Since I (have) met you : Part 5

Author: Okada Kana

Category: PG-18, Romance, Chapter

Cast: Cho Kyuhyun, Kwon Jiah (OC)

Other Cast:

Jung Soo Jung, Lee Donghae, Kal Sowon (cameo), Yesung (cameo)

Disclaimer:

Annyeonghaseyo… Kana kembali dengan Since I (have) Met You Part 5!!! Apa kabar readers-nimdeul? Aku tidak tahu apakah FF ini menjadi salah satu FF yang kalian tunggu-tunggu atau tidak. Tapi, aku tetap akan selalu berusaha melanjutkan kisah cinta Kyuhyun dan Jiah ini dengan kecepatan super yang mampu dilakukan oleh otakku. Karena aku juga hanya manusia biasa, aku mohon kalian bisa memaklumi jika jarak update FF ini akan memakan waktu cukup lama. Karena inspirasi tidak datang begitu saja dengan cepat. Dan mood manusia berubah dengan cepat. Saat mood sedang memburuk, aku tidak bisa meneruskan FF ini sama sekali. Kalau kalian pernah mencoba membuat FF atau cerpen atau kisah lainnya, kalian tentu akan mengerti masalah yang satu itu. Karena itu, mohon kalian memberikan kesabaran extra. Fighting! Nah… Bagaimana kabar Kyuhyun – Jiah couple? Seperti yang aku katakan di part sebelumnya, pernikahan akan benar-benar terjadi. Manse!!! Untuk bocoran awal aja nih… Part ini akan full kisah seputar hari pernikahan mereka.

FF ini murni berasal dari kepalaku. Ide cerita yang muncul berasal dari beberapa drama yang sudah aku tonton. Tapi cerita dalam FF ini tidak menggunakan ataupun mengikuti cerita drama yang sudah ada. Seperti biasanya, mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Karena seperti yang aku katakan, ini adalah kisah cinta sederhana yang bisa dialami siapa saja. Aku juga berusaha sebisa mungkin untuk menghindari typo. Tapi, aku juga manusia biasa yang bisa membuat kesalahan, jadi mohon dimaklumi. No bash, smart comments and critics always accepted. Selamat membaca…

.

.

.

.

Review Part 4

“Ada apa, Cho Kyuhyun? Kehabisan kata-kata? Kau akan jatuh cinta jika menatapku terus seperti itu. Kau benar-benar terpana? Hhh… Jangan lakukan itu, Cho Kyuhyun… Sangat mengganggu… Jangan biarkan dirimu tersesat…”

“Aku merasa untuk sesaat kewarasanku menghilang…”

“Kau sudah tidak waras sejak dulu, Cho Kyuhyun. Kau yang baru menyadarinya… Kenapa? Aku terlihat sangat cantik sampai membuatmu kehilangan akal sehatmu?”

“Ch… Eo… Kau benar.”

——————–

“Kau benar tidak mengetahuinya? Ibumu adalah pasien tetap di bangsal kanker rumah sakit K university. Aku pernah bertemu dengan beliau tahun lalu saat melakukan kemoterapi. Hari ini Kyuhyun sunbae terburu-buru berlari menuju UGD”.

“Kau bercanda?”

“Jiah-ssi, aku seorang calon dokter. Hal seperti itu tidak boleh aku jadikan sebagai candaan…”

——————–

“Kau tidak berbohong padaku, bukan? Eomma benar-benar akan baik-baik saja, bukan? Aku mohon… Katakan kau tidak sedang berbohong padaku…”

“Aku tidak pernah sekalipun berbohong padamu, Kwon Jiah. Kau memiliki hak sepenuhnya untuk percaya atau tidak padaku. Tapi kau bisa memegang ucapanku sebagai seorang dokter. Kwon Jiah…”

.

.

.

.

-Since I (have) met you : Part 5-

.

.

.

.

