I’m walking towards you : Part 5

Category: PG-15, Romance, Chapter, Sad

Cast:

Cho Kyuhyun, Kim Jaejoong, Lee Hyesoo (OC), Kang Soyu, Choi Sooyoung

Im Yoona, Kim Ryeowook, Lee Donghae, Choi Siwon (cameo)

Disclaimer:

Annyeonghaseyo!!! “I’m walking towards you” kembali. Part yang (mungkin) ditunggu datang!!! Part yang akan sedikit (atau mungkin banyak) menguak cerita dibalik semua hal yang terjadi di part-part sebelumnya. Yup! Di part ini, kisah masa lalu Hyesoo akan terungkap. Mulai dari kecelakaan yang dialaminya, hubungan Hyesoo dengan Soyu, dan kisah seorang tokoh tersembunyi yang bernama Siwon. Apakah Jaejoong, Kyuhyun, dan Sooyoung juga terlibat didalamnya? Kalian bisa temukan jawabannya di part 5 ini.

Caution! Cast dalam FF ini juga akan cukup banyak. Entah hanya sebagai cameo atau sebagai peran pendukung. Karena itu, fokuslah wahai para readers-nim. FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasia tau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com

Aku tidak bosan untuk selalu berpesan, jadilah pembaca yang baik dan sopan. Biasakan untuk tidak bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Karena aku yakin para readers adalah orang-orang yang terpelajar dan mengerti sopan santun. Benar? Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 4

“Itu bukan kesalahan, Hyesoo-ya. Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu”.

“Sunbae, tentang itu aku… Maafkan aku… Aku menyukaimu dan juga menghormatimu sebagai seseorang yang dipercaya oleh orang-orang disekitarku. Aku ingin menjalani hidupku dengan perlahan, sunbae”.

“Aku mengerti… Aku tidak sedang memintamu menerima perasaanku. Aku hanya ingin kau tahu isi hatiku”.

“Tanpa ekspektasi apapun?”

“Benar. Tanpa ekspektasi. Tanpa memberikan beban apapun”.

————————-

“Lama tidak bertemu”.

“Kau bicara padaku?”

“Apa ini, Lee Hyesoo? Baru beberapa tahun kita tidak bertemu. Kau sudah dengan mudah melupakanku?”

“Ah, ne, annyeonghaseyo…”

“Mwoya… Konsep apa yang sedang kau mainkan, Lee Hyesoo? Kau benar-benar tidak mengingatku? Semudah itu kau melupakanku? Ch…”

“Aku minta maaf”.

“Baiklah… Kita bisa mulai mengenal satu sama lain dari awal. Aku Kang Soyu. Mahasiswa kedokteran tingkat tiga sepertimu. Aku duduk di kelas B. Senang bisa bertemu lagi denganmu di kota ini, Lee Hyesoo”.

“Ne. Senang bertemu denganmu juga”.

“Hhh… Bernarkah? Luar biasa… Sejauh itu kah kau melupakanku hingga kau bisa mengatakan bahwa kau senang bertemu denganku?”

“Ne? Apa maksudmu, Soyu-ssi?”

“Tidak ada. Baiklah. Aku ikuti konsepmu. Aku jadi penasaran, kira-kira konsep apa yang akan kau gunakan saat bertemu denganku dilain kesempatan”.

————————-

“Melakukan percobaan tanpa pengawasan?”

“……”

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Tidak ada. Aku hanya makan siang”.

“Melakukan sebuah percobaan tanpa ada pengawasan dari siapapun bukan ide yang bagus, Lee Hyesoo. Terlalu beresiko. Sudah cukup. Percobaan hari ini sampai disini saja, eo? Ayo pergi dari sini, Hyesoo-ya”.

“Terima kasih, sunbae”.

“Aku melakukannya dengan sukarela kali ini. Lain kali kau harus mengajakku makan sesuatu jika aku melakukannya lagi”.

“Tentu saja. Tapi, bagaimana kau bisa mengetahuinya?”

“Aku pernah mengalaminya. Dan jangan tanyakan apapun lagi setelah ini. Aku tidak akan menjawabnya”.

————————

“Kalian berdua terlihat begitu dekat. Selama ini kami tidak pernah melihat Kyuhyun bersama seorang gadis, hanya berdua. Kau yang pertama”.

“Bagi Kyuhyun, Lee Hyesoo tidak bisa disamakan dengan gadis lain yang selama ini mengejarnya. Benar bukan, Hyesoo-ssi?”.

“Ya! Ya! Hentikan. Hyesoo-ya, kau tidak perlu mendengarkan mereka”.

“Aniyo, sunbae. Gwaenchanhayo…”

“Yah… apa ini? Perasaanku masih mengatakan ada yang berbeda diantara mereka. Mwoji?”

“Tidak ada hal yang seperti itu, sunbae”.

“Atau belum…”

“Akan. Suatu saat nanti…”

“Kali ini benar-benar berbeda, bukan?”

“Sangat”.

————————-

“Aku bertemu Kyuhyun sunbae. Baiklah. Keluarkan amarahmu, Im Yoona”

“Apa kau sudah gila? Kau sudah bosan dengan hidup tenangmu? Dari sekian banyak mahasiswa di fakultas ekonomi, kenapa kau harus bicara dengannya? Ada apa denganmu?”

“Tapi sunbae, ada apa dengan orang itu?”

“Tidak ada apa-apa, Sooyoung-ah. Yoona memang selalu bersikap berlebihan”.

“Apakah orang itu menyakiti sunbae?”

“Hari ini dia justru menolongku”.

“Apa yang dia lakukan? Apa yang terjadi?”

“Hanya panic attack…”

“Kau mencobanya lagi? Kenapa dia menolongmu?”

“Dia tahu betul bagaimana keadaanku. Dia pernah mengalaminya”.

“Tentu saja…”

“Kau bilang apa, Sooyoung-ah?”

“Aku hanya mengatakan tentu saja… Hyesoo sunbae juga tadi mengatakan bahwa Kyuhyun sunbae bukan orang yang jahat, bukan? Jadi, tentu saja…”

————————-

“Aku harus pergi, sunbae. Ada hal penting yang harus aku lakukan”

“Dan hal penting itu adalah?”

“Mrs. Kang memanggilku ke ruang teater”.

“Omo! Geu museoun ssaem?”

“Cepat pergi!”

“Kau harus tiba tepat waktu atau beliau akan memakanmu hidup-hidup”.

“Bawakan dia apel untuk meredakan amarahnya jika ternyata kau terlambat”.

“Ne! Aku pergi dulu. Sampai bertemu, sunbae-deul!”

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Cho Kyuhyun?”

“Apa yang kau lakukan bersama Lee Hyesoo? Kau mengenalnya?”

————————-

.

.

.

I’m walking towards you : Part 5

.

.

Author’s POV

 

“Jawab aku, Choi Sooyoung!” desak Kyuhyun yang tidak segera mendapatkan jawaban dari Sooyoung.

.

“Lepaskan aku, Cho Kyuhyun”, kata Sooyoung akhirnya.

.

Kyuhyun tidak lantas melepaskan genggaman tangannya di lengan Sooyoung. Tentu saja saat ini Kyuhyun tidak bersikap diluar batas. Ia tidak mencengkram lengan Sooyoung dengan keras. Ia juga tidak sedang memunculkan hawa permusuhannya. Kyuhyun memang bukan seorang laki-laki yang masuk kategori ‘sangat’ baik hati. Tapi Kyuhyun juga tidak akan pernah bisa bersikap buruk pada gadis dihadapannya ini. Seketika wajah Kyuhyun melunak saat melihat ekspresi di wajah Sooyoung yang menurut Kyuhyun terlihat lucu itu.

.

“Ya!!!” seru Kyuhyun sambil mengetuk pelan kepala Sooyoung dengan tangan kanannya.

.

“Akh! Sakit!” keluh Sooyoung.

.

“Oppa! Panggil aku oppa! Kapan kau bisa memahaminya? Eo?!”

.

“Siapa yang harus ku panggil oppa? Kau?!” Sooyoung balas bertanya.

.

“Memangnya bukan? Kau ini benar-benar…”

.

“Aku tidak punya alasan apapun untuk melakukan hal itu. Kau hanya berusia lebih tua saja dariku”, tantang Sooyoung.

.

“Dan sebutan untuk seseorang yang lebih tua darimu adalah?”

.

Sooyoung menutup rapat bibirnya. Ia tidak ingin dengan mudah menyerah dan mengaku kalah pada Kyuhyun. Selama bertahun-tahun Kyuhyun tidak pernah memenangkan perdebatan akan hal ini dengannya. Kali ini pun Sooyoung tidak akan membiarkannya.

.

“Adalah?” tanya Kyuhyun lagi. “Ya, Choi Sooyoung. Jika kau berani kuliah di kampus ini, maka seharusnya kau tahu benar seberapa berpengaruhnya aku disini, bukan? Jadi, jawab aku. Cepat…”

.

“Aku tidak mau!” kata Sooyoung tetap bersikeras.

.

“Ya! Anak kecil! Jawab aku atau akan ku adukan kau ke ayahmu. Cepat. Katakan”, ancam Kyuhyun.

.

“Aish…… Baiklah. Baiklah. Auh… Menyebalkan! Oppa! Oppa! Oppa! Kau puas?”

.

Tawa keras pun sontak keluar dari bibir Kyuhyun, membuat beberapa mahasiswa yang berlalu lalang di sekelilingnya menatap heran padanya. Bukan apa-apa. Cho Kyuhyun adalah salah satu mahasiswa yang cukup dikenal oleh hampir seluruh penjuru kampus. Semua orang mengetahui bagaimana dingin dan angkuhnya Kyuhyun diluar kelompok kecilnya. Tapi saat ini, yang terlihat oleh setiap pasang mata mahasiswa yang berlalu lalang adalah Cho Kyuhyun yang begitu ceria saat bicara dengan seorang junior yang bahkan tidak berasal dari fakultasnya. Sementara lawan bicara Kyuhyun justru memperlihatkan ekspresi sebaliknya. Sooyoung menatap jengkel pada laki-laki yang belum menghentikan tawanya. Ia kalah. Untuk pertama kalinya seorang Choi Sooyoung kalah dalam perdebatan dengan Cho Kyuhyun.

.

“Hentikan! Kau berisik sekali”, keluh Sooyoung sambil memukul pelan perut Kyuhyun. “Jangan bersikap bodoh. Tidak ada hal lucu yang harus kau tertawakan”.

.

“Apa maksudmu? Tentu ada…” kata Kyuhyun yang kemudian mengatur napasnya setelah tertawa cukup keras beberapa saat yang lalu. “Kenapa kau sulit sekali menyebutku dengan sebutan oppa, hm? Aku ‘kan memang oppa-mu, anak kecil! Wajahmu sampai merah seperti itu hanya karena kesal padaku. Hahaha…”

.

“Oppa apanya? Kau bahkan tidak bisa menunjukkan sikap sebagai seorang oppa padaku. Kau terlalu kekanakan. Ch… Sampai datang ke gedung ini un……” kata Sooyoung yang tiba-tiba menghentikan ucapannya. “Ah, aku lupa! Ya! Neo ttaemune ish! (Gara-gara kau!) Aku seharusnya menemui Mrs. Kang, tahu?! Aku akan dapat masalah karena terlambat. Pergilah, Cho Kyuhyun!” sambung Sooyoung yang segera melepaskan tangan Kyuhyun dan berusaha melangkah meninggalkan Kyuhyun.

.

“Kau mau pergi kemana? Hm? Siapa yang mengatakan bahwa Mrs. Kang sedang mencarimu? Anak bodoh… Kau bahkan tidak tahu keberadaan dosenmu sendiri. Mrs. Kang sedang dalam perjalanan studi banding di luar negeri, kau tahu? Ch… Mahasiswa macam apa kau ini?” goda Kyuhyun.

