I’m walking towards you : Part 6

Category: PG-15, Romance, Chapter, Sad

Cast:

Cho Kyuhyun, Kim Jaejoong, Lee Hyesoo (OC), Kang Soyu

Im Yoona, Kim Ryeowook, Lee Donghae, Choi Sooyoung, Bae Irene, Byun Baekhyun, etc…

Disclaimer:

Annyeonghaseyo!!! “I’m walking towards you” kembali dengan part 6!!! Kali ini kalian tidak menunggu terlalu lama kan??? Kemarin (atau dua hari yang lalu ya?) aku sempat meminta pendapat kalian untuk kelanjutan part ini. Terima kasih banyak untuk yang sudah menjawab pertanyaanku. Dan… part ini tidak jadi mengandung NC. Kenapa? Bukan karena di cut atau di edit, tapi karena plot FF ini tiba-tiba berubah. Yang awalnya part ini mau full romance, tapi justru jadi campur-campur lagi seperti part-part sebelumnya. Aku sudah menjanjikan love-line untuk kalian, maka kalian akan mendapatkannya.

Caution! Cast dalam FF ini juga akan cukup banyak. Entah hanya sebagai cameo atau sebagai peran pendukung. Karena itu, fokuslah wahai para readers-nim. FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi tau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com

Aku tidak bosan untuk selalu berpesan, jadilah pembaca yang baik dan sopan. Biasakan untuk tidak bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Karena aku yakin para readers adalah orang-orang yang terpelajar dan mengerti sopan santun. Benar? Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 5

“Aku ingin membantumu mengingat hal yang pernah kau lakukan padaku, yang mungkin sekali lagi akan kau lakukan padaku. Aku harus mencegahmu kali ini”.

“Untuk kesalahan apapun yang sudah aku lakukan padamu, aku minta maaf”.

“Kau bahkan tidak benar-benar tahu apa yang sedang kau sesali, Lee Hyesoo”.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, Soyu-ssi? Katakan dengan jelas”.

“Jauhi Cho Kyuhyun, Lee Hyesoo”.

 “Begini saja. Pergilah padanya, bicara denganya, atau dekati dia. Jika kau mendapatkan apa yang kau inginkan darinya, maka aku akan mengabulkan permintaan menyedihkanmu itu”.

————————-

“Choi Sooyoung, aku ingin bicara denganmu”

“Apa yang sedang sunbae lakukan? Tidak bisakah kita bicara baik-baik?”

“Apa yang kau lakukan disini? Apa tujuanmu, Choi Sooyoung?”

“Aku kuliah disini. Itu alasan sebenarnya”.

 “Kenapa dia tidak datang sendiri dan melakukannya?”

“Kau pikir hanya Siwon oppa yang harus bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi pada Hyesoo eonni?”

“Apa yang sedang kalian bicarakan?”

“Kim Jaejoong-ssi, setelah sekian lama kau hanya diam dan menyimpan semua hal itu untuk dirimu sendiri? Ceritakan kisah yang sudah kau sembunyikan selama beberapa tahun ini”.

————————-

“Nappeun nom! Kenapa kau melakukan ini padaku?”

“Hyesoo-ya, kita bisa bicara baik-baik tentang hal ini”.

“Jika kau tidak lagi ingin berhubungan denganku, maka katakanlah”.

“Oppa tidak mengejarnya?”

“Aku sudah melakukan kesalahan padanya”.

“Kejar dia, oppa”.

“Baiklah. Kita bertemu nanti…”

————————

“Aku tahu semua hal yang kau lakukan, Kang Soyu”.

“Aku melakukan hal ini karena aku sangat mencintaimu”.

“Kau tidak tahu apapun tentang cinta, Kang Soyu”.

“Lalu bagaimana cinta yang sesungguhnya menurut versimu? Seperti cintamu pada Lee Hyesoo? Pernahkah kau memikirkan perasaanku?”

“Aku selalu berusaha, Kang Soyu”.

“Sekeras apapun usaha yang telah kau lakukan, pada akhirnya kau tetap tidak mampu. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya jika laki-laki yang dicintainya mencintai orang lain”.

“Terima kasih karena sudah menyadarkanku akan siapa dirimu yang sebenarnya”.

————————-

“Kalian pikir Hyesoo eonni akan tetap hidup jika jatuh kesana?”

“Aku tahu Siwon oppa sudah melakukan kesalahan besar pada Hyesoo eonni. Karena itu aku datang untuk menebus kesalahan itu. Aku tidak datang untuk sebuah penyesalan atas kondisi Hyesoo eonni saat ini”.

“Kakakku sudah menebus semua kesalahannya dengan nyawanya. Jika memang itu yang kalian harapkan darinya”.

————————-

.

.

.

I’m walking towards you : Part 6

.

.

Author’s POV

 

Bagaikan mimpi buruk yang datang padanya dalam keadaan sadar sepenuhnya, semua kebenaran yang baru saja diungkapkan oleh Sooyoung menghentikan napas Hyesoo selama beberapa saat. Kejadian yang tidak pernah terbayangkan oleh Hyesoo sebelumnya. Kejadian yang tidak Hyesoo ingat sedikitpun. Bahkan Hyesoo tidak mengetahui kisah sesungguhnya dibalik kejadian yang selalu disembunyikan banyak orang darinya. Kisah dibalik malapetaka yang terjadi dua tahun yang lalu di kota Seattle, yang telah merenggut hampir seluruh ingatannya, kini terkuak sudah. Laki-laki itu bernama Choi Siwon. Laki-laki itu pernah menjadi cinta dalam hidup Hyesoo. Namun sebuah pengkhianatan yang dilakukannya sudah menyakiti Hyesoo. Selama ini Hyesoo tidak pernah mengetahui jati diri laki-laki itu. Karena tidak pernah ada satupun orang yang menyinggung pelaku yang menabrak mobil Hyesoo. Hanya karena rahasia yang selalu disembunyikan semua orang disekitarnya, Hyesoo sudah membenci orang yang salah. Siwon memang melakukan kesalahan padanya dengan perselingkuhan yang dilakukannya dengan Soyu. Tapi tujuan dibalik tindakan Siwon yang menabrak mobilnya adalah untuk menyelamatkan Hyesoo. Keadaan Hyesoo mungkin tidak akan separah ini jika saat itu ia tidak melajukan mobilnya terlalu cepat. Semua hal yang dialami Hyesoo mungkin karena efek kecepatan mobil yang digunakan Hyesoo. Mungkin. Akan selalu ada kata itu dalam pikiran Hyesoo. Karena apapun yang telah didengar dan diketahuinya, Hyesoo tidak benar-benar mengetahuinya. Hyesoo tidak bisa mengingat apapun. Semua rentetan peristiwa yang baru saja diungkapkan oleh Sooyoung bahkan terdengar seperti berita kecelakaan yang ditayangkan di televisi, hanya dengan tambahan sebuah rasa tidak nyaman yang kini dirasakannya. Namun satu hal yang Hyesoo yakini, hatinya tidak merasakan kebencian apapun pada laki-laki itu.

.

Hyesoo pun segera menghapus jejak air mata di pipinya, lalu pergi meninggalkan tempat itu. Ia berjalan menuju gerbang belakang kampus yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sana. Setelah keluar dari gerbang, Hyesoo menghentikan sebuah taksi yang lewat di depannya, tanpa memiliki tujuan apapun. Berbagai perasaan, emosi, dan pikiran bergejolak dalam benaknya. Semua kisah yang didengarnya beberapa menit yang lalu adalah kejadian yang telah menimpanya. Hyesoo bahkan sempat membenci laki-laki yang telah menabraknya itu beberapa tahun yang lalu. Setelah kebenarannya terungkap, Hyesoo justru tidak merasakan kebencian itu lagi dalam dirinya. Jantungnya memang berpacu lebih cepat dari sebelumnya, tapi bukan disebabkan oleh kebencian terhadap tindakan yang telah dilakukan laki-laki itu. Selama sesaat, Hyesoo merasa sangat bersalah karena sempat menuduh laki-laki yang bernama Siwon itu. Namun kenyataan bahwa Siwon memang sudah menyakiti perasaannya ikut mengiringi perasaan bersalah itu. Siwon sudah membuat kesalahan padanya. Tapi Siwon sudah mendapatkan balasan atas perbuatannya, yaitu terungkapnya permainan yang dilakukan Soyu padanya.

.

Hyesoo berkutat dengan pikirannya, mencari tahu apa yang membuatnya merasa begitu tidak nyaman setelah mengetahui kebenaran itu. Hyesoo merasakan sesak yang tidak ia mengerti penyebabnya. ‘Mungkinkah aku merasa apa yang dialami Siwon sangat tidak adil? Korban sesungguhnya dari semua hal yang sudah terjadi adalah Siwon. Tapi mereka justru melampiaskan semua kesalahan padanya. Kembali. Kalimat menyakitkan itu kembali datang ke pikiran Hyesoo. ‘Kakakku sudah menebus kesalahannya, dengan nyawanya’. Kening Hyesoo berkerut saat kalimat itu kembali terngiang di telinganya. Hal itu seharusnya bukan dianggap sebagai sebuah penebus kesalahan. Saat ini Hyesoo masih hidup dengan keadaan baik-baik saja. Kesalahan yang dilakukan Siwon padanya tidak membutuhkan penebusan dengan menggunakan nyawa nya. ‘Ini tidak adil. Dia sudah menyelamatkanku. Tapi dia justru mendapatkan tuduhan yang salah atas tindakan yang sudah dia lakukan. Ini salah… Semua ini salah…’ kata Hyesoo dalam pikirannya.

.

“Agassi, anda ingin pergi kemana?” tanya supir taksi, menyadarkan Hyesoo dari pikirannya.

.

“Hm… Tolong antar saya ke Plaisir Noir di Apgujeong, ahjussi”, jawab Hyesoo.

.

“Baik, agassi” kata supir taksi itu menyanggupi.

.

Taksi melaju dengan kecepatan sedang menuju tempat yang disebutkan Hyesoo. Ini adalah kali pertama Hyesoo menuju tempat itu. Beberapa hari yang lalu, ia menemukan flyer yang sudah terlihat usang di sebuah ruangan di rumahnya. Hyesoo bahkan tidak benar-benar mengetahui keberadaan tempat itu. Saat ini Hyesoo hanya tidak memiliki tujuan pasti untuk menghindari dari semua hal asing yang baru saja dialaminya.

.

Perlakuan yang diterima Sooyoung sangat tidak adil. Keraguan dan kecurigaanku padanya juga sangat keterlaluan. Dia datang dengan maksud baik untuk menjagaku, menggantikan Siwon, bahkan setelah semua hal  yang terjadi pada kakaknya. Seharusnya aku bersikap lebih baik lagi pada Sooyoung. Kau gadis yang tidak berguna, Lee Hyesoo. Seharusnya dengan hilangnya ingatanmu, kau lebih berhati-hati mencari kebenaran atas semua hal. Kau gadis jahat, Lee Hyesoo…’ Hyesoo kembali bicara pada dirinya sendiri dalam pikirannya.

.

“Kita sudah sampai, agassi” kata supir taksi.

.

“Ah, ne. Ini uangnya”, kata Hyesoo memberikan uang untuk biaya penggunaan taksi itu. “Terima kasih banyak, ahjussi”, kata Hyesoo setelahnya.

.

“Ne, sama-sama, agassi” balas supir taksi itu.

.

Ternyata tempat itu benar-benar ada. Bukan. Tempat itu masih ada disini. Plaisir Noir bar & lounge. Nama tempat yang berasar dari bahasa Perancis yang berarti ‘Dark Pleasure’ itu ditulis dengan gaya tulisan yang begitu manis dan anggun. Pemilihan design eksterior nya juga begitu menarik, tidak terlalu gelap seperti namanya tapi juga tidak terlalu terang seperti café yang biasa dikunjungi anak remaja. Hyesoo memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Dua orang staf, laki-laki dan perempuan, menyambut kedatangan Hyesoo dengan senyuman tulus mereka. Hyesoo pun membalas senyuman itu, meski dengan ketulusan yang berbeda. Belum banyak pengunjung yang datang. Tentu saja. Saat ini jam masih menunjukkan pukul 5 sore. Hyesoo duduk disalah satu kursi yang berjajar di sepanjang meja bar. Beberapa saat kemudian, seorang bartender menghampiri Hyesoo.

.

“Ada yang bisa saya bantu? Anda ingin minum sesuatu?” tanya bartender dengan tulisan Song Jae Min di papan namanya.

.

“Apa kalian punya…hm…cosmopolitan?” tanya Hyesoo ragu.

.

“Tentu, nona”, jawab bartender itu dengan senyuman ramahnya.

.

“Kalau begitu, tolong berikan aku segelas cosmo”, kata Hyesoo yang dijawab dengan anggukkan dari bartender yang menyanggupi permintaan Hyesoo.

.

Hyesoo mengeluarkan ponsel dari tasnya dengan cepat. Lalu mengetik sebuah pesan yang ia tujukan untuk Irene. ‘Irene-ah, aku butuh bantuanmu. Aku akan meneleponmu’. Hyesoo hanya mengirim dua kalimat itu pada Irene. Setelahnya, giliran Donghae yang dikirimi pesan oleh Hyesoo.

.

To: Donghae

Aku akan menginap di rumah salah seorang teman

Tidak perlu mengkhawatirkanku

Percaya padaku

.

Setelah mengirim pesan itu pada Donghae, barulah Hyesoo menghubungi Irene untuk menjelaskan maksud dari pesan yang dikirimnya beberapa saat yang lalu. Hanya berselang beberapa saat setelah sambungan teleponnya dengan Irene berakhir, segelas cosmo yang dipesan Hyesoo sudah disajikan di depannya. Hyesoo memberikan senyum tipisnya sebagai ungkapan terima kasih pada bartender yang sudah melayaninya. Hyesoo pun menghabiskan segelas cosmo pertamanya dalam sekali teguk. Pikirannya benar-benar kacau hari ini. Hanya alcohol yang bisa membuat Hyesoo melupakan semua hal sejenak. Hyesoo tertawa kecil pada dirinya sendiri. ‘Kau sudah melupakan banyak hal, Lee Hyesoo. Sekarang kau ingin melupakan hal lainnya juga? Konyol…’ ejek sebuah suara dalam pikiran Hyesoo. Tapi Hyesoo tidak mempedulikannya. Hyesoo pun meminta gelas kedua minuman yang merupakan jenis cocktail berisikan campuran dari vodka, triple sec (sejenis liqueur / alkohol), jus cranberry dan jus lemon itu dari bartender. Kemudian berlanjut ke gelas ketiga, dan seterusnya.

