I’m walking towards you : Part 9

Category: PG-15, Romance, Chapter, Sad

Cast:

Cho Kyuhyun, Lee Hyesoo (OC), Choi Sooyoung, Kim Jaejoong

Kim Ryeowook, Im Yoona, Lee Donghae, Shim Changmin, Choi Minho

Kim Seolhyun (cameo), Ahn Hani (cameo), etc…

Disclaimer:

Annyeonghaseyo!!! Kana kembali dari libur lebaran!!! Itu berarti “I’m walking towards you” juga kembali!!! Bagaimana liburan kalian, readers-nim? Setelah satu minggu tidak menyentuh keyboard untuk melanjutkan seri ini, akhirnya aku mulai menggunakan otakku lagi untuk berpikir dan berpikir. Di part ini ada yang sedikit berbeda. Kalau sebelumnya kalian hanya bisa menemukan cerita yang berasal dari author’s pov, di part ini akan ada Hyesoo dan Kyuhyun’s pov. Well, setelah preview minggu lalu, akhirnya part yang membuat beberapa readers cemas datang juga. Seperti yang kalian baca di preview, part ini akan sangat berbeda dari part sebelumnya yang sangat manis. Ada tanda-tanda kemunculan masalah baru diantara Kyuhyun dan Hyesoo. Apa kalian sudah menyiapkan hati kalian? Aku serius waktu mengatakan bahwa part ini akan kembali seperti roller coaster. Kira-kira apa yang terjadi kali ini? Pasang seat belt kalian! Kalian akan menemukannya dalam part ini.

Caution! Cast dalam FF ini juga akan cukup banyak. Entah hanya sebagai cameo atau sebagai peran pendukung. Karena itu, fokuslah wahai para readers-nim. FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasia tau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com

Aku tidak bosan untuk selalu berpesan, jadilah pembaca yang baik dan sopan. Biasakan untuk tidak bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Karena aku yakin para readers adalah orang-orang yang terpelajar dan mengerti sopan santun. Benar? Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 8

“Kau sering melakukannya untuk gadis lain?”

“Kau yang pertama”.

“Pasti kau sering melakukan ini, ‘kan? Apalagi yang pernah kau lakukan pada mereka?”

“Tidak ada. Aku sudah bilang kau yang pertama”.

“Kenapa?”

“Seharusnya kau merasa senang karena aku hanya melakukan ini untukmu”.

“Kenapa kau tidak melakukannya juga pada mereka?”

“Mereka tidak bisa dibandingkan denganmu, Lee Hyesoo”.

“Kau bisa meminta apapun dariku. Saat ini aku merasa seperti aku bisa melakukan semua hal”.

“Aku yang akan melakukan semua hal yang kau inginkan. Kau hanya perlu mengatakannya padaku tanpa ragu”.

“Ah, eotteokhae… Naega wae ireohke haengbokhaji?”

————————-

“Aku akan mundur, Hyesoo-ya. Kesempatan tidak pernah berpihak padaku. Dari semua laki-laki yang ada disekitar kita, kenapa Cho Kyuhyun?”

“Aku pun tidak mengetahuinya, sunbae. Semua terjadi begitu saja. Maafkan aku, sunbae”.

“Kau tidak perlu meminta maaf karena mencintai. Takdir hanya tidak berada diantara kita”.

“Aku takut sunbae akan membenciku”.

“Aku akan selalu mengharapkan kebahagiaan dan semua kebaikan untukmu, meski apapun yang terjadi diantara kita”.

“Kita bisa tetap bicara dan bertemu?”

“Tentu saja. Kita punya banyak alasan untuk bicara dan bertemu”.

————————-

“Kau tidak benar-benar marah padaku?”

“Rasanya sulit untuk marah padamu”.

“Apapun yang kau inginkan. Katakan padaku. Aku akan memberikannya”

“Hentikan, Cho Kyuhyun. Kau membuatku cemas”.

“Apa yang kau cemaskan?”

“Kau bersikap sangat baik padaku”.

“Apa ada yang salah dengan hal itu?” tanya Kyuhyun.

“Tidak. Hanya saja… Kau bersikap terlalu baik padaku. Aku merasa seolah kau akan pergi meninggalkanku”.

“Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku bersikap baik padamu karena aku ingin”.

“Kau seperti sedang berusaha mengindahkan ucapan selamat tinggalmu padaku, membuatku bahagia sebelum pergi dariku”.

“Tidak ada hal seperti itu, Hyesoo-ya. Peluk aku. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini. Aku merasa kehilangan beberapa persen energiku jika kau tidak memelukku. Seolah aku bisa menjadi sangat marah karena hal itu”.

————————-

“Sebenarnya di dalam tubuh Kyuhyun, ada jantung Siwon oppa”.

“Apa?”

“Kau yakin dia orangnya?”

“Tentu saja. Choi Siwon”.

————————-

.

.

.

I’m walking towards you : Part 9

.

.

Hyesoo’s POV

At Kediaman Keluarga Choi

.

Kenyataan itu seolah menghantam kepalaku. Apa lagi kali ini? Aku tidak ingin mengetahui semua hal secara bertubi-tubi seperti ini. Aku bahkan belum bisa mengatasi rasa tidak nyaman yang ku rasakan setelah mengetahui kenyataan akan Siwon. Aku masih berusaha untuk menenangkan diriku dengan keberadaan Kyuhyun. Tapi kenyataan lain yang baru saja diungkapkan Sooyoung justru menambah rasa sesak dalam dadaku. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku tidak tahu harus merasakan apa. Aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa.

.

“Eonni, maafkan aku karena memberitahumu. Aku tidak tahu kenapa aku memberitahukan hal ini padamu. Aku hanya merasa aku harus melakukannya. Eonni, tolong katakan sesuatu. Jangan diam saja seperti ini”, kata Sooyoung menyadarkanku dari pikiranku.

.

“Sooyoung-ah…” kataku mengawali kalimatku dengan helaan napas pelan. “Kenapa? Kenapa kau memberitahukannya padaku?” tanyaku.

.

“Maafkan aku, eonni” kata Sooyoung menyesal.

.

“Kau tidak suka jika aku berhubungan dengan Kyuhyun? Kenapa tidak membiarkan aku tetap tidak mengetahui kenyataan itu saja?” tanyaku lagi mengutarakan isi pikiranku saat ini.

.

“Tidak, eonni. Tidak seperti itu. Aku sangat mendukung kalian berdua. Eonni tampak lebih bahagia semenjak bersama Kyuhyun. Begitu pun dengan Kyuhyun yang berubah menjadi jauh lebih baik dari dirinya sebelumnya. Tidak ada hal yang lebih menenangkanku saat ini dari keadaan kalian berdua yang terlihat sangat baik seperti ini. Aku hanya tidak ingin suatu saat nanti kalian mengetahuinya disaat yang tidak tepat. Aku ingin setidaknya salah satu diantara kalian mengetahui hal ini”, ujar Sooyoung.

.

“Salah satu? Apa maksudmu? Kyuhyun tidak tahu siapa pemilik jantung di tubuhnya?” tanyaku.

.

“Kyuhyun tidak mengetahui hubungan eonni dan Siwon oppa di masa lalu”, jawab Sooyoung yang kemudian menghela napas panjang. “Aku sama khawatirnya pada reaksi Kyuhyun seperti aku khawatir pada reaksi eonni hari ini. Kyuhyun tidak mudah ditebak, eonni. Karena itu aku hanya memberitahu eonni. Waktu eonni bersama Kyuhyun jauh lebih banyak daripada waktuku. Aku tidak bisa menyembunyikannya dari Kyuhyun seorang diri, eonni. Aku butuh bantuan. Dan aku pikir eonni satu-satunya orang yang dapat ku mintai bantuan. Aku mohon jangan marah padaku, eonni. Aku bersungguh-sungguh mendukung kalian berdua. Aku tidak berbohong”, kata Sooyoung menjelaskan.

.

“Tapi, bukankah sebaiknya Kyuhyun mengetahui hal itu juga?” tanyaku lagi.

.

“Dan membuatnya meragukan perasaannya pada eonni? Tidak, eonni. Aku tidak akan pernah membiarkan diriku memilih untuk melakukan hal itu”, jawab Sooyoung.

.

“Kenapa kau berpikir Kyuhyun akan meragukan perasaannya?” tanyaku.

.

“Karena begitulah Cho Kyuhyun, eonni…” jawab Sooyoung yang kemudian menghela napas berat. “Saat hubungan samchon (paman/ayah Kyuhyun) dengan wanita lain diluar pernikahannya terungkap, Kyuhyun menjadi tidak mempercayai cinta. Walaupun tidak bercerai hingga sekarang, tapi kedua orang tua nya berpisah. Keduanya tetap menunjukkan keharmonisan keluarga Cho di depan publik. Kyuhyun pun memutuskan untuk ikut dalam pertunjukkan itu. Dia selalu berpura-pura menjadi seorang yang kuat, dingin, dan tidak mempedulikan apapun disekitarnya. Kyuhyun tidak benar-benar menyukai ayahnya. Bahkan terkadang Kyuhyun tidak menyukai dirinya sendiri. Menurutnya, dia mungkin bisa melakukan perbuatan seperti ayahnya, yaitu melukai hati seorang wanita. Karena itu, Kyuhyun sulit mempercayai cinta. Setelah mendengar hal itu, eonni mengerti alasanku menutupi hubunganmu dengan Siwon oppa dari Kyuhyun, bukan?”

.

