I’m walking towards you : Part 7

Category: PG-15, Romance, Chapter, Sad

Cast:

Cho Kyuhyun, Kim Jaejoong, Lee Hyesoo (OC), Kang Soyu

Im Yoona, Kim Ryeowook, Lee Donghae, Choi Sooyoung, etc…

Disclaimer:

Annyeonghaseyo!!! “I’m walking towards you” kembali setelah hampir satu minggu (betul?). Kisah Hyesoo kembali berlanjut. Di part yang lalu, banyak hal melelahkan yang terjadi. Adegan-adegan manis juga tidak lupa aku sisipkan. Di part kali ini, tentu saja masalah belum terselesaikan. Akan ada adegan action level beginner dalam part ini. Aku memberikan clue itu hanya agar kalian bersiap-siap saja… Caution! Cast dalam FF ini juga akan cukup banyak. Entah hanya sebagai cameo atau sebagai peran pendukung. Karena itu, fokuslah wahai para readers-nim. FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasia tau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com

Aku tidak bosan untuk selalu berpesan, jadilah pembaca yang baik dan sopan. Biasakan untuk tidak bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Karena aku yakin para readers adalah orang-orang yang terpelajar dan mengerti sopan santun. Benar? Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 6

“Begitu nyaman memelukmu”.

“Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi lain kali jika kau mengulanginya di tempat lain. Jangan lakukan itu lagi”.

“Aku mengerti”.

Kau dimana? Dimana lokasinya?

“Tidak perlu khawatir, Donghae-ya. Aku masih di Seoul”.

Kau akan pulang terlebih dahulu atau langsung ke kampus? Aku bisa meminta Min ahjussi untuk menjemputmu“.

“Tidak perlu. Ada banyak taksi di Seoul. Maafkan aku…”

Untuk apa minta maaf padaku?

“Karena membuatmu khawatir”.

————————

“Aku melakukannya lagi”.

“Apa?”

“Aku selalu berbohong padanya tentang semua hal yang berhubungan denganmu”.

“Aku benci membiarkanmu pergi dari apartment ku”.

“Aku harus ke kampus, sunbae”.

“Aku benar-benar benci mendengar kata-kata itu, Lee Hyesoo”.

“Percayalah, aku juga merasa begitu”.

————————-

“Sunbae, apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?”

“Aku lebih dari baik-baik saja. Maaf sudah merepotkanmu”.

“Jadi, apa sunbae mau menjelaskannya padaku sekarang?”

“Aku punya sedikit masalah kemarin. Dan aku ke sebuah bar. Aku tidak tahu jika bar itu miliknya. Aku sangat mabuk. Dia membawaku ke apartment nya. Selesai. Itu penjelasanku”.

“Aku bahkan tidak tahu bahwa kalian berdua saling mengenal”.

“Kami berhubungan baik. Tidak ada bahaya. Semuanya masih terkontrol. Aku butuh bantuanmu untuk merahasiakan hal ini. Hm?”

“Baiklah, sunbae. Aku akan membantumu… Dengan satu syarat! Jika ada sesuatu terjadi diantara kalian, maka sunbae harus mencariku dan membiarkan aku membantumu”.

“Aku setuju”.

————————

“Apa yang sedang kau lakukan, Lee Hyesoo? Bukankah sudah ku katakan padamu untuk menjauhi Cho Kyuhyun?”

“Apa yang sudah aku lakukan? Aku memberikan sebuah saran padamu untuk datang pada Kyuhyun, bicara padanya, atau mendekatinya. Sudahkah kau melakukannya? Terima kenyataannya. Kali ini pun kau tidak berhasil mendapatkan keinginanmu. Aku minta maaf atas apa yang terjadi padamu di masa lalu. Walaupun hal itu tidak terjadi atas kesalahanku”.

“Jadi selama ini kau memang sedang memainkan sebuah permainan? Kau menggunakan konsep itu hanya untuk mendapatkan Cho Kyuhyun. Kau tidak memikirkan kemungkinan dia juga akan mengkhianatimu seperti yang dilakukan Choi Siwon padamu?”

“Hentikan!!! Aku bilang hentikan!!! Seperti yang kau katakan, Kang Soyu. Dia sudah pergi. Biarkan dia pergi dengan tenang”.

“Apa yang sedang kau bicarakan, Lee Hyesoo? Kemana Choi Siwon pergi?”

“Dia meninggal tertabrak truk saat sedang mengikutimu yang mengejar Jaejoong sunbae setelah keluar dari sebuah café di Seattle dua tahun yang lalu. Aku tidak bisa lagi. Kita bicarakan Cho Kyuhyun lain kali. Putuskan sendiri apa yang akan kau lakukan setelah ini”.

————————-

“Aku merindukanmu”.

“Aku juga merindukanmu”.

“Sebentar saja. Peluk aku lebih lama. Aku sedang mengisi ulang energi ku”

“Apa yang terjadi di kampus?”

“Dia menamparku. Dengan sangat keras. Tepat di pipi kiriku”

“Katakan padaku! Siapa dia?!”

“Aku tidak akan memberitahumu. Dan kau tidak boleh mencari tahu tentangnya. Aku sudah terlalu sering menyakitinya. Aku tidak ingin menyakitinya lebih dalam lagi. Aku baik-baik saja. Hanya itu yang perlu kau ketahui”.

“Apa yang bisa aku lakukan untukmu?”

“Jangan lepaskan aku. Karena mungkin aku bisa terjatuh jika kau melakukannya”.

“Aku pastikan kau tidak akan bisa kemanapun, Lee Hyesoo”.

“Senang mendengarnya”.

————————

“Ada apa?”

“Tidak ada. Hanya bermimpi. Maaf membuatmu terbangun”.

“Mimpi buruk?”

“Bukan mimpi buruk. Aku hanya terkejut”.

“Sudah. Jangan dipikirkan lagi”.

Sayangku, Lee Hyesoo. Aku bersalah. Aku sudah terlalu menyakitimu. Kau memaafkan aku dengan mudah. Terima kasih banyak. Sebagai balasan, aku akan selalu menjagamu melalui cara yang tidak perlu kau ketahui”.

————————-

“Aku bisa menjelaskannya. Donghae-ya… Maafkan aku… Maaf karena membuatmu khawatir”.

“Kau baik-baik saja. Itu yang terpenting”.

“Kau marah padaku. Kau bahkan tidak mau menatapku saat bicara”.

“Bisakah aku menanyakan satu hal padamu? Kau dimana selama dua hari ini?”

“Aku menginap di rumah seorang teman. Aku sudah mengatakannya padamu”.

“Aku tahu kau tidak berada di rumah Irene, Hyesoo-ya…”

————————-

.

.

.

I’m walking towards you : Part 7

.

.

Author’s POV

Kediaman Keluarga Lee

 

Hyesoo menatap Donghae dengan tatapan terkejutnya. Tentu saja. Donghae akan melakukan apapun untuk menemukan Hyesoo. Bahkan tanpa membuat keributan sekalipun, Donghae akan dengan mudah mengetahui keberadaan Hyesoo. Donghae tidak mengatakan apapun lagi setelah itu. Ia menghabiskan kopinya dalam diam sambil masih menunggu respon Hyesoo. Sementara Hyesoo ikut terdiam disamping Donghae. Kecemasan menghampirinya, membuat darah di dalam tubuhnya mengalir deras, mempercepat kerja jantungnya. Dalam diam, Hyesoo bergumul dengan pikirannya, menimbang keputusan untuk tetap diam atau justru memberitahu Donghae hal yang sudah terjadi sebenarnya. Namun Hyesoo tidak dapat menyembunyikan kecemasannya akan reaksi Donghae jika mengetahui hal yang sedang ia sembunyikan. Hyesoo tidak ingin menambah keributan dengan semua orang yang ada di sekitarnya lagi. Hyesoo bahkan belum benar-benar menyelesaikan masalah yang sedang ia hadapi dengan orang lain.

.

“Jangan buat aku menunggu lagi, Hyesoo-ya. Sudah cukup menyembunyikan apapun dariku. Kau tahu kau tidak bisa melakukan itu untuk waktu yang lama. Apakah aku akan membebanimu jika aku mengetahuinya?” tanya Donghae.

.

“Bukan begitu, Donghae-ya. Aku hanya… Aku pasti akan memberitahumu. Tapi aku tidak yakin untuk mengatakannya sekarang”, jawab Hyesoo.

.

“Lalu kapan? Sampai kau lelah menyembunyikan banyak hal dariku? Jangan lakukan itu, Hyesoo-ya. Dari semua perbedaan diantara kita, ada satu hal yang tidak pernah berbeda. Kau dan aku tidak bisa berbohong pada satu sama lain. Aku yakin kau juga mengetahui hal itu dengan baik”, kata Donghae.

.

“Terlalu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Kau selalu membantuku menyelesaikan semua hal. Kali ini aku ingin menyelesaikannya sendiri. Aku ingin berguna untuk diriku sendiri, Donghae-ya”, ujar Hyesoo.

.

“Kau selalu berguna untuk dirimu sendiri, Hyesoo-ya. Aku tidak bisa melakukan semua hal untukmu. Kau selalu menolak bantuanku. Dan selalu ada saat dimana aku tidak bisa memperdebatkannya denganmu. Karena itu, katakan padaku apa yang kau anggap perlu untuk aku ketahui”, bujuk Donghae.

.

“Aku ingin kau menunggu, Donghae-ya. Sampai aku benar-benar yakin. Saat waktu itu tiba, aku pasti akan memberitahumu”, kata Hyesoo sekali lagi menolak untuk bicara.

.

“Apa yang membuatmu tidak yakin? Dia memiliki semua aspek yang lebih dari cukup untuk menjagamu”, tanya Donghae.

.

“Apa maksudmu, Donghae-ya? Dia? Siapa yang sedang kau bicarakan?” Hyesoo balas bertanya.

.

“Cho Kyuhyun”, jawab Donghae singkat.

.

Hyesoo kembali menoleh pada Donghae, terkejut dengan ucapan yang baru saja keluar dari bibir Donghae. ‘Bagaimana dia bisa mengetahuinya?’ tanya Hyesoo dalam pikirannya. Ekspresi Donghae masih tidak terbaca. Ia tidak bicara lagi dan tidak menoleh pada Hyesoo. Donghae menyentuh cangkir kosong bekas kopinya dengan jari-jarinya. Donghae menunggu tanggapan selanjutnya dari Hyesoo. Tapi Hyesoo masih terkejut dengan ucapan Donghae dan sikap Donghae yang begitu tenang, bahkan setelah mengetahui hal yang disembunyikan Hyesoo.

.

“Donghae-ya, tentang itu……”

.

