Since I (have) met you : Part 6

Author: Okada Kana

Category: NC-17, Romance, Chapter

Cast: Cho Kyuhyun, Kwon Jiah (OC)

Other Cast:

Jung Soo Jung, Lee Donghae, Park Jiyeon (cameo), Park Choa (cameo), Park Lizzy (cameo)

Disclaimer:

Annyeonghaseyo… Kana kembali dengan Since I (have) Met You Part 6. Apa kabar readers-nimdeul? Bagaimana kabar dugaan-dugaan kalian tentang part ini? Aku berusaha sebisaku untuk menyelesaikan part ini dengan cepat. Tapi lagi-lagi karena mood yang tidak menentu, akhirnya part ini selesai lebih lama dari perkiraanku. Nah, di part sebelumnya, aku sudah memberikan kalian preview untuk part ini, bukan? Jadi sepertinya aku tidak perlu memberikan bocoran untuk mengawali part ini dong! Hmm… readers-nim, kalian menyadari sesuatu yang berbeda di atas sana? Yup! Category FF ini di upgrade. Disana tertulis jelas NC-17. Jadi aku harap, buat yang masih berusia dibawah 17, part NC itu harap dilewati saja. Dengan melewati part NC itu kalian tetap tidak akan ketinggalan cerita kok! Ayo kita belajar mematuhi apa yang boleh dan yang tidak!

FF ini murni berasal dari kepalaku. Ide cerita yang muncul berasal dari beberapa drama yang sudah aku tonton. Tapi cerita dalam FF ini tidak menggunakan ataupun mengikuti cerita drama yang sudah ada. Seperti biasanya, mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Karena seperti yang aku katakan, ini adalah kisah cinta sederhana yang bisa dialami siapa saja. Aku juga berusaha sebisa mungkin untuk menghindari typo. Tapi, aku juga manusia biasa yang bisa membuat kesalahan, jadi mohon dimaklumi. No bash, smart comments and critics always accepted. Selamat membaca…

.

.

.

.

Review Part 5

“Hhh… Kau membuatku gila, Kwon Jiah…”

“Apa yang sudah aku lakukan?”

“Hari ini kau begitu tenang dan terlihat…… seolah bahagia…”

“Aku memang bahagia”.

————————-

“Aku memutuskan untuk berdamai dengan keadaan kita”.

“Maksudmu?”

“Kita sudah menikah. Aku putuskan untuk berdamai dengan ini semua. Aku akan menerima keadaanku suka atau tidak. Ayo kita berteman!”

“Ada apa dengan jalan pikiranmu, Kwon Jiah?”

“Jika kita berdamai dan berteman, setidaknya kita bisa hidup dengan tenang, bukan?”

————————-

“Dia terlihat sangat bahagia hari ini”.

“Kau benar. Bagaimanapun hari ini dia bisa merasakan hari off nya dari rumah sakit, bukan?”

“Dia bukan bahagia karena hal itu, baboya… Ah cham… Kwo Jiah, kau sangat tidak peka. Bagaimana bisa kau tetap berpikir seperti itu setelah semua hal yang terjadi? Ckckck…”

“Terserah padaku ingin berpikir apa. Tidak ada hubungannya denganmu…”

“Geurae… Lakukan yang kau suka…”

————————-

“Jiah-ya… Kau sedang apa?”

“Kau keluar dari kamar tanpa membuka matamu? Kenapa kau bangun?”

“Kau pikir aku bisa kembali tidur setelah guncangan yang kau buat saat bangun? Kenapa kau begitu terkejut? Karena melihatku disampingmu?”

“Bukan hal yang aneh melihatmu disana”.

“Lalu apa yang membuatmu terkejut?”

“Aku tidak ingat bagaimana caraku bisa sampai disini”.

“Tentu saja aku menggendongmu sampai ke tempat tidur…”

“Apakah tubuhku berat?”

“Kau bercanda? Ya! Makanlah semua makanan yang bisa kau makan. Tubuhmu terlalu ringan. Tulang rusukmu sudah hampir membentuk dikulitmu”.

“Tidak seperti itu… Kau juga yang mengganti bajuku?”

“Tentu saja! Haruskah aku memintanya membantuku mengganti pakaianmu? Aku tidak gila, Kwon Jiah. Lagipula aku suami mu. Apa yang salah dengan tindakanku?”

————————-

.

.

-Since I (have) met you : Part 6-

.

.

.

.

Jiah’s POV

Kami tidak segera melakukan perjalan menjelajah tempat wisata. Kami butuh waktu satu hari untuk mengumpulkan energy kami dan melawan jet lag yang cukup mengganggu. Padahal sebelumnya aku sudah terbiasa tinggal di New York. Setelah kembali ke Seoul selama beberapa bulan, jam kehidupanku mulai berubah. Akhirnya kami melupakan kecanggungan diantara kami di hari pertama dan melanjutkan liburan kami dengan keriangan di tengah suasana pantai yang menyegarkan. Di hari kedua, Kyuhyun menunjukkan kemampuannya bermain jetsky. Aku melihat senyuman mengembang diwajahnya yang berbeda dari senyuman yang biasa ia tunjukkan. Jiwa Kyuhyun seolah menyatu dengan cuaca di alam tropis. Ia tampak begitu bahagia dan bebas. Bahkan Kyuhyun tidak segan berenang di pantai luas. Kami juga mencoba beberapa olahraga air yang memacu adrenalin, seperti parasailing, wakeboarding, dan banana boat. Kami sampai melewatkan makan siang karena kami terlalu excited dengan berbagai hiburan yang ada di pulau ini. Malam pun terlewat dengan cepat saat kami terlelap sesaat setelah tubuh kami menyentuh lembutnya tempat tidur. Hari ketiga tidak jauh berbeda. Kami melakukan berbagai macam diving yang disediakan oleh pihak resort. Namun kami memutuskan untuk tidak melewatkan makan siang kami dan berakhir dengan rasa kenyang yang berlebihan karena kami mencoba hampir seluruh makanan yang disediakan di sebuah restaurant tidak jauh dari resort. Hari ke empat? Energy kami mulai berkurang. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat selama satu hari penuh sebelum melanjutkan eksplorasi kami kembali esok harinya.

.

Aku bangun lebih siang dari hari-hari sebelumnya. Jam kayu yang tergantung di dinding menunjukkan saat ini sudah pukul 11. Matahari sudah cukup tinggi untuk disebut pagi, namun masih terlalu dini untuk disebut siang. Aku duduk di sofa ruang tv sambil meluruskan kakiku dan menonton sebuah dvd film bergenre drama. Akupun merebahkan tubuhku dan menggunakan lengan sofa sebagai bantal penyangga kepala hingga leherku.

.

“Selamat pagi…” sapa Kyuhyun yang baru keluar dari kamar dengan suara seraknya.

.

“Hmm… Good Morning…” sapaku tanpa menoleh padanya.

.

Tiba-tiba aku merasakan sebuah kecupan singkat di keningku. Sontak aku menoleh pada Kyuhyun yang terus berjalan ke meja makan. Ia menuangkan air mineral ke sebuah gelas, lalu menenggaknya tanpa tersisa. Akupun kembali pada mengalihkan pandanganku ke televisi dan memutuskan untuk tidak memikirkan apa yang baru saja dilakukan Kyuhyun. Hal itu tidak berarti apapun, Cho Kyuhyun…

.

“Letters to Julliete?” tanya Kyuhyun yang berjalan menghampiriku di sofa.

.

“Hmm…” jawabku dengan bergumam.

.

“Verona…… Tempat yang indah” kata Kyuhyun.

.

“Kau pernah kesana?” tanyaku.

.

“Eo… Bersama Ahra nuna dan keluarganya. Sebagai supir sekaligus baby sitter. Melelahkan. Beruntung keindahan tempat itu bisa meringankan rasa lelahku”, jawab Kyuhyun. “Kau mau kesana?”

.

“Emm… Suatu hari nanti aku ingin kesana. Tapi tidak bersamamu…” jawabku sambil menegakkan tubuhku.

.

Kyuhyun duduk tepat disebelah kiriku. “Kenapa?”

.

You don’t have much time when this vacation is over, Mr. Busy. You’ll stay at hospital all day again…”, jawabku.

.

“Kau benar, New Yorker (orang New York). Aku akan kembali ke rumah sakit, namun jadwalku tidak akan sepadat sebelumnya. Penyebab jadwal padatku adalah berlibur selama 2 minggu ini, kau ingat? Setelah kembali ke Seoul, jadwalku akan kembali seperti semula”, kata Kyuhyun menjelaskan. “Ah… Tubuhku terasa sangat lemas…”

.