Apa lagi ini? Kyuhyun dan semua sikap yang tersembunyi dalam dirinya. Aku tidak pernah melihat hal itu. Kyuhyun selalu bersikap sangat baik padaku. Dia selalu melakukan hal yang bahkan terkadang tidak dapat ku percaya dapat dilakukan oleh seseorang seperti Cho Kyuhyun. Dia menjadi laki-laki yang baik dan lembut saat bersama ku. Meski kami tidak pernah mengatakan kata cinta diantara kami, tapi aku bisa merasakannya dari setiap sikap yang ditunjukkan Kyuhyun padaku.

.

“Baiklah… Aku mengerti…” kataku akhirnya. “Tapi aku merasa Kyuhyun tetap harus mengetahuinya. Tidak sekarang. Suatu saat nanti”.

.

“Benar… Suatu saat nanti”, kata Sooyoung setuju.

.

.

.

.

Keesokkan harinya…

Gedung fakultas kedokteran

 

From: Kyuhyun

Aku akan menghubungimu nanti…

.

Aku menatap pesan itu di layar ponselku. Pesan yang aku terima sejak kemarin sore itu hanya tergantung sampai saat ini. Kyuhyun mengatakan akan menghubungiku. Tapi setelah hampir 24 jam, tidak ada kabar apapun darinya. Kemarin malam hingga pagi ini aku selalu mencoba menghubunginya. Namun tetap tidak ada balasan ataupun jawaban apapun darinya. Ini adalah kali pertama Kyuhyun bersikap seperti ini. Aku sempat menduga ada suatu hal yang terjadi padanya. Hingga aku memutuskan untuk memikirkan kemungkinan adanya kesibukkan yang harus dikerjakan oleh Kyuhyun. Aku tidak tahu. Otakku tidak bisa lagi digunakan untuk memikirkan kemungkinan lain. Rasa ingin tahu ini perlahan sudah berubah menjadi rasa cemas. Aku bukan ingin bersikap posesif padanya. Aku hanya khawatir jika Kyuhyun sedang menghadapi kesulitan dimanapun dia berada saat ini.

.

“Hyesoo-ya?” tanya sebuah suara dari sisi kananku.

.

“Eo… sunbae…” kataku balas menyapanya.

.

“Apa yang sedang kau lakukan? Menunggu seseorang?” tanya Jaejoong sunbae.

.

Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis padanya. “Tidak. Aku hanya sedang beristirahat. Rasanya lelah sekali hari ini”, jawabku.

.

“Praktikum anatomi?” tebak Jaejoong sunbae yang kini duduk bersamaku.

.

“Hm? Ah, ne…” jawabku sambil mengangguk cepat setelah berpikir selama sepersekian detik, berbohong pada Jaejoong sunbae.

.

“Aku tahu rasa lelah itu. Aku sampai tidak bisa merasakan jari-jari kakiku karena terlalu lama berdiri”, kata Jaejoong sunbae sambil tertawa kecil.

.

“Begitupun denganku…” sambungku memberikan respon, menghindari kecurigaan Jaejoong sunbae atas sikapku.

.

“Kau sudah makan siang?” tanya Jaejoong sunbae.

.

“Belum. Aku ada janji makan siang dengan seorang teman”, jawabku kembali berbohong.

.

“Teman? Bukan Cho Kyuhyun? Hhh… Kau tahu kau tidak perlu menyembunyikan hal itu lagi dariku, Hyesoo-ya”, kata Jaejoong sunbae.

.

“Aniyo, sunbae. Memang bukan dia”, jawabku.

.

Ponsel ditanganku bergetar kuat. Ada sebuah panggilan telepon yang masuk. Aku memeriksa layar ponselku dengan cepat untuk mengetahui siapa orang yang sedang menghubungiku, berharap nama Kyuhyun ada disana. Kyuhyun’s calling… Benar. Akhirnya Kyuhyun menghubungiku. Setelah membuat seluruh fokusku pada sekitar menghilang selama hampir 24 jam, akhirnya dia muncul.

.

“Kalau begitu aku pergi dulu”, kata Jaejoong sunbae tiba-tiba, menyadarkanku akan keberadaannya. Ia bangkit berdiri sambil memberikan senyumnya padaku.

.

“Ah, ne sunbae. Sampai bertemu…” kataku.

.

“Sampai bertemu…” kata Jaejoong yang segera berlalu meninggalkanku.

.

Akupun menyentuh panel hijau di layar ponselku dengan tergesa. Kemudian mendekatkan ponselku ke telinga agar dapat segera mendengar suara Kyuhyun. Aku berharap tidak ada hal buruk yang sudah terjadi padanya dalam pikiranku. Meski aku sudah menyiapkan hatiku untuk mendengar apapun yang akan ia katakan, baik atau buruk.

.

“Kau dimana?” pertanyaan itu yang keluar dari bibirku didetik pertama sambungan telepon terhubung.

.

Hai…” hanya kata itu yang diucapkan Kyuhyun padaku.

.

BGM: Jung Eunji – 사랑이란 (Love is…)

.

“Aku tanya kau dimana?” tanyaku lagi.

.

Aku dirumah”, jawabnya singkat.

.

“Kenapa tidak menghubungiku? Kau membuatku cemas”, kataku jujur.

.

Maafkan aku”, kata Kyuhyun tanpa menjawab pertanyaanku.

.

“Hhh…” aku menghela napas untuk meredakan kecemasan yang hampir meledak dari tubuhku. “Kau baik-baik saja?” tanyaku mencoba untuk tetap tenang.

.

Aku baik-baik saja”, jawab Kyuhyun. “Kau marah padaku?

.

“Hampir. Aku terlalu mencemaskanmu hingga rasanya aku akan menjadi sangat marah”, jawabku.

.

Maafkan aku…” katanya meminta maaf lagi.

.

“Sudahlah… Kau baik-baik saja. Itu sudah cukup”, kataku meredam rasa marah yang hampir membuncah dalam hatiku.

.

Kau dimana? Di kampus?” tanya Kyuhyun kali ini.

.

“Eo…” jawabku singkat. “Kau sibuk? Aku ingin makan siang bersamamu hari ini”.

.

Maafkan aku lagi. Ada sebuah janji yang harus ku tepati”, katanya menyesal.

.

“Tidak. Tidak perlu meminta maaf. Janji harus ditepati”, kataku berbohong, menutupi kekecewaanku. “Bagaimana dengan makan malam?”

.

Aku harus kembali ke rumah hari ini, Hyesoo-ya. Eomma menungguku. Aku benar-benar minta maaf”, katanya menyesal sekali lagi.

.

Aku memejamkan mataku menelan kekecewaan yang aku rasakan karena penolakannya. Aku meyakinkan diriku bahwa Kyuhyun tidak dengan sengaja melakukannya. Tentu saja Kyuhyun harus menepati janjinya. ‘Dengan siapapun itu’, tambahku dalam pikiranku. Dan aku tidak bisa mencegahnya untuk bertemu dengan ibu yang sedang menunggunya. Aku tidak punya hak untuk melakukan hal itu. ‘It’s okay, Hyesoo-ya. Jangan berpikir terlalu jauh…’, kataku meyakinkan diriku. Aku masih dalam kebungkamanku. Kyuhyun pun tidak mengatakan apapun. Kami berkutat dalam keheningan kami masing-masing. Kecemasan kembali menghampiriku. Aku meyakini bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi padanya. Tapi Kyuhyun tidak ingin menceritakannya padaku.

.

“Kau yakin kau baik-baik saja?” tanyaku lagi, memastikan kecurigaanku.

.

Eo… Aku baik-baik saja…” jawab Kyuhyun.

.

Dia baik-baik saja. Itu yang dia katakan. Tapi kenapa aku menangkap nada yang berbeda darinya? Hatiku mengatakan bahwa Kyuhyun tidak sedang baik-baik saja. Nada bicaranya di telepon sangat berbeda dari Kyuhyun yang ku tahu. Dia benar-benar sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Dan aku tidak bisa memaksanya untuk mengatakannya padaku.

.

Hyesoo-ya, aku harus pergi sekarang. Maaf tidak bisa menemuimu hari ini”, kata Kyuhyun menyadarkanku dari pikiranku sendiri.

.

“Tidak… Tidak apa-apa”, kataku.

.

Jangan lupakan makan siangmu”, kata Kyuhyun.

.

“Kau juga”, balasku.

.

Sampai bertemu…” kata Kyuhyun sebelum memutus sambungan teleponnya.

.

Bahkan Kyuhyun memutus sambungan teleponnya dengan cepat kali ini. Apa yang terjadi kali ini? Pertanyaan itu memenuhi setiap sudut kepalaku, membuatnya berdenyut kencang setiap kali aku memikirkan hal itu. Aku sudah terlalu lelah dengan semua masalah yang bermunculan akhir-akhir ini. Aku benar-benar kewalahan. Fisik dan psikis ku sudah mengibarkan bendera putihnya untuk setiap masalah. Aku sudah tidak mampu. Aku berharap tidak ada hal apapun yang terjadi pada Kyuhyun, seperti yang dikatakannya.

.

.

.

Kyuhyun’s POV

At Kyuhyun’s Apartment

.

“Sampai bertemu…” kataku sebelum memutus sambungan telepon.

.

