Since I (have) met you : Part 9

Author: Okada Kana

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast: Cho Kyuhyun, Kwon Jiah (OC)

Other Cast:

Jung Soo Jung, Lee Donghae, Victoria Song, Jung Yoo Geun (cameo)

Disclaimer:

Setelah mengalami hilangnya inspirasi selama seminggu lebih, akhirnya FF ini berhasil aku lanjutkan. Buat kalian yang pernah mencoba menulis sebuah FF/cerpen/cerita karangan lainnya, kalian pasti mengerti bagaimana rasanya punya niat untuk melanjutkan cerita tapi inspirasi tidak kunjung datang. Otak terasa kosong dan ruwet. Mau dipaksakan pun justru membuat kesal sendiri. Well, disaat seperti itu memang satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah bersabar. Akan ada hari dimana inspirasi itu datang dan jari-jari ini bergerak dengan sendirinya menuliskan kata demi kata. Oke! Mari masuk ke cerita. Seperti yang kalian tahu (entah kalian sadar atau tidak), part sebelumnya hanya diakhiri dengan kata TBC tanpa kata-kata lanjutan apapun dariku. Jujur, saat menyelesaikan part sebelumnya aku sudah terlanjur lelah berpikir. Bagaimana dengan part ini? Baiklah. Kalian nanti bisa lihat review part sebelumnya dibawah. Sedikit spoiler di pembuka cerita, penyelesaian masalah diantara Kyuhyun dan Jiah akan berlangsung tanpa emosi. Mengalir begitu saja seperti air. Setelah membuat emosi naik turun di part-part sebelumnya, aku ingin membuat para reader bisa sedikit bernapas dengan teratur di part ini. Tapi bukan berarti part ini ‘emotionless’. Selengkapnya, kalian baca sendiri deh…

FF ini murni berasal dari kepalaku. Ide cerita yang muncul berasal dari beberapa drama yang sudah aku tonton. Tapi cerita dalam FF ini tidak menggunakan ataupun mengikuti cerita drama yang sudah ada. Seperti biasanya, mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Karena seperti yang aku katakan, ini adalah kisah cinta sederhana yang bisa dialami siapa saja. Aku juga berusaha sebisa mungkin untuk menghindari typo. Tapi, aku juga manusia biasa yang bisa membuat kesalahan, jadi mohon dimaklumi. No bash, smart comments and critics always accepted. Selamat membaca…

Note:

Kalimat yang bercetak miring bisa menandakan itu adalah kalimat dari bahasa inggris, arti dari kalimat berbahasa korea, atau menandakan itu adalah pembicaraan tokoh dalam pikirannya sendiri.

.

.

.

.

Review Part 8

“Jiah-ya, dia Victoria. Teman SMA-ku”.

“Teman SMA?

“Ah… Dia teman SMA-mu, Kyuhyun-ah? Jiah-ssi, aku tahu kau pasti bingung. Aku tidak berasal dari SMA yang sama dengan kalian”.

“Begitu? Aku Kwon Jiah. Senang bertemu denganmu, Victoria-ssi”.

“Tentang itu… Sepertinya aku pengecualian. Karena saat SMA kami sempat berpacaran.”

“Kau sakit? Aku akan mengantarmu”.

“Aku menyerah… Kepala ku terasa begitu pusing. Antar aku…”

“Suhu tubuhmu sangat panas, Jiah-ya. Apa yang terjadi saat aku tidak ada?”

“Aku bekerja sampai larut beberapa hari terakhir”

“Kau yakin tidak ingin dirawat di rumah sakit saja? Jarak rumah sakit tidak jauh dari sini. Ada potongan harga untuk istri dokter…”

“Apa yang baru saja kau katakan, Cho Kyuhyun? Istri?”

“Eo, sejak tadi aku belum mempunyai kesempatan untuk memberitahumu. Dia istriku. Kwon Jiah”.

————————-

“Kau benar-benar akan berusaha mendekatinya lagi? Bahkan setelah kau tahu dia sudah menikah?”

“Cho Kyuhyun tetap tidak bisa menutupi kenyataan bahwa istrinya tidak mencintai dia. Dulu maupun sekarang. Cintanya tetap bertepuk sebelah tangan…”

“Tapi kau mengatakannya sendiri, Vic, Kyuhyun mencintainya. Bagaimana bisa kau merebutnya? Kyuhyun mencintai wanita yang sama selama bertahun-tahun. Bukankah itu berarti bahkan sampai kapanpun Kyuhyun akan tetap mencintai wanita itu?”

“Kau meragukan kesetiaan Kyuhyun pada istrinya, Vic. Aku rasa akan sangat sulit bagi Kyuhyun untuk berpaling dari wanita yang sangat ia cintai selama bertahun-tahun. Aku tetap tidak yakin dengan rencana mu itu, Vic. Sangat sulit menggerakkan hati Kyuhyun”.

“Kau harus yakin, Jieun-ah. Kyuhyun sudah berubah. Ia menjadi lebih lembut dan mudah diajak bicara. Dan beberapa kali aku sudah berhasil memeluk dan mencium pipinya”.

————————-

“Aku suamimu, Kwon Jiah. Jangan lupakan itu! Aku memiliki hak atas dirimu!”

“Aku rasa kau salah dalam memahamiku, Cho Kyuhyun. Sejak hari itu aku sudah membuang jauh perasaanku padamu…”

“Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu mencintaiku seperti aku mencintaimu? Aku merasakan rasa sakit karena perasaan ini, tapi aku tetap tidak bisa melepasmu.”

“Kau tidak akan bisa melakukan ini padaku jika kau mencintaiku. Sejak awalpun kau mengatakan bahwa kau tidak menyukaiku…”

“Seharusnya aku membencimu, Kwon Jiah. Tapi dihari aku kembali menemukanmu, jantungku menyerah. Aku mencintaimu. Hanya itu yang aku tahu…”

“Aku tidak membencimu, Cho Kyuhyun. Aku membenci diriku sendiri karena selalu membuatmu merasakan rasa sakit. Aku terlalu menyukaimu hingga tidak bisa pergi darimu. Aku hanya tidak menemukan keyakinan dalam diriku untuk mencintaimu lagi.”

“Kebahagiaanku ada padamu, Kwon Jiah. Seharusnya kau tahu itu…”

“Aku rasa kita membutuhkan waktu untuk memikirkan hubungan ini, Cho Kyuhyun…”

————————-

.

.

.

.

-Since I (have) met you : Part 9-

.

.

.

.

.

Author’s POV

“Kau tidak bermaksud meninggalkanku, bukan? Jiah-ya, katakan kau tidak akan meninggalkanku…”

.

“Berikan aku waktu, Cho Kyuhyun…”

.

“Jiah-ya…”

.

Tanpa tergerak hatinya sedikitpun, Jiah mengambil tas nya di dalam kamar dan keluar dari apartment Kyuhyun. Sebuah batu besar seolah menghantam jantung dan kepala Kyuhyun. Ia membeku. Tubuhnya membatu menyaksikan sosok Jiah yang menghilang dibalik pintu. Ia bahkan tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah Jiah meninggalkannya disana. Setiap kata yang dikatakan Jiah, berbagai emosi yang diluapkan Jiah, dan air mata yang menetes di pipi Jiah, semua hal itu menahan kakinya untuk melangkah mengejar Jiah. Ia begitu merasa takut kehilangan. Ia juga merasakan sakit yang teramat dalam. Namun ia tidak kuasa menambah rasa sakit yang Jiah rasakan. Kyuhyun merasa begitu lemah hingga tak mampu bertindak.

.

.

BGM: Tearliner – The end is near

.

.

