I’m walking towards you : Part 12

Category: PG-15, Romance, Chapter, Sad

Cast:

Cho Kyuhyun, Lee Hyesoo (OC), Kang Soyu, Kim Jaejoong

Kim Ryeowook, Lee Donghae, Choi Sooyoung, Im Yoona, etc…

Disclaimer:

Annyeonghaseyo!!! “I’m walking towards you” kembali. Part 12 hadir dengan perdebatan antara Hyesoo dan Kyuhyun yang masih bersambung dari part 11 lalu. Apakah kalian sudah mempersiapkan hati untuk membaca part ini? Karena jalan yang harus dilalui Kyuhyun untuk membuat Hyesoo kembali padanya masih akan sangat berliku di part 12 ini. Apakah Kyuhyun akan berlutut di tempat umum seperti itu? Apakah Kyuhyun akan berhasil mendapatkan cintanya kembali? Apa alasan dari sikap Kyuhyun lima tahun yang lalu pada Hyesoo? Kalian akan menemukannya di part 12 ini!!!

Caution! Cast dalam FF ini juga akan cukup banyak. Entah hanya sebagai cameo atau sebagai peran pendukung. Karena itu, fokuslah wahai para readers-nim. FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasia tau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kasus penyakit, kondisi pasien, dan kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com

Aku tidak bosan untuk selalu berpesan, jadilah pembaca yang baik dan sopan. Biasakan untuk tidak bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Karena aku yakin para readers adalah orang-orang yang terpelajar dan mengerti sopan santun. Benar? Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 11

“Mereka kembali bertemu”.

“Dengan siapa?”

“Cho Kyuhyun”.

“Benarkah? Bagaimana bisa?”

“Donghae mengundang Cho Kyuhyun ke acara pertunangan”.

“Kyuhyun benar-benar datang? Ku kira dia tidak akan datang…”

“Kenapa Donghae harus mempertemukan mereka dalam acara itu? Kenapa dia tidak menggunakan waktu lain?”

“Kau benar. Seharusnya Donghae menunggu waktu yang tepat untuk mempertemukan mereka”.

————————-

“Ada aroma parfum pria di tubuhmu, jika kau tidak menyadarinya”.

“Aku menyadarinya”.

“Kalian tidur bersama?”

“Tapi, dengan siapa?”

“Kau benar-benar tidak ingat atau tidak menyadarinya?”

“Keduanya. Aku hanya ingat tadi kami sempat bicara”.

“Cho Kyuhyun. Hanya dia kemungkinannya”.

“Aku pikir aku bermimpi”.

“Tapi ternyata tidak karena aromanya ada di tubuhmu”.

————————

“Kau direktur yang merekomendasikanku untuk bekerja disini? Benar begitu, Cho Kyuhyun? Aku tidak menyangka kau sampai melakukan hal sejauh itu”.

“Aku? Bukan. Aku tidak pernah melakukan hal itu”.

“Sudahlah… Aku tidak ingin berdebat denganmu”.

“Hyesoo-ya, dengarkan aku. Bukan aku. Orang itu pasti Choi Sooyoung. Percayalah padaku”.

“Belum cukupkah perbuatanmu lima tahun yang lalu hingga kau harus susah payah merekrutku untuk bekerja disini? Agar kau dapat dengan mudah menghancurkanku lagi, begitu?”

“Aku tidak berbohong padamu. Percayalah padaku, Hyesoo-ya…”

“Naega eotteokhae neol mideo? Niga nal ireohke mandeureossneunde… Saenggakbwa… Gaeneunghae?”

————————-

“Aku bisa menjelaskan alasanku padamu, Lee Hyesoo. Ku mohon, bicara denganku sebentar saja”.

“Semua hal sudah berubah. Alasan itu hanya akan berguna jika kau mengatakannya lima tahun yang lalu”.

“Aku minta maaf, Hyesoo-ya. Maafkan aku…”

“Aku bilang jangan meminta maaf!!!”

“Lalu kata apa yang bisa aku katakan pada situasi seperti ini? Jika ada kata lain yang bisa membuatmu kembali padaku, maka beritahu aku! Apa yang harus aku katakan?”

“Kau tidak perlu mengatakan apapun”.

“Beri aku kesempatan terakhir, Hyesoo-ya. Aku menderita. Aku begitu membutuhkanmu”.

“Aku merasa sangat lega mendengar penderitaan yang kau rasakan”.

“Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan maafmu? Beritahu aku…”

————————-

.

.

.

I’m walking towards you : Part 12

.

.

Author’s POV

.

“Memohon. Berlutut”, kata Hyesoo dengan nada bicaranya yang dingin.

.

BGM: Bernard Park – Dirt

.

Mata Kyuhyun melebar. Ia tidak menyangka Hyesoo akan mengatakan hal itu. Seluruh saraf ditubuhnya terasa kaku, jantungnya seolah berhenti berdetak selama beberapa saat, dan paru-parunya seolah menolak untuk memberikan asupan oksigen ke otaknya. Hyesoo melepaskan genggaman tangan Kyuhyun di pergelangan tangannya. Tidak ada kata yang terucap dari bibir Hyesoo setelahnya. Keduanya hanya saling menatap. Hyesoo dengan tatapan dingin, menunggu Kyuhyun untuk bertindak. Sementara Kyuhyun dengan tatapan terkejut yang belum mereda dari matanya.

.

“Sekarang? Disini?” tanya Kyuhyun yang akhirnya dapat mengatakan sesuatu.

.

“Kenapa? Tidak bisa?” tanya Hyesoo.

.

“Hyesoo-ya, hal itu…… A-aku……” kata Kyuhyun dengan terbata.

.

“Lupakan jika kau tidak ingin melakukannya”, kata Hyesoo memotong kalimat tak terucap Kyuhyun.

.

Hyesoo berdesis dengan salah satu sudut bibirnya yang tertarik, membentuk smirk yang ditujukan pada Kyuhyun. Ia pun segera berbalik untuk meninggalkan tempat itu. Hyesoo tidak ingin menunggu terlalu lama hanya untuk melihat keraguan dimata Kyuhyun. Sudah terlalu banyak keraguan Kyuhyun yang ia lihat. Hyesoo tidak ingin melihatnya lagi. Hyesoo sudah muak dengan hal itu. Hyesoo melangkahkan kakinya untuk berjalan menjauhi Kyuhyun. Namun sekali lagi, tangan Hyesoo ditahan oleh Kyuhyun yang bisa meraihnya dengan cepat untuk menghentikan Hyesoo. Tentu saja. Kyuhyun tidak akan membiarkan Hyesoo pergi darinya. Meski dengan memiliki pendirian itu sama artinya dengan ia harus berusaha mengejar dan menahan Hyesoo agar tetap berada didekatnya lagi dan lagi.

.

“Aku akan melakukannya. Aku akan berlutut. Jangan pergi dariku…” kata Kyuhyun.

.

“Tidak perlu”, kata Hyesoo seraya berbalik menatap Kyuhyun. “Aku memintanya 1 menit yang lalu. Kau sudah kehilangan kesempatan itu”, sambung Hyesoo sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Kyuhyun. “Aku akan memberikan surat pengunduran diriku minggu ini beserta denda yang harus ku berikan karena tidak memenuhi kontrak kerja ku. Awalnya aku pikir aku bisa bertahan di rumah sakit ini. Tapi sepertinya kali ini aku salah”.

.

“Aku tidak akan menerimanya. Sampai kapanpun. Tidak akan pernah”, kata Kyuhyun dengan tatapan yang berubah dingin.

.

“Lepaskan aku”, kata Hyesoo sambil menepis tangan Kyuhyun.

.

Kali ini Hyesoo berhasil melepaskan diri dari Kyuhyun. Hyesoo berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumah sakit, tanpa menoleh sedikitpun lagi pada Kyuhyun. Hyesoo merasa begitu marah, namun ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Sikap yang ditunjukkan Kyuhyun padanya hampir membuat pertahanannya goyah. Hyesoo dapat melihat kesungguhan di mata Kyuhyun. Namun kebencian dihatinya sudah terlanjur menguasai akal sehatnya sebelum simpati memenuhi diri Hyesoo lebih jauh. Hyesoo berjalan melewati pintu utama gedung rumah sakit. Pandangannya hanya terfokus pada jalan dihadapannya. Ia tidak menyadari perubahan pada diri Kyuhyun diluar sana. Kyuhyun masih membeku, berdiri ditempatnya, mengatur napasnya yang memburu. Ada sebuah hentakan yang kembali dirasakan di dadanya. Kali ini Kyuhyun tidak ingin membiarkan hentakan itu melemahkannya.

.

.

.

Lantai 9 Shinsung Hospital

Ruangan Kyuhyun

.

Kyuhyun duduk di sofa ruangannya bersama Donghae dan Ryeowook. Setengah jam yang lalu, Ryeowook menemukan Kyuhyun yang bersandar di salah satu pilar rumah sakit. Keringat membasahi tubuhnya, napasnya terdengar berat, dan wajahnya terlihat begitu pucat. Ryeowook segera menghubungi Donghae sesaat setelah ia menyadari kondisi Kyuhyun yang mengkhawatirkan itu. Ryeowook pun membantu Kyuhyun untuk berjalan senatural mungkin masuk ke dalam gedung, agar tidak ada seorang pun mencurigai keadaan Kyuhyun. Tubuh Kyuhyun sangat lemah saat tiba di ruangannya. Tidak lama setelahnya, Donghae datang menemui mereka. Namun saat Donghae dan Ryeowook memeriksa keadaan Kyuhyun di ruangannya, tidak ada hal aneh yang didapatkan dari hasil pemeriksaan Kyuhyun. Mereka pun menyimpulkan bahwa kondisi Kyuhyun terjadi karena kelelahan dan stress yang dialaminya. Donghae dan Ryeowook sudah sangat familiar dengan kondisi itu. Sudah lebih dari lima tahun Kyuhyun berada dalam kondisi terpuruknya itu. Kondisinya justru sedang membaik akhir-akhir ini. Hanya saja usahanya untuk mengejar Hyesoo membuat kondisinya melemah. Karena Kyuhyun harus memaksakan dirinya untuk berlari mengejar Hyesoo, meski ia sangat mengetahui keadaannya yang sedang tidak cukup baik.

.

Hanya berselang 15 menit setelah Kyuhyun mengirimkan sebuah pesan padanya, Jaejoong sudah muncul di ruangan itu dengan sikap tenang khas nya. Selama lima tahun terakhir, keempat pria itu selalu menghabiskan waktu senggang mereka bersama. Jaejoong, Donghae dan Ryeowook bahkan menjadi pasukan siaga saat Kyuhyun mengabaikan semua hal untuk mencari Hyesoo. Ketiganya juga yang selalu siap untuk memarahi Kyuhyun saat tindakannya sudah terlalu membahayakan dirinya sendiri. Mereka sudah melupakan semua hal yang terjadi di masa lalu dan memutuskan untuk saling berdamai. Bahkan Jaejoong sudah melupakan kemarahan yang ia rasakan karena kematian kakaknya bertahun-tahun yang lalu. Jaejoong merasa tidak memiliki hak untuk menyalahkan Kyuhyun atas kejadian yang menimpa kakaknya itu. Terlebih dengan kenyataan bahwa Jaejoong dan Sooyoung sedang menjalin sebuah hubungan. Bermusuhan dengan Kyuhyun akan membuat keadaan menjadi rumit. Jaejoong yang sempat berdiri dengan tatapan datarnya akhirnya masuk ke ruangan Kyuhyun masih dengan pakaian operasi berwarna biru dan jubah putihnya, sambil memegang sebotol air mineral ditangannya. Jaejoong melempar botol itu pada Kyuhyun dengan cepat. Beruntung Kyuhyun masih bisa sigap menerima botol itu dalam kondisinya yang tidak terlalu baik itu. Karena jika tidak, maka botol itu pasti akan menghantam kuat tubuh Kyuhyun tepat di dadanya. Jika hal itu benar-benar terjadi, Jaejoong tidak akan bisa lolos dari kejaran kedua dokter bedah jantung yang siap menghabisinya itu.

.

“Jadi, apa yang terjadi? Bagaimana kemajuannya?” tanya Jaejoong sambil duduk di salah satu sisi sofa yang kosong.

.

“Tidak ada kemajuan berarti. Hyesoo sangat membenciku. Dia tidak akan memaafkanku”, jawab Kyuhyun.

.

“Dan kau akan menyerah? Begitu saja?” tanya Jaejoong lagi.

.

“Tidak mungkin. Aku tidak akan menyerah. Aku tidak ingin… Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya”, kata Kyuhyun.

.

“Lalu apa yang membuatmu terlihat lesu seperti ini? Sulit untuk memenangkan hati Hyesoo kembali? Hyesoo selalu menolakmu? Perkataan Hyesoo menyakitimu? Bukankah selama ini kau sudah mempersiapkan diri untuk menerima balasan terburuk dari Hyesoo? Seharusnya mentalmu tidak jatuh dengan mudah”, kata Donghae dengan kemampuan bicara cepatnya.

.

“Memangnya apa yang Hyesoo katakan kali ini pada sunbae?” tanya Ryeowook setelah menyesap ice americano nya.