Helaan napas panjang kembali terdengar di ruangan gelap ini. Entah sudah berapa kali aku menghela napas panjang seperti itu selama 24 jam terakhir. Aku terjaga. Kantuk tidak menghampiriku semalaman. Keraguan menyelubungi setiap inchi tubuhku. Setiap kata yang diucapkan Ryeowook tidak henti terngiang di telingaku. Kepala ku berdenyut kencang setiap kali nama hyung muncul dalam pikiranku. Rasanya denyutan ini terlalu kencang hingga membuatku seperti hampir meledak dibuatnya. ‘Kenapa harus Lee Hyesoo yang sama?‘ Pertanyaan itu selalu menyertai setiap kali kegilaan ini menghampiriku. Bayangan akan ekspresi wajah Siwon hyung yang seringkali menceritakan gadis pujaannya tidak luput dari ingatanku. Seharusnya hal itu sudah tidak menjadi masalah lagi diantara kami. Tidak untukku. Tidak untuk Hyesoo. Kami tidak memiliki hubungan apapun. Kami bahkan tidak saling mengenal. Tidak. Aku rasa tidak. Kami… Tidak… Kami memilikinya. Lee Hyesoo. Dia pasti gadis yang sama dengan gadis yang terbaring di ruang ICU hari itu. Lee Hyesoo adalah gadis yang sama. Gadis yang begitu dicintai oleh Siwon hyung.

.

“Ehm…” sebuah dehaman dari sisi samping kiriku membuatku menoleh. “Maaf sudah mengganggu istirahat anda, tuan muda…”

.

“Ada apa, hyung?” tanyaku pada Park Jungsoo.

.

“Saya sudah melaksanakan perintah anda”, jawab Jungsoo hyung.

.

“Dan hasilnya?” tanyaku lagi.

.

“Anda mendonorkan darah anda pada gadis yang sama. Lee Hyesoo”.

.

Jawaban Jungsoo hyung membuatku sontak memejamkan mataku sambil menghela napas panjang. “Sudah ku duga… Ada yang lain?”

.

“Ada, tuan…” kata Jungsoo hyung yang sempat menghentikan kalimatnya karena ragu. “Ini tentang kecelakaan yang pernah menimpa nona Lee Hyesoo”.

.

Aku kembali membuka mataku dan menatap Jungsoo hyung. “Jelaskan”, kataku memberikan perintah.

.

.

.

Author’s POV

K University

BGM: Ra.D – I Cry When You Cry

.

Hyesoo kembali duduk di bawah sebuah pohon rindang di pinggir danau seorang diri. Selama beberapa hari terakhir ia selalu menghabiskan waktu istirahat siangnya di tempat itu. Ia tidak menunggu atau menemui siapapun. Hyesoo hanya tidak mempunyai tujuan lain. Akhir-akhir ini ia bahkan lebih sering termenung saat berkumpul bersama para sahabatnya. Setelah komunikasi nya dengan Kyuhyun hari itu, tidak ada lagi pembicaraan setelahnya. Kyuhyun tidak menghubunginya. Kyuhyun bahkan tidak terlihat di kampus. Kecemasan yang Hyesoo rasakan semakin kuat. Namun ia tidak bisa melakukan apapun untuk mengubahnya.

.

Hyesoo bersandar pada pohon besar itu, lalu memejamkan matanya. Ia membiarkan angin menyentuh permukaan kulitnya, menerbangkan helaian rambutnya yang tidak teraih ikatan ekor kudanya, dan membawa serta helaan napas berat yang sesekali ia hembuskan. Tidak ada siapapun di tempat itu. Mahasiswa lain memang tidak banyak yang suka melewati tempat itu. Karena jaraknya yang jauh dari gedung-gedung perkuliahan. Sesekali hanya ada beberapa mahasiswa yang terlihat di sore menjelang petang. Namun siang itu, hanya ada Hyesoo disana.

.

“Sedang menunggu seseorang?” tanya suara berat yang sudah duduk di hadapan Hyesoo.

.

“Kau masih mahasiswa kampus ini rupanya. Aku kira kau sudah diam-diam lulus”, kata Hyesoo tanpa membuka matanya, mengetahui pemilik suara berat itu.

.

“Aigoo… Lee Hyesoo sangat dingin hari ini. Kemana perginya senyum hangat diwajahmu?” tanya Kyuhyun.

.

“Kau masih mengingatku?” sindir Hyesoo tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.

.

“Tentu saja… Lee Hyesoo tidak bisa dilupakan begitu saja”, jawab Kyuhyun dengan senyum di wajahnya.

.

“Saat ini aku sedang tidak ingin bicara denganmu”, kata Hyesoo berusaha mengacuhkan Kyuhyun.

.

“Hm… Tidak baik. Situasinya sedang tidak baik”, kata Kyuhyun bicara pada dirinya sendiri. “Kau benar-benar sedang marah padaku?”

.

“Jangan ganggu aku, Cho Kyuhyun” kata Hyesoo.

.

“Aku tidak sedang mengganggumu. Aku ingin menghiburmu. Karena bahkan dari kejauhan sekalipun, aku bisa mengetahui suasana hatimu yang buruk”, ujar Kyuhyun.

.

Akhirnya Hyesoo membuka matanya. Ia menatap Kyuhyun dengan ekspresi wajah yang tidak terbaca. “Bukan karenamu”, kata Hyesoo singkat.

.

“Aku tidak pernah mengatakan begitu”, kata Kyuhyun dengan senyuman mengembangnya.

.

“Berhenti bermain kata denganku”, kata Hyesoo dengan wajah serius.

.

“Baiklah… Baiklah… Maafkan aku…” kata Kyuhyun menyesal. “Sekarang katakan padaku. Apa yang terjadi?”

.

“Aku tidak ingin membahasnya”, jawab Hyesoo sambil membenarkan posisi duduknya.

.

“Padaku juga?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Pada siapapun”, jawab Hyesoo.

.

“Baiklah… Kalau begitu, apa yang kau inginkan? Katakan saja. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan”, pinta Kyuhyun.

.

“Aku tidak menginginkan apapun”, jawab Hyesoo acuh.

.

“Hei…” kata Kyuhyun lembut sambil meraih tangan Hyesoo.

.

Hyesoo menoleh padanya. Mata keduanya bertemu. Tatapan lelah Hyesoo bertemu dengan tatapan lembut Kyuhyun yang ingin menenangkan suasana hatinya. Tidak ada kata apapun yang terucap diantara mereka. Kyuhyun dan Hyesoo hanya saling menatap wajah satu sama lain. Hyesoo menghela napas panjang, menyerah karena tatapan lembut Kyuhyun. Ekspresi wajah Hyesoo pun ikut melembut dibuatnya, memunculkan senyum diwajah Kyuhyun setelahnya. Hyesoo balas menggenggam tangan Kyuhyun di tangannya.

.

“Biarkan aku memelukmu”, kata Kyuhyun memecah keheningan diantara mereka.

.

“Kita di kampus”, kata Hyesoo menolak sambil menggelengkan kepalanya.

.

“Aku tahu. Aku masih cukup waras untuk menyadari lingkungan sekitarku. Tapi kau juga tahu bahwa hal itu tidak akan bisa menghentikanku”, kata Kyuhyun yang mulai bangkit berdiri, membawa tangan Hyesoo bersamanya.

.

Kyuhyun menarik tangan Hyesoo, meminta Hyesoo ikut berdiri bersamanya. Saat keduanya sudah benar-benar berpijak, Kyuhyun membawa tubuh Hyesoo ke dalam pelukannya. Kyuhyun membungkus tubuh Hyesoo dengan kedua lengannya. Hyesoo memejamkan matanya dan melingkarkan lengannya dipinggang Kyuhyun.

.

“Kau seperti obat penenang, Cho Kyuhyun”, kata Hyesoo dengan suara tenangnya.

.

“Bagiku kau lebih dari itu, Hyesoo-ya. Aku begitu merindukanmu. Aku hampir kehabisan napasku selama beberapa hari ini karena tidak bertemu denganmu”, kata Kyuhyun dengan tatapan muram dimatanya.

.

“Itu akibat dari tindakanmu sendiri”, balas Hyesoo.

.

“Hhh… Kau benar…” kata Kyuhyun yang tertawa kecil mendengar ucapan Hyesoo. “Hyesoo-ya, bolehkah kali ini aku membuat satu permintaan padamu?”

.

“Tergantung dari permintaanmu. Katakan”, jawab Hyesoo.

.

“Aku ingin meminta 24 jam-mu. Boleh?” pinta Kyuhyun.

.

“Hhh… 24 jam dimulai dari sekarang”, kata Hyesoo yang langsung menyetujui permintaan Kyuhyun.

.

Kyuhyun pun tersenyum lebar, kemudian melepaskan pelukannya. Hyesoo membuka matanya menyadari pergerakan Kyuhyun. Sesaat setelahnya, Kyuhyun sudah mendaratkan bibirnya di bibir Hyesoo. Kyuhyun menggerakan bibirnya untuk membuka bibir Hyesoo, kemudian memperdalam ciumannya. Hyesoo pun membalas ciuman lembut Kyuhyun. Tangan Hyesoo bergerak ke bahu Kyuhyun, lalu melingkar di leher Kyuhyun. Kedua lengan Kyuhyun yang berada di pinggang Hyesoo, menjalar ke punggung dan menarik tubuh Hyesoo mendekat padanya. Mereka melepaskan tautan bibir mereka, namun tidak saling menjauh.

.

“Kita punya dua tempat yang bisa didatangi. Aku harus ke kanan (apartment Kyuhyun) atau ke kiri (apartment Hyesoo)?” tanya Kyuhyun dengan suara berbisik.

.

“Kiri”, jawab Hyesoo singkat sebelum sebuah kecupan singkat kembali mendarat di bibirnya.

.