.

“Apa maksudmu? Tadi temanku Ha……”

.

“Siapa? Lee Harin? Anak baik hati itu? Aku menyukainya. Dia sangat bisa diandalkan”, kata Kyuhyun.

.

“Mwoya? Kau sedang menjebakku? Kau jahat sekali, Cho Kyuhyun! Nappeun jasik!” seru Sooyoung sambil memukul Kyuhyun.

.

“Ya! Ya! Jangan memukulku!” kata Kyuhyun yang mulai kualahan menerima pukulan ringan Sooyoung. “Ya!” seru Kyuhyun yang berhasil menangkap kedua tangan Sooyoung.

.

“Anak kecil… Choi Sooyoung… Kau begitu kesal padaku? Bagaimana bisa kau memukul tepat di dadaku? Hm?” tanya Kyuhyun dengan suara lembut layaknya seorang kakak.

.

“Omo!!!” seru Sooyoung yang kedua tangannya kini sudah terlepas dari genggaman Kyuhyun, lalu digunakan untuk menutup bibirnya karena terkejut dengan tindakannya sendiri.

.

“Kau benar-benar tidak menyukaiku, ya?” tanya Kyuhyun kini dengan senyum tipis diwajahnya.

.

“Omo! Bagaimana ini? Mianhae… Bodohnya aku. Mianhae. Mianhae…” kata Sooyoung menyesal. “Ayo, kesana. Kita duduk disana”, sambung Sooyoung sambil menuntun Kyuhyun menuju sebuah bangku taman tidak jauh dari tempat mereka berdiri sebelumnya.

.

Keduanya pun duduk di sebuah bangku taman yang terbuat dari baja berwarna cokelat tua. Sooyoung masih menatap cemas pada Kyuhyun yang sedang mengatur napasnya sambil menunjukkan senyumnya pada Sooyoung, seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Namun senyuman itu tidak lantas membuat Sooyoung percaya dengan mudah. Karena tangan Kyuhyun yang sedang ia genggam justru mengatakan hal yang sebaliknya. Tangan itu menjadi dingin, dan keringat keluar dari pori-pori kulitnya. Kedipan mata Kyuhyun juga bertambah cepat, seperti yang selalu ia lakukan saat rasa sakit sedang menghampirinya. Meski Kyuhyun tidak menyentuh bagian dada, tapi Sooyoung sangat mengetahui bahwa ada rasa sakit disana yang sedang coba disembunyikan oleh Kyuhyun. Helaan napas Kyuhyun yang memberat memperjelas semua gejala yang muncul sebelumnya. Kini Sooyoung sangat yakin akan analisanya. Kyuhyun sedang kesakitan.

.

“Jadi…… Kau harus menyebutku apa?” tanya Kyuhyun yang masih mencoba bergurau untuk meredakan suasana yang sempat menegang diantara mereka.

.

“Shut up! Jangan berpura-pura seolah tidak terjadi apapun!” protes Sooyoung.

.

“Memang tidak terjadi apapun. Aku baik-baik saja. Aigoo… Siapa yang sedang kau khawatirkan, hm? Aku atau oppa-mu?” tanya Kyuhyun lagi. Kali ini disertai dengan tawa kecil untuk mengubah atmosfer mencekam yang ada di sekeliling mereka.

.

“Michin nom… Pertanyaanmu benar-benar tidak masuk akal. Untuk apa aku mengkhawatirkan oppa? Dia tidak bisa meninggal dua kali, bodoh!”

.

“Ah, kau benar. Dan akan sangat menyeramkan jika dia kembali kesini, bukan? Hhh… Jadi, itu berarti kau sedang mengkhawatirkan aku? Jinjja? Wah… Pertama kalinya…” Kyuhyun kembali bergurau.

.

“Tidak lucu! Kau begitu senang membuat orang lain khawatir padamu?”

.

“Tentu! Kau tidak akan pernah tahu seberapa menyenangkannya dikhawatirkan oleh orang lain, Choi Sooyoung”, jawab Kyuhyun dengan senyum mengembangnya. “Karena dengan begitu, aku bisa selalu ingat bahwa aku tidak hidup sendiri di dunia ini. Dan aku punya banyak sekali kekhawatiran dari semua orang, yang menjadi alasanku untuk tetap hidup. Menyenangkan, bukan? Hhh… Kau tentu tidak mengerti itu. Hidupmu terlalu membosankan, Choi Sooyoung”.

.

Kemudian suasana diantara mereka berubah menjadi hening. Kyuhyun menolehkan kepalanya, menghindari tatapan cemas Sooyoung yang belum menghilang. Sementara Sooyoung tercekat dalam diam dibalik ekspresi datar yang berusaha ditunjukkannya. Ini adalah kali pertama Sooyoung menghadapi kondisi Kyuhyun seorang diri. Meskipun Kyuhyun tidak mengalami serangan yang berat, namun apa yang baru saja terjadi sudah cukup membuat kaki Sooyoung terasa lemas seperti jelly. Jantungnya ikut berpacu dan napasnya memburu. Sebelumnya ia tidak pernah melakukan hal sebodoh itu pada Kyuhyun. Selama 21 tahun dalam hidupnya, ia selalu berhati-hati dalam bersikap dan bertindak di hadapan Kyuhyun. Tidak pernah sekalipun Sooyoung memukul bahkan menyentuh dada Kyuhyun. Tapi hari ini, ia sudah dengan bodohnya memukul Kyuhyun tepat disana. Sooyoung pun harus mengakui hal yang ia anggap bodoh, hal yang selalu disangkalnya. Kenyataan bahwa ia merasakan hal yang berbeda ketika bersama Kyuhyun saat ini, terlebih setelah hampir dua tahun Sooyoung tidak bertemu dengannya. Sooyoung akan menerimanya jika ada yang mengatakan bahwa ia sudah kehilangan akal sehatnya. Ia tidak akan menyangkalnya lagi. Karena beberapa saat yang lalu, Sooyoung sempat merasakan kehadiran kakak laki-lakinya itu dalam diri Kyuhyun. Bahkan Kyuhyun sempat melembut nada bicaranya pada Sooyoung. Sentuhan Kyuhyun dan tatapan matanya yang mengatakan bahwa ia baik-baik saja, begitu mengingatkan Sooyoung pada sosok kakak laki-lakinya. Seolah Siwon kembali hidup untuk menemaninya.

.

“Ah, kau belum menjawabku”, kata Kyuhyun tiba-tiba dengan nada bicaranya yang sudah kembali seperti semula.

.

“Apa?” tanya Sooyoung singkat tanpa menoleh menatap Kyuhyun.

.

“Apa yang kau lakukan disini? Jangan jawab aku dengan jawaban, ‘aku berada disini untuk kuliah’. Jawaban itu tidak akan dihitung. Aku butuh jawaban yang sebenarnya”, kata Kyuhyun.

.

“Itulah jawaban yang sebenarnya”, jawab Sooyoung berbohong. “Aku dan eomma merindukan appa. Kau lupa bahwa kaulah penyebab appa kembali ke Seoul? Kau sudah merebut appa-ku, Cho Kyuhyun. Jangan pura-pura tidak tahu”.

.

“Ya… Ya… Aku tahu. Aku bersalah. Samchon adalah malaikat penjagaku. Tentu saja samchon akan ke Seoul bersamaku. Aku tidak bisa jika tanpanya”, kata Kyuhyun dengan senyuman meledeknya. “Lalu apa yang kau lakukan bersama Hyesoo?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Hyesoo? Hanya Hyesoo? Sepertinya kau mengenalnya dengan baik. Jika tidak, maka kau akan menyebutnya Lee Hyesoo, bukan hanya Hyesoo”, kata Sooyoung tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.

.

“Hampir seluruh mahasiswa di kampus ini mengenalku, Choi Sooyoung”, kata Kyuhyun.

.

“Benar. Tapi kau tidak mengenal semua orang, Cho Kyuhyun. Itu dua hal yang berbeda. Bagaimana kau bisa mengenalnya?” Sooyoung yang kini bertanya pada Kyuhyun.

.

“Kau masih belum menjawab pertanyaanku”, kata Kyuhyun yang menepis pertanyaan Sooyoung. “Jawab aku”, perintah Kyuhyun.

.

Sooyoung menghela napasnya. Kejadian beberapa saat yang lalu kembali terbersit di pikirannya. Ia tidak ingin kembali berdebat dengan Kyuhyun dan membuat kesalahan yang sama. “Terjadi begitu saja. Aku masuk ke jurusan yang sama dengan sahabatnya, Yoona sunbae. Entah kau mengenalnya atau tidak”, jawab Sooyoung akhirnya. “Sekarang jawab pertanyaanku”.

.

Kyuhyun menoleh pada Sooyoung, lalu berdeham. “Aku tidak punya kewajiban apapun untuk menjawab pertanyaanmu”, kata Kyuhyun.

.

“Jangan curang. Aku sudah menjawabmu. Jadi kau juga harus menjawab pertanyaanku!”

.

“Tidak. Satu hal yang harus aku lakukan saat ini adalah menghubungi samchon dan segera menjauh dari wajah menakutkanmu itu. Hhh… Aku pergi. Jika ada sesuatu yang terjadi, hubungi aku”, kata Kyuhyun yang segera bangkit berdiri dan mengacak rambut Sooyoung sebelum berjalan menjauh meninggalkan Sooyoung.

.

Sooyoung tidak bisa mencegahnya dan memaksa Kyuhyun untuk menjawab pertanyaannya. Karena Kyuhyun mengatakan hal yang benar. Lebih baik Kyuhyun pergi dan bicara dengan ayahnya mengenai kondisi tubuhnya. Hal itu jauh lebih penting bagi daripada memberitahukan hubungannya dengan Hyesoo pada Sooyoung.

.

.

#########################

.

.

Perpustakaan Fakultas Kedokteran

Hyesoo kembali terlihat seorang diri tanpa ada siapapun bersamanya. Kedua sahabatnya sedang disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing. Yoona dengan persiapan pertunjukkan musikalnya dan Ryeowook dengan latihan paduan suaranya. Sementara Jaejoong masih harus menghadiri satu kelas terakhir hari itu. Saat mengetahui keadaan itu, ketiganya kompak meminta Hyesoo untuk menunggu mereka, lalu pulang bersama setelahnya. Hyesoo pun hanya bisa menyetujui permintaan mereka. Akhirnya hanya tinggal ia seorang diri menunggu di perpustakaan fakultas kedokteran yang cukup ramai pengunjung ini. Sebenarnya Hyesoo sedang tidak ingin membaca buku. Karena itu Hyesoo memilih untuk duduk di tempat duduk kosong dengan sebuah meja berukuran kecil dan empat kursi yang mengelilinginya. Tempat itu jauh dari jangkauan banyak orang. Sangat tepat jika ingin digunakan untuk beristirahat, meletakkan kepala selama beberapa menit. Atau jam. Hyesoo duduk disana, lalu menopangkan kepalanya diatas kedua tangannya yang dilipat diatas meja. Tempat itu begitu menenangkan. Tidak banyak mahasiswa yang memilih untuk duduk disana karena jaraknya yang terlalu jauh dari buku-buku terbaru di perpustakaan itu. Hanya butuh waktu beberapa menit saja, kelopak mata Hyesoo mulai terasa berat. Matanya berkedip dengan tempo yang sangat pelan, hingga terpejam sempurna. Tapi di menit ke empat ia memejamkan matanya itu, sebuah bunyi hentakan kecil meja terdengar sangat jelas di telinganya, membuat Hyesoo terpaksa kembali ke alam sadarnya.

.

“Kau menyalahgunakan fungsi perpustakaan, Lee Hyesoo”, kata suara rendah dan merdu dihadapannya itu.

.

