I’m walking towards you : Part 4

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast:

Cho Kyuhyun, Kim Jaejoong, Lee Hyesoo (OC), Kang Soyu

Im Yoona, Kim Ryeowook, Lee Donghae, Choi Sooyoung

Bae Irene (cameo), Shim Changmin (cameo), Choi Minho (cameo)

Disclaimer:

Annyeonghaseyo!!! “I’m walking towards you” kembali. Setelah membaca beberapa comment para readers di part sebelumnya, aku ingin meluruskan beberapa hal. Pertama, Donghae bukan sedang mendekati Yoona. Tapi mereka memang sudah berpacaran. Moment mereka berdua memang tidak banyak ditampilkan, karena alur cerita masih fokus ke tokoh utama. Kedua, Kyuhyun tidak kehilangan ingatannya “sama sekali”. Masalah satu-satunya yang dimiliki Kyuhyun adalah penyakit jantung yang dideritanya sejak kecil. That’s it! Tidak ada kecelakaan, tidak ada lupa ingatan, tidak ada yang lain. Dan untuk pertanyaan apa hubungan Kyuhyun dan Soyu dengan Hyesoo di masa lalu, kalian akan menemukannya perlahan di part ini atau part-part selanjutnya.

Caution! Cast dalam FF ini juga akan cukup banyak. Entah hanya sebagai cameo atau sebagai peran pendukung. Karena itu, fokuslah wahai para readers-nim. FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasia tau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com

Aku tidak bosan untuk selalu berpesan, jadilah pembaca yang baik dan sopan. Biasakan untuk tidak bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Karena aku yakin para readers adalah orang-orang yang terpelajar dan mengerti sopan santun. Benar? Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 3

“Donghae-ya, haruskah aku pindah ke rumah ini?”

“Tentu saja”

“Lee Donghae, apa kau tidak terlalu berlebihan?”

“Aku sudah memikirkannya baik-baik agar keadaan itu tidak terlalu memberatkanmu, Lee Hyesoo”.

“Bisakah aku tetap tinggal di apartment, lalu mereka hanya akan datang di waktu yang ditentukan?”

Negative. No possibility. Tetap pada rencanaku. Itu pilihan termudah dariku”.

————————-

“Menikmati kebebasan?”

“Apakah terlihat seperti itu?”

“Kau sendirian”.

“Sunbae disini. Dihadapanku”.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Aku sudah jauh lebih baik”.

“Tidak ada keluhan apapun lagi?”

“Tidak ada. Terima kasih karena sudah bertanya”.

“Kenapa kau seorang diri?”

“Karena aku ingin”.

“Melelahkan, bukan? Dijaga. Dikhawatirkan. Diatur banyak orang. Jika kau ingin menutupinya, maka lakukan dengan lebih bersungguh-sungguh, Lee Hyesoo”.

“Bagaimana sunbae melakukannya?”

“Berlatih seumur hidup. Jika itu jawaban yang ingin kau dengar”.

————————-

“Aku tidak berlari. Aku tidak pernah melakukan permainan bola apapun lebih dari 3 menit”.

“Waeyo?”

“Katakan padaku. Apa diagnosa yang kau temukan setelah mendengar penjelasanku?”

“Sunbae…memiliki masalah dengan jantungmu?”

“Tidak buruk… Kemampuanmu dalam menganalisa. Kau benar”.

“Bagaimana sunbae mengatasi rasa muak dengan semua penjagaan itu?”

“Aku tidak begitu”.

“Kau tidak lagi terlihat lelah, tapi lebih seperti muak dengan semua hal yang mereka lakukan untuk menjagamu”

“Selama mereka tidak mengurungmu di dalam kamar dan melarang kau melakukan apapun, biarkan mereka melakukan pekerjaan mereka. Kau hanya perlu melakukan pekerjaanmu”.

“Mereka pernah melakukan hal itu pada sunbae?”

“Terakhir kali aku melakukan kesalahan, kau juga ada di tempat itu. Tidak ada yang salah dari perasaan itu. Atasi dengan caramu”.

————————-

“Dasom-ah, kau mengenal gadis itu?”

“Siapa yang sedang kau bicarakan, Soyu-ya?”

“Gadis yang sedang duduk bersama Kyuhyun sunbae”.

“Lee Hyesoo. Mahasiswa yang baru pindah dari US beberapa bulan yang lalu. Ada apa?”

“Tidak ada. Dia hanya sedang mengulangi hal yang pernah dia lakukan”.

————————-

“Kau baik-baik saja? Ada apa?”

 “Aku baik-baik saja, sunbae. Hanya mimpi buruk”.

“Aku disini. Apa yang terjadi dalam mimpimu?”

“Aku tidak mau mengingatnya. Kapan sunbae datang?”

“Satu jam yang lalu”.

“Terima kasih karena sudah datang”.

“Aku hanya melakukan apa yang sudah seharusnya aku lakukan”.

————————-

.

.

.

I’m walking towards you : Part 4

.

.

Author’s POV

Apartment Hyesoo

Tiba-tiba Hyesoo tersadar. Ia sontak membuka matanya dan menjauh dari Jaejoong. Tautan bibir mereka terlepas. Napas Hyesoo kembali tercekat dengan keterkejutannya setelah momen tidak terduga yang baru saja terjadi. Tangan kanan Hyesoo yang berada di leher Jaejoong turun ke bahu lalu ke dada Jaejoong, menahan tubuh Jaejoong agar tetap pada jarak yang tidak terlalu dekat. Hyesoo mengatur napasnya yang memburu. Ia berdeham dan mengusap kening dengan tangannya yang bebas. Kemudian Hyesoo bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur dengan gerakan secepat yang ia bisa. Jaejoong pun mengikuti Hyesoo yang berjalan terburu. Hyesoo meraih gelas di meja makan, lalu berjalan ke meja dapur untuk menuangkan air ke dalam gelas itu. Jaejoong berhenti disisi meja dapur yang lain, menjaga jarak dari Hyesoo yang diserang kepanikan. Jaejoong tidak bicara, membiarkan Hyesoo mencerna semua hal dalam pikirannya. Hyesoo pun berbalik dengan tatapan mengarah pada lantai dapur, menghindari tatapan waspada Jaejoong.

.

“Hyesoo-ya…” kata Jaejoong akhirnya.

.

Hyesoo mengangkat tangannya, menahan Jaejoong untuk bicara lebih banyak. Otaknya belum kembali bekerja seperti semula. Jantungnya masih berdegup cukup kencang dan napas memburunya masih dalam proses menuju reda. Hyesoo memejamkan matanya, mencerna detik demi detik yang sudah lewat beberapa menit yang lalu. Setiap gerakan masih teringat dengan jelas dalam pikiran Hyesoo. Beberapa menit yang lalu, saat wajah Jaejoong yang mendekat bersamaan dengan sentuhan tangan dinginnya di leher Hyesoo. Lalu tangannya yang lain memberikan gerak refleks di kelopak mata Hyesoo agar terpejam. Sentuhan bibir Jaejoong mengacaukan sistem kerja otak Hyesoo. Sementara sentuhan telapak tangannya yang dingin mengalirkan getaran aneh di sekujur tubuhnya. Disaat tubuh Hyesoo menyerah pada getaran itu, Jaejoong meraih pinggang Hyesoo mendekat, membuat kerja otaknya semakin tidak menentu. Tanpa disadari, Hyesoo membalas ciuman Jaejoong. Kedua telapak tangan Hyesoo yang semula mengepal kuat karena terkejut berpindah ke leher dan punggung Jaejoong dengan cepat.

.

Sontak mata Hyesoo terbuka, kembali ke masa dimana ia dan Jaejoong sedang berdiri berhadapan dalam diam dengan dibatasi oleh jarak yang bahkan tidak mampu dijangkau oleh kedua tangan mereka. Mata Hyesoo terbuka lebar. Seolah menemukan penyebab kepanikan sesungguhnya yang ia rasakan. Bukan. Bukan tindakan Jaejoong yang membuatnya panik. Bukan pula refleks tubuhnya yang membalas ciuman Jaejoong dengan mudah. Ada hal lain yang bahkan tidak pernah terpikirkan akan datang dalam pikiran Hyesoo. Hal yang akan terdengar begitu konyol jika Hyesoo mengungkapkannya. Beberapa menit yang lalu, saat seorang Kim Jaejoong sedang menciumnya dengan lembut, wajah Kyuhyun muncul di kepala Hyesoo begitu saja. Wajah yang menunjukkan berbagai ekspresi mikro dibalik setiap kata yang diucapkan. Wajah itu muncul tanpa Hyesoo mengerti penyebabnya. Ia baru menghabiskan beberapa jam bersama Kyuhyun siang tadi. Namun semua hal yang terjadi saat bersamanya, dapat teringat jelas oleh Hyesoo.

.

“Itu bukan kesalahan, Hyesoo-ya”, kata Jaejoong yang menyadarkan Hyesoo dari lamunannya.

.

“Ne?” tanya Hyesoo yang ternyata tidak benar-benar memperhatikan ucapan Hyesoo.

.

“Apa yang baru saja aku lakukan bukan sebuah kesalahan. Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu”, kata Jaejoong.

.

“Sunbae, tentang itu aku……” kata Hyesoo, tidak menemukan kata untuk diucapkan pada Jaejoong. “Maafkan aku… Aku tidak bisa memikirkan hal lain, hal apapun. Sunbae… Aku sedang kembali menata hidupku yang sempat terhenti. Aku punya terlalu banyak hal yang harus aku lalukan. Aku menyukaimu dan juga menghormatimu sebagai seseorang yang dipercaya oleh orang-orang disekitarku. Aku ingin menjalani hidupku dengan perlahan, sunbae. Saat ini aku tidak……”

.

“Aku mengerti…” kata Jaejoong memotong ucapan Hyesoo. “Aku tidak sedang memintamu menerima perasaanku. Aku hanya ingin kau tahu isi hatiku. Aku bukan orang yang mampu mengatakan semua hal yang ku rasakan. Hanya saja… Kali ini aku tidak ingin kehilangan waktu lagi, Hyesoo-ya. Aku tidak bisa jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Dengan kata lain, aku hanya ingin kau tahu”, kata Jaejoong menjelaskan.

.

“Tanpa ekspektasi apapun?” tanya Hyesoo.

.

“Benar. Tanpa ekspektasi. Tanpa memberikan beban apapun”, jawab Jaejoong dengan senyum diwajahnya.

.

“Aku rasa tidak begitu…” kata Hyesoo tidak setuju dengan ucapan Jaejoong. “Sunbae justru baru saja memberikan beban padaku. Hhh…”

.

“Aku? Kenapa?” tanya Jaejoong.

.

“Sunbae menyatakan isi hati sunbae tanpa menaruh ekspektasi apapun. Lalu apa yang harus aku lakukan? Mulai saat ini, setiap kali aku bertemu denganmu aku akan teringat pada pernyataan isi hatimu itu. Sunbae membuatku menjadi orang yang jahat. Neomuhae…” kata Hyesoo.