Kyuhyun’s POV

D-Day

Hari ini akhirnya datang. Para tamu sudah memenuhi ruangan tempat pemberkatan pernikahan kami akan dilangsungkan. Pernikahan kami mengangkat ‘Springfield’ sebagai tema dekorasi ruangan. Sampai hari ini aku tidak mengerti maksud dibalik pengambilan tema itu ditengah suhu musim gugur yang mulai dingin. Warna-warna seperti baby pink, putih, hijau, aqua, maroon, dan violet dapat ditemukan dibeberapa tempat. Alunan piano dan biola pun melengkapi suasana musim semi di dalam ruangan itu. Seluruh tamu sudah duduk ditempatnya masing-masing, termasuk kedua keluarga inti. Sejak lima menit yang lalu, aku sudah berdiri dengan tangan yang gemetar dan kaki yang lemas. Jika lampu yang memancar ke wajahku bukan berwarna kekuningan, mungkin terlihat betapa pucatnya wajahku saat ini. Jantungku berdetak berkali-kali lipat dari biasanya. Aku bahkan sudah membuka dan memasang sarung tanganku berkali-kali. Para tamu yang hanya bisa menatap punggungku mungkin akan berpikir bahwa sikapku sangat tenang (aku menghadap ke altar, bukan ke tamu undangan). Padahal yang terjadi sebenarnya adalah aku tidak bisa menahan kegugupanku.

.

Tiba-tiba salah seorang sepupu ku yang sudah ditunjuk sebagai pembawa acara hari itu, Yesung, menaiki podium. Ia memukul pelan microphone untuk memeriksa benda itu dapat digunakan dengan baik. Yesung mengawali dengan memberikan salam pada para tamu yang sudah hadir. Yesung juga menjelaskan rangkaian acara yang akan diadakan hari itu. Aku tidak mendengarkannya sama sekali. Karena saat ini otakku sedang berputar sangat cepat. Otakku tidak bisa menerima dan memproses setiap informasi yang diterima oleh telinga ku. Rasa gugup sudah menenggelamkan diriku.

.

“Mempelai wanita akan segera memasuki ruangan…” kata Yesung.

.

Aku membuka mataku dan berbalik menghadap pintu utama. Piano dan biola kembali dimainkan. Alunan musik classic dengan tempo lambat menambah keindahan suasana dalam ruangan itu. Beberapa detik kemudian pintu utama pun terbuka. Tuan Kwon berdiri dengan gagah bersama Jiah yang masih menundukkan wajahnya. Jantungku memacu begitu cepat saat Jiah mengangkat kepalanya. Mata kami bertemu, membuatku semakin tersesat dan kehilangan akal sehatku. Tuan Kwon dan Jiah mulai melangkah masuk ke dalam ruangan. Decak kagum para tamu akan kecantikan Jiah terdengar beberapa kali. Perlahan sebuah senyuman tergambar di wajahku. Rasa gugup yang semula aku rasakan sudah terbang entah kemana, digantikan dengan rasa memburu ingin menarik Jiah segera ke altar. Aku dapat melihat dengan jelas kegugupan diwajahnya, namun segera digantikan dengan senyuman manis yang membuat kaki ku kembali terasa lemas. Aku maju dua langkah untuk menerima tangan Jiah yang akan diserahkan oleh Tuan Kwon. Tangan kami pun bertemu, mengalirkan kehangatan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.

.

Kami mengucapkan janji setia yang disaksikan oleh setiap tamu yang datang. Pendeta meneruskan bagiannya dan mengesahkah hubungan kami sebagai suami dan istri. Pendeta meminta kami saling berhadapan, lalu memberikan sebuah ciuman pada satu sama lain. Jiah tersenyum. Bukan senyum lebar ungkapan rasa senang yang berlebihan, namun senyum manis yang mampu melumpuhkan hatiku. Akupun meraih pinggangnya dan menariknya mendekat padaku. Jarak kami hanya sekitar 10 cm saat Jiah menutup matanya. Aku menyentuhkan bibirku di bibirnya dan perlahan mencoba membuka bibirnya dengan bibirku untuk memperdalam ciumanku. Aku bisa merasakan tangan Jiah yang menyentuh kedua bisepku bergerak menuju dadaku. Aku juga merasakan pesta yang sangat meriah dalam tubuhku yang ingin mengajakku berpesta dan meledak bersama kembang api. Namun kesenanganku harus berakhir saat Jiah terlebih dahulu melepaskan bibirnya.