Kyuhyun meletakkan kepalanya di pangkuanku dan memejamkan matanya. Tidak berapa lama, Kyuhyun kembali membuka matanya. Dari sudut mataku, aku bisa menangkap tatapan Kyuhyun yang tertuju padaku. Aku memutuskan untuk mengabaikan tatapan itu dan tetap menyimak jalan cerita dalam dvd yang sedang diputar.

.

“Kembali ke kamar dan tidurlah…” kataku akhirnya.

.

“Aniya… Aku ingin menemanimu disini”, kata Kyuhyun.

.

“Dalam posisi ini?” tanyaku.

.

“Eo…” jawab Kyuhyun singkat.

.

Kyuhyun memiringkan posisi tidurnya menghadap ke arah televisi. Ia melipat tangannya di dada sambil membenarkan letak kepalanya di pangkuanku. Kyuhyun menatap kosong pada layar televisi. Matanya memang menatap tayangan yang ada disana, namun fokusnya tidak berada disana, atau dimanapun. Ia masih mengantuk dan kesadarannya belum terkumpul benar.

.

“Kau tahu? Kepalamu cukup berat, Cho Kyuhyun…” kataku mencoba membuatnya kembali ke kamar.

.

“Tentu saja. Ada banyak hal yang ku pikirkan. Kepalaku terlalu banyak berisikan hal-hal yang harus ku pecahkan”, kata Kyuhyun menjelaskan.

.

Aku tidak mengerti dengan kerja otak dan setiap saraf dalam diriku. Karena sesaat kemudian, aku menutup mata Kyuhyun dengan tangan kiriku, membuat matanya terpejam dibawah telapak tanganku. Selama beberapa saat aku masih merasakan bulu mata Kyuhyun yang menyentuh telapak tanganku. Namun akhirnya Kyuhyun menyerah dan memejamkan matanya sepenuhnya. Ia menghela napas panjang kembali membenarkan letak kepalanya, mencari posisi yang nyaman baginya.

.

“Buang semua pikiran itu untuk sementara, Cho Kyuhyun. Seperti yang ada dalam kamus yang sering dibicarakan Donghae, hal-hal berat tidak boleh dipikirkan saat berlibur. Karena akan menghilangkan kesakralan suasana liburan itu sendiri”, kataku sambil menahan geli pada kalimat yang ku ucapkan sendiri.

.

Kyuhyun tertawa dan mengambil tanganku dari matanya. Tawanya bertambah keras saat aku tanpa sadar ikut tertawa bersamanya. Ia pun mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap ke langit-langit. Kyuhyun kembali memejamkan matanya, masih dengan senyum di bibirnya.

.

“Kau akan menjadi seperti dia jika terus bergaul dengannya, Kwon Jiah. Kurangilah intensitas bertemu mu dengan Lee Donghae. Karena itu tidak baik untuk kesehatan jiwamu…” kata Kyuhyun dengan nada bercanda nya.

.

“Hhh… Sudah sudah… Lee Donghae akan tersedak di Seoul jika kita terus membicarakannya. Ah, geunde, aku berbincang dengan seorang turis kemarin. Dia mengatakan ada sebuah bar yang menampilkan live band setiap malam. Aku berencana ingin kesana malam ini. Bagaimana?” tanyaku.

.

“Baiklah…” jawab Kyuhyun singkat.

.

.

.

Author’s POV

Kyuhyun dan Jiah benar-benar datang ke bar yang masih berada di lingkungan resort. Bar itu adalah bar terbuka di pinggir pantai. Musik perkusi menyemarakkan keramaian yang ada di bar. Banyak diantara pengunjung yang menari diatas pasir putih yang terbentang luas. Saat memasuki bar, Kyuhyun dan Jiah berpencar. Jiah memilih untuk memesan minuman dan meminta Kyuhyun mencari tempat yang nyaman untuk mereka duduk. Kyuhyun menyetujuinya, lalu segera berjalan ditengah ramainya pengunjung untuk mencari tempat duduk yang bisa mereka tempati. Jiah pun harus berjuang melewati banyak nya pengunjung yang berada di sekitar meja bar. Beruntung karena ada salah satu pengunjung yang pergi dari sana, sehingga Jiah bisa menempati salah satu kursi untuk memesan minumannya.

.

What do you want to order? (Apa yang ingin anda pesan?)” tanya salah seorang bartender perempuan.

.

Umm…” Jiah bergumam, menimbang apa yang ingin ia pesan. Ia terpaku pada dua pilihan, beer atau vodka. “A pitcher of beer, please. And… Ah…… Do you have something to eat? Like something heavy for dinner? (Satu pitcher beer. Dan… Ah… Apakah anda punya sesuatu untuk dimakan? Seperti makanan berat untuk makan malam?)” tanya Jiah.

.

The heavy one? Yes. We have many kinds of steak. Do you want to try? (Makanan berat? Ya. Kami punya berbagai macam steak. Kau ingin mencobanya?)” tanya bartender.

.

Yeah, I’d love to. Give me the best one you have (Ya, aku mau. Berikan [steak] yang terbaik yang kalian punya)”, jawab Jiah.

.

Do you want anything else? (Ada yang lain?)”, tanya bartender lagi.

.

No, that’s all, thank you (Tidak, itu saja, terima kasih)”.

.

Okay. You can wait here for your drink (Baiklah. Kau bisa menunggu minumanmu disini)”, kata bartender.

.

Okay. Thank you…… Samantha” kata Jiah setelah membaca name tag bartender itu.

.

You’re welcome…… Umm……” bartender itu bergumam seolah menanyakan nama Jiah.

.

“Jiah”, kata Jiah yang mengetahui maksud bartender bernama Samantha itu.

.

“Jiah…” kata Samantha mengulangi perkataan Jiah.

.

Bartender itupun tersenyum dan menyampaikan pesanan Jiah pada rekan-rekannya yang berada di dapur, lalu kembali membuatkan pesanan untuk pengunjung yang lain. Seperti yang lainnya, Jiah harus menunggu hingga paling tidak minuman yang ia pesan siap disajikan. Jiah duduk di kursi bar sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, menikmati musik yang mengalun ramai. Beberapa pengunjung yang menari sesekali berseru saat para pemusik memainkan klimaks lagu yang mereka bawakan. Sejak dulu Jiah memang memiliki sifat yang mudah bergaul dengan orang yang baru ia temui. Sikap nya yang ramah dan sopan membuat siapapun yang bicara dengannya merasa nyaman. Pembawaan nya yang lembut, tenang dan penuh dengan senyuman menarik perhatian banyak orang disekitarnya.

.

You will drink it up alone, Jiah? (Kau akan meminum ini semua sendiri, Jiah?)” tanya Samantha.

.

Oh… Yeah… No. Of course no, Samantha. Can you give me two glasses? And some ice? (Oh… Benar… Tidak. Tentu tidak, Samantha. Bisakah kau memberikan dua gelas? Dan beberapa es?”, tanya Jiah dengan sopan.

.

“Roger!” kata Samantha menyanggupi.

.

Two glasses? May I join you? (Dua gelas? Bolehkah aku bergabung denganmu?)” tanya seorang laki-laki beraksen British yang menghampiri Jiah. Jiah pun menoleh pada laki-laki yang datang dari sebelah kanan nya itu. “Hi, I’m Thomas. You can call me Tom (Hai, aku Thomas. Kau bisa memanggilku Tom)”, kata laki-laki itu memperkenalkan diri.

.

I’m Jiah. Nice to meet you, Tom” kata Jiah.

.

So, may I? (Jadi, bolehkah?)” tanya Tom.

.

Umm… What?” Jiah balik bertanya.

.

Join you. We can drink the whole pitcher together. It’ll look so lonely if you drink that up alone. (Bergabung denganmu. Kita bisa menghabiskan satu pitcher bersama. [Kau] akan terlihat sangat kesepian jika kau meminum itu semua sendiri)”, jawab Tom.

.

Get away, Tom. Don’t disturb her (Pergilah, Tom. Jangan mengganggunya)”, kata Samantha yang muncul sambil membawakan pesanan beer Jiah. “Don’t listen to him, Jiah. He’s a crazy man (Jangan dengarkan dia, Jiah. Dia adalah pria gila)”, sambung Samantha dengan nada bercandanya.

.

Jiah tertawa kecil mendengar ucapan Samantha. “It’s okay, Samantha. But, I’m afraid I can’t do that, Tom (Tidak apa-apa, Samantha. Tapi, aku rasa aku tidak bisa melakukan itu, Tom)” kata Jiah yang kembali menoleh pada Tom.

.

Why? She’s joking, Jiah. I’m not a crazy man. I’m totally a good Englishman. Really… (Kenapa? Dia [Samantha] bercanda, Jiah. Aku bukan pria gila. Aku adalah pria Inggris yang benar-benar baik)”

.