Penyihir berwajah cantik dan bertubuh luar biasa sempurna. Kenapa dia selalu merenggut ketenanganku?‘ kata Hyesoo dalam pikirannya setelah mengetahui pemilik suara menyebalkan itu. Hyesoo pun mengangkat kepalanya dengan malas. “Wasseo? (Kau datang?)” tanya Hyesoo basa-basi.

.

“Kenapa kau seorang diri? Tidak biasanya…” tanya Soyu.

.

“[Pertanyaan itu] kembali padamu. Kenapa kau selalu datang saat aku sendiri?” Hyesoo balas bertanya.

.

“Aku tidak suka keramaian, Lee Hyesoo”, jawab Soyu nada datar.

.

“Setelah beberapa bulan berada disini, aku tidak pernah menemukan orang lain yang menikmati keramaian selain dirimu, Kang Soyu-ssi”, kata Hyesoo.

.

“Aku hanya menikmatinya jika aku yang dijadikan fokus keramaian itu. Dan teman-temanmu, tidak akan mungkin melakukan hal itu”, balas Soyu.

.

“Mwo… Syukurlah kau mendapatkan poin nya dengan tepat”, kata Hyesoo. “Anyway, apa yang kau lakukan disini?”

.

“Aku sedang mencari bahan untuk laporanku, lalu melihatmu yang terlihat bosan disini. Jadi aku memutuskan untuk mengusir kebosananmu”, jawab Soyu.

.

“Jika memang itu tujuanmu, maka kau sudah hampir berhasil melakukannya”, kata Hyesoo.

.

“Hanya hampir? Sepertinya aku harus menceritakan hal menarik padamu agar kebosananmu hilang sepenuhnya. Benar?” tanya Soyu dengan smirk yang tergambar di bibirnya. “Hm… Apa yang bisa aku ceritakan kali ini?” tanya Soyu pada dirinya sendiri.

.

“Bagaimana jika kau menceritakan alasan dibalik seringnya kau bicara denganku? Sudah lama aku begitu ingin mengetahui hal itu”, kata Hyesoo dengan nada permusuhan yang keluar mengiringi setiap kata yang diucapkannya.

.

“Ah… Hal itu? Aku ingin berteman denganmu. Aku pikir kau bisa menjadi teman yang sangat baik untukku. Itu alasanku. Jika kau bisa mempercayainya”, kata Soyu.

.

“Lalu bagaimana jika aku tidak mempercayainya?” tanya Hyesoo dengan tenang.

.

BGM: Park Ji Min – Hopeless Love

.

“Maka aku akan mengatakan hal lain. Aku ingin membantumu mengingat hal yang pernah kau lakukan padaku, yang mungkin sekali lagi akan kau lakukan padaku. Aku harus mencegahmu kali ini, Lee Hyesoo. Tupai tidak jatuh di lubang yang sama dua kali. Kau juga tahu ungkapan itu. Tentu kau juga ingin seperti tupai itu, bukan? Tidak melakukan kesalahan yang sama dua kali”, jawab Soyu dengan rangkaian kata yang menyatakan kejujuran dibaliknya.

.

“Aku meyakini bahwa setelah beberapa kali bertemu dan bicara padaku kau sudah mengetahui satu hal dalam diriku. Aku tidak mengingatnya. Tidak akan pernah. Kau juga seorang mahasiswa kedokteran. Tentu kau akan menemukan diagnosa mu pada keadaanku. Tidak ada gejala apapun yang terjadi padaku bahkan setelah beberapa kali kau menceritakan semua cerita mu itu. Ini tidak temporer, Soyu-ssi. Ini permanen. Kau masih yakin kali ini akan berhasil?” tantang Hyesoo.

.

Soyu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya atas ucapan Hyesoo yang menyatakan bahwa ia kehilangan ingatannya secara permanen. Kedua alis Soyu bertaut di detik yang sama saat Hyesoo menjelaskan keadaannya itu. Tentu Soyu sudah menduga kondisi itu setelah beberapa kali bicara pada Hyesoo. Namun Soyu tidak pernah tahu keadaannya akan sejauh itu. Soyu pun menutupi keterkejutannya itu dengan helaan napas dan senyum tipis di wajahnya dengan cepat.

.

“Sebagai seseorang yang juga tahu tentang medis, aku memujimu karena sudah berjuang dengan sangat baik untuk tetap hidup. Terakhir kali aku melihatmu, kau terbaring di ruang ICU dengan semua alat yang mampu membantumu. Karena itu, saat pertama kali kita bertemu, lagi, aku mengatakan senang rasanya bisa bertemu denganmu di kota ini, dalam keadaanmu seperti ini. Tapi sebagai seseorang yang sudah tersakiti karena mu, aku hanya bisa mengatakan bahwa aku sangat membenci saat-saat dimana kedua mataku menangkap sosokmu ‘lagi’ dalam kehidupanku. Setelah apa yang kau lakukan padaku, kau kembali. Dari semua kota di dunia ini, kenapa kau harus datang ke kota ini? Disaat aku sudah berhasil melupakan bayang-bayangmu dalam kehidupanku, kenapa kau harus kembali, Lee Hyesoo?” kata Soyu dengan kebencian yang terpancar jelas dalam tatapannya.

.

“Kau memang tahu banyak hal. Aku sudah menduganya. Kau bahkan berada disana, di rumah sakit, saat itu. Seperti yang juga sudah kau ketahui, aku tidak mengingat apapun. Sekeras apapun kau berusaha mengingatkanku, aku tidak akan ingat. Jadi, untuk kesalahan apapun yang sudah aku lakukan padamu, aku minta maaf. Aku yakin kau tidak akan mudah memaafkanku, melihat sikapmu padaku saat ini. Tapi aku benar-benar minta maaf”, kata Hyesoo menyesali hal yang tidak benar-benar diketahuinya.

.

“Hhh… Maaf… Kau bahkan tidak benar-benar tahu apa yang sedang kau sesali, Lee Hyesoo. Kau tidak ingat apapun. Apa yang sedang kau sesali? Hal apa yang membuatmu dengan mudah mengatakan kata maaf itu padaku? Bagaimana caranya aku mengabulkan permintaan maafmu dengan kenyataan itu? Apa kau pikir semua hal akan selesai hanya dengan permintaan maaf tak berdasarmu itu?”

.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, Soyu-ssi? Apa yang sedang kau coba lakukan saat ini? Katakan dengan jelas. Jangan bermain dan bersembunyi dibalik kisah sedihmu yang bahkan tidak ku ingat hanya untuk membuatku memohon maafmu. Kau tahu, hal itu akan terdengar sangat menyedihkan jika dilakukan oleh seorang gadis sepertimu”, kata Hyesoo yang tersulut amarahnya setelah mendengar ucapan Soyu.

.

“Jika kau tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, maka jauhi Cho Kyuhyun, Lee Hyesoo”, kata Soyu langsung pada intinya.

.

“Hhh… Jadi semua sikap yang kau tunjukkan padaku disebabkan oleh hal itu? Kyuhyun sunbae? Kau cukup konyol, Soyu-ssi. Wah… michigessda”, kata Hyesoo.

.

“Kau pikir aku sedang bergurau?” tanya Soyu dengan nada kesal.

.

“Tidak. Aku pikir kau…tidak masuk akal”, jawab Hyesoo. “Begini saja. Aku berikan sebuah saran padamu. Pergilah padanya, bicara denganya, atau dekati dia. Jika kau mendapatkan apa yang kau inginkan darinya, maka aku akan mengabulkan permintaan menyedihkanmu itu. Kau bisa memegang ucapanku, Soyu-ssi. Karena aku tidak pernah menggoda laki-laki manapun yang sudah memiliki seorang kekasih. Aku tidak seperti itu. Bagaimana? Kau bisa melakukannya? Pikirkan baik-baik. We’ll see, apa yang akan terjadi selanjutnya”, kata Hyesoo yang langsung beranjak dari tempat duduknya.

.

Tanpa ragu Hyesoo pergi menjauh dari tempat duduknya, meninggalkan Soyu yang terdiam disana. Tiba-tiba Soyu meragukan kondisi Hyesoo setelah mendengar perkataannya baru saja. ‘Aku tidak pernah menggoda laki-laki manapun yang sudah memiliki seorang kekasih’. Kalimat itu terngiang berulang-ulang di telinga Soyu bagai kaset rusak. Seolah Hyesoo baru saja meneriakkan kata-kata itu tepat di depan wajah Soyu. Seolah Hyesoo baru saja menarik Soyu kembali ke beberapa tahun yang lalu, ke masa dimana keadaan mengubah dirinya menjadi seseorang yang bukan dirinya, seseorang yang membalas rasa sakit pada orang yang bahkan tidak melakukan kesalahan apapun padanya. Rangkaian kejadian itu kembali ke ingatan Soyu. Setiap kata yang laki-laki itu katakan untuk membela Hyesoo, yang berhasil membuat hati Soyu hancur berkeping-keping. Dan kejadian menakutkan yang terjadi setelahnya. Soyu pun menutup matanya, mencoba menghilangkan semua bayangan hitam itu jauh ke dasar pikirannya. Soyu tetap teguh pada pendiriannya. Ia tidak akan membiarkan hal itu kembali terjadi.

.

.

BGM: Ra.D – Hidden Road

.

.

Hyesoo keluar dari perpustakaan dengan perasaan yang bercampur satu dengan yang lainnya. Hyesoo pun mengeluarkan headset nya, kemudian memasangnya di kedua telinganya. Ia ingin berada dalam dunianya sendiri selama beberapa saat. Ia ingin menjauh dari dunia nyata yang akhir-akhir ini terlalu sering membuat kepalanya terasa sakit. Begitu banyak pertanyaan dalam pikirannya. Begitu banyak orang yang hadir dalam kehidupan barunya di kota ini. Perasaan asing itu kembali datang padanya. Ia kembali merasa sendiri, seperti seorang asing yang tidak memiliki seorang pun disekitarnya. Hyesoo bahkan berjalan seorang diri di sepanjang trotoar yang mengelilingi danau utama kampus itu. Trotoar itu seolah merasakan kesunyian dan kesepian yang sedang ia rasakan. Sesekali angin menyapa kulitnya, memberikan sentuhan dingin yang semakin membuat kesunyian itu merasuk melalui pori-pori kulitnya, membekukan semua hal dalam tubuhnya.

.

Semua hal yang akhirnya dikatakan oleh Soyu masih menempel dengan kuat dalam kepalanya. Alasan sebenarnya dari setiap perilaku yang diberikan Soyu padanya. Cho Kyuhyun. Seorang Cho Kyuhyun sudah membuat kekhawatiran dalam diri Soyu, hingga Soyu secara langsung meminta Hyesoo untuk menjauhi laki-laki itu. Saat ini ada banyak suara yang berpendapat dalam pikiran Hyesoo. Sebuah suara mengatakan hal itu sangat konyol. Tapi suara yang lain mengatakan itu adalah hal yang wajar dirasakan oleh orang yang sedang jatuh cinta. Dan suara yang lain mengatakan bahwa setiap perilaku Soyu padanya pasti disebabkan oleh hal lain, jauh sebelum kehadiran Kyuhyun. Ada seorang lain yang membuat sisi menyebalkan itu keluar dari diri Soyu. Lalu sebuah suara lain berhasil menghentikan langkah Hyesoo. Suara itu mengatakan untuk tidak mengabulkan permintaan konyol Soyu. Suara itu dengan lantang meminta Hyesoo untuk tidak menjauh dari Kyuhyun sebelum Kyuhyun sendiri yang memintanya. Suara itu menyerukan keegoisannya untuk memiliki Kyuhyun. ‘Andwae! Ada apa dengan pikiranmu, Lee Hyesoo? Kenapa fokusmu bisa teralihkan seperti itu? Andwae!’, Hyesoo menentang dirinya sendiri dalam pikirannya.

.