“Aku tahu semuanya, Hyesoo-ya. Kejadian yang membuatmu masuk rumah sakit beberapa waktu yang lalu, serta keberadaanmu kemarin yang sedang kau coba sembunyikan dariku”, kata Donghae, membuat kecemasan Hyesoo semakin bertambah. “Kau bersamanya selama dua hari terakhir, bukan? Cho Kyuhyun. Hm?” tanya Donghae yang memotong ucapan Hyesoo.

.

“Donghae-ya, aku akan menjelaskannya padamu”, kata Hyesoo tanpa menjawab pertanyaan Donghae.

.

“Jika kau jujur padaku, maka aku tidak akan marah padamu. Karena sikapku selanjutnya akan bergantung pada jawabanmu saat ini. Jawab aku, Hyesoo-ya. Apa kau bermalam di rumah Cho Kyuhyun?” tanya Donghae lagi.

.

.

BGM: Okdal – My Love Song

.

.

Hyesoo tidak menjawab pertanyaan Donghae lagi. Ia terdiam. Tiba-tiba Donghae tersenyum, menampakkan barisan giginya yang rapi. Donghae memutar kursinya, menghadap Hyesoo. Ekspresi wajahnyanya melembut dan sudut bibirnya masih tertarik membentuk senyuman lebar. Hyesoo mengernyitkan keningnya, bingung dengan perubahan sikap Donghae yang terlalu cepat. Donghae melipat tangannya di depan dada, menunggu Hyesoo memberikan penjelasan padanya. Lalu senyuman di wajah Donghae semakin mengembang, seolah mengejek kekhawatiran tidak berdasar Hyesoo.

.

“Kenapa kau tersenyum?” tanya Hyesoo.

.

“Karena aku ingin”, jawab Donghae yang tertawa kecil.

.

“Tahukah kau betapa anehnya dirimu saat ini?” tanya Hyesoo lagi.

.

“Tidak. Aku tidak menemukan keanehan apapun dalam sikapku saat ini. Aku justru menemukan kekhawatiran tidak beralasan dalam dirimu. Apa yang kau khawatirkan? Kau takut aku akan marah? Karena berhubungan dengan Cho Kyuhyun?” tanya Donghae.

.

You’re not [angry]? (Kau tidak marah?)” tanya Hyesoo bingung.

.

Not at all. I’m even glad to hear that (Tidak sama sekali. Aku justru senang mendengarnya)”, jawab Donghae.

.

“Kau sudah gila”, kata Hyesoo memberikan pernyataan atas sikap Donghae saat ini.

.

I’m not [crazy]. Why am I? (Aku tidak gila. Kenapa aku gila?)” kata Donghae.

.

“Dan alasanmu bersikap seperti ini adalah?” tanya Hyesoo lagi.

.

“Kau berhubungan dengan Cho Kyuhyun? Hal itu yang membuatku tersenyum. Hhh…” jawab Donghae. “Aku merasa lega, inma! Aku sudah berpikir kau menginap di tempat yang tidak kau ketahui dan tersesat. Jika kau mengatakannya padaku sejak kemarin, maka aku tidak perlu mempercepat kepulanganku ke Seoul”.

.

“Lee Donghae… Kau sedang bercanda, ‘kan? Kau merasa lega karena aku bersama Cho Kyuhyun?” tanya Hyesoo.

.

“Benar. Kenapa kau heran seperti itu?” Donghae balas bertanya pada Hyesoo.

.

“Karena yang lainnya tidak memberikan tanggapan yang sama denganmu. Lebih banyak orang yang tidak menyukainya. Cho Kyuhyun”, jawab Hyesoo.

.

“Jika ada banyak orang yang tidak menyukainya, maka aku harus tidak menyukainya juga? Tentu tidak, bukan? Aku tidak punya alasan untuk melakukan hal itu. Setelah apa yang dia lakukan untukku, sudah semestinya aku menyukainya seperti ini”, kata Donghae menjelaskan.

.

“Apa yang dia lakukan untukmu?” tanya Hyesoo.

.

“Aku akan memberitahumu jika kau berjanji padaku, kau tidak akan menutupi hal apapun yang berhubungan dengan Cho Kyuhyun dariku. Setuju?” Donghae mengajukan syaratnya.

.

“Setuju. Sekarang katakan padaku”, desak Hyesoo.

.

“Hyung itu sudah menyelamatkan hidupku. Bukan benar-benar hidupku. Tapi juga hidupku”, kata Donghae. “Akh! Sakit!!!” seru Donghae yang menerima pukulan keras di lengannya.

.

“Bicara yang jelas! Hidupmu atau bukan?!” seru Hyesoo yang kesal dengan jawaban tidak serius Donghae.

.

“Hidupku juga ish!” jawab Donghae yang juga merasa kesal setelah menerima pukulan keras Hyesoo. “Hidupmu. Kita kembar. Hidupmu adalah hidupku juga. Tidak begitu? Dengan menyelamatkan hidupmu, maka dia juga sudah menyelamatkan hidupku. Dia mengembalikan hidupku yang hampir menghilang dengan menyelamatkanmu”, sambung Donghae.

.

“Menyelamatkanku? Bagaimana?” tanya Hyesoo.

.

“Dua tahun yang lalu saat kau kecelakaan, kau membutuhkan transfusi darah, yang cukup banyak. Persediaan darah di rumah sakit habis. Butuh waktu sampai petang untuk mendapatkannya lagi dari bank darah. Kau tahu, dalam keluarga kita hanya aku dan eomma yang memiliki golongan darah yang sama denganmu. Dan hari itu eomma tidak dapat mendonorkan darahnya. Jika bisa, aku ingin mendonorkan seluruh darahku untukmu. Tentu saja hal itu tidak mungkin dapat ku lakukan. Lalu Cho Kyuhyun yang saat itu sedang berada disana untuk alasan yang tidak ku ketahui, menawarkan diri untuk mendonorkan darahnya. Bahkan dia mendonorkan lebih banyak dari yang seharusnya”, kata Donghae menjelaskan.

.

“Benarkah? Tapi dia tidak pernah mengatakan apapun padaku”, kata Hyesoo.

.

“Dia tidak mengenalmu. Dia mendonorkan darahnya tanpa melihatmu. Dia takut suatu saat jika bertemu denganmu di belahan dunia manapun, dia akan meminta balasan darimu. Itulah gurauan yang dia katakan.  Karena itu, kau pun tidak perlu membahas hal itu dengannya. Jangan membebaninya”, kata Donghae.

.

“Baiklah. Aku mengerti… Hhh… Dia selalu melakukan hal diluar dugaanku. Benar-benar…” kata Hyesoo.

.

“Aku dengar perusahaan appa juga bekerja sama dengan perusahaan keluarganya beberapa bulan belakangan”, sambung Donghae.

.

“Kebetulan yang benar-benar tidak terduga. Membuatku merinding saja mendengarnya”, kata Hyesoo memberikan tanggapannya.

.

“Kebetulan? Jangan bercanda… Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Semua hal sudah dirancang untuk terjadi pada waktu yang tepat”, ujar Donghae. “Tapi… Sepertinya kalian benar-benar dekat. Atau tidak? Kau menyukainya, bukan?” tanya Donghae tiba-tiba, menggoda Hyesoo.

.

“Apa yang sedang kau katakan? Jangan konyol…”

.

“Majne… (Benar…) Kau memang menyukainya”, goda Donghae lagi.

.

“Stop it, Lee Donghae!” protes Hyesoo. Tapi ekspresi Hyesoo menunjukkan yang sebaliknya. Ia tersenyum tipis.

.

“Why? Why should I stop? I know you very well, sister. You like him!”, kata Donghae.

.

“Tutup mulutmu”, kata Hyesoo yang segera bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Donghae di dapur.

.

“Kau menyukainya ‘kan, Lee Hyesoo?!” seru Donghae menggoda Hyesoo sekali lagi yang hanya dijawab dengan lambaian tangan oleh Hyesoo.

.

Flashback

Ket: Kejadian ini tidak diceritakan oleh siapapun dan pada siapapun

(hanya untuk pembaca).

Hari kedua Hyesoo dirawat di ICU. Kondisi Hyesoo belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Bahkan tekanan darahnya semakin menurun dari hari sebelumnya. Orang tua, Donghae dan Hyeri selalu menunggunya dengan setia secara bergantian. Jaejoong pun datang bersama Ryeowook dan Yoona. Lalu perawat yang menangani Hyesoo mendatangi ayah Hyesoo dan Donghae. Mereka mendengarkan penjelasan perawat dengan perhatian penuh. Sesaat kemudian Donghae meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya, lalu memejamkan mata dan meremas rambutnya. Wajahnya menunjukkan semua hal yang ia rasakan dengan jelas. Rasa lelah, bingung, waspada, takut, frustrasi, cemas, tergambar diwajah sendunya. Donghae pun berjalan mendekat pada keluarga dan teman-temannya.

.

“Apa yang dikatakan oleh perawat, oppa?” tanya Hyeri yang duduk disebelah ibunya.

.

“Rumah sakit kehabisan persediaan darah. Sementara Hyesoo masih membutuhkan transfusi. Bank darah di pusat kota baru bisa mengirimkan pasokan petang ini. Hampir semua jalan menuju keluar kota tidak bisa dilalui karena cuaca buruk”, jawab Donghae menjelaskan. “Tentu saja aku akan mendonorkan darahku. Tapi tetap tidak akan cukup”, sambung Donghae.

.

“Aku bisa mendonorkan darahku. Aku juga bergolongan darah B”, kata Yoona.

.

“Kau tidak bisa, Yoona-ya. Berat badan mu tidak memenuhi kriteris untuk mendonorkan darah”, kata Donghae.

.

“Bagaimana ini? Golongan darahku AB seperti appa. Apa yang harus kita lakukan, oppa?” tanya Hyeri.

.

Donghae tidak bisa menjawab pertanyaan Hyeri. Karena Donghae pun belum menemukan jawaban atas pertanyaan yang sama sejak tadi. Kondisi cuaca yang buruk menghambat mereka untuk mencari bantuan keluar rumah sakit. Terlalu beresiko jika bersikeras untuk menembus hujan badai. Sementara semua orang yang sedang menunggu Hyesoo tidak memiliki golongan darah yang sama selain Donghae dan ibunya. Seperti tertimpa jangkar setelah tenggelam ke lautan, bahkan ibunya tidak bisa mendonor karena tekanan darahnya sedang meningkat. Donghae duduk di lantai rumah sakit sambil memeluk kedua kakinya, bersandar di dinding. Kepalanya terasa begitu sakit. Berdenyut keras seperti menunggu detik-detik sebelum meledak. Keadaan buruk yang satu dan lainnya bergantian datang menghampirinya. Belum ada kata selesai. Lalu tiba-tiba ia menolehkan wajahnya ke sisi kanan koridor rumah sakit saat sudut matanya sempat menangkap ada sosok seseorang yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Namun saat Donghae menoleh, tidak ada siapapun disana. Rasa sakit dikepalanya membuat Donghae menghiraukan hal itu setelahnya.