Trust me, I know that, Englishman… (Percayalah, aku tahu itu)” kata Jiah sambil tertawa kecil. “But, I really can’t do that. You see there? (Tapi, aku benar-benar tidak bisa. Kau lihat disana?)” tanya Jiah sambil menunjuk sebuah tempat duduk di dekat pembatas bar dan area berdansa.

.

You mean the tall guy with black short wavy hair and blue shirt? (Maksudmu pria tinggi dengan rambut pendek hitam bergelombang dan T-shirt biru?)” tanya Thomas yang dijawab dengan gumaman oleh Jiah. “Is he your boyfriend? (Apakah dia kekasihmu?)”

.

No. Absolutely not… (Bukan. Tentu saja bukan…)” kata Jiah yang memberikan jeda dalam ucapannya. “He’s my husband. We just got married few days ago. We’re on honeymoon (Dia adalah suamiku. Kami baru saja menikah beberapa hari yang lalu. Kami sedang berbulan madu)”, sambung Jiah kali ini dengan senyum lebar diwajahnya.

.

Really? How sweet… Two lovers just came to me. I wish I can get married too. (Benarkah? Manisnya… Dua pecinta baru saja datang padaku. Aku harap aku juga bisa menikah)”, kata Samantha berdecak iri.

.

Ow… You break my heart, Jiah. I can’t do anything, then (Ow… Kau mematahkan hatiku, Jiah. Jadi, aku tidak bisa melakukan apapun)” kata Tom tentu saja dengan nada bercandanya. “Well, have a great honeymoon, beautiful. Do you need some help to bring it there? (Well, selamat berbulan madu, cantik. Kau butuh bantuan untuk membawa ini kesana?)” tanya Tom.

.

No. I’m good. Thank you, by the way. See you next time, Tom, Samantha. (Tidak. Aku baik-baik saja. Terima kasih. Sampai nanti, Tom, Samantha)”, kata Jiah mengakhiri pembicaraan mereka.

.

“Bon apettite, Jiah!” seru Samantha dari dalam dapur.

.

Jiah datang ke meja yang sudah ditempati Kyuhyun. Jiah tersenyum padanya saat ia meletakkan nampan berisi satu pitcher beer, seember kecil es dan dua buah gelas. Jiah duduk dan menuangkan beer ke gelas yang sudah dimasukkan es oleh Kyuhyun. Suasana diantara mereka menghangat begitu saja. Kyuhyun dan Jiah berbincang, menceritakan banyak hal yang terjadi selama bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Kyuhyun lebih banyak mendengarkan Jiah bercerita mengenai hari-harinya di New York, lalu memberikan reaksinya. Sesekali mereka menoleh ke keramaian orang yang berdansa saat beberapa orang disana bersorak karena excitement yang menggebu disela musik yang mengalun, kemudian tertawa, bahkan terkadang ikut menggerakkan badan mereka mengikuti irama musik. Waktu bergulir. Kini di meja mereka terdapat dua buah gelas terisi penuh dengan beer dan sebuah piring yang tersaji beberapa potong daging barbeque yang tersisa dari makan malam mereka. Itu adalah gelas ketiga Kyuhyun, sementara Jiah baru saja menghabiskan gelas pertamanya.

.

“Uwah… Sangat menyegarkan… Rasa beer ini tidak jauh berbeda dengan yang ada di Seoul ataupun New York. Tapi rasanya lebih menyegarkan karena kita sedang berada di tepian pantai dengan angin yang berhembus dan musik yang menimbulkan kegembiraan tersendiri”, kata Jiah.

.

“Kau sudah menghabiskan satu gelas, Jiah-ya. Kau masih sanggup menghabiskan gelas yang lain?” tanya Kyuhyun.

.

“Aku mungkin masih sanggup kira-kira setengah gelas lagi. Aku akan black out jika minum terlalu banyak. Toleransi ku pada alcohol tidak cukup baik”, jawab Jiah. “Cho Kyuhyun…….”

.

“Hmm??”

.

“Itu gelas terakhirmu. Kau tidak diijinkan minum terlalu banyak. Kau mengerti?”

.

Kyuhyun tersenyum mendengar ucapan Jiah yang terdengar sudah sedikit mabuk dari nada bicaranya. “Arasseo…” jawab Kyuhyun. “Ah, bagaimana jika kita berhenti minum dan ikut berdansa bersama mereka?”

.

“Call!” kata Jiah setuju dengan ide Kyuhyun.

.

Kyuhyun mengajukan tangannya dan disambut oleh Jiah. Keduanya pun turun ke lantai dansa. Mereka menari ditengah keramaian pengunjung lain yang juga berdansa bersama teman maupun pasangan mereka. Musik yang dimainkan oleh kelompok perkusi semakin cepat, membuat semangat setiap pengunjung yang berdansa semakin meningkat. Beberapa kali tubuh Jiah terdorong pelan oleh pengunjung lain yang tentu saja meminta maaf padanya setelah itu. Melihat itu, Kyuhyun pun menarik tubuh Jiah dalam pelukannya. Kyuhyun menuntun tangan Jiah agar berpegangan pada bahunya. Mereka kembali menari dengan tawa yang tidak henti menghiasi wajah mereka. Hari pun semakin larut. Kelompok perkusi itu melambatkan tempo lagu yang mereka mainkan. Lagu ‘Save The Last Dance For Me’ mengiringi tarian semua pengunjung yang belum berniat meninggalkan bar itu. Jiah menyandarkan kepalanya di dada Kyuhyun. Kini lengannya sudah melingkar di leher Kyuhyun. Jiah mengangkat kepalanya dan memandang ke sekitarnya dibalik bahu Kyuhyun. Pengaruh alcohol dan lelah ditubuhnya membuatnya lebih sering bersandar pada tubuh Kyuhyun. Kini Jiah menyandarkan kepalanya di kepala Kyuhyun sehingga bibirnya kiri menyentuh tulang selangka Kyuhyun. Helaan napas Jiah bisa dirasakan oleh Kyuhyun menyapu di bahunya. Kyuhyun kembali melakukan apa yang ia lakukan di pesta pernikahan mereka beberapa hari yang lalu. Kyuhyun menyanyikan sepenggal dua penggal bait lagu itu dengan volume suara yang hanya bisa didengar oleh Jiah yang berada di pelukannya. ‘Baby, don’t you know I love you so? Can’t you feel it when we touch? I will never ever let you go. I love you oh so much~’

.

“Beolsseo cwihae? (Kau sudah mabuk?)” tanya Jiah.

.

Kyuhyun tertawa kecil. “Hhh… Aku tidak mabuk, Kwon Jiah. Toleransiku pada alcohol tidak seburuk kau”, jawab Kyuhyun.

.

“Hmm… Aku percaya”, kata Jiah yang justru terdengar lebih seperti orang mabuk.

.

Kini kelompok perkusi lebih memperlambat tempo lagu mereka. Lagu milik Michael Buble yang berjudul ‘Quando, Quando, Quando’ mereka mainkan dengan sangat manis. Kembali. Kyuhyun juga menyanyikan lagu itu untuk Jiah. ‘When will you say yes to me? Tell me quando, quando, quando. You mean happiness to me. Oh my love, please tell me when…’ Jiah tertawa kecil mendengar lagu yang dinyanyikan Kyuhyun dan tidak memberikan reaksi lainnya. Kyuhyun pun melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Jiah. Tidak terlihat tanda-tanda mabuk diwajah Jiah. Tentu saja, karena Jiah hanya menghabiskan satu gelas, tidak lebih. Mata keduanya bertemu. Mereka masih bergerak mengikuti alunan lagu. Setelah mereka saling menatap tanpa kata selama beberapa menit, Kyuhyun mendekatkan wajahnya pada Jiah. Kyuhyun mencium bibir Jiah yang kemudian diterima oleh Jiah tanpa penolakan. Kyuhyun menggigit pelan bibir bawah Jiah, membuat Jiah membuka mulutnya. Kesempatan itu digunakan Kyuhyun untuk memperdalam ciumannya. Jiah membalas setiap ciuman Kyuhyun dengan lembut. Namun ciuman itu tidak berlangsung lama, karena Jiah melepaskan diri dari Kyuhyun. Menyadari hal itu, Kyuhyun hanya bisa tersenyum dan menghela napasnya.

.

“Ayo kita kembali ke resort. Kau pasti sudah lelah…” kata Kyuhyun yang dibalas dengan anggukkan dari Jiah.

.