.

.

BGM: Let The Wind Blow (OST. It’s Okay That’s Love)

.

.

Hyesoo terbangun karena sinar matahari yang menyentuh kelopak matanya. Kepalanya terasa begitu pusing karena pengaruh alcohol yang diminumnya. Hyesoo membuka matanya perlahan, mengerjapkannya beberapa kali dan merasakan hangatnya sinar matahari di wajahnya. Ternyata hari sudah pagi. ‘Pagi?!‘ Mata Hyesoo sontak melebar saat menyadari keberadaannya di tempat yang tidak dikenalinya. Ruangan dengan cat berwarna hitam dan putih tertangkap oleh pandangan Hyesoo yang belum sepenuhnya jelas. Bahkan tempat tidur yang saat ini ditidurinya berwarna serupa. Hyesoo baru menyadari bahwa dirinya tidak sedang berada di rumah ataupun apartmentnya. Namun sebuah aroma yang begitu familiar di hidungnya memberikan petunjuk siapa pemilik ruangan ini. ‘Aroma menenangkan itu lagi’, pikir Hyesoo. ‘Cho Kyuhyun? Oh tidak! Jangan hari ini…” sesal Hyesoo dalam pikirannya. Disaat yang sama, Hyesoo menyadari betapa longgar dan nyaman pakaian yang ia pakai. Ternyata ia hanya mengenakan sebuah t-shirt dan sepasang pakaian dalam.  ‘Riwayatmu benar-benar tamat hari ini, Lee Hyesoo…’ keluhnya lagi. ‘Bersikaplah dengan wajar. Jangan panik. Tenang, Lee Hyesoo…’ Hyesoo menenangkan dirinya. Hyesoo pun membalikkan posisi tubuhnya berharap tidak segera menemukan Kyuhyun di ruangan itu. Benar saja. Kyuhyun sedang duduk di sofa tidak jauh dari tempat tidur, menatap Hyesoo dengan ekspresi datar di wajahnya.

.

“Kenapa kau minum sebanyak itu, Lee Hyesoo?” tanya Kyuhyun dengan wajah dingin tanpa ekspresinya.

.

Dia marah?‘ Hyesoo memejamkan mata dan menghela napasnya. Saat ia kembali membuka matanya, Hyesoo menatap tepat ke mata Kyuhyun tanpa ada kata apapun yang keluar dari bibirnya. Kyuhyun berjalan mendekat, lalu duduk di sisi tempat tidur. Hyesoo pun membenarkan posisi tubuhnya agar memudahkannya untuk melihat wajah Kyuhyun. ‘Aku tidak tahu kegilaan apa lagi yang menghampiri pikiranku. Tapi kali ini, aku akan membiarkan diriku mengikuti apapun yang diinginkan oleh hatiku‘, kata Hyesoo dalam pikirannya.

.

“Ada apa? Apa yang sudah terjadi?” tanya Kyuhyun sambil membelai kepala Hyesoo bersamaan dengan tatapannya yang melembut.

.

Hyesoo hanya menjawab pertanyaan Kyuhyun dengan senyuman. Lalu Hyesoo meraih tangan Kyuhyun dikepalanya. Hyesoo tidak bermaksud untuk menyingkirkan tangan Kyuhyun, melainkan ingin mengenggamnya. Hyesoo meletakkan tangan Kyuhyun diatas tempat tidur, lalu dengan perlahan Hyesoo meraba telapak tangan Kyuhyun dengan jari-jarinya sebelum ia meletakkan tangannya diatas tangan Kyuhyun. Pikiran Hyesoo sedang tidak bekerja sebagaimana mestinya. Ia minum terlalu banyak kemarin malam. Sehingga pagi ini kepalanya terasa sangat pusing. Namun kehadiran sosok Kyuhyun disaat ia membuka mata seolah mengobati hangover yang ia rasakan secara perlahan.

.

“Sunbae…” kata pertama Hyesoo pagi itu. Suaranya tidak terdengar baik. Ada serak dan kering di tenggorokannya.

.

“Hm?” sahut Kyuhyun dengan gumamannya.

.

“Apa kau punya peralatan mandi baru?” tanya Hyesoo santai.

.

Kyuhyun terdiam sejenak, sedikit terkejut dengan pertanyaan tidak terduga yang dilontarkan Hyesoo. “Eo… Ada. Aku sudah menyiapkannya di kamar mandi”.

.

“Terima kasih”, kata Hyesoo sambil melepaskan genggaman tangannya dan mencoba bangun dari tidurnya.

.

“Aku juga sudah meminta beberapa staf untuk membawakan pakaian ganti untukmu”, kata Kyuhyun dengan nada ragu. Kyuhyun menghindari tatapan Hyesoo sebelum melanjutkan ucapannya. “Luar dan dalam…” sambung Kyuhyun malu.

.

“Wow… Tentu saja. Hampir saja aku melupakan fakta bahwa aku sedang bersama seorang Cho Kyuhyun. Sepertinya kau berbakat dalam melakukan hal ini, sunbae?”, goda Hyesoo yang sedang mengikat rambutnya.

.

Kyuhyun tersenyum mendengar ucapan Hyesoo. “Aku tidak pernah melakukannya pada siapapun sebelumnya. Kau yang pertama. Kau bisa membanggakannya di kampus pada semua orang”, kata Kyuhyun bergurau.

.

“Bukan ide yang buruk”, Hyesoo membalas gurauan Kyuhyun. “Tapi, dimana pakaian yang ku kenakan kemarin?” tanya Hyesoo mencoba bersikap santai saat melontarkan pertanyaan itu.

.

“Dibawa oleh seorang staf untuk dicuci. Kau muntah sangat banyak kemarin malam”, jawab Kyuhyun.

.

“Oh…” Hyesoo hanya bisa menanggapi pernyataan Kyuhyun dengan sebuah ‘oh’. “Kau yang mengganti pakaianku?”

.

“Kau tidak memberikan pilihan lain padaku, Lee Hyesoo. Semua staf yang ditugaskan untuk memenuhi kebutuhanku adalah laki-laki. Jika aku meminta seorang staf perempuan dari rumah untuk datang kesini di malam hari, maka sama saja dengan aku mengajukan diri untuk diinterograsi sepanjang malam. Aku tidak akan mengambil pilihan itu”, kata Kyuhyun menjelaskan.

.

“Kau mengganti semuanya? Maksudku, benar-benar semuanya. Semua yang menempel ditubuhku”, tanya Hyesoo ragu.

.

“Kau benar-benar ingin mendengar jawabannya?” Kyuhyun balas bertanya, menyadari keraguan Hyesoo.

.

“Katakan saja”, jawab Hyesoo dengan suaranya yang seketika hilang, menyisakan helaan napas yang membentuk kata itu.

.

“Kau masih mengenakan pakaian dalam yang sama. Hanya blouse dan jeans mu saja yang terkena muntahan”, kata Kyuhyun menjelaskan lagi hal yang tidak diingat Hyesoo. Seketika terdengar helaan napas dari Hyesoo yang membuat Kyuhyun menyeringai kecil. “Tapi aku dengan terpaksa harus melihat ukuranmu. Untuk kau kenakan hari ini. Sudah jangan bertanya lagi. Wajahmu sudah memerah”.

.

Kyuhyun pun bangkit dari tempatnya duduk lalu berjalan menjauh menuju dapur. Ia tertawa kecil tanpa ada suara sedikitpun keluar dari bibirnya. Sementara Hyesoo yang sudah berhasil berdiri tegak dalam keadaan hangover-nya, mulai melangkah menuju kamar mandi dengan cepat untuk menyembunyikan rasa malunya pada Kyuhyun. Meski sesaat setelahnya, Hyesoo berhasil membuat Kyuhyun membelalakkan matanya karena baru saja melihat Hyesoo yang mengenakan t-shirt besar milik Kyuhyun yang hanya menutupi tubuhnya sampai pangkal paha Hyesoo. Kyuhyun berdeham cepat untuk mengembalikan kesadarannya yang sempat buyar karena pemandangan itu.

.

“Aku juga sudah menyiapkan air hangat untukmu. Gunakanlah. Mungkin bisa meredakan rasa pusing di kepalamu. Setelah mandi, sarapannya mungkin sudah siap”, kata Kyuhyun.

.

“Ne…” jawab Hyesoo singkat.

.

Sekali lagi, ucapan Kyuhyun mampu membuat senyum Hyesoo mengembang. Namun Kyuhyun tidak melihatnya, karena Hyesoo sudah berlalu menjauh dari jangkauan pandangan matanya. Selama ini ada begitu banyak orang yang memperhatikan dan menjaga Hyesoo. Mereka melakukannya dengan sangat hati-hati dan lembut. Seolah Hyesoo adalah seorang pasien yang membutuhkan perhatian khusus. Tapi Kyuhyun justru melakukannya dengan cara yang lain. Kyuhyun memang menjaganya sepanjang malam, berada di sisi Hyesoo saat ia bangun, dan menyiapkan semua keperluan Hyesoo. Tapi Kyuhyun melakukan  semua itu tanpa mengulurkan tangannya langsung pada Hyesoo. Kyuhyun tetap membiarkan Hyesoo melakukan semua hal sendiri. Kyuhyun menjaga Hyesoo dengan caranya. Sama seperti yang pernah dilakukan Kyuhyun saat berkunjung ke rumah sakit hari itu.

.

Setelah Hyesoo masuk ke kamar mandi, sejenak ia berpikir. Mungkinkah sikap Kyuhyun yang membuatku merasa nyaman bersamanya? Atau karena hatiku sudah tertuju padanya? Hyesoo menggelengkan kepala menghilangkan dua pertanyaan itu dari pikirannya. Hyesoo berjalan mendekat ke wastafel lalu menyalakan air untuk mencuci mukanya. Namun Hyesoo dikejutkan oleh bayangannya sendiri di cermin. Wajah Hyesoo sudah bersih dari make up yang ia gunakan kemarin. Hyesoo pun membuka ikatan di rambutnya dengan cepat. Ia baru menyadari kondisi rambutnya yang sudah rapi dan wangi. ‘Mwoya? Selain mengganti pakaianku, dia mencuci rambutku juga?‘ tanya Hyesoo dalam pikirannya. Senyum pun kembali menghampirinya. Hyesoo menggelengkan kepalanya karena merasa takjub dengan semua hal yang dilakukan Kyuhyun untuknya. ‘Luar biasa… Laki-laki ini diluar dugaanku’, pikir Hyesoo. Sontak Hyesoo mengingat hal yang dikatakan Changmin dan Minho hari itu di taman fakultas ekonomi. Hyesoo berbeda. Bagi Kyuhyun, Hyesoo tidak sama dengan gadis-gadis yang pernah ada dalam hidupnya. Meski tidak tahu kebenarannya, tanpa sadar Hyesoo setuju dengan hal itu. Kyuhyun berbeda.

.

Setelah selesai mandi, Hyesoo keluar dengan mengenakan pakaian yang sudah disiapkan Kyuhyun untuknya. Outfit all-black, paduan blouse hitam yang tidak terlalu melekat di tubuh Hyesoo dan skinny jeans hitam. Ukuran yang benar-benar sesuai di tubuh Hyesoo. Rambut Hyesoo yang sempat digulung, kini hanya diikat ekor kuda, semakin memperlihatkan kulit putih yang begitu kontras dengan pakaiannya. Pandangan Hyesoo langsung tertuju pada Kyuhyun yang sedang menyiapkan dua piring sarapan di atas meja dapur. Tapi Kyuhyun tidak menyadari kehadiran Hyesoo disana. Ia berbalik menuju lemari es untuk mengambil botol jus jeruk didalamnya. Saat Kyuhyun menutup pintu lemari es, tiba-tiba ia merasakan sepasang lengan yang melingkar di pinggangnya, diikuti dengan hangat tubuh Hyesoo yang perlahan mendekat ke punggungnya. Kyuhyun sempat terkejut, namun ia tidak melakukan apapun untuk melepaskan pelukan Hyesoo di tubuhnya.

.

“Ternyata benar…” kata Hyesoo dengan suara pelan.

.

“Tentang apa?” tanya Kyuhyun.

.

“Begitu nyaman memelukmu”, jawab Hyesoo yang memejamkan matanya dipunggung Kyuhyun.

.

Salah satu tangan bebas Kyuhyun menyentuh lengan Hyesoo di perutnya untuk melepaskannya. Hyesoo sontak membuka matanya menyadari tindakan Kyuhyun. Pelukan Hyesoo terlepas dari tubuh Kyuhyun dan Hyesoo mundur satu langkah dari posisinya. Namun sesaat setelahnya, Kyuhyun berbalik dan kembali meraih tubuh Hyesoo mendekat, masuk ke pelukannya.

.

“Seperti ini akan lebih nyaman”, kata Kyuhyun setelah Hyesoo berada dalam pelukannya.

.

“Benar”, kata Hyesoo dengan suara pelan dan sebuah senyuman di wajahnya. “Kepala ku terasa sangat pusing. Lebih baik saat memelukmu”.

.

Kyuhyun meletakkan botol jus jeruk di meja dapur terdekat yang dapat dijangkau oleh tangannya. Kyuhyun mempererat pelukannya, membuat Hyesoo sedikit tersentak karenanya. Kyuhyun pun menyentuhkan tangan kirinya di punggung Hyesoo, sementara tangan kanannya berada di kepala Hyesoo, melepaskan ikatan rambut Hyesoo lalu membelai lembut rambutnya.

.

“Ikatan itu akan memperparah rasa sakit di kepalamu”, kata Kyuhyun setelahnya. “Jangan lakukan itu lagi, Hyesoo-ya”.

.

“Apa?” tanya Hyesoo.

.

“Kemarin malam kau beruntung karena aku meneleponmu disaat yang tepat. Dan kau sedang berada di bar milik keluargaku. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi lain kali jika kau mengulanginya di tempat lain. Jangan minum seperti itu, Lee Hyesoo. Tiga gelas cosmo, dua gelas vodka murni dan segelas gelas tequilla dalam satu malam tanpa makan apapun? Jangan lakukan itu lagi. Tidak baik. Itu yang membuatmu muntah sangat banyak kemarin”, kata Kyuhyun.

.

“Aku mengerti”, jawab Hyesoo.

.

“Kau tidak suka dikhawatirkan oleh orang lain. Karena itu jangan membuatku mengkhawatirkanmu juga”, sambung Kyuhyun.

.

“Baiklah…”

.

“Jangan minum tanpa orang lain bersamamu”, kata Kyuhyun lagi.

.

