan kiri wajah Kyuhyun. Kemudian menarik wajah Kyuhyun mendekat padanya. Hyesoo memejamkan matanya, memberikan sebuah kecupan di bibir Kyuhyun. Hyesoo membuka bibirnya, mendesak bibir Kyuhyun untuk membalas kecupannya. Kyuhyun pun melingkarkan tangannya di pinggang Hyesoo, menarik tubuh Hyesoo mendekat padanya. Hyesoo memindahkan kedua tangannya menuju tengkuk Kyuhyun, membiarkan tangannya melingkar di leher Kyuhyun. Sesaat setelahnya, kecupan di bibir mereka berubah menjadi ciuman yang dalam. Seolah keduanya sedang menyampaikan kesedihan yang mereka rasakan melalui ciuman panjang itu. Tangan Hyesoo kembali berpindah ke bahu kemudian dada Kyuhyun. Hyesoo melepaskan ciuman mereka terlebih dahulu. Matanya masih terpejam. Ia menempelkan keningnya di bibir Kyuhyun, merasakan sebuah kecupan lembut yang Kyuhyun berikan padanya disana.

.

Stay… Please…” kata Hyesoo dengan suaranya yang terdengar lirih.

.

“Hyesoo-ya…” hanya nama Hyesoo yang mampu diucapkan oleh Kyuhyun. Dadanya tersentak saat mendengar kata please harus kembali diucapkan oleh Hyesoo.

.

“Apapun yang terjadi… Jangan pergi…” kata Hyesoo setelahnya.

.

“Aku tidak akan kemanapun. Tidak akan pernah”, kata Kyuhyun.

.

“Tidak boleh…” larang Hyesoo.

.

“Hyesoo-ya……”

.

“Katakan hal lain. Jangan hanya memanggil namaku. Aku harus memastikan bahwa kau memang baik-baik saja. Bicara padaku…” pinta Hyesoo.

.

Kyuhyun tersenyum mendengar ucapan Hyesoo. Kemudian Kyuhyun menjauhkan wajahnya dari Hyesoo, membuat Hyesoo mendongak menatap wajah Kyuhyun. Mata keduanya kembali bertemu. Tidak ada kecemasan lagi dalam tatapan mereka. Hanya ada rasa lelah yang menyeruak dengan jelas melalui setiap tatapan dan sentuhan keduanya. Senyum yang ditunjukkan Kyuhyun tidak lantas menular pada Hyesoo. Wajahnya masih muram dengan atmosfer yang berbeda. Sudah tidak ada ketakutan lagi dalam ekspresi wajah cantiknya. Kyuhyun pun kembali mencium bibir Hyesoo. Salah satu tangannya menuntun tangan Hyesoo untuk kembali melingkar di lehernya. Kali ini ciuman mereka berlangsung sangat lama dan dalam. Kyuhyun melumat bibir lembab Hyesoo, menggunakan lidahnya untuk menyamakan kelembaban dibibirnya. Hyesoo membalas setiap ciuman yang diberikan Kyuhyun, sebelum kembali menjauhkan diri.

.

“Aku membencimu…” kata Hyesoo dengan suara berbisik.

.

“Aku mencintaimu”, balas Kyuhyun. “Kau boleh membenciku. Kau harus membenciku. Tapi biarkan aku mencintaimu”, sambung Kyuhyun.

.

Hyesoo tidak membalas ucapan Kyuhyun. Ia hanya tersenyum sambil memejamkan matanya. Sesaat setelahnya, Hyesoo kembali memberikan kecupan dibibir Kyuhyun. Kali ini hanya sebuah kecupan singkat yang segera dilepaskan. Hyesoo menghela napas sebelum menjauhkan dirinya dari Kyuhyun. Hyesoo melangkah mundur satu langkah dari Kyuhyun, membuat sebuah kerutan di kening Kyuhyun terbentuk cukup dalam karena sikap Hyesoo.

.

“Duduklah…” kata Hyesoo menjawab ekspresi bingung diwajah Kyuhyun.

.

“Kau mau kemana?” tanya Kyuhyun.

.

“Aku hanya akan mandi. Aku perlu menenangkan diri. Kau juga bisa melihatnya, aku berkeringat. Aku tidak suka tidur dalam keadaan berkeringat, kau ingat?” kata Hyesoo.

.

“Baiklah… Tapi, setelah itu kau tidak akan meninggalkanku?” tanya Kyuhyun cemas.

.

No… No… I can’t…” jawab Hyesoo sambil menggeleng pelan.

.

Kyuhyun menyentuh sisi wajah Hyesoo dengan kedua tangannya. Kemudian memberikan sebuah kecupan singkat di bibir Hyesoo. Kyuhyun bahkan menunduk agar tidak membuat Hyesoo berjinjit untuk menyeimbangkan tingginya. Kecupan itu diakhiri dengan sebuah senyum tipis diwajah Hyesoo yang menularkan sebuah senyuman diwajah Kyuhyun.

.

“Kau tidak diijinkan untuk pergi kemanapun”, kata Hyesoo kali ini.

.

“Aku tahu”, kata Kyuhyun.

.