.

Beberapa menit setelahnya…

.

Kyuhyun melangkah mendekati ruang ICU. Kyuhyun melihat sebuah keluarga dengan dua anak, laki-laki dan perempuan, yang sedang berada di ruang tunggu. Wajah mereka dipenuhi dengan kecemasan dan ketakutan. Seketika ia teringat akan situasi yang sama, yang pernah dialami oleh kedua orang tuanya. Ketika ia harus dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung beberapa tahun yang lalu. Ketika nyawa nya hampir tidak bisa diselamatkan. Situasi menakutkan itu masih teringat jelas sampai saat ini. Kyuhyun pun berjalan menuju meja perawat, memberitahu kebersediaannya untuk mendonorkan darahnya pada pasien yang sedang membutuhkan. Perawat pun dengan sigap melakukan pendataan dan pemeriksaan kecocokkan darah Kyuhyun dengan pasien. Setelah mendapatkan hasil kecocokkan yang akurat, akhirnya perawat memperbolehkan Kyuhyun untuk mendonorkan darahnya. Dari balik pintu ruangan yang setengahnya terbuat dari kaca, Donghae melihat itu. Kyuhyun mendonorkan darahnya lebih dari yang semestinya. Mengetahui hal itu, setelah Kyuhyun selesai, Donghae pun meminta pada perawat untuk menggantikan perawat yang akan memberikan makanan dan minuman pada Kyuhyun. Donghae ingin berterimakasih secara langsung pada Kyuhyun.

.

“Ini. Kau harus makan dan minum ini semua untuk memulihkan keadaanmu”, kata Donghae yang menghampiri Kyuhyun.

.

Kyuhyun menatap nampan yang dibawa ke hadapannya, kemudian menatap Donghae setelahnya. Ada ekspresi yang menyatakan rasa lelah dan lega diwajah Donghae. Sudut bibir Donghae tertarik, membentuk sebuah senyuman kecil yang diberikan pada Kyuhyun. Saat itupun ia menyadari bahwa orang yang sedang berdiri di hadapannya adalah salah satu anggota keluarga pasien itu.

.

“Terima kasih banyak. Kau sudah menyelamatkan hidupnya. Hidupku juga. Aku berhutang budi padamu. Aku akan melakukan apapun untuk membalas kebaikanmu”, kata Donghae lagi.

.

“Tidak perlu. Aku sudah merasa senang dengan melakukan satu hal baik untuk pertama dan mungkin terakhir kalinya dalam hidupku. Itu saja sudah cukup”, ujar Kyuhyun.

.

“Kau ingin menemuinya sebelum pergi?” tanya Donghae menawarkan untuk menemui Hyesoo di dalam ruangan.

.

“Tidak. Aku adalah tipe orang yang suka menagih balas budi. Aku tidak ingin menagihnya jika suatu saat nanti kami bertemu di persimpangan jalan”, jawab Kyuhyun dengan nada berguraunya. “Lagipula kalian kembar. Aku sudah melihat wajahnya di wajahmu”.

.

“Benar. Tentu saja. Baik, aku tidak akan memaksamu. Tapi tolong makan dan minum ini sebelum kau pergi”, pinta Donghae.

.

“Aku mengerti”, ujar Kyuhyun.

.

Flashback end

.

.

.

.

K University

Gedung Fakultas Kedokteran

.

Kuliah pengantar dari Profesor Shin baru saja berakhir. Beberapa mahasiswa pun sudah meninggalkan ruang kelas dengan cepat. Sementara Hyesoo masih berada di tempat duduknya, merapikan barang-barangnya lalu memasukkannya ke dalam tas. Seharusnya saat ini wajah Hyesoo terlihat cerah dan riang setelah mendapatkan persetujuan dari Donghae pagi ini. Namun wajah Hyesoo justru terlihat tidak bersemangat. Ada rasa tidak nyaman yang tidak ia mengerti. Seolah akan ada sesuatu yang terjadi hari ini.

.

Suasana yang semula ramai pun berubah hening. Jaejoong masuk ke ruangan itu dengan tenang. Tidak ada ekspresi yang terbaca dari wajahnya. Jaejoong begitu tenang, dingin dan diam. Hyesoo baru menyadari kehadiran Jaejoong setelah mendengar beberapa mahasiswa dibelakangnya yang saling berbisik menyebutkan nama Jaejoong. Hyesoo menoleh pada satu-satunya orang yang sedang menjadi pusat perhatian mahasiswa di kelas itu. Seketika Hyesoo memberikan senyum tipisnya saat Jaejoong berjalan mendekat padanya.

.

“Annyeonghaseyo, sunbae. Kita baru tidak bertemu selama dua hari, tapi rasanya sudah lama sekali”, sapa Hyesoo dengan senyum mengembang diwajahnya.

.

“Bisa kita bicara diluar?” tanya Jaejoong yang memberikan senyum tipisnya, tanpa membalas sapaan Hyesoo.

.

“Ne, tentu saja, sunbae”, jawab Hyesoo menerima ajakan Jaejoong.

.

BGM: Jung Seung Hwan – The Time I Loved You

.

Hyesoo segera bangkit berdiri lalu berjalan mengikuti Jaejoong yang sudah berbalik berjalan mendahului Hyesoo. Sesampainya di koridor depan kelas, mereka berjalan berdampingan menuju tempat yang lebih nyaman untuk bicara. Jaejoong pun memilih sebuah taman yang berada diantara gedung fakultas kedokteran dan gedung laboratorium utama fakultas ilmu kesehatan. Taman itu tidak lebih besar dari taman lainnya. Namun hal itu justru menguntungkan bagi Jaejoong dan Hyesoo. Karena tidak banyak mahasiswa yang datang ke taman itu. Mereka bisa berbicara lebih leluasa tanpa perlu mengkhawatirkan orang lain yang mungkin bisa mendengar mereka.

.

“Ada apa, sunbae? Apa ada suatu hal yang terjadi?” tanya Hyesoo.

.

“Hyesoo-ya, tolong bicara dengan jujur padaku kali ini”, kata Jaejoong yang tidak menjawab pertanyaan Hyesoo. “Kemana kau pergi selama dua hari kemarin? Kau bahkan tidak tidur di rumah. Kau dimana?”

.

“Bagaimana sunbae bisa mengetahui bahwa aku tidak tidur di rumah selama dua hari?” Hyesoo balas bertanya.

.

“Kemarin aku bertemu dengan Donghae yang seharusnya belum berada di Seoul. Dia kembali untuk mencarimu. Kau dimana?” tanya Jaejoong lagi.

.

“Aku menginap di rumah Irene. Kau kenal dia, bukan? Dia mahasiswa kedokteran juga”, kata Hyesoo.

.

“Hyesoo-ya… Aku bilang bicara dengan jujur. Kau tidak mengatakan hal yang sebenarnya”, kata Jaejoong.

.

“Apa maksud sunbae? Aku mengatakan hal yang sebenarnya”, sangkal Hyesoo.

.

“Kau berbohong padaku…” kata Jaejoong yang kemudian menghela napas panjang. “Kau tidak bersama Irene. Kau tidak berada dirumahnya”.

.

“Kenapa sunbae begitu yakin dengan hal itu? Sunbae bahkan tidak benar-benar tahu yang sebenarnya”, kata Hyesoo yang masih mencoba  menyangkal dugaan Jaejoong.

.

“Hyesoo-ya, aku dan Irene tinggal berdekatan. Rumahnya tepat berada di samping rumahku. Dan selama dua hari kemarin kau tidak disana”, Jaejoong memberikan pernyataan yang tidak pernah diduga oleh Hyesoo. “Kau dimana?” tanya Jaejoong untuk yang ke sekian kalinya.

.

Hyesoo terdiam. Ia tidak bisa lagi menyangkal dugaan Jaejoong. Karena kenyataannya sudah diungkapkan oleh Jaejoong. Tidak ada lagi alasan yang bisa Hyesoo katakan. Bahkan Hyesoo merasa tidak mampu untuk mengungkapkan kebenarannya. Mengingat perasaan yang Jaejoong miliki padanya dan adanya hubungan Jaejoong dengan kejadian 2 tahun yang lalu di Seattle. Hyesoo tidak ingin membuat Jaejoong berharap. Tapi Hyesoo juga tidak bisa menyakiti Jaejoong.

.

“Lee Hyesoo, jawab aku. Dimana kau menginap?” tanya Jaejoong.

.

“Di rumah seorang teman”, jawab Hyesoo.

.

“Aku tahu. Dan aku sudah memastikan bahwa teman yang kau maksud bukanlah Irene. Lalu siapa?” tanya Jaejoong mendesak Hyesoo supaya menjawab pertanyaannya.

.

“Sunbae, hentikan”, kata Hyesoo tetap pada pendiriannya untuk tidak menjawab pertanyaan Jaejoong.

.

“Jawab aku, Lee Hyesoo”, desak Jaejoong.

.

Disaat yang sama, otak Hyesoo seolah berhenti bekerja. Hyesoo tidak tahu harus mengatakan apa pada Jaejoong. Ia tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya, tapi juga ingin segera mengakhiri pembicaraan ini.

.

“Lee Hyesoo!” seru Jaejoong menyadarkan Hyesoo dari lamunannya.

.

“Aku tidak punya alasan untuk menjawab pertanyaan, sunbae”, jawab Hyesoo akhirnya.

.

“Apa?”

.

“Sunbae, jangan lakukan ini!” kata Hyesoo dengan mata terpejam. Sesaat kemudian, Hyesoo kembali membuka matanya lalu menatap tepat ke mata Jaejoong. “Jangan melanggar batasanmu… Donghae bahkan tidak memberikanku tekanan seperti yang sedang sunbae lakukan saat ini. Jadi tolong… berhenti mendesakku. Jangan membuatku kehilangan rasa hormatku padamu”.

.

Tanpa mengatakan apapun dan mendengarkan kata apapun, Hyesoo pergi meninggalkan Jaejoong yang terdiam setelah mendengar ucapan Hyesoo. Perasaannya bercampur tidak menentu tanpa bisa ia mengerti alasannya sedikitpun. Penjagaan yang dilakukan Jaejoong, perasaan Jaejoong padanya, serta kenyataan bahwa Jaejoong terhubung dengan kejadian beberapa tahun lalu, membuat perasaan Hyesoo tidak nyaman. Hyesoo sudah mencoba untuk melupakan semua hal yang terjadi di masa lalu. Tapi Hyesoo tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ada satu sisi di dalam dirinya yang diam-diam menyalahkan Jaejoong atas peristiwa yang terjadi beberapa tahun lalu di Seattle. Sisi egois dalam diri Hyesoo menunjuk Jaejoong sebagai pemicu kejadian yang tidak diinginkan semua orang itu. Bahkan saat ini, sisi rasional dan pemaaf Hyesoo tidak bisa menekan perilaku menuduh yang tidak baik itu.

