I’m walking towards you : Part 11

Category: PG-15, Romance, Chapter, Sad

Cast:

Cho Kyuhyun, Kim Jaejoong, Lee Hyesoo (OC), Kang Soyu

Kim Ryeowook, Lee Donghae, Im Yoona, Choi Sooyoung, etc…

Disclaimer:

Annyeonghaseyo!!! “I’m walking towards you” kembali. Setelah part 10 yang menyakitkan, akhirnya part 11 hadir sebagai awal baru setelah perpisahan yang terjadi antara Hyesoo dan Kyuhyun. Aku sempat membaca comment readers di part sebelumnya. Comment kalian tidak terduga. Beberapa diantara kalian bahkan berpendapat bahwa sulit untuk menerima ending yang bahagia di FF ini. Jujur, aku pun masih mempertimbangkan ending nya akan seperti apa. Aku hanya berharap semoga saja inspirasi ku tidak tersandung di suatu tempat, agar alurnya masih tetap berada di dalam jalur dan tidak ada twist yang mengecewakan. Tidak seperti part-part sebelumnya, alur dalam part 11 ini akan berjalan sedikit lebih cepat. Latar waktu yang digunakan akan banyak menggunakan skip. Tapi hal itu tidak akan mengurangi keselarasan cerita. Kalian tidak perlu khawatir.

Caution! Cast dalam FF ini juga akan cukup banyak. Entah hanya sebagai cameo atau sebagai peran pendukung. Karena itu, fokuslah wahai para readers-nim. FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasia tau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com

Aku tidak bosan untuk selalu berpesan, jadilah pembaca yang baik dan sopan. Biasakan untuk tidak bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Karena aku yakin para readers adalah orang-orang yang terpelajar dan mengerti sopan santun. Benar? Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 10

“Hidupmu sangat menyedihkan, Lee Hyesoo”.

“Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan, Cho Kyuhyun?”

“Kau terlihat begitu menyedihkan dimataku. Aku tidak bisa menghadapimu lagi”.

“Tidak… Kau tidak merasa begitu…”

“Ini adalah kesungguhanku, Lee Hyesoo. Karena itu, pergi dariku”.

————————-

“Jangan lepaskan aku. Aku tidak ingin merasakan hal ini lagi. Aku tidak bisa”.

“Jangan buat dirimu terlihat lebih menyedihkan, Lee Hyesoo”.

“Kau bisa melepasku setelah aku sudah merasa benar-benar mampu berdiri tanpamu”.

“Pergi. Jangan pernah menemuiku lagi”.

“Jangan seperti ini, Cho Kyuhyun… Aku mohon…”

“Disaat seperti ini kau begitu menyebalkan. Pergilah…”

Dia yang mencintaimu, Lee Hyesoo. Dia begitu mencintaimu…

————————-

“Aku akan memohon untuk kesedihanmu. Kau akan menangis karena rasa sakit kehilangan aku. Kau akan merasakan rasa sakit yang aku rasakan setiap detiknya. Setiap malam tanpa lelap, air mata dan hati yang hancur. Bahkan kau akan menangis dalam mimpimu. Kau juga akan jatuh sampai ke dasar dimana tidak ada lagi harapan untuk kembali bangun. Jangan mati satu detikpun sebelum aku”.

“Jangan bercanda, Lee Hyesoo”.

“Aku bersungguh-sungguh. Aku akan mati sebelum dirimu. Karena aku ingin kau merasakan rasa kehilangan akan aku bahkan sampai saat itu tiba”

————————-

.

.

I’m walking towards you : Part 11

.

.

Author’s POV

BGM: Ggotjam Project – Down on Me

.

“Bangabta, Lee Hyesoo”.

.

“Hhh… Kau bercanda. Nan jogeumdo an-bangabta”, kata Hyesoo membalas sapaan Kyuhyun tanpa menatapnya.

.

“Kau masih sangat marah padaku”, kata Kyuhyun setelah mendengar ucapan Hyesoo.

.

“Tidak. Aku sudah melupakan amarahku untuk waktu yang cukup lama. Aku tidak mendapatkan manfaat apapun dari amarah itu”, kata Hyesoo sambil menuangkan vla diatas pudingnya.

.

“Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku senang bertemu denganmu lagi”, kata Kyuhyun.

.

“Geurae? (Benarkah?) Mengejutkan…” kata Hyesoo dengan nada sarkastiknya. “Mengingat beberapa tahun yang lalu kau begitu gencarnya membuangku”.

.

“Hyesoo-ya……”

.

“Berhenti disitu, Cho Kyuhyun”, kata Hyesoo yang menoleh cepat, menatap tajam pada Kyuhyun. “Kita tidak memiliki hubungan yang cukup dekat hingga kau bisa memanggilku seperti itu”, kata Hyesoo memotong ucapan Kyuhyun.

.

“Aku mengerti. Aku minta maaf. Seharusnya aku tidak bersikap seperti ini setelah semua hal yang sudah aku lakukan padamu”, kata Kyuhyun menyesal.

.

“Sudahlah… Semua itu sudah berlalu”, kata Hyesoo yang kembali memalingkan wajahnya.

.

“Aku merindukanmu…”

.

“Hhh… Gae gateun sorihane… (Omong kosong…)” Hyesoo kembali mencibir ucapan Kyuhyun. “Bagaimana? Apakah akhirnya aku berhasil membuatmu menangis untukku? Seberapa sakit yang kau rasakan?”

.

“Rasanya seperti mau mati. Seolah aku kehilangan hidupku disaat yang sama ketika kau pergi dariku”, jawab Kyuhyun.

.

“Sudah semestinya begitu…”

.

Berselang beberapa saat, Soohyuk kembali dari toilet. Tanpa menghiraukan keberadaan Kyuhyun, Soohyuk meraih pinggang Hyesoo, membuat Hyesoo menoleh cepat padanya. “Apa aku terlalu lama?” tanya Soohyuk setelahnya.

.

“Tidak”, jawab Hyesoo singkat dengan senyum tulus diwajahnya.

.

“Apakah kau ingin ke tempat yang lebih tenang?” tanya Soohyuk lagi.

.

“Tentu”, jawab Hyesoo. Soohyuk memindahkan tangannya ke punggung Hyesoo, seolah meminta Hyesoo berjalan di depannya. Namun Hyesoo menoleh sesaat pada Kyuhyun. “Nikmati sisa pesta ini, Cho Kyuhyun” kata Hyesoo.

.

“Sampai bertemu, Lee Hyesoo” balas Kyuhyun.

.

.

.

Kyuhyun’s POV

BGM: Yoon Duk Won – Madly

.

“Nikmati sisa pesta ini, Cho Kyuhyun” kata Hyesoo.

.

“Sampai bertemu, Lee Hyesoo” balasku.

.

Hyesoo pergi bersama pria yang sejak tadi bersamanya, tanpa menoleh lagi sedikitpun padaku. Mereka terlihat begitu dekat, bahkan lebih dekat dari yang semula ku perkirakan. Kedua mataku masih bisa menangkap sosok Hyesoo yang berjalan dengan santai di halaman belakang rumahnya melalui dinding kaca yang berada di belakangku. Ia masih secantik yang ku ingat. Hanya saja kini keanggunan menyelubunginya, mengiringi setiap geraknya, dan tergambar dari tatapan matanya. Ada sebuah senyuman mengembang yang menghiasi wajahnya. Ia bahkan tertawa ceria pada pria itu. Hyesoo tidak akan terlihat sebahagia itu jika tetap bersamaku.

.

Hyesoo sangat membenciku. Kenyataan itu tidak akan bisa ku ubah dengan mudah. Terlihat jelas dimatanya. Setelah semua kesalahan yang ku perbuat. Setelah aku menyakitinya begitu dalam. Aku tidak punya pilihan lain selain menerimanya. Aku bahkan tidak punya hak untuk keberatan pada sikapnya. Hyesoo patut membenciku. Hyesoo patut bersikap buruk padaku. Aku hanya bisa mensyukuri kenyataaan bahwa Hyesoo masih mau bicara padaku. Meski nada bicaranya begitu sarkastik, tapi dia tidak menghindariku. Kenyataan itu membuatku tersenyum pada diriku sendiri. Aku pun melangkah keluar melalui pintu depan rumah itu. Aku sudah melakukan semua hal yang harus ku lakukan. Aku bahkan mendapatkan bonus yang tidak sepantasnya ku dapatkan. Aku bicara padanya. Aku masuk ke dalam mobilku dan membiarkan Baekhyun mengemudikannya menuju apartment.

.

Aku tidak bisa berhenti mencintainya. Tidak. Aku bahkan tidak pernah mencoba untuk melakukan hal itu. Berpikir begitu pun aku tidak mampu. Aku begitu mencintainya dengan segala kemampuan yang ku miliki. Jantungku masih berdetak cepat hanya dengan melihat wajah tersenyumnya. Ketenangan menyelimutiku saat Hyesoo berada dekat denganku. Seakan aku bisa melakukan apapun untuknya. Bahkan jika ia memintaku mati saat ini juga, aku akan melakukannya. Karena disetiap detak jantungku, masih ada cinta untuknya. Hari ini akhirnya matahari kembali terbit dalam duniaku. Kegelapan yang selama lima tahun mengelilingiku perlahan memudar. Aku kembali menemukan alasan untuk melanjutkan hidupku yang sempat terhenti dengan kepergiannya.

.

Dia akan kembali suatu saat nanti‘. Aku tidak pernah lupa dengan ucapan Donghae padaku dua tahun yang lalu. Saat aku hampir gila karena mencari Hyesoo. Saat itu aku hampir menyerah. Hyesoo pergi tanpa jejak. Setelah kembali ke Seattle bersama Donghae, Hyesoo kembali meninggalkan kota itu. Tidak ada satu orang pun yang mengetahui keberadaannya. Bahkan kala itu Donghae memilih untuk membiarkan Hyesoo melakukan apapun yang diinginkannya tanpa mendesak Hyesoo untuk memberitahukan keberadaannya. Donghae hanya meyakini bahwa Hyesoo akan kembali suatu saat nanti. Aku sempat meragukan ucapan Donghae. Aku melakukan segala cara untuk menemukan Hyesoo. Aku mendatangi negara-negara yang mungkin Hyesoo singgahi. Tapi aku tetap tidak menemukannya.

.

Aku hanya mengetahui bahwa ia bahagia. Aku tidak mendapatkan berita apapun selama bertahun-tahun. Aku kehilangan jejaknya. Aku hanya mengetahui satu hal tentangnya. Hyesoo bahagia. Seorang staf yang membantuku menemukan sebuah posting yang di unggah seseorang di SNS miliknya. Sebuah foto yang diambil dua tahun setelah kepergiannya di Mexico. Seharusnya aku bisa menemukan Hyesoo dengan mudah setelahnya. Namun takdir tidak berpihak padaku. Aku baru menemukan foto itu satu tahun setelah pengunggahannya. Aku kembali berpikir untuk menyerah. Hyesoo bahagia dengan kehidupannya. Aku berpikir bahwa Hyesoo sudah mampu melupakanku. Hyesoo sudah keluar dari bayang-bayang kegelapanku. Hyesoo sudah terbebas dari diriku yang jahat. Aku merasa lega akan hal itu. Aku memutuskan untuk berhenti mengejarnya. Saat itu, jantungku pun ikut menyerah bersamaku.

.

“Hhhhh…… ehem…… huf……”

.

