I’m walking towards you : Part 10

Category: PG-15, Romance, Chapter, Sad

Cast:

Cho Kyuhyun, Kim Jaejoong, Lee Hyesoo (OC), Choi Sooyoung

Kang Soyu, Kim Ryeowook, Lee Donghae, Im Yoona, Lee Hyeri, etc…

Disclaimer:

Annyeonghaseyo!!! “I’m walking towards you” kembali. Here it comes… Part yang menjadi puncak dari permasalahan Hyesoo dan Kyuhyun. Dalam part 10 ini, emosi kalian akan dibuat campur aduk. Sedih dan kesal akan lebih dominan dari perasaan lainnya. Part ini bahkan menguras emosi ku saat menulisnya. Aku terbawa oleh alur cerita yang “menurutku” cukup sedih ini. Setelah di part 9 Kyuhyun mulai menunjukkan perubahan sikapnya hingga memasuki ambang batas klimaks cerita. Kira-kira apakah Kyuhyun bersungguh-sungguh dengan perasaannya? Aku kasih clue sedikit, di part ini belum akan ada penjelasan apapun dari perubahan sikap Kyuhyun. Jadi, bagi kalian yang penasaran dan ingin buru-buru scroll ke bawah untuk spoiler, sayang sekali kalian tidak akan menemukan apapun. Sedangkan bagi kalian dengan tipe pembaca yang sabar mengikuti alur dan memahami kisah yang berjalan cukup lambat ini, aku harap aku tidak menyakiti kalian juga dengan part sedih ini. Karena akan ada Kyuhyun si jahat dalam part ini.

Caution! Cast dalam FF ini juga akan cukup banyak. Entah hanya sebagai cameo atau sebagai peran pendukung. Karena itu, fokuslah wahai para readers-nim. FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasia tau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com

Aku tidak bosan untuk selalu berpesan, jadilah pembaca yang baik dan sopan. Biasakan untuk tidak bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Karena aku yakin para readers adalah orang-orang yang terpelajar dan mengerti sopan santun. Benar? Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 9

“Aku sangat merindukanmu, Hyesoo-ya”.

“Kau sudah mengatakannya berkali-kali hari ini, Cho Kyuhyun”.

“Aku tidak bisa menyerah. Aku tidak ingin menyerah”.

“Apapun yang sedang kau hadapi saat ini, kau mempunyai hak untuk tidak menyerah”.

“Bolehkah?”

“Jika tidak ada yang tersakiti, maka kau bisa bersikap egois sesekali”.

————————-

“Haruskah kau melakukan hal sejauh ini?”

“Memangnya apa yang sudah aku lakukan?”

“Berikan alasanmu padamu”.

“Karena aku ingin”.

“Saat itu kau mengatakan bahwa dia berbeda”.

“Bisakah kau membiarkan aku melakukan apapun yang ku inginkan dengan caraku?”

 “Terserah…”

————————-

“Oppa mengatakan bahwa eonni itu bukan kekasihmu”.

“Memang bukan”.

“Oppa menyukainya? Mencintainya?”

“Dia bukan kekasihku, Hani-ya”.

“Hyesoo eonni bukan kekasih oppa tapi oppa mencintainya”.

“Aku tidak berkata begitu”.

“Oppa tidak perlu mengatakannya. Aku bisa melihatnya”

————————

“Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi”.

“Kenapa?”

“Sudah tidak ada lagi yang bisa aku lakukan denganmu”.

“Ada apa denganmu, Cho Kyuhyun? Jangan konyol…”

“Aku hanya bermain-main denganmu, Lee Hyesoo. Seperti yang selalu aku lakukan pada gadis-gadis yang memujaku”.

“Kau pikir aku bisa mempercayainya?”

“Itu bukan urusanku, Lee Hyesoo”.

“Selama ini tidak ada perasaan apapun diantara kita? Sedikitpun?”

“Tidak!”

————————-

.

.

.

I’m walking towards you : Part 10

.

.

Hyesoo’s POV

K University

.

Aku tidak mencintaimu seperti yang mungkin kau pikirkan…

.

Kata-kata itu berputar-putar dalam kepalaku, menghilangkan konsentrasiku pada hal lainnya. Pembicaraan dengan Kyuhyun dua hari yang lalu membuatku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini. Sebelumnya hubunganku dengan Kyuhyun baik-baik saja. Bahkan tidak ada pertengkaran diantara kami. ‘Aku hanya bermain-main denganmu, Lee Hyesoo’. Alasan itu Kyuhyun gunakan untuk menyakiti perasaanku. Hanya alasan itu yang masuk akal saat ini. Tapi hati dan pikiranku justru menyuarakan keraguannya bersama-sama. Aku menyakini ada alasan lain yang Kyuhyun miliki. Aku yakin Kyuhyun hanya sedang meragukan perasaannya saja. Bahkan Sooyoung mengatakannya padaku hari itu bahwa ia takut Kyuhyun akan meragukan perasaannya jika mengetahui hubunganku dan Siwon di masa lalu. Aku yakin pasti itu di alasan sebenarnya. Tapi Kyuhyun tidak ingin mengerti bahwa hal itu sudah tidak lagi menjadi masalah bagiku.

.

Aku tidak bisa menyerah

Aku tidak ingin menyerah

.

Benar. Kyuhyun meragu. Ia pasti merasakan keraguan itu. Semua hal yang terjadi saat ini berawal dari pembicaraan kami hari itu. Atau tidak? Sebelumnya Kyuhyun sempat menghilang. Hari itu. Hari dimana aku hanya mendapatkan panggilan telepon darinya tanpa bisa bertemu dengannya. Hhh… Mwoya… Kenapa aku tidak menyadarinya saat itu? Semua yang Sooyoung katakan menjadi kenyataan. Aku sempat berpikir Kyuhyun tidak akan berubah meski apapun yang pernah terjadi diantara kami. Tapi sikapnya akhir-akhir ini sudah menjelaskan segalanya. Bagaimana cara untuk meyakinkannya bahwa semua hal yang terjadi di masa lalu tidak akan berpengaruh bagiku?

.

“Hyesoo-ya? Hyesoo-ya… Lee Hyesoo!”

.

“Eo? Wae?” tanyaku pada Ryeowook yang menyadarkanku dari lamunanku.

.

“Aku memanggilmu beberapa kali, tapi kau tidak mendengarnya. Sesuatu terjadi? Ada apa?” tanya Ryeowook sambil memasukkan buku-buku di meja ke dalam tasnya. Ternyata kelas sudah berakhir. Beberapa mahasiswa juga sudah mulai meninggalkan kelas.

.

“Tidak… Tidak terjadi apapun”, jawabku berbohong sambil merapikan barang-barangku juga.

.

“Kau masih belum bisa membohongiku, Hyesoo-ya. Sikap dan atmosfer yang mengelilingimu menunjukkannya dengan jelas”, kata Ryeowook dengan sikap layaknya seorang sahabat yang selalu ia tunjukkan disaat-saat seperti ini.

.

“Hhh… Tentu saja. Kau selalu bisa mengetahui suasana hatiku dengan mudah”, kataku menyerah, tidak bisa membohonginya lagi.

.

“Jadi? Ada apa?” tanya Ryeowook lagi.

.

“Hanya ada sedikit masalah. Tidak terlalu besar hingga bisa membuatmu khawatir. Aku akan mengatasinya sendiri”, jawabku meyakinkannya.

.

Ryeowook terdiam. Ia hanya menatapku tanpa mengatakan apapun. Ekspresi wajahnya datar. Aku merasa seolah sedang dibaca oleh Ryeowook. Ia sedang mengupas ke dalam diriku tanpa terlihat. Namun sesaat kemudian ia menghela napas panjang. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.

.

“Baiklah. Aku tidak akan mengkhawatirkanmu”, kata Ryeowook sambil bangkit berdiri. “Belum”, katanya lagi sambil berbalik menatapku. “Entah kenapa perasaanku mengatakan bahwa aku akan [mengkhawatirkanmu]… Suatu saat nanti. Aku harap aku salah”.

.

“Aku juga akan mengharapkan hal serupa…” kataku sambil ikut berdiri bersamanya. “Tapi… Ryeowook-ah… Kau akan langsung pulang setelah ini?”

.

“Tentu saja. Kenapa? Kau ingin memintaku untuk menemanimu ke suatu tempat?” tanya Ryeowook.

.

“Tidak. Aku hanya berpikir…… bukankah seharusnya kau menemui Hyeri hari ini?” aku balas bertanya. Kami mulai berjalan meninggalkan kelas.

.

“Hyeri? Kenapa aku harus menemui Hyeri?” tanya Ryeowook santai.

.

“Kau pernah mengatakan bahwa kau menyukainya. Apakah kata ‘suka’ itu sudah berubah menjadi past tense?”

.

“Tentu saja tidak. Aku selalu menyukainya”, sangkal Ryeowook. “Sudah… Sudah… Langsung pada poin utamanya, Lee Hyesoo. Ada apa? Kenapa aku harus menemui Hyeri hari ini?”

.

“Hari ini adalah encore pertunjukkan musikalnya”, jawabku dengan tenang.

.

Ryeowook sontak menghentikan langkahnya, lalu membuka mulutnya membentuk kata A sambil mengerutkan keningnya. Ekspresi yang selalu dibuatnya saat melupakan sesuatu yang penting. Akupun dibuat tersenyum karenanya. Ia belum berubah. Ia masih Ryeowook yang mampu meringankan bebanku hanya dengan keberadaannya disampingku. Selama sesaat, aku merasa bisa bernapas kembali karenanya.

.

“Kau lupa, ‘kan?” tanyaku sekali lagi.

.

Ryeowook mengangguk cepat. “Benar… Aku lupa. Bagaimana ini?”

.

“Tidak tahu. Kenapa kau bertanya padaku? Kau yang berjanji padanya akan datang”, kataku menggodanya.

.

“Kau tidak [berjanji akan datang]?” tanya Ryeowook.

.

Aku menggeleng cepat. “Aku tidak berjanji pada Hyeri. Aku hanya mengatakan padanya jika jadwalku kosong, maka aku akan datang”, jawabku.

.

“Aish… Bagaimana ini?” keluh Ryeowook. “Aku bahkan belum benar-benar mendapatkan hatinya. Tapi aku sudah melakukan kesalahan yang bisa membuatnya kecewa padaku”.

.

Aku berdesis tertawa kecil karena sikap Ryeowook yang begitu mencemaskan tanggapan Hyeri. “Jangan khawatir… Hyeri tidak akan melakukan itu. Dia akan mengerti keadaanmu”, kataku mencoba menenangkannya.

.

“Bagaimana kau mengetahuinya? Kalian berdua sangat berbeda, Lee Hyesoo. Hyeri pasti akan sangat kecewa padaku”, kata Ryeowook.

.

“Aku rasa tidak”, kataku kembali menyangkal dugaan Ryeowook.

.

Ryeowook menoleh padaku, memunculkan wajah muramnya. Ia menatapku tajam, menuntut penjelasan atas perkataanku baru saja. “Kau sudah melakukan sesuatu, bukan? Jika kau terdengar begitu yakin seperti ini, maka artinya kau sudah melakukan sesuatu untuk mengatasi ini”.

.

“Bingo!” kataku dengan senyum mengembang di bibirku. “Aku sudah mengirim pesan padanya. ‘Ada kelas mendadak yang sangat penting. Eonni dan Ryeowook oppa sepertinya tidak bisa datang. Kita akan merayakannya malam ini’. Aku begitu pintar dan baik hati, bukan?” kataku memuji diriku sendiri.

.

“Aku mencintaimu, calon kakak ipar” kata Ryeowook dengan senyuman yang sudah bisa terlihat di wajahnya.

.

“Ch… Michin nom…” kataku yang melangkah meninggalkannya.

.

“Kau mau kemana?” tanya Ryeowook dari kejauhan.

.

“Aku harus pergi ke suatu tempat”, kataku sambil berbalik menghadapnya, berjalan mundur semakin menjauh. “Kau bisa pergi lebih dulu ke rumahku. Yoona dan Donghae sedang menyiapkan pesta untuk Hyeri. Aku menyusul”.

.

“Baiklah. Hubungi aku jika terjadi sesuatu”, pesan Ryeowook.

.