.

“Dia memintaku memohon……dan berlutut”, jawab Kyuhyun sambil menyandarkan kepalanya di kursi.

.

“Dan sunbae tidak melakukannya?” tanya Ryeowook dengan nada bicara yang meninggi.

.

“Jangan katakan……” kata Donghae menimpali, menduga dengan kalimat menggantungnya.

.

“Aku hanya ragu selama beberapa detik”, kata Kyuhyun yang sudah kembali duduk tegak di sofa nya, mencoba menjelaskan keadaannya saat itu.

.

“Mwoya… Kenapa kau tidak melakukannya? Apakah hal itu sulit untuk dilakukan?” tanya Jaejoong.

.

“Aku tidak tahu mengapa hatiku meragu saat mendengar perintah Hyesoo. Aku terkejut. Aku tidak pernah menyangka Hyesoo yang ada dalam ingatanku akan berubah menjadi seperti itu”, kata Kyuhyun.

.

“Tentu saja dia akan berubah. Kau tahu benar bahwa semua perubahan dalam diri Hyesoo adalah akibat dari perbuatanmu. Kau sudah tidak memiliki kesempatan untuk meragu, Cho Kyuhyun. Yang perlu kau lakukan saat ini adalah meletakkan harga dirimu sebentar saja. Kau cukup menjatuhkan kedua lututmu dilantai. Seperti ini”, kata Donghae yang menyontohkan posisi berlututnya di hadapan Kyuhyun. “Kau tidak bisa melakukan hal semudah ini?”

.

“Sunbae hanya perlu melakukan hal itu dan memohon padanya. Hah… Aku tidak percaya ini. Ada apa denganmu, sunbae? Apakah sunbae benar-benar mencintainya?” tanya Ryeowook.

.

“Tentu saja, inma! Hyesoo adalah wanita pertama dan terakhir yang aku cintai dalam hidupku”, seru Kyuhyun.

.

“Lalu kenapa kau meragu? Jika Hyesoo memintamu untuk berlutut maka berlututlah. Jika dia ingin kau berlari mengelilingi sungai Han maka berlarilah. Bahkan jika dia ingin kau melompat dari Namsan tower maka melompatlah. Lakukan apapun untuk kembali mendapatkannya”, sambung Jaejoong.

.

“Walaupun sangat tidak mungkin baginya untuk berlari”, kata Ryeowook disela pembicaraan mereka dengan suara pelan.

.

“Dia memintaku untuk berlutut di koridor bangsal rumah sakit”, kata Kyuhyun dengan suara datarnya.

.

“Karena itu kau meragu? Ch… Michin nom… Jika dia memintamu berlutut di rumah sakit dimana kau adalah direkturnya, lalu kenapa? Kau malu? Seharusnya kau bahkan bisa berlutut padanya dipusat jalan Apgujeong sekalipun. Kenapa kau tidak bisa melakukan hal itu? Aku bahkan berlutut pada Sooyoung di hadapan orang tuaku. Apa kau yakin kau benar-benar mencintai Hyesoo dan ingin dia kembali padamu?” kata Jaejoong.

.

“Tentu saja. Selama lima tahun aku tidak pernah berhenti mencarinya. Sejak Hyesoo kembali pun aku selalu berusaha meyakinkannya”, jawab Kyuhyun.

.

“Kalau begitu kau tidak memiliki kesempatan sedikitpun untuk meragu, Cho Kyuhyun. Kau harus terus mengejarnya. Bahkan disaat kau merasa sudah tidak mampu lagi”, kata Jaejoong.

.

“Kau melakukannya, Kim Jaejoong?” tanya Donghae yang masih terkejut dengan pernyataan Jaejoong, membicarakan hal diluar topik utama pembicaraan mereka.

.

“Benarkah, sunbae?” tanya Ryeowook yang juga terkejut dengan pernyataan Jaejoong, mengesampingkan sejenak permasalahan Kyuhyun.

.

“Tentu saja. Kau pikir akan semudah itu mendapatkan Sooyoung setelah apa yang menimpa kakak laki-lakinya? Sooyoung juga sangat membenciku. Aku meletakkan harga diriku saat meminta maaf padanya. Aku melakukannya lagi saat memintanya menjadi kekasihku. Aku akan melakukan apapun yang bisa ku lakukan. Aku harus meyakinkannya atas kesungguhanku”, kata Jaejoong menjelaskan.

.

“Bagaimana dengan Kang Soyu?” tanya Donghae.

.

“Sooyoung masih belum bisa memaafkan Soyu sepenuhnya. Sooyoung hanya bisa berada disekitar Soyu jika aku bersamanya”, jawab Jaejoong.

.

“Sunbae benar-benar keren…” kata Ryeowook memuji Jaejoong. “Tapi… Setelah aku memikirkannya kembali, aku rasa Hyesoo sengaja melakukan hal itu pada Kyuhyun sunbae”, sambung Ryeowook yang kembali pada permasalahan Kyuhyun.

.

“Apa maksudmu?” tanya Donghae yang tidak mengerti dengan ucapan Ryeowook.

.

“Hyesoo menyadari situasi diantara mereka saat itu. Hyesoo tahu benar bahwa hal itu tidak akan dengan mudah dilakukan oleh Kyuhyun sunbae. Karena itu, Hyesoo meminta sunbae untuk berlutut di keramaian. Jika Hyesoo bersungguh-sungguh ingin memaafkan sunbae, maka Hyesoo pasti akan menunggu hingga sunbae benar-benar berlutut di hadapannya. Dia tidak akan langsung pergi setelah 1 menit saja”, kata Ryeowook mengatakan analisanya.

.

“Kau benar… Hyesoo tidak bersungguh-sungguh ingin memaafkanku semudah itu”, kata Kyuhyun setuju dengan ucapan Ryeowook.

.

“Aku hanya bisa menyemangatimu. Seperti yang sudah kau sadari, Hyesoo membencimu. Jika kau memutuskan untuk tidak menyerah, maka kau akan menghadapi hari-hari yang lebih sulit dari ini. Kau akan menerima perlakuan yang lebih buruk dari Hyesoo. Kau pun tidak bisa menggantungkan harapan yang terlalu tinggi. Tidak ada satupun diantara kita yang mengetahui isi hati Hyesoo. Bahkan Lee Donghae pun tidak”, kata Jaejoong sebelum menenggak air di botol air mineral ditangannya.

.

“Jaejoong benar. Hyesoo cukup sulit untuk dimengerti selama beberapa tahun terakhir. Dia sedikit menutup diri dari orang lain. Cheer up, dude! Kau tidak diijinkan untuk ragu dan takut dalam situasi ini. Hyesoo tidak akan mudah untuk dihadapi”, sambung Donghae.

.

“Lakukan apapun yang Hyesoo minta, sunbae. Aku hanya meyakini satu hal. Hyesoo tidak akan memintamu melakukan hal yang buruk. Karena meski Hyesoo begitu marah dan membencimu, aku tahu dia juga masih mencintaimu”, kata Ryeowook setelahnya.

.

“Aku juga mempercayai hal itu…” kata Kyuhyun.

.

BGM: Jun.K & Baek Ah Yeon – Don’t Go

.

Kyuhyun kembali menyandarkan tubuh dan kepalanya ke sofa, kemudian memejamkan mata. Untuk kesekian kalinya, ia merasakan penyesalan atas tindakan bodohnya pada Hyesoo. Jaejoong dan Donghae mengatakan poin utama dari permasalahan itu. Kyuhyun tidak diijinkan untuk meragu disaat seperti ini. Semestinya Kyuhyun melakukan semua hal yang mampu ia lakukan untuk mendapatkan pengampunan dari Hyesoo. Kyuhyun menghela napas panjang setelahnya. Rasa kebas di tangannya sudah menghilang sejak beberapa saat yang lalu. Ia juga sudah lebih merasakan ketenangan dalam dirinya.

.

.

.

Satu minggu kemudian

Shinsung Hospital

.

Hyesoo kembali bertugas setelah mendapatkan tiga hari tanpa jadwalnya, karena dokter Lee Jinki yang menggantikan tugasnya selama 72 jam kemarin. Namun, dalam tiga hari istirahatnya, Hyesoo hanya bisa menikmati 30 jam penuh untuk beristirahat. Karena setelahnya, Hyesoo mendapatkan sebuah panggilan telepon dari Jaejoong. Meski Hyesoo tidak diminta untuk datang ke rumah sakit, tapi Jaejoong memberikan sebuah kabar yang membuat Hyesoo lelah bahkan sebelum melakukan apapun.

.

Profesor Hyun memberikan tugas pada kau, Soyu, Ryeowook dan Jinki untuk menjadi supervisor bagi para intern yang baru saja mendapatkan jadwal di UGD minggu ini. Berikut dengan empat orang residen bedah saraf tahun pertama yang berada dibawah pengawasanku. Kalian berdua juga akan menjadi mentor mereka”, kata Jaejoong hari itu.

.

Hyesoo sempat terkejut dengan tugas yang diberikan Jaejoong secara tiba-tiba itu padanya. Hyesoo tidak bermaksud menolak, hanya saja Hyesoo merasa belum saatnya ia mendapatkan tugas itu. Mengingat Hyesoo baru bekerja di rumah sakit itu selama beberapa bulan saja. Namun kepala bagian unit gawat darurat dan bedah saraf sudah memilihnya untuk melakukan pekerjaan itu disamping pekerjaan utamanya. Hyesoo tidak memiliki pilihan lain untuk dilakukan. Beruntung, ketiga rekannya itu sangat mengerti kondisi Hyesoo yang belum terlalu familiar dengan keadaan di rumah sakit. Karena itu, ketiganya membuat penawaran pada Hyesoo. Mereka akan mengambil alih tugas sebagai supervisor para intern tanpa banyak melibatkan Hyesoo. Soyu, Ryeowook dan Jinki hanya akan memberikan tugas sebagai mentor para residen bedah saraf tahun pertama pada Hyesoo. Namun dihari yang sama saat Hyesoo kembali dari tiga hari istirahatnya, sebuah permintaan datang dari Soyu yang meneleponnya saat matahari belum menampakkan diri di langit Seoul pagi ini.

.

Hyesoo-ya… Kami butuh bantuanmu… Aku dan Ryeowook memiliki beberapa jadwal operasi yang cukup penting minggu ini. Sementara Jinki off selama dua puluh empat jam. Bisakah kau mengambil alih seluruh tugas mengawasi para intern itu? Aku mohon… Beberapa hari saja…” kata Soyu pagi itu.

.

Tentu saja Hyesoo tidak dapat menolak permintaan rekan yang sudah menjadi sahabatnya selama beberapa tahun terakhir itu. Hyesoo tidak dapat menghindari tugas yang sejak awal memang sudah diberikan padanya. Karena cepat atau lambat, meski Hyesoo menghindari tugas itu, ia akan tetap melakukannya suatu saat nanti. Akhirnya kesempatan itu tiba hari itu. Disaat ia baru saja kembali dari tiga hari tanpa pekerjaannya. Disaat tidak ada yang bisa membantunya. Seperti permintaan Soyu, Hyesoo datang ke UGD. Meski sebenarnya Hyesoo tidak perlu datang ke UGD karena tidak ada kasus yang perlu ditanganinya, Hyesoo tetap melakukan visit ke UGD untuk mengawasi para intern dan residen yang sedang bertugas disana. Hyesoo melakukannya selama beberapa hari. Karena bahkan setelah kembalinya Jinki dari hari off nya, Jinki memiliki kesibukan lain di bangsal saraf tempatnya bertugas. Hingga tibalah sebuah hari yang tidak pernah dibayangkan oleh para intern. Hyesoo menemukan kesalahan yang dilakukan oleh para intern selama beberapa hari pengawasannya. Hari itu, Hyesoo menemukan sebuah kesalahan lain yang akhirnya membuat Hyesoo memutuskan untuk melakukan sesuatu. Hyesoo berdiri dari tempatnya duduk, lalu menghampiri salah seorang perawat yang sedang bertugas.

.

“Perawat Jung, Bolehkah aku meminta bantuanmu?” tanya Hyesoo sambil memberikan sebuah senyuman tulus.

.

“Ne, tentu saja dokter Lee”, jawab perawat Jung.

.

Kemudian Hyesoo menoleh pada para intern yang sedang memeriksa pasien di UGD. Perawat Jung pun menoleh mengikuti arah pandang Hyesoo. Lalu Hyesoo menunjuk para intern sebelum kembali menatap perawat Jung. “Aku tunggu diruanganku”, kata Hyesoo setelahnya.

.

“Siapa yang ingin anda panggil, dokter?” tanya perawat Jung memastikan.

.

“Semua. Aku mohon bantuanmu. Terima kasih sebelumnya”, kata Hyesoo yang segera berlalu menuju pintu samping UGD.

.

“Baik, dokter”, jawab perawat Jung.

.

.

.

Lantai 2 Shinsung Hospital

Ruangan Hyesoo

.

