I’m walking towards you : Part 3

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast:

Cho Kyuhyun, Kim Jaejoong, Lee Hyesoo (OC), Im Yoona, Kim Ryeowook, Lee Donghae,

Lee Sunny, Kang Soyu (cameo), KDasom (cameo), etc…

Disclaimer:

Annyeonghaseyo!!! Kana kembali bersama “I’m walking towards you: Part 3”. Update-ku terlalu lama kah, readers-nim? Mianhaeyo… Inspirasi tidak datang begitu saja. Ada terlalu banyak hal yang harus dikerjakan juga. But, here I am again with the newest part of this story! Siapa yang sudah menunggu hingga bosan? Aku membawa penawar untuk kebosanan kalian. Ja! Kisah Hyesoo kembali berlanjut dalam part ini. Kira-kira apa yang akan terjadi kali ini? Langsung saja kalian bawa kisahnya dibawah ini…

Caution! Cast dalam FF ini juga akan cukup banyak. Entah hanya sebagai cameo atau sebagai peran pendukung. Karena itu, fokuslah wahai para readers-nim. FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasi atau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com

Aku tidak bosan untuk selalu berpesan, jadilah pembaca yang baik dan sopan. Biasakan untuk tidak bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Karena aku yakin para readers adalah orang-orang yang terpelajar dan mengerti sopan santun. Benar? Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 2

“Sunbae sudah mengetahui semuanya, ‘kan?”

“Mereka mengkhawatirkanmu”.

“Aku tahu. Sudah bertahun berlalu. Aku sudah berusaha”.

“Kau menyembunyikan sesuatu”.

“Selama bertahun-tahun aku selalu belajar untuk jujur pada diriku sendiri”.

“Dan tidak pada yang lainnya?”.

“Hal yang aku sembunyikan bukanlah hal yang sangat perlu mereka ketahui, sunbae. Aku selalu meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja. Tapi sepertinya hal itu tidak dapat mempengaruhi Yoona. Dia selalu seperti itu. Dan Ryeowook……”

“Dia menyukaimu?” Hyesoo menggeleng pelan. “Lalu?”

“Ryeowook sudah sangat jatuh cinta pada seorang gadis. I’m not a girl for him. I’m a family“.

“Senang mendengarnya…”

————————-

“Aku minta maaf”.

“Untuk?”

“Semua hal yang aku lakukan padamu”.

“Baik. Aku memaafkanmu untuk satu kesalahan yang kau perbuat padaku. Apapun itu, tarik permintaan maafmu yang lain. Aku tidak akan menerimanya”.

“Apa alasanmu tidak menerima yang lainnya? Aku datang untuk meminta maaf padamu karena sudah menyebabkan hal yang sudah terjadi padamu ini. Tidak bisakah kau menghargai ketulusanku?”

“Aku memaafkanmu yang sudah memandangku, menuduhku, dan menilaiku sebagai seorang jahat seperti katamu, yang bukan diriku. Jangan ikut menjadi orang yang menyalahkan diri atas keadaanku. Jangan lakukan itu juga padaku. Aku mohon…”

————————-

“Ibumu mengatakan kau sempat merintih kesakitan lalu kembali ke kampus setelah meminum obatmu. Seharusnya kau beristirahat dalam keadaan seperti itu! Sekarang katakan, apa tujuanmu melajukan kendaraan dengan kecepatan seperti itu? Setelah berhasil kembali hidup, akhirnya sekarang kau merasa bosan?”

“Samchon… Ucapanmu menakutkan sekali. Baiklah. Aku minta maaf”.

“Kapan kau akan mulai memikirkan orang-orang yang mengkhawatirkanmu? Mereka membuang waktu percuma dengan memikirkan bocah sepertimu”.

“Aku selalu memikirkan kalian, samchon. Jangan lupakan bahwa aku juga seorang laki-laki muda yang terkadang bisa kehilangan kontrol diriku. Aku selalu berusaha untuk mengendalikan diriku”.

“Pokoknya hari ini kau harus melakukan pemeriksaan menyeluruh”.

“Arasseoyo… Aku akan menjaga jantung hyung dengan baik, samchon. Aku tidak akan mengecewakan kalian”.

————————-

“Kemarin malam Jaejoong sunbae bertanya apakah Kim Ryeowook menyukaiku. As a girl”.

 “Dan alasan Jaejoong sunbae berpikir seperti itu adalah?”

“Karena sikapmu padaku begitu protektif? Mungkin. Aku tidak tahu”.

“Geu sunbae-do michyeossnabwa…”

“Aniya. Aniya… Dia tidak gila. Geu sunbae-ga… geunyang sarangi ppajyeossda…”

“Pada siapa?”

“Tentu saja pada Lee Hyesoo!”

“Kau beruntung, Lee Hyesoo! Seorang Kim Jaejoong yang tidak pernah menaruh perhatian pada gadis manapun di kampus sekarang justru jatuh cinta padamu”.

“Dia menyukaimu. Kalian juga terlihat serasi. Kau tidak berpikir untuk mengencaninya saja? Jaejoong sunbae memiliki aspek yang sangat bagus, bukan?”

“Terlalu menakutkan…”

“Aku tidak berpikir begitu. Selama aku mengenalnya, dia tidak semenakutkan itu, Hyesoo-ya”.

“Bukan Jaejoong sunbae. Para gadis yang menyukainya yang terlalu menakutkan”.

“Jika mereka menakutkan lalu kenapa?”

————————-

.

.

.

I’m walking towards you : Part 3

.

.

Hyesoo’s POV

Setelah 24 jam berada di rumah sakit, akhirnya mereka mengijinkanku kembali ke rumah. Professor Heo mengatakan aku hanya perlu melakukan rawat jalan dengan kembali ke rumah sakit setiap satu minggu sekali selama satu bulan ke depan. Tentu saja tanpa berpikir panjang aku menyetujuinya. Setidaknya hal itu jauh lebih baik daripada harus menginap di rumah sakit. Bukannya aku tidak menyukai rumah sakit. Aku adalah seorang calon dokter, tidak mungkin aku merasa seperti itu. Hanya saja berada di rumah sakit sebagai seorang pasien bukan moment kesukaanku. Bertahun lalu aku sudah merasakan masa-masa itu dengan menghabiskan waktu berminggu-minggu di rumah sakit. Aku suka bekerja di rumah sakit, tapi aku tidak pernah berniat untuk menjadi penghuninya.

.

Tentang hal yang terjadi di ruanganku pagi ini. Beberapa hal masih berputar di kepalaku. Semua hal yang terjadi begitu abstrak dan sulit untuk diatur dalam otakku. Perbincangan dengan Jaejoong sunbae tengah malam tadi, kedatangan Cho Kyuhyun, dan perbincangan dengan tiga orang yang saat ini sedang berada di dalam mobil yang sama denganku. Semuanya terlalu abstrak untuk diatur satu persatu sesuai dengan urutan dan jalurnya. Kami berhenti membicarakannya saat aku tidak memberikan respon apapun pagi tadi, dan lebih memilih untuk membicarakan hal lain. Saat ini pun aku memilih untuk tidak ikut dalam pembicaraan mereka mengenai keadaan kampus dengan segala hingar-bingarnya. Aku sudah terlarut dengan cahaya lampu kota Seoul yang tergambar apik diluar jendelaku. Sampai aku menyadari bahwa mobil ini melaju kearah yang tidak aku ketahui.

.

“Kemana kita pergi?” tanyaku.

.

“Rumah”, jawab Yoona yang sedang memeriksa ponselnya.

.

“Rumah siapa? Dimana? Untuk apa?” tanyaku tanpa jeda.

.

“Kau akan tahu saat kita sampai. Itu disana. Kita akan sampai dalam 3 menit”, jawab Jaejoong sunbae yang mengemudikan mobilnya memasuki pekarangan sebuah rumah.

.

Jaejoong sunbae menghentikan mobil dan mematikan mesinnya. Mereka bertiga keluar dari mobil dengan sikap yang begitu santai. Lalu pintu disampingku terbuka. Jaejoong sunbae membukakan pintu untukku, memintaku untuk keluar dari mobilnya juga. Akupun keluar dari mobil dengan keraguan dalam diriku. Rumah dua lantai bercat putih gading ini tidak terlalu besar, cukup untuk dijadikan hunian bagi sebuah keluarga dengan tiga orang anak. Pekarangan di depannya berukuran lebih besar dari luas bangunan rumah. Terdapat tiga bangku taman yang diletakkan dengan rapi. Terlihat sebuah balkon kecil dengan dua buah kursi teras di lantai dua. Sebuah suara mengalihkanku. Ryeowook membuka pintu rumah itu dan meminta kami semua untuk masuk. Keraguanku semakin bertambah saat mataku bertemu dengan mata Yoona. Ada sebuah kecemasan di matanya. Bukan kecemasan yang biasa ia tunjukkan, namun kecemasan lain yang belum bisa ku mengerti. Tangan dingin Jaejoong sunbae menyentuh lenganku, mengajakku untuk masuk ke rumah itu bersamanya. Aku menganggukkan kepalaku perlahan, setuju dengan ajakannya. Kami masuk ke dalam rumah dengan pencahayaan yang tidak menyilaukan mata. Penataan barang disetiap sudut rumah dengan design minimalis ini begitu rapi, tidak terlalu banyak barang dan terasa tidak berlebihan. Namun dari setiap barang yang ada disini, dapat terlihat bahwa nilai dari barang-barang itu jauh lebih mahal dari yang diduga siapapun.

