Since I (have) met you : Part 10

Author: Okada Kana

Category: PG-18, Romance, Chapter

Cast: Cho Kyuhyun, Kwon Jiah (OC)

Other Cast:

Jung Soo Jung, Lee Donghae, etc.

Disclaimer:

FF ini murni berasal dari kepalaku. Ide cerita yang muncul berasal dari beberapa drama yang sudah aku tonton. Tapi cerita dalam FF ini tidak menggunakan ataupun mengikuti cerita drama yang sudah ada. Seperti biasanya, mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Karena seperti yang aku katakan, ini adalah kisah cinta sederhana yang bisa dialami siapa saja. Aku juga berusaha sebisa mungkin untuk menghindari typo. Tapi, aku juga manusia biasa yang bisa membuat kesalahan, jadi mohon dimaklumi. No bash, smart comments and critics always accepted. Selamat membaca…

Note:

Kalimat yang bercetak miring bisa menandakan itu adalah kalimat dari bahasa inggris, arti dari kalimat berbahasa korea, atau menandakan itu adalah pembicaraan tokoh dalam pikirannya sendiri.

.

.

.

.

Review Part 9

“Kau sangat mencintainya…”

“Aku rasa begitu”.

“Bahkan setelah semua hal yang terjadi padamu”.

“Aku seperti orang gila ya?”

“Kau tidak pernah waras, Cho Kyuhyun…”

“Semoga aku sempat berpamitan padamu sebelum aku kembali ke Seoul…”

————————-

“Perbaiki hubungan kalian. Anggap saja kau sedang berusaha mengobati luka yang Jiah miliki karena para gadis itu, Cho Kyuhyun”.

“Benar, Cho Kyuhyun. Hubungi Jiah. Dia tidak membencimu”.

“Dia memang tidak membenciku. Dia menyukaiku. Sangat menyukaiku. Tapi dia tidak bisa mencintaiku lagi. Dia tidak yakin bisa melakukan itu.”

“Kalau begitu cukup dengan kau yang sangat mencintainya, bukan? Lalu kau bisa menunggu sampai tiba hari dimana Jiah merasakan cinta yang kau rasakan. Jiah hanya meminta waktu, bukan ingin berpisah darimu. Berikan saja…”

“Aku hanya bisa menjamin satu hal padamu. Jiah tidak akan meninggalkanmu. Kau sudah menjadi bagian dari hidupnya. Dia tidak akan pergi kemanapun”.

————————-

From: Nuna

Jiah sudah pindah ke apartment 1 bulan setelah kau pergi

Sepertinya hubungan kalian belum membaik

Kau bahkan tidak mengetahui hal itu…

Aku sempat berpikir…

Cukup aneh mengetahui kalian masih bertengkar

Karena Jiah membawa serta barang-barangmu juga

Jiah juga bersikap sangat normal setiap berkunjung kesini

Bukan hal yang biasa dilakukan oleh seorang yang sedang marah

————————-

“Selama beberapa hari aku menduga-duga siapa satu-satunya orang yang menurut Jiah boleh ku beritahu tentang ini”.

“Diberitahu tentang apa?”

“Saat sedang menyebrang jalan di depan apartment, ada seorang pengemudi yang mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat, lalu menabrak Jiah”.

“APA???”

————————-

.

.

.

.

-Since I (have) met you : Part 10-

.

.

.

.

.

Author’s POV

Kyuhyun terkejut dengan pernyataan yang baru saja dikatakan oleh seorang wanita yang diketahui adalah tetangganya itu. Udara disekitarnya terasa menghilang. Bagai ruang hampa udara, Kyuhyun merasakan sesak yang begitu menyakitkan di dadanya. Seolah ada suara berdengung di telinganya, membuat tubuh Kyuhyun kehilangan keseimbangan. Ia sendiri tidak mengerti pada respon tubuhnya, apakah disebabkan oleh kelelahan atau karena terlalu terkejut dengan berita yang baru didengarnya.

.

“Walaupun terkena sisi mobil, tapi tubuh Jiah terpental ke trotoar hingga membentur tiang listrik…” kata wanita itu melanjutkan. “…Tubuhnya tergeletak di trotoar dan darah mengalir dari kepalanya. Pengemudi itu kabur begitu saja. Beruntung kamera cctv berhasil menangkap kejadian itu. Polisi sudah menangkap orang itu. Mereka menyatakan bahwa pengemudi itu berada dalam pengaruh alcohol dan dia se……”

.

“Sebentar, ahjumma… Sebentar…” Kyuhyun menghentikan ucapan wanita itu sambil mengatur napasnya. “Aku tidak peduli dengan keadaan orang itu. Jiah. Dimana Jiah? Bagaimana keadaannya?”

.

“Sebuah rumah sakit beberapa blok dari sini. Jiah menolak untuk memberitahukan keluarga atau kerabatnya. Dia hanya berpesan padaku untuk memberitahu seorang pria bernama Cho Kyuhyun. Kemarin aku menjenguknya di rumah sakit. Keadaannya sudah membaik. Sebaiknya kau segera menemuinya”, kata wanita itu menjelaskan.

.

“Baiklah. Terima kasih, ahjumma. Terima kasih banyak… Aku berhutang banyak padamu”, kata Kyuhyun sambil membungkuk berterima kasih.

.

“Eo… Geurae… Geurae… Cepatlah kau pergi ke rumah sakit. Temani Jiah”, kata wanita itu sambil menepuk pelan bahu Kyuhyun.

.

“Ne… Aku pergi dulu, ahjumma. Sekali lagi terima kasih banyak…” Kata Kyuhyun sambil berlalu menuju lift dengan langkah cepat.

.

.

BGM : Park Bo Young – 떠난다

.

.

Tidak butuh waktu yang lama sampai pintu lift terbuka dan Kyuhyun menghilang dibalik pintu lift yang sudah bergerak turun ke lantai dasar. Kyuhyun berlari masuk ke mobilnya lalu mengemudikannya dengan terburu-buru. Berbagai dugaan akan keadaan Jiah memenuhi kepala Kyuhyun. Wanita itu mengatakan tubuh Jiah terpental ke trotoar, lalu membentur tiang listrik dan terdapat sebuah luka di kepalanya yang menyebabkan perdarahan. Mengetahui hal itu saja sudah membuat Kyuhyun resah bukan main. Bagaimana jika ada perdarahan hebat di kepalanya? Bagaimana jika ada kerusakan di otaknya? Bagian kepala sebelah mana yang terbentur hingga terjadi perdarahan? Ahjumma itu mengatakan Jiah tertabrak hingga terpental ke trotoar, bagaimana dengan bagian tubuh yang lain? Jebal… Tidak boleh ada hal buruk yang terjadi padamu, Jiah-ya. Ku mohon…

.

 

Kyuhyun mempercepat laju mobilnya. Ia menyalip beberapa mobil yang ada di depannya. Beruntung karena letak rumah sakit tidak terlalu jauh dari apartment nya. Hanya butuh waktu kurang dari 10 menit untuk sampai di pelataran rumah sakit. Setelah mobilnya terparkir ditempat yang tepat, Kyuhyun pun keluar dan berlari memasuki lobby rumah sakit. Setelah bertanya pada bagian informasi, Kyuhyun segera menuju lift untuk naik ke lantai 8. Pintu lift terbuka. Kyuhyun masuk dan dengan terburu-buru menutup pintu lift meski dari kejauhan ada seorang gadis yang sedang berlari berusaha mencapai lift. Kepedulian Kyuhyun pada orang lain sedang sangat tumpul saat ini. Pikirannya hanya terfokus pada Jiah. Ia tidak bisa memikirkan apapun lagi. Tiba di lantai 8, Kyuhyun segera menuju ke ruangan VIP dengan nama Kwon Jiah pada penanda tepat di samping pintu ruangan. Kyuhyun pun masuk dengan perlahan. Pemandangan yang pertama kali terlihat oleh mata lelahnya adalah Jiah yang terbaring lemah memejamkan matanya di ranjang kamar rumah sakit. Kyuhyun mendekat ke ranjang dimana Jiah berbaring. Dari apa yang ia lihat, ia bisa memastikan bahu kiri Jiah patah atau retak harapnya. Seperti yang dikatakan oleh ahjumma tadi, ada perdarahan di kepala Jiah. Terbukti dengan adanya sebuah perban yang membelit disana. Kyuhyun menghela napas, sedikit merasa lega karena bagian kepala yang terluka adalah kening. Ada sebuah luka gesekan kecil di pipi Jiah yang membuat Kyuhyun mengerutkan keningnya melihat luka itu. Mata Kyuhyun kembali mengobservasi bagian tubuh Jiah, berusaha menemukan bagian lain yang terluka. Kyuhyun perlahan membuka selimut Jiah dan menemukan ada luka lain di pergelangan kaki Jiah. Kembali, Kyuhyun berharap hanya retak yang terdapat disana. Tanpa disadari, air mata Kyuhyun menetes di pipinya. Rasa lelah, panik, dan takut yang ia rasakan bercampur menjadi tangis yang memilukan. Kyuhyun pun membekap mulutnya, menahan agar isakan tidak keluar agar tidak membangunkan Jiah yang sedang tertidur pulas. Namun usahanya gagal. Ia sudah terlanjur terisak. Tiba-tiba Jiah membuka matanya perlahan. Menyadari hal itu, Kyuhyun berbalik untuk menghapus jejak air mata di pipinya kemudian menarik sebuah kursi dan duduk disisi ranjang.

