The Possibility of Impossible Us Part 5 [LAST PART]

– The Possibility of Impossible Us Part 5 –

LAST PART

“I only want you to be my last”

.

Author: Mina&Kana

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast: Cho Kyuhyun, Choi Nara (OC)

Other Cast:
Seohyun, Sunny, Changjo, etc.

Disclaimer:

Annyeonghaseyo… Mina ibnida. Aku ingin minta maaf pada para readers yang sudah menunggu update nya FF ini. Maaf juga untuk Kana eonni yang sudah bersedia menerima pertanyaan-pertanyaan ‘kapan FF ini dilanjutkan???’. FF ini baru bisa aku lanjutkan setelah banyak hal yang harus aku lakukan dan selesaikan. Kelanjutan FF ini juga sempat terhambat karena perubahan yang luar biasa di kisah nyata nya. Aku jadi harus putar otak mengubah banyak hal dari kisah nyata yang mendasari terciptanya FF ini. Aku harap ending dari FF ini tidak mengecewakan kalian para readers yang sudah setia menunggu update terakhir FF ini.

FF ini murni hasil dari isi kepalaku. Kisah di ff ini adalah kisah nyata yang dikembangkan ke dunia per-fanfiction-an. This is a simple love story. Beberapa tokoh, karakter, latar tempat dibuat berbeda dengan kisah aslinya. FF ini akan dibuat dengan format yang sedikit berbeda. Jika FF sebelumnya dibuat dengan 3 sudut pandang (sudut pandang author, tokoh utama laki-laki, dan tokoh utama perempuan), FF ini dibuat lebih banyak dengan sudut pandang tokoh perempuan dan beberapa sudut pandang author. Jadi, akan lebih terasa seperti diary si tokoh utama perempuan. Well, FF ini basically adalah romance dengan rating PG-15, tapi mungkin direncanakan akan ada 1 atau 2 part dengan NC didalamnya. Dan sebelumnya aku mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Karena seperti yang aku katakan, ini adalah kisah cinta sederhana yang bisa dialami siapa saja. Aku juga berusaha sebisa mungkin untuk menghindari typo. Tapi, aku juga manusia biasa yang bisa membuat kesalahan, jadi mohon dimaklumi. No bash, smart comments and critics always accepted. Selamat membaca…

.

.

.

.

I want nobody but you. I only love you.

.

.

.

-The Possibility of Impossible Us Part 5-

.

.

Seohyun ada disini. Ia juga datang. Baru saja Kyuhyun mengatakan bahwa aku sudah bersedia menikah dengannya. Bagaimana dengan perasaan Seohyun? Secara tidak langsung aku menyakitinya. Ia disini untuk merayakan ulang tahun Kyuhyun dengan mood yang menyenangkan. Tapi aku baru saja merusaknya. Bahkan mungkin saja ia ikut datang bersama teman-temannya dengan harapan bisa kembali pada Kyuhyun. Benar. Ia mungkin kembali untuk memperbaiki hubungannya dengan Kyuhyun. Dan aku sudah merenggut harapan itu darinya. Inikah yang benar-benar aku inginkan? Choi Nara… apa yang kau lakukan?

.

“Nara-ya….. Choi Nara…” Kyuhyun memanggilku dengan menyentuh pipiku.

.

“Hmm?” aku tersadar dari lamunanku.

.

“Ada apa? Kau melamun cukup lama. Kau baik-baik saja? Kau sakit? Katakan padaku. Jangan buat aku takut dengan diam mu ini…” tanya Kyuhyun khawatir hingga membuat teman-temannya ikut menoleh padaku.

.

“Aku baik-baik saja. Hanya belum bangun sepenuhnya. Geogjeongma…” kataku berbohong. Sekali lagi aku menoleh pada Seohyun yang kini sedang tersenyum tipis padaku. Akupun memberikan senyum tipisku juga padanya. Tiba-tiba perasaan menyesakkan menghampiriku, membuatku pusing.

.

“Aniya… kau tidak baik-baik saja. Wajahmu pucat. Haruskah kita ke rumah sakit?” tanya Kyuhyun kembali menyadarkanku dari pikiranku.

.

“Gwaenchandago… Tidak perlu ke rumah sakit. Aku hanya butuh air minum”.

.

“Aku ambilkan…” kata Kyuhyun sergap.

.

Tapi aku menahan lengannya. Ia pun menoleh padaku dan mengerutkan keningnya seolah bertanya kenapa aku menahannya. Hari ini adalah ulang tahun Kyuhyun, dan teman-teman nya ada disini. Aku bukan si jahat yang dengan egoisnya menjadikan Kyuhyun hanya milikku. Tidak dengan keberadaan teman-temannya disini. Aku pun menggelengkan kepalaku padanya untuk menghentikan langkahnya, mengatakan padanya ia tidak perlu melakukan itu. Di detik berikutnya aku menoleh pada teman-teman Kyuhyun dan tersenyum pada mereka. Lalu ku langkahkan kaki ku keluar dari kerumunan itu untuk mengambil air minum ku sendiri. Sepupu Kyuhyun, Sunny, yang menyadari kecanggungan itu segera mengajak teman-teman Kyuhyun untuk duduk di ruang tamu. Aku menuangkan air ke dalam gelasku, dan segera menenggaknya. Aku menghela napas panjang saat mengingat kemungkinan-kemungkinan yang aku pikirkan beberapa saat lalu. Aku mencintai Kyuhyun, begitupun sebaliknya. Tapi apakah dibenarkan untuk menyakiti orang lain? Tatapan mata Seohyun beberapa saat yang lalu kembali menghantui pikiranku. Mata itu menunjukkan rasa sakit yang cukup melenyapkan rasa kantukku. Ia masih sangat mencintai Kyuhyun. Ia merasakan sakit, tapi ia juga masih mencintai Kyuhyun. Rasa sakit itu tidak bisa menggantikan cinta nya yang besar pada Kyuhyun. Memang benar aku mencintai Kyuhyun, tapi bukan berarti aku harus memperbesar rasa sakitnya. Haruskah aku kembali ke rumah saja? Lagipula Kyuhyun sedang bersama teman-temannya saat ini. Mungkin aku tidak bisa melepaskan Kyuhyun untuk Seohyun. Tapi sepertinya aku bisa mengurangi rasa sakitnya akan keberadaanku.