Hyesoo segera berlalu menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, meninggalkan Kyuhyun yang menatap punggung Hyesoo menjauh. Hyesoo masuk ke kamar mandi dan berhenti di depan wastafel. Hyesoo menumpukan beban tubuhnya dengan kedua tangan yang diletakkan di samping wastafel. Hyesoo mengangkat kepalanya, menatap bayangan dirinya di cermin. Rasa lelah jelas terlihat diwajahnya. Namun satu hal yang dapat dengan mudah Hyesoo temukan dari bayangan dirinya. Ada sebuah kelegaan luar biasa yang terpancar dari tatapan matanya. Hyesoo menghela napas panjang menyadari hal itu. Kemudian menggelengkan kepalanya, tidak mempercayai tindakan yang baru saja dilakukannya. Hyesoo meminta Kyuhyun datang padanya. Hyesoo bahkan meminta Kyuhyun untuk tetap tinggal. Bukan hanya di apartmentnya, tapi juga dalam hidupnya. Hyesoo membutuhkannya. Walau apapun yang telah dilakukan laki-laki bernama Cho Kyuhyun itu padanya, Hyesoo tidak bisa menutupi kenyataan bahwa ia sangat membutuhkannya. Hyesoo pun mengikat rambutnya, lalu meninggalkan wastafel untuk segera mandi.

.

Hyesoo keluar dari kamarnya setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Tubuhnya terasa lebih segar dan rasa lelah seolah sedikit meninggalkan tubuhnya. Satu langkah setelah melalui ambang pintu kamarnya, Hyesoo menemukan Kyuhyun yang tertidur di sofa. Sudut bibir Hyesoo tertarik dengan mudah saat melihat pemandangan itu. Kyuhyun yang tertidur masih memberikan ketenangan padanya.  Hyesoo berjalan mendekat, lalu duduk di tempatnya semula meringkuk beberapa saat yang lalu. Hyesoo tidak melakukan apapun, tidak mengatakan apapun untuk membangunkan Kyuhyun. Hyesoo hanya duduk tenang disana, menatap wajah tertidur Kyuhyun yang begitu tenang. Kyuhyun tertidur dengan cepat. Kelelahan dan rasa lega membuat seluruh otot di tubuhnya akhirnya setuju untuk diajak beristirahat. Hyesoo kembali tersenyum melihat wajah tenang Kyuhyun dihadapannya. Hyesoo menggerakan tangannya, kemudian menyentuh setiap ujung rambut Kyuhyun dengan jari-jarinya secara perlahan. Tiba-tiba Kyuhyun membuka matanya. Ia terbangun karena merasakan sentuhan tangan Hyesoo di kepalanya.

.

“Aku membangunkanmu?” tanya Hyesoo berbisik.

.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya sambil bangun untuk duduk. “Aku merasakan keberadaanmu. Tapi kau tidak berada dalam pelukanku. Tiba-tiba aku merasa takut. Rasanya tidak nyaman. Karena itu aku terbangun”, jawab Kyuhyun dengan suaranya yang sudah mulai terdengar serak.

.

Hyesoo pun bangkit berdiri, lalu melesak masuk ke pangkuan Kyuhyun. Hyesoo melingkarkan tangannya di leher Kyuhyun, memeluk erat tubuh pria yang sudah berhasil menenangkannya sekali lagi. Kyuhyun membelai lembut punggung Hyesoo dengan salah satu tangannya. Kemudian Kyuhyun kembali memejamkan matanya, merasakan aroma tubuh Hyesoo sehabis mandi yang menyeruak masuk melalui indra penciumannya. Kyuhyun mengecup bahu Hyesoo sebelum meletakkan kepalanya disana.

.

“Hhh… Aku bisa hidup sekarang. Aku mencintaimu…” kata Kyuhyun setelahnya. “Kau tahu? Kau mengembalikan tidur lelapku setelah bertahun-tahun, Lee Hyesoo”.

.

“Apa maksudmu?” tanya Hyesoo yang melepaskan pelukannya agar bisa menatap wajah Kyuhyun. Hyesoo turun dari pangkuan Kyuhyun, kemudian duduk di sebelah Kyuhyun masih dengan kedua kakinya yang berada diatas paha Kyuhyun.

.

“Semua perkataanmu hari itu menjadi kenyataan”, kata Kyuhyun sambil menyingkirkan helaian rambut Hyesoo yang menutupi wajah Hyesoo. Kemudian Kyuhyun menyentuhkan tangannya di sisi leher sebelah kanan Hyesoo. “Aku mendapatkan setiap malam tanpa lelapku, air mata yang sesekali mengalir karena begitu merindukanmu, dan hati yang hancur karena penyesalan atas perbuatanku. Lalu kau memberikan satu malam penuh lelap padaku saat terakhir kali aku tidur bersamamu di sofa ini. Aku tidak pernah tidur selama itu, Hyesoo-ya. Dan aku benar-benar menyesal karena kau pun begitu. Maafkan aku…… Kau menderita bahkan setelah pergi dariku”.

.

“Soohyuk pernah mengatakan hal ini padaku. Meski kau tidak pernah muncul dalam mimpiku, tapi semua mimpi buruk itu ada hubungannya denganmu. Soohyuk bahkan meminta maaf padaku karena tidak bisa menemukan cara untuk menghilangkan mimpi-mimpi meresahkan itu. Sampai akhirnya aku yang menemukannya sendiri. Awalnya aku selalu menyangkal hal itu. Tapi kenyataan bahwa kaulah yang membuat mimpi buruk itu menghilang, tidak dapat ku abaikan begitu saja. Aku membutuhkanmu”, kata Hyesoo.