Lima orang intern berdiri membentuk dua baris dengan perasaan gugup. Perasaan itu terlihat sangat jelas diwajah Yook Sungjae selaku ketua dari kelompok itu. Ia bahkan menghela napas panjang beberapa kali. Ini adalah kali pertama bagi mereka menemui Hyesoo. Selama beberapa hari mereka hanya bertemu dengan Soyu, Ryeowook dan Jinki. Mereka sempat bertanya pada para residen tentang kepribadian Hyesoo sebelumnya. Jawaban yang mereka dapatkan hampir sama satu dengan yang lainnya. Dokter Lee Hyesoo adalah seorang dokter yang baik, ramah, santai, namun tegas terhadap pekerjaan yang dilakukan. Dua dari empat residen bahkan mengaku pernah mendapat teguran dari Hyesoo karena melakukan sedikit kesalahan saat menghadapi pasien di ruang operasi. Namun mereka mengatakan bahwa Hyesoo tidak pernah membentak mereka dengan nada bicara tinggi seperti yang pernah dilakukan Soyu dan Ryeowook pada mereka.

.

Para residen juga menambahkan, banyak residen dan intern yang mengenal dokter Lee Jinki yang ramah, namun departemen bedah saraf masih memiliki dokter Lee Hyesoo dengan sifat dan sikap yang serupa. Tapi kenyataan itu tetap tidak memberikan ketenangan bagi para intern yang menunggu dengan ketegangan dan keheningan di ruangan yang sunyi itu. Hingga suara deritan pintu menyadarkan mereka dari pikiran masing-masing. Hyesoo masuk ke ruangan yang berhawa tegang itu dengan tenang. Hyesoo yang menyadari ketegangan diantara para intern hanya tersenyum tipis. Sesaat setelah masuk ke ruangannya, Hyesoo berbalik menatap para intern yang tersentak karena gerakan tiba-tiba Hyesoo.

.

“Apa yang kalian lakukan? Kenapa tidak duduk?” tanya Hyesoo sambil menunjuk sofa disisi kirinya.

.

“Aniyo. Gwaenchanseubnida, seonsaengnim… (Tidak. [Kami] baik-baik saja, dokter…” jawab Sungjae.

.

“Baiklah… Ini adalah kali pertama kalian bertemu denganku, bukan?” tanya Hyesoo yang dijawab dengan suara pelan para intern dan sebuah anggukkan dari masing-masing kepala. “Aku Lee Hyesoo, dokter neurosurgery yang baru bergabung selama beberapa bulan di rumah sakit ini. Aku diberikan tugas untuk menjadi supervisor kalian dan mentor bagi para residen”, kata Hyesoo mengawali salam perkenalannya. “Meski kalian menyembunyikannya, aku tahu kalian sudah bertanya banyak hal pada para residen. ‘Siapa Lee Hyesoo? Bagaimana karakteristiknya? Antagonis atau protagonist?’ Kalian harus menemukan jawaban atas pertanyaan kalian sendiri, meski apapun yang telah dikatakan oleh senior kalian. Atas kesepakatan yang telah kami buat, aku dan dokter Kim seharusnya lebih meluangkan waktu kami bagi para residen. Tapi, karena dokter Kang Soyu, dokter Kim Ryeowook, dan dokter Lee Jinki sedang berhalangan selama beberapa hari, maka selama satu minggu terakhir akulah yang mengambil alih tugas sebagai supervisor kalian. Well, aku selesai dengan perkenalanku. Sekarang giliran kalian. Sebutkan nama kalian satu persatu dengan jelas”, kata Hyesoo sambil berjalan ke belakang mejanya.

.

“Annyeonghaseyo, Yook Sungjae ibnida, ketua dari kelompok ini. Jal butakdeuribnida (Mohon bimbingan anda)”, kata Sungjae mengawali perkenalan dirinya, dijawab dengan anggukkan dari Hyesoo yang sedang memegang beberapa lembar kertas ditangannya.

.

“Oh Sehun ibnida. Jal butakdeuribnida”, sambung Sehun yang berdiri disebelah Sungjae.

.

“Jung Yerin ibnida. Jal butakdeuribnida”.

.

“Goo Junhui ibnida. Jal butakdeuribnida”.

.

“Kang Seulgi ibnida. Jal butakdeuribnida…”

.

“O! Han myeong eobsne… Pogihaesseo? (O! Satu orang tidak ada… [Dia] sudah menyerah?)” kata Hyesoo yang meletakkan kertas ditangannya, lalu mengarahkan mouse untuk membuka file di komputernya.

.

“Anieyo, seonsaengnim” jawab Sungjae dengan nada gugupnya.

.

“Jadi? Menurut jadwal yang ku lihat hari ini, kalian tidak memiliki hari off. Dimana dia? Memeriksa pasien? Ikut ambulans merujuk pasien? Dirumah? Makan siang? Sakit? Tidur? Berlibur?” tanya Hyesoo dengan santai namun menggunakan nada bicara yang mengintimidasi, masih sambil memeriksa komputernya.

.

Tidak ada jawaban satupun yang keluar dari mulut para intern, bahkan setelah keheningan selama beberapa saat. Akhirnya Hyesoo menoleh pada mereka, menatap mereka satu persatu. Beberapa diantara mereka menundukkan kepalanya. “Mollane… (ternyata kalian tidak tahu…)” kata Hyesoo setelahnya. “Baiklah. Aku akan melakukan visit pada tiga orang pasien di ICU. Saat aku kembali, aku ingin ada enam kepala di hadapanku”, sambung Hyesoo sambil bangkit berdiri. “Jika tidak, silahkan kembali ke rumah kalian masing-masing. Dan jangan kembali lagi kesini besok. Arassji?”

.

“Ne, kami mengerti”, jawab kelima intern bersamaan.

.

“Lalu? Apa yang kalian tunggu? Salju? Move!” perintah Hyesoo.

.

Para intern pun keluar dari ruangan Hyesoo satu persatu. Ketegangan masih menyertai mereka bahkan setelah Hyesoo memerintahkan mereka untuk keluar. Hyesoo menatap kepergian mereka, hingga punggung intern terakhir tidak lagi tertangkap oleh matanya. Senyum Hyesoo mengembang saat matanya menangkap sosok adiknya yang ternyata sudah menunggu sejak beberapa menit yang lalu di depan ruangannya.

.

“Eonni!” panggil Hyeri sambil melambaikan tangannya dan tersenyum lebar pada Hyesoo.

.

“Apa kau lakukan diluar? Masuklah…” kata Hyesoo yang juga tersenyum lebar pada Hyeri.

.

“Eo…” jawab Hyeri yang segera masuk ke ruangan Hyesoo lalu menutup pintu. “Aku tidak tahu jika eonni bisa semenakutkan itu”, sambung Hyeri yang kemudian duduk di sofa.

.

“Aku? Kenapa kau mengatakan itu?” tanya Hyesoo sambil mengambil beberapa berkas di meja.

.

“Eo… Tadi aku mendengar pembicaraan eonni dengan para intern malang itu. Yah… Kharisma eonni……” Hyeri memberikan jeda pada ucapannya dengan bertepuk tangan. “Eonni sangat keren”.

.

“Hhh… Kau baru mengetahuinya?” tanya Hyesoo dengan nada bergurau. “By the way, kau datang untuk menemui Ryeowook?”

.

“Eo… Oppa sedang membersihkan diri setelah operasi”, jawab Hyeri.

.

“Syukurlah… Dia masih bisa memberikan waktunya padamu. Dia sangat sibuk akhir-akhir ini. Bersikap baiklah padanya, Lee Hyeri” kata Hyesoo memperingati Hyeri dengan nada lembut khas seorang kakak.

.

“Ne…” jawab Hyeri dengan riang. “Kalau begitu aku akan menunggu di ruangannya saja eonni. Tadi aku dengar eonni harus melakukan visite ke ruang ICU. Kita bertemu lagi di rumah”.

.

“Baiklah. Kita bertemu di rumah”, balas Hyesoo.

.

.

.

Satu jam kemudian

Ruangan Hyesoo

.

Hyesoo sudah kembali dari ICU setelah memeriksa beberapa pasiennya disana. Ia kembali terpaku pada layar komputernya, memeriksa data pasien baru yang harus ditanganinya. Sesekali ia meraih ponsel yang berada tidak jauh dari jangkauannya untuk memeriksa pesan yang masuk. Meski terkadang pesan yang masuk hanya berasal dari Yoona, Sooyoung atau Sunny, Hyesoo tetap memeriksanya. Ia berjaga-jaga supaya pesan dari UGD tidak terlewat olehnya. Hingga ketukan di pintu ruangannya mengalihkan perhatiannya. Hyesoo menutup dokumen yang sedang dilihatnya dengan cepat, kemudian merapikan berlembar-lembar kertas yang ada di mejanya.

.

“Silahkan masuk!” kata Hyesoo setelahnya.

.

Para intern masuk satu persatu, kembali membentuk dua baris seperti yang mereka lakukan satu jam yang lalu. Kali ini Hyesoo tidak memberikan senyum tipisnya. Hanya ada ekspresi datar diwajahnya dan ketenangan yang justru semakin membuat para intern itu gugup berdiri dihadapan Hyesoo.

.

“Kami sudah lengkap, seonsaengnim” kata Yook Sungjae.

.

“Aku sudah melihatnya”, kata Hyesoo yang mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang bergetar.

.

“Maaf atas keterlambatan kami”, kata Seulgi, mewakili yang lainnya.

.

“Baiklah, kita mulai sekarang?” kata Hyesoo yang segera bangkit berdiri sambil meraih berkas di mejanya. Hyesoo berjalan memutar, lalu bersandar di mejanya, menghadap para intern yang semakin tegang dihadapannya. “Pasien Kang Jin Moo. Usia 14 tahun. Datang ke UGD mengeluh sakit kepala, pusing, mual dan muntah. Tanpa melakukan pemeriksaan CT kalian mendiagnosisnya dengan gastritis suspect typhoid. Lalu mempersilahkannya pulang ke rumah. Benar?”

.

Tidak ada jawaban atas pertanyaan Hyesoo. Kesunyian lantas mengisi setiap sudut ruangan itu, mengundang desis tawa dari Hyesoo yang menyaksikannya. Para intern tertunduk dihadapan Hyesoo, tidak memiliki keberanian untuk menatap langsung wajah Hyesoo yang bahkan tidak membentak mereka. Hyesoo pun menunggu selama beberapa saat untuk mendengarkan jawaban mereka. Namun bahkan sampai satu menit berlalu, tidak ada satupun yang menjawabnya.

.

“Apakah kalian patung? Tidak ada jawaban?” tanya Hyesoo dengan nada bicaranya yang datar.

.

“Ne, seonsaengnim” jawab tiga orang intern, Sehun, Seulgi dan Yerin yang menjawab dengan serentak.

.

“Ah… Ternyata kalian bertiga…” kata Hyesoo memberikan tanggapannya. “Setelah mempersilahkan pasien itu pulang, kalian pergi kemana?” tanya Hyesoo setelahnya.

.

“Kami ke ruang op untuk menyaksikan operasi yang dilakukan dokter Kim”, jawab Sehun.

.

“Benarkah? Operasi apa?” tanya Hyesoo lagi.

.

“CABG (coronary artery bypass grafting)”, jawab Yerin kali ini.

.

“Operasinya menarik?” tanya Hyesoo.

.

“Ne? Ne… Kami mendapatkan banyak ilmu dari operasi itu, seonsaengnim”, jawab Sehun.

.

“Ah… Begitu?” kata Hyesoo menanggapi. “Lalu… bagaimana jika aku mengatakan bahwa pasien Kang Jin Moo muntah dan jatuh pingsan hanya 8 menit setelah kalian mempersilahkannya pulang dan meninggalkannya, hingga dokter residen Do Kyungsoo harus melakukan pemeriksaan ulang padanya?”

.

“Ne? Benarkah, seonsaengnim? Ap…apa yang terjadi pada pasien itu?” tanya Sehun dengan nada gugup.

.

“Kalian pikir dengan keluhan ringan seperti itu maka kalian bisa mendiagnosanya dengan mudah juga? Dia mengeluh sakit kepala dan muntah!” seru Hyesoo sambil membanting berkas ditangannya ke meja. “Apakah kalian menanyakan frekuensi muntahnya? Bagaimana dengan penyebab sakit kepalanya? Berapa skala nyerinya? Dimana lokasi sakit di kepalanya? Pasien juga mengeluhkan mual maka kalian mendiagnosanya dengan Gastritis. Kalian bercanda? Kenapa tidak melakukan CT?!” tanya Hyesoo berturut-turut dengan nada yang mulai meninggi.

.

“Jeosonghabnida, seonsaengnim” kata Sehun, Seulgi dan Yerin bersamaan.

.

“CABG lebih menarik sehingga kalian hampir membiarkan pasien dengan cidera kepala berat pulang tanpa mengetahui cidera yang dialaminya. Hebat sekali kalian… Pasien dipukul dengan tongkal baseball yang terbuat dari besi oleh seniornya di sekolah. Lalu kepalanya dibenturkan ke tembok. Ada tekanan dari dalam kepalanya sehingga pasien muntah. Apa kalian melakukan anamnesis tentang hal itu? Kalian tentu tidak mengetahui hal itu karena kalian bahkan tidak menanyakannya”, kata Hyesoo menjelaskan kondisi pasien yang sesungguhnya. “Apakah kalian datang ke rumah sakit dengan kepala yang berisi? Kalian pikir dokter residen tahun pertama seperti Do Kyungsoo tidak memiliki pekerjaan lain sehingga ia harus membereskan pekerjaan kalian yang kacau itu?” tanya Hyesoo setelahnya.