Mereka berjalan berdampingan menuju resort. Kyuhyun tidak melepaskan genggaman tangannya pada Jiah. Sementara sepanjang perjalanan mereka, Jiah lebih sering menatap ke langit luas dan hamparan laut yang terbentang sambil melanjutkan beberapa cerita tentangnya yang belum ia beritahukan pada Kyuhyun. Bagaimana ia menikmati indahnya bintang-bintang di sebuah rooftop salah satu gedung di New York, bagaimana ia menghabiskan malam natal pertamanya seorang diri disebuah jazz lounge, bagaimana akhirnya ada seorang pria mengajaknya berkencan disebuah bar, dan bagaimana ia merasa sangat kesepian ditengah ramainya kota New York yang tidak pernah tidur. Tanpa terasa keduanya sudah berada di ambang pintu. Kyuhyun membuka pintu resort mereka dan mempersilahkan Jiah untuk masuk terlebih dahulu. Setelah masuk ke dalam, Jiah duduk di lantai untuk membuka tali sepatunya, sementara Kyuhyun yang dengan mudah membuka sepatunya berlalu melewati Jiah.

.

Hey, kisser!” panggil Jiah.

.

Kyuhyun menghentikan langkahnya. Kyuhyun pun menoleh dan melihat Jiah tersenyum padanya. Apakah dia benar-benar mabuk hanya karena satu gelas?, pikir Kyuhyun. Namun wajah Jiah benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda mabuk sama sekali. Kyuhyun pun menggeleng pelan lalu berbalik, berpikir bahwa Jiah sedang menggoda atau mengejeknya.

.

Hey, kisser! Stop there!” seru Jiah lagi.

.

Kyuhyun kembali menghentikan langkahnya dan berbalik dengan cepat. “Kau mengatakan itu pada pria lain?” tanya Kyuhyun.

.

Jiah menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. “Naega michyeossna? (Aku sudah gila?)” kata Jiah mengatakan keberatannya pada tanggapan Kyuhyun.

.

Jiah pun bangkit berdiri. Ia cukup kesulitan mendapatkan keseimbangannya. Entah karena lelah atau karena benar-benar mabuk. Jiah berjalan mendekati Kyuhyun yang menatap curiga pada Jiah. Kyuhyun pun berjalan mundur perlahan sebelum kembali berbalik. Namun Jiah sudah terlebih dulu menarik T-shirt yang dikenakan Kyuhyun untuk menghentikannya. Jiah memanfaatkan keadaan Kyuhyun yang berhenti dengan melangkah ke depan Kyuhyun. Mata mereka kembali bertemu. Tatapan lembut Jiah dibalas dengan tatapan tajam Kyuhyun. Berbagai macam emosi berkumpul di mata Kyuhyun.

.

“Kau mabuk, Kwon Jiah…” kata Kyuhyun.

.

“Hmm… Aniya… Aku tidak mabuk, Cho Kyuhyun” balas Jiah.

.

“Aku akan membuatkan teh hijau untukmu. Duduklah…” kata Kyuhyun yang mencoba untuk berjalan meninggalkan Jiah.

.

Namun Jiah kembali menahan Kyuhyun dengan tangannya. Kyuhyun menoleh pada Jiah, berusaha menemukan arti dari tindakan Jiah melalui ekspresi wajahnya. Namun Kyuhyun tidak menemukan jawaban apapun seperti biasanya. Tiba-tiba Jiah menengadahkah kepalanya dan dengan cepat menarik tengkuk Kyuhyun. Jiah membuat bibir mereka bertemu, tanpa membukanya. Jiah melepaskan bibir Kyuhyun, lalu menggigit bibir bawah Kyuhyun dengan kekuatan yang tidak dapat dikatakan keras, namun juga tidak dapat dikatakan pelan. Kyuhyun menghela napas berat saat menerima gigitan Jiah di bibirnya. Jiah kembali mencium Kyuhyun saat bibir Kyuhyun terbuka. Jiah memberikan beberapa ciuman di bibir Kyuhyun, sebelum berusaha mencoba melepaskan diri dari Kyuhyun. Namun hal itu tidak akan mudah dilakukan oleh Jiah karena Kyuhyun justru meraih kedua lengan atas Jiah dan menarik tubuh Jiah ke rengkuhannya. Kyuhyun menunduk untuk memperdalam ciumannya dan memagut pelan bibir Jiah. Tangan Jiah kembali dirangkulkan di leher Kyuhyun, mencegah pria itu menjauh. Jiah membalas setiap ciuman yang diberikan Kyuhyun. Rasa manis dan pahit beer dapat mereka rasakan menyertai disetiap sentuhan bibir keduanya. Rasa itu lebih mereka rasakan saat Kyuhyun mulai menggerakkan lidahnya ke dalam mulut Jiah. Bunyi decakan terdengar di ruangan yang hening itu.

.

Perlahan mereka berjalan ke dalam resort tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Tangan Jiah sudah berpindah ke pinggang Kyuhyun, sementara kedua tangan Kyuhyun berada di tengkuk Jiah. Beberapa langkah dari ruang tv, Kyuhyun menarik keluar T-shirt dari tubuhnya. Setelah terlepas dan dilemparkan entah kemana, Kyuhyun kembali menarik tengkuk Jiah, mendaratkan bibirnya di bibir Jiah dan kembali melangkah. Sentuhan kedua telapak tangan Jiah di dadanya menimbulkan gelenyar panas yang terasa di seluruh tubuhnya. Dan kali ini Jiah yang melepaskan bibirnya, saat bokongnya menyentuh sandaran sofa ruang tv dibelakangnya.

.

“No no sofa. Hanya akan membuat punggung terasa sakit…” kata Jiah yang kembali meraih bibir Kyuhyun dengan bibirnya.

.

“No sofa…” kata Kyuhyun mengulangi ucapan Jiah.

.

.

BGM: Davichi – It’s Okay That’s Love

.

.

.

Kyuhyun tersenyum disela ciumannya, begitupun dengan Jiah. Tiba-tiba Kyuhyun mengangkat tubuh Jiah, membuat Jiah menjerit tertahan di bibirnya. Terdengar gelak tawa keduanya di ruangan yang masih bercahayakan lampu redup di sisi sofa. Kyuhyun pun melangkahkah kaki nya menuju kamar mereka. Setibanya disana, Kyuhyun segera membaringkan tubuh Jiah beserta dengan tubuhnya di tempat tidur. Kyuhyun meraih ujung T-shirt Jiah, lalu berusaha menariknya keluar dari tubuh Jiah. Dengan cepat T-shirt dan celana pendek Jiah sudah berhasil Kyuhyun singkirkan. Kyuhyun memindahkan ciumannya ke leher Jiah, menghisap dan mengigitnya, menimbulkan bekas merah muda kecil disana. Jiah hanya bisa mendesah tertahan menerima perlakuan Kyuhyun padanya. Jiah menyentuh belakang kepala Kyuhyun dan meremas rambut Kyuhyun dengan ke sepuluh jari-jarinya. Jiah mulai kesulitan dalam menyadari keadaan disekitarnya, karena entah sejak kapan, Kyuhyun sudah melepaskan seluruh pakaian yang tersisa di tubuh mereka.

.

Mata mereka bertemu. Ada kilatan panas yang terpancar dari mata keduanya. Hembusan napas Kyuhyun menyapu lembut wajah Jiah. Kedipan lambat mata Jiah membuat Kyuhyun merasakan hal aneh dalam dirinya. Kyuhyun pun mengecup lembut kening Jiah yang memejamkan matanya saat merasakan bibir Kyuhyun menyentuh keningnya. Ciuman Kyuhyun turun ke kedua mata Jiah, lalu ke bibirnya. Kyuhyun menurunkan tubuhnya dengan bertumpu pada sikunya yang berada tepat di sebelah kepala Jiah, membuat tubuh polos keduanya bersentuhan. Jiah mendesah tertahan dalam ciuman Kyuhyun. Jiah menyentuhkan kedua tangannya di punggung Kyuhyun, membuat Kyuhyun mengerang karena sentuhan itu. Kyuhyun melepaskan ciumannya di bibir Jiah, membuat Jiah membuka matanya lagi. Kyuhyun kembali menatap Jiah, mengutarakan perasaannya yang tersembunyi. Ia kembali mengecup lembut bibir Jiah sesaat, lalu berpindah ke dagu dan leher Jiah. Disaat yang sama, Kyuhyun membelai seluruh tubuh Jiah dengan tangan kanannya, membuat Jiah menengadahkan kepalanya disertai dengan desahan yang terbebas dari mulutnya. Jiah mendapatkan klimaks pertamanya malam itu.

.