Aku tersenyum padanya lalu kembali berbalik. Hanya berselang lima langkah saja, senyum diwajahku langsung menghilang. Angin berhembus cukup kencang, menyentuh permukaan kulit wajahku. Namun dinginnya angin tidak mampu memberikan efek apapun padaku saat ini. Aku harus menemui Kyuhyun lagi. Aku harus menuntut jawaban sesungguhnya atas sikap yang Kyuhyun tunjukkan padaku akhir-akhir ini. Aku harus mendapatkan jawaban atas pertanyaanku.

.

.

.

K University

Gedung Fakultas Bisnis & Manajemen

.

Aku memutuskan untuk datang padanya. Kami sudah tidak berada dalam keadaan dimana kau bisa menunggunya untuk bicara padaku. Aku yang harus menghampirinya untuk bicara padanya. Aku berjalan memasuki gedung yang terasa asing bagiku. Selama ini aku tidak pernah mengunjungi gedung lain di kampus ini selain gedung fakultas kedokteran, fakultas kesehatan, dan gedung rektorat. Karena itu aku merasa begitu asing di gedung ini. Beberapa mahasiswa menatap ke arahku, membuatku merasa tidak nyaman karena hal itu. Hingga kedua mataku menangkap sosok yang ku ketahui. Gadis yang menghampiri Kyuhyun beberapa waktu yang lalu sedang duduk bersama seorang temannya. Aku pun langsung berjalan ke arahnya.

.

“Cheogiyo…” kataku ragu. Gadis itu menoleh padaku, lalu tersenyum tipis.

.

“Eo! Annyeonghaseyo. Kita bertemu lagi”, kata gadis yang ku ingat bernama Seolhyun itu.

.

“Ne, annyeonghaseyo. Bolehkah aku bicara denganmu?” tanyaku.

.

“Ne, tentu saja. Apa ada yang bisa aku bantu?” tanya gadis itu dengan sopan.

.

“Apa kau tahu dimana Cho Kyuhyun saat ini?” tanyaku.

.

“Ah… Kyuhyun sunbae? Tadi aku bertemu dengannya. Dia sedang duduk di sebuah bangku di koridor lantai dua. Kau bisa naik melalui tangga itu, lalu belok ke kiri”, kata Seolhyun menjelaskan.

.

“Ah… Ne. Terima kasih banyak”, kataku.

.

“Sama-sama”, katanya dengan senyum mengembang.

.

Aku berjalan mengikuti petunjuk yang diberikan Seolhyun padaku. Keadaan gedung ini tidak terlalu ramai, memudahkanku untuk berjalan lebih leluasa. Sesampainya di lantai dua, aku segera berbelok ke kiri dan mencari Kyuhyun di sepanjang koridor. Dia disana. Kyuhyun sedang duduk di bangku itu bersama temannya yang bernama Minho. Mereka sedang membicarakan hal yang menyenangkan, terlihat dari ekspresi ceria yang di ada di wajah Kyuhyun. Dia bahkan bisa bersikap seolah tidak terjadi apapun.

.

“Kita harus bicara”, kataku saat kakiku sudah mencapai jarak terdekat darinya.

.

Kyuhyun dan Minho menoleh bersamaan. Ada tatapan terkejut dari Minho, sementara Kyuhyun tidak menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya. “Aku tidak mau”.

.

“Bicara denganku, Cho Kyuhyun” kataku sekali lagi.

.

“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan”, tolak Kyuhyun sekali lagi.

.

Talk to me!” seruku akhirnya. Aku tidak bisa lagi menahan gejolak dalam dadaku. Kesabaranku sudah habis.

.

Beruntung hanya ada beberapa mahasiswa disana. Dengan begitu tidak akan ada keramaian yang akan menyulitkan pada akhirnya. Ekspresi di wajah Kyuhyun berubah. Ia terlihat terkejut dan marah. Sontak Kyuhyun pun berdiri dan menarik tanganku untuk berjalan bersamanya. Kyuhyun melangkah begitu cepat, hingga membuatku setelah berlari untuk menyesuaikan langkahnya. Kami menuruni tangga dan berlalu menuju pintu belakang gedung. Kyuhyun masih terus menggenggam tanganku dengan kuat, membawaku ke suatu tempat yang tidak ku ketahui. Sampai akhirnya ia melepaskan tanganku dengan kasar.

.

“Apa yang kau inginkan, Lee Hyesoo?” tanya Kyuhyun.

.

“Kau berubah… Kau tidak pernah melakukan hal ini padaku sebelumnya”, kataku sambil menyentuh pergelangan tanganku yang terasa sakit”.

.

“Benar. Kau mengetahui itu dengan sangat baik. Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku? Cepat katakan! Jangan buang waktuku!” kata Kyuhyun.

.

Aku menghela napasku lalu memejamkan mataku sesaat. Aku harus mampu bertahan menghadapi dinginnya sikap Kyuhyun saat ini. “Benarkah tidak ada perasaan apapun?” tanyaku setelahnya.

.

“Hhh… Apa-apaan kau, Lee Hyesoo? Kau hanya ingin membicarakan hal ini?” tanya Kyuhyun dengan smirk yang terlihat di wajahnya.

.

“Jawab saja pertanyaanku”, kataku tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.

.

“Bisakah kita berhenti?” tanya Kyuhyun dengan amarahnya. “Kau melelahkan, Lee Hyesoo. Berapa kali aku harus mengatakannya? Aku tidak punya perasaan apapun padamu. Tidak ada! Berhenti sampai disini. Cukup dengan semua perilakumu ini”.

.

“Tidak. Aku tidak akan berhenti sampai kau mengatakan hal yang benar-benar kau rasakan. Aku tahu kau sedang berbohong padaku. Kenapa, Cho Kyuhyun?” kataku masih yakin dengan dugaanku.

.

“Hhh… Itulah dirimu, Lee Hyesoo. Meski apapun yang aku katakan, kau akan menganggapnya sebagai kebohongan. Masalahnya ada padamu. Kau tidak percaya padaku. Jika kau mempercayainya, maka masalah ini sudah selesai” ujar Kyuhyun menyalahkanku.

.

“Jika perubahan sikapmu ini ada hubungannya dengan jantung Choi Siwon yang ada di dalam tubuhmu dan rasa bersalah yang selama ini keluarga kalian rasakan padaku, maka lupakanlah. Aku baik-baik saja. Aku sudah meninggalkan semua hal yang terjadi di masa lalu. Bisakah kita hanya melihat ke depan?”

.

“Aku sedang melihat ke depan, Lee Hyesoo. Dan kau tidak ada di masa depanku”, kata Kyuhyun.

.

“Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun”, kataku akhirnya, mengungkapkan apa yang sebenarnya aku rasakan padanya. “Dan aku meyakini bahwa paling tidak kau memiliki sedikit saja perasaan untukku, meski dengan kata apapun yang kau gunakan untuk menjelaskan perasaanmu itu”.

.

“Tidak!!! Berapa kali aku harus mengatakannya padamu? Aku tidak punya perasaan apapun padamu, Lee Hyesoo! Tidak ada!!!” katanya bersikeras dengan pendapatnya.

.

“Tidak. Aku yakin kau tidak begitu. Meski kau menyembunyikannya, aku yakin kau memiliki sedikit perasaan padaku. Kau pernah mengatakan bahwa kau menyukaiku. Kau selalu menyukaiku”, balasku dengan keyakinan pada pendapatku.

.

“Aniya!!! Anirago!!! (Aku bilang aku tidak [menyukaimu]!!!) Kenapa kau tidak ingin mengerti kata-kata itu?!” kata Kyuhyun dengan nada bicaranya yang mulai meningkat.

.

“Karena tatapan matamu tidak bisa membohongiku, Cho Kyuhyun. Bahkan saat ini tatapan matamu menjelaskan kebenarannya. Semua hal yang kau lakukan dan kau berikan benar-benar berasal dari hatimu. Aku bisa merasakannya”, kataku.

.

“Itu karena aku kasihan padamu… Tidak ada perasaan lain setelahnya”, kata Kyuhyun dengan nada bicara yang sudah kembali seperti semula.

.

“Apa?” tanyaku terkejut, seolah ada sebuah batu besar yang baru saja menghantam dadaku. Air mata perlahan mulai menggenangi mataku.

.

.

.

Author’s POV

.

“Semua hal yang aku lakukan hanya karena aku kasihan padamu. Tidak ada alasan lain”, kata Kyuhyun.

.

“Omong kosong… Kenapa kau harus merasa kasihan padaku?” tanya Hyesoo.

.

“Hidupmu sangat menyedihkan, Lee Hyesoo” jawab Kyuhyun.

.

“Menyedihkan?”

.

“Benar. Menyedihkan…” jawab Kyuhyun memberikan jeda dalam kalimatnya. “Hanya karena kecemburuan seorang gadis yang kekasihnya menyukaimu, kau harus mendapatkan pengkhianatan dari kekasihmu. Kau bahkan kehilangan ingatanmu secara permanen setelahnya. Kau merasakan penyesalan yang begitu besar karena sudah menyalahkan orang yang salah selama ini. Kau merasa bersalah atas semua hal yang terjadi pada Kim Jaejoong karena tidak bisa membalas perasaannya. Kau juga merasa bersalah pada Kang Soyu karena selalu menjadi penghalang cintanya. Kau memiliki rasa bersalah yang begitu banyak”, kata Kyuhyun menjelaskan.

.

“Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan, Cho Kyuhyun? Bicara dengan hatimu…” kata Hyesoo dengan air mata yang sudah menetes di pipiku.

.

“Aku hanya kasihan padamu, Lee Hyesoo…” Kyuhyun melanjutkan ucapannya. “Kau terlihat begitu menyedihkan dimataku. Aku pikir aku akan baik-baik saja terus berpura-pura di depanmu meski pertaruhanku dengan teman-temanku sudah melewati batas waktu terakhir. Tapi aku menjadi muak… Aku tidak bisa menghadapimu lagi. Aku tidak pernah suka dengan orang-orang yang penuh rasa bersalah dalam hidupnya”.

.

“Tidak… Kau tidak merasa begitu…” Hyesoo masih bersikeras menyangkal Kyuhyun.

.

“Ini adalah kesungguhanku, Lee Hyesoo. Karena itu, pergi dariku. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi”, kata Kyuhyun yang kemudian berlalu meninggalkan Hyesoo yang berdiri mematung menatap kepergian Kyuhyun.

.

Kyuhyun berjalan semakin menjauh dari Hyesoo. Ia tidak menoleh lagi. Ia tidak mempedulikan keadaan Hyesoo yang begitu terkejut mendengar perkataan Kyuhyun. Tiba-tiba kaki Hyesoo terasa lemas. Ia jatuh terduduk di atas permukaan rumput hijau. Hyesoo tidak pernah menyangka bahwa Kyuhyun akan mengatakan hal yang begitu menyakitkan padanya. Kyuhyun mengetahui semua hal yang terjadi padanya. Masa lalunya dengan Siwon, masalahnya dengan Kang Soyu, dan rasa bersalahnya pada Jaejoong. Kyuhyun mengetahuinya. Semua hal menjadi masuk akal bagi Hyesoo. Pertaruhan dan rasa kasihan. Kombinasi keduanya menjelaskan setiap perubahan dalam diri Kyuhyun. Urutannya begitu tepat. Kyuhyun bertaruh dengan teman-temannya. Lalu saat masa pertaruhan itu berakhir, Kyuhyun tidak mampu meninggalkan Hyesoo karena rasa kasihannya. Air mata Hyesoo tidak henti mengalir membasahi kedua pipinya. Hatinya terasa begitu sakit. Bahkan keraguan dan dugaannya atas sikap Kyuhyun tidak mampu lagi menguatkan dirinya untuk menyangkal setiap ucapan Kyuhyun.

.

BGM: Lee Seok Hoon – I’ll Be There

.