Hyesoo tertawa kecil kemudian melepaskan pelukannya di tubuh Kyuhyun. Namun Kyuhyun menahan tangannya, membuat tubuh Hyesoo tidak berjarak terlalu jauh darinya.

.

“Aku mengerti. Aku bilang aku mengerti. Katakanlah dalam satu paragraf, supaya kau tidak perlu mengatakannya berkali-kali dan membuat kepalaku semakin berdenyut karena keluhanmu itu”, kata Hyesoo dengan tawa ringannya.

.

Kyuhyun ikut tertawa bersama Hyesoo. Saat tawa mereka reda, tatapan mereka terkunci satu sama lain. Senyum manis masih terlihat diwajah cantik tanpa make up Hyesoo. Lalu Kyuhyun menyentuhkan tangan kanannya di leher sampai tengkuk Hyesoo, membuat Hyesoo memejamkan matanya merasakan temperature tangan Kyuhyun yang dingin. Saat Hyesoo membuka matanya dan kembali menatap Kyuhyun, jarak antara keduanya sudah semakin dekat. Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke wajah Hyesoo. Kedua tangan Hyesoo pun bergerak refleks ke dada Kyuhyun, lalu menjalar ke bahu Kyuhyun. Hingga saat ujung bibir mereka bersentuhan, Hyesoo memejamkan matanya, membiarkan bibir Kyuhyun menyentuh bibirnya. Sebuah kecupan lembut dapat dirasakan Hyesoo di bibirnya. Kecupan itu perlahan berubah menjadi ciuman yang menuntut. Kyuhyun membuka bibir Hyesoo lalu memperdalam ciumannya. Kini tangan Hyesoo sudah melingkar di leher Kyuhyun, menahan kepala Kyuhyun agar tidak menjauh darinya. Begitupun yang dilakukan Kyuhyun. Kedua telapak tangannya menyentuh kepala Hyesoo, satu tangan di leher Hyesoo dan tangan lainnya di pipi Hyesoo. Ciuman itu semakin dalam dan menuntut, membuat helaan napas keduanya terasa lebih berat dari sebelumnya. Hyesoo merasakan sentuhan lidah Kyuhyun di permukaan bibirnya, meminta ijin untuk bergerak lebih jauh. Saat Hyesoo memberikan balasan yang serupa, Kyuhyun tidak menyiakan kesempatan itu. Tangan kanan Kyuhyun sudah berpindah ke pinggang Hyesoo, meraih tubuh Hyesoo mendekat padanya. Decakan suara dari bibir keduanya terdengar memenuhi apartment Kyuhyun. Tiba-tiba suara dering telepon di ponsel Hyesoo terdengar. Butuh waktu beberapa detik sebelum akhirnya Hyesoo membuka mata dan melepaskan bibirnya dari Kyuhyun.

.

“Ada telepon”, kata Hyesoo dengan suara serak berbisiknya.

.

“Biarkan saja”, kata Kyuhyun dengan suara yang tidak kalah seraknya. Kyuhyun kembali mencium Hyesoo.

.

“Tidak bisa…” kata Hyesoo yang bisa melepaskan dirinya lagi dari Kyuhyun. “Itu panggilan penting”.

.

“Bagaimana kau tahu? Kau bahkan belum melihatnya”, tanya Kyuhyun.

.

“Hanya ada satu orang yang menggunakan ringtone itu. Brother’s alert. Jadi sekarang lepaskan aku atau dia akan membunuhku karena tidak menerima panggilannya dengan cepat”, kata Hyesoo.

.

“Baiklah…” kata Kyuhyun akhirnya.

.

Kyuhyun menyerah. Terpaksa ia harus melepaskan tubuh Hyesoo darinya. Sebelum berlalu meninggalkannya di dapur, Hyesoo sempat memberikan kecupan singkat di sudut bibir Kyuhyun, membuat sudut itu tertarik membentuk sebuah senyuman. Hyesoo berlari kecil menuju sumber suara, pemandangan lain yang mengembangkan senyuman Kyuhyun.

.

“Halo?” suara Hyesoo terdengar hati-hati saat menerima panggilan telepon.

.

Kenapa lama sekali?” tanya suara di seberang telepon dengan nada datar namun terdengar kesal.

.

“Aku tidak selalu memegang ponselku. Ada apa?”

.

Kau dimana?” Donghae bertanya dengan nada bicara yang sedikit tinggi.

.

“Aku sudah mengatakannya padamu kemarin”, kata Hyesoo yang kembali melangkah ke dapur.

.

Dimana lokasinya?” tanya Donghae lagi.

.

“Kenapa? Kenyataan bahwa sekarang kau sudah tidak bisa melacakku lagi membuatmu tidak tenang? Tidak perlu khawatir, Donghae-ya. Aku masih di Seoul”, kata Hyesoo menjelaskan. Kini tangan Kyuhyun sudah melingkar di pinggang Hyesoo. Kyuhyun memeluk Hyesoo dari belakang dan meletakkan kepalanya di bahu Hyesoo.

.

Siapa temanmu?

.

“Kau tidak akan mengenalnya meski aku menceritakannya padamu. Aku tidak akan mengatakannya. Agar kau tidak melacaknya juga”, kata Hyesoo tanpa menjawab pertanyaan Donghae.

.

Kau tidak pernah menjawabku dengan jawaban sebenarnya, Lee Hyesoo. Baiklah. Tapi kau harus menjawabku kali ini. Laki-laki atau perempuan?“, tanya Donghae kali ini.

.

Hyesoo menoleh pada Kyuhyun yang mendengar pertanyaan Donghae juga. Kyuhyun menaikkan kedua alisnya, menantang Hyesoo untuk menjawab pertanyaan Donghae dengan jujur. Tapi tentu saja Hyesoo tidak akan melakukan hal itu. Hyesoo lebih suka menjauhi keributan.

.

“Perempuan”, jawab Hyesoo setelahnya, membuat Kyuhyun tersenyum karena kebohongan konyol Hyesoo.

.

Kau akan pulang terlebih dahulu atau langsung ke kampus? Aku bisa meminta Min ahjussi untuk menjemputmu“.

.

“Tidak perlu. Ada banyak taksi di Seoul. Biarkan Min ahjussi menikmati sarapannya dengan tenang hari ini. Donghae-ya, aku harus bersiap-siap”, kata Hyesoo, berharap ia bisa mengakhiri sambungan telepon itu dengan cepat.

.

Baiklah. Aku mengerti. Saat kau sampai di kampus segera hubungi aku“, pesan Donghae.

.

“Aku mengerti. Aku akan menghubungimu. Maafkan aku…”

.

Untuk apa minta maaf padaku?” tanya Donghae dengan nada bingung.

.

“Karena membuatmu khawatir”, jawab Hyesoo.

.

Hhh… Sudah seharusnya. Aku tutup teleponnya. Aku harus menghadiri rapat“.

.

“Sampai nanti”.

.

Sambungan telepon terputus. Hyesoo menghela napas panjang dan memejamkan matanya. Kemudian ia menyandarkan kepalanya di leher Kyuhyun yang tepat berada di belakangnya. Kyuhyun mengecup lembut pelipis kiri Hyesoo saat menyadari keresahan yang dirasakan Hyesoo.

.

“Aku melakukannya lagi”, kata Hyesoo yang masih memejamkan matanya.

.

“Apa?” tanya Kyuhyun.

.

Hyesoo membuka matanya. Ia tidak mengatakan apapun selama beberapa saat. “Aku selalu berbohong padanya tentang semua hal yang berhubungan denganmu”, jawab Hyesoo.

.

“Ini bukan kali pertama kau berbohong padanya tentangku, begitu? Situasi apa yang kau sembunyikan sebelumnya?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Benar. Hm… Saat aku harus menginap di rumah sakit karena seseorang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan orang gila”, jawab Hyesoo.

.

Kyuhyun berdengus menahan tawa. “Dan, apa kebohongan yang kau katakan padanya?”

.

“Sebenarnya bukan aku yang membohonginya secara langsung. Yoona yang melakukannya. Menurut Yoona, kebohongan itu tidak akan terlalu berbahaya jika dikatakan olehnya. Donghae akan percaya pada kekasihnya itu tanpa protes sedikitpun. Dan memang seperti itulah yang terjadi”, kata Hyesoo menjelaskan.

.

“Kalau begitu, kau tidak benar-benar berbohong padanya”, kata Kyuhyun mengambil kesimpulan dari penjelasan Hyesoo.

.

“Aku punya andil secara tidak langsung. However, aku sudah melakukannya. Dan sekarang aku harus segera ke kampus sebelum Donghae mengirim seorang staf untuk mencariku disana”, kata Hyesoo yang melepaskan pelukan Kyuhyun.

.

“Paling tidak makan sarapanmu sebelum pergi”, kata Kyuhyun berusaha menahan Hyesoo.

.

Hyesoo berjalan menuju meja yang diletakkan tidak jauh dari tempat tidur, dimana barang-barang Hyesoo diletakkan disana oleh Kyuhyun. Hyesoo memasukkan ponsel dan jam tangannya ke dalam tas sebelum kembali ke dapur. Kyuhyun kembali mengambil botol jus yang sempat ia letakkan, lalu menuangkan jus itu ke dua gelas yang sudah ia siapkan sebelumnya.

.

“Ah, pakaianku. Bagaimana?”, kata Hyesoo yang sudah duduk di salah satu bangku di bench dapur.

.

“Biarkan saja. Aku akan menyimpannya. Mungkin suatu saat nanti kau akan kembali menginap disini. Hanya untuk berjaga-jaga”, kata Kyuhyun dengan senyum menggodanya.

.

“Hhh… Baiklah”, kata Hyesoo setuju. “Sunbae, apakah taksi mudah ditemukan di daerah ini?”, tanya Hyesoo.

.

“Taksi? Untuk apa?” tanya Kyuhyun bingung.

.

“Pergi ke kampus”, jawab Hyesoo sebelum memasukkan potongan kecil sandwich ke mulutnya.

.

“Kita bisa berangkat bersama. Kita punya tujuan yang sama, bukan?”

.

“Tidak bisa. Terlalu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Aku sedang tidak berminat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan aku dapatkan karena datang ke kampus bersama sunbae”, kata Hyesoo.

.

“Kau bisa mengemudi?” tanya Kyuhyun sambil meletakkan segelas jus di meja tepat dihadapan Hyesoo. “Ini. Minum dua tablet Motrin terlebih dahulu dengan air sebelum jus mu”, kata Kyuhyun setelahnya.

.

“Mereka mengatakan dulu aku bisa. Tapi aku belum mencobanya lagi selama beberapa tahun terakhir. Aku belum berniat untuk mengambil resiko. Dan terima kasih untuk Motrin nya”, jawab Hyesoo yang kemudian meminum Motrin yang diberikan Kyuhyun dengan air mineral, kemudian jus setelahnya.

.

“Kalau begitu supir ku bisa mengantarmu. Aku akan menghubunginya dan memintanya untuk menjemputmu disini”, kata Kyuhyun.

.

“No. No. Tidak boleh seperti itu. Jika Donghae benar-benar mengirim staf nya ke kampus, lalu mereka menemukanku datang dengan supir yang tidak mereka kenal, maka Donghae akan menginterograsiku sepanjang malam. Sangat melelahkan”, tolak Hyesoo.

.

“Kau tinggal mengatakan padanya bahwa dia adalah supir teman yang kau ceritakan itu. Kau bisa menjemput temanmu dan berangkat bersama ke kampus”, kata Kyuhyun bersikeras.

.

“Sunbae……” kata Hyesoo yang sedang mencari cara untuk menolak anjuran Kyuhyun.

.

“Kau hanya punya dua pilihan, Lee Hyesoo. Aku atau supirku yang mengantarmu”, kata Kyuhyun.

.

“Baiklah. Aku setuju diantar oleh supirmu”, kata Hyesoo sebelum meminum tegukan terakhir susu di gelasnya.

.

Kyuhyun pun mengambil ponsel dari saku celananya dengan cepat lalu menekan tombol di layarnya. Awalnya Hyesoo menduga Kyuhyun sedang menghubungi supirnya. Tapi nama pertama yang disebut oleh Kyuhyun membuat Hyesoo tersenyum lebar karena tidak bisa mempercayai apa yang sedang Kyuhyun lakukan.

.

“Bae Irene? Aku Kyuhyun. Benar, Cho Kyuhyun yang sama. 15 menit lagi Hyesoo akan menjemputmu dirumah. Tunggu dia. Dan pastikan kau tidak meninggalkannya”, kata Kyuhyun dengan cepat dan jelas.

.

Sambungan telepon selesai sesaat setelahnya. Kyuhyun meletakkan ponselnya di meja dapur, lalu menyuapkan potongan sandwich dari piringnya ke mulut Hyesoo dengan santai. Ia tidak menyadari tatapan heran yang dilontarkan oleh Hyesoo padanya. Kyuhyun baru menyadarinya saat ia meminum susu di gelasnya dan tatapan mereka bertemu.

.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Kyuhyun setelah meletakkan gelasnya.

.

“Sunbae mengatakan semua itu tanpa mengakhirinya dengan terima kasih?” tanya Hyesoo.

.

“Pada siapa? Bae Irene? Untuk apa aku melakukannya? Dia yang seharusnya berterima kasih karena supirku akan menjemputnya juga. Bukan begitu?” Kyuhyun balas bertanya.

.

“Hhh… Tidak sopan. Tidak bisa dipercaya. Kau bersikap sangat tidak menyenangkan, tapi aku tidak merasa kesal padamu. Ch… Aku rasa aku sudah mulai gila. Sebaiknya aku pergi sekarang”, kata Hyesoo sambil meraih tasnya dan bangkit berdiri.

.

Kyuhyun berjalan di belakang Hyesoo, mengantarnya ke ambang pintu. “Aku benci membiarkanmu pergi dari apartment ku”, kata Kyuhyun bersungguh-sungguh.

.

“Lalu apa? Kau ingin mengurungku di menara tinggi seperti Rapunzel agar aku tidak bisa kemanapun?” tanya Hyesoo bergurau sambil mengenakan sepatu sneakers nya.

.

“Tidak mungkin bisa ku lakukan. Kau tidak suka dikurung”, Kyuhyun menanggapi ucapan Hyesoo dengan gurauan juga. “Sejenak aku menduga-duga, apakah kedekatan diantara kita yang terjadi beberapa saat yang lalu akan berubah di detik kau keluar dari pintu itu?”

.

