Since I (have) met you : Part 7

Author: Okada Kana

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast: Cho Kyuhyun, Kwon Jiah (OC)

Other Cast:

Jung Soo Jung, Lee Donghae, Victoria Song, Lee Joon

Kim Hyoyeon (cameo), Kim Dasom (cameo), Kang Soyou (cameo), Jung Yunho (cameo), Park Jungsoo (cameo), Seolhyun (cameo), etc…

Disclaimer:

FF ini murni berasal dari kepalaku. Ide cerita yang muncul berasal dari beberapa drama yang sudah aku tonton. Tapi cerita dalam FF ini tidak menggunakan ataupun mengikuti cerita drama yang sudah ada. Seperti biasanya, mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Karena seperti yang aku katakan, ini adalah kisah cinta sederhana yang bisa dialami siapa saja. Aku juga berusaha sebisa mungkin untuk menghindari typo. Tapi, aku juga manusia biasa yang bisa membuat kesalahan, jadi mohon dimaklumi. No bash, smart comments and critics always accepted. Selamat membaca…

.

.

.

.

Review Part 6

“Kau sudah menghabiskan satu gelas, Jiah-ya. Kau masih sanggup menghabiskan gelas yang lain?”

“Aku mungkin masih sanggup kira-kira setengah gelas lagi. Toleransi ku pada alcohol tidak cukup baik. Cho Kyuhyun… Itu gelas terakhirmu. Kau mengerti?”

“Arasseo… Ah, bagaimana jika kita berhenti minum dan ikut berdansa bersama mereka?”

“Call!”

———————–

“Cho Kyuhyun, berhenti tersenyum dengan bodoh dan makanlah…”

“Arasseo…”

“Bisakah kita kembali ke Seoul besok lusa?”

“Kau sudah puas berlibur?”

“Belum… Tapi aku harus datang di dua kelas minggu depan”.

“Jadi, lusa?”

“Eo… lusa”

“Baiklah.

————————-

“Apa yang sunbae lakukan disini?”

“Aku sedang off. Aku tidak memiliki hal lain untuk aku lakukan dirumah.”

“Begitu rupanya… Tapi… Kenapa di fakultas ini? Apakah ada maksud tertentu, sunbae?”

“Kenapa? Aku tidak boleh berada disini?”

“Bukan itu maksudku… Hanya saja, rasanya sedikit aneh melihat sunbae berada disini untuk pertama kalinya”

“Aku lebih suka disini”.

————————-

“Pesona mu benar-benar belum redup, Cho Kyuhyun. Hebat sekali…”

“Walaupun aku tidak menyukainya, tapi aku mengakuinya…”

“Sayangnya tidak berpengaruh padaku”.

“Begitupun denganku”.

————————-

.

.

-Since I (have) met you : Part 7-

.

.

.

.

.

Author’s POV

Kehidupan Kyuhyun dan Jiah kembali bergulir dengan cepat. Sisa liburan mereka berakhir dengan perjalanan ke Pulau Jeju bersama Soo Jung dan Donghae. Hal itu menandakan dimulainya kembali kesibukan keduanya. Empat bulan sudah berlalu sejak hari pernikahan mereka dan perjalan bulan madu mereka. Perayaan Natal dan Tahun Baru pun sudah mereka lewatkan bersama-sama. Akhirnya Kyuhyun harus kembali ke rumah sakit. Beberapa kali ia mendapatkan jadwal shift panjang karena banyaknya pasien yang datang. Sementara Jiah sudah sejak satu bulan yang lalu mengambil bagian dari galeri milik ibunya. Jiah turut serta membantu pekerjaan ibunya disana. Kesibukkan nya pun menjadi berlipat ganda karena Jiah masih harus menjalani kuliahnya. Sejak menikah, Kyuhyun dan Jiah tinggal bersama keluarga Cho. Disana Jiah merasakan kasih sayang yang berlimpah, terlebih dari ibu mertuanya dan kakak iparnya. Jiah merasa seolah ia adalah anak kandung dari keluarga itu. Jarangnya intensitas Kyuhyun berada dirumah tidak serta merta membuat Jiah merasa kesepian, karena ibu mertua, kakak ipar, dan keponakannya selalu menemaninya. Namun, hal itu tidak membuat keduanya berkeinginan untuk selalu tinggal disana. Kyuhyun dan Jiah sudah memesan sebuah apartemen yang masih dalam proses pengerjaan di daerah Yeouido, Seoul. Proses pengerjaan sudah sampai tahap penyelesaian. Mereka hanya perlu menunggu kira-kira 2 bulan. Sebelum apartemen itu selesai, Kyuhyun dan Jiah akan tetap tinggal di rumah keluarga Kyuhyun.

.

Akhirnya kesibukan mereka mencapai tahap yang cukup membuat Kyuhyun khawatir. Jadwalnya selama beberapa minggu terakhir benar-benar diluar perkiraannya. Kyuhyun lebih banyak memiliki jadwal shift sore dan malam. Intensitas Kyuhyun untuk bertemu, bahkan bicara dengan Jiah menjadi sangat berkurang. Saat Kyuhyun menjalani shift Sore, Kyuhyun hanya bisa bertemu dengan Jiah saat sarapan dan sesekali sebelum Jiah tidur. Sedangkan saat shift malam, Kyuhyun harus meningkatkan kesabarannya karena ia sama sekali tidak bisa bertemu dengan Jiah. Ia pun sesekali mencuri waktu dengan mengunjungi Jiah di kampus saat jam makan siang, karena hanya saat itulah mereka bisa bertemu dan saling bicara.

.

Hubungan keduanya berjalan dengan baik. Mereka tidak pernah bertengkar. Jika ada sebuah masalah yang diperkirakan akan berujung sebuah pertengkaran, salah satu diantara mereka akan mengalah sebelum pertengkaran itu benar-benar terjadi. Tidak. Akhir-akhir ini bukan hanya Kyuhyun yang mengalah. Seolah sudah dapat membaca Kyuhyun dengan baik, Jiah juga sama mengalahnya dengan Kyuhyun. Semua hal baik itu bisa saja menjadi sebuah kemajuan bagi hubungan mereka. Namun Kyuhyun masih harus menerima kenyataan bahwa Jiah tidak hanya bersikap seperti itu padanya. Hal yang dilakukan Jiah padanya tidak mewakili perasaan Jiah sebenarnya. Itulah Jiah. Seorang wanita yang baik, ramah, dan tidak pernah ingin menyakiti orang lain. Bahkan walaupun orang lain pernah menyakitinya. Kyuhyun tetap tidak mendapatkan jawaban pertanyaan dan harapannya.

.

Hari Jumat penutup minggu yang sibuk. Kyuhyun kembali ke rumah tepat pukul 7 malam. Ia masuk ke dalam rumah dan menemukan Jiah sedang duduk bersama ibunya, beserta dengan kakak perempuan dan keponakannya. Mereka menoleh dan menyapa Kyuhyun yang tersenyum tipis pada mereka. Kyuhyun meminta izin untuk masuk ke kamar dan mandi terlebih dahulu. Menyadari sikap Kyuhyun yang cukup aneh, Jiah pun mengikuti Kyuhyun ke dalam kamar mereka.