Lima hari kemudian…

Busan Province Hospital

Tidak ada kabar apapun dari Jiah. Setiap hari, selama memiliki waktu senggang, Kyuhyun tidak pernah mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel miliknya. Ia menimbang tindakan yang ingin ia lakukan. Kyuhyun begitu ingin menghubungi Jiah, memastikan apakah Jiah sampai ke rumah dengan selamat, menanyakan apa yang sedang Jiah lakukan, menanyakan perasaan Jiah hari ini, menanyakan apakah ia kembali menyakiti Jiah. Namun kata-kata yang terakhir Jiah ucapkan padanya menahannya. Waktu. Satu-satunya hal yang tidak pernah bisa ia miliki. Satu-satunya hal yang selalu berada diantara mereka berdua. Kyuhyun sudah menyatakan permusuhannya pada ‘waktu’ sejak ia mengetahui kepergian Jiah dari sekolah. Kyuhyun menggantung harapannya, menunggu setiap harinya, berharap Jiah akan kembali dan bersedia mendengarkan isi hatinya. Namun tidak ada seorang pun yang datang padanya. Hingga saat Jiah sudah kembali padanya, berada dalam rengkuhannya, ia kembali harus menghadapi sang waktu. Entah untuk berapa lama lagi Kyuhyun harus mencoba bertahan tanpa Jiah.

.

“Dokter Cho?” panggil seorang perawat pada Kyuhyun yang sedang duduk melamun di ruangannya.

.

“Ne?” Kyuhyun menjawab dengan cepat.

.

“Ada seorang teman mencari anda”, jawab perawat itu.

.

“Ah, ne. Aku akan segera keluar. Terima kasih…”

.

Perawat itu pun menganggukkan kepalanya pada Kyuhyun dan menghilang dibalik pintu. Kyuhyun menghela napasnya, memasukkan ponselnya kembali ke saku, dan keluar dari ruangannya. Diluar ruangan, sudah menunggu Victoria dengan senyum mengembang di wajahnya. Kyuhyun pun berjalan menghampiri Victoria. Melihat Kyuhyun yang semakin mendekat, Victoria bangkit berdiri dari bangku panjang yang biasanya digunakan pengunjung rumah sakit untuk menunggu. Tidak ada senyuman diwajah Kyuhyun. Bahkan Kyuhyun tidak menunjukkan ekspresi apapun diwajahnya. Wajah Kyuhyun cenderung tampak lelah dan sedikit pucat. Setelah kepergian Jiah, Kyuhyun merasa sangat kacau dan tidak bisa mengontrol dirinya. Ia lebih sering menyibukkan dirinya di rumah sakit, tanpa memikirkan jam makannya. Begitupun dengan hari itu, Kyuhyun memutuskan untuk mengambil jadwal long shift setelah sudah semalaman berada di rumah sakit.

.

“Kau tampak…… pucat, Kyuhyun-ah”, kata Victoria saat Kyuhyun duduk di salah satu bangku tidak jauh darinya.

.

“Aku baik-baik saja, Vic…” kata Kyuhyun dengan senyum tipisnya. “Keponakan mu belum keluar dari rumah sakit?”

.

“Hmm? Ah… Dia sudah keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu. Hari ini aku mengantarnya untuk check up, lalu aku memutuskan untuk mampir sebentar menemuimu. Hasilnya pemeriksaannya sudah sangat bagus”.

.

“Eo, syukurlah…” kata Kyuhyun singkat menanggapi Victoria.

.

“Kau yakin kau baik-baik saja?” tanya Victoria. “Kau benar-benar tidak terlihat baik, Kyuhyun-ah. Walaupun aku bukan seorang dokter, aku bisa melihatnya dengan jelas”.

.

“Hhh… Aku kembali gagal menutupinya. Apakah terlihat sangat jelas?” tanya Kyuhyun dengan senyum tipisnya.

.

“Eo… Sangat. Ada apa? Apakah terjadi sesuatu? Kau bisa menceritakannya padaku jika kau mau…”

.

“Aniya… Aku bisa menyelesaikannya. Aku hanya butuh sedikit… waktu”, jawab Kyuhyun dengan suara pelan dan lirih saat menyebutkan kata waktu diakhir kalimatnya.

.

“Ah… begitu…” kata Victoria tidak mampu lagi menimpali ucapan Kyuhyun yang terdengar begitu tertekan.

.

“Dokter Cho, annyeonghaseyo…” sapa seorang pasien anak yang lewat didepan Kyuhyun.

.

Sontak Kyuhyun menunjukkan senyum lebarnya pada pasien itu. “Eo! Jung Yoo Geun! Kau sudah bisa berjalan-jalan sekarang rupanya…”

.

“Ne, dokter. Aku sudah merasa sehat sekarang. Aku bahkan sudah bisa berlari jika eomma tidak melarangku”, kata anak yang bernama Yoo Geun itu.

.

“Andwae… Bersabarlah sebentar lagi. Setelah jahitan di perutmu itu sudah benar-benar kering dan keadaanmu sudah sangat pulih, kau boleh berlarian lagi. Arassji?” kata Kyuhyun dengan lembut sambil mengusap kepala Yoo Geun.

.

“Arasseoyo, dokter…” kata Yoo Geun dengan merengut. “Geunde, dokter, siapa nuna cantik itu? Apakah kekasihmu?” tanya Yoo Geun sambil menunjuk Victoria.

.

“Hhh…” Kyuhyun tertawa kecil dan mengacak rambut Yoo Geun pelan karena pertanyaan yang diberikannya. Kyuhyun menoleh pada Victoria yang tersenyum membalas tatapan Kyuhyun. “Dia mengatakan kau nuna yang cantik. Dia anak yang jujur, Victoria”.

.

“Aku tahu. Anak baik tidak pernah berbohong. Terima kasih, Yoo Geun-ah…” kata Victoria sambil menyentuh ujung hidung Yoo Geun dengan telunjuknya.

.

“Benarkah, dokter?” tanya Yoo Geun.

.

“Mwoga?” Kyuhyun balas bertanya.

.

“Apakah nuna ini kekasihmu?”

.

“Aniya…” jawab Kyuhyun masih dengan senyuman diwajahnya.

.

“Lalu dimana nuna yang sering kau ceritakan padaku? Bukankah jika nuna itu datang, dokter akan mempertemukannya denganku?” tanya Yoo Geun.

.

“Hmm… Aku berubah pikiran”, jawab Kyuhyun.

.

“Kenapa?”

.

“Aku khawatir kau akan jatuh cinta padanya dan merebutnya dariku. Aku pernah mengatakannya padamu, bukan? Dia seorang wanita yang saaaaangat cantik. Dia juga menyukai laki-laki yang pemberani dan tampan sepertimu. Aku tidak akan membiarkan kalian bertemu, Jung Yoo Geun…” kata Kyuhyun menggoda Yoo Geun.

.

“Siapa yang dia maksud, Kyuhyun-ah?” tanya Victoria masih berusaha menunjukkan senyum termanisnya pada Kyuhyun.

.

“Siapa lagi… tentu saja Kwon Jiah. Yoo Geun sudah menanyakannya sebulan penuh”, jawab Kyuhyun pada Victoria yang mulai kehilangan senyum diwajahnya. “Aku tidak akan mengijinkanmu bertemu dengannya, Jung Yoo Geun… Dia milikku…” kata Kyuhyun dengan tawa kecil yang menyertai ucapannya.

.

“Huh… Tidak adil! Kau sudah berjanji padaku, dokter Cho…” keluh Yoo Geun. “Lagipula, jika kau mencintainya dan dia mencintaimu, siapapun yang ia temui, setampan apapun orang itu, apapun yang terjadi, dia tidak akan berpaling darimu, bukan? Kau sendiri yang mengatakan bahwa dia adalah orang yang selalu memegang teguh perkataannya. Ch… Kau merasa khawatir untuk hal yang tidak penting, dokter Cho”, kata Yoo Geun lagi dengan senyum diwajahnya. Ia tidak benar-benar marah pada Kyuhyun. “Sudahlah… Aku pergi dulu. Sampai nanti, dokter Cho. Jangan lupa datang ke ruanganku. Aku akan memberikanmu makanan enak lagi jika kau mampir”.

.

“Eo… Eo… Tentu…” kata Kyuhyun terbata setelah mendengar ucapan Yoo Geun. “Berjalanlah secara perlahan, Yoo Geun-ah. Jangan berlari…”

.

“Ne! Aku mengerti, dokter… Semoga harimu menyenangkan, dokter, nuna”, kata Yoo Geun yang memberikan salam perpisahannya juga pada Victoria.

.