.

“Aku juga membutuhkanmu… Maafkan aku, Hyesoo-ya… Maafkan aku…” kata Kyuhyun.

.

“Hentikan…” kata Hyesoo sebelum kembali memberikan sebuah kecupan di bibir Kyuhyun.

.

Kecupan itu diterima dengan intensi yang berbeda oleh Kyuhyun. Ia membuka bibirnya, memperdalam ciuman mereka. Kecupan ringan yang diberikan Hyesoo berubah menjadi ciuman dalam yang menuntut. Kyuhyun bahkan kembali menggunakan lidahnya dalam ciuman keduanya. Kali ini Hyesoo membalas Kyuhyun dengan intensitas yang sama. Ritme yang mereka gunakan serupa. Namun Hyesoo melepaskan ciuman mereka sesaat setelahnya. Kening mereka masih terpaut. Mata mereka masih terpejam, dan helaan napas berat terdengar dari keduanya. Hyesoo menggigit bibir bawahnya pelan.

.

“Seharusnya aku tidak menciummu”, kata Hyesoo tiba-tiba.

.

“Kau hanya mengungkapkan isi hatimu. Kau membutuhkanku, merindukanku… Dan kau masih mencintaiku. Kau tetap boleh membenciku. Benci aku atas semua perbuatanku padamu. Hukum aku dengan berat. Aku akan menerimanya tanpa keberatan. Hanya jangan tinggalkan aku. Aku tidak mampu…” ujar Kyuhyun.

.

“Sudah… Jangan bicara lagi”, kata Hyesoo menghentikan Kyuhyun.

.

“Baiklah…”

.

Kyuhyun pun segera meraih bibir Hyesoo dan mengangkat tubuh Hyesoo kembali ke pangkuannya. Gejolak manusiawi dalam dirinya sudah tidak dapat tertahan lagi. Rasa lelah yang dirasakannya bahkan tidak dapat menghentikannya. Sentuhan Hyesoo padanya masih memunculkan efek yang begitu kuat. Hyesoo selalu menjadi wanita pujaan dalam mimpi-mimpinya. Hanya dengan sentuhan kecil saja, Hyesoo sudah mampu membangunkan sisi lain dirinya yang sudah tersembunyi selama bertahun-tahun. Kyuhyun memagut dan melumat bibir Hyesoo dengan gairah yang sudah mendesak dalam dirinya. Kedua tangannya sudah melingkar di pinggang Hyesoo, menunjukan sisi protektifnya dengan menetapkan kepemilikannya. Hyesoo melingkarkan kedua tangannya di leher Kyuhyun, membuat ciuman mereka menjadi semakin dalam. Hyesoo menggerakkan tangannya, meraih ujung kerah sweater Kyuhyun. Hyesoo pun menarik sweater yang sangat menganggu itu keluar dari kepala Kyuhyun beserta dengan T-shirt di dalamnya. Tatapan di mata Hyesoo berubah saat lengannya menyentuh dada telanjang Kyuhyun dihadapannya. Ada luapan yang sama dari tatapan mata Hyesoo. Luapan yang tidak dapat dihalangi oleh apapun juga. Pakaian yang tersisa ditubuh mereka menjadi sasaran selanjutnya untuk disingkirkan. Malam yang sudah beranjak pagi itu pun berlalu dengan cepat, digantikan dengan cerahnya pagi yang menjelang.

.

.

.

At Shinsung Hospital

Kyuhyun’s Office

BGM: Cosmos Hippie – 어쩌면 좋아

.

Kyuhyun, Donghae, dan Jaejoong baru saja menyelesaikan rapat personal mereka. Kedua dokter sekaligus sahabatnya itu melaporkan keadaan department mereka masing-masing pada Kyuhyun yang terlihat jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tiba-tiba Ryeowook masuk ke ruangan itu membawa 4 kaleng minuman ditangannya. Ryeowook melemparkan satu kaleng pada Donghae yang merebahkan tubuhnya di sofa, lalu meletakkan tiga lainnya di meja. Semua berpendapat bahwa Donghae sedang mengalami kelelahan yang diakibatkan oleh perbuatannya sendiri. Rasa lelah yang menyenangkan, begitu istilah yang digunakan empat pria dewasa itu. Dalam diam Kyuhyun sangat memahami rasa lelah yang dirasakan Donghae. Tapi Kyuhyun memilih untuk diam agar bayangan akan malam panjangnya tidak kembali muncul dan membuat kekacauan dalam pikirannya.

.

“Keadaanmu jauh lebih baik pagi ini. Kau bisa tidur dengan nyenyak?” tanya Jaejoong.

.

“Sangat nyenyak”, jawab Kyuhyun sambil tersenyum.

.

“Hm… Jawaban yang mencurigakan…” kata Donghae yang menoleh pada Kyuhyun dengan tatapan lelahnya.

.

“Bagaimana? Selama ini sunbae tidak pernah tidur cukup. Bagaimana bisa tiba-tiba sunbae tidur dengan nyenyak?” tanya Ryeowook curiga.

.