Kyuhyun tidak dapat menahannya lagi. Gairahnya sudah mencapai puncak kepala hingga rasanya ingin meledak. Ia tidak membutuhkan fore play terlalu lama. Hal itu hanya akan lebih menyiksanya jika dilakukan. Kyuhyun pun kembali menatap Jiah dan memberikan kecupan di bibir Jiah. Kemudian secara perlahan Kyuhyun menyatukan pusat tubuh mereka, membuat Jiah memejamkan matanya serta kembali membebaskan desahannya yang memenuhi kamar mereka. Kyuhyun mengerang pelan saat mencoba memasukkan miliknya yang berukuran cukup besar. Jiah yang dilanda kenikmatan pun melampiaskan perasaannya dengan mencakar punggung Kyuhyun. Kini milik Kyuhyun sudah masuk sepenuhnya. Keduanya saling menatap dengan gairah menggebu. Jiah pun memindahkan kedua tangannya ke belakang kepala Kyuhyun, kembali meremas pelan rambutnya sambil menarik kepala Kyuhyun mendekat padanya. Jiah mencium Kyuhyun dan memberikan sebuah gigitan kecil di bibir bawah Kyuhyun. Jiah memindahkan ciumannya ke dagu, menjalar di sepanjang rahang kanan Kyuhyun hingga ke telinga.

.

Move…” bisik Jiah di telinga Kyuhyun.

.

Kyuhyun menelan saliva nya saat mendengar bisikan suara serak Jiah yang menggodanya. Seolah ada sebuah roller coaster yang sedang melaju dalam jantungnya. Sesuai dengan permintaan Jiah, Kyuhyun pun mulai bergerak. Maju mundur dengan ritme pelan. Kyuhyun meninggikan posisi tubuhnya, menumpu tubuhnya dengan telapak tangannya. Ia kembali menatap wajah Jiah, menikmati pemandangan indah dihadapannya. Jiah memejamkan matanya, membuka bibirnya kemudian menggigit bibir bawahnya menahan jeritan kenikmatan yang ia rasakan. Melihat itu, Kyuhyun mendekatkan kepalanya pada Jiah lalu membuka bibir Jiah dengan bibirnya. Ia melumat bibir Jiah bergantian. Napas keduanya terasa berat dan tersengal. Jiah menolehkan kepalanya ke kanan, membuat tautan bibir mereka terlepas begitu saja.

.

Faster…” kata Jiah lagi.

.

Mendengar permintaan Jiah, Kyuhyun pun merubah posisinya. Tanpa melepaskan penyatuan mereka, Kyuhyun duduk bersila, menarik tubuh Jiah mendekat dan mengangkat kaki Jiah ke atas pahanya. Kyuhyun bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Desahan dan erangan keduanya memenuhi ruangan kamar yang hanya diterangi dengan lampu tidur berwarna kuning kecokelatan di kedua sisi tempat tidur mereka. Ruangan yang semula dingin oleh hembusan AC, kini terasa panas dengan hawa percintaan Kyuhyun dan Jiah. Tiba-tiba Jiah mengangkat tubuhnya, duduk di pangkuan Kyuhyun. Jiah melingkarkan lengannya di leher Kyuhyun dan kembali meraih bibir Kyuhyun. Jiah merasakan seolah ada ribuan kupu-kupu di perutnya berterbangan. Jiah tidak kuasa menahannya, hingga tubuhnya kembali dibaringkan ke tempat tidur.

.

“Eugh… Cho Kyuhyun……” kata Jiah disertai dengan desahannya.

.

“Tunggu……” erang Kyuhyun. “Asssh sh*t! Akh…”

.

“Ehmmm… No. No. I can’t!” jerit Jiah tidak bisa lagi menahan ledakan yang akan terjadi dalam tubuhnya.

.

“Emmmgghhh……” Kyuhyun kembali mengerang, menandakan pelepasannya yang telah berhasil ia keluarkan.

.

Tubuh Kyuhyun terjatuh lemas diatas tubuh Jiah. Keduanya mengatur napas mereka yang tersengal. Sesekali Kyuhyun menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan cukup keras. Beberapa kali terdengar dehaman berat milik Kyuhyun yang merasakan kering di tenggorokannya. Kyuhyun tersenyum puas dengan yang baru saja terjadi diantara mereka. Ia menolehkan kepalanya pada Jiah, menatap wajah Jiah yang dipenuhi peluh keringat. Jiah mengatur napasnya sambil memejamkan matanya. Awalnya Kyuhyun mengira Jiah sudah tertidur. Namun beberapa saat kemudian Jiah membuka mulutnya dan menghembuskan napas beratnya melalui mulutnya. Jiah membuka matanya dan menggigit bibir bawahnya, belum bisa mengembalikan irama napasnya. Tiba-tiba Kyuhyun mengangkat tubuhnya dan mengecup rahang bawah Jiah dengan sedikit lumatan menggoda, membuat Jiah kembali memejamkan matanya.

.

Don’t……” kata Jiah pelan.

.

What?” tanya Kyuhyun singkat.

.

Seolah tidak mendengarkan perkataan Jiah, Kyuhyun kembali mendaratkan ciumannya di leher hingga tulang selangka Jiah. Kyuhyun tersenyum saat mendengar sebuah desahan kembali keluar dari bibir Jiah. Tiba-tiba Jiah mendorong tubuh Kyuhyun hingga kini posisi mereka berbalik. Jiah menopangkan tubuhnya dengan kedua tangan yang berada dikedua sisi kepala Kyuhyun. Jiah meraih seluruh rambutnya dan memiringkannya ke sebelah kiri bahunya. Senyum Kyuhyun mengembang melihat pemandangan menggairahkan di hadapannya itu.

.

“Jangan mengujiku, Cho Kyuhyun…” kata Jiah.

.

Kyuhyun menggeleng pelan dengan tatapan yang menunjukkan kilatan gairahnya yang kembali muncul. “Come here…” kata Kyuhyun sambil mengangkat kepalanya, menopangkan tubuhnya dengan kedua sikunya dan kembali meraih bibir Jiah.

.

Mereka berdua pun melanjutkan percintaan mereka di kamar yang sudah dipenuhi hawa panas itu sepanjang malam. Waktu seolah tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk menyatukan hasrat menggebu dalam diri mereka. Sampai akhirnya mereka terlelap saat matahari mulai menampakkan sedikit cahayanya di ufuk timur. Jiah tidur sangat pulas di lengan Kyuhyun. Posisi Jiah yang memunggungi Kyuhyun pun memberikan kesempatan pada Kyuhyun untuk memeluk erat tubuh Jiah, membungkus tubuh Jiah dengan tubuhnya. Bentuk tubuh mereka saat tertidur bahkan terlihat saling melengkapi bagaikan puzzle. Begitupun dengan pakaian yang membalut tubuh mereka. Jiah tidur mengenakan pakaian dalamnya dan T-shirt biru milik Kyuhyun. Sementara Kyuhyun hanya mengenakan pakaian dalam serta sebuah celana training berwarna abu-abu yang sempat ia ambil sesaat setelah Jiah tertidur. Ruangan itu pun terasa hening dan menenangkan dengan iringan suara ombak dan burung-burung yang berkicauan.

.

.

#########################

.

.

Jiah terbangun dengan tubuhnya yang terasa sangat pegal. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sampai ia dapat melihat dengan jelas sapuan ombak diluar sana yang mengucapkan salam pagi untuknya. Selama beberapa saat Jiah terdiam, lalu membelalakkan matanya saat merasakan ada sebuah lengan yang melingkar di pinggangnya, dan lengan lain yang menjadi tumpuan kepalanya.

.

Damn…” Jiah menyerukan reaksi terkejutnya dengan berbisik.

.

Jiah mengangkat lengan yang ada di pinggangnya itu, lalu membebaskan diri dari pelukan Kyuhyun yang masih tertidur pulas. Jiah turun dari tempat tidur dan segera keluar dari kamar dengan mengendap-endap. Ia menemukan sebuah pengikat rambut disebuah buffet tidak jauh dari pintu kamarnya, kemudian ia gulung seluruh rambutnya keatas. Jiah berjalan menuju dapur untuk mendapatkan air mineral dari lemari es agar kesadarannya segera datang dan hangover yang ia rasakan segera hilang. Jiah mengenggak habis segelas air dingin, lalu menghela napas panjang. Selama beberapa saat Jiah terdiam, bergumul dengan pikirannya sendiri hingga akhirnya ia menggelengkan pelan kepalanya dan kembali membuka lemari es untuk menemukan bahan makanan yang bisa ia olah menjadi sebuah masakan.

.

“Kenapa rasanya begitu pusing? Padahal aku hanya minum satu gelas semalam. Toleransiku pada alcohol semakin berkurang. Geunde, aku tidak benar-benar mabuk. Tapi rasa pusing yang aku rasakan sangat berlebihan…” keluh Jiah.

.

Jiah mengambil mangkuk berisi potongan besar dada ayam, lada hitam dan minyak wijen, serta sebuah bawang bombay dan paprika. Ia mengiris bawang tipis-tipis dan memotong dadu paprika hijau dan merah dengan ukuran yang serupa. Jiah meletakkan tiga potong dada ayam di atas alas potong, memipihkannya pelan, dan menaburkan sedikit lada hitam diatasnya. Tiba-tiba tubuhnya dipeluk dari belakang oleh Kyuhyun yang sudah terbangun, membuat Jiah dengan cepat menjatuhkan tangannya ke meja, menopang beban tubuh nya yang bereaksi pada sentuhan Kyuhyun. Di detik yang sama, Kyuhyun mendaratkan sebuah kecupan tepat dibawah telinga Jiah, kemudian berpindah ke rahang bawah Jiah.