Kyuhyun kembali dibuat membeku. Kata-kata yang diucapkan Yoo Geun membuka matanya. Jiah adalah orang yang selalu memegang teguh apa yang dikatakannya. Jiah hanya meminta waktu darinya. Jiah tidak mengatakan apapun tentang ‘meninggalkan’ padanya. Berbagai memory seolah berputar kembali didalam kepalannya. Diawal pertemuan kembali mereka, Jiah pernah mengatakan ketidaksetujuannya pada perpisahan, perceraian. Jiah juga mengatakan bahwa ia akan berusaha menghadapi Kyuhyun. Apakah hal itu bisa kujadikan kepercayaan bahwa Jiah tidak akan meninggalkanku?, tanya Kyuhyun dalam pikirannya.

.

“Cho Kyuhyun?” panggil Victoria, menyadarkan Kyuhyun dari lamunannya.

.

“Hmm? Eo… Maaf. Aku sedang berpikir. Apa kau mengatakan sesuatu?” tanya Kyuhyun.

.

“Tidak ada…” jawab Victoria pelan. “Apa yang sedang kau pikirkan?”

.

“Istriku”, jawab Kyuhyun cepat. “Jiah sudah kembali ke Seoul beberapa hari yang lalu. Aku rasa aku sudah merindukannya. Sangat merindukannya…”

.

“Kalian baik-baik saja, bukan?” tanya Victoria mengharapkan jawaban yang ia tunggu sejak tadi.

.

Kyuhyun menoleh, menatap Victoria dalam diam selama beberapa saat lalu memberikan senyum tipis padanya. “Hhh… Tentu saja. Apa yang bisa terjadi diantara kami? Jiah hanya sedikit kesal padaku karena internshipku di Busan berlangsung begitu lama. Memiliki rasa rindu terkadang merepotkan. Ah… Jiah bogosipda…”

.

“Kau sangat mencintainya…” Victoria sambil menunduk mengucapkannya lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.

.

“Aku rasa begitu”, sambung Kyuhyun dengan senyum tipis diwajahnya, menatap kosong ke dinding di hadapannya.

.

“Bahkan setelah semua hal yang terjadi padamu”, pernyataan yang lain dari Victoria.

.

“Aku seperti orang gila ya?” tanya Kyuhyun sambil tertawa kecil menatap Victoria.

.

“Kau tidak pernah waras, Cho Kyuhyun…” balas Victoria dengan senyum tipisnya.

.

“Kau benar… Ah, sepertinya aku harus pergi. Aku harus melakukan visite bangsal. Aku harap keadaan keponakanmu benar-benar pulih. Rumah sakit bukan tempat yang menyenangkan untuk anak-anak. Semoga aku sempat berpamitan padamu sebelum aku kembali ke Seoul. Sampai nanti…”

.

Tanpa menunggu tanggapan Victoria, Kyuhyun sudah berjalan menjauh melewati lorong menuju ruang anak terdekat. Ia meninggalkan Victoria yang menatap kepergiannya dengan tatapan kesal dan sedih. Kyuhyun bahkan tidak menoleh lagi padanya. Perkataan yang baru saja Kyuhyun ucapkan padanya seolah mengatakan bahwa Kyuhyun tidak akan menemuinya lagi setelah hari ini. Kyuhyun bukan hanya pergi meninggalkannya di ruang tunggu rumah sakit, namun Kyuhyun juga melangkah keluar dari hidupnya. Tidak. Victoria lah yang sekali lagi dipersilahkan keluar dari hidup Kyuhyun dengan cara halus. Sudah tidak ada lagi kesempatan bagi Victoria untuk mendapatkan hati Kyuhyun. Kembali salah. Tidak pernah ada kesempatan bagi Victoria untuk masuk ke dalam hati Kyuhyun, bahkan sejak bertahun-tahun yang lalu.

.

.

#########################

.

.

Kyuhyun’s POV

Aku menyelesaikan putaran visite bangsalku setelah satu jam. Kini aku merasa seluruh energy ku benar-benar terkuras habis. Aku merasakan lelah disekujur tubuhku. Bahkan dihati dan pikiranku. Aku pun masuk ke dalam ruangan istirahat yang disediakan untuk para dokter yang bertugas di rumah sakit. Setidaknya aku bisa mencuri waktu selama tiga jam untuk tidur. Itupun jika tidak ada pasien dengan keadaan sangat gawat yang perlu aku tangani. Aku menggantung jas ku dan melemparkan diriku ke atas ranjang. Helaan napas panjang keluar begitu saja dari hidungku. Seluruh tubuhku terasa seperti jelly. Malas mulai menyelubungi setiap inchi otot-otot di tubuhku. Akhirnya…

.

.

Drrrrtttt… Drrrrttttt…

.

.

Baru saja aku ingin memejamkan mataku, ponsel di saku celanaku bergetar. Auh… Aku bisa gila… Aku pun bangun dan duduk, dengan begitu aku bisa segera berlari jika panggilan itu berasal dari UGD. Aku mengeluarkan ponsel dari saku celanaku dan melihat nama yang tertera pada layar ponsel. Lee Donghae, i-jasik… Aku menyentuh kasar panel hijau untuk menerima panggilan itu.

.

“Wae?!?!” seruku sebagai pembuka panggilan telepon itu.

.

Ya aish!!! Seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa berteriak??? Mengagetkan saja!!!” seru Donghae membalasku.

.

“Ah wae??? Kenapa kau meneleponku?” tanyaku yang sudah menurunkan beberapa oktaf nada bicaraku, masih dengan keluhanku.

.

Kau ada dimana?

.

“Tentu saja di rumah sakit”, jawabku dengan nada ketus.

.

Keluarlah… Aku dan Soo Jung ada di cafetaria”.

.

“Apa??? Kau datang ke Busan???” pernyataan Donghae berhasil membuat mataku terbelalak, melupakan rasa kantukku.

.

Kau tidak mendengarku??? Cepat keluar aish…

.

“Arasseo. Tunggu sebentar…” kataku menyanggupi sambil memutus panggilan telepon.

.

Aku segera mengambil jas putih ku dan mengenakannya. Aku terburu-buru membuka piintu lalu keluar dari ruangan. Aku berjalan dengan cepat di koridor menuju cafetaria yang ada di ujung bangunan rumah sakit. Dan disanalah mereka. Soo Jung dan Donghae duduk bersama di salah satu tempat duduk cafetaria. Mereka melambaikan tangannya memanggilku mendekat. Akupun berjalan menghampiri merekam

.

“Kenapa kalian tidak memberitahuku sebelumnya jika ingin datang?” Kataku sambil duduk disalah satu bangku.

.

“Jika kami memberitahumu terlebih dahulu, kami yakin kau akan memberikan seribu alasan yang dapat mencegah kami datang”, jawab Soo Jung.

.

“Jadi, bagaimana?” Tanya Donghae dengan pertanyaan ambigu nya.

.

“Mwoga?”

.

“Kau dan Jiah. Apa kau sudah menghubunginya?”

.

“Belum…” Jawabku singkat.

.

“Benar kataku, bukan? Cho Kyuhyun berpikir terlalu lama. Aku menang. Kau harus menepati janjimu…” Kata Soo Jung pada Donghae.

.

“Aish… Mwoya Cho Kyuhyun… Kau membuatku bangkrut…” Keluh Donghae.

.

“Kenapa kau menyalahkanku? Kau sendiri yang salah karena bertaruh dengan Jung Soo Jung. Lagipula kalian masih saja melakukan hal itu. Kali ini apa yang kalian pertaruhkan?”

.

“Harga diri…” jawab Donghae lesu.

.

“Jinjja??? Nideul michyeonabwa… (Benarkah??? Kalian pasti sudah gila…)”

.

“Aniya… Tidak seperti yang kau pikirkan, Cho Kyuhyun”.

.

“Jadi, kau benar-benar akan diam saja seperti ini, Cho Kyuhyun?” tanya Soo Jung.

.

“Aku tidak tahu harus melakukan apa, Jung Soo Jung…” jawabku jujur sambil menundukkan kepala.

.

“Kau tidak akan bisa membawanya melangkah kemanapun jika sikap ini terus kau pertahankan. Hubungi Jiah!” perintah Soo Jung.

.

“Dia tidak akan mau bicara denganku setelah semua yang terjadi”.

.

“Apapun yang sudah terjadi diantara kalian, simpan dalam otak pintarmu itu. Kau hanya perlu mencari jalan keluarnya, bukan membahasnya lagi. Bicarakan hal yang lain dengan Jiah. Bersikaplah seperti biasanya, namun lebih berhati-hati”, kata Soo Jung memberikan nasihatnya.

