Since I (have) met you : Part 11

Author: Okada Kana

Category: NC-17, Romance, Chapter

Cast: Cho Kyuhyun, Kwon Jiah (OC)

Other Cast:

Jung Soo Jung, Lee Donghae, etc.

Disclaimer:

Annyeonghaseyo, readers-nimdeul!!! Kana kembali dengan part 11 yang juga panjang setelah membuat kalian kesal mungkin senyum-senyum atau justru merinding karena terlalu cheesy dengan part 10. Bagaimana kabar kalian setelah part 10 yang cukup panjang? Sebenarnya part 10 sengaja aku buat panjang untuk membuat kalian menduga bahwa part 10 adalah part terakhir. Tapi sepertinya aku gagal, ya? Well, it’s okay. Paling tidak kalian tetap kembali di part ini untuk mengikuti kisah Kyuhyun dan Jiah selanjutnya. Apalagi yang terjadi kali ini? Setelah part yang lalu diakhiri begitu saja saat keduanya sedang berlovey-dovey, apa yang akan terjadi kali ini? Sudah menemukan kebahagiaan di part 10 masih mau dibuat ada masalah lagi, thor? Hmm… Kita tidak bisa menghindari masalah, readers-nimdeul. Masalah harus dihadapi, benar? Nah, masalah apa lagi yang akan menghampiri keduanya? Daripada bertanya-tanya, lebih baik kita scroll-scroll ke bawah dan baca kelanjutan ceritanya.

FF ini murni berasal dari kepalaku. Ide cerita yang muncul berasal dari beberapa drama yang sudah aku tonton. Tapi cerita dalam FF ini tidak menggunakan ataupun mengikuti cerita drama yang sudah ada. Seperti biasanya, mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Karena seperti yang aku katakan, ini adalah kisah cinta sederhana yang bisa dialami siapa saja. Aku juga berusaha sebisa mungkin untuk menghindari typo. Tapi, aku juga manusia biasa yang bisa membuat kesalahan, jadi mohon dimaklumi. No bash, smart comments and critics always accepted. Selamat membaca…

Note:

Kalimat yang bercetak miring bisa menandakan itu adalah kalimat dari bahasa inggris, arti dari kalimat berbahasa korea, atau menandakan itu adalah pembicaraan tokoh dalam pikirannya sendiri.

.

.

.

.

Review Part 10

“Cho Kyuhyun-ida…”

“Aku sudah datang…”

“Kau tidak terlihat baik…”

“Kau membuatku takut, Kwon Jiah…”

“Aku baik-baik saja”.

“Inikah yang kau sebut baik-baik saja? Tidak bisakah kau menghubungiku?”

“Apakah aku terlihat sedang berada dalam keadaan yang memungkinkan untuk menggunakan ponselku? Tenangkan dirimu… Aku baik-baik saja…”

“Berhenti mengatakan kau baik-baik saja!”

“Aku memang baik-baik saja. Aku mensyukuri keadaanku…”

“Apa yang kau syukuri dari hal ini?”

“Aku masih bisa melihatmu… Aku masih bisa bertemu denganmu…”

————————-

“Kau begitu menyukaiku?”

“Aku rasa begitu… Kau begitu mencintaiku?”

“Michige…”

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu. Jarang ada alasan untuk mencintai seseorang”.

“Sejak kapan?”

“Sejak bertahun-tahun yang lalu”.

“Bagaimana?”

“Saat kau memberikan sebuah amplop padaku hari itu, aku menemukan ketertarikanku padamu. Aku pun membuka dan membacanya. Aku tidak menyangka amplop itu berisikan sebuah puisi yang sangat indah. Lalu sebuah pesan di akhir kertas mulai mengangguku. Kau menuliskan disana bahwa kau hanya ingin aku mengetahui apa yang kau rasakan tanpa memintaku memberikan reaksi apapun. Aku hanya bisa mengagumimu dalam diam. Langkahmu yang ceria menarik perhatianku dihari pertama di SMA. Kau tetap gadis cantik dalam ingatanku yang selalu ku puja. Lalu Jung Soo Jung memanggil namamu dengan lantang. Kwon Ji Ah. Akhirnya aku mengetahui namamu. Aku memanggilmu dalam pikiranku setiap saat mataku menangkap sosokmu. Aku berpikir dapat benar-benar memanggilmu hingga kau menoleh padaku dan bicara padaku. Saat itu aku menyadari bahwa aku memang sudah jatuh cinta padamu”.

————————-

“Apa yang kau lakukan disini? Duduk saja. Aku yang akan memasak malam ini”.

“Cho Kyuhyun etteohke geureohke seksihae? Malam ini kau terlihat sangat seksi”.

“Jangan memulainya, Kwon Jiah. Aku harus memastikan kau makan malam hari ini”.

“Memangnya aku melakukan apa? Aku hanya mengatakan bahwa Cho Kyuhyun terlihat sangat seksi dengan T-shirt hitam serta apron yang melingkar di pinggangnya”

————————-

.

.

.

.

-Since I (have) met you : Part 11-

.

.

.

.

.

Kyuhyun’s POV

Aku tidak menyadari waktu yang bergulir begitu cepat. Masih jelas dalam ingatanku setiap moment hangat upacara pernikahanku dengan Jiah. Kemudian kami meninggalkan semua hal untuk menikmati keindahan alam Hawaii dalam balutan udara sejuk di pulau tropis. Lalu masalah menghampiri kami bergantian. Setiap emosi, amarah, dan rasa lelah diantara kami seakan saling menunjukkan tanduknya, tanpa berniat mengibarkan bendera putih perdamaian. Namun seperti yang aku katakan, waktu bergulir begitu cepat, hingga semua hal itu kini hanya menjadi kenangan dan pelajaran yang akan selalu ada didalam ingatanku. Sudah tiga bulan sejak Jiah kembali padaku. Setiap hari aku lewati dengan mendengarkan suaranya. Jika keberuntungan sedang berpihak padaku, atau dengan kata lain jadwal kami sedang bersahabat, maka aku memiliki banyak kebahagiaan dalam 24 jam disetiap 1 hari yang ku punya. Tatapan menenangkannya, senyum indahnya, tawa merdunya, langkah ringannya, pelukan hangatnya sebelum memejamkan mata dimalam hari, dan ciuman lembutnya yang menyertai sapaan matahari pagi. Aku menikmati setiap hari yang ku punya, seperti hari itu adalah hari terakhir yang ku punya (perumpamaan, bukan arti yang sebenarnya). Aku juga merasa bahwa aku harus mulai memilah setiap memory yang bisa ku ingat. Terutama memory berharga akan setiap perubahan dalam diri Jiah. Caranya menghadapi sikap kekanakkanku, caranya mengatasi masalah diantara kami, dan tentu saja caranya yang dengan perlahan kembali melangkah padaku. Walau kata cinta tidak pernah terucap dari bibirnya, namun seperti yang seringkali dikatakan banyak orang diluar sana, Act speaks louder than words. Aku mendapatkan cinta Jiah dengan caraku sendiri.

.

“Bagaimana dengan dress ini?” tanya Jiah yang keluar dari ruang wardrobe setelah mengganti pakaiannya entah untuk yang ke berapa kali.

.

“Bagus…” jawabku singkat karena lelah.

.

Aku sudah duduk di sofa single besar ini selama hampir satu jam untuk memberikan komentarku atas dress yang sedang berusaha dipilih oleh Jiah. Galeri milik eomeoni akan kedatangan seorang seniman besar yang akan mengadakan pameran selama satu minggu disana. Direncanakan akan diadakan sebuah pesta pembukaan pameran bulan depan. Catat dan ingat hal itu baik-baik. BULAN DEPAN. Apa alasan dibalik ‘memilih pakaian’ saat ini? Bagian mana dari semua ritual fitting ini yang masuk akal? Apakah hanya tidak masuk akal bagi seorang pria? Atau hanya aku? Bahkan tidak ada jaminan bahwa mungkin saja setelah dua minggu berselang akan ada pakaian di sebuah boutique yang menarik perhatian Jiah, lalu pakaian yang ia pilih hari ini terlupakan begitu saja. Benar, bukan?

.

“Benarkah? Lengannya tidak terlalu pendek? Aku tidak terlihat lebih gemuk?” tanya Jiah lagi menyadarkanku dari keluhan dalam pikiranku.

.