“Tapi sebelumnya aku harus membuatmu memakan sesuatu. Ryeowook mengatakan kau bahkan tidak sarapan”, kata Kyuhyun.

.

“Kau bertemu dengan Ryeowook?” tanya Hyesoo yang menjauhkan tubuh bagian atasnya dari Kyuhyun, menjaga jarak dengan kedua tangan di dada Kyuhyun.

.

“Aku menemuinya untuk mencarimu”, jawab Kyuhyun.

.

“Dia mau bicara padamu?” tanya Hyesoo dengan wajah heran.

.

“Tentu saja. Kenapa dia tidak mau bicara padaku?” Kyuhyun balas bertanya.

.

“Dia tidak menyukaimu. Banyak mahasiswa yang tidak menyukaimu”, jawab Hyesoo jujur.

.

“Ryeowook tidak membenciku sebesar itu”, ujar Kyuhyun.

.

“Padahal aku berharap Ryeowook memukulmu”, kata Hyesoo dengan suara pelan.

.

“Apa yang kau katakan?” tanya Kyuhyun.

.

“Tidak ada”, jawab Hyesoo dengan senyuman diwajahnya.

.

“Aku mendengarnya, Lee Hyesoo”, kata Kyuhyun dengan tawa kecil yang keluar dari bibirnya. “Ayo, kita akan makan apapun yang kau inginkan”

.

.

BGM: Ra.D – 여전히

At Hyesoo’s Apartment

.

“Minggu ujian tidak berlalu dengan cepat. Aku sudah sangat merindukanmu”, kata Hyesoo sambil menggerakkan tangannya yang sedang ia gunakan untuk memasak makan malam.

.

“Begitupun denganku. Banyak laporan yang harus ku selesaikan. Waktuku sangat terbatas akhir-akhir ini”, kata Kyuhyun yang duduk memperhatikan Hyesoo dari meja bar dapur.

.

“Hari-hari melelahkan mahasiswa tingkat akhir sudah dimulai?” tanya Hyesoo.

.

“Sudah. Sangat melelahkan. Aku harus mengerjakan banyak laporan, lalu mengikuti beberapa ujian. Aku juga tidak bisa bertemu denganmu segera setiap kali aku merindukanmu”, keluh Kyuhyun.

.

“Ch… Mwoya Cho Kyuhyun…”

.

“Hhh… Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku, Hyesoo-ya. Dan kau tahu? Kau selalu mempesonaku setiap kali kau memasak dengan mengenakan apron itu”, kata Kyuhyun melontarkan pujian pada Hyesoo.

.

“Sudahlah Cho Kyuhyun. Jangan mengatakan hal yang sudah jelas terlihat”, kata Hyesoo dengan nada bercandanya.

.

“Tentu saja… Kau mengetahui hal itu dengan baik, bukan? Cham…” kata Kyuhyun yang tertawa kecil setelahnya.

.

“Donghae akan berangkat ke London besok lusa. Dia selalu saja meninggalkanku”, kata Hyesoo mengganti topic pembicaraan.

.

“Kau bisa menginap disini sampai dia kembali, jika kau mau. Aku akan dengan senang hati menerima kehadiranmu”, kata Kyuhyun dengan cengiran lebarnya.

.

“Hm… Bukan ide yang buruk…” kata Hyesoo. “Hanya saja, aku justru akan menyulitkan staf yang bekerja di rumah karena harus menjelaskan keberadaanku pada siapapun yang menanyakannya. Aku tidak ingin melakukan itu pada mereka”, kata Hyesoo menolak tawaran Kyuhyun dengan halus.

.

“Tentu saja. Sangat dirimu. Lee Hyesoo tidak pernah mau menyulitkan orang lain”, kata Kyuhyun.

.

“Benar…” kata Hyesoo setuju. “Ini. Habiskan makan malam mu”, sambung Hyesoo sambil meletakkan piring di hadapan Kyuhyun.

.

“Kau tidak makan bersamaku?” tanya Kyuhyun.

.

“Aku masih kenyang. Kau saja”, jawab Hyesoo.

.

“Tidak bisa. Kau juga harus makan. Tubuhmu sudah kurus seperti itu, Lee Hyesoo. Aku tidak ingin kau sakit”, protes Kyuhyun.

.

“Aku tidak kurus, Cho Kyuhyun. Aku berada dalam bobot dan bentuk tubuh ideal. Tepat seperti yang seharusnya”, sangkal Hyesoo.

.

“Jangan membohongiku. Di mataku kau terlihat terlalu kurus”, kata Kyuhyun bersikeras.

.

“Ibwayo, Kyuhyun-ssi. Berat badanku 52 kg. Aku tidak sekurus yang kau pikirkan”, bantah Hyesoo.

.

“Tinggi badanmu lebih dari 170 cm, Lee Hyesoo. Jangan lupakan hal itu”, balas Kyuhyun.

.

“Karena itu aku mengatakan padamu bahwa aku tidak terlalu kurus. Lagipula aku bukan seorang penderita anoreksia. Aku akan makan jika aku ingin. Sudah. Habiskan saja makan malam mu. Jangan banyak protes”, perintah Hyesoo.

.

Kyuhyun menyerah. Tidak ada lagi bantahan  yang keluar dari bibirnya. Ia memang tidak benar-benar berniat untuk memperdebatkan hal itu dengan Hyesoo. Kyuhyun hanya ingin mendengar suara Hyesoo dengan berbagai emosi didalamnya. Nada bicara Hyesoo yang mempertahankan pendapatnya dengan kukuh memberikan rasa nyaman tersendiri bagi Kyuhyun. Ia selalu dibuat takjub dan terpesona disaat yang bersamaan. Kyuhyun pun menghabiskan makan malamnya sambil terus saja memperhatikan Hyesoo yang sedang membersihkan peralatan masak yang baru saja ia gunakan, serta setiap sisi dapur yang menurutnya kotor. Hyesoo terlihat begitu tenang dan nyaman berada di dapur apartmentnya. Seolah energi Hyesoo sedang berdatangan menghampiri tubuhnya, membuat Hyesoo terlihat lebih memukau dari saat lainnya. Kyuhyun terus memandangi Hyesoo hingga ia tidak menyadari tangan Hyesoo yang mengambil piring kosong miliknya. Hyesoo tersenyum sambil menggelengkan kepala, menyadari pandangan Kyuhyun yang tidak teralihkan sedikitpun dari wajahnya.

.

“Kau akan membuat wajahku berlubang jika kau tetap menatapku dengan tatapan tajam itu, Cho Kyuhyun” kata Hyesoo bergurau sambil membersihkan bak pencuci piring dengan air yang mengalir dari kran.

.

“Hm? Ah…” respon Kyuhyun yang tersadar dari lamunannya. “Maaf. Aku melamun”, kata Kyuhyun selanjutnya.

.

“Kau seperti sedang berada dalam dunia mu sendiri beberapa saat yang lalu”, kata Hyesoo yang tertawa kecil sambil melepaskan apron dan sarung tangan pencuci piringnya.

.

Kyuhyun tersenyum lebar mendengar ucapan Hyesoo. Ia pun menjulurkan tangannya pada Hyesoo, meminta Hyesoo untuk mendekat padanya. Hyesoo berjalan mendekat pada Kyuhyun, meraih tangan Kyuhyun dan bersandar pada meja bar dapur sambil menghadap pada Kyuhyun. Mereka saling menatap tanpa kata. Seolah sedang berkomunikasi dalam keheningan diantara mereka. Beberapa saat kemudian, Kyuhyun bangkit dari bangku kemudian meraih tubuh Hyesoo masuk ke pelukannya. Ia mengeratkan pelukannya di tubuh Hyesoo, membuat tubuh keduanya merapat tanpa jarak.

.

“Aku sangat merindukanmu, Hyesoo-ya” kata Kyuhyun.

.

“Kau sudah mengatakannya berkali-kali hari ini, Cho Kyuhyun” kata Hyesoo yang kini mengusap lembut punggung Kyuhyun dengan kedua tangannya.

.

Kyuhyun menghela napas panjang, mengeluarkan satu hembusan beban yang ia rasakan akhir-akhir ini, berharap suasana hatinya membaik dengan cepat. Kyuhyun membenamkan wajahnya di lekukan leher Hyesoo, menghirup aroma tubuh Hyesoo yang selama beberapa minggu terakhir menjadi aroma favorit yang paling ia rindukan. Kyuhyun kembali mengangkat kepalanya dan mendaratkan kecupan di puncak kepala Hyesoo. Keningnya berkerut, membuat kedua alisnya seolah menyatu menjadi satu garis.

.

“Aku tidak bisa menyerah. Aku tidak ingin menyerah”, kata Kyuhyun dengan suara pelan.

.

“Ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu?” tanya Hyesoo yang mendengar ucapan Kyuhyun.

.

“Hanya sesuatu yang tidak perlu kau khawatirkan”, jawab Kyuhyun.

.

“Baiklah…” kata Hyesoo setuju, tidak ingin memperdebatkan hal itu juga dengan Kyuhyun. “Kau tahu, Cho Kyuhyun? Apapun yang sedang kau hadapi saat ini, kau mempunyai hak untuk tidak menyerah”.

.

“Menurutmu begitu?” tanya Kyuhyun yang dijawab dengan anggukkan oleh Hyesoo. “Aku juga tidak ingin menyerah, Hyesoo-ya” kata Kyuhyun menyatakan keinginan terdalamnya sekali lagi.

.

So don’t… Jangan [menyerah]”, kata Hyesoo meyakinkan Kyuhyun.

.