Sebuah hentakan seolah baru saja menggetarkan jantungku. Efek pertemuanku dengan Hyesoo beberapa saat yang lalu belum melambatkan detakannya. Rasa tidak nyaman kembali ku rasakan. Aku merasa seperti sedang di kurung dalam ruangan tanpa lubang udara. Begitu sesak hingga membuatku kesulitan untuk bernapas. Aku pun membuka jendela mobil disampingku. Aku membutuhkan asupan udara sebanyak-banyaknya. Aku tidak pernah menduga efeknya akan seperti ini.

.

“Hyung, kau baik-baik saja?” tanya Baekhyun yang menyadari perubahan sikapku.

.

“Eo… Aku baik-baik saja”, jawabku.

.

Kemudian Baekhyun mengarahkan kaca spion padaku untuk membuktikan kebenaran dari jawabanku. “Hyung, kau tidak baik-baik saja. Wajahmu pucat dan bibirmu berwarna kebiruan”.

.

Aku segera memeriksa keadaan jari-jari tanganku setelah mendengar ucapan Baekhyun. Aku menemukan tanda-tanda yang sama. Jari-jari ku juga mulai menunjukkan tanda kebiruan. Ini bukan pertanda baik. Pikiranku berada dalam situasi yang tenang. Tapi jantungku tidak sependapat dengannya. Aku bisa merasakan degup kencang di dadaku dan napas yang mulai menjadi berat berhembus melalui hidungku. Aku segera menutup jendela, lalu membuka jas yang ku kenakan beserta dengan dasi dan kancing teratas kemejaku. Aku berusaha mengatur napasku. Namun pandangan mataku mulai berbayang.

.

“Hyung, tolong jangan diam saja! Katakan sesuatu!” seru Baekhyun yang mengkhawatirkan keadaanku.

.

“Ke rumah sakit, Baekhyun-ah… Rumah sakit…” kataku dengan suara berbisik yang bahkan mampu mengejutkanku. Aku terdengar begitu lemah.

.

“Bertahanlah, hyung…” kata Baekhyun setelahnya.

.

“A…ajak…aku… Hhh… bi…bica…bicara…… Hhh… Pastikan aku…… aku tetap… dalam… ke…….kea……daan sadar”, kataku terbata.

.

“Ne, hyung!” kata Baekhyun yang menyanggupi permintaanku. Baekhyun pun melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, namun masih dalam batas yang semestinya. Aku pun menendang kursinya, membuat Baekhyun menatap kaca spion dengan cepat.

.

Talk…… Talk to me… Hhh… Bicara…… inma!” perintahku sekali lagi karena Baekhyun tidak kunjung bicara padaku.

.

.

BGM: Tearliner – 속의

.

Author’s POV

At Apartment Hyesoo

Malam harinya…

.

Hyesoo sudah terlelap sejak satu jam yang lalu di sofa depan televisi. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Namun Soohyuk masih duduk diatas karpet, terjaga karena mengkhawatirkan keadaan Hyesoo. Soohyuk bahkan menoleh memeriksa keadaan Hyesoo setiap 10 menit sekali. Soohyuk khawatir mimpi buruk yang pernah menghantui Hyesoo kembali datang. Terhitung selama dua tahun terakhir frekuensi munculnya mimpi buruk Hyesoo sudah sangat berkurang. Diawal pertemuannya dengan Hyesoo, mimpi buruk itu bahkan hampir datang tiap malamnya. Namun dalam dua tahun terakhir, Soohyuk hanya mendapati Hyesoo yang gelisah dan menjerit satu kali dalam beberapa bulan. Dan kejadian yang dialami Hyesoo hari ini membuat Soohyuk menduga akan datangnya mimpi buruk di tidur lelap Hyesoo.

.

Dugaannya tidak meleset. Soohyuk baru memeriksa keadaan Hyesoo tiga menit yang lalu. Namun hanya dalam tiga menit saja, kondisi Hyesoo berubah. Napas Hyesoo terdengar terengah, seolah Hyesoo sedang berlari di lintasan yang begitu panjang. Jari-jari Hyesoo pun menggenggam kuat selimut yang menyelubungi tubuhnya. Butir keringat mulai terlihat di keningnya. Kedua alis Hyesoo bertaut membentuk garis yang terhubung satu dengan yang lainnya. Soohyuk bergerak mendekat pada Hyesoo yang mulai bergumam. Soohyuk menyentuh tangan Hyesoo yang mengepal kuat. Lalu dengan tangannya yang lain, ia menyentuh bahu Hyesoo, mencoba membangunkannya.

.

“Hyesoo-ya… Lee Hyesoo, buka matamu. Lee Hyesoo!” kata Soohyuk sambil mengguncang tubuh Hyesoo.

.

Mata Hyesoo sontak terbuka bersamaan dengan hembusan napas panjangnya. Hyesoo terbangun dari mimpi buruknya. Ia terlihat begitu kewalahan, seperti baru saja menaiki ribuan anak tangga menuju puncak gunung. Hyesoo beranjak duduk, sementara Soohyuk berpindah tempat ke samping Hyesoo sambil memberikan segelas air yang ada di meja pada Hyesoo. Soohyuk mengambil salah satu pergelangan tangan Hyesoo lalu memeriksa denyut nadinya. Frekuensi denyut nadi Hyesoo begitu cepat dan kuat. Tangan Hyesoo juga terasa begitu dingin. Mimpi buruk yang datang dalam tidur Hyesoo kali ini benar-benar membuat Hyesoo ketakutan.

.

“Apa gambarannya kali ini?” tanya Soohyuk setelahnya.

.

“Aku berada dalam sebuah mobil…” kata Hyesoo mengawali penjelasannya. “Aku mengemudi dengan sangat cepat. Siwon duduk disebelahku. Dia begitu tenang. Dia bahkan memberikan senyuman padaku. Tapi ketenangan tidak ada dalam diriku. Ada air mata yang mengalir di pipiku. Aku begitu marah dalam situasi itu. Namun Siwon menyentuh bahuku, seakan sedang mencoba menenangkanku. Dia menggerakkan bibirnya, seolah mengatakan sesuatu padaku. Lalu mobilku tertabrak. Setelah itu aku bangun”.

.

“Kau menangkap apa yang dikatakannya?” tanya Soohyuk lagi.

.

“Aku sedang mencoba untuk mengingatnya. Aku tidak dapat mendengar suaranya sedikitpun”, jawab Hyesoo.

.

“Apakah gambaran itu adalah kejadian yang sama dengan kecelakaan yang menimpamu?” tanya Soohyuk menghubungkan mimpi Hyesoo dengan kejadian di dunia nyata.

.

“Tidak. Siwon tidak berada dalam mobil yang sama denganku 8 tahun yang lalu. Soohyuk-ah, ada apa kali ini? Kenapa aku kembali mendapatkan mimpi-mimpi ini?” tanya Hyesoo kali ini.

.

“Dalam penilaianku, kau belum benar-benar bisa melepaskan sesuatu. Apapun itu. Kau masih berada dalam tekanan. Pola nya berbeda setiap waktu. Kali ini kemarahan yang sedang meliputimu. Bahkan kau marah dalam mimpimu. Tapi kau merasa lega disaat yang bersamaan”, ujar Soohyuk mencoba menjelaskan pendapatnya.

.

“Aku tidak mengerti. Jadi, apa kesimpulanmu dengan semua itu?” tanya Hyesoo sekali lagi.

.

“Dia kembali dalam situasi yang tidak pernah kau duga sebelumnya. Kau sangat marah padanya. Tapi disisi lain kau juga merasa lega saat menatapnya”, jawab Hyesoo.

.

“Siapa yang sedang kau bicarakan, Lee Soohyuk?” tanya Hyesoo dengan tatapan bingung yang tergambar di wajahnya.

.

“Kau tidak bisa membohongiku, Lee Hyesoo. Pria yang bicara denganmu di pesta tadi. Dia pria yang sama, bukan? Pria yang tidak bisa kau lepaskan dari pikiran dan hatimu dengan mudah”, kata Soohyuk.

.

“Kami tidak memiliki hubungan apapun, Soohyuk-ah. Dia bukan siapa-siapa”, kata Hyesoo yang tidak benar-benar menjawab pertanyaan Soohyuk.

.

“Kau benar. Kalian tidak memiliki hubungan apapun saat ini”, kata Soohyuk sambil mengangguk pelan. “Tapi aku menduga dia memiliki hubungan dengan mimpi-mimpi yang meresahkanmu. Meski dia tidak pernah benar-benar datang ke dalam mimpimu, entah mengapa aku meyakini sosok Siwon lah yang sedang mengutarakan pesan yang tidak pernah tersampaikan oleh pria itu”.

.

“Hhh… Bisakah kita membicarakan hal ini lain kali? Aku merasa begitu lelah”, pinta Hyesoo mencoba menghindari pembicaraan yang akan menjurus pada Kyuhyun.

.

“Baiklah. Aku mengerti…” kata Soohyuk setuju. “Maafkan aku… Aku belum menemukan cara yang mampu menghapus mimpi burukmu, Hyesoo-ya”.

.

“Kau sudah melakukan banyak hal untukku, Soohyuk-ah. Kau bahkan menemaniku disini”, kata Hyesoo meyakinkan Soohyuk.

.

“Tapi keberadaanku tidak pernah bisa menghalau mimpi buruk dalam tidurmu”, kata Soohyuk.

.

“Keberadaanmu saat aku membuka mataku sudah lebih dari cukup”.

.

“Hhh… Jadi, kau akan mulai bekerja besok?” tanya Soohyuk mengganti topik pembicaraan mereka.

.

Hyesoo tersenyum pada perubahan topik pembicaraan Soohyuk yang begitu cepat. “Benar. Aku sudah kembali ke Seoul. Sebaiknya aku mencari sedikit kesibukan”, jawab Hyesoo.

.

“Kau yakin akan melakukan hal ini? Kau tahu, kau bisa bekerja di London saja. Aku akan ada untukmu kapanpun”, tanya Soohyuk yang meragukan keputusan Hyesoo.

.

“Kau tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja. Lagipula, aku tidak bisa terus menerus melarikan diri. Kota ini adalah rumahku. Aku sudah meninggalkan keluargaku untuk waktu yang cukup lama. Ini waktu yang tepat untuk kembali”, jawab Hyesoo.

.

“Baiklah jika itu keputusanmu. Kau tahu, aku akan selalu mendukungmu, bukan? Aku akan tetap berada disisimu”, kata Soohyuk.

.

“Terima kasih banyak… You’re the best…” kata Hyesoo yang memberikan pelukan hangat pada Soohyuk.

.

.

BGM: SHINee – Girls, Girls, Girls

.

Author’s POV

At Shinsung Hospital

Dua bulan kemudian

.

Dua bulan berlalu dengan cepat. Hari-hari di kota Seoul berjalan seperti yang semestinya. Soohyuk kembali ke London satu bulan yang lalu. Ia harus meninggalkan Hyesoo di Seoul dengan berat hati untuk menyelesaikan pekerjaannya yang menunggu di London. Beruntung, tidak ada kejadian buruk apapun dalam dua bulan terakhir. Hyesoo mampu beradaptasi dengan baik di rumah sakit tempatnya bertugas. Keberadaan Jaejoong, Ryeowook, Soyu, Suho, dan Irene yang sudah ia kenal sejak bertahun-tahun yang lalu membuatnya merasa nyaman berada di lingkungan baru yang tidak familiar itu. Hyesoo pun mampu berhubungan baik dengan dokter senior, rekan-rekan dokter, para perawat, dan petugas medis yang lain. Hyesoo tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berhubungan baik dengan mereka. Sebagai seorang dokter spesialis bedah saraf, Hyesoo sudah dipercayakan untuk menangani operasi nya sendiri tanpa campur tangan dokter spesialis senior.

.

