I’m walking towards you : Part 2

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast:

Cho Kyuhyun, Kim Jaejoong, Lee Hyesoo (OC), Im Yoona, Kim Ryeowook

Disclaimer:

Annyeonghaseyo!!! “I’m walking towards you” kembali. Aku minta maaf atas update yang saaaaangat lama dari FF ini. Selama beberapa hari aku mendapatkan gangguan. Kalian pernah nonton drama It’s Okay That’s Love? Jang Jae Yeol pernah menolak untuk berobat karena konsumsi obat bisa mengganggu kegiatannya dalam menulis. Awalnya aku tidak percaya, sampai aku merasakannya sendiri. Sulit rasanya berkonsentrasi dibawah pengaruh obat. Efek pertama yang menganggu jelas karena mengantuk. Kedua, entahlah… inspirasi rasanya tidak kunjung datang. Karena itulah aku mengalami kesulitan untuk melanjutkan FF ini. Tapi setelah pengobatan selesai, inspirasi langsung datang dengan sendirinya. Ja! Jadilah Part 2 ini. Sekali lagi aku minta maaf, readers-nim…

Aku berusaha untuk tidak terlalu banyak memasukkan unsur fantasi alias khayalan dalam FF ini supaya feel nya lebih bisa dirasakan. Cast dalam FF ini juga akan cukup banyak. Entah hanya sebagai cameo atau sebagai peran pendukung. Karena itu, fokuslah wahai para readers-nim. FF ini aku buat murni dari ide-ideku. Beberapa nama lokasi, tempat, gedung, dan segala hal dalam FF ini berdasarkan fantasia tau khayalan semata. Jika ada kesamaan nama, tempat, lokasi, gedung, kejadian dalam FF ini, maka aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksengajaan itu. Aku pun tidak pernah lelah untuk meminta maaf sebelumnya atas semua typo yang mungkin akan kalian temukan dalam FF ini. Seperti yang sudah-sudah, jika ada hal pribadi yang ingin kalian sampaikan padaku, kalian bisa kirim email ke kadanao21@yahoo.com

Aku tidak bosan untuk selalu berpesan, jadilah pembaca yang baik dan sopan. Biasakan untuk tidak bash, spam, mengejek, mengolok, menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya pada siapapun. Karena aku yakin para readers adalah orang-orang yang terpelajar dan mengerti sopan santun. Benar? Akhir kata, selamat membaca!!!

.

.

Review Part 1

“Selama ini eonni baik-baik saja, ‘kan? Tidak ada hal buruk yang terjadi? Semua masih terkendali?”

“Jika kau begitu khawatir padanya, kenapa kau tidak tinggal disini dengannya? Aku lebih bisa menerima alasan kau yang masih takut menghadapi kenyataan”.

“Majayo… Aku masih sedikit takut”.

“Keadaan saat ini tidak seburuk yang ada di pikiranmu, Lee Hyeri”.

“Aku belum melakukan banyak persiapan”.

————————-

“Annyeonghaseyo, Lee Hyesoo ibnida. Senang bertemu denganmu, sunbaenim”.

“Aku Kim Jaejoong. Tidak perlu bicara terlalu formal padaku”.

“Ne! Aku mengerti, Jaejoong sunbae…”

“Ja, ini sandwich mu. Mungkin saja setelah memakannya mood mu akan membaik”.

“Semoga tidak ada yang terlewat”.

“Itneunde… Yoona sudah tidak makan mayonaise, Lee Hyesoo. Ch… Hal seperti itu saja bisa terlewat”.

“Ada apa denganmu, Kim Ryeowook? Berapa kali aku harus menjelaskan semuanya padamu agar kau mengerti?”

“Sampai kapan kau ingin berpura-pura dihadapannya? Jika dia salah maka katakan bahwa dia salah. Jangan menaruh banyak kebohongan, Im Yoona”.

————————-

“Aku banyak mendengar tentangmu”.

“Lee Hyesoo ibnida”.

“Aku Cho Kyuhyun. Kesan pertama tidak terlalu buruk”.

“Tentu kau tidak akan mengetahuinya dengan benar jika kau hanya menduganya, sunbae”.

“Tentu saja…”

“Bagaimana jika makan siang bersamaku? Aku bisa mengantarmu kembali kesini lagi nanti”.

“Mwo… Bukan ide yang buruk. Aku rasa aku akan baik-baik saja”, jawab Hyesoo.

————————-

“Ada apa? Cepat katakan padaku!”

“Hyesoo tidak membalas pesanku. Sampai saat ini Hyesoo belum juga kembali. Ia tidak membalas pesanku”.

“Apa?!?! Kau membiarkan Hyesoo pergi dengan Cho Kyuhyun begitu saja?!?! Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya?”

“Yoboseyo? Ne, saya Kim Ryeowook. Saya sedang bicara dengan siapa?”

Saya menemukan nomor anda dari ponsel pasien bernama Lee Hyesoo…

“Di… Dimana? Maksud saya, dimana lokasi rumah sakit itu? Saya akan segera kesana”.

————————-

.

.

.

I’m walking towards you : Part 2

.

.

Author’s POV

K University Hospital

 

Hari sudah berganti malam. Lampu di dalam sebuah ruangan perawatan pun sudah digantikan dengan cahaya redup dari lampu kuning termaram di beberapa sisi ruangan. Seorang perawat baru saja keluar dari ruangan itu setelah memeriksa kondisi pasiennya, meninggalkan dua orang yang terjaga tanpa suara. Sejak sore dimana pasien itu datang dari rumah sakit diluar kota hingga dipindahkan ke ruang perawatan, tidak banyak percakapan yang terdengar disana. Keduanya duduk terdiam menatap Hyesoo yang tertidur pulas di ranjangnya. Yoona berpaling menatap Ryeowook yang duduk di sisi sebelah kanan Hyesoo. Wajah Ryeowook terlihat begitu muram dan lelah. Segala emosi yang tak terucapkan olehnya seolah berkumpul menjadi ekspresi tak tergambarkan diwajahnya. Sejak menemukan Hyesoo terbaring di ranjang UGD sebuah Rumah Sakit di daerah Suwon, Ryeowook tidak bicara satu katapun. Bahkan saat Hyesoo akhirnya sadar dan tersenyum padanya, Ryeowook tidak menunjukkan ekspresi apapun diwajahnya.

.

“Ryeowook-ah…” panggil Yoona yang merasa khawatir pada Ryeowook.

.

.

BGM : Moon Myung Jin – 사람

.

.

Tanpa menjawab panggilan Yoona, Ryeowook mengalihkan pandangannya pada Yoona. Mata keduanya bertemu. Di detik berikutnya Yoona tersentak saat menemukan hal yang setelah sekian lama baru ia temukan dalam diri Ryeowook. Ada guratan kesedihan, kemarahan dan penyesalan dibalik wajah tanpa ekspresinya. Semua emosi itu tersimpan dengan baik dalam tatapan matanya. Ryeowook yang selalu menunjukkan keceriaan dan ketenangannya kini duduk tanpa kata dengan kepiluan yang tidak pernah diungkapkannya. Semua hal yang ingin Yoona katakan menguap tanpa terucapkan sedikitpun. Ryeowook memandang Yoona dengan segala kelelahan yang dirasakan tubuhnya, seolah menjelaskan pada Yoona bahwa tidak ada yang ingin ia katakan saat ini. Ia tidak mempunyai satu katapun untuk dikatakan pada Yoona. Bahkan pada dirinya sendiri. Setelah sebuah helaan napas panjang yang ia hembuskan, Ryeowook kembali mengalihkan pandangannya pada Hyesoo. Matanya bergerak cepat menatap setiap sudut wajah Hyesoo, khawatir akan adanya luka yang terlewat dari observasinya. Meski sejak awal pemeriksaan oleh dokter sudah dijelaskan bahwa hanya ada sebuah luka di kening Hyesoo akibat benturan cukup keras dengan trotoar, namun Ryeowook tetap melakukan hal itu. Tangan Ryeowook kemudian bergerak menyentuh pergelangan tangan kanan Hyesoo. Benar. Ia kembali menghitung nadi Hyesoo dengan tangannya sendiri. Bahkan setelah sepuluh menit yang lalu perawat mengatakan padanya hasil pemeriksaan tanda vital Hyesoo.

.

Ada satu hal yang baru disadari Yoona saat Ryeowook menyatukan kedua tangannya. Tangan Ryeowook terlihat gemetar bahkan di redupnya penerangan ruangan itu. Ryeowook mengepal keras tangannya untuk berusaha menghentikan gemetar yang tidak henti menyerang kedua tangannya. Yoona pun beranjak dan mendekat pada Ryeowook. Ia menyentuh kedua bahu Ryeowook dan meremasnya pelan. Yoona menepuk pelan sisi kanan bahu Ryeowook untuk menenangkannya, namun hal itu seolah tidak memberikan pengaruh besar pada kondisi sahabatnya itu. Ryeowook kembali menghela napas panjang lalu menopangkan keningnya dengan kedua tangannya. Matanya terpejam, helaan napas beratnya terdengar dalam keheningan ruangan. Yoona menggerakkan tangannya ke punggung Ryeowook kemudian mengusapnya pelan.

