I’m walking towards you : Part 8

Category: PG-18, Romance, Chapter

Cast:

Cho Kyuhyun, Lee Hyesoo (OC), Kim Jaejoong, Choi Sooyoung

Lee Donghae, Kang Soyu, Im Yoona, Kim Ryeowook, etc.

Disclaimer:

Annyeonghaseyo!!! “I’m walking towards you” kembali dengan part 8. Aku menyebut part ini sebagai part manis. Kenapa? Kalian akan menemukan jawabannya setelah membaca part ini. Masa-masa memusingkan tidak akan ada dalam part ini. Aku memberikan semacam istirahat atau masa tenang dalam seri FF ini. Setelah 7 part sebelumnya emosi kalian dibuat naik turun, di part 8 ritme alur cerita akan dibuat tanpa ada perubahan emosi yang berlebihan. Ja, daripada penasaran, lebih baik kalian langsung baca saja kelanjutan FF ini.

Caution! Cast dalam FF ini juga akan cukup banyak. Entah hanya sebagai cameo atau sebagai peran pendukung. Karena itu, fokuslah wahai para readers-nim. FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasia tau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com

Aku tidak bosan untuk selalu berpesan, jadilah pembaca yang baik dan sopan. Biasakan untuk tidak bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Karena aku yakin para readers adalah orang-orang yang terpelajar dan mengerti sopan santun. Benar? Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 7

“Kau bersamanya selama dua hari terakhir, bukan? Cho Kyuhyun. Hm?”

“Kau merasa lega karena aku bersama Cho Kyuhyun?”

“Hyung itu sudah menyelamatkan hidupku. Hidupmu. Hidupmu adalah hidupku juga”.

“Bagaimana?”

“Cho Kyuhyun menawarkan diri untuk mendonorkan darahnya”.

“Dia selalu melakukan hal diluar dugaanku”

“Kau menyukainya, bukan?”

“Apa yang sedang kau katakan? Jangan konyol…”

————————-

“Apa lagi yang kau inginkan sekarang, Kang Soyu?”

“Sooyoung-ah, hentikan! Choi Sooyoung!”

“Beraninya kau melakukan hal itu pada kami!”

“Sooyoung-ah, jangan seperti ini”.

“Aku harus memberi pelajaran pada gadis itu”.

“Kalau begitu salahkan aku juga”.

“Tentu saja… Aku menghabiskan dua tahun hidupku untuk menyalahkan kalian berdua”.

————————-

“Banyak hal yang terjadi”.

“Lebih baik menceritakan yang terburuk lebih dahulu. Dengan begitu, cerita yang menyenangkan akan membuatmu sedikit melupakan kejadian buruk itu”.

“Hanya sedikit?”

“Aku yang akan membuatmu melupakan sisanya”.

“Kau benar-benar membuatku jadi gila”.

“Apa yang terjadi?”

“Semua hal yang terjadi sangat rumit. Sulit untuk dimengerti”.

“Dimana bagian terburuknya?”

“Tidakkah kau berpikir bahwa dia adalah gadis yang jahat?”

“Gadis itu tidak bisa menyalahkan si ‘gadis lain’ karena mendapatkan balasan cintanya”.

————————

.

.

.

I’m walking towards you : Part 8

.

.

Author’s POV

BGM Eddy Kim – Sober Up

.

Hyesoo membuka matanya perlahan. Hari sudah pagi. Sinar matahari masuk melalui celah tirai yang terbuka. Ruangan itu masih sangat hening. Hanya ada suara detik jam dinding yang bergerak teratur. Suara helaan lembut napas Kyuhyun yang masih tertidur pulas terdengar di telinga Hyesoo. Kyuhyun membungkus tubuh Hyesoo dengan erat, menjadi selimut tambahan untuk menghangat tubuh bagian atas Hyesoo yang tidak tertutup selimut. Kepala Kyuhyun tepat berada di belakang Hyesoo, membuat Hyesoo bisa merasakan hembusan napas Kyuhyun di tengkuknya. Hyesoo mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya. Hyesoo menggerakkan kepalanya, membenarkan posisi. Dari belakang tubuhnya, Kyuhyun ikut bergerak mendekat, mempererat rengkuhannya. Kini Hyesoo dapat merasakan dada Kyuhyun menempel di punggungnya. Tangan Hyesoo bergerak, menyentuh lengan Kyuhyun yang melingkar di perutnya. Hyesoo menyentuhkan jari-jarinya di sepanjang lengan bawah Kyuhyun, dari pergelangan tangan sampai ke siku, lalu kembali ke pergelangan tangan dan begitu seterusnya, berulang-ulang. Namun tangan Kyuhyun menghentikannya. Kyuhyun bergerak mundur untuk kemudian membalikkan tubuh Hyesoo agar menghadap ke arahnya. Kyuhyun membuka matanya perlahan, menatap wajah Hyesoo dengan mata sayu mengantuknya. Lalu Kyuhyun menarik tubuh Hyesoo masuk ke pelukannya. Ia merasakan helaan lembut napas Hyesoo di dada telanjangnya, mengalirkan desiran aneh dalam perutnya.

.

“Bisakah kita tidur lebih lama pagi ini?” tanya Kyuhyun dengan suara berat dan serak khas bangun tidurnya.

.

“Kita sudah tidur terlalu lama”, kata Hyesoo dengan suara pelan.

.

“Kita berada di tempat tidur untuk waktu yang lama. Tapi kita belum menghabiskan waktu yang lama untuk tidur. Dua hal itu sangat berbeda, Hyesoo-ya”, kata Kyuhyun meluruskan keadaan yang sebenarnya.

.

“Benarkah? Aku merasa seperti sudah mendapatkan tidur yang cukup. Memangnya jam berapa kita tidur semalam?” tanya Hyesoo.

.

“Molla…” jawab Kyuhyun dengan malas, masih dengan mata terpejamnya. Tiba-tiba Kyuhyun membuka matanya dengan cepat. “Ah, aku ingat. Aku sempat melihat jam saat kau mengatakan, ‘aku tidak suka tidur dengan tubuh yang lengket karena keringat. Aku ingin mandi tapi tidak mau berjalan ke kamar mandi’. Kira-kira jam 3 lebih beberapa belas menit. Mwoya Lee Hyesoo… Membuatku semakin lelah saja. Padahal kita bisa langsung tidur saja tanpa harus mandi terlebih dahulu”, kata Kyuhyun mengeluh.

.

“Ch… Kau berlagak seolah menolak permintaanku. Tapi pada akhirnya kau tetap membawaku ke kamar mandi”, balas Hyesoo.

.

Kyuhyun berdengus mendengar ucapan Hyesoo. Ia melepaskan pelukannya, memberi jarak sedikit diantara mereka. Kyuhyun menatap mata Hyesoo dengan tatapan tajam, namun dengan senyuman di bibirnya.

.

“Karena kau mengatakan padaku bahwa kau ingin mandi. Jika ada, tolong beritahu aku alasan mengapa aku harus menolak kesempatan menghemat penggunaan air yang sangat menyenangkan itu”, kata Kyuhyun menggoda Hyesoo.

.

“Tidak ada. Penghematan air adalah tindakan yang sangat baik, bukan?” kata Hyesoo balas menggoda Kyuhyun.

.

Sontak Kyuhyun memejamkan mata dan menghela napas panjang. “Ah… Apa yang kau lakukan padaku, Lee Hyesoo? Hari masih pagi. Matahari baru terbit beberapa jam yang lalu. Dan rasa lelah ini belum meninggalkan tubuhku. Rasanya seperti baru saja digunakan untuk berlari mengelilingi sungai Han sambil mengangkat sapi”.

.

“Apa? Aku tidak melakukan apapun. Ada apa denganmu?” kata Hyesoo yang tertawa kecil sambil menepuk pelan dada Kyuhyun.

.

Kyuhyun kembali menyentuh tangan Hyesoo, menahan tangan kurus itu tetap berada di dadanya untuk merasakan detak jantungnya. Ia membuka matanya, menatap Hyesoo dengan tatapan lembut yang juga masih terlihat mengantuk. Hyesoo pun melepaskan tangannya dari tahanan Kyuhyun. Kemudian Hyesoo menggerakkan tangannya untuk menyentuh wajah Kyuhyun. Hyesoo mengusap kening lalu pipi Kyuhyun. Hyesoo menghentikan tangannya tepat di rahang Kyuhyun. Hyesoo memberikan usapan lembut di pipi Kyuhyun dengan ibu jarinya, mengundang senyuman di bibir Kyuhyun. Beberapa saat setelahnya, Kyuhyun meraih tangan kurus itu dari pipinya, lalu memberikan sebuah kecupan singkat di telapak tangan Hyesoo sebelum menggenggam dan meletakkan tangan itu di dadanya. Kyuhyun bergerak cepat mengubah posisi mereka. Kini Kyuhyun berada diatas tubuh Hyesoo, menopang tubuhnya dengan kedua siku yang berada di samping kanan dan kiri tubuh Hyesoo. Kyuhyun bergerak mendekat ke wajah Hyesoo. Ujung hidung mereka bersentuhan. Kyuhyun terus menyentuh hidung Hyesoo, menggerakkan naik agar dagu Hyesoo terangkat. Tawa kecil terdengar keluar dari bibir keduanya. Senyum lebar diwajah mereka begitu selaras, serupa bagai bercermin pada satu sama lain.

.

Kyuhyun pun menghapus jarak dan senyum diantara mereka, menggantikannya dengan kecupan lembut di bibir Hyesoo. Mata keduanya terpejam. Kyuhyun melumat bibir Hyesoo dengan lambat, membiarkan sentuhan demi sentuhan mengalirkan getaran aneh di setiap peredarah darah. Hyesoo melingkarkan tangannya di leher Kyuhyun, membuat ciuman keduanya semakin dalam. Mereka tersenyum bersamaan ditengah ciuman panjang itu. Lingkaran tangan Hyesoo di leher Kyuhyun melonggar, lalu memindahkan sebelah tangannya ke bahu bagian belakang. Tangan Hyesoo yang lain masih berada di belakang kepala Kyuhyun, meremas rambut hitam ikal itu. Kyuhyun menggigit pelan bibir bawah Hyesoo sebelum kembali memperdalam ciumannya. Sesaat kemudian, keduanya saling melepaskan diri. Mata mereka bertemu dan senyum kembali menghiasi wajah mereka.

.

“Bagaimana kabarmu pagi ini?” tanya Kyuhyun.

.

Never been better (sangat baik)”, jawab Hyesoo sambil mengubah posisinya, berbaring miring. “Bagaimana denganmu?”

.

Kyuhyun tersenyum lebar karena mendengar jawaban Hyesoo. Ia pun memberikan kecupan lembut di pipi dan pelipis Hyesoo, lalu sebuah kecupan lain di bahu Hyesoo yang terbuka karena sweater Kyuhyun yang terlalu besar di tubuhnya. Kyuhyun membaringkan tubuhnya lagi dibelakang Hyesoo. Kemudian Kyuhyun merengkuh Hyesoo ke dalam pelukannya, menjadikan lengannya sebagai bantal bagi kepala Hyesoo.

.

Best condition ever (kondisi terbaik yang pernah aku rasakan)”, jawab Kyuhyun. “Aku bersungguh-sungguh dengan pertanyaanku tadi, Hyesoo-ya. Bisakah kita tidur lebih lama pagi ini?”

.

Hyesoo berdengus. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman manis. Lalu Hyesoo berbalik kembali menghadap Kyuhyun. Tangan kanannya menjalar melalui pinggang menuju punggung Kyuhyun. Sebuah kecupan mendarat di tulang selangka Kyuhyun sebelum Hyesoo mempererat pelukannya di tubuh Kyuhyun.

.

“Tentu saja”, jawab Hyesoo setelahnya.

.

Kyuhyun mengecup kening Hyesoo. Matanya sudah terpejam dan rasa kantuknya sudah kembali. Tidak ada lagi perbincangan yang terdengar dari keduanya. Karena hanya 5 menit setelah kata yang diucapkan Hyesoo, keduanya sudah kembali terlelap ke alam mimpi.

.

.

BGM: Lee Hi – My Star

.

.

Kyuhyun membuka matanya. Suara juicer dari arah dapur membangunkannya dari tidur lelap pagi hari nya di akhir minggu. Kyuhyun mengerjapkan mata untuk mengumpulkan kesadarannya, masih dalam posisi tengkurap. Sampai suara juicer berhenti, digantikan dengan suara musik dan lantunan suara merdu Hyesoo menarik perhatiannya. Kyuhyun membalikkan posisinya lalu meregangkan otot-otot tubuhnya yang sudah terasa lebih baik dari sebelumnya. Suara merdu Hyesoo yang melantunkan barisan nada tanpa meleset membuat senyum Kyuhyun mengembang. Kyuhyun pun bangun dan duduk di tempat tidur dengan selimut yang masih menutupi tubuh bagian bawahnya. Dari pintu yang terbuka, Kyuhyun bisa melihat sosok Hyesoo yang sedang menggerakkan tubuhnya mengikuti beat lagu yang sedang didengar dan dinyanyikannya. Senyum di wajah Kyuhyun semakin mengembang dibuatnya.

.

Neon naui star

Neon naui sun

Neon naui moon

Sesangeul da gatjin neukkim

I feel I feel good… I feel good when I’m with you

.