Situasi berbeda justru terlihat di UGD. Sore ini, tidak banyak pasien yang berdatangan ke UGD. Namun situasi disana juga tidak bisa dikatakan sepi. Beberapa dokter intern yang baru saja mendapatkan giliran bertugas di UGD terlihat sedang menangani pasien di beberapa bed. Beberapa diantara mereka mendapatkan pendampingan dari senior yang bekerja di rumah sakit itu, maupun dari para residen. Sementara di nurse station, tidak terlihat satu dokter pun disana. Hingga langkah ringan dan ceria seorang dokter memasuki ruang UGD. Suasana hatinya begitu tergambar jelas di wajah dengan senyum mengembang itu. Ia bahkan menggumamkan barisan nada yang terdengar merdu di telinga siapapun yang mendengar suaranya.

.

Good evening!” sapa Ryeowook dengan semangat. O! Kenapa terlihat begitu sepi? Dimana yang lainnya?” tanya Ryeowook setelahnya sambil berjalan menuju salah satu kursi yang kosong.

.

“Siapa yang kau cari, Kim Ryeowook?” tanya Luna, perawat senior UGD dan juga teman Ryeowook.

.

“Semua orang, Park Luna” jawab Ryeowook.

.

“Para dokter intern sedang memeriksa pasien. Dokter Kim Suho sedang melakukan operasi bersama dokter Kim Jaejoong, begitupun dengan dokter Lee. Dokter Kang sedang menghadap kepala bagian. Sedangkan dokter Bae menghadiri seminar”, jawab Luna secara terperinci pada Ryeowook.

.

“Sudah berapa lama mereka melakukan operasi?” tanya Ryeowook.

.

“Tiga jam untuk dokter Kim dan dua setengah jam untuk dokter Lee. Keduanya seharusnya sudah hampir selesai saat ini”, jawab Luna.

.

“O! Kau benar. Itu dia. Sunbae!” seru Ryeowook memanggil Jaejoong yang baru saja memasuki ruang UGD.

.

“Mwoya Kim Ryeowook… Kau terlihat ceria sekali sore ini”, kata Jaejoong dengan malas.

.

“Tentu saja, sunbae. Aku sedang dalam kondisi fisik dan psikis yang sangat baik hari ini”, kata Ryeowook dengan senyum mengembangnya.

.

“Begitu? Kenapa?” tanya Jaejoong sambil membuka catatan rekam medik pasien.

.

“Karena cinta…” jawab Ryeowook dengan salah satu tangan yang menyentuh dadanya.

.

“Apalagi yang Hyeri lakukan padamu sehingga membuatmu kehilangan akal sehat seperti ini?” tanya Jaejoong.

.

“Ch… Orang tua… Aku sangat normal hari ini, sunbae. Apa maksudmu dengan kehilangan akal sehat?” kata Ryeowook tidak setuju dengan pendapat yang diutarakan Jaejoong.

.

“Karena kau memang terlihat begitu”, kata Hyesoo yang berjalan menghampiri mereka.

.

“Lee Hyesoo… Apa yang kau lakukan disini?” tanya Ryeowook heran.

.

“Apa maksud dari pertanyaanmu? Tentu saja bekerja. Memangnya rumah sakit adalah tempat bermain bagimu?” tanya Hyesoo yang segera meraih sebuah rekam medik di hadapan Ryeowook.

.

“Tidak… Bukan begitu… Tadi saat Luna memberitahuku, aku pikir dokter Lee yang dia maksud adalah Lee Jinki. Kenapa kau yang berada disini? Bukankah seharusnya kau off hari ini?” tanya Ryeowook.

.

“Ah… Padahal aku sudah melupakannya”, kata Hyesoo sambil menutup rekam medik ditangannya. “Kau mengingatkanku lagi, Kim Ryeowook”.

.

“Kenapa? Apa?” tanya Ryeowook penasaran.

.

“Geu Lee Jinki saekki ish… Ah molla… Aku sudah terlalu lelah untuk marah pada bocah itu”, keluh Hyesoo sambil merebahkan kepalanya di meja.

.

“Park Luna, ada apa? Kenapa Hyesoo seperti ini?” tanya Ryeowook pada Luna.

.

“Hyesoo sunbae harus standby selama 72 jam untuk menggantikan jadwal Jinki sunbae”, jawab Suho yang bergabung bersama mereka.

.

“Daebak…” kata salah satu dokter intern memberikan responnya.

.

“Mwoya… Kenapa?” tanya Ryeowook lagi.

.

“Suho-ya… Jam berapa sekarang?” tanya Hyesoo tanpa menghiraukan pertanyaan Ryeowook.

.

“Apa yang kau lakukan, Lee Hyesoo? Angkat kepalamu. Kau masih harus terjaga selama 18 jam ke depan”, kata Soyu yang baru saja tiba di UGD.

.

“O! Kang Soyu-da! Annyeong…” sapa Hyesoo dengan senyum lelah di wajahnya.

.

“Kau benar-benar terlihat seperti zombie, Lee Hyesoo” kata Ryeowook.

.

“Zombie yang cantik?” tanya Hyesoo bergurau sambil menyentuhkan kedua telapak tangannya di kedua pipinya.

.

“Tidak ada zombie yang cantik, bodoh” cela Ryeowook.

.

“Apa katamu? Bicara dengan benar, Kim Ryeowook. Kau tidak memanggilku nuna? Ch…” protes Hyesoo.

.

Ryeowook sontak menutup mulutnya, mengundang semua orang yang berada disana tertawa menyaksikan perubahan sikapnya. Hyesoo pun ikut tertawa dibuatnya. Wajah Ryeowook yang selalu bisa memunculkan ekspresi komik tidak pernah absen menghadirkan keceriaan di ruangan yang memiliki rutinitas tidak terhentikan itu. Bagi setiap petugas medis yang berada di ruangan itu, Ryeowook adalah penyelamat bagi psikis mereka yang seringkali lelah karena beban kerja yang cukup berat.

.

“Auh… Kenapa gadis yang ku sukai harus memiliki kakak seperti Lee Hyesoo dan Lee Donghae?” keluh Ryeowook setelahnya.

.

“Ada apa dengan Donghae?” tanya Hyesoo santai sambil menatap datar pada Ryeowook.

.

“Lihatlah disana! Supervisor kita, Kim Jaejoong, adalah sahabatnya. Dia juga salah satu pelindung Lee Hyeri, kau tahu?” kata Ryeowook.

.

“Karena itu aku pernah mengatakan jangan mengencani adikku, inma” kata Jaejoong dengan nada bercanda sambil menepuk kepala Ryeowook pelan dengan rekam medik ditangannya.

.

“Benar… Hoam… Kau hanya mendapatkan keberuntungan karena mendapatkan Lee Hyeri. Selebihnya… hoam… adalah nasib kurang baik yang kau ciptakan sendiri”, sambung Hyesoo sambil menguap beberapa kali.

.

“Lee Hyesoo, masuklah ke kamar dan istirahat. Kau benar-benar terlihat seperti zombie saat ini”, kata Jaejoong.

.

“Tidurlah selama beberapa jam, Hyesoo-ya. Aku akan menjadi back up mu hari ini. Jika ada kasus penting, aku akan membangunkanmu”, sambung Soyu.

.

“Benarkah? Gomawo… Kau memang yang terbaik, Kang Soyu” kata Hyesoo merasa tersentuh menerima bantuan yang diberikan Soyu.

.

“Bagaimana denganku?” tanya Jaejoong.

.

“Nae maeum alji? Saranghanda, Kim Jaejoong seonsaeng… (Kau tahu isi hatiku, ‘kan? Aku mencintaimu, dokter Kim Jaejoong…)” kata Hyesoo dengan wajah berseri-seri konyolnya.

.

“Ah, hentikan… Melihat kalian seperti ini membuatku merinding”, ujar Ryeowook.

.

“Begitupun denganku”, sambung Suho.

.

“Ada apa dengan kalian berdua? Iri?” protes Hyesoo pada Ryeowook dan Suho.

.

“Tidak. Aku justru merasa takut dengan kedekatan kalian. Bagaimana bisa…… Dulu kalian……. Saling…… Satu sama lain…” kata Ryeowook.

.

“Apa yang sedang coba kau katakan, Kim Ryeowook?” tanya Hyesoo dengan tawa kecil yang menyertainya.

.

“Tidak ada. Pergilah… Tidur selama beberapa jam. Pergi…” kata Ryeowook memerintahkan Hyesoo untuk segera pergi tidur.

.

“Kau tidak akan merindukanku saat aku tidak ada?” tanya Hyesoo bergurau.

.

“Tidak akan. Pergi…” jawab Ryeowook dengan nada sarkastiknya.

.

“Arasseo… Aku akan tidur selama beberapa jam, teman-teman tercintaku. Sampai bertemu lagi. I love you…” kata Hyesoo yang juga melayangkan kiss-bye pada semua rekannya.

.

“Michin nyeon…” kata Ryeowook yang tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.

.

“Ada sesuatu yang terjadi, bukan?” tanya Soyu dengan suara pelan setelah Hyesoo sudah berjalan menjauh. “Hyesoo tidak pernah melakukan jadwal ekstreem 72 jam nonstop seperti ini sebelumnya”.

.

“Aku tidak tahu”, jawab Ryeowook. “Aku juga merasa ada yang aneh padanya”.

.

“Mereka kembali bertemu”, kata Jaejoong dengan tenang.

.

“Siapa?” tanya Soyu dan Ryeowook bersamaan.

.

“Hyesoo”, jawab Jaejoong singkat.

.

“Tentu saja. Sejak tadi kita memang sedang membicarakannya”, protes Ryeowook pada jawaban Jaejoong. “Dengan siapa?”

.

“Cho Kyuhyun”, jawab Jaejoong.

.

“Benarkah? Bagaimana bisa?” tanya Ryeowook terkejut.

.

“Donghae mengundang Cho Kyuhyun ke acara pertunangan”, jawab Jaejoong sekali lagi.

.

“Kyuhyun benar-benar datang? Wah… Aku tidak menduganya… Ku kira dia tidak akan datang…” kata Soyu.

.

“Michin nom… Auh… Tentu saja. Mereka kembar. Lee Hyesoo dan Lee Donghae. Keduanya gila. Ani, wae? Kenapa Donghae harus mempertemukan mereka dalam acara itu? Hyesoo baru saja kembali ke Seoul hari itu, bukan? Kenapa dia tidak menggunakan waktu lain? Ch…” keluh Ryeowook.

.

“Kau benar. Seharusnya Donghae menunggu waktu yang tepat untuk mempertemukan mereka. Tapi jika aku berada di posisi Donghae, maka aku akan melakukan hal yang sama. Donghae dan Kyuhyun berteman. Perusahaan keduanya juga menjalin kerjasama. Donghae tidak mungkin mengabaikan Kyuhyun”, kata Soyu.

.

“Ah, molla. Hanya Hyeri ku yang waras dari ketiga bersaudara itu”, keluh Ryeowook lagi.

.

“Aku setuju denganmu kali ini”, kata Soyu setuju. Soyu pun lantas bangkit berdiri dari kursinya sambil membawa sebuah amplop besar di tangannya. “Aku harus ke radiologi. Aku akan segera kembali”.

.

“Bawakan aku minuman saat kembali, Soyu-ya” pesan Ryeowook.

.

“Arasseo…” jawab Soyu sambil berlalu.

.