.

“Mwoya Lee Hyesoo… Kau bahkan tidak mengingat kejadian apapun yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Seharusnya kau tidak boleh menyalahkannya begitu saja. Mungkin saja dia bahkan tidak tahu tentang permaian Kang Soyu”, keluh Hyesoo dalam pikirannya sambil terus berjalan dengan cepat.

.

“Lagipula, memangnya kau bisa mengatur perasaanmu? Jika Jaejoong sunbae tidak bisa menyukai Kang Soyu seperti kau yang tidak bisa menyukai Jaejoong sunbae, apa lagi yang bisa dilakukan? Berpikirlah dengan baik, Lee Hyesoo…” sambung sisi rasional dalam diri Hyesoo.

.

Hyesoo terus berjalan menyusuri trotoar. Ia terus berjalan tanpa menentukan tujuan, seperti yang selama ini selalu dilakukannya. Dan langkah kakinya membawa Hyesoo menuju tempat yang baru pertama kali ia datangi selama beberapa bulan kuliahnya di kampus ini. Gedung pertunjukkan fakultas seni. Gedung yang lebih terlihat seperti gedung teater ini berdiri begitu kokoh dengan lukisan-lukisan yang berjajar di seluruh tembok. Lantai yang terbuat dari marmer berwarna kecokelatan menambah kesan pada gedung yang memiliki dominasi warna cokelat dan hijau itu. Kaki Hyesoo tergerak untuk menyusuri sepanjang lobby gedung, mengamati satu persatu lukisan yang terpampang disana. Hingga sosok seorang gadis tertangkap oleh kedua matanya.

.

“Sooyoung-ah!” seru Hyesoo.

.

“Eo, sunbae. Annyeonghaseyo…” sapa Sooyoung sambil menghampiri Hyesoo. “Sunbae tidak ada kelas hari ini?” tanya Sooyoung dengan senyum dipaksakan di bibirnya.

.

“Kelasnya baru saja selesai”, jawab Hyesoo dengan senyum lembutnya.

.

“Omo! Ada apa dengan pipi sunbae? Kenapa terlihat bengkak seperti itu?” tanya Sooyoung yang membelalakan matanya terkejut setelah melihat wajah Hyesoo.

.

‘Bagaimana dia bisa mengetahuinya? Bahkan Jaejoong sunbae dan Donghae tidak menyadarinya…’ kata Hyesoo dalam pikirannya. “Bukan apa-apa”, jawab Hyesoo pada Sooyoung.

.

“Apanya yang bukan apa-apa? Wajah sunbae terlihat bengkak seperti itu. Apakah seseorang baru saja memukul sunbae? Siapa orang itu? Kenapa dia memukul sunbae?” tanya Sooyoung.

.

“Aniya… Tidak seperti itu. Sudahlah. Aku tidak apa-apa”, kata Hyesoo masih dengan senyuman dibibirnya, menolak untuk menjawab pertanyaan Sooyoung.

.

“Sunbae… Jangan begitu. Sunbae selalu saja bersikap seperti ini. Sunbae terlalu baik dengan memaafkan orang yang melukai sunbae dengan begitu mudah. Sesekali sunbae harus melawannya. Jika tidak, mereka akan melukai sunbae terus menerus”, kata Sooyoung wajah khawatir dan mata berairnya.

.

Senyum Hyesoo menghilang saat melihat air mata yang menggenang di kedua mata Sooyoung. “Sooyoung-ah… Sudah. Berhenti disini. Jangan memaksakan dirimu”.

.

“Apa yang sedang sunbae bicarakan? Aku baik-baik saja…” kata Sooyoung.

.

“Aku bukan sunbae mu, Choi Sooyoung “, kata Hyesoo tanpa menjawab pertanyaan Sooyoung.

.

“Apa maksud sunbae?” tanya Sooyoung lagi.

.

“Lakukan seperti yang biasanya kau lakukan, Choi Sooyoung. Jangan memaksakan dirimu lagi…” jawab Hyesoo. Ia menghela napasnya, menimbang apa yang ingin ia katakan selanjutnya. “Panggil aku eonni. Seperti yang selalu kau lakukan. Hm?”

.

“Apa? Sunbae, tentang itu……”

.

“Sudah aku katakan, aku bukan sunbae mu”, kata Hyesoo.

.

“Bagaimana…… Bagaimana bisa……” tanya Sooyoung terbata.

.

“Aku sudah mengetahuinya. Aku mendengar pembicaraan kalian kemarin”, kata Hyesoo menjawab pertanyaan yang tidak terselesaikan oleh Sooyoung.

.

“Eonni… Eonni… Eonni, maafkan aku…” kata Sooyoung.

.

“Tentang apa? Kau tidak melakukan kesalahan apapun padaku”, ujar Hyesoo.

.

“Aku berpura-pura tidak mengenal eonni. Aku sudah membohongi eonni. Dan oppa sudah……”

.

“Sudah cukup. Jangan bebani dia lagi, Sooyoung-ah”, kata Hyesoo menghentikan ucapan Sooyoung. “Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Aku juga sudah memaafkannya. Dia tidak melakukan hal itu dengan sengaja. Dia berniat ingin menolongku. Aku hanya kehilangan sedikit keberuntunganku. Kau lihat, bukan? Saat ini aku masih hidup. Aku baik-baik saja. Aku berhutang banyak hal padanya”.

.

“Tapi, eonni… Oppa sudah melakukan kesalahan padamu”, kata Sooyoung dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.

.

“Aku tahu. Tentu aku mengetahui hal itu dengan baik. Tapi dia sudah mendapatkan balasan atas kesalahannya itu, Sooyoung-ah. Aku tidak bicara tentang kecelakaan yang menimpanya, tapi aku bicara tentang Kang Soyu yang ternyata hanya memanfaatkannya. Hhh… Intinya, aku tidak membencinya, Sooyoung-ah. Aku tidak bisa. Dia sudah pergi. Sudah cukup keributan dan keresahan tentang semua hal yang terjadi di masa lalu. Jangan mengusik ketenangannya disana lagi. Hm?”

.

“Hhh… Ne, eonni. Kau benar…” kata Sooyoung yang menyeka air mata di pipinya. “Terima kasih, eonni”.

.

“Untuk apa?” tanya Hyesoo dengan senyuman lembut di bibirnya.

.

“Karena sudah memaafkan oppa. Dan sudah menenangkan perasaanku”, jawab Sooyoung dengan senyum tulusnya kali ini.

.

“Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Karena kau sudah datang ke Seoul. Meski sudah menyembunyikan jati dirimu yang sebenarnya, tapi aku mensyukuri kedatanganmu. Karena dengan begitu, akhirnya aku mengetahui apa yang benar dan apa yang salah. Aku sudah menghabiskan dua tahun waktuku untuk membenci dia atas tindakan yang tidak dengan sengaja dilakukannya. Justru seharusnya akulah yang disalahkan atas kejadian itu. Semua hal bermula dariku, bukan? Jaejoong sunbae menyakiti Kang Soyu karena perasaannya padaku. Kang Soyu menyakiti Siwon karena perasaannya pada Jaejoong sunbae. Siwon menyakitiku karena perasaannya pada Kang Soyu. Dan aku, secara tidak sengaja sudah menjadi sumber semua kejadian itu. Aku menerima balasannya. Dan seharusnya Siwon tidak perlu menerimanya juga. Maafkan aku, Sooyoung-ah…” kata Hyesoo mengutarakan hal yang selama ini berkumpul dalam pikirannya.

.

“Tidak, eonni… Jangan menyalahkan dirimu. Eonni juga tidak mengetahui perasaan Jaejoong sunbae. Eonni dan oppa tersakiti tanpa mengetahui apapun. Karena itu, eonni juga tidak melakukan kesalahan apapun”, kata Sooyoung.

.

Tidak ada kata lagi yang keluar dari bibir Hyesoo setelahnya. Ia hanya bisa memberikan senyumannya untuk menguatkan Sooyoung, dan menguatkan dirinya juga. Hyesoo tidak bisa menemukan kata apapun lagi untuk mengungkapkan rasa menyesalnya atas semua hal yang terjadi pada Siwon. Rasa sesak meliputi diri Hyesoo saat ia menatap Sooyoung. Hyesoo merasa seolah sebuah batu sedang dihentakkan ke dadanya. Selama dua tahun terakhir Sooyoung harus menanggung kesedihan dan rasa bersalah dalam satu waktu. Hyesoo benar-benar merasakan penyesalan yang begitu mendalam setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya terjadi. Penyesalan itu semakin terasa setiap kali Hyesoo menyadari kenyataan bahwa ia tidak bisa mengingat apapun tentang Siwon yang telah melindunginya. Tiba-tiba Sooyoung menghela napas panjang, lalu benar-benar menyeka air mata di pipinya untuk yang terakhir kali. Sooyoung pun menoleh pada Hyesoo dan tersenyum lebar. Hyesoo berusaha membalas senyum itu meski rasa sesak dalam dadanya belum menghilang.

.

“Eonni, apakah eonni sudah makan siang?” tanya Sooyoung.

.

“Belum”, jawab Hyesoo sambil menggelengkan kepalanya.

.

“Ayo kita makan bersama. Eonni mau, ‘kan?” ajak Sooyoung.

.

“Tentu saja”, Hyesoo menyetujui ajakan Sooyoung dengan cepat.

.

“Kalau begitu, eonni, bisakah eonni menunggu disini sebentar? Aku meninggalkan tasku di dalam teater. Aku akan mengambilnya dan segera kembali”, kata Sooyoung.

.

“Baiklah. Aku akan menunggu disini”, kata Hyesoo.

.

“Eonni berjanji tidak akan kemanapun? Tetap disini?” tanya Sooyoung dengan nada riangnya.

.

“Eo… Cepat ambil tasmu”, kata Hyesoo dengan senyum mengembangnya.

.

“Arasseo!” kata Sooyoung yang segera melesat masuk ke dalam teater.

.

Ekspresi wajah Hyesoo kembali muram saat Sooyoung sudah berjalan menjauh masuk ke dalam gedung. Hyesoo terdiam memandang jauh ke danau yang ada di seberang jalan. Terlalu banyak hal yang ada di pikirannya saat ini, sehingga membuatnya justru tidak bisa memikirkan apapun lagi. Sebuah kejadian sudah terungkap, namun Hyesoo bahkan tidak bisa mengingat apapun yang terjadi di masa itu. Rasa bersalah, kesedihan, penyesalan, rasa sakit dan pilu seharusnya sudah berlalu dengan diucapkannya kata maaf. Namun ternyata tidak semudah itu mengucapkan kata berlalu. Tiba-tiba ponsel di saku celana Hyesoo bergetar, menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Hyesoo segera mengeluarkan ponselnya untuk melihat isi pesan itu. Nama Yoona tampak di layar ponsel sebelum Hyesoo membuka pesan yang diterimanya.