Kyuhyun melepaskan pelukannya lalu meraih salah satu tangan Hyesoo. Kyuhyun menggenggam tangan Hyesoo, dan memandangi tangan kurus yang berada dalam genggamannya. “Bolehkah?” tanya Kyuhyun tanpa menatap Hyesoo.

.

“Tentu saja…” jawab Hyesoo singkat.

.

“Meski dengan begitu aku justru bersikap egois?” tanya Kyuhyun lagi.

.

Hyesoo menghela napasnya. “Lihat aku…” pinta Hyesoo yang langsung dikabulkan oleh Kyuhyun. “Apa ada orang lain yang akan tersakiti karena hal itu?” tanya Hyesoo setelahnya.

.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan. “Aku rasa tidak ada”, jawab Kyuhyun.

.

“Kalau begitu tidak apa. Jika tidak ada yang tersakiti, maka kau bisa bersikap egois sesekali”, ujar Hyesoo.

.

Kyuhyun memberikan senyum tipisnya lalu membawa tangan Hyesoo mendekat ke wajahnya. Kyuhyun mencium lembut punggung tangan Hyesoo dalam genggamannya. Melihat hal itu, Hyesoo pun menyentuh wajah Kyuhyun dengan tangan bebasnya, meminta Kyuhyun untuk menatap matanya. Hyesoo akhirnya menemukan kegundahan dalam tatapan mata Kyuhyun. Ada beban yang sedang ditanggungnya. Ada tekanan yang sedang ia coba redam saat ini. Senyum di wajah Kyuhyun sudah lama menghilang, digantikan dengan ekspresi muram di setiap inchi wajahnya. Sesaat kemudian, Hyesoo mendekatkan wajahnya kemudian mengecup bibir Kyuhyun dengan kelembutan yang memberikan ketenangan dan kenyamanan. Keduanya memejamkan mata mereka, merasakan aliran listrik yang mengalir melalui sentuhan di bibir mereka. Kyuhyun membuka bibir Hyesoo dengan bibirnya, ingin memperdalam ciuman mereka. Kedua tangan Kyuhyun sudah berpindah, melingkari pinggang Hyesoo. Tubuh Hyesoo sudah tertarik mendekat karena rengkuhan Kyuhyun. Telapak tangan Hyesoo yang dingin menyentuh kedua sisi kepala Kyuhyun, bergerak ke belakang kepalanya, meremas pelan rambut ikal Kyuhyun. Sebuah lenguhan terdengar di ruangan yang hening itu, menandakan dimulainya malam panjang mereka.

.

Kyuhyun terbangun dari tidurnya. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum kesadaran mulai menghampirinya. Tenggorokannya terasa begitu kering. Ia menggerakkan kepalanya perlahan, tidak ingin membangunkan Hyesoo yang tidur tepat di sampingnya. Kedua mata Kyuhyun menemukan benda yang ia cari, jam dinding. Waktu baru menunjukkan pukul 3 lewat 17 menit. Terlalu larut untuk disebut malam, namun terlalu dini untuk disebut pagi. Kyuhyun pun memutuskan untuk bangun dari tidurnya. Ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Kyuhyun bangkit berdiri kemudian berjalan mengendap keluar dari kamar. Hanya sebuah celana panjang training longgar yang menutupi tubuhnya. Sedangkan tubuh bagian atasnya dibiarkan terbuka, karena T-shirt yang sebelumnya ia kenakan sudah menempel sempurna menutupi tubuh Hyesoo yang tertidur dengan pulas.

.

Kyuhyun menenggak segelas air mineral untuk meredakan dahaga yang ia rasakan. Ternyata kesadaran belum benar-benar menghampirinya. Kedua kelopak matanya masih terasa begitu berat untuk membuka. Setelah meletakkan gelas di atas meja, Kyuhyun berjalan kembali ke kamar. Ia menutup pintu dengan perlahan kemudian kembali berjalan mengendap mendekat ke tempat tidur. Tiba-tiba Hyesoo bergerak saat Kyuhyun sedang menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Hyesoo berbalik menghadap Kyuhyun yang membeku terkejut dengan pergerakan tiba-tiba Hyesoo. Namun dugaannya salah. Hyesoo tidak terbangun. Gadis cantik itu masih terlelap dalam alam mimpinya. Seolah kepalanya baru saja dipukul dengan sebuah benda yang cukup keras, mata Kyuhyun terasa begitu terang dan terjaga. Kantuk meninggalkannya. Kedua matanya menemukan objek indah yang mengusir rasa lelahnya. Wajah manis Hyesoo yang tertidur pulas begitu mempesonanya. Kyuhyun bahkan dibuat tersenyum mengembang olehnya. Jarak wajah keduanya begitu dekat. Kyuhyun bahkan dapat mendengar helaan lembut napas Hyesoo. Kyuhyun memperhatikan wajah Hyesoo dengan perlahan. Setiap inchi di wajah Hyesoo tidak dilewatkan olehnya. Alis Hyesoo yang cukup tebal, mata indah yang sedang terpejam, tulang pipi yang sedikit lebih tinggi, hidung mancung yang membuat iri gadis lainnya, serta bibir lembut yang selalu membuainya. Semua begitu tepat pada tempatnya. Hingga sebuah kenyataan menyadarkan Kyuhyun dari keterbuaiannya. ‘Wajah ini. Wajah cantik yang pernah hyung ceritakan padaku. Aku sedang menatapnya saat ini’, kata Kyuhyun dalam pikirannya.

.

“Apakah aku benar-benar boleh melakukan itu, Hyesoo-ya? Bolehkah aku bersikap egois kali ini saja?” tanya Kyuhyun dengan suara berbisik, bicara pada dirinya sendiri.

.

.

.

At K University

BGM: EXID – Hello

.

Hyesoo harus kembali menghadapi perubahan sikap Kyuhyun yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Hyesoo sempat berpikir bahwa kebersamaan mereka 10 hari yang lalu di apartment Hyesoo merupakan titik terang yang menandai berakhirnya sikap aneh Kyuhyun padanya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kyuhyun kembali tidak bisa dihubungi. Setiap kali Hyesoo mengirimkan pesan pada Kyuhyun, tidak satupun pesan itu di baca oleh Kyuhyun. Begitupun dengan panggilang telepon. Meski Hyesoo menunggu hingga dering terakhir, Kyuhyun tetap tidak kunjung menerima panggilannya. Beberapa hari yang lalu Hyesoo sempat menangkap sosok Kyuhyun dari kejauhan. Hyesoo bahkan sangat yakin bahwa tatapan keduanya bertemu. Namun Kyuhyun justru mengalihkan pandangannya dan berbelok menuju arah yang lain. Kecemasan Hyesoo pun kembali. Kini Hyesoo benar-benar meyakini perubahan sikap Kyuhyun padanya. Kali ini perubahan itu semakin parah. Karena Kyuhyun bahkan tidak menghubunginya lagi.

.

Hyesoo berjalan keluar dari gedung kedokteran setelah mengumpulkan berkas laporan terakhir yang harus ia serahkan pada professor Kang. Angin yang berhembus hari ini berbeda dari hari-hari sebelumnya. Terlalu kencang menerbangkan rambut terurai Hyesoo hingga mengenai matanya. Hyesoo pun memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah bangku di tepi trotoar. Ia meletakkan buku-buku ditangannya, lalu membuka tasnya untuk menemukan pengikat rambut yang pagi tadi ia lemparkan sembarangan ke dalam tas. Setelah menemukannya, Hyesoo segera mengikat rambutnya ekor kuda, menampakkan wajah cantiknya yang sedang dirundung kemuraman. Hingga kedua matanya kembali menangkap sosok Kyuhyun di hadapannya. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Kyuhyun sedang berjalan dengan kelompok kecil teman-temannya. Ada Changmin dan Minho juga disana, beserta dua laki-laki dan tiga perempuan lainnya. Tatapan Hyesoo tidak luput dari sebuah tangan perempuan yang melingkar di pinggang Kyuhyun. Mereka tertawa riang pada satu sama lain. Kyuhyun bahkan terlihat sedang mengacak rambut perempuan dalam rangkulannya itu. Hyesoo menghela napas panjang dan memutuskan untuk berjalan mendekat pada kelompok kecil yang sedang menghentikan langkah mereka itu.

.

“Cho Kyuhyun!” seru Hyesoo memanggil Kyuhyun.

.

“Eo! Lee Hyesoo! Annyeong…” sapa Kyuhyun yang segera melepas rangkulannya dan berjalan mendekat pada Hyesoo. “Bagaimana ujianmu?” tanya Kyuhyun santai.

.

“Cukup baik. Kau?” Hyesoo balas bertanya.

.

“Memuaskan…” jawab Kyuhyun dengan senyum mengembangnya. “Kenapa kau seorang diri? Dimana yang lainnya?”

.

“Mereka masih berada di kelas masing-masing. Kami akan makan siang bersama setelah ini”, jawab Hyesoo masih dengan sikap tenangnya.

.

Good!” kata Kyuhyun memberikan respon.

.

“Kau sudah makan siang?” tanya Hyesoo karena menyadari bahwa Kyuhyun tidak akan mengatakan hal lainnya.

.

“Aku akan pergi bersama teman-temanku. Minho membuat sebuah pesta pantai untuk merayakan selesainya ujian. Aku tidak tahu lokasi pantai itu. Minho merahasiakannya dari semua orang”, jawab Kyuhyun menjelaskan.

.

“Ah, begitu… Pasti akan sangat menyenangkan”, kata Hyesoo memberikan tanggapannya.

.