.

“Baik. Cukup dengan semua rahasia dan entah apapun yang sedang kalian lakukan saat ini. Rumah siapa ini? Dan untuk apa kita berada disini?” tanyaku.

.

“Tentu saja. Kau pasti akan bertanya begitu. Aku sudah menduganya”, kata Ryeowook tanpa menjawab pertanyaanku.

.

“Kau menduganya… Aku mengerti. Jadi maksudmu, dulu aku mengenal rumah ini dan sekarang tidak, begitu?” tanyaku lagi.

.

“Benar”, jawab Ryeowook.

.

“Baiklah… Aku mengerti… Hmm… Aku pikir kita sudah mengakhiri fase ini bukan, teman-teman?” tanyaku sambil menatap Ryeowook dan Yoona bergantian. “Jika kalian membawaku kesini untuk membuatku mengingat hal apapun itu di masa laluku yang berhubungan dengan rumah ini, maka aku akan berpikir bahwa ada hal yang salah dalam pikiran kalian berdua. Aku sudah selesai dengan hal seperti itu. Aku tidak ingat. Tidak akan pernah. Jadi, hentikan, Kim Ryeowook, Im Yoona, eo?”

.

“Kami membawamu kesini tidak dengan tujuan itu, Hyesoo-ya”, kata Yoona akhirnya.

.

“Lalu?” tanyaku.

.

“Kau akan tinggal disini, Kim Hyesoo”, jawab Jaejoong.

.

Oh great! Aku hampir lupa jika sunbae sekarang juga berada di tim mereka. Dan alasanku untuk tinggal disini adalah?” tanyaku sambil menatap mereka bertiga bergantian.

.

Ketiganya diam. Mereka tidak memberikan jawaban apapun atas pertanyaanku. Bahkan satu katapun tidak lagi keluar dari bibir mereka. Kembali. Sebuah suara mengalihkanku. Kali ini suara seekor anjing yang berlari sambil menyerukan gonggongannya. Aku membalikkan tubuhku kearah sumber suara itu. Sebuah anjing golden berlari terburu menghampiriku.

.

“Hei, Alfa! I miss you, buddy…” kataku refleks sambil berdiri dengan lututku, membelai bulu lembutnya. “Kau juga merindukanku, ‘kan? Sudah lama kita….. Wait! ALFA?!?! HE’S HERE?!?!” tanyaku dengan pertanyaan yang lebih terdengar seperti sebuah pernyataan.

.

Aku sudah kembali berbalik memandang marah pada kedua sahabat yang semula ku pikir dapat ku percaya untuk merahasiakan kejadian yang menimpaku. Namun dengan keberadaan Alfa, itu berarti seseorang (yang tentu saja adalah pemilik Alfa) juga berada disini. Karena Alfa tidak mungkin datang dari Washington tanpa dampingan siapapun. Aku menatap marah pada Ryeowook dan Yoona karena merasa telah dibohongi oleh keduanya. Tapi tentu saja aku sudah mengetahui siapa pelaku sebenarnya.

.

“Jawab aku, Im Yoona. Kau memberitahunya? Dia disini?” tanyaku lagi.

.

Alfa berlari menjauh dari kakiku. Lalu sebuah derap langkah kaki mendekat pada kami. “Setelah beberapa bulan Alfa baru bisa bertemu denganmu, tapi sekarang kau malah menakutinya”, kata sebuah suara dari belakangku.

.

“Itu jawaban atas pertanyaanmu, Lee Hyesoo. Dia disini. Tepat dibelakangmu”, sambung Ryeowook.

.

“Im Yoona, bukankah kau sudah berjanji padaku? Kenapa kau melakukan ini?” tanyaku pada Yoona.

.

“Aku tidak bisa melakukan apapun, Hyesoo-ya. Mianhae…” jawab Yoona.

.

“Hal yang sudah terjadi padaku bukanlah hal besar yang memerlukan keberadaanya disini. Kau mempersulit keadaan”, kataku pelan.

.

“Hei, gadis kecil, kau tidak ingin menyambut kedatanganku terlebih dahulu?”

.

“Diamlah, Lee Donghae! Aku sedang bicara dengan Yoona!” seruku tanpa menoleh pada Donghae.

.

“Sudah. Cukup. Jangan protes lagi padanya…” kata Donghae.

.

“Jangan membelanya!”

.

“Ya Lee Hyesoo! Calm down… Dia tidak memberitahuku karena dia menginginkannya. Aku sudah mengetahui keberadaanmu di rumah sakit terlebih dahulu”, kata Donghae.

.

“Apa katamu?” tanyaku yang akhirnya berbalik menatapnya.

.

“Itu dia! Akhirnya aku bisa melihat wajahmu”, kata Donghae yang ternyata sudah berada dalam jarak yang sangat dekat dariku. “Coba ku lihat…” Donghae memegang kedua bahuku lalu berpindah ke kedua pipiku. “Tidak terlalu buruk. Tidak banyak luka. Hanya pucat dan sedikit lebih kurus. Tidak begitu baik…”

.

“Lepaskan tanganmu”, kataku sambil menyingkirkan tangan Donghae dari wajahku.

.

“Kau tidak ingin memelukku? Kau tidak merindukanku? Hhh… Mengecewakan sekali Lee Hyesoo. Responmu saat bertemu dengan Alfa begitu berbeda. Kau begitu senang saat melihatnya. Mwoya… Sekarang aku tidak seberarti Alfa dalam hidupmu? Keterlaluan…” keluh Donghae.

.

“Jangan mengatakan hal yang konyol. Kau belum menjawabku, Lee Donghae”, kataku.

.

“Tentang apa? Ah… Kau ingin tahu bagaimana aku bisa mengetahui keberadaanmu? Mudah saja. Aku memasang pelacak di ponselmu. Kau ini… Aku sampai menghentikan rapat saat melihat posisi mu yang berada di sebuah rumah sakit di Suwon”, kata Donghae menjelaskan.

.

“Kau melacakku? Bagaimana? Kenapa kau melakukan itu?” tanyaku.

.

“Haruskah aku menjawab pertanyaanmu yang sudah sangat jelas jawabannya itu? Kau terlalu pintar untuk menanyakan hal itu, Hyesoo-ya…” kata Donghae dengan sikap santainya.

.

“Lee Donghae, kau membuang waktumu untuk hal yang tidak perlu kau lakukan. kenapa kau melakukan itu?” tanyaku lagi tanpa menghiraukan ucapannya.

.

“Karena aku ingin. Karena aku bisa. Karena aku harus melakukannya. Kau tidak memberiku pilihan lain saat kau memutuskan untuk pindah ke Seoul tanpaku, Lee Hyesoo”, jawab Donghae.

.

“Apa kau juga melakukan hal itu pada Hyeri?” tanyaku.

.

“Hhh… Tentu tidak. Kenapa? Kau merasa iri pada Hyeri? Aku tidak perlu melacak Hyeri, Hyesoo-ya. Adik kecilku itu selalu menceritakan kegiatannya padaku. Terlebih ada Shin ahjussi yang selalu bersamanya. Kau menolak penjagaan apapun, kau ingat? Kau yang tidak memberikan pilihan padaku selain melacakmu secara diam-diam”, jawab Donghae.

.

“Aku hanya tidak ingin…… kau benar. Aku yang tidak memberikan pilihan padamu. Maaf karena meyulitkanmu…” kataku menyesal. “Appa dan eomma mengetahui alasan keberadaanmu disini?” tanyaku cepat.

.

“Tidak. Kau hanya pergi bersama Ryeowook dan Yoona ke Suwon untuk hang out. Lalu kau pingsan karena Yoona terlalu excited mengemudikan mobil barunya. Aku rasa appa dan eomma tidak perlu mengetahuinya”, kata Donghae.

.

“Apa???” tanyaku dengan tatapan terkejut karena jawaban Donghae. Lalu suara Jaejoong sunbae yang berdeham menyadarkanku. “Kau benar… Tentu saja… Benar… Appa dan eomma tidak perlu tahu hal sekecil itu”.

.

“Ada apa? Ada yang kau sembunyikan dariku?” tanya Donghae yang bingung dengan ekspresiku beberapa saat yang lalu.

.

“Tidak. Hanya saja… sepertinya Yoona lupa memberitahumu bahwa Jaejoong sunbae juga ikut bersama kami”, jawabku cepat yang diikuti dengan anggukkan Yoona, senyum tipis Ryeowook dan smirk Jaejoong sunbae. “Hmm… Jadi, rumah ini milik siapa?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. Ryeowook dan Jaejoong yang merasakan kecanggungan dalam perubahan tema pembicaraan itupun segera berjalan menuju sofa ruang keluarga lalu duduk disana.

.

“Rumahku. Rumahmu. Rumah kita. Kita tinggal dirumah ini sebelum pindah ke Washington”, jawab Donghae.