Hyesoo yang sudah selesai mengenakan sepatunya berbalik menghadap Kyuhyun. Hyesoo menatap wajah yang benar-benar menunjukkan kecemasannya itu. Setelah beberapa saat menerima tatapan Hyesoo, Kyuhyun pun mengangkat bahunya cepat. Hyesoo tersenyum, lalu melambaikan tangannya pelan, meminta Kyuhyun mendekat padanya. Kyuhyun menuruti permintaan Hyesoo dan berjalan mendekat. Ketika jarak diantara mereka semakin menipis, Hyesoo menyentuhkan telapak tangannya diatas telapak tangan Kyuhyun. Mereka saling mengenggam dan menatap tepat pada mata satu sama lain. Tidak ada kata yang terucap setelahnya. Kyuhyun kembali melangkahkan kakinya, satu langkah lebih dekat sebelum menghapus jarak diantara mereka. Kemudian tangan Kyuhyun yang bebas menyentuh leher Hyesoo, tepat dibawah rahangnya untuk mengangkat wajah Hyesoo menghadap ke wajahnya. Kyuhyun pun menghapus jarak terakhir diantara mereka. Kyuhyun kembali mencium bibir Hyesoo dengan lembut sebelum keduanya membuka bibir mereka untuk memperdalam ciuman mereka. Genggaman tangan mereka terlepas, membuat tangan Kyuhyun kembali meraih pinggang Hyesoo dan mendekatkan tubuh Hyesoo padanya. Begitupun yang dilakukan Hyesoo. Kedua tangannya berada di pinggang Kyuhyun, meremas sisi kanan dan kiri long sleeves hitam yang Kyuhyun kenakan. Ciuman itu menjadi lebih dalam dan lambat, hingga Hyesoo tersadar akan tujuannya beberapa saat yang lalu. Hyesoo pun lebih dulu melepaskan ciumannya di bibir Kyuhyun, menyadarkan keduanya.

.

“Aku harus ke kampus, sunbae”, kata Hyesoo yang masih dalam keadaan keningnya menempel di kening Kyuhyun.

.

“Aku benar-benar benci mendengar kata-kata itu, Lee Hyesoo”, balas Kyuhyun yang belum membuka matanya.

.

Hyesoo pun menjauhkan kepala nya dari Kyuhyun, benar-benar menguatkan niatnya untuk pergi kali ini. “Percayalah, aku juga merasa begitu”.

.

Kyuhyun menghela napas panjang, lalu melepaskan rengkuhannya di tubuh Hyesoo, membiarkan Hyesoo menjauh darinya. Namun tangannya masih menggenggam tangan Hyesoo, belum benar-benar merelakan Hyesoo. Genggaman tangan itu hanya dibalas dengan tatapan lembut dan senyuman manis dari Hyesoo, membuat Kyuhyun semakin tidak ingin melepasnya. Sesaat kemudian, Kyuhyun benar-benar menyerah. Ia menghela napas panjang lalu melepaskan tangan Hyesoo dari tangannya. Senyum Hyesoo lebih menyembang. Hyesoo pun berjalan mundur perlahan, meninggalkan Kyuhyun yang memutuskan untuk tidak mengantar Hyesoo ke tempat parkir. Hyesoo melambaikan tangannya sesaat sebelum menghilang dibalik pintu.

.

.

Hyesoo’s POV

.

Aku melakukan seperti yang diinginkan oleh Cho Kyuhyun. Saat aku sampai di tempat parkir, seorang staf dengan setelan serba hitam yang sangat rapi sudah menungguku di depan sebuah mobil berjenis SUV, BMW X6 monaco blue. ‘Oh my God…‘ kataku dalam pikiranku. Aku sontak berdiri membeku, tidak percaya dengan yang sedang ku lihat. Aku bergelut dalam pikiranku melawan Lee Hyesoo yang rasional. Memang tidak ada yang salah dengan keberadaan salah satu staf Kyuhyun disana. Memiliki sebuah SUV keluaran eropa dengan harga sekitar 150,000 US$ pun bukan hal yang illegal (Donghae membicarakan salah satu miliknya yang berwarna tasman seminggu yang lalu). Tapi mengendarainya ke kampus adalah hal yang jauh berbeda.

.

“Annyeonghaseyo, agassi. Pagi ini saya ditugaskan untuk mengantar anda. Nama saya Byun Baekhyun”, sapa staf dengan setelan rapi itu.

.

“Ah, ne. Annyeonghaseyo”, balasku tak kalah sopannya. “Tapi… Hm……” Aku ragu dengan kata yang ingin ku ucapkan.

.

“Katakan saja, agassi. Apa ada hal yang membuat anda tidak nyaman?” tanya Byun Baekhyun.

.

“Aniyo. Bukan begitu. Hanya saja aku… Hm… Kita akan naik Tucson yang ada disana, bukan?” tanyaku akhirnya sambil menunjuk mobil SUV Hyundai Tucson yang diparkir di paling ujung.

.

“Sayangnya tuan muda tidak meminta saya untuk mengantar agassi dengan mobil itu”, jawab Byun Baekhyun.

.

“Kalau begitu, bisakah kita menggunakan mobil itu saja?” tanyaku lagi, mencoba bernegoisasi.

.

“Saya khawatir tidak dapat mengubah keputusan tuan muda, agassi. Lagipula mobil itu akan digunakan oleh staf lain dalam waktu dekat”, jawab Byun Baekhyun menolak permintaanku dengan lembut namun disertai ketegasan dalam ucapannya. “Kalau anda tidak keberatan, bisakah kita berangkat sekarang, agassi? Tuan muda meminta saya untuk menjemput salah seorang teman secepatnya sebelum mengantar anda ke kampus”.

.

“Ah, ne. Baiklah…” kataku menyerah.

.

Byun Baekhyun berjalan menuju ke samping mobil dan membukakan pintu penumpang untukku. Aku pun berjalan mendekati mobil mahal-yang-sangat-mencolok itu lalu masuk ke kursi penumpang. Segera setelah menutup pintu, Byun Baekhyun masuk ke mobil dan mulai mengemudikan mobil itu. Cho Kyuhyun dan setiap staf yang dipekerjakan untuk menjaga dan memenuhi kebutuhannya. Bahkan para stafnya memiliki watak yang sama dengan atasan mereka. Ya untuk ya. Tidak untuk tidak. Sekarang untuk sekarang. Tanpa negosiasi berkepanjangan. Apakah itu alasan dibalik semakin sejahteranya kehidupan orang-orang dari kalangan ekonomi atas? Sesaat aku merasa seperti baru saja menghadapi versi lain dari Lee Donghae. Hanya saja Cho Kyuhyun memiliki sedikit pesona yang tidak dimiliki Donghae. Jika ku bandingkan, Kyuhyun juga tidak punya pembawaan santai seperti Donghae. Mereka memiliki kelebihannya masing-masing.

.

Aku menemukan sisi lain dari diri Byun Baekhyun. Ia tidak berwajah serius dan kaku seperti yang lainnya. Ia masih tersenyum dan menggunakan nada bicara yang sangat manusiawi. Aku sempat melihat ada senyum kecil dibibirnya saat melihat rasa seganku untuk menggunakan mobil yang tidak perlu dibicarakan lagi keterangan harganya itu. Ada keriangan dibalik kostum (yang terkesan) kaku yang ia kenakan saat ini. Wajahnya juga terlihat lebih muda dari staf yang lainnya (bahkan dari Cho Kyuhyun). Sesaat aku menduga kami lahir di tahun yang sama. Hanya saja ia memilih jalan hidup yang menyulitkan dengan menjadi salah satu staf penjaga Cho Kyuhyun yang sangat keras kepala itu.

.

“Agassi, maaf jika saya lancang menanyakannya. Apakah anda baik-baik saja? Semalam anda muntah sangat banyak”, tanya Byun Baekhyun menyadarkanku dari pikiranku sendiri.

.

Omo! Dia mengetahuinya juga? “Jauh lebih baik dari yang ku bayangkan”. Terima kasih pada pelukan hangat dan kecupan selamat pagi yang manis dari Cho Kyuhyun, lanjutku dalam pikiranku.

.

“Tuan muda berubah menjadi panik saat mendengar kabar dari salah satu pegawai Plaisir Noir yang meneleponnya semalam. Dia menghambur keluar dari apartment dengan cepat……”, kata Byun Baekhyun yang menggantungkan ucapannya.

.

Astaga! “Apakah dia baik-baik saja? Dia tidak terkejut, bukan? Apakah dia berlari? Apa… Apakah dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tidak masuk akal lagi?” tanyaku merasakan kecemasan yang tiba-tiba menghampiriku.

.

Mata Byun Baekhyun sontak terbelalak saat mendengar pertanyaanku. Seolah menjelaskan keterkejutannya atas situasi yang baru pertama kali dialaminya. Terlihat jelas bahwa selama ini keluarga Cho menutup rapat perihal kondisi kesehatan Kyuhyun dari siapapun. Dan saat ini, seorang gadis yang tidak punya hubungan apapun dengan keluarga itu baru saja melontarkan pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan orang lain.

.

“Benar, agassi. Tuan muda berlari. Beruntung jarak apartment dan tempat parkir tidak terlalu jauh. Dan, tuan muda tidak mengemudi. Saya diperintahkan oleh tuan Park (pengurus pribadi Kyuhyun) untuk standby sesaat setelah tuan muda keluar dari apartment nya. Agassi tidak perlu khawatir”, jawab Byun Baekhyun menjelaskan.

.

“Tidak terjadi apapun padanya? Apapun?” tanyaku lagi untuk memastikan.

.

“Tidak ada, agassi. Tuan muda baik-baik saja. Tapi, bagaimana anda……”

.

“Mengetahui keadaan Kyuhyun? Sepertinya aku terlalu sering bergaul dengannya. Sangat mudah mengetahui kondisinya jika dilihat dari sisi ilmu kedokteran”, kataku menjawab pertanyaan tak terselesaikannya.

.

“Tentu saja…” kata Byun Baekhyun setuju dengan penjelasanku sambil tersenyum.

.

“Sebentar…” kataku saat menyadari sesuatu. “Tadi kau bilang tuan Park menyuruhmu standby di tempat parkir. Jadi, kau……yang mengantar Kyuhyun untuk menjemputku?”

.

“Benar, agassi. Saya satu-satunya saksi hidup yang menyaksikan kejadian langka kemarin malam”, jawab Byun Baekhyun dengan gurauannya.

.

Benar dugaanku. Dia tidak sekaku yang lainnya. “Kejadian langka? Apakah sangat memalukan?”

.

“Tidak. Hanya saja, kejadian itu tidak pernah terjadi sebelumnya”, jawab Byun Baekhyun dengan senyum mengembangnya.

.

“Bisakah kau menceritakan kejadian langka itu padaku?” tanyaku lagi, bersiap untuk mendengar hal memalukan yang mungkin saja sudah ku lakukan semalam.

.

“Tentu, agassi. Anda tidak perlu khawatir. Kejadian itu sepenuhnya tentang tuan muda. Anda tidak melakukan apapun. Anda hanya muntah sangat banyak. Dan……sedikit mengenai tuan muda. Tapi tuan muda tidak marah sedikitpun. Tuan muda justru membersihkan anda tanpa rasa risih. Hal itulah yang saya maksud sebagai kejadian langka”, ujar Byun Baekhyun. “Apakah tuan muda tidak mengatakannya pada anda saat anda bangun pagi ini?” Ia bertanya setelahnya.

.

“Tidak. Cho Kyuhyun hanya menceritakan sampai aku muntah sangat banyak”, jawabku. “Ups!” kataku setelahnya saat menyadari baru saja aku tidak menyertakan kata sunbae dibelakang nama Cho Kyuhyun.

.

“Tidak apa-apa, agassi. Aku juga memanggilnya dengan sebutan hyung”, kata Byun Baekhyun seolah mengerti isi pikiranku.

.

“Jadi, benar dugaanku? Kau lebih muda darinya? Atau…kau seumuran denganku?” tanyaku bersemangat.

.

“Benar, agassi” jawab Baekhyun.

.

“Fiuh… Syukurlah… Awalnya aku sempat merasa sangat canggung. Ah, kalau begitu kau tidak perlu memanggilku agassi, Baekhyun-ssi. Panggil saja aku Lee Hyesoo. Bagaimana?”

.

“Tentang itu… Saya tidak bisa melakukannya, agassi. Anda adalah orang yang penting bagi tuan muda. Saya harus melakukan sesuai peraturan”, tolak Baekhyun.

.

“Tidak. Tidak. Kali ini aku yang akan menolak dan memaksamu. Tanggalkan bahasa formalmu dan panggil aku Lee Hyesoo, atau setelah aku turun dirumah Irene nanti, aku tidak akan kembali naik ke mobil ini. Kau hanya punya dua pilihan. Lagipula aku bukan atasanmu. Dan kau bahkan memanggilnya hyung. Aku tidak mau dipanggil agassi. Tidak perlu mengkhawatirkan Cho Kyuhyun. Aku yang akan menghadapinya. Jadi, deal?” aku mengajukan negosiasiku kali ini. “Deal?” tanyaku lagi karena Baekhyun tidak segera menjawabku.

.

“Baiklah…” jawab Baekhyun menyetujui.

.

“O! Disana! Irene sudah menunggu di depan rumahnya”, kataku saat melihat sosok Irene yang berdiri di depan gerbang rumahnya.

.

Baekhyun menepikan mobil dan berhenti tepat di depan rumah Irene. Reaksi yang diberikan Irene saat melihat mobil di hadapannya melebihi ekspresiku sebelumnya. Entah kenapa reaksi itu membuat wajahku seketika memerah. Aku pun keluar dari mobil dengan cepat supaya Baekhyun tidak mendapatkan kesempatan untuk memperlakukanku dengan istimewa dengan membukakan pintu untukku. Aku segera menghampiri Irene yang masih berdiri membeku di tempatnya.

.

“Sunbae, apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?” tanya Irene.

.

“Aku lebih dari baik-baik saja. Maaf sudah merepotkanmu”, kataku meyakinkan Irene.

.

“Lalu mobil ini? Kyuhyun sunbae? Adakah penjelasan untuk semua itu?” tanya Irene lagi.

.

“Tentu. Tapi sebaiknya kita masuk terlebih dahulu ke mobil. Aku harus sampai di kampus sebelum hal yang tidak aku inginkan terjadi”, kataku.

.

“Baiklah. Aku mengerti”, kata Irene.

.

Kami berdua melangkah mendekati mobil. Disana Baekhyun sudah berdiri di samping pintu yang ia bukakan untuk kami. Ia menundukkan kepalanya untuk menyapa Irene dan mempersilahkan kami masuk. Aku pun memberikan tatapan protesku padanya. Baekhyun hanya tersenyum lembut untuk membalas tatapanku. Mobil kembali melaju menjauhi rumah Irene. Kali ini kami langsung menuju kampus. Irene menatapku, masih menunggu penjelasan dariku. Tentu saja aku menyadari tatapannya. Aku hanya merasa ragu untuk menceritakannya karena kehadiran Baekhyun di mobil ini.