“Ya! Lee Donghae! Kau terlihat sangat kelelahan. Apakah tidak berbahaya jika harus menangani sebuah operasi? Tidakkah sebaiknya kau tidur selama beberapa jam terlebih dahulu?” tanya Kyuhyun mencoba mengalihkan pembicaraan.

.

“Aku tidak ada operasi hari ini”, jawab Donghae dengan suara lemasnya.

.

“Perubahan topik pembicaraan. Kau benar-benar mencurigakan, Cho Kyuhyun” kata Jaejoong menyadari sikap Kyuhyun.

.

“Apa? Kenapa kalian mencurigaiku?” tanya Kyuhyun.

.

“Kalau begitu kenapa sunbae tidak menjawab pertanyaanku?” tanya Ryeowook.

.

“Aku punya caraku sendiri. Haruskah aku memberitahu kalian?” Kyuhyun balas bertanya.

.

“Tentu saja. Kami dokter yang menanganimu”, jawab Ryeowook menggunakan otoritas dokternya untuk mendapatkan jawaban Kyuhyun.

.

“Cho Kyuhyun, tahukah kau betapa mencurigakannya dirimu saat ini?” tanya Donghae yang memberikan tatapan tajam mengantuknya.

.

“Hhh… Kalian ini… Apanya yang mencurigakan? Aku tidak melakukan kejahatan apapun”, jawab Kyuhyun.

.

“Sunbae bertemu dengan Hyesoo, ‘kan? Kau bersamanya semalam? Katakan…” desak Ryeowook.

.

“Benarkah? Akhirnya? Bagaimana?” tanya Jaejoong.

.

“Dia kembali padaku…” jawab Kyuhyun dengan senyuman yang menyertai ucapannya. “Tapi aku rasa dia belum memaafkanku”, sambung Kyuhyun.

.

“Mwoya… Jika Hyesoo sudah kembali pada sunbae, tentu saja dia sudah memaafkan sunbae”, sahut Ryeowook.

.

“Tidak semudah itu, inma! Hyesoo kembali pada Kyuhyun karena dia tidak mampu lagi lari dan menyangkali perasaannya. Hal itu tidak ada hubungannya dengan memaafkan” kata Jaejoong menjelaskan.

.

“Yah… Kim Jaejoong! Jalhane… (Kau hebat…)” kata Dongha memberikan tanggapannya.

.

“Aku belajar dari pengalaman, Donghae-ya… Sooyoung pun awalnya seperti itu. Bagaimana mungkin Sooyoung bisa memaafkanku semudah itu? Memaafkan adalah hal yang sulit dilakukan. Sama halnya dengan minta maaf”, kata Jaejoong. “Lalu, bagaimana kau bisa bersama dengan Hyesoo? Kau menemuinya begitu saja?”

.

“Hyesoo yang memintaku untuk datang”, jawab Kyuhyun.

.

Ryeowook yang sedang minum pun tersedak karena mendengar jawaban Kyuhyun. “Benarkah?” tanya Ryeowook setelahnya.

.

“Akhirnya?” tanya Jaejoong kali ini.

.

Tiba-tiba sebuah bantalan sofa melayang ke arah Kyuhyun. Beruntung karena Kyuhyun bisa menangkisnya. Karena jika tidak, maka bantal itu akan mengenai wajahnya. Donghae lah yang melemparkan bantal itu pada Kyuhyun. Bukan keterkejutan yang membuatnya melakukan hal itu. Melainkan hal lain yang tiba-tiba terbersit di pikirannya. Instinct seorang kakak laki-laki dalam dirinya tiba-tiba saja mengeluarkan sisi protektifnya.

.

“Apa yang kau lakukan padanya semalam? Katakan sebelum aku membunuhmu!” kata Donghae dengan nada berguraunya.

.

“Tentu saja aku meminta maaf padanya dan menenangkannya. Kau pikir apa yang bisa aku lakukan disaat seperti itu?” jawab Kyuhyun.

.

“Sunbae meminta kami untuk percaya pada ucapanmu?” tanya Ryeowook.

.

“Tentu saja”, jawab Kyuhyun cepat sambil mengangguk.

.

“Michin saekki…” kata Donghae merutuki Kyuhyun.

.

“Michin saekki aniya… Nan gwiyeoun saekki-ya…” balas Kyuhyun pada Donghae.

.

“Jalhaesseo… (Kau sudah melakukan hal yang benar…)” kata Jaejoong meluncurkan high five yang diterima Kyuhyun dengan senyum mengembangnya. Tawa pun memenuhi ruangan itu, diselingi dengan keluhan Donghae yang tidak benar-benar tahu harus bersikap bagaimana dalam menanggapi situasi itu.

.

.

.

Unit Gawat Darurat

Shinsung Hospital

BGM: Mamamoo – Love Lane

.