.

“Cho Kyuhyun-ida…” kata Jiah dengan suara lemahnya.

.

“Eo… Aku sudah datang…” Kata Kyuhyun dengan suara bergetarnya.

.

“Kau tidak terlihat baik…”

.

“Tidak seburuk kau…” Kata Kyuhyun yang menghela napas panjang setelahnya. “Kau membuatku takut, Kwon Jiah…”

.

“Aku baik-baik saja”, kata Jiah berbisik.

.

“Jangan bercanda… Lihat dirimu! Inikah yang kau sebut baik-baik saja? Tidak bisakah kau menghubungiku?” tanya Kyuhyun dengan nada bicara yang diliputi kemarahan serta kesedihan.

.

“Kau tidak melihat keadaanku? Apakah aku terlihat sedang berada dalam keadaan yang memungkinkan untuk menggunakan ponselku?” tanya Jiah sambil tersenyum. “Tenangkan dirimu… Aku baik-baik saja…”

.

“Berhenti mengatakan kau baik-baik saja!” seru Kyuhyun dengan volume suara yang cukup pelan untuk sebuah seruan.

.

“Hhh… Aku memang baik-baik saja. Aku mensyukuri keadaanku…”

.

“Kau gila? Apa yang kau syukuri dari hal ini?” Kali ini Kyuhyun benar-benar merasakan amarah memenuhi kepalanya. Tidak. Ia tidak marah pada Jiah. Ia marah pada dirinya karena tidak dapat menjaga Jiah.

.

Jiah memejamkan matanya. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya beberapa saat kemudian membuka kembali matanya, menatap Kyuhyun. “Aku masih bisa melihatmu…” kata Jiah dengan mata sayu nya. “Aku bersyukur karena aku masih bisa melihatmu… Aku masih bisa bertemu denganmu…” sambung Jiah dengan beberapa kali jeda dalam berbicara. “Kau tahu? Saat tubuhku terlempar ke trotoar… beberapa ingatan berputar di kepalaku. Wajahmu lebih banyak muncul disana. Suaramu saat menyanyikan beberapa bait lagu terngiang di telingaku. Hhh… Jika eomma dan Yuri eonni mendengar ini, mereka pasti akan merasa sedih… karena lebih mengingatmu daripada mereka…” Jiah mengambil jeda lagi sambil tersenyum. “Lalu disaat yang sama, rasa takut menyelimutiku. Pandanganku tiba-tiba kabur dan berubah gelap… Aku merasa takut… Aku takut kehilangan kesempatan untuk melihatmu lagi… Sebuah pikiran lain lebih menghantuiku… Bagaimana jika aku kehilangan ingatanku akan dirimu? Bagaimana jika aku sampai kehilangan nyawaku tanpa bisa melihatmu terlebih dahulu?”

.

“Mwoya… Jangan katakan hal itu. Kau baik-baik saja, Jiah-ya…” kata Kyuhyun memotong ucapan Jiah.

.

“Hhh… Aku juga sudah mengatakan itu padamu, bukan? Aku baik-baik saja…” kata Jiah sambil tertawa kecil.

.

“Baiklah… Kau akan baik-baik saja. Aku ada disini bersamamu”, kata Kyuhyun sambil menggenggam tangan kanan Jiah yang tidak terluka.

.

“Tentu aku akan baik-baik saja. Dokter pribadiku sudah datang…” kata Jiah dengan senyum mengembangnya. “Kau sudah melakukan pekerjaan yang baik selama di Busan, Kyuhyun-ah… Selamat datang kembali…”

.

“Maafkan aku…”

.
“Tentang apa? Kau bukan si pemabuk yang menabrakku. Untuk apa kau meminta maaf?” tanya Jiah masih dengan senyuman di bibir pucatnya.

.

“Aku mencintaimu…” kata Kyuhyun tanpa menjawab pertanyaan Jiah.

.

“Aku tahu… Aku sangat mengetahuinya”.

.

“Kau curang”, kata Kyuhyun tiba-tiba.

.

“Aku? Kenapa?” tanya Jiah.

.

“Kau curang, Jiah-ya. Bagaimana bisa kau mengambil kalimat yang ingin aku ucapkan padamu? Kau tidak boleh melakukan itu…”

.

“Hmm???” gumam Jiah bertanya karena tidak mengerti dengan ucapan Kyuhyun.

.

“Aku yang merasakan ketakutan itu… Saat tetangga kita mengatakan kau tertabrak sebuah mobil dan terluka parah, aku kehilangan keseimbanganku. Aku menguatkan diri untuk mengemudi ke rumah sakit bagaimanapun caranya. Namun kembali, kakiku seolah tidak bisa menopang tubuhku saat aku berjalan menyusuri koridor. Seluruh tubuhku menjadi lemas saat perkiraan terburuk menghampiri pikiranku. Aku takut, Jiah-ya… Aku takut aku tidak bisa melihatmu lagi. Aku takut kau benar-benar pergi dariku. Aku… Aku takut kali ini kau tidak akan pernah kembali padaku. Aku……”

.

“Nan yeogi isseotjanha… (aku kan ada disini…) Jangan berpikir seperti itu, eo?”

.

“Jangan tinggalkan aku lagi…” kata Kyuhyun sambil mengeratkan genggaman tangannya.

.

“Aku tidak bisa kemanapun dalam keadaan seperti ini, Cho Kyuhyun. Seharusnya kau tahu itu.”

.

“Kwon Jiah… Jangan lakukan ini padaku…” keluh Kyuhyun pada gurauan Jiah dengan wajah lesunya.

.

“Arasseo. Maafkan aku… Aku bercanda… Aku tidak seharusnya bercanda pada perasaanmu, bukan? Tidak baik melakukan itu. Maaf…” kata Jiah dengan senyum diwajahnya.

.

“Benar. Tidak baik melakukan itu. Jadi jangan dilakukan, eo?”

.

“Aku mengerti…” kata Jiah menyanggupi. “Hmm… Kyuhyun-ah…”

.

“Hmm?”

.

“Jangan katakan pada siapapun. Setidaknya tunggu beberapa saat sampai aku sedikit lebih baik… Bisakah kau berjanji padaku?” tanya Jiah.

.

“Tentu. Tidak akan ada yang tahu… Sebagai gantinya, kau harus menuruti semua yang ku katakan.”

.

“Semua?” tanya Jiah kembali dengan senyuman diwajah lemahnya.

.

“Benar. Semua. Tanpa terkecuali”, jawab Kyuhyun.

.

“Baiklah…” kata Jiah menyanggupi.

.

“Hal pertama yang harus kau lakukan adalah kembali tidur. Pejamkan lagi matamu”, kata Kyuhyun sambil mengecup punggung tangan Jiah.

.

“Bisakah aku membantah yang satu itu?” tanya Jiah.

.

“Tidak boleh”, jawab Kyuhyun dengan ekspresi bersungguh-sungguhnya.

.

“Aku mohon…”

.

“Jiah-ya……”

.

“Aku hanya merindukanmu. Tidak bisakah memberikan waktu sedikit saja untuk melihatmu?” tanya Jiah hingga membuat Kyuhyun menaikkan kedua alisnya karena tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.

.