.

“Beristirahatlah… Kau terlihat sangat lelah”, kata Yoona akhirnya.

.

“Kau saja. Kau juga terlihat lelah”, kata Ryeowook pelan.

.

“Ryeowook-ah… Hyesoo akan baik-baik saja bahkan jika kau menggunakan waktu untuk beristirahat selama beberapa jam”, bujuk Yoona.

.

“Pulanglah, Yoona-ya. Sudah terlalu malam. Jangan biarkan eomma mu menunggu seorang diri dirumah terlalu lama”, kata Ryeowook.

.

“Kim Ryeowook… Jangan seperti ini… Jika Hyesoo mengetahui keadaanmu saat ini, dia akan sangat marah padamu…” kata Yoona.

.

“Yoona-ya… Bantu aku untuk tidak mengkhawatirkan terlalu banyak orang saat ini. Seperti yang kau katakan, aku sudah terlalu lelah. Tapi aku baik-baik saja. Karena itu, pulanglah. Semarah apapun Hyesoo jika mengetahui ini, aku akan menghadapinya. Aku akan tetap disini. Aku tidak akan kehilangan Hyesoo lagi…” kata Ryeowook.

.

“Ryeowook-ah…”

.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, memunculkan sosok Jaejoong dari balik pintu. Jaejoong masuk dan menutup pintu dibelakangnya. Ia berjalan mendekati ranjang tempat Hyesoo berbaring. Jaejoong menatap Yoona lalu menganggukkan kepalanya cepat, meminta Yoona mengabulkan permintaan Ryeowook dan segera pulang. Yoona pun menyerah. Ia segera mengambil tasnya dan dengan berat hati meninggalkan ruangan itu untuk kembali ke rumah. Keheningan sekali lagi memenuhi ruangan termaram itu. Jaejoong sudah melepaskan coatnya dan duduk di kursi yang ditinggalkan Yoona, disisi kiri ranjang Hyesoo. Jaejoong menatap Hyesoo dan Ryeowook bergantian dalam diam lalu menghela napasnya pelan.

.

“Dia baik-baik saja, Kim Ryeowook, jika ucapan itu dapat meringankan beban di hatimu”, kata Jaejoong.

.

“Aku tahu, sunbae. Dia sudah tersenyum padaku”, kata Ryeowook pelan.

.

“Aku tidak boleh memberitahu Donghae, bukan?” tanya Jaejoong.

.

“Ne. Tidak perlu memberitahu siapapun tentang hal ini”, jawab Ryeowook.

.

“Aku sudah menemui Profesor Heo dan bicara padanya. Hyesoo tidak dilukai siapapun. Penyebab Hyesoo pingsan kemungkinan karena dia trauma pada kecepatan”, kata Jaejoong menjelaskan.

.

“Ne?” tanya Ryeowook yang akhirnya mengangkat kepalanya.

.

“Hyesoo memang kehilangan ingatannya. Tapi alam bawah sadarnya tidak melupakan rasa takut yang dia rasakan sebelum kecelakaan itu terjadi. Tubuhnya tetap bereaksi pada rasa takut itu. Kami menduga itulah yang menyebabkan Hyesoo pingsan setelah turun dari mobil Kyuhyun”, kata Jaejoong.

.

“Hhh… Aku begitu bodoh…” kata Ryeowook yang meraih tangan Hyesoo dan menggenggamnya. “Seharusnya aku tidak meninggalkannya”.

.

“Aniya… Jangan menyalahkan dirimu. Kau juga tidak bisa terus menjaganya selama 24 jam penuh. Jika bukan hari ini, cepat atau lambat kejadian ini pasti akan terjadi. Kau hanya tidak tahu kejadian ini akan terjadi begitu cepat”, kata Jaejoong.

.

“Aku tidak tahu kejadian ini akan terjadi. Selama Hyesoo berada di mobilku, hal ini tidak pernah terjadi, sunbae” kata Ryeowook.

.

“Kau tidak pernah mengemudi dengan kecepatan orang gila, inma. Sudahlah… Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Hoam… Tidurlah selama beberapa jam. Aku akan menjaganya selama kau tidur. Setelah itu kau bisa menjaganya lagi”, kata Jaejoong sambil meregangkan tubuhnya.

.

“Tidak, sunbae. Aku akan menjaganya. Sunbae saja yang beristirahat”, kata Ryeowook.

.

“Apa yang kau takutkan? Lee Hyesoo tidak akan kemanapun. Saat ini kita sedang berada di rumah sakit. Diluar sana ada banyak perawat dan dokter yang berjaga. Bahkan kau bisa menemukan banyak petugas keamanan disetiap lantai. Aku juga ada disini. Aku hanya memintamu untuk tidur selama beberapa jam. Aku bukan memintamu untuk tidur sampai matahari terbit. Aku juga butuh tidur, inma. Karena kau terlihat lebih buruk dariku saat ini, maka kau tidur lebih dulu. Lakukan saja perintahku jika kau tidak ingin Donghae mengetahui keadaan Hyesoo”, ancam Jaejoong.

.

“Ne, sunbae…” jawab Ryeowook menyerah dengan ancaman Jaejoong.

.

Ryeowook tidak segera meninggalkan bangkunya. Ia masih menatap Hyesoo yang tertidur begitu lelap di hadapannya. Namun pergerakan Jaejoong yang bangkit dari tempatnya duduk akhirnya memaksanya untuk ikut bergerak dan melakukan apa yang diperintahkan Jaejoong padanya. Ryeowook berjalan menuju sofa yang berada di sisi lain ruangan lalu merebahkan tubuhnya. Keinginannya untuk tetap terjaga seolah berbanding terbalik dengan kondisi tubuhnya yang lelah. Tidak butuh waktu cukup lama bagi Ryeowook untuk segera terlelap dalam tidurnya. Sementara Jaejoong sudah berpindah ke bangku yang semula di duduki Ryeowook. Jaejoong melihat Ryeowook yang tertidur dari tempatnya. Perubahan sikap Ryeowook hari ini membuatnya merasa khawatir. Kemudian Jaejoong menoleh, matanya bertemu mata Hyesoo yang ternyata sudah terbangun sejak Yoona bicara pada Ryeowook. Hyesoo tersenyum pada Jaejoong sambil meninggikan posisi kepalanya. Keduanya saling bertatapan tanpa kata selama beberapa menit sampai akhirnya Jaejoong mengalihkan pandangannya untuk memeriksa aliran infus Hyesoo.

.

“Terima kasih, sunbae” kata Hyesoo pelan, menjaga agar Ryeowook tidak terbangun.

.

“Untuk apa?” tanya Jaejoong yang sudah kembali menatap Hyesoo dengan suara pelannya juga.

.

“Karena sudah mengancamnya”, jawab Hyesoo yang kembali tersenyum. “Sunbae…”

.

“Hm?”

.

“Sunbae sudah mengetahui semuanya, ‘kan?” tanya Hyesoo yang dijawab dengan anggukkan oleh Jaejoong. “Hhh… Aku tidak tahu alasan mereka merekrut satu agen lain dalam misi mereka”, kata Hyesoo dengan nada bercanda.

.

“Mereka mengkhawatirkanmu”, sambung Jaejoong.

.

“Aku tahu…” kata Hyesoo sambil menghela napasnya. “Sudah bertahun berlalu. Seharusnya aku bisa lebih menjaga diriku sendiri ‘kan, sunbae? Aku sudah berusaha. Tapi aku selalu berada dalam keadaan yang membuat mereka berdua mengkhawatirkanku lagi”, kata Hyesoo.

.

“Kau menyembunyikan sesuatu”, kata Jaejoong dengan nada yang ambigu. Kalimat itu dapat terdengar sebagai pernyataan maupun pertanyaan. Namun kali ini penekanan dalam suara Jaejoong menjelaskan bahwa ia sedang mengatakan sebuah pernyataan.

.

“Aku tidak akan mengelaknya, sunbae. Selama bertahun-tahun aku selalu belajar untuk jujur pada diriku sendiri”.

.

“Dan tidak pada yang lainnya?” kali ini Jaejoong bertanya.

.

“Hal yang aku sembunyikan bukanlah hal yang sangat perlu mereka ketahui, sunbae. Not an emergency stuff to do. Aku selalu menunjukkan pada Yoona sikap seolah aku tidak menyadari setiap perubahannya disekitarku. Aku juga selalu menerima setiap keceriaan dan sikap santai Ryeowook dibalik setiap tatapan waspada di matanya. Aku selalu meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja. Tapi sepertinya hal itu tidak dapat mempengaruhi Yoona. Dia selalu seperti itu. Setidaknya itulah yang aku temukan dalam ingatan terbatasku. Dan Ryeowook……”

.