.

“Cho Kyuhyun, jangan mulai……” kata Jiah sambil mencoba menjauhkan kepalanya.

.

Namun Kyuhyun tetap memberikan kecupan padanya, bahkan hingga ke leher dan tulang selangkanya yang tertutup T-shirt. Jiah pun menoleh ingin mencoba mendorong tubuh Kyuhyun agar terlepas darinya, namun Kyuhyun justru lebih dulu mengecup bibirnya. Kyuhyun tidak lantas menjauhkan wajahnya. Ujung bibir mereka masih bersentuhan saat Kyuhyun bicara.

.

Good morning…” kata Kyuhyun berbisik dengan suara seraknya.

.

Kyuhyun kembali mencium Jiah. Bibir Jiah yang sedikit terbuka ia manfaatkan untuk memperdalam ciumannya. Kyuhyun melepaskan rangkulannya di pinggang Jiah, lalu meraih bahu Jiah dan menghadapkan Jiah padanya. Kedua tangan Kyuhyun bergerak keatas hingga menyentuh leher Jiah. Kyuhyun menengadahkan kepala Jiah dengan kedua ibu jarinya, memudahkannya agar tidak terlalu menunduk untuk mencium istrinya itu. Hembusan napas panjang Kyuhyun menyapu wajah Jiah saat tangan Jiah yang dingin menyentuh pinggang telanjang Kyuhyun.

.

“Aku harus membuat sarapan…” kata Jiah di bibir Kyuhyun.

.

“Aku sedang menikmati sarapanku…” balas Kyuhyun.

.

Kyuhyun semakin memperdalam ciumannya. Kini mulai melibatkan kerja lidah dalam kegiatannya itu. Decakan bibir mereka terdengar disertai dengan desahan pelan yang keluar dari bibir keduanya. Kyuhyun berjalan mundur sambil menarik Jiah bersamanya. Kemudian ia membalikkan posisi mereka. Dengan cepat Kyuhyun menaikkan tubuh Jiah ke meja dapur dan membawa tangan Jiah melingkar di lehernya. Kyuhyun memasukkan tangannya ke dalam T-shirt yang dikenakan Jiah dan meremas payudara Jiah, membuat ciuman mereka terlepas karena Jiah menengadahkan kepalanya disertai dengan desahan yang lolos dari bibirnya. Kesempatan itu digunakan Kyuhyun untuk mencium leher Jiah hingga ke dagu, lalu kembali meraih bibir Jiah dengan bibirnya. Kyuhyun membuka lemari es yang masih bisa terjangkau oleh tangannya, kemudian mengambil sebuah strawberry ditangannya. Kyuhyun melepaskan ciumannya dan menatap Jiah dengan tatapan menggoda.

.

“Kita masih bisa sarapan dengan cara ini”, kata Kyuhyun yang menyuapkan strawberry ke mulut Jiah.

.

Jiah membuka mulutnya menerima strawberry yang disuapkan oleh Kyuhyun dengan giginya. Belum sempat Jiah memasukkan strawberry itu ke dalam mulutnya, Kyuhyun kembali mendaratkan bibirnya di bibir Jiah, menggigit sisi lain strawberry yang belum masuk ke mulut Jiah. Keduanya mendapatkan masing-masing setengah potong strawberry yang segera mereka masukkan ke sisi kanan/kiri mulut mereka. Tidak. Tentu mereka tidak akan bisa mengunyah dalam keadaan seperti itu. Sari dari buah strawberry menetes ke dagu Jiah. Mengetahui hal itu, Kyuhyun menggunakan bibir beserta lidahnya untuk mencegah tetesannya bergerak lebih jauh. Dan percintaan keduanya yang belum terselesaikan semalam akhirnya kembali dilanjutkan meski matahari sudah menampakkan dirinya.

.

.

.

Kyuhyun’s POV

Hari-hari berlalu begitu cepat. Kami sudah berada di pulau indah ini selama 7 hari. Kami belum menemukan kata bosan dalam menjalani setiap detiknya. Hubungan kami baik-baik saja. Namun tidak melangkah kemanapun. Aku tetap menjadi pemuja yang dengan mudah kehilangan akalku saat pujaanku melakukan hal-hal kecil yang bahkan tanpa afeksi apapun. Aku harus menerima diriku yang menatap kagum padanya di malam hari, saat ia tertidur dengan sangat pulas dan irama napasnya terdengar lembut teratur. Kemudian di detik aku membuka mataku, pemandangan indah itu kembali menyapa pagiku. Setelah malam panjang itu, pengaruh setiap hal yang ia lakukan begitu kuat padaku. Setiap langkahnya, setiap kedipan matanya, setiap hela napasnya, seolah bergerak lambat dengan anggun. Caranya tersenyum, mengikat rambutnya, tertawa puas, dan berlarian, seolah menarik pusat gravitasi ku. Aku kehilangan akalku lagi untuk kesekian kalinya.

.

“Saus tomat?” tanya Jiah menyadarkanku dari lamunanku.

.

“Hmm?” tanyaku karena tidak terlalu memperhatikan yang ia katakan.

.

“Aku bertanya, apa kau ingin saus tomat dalam burrito mu?” tanya Jiah lagi, kali ini dengan tawa kecil yang menyertai ucapannya.

.

“Tidak perlu”, jawabku.

.

Should I make it hot? (Haruskah aku membuatnya pedas?)” Jiah si New Yorker kembali.

.

“Eo… Pedas lebih baik”, jawabku setengah tertawa.

.

Jiah menyelesaikan burrito buatannya dengan sentuhan akhir dressing diatas sebuah piring panjang. Setelah bosan dengan masakan-masakan yang pernah ia buat, Jiah memutuskan untuk membuat makanan khas meksiko itu. Sejak pagi Jiah sudah membicarakan menu masakan itu dengan semangat menggebu. Menurutnya, burrito adalah makanan yang tepat untuk dinikmati di tempat dengan iklim tropis seperti ini. Aku hanya menyetujui semua hal yang ia katakan. Lagipula Jiah tidak pernah membuat makanan yang tidak memiliki rasa enak. Atau karena aku memakan setiap masakannya dengan perasaan cinta? Sepertinya aku benar-benar sudah gila…

.

“Cho Kyuhyun, berhenti tersenyum dengan bodoh dan makanlah…” kata Jiah mengejek sambil meletakkan piring kosong dengan ukuran lebih kecil di hadapanku.

.

“Arasseo…” kataku masih dengan tersenyum.

.

“Bisakah kita kembali ke Seoul besok lusa?” tanya Jiah.

.

“Kau sudah puas berlibur?” aku balas bertanya.

.

“Hmm… Belum…” jawabnya. “Tapi aku harus datang di dua kelas minggu depan. Setelah itu jadwalku kembali kosong”, kata Jiah menjelaskan.

.

“Jadi, lusa?” tanyaku.

.

“Eo… lusa”, kata Jiah mengulangi ucapanku.

.

“Baiklah. Aku akan menghubungi Gong ahjussi untuk mengurus semua keperluannya…”

.

“Geurae…”

.

.

#########################

.

.

At Seoul

Kami kembali ke Seoul. Jiah memiliki jadwal yang tidak bisa ia tinggalkan. Jadwal 2 hari yang sangat mengganggu. Aku harus merelakan beberapa jam ku bersamanya terbang ke angkasa begitu saja. Tentu pagi ini aku sendiri yang mengantarnya ke kampus. Aku berharap bisa mengantarnya hingga pintu kelasnya, namun si keras kepala Kwon Jiah menolakku dengan sangat keras. Aku masih dalam masa percobaanku dalam meyakinkan Jiah akan perasaanku padanya. Karena itu aku harus menurutinya. Apa boleh buat… Aku pun melajukan mobilku keluar kampus. Aku memiliki waktu membosankan selama kurang lebih 4 jam. Jiah mengatakan kelas akan berakhir pukul 1 dan aku bisa menjemputnya jika aku mau melakukannya. Yang benar saja… Bagaimana bisa dia berpikir begitu? Tentu saja aku akan dengan sangat senang hati menjemputnya. Ch… nappeun gijibae… Aku menghentikan mobilku di sebuah café yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus. Aku ingat Donghae pernah memberitahuku tentang café ini. Suasana café yang nyaman serta makanan dan minuman yang terbilang enak menjadi point yang selalu disebutkan oleh Donghae. Aku turun dari mobilku, membawa serta tas ranselku dan masuk ke dalam café. Ada sebuah tempat yang terlihat cozy diujung ruangan. Setelah aku memesan satu cup caramel machiatto dan sebuah croissant cokelat, aku segera menuju tempat itu. Selama beberapa saat aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Namun kemudian aku memutuskan untuk melakukan beberapa pencarian artikel-artikel kesehatan terbaru di internet. Walaupun seharusnya aku tidak melakukan ini dihari liburku. Ah… Kwon Jiah… Aku sudah merindukanmu…

.