.

“Aku akan merahasiakannya dari Kyuhyun hyung, Hyesoo-ssi. Kau bisa mempercayaiku”, kata Baekhyun sesaat kemudian.

.

“Baekhyun-ssi, kau punya kemampuan untuk membaca orang lain? Bagaimana kau bisa mengetahui semua hal yang aku pikirkan?” tanyaku, protes dengan kemampuan diluar akal sehatku itu.

.

“Aku terbiasa membaca Kyuhyun hyung. Kau jauh lebih mudah untuk dibaca, Hyesoo-ssi. Sedangkan Kyuhyun hyung, dia buku yang tertutup rapat. Sangat sulit membacanya”, jawab Baekhyun.

.

“Jadi, apa sunbae mau menjelaskannya padaku sekarang?” tanya Irene menyela diantara percakapanku dengan Baekhyun.

.

“Ini tidak seperti yang mungkin sedang kau pikirkan…” kataku mengawali penjelasan yang diminta Irene. “Aku punya sedikit masalah kemarin. Dan aku ke sebuah bar. Aku tidak tahu jika bar itu miliknya. Aku sangat mabuk. Dia membawaku ke apartment nya. Selesai. Itu penjelasanku. Apakah cukup?”.

.

“Bisakah sunbae menjelaskannya dari awal? Aku bahkan tidak tahu bahwa kalian berdua saling mengenal”, protes Irene.

.

Aku sempat mendengar dengusan riang dari arah kursi pengemudi yang saat ini sedang tersenyum lebar setelah mendengarkan protes dari Irene. Senyumnya bertambah lebar saat mata kami bertemu di cermin. Baekhyun pun berdeham untuk mengembalikan fokus dan ekspresinya seperti semula. Dia terlalu riang untuk ukuran seorang staf atasan diktator seperti Cho Kyuhyun.

.

“Awalnya tidak cukup baik. Aku memilih untuk tidak menceritakannya padamu. Intinya kami saling mengenal. Banyak kejadian yang sudah kami lewati. Baik itu kejadian yang menyenangkan maupun kejadian yang bahkan tidak ingin ku ingat. Kami berhubungan baik. Tidak ada bahaya. Semuanya masih terkontrol. Tapi tidak banyak orang yang mengetahuinya. Tentu orang terdekatku mengetahui bahwa aku mengenal Kyuhyun, tapi hanya sampai disitu. Dan mereka tidak… hm… mereka tidak… menyukai dia. Karena itulah aku memintamu untuk merahasiakannya”, kataku.

.

“Jadi, hubungan kalian yang sampai melibatkan kisah menginap karena mabuk dan mobil luar biasa mahal ini tidak diketahui semua orang?” tanya Irene dengan menyertai dua kondisi yang baru aku sadari terdengar mengerikan itu dalam pertanyaannya.

.

“Benar. Bisa dikatakan begitu. Dan, koreksi, ada orang-orang yang mengetahuinya. Beberapa staf yang bekerja untuk Kyuhyun mengetahuinya. Termasuk Baekhyun-ssi yang duduk di depan. Kau pun mengetahuinya. Tapi saat ini posisimu yang dapat sangat membantuku. Karena secara hukum, para staf Kyuhyun tidak bisa membicarakan apapun yang terjadi di dalam lingkup keluarganya pada orang lain, benar Baekhyun-ssi?” penjelasanku pada Irene aku selingi dengan pertanyaan yang membutuhkan jawaban riang dari Baekhyun untuk menenangkan atmosfer menegangkan yang dibuat oleh Irene.

.

“Benar sekali, Hyesoo-ssi”, jawab Baekhyun dengan keriangan yang sudah ku duga sebelumnya. Dia benar-benar menikmati percakapan penuh dengan kehati-hatian dan membutuhkan negosiasi ini.

.

“Aku butuh bantuanmu untuk merahasiakan hal ini. Hm?” pintaku pada Irene.

.

Irene menganggukkan kepalanya pelan beberapa kali, seolah sedang mengolah penjelasan yang aku katakan padanya dan menimbang-nimbang keputusan yang akan diambilnya. “Baiklah, sunbae. Aku akan membantumu…” kata Irene akhirnya. “Dengan satu syarat!”

.

“Katakan”.

.

“Jika ada sesuatu terjadi diantara kalian, yang tidak bisa kau tangani seorang diri, maka sunbae harus mencariku dan membiarkan aku membantumu. Karena seperti yang sunbae katakan, hanya aku yang mengetahui hubungan kalian ini selain staf-staf berkostum sangat rapi itu”, kata Irene yang kini menyindir penampilan staf-staf Kyuhyun, termasuk Baekhyun.

.

“Aku setuju”, kataku cepat. “Hah… Aku bisa bernapas sedikit lega sekarang”, sambungku sambil menyandarkan tubuhku ke jok mobil dengan lebih santai.

.

“Begitupun denganku… Tahukah sunbae? Saat Kyuhyun sunbae menghubungiku, aku begitu gugup. Suaranya bernada rendah dan dia hanya mengatakan apa yang perlu dia katakan. Seperti tokoh antagonis dalam drama. Sangat mengintimidasi. Membuat rambut halus ditubuhku berdiri seketika. Diktator muda yang sangat menyebalkan namun luar biasa tampan”, keluh Irene.

.

“Apakah kau menyadari bahwa kau baru saja mengejek dan memujinya dalam waktu yang bersamaan?” tanyaku sambil menahan tawa.

.

“Huh… Aku sangat menyadarinya, sunbae. Aku terdengar sangat konyol, bukan? Tapi kenyataan bahwa seorang Cho Kyuhyun mengejar seorang gadis terdengar lebih konyol dari keluhanku. Dia tidak pernah melakukan hal itu. Apakah sunbae mengetahuinya?” tanya Irene.

.

“Aku sudah mendengarnya. Dia mencoba untuk meyakinkanku akan hal itu. Setelah mendengar ucapanmu, sepertinya aku harus mempercayainya”, kataku.

.

“Sunbae memang harus mempercayainya. Selama ini memang ada banyak gadis yang mengejarnya. Tapi tidak pernah sebaliknya. Cho Kyuhyun memiliki taste nya sendiri. He’s unreachable. Setelah ku pikirkan, seharusnya sunbae membuat usahanya mengejarmu lebih sulit. Walaupun aku bukan salah satu dari mereka yang mengejar Kyuhyun sunbae, tapi setidaknya dia bisa merasakan hal yang dirasakan gadis-gadis itu saat mengejarnya”, kata Irene dengan semangat balas dendamnya.

.

“Aku tidak tahu tentang kisah para gadis itu, ingat? Aku pendatang baru di kampus. Lagipula, meskipun aku mengetahuinya, aku tetap tidak akan melakukannya”, kataku yang membuat Irene menoleh heran padaku. “Aku sudah memuntahkannya? Tidak. Aku muntah padanya? Tidak. Tidak. Aku tidak tahu bagaimana menyusun kata-kata itu agar menjadi kalimat yang benar”.

.

“Dia terkena muntahanmu”, kata Baekhyun membantuku.

.

“Benar. Terima kasih, Baekhyun-ssi”, kataku berterimakasih pada Baekhyun yang menjawabku dengan anggukkan.

.

“Omo! Dan dia tidak marah? Tidak membentakmu juga? Tidak melakukan apapun, seperti memintamu mengganti kerugiannya?” tanya Irene tanpa jeda. “Daebak! Benarkah sunbae?”

.

“Tidak. Tidak. Dia marah padaku pagi ini. Karena aku minum terlalu banyak tanpa makan apapun”, jawabku.

.

“Eeeiiii!!! Itu tidak dihitung! Sunbae yakin hanya itu?” tanya Irene yang ku jawab dengan anggukkan mantap. “Heol… Benar-benar tidak bisa dipercaya. Seorang Cho Kyuhyun sudah benar-benar jatuh cinta pada gadis ini. Sunbae, selamat…”

.

“Selamat untuk apa?” tanyaku.

.

“Sunbae, Cho Kyuhyun neun……wanjeon dorai-ya! Ssagaji… (Cho Kyuhyun benar-benar gila!). Selain para gadis yang memujanya, semua orang mengetahuinya. Jika orang lain melakukan hal seperti yang sunbae lakukan, maka Cho Kyuhyun akan melakukan apapun untuk membuat orang itu menyesal telah melakukannya. Bahkan menyesal karena pernah bertemu dengan seorang Cho Kyuhyun”, kata Irene menjelaskan.

.

“Hhh… Untuk hal itu aku setuju denganmu. Dia memang gila. Aku rasa Baekhyun-ssi juga setuju dengan hal itu”, kataku.

.

“Omo! Aku lupa…” sesal Irene. “Baekhyun-ssi, Kyuhyun sunbae tidak akan mengetahui semua hal yang dibicarakan saat ini, bukan?” tanya Irene hati-hati.

.

“Tentu saja, Irene-ssi. Aku sudah berjanji pada Hyesoo-ssi. Kau tidak perlu khawatir. Lagipula, Kyuhyun hyung memang gila. Aku tidak akan menyangkalnya”, jawab Baekhyun.

.

“Jangan khawatir, Irene-ah. Kau akan aman dari orang gila itu jika kau menggunakan namaku sebagai tamengmu. Percayalah…” kataku untuk menenangkan Irene.

.

Irene pun menghela napas panjang, membuatku dan Baekhyun tertawa mendengar helaan napasnya. Aku kembali ke pikiranku, memikirkan kata-kata yang Irene ucapkan tentang seorang Cho Kyuhyun yang dingin dan keras pada orang lain. Benarkah dia sudah jatuh cinta padaku? Itukah perasaan yang tersimpan dalam dirinya, yang membuatnya bersikap begitu manis dan lembut padaku? Aku ingin mempercayainya. Sebagian dalam diriku sudah lebih dulu mempercayainya. Namun masih ada bagian lain yang meragukannya. Aku merasa tidak sesuai dengan yang dia butuhkan. Aku merasa kami tidak sebanding. Kami bagaikan singa dan kijang yang bertemu di sebuah pulau tanpa makhluk apapun lagi diantara kami. Dia tidak bisa memangsaku karena akan kesepian jika melakukan hal itu. Sementara aku tidak bisa berlari karena aku membutuhkan perlindungan. Kami berada dalam situasi yang tidak dapat dijelaskan. Belum.

.

.

.

.

Author’s POV

K University

Mobil SUV mencolok Kyuhyun akhirnya memasuki pelataran kampus. Beberapa meter dari kampus, Hyesoo meminta Baekhyun untuk menghentikan mobilnya di sebuah konstruksi bangunan tidak jauh dari gedung kedokteran. Hyesoo tidak ingin menjadi pusat perhatian dan bahan pembicaraan di kampus. Hyesoo tidak suka disebut ‘gold digger’ atau penggoda laki-laki kaya hanya untuk mendapatkan uang. Hyesoo tidak perlu menjadi keduanya. Begitupun dengan Irene. Keadaan keluarga keduanya lebih dari cukup. Beberapa orang mengetahui hal itu, tapi lebih banyak yang tidak, atau memilih untuk tidak ingin mengetahuinya. Beruntung kaca mobil itu sangat gelap. Sehingga orang yang berada diluar tidak bisa melihat siapa manusia dibalik mobil mahal mencolok itu. Setelah memastikan tidak ada orang yang memperhatikan mereka, Irene dan Hyesoo pun memutuskan untuk keluar dari mobil. Tentu saja setelah meminta Baekhyun untuk tidak melakukan apapun untuk mereka agar tidak membuat keadaan lebih rumit, lalu tidak lupa berterimakasih padanya karena sudah dengan rela diperintahkan seenaknya oleh Cho Kyuhyun.

.

Hyesoo meminta Irene untuk berjalan terlebih dahulu di depannya untuk antisipasi dari kemungkinan lain yang tidak terduga. Irene melakukan seperti yang diminta Hyesoo. Beberapa saat setelah Irene melangkah menjauh, Hyesoo pun benar-benar turun dari mobil itu. Hyesoo meminta Baekhyun untuk segera meninggalkan kampus dan meyakinkannya bahwa situasi cukup terkendali. Tanpa ragu Baekhyun meninggalkan pelataran konstruksi gedung yang belum sepenuhnya selesai, meninggalkan Hyesoo yang belum beranjak dari sana karena masih menunggu jarak yang tepat dari Irene.

.

BGM: K.Will – Dream

.

Tepat disaat baik Irene maupun Baekhyun sudah berjarak cukup jauh darinya, seseorang menggenggam rambut Hyesoo lalu menariknya dengan keras. Orang itu kemudian membalikkan tubuh Hyesoo, sehingga Hyesoo kini bisa melihat orang yang melakukan tindakan menyakitkan itu padanya.

.

Plakk!!!

.

Belum sempat Hyesoo melihat wajah orang itu, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Hyesoo, memberikan rasa berdenyut yang perih di pipinya. Hyesoo menoleh cepat pada orang itu. Kang Soyu berdiri di hadapannya dengan napas memburu dan wajah memerah karena amarah yang memuncak. Sesaat kemudian, dua orang temannya menghampirinya dengan napas terengah setelah berlari. Soyu menatap Hyesoo tanpa kata. Mata Soyu memancarkan kemarahan yang sudah tidak dapat dibendung lagi. Sementara Hyesoo menyentuhkan jari tangannya di sudut bibirnya. Ada setitik darah disana. Hyesoo pun menghapus jejak darah disana, juga tanpa berkata apapun.

.

“Apa yang sedang kau lakukan, Lee Hyesoo?” tanya Soyu akhirnya, mengungkapkan amarah yang membuncah dalam dirinya.

.

“Menghapus jejak darah disudut bibirku akibat pukulan kerasmu”, jawab Hyesoo dengan ketenangan diri yang tidak terduga.

.

“Jangan berpura-pura bodoh! Kau tahu apa maksudku!” bentak Soyu.

.

“Apa? Kau langsung menamparku saat berhadapan denganku. Ah, kau juga menarik rambutku. Kau belum mengatakan apapun padaku, Kang Soyu”, kata Hyesoo.

.

“Bukankah sudah ku katakan padamu untuk menjauhi Cho Kyuhyun? Aku rasa otakmu cukup pintar untuk mencerna kata-kata itu dengan baik. Jika kau memahaminya, maka kau akan melakukan hal itu, bukan justru datang ke kampus dengan mobilnya!” kata Soyu dengan suara kerasnya.