Tiba-tiba bahu kirinya ditepuk tiga kali, membuat Hyesoo sontak menoleh. ‘Aish… Kau benar-benar memilih waktu yang sangat tepat untuk menemuiku’, keluh Hyesoo dalam pikirannya. Hyesoo tidak langsung melepaskan headset di telinganya. Ia menundukkan kepalanya memberikan salam yang dibalas dengan gerakan kepala yang seolah menanyakan apa yang membuat ekspresi Hyesoo begitu murung. Seolah menangkap pertanyaan yang tidak terucap itu, Hyesoo menggelengkan kepalanya. Lalu Kyuhyun melepas salah satu headset di telinga Hyesoo, kemudian mendekat untuk membisikkan sesuatu padanya.

.

“Tetap dengarkan lagumu dan terus berjalan. Aku hanya ingin menambah jumlah manusia yang menggunakan trotoar ini”, kata Kyuhyun yang kembali memasangkan headset Hyesoo ke telinganya.

.

Kyuhyun menyentuh bahu Hyesoo, kemudian membalikkan tubuh Hyesoo agar kembali menghadap ke depan untuk melanjutkan perjalannnya yang terhenti. Hyesoo pun kembali melangkahkan kakinya berjalan di trotoar yang tidak memiliki ujung itu. Angin kembali berhembus, kali ini dengan kekuatan yang lebih besar hingga mampu menerbangkan rambut Hyesoo yang terurai bebas. Indera penciuman Hyesoo sejenak menangkap rangsangan aroma yang dikenalnya. Aroma mint dari sabun mandi yang akrab di hidungnya, karena saudara kembarnya juga selalu memakai sabun yang sama, dan aroma kayu-kayuan yang bercampur dengan sedikit mentol. Begitu menenangkan, membuat setiap otot tegang Hyesoo mengendur seketika. Kepalanya yang berdenyut pun menjadi tenang perlahan. Ini adalah kali pertama Hyesoo menyadari aroma menenangkan yang muncul dari tubuh Kyuhyun. Salah satu alasan yang membuat Hyesoo tidak mampu menjauhkan dirinya dari laki-laki ini. Alasan yang menyerukan kekaguman luar biasa pada sosok laki-laki yang mampu membuatnya merasa tenang dan juga kesal pada saat yang bersamaan. ‘Kau melakukannya lagi, Lee Hyesoo. Berhenti disana! Kau tidak boleh memujanya juga!’ kata suara protektif dalam pikiran Hyesoo. Tapi tunggu, ada aroma lain yang tercium oleh hidung Hyesoo. Feromon Kyuhyun menyeruak bersembunyi dibalik aroma menenangkannya. ‘Dia berkeringat’, pikir Hyesoo. Sontak Hyesoo menghentikan langkahnya dan berbalik. Kyuhyun pun ikut menghentikan langkahnya saat melihat tatapan Hyesoo yang berubah seketika. Hyesoo melepas headset dari kedua telinganya dan memasukkannya secara asal ke tas yang tergantung di bahu kanannya. Hyesoo maju dua langkah mendekat pada Kyuhyun untuk memastikan dugaannya.

.

“Sunbae berlari?” tanya Hyesoo.

.

Kyuhyun mengangkat alisnya, terkejut dengan pertanyaan Hyesoo. “Bagaimana kau bisa tahu?”

.

“Kenapa berlari? Bosan dengan ritme kehidupan tenang ini?” Hyesoo memberikan pertanyaan yang juga pernah ditanyakan Yoona padanya, tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun sebelumnya.

.

“Wah… Keterlaluan. Kau akan memberikan konsultasi pada pasienmu suatu saat nanti dengan mulut yang sama? Ckck… Siapapun yang mendengarmu saat ini, mereka tidak akan pernah menyangka kau adalah seorang mahasiswa kedokteran, Lee Hyesoo”, protes Kyuhyun.

.

“Sebaiknya sunbae menjawab pertanyaanku sebelum aku mengatakan hal yang lebih buruk dengan mulut yang sama”, ancam Hyesoo.

.

“Aku terlalu bersemangat karena melihatmu”, jawab Kyuhyun tanpa protes apapun. “Aku hanya berlari kecil, Hyesoo-ya. Jaraknya pun tidak terlalu jauh”, sambung Kyuhyun.

.

“Jangan diulangi, sunbae. Tidak ada seorang pun yang bisa menolongmu jika terjadi sesuatu denganmu disini”, kata Hyesoo.

.

“Apa maksudmu? Kau ada disini. Kau bisa menolongku”, kata Kyuhyun dengan senyum konyol diwajahnya.

.

“Tidak akan bisa jika seorang diri. Pokoknya sunbae tidak boleh melakukannya lagi”, kata Hyesoo.

.

“Baiklah. Aku mengerti”, kata Kyuhyun menyanggupi. “Sekarang berbaliklah. Kembali berjalan”.

.

“Aku sudah lelah. Aku tidak ingin berjalan lagi”, kata Hyesoo sambil melangkah ke pagar pembatas jalan.

.

Hyesoo bersandar pada pagar yang terbuat dari kayu kokoh itu, menopangkan beban tubuhnya yang terasa lelah baik secara fisik maupun mental. Hyesoo memejamkan matanya, merasakan hembusan angin yang tidak berhenti menyentuh lembut permukaan kulitnya dan suara daun di pepohonan yang saling bergesekkan, serta gemericik air yang tersentuh oleh burung pelican yang baru saja mendarat di danau. Tapi bahkan dengan keramaian yang ada disekitarnya, Hyesoo tetap merasakan kesunyian. Sesaat kemudian Hyesoo mendengar derap langkah Kyuhyun yang mendekat padanya. Hyesoo dapat merasakan temperature tubuh Kyuhyun yang berdiri tepat disampingnya. Sangat hangat dengan aroma menenangkan yang menyeruak dari balik pakaian yang ia kenakan.

.

“Kalau begitu aku akan menemanimu disini”, kata Kyuhyun kemudian.

.

Hyesoo membuka matanya lalu menoleh pada Kyuhyun. Tatapan mereka bertemu. Keduanya hanya saling menatap dengan ekspresi datar di wajah masing-masing. Kemudian Hyesoo memalingkan wajahnya dengan cepat dari Kyuhyun, memadang ke sisi lain tubuhnya yang terlihat begitu sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang berlalu lalang dengan sepeda kampus yang dipinjamkan untuk akomodasi berpindah dari satu gedung ke gedung lain. Ada pula kelompok kecil mahasiswa yang lewat di depan mereka dengan wajah tertunduk saat menyadari keberadaan Kyuhyun disana, menandakan bahwa mereka adalah kelompok mahasiswa junior yang canggung.

.

“Aku pikir sebaiknya sunbae pergi saja”, kata Hyesoo.

.

“Kenapa?” tanya Kyuhyun bingung.

.

“Karena aku ingin berada di kampus ini sampai akhir masa kuliahku. Keberadaan sunbae bersamaku disini akan membuat riwayatku tamat dengan cepat. Para gadis yang menyukai sunbae tidak akan menyukaiku”, jawab Hyesoo.

.

“Hhh… Kau takut? Tidak perlu merasa takut pada mereka. Aku akan menanganinya untukmu”, kata Kyuhyun menanggapi.

.

“Aku akan menyelesaikan masalahku sendiri, sunbae. Tidak perlu membantuku”.

.

“Kalau begitu lakukan. Aku tidak akan campur tangan”.

.

“Mwo? Sunbae benar-benar ingin mempertaruhkan hidupku ditangan gadis-gadis itu rupanya. Jahat…” kata Hyesoo dengan tawa kecilnya.

.

Kyuhyun ikut tertawa mendengar ucapan Hyesoo. “Kenapa tiba-tiba kau mencemaskan hal itu? Sebelumnya kau tidak mempedulikannya sama sekali”, tanya Kyuhyun.

.

“Salah seorang dari gadis-gadis itu mengatakannya langsung padaku. Dia memintaku menjauhimu”, jawab Hyesoo tanpa menutupi apapun dari Kyuhyun.

.

“Lalu apa yang kau katakan padanya? Kau menyanggupinya?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Jika aku menyanggupinya, maka sejak tadi aku sudah meninggalkan sunbae. Aku menyuruhnya untuk datang padamu, bicara padamu, atau mendekatimu. Jika dia mendapatkan hal yang dia inginkan darimu, which is, menjadi kekasihmu, maka aku sendiri yang akan menjauh darimu. Seperti itu…” kata Hyesoo menceritakan hal yang sudah ia katakan pada Soyu.

.

“Gadis pintar…” kata Kyuhyun singkat, memberikan pujian atas tindakan Hyesoo. “Jadi sebelum hal itu terjadi kau tidak akan pergi jauh dariku?” tanya Kyuhyun.

.

“Selama sunbae tidak melakukan hal yang bisa mengancam jiwaku. Aku tidak akan kemanapun”, jawab Hyesoo yang disambut senyum lebar dari Kyuhyun. “Tapi sunbae, aku penasaran akan satu hal”.

.

“Kau selalu saja penasaran, Lee Hyesoo. Katakanlah. Apa yang membuatmu penasaran kali ini?” tanya Kyuhyun.

.

“Sunbae tidak berlari, tidak melakukan hal apapun yang dapat memacu adrenalin, tidak juga melakukan hal yang terlalu membuatmu kelelahan. Bagaimana kau melakukan wajib militermu?” tanya Hyesoo.

.

“Hhh… Tentang itu? Hm… Aku hanya menjalani wajib militerku selama dua minggu. Sebenarnya aku tidak masuk kualifikasi untuk mengikuti wajib militer. Tentu saja. Tidak akan pernah. Tapi aku memaksa. Aku bisa ditempatkan di bagian pelayanan masyarakat untuk menghindari kegiatan berat sebagai tentara. Tapi kau tahu, sebelum ditempatkan di base camp, ada pelatihan yang harus dilakukan selama lima minggu. Aku bersikeras untuk ikut. Aku berusaha bertahan selama satu minggu awal. Aku sudah merasakan gejalanya, tapi aku menahannya. Di akhir minggu aku menemui dokterku untuk meminta pain killer yang lebih kuat. Aku pun menjalani minggu keduaku bermodalkan pain killer dan keyakinan konyolku. Hingga di akhir minggu kedua semuanya berakhir. Semua orang hanya tahu bahwa aku pingsan. Aku segera dilarikan ke rumah sakit. Jantungku sempat berhenti, namun pak tua, dokter hebat itu mengembalikan detak jantungku. Aku rasa dia memukul dadaku dengan keras, karena saat terbangun rasanya sakit sekali”, kata Kyuhyun menjelaskan dengan tawa riang yang mengikuti diakhir ceritanya.

.

“Lalu bagaimana sunbae bisa bertemu dengan Jaejoong sunbae?” tanya Hyesoo lagi, mengalihkan pembicaraan untuk menenangkan suasana.

.

“Kami sempat satu camp di minggu pertama. Lalu setelahnya aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Aku kembali ke camp 21 bulan kemudian, di hari-hari terakhir yang seharusnya aku lalui disana. Aku kembali bertemu dengan Jaejoong. Begitulah…” jawab Kyuhyun.

.

“Tidak ada yang mencarimu selama 21 bulan?” tanya Hyesoo.

.

“Tidak ada. Kabar yang tersebar di camp adalah kepindahanku ke luar kota. Karena itu, tidak ada satupun orang yang mencariku”, jawab Kyuhyun.

.

“Kenapa sunbae nekat mengikuti wajib militer disaat sunbae sendiri tahu benar bahwa hal itu sangat dilarang?” tanya Hyesoo yang akhirnya memberikan pertanyaan yang sejak tadi tersimpan di kepalanya. Benar. Pertanyaan tentang Jaejoong hanya digunakan sebagai kamuflase, pengalihan focus sementara. Hyesoo tidak ingin memberikan tekanan pada Kyuhyun untuk menceritakan semua detail kejadian di masa itu yang mungkin saja dapat meningkatkan kerja jantungnya.