Hyesoo pun tidak kembali ke rumah setelahnya. Keadaannya terlalu buruk untuk menemui semua orang yang sedang berada di rumah untuk merayakan kesuksesan pertunjukkan Hyeri. Hyesoo tidak ingin merusak suasana pesta dengan kesedihannya. Keesokkan harinya, Hyesoo masih berada dikamarnya yang tertutup rapat. Hyesoo sudah berbaring di tempat tidurnya semalaman, mencoba untuk melupakan semua hal yang telah terjadi. Namun kantuk tidak datang padanya. Hyesoo terjaga sepanjang malam. Ia merasa marah pada pertaruhan yang dilakukan Kyuhyun, serta kenyataan bahwa Kyuhyun hanya mengasihaninya. Tapi hatinya tidak bisa berbohong. Hyesoo begitu mencintai Kyuhyun. Bahkan dengan amarah yang ia rasakan, tidak bisa menutupi perasaan dan kerinduannya pada Kyuhyun. Pagi pun berganti siang, dan siang berganti petang. Hingga matahari terbenam, digantikan dengan bulan, Hyesoo belum beranjak dari tempat tidurnya. Keheningan dalam ruangan kamar Hyesoo pun pecah saat Hyesoo akhirnya memutuskan untuk pergi ke suatu tempat. Ia meraih dompet dan ponselnya kemudian berhambur keluar apartment dengan tergesa.

.

Hyesoo menghentikan sebuah taksi di depan apartment, kemudian meminta supir membawanya ke satu-satunya tempat yang muncul dalam pikirannya. Apartment Kyuhyun. Kenyataan bahwa Kyuhyun telah mempermainkannya serta menyakiti hatinya, tidak mampu menutupi kenyataan lain yang ia rasakan. Hyesoo tetap mencintai Kyuhyun. Hyesoo begitu merindukan Kyuhyun. Hyesoo ingin menemui Kyuhyun walau apapun yang sudah terjadi dan akan terjadi diantara mereka. Hyesoo bersikeras untuk bertemu dengan Kyuhyun. Taksi berhenti didepan lobby gedung apartment Kyuhyun. Setelah membayar biaya perjalanan, Hyesoo pun segera masuk ke dalam gedung, lalu lift. Hyesoo menunggu pintu lift yang terasa begitu lama, tidak kunjung terbuka di lantai yang ditujunya. Saat lift terbuka, Hyesoo melangkah dengan cepat menuju apartment Kyuhyun. Hyesoo menekan tombol bel dengan cepat, tidak mempedulikan suara bel yang akan terdengar berisik dari dalam sana. Namun tidak ada jawaban apapun dari dalam apartment. Sekali lagi Hyesoo menekan tombol bel. Hingga pintu apartment akhirnya terbuka di hadapannya. Sosok Byun Baekhyun lah yang muncul dari balik pintu.

.

“Baekhyun-ssi?” tanya Hyesoo yang tidak menduga akan keberadaan Baekhyun disana.

.

“Hyesoo-ssi. Kau tidak diijinkan untuk masuk”, kata Baekhyun menjelaskan.

.

“Kenapa? Apa alasannya?” tanya Hyesoo.

.

“Tuan muda tidak mengijinkannya”, jawab Baekhyun singkat.

.

“Apa Kyuhyun ada di dalam? Aku ingin bicara dengannya. Tolong beritahu dia. Sebentar saja. Aku janji tidak akan lama. Hm?” pinta Hyesoo.

.

“Tidak bisa, Hyesoo-ssi. Aku hanya menjalankan perintah”, tolak Baekhyun dengan suara tenang.

.

“Dimana Kyuhyun?” tanya Hyesoo tiba-tiba, seolah menyadari sesuatu.

.

“Ne?”

.

“Dia tidak di dalam, bukan? Kyuhyun tidak berada disini. Dimana dia?” tanya Hyesoo. Namun Baekhyun menolak untuk memberitahunya. “Aku mohon, Baekhyun-ssi. Beritahu aku…”

.

“Jangan memohon padaku, Hyesoo-ssi. Jangan lakukan itu”, kata Baekhyun yang tergoyah hatinya.

.

“Kalau begitu, beritahu aku. Dimana dia?”

.

“Aku tidak bisa mengatakannya, Hyesoo-ssi. Aku akan kehilangan pekerjaanku jika melanggar perintah”, kata Baekhyun tetap menolak permintaan Hyesoo.

.

“Aku yang akan bertanggung jawab. Aku akan bertanggung jawab jika hal itu terjadi. Karena itu, tolong beritahu aku. Bantu aku, Baekhyun-ssi. Aku benar-benar harus menemuinya”, pinta Hyesoo.

.

Hyesoo berlari keluar dari gedung apartment. Sekali lagi ia menghentikan sebuah taksi yang melewati jalan raya di depan gedung. Hyesoo menunjukkan sebuah kertas pada supir taksi. Beberapa saat yang lalu, Baekhyun menyerah dan memberitahu Hyesoo lokasi keberadaan Kyuhyun. Baekhyun mengatakan bahwa sudah seminggu Kyuhyun kembali tinggal di rumah ayahnya karena selama tiga bulan ke depan tuan Cho tidak akan berada di Korea. Hyesoo masuk di kursi belakang kemudi, lalu meminta supir untuk melaju dengan cepat. Butuh waktu hampir 30 menit untuk mencapai tempat yang dituju Hyesoo. Sebuah rumah berukuran besar yang di kelilingi dengan pagar yang cukup tinggi terpampang di hadapan Hyesoo. Ia menekan tombol bel di samping pagar utama yang terbuat dari kayu. Seseorang muncul beberapa saat setelahnya. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang sangat rapi menyapanya dengan sangat sopan dan hangat.

.

“Aku ingin bertemu dengan Cho Kyuhyun”, kata Hyesoo.

.

“Bolehkah saya mengetahui siapa anda?” tanya wanita itu.

.

“Aku teman kuliah Kyuhyun. Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan Kyuhyun. Secepatnya”, kata Hyesoo menekankan nada bicaranya pada kata terakhir yang diucapkannya.

.

“Saya mengerti. Silahkan masuk, nona” kata wanita itu.

.

Namun sesaat setelah Hyesoo melewati pagar utama rumah itu, sosok Kyuhyun sudah berdiri beberapa meter di hadapannya. Kyuhyun menatapnya dengan tatapan tajam yang begitu dingin. Kyuhyun melambaikan tangannya, meminta staf rumah tangga yang menerima Hyesoo untuk pergi meninggalkan mereka. Setelah memastikan staf itu benar-benar jauh, Kyuhyun berjalan mendekat pada Hyesoo yang berdiri membeku. Kyuhyun masih menyisakan dua meter jarak diantara mereka.

.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Kyuhyun.

.

“Aku ingin bertemu denganmu. Bicara padamu”, jawab Hyesoo.

.

“Aku pikir kita sudah tidak memiliki urusan apapun, Lee Hyesoo”.

.

“Cho Kyuhyun…”

.

“Kau sudah tidak memiliki hak untuk memanggil namaku seperti itu!” kata Kyuhyun dingin.

.

“Aku tidak bisa membiarkan semuanya berakhir seperti ini. Aku tidak bisa…” kata Hyesoo tanpa mempedulikan ucapan Kyuhyun. Ia tidak bisa lagi menahan kesedihannya. Air mata pun menetes di pipinya.

.

“Meskipun semua sikap dan tindakanmu hanya didasarkan oleh rasa kasihan. Meskipun kau hanya mempermainkan aku. Tapi aku tetap berharap kau bisa memberikan kesempatan padaku. Aku bisa tetap bertahan. Kau bisa memintaku melakukan apapun yang kau inginkan”, pinta Hyesoo, memberikan jeda dalam ucapannya. “Jangan lepaskan aku. Aku tidak ingin merasakan hal ini lagi. Aku tidak bisa. Jangan lakukan itu…”

.

“Selama ini aku tidak pernah menggenggammu, Lee Hyesoo. Kau tidak pernah benar-benar berada dalam genggamanku. Kau hanya berada di telapak tanganku, yang bisa sewaktu-waktu aku lepaskan. Jangan buat dirimu terlihat lebih menyedihkan, Lee Hyesoo” ujar Kyuhyun.

.

.

BGM: Acoustic Collabo – Please

.

.

“Aku tidak bisa……”

.

“Itu bukan urusanku!” kata Kyuhyun berseru.

.

“Saat kau mengatakan bahwa semua hal yang terjadi diantara kita hanya karena sebuah pertaruhan, aku ingin membencimu”, kata Hyesoo yang tidak menghiraukan ucapan Kyuhyun baru saja. “Sangat ingin… Aku sudah berusaha…”

.

“Cukup. Aku tidak ingin mendengarnya”, kata Kyuhyun mencoba menghentikan Hyesoo.

.

“Tapi aku tidak bisa… Aku tidak bisa dengan mudah mengatur hatiku. Aku tetap mencintaimu. Aku mohon… Jangan lepaskan aku”, kata Hyesoo.

.

“Aku sudah mengatakannya dengan jelas padamu, Lee Hyesoo. Itu sudah tidak lagi menjadi urusanku. Semua hal yang terjadi padamu sudah bukan urusanku”, kata Kyuhyun dengan nada sedikit lebih keras sekali lagi.

.

“Aku tidak ingin kembali terjatuh saat ini. Aku tidak sanggup. Aku bahkan bisa mengesampingkan semua hal hanya untuk memohon padamu seperti ini. Rengkuh aku sebentar saja. Aku janji tidak akan membutuhkan waktu yang lama…” kata Hyesoo sambil menghapus jejak air mata di pipinya. “Hanya beberapa minggu… atau hari… Kau bisa melepasku setelah aku sudah merasa benar-benar mampu berdiri tanpamu. Tapi tidak sekarang…”

.

“Aku hanya akan membuat diriku lebih muak dengan melakukan hal itu, Lee Hyesoo”, kata Kyuhyun dingin sambil berjalan mendekat pada Hyesoo. “Dan meskipun aku bukan laki-laki yang baik, aku masih memiliki akal sehat untuk berpikir. Aku tidak bisa bersikap terlalu jahat padamu, pada gadis manapun. Aku tidak bisa membuatmu terjatuh lebih rendah lagi, Lee Hyesoo. Aku tidak bisa… Pergi. Jangan pernah menemuiku lagi”, kata Kyuhyun sambil terus berjalan, membuat Hyesoo melangkah mundur karenanya.

.

“Jangan seperti ini, Cho Kyuhyun… Aku mohon…”

.

“Hentikan, Lee Hyesoo! Kau sudah tidak memiliki harga diri? Kenapa kau menjatuhkan dirimu sendiri dengan memohon-mohon padaku seperti ini, Lee Hyesoo?”

.

“Benar! Kau benar… Aku bahkan sudah meletakkan harga diriku di dasar saat aku memutuskan untuk menemuimu. Aku tidak mempedulikannya lagi”.

.

“Karena itu aku tidak menyukaimu, Lee Hyesoo. Kau menghilangkan nilaimu dimataku dengan sikap yang kau tunjukkan ini. Dan disaat seperti ini kau begitu menyebalkan. Pergilah…”

.

Kyuhyun menutup pintu kecil disisi pagar utama, mengusir Hyesoo dari rumahnya. Sesaat kemudian, tubuh Hyesoo kembali jatuh terduduk di permukaan aspal. Hyesoo menangis tersedu sambil memeluk kedua kakinya. Rasa pilu dalam hatinya menjadi semakin besar. Kyuhyun benar-benar sudah menyakiti hati Hyesoo dengan sikap dan perkataannya. Hyesoo tidak bisa lagi menahan segala luka yang ia rasakan. Hyesoo membekap mulutnya. Ia menjerit pilu dalam bekapan tangannya. Sementara Kyuhyun yang masih berada di balik pintu hanya berdiri terdiam mendengarkan isakan tangis memilukan Hyesoo diluar pagarnya.

.

Flashback

Beberapa tahun yang lalu

Di sisi lain rumah sakit

Seattle, US

Ket: Hyesoo tidak mengetahui kejadian dibawah ini. Selain Siwon, hanya Kyuhyun yang mengetahuinya. Kyuhyun tidak mengetahui bahwa pasien yang menerima darahnya adalah Hyesoo.

.

Siwon mendengar semuanya. Penjelasan Donghae dan kerisauan keluarga serta teman-teman Hyesoo. Tentu saja Siwon juga mengetahui bahwa dalam keluarga Hyesoo hanya Donghae dan ibunya lah yang memiliki golongan darah yang sama dengan Hyesoo. Siwon segera berjalan melalui koridor rumah sakit, meninggalkan ruang ICU yang sejak tadi hanya bisa dipandanginya dari kejauhan. Ia berpikir keras, memikirkan segala kemungkinan yang bisa ia lakukan untuk membantu Hyesoo. Siwon membutuhkan bantuan orang lain dalam hal itu. Karena Siwon sendiri bergolongan darah A, sehingga tidak bisa mendonorkan darahnya pada Hyesoo. Siwon terus berjalan menyusuri koridor tanpa tujuan yang pasti, sambil tidak henti berpikir.