.

“Kau memang harus melihat masalah di belakang dan memperbaikinya sambil terus berhati-hati agar tidak terulang. Tapi jangan lupakan bahwa kau tetap harus melangkah ke depan. Sikap hati-hati yang kau lakukan bisa digunakan di masa depan. Kau tidak bisa mengubahnya di waktu yang sudah berlalu, Cho Kyuhyun. Kita tidak lagi hidup di masa itu…” sambung Donghae.

.

Benar. Soo Jung dan Donghae mengatakans semua poin yang aku butuhkan. Aku memang harus memperbaiki masa laluku agar tidak terulang di masa depan. Tapi bukan berarti aku harus kembali hidup di masa lalu dan melupakan masa depanku. Yang harus aku lakukan adalah kembali merencanakan masa depanku dengannya. Akupun mengambil ponselku dari dalam jas. Selama beberapa menit aku hanya bisa menatap ragu pada layar ponselku. Beribu keraguan seakan menyelimuti seluruh tubuhku. Aku menyerah! Aku tidak bisa menghubunginya. Aku terlalu khawatir akan reaksi buruk yang mungkin aku terima dari Jiah. Hatiku belum siap menerima reaksi itu. Tidak ada hal yang terasa benar saat ini. Jika aku benar-benar menghubunginya, lalu Jiah membalasku dengan mood yang buruk, maka keadaan diantara kami menjadi benar-benar buruk di masa depan. Lalu jika Jiah tidak membalasnya sama sekali, aku rasa hatiku belum siap menerima keresahan dalam keadaan lelah seperti ini. Aku pun mengurungkan niatku untuk menghubunginya dan memasukkan ponselku kembali ke dalam jas.

.

“Geunde, jika dipikirkan lagi, sepertinya aku dapat memahami sikap Jiah saat ini”, kata Donghae bicara pada Soo Jung, membuatku menoleh padanya.

.

“Perasaan yang mana yang kau maksud?” tanya Soo Jung yang sedang mengunyah sepotong kecil waffle di mulutnya.

.

“Saat di SMA Jiah menanggung semua perlakuan buruk, begitu juga dengan surat-surat dan hadiah-hadiah yang berisikan ancaman dan gertakan. Bukankah sikap Jiah saat ini tidak terlalu buruk? Kita seharusnya merasa beruntung, bukan?”

.

“Ah… Benar. Aku tidak memikirkannya. Setelah semua hal mengerikan itu, Jiah kembali dan tetap menjadi Jiah yang kita kenal. Ya… walaupun sikapnya pada orang asing menjadi sedikit lebih dingin. Tapi mengetahui keadaan Jiah yang tidak menunjukkan perlawanan dan membuat keributan, sepertinya kita memang harus mensyukuri hal itu. Jika aku ada di posisi Jiah, mungkin aku sudah mendatangi rumah gadis-gadis jahat itu satu persatu, lalu melawan mereka, menjambak rambut mereka dan mencakar wajah mereka hingga…..”

.

“Ya! Ya! Ya! Kau ini preman atau apa? Bersikaplah sebagai seorang gadis sedikit saja ish…” kata Donghae memotong ucapan Soo Jung yang menutup mulutnya dan tersenyum meminta maaf pada Donghae.

.

“Sebenarnya…… apa yang sedang kalian berdua bicarakan?” tanyaku.

.

Mereka berdua sontak menoleh padaku dengan tatapan datar. Aku balas menatap mereka berdua dengan tatapan bingung. Jujur saja, aku tidak mengerti dengan pembicaraan mereka sedikitpun. Mereka jelas-jelas membicarakan Jiah yang sama. Tapi aku bahkan tidak dapat mengerti apapun. Perlakuan buruk? Surat? Hadiah? Ancaman? Apa yang mereka bicarakan? Kenapa tidak ada satupun yang ku ketahui? Tanpa ku sadari kebingunganku membentuk sebuat guratan dalam di keningku, seolah mendesak Soo Jung dan Donghae untuk mengatakan semua hal yang tidak aku mengerti.

.

“Kau…… tidak tahu?” tanya Donghae ragu.

.

“Tentang apa?” aku balas bertanya.

.

Soo Jung membuka sedikit mulutnya mengungkapkan keterkejutannya. Lalu ia menggigit pelan lidahnya dan meringis menatap Donghae. Ekspresi wajah yang ditunjukkannya seolah menunjukkan penyesalan atas tindakan yang telah ia perbuat, seolah ia telah mengatakan apa yang seharusnya tidak ia katakan, dan tidak aku ketahui. Aku pun berdeham, memaksa mereka segera mengatakan semua yang mereka ketahui padaku. Sudah terlambat untuk menyembunyikan semuanya dan menghindar dariku. Aku mendengar dengan jelas apa yang baru beberapa menit yang lalu mereka bicarakan dihadapanku.

.

“Aku pikir kau mengetahuinya… Karena itu kami membahasnya dengan santai…” kata Donghae mengakhiri kebungkamannya. “Jiah benar-benar tidak memberitahumu?”

.

“Tentang apa? Aku tanya sejak tadi tentang apa, inma???” tanyaku dengan nada kesal yang telah terakumulasi dengan rasa lelah dan pusing di kepalaku.

.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Jiah pasti akan sangat marah padaku. Bodohnya dirimu, Jung Soo Jung…” kata Soo Jung sambil memukul pelan kepalanya.

.

“Cepat katakan padaku atau kalian tidak akan pernah bisa keluar dari gedung ini”, ancamku.

.

“Kau saja yang mengatakannya, Soo Jung-ah…” kata Donghae.

.

“Kenapa aku?” tanya Soo Jung keberatan.

.

“Kau kan sahabat Jiah yang paling dekat dengannya. Kau lebih tahu bagaimana keadaan sebenarnya”.

.

“Tapi aku tidak……”

.

“Ppalli!” kataku.

.

“Arasseo…” kata Soo Jung menyerah. “Saat di SMA, Jiah mendapatkan perlakuan buruk dari banyak gadis yang menyukaimu”.

.

“Mereka bersikap buruk pada Jiah untuk hal yang tidak benar-benar Jiah lakukan”, Donghae menambahkan.

.

“Jiah memang tidak melakukan apapun, Donghae-ya…” kata Soo Jung membenarkan ucapan Donghae.

.

“Apa? Kenapa?” tanyaku.

.

“Hhh… Kau bertanya karena benar-benar tidak tahu? Keterlaluan sekali kau, Cho Kyuhyun…”

.

“Mereka mengira Jiah lah yang mendekatimu. Beberapa gadis di SMA kita juga pergi ke SMP yang sama dengan kalian. Mereka menyebar kabar bahwa Jiah sudah mengejarmu sejak lama. Ada pula yang mengatakan Jiah merayumu hingga kau bersikap baik padanya. Mereka merasa kesal karena kau hanya melakukan itu pada Jiah. Ch… Padahal dimata laki-laki, terlihat jelas bahwa yang kau lakukan pada Jiah dikarenakan perasaan suka. Para gadis memang rumit…” kata Donghae menjelaskan.

.

“Hanya itu?” tanyaku memastikan.

.

“Tentu saja tidak!” seru Soo Jung yang menjadi kesal. “Kau ingat? Saat Jiah mencegahmu membuang seluruh hadiah, surat, dan bunga yang ada di meja mu, kau memberikan beberapa bucket padanya. Di hari-hari berikutnya kau bahkan sesekali memberikan cokelat, kue dan bunga pada Jiah walaupun Jiah tidak mengatakan apapun padamu. Kau pikir mereka yang memberikan hadiah itu akan tinggal diam? Jiah menerima semua yang kau berikan karena dia menghormati pemberianmu. Tapi yang terjadi justru Jiah harus menerima perlakuan buruk dari gadis-gadis yang memberikan hadiah itu beserta dengan teman-temannya. Mereka berpikir Jiah yang memintanya darimu. Ah… Jika aku mengingatnya kembali, aku merasa sangat kesal. Beberapa gadis yang ada di kelas kita bahkan ikut serta memberikan perlakuan buruk pada Jiah bahkan disaat mereka tahu Jiah tidak bicara padamu sama sekali di kelas. Nappeun nyeondeul…” kata Soo Jung yang terbawa emosi menjelaskan secara detil.