“Apa yang baru saja kau katakan?” tanya Kyuhyun memastikan.

.

BGM: Hey – And I Need You Most

.

Jiah tersenyum menyadari respon terkejut Kyuhyun. Jiah pun menukar posisi tangannya menjadi diatas tangan Kyuhyun. Kini Jiah lah yang menggenggam tangan dingin Kyuhyun. “Aku bilang aku merindukanmu… Sangat. Bahkan aku berpikir aku hampir gila karena hal itu… Kau tahu? Saat aku berkunjung ke Busan, entah kau menyadarinya atau tidak, aku mengenakan T-shirtmu untuk tidur. Saat itu aku tidak menemukan alasan mengapa aku melakukannya. Tapi kini aku tahu. Aku melakukan itu karena aku merindukanmu. Sebelumnya kau selalu memelukku sepanjang malam. Tapi setelah keputusanmu untuk pergi ke Busan, kita terlalu sibuk dengan ego masing-masing. Then I found myself missing you so much…

.

Setelah mendengar hal itu, akhirnya Kyuhyun bangkit berdiri dan membungkukkan tubuhnya diatas tubuh Jiah yang berbaring di ranjang. Kyuhyun mengecup bibir Jiah dengan lembut dan perlahan, khawatir akan adanya memar diwajah Jiah yang tidak terlihat olehnya. Kyuhyun membuka bibir Jiah dengan bibirnya, kemudian memperdalam ciumannya. Jiah membalas setiap kecupan lembut Kyuhyun dengan hati-hati. Setelah beberapa saat, Kyuhyun pun melepaskan ciumannya di bibir Jiah dan menjauhkan wajahnya. Tatapan mereka bertemu saat mata Jiah yang masih sayu terbuka sempurna. Jiah tersenyum, tidak hanya dengan bibirnya, tapi juga dengan tatapan dan ekspresinya. Kali ini Kyuhyun tidak menemukan hal membingungkan apapun di wajah Jiah. Kyuhyun dapat membaca Jiah. Setiap tatapan dan ekspresi yang ditunjukkan oleh Jiah seolah mewakili setiap kata yang ingin disampaikan pada Kyuhyun. Jiah memang tidak menyerukan kata cinta melalui tatapannya, namun kerinduan yang sejak beberapa saat yang lalu selalu dibicarakan Jiah terlihat jelas disana. Bagai rantai yang mengikat kedua kaki Kyuhyun, tatapan itu menahan Kyuhyun untuk tetap bersama Jiah. Walau tidak ada kata cinta yang terucap.

.

“Apakah proses penyembuhan bahu ku akan memakan waktu yang lama?” tanya Jiah pada Kyuhyun yang sudah kembali duduk di kursi tepat disebelah ranjang.

.

“Apa yang dikatakan dokter tentang bahumu?” Kyuhyun balas bertanya. Ya, Kyuhyun belum sempat menanyakan apapun pada dokter maupun perawat yang menangani Jiah.

.

“Ada tulang yang bergeser. Sudah diatasi. Aku hanya perlu berhati-hati sampai benar-benar pulih”, jawab Jiah menjelaskan.

.

“Aku rasa butuh waktu satu sampai dua minggu. Bagaimana dengan kepala dan pergelangan kakimu?” tanya

.

“Sepertinya kepalaku tergesek di trotoar. Aku tidak ingat. Ada sebuah luka terbuka yang menyebabkan perdarahan. Hmm… Jika aku tidak salah mengingat, ada 7 jahitan. Hasil pemeriksaan lebih lanjut baik-baik saja. Tidak ada kerusakan lain. Kakiku… Aku rasa ada sedikit dislokasi disana. Dokter mengatakan tidak ada banyak masalah”, jawab Jiah menjelaskan secara rinci pada Kyuhyun.

.

“Syukurlah kalau begitu. Aku sarankan ambil waktu satu sampai dua bulan sampai kondisimu benar-benar membaik. Kali ini aku tidak memerintah, aku memohon…” kata Kyuhyun.

.

“Kau…… tidak bertanya apa yang aku rasakan? Kau tidak ingin tahu seberapa sakit?” tanya Jiah.

.

Kyuhyun menghela napas, kemudian menyentuhkan tangannya di pipi Jiah. “Tentu saja sangat sakit. Untuk apa aku menanyakan hal itu lagi, sayang? Dengan menanyakannya, aku hanya akan mengingatkanmu pada kejadian menakutkan itu lagi. Dari kondisi mu pun aku sudah mengetahui jawabannya. Maafkan aku, karena tidak berada disisimu…”

.

Jiah meraih tangan Kyuhyun di pipinya, lalu mengenggamnya erat. “Jangan lakukan itu lagi…”

.

“Hmm?” tanya Kyuhyun.

.

“Jangan pergi tanpa memberitahuku. Walaupun kau baru merencanakannya sekalipun, bicarakan padaku. Aku sudah terlanjur terbiasa dengan keberadaanmu. Aku butuh persiapan sebelum menjalani hari tanpamu. Aku tidak setenang yang terlihat dimatamu, Cho Kyuhyun. Karena itu, jangan melakukan itu lagi, eo?”

.

“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, Jiah-ya… Tidak akan pernah…”

.

Keduanya saling menatap dalam diam. Tiba-tiba Jiah menggerakkan kepalanya, memutus tatapan diantara mereka. Jiah bergerak perlahan membenarkan posisi tubuhnya, yang membuat Kyuhyun menegakkan tubuhnya bersikap siaga. Jiah menghela napas panjang kemudian memejamkan matanya perlahan dan kembali membukanya. Begitu seterusnya beberapa kali.

.

“Aku mengantuk…” kata Jiah akhirnya.

.

“Tidurlah…”

.

Jiah membuka matanya lalu menoleh untuk menatap Kyuhyun. “Kau akan berada disini saat aku bangun, kan?” tanya Jiah.

.

Kyuhyun tersenyum lalu mendekatkan wajahnya pada Jiah. Kyuhyun memberikan kecupan singkat di bibir Jiah kemudian kembali ke posisi duduknya. “Tentu, sayang. Aku tidak akan kemanapun”.

.

Jiah kembali memejamkan matanya. Ia melepaskan genggaman Kyuhyun ditangannya dan memasukkan tangannya kedalam selimut. Sebelum memutuskan untuk benar-benar tidur, Jiah kembali menoleh pada Kyuhyun.

.

“Jangan duduk di kursi ini terus menerus. Tidurlah… Kau pasti lelah setelah perjalanan cukup jauh dari Busan. Tidurlah, Kyuhyun-ah… Aku ingin melihatmu tertidur di sofa saat aku terbangun. Hmm?” kata Jiah.

.

“Baiklah… Aku akan tidur jika kau sudah terlelap. Sekarang pejamkan matamu dan tidurlah…”

.

.

#########################

.

.

Kyuhyun’s POV

 .

BGM: As One – Love is Awkward

.

Hari sudah menjelang pagi. Aku dapat merasakan ada sinar matahari yang menerangi ruang perawatan rumah sakit ini. Jiah! Mataku sontak terbelalak mengingat apa yang sedang terjadi saat ini. Aku pun bangun dari tidurku dan duduk sambil menopang tubuhku dengan kedua tangan untuk mengumpulkan kesadaranku. Aku menoleh ke arah ranjang yang ada di sebelah kanan beberapa meter dari tempatku duduk. Jiah sedang menatapku dengan senyuman diwajahnya. Ia melambaikan tangannya perlahan padaku. Mulutnya terbuka lalu mengucapkan pertanyaan tanpa adanya sedikitpun suara yang terdengar. Jaljasseo? (Tidurmu nyenyak?), tanya nya padaku. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya, kemudian senyumannya mengembang. Senyum favorite ku. Ia begitu cantik meski ada jarak diantara kami. Jiah menggerakkan tangannya lagi, kali ini ia memintaku untuk mendekat padanya.

.

Aku pun menyingkap selimut diatas pangkuanku dan berjalan menuju ranjang. Aku menarik kursi mendekati ranjang lalu duduk disana. Aku baru menyadari sesuatu, perban yang sebelumnya membelit melingkari kepala Jiah kini sudah digantikan dengan sebuah perban segiempat yang hanya menutupi bekas jahitan di sudut kening sebelah kanan. Jiah menyentuhkan tangannya di telapak tanganku, kemudian menjalar menuju ke siku dan menariknya pelan. Ia memintaku untuk lebih mendekat padanya. Aku menuruti permintaannya dengan bergerak mendekat. Tangannya kembali bergerak naik ke lengan atas, bahu dan berakhir di tengkukku. Jiah mendekatkan kepalaku padanya. Tiba-tiba sebuah kecupan lembut mendarat di keningku.