.

“Hyung!” seru seseorang dari sisi percabangan koridor yang lain. “Siwon hyung!”

.

Siwon menghentikan langkahnya. Kyuhyun berdiri sambil mengangkat tangan kanannya, menyapa Siwon yang tidak menyadari keberadaan Kyuhyun disana. Lalu Kyuhyun berjalan mendekati Siwon yang masih berdiri menatapnya dengan senyum tipis dipaksakan di wajahnya. Kyuhyun mendekat dan memberikan pelukan pada sepupu yang sudah selama setahun tidak ditemuinya.

.

“Lama tidak bertemu, hyung” kata Kyuhyun.

.

“Eo… Kau benar. Sudah lama kita tidak bertemu”, kata Siwon yang masih menunjukkan wajah cemasnya.

.

“Apa kabar, hyung?” tanya Kyuhyun.

.

“Aku baik-baik saja. Hanya saja situasinya yang sedang tidak baik”, jawab Siwon yang pikirannya sedang terbagi.

.

“Mwoya… Hyung tidak balas menanyakan kabarku. Tidak seperti Siwon hyung yang ku kenal”, keluh Kyuhyun dengan nada bercandanya.

.

“Eo… Apa kabarmu? Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Siwon akhirnya.

.

“Kabarku jauh lebih baik dari yang pantas aku dapatkan. Seperti yang sudah-sudah, aku harus menghabiskan beberapa minggu lagi disini”, jawab Kyuhyun.

.

“Apa lagi kali ini? Kau selalu saja membuat masalah”, protes Siwon kali ini. “Katakan. Apa yang sudah kau lakukan?”

.

“Aku ikut pelatihan awal wajib militer”, jawab Kyuhyun dengan suara pelan, berharap Siwon tidak mendengarnya dengan jelas.

.

“Kau gila? Otakmu sudah tidak bekerja dengan baik? Ya! Gunakan cara bunuh diri dengan tidak melibatkan banyak orang! Michin saekki…” protes Siwon.

.

“Wah… Bicaramu sangat keterlaluan, hyung. Bagaimana bisa kau bicara seperti itu padaku?” keluh Kyuhyun.

.

“Aku sangat mengenalmu, Cho Kyuhyun. Kau pikir kau baru melakukan hal nekat itu satu atau dua kali? Lama kelamaan kau bisa membuat orang-orang yang mengkhawatirkanmu ikut terkena serangan jantung sepertimu”, ujar Siwon.

.

“Tidak boleh seperti itu! Jika jantung mereka juga bermasalah, lalu siapa yang akan mengurusku? Tidak. Tidak. Tidak boleh…” kata Kyuhyun dengan nada berguraunya.

.

“Ah, tidak tahu! Aku tidak ingin mendengarmu lagi”, kata Siwon malas.

.

Kyuhyun tertawa mendengar tanggapan kakak sepupunya itu. Namun lawan bicaranya tidak ikut tertawa seperti yang biasa dilakukan. Wajah Siwon tidak menunjukkan perubahan apapun. Rahangnya terkatup rapat. Ada kerutan di keningnya dan ada kecemasan yang tertulis jelas di seluruh wajahnya. Hal itu membuat Kyuhyun menghentikan tawanya, lalu menatap wajah Siwon. Beberapa saat setelah tidak terdengarnya suara tawa Kyuhyun, Siwon menyadari tatapan Kyuhyun padanya. Siwon pun menoleh dan balas menatap Kyuhyun.

.

“Kenapa?” tanya Siwon dengan dengusan pelan yang keluar bersama pertanyaannya itu.

.

“Seharusnya aku yang bertanya pada hyung. Kenapa? Ada terjadi sesuatu? Wajahmu sangat menunjukkan kondisimu yang tidak baik-baik saja saat ini”, kata Kyuhyun.

.

“Begitu terlihat?” tanya Siwon sambil mengusap mata terpejamnya lalu menuju ke kening dan berakhir di kepalanya.

.

“Sangat. Katakan padaku, hyung. Jika mampu, aku akan membantumu”, kata Kyuhyun.

.

“Sudahlah. Tidak perlu. Aku harus mencari jalan keluarnya sendiri”, tolak Siwon.

.

“Hyung… Jangan begitu. Bukankah kita saudara? Aku juga adikmu. Katakan padaku. Aku benar-benar akan membantumu”, bujuk Kyuhyun.

.

Siwon menatap adik sepupunya itu dengan tatapan yang menyatakan keraguannya. Siwon memang sedang membutuhkan bantuan. Tapi ia tidak ingin membuat Kyuhyun membantunya. Seperti yang tadi dikatakan Kyuhyun, ia berada di rumah sakit untuk melakukan perawatan. Siwon tidak mungkin meminta bantuan pada seorang pasien. Namun bayangan akan keadaan Hyesoo kembali menghampirinya. Ia kembali diliputi dengan kecemasan dan kerisauan.

.

“Cho Kyuhyun, apa golongan darahmu?” tanya Siwon akhirnya.

.

“B, hyung. Kenapa kau bertanya?” Kyuhyun balas bertanya.

.

Siwon menyentuh belakang kepalanya sendiri lalu meremas rambutnya. Golongan darah Kyuhyun sama dengan Hyesoo. Tapi Siwon masih ragu untuk meminta Kyuhyun membantunya. Siwon membalikkan tubuhnya, berpikir dengan keras tentang keadaan yang sedang terjadi. Di satu sisi, Siwon ingin membantu Hyesoo. Tapi di sisi lain, Siwon tidak ingin membuat Kyuhyun yang sedang dalam keadaan tidak baik membantunya. Siwon benar-benar bingung harus melakukan apa.

.

“Hyung, ada apa? Katakan padaku…” bujuk Kyuhyun lagi.

.

“Kyuhyun-ah, bisakah kau mendonorkan darahmu? Seseorang yang ku kenal sedang menjalani perawatan di rumah sakit ini karena kecelakaan. Dia sangat membutuhkan tranfusi darah. Dan golongan darahnya sama denganmu. Bisakah kau membantu?”, tanya Siwon.

.

“Hyung memintaku mendonorkan darahku untuk orang yang tidak ku kenal? Hyung sudah gila? Aku bukan orang yang sedermawan itu”, kata Kyuhyun memberikan tanggapannya.

.

“Ya! Aku ‘kan sudah mengatakannya padamu. Aku kenal dia”, kata Siwon yang sudah tidak bisa mundur lagi dalam membujuk Kyuhyun.

.

“Bukankah ada bank darah di pusat kota? Mereka tidak bisa membelinya disana? Berikan saja bantuan uang pada mereka untuk membelinya”, Kyuhyun tetap bersikeras menolak.

.

“Jika mereka ingin, mereka bahkan bisa membeli bank darah itu untuk keluarga mereka sendiri. Bank darah di pusat kota kehabisan stok darah yang dia butuhkan. Butuh waktu sampai petang untuk mendapatkan kiriman dari kota lain. Dia membutuhkan darah secepatnya”, ujar Siwon.

.

“Walaupun begitu… Itu bukan urusan hyung, bukan? Hyung tidak perlu melakukan hal itu jika hyung mau”, kata Kyuhyun masih dengan penolakannya.

.

“Aku harus melakukannya, Kyuhyun-ah…” kata Siwon sambil menghela napas. “Aku yang membuat keadaannya menjadi seperti itu”.

.

“Mwo? Michyeosseo??? Bagaimana bisa kau… wah… hyung benar-benar sudah kehilangan akal sehat rupanya. Bagaimana bisa?” tanya Kyuhyun yang terkejut dengan pernyataan Siwon.

.

“Kita tidak punya banyak waktu lagi untuk membicarakan hal itu. Bantu aku kali ini saja. Eo? Tidakkah kau ingin melakukan satu perbuatan baik yang besar dalam hidupmu? Ayolah, Kyuhyun-ah. Bantu aku. Eo? Aku akan melakukan apapun untukmu sebagai gantinya. Apapun…” bujuk Siwon.

.

“Kenapa hyung ingin sekali membantunya? Memang hyung yang menyebabkan keadaannya seperti itu. Hyung juga mengenalnya. Meski begitu, hyung bisa membantunya cukup dengan membiayai perawatannya di rumah sakit saja. Kenapa hyung sampai ikut kebingungan dan terlihat tidak baik seperti ini? Tidak bisa dimengerti…” kata Kyuhyun protes dengan sikap Siwon.

.

“Dia adalah gadis yang ku cintai, Kyuhyun-ah” jawab Siwon.

.

“Mwo? Michin nom…” kata Kyuhyun yang terkejut dengan suara pelan.

.

“Aku mencintainya. Aku sangat sadar bahwa aku mencintainya. Tapi aku masih saja menyakiti hatinya. Bahkan aku sampai menyebabkan kecelakaan ini. Jika aku bisa, aku rela memberikan apapun yang dia butuhkan. Aku akan melakukan apapun untuk membuatnya sadar, meski aku tahu ketika saat itu tiba nanti dia akan tetap sangat membenciku. Aku tidak peduli. Aku hanya tahu satu hal, yaitu aku ingin dia tetap hidup. Aku ingin dia bangun dari koma nya dan membenciku. Aku ingin dia menghukumku dengan bentakan, pukulan, atau apapun yang bisa dia lakukan. Tapi dia bahkan hanya berbaring disana dan tidak bergerak sedikitpun. Aku benci melihatnya membalasku dengan cara ini, Kyuhyun-ah. Rasanya jauh lebih sakit dari semua pukulan keras yang ada”.

.

“Cukup hyung. Tidak perlu membicarakannya lagi. Aku akan mendonorkan darahku”, kata Kyuhyun setuju.

.

“Benarkah?” tanya Siwon yang dijawab dengan anggukkan oleh Kyuhyun. “Terima kasih. Terima kasih banyak, Kyuhyun-ah. Tapi, ada satu hal lain. Jangan beritahu mereka tentang hubungan kita. Jangan beritahu mereka bahwa kau adalah sepupuku. Jangan katakan apapun”, pinta Siwon.

.

“Kenapa?” tanya Kyuhyun bingung.

.

“Saudara kembar laki-lakinya tidak ingin menerima bantuan apapun dariku. Mereka belum memaafkanku sebelum gadis itu sadar. Kau bisa melakukannya untukku ‘kan?” tanya Siwon.

.

“Baiklah. Aku akan melakukannya…” ujar Kyuhyun.

.

Flashback End

.

Dia yang mencintaimu, Lee Hyesoo. Dia begitu mencintaimu…‘ kata Kyuhyun dalam pikirannya.

.

.

.

Apartment Hyesoo

BGM: Ben – Like a dream

.

Hyesoo kembali ke apartment nya. Sejak kemarin Hyesoo tidak berpikir sedikitpun untuk kembali ke rumah. Donghae mengirim pesan padanya pagi ini, mengatakan bahwa ia sedang tidak berada di Seoul. Setelah itu Hyesoo baterai ponsel Hyesoo habis dan ponselnya mati hingga sekarang. Hyesoo duduk memeluk kedua kakinya di lantai ruang tv apartment nya dalam keheningan dan kegelapan ruangan yang terasa begitu dingin. Sesak masih memenuhi dadanya. Ia terluka, seolah ada sebuah lubang besar menganga. Pilu yang dirasakan Hyesoo bahkan menjalar ke seluruh tubuhnya, mengalir bersama aliran darahnya. Hyesoo menatap kosong ke lantai yang ditutupi dengan karpet dihadapannya. Air mata menetes begitu saja di kedua pipinya. Alirannya bertambah deras saat Hyesoo memejamkan matanya selama beberapa saat.

.

Hidupmu sangat menyedihkan, Lee Hyesoo

.