“Dia menyukaimu?” tanya Jaejoong yang mengundang senyuman lebar dari Hyesoo. Kemudian Hyesoo menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaan Jaejoong. “Lalu?”

.

“Aku tidak tahu dengan pasti. Aku hanya pernah mendengarnya. Satu kali. Aku tidak punya keberanian untuk mengatakan hal yang tidak benar-benar aku ketahui. Mungkin semula aku mengetahui dengan baik kejadian dibalik sikap Ryeowook padaku. Hanya saja aku tidak lagi mengingatnya. Aku menerima fakta yang tidak kuingat itu sebagai kebenaran. Tapi lebih baik sunbae bertanya pada orang yang lebih mengetahuinya. Satu hal yang bisa ku katakan padamu. Ryeowook sudah sangat jatuh cinta pada seorang gadis. I’m not a girl for him. I’m a family“, kata Hyesoo menjelaskan.

.

“Senang mendengarnya…” kata Jaejoong dengan nada bercanda yang berhasil menipiskan atmosfer ketegangan malam itu.

.

“Begitu?” tanya Hyesoo.

.

“Hhh… Tidurlah, Lee Hyesoo. Ini sudah terlalu larut”, kata Jaejoong tanpa menjawab pertanyaan Hyesoo.

.

“Aku baru saja bangun, sunbae. Kau saja yang tidur. Aku akan menjaga kalian berdua”, kata Hyesoo.

.

“Aku akan tidur setelah kau juga tidur”, kata Jaejoong bersikeras.

.

“Aku bukan pasien observasi yang perlu dijaga selama 24 jam penuh, sunbae”, kata Hyesoo.

.

“Jika kau menyadari dan memahami atmosfer menyeramkan yang muncul dari kedua sahabatmu, maka seharusnya kau menurutiku. Jangan buat mereka menjadi sangat khawatir, Lee Hyesoo”, kata Jaejoong lagi.

.

“Jadi, sampai kapan hal ini akan diperdebatkan?” tanya Hyesoo.

.

“Sampai disini. Cukup berdebatnya. Jangan membantah, Lee Hyesoo. Jika aku tidak salah, obat yang masuk ke tubuhmu masih akan bereaksi. Kau hanya perlu memejamkan matamu lagi dan kau akan kembali tidur dengan cepat. Karena itu, sekarang pejamkan matamu. Kita bisa berdebat besok”, kata Jaejoong.

.

“Hhh… Terkadang disaat seperti ini aku tidak menyukai fakta bahwa orang-orang disekitarku adalah dokter”, kata Hyesoo.

.

“Kau masih memiliki sebuah keberuntungan, yaitu hadirnya dokter tampan yang akan menjagamu semalaman”, kata Jaejoong dengan nada bercanda.

.

“Aku bukan tukang pamer. Keberuntungan itu akan ku simpan untuk diriku sendiri”, kata Hyesoo dengan senyum kecilnya.

.

“Cepat pejamkan matamu”.

.

“Baiklah. Tapi berjanjilah sunbae tidak akan berjaga semalaman. Kau juga perlu istirahat”, kata Hyesoo.

.

“Aku tidak akan berjaga demi kau, Lee Hyesoo. Hanya ada luka di kepalamu. Terlalu berlebihan jika aku harus menjagamu sepanjang malam”, kata Jaejoong dengan nada bercandanya lagi.

.

“Ch… Arasseoyo…” kata Hyesoo yang menolehkan kepalanya ke kanan, ke arah dimana ada Jaejoong dan Ryeowook dalam jangkauan pandangannya. Kemudian Hyesoo memejamkan matanya untuk kembali ke alam tidurnya. “Jaljayo, sunbae”.

.

“Hmm…” gumam Jaejoong menjawab ucapan selamat tidur dari Hyesoo.

.

Benar yang Jaejoong katakan. Dalam sekejap Hyesoo sudah kembali terlelap dan tenggelam ke alam bawah sadarnya. Irama napas Hyesoo yang halus terdengar di ruangan sunyi itu, beriringan dengan helaan napas Ryeowook dari sisi lain ruangan. Jaejoong pun kembali memeriksa kondisi infus Hyesoo, lalu menaikkan selimut Hyesoo hingga menutupi dadanya. Jaejoong tidak bisa memenuhi kata-kata yang baru beberapa menit lalu ia ucapkan. Butuh waktu 10 sampai 15 menit hingga ia benar-benar bisa memejamkan matanya dan terlelap dalam tidurnya. Karena dibalik wajahnya yang tenang dan nada bercanda yang sesekali keluar dari bibirnya, tersimpan kekhawatiran pada seorang Lee Hyesoo yang bahkan baru benar-benar ia kenal selama kurang dari 24 jam itu. Jaejoong pun merebahkan kepalanya di ranjang Hyesoo, berbarengan dengan Hyesoo yang mengubah posisi tidurnya menjadi miring ke kanan. Suasana ruangan itupun menjadi sangat hening mengikuti suasana malam yang semakin larut.

.

.

########################

.

.

Keesokkan harinya…

Sapaan perawat yang masuk ke ruangan membangunkan Hyesoo pagi itu. Hyesoo memberikan senyum tipisnya pada perawat yang datang untuk memeriksa tanda vitalnya. Saat perawat sedang menjalankan tugasnya, Hyesoo menoleh ke sisi kanannya. Sudah tidak ada siapapun disana. Jaejoong yang beberapa jam lalu membaringkan kepalanya di sisi kanan ranjang Hyesoo, serta Ryeowook yang tidur dengan pulas di sofa ujung ruangan sudah tidak ada di tempat mereka.

.

“Mereka berdua pulang sebelum matahari terbit”, kata perawat yang menyadari sikap Hyesoo.

.

“Ne?” tanya Hyesoo yang tidak terlalu menyimak ucapan perawat karena kesadaran belum benar-benar menghampirinya.

.

“Kau mencari kedua temanmu, bukan? Mereka pulang. Mereka akan kembali 2 atau 3 jam lagi. Seorang temanmu yang pulang kemarin malam juga menelepon pagi ini, menanyakan keadaanmu. Saya rasa dia juga akan datang siang ini bersama yang lain”, kata perawat itu menjelaskan.

.

“Ah, ne…” jawab Hyesoo. “Bagaimana hasilnya?” tanya Hyesoo.

.

“Tekanan darah dan nadi mu masih cukup rendah. Belum ada peningkatan yang signifikan. Kami akan terus melakukan follow up keadaanmu hari ini. Setelah itu kami akan melaporkannya pada Profesor Heo dan menunggu keputusan selanjutnya”, jawab perawat.

.

“Terima kasih”, kata Hyesoo.

.

“Kau butuh sesuatu?” tanya perawat.

.

“Tidak. Aku tidak butuh apapun”, jawab Hyesoo. “Um… Bisakah aku tahu saat ini sudah jam berapa?”

.

“Jam 6 lewat 13 menit. Sarapanmu akan diantar pukul 7. Kau masih bisa melanjutkan tidurmu selama beberapa menit jika kau mau”, kata perawat dengan senyum mengembangnya.

.

“Aku akan mengingat itu dengan baik. Terima kasih banyak, perawat Park”, kata Hyesoo.

.

“Tentu saja, Lee Hyesoo-ssi”.

.

Perawat itupun keluar dari ruangan Hyesoo. Sinar matahari sudah masuk melalui jendela yang menunjukkan pemandangan kota Seoul yang mulai sibuk pagi itu. Hyesoo memandang kosong ke arah jendela besar itu. Seolah mencari sesuatu yang bahkan tidak pernah ia tahu. Ada banyak hal yang terlewatkan dari pikirannya. Ada banyak cerita yang tidak ia ketahui. Ada banyak sikap orang-orang disekitar yang tidak ia mengerti. Semua hal itu datang begitu saja ke pikirannya, namun tidak lantas menganggunya. Karena Hyesoo bahkan tidak mengingat apapun selain masa kecil dan masa remajanya. Terlalu banyak kisah dalam tahun-tahun yang terlewatkan oleh ingatannya. Hyesoo bagai melompat dari gedung yang tinggi tanpa melewati anak tangga disetiap lantainya. Hyesoo tidak tahu apapun yang ada didalam gedung itu. Tidak pernah akan tahu.

.

Tok… Tok…

.

.

BGM: Alex of Clazziquai – One Step to Your Side (Acoustic Version)

.

.