.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jiah saat pintu kamar mereka sudah tertutup.

.

“Hmm? Eo… Aku baik-baik saja. Hanya kelelahan…” jawab Kyuhyun.

.

“Kau ingin ku siapkan air panas?” tanya Jiah lagi.

.

“Tidak perlu. Saat ini aku butuh air dingin”, jawab Kyuhyun dengan senyum tipisnya.

.

“Baiklah. Kalau begitu aku akan keluar dan membantu eomeoni menyiapkan makan malam”, kata Jiah yang mulai melangkah menuju pintu.

.

“Kwon Jiah…” panggil Kyuhyun tiba-tiba, tepat sebelum Jiah menyentuh gagang pintu.

.

“Ada apa?” tanya Jiah yang berbalik menatap Kyuhyun yang berdiri membelakanginya.

.

Kyuhyun tidak menjawab Jiah. Namun helaan napasnya terdengar berat. “Jiah-ya… nal anajwo…… Jebal… (Jiah… tolong peluk aku… Tolong…)” kata Kyuhyun akhirnya.

.

Jiah menjauhkan tangannya dari gagang pintu dan bungkam menatap punggung lesu Kyuhyun. Jiah menghela napas panjang. Selama beberapa saat keningnya berkerut dan wajahnya menunjukkan kekhawatiran pada sosok di hadapannya itu. Jiah ragu untuk melangkahkan kakinya mendekat pada Kyuhyun. Hatinya menolak untuk melangkah, namun pikirannya terus mendorongnya untuk segera meraih Kyuhyun. Pada akhirnya kekuatan pikiranlah yang mendominasi kerja tubuhnya.

.

“Jebal nal anajwo… (Aku mohon peluk aku…)” kata Kyuhyun lagi

.

.

BGM: Kang Hyun Min – Such (Feat. Jo Hyunah of Urban Zakapa)

.

.

Tepat disaat Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya, Jiah sudah memasukkan lengannya diantara kedua tangan Kyuhyun yang berada di samping tubuh. Jiah memeluk erat pinggang tubuh Kyuhyun. Ia juga menyentuhkan wajahnya di punggung Kyuhyun, sehingga Kyuhyun bisa merasakan bibir Jiah yang kini sudah digantikan dengan dahinya, berada tidak jauh dari tengkuk Kyuhyun. Perlahan Jiah menggerakan tangannya. Tangan kiri Jiah tetap melingkar di pinggang Kyuhyun, sementara tangan kanannya menjalar melalui dada dan berakhir di bahu nya. Jiah meremas pelan bahu Kyuhyun. Jiah sedikit bergeser ke kanan. Dahinya kini bisa menyentuh bahu Kyuhyun. Jiah mengelus bahu Kyuhyun pelan lalu kembali menyentuhkan wajahnya di punggung Kyuhyun. Bibirnya menyentuh punggung Kyuhyun, terasa bagai sebuah ciuman hangat untuk meredakan segala kerisauan.

.

Tiba-tiba Kyuhyun terisak. Hal itupun membuat Jiah membelalakkan matanya. Jiah pun melepaskan pelukannya. Tubuh Kyuhyun bergetar. Ia menutup matanya dengan tangan kanannya. Melihat hal itu, Jiah menyentuh kedua bahu Kyuhyun lalu memutar tubuh Kyuhyun agar menghadap padanya. Kyuhyun mengatupkan rahangnya kuat, menahan agar isakan keras tidak keluar dari bibirnya. Jiah segera menjulurkan kedua tangannya, kemudian meraih tengkuk Kyuhyun dan mendekatkan kepala Kyuhyun padanya. Kyuhyun melepas tangannya dari matanya lalu meletakkan kepalanya di bahu Jiah. Air mata Kyuhyun mulai membasahi baju yang Jiah kenakan. Jiah membelai kepala Kyuhyun perlahan dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya menepuk – nepuk punggung Kyuhyun untuk menenangkannya.

.

“Oneul neomu himdeulji? (Hari ini sangat berat, bukan?)” tanya Jiah yang sengaja tidak menanyakan hal yang terjadi agar tidak memperburuk perasaan Kyuhyun.

.

“Hmm…” jawab Kyuhyun dengan suara nya yang menjadi serak.

.

“Menangislah… Jika itu bisa meredakan kesedihanmu…” kata Jiah.

.

“Hari ini……” kata Kyuhyun yang menghentikan kalimatnya karena desakan air mata kembali menghadangnya.

.

“Tidak. Jangan katakan apapun…” cegah Jiah. “Kita bicarakan itu nanti, eo?”

.

“Geurae…” kata Kyuhyun setuju.

.

Jiah pun melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuh Kyuhyun darinya. “Aigoo…” Hanya itu yang bisa Jiah katakan saat melihat wajah Kyuhyun. Kesedihan yang bercampur dengan rasa lelah, akhirnya meluap menjadi air mata yang benar-benar menyesakkan. Kyuhyun segera membersihkan bekas air mata di pipinya lalu menghela napas panjang untuk membantunya menenangkan diri.

.

“Mandilah… Aku akan membawakan makan malam mu ke kamar jika sudah siap”, kata Jiah.

.

“Tidak perlu. Aku akan keluar”, kata Kyuhyun.

.

“Jangan menyiksa dirimu sendiri dengan memendam apa yang sedang kau rasakan, Cho Kyuhyun. Itu hanya akan menambah rasa sakit yang kau rasakan. Pergilah ke kamar mandi sekarang dan tenangkan dirimu disana”, kata Jiah.

.

Kyuhyun menuruti apa yang dikatakan Jiah. Kyuhyun kembali menghela napas panjang kemudian melangkah menuju kamar mandi dengan langkah lemas. Setelah memastikan Kyuhyun masuk ke kamar mandi, Jiah pun keluar dari kamar untuk mengambil makan malam seperti yang dijanjikannya tadi. Setelah kurang lebih lima belas menit, Kyuhyun keluar dari kamar mandi, bertepatan dengan masuknya Jiah ke kamar dengan membawa nampan berisi makan malam dan segelas cokelat hangat untuk Kyuhyun. Jiah meletakkan nampan itu disebuah meja kecil berukuran 60 x 50 cm yang berada di tengah kamar, lalu menarik tangan Kyuhyun untuk duduk bersamanya disana. Jiah menyerahkan sebuah sendok langsung ke tangan kanan Kyuhyun, agar Kyuhyun segera makan makanan yang ada di hadapannya. Suapan demi suapan masuk ke mulut Kyuhyun. Jiah memperhatikan Kyuhyun yang sedang makan. Tanpa ia sadari ia menghitung berapa banyak suapan yang Kyuhyun makan. Menyadari tatapan Jiah, Kyuhyun pun menjulurkan sesendok sup labu pada Jiah, yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Jiah. Kyuhyun tetap memaksa Jiah untuk memakannya. Jiah pun menyerah dan menerima suapan dari Kyuhyun.

.