.

“Aku yakin kau akan mengutukku jika mendengar jawabanku atas pertanyaanmu itu”, kata Kyuhyun dengan senyum pilu di bibirnya.

.

“Tidak. Aku tidak akan melakukannya. Katakanlah…” kata Hyesoo meyakinkan Kyuhyun.

.

“Bunuh diri? Untuk yang ke sekian kali”, jawab Kyuhyun dengan suara pelan yang tetap bisa didengar Hyesoo.

.

“Kenapa?”

.

“Seorang laki-laki muda tidak bisa beraktivitas seperti teman-teman yang lainnya. Tidak bisa berlari, terkejut, terlalu marah, terlalu bersemangat, terlalu senang, terlalu sedih, dan masih banyak lagi. Aku hidup dalam kurungan larangan seumur hidupku, Hyesoo-ya. Cho Kyuhyun yang baru beranjak dewasa tidak bisa menerima hal itu. Dengan melarangku melakukan semua hal itu, sama saja mereka melarangku untuk menjalani hidupku. Saat itu aku berpikir lebih baik aku mati daripada hidup dalam kekangan. Aku masih terlalu muda untuk mensyukuri hidupku”, jawab Kyuhyun.

.

“Tadi sunbae mengatakan bahwa kejadian di camp wajib militer itu adalah percobaan yang ke sekian kali. Sunbae pernah melakukannya juga sebelumnya?” tanya Hyesoo.

.

“Beberapa kali…” kata Kyuhyun yang mengambil jeda sebelum melanjutkan jawabannya. “Aku anak satu-satunya dalam keluargaku. Tidak pernah ada yang protes pada perilakuku di rumah. Tapi kemudian aku di bully saat duduk di sekolah dasar. Mereka mengatakan aku anak yang lemah, aku anak manja, aku seperti anak perempuan, aku anak yang tidak normal, hanya karena aku tidak pernah ikut berlari bersama mereka ataupun ikut dalam permainan sepak bola. Aku marah. Aku memberontak. Aku tidak ingin sekolah. Lalu hari itu kedua orang tuaku mulai membangun tembok besar (kata ungkapan) yang menghalangiku berhubungan dengan dunia luar. Mulai dari home schooling, pindah ke sebuah rumah yang sangat besar dengan segala perlengkapan dan permainan, hingga asisten pribadi dan beberapa staf yang selalu menjagaku 24 jam penuh…”

.

“…Mereka membuatku merasa sesak. Sampai akhirnya aku pergi ke taman bermain dengan janji palsu yang ku buat pada kedua orang tuaku. Aku mengatakan pada mereka aku hanya ingin berkeliling dan naik carousel. Aku mematahkan janji itu dengan naik roller coaster. Hanya berselang beberapa saat setelah aku turun dari roller coaster, aku kehilangan kesadaranku. Saat itu dokter menemukan alasanku melakukan hal seburuk itu. Percobaan bunuh diri. Anak bodoh… Saat itu aku belum mengerti arti hidup dan mati, Hyesoo-ya. Aku hanya ingin membuktikan pada semua orang bahwa aku juga bisa melakukan apa yang mereka lakukan. Saat itu aku tidak pernah membayangkan hidup akan seindah ini sekarang”, kata Kyuhyun menceritakan kisah pilunya bertahun-tahun yang lalu.

.

“Benar. Sunbae sangat bodoh dengan melakukan hal itu”, kata Hyesoo yang kehilangan kata-kata setelah mendengar cerita Kyuhyun.

.

“Tapi saat ini aku hidup dengan kenangan menakutkan itu yang terkadang masih datang ke mimpiku. Aku iri dengan kondisimu yang tidak mengingat apapun di masa lalu. Kau beruntung, Lee Hyesoo”, kata Kyuhyun mencoba meredakan suasana diantara mereka.

.

“Sunbae adalah orang pertama yang mengatakan bahwa aku beruntung dengan kondisiku. Tapi aku juga pasti akan mengatakan hal yang sama jika berada dalam posisimu”, kata Hyesoo menyetujui.

.

“Benar, bukan? Ah… Aku iri pada Lee Hyesoo”, kata Kyuhyun dengan tawa kecilnya, mengakhiri kisah dramatis yang pernah dialaminya.

.

.

.

.

Sementara itu di tempat yang berbeda

Di K University

Jaejoong berdiri bersandar di dinding tidak jauh dari sebuah kelas di gedung fakultas seni pertunjukan. Wajahnya mengeras dan tatapan tajamnya tidak teralihkan dari lantai marmer gedung itu. Ia sedang menunggu seseorang disana. Seseorang yang sudah sejak lama ia ragukan maksud dibalik setiap perilakunya. Seseorang yang mengingatkan Jaejoong pada sosok laki-laki yang cukup dibencinya. Beberapa jam yang lalu Jaejoong telah menemukan kebenaran atas dugaannya. Semua hal yang ia pikirkan tepat. Sooyoung memang gadis yang sama dengan gadis yang pernah tidak sengaja ia temui di sebuah rumah sakit di Seattle beberapa hari setelah kecelakaan Hyesoo terjadi. Sooyoung memang adik dari laki-laki yang menyebabkan hilangnya ingatan Hyesoo karena kejadian kala itu. Dan hal lain yang membuat jantungnya memacu lebih cepat adalah kenyataan bahwa Sooyoung merupakan sepupu Cho Kyuhyun, laki-laki yang sangat dibencinya. Beberapa saat kemudian, pintu kelas itu terbuka. Sontak Jaejoong menoleh ke arah keluarnya dosen dari kelas itu. Satu persatu mahasiswa keluar dari kelas, begitu pula dengan Sooyoung yang keluar bersama Yoona. Tatapan dingin Jaejoong bertemu dengan Yoona yang menyambut kedatangannya dengan riang. Berbeda dengan Sooyoung yang menatap cemas pada Jaejoong yang tidak teralihkan sama sekali dengan sapaan riang Yoona. Jaejoong hanya menatap tajam pada Sooyoung.

.

“Sunbae, apa yang kau lakukan disini? Kau menunggu kami?” tanya Yoona saat akhirnya tiba di hadapan Jaejoong.

.

“Choi Sooyoung, aku ingin bicara denganmu”, kata Jaejoong tidak menghiraukan pertanyaan Yoona.

.

“Apa yang ingin kalian bicarakan? Bicara saja disini”, kata Yoona.

.

“Im Yoona, kali ini jangan ikut campur. Aku harus mendapatkan kebenarannya terlebih dahulu sebelum mengungkapkannya pada kalian”, kata Jaejoong.

.

“Kebenaran apa yang sedang sunbae bicarakan?” tanya Yoona lagi.

.

“Ikut aku!” kata Jaejoong yang langsung meraih lengan Sooyoung dan menariknya menjauh dari Yoona.

.

.

BGM: Lonely (OST. Nice Guy)

.

.

Jaejoong mencengkram tangan Sooyoung dengan sangat kuat sambil terus menariknya agar mengikuti Jaejoong keluar dari gedung fakultas seni menuju ke hutan kecil di belakang gedung. Beberapa kali Sooyoung meronta, meminta Jaejoong melepaskan cengkramannya, namun Jaejoong tidak menghiraukannya. Jaejoong terus menarik tangan Sooyoung masuk ke dalam hutan kecil dengan pepohonan rimbun yang mengelilingi pusat hutan. Jaejoong membawa Sooyoung ke sebuah padang rumput luas di pusat hutan kecil itu.

.

“Jaejoong sunbae!” seru Sooyoung yang tidak bisa lagi menahan rasa sakit di pergelangan tangannya. “Apa yang sedang sunbae lakukan? Tidak bisakah kita bicara baik-baik?”

.

“Kau lupa? Selama dua minggu terakhir aku selalu berusaha mengajakmu bicara. Tapi kau selalu menghindariku. Kau hanya akan bicara padaku saat yang lainnya ada bersama kita. Kau pikir aku bisa bicara padamu dalam keadaan seperti itu? Kau yakin kau ingin mereka mengetahuinya juga?” tanya Jaejoong dengan tatapan yang diliputi amarah.

.

“Baik. Aku mengerti. Sekarang katakanlah. Semua hal yang sudah sunbae pendam selama ini. Katakan padaku. Luapkan amarah itu padaku”, kata Sooyoung.

.

“Apa yang kau lakukan disini? Apa tujuanmu, Choi Sooyoung?” akhirnya pertanyaan yang selama dua minggu terakhir berputar dalam pikiran Jaejoong mampu dikeluarkannya.

.

“Aku kuliah disini. Itu alasan sebenarnya. Aku tidak akan memaksamu percaya padaku. Tapi itulah yang sebenarnya”, jawab Hyesoo.

.

“Hanya itu? Lalu apa maksud dari semua perlindungan yang kau berikan pada Hyesoo selama ini? Apakah itu diluar tujuanmu?” tanya Jaejoong lagi.

.

“Tidak. Semua hal itu termasuk dalam tujuanku”, jawab Sooyoung tanpa menyangkal.

.

“Kenapa? Kenapa kau melakukannya? Kau sedang menebus kesalahan kakakmu yang brengsek itu? Kau pikir semua kesalahannya akan terlupakan hanya dengan mengirim adiknya untuk melindungi Hyesoo? Kenapa dia tidak datang sendiri dan melakukannya? Dia masih pengecut seperti beberapa tahun yang lalu rupanya…”

.

“Cukup!!! Berhenti disitu!” seru Sooyoung sambil menunjuk wajah Jaejoong dengan tangannya yang bergetar. Air mata sudah menggenang dimatanya, menumpuk sebelum jatuh ke pipinya.

.

“Setelah semua hal yang dia lakukan pada Hyesoo, semua mimpi buruk yang dia berikan pada Hyesoo, dia masih berlindung dibalik punggung adiknya untuk menebus kesalahan itu. Kau tahu benar seberapa luar biasanya kakakmu itu, Choi Sooyoung. Jika dia memang menyesali perbuatannya, seharusnya dia tidak perlu mengirimmu kesini. Seharusnya kalian pergi dari kehidupan Hyesoo. Tidak perlu datang lagi”, sambung Jaejoong.

.

“Hentikan! Aku bilang hentikan! Kau pikir hanya Siwon oppa yang harus bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi pada Hyesoo eonni?” tanya Sooyoung yang menghilangkan bahasa formalnya untuk bicara pada Jaejoong.

.

“Benar. Karena kakakmu lah yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi, Choi Sooyoung. Setelah sekian lama, kau masih tidak mengetahui hal itu?”

.

“Kau tahu betul ada hal lain dibalik penyebab kecelakaan itu terjadi, Kim Jaejoong”, kata Sooyoung dengan suaranya yang bergetar.

.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Yoona yang muncul dari belakang Jaejoong bersama Ryeowook. “Apa ini, Choi Sooyoung? Kau berbohong? Kau mengenal kami sejak awal? Kau adik dari si brengsek Choi Siwon, bukan?”

.

“Cukup!!! Jangan menghakimi Siwon oppa jika sunbae tidak mengetahui apapun!” seru Sooyoung pada Yoona.

.

“Apa yang tidak kami ketahui, Choi Sooyoung?” tanya Ryeowook dengan nada tenangnya. “Apa hal yang membuatmu bersikap seperti ini?”

.

“Kim Jaejoong-ssi, kau tidak pernah bicara pada mereka? Setelah sekian lama kau hanya diam dan menyimpan semua hal itu untuk dirimu sendiri?” tanya Sooyoung pada Jaejoong yang mengatupkan rahangnya keras.

.

“Apa ini? Apa yang terjadi? Kenapa… Kenapa kau bertanya pada Jaejoong sunbae?” tanya Yoona bingung.