Terdengar suara ketukan di pintu ruangan. Sontak Hyesoo menolehkan kepalanya ke arah pintu, menimbulkan rasa nyeri kecil di keningnya karena gerakan kepala yang terlalu terburu-buru. Dari balik pintu, muncul sosok orang yang selama hampir 24 jam terakhir tidak terbersit sedikitpun dalam pikirannya. Kyuhyun masuk ke ruangan itu dengan tenang, lalu menutup pintu dibelakangnya. Ia berjalan mendekat pada Hyesoo, sambil menarik sebuah bangku tidak jauh dari ranjang Hyesoo. Kyuhyun duduk di bangku itu masih dalam kebungkamannya. Keduanya hanya saling menatap tanpa kata selama beberapa saat. Sampai Hyesoo mengalihkan pandangannya dari laki-laki itu.

.

“Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan”, kata Kyuhyun akhirnya.

.

“Aku tidak tahu apa yang sunbae lakukan disini”, sambung Hyesoo.

.

“Tentu saja untuk menemuimu”, kata Kyuhyun.

.

“Hanya itu? Kalau begitu tujuan sunbae sudah tercapai. Kau sudah melihatku. Kau bisa pergi sekarang”, kata Hyesoo tanpa menatap Kyuhyun.

.

“Aku ingin. Tapi aku tidak bisa”, kata Kyuhyun.

.

“Dan hal itu karena?” tanya Hyesoo yang kembali menatap Kyuhyun.

.

“Aku juga tidak menemukan alasannya”, jawab Kyuhyun.

.

“Jangan konyol…” kata Hyesoo dengan suara berbisik.

.

Keduanya kembali saling menatap tanpa melanjutkan percakapan mereka. Dari tatapan keduanya, tersimpan maksud yang berbeda dibaliknya. Hyesoo dengan jelas menunjukkan rasa enggannya untuk bertemu dengan laki-laki di hadapannya itu. Sementara Kyuhyun, ia tidak terbaca. Bagai sebuah kertas, ia tidak berisikan tulisan maupun goresan apapun. Hanya ada kedua bola mata yang menatap tajam itu. Bibirnya terkatup memunculkan garis rahang yang begitu tegas di kedua sisi wajahnya. Napasnya begitu teratur, memberikan penekanan disetiap helaannya. Hingga didetik berikutnya, Hyesoo memutus tatapan mereka dengan memejamkan matanya lalu menghela napas panjang.

.

“Pergilah, sunbae…” kata Hyesoo memutus keheningan diantara mereka.

.

“Aku tidak mampu”, sambung Kyuhyun pelan dengan suara beratnya.

.

“Aku mohon…” kata Hyesoo lagi.

.

“Aku minta maaf”, kata Kyuhyun yang membuat Hyesoo membuka matanya, menatap Kyuhyun lagi.

.

“Untuk?”

.

“Semua hal yang aku lakukan padamu”, jawab Kyuhyun.

.

Hyesoo menggelengkan kepalanya pelan, tidak menyetujui apa yang baru saja dikatakan Kyuhyun. “Tidak perlu…” kata Hyesoo.

.

“Apa?” tanya Kyuhyun bingung.

.

“Kau bahkan tidak tahu apa yang sudah kau lakukan. Jika seperti itu, apa gunanya minta maaf padaku?”

.

“Aku sudah melakukan kesalahan padamu. Beberapa kesalahan. Itulah alasanku meminta maaf. Apa yang salah dari niatku ini?” Ttanya Kyuhyun dengan nada bicaranya yang sedikit naik.

.

Hyesoo menghela napasnya, mengibarkan bendera putihnya pada laki-laki dihadapannya itu. “Baik. Aku memaafkanmu untuk satu kesalahan yang kau perbuat padaku. Apapun itu, tarik permintaan maafmu yang lain. Aku tidak akan menerimanya”.

.

Kyuhyun mengernyitkan keningnya, menatap Hyesoo dengan tatapan bingung yang jelas terlihat di wajahnya. “Apa alasanmu tidak menerima yang lainnya? Aku sudah bersusah payah datang kesini untuk bicara secara langsung padamu disaat bahkan jarum jam di dinding itu belum menunjukkan pukul 7. Aku datang untuk meminta maaf padamu karena sudah menyebabkan hal yang sudah terjadi padamu ini. Apapun yang sudah kau dengar tentangku, Lee Hyesoo, aku bukan orang sejahat itu yang tidak bisa menyadari kesalahan yang telah ku perbuat. Tidak bisakah kau menghargai ketulusanku?” tanya Kyuhyun.

.

“Maaf karena sudah membuatmu berpikir bahwa aku tidak menghargai ketulusanmu dalam meminta maaf padaku. Tapi sunbae, memang begitulah adanya dirimu saat ini. Setelah jam-jam terlewatkan dalam masa awal perkenalan kita, ada satu kesalahan yang sudah kau lakukan. Hanya satu. Tapi kau bahkan tidak mengetahui satu hal itu. Aku memaafkanmu yang sudah memandangku, menuduhku, dan menilaiku sebagai seorang jahat seperti katamu, yang bukan diriku. Sunbae, jangan meminta maaf untuk hal yang tidak kau lakukan. Terlebih, jangan ikut menjadi orang yang menyalahkan diri atas keadaanku…..”

.

Tiba-tiba kalimat Hyesoo terhenti. Ada genangan air mata yang terlihat dimatanya. Hyesoo pun menolehkan kepalanya, memandang ke langit-langit ruangan untuk mencegah air mata keluar dari lindungan kelopak matanya.

.

“Jangan lakukan itu juga padaku. Aku mohon…” lanjut Hyesoo yang sudah kembali menatap Kyuhyun, dengan suara pelan yang terdengar sedikit serak. “Aku sudah terlalu lelah dengan hal itu. Semua orang menyalahkan diri mereka atas kejadian yang terjadi padaku. Jangan melakukannya juga, sunbae. Jangan membuat keadaanku semakin sulit”.

.

Kyuhyun terdiam. Ia merasakan hal yang aneh dalam dirinya. Debaran jantungnya meningkat setelah mendengar ucapan Hyesoo. Wajahnya tidak terbaca, datar tanpa ekspresi. Jari tangan yang ia letakkan diatas lututnya bergetar seolah baru saja terkena sengatan listrik arus kecil. Di detik berikutnya ia mengalihkan tatapannya dengan cepat dari Hyesoo. Ada rasa tidak nyaman dalam dirinya yang begitu mengusiknya. Namun ia bahkan tidak dapat mengerti arti dari perasaan yang sedang ia rasakan itu.

.

Pintu ruangan terbuka. Seorang petugas pengantar makanan masuk sambil tersenyum pada Hyesoo. Ia membawa sarapan yang dibicarakan oleh perawat beberapa menit yang lalu.

.

“Selamat pagi, Lee Hyesoo-ssi. Sarapan anda sudah datang”, kata petugas itu.

.

“Selamat pagi…” kata Hyesoo dengan suara yang terdengar serak itu.

.

Kyuhyun yang menyadari perubahan di suara Hyesoo sontak menoleh dan menatapnya. Mata mereka kembali bertemu tanpa kata apapun yang terucap dari keduanya. Dalam 15 menit terakhir, akhirnya sebuah ekspresi muncul dari wajah Kyuhyun. Sebuah kekhawatiran yang sudah ia sembunyikan dengan cukup keras akhirnya muncul ke permukaan wajahnya.

.

“Saya letakkan sarapan anda disini”, kata petugas sambil meletakkan nampan yang dibawanya di sebuah meja dengan roda di kakinya.

.

“Ne. Terima kasih banyak”, kata Hyesoo dengan senyuman di bibirnya pada petugas itu.

.

“Sama-sama. Selamat makan, Lee Hyesoo-ssi”, kata petugas yang segera beranjak keluar dari ruangan.

.

Tiba-tiba Kyuhyun bangun dari tempatnya duduk. Ia mendorong meja itu mendekat ke tempat tidur Hyesoo. Kyuhyun membuka setiap penutup di piring, mangkuk, dan gelas Hyesoo. Kemudian dengan cepat ia meraih remote pengatur yang berada di sisi kanan tempat tidur Hyesoo. Kyuhyun menekan beberapa tombol untuk mengatur posisi tempat tidur agar nyaman bagi Hyesoo. Lalu Kyuhyun meraih sendok, memasukkannya ke mangkuk yang berisi sup, dan menyuapkannya pada Hyesoo. Namun Hyesoo menahan tangan Kyuhyun yang sudah dekat dengan bibirnya.

.

“Apa yang sunbae lakukan?” tanya Hyesoo.

.

“Membuatmu makan”, jawab Kyuhyun singkat.

.

“Tidak perlu seperti ini. Aku bisa makan dengan tanganku sendiri”, tolak Hyesoo.

.

“Kau bisa melakukannya setelah suapan pertama ini. Sekarang buka mulutmu”, kata Kyuhyun bersikeras. “Cepatlah. Suhu ruangan akan membuat sup ini dingin”.