Kalimat itu kembali teringat dalam pikiran Hyesoo. Ia kembali memejamkan matanya. Kedua alisnya bertaut, membuat sebuah kerutan diatas batang hidungnya terlihat jelas di wajah muram Hyesoo. Isakan mulai terdengar dari Hyesoo yang menundukkan kepalanya, menumpunya dengan kedua kaki yang masih ia peluk dengan erat. Beberapa saat setelahnya, Hyesoo mengangkat kepalanya, menurunkan kaki lalu mengubah posisi menjadi duduk bersila. Hyesoo masih memejamkan matanya. Ia mengarahkan wajahnya ke langit-langit, berusaha menahan agar air matanya tidak mengalir terus. Hyesoo mengusap pipi kiri dan kananya dengan kasar, menghapus jejak air mata yang membasahi sebagian wajahnya. Namun tentu saja usahanya tidak berhasil. Kyuhyun menyakitinya begitu dalam.

.

Aku menjadi muak.

Aku tidak bisa menghadapimu lagi.

.

Isak tangis Hyesoo semakin menjadi. Perkataan dan perbuatan Kyuhyun sudah menusuk jantungnya dengan keras. Luka yang dibuat Kyuhyun terlalu menyakitkan. Hyesoo mengepalkan jari-jari tangan kanannya, kemudian meletakkan kepalan itu di dadanya. Hyesoo menekan dadanya kuat, berusaha mengalihkan rasa sakit yang dirasakannya. Namun rasa itu justru semakin kuat. Hyesoo memukul-mukul dadanya pelan, untuk mengusir rasa sakit itu. Hingga Hyesoo menyerah dan membaringkan tubuhnya diatas karpet.

.

Hari kembali berganti dengan cepat. Matahari sudah memunculkan dirinya diluar sana. Tapi kegelapan masih menyelubungi apartment itu. Hyesoo kembali terjaga sepanjang malam. Matanya tidak terpejam hingga hari berganti pagi. Air mata sudah tidak menetes dari matanya. Napas Hyesoo sudah terdengar lebih teratur. Namun ekspresi diwajahnya tetap menunjukkan apa yang sedang ia rasakan. Hyesoo memejamkan matanya selama beberapa detik sebelum kembali membukanya. Hyesoo bangun dari karpet dan duduk untuk mengikat rambutnya yang berantakan. Kemudian Hyesoo bangkit berdiri. Tubuhnya gontai karena kelelahan dan kekurangan asupan makanan sejak dua hari yang lalu. Hyesoo menghela napas panjang sebelum mulai melangkahkan kakinya menuju jendela besar untuk membuka gorden. Hyesoo mengambil vacum cleaner dari ruang penyimpanan, lalu membersihkan setiap sudut apartmentnya. Setelah itu, Hyesoo mengambil sebuah ember yang sudah ia isi dengan air dan cairan pembersih lantai. Hyesoo membawa serta sebuah lap berukuran sedang di tangannya. Hyesoo memulai kegiatan mengepelnya. Ia tidak menggunakan alat pel dengan gagang kayu/besi, melainkan lap yang ada ditangannya. Hyesoo menggosok lantai dengan kuat. Ia tidak melewatkan satu sisi pun untuk dibersihkan. Selesai dengan kegiatan mengepelnya, Hyesoo menuju dapur dengan lap bersih lain ditangannya. Hyesoo membersihkan setiap meja, alat elektronik dapur, hingga tempat pencuci piring dengan tangannya sendiri. Hyesoo merasa semua yang sudah ia lakukan belumlah cukup. Hyesoo mengeluarkan semua peralatan makan dari lemari penyimpanan, lalu mencucinya di bak pencuci piring meskipun semua alat itu sudah dalam keadaan bersih.

.

Sementara itu, Yoona, Ryeowook, Jaejoong & Sooyoung yang masih mencari keberadaan Hyesoo baru saja masuk ke dalam lift gedung apartment Hyesoo. Setelah tiba di lantai  apartment Hyesoo berada, mereka segera keluar dan berjalan dengan tergesa menuju apartment milik Hyesoo. Ryeowook pun menekankan tombol password yang sudah diberitahukan oleh Hyeri padanya. Keempatnya masuk ke dalam apartment Hyesoo, menemukan kondisi apartment rapi seperti biasanya. Hingga suara benturan piring keramik dengan sisi bak pencuci piring menyadarkan mereka akan keberadaan Hyesoo disana.

.

“Hyesoo-ya, kau dimana?” tanya Yoona yang berada di depan sambil berjalan masuk.

.

Langkah Yoona terhenti, begitu pula dengan Jaejoong, Sooyoung dan Ryeowook. Ia menemukan sosok Hyesoo di dapur. Mereka dikejutkan dengan tumpukkan peralatan makan dan peralatan masak yang berjajar rapi di meja dapur. Hyesoo tidak menoleh sedikitpun. Hyesoo tetap meneruskan kegiatannya. Hingga mereka menyadari bahwa pakaian yang dikenakan Hyesoo masih pakaian yang dikenakannya dua hari yang lalu. Tiba-tiba sebuah piring terjatuh dari tangan licin Hyesoo.

.

“Aigoo…” kata Hyesoo pelan dengan helaan napas panjang yang menyertainya.

.

Saat itu mereka pun menyadari bahwa Hyesoo tidak menggunakan sarung tangan untuk mencuci semuanya. Padahal mereka sangat mengetahui keadaan air yang sedang berubah dingin karena pergantian musim. Sooyoung tidak bisa bertahan dengan berdiam diri lebih lama lagi. Ia berjalan mendekat pada Hyesoo. Mata Sooyoung melebar saat melihat tangan Hyesoo yang kemerahan. T-shirt bagian depan Hyesoo juga sudah basah karena cipratan air dari kran.

.

“Eonni… Hentikan… Jangan seperti ini…” pinta Sooyoung sambil mencoba menarik salah satu lengan Hyesoo.

.

Tapi tangan Sooyoung ditepis dengan cepat oleh Hyesoo. Bahkan Hyesoo tidak menoleh sedikitpun pada Sooyoung. Hyesoo tidak mempedulikan keberadaan empat orang yang ada bersamanya di apartment itu. Hyesoo kembali menggosok piring ditangannya. Lalu Hyesoo menyelipkan helaian rambutnya yang terlepas dari ikatan dengan tangannya yang berbusa. Kini sisi sebelah kiri rambut Hyesoo pun terdapat busa-busa cucian piring yang menempel.

.

“Eonni… Aku mohon, jangan seperti ini…” bujuk Sooyoung sekali lagi.

.

Kedua sisi samping bahu Hyesoo pun diraih oleh sepasang tangan dari arah belakang tubuhnya. Ryeowook mencoba menghentikan Hyesoo dengan caranya. Awalnya Hyesoo tetap berusaha memberontak melepaskan tangan Ryeowook dari bahunya. Namun Ryeowook jauh lebih kuat dari Hyesoo. Ryeowook membalikkan tubuh Hyesoo ke arah kanan untuk menghadap padanya. Piring di tangan Hyesoo terpental dan pecah di lantai. Ryeowook sudah memperhitungkannya. Ia sengaja memutar tubuh Hyesoo ke kanan agar piring itu tidak mengenai Sooyoung. Ryeowook memeluk tubuh Hyesoo dengan erat setelahnya. Napas Hyesoo memburu, namun ekspresi di wajahnya masih datar. Ryeowook membelai kepala Hyesoo dengan sebelah tangannya, mencoba menenangkan Hyesoo.

.

“Harapan kita tidak terwujud, Hyesoo-ya” kata Ryeowook dengan suara tenang. “Aku benar sekali lagi. Aku mengatakannya padamu, bukan? Perasaanku mengatakan bahwa aku akan mengkhawatirkanmu suatu saat nanti”, sambung Ryeowook yang mengeratkan pelukannya di tubuh Hyesoo. “Kau boleh marah. Kau boleh memukulku. Kau boleh menangis”.

.

Tangis pun kembali menghampirinya. Tubuh tegang Hyesoo menjadi lemas. Hyesoo menopangkan tubuhnya dalam pelukan Ryeowook. Ia kembali memejamkan mata dan menautkan kedua alisnya. Perlahan air mata yang menetes itu berubah menjadi isakan pilu yang teredam dalam pelukan Ryeowook. Kedua tangan Hyesoo meremas kemeja yang dikenakan Ryeowook dengan kuat. Suara tangis yang keluar dari bibir Hyesoo terdengar begitu menyakitkan. Bahkan membuat Yoona dan Sooyoung ikut menangis dibuatnya. Keempatnya tidak pernah melihat Hyesoo terpuruk seperti ini sebelumnya. Hyesoo terlihat begitu lelah. Hyesoo sudah kewalahan dengan semua hal yang dihadapinya.

.

“Aku lelah. Aku akan tidur selama beberapa jam”, kata Hyesoo setelah tangisnya reda, dengan suara pelan yang terdengar serak.

.

“Baiklah… Kami akan menunggu mu disini”, kata Yoona sambil membelai rambut Hyesoo.

.

.

.

K University

.

Hyesoo kembali ke kampus keesokkan harinya seolah tidak terjadi apapun padanya beberapa hari belakangan. Hyesoo menghadiri kelas, makan di cafeteria, lalu segera kembali ke rumah setelahnya. Hyesoo tidak lagi menghabiskan waktu kosongnya di kampus. Hyesoo lebih memilih untuk menyendiri di kamarnya. Hari berganti hari, sikap Hyesoo semakin berubah. Hyesoo menjadi dingin. Ia hanya akan tersenyum pada dosen dan staf kampus. Hyesoo bahkan hanya tersenyum kecil pada sahabat-sahabatnya yang tidak pernah absen menemani Hyesoo sejak hari itu. Hyesoo yang ramah sudah menghilang. Sapaan para mahasiswa yang biasanya ia balas dengan ramah dan manis, kini bahkan tidak dihiraukan sama sekali olehnya. Saat Hyesoo berpapasan dengan Changmin pun, Hyesoo hanya berlalu begitu saja tanpa menyapa Changmin. Hingga dipersimpangan jalan, Soyu melihat Hyesoo dari tempatnya berdiri.

.

“Lee Hyesoo! Lee Hyesoo! Lee Hyesoo!” Soyu berseru memanggil Hyesoo.

.

Namun Hyesoo tidak mendengarnya. Hingga saat Soyu menyentuh salah satu bahu Hyesoo dengan tangannya, Hyesoo baru menghentikan langkahnya dan berbalik. “Eo! Kang Soyu…” kata Hyesoo yang terkejut. “Kau memanggilku?” tanya Hyesoo yang dijawab dengan anggukkan oleh Soyu. “Maaf, aku melamun”, kata Hyesoo dengan senyum tipis setelahnya.

.

“Ada apa dengan wajahmu? Kau tidak terlihat baik”, kata Soyu.

.

“Hm? Tidak ada. Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Aku tidak tahu kau sudah keluar dari rumah sakit”, kata Hyesoo mencoba mengalihkan pembicaraan tentangnya.

.

“Aku baik. Kau yang sedang tidak baik-baik saja. Aku yakin ada sesuatu yang terjadi”, ujar Soyu.

.

Hyesoo menghela napas, menyerah. “Kau benar… Aku tidak baik-baik saja”, aku Hyesoo.

.

“Jadi?” tanya Soyu menunggu penjelasan atas keadaan Hyesoo.

.

“Kang Soyu…” kata Hyesoo yang membuat jeda dalam ucapannya. “Kau bisa memiliki Cho Kyuhyun sekarang”.

.

“Apa maksudmu? Jangan bicara yang tidak-tidak”, tanya Soyu bingung.

.

“Aku dan Cho Kyuhyun… sudah berakhir. Aku tidak lagi bersamanya. Kau bisa memilikinya”, kata Hyesoo sekali lagi.

.

Soyu tertawa kecil mendengar ucapan Hyesoo. “Tidak. Aku sudah memutuskan untuk melupakannya. Dia bukan untukku. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya”, ujar Soyu.

.

Hyesoo mengangguk perlahan. “Keputusan yang tepat. Jangan memberikan hatimu pada laki-laki seperti dia”, kata Hyesoo.

.

“Ada hal yang terjadi, bukan? Lee Hyesoo, sebenarnya ada apa?” tanya Soyu lagi.

.

“Tidak ada, Kang Soyu. Sudah berakhir. Aku akan segera baik-baik saja. Akan…”

.

“Baiklah. Aku akan menghormati keputusanmu yang bersikeras untuk tidak mengatakannya. Tapi, Lee Hyesoo, aku akan sangat senang jika kau mau membagi bebanmu padaku”, kata Soyu dengan ketulusan dalam ucapannya.