Soyu datang ke ruang radiologi untuk mendapatkan hasil pemeriksaan seorang pasien. Kondisi pasiennya yang berubah drastis beberapa jam yang lalu membuat penanganan harus segera diberikan padanya. Karena itu, Soyu yang baru kembali dari konferensi langsung menawarkan diri pada perawat di ruang rawat inap untuk mengambilnya langsung sebelum menuju kesana. Setelah mendapatkan hasil yang ia butuhkan, Soyu segera keluar dari ruangan itu untuk menuju ke ruang rawat inap. Namun Soyu justru berpapasan dengan Kyuhyun saat melalui koridor lantai 3.

.

“Apa kabar, Kang Soyu?” sapa Kyuhyun. “Keadaan terkendali?”

.

“Sangat terkendali”, jawab Soyu. “Aku dengar kalian bertemu”, sambung Soyu.

.

“Hm?” tanya Kyuhyun dengan gumamannya.

.

“Aku bicara tentang Hyesoo”, jawab Soyu.

.

“Ah… Benar. Kami juga sudah bicara”, kata Kyuhyun.

.

“Jadi, bagaimana?” tanya Soyu.

.

“Belum ada yang berubah. Hyesoo tidak menyukaiku lagi. Dia sangat marah padaku”, jawab Kyuhyun dengan senyum mirisnya.

.

“Kau pantas mendapatkannya, Cho Kyuhyun” kata Soyu mengingatkan.

.

“Aku tahu… Ah, apa hari ini Hyesoo bertugas?” tanya Kyuhyun dengan semangat.

.

“Eo…”

.

“Dia sedang melakukan operasi? Atau sedang di UGD? Aku ingin melihat wajahnya sebentar saja. Aku janji aku akan melihatnya dari kejauhan seperti yang biasa ku lakukan”, tanya Kyuhyun dengan menggebu.

.

“Hyesoo sedang tidur di ruangan”, jawab Soyu. “Jangan ganggu dia hari ini, Cho Kyuhyun. Dia sangat lelah. Dia sudah terjaga lebih dari 50 jam”.

.

“Apa? Kenapa?” tanya Kyuhyun terkejut.

.

“Ada hal seperti itu. Kesetiakawanan sesama dokter. Setidaknya itu yang diketahui semua orang. Tapi baik aku ataupun kau, pasti tahu alasan lain yang dimilikinya”, jawab Soyu.

.

“Benar…” kata Kyuhyun setuju.

.

“Datanglah kesana. Hyesoo tidak terbangun dengan mudah. Tapi pastikan kau tidak mengangkat tubuhnya. Dia sangat sensitif akan hal itu”, kata Soyu memberikan ijin sekaligus saran pada Kyuhyun.

.

“Baiklah. Terima kasih karena tidak bersikap memusuhiku sampai saat ini”, kata Kyuhyun dengan tulus.

.

“Aku tidak punya hak untuk menghakimimu. Aku pergi dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Aku harus membantu pekerjaan gadis yang kau cintai, direktur Cho. Sampai bertemu…” kata Soyu sambil tersenyum.

.

“Terima kasih banyak, Kang Soyu. Sampai bertemu…” sambung Kyuhyun.

.

.

####################

.

Kyuhyun pun tidak membuang waktunya lebih lama lagi. Setelah mendapatkan ijin dari Soyu untuk menemui Hyesoo, Kyuhyun segera menuju ke ruangan istirahat para dokter di lantai satu gedung rumah sakit itu. Dengan bantuan petunjuk dari salah seorang office boy yang berpapasan dengannya di koridor, Kyuhyun dapat menemukan ruangan itu dengan mudah. Kyuhyun berdiri di depan pintu selama beberapa saat. Jantungnya berdegup kencang. Keinginannya untuk masuk ke dalam dan melihat wajah Hyesoo sejalan dengan kekhawatirannya akan reaksi yang mungkin diberikan Hyesoo jika ternyata Hyesoo tidak sedang dalam keadaan tidur saat ini. Namun keinginan yang dimilikinya mengalahkan segala kekhawatiran dan keraguan yang ia rasakan. Kyuhyun pun menyentuh gagang pintu, lalu dengan perlahan membuka pintu ruangan itu agar tidak membangunkan siapapun yang sedang tidur di dalam sana. Kyuhyun melangkahkan kakinya masuk ke ruangan itu. Hanya ada Hyesoo disana. Cahaya termaram di dua sudut ruangan memberikan penerangan yang lebih dari cukup. Kyuhyun menutup pintu di belakangnya, kembali dengan perlahan lalu mengunci pintu itu. Kyuhyun berjalan mendekat pada Hyesoo yang tertidur sangat pulas di sebuah ranjang tanpa selimut yang menutupi tubuhnya. Bahkan Hyesoo masih mengenakan jubah putihnya untuk tidur.

.

BGM: I Missing You (Jeju Island Gatsby OST)

.

Kyuhyun duduk dilantai tanpa memikirkan hal lainnya. Ia memandang Hyesoo yang tidur dengan tenang. Suara helaan napas Hyesoo begitu lembut mengisi keheningan ruangan itu, menambah syahdu suasana disekitar mereka. Sebuah senyum kecil tergambar diwajah Kyuhyun. Ia begitu merindukan momen teduhnya bersama Hyesoo seperti saat ini. Dimana ia bisa memandang wajah tertidur Hyesoo tanpa mempedulikan waktu yang berjalan. Wajah terlelap Hyesoo masih secantik yang ia ingat. Hyesoo terlihat begitu tenang dan damai dalam alam tidurnya, membuat Kyuhyun merasakan ketenangan yang serupa. Tiba-tiba Hyesoo bergerak. Kyuhyun sontak bersikap waspada pada pergerakan Hyesoo, bersiap untuk pergi jika sewaktu-waktu Hyesoo bangun. Kyuhyun belum melepaskan pandangannya dari Hyesoo. Ia memperhatikan perubahan yang terjadi di wajah Hyesoo. Alis Hyesoo bertaut, wajah tenangnya berubah menjadi cemas, dan tangannya menggenggam sprei dengan kuat. Sontak Kyuhyun menyentuh tangan Hyesoo tanpa memikirkan akibat yang mungkin dapat ditimbulkan dari sentuhan itu.

.

Namun dugaannya salah. Hyesoo tidak terbangun. Hyesoo justru kembali tenang seperti semula. Perubahan itu membuat Kyuhyun menyerah. Kyuhyun tidak mampu terus bertahan dalam diam. Ia sangat ingin menyentuh Hyesoo, memeluknya untuk menenangkannya dari apapun yang mengganggu tidurnya beberapa saat yang lalu. Meski Soyu sudah melarang Kyuhyun untuk membuat pergerakan apapun pada Hyesoo, tapi Kyuhyun tidak bisa mencegah keinginan hatinya. Kyuhyun pun segera membuka jasnya, meletakkannya di kursi yang berada tidak jauh darinya. Kemudian Kyuhyun naik ke tempat tidur, berbaring disamping Hyesoo. Tidak ada reaksi apapun dari Hyesoo. Lantas Kyuhyun memasukkan lengannya ke bawah leher Hyesoo kemudian menarik tubuh Hyesoo mendekat padanya. Kyuhyun memeluk tubuh Hyesoo, merengkuhnya lagi setelah sekian lama tubuh itu menjauh dari jangkauannya. Kyuhyun memberikan sebuah kecupan lembut di puncak kepala Hyesoo. Tiba-tiba ada sebuah pergerakan dari Hyesoo. Kepala Hyesoo bergerak. Semula Kyuhyun menduga Hyesoo akan menjauh dan melepaskan diri darinya. Namun Hyesoo justru membenamkan wajahnya di leher Kyuhyun. Tangan Hyesoo pun melingkar di pinggang Kyuhyun. Tubuh keduanya saling bersentuhan, memberikan kehangatan pada satu sama lain.

.

“Kau kembali lagi…” kata Hyesoo dengan suara yang sangat pelan dalam pelukan Kyuhyun.

.

“Apa kau akan mengusirku?” tanya Kyuhyun berbisik.

.

“Aku terlalu lelah untuk melakukan itu”, jawab Hyesoo.

.

“Jadi, aku boleh tinggal?” tanya Kyuhyun sekali lagi.

.

“Aku hanya ingin tidur saat ini. Berhenti bicara atau pergi”, kata Hyesoo.

.

“Aku mengerti”, kata Kyuhyun setuju.

.

Hyesoo kembali terlelap dalam hitungan detik. Sementara Kyuhyun tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Sebuah senyuman mengembang terlihat jelas di wajahnya. Kyuhyun kembali memberikan sebuah kecupan, kali ini di kening Hyesoo. Kyuhyun juga mengeratkan pelukannya di tubuh Hyesoo sambil mengelus punggung dan kepala Hyesoo dengan lembut. Lama kelamaan Kyuhyun pun ikut tertidur bersama Hyesoo. Ini adalah kali pertama dalam lima tahun keterpurukannya, Kyuhyun dapat tertidur tanpa bantuan apapun dan siapapun. Tiga jam berlalu dengan cepat. Kyuhyun mulai terbangun dari tidurnya. Sementara Hyesoo masih terlelap dalam pelukannya. Kyuhyun kembali tersenyum mengetahui kenyataan itu. Hela napas Hyesoo yang terdengar berirama masih menyentuh permukaan kulit lehernya. Kyuhyun tidak pernah membayangkan datangnya hari dimana ia bisa memeluk hangat tubuh Hyesoo, meski harus menghadapi dinginnya sikap Hyesoo. Tiba-tiba ponselnya bergetar, mengalihkan perhatian Kyuhyun dari Hyesoo. Mata Kyuhyun melebar saat mengingat janji yang ia miliki pada ibunya yang akan datag ke rumah sakit malam itu. Kyuhyun pun dengan berat hati melepaskan pelukannya lalu bangkit berdiri dengan cepat namun perlahan. Kyuhyun kembali mengenakan jasnya. Tangan Kyuhyun sudah menyentuh kunci yang menggantung di pintu, namun ia meragu. Kyuhyun pun segera berbalik, kembali mendekat pada Hyesoo. Kyuhyun memberikan sebuah kecupan lembut di bibir Hyesoo yang tidur dengan posisi terlentang. Kemudian Kyuhyun pun keluar dari ruangan itu.

.

Hyesoo terbangun satu jam kemudian. Matanya masih terasa berat, namun sebuah dering telepon sudah terlanjur membangunkannya. Hyesoo masih sempat mengerjap-ngerjapkan matanya selama beberapa saat. Lalu kedua mata Hyesoo sontak membesar saat dering telepon sudah benar-benar didengarnya dengan jelas. Hyesoo segera bangun dari tidurnya, dan berdiri dengan kecepatan siaga seorang dokter. Hyesoo merogoh saku jasnya dan menemukan ponselnya yang masih berdering kencang.

.

“Yoboseyo?” sapa Hyesoo mengangkat panggilan telepon yang masuk ke ponselnya.

.

Dokter Lee, apakah saya mengganggu istrahat anda?” tanya suara yang tidak asing bagi Hyesoo di seberang telepon.

.

“Aniyo… Aniyo… Ada apa perawat Kim?” tanya Hyesoo.

.

Saya hanya ingin mengingatkan jadwal konsultasi anda akan dilakukan satu jam dari sekarang, dokter” jawab perawat Kim.

.

“Ah ne… Terima kasih, perawat Kim” kata Hyesoo.

.

Ne, dokter” balas perawat Kim.

.

BGM: Super Junior – Bittersweet

.