.

Hyesoo menyerah. Ia membiarkan Kyuhyun menyuapkan sesendok sup itu ke dalam mulutnya. Lalu ada sebuah senyuman tipis yang muncul di bibir Kyuhyun yang membuat Hyesoo mengernyitkan keningnya karena bingung dengan apa yang baru saja dilihatnya. Hyesoo pun menegakkan tubuhnya lalu mengambil sendok di tangan Kyuhyun dengan cepat dan menyuapkan supnya sendiri. Tatapannya hanya terfokus pada hidangan yang ada di hadapannya, tanpa menoleh pada Kyuhyun. Namun rasa pusing menghampiri kepalanya. Pandangannya kabur sehingga membuat sendok ditangannya terjatuh ke nampan. Kyuhyun sontak meraih lengan kiri Hyesoo, sementara tangan kanan Hyesoo menggenggam sisi meja dengan kuat.

.

“Ada apa? Kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun yang dihampiri kepanikan.

.

“Aku… Aku baik-baik saja”, jawab Hyesoo dengan suara pelan. “Kecerobohanku. Aku beranjak duduk terlalu cepat. Sepertinya kepalaku belum menyukai pergerakan cepat itu”.

.

“Kembali ke posisimu semula”, perintah Kyuhyun sambil membantu Hyesoo untuk kembali bersandar ke kepala tempat tidur yang tadi ditinggikan oleh Kyuhyun. “Kecerobohanmu. Bagaimana bisa seorang mahasiswa kedokteran bisa melakukan hal yang ceroboh seperti itu? Kau bahkan lalai dalam merawat dirimu sendiri. Aku jadi meragukan kemampuanmu dalam merawat orang lain”, kata Kyuhyun mengomel.

.

Kyuhyun pun kembali meraih sendok yang dijatuhkan Hyesoo di nampan, lalu kembali menyuapkan sup pada Hyesoo. Namun Hyesoo justru menatap enggan pada Kyuhyun. Hyesoo merasa tidak yakin untuk menerima suapan dari orang yang tidak bisa ia mengerti itu. Sikap Kyuhyun terlalu sulit untuk ia mengerti. Keangkuhannya, kekeraskepalaannya, sikap dinginnya, lalu perubahan sikapnya yang begitu tiba-tiba, kebungkamannya, hingga tatapan aneh dimatanya, semua hal itu tidak dapat dimengerti dengan mudah oleh Hyesoo. Sesaat setelah Kyuhyun meraih lengannya, Hyesoo juga merasakan ada sesuatu yang begitu menganggu dirinya. Sentuhan Kyuhyun dikulitnya terasa begitu familiar. Kulitnya menerima temperature hangat yang menjalar dari sentuhan tangan Kyuhyun. Reaksi tubuhnya seolah menyerukan bahwa ia mengenal laki-laki ini dengan baik. Tapi ia tidak mengingatnya. Tidak sedikitpun tentangnya.

.

“Lee Hyesoo, buka mulutmu. Lenganku tidak terbuat dari besi. Jika kau tidak menerima suapan ini dalam 3 detik, maka lenganku akan terjatuh”, kata Kyuhyun.

.

Namun Hyesoo tetap tidak membuka mulutnya. Ia hanya menatap Kyuhyun dalam kebungkaman yang cukup lama. Kedua alisnya bertaut menunjukkan bahwa ia sedang berpikir cukup keras. Ia sedang melakukan hal yang sangat ia ketahui adalah hal paling sia-sia dalam hidupnya. Hyesoo mencoba mengingat siapa laki-laki yang sedang berada dihadapannya ini. Menyadari sikap Hyesoo, Kyuhyun pun meletakkan kembali sendok itu di mangkuk sup lalu mendekat pada Hyesoo.

.

“Kau tidak baik-baik saja. Katakan. Apa yang kau rasakan?” tanya Kyuhyun.

.

Hyesoo tidak lantas menjawab Kyuhyun. Ia masih dalam kebungkamannya, sibuk dengan pikirannya sendiri. Kyuhyun pun menjulurkan tangannya, menyentuh kening Hyesoo untuk merasakan suhu tubuh Hyesoo. Kening Hyesoo terasa hangat di telapak tangan Kyuhyun. Namun temperature nya tidak menunjukkan tanda demam yang berarti. Kyuhyun bergerak lebih dekat pada Hyesoo, kemudian meletakkan tangan kanannya di tempat tidur disisi kepala Hyesoo, sementara tangannya yang lain berada disisi tubuh Hyesoo. Kyuhyun menatap Hyesoo, menunggu respon Hyesoo.

.

“Siapa……” kata Hyesoo dengan suara berbisik akhirnya.

.

“Kau mengatakan sesuatu? Aku tidak bisa mendengarmu”, tanya Kyuhyun.

.

“Tidak. Bukan apa-apa”, jawab Hyesoo diikuti dengan dehamannya. “Sunbae…”

.

“Hmm?”

.

“Pergilah…”

.

“Ada apa? Bukankah kau sudah memaafkanku?” tanya Kyuhyun.

.

“Benar”, jawab Hyesoo singkat.

.

“Lalu kenapa kau memintaku pergi?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Hari ini….. Pergilah….. Aku mohon…” kata Hyesoo.

.

Kyuhyun menyadari bahwa ia tidak akan mendapatkan jawaban yang tepat untuk pertanyaannya itu. Ia menyerah. Sesuatu dalam dirinya bergejolak karena keputusan yang baru saja ia ambil itu. Menyerah tidak pernah ada dalam kamusnya. Namun setelah melihat sikap Hyesoo padanya, menyerah menjadi sebuah tindakan yang ia lakukan begitu saja. Seolah hal itu adalah tindakan refleks dari tubuhnya. Rasa tidak nyaman di dadanya kembali muncul dan menganggunya. Kali ini Kyuhyun begitu merasakannya hingga keningnya berkerut karena bingung. Lalu Kyuhyun menjauh dari Hyesoo, menegakkan posisi berdirinya. Napasnya menjadi memburu karena hal yang bahkan tidak ia ketahui.

.

“Baiklah… Tapi aku akan kembali malam ini…..”

.

“Sunbae, jangan hari ini. Aku mohon…” kata Hyesoo memotong kalimat Kyuhyun bermaksud untuk mencegahnya datang.

.

“Baik. Aku akan kembali besok… Bagaimanapun keadaannya…” kata Kyuhyun bersikeras.

.

Hyesoo menghela napasnya, tidak mampu membantah Kyuhyun lagi karena rasa pusing di kepalanya. Hyesoo memejamkan matanya selama beberapa saat kemudian kembali menghela napas panjang. Ia dapat merasakan sebuah genggaman lembut di tangannya. Hyesoo pun kembali dibuat bingung oleh reaksi tubuhnya sendiri. Ia tidak berusaha melepaskan genggaman Kyuhyun ditangannya. Namun sebuah dorongan kecil diotaknya memaksa Hyesoo untuk melepas genggaman itu. Sontak Hyesoo membuka matanya dan menarik tangannya dari genggaman Kyuhyun.

.

“Sunbae… Pergilah…..” kata Hyesoo lagi.

.

“Arasseo… Berjanjilah kau akan menghabiskan makananmu”, kata Kyuhyun.

.

“Ne…” jawab Hyesoo singkat.

.

Kyuhyun mengangguk cepat namun belum juga melepaskan tatapan matanya dari Hyesoo. Sementara yang ditatap sudah kembali memejamkan mata lalu mengatur napasnya, berusaha meringankan rasa pusing di kepalanya. Tiba-tiba Kyuhyun mengecup kening Hyesoo, membuat napas Hyesoo tercekat seketika. Kyuhyun melepaskan kecupannya namun belum menjauh dari Hyesoo. Napas teratur Kyuhyun menyapu lembut permukaan kulit wajah Hyesoo. Aroma mint dan kayu-kayuan dari tubuh Kyuhyun menghampiri indera penciuman Hyesoo, mengalirkan ketenangan di setiap aliran darahnya. ‘Tidak. Ini salah. Kau tidak boleh seperti ini, Lee Hyesoo‘, kata sebuah suara dalam kepala Hyesoo.

.

“Aku pergi…” kata Kyuhyun berbisik.

.

Hyesoo mengangguk pelan. Kyuhyun menjauhkan tubuhnya dan melangkah pergi. Suara pintu yang bergeser menandakan bahwa Kyuhyun sudah pergi dari ruangan itu. Hyesoo membuka matanya pelan, lalu mengerjapkannya beberapa kali dengan cepat. Ada rasa tidak rela dalam dirinya atas kepergian Kyuhyun. Namun akal sehatnya sudah lebih dulu menyuarakan pembenaran atas sikapnya pada Kyuhyun. Hyesoo menggelengkan kepalanya cepat, berusaha menghilangkan perdebatan konyol itu dari kepalanya. Ia pun kembali ke posisi duduk untuk menghabiskan sarapannya. Suapan demi suapan sudah masuk ke mulutnya dan mengisi perutnya. Satu persatu piring di hadapannya mulai bersih dari sisa makanan. Tiba-tiba pintu ruangan kembali terbuka, memunculkan Ryeowook yang berjalan masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Hyesoo membelalakkan matanya dan tersedak. Ia memukul-mukul pelan dadanya sambil berusaha meraih gelas. Namun gelasnya sudah tidak berisikan air lagi.