.

“Kang Soyu, ada apa denganmu? Kau seperti bukan kau yang ku kenal”, kata Hyesoo.

.

“Aku memutuskan untuk berdamai dengan semua orang, berdamai dengan diriku. Aku ingin hidup dengan tenang, menikmati hari-hariku, dan berteman. Menurutku kau adalah gadis yang baik. Kau sudah menolongku. Karena itu aku pikir, mungkin aku juga bisa membantumu”, kata Soyu menjelaskan.

.

“Aku menghargai keinginanmu. Aku akan memintanya [bantuan] suatu saat nanti”, kata Hyesoo.

.

“Baiklah. Aku tunggu”, kata Soyu. “Aku harus pergi. Professor Jang menungguku. Sampai bertemu, Lee Hyesoo” sambung Soyu yang dijawab dengan anggukkan oleh Hyesoo.

.

.

.

Kediaman Keluarga Lee

BGM: Hyorin – Driving Me Crazy (미치게 만들어)

.

Hyesoo segera kembali ke rumah setelah jam perkuliahan selesai seperti hari-hari sebelumnya. Ia duduk di salah satu bangku meja bar dapur sambil menenggak air mineral dingin yang ia minta pada Misun ahjumma. Tanpa bicara apapun lagi, Hyesoo pun berlalu segera masuk ke kamarnya. Ia duduk dilantai, tepat disebelah ranjangnya. Hyesoo mulai terbiasa dengan dinginnya lantai keramik yang menyentuh tubuhnya. Suara helaan kasar napas Hyesoo terdengar memenuhi ruangan kamarnya. ‘Ternyata aku tetap tidak baik-baik saja’, kata Hyesoo dalam pikirannya.

.

Selama beberapa hari terakhir Hyesoo menjadi mudah sekali menangis. Air mata menetes begitu saja dengan mudah. Bahkan tanpa isakan maupun jeritan sekalipun, air mata Hyesoo tidak dapat dihentikan. Tiba-tiba pintu kamar Hyesoo terbuka. Donghae sudah kembali dari perjalanan bisnisnya ke Jepang. Donghae menutup pintu dibelakangnya, kemudian berjalan menghampiri Hyesoo yang menangis dalam diam. Donghae duduk disamping Hyesoo. Tanpa mengatakan apapun, Donghae memeluk tubuh Hyesoo untuk menenangkannya.

.

Hyesoo menghapus jejak air mata dipipinya dengan jari-jari tangannya. Kemudian melingkarkan tangan itu ke pinggang Donghae. “Bawa aku pulang, Donghae-ya. Aku ingin kembali ke rumah”, kata Hyesoo dengan suara yang serak setelahnya.

.

“Kita sedang berada dirumah, Hyesoo-ya” kata Donghae.

.

“Ayo pulang, Donghae-ya…” kata Hyesoo dengan isakan kecil yang terdengar menyertai ucapannya. “Kembali ke Seattle… Lupakan rencana mu untuk menetap di Seoul. Kita kembali ke Seattle saja, eo? Aku tidak bisa… Aku tidak bisa bertahan lagi. Rasanya begitu menyakitkan. Meskipun dia sudah menyakitiku, tapi aku tetap ingin bersamanya. Aku merindukannya.  Aku mencintainya hingga aku benci pada diriku sendiri karena merasakan hal itu”.

.

“Ssstt… Jangan bicara begitu, Hyesoo-ya. Kau tidak boleh membenci dirimu sendiri”, kata Donghae.

.

“Lalu kau ingin aku melakukan apa? Aku tidak mempunyai kekuatan lagi untuk bertahan”, ujar Hyesoo.

.

“Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Hyesoo-ya? Hm?” tanya Donghae. “Katakan padaku. Aku akan melakukan apapun untuk membuat dia menyesali perbuatannya padamu”.

.

“Tidak. Kau tidak boleh. Berjanjilah kau tidak akan menyentuhnya. Jangan lakukan apapun padanya”, kata Hyesoo menolak. “Yang perlu kau lakukan adalah membawaku pergi dari kota ini. Kemanapun. Ke tempat dimana aku tidak akan pernah menemukan bayangan Cho Kyuhyun”.

.

“Hyesoo-ya……” hanya nama Hyesoo yang mampu terucap oleh Donghae. Ia tidak bisa berkata-kata lagi.

.

“Kita akan pulang, ‘kan?” bujuk Hyesoo.

.

“Baiklah… Kita akan pulang…” kata Donghae menyetujui. Kemudian memberikan sebuah kecupan lembut di puncak kepala Hyesoo.

.

 

.

.

At K University

Beberapa hari kemudian

Persimpangan trotoar dekat gedung kesenian

.

Hyesoo berjalan menyusuri trotoar dengan tenang menuju gedung kesenian. Ia berjanji untuk datang menyaksikan rehearsal pertunjukkan teater yang akan dilakukan Yoona dan Sooyoung. Semula Hyesoo tidak merasakan apapun. Ia sudah merasa lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Namun saat langkahnya sudah dekat dengan gedung kesenian, detak jantungnya perlahan meningkat. Hyesoo menangkap sosok Kyuhyun yang sedang bicara dengan Sooyoung di lobby gedung. Hyesoo sempat meragu untuk tetap menuju kesana. Namun ia memantapkan hatinya untuk menghadapi Kyuhyun sebelum kepergiannya dari kota itu. Hyesoo ingin menyelesaikan semua hal dengan Kyuhyun. Sooyoung berjalan masuk ke dalam gedung sambil memberikan tanda dengan tangannya pada Kyuhyun untuk tetap menunggu disana. Detak jantung Hyesoo semakin meningkat. Kini hanya ada Kyuhyun disana. Langkah Hyesoo semakin mendekati pelataran gedung. Keduanya hanya terpisah dengan jarak tiga meter saja. Tiba-tiba Kyuhyun menoleh, menyadari kehadiran orang lain disekitarnya. Kyuhyun baru akan melangkah menjauh saat Hyesoo mengangkat tangannya sambil menggelengkan kepalanya pelan.

.

“Berhenti disana”, kata Hyesoo dengan suara pelan. “Sudah… Jangan berlari lagi. Jangan lari dariku lagi. Aku tidak akan mengejarmu. Aku tidak ingin membuatmu berlari. Karena kau tidak berlari”.

.

“Apa yang kau inginkan dariku, Lee Hyesoo?” tanya Kyuhyun dengan suaranya yang masih terdengar dingin.

.

“Aku bukan datang untukmu. Saat ini aku bahkan tidak ingin bertemu denganmu. Ini kebetulan. Aku tidak bisa menghindarinya”, jawab Hyesoo.

.

“Aku akan mempercayainya”, kata Kyuhyun setelahnya.

.

Hyesoo melipat kedua tangannya didepan dada. Hyesoo merasakan ada rasa tidak nyaman yang menyelubungi tubuhnya, membuat Hyesoo ingin segera meninggalkan tempat itu. Namun Hyesoo tetap berusaha untuk bersikap tenang di hadapan Kyuhyun. Hyesoo mengusap siku kirinya perlahan. Tatapannya tertuju ke arah lain selain Kyuhyun.

.

“Aku akan berhenti, Cho Kyuhyun” kata Hyesoo mengubah topik pembicaraan mereka. “Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan tanpa perlu berlari lagi dariku”.

.

“Aku tidak pernah berlari darimu, Lee Hyesoo” sangkal Kyuhyun.

.

“Aku akan… Aku akan membiarkanmu pergi. Aku akan melepasmu…” kata Hyesoo, tidak mempedulikan ucapan Kyuhyun sebelumnya.

.

“Sudah seharusnya”, kata Kyuhyun memotong ucapan Hyesoo.

.

“Aku akan berpura-pura tidak pernah mengenalmu jika kita saling berpapasan dimanapun. Aku akan berpura-pura tidak mendengar pembicaraan orang-orang yang sedang membicarakanmu. Aku akan berpura-pura mampu menjalani hari-hariku seolah semua hal diantara kita tidak pernah terjadi. Aku akan melakukannya… demi diriku sendiri”.

.

“Bagus. Lakukan seperti yang kau katakan. Jangan menggangguku lagi”, kata Kyuhyun yang beranjak pergi tanpa menunggu Sooyoung kembali.

.

Beberapa detik setelah kepergian Kyuhyun, Hyesoo berbalik dan berjalan masuk ke dalam gedung. Luka dalam dadanya yang sempat terobati kini kembali terbuka karena pertemuan tak terduganya dengan Kyuhyun. Hyesoo pun berjalan dengan cepat melewati lobby yang sepi itu, berharap akan segera bertemu dengan siapapun sebelum ia kembali menangis dalam keheningan.

.

.

.

At K University

3 hari setelahnya

Hutan kota dekat danau

BGM: Jung Seung Hwan – If it was you

.

Hyesoo masih merasakan sakit yang begitu menyiksanya. Hatinya belum benar-benar terobati. Bahkan Hyesoo menjerit dalam tidurnya. Mimpi buruk datang dalam tidur Hyesoo sesekali, membuat Hyesoo terjaga hingga matahari terbit. Malam-malam tanpa lelap itu seolah sudah menjadi hal yang biasa bagi Hyesoo. Bahkan terkadang Hyesoo lebih memilih untuk tetap terjaga daripada merasa lelah dan sakit setelah terbangun dari mimpi buruknya. Seperti yang terjadi kemarin malam. Hyesoo memilih untuk terjaga hingga pagi menjelang.

.

Hyesoo berjalan menyusuri trotoar yang seringkali ia lewati selama beberapa bulan masa kuliahnya di kampus itu. Hyesoo berjalan santai sambil menikmati pemandangan alam musim gugur yang disajikan di hadapannya. Banyak daun yang berguguran. Angin mulai terasa lebih dingin dari musim sebelumnya. Suara gemericik air di danau pun tidak luput dari perhatiannya. Hingga saat Hyesoo melihat sosok Kyuhyun yang sedang berdiri di tepi danau seorang diri, ketenangan mulai menghilang dari pikirannya. Sesaat kemudian tatapan keduanya bertemu. Seperti sebuah alarm, tatapan mata Hyesoo membuatnya siaga. Air muka Kyuhyun mengeras. Hawa dingin kembali menyeruak dari diri Kyuhyun.

.

“Apa lagi kali ini? Bukankah kau mengatakan bahwa kau akan melepasku? Kenapa kau datang lagi padaku?” tanya Kyuhyun saat jarak Hyesoo sudah lebih dekat dengannya.

.

Kenapa begitu berat bagimu

Untuk benar-benar melihatku mencoba?

.

“Kita kembali menghadapi situasi ini. Tentu saja… Selama kita masih berada di kampus yang sama, maka akan selalu ada kemungkinan kita akan bertemu”, kata Hyesoo.

.

“Kebetulan yang lain? Konyol…”

.

“Kau tidak salah. Aku memang akan melepasmu, Cho Kyuhyun. Benar-benar melepasmu”, kata Hyesoo tanpa menghiraukan ucapan Kyuhyun sebelumnya.

.

“Apa maksudmu kali ini, Lee Hyesoo? Kau mengatakan hal itu lagi saat ini, lalu akan kembali melanggarnya lain kali dengan mengandalkan kebetulan?” tanya Kyuhyun dengan nada bicara sarkastiknya.

.

“Aku akan benar-benar melepasmu kali ini, Cho Kyuhyun. Aku tidak akan berpura-pura lagi. Selama ini aku sudah berusaha untuk bertahan dengan rasa cintaku yang kau sakiti. Aku pikir aku bisa terus bertahan dan berharap kau akan kembali. Tapi aku tidak bisa lagi. Rasanya terlalu menyakitkan, Cho Kyuhyun…” ujar Hyesoo.

.

Aku terkejut melihat sebesar ini aku tersakiti olehmu

Hari-hariku begitu berat

Bahkan mimpi-mimpiku menyakitkan

.

“Aku mencintaimu. Bahkan disaat kau mengatakan bahwa kau tidak pernah mencintaiku, aku tetap mencintaimu. Aku merasa seperti orang bodoh. Karena itu, aku memutuskan untuk menghentikan semuanya”, sambung Hyesoo.

.

“Lalu?” tanya Kyuhyun yang menaikkan alisnya.

.