.

“Kau melamun lagi…” Kyuhyun mengagetkanku dengan tangannya yang dingin menyentuh lenganku. Ia membalikkan tubuhku menghadapnya. “Jangan lakukan ini padaku, Nara-ya… Kau tidak bisa membohongiku, ingat?”

.

Kyuhyun meraih kepalaku dengan kedua tangannya, kemudian mendekatkan keningku pada bibirnya. Ia menyentuhkan bibirnya disana untuk waktu yang cukup lama. Kemudian kedua tangannya bergerak turun ke leherku. Ia menjauhkan kepalanya dariku, kemudian mengarahkan wajahku untuk memandang wajahnya yang berbeda kira-kira 10 cm diatasku. Ia menatapku dengan tatapan lembut dan menuntut jawaban dariku. Ia kembali bertanya dengan hanya mengerutkan keningnya.

.

“Tubuhmu hangat. Aku rasa kau demam. Sepertinya kita memang harus ke rumah sakit, Choi Nara”, kata Kyuhyun lagi.

.

“Tidak… Tidak perlu ke rumah sakit. Aku hanya perlu meminum obat, minum air lebih banyak dan istirahat. Aku punya obat di rumahku. Mungkin sebaiknya aku pulang dan beristirahat saja…”

.

“Kau bisa beristirahat disini. Dirumahmu tidak ada siapapun yang bisa menjagamu. Aku dan Sunny ada disini. Kami bisa menjagamu”

.

“Teman-temanmu jauh-jauh datang kesini bukan untuk melihatmu menjagaku, Cho Kyuhyun. Lagipula aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku sudah melakukannya selama hampir 4 tahun di Tokyo, kau ingat? Kau tidak per…..”

.

“Eo… maaf jika aku mengganggu kalian”, kata sebuah suara dari belakang Kyuhyun. Akupun menoleh memeriksa siapa pemilik suara itu.

.

“Tidak apa-apa Seohyun-ssi. Ada apa?” tanyaku.

.

“Aku ingin ke kamar kecil…” jawabnya pelan.

.

“A… silahkan. Ada diujung sana. Kau cukup berjalan lurus, kamar kecilnya ada di sebelah kanan”, jelasku sambil memaksakan senyum tipis sebisaku.

.

“Ne. Gomawoyo. Sekali lagi maaf aku mengganggu” kata Seohyun yang kemudian berlalu meninggalkan kami.

.

Setelah memastikan Seohyun menjauh, Kyuhyun kembali meraih pipiku memintaku menatapnya. “Apa ada hubungannya dengan Seohyun?” tanya Kyuhyun skeptis.

.

“Aniya… Seohyun-ie wae…..”

.

“Kau benar-benar perlu lebih banyak berlatih untuk membohongiku, Choi Nara. Apa lagi masalahnya sekarang? Hmm? Aku dan Seohyun sudah berakhir lama sekali. Aku bahkan sudah mengatakan aku hanya mencintaimu. Sejak awal aku hanya mencintaimu. Aku milikmu, Choi Nara. Apa lagi yang kau pikirkan?” tanya Kyuhyun.

.

“Jika bisa semudah itu…..”

.

“Memang semudah itu. Kenapa kau selalu membuatnya rumit? Aku mencintaimu. Kau mencintaiku. Aku sepenuhnya memberikan hati dan jiwaku untukmu. Baru saja beberapa jam yang lalu kau bersedia menikah denganku. Kau ingin membuat kebahagiaanku hanya sekedar beberapa jam?”

.

“Tapi dia terlihat begitu sedih. Aku tidak ingin menyakitinya, Cho Kyuhyun…”

.

“Sadarkah kau jika kau juga akan menyakitiku dengan bersikap seperti ini? Baiklah, mari kita berandai-andai. Seandainya aku membiarkanmu kembali ke rumah dan istirahat seorang diri disana. Apa kau pikir aku akan tenang berada disini? Apa aku bisa bersama teman-temanku disaat pikiranku tertuju padamu? Dan Seohyun… Bukahkah ia akan tetap merasa sakit dengan melihatku sangat mengkhawatirkanmu? Pada akhirnya ia akan tetap merasakan sakit, bukan? Bukan kau yang menyakitinya, Choi Nara. Aku. Kita tidak bisa melakukan apapun untuk menghilangkan rasa sakitnya. Ia harus mengatasinya dengan caranya sendiri.”

.

“Tapi, Kyu…..”

.

“Sepertinya aku memang harus membungkam mu…” katanya dengan ekspresi yang berubah 180 derajat. Senyumnya terkembang.

.

“Mwo?” tanyaku.

.

“Selama beberapa saat aku berpikir cukup keras, haruskah aku melakukannya atau tidak. Tapi sepertinya aku harus. Kau berpikir terlalu banyak, Choi Nara. Dan sebelum kau mengeluarkan isi pikiranmu itu, sebaiknya aku membungkam mu.

.

“Apa maksudmu?”

.

“Alasan lain….. karna saat ini aku benar-benar tidak bisa menahan godaanmu…..”

.

“Aku? Apa yang aku la…..”

.

Belum selesai kalimatku, tapi Kyuhyun sudah mendaratkan bibirnya di bibirku. Ia menyentuhkan kedua tangannya tepat dibawah rahangku, lalu mengarahkannya menengadah padanya untuk mempermudah ciumannya. Ia menggigit pelan bibir bawahku, membuatku membuka bibirku. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk memperdalam ciumannya. Ia melumat bibir atas dan bawahku bergantian. Aku tidak bisa melakukan apapun. Tubuhku seketika melemah didetik pertama ia menyentuhkan bibirnya di bibirku. Aku hanya bisa meraih lengannya dan berpegangan disana. Menyadari lemahnya tubuhku, Kyuhyun memindahkan satu tangannya ke pinggangku dan mendekatkan tubuhku padanya. Tiba-tiba ia melepaskan ciumannya, namun tidak menjauh.

.

“Aku mencintaimu…” katanya berbisik.

.

“I know…” kataku juga dengan berbisik.

.