.

“O! Wae? Wae? Ada apa?” tanya Ryeowook yang berlari kecil sambil meraih botol air mineral di meja lalu menuangkannya ke gelas Hyesoo. Hyesoo langsung meminum air di gelas itu agar batuknya cepat mereda. Ryeowook pun menepuk pelan punggung Hyesoo. “Apa yang ingin bicarakan? Telan makananmu terlebih dahulu, setelah itu baru bicara”, kata Ryeowook.

.

“Aku hanya terkejut”, jawab Hyesoo.

.

“Terkejut karena? Kedatanganku? Kenapa? Kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Ryeowook tanpa jeda.

.

“Tidak!” jawab Hyesoo cepat yang justru memunculkan kecurigaan dari Ryeowook.

.

“Kim Ryeowook, bisakah kau menolongku?” tanya Yoona yang baru saja masuk ke ruangan itu dan berhasil mengalihkan Ryeowook dari kecurigaannya pada Hyesoo.

.

“Apa?” Ryeowook balas bertanya.

.

“Tolong ke apotek diluar rumah sakit untuk membeli obat ini. Rumah sakit kehabisan persediaan”, jawab Yoona.

.

“Baiklah”, kata Ryeowook menyanggupi. Kemudian berlalu dengan cepat keluar dari ruangan.

.

Yoona menutup pintu yang ditinggalkan terbuka oleh Ryeowook. Kemudian ia mendekat pada Hyesoo, duduk di kursi yang berada di sisi tempat tidur Hyesoo. Suapan terakhir Hyesoo diakhiri dengan guyuran air mineral di tenggorokkannya. Yoona pun mengambil nampan di hadapan Hyesoo dan memindahkannya ke meja lain di depan sofa. Yoona kembali mendekat lalu memberikan beberapa butir obat pada Hyesoo. Dengan mudah obat-obat itu masuk ke dalam tubuh Hyesoo. Kebungkaman Yoona akhirnya menarik perhatian Hyesoo, membuat Hyesoo menoleh pada Yoona dan menatapnya.

.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Yoona yang sudah kembali duduk sambil mengambil sebuah apel untuk ia potong.

.

“Seharusnya aku yang bertanya padamu. Ada apa dengan ekspresimu?” tanya Hyesoo.

.

Yoona pun meletakkan pisau di nampan yang ada di pangkuannya. Kemudian ia balas menatap Hyesoo dengan tatapan yang tidak mudah diartikan.

.

“Apa yang dia lakukan disini, Lee Hyesoo?” tanya Yoona.

.

“Siapa yang kau maksud?” Hyesoo balas bertanya.

.

“Cho Kyuhyun. Dia datang kesini, ‘kan?” tanya Yoona lagi.

.

“Bagaimana bisa kau mengetahuinya? Kau bertemu dengannya? Ryeowook juga…..”

.

“Tidak. Aku mengalihkan pandangan Ryeowook sesaat setelah mataku menangkap sosok Cho Kyuhyun di koridor”, jawab Yoona dengan cepat. “Apa yang dia lakukan disini, Hyesoo-ya? Apa yang dia inginkan?” tanya Yoona lagi, kali ini sambil mengupas apel di tangannya.

.

“Dia hanya datang untuk mengunjungiku, Yoona-ya. Dia tidak melakukan apapun padaku. Kau tidak perlu khawatir”, jawab Hyesoo.

.

“Jangan menutupi apapun dariku. Kita sedang membicarakan seorang Cho Kyuhyun. Lee Hyesoo, dia orang yang sama yang sudah membuatmu seperti ini”, kata Yoona.

.

“Berhenti disitu, Yoona-ya. Hentikan… Jangan menyalahkan siapapun atas keadaanku. Ini adalah efek dari trauma masa lalu yang bahkan tidak ku ingat. Kyuhyun sunbae tidak dengan sengaja melajukan mobilnya dengan cepat. Dia bahkan tidak mengetahui apapun mengenai keadaanku. Jadi dia tidak bisa disalahkan. Aku mohon, jangan lagi, Yoona-ya. Jangan salahkan siapapun”, kata Hyesoo.

.

“Tapi Lee Hyesoo, dia itu…..” kalimat Yoona terhenti, menggantung tanpa bisa dilanjutkan.

.

“Dia apa? Ada apa?” tanya Hyesoo.

.

“Dia….. Cho Kyuhyun, Hyesoo-ya. Dia bukan laki-laki yang cukup baik. Semua orang di kampus mengetahuinya”, jawab Yoona dengan cepat.

.

“Ch… Kau pikir aku tidak mengetahuinya juga? Jangan khawatir, Im Yoona. Aku tahu hal itu dengan baik”, kata Hyesoo meyakinkan Yoona. “Dan… Yoona-ya…”

.

“Hm?”

.

“Jangan beritahu Ryeowook tentang kedatangan Kyuhyun sunbae, eo?” pinta Hyesoo.

.

“Tentu saja. Emosinya sudah seperti roller coaster sejak kemarin. Aku tidak suka sahabatku, Kim Ryeowook dengan emosi yang melebihi roller coaster”, kata Yoona menyetujui sambil memberikan potongan apel pada Hyesoo.

.

.

#########################

.

.

Sementara itu, disebuah ruangan pemeriksaan…

.

“Kenapa kau baru datang pagi ini, anak nakal? Kau ingin membuatku menjadi lebih tua dari usiaku? Eo?!” protes dokter Choi.

.

“Auh… Samchon… Jika kau tidak ingin menjadi lebih tua dari usiamu, maka kurangilah frekuensi kemarahanmu padaku. Kau sela…..lu saja memarahiku. Kau tidak bosan?”

.

“Aigoo… Rupanya kau sudah bisa menasehatiku sekarang. Ya inma! Jika aku tidak memarahimu, apa kau mau mendengarkanku? Ck… Sekarang katakan padaku apa yang kau rasakan”, perintah dokter Choi.

.

“Aku baik-baik saja, samchon. Aku tidak merasakan hal aneh apapun”.

.

“Jangan membohongiku, Cho Kyuhyun”, kata dokter Choi menyangkal ucapan Kyuhyun. “Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu yang semakin hari semakin bodoh itu, eo? Berapa kali aku harus mengatakan padamu, jangan memacu adrenalin dengan cara apapun. Kenapa kau masih saja tidak mau menurutiku? Katakan!”

.

“Ah samchon… Jangan marah-marah. Tekanan darahmu bisa meningkat jika kau terus marah seperti ini”, kata Kyuhyun tanpa menjawab pertanyaan pamannya itu.

.

“Tekanan darahku sudah meningkat sejak kemarin, i-jasik-ah… Ibumu mengatakan kau sempat merintih kesakitan lalu kembali ke kampus setelah meminum obatmu. Dia sangat khawatir padamu. Kemana perginya pikiranmu? Seharusnya kau beristirahat dalam keadaan seperti itu! Sekarang katakan, apa tujuanmu melajukan kendaraan dengan kecepatan seperti itu? Setelah berhasil kembali hidup, akhirnya sekarang kau merasa bosan?”

.

“Samchon… Jangan bicara seperti itu. Ucapanmu menakutkan sekali. Baiklah. Baiklah. Aku minta maaf. Aku bersalah. Aku sudah berbuat salah”, kata Kyuhyun mengakui kesalahannya. “Aigoo… Hari masih pagi, tapi aku sudah menghabiskan pagiku dengan meminta maaf pada semua orang”, sambung Kyuhyun dengan suara pelan.

.

“Kapan kau akan mulai memikirkan orang-orang yang mengkhawatirkanmu? Mereka membuang waktu percuma dengan memikirkan bocah sepertimu”, kata dokter Choi.

.

“Aku selalu memikirkan kalian, samchon”, kata Kyuhyun yang memilih kata kalian, mengikutsertakan pamannya itu dalam daftar orang yang mengkhawatirkannya. “Jangan lupakan bahwa aku juga seorang laki-laki muda yang terkadang bisa kehilangan kontrol diriku. Tapi aku juga tidak melupakan batas-batasku. Aku selalu berusaha untuk mengendalikan diriku. Akan selalu begitu. Aku tidak akan mengecewakanmu. Keponakanmu yang tampan dan pintar dengan jantung baru yang begitu kuat ini, akan hidup sampai puluhan tahun bahkan ratusan tahun ke depan. Aku yakin kau akan dibuat terkejut jika menyaksikan hal itu nanti”.