.

“Hahaha… Setelah aku berpikir kembali, kau mengatakan hal yang benar. Aku jahat dengan menjadikanmu orang jahat dalam situasi ini. Situasi yang menarik…” kata Jaejoong dengan tawa kecilnya.

.

“Mwoya… Sunbae, tahukah bahwa saat ini sunbae sama anehnya dengan Lee Donghae? Auh… Menyebalkan…” keluh Hyesoo yang sudah berbalik untuk meletakkan gelas ditangannya.

.

“Aku menyebalkan? Kalau begitu kau tidak menyukaiku? Jika aku tidak salah, 2 menit yang lalu kau bilang kau menyukaiku, meski sebagai seorang teman. Mwoya, Lee Hyesoo…” kata Jaejoong menggoda Hyesoo.

.

“Sunbae, kali ini aku bersungguh-sungguh. Kau aneh. Hampir seaneh Lee Donghae…” kata Hyesoo sambil menunjukkan ekspresi frustrasi yang dibuatnya. “Sudahlah… Kita hentikan saja pembicaraan ini. Tidak akan ada habisnya jika dilanjutkan”. Hyesoo menghentikan topik pembicaraan secara sepihak.

.

Jaejoong hanya tertawa mendengarkan keluhan Hyesoo. Ia menarik sebuah kursi lalu duduk sambil memandangi Hyesoo yang sedang mengeluarkan beberapa bahan makanan yang dapat diolah dengan mudah. Perlahan senyum kecil menghiasi wajah Jaejoong. Ia sudah sangat menunggu hari dimana ia dapat mengungkapkan isi hatinya. Semua hal yang ia katakan pada Hyesoo bukan sebuah kebohongan. Jaejoong benar-benar tidak menaruh ekspektasi apapun. Satu-satunya hal yang ingin ia lakukan adalah menyatakan perasaannya pada Hyesoo, tanpa menuntut apapun. Karena tanpa jawaban atau tanggapan dari Hyesoo sekalipun, Jaejoong sudah dapat merasakan ketenangan yang begitu besar dalam hatinya. Ia hanya bisa berharap pada satu kenyataan yang terjadi. Hyesoo membalas ciumannya. Walaupun pada akhirnya ia harus menghadapi kepanikan Hyesoo, tapi respon pertama yang ia terima sudah memberikan kebahagiaan dalam dirinya. Jaejoong tetap tidak ingin terlalu berharap. Ia hanya akan terus berusaha untuk mendapatkan hati Hyesoo.

.

“Sunbae, bolehkah aku bertanya tentang satu hal?” tanya Hyesoo yang sedang mengiris halus sebuah bawang bombay.

.

“Tentu saja. Katakan”, jawab Jaejoong.

.

“Bagaimana caranya sunbae mengenal Donghae? Hm… Aku sudah mendengar bagian cerita dimana kalian berdua sama-sama pintar dan melompati tingkatan kelas, kemudian berakhir di kelas yang sama. Lalu? Aku yakin dalam kelas itu Donghae tidak terlihat seperti anak yang baik. Bagaimana kalian akhirnya memutuskan untuk menjadi teman?” tanya Hyesoo yang kini sedang memotong dadu paprika.

.

“Kau benar-benar ingin mendengarnya?” Jaejoong balas bertanya.

.

“Eo…” jawab Hyesoo.

.

“Kau akan menyesal jika mendengarnya. Karena aku tidak bisa mengeluarkan peranmu dalam ceritaku ini”, kata Jaejoong.

.

“Peranku? Aku ada dalam cerita itu? Hmm… Aku menjadi semakin penasaran. Ceritakan padaku, sunbae…”

.

“Darimana aku harus memulainya?” Jaejoong bertanya pada dirinya sendiri. “Hm… Saat itu abeoji ditugaskan untuk bekerja di Seattle. Abeoji bersikeras mengajak kami sekeluarga untuk pindah. Lalu kepindahan kami berlangsung begitu cepat. Sampai aku didaftarkan disebuah sekolah. Saat berjalan disepanjang koridor, beberapa orang memandangku dengan tatapan yang tidak ku mengerti. Guru yang mengantarku mengajakku masuk ke sebuah kelas. Aku mendapatkan tatapan tidak bersahabat dan tatapan tidak peduli dari beberapa siswa. Awalnya aku memutuskan untuk tidak peduli dan menjalani kehidupan sekolahku tanpa orang lain. Tapi sesaat setelah bel istirahat berbunyi, seorang anak menghampiriku dengan senyum konyol diwajahnya”, kata Jaejoong menjelaskan.

.

“Dia sangat aneh, bukan?” tanya Hyesoo yang tertawa kecil.

.

“Dia unik, berbeda…… dan aneh”, kata Jaejoong setuju dengan ucapan Hyesoo. Keduanya tertawa bersama. Disaat yang sama, Hyesoo memasukkan bahan makanan yang sudah ia persiapkan ke wajan untuk di tumis.

.

“Lalu?” tanya Hyesoo lagi.

.

“Lalu kami berteman. Beberapa siswa di sekolah itu menjadikan Donghae sebagai rival akademis mereka. Sementara aku merasa diasingkan sebagai seorang siswa baru. Donghae menawarkan diri sebagai temanku dengan satu syarat, yaitu dia tidak perlu memanggilku dengan sebutan Hyung. Hhh… Bocah itu…” kata Jaejoong.

.

“Kapan aku akan muncul dalam cerita itu?” tanya Hyesoo santai.

.

“Aku minta maaf, Hyesoo-ya”, kata Jaejoong.

.

“Minta maaf? Untuk?” tanya Hyesoo lagi.

.

“Aku sudah berbohong padamu”, jawab Jaejoong.

.

“Aku tahu… Dan aku harap kita memikirkan hal yang sama, sunbae”, kata Hyesoo dengan senyum tipis dibibirnya. “Aku hanya tahu satu hal. Sunbae sudah mengenalku untuk waktu yang lama. Benar?”

.

“Benar. Untuk waktu yang cukup lama…” jawab Jaejoong dengan suara pelan. “Sampai hari ini aku masih mengingat hari itu, saat pertama kali aku bertemu denganmu. Hari itu Donghae mengundangku berkunjung ke rumah kalian. Sebelumnya Donghae sudah pernah bercerita padaku bahwa dia mempunyai dua orang adik perempuan. Saat itu aku berpikir bahwa adik yang Donghae maksud masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dan yang lainnya masih di sekolah dasar. Aku merasa yakin dengan dugaanku saat bertemu dengan Hyeri di ruang keluarga rumahmu. Aku pikir akan ada seorang gadis kecil yang berlari menghampiri oppa-nya yang baru saja pulang dari sekolah. Namun dugaanku salah. Seorang gadis yang sedang beranjak dewasa keluar dari salah satu kamar, lalu duduk tepat disebelah Hyeri. Saat matanya menangkap sosokku yang duduk di sofa tidak jauh dari tempatnya, matanya sontak melebar, lalu dia menganggukkan kepalanya memberikan salam padaku. Dia juga tersenyum. Semula aku berpikir gadis itu adalah kekasih Donghae. Sampai aku menemukan sorot mata yang sama dengan Lee Donghae di mata gadis itu. Hyeri tidak memiliki sorot mata itu. Tapi gadis itu memilikinya. Aku tidak pernah menyangkal bahwa aku terpesona padanya. Gadis itu melem…..”

.

“Ibwayo Kim Jaejoong-ssi!” kata Hyesoo memotong pembicaraan Jaejoong. “Geu nyeo-neun……ireum isseogeodeunyo! (Gadis itu……punya nama!)” protes Hyesoo sambil tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya perlahan.

.

“Baiklah… Gadis itu, Lee Hyesoo, dia melemahkan fungsi sarafku. Dia juga mempercepat kerja jantungku. Jika aku tidak salah mengingat, hari itu aku merasa seolah waktu berhenti unt…..”

.

“Aku sarankan, berhenti menonton drama televisi terlalu sering, sunbae. You’re too……cheesy”, sela Hyesoo.

.

“Sampai kapan kau mau memotong ceritaku, Lee Hyesoo? Kau yang memintaku menceritakannya, tapi kau juga yang selalu memotongnya”, protes Jaejoong.

.

“Okay… Sorry…” kata Hyesoo menyesal sambil tersenyum. “Baiklah. Lanjutkan…”

.

“Kau tidak akan memotongnya lagi?”, tanya Jaejoong yang dijawab dengan gelengan oleh Hyesoo. “Aku merasa seolah waktu berhenti disekitar kami. Senyumnya begitu ramah dan menenangkan. Aku tidak menyangka jika ada seorang gadis dengan wajah seperti Donghae, yang bisa membuatku terpana begitu lama”, lanjut Jaejoong menjelaskan dengan nada bercandanya setelah menyadari alasan dibalik tindakan Hyesoo yang sering memotong pembicaraannya. Hyesoo tidak ingin Jaejoong mengungkapkan perasaan padanya.

.

“Tapi sunbae, tiba-tiba aku teringat akan satu hal”, kata Hyesoo.

.

“Katakan…”

.

“Sunbae berteman dengan Donghae untuk waktu yang cukup lama, apakah Yoona dan Ryeowook juga mengetahuinya? Seingatku, di hari pertama kita bertemu di kampus, mereka menceritakan tentangku padamu. Jangan katakan bahwa sunbae juga menyembunyikannya dari mereka berdua”, kata Hyesoo mengungkapkan dugaannya.

.

“Mereka tahu aku berteman dengan Donghae. Aku mengenalmu? Mereka tidak pernah tahu. Kau tahu dengan baik, Donghae bukan tipe orang yang suka menceritakan hal yang tidak perlu. Donghae hanya memberitahu kekasihnya, Im Yoona, bahwa aku adalah sahabat lamanya. Donghae tidak sampai memberitahukan cerita tentang aku yang mengenalmu”, kata Jaejoong menjelaskan.

.

“Ah… Begitu rupanya…” kata Hyesoo.

.

“Pertanyaanmu sudah habis? Tidak ada lagi yang lainnya?” tanya Jaejoong yang kembali hanya dijawab dengan gelengan oleh Hyesoo. Namun kali ini dengan tawa kecil yang terdengar keluar dari bibirnya. “Kalau begitu, aku yang akan bertanya padamu”.

.

“Silahkan…”

.

“Jawab tanpa menutupi apapun?” tanya Jaejoong yang seolah mengajukan syarat pada Hyesoo.

.

“Tanpa menutupi apapun”, kata Hyesoo mengulangi ucapan Jaejoong.

.

“Ryeowook hanya menganggapmu sebagai teman baik, sahabat, dan……keluarga?” tanya Jaejoong.

.

“Benar…” jawab Hyesoo singkat dengan senyuman yang menyertai ucapannya.

.

“Lalu siapa yang disukai oleh Ryeowook?” tanya Jaejoong penasaran.