Hyesoo berkutat dengan sebuah rekam medik di hadapannya dengan sikap yang terasa aneh dimata Soyu yang sejak tadi memperhatikannya. Bagaimana tidak? Sejak pagi hari wajah terlihat sangat cerah. Pipinya bahkan terlihat memerah sesekali. Tidak jarang senyuman juga muncul di bibir Hyesoo secara tiba-tiba. Bukan hanya Soyu yang merasakan keanehan pada diri Hyesoo. Para intern pun sempat menatap Hyesoo dengan ekspresi heran yang serupa. Hari ini Hyesoo bersikap sangat manis dan baik pada semua orang yang berpapasan dengannya. Melihat hal itu, Soyu tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakannya pada Hyesoo. Disaat kondisi UGD sedang tidak terlalu ramai, Soyu pun menggeser kursi berodanya mendekat pada Hyesoo, menimbulkan benturan kecil antara kursi keduanya. Alis Soyu terangkat karena terkejut dengan sikap Hyesoo yang tidak menghiraukan benturan itu. Sangat berbeda dengan Hyesoo yang biasanya akan mengajukan keluhan tanpa hentinya hanya karena Soyu bersikap jahil padanya.

.

“Lee Hyesoo… Kau sedang sakit?” tanya Soyu.

.

“Hm? Tidak. Aku baik-baik saja. Kau bisa melihatnya. Aku sangat sehat”, jawab Hyesoo dengan senyum diwajahnya.

.

“Bukan… Aku tidak menanyakan kondisi tubuhmu. Aku menanyakan kondisi psikismu. Kau baik-baik saja?” tanya Soyu sekali lagi.

.

“Hm… Aku juga merasa kondisi psikisku sangat sehat. Aku hanya sedikit lelah saja”, jawab Hyesoo. “Kenapa kau bertanya seperti itu padaku?”

.

“Tidak apa. Kau hanya tampak begitu berbeda hari ini. Ada hal yang terjadi kemarin? Sesuatu yang menyenangkan?” tanya Soyu.

.

“Mwo… Bisa dikatakan begitu”, jawab Hyesoo.

.

“Apa? Apa? Apa yang terjadi? Kau harus memberitahuku”, desak Soyu.

.

“Aku tidak mau… Aku terlalu lelah untuk memberitahumu…” tolak Hyesoo.

.

“Bicara tentang itu… Kau memang terlihat lebih ceria dan berbeda hari ini. Tapi kantung matamu… Ouh… Kau tidak tidur semalaman?” kata Soyu yang mulai menyinggung jam tidur Hyesoo.

.

“Aku tidur”, jawab Hyesoo singkat.

.

“Kapan? Berapa lama? Dimana?” tanya Soyu menginterograsi sahabatnya.

.

“Tadi pagi. Beberapa jam. Di apartmentku”, jawab Hyesoo singkat sesuai dengan pertanyaan yang diajukan Soyu.

.

“Hmm… Mencurigakan. Kau pulang ke rumah pukul 7 kemarin malam. Tapi kau baru tidur pagi hari. Apa yang kau lakukan? Dengan siapa?” tanya Soyu melanjutkan interograsinya.

.

“Apa? Kenapa kau mencurigaiku? Aku tidak melakukan apapun. Ada apa denganmu?” bantah Hyesoo.

.

“Cho Kyuhyun. Tidak ada kandidat lain. Aku sangat yakin”, kata Soyu menjatuhkan tuduhannya dengan tepat.

.

“Ya! Pelankan suaramu! Kita sedang berada di rumah sakit”, kata Hyesoo sambil menepuk pelan lengan Soyu.

.

“Benar… Ternyata dia tersangkanya. Kalian melakukannya. Kalian melakukannya ‘kan?” kata Soyu mengucapkan kata yang sama sebagai pernyataan dan pertanyaannya dalam satu kalimat.

.

“Ya! Hentikan… Orang lain akan mendengarnya…” kata Hyesoo mengingatkan Soyu sekali lagi.

.

“Kau sangat keterlaluan! Pengkhianat! Bagaimana bisa kau menolak sekaligus menerimanya dalam hari yang sama? Lee Hyesoo, kau keterlaluan…” keluh Soyu dengan nada menggodanya. Soyu tersenyum tipis setelahnya.

.

“Begitu ‘kan? Aku sangat keterlaluan. Aku tahu…” kata Hyesoo mengakui.

.

“Bagaimana perasaanmu sekarang? Kau bahagia?” tanya Soyu.

.

“Aku pikir begitu…” jawab Hyesoo yang tersipu.

.

“Bukan hanya karena yang kalian lakukan semalam. Tapi begitu juga setelahnya, sampai saat ini” kata Soyu menggoda Hyesoo yang semakin memerah.

.

“Ya, Kang Soyu! Sudah hentikan…” kata Hyesoo.

.

“Ah… Bureobda… (Aku iri…) Aku juga ingin berkencan…” keluh Soyu.

.

“Juga?” tanya Seohyun yang tiba-tiba datang dan mendengar separuh pembicaraan Soyu dan Hyesoo. “Memangnya siapa yang sedang berkencan? Lee Hyesoo?”

.

“Kau selalu datang di waktu yang tepat dengan munculnya berita baru, Seo Joohyun. Kadang aku merasa kagum padamu akan hal itu. Radar gossip mu sangat kencang”, kata Ryeowook yang baru kembali dari ruangan Kyuhyun dengan nada sarkastiknya. Hyesoo dan Soyu justru memberikan tatapan heran pada Ryeowook yang seolah sudah mengetahui berita itu.

.

“Oh… Benar ternyata. Bahkan Kim Ryeowook mengetahuinya. Lee Hyesoo, kau berkencan dengan siapa? Apakah pria itu juga seorang dokter?” tanya Seohyun.

