I’m walking towards you : Part 13

Category: PG-15, Romance, Chapter, Sad

Cast:

Cho Kyuhyun, Lee Hyesoo (OC), Kang Soyu, Kim Ryeowook

Choi Sooyoung, Lee Donghae, Lee Soohyuk, Kim Jaejoong, etc…

Disclaimer:

Caution! Cast dalam FF ini cukup banyak. Entah hanya sebagai cameo atau sebagai peran pendukung. Karena itu, fokuslah wahai para readers-nim. FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi atau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com

Aku tidak bosan untuk selalu berpesan, jadilah pembaca yang baik dan sopan. Biasakan untuk tidak bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Karena aku yakin para readers adalah orang-orang yang terpelajar dan mengerti sopan santun. Benar? Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 12

“Dia memintaku memohon dan berlutut”.

“Dan sunbae tidak melakukannya?”

“Apakah hal itu sulit untuk dilakukan?”

“Aku tidak tahu mengapa hatiku meragu saat mendengar perintah Hyesoo”.

“Sunbae hanya perlu melakukan hal itu dan memohon padanya”.

“Dia memintaku untuk berlutut di koridor bangsal rumah sakit”.

“Aku rasa Hyesoo sengaja melakukan hal itu pada Kyuhyun sunbae”.

————————-

“Aku bersedih dalam senyumku. Aku menangis dalam tawaku. Aku terpenjara ditengah keramaian disekitarku. Aku menjerit dalam tidurku. Aku terjaga bahkan dalam tidurku”.

“Aku sangat mencintaimu. Dan bukan jantung Siwon hyung yang memunculkan semua rasa itu”.

“Jangnanhae? Michyeosseo? Geureon sarang eodiseo baeuni? Kenapa kau menyakitiku?”

“Aku menjadi orang jahat yang mensyukuri kematian Siwon hyung, Hyesoo-ya. Sehingga jantungnya membuatku tetap hidup. Dia kakak sepupuku sendiri dan aku bersyukur atas kematiannya. Apakah aku pantas membuatmu tetap berada disisiku? Kau ingin aku mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu disaat aku bahkan mensyukuri semua mimpi buruk yang menimpamu? Karena itu kau harus pergi dari laki-laki jahat yang bersorak atas petaka yang menimpamu. Cho Kyuhyun ingin memilikimu untuk dirinya sendiri”.

“Jika saat itu kau mau bicara, maka semua hal tidak akan berakhir seperti ini”.

“Bisakah aku menghilangkan efek negatif dari keposesifanku padamu dengan keberadaanmu disekitarku, disaat justru kaulah sumber segalanya?”.

“Apa saat itu kau memikirkan situasi yang akan terjadi padaku selanjutnya? Kau pikir aku akan bersorak gembira dan berterima kasih padamu? Kau yang merasa bersalah dengan perasaanmu, tapi aku yang tersakiti”.

“Ampuni aku. Aku benar-benar menyesali perbuatanku”.

“Seharusnya kau mati bersama rasa bersalahmu saja, Cho Kyuhyun. Aku akan sangat lega, dengan begitu aku akan menderita karena kehilanganmu, kepergianmu. Itu akan menjadi alasan yang masuk akal atas rasa sakitku”.

“Hyesoo-ya…”

“Kau tahu? Seharusnya kau menabrakku dengan mobilmu. Agar aku kembali kehilangan ingatanku, atau bahkan sampai kehilangan nyawaku. Karena setidaknya aku tidak perlu melanjutkan hidupku bersama perasaan yang memuakkan ini”.

————————-

Oh my God!!! My baby… Aku sangat merindukanmu…”

Me too”.

“Tapi kau selalu menolak untuk bicara saat aku menelepon”.

I’m not lying”.

You never ever gonna lie to anybody. That’s why I love you”.

I love you too…

“Jinu-ya, kapan kau datang?”

This morning. At the dawn”.

Where’s Daddy?

There he is! Daddy!

Playful Jinu…

My boy…

————————-

.

.

I’m walking towards you : Part 13

.

.

Author’s POV

Bangsal Departemen Bedah Saraf

Shinsung Hospital

.

Jinu pun turun dari gendongan Hyesoo, kemudian berjalan disekeliling Hyesoo dan Soohyuk dengan keriangan yang tergambar di wajah cerahnya. Ketakutan pada suasana rumah sakit sudah mulai meninggalkan dirinya. Jinu juga memberanikan diri masuk ke dalam nurse station, mengajak Wendy untuk bicara dengannya. Kemudian Kyungsoo pun bergabung dengan obrolan riang Wendy dan Jinu. Pemandangan itu mengundang senyuman di wajah Hyesoo dan Soohyuk yang tidak pernah melepaskan pandangan mereka pada Jinu. Sesaat setelahnya, Hyesoo menoleh pada Soohyuk, tatapannya berubah menjadi tajam namun masih diiringi dengan senyum tipis diwajahnya, lalu Hyesoo meninju pelan lengan Soohyuk. Membuat Soohyuk menoleh cepat pada Hyesoo.

.

“Kau sangat keterlaluan, Lee Soohyuk! Bagaimana bisa kau membiarkan Jinu mendatangiku seorang diri?” protes Hyesoo pada Soohyuk.

.

Soohyuk tertawa kecil mendengar protes yang dilontarkan Hyesoo. “Dia anak yang pemberani, Hyesoo-ya… Lagipula aku mengantarnya hingga ke depan pintu bangsal sebelum dia masuk sendiri untuk menghampirimu”, ujar Soohyuk menjelaskan.

.

“Tetap saja… Kau tidak seharusnya melakukan hal itu di tempat yang sangat asing bagi Jinu”, kata Hyesoo.

.

“Arasseo… Arasseo… Aku tidak akan mengulanginya lagi”, kata Soohyuk dengan senyuman manis yang begitu tulus.

.

Aunt Hye? Aunt Hye… Are you busy?” tanya Jinu yang sudah kembali mendekat pada Hyesoo dan Soohyuk.

.

No. I have some free times for you”, jawab Hyesoo sambil berjongkok, menyetarakan tingginya dengan Jinu.

.

Really?” tanya Jinu yang dijawab dengan anggukkan oleh Hyesoo. “Daddy, can we have lunch with aunt Hye?” tanya Jinu pada Soohyuk sambil menarik pelan jari-jari tangan ayahnya itu.

.

Of course, champ”, jawab Soohyuk dengan senyum khas yang dimiliki para ayah.

.

Let’s go, aunt Hye. We’ll buy many delicious meals for you”, kata Jinu dengan suara riangnya yang bersemangat sambil menarik tangan Hyesoo.

.

Really? Ow… I can’t wait for that…” kata Hyesoo. Kemudian Hyesoo pun segera berdiri dan menoleh pada perawat yang duduk dibalik meja. “Perawat Song, tolong hubungi aku jika terjadi sesuatu. Son Wendy, Do Kyungsoo, aku tinggal sebentar”, kata Hyesoo memberikan pesan.

.

“Ne, dokter Lee” jawab Wendy dan Kyungsoo bersamaan.

.

So, what do you want to eat, big baby?” tanya Hyesoo pada Jinu yang berjalan dengan riang sambil menggandeng tangan Hyesoo dan Soohyuk.

.

Anything…” jawab Jinu dengan senyum mengembangnya.

.

Ketiganya berjalan keluar dari ruangan itu dengan keceriaan yang menghiasi langkah mereka. Siapapun yang menyaksikan kebersamaan mereka pasti memikirkan hal yang serupa. Mereka terlihat seperti keluarga yang bahagia. Sebuah keluarga kecil yang saling menyayangi satu sama lain tanpa memperlihatkan batasan maupun menuntut balasan atas kasih sayang yang telah diberikan. Namun dugaan setiap orang yang memikirkan hal itu tentu saja jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Mereka adalah tiga orang yang saling menyembuhkan. Mereka saling menghapus luka satu sama lain. Lima tahun yang lalu, Soohyuk datang dalam kehidupan Hyesoo yang sempat terhenti karena rasa sakit yang ia dapatkan dari seorang Cho Kyuhyun. Soohyuk menjadi orang yang selalu ada untuk Hyesoo disetiap saat. Meski Soohyuk belum bisa membantu Hyesoo dalam menghapus mimpi-mimpi buruknya, namun keberadaan Soohyuk disisi Hyesoo sudah cukup dapat menenangkan Hyesoo.

.

Kemudian Jinu kecil lahir dengan kesedihan disela kebahagiaan yang semestinya dirasakan setiap orang disekitarnya. Jinu harus kehilangan ibunya bahkan sebelum ia bisa menyentuh hangat kulit wanita yang telah mengandung dan menghadirkannya di dunia. Namun keberadaan Hyesoo mampu menghangatkan kehidupannya yang tidak dihadiri oleh seorang ibu. Hyesoo sangat menyayangi Jinu, begitupun sebaliknya. Sementara di waktu yang sama, kesedihan yang dialami Soohyuk terobati dengan kehadiran putera tunggalnya yang begitu luar biasa dimatanya. Jinu selalu berusaha untuk mengerti keadaan mereka berdua dengan tidak memberikan masa-masa sulit pada Soohyuk. Jinu tidak pernah menuntut hal-hal diluar kemampuan ayahnya. Toleransi Jinu pada orang lain mampu menguatkan Soohyuk untuk terus menjalani hidupnya walau apapun yang akan dihadapinya bersama putera kecilnya.

.

.

.

Kyuhyun’s POV

Disisi lain Shinsung Hospital

BGM: T-Yoon Mirae – I Love You (너를 사랑해)

.

Aku berjalan menyusuri koridor dengan  suasana hati yang tidak menentu. Kerisaun menyelimuti diriku. Pemandangan yang beberapa menit lalu aku saksikan membuat semangatku sontak mereda. Aku kembali meragu. Keinginanku untuk mendapatkan hati Hyesoo kembali goyah. Semula aku sudah menetapkan kesungguhanku untuk kembali meraih Hyesoo walaupun dengan keberadaan Soohyuk disisinya. Namun saat mataku menangkap sosok anak laki-laki yang menghampiri Hyesoo, keraguan kembali menyelimutiku.

.

Pikiranku hanya berpusat pada kilasan adegan yang baru ku saksikan. Kebahagiaan jelas terlihat diwajah Hyesoo. Tidak ada kesedihan yang terpancar dari tatapan matanya. Bahkan Hyesoo tersenyum dan tertawa riang. Ekspresi yang tidak pernah aku terima dari Hyesoo setelah ia kembali ke Seoul beberapa bulan yang lalu. Kehadiran anak laki-laki itu seolah menjadi pereda kepenatan yang Hyesoo rasakan. Aku pun dapat memastikan satu hal dari pemandangan yang aku saksikan tadi. Hyesoo sangat menyayangi anak itu. Ada ikatan diantara mereka yang begitu jelas terpancar hanya dengan berdiri berdampingan. Kembali, sebuah dugaan muncul di kepalaku. Lima tahun sudah berlalu. Aku memperkirakan usia anak itu sekitar tiga atau empat tahun. Mungkinkah anak laki-laki itu adalah anak Hyesoo? Lalu, kalau begitu Hyesoo sudah menikah? Dengan pria itu?

.

“Direktur Cho!” sebuah seruan yang memanggil namaku menyadarkanku dari lamunan. Derap langkah dua orang mendekat padaku. Aku pun menoleh pada kedua orang yang sedang menghampiriku dengan senyum mengembang diwajah mereka. “Berjalan sambil melamun adalah tindakan yang tidak baik”, kata Soyu.

.

“Eo… Kalian disini rupanya. Kalian mau kemana?” tanyaku dengan sikap yang kikuk.

.

“Ada apa? Apa ada hal buruk yang terjadi lagi?” tanya Ryeowook seolah menyadari sikapku.

.

“Tidak… Tidak ada…” jawabku mencoba bersikap setenang mungkin.

.

Zero possibility. Katakan. Apa yang terjadi?” tanya Soyu kali ini. Mereka berdua dapat membacaku dengan baik. Aku melupakan kenyataan itu.

.

Aku menghela napas panjang. Tanpa ku sadari keningku pun berkerut. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku juga tidak tahu harus memulainya dari mana. Aku menemukan diriku kesulitan untuk menggambarkan situasi yang sedang terjadi padaku. Semua kerisauan dan kecemasan yang ku rasakan tidak dapat ku ungkapkan dengan mudah. Seolah otakku berhenti bekerja secara tiba-tiba. Tidak ada kata yang mampu ku pikirkan. Aku merasa seperti orang bodoh saat ini. Atau memang aku sudah menjadi bodoh beberapa tahun terakhir ini.

.

“Tentang itu…” kataku akhirnya setelah berpikir selama beberapa saat.

.

“Ne?” kata Ryeowook memancingku untuk bicara.

.

“Jawab aku dengan jujur, Kang Soyu, Kim Ryeowook… Apa Hyesoo sudah menikah?” tanyaku akhirnya.

.