Tawa kecil keluar dari bibir Kyuhyun saat melihat Hyesoo menari dan bernyanyi menggunakan sebuah wortel sebagai microphone nya. Kyuhyun menggelengkan kepalanya, takjub dengan pemandangan menyenangkan yang tertangkap kedua matanya. Kyuhyun segera menyingkirkan selimut di pangkuannya, memperlihatkan celana piyama abu-abu gelap yang ia kenakan. Kyuhyun berjalan menuju lemari pendek melebar di seberang tempat tidurnya, mengambil T-shirt hitam untuk di kenakan. Kyuhyun mengenakan T-shirtnya sambil berjalan keluar dari kamar, tidak sabar ingin segera menghampiri Hyesoo yang sedang berpesta di dunia nya sendiri. Namun Hyesoo sedang berdiri memunggunginya saat langkah Kyuhyun sudah mendekati dapur. Kyuhyun berhenti di meja bar dapur lalu meletakkan kedua tangannya disana untuk menopang tubuh bersandarnya. Sesaat kemudian, Hyesoo berbalik dengan dua gelas jus ditangannya. Senyum Hyesoo mengembang saat melihat Kyuhyun yang berdiri memperhatikannya.

.

“Menikmati pemandangan pagimu?” tanya Hyesoo sambil meletakkan gelas-gelas ditangannya di meja bar.

.

No pants, huh?” tanya Kyuhyun menggoda Hyesoo yang terlihat hanya mengenakan sweater milik Kyuhyun dengan rambut di kepang yang jatuh di sebelah bahunya.

.

Why? Nice legs, right?” Hyesoo balas bertanya dengan senyum dibibirnya.

.

I know exactly how nice they are“, jawab Kyuhyun yang sudah duduk di salah satu kursi. “Kemarilah…”

.

Hyesoo berjalan memutari meja bar untuk menghampiri Kyuhyun. Tangan Hyesoo meraih salah satu tangan merentang Kyuhyun yang membawa Hyesoo ke pangkuannya, diikuti dengan sebuah kecupan singkat di bibir setelahnya.

.

“Cara membangunkan yang kreatif, Lee Hyesoo”, kata Kyuhyun.

.

“Kau terbangun karena suara juicer?” tanya Hyesoo.

.

“Mungkin… Tapi tarian Lee Hyesoo yang hanya menggunakan sweater kebesaran membuat kesadaranku datang lebih cepat”, jawab Kyuhyun.

.

“Hm… Mwo… Aku memang memiliki bakat terpendam dalam menari. Bukan hal mencengangkan untuk di dengar”, kata Hyesoo dengan nada bercandanya. “Kau ingin apa untuk sarapan?”

.

“Neo (kau)”, jawab Kyuhyun cepat. Sontak Hyesoo menepuk lengan Kyuhyun dengan cukup keras. “Akh! Apa salahku? Kau harus mendengarkan kalimatku sampai selesai terlebih dahulu sebelum memukulku. Neo…ga mandeuneun eumsik (makanan yang kau buat). Aku ingin mengatakan itu padamu”.

.

“Ch…” Hyesoo berdiri, melepaskan diri dari Kyuhyun. Hyesoo berjalan menuju lemari es untuk mengambil bahan makanan. “Siapa yang sedang kau coba kelabuhi, Cho Kyuhyun? Semua hal yang ada di pikiranmu tertulis jelas di wajahmu”, sambung Hyesoo.

.

“Apa rencana mu hari ini?” tanya Kyuhyun yang tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.

.

“Mwoya… Perubahan topik yang sangat mencurigakan”, kata Hyesoo yang sedang memeriksa bahan makanan dalam lemari es Kyuhyun.

.

Tiba-tiba tubuh Hyesoo ditarik ke belakang dan pintu lemari es ditutup oleh Kyuhyun. Sebuah pelukan kembali membungkus tubuh kurus Hyesoo. Kyuhyun melangkahkan kakinya ke kanan dan kiri, membawa Hyesoo ikut melangkah bersamanya. Kedua tangan Kyuhyun yang melingkar di perut Hyesoo menjadi semakin erat. Kyuhyun juga meletakkan kepalanya di bahu Hyesoo. Keduanya bergerak mengikuti irama musik yang keluar dari sebuah pemutar musik di ujung meja dapur. Hyesoo menyentuh lengan Kyuhyun di perutnya. Kemudian Hyesoo menolehkan kepalanya pada Kyuhyun, membuat kening Hyesoo menyentuh pelipis Kyuhyun yang memejamkan matanya. Mereka berdansa mengikuti iringan musik yang mengalun lembut memenuhi seluruh ruangan. Tawa kecil terdengar dari keduanya.

.

“Bagaimana kalau kita keluar hari ini? Kita bisa kemanapun kau mau. Kau juga boleh memilih makanan yang kau inginkan. Apapun. Bagaimana?” tanya Kyuhyun.

.

“Bukan ide yang buruk. Kita bisa berjalan tanpa tujuan dan mendatangi banyak tempat”, jawab Hyesoo.

.

“Benar. Dan kau memiliki kebebasan untuk memilih semuanya”, sambung Kyuhyun.

.

“Kebebasan yang lain. Ada berapa kebebasan yang kau rencanakan untuk diberikan padaku, Cho Kyuhyun?” tanya Hyesoo dengan senyum diwajahnya.

.

“Sebanyak yang ku bisa. Sebanyak yang kau inginkan”, jawab Kyuhyun.

.

“Baiklah! Kita pergi sekarang?”

.

“Sekarang”, kata Kyuhyun.

.

“Tapi……”

.

“Hm? Ada apa?” tanya Kyuhyun.

.

“Bukahkah seharusnya kau melepaskan aku setelah mengatakan kata sekarang?” tanya Hyesoo yang mengundang tawa Kyuhyun.

.

“Arasseo… Segeralah bersiap”, kata Kyuhyun sambil melepaskan Hyesoo dari pelukannya.

.

“Ah, benar… Aku tidak membawa pakaian ganti. Bagaimana ini? Sepertinya aku harus berganti pakaian terlebih dahulu ke rumah”, kata Hyesoo.

.

“Jungsoo hyung sudah membelikannya untukmu. Pakaianmu sudah ada di closet (ruang pakaian)”, kata Kyuhyun.

.

“Lagi?” tanya Hyesoo. Kyuhyun tersenyum tipis untuk menjawab pertanyaan Hyesoo. “Kau selalu saja merepotkan orang lain”.

.

“Aku hanya meminta bantuannya sesekali. Lagipula aku selalu menolak penjagaan dan semua bantuan yang ditawarkannya. Dia harus bekerja sesekali”, kata Kyuhyun membela diri.

.

“Baiklah… Baiklah… Hanya sesekali… Aku akan mengganti pakaian terlebih dahulu. Cuci mukamu”, kata Hyesoo yang segera berlalu menuju ruang pakaian.

.

.

BGM: Kim EZ – Scattered

.

.

Tangan Hyesoo dan Kyuhyun saling menggenggam begitu erat. Mereka berjalan menyusuri deretan panjang pertokoan, cafe dan gedung-gedung di daerah apgujeong. Sesekali saat suasana disekeliling mereka berubah bising, mereka saling menarik tangan satu sama lain, membuat tubuh mereka berdekatan untuk memudahkan mendengar suara satu sama lain. Hyesoo pun beberapa kali meletakkan kepalanya di bahu Kyuhyun sambil terus berjalan beriringan dan berbincang. Tidak jarang tawa serentak terdengar keluar dari bibir mereka. Tiba-tiba Kyuhyun menghentikan langkahnya, membuat langkah Hyesoo ikut terhenti bersamanya.

.

“Ada apa?” tanya Hyesoo.

.

“Ayo kita ke cafe itu”, ajak Kyuhyun yang sedang menunjuk sebuah cafe bernama ‘Zoete Verdriet’ yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat mereka berdiri.

.

“Apakah menurutmu cafe itu tidak terlalu gelap?” tanya Hyesoo lagi, sambil memandangi exterior cafe. “Mereka memilih hitam dope sebagai warna dasar exterior. Sangat tidak biasa”.

.

“Tenang saja. Cafe itu tidak segelap yang tampak dari luar. Interior nya cerah dan nyaman”, kata Kyuhyun meyakinkan.

.

“Apa ada hal yang istimewa dari cafe itu? Yang tidak dimiliki cafe lain…” kata Hyesoo mencoba melakukan negosiasinya.

.

“Tentu saja ada. Pertama, cafe itu menyediakan cokelat, baik panas ataupun dingin dengan berbagai pilihan”, jawab Kyuhyun.

.

“Okay… Dan? Jika ada pertama, maka seharusnya ada kedua atau bahkan ketiga. Apalagi?” tanya Hyesoo.

.

“Kedua… Hm…” Kyuhyun bergumam, seolah sedang memikirkan kata apa yang harus ia katakan, membuat Hyesoo menoleh padanya dengan cepat. “Cafe itu milik temanku”.

.

“Jinjja? Apakah kalian berhubungan dengan sangat baik?” tanya Hyesoo dengan senyum mengembang penuh makna di wajahnya.

.

“Eo… Sangat baik. Kenapa?” Kyuhyun balas bertanya.

.

“Aku berpikir mungkin kita bisa mendapatkan potongan harga”, jawab Hyesoo dengan senyum riangnya.

.

Kyuhyun dibuat ikut tersenyum mendengar ucapan Hyesoo. “Tentu saja. Bahkan kita bisa mendapatkan makanan dan minuman secara free. Semua pegawai di cafe itu sudah mengenalku dengan baik”, kata Kyuhyun membanggakan akses menguntungkannya.

.

Call! Ayo kita kesana!” kata Hyesoo dengan bersemangat.

.

Namun Kyuhyun tidak segera melangkahkan kakinya. Ia justru menatap Hyesoo dengan tatapan bingungnya. Hyesoo balas menatap Kyuhyun, masih dengan wajah cerah dan senyum riang yang terbentuk di bibirnya. Mata Hyesoo pun terlihat lebih berbinar dari sebelumnya.

.

“Ada apa? Kenapa kaki mu tidak segera bergerak?” tanya Hyesoo.

.

“Apakah kau menyadari bahwa saat ini kau bersikap cukup aneh?” Kyuhyun balas bertanya.

.

“Aku? Aku baik-baik saja. Kenapa? Apa yang salah dariku?”

.

“Tidakkah kau menyadari keraguanmu untuk masuk ke cafe itu beberapa saat yang lalu? Sekarang apa ini? Hanya dengan melihat wajahmu saja aku bisa mengetahui betapa gembiranya dirimu”, kata Kyuhyun.

.

“Aku hanya membantumu dalam memanfaatkan akses tak terbatasmu di cafe itu. Lagipula, kita tidak boleh menyiakan kesempatan menyenangkan itu, bukan?” kata Hyesoo dengan nada persuasifnya. “Apa lagi yang kau tunggu? Ayo! Ada berbagai pilihan cokelat disana, bukan? Aku sangat ti…dak sabar untuk mencicipinya”, sambung Hyesoo yang sudah berjalan beberapa langkah di depan Kyuhyun sambil menarik tangan Kyuhyun.

.

“Yah… Cokelat apa yang sedang kau bicarakan? Aku bisa membaca tulisan ‘gratis’ yang sangat besar di keningmu. Cham… Kau benar-benar tidak mahal, Lee Hyesoo” keluh Kyuhyun dengan nada mengejek bercandanya, namun ia tetap saja melangkahkan kakinya menuruti ajakan Hyesoo.

.

“Itu adalah salah satu pesona ku. Kau tidak mengetahuinya? Ch… Banyak hal yang masih perlu kau ketahui tentangku”, balas Hyesoo dengan nada riang yang sama.

.

“Selamat datang…” kata setiap karyawan di cafe itu saat Kyuhyun dan Hyesoo masuk melalui pintu yang berbunyi.

.

“Eo! Annyeonghaseyo!” sapa seorang karyawan dibalik meja kasir yang menunjukkan ekspresi familiarnya pada Kyuhyun. “Silahkan sebutkan pesanan anda”.

.

“Aku ingin yang seperti biasa, Jongdae-ssi”, kata Kyuhyun menyebutkan pesanannya. “Apa yang kau inginkan?” tanya Kyuhyun pada Hyesoo.

.

“Aku sedikit penasaran dengan cokelat yang kau ceritakan”, jawab Hyesoo.

.

“Ah… Aku mengerti. Kalau begitu, tolong berikan gadis cantik ini Swiss milk ice chocolate dan sebuah croissant manis tanpa topping. Hm… Bisakah kau memberikan tester beberapa cokelat istimewa kalian hari ini, Jongdae-ssi?” kata Kyuhyun.

.

“Ne, tentu saja. Silahkan bergeser ke samping untuk melakukan testing”, jawab karyawan yang bernama Jongdae itu.

.

“Bergeserlah sampai ujung meja, Hyesoo-ya”, kata Kyuhyun setelah memberikan senyuman tanda terima kasih pada Kim Jongdae.

.

“Kenapa kau memesankan makanan dan minuman manis reguler untukku? Bukankah di cafe lain juga menyajikan keduanya? Apakah ada perbedaan di cafe ini?” tanya Hyesoo penasaran.

.

“Kau bisa mengubah pesananmu setelah merasakan tester yang mereka berikan. Aku memesankan makanan dan minuman manis itu untuk menetralkan lidahmu, sayang” kata Kyuhyun sambil membelai kepala Hyesoo.

.

“Rupanya kita sedang memainkan permainan menebak dan menduga-duga. Kau tetap tidak akan mengungkapkannya padaku meski ku paksa, kan?” tanya Hyesoo dengan mata menyipit ala detektif di acara komedi televisi.

.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar. “Aku hanya akan menyediakan penawarnya seperti biasa”, jawab Kyuhyun.

.

“Baiklah. Aku terima tantanganmu”, kata Hyesoo dengan senyum mengembangnya.

.

“Ini tester yang anda minta, tuan. Saya memilih yang highly recommended di cafe kami. Silahkan, agassi”, kata Kim Jongdae yang datang dengan tiga gelas kecil cokelat hangat dan segelas air putih.