Aku menatap dress dark blue slim selutut yang ia kenakan dari atas hingga ke bawah. Aku merasa sudah melihat (dan menilai) dress ini beberapa saat yang lalu. Benarkah? Aku rasa sudah… Atau belum?, tanyaku dalam pikiranku. Aku pun menggeleng untuk menjawab pertanyaan Jiah meski sebenarnya aku tidak benar-benar yakin. Aku adalah pria yang tidak terlalu mengikuti perkembangan fashion. Aku bahkan tidak pernah mencoba untuk mendalami hal itu. Bagiku, jika pakaian yang dikenakan sudah sesuai dengan tema, selera, dan mood, serta terlihat bagus dikenakan si pemakai, maka selesailah sudah. Tidak perlu memikirkan banyak hal. Maaf, aku adalah pria yang beberapa bulan yang lalu baru saja lulus dari tugas internship ku sebagai seorang dokter. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku dengan jurnal dan buku-buku medis, dan tentu saja tidak lupa dengan Jiah yang masih selalu menjadi pujaanku…….yang saat ini sedang menatap cermin sambil menggigit bibir bawahnya karena tidak yakin dengan pendapatku. Aku kenal betul apa ungkapan yang ada dibalik ekspresi itu. Dalam 5 detik, dua atau tiga pertanyaan akan kembali diajukan padaku. Dan pertanyaan itu akan terdengar seperti, ‘kau ingin tteokpokki mu dibungkus dengan sterofoam atau dengan kotak mika?’ Apakah rasanya akan berbeda jika ditempatkan di tempat yang berbeda? Tidak. Sama seperti……

.

“Jika dibandingkan dengan dress hitam tanpa bahu, lengan ukuran 3/4 tadi? Dark blue ini or black before?”, tanya Jiah.

.

Dugaanku benar. Persis. Begini, tteokpokki dengan bungkus sterofoam atau mika akan tetap terasa seperti tteokpokki bagaimanapun caranya. Tteokpeokki itu tidak akan berubah rasa dari pedas menjadi rasa sterofoam atau rasa mika. Sama seperti Jiah yang mengenakan dress dark blue atau hitam. Jiah akan tetap terlihat cantik dan mempesona bagiku. Kecantikan yang ada didalam tetap akan terpancar walau apapun yang membalutnya. Tentu saja meski sesungguhnya aku lebih menyukai Jiah yang mengenakan T-shirt polos berwarna putih atau hitam dan celana sangat pendek dalam rengkuhanku dengan rambut terurai di tempat tidur. Aku tidak sedang memiliki pikiran yang kotor. Aku hanya merasa mengantuk setelah semua ritual fitting yang dipenuhi dengan drama keraguan ini.

.

“Cho Kyuhyun, jawab aku!” kata Jiah yang menaikkan nada bicaranya, masih dengan volume yang sama.

.

“Kedua nya sama bagus dimataku”, jawabku cepat, jujur dari dalam pikiranku.

.

“Sejak tadi kau hanya mengatakan itu”, Jiah menoleh dengan ekspresi kesal diwajahnya. “Dress ini bagus, dress itu bagus, setiap ku mintai pendapat kau selalu mengatakan bagus. Kau tidak bisa menganggap ini serius sedikit saja?”

.

O-ow… Sudah tibakah waktunya? Setelah aku pikirkan, sudah cukup lama aku tidak bertemu dengan Jiah yang memiliki mood swing karena masa menstruasi. Jika dilihat dari sikapnya baru saja, sepertinya memang tanggal itu sudah dimulai. Tarik napas, Cho Kyuhyun… Kau hanya perlu menghadapi atmosfer ini selama seminggu.

.

“Kau tidak bisa menjawabnya. Benar, bukan?” kata Jiah.

.

“Bukan begitu… Aku hanya berpikir…”

.

“Aku hanya meminta mu untuk memberikan pendapatmu padaku disaat aku kehilangan kepercayaan diriku. Tidak bisakah kau melakukan hal itu untukku?” tanya Jiah memberikan pertanyaan yang benar-benar sulit untuk dijawab. Karena apapun jawaban yang aku berikan akan terdengar salah. “Kau hanya mengatakan ‘bagus’, ‘bagus’, ‘bagus’ pada semua dress yang ku coba. Kau tidak membantuku mencari solusi, Cho Kyuhyun… Menyebalkan…” kata Jiah yang kembali masuk ke ruang pakaian.

.

“Jiah-ya…” Aku bangkit berdiri dan melangkah menuju ruangan itu.

.

“Berhenti disana! Jangan berani-berani masuk kesini!” seru Jiah yang seolah mengetahui gerakanku, saat hanya tinggal beberapa langkah lagi kakiku dari ruangan itu.

.

“Jiah-ya… Jangan marah. Aku minta maaf, hmm? Aku… Aku bersungguh-sungguh mengatakan semua itu. Memang semua dress itu terlihat bagus ditubuhmu. Tidak ada kurangnya sedikitpun dimataku. Jiah-ya… Maafkan aku karena tidak membantu…” kataku terus berusaha membujuk Jiah yang kesal.

.

Tentu mood Jiah saat ini tidak ada dalam daftar favorite ku. Ketika jadwal menstruasi Jiah tiba, aku hanya menyukai beberapa moodnya yang tidak selalu sama disetiap harinya. Jiah si pemarah tidak berada dalam daftarku karena seperti yang terlihat, emosi nya dapat naik begitu cepat. Jiah menjadi mudah sekali marah dan kesal. Aku akan cukup beruntung jika kemarahannya tidak berakhir dengan tangisan. Aku tidak bisa lagi mengharapkan Jiah si gadis tenang dan dingin saat masa ini tiba.

.

Dibandingkan dengan Jiah si pemarah, aku lebih menyukai Jiah si malas dan si manja, atau Jiah si nafsu makan besar. Jiah yang malas dan manja lebih mudah dihadapi. Karena jika kami bertemu, Jiah akan dengan mudah datang padaku dan menopangkan tubuhnya padaku, atau berlama-lama dalam pelukanku. Jiah juga cenderung lebih suka berbaring baik di tempat tidur maupun di sofa, dengan permintaannya agar aku selalu bersamanya. Aku tahu sikapnya itu justru menyulitkanku karena aku akan dengan susah payah harus berusaha menahan segala gejolak dalam diriku. Tapi setidaknya, singa jinak lebih menyenangkan dibanding singa buas, bukan? Sementara Jiah si nafsu makan besar benar-benar menenangkan. Karena aku tidak harus selalu mengingatkannya untuk makan, seperti yang selama ini selalu ku lakukan. Jiah akan makan dengan sendirinya tanpa ku marahi. Kebutuhan gizi tubuhnya akan terpenuhi dengan sendirinya. Dan beruntungnya aku, Jiah memiliki tipe tubuh yang tidak mudah membesar hanya karena banyak makan.

.

“Kenapa kau tidak bisa mengerti apa yang sedang ku butuhkan saat ini?” tanya Jiah dari dalam ruangan, masih terdengar sangat kesal.

.

Ternyata ini belum berakhir. Masalah yang cukup sederhana ini dapat berujung dengan menangisnya Jiah, atau terusirnya aku dari kamar. Aku hanya tinggal menunggu salah satunya terjadi jika aku tidak melakukan apapun untuk mencegahnya. Entah apa yang dapat ku lakukan.

.

Sebuah ide akhirnya menghampiri otak lelahku. “Aku minta maaf karena tidak bisa membantu. Tapi kau juga melakukan kesalahan, Kwon Jiah”.

.

“Apa? Aku? Kau menyalahkan aku? Kau bercanda?” tanya Jiah. Keyakinanku akan keberhasilan ide ini perlahan surut. Aku mulai khawatir rencana ini justru akan memperburuk keadaan. Sudahlah… Aku sudah terlanjur memulainya…

.

“Benar. Kau juga bersalah…” Aku menghela napasku sebelum melanjutkan. “Kau sangat mengetahui kenyataan bahwa aku sangat menyukai apapun yang ada padamu. Dress apapun yang kau kenakan, kau tetap terlihat cantik dimataku. Walaupun aku lebih menyukai kau yang mengenakan T-shirt dan celana pendekku. Kau tahu itu tapi masih mencoba meminta pendapatku. Kau tidak pernah tahu jika pendapat seorang pemuja akan selalu terdengar subjektif? Kau mempermainkanku…” kataku menjelaskan. Aku menggigit bibirku setelahnya, menunggu responnya.