.

“Beberapa saat yang lalu sunbae baru saja menyebutkan nama gadis itu”, jawab Hyesoo tidak langsung pada inti jawabannya.

.

“Lee Hyeri???”

.

“Wah… Otakmu boleh juga… Sunbae memang pintar”, kata Hyesoo dengan tawa kecilnya.

.

“Jadi Lee Hyeri? Ch… Lalu apa alasan Ryeowook bersikap begitu protektif padamu? Aku tahu kau ingin aku bertanya tentang hal ini langsung pada Ryeowook atau pada orang lain yang benar-benar tahu. Kau bisa mengatakan hal yang kau tahu. Setelah itu aku akan bertanya pada Yoona, atau langsung pada Ryeowook. Bagaimana?” tanya Jaejoong.

.

“Hhh… Baiklah…” jawab Hyesoo.

.

“Dan…alasannya adalah?” tanya Jaejoong lagi.

.

“Hm… Aku tidak tahu darimana aku harus memulainya. Aku akan langsung saja pada pokok permasalahannya”, kata Hyesoo.

.

Kemudian Hyesoo menarik napas panjang, mematikan api kompor dan meletakkan benda yang sedang dipegangnya, sebelum memberikan penjelasan pada Jaejoong. “Ryeowook pernah kehilangan adik perempuannya. Hm… Dia meninggal karena kecelakaan. Satu setengah bulan setelah kejadian menyakitkan itu, aku mengalami kecelakaan. Mereka (keluarga dan teman-teman Hyesoo) mengatakan aku koma untuk waktu yang lama. Tanpa disadari, Ryeowook selalu datang ke rumah sakit setiap harinya, memastikan napasku masih berhembus dan jantungku masih berdetak. Setelah aku bangun dari tidur panjangku, Ryeowook tidak pernah meninggalkanku. Dia menghadapi labilnya emosi dan kondisiku dengan semua kesabaran yang dia punya. Ryeowook selalu datang dengan senyuman diwajahnya dan bersikap seolah tidak pernah ada kejadian apapun yang terjadi padaku. Dia ingin aku berada dalam keadaan baik-baik saja. Physically and mentally“.

.

Hyesoo mengambil jeda dari penjelasannya. Ia kembali menghela napasnya yang kini berubah berat. “Aku melukainya, sunbae. Aku tidak sengaja melakukan kesalahan itu padanya. Kondisiku telah melukainya. Aku membuka lukanya yang bahkan belum tertutup sempurna. Karena itu, sampai sekarang aku masih berusaha menebus kesalahanku”.

.

“Dengan mengikuti apa yang Ryeowook katakan?”

.

“Benar. Selama dia mengatakan hal yang masih bisa aku lakukan, aku tidak keberatan untuk mengikuti semua hal yang Ryeowook inginkan”, jawab Hyesoo dengan senyum diwajahnya.

.

Jaejoong balas tersenyum pada Hyesoo. Benar yang dikatakan Ryeowook padanya. Setelah kecelakaan itu, Hyesoo menjadi lebih ceria. Hyesoo lebih memikirkan dan mendahulukan orang lain dari dirinya sendiri. Walaupun bagi Jaejoong, Hyesoo yang ada dihadapannya saat ini masih seperti Hyesoo yang dulu ia kenal dengan baik. Senyum khas itu masih ada di wajah cantik Hyesoo. Suara tawa Hyesoo juga masih semerdu yang Jaejoong ingat. Hyesoo hanya menjadi seorang yang lebih berhati-hati saat ini. Jaejoong tetap merasa beruntung bisa berada didekat Hyesoo, meski ia harus kembali memulai semua hal dari awal.

.

.

BGM : Love X Stereo – Hide and Seek (OST Ver.)

.

.

Keesokkan harinya

Medical Faculty

K University

.

Hyesoo keluar dari ruang dosen setelah menemui dosen yang memanggilnya seusai kelas berakhir. Hyesoo membuka laporan miliknya yang sudah diperiksa dan dinilai oleh dosen Interna nya, dokter Jo. Ada beberapa catatan yang diberikan oleh dokter Jo yang harus Hyesoo perhatikan untuk perbaikan dilaporan selanjutnya. Hyesoo memeriksa halaman demi halaman dalam laporan itu, memastikan tidak ada catatan yang terlewat olehnya.

.

“Lama tidak bertemu…” kata suara seorang perempuan yang tiba-tiba menghampiri Hyesoo di depan ruang dosen.

.

Hyesoo pun menoleh pada sumber suara itu dengan tatapan bingung. Perempuan itu bertubuh cukup tinggi dan berisi dengan rambut panjang sepinggangnya. Kulitnya kecokelatan hasil proses tanning, namun tidak terlihat begitu mencolok. Perempuan itu menatap Hyesoo dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan cepat, menunggu tanggapan Hyesoo atas sapaannya baru saja.

.

“Kau bicara padaku?” tanya Hyesoo dengan nada sopan.

.

Tidak ada alasan berarti dari perilaku Hyesoo. Tentu saja Hyesoo harus menyapa perempuan itu sesopan yang ia bisa. Hyesoo baru berada di kota itu selama beberapa bulan. Jika ia kembali ke Seoul dalam keadaan baik-baik saja, mungkin Hyesoo akan lebih tenang dalam menghadapi orang-orang disekitarnya. Namun dengan hilangnya ingatan Hyesoo, ia tidak bisa memperlakukan semua orang dengan perilaku yang sama. Hyesoo tidak mengenal terlalu banyak orang di kota itu. Walaupun kenyataannya Hyesoo mungkin saja mengenal cukup banyak orang di Seoul, tapi Hyesoo tidak benar-benar mengenal siapapun. Dan sosok perempuan ini tidak ada dalam ingatan Hyesoo.

.

“Apa ini, Lee Hyesoo? Baru beberapa tahun kita tidak bertemu. Kau sudah dengan mudah melupakanku?”, tanya perempuan itu.

.

Mata Hyesoo melebar beberapa milimeter saja setelah mendengar apa yang dikatakan perempuan itu. Dari ucapannya, Hyesoo memiliki keyakinan bahwa dirinya mengenal perempuan dihadapannya ini sebelum kecelakaan itu terjadi. Akhirnya perasaan tidak nyaman itu kembali menghampiri. Hyesoo tidak menyukai perasaan itu. Tidak pernah. Hyesoo tidak suka situasi dimana ia terjebak antara dua pilihan. Pertama, menyapa orang tersebut dengan sikap yang lebih nyaman, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Atau kedua, mengatakan yang sejujurnya bahwa ia tidak mengingat orang tersebut. Tidak lama berselang, sebuah pemikiran lain menghampiri Hyesoo. Jika setelah hari ini ia akan bertemu dengan perempuan ini lagi, maka lebih baik Hyesoo tidak melakukan pilihan pertama, meski akan menyebabkan rasa canggung pada perempuan itu. Namun kembali, Hyesoo didera oleh perasaan bersalah jika ia mengatakan hal yang sebenarnya pada perempuan itu.

.

“Ah, ne, annyeonghaseyo…” hanya kata sapaan itulah yang bisa keluar dari bibir Hyesoo.

.

“Mwoya… Konsep apa yang sedang kau mainkan, Lee Hyesoo?” tanya perempuan itu dengan smirk diwajahnya.

.

Kembali ada seorang lain yang menggunakan kata ‘konsep’ padaku. Apakah perempuan ini benar-benar mengenalku? Atau dia hanya berprasangka seperti Kyuhyun sunbae? Ah… Aku benci situasi ini…” kata Hyesoo dalam pikirannya.

.

“Kau benar-benar tidak mengingatku? Semudah itu kau melupakanku? Ch… Kau benar-benar hebat, Lee Hyesoo”, kata perempuan itu lagi.

.

“Aku minta maaf”, kata Hyesoo bersungguh-sungguh.

.

“Baiklah… Entah kau sedang berpura-pura atau memang kau sudah melupakan aku”, kata perempuan itu sambil memindahkan tasnya ke tangan yang lain. “Kita bisa mulai mengenal satu sama lain dari awal. Aku Kang Soyu. Mahasiswa kedokteran tingkat tiga sepertimu. Jika saat ini kau sedang berpikir ‘kenapa kau tidak pernah bertemu denganku?’ Maka jawabannya adalah karena aku duduk di kelas B. Senang bisa bertemu lagi denganmu di kota ini, Lee Hyesoo”, kata Soyu dengan penekanan nada saat menyebut nama Hyesoo.

.

“Ne. Senang bertemu denganmu juga”, balas Hyesoo.

.

“Hhh… Bernarkah?” tanya Soyu dengan nada sinisnya. “Luar biasa… Sejauh itu kah kau melupakanku hingga kau bisa mengatakan bahwa kau senang bertemu denganku?”

.

“Ne? Apa maksudmu, Soyu-ssi?” tanya Hyesoo bingung.

.

“Tidak ada. Baiklah. Aku ikuti konsepmu. Aku jadi penasaran, kira-kira konsep apa yang akan kau gunakan saat bertemu denganku dilain kesempatan. Sampai bertemu, Lee Hyesoo”, kata Soyu yang langsung berlalu meninggalkan Hyesoo.

.

Hyesoo menatap kepergian Soyu dengan raut bingung diwajahnya. Tanpa perlu mengenal Soyu lebih jauh pun Jiah seolah sudah dapat membaca perempuan itu dengan mudah. Sapaannya tidak terdengar bersahabat. Sepanjang pembicaraan singkat mereka Soyu juga menunjukkan sikap dinginnya pada Hyesoo. Tidak ada sapaan hangat seorang teman ataupun senyum mengembang bersahabat di wajah Soyu. Hyesoo pun menduga bahwa hubungan keduanya tidak begitu baik sebelum Hyesoo kehilangan ingatannya.

.

“Hyesoo sunbae!” seru seseorang dari belakangnya.

.

“Eo! Irene-ah…” kata Hyesoo balas menyapa dengan senyuman diwajahnya.

.

Irene menghampiri Hyesoo dengan langkah setengah berlarinya. “Kelas sunbae sudah selesai?” tanya Irene.

.

“Eung… Kelasku sudah berakhir satu jam yang lalu”, jawab Hyesoo. “Kau sudah makan siang?”

.

“Belum. Karena itu aku memanggil sunbae”, jawab Irene diikuti dengan tawanya.

.

“Aku juga. Ayo kita makan siang bersama”, kata Hyesoo yang segera mengajak Irene berjalan menuju cafetaria kampus.

.

Sepanjang koridor Irene menunjukkan wajah resahnya. Sementara Hyesoo menerima salam yang diberikan beberapa juniornya dengan senyuman seramah yang mampu ia berikan. “Tapi, sunbae……” kata Irene akhirnya. Namun ia menghentikan ucapannya karena rasa ragu yang menghampirinya.

.

“Ada apa?” tanya Hyesoo.

.