Sambungan telepon terputus. Hyesoo kembali duduk di tepi ranjang, mengatur napasnya yang sempat memburu karena terkejut. Hyesoo berpikir panggilan yang masuk ke ponselnya berasal dari UGD. Hyesoo sudah hampir berlari menuju UGD dalam keadaan belum sadar sepenuhnya. Hyesoo menyentuh layar ponselnya untuk memeriksa jam. “Omo! Pertama kalinya… Aku bisa tidur lebih dari tiga jam. Aku pasti terlalu lelah…” kata Hyesoo pada dirinya sendiri. Hyesoo keluar dari ruangan, langsung menuju UGD. Dalam perjalanannya, Hyesoo mencium aroma parfum yang tidak asing di hidungnya. Namun Hyesoo tidak benar-benar mengingat pemilik parfum itu. Hyesoo kembali mengendus aroma parfum itu. Ternyata aroma itu berasal dari pakaiannya. Hyesoo masih mencium aroma yang menempel di jasnya bahkan setelah ia sampai di UGD. Soyu yang menyadari perilaku Hyesoo langsung mendekat pada Hyesoo yang justru tidak menyadari keberadaan sahabatnya itu. Soyu pun mendeketkan hidungnya ke sisi lain tubuh Hyesoo yang tidak sedang dicium Hyesoo. Soyu yang mengetahui apa yang sedang terjadi, segera menjauhkan diri di detik berikutnya.

.

“Tidur bersama?” tanya Soyu dengan berbisik.

.

“Apa maksudmu?” Hyeso balas bertanya.

.

“Ada aroma parfum pria di tubuhmu, jika kau tidak menyadarinya”, jawab Soyu.

.

“Aku menyadarinya”, kata Hyesoo mengakui.

.

“Karena itu aku bertanya padamu. Kalian tidur bersama?” tanya Soyu sekali lagi.

.

“Sepertinya begitu”, jawab Hyesoo.

.

“Sepertinya? Itu terdengar lebih aneh daripada kau mengakuinya dengan pasti”, kata Soyu.

.

“Tapi, dengan siapa?” tanya Hyesoo.

.

“Mwoya… Kau benar-benar tidak ingat atau tidak menyadarinya?” Soyu balas bertanya dengan nada heran.

.

“Keduanya. Aku hanya ingat tadi kami sempat bicara”, jawab Hyesoo.

.

“Cho Kyuhyun. Hanya dia kemungkinannya”, kata Soyu memberikan keterangan yang diketahuinya.

.

“Aku pikir aku bermimpi”, kata Hyesoo setelahnya.

.

“Tapi ternyata tidak karena aromanya ada di tubuhmu. Begitu?” tanya Soyu.

.

“Aroma apa?” tanya Ryeowook yang tiba-tiba bergabung bersama Soyu dan Hyesoo.

.

“Hm?” gumam Hyesoo yang terkejut dengan pertanyaan Ryeowook.

.

“Hyesoo lupa apakah dia sudah mandi atau belum. Ternyata sudah…” kata Soyu membantu Hyesoo menjawab pertanyaan Ryeowook.

.

“Ckck… Kau sudah mulai menjadi pelupa, Lee Hyesoo” kata Ryeowook yang mempercayai penjelasan Soyu.

.

“Dan menjadi tidak kompeten”, sambung suara seorang wanita yang menghampiri mereka. “Jam berapa ini, dokter Lee? Hari bahkan belum beranjak terlalu malam. Kau tidur disaat seperti ini?” tanya Seohyun.

.

“Selamat malam, dokter Seo” kata Hyesoo menyapa Seohyun, tidak mempedulikan cibirannya.

.

“Kau tidak ingin menjawab pertanyaanku?” tanya Seohyun.

.

“Tidak”, Hyesoo menolak cepat. “Karena seperti yang aku pikir kau sudah mengetahuinya, aku baru saja bangun dari tidurku. Aku membutuhkan waktu beberapa menit untuk kembali menjadi kompeten. Menjawab pertanyaanmu justru akan membuyarkan konsentrasiku”, kata Hyesoo dengan nada sarkastiknya, membuat Soyu dan Ryeowook menoleh ke arah lain untuk menyembunyikan tawa kecil mereka.

.

“Dokter Lee, pasien yang membuat janji konsultasi dengan anda sudah datang”, kata perawat Kim yang datang menghampiri Hyesoo.

.

“Ah ne… Terima kasih, perawat Kim” kata Hyesoo sambil memberikan senyuman pada perawat Kim.

.

“Sama-sama, dokter”.

.

“Jika kau tidak keberatan, maka aku akan permisi ke ruanganku untuk menemui pasien. Aku masih mempunyai 15 jam dari 72 jam jadwalku yang harus aku selesaikan. Selamat bekerja, Seo Joohyun” kata Hyesoo yang segera berbalik untuk meninggalkan UGD.

.

“Aku sudah meletakkan sekotak susu cokelat di lemari es mu”, kata Ryeowook.

.

“Benarkah?” tanya Hyesoo yang kembali berbalik menatap Ryeowook dengan wajah riangnya. “Aw… How’s sweet… Kau manis sekali. Aku mencintaimu”, kata Hyesoo yang kemudian mengecup kepala Ryeowook.

.

“Ya! Jaga sikapmu!” protes Soyu sambil menjauhkan Hyesoo dari Ryeowook. “Dia adalah kekasih adikmu”.

.

“Lalu? Kenapa? Aku menciumnya karena aku mencintainya. Dia akan jadi adikku juga, remember?” kata Hyesoo yang masih tersenyum sumringah.

.

“Ryeowook juga seorang laki-laki, Lee Hyesoo” kata Soyu.

.

“Aku pergi”, kata Hyesoo tanpa mempedulikan ucapan Soyu.

.

“Ya! Lee Hyesoo! Kau mengabaikanku? Ch… Gadis itu…” kata Soyu sambil menggeleng pelan dan tersenyum menatap kepergian Hyesoo.

.

“Ch… Aku bukan laki-laki baginya, Kang Soyu. Kau pernah melihat sebuah boneka beruang besar di kamar Hyesoo?” tanya Ryeowook yang dijawab dengan anggukkan cepat oleh Soyu. “Aku tidak jauh berbeda dari boneka itu bagi Hyesoo. Cham na…” sambung Ryeowook dengan tawa kecil yang menyertainya.

.

.

.

Keesokkan paginya…

.

Hyesoo berjalan dengan perlahan di sepanjang koridor lantai teratas rumah sakit. Ia baru saja menyelesaikan sebuah operasi kolaborasi selama tujuh jam yang melelahkan dua jam yang lalu. belum sempat mendapatkan istirahat yang cukup, Hyesoo justru diminta untuk menghadap presiden direktur rumah sakit. Ia pun berakhir dengan rasa lelah yang begitu terasa di sekujur tubuhnya. Hyesoo berhenti di depan sebauh vending machine untuk mendapatkan sekaleng kopi dingin yang dapat membangunkan saraf dan otot nya yang lelah. Namun matanya tidak bisa bekerjasama dengan keinginan yang ada dalam pikirannya. Mata Hyesoo terasa begitu berat. Sejurus kemudian, Hyesoo menempelkan kaleng dingin di tangannya ke lehernya. Ia berhasil. Matanya sontak membuka lebar karena hawa dingin yang menyentuh kulitnya.

.

“Aigoo… Kau terlihat begitu lelah, Lee Hyesoo”, kata Seohyun yang menghampirinya entah darimana.

.

“Kau mengetahuinya dengan baik, Seo Joohyun” kata Hyesoo sambil membuka kaleng kopi ditangannya.

.

“Tentu saja. Terlihat jelas dari penampilanmu saat ini”, balas Seohyun.

.

“Kalau begitu, seharusnya kau mengerti dan tidak mengajakku bicara agar lelahku tidak semakin bertambah buruk, bukan?” kata Hyesoo mengungkapkan penolakkannya atas kehadiran Seohyun dengan bahasa tersirat. Hyesoo pun mulai melangkahkan kakinya, kembali berjalan menyusuri koridor itu, diikuti Seohyun yang berjalan disampingnya.

.

“Hhh… Aku tidak bermaksud begitu. Jika kau ingin mempercayaiku…” kata Seohyun. “Ah, aku dengar presidir memberikan reward karena keberhasilan operasi mu. Selamat, Lee Hyesoo. Karena sudah mendapatkan perhatiannya”.

.

“Ch… Hari apa ini? Seo Joohyun dan kata selamat yang keluar dari bibirnya untuk Lee Hyesoo. Aku hampir saja dibuat tersentuh karena tidak dapat mengartikan makna sebenarnya dari kata selamat itu”, kata Hyesoo dengan nada sarkastiknya. “Kau tidak punya pasien untuk ditangani?”

.

“Tentu saja ada. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini”, jawab Seohyun.

.

“Aku rasa kau tidak akan terlalu sibuk jika kau hanya menangani pasienmu saja tanpa mencari berita tentang setiap orang di rumah sakit ini. Aku hanya memberikan saran kecil saja”, kata Hyesoo.

.

Seohyun berdesis, tertawa kecil mendengar ucapan sarkastik Hyesoo. Seperti yang biasa dilakukannya, Seohyun tidak terlalu memikirkan perkataan orang lain yang diberikan padanya. Meski perkataan itu benar sekalipun. Seohyun masih berjalan disamping Hyesoo yang menunjukkan ekspresi jengahnya. Sosok Kyuhyun pun terlihat diujung koridor. Hyesoo belum menyadarinya, karena sejak tadi Hyesoo memilih untuk melihat sisi kanan ataupun lantai yang sedang dilaluinya. Hingga Hyesoo melihat dua pasang kaki berdiri satu meter dihadapannya. Hyesoo tahu pemilik salah satu pasang kaki itu, Seohyun. Namun ia tidak tahu siapa pemiliki sepasang kaki yang lain. Hyesoo pun menghentikan langkahnya lalu mengangkat kepalanya. Kyuhyun sudah berdiri di hadapannya dengan senyuman lembut yang ditujukan pada Hyesoo.

.

“Selamat pagi”, sapa Kyuhyun. “Dua dokter cantik terlihat begitu kompak pagi ini”.

.

BGM: Kim Sunggyu – The Answer (너여야만해)

.

“Ah, ne, gamsahabnida. Kami memang selalu kompak”, kata Seohyun membalas pujian Kyuhyun.

.

“Ch… Kau bercanda”, kata Hyesoo mencibir dengan suara berbisik.

.

“Sepertinya dokter Lee tidak setuju”, kata Kyuhyun yang ternyata mendengar cibiran Hyesoo.

.

“Kau tidak perlu mengetahui apapun yang bukan menjadi urusanmu, Cho Kyuhyun” kata Hyesoo.

.

“Lee Hyesoo! Jaga sikapmu!” kata Seohyun berbisik sambil menyentuh lengan Hyesoo. “Maafkan dokter Lee, direktur. Suasana hatinya sedang tidak baik akhir-akhir ini”, kata Seohyun pada Kyuhyun setelahnya.

.

“Direktur?” tanya Hyesoo yang sedikit terkejut dengan ucapan Seohyun.

.

“Benar… Kau tidak tahu? Kau sudah bekerja di rumah sakit ini selama dua bulan, tapi kau masih tidak mengetahuinya. Orang yang sedang berdiri dihadapan kita adalah direktur rumah sakit ini. Dia adalah anak dari nyonya Moon Hye Jung, presidir Shinsung Hospital”, kata Seohyun menjelaskan.

.

Otak Hyesoo bekerja dengan cepat, memutar segala percakapan yang pernah didengarnya. Ia merasa pernah mendengar sesuatu tentang direktur rumah sakit tempatnya bekerja ini. Namun saat itu Hyesoo tidak benar-benar memperhatikan percakapan itu. Hingga sebuah ingatan menghampirinya. Ryeowook dan Soyu pernah membahas tentang penerimaannya di rumah sakit itu. Dan hal itu memiliki hubungan dengan sesuatu yang dilakukan oleh direktur.

.