.

“Bagaimana urutannya, Jongdae-ssi?” tanya Kyuhyun.

.

“Dari yang paling kiri, tuan” jawab Jongdae seolah mengerti makna dibalik pertanyaan Kyuhyun.

.

“Kau ingin mulai dari yang paling kuat atau yang paling sederhana, Hyesoo-ya?” tanya Kyuhyun pada Hyesoo kali ini.

.

“Hm… Gambling time, isn’t it? Hm… Sederhana”, kata Hyesoo.

.

Kyuhyun tersenyum lebar sebelum menunjuk salah satu cangkir kecil cokelat hangat di hadapannya. “Minum yang paling kanan”, kata Kyuhyun.

.

Hyesoo menoleh pada Kyuhyun, lalu tertawa kecil karena debaran jantungnya meningkat sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Hyesoo pun menyentuhkan tangannya di cangkir paling kanan yang ditunjuk Kyuhyun. Hyesoo mendekatkan cangkir itu ke bibirnya, lalu menghirup sebentar aroma yang tercium dari cangkit kecil itu. Ekspresi Hyesoo melembut saat aroma nikmat itu menghampiri hidungnya. Sesaat kemudian, Hyesoo segera memasukkan cokelat hangat itu ke mulutnya.

.

“Emm… Ini enak. Manis dan creamy, tapi tidak terlalu kental”, kata Hyesoo setelah mencoba cangkir pertamanya.

.

“Spain?” kata Kyuhyun yang menatap Jongdae, menebak sesuai analisa yang diberikan Hyesoo.

.

“Ne, anda benar. Silahkan cangkir yang kedua anda, agassi”, kata Jongdae mempersilahkan.

.

Hyesoo meletakkan gelas air mineral yang baru saja diminumnya, sebelum melanjutkan proses testing berikutnya. Kali ini Hyesoo mengambil cangkir kedua tanpa ragu. Namun kening Hyesoo justru berkerut saat hidungnya mencium aroma dari cangkir itu. Begitupun dengan Kyuhyun yang menyaksikan proses percobaan Hyesoo. Ada beberapa aroma yang tercium dari cangkir itu, membuat Hyesoo penasaran sekaligus khawatir dengan rasa cokelat dari cangkir kedua itu. Hyesoo pun kembali menenggak cokelat dari cangkir kecil di tangannya. Tidak ada keanehan berarti seperti dugaan Hyesoo sebelumnya. Namun Hyesoo belum menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang ia rasakan di lidahnya.

.

“Ada rasa lain dalam cokelat ini. Pahit dan manis menjadi satu. Tidak ada yang lebih dominan. Tapi rasa pahit ini perlahan berubah menjadi manis. Rasa yang tidak asing di lidahku. Seperti……wine?” kata Hyesoo mencoba menjelaskan. Kemudian Hyesoo kembali meminum seteguk air putih untuk menghilangkan sedikit jejak rasa cokelat dari cangkir kedua.

.

“Benar, Hyesoo-ya. Itu wine”, kata Kyuhyun meyakinkan Hyesoo. “France?” tebak Kyuhyun kali ini.

.

“Favorite anda, tuan Cho”, kata Jongdae sambil mengangguk singkat. “Ini cangkir ketiga anda, agassi”, sambung Jongdae.

.

Hyesoo kembali mengambil cangkir tester itu tanpa ragu. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan perubahan apapun. Berbanding terbalik dengan Kyuhyun. Ada kerutan di kening Kyuhyun saat Hyesoo menyentuh cangkir ketiganya itu. Kyuhyun juga menggigit bibir bawahnya, menunjukkan kekhawatirannya.

.

“Hati-hati. Itu yang paling kuat, ingat?” kata Kyuhyun memperingati Hyesoo.

.

“Ah, benar. Aku hampir saja melupakannya. Apakah begitu kuat?” tanya Hyesoo dengan keraguan yang tiba-tiba menghampirinya.

.

“Cukup kuat sampai membuatmu sulit untuk melupakannya”, jawab Kyuhyun. “Aku pikir sepertinya kau tidak perlu mencobanya. Cukup sampai cangkir kedua saja”.

.

“Tidak. Tidak. Jika aku tidak mencobanya sekarang, maka aku akan merasa penasaran terus menerus. Aku akan mencobanya”, kata Hyesoo memantapkan hatinya.

.

“Perlahan……Hyesoo-ya” kata Kyuhyun dengan jeda dalam kalimatnya. “Sedikit saja. Tidak perlu semuanya”.

.

Hyesoo pun mencicipi cokelat di cangkir terakhir yang disajikan Jongdae. Seperti saran yang diberikan Kyuhyun, Hyesoo hanya memasukkan sedikit saja cairan itu ke dalam mulutnya. Tiba-tiba Hyesoo memejamkan matanya dan menoleh ke arah lain. Hyesoo kembali menghadap pada Kyuhyun dengan ekspresi yang tidak benar-benar baik di wajahnya. Keningnya berkerut dan tidak ada senyuman di bibirnya. Hyesoo bahkan menggigit pelan lidahnya, lalu bibir bawahnya. Bahkan tidak ada kata yang keluar dari bibir Hyesoo kali ini. Hyesoo bergerak maju, kemudian meletakkan kepalanya di bahu Kyuhyun. Ia mengangkat bahunya sebelum kembali menjauh dari Kyuhyun. Hyesoo menggelengkan kepalanya cepat, mencoba mengembalikan kewarasannya yang seolah menghilang sesaat setelah cokelat di cangkir ketiga menyentuh lidahnya.

.

“Aku hanya punya satu kata untuk menjelaskan cokelat di cangkir ketiga. Pahit…” kata Hyesoo akhirnya.

.

“Belgian dark chocolate. Sudah ku duga…” kata Kyuhyun.

.

Disaat bersamaan, pesanan Kyuhyun sudah disediakan di hadapan mereka. Kyuhyun yang tersenyum miris segera mengambil cangkir besar yang berisikan Swiss milk ice chocolate, lalu mengajukannya pada Hyesoo. Cangkir itu berpindah ke tangan Hyesoo dengan cepat. Hyesoo segera meminum dua teguk dari cangkir besar ditangannya agar rasa pahit di lidahnya menghilang. Hyesoo kembali menyerahkan cangkir itu ke tangan Kyuhyun. Pahitnya dark chocolate belum juga hilang dari lidahnya. Kyuhyun menjulurkan tangannya, lalu Hyesoo menyentuhkan tangannya di atas tangan Kyuhyun. Hyesoo meremas pelan lengan bawah Kyuhyun, mengekspresikan rasa pahit yang dirasakannya. Keduanya sontak tertawa bersamaan saat melihat ekspresi satu sama lain.

.

“Aku sudah mengatakannya padamu. Seharusnya kau berhenti di cangkir kedua saja”, kata Kyuhyun sambil memberikan sehelai tissue pada Hyesoo.

.

“Rasa pahitnya masih sedikit terasa di lidahku. Wah… Benar-benar kuat”, kata Hyesoo. “Adakah orang yang memesannya, Jongdae-ssi?”

.

“Ne, tentu saja, agassi. Belgian dark chocolate kami memiliki penggemarnya sendiri”, jawab Jongdae.

.

“Wah… Orang-orang itu luar biasa. Mungkin hidup mereka begitu manis, jadi mereka membutuhkan rasa pahit ini”, kata Hyesoo memberikan tanggapannya.

.

“Tapi, Hyesoo-ya… Bagaimana bisa wajahmu tetap terlihat cantik saat menunjukkan ekspresi tersiksa rasa pahit seperti tadi? Aku sampai kehilangan akal untuk memberikan ekspresi padamu”, kata Kyuhyun.

.

Seketika wajah Hyesoo berubah. Ada senyuman manis di wajah itu. “Ch… Aku memang selalu cantik. Kau baru menyadarinya?” kata Hyesoo dengan nada bercandanya. ” Ayo kita duduk. Terima kasih banyak, Kim Jongdae-ssi. Maaf merepotkanmu”, sambung Hyesoo.

.

“Ne, agassi. Sudah tugasku. Selamat menikmati hidangan anda”, kata Jongdae setelahnya.

.

Hyesoo pun berjalan menuju tempat duduk yang menempel pada dinding disisi dalam cafe. Ia memilih sebuah tempat yang dikelilingi dengan sofa sebagai tempat duduknya. Kyuhyun mengikuti Hyesoo di belakang dengan nampan ditangannya. Keduanya duduk saling berhadapan. Kyuhyun meletakkan cangkir dan piring yang ada di nampan ke meja dihadapan mereka. Lalu menyingkirkan nampan itu ke sisi kosong di meja itu. Kyuhyun juga meletakkan beberapa lembar tissue di hadapan Hyesoo.

.

“Kau selalu melakukan ini?” tanya Hyesoo.

.

“Apa?” Kyuhyun balas bertanya sambil menatap sekilas pada Hyesoo sebelum kembali pada kegiatannya mengatur meja.

.

“Mengatur hidangan diatas meja untuk seorang gadis. Kau sering melakukannya untuk gadis lain?” tanya Hyesoo lagi.

.

“Kau yang pertama”, jawab Kyuhyun singkat.

.

“Eeiiii… Tidak mungkin. Kau sudah berkencan dengan banyak gadis. Pasti kau sering melakukan ini, ‘kan? Katakan padaku. Apalagi yang pernah kau lakukan pada mereka?” tanya Hyesoo dengan nada ingin tahu riangnya.

.

“Tidak ada. Aku sudah bilang kau yang pertama”, kata Kyuhyun yang menatap tepat ke mata Hyesoo.

.

“Benarkah? Kenapa?” tanya Hyesoo heran.

.

“Kau bertanya kenapa? Seharusnya kau merasa senang karena aku hanya melakukan ini untukmu”.

.

“Bukan begitu. Kenapa kau tidak melakukannya juga pada mereka? Kenapa hanya padaku?” tanya Hyesoo.

.

“Mereka tidak bisa dibandingkan denganmu, Lee Hyesoo. Sejak awal pun mereka tidak sama. Mereka mengejarku. Aku mengejarmu. Bukankah hal itu sudah bisa dijadikan jawaban atas pertanyaanmu?” kata Kyuhyun.

.

Oh my God… Cho Kyuhyun… Kau bisa meminta apapun dariku. Saat ini aku merasa seperti aku bisa melakukan semua hal”, kata Hyesoo dengan wajah tersipu.

.

“Aku yang akan melakukan semua hal yang kau inginkan. Kau hanya perlu mengatakannya padaku tanpa ragu”, kata Kyuhyun.

.

Senyum Hyesoo semakin mengembang. Hyesoo pun menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena debaran aneh yang ia rasakan. “Ah, eotteokhae… Naega wae ireohke haengbokhaji? (Ah, bagaimana ini… Kenapa aku sebahagia ini?)” kata Hyesoo pada dirinya sendiri.

.

Kyuhyun kembali menjulurkan tangannya, meminta tangan Hyesoo untuk menyentuhnya. Sesaat kemudian, Hyesoo meletakkan tangannya diatas tangan Kyuhyun yang berada diatas meja. Kyuhyun menggenggam tangan Hyesoo sambil tersenyum pada Hyesoo. Senyuman itu seolah menghantarkan getaran melalui sentuhan tangan mereka, membawanya ke seluruh tubuh Hyesoo dan membuat senyum Hyesoo lebih mengembang dari sebelumnya. Hyesoo tersipu malu, hingga tidak mampu menatap ke mata Kyuhyun. Hyesoo menutupi bibirnya dengan tangan bebasnya, menyembunyikan senyum lebarnya. Kemudian Kyuhyun mengetuk punggung tangan pelan dengan telunjuknya, membuat Hyesoo kembali menoleh pada Kyuhyun.

.

“Biarkan aku menatap wajahmu. Aku sedang berusaha mengisi ulang energiku”, kata Kyuhyun.

.

Wajah Hyesoo memerah. Ini adalah kali pertama bagi Kyuhyun melihat wajah tersipu malu yang menenangkan hatinya. Kali pertama yang lain. Selalu ada hal baru yang ia dapatkan saat bersama Hyesoo. Sebelumnya Kyuhyun tidak pernah merasa sebahagia ini hanya dengan melihat senyuman dan buratan merah di pipi seorang gadis. Tapi tentu saja, gadis yang sedang duduk di hadapannya tidak bisa disamakan dengan gadis lain. Gadis ini istimewa.

.

“Kau membutuhkan sesuatu?” tanya Kyuhyun.

.

“Eung…” jawab Hyesoo dengan gumamannya.

.

“Apa itu? Katakan padaku”, kata Kyuhyun.

.

“Tidak bisa dikabulkan di tempat ini”, jawab Hyesoo dengan kalimat ambigu.

.

“Tidak bisa? Kenapa? Kau membuatku penasaran, Lee Hyesoo. Tolong katakan padaku. Apa yang kau inginkan?” tanya Kyuhyun ingin tahu.

.

“Aku ingin memelukmu”, jawab Hyesoo berbisik dengan buratan merah di kedua pipinya.

.

Sontak Kyuhyun tertawa kecil setelah mendengar jawaban Hyesoo. Kyuhyun berdeham cepat untuk menghilangkan tawa konyolnya. Namun ia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Kedua sudut bibirnya tertarik begitu jauh, membentuk senyuman senang yang sangat jarang terlihat diwajahnya. Kyuhyun berdeham sekali lagi. Lalu ia bangkit berdiri dan berjalan memutari meja yang berada diantara mereka, melepaskan genggaman tangannya. Kyuhyun berpindah duduk disamping Hyesoo. Kyuhyun menyelipkan tangannya ke belakang pinggang Hyesoo, untuk meraih tubuh Hyesoo mendekat padanya.

