Since I (have) met you : Part 12 [LAST PART]

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast: Cho Kyuhyun, Kwon Jiah (OC)

Other Cast:

Jung Soo Jung, Lee Donghae, etc.

Disclaimer:

Annyeonghaseyo, readers-nimdeul!!! Akhirnya kita sampai di part terakhir!!! Aku minta maaf karena update setelah sekian lama. Semoga ending dari ff ini tidak mengecewakan kalian. Seperti biasanya, mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Karena seperti yang aku katakan, ini adalah kisah cinta sederhana yang bisa dialami siapa saja. Aku juga berusaha sebisa mungkin untuk menghindari typo. Tapi, aku juga manusia biasa yang bisa membuat kesalahan, jadi mohon dimaklumi. No bash, smart comments and critics always accepted. Selamat membaca…

Note:

Kalimat yang bercetak miring bisa menandakan itu adalah kalimat dari bahasa inggris, arti dari kalimat berbahasa korea, atau menandakan itu adalah pembicaraan tokoh dalam pikirannya sendiri.

.

.

.

.

Review Part 11

“Jiah-ya, ada apa? Kenapa kau menangis?”

“Aku marah, kesal, lelah lalu tiba-tiba aku merasa sedih, cemas… Ah molla… Jangan tanya lagi ish”.

“Beberapa saat yang lalu kau begitu marah padaku. Tapi apa ini? Kau datang padaku dan memelukku”

“Bayangan kau akan berjalan keluar dari apartment lalu merayu para gadis pemujamu terbersit dalam pikiranku begitu saja”.

“Aigoo… Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya? Kwon Jiah… Kau tidak tahu jika pria ini tidak memiliki keahlian merayu? Kau mengkhawatirkan hal yang tidak perlu”.

“Molla ish… Aku tidak menyukaimu, Cho Kyuhyun. Sangat tidak menyukaimu…”

“Ya… Kwon Jiah… Jika sekarang kau juga tidak menyukaiku, lalu apa lagi yang tersisa untukku?”

I love you”.

————————-

“Aku akan mengantarmu”.

“Apa? Tidak. Kau sedang tidak enak badan. Jangan memaksakan diri”.

“Ayo kita sarapan…”

“Tapi, bagaimana denganmu? Kau akan bertambah pusing jika berada di dalam mobil bersamaku”.

“Aku akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Bisakah aku makan bokkeum bab pedas pagi ini?”

“Bokkeum bab pedas??? Kenapa? Kyuhyun-ah, pagi ini kau benar-benar aneh. Sungguh…”

“Hhh… Jangan berlebihan… Buatkan, ya? Ku mohon…”

“Arasseo…”

————————-

“Donghae melamarku. Sebelumnya aku begitu yakin padanya. Saat dia memintaku untuk menjadi istrinya, entah kenapa keraguan memenuhi diriku. Apa yang harus aku lakukan?”

“Setiap detik dalam hubungan antara pria dan wanita, walaupun keduanya sudah berada dalam ikatan pernikahan, tetap saja mengandung berbagai ancaman yang dapat menyebabkan perpisahan. Kau mencintai Donghae?”

“Tentu saja. Aku hanya mencintainya”.

“Selama ini, pernahkah kau meragukannya?”

“Tidak pernah sekalipun. Aku meragukan diriku…”

“Berikan kesempatan pada Donghae untuk kembali membuktikan padamu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Berikan juga kesempatan pada dirimu untuk berusaha”

“Kau percaya aku bisa melakukannya?”

“Tentu. Aku percaya kau dan Donghae bisa menjalaninya.”

————————-

“Kau yakin kau baik-baik saja?”

“Aku merasa baik-baik saja.”

“Semua hal yang aku sebutkan adalah hal-hal yang tidak pernah kau lakukan dan tidak pernah terjadi padamu. Kau tidak menduga sesuatu terjadi padamu? Atau kau mengidam?”

“Tidak ada literatur medis yang menjelaskan kejadian ‘mengidam’. Jangan bicara yang tidak-tidak”.

“Kau yakin Jiah tidak sedang hamil? Aku yakin ada sesuatu yang terjadi, apapun itu”.

————————-

“Kau tahu aku masih harus melakukan banyak pekerjaan hingga akhir tahun. Aku juga harus mulai mengerjakan thesis ku…”

“Jiah-ya…… Kau hamil?”

“Bukankah selalu ku katakan untuk berhati-hati? Kenapa kau tidak bisa melakukannya?”

“Maafkan aku. Aku mohon maafkan aku. Hmm? Aku mengaku salah. Maafkan aku…”

“Aku sangat membencimu… Kau merusak semuanya!”

————————-

.

.

.

.

-Since I (have) met you : Part 12-

.

.

.

.

.

Author’s POV

Atmosfer menegangkan masih menyelimuti suasana di ruang tv apartment Kyuhyun dan Jiah. Jiah yang marah masih berada di pelukan Kyuhyun. Jiah sudah tidak lagi berusaha untuk melepaskan diri dari rengkuhan Kyuhyun. Tubuhnya terlalu lelah dengan segala hal yang terjadi padanya hari ini. Sebuah beban seolah baru saja ditumpukkan di kepala dan bahunya. Rasa lelah dan lemas menyelubungi seluruh bagian tubuhnya. Jiah tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk mengatasinya.

.

“Aku tahu. Maafkan aku… Aku… Aku akan melakukan apapun untukmu. Sungguh.” kata Kyuhyun sambil mengecup kening Jiah. “Jiah-ya, terima kasih…”

.

Jiah menghela napas panjang. Ia menyerah dan melingkarkan lengannya ditubuh Kyuhyun. Kelembutan dan kehangatan Kyuhyun selalu bisa memadamkan berbagai emosi dalam dirinya. Namun sesungguhnya, bukan pekerjaan dan thesis lah yang menjadi sumber munculnya emosi Jiah. Ada hal lain yang dikhawatirkan oleh Jiah. Sebenarnya Jiah sudah merasakan keanehan dalam dirinya sejak beberapa bulan yang lalu. Mood nya yang tidak menentu, rasa ingin untuk selalu bersama Kyuhyun, bahkan hingga nafsu makan yang meningkat cukup drastis memunculkan kecurigaan itu. Selama ini Jiah selalu menyangkal kecurigaannya. Namun saat dirinya dilanda mual yang begitu menyiksa, akhirnya ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter.

.

BGM: 스무살 – Cheese in The Trap (Vocal 서하)

.

“Kau… Saat itu, satu bulan setelah aku keluar dari rumah sakit… Di malam kau menjemputku di galeri hingga berakhir dengan kita… melakukannya… Kau tahu hari itu adalah masa suburku, bukan? Katakan…” kata Jiah dengan suara pelan dalam pelukan Kyuhyun.

.

“Aku tidak tahu, Jiah-ya… Sungguh…”

.

“Jangan menyangkal, Cho Kyuhyun. Selama ini kau selalu menghitungnya. Kau bahkan lebih mengetahui tanggal persisnya daripada aku”.

.

“Sayang, aku bersungguh-sungguh. Aku sudah tidak menghitungnya beberapa bulan setelah aku tiba di Busan.” Kyuhyun menjelaskan dengan segala kejujuran yang ia miliki. “Sebentar… Jadi maksudmu kau hamil bukan karena kita melakukannya di malam kau mengatakan kata cintamu padaku?” tanya Kyuhyun sambil melepaskan pelukannya. Ia memegang bahu Jiah, menatap tepat dimatanya.

.

“Awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi dokter mengatakan bahwa kehamilanku sudah menginjak usia 17 minggu. Sudah 4 bulan…”

.