Kau tahu? Direktur rumah sakit ini yang merekomendasikanmu, Hyesoo-ya. Dia bersikeras untuk membuatmu bergabung disini”, kata Soyu.

.

Kau beruntung sekali, Hyesoo-ya. Kau tidak perlu mengikuti serangkaian proses rekruitmen yang memusingkan itu. Kenapa direktur itu baru menjabat sekarang? Seharusnya sejak dulu saja dia disini”, sambung Ryeowook.

.

Hyesoo mengingatnya. Rekomendasi direktur untuk penerimaannya di Shinsung Hospital. “Ternyata kau orangnya”, kata Hyesoo dengan tatapan tajam.

.

“Apa?” tanya Kyuhyun bingung.

.

“Kau direktur yang merekomendasikanku untuk bekerja disini? Benar begitu, Cho Kyuhyun?” tanya Hyesoo dengan amarah yang mulai menghampirinya. “Aku tidak menyangka kau sampai melakukan hal sejauh itu. Seharusnya aku menyadari hal itu saat mengetahui keberadaanmu di rumah sakit ini”.

.

“Aku? Bukan. Aku tidak pernah melakukan hal itu”, sangkal Kyuhyun.

.

“Sudahlah… Aku tidak ingin berdebat denganmu” kata Hyesoo yang segera memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.

.

Kyuhyun pun mengejar Hyesoo yang berjalan dengan cepat. Namun Kyuhyun tetap melangkah lebih cepat dari Hyesoo. Karena tangan Kyuhyun akhirnya dapat meraih lengan Hyesoo tepat di depan lift. “Hyesoo-ya, dengarkan aku. Bukan aku. Aku benar-benar tidak memiliki andil dalam hal itu. Jika benar bahwa seorang direktur merekomendasikanmu untuk bekerja disini, maka orang itu pasti Choi Sooyoung. Dia juga salah satu direktur di rumah sakit ini. Percayalah padaku. Hm?”

.

“Belum cukupkah perbuatanmu lima tahun yang lalu hingga kau harus susah payah merekrutku untuk bekerja disini? Agar kau dapat dengan mudah menghancurkanku lagi, begitu?” kata Hyesoo yang sudah terbawa emosi bergejolak dalam dadanya.

.

“Tidak seperti itu. Aku tidak berbohong padamu. Aku benar-benar tidak melakukan hal itu. Percayalah padaku, Hyesoo-ya…” kata Kyuhyun kembali mencoba meyakinkan Hyesoo.

.

“Naega eotteokhae neol mideo? Niga nal ireohke mandeureossneunde… Saenggakbwa… Gaeneunghae? (Bagaimana aku mempercayaimu? Kau yang sudah membuatku seperti ini… Coba berpikir… Mungkinkah?)”, kata Hyesoo yang mendekat dan berbisik pada Kyuhyun, mengutarakan perasaan yang dirasakannya saat ini. “Aku harus pergi”, kata Hyesoo setelahnya, sambil berbalik menuju pintu darurat ke arah tangga.

.

“Tidak. Tunggu sebentar. Jawab aku terlebih dahulu”, cegah Kyuhyun. “Kali ini kau harus mempercayaiku. Kau bisa menanyakannya pada Sooyoung. Percaya padaku kali ini saja…”

.

“Aku harus menangani sebuah operasi. Aku akan sangat menghargainya jika kau mau membiarkanku pergi… Direktur Cho…” kata Hyesoo sambil menepis tangan Kyuhyun di lengannya, lalu berjalan cepat masuk ke lift yang terbuka di belakang Kyuhyun.

.

Kyuhyun membeku ditempatnya berdiri. Kyuhyun ingin sekali terus mengejar Hyesoo, berusaha membuat Hyesoo mempercayainya. Namun ia tidak mampu melakukannya. Karena Hyesoo tetap tidak akan mau mendengarkannya. Sudah terlalu banyak kesalahan yang dilakukan Kyuhyun pada Hyesoo. Kyuhyun tidak ingin menambah kesalahan lainnya.

.

.

.

Siang itu

At UGD Shinsung Hospital

.

Suasana UGD sudah beranjak lebih tenang setelah kedatangan beberapa orang korban kecelakaan lalu lintas dua jam yang lalu. Pasien yang membutuhkan operasi darurat sudah ditangani Jaejoong, Soyu dan Ryeowook. Sementara pasien yang mengalami luka-luka sudah ditangani oleh Suho, dokter residen dan dokter intern. Hyesoo dibebastugaskan dari penanganan UGD karena kondisinya yang tidak benar-benar bugar. Hyesoo diberi tugas untuk melakukan follow up pasien yang berada di ICU. Jaejoong dan para residen meninggalkan UGD setelahnya untuk mengadakan konferensi. Sementara Soyu dan Ryeowook yang baru saja selesai melakukan operasi sedang membersihkan diri. Hanya berselang sepuluh menit setelah kepergian Jaejoong, Hyesoo masuk ke UGD dengan kedua tangan yang ia masukkan ke saku jubah putihnya. Dengan tenaga dan mood yang tersisa, beberapa kali Hyesoo menunduk dan tersenyum untuk membalas sapaan perawat atau petugas medis lain yang berpapasan dengannya. Hyesoo pun meraih rekam medik diatas meja untuk memeriksanya.

.

“Sunbae, mau ku ambilkan kopi hangat?” tanya Suho saat melihat kondisi Hyesoo.

.

“Aku sudah minum (kopi)”, jawab Hyesoo yang masih fokus pada rekam medik ditangannya. “Terima kasih sudah menawarkan, Suho-ya” sambung Hyesoo sambil menoleh dan tersenyum pada Suho.

.

“Kenapa kau tidak ikut menangani operasi darurat saat UGD kedatangan pasien TA?” tanya Seohyun yang ternyata berada disana.

.

“Rasa ingin tahu mu akan semua hal begitu besar, Seo Joohyun. Aku rasa akan lebih berguna jika kau gunakan untuk menganalisa kondisi pasien”, kata Hyesoo yang kembali membaca rekam medik ditangannya.

.

“Mwo… Aku ‘kan hanya bertanya…” kata Seohyun setelah mendengar ucapan acuh Hyesoo. “O! Selamat siang, direktur Cho” sapa Seohyun yang menyadari kedatangan Kyuhyun.

.

“Ne, selamat siang, dokter Seo. Selamat siang semuanya”, kata Kyuhyun balas menyapa.

.

“Selamat siang, direktur” sapa seluruh staf UGD, kecuali Hyesoo.

.

“Apakah keadaan UGD terkendali?” tanya Kyuhyun dengan senyum ramahnya.

.

“Ne, tentu saja, direktur. Anda tidak perlu khawatir. Kami bisa menangani nya dengan baik”, kata Seohyun mengambil alih jawaban yang seharusnya diberikan oleh staf UGD.

.

“Kami? Kau bahkan bukan bagian dari UGD, Seo Joohyun. Setahuku tidak ada pasien yang membutuhkan bedah estetik di UGD hari ini”, kata Ryeowook yang datang menghampiri nurse station dengan nada sarkastiknya. “Sunbae…” sapa Ryeowook pada Kyuhyun setelahnya.

.

“Eo… Kau sudah bekerja keras…” kata Kyuhyun membalas sapaan Ryeowook. “Kalian tidak makan siang?” tanya Kyuhyun pada seluruh staf, namun tatapannya justru hanya mengarah pada Hyesoo.

.

“Kami makan siang bergantian, direktur. Agar tetap ada yang menjaga UGD”, jawab Luna.

.

“Aku akan makan siang sebentar lagi”, sambung Soyu yang baru saja masuk bergabung dengan mereka, menggoda sikap canggung Kyuhyun. “Tapi aku tahu kau tidak ingin mengetahuinya”.

.

“Aku juga akan makan siang sebentar lagi”, Ryeowook ikut bersuara. “Tentu sunbae tidak ingin mengetahuinya juga”.

.

“Lee Hyesoo, kau tidak ingin mengatakan apapun?” tanya Soyu pada Hyesoo yang masih memeriksa rekam medik.

.

“Aku sibuk. Kalian makan saja duluan”, kata Hyesoo acuh.

.

“Sesibuk apapun itu, kau tetap harus makan…” protes Kyuhyun. “Dokter Lee…” sambung Kyuhyun saat menyadari lokasinya bicara.

.

BGM: Hyorin – Hello/Goodbye (안녕)

.

Hyesoo menghela napas pelan, lalu menoleh pada Kyuhyun. “Aku akan makan jika aku sudah merasa ingin makan, direktur Cho” kata Hyesoo.

.

“Baik! Jika itu keinginanmu…” kata Kyuhyun tidak lagi membantah Hyesoo. “Kalau begitu aku akan menunggumu. Karena dengan begitu aku bisa memastikan kau akan makan. Kau tahu benar bahwa aku selalu mengabulkan semua keinginanmu, Hyesoo-ya. Apapun itu”, kata Kyuhyun setelahnya, tidak mempedulikan keadaan sekitarnya lagi.

.

Sontak semua orang yang berada disekitar Kyuhyun terkejut mendengar ucapannya. Mereka sudah mengetahui kalau Ryeowook, Soyu, dan Suho adalah junior Kyuhyun di kampus. Karena itu, mereka tidak pernah mempermasalahkannya setiap kali Kyuhyun memanggil ketiganya dengan santai, begitu sebaliknya. Tapi Kyuhyun baru saja melakukan hal itu pada Hyesoo yang notabene adalah dokter baru di rumah sakit itu. Mereka pun menatap Kyuhyun dan Hyesoo bergantian, menunggu percapakan selanjutnya diantara mereka.

.

Good! Sudah ada yang akan menemani Hyesoo. Jadi, aku akan makan siang sekarang”, kata Ryeowook mencoba mengembalikan atmosfer disana yang sempat berubah hening, sambil mengeluarkan ponsel dari saku jubahnya. “Dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya, Hyesoo-ya” kata Ryeowook pada Hyesoo dengan suara pelan setelahnya.

.

“Dia masih pemaksa seperti yang kau ingat, Hyesoo-ya. Aku yakin kau bisa menanganinya”, kata Soyu dengan senyuman diwajahnya.

.

“Pergilah, Cho Kyuhyun” kata Hyesoo akhirnya.

.

“Aku tidak akan kemanapun. Meski kau memintanya. Aku hanya menjalankan permintaan yang pertama kau sebutkan. Dan aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku, Hyesoo-ya. Soyu dan Ryeowook juga mengatakan hal yang serupa, bukan? Aku akan memastikan kau makan”, kata Kyuhyun menolak perintah Hyesoo.

.

“Bisakah kita membuatnya lebih mudah, direktur Cho? Aku akan makan saat aku ingin”, kata Hyesoo menolak Kyuhyun sekali lagi.

.

“Aku akan menunggu sampai kau ingin. Melihat bentuk tubuhmu yang semakin kurus, aku menganggap bahwa kau sering melewatkan jam makanmu. Karena itu, aku harus memastikan kau tidak akan melewatkannya kali ini, dengan mata kepalaku sendiri”, kata Kyuhyun bersikeras.

.

“Bisakah aku mengetahui situasi apa yang sedang terjadi disini?” tanya Seohyun tiba-tiba masuk dalam pembicaraan Kyuhyun dan Hyesoo. “Lee Hyesoo, kau mengenal direktur Cho?”

.

“Kau tidak perlu tahu, dokter Seo” jawab Hyesoo dengan bahasa formalnya.

.

“Tentu saja aku perlu. Kalian bicara tepat di hadapan semua orang. Aku rasa bukan hanya aku saja yang ingin mengetahui hal itu”, kata Seohyun.

.