.

“Perlakuan buruk seperti apa yang kau maksud, Jung Soo Jung?” tanyaku.

.

“Hmm… Aku tidak yakin apakah aku bisa memberitahukan ini padamu. Aku khawatir pada reaksimu jika mendengarnya. Kau mungkin ingin melakukan seperti yang tadi ku katakan, mendatangi rumah mereka satu persatu dan mengajak mereka berkelahi. Reaksi mu pada semua hal buruk yang terjadi pada Jiah tidak dapat terduga, Cho Kyuhyun…”

.

“Tidak. Aku tidak akan seceroboh itu. Katakan saja…” pintaku.

.

“Hmm… Darimana aku harus memulainya……” kata Soo Jung menimbang.

.

“Surat ancaman?” tanya Donghae yang secara tidak langsung memberikan jawaban pada pertanyaanku.

.

“Mulai dari itu? Baiklah. Surat ancaman, pesan-pesan dengan bahasa yang mengerikan menghujani ponsel Jiah, lalu mulai hilangnya barang-barang di loker Jiah, hmm… apa lagi?” tanya Soo Jung pada Donghae.

.

“Gagalnya percobaan Jiah di lab kimia?” kata Donghae sambil memasukkan potongan waffle ke mulutnya.

.

“Ah… itu juga. Lalu… dijegal saat membawa nampan makan siang, didorong hingga terjatuh saat berjalan di taman belakang sekolah, wajah disiram dengan susu, cake basi di loker, baju olahraga yang dilumuri kecap, dan……” Ia menghentikan ucapannya. Sontak Soo Jung menoleh padaku lalu tersenyum tipis. “Kau tidak perlu mendengarnya lagi”, katanya.

.

“Dan?” tanyaku memaksanya.

.

“Aku sudah memberitahukan semua hal padamu”, jawab Soo Jung cepat lalu menghindari tatapanku dengan meminum jus strawberry dihadapannya.

.

Sikap Soo Jung tiba-tiba berubah. Sebelumnya Soo Jung dan Donghae menceritakan setiap hal yang terjadi saat itu dengan pembawaan yang tenang, santai dan cenderung menjadikannya bahan lelucon yang sudah tidak perlu lagi dianggap serius karena masa-masa itu sudah berlalu. Tapi satu hal yang bahkan belum terucap mengubah atmosfer diantara kami dengan cepat. Soo Jung berubah bungkam dan menghindar dari pembicaraan yang terasa seperti pembicaraan terlarang, yang tidak boleh dikatakan bahkan tidak boleh diingat lagi. Mereka sudah mengubur semua hal itu untuk waktu yang lama, memasukkannya ke dalam peti dan melemparnya jauh ke dasar samudra. Seolah jika peti itu ditemukan dan kembali dibuka, rasa sakit dan luka yang sudah tertutup akan kembali terbuka dan bertambah parah. Dan saat ini akulah si penemu peti itu. Aku yang sedang membawanya keluar dari dasar samudra dan berusaha membukanya. Meski aku harus menanggung segala hal yang tidak menyenangkan.

.

“Tidak. Masih ada yang belum kau katakan, Jung Soo Jung”, desakku.

.

“Aku tidak ingin mengatakannya!” kata Soo Jung dengan raut wajah yang berubah, seperti menunjukkan rasa kesal bercampur sedih.

.

“Lee Donghae?” kali ini aku mendesak Donghae.

.

Donghae menoleh pada Soo Jung yang menatap ke arah lain dengan alis bertaut dan helaan napas berat, lalu kembali menatapku. Ia juga menghela napasnya dengan berat dan panjang. Entah apa yang akan ia katakan, tapi hatiku mengatakan itu bukan hal yang baik. Otakku tiba-tiba memerintahkan seluruh sel ditubuhku untuk menyiapkan diri mendengar kata yang yang akan diucapkan Donghae.

.

“Di loker Jiah ada berbucket-bucket bunga……” jawab Donghae yang kemudian menghela napasnya lagi. Donghae berdeham. Saat itu aku mengetahui bahwa kalimatnya belum selesai. “Krisan putih”, sambung Donghae. (Bunga Krisan putih digunakan pada setiap persemayaman jenasah atau upacara pemakaman)

.

“Apa yang kau katakan??? Bagaimana? Bagaimana bisa mereka melakukan itu pada Jiah? Krisan putih? Apa… Apa yang……”

.

Aku menemukan diriku tidak bisa berkata-kata mendengar jawaban Donghae. Aku seolah mendengar sebuah bunyi yang sangat nyaring berdengung di telingaku lalu memenuhi kepalaku. Tiba-tiba kemarahan menyelubungiku, mengalir disetiap aliran darah di tubuhku. Jiah menerima semua perlakuan itu tanpa melakukan apapun sebagai balasannya. Kenyataan bahwa akulah penyebab semua hal itu membuatku lebih tidak bisa menutupi kemarahanku. Kenapa dia tidak melakukan apapun? Kenapa dia tidak bicara padaku? Kenapa Jiah menerima semua itu begitu saja? Pertanyaan-pertanyaan itu seolah berputar diotakku. Jiah seharusnya bisa mengatakannya padaku. Kami duduk bersama saat itu. Jiah memiliki banyak kesempatan untuk bicara padaku.

.

“Rasa suka para gadis itu padamu terlalu besar. Mereka lebih pantas disebut sasaeng”, kata Donghae.

.

“Hal yang membuatku bingung adalah kenyataan bahwa Jiah bisa menghadapi semua itu sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah ke luar negeri”, sambung Soo Jung dengan suara pelan.

.

“Kau pikir alasan Jiah pergi hanya disebabkan kau membentaknya hari itu karena rasa cemburu mu? Jiah lebih kuat dari itu. Kemarahanmu tidak seberapa dibandingkan dengan penyiksaan psikis yang dilakukan penggemarmu”, kata Donghae.

.

“Pertahanan dirinya membuatku iri. Tapi juga membuatku khawatir. Aku takut psikologis Jiah akan terganggu jika dia memendamnya sendiri seperti itu terus menerus”, kata Soo Jung.

.

“Kenapa Jiah tidak melakukan apapun? Kenapa dia tidak bicara padaku?” tanyaku akhirnya.

.

“Lalu membiarkan kau menghadapi gadis-gadis itu untuk membelanya? Kau? Tidak Cho Kyuhyun. Walaupun pilihan itu ada dalam daftar hal-hal yang bisa dia lakukan, Jiah tidak akan pernah melakukan hal itu. Memberitahumu adalah hal yang paling tidak ingin Jiah lakukan. Kau pikir jika kau membelanya maka Jiah akan terbebas dari mereka?” kata Soo Jung.

.

“Mereka justru akan lebih mencelakai Jiah, inma. Tanpa kau membelanya sekalipun, surat-surat dan hadiah-hadiah menyeramkan itu pun sudah dikirimkan langsung oleh mereka ke rumah Jiah. Coba kau pikirkan jika kau membelanya. Bukan hanya Jiah yang akan pindah ke luar negeri, melainkan seluruh anggota keluarga nya juga akan ikut serta. Dan pernikahan kalian tidak akan pernah terjadi”, sambung Donghae. “Karena itu, hubungi Jiah. Perbaiki hubungan kalian. Anggap saja kau sedang berusaha mengobati luka yang Jiah miliki karena para gadis itu, Cho Kyuhyun”.

.

“Benar, Cho Kyuhyun. Hubungi Jiah. Entah kenapa aku merasa Jiah masih menyukaimu. Dia tidak membencimu”, kata Soo Jung.

.

“Dia memang tidak membenciku, Jung Soo Jung, Lee Donghae. Jiah mengatakannya padaku hari itu. Dia menyukaiku… Sangat menyukaiku. Tapi dia tidak bisa mencintaiku lagi. Dia tidak yakin bisa melakukan itu…” kataku.

.

“Kalau begitu cukup dengan kau yang sangat mencintainya, bukan? Lalu kau bisa menunggu sampai tiba hari dimana Jiah merasakan cinta yang kau rasakan. Kau tidak memiliki banyak masalah, Cho Kyuhyun. Kalian sudah menikah. Jiah hanya meminta waktu, bukan ingin berpisah darimu. Coba kau pikirkan lagi apa yang sudah diterimanya. Dia hanya meminta waktu darimu. Dia tidak meminta nyawamu. Berikan saja…” kata Donghae santai.