Makan malam Kyuhyun dilewati dengan keheningan diseluruh sudut kamar mereka. Setelah piring Kyuhyun sudah benar-benar kosong, Jiah pun membawa nampan itu keluar dari kamar. Butuh waktu beberapa menit sampai Jiah kembali masuk ke kamar. Kyuhyun belum beranjak dari tempatnya duduk dan kini menopangkan kepalanya dengan tangan kanannya. Jiah menghela napas panjang sebelum melangkah mendekati Kyuhyun. Jiah menunduk untuk meraih tangan kiri Kyuhyun yang tergeletak lemas diatas pahanya. Kyuhyun menoleh dengan cepat saat merasakan genggaman tangan Jiah di tangannya. Jiah melangkah mundur, hingga tangan Kyuhyun tertarik bersamanya. Kyuhyun berdiri agar tidak menyulitkan Jiah yang memang sedang berusaha membuatnya bangun. Jiah melangkah ke belakang tubuh Kyuhyun, kemudian mendorong tubuh Kyuhyun melangkah bersama nya menuju kamar mandi. Malam itu, komunikasi yang terjadi dalam kamar mereka berlangsung tanpa suara. Jiah mendorong Kyuhyun ke kamar mandi hanya untuk meminta Kyuhyun menyikat giginya. Kyuhyun mendesis pelan menyadari hal itu. Semua tindakan Jiah benar-benar diluar dugaan Kyuhyun. Setelah selesai, Jiah kembali menarik tangan Kyuhyun keluar dari kamar mandi menuju tempat tidur. Beberapa langkah dari tempat tidur, Jiah melepas tangan Kyuhyun dan mematikan lampu kamar mereka yang digantikan dengan lampu tidur, lalu mendahuluinya berbaring miring di tempat tidur. Kemudian Jiah menoleh pada Kyuhyun yang masih berdiri memperhatikannya dan menepuk pelan bantal kosong yang ada di sebelahnya. Mengerti maksud Jiah, Kyuhyun pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sesuai dengan keinginan Jiah. Mata keduanya bertemu. Mereka masih dalam kebungkaman yang tidak biasa. Jiah kembali menghela napas panjang.

.

Come here…” kata Jiah sambil menyentuh bahu Kyuhyun.

.

Kembali, tanpa pertanyaan dan bantahan Kyuhyun mendekat pada Jiah. Ia merebahkan kepalanya di lengan Jiah, hingga dahinya menyentuh tepat di pipi Jiah. Kyuhyun memeluk tubuh istrinya yang memiliki aroma segar buah bercampur bunga. Jiah menyentuhkan tangan kanannya di punggung Kyuhyun dan untuk ke sekian kali menenangkan Kyuhyun dengan tepukan lembut disana. Perlahan Jiah memejamkan matanya.

.

“Hari ini……” kata Kyuhyun pelan dalam pelukan Jiah. “…seorang anak meninggal di meja operasi. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk membuatnya kembali…”

.

Jiah membuka matanya lagi saat mendengar perkataan Kyuhyun. “Kau sudah melakukan semua hal yang bisa kau lakukan”.

.

“Tapi dia tidak kembali, Jiah-ya… Dia sudah memberikan kepercayaan padaku untuk merawatnya, membuatnya kembali sembuh, tapi aku tidak bisa mewujudkan kepercayaan yang telah dia berikan padaku…” kata Kyuhyun lagi. Kali ini dengan kepedihan yang menyertai setiap kata yang keluar dari bibirnya.

.

“Kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri. Kau tidak punya hak untuk menentukan apakah dia bisa kembali atau tidak. Setiap orang memiliki garis kehidupannya masing-masing. Waktunya di dunia ini sudah habis. Kini dia memiliki misi yang lebih penting untuk dia jalankan. Dia harus menjadi malaikat pelindung bagi setiap orang yang dia sayangi dan menyayanginya, dan juga bagi setiap orang yang dia berikan kepercayaan. Keluarga nya tentu akan merasa sedih. Tidak pernah ada larangan untuk merasa sedih karena rasa kehilangan. Namun satu hal yang perlu kita sadari… Saat ini dia merasa bahagia disana. Dia tidak merasakan sakit seperti yang dia rasakan disini. Kau sudah melakukan yang terbaik untuk membantunya, Kyuhyun-ah…” kata Jiah yang memberikan kecupan singkat di kening Kyuhyun.

.

“Aku takut, Jiah-ya…” kata Kyuhyun.

.

“Jika seorang dokter merasa takut, bagaimana para pasien mu bisa menumbuhkan harapan mereka untuk sembuh? Tenangkan dirimu hari ini. Istirahatkan pikiran, perasaan, dan tubuhmu mala mini, Kyuhyun-ah…”

.

Dalam keadaan sedih, saraf-saraf Kyuhyun masih bisa menangkap berbagai rangsangan yang baru saja diantar ke otaknya. Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya Jiah memanggilnya tanpa sebutan formal yang menyertakan nama keluarga. Kyuhyun-ah… Dia bahkan tidak memanggilku dengan panggilan sayang. Namun jantungku berhasil dibuatnya berdetak lebih cepat seperti ini. Kyuhyun kembali menemukan harapannya yang sempat terpuruk karena intensitas waktu bertemu mereka yang berkurang beberapa bulan terakhir. Kyuhyun pun bergerak mundur, menjauh dari pelukan Jiah. Kyuhyun menatap lembut wajah Jiah masih dengan raut wajah yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya itu. Ia menjulurkan tangannya untuk meraih helaian rambut yang menutupi wajah Jiah, kemudian menyelipkannya ke belakang telinga Jiah. Kyuhyun membelai pipi Jiah dengan ibu jarinya. Jiah memejamkan matanya perlahan yang membuat sudut bibir Kyuhyun tertarik membentuk sebuah senyuman tipis. Saat Jiah membuka matanya, Kyuhyun segera mendekatkan wajahnya pada Jiah dan menyentuhkan bibirnya di bibir Jiah. Kyuhyun membuka bibir Jiah dengan bibirnya untuk memudahkannya dalam memperdalam ciumannya. Tangan Kyuhyun bergerak ke belakang kepala Jiah untuk menahan Jiah agar tidak menjauh darinya. Berselang beberapa saat, Kyuhyun melepaskan ciumannya dan menarik Jiah dalam pelukannya. Kyuhyun memejamkan matanya lalu memberikan kecupan di kening Jiah sebelum keduanya terlelap dalam keheningan suasana kamar mereka.

.

“Aku mencintaimu…” bisik Kyuhyun di telinga Jiah.

.

.

.