“Aku tahu ini bukan kepentinganku. Aku hanya ingin tahu, apa yang Soyu sunbae katakan padamu?” tanya Irene.

.

“Soyu? Ah… yang baru saja bicara padaku? Dia hanya menyapaku. Sepertinya dulu kami saling mengenal dan aku tidak mengingatnya. Aku jadi sedikit merasa bersalah karena sikapku padanya tadi”, jawab Hyesoo. “Kau mengenalnya juga?”

.

“Tentu saja, sunbae. Siapa yang tidak mengenal Soyu sunbae di gedung ini. Wanjeon Idol-iyeyo geu sunbae-ga (sunbae itu benar-benar idola). Dia cantik, bertubuh indah, dan juga pintar. Tapi, sikapnya tidak secantik wajahnya. Jadi, ini kali pertama sunbae bertemu dengannya?” tanya Irene lagi.

.

“Benar. Ah… Sepertinya aku pernah bertemu dengannya bertahun yang lalu. Tapi karena aku tidak mengingatnya, jadi hari ini adalah pertemuan pertama kami. Kenapa kau menanyakan hal itu?” Hyesoo balas bertanya.

.

“Tidak apa-apa. Hanya saja… Selama ini Soyu sunbae sangat jarang bicara dengan mahasiswa lain selain teman-temannya”, kata Irene menjelaskan pada Hyesoo.

.

“Benarkah?” tanya Hyesoo.

.

“Ne. Kalaupun Soyu sunbae melakukan hal itu, hanya ada dua kemungkinan. Pertama, Soyu sunbae menyukai orang itu, kedua Soyu sunbae justru sangat tidak menyukainya”, sambung Irene.

.

“Sepertinya dia tidak menyukaiku”, kata Hyesoo mengutarakan dugaannya.

.

“Mungkin saja, sunbae. Mwo… Soyu sunbae tidak menyukai orang lain selain dirinya”, kata Irene dengan nada bercandanya.

.

“Tentu tidak. Pasti ada beberapa orang lain yang dia sukai. Hanya saja, kita tidak punya kesempatan untuk melihatnya langsung”, kata Hyesoo memberikan tanggapan positifnya.

.

“Sunbae mungkin benar… Hm… Tahukah, sunbae? Soyu sunbae seringkali jadi bahan pembicaraan mahasiswa di fakultas ini. Ada yang memuji kecantikannya, ada yang membicarakan prestasinya, tapi ada juga yang membicarakan sikap buruknya pada orang lain. Awalnya ada begitu banyak mahasiswa yang memuji kelebihannya. Namun seiring berjalannya waktu, pujian itu perlahan berubah menjadi keluhan. Hhh… Soyu sunbae sangat mengetahui bahwa dirinya cantik dan berbakat. Karena itu sesekali ia terlalu arrogant”, kata Irene menjelaskan.

.

“Karena itukah dia memperlihatkan tatapan mengintimidasi itu padaku?” tanya Hyesoo pada dirinya sendiri dengan suara pelan.

.

“Soyu sunbae memperhatikan semua mahasiswi di fakultas ini dengan tatapan yang sama, sunbae. Tidak perlu dipikirkan”, kata Irene yang ternyata mendengar Hyesoo.

.

“Eo… Kau benar…” kata Hyesoo memberikan tanggapannya.

.

Tidak. Hyesoo tidak benar-benar merasakan hal itu. Hyesoo tidak bisa mengacuhkan hal itu begitu saja. Sudah terlalu banyak hal yang ia alami setelah kecelakaan beberapa tahun yang lalu terjadi padanya. Ia selalu berusaha untuk tidak mempedulikan banyak hal dan memulai semuanya dari awal. Namun situasi yang sering menghampirinya justru memaksanya untuk berpikir dan mencari tahu. Semakin banyak situasi yang datang, semakin ia merasa bersalah pada orang-orang itu. Hyesoo sangat mengetahui kenyataan bahwa dirinya tidak akan pernah kembali mengingat apapun yang terjadi di masa lalunya. Meski ia sudah melakukan usaha apapun yang mampu ia lakukan, tidak pernah ada ingatan yang kembali padanya.

.

.

#########################

.

.

Satu jam yang lalu, Hyesoo dan Irene memang berniat untuk makan di cafetaria fakultas kedokteran bersama. Namun ternyata kondisi cafetaria yang terlalu banyak orang membuat mereka mengurungkan niat untuk makan disana. Akhirnya keduanya memutuskan untuk makan di cafetaria fakultas ekonomi yang memiliki jarak terdekat dari gedung mereka. Awalnya keduanya merasa canggung berada disana. Tapi kondisi dimana tidak ada satupun mahasiswa yang mengenal mereka disana justru membuat keduanya dengan bebas melakukan ritual makan siang mereka sambil sesekali membicarakan banyak hal. Setelah hampir satu jam, Irene menerima panggilan dari teman satu kelasnya yang memberitahukan bahwa jadwal kelasnya dimajukan. Hyesoo yang mendengarnya menyuruh Irene pergi terlebih dahulu dan meninggalkannya disana tanpa perlu mengkhawatirkannya. Irene pun meminta maaf pada Hyesoo karena tanpa sengaja harus meninggalkan Hyesoo seorang diri.

.

Setelah kepergian Irene, Hyesoo tidak serta merta pergi dari tempatnya. Ia memutuskan untuk melatih dirinya. Satu hal yang hanya diketahui beberapa orang, sampai saat ini Hyesoo belum bisa berada di keramaian seorang diri. Ia hanya bisa bertahan paling lama tiga puluh menit. Itulah alasan dibalik penolakan Hyesoo untuk makan siang di cafeteria fakultas kesehatan. Kedatangan Hyesoo dan Irene di cafeteria fakultas ekonomi awalnya disebabkan oleh keadaan yang tidak terlalu ramai. Hyesoo tidak menduga keadaan cafeteria ini menjadi ramai hanya dalam 20 menit. Hyesoo sudah berusaha tetap duduk disana seorang diri selama 15 menit. Ia masih harus mengalahkan rekor terakhirnya sendiri. Setidaknya ia butuh 20 menit ke depan untuk hal itu. Tanpa ia sadari, tangannya sudah menggenggam gelas yang berada di hadapannya dengan sangat erat. Hyesoo berusaha mengatur napasnya agar tidak memburu. Sesekali ia menyentuhkan jarinya ke daerah dibawah rahangnya untuk menghapus jejak keringat yang sudah muncul dalam jumlah yang cukup banyak sejak beberapa menit yang lalu. ‘Tidak boleh. Aku tidak boleh mengalami anxiety attack ini sekarang. Sebelumnya keadaanku sudah jauh lebih baik’, kata Hyesoo dalam pikirannya.

.

“Melakukan percobaan tanpa pengawasan?” tanya sebuah suara berat tiba-tiba dari arah kanan Hyesoo.

.

Hyesoo sontak menoleh dan menemukan Cho Kyuhyun sedang berdiri memperhatikannya tanpa ekspresi. Tidak hanya itu, Hyesoo juga menyadari tatapan hampir seluruh mahasiswa yang ada di cafeteria itu tertuju padanya. ‘Tentu saja… Orang yang sedang bicara padamu adalah Cho Kyuhyun, Hyesoo-ya. Semua orang mengenal laki-laki itu’, pikir Hyesoo.

.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Kyuhyun yang berjalan mendekat karena tidak segera mendapatkan jawaban atas pertanyaannya yang sebelumnya.

.

“Ne? Tidak ada. Aku hanya makan siang”, jawab Hyesoo dengan suara yang terdengar bergetar itu.

.

“Melakukan sebuah percobaan tanpa ada pengawasan dari siapapun bukan ide yang bagus, Lee Hyesoo. Terlalu beresiko”, kata Kyuhyun yang sudah duduk disamping Hyesoo.

.

Tatapan kerumunan mahasiswa disekitarnya semakin intens ditujukan padanya setelah Kyuhyun duduk tepat disebelahnya. Rasa gugup Hyesoo pun semakin meningkat. Kini tangannya terlepas dari gelas dan mengepal kuat. Kyuhyun yang menyadari hal itu menghela napas panjang lalu menoleh pada Hyesoo, menatapnya tajam, menunggu reaksi terburuk yang bisa terjadi pada Hyesoo. Tidak segera memberikan respon, Hyesoo justru menundukkan kepalanya perlahan kemudian memindahkan kedua tangannya ke atas pangkuannya. Kyuhyun dapat melihat dengan jelas butiran keringat yang mulai membasahi tubuh Hyesoo, tangan Hyesoo yang gemetar, dan helaan napas Hyesoo yang semakin berat.

.

“Sudah cukup. Percobaan hari ini sampai disini saja, eo?” kata Kyuhyun akhirnya.

.

Hyesoo kembali berdeham lalu mencoba menoleh pada Kyuhyun. “Ne?”

.

“Ayo pergi dari sini, Hyesoo-ya”, kata Kyuhyun.

.

“Waeyo?” tanya Hyesoo.

.

“Aku bilang, ayo kita pergi dari sini, Lee Hyesoo”, bujuk Kyuhyun tanpa menjawab pertanyaan Hyesoo. Kembali. Tidak ada jawaban atas bujukannya. Hyesoo hanya menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Kyuhyun mengerti. “Ayo… hm?” Kyuhyun membujuk Hyesoo sekali lagi.

.

Hyesoo menghela napasnya lalu menganggukkan kepalanya dengan cepat. Tanpa mempedulikan tatapan orang-orang disekitarnya, Kyuhyun menyentuh lengan Hyesoo untuk membantunya berdiri. Mata Kyuhyun sempat melebar saat merasakan betapa dinginnya temperature tubuh Hyesoo di telapak tangannya. Setelah Hyesoo sudah benar-benar berdiri tegak, Kyuhyun meletakkan tangan Hyesoo dilengannya lalu tersenyum pada Hyesoo. Keduanya pun mulai berjalan keluar dari cafeteria.

.

“Kau sudah berusaha… Kerja bagus…” bisik Kyuhyun sambil menepuk pelan tangan Hyesoo yang merangkul di lengannya.

.

Kyuhyun membawa Hyesoo ke sebuah taman yang berjarak tidak terlalu jauh dari gedung fakultas ekonomi. Mereka duduk disebuah bangku yang berada tepat dibawah sebuah pohon rindang yang memberikan kesejukkan. Kyuhyun meletakkan tas nya di bangku itu, lalu bangkit berdiri, membiarkan Hyesoo mengatur napasnya yang memburu. Setelah berjalan beberapa langkah ke depan, Kyuhyun berbalik. Ia menatap Hyesoo yang saat ini sedang memejamkan matanya sambil menyeka keringat yang membasahi permukaan kulitnya. Tiba-tiba angin berhembus, menerbangkan helaian rambut terurai Hyesoo, menjauhi wajahnya. Kini Kyuhyun dapat melihat wajah Hyesoo dengan lebih jelas. Warna pucat pasi itu semakin terlihat karena tidak adanya riasan di wajah Hyesoo. Kyuhyun tersenyum tipis. Namun saat Hyesoo membuka matanya, Kyuhyun kembali menunjukkan wajah tanpa ekspresi itu diwajanya dan berbalik dengan cepat sebelum Hyesoo menyadarinya. Kyuhyun menghela napas sambil membuat suara helaannya itu.