“Tentang itu, dokter Seo…” kata Kyuhyun mengawali ucapannya.

.

“Dia sedang mengejarku”, kata Hyesoo memotong kalimat Kyuhyun. “Dia sudah melakukan kesalahan dan ingin memperbaikinya. Itu sebabnya dia tidak pernah berhenti mengejarku. Sepertinya dia tidak bisa melupakanku bahkan setelah 5 tahun berlalu”, ujar Hyesoo yang berpikir bahwa ucapannya membuat Kyuhyun berhenti agar tidak merasa malu dengan semua orang.

.

“Hhh… Jangan bercanda, Lee Hyesoo. Kau pikir aku akan mempercayainya? Hal itu sangat tidak masuk akal”, kata Seohyun mengutarakan ketidakpercayaannya pada ucapan Hyesoo.

.

“Tanyakan saja padanya, Seo Joohyun. Kenapa kau diam, direktur Cho? Apa aku mengatakan hal yang salah?” tanya Hyesoo santai.

.

“Tidak. Kau benar, Hyesoo-ya. Kau baru saja mengatakan kebenaran yang sesungguhnya. Kau hanya mengatakannya dengan manner yang sangat baik. Tanpa benar-benar mengungkit kesalahan burukku”, jawab Kyuhyun dengan sikap yang tidak kalah santai dengan Hyesoo. “Jelaskan padaku. Bagaimana bisa aku melupakanmu begitu saja? Meski sudah lima tahun berlalu sekalipun, aku tetap tidak bisa, Hyesoo-ya. Aku masih sangat mencintaimu. Aku tidak akan melakukan kesalahan lain dengan melupakanmu”.

.

Sekali lagi ucapan Kyuhyun membuat para staf UGD disekitar mereka terkejut. Beberapa diantara mereka bahkan membelalakkan mata karena terkejut. Namun reaksi itu tidak segera menghentikan Kyuhyun. Ia tetap bersikeras untuk meluluhkan Hyesoo hari ini. Kemudian Kyuhyun berjalan mendekat pada Hyesoo. Kyuhyun mengambil rekam medik di tangan Hyesoo lalu meletakkannya di meja terdekat. Kyuhyun memberikan tatapan lembut pada Hyesoo. Lalu Kyuhyun meraih salah satu tangan Hyesoo dan menggenggammnya. Beberapa saat setelahnya, Kyuhyun membuka tangan Hyesoo yang mengepal, kemudian meletakkan tangan Hyesoo tepat di dada kirinya.

.

“Dokter Lee… Aku tidak boleh seperti ini, bukan?” tanya Kyuhyun sambil memejamkan matanya sesaat dan bernapas dengan teratur. “Detaknya terlalu cepat. Kau pun bisa merasakan dinginnya tanganku saat ini. Aku juga meyakini bahwa kau menyadari sebuah gejala di wajahku yang tidak terlihat baik ini. Aku sesakit ini karena tidak bisa menyentuhmu dan berada disisimu. Jadi, bisakah kita makan sekarang?” sambung Kyuhyun dengan berbisik.

.

“Ayo pergi”, kata Hyesoo sambil berusaha melepaskan tangan Kyuhyun yang menggenggamnya.

.

Namun Kyuhyun tidak lantas melepaskan tangan Hyesoo begitu saja. Kyuhyun menggenggam tangan Hyesoo sambil memberikan senyumnya. “Kau harus menggenggam tanganku. Agar aku tidak terjatuh”, kata Kyuhyun setelahnya.

.

Hyesoo hanya menatap Kyuhyun dengan tatapan tajamnya tanpa mengatakan apapun. Segala emosi yang ada dalam dirinya sudah berkumpul, hampir meluap keluar dari kepalanya. Hyesoo merasa begitu marah, bercampur dengan rasa lelah dan sakit kepala yang ia rasakan setelah membaca status pasiennya. Kyuhyun dapat mengerti dengan baik bagaimana perasaan Hyesoo saat ini hanya dengan menatap tepat ke mata Hyesoo. Kyuhyun pun tersenyum, berusaha menenangkan Hyesoo. ‘Semuanya akan baik-baik saja. Kau akan baik-baik saja. Kau bisa bergantung padaku. Aku akan selalu berada disisimu. Apapun yang terjadi padamu, padaku. Meski kau membenciku’, kata Kyuhyun dalam pikirannya.

.

“Aku tidak akan membawa dokter Lee untuk waktu yang lama. Dia akan kembali secepatnya. Selamat makan siang untuk kalian”, kata Kyuhyun pada staf UGD yang kemudian berlalu sambil menggandeng tangan Hyesoo.

.

.

.

Disebuah Restaurant

13 meter dari Rumah Sakit

.

Pemandangan yang begitu familiar kembali terlihat setelah lima tahun berlalu. Kyuhyun dan Hyesoo berada di meja yang sama, duduk berhadapan, dan menyantap makanan mereka. Namun atmosfer yang mengelilingi mereka sangat jauh berbeda. Lima tahun yang lalu, ada begitu banyak cinta yang menghiasi. Kini hanya ada kebencian dan penyesalan diantara mereka. Tidak ada lagi suara tawa riang yang keluar dari bibir keduanya. Bahkan tidak ada suara berbincang sedikitpun disana. Hyesoo lebih memilih untuk fokus pada ravioli-nya tanpa mempedulikan Kyuhyun yang duduk dihadapannya. Berbeda dengan Kyuhyun yang sejak tadi tidak melepaskan pandangannya dari Hyesoo. Seolah ia hanya bersama Hyesoo seorang di tempat itu, tanpa orang lain.

.

“Kenapa kau makan sangat sedikit?” tanya Kyuhyun mencoba membuat percakapan dengan Hyesoo.

.

“Kau melakukan pengobatan di Shinsung Hospital?” tanya Hyesoo tidak mempedulikan pertanyaan Kyuhyun.

.

“Tentu saja”, jawab Kyuhyun yang langsung melupakan pertanyaannya sesaat setelah Hyesoo bicara padanya.

.

“Siapa dokter yang menanganimu?” tanya Hyesoo sekali lagi.

.

“Choi Sang Wook ahjussi”, jawab Kyuhyun yang menyebutkan nama dokter pribadi sekaligus pamannya itu. “Ah, bukan. Maksudku dokter Choi Sang Wook”, koreksi Kyuhyun.

.

“Hhh… Profesor Choi sedang keluar kota…” kata Hyesoo bicara pada dirinya sendiri. “Dokter lain?”

.

“Dokter Lee”, jawab Kyuhyun dengan senyum diwajahnya.

.

“Di rumah sakit itu ada puluhan dokter dengan nama keluarga Lee, Cho Kyuhyun” keluh Hyesoo yang seketika menatap Kyuhyun.

.

“Lee Dong Hae”, kata Kyuhyun memperjelas jawabannya.

.

“Ch… Tentu saja…” Hyesoo mengeluh sekali lagi.

.

“Bicara tentang Lee Donghae. Aku kagum padanya. Dia bisa menyelesaikan kuliah kedokterannya tepat waktu. Padahal disaat yang bersamaan dia juga mengurus bisnis orang tua kalian. Aku sempat terkejut saat dia memutuskan untuk berhenti dari jabatannya di perusahaan. Ternyata alasannya karena Donghae ingin melanjutkan kuliah spesialisnya. Dia hebat”, kata Kyuhyun memuji Donghae.

.

“Donghae sedang menangani sebuah operasi saat ini”, kata Hyesoo yang kembali tidak menghiraukan ucapan Kyuhyun. “Apakah ada dokter lain?”

.

“Kenapa kau tidak pernah menanggapi ucapanku, Lee Hyesoo? Keterlaluan…” protes Kyuhyun.

.

“Dokter lain?” tanya Hyesoo lagi karena Kyuhyun tidak menjawab pertanyaannya yang jauh lebih penting saat ini.

.

“Kim Ryeowook”, jawab Kyuhyun menyerah. Ia tidak bisa melawan Hyesoo.

.

Hyesoo menghela napas panjang sambil memejamkan matanya. Hyesoo juga meletakkan sendok ditangannya ke nampan. “Geu saramdeul michyeossnabwa… (Orang-orang itu sudah gila rupanya…)”, kata Hyesoo kembali bicara pada dirinya sendiri, merutuki Donghae dan Ryeowook yang ternyata selama ini membantu Kyuhyun. “Son! (Tangan!)”

.

“Hm?” gumam Kyuhyun bingung.

.

“Berikan tanganmu”, kata Hyesoo sambil menjulurkan tangannya, meminta tangan Kyuhyun. “Aku akan melaporkannya pada Ryeowook setelah ini”, kata Hyesoo yang segera menghitung denyut nadi Kyuhyun.

.

Tiba-tiba ponsel di saku Hyesoo berbunyi. Namun suara dering yang terus berbunyi itu tidak langsung menarik perhatian Hyesoo. Ia masih menghitung denyut nadi Kyuhyun tanpa reaksi apapun. Dering telepon sempat terhenti, namun kembali berdering beberapa saat kemudian. Kali ini Hyesoo yang sudah selesai dengan pekerjaannya, mengangkat panggilan telepon itu. Kyuhyun menatap Hyesoo yang mengeluarkan ponsel dari saku jas nya. Seolah akan terjadi sebuah bencana, Kyuhyun memasang mode siaga nya. Tatapannya berubah tajam, menunggu nama yang akan disebut Hyesoo pada sapaan pertamanya.

.

“Hebat sekali, Lee Soohyuk. Kenapa kau baru menghubungiku?” tanya Hyesoo pada Soohyuk di seberang telepon, dengan senyum mengembang di bibirnya.

.

Sontak sikap Kyuhyun berubah. Ia mengatupkan rahangnya dengan keras, merasa keberatan dengan obrolan santai Hyesoo dengan pria lain. Kyuhyun tahu benar bahwa ia tidak sedang berada dalam posisi berhak bersikap seperti ini, namun Kyuhyun tidak bisa menutupi gejolak yang ia rasakan. Kyuhyun menginginkan Hyesoo hanya untuk dirinya sendiri. Meski kegilaan akan sikap posesifnya itu sudah berkurang setelah melakukan terapi, tapi bukan berarti perasaan tidak nyaman itu akan hilang begitu saja. Kyuhyun sudah berusaha semampunya. Kyuhyun dapat mengendalikan dirinya saat Hyesoo sedang bersama pria yang ia ketahui. Namun Kyuhyun tetap tidak bisa menyukai semua pria yang tidak ia kenal dekat dengan Hyesoo.

.

Suara tawa riang Hyesoo memecah fokus Kyuhyun. Seolah ada sebuah getaran yang mengalir melalui suara tawa yang keluar dari bibir Hyesoo, setiap saraf yang menegang di tubuh Kyuhyun menjadi lebih santai. Napas Kyuhyun yang terikat amarah, perlahan dapat terbebas. Kyuhyun pun dihadapkan dengan kondisi emosinya yang terbagi menjadi dua. Ia merasakan kecemburuan yang tidak terkendali pada pria di seberang telepon, namun disaat yang sama Kyuhyun mendapatkan kelegaan tidak terbanding setelah mendengar suara riang Hyesoo. Kyuhyun mengakhiri perdebatan dalam hatinya dengan sebuah kepalan tangan kirinya yang berada diatas pahanya. Sesaat kemudian, sambungan telepon selesai. Kalimat I’ll be missing you dari Hyesoo mengakhiri sambungan teleponnya dengan pria di seberang telepon. Hyesoo kembali meneruskan makan siangnya setelahnya, tanpa menoleh pada Kyuhyun.

.