.

“Joesonghabnida, seonsaengnim. Joesonghabnida…” kata ketiganya sekali lagi.

.

“Berikutnya! Pasien Hwang Jung Min. Usia 11 tahun”, kata Hyesoo melanjutkan pembahasannya tanpa mempedulikan permintaan ketiga intern sebelumnya. “Pasien pingsan saat pelajaran olah raga di sekolah. Pulang ke rumah bersama orang tuanya, lalu kembali pingsan beberapa saat setelah masuk ke rumah dengan suhu tubuh yang sangat tinggi. Dan diagnosa kalian adalah……fever dan hipotensi”, kata Hyesoo membacakan hasil pemeriksaan ditangannya. “Tanpa pemeriksaan lab lanjutan apapun. Pasien diperbolehkan pulang dan salah satu dokter menghilang masih dalam jam kerjanya, bahkan sebelum jam istirahat dimulai. Otak kalian terbuat dari batu? Hwang Shinbi, apakah rumah sakit adalah tempat bermain bagimu? Pusat perbelanjaan yang bisa kau datangi dan kau tinggalkan sesuka hatimu?” tanya Hyesoo dengan emosi yang menyertai setiap kalimat yang diucapkannya.

.

Kembali, tidak ada jawaban dari pertanyaan yang diajukan Hyesoo. Ia pun menghela napas panjang untuk meredakan emosinya, sebelum melanjutkan ucapannya. “Kalian memberikan diagnosa fever dan hipotensi dengan mudah hanya karena suhu tubuhnya tinggi dan tekanan darahnya rendah. Bagaimana dengan penyebab pingsan, riwayat penyakit dan riwayat keluarga? Apakah kalian menanyakannya? Pasien itu kembali ke UGD bahkan sebelum 24 jam kalian pulangkan. Dokter Kim Suho harus turun tangan melakukan pemeriksaan lanjutan padanya. Hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan ada penumpukan cairan meningen diotaknya. Fever terjadi karena virus yang sedang menyerang tubuhnya. Kenapa hasilnya bisa berbeda?” tanya Hyesoo lagi.

.

“Joesonghabnida, seonsaengnim. Kami kurang berpengalaman dengan kasus di UGD”, kata Junhui meminta maaf.

.

“Karena pengalaman? Aku setuju. Tapi meski dengan kurangnya pengalaman, para intern yang berada disini sebelum kalian bisa menanganinya dengan baik. Kenapa? Karena mereka bertanya. Mereka berkolaborasi dengan dokter senior, perawat dan petugas medis lainnya. Mereka menggunakan otak untuk berpikir. Kenapa kalian tidak melakukannya juga? Listen, guys! Tidak ada yang memaksa kalian bekerja di rumah sakit ini. Jika kalian tidak benar-benar memiliki keinginan menjadi seorang dokter, maka berhenti saja. Aku sudah memberikan kesempatan pada kalian untuk melarikan diri satu jam yang lalu, bukan? Kenapa kalian kembali?” tanya Hyesoo dengan nada bicaranya yang tenang.

.

“Joesonghabnida, seonsaengnim. Kami benar-benar menyesal”, kata Junhui dan Shinbi bersamaan kali ini.

.

“Aku akan memberikan kesempatan kedua untuk melarikan diri pada kalian. Jika kalian tidak memiliki niat sedikitpun untuk menjadi seorang dokter, maka berhenti dari pekerjaan ini sebelum kalian melakukan hal buruk lainnya”, kata Hyesoo.

.

“Tidak, seonsaengnim. Kami tidak akan menyerah. Kami akan bekerja lebih keras lagi. Kami tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Kami mohon, maafkan kami. Berikan kami kesempatan untuk memperbaiki diri”, kata Sungjae yang belum mendapat teguran.

.

“Satu lagi. Ini adalah hari terakhir aku melihatmu, Yook Sungjae, bicara dengan bahasa medis pada pasien dan keluarga pasien. Jika aku mendengarnya lagi, maka hukuman kalian akan bertambah”, kata Hyesoo.

.

“Ne, saya mengerti, seonsaengnim” jawab Sungjae.

.

“Hhh… Baik. Aku berikan kesempatan terakhir pada kalian”, kata Hyesoo sambil menghela napas panjang. “Tapi jangan harap kalian bisa kembali ke rumah selama dua minggu ke depan. 14x24jam standby UGD. Masing-masing orang hanya mendapatkan 2×24 jam untuk off. Tidak lebih. Dan tidak kurang. Siapapun yang sedang off dilarang untuk datang ke rumah sakit untuk alasan apapun. Off is off. Duty is duty. Diskusikan jadwal kalian dalam kelompok. Atur jam tidur kalian masing-masing tanpa mengganggu jadwal lainnya. Itu hukuman untuk kalian. Dimulai dari sekarang, detik ini juga” kata Hyesoo menjelaskan hukuman yang ia berikan pada para intern.

.

“Ne, seonsangnim” jawab para intern.

.

“Aku akan bicara dengan Kyungsoo dan Suho. Kasus yang baru saja kita bahas tidak boleh terdengar lagi setelah kalian keluar dari ruangan ini. Karena jika Profesor Kim Jaejoong, dokter Kang Soyu dan dokter Kim Ryeowook mendengarnya, maka mereka tidak akan membiarkan kalian tetap berada disini di detik yang sama ketika mereka mengetahuinya. Mengerti? Hukuman dua minggu kalian tidak sebanding dengan itu”, kata Hyesoo.

.

“Ne, kami mengerti. Terima kasih banyak, seonsaengnim”, jawab para intern.

.

“Naga! (Pergi!)” perintah Hyesoo setelahnya.

.

Keenam intern segera keluar dari ruangan Hyesoo dengan sikap yang sama saat mereka meninggalkan ruangan itu satu jam yang lalu. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk dalam diri mereka. Nada bicara Hyesoo yang meninggi tidak pernah ada dalam dugaan mereka. Namun dibalik semua itu, mereka juga dikejutkan dengan sikap Hyesoo yang memberikan kesempatan pada mereka melalui hukuman yang mereka terima. Bahkan Hyesoo memutuskan untuk melindungi mereka dari dokter lain yang mungkin akan memberikan hukuman yang lebih berat jika masalah tersebut terdengar di lingkungan rumah sakit. Mereka pun berakhir dengan menyetujui perkataan para residen yang pernah mengatakan bahwa Hyesoo adalah seorang dokter yang memiliki kepribadian yang baik. Mereka sudah membuktikannya dengan menerima teguran dari Hyesoo.

.

.

####################

.

BGM: Lim Jeong Hee – The Scent of Flower

.

Hyesoo menghabiskan waktu selama hampir dua jam untuk mempelajari kasus seorang pasien yang sedang dalam penanganannya bersama Kim Jaejoong. Hingga salah seorang residen, Jung Eunha menghubunginya. Seorang pasien datang ke UGD dan membutuhkan penanganan. Karena itu, Hyesoo meninggalkan berkas yang sedang dipelajarinya untuk sementara. Hyesoo keluar dari ruangannya dan segera bergegas menuju UGD. Setelah memeriksa hasil pemeriksaan menyeluruh pada pasien yang dilakukan oleh dua orang residen, Kyungsoo dan Eunha, Hyesoo meminta Kyungsoo untuk menghubungi Jaejoong selaku dokter senior di departemen bedah saraf dan Suho yang merupakan residen tingkat akhir. Berdasarkan pemeriksaan, kondisi pasien tidak termasuk kasus yang sulit ataupun rumit namun membutuhkan penanganan segera. Mengetahui hal itu, Jaejoong pun memberikan kewenangan pada Hyesoo untuk melakukan operasi pada pasien, dengan Suho sebagai assist dan para residen untuk membantu hal apapun yang diperlukan.

.

Dari luar ruang operasi, dua orang intern memperhatikan jalannya operasi, sementara empat orang lainnya berada di nurse station untuk berjaga. Lee Jinki yang baru saja menyelesaikan putaran visite nya di bangsal saraf dan ICU memasuki ruang UGD dengan santai. Wajahnya cerah seperti biasanya, dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku jasnya. Jinki juga membalas setiap sapaan yang diterimanya dengan ramah. Hingga empat wajah lesu di nurse station menarik perhatiannya. Jinki berjalan menghampiri nurse station dengan senyum mengembangnya.

.

“Ada apa dengan ekspresi kalian?” tanya Jinki dengan tawa kecilnya.

.

“Annyeonghaseyo, seonsangnim…” sapa keempat intern bersamaan.

.

“Kalian belum menjawab pertanyaanku”, kata Jinki yang bersandar di salah satu meja.

.

“Kami baik-baik saja, seonsaengnim” jawab Yerin mewakili teman-temannya.

.

“Hm… Aku tidak yakin. Ekspresi kalian berempat sangat berbeda dengan dua orang teman kalian yang ada disana”, kata Jinki sambil menunjuk Sungjae dan Seulgi yang berada diluar ruang operasi.

.

“Ne, seonsangnim… Akan selalu ada masa-masa seperti ini”, kata Sehun kali ini.

.

Jinki tertawa setelah mendengar jawaban Sehun yang menunjukkan wajah lesu sekaligus tertekannya. Jinki pun berjalan memutari meja, masuk ke dalam area nurse station. Ia duduk di salah satu kursi, lalu meraih mouse dihadapannya. Jinki membuka sebuah file pasien yang harus ditanganinya besok. Wajahnya tidak menunjukkan perubahan apapun. Ia tetap tenang, meski terlihat ada keseriusan dalam tatapan matanya. Jinki bersandar di kursi sambil kembali menatap para intern yang masih berdiri dihadapannya, bersikap siaga pada kasus apapun yang akan datang ke UGD. Dua orang diantara mereka sedang membaca status pasien dan mempelajarinya. Suasana yang hening itu membuat Jinki merasa tidak tahan untuk bicara pada mereka.

.

“Bagaimana Lee Hyesoo? Masih bisa dihadapi?” tanya Jinki setelahnya, membuat perawat Jung yang duduk disebelahnya tersenyum karena mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jinki pada para intern.

.

“Dihadapi dalam konteks apa, seonsangnim?” tanya Yerin.

.

“Dalam semua konteks? Aku sempat lewat di depan ruangan Hyesoo tadi. Itulah alasan dibalik pertanyaanku”, ujar Jinki. “Biasanya Hyesoo sangat manis, jika kalian belum mengetahuinya. Dia juga sangat ramah dan baik. Aku yakin kalian sudah menanyakannya pada para residen bedah saraf tentang itu, bukan?”

.

“Kami sudah bertanya. Jawaban yang kami dapatkan cukup ambigu”, jawab Junhui. “Tapi kami setuju bahwa dokter Lee Hyesoo adalah dokter yang baik”.

.

“Apakah Lee Hyesoo menakutkan?” tanya Jinki dengan sebuah senyuman diwajahnya.

.

“Ne…” jawab Yerin dan Shinbi bersamaan dengan suara pelan.

.

Jinki kembali tertawa mendengar jawaban lesu kedua intern itu. “Kalian hanya menghadapi level 1, inma. Dari semua dokter bedah yang kalian kenal, Hyesoo yang paling baik dan lembut”.

.

“Ne? Bahkan dibandingkan dengan seonsangnim?” tanya Shinbi yang terkejut.

.

“Tapi, seonsangnim tidak pernah marah atau terlihat kesal”, sambung Yerin.

.

“Mwo… Karena suasana hatiku sedang baik akhir-akhir ini. Aku belum menemukan alasan untuk marah”, kata Jinki.

.

“Dalam keadaan normal, memang dokter Kim Ryeowook yang terlihat menakutkan dan mengintimidasi…” kata Irene yang baru saja kembali dari konferensi. “Tapi dalam keadaan marah, dokter Lee Jinki jauh lebih menakutkan dari yang kalian bayangkan”.

.

“Konferensi nya sudah selesai? Bagaimana?” tanya.

.

“Ne, sunbae. Mwo… Semua berjalan lancar. Tidak ada kecacatan data yang ditemukan. Semua berjalan sesuai dengan yang seharusnya”, jawab Irene.

.

“Kalian harus memberikan laporan seperti ini jika tidak ingin melihat kemarahanku”, kata Jinki pada para intern. “Well, kalian patut bersyukur karena Hyesoo hanya memberikan hukuman ringan pada kalian”.

.

“Hukuman apa yang mereka dapatkan, sunbae?” tanya Irene.

.

“14x24jam emergency standby, dengan 2x24jam offduty, tidak kurang dan tidak lebih. Hyesoo bahkan melarang mereka datang ke rumah sakit saat off”, jawab Jinki.

.