.

“Ternyata benar. Selama ini aku tidak pernah mempercayai ucapan Donghae yang mengatakan bahwa kau sangat mencintai Jiah. Tapi melihatmu begitu takut kehilangan Jiah seperti ini…… Tidak ku duga. Berjuanglah, Cho Kyuhyun. Sebagai sahabatnya, aku hanya bisa menjamin satu hal padamu”, kata Soo Jung.

.

“Apa?”

.

“Jiah tidak akan meninggalkanmu. Kau sudah menjadi bagian dari hidupnya. Dia tidak akan pergi kemanapun”, kata Soo Jung sambil tersenyum.

.

Aku menundukkan kepalaku menatap lantai putih cafetaria. Aku merasa kemarahanku mereda dan digantikan dengan rasa lega yang begitu luar biasa. Setiap kata yang diucapkan oleh Donghae dan Soo Jung seolah memberikan kekuatan dan keyakinan padaku untuk tetap memperjuangkan Jiah. Seperti mantra, kata-kata Donghae dan Soo Jung menempel kuat di pikiranku. Cukup aku yang sangat mencintainya dan menunggu hingga Jiah juga mencintaiku. Jiah tidak akan pergi kemanapun. Aku kembali menengadahkan kepalaku menatap Donghae dan Soo Jung yang ternyata juga sedang menatapku dengan senyuman diwajah mereka, lalu tertawa karena melihat wajah datarku. Tawa mereka akhirnya mengundangku untuk bergabung dengan tawa yang kami pun tidak mengerti apa arti dari tawa yang keluar dari bibir kami ini.

.

.

BGM: 옥상달빛 사랑의 노래

.

.

Author’s POV

Kyuhyun kembali ke apartment setelah menyelesaikan shift paginya. Donghae dan Soo Jung meninggalkannya di rumah sakit setelah makan siang bersama di cafetaria. Kini tinggallah Kyuhyun yang duduk di sofa sambil menatap kosong ke ponsel yang ia letakkan di meja tidak jauh didepannya. Keraguan selalu menyelimutinya setiap kali ia ingin menghubungi Jiah. Terlalu banyak hal yang ia khawatirkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Kyuhyun mengingat satu persatu hal yang mungkin sedang dilakukan oleh Jiah. Ia memperhitungkan waktu yang dibutuhkan oleh Jiah untuk kembali ke rumah pukul 5 setelah bekerja di galeri milik eomeoni. Jiah akan langsung masuk ke kamar untuk membersihkan diri, lalu keluar untuk bergabung dengan anggota keluarga Cho yang lain di ruang tv. Hanya ada kemungkinan kecil Jiah sedang memegang ponselnya saat ini. Jiah lebih sering meninggalkan ponselnya di meja kamar mereka, bahkan terkadang Jiah tidak mengeluarkan ponselnya dari tas hingga keesokkan paginya. Namun kata-kata Soo Jung dan Donghae kembali teringat olehnya. Ia harus menghubungi Jiah secepatnya. Ia tidak ingin kembali terlambat meraih Jiah.

.

Kyuhyun mengambil ponselnya dari atas meja, lalu membuka aplikasi messenger yang sering ia gunakan untuk berkomunikasi dengan Jiah. Kyuhyun akan mulai menghubungi Jiah melalui pesan. Ia tidak akan langsung bicara dengan Jiah melalui sambungan telepon. Ia memutuskan untuk melangkah perlahan. Mengejar Jiah hanya akan membuat Jiah lari darinya dan lebih membuat Jiah menjauh darinya. Perlahan, Cho Kyuhyun… Tidak perlu terburu-buru. Jiah tidak akan pergi kemanapun, kata Kyuhyun dalam pikirannya, meyakinkan dirinya. Ada satu hal yang menarik perhatiannya. Jiah mengganti foto di profil nya. Kyuhyun menekan foto kecil milik Jiah di daftar teman untuk memperbesar fotonya. Senyum menghiasi wajah Kyuhyun saat melihat wajah Jiah yang cantik berdiri diantara banyak kanvas yang belum dipasang di dinding. Jiah terlihat sedang memegang kuas dan menatap kanvas cukup besar didepannya sambil berpikir. Jiah tidak tersenyum, namun aura yang muncul darinya cukup membuat Kyuhyun terpesona. Ia semakin rindu pada Jiah nya. Kyuhyun pun memulai pembicaraan mereka, berharap Jiah mau membalasnya.

.

지아

Jiah-ya…

Hmm?

.

Mata Kyuhyun terbelalak saat membaca balasan yang dikirim Jiah tidak lama setelah ia mengirimkan kata pertamanya. Ia pun merasa sangat bodoh dengan merasa ragu dan berpikir terlalu lama. Ia bahkan tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan balasan dari Jiah. Senyum Kyuhyun pun mengembang, lalu ia kembali meneruskan percakapan mereka.

.

지아

Kau baik-baik saja?

Eo…

Kau dimana?

Masih di galeri

Kau tidak pulang?

Belum…

Tidak ada pasien?

Aku sudah pulang

Makan malam?

Baru akan

Kau?

Sudah makan malam?

Nanti

Masih ada yang harus aku lakukan

Sangat sibuk?

Tidak

Hanya harus menyelesaikan satu hal

Harus diselesaikan saat ini?

Eo

Tidak apa-apa jika aku menganggumu seperti ini?

Eo…

Aku merindukanmu…

Tahan

Terlalu merindukanmu

Hentikan

Aku sakit perut

Kkkkk

Aku bersungguh-sungguh

Tentu saja

Kau sangat tahu aku

Aku bukan kau

Ingin bertemu denganmu…

Aku bilang tahan…

Terima konsekuensi atas pilihanmu

Bukan aku yang menyuruhmu pergi

Arasseo…

Mianhae…

Aku menyesalinya

Sangat menyesalinya

Saat ini aku sangat merindukanmu

Rasanya seperti tidak bisa bernapas

Gunakan oksigen di UGD

Pasti bebas biaya untuk dokter, bukan?

Ch…

Tidak akan sama dibandingkan

dengan bertemu denganmu

Jangan seperti bayi

Kau bisa bertahan disana tanpaku?

Tidakkah kau merindukanku?

Keterlaluan…

Aku bisa mengatasinya dengan caraku

Tanpa merengek sepertimu

.

Mata Kyuhyun membesar melihat balasan yang baru saja dikirim oleh Jiah. Kyuhyun tidak ingin bersorak senang dan terlalu berharap, namun ia tidak bisa membohongi dirinya. Balasan Jiah membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Jiah bahkan tidak mengatakannya secara langsung. Namun Kyuhyun merasa seolah Jiah sedang mengatakan bahwa ia bisa mengatasi kerinduannya, mengatakan ia juga merindukan Kyuhyun. Senyum Kyuhyun lantas mengembang. Tawa pun meramaikan suasana apartmentnya yang semula hening dan dipenuhi dengan hawa kesedihan. Kyuhyun menemukan senyumnya kembali. Ia mendapatkan Jiahnya kembali. Jiah kembali mendekat padanya. Meski hanya satu langkah kecil, namun hal itu sudah sangat berarti bagi Kyuhyun.

.

지아

Aku hanya terlalu merindukanmu

Aku tahu

Aku harus pergi

Seorang tamu penting datang

Arasseo…

Jangan lupa makan malam mu

Aku akan berusaha mengingatnya

Aku akan menghubungimu terus

Sampai kau makan

Aku pegang kata-katamu

Akan aku lakukan

Aku akan menganggumu

Sampai kau merindukanku

Berharap saja…

Aku pergi

Fighting!

Aku mencintaimu

Eo…

.

.

#########################

.

.