“Saat ini, aku berada dihadapanmu hanya untuk mengatakannya sekali lagi. Aku mencintaimu. Dengan bodohnya aku terlalu mencintaimu. Karena itu aku memutuskan untuk mengabulkan keinginanmu. Aku akan pergi dari kehidupanmu. Aku akan menghilang dari jangkauanmu. Aku akan membuat seolah aku tidak pernah ada dalam hidupmu. Aku akan melakukan itu demi kau”, kata Hyesoo yang berusaha tetap tenang.

.

“Hhh… Cinta… Jangan tunjukkan sisi menyedihkan itu padaku. Aku sangat membenci hal itu. Lakukan apa yang kau anggap benar, Lee Hyesoo. Aku tidak peduli”.

.

Jika itu dirimu, akan seperti apa?

Jika hari-hari yang gila ini menjadi milikmu,

Jika kau terjatuh sepertiku, akankah kau mengetahuinya?

Semua luka yang mengisiku

Sampai pada titik dimana hatiku akan meledak

Aku begitu menginginkanmu

Jika aku menjadi dirimu,

Aku hanya akan mencintaiku

.

“Aku tahu… Aku juga tidak membutuhkannya lagi”, kata Hyesoo dengan kemantapan yang sudah dibangunnya. “Tapi setelah ini, aku akan memohon untuk kesedihanmu. Kau akan menangis, menyesali keputusan bodoh yang kau buat dengan meninggalkanku, menyakitiku. Kau akan menangis karena rasa sakit kehilangan aku. Kau akan menangis karena menyadari besarnya cintamu padaku…”

.

Hatiku jatuh ke dasar tanpa akhir

Aku takut pada semua hal disekitarku

Mereka mengatakan ‘kau akan bahagia saat jatuh cinta’

Siapa yang mengatakan hal itu?

.

Hyesoo menghela napasnya sesaat sebelum melanjutkan perkataannya. “Kau akan menangis karena waktu yang tidak bisa kau putar kembali. Kau akan merasakan rasa sakit yang aku rasakan setiap detiknya, sampai kau tidak bisa lagi menahannya”, sambung Hyesoo sambil menghapus jejak air mata yang ternyata sudah menetes di pipinya. “Setiap malam tanpa lelap, air mata dan hati yang hancur. Kau akan mendapatkannya. Bahkan kau akan menangis dalam mimpimu. Dan seperti aku yang telah terjatuh karenamu, kau juga akan jatuh sampai ke dasar dimana tidak ada lagi harapan untuk kembali bangun. Aku pastikan kau akan merasakan semua itu. Aku akan membuat setiap darahmu yang mengalir ditubuhku merasakan rasa sakit yang sama, membuatnya tidak pernah melupakan perbuatan yang telah kau lakukan padaku. Dan ijinkan aku meminta satu hal padamu untuk yang terakhir kalinya, Cho Kyuhyun”.

.

Aku tahu kau sudah menjawabku

Aku tahu arti dari jawaban yang tidak terjawab

Tapi aku berpura-pura tidak tahu

Dan tetap hidup…

.

“Kau benar-benar tidak tahu malu, Lee Hyesoo” kata Kyuhyun dengan ekspresi keras diwajahnya. “Kau pilkir aku bersungguh-sunggu saat mengatakan bahwa aku akan mengabulkan semua keinginanmu? Tidak, Lee Hyesoo. Aku tidak pernah bersungguh-sungguh akan hal itu”.

.

“Aku tahu. Tapi Lee Hyesoo yang tidak tahu malu ini tetap berharap kau akan mengabulkannya. Kau harus mengabulkannya”, kata Hyesoo.

.

Apakah kau tahu bagaimana keadaanku akhir-akhir ini?

Aku tidak bisa tidur

Aku bahkan tidak bisa menelan apapun

.

“Baik. Katakan… Aku akan mendengarkannya untuk terakhir kalinya”, kata Kyuhyun dengan suaranya yang terdengar bergetar.

.

“Tetap hidup seperti ini, Cho Kyuhyun. Jangan mati satu detikpun sebelum aku”, kata Hyesoo menyatakan permintaan tidak terduganya.

.

Apakah kau tahu bahwa aku menjadi lebih hancur saat melihatmu?

Walaupun rasanya seperti mati

Walaupun mustahil kau akan datang padaku

.

“Jangan bercanda, Lee Hyesoo” kata Kyuhyun.

.

“Apa aku terlihat sedang mengatakan gurauan saat ini bagimu? Tidak, Cho Kyuhyun. Aku bersungguh-sungguh”, kata Hyesoo dengan keyakinannya. “Jangan mati bahkan saat jantung itu sudah hampir menyerah. Kau tidak boleh meninggalkan dunia ini. Karena aku akan mati sebelum dirimu. Meski itu satu detik sekalipun sebelum kau. Karena aku ingin kau merasakan rasa kehilangan akan aku bahkan sampai saat itu tiba. Aku ingin kau menangisi kepergianku sampai saat itu tiba. Ingat itu. Selamat tinggal, Cho Kyuhyun”.

.

Walaupun aku tahu kau melihat ke arah lain

Aku pikir aku tidak bisa melepasmu…

.

Kyuhyun berdiri membeku. Ia tidak menemukan kata apapun lagi untuk dikatakan. Jika Kyuhyun memutuskan untuk membohongi dirinya, ia akan mengatakan bahwa ucapan Hyesoo baru saja menusuk dirinya dengan begitu kuat. Gadis yang kini bersikap dingin itu sudah menusukkan pedangnya tepat di dada Kyuhyun. Hingga membuat rasa sakitnya tidak dapat dibandingkan dengan rasa sakit akan apapun.

.

.

.

At Kediaman Keluarga Cho

.

Setelah dipersilahkan masuk dari pintu utama, Sooyoung berjalan dengan cepat menuju lantai dua rumah ini. Beberapa staf sempat menghentikannya karena perintah Kyuhyun yang tidak ingin ditemui siapapun. Namun tentu saja Sooyoung tidak pernah memiliki niat untuk menuruti hal itu. Langkah Sooyoung bahkan semakin cepat saat menaiki tangga. Tangan Sooyoung meraih gagang pintu, lalu membuka pintu kamar Kyuhyun, membantingnya hingga membentur tembok.

.

“Apa yang kau lakukan, Cho Kyuhyun? Apa yang kau lakukan padanya?!” tanya Sooyoung dengan emosi yang meluap.

.

“Kau harus kembali belajar sopan santun, Choi Sooyoung” kata Kyuhyun dengan santai, tanpa menjawab pertanyaan Sooyoung.

.

Sooyoung berjalan mendekat lalu meraih bahu Kyuhyun, menarik sweater yang kenakannya. “Katakan padaku! Kenapa kau melakukan hal itu pada Hyesoo eonni?”

.

“Jadi semua ini tentangnya… Dia benar-benar memiliki kuda hitam yang banyak”, kata Kyuhyun dengan tenang.

.

“Jawab aku, Cho Kyuhyun! Jangan bermain-main padaku”, perintah Sooyoung.

.

“Kenapa kau menanyakan hal itu disaat kau sendiri juga pasti sudah menyadarinya?” Kyuhyun balas memberikan pertanyaan pada Sooyoung sambil melepaskan genggaman tangan Sooyoung di sweaternya.

.

“Apa maksudmu?” tanya Sooyoung bingung.

.

“Kau tidak mengerti betapa sulitnya posisiku, Choi Sooyoung. Kecelakaan itu yang membuat Hyesoo kehilangan ingatannya. Meski Siwon hyung tidak bermaksud melakukan hal itu, tapi semuanya sudah terjadi. Dan permintaan maaf saja tidak cukup. Ingatan Hyesoo tidak akan pernah kembali hanya dengan meminta maaf. Saat ini jantung hyung ada di dalam tubuhku. Tidakkah kau mengerti keadaan yang sedang aku hadapi? Aku tidak tahu siapa di dalam tubuhku ini yang mencintai Hyesoo. Aku pun tidak tahu siapa yang membuat Hyesoo jatuh cinta. Hyesoo memang tidak mengingat apapun. Tapi cinta tidak datang dari apa yang ada di kepala, Choi Sooyoung. Meski Hyesoo tidak mengingat Siwon hyung, tapi hati Hyesoo masih mengenalinya”.

.

“Kau tidak tahu hal itu, Cho Kyuhyun. Hyesoo eonni mencintaimu. Tidak bisakah kau meyakini hal itu?” tanya Sooyoung.

.

“Apa kau bisa? Kau yakin dengan hal itu?” Kyuhyun mengembalikan pertanyaan itu pada Sooyoung.

.

Sooyoung terdiam. Tidak ada kata yang mampu ia katakan. Sooyoung meyakini perasaan Hyesoo pada Kyuhyun. Hanya saja Sooyoung belum pernah mendengarnya langsung dari Hyesoo. Ia seolah sedang mencoba menyelesaikan kasus di pengadilan tanpa bukti yang menguatkan.

.

“Lihat! Kau diam. Kau hanya memberikan jawaban yang tidak terjawab padaku, Choi Sooyoung. Aku tidak bisa. Aku butuh waktu untuk meyakinkan diriku bahwa Cho Kyuhyunlah yang saat ini mencintai Lee Hyesoo. Bukan Choi Siwon”, kata Kyuhyun.

.

“Sampai kapan? Sampai kau kehilangan waktumu juga? Apa yang kau tunggu? Kau ingin melakukan kesalahan yang sama seperti oppa dan akhirnya justru terlambat menyadari cintamu?” tanya Sooyoung dengan amarahnya yang kembali.

.

“Kau tidak mengerti apapun, Choi Sooyoung” kata Kyuhyun.

.

“Kalau begitu buat aku mengerti, i-nappeun nom-ah!!!” Sooyoung menyerukan frustasi yang dirasakannya.

.

“Tidak. Semua sudah berakhir. Ini yang terbaik untuk semua orang. Aku ingin kau mengerti akan keputusanku ini”, kata Kyuhyun menolak.

.

“Tidak. Aku tidak akan pernah mengerti. Sudah… Hentikan, Cho Kyuhyun… Aku sudah lelah… Pergilah. Kejar Hyesoo eonni”, kata Sooyoung memberikan jeda pada ucapannya. “Aku bilang hentikan dia, i-baboya!!! Jangan biarkan dia pergi kemanapun sebelum kau menyesalinya”.

.

“Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun.

.

“Hyesoo eonni berhenti dari kampus. Dia pergi. Dia akan meninggalkan Seoul. Dia tidak akan pernah kembali! Dan semua itu karenamu! Kami sudah mencoba menahannya, tapi dia tidak mau mendengarkan. Hentikan dia. Jika dia ingin kau memohon, maka memohonlah. Lakukan apapun untuk menahannya”.

.

“Aku tidak bisa, Choi Sooyoung. Memang lebih baik dia pergi…”

.

“Kau pecundang!!! Bodoh!!! Di dunia ini kau laki-laki yang paling pengecut, Cho Kyuhyun! Kau!!! Kau akan menyesalinya… Kau akan menyesalinya, Cho Kyuhyun!”

.

.

.

5 tahun kemudian

Kediaman Keluarga Lee

.

Hari ini sepasang kekasih mengumumkan pertunangan mereka. Pesta yang hangat dengan suasana kekeluargaan diadakan di rumah keluarga Lee di Seoul. Pasangan kekasih itu terlihat begitu bahagia saat menyapa para tamu yang hadir. Mereka tidak pernah terpisahkan bahkan sejauh satu meter saja. Begitu banyak cinta yang memenuhi ruangan berdekorasi nuansa musim semi itu. Tamu yang datang berasal dari berbagai kalangan. Pengusaha, seniman, hingga para petugas medis. Sekelompok besar orang yang masuk dalam kategori usia dewasa awal berkumpul disekitar pasangan yang berbahagia. Wajah mereka tidak asing dalam rumah itu. Hanya ada dua atau tiga wajah baru disana. Namun hal itu tidak mengurangi keramaian yang disebabkan oleh pembicaraan mereka.

.

“Hyesoo sunbae, chukhahaeyo. Aku ikut bahagia dengan kebahagiaanmu”, kata Suho sambil memberikan rangkaian bunga mawar berwarna pink pada Hyesoo.

.

“Omo… Kau manis sekali, Suho-ya. Itulah sebabnya aku lebih menyukaimu daripada Ryeowook akhir-akhir ini”, kata Hyesoo memuji Suho dengan senyum mengembangnya.