“Jadi emosi menakutkanmu malam itu adalah salah satu tanda kehamilanmu, begitu? Karena hormon mu? Padahal malam itu aku sempat berpikir kau sedang menstruasi sampai akhirnya aku membuktikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa kau tidak”, kata Kyuhyun menceritakan dugaannya.

.

“Kau sempat berpikir seperti itu? Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku? Kenapa?” tanya Jiah yang kembali merasa kesal.

.

“Aku sudah mencobanya. Tapi malam itu kau terus saja memancingku dengan godaanmu. Kau tahu betapa sulitnya untuk berpikir dalam situasi seperti itu?” kata Kyuhyun jujur.

.

“Tetap saja seharusnya kau mengatakannya padaku!” kata Jiah merajuk.

.

“Jiah-ya, sebenarnya apa yang membuatmu begitu marah padaku? Karena sudah menghambat pekerjaanmu? Menggagalkan rencanamu? Kenapa? Hm?” tanya Kyuhyun berusaha selembut mungkin.

.

“Hal itu tidak penting saat ini”, kata Jiah.

.

“Lalu apa?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Aku tidak ingat makanan apa saja yang sudah aku konsumsi selama 4 bulan terakhir. Bagaimana jika secara tidak sengaja aku melukai Min Woo karena aku tidak menyadari keberadaannya? Aku makan semua makanan yang aku inginkan. Aku yakin aku tidak minum alkohol selama beberapa bulan terakhir. Aku juga tidak me……”

.

“Sebentar… Kau baru saja mengatakan… Min Woo?”

.

“Benar… Cho Minwoo. Adeul-iya… (Anak laki-laki…) Kita akan punya seorang anak laki-laki”, jawab Jiah.

.

“Benarkah?” tanya Kyuhyun dengan senyum mengembang diwajahnya.

.

“Hhh… Bagaimana dengannya? Aku harap aku tidak melukainya. Minwoo-ya, maafkan eomma…” kata Jiah sambil mengelus perutnya lalu kembali menatap Kyuhyun.

.

“Kau tidak akan melukainya. Dia akan baik-baik saja dan tumbuh ddengan sehat”, kata Kyuhyun.

.

“Kau jahat, Cho Kyuhyun! Aku tidak menyukaimu!”

.

Mendengar ucapan Jiah, Kyuhyun justru tersenyum dan dengan cepat meraih Jiah ke dalam pelukannya. “Maafkan aku… Aku mencintaimu, Jiah-ya… Aku sangat mencintaimu…”

.

“Aku sangat mengetahuinya… Aku juga mencintaimu… Mulai sekarang kau juga harus menjaga Minwoo-ku”, kata Jiah.

.

“Tentu saja. Dia juga Minwoo-ku. Aku akan menjaga kalian berdua”, kata Kyuhyun.

.

“Cho Kyuhyun…” kata Jiah lalu berdeham setelahnya. “Lepaskan aku!”

.

“Apa? Ada apa?” tanya Kyuhyun bingung.

.

Tiba-tiba serangan rasa mual menghampiri Jiah. Dengan cepat dan keras, Jiah mendorong tubuh Kyuhyun menjauh. Ia melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun untuk segera berlari menuju kamar mandi. Jiah berjongkok di depan toilet dan memuntahkan banyak air. Tidak ada makanan lagi yang tersisa di perut Jiah sejak terakhir kali ia makan siang di galeri. Karena makanan itu sudah dimuntahkan beberapa saat setelah Jiah menyuapkan sendok ke enam ke dalam mulutnya siang tadi.

.

“Sayang, kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun yang berjalan mendekat pada Jiah.

.

Jiah menjawab pertanyaan Kyuhyun dengan lambaian tangan yang seolah meminta Kyuhyun keluar dari kamar mandi. Kemudian Jiah menekan tombol flush dan duduk di samping bathtub. Saat itu Kyuhyun baru menyadari betapa pucat wajah Jiah. Kyuhyun pun meraih gulungan tissue, lalu berjongkok tepat di depan Jiah sambil mencoba membersihkan bibir Jiah. Namun Jiah terlebih dahulu meraih tissue itu dan membersihkan bibirnya sendiri.

.

“Keluarlah… Ini bukan pemandangan yang menyenangkan untuk dilihat”, kata Jiah.

.

“Aku sudah sering melihat pemandangan yang lebih tidak menyenangkan daripada ini di rumah sakit”, kata Kyuhyun. Ia pun membelai kepala Jiah dan menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga Jiah, memperjelas wajah pucat itu. “Maafkan aku, karena tidak menyadari betapa pucatnya wajahmu”.

.

Jiah tidak menanggapi ucapan Kyuhyun. Ia berdeham lalu menghela napas panjang untuk kembali mengatur pernapasannya yang sempat memburu. Kyuhyun menatap dalam diam Jiah yang duduk sambil menundukkan kepalanya. Hanya suara helaan napas Jiah lah yang terdengar di dalam kamar mandi itu. Raut khawatir terlihat diwajah Kyuhyun, menyaksikan Jiah tergulai lemah duduk dilantai kamar mandi seperti ini.

.

“Kyuhyun-ah…” kata Jiah akhirnya, dengan suara seraknya.

.

“Hm?” sahut Kyuhyun cepat.

.

“Saat ini tubuhku seperti jelly. Tolong peluk aku…” kata Jiah dengan suara berbisik.

.

Kyuhyun pun segera mendekat ke sebelah Jiah, lalu memeluk tubuh Jiah yang terasa hangat karena efek yang muncul setelah muntah. Jiah memejamkan mata, membenamkan wajahnya di lekukan leher Kyuhyun. Tangannya melingkar di pinggang Kyuhyun. Sementara Kyuhyun mendekap erat tubuh Jiah, seolah menjadikan tubuhnya sebagai tameng pelindung bagi tubuh Jiah.

.

“Terlalu banyak bicara dan marah selalu membuatku mual. Aku terlalu terbawa emosi sampai melupakan hal itu”, kata Jiah sambil berdeham setelahnya.

.

“Sejak kapan kau mengalami ini?” tanya Kyuhyun sambil membelai lembut punggung Jiah.

.

“Mungkin sudah satu dua bulan. Aku tidak mengingatnya dengan baik”, jawab Jiah.

.

“Kau merasa pusing?” tanya Kyuhyun.

.

“Tidak”, jawab Jiah singkat.

.

“Apa ada hal lain yang kau rasakan?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Hanya sedikit lebih lelah dari biasanya. Keringat dingin sesekali keluar setelah aku memuntahkan isi perutku. Sudah… Jangan tanya lagi atau aku akan muntah”, kata Jiah.

.

“Hhh… Sudah tidak ada makanan apapun di dalam perutmu. Kau harus makan sesuatu. Apa yang kau inginkan? Bubur? Atau cream sup?” tanya Kyuhyun sambil membelai lembut punggung Jiah.

.

“Aku ingin sup ayam buatanmu…” jawab Jiah lemah

.

“Sup ayam?” tanya Kyuhyun.

.

“Ah, tidak… Tidak… Bubur pun tidak apa”, kata Jiah setelah mempertimbangkan permintaannya.

.

“Jika kau ingin makan sup ayam, aku akan membuatkannya”, kata Kyuhyun.

.

Jiah menggeleng menolak tawaran Kyuhyun. “Tidak perlu. Pesan bubur saja. Kau juga baru kembali dari rumah sakit. Aku tidak ingin merepotkanmu”.

.

“Aigoo… Minwoo-ya, appa akan sangat bahagia jika kau menjadi seorang laki-laki dengan kebaikan hati seperti eomma-mu ini”, kata Kyuhyun yang kemudian mengecup puncak kepala Jiah.

.