Lalu Kyuhyun kembali meraih bibirku dan melumatnya dengan lembut. Beberapa saat yang lalu sebelum aku menutup mataku, aku menangkap bayangan Seohyun yang berjalan mendekat dari arah kamar kecil. Sebuah saraf diotakku menyadarinya dan berusaha menyadarkanku untuk melepaskan diriku dari Kyuhyun. Tapi sepertinya saraf itu menyerah. Keinginanku untuk mencium Kyuhyun lebih besar. Terbukti dengan tanganku yang saat ini sudah ku rangkulkan di leher laki-laki pemarah ini. Seolah menyambutnya dengan senang, Kyuhyun pun memindahkan tangannya yang lain ke punggungku. Ia merapatkan tubuhku padanya. Ia kembali menggigit bibir bawahku pelan. Sedetik kemudian aku bisa merasakan dengan jelas Kyuhyun menggerakkan lidahnya mendekati bibirku. Wow… wow… Tuan Cho Kyuhyun sudah terlalu jauh…

.

“Wow….. wow…” kataku sambil melepaskan diriku darinya. Kedua tangannya masih melingkar di pinggangku. Aku hanya bisa menjauh dengan menahan dadanya. “Hold on, man! Kita tidak sendiri di rumah ini, kau ingat?”

.

Ia menghela napas panjang dan menatapku dengan tatapan menyerah. “Ah… Apa yang harus ku lakukan sekarang, Choi Nara? Kau lihat kan bagaimana keadaanku sekarang? Aku selalu kehilangan kontrol ku jika bersama mu…”

.

“Bukan salahku jika kau menjadi seperti ini…”

.

“Benar. Salahku. Seharusnya aku meraihmu sejak dulu. Mungkin aku tidak akan jadi segila ini jika aku melakukan itu. Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku lagi bahkan sedetik…”

.

“Cho Kyuhyun, kau terdengar seperti psycho saat ini…”

.

“Mwo? Ya! Bagaimana bisa kau mengatakan aku psycho, Choi Nara???”

.

“Hanya psycho yang akan mengatakan itu. Bagaimana bisa aku selalu bersama mu setiap detik? Aku juga butuh waktu untuk diriku sendiri. Jika selalu bersamamu, kau tidak takut aku akan merasa bosan dan justru pergi darimu?”

.

“Jika kau bosan padaku kau pasti sudah pergi sejak lama, Choi Nara. Tapi kau sekarang ada disini bersamaku”.

.

“Aku sudah mengambil liburku darimu selama hampir 4 tahun, kau ingat? 4 tahun tidak melihat mu membuatku bisa bertahan sekarang, Cho Kyuhyun…”

.

“Benarkah begitu? Kalau begitu kau akan meninggalkanku lagi suatu saat nanti? Choi Nara, neomuhae! Bukankah kau sudah setuju menikah denganku? Bagaimana bisa kau meninggalkanku lagi? Andwae!”

.

“Ya! Ya! Jika kau seperti ini bagaimana Nara tidak meninggalkanmu, i-jasik-ah…” Sunny muncul dan memukul-mukul punggung Kyuhyun. Aku gunakan kesempatan itu untuk melepaskan diriku darinya.

.

“Sunny-ya, na baegopa…” kataku sambil merangkul lengan Sunny.

.

“Wah… Choi Nara. Badanmu benar-benar hangat. Mau aku buatkan bubur?” tanya Sunny.

.

“Aniya… Aku ingin makan yang lain. Buatkan aku ddeokbokki atau bokkeumbab, hmm? Hmm? Sunny-ya… ddeokbokki, hmm? Jebal…”

.

“Ya! Jugeullae?!” seru Kyuhyun. Tentu saja… sebelum menjadi kekasihku (calon suami masa depanku), Kyuhyun adalah teman kecilku. Tentu saja kata-kata itu akan keluar darinya. Kami tidak selalu ber-lovey-dovey. “Hanbeondo ddeokbokki meogeosipdarago hamyeon, jeongmal jugeo neo! (Jika sekali lagi kau mengatakan ingin makan ddeokbokki, habis kau!)”

.

“Cho Kyuhyun….. neon neomu museowo… nan neorang gyeolhon anhae… (Cho Kyuhyun, kau sangat menakutkan. Aku tidak mau menikah denganmu…)” kataku dengan ekspresi takut buatanku.

.

“Ya… Ya….. Choi Nara… Aku tidak sungguh-sungguh. Aku mengatakannya hanya untuk melarangmu makan ddeokbokki saat kau sedang sakit. Jangan katakan itu. Aku tidak sungguh-sungguh, Choi Nara… Jangan lakukan itu padaku. Aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi padamu. Aku mohon jangan tinggalkan aku, eo?”

.

“Benar kataku kan, Sunny-ya? Gwiyeobji?” tanyaku pada Sunny yang saat ini sedang mengerutkan dahinya sambil menahan tawa.

.

“Aku benar-benar merinding, Nara-ya. Ya, Cho Kyuhyun! Kau benar-benar seperti orang lain sekarang. Aku mengakuinya… Choi Nara benar-benar perempuan keempat yang berhasil menjinakkan seorang Cho Kyuhyun setelah halmeoni, bibi Cho, dan Ahra eonni. Aku akan membuatkan bokkeumbab untuk kalian semua…”

.

“Assa!!!” seuruku.

.

“Kau membohongiku?” tanya Kyuhyun kemudian.

.

“Eo… Tentu saja…” jawabku sambil tertawa kecil padanya. Ia tersenyum lebar. Raut wajah tegangnya seketika menghilang memunculkan ekspresi dan senyum kelegaan yang begitu mempesona ku.

.

“Auh… Kau menakutiku, Choi Nara. Kau tahu, jika kau melanjutkannya aku bisa saja sampai berlutut padamu…”

.

“Geurae? Mianhae… Mian…” kataku sambil meraih Kyuhyun ke pelukanku. “Maaf mengagetkanmu… Aku tidak akan pergi kemanapun, Cho Kyuhyun. Aku tidak bisa lagi…”

.

Kyuhyun melepaskan pelukanku dan menatapku. “Berjanjilah padaku…” katanya lunglai.

.

“Eo… aku berjanji. Lagipula, bagaimana bisa kau berpikir aku akan pergi hanya dengan gertakan itu? Aku sudah pernah melihat yang lebih menakutkan dari itu, Cho Kyuhyun. Kau ingat, saat kau marah padaku karena aku tidak mengatakan padamu tentang kepergianku ke Tokyo? Kau begitu marah dan berteriak padaku. Kau bahkan menahan tangismu. Itu lebih membuatku takut daripada gertakanmu barusan…”

.