.

“Jawab mereka, Kim Jaejoong. Jawab pertanyaan mereka! Ceritakan kisah yang sudah kau sembunyikan selama beberapa tahun ini”, kata Sooyoung.

.

#########################

.

Flashback

2 tahun yang lalu di Seattle

Hyesoo kembali ke rumah. Libur musim panas datang setelah rangkaian ujian praktikum berakhir. Butuh waktu kira-kira 7 jam untuk sampai di Seattle dari Connecticut. Hyesoo begitu merindukan sejuknya udara di Seattle. Hyesoo juga merindukan keluarganya, dan Siwon kekasihnya. Sepanjang penerbangannya menuju Seattle, Hyesoo memikirkan semua hal yang ingin ia lakukan sesampainya di bandara. Hyesoo berencana untuk segera mengubungi Siwon sesaat setelah kakinya menyentuh lantai bandara. Selama tiga bulan terakhir Hyesoo tidak dapat berkomunikasi baik dengan Siwon. Kesibukannya dan kesibukan Siwon selalu menghalangi keduanya untuk saling bicara. Lima menit sudah berselang sejak kedatangannya di bandara. Namun Hyesoo masih belum menghubungi Siwon. Ia masih memikirkan kebohongan apa yang akan ia gunakan untuk membuat menyembunyikan kejutan yang akan ia berikan pada Siwon. Benar. Hyesoo tidak memberitahu siapapun perihal kepulangannya ke Seattle. Akhirnya setelah menemukan ide, Hyesoo pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menelepon Siwon. Tidak ada jawaban dari Siwon. Hyesoo tidak menyerah. Ia mencobanya sekali lagi. Kali ini Siwon mengangkatnya di dering ketiga.

.

Hello?” kata suara berat yang dirindukan Hyesoo di seberang telepon.

.

“Oppa! Kau tidak merindukanku? Kenapa tidak menghubungiku?” tanya Hyesoo sambil berjalan menarik kopernya.

.

Eo… Maafkan aku, Hyesoo-ya. Aku sedang sangat sibuk akhir-akhir ini. Banyak deadline tugas kuliah yang harus ku kerjakan”, jawab Siwon.

.

“Ah… Begitu rupanya. Tidak apa-apa. Oppa tidak perlu meminta maaf. Hm… Saat ini oppa sedang berada dimana?” tanya Hyesoo.

.

Aku? Hm… Aku sedang…” terdengar keraguan di suara Siwon. Namun rasa rindunya pada Siwon membuat Hyesoo tidak menyadarinya. “Aku sedang ke Port Angeles mengantar eomma. Benar… Aku sedang di luar kota”.

.

“Benarkah? Hhh… Sayang sekali…”

.

Penerbangan dari Seattle menuju……

.

Hyesoo terkejut mendengar pengumuman penerbangan selanjutnya yang berasal dari speaker. Ia memutus hubungan teleponnya dengan cepat, khawatir rencana nya mengejutkan Siwon akan gagal. Hyesoo pun menggenggam ponselnya, menunggu pengumuman itu berakhir. Namun seketika Hyesoo menyadari sesuatu. Ia mendengar suara yang sama di ponselnya beberapa saat yang lalu. Suara yang sama ada di sambungan teleponnya dengan Siwon. Jika Hyesoo tidak salah mendengar, Siwon mengatakan bahwa dirinya sedang berada di Port Angeles. Bagaimana bisa…? Sontak Hyesoo menebar pandangannya ke seluruh penjuru bandara yang bisa ditangkap oleh kedua matanya. Siwon yang sedang terlalu fokus merapikan barang-barang ditangannya saat menerima telepon Hyesoo tidak menyadari adanya suara pengumuman di sambungan telepon mereka. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Hyesoo menemukan sosok Siwon tidak jauh dari barisan bangku panjang tempat para penumpang biasanya duduk untuk menunggu. Senyum Hyesoo mengembang. Ia mengira Siwon berada disana untuk memberikan kejutan padanya. Padahal Hyesoo mengingat betul bahwa dirinya tidak memberitahukan siapapun atas kepulangannya.

.

Dengan langkah riang, Hyesoo berjalan menghampiri Siwon yang masih sibuk dengan barang-barang dihadapannya. Namun langkah Hyesoo terhenti beberapa meter dari tempat Siwon berdiri. Ia melihat ada orang lain di hadapan Siwon, dan perempuan itu bukan ibunya, seperti yang baru saja Siwon katakan di telepon. Perempuan itu terlihat seusia Hyesoo, dengan rambut panjang dan bentuk tubuh yang indah. Siwon tersenyum manis pada perempuan itu, disambut dengan senyuman yang sama dari lawannya bicara. Perempuan itupun mendekat pada Siwon, lalu memeluk tubuh bidang laki-laki itu. Sesaat kemudian, keduanya berciuman, tepat di bibir. Bukan ciuman singkat yang hanya menimbulkan efek pukulan ringan di lengan, namun ciuman dalam yang seolah memukul keras kepala Hyesoo. Air mata tidak dapat tertahan dengan mudah oleh pelupuk mata Hyesoo. Setetes air mata sudah mengalir di pipinya. Hyesoo menghapus jejak air mata itu dengan cepat. Menyaksikan pengkhianatan yang dilakukan Siwon setelah hampir tiga tahun hubungan mereka, membuat hati Hyesoo hancur seketika. Hyesoo pun melangkah mendekati keduanya tanpa ragu. Mereka sudah saling melepaskan dan bersiap untuk meninggalkan bandara. Namun Hyesoo sudah berada di hadapan mereka sebelum hal itu terjadi.

.

“Hyesoo-ya…” kata Siwon sesaat setelah keduanya matanya menangkap sosok Hyesoo di hadapannya.

.

.

BGM: Jang Jae In – 환청 (Feat. Nashow)

.

.

“Nappeun nom!”, kata Hyesoo dengan suara pelan tepat di depan Siwon. “Kau tahu dengan baik bahwa aku sangat membenci hal ini. Kenapa? Kenapa kau melakukan ini padaku?”

.

“Hyesoo-ya, kita… kita bisa bicara baik-baik tentang hal ini”, kata Siwon.

.

“Jika kau tidak lagi ingin berhubungan denganku, maka katakanlah. Jangan seperti ini…” kata Hyesoo tidak menghiraukan ucapan Siwon.

.

“Hyesoo-ya, aku……”

.

“Minta maaf? Menyesal?” tanya Hyesoo memotong ucapan Siwon. “Lupakan saja…”

.

Hyesoo pergi meninggalkan keduanya tanpa berpikir panjang. Ia menggenggam kuat gagang kopernya, meluapkan amarahnya pada genggaman tangannya itu. Air mata kembali menetes di pipinya. Kali ini Hyesoo tidak menghapus jejak air mata itu. Hyesoo hanya berpikir untuk segera meninggalkan tempat itu dan menjauh dari laki-laki yang baru saja menyakitinya. Sementara itu, Siwon hanya memandang punggung Hyesoo yang menjauh dan menghilang dibalik kerumunan orang yang berlalu lalang di bandara. Ia tidak segera mengejar Hyesoo. Kakinya tidak bergerak kemanapun bahkan setelah apa yang terjadi dihadapannya.

.

“Oppa tidak mengejarnya?” tanya Soyu.

.

“Aku sudah melakukan kesalahan padanya”, jawab Siwon.

.

“Tentu saja. Siapapun yang mengetahui hal ini pasti mengatakan hal yang sama denganmu”, kata Soyu setuju pada pernyataan Siwon. “Kejar dia, oppa”.

.

“Tidak, Soyu-ya. Tidak sekarang. Aku hanya akan melukainya lagi”, kata Siwon.

.

“Hhh… Dengan sikapmu yang tidak segera mengejarnya, aku dapat menyimpulkan bahwa kau memilihku. Aku cukup senang dengan keteguhan sikapmu ini. Tapi, oppa… Aku tidak ingin menjalani hubungan yang diselingi dengan drama yang belum berakhir. Selesaikanlah semua hal dengannya secara baik-baik. Pergilah… Kejar dia. Nanti kita bisa bertemu di apartment”, kata Soyu.

.

“Baiklah. Kita bertemu nanti…” kata Siwon sambil menyerahkan beberapa paper bag di tangannya pada Soyu.

.

Siwon pun melangkah pergi untuk mengejar Hyesoo. Ia tidak bisa berlari dalam keadaan yang cukup ramai di bandara hari itu. Saat akhirnya ia berhasil keluar dari pintu utama, Siwon segera mencari keberadaan Hyesoo. Di kejauhan Siwon melihat mobil yang familiar di tempat parkir. Hyesoo disana. Hyesoo mengemudikan mobil yang sudah ia pesan pada staf keluarganya sejak kemarin. Siwon segera menuju ke tempat mobilnya di parkirkan. Beruntung karena jarak mobilnya tidak terlalu jauh dari lobby. Saat ia masuk ke dalam mobilnya, mobil Hyesoo melintas tepat di depannya. Siwon pun mengikuti mobil Hyesoo. Ia memutuskan untuk tidak menelepon Hyesoo dan menunggu sampai mereka sampai ke tempat tujuan Hyesoo, lalu bicara disana. Akan sangat berbahaya jika ia memaksakan untuk bicara dalam keadaan menyetir. Namun tiba-tiba Hyesoo mempercepat laju mobilnya. Hyesoo menyadari keberadaan Siwon yang sedang mengikutinya. Siwon terus berusaha mengejar mobil Hyesoo agar tidak kehilangan jejak. Sampai pada satu jalan yang Siwon sadari berujung dengan sebuah jurang. Ada sebuah jembatan yang sedang dalam perbaikan. Menyadari hal itu, Siwon pun mengubah arahnya, berbelok ke jalan lain. Hyesoo yang tidak mengetahui hal itu karena ia baru saja kembali dari Connecticut setelah setahun lamanya, tidak lantas menghentikan laju mobilnya. Hingga saat Hyesoo melihat tanda penghalang jalan dari kejauhan, ia menginjak rem mobilnya, namun laju mobilnya tidak berhenti dengan cepat. Tiba-tiba sebuah mobil menabrak sisi kanan mobilnya. Hyesoo yang menoleh karena terkejut sempat menangkap sosok Siwon dalam mobil yang menabraknya itu. Mobil Hyesoo berputas sebelum terlempar ke jalan. Beruntung mobil lain segera menghentikan lajunya saat melihat kejadian di depan mereka.

.

Setelah berhasil menghentikan mobilnya, Siwon yang mengalami lebam di tangan dan kepalanya, keluar dan berlari menuju mobil Hyesoo yang sudah terhenti di tengah jalan. Hyesoo terluka parah dibagian kepala. Benturan keras dengan kaca mengakibatkan darah mengalir menutupi hampir separuh wajahnya. Siwon segera menelepon ambulance, lalu berusaha mengeluarkan Hyesoo dari mobil, mencegah adanya ledakan dari mobil yang mungkin dapat terjadi. Ambulance datang sepuluh menit setelahnya. Siwon tidak berhasil menyadarkan Hyesoo dengan cara apapun. Ambulance pun membawa Hyesoo dan Siwon ke rumah sakit terdekat dari lokasi kecelakaan. Sesampainya di ruang emergency, kondisi Hyesoo semakin menurun. Hyesoo kehilangan banyak darah, tekanan darahnya menurun drastis, nadi dan napasnya melemah. Terdapat patah tulang di lengan dan rusuk kiri Hyesoo. Dokter dan tim medis lain segera memberikan pertolongan pertama pada Hyesoo. Mereka membawa Hyesoo ke ruangan lain yang hanya digunakan untuk satu orang saja. Siwon sempat menolak perawatan yang ingin diberikan oleh perawat disana, namun akhirnya Siwon pun menerimanya. Setelah beberapa jam menunggu di depan ruangan khusus berdinding kaca buram itu, akhirnya dokter keluar dan menemui Siwon. Hyesoo berhasil diselamatkan, namun Hyesoo belum sadarkan diri. Hyesoo masih harus menjalani perawatan dan beberapa pemeriksaan. Dokter menyarankan Siwon untuk menghubungi keluarga Hyesoo.