.

“Hal ini bisa dilakukan di tempat ini dengan mudah, my dear”, kata Kyuhyun yang kemudian memberikan kecupan manis di pelipis kanan Hyesoo. “Kau hanya perlu datang ke pelukanku, atau aku yang akan meraihmu dalan rengkuhanku”.

.

Hyesoo meletakkan kepalanya di bahu Kyuhyun kemudian memejamkan matanya, merasakan aroma sejuk tubuh Kyuhyun yang menggelitik indera penciumannya. Kyuhyun mengecup puncak kepala Hyesoo dan tetap bertahan dalam posisi itu selama beberapa saat. Hyesoo pun membuka matanya. Ia menjulurkan tangannya, meraih cangkir yang ada diatas meja. Hyesoo menyesap manisnya cokelat dalam cangkir besar itu. Hyesoo menegakkan posisi duduknya lalu menghadapkan tubuhnya pada Kyuhyun. Hyesoo mengajukan cangkir ditangannya pada Kyuhyun, menawarkan miliknya. Kyuhyun baru bermaksud untuk meraih cangkir itu, namun Hyesoo justru menggelengkan kepalanya, membuat kening Kyuhyun berkerut karena bingung. Hyesoo mendekatkan cangkirnya ke bibir Kyuhyun, meminta Kyuhyun untuk meminum cokelat itu dari tangannya. Kyuhyun melakukan seperti yang diinginkan Hyesoo tanpa penolakan. Kyuhyun menjilat bibirnya setelah tegukan pertamanya. Ekspresi wajahnya berubah.

.

“Manis”, kata Kyuhyun setelahnya.

.

“Hhh…” Hyesoo berdengus mendengar ucapan Kyuhyun.

.

Hyesoo kembali meletakkan cangkir ditangannya ke atas meja, kemudian kembali duduk menghadap pada Kyuhyun. Hyesoo meletakkan sikunya diatas sandaran sofa sebelum menyentuhkan di rambut Kyuhyun. Hyesoo menyentuh helaian rambut hitam ikal milik Kyuhyun, merapikan barisan rambut yang menutupi keningnya.

.

“Aku suka potongan rambutmu”, kata Hyesoo. “Jangan merubahnya”.

.

“Kau menyukai semua hal yang ada pada diriku”, kata Kyuhyun dengan percaya diri.

.

“Aku tidak akan menyangkalnya”, balas Hyesoo.

.

“Kau tidak ingin menanyakannya padaku?” tanya Kyuhyun.

.

“Tentang apa?” Hyesoo balas bertanya.

.

“Apakah aku menyukaimu juga”, jawab Kyuhyun.

.

“Tidak perlu”, kata Hyesoo sambil menggeleng pelan.

.

“Kenapa begitu?” tanya Kyuhyun.

.

“Semua sikapmu padaku sudah meneriakkannya dengan lantang”, jawab Hyesoo.

.

“Aku mengakuinya”, kata Kyuhyun yang kemudian tersenyum.

.

“Bagaimana perasaanmu saat ini? Apakah semuanya baik-baik saja?” tanya Hyesoo dengan perubahan ekspresi di wajahnya.

.

“Apa yang mendasari pertanyaan ini?” Kyuhyun balas bertanya.

.

“Jangan jawab aku dengan pertanyaan”, kata Hyesoo.

.

“Kau tidak memberiku alasan”, Kyuhyun membalas Hyesoo.

.

Hyesoo kembali membelai rambut Kyuhyun. Tatapannya mengikuti arah tangannya yang bergerak ke belakang kepala Kyuhyun. “Kau kelelahan pagi ini. Kau tidak tidur dengan cukup”, kata Hyesoo yang kini memindahkan tangannya ke bahu Kyuhyun. “Kita berjalan sangat jauh, hingga melewatkan waktu untuk makan”, sambung Hyesoo yang kini menyentuhkan tangannya di dada Kyuhyun. “Karena itu aku bertanya padamu. Kau baik-baik saja?”

.

Kyuhyun meraih tangan Hyesoo di dadanya. Kemudian Kyuhyun mencium jari-jari Hyesoo sebelum meletakkannya di pangkuannya. “Aku baik-baik saja. Jangan khawatir”, jawab Kyuhyun setelahnya.

.

“Kau selalu menutupi keadaanmu dari siapapun, bahkan dari para penjaga dan keluargamu. Bisakah kau mengatakannya padaku jika kau merasakan sesuatu disana (di jantungnya)? Biarkan aku mengetahui semuanya. Hm?” pinta Hyesoo.

.

“Baiklah. Aku mengerti. Aku tidak akan menutupi apapun darimu”, kata Kyuhyun setuju.

.

Tiba-tiba ponsel di saku Hyesoo bergetar. Ada sebuah pesan yang masuk. Hyesoo pun melepaskan genggaman tangan Kyuhyun. Ia mengeluarkan ponselnya lalu membuka pesan itu. Raut wajah Hyesoo berubah. Ia pun segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Hyesoo kembali menatap Kyuhyun yang mengerutkan keningnya, seolah bertanya pada Hyesoo apa isi pesan itu.

.

“Aku akan menemui seorang teman. Dia ada di sebuah kedai tidak jauh dari sini. Bisakah kau menungguku disini?” tanya Hyesoo.

.

“Siapa yang ingin kau temui?” tanya Kyuhyun.

.

“Kau akan menungguku disini, ‘kan?” tanya Hyesoo lagi tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.

.

“Apa yang bisa meyakinkanku bahwa kau akan kembali?” tanya Kyuhyun yang menyadari bahwa Hyesoo tidak akan pernah menjawab pertanyaan yang sebelumnya ia ajukan.

.

Hyesoo pun tersenyum mendengar pertanyaan Kyuhyun. Ia menyentuh wajah Kyuhyun, lalu memberikan kecupan singkat di puncak kepala Kyuhyun. “Aku akan segera kembali”, kata Hyesoo setelahnya.

.

“Baiklah…” kata Kyuhyun yang tersenyum tipis pada Hyesoo.

.

Hyesoo segera bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan Kyuhyun. Ia keluar dari cafe tanpa kembali menoleh pada Kyuhyun yang menatap punggung Hyesoo menjauh hingga menghilang dibalik pintu.

.

From: Jaejoong sunbae

Hyesoo-ya, bisakah kita bicara sebentar?

Aku tunggu di sebuah kedai es krim

Tiga bangunan ke kiri dari tempatmu berada

.

Hyesoo berjalan melintasi trotoar menuju tempat yang disebutkan Jaejoong dalam pesannya. Sebuah kedai es krim bernama Tropicana berdiri tepat tiga bangunan dari cafe Zoete Verdriet. Eksterior kedai begitu berbeda dengan warna tosca dan baby yellow sebagai warna dominan bangunan itu. Feel yang diberikan oleh kedai itu terasa lebih ceria, serasi dengan cuaca hari itu. Hyesoo pun melangkah masuk ke dalam kedai. Langkahnya terhenti setengah meter dari pintu utama. Matanya menyusuri setiap sudut kedai, mencari keberadaan Jaejoong disana. Sampai sebuah tangan yang terangkat menarik perhatiannya. Jaejoong memberikan tanda keberadaannya pada Hyesoo. Kaki Hyesoo pun kembali melangkah menuju tempat dimana Jaejoong menunggunya. Keduanya saling memberikan senyuman tipis pada satu sama lain. Hyesoo duduk berseberangan dengan Jaejoong, lalu memberikan tatapan lembut pada Jaejoong. Tidak ada hawa permusuhan dan ketengangan diantara mereka. Keduanya berada dalam keadaan tenang dan bersahabat.

.

“Maaf sudah menganggu waktumu”, kata Jaejoong mengawali perbincangan mereka.

.

“Tidak apa, sunbae. Tidak perlu meminta maaf”, kata Hyesoo.

.

“Aku bukan ingin mengibarkan bendera perang padamu “, kata Jaejoong dengan pembawaannya yang tenang.

.

“Aku tahu. Hari ini situasi begitu terkendali”, balas Hyesoo dengan ketenangan serupa.

.

“Aku hanya ingin bicara denganmu. Meluruskan semua hal yang tidak seharusnya menjadi rumit sejak awal”, kata Jaejoong yang berdeham setelahnya. “Aku akan mundur, Hyesoo-ya. Kesempatan tidak pernah berpihak padaku. Bukan untukku”.

.

BGM: Seo In Guk – No Matter What

.

“Sunbae……”

.

“Sejak dulu kau memang hanya menyukaiku sebagai seorang teman dan kakak. Tidak pernah lebih dari itu. Aku ingin kau tahu bahwa aku tidak membenci kenyataan itu”, kata Jaejoong. “Tapi, bisakah aku menanyakan beberapa hal padamu?”

.

“Tentu saja. Silahkan, sunbae” jawab Hyesoo.

.

“Kenapa Cho Kyuhyun? Dari semua laki-laki yang ada disekitar kita, kenapa Cho Kyuhyun?” tanya Jaejoong.

.

Hyesoo menggeleng pelan, mengawali jawaban yang akan ia berikan pada Jaejoong. “Aku pun tidak mengetahuinya, sunbae. Semua terjadi begitu saja. ‘Kenapa dia? Kenapa harus dia?’ Pertanyaan itu sesekali juga menghampiriku. Tapi aku tidak menemukan jawaban apapun atas pertanyaan itu. Hatiku tertuju begitu saja padanya”.

.

“Seringkali aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apakah kau akan tetap memilihnya bahkan setelah mengetahui apa yang terjadi di masa lalu? Apakah kau tidak akan meragukan dia sedikitpun? Aku meyakini bahwa sikapmu akan berubah jika kau mengetahui setiap kejadian di masa lalu. Tapi disaat yang bersamaan, hatiku menghentikanku untuk berharap pada segala kemungkinan yang ada di pikiranku. Aku tahu kau tidak akan berubah bahkan setelah mengetahui hal terburuk sekalipun. Aku pun menemukan diriku tidak memiliki keberanian untuk kembali berharap”, ujar Jaejoong.

.

“Maafkan aku, sunbae. Aku tidak bermaksud untuk selalu menyakitimu”, kata Hyesoo.

.

“Kau tidak menyangkalnya. Tentu saja. Kau menjawabnya tanpa perlu menjelaskan apapun. Hatimu memang tidak pernah ditakdirkan untukku, Hyesoo-ya”, kata Jaejoong.

.

“Aku tidak bisa memegang kendali kemana hatiku menentukan tujuannya. Aku sangat menyesalinya. Jika aku bisa, ingin sekali aku memilih untuk membalas cinta siapapun yang mencintaiku dengan hati yang tulus seperti sunbae, daripada menemukan cinta baru yang berakhir dengan menyakiti hati orang lain. Tapi aku tidak mampu. Aku kehilangan kendali atas perasaanku sendiri. Aku minta maaf, sunbae. Benar-benar minta maaf”, sesal Hyesoo.

.

“Tidak, Hyesoo-ya. Kau tidak perlu meminta maaf karena mencintai. Tidak ada yang salah dengan mencintai seseorang. Rasa sakit bisa datang karena sebab apapun, bahkan karena mencintai sekalipun. Kau tidak bersalah. Aku pun tidak. Takdir hanya tidak berada diantara kita”, kata Jaejoong.

.

“Aku takut sunbae akan membenciku setelah rasa sakit yang sunbae rasakan karena perbuatanku”, kata Hyesoo.

.

“Hal itu tidak akan mungkin terjadi, Hyesoo-ya. Aku akan selalu mengharapkan kebahagiaan dan semua kebaikan untukmu, meski apapun yang terjadi diantara kita”, kata Jaejoong meyakinkan Hyesoo. “Tapi mungkin aku akan sedikit menjaga jarakku darimu”.

.

“Kenapa? Kenapa begitu? Apakah aku membuat sunbae merasa tidak nyaman? Aku ingin sunbae tetap menjadi temanku, tetap berada disekitarku”, kata Hyesoo.

.

“Bukan kau penyebabnya, Hyesoo-ya. Tidak pernah kau yang jadi penyebabnya”, jawab Jajeoong yang menghela napas panjang setelahnya. “Aku memang patah hati. Tapi selama ini pun aku sudah mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan walaupun hanya sebagai temanmu. Aku sudah melakukan peran itu selama bertahun-tahun. Hanya saja, aku belum bisa mengatasi diriku sendiri jika berada dalam lingkaran yang sama dengan Cho Kyuhyun. Aku masih membutuhkan waktu”.

.

“Aku sempat mempertanyakannya dalam pikiranku. Tapi tidak pernah bisa menyuarakannya. Sunbae, bolehkah aku mengetahui penyebab buruknya hubungan kalian?” tanya Hyesoo.

.

“Maafkan aku, Hyesoo-ya. Aku tidak bisa menceritakannya padamu. Aku sudah menyimpannya untuk waktu yang lama. Aku tidak bisa mengungkapkannya”, jawab Jaejoong.

.

“Baiklah, sunbae. Aku mengerti. Aku tidak akan memaksamu”, kata Hyesoo.

.

“Aku hanya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Aku juga perlu waktu untuk mengendalikan perasaanku, bukan?” tanya Jaejoong sambil tersenyum tipis. “Aku tidak akan benar-benar menjauhimu. Jangan khawatir”.

.

“Kita bisa tetap bicara dan bertemu?” tanya Hyesoo.

.

“Tentu saja. Aku sunbae mu di kampus dan sahabat saudara kembarmu. Kita punya banyak alasan untuk bicara dan bertemu”, jawab Jaejoong.

.