.

Kami saling menjauh dan sesaat saling menatap satu sama lain. Aku tetap tidak bisa membacanya. Satu hal yang bisa ku pastikan, perasaan menggebu dalam diriku tidak dirasakan olehnya. Lalu apa arti ciumannya barusan? Tiba-tiba gemuruh tepuk tangan dari tamu undangan yang datang memecah keheningan diantara kami, mengalihkanku dari segala keraguan yang bergumul diotakku. Jiah kembali meraih lenganku. Kami berdiri berdampingan menghadap pada para tamu dan memberikan salam hormat pertama kami sebagai pasangan suami istri. Dia milikku. Tapi kenapa aku merasa hatinya tidak diperuntukkan bagiku?

.

.

####################

.

.

Upacara pernikahan dilanjutkan dengan pesta bagi para tamu. Setelah segala keresahan, rasa gugup, dan gemetar selama upacara berlangsung, akhirnya aku bisa sejenak beristirahat duduk di tempat yang telah mereka sediakan untuk kami berdua. Sebuah meja bulat dengan ukuran sedang, yang seharusnya bisa digunakan untuk empat sampai lima orang, hanya digunakan oleh kami berdua. Mereka menempatkan meja itu di tempat terdepan, tidak jauh dari altar tempat pemberkatan. Jiah sudah mengganti gaunnya dengan sebuah gaun yang lebih sederhana dan ringan. Saat ini para tamu undangan sedang dipersilahkan untuk menyantap makanan mereka. Sebuah band dengan dua orang penyanyi sedang melantunkan lagu cinta yang begitu menyiratkan setiap kata didalamnya.

.

.

BGM: Seo In Guk & Jung Eun Ji – Our Love Like This (우리 사랑 이대로)

.

.

“Ah… Norae johda… (Aku suka lagunya…)” kata Jiah memecah kebungkaman diantara kami.

.

Aku menoleh padanya, menatap wajanya, kembali mencoba membaca ekspresinya. Jiah menumpukan kepalanya dengan kedua tangannya yang berada di atas meja sambil menyaksikan persembahan kedua penyanyi di sebuah stage kecil tidak jauh dari kami. Jiah tersenyum kagum dengan wajah berseri. Ia bahkan sesekali menutup matanya untuk menikmati setiap nada yang ia dengar. Bisakah aku bertahan hingga acara ini selesai?

.

“Hhh… Kau membuatku gila, Kwon Jiah…” kataku sambil meletakkan kepala ku dimeja, dengan lenganku sebagai penumpu. Aku menghadapkan wajahku ke kanan, untuk menghindari pemandangan indah bernama Jiah disebelah kiriku.

.

“Hmm??? Kau baru saja mengatakan apa?” tanya Jiah.

.

“Aku bilang kau membuatku gila…” jawabku, belum menoleh padanya.

.

“Apa yang sudah aku lakukan?” tanya Jiah lagi.

.

Aku menyerah. Akhirnya aku membalik posisi wajahku. Saat ini aku menatapnya yang sedang menatapku juga, menunggu jawaban atas pertanyaannya. Ia menaikkan alisnya sesaat, seolah memintaku untuk segera menjelaskan maksudku padanya.

.

“Hari ini kau begitu tenang dan terlihat…… seolah bahagia…” jawabku.

.

“Aku memang bahagia”, katanya.

.

“Hhh… Benarkah?” tanyaku tidak percaya.

.

“Eo… Aku selalu suka suasana disebuah upacara pernikahan. Entah apa yang membedakannya dengan acara perayaan lain. Tapi ada suatu hal yang membuatku tersentuh. Dan juga, dekorasi ruangan ini sangat cantik. Aku menyukainya…”

.