.

Hyesoo memberikan senyum dipaksakannya pada Seohyun. “Bukan urusanmu”, kata Hyesoo setelahnya.

.

“Memang bukan urusanku. Tapi bukankah kabar baik tidak perlu ditutupi? Kita bisa merasakan kebahagiaannya bersama-sama. Siapa pria itu? Apakah dokter tampan yang datang bersama anak laki-lakinya itu? Ayolah… Beritahu aku…” kata Seohyun.

.

“Jeogiyo… Seo Joo Hyun seonsangnim…” kata sebuah suara berat memanggil Seohyun. Bukan hanya Seohyun yang menoleh ke sumber suara, hampir semua orang yang berada di nurse station pun menoleh pada orang yang berdiri di sisi kanan nurse station.

.

“O! Annyeonghaseyo, direktur Cho. Bagaimana kabar anda pagi ini?” kata Seohyun menyapa Kyuhyun.

.

“Awalnya kondisiku baik sejak pagi. Tapi baru saja menjadi sedikit terganggu”, jawab Kyuhyun.

.

“Benarkah? Apa yang mengganggu anda?” tanya Seohyun lagi.

.

“Pria yang berkencan dengan dokter Lee Hyesoo ada disini”, kata Kyuhyun sambil menunjuk dirinya sendiri. “Sayang sekali pria ini bukan seorang dokter. Pria yang datang mengunjungi dokter Lee tempo hari, dokter tampan itu, sedang berlibur di pulau Jeju. Kau bisa membuatnya tersedak karena membicarakannya disini”.

.

“Cho Kyuhyun!” protes Hyesoo.

.

“Hm… Sebentar… Aku akan mencoba untuk mencernanya. Sebentar… Maksud anda adalah… kalian berkencan? Kalian berdua? Lee Hyesoo dan Cho Kyuhyun?” tanya Seohyun yang terkejut.

.

“Ne, benar sekali” jawab Kyuhyun dengan santai sambil tersenyum. Hyesoo hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan Kyuhyun.

.

“Tidak mungkin… Tidak boleh seperti itu…” kata Seohyun mencoba menyangkalnya.

.

“Kenapa tidak boleh? Aku mengejarnya. Dan setelah sekian lama, setelah penantian yang panjang, akhirnya wanita ini mau menerimaku kembali. Kau ingin menghancurkan hatiku lagi dengan mengatakan ‘tidak boleh’, dokter Seo?” tanya Kyuhyun dengan nada berguraunya.

.

“Tidak. Tidak seperti itu, direktur. Maaf atas kelancangan saya. Kalau begitu, saya permisi” kata Seohyun yang segera berlalu meninggalkan UGD dengan cepat, mengundang tawa dari dokter dan perawat yang ada di UGD.

.

“Yah… Sunbae… You’re smiling from ear to ear. Kau sebahagia itu?” tanya Suho.

.

“Aku bahagia”, jawab Kyuhyun.

.

“Apakah kau menyadari bahwa ekspresi diwajahmu sangat konyol?” tanya Soyu dengan nada sarkastiknya.

.

“Aku tahu. Aku sangat menyadarinya. Aku tidak peduli. Aku sedang bahagia saat ini”, jawab Kyuhyun dengan senyum mengembangnya.

.

“Sangat menyenangkan melihat ekspresi cerah anda, direktur” kata perawat Park yang juga berada distu.

.

“Benarkah? Berterimakasihlah pada dokter Lee Hyesoo, perawat Park”, kata Kyuhyun yang dibalas dengan senyum keibuan oleh perawat kepala ruang UGD.

.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Hyesoo pada Kyuhyun dengan nada lembutnya.

.

“Tidak ada. Hanya merindukanmu”, jawab Kyuhyun sambil berjalan mendekat ke tempat duduk Hyesoo. Kyuhyun menarik sebuah kursi kosong ke samping Hyesoo, lalu duduk disana.

.

Hyesoo tersenyum mendengar jawaban yang diutarakan Kyuhyun. Kemudian Kyuhyun menyentuh salah satu tangan Hyesoo dan menggenggamnya. “Kita sedang ada di rumah sakit, Cho Kyuhyun” kata Hyesoo mengingatkan.

.

“Aku sangat mengetahuinya. Shinsung Hospital. Rumah sakit ini milik kakekku”, kata Kyuhyun bergurau.

.

“Ch… Walaupun rumah sakit ini milik keluargamu, kau tetap tidak boleh melakukan semua hal semaumu”, kata Hyesoo.

.

“Sunbae, pergilah… Kau mulai merusak isi otakku”, kata Ryeowook mengusir Kyuhyun.

.

“Ah, kau benar. Ya! Cho Kyuhyun! Pergi! Cepat pergi dari tempat ini!” kata Soyu ikut mengusir Kyuhyun.

.

“Ada apa dengan kalian? Bagaimana bisa kalian mengusir direktur rumah sakit ini?” protes Kyuhyun.

.

Hyesoo tertawa kecil mendengar percakapan tiga orang disekitarnya. Meski tidak terucap, Hyesoo mengerti maksud dari ucapan Ryeowook. “Pergilah… UGD mungkin akan ramai. Kau mengalihkan perhatian banyak orang dengan berada disini”, kata Hyesoo meminta Kyuhyun pergi dengan lembut.