.

“Oh begitu… Tapi, Donghae-ya…”

.

“Hm?”

.

“Kau tidak marah pada siapapun, ‘kan? Atas hal yang terjadi padaku?” tanyaku khawatir.

.

“Tidak. Aku sudah mendengarnya dari Kim Jaejoong. Penyebabnya adalah serangan trauma kejadian mengerikan itu yang menghampirimu. Aku cukup bersyukur karena sekarang kita bisa mengetahuinya dan mengantisipasi kejadian itu di kesempatan yang lain”, jawab Donghae. “Lagipula, aku tidak cukup baik dalam hal marah pada Yoona. Kau tahu itu”.

.

“Ch… Tapi… Kau mengenal Jaejoong sunbae? Kenapa kau tidak memanggilnya dengan sebutan hyung? Dia lebih tua darimu, inma!” kataku sambil meninju lengannya.

.

“Dia teman SMA ku. Tidak ada orang yang menggunakan kata ‘hyung’ di Washington, Lee Hyesoo. Lagipula kami duduk di kelas yang sama. Kau tentu juga mengetahui bahwa dia adalah orang yang pintar, bukan? Kita hanya berbeda 1 tahun dengannya. Dia juga menyelesaikan sekolah lebih cepat seperti kita du……” Donghae menghentikan kalimatnya. Ia berdeham dengan ekspresi tidak nyaman di wajahnya. Aku pun memberikan senyuman padanya, mengatakan padanya bahwa hal itu sudah tidak menjadi masalah bagiku.

.

“Dulu”, kataku melengkapi kalimat Donghae. “Tidak baik membiarkan kalimatmu menggantung, Lee Donghae. Bukankah aku sudah sering mengatakannya padamu? Ch… i-jasik…”

.

“i-jasik??? Ya Lee Hyesoo, aku ini kakakmu!” protes Donghae.

.

“Aigoo… Kau hanya lahir lebih awal 7 menit dariku, Lee Donghae. Kakak apanya…” kataku balas protes padanya yang mengundang tawa keluar dari bibirnya.

.

“Memang. Tapi tetap saja aku yang lahir lebih awal darimu. Ah, satu hal. Aku baru tiba satu jam yang lalu. Aku belum sempat mampir ke apartment mu untuk mengangkut barang-barangmu. Aku tidak bisa menyuruh orang lain untuk mengangkutnya. Kau tidak suka jika orang asing menyentuh barang-barangmu. Kita sama dalam hal itu. Aku akan mengosongkan jadwalku untuk membantumu mengemas barang-barangmu besok”, kata Donghae.

.

“Aku bisa melakukannya sendiri. Aku tidak punya terlalu banyak barang. Aku hanya butuh sebuah mobil yang cukup besar”, kataku menolak bantuan Donghae.

.

Aku tidak berbohong akan hal itu. Aku memang tidak mempunyai terlalu banyak barang. Saat pindah dari Seattle, aku hanya membawa beberapa koper berisi pakaianku. Sementara barang-barang perabot sudah lengkap di dalam apartment itu. Selama berada di Seoul pun aku tidak membeli banyak barang pelengkap. Ladipula saat ini aku belum memiliki keinginan penuh untuk pindah ke rumah ini. Karena walaupun Donghae mengatakan bahwa ini adalah rumah kami, tapi aku tidak bisa menutupi rasa asing dalam diriku. Aku masih membutuhkan lebih banyak waktu untuk beradaptasi dengan semua hal tentangku dan sekitarku di kota Seoul. Setiap barang, tempat, orang, serta apapun yang memiliki kaitan dengan kehidupanku di masa lalu yang kembali muncul dihadapanku, tidak akan mampu mengembalikan ingatanku. Aku tahu kita tidak boleh berhenti berharap. Sekecil apapun harapan itu, jika memang takdir sudah menentukannya maka harapan akan selalu ada. Tapi saat ini aku sudah terlalu lelah. Aku sudah melewati hari demi hari dalam tahun-tahun penyesuaianku dengan menanamkan sebuah harapan kecil dalam hatiku. Berharap suatu saat nanti setidaknya satu ingatan di masa laluku kembali datang. Aku membiarkan diriku mengikuti tuntunan orang-orang di sekitarku untuk membawaku kembali masuk ke masa lalu yang sudah hilang dari ingatanku. Namun yang selalu terjadi hanyalah aku yang tidak pernah berhenti memunculkan raut kecewa dan sedih diwajah mereka. Aku sudah terlalu banyak melihat raut kekecewaan dengan mataku. Sudah cukup banyak hari yang ku habiskan untuk berusaha menemukan harapan itu. Aku tidak ingin lagi. Usaha apapun yang dilakukan, bagaimanapun caranya, aku tetaplah seorang yang asing dengan kehidupanku sendiri.

.

“Tapi, Donghae-ya… Haruskah aku pindah ke rumah ini?” tanyaku membuat Donghae yang sedang bicara dengan Yoona menoleh padaku.

.

“Tentu saja. Ada apa?” Donghae balas bertanya.

.

“Apa kau akan menetap di Seoul untuk waktu yang lama?” tanyaku lagi.

.

“Suatu saat nanti. Tapi tidak dalam waktu dekat. Kunjunganku kali hanya dua sampai tiga bulan. Aku hanya mengurus beberapa pekerjaan di Seoul, Daegu, dan Jeju saja. Setelah itu aku harus kembali ke Seattle”, jawab Donghae.

.

“Kalau begitu bukankah akan lebih baik jika kau tinggal di apartment saja bersamaku?”, aku bertanya dan bertanya lagi.

.

“Apartment itu tidak cukup memuat banyak orang, Hyesoo-ya”, jawab Donghae sambil mengelus keningnya.

.

“Banyak orang? Hyeri akan tinggal bersama kita juga?”

.

“Tidak. Program asrama di kampus Hyeri berlaku selama satu tahun, Hyesoo-ya. Walaupun kita punya kediaman di Seoul, Hyeri tetap harus berada di asrama”, jawab Donghae dengan sikap tenang khasnya yang terkadang membuatku frustrasi menghadapinya. Ia terlalu tenang. “Aku sudah bicara pada mereka”, sambung Donghae dengan menyertakan ketiga orang yang sedang bersama kami saat ini. “Kau akan diantar oleh Min Jung Shik ahjussi kemanapun kau mau. Tentu saja kau tetap boleh bepergian bersama Yoona dan Ryeowook…”

.

“Atau Jaejoong sunbae…” sambung Yoona cepat yang membuat Jaejoong meliriknya dan tersenyum tipis.

.

“Hhh… Benar. Dan juga Kim Jaejoong. Semua keperluan rumah akan diurus oleh Gong Mi Sun ahjumma dan Cha Hyun Mi nuna. Kau perlu seseorang untuk mengurus keperluan pribadimu? However… Sunny nuna membatu apapun yang kau butuhkan”, kata Donghae menjelaskan.

.

“Lee Donghae, apa kau tidak terlalu berlebihan?” tanyaku heran setelah mendengar seluruh nama pekerja itu.

.

“Tidak. Misun ahjumma dan Hyunmi nuna akan mengurus keperluan rumah, bukan hanya kau. Jungshik ahjussi akan mengantarmu dan juga yang lainnya. Hanya Sunny nuna yang akan mengurus keperluan pribadimu. Aku sudah memikirkannya baik-baik agar keadaan itu tidak terlalu memberatkanmu, Lee Hyesoo”, kata Donghae menjelaskan.

.

“Bisakah aku tetap tinggal di apartment, lalu mereka hanya akan datang di waktu yang ditentukan?” tanyaku mencoba bernegosiasi.

.

Negative. No possibility. Tetap pada rencanaku. Tanpa membantah, Lee Hyesoo. Itu pilihan termudah dariku”, jawab Donghae tetap pada pendiriannya.

.

“Tapi…..”

.

“Hyesoo-ya, ke dapur bersamaku?” tanya Yoona menghentikanku dari perdebatan dengan Donghae. “Lebih baik kita membuat sesuatu untuk makan malam, eo?”

.

Yoona menarik tanganku lalu menjauh dari sana menuju dapur. Donghae bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ada dua orang yang sedang mempersiapkan makan malam di dapur. Tentu saja dengan melihatnya aku sudah bisa menebak siapa kedua orang itu. Seorang wanita yang terlihat lebih tua dengan senyum lembut keibuan tentu adalah Misun ahjumma. Sementara seorang yang lain dengan senyum sopan dan sikap siaganya adalah Hyunmi eonni. Setelah memberikan salam padaku dan Yoona, mereka kembali melanjutkan pekerjaan yang sedang mereka lakukan.

.

“Anda perlu sesuatu, agassi?”, tanya Misun ahjumma.

.

“Tidak… Belum. Terima kasih sudah bertanya, ahjumma”, jawabku sambil tersenyum pada Misun ahjumma. “Kau bilang kita akan membuat makan malam, Im Yoona. Kau tahu mereka berdua sudah berada disini, ‘kan? Kau hanya mau mengalihkanku dari Donghae”, kataku dengan suara berbisik.

.