“Menikah?” tanya Soyu. Tidak ada keterkejutan diwajahnya. Hanya ada sedikit perubahan dari wajahnya. Salah satu alisnya menjadi lebih tinggi dari yang lainnya.

.

“Kapan?” kali ini Ryeowook yang mengajukan pertanyaannya. Wajahnya terlihat lebih datar, tanpa perubahan apapun.

.

“Aku yang sedang bertanya pada kalian”, kataku mengingatkan mereka.

.

“Sunbae yakin saat ini tidak sedang berimajinasi? Atau sunbae mendapatkan mimpi buruk semalam?” tanya Ryeowook masih dengan wajah datarnya.

.

“Aku serius, Kim Ryeowook”, kataku menegaskan.

.

“Begitupun denganku, sunbae…” sanggah Ryeowook.

.

“Hhh… Cho Kyuhyun sunbaenim…” kata Soyu yang menggunakan kata sunbaenim sebagai wujud rasa frustrasinya padaku. “Aku merasa heran padamu. Apa kau sudah menjadi bodoh? Kau sudah tidak bisa berpikir dengan baik?” tanya Soyu yang memberi jeda pada ucapannya.

.

Aku tidak menjawabnya. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Soyu pun kembali menghela napasnya sebelum melanjutkan ucapannya lagi.  “Begini… Kau berteman dengan Ryeowook, Jaejoong oppa, dan Donghae yang merupakan orang terdekat dengan Hyesoo. Jika pernikahan terjadi, maka bukankah Ryeowook akan membahasnya denganmu? Kau tidak berpikir sampai kesana?” tanya Soyu.

.

“Otaknya sudah tidak bekerja dengan baik, Soyu-ya. Hhh… Sunbae terlihat benar-benar menyedihkan”, kata Ryeowook dengan nada sarkastik khasnya.

.

Seperti baru saja dipukul oleh batu yang cukup keras tepat di kepala, aku tersadar dari dugaan bodohku beberapa saat yang lalu. Soyu dan Ryeowook mematahkan dugaan tidak berdasar yang muncul diotakku dengan mudah. Emosi terlalu ikut campur dalam cara kerja otakku akhir-akhir ini. Aku tidak bisa berpikir dengan baik. Di detik yang sama aku memastikan diriku memang sudah menjadi bodoh. Aku begitu bodoh sampai melupakan kenyataan yang terpampang jelas didepanku. Ada begitu banyak orang yang mendukungku. Bahkan Donghae yang merupakan saudara kembar Hyesoo pun memberikan dukungannya padaku. Tentu mereka akan mengetahui setiap kejadian penting yang terjadi pada Hyesoo jika mereka mengetahuinya. Dan aku memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk mengetahui hal itu setelahnya. Tapi aku melupakan kenyataan itu dengan mudah hanya karena emosi yang bergejolak dalam diriku setelah melihat Hyesoo merengkuh anak laki-laki yang menghampirinya beberapa saat yang lalu. ‘Kebodohanmu sudah begitu hebat, Cho Kyuhyun‘, aku merutuki diriku sendiri dalam pikiranku.

.

“Benar… Ya… Kau benar… Kalian benar… Tidak mungkin…” kataku kemudian.

.

“Tentu saja kami benar. Sunbae yang selalu salah akhir-akhir ini”, kata Ryeowook.

.

“Lalu, siapa anak laki-laki yang menghampiri Hyesoo di ruangan tadi? Pria yang datang ke acara pertunangan Hyesoo bahkan datang bersamanya. Dan anak itu memanggilnya ayah”, kataku menjelaskan kejadian yang baru saja ku lihat.

.

“Siapa?” Ryeowook yang merupakan dokter bedah jantung menoleh pada Soyu (dokter bedah saraf, sama dengan Hyesoo), memberikan pertanyaan yang sama dengan yang ku ajukan.

.

“Ah… Lee Soohyuk dan anak laki-lakinya yang menggemaskan, Lee Jinwoo? Tentu saja mereka akan menemui Hyesoo. Selama bertahun-tahun Hyesoo sudah membantu Soohyuk mengurus Jinu setelah mendiang istrinya meninggal tiga tahun yang lalu”, jawab Soyu menjelaskan dengan santai.

.

“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang hal itu?” tanyaku.

.

“Apa kau pernah bertanya? Kau bahkan tidak begitu mempedulikan Lee Soohyuk walaupun kau bertemu dengannya di pesta pertunangan Donghae”, jawab Soyu.

.

“Ah… Lee Soohyuk… Jadi dia yang sedang sunbae bicarakan?” tanya Ryeowook yang berdesis heran pada sikapku.

.

“Apakah hubungan mereka hanya sebatas itu? Maksudku, apakah pria yang bernama Lee Soohyuk itu tidak berpikir untuk menjadikan Hyesoo istri dan ibu bagi anaknya?” tanyaku kali ini dengan rasa ingin tahu yang tiba-tiba memenuhi kepalaku.

.

“Aku tidak tahu. Hanya Hyesoo yang mengetahui hal itu”.

.

“Yah… Aku tidak bisa mempercayai ini. Sunbae merasa terancam pada keberadaannya? Kenapa baru sekarang?” tanya Ryeowook dengan smirknya.

.

“Benar… Seharusnya kau merasa khawatir di detik yang sama saat kau melihat Hyesoo selalu bersamanya di pesta Donghae. Jika kau merasa khawatir hari itu dan bertanya pada siapapun yang mungkin mengetahuinya, maka aku pastikan kau akan mendapatkan beberapa jawaban atas pertanyaanmu”, sambung Soyu.

.

“Jawaban seperti?” tanyaku.

.

“Hyesoo dan Soohyuk pernah menjalin hubungan sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk berhubungan hanya sebatas pertemanan”, jawab Ryeowook kali ini.

.

“Apa?! Berarti ada kemungkinan mereka akan kembali berhubungan saat ini?” tanyaku dengan kecemasanku yang kembali.

.

“Mungkin saja… Sunbae tahu? Hubungan mereka sangat baik. Lee Soohyuk tidak pernah membuat Hyesoo bersedih. Keduanya terlihat begitu harmonis. Bukankah sunbae melihatnya sendiri tadi? Bagaimana? Mereka bertiga terlihat seperti keluarga bahagia, bukan?” kata Ryeowook yang menambahkan bensin pada api kecemasanku yang sudah berkobar.

.

“Kau sudah bosan hidup?!” kataku protes pada godaan Ryeowook.

.

“Ya! Ya! Kenapa kau menuangkan bensin pada api yang sudah berkobar? Hentikan, Kim Ryeowook”, kata Soyu yang tidak ku duga memiliki pemikiran yang sama atas sikap Ryeowook padaku.

.

“Arasseo… Arasseo… Maafkan aku… Aku hanya mengutarakan rasa frustrasiku pada Kyuhyun sunbae yang sudah tidak bisa berpikir dengan baik akhir-akhir ini”, kata Ryeowook yang kemudian menutup mulutnya rapat-rapat.

.

“Kau tidak perlu bersikap seperti ini, Cho Kyuhyun. Karena aku mengetahui satu hal”, kata Soyu memulai ucapannya, dengan nada bicara yang terdeteksi sebagai penenang oleh radarku. “Hyesoo dan Soohyuk memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka karena keduanya sama-sama tidak bisa melupakan orang yang sangat mereka cintai. Perbedaannya ada pada keberuntungan Soohyuk yang akhirnya mendapatkan gadis yang dicintainya dan menikahinya. Meski setelahnya Soohyuk kembali kehilangan gadis itu setelah anak mereka lahir. Sementara Hyesoo masih harus menghadapi pria menyedihkan bernama Cho Kyuhyun dan mengubur perasaan cintanya dibalik kebenciannya”.

.

“Kau juga berpikir bahwa Hyesoo masih mencintaiku?” tanyaku setelah menangkap pernyataan yang diutarakan Soyu.

.

“Sunbae tidak berpikir begitu?” tanya Ryeowook yang ikut menunjukan keheranannya.

.

“Benarkah? Seharusnya kau yang paling menyadari hal itu”, kata Soyu.

.

“Apa maksud kalian?” tanyaku, tidak mengerti akan pendapat Soyu dan Ryeowook yang terdengar sangat yakin.

.

“Cho Kyuhyun, coba pikirkan semua hal yang sudah terjadi diantara kalian setelah kembalinya Hyesoo ke Seoul”, kata Soyu mengawali jawabannya untuk pertanyaanku yang terdengar bodoh baginya. “Jika aku ada di posisi Hyesoo… Jika aku berada di posisinya, maka aku tidak akan mau bicara padamu…… sama sekali. Aku juga akan mengusirmu dari ruang istirahat sore itu saat aku menyadari keberadaanmu. Aku tidak akan menyerah dan setuju untuk makan siang bersamamu hanya karena kau menunjukkan gejala mengkhawatirkan pada jantungmu. Aku tidak akan mendengarkan alasan apapun atas tindakan yang kau lakukan lima tahun yang lalu”, kata Soyu menjelaskan dengan memberikan penekanan di beberapa kata yang ia gunakan.

.

“Sekarang coba sunbae ingat-ingat apa yang telah dilakukan Hyesoo”, sambung Ryeowook. “Dia bicara padamu meski harus menutupi kebencian dan kesedihannya, saat akhirnya sunbae kembali muncul dihadapannya setelah lima tahun menyebalkan itu berlalu. Hyesoo meruntuhkan pertahanannya yang semula menolak ajakan makan siangmu hanya karena kondisi jantungmu yang membuat alam bawah sadarnya khawatir padamu. Padahal sunbae hanya lelah karena membantu seorang perawat mengangkat beberapa dus berisikan botol infus hari itu. Cham na…” kata Ryeowook yang mengetahui kebenaran dibalik berdegup kencangnya jantung Kyuhyun siang itu.

.

“Hyesoo mungkin tidak benar-benar ingin memaafkanmu, Cho Kyuhyun. Tapi dia bersungguh-sungguh saat memintamu memohon dan berlutut padanya. Dia ingin melihat kesungguhanmu. Dia mempertimbangkan semua sikapmu. Kau tahu? Hyesoo menyadari bahwa kau berada disana semalam, di apartment nya, memeluknya, mengusir mimpi buruk yang selama lima tahun ini menghantuinya dengan mudah. Hyesoo menyerah dan menggunakan tameng pelindungnya untuk mengusir semua mimpi buruk itu. Hyesoo menyadari bahwa dia telah menemukan satu-satunya pengusir mimpi buruknya. Kau. Cho Kyuhyun yang begitu menyakitinya. Cho Kyuhyun yang sangat dibenci olehnya. Cho Kyuhyun yang tidak pernah ingin dia temui. Orang itu adalah Cho Kyuhyun yang sama yang telah mengusir mimpi-mimpi buruknya, menenangkannya, dan masih dicintainya. Setelah Hyesoo berdebat denganmu, menolak untuk bicara denganmu, apakah dia menghentikanmu saat kau menjelaskan alasan akan tindakan bodohmu lima tahun yang lalu? Tidak, Cho Kyuhyun. Hyesoo mendengarkannya meski dalam kemarahan yang membuncah dalam dirinya. Meski dia menyumpahimu, menolakmu, berteriak padamu, tapi dia mendengarkan semua yang kau katakan. Seharusnya kau menyadari hal itu melebihi siapapun yang mengenal Hyesoo”, kata Soyu dengan raut wajah yang serius.

.

“Kau benar… Seharusnya aku menyadari hal itu. Aku hanya terpaku pada Hyesoo yang membenciku. Aku hanya fokus pada usahaku untuk membuat Hyesoo kembali padaku. Aku bahkan tidak benar-benar menyadari perasaannya yang tidak hanya bicara padaku melalui tatapannya, tapi juga melalui setiap tindakannya. Kalian benar…” kataku yang akhirnya mendapatkan pencerahan atas kebuntuan jalan pikiranku.

.

“Tentu saja…” kata Ryeowook menimpali ucapanku.

.

“Aku harus menemuinya”, kataku setelahnya.

.

“Apa yang akan kau lakukan saat menemuinya?” tanya Soyu sambil menahan lenganku.

.

“Apapun yang dia minta”, jawabku cepat.

.

“Aku setuju. Lakukanlah…” kata Ryeowook yang justru ikut menahan lenganku, berbanding terbalik dengan ucapannya. “Walaupun bukan sekarang saatnya”.

.

“Kenapa?” tanyaku bingung.

.

“Sekarang waktunya konsultasi, pasien Cho Kyu Hyun. Kami para dokter bedah jantung sama sibuknya dengan dokter bedah lainnya. Hanya karena sunbae seorang direktur di rumah sakit ini, bukan berarti sunbae bisa mengacaukan jadwal kami. Ayo kita pergi sekarang, Cho Kyuhyun-ssi”, kata Ryeowook sambil menarik lenganku bersamanya.

.