.

“Apa ini? Kita selalu bertemu dalam keadaan yang kurang menyenangkan. Kau pasti sengaja membuatku selalu melihat keadaan menyedihkanmu itu ‘kan, Lee Hyesoo?” tanya Kyuhyun dengan nada bercandanya. Ia berbalik dan menatap Hyesoo, menunggu respon dari gurauan yang ia tahu tidak akan menimbulkan efek terhibur itu.

.

Hyesoo tersenyum tipis, terhibur dengan keluhan unik yang dilontarkan Kyuhyun baru saja. “Terima kasih, sunbae”, kata Hyesoo tanpa menatap Kyuhyun.

.

“Mwo… Aku melakukannya dengan sukarela kali ini. Lain kali kau harus mengajakku makan sesuatu jika aku melakukannya lagi”, kata Kyuhyun yang masih berusaha mencairkan suasana.

.

“Tentu saja…” kata Hyesoo yang kini menatap Kyuhyun. “Tapi, bagaimana kau bisa mengetahuinya? Semua orang disana tidak menyadari kondisiku dengan mudah”.

.

“Aku tahu…” kata Kyuhyun dengan jeda pada kalimat yang diucapkannya. “Aku sangat tahu keadaan itu. Aku pernah mengalaminya… Dan jangan tanyakan apapun lagi setelah ini. Aku tidak akan menjawabnya”, jawab Kyuhyun dengan senyum mengembang diwajahnya. “Yah… Uri yakhan saramdeul-ine… (Kita orang-orang lemah ternyata…). Tidak baik. Ini tidak baik… Seharusnya aku tidak boleh bertemu denganmu terlalu sering seperti ini. Ah… Bagaimana jika pamorku di kampus ini menurun? Tidak boleh. Tidak boleh…”

.

Hyesoo tertawa mendengar ucapan konyol Kyuhyun. Suara tawanya menunjukkan seolah kecemasannya sudah menghilang bersama tawa yang keluar dari bibirnya. Tawa itu pun menular pada Kyuhyun dengan cepat. Namun sesaat kemudian tawa Kyuhyun mereda, digantikan dengan senyum tipis dibibirnya. Mata Kyuhyun terpaku pada satu objek yang menghentikan tawanya seketika. Kyuhyun menyadari sebuah ekspresi yang tidak biasa di wajah Hyesoo. Gadis itu memang tertawa, tapi matanya memancarkan hal lain. Kyuhyun tidak dapat mengartikannya. Kyuhyun tidak benar-benar bisa mengerti seorang Lee Hyesoo. Namun Kyuhyun dapat merasakan kepedihan dibalik tatapan Hyesoo. Entah bagaimana caranya, kepedihan itu terasa begitu kuat. Beberapa saat setelahnya, Hyesoo menghentikan tawanya saat melihat wajah Kyuhyun yang berubah serius. Kemudian Hyesoo mengalihkan pandangannya, menghindari tatapan tajam Kyuhyun.

.

“Kyuhyun-ah!” seru sebuah suara berat dari kejauhan.

.

.

BGM : Big Baby Driver – In The Same Storm

.

.

Kyuhyun dan Hyesoo menoleh bersamaan ke sumber suara itu. Dua orang laki-laki berjalan menghampiri Kyuhyun yang masih berdiri beberapa meter di hadapan Hyesoo. Keduanya memiliki tubuh proporsional seperti Kyuhyun. Tinggi, berisi, lengkap dengan wajah yang masuk dalam kategori mudah menawan hati setiap gadis. Namun tidak seperti Kyuhyun, keduanya tampak santai dan ceria. Benar-benar santai dan ceria. Tidak seperti Kyuhyun yang lebih sering menggunakan image itu untuk menyembunyikan perasaan sebenarnya yang ia miliki. Ketika jarak mereka tinggal beberapa meter saja, kedua teman Kyuhyun menunjukkan senyum penuh ejekan pada Kyuhyun setelah menyadari keberadaan Hyesoo disana. Bukan karena alasan apapun. Hanya saja, ini adalah kali pertama keduanya melihat Kyuhyun bersama dengan seorang gadis, hanya berdua. Memang Kyuhyun terkenal banyak dipuja oleh banyak gadis di kampus itu. Kyuhyun juga terkenal playboy, meski kebenaran akan rumor itu belum terbukti. Namun Kyuhyun tidak pernah sekalipun berada di suatu tempat bersama seorang gadis tanpa siapapun lagi diantara mereka. Pemandangan itu sangat langka bagi kedua teman Kyuhyun.

.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya salah seorang teman Kyuhyun.

.

“Menyelamatkan seorang gadis yang membutuhkan pertolongan”, jawab Kyuhyun santai.

.

“Kau……tidak ingin mengenalkan kami pada gadis yang kau maksud itu?” tanya seorang temannya yang lain.

.

“Ah… Hyesoo-ya, ini teman-temanku. Changmin dari fakultas hukum, dan Minho dari jurusan arsitektur. Dia Lee Hyesoo”, kata Kyuhyun memberikan pengenalan singkatnya.

.

“Annyeonghaseyo, Lee Hyesoo ibnida”, sapa Hyesoo dengan sopan.

.

“Annyeonghaseyo. Kau…dari fakultas ekonomi? Aku tidak pernah melihatmu”, tanya Changmin.

.

“Ah… Bukan. Aku dari fakultas kedokteran”, jawab Hyesoo.

.

“Yah… Luar biasa… Bagaimana kau bisa mengenal Kyuhyun, Hyesoo-ssi?” tanya Minho kali ini.

.

“Hm… Aku  tidak begitu ingat. Terjadi begitu saja”, jawab Hyesoo diiringi dengan senyum tipis khasnya.

.

“Kalian berdua terlihat begitu dekat. Tahukah kau, Hyesoo-ssi? Selama ini kami tidak pernah melihat Kyuhyun bersama seorang gadis, hanya berdua. Kau yang pertama”, kata Minho dengan senyumnya, menggoda Hyesoo.

.

“Benar, Hyesoo-ssi. Kau pasti tahu bahwa ada banyak gadis yang menyukai Kyuhyun. Tapi sampai hari ini Kyuhyun tidak pernah memperlakukan gadis-gadis itu seperti yang dia lakukan padamu. Apa tadi yang dia katakan? Menyelamatkan gadis yang membutuhkan pertolongan?”, tanya Changmin sambil menoleh pada Minho yang mengangguk mantap. “Dia tidak pernah melakukan hal itu, Hyesoo-ssi”.

.

“Tentu saja kali ini tidak sama, Changmin-ah. Perasaanku mengatakan bahwa kali ini berbeda. Bagi Kyuhyun, Lee Hyesoo tidak bisa disamakan dengan gadis lain yang selama ini mengejarnya. Benar bukan, Hyesoo-ssi?”, tanya Minho.

.

“Ne? Ah… Aku tidak tahu akan hal itu, sunbae”, jawab Hyesoo dengan wajah canggungnya.

.

“Ya! Ya! Hentikan. Jangan menggodanya lagi. Kalian membuatnya takut. Hyesoo-ya, kau tidak perlu mendengarkan mereka. Semua hal yang mereka katakan adalah omong kosong”, kata Kyuhyun.

.

“Aniyo, sunbae. Gwaenchanhayo…” balas Hyesoo sambil tersenyum pada Kyuhyun.

.

“Yah… apa ini? Perasaanku masih mengatakan ada yang berbeda diantara mereka. Mwoji?” kata Minho dengan nada curiganya.

.

“Kau benar, Minho-ya. Aku rasa mereka lebih dekat dari yang kita kira”, sambung Changmin.

.

Hyesoo tertawa kecil melihat tingkah Changmin dan Minho. Satu hal yang Hyesoo temukan, meski ketiganya terlihat mempesona dan memiliki dunia mereka sendiri, tapi ada kehangatan dibalik sikap dingin yang selalu menjadi tameng mereka bertiga. Mereka begitu dekat dengan satu sama lain hingga orang lain mungkin tidak akan bisa mengartikan makna dibalik komunikasi mereka yang terkesan saling mengejek satu sama lain. Hari ini, Hyesoo kembali menemukan sisi lain Kyuhyun yang tidak bisa diketahui banyak orang dengan mudah.

.

“Tidak ada hal yang seperti itu, sunbae”, kata Hyesoo menanggapi ucapan Changmin dan Minho.

.

“Atau belum…” kata Minho yang kembali menggoda Hyesoo.

.

“Akan. Suatu saat nanti…” sambung Changmin.

.

Hyesoo kembali tertawa kecil dengan kata-kata Minho dan Changmin yang terkesan begitu spontan. Lalu sudut matanya menemukan pemandangan baru dari seorang laki-laki yang belum berpindah dari tempatnya sejak tadi. Kyuhyun tersenyum sambil menatapnya. Kali ini senyuman yang berbeda. Ada kelegaan dibalik senyuman yang ditunjukkan Kyuhyun. Ada ketenangan yang jelas terlihat wajahnya. Walaupun Hyesoo tidak mengerti apa alasan dibalik kelegaan dan ketenangan Kyuhyun, namun tanpa disadari Hyesoo merasa senang karena ketegangan itu sudah lenyap dari wajah Kyuhyun.

.

“Baiklah, sunbae-deul. Sepertinya aku tidak bisa berada disini terlalu lama”, kata Hyesoo akhirnya sambil bangkit berdiri.

.

“Kenapa?” tanya Kyuhyun pelan, namun mampu membuat Hyesoo menoleh padanya. Hyesoo hanya tersenyum pada Kyuhyun, seolah mengatakan bahwa Kyuhyun sudah mengetahui jawaban dari pertanyaan itu. “Ahjussi akan segera datang?” Benar. Kyuhyun memang mengetahui jawaban dari pertanyaannya sendiri.

.

Hyesoo mengangguk cepat menjawab pertanyaan Kyuhyun. “Jika ahjussi itu tidak menemukanku di gedung fakultas kedokteran, entah akan ada keributan apa yang terjadi setelahnya”.

.

“Kau bisa memberitahu keberadaanmu disini padanya”, usul Kyuhyun.

.

“Menambah jumlah orang yang harus dilaporkan? Bukan ide yang cukup bagus untuk dilakukan. Kau tahu itu, sunbae…” kata Hyesoo menanggapi usul Kyuhyun.

.

“Kalian berdua memang benar-benar dekat, bukan? Topic pembicaraan dan tatapan kalian sangat menunjukkannya…” kata Minho menyambung.

.