“Tapi bahkan dengan kemarahanku itu kau tetap pergi dariku, Choi Nara…” katanya lemas.

.

“An-ga… An-gandago… Aku tidak akan kemanapun, Cho Kyuhyun. Kali ini aku bersungguh-sungguh…”

.

.

Malam harinya…

Semua teman Kyuhyun berniat menginap selama 3 hari 2 malam, termasuk Seohyun. Pikiran itu terus saja meresahkanku. Tapi Kyuhyun pasti tidak mungkin membiarkanku kembali ke rumahku. Terlebih dengan keadaan ku yang ternyata tidak sebaik yang ku kira. Suhu tubuhku meningkat siang tadi. Di detik Kyuhyun mengetahuinya, ia meletakkan tubuhku di tempat tidurnya dan tidak membiarkanku keluar kecuali untuk ke kamar mandi. Aku memintanya untuk keluar dari kamar dan menemani teman-temannya. Butuh ancaman yang meyakinkan untuk membuat Kyuhyun keluar dari kamar dengan sukarela.

.

Hari berganti malam dengan cepat saat aku memejamkan mataku. Aku mencoba membuka mataku yang masih terasa berat. Sebuah cahaya remang dari samping tempat tidur membantuku mengumpulkan kesadaranku. Tubuhku terasa begitu lemas karena pengaruh frekuensi tidur yang terlalu lama. Sosok Kyuhyun yang duduk dilantai tepat disamping tempat tidur membuat kesadaranku terkumpul sepenuhnya. Dia tersenyum padaku lalu menyentuhkan tangannya di kepalaku dan mengusap pelan rambutku.

.

“Jaljasseo?” tanya Kyuhyun pelan.

.

“Eung… Apa yang kau lakukan disini? Pergilah keluar dengan teman-temanmu…”

.

“Mereka sedang makan malam dan akan bersiap mandi bergantian. Aku merindukanmu…” kata Kyuhyun.

.

“Kemarilah… Lantai itu dingin”, kataku sambil menggeser posisi tubuhku.

.

Kyuhyun bangkit dari posisinya dan duduk disampingku. Aku menutupi kaki dengan selimut, lalu merangkulkan tanganku di pinggangnya yang bersandar di kepala tempat tidur. Tiba-tiba Kyuhyun merebahkan tubuhnya dan mengangkat kepalaku keatas lengannya. Kyuhyun mengecup pelan keningku lalu meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Kyuhyun menarik selimut hingga ke bahuku, menepuk pelan punggungku untuk membuatku kembali terlelap.

.

“Aku merindukanmu…” kata Kyuhyun pelan. “Bahkan disaat kau berada di pelukanku, aku tetap merindukanmu. Aku tidak akan membiarkan kau pergi lagi dariku, Choi Nara. Tidak lagi…”

.

“Tidak lagi…” kataku mengulangi ucapan Kyuhyun.

.

“Bagaimana jika kita menikah tahun ini? Atau bulan depan? Aku tidak bisa menunggu lagi, Choi Nara”.

.

“Michyeosseo? Kau pikir mempersiapkan pernikahan bisa semudah itu? Kau tidak pernah mendengarnya? Pasangan yang sedang mempersiapkan pernikahannya memiliki peluang untuk saling membenci dan berpisah”, kataku.

.

“Aniya… Itu tidak akan terjadi pada kita berdua. Kau tidak ingat, selama bertahun-tahun kita saling mengenal, kita sudah bertengkar ribuan kali? Kita tidak akan berpisah hanya karena bertengkar. Kau ingin membuktikannya berapa kali lagi?” tanya Kyuhyun sambil tertawa kecil.

.

“Kau benar. Pertengkaran tidak akan berhasil membuat kita berpisah. Lalu menurutmu, apa yang bisa membuat kita berpisah?” tanyaku.

.

“Kenapa aku harus berpisah denganmu? Aku tidak mau. Aku tidak punya alasan untuk itu…”

.

“Kau yakin? Bagaimana jika Song Hye Kyo datang padamu?” tanyaku menggoda Kyuhyun.

.

“Kenapa kau membawa Song Hye Kyo nuna dalam hal ini?” tanya Kyuhyun.

.

“Aku hanya ingin tahu siapa yang akan kau pilih…”

.

“Cintaku pada Song Hye Kyo nuna kekal, Choi Nara. Tidak bisa dibandingkan dengan apapun”, kata Kyuhyun dengan nada bercandanya.

.

“Ch… Jangan bermimpi, Cho Kyuhyun. Kesalahan apa yang dilakukan Song Hye Kyo hingga harus memiliki fans aneh sepertimu…”

.

“Ya… Bukankah kau yang menanyakannya terlebih dahulu padaku? Aku hanya menjawab dengan kesungguhanku, Choi Nara…”

.

“Baiklah. Baiklah. Salahku karena menanyakannya padamu”, kataku menyerah.

.

“Hahahaha… Aku hanya mencintaimu, Choi Nara. Bahkan Song Hye Kyo sekalipun tidak akan menggoyahkanku. Kau tetap mau menikah denganku, kan?” tanya Kyuhyun.

.

“Aku mwo….. aku akan memikirkannya lagi”, jawabku santai.

.

“Baiklah… Pikirkan lagi dengan sungguh-sungguh hingga kau menemukan jawaban ‘ya’ untukku. Karena aku tidak akan menerima jawaban ‘tidak’ darimu”, kata Kyuhyun yang kemudian mengecup keningku lagi.

.

“Cho Kyuhyun si pemaksa…”

.

“Kau yang membuat Cho Kyuhyun menjadi seorang pemaksa…” kata Kyuhyun lalu memberikan kecupan di keningku.

.

.

.

.

Author’s POV

“Keluarlah, Kyuhyun-ah…” kata Nara tiba-tiba.

.

“Kenapa? Kau tidak suka aku berada disini?” tanya Kyuhyun.

.

“Tidak seperti itu…”

.

“Lalu?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Aku sudah memenuhi permintaanmu untuk tetap tinggal dan tidak kemanapun. Aku ingin kau juga memenuhi permintaanku untuk tidak menyakiti perasaan siapapun. Aku tahu kau tentu mengerti apa yang sedang ku bicarakan. Jadi kumohon keluarlah…” pinta Nara.