“Benarkah? Ya! Kalian benar-benar beruntung karena bukan dokter Lee Jinki, dokter Kang Soyu dan dokter Kim Ryeowook yang menemukan kesalahan kalian. Karena minimal kalian bisa mendapatkan hukuman 2x24jam double shift emergency dan putaran bangsal tanpa off dari dokter yang sedang duduk santai dihadapan kalian itu. Entah apa yang akan diberikan dokter Kim Ryeowook dan dokter Kang Soyu. Aku bahkan tidak bisa membayangkannya”, kata Irene menjelaskan.

.

“Ya, Bae Irene… Idemu menarik. Aku akan mempertimbangkan hal itu”, kata Jinki dengan tawa kecilnya.

.

“Apa yang akan kau pertimbangkan?” tanya Hyesoo yang ternyata sudah selesai dengan operasi yang ditanganinya.

.

“Hukuman 2x24jam double shift emergency dan putaran bangsal tanpa off. Apa kau juga berpikir bahwa hal itu menarik?” tanya Jinki.

.

“Siapa yang akan kau coba bunuh, Lee Jinki? Para residen bedah jantung?” tanya Hyesoo sambil membuka rekam medik pasien.

.

“Aku hanya mempertimbangkannya, Hyesoo-ya. Setelah tiga tahun bekerja bersama-sama di rumah sakit ini, Bae Irene ternyata sudah memahamiku dengan baik. Tentu saja…” kata Jinki sambil melayangkan hi-five yang diterima dengan tawa oleh Irene. “O! Kim Suho-da! Semakin hari kau justru semakin tampan. Seharusnya kau terlihat menua seperti teman-teman seangkatanmu, Kim Suho”.

.

“Aku mendapatkan mentor yang sangat baik, sunbae. Karena itu wajahku tidak menunjukkan banyak perubahan. Irene juga terlihat begitu. Wajahnya tetap seperti ini sejak terakhir kali kami menjadi intern”, kata Suho menanggapi ucapan Jinki.

.

“Naega saranghaneun dongsaeng, Kim Suho, kau sudah bekerja dengan sangat baik. Terima kasih…” kata Hyesoo sambil mengacak rambut Suho, kemudian berjalan menuju salah satu kursi kosong disebelah Jinki.

.

“Lihatlah itu… Setelah bertahun-tahun menjadi juniornya, kini Kim Suho sudah dianggap sebagai adik oleh Lee Hyesoo. Kau akan mendapatkan bantuan dalam penelitianmu jika keadaannya sudah seperti ini, Kim Suho” kata Jinki.

.

“Tentu saja aku akan membantunya. Dia sudah banyak membantuku”, kata Hyesoo. “Do Kyungsoo, Jung Eunha, kalian juga sudah bekerja dengan sangat baik. Terima kasih…” sambung Hyesoo saat menyadari keberadaan kedua residen itu.

.

“Ne, seonsaengnim. Kami yang berterimakasih atas bimbinganmu”, jawab Kyungsoo.

.

“Tapi, Hyesoo-ya, apakah kau mengetahui bahwa ada dua intern yang menyaksikan operasimu?” tanya Jinki.

.

“Tentu saja. Aku yang membiarkan mereka berada disana”, jawab Hyesoo sambil meregangkan otot lehernya. “Yook Sungjae, Kang Seulgi, apakah ada pertanyaan yang belum ku jawab?” tanya Hyesoo.

.

“Aniyo, seonsangnim. Semua pertanyaan kami sudah terjawab”, jawab Sungjae.

.

“Jika masih ada pertanyaan mengenai bedah saraf yang ingin kalian ketahui, kalian bisa menanyakannya pada para residen, Kim Suho, Kang Soyu, atau professor Kim Jaejoong”, kata Hyesoo setelahnya.

.

“Dokter Kang Soyu dan professor Kim Jaejoong juga?” tanya Seulgi yang sedikit terkejut pada pernyataan Hyesoo.

.

“Tentu saja… Kenapa? Kalian takut?” tanya Hyesoo yang sedang membuka dokumen pasien di komputer. “Kalian tidak perlu takut. Rasa ingin tahu akan pengetahuan tidak pernah salah. Kalian bisa menggunakan namaku untuk bertanya pada mereka. Kalian pasti akan mendapatkan jawabannya”, sambung Hyesoo.

.

“Kenapa kau tidak menyertakan namaku? Tanyakan padaku juga. Jika kalian ingin tahu tentang bedah jantung, kalian juga bisa menggunakan nama Lee Hyesoo saat bertanya pada Kim Ryeowook dan dokter Lee Donghae”, sambung Jinki.

.

“Ya! Kau curang, Lee Jinki. Kenapa kau menggunakan namaku juga?” tanya Hyesoo yang tertawa setelahnya.

.

“Kami pasti akan menggunakan nama dokter Lee Hyesoo untuk bertanya pada dokter Kim Ryeowook. Meski kami tidak yakin dengan dokter Lee Donghae”, kata Sungjae.

.

“Ada apa dengan Lee Donghae?” tanya Hyesoo yang sontak menoleh pada mereka dengan senyuman diwajahnya. “Aku pernah mendengar rumor tentangnya di rumah sakit ini. Beberapa residen mengatakan bahwa Donghae sangat menyeramkan. Sudah ada beberapa residen yang menjadi korban kemurkaannya. Benarkah?”

.

“Tidak seperti itu. Itu karena mereka yang kurang pintar. Donghae sunbae tidak melakukan kesalahan. Kau ‘kan mengetahui bagaimana oppa mu itu, Lee Hyesoo” jawab Jinki.

.

“Ne?! Oppa?!” kata para intern dan residen yang terkejut mendengar pernyataan Jinki.

.

“Tidak. Tidak. Kami hanya berbeda 7 menit saja. Bukan oppa”, koreksi Hyesoo.

.

“Bagaimana bisa kepribadian kalian begitu berbeda?” tanya Sungjae dengan suara pelan.

.

“Benar, bukan? Kami begitu berbeda, bukan? Yah… Aku tahu akan datang saat dimana semua orang menyadari hal itu. Yah… Aku menyukaimu, Yook Sungjae”, kata Hyesoo.

.

“Gamsahabnida, seonsaengnim” kata Sungjae yang tersipu dihadapan Hyesoo.

.

“Ja! Tugasku sudah selesai. Kalian berenam, atur jadwal dengan sebaik-baiknya. Lakukan seperti yang aku perintahkan, mengerti?” kata Hyesoo pada para intern.

.

“Ne, seonsangnim!” jawab keenam intern bersamaan.

.

“Karena Lee Jinki sudah berada disini, maka aku akan pulang sekarang. Sampai bertemu besok, semuanya…” kata Hyesoo sambil berjalan menuju pintu samping UGD.

.

.

.

At Apartment Hyesoo

BGM: Jessica Jung – Love Me The Same

.

Hyesoo kembali ke apartement nya hari itu. Siang tadi, Hyesoo menerima pesan singkat dari Hyeri yang mengatakan bahwa malam ini ia tidak kembali ke rumah. Begitu pula dengan Donghae yang memiliki shift malam di rumah sakit. Karena itu, Hyesoo memutuskan untuk tidur di apartmentnya, karena jarak dari rumah sakit jauh lebih dekat kesana. Hyesoo masuk ke apartment nya yang masih dalam keadaan gelap. Ia berjalan perlahan sambil meraba dinding untuk menemukan remote pengontrol pencahayaan ruangan. Setelah pencahayaan mengisi setiap sudut ruangan, Hyesoo pun segera berjalan menuju dapur. Hyesoo mengambil semangkuk fusilli beserta saus carbonara di lemari es, kemudian memasukkannya ke microwave untuk menghangatkan keduanya. Sejak siang hari Hyesoo belum makan apapun. Ia hanya sempat minum dua gelas cokelat hangat untuk mengisi perutnya. Kondisi tubuhnya yang lelah memaksa dirinya untuk membuat makanan yang mudah untuk dibuat, tanpa harus menghabiskan banyak energi.

.

Setelah menghabiskan makan malamnya dan membersihkan diri, Hyesoo merebahkan tubuh lelahnya di sofa. Ia menyalakan televisi untuk mengusir kesunyian apartmentnya yang kini hanya diterangi dengan pencahayaan termaram dari setiap sudut ruangan. Hyesoo masih memperhatikan acara reality show yang ditayangkan di layar kaca selama beberapa segment. Hingga kedua kelopak matanya terasa berat, dan Hyesoo pun terlelap tidak lama setelahnya. Tidur Hyesoo begitu lelap karena rasa lelah yang dirasakannya sepulang dari rumah sakit. Bahkan Hyesoo tidak menyadari bunyi tombol kunci yang ditekan oleh seseorang dari luar apartment. Pintu apartment terbuka setelahnya, memunculkan cahaya terang dari luar ruangan yang masuk melaui pintu yang terbuka. Pintu kembali tertutup. Cahaya terang luar apartment digantikan dengan cahaya lampu yang menyala tepat di area tempat meletakkan sepatu luar ruangan. Langkah kaki seseorang terdengar memasuki apartment dengan perlahan. Langkah itu sempat berhenti, saat pemiliknya menyadari keberadaan orang lain dalam apartment itu. Namun langkah itu kembali terdengar hanya beberapa detik setelahnya.

.

Cho Kyuhyun melepas jas nya dan menggantungkannya di sudut ruangan. Kemudian ia mendekati Hyesoo yang sudah terlelap di sofa. Ini adalah kali pertama Kyuhyun kembali ke apartment ini setelah enam bulan yang lalu ia juga tertidur di sofa itu sebelum perawatannya di rumah sakit. Selama lima tahun terakhir, Kyuhyun selalu meluangkan waktunya untuk tidur di apartment Hyesoo selama tiga hari dalam satu minggunya. Karena dengan melakukan hal itu, Kyuhyun mendapatkan kekuatannya lagi untuk terus mencari keberadaan Hyesoo. Kyuhyun tidak pernah menduga jika ia akan menemukan Hyesoo hari ini. Kyuhyun pun duduk di lantai, tepat disamping sofa tempat Hyesoo berbaring. Kyuhyun mengambil remote di tangan Hyesoo, lalu mematikan televisi. Kyuhyun melonggarkan dasi di lehernya, kemudian melepasnya dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Setelahnya, Kyuhyun menggulung kedua lengan kemejanya dan mengeluarkan kemejanya dari dalam celananya. Kyuhyun tidak melakukan hal apapun lagi setelah itu. Ia hanya memandang wajah Hyesoo yang tertidur begitu lelap dihadapannya. Kyuhyun tidak pernah merasa bosan melakukan hal itu. Ia bahkan bisa memandang Hyesoo sampai pagi menjelang. Kali ini, Kyuhyun harus memendam keinginannya untuk memeluk Hyesoo seperti yang ia lakukan hari itu di ruang istirahat dokter di rumah sakit. Kyuhyun tidak ingin membangunkan Hyesoo. Kyuhyun ingin membiarkan Hyesoo mendapatkan istirahat yang cukup untuk menjalani harinya besok.

.

Namun keinginan Kyuhyun justru tidak terwujud bahkan disaat ia tidak melakukan apapun. Hyesoo yang masih tertidur mulai menunjukkan pergerakannya. Tubuh Hyesoo mulai meringkuk, alisnya bertaut dan telapak tangannya menggenggam kuat. Helaan napas Hyesoo terdengar lebih berat dari sebelumnya, hingga napas itu berubah terengah. Seolah Hyesoo sedang dikejar oleh sesuatu, atau seseorang. Kyuhyun membeku menyaksikan hal itu. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia hanya menimbang dua pilihan dalam pikirannya. Pertama, Kyuhyun menduga ini hanya sebuah mimpi yang akan menghilang dengan sendirinya. Karena itu Kyuhyun tidak perlu melakukan apapun selain menunggu redanya gejolak mimpi itu. Namun Kyuhyun juga memikirkan sebuah pertimbangan lain. Pertimbangan kedua, Kyuhyun dapat menguji dugaannya yang lain, yang meyakini bahwa ia mampu menghentikan mimpi buruk yang dialami Hyesoo, seperti yang pernah ia lakukan di rumah sakit hari itu.

.

Kyuhyun berkutat pada kedua pertimbangan itu tanpa melakukan pergerakan apapun. Hingga gumaman Hyesoo membuat Kyuhyun memilih. Kyuhyun menggenggam tangan Hyesoo, membuka kepalan itu untuk menautkan tangan Hyesoo dengan tangannya. Tubuh Hyesoo yang menegang mulai menunjukkan perubahannya. Namun mimpi buruk itu belum berlalu. Kyuhyun akhirnya memutuskan untuk naik ke sofa dan berbaring di belakang Hyesoo. Kyuhyun memasukkan salah satu lengannya ke bawah leher Hyesoo. Kemudian Kyuhyun mendekap Hyesoo dalam pelukannya. Kyuhyun memberikan sebuah kecupan di kepala Hyesoo, berharap hal itu dapat sedikit membantu dalam menenangkan Hyesoo. Dibutuhkan waktu selama hampir sepuluh menit untuk mengembalikan ketenangan dalam tidur Hyesoo. Napas Hyesoo sudah kembali teratur. Tubuhnya pun sudah terasa lebih rileks dalam pelukan Kyuhyun. Bahkan Hyesoo bergerak mendekat pada Kyuhyun yang berbaring di belakangnya. Kyuhyun kembali berhasil menenangkan tidur Hyesoo. Meski ia tidak bisa memastikan hal itu, namun Kyuhyun sudah merasa cukup tenang hanya dengan melihat Hyesoo yang dapat kembali terlelap.