.

“Selamat pagi…” kata Jiah setelahnya dengan suara pelan berbisik.

.

Aku pun menopangkan kedua tanganku di ranjang tepat di sebelah kanan dan kiri tubuhnya. Aku menatap matanya yang bersinar pagi ini, membuatnya tertawa kecil karena malu. Pipinya memerah, menimbulkan rasa kagum sekaligus lega dalam diriku karena pucat diwajahnya sejenak menghilang. Kini suara tawanya mulai terdengar di telingaku. Ia menutupi bibirnya sebagai tindakan refleks atas rasa malunya. Tangan itu lalu berpindah ke kerah polo shirt ku. Ia masih bersemu sambil sesekali menghindari pandanganku. Jiah menggigit bibirnya pelan sambil tertawa. Sungguh pemandangan yang menyegarkan pikiranku di pagi hari. Kemudian ia menarik kerahku dan memberikan sebuah kecupan singkat namun manis dibibirku. Ia melepaskan ciumannya, namun masih menahan posisiku dengan tetap menggenggam kerahku. Jiah tersenyum lagi, lalu kembali memberikan kecupan-kecupan kecil di bibirku hingga akhirnya saat bibirnya kembali terlepas dariku, aku justru menciumnya lebih dalam. Aku melumat bibirnya perlahan dan ia membalas setiap ciumanku dengan kelembutan. Telapak tangannya yang hangat menyentuh rahangku, menimbulkan debaran jantung yang memacu cepat. Sampai akhirnya tangan Jiah bergerak ke dadaku dan mendorongku menjauh. Aku melepaskan ciumanku kemudian tersenyum menatapnya yang juga menatap tepat di mataku.

.

“Aku mencintaimu”, kataku.

.

Jiah tersenyum disertai dengan helaan napas yang keluar dari hidungnya. Ia mengangguk sebelum kembali memberikan kecupan singkat padaku. Jiah menepuk pelan bahuku, memintaku menjauhkan tubuhku darinya. Aku memberikan kecupan di keningnya sebelum benar-benar menjauhkan tubuhku darinya. Kecupan singkat yang baru saja ia berikan padaku sudah sangat cukup bagiku. Aku merasa bahwa kata cinta yang sudah sekian lama ku tunggu tidak lagi aku butuhkan. Aku tidak sedang mengejar apapun. Aku juga tidak sedang dikejar apapun. Tidak ada jawaban yang harus ku tuntut. Tidak ada perasaan yang harus ku paksakan. Jiah sudah menjadi milikku. Jiah bersamaku. Setiap perlakuan, setiap gerakan, setiap tindakan, setiap kata dan setiap sentuhan yang ia tujukan padaku sudah melebihi semua kata cinta yang aku harapkan. Seperti yang Donghae katakan padaku hari itu, cukup aku yang sangat mencintainya dan menunggu hingga Jiah juga mencintaiku. Aku yakin penantianku akan menjadi indah suatu saat nanti.

.

“Tubuhmu baik-baik saja? Kau terlihat tidak nyaman tidur di sofa”, kata Jiah sambil memainkan jari-jariku di tangannya.

.

“Aku baik-baik saja. Setidaknya tubuhku tidak merasakan nyeri seperti yang sedang kau rasakan”, jawabku. “Tidurmu nyenyak?”

.

“Jauh lebih nyenyak dari malam-malam sebelumnya”, jawab Jiah.

.

“Karena aku ada disini?” tanyaku menggodanya.

.

“Sepertinya begitu…” jawabnya diluar ekspektasiku.

.

“Kau begitu merindukanku?” Godaku lagi.

.

“Aku rasa begitu…”

.

“Kau begitu menyukaiku?”

.

“Hmm…… Aku rasa begitu…” katanya sambil tersenyum menatapku. “Kau begitu mencintaiku?” tanya Jiah kali ini.

.

“Michige… (Sangat…)” jawabku jujur.

.

“Kenapa?”

.

“Aku tidak tahu. Jarang ada alasan untuk mencintai seseorang”.

.

“Sejak kapan?” Jiah terus bertanya.

.

“Sejak bertahun-tahun yang lalu”, jawabku sambil tersenyum padanya.

.

“Bagaimana?” tanya Jiah sambil mengerutkan keningnya seolah memintaku menceritakan semua hal padanya.

.

“Kau ingat? Saat kau memberikan sebuah amplop padaku hari itu, aku menemukan ketertarikanku padamu. Tidak seperti gadis lain, amplopmu berwarna biru muda, yang secara kebetulan adalah warna kesukaanku. Aku memutuskan untuk menyimpan milikmu dan membuang yang lain hanya berdasarkan perbedaan itu. Beberapa hari berselang, pikiranku terganggu dengan ingatan akan amplop biru mu yang ku simpan di laci meja belajarku. Aku pun membuka dan membacanya. Aku tidak menyangka amplop itu berisikan sebuah kertas putih gading yang bertuliskan sebuah puisi yang sangat indah. Puisi itu tidak memiliki objek langsung sebagai sasarannya. Dengan puisi itu aku bisa melihat gambaran kecintaan pada apapun dan siapapun. Lalu sebuah pesan di akhir kertas mulai mengangguku. Kau menuliskan disana bahwa kau hanya ingin aku mengetahui apa yang kau rasakan tanpa memintaku memberikan reaksi apapun…”

.

“…Ketertarikanku padamu semakin bertambah. Terlebih kau tidak meninggalkan identitas apapun dalam surat itu. Aku dengan sifat apatisku pada sekitar membuatku tidak dapat mengenalmu lebih jauh. Aku hanya bisa mengagumimu dalam diam. Aku hanya mengingatmu sebagai gadis cantik yang sangat baik hati dan ramah, manis dan mempesona, anggun dan luar biasa, pintar serta cerdas dalam pikiranku selama beberapa tahun. Akupun menggantungkan kekagumanku saat sekolah menengah pertama berakhir. Aku memutuskan untuk mengakhiri cinta pertamaku tanpa pernah mencoba meraihnya…”

.

“…Namun keberuntungan menghampiriku. Saat langkahmu yang ceria menarik perhatianku dihari pertama di SMA. Kau mengubah gaya rambutmu. Hanya satu bulan berselang, tubuhmu menjadi kurus dan kau bertambah tinggi. Aku seorang anak laki-laki dimasa pubertas yang normal, karena itu aku tidak bisa menyangkal kenyataan bahwa aku memperhatikan perubahan bentuk tubuhmu. Kau juga melepas kawat gigi di gigi bawahmu…”

.

“Apa? Kau tahu aku menggunakan kawat gigi? Luar biasa… Kau benar-benar hantu…” kata Jiah terkejut. “Ah, maaf. Lanjutkan…”

.

“Dibalik semua perubahan itu, kau tetap gadis cantik dalam ingatanku yang selalu ku puja. Lalu Jung Soo Jung memanggil namamu dengan lantang. Kwon Ji Ah. Akhirnya aku mengetahui namamu. Jiah-ya… Jiah-ya… Kau percaya? Aku memanggilmu seperti itu dalam pikiranku setiap saat mataku menangkap sosokmu. Dengan konyol aku berpikir suara dalam kepalaku yang menyebutkan namamu dapat benar-benar memanggilmu hingga kau menoleh padaku dan bicara padaku. Saat itu aku menyadari bahwa aku memang sudah jatuh cinta padamu”, kataku menyelesaikan rangkaian awal kisah cinta sepihakku pada Jiah.

.

“Hari itu……” Jiah menghentikan ucapannya karena rasa ragu.

.

“Katakan saja”.

.

“Hari itu kau marah padaku karena……”

.

“Benar”, kataku memotong ucapannya. “Bocah itu. Lee Donghae”.

.

“Karena kau cemburu?”

.