Kerja kerasku di rumah sakit selama beberapa bulan yang lalu saat ini bisa aku nikmati. Aku masih memiliki waktu kira-kira satu minggu untuk beristirahat dirumah dan melakukan banyak hal yang selama masa internship ini ingin sekali ku lakukan. Tentu saja saat ini hari-hari kosong itu bisa ku lewati bersama Jiah jika saja jadwal 2 hari itu tidak ada di hidup kami. Hhh… Ada apa denganmu Cho Kyuhyun? Emosi mu hari ini sangat fluktuatif seperti anak remaja… Aku menertawakan diriku sendiri karena tingkah kekanakkanku. Aku menggelengkan kepalaku pelan sambil tersenyum tidak percaya dengan setiap pemikiran yang berputar di otakku. Beruntung saat ini keadaan café tidak terlalu ramai. Beberapa orang memilih kursi diluar café untuk merokok dan hanya ada dua orang yang duduk beberapa meja di depanku. Mereka membelakangiku, jadi mereka tidak bisa melihat kebodohanku mengekspresikan rasa frustrasi konyolku barusan.

.

Tidak terasa jarum jam di tanganku sudah menunjukkan pukuk 12 siang. Akupun segera mengemas barang-barangku dan keluar dari café untuk kembali ke kampus. Walaupun aku bukan tipe mahasiswa yang suka menjelajah kampus, tapi aku ingat ada sebuah taman di dekat gedung fakultas Jiah. Taman itu dikelilingi beberapa pohon rindang yang menutupi panasnya matahari di musim panas. Tapi sepertinya saat ini akan sedikit terasa dingin jika berada disana, mengingat angin musim gugur sedang gencar berhembus. Dan tepat seperti perkiraanku, angin benar-benar sedang berhembus dengan riang di taman ini. Beruntung karena ada sedikit hawa panas matahari yang meringankan dinginnya angin. Ada cukup banyak meja dan kursi panjang yang terbuat dari batu, yang biasanya digunakan oleh mahasiswa untuk kerja kelompok, atau sekedar duduk-duduk bersantai setelah kelas berakhir. Aku pun duduk disalah satu kursi, lalu kembali membuka laptopku dan meneruskan kegiatanku yang tertunda. Tidak lama berselang, beberapa mahasiswa mulai berdatangan ke taman itu. Mayoritas dari mereka adalah perempuan. Entahlah… Aku tidak terlalu memperhatikan. Kegiatan browsing ku sudah beranjak menjadi pengerjaan laporan akhir yang sudah ku mulai sejak beberapa bulan yang lalu. Aku bukan tipe orang yang dapat focus ke banyak hal dalam satu waktu. Karena itu, aku tidak mempedulikan keadaan taman yang ternyata sudah cukup ramai. Tiba-tiba tiga orang mahasiswi mendatangi mejaku. Samar-samar terdengar riuh suara mahasiswa lain disekitar taman. Aku tetap tidak peduli pada hal itu. Ketiga mahasiswi itu hanya berdiri tidak jauh dariku selama beberapa menit sampai akhirnya memberanikan diri mengatakan kalimat pertama mereka.

.

“Annyeonghaseyo, Kyuhyun sunbae…” sapa ketiga mahasiswi itu.

.

Butuh waktu selama beberapa detik hingga aku menoleh pada mahasiswi yang baru saja memanggilku dengan sebutan sunbae itu. “Eo… Annyeong…” kataku, lalu kembali memalingkan wajahku ke layar laptop.

.

“Bolehkah kami duduk disini? Semua meja sudah penuh…” tanya seorang mahasiswi yang tadi sempat ku lihat di holder nya bernama Park Jiyeon.

.

“Eo… Duduklah…” jawabku tanpa memalingkan wajahku.

.

“Ne, terima kasih, sunbaenim…” kata mereka bersamaan sambil duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi yang ku tempati.

.

Mereka tidak duduk tepat di hadapanku. Mereka memilih unutk duduk di ujung kiri kursi itu. “Geunde, apa yang sunbae lakukan disini? Bukankah sunbae seharusnya sedang internship di rumah sakit?” tanya seorang mahasiswi lain.

.

Aku melirikkan mataku pada mahasiswi berambut pendek berwarna pirang itu. Aku menemukan namanya kembali di holder yang dipegangnya. Park Choa. Aku mengangguk cepat menjawab pertanyaannya tadi. Sebelum kembali menatap layar, aku melihat holder milik mahasiswi yang duduk di ujung kursi. Park Lizzy. Mwoya… Ketiganya bermarga Park…

.

“Apa yang sunbae lakukan disini?” tanya Lizzy mengulangi pertanyaan Choa.

.

“Geunyang… Aku sedang off. Aku tidak memiliki hal lain untuk aku lakukan dirumah. Karena itu aku kesini…” jawabku.

.

“A… begitu rupanya… Tapi……” Choa menghentikan kalimatnya, membuatku mau tidak mau menoleh padanya.

.

“Apa?” tanyaku.

.

“Kenapa di fakultas ini? Setahu kami, di fakultas kedokteran ada sebuah taman serupa. Apakah ada maksud tertentu, sunbae?” tanya Choa sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya.

.

“Kenapa? Aku tidak boleh berada disini?” tanyaku dengan senyum tipisku.

.

“Ani… Bukan begitu… Bukan itu maksudku… Hanya saja, rasanya sedikit aneh melihat sunbae berada disini untuk pertama kalinya” jawab Choa terbatas.

.

“Aku lebih suka disini”, kataku kembali dengan senyumanku.

.

Aku bisa menangkap dari ekor mataku, mata mereka yang membesar, napas mereka memburu dan rasa gelisah di wajah mereka. Akupun menggelengkan kepalaku pelan karena tidak mengerti dengan reaksi berlebihan mereka itu. Tiba-tiba dua orang lain datang ke mejaku. Kali ini sahabatku dengan kekasihnya yang tidak begitu menyukaiku.

.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Donghae yang langsung duduk di seberangku.

.

“Kau masih saja bertanya? Hhh…” sahut Soo Jung disebelahnya.

.

Aku tidak tahu sejak kapan mataku memutuskan untuk memperhatikan keadaan sekitarku. Tapi aku benar-benar menangkap tatapan-tatapan yang dipenuhi dengan rasa curiga dan ingin tahu dengan pembicaraan kami bertiga. Mataku kembali menatap dua orang dihadapanku yang saat ini sudah kembali tidak mempedulikanku. Mereka berdua datang padaku hanya sebagai kebiasaan yang selalu mereka lakukan sejak masa SMA. Mereka tidak menghampiriku untuk secara khusus mencariku atau ingin bicara padaku. Mereka hanya melakukan kebiasaan kami yang selalu bersama selama bertahun-tahun. Aku baru saja akan kembali meletakkan jari-jariku di keyboard saat sebuah tas diletakkan di meja tepat disebelah kananku dengan hentakan yang tidak dapat dikatakan pelan.

.

“Hhh… Lelahnya…”

.

Saraf pendengaranku menangkap getaran suara itu dan mengantarnya ke otak dengan kecepatan tercepat. Kwon Jiah. Akhirnya… Jiah duduk tepat disebelah kananku lalu merebahkan kepalanya di atas tas yang tadi diletakkannya di meja. Aku menoleh, menatap wajahnya. Ia memejamkan matanya, seolah menikmati angin musim gugur yang berhembus menerpa wajahnya. Hela napasnya seirama dengan tiupan angin. Tiba-tiba ia membuka matanya, menatap kosong lurus ke depan, kemudian melirikkan matanya padaku. Jiah memejamkan matanya selama beberapa detik, sebelum akhirnya kembali membukanya, seolah baru saja menyampaikan sebuah pesan yang tidak aku mengerti.

.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku.

.

“Tidak…” jawabnya. “Pesona mu benar-benar belum redup, Cho Kyuhyun. Hebat sekali…” katanya dengan nada sarkastik sambil menegakkan tubuhnya.

.

“Walaupun aku tidak menyukainya, tapi aku mengakuinya…” sambung Donghae.

.

“Sayangnya tidak berpengaruh padaku”, sahut Soo Jung dengan senyum mengejeknya.

.

“Begitupun denganku”, kata Jiah dengan tawa kecilnya.

.