.

Malam semakin larut. Hyesoo dan Kyuhyun terlelap dalam keheningan ruangan dengan cahaya termaram. Tidak ada suara yang terdengar disana. Hanya helaan napas keduanya yang terdengar saling bersautan, bergantian mengisi keheningan malam. Malam pun digantikan dengan pagi yang menjelang. Matahari mulai menampakkan diri dari persembunyiannya. Cahayanya masuk melalui celah-celah tirai jendela yang tidak tertutup sempurna. Kehangatan sinar matahari pagilah yang akhirnya mampu membangunkan Hyesoo dari tidurnya. Mata Hyesoo mulai terbuka perlahan, menyadari sapaan matahari yang menyambutnya. Hyesoo mengerjap-ngerjapkan matanya untuk memperoleh kesadaran. Hingga suasana ruangan yang terang menyadarkannya dengan cepat. Ia tertidur hingga pagi menjelang. Hyesoo dapat mengingat dengan jelas jam yang ditunjukkan di sudut layar televisi saat terakhir kali ia memandangnya. Pukul 10 malam. Hari ini Hyesoo tidak hanya tidur selama 4 jam, namun jauh melebihi itu. Hyesoo menduga waktu baru menunjukkan pukul enam atau tujuh pagi, melihat sinar matahari yang belum terlalu tinggi. Hyesoo mendapatkan hal baru yang tidak pernah dialaminya selama lima tahun terakhir. Ia dapat tertidur kira-kira selama 8 jam.

.

Hyesoo menghela napas panjang mengetahui perhitungannya yang mungkin saja benar. Hingga ia menyadari keberadaan seseorang yang juga berbaring bersamanya di sofa itu. Hyesoo dapan merasakan lembut helaan napas menyentuh tengkuknya. Hyesoo juga dapat merasakan tangan yang memeluk pinggangnya. Aroma tubuh orang itu akhirnya memberikan kesadaran penuh pada Hyesoo. Kyuhyun sedang tertidur dengan pulas dibelakangnya. Kyuhyun kembali melakukannya. Ia membuat Hyesoo dapat tertidur dengan pulas tanpa mimpi buruk yang menghampiri malamnya. ‘Tidak. Ini hanya kebetulan. Aku tidak bermimpi karena aku terlalu lelah’, sangkal Hyesoo dalam pikirannya. Hyesoo pun bergerak, keluar dari pelukan Kyuhyun. Ia berjalan dengan cepat menuju kamarnya tanpa menoleh sedikitpun pada Kyuhyun. Hyesoo masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, karena ia harus segera pergi ke rumah sakit. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Hyesoo pun keluar dari kamarnya. Di detik yang sama saat Hyesoo menutup pintu kamarnya, Kyuhyun terbangun dari tidurnya. Kyuhyun menyadari keberadaan Hyesoo yang berdiri tepat didepan kamarnya, menatapnya tajam tanpa melakukan apapun. Kyuhyun menyunggingkan senyum saat menatap Hyesoo yang terlihat begitu memukau paginya. Hyesoo mengenakan sebuah blouse baby blue dengan celana panjang abu-abu yang menunjukkan kakinya yang jenjang. Rambut Hyesoo diikat ekor kuda, menampakkan wajah cantik Hyesoo yang belum berubah sedikitpun.

.

“Kau sudah akan berangkat?” tanya Kyuhyun dengan suara seraknya.

.

Tidak ada jawaban apapun dari Hyesoo. Kyuhyun pun meregangkan ototnya. Sebuah keluhan dapat terdengar dari Kyuhyun sesaat setelahnya. Kyuhyun merasakan kebas di lengan kanannya yang digunakan untuk menumpu kepala Hyesoo semalaman. Tapi Kyuhyun berusaha untuk membuat Hyesoo tidak menyadari hal itu. Kyuhyun bangun dari tidurnya, kemudian duduk di sofa, masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Hyesoo yang sedang berada di dapur mengeluarkan sekotak susu dari lemari es. Ia menuangkannya ke dua buah gelas dihadapannya, kemudian meminumnya dari salah satu gelas.

.

“Lakukan apa yang kau inginkan lalu segera tinggalkan tempat ini”, kata Hyesoo setelah meletakkan gelas ditangannya ke bak pencuci piring.

.

“Kau tidak sarapan terlebih dahulu?” tanya Kyuhyun pada Hyesoo yang berjalan ke nakas kecil untuk mengambil jam tangan dan ponselnya.

.

“Aku bisa mengurus diriku sendiri, Cho Kyuhyun”, jawab Hyesoo yang melangkah menuju pintu.

.

“Kau bisa. Tapi kau tidak melakukannya”, kata Kyuhyun, membuat Hyesoo menghentikan langkahnya.

.

“Jangan campuri hidupku”, kata Hyesoo yang kembali menoleh pada Kyuhyun.

.

“Aku tidak akan melakukannya jika kau menjalaninya dengan baik”, balas Kyuhyun dengan ekspresi serius diwajahnya.

.

“Sebagai penyebab dari semua hal yang terjadi padaku, kau tidak berhak mengatakan hal itu”, kata Hyesoo dengan penekanan pada kata yang diucapkannya.

.

“Aku tahu. Aku bersalah. Aku sangat bersalah padamu. Karena itu aku ingin menebusnya. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan”, kata Kyuhyun yang sudah bangkit berdiri dari sofa, kemudian berjalan mendekat pada Hyesoo.

.

Namun Hyesoo mengangkat tangannya, meminta Kyuhyun untuk berhenti kira-kira satu meter dihadapannya. “Jangan membuat keadaanku menjadi semakin sulit. Tidak cukupkah semua hal yang telah kau lakukan padaku? Kau masih belum puas?” tanya Hyesoo dengan amarah yang mulai menghampirinya.

.

BGM: Jooyoung – Can You Hear Me?

.

“Tidak, Hyesoo-ya. Aku justru ingin memperbaikinya. Aku ingin menebus semua kesalahan yang telah ku lakukan padamu”, jawab Kyuhyun.

.

“Bagaimana? Katakan padaku. Bagaimana?” tanya Hyesoo. “Kau sudah menghancurkanku, Cho Kyuhyun. Dan satu-satunya cara untuk memperbaikinya adalah dengan tidak berada didekatku. Bukan kau yang bisa menyembuhkanku”.

.

“Beri aku kesempatan, Hyesoo-ya. Ijinkan aku untuk mencoba”, pinta Kyuhyun.

.

“Kesempatanmu sudah berakhir 5 tahun yang lalu, Cho Kyuhyun” kata Hyesoo.

.

“Beri aku kesempatan terakhir, Hyesoo-ya” pinta Kyuhyun sekali lagi.

.

“Kau sudah menyiksaku dengan semua perbuatanmu, Cho Kyuhyun. Kau tidak ingat?” tanya Hyesoo yang sudah benar-benar marah. “Saat itu tiba-tiba saja kau berubah. Kau menjauhiku… Kau seperti orang asing yang menyiksaku dengan kehangatan disetiap keberadaanmu di dekatku. Saat itu aku mulai menduga apa penyebab perubahan dalam dirimu. Hal pertama yang menghampiri kepalaku adalah kau tidak yakin pada perasaanmu karena jantung Siwon oppa yang ada di dalam tubuhmu. Aku meyakini diriku dengan kalimat itu. Aku pun melupakan sejenak fakta tentang jantung ditubuhmu dan memutuskan untuk membantumu mencari jawaban atas keraguanmu, meski apapun yang akan terjadi. Tapi kau menyangkalnya dengan mengatakan bahwa aku adalah salah satu mainan……taruhan yang sudah tidak kau butuhkan lagi. Kau membuangku… Lalu kau mengatakan bahwa kau tidak mencintaiku. Kau tidak memiliki alasan lain yang lebih besar dari itu”.

.

Hyesoo menghela napas, alisnya bertaut membentuk sebuah lekukan di keningnya. “Aku pun menyerah. Aku pergi darimu. Aku membawa rasa sakit, cinta dan kemarahanku padamu bersamaku. Hari berganti malam, malam-malam yang memilukan berganti minggu, dan bulan demi bulan terlewatkan. Aku tetap menemukan diriku merintih dalam kesedihanku yang membutuhkanmu. Aku bersedih dalam senyumku. Aku menangis dalam tawaku. Aku terpenjara ditengah keramaian disekitarku. Aku menjerit dalam tidurku. Aku terjaga bahkan dalam tidurku. Kau menghilangkan semua ketenangan dalam hidupku. Hingga aku menemukan penyebab dari semua rasa sakit yang ku rasakan. Kau jatuh cinta padaku, tapi bukan aku yang kau inginkan. I’m not the one you’ve been looking for. I’m not enough for you. Dan cintamu itu tidak pantas diberikan untuk seorang gadis sepertiku”, kata Hyesoo dengan nada bicaranya yang pelan namun menyampaikan kesedihan yang dirasakannya melalui kata yang terucap dari bibirnya.

.

“Tidak. Tidak seperti itu, Hyesoo-ya” kata Kyuhyun.

.

“Tidak. Itu kenyataannya. Kau merasakan hal itu, tapi bukan aku yang kau inginkan”, kata Hyesoo dengan nada bicaranya yang meninggi.

.

“Tidak pernah seperti itu, Hyesoo-ya. Ini bukan tentangmu. Tapi tentangku. Aku selalu menginginkanmu. Hanya kau… Aku yang tidak layak. Aku pria yang jahat, Hyesoo-ya”, kata Kyuhyun.

.

“Kau memang jahat. Aku mengetahui hal itu dengan sangat baik, Cho Kyuhyun” kata Hyesoo.

.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak. Kau tidak mengetahuinya. Aku selalu menyimpannya untuk diriku sendiri”, kata Kyuhyun setelahnya. “Aku sudah berubah menjadi orang yang sangat jahat, lebih dari yang mungkin bisa kau pikirkan, Hyesoo-ya. Aku ingin hanya aku yang menjadi orang jahat itu. Karena itu aku mempersilahkan kau pergi dari hidupku. Aku memintamu meninggalkanku dengan cara terburuk yang bisa aku lakukan. Aku berbohong padamu saat mengatakan bahwa kau hanya dijadikan sebagai bahan taruhan”.

.

“Kau pikir aku tidak mengetahui hal itu? Aku tahu… Aku tahu kau berbohong akan hal itu. Kau menganggapku seorang bodoh yang bisa mempercayai hal itu dengan sangat mudah”, kata Hyesoo.

.

“Aku pikir kau akan berhenti setelah mendengar hal itu, Hyesoo-ya… Tapi kau justru kembali padaku, mempertanyakanku. Aku kembali memberikan alasan lain padamu. Aku pun berhasil. Kau menyerah. Kau pergi dariku. Namun aku justru menemukan diriku yang salah. Aku mengira kepergianmu akan menyelesaikan segalanya. Tapi aku justru tersiksa dengan kerinduanku padamu. Aku ingin menemuimu. Aku membutuhkanmu. Aku sangat mencintaimu. Dan bukan jantung Siwon hyung yang memunculkan semua rasa itu. Tapi otak Cho Kyuhyun yang tidak tenang karena kehilanganmu yang membuat jantung ini berdetak bersama rasa cintaku padamu”, ujar Kyuhyun.

.

“Hhh… Cinta? Jadi kau ingin mengatakan bahwa alasan dibalik semua perbuatanmu padaku adalah karena kau terlalu mencintaiku. Begitu?” tanya Hyesoo.

.

“Benar…” jawab Kyuhyun dengan suara pelan.

.

“Jangnanhae? Michyeosseo? Geureon sarang eodiseo baeuni? (Kau bercanda? Kau sudah gila? Dimana kau belajar cinta seperti itu?)” tanya Hyesoo dengan emosi yang sudah meluap dari dalam dirinya. “Hm? Siapa yang mengajarimu? Melukai seseorang karena terlalu mencintainya? Hhh… Jangan konyol… Jika ada hubungan yang utuh karena cinta semacam itu, maka katakan padaku! Aku akan memberikan penghargaan besar bagi mereka yang mampu menjalaninya”.

.

“Aku sangat menyesal karena telah menyakitimu. Aku telah melakukan hal yang paling bodoh dalam hidupku. Tapi aku bersungguh-sungguh, Hyesoo-ya. Aku sangat mencintaimu…”

.

“Jadi, apa alasanmu mencintaiku, Cho Kyuhyun?”

.

“Aku tidak punya alasan apapun, Hyesoo-ya” jawab Kyuhyun.

.

“Mwoya? Itu bukan jawaban yang ku inginkan. Baiklah, biar ku tebak. Hm… Kau mencintaiku karena bayang-bayangku tergambar di pikiranmu? Atau kau mencintaiku karena fisikku? Ah, tidak… tidak… Bukan keduanya. Aku tahu. Kau mencintaiku karena aku terlihat begitu menyedihkan?” tanya Hyesoo dengan nada sarkastiknya.

.