“Minho selalu tahu caranya membuat pesta. Dia juga tidak pernah lupa mengundang gadis-ga……” tiba-tiba Kyuhyun menghentikan ucapannya. Ia merasa ragu untuk melanjutkannya.

.

“Gadis-gadis”, sambung Hyesoo. “Selesaikan kalimatmu jika sedang berbicara, Cho Kyuhyun”.

.

“Begitulah. Seperti katamu”, kata Kyuhyun membenarkan ucapan Hyesoo.

.

“Kyuhyun sunbae!” sapa seorang gadis yang menghampiri Kyuhyun. “Kau tidak akan mengingkari janjimu untuk menemaniku berbelanja, bukan?” tanya gadis itu sambil merangkul lengan Kyuhyun.

.

“Tentu tidak, Seolhyun-ah. Aku tidak pernah mengingkari janjiku”, jawab Kyuhyun dengan senyum mengembang di wajahnya.

.

“Eo! Annyeonghaseyo…” sapa Seolhyun saat menyadari kehadiran Hyesoo.

.

“Ne, annyeonghaseyo…” kata Hyesoo balas menyapanya.

.

“Apa aku mengganggu pembicaraan kalian? Maafkan aku…” kata Seolhyun menyesal.

.

“Tidak. Kami juga tidak sedang membicarakan hal penting. Kau tidak perlu meminta maaf”, kata Kyuhyun.

.

“Kalau begitu, bisakah kita pergi sekarang, sunbae? Mereka bilang kita harus berangkat pukul 5. Masih ada waktu 4 jam untuk berbelanja dan bersiap-siap”, kata Seolhyun dengan senyum mengembang diwajahnya.

.

“Baiklah! Ayo kita pergi”, kata Kyuhyun menyanggupi permintaan Seolhyun. “Selamat makan siang, Hyesoo-ya. Sampai bertemu. Aku pergi dulu”.

.

“Eo…” jawab Hyesoo singkat.

.

“Annyeonghigaseyo…” kata Seolhyun pada Hyesoo.

.

Hyesoo hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan selamat tinggal Seolhyun. Hyesoo segera berbalik dan berjalan menjauh dengan cepat. Hyesoo tidak ingin menyaksikan pemandangan itu lebih lama. Ada rasa tidak nyaman dalam hatinya. Seakan sesak akan memenuhi dadanya. Setelah berhari-hari hanya menduga, kini Hyesoo menyaksikan secara langsung perubahan sikap Kyuhyun padanya. Kyuhyun memang bicara padanya, tapi sikap yang ditunjukkan Kyuhyun sangat jauh berbeda dari Kyuhyun yang selama ini Hyesoo kenal. Seolah Kyuhyun sedang membuat jarak padanya.

.

Sementara itu, Kyuhyun tetap terus berjalan bersama Seolhyun. Ekspresi wajah cerianya sudah berubah sejak beberapa saat yang lalu, digantikan dengan ekspresi datar yang dingin. Changmin yang sejak tadi memperhatikan pembicaraan Kyuhyun dan Hyesoo menyadari hal itu. Saat Kyuhyun dan Seolhyun yang bergandengan sudah mendekat padanya, Changmin segera menarik tangan Kyuhyun.

.

“Seolhyun-ah, bisakah aku bicara sebentar dengan Kyuhyun?” tanya Changmin.

.

“Ne. Tentu saja, sunbae” jawab Seolhyun dengan sopan.

.

Changmin menarik Kyuhyun menjauh dari teman-teman mereka yang berdiri berkerumun. Changmin membutuhkan sedikit ketenangan untuk bicara pada Kyuhyun. “Haruskah kau melakukan hal sejauh ini?” tanya Changmin.

.

“Apa? Memangnya apa yang sudah aku lakukan, Changmin-ah?” Kyuhyun balas bertanya.

.

“Kau berusaha menjauhkan diri dari Lee Hyesoo. Kau menghindarinya”, kata Changmin.

.

“Aku tidak melakukannya”, sangkal Kyuhyun.

.

“Kau melakukannya”, kata Changmin bersikeras. “Kau tidak menghiraukan panggilan telepon maupun pesan yang dikirim olehnya. Kau juga berbohong padanya tentang liburan yang kau buat ini. Kenapa? Berikan alasanmu padamu”.

.

“Karena aku ingin. Apakah itu cukup?” Kyuhyun tetap pada pendapatnya.

.

“Kau hanya mempermainkannya seperti gadis lainnya?” tanya Changmin tepat pada poin utama yang sejak tadi ia pikirakan.

.

“Kau memiliki kebebasan untuk menarik kesimpulan apapun, Shim Changmin” kata Kyuhyun tanpa menjawab pertanyaan Changmin.

.

“Tapi saat itu kau mengatakan bahwa dia berbeda”, kata Changmin mengingatkan Kyuhyun.

.

“Dia memang berbeda”, ujar Kyuhyun menyetujui. “Bisakah kau membiarkan aku melakukan apapun yang ku inginkan dengan caraku?” tanya Kyuhyun dengan nada bicara yang meninggi.

.

Changmin terdiam. Ia juga merasakan perubahan dalam diri Kyuhyun seperti Hyesoo. Kyuhyun yang sedang berdiri dihadapannya ini sudah berubah untuk alasan yang tidak ia ketahui, tidak ia mengerti. Changmin pun menghela napas panjang, menyerah untuk menghadapi Kyuhyun yang keras kepala. “Terserah…” kata Changmin selanjutnya,

.

.

.

Hyesoo’s POV

Beberapa hari kemudian

BGM: BEAST – 이젠 아니야

.

Hari-hari tanpa kabar apapun dari Cho Kyuhyun. Komunikasi diantara kami sudah tidak seperti yang seharusnya. Kyuhyun menghilang. Hanya kata itu yang dapat aku gunakan untuk menjelaskan situasinya saat ini. Kami tidak lagi berkomunikasi secara verbal. Semua pembicaraan diantara kami hanya dapat terhubung melalui pesan singkat. Ia tidak pernah menerima panggilanku. Namun ia membalas pesan singkat dariku. Sesekali. Kyuhyun semakin sulit diraih. Kyuhyun seperti sedang melakukan perjalan ke hutan gelap di negeri antah berantah. Ia hanya dapat dicapai pada saat-saat tertentu saja. Karena itu aku menggunakan kata menghilang untuk menjelaskan keberadaan Kyuhyun.

.

Aku kembali mencoba menghubunginya hari ini. Ia masih tidak menjawab panggilanku dan hanya membalas pesan singkat yang ku kirimkan padanya. Hari ini setelah sekian kalinya, Kyuhyun kembali menolak ajakanku untuk bertemu. Aku tidak mengatakan apapun tentang hal itu. Aku mencoba mengerti dengan kehidupannya yang tidak ku ketahui. Aku mencoba untuk tetap berpikir positif dan mempercayainya. Namun ia selalu mematahkan kepercayaanku sedikit demi sedikit. Seperti yang terjadi saat ini. Seorang Cho Kyuhyun yang ku anggap menghilang, justru muncul di café yang sama dengan tempatku saat ini berada. Aku pikir suasana hatinya sedang buruk dan ekspresinya akan terlihat muram karena terlalu banyak hal yang harus ia lakukan hingga tidak bisa menghubungiku. Namun ia justru terlihat lebih dari baik-baik saja, jauh dari dugaanku. Ekspresi wajahnya terlalu cerah untuk seseorang yang sedang dipusingkan dengan banyak masalah. Kyuhyun menoleh dan tatapan kami bertemu. Ekspresi cerah diwajahnya meredup perlahan. Kyuhyun melangkah mendekat sambil membentuk sebuah senyuman baru diwajahnya. Senyuman yang jelas berbeda dari sebelumnya.

.

“Kau disini?” tanya Kyuhyun yang menghampiriku.

.

“Begitupun denganmu”, ujarku.

.

“Aku memiliki janji dengan seseorang”, kata Kyuhyun menjelaskan alasannya sambil menarik kursi dihadapanku dan duduk disana.

.

“Aku tahu. Kau sudah memberitahuku tadi”, kataku mengingatkannya.

.

“Aku belum menemukannya. Sambil menunggu, kau mau ku temani?” tanya Kyuhyun dengan senyuman diwajahnya.

.

Dia bahkan tersenyum dalam situasi ini. “Tidak perlu. Aku hanya menunggu minumanku lalu pergi”, kataku menolak tawarannya.

.

“Kau mau kemana?” tanya Kyuhyun dengan perubahan ekspresi di wajahnya.

.

“Aku akan berbelanja. Bersama Ryeowook”, jawabku jujur.

.

“Berdua?” tanya Kyuhyun lagi. Kali ini dengan sedikit nada cemburu dalam ucapannya.

.

“Benar”, jawabku singkat.

.

“Kemana Im Yoona?” tanya Kyuhyun kali ini.

.

“Yoona sedang sibuk dengan ujian praktiknya”, kataku berbohong. ‘Yoona sedang sibuk bersama kekasihnya’. Aku berkata jujur dalam pikiranku.

.

“Kau bisa mengajak Bae Irene bersamamu. Kenapa hanya berdua saja?” tanya Kyuhyun lagi, membuatku mengerti kemana arah pembicaraan ini.

.

“Kau cemburu?” tanyaku akhirnya.

.

“Tidak. Aku tidak punya alasan untuk cemburu”, jawab Kyuhyun menyangkal.

.