.

“Ch… Michin nom… Kau bahkan tidak mau menuruti perkataanku. Jika semua pasienku sepertimu, maka akulah yang akan terkena serangan jantung. Pokoknya hari ini kau harus melakukan pemeriksaan menyeluruh. Aku tidak menerima bantahan apapun!” kata dokter Choi tegas.

.

“Arasseoyo… Aku akan melakukan pemeriksaan. Maafkan aku kali ini, samchon. Dan maafkan aku lagi di kesempatan yang lain. Samchon tahu dengan baik bahwa hidupku sangat bergantung pada keahlianmu itu”, kata Kyuhyun dengan senyuman mengembang diwajahnya. “Aku akan menjaga jantung hyung dengan baik, samchon. Aku tidak akan mengecewakan kalian”, sambung Kyuhyun.

.

“Kau terlalu banyak bicara. Cepat keluar dan ikuti perawat Song. Aku pastikan kau tidak akan bisa kembali ke rumah malam ini”, kata dokter Choi.

.

“Apa maksud samchon? Aku harus menginap?” tanya Kyuhyun.

.

“Jangan membantah! Cepat keluar!”

.

“Ah… Pak tua ini benar-benar berlebihan. Hm… Bukankah seharusnya aku merasa senang karena bisa menemuinya kapanpun? Tapi aku tidak akan terlihat keren jika dia melihatku dengan pakaian rumah sakit. Aish…” keluh Kyuhyun.

.

“Siapa yang kau bicarakan?” tanya dokter Choi.

.

“Samchon tidak perlu tahu. Seperti tidak pernah muda saja… Aku keluar dulu. Jal butakdeuribnida, samchon…” kata Kyuhyun dengan cengiran diwajahnya, lalu keluar dari ruangan pamannya itu.

.

.

BGM: The Once – You’re My Bestfriend

.

.

Di Ruangan Hyesoo

.

Ryeowook sudah kembali dari apotek. Ia menarik sebuah kursi dan bergabung bersama Yoona, duduk disamping tempat tidur Hyesoo. Seolah sudah diprogram secara otomatis, potongan-potongan apel dari tangan Yoona berpindah secara bergantian ke tangan Hyesoo dan Ryeowook. Sementara Yoona masih dengan sabar mengupas serta memotong beberapa buah apel di pangkuannya, Hyesoo dan Ryeowook justru memfokuskan mata mereka ke tayangan ulang drama populer di televisi.

.

“Drama itu sudah selesai ditayangkan dari beberapa minggu yang lalu. Kalian masih saja menontonnya…” komentar Yoona yang menyadari fokus kedua sahabatnya yang tidak bisa diganggu itu.

.

“Aku sibuk. Tidak pernah sempat menontonnya”, sahut Ryeowook sambil memasukkan potongan apel ke mulutnya.

.

“Aku baru datang dari benua lain, kau ingat?” sambung Hyesoo.

.

“Ch… Semua orang diluar negeri bisa menyaksikan drama itu melalui internet, Lee Hyesoo”, kata Yoona.

.

“Jika aku bisa menontonnya secara gratis seperti ini, kenapa aku harus bersusah payah streaming melalui internet?” balas Hyesoo.

.

“Geureohji!” kata Ryeowook sambil meluncurkan hi-five yang disambut oleh Hyesoo.

.

“Ah… Aku tidak akan pernah menang jika berdebat dengan kalian berdua…” keluh Yoona yang disambut tawa oleh kedua sahabatnya.

.

“Lee Hyesoo, kau tidak ingin seperti dia?” tanya Ryeowook sambil menunjuk pemeran utama wanita di drama dengan dagunya.

.

“Mempunyai kekasih setampan Jang Jae Yeol? Tentu saja… Siapa gadis yang akan menolak seorang Jo In Sung? Berpikirlah sebelum bertanya…” kata Hyesoo dengan tawa kecilnya.

.

“Bukan itu, inma! Bahkan kami para laki-laki juga tahu akan hal itu. Kami juga mengakui ketampanan seorang Jo In Sung. Tapi yang ku maksudkan adalah menjadi seorang psikiater seperti Ji Hye Soo. Nama kalian sudah sama. Mungkin saja kau juga bisa terlihat keren seperti Gong Hyo Jin nuna”, sambung Ryeowook.

.

“Mwo… Mungkin saja… Karena kalau kau benar-benar memperhatikan, aku tidak kalah keren dari Gong Hyo Jin dalam balutan jubah putih. Benar, bukan?”

.

“Ch… Aku menarik kembali ucapanku…” kata Ryeowook cepat.

.

“Wae??? Aku juga terlihat bagus mengenakan pakaian apapun. Walaupun tidak sekelas aktris, tapi penampilanku tidak terlalu buruk”, kata Hyesoo membela diri.

.

“Maja! Uri Hyesoo-do yeppeo, inma! (Benar! Hyesoo kita juga cantik!)”, sambung Yoona. “Tapi aku pikir walaupun Hyesoo menjadi psikiater seperti Ji Hye Soo, tetap akan ada perbedaan diantara mereka”.

.

“Apa?” tanya Hyesoo dan Ryeowook yang menoleh bersamaan menatap Yoona, menunggu jawabannya.

.

“Kekasih Lee Hyesoo bukanlah seorang penulis seperti Jang Jae Yeol. Tapi seorang dokter dengan ketampanan luar biasa”, jawab Yoona dengan senyum mengembang dibibirnya.

.

“Siapa yang kau maksud?” tanya Ryeowook dengan tatapan waspadanya.

.

Sementara yang ditanya sudah tertawa pada ucapannya sendiri. Tawa Yoona akhirnya menular dengan mudah pada Hyesoo yang ikut tertawa bersamanya. Ryeowook pun menatap kedua perempuan dihadapannya itu bergantian dengan wajah datar khasnya, menunggu jawaban dari pertanyaannya. Ryeowook menatap tajam pada Yoona, menuntut respon. Namun tawa Yoona tidak lantas berhenti karena sikap yang ditunjukkan Ryeowook, membuat Ryeowook mendengus kesal karena hal itu. Hyesoo segera menghentikan tawanya lalu berdeham pelan karena mengetahui sikap Ryeowook yang seperti anak-anak.

.

“Ya Im Yoona! Berhenti tertawa. Jangan bermimpi disiang hari”, kata Hyesoo mencoba menghentikan tawa Yoona. Lalu Hyesoo menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Ryeowook, untuk mengalihkan pandangan Ryeowook agar menatapnya. “Kau juga, Kim Ryeowook. Berhenti bersikap seperti itu. Kau tahu, karena sikapmu itu kau bisa membuat presentase kira-kira 4 dari 10 orang merasa curiga padamu”.

.

“Apa maksudmu?” tanya Ryeowook.

.

“Neon nareul geureohke saranghaji? (Kau begitu mencintaiku, ya?) Auh… Cinta Kim Ryeowook terlalu besar hingga aku tidak mampu menampungnya lagi”, kata Hyesoo dengan nada bercandanya.

.

“Michyeosseo??? Aniya. Aniya. Naega michyeosseo, naega… (Kau sudah gila? Tidak. Tidak. Aku yang sudah gila, aku…) Bagaimana bisa aku berteman dengan gadis sepertimu. Auh…” keluh Ryeowook.

.

“Inilah! Semua orang harus melihat sisi ini darimu, Kim Ryeowook. Jadi mereka bisa mengetahui bahwa Kim Ryeowook yang ada dipikiran mereka tidak sama dengan kenyataannya”, kata Hyesoo.

.

“Siapa yang sedang kau bicarakan, Hyesoo-ya?” tanya Yoona penasaran. “Sepertinya sejak tadi kau sedang menjelaskan tentang seseorang. Siapa?”

.

“Jaejoong sunbae…” jawab Hyesoo singkat.

.

“Jaejoong sunbae wae?” tanya Ryeowook kali ini.

.

“Kemarin malam Jaejoong sunbae bertanya apakah Kim Ryeowook menyukaiku. As a girl”, jawab Hyesoo.

.

“Dan alasan Jaejoong sunbae berpikir seperti itu adalah?” tanya Ryeowook.

.

“Karena sikapmu padaku begitu protektif? Mungkin. Aku tidak tahu”, jawab Hyesoo.

.

“Geu sunbae-do michyeossnabwa… (Sepertinya sunbae itu juga sudah gila…)” kata Ryeowook memberikan komentarnya.

.

“Aniya. Aniya… (Tidak. Tidak…)” sambung Yoona. “Dia tidak gila. Geu sunbae-ga… geunyang sarangi ppajyeossda… (Sunbae itu… hanya sudah jatuh cinta…)”

.