“Hhh… Jika seperti itu Minwoo akan mempunyai pemuja yang lebih banyak darimu. Minwoo-ya, memiliki sikap dingin seperti appa juga tidak apa. Hanya jangan terlalu dingin sepertinya, eo?” kata Jiah sambil mengelus pelan perutnya.

.

“Hhh… Geurae. Begitu lebih baik…” kata Kyuhyun menyetujui ucapan Jiah. “Jiah-ya, kau ingin pindah ke kamar saja? Disana akan lebih hangat”.

.

“Tidak. Aku ingin mandi terlebih dahulu”, jawab Jiah.

.

“Perlu ku bantu?” tanya Kyuhyun.

.

“Tidak perlu. Aku masih bisa melakukannya sendiri. Pesanlah makanan untuk makan malam dan berjaga diluar. Aku akan memanggilmu jika butuh bantuan”, jawab Jiah sambil melepaskan diri dari rengkuhan Kyuhyun.

.

“Baiklah. Aku akan menunggu diluar. Gunakan air hangat agar kau tidak flu”, kata Kyuhyun yang dijawab dengan anggukkan oleh Jiah.

.

Kyuhyun pun membantu Jiah untuk berdiri lalu ia keluar dari kamar mandi, membiarkan Jiah menggunakan waktu sebanyak yang ia butuhkan untuk membersihkan diri. Jiah berdiri berpegangan pada wastafel saat sosok Kyuhyun menghilang dibalik pintu kamar mandi yang sudah tertutup. Meski tanpa menatap satu sama lain, sebuah senyuman perlahan muncul dari wajah keduanya di waktu yang bersamaan.

.

.

#########################

.

.

Keesokkan harinya…

.

Keadaan Jiah sudah membaik dari hari sebelumnya. Pagi ini walaupun asupan yang masuk ke tubuh Jiah hanya sedikit, namun beruntung tidak ada makanan yang keluar kembali. Jiah duduk seorang diri dengan segelas jus mangga ditangannya. Kyuhyun sudah berangkat ke rumah sakit pagi tadi. Sementara Jiah memutuskan untuk berangkat ke galeri sedikit lebih siang. Sejak keberangkatan Kyuhyun, Jiah duduk di sofa ruang tv sambil berpikir dalam keheningannya. Jiah pun bangkit dan memutuskan untuk pergi ke suatu tempat terlebih dahulu. Jiah masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian lalu keluar beberapa menit kemudian dengan riasan tipis diwajahnya. Jiah mengemudikan mobilnya keluar dari apartemen, menyusuri jalan yang sudah tidak seramai biasanya. Mobil Jiah melaju cukup cepat hingga memasuki pekarangan rumah yang cukup besar di daerah Itaewon. Salah seorang pengurus rumah menghampiri mobil Jiah yang berhenti tepat didepan teras rumah itu. Jiah keluar dari mobilnya, lalu memberikan salam pada pengurus rumah yang menyambutnya. Nyonya Kwon dan Yuri pun menatap Jiah yang masuk ke dalam rumah dengan tatapan yang sedikit menunjukkan kebingungan di wajah mereka. Jiah duduk di salah satu sisi sofa berhadapan dengan ibu dan kakaknya.

.

“Jiah-ya, ada apa? Kau datang tanpa mengatakan apapun”, kata Yuri.

.

“Kau baik-baik saja?” tanya Nyonya Kwon.

.

“Aku sempat ragu untuk datang. Tapi, aku pikir tidak perlu lagi menunda apapun”, kata Jiah.

.

“Jiah-ya, ada apa?” tanya Nyonya Kwon lagi.

.

Keheningan kembali menyelimuti suasana ruang tamu rumah keluarga Kwon. Jiah menundukkan kepalanya, kembali berpikir apa yang harus ia katakan. Sejak pagi ia sudah berpikir cukup keras untuk datang mengunjungi keluarganya. Jiah ingin sekali memberitahukan kabar kehamilannya sejak kemarin. Namun sesuatu selalu mengganggu pikirannya. Jiah merasa ia tidak dapat mengatakan apapun sebelum menyelesaikan hal itu. Jiah berdeham lalu menghela napas panjang sebelum kembali mengangkat kepalanya menatap ibu dan kakaknya yang masih menunggu Jiah untuk bicara.

.

“Eomma, tidak bisakah eomma memberitahukannya saja padaku? Semua hal sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada yang perlu di sembunyikan dariku. Eomma, semua akan baik-baik saja meski eomma mengatakannya padaku”, jawab Jiah.

.

“Jiah-ya…” kata Yuri berusaha menahan Jiah.

.

“Eonni, tidak perlu menyembunyikan apapun lagi. Sama seperti aku yang ingin mengetahui semua hal, eomma juga perlu tahu bahwa selama ini aku sudah mengetahui apa yang terjadi pada eomma. Aku tidak ingin terus bersembunyi setiap kali aku menyaksikan eomma masuk ke rumah sakit, eonni”, kata Jiah.

.

“Jiah-ya, kau sudah tahu semuanya?” tanya Nyonya Kwon yang dijawab dengan anggukkan oleh Jiah yang menundukkan kepalanya. “Kau… tidak marah pada eomma karena merahasiakannya?”

.

Jiah mengangkat kepalanya lalu berpindah duduk disebelah ibunya. “Eomma, kenapa aku harus marah pada eomma? Bagiku, selama eomma dalam keadaan baik-baik saja, aku pun baik-baik saja. Jangan berpikir seperti itu, eo?” kata Jiah sambil mengelus pelan punggung ibunya.

.

Nyonya Kwon pun meraih puteri bungsunya ke dalam pelukannya lalu mengecup puncak kepalanya. “Maafkan eomma, Jiah-ya. Eomma hanya tidak ingin kau terlalu mengkhawatirkan eomma. Maafkan eomma…”

.

“Tidak, eomma. Jangan meminta maaf. Eomma tidak melakukan kesalahan apapun”, kata Jiah.

.

“Tetap saja eomma merasa bersalah karena sudah merahasiakan masalah ini padamu. Kau mau memaafkan eomma, kan?” tanya Nyonya Kwon.

.

“Eomma… Jangan katakan itu lagi. Aku tidak marah pada eomma”, kata Jiah sambil melepaskan pelukan ibunya.

.

“Baiklah. Eomma tidak akan mengatakan itu lagi”.

.

“Geunde, eomma……” kata Jiah yang kemudian berhenti untuk memikirkan kata-kata yang ingin di ucapkannya.

.

“Ada apa?” tanya Nyonya Kwon.

.

“Eomma harus berjanji satu hal padaku”, kata Jiah dengan senyum tipis di bibirnya.

.

“Janji? Janji apa yang kau inginkan?”

.

“Eomma harus selalu sehat dan bahagia. Agar Minwoo-ku bisa bermain bersama eomma”, kata Jiah.

.

“Minwoo? Siapa Minwoo?” tanya Nyonya Kwon bingung. Yuri yang sejak tadi memandang keduanya dalam diam juga menunjukkan ekspresi yang serupa.

.

“Teman yang akan menemani Yuwon bermain bola”, jawab Jiah dengan wajah tersipu.

.

“Omo! Jiah-ya! Kau hamil?” tanya Nyonya Kwon dengan kebahagiaan yang terpancar

.

“Jiah-ya, benarkah? Kau benar-benar hamil?” tanya Yuri tidak kalah excitednya.

.

“Benar, eomma, eonni. Sudah 17 minggu. Hm… aku bukan sengaja tidak memberitahu kalian selama 17 minggu ini. Aku pun baru mengetahuinya kemarin”, kata Jiah menjelaskan.

.