.

“Jadi, sekarang kau mengusirku?” tanya Kyuhyun dengan nada riang untuk menghindari suasana tidak mengenakan diantara mereka.

.

“Eo… Cepat keluar, Cho Kyuhyun-ssi. Aku ingin kembali tidur”, kata Nara.

.

“Kau tidak ingin makan terlebih dahulu?” tanya Kyuhyun.

.

“Tidak. Tolong, biarkan aku tidur, hmm?”

.

“Baiklah…”

.

Kyuhyun kembali mengecup singkat kening Nara sebelum beranjak bangun dari tempat tidur. Ia menatap Nara selama beberapa saat, ragu untuk pergi dari kamar itu. Nara kembali meminta Kyuhyun untuk pergi dengan menggerakkan dagunya menunjuk pintu yang mengundang senyum di wajah Kyuhyun dan gelengan kepala cepat. Nara pun memainkan ekspresi wajahnya dengan menunjukkan wajah yang seolah kecewa dan kesal dengan sikap keras kepala Kyuhyun. Nara segera menarik selimutnya, mengubah posisinya menjadi berbaring miring ke arah yang berlawahan dengan posisi berdiri Kyuhyun, lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal milik Kyuhyun. Beberapa saat kemudian terdengar suara berderit tanda pintu sedang dibuka lalu ditutup, menandakan Kyuhyun sudah keluar dari ruangan itu. Nara sontak membuka selimutnya perlahan dan mengubah posisi tubuhnya, berbaring menghadap arah yang berlawanan. Ia memandang pintu kamar Kyuhyun dalam diam. Terlalu banyak hal yang bergumul dalam hatinya. Ia ingin menjadi si egois yang menginginkan Kyuhyun hanya untuknya. Namun ia tidak bisa melupakan kenyataan bahwa ada seorang gadis yang mencintai Kyuhyun diluar sana. Nara tidak bisa menjadi egois bahkan setelah Kyuhyun meyakinkannya bahwa ia sudah memiliki hati Kyuhyun sepenuhnya. Nara tidak ingin membuat orang lain merasakan perasaan yang pernah ia rasakan bertahun yang lalu. Tidak bahkan jika gadis itu tidak akan memikirkan perasaannya jika keadaan mereka saat ini berbalik.

.

Nara kembali memejamkan matanya, berusaha kembali mengubur semua hal melelahkan yang sedang ia rasakan dalam tidurnya. Butuh waktu hampir tiga puluh menit baginya untuk kembali terlelap dan memisahkan diri dari dunia nyata yang begitu ramai diluar sana. Jarum jam pun berjalan mengiringi helaan napas halus Nara yang semakin terlelap ke alam bawah sadarnya. Hingga tidak ada suara apapun yang terdengar dari luar kamar, hingga lampu-lampu yang semula menerangi setiap sudut rumah dengan gencarnya malam itu padam, hingga jarum jam kecil sudah melewati sisi kiri dari lingkaran lintasannya, hingga hanya ada ia dan seorang yang lain dalam ruangan itu berbaring dalam kehangatan ruangan. Benar. Satu jam yang lalu Kyuhyun masuk ke ruangan setelah perbincangannya dengan semua temannya selesai. Kyuhyun berbaring dibelakang Nara dan merengkuh tubuh Nara ke dalam pelukannya, meredakan dingin tubuhnya dengan temperature hangat tubuh Nara yang mengalirkan kehangatan padanya. Berselang beberapa saat, Nara membuka matanya pelan. Rasa kering di tenggorokannya menarik dirinya bergegas keluar dari alam tidurnya. Ia berdeham pelan merasakan kebutuhannya akan air bagi tenggorokannya. Sampai ia menyadari bahwa tubuhnya dibungkus dengan begitu erat oleh tubuh besar milik Kyuhyun. Ketamakan akan laki-laki ini kembali menghampirinya, membujuknya untuk tidak beranjak kemanapun dan tetap berada dalam rengkuhan posesif laki-laki ini. Namun respon otaknya justru memerintahkan hal sebaliknya. Ia bergerak berusaha keluar dari dekapan Kyuhyun secepat dan selembut mungkin tanpa ingin membangunkannya sebelum ketamakan konyol dalam dirinya kembali menghalangi kebutuhannya itu. Kyuhyun bergerak mengubah posisi tidurnya tanpa sedikitpun menyadari kepergian Nara dari tempat tidur. Setelah memastikan Kyuhyun tidak terbangun karenanya, Nara pun bergegas keluar dari kamar dan berjalan ke dapur. Namun sosok seorang gadis yang menganggu pikirannya sejak matahari terbit hari itu menghentikan langkahnya. Seohyun ada disana, duduk di salah satu kursi meja makan sambil memegang cangkir ditangannya. Seohyun menoleh pada Nara dan memberikan senyum tipis padanya. Nara membalas senyum itu lalu kembali berjalan ke arah dapur. Ia mengambil sebuah gelas tinggi dalam nakas dan menuangkan air mineral ke dalam gelas itu. Nara meminum ¼ dari isi gelas itu lalu menoleh singkat pada Seohyun.

.

“Kau tidak tidur?” tanya Nara yang kemudian kembali meneguk air dalam gelasnya.

.

“Aku tidak bisa tidur…” jawab Seohyun.

.

“Apakah tempat tidurmu tidak nyaman?” tanya Nara lagi tanpa menatap Seohyun.

.

“Tidak. Hanya kantuk tidak kunjung menghampiriku”, jawab Seohyun.

.

“Begitu……”

.

“Maafkan aku, Nara-ssi” kata Seohyun pelan membuat Nara menoleh padanya.

.

“Tentang apa?” tanya Nara yang kini menatap Seohyun.

.

“Karena sudah menjadi tamu yang tidak diharapkan”, jawab Seohyun.

.

Mata Nara melebar, menunjukkan bahwa ia tersentak dengan ucapan Seohyun. Seharusnya ia tidak perlu merasakan apapun setelah mendengar ucapan itu. Seharusnya ia bersikap acuh pada ucapan itu. Seharusnya ia tidak perlu terpengaruh dengan ucapan itu. Namun ada suatu hal dalam dirinya yang seolah merutuki dirinya karena telah bersikap begitu jahat membuat seorang gadis merasakan hal itu dengan keberadaannya.