“Donghae sedang tidak dalam keadaan baik, Hyesoo-ya. Dia memang terlihat tenang, tapi dia sangat marah. Dia tahu kau tidak akan suka jika ada orang yang menyalahkan diri mereka atas apapun yang terjadi padamu. Karena itu Donghae menyembunyikan hal itu darimu. Dia sangat menyalahkan dirinya, Hyesoo-ya. Kali ini jangan marah padanya. Kau masuk rumah sakit dan dia tidak bisa berbuat apapun akan hal itu. Biarkan dia melakukan yang dia inginkan saat ini. Dia tidak mengekangmu, bukan? Jadi, biarkan saja. Hm?” kata Yoona.

.

Aku pun menganggukkan kepalaku untuk menjawab Yoona. Ia mengatakan hal yang benar. Selama ini aku selalu membuat Donghae mencemaskanku dengan semua sikapku. Donghae selalu bersikap tenang saat menghadapiku. Meski aku tahu ia tidak merasakan ketenangan itu jauh dilubuk hatinya. Semua kerisauan itu akhirnya mencapai puncaknya saat ini. Donghae tidak akan lagi mendengar penolakanku. Donghae hanya akan melakukan apa yang menurutnya benar. Dan aku tidak akan melakukan apapun dengan keputusannya. Kali ini aku akan membiarkan Donghae menjagaku dengan tetap memberikan kebebasan padaku. Karena kenyataannya Donghae tidak mengekangku. Ia hanya ingin menjagaku, layaknya seorang saudara kandung yang saling menjaga satu sama lain.

.

“Jadi, kau berbohong padanya? Untuk apa?” tanyaku sambil melangkah kearah meja makan.

.

“Mengurangi jumlah orang yang terlibat dalam permasalahan ini. Donghae sudah terlalu lelah karena mengkhawatirkanmu, Hyesoo-ya. Aku tidak akan membiarkannya berurusan dengan Cho Kyuhyun juga. Kita masih bisa menghadapinya bahkan tanpa campur tangan Donghae. Lagipula aku tahu bahwa Donghae tidak akan marah padaku. Dia terlalu menyukaiku, kau tahu?” kata Yoona dengan nada bercandanya yang sudah kembali terdengar.

.

“Ch… Aku tahu hal itu dengan sangat baik, calon saudara ipar”, kataku sambil menuangkan air ke dua buah gelas. “Hah… Aku tidak suka ini. Kenapa kita bertiga berakhir menjadi satu keluarga seperti ini? Kalian berdua terlalu cerewet padaku. Aku tidak suka saudara ipar seperti kalian berdua”, sambungku lalu menenggak minumanku.

.

“Apa maksudmu? Berdua? Dengan siapa?” tanya Yoona bingung.

.

“Ini. Minumlah…” kataku sambil menyerahkan gelas yang lain pada Yoona tanpa menjawab pertanyaannya.

.

“Lee Hyesoo, katakan! Siapa yang kau maksud?” tanya Yoona lagi.

.

“Kita seri. Kau juga tidak memberitahuku tentang kedatangan Donghae…” kataku sambil berlalu meninggalkannya di dapur.

.

.

BGM: JuB & Jang Yi Jeong – Confusing (아리송해)

.

.

Author’s POV

Keesokkan harinya, pagi-pagi sekali Donghae sudah meninggalkan rumah karena harus mengurus beberapa pekerjaan di Daegu. Donghae benar-benar melakukan semua hal yang dikatakannya kemarin malam. Sebagai balasan untuk sikap Hyesoo yang menerima semua penjagaan, Donghae pun berjanji untuk mematikan pelacak yang terpasang di ponsel keduanya. Saat Hyesoo keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk sarapan, Misun ahjumma dan Cha Hyunmi sudah menyiapkan beberapa pilihan makanan diatas meja makan atas permintaan Donghae. Sesaat setelah Hyesoo duduk di kursi meja makan, seseorang yang Hyesoo duga adalah Lee Sunny datang menghampirinya dengan senyum ramah. Ia duduk di sisi lain meja makan dan menunggu Hyesoo menyantap sarapannya. Canggung yang dirasakan Hyesoo akhirnya membuatnya mempercepat gerakan tangannya memasukkan makanan ke mulutnya. Hyesoo pun kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Benar saja. Saat ia keluar dari kamar mandi, pakaian yang ia butuhkan dari atas kepala hingga ujung kaki sudah diletakkan dengan rapi di ranjangnya. Setelah berganti pakaian, Hyesoo meraih ponselnya lalu keluar dari kamarnya untuk segera berangkat menuju kampus. Hyesoo harus berangkat lebih cepat dari biasanya karena ia tidak membawa barang-barang keperluan kuliah satupun. Ia harus kembali ke apartment terlebih dahulu untuk mengambil semua barang yang ia butuhkan untuk kuliah hari ini.

.

“Selamat pagi, agassi”, sapa seorang pria di depan pintu utama rumah itu.

.

“Ah, ne. Selamat pagi, Min ahjussi”, Hyesoo balas menyapanya.

.

“Mulai hari ini saya yang akan mengantar anda. Agassi ingin pergi kemana hari ini?” tanya Min Jung Shik.

.

“Ahjussi……”

.

“Ne, agassi?”

.

“Bisakah ahjussi memanggil namaku saja? Jangan agassi, Lee Hyesoo saja. Atau Hyesoo-ya…….seperti itu?” pinta Hyesoo.

.

“Hal itu… tentu saja tidak bisa, agassi. Bagaimana bisa saya memanggil anda dengan panggilan seperti itu?” tolak Min Jung Shik dengan sopan.

.

“Eonni-deul dan ahjumma juga… ne?” kata Hyesoo yang tiba-tiba berbalik karena mengetahui keberadaan Misun ahjumma, Hyunmi dan Sunny di belakangnya. “Aku tidak akan membantah hal yang lain. Kabulkan satu permintaanku ini. Ne?”

.

“Tapi, Agassi……” kata Sunny mencoba menyanggah ucapan Hyesoo.

.

“Lee Hyesoo. Panggil namaku saja. Ne?” bujuk Hyesoo yang memotong ucapan Sunny.

.

“Agassi, hal itu tidak pantas untuk dilakukan…” kali ini Misun ahjumma ikut bicara. “Kami harus memperhatikan attitude kami dalam bekerja. Jika kami melakukan hal itu, maka sama saja kami sudah lalai melakukan pekerjaan kami, Agassi. Kami akan mendapat masalah”.

.

“Aku akan membicarakannya pada Donghae. Kalian tidak perlu khawatir. Dia tidak akan menegur ataupun marah pada kalian. Ne?” bujuk Hyesoo lagi.

.

“Kami yang akan marah pada diri kami sendiri, Agassi. Karena dengan melakukan hal itu, sama saja kami tidak bisa bertanggungjawab pada diri kami sendiri. Jika seperti itu, bagaimana bisa kami bertanggungjawab atas pekerjaan kami untuk menjaga Agassi?” kata Hyunmi akhirnya angkat bicara ikut menolak permintaan Hyesoo dengan tak kalah sopan.

.

“Huh… Kalian menolakku dengan cara yang sangat baik dan sopan. Membuatku merasa bersalah saja…” keluh Hyesoo.

.

“Joesonghabnida, agassi…” kata Misun ahjumma, Hyunmi, Sunny dan Min Jungshik bersamaan.

.

“Aniyo! Bukan itu maksudku. Kalian tidak perlu meminta maaf padaku”, kata Hyesoo cepat. “Ah… Apa yang sudah kau lakukan, Lee Hyesoo? Jaga bicaramu ish…” sambung Hyesoo bicara pada dirinya sendiri. “Baiklah. Aku mengerti. Aku tidak akan menyusahkan kalian. Ahjussi, bisakah ahjussi mengantarku ke apartment? Aku harus mengambil tas dan buku-buku keperluan kuliahku”.

.

“Tentang hal itu, Agassi… Donghae doryeonnim mengatakan bahwa tuan Kim Ryeowook yang akan mengambilnya di apartment agassi dan akan memberikannya pada anda di kampus”, kata Sunny.

.

“Ryeowook-ie? Ryeowook yang ku kenal? Kita sedang membicarakan Kim Ryeowook yang sama?” tanya Hyesoo dengan ekspresi terkejutnya.

.

“Benar, agassi”, jawab Sunny.

.

“Apakah sesuatu terjadi padanya? Seperti terbentur di kepala, begitu?” tanya Hyesoo.

.

Sunny tersenyum, mengerti maksud dari pertanyaan Hyesoo. “Tidak, agassi. Tuan Ryeowook baik-baik saja”, jawab Sunny lagi.

.

“Ini bukan pertanda baik… Dia akan mengeluh sepanjang hari karena hal ini. Lee Donghae geu jasik… Ahjussi, aku ingin berangkat sekarang”, kata Hyesoo.

.

“Ne, agassi. Silahkan masuk…” kata Min Jungshik sambil membukakan pintu mobil bagian belakang.

.