“Syukurlah… Aku sedang mendengarnya”, kata Hyesoo.

.

“Pergilah, Hyesoo-ya. Jangan biarkan dia menunggumu. Aku tidak ingin dia datang kesini dengan kemarahan menyebalkannya”, kata Jaejoong dengan senyuman tulus di wajahnya.

.

“Baiklah, sunbae. Aku pergi. Sampai bertemu”, kata Hyesoo mengatakan salam perpisahannya.

.

“Sampai bertemu”, balas Jaejoong.

.

Hyesoo segera bangkit berdiri, kemudian berjalan keluar dari kedai, meninggalkan Jaejoong yang menatap kepergiannya dalam diam. Salah satu tangan yang berada di atas pangkuannya mengepal kuat. Jaejoong memejamkan matanya saat kejadian buruk yang terjadi bertahun-tahun yang lalu kembali teringat dalam pikirannya. Luka dalam hatinya kembali terbuka, memunculkan rasa sakit yang selama ini ia sembunyikan.

.

Flashback (Jaejoong’s POV ver.)

Ket: tidak diceritakan. Hanya terbersit di pikiran Jaejoong

.

Sebelumnya aku sudah mengetahui bahwa akan tiba saat dimana Hyesoo mengutarakan keingintahuannya akan hal ini. Tidak pernah ada yang mempertanyakannya sebelumnya padaku. Bahkan hal itu sudah aku simpan sendiri rapat-rapat dalam ingatanku. Aku tidak pernah melupakan kejadian yang begitu membekas dalam benakku bahkan untuk waktu satu detik saja. Cho Kyuhyun, sudah menorehkan luka itu dan menanamkan kebencian dalam diriku. Aku tahu seharusnya aku tidak bersikap seperti ini. Karena semua orang meyakini bahwa dia bahkan tidak mengetahui apa yang sudah diperbuatnya. Tapi aku tetap tidak bisa melupakan kenangan buruk yang terjadi 15 tahun yang lalu.

.

Kala itu, kakak laki-laki tertua ku Kim Jaesung masih berusia 21 tahun. Umurku masih 9 tahun saat itu. Jaesung hyung lulus dari perguruan tinggi di usia yang masih cukup muda. Hyung sangat pintar. Jaesung hyung hanya mengenyam pendidikan selama 10 tahun (6 tahun di sekolah dasar, 2 tahun di sekolah menengah pertama, dan 2 tahun di sekolah menengah atas). Kemudian Jaesung hyung melanjutkan pendidikannya di universitas ternama S University dan lulus sebagai salah satu lulusan terbaik. Kedua orang tua ku, kakak perempuanku, Haera nuna, dan aku begitu bahagia dengan pencapaiannya. Hyung sudah meraih semua keinginannya. Hanya membutuhkan beberapa minggu saja hingga sebuah telepon dari sebuah perusahaan datang ke rumah kami. Aku masih ingat betul bagaimana hyung bersorak dengan begitu girang setelah mendengar kabar itu. J.Corp, perusahaan impian banyak generasi muda yang baru memasuki dunia kerja, begitu kata hyung. Semua masih berjalan sesuai dengan rencananya. Hyung melewati satu bulan masa percobaan tanpa membuat kesalahan apapun. Lalu bulan-bulan berikutnya bergulir begitu saja.

.

Hingga tiba hari dimana hyung pulang ke rumah dengan wajah gembira lainnya, membawa kabar yang menurutnya adalah kabar yang sangat baik. Hyung ditawarkan kenaikan gaji setelah 6 bulan masa kerja nya di J.Corp. Tentu saja hyung sangat bersemangat menerima tawaran itu. Hyung sudah resmi menjadi karyawan tetap, dipindah posisikan ke posisi yang lebih baik. Hyung ditarik menjadi salah satu dari tim khusus yang bekerja tepat di bawah kendali CEO perusahaan itu. Seluruh keluargaku menyambut bahagia kabar itu. Akupun merasa bahagia untuk kakak laki-laki yang menjadi panutanku itu. Tapi sebuah perasaan lain juga datang padaku disaat yang bersamaan. Dalam diam aku mencemaskan Jaesung hyung. Aku sempat merutuki diriku karena merasakan hal yang tidak seharusnya. Hyung mendapatkan kesempatan meningkatkan karir nya, tapi aku tidak begitu bahagia dengan hal itu. Satu bulan berlalu setelah pengangkatan jabatan itu. Kecemasanku semakin meningkat hari demi hari. Bahkan senyuman di wajah Jaesung hyung setiap kali bicara pada kami tidak mampu meredakan kecemasan dalam diriku.

.

Kemudian sebuah kejadian terjadi. Aku sedang duduk bersama eomma dan Haera nuna di ruang televisi, menunggu appa dan Jaesung hyung kembali dari kantor seperti biasanya. Siaran di televisi berubah serentak di setiap channel. Berita yang ditayangkan eksklusive dari lokasi kejadian. Putera satu-satunya dari CEO J.Corp mengalami kecelakaan di sebuah taman bermain, lalu dilarikan ke rumah sakit. Dia tidak terjatuh dari wahana permainan apapun. Dia tidak tertimpa bangunan rubuh apapun. Dia juga tidak mendapatkan luka terbuka di bagian tubuh manapun. Dia jatuh pingsan setelah menaiki salah satu wahana di tempat itu. Tiba-tiba sebuah suara benda yang terjatuh di lantai mengalihkan pandangan kami. Appa yang sudah kembali dari kantor, menjatuhkan tas nya dalam kondisi tatapan yang tertuju pada televisi.

.

“Eomma……” kata Haera nuna.

.

Hanya kata itu yang terdengar di ruang keluarga kami sore itu. Aku kembali menolehkan kepalaku pada televisi. Dan akhirnya aku mengetahui apa penyebab keterkejutan appa beberapa saat yang lalu. Jaesung hyung berada disana bersama anak itu. Jaesung hyung berada di lokasi kejadian. Appa berjalan cepat menuju telepon yang ada di samping sofa ruang keluarga. Appa berusaha menghubungi ponsel hyung, namun sambungan telepon itu tidak dijawab sama sekali. Dadaku seketika terasa begitu sesak. Aku kesulitan bernapas. Telingaku berdengung dan mataku berbayang. Aku merasa seolah ada sebuah balon yang baru saja meletus dalam diriku. Air mataku menetes begitu saja dan tubuhku bergetar. Saat itu aku tahu, inilah penyebab kecemasan yang ku rasakan sejak berbulan-bulan yang lalu. Inilah sumber segala perasaan tidak nyaman yang menyelubungi tubuhku setiap saat. Dan hari itu Jaesung hyung tidak kembali ke rumah, hingga tiga hari berturut-turut. Hanya sebuah telepon yang datang darinya, menyatakan dia baik-baik saja dan akan kembali setelah menyelesaikan semua hal yang diperlukan.

.

Hari itu akhir pekan. Semua anggota keluarga berada dirumah. Kondisi keluarga kami belum terlepas dari kabut kekhawatiran sejak hari itu. Tidak ada senyuman, tawa, bahkan perbincangan panjang yang biasanya kami lakukan setiap harinya. Akhirnya Jaesung hyung kembali ke rumah dengan sebuah kotak ditangannya. Tidak ada senyum ceria lagi di wajahnya. Tidak ada keriangan lagi yang mengiringi langkah kakinya. Bahunya bahkan terkulai lemas tanpa tenaga. Aku berlari menghampirinya dan hyung membelai kepalaku sambil tersenyum tipis. Haera nuna berjalan mendekati kami, lalu meraih kotak yang berada di tangan Jaesung hyung untuk meletakkannya di dalam kamar hyung. Eomma meminta hyung berjalan mendekat ke meja makan. Hyung menggandeng tanganku untuk berjalan bersamanya. Sesampainya di meja makan, appa meletakkan tangannya disebelah bahu hyung lalu menepuk pelan bahu itu beberapa kali. Hari itu aku menyadari bahwa impian hyung telah hancur. Semuanya berakhir dengan cepat. Namun kami tidak membicarakannya. Kami hanya berusaha untuk menenangkan dan menghibur hyung. Appa dan eomma selalu berusaha meyakinkan hyung bahwa harapan belum meninggalkannya. Keberhasilan bisa diraih di tempat lain.

.

Namun, kabut itu justru semakin tebal meliputi keluarga kami. Hyung mendapatkan tanda merah dalam resume nya. Sebuah kenyataan baru hyung temukan. Siapapun yang di pecat dari J.corp dengan torehan kejadian buruk dalam pekerjaannya, tidak dapat di terima di perusahaan manapun. Langit serasa runtuh diatas rumah kami. Hyung kehilangan harapannya. Ia mengurung dirinya di kamar selama berhari-hari. Ia menolak untuk makan, menolak untuk bicara dan menolak untuk bertemu dengan siapapun. Hingga suatu hari aku memberanikan diriku untuk menemuinya. Hyung tidak pernah marah padaku. Hyung sangat menyayangi adik-adiknya. Aku yakin bahwa hyung tidak akan menolakku. Aku mengetuk ragu pintu kamarnya, tapi tidak ada jawaban apapun yang ku terima. Aku mencobanya sekali lagi, kali ini lebih keras. Hyung tetap tidak menjawabnya. Akupun memukul keras pintu itu hingga aku mengetahui bahwa pintu tidak terkunci. Aku membuka pintu itu dan menemukan kondisi kamar yang begitu gelap. Aku melangkah masuk perlahan, bersiap untuk kemungkinan reaksi apapun yang akan diberikan hyung padaku. Tapi langkahku terhenti. Aku membeku di tempatku. Mataku terbuka lebih lebar, napasku tercekat, detak jantungku seolah berhenti saat itu juga, dan tidak ada kata yang mampu keluar dari bibirku. Hyung menggantung tubuhnya dengan kabel charger ponselnya. Dan aku melihat jasadnya tergantung tepat di depan mataku hari itu.

.

Hyung mengakhiri hidupnya. Hyung tidak mampu bertahan menghadapi hari esok yang tidak pernah ia tahu akan jadi seperti apa. Keluarga kami berduka. Kepergian anak laki-laki tertua keluarga itu yang dulu sempat menjadi kebanggaan, membuat kabut menjadi semakin tebal hingga menyesakkan kami. Aku merasakan kesedihan, kehancuran, dan kemarahan dalam diriku. Suatu hari aku sempat mendengar pembicaraan appa dengan seseorang yang tidak ku kenal. Mereka membicarakan alasan dibalik pemecatan hyung dari J.corp. Orang itu mengatakan bahwa putera dari CEO J.corp sengaja pergi ke taman bermain tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Kejadian itu bukan kali pertama yang dilakukannya. Hari itu seharusnya dia pergi ke gedung kesenian untuk menghadiri sebuah pertunjukkan musik. Namun ia mengubah tujuannya di tengah perjalanan. Ia memerintahkan tiga orang staf yang mengawalnya untuk memutar arah mobil menuju taman bermain. Awalnya anak itu hanya menaiki carousel dengan kecepatan sedang. Tapi tiba-tiba ia ingin menaiki roller coaster. Sayangnya, tidak ada satupun diantara mereka yang mengetahui keadaan tuan muda yang mereka jaga. Saat roller coaster berhenti, anak itu sudah ditemukan pingsan di tempat duduknya. Cho Kyuhyun sudah merencanakan hal itu sejak awal. Ia tidak bisa terus bertahan dalam kurungan dan halangan karena kondisi kesehatannya itu. Secara tidak langsung, hari itu Cho Kyuhyun sudah melakukan percobaan bunuh diri yang mengakibatkan dipecatnya tiga orang staf yang menjaganya.

.

Flashback end

.

.

Author’s POV

At Hyesoo’s Apartment

BGM: Sam Kim – Touch My Body

.

Kyuhyun dan Hyesoo duduk di sofa besar yang terletak di depan televisi berukuran cukup besar di apartment Hyesoo. Kyuhyun sedang menonton tayangan ulang drama bergenre thriller di televisi. Sementara Hyesoo yang bersandar diujung sofa sedang menikmati satu cup besar es krim cokelat ditangannya dengan posisi kedua kaki yang berada di pangkuan Kyuhyun. Hyesoo memperhatikan Kyuhyun yang menyimak kisah dalam drama dengan penuh perhatian. Kyuhyun bahkan tidak terpengaruh untuk mengalihkan pandangannya sedikitpun dari layar. Sesekali keningnya berkerut karena sebuah adegan, lalu kembali rileks seperti semula. Tiba-tiba terbersit sebuah ide di kepala Hyesoo untuk mengalihkan perhatian Kyuhyun dari televisi.

.

“Cho Kyuhyun…” panggil Hyesoo.

.

“Hm?” sahut Kyuhyun dengan gumamannya.

.

“Drama nya sangat menarik?” tanya Hyesoo.

.

“Eo…” jawab Kyuhyun.

.

“Kau begitu menyukainya?” tanya Hyesoo lagi.

.

“Hm…”

.

“Bukankah drama itu terlalu serius? Apakah tidak membuatmu pusing? Kisah percintaannya juga hanya sesekali. Latar waktunya pun……”

.

“Ya! Ya! Kau berisik sekali. Aku tidak bisa fokus mengikuti ceritanya. Apa yang kau inginkan, Lee Hyesoo? Hm? Apa?” tanya Kyuhyun yang akhirnya teralihkan perhatiannya dari layar tv.

.

“Tidak ada. Aku hanya mengajakmu bicara saja”, jawab Hyesoo yang meneruskan kegiatan makan es krim nya tanpa mempedulikan tatapan Kyuhyun padanya.

.

“Apakah kau akan terus menggangguku menonton?” tanya Kyuhyun.

.

“Hm… Mungkin?” jawab Hyesoo dengan senyum jahilnya.