“Selamat, Cho Kyuhyun. Kau sa…ngat beruntung karena ditangani oleh dokter seperti Kim Ryeowook dan… siapa nama dokter yang sama gilanya dengan kembarannya itu? Ah… Lee Donghae. Kau mendapatkan pelajaran atas perbuatanmu. Chukhahanda…” kata Soyu.

.

“Ne, gamsahabnida, Kang seonsaeng…” balas Ryeowook seolah mewakiliku.

.

Ryeowook pun menarikku, membawaku berjalan bersamanya. Aku yang masih berada dalam keadaan pikiran yang tidak menentu, tidak bisa melakukan apapun selain ikut bersamanya. Kami berjalan menjauhi Soyu yang tertawa karena melihat tingkah kami.

.

.

.

Author’s POV

Sementara itu di La Pettite’s Cafe and Resto

.

Hyesoo duduk bersama dua orang yang menenangkan hatinya selama beberapa tahun terakhir pelariannya. Keduanya sudah menjadi bagian dari hidup Hyesoo. Begitu banyak keceriaan dan kebahagiaan yang mereka berikan pada Hyesoo, meski ditengah kesedihan yang mereka rasakan jauh di lubuk hati mereka yang terdalam. Anak laki-laki berambut ikal dengan warna perunggu itu tidak henti membuat senyum Hyesoo mengembang setiap kali kedua mata Hyesoo memperhatikan tingkah lucunya. Sejak berjalan keluar dari rumah sakit, Jinu selalu mengajak Hyesoo membicarakan banyak hal yang sudah Hyesoo lewatkan. Teman-teman baru, suasana belajar, dan tarian pertamanya di sekolah menjadi topik yang dibicarakan oleh Hyesoo dan Jinu. Keriangan tidak pernah menjauh dari setiap kalimat yang mereka ucapkan pada satu sama lain.

.

Namun ditempat yang sama, ada Soohyuk yang memperhatikan Hyesoo dalam diam. Soohyuk yang sejak tadi menyiapkan makanan untuk putera kesayangannya itu tidak pernah mengalihkan pandangannya dari wajah Hyesoo. Soohyuk memang tetap mengikuti ritme pembicaraan Hyesoo dan Jinu yang terdengar riang dengan memberikan respon sesekali. Namun Soohyuk tetap menyadari perubahan dalam ekspresi dan sikap yang ditunjukkan Hyesoo. Ada kerisauan yang tersembunyi dibalik tatapan mata Hyesoo. Ada gejolak emosi yang berbeda dibalik tawa Hyesoo. Soohyuk tidak mengungkapkan hal itu hingga kesempatannya tiba saat Jinu sudah mulai disibukkan dengan makanan dihadapannya.

.

“Apa yang terjadi?” tanya Soohyuk akhirnya, sambil memotongkan steak untuk Jinu.

.

“Apa? Aku baik-baik saja”, jawab Hyesoo dengan nada santai.

.

“Kau tidak terlihat begitu”, kata Soohyuk mematahkan jawaban Hyesoo.

.

“Aku sedang dalam keadaan baik, Lee Soohyuk”, Hyesoo bersikeras dengan jawabannya.

.

“Kau bertemu dengan pria itu lagi?” tanya Soohyuk tiba-tiba.

.

Seriously, Lee Soohyuk? Kita akan membahas hal itu?” tanya Hyesoo sambil menghentikan aktifitas kedua tangannya.

.

Yes. We’ll talk about that. About him… Karena aku berpendapat bahwa dia masih menjadi penyebab dari suasana hatimu yang mudah berubah akhir-akhir ini”, jawab Soohyuk. “Jadi? Kau akan menjawabku?” tanya Soohyuk selanjutnya sambil mendekatkan gelas berisi jus apel pada Jinu.

.

Hyesoo pun kembali meraih garpu dan pisau ditangannya, lalu mengalihkan pandangan matanya pada steak di hadapannya. “Aku bertemu dengannya”, jawab Hyesoo setelahnya.

.

“Dan?” tanya Soohyuk.

.

“Kami bicara”, jawab Hyesoo dengan singkat sekali lagi.

.

“Lalu?” Soohyuk yang tidak puas dengan jawaban Hyesoo kembali memberikan pertanyaannya.

.

“Kami juga berdebat”, jawab Hyesoo malas.

.

“Tentu saja. Aku sangat meyakini itu. Kemudian?” tanya Soohyuk yang masih belum menyerah untuk mendapatkan kelengkapan cerita yang ia inginkan.

.

“Hanya itu. Tidak ada kemudian”, jawab Hyesoo.

.

“Kau pikir kau sudah bisa membohongiku? Tatapan mata, nada bicara, dan bahasa tubuhmu berlawanan dengan jawabanmu, Lee Hyesoo” kata Soohyuk kembali mematahkan jawaban Hyesoo.

.

Hyesoo mengangkat wajahnya. Tatapan matanya bertemu dengan mata Soohyuk yang masih menuntut jawaban darinya. “Apakah kau hantu? Kau cenayang? Kau bisa membaca pikiran?” tanya Hyesoo yang tidak menyangka Soohyuk akan membacanya dengan mudah. “Hhh… Terkadang kau terdengar menakutkan”.

.

“Pengalihan pembicaraan. Kau keluar dari topik, Lee Hyesoo. Ada yang sedang kau coba sembunyikan dariku”, kata Soohyuk sambil menunjukkan senyum tipis di bibirnya.

.

“Haruskah kita membahasnya sekarang?” tanya Hyesoo, berusaha menolak untuk melanjutkan pembicaraan mereka.

.

“Ya. Kita harus membahasnya sekarang. Karena kau tidak terlihat baik. Dan aku akan meninggalkan Seoul besok pagi untuk menemui kakek dan neneknya Jinu di Pulau Jeju”, jawab Soohyuk tidak tergoyahkan.

.

Hyesoo kembali menundukkan kepalanya. Ia memandangi piring dihadapannya dengan tatapan kosong dan datar. Hyesoo menusuk-nusukkan steaknya dengan garpu di tangan kirinya perlahan. Seolah sedang menimbang hal yang harus ia bicarakan pada Soohyuk. Hyesoo tidak bisa memutuskannya dengan cepat. Karena Hyesoo bahkan tidak dapat mengartikan perasaan yang sedang ia rasakan saat ini. Hyesoo sedang terperangkap dalam kurungan sempit dengan dua hal yang mendesaknya hingga sesak. Hyesoo bahkan tidak berani menamakan dua hal tersebut sekaligus. Ia hanya meyakini bahwa salah satunya adalah kebencian.

.

“Lee Hyesoo?” tanya Soohyuk yang menyadarkan Hyesoo dari pikirannya sendiri.

.

“Aku mendapatkan tidur lelapku kembali saat bersamanya”, jawab Hyesoo akhirnya, meski dengan suara pelan.

.

“Dan menurut dugaanku, sampai saat ini kau masih terus mencoba untuk menyangkalnya. Meski kau menyadari kenyataan bahwa kau membutuhkannya”, kata Soohyuk.

.

“Kita sudah membahas hal itu, Lee Soohyuk. Aku tidak bisa dengannya. Aku sudah memutuskan untuk berhenti”, sanggah Hyesoo yang kembali bicara dengan menatap mata Soohyuk.

.

“Kau hanya perlu mempertimbangkan untuk memberikan kesempatan padanya”, kata Soohyuk dengan tenang.

.

“Apa yang sedang kau coba lakukan, Lee Soohyuk? Selama ini kau berada di pihakku”, kata Hyesoo, keberatan dengan ucapan yang baru saja dikatakan Soohyuk.

.

I am. I always am. Karena itu aku ingin kau mendapatkan apa yang kau butuhkan. Agar kau tetap menjadi dirimu”, kata Soohyuk sambil menatap tepat ke mata Hyesoo. Sesaat kemudian Soohyuk mengalihkan pandangannya ke Jinu yang sedang berusaha menggunakan sumpitnya untuk makan. “Perlahan. Tidak perlu terburu-buru. Gunakan waktumu. Tidak ada yang sedang mengejar kita”, kata Soohyuk pada Jinu, yang secara tidak langsung juga ia maksudkan untuk Hyesoo.

.

.

.

At Ruangan Donghae

Shinsung Hospital

.

Kyuhyun kembali masuk ke ruangan Donghae setelah melakukan pemeriksaan dengan diikuti Ryeowook dibelakangnya. Kyuhyun pun segera duduk di salah satu kursi yang tersedia di hadapan Donghae. Sementara Ryeowook memilih untuk berjalan menuju jendela besar disisi kanan ruangan, lalu berdiri menghadap keluar gedung, memperhatikan kondisi lalu lintas kota Seoul. Tidak lama setelahnya, seorang perawat masuk, membawa serta berkas ditangannya yang kemudian diberikan pada Donghae. Kyuhyun yang mengetahui isi dari berkas itu tidak menunjukkan ketertarikannya pada benda yang sedang diperiksa oleh Donghae. Pikiran Kyuhyun sedang melalang jauh dari tubuhnya. Fokusnya tidak sedang berada pada dirinya. Ia bahkan tidak dapat duduk dengan tenang sejak masuk ke dalam ruangan Donghae. Terlihat dari sikapnya yang memutar-mutar kursi perlahan tanpa henti.

.

“Keadaanmu baik-baik saja. Tidak ada hasil yang mengkhawatirkan. Kau masih dalam keadaan yang stabil”, kata Donghae menjelaskan pada Kyuhyun, menghentikan aktifitas yang dilakukan Kyuhyun.

.

“Kau yakin? Kau tidak menemukan hal aneh dalam dirinya?” tanya Ryeowook tanpa menoleh.

.

“Eo… Aku yakin… Ada apa? Apa sesuatu telah terjadi, yang bisa membuat kerja jantungnya bermasalah?” Donghae balas bertanya.

.

“Tidak. Tidak ada. Aku hanya memastikan”, kata Ryeowook yang kini berputar, bersandar pada salah satu dinding dibelakangnya.

.

“Hhh…” Donghae bersesis menyadari ada hal yang sedang coba disembunyikan oleh Ryeowook. “Tapi, bagaimana kalian bisa datang bersama? Direktur Cho mengikutimu sepanjang hari atau sebaliknya?” tanya Donghae pada kedua sahabatnya, mencoba untuk menjaga perbincangan mereka agar tetap berjalan.

.

“Hanya kebetulan”, jawab Kyuhyun dengan nada malas.

.

“Aku bertemu dengannya di koridor. Setelah Kyuhyun sunbae menanyakan hal aneh padaku dan Soyu, aku menyeretnya kesini sebelum dia melarikan diri”, kata Ryeowook memberikan penjelasan teringkas dari pertemuan mereka dengan Soyu beberapa saat yang lalu.

.

“Hal aneh? Apa? Apa lagi kali ini? Sepertinya menarik…” kata Donghae yang memberikan tatapan ingin tahu bergantian pada Ryeowook dan Kyuhyun.

.

“Mwo… Tidak semenarik dugaanmu. Kau justru akan merasa sedikit kesal jika mendengarnya”, jawab Ryeowook yang berjalan mendekat pada keduanya.

.

“Apa? Apa? Katakan padaku. Aku jadi penasaran”, kata Donghae bersemangat.

.

“Kyuhyun sunbae menanyakan apakah Hyesoo sudah menikah”, jawab Ryeowook sekali lagi. Kyuhyun memejamkan matanya saat Ryeowook kembali membahas kebodohannya beberapa saat yang lalu.

.

“Apa?! Ya! Cho Kyuhyun, kau sudah gila? Kenapa kau berpikir sejauh itu?” tanya Donghae dengan nada bicara yang tepat seperti dugaan Ryeowook.

.

“Kyuhyun sunbae melihat Lee Soohyuk dan anaknya menghampiri Hyesoo di bangsal hari ini”, Ryeowook kembali menimpali informasinya pada Donghae.

.

“Karena itu kau berpikir bahwa mereka sudah menikah dan punya anak? Auh… Michin saekki…” keluh Donghae. “Ibwayo, Cho Kyuhyun-ssi, jika Hyesoo sudah menikah dan punya anak, maka aku tidak akan membuang waktuku untuk mendukungmu. Kau pikir aku sudah gila?”

.

“Arasseo… Arasseo… Ya! Kim Ryeowook! Aku sudah mengakuinya tadi. Aku yang salah. Aku yang bodoh dengan berpikir seperti itu. Bisakah kita hentikan sampai disini?” pinta Kyuhyun.

.

Donghae pun tertawa mendengar permintaan Kyuhyun. Seperti yang dikatakannya, Kyuhyun memang terdengar seperti orang yang sudah membuat banyak kesalahan hari itu. Ada nada bicara yang terdengar lelah dari suaranya. Penyesalan dan kesedihan juga belum menghilang dari setiap getaran suara yang dibuatnya. Helaan napas pun masih mengiringi kalimat yang diucapkan Kyuhyun sesekali.

.

 “Lalu… Apa maksudmu dia akan melarikan diri?” tanya Donghae pada Ryeowook setelahnya.