Beberapa minggu kemudian…

Sebuah undangan reuni SMA tiga angkatan diterima Kyuhyun satu minggu yang lalu. Sudah selama tiga hari belakangan Donghae selalu menghubunginya untuk memberitahukan detail acara reuni tersebut. Kyuhyun yang semula tidak berminat untuk datang, akhirnya menyerah karena desakan Donghae dan Soo Jung yang semakin hari semakin membuatnya lelah. Kyuhyun yang sedang duduk di ruangannya membuka lagi undangan ditangannya itu. Ia menghela napas membaca setiap kata yang tertulis disana. Kenyataan bahwa Jiah bukan merupakan alumni SMA mereka adalah satu-satunya alasan Kyuhyun enggan datang kesana. Jiah memang sempat mengenyam pendidikan disana, namun Jiah hanya berada disana selama satu tahun. Tiba-tiba senyum Kyuhyun mengembang. Dalam amplop undangan tersebut tenyata terdapat sebuah pesan yang selama ini ia lewatkan. Disana tertulis, setiap alumni diperbolehkan membawa serta pasangan masing-masing. Tanpa membuang waktu, Kyuhyun pun menguhubungi Jiah untuk memintanya menemani Kyuhyun menghadiri undangan tersebut. Seperti biasanya, Jiah menyanggupi permintaan Kyuhyun dengan santai. Namun Jiah memberitahu Kyuhyun bahwa ia akan datang terlambat karena ada beberapa hal yang harus ia selesaikan di galeri. Kyuhyun tentu tidak keberatan dengan hal itu. Kyuhyun cukup senang dengan kenyataan bahwa Jiah tanpa penolakan apapun bersedia menemaninya.

.

Hari yang dimaksudpun tiba. Kyuhyun datang ke sebuah restaurant tepat pukul 8, seperti yang ada dalam undangan. Beberapa gadis yang tampaknya berasal dari angkatan satu tahun dibawah Kyuhyun menyambut kedatangannya di meja daftar hadir sambil memberikan rangkaian pita yang menandakan tahun angkatan pada Kyuhyun. Ia berjalan memasuki restaurant dan menemukan meja kosong disudut ruangan. Setelah menyapa beberapa teman dan senior yang ia kenal cukup baik, Kyuhyun segera berjalan menuju tempat itu. Ia duduk dengan tenang disana sambil terus memeriksa ponselnya, menunggu balasan pesan yang ia kirimkan pada Jiah. Suasana restaurant bertambah ramai saat para alumni mulai berdatangan. Seperti yang tercantum dalam undangan, banyak diantara para alumni yang mengajak serta kekasih, suami, istri, bahkan anak mereka. Kyuhyun sempat mengernyitkan keningnya saat melihat hal itu. Bukan bersikap tidak sopan. Hanya saja, mereka baru lulus dari SMA kira-kira 5 tahun yang lalu. Dan dua tiga anak yang datang terlihat sudah berusia 3-4 tahun. Jadi, setelah lulus dari SMA, mereka menikah? Tidak. Atau punya anak terlebih dahulu baru menikah? Lalu, apakah ayah mereka tidak melakukan wajib militer? Ah… Sudahlah… Bukan urusanku… kata Kyuhyun dalam pikirannya.

.

Pukul 8 lewat 47 menit, Jiah sampai ke restaurant yang Kyuhyun maksudkan dalam pesannya. Jiah berdiri cukup lama di ambang pintu, ragu untuk melangkah masuk. Sore tadi saat bicara dengan Kyuhyun di telepon, Jiah sempat mengutarakan keraguannya untuk datang. Walaupun Jiah mengenal satu dua angkatan dalam acara tersebut, namun Jiah yang notabene bukan merupakan alumni SMA itu tentu saja merasakan keraguan. Terlebih dengan kejadian terakhir sebelum ia pindah dari sekolah itu. Semua siswa tahu bahwa Kwon Jiah dan Cho Kyuhyun memiliki masalah, bahkan bertengkar hebat di kelas. Banyak gadis yang tidak menyukainya, cenderung membenci dan ingin menyingkirkannya. Mwo… Lima tahun sudah berlalu. Mereka pasti sudah melupakan hal itu… kata Jiah mencoba menenangkan diri. Tidak. Yang sedang kau bicarakan adalah Cho Kyuhyun, Kwon Jiah… Seluruh penjuru sekolah mengenalnya. Pemuja bukan hanya siswi satu angkatan, tapi juga senior dan tentu saja junior, yang bahkan tidak pernah ku temui saat itu. Aish… Bodohnya dirimu, Kwon Jiah… Kau seharusnya tidak menyanggupi permintaan Cho Kyuhyun. Jika saat Kyuhyun meneleponku aku tidak sedang terburu-buru, mungkin aku bisa meminta waktu untuk berpikir terlebih dahulu.

.

.

BGM: Kyuhyun – Listen To You

.

.

Akhirnya Jiah memutuskan untuk masuk. Ia tidak bisa mundur. Lagipula perut Jiah sudah bersorak mengutarakan protes karena belum ada makanan yang masuk sejak pagi. Dan Kyuhyun kemungkinan akan pulang larut hari ini. Bukan keputusan yang bijak untuk kembali ke rumah seorang diri dan menunggu Kyuhyun pulang. Hal tersebut akan lebih melelahkan untuk dilakukan dibandingkan dengan menghadiri acara ini. Jiah pun melangkah masuk. Beberapa gadis yang semula berada di meja depan penerima tamu, kini sudah masuk ke dalam restaurant untuk bergabung bersama alumni lainnya. Acara itu mengusung tema charity bagi yang membutuhkan. Dan segment lelang baru saja selesai saat Jiah melangkah masuk ke ruang utama. Kini acara digantikan dengan live music yang dibawakan oleh sukarelawan alumni yang ingin menyumbangkan suaranya untuk dipertunjukkan. Hal yang dikhawatirkan oleh Jiah pun terjadi. Banyak alumni yang mengenalinya. Beberapa diantara mereka menyapa Jiah dengan ramah, namun beberapa diantara yang lain memberikan komentar sinis padanya. Lee Donghae, Jung Soo Jung, Cho Kyuhyun, kalian dimana? Selamatkan aku… jerit Jiah dalam pikirannya.

.

“Bukankah itu Kwon Jiah? Apa yang dia lakukan disini?” tanya seorang wanita yang dulu satu angkatan dengan Jiah, Kim Hyoyeon.

.

“Benar… Dia bahkan bukan alumni. Kenapa dia datang kesini?” komentar wanita lain yang masih berada dalam kelompok itu.

.

“Bukankah kemunculan terakhirnya di sekolah saat dia bertengkar hebat dengan Kyuhyun? Kalian ingat? Rumor yang beredar bahwa dia mencontek ujian milik Kyuhyun? Lalu dia membuat keributan bertengkar dengan Kyuhyun di kelasnya. Lalu bersikap seolah dia keberatan duduk bersama Kyuhyun di semester berikutnya. Padahal kalian tahu? Sejak SMP Jiah sudah menyukai Kyuhyun”, kata seorang wanita bernama Dasom.

.

“Kau benar… Hhh… Dia tidak tahu malu. Setelah bertahun-tahun akhirnya dia memunculkan wajahnya kembali disini. Kalian lihat wajahnya? Aku rasa dia melakukan operasi plastic untuk mendapatkan wajah seperti itu…” sahut seorang yang lain bernama Seolhyun.

.

“Begitu juga dengan tubuhnya. Ukurannya sangat palsu. Dimana dia mendapatkan dada dan bokong itu. Dimanapun itu, dia pasti menggunakan biaya yang sangat besar. Ch… Siapa yang ingin dia goda disini dengan penampilan itu?” sambung wanita bernama Soyou.