“Tentu. Seorang laki-laki mendekatimu didepan mataku. Lalu melihat sikapmu yang sangat baik padanya lebih membakarku. Saat aku memikirkannya lagi, akhirnya aku menemukan alasan kemarahanku. Kalian memiliki kepribadian yang sama. Sikap, sifat dan tingkah laku kalian begitu serupa. Hanya kekonyolan Donghae saja yang membedakan kalian. Saat itu aku merasa khawatir… bahkan sedikit merasa terancam. Aku tidak bisa menerima kenyataan kesamaan perilaku kalian begitu saja. Aku khawatir kau akan jatuh cinta padanya. Aku tidak siap kehilangan kau yang bahkan bukan milikku. Aku begitu kekanakan, bukan?”

.

“Kau begitu sensitive dan pemarah”, jawab Jiah kembali diluar ekspektasiku.

.

“Maafkan aku. Aku penyebab semua perlakuan buruk yang kau terima…”

.

“Sudah berlalu. Aku tahu kau juga tidak menginginkan hal itu terjadi”.

.

“Kenapa kau selalu menyangkalnya?” tanyaku dengan pertanyaan yang cukup ambigu.

.

“Apa?”

.

“Aku tahu kau sudah menyadari perasaanku padamu. Tapi kau selalu menyangkal hal itu. Karena sikap burukku? Kau benar-benar membenciku saat itu?”

.

“Aku hanya menduganya. Aku tidak benar-benar yakin dengan dugaanku bahwa kau menyukaiku seperti aku menyukaimu. Dan… Aku tidak pernah membencimu, Cho Kyuhyun. Bahkan setelah semua hal yang telah terjadi padaku, aku tidak membencimu. Aku hanya kehilangan rasa sukaku padamu. Dibandingkan dengan rasa benci… mungkin sikap yang ku tunjukkan padamu lebih kepada rasa takut. Bukan padamu. Tapi pada reaksi orang-orang disekitarmu. Aku akan baik-baik saja jika mereka melakukan semua hal itu hanya padaku. Tapi aku takut orang lain disekitarku juga merasakan hal yang ku alami. Karena itu aku membangun pertahanan diriku terhadapmu. Aku menghindarimu. Karena saat itu aku pikir menghindarimu adalah hal terbaik yang bisa ku lakukan…” kata Jiah menjelaskan.

.

“Jiah-ya… Aku……”

.

“Minta maaf? Cukup, Kyuhyun-ah…” kata Jiah memotong ucapanku. “Jangan lagi. Sejak kemarin kau terlalu banyak meminta maaf. Aku lebih suka mendengar suaramu yang mengatakan kau mencintaiku daripada mendengarmu terus meminta maaf padaku”.

.

“Aku mencintaimu…”

.

“Aku membenci kalian!” kata sebuah suara lantang yang terdengar kesal dari ambang pintu.

.

.

BGM: Walking on The Dream (Dating Agency Cyrano OST)

.

.

Aku dan Jiah menoleh hampir bersamaan. Tentu saja kami mengetahui pemilik suara yang menyerukan kemarahannya itu. Jung Soo Jung. Ia dan Donghae sedang berdiri menatap kesal pada kami di ambang pintu. Mereka berdua masuk kedalam ruangan lalu menutup rapat pintu dibelakang mereka. Wajah kesal yang Soo Jung buat justru mengundang senyum diwajah kami. Sementara Donghae hanya berjalan santai dibelakang kekasihnya yang sedang marah itu. Donghae bahkan melambaikan tangannya memberikan salam padaku dengan senyum diwajahnya.

.

“Michyeosseo?!?! Kenapa kau tidak memberitahu kami??? Eo?!?!” tanya Soo Jung yang lebih terdengar seperti seruan itu. “Kau! Cho Kyuhyun!!!” kali ini kemarahan Soo Jung tertuju padaku. “Kau melakukan ini pada kami setelah apa yang kami lakukan untukmu?!?! Nappeun nom!”

.

“Soo Jung-ah, hentikan… Kyuhyun juga baru mengetahuinya kemarin”, kata Jiah mencoba menenangkan Soo Jung.

.

“Kwon Jiah!!!” seru Soo Jung. “Ada apa denganmu? Eo? Kepalamu terbentur terlalu keras? Kau tidak bisa berpikir lagi? Kau tertular sifat apatis Cho Kyuhyun?”

.

“Jung Soo Jung, kepala Jiah baru saja terluka. Kecilkan volume suaramu. Jangan memberikan tekanan padanya”, kataku.

.

“Omo! Jiah-ya, mianhae… Mianhae…” kata Soo Jung yang tiba-tiba mengubah sikap dan ekspresinya 180 derajat sambil menyentuh tangan Jiah. “Apakah masih terasa sakit? Aku hanya merasa sangat khawatir padamu, gijibae-ya… Kau terluka seperti ini namun tidak ada yang menemanimu. Kau bahkan tidak ingin memberitahukan siapapun. Keterlaluan…”

.

“Maafkan aku, Soo Jung-ah… Aku hanya tidak ingin memberitahukan pada siapapun. Aku tidak ingin keluargaku khawatir padaku. Begitupun denganmu dan Donghae”, kata Jiah.

.

“Dan kau hanya memberitahu Cho Kyuhyun? Ch… Menyebalkan…” keluh Soo Jung.

.

“Ya! Aku suaminya…” kataku protes pada ucapan Soo Jung baru saja.

.

“Aku tahu ish! Kalian berdua menyebalkan…” kata Soo Jung merajuk masih dengan rasa kesal sekaligus khawatirnya.

.

“Bagaimana kalian bisa mengetahui Jiah berada disini?” tanyaku.

.

“Aku yang menghubungi Soo Jung. Pesan dan missed calls darinya sudah menumpuk di ponselku. Aku tidak tahan lagi”, kata Jiah sambil tertawa kecil.

.

“Kwon Jiah, kau baik-baik saja? Sudah bisa menggerakkan bahumu?” tanya Donghae dengan tenang.

.

“Mwoya… Jangan katakan bahwa kau sudah mengetahui keadaan Jiah sebelumnya…” kata Soo Jung.

.

“Empat hari yang lalu aku kesini untuk mengantar halmeoni check up. Aku melihat Jiah sedang duduk di kursi roda diantar oleh perawat menuju suatu tempat. Aku ingin menghampiri Jiah, tapi Yunho melarangku. Yunho adalah asisten dokter yang menangani Jiah. Dia mengatakan Jiah tidak ingin siapapun tahu tentang keadaannya. Aku rasa hari itu Yunho langsung mengatakan pada Jiah bahwa aku sudah mengetahui keadaannya. Karena itu, Jiah mengirim pesan padaku malam harinya. Saat itu keadaannya sangat buruk. Wajahnya sangat pucat, banyak memar, ada juga per……”

.

“Ya! Ya! Lee Donghae…” kata Jiah yang kemudian menggelengkan kepala untuk menghentikan Donghae meneruskan ucapannya.

.

“Kenapa kau tidak memberitahuku?” tanya Soo Jung.

.

“Karena ku pikir Jiah pasti memiliki alasannya sendiri kenapa dia tidak mengatakannya pada siapapun. Aku menghormati keputusannya. Lagipula rumah sakit adalah tempat yang aman baginya. Aku juga sudah berpesan pada Yunho untuk memberitahukan segala perkembangan Jiah padaku. Aku berencana memberitahu kalian berdua jika keadaan Jiah memburuk. Tapi lihatlah, saat ini Jiah baik-baik saja, bukan?”, kata Donghae menjelaskan padaku dan Soo Jung.

.

“Yah… Lee Donghae! Kau sangat keren…” kataku memuji Donghae.

.

“Tentu saja! Aku menjaga Jiah demi kalian berdua. Kalian harus mengingat perbuatan baikku ini seumur hidup, kalian tahu?” kata Donghae bergurau menularkan tawanya padaku.

.

Disudut mataku, aku bisa menangkap sebuah tatapan dari Jiah. Akupun menoleh untuk menatapnya. Matanya memancarkan kekhawatiran padaku. Seolah menanyakan bagaimana perasaanku mengetahui kenyataan itu. Jiah mengetahui dengan baik apa yang mungkin aku rasakan. Tentu aku tidak merasa terlalu senang dengan kenyataan bahwa sahabatku lebih mengetahui keadaan Jiah. Namun semua hal yang terjadi saat ini adalah kebetulan yang tidak bisa dihindari. Bukan Jiah yang memberitahunya. Donghae mengetahui keadaan Jiah secara kebetulan. Dan aku sangat mempercayai hal itu. Terlebih mengingat yang dikatakan ahjumma saat itu. Jiah berpesan padanya untuk memberitahukan keadaannya padaku. Hanya aku. Akupun tersenyum pada Jiah, menyampaikan bahwa aku baik-baik saja, ia tidak perlu merasa khawatir. Namun wajah Jiah masih tampak murung meski aku sudah berusaha meyakinkannya dengan ekspresiku.