“Dia kekasihmu?” tanya Kyuhyun dengan nada bicara yang menunjukkan isi hatinya dengan jelas. “Itu pria yang sama dengan yang menemanimu di pesta Donghae, bukan? Apa hubunganmu dengannya?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Bukan urusanmu”, jawab Hyesoo.

.

Hyesoo pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan keluar dari restaurant. Kyuhyun memejamkan matanya selama beberapa saat dan menghela napas panjang. Kyuhyun menyadari sikap yang seharusnya tidak ia tunjukkan disaat sepert ini. Sesaat kemudian Kyuhyun pun ikut beranjak untuk mengejar Hyesoo. Kyuhyun melangkah dengan cepat. Namun masih belum mampu mengejar Hyesoo yang sempat berjalan setengah berlari saat keluar dari pintu restaurant. Akhirnya Kyuhyun berlari untuk mengejar Hyesoo. Ia tidak punya pilihan lain. Hyesoo akan sulit diajak bicara jika sudah masuk ke dalam rumah sakit. Kyuhyun mengesampingkan segala akibat yang mungkin akan timbul setelahnya. Ia hanya berpikir untuk mengejar Hyesoo dan bicara dengannya. Dan usahanya membuahkan hasil. Kyuhyun berhasil meraih lengan Hyesoo meski harus merasakan sesak di dadanya. Kyuhyun membalikkan tubuh Hyesoo agar menghadap ke arahnya. Tindakan Kyuhyun pun dibalas dengan tatapan tajam yang menunjukkan kemarahan Hyesoo saat ini. Kyuhyun tidak mempedulikannya. Bahkan Kyuhyun tidak mempedulikan kenyataan bahwa keduanya sedang berdiri di trotoar, beberapa meter menjelang pintu masuk rumah sakit.

.

“Tunggu. Kita belum selesai bicara, Lee Hyesoo” kata Kyuhyun.

.

“Aku sudah menjawabnya. Itu bukan urusanmu”, balas Hyesoo.

.

“Tentu menjadi urusanku. Aku mencintaimu, Lee Hyesoo…” kata Kyuhyun memberikan jeda pada ucapannya. “Dan aku tahu kau masih memiliki perasaan itu. Jadi, apapun yang terjadi padamu, siapapun pria yang berada dekat denganmu, semuanya menjadi urusanku”.

.

“Kau bercanda…” kata Hyesoo dengan smirk di bibirnya. “Setelah semua hal yang kau lakukan padaku, sekarang kau bisa bicara seperti ini? Kau pikir aku masih memiliki perasaan itu? Jangan bermimpi…” Ekspresi diwajah Hyesoo kembali mengeras. “Kau tahu? Dalam lima tahun terakhir yang sudah aku lewati, aku paling mensyukuri keputusanku untuk pergi darimu. Aku bahkan merutuki diriku karena pernah memohon padamu. Hhh… Betapa bodohnya aku saat itu”.

.

“Meski begitu, entah apapun yang kau katakan, aku tetap menemukan cinta dimatamu, Lee Hyesoo. Seperti kau yang menemukan cinta dimataku saat itu, aku pun menemukannya dimatamu saat ini. Kau masih mencintaiku. Kau hanya tidak menyukaiku”, kata Kyuhyun bersikukuh dengan pendapatnya.

.

“Kondisi jantungmu baik-baik saja. Aku akan melaporkannya pada Ryeowook. Sekarang lepaskan aku. Aku harus kembali bekerja dan berhenti menyia-nyiakan waktuku dengan bicara padamu”, kata Hyesoo sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Kyuhyun di pergelangan tangannya.

.

“Tidak… Kita masih perlu membicarakan sesuatu. Jangan pergi”, kata Kyuhyun menahan Hyesoo.

.

“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Cho Kyuhyun. Semuanya sudah berakhir lima tahun yang lalu”, kata Hyesoo bersikeras.

.

“Tidak. Tidak ada yang berakhir. Aku mencintaimu. Dan kau masih mencintaiku. Aku meyakininya. Aku hanya terlalu bodoh karena tidak mampu mengungkapkannya saat itu. Aku bisa menjelaskan alasanku padamu, Lee Hyesoo. Ku mohon, bicara denganku sebentar saja”, pinta Kyuhyun.

.

“Cukup, Cho Kyuhyun. Alasan apapun yang ingin kau jelaskan padaku, tidak akan mengubah apapun. Lima tahun sudah berlalu. Semua hal sudah berubah. Alasan itu hanya akan berguna jika kau mengatakannya lima tahun yang lalu. Bukan sekarang”, kata Hyesoo menegaskan ucapannya.

.

“Aku tahu. Tapi setidaknya aku ingin kau mendengarkan aku satu kali saja. Ijinkan aku menjelaskannya padamu dan meminta maaf”, kata Kyuhyun.

.

“Jangan meminta maaf… Karena aku sudah tidak memilikinya untukmu”, balas Hyesoo.

.

“Aku minta maaf, Hyesoo-ya. Maafkan aku…” kata Kyuhyun sekali lagi.

.

“Aku bilang jangan meminta maaf!!!” kali ini Hyesoo berseru pada Kyuhyun dengan suara yang cukup keras. Hyesoo sudah tidak dapat menahan amarahnya lagi. Emosi yang sudah berkumpul di kepalanya sudah semakin mendesak untuk dikeluarkan. Hyesoo tidak dapat mengendalikannya lagi.

.

BGM: Super Junior – Evanesce (백일몽)

.

“Lalu kata apa yang bisa aku katakan pada situasi seperti ini? Jika ada kata lain yang bisa membuatmu kembali padaku, maka beritahu aku! Karena saat ini aku hanya mengetahui kata itu untuk mengungkapkan apa yang sedang ku rasakan. Beritahu aku. Apa yang harus aku katakan? Hm?” tanya Kyuhyun dengan raut muram diwajahnya.

.

“Kau tidak perlu mengatakan apapun. Karena aku bahkan tidak akan mempedulikannya”, kata Hyesoo dengan suara berbisik namun tegas.

.

“Tolong beri aku kesempatan terakhir, Hyesoo-ya… Aku menderita. Aku sekarat. Aku begitu membutuhkanmu. Selama lima tahun matahari tidak terbit dalam hidupku. Hari demi hari, hanya kegelapan yang menyertaiku”, ujar Kyuhyun.

.

“Itulah yang aku inginkan, Cho Kyuhyun. Kau tahu? Aku merasa sangat lega mendengar penderitaan yang kau rasakan. Kau menerima akibat dari perbuatanmu sendiri”, balas Hyesoo.

.

“Aku tahu. Aku sangat mengetahui hal itu. Karena itu, aku benar-benar menyesalinya. Jadi, tolong beritahu aku. Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan maafmu? Hm? Beritahu aku…” pinta Kyuhyun. Namun Hyesoo tidak lantas membalas ucapan Kyuhyun. Hyesoo menatap Kyuhyun dengan ekspresi datar yang tidak dapat ia mengerti. Hingga akhirnya Hyesoo memalingkan pandangannya dari Kyuhyun ke arah lain. “Hyesoo-ya……” kata Kyuhyun lagi.

.

Hyesoo pun kembali menoleh pada Kyuhyun, menatap mata laki-laki itu dengan tatapan penuh kemarahan. Hyesoo menghela napasnya pelan, berusaha menenangkan dirinya untuk menghadapi Kyuhyun yang begitu keras kepala. Hingga Hyesoo kembali membuka mulutnya untuk bicara. “Memohon. Berlutut”.

.

.

.

I don’t know

Wanna know

Ireohke kkeutnal kkumin geonji?

(Will this dream end like this?)

Saramdo, sarangdo, naneun wae kkaelsu eobsneun geonji?

(Why can’t I get both the person and the love?)

.

.

.

TBC

Note:

TO.BE.CONTINUED.

Hello, readersnim! Part ini agak lama dari part sebelumnya, ya? Mohon dimaklumi (as always). Kenapa part 10 kemarin cepat? Karena aku membayar absennya FF ini di minggu lebaran. Jadi 2 part di release dalam jeda hanya beberapa hari saja. Dan kenapa part ini lama? Karena kembali, aku sudah mempunyai konsep hingga TBC, tapi sulit merangkai kata hingga TBC itu muncul. Dan FYI nih readersnim, sebenarnya part ini mencapai 50an halaman lho. Tapi aku cut di bagian Hyesoo meminta Kyuhyun untuk berlutut padanya. Secara tidak langsung aku sudah memberikan spoiler sedikit pada kalian, bahwa perang belum berakhir di part selanjutnya. Hyesoo sudah terlanjur mengibarkan bendera perangnya. Tidak ada kata maaf bagi Kyuhyun. Dan pertanyaan Kyuhyun belum terjawab. Siapa Lee Soohyuk bagi Hyesoo? Apa dugaan kalian? Setelah banyaknya readers yang kesal pada Kyuhyun di part sebelumnya, bagaimana pendapat kalian tentang Kyuhyun di part ini? Bisa termaafkan kah? Atau kalian masih kesal sekesal kesalnya pada Kyuhyun?

Well, aku sempat memberi password pada part 10. Dan aku tidak memberitahukan password nya pada siapapun. Meskipun ada yang bertanya, aku tetap tidak memberikannya. Kenapa? Karena… hm… how to say this… hm… aku sedang agak ‘baper’. Biasanya aku paling tidak mengambil hati kenyataan bahwa banyak orang yang membaca tapi sedikit sekali comment yang masuk. Tapi terkadang, kenyataan seperti itu membuat hati para author sedih. Maafkan aku yang sedikit terbawa perasaan. Aku juga manusia biasa yang bisa ‘baper’. Sekali lagi aku minta maaf… (tolong jangan jawab permintaan maafku seperti Hyesoo menjawab permintaan maaf Kyuhyun. LOL :D)

Intermezzo! Ada BGM a.k.a Background Music favourite aku tepat sebelum TBC. Yup! Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali menemukan lagu Super Junior favourite-ku. Evanesce! Lirik, music, suara para member, super semua! FYI readersnim, walaupun aku selalu menulis FF dengan Kyuhyun sebagai main cast nya, tapi sesungguhnya aku fans berat Ryeowook lho! Aku bahkan pernah menangis waktu mendengar suaranya. Tapi bukan berarti aku tidak suka Kyuhyun. Cho Kyuhyun is my first crush. Hanya saja, semakin bertambah usiaku, hatiku langsung berpindah dengan mudah saat mendengar suara Ryeowook.

Ja! Aku kembali memberikan emosi naik turun dalam part ini. Diawal part kalian menemukan narasi Kyuhyun yang ternyata memang menyembunyikan sesuatu dibalik sikap jahatnya lima tahun yang lalu. Kemudian ada adegan santai untuk tarik napas yang digambarkan dengan percakapan di rumah sakit. Dan mendekati akhir part, si tukang cari masalah, Cho Kyuhyun, meningkatkan emosi lagi dengan sikap cemburunya. Kira-kira apa yang terjadi di part selanjutnya ya? Seperti yang aku katakan, alasan Kyuhyun akan terungkap di part selanjutnya. Setelah mendengar alasan itu, akankah Hyesoo memaafkan Kyuhyun? Temukan jawabannya di part selanjutnya ya… Semoga kalian belum bosan menunggu kehadiran FF ini tiap minggu nya. Tolong jangan ambil hati kebaperanku ya… Kana pamit! Annyeonghigaseyo…

Advertisements

33 thoughts on “I’m walking towards you : Part 11

  1. wah dunia itu emang berputar ya. 5 tahun yg lalu hyesoo yg setengah mati ngejer si kyu, sekarang kyu bener” ngerasain apa yg diomongin hyesoo

    Like

  2. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION – evilkyu0203

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s