Jiah dan Soo Jung meluncurkan hi-five tepat dihadapanku. Untuk beberapa alasan, entah kenapa aku tidak merasakan kekecewaan atas kata-kata yang keluar dari bibir Jiah. Mereka bertiga pun memulai pembahasan abstrak mereka. Topik pembicaraan yang semula membahas tentang film yang sedang tayang di bioskop, beralih menjadi pembicaraan mengenai konser band indie bulan depan, restaurant terbaru yang letaknya tidak jauh dari apartement Donghae, hingga sepasang kekasih yang menurut mereka sangat serasi dari fakultas teknik yang notabene memiliki letak gedung jauh dari kampus ini. Aku terbiasa hanya menjadi pendengar tanpa pernah ikut memberikan komentar. Donghae dan Soo Jung sudah terlalu memahamiku, karena itu mereka tidak pernah memaksaku untuk mengatakan apapun disetiap diskusi yang mereka lakukan. Mereka hanya memerlukan kehadiranku diantara mereka.

.

“Kau sedang apa?” tanya Jiah tiba-tiba dengan suara pelan. Donghae dan Soo Jung masih sibuk dengan pembicaraan mereka.

.

“Hanya mengerjakan beberapa hal dalam laporan akhirku. Ada apa?” tanyaku pada Jiah.

.

“Ayo pulang…” kata Jiah yang sudah kembali meletakkan kepalanya di meja dengan tumpuan kedua tangannya. Wajahnya menghadap ke arahku. Keriuhan kembali terdengar disekitar kami.

.

“Kita makan siang terlebih dahulu, eo?” tanyaku.

.

“Hmm… Tapi aku tidak memiliki nafsu makan”, jawabnya lemas.

.

Aku menatapnya selama beberapa saat. Ia menghela napas panjang kemudian memejamkan matanya. “Baiklah. Kita pulang…” kataku menyanggupi permintaannya.

.

“Kau sudah makan siang?” tanya Jiah.

.

“Aku tidak mungkin makan tanpamu, Kwon Jiah…” kataku sambil merapikan barang-barangku.

.

“Tidak. Tidak. Kita makan siang terlebih dahulu. Kau harus makan”, kata Jiah mengubah pikirannya.

.

“Tidak perlu. Kau terlihat sangat lelah. Kita kembali ke rumah saja”, kataku.

.

“Andwae! Aku bilang kau harus makan terlebih dahulu. Tidak ada makanan apapun dirumah…” kata Jiah yang sudah kembali menegakkan tubuhnya bersikeras dengan ucapannya.

.

“Kita bisa memesannya. Gwaenchanha…”

.

“Andwaendago!!!” seru Jiah.

.

“Ya! Ya! Geumanhae ish…” Soo Jung menghentikan perdebatan kecil kami. “Sekarang kalian membuat keributan hanya karena makan siang? Kapan kalian akan bisa bicara tanpa berdebat? Menjengkelkan ish…”

.

Aku tertawa mendengar ucapan Soo Jung, menyadari tidakan yang aku dan Jiah lakukan. Setelah aku kembali memikirkannya, baru saja Jiah bersikeras memintaku untuk makan siang. Aku akan menganggapnya sebagai kemajuan dari semua usahaku. Walaupun aku harus menerima bentakannya sekalipun.

.

“Kwon Jiah, berapa lama aku harus bertahan seperti ini?” tanyaku.

.

“Apa maksudmu?” tanya Jiah tidak mengerti dengan pertanyaanku.

.

Akupun mendekatkan bibirku ke dekat telinganya. “Aku akan menuruti semua yang kau inginkan. Karena…… Aku tahu kau sedang dalam masa menstruasi, Kwon Jiah…” bisikku.

.

Jiah menarik tubuhnya menjauh dengan cepat. “Aish… Terkadang aku benci dengan kenyataan kau adalah seorang dokter, Cho Kyuhyun”, keluh Jiah.

.

“Hhh… Karena itu, berapa lama? Eo?” tanyaku lagi dengan tawa kecil.

.

“Dua sampai tiga hari”, jawabnya singkat dan cepat.

.

“Ah… Tidak terlalu lama… Ya! Kemarilah… Tegakkan tubuhmu. Kau bisa terjatuh”, kataku sambil meraih lengan Jiah dan menegakkan posisi duduknya kembali.

.

Jiah melakukan apa yang ku minta. Akupun memanfaatkan kesempatan itu untuk merangkulkan tanganku di pinggangnya, yang kembali menuai reaksi dari orang-orang yang berada di sekeliling kami. Jiah menopangkan kepalanya dengan kedua tangannya diatas meja dan menatap datar ke hadapannya.

.

“Arasseo… Makan siang…” kataku menyanggupi perkataannya beberapa saat yang lalu. “Kita akan makan siang dirumah. Ada banyak bahan masakan yang bisa diolah… Kalian berdua, ikutlah bersama kami. Aku akan membuatkan makan siang untuk kalian”.

.

“Assa!” sambung Donghae.

.

“Call!” kata Soo Jung cepat. “Tapi, kenapa kau tiba-tiba ingin memasak? Bukankah tadi kau mengatakan lebih baik memesannya?” tanya Soo Jung.

.

“Kau tahu dengan benar Jiah sangat sensitif dengan hal-hal yang tidak disukainya, Jung Soo Jung. Dalam keadaan seperti ini, makanan delivery tidak masuk dalam daftarnya. Karena itu, untuk istriku yang sedang dalam keadaan mood kurang baik, aku yang akan memasak”, jawabku. Aku mengecupnya tepat di pelipis sebelah kirinya. “Ayo kita pulang, sayang”.

.

.

.

TBC…

Note:

Part ini kembali dilewati tanpa ada permasalahan diantara mereka. Smooth and kinda sweet. Jiah kembali menunjukkan perilaku yang membingungkan untuk Kyuhyun. Jiah mengijinkan Kyuhyun menyentuhnya namun tidak pernah membalas setiap affection yang Kyuhyun berikan. Dengan kata lain, Jiah berperilaku seolah hanya menjalankan hidupnya sesuai dengan keadaan yang terjadi padanya. Jiah sedang menjalankan perannya sebagai seorang istri bagi Kyuhyun, tanpa perlawanan, tanpa rasa keberatan. Namun hal tersebut belum menunjukkan apa yang sebenarnya Jiah rasakan. Aku bukan ingin membingungkan kalian para readers. Aku hanya ingin memberikan dua clue kemungkinan perasaan yang sedang Jiah rasakan.

Pertama, Jiah memang masih memiliki perasaan suka pada Kyuhyun sebesar perasaannya saat SMA dulu. Jiah hanya tidak ingin menunjukkannya karena rasa sakit hati dan trauma (akibat hal-hal yang dilakukan penggemar Kyuhyun di sekolah padanya) yang masih menghantuinya. Jiah ingin Kyuhyun merasakan apa yang pernah ia rasakan dengan melakukan tindakan tarik ulur pada perasaan Kyuhyun. Namun, Jiah tidak bisa membohongi dirinya dengan semua sikap Kyuhyun padanya. Jiah masih menyukainya. Jadi, walaupun Jiah ingin membalas dendam pada Kyuhyun, tapi Jiah juga tidak bisa menolak setiap tindakan yang Kyuhyun lakukan padanya.

Kedua, sebenarnya Jiah benar-benar sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Kyuhyun. Sama sekali tidak. Setelah menyaksikan sendiri bagaimana sikap yang Kyuhyun tunjukkan padanya, Jiah merasa tidak nyaman karena membiarkan Kyuhyun menggantung tinggi harapannya. Karena itu, Jiah yang notabene adalah wanita yang baik, berusaha untuk menjalani hidupnya bersama Kyuhyun, suaminya, sambil berusaha untuk membuka hatinya kembali untuk Kyuhyun. Namun, usahanya tidak kunjung membuahkan hasil. Perasaan itu tidak kembali padanya walau apapun yang dilakukan Kyuhyun. Karena itulah sikap Jiah pada Kyuhyun mudah berubah-ubah.

Nah, readers-nim. Pilihan mana yang kalian pilih? Keduanya adalah pilihan yang mungkin terjadi, bukan? Tapi, hanya ada satu pilihan yang benar-benar terjadi? Apakah pilihan pertama? Atau kedua? Tunggu di part-part selanjutnya. Aku harap kalian belum bosan. Karena masalah diantara keduanya baru akan dimulai. Kana Pamit! Annyeonghigaseyo…

Advertisements

56 thoughts on “Since I (have) met you : Part 6

  1. Makin lama kyuhyun makin romantis ,, apalagi setelah pa.yang terjadi selama bulan.madu ,, jiah juga tudak menolak ,,semog jiab masih nisa membuka hatinya untuk kyuhyum

    Like

  2. pasangan ni bikin ngiri aja makin romantis abis mudah2an hubungan makin lengket kedepannya dan sama2 saling jujur

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s