Kyuhyun mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ada sesuatu di layar ponselnya yang membuat alisnya sontak bertaut. Kemudian salah satu sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman yang tidak dapat ku artikan. Aku mengalihkan pandanganku, menatap cemas pada counter. Aku tidak bisa membohongi diriku. Saat ini aku sedang merasa begitu muak dengan sikapnya. Aku sedang tidak ingin menemuinya, meski aku merasa begitu merindukannya.

.

“Oppa!” seru suara seorang gadis yang menarik perhatian kami.

.

“Eo! Hani-ya, kau sudah berada disini?” tanya Kyuhyun dengan senyuman mengembang diwajahnya.

.

Apa lagi ini?’ tanyaku dalam pikiranku. Seperti de javu, aku merasa sangat familiar dengan situasi ini. Seorang gadis yang datang ditengah pembicaraan dingin kami. Lalu senyuman lembut dan ekspresi cerah di wajah Kyuhyun mengiringi sapaannya pada gadis yang menghampirinya. Rasa sesak kembali bergerak pelan memenuhi dadaku. Aku benci situasi ini.

.

“Aku menunggumu sejak tadi. Kenapa tidak segera mencariku? Kau ini…” kata gadis yang bernama Hani itu. Ia sudah duduk di salah satu kursi diantara aku dan Kyuhyun.

.

“Maafkan aku…” kata Kyuhyun menyesal dengan senyuman lembut diwajahnya.

.

“Kau ‘kan bisa menelepon atau mengirim pesan padaku. Aku sudah menunggumu selama lebih dari setengah jam. Kau tidak pernah berubah…” keluh gadis itu.

.

“Aku tahu… Aku tahu… Aku bersalah. Maafkan aku…” kata Kyuhyun bersungguh-sungguh.

.

“Jangan ulangi lagi lain kali…” kata Hani mengingatkan sambil mengacungkan jari telunjuknya pada Kyuhyun. “Eo! Siapa gadis ini? Kau mengenalnya? Kau datang bersamanya?” tanya Hani dengan jari telunjuk yang saat ini mengarah ragu ke arahku.

.

“Ah… Dia… Dia Hyesoo. Dia……” kata Kyuhyun, ragu untuk menjelaskan.

.

“Aku tidak datang bersamanya”, kataku cepat, memotong ucapan Kyuhyun.

.

“Nona Lee Hyesoo!” panggil pramusaji dari balik counter.

.

“Ne!” jawabku. “Aku permisi”. Aku pun segera beranjak setelahnya.

.

Namun Kyuhyun juga ikut berdiri bersamaku. Sikap naluriah yang selalu ia lakukan. Ia masih memilikinya. “Kau sudah mau pergi?” tanya Kyuhyun.

.

“Sampai bertemu”, kataku tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.

.

Aku melangkahkan kakiku keluar dari kursiku dan berbalik. Aku baru akan berjalan menjauh dari mereka saat indera pendengaranku menangkap pembicaraan keduanya.

.

“Oppa, siapa dia? Kekasihmu?” tanya Hani.

.

“Hm? Bukan… Dia juniorku di kampus”, jawab Kyuhyun yang kembali duduk dengan nada santai.

.

Aku mulai melangkahkan kakiku setelah mendengar jawaban yang keluar dari mulut Kyuhyun. Aku bukan kekasihnya. Aku mendengarnya. Kyuhyun mengatakan hal itu dengan jelas. Kini sudah jelas bagiku apa yang menjadi alasan menghilangnya Cho Kyuhyun. Tapi kenapa hatiku tetap merasa ragu? Aku merasa ada kebohongan dibalik ungkapan itu. Kyuhyun tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia menyembunyikan sesuatu yang tidak dapat ku ketahui dengan mudah. Sisi rasional dalam kepalaku memintaku untuk mempercayai hal yang baru saja ku dengar. Tapi hatiku mengatakan yang sebaliknya. Ia memintaku untuk tetap menunggu kejelasan sikap Kyuhyun padaku. Bahkan disaat aku pikir ungkapannya baru saja sudah sangat jelas.

.

“Ah… Teman? Dia cantik…” kata Hani memberikan pendapatnya.

.

“Begitu menurutmu?” tanya Kyuhyun dengan nada malas.

.

“Ini pesanan anda nona. Anda bisa mendapatkan sedotan dan tissue di sudut sana”, kata pramusaji sambil memberikan pesananku.

.

“Terima kasih”, kataku sambil memberikan senyuman padanya.

.

“Aku lebih cantik”, kata Hani tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.

.

“Aku akan berpura-pura menyetujuinya”, kata Kyuhyun bergurau.

.

“Ayo pergi, oppa. Eomma ku sudah menunggumu”, ajak Hani.

.

“Baiklah”, kata Kyuhyun setuju.

.

Lalu terdengar suara gesekan kaki kursi dengan lantai dan derapan kaki yang semakin menjauh. Dentingan lonceng di sudut pintu café menandakan bahwa ada pengunjung yang baru saja melewatinya. Mereka berdua pergi meninggalkan café itu. Kyuhyun bahkan pergi tanpa mengatakan apapun padaku.

.

.

.

Author’s POV

Sementara itu, diluar café

.

Kyuhyun dan Hani berjalan beriringan. Tidak ada genggaman tangan ataupun rangkulan lengan diantara mereka. Keduanya sibuk dengan sumber ketertarikan mereka masing-masing. Kyuhyun dengan ponselnya, sedangkan Hani dengan jajaran mannequin di etalase boutique yang mereka lewati.

.

“Apakah tidak terlalu jahat mengatakan hal itu, oppa?” tanya Hani yang masih focus pada pemandangan yang menarik perhatiannya itu.

.

“Apa?” Kyuhyun balas bertanya pada Hani.

.

“Oppa mengatakan bahwa eonni itu bukan kekasihmu”, jawab Hani mengingatkan Kyuhyun.

.

“Memang bukan”, ujar Kyuhyun cepat.

.

Hani menoleh pada Kyuhyun setelah mendengar ucapan Kyuhyun yang menurutnya sangat tidak masuk akal. “Oppa tidak bisa berbohong padaku. Oppa tidak pernah bersikap seperti itu pada siapapun. Oppa memberikan perhatian padanya. Seperti seorang kekasih”, kata Hani mengungkapkan pendapatnya.

.

“Anak kecil tidak perlu sok tahu”, kata Kyuhyun dengan smirk di wajahnya.

.

“Oppa menyukainya? Mencintainya?” tanya Hani langsung pada poin utamanya.

.

“Dia bukan kekasihku, Hani-ya” kata Kyuhyun.

.

Tiba-tiba Hani menghentikan langkahnya. Menyadari hal itu, Kyuhyun pun juga menghentikan langkahnya. Kyuhyun menoleh pada Hani, menatap wajah keberatan gadis disampingnya.

.

“Itu bukan jawaban atas pertanyaanku, oppa” kata Hani. “Aku pikir aku tahu yang sebenarnya sedang terjadi disini. Hyesoo eonni bukan kekasih oppa tapi oppa mencintainya”.

.

“Aku tidak berkata begitu”, kata Kyuhyun.

.

“Oppa tidak perlu mengatakannya. Aku bisa melihatnya”, kata Hani bersikeras dengan pendapatnya.

.

“Hhh… Dasar anak kecil…” kata Kyuhyun sambil mengacak rambut adik sepupunya itu.

.

.

.

Satu minggu kemudian

K University

.

Satu minggu lainnya yang berlalu dengan cepat. Hubungan Hyesoo dan Kyuhyun semakin merenggang. Tidak ada lagi komunikasi diantara mereka. Hyesoo bahkan sempat datang ke apartment Kyuhyun. Namun tidak ada siapapun disana. Hyesoo tidak menemukan siapapun di tempat itu. Jejak Kyuhyun menghilang. Hingga sepasang mata lelah Hyesoo menemukan keberadaan Kyuhyun di kampus. Hyesoo yang sedang berada di lantai dua gedung kedokteran pun memilih tangga sebagai jalan cepatnya menuju lantai dasar. Hyesoo berlari menuruni tangga dan berhambur keluar dari gedung. Hyesoo tidak lagi berlari, namun mengubah langkahnya menjadi langkah cepat yang panjang. Dalam waktu kurang dari 3 menit, Hyesoo sudah bisa menghampiri Kyuhyun yang sedang duduk di sebuah bangku taman di pinggir danau dengan sebuah headphone yang terpasang di telinganya. Hyesoo segera menarik headphone itu keluar dari kepala Kyuhyun.

.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Kyuhyun yang beranjak berdiri, tidak menyukai tindakan yang dilakukan Hyesoo padanya.

.

“Apa-apaan kau?” Hyesoo balas bertanya dengan irama napasnya yang masih memburu setelah berlari.

.

“Seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu, Lee Hyesoo”, kata Kyuhyun.

.

“Kau sedang menghindariku, benar? Katakan ini bukan hanya dugaanku saja”, kata Hyesoo menuntut penjelasan dari Kyuhyun.

.

“Aku tidak akan menyangkalnya”, jawab Kyuhyun dengan sikap tenangnya.

.

“Kenapa?” tanya Hyesoo.

.

“Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi”, jawab Kyuhyun sambil merapikan headphone yang sudah ia rebut kembali dari tangan Hyesoo.

.

“Kenapa? Apa alasannya?” tanya Hyesoo menuntut.

.

“Karena aku pikir sudah tidak ada lagi yang bisa aku lakukan denganmu”, jawab Kyuhyun yang menatap tajam, tepat ke mata Hyesoo.

.

BGM: Urban Zakapa – I don’t love you

.