“Tentu saja! Seorang workaholic seperti mu tentu tidak akan menyadarinya dengan mudah. Aigoo… Adikku ini terlalu sibuk sampai melewatkan berita bahagia itu selama 17 minggu. Jangan katakan kalau Kyuhyun juga tidak menyadarinya”, kata Yuri.

.

“Kami sangat keterlaluan, bukan? Hhh… kasihan sekali uri Minwoo. Kami terlalu sibuk dengan diri kami sendiri dan kegiatan serta pekerjaan kami, sehingga kami tidak menyadari kehadirannya”, kata Jiah.

.

“Aigoo… Puteri bungsu ku akan menjadi seorang eomma…” kata Nyonya Kwon sambil meraih Jiah kembali ke pelukannya.

.

“Apakah eomma bahagia?” tanya Jiah.

.

“Tentu saja, Jiah-ya. Rasanya baru kemarin eomma mendengar kabar yang serupa dari Yuri. Hari ini eomma kembali mendengarnya dari puteri bungsu eomma”.

.

“Jiah-ya, chukhahae…” Kata Yuri yang berpindah duduk disebelah Jiah, ikut memeluk tubuh Jiah.

.

.

#########################

.

.

3 minggu kemudian…

.

Jiah sudah terbebas dari rasa mual dan muntah yang ia rasakan beberapa bulan belakangan. Kini Jiah sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa dengan energi yang penuh. Namun terjadi beberapa perubahan dalam dirinya. Jiah tidak lagi mengenakan sepatu dengan heels yang terlalu tinggi dan runcing. Nafsu makan Jiah juga bertambah cukup drastis. Beberapa hari terakhir Jiah juga lebih suka mengenakan pakaian casual perpaduan blouse dengan celana panjang. Jarang sekali dapat melihat Jiah mengenakan skirt yang sebelumnya sering ia kenakan. Tidak hanya itu, mood Jiah pun menjadi lebih stabil dibandingkan masa-masa awal kehamilannya. Wajah cerahnya lebih sering mendominasi hari-harinya. Jiah terlihat jauh lebih ceria.

.

Ada satu hal yang masih tidak berubah. Sikapnya yang manja pada Kyuhyun justru meningkat. Saat berada dirumah, Jiah tidak pernah jauh dari Kyuhyun. Kemanapun Kyuhyun melangkah, Jiah selalu mengikutinya seperti magnet. Apapun yang Kyuhyun lakukan, Jiah selalu berada tidak jauh darinya. Tentu Kyuhyun senang dengan keadaan itu. Namun di satu sisi ada hal yang justru membuat Kyuhyun khawatir. Jika Kyuhyun tidak mendapatkan jadwal shift malam, Jiah akan menunggu Kyuhyun pulang walaupun hari sudah beranjak sangat larut. Beberapa kali dalam 3 minggu terakhir jadwal Kyuhyun memanjang sehingga ia harus pulang terlambat. Sesampainya di apartment Kyuhyun selalu menemukan Jiah yang tertidur di sofa. Kekhawatiran Kyuhyun bertambah karena Jiah tidak mau menyanggupi permintaan Kyuhyun untuk menunggunya dengan berbaring di kamar. Hingga situasi yang berbeda muncul diantara mereka.

.

“Aku pulang…” kata Kyuhyun yang baru kembali ke apartment.

.

.

BGM: Let The Wind Blow (It’s Okay That’s Love OST)

.

.

“Hmm…” sahut Jiah dengan gumaman malasnya.

.

Kyuhyun melangkah masuk dan kembali menemukan Jiah yang berbaring di sofa sambil menonton televisi. Kyuhyun mengernyitkan keningnya saat menyadari sikap Jiah yang berbeda. Biasanya Jiah akan bangkit duduk lalu melangkah mendekat pada Kyuhyun dan memeluknya. Namun hari ini Jiah tetap berada di tempatnya memberikan kesan acuh tak acuh. Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan, membuang dugaan aneh dari pikirannya. Ia pun berjalan mendekat pada Jiah lalu membungkukkan tubuhnya untuk mengecup kepala Jiah. Namun sesaat setelah bibirnya berada tidak jauh dari pelipis Jiah, tangan Jiah menyentuh dada Kyuhyun dan dengan perlahan mendorong tubuh Kyuhyun menjauh darinya. Kyuhyun menatap Jiah dengan ekspresi bingung. Sikap Jiah hari ini begitu berbanding terbalik dengan malam sebelumnya.

.

“Pergilah mandi. Kau beraroma seperti rumah sakit”, kata Jiah tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.

.

Kyuhyun tersenyum tipis mendengar ucapan Jiah. Tanpa menaruh curiga lebih jauh, Kyuhyun pun melangkah masuk ke kamar untuk membersihkan diri. 15 menit kemudian, Kyuhyun keluar dari kamar untuk kembali menghampiri Jiah. Namun Jiah sudah tertidur pulas dengan bantal dan selimut yang ia ambil dari kamar saat Kyuhyun masih berada di kamar mandi. Kyuhyun mendekat dan duduk di lantai tidak jauh dari Jiah. Ia menatap wajah Jiah dengan tatapan memuja yang sudah hampir 2 tahun selalu tergambar di matanya. Wajah tenang Jiah saat tertidur seolah mengalirkan ketenangan yang serupa pada dirinya. Semua hal buruk yang terjadi hari itu seolah lenyap terlupakan begitu saja. Kyuhyun merasakan kelegaan yang tidak pernah bisa ia ungkapkan dengan kata apapun. Helaan napas teratur Jiah terdengar seperti musik pengantar tidur yang menghangatkan bagi Kyuhyun. Tiba-tiba mata Jiah terbuka perlahan. Tatapan keduanya bertemu dan Kyuhyun pun tersenyum pada Jiah.

.

“Jiah-ya, ayo tidur di dalam”, kata Kyuhyun.

.

Jiah menghela napas panjang lalu memejamkan matanya lagi. “Tidurlah di kamar. Aku akan tidur disini”, kata Jiah singkat.

.

“Andwae. Kau tidak boleh tidur di sofa. Sangat tidak nyaman. Tubuhmu akan terasa sakit besok pagi”, kata Kyuhyun melarang.

.

“Kalau begitu kau yang tidur di sofa”, kata Jiah lagi.

.

Kyuhyun kembali mengernyitkan keningnya. Ia tidak mengerti dengan sikap Jiah malam ini. “Hhh… Kenapa harus seperti itu? Aku akan tidur di kamar bersamamu”.

.

“Aku tidak mau”, jawab Jiah.

.

“Kenapa? Kau ingin tidur sendiri malam ini? Baiklah. Aku akan tidur di sofa yang ada di kamar”.

.

“Andwae! Sofa ini”, kata Jiah.

.

“Jiah-ya, ada apa denganmu?” tanya Kyuhyun yang benar-benar bingung dengan sikap Jiah.

.

“Aku tidak ingin melihatmu malam ini”, jawab Jiah.

.

“Apa maksudmu?”

.

“Cepat putuskan. Kau ingin aku tidur dimana?” tanya Jiah yang beranjak duduk, masih tanpa menatap Kyuhyun.

.

“Aku ingin kau tidur di tempat tidur. Tapi kena…..”

.

“Baiklah. Kalau begitu selamat tidur. Aku peringatkan, jangan pernah masuk ke kamar. Arasseo?!” kata Jiah yang sudah berjalan menjauh memasuki kamar.

.