.

“Lihat saja apa yang bisa aku perbuat padamu jika kau berani melakukannya”, tantang Kyuhyun.

.

“Apa? Apa yang akan kau lakukan?” tanya Hyesoo menantang sambil menarik kakinya dari pangkuan Kyuhyun dan beranjak dari sofa. “Ch… Menyebalkan… Ternyata aku kalah dari drama itu. Jika kau begitu menyukainya, kembali saja ke apartment mu. Tidak ada yang akan menganggumu disana”, kata Hyesoo yang berjalan menuju dapur, berpura-pura mengeluh pada Kyuhyun.

.

Kyuhyun menyandarkan kepalanya di sofa lalu memejamkan matanya dan tersenyum. Keluhan yang diutarakan Hyesoo meluluhkan hatinya dengan mudah. Hyesoo yang merajuk tidak selalu menyebalkan. Terkadang ada sisi menyenangkan dari rajukan Hyesoo. Kyuhyun pun mematikan televisi dan bangkit berdiri, kemudian berjalan menuju dapur untuk menghampiri Hyesoo yang duduk di salah satu kursi meja bar, masih sibuk dengan cup es krim di tangannya.

.

“Apa yang kau inginkan? Bukankah drama itu lebih menarik bagimu?” tanya Hyesoo saat Kyuhyun duduk di sampingnya.

.

“Kau marah padaku?” Kyuhyun balas bertanya.

.

“Kenapa aku harus marah?” Hyesoo tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun.

.

“Maafkan aku…” kata Kyuhyun.

.

“Kenapa? Kau membuat kesalahan?” tanya Hyesoo tanpa menatap Kyuhyun.

.

“Sepertinya. Aku tidak benar-benar tahu. Lee Hyesoo tidak memberitahuku”, jawab Kyuhyun dengan senyuman di wajahnya.

.

Hyesoo tidak menanggapi ucapan Kyuhyun. Ia tetap menikmati es krim di hadapannya tanpa mempedulikan Kyuhyun. Hyesoo memasukkan suapan demi suapan ke mulutnya dengan semangat. Ia menggerak – gerakkan kakinya yang menggantung di kursi. Senyum Kyuhyun semakin mengembang melihat sikap Hyesoo yang tidak menghiraukan keberadaannya. Tiba-tiba Kyuhyun mendapatkan sebuah ide untuk kembali mencairkan suasana diantara mereka. Kyuhyun menyentuh bahu Hyesoo dengan jarinya berkali-kali, berusaha membuat memberikan respon padanya.

.

“Ah, apa? Apa? Apa?” tanya Hyesoo kesal.

.

“Kau tidak ingin membagi es krim itu padaku?” tanya Kyuhyun mengganti topik pembicaraan.

.

“Beli saja sendiri di minimarket”, jawab Hyesoo.

.

“Aku hanya menginginkan es krim yang sedang kau makan”, kata Kyuhyun.

.

“Kalau begitu ambil sendokmu sendiri”, kata Hyesoo.

.

“Tidak mau”, kata Kyuhyun.

.

“Ish… Lalu apa yang kau inginkan? Katakan!” tanya Hyesoo yang akhirnya menghadap ke arah Kyuhyun.

.

Kyuhyun tersenyum dan bangkit berdiri sebelum memegang kepala Hyesoo dengan cepat dan mengecup bibir Hyesoo setelahnya. Kyuhyun melumat bibir Hyesoo, menyesap rasa cokelat es krim yang di makan Hyesoo. Sesaat kemudian Kyuhyun melepaskan ciumannya dan menatap Hyesoo. “Aku tidak membutuhkan sendok untuk merasakan es krim itu, Lee Hyesoo. Aku lebih suka cara ini”.

.

“Aku juga menyukainya”, kata Hyesoo selanjutnya.

.

“Kau tidak benar-benar marah padaku?” tanya Kyuhyun dengan senyuman mengembang di wajahnya.

.

“Rasanya sulit untuk marah padamu”, jawab Hyesoo yang juga tersenyum lebar.

.

Kyuhyun kembali ke kursinya. Ia menggenggam tangan Hyesoo dan meletakkannya diatas pahanya. Hyesoo kembali meneruskan kegiatannya menghabiskan es krim favoritnya. Kyuhyun memandangi Hyesoo dengan tatapan memuja yang akhir-akhir ini selalu ia tunjukkan. Sesekali senyumnya melebar hanya karena melihat Hyesoo menyantap es krim dengan riang. Menyadari tatapan Kyuhyun, Hyesoo pun menoleh pada laki-laki yang tidak melepaskan pandangan darinya itu. Hyesoo mengarahkan sesendok es krim, berusaha menyuapkannya pada Kyuhyun. Namun Kyuhyun menggeleng pelan, menolak suapan itu. Hyesoo membuka mulutnya seolah meminta Kyuhyun mengikutinya. Kyuhyun tertawa kecil lalu mengabulkan permintaan Hyesoo dengan membiarkan Hyesoo menyuapkan sesendok es krim padanya.

.

“Apa kau menginginkan sesuatu?” tanya Kyuhyun sambil menghapus jejak es krim di sudut bibirnya.

.

“Menginginkan apa?” Hyesoo balas bertanya.

.

“Apapun yang kau inginkan. Katakan padaku. Aku akan memberikannya”, jawab Kyuhyun.

.

Hyesoo terdiam. Ekspresi diwajahnya berubah padam. Hyesoo meletakkan sendok ditangannya ke dalam cup es krim, lalu mengubah posisi duduknya menghadap pada Kyuhyun. Hyesoo menatap Kyuhyun dengan ekspresi datar yang tidak terbaca. Sementara Kyuhyun justru tersenyum membalas tatapan Hyesoo.

.

“Hentikan, Cho Kyuhyun. Jangan tersenyum lagi”, kata Hyesoo yang bangkit berdiri.

.

“Apa?” tanya Kyuhyun.

.

“Kau membuatku cemas”, jawab Hyesoo.

.

“Hhh… Kenapa kau cemas? Apa yang kau cemaskan?” tanya Kyuhyun dengan senyum mengembangnya.

.

“Kau bersikap sangat baik padaku”, jawab Hyesoo.

.

“Apa ada yang salah dengan hal itu?” tanya Kyuhyun.

.

“Eo…” jawab Hyesoo singkat sambil mengangguk cepat.

.

Kyuhyun kembali tersenyum. Kemudian ia meraih tangan Hyesoo yang lain untuk di genggam. “Apa yang salah? Hm? Apa kau meragukanku?” tanya Kyuhyun setelahnya.

.

“Tidak. Hanya saja… Kau bersikap terlalu baik padaku. Aku merasa seolah kau akan pergi meninggalkanku”, jawab Hyesoo. “Apa jantungmu baik-baik saja? Kau tidak sedang dikejar seseorang yang menyimpan dendam padamu, ‘kan?”

.

Kyuhyun tertawa mendengar pertanyaan Hyesoo. Tawa itu kemudian mereda setelah melihat wajah Hyesoo yang menunjukkan kecemasannya. Kyuhyun menghela napas panjang kemudian memberikan senyumnya untuk menenangkan Hyesoo.

.

“Aku baik-baik saja, Lee Hyesoo. Aku tidak akan pergi kemanapun. Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku bersikap baik padamu karena aku ingin. Tidak ada alasan apapun dibaliknya. Apakah sikapku tidak membuatmu senang?” tanya Kyuhyun.

.

“Bukan begitu. Aku senang menerima semua sikap yang kau berikan padaku. Tapi disaat yang sama aku juga merasa cemas. Kau seperti sedang berusaha mengindahkan ucapan selamat tinggalmu padaku, membuatku bahagia sebelum pergi dariku”, jawab Hyesoo.

.

“Tidak ada hal seperti itu, Hyesoo-ya. Kau cukup merasa bahagia saja. Buang kecemasanmu. Hm?” kata Kyuhyun berusaha meyakinkan Hyesoo.

.

“Baiklah… Aku mengerti…” kata Hyesoo setuju.

.

Kyuhyun bangkit berdiri, masih dengan kedua tangannya yang menggenggam tangan Hyesoo. Kyuhyun memberikan tatapan lembut dan senyum tipisnya pada Hyesoo. Ia berusaha untuk meredakan suasana hati Hyesoo yang sempat bergejolak beberapa saat yang lalu.

.

“Kalau begitu peluk aku” kata Kyuhyun. “Aku tidak bisa melihatmu seperti ini. Aku merasa kehilangan beberapa persen energiku jika kau tidak memelukku. Seolah aku bisa menjadi sangat marah karena hal itu”, sambung Kyuhyun.

.

BGM: J.ae – Love

.

Hyesoo melangkah mendekat dan memberikan pelukan pada Kyuhyun tanpa mengatakan apapun. Hyesoo memeluk erat tubuh Kyuhyun dalam kebungkamannya. Perubahan mood yang begitu cepat di setiap saat ia bersama dengan Kyuhyun membuatnya merasa kelelahan. Kyuhyun selalu membuat emosi diantara mereka berubah dengan cepat, seperti sedang menaiki mobil dengan kecepatan diatas normal di medan yang berliku. Seolah bisa membuat Hyesoo mual lama kelamaan karenanya. Namun Hyesoo memutuskan untuk melupakan perasaan tersembunyinya sejenak. Ia ingin membiarkan semua perasaan itu melebur, terkalahkan dengan kehangatan tubuh Kyuhyun yang memeluknya.

.

“Maafkan aku. Karena membuatmu merasa seperti itu”, kata Kyuhyun.

.

Hyesoo mengangguk cepat dalam pelukan Kyuhyun. Hyesoo memejamkan matanya dan menghela napas panjang perlahan. Kyuhyun pun meletakkan salah satu tangannya di kepala Hyesoo. Kemudian Kyuhyun membelai kepala Hyesoo dengan lembut, berusaha menenangkan gadis yang berada dalam pelukannya itu. Kyuhyun meyakini bahwa Hyesoo masih merasakan kecemasannya. Hal itu dapat ia rasakan dari cengkraman kedua tangan Hyesoo di T-shirt Kyuhyun yang terasa di punggungnya. Kyuhyun pun melepaskan pelukannya, membuat cengkraman Hyesoo juga ikut terlepas dari T-shirtnya. Kedua tangan Kyuhyun berpindah ke kedua sisi leher Hyesoo. Kyuhyun kembali mendekat untuk memberikan kecupan hangat di kening Hyesoo. Kemudian berpindah menuruni wajah Hyesoo, ke kedua mata terpejam Hyesoo, kedua pipi Hyesoo, dan berakhir di bibir Hyesoo. Kyuhyun membuka bibir Hyesoo dengan bibirnya, lalu memperdalam ciumannya. Kedua tangan Hyesoo berpindah ke dada, bahu, sampai akhirnya melingkar di leher Kyuhyun. Kedua tangan Kyuhyun membelai lembut pinggang ramping Hyesoo, membuat sebuah lenguhan kecil keluar dari bibir Hyesoo. Kyuhyun melumat bibir Hyesoo lalu mulai menggerakkan lidahnya mendekat, menyentuh permukaan bibir Hyesoo. Tanpa disadari, Kyuhyun sudah mengangkat tubuh Hyesoo agar wajah mereka menjadi sejajar. Kedua kaki Hyesoo sudah melingkar di pinggang Kyuhyun, memudahkan Kyuhyun untuk melangkah, membawa Hyesoo masuk ke kamar. Kyuhyun menutup pintu dengan menendangnya menggunakan satu kaki. Pintu itu tidak terbuka sampai malam berganti pagi.

.

.

At K University

.

Awal minggu kembali dimulai. Minggu ujian juga semakin dekat. Mahasiswa yang berkerumun membentuk kelompok-kelompok kecil sampai besar dapat ditemui hampir di seluruh tempat di area kompleks kampus. Karena sebelum minggu ujian dimulai, banyak tugas yang diberikan oleh para dosen menemui deadline nya. Hari itu Hyesoo baru menyelesaikan satu-satunya kelas yang harus ia hadiri. Tugas-tugas dan laporan-laporan yang diberikan oleh dosen sudah selesai dikumpulkan. Namun masih ada sebuah tugas sebelum ujian praktek yang harus ia kerjakan. Hyesoo melangkah keluar dari gedung seorang diri. Hyesoo pun duduk di salah satu bangku taman gedung kedokteran. Ia menunggu kedatangan seseorang yang sudah membuat janji dengannya sejak malam sebelumnya. Hyesoo membuka novel ditangannya, melanjutkan halaman yang belum sempat ia baca sambil menunggu.

.

“Eonni!” seru seseorang, mengalihkan perhatian Hyesoo dari novel di tangannya.

.

“Eo, Sooyoung-ah!” seru Hyesoo balas menyapa.

.

“Eonni sudah lama menunggu? Maaf aku terlambat. Tadi aku tertahan karena harus bicara dengan seseorang”, kata Sooyoung menyesal.

.

“Tidak. Aku baru saja keluar dari kelas”, kata Hyesoo sambil memasukkan novel kembali ke tasnya. “Seseorang? Hm… Aku rasa orang itu memiliki nama. Kalau tidak salah… Namanya Kim Jaejoong, bukan?” tanya Hyesoo menggoda Sooyoung.

.

“Aniyeyo! Apa maksud eonni? Bukan. Bukan dia”, jawab Sooyoung cepat dengan gugup.

.

“Ah… Begitu? Aku merasa tidak memiliki kelainan pada penglihatanku. Tadi aku melihat dengan jelas Kim Jaejoong sedang bicara dengan seorang gadis yang ku tahu bernama Choi Sooyoung”, kata Hyesoo terus menggoda Sooyoung. “Ya! Siapa yang sedang kau coba bohongi? Sudah, tidak perlu ditutupi. Tidak ada yang salah dengan hal itu”.