“Ne… Tidak apa-apa jika sunbae berpikir seperti itu…” kata Hyesoo. “Aku pergi dulu. Sampai bertemu lain kali”, sambung Hyesoo yang segera melangkah pergi meninggalkan ketiganya.

.

“Jangan ragu untuk meneleponku jika sesuatu terjadi”, pesan Kyuhyun.

.

“Ne”, jawab Hyesoo singkat sebelum benar-benar pergi dari tempat itu.

.

“Sampai bertemu, Hyesoo-ssi. Berkunjunglah kesini lebih sering…” seru Minho pada Hyesoo yang menoleh dan memberikan anggukkan padanya.

.

“Kali ini benar-benar berbeda, bukan?” tanya Changmin yang berjalan mendekat pada Kyuhyun saat jarak Hyesoo sudah cukup jauh dari mereka.

.

“Sangat. Jangan tanyakan alasan apapun padaku. Karena aku bahkan belum menemukannya”, jawab Kyuhyun.

.

“Kau akan segera menemukannya, inma. Aku yakin akan hal itu”, sambung Minho.

.

.

#########################

.

.

Kembali, Hyesoo seorang diri tanpa siapapun bersamanya. Hembusan angin disepanjang trotoar mengiringi langkah Hyesoo yang berjalan kembali ke gedung fakultas kedokteran. Suasana ramai disekelilingnya berbanding terbalik dengan apa yang sedang ia rasakan. Sunyi dan sepi begitu terasa di sekujur tubuhnya. Suasana ceria yang dibuat Kyuhyun dan kedua temannya kembali melintas di kepala Hyesoo. Beberapa saat yang lalu, tawa Hyesoo akhirnya keluar dengan perasaan yang nyata. Hyesoo tidak tertawa karena sedang berpura-pura. Ia merasa terobati. Hyesoo bahagia. Dan sebuah senyum pun tiba-tiba muncul di wajah Hyesoo.

.

“Lee Hyesoo!” seru suara seorang gadis yang cukup familiar di telinga Hyesoo.

.

Hyesoo sontak menoleh pada sumber suara itu. Senyumnya semakin mengembang saat matanya bertemu dengan mata gadis yang memanggil namanya. Yoona berjalan mendekati Hyesoo yang menghentikan langkahnya sesaat setelah mendengar namanya disebut. Namun Yoona tidak sendiri. Seorang gadis berperawakan kurus dan lebih tinggi beberapa senti dari Yoona berjalan dibelakang Yoona. Gadis itu berparas cantik dengan mata yang cukup besar dan ekspresi riang yang mempesona. Selama sesaat, Hyesoo merasakan aura familiar dari gadis itu. Seolah ia pernah bertemu dengannya. ‘Aku mohon, jangan lagi…‘ kata Hyesoo dalam pikirannya. Situasi tidak menyenangkan bersama Soyu beberapa jam yang lalu membuat Hyesoo bersikap waspada pada setiap orang yang baru ia temui. Otak Hyesoo pun bekerja secara otomatis, mencari kata-kata yang dapat ia katakan jika ternyata gadis itu melakukan hal serupa dengan Soyu.

.

“Kenapa kau melamun?” tanya Yoona yang sudah berada di sebelah Hyesoo.

.

“Eo? Tidak. Aku tidak melamun”, jawab Hyesoo cepat diikuti dengan senyum tipisnya.

.

“Kau mau pergi kemana?” tanya Yoona lagi.

.

“Gedung kedokteran. Aku berpikir mungkin sebentar lagi Min ahjussi akan sampai”, jawab Hyesoo. “Karena itu, bisakah kita bicara sambil kembali berjalan?”

.

“Tentu saja. Ayo!” kata Yoona dengan nada ceria khasnya.

.

“Nada bicara lama mu sudah kembali”, kata Hyesoo menanggapi nada bicara Yoona.

.

“Ah… Tentang itu. Aku baru saja melewati ujian tahap pertama”, kata Yoona menjelaskan.

.

“Benarkah?” tanya Hyesoo yang dijawab dengan anggukkan dan senyum mengembang oleh Yoona. “Hm… Aku akan memberikan ucapan selamat saat kau lulus tahap ketiga saja. Fighting, Im Yoona! Masih ada dua tahap yang harus kau lewati”.

.

“Ch… Sudah kuduga. Kepribadianmu dan Ryeowook sama saja. Ryeowook juga mengatakan hal yang sama padaku. Jahat…” keluh Yoona. “Sooyoung-ah, carilah teman yang baik di kampus ini. Jangan sepertiku yang hanya mempunyai dua orang sahabat tidak berperasaan ini”.

.

“Ne, sunbae”, jawab gadis yang disebut Yoona bernama Sooyoung itu.

.

“Ah, benar. Aku belum mengenalkannya denganmu. Hyesoo-ya, ini Sooyoung. Dia juniorku. Dia menari dengan sangat baik”, kata Yoona.

.

“Annyeonghaseyo. Choi Sooyoung ibnida. Senang bertemu dengan sunbae”, sapa Sooyoung.

.

“Eo… Aku Hyesoo. Senang bertemu denganmu juga”, balas Hyesoo sambil tersenyum pada Sooyoung. “Aku sarankan, Sooyoung-ah, sebaiknya kau menjaga Yoona agar tetap disampingmu. Berteman dengannya akan membuatmu terkenal dan juga aman dari semua perilaku senioritas. Kau boleh memanfaatkan Yoona atas ijinku”, sambung Hyesoo dengan nada bercanda.

.

“Lee Hyesoo, kau benar-benar gadis yang jahat. Bagaimana bisa kau menyarankan seorang junior untuk memanfaatkanku?” Yoona kembali mengutarakan keluhannya pada Hyesoo.

.

“Ya, Im Yoona. Kau harus melihat dari sisi yang berbeda. Aku juga mengatakan padanya bahwa kau adalah mahasiswi yang terkenal dan juga bisa menjaga juniormu dari gangguan, bukan? Kedua hal itu adalah hal yang baik. Seharusnya kau bangga pada dirimu”, kata Hyesoo.

.

“Ah, tidak tahu! Aku tidak pernah akan menang jika bicara denganmu ataupun Ryeowook. Tapi, Hyesoo-ya, kau baru saja darimana?” tanya Yoona dengan jiwa penyelidiknya.

.

“Makan siang di cafetaria fakultas ekonomi bersama Irene. Kami tidak mendapatkan tempat di gedung kedokteran”, jawab Hyesoo santai.

.

“Irene? Tapi aku bertemu dengannya satu jam yang lalu di gedung kedokteran”, kata Yoona yang masih penasaran pada cerita setelahnya.

.

“Benar. Satu jam yang lalu Irene mendapatkan panggilan perubahan jadwal”, kata Hyesoo masih dengan ketenangan dirinya.

.

“Lalu, kau tetap disana selama satu jam? Kenapa? Apa yang kau lakukan? Kau sendirian?” akhirnya Yoona memberikan pertanyaan beruntunnya.

.

“Aku tidak akan memberitahukannya padamu”, kata Hyesoo singkat.

.

“Kenapa? Sejak kapan kau merahasiakan sesuatu dariku? Lee Hyesoo, ayo katakan. Aku janji tidak akan menanggapi dengan berlebihan”, bujuk Yoona.

.

“Tidak akan mengatakan apapun? Protes ataupun marah?” tanya Hyesoo kali ini.

.

“Tidak akan. Aku berjanji”, kata Yoona sambil menyilangkan tangan kanannya di dada, bukti janjinya pada Hyesoo.

.

“Aku bertemu Kyuhyun sunbae”, kata Hyesoo.

.

Sontak Yoona menghentikan langkahnya, diikuti oleh Hyesoo dan Sooyung. Yoona menepati janjinya dengan tidak mengatakan apapun tentang hal itu. Ia hanya membelalakkan matanya dan menatap Hyesoo dengan tatapan marahnya. Hal yang mengherankan justru terjadi pada Sooyoung. Sesaat sebelum Hyesoo memberitahukan pertemuannya dengan Kyuhyun, Sooyoung memang sedang minum dari botol air mineral yang dipegangnya. Lalu saat kalimat itu keluar dari bibir Hyesoo, Sooyoung tersedak. Beberapa tetes air keluar dari mulutnya, yang segera ia bersihkan dengan tissue yang ada di kantung coatnya. Hyesoo mengerutkan keningnya melihat reaksi Sooyoung. Kemudian saat mata keduanya bertemu, Hyesoo memberikan senyum tipisnya pada Sooyoung. Hyesoo merasa sikap yang ditunjukkan Sooyoung cukup aneh, seolah Sooyoung menunjukkan keterkejutannya juga. Hyesoo pun memulai kembali dugaannya. Ia menduga jika Sooyoung mengenal salah satu dari dua orang dalam kalimat yang diucapkan Hyesoo. Dengan kata lain, ada kemungkinan bahwa Sooyoung memang sudah mengenal Hyesoo atau justru mengenal Kyuhyun.

.

“Maafkan aku. Ponselku tiba-tiba bergetar. Aku hanya terkejut”, kata Sooyoung.

.

“Gwaenchana. Kau tidak perlu meminta maaf”, kata Hyesoo mencoba menyembunyikan kecurigaannya.

.

Sementara Yoona masih pada posisi terkejut sekaligus marahnya. Kedua alis Yoona bertaut menandakan perasaan yang benar-benar sedang ia rasakan. Namun karena janjinya pada Hyesoo, Yoona tidak mengeluarkan kata apapun dari bibirnya. Yoona berusaha tetap diam dan menekan amarahnya. Melihat hal itu, Hyesoo justru tertawa. Wajah menahan amarah yang ditunjukkan Yoona terlalu lucu untuk dihadapi.

.

“Baiklah. Keluarkan amarahmu, Im Yoona”, kata Hyesoo masih dengan tawanya.

.

“Apa kau sudah gila? Kemana perginya pikiranmu? Dia mempengaruhimu? Kau sudah bosan dengan hidup tenangmu? Dari sekian banyak mahasiswa di fakultas ekonomi, kenapa kau harus bicara dengannya? Kau seharusnya tidak perlu, tidak sekalipun perlu menemui laki-laki yang benama Cho Kyuhyun itu, Lee Hyesoo. Ada apa denganmu?” akhirnya semua keluhan yang ditahan Yoona keluar bagai rentetan lirik seorang rapper.

.

“Tapi sunbae, ada apa dengan orang itu? Kenapa sunbae begitu marah hanya dengan mendengarnya?”, tanya Sooyoung.

.

“Tidak ada apa-apa, Sooyoung-ah. Yoona memang selalu bersikap berlebihan. Dalam dunia perkuliahan, akan selalu ada satu orang yang tidak disukai walau sehebat apapun orang itu”, kata Hyesoo mengalihkan.

.

“Apa? Yah… Jangan bicara yang tidak-tidak, Lee Hyesoo. Apa yang hebat dari Cho Kyuhyun angkuh itu? Dia bahkan hanya beruntung karena memiliki kedua orang tua yang kaya dan otak yang pintar. Untuk apa semua itu jika sikapnya sangat bereng……”

.