Kembali, Hyesoo membuat mereka terkejut dengan sikapnya. Hyesoo justru membuka pintu front seat disamping pengemudi, bermaksud ingin duduk disana. Namun langkahnya terhenti. Tiba-tiba ia teringat dengan kejadian yang terjadi 2 hari lalu. Hyesoo pun kembali menutup pintu itu, lalu masuk ke back seat melalui pintu yang sudah dibukakan oleh Min Jungshik sejak awal. Ternyata masih ada sisa rasa takut dari kejadian hari itu dalam dirinya. Ia belum mampu menghilangkan perasaan itu selama beberapa hari ke depan. Setelah memastikan Hyesoo masuk ke mobil, Min Jungshik masuk ke kursi pengemudi dan segera melajukan mobil keluar dari pekarangan rumah menuju kampus.

.

.

.

.

K University

“Kau… Ah…… Jika aku tahu akan seperti ini jadinya, kemarin malam sebelum pulang ke rumah aku akan membawamu kembali ke apartment untuk mengambil tas dan buku-bukumu ini. Ah… Padahal seharusnya aku masih bisa tidur selama 30 sampai 45 menit lebih lama. Karenamu… Ah… Menyebalkan…” keluh Ryeowook sesaat setelah sampai di taman fakultas kesehatan dimana Hyesoo dan Yoona menunggunya.

.

“Maafkan aku, chagiya…” kata Hyesoo dengan nada bercandanya.

.

“Chagiya gateun sori hane……” keluh Ryeowook lagi.

.

“Seharusnya kau menolak permintaan Donghae”, kata Hyesoo.

.

“Kau pikir aku tidak ingin?

.

“Kenapa kau melampiaskan rasa kesalmu padaku? Katakan keluhanmu itu pada Lee Donghae! Bukankah dia yang membuatmu melakukan semua hal melelahkan ini? Salahkah juga sahabatmu ini! Dia yang sudah memberitahu Lee Donghae dan membiarkan manusia menyebalkan itu datang ke Seoul. Aku tidak melakukan apapun padamu. Bukankah begitu?” kata Hyesoo.

.

“Hah… Aku rasa mereka berdua memang ditakdirkan bersama bahkan sebelum mereka lahir di dunia ini. Bagaimana bisa mereka mempunyai sifat yang sama-sama menyebalkan?”, kata Ryeowook yang kini justru bicara pada Hyesoo.

.

“Benar! Aku setuju. Takdir langit benar-benar menyeramkan. Auh…” sambung Hyesoo.

.

“Ya! Kalian tidak adil! Dua lawan satu sangat tidak seimbang!” protes Yoona.

.

“Kau ‘kan juga berdua, Im Yoona! Bersama pujaanmu, tuan muda Lee Donghae”, kata Ryeowook dengan memberikan penekanan saat menyebut nama Donghae.

.

“Mereka berdua benar-benar tidak mempertimbangkan orang lain. Bukan. Kita berdua bukan orang lain, Ryeowook-ah. Kita berdua sahabatnya. Aku adik dan calon adik iparnya. Bukankah mereka keterlaluan?” kata Hyesoo melebih-lebihkan nada bicaranya.

.

“Pernahkah kalian mempertimbangkan posisiku? Ch… Kalian berdua juga menyebalkan”, keluah Yoona kali ini.

.

“Ya! Ya! Hentikan!” seru Jaejoong yang datang menghampiri mereka. Ketiganya menoleh pada Jaejoong secara serentak. “Apakah kalian tahu, cara kalian berkomunikasi sangat aneh? Setiap orang yang mendengar percakapan kalian akan mengira kalian sedang pemanasan untuk berperang. Hari masih pagi, jangan merusak suasana tenang di kampus ini, eo?” kata Jaejoong dengans senyuman di bibirnya.

.

“Aigoo… Lihatlah senyuman lebar itu. Setiap orang yang melihatnya akan berpikir sunbae sedang memiliki mood yang sangat baik pagi ini. Sunbae seharusnya merasa bersalah pada mereka yang memiliki mood buruk”, sambung Ryeowook.

.

“Aku tidak mengganggu orang lain dengan senyumku ini, inma…” kata Jaejoong.

.

“Geundeyo, ada apa pagi ini? Kenapa sunbae terlihat sangat bahagia?” tanya Yoona.

.

“Tentu saja aku bahagia. Karena Lee Hyesoo berada dihadapanku saat ini…” kata Jaejoong sambil tertawa kecil.

.

“Maafkan aku, teman-teman. Aku telah berbuat kesalahan dengan menanyakannya…” kata Yoona pada Ryeowook dan Hyesoo. “Auh… Aku merinding mendengarnya. Sangat bukan Kim Jaejoong yang ku kenal. Aku tidak bisa menahannya. Aku pergi…” kata Yoona yang segera bangkit berdiri.

.

“Ayo, Hyesoo-ya. Sunbae ini benar-benar mulai menjadi gila”, sambung Ryeowook sambil menuntun Hyesoo beranjak dari tempat itu menuju ke gedung kampus.

.

“Ya! Tunggu aku!” seru Jaejoong yang menyusul Ryeowook dan Hyesoo. “Im Yoona! Belajarlah dengan baik!” seru Jaejoong sambil melambaikan tangan pada Yoona yang sudah berjalan menjauh. Yoona yang merasa malu dengan seruan Jaejoong itupun mempercepat langkahnya, berlari kecil menjauh dari pekarangan fakultas kesehatan.

.

.

BGM: Tearliner – 꿈속의

.

.

Kelas hari ini telah usai, Hyesoo berjalan menyusuri koridor seorang diri. Sesaat setelah Profesor Lee menyudahi perkuliahan, Ryeowook langsung melesat keluar dari ruangan untuk menuju suatu tempat yang tidak ia beritahukan pada Hyesoo. Sementara Jaejoong harus menemui profesor pembimbingnya. Hyesoo keluar dari gedung fakultas kesehatan, melewati taman yang dipenuhi oleh mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas kelompok mereka. Beberapa mahasiswa yang mengenalnya memberikan salam padanya saat berpapasan dengannya. Seperti yang selalu dilakukannya, Hyesoo memberikan senyuman pada mereka senormal yang bisa ia lakukan. Hari ini isi hati dan pikirannya sedang tidak menentu. Terlalu banyak hal terjadi dalam jangka waktu yang cepat baginya. Ia merasa seperti diajak berlari tanpa henti. Ia membutuhkan udara untuk bernapas dan bertahan menghadapi semua hal yang terkadang tidak ia mengerti. Oleh karena itu, Hyesoo tidak segera menghubungi Min Jungshik agar menjemputnya. Ia tidak ingin segera kembali ke rumah yang terasa begitu asing baginya. Hyesoo akan menghubunginya nanti. Sesuai dengan kesepakatannya dengan Donghae kemarin malam, Hyesoo sendiri yang akan kembali ke apartment untuk mengambil barang-barangnya. Hyesoo berjalan tanpa tujuan dengan musik dengan irama menenangkan yang mengalun lembut dari headset di telinganya. Ia menyusuri trotoar di sepanjang sisi danau yang cukup besar, menikmati angin yang menyentuh kulit bebasnya dan menerbangkan rambutnya. Sampai ia menyadari bayangan seseorang yang ia duga berjarak tidak terlalu jauh di belakangnya. Hyesoo menghentikan langkahnya, lalu menatap bayangan yang juga ikut berhenti bersamanya. Hyesoo menghela napas panjang, menduga bahwa orang yang mengikutinya adalah Min Jungshik. Hyesoo pun berbalik, bermaksud ingin meminta waktu untuk dirinya sendiri dari semua orang yang memiliki tugas melindunginya. Namun saat ia berbalik, bukan Min Jungshik-lah yang berdiri dibelakangnya. Melainkan Cho Kyuhyun yang memberikan senyum tipisnya pada Hyesoo saat mata keduanya bertemu. Hyesoo mengernyitkan keningnya menatap Kyuhyun dihadapannya. Kyuhyun pun melangkah mendekat pada Hyesoo dengan langkah kecil dan perlahan.

.

“Menikmati kebebasan?” tanya Kyuhyun dengan senyuman yang belum pudar dari wajahnya.

.

.

BGM: Red Cheek Puberty – Hidden Path (가리워진 )

.

.

“Apakah terlihat seperti itu?” Hyesoo balas bertanya.

.

“Jadi, belum ada kebebasan?” Kyuhyun kembali bertanya.

.

“Aku tidak mengerti apa yang sunbae bicarakan”, kata Hyesoo menanggapi pertanyaan Kyuhyun.

.

“Teman-teman dan semua orang yang selalu berada disekitarmu. Mereka tidak ada disini untuk menjagamu. Kau sendirian”, kata Kyuhyun.

.

“Sunbae disini. Dihadapanku. Mengikutiku”, kata Hyesoo. “Atau tidak?”

.

“Aku baru menghampirimu saat melihatmu beberapa menit yang lalu. Aku tidak bermaksud melakukannya sejak awal. Aku tidak mengikutimu”, jawab Kyuhyun.

.

“Memangnya apa yang aku katakan?” tanya Hyesoo dengan tawa kecil yang keluar dari bibirnya sambil berjalan menuju sebuah bangku taman lalu duduk disana.

.