.

“Jung Soo Jung, kau baik-baik saja mengetahui hanya kekasihmu yang tahu keadaan Jiah sejak awal?” tanyaku pada Soo Jung tiba-tiba.

.

“Tentu saja… Aku justru merasa lega mengetahui hal itu. Setidaknya ada salah satu diantara kita yang mengetahui keadaan gadis menyebalkan ini…” Jawab Soo Jung masih menyertakan keluhannya.

.

“Aku juga baik-baik saja, sayang. Donghae sudah menjadi sahabat terbaikku. Aku juga merasa lega karena ada yang menjagamu meski dari jauh”, kataku meyakinkan Jiah.

.

“Sebentar… Sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba kau mengatakan hal itu, Cho Kyuhyun?” tanya Donghae.

.

“Tidak ada… Hanya saja tadi Jiah menatapku seolah khawatir aku akan marah karena kau lebih mengetahui keadaannya daripada aku…” Jawabku.

.

“Ah… Ternyata begitu… Ya! Kwon Jiah! Cho Kyuhyun tidak akan pernah cemburu lagi padaku. Kau dengar sendiri, bukan? Aku ini sahabat terbaiknya. Aku penasehat terbaiknya. Dia sangat menyukaiku, kau tahu? Dia tidak akan membunuhku. Tenang saja…” kata Donghae kembali dengan gurauannya yang mengundang tawa di bibir Jiah.

.

“Kalian berdua tidak boleh melupakanku… Kalian lupa? Hubungan kalian membaik karena Donghae menyukaiku bukan Jiah. Kalau tidak ada aku yang membuat Donghae jatuh cinta, kalian pikir kalian bisa bersahabat seperti ini? Tidak mungkin…” Sambung Soo Jung.

.

“Arasseo… Arasseo… Terima kasih untuk kalian berdua… Cho Kyuhyun ku menjadi seperti ini berkat kalian…” kata Jiah.

.

“Sebentar… Apa yang kau katakan? Cho……Kyuhyun…ku??? Ya! Kwon Jiah! Kau benar-benar mengatakan itu?” tanya Soo Jung excited.

.

“Tidak! Kapan aku mengatakan itu? Aku tidak mengatakan itu, Jung Soo Jung! Jangan mengarang”, sangkal Jiah.

.

“Aku yakin aku juga mendengarnya… Kwon Jiah, sekarang kau sudah mengklaim Cho Kyuhyun menjadi milikmu rupanya…” goda Donghae.

.

“Aniya… Aku tidak mengatakan apapun. Jung Soo Jung, Lee Donghae, jangan bicara yang tidak-tidak…” Jiah kembali menyangkal.

.

Soo Jung dan Donghae terus menggoda Jiah hingga wajahnya memerah. Tawa kembali menghampiriku. Suasana ini begitu menghangatkan. Setelah semua hal yang kami lewati, akhirnya suara tawa kembali terdengar. Aku pun terbawa suasana kegembiraan yang mereka ciptakan.

.

“Sudah… Sudah… Hentikan…” kataku mencoba menghentikan Soo Jung dan Donghae yang tidak henti menggoda Jiah. “Aku memang milikmu, Jiah-ya… Kau boleh mengatakan hal itu…” kataku yang semakin mengundang seruan dari Soo Jung dan Donghae.

.

Akupun bangkit berdiri lalu meregangkan tubuhku yang terasa pegal. Aku berjalan menuju jendela besar diujung ruangan. Meski keadaan diantara kami tidak cukup baik dengan kejadian yang menimpa Jiah, tapi aku bahagia. Karena setidaknya kami bersama. “Hah… Nan saranghandaneun mal pilyo eobsda… (Aku tidak butuh kata cinta…) Kata-kata Kwon Jiah sudah lebih dari kata cinta…” kataku yang disambut dengan sorakan dan tawa dari ketiga orang yang berarti dalam hidupku.

.

.

.

.

Satu bulan kemudian…

.

Jiah’s POV

 .

BGM: Jeong Jae Wook (Feat. The One) – Two Words

.

Kesadaran mulai menghampiriku di pagi yang cerah. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk memperjelas pandangan mataku. Cahaya matahari sudah mengintip dibalik gorden yang menutupi jendela yang berukuran cukup besar di kamar ini. Kesadaranku sudah berkumpul sepenuhnya, namun tubuhku masih terlalu malas untuk beranjak. Aroma yang sangat familiar menghampiri indera penciumanku. Helaan napas yang lembutpun menyapu permukaan kulit di tengkukku. Aku pun menggerakkan tubuhku berbalik menghadap pada seorang bertubuh besar yang juga bergerak karena pergerakan yang ku buat. Disanalah aku bisa melihatnya. Wajah tertidurnya begitu menenangkan. Bulu mata yang cukup panjang menghiasi kelopak matanya. Alis tebal dan rambut ikalnya begitu serasi dengan bentuk wajahnya. Dan bibir tebal itu, begitu lembut saat menyentuhku. Aku memang belum menemukan kata cinta dalam hatiku. Aku belum mengerti arti kata itu sebenarnya. Namun satu hal yang ku yakini, hatiku sudah menyerukan pilihannya dengan lantang. Pria ini adalah milikku. Dia satu-satunya dihidupku. Aku pun mendekatkan wajahku padanya dan mengecup lembut bibir tebal itu. Aku menyentuhkan tanganku diwajahnya, kemudian menyingkirkan helaian rambut yang menutupi matanya agar aku bisa melihat wajah tampan itu sepenuhnya.

.

“Bangunlah, Cho Kyuhyun… Hari sudah pagi…” kataku berbisik.

.

Kyuhyun bergumam tanpa menggerakkan tubuhnya sedikitpun. Sepertinya tidak ada tanda-tanda ia akan bangun dalam waktu dekat. Akupun kembali menyentuhkan jari-jariku di wajahnya. Membelai bagian demi bagian diwajahnya dengan ibu jariku. Saat jari-jariku menyentuh pipinya, ia bergerak dan mencium telapak tanganku.

.

“Menikmati pemandangan? Kau bisa melihat dan menyentuhnya sebanyak yang kau mau. Semua itu milikmu…” kata Kyuhyun dengan suara berbisik serak khas bangun tidurnya.

.

“Benarkah?” tanyaku sambil berguling keatas tubuhnya.

.

Ia mendengus menerima beban tubuhku diatas tubuhnya disaat ia bahkan belum mendapatkan kesadaran sepenuhnya. Kyuhyun membuka matanya, menatapku dengan tatapan yang masih mengantuk. Ia tersenyum lalu memajukan bibirnya, memintaku menciumnya. Akupun mengecup singkat bibirnya. Kemudian Kyuhyun memiringkan kepalanya lalu membuka bibirnya mengatakan ‘mendekatlah’ tanpa suara dan tersenyum padaku. Senyum itu menular padaku. Seperti yang ia inginkan, aku mendekatkan wajahku padanya. Saat jarak diantara kami sudah sangat dekat, Kyuhyun menyentuhkan bibirnya di bibirku, membuka bibirku dan menciumku. Ia memperdalam ciumannya sambil sesekali menggigit pelan bibir bawahku yang mengundang tawa diantara ciuman kami. Tiba-tiba ia berguling, mengubah posisi kami. Ia melepaskan ciumannya dan menatapku dengan tatapan lembut penuh cintanya. Kyuhyun kembali mendekat, menghapus jarak diantara kami. Sapuan bibirnya bergerak dari bibirku menuju dagu, lalu rahangku.

.

“Kyuhyun-ah… Matahari baju saja terbit…” kataku berusaha menghentikannya.

.

“Dia bisa kembali tidur. Aku tidak akan menganggunya…” kata Kyuhyun dileherku.

.

“Kau……. tidak ingin…… sarapan?” tanyaku terbata karena sentuhannya.

.