.

“Tidak begitu. Kenapa kau bicara seperti itu, Seohyun-ssi?” tanya Nara.

.

“Maaf karena telah bersikap egois dengan tetap mengharapkan Kyuhyun walaupun aku tahu cintanya tidak pernah benar-benar ia tujukan untukku. Maaf karena sudah membuatmu tidak nyaman berada disini”, kata Seohyun lagi.

.

“Kenapa kau bicara seperti itu, Seohyun-ssi? Kenapa kau melakukan hal itu?” tanya Nara. “Katakanlah kau tidak mengetahui keberadaanku disini. Katakanlah kau tidak mengetahui bagaimana kabar dan keadaan Kyuhyun saat ini. Setelah kau melihat semua hal yang terjadi hari ini, apa yang kau rasakan?”

.

“Itulah alasan aku meminta maaf padamu, Nara-ssi. Karena bahkan setelah melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri, aku tetap bersikap egois dengan menginginkan Kyuhyun untuk kembali padaku. Aku menginginkan kepergianmu. Aku ingin kau menghilang dari jangkauan pandanganku sebentar saja agar aku hanya bisa menatap Kyuhyun untuk diriku sendiri. Aku ingin merebutnya darimu. Aku ingin kau merasakan rasa sakit yang pernah aku rasakan selama bersama Kyuhyun. Tapi aku tahu, aku menyadarinya. Meski aku menyakitimu, rasanya tidak akan sama. Karena Kyuhyun bahkan tidak pernah memberikan cinta sebesar itu padaku. Tidak. Kyuhyun bahkan tidak pernah mencintaiku, Nara-ssi. Sejak awal hanya kau yang Kyuhyun cintai. Tapi bahkan saat kenyataannya sudah terpampang jelas didepanku, aku tetap menginginkan Kyuhyun untuk diriku. Aku menginginkan sesuatu yang bukan milikku, yang tidak pernah menjadi milikku”, kata Seohyun yang akhirnya mengeluarkan semua hal yang ia rasakan pada Nara.

.

Nara duduk di kursi yang berlawanan dengan Kyuhyun, mencoba memproses ucapan Seohyun dalam pikirannya. Kepalaku kembali dipenuhi dengan begitu banyak hal untuk dipikirkan. Keheningan pun menghampiri keduanya. Nara tertunduk menatap kedua tangannya yang menggenggam gelas ditangannya, sedangkan Seohyun menatap Nara dengan tatapan sendunya seraya mencoba untuk menerka apa yang ada di dalam pikiran Nara setelah mendengar pengakuannya itu. Namun Seohyun tidak menemukan apapun dari ekspresi wajah Nara. Ia tidak bisa membaca Nara. Sebuah ingatan tiba-tiba menghampiri Seohyun. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa tahun yang lalu saat ia menemukan Kyuhyun yang duduk didepan pagar rumahnya dalam keadaan mabuk. Hari itu adalah hari dimana Nara kembali dari Tokyo untuk pertama kalinya. Hari dimana Kyuhyun dan Nara bertengkar dengan hebatnya. Kyuhyun meluapkan segala kekacauan hatinya pada alcohol. Seohyun menemukan Kyuhyun yang duduk diam di depan pagar rumahnya dengan air mata yang membasahi pipinya. Hanya beberapa hal yang terdengar oleh Seohyun saat Kyuhyun bicara dari alam bawah sadarnya. Kyuhyun terus saja mengulangi ucapan yang ia tujukan pada Nara. ‘Kau begitu sulit untuk dipahami, Choi Nara. Kau begitu sulit untuk mengerti, Choi Nara. Kau selalu membuatku tidak berdaya, Choi Nara’. Semua hal ia katakan untuk Nara. Sampai sebuah kalimat yang menyadarkan Seohyun akan hal yang sebenarnya terjadi pada Kyuhyun seolah menamparnya begitu keras. Saat Kyuhyun mengatakan berkali-kali dengan kesungguhannya, ‘Aku mencintaimu, Choi Nara… Aku mencintaimu’. Kini Seohyun mengerti semua hal yang dikatakan Kyuhyun malam itu. Choi Nara yang dibicarakannya memang tidak terbaca, tidak mudah dimengerti. Choi Nara tidak pernah menunjukkan hal yang sedang ia rasakan di wajahnya. Tidak sedikitpun.

.

“Maafkan aku…… karena menyakitimu, Seohyun-ssi. Aku… Aku tidak bermaksud melakukannya…” kata Nara akhirnya.

.

“Tidak. Kau tidak melakukan kesalahan apapun, Nara-ssi. Jika ada seseorang yang harus disalahkan atas rasa sakit yang aku rasakan, orang itu adalah Kyuhyun, bukan kau. Tapi tentu saja aku tidak pernah bisa menyalahkannya. Sejak awal Kyuhyun hanya menyukaiku. Dia tertarik padaku. Butuh waktu yang cukup lama sampai aku benar-benar menyadarinya. Aku terlalu sering menyangkalnya. Hingga aku menyadari bahwa Kyuhyun lebih membutuhkanmu daripada aku. Saat kau akhirnya memutuskan untuk pindah ke Tokyo, kau tidak akan pernah tahu betapa sulitnya menghadapi Kyuhyun. Dia marah, kesal, namun khawatir. Kyuhyun begitu peduli padamu. Lalu suatu hari aku mendengar dengan telingaku sendiri ungkapan perasaan Kyuhyun padamu. Hari dimana kau kembali dari Tokyo bersama dengan seorang teman laki-laki. Hari dimana kalian bertengkar hebat. Hari itu Kyuhyun mengatakan bahwa dia mencintaimu”, kata Seohyun.

.

“Ne? Kau mengatakan apa, Seohyun-ssi? Kau mendengar apa dari Kyuhyun?” tanya Nara yang tidak mampu mengolah ucapan Seohyun dengan baik di kepalanya.

.

“Dia mengatakan kata cintanya dengan segala kesedihan yang dia punya, Nara-ssi. Akhirnya Kyuhyun mampu mengakuinya dan menghancurkan keraguannya. Akhirnya aku menemukan alasanku untuk berhenti. Aku sudah terlalu berkeras pada pendirianku yang begitu yakin aku mampu membuat Kyuhyun mencintaiku. Saat itu aku menyerahkan semua hal pada waktu, Nara-ssi. Dan waktu membawaku pada hari ini, dimana aku membuktikan dengan mata kepalaku sendiri cintanya yang begitu besar padamu hanya dari tatapan matanya. Dia hanya mencintaimu, Nara-ssi. Aku yakin kau juga mengetahui hal itu”.