Komunikasi diantara Kyuhyun dan Jiah tetap berjalan. Kyuhyun selalu menyempatkan waktu untuk menghubungi Jiah dengan mengirimkan pesan singkat untuk sekedar mengetahui apa yang sedang Jiah lakukan. Namun seperti yang selalu terjadi, memenangkan hati Jiah tidaklah mudah. Tidak semua pesan dari Kyuhyun dibalas oleh Jiah. Jika kebetulan Jiah membalas pun, isi pesan yang Jiah kirimkan sangat singkat. Sesekali Kyuhyun mencoba menelepon Jiah. Jiah lebih sering mengangkatnya, namun pembicaraan mereka tidak berlangsung lama. Jadwal kegiatan masing-masing menjadi penghambat komunikasi keduanya. Malam berganti siang, hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan berganti, hingga hari yang sangat ditunggu Kyuhyun pun tiba. Hari dimana ia dapat kembali ke rumah, kembali pada hatinya yang ia tinggal disana. Dengan kepribadian nya yang terkadang terburu-buru jika batas kesabarannya habis, Kyuhyun melajukan mobil yang ia minta pada Donghae untuk diantarkan ke stasiun dengan cepat menuju rumah. Ia bahkan tidak sempat menghubungi siapapun karena perasaan senang sudah memenuhi kepalanya. Mobil Kyuhyun masuk ke pekarangan rumah, lalu di parkir secara sembarangan oleh Kyuhyun. Tanpa memedulikan posisi mobilnya yang diparkir diagonal menutupi hampir sebagian pekarangan, Kyuhyun keluar dari mobil dan berlari menuju ke dalam rumah.

.

“Aku pulang…” seru Kyuhyun saat memasuki rumah.

.

“Kyuhyun-ah… Kau sudah kembali dari Busan?” tanya Nyonya Cho.

.

“Eo, eomma. Anakmu sudah kembali…” jawab Kyuhyun yang sudah tiba di ruang keluarga, tempat keluarga nya sedang berkumpul.

.

“Dimana Jiah? Kau tidak mengajaknya?” tanya Nyonya Cho.

.

“Ne? Mengajaknya? Apa maksud eomma?” tanya Kyuhyun bingung dengan pertanyaan ibunya.

.

“Neo! Jangan katakan…… Dari Busan kau langsung kesini?” tanya Nyonya Cho yang dijawab dengan anggukan mantap dari Kyuhyun. “Mwoya… Kau seharusnya pulang ke apartment terlebih dahulu, bertemu dengan istrimu, lalu mengajaknya kesini bersamamu. Kau ini…” protes Nyonya Cho.

.

.

Drrrtttt Drrrrrttttt

.

.

Ponsel di saku celana Kyuhyun bergetar, menyadarkan Kyuhyun dari pikirannya yang sedang berpikir keras, berusaha mengingat hal-hal yang mungkin terlewat olehnya. Selama ia berkomunikasi dengan Jiah, tidak pernah ada sedikitpun pembahasan mengenai pindah rumah. Mereka memang sudah memesan satu unit apartment yang letaknya strategis dengan kampus, rumah sakit, maupun gallery, namun mereka bahkan belum menyelesaikan pembayaran apartment itu. Tatapan mata Kyuhyun pun bertemu dengan mata kakak perempuannya yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam sambil mengernyitkan keningnya, memberikan isyarat pada Kyuhyun agar mengambil ponselnya. Ketika menyadari maksud kakaknya itu beberapa detik kemudian, Kyuhyun pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dan benar. Kakak perempuannya itu yang sudah mengirimkan sebuah pesan padanya.

.

.

From: Nuna

Jiah sudah pindah ke apartment 1 bulan setelah kau pergi

Sepertinya hubungan kalian belum membaik

Kau bahkan tidak mengetahui hal itu…

.

.

Kyuhyun menghela napas panjang setelah membaca pesan dari kakaknya itu. Tidak semudah itu, nuna… keluh Kyuhyun dalam pikirannya. Selama beberapa bulan Kyuhyun sudah berusaha memperbaiki hubungannya dengan Jiah. Keluarga Kyuhyun (dan tentu saja keluarga Jiah) hanya mengetahui permasalahan diantara keduanya disebabkan oleh kepindahan mendadak Kyuhyun ke Busan. Sementara yang terjadi sebenarnya tidaklah sesederhana itu. Masalah diantara keduanya tidak dapat diselesaikan dengan mudah. Setiap masalah yang terjadi diantara mereka sudah bertumpuk sejak bertahun-tahun yang lalu, hingga kini tumpukan itu sudah terlalu tinggi. Apa yang sudah terjadi di masa lalu bahkan belum benar-benar terselesaikan. Lalu datang masalah kepindahan tanpa pembicaraan Kyuhyun ke Busan yang membuat luka diantara mereka kembali terbuka. Dan tentu saja, kesalahpahaman yang terjadi di Busan melengkapi rumitnya masalah diantara mereka. Kyuhyun bahkan belum benar-benar bisa memahami Jiah, mendekati Jiah, dan meraih kembali hati Jiah sejak pertemuan kembali mereka tahun lalu.

.

“Kau akan makan siang disini?” tanya Nyonya Cho mengalihkan Kyuhyun dari tatapan lemahnya pada layar ponsel.

.

“Ne?” tanya Kyuhyun.

.

“Eomma bertanya apakah kau akan tinggal untuk makan siang?” Nyonya Cho mengulangi pertanyaannya.

.

“Tidak, eomma. Aku harus menemui istriku. Aku terlalu merindukannya”, jawab Kyuhyun.

.

“Kau terlalu merindukannya tapi justru kesini tanpa pulang menemuinya terlebih dahulu. Kau benar-benar aneh, Kyuhyun-ah…” kata Nyonya Cho sambil tertawa mengejek anak bungsunya itu.

.

“Aku pikir Jiah berkunjung hari ini, eomma. Aku bermaksud memberikan kejutan padanya…” kata Kyuhyun.

.

“Tapi justru kau yang terkejut, bukan?” tanya Ahra menyambung.

.

Kyuhyun menoleh pada kakak perempuannya. “Eo… Dia selalu berhasil mengejutkanku…” jawab Kyuhyun sambil tersenyum tipis.

.

.

Drrrtttt Drrrttttt

.

.

Ponsel ditangan Kyuhyun kembali bergetar. Ahra kembali mengirimkan pesan padanya sebagai tanggapan atas kalimat terakhir yang diucapkan Kyuhyun baru saja. Pesan yang dikirimkan Ahra berhasil membuat Kyuhyun mengernyitkan keningnya karena merasakan kebingungan yang sepertinya juga dirasakan oleh kakak perempuan satu-satunya itu.

.

From: Nuna

Aku sempat berpikir…

Cukup aneh mengetahui kalian masih bertengkar

Karena Jiah membawa serta barang-barangmu juga

Jiah juga bersikap sangat normal setiap berkunjung kesini

Bukan hal yang biasa dilakukan oleh seorang yang sedang marah

.

Jiah pindah dari rumah keluarga Cho tidak hanya membawa barang-barang miliknya, namun juga membawa serta barang-barang milik Kyuhyun. Hal yang sangat tidak biasa dilakukan oleh pasangan yang sedang dalam situasi pertengkaran. Tindakan yang dilakukan Jiah menunjukkan bahwa Jiah tidak bermaksud untuk melarikan diri dari rumah. Jiah tidak pindah karena emosi yang disebabkan oleh pertengkarannya dengan Kyuhyun. Ada alasan kepindahan murni yang dimiliki Jiah. Dan tentu saja, Kyuhyun tidak bisa menerka apa alasan yang dimiliki Jiah. Kyuhyun belum pernah bisa.

.

“Baiklah, eomma, aku harus segera kembali pulang. Aku tidak bisa bernapas karena merindukannya”, kata Kyuhyun dengan senyum mengembang yang ia berikan pada ibunya.

.

“Hhh… Jika Jiah ada disini, eomma akan menutupi telinganya dari kata-kata mu itu. Sangat cheesy…” kata Nyonya Cho sambil tertawa kecil, mengejek anaknya.

.

“Jiah mungkin sudah berlalu pergi saat mendengarnya, eomma. Aku pergi, eomma, nuna…” pamit Kyuhyun yang segera berlalu keluar dari rumah.

.