Kyuhyun menjauhkan kepalanya lalu menatapku tajam. Ada kilatan api dimatanya yang sangat bisa ku mengerti. Ia berdeham, menimbang apa yang harus dikatakannya. Helaan napasnya menyentuh wajahku. Ia menelan salivanya sebelum akhirnya mampu bicara.

.

“Kau tahu, Jiah-ya? Sebelum proses makan…… ada yang dinamakan appetizer…” kata Kyuhyun yang kemudian tersenyum. “…aku sedang menikmati appetizerku. Kita sarapan setelah ini”, kata Kyuhyun yang kembali menyapukan bibirnya dipermukaan kulitku. Tidak. Aku tidak mampu menghentikannya. Karena di detik yang sama saat ia mengubah posisi kami, aku sudah menyerah.

.

.

#########################

.

.

Kesibukan kembali menenggelamkan kehidupan manusiawi kami. Waktu ku lebih banyak ku gunakan di kampus atau di galeri. Begitu pula dengan Kyuhyun yang saat ini sudah menjadi bagian dari K University Hospital. Aku cukup merasa beruntung karena Kyuhyun tidak memilih divisi gawat darurat. Karena jika Kyuhyun menjadi salah satu dokter di divisi gawat darurat, maka waktu kebersamaan kami akan benar-benar hilang. Kyuhyun memilih divisi interna sebagai tempatnya bekerja. Walaupun jadwalnya cukup teratur, namun jika ada hal mendesak yang harus ia lakukan, tentu ia harus tetap berada di rumah sakit sampai keadaan terkendali. Namun hari ini, jadwalku lah yang melewati jadwal seharusnya. Saat ini jam di dinding ruanganku sudah menunjukkan pukul 9 malam dan laporan terakhir yang ku tangani baru saja terselesaikan. Rasa lelah menghampiriku, seolah mengalir ke seluruh tubuhku bersama setiap aliran darahku. Aku menyandarkan tubuhku ke bangku dan memejamkan mataku, merasakan beratnya kepala dan mataku karena rasa lelah yang begitu melemahkanku. Tiba-tiba layar ponselku menyala. Sebuah panggilan masuk ke ponselku, memunculkan nama Kyuhyun di layar. Senyuman datang begitu saja padaku saat aku meraih ponselku di meja.

.

“Hmm?” kataku saat menerima panggilan teleponnya.

.

“Kau sudah selesai?” tanya Kyuhyun.

.

“Aku baru saja selesai. Aku akan segera pulang. Hhh… Aku merindukanmu…” kataku lesu.

.

“Hmm… Aku ada didepan galeri”, kata Kyuhyun.

.

“Benarkah??? Kau menungguku? Sejak kapan? Kenapa tidak memberitahuku?” tanyaku beruntun.

.

“Aku sangat merindukanmu… Aku tidak bisa menunggu terus dirumah. Awalnya aku berniat jika kau tidak kembali ke rumah sampai pukul 9, maka aku akan datang dan menemanimu di galeri. Tapi keberuntungan sepertinya ada padaku. Pekerjaanmu selesai tepat disaat aku sampai disini. Mau ku jemput di dalam?” tanya Kyuhyun.

.

“Tidak. Tidak. Aku keluar sekarang”, kataku segera membereskan barang-barangku.

.

.

BGM: Park Hyo Shin – Shine Your Light

.

.

Aku pun segera mematikan lampu-lampu yang tidak diperlukan dan keluar dari ruanganku. Aku berjalan perlahan sambil memeriksa kelengkapan barang-barang dalam tasku. Kemudian sejenak memeriksa email di ponselku. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, aku mulai mempercepat langkahku. Beruntung pagi ini aku memilih sepatu flat untuk ku gunakan, sehingga kecepatan langkahku tidak terhalang oleh apapun. Aku masuk ke dalam lift, merapikan pakaianku. Pintu lift memunculkan bayangan diriku setelah hari panjang yang cukup melelahkan. Aku merapikan sedikit bentuk rambutku yang sejak sore tadi sudah ku ikat. Aku memainkan ekspresi wajahku selama menunggu lift tiba di lantai dasar. Pintu lift terbuka. Aku menghentikan aktivitas konyolku untuk segera keluar. Langkahku berubah menjadi lari kecil sesaat setelah aku keluar dari lift. Beberapa petugas keamanan yang bertugas pada malam hari memberikan salam padaku saat kami berpapasan. Mereka menghentikan langkahku untuk menanyakan apakah aku membutuhkan bantuan untuk pulang dengan memanggilkan taksi. Namun tentu saja aku berterimakasih dan menolak tawaran mereka, karena saat ini ada seorang pria tampan sedang menungguku tepat di depan galeri yang cukup luas ini.

.

Aku kembali berlari menuju pintu utama. Setelah melewati pintu utama, langkahku terhenti. Senyuman mengembang diwajahku. Disanalah tujuanku. Pria tampan itu berdiri disisi mobil dengan senyuman yang memberikan ketenangan padaku, menghembuskan angin yang mengusir rasa lelah ditubuhku. Ia menggerakan bahunya seolah menghela napas panjang, lalu merentangkan tangannya, memintaku datang padanya. Aku tertawa kecil dan menggelengkan kepalaku pelan melihat tingkah lakunya. Namun hal itu tidak bisa menghentikan langkahku untuk melangkah padanya. Seolah menular padanya, Kyuhyun melakukan yang beberapa saat yang lalu baru saja ku lakukan. Ia memainkan ekspresi wajahnya saat menungguku sampai padanya, mengundang tawa keluar dari bibirku. Aku melesak ke pelukannya, menghapus jarak diantara kami. Aku melingkarkan tanganku dipinggangnya, masuk ke dalam long coat yang dikenakannya dan membiarkan hidungku menyentuh tulang selangkanya yang tampak dibalik T-shirt hitam yang selalu menjadi favoriteku.

.

“Dochakhaesseubnida… Ah… Daddeuthada… Kyuhyun-ui naemse cham johda… (Aku sudah sampai… Ah… Hangatnya… Aku sangat suka aroma Kyuhyun…)” kataku dipelukannya.

.

“Kau sudah bekerja keras hari ini…” kata Kyuhyun.

.

“Hmm…” gumamku menanggapi.

.

“Kau ingin terus seperti ini atau masuk ke mobil?” tanya Kyuhyun.

.

“1 menit saja…” pintaku.

.

“Baiklah. Tetap seperti ini selama 1 menit”, kata Kyuhyun menyetujui.

.

“Aku merindukanmu…” kataku.

.

Kyuhyun mengeratkan rengkuhannya di tubuhku lalu mengecup singkat puncak kepalaku. “Aku juga sangat merindukanmu, Jiah-ya…”

.

Aku menjauhkan kepalaku tanpa melepaskan rangkulan tanganku dipinggangnya. Aku menengadahkan kepalaku menatap wajahnya yang berada diatas kepalaku. Ia menunduk menatapku lalu mengerutkan keningnya seolah menanyakan alasanku menatapnya tanpa kata. Aku menggelengkan kepalaku menjawab pertanyaan dalam pikirannya. Aku pun berjinjit untuk mencium singkat bibirnya yang membuatnya tersenyum lebar tanpa melakukan apapun sebagai balasannya.

.

“Hhh… Kau benar-benar mengujiku, Kwon Jiah… Ayo kita pulang…” kata Kyuhyun yang membuka pintu mobil dan mempersilahkanku masuk.

.

.

#########################

.

.

BGM: Suzy & Baekhyun – Dream

.

Kyuhyun terlihat sedang berjalan kesana kemari di dapur saat aku keluar dari kamar setelah membersihkan diri dan mengganti pakaianku. Kyuhyun mengatakan ia akan memasak malam ini. Aku menyetujuinya meski aku tidak cukup yakin dengan kemampuannya dalam mengolah makanan. Aku berjalan menghampirinya dan mengambil apron milikku yang tergantung didekat lemari es.

.

“Apa yang kau lakukan disini? Duduk saja. Aku yang akan memasak malam ini”, kata Kyuhyun mencegahku mengenakan apronku.

.