.

“Bagaimana jika kita menghampirinya? Mungkin Kwon Jiah ingin reuni dengan mantan teman-teman satu angkatannya…” kata Dasom dengan nada sinis.

.

Sekelompok wanita itupun berjalan mendekati Jiah yang masih berdiri di tengah ruangan, berusaha mencari Donghae, Soojung, ataupun Kyuhyun. Beberapa langkah sebelum mereka benar-benar bertemu, Jiah menyadari tatapan-tatapan aneh yang diberikan wanita-wanita itu padanya. Jiah berdeham merasakan ketidaknyamanan dalam dirinya. Karena Jiah datang ke acara itu bukan untuk ‘kembali’ mencari musuh ataupun keributan. Jiah bahkan tidak mengingat seluruh alumni di tempat itu.

.

“Lama tidak bertemu, Kwon Jiah…” sapa Dasom dengan nada angkuh.

.

“Apa kabar, Kim Dasom? Kau tidak banyak berubah”, sapa Jiah dengan senyum diwajahnya.

.

“Kau…… banyak berubah”, kata Dasom menyindir.

.

“Benarkah? Mungkin karena kau tidak pernah bertemu denganku jadi aku terlihat banyak berubah…” kata Jiah menanggapi dengan santai.

.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Seolhyun sinis langsung pada poin nya.

.

“Aku diundang untuk datang. Bukan sebagai alumni. Aku diundang oleh seorang alumni”, jawab Jiah.

.

“Benarkah? Pria? Wanita?” tanya Seolhyun lagi.

.

“Hmm… Pria… dan juga wanita…” jawab Jiah.

.

“Ah… Lee Donghae dan Jung Soojung? Tentu saja… Kalian masih berteman baik rupanya…” komentar Seolhyun.

.

“Kau kesulitan menemukan mereka? Perlu aku bantu mencari mereka?” tanya Soyou seolah mengutarakan maksudnya ingin segera menyingkirkan Jiah dari tengah ruangan agar tidak terus menjadi pusat perhatian banyak orang.

.

“Aniya… Tidak perlu. Aku rasa mereka akan segera menemukanku”, jawab Jiah dengan sikap tenangnya.

.

“Kau bisa menunggu mereka di tempat duduk yang ada di pinggir ruangan jika kau mau”, sambung Soyou memperjelas maksudnya.

.

Menyadari maksud Soyou, Jiah pun tertawa kecil. “Arasseo… Aku akan melakukannya…” kata Jiah yang akhirnya memutuskan untuk melangkah menjauhi mereka.

.

Namun, belum sempat Jiah melangkah, sebuah coat diletakkan di bahunya disertai dengan sepasang tangan yang melingkar di tubuhnya. “Nan Kwon Jiah dasi jabassda… (Aku menangkap Kwon Jiah lagi…)” Ia tertawa pelan lalu mengecup pelipis kanan Jiah cukup lama. “Aku merindukanmu…”

.

Sekelompok wanita di hadapan Jiah tiba-tiba membeku dengan pemandangan yang mereka saksikan sendiri. Kyuhyun memeluk tubuh Jiah tanpa mempedulikan setiap pasang mata yang memperhatikannya. Kyuhyun bahkan tidak segan mencium Jiah di depan semua orang yang berada disana. Tidak lama berselang, terdengar komentar terkejut dari beberapa gadis sepertinya masih menandakan diri mereka sebagai pemuja Kyuhyun. Jiah yang menyadari hal itu tidak serta merta berusaha melepaskan tangan Kyuhyun dari tubuhnya. Karena bagi Jiah, tidak ada yang salah dengan tindakan Kyuhyun. Saat masuk ke dalam restaurant tadi Jiah seringkali melihat banyak pasangan yang sedang berpelukan, bahkan mencium mesra pasangan mereka.

.

“Akhirnya kau datang… Bagaimana harimu? Kau lelah, bukan?” tanya Kyuhyun yang kemudian kembali mendaratkan kecupannya, kini di bahu Jiah.

.

“Sebaiknya kau lepaskan aku…” kata Jiah dengan tawa kecil yang menyertai.

.

“Wae??? Silheo…” kata Kyuhyun keberatan. “Selama beberapa minggu aku selalu hanya bisa melihatmu yang tertidur dalam pelukanku. Hari ini Kwon Jiah berada di pelukanku dalam keadaan sadar. Neomu joha…” bisik Kyuhyun dengan senyum mengembang.

.

“Aku mengerti… Hanya saja, aku merasa tidak enak pada mereka”, kata Jiah yang kembali menoleh pada para wanita di hadapannya.

.

Kyuhyun pun menoleh dan baru menyadari ada sekelompok wanita di hadapan mereka. Beberapa diantara mereka menunjukkan ekspresi terkejut dan beberapa lainnya terlihat kesal karena rencana mereka untuk menggoda Kyuhyun sudah benar-benar gagal. Kyuhyun memberikan senyumannya pada mereka.

.

“Eo! Annyeong… Lama tidak bertemu… Kalian teman satu angkatanku, bukan?” tanya Kyuhyun yang masih memeluk Jiah.

.

“Eo… Kau benar…” jawab Seolhyun.

.

“Ya… Cho Kyuhyun… Apa yang sedang kau lakukan di tengah keramaian seperti ini?” tanya seorang pria yang mendekati mereka. Park Jungsoo.

.

“Kwon Jiah, jika kau ingin melepaskan diri darinya, aku bisa membantumu”, sambung seorang pria yang lain, Jung Yunho. “Mwoya Cho Kyuhyun… Kenapa kau memonopoli gadis cantik ini?”

.

Jiah dan Kyuhyun hanya tertawa kecil mendengar ucapan Yunho. Beberapa orang yang berada di sekeliling mereka pun mengernyitkan dahi mereka, tidak mengerti dengan reaksi yang ditunjukkan Kyuhyun dan Jiah.

.

“Kenapa? Wanita cantik ini adalah milikku. Kalian berdualah yang harus menyingkir darinya, inma…” kata Kyuhyun dengan mengoreksi kata ‘gadis’ menjadi ‘wanita’.

.

“Ya! Bagaimana bisa kau menyebut Kwon Jiah adalah milikmu? Kau membuatnya tidak nyaman”, kata Jungsoo.

.

“Aku tidak mengatakan hal yang salah. Kwon Jiah adalah istriku. Kami menikah tahun lalu”, kata Kyuhyun.

.

“Apa?!?! Kalian menikah??? Daebak…” tanya Yunho terkejut.

.

“Siapa yang mengira kisah kalian berakhir seperti ini… Selamat atas pernikahan kalian berdua…” kata Jungsoo.

.

Sementara banyak gadis dalam ruangan itu tidak bisa menutupi keterkejutan mereka. Bahkan beberapa diantara mereka membuka mulut mereka cukup lebar karena terkejut dengan kabar yang baru saja mereka dengar. Begitu pula dengan Dasom dan yang lainnya. Mereka tidak bisa mengatakan apapun lagi setelah mendengar hal itu. Sejak dulu hingga sekarang, Jiah selalu menjadi satu-satunya orang yang memenangkan Kyuhyun. Meski Jiah tidak menyadari hal itu.