.

“Jangan mencoba merayuku, Cho Kyuhyun. Saat ini tidak akan memberikan pengaruh apapun padaku”, kata Jiah.

.

Otak ku kembali memikirkan kalimat lain untuk menurunkan ketegangan diantara kami. Kali ini aku justru menemukan kalimat yang mampu menambah kemarahannya padaku. Kau benar-benar akan tidur di sofa malam ini, Cho Kyuhyun… Aku tergelak dengan ide jahilku sendiri. Aku pun tidak mengerti dengan jalan pikiranku saat ini. Niat untuk menggoda Jiah lebih besar daripada niat untuk meredakan kemarahannya. Aku berdeham sebelum mengatakan kalimat penghancur kelangsungan hidupku malam ini.

.

“Memangnya tidak boleh? Aku sedang mencoba merayu istriku sendiri. Atau kau ingin aku merayu gadis lain diluar sana? Aku punya cukup banyak penggemar yang bi……”

.

“Cho Kyuhyun!!!” seru Jiah.

.

Itu dia!!! Itu reaksi yang ku tunggu. Aku tertawa dengan diriku sendiri dalam diam. Terbahak tanpa ada suara yang keluar dari bibirku. Jika Jiah melihat ekspresi ku sekarang, mungkin sebuah smash bantal dan guling akan mendarat diwajahku. Tamat sudah riwayatku malam ini. Tidak akan ada Jiah yang tertidur dalam pelukanku. Aku hanya akan bisa memeluk tubuhku sendiri di sofa ruang tv. Suara langkah kaki mendekat padaku. Tawaku sontak berhenti dan digantikan dengan kewaspadaan akan segala kemungkinan adanya barang-barang yang melayang ke arahku. Jiah muncul dari balik curtain pemisah ruangan setelah berganti baju, masih dengan ekspresi kesalnya. Namun saat ini wajahnya tampak sedikit…… melembut? Entahlah. Akupun tidak yakin. Mataku terbelalak karena tiba-tiba Jiah melangkah mendekat padaku dan memeluk erat tubuhku. Mwoya… Ini bukan reaksi yang buruk. Tapi kenapa aku justru merasa takut? Jiah yang marah akan lebih masuk akal dalam situasi seperti ini. Apa ini…

.

 

“Coba saja jika kau berani. Kau akan merasakan akibatnya…” kata Jiah dengan suara pelan yang terdengar sedikit serak dan teredam karena ia bicara sambil memelukku.

 

.

Sebuah senyuman tergambar dibibirku setelah mendengar ancamannya. Ancaman yang bahkan jauh dari kata menakutkan. Namun kebingungan kembali menghampiri pikiranku saat aku mendengar Jiah terisak. Akupun melepaskan pelukan Jiah, lalu meraih wajahnya yang menunduk untuk menatapku. Jiah benar-benar menangis. Ada jejak air mata di sudut matanya.

.

“Jiah-ya… Ada apa? Kenapa kau menangis?” tanyaku cemas sambil menghapus jejak air matanya.

.

“Aku tidak tahu…” kata Jiah merajuk. “Aku marah, kesal, lelah…… lalu tiba-tiba aku merasa sedih… cemas… Ah molla… Jangan tanya lagi ish…” kata Jiah yang sudah kembali meletakkan kepalanya di dadaku.

.

“Kau benar Kwon Jiah? Aku tidak tahu kau memiliki sisi ini dalam dirimu. Selama ini kau selalu terlihat tenang dan kuat. Seakan jika kita jatuh miskin pun pikiranmu tetap berada dalam keadaan positif. Apakah kepalamu terbentur sangat keras saat kecelakaan itu?” tanyaku sedikit bergurau untuk mencoba meredakan emosinya yang sedang tidak stabil.

.

“Aku bilang aku tidak tahu…”

.

“Ani… Beberapa saat yang lalu kau begitu marah padaku. Kau bahkan tidak mengijinkan aku mendekat. Aku sudah menyiapkan hatiku untuk terusir dari kamar malam ini. Tapi apa ini? Kau datang padaku dan memelukku…”

.

“Bayangan kau akan berjalan keluar dari apartment lalu merayu para gadis pemujamu terbersit dalam pikiranku begitu saja”, kata Jiah pelan.

.

“Aigoo……” kataku sambil melingkarkan tanganku ditubuhnya. “Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya? Kau seorang diri saja tidak kunjung termakan rayuanku. Kwon Jiah… Kau tidak tahu jika pria ini tidak memiliki keahlian merayu? Kau mengkhawatirkan hal yang tidak perlu”.

.

“Molla ish…” kata Jiah sambil menepuk punggungku. “Aku tidak menyukaimu, Cho Kyuhyun. Sangat tidak menyukaimu…”

.

“Ya… Kwon Jiah… Tidakkah kau bersikap keterlaluan? Jika sekarang kau juga tidak menyukaiku, lalu apa lagi yang tersisa untukku? Aku tidak seburuk itu, Jiah-ya…” keluhku pada ucapan Jiah.

.

Jiah melepaskan tangannya dari pinggangku, kemudian menyentuhkannya di wajahku. Jiah berjinjit, kemudian memberikan dua buah kecupan singkat di bibirku. Ia melepaskan bibirnya dari bibirku, namun tidak lantas menjauhkan wajahnya dariku. Matanya terpejam. Setiap helaan napasnya dapat ku rasakan menyentuh permukaan kulitku. Hawa panas mulai mengisi tubuhku.

.

I love you…” katanya dengan suara pelan yang serak sebelum memberikan kecupan lainnya di bibirku.

.

Jiah menjauhkan wajahnya dan melepaskan tangannya dari wajahku. Ia kembali memeluk pinggangku. Sebuah kecupan kembali ku rasakan, kali ini di leherku. Lalu hidungnya menyentuh tulang selangka ku. Ia bernapas disana. Napasnya terasa seperti hembusan angin dari hair dryer saat aku mengeringkan rambutku di pagi hari yang dingin. Semua hal dalam pikiranku seolah menghilang tanpa tersisa. Seakan baru saja ada sebuah palu yang menghantam keras kepalaku. Tubuhku membeku, terasa kaku bagai dilapisi gips.

.

“Hhh…” Jiah kembali menghembuskan napas panjang yang membelai permukaan kulit leherku, memunculkan getaran aneh dalam perutku. “Aku sangat suka aroma sabun mandimu. Mulai besok aku akan menggunakannya juga. Tidak apa, kan?” tanya Jiah sambil mengusap lembut punggungku dengan salah satu telapak tangannya.

.

“Jiah-ya……” hanya kata itu yang mampu keluar dari bibirku. Ada getaran dalam suaraku, mewakili keadaan jantungku yang sedang berdetak tak menentu.

.

“Hmm? Ada apa?” tanya Jiah dengan suara yang sangat pelan, memberikan efek lain pada kerja jantungku.

.

“Apa yang baru saja kau katakan?” tanyaku.

.

“Aku suka aroma sabunmu?” jawab Jiah yang lebih terdengar seperti pertanyaan memastikan jawabannya tepat.

.

“Bukan itu”, kataku.

.

“Mulai besok aku akan menggunakan sabunmu. Itu? Kenapa? Kau tidak mengijinkanku. Baiklah jika tidak diijinkan…” kata Jiah yang kembali menjauhkan kepalanya untuk menengadah menatapku.

.

“Jiah-ya…” kataku meminta Jiah mengatakan kalimat yang ia tahu benar sedang ku tunggu.

.

“Apa? Katakan, Cho Kyuhyun…” kata Jiah yang membuatku menghela napas panjang karena rasa frustrasi pada pencobaannya. Jiah tersenyum menyadari perubahan ekspresiku. “Aku mencintaimu… Hhh… Kau puas?” tanya Jiah dengan senyum mengembang.

.

“Eot……eotteohke?” tanyaku terbata.

.

“Geunyang…” kata Jiah sambil tersenyum. “Tidak boleh?” tanya Jiah berikutnya.

.

“Boleh. Tentu boleh…” jawabku cepat.

.

“Kalau begitu kemarilah…” kata Jiah sambil melingkarkan tangannya dileherku lalu menarik kepalaku mendekat padanya.

.