Kyuhyun ikut tertawa bersama Hyesoo, lalu berjalan mendekat padanya. Kyuhyun duduk di ujung bangku dan menatap jauh ke arah danau. “Kau baru keluar dari rumah sakit kemarin dan hari ini sudah muncul dikampus. Bagaimana keadaanmu?” tanya Kyuhyun.

.

“Sunbae mengkhawatirkanku?” Hyesoo balas bertanya dengan senyum menyindir diwajahnya.

.

“Tidak. Aku hanya ingin tahu. Karena jika terjadi sesuatu padamu, maka aku bisa menyalahkanmu karena selalu ceroboh pada diri sendiri”, jawab Kyuhyun dengan nada bercanda. “Jadi?” tanya Kyuhyun sambil menoleh, menunggu jawaban Hyesoo.

.

Hyesoo pun balas menoleh pada Kyuhyun, lalu tersenyum tipis padanya. Hyesoo kembali menatap lurus ke depan, lalu menunduk menatap kosong pada trotoar. “Aku sudah jauh lebih baik”, jawab Hyesoo.

.

“Tidak ada keluhan apapun lagi?” tanya Kyuhyun lagi.

.

Hyesoo menggeleng pelan. “Tidak ada. Semua keluhan itu menghilang cepat dengan ajaib”, jawab Hyesoo dengan nada bercandanya. “Terima kasih karena sudah bertanya”.

.

“Hhh… Jadi, hari ini tidak ada yang menanyakan keadaanmu. Karena itu kau pergi seorang diri? Atau melarikan diri? Merasa kecewa dengan berkurangnya perhatian mereka?”

.

“Tidak. Tidak begitu”, jawab Hyesoo.

.

“Kenapa kau seorang diri?” tanya Kyuhyun dengan nada seriusnya kali ini.

.

“Karena aku ingin. Tidak ada alasan lain”.

.

“Melelahkan, bukan?”

.

“Ne?” tanya Hyesoo yang bingung dengan pertanyaan Kyuhyun.

.

“Dijaga. Dikhawatirkan. Diatur banyak orang. Sangat melelahkan, bukan? Kau pikir kau sudah menutupi semua rasa lelahmu karena hal itu dengan baik? Jika kau ingin menutupinya, maka lakukan dengan lebih bersungguh-sungguh, Lee Hyesoo. Dalam berpura-pura, kau tidak boleh lengah. Tidak boleh ada satu detikpun kau menunjukkan ungkapan kelelahan itu diwajahmu. Tapi lihatlah dirimu. Aku masih bisa menangkap ekspresi itu dari wajahmu”, kata Kyuhyun.

.

Hyesoo menoleh pada Kyuhyun. Ia memperhatikan wajah dingin laki-laki itu. Kyuhyun masih pada posisinya semula. Sejak tadi Kyuhyun lebih sering bicara tanpa menatap Hyesoo. Ia hanya memandangi gerakan pelan air yang terbentang dihadapannya. Hyesoo tidak menemukan apapun. Wajahnya tidak terbaca. Tidaka ada ungkapan emosi apapun. Siapapun yang melihat wajah Kyuhyun, tidak akan ada yang tahu apa yang sedang ia dirasakan. Lalu Kyuhyun menoleh, menatap ke dalam mata Hyesoo dengan tatapan tajam di wajah tanpa ekspresinya. Seketika Hyesoo tersadar akan suatu hal. Cho Kyuhyun sedang mengenakan topengnya. Dibalik ucapannya, ia juga bicara tentang dirinya. Mata gelap itu menyuarakan semua hal yang ia rasakan. Hyesoo seolah menemukan dirinya dalam tatapan itu. Hyesoo pun segera mengalihkan pandangannya cepat dari Kyuhyun lalu berdeham pelan.

.

“Bagaimana sunbae melakukannya?” tanya Hyesoo, mengakhiri keheningan diantara mereka.

.

“Berlatih seumur hidup. Jika itu jawaban yang ingin kau dengar”, jawab Kyuhyun sambil tertawa kecil.

.

Hyesoo tersentak. Matanya melebar. Awalnya Hyesoo berpikir Kyuhyun akan menyangkal pertanyaannya. Namun Kyuhyun justru mengakuinya tanpa beban apapun. Hyesoo menghela napasnya berat sebelum kembali bicara pada Kyuhyun. “Tapi pada akhirnya semua pengawasan berakhir”, kata Hyesoo.

.

“Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun.

.

“Sunbae sudah mendapatkan kebebasan. Tidak ada yang menjaga atau mengawasi setiap langkahmu. Bahkan sunbae bisa pergi kemanapun sesuka hati”, jawab Hyesoo.

.

“Mereka hanya berpura-pura memberikan kebebasan padaku, Lee Hyesoo”, kata Kyuhyun. “Menolehlah ke belakang dengan gerakan alami tanpa menimbulkan kecurigaan dan lihat semua hal yang tertangkap oleh matamu. Ingat baik-baik yang kau lihat”.

.

Hyesoo pun melakukan apa yang dikatakan Kyuhyun padanya. Hyesoo berdiri dan melangkah ke pagar pembatas danau. Hyesoo berbalik menghadap ke arah yang dimaksud Kyuhyun. Kemudian Hyesoo menatap Kyuhyun dan tersenyum padanya. “I don’t know why I’m doing this. (Aku tidak tahu kenapa aku melakukan hal ini)”, kata Hyesoo tanpa suara. Kyuhyun tertawa kecil melihat tingkah Hyesoo dihadapannya. “Jalbwa… (Lihatlah dengan baik…)”, kata Kyuhyun kali ini, juga tanpa suara. Hyesoo menoleh ke arah kanan, dimana ada sekelompok kecil mahasiswa yang sedang tertawa bersama dengan suara keras. Tentu saja bukan kelompok itu yang dilihat Hyesoo. Barisan mobil dibelakang merekalah yang diperhatikan Hyesoo. Setelah beberapa saat, Hyesoo kembali melangkah ke bangku taman tempat Kyuhyun yang kini sudah mengubah posisi duduknya menjadi bersila. Hyesoo duduk disana lalu menoleh menatap Kyuhyun.

.

“Aku sudah melihat dan mengingat semuanya. Lalu?” tanya Hyesoo.

.

“Jika aku tidak salah mengingat, ada dua mobil sedan hitam disana dengan jarak parkir yang cukup berjauhan. Benar?”

.

“Ne… Ada apa dengan kedua mobil itu?” tanya Hyesoo lagi. “Jangan katakan……”

.

“Mereka masih melakukan hal itu. Bahkan setelah bertahun berlalu. Kesetiaan mereka patut ku acungi ke empat ibu jari yang ku punya”, kata Kyuhyun menjawab pertanyaan Hyesoo. “Apa mereka tidak merasa terlalu tua untuk mengikutiku hingga sekarang?” tanya Kyuhyun yang terdengar seperti bertanya pada dirinya sendiri.

.

“Apakah tidak ada yang menggantikan mereka?” tanya Hyesoo mencoba untuk tetap menetralkan situasi. Karena sebenarnya Hyesoo menemukan kilatan rasa muak yang dirasakan Kyuhyun pada perlakuan yang diterimanya untuk waktu yang sangat lama.

.

“Ada 3 orang di dalam mobil yang berukuran sedikit lebih besar. Sementara di mobil yang lain hanya terdapat 2 orang saja. Kau pasti akan bertanya, ‘kenapa di salah satu mobil terdapat 3 orang?’ Karena ada seorang pak tua yang sangat mengetahui semua hal tentangku, bahkan melebihi diriku sendiri. Pagi ini aku melihat seseorang yang memiliki tugas serupa dengan pak tua itu. Dia sangat cantik dan mempesona. Maukah bertukar denganku? Pak tua itu sangat berpengalaman. Dia tidak akan mengecewakanmu”, kata Kyuhyun dengan candaan yang mengikuti di akhir penjelasannya.

.

“Lalu siapa dua orang lainnya?” tanya Hyesoo tidak menghiraukan candaan Kyuhyun.

.

“Hmm… Salah satunya pengemudi. Aku tidak terlalu mengetahui data dirinya. Yang ku tahu pengemudi terakhir diganti 5 tahun yang lalu setelah melakukan pekerjaan itu selama 11 tahun. Jika pengemudi adalah seorang yang tercepat dan tertangkas dalam mengemudikan mobil dengan kecepatan semaksimal mungkin, maka orang yang duduk disamping kemudi adalah yang terbaik dalam menggunakan anggota tubuhnya”, kata Kyuhyun menjelaskan yang membuat Hyesoo mengernyitkan kening karena tidak mengerti dengan penjelasan terakhir Kyuhyun. “Berbadan cukup besar, memiliki keahlian bela diri dan olah raga lainnya, serta dapat berlari dengan sangat cepat. Menurutku, aspek selain berbadan cukup besar miliknya tidak dibutuhkan untuk melakukan pekerjaannya”.

.

“Aku justru berpikir berbadan besarlah yang tidak terlalu diperlukan dalam menangani sunbae”, sambung Hyesoo.

.