.

From: Yoona

Kau dimana?

Sudah dua hari aku tidak menemukanmu

Ayo makan bersama

.

Hyesoo menghela napas panjang setelah membaca pesan singkat yang dikirim oleh Yoona. Seharusnya Hyesoo tidak merasakan keraguan untuk membalasnya. Tapi berbagai pertimbangan justru muncul di kepalanya. Hyesoo diliputi keraguan dalam menggerakkan jari-jarinya untuk membalas pesan Yoona. Ada hal yang tidak bisa ia mengerti, yang menahannya untuk menerima ajakan Yoona. ‘Apa yang sedang kau lakukan? Jangan seperti ini, Lee Hyesoo. Yoona juga sama tidak tahunya denganmu’, kata Hyesoo dalam pikirannya. Hyesoo pun memejamkan matanya selama beberapa saat sebelum akhirnya menatap layar ponselnya. Hyesoo tidak segera membalas pesan Yoona, melainkan menekan nomor Yoona untuk menghubunginya secara langsung.

.

Eo, Hyesoo-ya. Kau dimana?” tanya Yoona di detik yang sama setelah sambungan telepon terhubung.

.

“Kampus. Kau?” Hyesoo balas bertanya.

.

Aku juga. Kau dimana? Aku tidak menemukanmu di gedung kedokteran”, kata Yoona.

.

“Saat ini kau sedang berada di gedung kedokteran?” tanya Hyesoo lagi.

.

Eo… Aku bertanya padamu, kau dimana? Kenapa sulit sekali untuk memberitahuku? Tidak terjadi apapun denganmu, ‘kan?” Yoona balas bertanya.

.

“Tidak ada”, jawab Hyesoo memberikan jeda pada kalimat yang selanjutnya ingin ia katakan. “Aku di gedung pertunjukkan fakultas seni. Aku sedang menunggu Sooyoung. Kau masih mau mengajakku makan bersama?”

.

Apa maksud dari pertanyaanmu? Tentu saja aku mau”, jawab Yoona.

.

“Kau seorang diri? Atau… Kau sedang bersama Ryeowook dan Jaejoong sunbae?” tanya Hyesoo.

.

Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” balas Yoona dengan nada terkejutnya.

.

“Apa?” tanya Hyesoo yang tidak mengerti dengan pertanyaan ambigu Yoona.

.

Aku sedang bersama Jaejoong sunbae dan Ryeowook seperti dugaanmu. Hm… Kami akan kesana menjemputmu. Bagaimana?” tanya Yoona.

.

“Pikirkan lagi, Yoona-ya”, jawab Hyesoo.

.

Kenapa aku harus memikirkannya lagi? Kita hanya akan makan bersama. Kenapa harus banyak berpikir?” tanya Yoona bingung dengan jawaban Hyesoo.

.

“Karena aku sudah mengetahui semuanya…” jawab Hyesoo.

.

Hyesoo-ya… Apa maksudmu? Sejak tadi kau sulit sekali untuk dimengerti. Apa yang sedang kau bicarakan?” tanya Yoona lagi.

.

“Aku sudah mendengar pembicaraan kalian berempat hari itu. Aku juga sudah bicara dengan Sooyoung dan sedang mencoba untuk menenangkannya”, jawab Hyesoo.

.

Hyesoo-ya… Benarkah? Kau… Kau baik-baik saja?” tanya Yoona ragu.

.

“Akan. Aku bisa berusaha (untuk baik-baik saja). Mungkin. Aku tidak tahu. Aku pun tidak tahu apakah Sooyoung juga akan baik-baik saja. Haruskah kita bicara bersama-sama tentang hal itu?” tanya Hyesoo yang kemudian menghela napas panjang dan memejamkan matanya lagi. “Aku ingin semua kemarahan dan penyesalan diantara kita segera berlalu. Hal ini terlalu berat untuk dihadapi…” Hyesoo kembali membuka matanya, lalu memijat pelan tengkuknya. “Aku sudah mulai kelelahan…”

.

Kita bisa mencobanya… Aku akan datang kesana. Tidak perlu membertitahunya pada Sooyoung. Kau hanya perlu menahannya sampai kami datang”, kata Yoona.

.

“Baiklah. Sampai bertemu…”

.

Sambungan telepon diputus oleh Hyesoo dengan cepat. Hyesoo menundukkan kepalanya, menghembuskan napas beratnya keluar dan kembali memejamkan matanya, membiarkan angin yang berhembus mendinginkan kepalanya. Ia ingin melupakan semua hal memusingkan itu sejenak. Walaupun Hyesoo tahu hal itu tidak akan mungkin bisa dilakukan dengan mudah. Lalu tiba-tiba suara langkah kaki yang dibuat oleh sepasang sepatu terdengar semakin kencang di telinga Hyesoo. Pemilik sepatu itu sedang berjalan mendekatinya. Hyesoo menduga bahwa Yoona sudah datang menemuinya. Namun Hyesoo hanya mendengar suara sepasang sepatu. Hal itu sudah mematahkan dugaan Hyesoo karena Yoona mengatakan akan datang bersama Ryeowook dan Jaejoong. Hyesoo pun segera mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang sedang berjalan menghampirinya. Saat tubuhnya sudah kembali ke posisi duduk tegak, mata Hyesoo bertemu dengan orang itu. Kang Soyu berdiri dihadapan Hyesoo dengan ekspresi yang tidak pernah dilihat Hyesoo. Tidak ada kemarahan ataupun kecemburuan yang diperuntukkan untuknya di wajah itu. Tidak ada pula sosok Kang Soyu yang selalu memukau banyak orang dengan penampilannya. Soyu menatap Hyesoo dengan kemuraman yang sama dengannya. Kedua tangannya berada di depan tubuhnya, memegang erat tas ditangannya.

.

“Bisakah aku bicara denganmu sebentar saja?” tanya Soyu.

.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Hyesoo. “Ah… Cho Kyhuyun? Tentu saja. Aku sudah berjanji padamu untuk membicarakannya lain kali. Tentu saja… Kau pasti akan mengambil waktu secepat yang kau bisa. Tapi aku tidak bisa membicarakannya hari ini, Kang Soyu. Aku sedang tidak berniat untuk membicarakan apapun denganmu”.

.

“Ini tentang Choi Siwon. Aku…… Aku……” kata Soyu yang ragu dengan kata yang ingin diucapkannya.

.

“Apa? Katakan… Katakan apa yang ingin kau bicarakan lagi tentang Choi Siwon?” tanya Hyesoo dengan kemarahan yang tiba-tiba saja menghampirinya.

.

“Apa…… Apa yang tejadi pada Choi Siwon…… Semua hal itu… terjadi karena aku?” tanya Soyu terbata. Ada genangan air mata di pelupuk matanya.

.

Hyesoo menatap tajam pada Soyu. Wajahnya menunjukkan amarah yang tiba-tiba saja muncul dalam dirinya. ‘Benar! Karena kau! Aku ingin sekali meneriakkan hal itu di depan wajahmu. Aku sangat ingin. Tapi aku bahkan tidak bisa mengatakannya. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun’, seru Hyesoo dalam pikirannya.

.

“Tidak perlu menyalahkan dirimu. Tidak perlu mengungkitnya lagi”, kata Hyesoo tanpa menjawab pertanyaan Soyu.

.

“Memang benar karena aku, ‘kan…” kata Soyu yang sudah meneteskan air matanya.

.

“Benar… Karena kau…” kata suara pelan di belakang Hyesoo. “Michin nyeon…”

.

.

BGM: Jang Jae In – Auditory Hallucination (Feat. NaShow)

.

.

Hyesoo membelalakkan matanya, menyadari kehadiran Sooyoung di belakangnya. Hyesoo pun segera bangkit berdiri dan membalikkan tubuhnya. Sooyoung melemparkan tas nya ke lantai lobby lalu segera berjalan dengan cepat menuju Soyu.

.

“Apa lagi yang kau inginkan sekarang, Kang Soyu?” tanya Sooyoung dengan kemarahan yang meluap.

.

“Sooyoung-ah, jangan seperti ini…” kata Hyesoo yang menahan tubuh Sooyoung.

.

Namun Sooyoung tidak mendengarkan Hyesoo. Sooyoung menepis tubuh Hyesoo sampai terlepas darinya lalu kembali berjalan menghampiri Soyu yang bergerak melangkah mundur perlahan. Tapi Sooyoung sudah lebih dulu meraih kerah Soyu. “Kau!!! Apa yang kau inginkan sekarang? Kau yang menyebabkan semua ini! Karena kau kami harus menanggung semua penderitaan ini!!!”

.

“Sooyoung-ah…” kata Hyesoo yang sudah berhasil meraih lengan Sooyoung dan mencoba menariknya dari Soyu.

.

Sooyoung berusaha melepaskan genggaman tangan Hyesoo di lengannya. Ia masih berusaha maju sampai jarak terdekat dengan Soyu. Sooyoung mendorong tubuh Soyu dengan keras sampai Soyu terjatuh ke tanah. Hyesoo mengerahkan semua kekuatannya untuk menahan Sooyoung. “Karena kau!!! Karena kau, seorang ibu harus kehilangan anak laki-lakinya! Karena kau, seorang ayah kehilangan harapan untuk masa depannya! Karena kau… Karena kau, air mata tidak henti menetes dari mata ibuku!”

.

Sooyoung berhasil melepaskan diri dari Hyesoo. Ia kembali melangkah maju lalu memukul kepala Soyu. Pukulan berikutnya mengenai lengan yang Soyu gunakan untuk menutupi wajahnya. “Nappeun Nyeon!!! Seharusnya kau pergi ke tempat dimana tidak ada seorangpun yang bisa menemukanmu, gadis buruk!!!” seru Sooyoung sambil terus melampiaskan amarahnya dengan memukul tubuh Soyu.

.

“Sooyoung-ah, hentikan! Choi Sooyoung!” Hyesoo kembali mencoba menarik tubuh Sooyoung menjauh.

.

Disaat yang bersamaan, Yoona datang bersama Ryeowook dan Jaejoong. Ketiganya berlari saat melihat situasi yang sedang dihadapi oleh Hyesoo. Jaejoong dan Yoona membantu Hyesoo untuk menjauhkan tubuh Sooyoung. Sementara Ryeowook menghampiri Soyu yang duduk di lantai dengan keadaan berantakan.

.

“Kau membunuh oppa-ku!!!” Sooyoung yang sudah melepaskan diri dari rengkuhan semua orang meneriakkan kalimat itu dengan kepedihan yang menyertai ucapannya. Selama beberapa saat, kalimat itu membuat Hyesoo, Jaejoong, Yoona dan Ryeowook menoleh secara bersamaan padanya. “Kau merenggut kebahagiaan keluargaku. Kau! Beraninya kau melakukan hal itu pada kami!” kata Sooyoung dengan isak tangisnya yang terdengar begitu memilukan.