“Ya! Ya! Ayo kita kembali berjalan, eo? Min ahjussi akan segera datang”, kata Hyesoo menghentikan ucapan Yoona. “Sooyoung-ah, ayo”.

.

“Ah, ne…” sahut Sooyoung. “Apakah orang itu menyakiti sunbae?” tanya Sooyoung yang kini berjalan disebelah Hyesoo, membiarkan Yoona yang kesal berjalan dibelakang mereka berdua.

.

“Tidak. Dia tidak pernah melakukan itu”, jawab Hyesoo.

.

“Gae gateun sori hane… (sebuah ungkapan yang dapat diartikan sebagai ‘omong kosong’)”, sambung Yoona dengan nada kesal.

.

“Sunbae?” tanya Sooyoung sambil menatap wajah Hyesoo, memastikan Hyesoo mengatakan hal yang sebenarnya.

.

“Aniya… Tidak perlu menganggap serius ucapan Yoona. Kyuhyun sunbae benar-benar tidak pernah menyakitiku. Hari ini dia justru menolongku”, kata Hyesoo jujur.

.

“Menolong? Apa yang dia lakukan? Apa yang terjadi?” tanya Yoona yang sudah merubah ekspresinya 360 derajat menjadi ekspresi kekhawatiran.

.

“Bukan hal yang berarti. Hanya panic attack…” kata Hyesoo.

.

“Kau mencobanya lagi? Kali ini di cafetaria fakultas ekonomi. Lain kali bisakah kau mencari tempat yang lebih aman? Hari ini kebetulan dia (Kyuhyun) ada disana. Lain kali?” Yoona kembali mengeluarkan rasa kesal dalam penekanan nada bicaranya. “Kenapa dia menolongmu?”

.

“Hm? Um… Dia tahu betul bagaimana keadaanku. Dia pernah mengalaminya”, jawab Hyesoo.

.

“Tentu saja……” kata Sooyoung dengan suara pelan.

.

“Hm? Kau bilang apa, Sooyoung-ah?” tanya Hyesoo.

.

“Bukan apa-apa. Aku hanya mengatakan tentu saja…Kyuhyun sunbae akan melakukan hal itu. Hyesoo sunbae juga tadi mengatakan bahwa Kyuhyun sunbae bukan orang yang jahat, bukan? Jadi, tentu saja……” kata Sooyoung.

.

Hyesoo tersenyum setelah mendengar ucapan Sooyoung. Namun meski begitu, Hyesoo tahu betul bahwa bukan itu maksud dari ucapan Sooyoung yang sebenarnya. Ada hal yang sedang Sooyoung coba sembunyikan. Ekspresi Sooyoung lah yang mengatakannya. Hyesoo kembali teringat pada hal yang pernah dikatakan Kyuhyun padanya. Jika ingin berpura-pura, maka harus melakukannya dengan bersungguh-sungguh hingga tidak ada satu orangpun dapat mengetahuinya. Sooyoung belum bisa melakukannya dengan baik. Hyesoo masih bisa membacanya.

.

.

BGM : SALTNPAPER – GO (Korean Ver.)

.

.

2 minggu kemudian…

Hari demi hari berjalan seperti biasanya. Tidak ada hal berarti yang terjadi selama 2 minggu terakhir. Hyesoo tetap pada zona amannya dalam penjagaan Jaejoong, Ryeowook dan Yoona. Sementara Donghae sudah kembali ke Seattle untuk menyelesaikan pekerjaannya disana. Tentu saja Donghae tidak pergi begitu saja tanpa melakukan hal yang cukup membuat Hyesoo merasa kesal padanya. Di akhir minggu lalu, Hyeri tiba-tiba pulang ke rumah denga wajah khawatir dan air mata yang membasahi wajahnya. Adiknya yang ia tahu sangat mudah menangis itu memeluknya dengan isak tangis yang tidak mudah ditenangkan. Pelaku dibalik hal itu adalah Lee Donghae. Kembarannya itu memberitahu Hyeri sesaat sebelum pesawat yang ditumpanginya lepas landas. Kini Hyesoo harus dihadapkan dengan pesan-pesan pertanyaan rutin yang dikirimkan Hyeri padanya setiap hari.

.

Hal serupa juga terjadi di kampus. Tidak terlalu banyak hal berarti yang terjadi. Perkuliahan tetap berjalan seperti biasa, kesibukan terlihat diseluruh penjuru kampus menjelang ujian, Hyesoo pun tidak menemukan Kyuhyun dimanapun. Kondisi kampus sedang terlalu sibuk. Lalu ada sebuah situasi dimana Hyesoo harus bicara dengan Soyu yang tiba-tiba menghampirinya saat ia sedang sendiri. Tidak banyak yang dikatakan Soyu padanya. Sebagian besar adalah hal-hal yang sudah pernah Hyesoo dengar, seperti dimana sekolah Hyesoo, beberapa kebiasaan Hyesoo, dan hari-hari yang tidak pernah dilewatkan oleh Hyesoo. Semua hal yang Soyu ceritakan seolah menunjukkan kedekatan keduanya di masa-masa yang tidak Hyesoo ingat. Namun ekspresi Soyu saat bercerita padanya membuat Hyesoo ragu. Bukan ekspresi sedih atau senang yang ditunjukkan Soyu, melainkan kekesalan dan amarah lah yang terlihat dibalik tatapan Soyu. Hyesoo pernah mencoba untuk mengartikan tatapan itu. Namun Hyesoo belum menemukan jawabannya. Karena itu, sampai saat ini Hyesoo belum menceritakan pertemuan dan pembicaraannya bersama Soyu pada siapapun.

.

Ada hal lain yang berubah. Kini Sooyoung menjadi salah satu diantara mereka. Setelah perkenalannya dengan Ryeowook dan Jaejoong (yang tentu saja diprakarsai oleh Yoona), Sooyoung diterima dengan sangat baik. Sikap Sooyoung yang ramah, sopan dan ceria membuat Sooyoung mudah beradaptasi dengan para seniornya itu. Namun dibalik semua itu, Hyesoo masih belum menaruh kepercayaan sepenuhnya pada Sooyoung. Ada perasaan aneh yang ia rasakan setiap kali Sooyoung berada disekitarnya. Sooyoung menimbulkan suasana kedekatan yang begitu kuat. Hal itu akhirnya membuat Hyesoo sesekali merasakan ketidaknyamanan yang sedikit mengganggu.

.

.

.

Sooyung’s POV

Aku bertahan dengan sangat baik. Selama dua minggu terakhir semua hal berjalan sesuai dengan rencanaku. Tidak ada satupun diantara mereka yang mengetahui jati diriku yang sebenarnya. Aku berhasil menyimpan rapat semua hal dari diriku. Seharusnya, ada satu orang diantara mereka yang mengenalku, yaitu Hyesoo eonni. Tapi ia bahkan tidak akan menyadarinya karena kondisi yang dialaminya. Sesekali aku masih menemukan kesulitan dalam menghadapinya. Kondisi Hyesoo eonni begitu menyakitiku. Aku tahu hal itu akan terdengar berlebihan di telinga orang lain. Tapi setelah apa yang dilakukan dan yang terjadi pada kakakku beberapa tahun yang lalu, membuatku merasakan rasa sakit itu juga dalam dadaku. Hyesoo eonni harus menanggung keadaan yang tidak ia inginkan. Seolah mengalami mimpi buruk yang tidak mempunyai akhir, Hyesoo eonni harus kehilangan ingatannya karena kejadian mengerikan itu. Di hari Yoona sunbae memberitahukan keadaan Hyesoo eonni padaku, aku sudah memutuskan untuk ikut menjaganya. Aku akan melakukan apapun untuk menjaga Hyesoo eonni tetap berada dalam keadaan aman. Karena sampai saat ini, Hyesoo eonni harus menanggung kondisi itu seorang diri. Aku akan berada disisinya.

.

“Choi Sooyoung, anmeoggo? (Choi Sooyoung, kau tidak makan?)” tanya Ryeowook sunbae menyadarkanku dari lamunanku.

.

“Akhir-akhir ini kau jadi seperti Hyesoo yang sering melamun. Ada apa? Kekasihmu melakukan hal yang buruk padamu?” tanya Yoona sunbae dengan dugaan spontannya.

.

“Wooo… Kau sudah mendapatkan seorang kekasih di kampus ini? Kerja bagus, Choi Sooyoung…” goda Ryeowook sunbae dengan nada bercanda khasnya.

.

“Kau tidak meninggalkannya hanya karena makan siang bersama kami, bukan? Jika benar, Im Yoona kau sangat keterlaluan…” sambung Hyesoo eonni.

.

“Tapi dia melamun dengan ekspresi khawatir, teman-teman. Kekasihmu tidak menduakanmu, ‘kan? Jika dia seperti itu, maka kau tidak punya alasan lagi untuk mempertahankannya, Choi Sooyoung”, kini Jaejoong sunbae bergabung dalam misi menggodaku.

.

“Tidak begitu, sunbae”, sanggahku akhirnya. “Aku belum mempunyai kekasih saat ini”.

.

“Eeiiiii… Jangan membohongi kami. Kau pikir kami tidak tahu kabar bahwa banyak mahasiswa senior yang mengejarmu? Ch…” kata Ryeowook sunbae.

.

“Bagaimana sunbae bisa mengetahuinya?” tanyaku.

.

“Tentu saja dari Yoona”, jawab Hyesoo eonni. “Sooyoung-ah, jika kau berteman dengan Yoona, maka tidak akan pernah ada cerita yang tidak kami ketahui”.

.

“Geureohji!!! (Benar!!!)” seru Yoona.

.

“Tapi, Sooyoung-ah, ingat satu hal……” kata Jaejoong sunbae yang menghentikan kalimatnya, menunggu respon dari penyimak dihadapannya.

.

“Mwonde?” tanya Yoona sunbae.

.

“Apa yang sedang sunbae coba katakan?” Hyesoo eonni ikut bertanya.

.

“Sepertinya aku mengetahuinya. Aku tidak ingin mendengarnya”, kata Ryeowook sunbae memberikan tanggapannya.

.

“Satu hal saja…” Jaejoong sunbae melanjutkan. “Jika banyak senior yang mengejarmu, maka kau harus menaruh standarmu setinggi mungkin”.

.

“Aku juga tidak ingin mendengar kelanjutannya”, kata Yoona sunbae dengan sikapnya yang serupa dengan Ryeowook sunbae. “Mwoya geu sunbae…”

.

“Hahaha… Dengarkan saja apa yang dikatakan senior tertua mu, Sooyoung-ah”, kata Hyesoo eonni dengan tawa yang menyertai ucapannya.

.

“Ada apa dengan reaksi kalian? Seharusnya kalian mendengarkannya sampai akhir. Semakin lama sik……”

.