.

“Kyuhyun sunbae ingin menemui Hyesoo”, jawab Ryeowook.

.

“Kemudian? Apa yang akan kau lakukan setelahnya?” tanya Donghae pada Kyuhyun kali ini.

.

“Apapun. Aku akan melakukan apapun untuknya”, jawab Kyuhyun.

.

Donghae tersenyum mendengar jawaban Kyuhyun kali ini. Donghae sangat mengerti perasaan yang ada dibalik jawaban Kyuhyun. “Beristirahatlah selama beberapa hari. Jangan mengejarnya terus”, kata Donghae yang mengatakan hal yang tidak diduga oleh Kyuhyun sama sekali.

.

“Kenapa? Bukankah kau mendukungku? Kenapa kau mencoba menghentikanku sekarang?” tanya Kyuhyun yang merasa bingung.

.

“Aku tidak menghentikanmu. Aku hanya memintamu mengambil waktu. Jangan memaksakan dirimu, dan diri Hyesoo. Berikan waktu pada Hyesoo untuk berpikir. Hyesoo juga sedang tidak terlihat baik akhir-akhir ini. Hyesoo bahkan jarang pulang ke rumah”.

.

“Aku tahu. Aku sangat mengetahuinya…” kata Kyuhyun dengan suara pelan sambil menghela napas panjang.

.

“Mereka bersama semalam. Kyuhyun sunbae datang ke apartment Hyesoo dan menemaninya tidur semalaman”, sambung Ryeowook dengan cepat.

.

“Apa?! Wah… Kau benar-benar nekat, Cho Kyuhyun. Bagaimana bisa kau datang ke kandang singa yang masih buas begitu saja?” tanya Donghae yang terkejut.

.

“Hyesoo tidak mengusirku. Hyesoo menyadari keberadaanku tapi tetap membiarkanku berada disana. Alam bawah sadarnya membutuhkanku”, kata Kyuhyun menyatakan pembelaannya.

.

“Aku tahu… Meski dalam keadaan sadar pun aku tahu dia membutuhkanmu. Tapi, tetap saja… Wah… Molla… Molla… Aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Tekanan darahku bisa meningkat hanya karena menghadapimu”, kata Donghae mengutarakan rasa frustrasi yang dirasakannya.

.

“Apa yang salah dengan perbuatanku? Kau tahu aku selalu datang kesana bahkan sebelum Hyesoo kembali. Aku tidak tahu jika Hyesoo juga akan berada disana kemarin malam. Setelah aku mengetahui keberadaannya, dan menyaksikan mimpi buruk yang mengganggu tidurnya, kau pikir aku bisa meninggalkannya begitu saja?” ujar Kyuhyun menjelaskan situasi yang terjadi kemarin malam.

.

“Baiklah… Baiklah… Aku tidak akan memperdebatkannya lagi. Kau tidak melakukan kesalahan. Tindakanmu tepat. Tapi, apakah setelah kau melakukan tindakan tepatmu itu, tidak ada hal lain yang terjadi?” tanya Donghae.

.

“Mereka berdebat pagi ini. Cukup hebat. Begitulah yang ku dengar dari Soyu”, kata Ryeowook menimpali.

.

“Itulah… Aku sudah menduganya. Itu yang aku khawatirkan. Aku memang mendukungmu untuk mendapatkan hati Hyesoo kembali. Tapi jangan menekannya, Cho Kyuhyun. Perlahan… Hyesoo membutuhkan waktu lima tahun sebelum akhirnya, dengan susah payah, dia memutuskan untuk kembali ke Seoul. Aku masih mengingat dengan jelas kondisi Hyesoo saat memohon padaku untuk membawanya pergi ke tempat dimana tidak ada kau, lima tahun yang lalu. Jika saat itu Hyesoo tidak menahanku, dan aku tidak mendengarkan penjelasanmu, maka aku pasti sudah membuatmu menghilang dari kehidupan Hyesoo. Perlahan, Cho Kyuhyun… Berikan waktu padanya…” ujar Donghae.

.

“Berikan waktu juga pada diri sunbae sendiri. Akhir-akhir ini sunbae lebih sering terlihat begitu kacau. Sunbae harus mengembalikan fokus sunbae kembali. Jangan seperti ini. Sunbae mulai terlihat menyedihkan belakangan ini”, sambung Ryeowook yang kembali berlaku sebagai seorang teman yang peduli pada Kyuhyun.

.

“Jangan lupa kau baru menerima donor delapan bulan yang lalu. Kau harus membuat kondisinya stabil sebelum kembali menggunakannya untuk aktifitas yang berlebihan”, kata Donghae mengingatkan.

.

“Jantung kedua doktermu ini juga membutuhkan ketenangan, sunbae. Kami bukan Profesor Choi, paman sunbae yang memiliki jaminan pekerjaan tidak akan tergantikan di rumah sakit ini. Jika sesuatu terjadi pada sunbae, maka kami berdua harus berhadapan dengan presidir dan menjawab semua pertanyaan yang beliau ajukan. Sunbae tahu benar bahwa hal itu begitu merepotkan untuk dilakukan”, sambung Ryeowook.

“Benar! Posisi kami di rumah sakit ini selalu terancam setiap kali kau melakukan tindakan bodoh diluar akal sehatmu itu, Cho Kyuhyun. Menjengkelkan…”

.

“Arasseo… Maafkan aku… Aku akan lebih berhati-hati. Aku tidak akan bersikap gegabah kali ini”, kata Kyuhyun menyerah dengan keluhan kedua sahabat yang sekaligus telah menjadi dokter pribadi untuknya.

.

“Aku tidak bisa membohongi diriku dengan mengatakan bahwa aku bisa mempercayai ucapannya, Ryeowook-ah”, kata Donghae dengan nada berguraunya.

.

“Begitupun denganku… Akal sehatnya sudah terlanjur menghilang. Kyuhyun sunbae sudah tidak sepintar yang ku ingat, Donghae-ya. Kau tidak punya cara lain untuk mencegahnya melakukan hal aneh?” tanya Ryeowook menimpali gurauan Donghae.

.

“Otak ku sontak berhenti bekerja saat menghadapinya. Aku sudah terlalu lelah untuk berpikir. Dia selalu membuatku sakit kepala belakangan ini”, kata Donghae menyerah.

.

“Haruskah kita pindah ke rumah sakit lain? Atau kita bisa membuat praktek dokter bersama”, Ryeowook mengajukan idenya.

.

“Kau punya uang? Aku tidak punya. Aku harus menikah, kau lupa?” kata Donghae.

.

“Ah… Benar. Hm… Bagaimana ini?” tanya Ryeowook berpura-pura bingung dengan gaya khas meledeknya.

.

“Haruskah kita memberikan anjuran tertulis padanya untuk beristirahat total selama satu bulan? Kita memiliki hak itu sebagai dokternya”, kali ini Donghae yang memberikan idenya.

.

“Oh… Ide yang bagus. Aku menyukainya…” kata Ryeowook setuju.

.

Sudut bibir Kyuhyun tertarik membentuk sebuah smirk saat mendengarkan obrolan antara Ryeowook dan Donghae yang berisikan pembicaraan kosong. Kedua sahabatnya itu selalu mampu mengubah pembicaraan serius mereka menjadi gurauan di akhir perbincangan. Seolah hal yang mereka bahas sebelumnya dapat diatasi tanpa perlu memikirkannya terlalu kuat. Kali ini Kyuhyun yang menjadi bahan gurauan mereka. Perbedaan usia satu tahun diantara mereka membuat cara berpikir ketiganya tidak jauh berbeda. Usia psikologis mereka pun tidak memiliki perbedaan yang berarti. Karena itu, mereka dapat menyatu dalam gurauan yang sama satu sama lain. Akhirnya pembicaraan ketiganya di ruangan Donghae pun tetap diakhiri dengan gurauan yang dilontarkan Donghae dan Ryeowook pada Kyuhyun, untuk mencairkan suasana diantara mereka.

.

.

.

At Ruangan Hyesoo

Di waktu yang sama

.

Hyesoo kembali ke ruangannya setelah makan siang dengan Soohyuk dan Jinu di restaurant yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Soohyuk dan Jinu mengantar Hyesoo sampai lobby rumah sakit, sekaligus berpamitan untuk keberangkatan mereka ke Jeju esok hari. Setelah kepergian keduanya, Hyesoo pun kembali harus disibukkan dengan pekerjaannya yang sudah menunggu di ruangannya. Hyesoo berjalan menyusuri koridor menuju ruangannya dengan wajah lembut khasnya. Ia membalas setiap sapaan petugas medis yang berpapasan dengannya di sepanjang koridor dengan senyum ramah yang mampu ia berikan tanpa paksaan. Hyesoo baru saja mendapatkan sedikit hiburan atas keresahan yang ia rasakan akhir-akhir ini. Meski pembicaraannya dengan Soohyuk beberapa saat yang lalu sempat membuatnya kembali merasa lelah, tapi Hyesoo tidak dapat mengesampingkan ketenangan yang dirasakannya karena kehadiran keduanya. Hyesoo pun segera meraih panel pintu untuk masuk ke dalam ruangannya. Langkahnya terhenti selama beberapa detik saat menyadari keberadaan Sooyoung yang duduk di salah satu kursi di dalam ruangannya. Hyesoo melontarkan senyumannya pada Sooyoung, lalu berjalan masuk dan menutup pintu dibelakangnya.

.

“Eonni…” sapa Sooyoung dengan senyumannya.

.

“Sooyoung-ah? Kenapa tidak memberitahuku jika akan datang? Kau sudah menunggu lama?” tanya Hyesoo yang berjalan mendekat.

.

“Tidak. Aku baru saja sampai”, jawab Sooyoung.

.

Hyesoo membuka lemari es kecil yang diletakkan di salah satu sisi terdalam ruangan itu. Ia mengeluarkan sekaleng minuman sari buah yang kemudian ia berikan pada Sooyoung. “Ini. Minumlah…” kata Hyesoo sambil memberikan kaleng minuman ditangannya pada Sooyoung. Hyesoo pun duduk di kursinya setelahnya.

.

“Terima kasih, eonni…” jawab Sooyoung. “Aku tidak tahu jika ruangan para dokter akan senyaman ini. Aku baru menyadarinya setelah mengunjungi ruangan eonni dan Jaejoong oppa. Sangat tenang dan nyaman. Aku sampai berpikir untuk menggunakan ruangan kalian sebagai tempat bersembunyi, sekaligus tempat pencarian ide”, kata Sooyoung setelahnya.

.

“Mwo… Kau bisa melakukannya. Datang saja. Tapi jika ruangan ini tidak sedang digunakan untuk konsultasi dengan pasien”, kata Hyesoo memberikan ijinnya secara tidak langsung pada Sooyoung.

.

“Call! Aku akan menggunakan ijin yang sudah ku dapatkan itu dengan baik, eonni” kata Sooyoung yang diiringi dengan senyum diwajahnya yang semakin mengembang.

.

“Jadi? Ada apa? Kau pasti datang kesini untuk sebuah alasan, bukan? Jika tidak, kau pasti menemuiku di tempat lain”, kata Hyesoo yang sudah menangkap tujuan lain dibalik kedatangan Sooyoung ke ruangannya sejak awal.

.

“Aku sudah mendengarnya… Perdebatan eonni dengan Kyuhyun”, jawab Sooyoung.

.

“Perdebatan?”

.

“Kyuhyun mengatakan yang sebenarnya, eonni. Aku yang merekrut eonni untuk bekerja di rumah sakit ini”, ujar Sooyoung.

.

“Kenapa kau merekrutku untuk bekerja disini?” tanya Hyesoo dengan nada bicara santai namun penuh penekanan, mengawali suasana serius diantara mereka.

.

“Aku melakukan hal itu karena aku mengetahui kemampuan eonni. Lagipula Jaejoong oppa dan Donghae oppa juga mengajukan nama eonni”, jawab Sooyoung dengan jujur. “Aku tidak melakukannya karena Kyuhyun. Eonni mau percaya padaku, ‘kan?”

.

“Eo… Tentu… Aku akan percaya padamu”, jawab Hyesoo.

.

“Eonni benar-benar ingin mengundurkandiri?” tanya Sooyoung akhirnya. Mengutarakan pertanyaan sebenarnya yang mendasari keberadaannya di ruangan Hyesoo saat ini.

.

“Aku belum benar-benar memikirkannya. Aku hanya berencana”, jawab Hyesoo.

.

“Kenapa, eonni?” tanya Sooyoung meminta penjelasan lebih pada Hyesoo.

.

“Kau tahu alasannya, Sooyoung-ah…” jawab Hyesoo singkat.

.

“Jangan pergi, eonni. Sebagai orang yang bertanggungjawab atas perekrutan eonni aku akan mengatakan bahwa rumah sakit ini, kami membutuhkan eonni. Dan sebagai seseorang yang sudah menyaksikan banyaknya kesedihan dan kepedihan yang terjadi selama lima tahun terakhir, aku ingin meminta eonni untuk mempertimbangkannya lagi dan memberikan kesempatan padanya”, pinta Sooyoung.