“Tidak! Aku mencintaimu karena memang seharusnya begitu”, kata Kyuhyun.

.

“Lalu? Lalu kenapa kau melakukan semua itu, Cho Kyuhyun? Jika kau begitu mencintaiku, kenapa kau menyakitiku?” tanya Hyesoo.

.

“Saat mengetahui bahwa kau adalah gadis yang pernah berhubungan dengan Siwon hyung, aku memang mulai meragukan perasaanku padamu. Aku mempertanyakan diriku sendiri. ‘Benarkah aku yang mencintaimu? Apakah perasaan ini benar-benar milikku?’ Setiap detik aku lewatkan dengan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Sampai tiba saat dimana aku menyerah. Aku bersikeras bahwa cinta ini milikku, tidak ada pengaruh apapun dari jantung Siwon hyung dalam diriku. Lalu berbagai kemungkinan menghampiri pikiranku. Bagaimana jika hari itu Siwon hyung tidak mengalami kecelakaan? Bagaimana jika tidak pernah ada truk yang menabraknya? Bagaimana jika setelah dokter mengatakan bahwa tidak ada harapan bagi Siwon hyung, keluarganya tidak ikut menyerah dan tetap bertahan menunggu kesadarannya? Jika semua hal itu yang terjadi, apakah sampai hari ini aku masih bisa bertahan hidup? Apakah nama Cho Kyuhyun masih bisa terdengar dari suara orang-orang yang menyerukan nama itu? Apakah Cho Kyuhyun bisa bertemu dengan Lee Hyesoo? Tidak. Jika hari itu tidak pernah ada kecelakaan yang terjadi pada Siwon hyung, maka hidup Cho Kyuhyun sudah berakhir”, kata Kyuhyun mengawali penjelasannya.

.

“…diam-diam aku mensyukuri semua mimpi buruk yang sudah terjadi. Aku mensyukuri pengkhianatan yang dilakukan Siwon hyung padamu. Karena dengan pengkhianatan itu, kau membencinya, kau akan menjauh darinya. Tapi sisi buruk dalam diriku tidak puas akan hal itu, Hyesoo-ya. Masih ada kemungkinan kau akan kembali padanya jika Siwon hyung datang padamu dan memohon kau untuk kembali padanya. Karena dia mencintaimu. Bahkan cinta itu lebih besar dari kecintaannya pada dirinya sendiri”, kata Kyuhyun yang mengambil jeda dalam ucapannya dan memejamkan matanya. “Akhirnya aku mensyukuri kecelakaan yang menimpa mu. Aku sangat bersyukur Siwon hyung menabrak mobilmu. Karena setelahnya, kau kehilangan ingatanmu. Dengan begitu tidak pernah ada kenangan diantara kau dan Siwon hyung yang tersimpan dalam ingatanmu. Kau melupakannya tanpa perlu menderita karena rasa sakit atas pengkhianatannya. Kau melupakannya dengan sangat mudah, Hyesoo-ya”.

.

Kyuhyun kembali membuka matanya, lalu menatap Hyesoo dengan tatapan yang menunjukkan kepedihan yang selama ini tersimpan dalam dirinya. “Tapi Cho Kyuhyun yang brengsek ini tidak berhenti hanya sampai disitu. Aku pun menjadi orang jahat yang mensyukuri kematian Siwon hyung, Hyesoo-ya. Aku bersyukur kecelakaan itu menimpanya. Sehingga jantungnya membuatku tetap hidup. Aku… Aku mensyukuri kematian orang lain, Hyesoo-ya. Dia kakak sepupuku sendiri dan aku bersyukur atas kematiannya. Bisakah kau bayangkan manusia jahat seperti apa aku ini? Dengan semua hal itu, apa kau pikir aku masih bisa mengatakan bahwa aku mencintaimu dengan mudah? Bisakah aku melakukannya? Bisakah aku mengatakan hal itu tanpa menyadari apa yang sudah aku pikirkan? Apakah aku pantas membuatmu tetap berada disisiku, aku yang begitu buruk ini, bahkan setelah melihat semua kenyataan itu? Kau ingin aku mengatakan bahwa aku mencintaimu… sangat mencintaimu… disaat aku bahkan mensyukuri semua mimpi buruk yang menimpamu?” tanya Kyuhyun.

.

“Aku Cho Kyuhyun yang sama……yang berpikir jika aku terlahir bukan sebagai saudara dari Siwon hyung… jika takdir tetap mempertemukan dan menyatukan kalian, maka aku akan berada disana untuk memisahkan kalian. Meski kau tidak ditakdirkan untukku, aku tetap akan merebutmu darinya, Hyesoo-ya… Aku akan menghancurkan hubungan kalian dan memilikimu. Tapi aku tidak bisa melakukan itu, Hyesoo-ya. Aku bahkan tidak pantas untuk memikirkan hal itu. Dia sudah memberikan kehidupan padaku. Bagaimana aku bisa berpikir seperti itu? Karena itu aku melepasmu. Aku ingin kau pergi dari laki-laki jahat ini, Hyesoo-ya. Kau harus pergi dari laki-laki jahat yang bersorak atas petaka yang menimpamu. Laki-laki jahat ini begitu egois. Cho Kyuhyun ingin memilikimu untuk dirinya sendiri. Aku bahkan rela melakukan apapun, meski harus menyingkirkan siapapun hanya untuk memilikimu. Aku bersikap posesif hanya padamu. Dan semakin kuat perasaanku padamu, maka semakin kuat pula keposesifan ini menyelubungiku”, kata sambung Kyuhyun.

.

“Dan setelah memiliki semua pemikiran jahat itu, kau justru menambahnya dengan menyakitiku? Hebat sekali dirimu, Cho Kyuhyun. Jika saat itu kau mau bicara, maka semua hal tidak akan berakhir seperti ini”, kata Hyesoo.

.

“Saat itu aku bahkan cemburu pada kakak laki-lakimu, Lee Hyesoo!” seru Kyuhyun menanggapi ucapan Hyesoo. “Kau tahu? Aku seperti orang dengan gangguan jiwa… Aku tidak ingin melakukan hal yang buruk pada orang lain di masa mendatang. Setelah aku memiliki pikiran jahat pada Siwon hyung, aku tidak ingin memilikinya juga pada Lee Donghae. Kau tahu benar bahwa aku tidak akan melakukan apapun pada Siwon hyung karena dia sudah tiada. Bagaimana dengan Donghae? Hm? Jika saat itu aku bicara padamu, maka kau pasti akan bersikeras untuk tetap menemaniku hingga keadaan psikis ku kembali seperti sedia kala. Bisakah aku menghilangkan efek negatif dari keposesifanku padamu dengan keberadaanmu disekitarku, disaat justru kaulah sumber segalanya? Aku membutuhkan waktu, Hyesoo-ya… Semua hal yang terjadi diantara kita terlalu rumit”, kata Kyuhyun.

.

“Pada akhirnya kau tetap menyalahkan orang lain atas hal ini, Cho Kyuhyun. Kau mengatakan bahwa ini tentangmu. Tapi disaat yang sama kau juga menyalahkanku atas keadaanmu”, kata Hyesoo.

.

“Psikiater menyatakan bahwa ini adalah efek dari perpisahan kedua orang tuaku…” kata Kyuhyun melanjutkan penjelasannya. “Aku tumbuh dengan menyaksikan eomma yang tersakiti. Aku dibayang-bayangi dengan pengaruh sifat appa yang mungkin saja bisa terjadi padaku. Aku tumbuh tanpa cinta yang lengkap, Hyesoo-ya. Kau melengkapinya, namun aku meragukan diriku. Kau yang pertama bagiku. Aku tidak pernah merasa sekacau ini sebelumnya. Kau tidak bisa membayangkan seberapa besar rasa cintaku padamu”.

.

“Kau takut suatu saat nanti kau akan bersikap seperti ayahmu, tapi kau justru melakukannya. Kau melakukan perbuatan yang ayahmu lakukan pada ibumu, Cho Kyuhyun” kata Hyesoo memberikan kesimpulan atas tindakan yang telah dilakukan Kyuhyun. “Aku melengkapimu? Mungkin itu menurutmu… Tapi kau menghancurkanku. Kau merenggut harapanku untuk hidup dengan tenang. Kau benar… Aku memang tidak bisa membayangkannya. Aku bahkan tidak bisa melihat dan merasakannya. Rasaku telah mati karenamu”.

.

“Kau merasakannya”, kata Kyuhyun memotong ucapan Hyesoo.

.

“Aku merasakan rasa sakitnya, Cho Kyuhyun! Bukan cinta!” seru Hyesoo. “Kau menyakitiku sampai aku merasa sangat membenci diriku karena merasakan cinta ini. Kau merasa tidak pantas karena sudah berpikir sejahat itu padaku, lalu meninggalkanku agar aku terbebas darimu. Apa saat itu kau memikirkan situasi yang akan terjadi padaku selanjutnya? Apa kau memikirkan apa yang aku rasakan? Kau pikir setelah melepasku, aku akan bersorak gembira dan berterima kasih padamu? Tidak, Cho Kyuhyun. Kau tidak melakukan hal yang benar”.

.

“Aku tahu, Hyesoo-ya. Aku sudah menyadari hal itu”, kata Kyuhyun mengakui.

.

“Kau baru menyadarinya!!! Kau benar-benar laki-laki yang jahat, Cho Kyuhyun. Kenapa kau melakukan hal ini padaku? Kau yang merasa bersalah dengan perasaanmu, tapi aku yang tersakiti”, kata Hyesoo dengan air mata yang menggenang dimatanya.

.

“Aku benar-benar minta maaf”, kata Kyuhyun lirih.

.

“Kata maaf itu sudah tidak bisa menyelesaikan apapun, Cho Kyuhyun” balas Hyesoo sambil menghapus jejak air mata yang mengalir di pipinya.

.

“Aku minta maaf. Ampuni aku… Aku benar-benar menyesali perbuatanku”.

.

“Seharusnya kau mati bersama rasa bersalahmu saja, Cho Kyuhyun. Aku akan sangat lega jika hal itu yang terjadi diantara kita…” kata Hyesoo. “Karena dengan begitu aku hanya akan menderita karena kehilanganmu, kepergianmu. Itu akan menjadi alasan yang masuk akal atas rasa sakitku. Setidaknya tidak akan pernah ada pembicaraan omong kosong ini…”

.

“Maafkan aku… Aku mohon maafkan aku…” kata Kyuhyun meminta maaf setelah sekian kalinya.

.

“Jangan meminta maaf! Jangan… Aku tidak memilikinya lagi untukmu”.

.

“Hyesoo-ya…”

.

“Ah… Aku baru saja membuat kesalahan karena mengharapkan kematianmu. Aku bersalah. Karena itu aku harus meninggalkanmu, seperti yang kau lakukan padaku, bukan? Dengan begitu kita akan impas. Bukan begitu, Cho Kyuhyun?” kata Hyesoo.

.

“Jangan seperti ini, Hyesoo-ya… Jangan pergi dariku. Jangan pergi kemanapun. Aku minta maaf atas semua perbuatanku padamu”, pinta Kyuhyun yang berjalan mendekat pada Hyesoo.

.

“Sudahlah, Cho Kyuhyun. Aku sudah memutuskan untuk berhenti dengan semua ini. Kita tidak perlu membahasnya lagi. Aku sudah selesai denganmu. Aku harap tidak akan pernah ada apapun lagi yang terdengar tentang ini…” kata Hyesoo yang berbalik, kembali berjalan menjauh dari Kyuhyun.

.

“Hyesoo-ya…” panggil Kyuhyun sekali lagi dengan suara lirih.

.

Hyesoo menghentikan langkahnya sekali lagi. Kemudian ia berbalik, menatap tepat pada mata Kyuhyun. “Kau tahu? Seharusnya kau melakukan seperti yang Siwon oppa lakukan saja, Cho Kyuhyun. Seharusnya kau menabrakku dengan mobilmu. Agar aku kembali kehilangan ingatanku, atau bahkan sampai kehilangan nyawaku. Karena setidaknya aku tidak perlu melanjutkan hidupku bersama perasaan yang memuakkan ini”.

.

Hyesoo pun berjalan keluar dari apartment nya. Hyesoo meninggalkan Kyuhyun yang masih berdiri membeku ditempatnya setelah Hyesoo kembali mengungkapkan isi hatinya. Kyuhyun merasa seperti baru saja mendapatkan de javu pada kejadian itu. Seolah baru kemarin Hyesoo meninggalkannya dengan semua pesan menyakitkan yang dikatakan padanya. Hari ini, Kyuhyun mendengar ungkapan rasa sakit itu sekali lagi. Dan kali ini Kyuhyun ikut menangis bersama dengan setiap kata yang meneriakkan kepedihan itu.

.

.

.

Ruang Rawat Inap

Departemen Bedah Saraf

.

Hyesoo keluar dari salah satu ruangan bersama dengan dua orang residen, Chunji dan Wendy yang berjalan dibelakangnya. Sepanjang koridor mereka membahas mengenai kondisi pasien, mendiskusikan prioritas pembedahan yang harus dilakukan. Hyesoo juga menanyakan beberapa pertanyaan pada keduanya untuk menguji sejauh mana kedua residen itu belajar. Beruntung karena keduanya dapat memberikan jawaban yang memuaskan pada Hyesoo. Setidaknya hal itu dapat dijadikan penghiburan atas suasana hati Hyesoo yang tidak begitu baik hari ini.