Kyuhyun hanya bisa melihat punggung Jiah menghilang dibalik pintu kamar dan menghela napas panjang. Kyuhyun pernah mendengar cerita serupa dari seorang kolega nya di rumah sakit yang menceritakan sikap istrinya saat sedang hamil. Namun Kyuhyun tidak pernah menyangka hal itu juga akan menimpa dirinya. Jiah yang bersikap manis sudah berganti dengan Jiah yang tidak menyukai keberadaannya malam ini. Kyuhyun pun menertawai dirinya sendiri sambil menggeleng tidak percaya atas apa yang baru saja ia alami. Kyuhyun hanya bisa menerima keadaannya dengan merelakan diri untuk tidur di sofa. Beruntung sofa di ruang tv mereka dapat di modifikasi menjadi semi tempat tidur. Sehingga tubuhnya tidak akan merasakan rasa pegal yang berlebihan keesokkan paginya. Setelah menyiapkan tempatnya untuk tidur, Kyuhyun berbaring dan menenggelamkan tubuhnya dibalik selimut yang sebelumnya digunakan oleh Jiah. Kantuk begitu cepat menghampirinya karena terpaan rasa lelah yang sudah menyelimuti seluruh otot di tubuhnya. Kyuhyun sudah terlelap dalam sekejap.

.

.

Pukul 2 tengah malam

BGM : Tearliner 혼자 하는 파티

Pintu kamar terbuka, memunculkan Jiah yang terbangun dari tidurnya. Jiah melangkah menuju dapur untuk minum segelas air mineral. Kemudian ia berjalan mendekat ke sofa tempat Kyuhyun tidur. Jiah duduk di sisi sofa, memandang Kyuhyun sambil mengelus perutnya. Jiah bergerak mendekat pada Kyuhyun, menimbulkan getaran di sofa yang membangunkan Kyuhyun dari tidurnya. Kyuhyun yang tidur tengkurap pun menolehkah kepalanya menatap Jiah sesaat dengan mata yang tidak terbuka sempurnya, kemudian kembali meletakkan kepalanya di bantal.

.

“Kau bermimpi buruk? Jam berapa ini? Kenapa bangun?” tanya Kyuhyun dengan suara seraknya, masih dengan mata terpejam.

.

“Jam 2. Aku haus dan keluar untuk minum”, jawab Jiah.

.

“Begitu? Hmm… Kembalilah ke kamar dan tidur… Kau harus banyak beristirahat”, kata Kyuhyun dengan suara yang perlahan menghilang.

.

“Cho Kyuhyun…” kata Jiah.

.

“Hmm?” gumam Kyuhyun menyahuti panggilan Jiah.

.

“Cho Kyuhyun…” panggil Jiah lagi, kini sambil menggerakkan selimutnya.

.

“Kenapa?” tanya Kyuhyun tanpa menggerakkan tubuhnya.

.

“Buka T-shirt mu”, jawab Jiah.

.

“Kenapa aku harus membuka T-shirt ku?”

.

“Cepat buka T-shirt mu dan berikan padaku”, kata Jiah lagi.

.

“Ah wae??? Naega wae??? Silheo…” keluh Kyuhyun yang merasakan kantuk dan lelah yang begitu mendominasi tubuhnya.

.

“Cho Kyuhyun! Cepat lakukan!” seru Jiah sambil menarik keras selimut Kyuhyun.

.

Kyuhyun menghela napas panjang dan dengan malas ia membuka matanya lalu mengubah posisi tubuhnya menjadi berbaring miring menghadap pada Jiah. “Kenapa? Ada apa? Kenapa aku harus membuka T-shirt ku? Ada apa denganmu mala mini, Jiah-ya?”

.

“Lakukan saja tanpa bertanya”, kata Jiah dengan suara pelan.

.

“Arasseo… Arasseo…” kata Kyuhyun menyanggupi sambil beranjak duduk dan membuka T-shirt yang ia kenakan. “Haahhh Kwon Jiah hari ini benar-benar sangat sulit untuk dihadapi. Kenapa kau tidak tidur sampai pagi saja?” tanya Kyuhyun sambil memberikan T-shirt nya pada Jiah.

.

Kyuhyun kembali berbaring dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia menatap Jiah, menunggu tindakan Jiah berikutnya yang harus ia hadapi. Benar saja, T-shirt yang ia berikan pada Jiah dilemparkan begitu saja ke sofa single yang terletak tidak jauh dari mereka. Jiah membuka selimut yang di kenakan oleh Kyuhyun, lalu berbaring tepat di samping Kyuhyun. Jiah melesak ke dalam pelukan Kyuhyun kemudian menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut.

.

“Jiah-ya…”

.

“Hmm?”

.

“Kau sedang apa?” tanya Kyuhyun yang bingung dengan sikap Jiah.

.

“Tidur”, jawab Jiah singkat.

.

“Kau ingin tidur disini bersamaku?” tanya Kyuhyun yang dijawab dengan anggukkan mantap dari Jiah. “Beberapa jam yang lalu kau tidak ingin melihatku. Sekarang kau sudah kembali menyukaiku?” tanya Kyuhyun bergurau.

.

Jiah pun bergerak menjauhkan tubuhnya dari Kyuhyun. Ia menatap Kyuhyun sambil menyentuhkan tangannya di dada Kyuhyun, membuat Kyuhyun menatapnya dengan berbagai pertanyaan yang terpancar dari matanya. Kyuhyun melingkarkan tangannya di tubuh Jiah, kemudian mengelus punggung Jiah dengan lembut. Jiah menunduk, memutus tatapan matanya dari Kyuhyun. Jiah kembali mendekatkan tubuhnya, menyentuhkan keningnya di dada telanjang Kyuhyun. Beberapa saat kemudian Jiah mendongak dan menggerakkan kepalanya mendekati wajah Kyuhyun. Sebuah kecupan manis di terima Kyuhyun. Dengan cepat Kyuhyun mengangkat tubuh Jiah ke atas tubuhnya, membiarkan Jiah melakukan apapun yang ia inginkan. Jiah memperdalam ciumannya di bibir Kyuhyun dan disambut dengan gigitan pelan dari Kyuhyun di bibirnya. Lalu Jiah melepaskan ciumannya dan menumpukan tangannya disebelah kepala Kyuhyun. Rambut Jiah tergerai bebas di sebelah kanan bahunya dan sebuah senyuman menghiasi bibirnya. Jiah memberikan sebuah kecupan singkat di bibir Kyuhyun sebelum kembali melesak ke dalam pelukan Kyuhyun.

.

“Kwon Jiah… Tahukah kau bahwa kau semakin sulit untuk dihadapi? Aku tidak pernah membayangkan Jiah yang sedang hamil akan seperti ini”, kata Kyuhyun.

.

“Mianhae…” kata Jiah pelan.

.

“Tidak. Kau tidak perlu meminta maaf. Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Tapi Jiah-ya, kenapa kau tiba-tiba memintaku untuk membuka T-shirt ku? Aku sempat berpikir kau menginginkan sesuatu yang lain seperti beberapa malam yang lalu”.

.

“Kau ingat? Saat kita ke Hawaii dan Jeju kau seringkali tidur tanpa T-shirt mu dan memelukku. Tadi aku terbangun setelah masa-masa itu datang ke dalam mimpiku. Tiba-tiba aku ingin merasakannya lagi. Saat itu, walaupun aku tertidur, aku bisa merasakan kulitmu yang tidak sengaja menyentuh kulitku. Aku ingin merasakan kenyamanan itu lagi”, jawab Jiah menjelaskan.

.

“Aku bisa tidur tanpa T-shirt ku setiap malam jika kau mau”, kata Kyuhyun menggoda Jiah. “Walau sebenarnya aku lebih suka kita tidak mengenakan pakaian apapun saat tidur”.

.

“Ya!” seru Jiah sambil menepuk pelan dada Kyuhyun.

.

“Akh! Wae? Dua hari yang lalu kau baik-baik saja dengan ide itu”, kata Kyuhyun yang terus menggoda Jiah.

.