.

Sooyoung berdeham dan menghindari tatapan ingin tahu Hyesoo. “Apakah eonni masih memiliki kuliah lain hari ini?” tanya Sooyoung yang berpura-pura melihat ke dalam tasnya, seolah sedang mencari sesuatu.

.

“Mwoya… Perubahan topik pembicaraan. Sangat mencurigakan”, kata Hyesoo menanggapi perubahan topik yang dilakukan Sooyoung. “Tidak ada. Kenapa?”

.

“Aku ingin mengajak eonni ke suatu tempat. Itupun jika eonni setuju”, jawab Sooyoung yang sudah kembali menatap Hyesoo.

.

“Kemana?”

.

“Ke rumah. Appa dan eomma memintaku untuk mengajak eonni berkunjung. Kalau eonni tidak keberatan”, jawab Sooyoung.

.

“Orang tua mu? Ada apa? Apakah tidak apa-apa? Kau tahu, aku tidak mengingat apapun. Aku merasa tidak enak pada mereka”, tanya Hyesoo khawatir.

.

“Apa maksud eonni? Tentu saja tidak apa-apa. Mereka sudah mengetahui kondisi eonni. Tidak perlu dipikirkan”, kata Sooyoung mencoba meyakinkan Hyesoo. “Jadi, apakah eonni bersedia?”

.

“Tentu saja. Tidak baik menolak permintaan orang tua mu”, jawab Hyesoo menyetujui ajakan Sooyoung. “Sekarang?”

.

“Ne, sekarang. Kita bisa naik mobilku”, kata Sooyoung.

.

“Ah… Kim Jaejoong tidak ikut?” goda Hyesoo”.

.

“Eonni!”

.

“Wae? Aku hanya bertanya…”

.

.

At Kediaman Keluarga Choi

BGM: Urban Zakapa – Consolation

.

Keduanya sampai di rumah keluarga Choi yang hanya membutuhkan waktu kira-kira 20 menit dari kampus. Sooyoung mempersilahkan Hyesoo masuk dengan keriangan khasnya. Di ruang keluarga, kedua orangtua Sooyoung sudah menunggu mereka. Sooyoung sudah memberitahukan kedatangan Hyesoo bahkan sebelum Hyesoo menyetujuinya tadi di kampus. Meski sedikit merasa tidak enak pada Hyesoo, tapi Sooyoung tahu bahwa Hyesoo tidak akan menolak permintaannya walaupun sebenarnya Hyesoo merasa tidak nyaman dengan situasi yang harus dihadapinya. Hyesoo berjalan masuk ke dalam rumah itu dengan canggung, terlebih saat berhadapan langsung dengan tuan dan nyonya Choi.

.

“Annyeonghaseyo”, kata Hyesoo dengan sopan.

.

“Eo… Kemarilah, Hyesoo-ya. Kami sudah menunggumu”, kata nyonya Choi dengan ramah dan senyuman mengembang.

.

“Eonni, aku tinggal sebentar. Aku akan kembali setelah mengganti bajuku”, kata Sooyoung yang segera berlalu menuju kamarnya dengan cepat.

.

Hyesoo berjalan mendekat dan duduk di salah satu sofa di ruang keluarga itu. Kedua tangan Hyesoo diletakkan diatas pangkuannya. Hyesoo bahkan tidak berani menatap langsung ke orangtua Sooyoung dan mendiang Siwon yang duduk didekatnya. Setelah menghela napas panjang dengan pelan, Hyesoo memberanikan diri mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan nyonya Choi yang memberikan senyum lembut keibuan padanya. “Bagaimana kabar eomeonim?” tanya Hyesoo canggung.

.

“Aigoo… Jangan canggung seperti itu, Hyesoo-ya”, kata nyonya Choi yang mendekat duduk tepat di sebelah Hyesoo. Nyonya Choi meraih tangan Hyesoo dan menggenggamnya dengan lembut, membawanya ke pangkuannya. “Tidak apa-apa. Kami mengerti kondisimu”, kata nyonya Choi.

.

“Kalau kau tidak mengingat kami, maka kami tidak bisa memaksamu. Kami sangat mengerti kondisimu saat ini. Jangan dipaksakan. Anggap saja kami adalah keluarga jauhmu yang sudah lama sekali tidak kau temui. Arasseo?” sambung tuan Choi.

.

“Ne, abeonim. Aku mengerti. Terima kasih”, jawab Hyesoo.

.

“Kau sudah makan siang?” tanya nyonya Choi kali ini.

.

“Ah… Belum, eomeonim” jawab Hyesoo.

.

“Bagus kalau begitu. Kau mau makan siang bersama kami, ‘kan?” tanya nyonya Choi dengan wajah yang berseri.

.

“Ne, tentu saja, eomeonim”, jawab Hyesoo.

.

Hyesoo pun akhirnya menerima ajakan makan siang yang diajukan nyonya Choi padanya. Sooyoung keluar dari kamarnya dan bergabung bersama mereka. Suasana yang semula canggung, kini berubah menjadi lebih hangat. Tuan dan nyonya Choi serta Sooyoung benar-benar mampu membuat Hyesoo merasa nyaman berada bersama mereka. Hyesoo dengan mudah dapat beradaptasi dengan suasana hangat keluarga ini, membuat Hyesoo seperti berada di rumahnya sendiri. Acara makan siang mereka lewati dengan banyak senyuman dan tawa yang memenuhi ruang makan keluarga Choi. Tuan dan nyonya Choi banyak menceritakan tentang masa kecil Sooyoung yang sangat pemberani melebihi anak laki-laki. Keduanya juga tidak melewatkan cerita kesan pertemuan mereka dengan Hyesoo saat di Seattle. Sesekali cerita tentang Siwon muncul disela pembicaraan mereka. Nada riang dan menyenangkan yang digunakan untuk membicarakan Siwon membuat suasana rumah itu tetap terjaga, tanpa perlu merasakan kesedihan. Seolah Siwon masih ada bersama mereka.

.

Setelah acara makan siang, tuan Choi harus kembali ke rumah sakit karena ada janji dengan beberapa pasien. Sooyoung pun meminta ijin pada eomma nya untuk membawa Hyesoo berkeliling melihat rumah mereka. Sooyoung memberikan tour singkat mengelilingi rumah yang cukup besar. Mulai dari ruang tamu, dapur, taman belakang, sampai ke kamarnya. Sooyoung bahkan menunjukkan sebuah kotak yang tersimpan surat-surat dari teman laki-laki yang memujanya di sekolah. Kemudian Sooyoung meraih tangan Hyesoo, mengajaknya keluar dari kamarnya. Sooyoung membawa Hyesoo berjalan di sepanjang lorong, menuju sebuah ruangan di sudut lorong itu. Sooyoung membuka ruangan yang ternyata merupakan sebuah kamar. Pencahayaan di kamar itu begitu bagus. Kamar di cat dengan warna putih dan biru muda. Tidak terlalu banyak barang yang diletakkan di kamar itu. Hanya ada sebuah tempat tidur queen size, kaca full body, bupet memanjang dan satu set meja kursi dengan beberapa buku yang diletakkan diatasnya. Ada dua pintu lain di kamar itu, satu untuk kamar mandi dan yang lainnya untuk ruang pakaian. Beberapa bingkai foto terpajang di sepanjang dinding, beberapa yang lainnya berjajar rapi diatas bupet. Hyesoo melangkahkan kakinya masuk ke ruangan itu, menghirup aroma yang begitu menyejukkan. Hyesoo memandang foto pertama yang terdekat dari pintu kamar itu. Foto seorang laki-laki muda dengan tubuh tegap dan tinggi, dengan senyum mengembang di wajahnya. Lalu sebuah foto lain di sebelahnya menunjukkan betapa bahagianya laki-laki itu memegang sebuah piala di tangannya.

.

“Tim basket oppa memenangkan pertandingan”, kata Sooyoung menjelaskan kejadian dalam foto itu. “Eonni yang mengambil foto itu”.

.

“Aku?” tanya Hyesoo terkejut, berbalik menghadap Sooyoung yang duduk di tempat tidur.

.

“Eo… Eonni bersorak dengan sangat bersemangat di pinggir lapangan menyerukan nama oppa dan tim nya. Banyak laki-laki yang berdecak iri karena itu”, jawab Sooyoung mengenang masa-masa yang sudah berlalu itu.

.

Hyesoo kembali berjalan. Kini ia mendekati jajaran foto yang ada diatas bupet. Ada beberapa foto masa kecil Siwon disana. Hingga sebuah foto menarik perhatiannya, membuat sudut bibir Hyesoo tertarik membentuk sebuah senyuman. Hyesoo meraih foto itu dan melihatnya lebih dekat. Siwon melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hyesoo, memeluk Hyesoo dari belakang. Keduanya tersenyum pada kamera, menunjukkan betapa bahagianya mereka saat itu. Senyum Hyesoo memudar. Dalam diam Hyesoo merasakan perasaan tidak nyaman dalam dadanya. Seolah baru saja tertabrak pada sebuah dinding yang besar. Hyesoo tidak merasakan sakit, hanya perasaan tidak nyaman yang membuatnya napasnya menjadi berat. Hyesoo pun mengambil satu kesimpulan atas perasaannya saat ini. Hatinya mengingat masa-masa itu, lebih baik dari ingatannya.

.

“Kamar ini sengaja dibuat sama persis dengan kamar oppa di Seattle”, kata Sooyoung yang menyadarkan Hyesoo. “Setiap tata letak barang, cat ruangan, sampai aroma kesukaan oppa. Tidak ada yang diubah”.

.

Hyesoo pun meletakkan foto ditangannya, lalu berbalik menghampiri Sooyoung. Hyesoo ikut duduk diatas tempat tidur, tepat disamping Sooyoung. “Kamar ini begitu menenangkan”, kata Hyesoo memberikan tanggapannya.

.

“Eonni benar. Terkadang aku memilih untuk mengerjakan tugas dan mencari inspirasi di kamar ini. Pencahayaan kamar ini yang terbaik dari semua ruangan di rumah ini”, kata Sooyoung.

.

“Aku ingin sekali mengingatnya. Paling tidak sedikit saja masa-masa kebersamaan kami. Aku ingin mengingat bagaimana wajah tersenyumnya, suara tawanya, seruannya saat marah, genggaman tangannya, semuanya. Aku ingin sekali…” kata Hyesoo.

.

“Hm… Mwo… Aku pikir eonni tidak mengingatnya pun tidak apa. Tidak ada yang benar-benar special dari Choi Siwon”, kata Sooyoung dengan nada bercandanya, berusaha mencairkan suasana. “Ah, benar! Aku ingin memberikan sesuatu pada eonni”, sambung Sooyoung yang segera berdiri dan berjalan menuju meja di ujung ruangan.

.

“Apa?”

.

Sooyoung membuka laci meja itu, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam laci itu. Sooyoung menutup laci meja dan kembali berjalan mendekati Hyesoo. Ternyata Sooyoung mengambil sebuah amplop berwarna hijau olive. Sooyoung menghela napas pelan lalu mengajukan amplop itu pada Hyesoo sambil tersenyum.

.

“Untukku?” tanya Hyesoo.

.

“Benar”, jawab Sooyoung. “Tulisan tangan oppa yang terakhir. Dia memberikannya padaku untuk diserahkan pada eonni jika eonni sudah sadar. Oppa tidak memiliki keberanian untuk memberikannya pada eonni. Oppa yakin eonni tidak akan mau bertemu dengannya setelah sadar. Aku sempat mengejek dan mengoloknya karena menjadi seorang laki-laki yang pengecut karena hanya berani bicara pada eonni melalui sebuah surat. Saat itu, aku tidak tahu jika surat ini juga mengartikan bahwa oppa memang tidak akan bisa bertemu dan bicara langsung pada eonni. Memang harus seperti ini. Memang harus dengan surat ini. Ini untukmu, eonni”.

.

Hyesoo tidak memberikan respon apapun. Ia terdiam karena merasa ragu. Namun tatapan lembut Sooyoung meyakinkannya untuk menerima surat itu. “Terima kasih. Karena sudah menjaga ini untukku. Terima kasih banyak”, kata Hyesoo setelahnya.

.

“Eonni bisa membacanya kapanpun. Tidak perlu saat ini. Gunakan waktumu untuk menyesuaikan diri”, kata Sooyoung yang mengetahui keraguan Hyesoo.

.

“Baiklah…” kata Hyesoo yang menatap surat ditangannya dengan ekspresi yang tidak terbaca. Hyesoo menyentuh seluruh permukaan amplop perlahan, seolah amplop itu akan hancur seperti debu jika disentuh terlalu keras.

.

“Eonni… Bolehkah aku menanyakan sesuatu?” tanya Sooyoung menyadarkan Hyesoo.

.

“Tentu saja. Katakan”, jawab Hyesoo yang kembali menatap Sooyoung.

.

“Tentang Cho Kyuhyun…” kata Sooyoung yang memberikan jeda pada kalimatnya, ragu untuk meneruskannya. “Apakah kalian berkencan?”

.

“Kau…mengenal Cho Kyuhyun?” tanya Hyesoo tidak menjawab pertanyaan Sooyoung sebelumnya.

.

“Eo…” jawab Sooyoung singkat sambil mengangguk pasti.

.

“Bagaimana? Apakah kau menyembunyikan hal itu juga dariku selama ini?” tanya Hyesoo.

.

“Aku akan menjawabnya setelah eonni menjawab pertanyaanku”, kata Sooyoung.

.