.

.

.

.

Nara’s POV

Seohyun menceritakan semua hal yang ia alami dan ia rasakan padaku dengan begitu mudah. Setiap rasa sakit dan kesedihan yang ia rasakan tergambar jelas dari ucapannya. Aku tidak tahu harus mengatakan apa padanya. Haruskah aku menghiburnya? Haruskah aku meminta maaf padanya? Tapi bahkan ia sendiri mengatakan bahwa semua hal itu bukan salahku. Hanya saja Nara si keras kepala dalam diriku selalu mengatakan dengan lantang bahwa secara tidak langsung akulah yang menyakitinya. Aku yang menyebabkan Kyuhyun melakukan setiap hal yang menyakitinya. Bagaimana aku bisa mengatakan padanya bahwa aku sangat menyesal telah menyebabkan semua kesedihan yang ia alami? Aku bahkan tidak mampu mengartikan apa yang sedang aku rasakan saat ini. Aku bersedih atasnya, aku menyesal akan perasaan yang ia alami, namun ketamakanku pada Kyuhyun terlalu besar saat ini. Kyuhyun sudah begitu meyakinkanku bahwa ia milikku. Karena itu, bahkan dengan segala kesedihan yang aku saksikan dengan kedua mataku di wajah Seohyun, aku tidak bisa melakukan apapun untuknya.

.

“Jangan lakukan itu, Nara-ssi. Jangan pernah berpikir kau sudah melakukan hal buruk padaku”, kata Seohyun.

.

Bagaimana bisa perempuan ini terlihat begitu baik dihadapan perempuan yang sudah melukai hatinya? “Aku sudah hadir diantara hubungan kalian yang baik-baik saja tanpaku. Aku memang tidak secara langsung merebut Kyuhyun darimu. Aku bahkan sudah menjauh darinya semampuku. Aku sudah berusaha, Seohyun-ssi. Aku sudah berusaha mendorong Kyuhyun menjauh dari hidupku, memintanya untuk tetap bersamamu, tidak menyakitimu. Aku tidak pernah tahu bahwa semua hal yang aku lakukan justru tidak membuatnya menjauh. Aku sudah melakukan hal yang begitu jahat padamu. Seharusnya aku tidak perlu kembali…”

.

“Tidak, Nara-ssi. Aku memang mencintai Kyuhyun. Aku juga begitu menginginkannya untuk kembali padaku. Tapi jika dengan bersamaku akan membuat Kyuhyun tidak merasakan kebahagiaan karena kehilanganmu, maka aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri. Bukan kau yang hadir diantara hubungan kami. Bukan kau yang membuat kami berpisah. Akulah yang hadir diantara hubungan kalian. Aku yang membuat kau pergi darinya. Aku yang menghilangkan dirimu dari hidupnya untuk waktu yang cukup lama. Dia begitu menderita dengan keadaan itu, Nara-ssi. Aku tahu kau mungkin juga sama menderitanya dengan Kyuhyun. Aku pun merasakan penderitaan itu dengan melihat Kyuhyun yang seolah kehilangan dirinya saat kau tidak ada bersamanya. Kita bertiga sudah cukup merasakan penderitaan itu. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa tujuanku datang hari ini memang untuk memperbaiki hubunganku dengan Kyuhyun, membuatnya kembali padaku. Namun tujuan itu ada sebelum aku bertemu denganmu. Karena aku tidak tahu akhirnya Kyuhyun mendapatkan cintanya. Tapi sekarang kau ada disini. Kau sudah bersamanya. Aku rasa ini benar-benar akhir dari kisah cintaku dengan Kyuhyun. Aku akan mencari cintaku sendiri. Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri. Jangan pernah berpikir kau adalah penyebab semua hal yang terjadi diantara kami. Jangan pernah…” kata Seohyun dengan senyum tipis di bibirnya.

.

“Terima kasih banyak, Seohyun-ssi. Terima kasih banyak…” kataku pelan.

.

“Untuk apa?” tanya Seohyun. “Aku tidak melakukan apapun. Kau tidak perlu berterimakasih”.

.

“Terima kasih karena sudah bertahan menghadapi si keras kepala Cho Kyuhyun dengan segala kesabaran yang kau punya. Dan maafkan aku, karena tidak bisa melakukan apapun untukmu…” kataku jujur.

.

“Kau hanya perlu melakukan satu hal untukku, Nara-ssi” kata Seohyun.

.

“Apa itu? Jika aku bisa melakukannya, aku pastikan aku akan melakukannya”, kataku.

.

“Jangan tinggalkan Kyuhyun lagi. Dia begitu mencintaimu. Dia begitu mencintaimu. Dan…… Dia sangat menyeramkan saat menangis meratapi kepergianmu. Dia seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Kalau saat itu aku mengingatnya, aku pasti sudah merekam tindakan Kyuhyun dengan ponselku”, kata Seohyun dengan tawa kecil yang menyertai.

.

“Tidak perlu. Aku sangat berterimakasih karena kau tidak melakukan hal itu. Wajah Kyuhyun pasti terlihat sangat jelek saat itu, bukan?”

.

“Kau benar. Terburuk yang pernah aku lihat”, jawab Seohyun. “Baiklah, Nara-ssi. Aku rasa ini sudah terlalu larut untuk berbincang. Akhirnya rasa kantuk sudah datang padaku. Senang akhirnya bisa bicara denganmu. Terima kasih karena sudah membuatku merasa lega dengan semua perbincangan ini”, kata Seohyun yang bangkit berdiri dari kursinya.

.

“Ah, ne. Aku juga berterima kasih padamu karena sudah mau berbagi cerita denganku. Sebagai tuan rumah aku tidak seharusnya membiarkanmu terjaga terlalu lama. Kau harus beristirahat”.

.

“Sampai bertemu besok pagi, Nara-ssi. Pastikan kau tidak membuat Kyuhyun terbangun karena menyadari kau tidak ada disampingnya”, kata Seohyun yang segera berlalu masuk ke dalam kamarnya.

.