“Auh… Aku tidak bisa menghentikan pikiran mesum Cho Kyuhyun”, kata Jiah sambil menyembunyikan wajah merahnya di pelukan Kyuhyun.

.

“Hahaha wajahmu merah sekali, Jiah-ya. Apa yang membuatmu malu? Hahahaha… Geunde, sepertinya aku mulai menyukai kerja hormon mu saat hamil. Kau…..begitu seksi dan mengagumkan”.

.

“Jadi saat tidak hamil aku tidak seksi dan mengagumkan???” tanya Jiah yang kembali menatap Kyuhyun.

.

“Ani… Kau selalu seperti itu. Hanya saja setelah hamil kau begitu luar biasa”, jawab Kyuhyun dengan tawa kecil yang menyertai.

.

“Ya! Hentikan. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya”, kata Jiah yang ikut tertawa bersama Kyuhyun. “Kau lebih banyak bicara akhir-akhir ini, Kyuhyun-ah”.

.

“Benar. Donghae juga mengatakan itu padaku. Ah… Image dingin ku berubah seketika. Bagaimana ini?”

.

“Apanya yang bagaimana?”

.

“Bagaimana jika image ini membuat lebih banyak gadis menyukaiku? Kau akan baik-baik saja?”

.

“Aku baik-baik saja. Seberapa gigih pun mereka mencoba, mereka tidak akan pernah berhasil. Cho Kyuhyun hanya mencintai Kwon Jiah. Bahkan sudah lebih dari 7 tahun dan dia masih mencintai Kwon Jiah. Tidak akan ada yang berhasil merebut hatinya. Mereka hanya dapat merebutnya dalam mimpi mereka”, kata Jiah dengan kepercayaan dirinya.

.

“Wo… Kwon Jiah… Sejak kapan kau bersikap cool seperti ini? Mungkinkah ini efek dari mengandung seorang anak laki-laki? Hmm… Minwoo-ya, kau mulai membuat appa khawatir. Jangan-jangan sikapmu akan dingin sepertiku nanti. Andwae, Minwoo-ya… Jadilah laki-laki yang hangat…”

.

“Ada apa denganmu? Jika Minwoo mirip denganmu, itu adalah hal yang baik. Kau lebih suka Minwoo menyerupai orang lain dibanding appa nya sendiri? Babo-ya…” kata Jiah dengan tawa kecilnya.

.

“Kau benar. Aku harap setidaknya Minwoo punya 50% dari sikap dan isi otakku. 50% lainnya akan berasal darimu. Tumbuhlah menjadi anak yang hebat, Cho Minwoo”, kata Kyuhyun sambil mengelus perut Jiah.

.

“Dan juga sehat”, sambung Jiah.

.

“Tentu…”

.

.

#########################

.

.

Kyuhyuns POV

BGM : The Once – You’re my bestfriend

.

Aku tidak mengatakan hal yang berlebihan hari itu. Jiah memang menjadi lebih sulit untuk dihadapi. Mood nya memang membaik. Namun ada suatu masa dimana aku membutuhkan mental dan energy ekstra untuk menghadapinya. Aku masih berpegang pada pendirianku saat aku mengatakan Jiah yang manis lebih menyenangkan. Karena jika Jiah si musuh Cho Kyuhyun sedang muncul seperti hari itu, maka tamatlah sudah riwayatku selama satu hari penuh. Beruntung, mood Jiah hari itu tidak muncul dengan frekuensi yang sering. Saat muncul sekalipun, tidak akan berlangsung sepanjang hari. Jiah akan melembut jika ia merindukanku. Hah… memikirkannya saja bisa membuatku tersenyum. Ada suatu masa dalam 5 bulan terakhir yang membuatku cukup kerepotan. Aku sempat menyangkal adanya masa ‘mengidam’ bagi seorang wanita hamil ataupun suaminya. Karena aku tidak pernah menemukan teori dalam literature yang membahas mengenai hal itu. Semua itu tergantung dari psikologi masing-masing individu yang mungkin saja dapat diubah. Namun, penyangkalanku sepertinya terpatahkan dengan semua hal yang ku alami sendiri.

.

Belum lama ini Jiah memintaku untuk membelikan bubur kacang merah. Itu bukan hal yang sulit untuk dilakukan. Tapi Jiah hanya ingin memakan bubur yang dijual di sebuah kedai di Daejeon. Aku harus mengemudi hampir 2 jam untuk membeli sebuah bubur. Jarak terjauh yang ku tempuh pada masa ‘mengidam’ itu adalah 237 km dari Seoul menuju Daegu, kira-kira membutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk mengemudi. Saat itu Jiah ingin sekali makan galbijjim di sebuah restaurant kesukaannya disana. Aku harus membagi konsentrasiku antara menjaga laju mobil tetap halus dan nyaman, serta memeriksa keadaan Jiah disamping kemudi setidaknya setiap 15 menit sekali. Jarak yang cukup jauh membuatku khawatir akan keadaannya. Tidak hanya mengenai makanan, Jiah juga sesekali menginginkan hal yang diluar ekspektasiku. Suatu hari Jiah ingin camping dengan mengajak serta Donghae dan Soo Jung ke daerah pegunungan. Lalu di kesempatan yang lain Jiah ingin keponakannya, Yuwon, menginap dan tidur bersama kami. Aku menawarkan untuk menginap di rumah eomeoni saja, namun Jiah menolak dan tetap menginginkan Yuwon menginap selama semalam di apartment kami. Hal tersulit yang Jiah minta adalah bertemu dengan ayahnya. Saat itu abeonim sedang berada di Jeju untuk perjalanan bisnisnya. Tentu saja kami melakukan penerbangan menuju Jeju untuk memenuhi keinginannya itu. Jika aku mengingat kembali masa itu, aku masih tidak dapat percaya bahwa aku benar-benar sudah melakukannya. Aku cukup beruntung karena tidak ada permintaan yang dapat menimbulkan bahaya.

.

Pagi ini Jiah bangun dalam keadaan mood yang sangat baik. Wajahnya begitu cerah, nafsu makannya sangat baik, ia juga begitu bersemangat. Senyum di bibirnya menghiasi setiap hal yang ia lakukan. Langkahnya yang mulai melambat terlihat begitu anggun. Siluete tubuhnya yang terkena sinar matahari memunculkan pemandangan yang begitu memukau ku. Aku ingat saat ia berdiri tidak jauh dari jendela, meminum susu sambil menonton tayangan Discovery Channel di televisi. Tangannya yang bebas mengelus lembut perutnya yang sudah cukup besar. Sembilan bulan terasa begitu cepat berlalu. Minwoo tumbuh dengan sehat dan kuat dalam kandungan eomma nya. Tidak ada lagi masa mengidam yang membuat repot banyak orang. Tidak ada lagi mood fluktuatif Jiah yang mengancam kesehatan mentalku. Semakin hari, sifat keibuannya semakin terlihat. Sebuah pelukan serta ciuman darinya adalah bonus yang ku terima sebelum ia berangkat ke galeri. Ia tersenyum sambil melambaikan tangannya di ambang pintu. Seperti biasanya, Jiah tidak mengijinkanku untuk mengantarnya di hari aku mendapatkan shift malamku. Dan malam ini aku harus merelakan diri untuk tidak melihatnya. Jarum jam baru menunjukkan pukul 11 malam. Aku masih harus bertahan selama kira-kira 9 jam ke depan untuk bertemu dengan Jiah. Aku duduk di bangku ruang perawat. Situasi di sepanjang koridor bangsal sudah sangat sepi. Baik pasien maupun keluarga pasien mungkin sudah terlelap. Lampu-lampu terang pun sudah digantikan dengan lampu redup yang cukup membuatku mengantuk. Namun pikiranku masih tertuju pada Jiah. Kekhawatiranku bertambah karena kehamilan Jiah yang sudah cukup membesar. Tanggal kelahiran bayi kami memang masih cukup lama. Kami masih memiliki waktu kira-kira tiga sampai empat minggu untuk bersiap. Aku selalu berharap tanggal kelahirannya tepat pada jadwal yang diperkiran.