.

“Kau juga memintaku untuk pergi, Hyesoo-ya?” tanya Kyuhyun.

.

“Eo… Kau harus pergi sekarang juga, direktur Cho” jawab Hyesoo.

.

“Ch… Kau bahkan memanggilku direktur Cho. Apakah hubungan kita hanya sebatas itu?” keluh Kyuhyun sekali lagi dengan sikap kekanakannya.

.

“Kyuhyun-ah, pergilah… hm?” pinta Hyesoo sekali lagi.

.

Senyum diwajah Kyuhyun mengembang. Ia begitu gembira mendengar panggilan yang baru saja diucapkan Hyesoo. “Aku akan pergi karena kau memanggilku seperti itu. Aku harus kembali bekerja sebelum aku menjadi benar-benar gila”, kata Kyuhyun.

.

“Pergi! Pergilah secepatnya! Michin nom…” usir Soyu.

.

“Baiklah… Aku mengerti…” kata Kyuhyun dengan tawa jahilnya. “Hyesoo-ya!”

.

“Hm?” tanya Hyesoo dengan gumamannya.

.

Kyuhyun tidak mengatakan apapun setelahnya. Ia mengangkat sebelah tangannya, membentuk sebuah heart dengan ibu jari dan jari telunjuknya yang kemudian ditujukan pada Hyesoo.  Senyum konyol Kyuhyun kembali muncul setelahnya.

.

“Hhh…” Hyesoo berdesis melihat tingkah konyol Kyuhyun sambil menggelengkan kepalanya. “Pergilah sebelum kau membuat semua orang disini sakit kepala”, kata Hyesoo setelahnya.

.

“Arasseo. Kita bertemu lagi nanti”, kata Kyuhyun yang dibalas dengan anggukkan oleh Hyesoo.

.

“Hentikan pikiran kotormu, sunbae” kata Ryeowook dengan suara pelan setelahnya.

.

“Kim Ryeowook!” proter Hyesoo yang ternyata mendengar ucapan Ryeowook.

.

“Begitupun denganmu, Lee Hyesoo!” sambung Soyu. Kali ini Hyesoo menanggapi ucapan Soyu dengan senyum tersipunya. Kyuhyun pun meninggalkan UGD untuk kembali ke ruangannya.

.

.

.

Malam harinya

At Kyuhyun’s Apartment

BGM: Davichi – It’s Okay That’s Love

.

Kyuhyun dan Hyesoo duduk bersama di ruang tv apartemen Kyuhyun. Hyesoo duduk diatas sofa sedangkan Kyuhyun duduk dilantai, tepat di bawah Hyesoo yang sedang mengeringkan rambut Kyuhyun dengan handuk ditangannya. Hari sudah semakin larut. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12.27 dini hari. Tapi keduanya justru baru saja selesai membersihkan diri. Berkat prinsip Hyesoo yang tidak pernah mau tidur dalam keadaan berkeringat, Kyuhyun pun harus melakukan hal yang sebenarnya tidak benar-benar ingin ia lakukan. Mandi tengah malam bukan favourite nya. Kyuhyun akan lebih memilih membungkus tubuh Hyesoo dengan selimut di dalam kamar yang bersuhu dingin untuk menghilangkan keringat mereka. Tapi tentu saja, Hyesoo akan sangat menentang keinginan Kyuhyun. Disisi lain, sebenarnya Kyuhyun menyukai kebiasaan yang selalu dilakukan Hyesoo itu. Karena dengan begitu, Kyuhyun bisa memaksa masuk ke dalam kamar mandi bersama Hyesoo sebagai ancamannya. ‘Biarkan aku masuk bersamamu atau aku tidak akan pernah melepaskanmu untuk mandi’, kalimat itu yang digunakan Kyuhyun sebagai ancamannya. Hyesoo tentu saja memilih untuk tidak berdebat panjang lebar dengan Kyuhyun melihat waktu yang sudah semakin larut.

.

“Rambutmu begitu tebal. Akan memakan waktu lama sampai kering”, kata Hyesoo.

.

“Benar. Karena itu aku menolak untuk mandi”, kata Kyuhyun.

.

“Jangan bersikap seolah kau keberatan untuk mandi”, kata Hyesoo.

.

“Tentu saja aku tidak keberatan. Take a shower after ehem… is the best thing ever in my day. Semacam penyegaran setelah menghabiskan tenaga”, kata Kyuhyun dengan senyum konyolnya.

.

“Dasar otak mesum…” kata Hyesoo sambil menepuk pelan kening Kyuhyun.

.

“Aku seperti ini karenamu, Lee Hyesoo. Tahukah kau? Aku tidak pernah seperti ini pada wanita lain. Kau yang pertama”, kata Kyuhyun.

.

Hyesoo pun meletakkan handuk ditangannya ke sofa. Lalu Hyesoo melingkarkan tangannya di leher Kyuhyun dan memeluk Kyuhyun dari belakang. “Aku harus senang mendengarnya?” tanya Hyesoo.

.

“Tentu saja. Kau selalu menjadi yang pertama”, jawab Kyuhyun. “Bahkan satu-satunya bagiku”, sambung Kyuhyun.

.