.

“Sooyoung-ah, kita bisa membicarakannya. Jangan seperti ini”, kata Yoona yang kembali mencoba mendekati Sooyoung bersama Jaejoong. Sementara Hyesoo tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Ia berdiri terpaku, terkejut dengan ucapan Sooyoung.

.

“Lepaskan aku! Lepaskan! Aku harus memberi pelajaran pada gadis itu. Lepaskan aku!” kata Sooyoung.

.

“Hentikan! Sudah cukup, Choi Sooyoung!” kata Ryeowook.

.

“Aku bilang lepaskan aku!!!” seru Sooyoung yang berhasil membuat tangan Yoona terlepas darinya.

.

“Hentikan!!! Choi Siwon tetap tidak akan kembali hidup jika melakukan hal ini!!!” seru Jaejoong yang memegang kedua bahu Sooyoung.

.

“Lalu? Apa yang harus aku lakukan? Aku harus memaafkan gadis ini setelah apa yang dia lakukan pada oppa ku? Begitu?” tanya Sooyoung.

.

“Kalau begitu salahkan aku juga”, kata Jaejoong pelan.

.

“Tentu saja… Kau tidak perlu memintaku untuk melakukan hal itu, Kim Jaejoong…” kata Sooyoung. “Aku menghabiskan dua tahun hidupku untuk menyalahkan kalian berdua. Kau juga bersalah. Tapi… tapi gadis itu lebih bersalah!!!” seru Sooyoung sambil menunjuk kea rah Soyu. “Dia… Dia… Dia mengorbankan perasaan oppa ku hanya untuk membalas rasa sakit atas cinta tidak terbalasnya. Dia mempermainkan oppa ku, Kim Jaejoong. Dia yang melakukannya…”

.

Bahu Sooyoung terlepas dari genggaman Jaejoong. Tubuhnya terjatuh ke lantai. Sooyoung menangis dengan keras. Isakannya membuat Hyesoo tidak sanggup untuk mendengarnya. Hyesoo memejamkan matanya karena isakan yang begitu menyakitkan itu. Di sisi lain, Kang Soyu juga sama terisaknya seperti Sooyoung. Kim Ryeowook masih berada disampingnya tanpa menyentuh Soyu. Jaejoong menghela napas panjang sebelum bertelut di depan Sooyoung. Jaejoong meraih tubuh Sooyoung dalam rengkuhannya tanpa mengatakan apapun. Jaejoong menepuk pelan punggung Sooyoung, mencoba menenangkannya, meski Jaejoong tahu hal itu tidak akan mudah untuk dilakukan. Yoona pun berjalan menghampiri mereka. Yoona menyentuh bahu Jaejoong, membuat Jaejoong yang masih memeluk Sooyoung menoleh padanya. Yoona mengisyaratkan dengan gerakan kepalanya pada Jaejoong, untuk membawa Sooyoung pergi dari tempat itu. Jaejoong mengangguk pelan, setuju dengan Yoona. Jaejoong melepaskan pelukannya lalu berusaha untuk membantu Sooyoung bangun. Namun Sooyoung menepis tangan Jaejoong, menolak untuk pergi kemanapun. Jaejoong pun segera mengangkat tubuh Sooyoung dan membawanya pergi bersama Yoona, walaupun Sooyoung selalu mencoba memberontak.

.

Setelah Jaejoong dan Yoona yang membawa Sooyoung menjauh. Hyesoo menoleh pada Soyu yang masih duduk di depan lobby gedung pertunjukkan yang ditutupi dengan bata block. Soyu masih terus menangis. Beberapa kali ia menyeka air matanya, namun air mata itu tidak berhenti menetes di pipinya. Hyesoo pun berjalan mendekat kearah Soyu.

.

“Kang Soyu, kau baik-baik saja?” tanya Hyesoo.

.

Soyu menyeka air matanya sekali lagi lalu mengangkat kepalanya. “Aku pelakunya… Aku yang menyebabkan kematiannya”, kata Soyu.

.

Ucapan Soyu lantas membuat Hyesoo berjongkok di depan Soyu dan menyentuh lengan Soyu. “Tidak, Kang Soyu. Kau hanya menyakiti hatinya. Hanya itu”, kata Hyesoo yang menyadari ketidakstabilan mental Soyu saat ini.

.

“Tidak, Lee Hyesoo. Dia benar… Aku membunuhnya”, kata Soyu lagi.

.

“Tidak, Kang Soyu… Kau tidak pernah melakukan hal itu. Jangan berpikir begitu”, kata Ryeowook kali ini.

.

“Tidak secara langsung… Aku tetap membunuh Choi Siwon. Aku sudah melakukannya”, kata Soyu, kali ini dengan isak tangis yang kembali keluar.

.

“Hentikan, Kang Soyu. Kau tidak melakukannya. Hentikan pemikiranmu itu”, kata Hyesoo.

.

“Kau tidak mendengarnya? Dia mengatakannya dengan jelas tadi bahwa aku…… Aku yang……”

.

Ucapan Soyu tidak terselesaikan. Tiba-tiba Soyu pingsan di hadapan Hyesoo dan Ryeowook. Keduanya segera berusaha menyadarkan Soyu tanpa kepanikan. Ryeowook segera menghubungi ambulance saat Hyesoo masih terus mencoba menyadarkan Soyu. Setelah ambulance tiba 10 menit kemudian, petugas medis membawa Soyu ke K University Hospital yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampus. Sementara Ryeowook dan Hyesoo mengikuti ambulance dari belakang dengan mobil Ryeowook. Saat tiba di rumah sakit, dokter di UGD baru saja selesai memeriksa keadaan Soyu. Dokter mengatakan bahwa Soyu mengalami shock, stress, kelelahan, dan kurang nutrisi. Soyu sudah sadar dan memberikan pernyataan pada dokter yang memeriksanya. Sejak hari dimana Hyesoo mengungkapkan kejadian yang menimpa Siwon padanya, Soyu mengalami stress yang membuatnya tidak bisa tidur dan kehilangan nafsu makannya. Soyu tidak tidur lebih dari 24 jam. Keadaan psikis nya membuat kondisi Soyu semakin menurun. Dokter mengatakan bahwa Soyu membutuhkan perawatan secara fisik dan psikis selama beberapa hari kedepan, bahkan bisa lebih. Pihak rumah sakit sudah menghubungi keluarga Soyu. Dokter pun segera meninggalkan Hyesoo dan Ryeowook setelah menjelaskan semua hal yang diperlukan pada mereka. Saat keduanya ingin menghampiri Soyu, seorang perawat menahan mereka. Perawat itu memberitahukan pada Hyesoo dan Ryeowook bahwa Soyu tidak ingin menemui siapapun selain keluarga yang datang. Hyesoo dan Ryeowook pun memutuskan untuk keluar dari UGD, meninggalkan Soyu yang sudah dalam penanganan dan pengawasan tim medis di rumah sakit.

.

“Ayo, aku akan mengantarmu pulang”, kata Ryeowook saat keduanya sudah berada di luar ruang UGD.

.

“Hm… Masih ada tempat yang harus aku datangi”, kata Hyesoo menolak ajakan Ryeowook.

.

“Dimana? Aku bisa mengantarmu”, kata Ryeowook.

.

“Tidak perlu. Aku bisa sampai ke tempat itu dengan caraku. Pulanglah…” kata Hyesoo.

.

“Kau tidak sedang menghindariku ‘kan?” tanya Ryeowook.

.

Hyesoo tersenyum pada Ryeowook, kemudian melangkah maju mendekat pada Ryeowook. Hyesoo memeluk tubuh sahabatnya itu selama beberapa saat, sebelum melepasnya dan memberikan tatapan lembut khasnya.

.

“Kau pikir aku mampu melakukannya? Jangan berpikir yang tidak-tidak, Kim Ryeowook. Kau akan berubah menjadi Im Yoona jika bersikap seperti itu. Satu Im Yoona dalam hidupku sudah lebih dari cukup”, kata Hyesoo dengan nada bercandanya.

.

“Hhh… Baiklah…” kata Ryeowook yang mengusap kepala Hyesoo. “Hubungi aku. Dan tentu saja hubungi Donghae…” sambung Ryeowook yang dijawab dengan anggukkan oleh Hyesoo.

.

Hyesoo masih tetap berdiri di posisinya, melihat Ryeowook yang berjalan menuju tempat parkir. Sesekali Ryeowook menoleh pada Hyesoo yang tanpa lelah selalu melambaikan tangannya saat tatapan mereka bertemu. Hyesoo baru melangkahkan kakinya saat mobil Ryeowook melaju menuju jalan utama di depan rumah sakit. Hyesoo mengeluarkan ponsel di saku celananya, lalu menekan nomor di daftar kontaknya. Sambungan telepon terhubung sesaat setelah dering kedua.

.

Eo…” kata suara berat di seberang telepon.

.

“Bogoshipeo…” kata Hyesoo dengan helaan napas yang menyertai ucapannya.

.

Kau dimana?

.

“K University Hospital……apeseo (didepan rumah sakit K University)” jawab Hyesoo.

.

Rumah sakit? Kenapa? Ada apa? Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” tanya suara di seberang telepon yang berubah panik.

.

“Bukan aku. Seorang teman. Hhh… Jangan panik seperti itu. Aku baik-baik saja. Tarik napas dalam…” jawab Hyesoo.

.

Kau mengagetkan aku saja, Hyesoo-ya… Lalu? Mau ku jemput?

.

“Tentu saja. Itulah alasan dibalik sambungan telepon ini”, jawab Hyesoo.

.

Aku akan segera kesana”.

.

.

BGM: Lee Young Hoon – Hope It’s Not a Dream

.

.

Sepasang lengan melingkar di pinggang Hyesoo yang sedang menyelesaikan masakannya untuk makan malam. Senyum Hyesoo mengembang seketika saat merasakan hawa dingin yang berasal dari sabun beraroma mint menyentuh tubuhnya. Kakinya dibawa melangkah ke kanan dan kiri bergantian seperti langkah untuk mengawali sebuah tarian. Suara berat yang bergumam menyanyikan melodi sebuah lagu yang terdengar sangat manis mengiringi langkah mereka. Suara tawa pun meramaikan suasana dapur yang sebelumnya hanya terdengar desisan bahan makanan dari wajan. Pelukan di pinggang Hyesoo semakin erat, bersamaan dengan helaan napas yang dapat Hyesoo rasakan menyentuh kulitnya. Sebuah kecupan mendarat di bahu Hyesoo diikuti dengan sentuhan hidung yang menghirup aroma tubuh Hyesoo.

.

“Lee Hyesoo dengan aroma Cho Kyuhyun. Sangat menyenangkan…” kata Kyuhyun akhirnya.

.