.

“Kau bahkan mengetahui mobil milik Cho Kyuhyun? Dia memiliki begitu banyak mobil. Kau juga mengetahuinya? Tiap merek yang dia punya? Luar biasa…” kata Hyesoo tanpa menanggapi ucapan Soyu.

.

“Kau gadis yang tidak tahu diri!!!”

.

“Wow… Wow… Aku? Apa yang sudah aku lakukan? Kau tidak ingat? Aku memberikan sebuah saran padamu untuk datang pada Kyuhyun, bicara padanya, atau mendekatinya. Apapun yang bisa kau lakukan untuk memenangkan hatinya. Sudahkah kau melakukannya? Melihat sikapmu saat ini, aku hanya bisa mengambil dua kesimpulan. Pertama, kau belum melakukannya. Atau kedua, kau sudah melakukannya tapi tidak berhasil. Kesimpulan mana yang tepat?” tantang Hyesoo. “Kenapa kau selalu seperti ini, Kang Soyu? Apakah kau belum lelah mengejar seseorang yang kau tahu tidak bisa menjadi milikmu? Setelah melihat tindakanmu hari ini, aku menemukan saran lain untukmu. Kau sudah melakukan banyak hal yang terlalu jauh beberapa tahun yang lalu. Terlalu jauh. Saat ini kau belum memulainya, bukan? Tidakkah sebaiknya kau menghentikan semua tindakanmu ini sebelum kau merasakan kekecewaan lagi?”

.

“Kurang ajar!!!” seru Soyu sambil melayangkan tangannya mendekati wajah Hyesoo lagi. Tapi kali ini Hyesoo berhasil menangkap tangan Soyu.

.

“Dengan kata, Kang Soyu. Jangan gunakan tanganmu ini untuk mewakili kata-kata yang terlalu takut kau katakan!” kata Hyesoo sambil menepis tangan Soyu dari depan wajahnya. “Terima kenyataannya. Kali ini pun kau tidak berhasil mendapatkan keinginanmu. Bagaimana bisa kau memintaku untuk menjauhi Cho Kyuhyun yang bahkan tidak mengenalmu sama sekali? Seperti yang kau katakan padaku hari itu, tupai tidak jatuh di lubang yang sama dua kali. Aku punya keyakinan bahwa kau lebih pintar daripada seekor tupai. Aku minta maaf atas apa yang terjadi padamu di masa lalu. Walaupun hal itu tidak terjadi atas kesalahanku. Tapi kali ini, aku benar-benar tidak ingin membuatmu merasakan sakit yang sama dan kembali menyalahkanku atas rasa sakit itu”.

.

“Ch… Jadi selama ini kau memang sedang memainkan sebuah permainan? Kau tidak benar-benar kehilangan ingatanmu, bukan? Kau menggunakan konsep itu hanya untuk mendapatkan Cho Kyuhyun. Gadis yang buruk! Kau sudah memikirkan konsep yang lebih baik saat ini untuk mendapatkan Cho Kyuhyun. Begitu? Karena yang kau gunakan dulu tidak berhasil sepenuhnya pada Choi Siwon. Aku jadi penasaran, konsep apa yang kau gunakan untuk mendapatkan Choi Siwon? Kau tentu mengingatnya, bukan? Dia berpaling darimu, Lee Hyesoo. Apakah kali ini kau masih memiliki keyakinan bahwa Cho Kyuhyun akan selalu bersamamu? Kau tidak memikirkan kemungkinan dia juga akan mengkhianatimu seperti yang dilakukan Choi Siwon padamu?”

.

“Cukup! Jangan bawa Choi Siwon dalam hal ini, Kang Soyu!” seru Hyesoo kali ini untuk menghentikan Soyu.

.

“Ada apa? Kau masih terluka atas pengkhianatan yang dilakukannya? Kemana perginya keyakinan di matamu itu, Lee Hyesoo? Kau bahkan begitu tenang beberapa saat yang lalu. Tapi pertahananmu seolah runtuh begitu saja saat nama Choi Siwon muncul. Kau bahkan belum melupakannya setelah bertahun-tahun. Bagaimana bisa kau mendekati Cho Kyuhyun dengan keadaan itu? Eo?!?! Gadis jahat! Lalu apa bedanya kau dengan Choi Siwon?” seru Soyu.

.

“Hentikan! Aku bilang jangan bawa nama Choi Siwon dalam hal ini!” seru Hyesoo dengan air mata yang sudah menetes di pipinya dan napasnya yang memburu. “Jangan membawanya lagi, Kang Soyu. Tidak cukupkah kau mempermainkannya? Kim Jaejoong lah yang menjadi masalah diantara kita beberapa tahun yang lalu. Dan kali ini, saat hal itu kembali terjadi, bukan Choi Siwon yang menjadi masalah melainkan Cho Kyuhyun. Tidak pernah ada Choi Siwon dalam masalah diantara kita. Kenapa kau selalu menggunakannya untuk kau jadikan tamengmu? Kenapa kau… kenapa kau… kenapa kau memanfaatkan orang yang tidak ada hubungannya sama sekali dalam hal ini?” tanya Hyesoo yang kesulitan mengutarakan hal yang sudah berkumpul di kepalanya sejak tadi.

.

“Karena aku ingin kau merasakan hal yang aku rasakan, Lee Hyesoo. Aku yang seharusnya mendapatkan cinta Kim Jaejoong. Bukan kau. Tapi bahkan setelah melewati bertahun waktu berlalu, dia tidak mencintaiku. Apakah kau pernah merasakan hal itu? Tidak! Kau justru mendapatkan dua cinta. Karena itu, aku mengambil salah satu cinta yang kau dapatkan. Agar kau bisa merasakan rasa sakit yang sama. Agar bukan hanya aku yang terluka. Aku ingin kau merasakannya. Jika kau tersakiti, maka Kim Jaejoong juga akan merasakan hal yang sama. Choi Siwon pun tidak mendapatkan cinta dariku. Lalu semuanya impas. Dan satu-satunya hal yang bisa dilakukan untuk mengobatinya adalah kembali ke tempat yang semestinya. Tapi semua itu tidak terjadi. Hhh… Tidak ada yang kembali. Kita semua justru sama-sama kehilangan. Tetap impas… Hanya dengan cara yang berbeda. Tidak, Lee Hyesoo. Aku tidak melakukan itu karena rasa iri padamu. Tidak sedikitpun. Karena kenyataannya kau juga kehilangan Choi Siwon yang telah dengan bodohnya terpengaruh olehku dan mengkhianatimu yang begitu tulus mencintainya”, ujar Soyu.

.

“Sudah… Cukup, Kang Soyu… Aku mohon… Hentikan semua ini. Jangan bawa Choi Siwon lagi dalam hal ini”, kata Hyesoo sambil mencoba menghapus air matanya yang terus mengalir di pipinya. “Saat ini hanya ada Cho Kyuhyun diantara kita. Apapun yang terjadi di masa lalu, aku tidak mengingatnya. Aku juga tidak menggunakan kondisiku untuk tujuan apapun pada Cho Kyuhyun seperti yang kau pikirkan. Kau pikir aku bahagia selalu dibayangi ketakutan pada masa lalu yang tidak ku ingat sedikitpun? Tidak, Kang Soyu. Aku sangat membenci kondisiku ini. Aku membenci diriku yang sudah dengan bodohnya membenci orang yang tidak bersalah hanya karena kisah cinta menyedihkan yang kau alami. Kita hentikan disini saja. Aku tidak ingin melihat ada orang lain yang harus mengorbankan dirinya untuk hal sekecil ini. Hm? Sudah cukup…”

.

“Tidak semudah itu, Lee Hyesoo. Apapun yang terjadi padamu. Apapun kondisimu, aku tidak peduli! Kau pernah merebut cintaku. Karena itu aku tidak akan membiarkanmu melakukannya lagi padaku kali ini. Kau tidak bisa melakukannya padaku lagi, Lee Hyesoo. Kau pun pernah merasakan kehilangan cintamu, bukan? Apakah kau ingin merasakannya lagi kali ini dengan perginya Cho Kyuhyun darimu seperti Choi Siwon dulu?”

.

“Hentikan!!! Aku bilang hentikan!!!” seru Hyesoo dengan aramahnya yang sudah tidak bisa tertahan lagi. “Seperti yang kau katakan, Kang Soyu. Dia sudah pergi. Choi Siwon sudah pergi. Biarkan dia pergi dengan tenang. Bisakah kau melakukan itu? Hm? Bukan untukku. Tapi untuknya yang pernah mempunyai sedikit rasa cinta untukmu. Biarkan dia pergi dengan ketenangan itu. Hm? Aku mohon…”

.

“Apa maksudmu, Lee Hyesoo?” tanya Soyu dengan suara pelan karena tersentak dengan ucapan Hyesoo.

.

“Dia sudah pergi, Kang Soyu! Dia tidak… tidak akan… tidak pernah akan kembali… Semua hal yang sudah terjadi di masa lalu, yang melibatkan Siwon di dalamnya, biarkan semua hal itu berlalu. Jangan membahasnya lagi. Sudah cukup… Dia sudah tidur dengan tenang disana. Jangan membangunkannya lagi hanya karena masalah kecil ini. Hm?” pinta Hyesoo dengan suara yang menyatakan rasa pilu di hatinya.

.

“Apa yang sedang kau bicarakan, Lee Hyesoo? Siapa yang pergi? Kemana Choi Siwon pergi?” tanya Soyu dengan terbata.

.

“Dia meninggal tertabrak truk saat sedang mengikutimu yang mengejar Jaejoong sunbae setelah keluar dari sebuah café di Seattle dua tahun yang lalu. Aku tidak punya ingatan apapun dari masa itu, Kang Soyu. Pergi tanyakan pada siapapun yang kau yakini mengetahui hal itu dengan baik”, jawab Hyesoo dengan sisa kekuatan yang ia punya. “Aish…” dengus Hyesoo yang memalingkan pandangannya dari Soyu. “Aku tidak bisa melakukan ini lagi. Sudah cukup dengan semua kemarahan tidak bergunamu hari ini. Aku tidak bisa lagi. Kita bicarakan Cho Kyuhyun lain kali. Putuskan sendiri apa yang akan kau lakukan setelah ini”.

.

Hyesoo segera berbalik dan berjalan meninggalkan Soyu yang berdiri terpaku, masih berada dalam keterkejutan yang disebabkan oleh cerita yang tidak pernah diketahuinya. Benar. Soyu tidak pernah mengetahui kejadian yang menimpa Siwon. Terlebih Hyesoo baru saja mengatakan lokasi kejadian itu terjadi. Kilasan kejadian hari itu pun muncul dalam benak Soyu. Hari dimana ia mengakhiri hubungannya dengan Jaejoong. Siwon ada disana. Hari itu Soyu menolak untuk bertemu Siwon karena saat itu ia harus bertemu dengan Jaejoong. Siwon mendengar semuanya. Dan Soyu tidak menyadari keberadaan Siwon disana. Bahkan Soyu tidak mengetahui kecelakaan yang terjadi pada Siwon karena dirinya terlalu sibuk dengan masalahnya dengan Jaejoong. Kaki Soyu melemah. Ia kehilangan keseimbangannya. Tubuhnya terjatuh di tanah kering dengan banyak kerikil yang menutupi permukannya. Rasa sakit yang diakibatkan oleh kerikil-kerikil itu bahkan tidak dapat Soyu rasakan. Rasa sakit itu tidak sebanding dengan pukulan keras di hatinya. Ia sudah melakukan kesalahan yang tidak termaafkan.

.

.

#########################

.

.

Setelah perdebatan melelahkannya dengan Soyu di kampus pagi itu, Hyesoo tidak menghadiri kelas apapun. Hyesoo bahkan tidak peduli jika Donghae benar-benar mengirim beberapa orang ke kampus untuk mencari Hyesoo. Pikirannya tidak bekerja dengan baik. Kenyamanan dan ketenangan yang sempat ia rasakan pagi ini, seolah lenyap dalam waktu sekejap, digantikan dengan rasa sakit di seluruh bagian tubuhnya. Bahkan rasa sakit karena tamparan Soyu tidak lagi ia rasakan. Hatinya begitu terluka. Meski ia tidak dapat mengingat apapun yang terjadi di masa lalu, tapi hatinya dapat merasakan luka itu. Kepalanya kembali berdenyut kencang. Hyesoo sempat berharap aka nada beberapa ingatan yang kembali padanya setelah perdebatannya dengan Soyu. Tapi nihil. Tidak ada satupun kejadian yang diingat Hyesoo. Semua ingatan itu sudah benar-benar hilang.

.

Hyesoo pun meninggalkan kampus tanpa banyak berpikir. Hyesoo tidak memiliki tujuan. Ia hanya ingin meninggalkan keramaian secepatnya. Hyesoo ingin melupakan kejadian yang baru saja terjadi. Tapi Hyesoo tidak ingin melibatkan alcohol lagi kali ini. Hyesoo pun kembali menaiki sebuah taksi menuju satu-satunya tempat yang terpikirkan olehnya. Hyesoo pergi ke taman di tepian sungai Han yang berdekatan dengan jembatan Jamsil. Hyesoo tidak melakukan apapun disana. Ia hanya duduk dibawah sebuah pohon rindang, bersandar di pohon yang kokoh itu, lalu memejamkan matanya. Hyesoo membiarkan semua keresahan dan rasa pilu yang dirasakannya terbawa bersama angin yang berhembus cukup kencang. Hyesoo membiarkan dirinya terbawa arus kesunyian tepi sungai Han.

.

.

Berjam-jam kemudian

Apartment Kyuhyun

Langkah kaki Hyesoo membawanya ke apartment Kyuhyun. Saat ini Hyesoo begitu membutuhkan dekapan hangat laki-laki itu ditubuhnya. Tubuhnya sudah tidak bisa lagi bertahan seorang diri. Hyesoo membutuhkan topangan kuat untuk kembali menghadapi waktu yang masih membentang luas dihadapannya. Namun, sudah sejak 15 menit yang lalu Hyesoo tidak kunjung membunyikan bel apartment Kyuhyun. Ia hanya berdiri menatap kosong pada pintu apartment Kyuhyun. Sampai akhirnya pintu itu terbuka dan memunculkan sosok Kyuhyun dari balik pintu. Sontak Hyesoo mengubah ekspresi wajahnya. Hyesoo tersenyum tipis saat tatapan mereka bertemu.

.

“Lee Hyesoo? Jungsoo hyung memberitahuku kau sudah berdiri di depan pintu cukup lama. Aku pikir dia membohongiku. Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak menghubungiku?” tanya Kyuhyun.