.

Setelah Siwon mengurus semua administrasi yang diperlukan dan Hyesoo dipindahkan ke ruang perawatan, barulah Siwon menghubungi Donghae, saudara kembar Hyesoo. Tidak butuh waktu yang lama untuk keluarga Hyesoo tiba di rumah sakit. Siwon menceritakan rentetan kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu. Donghae yang tersulut amarahnya segera meraih kerah Siwon dan meluncurkan tinjunya ke wajah Siwon. Namun Tuan Lee menghentikan anak laki-lakinya itu. Tuan Lee dapat mengerti apa yang dilakukan Siwon, mengatakan bahwa dirinya mungkin akan melakukan hal yang sama dengan Siwon jika dihadapkan pada situasi itu. Tuan Lee meminta Donghae untuk tenang dan menunggu. Bagi Tuan Lee, keselamatan Hyesoo yang lebih penting. Saat ini Hyesoo sudah selamat dari maut, mereka hanya perlu menunggu laporan hasil pemeriksaannya.

.

Tuan Lee pun menyuruh Siwon untuk kembali ke rumah setelah melihat keadaan Siwon yang tidak terlihat baik. Siwon menolaknya, mengatakan bahwa ia akan tetap disana menunggu kesadaran Hyesoo. Namun Tuan Lee mencegahnya, meminta Siwon untuk kembali esok hari setelah keadaan menjadi lebih tenang. Tuan Lee juga mengatakan bahwa Siwon tidak perlu khawatir akan dicari oleh polisi. Karena Tuan Lee sendiri yang akan menjamin Siwon jika hal itu terjadi. Siwon pun pergi meninggalkan rumah sakit sesuai dengan permintaan Tuan Lee. Siwon tidak langsung kembali ke rumah. Ia datang ke apartment Soyu. Ia membutuhkan seseorang untuk berbagi keresahannya. Soyu pun menenangkan Siwon yang begitu khawatir pada keadaan Hyesoo. Tapi dibalik semua hal yang dilakukannya pada Siwon, Soyu menyimpan kepuasan diri atas kejadian yang menimpa Hyesoo.

.

Tiga hari berselang, Siwon tidak pernah absen berkunjung ke rumah sakit. Meski selalu menerima sikap dingin dan tatapan permusuhan dari Donghae dan Hyeri, Siwon tetap datang kesana menjenguk Hyesoo. Sudah selama tiga hari pula Siwon selalu kembali ke apartment Soyu sepulang dari rumah sakit. Namun hari itu, Siwon tidak menemukan Soyu di apartmentnya. Siwon menelepon Soyu yang akhirnya memberitahu bahwa hati itu ia harus menemui seseorang. Soyu berjanji akan menemuinya malam itu. Siwon pun keluar dari apartment Hyesoo dan berjalan menuju sebuah café yang sering dikunjunginya. Sesaat setelah ia mengatakan pesanannya pada kasir, Siwon menoleh ke sisi kanan café dan menemukan Soyu yang sedang duduk bersama laki-laki yang juga dikenalnya, Kim Jaejoong. Siwon pernah bertemu dengan laki-laki itu beberapa kali saat mengunjungi rumah Hyesoo. Namun Siwon hanya mengetahui bahwa Kim Jaejoong adalah sabahat Donghae. Siwon tidak tahu jika Soyu juga mengenalnya. Setelah pesanannya siap, Siwon membawa satu cup Americano di tangannya lalu berjalan diam-diam mendekati mereka. Baik Soyu maupun Jaejoong tidak menyadari kehadiran Siwon yang duduk membelakangi Soyu, hanya dibatasi oleh pembatas kayu diantara mereka.

.

“Aku tahu semua hal yang kau lakukan, Kang Soyu. Aku rasa kita sudah tidak punya alasan apapun untuk bertemu”, kata Jaejoong mengawali pembicaraan mereka.

.

“Aku mencintaimu, oppa. Aku melakukan hal ini karena aku sangat mencintaimu”, kata Soyu.

.

.

BGM: Broken Heart (OST. Jeju Island Gatsby)

.

.

Mata Siwon terbelalak mendengar pengakuan yang keluar langsung dari bibir Soyu. Siwon pun bertanya-tanya dalam pikirannya perihal hubungan diantara Jaejoong dan Soyu. Siwon menduga ada hal besar yang tidak diketahuinya, yang disembunyikan oleh Soyu darinya. Hal yang sudah membuat keadaan yang terjadi akhir-akhir ini menjadi begitu rumit.

.

“Hhh… Kau cinta padaku? Lalu kau sebut apa perasaanmu pada laki-laki itu? Pikirkan baik-baik, Kang Soyu. Tidakkah kau berpikir bahwa kau memang ditakdirkan bersamanya? Kalian berdua begitu serasi. Mengkhianati orang yang mempercayai kalian dan menyakiti perasaan orang lain dengan mudah. Apa kau bahkan menyadari tindakanmu ini? Berhubungan dengan laki-laki yang sudah memiliki kekasih, disaat kau sendiri sudah memiliki seorang kekasih. Setelah semua hal yang kalian lakukan, kau masih bisa mengatakan bahwa kau mencintaiku? Kau tidak tahu apapun tentang cinta, Kang Soyu”, kata Jaejoong mengutarakan kekecewaannya pada Soyu.

.

“Lalu bagaimana cinta yang sesungguhnya menurut versimu? Hm? Bagaimana caramu mendeskripsikan kata itu? Jika aku salah melakukan semua hal ini karena aku begitu mencintaimu, maka apa yang seharusnya aku lakukan? Seperti apa pembuktian cinta itu? Seperti cintamu pada Lee Hyesoo?” tanya Soyu yang tidak bisa lagi menahan amarahnya.

.

Pertanyaan yang dilontarkan Soyu memberikan efek terkejut yang sama pada Jaejoong dan Siwon. Keduanya sama-sama memunculkan ekspresi marah dan terkejut secara bersamaan. Terlebih yang dirasakan Siwon. Selama ini ia sudah terjebak dalam kisah cinta yang diwarnai dengan kecemburuan seorang gadis pada kekasihnya yang mencintai orang lain. Siwon hanya dijadikan alat untuk membalaskan rasa sakit yang dirasakan Soyu karena laki-laki yang dicintainya mencintai Hyesoo. Seketika Siwon merasa sangat bodoh atas apa yang sudah ia lakukan pada Hyesoo.

.

“Hhh… Kau pikir aku tidak mengetahuinya, ‘kan?” tanya Soyu melanjutkan. “Aku tahu hal itu dengan sangat baik, oppa. Selama dua tahun kita bersama, tidak pernah sedetik pun hatimu untukku. Pikiran dan hatimu hanya tertuju pada satu gadis. Lee Hyesoo. Pernahkah kau memikirkan perasaanku? Tidak. Atau justru mungkin kau bahkan tidak pernah memikirkan aku. Hanya ada Lee Hyesoo dalam pikiranmu!” kata Soyu dengan emosinya yang mulai meningkat.

.

“Aku selalu berusaha, Kang Soyu. Aku selalu mengatakannya padamu bahwa aku akan berusaha. Selama ini kau tidak pernah keberatan akan hal itu. Selama ini aku juga tidak pernah mengkhianatimu”, kata Jaejoong dengan suara tenangnya.

.

“Kau sudah mengkhianatiku hanya dengan memikirkan Lee Hyesoo. Dan sekeras apapun usaha yang telah kau lakukan, pada akhirnya kau tetap tidak mampu. Aku tahu memang aku yang memintamu menjadi kekasihku. Awalnya aku pikir perasaanmu akan tumbuh dengan berjalannya waktu. Tapi bahkan setelah dua tahun berlalu, aku masih melihat tatapan yang sama. Tidak ada aku dalam pandanganmu. Kau justru masih menatap Lee Hyesoo dengan tatapan memuja itu. Bahkan saat ini pun, kau hanya memikirkan perasaannya. Kau membicarakan tentang rasa sakit setelah melihat keadaannya sekarang. Lalu aku? Bagaimana denganku? Bagaimana dengan rasa sakitku? Apa hal itu bahkan pernah terbersit dalam pikiranmu?” tanya Soyu dengan emosi yang meluap menjadi tetesan air mata di pipinya.

.

“Itulah alasanku menyakitinya, Kim Jaejoong. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya jika laki-laki yang dicintainya mencintai orang lain. Aku ingin dia merasakan rasa sakit yang selama ini aku rasakan. Dan saat ini, dia sudah merasakannya. Tidakkah kau menyadarinya? Lee Hyesoo tidak pernah menyukaimu sebagai seorang laki-laki. Dia hanya melihatmu sebagai sahabat dari saudara kembarnya. Bangun dari mimpimu, Kim Jaejoong. Kau tidak akan pernah bisa merubah keadaan itu”, sambung Soyu.

.

“Aku tidak pernah memimpikan hal itu, Kang Soyu”, jawab Jaejoong sambil menatap tajam tepat ke mata Soyu. “Kau bertanya bagaimana cinta menurut versiku? Kau selalu melihatnya. Aku tidak pernah menuntut apapun darinya. Aku sudah bertahan dalam keadaan itu semampuku. Aku selalu mengatakan padamu bahwa aku akan berusaha. Kau tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Jika kau tetap bersabar, mungkin suatu saat nanti aku bisa mulai belajar mencintaimu. Tapi sayangnya kau terlalu terburu-buru dan melakukan hal yang memalukan itu. Terima kasih karena sudah menyadarkanku akan siapa dirimu yang sebenarnya. Kita tidak perlu bertemu lagi setelah ini, Kang Soyu. Hiduplah dengan lebih baik”, kata Jaejoong yang segera berlalu meninggalkan Soyu.

.

“Berhenti disitu. Jangan pergi! Oppa!” seru Soyu yang melihat Jaejoong bangkit dari tempat duduknya.

.

Flashback selesai untuk sementara…

.

BGM: Super Junir KRY – Coagulation

.

“Saat itu kakakku hanya dibutakan oleh tipu daya Kang Soyu yang terlalu mencintai kekasih hebatnya ini, Kim Jaejoong, hingga mampu melakukan apapun untuk menyakiti gadis yang dicintai oleh kekasihnya ini. Jauh di dalam hatinya, Siwon oppa masih mencintai Hyesoo eonni. Siwon oppa menabrak Hyesoo eonni untuk mencegahnya terjatuh ke jurang yang di dasarnya terdapat banyak sekali baja dan serpihan jembatan rusak lainnya. Kalian pikir Hyesoo eonni akan tetap hidup jika jatuh kesana? Tidak mungkin. Tapi kalian justru memperlakukan Siwon oppa, yang sudah membuat Hyesoo eonni tetap hidup sampai detik ini, sebagai seorang penjahat”, kata Sooyoung dengan suara yang bergetar.

.

“Hyesoo eonni memang kehilangan ingatannya secara permanen. Tapi dia tetap hidup. Dia sangat sehat sampai hari ini. Kalian jangan pernah berpikir aku membenci hal itu. Aku justru bersyukur atas hal itu. Aku menyayangi Hyesoo eonni seperti kakakku sendiri. Aku tahu Siwon oppa sudah melakukan kesalahan besar pada Hyesoo eonni. Dia berselingkuh dengan seorang gadis yang sudah dibutakan oleh cinta tak terbalasnya. Karena itu aku datang untuk menebus kesalahan itu. Aku tidak datang untuk sebuah penyesalan atas kondisi Hyesoo eonni saat ini. Kalian memberikan tuduhan pada kakakku, bahkan disaat kalian tidak tahu kebenarannya. Ayah Hyesoo eonni sendiri mengatakan hal serupa. Bahwa beliau akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Siwon oppa. Bukankah itu tandanya Siwon oppa sudah melakukan hal yang benar dengan menabrak mobil Hyesoo eonni? Lalu kenapa kalian tetap menganggap Siwon oppa sebagai penjahat satu-satunya dalam kejadian itu?”, sambung Sooyoung yang mengambil jeda dalam penjelasannya.