Jiah mengecup dagu kasarku, lalu berpindah ke bibirku. Aku masih membeku saat bibir lembutnya menekan bibirku. Jiah memperdalam ciumannya kemudian memberikan gigitan kecil di bibir bawahku, menyadarkanku dari keterkejutanku. Jiah melepaskan ciumannya, namun tidak menjauhkan dirinya, ujung bibirnya masih menyentuh bibirku saat ia menghela napas panjang.

.

“Bercukurlah besok pagi, Kyuhyun-ah…” katanya dengan suara berbisik seraknya. “Dari sini… Lalu ini… dan ini…” sambung Jiah sambil mengecup tiga bagian diwajahku, pipi bagian bawahku, tulang rahangku, dan tepat dibawah telingaku, menimbulkan pacuan darah yang begitu menggebu dalam tubuhku.

.

“Jiah-ya… Jangan lakukan itu”, kataku mencegahnya.

.

“Kenapa?” tanya Jiah masih dengan suara yang terdengar seksi ditelingaku. Dia tanya kenapa? Tidakkah dia tahu bahwa menggodaku saat masa menstruasi nya sangat menyiksaku? Kwon Jiah…

.

“Tidak bisa, Jiah-ya…” kataku lagi.

.

“Kenapa? Kau sakit?”

.

“Bukan itu… Hanya…..”

.

“Lalu?” tanya Jiah memotong kalimatku.

.

“Jiah-ya……” Hanya namanya yang bisa keluar dari bibirku.

.

“Ada apa?” tanya Jiah disertai dengan tawa kecilnya. “Jika tidak ada alasan lain, kenapa kau berusaha keras menolak hingga wajahmu memerah seperti itu? Wajahmu tidak terlihat baik. Jangan lakukan itu…” kata Jiah lagi lalu memberikan kecupan di bibirku. “Oneul gwaenchanha… (Hari ini tidak apa-apa…) Aku tidak marah padamu…” sambung Jiah dengan kecupan yang menyertai ucapannya. “Lelahku juga sudah hilang…” dengan satu kecupan yang lain.

.

Kenapa Jiah bersikap seperti ini? Apakah dugaanku salah? Hari ini bukan jadwal menstruasi nya? Sudah cukup lama aku tidak menghitung sendiri jadwalnya. Apakah aku terlewat? Lalu apa alasan dibalik kekacauan emosinya beberapa saat yang lalu?

.

“Cho Kyuhyun! Berhenti melamun. Ada apa denganmu?” tanya Jiah menyadarkanku.

.

“Eo? Tidak. Aku tidak apa-apa”, jawabku. “Jiah-ya… Benarkah?”

.

“Apa?”

.

“Kita bisa….. Kau tahu……” Aku ragu dengan kata yang ingin ku ucapkan.

.

Jiah tertawa. Ia menempelkan keningnya di lekukan leherku, masih dengan tawa dari suara serak menggodanya. Jiah menengadahkan kepalanya menatapku. Tatapan kami bertemu. Tawanya sudah hilang beberapa detik yang lalu. “Just shut up and kiss me, Mr. Noisy… (Diam dan cium aku, tuan berisik…)”

.

Tanpa berpikir lagi, akupun menundukkan kepalaku untuk mencium bibirnya. Jiah melingkarkan tangannya dileherku, membalas setiap ciumanku lalu menyentuhkan telapak tangannya di kedua sisi kepalaku. Tangan kirinya bergerak ke belakang kepalaku, meremas pelan rambutku saat aku memperdalam ciumanku. Aku mengeratkan pelukanku di pinggang Jiah. Lalu aku membawa Jiah melangkah menuju sebuah sofa yang berukuran cukup besar tidak jauh dari tempat kami berdiri sebelumnya. Jiah menghela napas berat saat bibirku menyentuh rahangnya dan bergerak menuju ke bawah telinga nya. Jari-jariku sudah menyentuh ujung T-shirt nya, perlahan mencoba mengangkatnya keluar dari kepalanya.

.

Disaat yang sama, bagian belakang kakiku sudah mencapai sofa. Aku menyentuh lengannya, membawanya duduk bersamaku di pangkuanku. Sebuah mahakarya terindah kini berada tepat di hadapanku. Jiah membuka ikatan rambutnya dan membiarkan setiap helaian tergerai indah menutupi bahunya. Tatapan kami tidak terlepas sedikitpun. Aku pun menyentuhkan telapak tanganku bergerak dari pinggang menuju ke punggungnya. Jiah tercekat. Ia menarik napasnya melalui mulutnya yang sedikit terbuka. Tangannya yang sejak beberapa saat yang lalu berada di dadaku berpindah melingkari leherku. Jiah menarik kerah T-shirt ku melewati kepalaku seperti cara yang selalu ku lakukan untuk menanggalkan pakaianku setiap harinya. Setelah akhirnya T-shirt ku terlepas, aku kembali meraih pinggang Jiah dan menariknya mendekat padaku. Kedua telapak tangannya menyentuh wajahku, mengalirkan gelenyar panas di setiap aliran darahku. Bibir kami bertemu. Kini mengikutsertakan kerja lidah dalam setiap gerakannya. Kami melepaskan tautan bibir kami sesaat untuk mendapatkan asupan oksigen lebih banyak, namun tetap tidak saling menjauhkan diri. Ujung bibir kami sesekali bersentuhan. Helaan napasnya yang terasa berat menyentuh hangat wajahku. Aku kembali meraih bibirnya sambil membuka pakaian terakhir yang tersisa di tubuh bagian atasnya. Tiba-tiba sebuah ingatan saat bulan madu kami terbersit dalam pikiranku.

.

“Jiah-ya, kita sedang berada di sofa”, kataku dengan suara serak yang tidak bisa ku kendalikan.

.

“Hmm”, Jiah hanya bergumam dan kembali menciumku.

.

“Gwaenchanha?” tanyaku. Kami bicara disela ciuman kami.

.

“Hari ini tidak apa”, jawabnya.

.

Tiba-tiba Jiah melepaskan bibirnya dariku. Ia diam selama beberapa detik sebelum akhirnya menatapku dan tertawa kecil. Aku bergumam, seakan bertanya padanya apakah ada hal yang salah. Namun ia justru menyentuh hidungku dengan ujung hidungnya.

.

“Dia terbangun…” kata Jiah yang ternyata merasakan sebuah tonjolan keras yang menyentuh bokongnya.

.

Aku tidak pernah menyangka Jiah akan pernah mengatakan hal itu disaat seperti ini. Kami terbiasa berkomunikasi melalui tindakan dalam situasi ini. Namun aku rasa malam ini terlalu banyak kata yang kami ucapkan. Tidak buruk. Hanya saja aku tidak pernah tahu reaksi tubuhku akan terpengaruh.

.

“Memang itu tujuannya saat ini, bukan?” tanyaku dengan suara tersulut gairah yang aku sendiri pun tidak dapat mempercayainya.

.

Di detik aku menyelesaikan pertanyaanku baru saja, tangan Jiah sudah menyentuhku disana. Aku mengatupkan rahangku rapat, mengerang tertahan sambil menengadahkan kepalaku di sandaran sofa. Sentuhannya benar-benar bereaksi diluar batas pertahananku. Aku tidak mampu bertahan lebih lama dengan siksaan ini. Jiah sudah memberikan ijinnya tadi. Aku tidak perlu memikirkan apapun lagi. Akupun menarik cepat satu-satunya pakaian yang masih menutupi tubuh Jiah dan juga tubuhku. Segera ku satukan pusat tubuh kami, membuat Jiah meremas kuat bahuku. Sebuah lenguhan terdengar ditelingaku, disertai sebuah suara yang menyebut lirih namaku.

.

“Cho Kyuhyun…”

.

#########################

.

.

Keesokkan harinya…

.

BGM: JuB & Jang Yi Jeong – 아리송해

.