.

“Apa maksud dari ekspresi terkejutmu itu? Kau sedang menyembunyikan seorang gadis didalam sana?” tanya Hyesoo mencoba menyembunyikan perasaannya dengan gurauan.

.

“Tidak. Tidak ada siapapun disini. Aku hanya terkejut melihatmu kembali”, jawab Kyuhyun.

.

“Apa aku tidak diijinkan kembali setelah menghabiskan satu malam disini? Begitukah peraturannya?” tanya Hyesoo kembali bergurau.

.

“Tidak ada peraturan apapun untukmu, Lee Hyesoo” jawab Kyuhyun dengan senyum diwajahnya kali ini.

.

Kyuhyun pun membuka pintu apartmentnya, mempersilahkan Hyesoo masuk ke dalam. Sesaat setelah pintu kembali tertutup, Kyuhyun meraih tubuh Hyesoo untuk memeluknya. Kyuhyun mengernyitkan keningnya saat menyadari tubuh Hyesoo yang terasa begitu dingin. Atmosfir yang dibawa Hyesoo juga sangat berbeda. Hyesoo begitu muram dan kelabu. Bahkan senyum di bibirnya tidak menyatakan perasaannya yang sesungguhnya.

.

.

BGM: Coffee Boy – 찾았다 (Found)

.

.

“Aku merindukanmu”, kata Hyesoo dalam pelukan Kyuhyun.

.

Kyuhyun mengeratkan pelukannya setelah mendengar ucapan Hyesoo. “Aku tahu. Karena itulah kau berada disini sekarang. Aku juga merindukanmu”, balas Kyuhyun.

.

“Kau baru selesai mandi”, Hyesoo mengucapkan kalimat yang terdengar seperti pernyataan tapi juga seperti pertanyaan itu. “Aku suka aroma ini”.

.

“Apa kau menyukai hal lain selain aroma ini? Misalnya…pemilik aroma ini?” tanya Kyuhyun dengan tawa kecil malu-malu yang menyertai pertanyaannya.

.

“Aku tidak menjawab pertanyaan yang sudah jelas jawabannya”, jawab Hyesoo.

.

“Hhh… Ayo masuk ke dalam”, ajak Kyuhyun.

.

“Tidak sekarang”, kata Hyesoo singkat.

.

“Kenapa?” tanya Kyuhyun.

.

“Sebentar saja. Jangan kemanapun. Tetap seperti ini. Peluk aku lebih lama. Aku sedang mengisi ulang energi ku”, jawab Hyesoo dengan segala kejujuran yang ia miliki.

.

“Apa terjadi sesuatu di kampus? Aku tidak melihatmu sepanjang hari”, tanya Kyuhyun lagi.

.

“Karena itu aku datang kesini. Jika tadi kita bertemu di kampus, maka aku akan memelukmu disana tanpa mempedulikan semua orang. Beruntung kita tidak bertemu. Sehingga aku terhindar dari tatapan mengerikan para gadis yang memujamu”, kata Hyesoo tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.

.

“Kau tidak menjawab pertanyaanku, Lee Hyesoo. Apa yang terjadi di kampus?” tanya Kyuhyun sekali lagi.

.

“Hal baik atau hal buruk? Mana yang ingin kau dengar?” Hyesoo balas bertanya.

.

“Ceritakan yang terburuk”, pinta Kyuhyun.

.

“Hm…” Hyesoo bergumam ragu. “Kau ingat gadis yang pernah aku ceritakan? Salah seorang dari para pemujamu yang pernah bicara padaku?” tanya Hyesoo.

.

“Ya, aku ingat. Apa yang dia lakukan kali ini?” kini giliran Kyuhyun yang balas bertanya.

.

“Dia menamparku. Dengan sangat keras. Tepat di pipi kiriku”, jawab Hyesoo tanpa menyembunyikan apapun.

.

“Apa?!” tanya Kyuhyun dengan suara yang lebih terdengar seperti seruan.

.

Kyuhyun melepaskan pelukannya di tubuh Hyesoo. Salah satu tangannya bergerak menyentuh tepat dibawah rahang Hyesoo, meraba pipi yang dikatakan Hyesoo ditampar oleh gadis itu. Tiba-tiba kemarahan meliputi diri Kyuhyun saat menyadari pipi Hyesoo yang terlihat sedikit membengkak dan sebuah bekas luka sudut bibir Hyesoo.

.

“Katakan padaku! Siapa dia?!” seru Kyuhyun.

.

Hyesoo hanya tersenyum menanggapi kemarahan Kyuhyun. “Hhh… Kemari. Mendekatlah”. Kali ini Hyesoo yang meraih tubuh Kyuhyun dan kembali melesak ke dalam pelukan hangatnya. “Bukankah tadi kau mendengarnya dengan jelas? Aku sedang mengisi ulang energi ku. Jangan lepaskan pelukanmu”.

.

“Lee Hyesoo…” kata Kyuhyun mencoba membuat Hyesoo memberitahunya.

.

“Aku tidak akan memberitahumu. Dan kau tidak boleh mencari tahu tentangnya”, kata Hyesoo.

.

“Kenapa?” tanya Kyuhyun dengan nada kesalnya.

.

“Aku sudah terlalu sering menyakitinya. Tanpa ku sadari, aku selalu menyakitinya. Baik dulu maupun sekarang. Jangan mencarinya. Aku tidak ingin menyakitinya lebih dalam lagi. Karena mungkin aku akan merasakan rasa sakit yang sama dengannya. Aku baik-baik saja. Hanya itu yang perlu kau ketahui”, jawab Hyesoo.

.

“Apa yang bisa aku lakukan untukmu?” tanya Kyuhyun.

.

“Jangan pernah memikirkan tindakan yang dilakukan gadis itu padaku. Jangan mencari tahu tentangnya. Jangan temui dia karena aku. Dan jangan……”

.

“Berapa banyak ‘jangan’ yang akan kau ucapkan?” tanya Kyuhyun memotong ucapan Hyesoo.

.

“Kau harus mendengarkannya sampai akhir, Cho Kyuhyun-ssi”, jawab Hyesoo.

.

“Baiklah. Lanjutkan seri ‘jangan’ mu itu”, pinta Kyuhyun.

.

“Hanya ada satu ‘jangan’ yang tersisa. Jangan lepaskan aku. Karena mungkin aku bisa terjatuh jika kau melakukannya”, sambung Hyesoo.

.

“Kau tidak perlu meragukan Cho Kyuhyun untuk hal itu. Aku pastikan kau tidak akan bisa kemanapun, Lee Hyesoo”, ujar Kyuhyun.

.

“Senang mendengarnya”, Hyesoo memberikan respon singkatnya.

.

“Lee Hyesoo… Jangan pulang malam ini”, pinta Kyuhyun lagi.

.

Hyesoo pun melepaskan pelukan Kyuhyun. “Hhh… Akhirnya Cho Kyuhyun menampakkan jati dirinya yang sesungguhnya. Sangat sulit menghadapinya disaat seperti ini”, kata Hyesoo sambil berjalan masuk ke dalam  apartment.

.

Kyuhyun mengikuti Hyesoo dari belakang, menjaga jarak terdekat dari Hyesoo. Setelah Hyesoo meletakkan tasnya di sofa, Kyuhyun pun tidak membuang waktu untuk segera memeluk Hyesoo lagi. Kyuhyun merengkuh tubuh Hyesoo, membungkus tubuh kurus Hyesoo, membiarkan dinginnya punggung Hyesoo menempel di dadanya. “Aku bersungguh-sungguh. Tetaplah disini malam ini. Aku tidak mampu membiarkanmu pergi untuk kedua kalinya di hari yang sama”.

.

Why should I stay?” tanya Hyesoo dengan suara yang terdengar serak.

.

Because I want you to [stay]. And I know you will [stay]“, jawab Kyuhyun.

.

“Cho Kyuhyun…” Hyesoo menyebut nama Kyuhyun dengan kepedihan yang tidak bisa dibendungnya lagi.

.

Namun Kyuhyun yang tidak menyadarinya justru memberikan kecupan singkat di pipi kanan Hyesoo. “Aku sangat menyukai suaramu yang memanggil namaku seperti itu”.

.

“Lalu bagaimana dengan panggilan…sunbae? Atau oppa?” tanya Hyesoo sambil terus mencoba menahan rasa sakit yang ia rasakan.

.

“Tidak. Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Banyak sunbae dan oppa diluar sana. Tapi hanya ada satu Cho Kyuhyun. Kau punya kebebasan penuh untuk memanggil namaku. Aku tidak peduli dengan perbedaan usia atau yang lainnya”, jawab Kyuhyun.

.

“Baiklah…” kata Hyesoo menyanggupi.

.

“Baiklah kau akan tinggal atau baiklah kau akan memanggilku Cho Kyuhyun?” tanya Kyuhyun.

.

“Keduanya”, Hyesoo kembali menjawab Kyuhyun dengan jawaban singkatnya.

.

“Hhh… Aku tidak tahu kau akan menyetujuinya dengan mudah seperti ini”.

.

“Aku sudah tidak punya kemampuan untuk berdebat dengan siapapun lagi hari ini”, kata Hyesoo jujur.

.

“Aku mengerti. Apa kau butuh sesuatu?” tanya Kyuhyun.

.

“Aku pikir saat ini aku butuh mandi. Aroma sabun mandimu benar-benar membuatku ingin menggunakannya lagi”, jawab Hyesoo. ‘Mungkin aku akan lebih tenang setelahnya dan tidak perlu membuatmu khawatir dengan keadaanku’, sambung Hyesoo dalam pikirannya.

.

“Baiklah. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu”, kata Kyuhyun yang melepaskan pelukannya di tubuh Hyesoo.

.

“Tidak perlu”, kata Hyesoo yang segera menahan tangan Kyuhyun. “Sepertinya aku lebih membutuhkan air dingin saat ini”.

.

“Kalau begitu, aku akan meminta seseorang membelikan pakaian ganti untukmu”, kata Kyuhyun memberikan tawaran bantuannya yang lain.

.

“Tentang itu… Bisakah kita menambah jam istirahat para stafmu dan membiarkan aku mengenakan pakaianmu saja? Itupun jika kau tidak keberatan”, tanya Hyesoo dengan negosiasinya.

.

“Tentu tidak. Aku tidak akan pernah keberatan”, kata Kyuhyun sambil menatap tepat ke mata Hyesoo dan dengan senyuman diwajahnya.

.

BGM: Ben – Like a Dream ( 처럼)

.

Hyesoo membalas senyuman Kyuhyun dengan senyuman tipis di bibirnya. Kyuhyun pun segera mengambilkan t-shirt dan celana pendek miliknya lalu menggunakannya untuk membungkus pakaian dalam Hyesoo yang sudah dicuci. Kyuhyun memberikan satu set pakaian itu pada Hyesoo dengan senyum canggung diwajahnya, membuat Hyesoo berhasil tersenyum lebih lebar karenanya. Wajah tersenyum Kyuhyun membuatnya merasakan ketenangan secara bertahap. Ia ingin menatap wajah itu dan merasakan sentuhan hangat Kyuhyun. Tapi air mata yang sejak tadi ia coba tahan sudah tidak dapat terbendung lagi. Hanya butuh beberapa detik hingga air mata itu menetes deras di pipinya. Sebelum hal itu terjadi, Hyesoo dengan cepat berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi. Dan sesaat setelah pintu kamar mandi tertutup, air mata Hyesoo benar-benar jatuh membasahi pipinya. Tubuhnya bergetar. Ia tidak bisa lagi menahan rasa sakit di hatinya. Rasa sakit itu seolah menjalar ke seluruh tubuhnya, mengalir bersama laju kencang darahnya. Kakinya tidak bisa lagi bertahan untuk terus berdiri. Tubuh Hyesoo jatuh dengan mudah ke lantai, menimbulkan suara keras benturan tubuhnya dan lantai kamar mandi.

.

“Hyesoo-ya? Kau baik-baik saja? Ada apa?” tanya Kyuhyun sambil mengetuk pintu kamar mandi setelah mendengar suara keras itu.

.

Hyesoo ingin menjawab pertanyaan Kyuhyun dan meyakinkan Kyuhyun bahwa dirinya baik-baik saja. Namun ia tidak mampu. Bahkan bukan kata-kata yang keluar dari bibir Hyesoo, melainkan isak tangis yang begitu memilukan. Hyesoo menekan dadanya dengan kepalan tangannya, berharap rasa sakit itu segera meninggalkan dirinya. Tapi tentu saja hal itu tidak akan terjadi dengan mudah. Ketukan pintu kamar mandi kembali terdengar, kali ini lebih keras dari sebelumnya.

.

“Lee Hyesoo! Buka pintunya! Apa yang terjadi padamu?!” tanya Kyuhyun dengan nada cemas yang begitu jelas terdengar.

.

Tidak ada kata apapun yang mampu Hyesoo katakan untuk menjawab Kyuhyun. Ia bahkan tidak bisa menggerakan tubuhnya untuk membuka pintu yang mungkin akan rusak jika terus di ketuk dengan keras oleh Kyuhyun itu. Hingga hal itu benar-benar terjadi. Kyuhyun mendobrak pintu kamar mandinya dan menemukan Hyesoo yang duduk di lantai dengan isak tangis yang terdengar sangat menyakitkan. Kyuhyun berjalan mendekat, bersimpuh tepat disebelah Hyesoo, lalu memeluk tubuh Hyesoo. Tangisan Hyesoo pecah di pelukan Kyuhyun. Hyesoo tidak bisa menahan apapun lagi. Ia tidak mampu. Suara tangis itu begitu memilukan hingga membuat Kyuhyun kehabisan kata-kata. Kyuhyun menyentuhkan tangan kanannya di kepala Hyesoo, kemudian membelai kepala Hyesoo untuk menenangkannya. Kyuhyun tidak ingin menanyakan apapun lagi. Sudah cukup ia menyaksikan luapan rasa sakit yang dirasakan Hyesoo. Ia tidak ingin membuat Hyesoo menceritakannya juga.

.

#########################

.