Suara Jaejoong sunbae semakin lama terekam samar dalam kepalaku. Aku kembali tidak berpijak. Gravitasi membawaku melayang dalam pikiranku sendiri. Aku merasakan ada gelenyar rasa lega di dadaku saat mendengar tawa itu. Seolah kebahagiaan akhirnya benar-benar datang padaku. Suara tawa Hyesoo eonni meredam semua suara yang ada di sekelilingku. Suara tawa itu sudah mengobati sedikit rasa sakit yang ku rasakan selama beberapa tahun ini. Hanya dengan tawa kecilnya, aku merasa lega. Aku mendapatkan cukup kebahagiaan sederhana. Dia tertawa, oppa. Hyesoo eonni terlihat bahagia.

.

Dddrrrrrttt… Dddrrrrrrrrtttt…

.

Ponsel di saku celanaku bergetar, menyadarkanku dan mengembalikan pijakanku. Aku mengambil ponsel itu dengan cepat untuk melihat nama yang muncul di layar. Dugaanku salah. Ternyata salah seorang teman kelasku yang menghubungiku. Akupun segera menekan panel hijau untuk mengangkat panggilan itu.

.

“Yoboseyo? Eo, Harin-ah…” kataku pada Harin di seberang telepon. “Benarkah? Baik, aku mengerti. Aku akan segera kesana”, kataku sebelum memutus panggilan itu.

.

Saat ponselku sudah kembali pada tempatnya semula, aku menemukan empat pasang mata menatapku. Mereka mendengar pembicaraanku di telepon baru saja. Saat ini mereka menunggu hal yang akan aku ucapkan pada mereka.

.

“Aku harus pergi, sunbae. Ada hal penting yang harus aku lakukan”, kataku menjelaskan.

.

“Dan hal penting itu adalah?” tanya Ryeowook sunbae.

.

Jaejoong sunbae, Yoona sunbae dan Hyesoo eonni tidak lantas mengalihkan pandangan mereka juga dariku. Mereka menunggu penjelasanku selanjutnya. Seolah sudah menjadi tradisi mereka untuk mengatakan hal secara rinci tanpa menutupi apapun, jika hal itu memang bukan sebuah rahasia berarti.

.

“Mrs. Kang memanggilku ke ruang teater”, jawabku, ragu apakah mereka dapat mengerti keadaan itu.

.

“Omo! Geu museoun ssaem? (Dosen menyeramkan itu?)” tanya Ryeowook sunbae dengan ukuran mata yang membesar, seolah sudah mengenal dosen itu dengan baik.

.

“Cepat pergi!” sambung Hyesoo eonni.

.

“Kau harus tiba tepat waktu atau beliau akan memakanmu hidup-hidup”, kata Yoona sunbae.

.

“Bawakan dia apel untuk meredakan amarahnya jika ternyata kau terlambat”, Jaejoong sunbae ikut memberikan sarannya.

.

“Ne! Aku pergi dulu. Sampai bertemu, sunbae-deul!” kataku yang segera bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan cafetaria fakultas kedokteran.

.

Aku berjalan dengan kecepatan tercepat yang ku bisa. Aku tidak ingin berlari. Karena jika nanti Mrs. Kang memintaku untuk melakukan beberapa adegan musikal, maka aku akan kehabisan napasku. Dan aku akan mendapatkan masalah yang lebih buruk. Beruntung, jarak fakultas kedokteran dan fakultas seni tidak terlalu jauh. Aku hanya membutuhkan waktu 5 menit, atau 7 menit jika lift sedang penuh. Beberapa meter sebelum sampai di gedung pertunjukkan, senyumku mengembang. Aku yakin aku tidak akan terlambat. Namun tiba-tiba seseorang meraih tanganku dan menarikku menjauh menuju sebuah taman yang ditumbuhi pepohonan rimbun tidak jauh dari gedung.

.

“Apa yang kau lakukan disini?”

.

“Cho Kyuhyun?”, tanyaku yang terkejut melihatnya berada dihadapanku. Ia mencengkram pelan lenganku sambil menatapku dengan tatapan tajam yang menunjukkan keterkejutan serta kebingungannya.

.

“Apa yang kau lakukan bersama Lee Hyesoo? Kau mengenalnya?”

.

.

.

.

TBC

.

Note:

Part 4 selesai! Maaf maaf maaf readers-nim atas update yang saaangat lama ini. Aku sudah sangat berusaha. Tapi apa daya, kegiatan yang banyak dan mood yang naik turun tidak membiarkan aku menyentuh keyboard laptop dan melanjutkan FF ini. Tapi, akhirnya aku bisa menyelesaikan part ini. Yey! Nah, bagaimana dengan part ini, readers-nim? Aku menduga, masih akan ada beberapa diantara kalian yang akan bilang, “aku nggak ngerti!”, “aku belum klik sama jalan ceritanya”, atau “aduh… rumit ceritanya”. Benar? Aku minta maaf lagi buat hal itu. Aku hanya mengikuti alur yang ada di kepalaku pelan-pelan. Kalau ceritanya membosankan, aku minta maaf ya…

Oke! Mari kita bahas sedikit. Soyu mulai menjalankan aksinya. Setelah di part sebelumnya Soyu hanya memperhatikan Hyesoo dari jauh, di part ini Soyu sudah muncul di depan Hyesoo. Soyu juga mencuri kesempatan saat Hyesoo seorang diri untuk bicara dengan Hyesoo (walaupun tidak aku ceritakan secara rinci). Dari percakapan singkat mereka terlihat jelas kalau keduanya saling mengenal di masa lalu, kan? Lagi-lagi masalahnya disitu. Hyesoo tidak bisa ingat apapun yang terjadi di masa lalu. Sementara semua orang yang muncul disekitar Hyesoo membawa ceritanya masing-masing. Jika Jaejoong membawa cerita tentang perasaannya pada Hyesoo yang ternyata sudah terjadi sangat lama. Apa cerita dibalik kemunculan Soyu ya? Benarkah karena Kyuhyun? Tapi jika kalian memperhatikan baik-baik, (ini sekaligus bocoran lagi nih, readers-nim), Kyuhyun itu nggak kenal Hyesoo loh… Jadi, kenapa Soyu nggak suka sama Hyesoo seolah-olah Hyesoo adalah sumber masalah buat Soyu? Dan kenapa Soyu selalu ketemu Hyesoo saat tidak ada siapapun disekitar Hyesoo?

Next! Jika kalian sering membaca FF yang aku tulis, kalian akan menyadari satu hal. Seingatku (jika aku tidak salah), ini adalah FF pertamaku dimana ada dua tokoh utama pria yang muncul di latar waktu yang sama, keduanya ada di masa sekarang, bukan di masa lalu. Kalaupun ada tokoh pria lain, porsi cerita tokoh itu tidak akan sebanyak tokoh utama pria nya. Benar? Benar? Tapi… Di FF ini keduanya justru muncul dengan porsi cerita yang sama-sama banyak dan punya peran yang sama-sama penting dalam mengungkap kejadian yang terjadi di masa lalu. Yup! Itu dia! Satu lagi clue yang aku bocorkan. Kyuhyun dan Jaejoong punya peran yang sama penting dari kejadian di masa lalu. Kira-kira kejadian yang mana ya, readers-nim? Sepenting apakah kejadian itu? Adakah hubungannya dengan kemunculan Soyu dan Sooyoung yang seolah mengenal Hyesoo dengan baik? Siapa oppa yang dimaksud Sooyoung? Apakah Kyuhyun? Atau ada tokoh lain yang belum muncul? Jawabannya akan kalian temukan di part berikutnya. I’m serious about that, guys. Kalian benar-benar akan menemukannya tepat di part setelah ini. Kana pamit! Annyeonghigaseyo!

Advertisements

27 thoughts on “I’m walking towards you : Part 4

  1. hyesoo kecelakaan ama siwon yah, trua siwon’a meninggal,, jantung’a di kasih ama kyu,,
    trus sooyoung tu adik’a siwon,
    mungkin kah?

    Like

  2. okelah sooyoung sama kyu itu sepupuan sooyoung itu adeknya siwon. dan hyesoo itu ngalamin kecelakaan dengan siwon, siwon ninggal dan jantungnya didonorin ke kyu. soyu itu dulu deket sama hyesoo tapi dia marah karna hyesoo deket atau pacaran sama siwon, soyu itu suka sama siwon.
    hahaha itu tebakan aku 😀

    Like

  3. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION – evilkyu0203

  4. dulunya ni hyeso-siwon-soyu,,
    Sekarang,, hyeso-kyuhyun-soyu,,
    Dugaan aja sii,, hehehe
    Sudh pasti sooyoung adiknya siwon,, hahaha
    Maen tbak” ini,, wkwkwkw
    Dan dia msih sodra ama kyuhyun, tpi kyuhyun blom ngerti dulunya sooyong ana hyeso gmna,, gitu kali ya,, wkwkw

    Like

  5. Kalo dugaanku sooyoung itu adik nya choi siwon ,,dan masalah soyu dia punya masa lalu yang tidak begitu baik dengan hyesoo mungkin karna siwon ,,apa di masa lalu hyesoo dan siwon punya hubungan dan soyu menkado orang ke tiga ,,sooyoung ikut jaga hyesoo mungkin jiga karna siwon

    Like

  6. bingung mau komen apaan, pikiran lagi buntu.
    banyak misteri yang muncul di part ini. tapi waktu baca rasanya di part ini masih datar-datar aja. belum menunjukkan gejolak seperti roller coaster. but good job buat kana karna bikin pembaca selalu penasaran ma kelanjutan kisah ff ini.

    Like

  7. Cerita yg nisterius bgt ini bikin penasaran sma bikin greget sma rahasia2 yg blm terungkap satu persatu huuhhh
    Sekarang ada yg bru lagi sooyoung,siapa sooyoung dan siapa oppa yg di maksud sooyoung,dan knpa kyuhyun kenal sma sooyoung,banyak pertanyaan aku yg blm terjawabb

    Like

  8. Mungkin soyu yg dimaksut dgn tatapan gk suka ke hyeso bukan karna kyuhyun, tetapi karna cowok dimasa lalu hyeso (choi siwon) itu masih mungkin. Dan kayaknya kecelakaan yg dialami hyeso itu ada hubungan dgn siwon, dan keadaan parah siwon deh yg akhirnya ngebuat dia donorin jantung ke kyuhyun biar bisa gantiin jdi penjaga(kekasih atau apalah) untuk hyeso dimasa mendatang gitu. Dan yg bikin sooyoung ikut merasan sakit itu ada hub kecelakaannya hyeso dan siwon. Ah molla! Itu hanya tebakan doang sih.
    Untuk jaejong emang aku ngerasa disini dpt partnya banyak deh, malah hampir lebih sering ketimbang kyuhyun. Itu yg nanti bakal bingung hyeso akan happy ending dgn jaejong apa kyuhyun apa malah sama masa lalunya saja. Hahaha author fighting!!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s