Aku terbangun dari tidur panjangku saat aku menangkap sinar matahari yang begitu cerah dibalik kelopak mata terpejamku. Aku meregangkan tubuhku sambil memeriksa keadaan ranjangku pagi ini. Mataku terbuka. Aku seorang diri. Jiah sudah tidak berada ditempatnya, beserta T-shirt ku yang tentu saja sudah dikenakan oleh Jiah seperti yang selalu dilakukannya. Sosok Jiah muncul dari ruang pakaian lalu duduk di meja rias. Jiah tampak rapi dengan blouse putih dan skirt hitam diatas lututnya, menampakkan kaki jenjang indahnya. Aku menopangkan kepala diatas lenganku untuk meninggikan posisi kepalaku, menatapnya dengan tatapan memuja seperti biasanya. Jiah mengenakan lipstick merah matte, menambah kesan penuh di bibirnya. Pemandangan yang terpampang di depan mataku ini tampak seperti sebuah karya fotografi yang indah. Sinar matahari yang masuk melalui jendela menyinari tubuh Jiah, menambah kesan anggun setiap gerakan tubuhnya. Hingga sebuah aroma masuk ke hidungku, memunculkan rasa pusing di kepalaku dan mulai membuatku mual.

.

“Jiah-yah…” Aku memanggil Jiah, membuatnya menoleh singkat padaku sebelum kembali meneruskan kegiatannya merias wajah.

.

“Kau sudah bangun? Tidurlah lebih lama. Hari ini jadwalmu kosong, bukan?” tanya Jiah sambil merapikan poni yang sepertinya baru ia potong.

.

“Sayang, kau mengganti parfum mu?” tanyaku.

.

.

Jiah’s POV

 .

“Sayang, kau mengganti parfum mu?” tanya Kyuhyun.

.

“Tidak…” jawabku. Sejak kapan Kyuhyun peduli dengan hal seperti itu? “Kenapa?”

.

“Kenapa aroma nya lain?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Benarkah? Sama saja di hidungku”, jawabku sambil memeriksa aroma parfum di lenganku.

.

“Kau yakin parfum mu tidak kadaluarsa?”

.

“Aku baru re-stock parfumku minggu lalu. Ada apa dengan hidungmu pagi ini?” tanyaku sambil memeriksa e-mail yang masuk ke ponselku.

.

“Geunyang… Aku tidak suka. Aroma nya membuatku pusing”, keluh Kyuhyun.

.

Aku menoleh, menatap bingung padanya. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Kyuhyun pagi ini. Bisa dikatakan ini kali pertama Kyuhyun berkomentar tentang hal yang ku pakai. Sebelumnya Kyuhyun tidak pernah terlalu mempersoalkan hal ini. Sepertinya kondisi Kyuhyun pagi ini sedang tidak cukup baik. Mungkin saja karena ia terlalu lelah dengan jadwal padatnya selama seminggu terakhir. Akhirnya Kyuhyun bangun dari tidurnya, duduk disisi ranjang dengan wajah muramnya. Aku pun bangkit berdiri melangkah mendekat padanya. Namun aku menghentikan langkahku kira-kira satu meter darinya. Kyuhyun menatapku yang seolah membuat jarak diantara kami.

.

“Kenapa kau berhenti?” tanya Kyuhyun.

.

“Awalnya aku berpikir ingin menciummu sebelum berangkat. Tapi, aroma parfumku membuatmu pusing. Sepertinya pagi ini ku lewatkan saja”, jawabku.

.

“Tidak. Tidak boleh… Kemarilah… Cium aku”, kata Kyuhyun sambil merentangkan tangannya memintaku datang padanya.

.

Aku pun kembali melangkahkan kakiku mendekat padanya. Aku menyentuh wajahnya yang menengadah menatapku. Kyuhyun meletakkan tangannya di pinggangku, memberikan usapan pelan disana. Aku menundukkan kepalaku untuk menghapus jarak diantara kami. Aku mengecup bibirnya singkat lalu kembali menegakkan tubuhku. Kini Kyuhyun melingkarkan tangannya ditubuhku. Ia menyandarkan kepalanya ditubuhku, lalu berdeham. Aku pun mengusap kepalanya, merapikan rambut bangun tidurnya.

.

“Kyuhyun-ah, aku harus berangkat sekarang”, kataku.

.

“Sebentar saja, Jiah-ya… Berikan aku lima menit…” kata Kyuhyun dengan suara pelan.

.

“Bukankah aroma parfumku membuatmu pusing?” tanyaku sambil membelai rambutnya yang sudah lebih teratur dari sebelumnya.

.

“Aku baik-baik saja…”

.

“Gunakan waktumu untuk kembali tidur. Mungkin setelah tidur keadaanmu akan membaik”.

.

“Sepertinya tidak bisa…” kata Kyuhyun yang sudah menjauhkan kepalanya dan melepaskan tangannya dari pinggangku.

.

“Hmm?”

.

Kyuhyun segera bangkit berdiri. Ia melangkah menjauh menuju ruang pakaian. Pemandangan punggung polosnya mengundang senyum diwajahku. Kyuhyun hanya mengenakan sebuah celana panjang, karena T-shirt nya sudah berada di tempat pakaian kotor terlebih dahulu. Benar, aku mengenakannya. Aku terlalu malas mencari T-shirt ku yang dijatuhkan oleh Kyuhyun entah dimana tadi malam. Walaupun jika aku dapat meraih T-shirt ku sendiri pun, aku tetap akan mengenakan miliknya. Entahlah. Aku benar-benar suka aroma tubuh yang ada di T-shirtnya.

.

“Kau masih disana?” tanya Kyuhyun dari dalam ruang pakaian.

.

“Eo… Aku harus berangkat. Minum obat jika kau merasa sangat pusing”, aku berpesan padanya.

.

“Kau harus sarapan terlebih dahulu, Jiah-ya…” katanya lagi.

.

“Arasseo… Aku akan sarapan. Kembalilah tidur, Kyuhyun-ah…”

.

“Aku akan mengantarmu”, kata Kyuhyun yang keluar dengan membawa pakaian di tangannya.

.

“Apa? Tidak. Kau sedang tidak enak badan. Jangan memaksakan diri”, kataku mencegahnya.

.

“Ayo kita sarapan…” kata Kyuhyun sambil menuntun tanganku keluar dari kamar.

.

“Tapi, bagaimana denganmu? Kau akan bertambah pusing jika berada di dalam mobil bersamaku”.

.

“Aku akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Saat ini aku ingin bersamamu. Kabulkan permintaanku hari ini, hmm? Sekarang buatkan sarapan selama aku mandi. Aku tidak akan lama. Hmm… Bisakah aku makan bokkeum bab pedas pagi ini?”, tanya Kyuhyun.

.

“Bokkeum bab pedas??? Kenapa? Kau tidak pernah makan nasi di pagi hari sebelumnya. Terlebih makanan pedas setelah bangun tidur. Kyuhyun-ah, pagi ini kau benar-benar aneh. Sungguh…”

.

“Hhh… Jangan berlebihan…” kata Kyuhyun sambil tertawa. “Buatkan, ya? Ku mohon…”

.

“Arasseo…”

.

Kyuhyun pun segera kembali berbalik masuk ke kamar. Aku membutuhkan waktu selama beberapa detik untuk mengolah setiap perilaku aneh Kyuhyun pagi ini, sebelum akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk memasak. Bokkeum bab pedas di pagi hari? Kenapa dia menjadi sangat aneh setelah bangun tidur? Apakah itu efek setelah aku mengatakan aku mencintainya kemarin malam? Aku tidak bisa menghindari pikiranku bahkan disaat bokkeum bab yang diminta Kyuhyun selesai ku masak. Dan seperti yang dikatakannya, hanya butuh waktu 10 menit untuknya kembali ke dapur. Aroma sabun mandinya menyeruak masuk ke hidungku, membuat setiap saraf ditubuhku menegang. Aku juga mulai tidak mengerti dengan respon tubuhku sendiri.

.

“Donghae mengatakan siang ini akan mampir ke galeri bersama Soo Jung. Entah untuk alasan apa”, kata Kyuhyun yang duduk di pantry.

.

“Eo… Soo Jung sudah mengatakannya padaku”, kataku. “Kau tidak menduga apapun?” tanyaku sambil memberikan sepiring bokkeum bab pada Kyuhyun.

.

“Mereka ingin memberikan undangan… mungkin? Kau tahu… mereka sudah bertunangan selama satu tahun. Jika dibandingkan dengan kita, hubungan mereka jauh lebih stabil. Aku akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Donghae. Mereka sudah berpacaran cukup lama. Apa lagi yang harus mereka tunggu?”

.

“Tapi aku menangkap atmosfer kurang menyenangkan dari nada bicara Soo Jung”, kataku.

.

“Kita akan menemukan jawabannya nanti, Jiah-ya. Sekarang makan sandwich mu…”

.