.

“Aku sudah lelah dengan semua itu, Sooyoung-ah… Aku lelah…” ujar Hyesoo.

.

“Aku tahu memaafkannya bukanlah hal yang mudah. Percayalah, aku pernah berada dalam situasi itu. Tapi Kyuhyun tidak akan berhenti. Meski apapun yang menghalanginya, dia tidak akan berhenti sampai eonni memaafkannya. Eonni… Aku mohon…” pinta Sooyoung sekali lagi.

.

“Dia tidak memberikanku waktu untuk mengerti keadaannya, Sooyoung-ah. Dia memilih cara terburuk untuk menyelesaikan permasalahan, yaitu dengan menyakitiku agar aku pergi darinya. Aku mengabulkan keinginannya. Aku pergi dengan semua rasa sakit yang dia berikan padaku. Kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu. Aku selalu memberikan kesempatan padanya untuk memperbaiki keadaan, Sooyoung-ah. Dia yang bersikeras untuk membuatku pergi. Aku sudah memberikan kesempatan padanya lima tahun yang lalu. Tapi dia tidak membutuhkannya”, kata Hyesoo mengutarakan isi hati yang tidak pernah dikatakannya pada siapapun selama ini.

.

Hyesoo sudah memberikannya. Kesempatan yang akhir-akhir ini dibicarakan banyak orang, diminta banyak orang darinya untuk Kyuhyun. Hyesoo sudah memberikannya pada Kyuhyun. Hyesoo sudah memberikan cukup banyak waktu padanya. Lima tahun yang lalu Hyesoo bahkan sudah memutuskan untuk mengesampingkan semua hal yang telah terjadi di masa lalu untuk mempertahankan hubungan mereka. Hyesoo mempertanyakan Kyuhyun, memberi kesempatan pada Kyuhyun untuk memperbaiki situasi diantara mereka. Namun Kyuhyun tidak melakukan apapun. Kyuhyun tetap pada pendiriannya yang menginginkan kepergian Hyesoo. Semua hal yang terjadi saat ini tidak pernah diinginkan siapapun. Tapi keadaan yang sudah memburuk ini, tidak bisa diperbaiki dengan mudah hanya dalam waktu singkat.

.

BGM: Kyuhyun – Ways to Say Goodbye

.

“Kyuhyun hanya terlambat menyadarinya…” kata Sooyoung mengawali penjelasannya akan hal yang ia ketahui. “Setelah kepergian eonni, Kyuhyun tidak pernah berhenti mencari eonni. Dia melakukan semua hal agar bisa menemukan eonni. Sampai dia melihat sebuah foto di social media milik seseorang. Eonni terlihat begitu bahagia bersama seorang laki-laki dalam foto itu. Kyuhyun pun berhenti mencari eonni. Dia pikir mungkin dia juga bisa merasakan kebahagiaan dengan melihat eonni bahagia bersama orang lain. Dia merasa sudah melakukan hal yang benar. Tapi dia masih Cho Kyuhyun yang bodoh, eonni. Kebahagiaan palsu itu tidak berlangsung lama. Dia kembali terpuruk. Dia tidak mampu merelakanmu. Dia ingin sekali mendatangi kalian dan merebutmu darinya. Dia ingin menghancurkan hubungan apapun yang ada diantara kalian. Tapi dia tidak berdaya. Dia sudah menyakiti eonni. Dia tidak ingin melakukan hal itu untuk kedua kalinya. Akhirnya Cho Kyuhyun menyakiti dirinya sendiri. Dia menghukum dirinya atas semua perbuatan yang telah dia lakukan pada eonni”.

.

“Apa maksudmu dengan menyakiti dirinya sendiri?” tanya Hyesoo.

.

“Percobaan bunuh diri yang lain? Hhh… Begitulah aku dan Kyuhyun menyebutnya dalam gurauan kami”, jawab Sooyoung mengatakan kejadian yang sudah berlalu itu dengan nada santai.

.

“Bunuh diri?” tanya Hyesoo. Ada nada keterkejutan dalam pertanyaannya. Membuat mata Sooyoung sedikit melebar saat menyadari hal itu.

.

“Tidak secara langsung…” jawab Sooyoung mencoba menenangkan sedikit saja atmosfer diantara mereka yang dirasakan mulai menjadi tegang.

.

“Apa yang sudah dia lakukan?” tanya Hyesoo. Kini dengan nada bicara yang dipenuhi rasa ingin tahu, cemas, dan waspada.

.

“Saat itu Kyuhyun menyibukkan dirinya. Dia ingin menghilangkan pikirannya yang hanya tertuju pada eonni. Kyuhyun melakukan semua hal yang dilarang untuknya. Kekanakkan… Dia melakukannya lagi, eonni” kata Sooyoung sambil berdesis tidak percaya dengan yang sudah dilakukan oleh Kyuhyun beberapa tahun belakangan. “Kyuhyun main basket, sepakbola, volley, baseball, dan yang lainnya. Dia bahkan minum alcohol. Lalu Kyuhyun mendaftarkan diri ke sebuah balapan mobil. Beruntung hari itu dia berhasil sampai ke garis finish. Kyuhyun juga melakukan bungee jumping. Tapi tidak ada satu usaha pun yang berhasil”.

.

“Kemudian Kyuhyun datang ke sebuah festival kembang api di Jepang”, lanjut Sooyoung setelah menghela napas cukup panjang. “Semula dia pergi ke Jepang karena salah satu stafnya mengatakan bahwa eonni berada disana. Tapi Kyuhyun kembali tidak menemukan eonni. Dia mulai merasa putus asa. Sampai sebuah ide gila kembali datang padanya setelah ide menaiki roller coaster saat masa kecilnya dulu. Dia kembali memutuskan untuk mengejutkan jantungnya. Saat itu aku ikut bersamanya, hanya untuk berjaga. Kami duduk di sebuah bukit dekat resort karena dentuman kembang api terdengar lebih keras disana. Kyuhyun sempat bersorak dengan sangat girang, karena tidak ada satu kembang api pun yang mampu menghentikan detak jantungnya. Dia tidak terkejut. Kyuhyun yakin dia bisa bertahan hidup selama yang dia mau. Akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk tidak melakukan tindakan bodoh apapun lagi dan bertahan hidup”, kata Sooyoung yang kembali memberikan jeda dalam penjelasannya. “Tapi dia terlalu senang, eonni. Dia tidak menyadari dimana tempatnya berdiri. Kyuhyun jatuh dari bukit itu. Luka nya tidak parah. Tapi kali ini jantungnya benar-benar terkejut. Dia tidak sadarkan diri untuk waktu yang cukup lama”.

.

Di detik yang sama saat ia kembali memberikan jeda pada penjelasannya, Sooyoung menemukan perubahan dalam diri Hyesoo. Ekspresi diwajahnya tidak setenang pertemuan awal mereka. Mata Hyesoo memancarkan kekhawatiran dan ketakutan yang secara spontan ia rasakan. Napas yang dihembuskan Hyesoo pun terdengar lebih berat dari sebelumnya. Ada ketegangan dalam diri Hyesoo saat mendengarkan setiap penjelasan yang diutarakan Sooyoung padanya. Menyadari hal itu, Sooyoung pun memutuskan untuk melanjutkan penjelasannya.

.

“Tim dokter menemukan kelainan dalam jantungnya. Hanya transplantasi yang mampu menyelamatkannya…” kata Sooyoung mengawali poin utama dalam kejadian yang diceritakannya. “Tapi tidak ada jantung yang sesuai untuknya. Kyuhyun tidak kunjung sadarkan diri. Dia tertidur begitu tenang ditengah kekhawatiran banyak orang. Kami pun menyerahkan semuanya pada Yang Kuasa. Aku sudah berpikir bahwa aku akan kehilangan seorang kakak sekali lagi. Bahkan ayahku sudah hampir menyerah. Tapi disaat yang sama, Kyuhyun justru bangun dari tidurnya. Tidak ada senyuman cerah penuh harapan lagi di wajahnya. Hanya ada senyuman lembut pasrah darinya. Saat itu kami tahu, bahkan Kyuhyun pun sudah menyerah dengan hidupnya”, kata Sooyoung menggunakan jeda sekali lagi untuk menghela napasnya yang terasa memberat karena mengingat kejadian yang begitu menorehkan kepedihan padanya.

.

“Eonni tahu apa situasi yang paling ku benci?” tanya Sooyoung yang tidak dijawab dengan reaksi apapun oleh Hyesoo. Lawan bicaranya terlalu terkejut untuk bicara, walau hanya satu kata saja. “Dia bicara padaku, eonni. Kyuhyun menitipkan pesan padaku. Sekali lagi, orang yang ku sayangi menitipkan pesannya padaku. Kyuhyun ingin aku menjaga eonni. Kyuhyun ingin aku memastikan bahwa eonni akan bertemu dengan laki-laki yang jauh lebih baik dari laki-laki manapun. Kyuhyun tidak ingin eonni mengetahui kabar apapun tentangnya jika dia benar-benar meninggal. Choi Siwon dan Cho Kyuhyun… Keduanya sama saja. Mereka pikir aku ini tukang pos? Hhh… Menyebalkan…” kata Sooyoung yang tiba-tiba mengalihkan pandangannya dari Hyesoo. Ia mencoba menghilangkan ingatan memilukan itu dari pikirannya sebelum kembali menatap Hyesoo yang masih tertegun dihadapannya.

.

“Namun harapan itu justru datang pada kami”, sambung Sooyoung dengan senyuman tipis diwajahnya. “Salah seorang dalam tim dokter mendapatkan kabar tersedianya donor untuk Kyuhyun. Kami begitu menyambut senang berita itu. Tapi tidak dengan Kyuhyun… Dia sudah mempersiapkan dirinya untuk semua kemungkinan buruk yang mungkin terjadi padanya. Kami sempat memarahi sikap pesimisnya. Bahkan Jaejoong oppa sampai mengancamnya untuk tetap hidup. Namun Kyuhyun tidak tergoyahkan. Kyuhyun tidak berharap. Harapan sudah menjauhi pikirannya saat itu. Kyuhyun pun memintaku untuk tidak memberitahukan semua hal yang terjadi pada siapapun. Dia juga memintaku untuk datang pada eonni beberapa tahun kemudian setelah kematiannya, untuk mengatakan betapa dia sangat mencintai eonni. Hhh… Tapi sepertinya harapan itu tidak akan pernah terjadi. Karena operasinya berhasil. Kyuhyun mendapatkan kehidupannya kembali. Aku pikir itu adalah pertanda bahwa kesalahan Kyuhyun belum bisa terampuni. Si bodoh itu tidak boleh melarikan diri kemanapun. Meski dengan tetap hidup Kyuhyun harus bertahan dalam rasa sakit atas semua hal yang dia lakukan pada eonni, Kyuhyun tetap harus menjalaninya. Dia tidak mati. Hhh…”

.

“Aku tidak boleh mati, Choi Sooyoung” kata Kyuhyun yang ternyata sudah berada disana, mendengar semua hal yang Sooyoung katakan pada Hyesoo.

.

Suara berat itu menyadarkan Sooyoung dan Hyesoo dari pembicaraan dengan hawa ketegangan diantara mereka. Keberadaan Kyuhyun seolah menjadi alarm bagi Hyesoo. Ekspresi Hyesoo kembali berubah. Kekhawatiran dan ketakutan yang semula terpancar dimatanya, kini diiringi dengan kepedihan yang mengutarakan luka dalam dirinya karena perbuatan pria yang sedang berdiri dengan tenang dihadapannya. Kyuhyun berjalan mendekat pada Hyesoo dan Sooyoung, masih dengan ketenangan diri yang membuat atmosfer disekitar mereka bertambah tegang.

.

“Seorang gadis mengatakan padaku untuk tidak mati bahkan satu detikpun sebelum dia”, kata Kyuhyun melanjutkan. “Tidak ada hal selain kematian yang aku inginkan saat itu. Tapi aku terlalu berdosa pada gadis ini. Karena itu aku tidak akan mati. Aku harus menepati janji itu. Walau apapun yang terjadi padaku, penderitaan ataupun rasa sakit, aku akan tetap bertahan untuknya”.

.

Sikap waspada menghampiri dirinya. Hyesoo pun bangkit berdiri dari tempatnya duduk dengan gerakan anggun yang tidak pernah gagal memukau Kyuhyun. Ia tidak bisa bertahan berada dalam satu ruangan dengan Kyuhyun saat ini. Ada begitu banyak emosi yang bergejolak dalam dirinya. Sampai ia merasa begitu mual dibuatnya. Hyesoo bahkan tidak bisa mengartikan perasaan yang sedang dirasakannya saat ini. Semua emosi dan kegilaan yang ia rasakan seolah begitu menekan dadanya sampai sesak. Kepalanya terasa sakit dan matanya akan panas setelahnya. Karena itu, Hyesoo memutuskan untuk menyelamatkan diri dari situasi dalam ruangan itu secepatnya.