“Lee Hyesoo benar-benar beruntung, bukan?” tanya Hyesoo sebelum mengecup puncak kepala Kyuhyun.

.

“Cho Kyuhyun yang lebih beruntung. Lee Hyesoo akhirnya kembali padanya. Tidak ada keberuntungan yang lebih besar dari itu”, jawab Kyuhyun.

.

“Mwo… Sepertinya begitu…” kata Hyesoo menanggapi ucapan Kyuhyun dengan nada berguraunya.

.

“Hyesoo-ya…”

.

“Hm?” tanya Hyesoo.

.

Kyuhyun menyentuh kedua tangan Hyesoo yang melingkar di lehernya, kemudian melepaskan tangan Hyesoo dari sana. Kyuhyun berbalik, kini duduk menghadap pada Hyesoo. Wajahnya terlihat lebih serius dari sebelumnya. Masih ada sebuah senyum tipis dibibirnya. Hanya saja ada keraguan dan kecemasan diwajahnya. Kyuhyun menatap mata Hyesoo dengan tatapan lembutnya, sambil menggenggam kedua tangan Hyesoo yang tersenyum manis padanya. Kyuhyun menunduk, menatap ke arah kedua tangan Hyesoo sebelum kembali menatap mata Hyesoo.

.

“Menikahlah denganku, Hyesoo-ya…” kata Kyuhyun yang tiba-tiba melamar Hyesoo.

.

Senyum diwajah Hyesoo sontak menghilang. Tentu ada keterkejutan di wajah Hyesoo. Kyuhyun tiba-tiba saja meminta Hyesoo untuk menikah dengannya. Ucapan Kyuhyun membuat Hyesoo tersentak. Pikirannya berubah kosong seketika. Keraguan kembali menghampiri diri Hyesoo. Permintaan Kyuhyun benar-benar mengubah suasana hati Hyesoo. Kebimbangan, keraguan dan keterkejutan bercampur aduk dalam hati Hyesoo. Membuat perutnya ikut bergejolak karenanya. Hyesoo jadi merasa mual. Seolah ia baru saja menaiki wahana Viking sebanyak 3 kali. Sikap Kyuhyun yang selalu spontan dalam tindakannya sesekali membuat Hyesoo kualahan dalam menyikapinya. Kyuhyun masih menatap Hyesoo, menunggu jawaban atas permintaannya. Namun Hyesoo tidak memiliki kata apapun yang bisa menggambarkan suasana hatinya saat ini. Tidak ada kata yang dapat mewakili perasaanya dalam menanggapi permintaan Kyuhyun. Hyesoo belum menemukannya.

.

“Tidak. Aku tidak bisa…” jawab Hyesoo. “Maafkan aku…”

.

.

.

.

TBC

 

Note:

Hello, readersnim!!! Howdy?

Part 14 dari FF I’m walking towards you akhirnya berhasil aku selesaikan. Setelah putar otak memikirkan kelanjutan FF dengan feel campur aduk ini, akhirnya aku berhasil! Setelah bertengkar, berpisah, bertemu lagi, bertengkar lagi, sedih, terluka, menangis, marah-marah, akhirnya!!! Akhirnya, readersnim! Akhirnya mereka kembali bersama!!! *tepuktepuk

Bagaimana pendapat kalian dengan part ini? Emosi nya masih sesuai alur ‘kan? Semoga saja emosi di part ini masih berhasil aku sampaikan pada kalian. Penantian dan usaha Kyuhyun berbuahkan hasil. Hyesoo kembali padanya. Hubungan mereka kembali terjalin meskipun Hyesoo belum benar-benar menunjukkan affection nya pada Kyuhyun. Hyesoo juga masih sering terlihat ragu dengan keputusannya. Tapi dengan mereka kembali berhubungan, sudah lumayan lah ya… Aku tidak akan bosan menghadirkan obrolan konyol F4 di FF ini. Yup! Kyuhyun, Donghae, Jaejoong dan Ryeowook yang obrolan nya jarang dimulai ataupun berakhir dengan serius. Obrolan mereka masih akan kalian temui di part selanjutnya. Tapi akan tentang apa lagi ya obrolan mereka?

Part ini diakhiri dengan Hyesoo yang menolak ajakan Kyuhyun untuk menikah. Nahloh… Mereka udah balikan tapi Hyesoo nggak mau nikah sama Kyuhyun. Ada apa? Apa yang terjadi? Ada yang menduga jauh sampai ke hubungannya Hyesoo dan Soohyuk? Hahaha tenang saja, readersnim-deul, aku tidak akan membuat plot twist seperti itu dengan menyatukan Hyesoo dan Soohyuk tiba-tiba dan meninggalkan Kyuhyun terluka sendirian. Tapi, ending FF ini masih belum kelihatan sampai sekarang. Kira-kira apakah akan happy atau sad ending? Apakah Hyesoo akan kembali meninggalkan Kyuhyun setelah menolak lamarannya? Sedikit bocoran saja, di part selanjutnya akan ada pernikahan yang terjadi. Kira-kira pernikahan siapa ya? Temukan jawaban atas pertanyaan kalian di part selanjutnya! Kana pamit! Annyeonghigaseyo… have a nice day!!!

Advertisements

33 thoughts on “I’m walking towards you : Part 14

  1. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION – evilkyu0203

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s