Butuh waktu hampir satu jam untuk menenangkan Hyesoo. Setelahnya, Kyuhyun membantu Hyesoo membersihkan wajah dan menggosok giginya. Tidak ada kegiatan mandi malam itu. Hyesoo hanya mengganti pakaiannya dengan pakaian bersih, kemudian mengistirahatkan tubuhnya dengan berbaring di tempat tidur. Hyesoo baru bisa tertidur dengan lelap saat Kyuhyun bergabung bersamanya di tempat tidur. Kyuhyun memeluk tubuh Hyesoo, meletakkan kepala Hyesoo di lengannya. Kyuhyun membungkus tubuh Hyesoo dengan tubuhnya yang hangat. Irama napas teratur keduanya memenuhi ruangan sunyi dengan pencahayaan redup itu.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Ruangan yang semula sunyi, mulai terdengar suara gesekan sprei dan anggota tubuh seseorang yang tidur diatasnya. Hingga tiba-tiba Hyesoo membuka matanya dan terbangun karena mimpi yang datang dalam tidurnya. Napas Hyesoo terengah seperti baru saja melakukan putaran mengelilingi lapangan baseball. Hyesoo pun bangun dan duduk menegakkan tubuhnya untuk mengatuh napasnya yang masih belum stabil. Kyuhyun yang berbaring disebelahnya pun terbangun dari tidurnya karena gerakan tiba-tiba yang dibuat Hyesoo. Kyuhyun segera duduk dan menyentuh bahu Hyesoo.

.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun dengan suara seraknya.

.

“Tidak ada. Hanya bermimpi. Maaf membuatmu terbangun”, jawab Hyesoo.

.

“Mimpi buruk?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Bukan. Bukan mimpi buruk. Aku hanya terkejut”, jawab Hyesoo meyakinkan Kyuhyun.

.

Kyuhyun pun segera mengambil segelas air di meja kecil samping tempat tidur, lalu memberikannya pada Hyesoo. “Ini. Minum segelas air”.

.

“Terima kasih”, kata Hyesoo yang segera meneguk air dalam gelas itu, lalu kembali meletakkannya diatas meja.

.

“Ayo kembali rebahkan tubuhmu…” kata Kyuhyun yang membawa tubuh Hyesoo kembali ke pelukannya.

.

BGM: Lyn – With You

.

Kyuhyun membelai kepala Hyesoo, menghapus jejak keringat di kening Hyesoo. “Tidurmu juga tidak tenang kemarin malam. Kau meremas spreinya, berguman dan berkeringat. Hanya tidak membuatmu terbangun seperti saat ini. Maukah kau menceritakannya padaku apa yang terjadi dalam mimpimu?”

.

“Aku juga tidak memahaminya. Gambarnya berganti dengan cepat. Seseorang bersamaku di padang rumput yang tidak ku kenal. Dia menggenggam tanganku lalu tersenyum. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya secara keseluruhan. Ada terlalu banyak cahaya. Dia selalu meminta maaf padaku. Lalu mengatakan hal lainnya. Aku tidak mengerti. Aku tidak mengenalnya”, jawab Hyesoo menjelaskan pada Kyuhyun.

.

“Mungkin kau tidak mengingatnya. Kau bukan tidak mengenalnya. Karena dia meminta maaf dalam mimpimu. Mungkin dia seseorang di masa lalu yang belum sempat mengatakan hal itu padamu. Sudah. Jangan dipikirkan lagi. Mendekatlah. Kita kembali tidur saja, hm?”

.

Hyesoo mengangguk lalu melesak ke pelukan Kyuhyun. Hyesoo mencoba memejamkan matanya untuk kembali tidur, tapi ingatan akan kata-kata yang diucapkan orang itu dalam mimpinya terus saja menganggunya. Hyesoo pun membalikkan posisi tubuhnya. Kyuhyun bergerak mendekat, kembali merengkuh Hyesoo dalam pelukannya. Hyesoo merasakan hangat tubuh Kyuhyun tidak hanya di punggungnya yang menempel di dada Kyuhyun, tapi juga di seluruh tubuhnya. Hyesoo mencoba memejamkan matanya sekali lagi. Dan kata-kata itu kembali melintas dalam benaknya.

.

Sayangku, Lee Hyesoo. Aku bahagia melihat keadaanmu. Aku bersalah. Aku sudah terlalu menyakitimu. Aku tahu perbuatanku itu sulit untuk dimaafkan. Aku begitu bodoh. Bahkan aku mengetahui dengan benar bahwa kau membenci pengkhianatan. Kau mengatakannya dengan jelas padaku. Tapi aku masih saja membuatmu kecewa. Karena itu, maafkan aku, Hyesoo-ya. Aku sudah mendengarnya. Kau memaafkan aku dengan mudah. Terima kasih banyak. Sebagai balasan, aku akan selalu menjagamu melalui cara yang tidak perlu kau ketahui. Aku mohon, berbahagialah dengan hidupmu. Demi aku…

.

Hyesoo pun terlelap setelahnya karena rasa lelah yang menyelubungi tubuhnya.

.

.

#########################

.

.

Keesokkan harinya

Di rumah keluarga Lee

Hyesoo kembali ke rumah keesokkan harinya. Baekhyun kembali mengantarnya atas permintaan Hyesoo. Saat ini Hyesoo belum mau mengambil resiko apapun dengan menunjukkan hubungannya dengan Kyuhyun pada siapapun. Setelah turun dari mobil, Hyesoo segera masuk ke pekarangan rumahnya, lalu masuk ke dalam rumah. Para staf yang berada di rumahnya pun menyapa Hyesoo dengan senyum mengembang seperti biasanya. Membuat Hyesoo mendapatkan tambahan semangat lain pagi ini. Hyesoo berjalan ke arah dapur dan duduk di salah satu kursi bar sarapan. Misun ahjumma memberikan secangkir cokelat hangat pada Hyesoo yang menatap lembut padanya tanpa kata. Kemudian seseorang menyentuh bahu Hyesoo, membuat Hyesoo menoleh ke arah orang yang menyentuhnya itu. Lee Donghae sudah kembali dari perjalanannya ke Jeju. Ekspresinya tidak terbaca. Donghae menatap Hyesoo dengan tatapan datar.  Ia bungkam. Biasanya Donghae selalu bicara banyak hal padanya. Tapi kali ini Donghae bungkam. Itu adalah pertanda kemarahannya. Tentu saja. Hyesoo tidak kembali ke rumah selama dua hari. Hyesoo juga tidak menghubunginya kemarin. Seketika Hyesoo menyadari sesuatu. Donghae bukan kembali karena pekerjaannya sudah selesai. Melainkan karena kekhawatirannya pada Hyesoo yang tidak ia ketahui keberadaannya. Rasa bersalah pun menghampiri Hyesoo.

.

“Aku bisa menjelaskannya”, kata Hyesoo bahkan sebelum Donghae menanyakan apapun padanya.

.

Donghae menggelengkan kepalanya lalu duduk di sebelah Hyesoo. Menyadari atmosfir diantara Hyesoo dan Donghae, Mi Sun ahjumma, Cha Hyun Mi dan Min ahjussi segera meninggalkan dapur. Donghae menyentuh cangkir di hadapannya dan segera meminum kopi yang memang dibuat untuknya. Setelah meletakkan kembali cangkirnya, Donghae tetap bertahan dalam kebungkamannya.

.

“Donghae-ya… Maafkan aku… Maaf karena membuatmu khawatir”, kata Hyesoo.

.

“Kau baik-baik saja. Itu yang terpenting”, kata Donghae akhirnya.

.

“Kau marah padaku. Kau bahkan tidak mau menatapku saat bicara”, kata Hyesoo menganalisa suasana hati saudar kembarnya itu.

.

Donghae pun menoleh dan menatap tepat ke mata Hyesoo. Tidak ada kemarahan di mata Donghae. Hanya ada rasa lelah yang terlihat jelas di wajahnya. “Bisakah aku menanyakan satu hal padamu?” tanya Donghae yang dijawab dengan anggukkan oleh Hyesoo.

.

“Dan kau akan menjawabku dengan jujur kali ini?” tanya Donghae lagi.

.

“Ya, aku akan menjawabnya dengan jujur kali ini”, jawab Hyesoo yang sempat meragu.

.

“Kau dimana selama dua hari ini?” tanya Donghae.

.

“Aku menginap di rumah seorang teman. Aku sudah mengatakannya padamu”, jawab Hyesoo.

.

“Aku tahu kau tidak berada di rumah Irene, Hyesoo-ya…”

.

.

.

.

TBC

Note:

Akhirnya TBC… *regangkan otot jari dan punggung*

Part ini selesai dengan perasaan yang campur aduk. Dibuat senyum-senyum diawal tapi langsung dibuat pusing di pertengahan sampai akhir. Maafkan aku, para readers… Tapi beruntung karena meski diubah, plot FF ini masih nyambung tanpa twist. Aku sebenarnya nggak mau panjang lebar sih bahasnya. Hm… Kyuhyun dan Hyesoo akhirnya menyadari perasaan mereka masing-masing meskipun belum ada kata cinta yang terucap. Ada si duo riang gembira Bae Irene dan Byun Baekhyun yang meramaikan part ini. Jadi nggak dia-dia aja yang muncul terus di layar (handphone atau laptop) kalian, ‘kan? Dan Kang Soyu… Huh! Sangat menyebalkan kah di part ini? Yang kesel angkat tangan coba, jangan angkat panci. Part ini pun diakhiri dengan Donghae yang tiba-tiba tahu Hyesoo nggak nginep di rumah Irene. Jeng jeeeennngg!!! Sepertinya Donghae kembali melacak Hyesoo. Kira-kira apa reaksi Donghae ya? Apakah akan berpengaruh dengan hubungan Kyuhyun dan Hyesoo yang baru dimulai?

Aku punya satu pertanyaan untuk kalian para readers untuk di analisa. Kan Hyesoo nggak inget apapun nih. Apapun. Tapi kalau mendengar kisah masa lalunya, Hyesoo merasakan rasa sakitnya juga. Menurut kalian, apa penyebab rasa sakit yang dirasakan Hyesoo? Apakah ternyata Hyesoo masih cinta sama Siwon walaupun dia tidak mengingatnya? Atau kalian punya jawaban lain? Kalian bebas berasumsi. Karena mungkin yang ada dipikiranku juga berbeda. Bicara tentang Siwon. Akhirnya dia memunculkan dirinya pada Hyesoo setelah bertahun-tahun meskipun hanya di dalam mimpi. Hm… Bagaimana kelanjutannya? Tunggu part selanjutnya ya! Kana pamit! Annyeonghigaseyo…

Advertisements

30 thoughts on “I’m walking towards you : Part 6

  1. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION – evilkyu0203

  2. Masih nggak paham sama si soyu… dia masih belum bisa terima soal jaejoong suka sama hyesoo???
    Tapi kenapa bawa bawa kyuhyun sih???
    Aku pikir awanya soyu tau kalo siwon meninggal gtu ehh ternyata…..
    Keren dah ceritamu ini

    Like

  3. wahhh2 kyuu amaaa hyeaoo makin deket ajaa… udaa resmii jadian kann?? haha…
    seneng dehh.. tpii koqq d endingnyaa ketahuan jugaa am hae.. sebnarnyaa tuu org punyaa mata brp sihh?? koqq kayak tauu semuaanyaa…

    Like

  4. Cie cie kyuhyun hyesoo makin deket aja ,, tapi apa sebenernya alasa soyu maksa hyesoo jauhin kyuhyun ,, apa dia mau balas dendam lagi ,,molla ,, donghae pynya indra ke enam ya bisa tau kalo hyesoo bohongbatau mungkin itu ikatan batin saudara kembar

    Like

  5. huft~~~
    menghela nafas panjang. sesak itu adalah kata yang tepat untuk menjelaskan part ini. bagaimana nggak, part ini menceritakan tentang rasa sakit yang dirasakan hyesoo.
    rasa sakit akan rasa bersalahkah atau karna tidak mengetahui apa yang terjdi padanya pada masa lalu hingga menyebabkan hyesoo seperti ini. molla, cuma authornim yang tahu.

    Like

  6. Hyesoo udh lebih baik buat berpura2nya tapi dia begitu terbuka dengn kyuhyun,wahhh awal yg Bagus buat merek dan mereka serasii sweet bgt ahh suka suka suka kyuhyun sma hyesoo

    Like

  7. Finally …. Smuanya kembali k jalur d mn smua masalh t d mulai n scr perlahan lahan akan terselesaikan…n skarang q penasaran kpn smua hal yg berhubungan DG kyu terungkap….n gimana reaksinya seandainya dia tau klo jantung kyuhyun skarang t milik siwon,dia akan tetap bertahan atau memilih tuk mundur teratur…
    Ahh Ku harap dia tak kan mempermasalahkan perihal jantung siwon yg d tubuh kyu
    N Ku harap stelah INI jaejoong tak perlu seprotective terhadap hyesso..n SDR untuk TDK memaksa atau menekan hyesso lg…

    Like

  8. Akhirnya misteri yang tersembunyi dibalik kecelakaan Hyesoo terungkap juga. Bagaimana selanjutnya sikap Jaejoong ryewook dan yona selanjutnya? Lalu bagaimana sikap donghae bila tau Hyesoo nginep dirumah kyuhyun? Bisakah donghae menerima apa yang dilakukan oleh Hyesoo? Bagaimana sikap kang soyu pada Hyesoo setelah tau kenyataannya siwon sudah meninggal? Bagaimana pula hubungan antara Kyu dan Hyesoo? Ditunggu lanjutanya keep writing and fighting.

    Like

  9. Hmmm akhir nya bisa ngeh juga sama ff nya walaupun di awal sempet gk ngeh sama jln cerita nya….
    Btw kalo menurut aku sii rasa sakit yg hyesoo rasain karna rasa bersalahnya sama siwon di masalalu…yaa walaupun udah fix kalo hyesoo gk bakal inget apapun lagi di masa lalu nya tpi ttp aja hati kecil nya bisa ngerasain rasa sakit itu

    Like

  10. Ini bukan masalah cinta jaejoong kesiapa ini masalah otak Soyu yag rada bergeser. Dia selalu ngeras kala au yag tersakiti adalah dirinya. Jujur thor awalnya aku bingung eeehhh mereka jadian? Kok tiba”? Kenapa peruban sikap hyesoo bisa tiba” berubah ke kyuhyun?. Tapi akhirnya ngerti. Cumaa aku penasaran, kalau nanti hyesoo tahu jantung yg ada di kyuhyun jantung siwon, itu gimana?. Apa hyesoo bakalan mikir cintanya ke kyuhyun atau ke si pemilik jantung? Ini otak udh berfantasi yg aneh”.

    Like

  11. hah akhirnya terbongkar semua misteri hmmm asumsi ku sih rasa sakit yg dialami hyesu itu karna rasa bersalah nya pada siwon yg menganggap kecelakaan dirinya di sebabkan siwon
    dan apa nanti yg akan di lakukan donghae jika tau hyesu berhubungan dengan kyu terlebih lagi jika mereka (hyesu dkk) tau kyuhyun saudara sepupu dengaan souyoung yg berarti sepupu nya siwon juga

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s