.

“Kau sudah makan?” tanya Kyuhyun. Jiah menggeleng pelan. “Sejak pagi?” tanya Kyuhyun lagi. Kali ini dijawab dengan anggukkan oleh Jiah. “Kau pasti sangat lapar…” Jiah mengangguk lagi. Tiba-tiba Kyuhyun mengecup singkat pipi Jiah. “Ayo kita cari makanan yang bisa dimakan perut kosong dengan asam lambung mu yang ku rasa sudah meningkat itu, Jiah-ya. Kalian tahu dimana aku bisa menemukan makanan seperti itu?” tanya Kyuhyun pada Jungsoo dan Yunho.

.

“Ada beberapa makanan yang tidak berbahaya untuk lambungnya di dekat meja kami”, jawab Yunho yang ternyata juga merupakan seorang dokter. “Ayo kesana bersama kami. Masih ada beberapa kursi yang kosong juga di meja kami”.

.

“Ayo, sayang…” kata Kyuhyun yang melepaskan pelukannya dan meraih tangan Jiah untuk menggandengnya berjalan menuju tempat yang dimaksud oleh Yunho.

.

.

#########################

.

.

Suatu hari dibulan April

Seluruh keluarga Cho sedang duduk bersama menonton sebuah tayangan televisi saat Kyuhyun kembali dari rumah sakit. Seperti biasanya, Kyuhyun segera masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri kemudian duduk bergabung bersama anggota keluarganya yang lain. Namun ada satu hal yang berbeda darinya. Kyuhyun tampak bungkam, seolah sedang memikirkan hal yang rumit hingga membuat dahinya berkerut cukup dalam. Akhirnya saat suasana ruang tv cukup tenang, Kyuhyun memberanikan diri untuk bicara.

.

“Aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian…” kata Kyuhyun menarik perhatian anggota keluarganya.

.

“Ada apa, Kyuhyun-ah? Kau tampak cukup khawatir dengan apa yang akan kau katakan…” kata Nyonya Cho setelah melihat ekspresi wajah Kyuhyun.

.

“Professor pembimbingku memberikan kesempatan padaku untuk melakukan penelitian lebih dalam di rumah sakit dengan banyak dokter ahli, agar laporan akhirku lebih sempurna. Aku memutuskan untuk mengambil kesempatan itu”, jawab Kyuhyun.

.

“Lalu? Bukankah itu adalah hal yang bagus? Kenapa kau tampak khawatir?” tanya Cho Ahra kali ini.

.

“Benar. Itu adalah hal yang bagus. Hanya saja……” Kyuhyun menghentikan kalimatnya. Keraguan dalam kata-kata Kyuhyun membuat Jiah menoleh menatap Kyuhyun. “Rumah sakit itu ada di Busan”.

.

“Mwo?!?!” seru Nyonya Cho dan Ahra bersamaan.

.

“Tapi, Kyuhyun-ah… Busan cukup jauh dari Seoul. Bagaimana bisa kau pulang pergi Seoul – Busan setiap hari?” tanya Nyonya Cho.

.

“Hal itu sangat tidak mungkin untuk dilakukan, eomma. Terlebih dengan jadwal internship ku yang sewaktu-waktu bisa memanjang. Aku tidak mungkin melakukan itu, eomma”, jawab Kyuhyun.

.

“Lalu… Kau akan pindah ke Busan? Kapan? Berapa lama?” tanya Nyonya Cho lagi.

.

“Minggu depan. Karena aku tidak hanya melakukan penelitian disana, melainkan juga meneruskan internshipku, maka paling lama aku akan berada disana selama satu tahun. Paling cepat mungkin sembilan sampai sepuluh bulan”, jawab Kyuhyun menjelaskan.

.

“Kau dan Jiah akan pergi selama itu?” tanya Ahra.

.

“Jiah akan tetap tinggal di Seoul. Aku akan pergi seorang diri”, jawab Kyuhyun.

.

“Mwo?!?! Cho Kyuhyun, kau bercanda? Bagaimana bisa kau meninggalkan istrimu di Seoul seorang diri?” tanya Ahra keberatan.

.

“Jiah tidak benar-benar sendiri di Seoul, nuna. Lagipula Jiah harus kuliah. Akan sulit jika harus pindah ke universitas lain. Aku sudah memikirkannya. Ini lebih……”

.

“Pergilah…” kata Jiah yang sedang menunduk memotong kalimat Kyuhyun.

.

“Jiah-ya……” kali ini Nyonya Cho yang keberatan dengan tanggapan Jiah.

.

Tatapan Kyuhyun berubah tajam pada Jiah. Selama beberapa hari Kyuhyun sudah cukup yakin dengan keputusannya. Ia juga sudah mempersiapkan diri untuk reaksi apapun dari keluarganya, termasuk Jiah. Kyuhyun tahu akan sulit untuk memberitahu keputusannya, bahkan keluarganya akan menentang kepergiannya. Ia sudah menetapkan hatinya untuk tetap pergi walaupun dengan semua tentangan yang akan diterimanya. Namun reaksi Jiah tidak pernah ia duga. Jiah melepasnya pergi begitu saja. Tanpa rasa keberatan ataupun usaha mencegah. Tiba-tiba kemarahan menyelimutinya. Selama beberapa bulan pernikahan mereka, baru kali ini Kyuhyun merasakan amarah pada sikap Jiah padanya. Berbagai pemikiran menghampiri otaknya. Kyuhyun merasa jawaban akan pertanyaannya terjawab sudah. Jiah tidak mencintainya, bahkan mungkin Jiah tidak menyukainya. Jiah hanya menjalankan perannya sebagai seorang istri tanpa menyertakan perasaan berarti disetiap tindakannya. Inikah dirimu yang sebenarnya, Kwon Jiah? Apakah benar-benar sudah tidak ada perasaan apapun yang tersisa untukku? Bahkan setelah semua hal yang ku lakukan untukmu?

.

“Jiah-ya, kau tidak benar-benar bermaksud begitu, bukan?” tanya Ahra.

.

“Pergilah, Cho Kyuhyun…” kata Jiah lagi tanpa menjawab pertanyaan kakak iparnya itu. “Kenapa kau merepotkan dirimu untuk berpikir? Sejak awal kau memutuskan untuk pergi, apakah aku menjadi pertimbanganmu? Kau baru memikirkannya setelah kau memutuskannya. Kau bahkan tidak berpikir untuk menanyakan pendapatku tentang hal ini saat itu. Kenapa sekarang kau harus repot memikirkanku? Karena kau baru teringat akan keberadaanku? Kau khawatir aku akan melakukan hal buruk karena kau pergi? Kau khawatir aku akan mencegahmu? Tidak. Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Jika sejak awal kau memang tidak memikirkan hal itu, kau juga tidak perlu memikirkannya sekarang, Cho Kyuhyun…” tanpa sadar, air mata menetes di pipi Jiah.

.