.

“Aku harus pergi, Sooyoung-ah. Kita bicara lagi lain kali”, kata Hyesoo sambil berlalu cepat keluar dari ruangannya.

.

Hanya senyuman miris yang tersisa diwajah Kyuhyun. Tanpa ia sadari, sikap yang ditunjukkan Hyesoo telah menorehkan sebuah rasa tidak nyaman dalam dirinya. Bukan kekecewaan yang Kyuhyun rasakan. Tapi rasa sakit lain yang seolah menjalar ke tubuhnya dengan hanya melihat ekspresi dan sikap Hyesoo. Kyuhyun belajar dari kebodohannya. Kyuhyun membuka matanya lebar-lebar untuk melihat semua hal dalam diri Hyesoo. Seperti yang dikatakan Soyu dan Ryeowook, Kyuhyun lah orang yang seharusnya paling menyadari makna dibalik setiap tindakan Hyesoo. Kali ini Kyuhyun menyadarinya. Kyuhyun bahkan merasakannya.

.

“Eonni masih mencintaimu, Cho Kyuhyun” kata Sooyoung memecah keheningan diantara mereka sepeninggal Hyesoo.

.

“Aku tahu… Tapi dia terluka karena mencintaiku, Sooyoung-ah. Dia juga terluka karena aku begitu mencintainya… Seharusnya cinta tidak melukainya”, kata Kyuhyun mengutarakan isi kepala yang kali ini sejalan dengan isi hatinya.

.

.

.

Keesokkan harinya

Bangsal Departemen Bedah Saraf

.

Hyesoo berdiri didepan meja nurse station ruang perawatan bedah saraf sambil menuliskan beberapa hal tambahan yang perlu diberikan pada pasien dalam rekam medik. Ekspresi di wajah Hyesoo tidak terlihat baik. Hyesoo kembali mendapatkan mimpi buruknya semalam. Tidurnya kembali tidak tenang. Hyesoo bahkan tidak dapat melanjutkan tidurnya hingga matahari terbit. Karena itu, wajah Hyesoo begitu menunjukkan kelelahannya. Sesekali Hyesoo masih menunjukkan senyum lembut di wajah manisnya saat menanggapi pembicaraan menarik yang dibicarakan para perawat dan residen dibalik meja. Namun hawa lelah yang dibawa Hyesoo masih dapat dirasakan dengan jelas oleh setiap orang yang berada disekitarnya. Hyesoo seolah kehilangan kewarasannya. Akhirnya Suho, yang saat itu sedang bertugas bersama Hyesoo, menyadari kondisi Hyesoo. Suho berjalan mendekat pada Hyesoo, mencoba bersikap sewajar mungkin. Selain kesadarannya akan sikap Hyesoo, Suho juga memiliki sebuah pertanyaan yang ingin diajukannya sejak beberapa hari yang lalu. Dalam diam, Suho berharap Hyesoo akan menjawabnya, tanpa memberikan protes padanya.

.

“Sunbae, kau baik-baik saja?” tanya Suho.

.

“Eo… Aku baik-baik saja”, jawab Hyesoo yang masih berkutat pada rekam medik dihadapannya.

.

“Sunbae tidak mendapatkan istirahat yang cukup semalam?” tanya Suho lagi.

.

Hyesoo meletakkan pulpel ditangannya dengan sebuah hentakan pelan, membuat Suho bersikap waspada akan tindakan apapun yang mungkin dilakukan Hyesoo setelahnya. Hyesoo mungkin saja akan memberikan protes pada Suho karena Suho sudah menganggu konsentrasinya. Hyesoo mungkin juga akan menyuruh Suho pergi darinya karena gangguan yang diberikannya. Sikap waspada Suho bertambah saat Hyesoo mulai menoleh pada Suho.

.

“Apakah begitu terlihat?” tanya Hyesoo dengan nada lelah yang menyertai setiap kata yang diucapkannya.

.

Suho menghela napasnya pelan sambil memberikan senyuman pada Hyesoo. Ada kelegaan di ekspresi wajahnya. “Emm… Sedikit?”

.

“Aku tidak cukup tidur semalam”, kata Hyesoo setelahnya.

.

“Sudah ku duga…” sambung Suho. “Tapi, sunbae, akhir-akhir ini aku mendengar sesuatu”.

.

“Ch… Kau mulai terdengar seperti Seo Joohyun, Kim Suho. Hati-hati…” kata Hyesoo yang kembali mengalihkan perhatiannya pada rekam medik dibawah tangannya.

.

“Jadi, apakah sunbae benar-benar akan keluar dari rumah sakit ini?” tanya Suho akhirnya.

.

“Aku tidak tahu, Suho-ya. Saat ini pikiran dan perasaanku sedang tidak berada dalam tim yang sama. Mereka tidak sejalan”, jawab Hyesoo.

.

“Mungkin karena sunbae tidak ingin membiarkan salah satunya menang. Sunbae tidak ingin menerimanya dengan mudah. Tapi sunbae tidak bisa melepasnya”, kata Suho dengan kalimat tersiratnya.

.

Hyesoo kembali menoleh pada Suho, membuat sikap waspada Suho kembali muncul secara otomatis. Hyesoo menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis pada Suho setelahnya. “Mungkin kau benar…” kata Hyesoo.

.

“Saat ini sunbae bahkan tidak menyangkalnya lagi… Jika aku berada di posisi sunbae, maka aku akan menggunakan perasaanku dalam situasi seperti ini”, kata Suho memberikan sarannya. “Karena kepalaku sudah terlalu penuh dengan tesis yang harus ku selesaikan”, sambung Suho setelahnya, mengundang tawa kecil dari Hyesoo.

.

“Hhh… Berjuanglah, Kim Suho. Kau pasti bisa menyelesaikannya”, kata Hyesoo sambil menepuk pelan punggung Suho.

.

“Ne, sunbae…” jawab Suho.

.

“Hyesoo-ya…”

.

Seseorang datang menghampiri mereka. Soyu berjalan dengan perlahan mendekati Hyesoo dengan langkah percaya dirinya. Hyesoo menoleh sekilas padanya sebelum tersenyum tipis menyadari sumber suara yang memanggil namanya. “Hyesoo-ya…” panggil Soyu sekali lagi.

.

“Hm?” tanya Hyesoo menanggapi panggilan Soyu.

.

“Bisakah kita bicara sebentar?” tanya Soyu.

.

“Bicaralah…” jawab Hyesoo tanpa menoleh pada Soyu.

.

“Tidak disini”, kata Soyu.

.

Hyesoo menghela napas pelan, lalu menoleh pada Soyu yang mengernyitkan keningnya, membujuk Hyesoo. Senyum tipis kembali muncul di bibir Hyesoo yang meletakkan pulpen ditangannya sekali lagi. “Arasseo…” kata Hyesoo setuju pada ajakan Soyu. “Suho-ya, aku tinggal sebentar. Jaga ini untukku”, kata Hyesoo setelahnya sambil memberikan berkas ditangannya pada Suho.

.

“Aku bergantung padamu, Kim Suho. Kau bekerja dengan baik…” sambung Soyu sambil menepuk lembut bahu Suho.

.

“Ne, sunbaedeul…” jawab Suho dengan senyuman diwajahnya.

.

Soyu pun menggandeng tangan Hyesoo agar berjalan bersamanya. Hyesoo merebahkan kepalanya di bahu Soyu, gadis yang tidak pernah Hyesoo duga akan menjadi sahabat baiknya. Keduanya tertawa bersama saat Soyu mengejek ekspresi Hyesoo yang kembali terlihat seperti zombie hari itu. Mereka berjalan keluar dari gedung, menuju balkon yang ada disisi kanan bangsal. Angin yang berhembus menyambut mereka tepat saat pintu dibuka. Memberikan sentuhan dingin diwajah Hyesoo yang lelah. Sesampainya di balkon, Hyesoo berjalan menuju pagar pembatas, membiarkan matanya mendapatkan pemandangan suasana kota yang masih disibukkan dengan kegiatan setiap orang yang menetap disana. Hyesoo meregangkan tubuhnya yang terasa pegal dan kaku. Sesaat setelahnya, Hyesoo membalikkan tubuhnya menghadap Soyu yang menatapnya dari jarak beberapa langkah dibelakangnya.

.

“Baiklah. Katakan. Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Hyesoo.

.

Soyu mengangkat bahunya, lalu berjalan mendekat pada Hyesoo. Soyu ikut bersandar pada pagar pembatas bersama Hyesoo. “Tidak ada. Aku hanya ingin bicara denganmu saja”, jawab Soyu setelahnya.

.

“Mwoya Kang Soyu… Kau ini… Aku pikir ada hal buruk yang terjadi”, keluh Hyesoo.

.

Soyu tersenyum mendengar keluhan yang diutarakan Hyesoo. Keheningan pun menyelimuti keduanya. Tidak ada kata lagi yang terucap diantara mereka. Hyesoo masih dalam posisinya yang sedang menikmati hembusan angin dingin yang menyentuh permukaan kulitnya. Bahkan Hyesoo menutup matanya, menikmati semilir angin yang menyejukkan pikiran penatnya. Soyu menoleh, memperhatikan Hyesoo yang menikmati suasana disekitar mereka. Hyesoo terlihat benar-benar menikmati suasana itu. Seolah angin yang berhembus mampu melepaskan segala keresahan yang sedang ia rasakan. Seolah semua bebannya dapat terbang bersama hembusan angin dingin itu.

.

“Bagaimana?” tanya Soyu tiba-tiba.

.

BGM: Bernard Park – Dirt (먼지)

.

Hyesoo sontak membuka matanya sesaat setelah mendengar pertanyaan tiba-tiba yang diajukan Soyu. Hyesoo menoleh pada Soyu, melihat Soyu yang bertanya tanpa menatapnya. “Apa yang sedang kau bicarakan?” tanya Hyesoo setelahnya.

.

“Kau tahu apa yang ingin aku bicarakan”, jawab Soyu.

.

“Aku tidak tahu, Kang Soyu” sanggah Hyesoo.

.

“Kau juga akan melakukan ini padaku?” tanya Soyu.

.

Hyesoo berdesis lalu tersenyum mendengar pertanyaan ambigu yang dilontarkan Soyu. Hyesoo kembali menoleh pada Soyu. Kini tubuhnya pun ikut menghadap pada Soyu. “Apa? Hhh… Seperti dugaanku… Ternyata ada [hal yang terjadi]. Baiklah. Apa yang ingin kau katakan padaku? Apa topik pembicaraanmu kali ini?” tanya Hyesoo lagi.

.

“Cho Kyuhyun”, jawab Soyu singkat.

.

Hyesoo menghela napas panjang, lalu memalingkan wajahnya lagi dari Soyu. “Hhh… Same oldSame old…” keluh Hyesoo.

.

“Dia patah hati kemarin, Hyesoo-ya. Dia menduga kau sudah menikah dengan Soohyuk dan mengira Jinu adalah anakmu”, kata Soyu.

.

“Aku tidak akan mencampuri urusannya, Kang Soyu. Dia memiliki kebebasan untuk menduga apapun”, balas Hyesoo.

.

Kini giliran Soyu yang menghela napas panjang setelah mendengar ucapan Hyesoo. “Kalian berdua benar-benar… Hm… Bagaimana aku mengatakannya? Aku harus memilih kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi kalian saat ini. Kata apa yang harus ku pilih? Sebentar…”

.

“Michyeo boyeo? Bulssanghae? Burhaenghae? Neomuhae? Jaesueobseo? (Terlihat gila? Kasihan? Malang? Keterlaluan? Menyebalkan?) Kata apa yang ingin kau gunakan?” tanya Hyesoo memberikan beberapa pilihan kata untuk digunakan oleh Soyu.

.

“Semuanya…” jawab Soyu.

.

“Mwo… Pertama-tama aku akan menerimanya. Tapi, kenapa? Aku seburuk itu?” tanya Hyesoo.

.

“Eo… Kau tidak tahu? Kau tersakiti karena kebodohan dan ketakutan Kyuhyun. Sementara Kyuhyun menyakiti dirinya karena sudah menyakitimu. Kau tersakiti oleh perkataan, sikap dan tindakan Kyuhyun. Dia menderita karena keraguan dan ketakutan dalam dirinya. Kenapa kalian berdua harus berakhir seperti ini?” ujar Soyu.

.

“Geulsse……” kata Hyesoo memberikan respon singkatnya.

.

“Sampai kapan kau akan mengujinya, Hyesoo-ya?” tanya Soyu kali ini.

.

“Aku tidak sedang mengujinya, Soyu-ya. Aku melakukan apa yang seharusnya ku lakukan. Kami sudah selesai. Semuanya sudah berakhir”, jawab Hyesoo.

.

“Apakah hatimu juga mengatakan hal yang sama?” tanya Soyu lagi.