“Sangat?” tanya Hyesoo yang masih memegang wajan di depannya.

.

“Eo… Aroma mint Cho Kyuhyun yang bercampur dengan aroma buah-buahan segar Lee Hyesoo. Aku sangat menyukainya”, jawab Kyuhyun. “Membuatku ingin memakanmu”, kata Kyuhyun berbisik setelahnya.

.

“Mint dan buah-buahan hanya dimakan oleh herbivore, Cho Kyuhyun. Karnivore atau vampire tidak makan keduanya”, kata Hyesoo menanggapi ucapan Kyuhyun.

.

“Hhh… Aku seorang omnivore, Lee Hyesoo. Kau tidak tahu hal itu?” balas Kyuhyun.

.

“Benarkah? Hm… Aku meragukannya. Kau bahkan tidak suka makan sayuran”, tantang Hyesoo.

.

“Aku makan buah-buahan. Kasus di tutup. Tidak ada bantahan lagi”, kata Kyuhyun yang mengundang tawa Hyesoo.

.

“Sepertinya kau begitu menyukaiku hari ini”, kata Hyesoo.

.

“Apa yang kau katakan? Aku selalu menyukaimu…”

.

“Ah… Begitu rupanya…” kata Hyesoo memberikan tanggapannya. “Cho Kyuhyun-ssi yang selalu menyukai Lee Hyesoo, bisakah kau melepaskan aku sekarang? Aku harus memindahkan masakan ini ke piring dan kau mulai membuatku kepanasan”.

.

“Lee Hyesoo yang berkeringat pernah datang dalam fantasiku”, kata Kyuhyun dengan suara pelan.

.

“Auh ppalli jeoriga! (cepat menyingkir!) Kau benar-benar membuatku kepanasan”, kata Hyesoo.

.

“Arasseo… Arasseo…” kata Kyuhyun yang segera melepaskan pelukannya sambil tertawa.

.

Hyesoo berjalan menuju meja makan, lalu meletakkan masakan di wajan ke dua buah piring yang sudah ia siapkan sebelumnya. Menu makan malam kali ini adalah fetuccini dengan saus cream, potongan daging asap, jamur dan udang. Tentu saja tanpa sayuran apapun yang tidak disukai Kyuhyun. Lalu ditambah dengan parutan keju diatasnya. Setelah semua masakan dari wajan berpindah ke piring, Hyesoo berbalik untuk meletakkan wajan itu di bak cuci piring. Saat Hyesoo kembali berbalik, Kyuhyun sudah berada di hadapannya. Kedua tangan Kyuhyun menyentuh tepat dibawah rahang Hyesoo untuk mengarahkan wajah Hyesoo agar menghadap pada Kyuhyun yang berbeda beberapa belas senti dari Hyesoo. Kemudian Kyuhyun mencium bibir Hyesoo. Ia membuka bibir Hyesoo dan memberikan ciuman yang lambat dan dalam padanya. Kyuhyun segera melepaskan ciuman itu sebelum Hyesoo bisa memberikan protesnya atas tindakan tiba-tiba Kyuhyun.

.

“Appetizer… (Hidangan pembuka…)” kata Kyuhyun yang sudah menjauhkan wajahnya dari Hyesoo.

.

“Ayo makan…” respon Hyesoo sambil mendorong tubuh Kyuhyun menjauh dengan perlahan. “Dengan tenang…”

.

“Dengan tenang…” kata Kyuhyun mengulangi ucapan Hyesoo.

.

.

BGM: Ernest – Because I’m Weary

.

.

Kyuhyun dan Hyesoo duduk bersama di sofa ruang televisi apartment Kyuhyun. Sebuah drama yang ditayangkan ulang terlihat di layar televisi tanpa ada suara apapun yang keluar dari kedua speakernya. Kyuhyun dan Hyesoo tampak tidak benar-benar mempedulikan tayangan drama itu. Hyesoo menyandarkan kepalanya di pundak Kyuhyun sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba Kyuhyun membenarkan posisi mereka. Kyuhyun menarik Hyesoo ke dalam rengkuhannya yang dibalas dengan pelukan di pinggangnya oleh Hyesoo.

.

“Akhir-akhir ini situasi benar-benar tidak berjalan dengan baik”, kata Hyesoo mengakhiri keheningan diantara mereka.

.

“Kenapa? Apa yang sudah terjadi?” tanya Kyuhyun.

.

“Banyak hal yang terjadi”, jawab Hyesoo.

.

“Ceritakan yang terburuk”, kata Kyuhyun.

.

“Kau benar-benar menyukai hal terburuk. Seleramu tidak cukup bagus…” kata Hyesoo yang tersenyum, kini dengan matanya yang sudah kembali terbuka.

.

“Bukan begitu. Lebih baik menceritakan yang terburuk lebih dahulu. Dengan begitu, cerita yang menyenangkan akan membuatmu sedikit melupakan kejadian buruk itu”, kata Kyuhyun memberikan penjelasannya.

.

“Hanya sedikit?” tanya Hyesoo yang menjauhkan tubuhnya dari Kyuhyun.

.

“Aku yang akan membuatmu melupakan sisanya”, jawab Kyuhyun.

.

Tawa kecil keluar dari bibir Hyesoo. Kemudian Hyesoo kembali melesak ke pelukan Kyuhyun. “Hhh… Kau benar-benar membuatku jadi gila”.

.

“Akhirnya?”

.

“Eo… Akhirnya…”

.

“Kau belum menceritakan apapun padaku”, kata Kyuhyun mengingatkan Hyesoo. “Apa yang terjadi?”

.

“Ah… Hm… Semua hal yang terjadi sangat rumit. Sulit untuk dimengerti. Hm… Intinya, dulu ada seorang gadis yang menyukai seorang laki-laki. Awalnya gadis itu begitu bahagia karena perasaannya yang diterima oleh laki-laki itu. Tapi akhirnya sang gadis menemukan kenyataan bahwa kekasihnya mencintai gadis lain. Dia mencoba dan terus mencoba untuk bersabar, menanamkan keyakinan bahwa suatu saat nanti cintanya akan terbalas. Tapi hal itu tidak pernah terjadi. Bahkan disaat mereka sudah berpisah dan gadis itu sudah mulai mengobati perasaannya dengan menyukai laki-laki lain, dia justru kembali merasakan rasa sakit itu. Gadis yang dulu dicintai oleh kekasihnya, kembali menjadi penghalang cintanya. Bahkan disaat si ‘gadis lain’ mengetahui rasa sakit yang dirasakan gadis itu, tidak ada hal yang bisa dilakukannya untuk mengobati rasa sakit gadis itu”, kata Hyesoo menceritakan kisahnya tanpa menggunakan subjek spesifik dalam ceritanya.

.

“Dimana bagian terburuknya?” tanya Kyuhyun.

.

“Apakah cerita itu cukup buruk?” Hyesoo balas bertanya.

.

“Bagiku tidak. Situasi seperti itu bisa dialami oleh siapapun di dunia ini. Karena disaat kau sudah memutuskan untuk menyerahkan hatimu pada seseorang, maka disaat yang sama kau harus siap menerima apapun. Kebahagiaan ataupun rasa sakit”, jawab Kyuhyun.

.

“Bagaimana dengan si ‘gadis lain’? Tidakkah kau berpikir bahwa dia adalah gadis yang jahat?” tanya Hyesoo.

.

“Karena selalu menjadi penghalang bagi gadis itu?” tanya Kyuhyun yang dijawab dengan anggukkan oleh Hyesoo. “Tidak ada yang bisa mengatur kapan dan pada siapa cinta itu akan tertuju, Hyesoo-ya. Dan untuk mewujudkan cinta itu, kita membutuhkan dua pihak yang saling mencintai. Tentu tidak ada larangan untuk mencintai seseorang yang tidak balas memberikan cintanya. Tapi siapapun yang memutuskan untuk melakukan hal itu, maka dia harus siap dengan segala bentuk rasa sakit yang pasti akan dia rasakan suatu saat. Gadis itu tidak bisa menyalahkan si ‘gadis lain’ karena mendapatkan balasan cintanya”.

.

“Kau mungkin benar…” kata Hyesoo dengan suara pelan.

.

“Mood mu berubah. Sepertinya aku harus segera melakukan pekerjaanku”, kata Kyuhyun yang menyadari perubahan mood Hyesoo.

.

“Hhh… Bagaimana kau akan melakukannya?”

.

.

BGM: Crush – Sleepless Night (Feat. Punch)

.

.

Kyuhyun sontak mengeratkan pelukannya lalu tiba-tiba bergerak, membawa tubuh Hyesoo berbaring bersamanya di sofa yang berukuran cukup besar itu. Hyesoo yang sedikit terkejut sontak meremas kuat long sleeve abu-abu yang dikenakan Kyuhyun. Menyadari hal itu, Kyuhyun pun tertawa kecil karena reaksi Hyesoo yang dianggapnya lucu. Hyesoo hanya tersenyum  lalu memukul pelan dada Kyuhyun. Setelahnya, giliran Hyesoo yang bergerak dalam pelukan Kyuhyun. Hyesoo membenarkan posisi tubuhnya. Hyesoo membaringkan kepalanya di bantal sofa agar setara dengan kepala Kyuhyun. Kemudian Hyesoo mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun. Hidung Hyesoo pun menyentuh rahang kanan Kyuhyun. Hyesoo bisa mencium aroma parfum Kyuhyun, favoritnya. Hidung Hyesoo kembali menyusuri jejak aroma itu tepat di bawah rahang Kyuhyun sampai ke belakang telinga Kyuhyun, tempat aroma itu tercium lebih kuat.

.

“Lee Hyesoo, jangan mengujiku. Aku tidak bisa menjamin apapun jika kau tidak segera menghentikannya”, kata Kyuhyun sesaat setelah menelan salivanya karena terganggu dengan tindakan yang sedang dilakukan Hyesoo.

.

Hyesoo tidak menghentikan kegiatannya. Ia justru mencium belakang telinga Kyuhyun, lalu berbisik pada Kyuhyun. “Kau yang memulainya, Cho Kyuhyun…”

.

“Lee Hyesoo……” tegur Kyuhyun sekali lagi, kali ini dengan suara berbisik tertahannya.

.

Hyesoo menyeringai lalu tertawa kecil. Ia mengubah posisi tubuhnya lagi, kali ini meletakkan kepalanya di dada Kyuhyun. “Pertahananmu payah hanya karena seorang gadis sepertiku”, kata Hyesoo sambil menepuk pelan perut keras Kyuhyun.

.

“Seorang gadis seperti apa maksudmu?” tanya Kyuhyun sambil mengembalikan akal sehatnya.

.

“Aku bukan gadis dengan fisik luar biasa yang mampu melemahkan pertahanan seorang laki-laki dengan mudah”, jawab Hyesoo. ‘Seperti Kang Soyu’, sambung Hyesoo dalam pikirannya.