“Mwo… Mungkin. Kau bisa mengatakannya begitu. Kami berhubungan dengan baik”, kata Hyesoo mencoba menjelaskan.

.

“Berarti jawabannya ‘ya’, begitu?” tanya Sooyoung.

.

Hyesoo mengangguk pelan. “Giliranmu menjawab pertanyaanku”.

.

“Berjanjilah eonni tidak akan langsung menarik kesimpulan yang terlalu jauh jika aku menjawab pertanyaan eonni”, pinta Sooyoung.

.

“Arasseo. Jadi?”

.

“Dia sepupu ku. Appa dan bibi Cho bersaudara”, jawab Sooyoung.

.

“Hhh… Ternyata begitu” kata Hyesoo dengan bahunya yang turun karena rasa lega. “Kau ini! Aku sudah menduga kau adalah salah satu dari mantan kekasih Kyuhyun”.

.

Sooyoung tersenyum lebar mendengar dugaan Hyesoo. Namun senyum itu kembali berubah menjadi ekspresi datar di wajah Sooyoung. “Kyuhyun tidak pernah memberitahu eonni tentang hal itu?” tanya Sooyoung selanjutnya.

.

“Tidak. Aku rasa Kyuhyun bahkan tidak mengetahui kalau kita saling mengenal”, jawab Hyesoo menduga.

.

“Ah… Mungkin eonni benar”, kata Sooyoung setuju. “Eonni… Apakah kalian saling mencintai?” tanya Sooyoung lagi.

.

“Aku tidak tahu. Kami tidak pernah benar-benar mengatakannya pada satu sama lain”, jawab Hyesoo.

.

“Bagaimana dengan yang eonni rasakan?” tanya Sooyoung yang mencoba mengetahui lebih jauh.

.

“Terlalu cepat untuk menggunakan kata cinta. Aku menyukainya. Dan dia pernah mengatakan hal yang serupa. Hanya itu… Sudah. Hentikan pembicaraan ini. Aku tidak terbiasa menceritakan hal seperti ini pada siapapun”, kata Hyesoo yang tersipu. “Ah, tapi apa maksud ucapanmu tadi? Kau bilang aku tidak boleh menarik kesimpulan terlalu jauh. Tentang apa?”

.

“Em… Begini eonni… Tentang itu…”

.

“Ya… Tentang itu?” tanya Hyesoo mengulangi ucapan ragu Sooyoung.

.

“Apakah eonni baik-baik saja setelah mendengarnya? Maksudku… Aku adalah adik kandung dari Siwon oppa. Itu berarti Kyuhyun juga sepupunya. Dan kenyataan bahwa Siwon oppa sudah melakukan sesuatu yang tidak baik pada eonni tidak bisa dihilangkan dan dilupakan begitu saja. Tentu aku berharap hal itu tidak berpengaruh pada hubungan kalian. Aku hanya ingin tahu apakah eonni baik-baik saja dengan kenyataan itu”, kata Sooyoung menjelaskan.

.

“Apa yang kau katakan? Tentu saja aku baik-baik saja. Bukankah semua kesalahpahaman yang terjadi di masa lalu sudah selesai? Kyuhyun bahkan tidak terlibat dalam masalah itu. Untuk apa aku melibatkannya sekarang? Lagipula Siwon oppa dan Kyuhyun adalah dua orang yang berbeda”, ujar Hyesoo.

.

“Sebenarnya eonni… Ada satu hal lagi yang aku pikir eonni harus mengetahuinya. Aku sempat berpikir untuk membiarkan hal ini tetap menjadi rahasia. Tapi jika suatu saat nanti eonni mengetahuinya, saat keadaannya sedang tidak sebaik ini, aku khawatir reaksi eonni akan berbeda”, kata Sooyoung mengutarakan kekhawatirannya.

.

“Ada apa? Katakan saja, Sooyoung-ah” kata Hyesoo.

.

“Sebenarnya… Di dalam tubuh Kyuhyun, ada jantung Siwon oppa. Setelah dokter menyatakan bahwa tidak ada harapan untuk oppa dan semua alat bantu akan dilepas, appa memutuskan untuk mendonorkan jantung Siwon oppa pada Kyuhyun”.

.

“Apa?”

.

Sementara itu

Di waktu yang sama

K University

.

Kyuhyun duduk di salah satu bangku panjang di lobby gedung kedokteran dengan ponsel ditangannya. Ia juga memeriksa jam tangannya setiap beberapa menit sekali. Kyuhyun sudah menunggu disana hampir setengah jam, tapi ia belum juga bertemu dengan orang yang ditunggunya. Lee Hyesoo. Sejak ia mengantarnya pagi tadi, Kyuhyun belum mendapatkan kabar apapun. Hyesoo tidak menghubunginya, membuat Kyuhyun merasa cemas dan berakhir dengan kedatangannya ke gedung kedokteran. Kyuhyun mengetuk-ngetukkan jarinya di lengan bangku kayu itu. Mahasiswa yang muncul dari sisi dalam gedung membuatnya menoleh, mengira Hyesoo lah yang muncul dari sana. Hingga sosok Ryeowook muncul dari balik dinding, membuat Kyuhyun sontak berdiri. Kyuhyun menduga Hyesoo berjalan di belakang Ryewook. Tapi Kyuhyun tidak menemukan siapapun. Ryeowook muncul seorang diri.

.

“Eo! Annyeonghaseyo, sunbae”, sapa Ryeowook yang menyadari keberadaan Kyuhyun.

.

“Eo… Annyeong…” Kyuhyun balas menyapa Ryeowook.

.

“Sunbae sedang menunggu seseorang?” tanya Ryeowook yang sudah berada di hadapan Kyuhyun.

.

“Hm… Tentang itu… Apakah kau tidak bertemu dengan Lee Hyesoo hari ini?” tanya Kyuhyun akhirnya.

.

“Hyesoo? Aku bertemu dengannya sekitar satu jam yang lalu di kelas. Ada apa, sunbae?”

.

“Dia belum menghubungiku. Ponselnya juga tidak aktif”, jawab Kyuhyun.

.

“Mungkin ponselnya mati, sunbae. Biasanya di jam seperti ini Hyesoo pergi bersama Yoona”, kata Ryeowook.

.

“Im Yoona?”

.

“Ne… Yoona yang sama”, jawab Ryeowook sambil mengangguk cepat. “Aku akan menanyakannya pada Yoona. Sunbae tidak perlu khawatir”.

.

“Baiklah…”

.

“Tapi, sunbae…” kata Ryeowook yang membuat Kyuhyun kembali menoleh padanya.

.

“Apa?” tanya Kyuhyun.

.

“Hm… Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mengetahui hubungan sunbae dengan Hyesoo”, jawab Ryewook.

.

“Mwo… Sudah semestinya kau mengetahui hal itu”, kata Kyuhyun sambil kembali duduk di bangku kayu. “Kau akan menentangnya?”

.

“Aniyo”, jawab Ryeowook yang ikut duduk bersama Kyuhyun. “Selama ini aku memang selalu menjaga Hyesoo. Tapi aku tidak ingin ikut campur dengan hal seperti ini. Hyesoo tahu apa yang dia lakukan”.

.

“Syukurlah. Paling tidak hal itu dapat menenangkan Hyesoo”, ujar Kyuhyun.

.

“Tapi aku ragu Yoona akan memberikan reaksi yang sama denganku. Sunbae tahu benar bagaimana Yoona”, kata Ryeowook dengan nada bercanda.

.

“Benar… Im Yoona terlalu sulit untuk dihadapi. Aku akan menyerahkannya pada Hyesoo saja. Aku dan Yoona sangat tidak cocok. Lebih baik aku tidak perlu mencoba berdebat dengannya”, balas Kyuhyun dengan nada bercanda yang tidak jauh berbeda.

.

“Sunbae benar. Aku pun selalu mencoba menghindari perdebatan dengannya. Dia sangat keras kepala”, sambung Ryeowook.

.

“Ch… Kau tidak sadar sedang membicarakan apa, Kim Ryeowook? Kau juga seperti itu, inma…” kata Kyuhyun dengan smirk di wajahnya.

.

“Benar sekali. Aku rasa juga begitu, sunbae. Hhh… Tiga orang yang keras kepala ternyata bisa disatukan seperti ini. Luar biasa”, ujar Ryeowook.

.

“Tingkat keras kepala Lee Hyesoo paling rendah diantara kalian, bukan?” tanya Kyuhyun.

.

“Ne, sunbae benar…” jawab Ryeowook. “Hm… Karena aku tidak menentang hubungan kalian, maka aku ingin mengajukan satu permintaan, sunbae” kata Ryeowook yang tiba-tiba mengubah topic pembicaraan mereka.

.

“Apa? Katakan saja”, kata Kyuhyun.

.

“Aku mohon jangan khianati Hyesoo. Aku mendukung hubungan kalian. Dan tentu saja aku ingin hubungan kalian akan selalu baik-baik saja. Tapi aku tetap melihat pada kemungkinan terburuk. Jika kalian sudah tidak menemukan kecocokkan, maka berpisahlah dengan baik-baik. Jangan duakan dia. Meski Hyesoo kehilangan ingatannya dan tidak mengetahui apa yang sudah terjadi di masa lalu, aku tetap tidak ingin Hyesoo merasakan hal itu lagi”, kata Ryeowook mengutarakan permintaannya.

.

“Lagi? Hyesoo pernah disakiti orang seorang laki-laki? Siapa laki-laki itu? Beraninya dia…” tanya Kyuhyun dengan keningnya yang berkerut.

.

“Hhh… Semua itu sudah berlalu, sunbae. Kami memutuskan untuk menganggap hal itu sebagai takdir dan melupakannya perlahan. Lagipula…… Siwon hyung tidak bermaksud menyakiti Hyesoo”, jawab Ryeowook.

.

Tatapan mata Kyuhyun berubah cepat saat mendengar nama yang tidak asing di telinganya. “Kau bilang siapa nama laki-laki itu?” tanya Kyuhyun setelahnya.

.

“Siwon hyung. Choi Siwon. Dia sudah meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan di Seattle. Sayang sekali… Aku selalu mengingatnya sebagai orang yang baik, diluar perbuatannya yang sudah menduakan Hyesoo”, jawab Ryeowook.

.

“Kau yakin?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Tentang apa?” Ryeowook balas bertanya.

.

“Kau yakin dia orangnya?”

.

“Tentu saja. Aku tahu semua hal tentang Hyesoo. Aku tahu siapa saja laki-laki yang dekat dengannya. Termasuk tentang laki-laki itu. Choi Siwon”, jawab Ryeowook menegaskan jawabannya.

.

“Choi Siwon…”

.

.

.

.

TBC

 

Note:

To… be… con…ti…nued… AGAIN!

Well, seperti yang aku katakan diawal, part ini serba manis sampai menjelang pahit. Masih jauh dari pahit, hanya menyentuh garis awal pahit. Aku menduga beberapa diantara kalian senyum-senyum nggak jelas sepanjang FF. Yup! Ini adalah part special ‘smiling all part long’ dari seri FF I’m walking towards you. Apakah diantara kalian ada yang berpikir kisah ini akan berakhir di part ini? No. No. Tidak semudah itu… Part 8 yang diawali dengan gula bertebaran disana-sini diakhiri dengan terbukanya sebuah fakta baru bagi Kyuhyun dan Hyesoo. Dari sikap yang ditunjukkan Kyuhyun dan Hyesoo, bagaimana pendapat kalian? Kira-kira reaksi siapa yang lebih membuat kalian degdegkan? Pertanyaannya, mungkinkah hal yang ‘seharusnya’ sudah tidak menjadi masalah (secara, Hyesoo sudah menyatakan bahwa dia memaafkan Siwon. Dan Kyuhyun, yang nggak ada hubungannya juga dengan masalah Hyesoo di masa lalu), justru menimbulkan masalah baru bagi keduanya? Kalau iya, kira-kira kenapa ya readers-nim?

Cerita di part selanjutnya masih dalam pertimbanganku. Aku masih menimbang kadar keinginan antara melanjutkan sweet moment atau justru lebih ke menyelesaikan permasalahan. Aku juga masih menimbang-nimbang akan seperti apa akhir dari kisah ini. Hampir semua FF happy ending. Ingin membuat sesuatu yang berbeda, tapi sad ending terlalu kejam. Benar? Kita lihat nanti. Well, terima kasih karena sudah menikmati part istirahat ini. Sekarang saatnya kalian mengencangkan sabuk kalian lagi. Roller coaster akan kembali berangkat. Part selanjutnya aku jamin tidak akan setenang ini hehe *ketawalicik. FF ini akan di pending sampai setelah lebaran ya readersnim. Minggu depan tidak akan ada update. Cause I’ll take some healing times for holiday. Mianhaeyo, readersnim. Sampai bertemu di part selanjutnya setelah minggu lebaran. Kana Pamit! Annyeonghigaseyo!

.

.

.

.

Eits! Tunggu dulu… Ada bonus liburan untuk kalian!!!

.

Preview Part 9

Ket: setiap dialog tidak saling berhubungan

.

“Aku ingin makan siang bersamamu hari ini”.

“Ada sebuah janji yang harus ku tepati”.

“Aku sudah sangat merindukanmu”.

“Waktuku sangat terbatas akhir-akhir ini”.

“Waktunya sudah berakhir”.

“Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?”

“Semua ini tidak lucu”.

“Aku bukan orang seperti itu”.

“Tatapan matamu tidak bisa membohongiku”.

“Aku tidak bisa menghadapimu lagi”.

“Aku akan membuat seolah aku tidak pernah ada dalam hidupmu”.

.

Selamat liburan!!!

Advertisements

33 thoughts on “I’m walking towards you : Part 8

  1. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION – evilkyu0203

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s