.

Hyesoo menghampiri nurse station di pusat ruangan. Ia berdiri di depan meja sambil membaca status pasien dalam rekam medik. Sesekali Hyesoo berdiskusi dengan perawat Kim yang hari itu sedang bertugas, memeriksa ulang terapi yang telah diberikan pada pasien. Hyesoo begitu fokus pada setumpuk rekam medik dihadapannya. Hyesoo tidak menyadari ada sepasang kaki kecil yang sedang berjalan terburu menuju ke arah nya. Langkah kaki yang semula berjalan dengan cepat berubah menjadi derap lari yang begitu lembut terdengar. Hingga langkah itu berhenti tepat beberapa senti dari tempat Hyesoo berdiri. Sebuah tarikan dapat Hyesoo rasakan di jasnya. Tarikan itu semakin kuat saat Hyesoo tidak segera memberikan respon. Hyesoo pun akhirnya menyadari tarikan di jasnya, lalu menoleh pada sumber tarikan itu.

.

BGM: Ggotjam Project – Oh My God

.

“O! Oh my God!!!” seru Hyesoo dengan wajah terkejut yang menunjukkan senyum sumringahnya. Hyesoo pun berjongkok setelahnya, menyamakan tingginya dengan makhluk kecil menggemaskan yang berdiri disampingnya. “My baby… Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana kabarmu?” tanya Hyesoo.

.

I’m fine”, jawab anak laki-laki itu dengan suara cerianya.

.

“Aku sangat merindukanmu…” kata Hyesoo sambil menyentuh kedua tangan kecilnya.

.

Me too”, balas anak itu sekali lagi.

.

Hyesoo memberikan senyum mengembangnya pada anak laki-laki yang baru berusia 3 tahun itu. Lee Jin Woo (dipanggil dengan sebutan Jinu). Anak laki-laki yang selama beberapa bulan terakhir tidak dapat Hyesoo temui. Wajahnya tetap ceria seperti biasanya. Rambut perunggunya diatur dengan style yang sedang trend belakangan. T-shirt bertemakan baseball berwarna hitam dengan garis putih, serta jeans pendek terlihat begitu menggemaskan ditubuhnya. Tidak lupa dengan sneakers putih favoritenya, pemberian Hyesoo pada hari ulang tahunnya beberapa bulan yang lalu. Hyesoo pun langsung menarik Jinu ke pelukannya.

.

“Benarkah? Tapi kau selalu menolak untuk bicara saat aku menelepon”, kata Hyesoo.

.

But, I really miss you. I’m not lying”, kata Jinu meyakinkan Hyesoo.

.

I know that very well, baby…” kata Hyesoo sambil menjauhkan tubuh Jinu, agar ia dapat menatap wajah anak laki-laki itu. “You never ever gonna lie to anybody. That’s why I love you”.

.

I love you too. Very very very much”, kata Jinu yang kemudian memberikan sebuah kecupan kecil di pipi Hyesoo.

.

“Aw… I love you more…” balas Hyesoo sambil membelai lembut kepala Jinu.

.

Please hold me… Please…” kata Jinu sambil menjulurkan tangannya.

.

“Ada apa? Kau takut?” tanya Hyesoo sambil mengangkat Jinu dalam gendongannya.

.

A little… Is it okay if I’m afraid?” tanya Jinu yang memeluk leher Hyesoo.

.

”Tentu saja…” jawab Hyesoo sambil mengelus pelan punggung Jinu.

.

“Dokter Lee, siapa dia? Lucu sekali… Sangat tampan…” kata Wendy dengan senyumannya.

.

“Nuna itu bertanya padamu, baby. Apa jawabanmu?” Hyesoo mengarahkan pertanyaan Wendy langsung pada Jinu.

.

“Jinu”, jawab Jinu singkat dengan suara pelannya.

.

“Jinu sedang merasa sedikit takut, nuna” kata Hyesoo menjelaskan sikap Jinu.

.

“Aigoo… Jangan takut, Jinu-ya. Karena nuna ada disini. Nuna akan melindungimu…” kata Wendy sambil menirukan jargon pahlawan pembela kebenaran di televisi, membuat Jinu tertawa setelahnya.

.

She’s pretty”, kata Jinu berbisik pada Hyesoo.

.

“Wendy-ya, dia mengatakan kau cantik”, kata Hyesoo menyampaikan pujian Jinu.

.

“Jinjja??? Jinu saranghae…” balas Wendy, membuat Jinu tersenyum sumringah. “Jinu-ya, kapan kau datang?” tanya Wendy.

.

This morning. At the dawn”, jawab Jinu perlahan.

.

“Lalu? Jinu datang kesini seorang diri?” tanya Wendy lagi.

.

“Tidak mungkin…” jawab Jinu sambil tertawa kecil pada Hyesoo.

.

“Kau benar… Tidak mungkin, ‘kan?” kata Hyesoo yang ikut tertawa bersama Jinu.

.

“Eung…” jawab Jinu sambil mengangguk.

.

Where’s Daddy?” tanya Hyesoo.

.

He needs to go to toilet”, jawab Jinu mengeja ucapannya perlahan. Kemudian Jinu menjauh dari pelukan Hyesoo. Ia menoleh ke arah pintu. Senyumnya mengembang sesaat setelahnya. “There he is! Daddy!

.

Soohyuk muncul dari pintu utama ruang rawat inap departemen bedah saraf. Senyum mengembang terlihat diwajahnya. Senyum yang sama dengan yang tergambar diwajah ceria Jinu. Soohyuk berjalan mendekat pada Hyesoo yang masih menggendong Jinu. Soohyuk merentangkan tangannya, meminta Jinu untuk berpindah ke pelukannya. Namun Jinu menolak. Ia justru kembali memeluk erat Hyesoo sambil tertawa kecil, menggoda ayahnya.

.

Playful Jinu…” kata Soohyuk dengan suara bariton nya.

.

My boy…” sambung Hyesoo.

.

BGM: Block B – Toy

.

Tindakan Jinu pun berhasil membuat suasana di nurse station lebih ceria dari hari lainnya. Wendy, Chunji, dan para perawat yang memandangnya ikut tersenyum cerah dibuatnya. Hanya seseorang yang berdiri dibalik dinding yang tidak merasakan kegembiraan serupa. Rahangnya terkatup rapat, membentuk sebuah garis keras. Anak laki-laki yang berada dalam pelukan Hyesoo membuat Kyuhyun menduga banyak hal dalam pikirannya. Sekaligus menyebabkan sebuah hantaman menekan dadanya.

.

.

.

.

TBC

Note:

Bernapas, readersnim. Bernapas……

Kalian lagi-lagi harus menghadapi is TBC di akhir part ini. Adakah diantara kalian yang sudah bosan dengan FF ini? Haruskah aku mengakhirinya di part selanjutnya? Atau lanjut terus sampai lelah? Well, part ini diawali dengan lanjutan part sebelumnya. Kyuhyun tidak berlutut pada Hyesoo dan hubungan mereka belum membaik. Tapi Kyuhyun kembali berhasil membuat mimpi buruk Hyesoo menghilang. 100 points lagi untuk Kyuhyun!

Akhirnya Kyuhyun menjelaskan alasannya. Bagaimana pendapat kalian, readersnim? Masihkah Kyuhyun menjadi si pria jahat bagi kalian? Bisakah kalian menerima alasan Kyuhyun? Tiba-tiba munculah seorang anak berusia 3 tahun yang bernama Jinu. Kalian masih yakin kalau Hyesoo dan Soohyuk tidak memiliki hubungan apapun? Bahkan setelah kehadiran Jinu?

Part ini berakhir dengan pupusnya harapan Kyuhyun yang menyaksikan kegembiraan Hyesoo saat bersama dengan Soohyuk dan Jinu. Apa yang akan terjadi di part selanjutnya? Akankah usaha Kyuhyun berakhir disini? Aku serius dengan pertanyaanku readersnim, haruskah aku mengakhiri FF ini dengan cepat? Sekali lagi aku akan memberitahukan bahwa case pada pasien di rumah sakit dalam FF ini tidak didasarkan oleh case sebenarnya. Beberapa kejadian dan pemahaman hanya fiktif belaka. Semoga tidak ada perbedaan pendapat maupun kesalahpahaman atas penggunaan nama penyakit atau jenis kasus apapun. Ja, bagaimana kelanjutan dari FF ini? Tunggu di part selanjutnya. Kana pamit! Annyeonghigaseyo…

Advertisements

28 thoughts on “I’m walking towards you : Part 12

  1. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION – evilkyu0203

  2. Yg sabar ya kyu toh ini juga akibat dri prbuatan kmu dulu coba ajh kmu sdikit terbuka buat nyelesein mslh jgn maen ksmpulan sndri apa lagi kluar kata2 yg bkin skit hati mngkn saat ini kmu udh nikah ma hyesoo and hidup bahagia..

    Like

  3. Itu pasti anak adopsi gitu kan??? Ya ampu pasti kyuhyun mikir kalo itu anaknya hyesoo sama soohyuk… Ya ampun 😢😢😢 makin runyem aja ini

    Like

  4. wiii jinwooo anak siapaa tuuu??? anak sohyuk tok atau hyesoo tok atau keduanyaa bersama????
    oh my god.. oh nooo….
    kyuu udaa super gilaa tu… jgj lgiii dahhh

    Like

  5. Walaupun kyuhyun sudah menjelaskan alasannya tapi tetep hyesoo belom bisa memaafkan kyuhyun ,, kyuhyun pasti berfikir kalo jinu anaknya hyesoo ,,

    Like

  6. uhhh…. sesak.
    awal part masih biasa aja nggak ada gejolak, nah tengah mpe akhir bikin orang lupa caranya bernafas.
    meski udah tahu apa alasan kyu ngelakuin itu lima tahun lalu tetep aja masih kesel ama kyu. masih kesel ma kyu selama hyesoo belum maaffin dan balik lahi ke kyu.
    jinu siapa dia apakah dia anak hyesoo ma soohyuk? aku harap tebakanku salah.
    oh… kyu meski masih kesel dan sebel sama kamu. tetaplah berjuang untuk mendapat maaf dari hyesoo trus balikan lagi sama dia.
    dituggu part selanjutnya. jangan lama-lama postnya…

    Like

  7. Nyesek bacanya disaat kyu mulai berusaha memperbaiki kesalahan yang telah dilakukannya. Tapi pada saat itu juga Hyesoo menutup rapat pintu hatinya. Bertambah dengan datangnya jinu dan soohyuk. Apakah kyu masih mau berjuang untuk mendapatkan maaf Hyesoo atau akan mundur? Apakah sebenarnya hubungan antara soohyuk dan Hyesoo? Ditunggu lanjutanya keep writing and fighting.

    Like

  8. Nyesek bacanya, pengakuan kyuhyun yg langsung ditolak sama hyesoo. Mewek bgt baca part ini. Jinu anaknya soohyuk? Atau anak siapa?
    Di part sebelumnya aku kesel sama sikapnya kyuhyun, dan disaat kyuhyun nyesel dan dpt penolakan dari hyesoo aku malah sedih bacanya T.T
    Kyuhyun bahkan lemah banget..

    Like

  9. anak kyuhyun? krn marganya gk sm dng soohyuk. .-. marganya cenderung k hyesoo. Ibu tunggal heu? but, masih nerka2 hubungan mereka berdua. jangan2 dah nikah! 😭 JANGAN! gk boleh ntar kyuhyun nya mateq klo bener dah nikah. kan jantung nya lemah 😢

    Like

  10. Entah kenapa
    Ngeliat perjuangan kyuhyun jga rasa benci hyesoo sedih banget ngerasain’a
    Sama2 berat
    Kyuhyun yg hrus nanggung resiko gra2 sifat dia yg dlu tpi ngeliat perjuangan yg sekarang kasian jga
    Hyesoo yg disakitin skrang jadi berubah jga kasian

    Like

  11. Hheeemmm kyuhyunnn lu harus sabar lu yg bikin semua ini jadi sakit hti hyunsoo, jadi sabar dan samangat buat yakinin hyunsoo
    Dan hyunsoo begitu baik mempermainkan kata yg buat kyuhyun aahhhhh nomu joahae tapi aku ga tega sma kyuhyun

    Like

  12. sebel sama kyuhyun…dia yg bwt rumit masalah…nyimpan beban sendiri…kan hyesoo udah pernah nyoba nyadarin si kyu….eh dia nya yg ngeyel
    aku sempat kepikiran jgn2 jinu itu anak nya hyesoo karna selama 5 tahun ini kan hyesoo pergi dari seattle trus marga nya juga lee….tapi mengingat usia nya…ah gk juga ya plus soohyuk juga marga lee…..
    ahh penasaran lah pokonya…
    thor gk ngebosenin kok…gk usah buru buru amat mau di tamatin nya…ntar feel nya gk dapet lagi…trus nanti kesan nya maksain banget…saranku sih gitu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s