.

“Aku sudah tidak menggunakan hatiku untuk hal seperti ini sejak hari terakhirku bertemu dengannya lima tahun yang lalu, Soyu-ya” kata Hyesoo.

.

“Kalau begitu gunakan lagi hatimu sekarang”, ujar Soyu memberikan sarannya.

.

Hyesoo pun sontak menoleh pada Soyu. Ia menatap wajah sahabatnya itu dengan tatapan datar tidak terbaca. Ada hal yang tersembunyi dibalik tatapannya. Namun tidak ada siapapun yang mampu mengetahui hal itu. “Untuk apa? Aku tidak membutuhkannya untuk memperbaiki apapun saat ini. Keadaan sudah jauh lebih baik. Aku baik-baik saja”, ujar Hyesoo setelahnya.

.

“Kau tidak baik-baik saja, Hyesoo-ya. Kau juga merasa lelah sepertinya. Kalian sama-sama sedang berlari dengan dua tujuan yang berbeda. Kau berlari dari rasa tersimpanmu, sedangkan Kyuhyun berlari untuk mengejarmu. Istirahat sebentar, Hyesoo-ya. Kau juga membutuhkan oksigen untuk bernapas. Kau hanya perlu berhenti sejenak untuk beristirahat. Biarkan dia memperbaiki semuanya”, kata Soyu sambil menjulurkan tangannya, seolah merasakan sentuhan angin di telapak tangannya.

.

“Aku tidak memiliki keyakinan untuk memberikan kesempatan apapun padanya, Soyu-ya” balas Hyesoo.

.

“Tentu saja. Akan sangat sulit untuk melakukan hal itu, Hyesoo-ya. Aku selalu berusaha mencoba untuk memahami keadaanmu. Meski aku tahu pada akhirnya tetap hanya kau yang mengerti isi hatimu. Tapi setidaknya berhenti berlari darinya sebentar saja. Aku tidak memintamu untuk melakukan apapun. Dia yang harus berusaha. Dia yang harus memperbaiki keadaan. Dia yang harus bertanggungjawab atas keraguan dan ketakutannya”, sambung Soyu.

.

“Aku sudah mencoba untuk mengerti segala keraguan, ketakutan, dan rasa bersalahnya, Soyu-ya. Tapi aku tetap menemukan diriku yang berpikir betapa tidak masuk akalnya semua tindakan yang dia lakukan padaku. Dia berubah menjadi seorang pengecut. Dia menyakitiku karena mencintaiku. Bagian mana dari kalimat itu yang masuk akal?” tanya Hyesoo.

.

“Dia juga tersiksa dengan ketakutan dan rasa bersalahnya itu, Hyesoo-ya. Mungkin dia terdengar konyol dan tidak masuk akal. Tapi mensyukuri semua kejadian buruk yang terjadi pada orang yang dicintainya, sama saja dengan berjalan dibelakang orang itu dalam jarak yang sangat dekat, sambil membawa pisau yang siap dia tusukan kapanpun. Maksudku adalah meski pisau itu dikendalikan dengan baik, tetap saja akan menusuk jika tersandung”, kata Soyu dengan menggunakan perumpamaan dalam ucapannya.

.

Hyesoo diam, tidak memberikan tanggapan apapun pada ucapan Soyu. Sudah terlalu banyak hal yang ia pikirkan. Pertemuannya kembali dengan Kyuhyun membuat ritme kehidupannya kembali bergejolak. Seperti sedang terombang-ambing diatas lautan, Hyesoo merasakan mual setiap kali emosi dalam dirinya mulai menunjukkan pergolakan akibat setiap kejadian yang melibatkan Kyuhyun didalamnya. Kyuhyun kembali membuat udara disekitarnya berkurang. Hingga sesak kembali menghentak dadanya. Kyuhyun kembali mencuri ketenangan dalam hari-harinya.

.

“Aku bertemu dengan psikiater yang menangani Cho Kyuhyun…” kata Soyu melanjutkan pembicaraannya. “Trauma yang dialami Kyuhyun di masa kecil tidak sesederhana yang semua orang pikirkan. Verbal bullying, tekanan, batasan, setumpuk aturan, setumpuk larangan, dan penjagaan ketat, membuatnya tumbuh dalam kesepian. Dia terisolasi dalam dunia yang diberikan oleh kedua orangtuanya, tanpa ada orang lain yang banyak berperan untuk berada disisinya. Dia mendapatkan semua hal yang dia inginkan dengan mudah. Namun dia tidak memiliki siapapun yang benar-benar melihatnya dengan pandangan terbuka. Selalu ada batasan. Selalu ada peringatan. Selalu ada hal lain dibalik semua hal. Hingga Kyuhyun mendapatkan perasaan istimewa dalam hatinya saat kau datang dalam kehidupannya”.

.

“Kyuhyun tidak pernah mempunyai lawan, Hyesoo-ya. Dia selalu menang, atau dibiarkan menang. Karena itu dia tidak ingin membagimu dengan siapapun. Dia menginginkanmu hanya untuk dirinya sendiri. Hingga dia menyadari keberadaan lawan pertama dalam hidupnya. Siwon oppa, yang merupakan kakak sepupu terdekatnya, yang pernah mencintai gadis yang juga dicintainya, yang telah memberikan kehidupan baginya, yang telah ku sakiti dengan kebodohanku”, sambung Soyu dengan ucapan yang sempat terhenti karena nama Siwon kembali terucap olehnya.

.

Soyu menghela napasnya, menguatkan diri untuk meneruskan pembicaraannya meski bayangan akan sosok Siwon membuat hatinya kembali merasakan kepedihan. “Bagi siapapun yang mendengar Kyuhyun, rasa bersalahnya akan terdengar sebagai omong kosong. Tapi jika kita memilih untuk melihat menggunakan sudut pandang Kyuhyun, maka ungkapan yang diutarakan Kyuhyun juga akan dengan mudah keluar dari bibir kita. ‘Aku sangat mencintaimu disaat aku mensyukuri setiap petaka yang menimpamu. Aku mensyukuri kematiannya disaat aku bahkan mendapatkan kehidupan baru karenanya‘. Adakah diantara kedua hal itu yang terdengar baik? Masuk akal? Tidak, Hyesoo-ya. Keduanya terdengar begitu jahat. ‘Dia pasti sudah gila…‘ Itulah ungkapan yang paling mungkin untuk dikatakan dalam menghadapi situasinya”, kata Soyu.

.

“Karena itu, Kyuhyun mengungkapkan isi hatinya melalui perbuatan buruk yang dia lakukan padamu”, sambung Soyu yang kini menoleh pada Hyesoo. “Dia seolah bicara melalui tindakannya. ‘Lihat aku! I’m the bad guy. Aku yang harus pergi. Tapi aku tahu kau pasti akan mengejarku dan membuatku kembali merengkuhmu. Karena aku tidak akan pernah mampu pergi darimu. Jika saat itu benar-benar terjadi, maka aku tidak akan pernah bisa pergi kemanapun dan tetap menjadi diriku yang jahat. Karena itu, aku akan membiarkanmu pergi dariku. Kau yang akan pergi, dengan cara apapun. Meski aku harus membuatmu membenciku‘. Kyuhyun menulis semua itu dalam sebuah kertas saat dia harus kembali berada di ruangan ICU karena tindakan nekatnya di Jepang. Itu yang sudah dilakukan Kyuhyun padamu, Hyesoo-ya. Semua hal ini tidak akan pernah mudah untuk dijelaskan dan dimengerti. Aku pun sudah menyerah berusaha untuk mengerti semua hal rumit ini. Aku hanya ingin mengatakan padamu, benci dia karena keraguannya, perkataan menyakitkan dan sikap jahatnya padamu lima tahun yang lalu. Tapi jangan membenci ketakutan dan rasa bersalahnya. Dia merasakan hal itu karena dia begitu mencintaimu, Hyesoo-ya. Dia tidak pernah mencintai siapapun sebesar ini”.

.

Keheningan kembali menemani keduanya. Hyesoo tetap tidak memberikan tanggapannya pada ucapan Soyu. Sikap Hyesoo menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Bahasa tubuh Hyesoo bahkan menunjukkan kewaspadaannya. Seolah ada sebuah tameng besar yang sedang melindungi Hyesoo dari berbagai emosi yang mungkin menyentuh permukaan kulitnya. Setelah berdiam diri tanpa respon apapun untuk waktu yang cukup lama, akhirnya Hyesoo mulai menunjukkan pergerakan. Hyesoo bergerak kikuk disamping Soyu. Matanya berkedip beberapa kali. Sesaat setelahnya, Hyesoo menoleh pada Soyu dengan keraguan yang menyelimutinya. Kemudian Hyesoo melakukan satu putaran lain, menghadap ke pintu masuk gedung rumah sakit.

.

“Aku harus ke ICU, Soyu-ya. Ada beberapa pasien yang harus ku periksa. Kita bertemu lagi setelah setengah atau satu jam”, kata Hyesoo.

.

“Baiklah…” jawab Soyu menyerah, tidak ingin memaksa Hyesoo untuk tetap berada disana dengan suasana hati yang tidak menentu. Hyesoo pun memberikan senyum tipisnya pada Soyu sebelum memutuskan untuk berjalan meninggalkan Soyu disana. “Hyesoo-ya?” Soyu memanggil Hyesoo yang baru saja melangkahkan langkah ketiganya.

.

Hyesoo menghentikan langkahnya, kemudian menoleh pada Soyu, “Hm?” tanya Hyesoo.

.

“Kau tidak marah padaku karena mengatakan hal ini, ‘kan?” tanya Soyu yang khawatir pada reaksi Hyesoo setelah ini.

.

“Tidak…” jawab Hyesoo sambil memberikan senyum tulusnya.

.

“Apapun keputusanmu selanjutnya, terima kasih… Karena mau mendengarkanku”, kata Soyu.

.

Hyesoo mengangguk pasti kemudian berbalik meneruskan langkahnya menuju ke dalam gedung. Hyesoo berjalan melalui koridor dengan langkah cepat. Ada sebuah desakan dalam dirinya yang tidak dapat ia mengerti. Seolah sesuatu ingin meledak dari dalam sana. Tiba-tiba Hyesoo merasa pertahanannya akan segera runtuh. Ia tidak sanggup lagi menahan gejolak yang begitu menyiksa dalam dadanya. Langkah Hyesoo semakin cepat. Ia berjalan terburu. Hyesoo pun berbelok menuju tangga darurat. Setelah menutup pintu dibelakangnya, tubuh Hyesoo jatuh ke permukaan lantai. Hyesoo berjongkok memelut kedua lututnya. Ia meletakkan dahinya diatas lututnya. Hyesoo semakin merasakan rasa tidak nyaman dalam dirinya. Air mata pun sontak menetes di pipinya, membawa gelombang kepedihan yang sudah lama tidak dirasakannya. Hyesoo menangis.  Air matanya mengalir dengan deras, diiringi dengan isakan yang tertahan dalam bibirnya. Siapapun yang mendengar isakannya, akan mengetahui dengan mudah seberapa besar kepedihan yang sedang dirasakan Hyesoo. Ia kembali tersiksa dengan perasaannya yang tidak menentu. Kebenciannya pada Kyuhyun begitu menyiksanya hingga membuatnya lemah. Kebencian yang tidak bisa benar-benar diungkapkannya selalu saja bersinggungan dengan perasaan yang belum bisa Hyesoo hilangkan sepenuhnya. Bahkan setelah limat tahun berlalu dan tertinggal dibelakangnya.

.

.

.

Kyuhyun’s POV

Sore hari di Shinsung Hospital

BGM: Kyuhyun – I loved a person ( 사람을 사랑했네)

.

Aku berjalan keluar dari gedung rumah sakit menuju taman yang berada tidak jauh dari pintu barat. Aku memasukkan kedua tanganku ke kedua saku celana. Angin masih berhembus dengan semilir, menyentuh permukaan kulitku yang meremang karena suhu dingin udara hari ini. Aku berjalan perlahan menyusuri jalan berbatu sepanjang taman. Aku tidak tahu kemana arah langkah kakiku menuju. Aku bahkan tidak benar-benar memiliki tujuan disetiap langkahku akhir-akhir ini. Selama beberapa tahun terakhir aku hanya memiliki satu tujuan. Namun aku tidak sedang dalam keadaan yang memungkinkan untuk berjalan menuju kesana. Donghae memintaku untuk berhenti sejenak, beristirahat, memberikan waktu pada Hyesoo. Sikap yang ditunjukkan Hyesoo kemarin pun sudah memberikan hentakan yang cukup kuat padaku. Hyesoo terlihat begitu tersiksa dengan keadaan yang sedang kami hadapi beberapa bulan terakhir. Hyesoo kembali tersakiti hanya dengan kehadiranku. Kepiluan yang Hyesoo rasakan begitu jelas tergambar diwajahnya. Karena itu, aku memang sudah seharusnya memikirkan kemungkinan yang bisa aku lakukan untuk meredakan kegundahan yang dirasakan Hyesoo. Dengan memberikan jarak, serta waktu sebanyak yang Hyesoo butuhkan. Aku pun terus berjalan menyusuri jalan setapak yang dibuat dengan batu-batuan alami. Sesekali aku mengalihkan pandanganku ke pemandangan taman yang bisa aku lihat disisi sebelah kananku.