“Apa maksudmu? Ada apa denganmu, Cho Kyuhyun? Jangan konyol…” protes Hyesoo yang tidak bisa menerima ucapan tanpa penjelasan yang Kyuhyun katakan.

.

Apa yang harus aku katakan?

Darimana aku harus memulainya? Bagaimana?

Aku hanya menggelengkan kepalaku

Kau menatapku seperti itu

Di keheningan yang canggung ini

.

“Aku bosan”, kata Kyuhyun singkat namun penuh penekanan.

.

“Bicara dengan jujur. Katakan yang sebenarnya sedang kau rasakan. Bicara sebagai dirimu, Cho Kyuhyun” pinta Hyesoo yang kini sudah lebih tenang dari sebelumnya.

.

“Aku memang selalu seperti ini, Lee Hyesoo”, kata Kyuhyun menekankan pernyataannya. “Bukankah kau sudah mengetahui banyak hal tentangku sebelumnya? Cho Kyuhyun laki-laki yang brengsek, playboy, mudah bosan, angkuh, sombong, dingin, jahat… Apalagi kata yang sering mereka gunakan untuk mendeskripsikan sifatku?”

.

“Kau tidak seperti itu… Hentikan permainan ini”, kata Hyesoo. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu?” tanya Hyesoo setelahnya.

.

“Bingo!” seru Kyuhyun sambil menjentikkan jarinya. “Kau kembali mendapatkan kesimpulan yang tepat. Ah… Kau benar-benar pintar, Lee Hyesoo. Aku menyukainya”, kata Kyuhyun yang menunjukkan smirknya. “Kau benar. Kita hentikan saja permainan ini. Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Waktunya sudah berakhir”.

.

“Waktu? Apa yang kau bicarakan, Cho Kyuhyun? Aku tidak mengerti. Apa aku melakukan kesalahan yang tidak aku sadari? Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?” tanya Hyesoo berturut-turut.

.

“Aku sudah mengatakannya, Lee Hyesoo. Waktunya sudah berakhir. Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Aku tidak menginginkan apapun lagi darimu”, kata Kyuhyun yang mengambil jeda dalam penjelasannya. “Taruhannya sudah ku menangkan. Aku sudah mendapatkan hadiahnya. Aku juga sudah mendapatkan……malam-malam yang tidak pernah ku bayangkan akan terasa semenyenangkan ini”, sambung Kyuhyun yang kemudian mendekat pada Hyesoo. Bibir Kyuhyun tepat berada di samping telinga Hyesoo. “Walaupun selebihnya hanya omong kosong. Tapi aku bersungguh-sungguh saat mengatakan bahwa kau sempurna. Tepat seperti kebutuhanku”, bisik Kyuhyun.

.

Hyesoo mendorong tubuh Kyuhyun dengan keras. Hyesoo memejamkan matanya sambil menghela napas panjang. “Geumanhae… Semua ini tidak lucu. Beritahu apa kesalahanku sehingga membuatmu bersikap seperti ini”.

.

“Mwoya… Kau belum mengerti juga rupanya”, kata Kyuhyun sambil tertawa kecil. “Aku hanya bermain-main denganmu, Lee Hyesoo. Seperti yang selalu aku lakukan pada gadis-gadis yang memujaku. Kau masih belum menyadarinya sampai sekarang? Ch…”

.

Aku tidak mencintaimu

Walaupun kau sudah mengetahuinya

Bahkan saat aku melihatmu menangis

Hatiku tidak merasakan sakit

.

“Tidak. Kau sedang mengatakan kebohongan padaku saat ini. Ada hal yang membuatmu marah, bukan? Katakan…” pinta Hyesoo yang masih mencoba menyangkal pernyataan Kyuhyun.

.

“Buka pikiranmu, Lee Hyesoo” kata Kyuhyun dengan nada datar dalam suara beratnya. “Bagaimana seseorang sepertiku bisa berubah dalam sekejap dan bertekuk lutut memujamu? Hm?” tanya Kyuhyun. “Aku bukan orang seperti itu, Lee Hyesoo. Cho Kyuhyun yang menghampirimu di hari pertama kita bertemu adalah Cho Kyuhyun yang sebenarnya”.

.

“Jadi, saat ini kau sedang mencoba mengatakan bahwa semua hal yang terjadi diantara kita hanyalah bagian dari skenario pertaruhanmu saja. Begitu? Kau pikir aku bisa mempercayainya?” tanya Hyesoo menyatakan keraguannya.

.

“Entah kau mau mempercayainya atau tidak. Itu bukan urusanku, Lee Hyesoo. Aku hanya ingin kau segera menjauh dariku. Karena aku sudah tidak punya kepentingan apapun denganmu”, kata Kyuhyun.

.

“Benarkah? Apapun? Bisakah kau jujur kali ini? Bukan padaku, tapi pada dirimu sendiri”, pinta Hyesoo sekali lagi.

.

“Kau pikir aku sedang berbohong? Hhh… Kau tidak sehebat itu hingga bisa menggerakkan hatiku, Lee Hyesoo. Aku memang menyukaimu. Awalnya kau membuatku tertarik padamu”, kata Kyuhyun mengakui. “Benar. Aku mengejarmu. Tapi kau terlalu mudah untuk didapatkan. Aku kehilangan ketertarikanku padamu”.

.

“Kau masih berbohong… Kau tidak mengatakan apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu, Cho Kyuhyun”.

.

“Kau tidak tahu apapun tentangku, Lee Hyesoo. Inilah aku yang sebenarnya. Aku sudah kehilangan seleraku padamu. Itu alasan yang sebenarnya”, ujar Kyuhyun.

.

Aku tidak mencintaimu

Tidak ada alasan lain

Aku bahkan tidak ingin mengatakan maafkan aku

Atau ampuni aku

.

“Tidak. Bukan itu”, Hyesoo kembali menyangkalnya. “Aku tahu apa yang membuatmu bersikap seperti ini padaku, Cho Kyuhyun. Karena Choi Siwon, bukan? Karena kakak sepupumu yang mendonorkan jantungnya padamu itu, bukan?”

.

Tiba-tiba emosi Kyuhyun tersulut. Ekspresi wajahnya berubah menjadi marah. “Jangan asal menduga, Lee Hyesoo. Kau tidak tahu apapun”.

.

“Karena itu, beritahu aku! Jangan hanya bersikap seperti ini. Tapi beritahu aku!!!” seru Hyesoo.

.

“Aish!!! Kenapa aku harus melakukannya? Eo?! Kenapa aku harus repot-repot melakukan hal itu?! Kau bukan siapa-siapa, Lee Hyesoo. Dan semua ini tidak ada hubungannya dengan Choi Siwon”, bentak Kyuhyun.

.

“Jangan bohongi perasaanmu sendiri, Cho Kyuhyun. Selama ini tidak ada perasaan apapun diantara kita? Sedikitpun?” tanya Hyesoo.

.

Hanya itu…

Inilah yang benar-benar aku rasakan

Aku tidak mencintaimu

Aku tidak mencintaimu…

.

“Tidak!!! Aku tidak mencintaimu seperti yang mungkin kau pikirkan, Lee Hyesoo. Tidak pernah sedikitpun”.

.

.

.

.

TBC

Note:

I TOLD YOU! Aku sudah memberitahu kalian sebelumnya ‘kan, readersnim? Akan ada perubahan drastis setelah part 8 yang manis itu. Masalah baru kembali muncul. Kini datang dari Kyuhyun yang menjauhi Hyesoo. Mari berpendapat. Kira-kira menurut kalian apa penyebab Kyuhyun berubah tiba-tiba seperti itu? Jika ingatanku tidak salah, aku belum menjelaskan apapun dalam part ini. Kalau aku tidak salah… But, well, kalian bisa mengutarakan asumsi kalian masing-masing. Ada hal yang sangat jelas dalam part ini. Changmin menyadari perilaku aneh yang ditunjukkan oleh Kyuhyun. Dan Kyuhyun memainkan sebuah pertunjukkan dengan bantuan Hani. Apa tujuan Kyuhyun sebenarnya?

Jujur, dalam penulisan part ini aku menghadapi banyak kesulitan. Pertama, liburan baru usai. Aku baru kembali ke Jakarta setelah melepas penat selama satu minggu di luar kota. Saat sudah berada di Jakarta, aku ingin sekali melanjutkan FF ini. Tapi hawa liburan masih menggerayangi tubuhku. Malesnya nggak ketulungan. Harus dipaksa-paksa dan di niat-niatin dulu. Sampai akhirnya selesai lah part 9 ini. Dan lagi. Kalian (nggak) harus tahu. Ini adalah part penghubung alias jembatan. Aku harus menuliskan pengantar untuk permasalahan sebenarnya di part ini. Sedangkan pikiran dan hatiku sudah dipenuhi dengan kesedihan, kemuraman dan kegalauan untuk part setelah ini. Karena itu, rasanya suliiiiiiittt sekali merangkai love line Kyuhyun dan Hyesoo dalam part ini. Semoga love line singkat diatas tidak mengecewakan kalian. *bow

Part 9 ini masih aku anggap pemanasan, readersnim. Shocking and hurting moment masih aku simpan untuk part selanjutnya. Seperti yang sebelumnya aku katakan pada kalian, bersiaplah untuk kejutan selanjutnya. Apakah Hyesoo akan menyerah? Atau justru tetap kukuh menuntut kebenaran dari Kyuhyun? Sejauh mana keduanya dapat bertahan? Tunggu part selanjutnya! Kana pamit! Annyeonghigaseyo!

Advertisements

32 thoughts on “I’m walking towards you : Part 9

  1. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION – evilkyu0203

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s