Kyuhyun masuk ke mobil dengan terburu-buru, memutar kemudi nya dan meninggalkan pekarangan rumah dengan kecepatan yang melebihi kecepatan saat ada panggilan darurat dari rumah sakit. Kondisi jalan yang lengang di akhir pekan membuat perjalanannya menuju apartment menjadi lebih cepat. Ia pun memarkirkan mobilnya dan keluar dengan cepat tanpa membawa serta tasnya. Kyuhyun melihat ke sekeliling tempat parkir untuk menemukan mobil Jiah yang ternyata berada tidak jauh dari pintu masuk gedung apartment. Kyuhyun segera melangkah cepat masuk ke lift dan menekan tombol 5, lantai dimana apartmentnya berada. Saat pintu lift terbuka, Kyuhyun melangkah setengah berlari menuju pintu apartmentnya. Kyuhyun berhenti dan memukul pelan dinding disebelah pintu. Rasa frustrasi menenuhi dirinya, karena ia bahkan tidak tahu bahwa pembangunan apartment mereka sudah selesai, tentu saja ia juga tidak tahu password untuk membuka pintu di depannya itu. Kyuhyun menghela napas dan menggunakan cara tersabar yang bisa ia lakukan, yaitu memencet bel. Selama beberapa menit Kyuhyun sudah memencet bel, namun tidak ada respon apapun dari dalam rumah. Kyuhyun merogoh saku celananya, namun ternyata ponsel nya tertinggal di mobil. Kyuhyun pun kembali berusaha memencet bel hingga seorang wanita yang terlihat memiliki umur yang sama dengan ibunya keluar dari lift. Kyuhyun menunduk, memberikan salam hormat pada wanita itu.

.

“Siapa yang kau cari?” tanya wanita itu.

.

“Ah… Aku mencari Kwon Jiah…” jawab Kyuhyun ragu memberitahukan pada wanita itu.

.

“Jiah? Kau siapa? Kakaknya? Temannya?”

.

“Bukan. Aku…… suaminya. Namaku Cho Kyuhyun”, jawab Kyuhyun berhati-hati.

.

“Ah… Cho Kyuhyun. Jadi kau orangnya”, kata wanita paruh baya itu. “Selama beberapa hari aku menduga-duga siapa satu-satunya orang yang menurut Jiah boleh ku beritahu tentang ini. Akhirnya kau datang…”

.

“Diberitahu tentang apa?” tanya Kyuhyun bingung.

.

“Beberapa hari yang lalu terjadi sesuatu dengan Jiah. Anak yang malang…”

.

“Apa? Apa yang terjadi, ahjumma?” tanya Kyuhyun yang tiba-tiba terkena serangan panik dalam dirinya.

.

“Saat sedang menyebrang jalan di depan apartment, ada seorang pengemudi yang mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat, lalu menabrak Jiah”.

.

“APA???” tanya Kyuhyun memotong ucapan wanita itu.

.

.

.

.

TBC…

Note:

Geregetan dan gemes sama part selanjutnya? TBC disaat yang tidak tepat? Itulah kegunaan TBC, readers-nim, untuk membuat kalian penasaran dan kesal disaat yang bersamaan. Mianhaeyo… *bow

Well, konflik dalam part ini tidak terlalu menggebu dan terburu-buru. Hanya ada satu masalah yang akhirnya Kyuhyun ketahui. Ternyata sikap yang ditunjukkan Jiah padanya setelah bertahun-tahun bukan hanya karena bentakan Kyuhyun saat mereka berada di SMA dulu. Terungkaplah luka sebenarnya yang dirasakan Jiah. Dalam part ini, aku ingin menjelaskan maksud sebenarnya dari sikap Jiah dibalik sikapnya yang seolah tidak peduli pada Kyuhyun. Jiah mengalami perubahan dalam dirinya. Jiah membuat dua kotak yang berbeda antara rasa suka dan cinta, yang awalnya ia satukan, tanpa dibedakan. Namun Jiah dewasa sudah membuat garis pembatas antara keduanya. Perasaan Jiah yang masih berada dalam kotak “suka” tidak dapat berpindah ke kotak lainnya karena masih terhalang oleh garis yang ia buat. Kepribadian Jiah pun terungkap dalam part ini. Saat di SMA, Jiah memutuskan untuk menghadapi masalahnya seorang diri karena khawatir jika ada yang membantunya, orang tersebut akan mengalami apa yang dialaminya. Jiah bahkan meminta kedua sahabatnya untuk merahasiakan semua hal yang terjadi padanya. Kedua, Jiah memang meninggalkan Kyuhyun di Busan, tapi Jiah tidak benar-benar pergi dari hidup Kyuhyun. Hal tersebut terbukti walaupun ia keluar dari rumah keluarga Cho, tapi Jiah membawa serta barang-barang Kyuhyun bersamanya. Hal itu menunjukkan bahwa sejak awal memang Jiah tidak pernah memiliki niat untuk meninggalkan Kyuhyun, right? Setelah pertengkaran diantara mereka pun Jiah masih mau membalas pesan dan mengangkat telepon Kyuhyun, walaupun tidak memberikan respon yang banyak. Satu hal yang bisa kalian para readers ketahui dari part ini adalah Jiah hanya bersikap seperti adanya dirinya. Orang-orang disekitarnya lah yang terlalu banyak berasumsi dan berpikir tentang dirinya. “Jiah tidak serumit yang dipikirkan orang-orang disekitarnya. Mengerti Jiah adalah hal yang cukup sederhana”. Kira-kira begitu…

Daaan… Kejadian yang tidak boleh terlewat dari part ini adalah terusirnya Victoria dari kehidupan Kyuhyun. Pertanyaannya, apakah Kyuhyun melupakan semua hal yang dilakukan Victoria pada hubungannya dengan Jiah? Begitu saja? Tanpa menuntut penjelasan apapun dari Victoria? Benar. Kyuhyun tidak sedikitpun memikirkannya. Kyuhyun pun sebenarnya sesederhana itu, readers-nim. Kyuhyun tidak bisa memusatkan pikirannya pada banyak hal sekaligus. Sesaat setelah Jiah pergi dari Busan, Kyuhyun hanya memikirkan Jiah. Kyuhyun bahkan tidak membuang waktu untuk memikirkan hal lain selain Jiah dan pekerjaannya. Akhirnya disaat ia kembali bertemu dengan Victoria, Kyuhyun tidak membahas masalah itu sama sekali. Dan Kyuhyun adalah orang yang memiliki pendirian kuat. Hati Kyuhyun sudah tertuju pada Jiah sejak awal. Apapun yang terjadi, siapapun yang datang padanya, tidak akan mengubah apapun.

Oooowwwkkkeeeeyyyy, note nya kepanjangan ya kayaknya… Aku sudahi saja deh… Karena TBC nya disaat Kyuhyun tahu kalau Jiah kecelakaan, jadi tentu saja part selanjutnya akan mulai dari kejadian itu. Apa yang akan terjadi? Apakah keadaan Jiah baik-baik saja? Atau justru hal buruk benar-benar terjadi? Apakah mereka akan berakhir bersama? Atau justru benar-benar terpisah? Tunggu part selanjutnya… Kana pamit! Annyeonghigaseyo…

Advertisements

58 thoughts on “Since I (have) met you : Part 9

  1. Ternyata otu alasan kepergian jiah bukan karna bertengkar dengan kyuhyun ,, siapa ya yg nabrak jiah ko feeling aku victoria ya

    Like

  2. Donghae-so jung selalu menjadi penyemangat kyuhyun
    Selama jiah duduk bersama kyuhyun waktu SMA, jiah mengalami banyak kejadian
    Yang membuat jiah menjadi pribadi yang dingin
    Aku sama kayak so jung, pengen jambak, cakar muka sasaeng fans kyuhyun
    Jiah selalu sukses membuat kyuhyun syok

    Like

  3. Kyuhyun banyak kena syok terapi yg berhubungan dengan jiah..semoga jiah ga kenapa2 ya…dan murni kecelakaan atau orang yg sengaja mo celakain jiah…

    Like

  4. Akhirnya kesalahpahaman mreka terselesaikan juga..
    Yah walaupun hubungan mreka belum ada perkembangan..
    Astaga cho suami macam apa yg gtw istrinya udah pindah ke apartment??
    Hahhahahah..

    Mwoo jiah ketabrak??
    Trus gimana keadaannya??

    Like

  5. Ya ampun… gk nyangka kalau jiah dibully fans kyuhyun sampai segitunya ckckck… kasian T.T

    Kyuhyun sweet bgt disini, hatinya bener2 terpaut cuma buat jiah ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s