“Eo… Baiklah…”

.

.

BGM: Jo Kwon –횡단보도

.

.

Author’s POV

At Kwon Art Gallery

.

Pukul 1 siang, Soo Jung dan Donghae datang ke galeri, seperti yang sudah mereka beritahukan sebelumnya. Soo Jung masuk ke ruangan Jiah seorang diri karena Donghae diminta untuk menemui Kyuhyun disalah satu rumah makan diluar galeri. Soo Jung masuk dalam diam lalu duduk di sofa karena Jiah sedang bicara dengan sekertarisnya. Soo Jung memainkan ujung coatnya dengan ekspresi yang tidak secerah biasanya. Sekertaris Jiah yang Soo Jung ketahui bernama Mina akhirnya memohon diri untuk keluar setelah pembicaraan mereka selesai. Jiah bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri Soo Jung yang masih tertunduk dengan wajah muram.

.

“Jadi, ada apa dengan Jung Soo Jung hari ini?” tanya Jiah saat sudah duduk di sebelah Soo Jung.

.

“Aku tidak tahu harus melakukan apa, Jiah-ya…” kata Soo Jung sambil menatap Jiah.

.

“Apa masalahnya? Apakah ini semua mengenai hubunganmu dengan Donghae?”, tanya Jiah lagi.

.

Soo Jung memalingkan pandangannya lalu mengangguk perlahan. “Aku tidak pernah tahu jika keraguan ini akan menghampiriku. Padahal sebelumnya aku sangat yakin padanya”.

.

“Baiklah. Jung Soo Jung, jika kau tidak keberatan… Dan walaupun kau keberatan, aku akan tetap memaksamu. Hmm… Bisakah kita membicarakan nya mulai dari awal permasalahan? Aku bukan paranormal yang bisa mengerti dengan sendirinya…” kata Jiah mengingatkan Soo Jung mengenai ketidaktahuan nya pada masalah yang sedang dihadapi oleh sahabatnya itu.

.

“Ah… Kau benar. Maaf, Jiah-ya. Aku lupa kita tidak pernah membicarakan hal ini sebelumnya”, kata Soo Jung sambil mengubah posisi duduknya menghadap Jiah.

.

“Benar. Jadi, katakan. Bagaimana awalnya?”, tanya Jiah.

.

“Donghae melamarku”, jawab Soo Jung.

.

“Benarkah??? Akhirnya??? Lalu? Apa yang terjadi setelahnya?” tanya Jiah bersemangat, yang kemudian semangat itu meredup saat menyadari wajah muram Soo Jung dihadapannya. “Ah… Maaf. Aku terlalu bersemangat saat mendengarnya. Lanjutkan… Dia melamar mu, lalu?”

.

“Seperti yang aku katakan beberapa menit yang lalu. Sebelumnya aku begitu yakin padanya. Saat kami masih sebatas berpacaran, aku benar-benar yakin untuk memilihnya. Tapi saat dia memintaku untuk menjadi istrinya, entah kenapa keraguan memenuhi diriku. Apa yang harus aku lakukan?” Soo Jung balas bertanya dengan ekspresi bingung diwajahnya.

.

“Soo Jung-ah… Aku tidak bisa mengatakan ‘aku mengerti apa yang kau rasakan’. Sekeras apapun aku mencobanya, aku tidak akan bisa mengerti. Karena aku tidak pernah merasakannya. Aku hanya bisa mengatakan bahwa mungkin aku tahu apa yang menjadi keraguanmu. Soo Jung-ah… Bolehkah aku bertanya padamu?”

.

“Ada apa denganmu? Tentu saja. Kau tidak perlu meminta ijin terlebih dahulu seperti itu”.

.

“Jika kau bercermin, atau kau melewati gedung-gedung yang dinding nya terbuat dari kaca, bayangan siapa yang kau lihat?” tanya Jiah.

.

“Tentu saja bayanganku”.

.

“Benar. Bayanganmu…” kata Jiah setuju sambil menganggukkan kepala beberapa kali. “Bukan bayangan kedua orang tua mu atau bayangan Soo Yeon eonni yang kau lihat, bukan? Yang ingin ku katakan adalah kau bukan Soo Yeon eonni yang disakiti lalu ditinggalkan oleh suaminya. Kau juga bukan kedua orang tua mu yang begitu cepat menyerah sehingga berpisah karena kehilangan cinta pada satu sama lain. Aku tidak mengatakan hal-hal seperti itu tidak mungkin terjadi padamu. Hal-hal itu mungkin terjadi padamu. Tentu saja juga pada hubunganku dengan Kyuhyun. Tapi setelah melihat semua hal itu dengan di depan mata kita, seharusnya kita tidak menjadikannya sebagai ketakutan, Soo Jung-ah. Justru kita harus menjadikannya sebagai kekuatan, agar hal itu tidak terjadi pada kita. Setiap detik dalam hubungan antara pria dan wanita, walaupun keduanya sudah berada dalam ikatan pernikahan, tetap saja mengandung berbagai ancaman yang dapat menyebabkan perpisahan. Kau mencintai Donghae?”

.

“Tentu saja”, jawab Soo Jung yang sudah terisak di depan Jiah. “Dia satu-satunya untukku, Jiah-ya. Aku tidak pernah membayangkan ada orang lain selain Donghae. Aku hanya mencintainya”.

.

“Kalau begitu jangan lihat hal lain saat bercermin, Soo Jung-ah. Kau punya bayanganmu sendiri. Semua orang bisa melakukan kesalahan itu. Apa kau percaya padanya?”, tanya Jiah sambil memberikan sehelai tissue pada sahabatnya itu.

.

“Apa kau percaya pada Kyuhyun?” Soo Jung menoleh menatap Jiah, balas bertanya pada Jiah sambil menyeka air matanya.

.

“Bohong jika aku mengatakan aku percaya padanya sejak awal. Tapi ya, saat ini aku percaya padanya. Soo Jung-ah, kondisimu dan kondisiku berdeda. Kalian sudah bersama bertahun-tahun lamanya. Selama ini, pernahkah kau meragukannya?”

.

“Tidak pernah sekalipun. Donghae selalu berhasil meyakinkanku akan semua hal yang dia lakukan, Ji. Aku… Aku meragukan diriku…”

.

“Jangan lakukan itu, Soo Jung-ah. Kenapa kau meragukan dirimu sendiri disaat orang-orang disekitarmu mempercayaimu? Aku, Donghae, Soo Yeon eonni, bahkan Kyuhyun, kami percaya padamu. Kau harus mempunyai keyakinan itu, Soo Jung-ah. Dengan begitu kau bisa hidup lebih baik dan membuktikan pada ketakutanmu bahwa kau tidak akan ikut terjerumus. Bisakah kau melakukan itu? Demi kami? Demi dirimu sendiri? Berikan kesempatan pada Donghae untuk kembali membuktikan padamu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Berikan juga kesempatan pada dirimu untuk berusaha. Hmm?”

.

“Hhh… Kau percaya aku bisa melakukannya? Aku…..”

.

“Takut. Aku tahu, Soo Jung-ah… Aku tahu…” kata Jiah sambil menganggukkan kepalanya.

.

“Meski begitu kau tetap percaya padaku?”

.

“Tentu. Aku percaya kau dan Donghae bisa menjalaninya. Kau tahu benar kepribadian Donghae lebih baik dari Kyuhyun, Soo Jung-ah. Sikap mu saat ini akan lebih tepat jika pria yang melamarmu adalah Cho Kyuhyun”, kata Jiah mencoba menghibur Soo Jung, yang mengundang tawa kecil di bibir Soo Jung. “Kau tertawa! Pekerjaanku sudah selesai. Ah… Jung Soo Jung… Ada apa dengan pertukaran peran ini? Ck…”

.

“Sekarang aku mengerti bagaimana perasaan mu saat aku bicara panjang lebar padamu”, kata Soo Jung.

.

“Perasaan apa? Terganggu?”, tanya Jiah sambil mengenggak teh hijau nya.

.

“Kwon Jiah! Jadi selama ini kau merasa tergganggu olehku?” tanya Soo Jung dengan tatapan terkejut mode drama queen nya.

.

“Aku tidak bicara seperti itu. Aku hanya bertanya padamu. Tidak. Tidak seperti itu…” Jiah memberikan sangkalannya.

.