.

“Bagaimana dengan orang yang menjadi sumber seluruh rasa sakit yang dirasakan Hyesoo eonni? Bagaimana dengan laki-laki hebat ini? Semua berawal dari cinta sepihakmu pada Hyesoo eonni yang akhirnya menyakiti Kang Soyu, kekasihmu. Pernahkah aku mencarimu dan menyalahkan semua mimpi buruk ini padamu? Tidak sekalipun. Aku tidak pernah melakukannya, Kim Jaejoong-ssi. Karena aku tidak punya hak untuk menyalahkanmu. Hanya Siwon oppa yang bersalah karena kebodohannya sudah percaya pada serigala itu. Begitu, bukan? Aku pikir kau akan mengerti dengan semua keadaan itu. Tapi kau justru menanyakan padaku kenapa dia tidak datang sendiri kesini dan menebus kesalahannya. Kau sudah mendengar jawabannya, Kim Jaejoong. Kakakku sudah menebus kesalahannya. Kakakku sudah menebus semua kesalahannya dengan nyawanya. Jika memang itu yang kalian harapkan darinya…” kata Sooyoung dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.

.

Flashback 2 tahun yang lalu

Saat Jaejoong, Soyu dan Siwon berada di café yang sama

.

Soyu pun mengambil tasnya dengan cepat dan mengikuti langkah Jaejoong. Keduanya keluar dari café lalu menyebrang ke sisi lain jalan. Siwon menyaksikan adegan itu dengan tatapan marah yang menjelaskan betapa terbakar hatinya. Siwon pun ikut bangkit berdiri dan berjalan keluar dari café. Ia menatap Jaejoong dan Soyu yang sedang bicara dengan emosi meluap di seberang jalan. Tanpa berpikir panjang, Siwon pun melangkahkan kakinya untuk menghampiri keduanya dan meminta penjelasan pada Soyu. Namun Jaejoong dan Soyu sudah juga melangkahkan kakinya menjauh, masih dengan perdebatan diantara mereka. Hingga saat Siwon menyebrang di jalan itu, ia tidak melihat ada truk yang melaju kencang dari kejauhan. Tubuh Siwon pun tertabrak oleh truk hingga terpental jauh dan membentur talang air. Sementara Jaejoong dan Soyu yang sudah berjalan menjauh tidak menyadari kejadian yang baru saja terjadi dibelakang mereka.

.

Siwon segera dilarikan ke rumah sakit. Ia terluka sangat parah. Terlalu banyak darah yang keluar dari tubuhnya. Tulang di kakinya patah, ada perdarahan di otaknya dan ada tulang rusuk yang menusuk sebelah paru-parunya. Meski masih bisa diselamatkan setelah menjalani operasi yang memakan waktu lama, dokter menyatakan bahwa Siwon berada dalam keadaan koma. Keluarga Siwon tidak pernah berhenti berharap akan kesembuhannya. Ibunya selalu menjaga Siwon siang dan malam (ayah Siwon bekerja sebagai dokter jantung di rumah sakit itu), sementara adiknya hanya bisa datang ke rumah sakit setelah jam sekolahnya berakhir. Tiga bulan berlalu, namun tidak ada perubahan dalam diri Siwon. Hingga dokter dengan berat hati mengatakan pada rekannya, dokter Choi, bahwa Siwon mengalami mati batang otak. Paru-paru Siwon pun sudah tidak menunjukkan kerja yang optimal. Saat ini, Siwon hanya bertahan hidup karena ventilator dan alat lain yang terpasang ditubuhnya. Jika semua alat itu dilepas, maka Siwon tidak dapat bertahan. Dokter yang menangani Siwon meminta keluarga Siwon mempertimbangkan untuk melepaskan seluruh alat itu dan mengakhiri penderitaan Siwon. Dengan berat hati, akhirnya dokter Choi menyetujui hal itu dan melepaskan semua alat dari tubuh anaknya. Dokter Choi merelakan kepergian anak laki-lakinya.

.

Flashback selesai…

.

BGM: Trax – Blind

.

Sooyoung pun melangkah pergi tanpa berpikir panjang. Hatinya begitu hancur setelah mengungkapkan kebenaran yang sudah terjadi dua tahun silam di Seattle. Rasa sakit menyelimuti seluruh tubuhnya, disetiap aliran darahnya karena kisah memilukan yang dialami kakaknya yang harus kembali ia ceritakan. Sooyoung membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melupakan kejadian terburuk dalam hidupnya itu. Namun hari ini Sooyoung harus kembali mengingat setiap detilnya tanpa tertinggal suatu apapun. Sebelum langkahnya sampai di ujung hutan, kakinya berubah menjadi lemas seperti jelly. Ia tidak bisa lagi menahannya. Sooyoung pun terduduk di tanah kening hutan rimbun itu. Ia menangis sekuat-kuatnya, mengeluarkan kepedihan yang ia rasakan. Seolah jantungnya baru saja dihantam oleh bola besar yang terbuat dari baja. Ia menutup mulutnya, mencegah suara isakan keluar dari bibirnya agar tidak ada orang lain yang mendengarnya. Rasa sakit itu begitu menghancurkannya.

.

“Oppa……” isak Sooyoung yang memanggil kakak laki-lakinya yang sudah tidak bisa lagi ada disisinya. “Oppa… Bantu aku, oppa…”

.

Sementara itu di pusat hutan, Ryeowook meremas rambut dikepalanya. Rasa sakit disetiap kata yang diucapkan Sooyoung menjalar ke tubuhnya. Ryeowook dapat merasakan rasa sakit yang sama. Lubang hitam itu kembali muncul dalam diri Ryeowook. Seolah baru saja ia diingatkan oleh kejadian yang menimpa adik perempuannya. Ryeowook dapat merasakan kehilangan dan rasa sakit yang dirasakan oleh Sooyoung. Lalu terdengar isakan dari Yoona. Air mata yang mengalir dari matanya sudah berubah menjadi isakan setelah mendengar semua hal yang dikatakan Sooyoung. Pikirannya berubah kacau dan kosong. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Hal yang serupa juga terjadi pada Jaejoong. Laki-laki itu hanya berdiri seperti patung. Berbagai emosi bercampur dalam benaknya. Setiap kalimat yang diucapkan Sooyoung memberikan kepiluan dalam dirinya. Seolah seseorang baru saja menamparkan dengan keras dan mengatakan padanya bahwa ia juga bersalah. Ia memiliki andil dalam kejadian itu. Dan disisi hutan yang berbeda, ternyata Hyesoo mendengar semua pembicaraan mereka. Hyesoo meremas sweater yang dikenakannya dan air mata sudah membasahi pipinya.

.

.

.

.

 – TBC –

 

Note:

Huah!!! Setelah membaca part ini, bagaimana kabar kalian, readers-nim? Adakah yang sampai tahan napas saking nyeseknya? Atau justru kalian mengerutkan kening karena bingung? Jadi, sudah dapat cukup pencerahan kah? Karena sudah saaaaangat banyak hal yang dijelaskan di part ini. Kalau pertanyaan kalian masih belum terjawab juga, aku cuma bisa pukul jidat terus puter otak lagi buat menjelaskannya ke kalian. Di part ini, kejadian di masa lalu yang menyebabkan kecelakaan pada Hyesoo sudah terungkap. Jujur, dari awal menulis FF ini aku udah gatel buat mengungkap cerita masa lalu Hyesoo itu. Tapi aku harus professional dan membiarkan kalian membuat kemungkinan-kemungkinan dengan pikiran kalian sendiri. Karena itulah seni dari membaca sebuah cerita. Sedikit curhat, part ini terasa sama beratnya untuk aku tulis dengan kalian yang membacanya. Aku tega nggak tega merangkai cerita menyedihkan itu. Huhu…

Oh ya, aku sudah sempat membaca comment-comment kalian. Sepertinya ada beberapa pertanyaan kalian yang terjawab di part ini. Maksud perkataan Soyu yang pernah bilang, “Hyesoo pernah merebut cintanya”, ternyata adalah Jaejoong, bukan Siwon. Ddaeng!!! Beberapa diantara kalian salah menebak hehe… (Gimana? Yang sempet baper, apakah aku sudah cukup berhasil bikin kesel kalian karena mempermainkan perasaan dan pikiran kalian dalam menebak? Maaf…) Ternyata Siwon hanya dimanfaatkan oleh Soyu untuk membalas rasa sakitnya pada Hyesoo. Jadi, menurut kalian, siapa yang harus disalahkan atas kejadian yang menimpa Hyesoo? Kalau aku sih tidak akan menyalahkan siapapun. Karena sebenarnya tujuan Siwon adalah untuk menyelamatkan Hyesoo. Terbukti, bukan? Hyesoo selamat, hanya kehilangan ingatannya (dalam perspektifku, lebih baik kehilangan ingatan daripada kehilangan nyawa. Kalian bebas memiliki perspektif yang lain kok). Dan siapa yang menyangka kalau Siwon yang justru mengalami kejadian yang lebih buruk dari Hyesoo (kembali lagi, ini berdasarkan perspektifku ya).

By the way, TBC nya agak sedikit ngeselin nggak sih? Kalau aku sebagai pembaca sih aku akan pukul-pukul tempat tidur karena kesel sama author nya… (serius, aku pernah begitu waktu menemukan TBC ditempat yang kurang tepat waktu baca beberapa FF). Hm… Aku berniat memberikan sedikit clue untuk kalian. Tapi sekali lagi aku kembalikan ke kalian untuk menduganya. Kira-kira nih ya, readers-nim, apakah Kyuhyun mengetahui seluruh kejadian itu? Secara, Kyuhyun kan sepupuan sama Siwon dan Sooyoung. Dan, Soyu, apakah Soyu juga mengetahui kejadian itu secara lengkap? Bagaimana dengan Donghae? Apa sikap yang akan ditunjukkan Donghae jika dia tahu hal ini? Jadi, kira-kira masih adakah hal yang belum terungkap dalam kisah ini? Kalian bebas memberikan pendapat kalian. Mungkin aku bisa menjawabnya di part-part selanjutnya. Aku janji akan memberikan love-line pada kalian di part selanjutnya. Siapakah yang akan terlibat dalam love-line itu? Masih Jaejoong dan Hyesoo? Atau justru terjadi plot twist menjadi Kyuhyun dan Hyesoo? Siapa yang geregetan menunggu part selanjutnya??? Kalian harus bersabar. Aku kasih satu bocoran lagi, konsep part 6 sudah dibuat sampai si TBC muncul. Ceritanya juga sudah ditulis 25%. Jadi, sabar ya, readers-nim. Okay! Aku sudah terlalu banyak tulis ini-itu. Kana pamit! Annyeonghigaseyo!!!

Advertisements

25 thoughts on “I’m walking towards you : Part 5

  1. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION – evilkyu0203

  2. Woooooww akhirnya terkuak semua cerita masa lalunya hyesoo… Tapi masih agak sedikit bingung y? Kenapa si soyu minta hyesoo jauhi kyuhyun…

    Like

  3. Aku fikir yang di maksud soyu itu siwon ,,ternyata salah besar .. siwon mendapat kebenciaan disaat dia sudah tidak bernyawa ,, ternyata otu dibalik kematian siwon ,, soyu dan jaejong juga ikut andil dong sama kejadian yang menimpa hyesoo dan siwon ,,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s