“Ch… Kali ini kau salah, Lee Hyesoo. Aku rasa kau memiliki teori yang salah tentangku dalam pikiranmu. Aku tidak berolahraga atau melarikan diri dengan tubuhku. Dalam kata lain, aku tidak berlari. Sangat merepotkan melakukan hal itu. Lagipula aku tetap akan mendapatkan kuliah panjang dari seorang pria tua lain meski melarikan diri dengan mobil. Apa lagi yang ingin kau dengar? Ah… Aku tidak pernah melakukan permainan bola apapun lebih dari 3 menit, tentu saja selain golf. Dan aku hanya tahu satu bela diri, yaitu memanah. Tapi siapa orang yang membawa busur dan anak panah dalam kehidupan sehari-hari di era seperti ini? Ini bukan jaman Joseon, ‘kan?” kata Kyuhyun sambil tertawa.

.

“Waeyo? Orang tua mu tidak mengijinkan anak laki-lakinya kelelahan? Atau berkeringat? Khawatir ketampanan anak mereka akan luntur terbawa tetesan keringat?” tanya Hyesoo dengan nada bercandanya, tidak mengubah suasana perbincangan diantara mereka.

.

Kyuhyun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Beberapa saat kemudian ia menarik napas panjang dan menghembuskannya. Wajahnya perlahan kembali berubah. Ekspresi riangnya menghilang dalam hitungan detik. Kyuhyun menoleh menatap Hyesoo dengan wajah tenang dan datar. “Katakan padaku. Apa diagnosa yang kau temukan setelah mendengar penjelasanku?” tanya Kyuhyun.

.

“Ne? Aku… Aku tidak…… Aku hanya menduganya”, Hyesoo balas bertanya.

.

“Dan dugaanmu adalah?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Sunbae……memiliki masalah dengan jantungmu?” tanya Hyesoo ragu.

.

Kyuhyun tersenyum, membuat sebuah kerutan terlihat di kening Hyesoo. Melihat hal itu, Kyuhyun mendekat pada Hyesoo. Ia menjulurkan tangannya ke wajah Hyesoo, lalu mengusap kening Hyesoo dengan ibu jarinya, menghilangkan jejak kerutan disana. Kemudian Kyuhyun mengacak rambut Hyesoo sebelum ia menarik tangannya dari kepala Hyesoo.

.

“Tidak buruk…” kata Kyuhyun.

.

“Apa?” tanya Hyesoo bingung.

.

“Kemampuanmu dalam menganalisa”, jawab Kyuhyun. “Kau benar. Semua hal dalam diriku sempurna. Kecuali sumber kehidupanku ini”, kata Kyuhyun sambil menyentuh dadanya. “Tapi dia belum lelah, Lee Hyesoo. Dia masih berdetak berirama. Senang merasakan detakannya ditanganku”.

.

“Apa sunbae sudah mela……”

.

“Lee Hyesoo. Berhenti disitu. Temanku ini tidak suka dibicarakan. Dia sangat sensitif jika ada orang lain yang membicarkan dirinya”, kata Kyuhyun menghentikan ucapan Hyesoo. “Ah, apa kau mau makan siang denganku?” tanya Kyuhyun tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.

.

“Makan siang? Bersama sunbae? Hm… Aku punya pengalaman yang kurang menyenangkan dalam hal makan siang bersamamu. Jadi aku rasa kali ini aku akan melewatkan tawaran itu saja”, kata Hyesoo.

.

“Kau tidak perlu khawatir. Kali ini tidak ada mobil dan kemarahan seorang Cho Kyuhyun yang kekanakan. Kita akan makan siang disini”, kata Kyuhyun.

.

“Disini? Bagaimana?” tanya Hyesoo.

.

Kyuhyun pun memindahkan tasnya ke pangkuannya. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan tempat makan bertumpuk tiga berwarna biru tua, lalu meletakkannya di sisa jarak diantara Kyuhyun dan Hyesoo di bangku taman yang sedang mereka duduki. Ia memisahkan dan membuka satu demi satu tempat makan itu. Kemudian Kyuhyun memberikan sebuah garpu pada Hyesoo yang diterima tanpa ragu oleh Hyesoo. Kyuhyun menganggukkan kepalanya meminta Hyesoo untuk menyantap apapun yang ia inginkan dari bekal makan yang dibawanya. Setelah memastikan Hyesoo memasukkan suapan pertamanya ke dalam mulutnya, Kyuhyun pun ikut melakukan hal yang serupa dengan Hyesoo. Ia menyantap potongan bulgogi dengan cepat.

.

“Bagaimana sunbae mengatasi rasa muak dengan semua penjagaan itu?” tanya  Hyesoo ditengah aktivitas makannya.

.

“Apa maksudmu? Aku tidak begitu”, kata Kyuhyun menyangkal.

.

“Ibwayo, Cho Kyuhyun sunbae-nim. Kau tidak bisa berbohong pada orang yang mendapatkan perlakuan serupa. Kau tidak lagi terlihat lelah, tapi lebih seperti muak dengan semua hal yang mereka lakukan untuk menjagamu. Bagaimana caramu mengatasinya? Bukankah seharusnya sunbae berbagi tips denganku?” tanya Hyesoo santai.

.

“Hhh… Nikmati saja. Jangan pedulikan mereka. Selama mereka tidak mengurungmu di dalam kamar dan melarang kau melakukan apapun, biarkan mereka melakukan pekerjaan mereka. Kau hanya perlu melakukan pekerjaanmu”, kata Kyuhyun.

.

“Mereka pernah melakukan hal itu pada sunbae? Maksudku, mengurung sunbae?” tanya Hyesoo dengan kewaspadaan yang dirasakannya.

.

“Aku seorang pemberontak, Lee Hyesoo. Terakhir kali aku melakukan kesalahan, kau juga ada di tempat itu, kau ingat? Aku hanya beruntung kali ini mereka tidak melakukan hal itu”, jawab Kyuhyun. “Cepat atau lambat kau pasti akan merasa lelah atau bahkan muak. Tidak ada yang akan menyalahkanmu atas hal itu. Tidak ada yang salah dari perasaan itu. Atasi dengan caramu. Alihkan pikiranmu. Karena jika tidak, psikismu sendiri yang akan menderita karena tidak bisa mengatasinya”, kata Kyuhyun menjelaskan.

.

Hyesoo terdiam. Bukan. Ia tidak sedang memikirkan nasibnya di masa depan. Apapun yang akan terjadi di masa depan, hal itu belum terjadi. Hyesoo masih bisa mencegah hal itu. Tapi Kyuhyun, dengan sifatnya dan segala rasa muak yang ia miliki, tentu Kyuhyun sering mendapatkan perlakuan itu. Bagaimana? Apa yang mereka lakukan? Seberapa parah hingga seorang Cho Kyuhyun dapat menunjukkan rasa sakit itu di matanya? Hyesoo bertanya-tanya dalam pikirannya. Ia tidak bisa menyuarakan semua pertanyaan itu begitu saja. Rasa sakit itu tidak akan membaik dengan pertanyaan-pertanyaan tidak berarti di kepalanya. Kyuhyun hanya akan lebih terluka dengan menceritakan kembali semua hal yang sudah ia alami. Hyesoo tidak pernah ingin menyakiti siapapun, bahkan seorang Cho Kyuhyun.

.

“Lee Hyesoo, apakah kita  pernah bertemu?”

.

“Ne?”

.

“Tidak. Lupakan saja. Aku rasa ada yang salah dengan kerja otakku akhir-akhir ini”, kata Kyuhyun.

.

Beberapa meter dari Kyuhyun dan Hyesoo…

“Dasom-ah, kau mengenal gadis itu?”

.

“Siapa yang sedang kau bicarakan, Soyu-ya?” tanya Dasom.

.

“Gadis yang sedang duduk bersama Kyuhyun sunbae”, jawab Soyu.

.

“Oh… Lee Hyesoo. Mahasiswa yang baru pindah dari US beberapa bulan yang lalu. Ada apa?” tanya Dasom.

.

“Tidak ada. Dia hanya sedang mengulangi hal yang pernah dia lakukan”, jawab Soyu.

.

.

.

.

Apartment Hyesoo, Yeouido

Setelah makan siang yang diwarnai dengan suasana yang memainkan emosi, Hyesoo segera menghubungi Min Jungshik untuk menjemputnya dalam mengantarnya ke apartmentnya. Setibanya di apartment, Hyesoo segera memasukkan barang-barang penting yang ingin dibawanya ke dalam beberapa box yang ia minta dari paman penjaga keamanan gedung itu. Ternyata perkiraan Hyesoo kemarin salah. Barang-barang miliknya tidak bisa disebut sedikit. Dalam beberapa bulan saja Hyesoo sudan memiliki puluhan buku, dimulai dari buku-buku kuliah hingga berbagai jenis buku bacaan yang ia beli setiap kali melewati sebuah toko buku. Tidak lupa ia juga mengemas sebuah bed cover berukuran sedang dan tebal yang selalu ia gunakan setiap malam. Hyesoo tidak pernah tidur tanpa bed cover itu. Menurutnya, bed cover itu adalah benda yang harus selalu ada saat ia akan tidur. Meski Hyesoo tidak yakin pada teorinya itu. Hyesoo tidak mengingat beberapa kebiasaan masa kecilnya. Hanya saja saat ia terbangun dari mimpi buruknya, bed cover itulah yang menenangkannya dalam kesendirian.