Ucapan Seohyun menyadarkanku. Aku sudah terlalu lama berada diluar. Aku harap Kyuhyun belum mengubah posisi tidurnya lagi dan menyadari ketidakberadaanku di tempat tidur. Segera ku letakkan gelasku di wastafel lalu bergegas kembali ke kamar. Beruntung karena Kyuhyun masih pada posisi saat aku meninggalkannya tadi. Aku kembali berbaring di tempat tidur dan menarik selimutmu. Tiba-tiba Kyuhyun bergerak, merengkuhku kembali ke dalam pelukannya. Ia mengendus rambutku lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di puncak kepalaku. Kyuhyun mengeratkan pelukannya ditubuhku dan mengaitkan kakinya di kakiku. Aku pun meraih tubuhnya dengan satu tanganku. Disaat yang sama Kyuhyun menjauhkan tubuhnya setelah mengecup singkat keningku. Ia membuka matanya dan menatapku dengan tatapan sayu mengantuknya.

.

“Sampai kapan kau akan melakukan itu padaku?” tanya Kyuhyun dengan suaranya yang terdengar serak.

.

“Apa yang sudah aku lakukan padamu?” aku balas bertanya padanya. Sebuah senyum tergambar dibibirku setelah melihat wajah mempesonanya di hadapanku.

.

“Kau tidak melupakan bahwa kau sedang sakit, bukan, Choi Nara? Bisakah lain kali aku minta kau juga membangunkanku jika kau ingin keluar kamar untuk alasan apapun?” tanya Kyuhyun.

.

“Kau tahu aku keluar?” tanyaku.

.

“Jangan jawab aku dengan pertanyaan, Choi Nara…” katanya malas.

.

“Aku mengerti. Aku akan membangunkanmu lain kali”, kataku.

.

“Kau pergi kemana tadi?” tanya Kyuhyun.

.

“Akhirnya… Pertanyaan itu seharusnya kau ajukan dari awal. Ch… Aku keluar untuk minum segelas air. Tenggorokanku begitu kering”, jawabku.

.

“Selama itu? Kau hampir membuatku berlari keluar mencarimu ke seluruh penjuru rumah”, kata Kyuhyun.

.

“Aigoo! Kau bahkan terlihat kesulitan membuka matamu saat ini, Cho Kyuhyun-ssi”, kataku sambil membelai pipinya.

.

“Karena itu aku mengatakan kata ‘hampir’, Nara-ya. Tampaknya kau begitu senang membuatku khawatir padamu. Aku sempat berpikir kau akan kembali meninggalkanku”, kata Kyuhyun.

.

“Tidak akan pernah, Cho Kyuhyun. Tidak lagi. Aku terlalu tamak dengan menginginkan kau hanya untukku. Kau tahu, bahkan saat aku merasa begitu haus aku sempat berpikir untuk menahannya karena aku tidak mau terlepas dari pelukanmu”, kataku jujur.

.

“Benarkah? Aigoo… Akhirnya aku bisa mendengar hal yang begitu menenangkan. Aku bisa bertahan hidup sekarang, Choi Nara”, kata Kyuhyun yang tersenyum lebar.

.

Kyuhyun membuka matanya dengan lebar lalu menatapku. Ia menggerakkan wajahnya mendekat padaku. Lalu berselang beberapa detik, bibirnya sudah berada di bibirku. Ia mengecup lembut bibirku dan menggerakkan bibirnya untuk membuatku membuka bibirku. Kyuhyun pun memperdalam ciumannya dan melumat pelan bibirku. Kyuhyun kembali meraih tubuhku mendekat padanya, memutus jarak diantara kami. Aku menggigit pelan bibir bawahnya, membuat Kyuhyun tertawa kecil dalam ciumannya. Aku segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menjauhkan kepalaku darinya. Namun Kyuhyun kembali mendekat dan mengecup singkat bibirku. Ia menempelkan keningnya di keningku lalu memejamkan matanya. Helaan napasnya membelai lembut wajahku, membawaku ikut memejamkan mataku bersamanya.

.

“Aku mencintaimu, Choi Nara. Kau sangat mengetahui hal itu. Aku tidak tahu berapa banyak kata cinta yang mampu ku ucapkan padamu. Aku tidak mengatakan itu untuk membuatmu mengetahui perasaanku. Aku hanya ingin kau mengatahui bahwa aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Dan tidak pernah berpikir untuk berhenti”, kata Kyuhyun yang kemudian mengecup singkat bibirku lagi.

.

“Aku tahu semua hal itu. Kau harus belajar untuk menguranginya, Cho Kyuhyun. Kau akan membuatku merinding jika kau selalu mengatakannya padaku”, kataku dengan tawa kecilku.

.

“Hhh… Kau harus sangat bersabar akan hal itu, Choi Nara. Karena akan sangat sulit untuk tidak mengatakannya padamu. Kau begitu mudah untuk dicintai”, kata Kyuhyun.

.

“Saranghae, Kyuhyun-ah. Saranghanda, Cho Kyuhyun”, kataku yang segera melesak ke pelukannya, mencoba mengakhiri pembicaraan tengah malam ini.

.

“Aku tahu. Kau tidak akan pernah tahu betapa aku merasa bahagia karena mengetahui hal itu. Sekarang kembali tidur, Nara-ya. Dan jangan pergi kemanapun lagi”, kata Kyuhyun yang melingkarkan tangannya mendekap tubuhku.

.

Aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Aku tidak pernah tahu sampai kapan keadaan ini akan berlangsung. Aku juga tidak pernah tahu sampai kapan kata cinta itu akan terdengar begitu manis ditelinga. Aku hanya akan berusaha melakukan semua hal yang aku bisa untuk bertahan dengannya saat ini. Aku akan terus mencoba bertahan. Kyuhyun akan terus mencoba memahamiku. Aku akan terus mencoba mentolerir semua kecerobohannya. Kyuhyun akan terus mencoba menghadapi aku si buku tertutup. Kami akan terus berusaha untuk saling memahami dan tidak kehilangan satu sama lain. Agar kekhawatiran akan masa yang akan datang, walaupun benar-benar terjadi, kami tetap bisa menghadapinya dan tidak melepaskan genggaman tangan kami.

.

.

.

THE END!

Advertisements

16 thoughts on “The Possibility of Impossible Us Part 5 [LAST PART]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s