“Ck… Aku merasa menyesal sudah membuang tenaga ku untuk memberikan semua kata-kata berharga ku padamu…” kata Soo Jung dengan nada bercanda nya.

.

“Geogjeongmaseyo, Jung Soo Jung-ssi (Jangan khawatir, Jung Soo Jung). Aku akan membayarnya. Ch…”

.

“Call! Aku mau pizza dengan banyak toping keju!” kata Soo Jung bersemangat.

.

Jung Soo Jung sudah kembali… kata Jiah dalam pikirannya.

.

.

##############

.

.

Di tempat yang berbeda…

Rumah makan tidak jauh dari galeri

Sesaat setelah Donghae dan Soo Jung tiba di galeri, Kyuhyun menghubungi Donghae untuk menemuinya diluar galeri. Donghae menyetujuinya, lalu segera menuju tempat yang dipilih Kyuhyun. Namun Kyuhyun belum tiba disana karena ia masih berada di suatu tempat, beberapa blok dari rumah makan itu. Donghae memutuskan untuk memesan makanannya terlebih dahulu sambil menunggu Kyuhyun datang. Kyuhyun tidak kunjung datang bahkan setelah makanan pesanan Donghae datang. Bagi Donghae, ia sudah terbiasa dengan situasi seperti itu. Di situasi sebelumnya pun Donghae lebih sering menjadi pihak yang menunggu daripada ditunggu. Sosok Kyuhyun akhirnya terlihat di pintu masuk saat Donghae memfokuskan pandangannya pada deretan e-mail yang belum sempat ia baca.

.

“Bagaimana rasa makanannya?” tanya Kyuhyun yang duduk dihadapan Donghae.

.

“Eo, syukurlah kau sudah datang. Aku harus menghubungi kantor pusat. Sinyalku kurang bagus disini. Aku keluar sebentar”, kata Donghae yang bangkit berdiri dengan terburu-buru tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.

.

Kyuhyun hanya menanggapi dengan anggukkan cepat yang mungkin tidak dilihat oleh Donghae karena Donghae sudah melesat keluar. Kyuhyun meraih buku menu di meja itu, lalu meliat lembar demi lembar dengan perlahan. Namun sesuatu mengganggu pikiran Kyuhyun. Semangkuk makanan dihadapannya benar-benar menggugah selera nya. Tiba-tiba keinginan untuk menyantap makanan milik Donghae menghampirinya. Tanpa berpikir panjang, Kyuhyun mendekatkan mangkuk itu dan melahap makanan di dalamnya. Sampai kemudian Donghae kembali masuk ke dalam. Ia tidak protes dengan sikap Kyuhyun yang seenaknya makan makanan miliknya. Donghae justru menunjukkan tatapan bingung pada perilaku yang ditunjukkan oleh Kyuhyun. Ia menuangkan segelas air mineral untuk mereka berdua lalu menyodorkan segelas untuk Kyuhyun dan meminum miliknya.

.

“Ya! Ada apa denganmu, Cho Kyuhyun? Sejak kapan kau memakan sundae?” tanya Donghae akhirnya.

.

“Apa?” Kyuhyun balas bertanya karena ia tidak terlalu mendengar pertanyaan Donghae.

.

“Aku sudah mendengarnya dari Jiah. Kau bersikap cukup aneh selama beberapa minggu terakhir”, kata Donghae tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.

.

“Apa maksudmu? Katakan dengan jelas…”

.

“Kau tidak pernah makan sundae sebelumnya. Kau selalu mengatakan kau tidak suka sundae. Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Kau makan sundae dengan sangat lahap. Kau baik-baik saja?”

.

“Apa?!?! Ini sundae??? Ya! Lee Donghae!!! Kenapa kau tidak menghalangiku?!?! Kau tahu aku tidak bisa makan sundae! Aish Lee Donghae…” seru Kyuhyun yang baru tersadar akan tindakannya.

.

“Mwoya neo? Kau baik-baik saja beberapa detik yang lalu. Lanjutkan saja. Aku tidak akan menghalangimu”, kata Donghae dengan tawa ringannya.

.

“Kau gila? Ash… Pantas saja perutku terasa sedikit aneh”, balas Kyuhyun.

.

“Hhh… Michin nom… Tapi, kau yakin kau baik-baik saja? Tadi Jiah menceritakan beberapa keanehanmu akhir-akhir ini”.

.

“Aku merasa baik-baik saja. Apa yang aneh dariku?” tanya Kyuhyun. “Ahjumma, tteokpokki duge juseyo! (Bibi, dua tteokpeokki!)

.

“Kau mual dalam perjalanan mengantar Jiah check up ke rumah sakit padahal kau yang mengemudi begitupun yang terjadi pagi ini, kau makan makanan berat dan pedas di pagi hari, kau mual pada parfum Jiah, kau juga mual pada aroma kopi dan memilih minum ice chocolate, sebelum kesini kau sudah mencari restoran italia yang menyajikan vongole dengan side dish seafood, lalu kau makan sundae gguk dan baru saja kau memesan dua porsi tteokpokki. Semua itu tidak masuk kategori ‘kau baik-baik saja’ bagiku”, kata Donghae menjelaskan.

.

“Apa yang aneh dengan semua hal itu?” tanya Kyuhyun santai.

.

“Kau bodoh? Ibwayo, Cho seonsaeng… (Hei, dokter Cho…) Semua hal yang aku sebutkan adalah hal-hal yang tidak pernah kau lakukan dan tidak pernah terjadi padamu. Kau tidak menduga sesuatu terjadi padamu? Seperti masalah pencernaan begitu? Atau… Kau mengidam?”

.

“Apa? Ya! Hal itu tidak mungkin, inma! Tidak ada literatur medis yang menjelaskan kejadian ‘mengidam’. Jangan bicara yang tidak-tidak”, kata Kyuhyun.

.

“Aku tahu… Tapi fakta yang terjadi, banyak pria yang mengidam saat istri mereka sedang hamil. Kau yakin Jiah tidak sedang hamil? Apa sikap Jiah tidak sama anehnya denganmu? Kau kan seorang dokter. Seharusnya kau menyadari tanda dan gejala nya dengan baik”, kata Donghae menyatakan dugaannya.

.

“Seingatku tidak. Jiah masih seperti biasanya. Hanya lebih manja dan moody. Tapi selama ini pun mood Jiah memang mudah berubah sesuai dengan kondisinya. Lagipula aku masih menemukan persediaan tampon di lemari penyimpanan. Jadi tidak mungkin Jiah sedang hamil”, sangkal Kyuhyun.

.

“Ya! Kau tidak tahu sejak kapan barang itu ada disana, bukan? Mungkin saja itu adalah persediaan lama. Apa kau tidak mengetahui jadwal istrimu? Entahlah, Cho Kyuhyun… Perasaanku mengatakan hal lain. Aku yakin ada sesuatu yang terjadi, apapun itu”.

.

“Eo, gamsahabnida…” kata Kyuhyun pada ahjumma yang mengantarkan pesanannya. “Aku tidak tahu. Aku tidak terpikirkan. Amteun, kalian berdua bertengkar? Jiah mengatakan nada bicara Soo Jung terdengar lain. Bukankah kau mengatakan padaku akan melamarnya? Lalu apa yang terjadi saat ini? Kau berselingkuh darinya?” tanya Kyuhyun sambil memasukkan potongan-potongan tteok ke dalam mulutnya.

.

“Michin saekki… Sekarang aku benar-benar yakin ada yang salah denganmu. Kau yakin kepala berharga mu itu tidak terbentur sesuatu yang keras? Kerja otak dan mulutmu semakin hari semakin buruk saja. Ch… Ya! Aku bukan pria berengsek seperti itu. Untuk apa aku berselingkuh saat aku sudah menemukan satu-satunya wanita yang aku inginkan? Ish…” ujar Donghae protes pada Kyuhyun.

.

“Lalu apa yang menjadi masalah kalian? Katakan padaku. Hyung akan membantumu”, kata Kyuhyun melontarkan candaannya.

.

“Hyung-eun museun… Tidak perlu, terima kasih. Urus dirimu sendiri. Kau bahkan tidak kunjung mendapatkan cinta istrimu…”

.

“Ya! Jangan meremehkan aku, Lee Donghae. Jiah sudah mengatakan bahwa dia mencintaiku. Kau tidak bisa menguliahiku lagi dengan kata-kata itu”, kata Kyuhyun menyombongkan diri.