“Pada siapa?” tanya Ryeowook. “AKU???”

.

“Daebak! Daebak! Benarkah?” Hyesoo ikut bertanya.

.

“Ya aish!!! Babo-ya?!?!” seru Yoona. “Tentu saja pada Lee Hyesoo! Jaejoong sunbae adalah laki-laki normal. Bagaimana bisa kalian berpikir sejauh itu?”

.

“Geureohji… Huh… Hampir saja aku kehilangan detak jantungku karena terkejut”, kata Ryeowook menanggapi. “Kau beruntung, Lee Hyesoo! Seorang Kim Jaejoong yang tidak pernah menaruh perhatian pada gadis manapun di kampus sekarang justru jatuh cinta padamu”.

.

“Bagaimana, Hyesoo-ya?” tanya Yoona.

.

“Apa?” Hyesoo balas bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.

.

“Jaejoong sunbae. Dia menyukaimu. Kalian juga terlihat serasi. Kau… tidak berpikir untuk mengencaninya saja? Jaejoong sunbae memiliki aspek yang sangat bagus, bukan? Dia tampan, tinggi, pintar, dan sangat baik. Walaupun terkadang sikapnya dingin, tapi sebenarnya dia memiliki hati yang lembut”, kata Yoona.

.

“Terlalu menakutkan…” kata Hyesoo.

.

“Siapa? Jaejoong sunbae? Aku tidak berpikir begitu. Selama aku mengenalnya, dia tidak semenakutkan itu, Hyesoo-ya”, kata Yoona.

.

“Bukan Jaejoong sunbae. Para gadis yang menyukainya yang terlalu menakutkan”, jawab Hyesoo.

.

“Jika mereka menakutkan lalu kenapa?” tanya sebuah suara dari arah pintu.

.

Jaejoong sudah berdiri disana sejak beberapa menit yang lalu namun tidak ada yang menyadarinya. Hyesoo, Yoona, dan Ryeowook menoleh padanya secara bersamaan. Berbeda dengan Ryeowook yang tetap pada ekspresi datarnya, Hyesoo dan Yoona justru menatapnya dengan mata terbelalak karena terkejut. Melihat ekspresi Hyesoo dan Yoona, Jaejoong tersenyum lebar, menunjukkan senyum yang dianggap mematikan oleh semua gadis di fakultas kesehatan K University. Tanpa disadari, wajah Hyesoo memerah karena malu. Hal itu membuat senyum dibibir Jaejoong semakin melebar, bahkan diikuti dengan suara tawanya yang terdengar mengalun bagai barisan nada teratur.

.

“Aku benar, bukan? Sunbae itu sudah gila. Lihatlah dia tiba-tiba tertawa seperti itu”, kata Ryeowook dengan nada bercandanya, sambil kembali mengalihkan pandangannya ke televisi.

.

Hyesoo dan Yoona pun ikut mengalihkan pandangan mereka dari Jaejoong. Menghindari tatapan mengejek yang Jaejoong berikan setelah melihat wajah terkejut mereka berdua. Yoona kembali mengupas apel terakhir yang tersisa di nampan di pangkuannya. Sementara Hyesoo sedang berusaha kembali mengikuti alur cerita drama yang masih berlanjut di televisi, meski ia tidak yakin ia bisa melakukan hal itu.

.

“Kau harus bertanggung jawab, Lee Hyesoo”, kata Jaejoong sambil berjalan mendekat.

.

“Sunbae, sagwa? (Sunbae, apel/permintaan maaf?)”, tanya Yoona sambil memberikan potongan apel pada Jaejoong. Pertanyaan yang Yoona berikan terdengar ambigu. Karena sagwa dapat diartikan menjadi dua hal, yaitu buah apel dan permintaan maaf. Namun jika dilihat dari ekspresi Yoona, Jaejoong dapat mengartikan bahwa Yoona sedang memberikan baik buah apel, maupun permintaan maaf karena sudah membicarakannya.

.

“Aku menerimanya”, jawab Jaejoong sambil mengambil potongan apel dari tangan Yoona. “Lee Hyesoo, neoneun?”

.

“Ne?” tanya Hyesoo.

.

“Nae maeumi eotteonyago? (Bagaimana dengan hatiku?)”, tanya Jaejoong.

.

Yoona tersenyum lebar mendengar pertanyaan Jaejoong pada Hyesoo. Sementara Ryeowook hanya tertawa kecil tanpa suara sambil menggelengkan kepalanya. Seketika ruangan itu memunculkan mood menyenangkan disetiap sudutnya. Keceriaan Jaejoong pagi itu menular pada setiap orang yang ada di ruangan itu. Namun atmosfer berbeda begitu terlihat dalam diri seorang laki-laki yang berdiri tepat disamping pintu yang masih sedikit terbuka. Matanya menunjukkan rasa kesal, rahangnya terkatup rapat dan tangannya mengepal kuat. Amarah menguap keluar dari tubuhnya, menimbulkan hawa permusuhan yang begitu jelas. Tiba-tiba, seolah disadarkan oleh suatu hal, ia menolehkan kepalanya ke arah pintu disampingnya dan menatap bingung ke lantai kosong.

.

Ada apa denganku? Kenapa perasaan ini tiba-tiba menghampiriku? Ini sangat menganggu. Semua hal yang berhubungan dengan Lee Hyesoo hari ini terlalu aneh. Apa arti dari rasa tidak nyaman dalam diriku ini? Apakah penyebabnya adalah Kim Jaejoong? Karena dia menyukai Lee Hyesoo? Tapi aku sudah merasakan ketidaknyamanan ini sebelum Kim Jaejoong datang. Lalu apa ini? Apa yang sudah terjadi pada diriku? Lee Hyesoo… Siapa kau? Siapa kau sebenarnya? Kenapa rasanya seolah aku sudah mengenalmu jauh sebelum ini? Kenapa aku merasa begitu dekat denganmu dalam hal yang tidak aku mengerti? Kenapa aku merasa begitu marah setelah mendengar Kim Jaejoong menyukaimu? Kenapa aku tidak merelakan situasi yang terjadi didalam sana dan ingin membawamu keluar dari sana, seolah kau adalah milikku? Kenapa jantungku selalu menyerah saat…… Tidak mungkin. Mungkinkah kau memiliki hubungan dengan Siwon hyung dan jantungnya mengenalimu? Tidak. Hal itu tidak mungkin terjadi. Tidak mungkin…

.

Setelah perdebatan dalam pikirannya, akhirnya Kyuhyun pun menjauh dari ruangan itu dengan perasaan aneh yang ia rasakan. Ia mengacak rambutnya karena rasa frustrasi yang bergejolak dalam dadanya. Kyuhyun pun menghilang dibalik dinding batas akhir koridor ruang perawatan.

.

.

.

TBC…

Note:

Sebuah fakta kembali terungkap. Cho Kyuhyun yang terkenal begitu dingin, tampan dan pintar namun menyebalkan, ternyata memiliki masalah dengan jantungnya. Seperti yang sudah kalian baca dalam part ini, Kyuhyun sudah mendapatkan transplantasi dari sepupunya, Siwon. Namun, apa yang terjadi pada Siwon? Lalu benarkah ada hubungan antara Siwon dan Hyesoo di masa lalu? Dengan keadaan Hyesoo yang tidak bisa mengingat masa lalunya sama sekali, bagaimana cara Kyuhyun untuk menemukan kebenarannya? Dan… Kim Jaejoong juga muncul dengan perasaannya pada Hyesoo yang sudah mendapatkan dukungan dari kedua sahabat Hyesoo. Akankah terjadi permasalahan kembali antara Kyuhyun dan Jaejoong. Sampai part ini, belum terbuka masalah diantara mereka. Kira-kira apa ya? Jadi, siapa yang kalian ship? Jaejoong-Hyesoo? Atau Kyuhyun-Hyesoo? Bergeser ke kisah lain, Ryewook menjelaskan dengan tegas bahwa ia tidak memiliki perasaan special sebagai seorang laki-laki pada Hyesoo. Jadi, apa alasan Ryeowook begitu protektif pada Hyesoo? Tunggu kelanjutan FF ini ya, readers-nim. Kana pamit! Annyeonghigaseyo…

Advertisements

34 thoughts on “I’m walking towards you : Part 2

  1. asli ya nih cerita berasa mecahin teka teki. susah banget ditebak. pas sebelum baca kalo kyu bermasalah sama jantung, aku sempet ngira kalo kyu sama hyeso itu dulua pacaran dan sama” pas kecelakaan dan sama” lupa ingatan. tapi ternyata bukan, kalo gitu mungkin perasaan yg dirasain kyu ada hub sama siwon. sebenernya ada pertanyaan” sepele tapi biarkan sajalah. siapa tau bisa dijawab di part” selanjutnya.

    Like

  2. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION – evilkyu0203

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s