.

Jangan membuat wajah sedih seperti itu

Aku akan baik-baik saja

Saat kau pergi, pergi saja

Jangan menoleh ke belakang

Aku mohon

.

Tiba-tiba langkah kakiku terhenti. Suara deritan pintu yang terbuka membuatku menoleh pada sumber suara. Seseorang keluar dari pintu yang hanya berjarak beberapa meter dihadapanku. Aku mengeluarkan kedua tanganku dari saku, membiarkannya menggantung disamping lipatan celanaku. Napasku tercekat, tertahan selama sepersekian detik sebelum akhirnya kembali mampu ku hembuskan dengan perlahan. Hyesoo berjalan keluar dengan hawa yang terasa begitu muram dimata siapapun yang mungkin melihatnya. Hyesoo berjalan dengan perlahan dengan wajah menengadah ke langit. Tubuhnya terlihat lunglai. Seolah sudah tidak ada lagi energi yang dapat membantunya menopang beban tubuhnya. Hyesoo pun menjatuhkan tubuhnya ke salah satu bangku di taman ini. Hyesoo bersandar pada badan bangku, lalu memejamkan matanya. Dadanya mengembang dan mengempis dengan teratur. Keningnya berkerut dalam. Sesaat setelahnya, Hyesoo menyentuhkan salah satu tangannya di kedua sisi pipinya, seolah sedang menyeka sesuatu yang menganggu disana. Aku hanya menduga satu hal, Hyesoo menangis. Dugaanku hampir menunjukkan kebenarannya saat helaan napas Hyesoo terlihat begitu berat.

.

Aku mengingatmu

Merindukanmu hanyalah kehidupan sehari-hari bagiku

Itu bukan apa-apa

Namun saat aku merindukanmu, aku tidak menutup mataku

Berjaga agar air mata yang sudah berkumpul tidak menetes

.

Seolah menyadari kehadiran seorang yang lain di tempat ini, Hyesoo sontak membuka matanya. Kemudian Hyesoo menoleh dengan perlahan ke arahku. Tatapan kami bertemu. Mataku bergerak sedikit melebar, tersentak dengan situasi yang sedang ku lihat. Mata Hyesoo terlihat begitu lelah. Masih ada genangan air mata di pelupuk matanya. Kerutan di kening Hyesoo menjadi semakin dalam. Tatapan kami tidak kunjung terputuskan. Seolah sedang bicara pada satu sama lain tanpa ada satupun kata yang terucap. Hyesoo mengutarakan kepedihan yang dirasakannya melalui tatapan pilu itu. Begitu banyak emosi yang terungkap dari tatapn sendu yang seolah sedang meremas jantungku dengan keras.

.

Aku mencintai seseorang

Aku merindukan seseorang

Dia telah pergi

Aku ingin tersenyum

Sehingga dia tidak bisa melihat keputusasaanku yang dalam

 

.

Aku yang semula berencana untuk menjaga jarak dari Hyesoo pun harus berakhir dengan ketidakmampuan yang kembali menghampiriku. Aku tidak sanggup hanya berdiri disini, menatap Hyesoo dari kejauhan, tanpa melakukan apapun. Disaat aku menyaksikannya dengan sangat jelas betapa sendunya suasana hati Hyesoo saat ini. Aku pun melupakan semua rencanaku untuk menjauh darinya. Aku berjalan mendekat pada Hyesoo. Kedua mataku menangkap air mata Hyesoo yang kembali menetes di pipinya, yang kemudian kembali diseka olehnya. Saat jarak kami sudah benar-benar dekat, aku segera duduk tepat di sebelah Hyesoo, lalu memberanikan diri untuk bergerak mendekat padanya. Aku menggelengkan kepalaku perlahan, memintanya untuk menghentikan tangisannya yang begitu memilukan. Hyesoo memejamkan matanya, membuat tetesan air mata kembali membasahi pipinya. Aku pun menyentuh wajah Hyesoo dengan kedua tanganku. Aku menghapus air mata Hyesoo dengan ibu jariku. Tapi air mata Hyesoo tetap menetes membasahi pipinya, menyentuh jari-jariku yang berada diwajahnya.

.

Jangan khawatirkan aku

Aku akan baik-baik saja

Hapuslah aku dari ingatanmu

 

.

Sesaat setelahnya, aku pun mendekatkan tubuhku dan wajahku pada Hyesoo. Aku mengecup pelan kedua mata Hyesoo, lalu turun menuju kedua pipinya untuk menghapus jejak tangis yang masih berada disana. Hingga aku menyentuhkan bibirku di bibir lembab Hyesoo. Mata Hyesoo masih terpejam menerima ciuman yang ku berikan padanya. Tidak ada reaksi apapun dari Hyesoo. Bahkan Hyesoo tidak menolakku, meski ia tidak menerimanya juga. Tapi tiba-tiba Hyesoo menunjukkan pergerakannya. Hyesoo membuka bibirnya, membuat ciumanku dibibirnya menjadi lebih dalam menyentuhnya. Kedua tangan Hyesoo bergerak menuju jas yang ku kenakan. Sebuah remasan keras dapat aku rasakan di kedua sisi jasku yang terbuka. Air mata kembali dirasakan menyentuh kulit kedua kami. Kali ini   air mataku yang menetes. Aku tidak bisa menahannya lagi. Rasa ini terlalu menyakitkan. Semua kepedihan yang Hyesoo rasakan seolah menjalar melalui sentuhan kulit kami, kemudian menyelubungi tubuhku. Luka yang kami rasakan seolah menyatu diudara. Memunculkan suasana pilu yang sangat menyesakkan. Hyesoo sontak membuka matanya, lalu menjauhkan dirinya dariku. Hyesoo menahan tubuhku dengan kedua tangannya yang berada di dadaku, menjaga jarak yang tidak terlalu jauh dariku. Tatapan matanya menghindariku. Hanya helaan napas lembut yang dapat ku dengar darinya. Lalu tanpa kata apapun setelahnya, Hyesoo bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan taman. Meninggalkanku yang menatap punggungnya menjauh.

.

Seseorang telah pergi,

Melihat tempat dimana aku ditinggalkan seorang diri

Aku tidak dapat bergerak

Aku takut bahuku yang bergetar karena menangis dapat terlihat olehnya

.

Aku dapat merasakannya. Luka yang Hyesoo rasakan begitu jelas membekas dalam dirinya. Bahkan sentuhannya ditubuhku terasa begitu memilukan. Aku melepas kepergiannya sekali lagi tanpa melakukan apapun. Aku membiarkannya pergi dariku tanpa menahannya. Aku tidak tahu apa yang sedang mempengaruhi pikiranku, sehingga aku membiarkannya pergi begitu saja. Aku hanya merasakan sakit yang tidak ku pahami sepeninggalnya. Seperti ada sebuah palu besar yang baru saja dilemparkan tepat ke jantungku. Begitu sakit, hingga membuat tubuhku meremang. Hyesoo begitu terluka. Aku kembali melukainya.

.

Haruskah aku merelakanmu yang begitu ku cintai, Hyesoo-ya?

.

.

.

.

TBC

Note:

Butuh helaan napas yang lain? Okay, bernapas readersnim… Bernapas…

Hello, readersnim!!! Bertemu lagi denganku yang masih membawa FF I’m walking towards you bersamaku. Kali ini sudah sampai part 13! Aku tidak tahu berapa waktu yang aku gunakan untuk menyelesaikan part 13 ini. Karena sepertinya aku merasa waktunya sangaaat lama. Well, pertama-tama alasannya karena aku sedang sakit. Aku pernah mengatakannya pada kalian, efek obat sangat berpengaruh pada inspirasi dan imaginasi seseorang. Aku juga kembali mengalami fase stuck, ditambah dengan ‘lelah mencari inspirasi’. Aku pun sampai pada fase dimana aku ingin segera menyelesaikan cerita di part ini alias dibuat THE END, tapi rasanya cerita akan jadi out of line kalau diselesaikan begitu saja. Akhirnya, seperti yang sudah kalian baca, aku berhasil menemukan letak TBC yang tepat untuk part ini. Sekali lagi maaf untuk jangka waktu update yang lama.

Well, bagaimana kisah dalam part 13 ini? Apakah cukup bisa membuat kalian merasakan emosi dalam alur part ini? Apa tanggapan kalian kali ini? Masihkah kalian merasakan kekecewaan pada sikap Kyuhyun? Atau sudah mulai terobati dengan sikap Kyuhyun di part ini? Beberapa kisah yang belum diketahui Hyesoo akhirnya terkuak dalam part ini. Hm… Bagaimana feelnya, readersnim? Dapatkah kalian merasakannya? Maafkan aku jika feel nya kurang sampai pada kalian. Aku sudah berusaha… *bow*

Dugaan tentang siapa Soohyuk bagi Hyesoo sudah sedikit terbuka. Mereka berteman, sempat berhubungan, namun pada akhirnya memutuskan untuk berhubungan sebatas teman. Tapi seperti pertanyaan Kyuhyun, adakah kemungkinan mereka akan berhubungan kembali? Karena sampai saat ini Hyesoo belum mengutarakan isi hatinya yang selalu disimpan dengan rapat. Ending part ini buatku sedikit menyakitkan. Kyuhyun mulai berpikir untuk melepas Hyesoo. Lagu yang ku pilih juga sangat menggambarkan kondisi Kyuhyun latar waktu itu… Aku sampai terbawa perasaan saat mendengarkan lagu itu. *peluk Kyuhyun karena suaranya yang indah*

Okay, aku sudah terlalu banyak berkata-kata. Keputusan apa yang akan dibuat Kyuhyun setelah ini? Tunggu di part selanjutnya!!! Kana pamit! Annyeonghigaseyo…

Advertisements

30 thoughts on “I’m walking towards you : Part 13

  1. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION – evilkyu0203

  2. pleasee kyuu jgn berpikir gituuu lgii… d saat org2 mulaii berhasil meyakinkannya… jgn pergii lgii… hyeaoo hanyaa butuh waktuuu.. waktuuu…

    Like

  3. Bikin perasaan campur aduk nih ,, semoga setelah mendengarkan penjelasan sooyoung dan soyu hyesoo sedikit demi sedikit bisa menerima kyuhyun kembali ,,

    Like

  4. meleleh baca part ini.
    semuanya terlalu menyakitkan dan menyedihkan. sampai kapan kyu dan hyesoo gini terus?
    moga part selanjutnya ada pencerahan.

    Like

  5. meleleh baca part ini.
    semuanya terlalu menyakitkan dan menyedihkan. sampai kapan kyu dan hyesoo gini terus?
    moga part selanjutnya ada pencerahan,

    Like

  6. Kyuuuuu ya ampuuunnnn! Mewek banget ternyata kyuhyun pernah hampir bunuh diri dan sempet koma.
    Jangan kyu, jangan nyerah duluuu.. Yakinin hyesoo terusss kyuuu..
    Hyesoo masih keras kepala banget ya ampun makin sedih T.T

    Like

  7. Saling mencintai tapi melukai dan tersakiti
    Emosinya campur aduk gregetannya bikin baper
    Hati hyesoo akan mulai melunak sedikit demi sedikit semoga aja
    Kasian juga ama kyuhyun
    Alasan yang diungkapkan soyu kehyesoo udah jelas banget bagaimana kesakitan dan kebodohan mengubah kyuhyun menyadarkannya dari kesalahan yang udah dibuat

    Like

  8. Ttp dpt emosi di part ini 😂 aku sampe nyesek baca nya…aku harus gmana lagi thor pokok nya daebak buat author yg bisa bikin feel anak org nano cem gini :v
    Dan di tunggu next chap nya thor buat ending nya jadi happy ending aja yyaaa #maksa

    Like

  9. Too sad,tragic love. Terlalu tersiksa lo mesti berpisah,tapi terlalu sakitlo mesti memaksa tetap bersama.akhirnya bisa memahami dilema yg dirasain kyu,g ingin melukai orang lain tapi g sanggup untuk terusbahagia sebagai orang jahat. Huh,,,, tarik napas dulu, yg penting jangan sampai sad ending y,,,,

    Like

  10. Sumveh ini ff ug bikin gua sakit bgt saat bacanya pengen marah tapi gmna itu pilihan hyunsoo dan kyuhyun dia cmn bisa berusaha dengan apa yg dia perjuangkan ke hyunsoo cumn hyunsoo kunci dri semuanya, jika hyunsoo memberi kesempatan maka semua mungkin akan berubah indah walau ga sekarang mungkin nanti jika waktunya sudah tiba

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s