.

Aktivitas berkemas pun berakhir setelah 3 jam. Hyesoo kelelahan. Ia pun duduk di sofa besar abu-abu kesukaannya. Perlahan tulang punggungnya tidak mampu untuk menahan beban tubuh lelahnya. Hyesoo membaringkan tubuhnya di sofa. Ingatan akan pembicaraannya dengan Kyuhyun beberapa jam yang lalu di pinggir danau kembali menghampiri. Hyesoo bisa mengingat setiap ekspresi, tatapan mata dan nada bicara yang digunakan padanya. Semuanya berbeda. Emosinya sangat terjaga, tanpa nada menjengkelkan seperti yang terakhir kali ia dengar dari Kyuhyun. Tidak. Sebelum siang ini, Hyesoo dan Kyuhyun bertemu di ruang perawatan rumah sakit. Mereka bicara. Kyuhyun hanya sesekali terdengar sinis. Namun hari itu Hyesoo tidak merasakan kemarahan pada Kyuhyun. Begitupun hari ini. Ada suasana nyaman yang muncul setiap kali ia bicara dengan Kyuhyun. Tentu saja hari dimana kejadian itu terjadi tidak masuk dalam hitungan Hyesoo. Kyuhyun memunculkan perasaan aneh dalam dirinya yang tidak dapat ia artikan. Seolah ia sudah sangat mengenal Kyuhyun. Namun tentu saja ingatannya itu tidak akan pernah bisa menemukan jawaban dari keresahan Hyesoo. Banyaknya hal yang ada dipikiran Hyesoo pun membawanya ke alam mimpi yang tenang.

.

.

BGM: Sweden Laundry – A Little More (조금만 )

.

.

Tiba-tiba Hyesoo terbangun. Ia sudah tidur lebih dari 2 jam lamanya. Sebuah kejadian dalam mimpinya membangunkannya dari tidur lelapnya. Namun mimpi itu seolah sudah menghilang sesaat setelah kesadaran menghampirinya. Keringat membasahi keningnya, jantungnya memacu, dan napasnya memburu. Kim Jaejoong berada disana. Ia duduk di lantai tepat di samping sofa yang ditiduri Hyesoo. Jaejoong juga menggenggam tangan Hyesoo yang gemetar. Hyesoo memejamkan matanya, mencoba mengusir rasa takut yang tidak ia mengerti. Lalu tangannya yang lain digunakan untuk mengusap air mata yang menetes begitu saja di pipinya.

.

“Kau baik-baik saja? Ada apa?” tanya Jaejoong.

.

“Aku baik-baik saja, sunbae. Hanya mimpi buruk”, jawab Hyesoo yang sudah membuka matanya kembali. “Sunbae disini…” kata Hyesoo ambigu antara pertanyaan atau pernyataan.

.

“Aku disini”, kata Jaejoong mengulangi ucapan Hyesoo. “Apa yang terjadi dalam mimpimu?”

.

“Aku tidak ingat. Aku tidak mau mengingatnya”, kata Hyesoo yang bangun dari posisi tidurnya. “Kapan sunbae datang?”

.

“Satu jam yang lalu. Aku pikir mobil yang digunakan Min ahjussi tidak akan cukup untuk membawa barang-barangmu. Jadi aku menyusul kesini”, jawab Jaejoong sambil beranjak duduk ke sofa.

.

“Terima kasih karena sudah datang”, kata Hyesoo.

.

“Tidak perlu. Aku hanya melakukan apa yang sudah seharusnya aku lakukan”, kata Jaejoong. “Kau yakin merasa baik-baik saja? Napasmu masih memburu”.

.

“Ya, aku yakin. Aku hanya perlu waktu untuk menenangkan diri”, jawab Hyesoo.

.

“Sering terjadi?”

.

“Tidak. Hanya beberapa kali. Aku masih mencari tahu penyebabnya”, jawab Hyesoo.

.

“Bersandarlah…” kata Jaejoong.

.

Jaejoong memegang bahu Hyesoo, membawa tubuh Hyesoo agar bersandar ke sofa. Jaejoong meraih pergelangan Hyesoo, menghitung nadinya. Hyesoo kembali memejamkan matanya mencoba mengatur napasnya. Jaejoong pun bergerak mengambil sebuah bantal diujung sofa, melewati tubuh Hyesoo. Jaejoong meletakkan bantal itu dibelakang punggung bawah Hyesoo. Saat Jaejoong akan kembali ke posisinya semula, Hyesoo sudah membuka matanya. Mata mereka bertemu. Tidak ada kata apapun yang terdengar dari keduanya. Jarak diantara mereka terlalu dekat, hingga helaan napas pun terdengar di telinga masing-masing. Tiba-tiba Jaejoong mendekat, memutus jarak diantara mereka. Jaejoong mencium lembut bibir Hyesoo, membuat Hyesoo tercekat karena terkejut. Perlahan Jaejoong membuka bibir Hyesoo lalu memperdalam ciumannya. Helaan napas Hyesoo kembali dirasakan Jaejoong di kulitnya. Hyesoo membalas ciuman Jaejoong di bibirnya.

.

.

.

.

TBC

Note:

Drrrrrrrrrdamdamdaaammm!!! (ceritanya bunyi drum)

Part yang cukup panjang akhirnya terselesaikan. Readers-nim, bagaimana pendapat kalian kali ini? Perasaan apa lagi yang kalian rasakan setelah membaca part ini? Sudah mulai menetapkan ship kalian? Kalian ada di TeamKyu atau TeamJae? Anyway, satu kenyataan kembali terungkap di part ini. Aku minta maaf untuk para ship Yoona dan Ryeowook. Mereka hanya berteman. Karena Yoona adalah kekasih dari kembaran Hyesoo, Lee Donghae. Saudara kembar yang protektif sekaligus menggemaskan itu datang ke Seoul. Apa yang akan terjadi pada Hyesoo setelah kedatangan Donghae? Apakah Donghae juga akan mendukung Jaejoong seperti kedua sahabat Hyesoo? Jika kalian membaca part ini dengan saaaaangat detil, maka kalian akan menemukan satu clue dari Hyesoo tentang “kemungkinan” gadis yang disukai Ryeowook. Apakah mereka benar-benar akan berakhir seperti yang dikatakan Hyesoo? Kita tunggu saja readers-nim.

Dan, dan, dan, kalian lihat ada nama musuh disana? Hahaha aku bercanda. Aku hanya menduga kalian akan menjadikan tokoh itu sebagai musuh di ff ini. Yup! Kang Soyu. Ada dialog Soyu di part ini walaupun sedikit. Apakah Soyu akan selalu muncul di part-part selanjutnya? Dan apa maksud dari perkataan Soyu? Apakah Soyu juga salah satu orang dalam kehidupan masa lalu yang dilupakan Hyesoo? Tapi apa hubungan Soyu dengan Hyesoo? Aku berjanji akan mengungkapnya part 4 atau 5, readers-nim. Geogjeongmaseyo…

Adegan terakhir, kyaaaa!!! TeamJae mungkin lagi senyum-senyum sekarang. Mungkin loh yaaa… Mungkin… kembali, aku hanya menduga. Apakah moment nya tepat? Atau justru ada yang lagi marah-marah, “Duh, author apa sih adegannya? Moment nya kurang tepat deh…” It’s okay. Katakan padaku, wahai readers-nim. Apa kabar, TeamKyu? Apa yang harus dilakukan Kyuhyun? Masalahnya Hyesoo juga membalas Jaejoong. Hmm… Kita tunggu part selanjutnya aja kali ya… Ja! Kana pamit! Sampai ketemu lagi di part selanjutnya! Annyeonghigaseyo…

Advertisements

25 thoughts on “I’m walking towards you : Part 3

  1. mungkin soyou tau soal siwon dan hyesoo. makanya pas liat kyu sama hyesoo dia ngomong kayak gitu. kan siwon sama kyu sepupuan. hyeri sama ryeowook ada hubungan kali ya. aku kyuteam, kenapa mereka ciuman arrrrgh

    Like

  2. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION – evilkyu0203

  3. Jangan jangan ini dulu hyesoo sama siwon juga diawasi sama keluarganya siwon????
    Mungkin nggak sih trz mereka kecelakaan karena mau kabur dari penjagaan keluarganya siwon …???

    Like

  4. Hyeri sepertinya yang di maksud sama hyesoo ,,2 sahabat yang mungkin akan menjadi saidara ipar ,, cho kyuhyun ternyata dia mendapat penjagaan yang ketat ,,

    Like

  5. dua orang yang sama-sama muak dan lelah akan keadaan yang ada disekitar mereka. ini adalah awal dari sebuah ikatan yang dinamakan cinta.

    Like

  6. Penasaran penasaran penasaran kyuhyun hyesoo di masa lalu apa mereka sepasang kekasih atw gmna siii
    soyu kta2nya gantung bgt knpa ga jelasin klo kyuhyun sma hesoo itu ada apa ko bisa ngulang gitu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s