.

“Sepertinya kau tidak mengenal tubuhmu sendiri”, kata Kyuhyun.

.

“Justru aku mengatakan hal itu karena aku mengenal tubuhku sendiri”, ujar Hyesoo.

.

“Kalau begitu kau sudah salah menilaiku. Bagiku kau sempurna. Semua tepat seperti semestinya. Tepat seperti keinginanku, kebutuhanku”, kata Kyuhyun. Di detik berikutnya, Kyuhyun berdeham. “Sudah. Jangan dilanjutkan. Kau kembali menyiksaku”.

.

Hyesoo tersenyum saat merasakan gerakan jakun Kyuhyun yang baru saja menelan salivanya lagi. “Kau sedang membayangkannya dalam pikiranmu. Benar, ‘kan?”

.

“Jika kau mengetahuinya, maka segera hentikan permbicaraan ini”, kata Kyuhyun yang menghela napas panjang setelahnya. “Tidakkah kau merasa malu membicarakannya?”

.

“Kenapa? Sama sekali tidak. Kau sudah melihatnya. Merasa malu tidak akan mengubah apapun. Kau tetap bisa membayangkannya dalam pikiranmu kapanpun. Lagipula kau baru saja memujinya dengan kata ‘sempurna’. Haruskah aku merasa malu?”

.

“Lee Hyesoo…” erang Kyuhyun di ambang batas pertahanannya.

.

Sesaat kemudian, Hyesoo tertawa kecil lalu menjauhkan kepalanya dari Kyuhyun. Hyesoo menyangga tubuhnya dengan kedua tangan yang menopang di lengan sofa. Hyesoo menatap Kyuhyun yang sedang memejamkan matanya untuk mengembalikan kewarasannya. Setelah kembali membuka matanya, Kyuhyun menoleh pada Hyesoo. Ia menatap tepat ke mata Hyesoo. Bukan tatapan yang penuh amarah karena sudah diuji dengan tidak dipertimbangkan batas pertahanannya. Atau tatapan yang menunjukkan runtuhnya pertahanan yang sudah dibuatnya. Tapi tatapan lembut memuja yang mampu mengembangkan senyum Hyesoo.

.

“Cho Kyuhyun si pendendam”, kata Hyesoo yang kembali menjatuhka tubuhnya ke pelukan Kyuhyun.

.

“Kenapa kau berkata seperti itu?” tanya Kyuhyun dengan senyuman di bibirnya.

.

“Sekarang kau balas mengujiku”, jawab Hyesoo.

.

“Aku tidak melakukan apapun padamu”, kata Kyuhyun menyangkal.

.

Hyesoo menggeser tubuhnya, kembali mensejajarkan kepalanya dengan Kyuhyun. Hyesoo menatap Kyuhyun, tenggelam dalam tatapan lembut Kyuhyun. “Kau sedang melakukannya dengan tatapan itu. Kau melakukan semua hal yang aku inginkan”, kata Hyesoo sambil membelai pipi Kyuhyun.

.

“Bisakah kau memberitahu aku apa saja hal yang sudah aku lakukan padamu? Karena kesadaranku akan tindakan yang sudah ku lakukan begitu rendah, Hyesoo-ya”, tanya Kyuhyun.

.

“Kau melindungiku tanpa mengikatku. Kau menjagaku tanpa mengurungku. Kau memberikan setiap hal yang aku butuhkan dengan kebebasan yang menyertainya. Kau menarikku mendekat padamu tanpa menggenggamku. Kau juga mempesonaku hanya dengan menatapku tanpa membuat gerakan apapun”, jawab Hyesoo.

.

“Apa yang akan kau lakukan padaku karena telah mengujimu?” tanya Kyuhyun dengan tatapan matanya yang kini berubah. Ada pancaran membakar dan menuntut disana.

.

“Aku tidak akan melakukan apapun. Karena jika aku melakukan apa yang aku inginkan, maka disaat yang sama aku akan meruntuhkan pertahanan yang sudah kau bangun”, jawab Hyesoo.

.

“Dan kau mempunyai keyakinan untuk tetap bertahan?” tanya Kyuhyun menggoda Hyesoo.

.

“Aku yakin aku bisa bertahan, lebih baik darimu” kata Hyesoo yang menggigit bibir bawahnya setelahnya.

.

“Hentikan menggigit bibirmu, Lee Hyesoo. Jangan menyulitkan aku”, kata Kyuhyun.

.

“Arasseo!”

.

Hyesoo tertawa lalu segera bangkit berdiri menjauh dari Kyuhyun dan berjalan ke dapur.

.

“Argh!!! Lee Hyesoo, gadis yang jahat!” keluh Kyuhyun karena rasa frustrasinya akibat tindakan Hyesoo.

.

Tawa Hyesoo semakin keras mendengar keluhan Kyuhyun. “Kenapa? Bukankah kau yang memintaku menghentikannya?” tanya Hyesoo sebelum menenggak segelas air mineral.

.

“Benar. Salahku… Aku yang salah…” kata Kyuhyun.

.

“Tapi, pertahananmu boleh juga…” puji Hyesoo.

.

“Hhh… Tidakkah hal itu memberikanmu satu lagi pencerahan atas siapa diriku?” tanya Kyuhyun.

.

“Pencerahan seperti?” tanya Hyesoo sambil meletakkan kembali gelasnya di meja makan.

.

“Perasaan yang aku miliki untukmu tidak hanya berdasarkan atas nafsu saja”, jawab Kyuhyun.

.

“Aku garis bawahi itu, Cho Kyuhyun. Tidak hanya. Berarti ada, tapi tidak dalam kapasitas berlebih”, kata Hyesoo.

.

“Kesimpulan yang bagus, Lee Hyesoo”, kata Kyuhyun yang kali ini balas memuji Hyesoo.

.

.

BGM: Jay Park – Come On Over

.

.

Hyesoo pun berjalan menghampiri Kyuhyun yang sudah kembali duduk bersandar di sofa. Hyesoo berjalan memutari sofa. Melihat Hyesoo yang kembali menghampirinya, Kyuhyun merentangkan tangannya, meminta Hyesoo datang padanya. Hyesoo pun mengabulkan keinginan Kyuhyun, lalu duduk di pangkuan Kyuhyun. Hyesoo melingkarkan tangannya di leher Kyuhyun. Sementara kedua tangan Kyuhyun berada di pinggang Hyesoo. keduanya tersenyum pada satu sama lain sebelum Kyuhyun membawa tubuh Hyesoo mendekat padanya. Kini tidak ada jarak sedikitpun diantara mereka. Bibir mereka bersentuhan, saling memberikan kecupan lembut. Ciuman itu menjadi semakin dalam dan menuntut. Tapi tiba-tiba Hyesoo melepaskan ciumannya.

.

“Aku akan menggosok gigiku lalu pergi tidur”, kata Hyesoo dengan suara berbisik.

.

Kyuhyun menghembuskan napasnya yang berat dengan kasar. Ia menyerah dengan semua godaan yang diberikan Hyesoo padanya. “Arasseo…” kata Kyuhyun yang menyandarkan kepalanya di sofa sambil memejamkan matanya.

.

Namun Hyesoo menyentuhkan kedua telapak tangannya yang dingin di pipi Kyuhyun, membuat Kyuhyun membuka matanya dan menatap Hyesoo. “Dan kau……akan mematikan tv itu lalu bergabung bersamaku ke kamar mandi”.

.

“Untuk apa?” tanya Kyuhyun sambil memberikan tatapan menggodanya.

.

“Menggosok gigi”, jawab Hyesoo santai.

.

“Hanya itu?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Hm… Tergantung seberapa baik perilakumu setelah ini”, jawab Hyesoo dengan senyuman di bibirnya.

.

“Jika aku berperilaku dengan baik, apa yang akan aku dapatkan?” Kyuhyun tidak berhenti bertanya sebelum mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

.

Hyesoo pun bergerak mendekat, bibir Hyesoo tepat di sebelah telinga Kyuhyun. “Kamar mandi terlalu dingin di malam hari. Dan aku rasa, kita mempunyai selimut di tempat tidur”, bisik Hyesoo.

.

“Setuju!” jawab Kyuhyun dengan bersemangat.

.

Good“, kata Hyesoo yang sudah menjauhkan tubuhnya dan bangkit berdiri mendahului Kyuhyun ke kamar mandi.

.

.

.

.

TBC

.

Note:

Lagi-lagi TBC di tempat yang tidak seharusnya? *senyumjahat*

Part ini tentu saja aku kembali dengan emosi naik turun di setiap alur. Aku memberikan action scene yang tidak terduga di part 7 ini. Tapi, aku sudah memberikan obatnya dengan lovey-dovey Hyesoo dan Kyuhyun menjelang akhir part, ‘kan??? Okay! Sepertinya aku tidak perlu membahas terlalu banyak tentang part ini. Aku hanya akan bertanya seperti sebelumnya pada kalian. Bagaimana kisah yang diceritakan dalam part 7 ini? Kalau masih ada yang belum mengerti dengan ceritanya, jujur, dari hati yang terdalam, aku menyerah! Ini sudah part 7, readersnim. Sudah cukup banyak hal yang terungkap sampai akhir part ini. Emosi pun sudah naik turun seperti roller coaster. Jika masih ada diantara kalian yang masih jauh dari kata mengerti, maka aku hanya bisa menyerahkan pada waktu dan takdir saja.

Ja! Ternyata Donghae tidak marah sama sekali pada Hyesoo. Sangat tidak terduga… *tepuktepuktangan* Tapi, bagaimana dengan yang lainnya kalau mengetahui hal itu? Apakah akan sama dengan sikap Donghae? Hm… Dengan akhir part 7 yang bahagia, manis, bikin senyum-senyum iseng ini, bukan berarti kisah ini sudah mendekati akhir. Sepertinya masih panjang, readersnim. Kalian juga masih harus menyiapkan hati untuk menerima kejutan di part-part selanjutnya. Well, sampai bertemu di part selanjutnya. Kana pamit! Annyeonghigaseyo!

Advertisements

25 thoughts on “I’m walking towards you : Part 7

  1. aku udah mulai ngerti jalan ceritanya. tapi cast yg lain selain jaejoong dan sooyoung, belum tau ya kalo kyu sepupu nya siwon???
    hubungan mereka sweet banget, padahal di awal mereka gak nunjukin ketertarikan masing”

    Like

  2. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION – evilkyu0203

  3. heeyyy.. mrekaa mauu ngapainn tuhh seelahb ituu.. haha…
    wadooww… gk kebayang dehh kalooo nnti jae tauu smuaa inii… bkaal d apain tuhh kyuu lebih tepatnya… bukannyaa emank jae ud gk sukaa ama kyuu truss tauu kyuu dptin hyesoo…

    Like

  4. Pingback: Your Library | FanWorld FanFiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s