.

“Selamat malam, dokter Cho”, sapa seorang perawat senior padaku.

.

“Selamat malam, perawat Kim”, aku balas menyapanya.

.

“Anda tampak lelah. Beristirahatlah, dokter Cho”.

.

“Aku juga berniat begitu, perawat Kim. Tapi rasa kantuk tidak kunjung datang padaku. Hhh…”

.

“Anda pasti sedang memikirkan istri anda, bukan?” tanya perawat Kim.

.

“Benar. Tanggal persalinannya semakin dekat. Walaupun selama ini keadaan Jiah baik-baik saja, aku tetap merasa khawatir padanya”, jawabku.

.

“Tentu saja. Sangat wajar merasa khawatir pada istri yang sedang hamil tua. Terlebih jika istri anda berada di rumah sendirian di malam hari. Apakah anda sudah mengajukan penggantian jadwal, dokter Cho?”

.

“Sudah. Aku mengajukan jadwal pagi atau sore selama satu minggu sebelum dan sesudah tanggal persalinan. Aku khawatir tanggal persalinannya tidak sesuai dengan perkiraan. Semoga saja tidak…” kataku mengutarakan kekhawatiranku.

.

“Semua akan baik-baik saja, dokter Cho. Anda bisa menanamkan pikiranku untuk menenangkan diri”, kata perawat Kim memberikan saran.

.

“Benar. Aku harus menenangkan diriku. Hhh… Apakah selalu seperti ini menjelang kelahiran anak pertama, perawat Kim?” tanyaku.

.

“Selalu, dokter Kim. Menantu ku juga sedang mengalami seperti yang anda alami saat ini. Anakku akan melahirkan minggu depan. Suaminya sampai mengajukan cuti selama 2 minggu. Padahal hal itu tidak terlalu perlu untuk dilakukan. Aku membiarkannya saja. Karena aku pernah mengalami masa itu. Kegugupan setiap orang berbeda-beda”, jawab perawat Kim.

.

.

Drrrttt Drrrrrtttt

.

.

Ponselku bergertar, memunculkan nama Jiah di layar. Mataku terbelalak, kekhawatiran ku sontak memuncak. Jiah tidak pernah menghubungiku selarut ini sebelumnya. Tanganku yang gemetar menyulitkan ku untuk menyentuh panel hijau. Perawat Kim yang duduk di hadapanku hanya tersenyum menyaksikan sikap ku. Setelah tiga kali percobaan yang menyebalkan, akhirnya aku berhasil menyentuh panel hijau itu.

.

“Jiah-ya, ada apa? Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?” tanyaku panik.

.

Sepertinya aku yang harus bertanya padamu. Ada apa? Kau terdengar sangat ketakutan”, jawab Jiah tenang.

.

“Ya! Kau tidak pernah menghubungiku selarut ini. Aku khawatir padamu. Kau benar baik-baik saja?”, kataku.

.

Aku baik-baik saja, Kyuhyun-ah” jawab Jiah sambil tertawa kecil.

.

“Kenapa kau meneleponku selarut ini? Kau tidak tidur?” tanyaku dengan detak jantung dan napas yang sudah berangsur normal.

.

Aku hanya merindukanmu

.

“Karena itu kau tidak bisa tidur?”

.

Emm…” jawab Jiah bergumam. “Karena itu aku datang ke rumah sakit”.

.

“Mworago??? Ya!!! Kau gila??? Hhh… Sekarang kau dimana? Aku akan kesana”.

.

Ruang tunggu tidak jauh dari lobby”, jawab Jiah.

.

“Jangan pergi kemanapun! Aku kesana sekarang”, kataku sambil memutus sambungan telepon. “Perawat Kim, aku pergi dulu. Istriku menunggu di lobby. Jika terjadi sesuatu, tolong hubungi aku”.

.

“Ne, tentu, dokter Cho”, jawab perawat Kim sambil tersenyum.

.

Aku pun segera berlari menuju lobby utama rumah sakit dengan kecepatan tercepat yang ku bisa. Aku berhenti beberapa meter dari lobby. Jiah benar-benar ada disana. Ia duduk sambil mengelus perutnya, bicara pada Minwoo. Sebuah senyuman tampak di wajah cantiknya. Kemarahan dan kekhawatiran ku seketika hilang, digantikan dengan rasa lega yang begitu menenangkan. Aku tidak lagi berlari. Aku ingin menikmati pemandangan menyejukkan di hadapanku dengan berjalan perlahan menghampirinya. Beberapa langkah sebelum tiba disana, Jiah menoleh. Ia tersenyum lebar padaku. Membuat banyak kupu-kupu berterbangan dalam tubuhku. Ia menjulurkan tangannya padaku, lalu ku genggam tangan lembut itu dengan kedua tanganku. Aku duduk tepat di sampingnya tanpa mengalihkan tatapanku wajahnya. Tiba-tiba Jiah mengecup lembut pipiku, lalu melesak ke pelukanku. Aku merangkulkan sebelah tanganku di bahunya dan mengecup keningnya. Jiah ku yang tidak terduga. Selalu ada tindakannya yang hampir menghentikan detak jantungku.

.

“Maafkan aku…” katanya tiba-tiba.

.

“Kenapa?”

.

“Membuatmu khawatir”, jawabnya.

.

“Tidak apa. Aku sudah baik-baik saja. Kau tidak mengemudi, bukan?” tanyaku.

.

“Tidak. Aku kesini dengan taksi”, jawab Jiah. “Sebenarnya, aku kesini karena tidak bisa tidur. Aku merindukanmu. Aku tidak suka suasana sunyi di kamar. Aku juga……” kata Jiah menghentikan kalimatnya.

.

“Ada apa?”

.

“Sepertinya kontraksi sudah mulai datang. Dalam 5 jam terakhir aku sudah merasakannya 2 kali. Minwoo juga sering menendang. Awalnya aku berpikir untuk menemui eomeoni (ibu Kyuhyun). Tapi jaraknya cukup jauh dari apartment. Karena itu aku pikir lebih baik ke rumah sakit. Apa aku mengganggumu?” tanya Jiah.

.

“Tidak, sayang. Kau melakukan hal yang benar. Jarak rumah sakit sangat dekat dari apartment. Banyak petugas medis disini. Aku pun ada disini. Kau sudah melakukan hal yang benar”, kataku mencoba menenangkannya, meski kenyataannya akupun merasa gugup setelah mendengar ucapannya.

.

“Apa semua akan baik-baik saja?” tanya Jiah pelan.

.

“Tentu. Semua akan baik-baik saja. Aku disini bersamamu”.

.

“Kau tidak marah padaku? Tadi saat di telepon kau terdengar begitu marah…”

.

“Kemarahanku sudah hilang beberapa menit yang lalu setelah melihatmu tersenyum. Selama kau baik-baik saja, aku sudah merasa tenang”, kataku jujur.

.

“Aku mencintaimu…” kata Jiah.

.

“Aku sangat mencintaimu…”

.

“Soo Jung meneleponku pagi ini. Mereka akan kembali ke Seoul besok lusa. Dan……”

.

“Dan?” tanyaku pada kalimat Jiah yang terputus.

.

“Soo Jung hamil”, kata Jiah.

.

“Benarkah??? Mereka baru satu bulan menikah dan Soo Jung sudah hamil. Aku jadi merasa iri. Butuh waktu satu tahun untuk menghamili mu”, kataku menggoda Jiah.