.

“Benarkah? Daebak… Akhirnya? Penantianmu bertahun-tahun akhirnya terbayar, Cho Kyuhyun. Chukhahanda!” sahut Donghae dengan nada sarkastiknya.

.

“Karena itu… Katakan padaku apa yang terjadi padamu? Hari ini untuk pertama kalinya aku akan mendengarkanmu. Ayo, katakan padaku…”

.

“Aku sudah melamarnya”, jawab Donghae singkat sambil mengalihkan pandangan saat mengatakan itu pada Kyuhyun.

.

“Lalu? Kau dicampakkan?” tanya Kyuhyun dengan nada sarkastik yang mengundang tatapan jengkel dari Donghae.

.

Tatapan Donghae kembali melembut lalu ia menghela napas panjang sebelum kembali bicara. “Saat ini aku merasa ‘dicampakkan’ justru merupakan hal yang lebih baik dari keadaanku. Hhh… Soo Jung memintaku untuk memberikan waktu padanya”.

.

“Ah mwoya… Aku sangat membenci kata itu. Sungguh. Ada hubungan apa diantara wanita dengan kata ‘waktu’? Mereka begitu menyukainya…” keluh Kyuhyun yang dihadapkan dengan masalah yang kembali berhubungan dengan waktu.

.

“Hhh… Sekarang aku sedikit memahami posisi mu saat itu, Kyuhyun-ah. Aku juga mulai membenci kata itu. Sebelumnya Soo Jung begitu yakin padaku sebelum memutuskan untuk bertunangan denganku. Tapi saat aku melamarnya, tatapan nya berubah. Aku bahkan terkejut dengan apa yang ku lihat. Apakah aku tidak cukup meyakinkan hingga dia meragukanku?” tanya Donghae.

.

“Aku rasa dia lebih meragukan dirinya sendiri daripada meragukanmu. Kau sendiri yang mengatakannya bahwa Soo Jung yakin padamu, karena itu dia bersedia bertunangan denganmu. Jika saat ini keadaannya berubah menjadi seperti ini, maka satu-satunya masalah yang mungkin terjadi adalah dia meragukan dirinya sendiri. Atau mungkin selama satu tahun terakhir ada pria lain yang menarik perhatiannya…”

.

“Ya ish!!! Kau dan mulut pedasmu itu benar-benar menyebalkan, Cho Kyuhyun. Aku percaya padanya, inma…”

.

“Jika kau percaya padanya, lalu apa yang kau pusingkan? Kau selalu mengatakan bahwa kau memahaminya. Lee Donghae, berikan saja padanya waktu sebanyak yang dia butuhkan. Soo Jung menerima luka yang begitu dalam. Sebagai seorang dokter pun aku juga akan mengatakan bahwa menyembuhkan luka-luka yang Soo Jung punya, tidak semudah menyembuhkan sebuah gores di kulit. Lagipula aku yakin Jiah sedang memarahinya saat ini. Soo Jung akan memberikan jawabannya padamu tidak lama lagi. Kau tidak perlu khawatir, chingu-ya… Kau juga akan segera menikah dan bahagia seperti sahabatmu ini…” kata Kyuhyun dengan tawa kecilnya.

.

“Hari ini kau bicara cukup banyak, Cho Kyuhyun”.

.

“Aku tahu… Ah… Padahal menjadi si banyak bicara bukan type ku… Kau menghancurkan image ku, Lee Donghae”, kata Kyuhyun yang mengundang tawa Donghae.

.

.

.

.

2 bulan kemudian…

Hari sudah menjelang malam saat Jiah tiba di apartment. Suara gaduh menyertai kedatangannya. Seolah Jiah melemparkan sepatu yang dikenakannya dengan asal atau mungkin memang sengaja membuat suara untuk mengekspresikan mood nya saat ini. Mendengar itu, Kyuhyun hanya bisa menghela napas panjang sambil mempersiapkan diri menghadapi Jiah dengan mood buruknya.

.

“Aish!!! Aku membencimu, Cho Kyuhyun!!!” seru Jiah yang baru masuk ke apartment menghampiri Kyuhyun yang sedang bersantai di ruang tv. “Kenapa kau melakukan ini padaku???” tanya Jiah sambil melemparkan tasnya pada Kyuhyun.

.

“Apa? Apa? Ada apa? Kali ini kesalahan apa yang aku lakukan?” tanya Kyuhyun yang sudah menegakkan posisi duduknya.

.

“Kau sudah mengetahui hal ini atau belum?” kata Jiah sambil menunjukkan amplop putih dari dalam tasnya. Kyuhyun mengambil kertas itu lalu membukanya. “Kau tahu aku masih harus melakukan banyak pekerjaan hingga akhir tahun. Aku juga harus mulai mengerjakan thesis ku…”

.

.

BGM: Jay Park – Eyes

.

.

“Jiah-ya…… Kau hamil?” tanya Kyuhyun menatap Jiah dengan wajah berseri.

.

“Ahh… Aku bisa gila… Bukankah selalu ku katakan untuk berhati-hati? Kenapa kau tidak bisa melakukannya?” tanya Jiah yang justru tampak sangat marah.

.

Kyuhyun pun bangkit berdiri lalu meraih tubuh Jiah dan memeluknya erat. “Maafkan aku. Aku mohon maafkan aku. Hmm? Aku mengaku salah. Maafkan aku…”

.

“Aaaasshhhh… Aku sangat membencimu… Kau merusak semuanya!” seru Jiah sambil mendorong tubuh Kyuhyun menjauh.

.

.

.

.

.

TBC…

 

Note:

Another TBC!!! Terjawab sudah dugaan kalian para readers di part ini. Yup! Jiah hamil. Jiah pulang ke apartment dengan kemarahannya. Sebenarnya apa yang membuat Jiah begitu marah? Apakah Jiah benar-benar marah pada Kyuhyun karena semua rencana hidupnya menjadi berantakan karena kehamilannya? Bagaimana keadaan hubungan mereka selanjutnya? Aku akan memberikan sedikiiiiiit spoiler untuk kalian. Di part selanjutnya, Kyuhyun akan memulai penderitaannya dalam menghadapi Jiah. Apakah Kyuhyun bisa bertahan?

Dan ternyata masalah datang dari our second lead couple! Masalah yang dimiliki Soo Jung akhirnya terkuak di part ini. Sikap Soo Jung yang selama perjalanan ff ini terlihat santai dan tanpa masalah, ternyata dibalik semua itu tersimpan ketakutan dalam dirinya. Berhasilkah Donghae meyakinkannya? Akankah mereka berdua juga menikah?

Aku sedang dalam pertimbangan apakah ff ini akan terus dilanjutkan sampai Kyuhyun dan Jiah memiliki seorang anak, atau justru menyelesaikannya di part 12. Mungkin kalau stuck kembali datang, aku akan mengakhirinya di part 12. Tapi, kita akan lihat bersama-sama nanti. Dan sekedar FYI sih… Aku bukan tipe penulis yang suka membuat sequel. Joesonghabnida… *bow* Jadi bagi para readers yang seringkali meminta sequel sequel dan sequel, sepertinya kalian harus bersabar. I’m not good enough at making sequel, guys. Mungkin suatu hari nanti jika ada keajaiban, aku akan membuatnya. We’ll see. Well, selamat menunggu part berikutnya. Semoga sampai part ini alur cerita belum tersesat dan masih on track. Semoga kalian masih setia menjadi readers ff ini. Kana pamit! Annyeonghigaseyo… ^^

Advertisements

56 thoughts on “Since I (have) met you : Part 11

  1. Jiah yang hamil kyuhyun yang ngidam ,, keadaan berbalik sekarang kyuhyun jiah yang menggurui hae-jung ,,aduh jiah marah2 mulu

    Like

  2. jiah bilang ‘i love u’ ah akhirnyaaaaa… perasaan bertahun” mu terbalas kyu ❤
    Jiah hamil? Chukkae….
    Tapi jiah marah gitu ke kyuhyun,, mood ibu hamil kah?? Semoga iya…

    Like

  3. ahhhh bacanya dag dig dug gitu haha, kenapa sikap jiah gitu yaah? kasian cho kyuhyun
    semoga jiah gak marah beneran kalo sampe marah beneran mereka pasti berantem lagi dong hehe
    ditunggu next chapternya ya kak, semangat!!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s