Namun aku mendorong tangannya yang meraih apronku dan tetap bersikeras mengenakan apronku. Kyuhyun tidak mengatakan apapun lagi untuk mencegahku. Ia justru mengambil alih tali pengikat apronku dan mengikatkannya dipunggungku. Kyuhyun juga mendaratkan bibirnya di bahu dan pipiku sebelum kembali melangkah menuju lemari es untuk mengambil bahan makanan yang ia perlukan. Aku menoleh menatapnya yang berjalan menjauh, kemudian menggeleng pelan karena sebuah pikiran yang sempat terbersit diotakku. Pikiran itu mengundang tawa kecil tanpa suara dibibirku. Aku pun mengambil alih pekerjaan potong memotong yang sudah disiapkan Kyuhyun diatas meja dapur.

.

“Hmm… Cho Kyuhyun etteohke geureohke seksihae? (Bagaimana Cho Kyuhyun bisa seseksi itu?)” tanyaku menggoda Kyuhyun.

.

“Kau mengatakan apa?” tanya Kyuhyun yang sepertinya tidak mendengarku.

.

“Malam ini kau terlihat sangat seksi”, kataku mengulagi ucapanku.

.

“Ch…”

.

Kyuhyun menutup pintu lemari es sambil membawa sekotak bahan makanan ditangannya. Ia meletakkan kotak itu disisi lain meja lalu membukanya. Ada sebuah senyuman diwajahnya yang entah mengapa mengundangku untuk ikut tersenyum bersamanya. Ia menggelengkan kepalanya perlahan beberapa kali.

.

“Jangan memulainya, Kwon Jiah. Aku harus memastikan kau makan malam hari ini”, kata Kyuhyun akhirnya.

.

“Memangnya aku melakukan apa? Aku hanya mengatakan bahwa Cho Kyuhyun terlihat sangat seksi dengan T-shirt hitam serta apron yang melingkar di pinggangnya”, kataku tanpa merasa telah melakukan suatu apapun. “Ya!!!” seruku.

.

.

BGM: Sentimental Scenery – First Kiss

.

.

Tiba-tiba Kyuhyun melangkah mendekat dengan cepat dan meraih pinggangku dalam rengkuhannya. Ia mendekatkan wajahnya padaku namun segera berhenti. Kyuhyun memejamkan matanya kemudian memalingkan wajahnya dariku dan menghela napas panjang tanda rasa frustrasi yang sudah menumpuk dalam dirinya. Melihat perilakunya itu, akupun semakin tertantang untuk mengujinya. Aku menyentuhkan kedua telapak tanganku di dadanya kemudian menjalar ke bahunya, membuatnya kembali menatapku, kini dengan matanya yang terbuka lebih lebar dari sebelumnya menandakan keterkejutannya.

.

“Arasseo… Hanbeon man kiseuhae… Gwaenchanha…” kataku pada Kyuhyun.

.

“Andwae… Andwae…” kata Kyuhyun kembali menggelengkan kepalanya.

.

“Gwaenchanha…”

.

“Tidak. Tidak. Kau harus makan”, kata Kyuhyun teguh pada pendiriannya.

.

Aku tersenyum geli karena tingkahnya yang berusaha dengan sangat keras menolak keinginan dalam dirinya. Sebuah ide kembali muncul diotakku untuk menguji pertahanannya. Aku mendekatkan kepalaku, mengecup lembut rahangnya, kemudian lehernya.

.

“Baiklah. Kita akan makan…” kataku dengan bibirku yang masih berada dilehernya.

.

Perlahan aku melepas kedua tanganku dari bahunya kemudian berusaha untuk kembali pada kegiatan memotongku sebelumnya. Namun belum sempat aku menggerakkan tubuhku keluar dari rengkuhannya, Kyuhyun sudah mendaratkan bibirnya di bibirku sambil menggigit bibir bawahku perlahan. Ia memperdalam ciumannya sesaat setelah bibirku terbuka karena merasakan gigitannya. Kyuhyun melumat bibir atas dan bawahku bergantian lalu melibatkan kerja lidahnya dalam aktivitas yang sedang ia lakukan. Akupun mendorong pelan dadanya, membuat ciuman kami terlepas.

.

“Kita harus makan, Cho Kyuhyun…” kataku berbisik.

.

“Hhh… Kau wanita sangat kejam, Kwon Jiah…” kata Kyuhyun mengeluh dengan napas beratnya, membuatku kembali menyunggingkan senyumku.

.

“Kita pesan makanan saja… Eo?” tanyaku menawarkan pilihan yang lebih memudahkan kami.

.

“Setelah ini?” tanya Kyuhyun dengan antusias.

.

“Ya! Kau tidak lihat saat ini sudah pukul berapa? Kita pesan sekarang. Lanjutkan ini nanti. Hmm?”

.

“Aish…… Baiklah…” kata Kyuhyun menyerah. “Tapi…… Sekali lagi…”

.

“Hmm?”

.

“Biarkan aku menciummu sekali lagi. Aku janji. Sekali saja”, bujuk Kyuhyun.

.

“Baiklah…”

.

.

.

TBC

 .

Note:

Tadaaa!!! Tidak jadi THE END saudara-saudara!!! Ternyata si penyakit (TBC) masih menjadi akhir dari part 10 ini. Akhirnya keadaan kembali terkendali dengan terselesaikannya masalah diantara keduanya. Aku sempat membaca pertanyaan yang diajukan readers di comment-comment yang kalian berikan. Ada sebuah pertanyaan yang menarik perhatianku. Pertanyaannya kalau tidak salah begini, “Siapa yang menabrak Jiah? Apakah Victoria?” Oke. Aku akan menjawabnya. Mungkin, entahlah, hanya mungkin, jika di FF karya penulis lain, mungkin (lagi), pelaku yang menabrak Jiah adalah Victoria. TAPI… Inilah aku dengan segala ketidak-mau-ribet-an-ku dan kesederhanaan ceritaku. Aku tidak ingin merumitkan cerita dan menambah permasalahan dengan melibatkan kembali Victoria dalam kejadian itu. Lagipula, kasihan nggak sih Victoria, udah ditinggalin Kyuhyun, sakit hati, masa masih harus dijadikan pelaku penabrakan Jiah? I’m not an evil writer, guys.

Di part-part sebelumnya tokoh Victoria sudah dibuat memiliki sifat yang menyebalkan dengan berusaha menghancurkan kepercayaan Kyuhyun pada Jiah. Aku tidak mau lagi menambah sifat buruknya dengan menambahkan Victoria yang bebel (nggak bisa dikasih tau alias ngeyel) dalam kisah ini. No. No. Mari menyelamatkan martabat Victoria yang juga seorang wanita. Aku juga sempat menemukan beberapa pertanyaan yang terlihat seolah beberapa diantara kalian bingung dengan alur cerita ini. Aku hanya ingin memberitahu kalian, tolong perhatikan baik-baik keterangan waktu, missalkan ada kata 1 bulan kemudian atau 3 bulan kemudian, yang gitu-gitu deh… biar kalian tidak bingung juga… Karena FF ini dibuat dengan alur maju yang bergulir cukup cepat dan tidak berputar di satu waktu saja.

Well, apa yang akan terjadi di part berikutnya? Butuh preview? Intip-intip sedikit gitu? Tulis nggak ya??? Hmm… Aku akan tulis beberapa potong conversation di part 11 deh… Okay! Kalau begitu Kana pamit! Sampai bertemu lagi di part selanjutnya. Apakah THE END nya ada di part selanjutnya? Kita lihat saja nanti. Annyeonghigaseyo…

.

Preview Part 11

“Jiah-yah… Kau mengganti parfum mu?”

“Tidak. Kenapa?”

“Kenapa aroma nya lain? Kau yakin parfum mu tidak kadaluarsa?”

“Aku baru re-stock minggu lalu. Kyuhyun-ah, sebenarnya ada apa denganmu?”

“Aku tidak suka…”

————————-

“Ya! Sejak kapan kau memakan sundae?”

“Apa?”

“Kau tidak pernah makan sundae sebelumnya. Kau baik-baik saja?”

“Apa?!?! Ini sundae??? Ya! Lee Donghae!!! Kenapa kau tidak menghalangiku?!?!”

————————-

“Aish!!! Aku membencimu, Cho Kyuhyun!!! Kenapa kau melakukan ini padaku???”

“Maafkan aku. Aku mohon maafkan aku. Hmm? Aku mengaku salah. Maafkan aku”.

“Aaaasshhhh… Aku sangat membencimu… Kau merusak semuanya…”

“Aku mencintaimu…”

————————-

Advertisements

64 thoughts on “Since I (have) met you : Part 10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s