.

“Aigoo… Sekarang cintamu padaku sudah berubah rupanya, Lee Hyesoo. Keterlaluan sekali. Hanya karena aku tidak memberimu sebuket bunga. Cham na…” kata Ryeowook mengeluh.

.

“Kau bahkan tidak memberiku ucapan selamat, Kim Ryeowook” kata Hyesoo yang mengundang tawa beberapa orang disekitar mereka. “Tapi meskipun begitu, aku tetap mencintaimu. Kau tidak perlu khawatir akan hal itu”.

.

“Bisakah kalian menghentikannya? Aku sudah mulai… Hm… Kata apa yang harus aku gunakan… Hm…” ujar Yoona yang masih mencari kata untuk melanjutkan kalimatnya.

.

“Bosan? Lelah? Mual? Muak?” kata Donghae membantu Yoona mencari kata yang sesuai.

.

“Aku akan gunakan semua kata itu. Pokoknya kalian berdua harus menghentikannya! Berapa usia kalian saat ini? Masih saja melakukan hal itu”, protes Yoona.

.

“Kenapa? Aku rasa tidak ada yang salah dengan pembicaraan kami”, sanggah Ryeowook.

.

“Kau tidak memikirkan perasaan Hyeri?” sambung Yoona.

.

“Nan gwaenchanhayo, eonni…” kata Hyeri dengan senyuman diwajahnya. “Menyenangkan mendengar pembicaraan mereka”.

.

“Dengar itu. Hyeri bahkan tidak keberatan. Im Yoona si penyihir putih”, kata Ryeowook mengejek Yoona dengan nada bercandanya.

.

“Apa katamu? Jangan asal bicara, Kim Ryeowook si Peter Pan”, balas Yoona.

.

“Itu hal baik atau hal buruk?” tanya Jaejoong yang akhirnya ikut dalam pembicaraan itu pada Yoona.

.

“Keduanya, oppa. Hal baik karena Ryeowook sunbae tidak akan menua. Hal buruk karena Ryeowook sunbae akan selalu seperti anak-anak. Filosofi oleh nona Im Yoona”, kata Sooyoung yang menjawab pertanyaan Jaejoong.

.

“Ibwayo, Kim Ryeowook-ssi, Im Yoona-ssi. Sebaiknya kalian menerima takdir ini dengan besar hati. Karena bahkan sampai setua apapun kita nanti, kita akan tetap kekanakan seperti ini jika bertemu. Jadi, berhenti bertengkar. Jangan merusak acara yang hangat dan manis ini”, kata Hyesoo menengahi.

.

“Lee Hyesoo…” bisik seorang gadis yang berdiri tepat di belakang Hyesoo.

.

Hyesoo pun berbalik dengan senyum sumringah saat menyadari pemilik suara yang sangat dikenalnya itu. “Omo! Kang Soyu!” seru Hyesoo sambil memeluk tubuh sahabatnya itu.

.

“Selamat, Lee Hyesoo. Aku sangat bangga padamu”, kata Soyu dalam pelukan mereka. “Ah, aku ingat sesuatu”, sambung Soyu sambil melepaskan pelukan mereka. “Bukankah seharusnya kau mengenalkan seseorang padaku?”

.

“Kau benar…” jawab Hyesoo yang kemudian berbalik dan melambaikan tangannya, meminta seorang pria mendekat padanya. “Soyu-ya, ini Lee Soohyuk, seorang psikiater”, kata Hyesoo mengenalkan Soohyuk pada Soyu. “Dan ini Kang Soyu, dokter neurosurgery yang pernah aku ceritakan padamu”, kata Hyesoo selanjutnya pada Soohyuk.

.

“Annyeonghaseyo, Lee Soohyuk-ibnida. Senang bertemu denganmu”, sapa Soohyuk.

.

“Ne, annyeonghaseyo. Kang Soyu-ibnida”, Soyu balas menyapanya. “Jika rupa psikiater seperti ini, maka aku akan berkonsultasi dengannya walaupun aku hanya mengalami stres sedikit saja”, kata Soyu dengan nada bercandanya.

.

“Kau tidak sendiri, Soyu-ya. Aku, Sooyoung dan Hyeri juga memikirkan hal yang sama”, kata Yoona dengan cengiran khasnya. “Tapi… Kau membuatku kecewa, Kang Soyu”.

.

“Aku? Kenapa?” tanya Soyu bingung.

.

“Pesta ini dibuat untuk merayakan pertunanganku dengan Donghae. Tapi kau bahkan belum memberi selamat pada kami. Pada akhirnya kau memang hanya menyukai Hyesoo, ‘kan?” keluh Yoona masih dengan gurauannya.

.

“Aniya! Aku tidak pernah seperti itu. Aku hanya merasa terlalu gembira pada kabar perekrutan Hyesoo di rumah sakit”, kata Soyu sambil berjalan mendekati Yoona. “Aku ucapkan selamat atas pertunangan kalian, dokter Lee Donghae dan nona Im Yoona”, sambung Soyu.

.

Pesta kembali berlanjut. Musik bergenre folk kembali dimainkan. Donghae dan Yoona pun turun ke lantai dansa untuk menikmati kebahagiaan mereka. Beberapa pasangan ikut serta meramaikan lantai dansa. Hyesoo dan Soohyuk menyelesaikan dansa mereka bahkan sebelum musik selesai dimainkan, meninggalkan pasangan Ryeowook dan Hyeri, serta Jaejoong dan Sooyoung yang masih terlihat menikmati tarian mereka. Hyesoo dan Soohyuk berjalan menjauh ke pinggir ruangan untuk mengambil minuman.

.

“Kau baik-baik saja? Apakah masih merasakan jet lag?” tanya Hyesoo sebelum menenggak minumannya.

.

“Sedikit. Sesekali rasanya seperti kehilangan gravitasi”, jawab Soohyuk dengan tawa kecilnya.

.

“Tentu saja. Kau tinggal di London selama lebih dari separuh usiamu. Kau yakin tidak membutuhkan apapun?” tanya Hyesoo khawatir.

.

“Tidak. Aku baik-baik saja”, jawab Soohyuk meyakinkan Hyesoo. “Aku akan ke toilet sebentar”.

.

“Eo… Aku akan menunggu disini”, kata Hyesoo.

.

Soohyuk pun berlalu menuju kamar mandi, meninggalkan Hyesoo di sudut meja makanan itu. Hyesoo membalikkan tubuhnya untuk melihat makanan kecil yang disajikan diatas meja. Hyesoo mengambil sepotong kecil cheese cake blueberry dan memakannya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Hyesoo mencoba cake yang lain. Hyesoo tidak menyadari ada seorang pria yang memperhatikannya sejak tadi. Hingga saat pria itu berjalan mendekat padanya, Hyesoo mulai merasakan kehadirannya.

.

“Bangabta, Lee Hyesoo” kata pria itu dengan suara pelannya yang berat.

.

BGM: Girl’s Day – I Miss You (보고싶어)

Actually, I miss you so much

I miss you

I wanna lean on your shoulder and cry

I wanna cry

I’m smiling to try to hold it in

I’m still shaking

Please don’t be good to me

Don’t be good to me anymore

.

Hyesoo menoleh pada sumber suara. Tentu saja Hyesoo mengenali pemilik suara itu. Suara yang selama lima tahun terakhir tidak pernah di dengarnya. Cho Kyuhyun. Bayangan akan saat terakhir pertemuan mereka kembali menghampiri ingatan Hyesoo. Kemarahan dan kebencian yang sudah lama terkubur dalam hatinya kini mulai menampakkan diri ke permukaan. Hyesoo hanya menatap Kyuhyun dengan ekspresi datar selama beberapa saat sebelum ia mengalihkan pandangannya kembali ke hidangan makanan dihadapannya. Hyesoo berdesis, tertawa kecil dengan nada sarkastik.

.

“Hhh… Kau bercanda”, kata Hyesoo dengan smirk di bibirnya. Salah satu sudut bibirnya terangkat. Kemudian Hyesoo kembali menatap Kyuhyun dengan ekspresi wajah yang kembali datar. “Nan jogeumdo an-bangabta (Sedikitpun aku tidak senang bertemu denganmu)”.

.

.

.

.

TBC

 

Note:

TO.BE.CONTINUED!

Annyeong readers! Hanya membutuhkan waktu singkat untuk kemunculan part ini, bukan? Kalian jadi tidak menunggu terlalu lama setelah part sebelumnya. Ja! Apakah kesedihan dalam part ini sesuai dengan ekspektasi kalian? Atau justru kurang klimaks? Kalian memiliki kebebasan untuk mengutarakan pendapat kalian padaku. Aku selalu berusaha untuk merangkai kata dengan bahasa yang pantas tapi tetap bisa memberikan emosi yang ingin aku sampaikan dalam cerita ini. Semoga tersampaikan… Jadi, apa pendapat kalian tentang Kyuhyun si jahat? Sebagai penulis cerita aku tidak bisa menilainya. Setelah aku baca ulang, sebenarnya aku merasa Kyuhyun sedikit (hanya sedikit) kurang jahat. Atau tidak? Hm… Menurutku kata-kata Hyesoo di akhir-akhir pertengkaran nya dengan Kyuhyun justru sangat menusuk. “Kau akan merasakan rasa sakit yang aku rasakan setiap detiknya, sampai kau tidak bisa lagi menahannya. Setiap malam tanpa lelap, air mata dan hati yang hancur. Kau akan mendapatkannya. Bahkan kau akan menangis dalam mimpimu”. Aku paling suka dialog itu dalam part ini (maafkan atas kenarsisanku…) Bagaimana dengan kalian? Bagian mana yang menjadi favorit kalian?

Satu lagi, adakah diantara kalian yang sempat mengira bahwa pesta di kediaman keluarga Lee adalah pesta pertunangan Hyesoo dan Soohyuk? Karena sejak awal aku belum menjelaskan siapa pasangan yang bertunangan sampai Yoona yang mengatakannya pada Soyu. Aku akan sangat senang walaupun hanya ada dua atau tiga diantara kalian yang mengira begitu. Hehe…

Ja! Masalah diantara Kyuhyun dan Hyesoo sudah serumit ini. Apakah Hyesoo benar-benar serius dengan kalimat terakhirnya? Dan apa maksud Kyuhyun mengatakan ‘bangabta’ setelah menyakiti Hyesoo sejahat itu? Apa yang terjadi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir? Temukan jawabannya di part 11! Kana pamit! Annyeonghigaseyo…

Advertisements

26 thoughts on “I’m walking towards you : Part 10

  1. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION – evilkyu0203

  2. kget,, kirain yg tngan hyeso ama si soohyuk itu,,,
    Gimana rasanya kyu,,
    Nano nano pasti,,
    Gak krasa,, seharian penuh cuma mntengin cerita ini,, ya gmna,, tiap part nya bikin pensaran,, jadi ya,, nyamek jm sgni bkom kelar,,,
    Wkwkw

    Like

  3. wiii ternyataaa udaa sekiann tahun berlaluu…
    koqq kyuu tb2 muncul??? d undang amaa hae atauu ud nemuu jawaban yg diaa cariii???

    Like

  4. Kan bener kyuhyun hanya bimbang dengan perasaan nya dia atau jantung siwon yang mencintai hyesoo ,, walaupun cara dia salah dengan menyakiti hyesoo begitu dalam tapi aku juga bisa ngerasaiin gimana sakitnya kyuhyun juga

    Like

  5. Kyu kelewatan ngmgnya walaupun gak yakin dengan perasaan Hyesoo setidaknya dia tidak perlu sekasar itu. Sampai Hyesoo harus ditangani psikiater berarti parah luka hatinya. Bagaimana selanjutnya sikap Hyesoo pada Kyu?

    Like

  6. Nah loh beneran kelwat…..
    Kyu sudah kerasa sakitnya …..
    Ucapan hyeso bagaikan mantra sihir untukmu….
    Jangan jadi pengecut….
    Membihongi diri sendiri dn selalu becermin ke belakang…. siwon dn hyeso itu masa lalu … kenapa mesti dijadiin masalah yg ada tu kamu banyak nyakitin hyeso…
    Dn jangan bilang kamu menyesal dengan apa yg kamu lakuin d masa lalu ….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s