“Apa maksudmu? Kau pikir aku tidak memikirkanmu? Aku khawatir kau akan sulit menemukan kampus yang sesuai dengan keinginanmu disana. Aku khawatir kau tidak akan mudah beradaptasi disana. Aku khawatir kau akan kesepian disana jika shift ku memanjang. Aku memikirkanmu, Kwon Jiah…” kata Kyuhyun.

.

“Kau tahu benar bukan itu yang sedang kita bicarakan…… Dodaeche, neoege naneun mwoni? (Sebenarnya, bagimu aku ini apa?)” tanya Jiah dengan suara lirih karena pengaruh air matanya.

.

“Jiah-ya……” kata Kyuhyun tidak sanggup bicara lagi saat melihat reaksi Jiah.

.

“Jika kau sangat ingin pergi, pergilah!!!” seru Jiah.

.

Jiah pun bangkit berdiri dan berjalan cepat, masuk ke kamarnya. Kyuhyun menghela napas panjang dan mengacak rambutnya. Ia baru menyadari reaksi Jiah yang sebenarnya. Air mata itu menunjukkan diri Jiah yang sebenarnya. Mungkin hal itu tidak bisa menegaskan perasaan Jiah padanya. Namun reaksi Jiah menunjukkan kepedulian Jiah yang begitu besar. Kyuhyun sudah menjadi bagian dari hidup Jiah. Bagaimanapun perasaan Jiah padanya, Jiah sudah menyayangi Kyuhyun seperti keluarganya sendiri, seperti rasa sayangnya pada kakak iparnya, Siwon. Kyuhyun benar-benar menyesali tindakan cerobohnya itu. Kyuhyun juga menyadari bahwa kesempatannya untuk mendapatkan Jiah, yang sebenarnya hanya tinggal beberapa langkah, kini kembali mundur karena kebodohannya.

.

.

#########################

.

.

Setelah kejadian hari itu, keadaan diantara Kyuhyun dan Jiah menjadi dingin. Jika sebelumnya intensitas bertemu mereka terhalang jadwal padat keduanya, namun kali ini Jiah lah yang menghindari Kyuhyun. Mereka tidak pernah bertemu. Bahkan saat Kyuhyun mendapatkan jadwal shift pagi sekalipun, Jiah akan dengan sengaja berada di galeri sampai malam tiba dan langsung pergi tidur sesampainya dirumah. Satu hal yang cukup membuat Kyuhyun khawatir, Jiah tidak pernah terlihat sarapan ataupun makan malam di rumah. Melihat keadaan diantara Kyuhyun dan Jiah, Tuan Cho melarang Nyonya Cho dan Ahra untuk ikut campur dalam masalah mereka. Tuan Cho ingin Kyuhyun menyelesaikan masalah itu dengan caranya sendiri. Hingga tiba malam tepat sebelum kepergian Kyuhyun ke Busan. Jiah baru kembali ke rumah pukul 9 malam, dan lagi-lagi Jiah menolak untuk makan malam dengan alasan sudah makan banyak makanan tadi siang. Jiah segera masuk ke kamar, meletakkan barang-barangnya dan menghapus make up nya. Tiba-tiba Kyuhyun masuk ke kamar.

.

“Jiah-ya, kau tidak makan malam?” tanya Kyuhyun pelan sesaat setelah menutup pintu.

.

“Tidak”, jawab Jiah singkat.

.

“Kau bisa sakit jika seperti ini terus…” kata Kyuhyun.

.

“Tidak perlu mempedulikanku, Cho Kyuhyun” kata Jiah sambil membuang kapas yang telah digunakannya untuk membersihkan wajah.

.

“Jika ini karena keper……”

.

“Pergilah…” kata Jiah memotong, tanpa menoleh pada Kyuhyun. “Hari itu aku sudah mengatakannya padamu dengan jelas… Jika kau sangat ingin pergi, maka pergilah… Aku tidak menahanmu. Tidak akan pernah…” kata Jiah yang berlalu masuk ke dalam kamar mandi.

.

Akhirnya Kyuhyun tidak mengubah rencananya. Kyuhyun tetap pergi ke Busan dengan hati yang berat, meninggalkan Jiah yang masih kecewa padanya. Bahkan di hari keberangkatannya, Jiah lebih memilih pergi mengurus pekerjaannya ke Incheon daripada mengantar Kyuhyun ke stasiun.

.

.

.

.

2 bulan kemudian…

At Busan

Dua bulan sudah berlalu, namun hubungan Kyuhyun dan Jiah tidak berubah. Sikap Jiah pada Kyuhyun menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Jiah memang membalas pesan dan mengangkat telepon dari Kyuhyun. Tapi Jiah hanya menjawab pertanyaan Kyuhyun seperlunya, bahkan sangat jarang balas bertanya pada Kyuhyun. Perasaan Kyuhyun pun semakin menjadi kacau. Keresahan, kekhawatiran, kerinduan, dan penyesalan menjadi satu dalam dirinya. Ia kembali membuat wanita yang dicintainya kecewa. Bahkan kekecewaan Jiah padanya beberapa tahun yang lalu belum benar-benar sembuh, kini Kyuhyun sudah menambah kekecewaan itu lagi. Walau begitu, Kyuhyun tetap menjalani pekerjaannya dengan professional. Kyuhyun berjalan di koridor rumah sakit dengan chart pasien ditangannya. Sesekali ia membalas sapaan perawat ataupun dokter lain yang berpapasan dengannya.

.

“Cho Kyuhyun?” panggil suara seorang perempuan.

.

Kyuhyun menoleh pada sumber suara yang memanggilnya. Benar saja. Perempuan itu adalah Victoria, mantan kekasih Kyuhyun yang berasal dari SMA lain beberapa tahun yang lalu. Setelah kepindahan Jiah, para pemuja Kyuhyun semakin menggencarkan usaha mereka untuk mengejar Kyuhyun. Mereka mengejar Kyuhyun dengan berbagai hadiah yang selalu mereka letakkan di mejanya. Hingga suatu hari ada seorang gadis dari SMA lain menghampirinya dan menyatakan perasaannya pada Kyuhyun. Victoria meminta Kyuhyun menjadi kekasihnya. Kyuhyun memperhatikan Victoria dan merasa yakin bahwa dengan mengencani gadis itu akan membuat nyali para pemuja nya di sekolah melemah. Hal itu dikarenakan fisik Victoria yang diatas rata-rata. Victoria tidak hanya cantik tapi juga berasal dari keluarga kaya, dan pintar dalam segala hal. Kyuhyun pun memanfaatkan hal itu dengan menerima pernyataan cinta Victoria. Mereka berpacaran selama 2 tahun sampai di hari kelulusan Kyuhyun memutuskan hubungan mereka.

.

“Eo… Victoria. Lama tidak bertemu…” kata Kyuhyun.

.

“Aku pikir kau sudah tidak mengenaliku…” kata Victoria.

.

“Aku tidak sejahat itu, Vic”.

.

“Kau sudah tidak sejahat itu”, kata Victoria mengoreksi.

.

“Hhh… Kau benar. Aku sudah tidak sejahat itu”, kata Kyuhyun mengulangi ucapan Victoria dengan menekankan kata sudah. “Apa yang kau lakukan disini? Kau sakit?”

.