.

“Ya! Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu di tempat umum seperti ini?” tanya Jiah dengan wajah yang sudah memerah.

.

“Tidak ada orang disini, Jiah-ya. Mereka semua sudah tertidur pulas di tempatnya masing-masing. Kau pun juga harus tidur sekarang. Ayo, kita ke ruanganku…”

.

“Baiklah…”

.

.

Authors POV

2 minggu kemudian

.

.

“Aaaaaakkkkhhhh!!! Eomma!!! Eommaaaa!!! Huuuu… Huuuuuu… Apooooo…”

.

“Jangan menangis, Jiah-ya… Jangan menangis…” kata Kyuhyun disamping brangkar yang sedang di dorong oleh beberapa perawat.

.

“Kkeojyeo!!! Neottaemune ish!!! Neottaemune!!! Haaaahhhhh!!! Apoooo… Ini semua salahmu! Cho Kyuhyun, babo-ya!!! Cho Kyuhyuuun!!!” seru Jiah.

.

“Arasseo… Arasseo… Salahku. Semua salahku. Ku mohon bertahan lah, sayang. Tarik napas… Buang… huuu… huuu… seperti itu”, kata Kyuhyun mencoba menenangkan Jiah.

.

“Aaaaakkhhhh!!! Ini sakit sekali… Cho Kyuhyun… Ini sakit sekaliiiii…”

.

“Aku tahu… Karena itu tarik napasmu. Ayo, Jiah-ya. Tarik napas… Lalu buang…”

.

“Huuu… huuuuuu… Kau tidak tahu apapun!!! Huuuu…… Neottaemune ish!!!”

.

“Mianhae, Jiah-ya. Mianhae… Semua salahku… Maafkan aku…”

.

“Kau….. Kau…” kata Jiah yang kemudian menggenggam kuat lengan Kyuhyun. “Haaahhhh… Kenapa lama sekali. Cepat keluarkan dia… Cho Kyuhyun…..”

.

Akhirnya brankar memasuki ruang persalinan. Kyuhyun ikut masuk ke dalam menemani Jiah. Donghae dan Soo Jung yang sejak tadi ikut bersama mereka ke rumah sakit menunggu diluar ruangan sambil menghubungi keluarga Cho dan keluarga Kwon. Di dalam ruang persalinan, semua persiapan sudah selesai. Dokter yang akan menangani pun sudah tiba. Jiah kembali menggenggam tangan Kyuhyun hingga terdapat bekas merah tampak di kulit putih Kyuhyun. Jiah juga meremas kuat bahu Kyuhyun, sesekali memukul keras tubuh Kyuhyun untuk melampiaskan rasa sakit yang sedang dirasakannya. Keringat membasahi tubuhnya. Rintihan dan tangisan memenuhi ruangan itu.

.

Sementara di luar ruangan, keluarga Cho dan keluarga Kwon sudah berkumpul di ruang tunggu. Kedua orang tua dari kedua keluarga tampak tidak terlalu tegang, karena peristiwa ini bukan kali pertama bagi mereka, mengingat Kyuhyun dan Jiah adalah anak kedua mereka. Rasa gugup justru tampak dari Donghae dan Soo Jung yang tidak henti berjalan ke kanan dan kiri menunggu proses persalinan yang berlangsung cukup lama. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, memunculkan sosok Kyuhyun yang keluar dengan jubah birunya, menggendong seorang bayi di tangannya. Wajahnya menampakkan kebahagiaan yang begitu jelas, diselingi dengan air mata yang membasahi pipinya. Ia tersenyum lebar pada semua orang yang menunggu diluar ruangan persalinan.

.

BGM: Chen Best Luck

.

“Cho Minwoo ibnida…” kata Kyuhyun menghampiri seluruh keluarga.

.

“Bagaimana dengan Jiah?” tanya Soo Jung.

.

“Jiah baik-baik saja. Ibu dan bayi nya sangat sehat”, jawab Kyuhyun.

.

“Aigoo… Jagoan kecil harabeoji tampan sekali”, kata Tuan Kwon.

.

“Dia mirip sekali denganmu, Kyuhyun-ah… Wajahmu persis seperti ini saat kau lahir”, sambung Tuan Cho.

.

“Selamat, adeul… Sekarang kau benar-benar sudah menjadi seorang appa”, kata nyonya Cho sambil membelai lembut rambut Kyuhyun.

.

“Kau harus menjaga mereka dengan baik, Kyuhyun-ah…” kata Nyonya Kwon.

.

“Tentu, eomeoni. Terima kasih appa, eomma, abeoji. Donghae-ya, Soo Jung-ah, aku sudah menjadi seorang ayah. Terima kasih…”

.

“Bersikaplah lebih baik mulai sekarang, Cho Kyuhyun. Ada Minwoo tampan yang akan memperhatikanmu mulai sekarang”, kata Soo Jung dengan tawa kecilnya.

.

“Minwoo-ya, tumbuhlah dengan sehat dan pintar seperti ayahmu. Jadilah laki-laki yang baik hati seperti samchon, eo?” kata Donghae yang mengundang tawa semua orang disana.

.

“Ne, samchon…” kata Kyuhyun menjawab Donghae. “Baiklah, aku akan kembali masuk. Sebentar lagi Jiah akan segera dipindahkan ke ruang perawatan”, kata Kyuhyun yang segera berlalu kembali masuk ke ruang persalinan.

.

Di dalam, Jiah sudah menunggu setelah semua hal dipersiapkan. Jiah masih terlihat kelelahan setelah berjuang melahirkan bayi laki-laki yang selama ini mereka tunggu. Sebuah senyuman mengembang menghiasi wajahnya saat dua laki-laki yang ia cintai datang menghampirinya. Jiah menjulurkan tangannya meminta keduanya mendekat lebih cepat. Sesampainya di ranjang tempat Jiah berbaring, Kyuhyun meletakkan Minwoo di pelukan Jiah, lalu memberikan sebuah kecupan lembut di bibir Jiah. Kecupan itu perlahan berubah menjadi ciuman dalam, ekspresi dari kebahagiaan mereka berdua. Lalu suara dan gerakan Minwoo menyadarkan keduanya untuk kembali ke dunia nyata dimana anak laki-laki mereka menunggu untuk diperhatikan.

.

“Aigoo… Anak appa iri rupanya. Arasseo… Eomma juga milikmu…” kata Kyuhyun sambil menyentuh lembut tangan kecil Minwoo.

.

“Minwoo-ya, terima kasih karena datang ke dunia ini dengan sempurna…” kata Jiah yang kemudian mengecup kening Minwoo.

.

Kyuhyun pun melakukan hal yang serupa. Namun ia bukan mengecup Minwoo, melainkan Jiah. Ia mengecup puncak kepala Jiah dengan sayang, lalu membelai rambutnya pelan. “Terima kasih, Jiah-ya… Kau selalu memberikan hal yang luar biasa padaku. Terima kasih karena mampu bertahan bersamaku. Terima kasih untuk semua hal yang kau lakukan untukku. Terima kasih karena sudah terlahir di dunia ini dan melahirkan seorang anak yang sempurna untukku. Sejak aku bertemu denganmu, banyak hal yang terjadi padaku. Aku bisa merasakan rasanya jatuh cinta, kesedihan, keputusasaan, bahkan keterpurukan, serta kebahagiaan. Aku belajar banyak hal karena bertemu denganmu. Aku sangat mencintaimu…”

.

“Aku juga sangat mencintaimu, Cho Kyuhyun. Selalu…”

.

.

THE END

.

Readersnim-deul, gamsahabnida!!! *bow*

Advertisements

61 thoughts on “Since I (have) met you : Part 12 [LAST PART]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s