“Tidak. Aku sedang mengunjungi keponakanku. Tidak ku sangka seorang dokter yang tampan lewat di hadapanku…”

.

Kyuhyun tersenyum mendengar ucapan Victoria. “Kau tidak boleh mengatakan itu sebelum bertemu dengan seluruh dokter di rumah sakit ini. Ada banyak dokter yang lebih tampan dariku, kau tahu?”

.

“Benarkah? Tapi bagaimana ya? Hanya dokter Cho yang membuat jantungku berdetak sangat cepat…” kata Victoria dengan nada bercanda yang membuat keduanya tertawa bersama. “Kau punya waktu? Mungkin secangkir kopi untuk teman lama?” tanya Victoria.

.

“Tentu. Aku akan ke ruanganku sebentar untuk meletakkan ini”, kata Kyuhyun menyanggupi.

.

.

.

.

Jiah’s POV

Dengan berat hati aku menginjakan kaki ku disini. Sudah dua bulan aku tidak bertemu dengannya. Bicara panjang lebar pun aku tidak pernah ingin. Namun aku tetap tidak bisa menolak permintaan eomeoni untuk mengunjungi Cho Kyuhyun. Tiga jam berada di KTX seharusnya tidak menyebabkan rasa pegal di seluruh tubuh. Tapi setelah terjaga semalaman untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan di galeri, tubuhku tidak benar-benar kuat untuk menahannya. Begitupun dengan mataku yang terasa sangat berat saat ini. Sebelum berangkat ke Busan, eomeoni (ibu Kyuhyun) memberikan alamat rumah sakit padaku. Eomeoni bermaksud memberikan alamat apartment Kyuhyun padaku, namun aku menolaknya. Mengunjungi nya di rumah sakit akan lebih baik daripada langsung menunggu di apartment. Namun sebelum itu, sepertinya aku butuh asupan caffeine.

.

Aku turun dari taksi di depan sebuah café tidak jauh dari alamat yang ku punya. Exterior café terlihat sangat nyaman dan tidak terlalu ramai. Sangat tepat untuk keadaanku yang terlihat seperti seseorang yang sedang mengalami hangover atau lebih tepatnya seperti zombie. Jangan salah mengerti. Aku tidak mabuk. Aku hanya terlihat seperti orang mabuk. Aku pun masuk ke dalam café yang menyambutku dengan alunan music bossanova dilangkah pertamaku memasuki pintu. Aku melihat seluruh sudut café untuk mencari tempat duduk yang kira-kira nyaman untuk menampung tubuh lelahku. Hingga sosok seseorang yang sangat familiar mengalihkan pandanganku. Cho Kyuhyun. Ia ada disini… dengan seorang gadis. Cantik. Seleranya bagus juga… Aku memutuskan untuk tidak mempedulikannya dan segera menuju kasir untuk memesan minuman. Satu cup ice Americano sudah ku dapatkan. Akupun memilih tempat duduk tidak jauh dari kasir untuk memudahkanku jika tiba-tiba perutku tergugah untuk makan sesuatu, sehingga aku tidak perlu berjalan terlalu jauh ke kasir. Aku meletakkan kepalaku di meja, menopangkan segala kelelahanku, dan memejamkan mataku perlahan.

.

“Kwon Jiah?!?!” seseorang menyerukan namaku.

.

Telinga ku menangkap dengan jelas suara itu. Suara seorang pria yang sangat familiar. Bukan. Itu bukan suara Cho Kyuhyun. Timber suara mereka berbeda. Suara Cho Kyuhyun lebih berat dari pria ini. Benar. Aku menyebutnya pria, karena suaranya menunjukkan kematangan yang berbeda dari para remaja menengah maupun akhir. Dengan malas kembali ku buka mataku dan menemukan sosok pria yang memanggilku.

.

“Benar Kwon Jiah! Ya… Aku tidak menyangka! Jiah-ya…” seru pria itu lagi.

.

“Omo! Joon-ah!!!” seruku yang langsung menegakkan posisi tubuhku.

.

Lee Joon berlari kecil menghampiriku dan menarik kedua tanganku untuk berdiri. Ia memutar tubuhku lalu langsung memelukku seperti yang sering ia lakukan saat berada di New York. Benar. Lee Joon adalah salah satu teman kuliahku yang berasal dari Korea. Kami berbagi suka duka tinggal jauh dari kota kelahiran kami. Lee Joon merupakan teman yang paling bisa aku andalkan. Dan saat ini, teman terbaikku berada di depan mataku. Lee Joon memutar dengan tubuhku yang ada dipelukannya sambil tertawa riang khasnya. Kami tertawa bersama saat ia berhenti. Lee Joon menoleh untuk memeriksa barang bawaannya yang tadi ia tinggalkan karena terlalu excited melihatku. Aku mengikuti arah pandangan Lee Joon, sampai mataku bertemu dengan Cho Kyuhyun. Ia menatap kami dengan tatapan itu lagi.

.

.

.

.

TBC…

Note:

Seperti yang aku katakan di part sebelumnya. Masalah diantara mereka sudah dimulai. No more lovey dovey. Sosok mantan kekasih Kyuhyun, Victoria, dan teman kuliah Jiah, Lee Joon, hadir mewarnai kehidupan mereka. Terlebih kehadiran mereka bertepatan dengan keadaan hubungan keduanya yang sedang bermasalah. Apakah kehadiran Victoria dan Lee Joon akan menjadikan masalah diantara mereka semakin rumit? Apakah Lee Joon benar-benar hanya sekedar teman bagi Jiah? Bagaimana dengan Victoria? Apakah setelah bertemu dengan Kyuhyun lagi, ia akan kembali mengharapkan Kyuhyun? Dilihat dari sikap Jiah yang melihat Kyuhyun duduk bersama dengan Victoria saat masuk ke café, sepertinya Jiah benar-benar sudah tidak peduli pada Kyuhyun lagi. Apakah harapan Kyuhyun pada cinta Jiah sudah benar-benar kandas?

Clue untuk part-part selanjutnya:

“Harapanmu tidak selalu sejalan dengan apa yang terjadi sebenarnya. Karena itu kau harus mempersiapkan pilihan yang kedua untuk semua hal”.

Tunggu kelanjutannya di part selanjutnya. Kana pamit! Annyeonghigaseyo…

Advertisements

56 thoughts on “Since I (have) met you : Part 7

  1. Haaahh masalah lagi ,, jiah beneran nih ngga perduli lagi sama kyuhyun ,, kyuhyun pasti salah paham nih ,,semoga kedatangan lee joon dan victoria ngga memperkeruh hubungan merek

    Like

  2. Dari dulu hingga sekarang, hanya jiah yang memenangkan hati kyuhyun
    Penggemar kyuhyun harus gigit jari untuk kesekian kalinya
    Kyuhyun ke busan dengan perasaan gundah gulana
    Di busan ada hama yang mengganggu

    Like

  3. Yg satu teman baik yg satu mantan pacar yg muncul di kehidupan kyuhyun dan jiah…belum selesai dengan masalah kepergian kyuhyun muncul lagi masalah kecemburuan yg akan terjadi…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s