“Jadi, hanya aku yang tidak kau sukai di ruangan ini? Tidak adil…” kataku mencoba menggodanya.

.

“Ah… Saat ini kau membahasnya, aku jadi tersadar. Kau benar. Sayang sekali…” katanya santai, lalu kembali menatap stage.

.

“Kau ingin aku pergi agar suasana ini menjadi indah sempurna?” tanyaku.

.

“Tidak……” seketika jawabannya mengikat napasku. “Jika kau pergi dari sini, maka aku akan jadi satu-satunya pusat perhatian para tamu. Aku tidak suka menjadi pusat perhatian…” Jangan besar kepala, Cho Kyuhyun…

.

“Tapi kau akan lebih senang, bukan? Kau bilang kau sangat menyukai suasana seperti ini…”

.

Tiba-tiba Jiah mengganti posisi duduknya, menghadap padaku. Ia menatapku, lalu menghela napasnya kasar. “Aku tahu apa yang sedang kau coba sampaikan, Cho Kyuhyun. Dengar, aku sudah memikirkannya selama beberapa hari terakhir… Aku memutuskan untuk berdamai dengan keadaan kita”, kata Jiah.

.

“Maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

.

“Kita sudah menikah. Itu kenyataannya. Bagaimanapun aku menyangkal, menolak, atau membencinya, keadaan tetap tidak akan berubah. Karena itu aku putuskan untuk berdamai dengan ini semua. Aku akan menerima keadaanku suka atau tidak. Dan juga…… Ayo kita berteman!”

.

“Apa? Kau bercanda? Ada apa dengan jalan pikiranmu, Kwon Jiah?” tanyaku bingung.

.

“Bagaimanapun kita akan tinggal bersama dan menghabiskan banyak waktu bersama. Jika situasi diantara kita begitu panas, aku khawatir kita berdua tidak akan pernah bisa hidup bahagia sampai kapanpun. Sebaliknya, dengan berdamai dan berteman, setidaknya kita bisa hidup dengan tenang, bukan?” tanya Jiah dengan senyuman tipis di bibirnya. Ia kembali memalingkan wajahnya ke stage yang saat ini mempertunjukkan lagu dengan beat yang lebih cepat dari sebelumnya.

.

“Jadi? Berdamai?” tanyaku lagi memastikan.

.

“Eo… Berdamai. Aku rasa akan lebih baik jika seperti itu. Kita bisa saling membantu satu sama lain. Karena sepertinya kehidupan yang akan dimulai besok menjadi lebih berat. Menghadapinya berdua akan meringankan sedikit beban…” katanya menjelaskan.

.

“Baiklah…” kataku menyetujui. Aku sudah menetapkan teritori pribadiku untuk melangkah lebih dekat padanya. Terlebih ia tidak memberikan batasan apapun padaku. Setuju dengan ide anehnya itu akan membantuku dalam menghancurkan dinding pertahanan yang ia buat untuk menghalangiku kembali masuk ke hatinya. “Kwon Jiah…”

.

“Hmm???” jawabnya sambil menoleh padaku.

.

“Kau ingin bulan madu kemana? Katakan padaku…” tanyaku mengganti topic pembicaraan kami.

.

“Bulan madu? Haruskah kita melakukannya? Apakah memungkinkan? Aku belum memeriksa jadwal kuliahku…” kata Jiah.

.

“Eo… Sangat memungkinkan. Aku sudah memeriksa jadwalmu dan menyocokkannya dengan milikku. Kita bisa berangkat besok dan kembali setelah 2 minggu”.

.

“Heol… Kau bilang 2 minggu? Kenapa begitu lama?” tanya Jiah.

.

“2 minggu tidak akan terasa begitu lama jika kita keluar negeri, Kwon Jiah…” jawabku.

.

“Memangnya kita akan kemana?”

.

“Ada tempat yang ingin kau kunjungi?” aku balas bertanya padanya. “Phuket? Pattaya? India? New Caledonia? Hawaii?”

.

“Mwoya… Kenapa jauh sekali tempat-tempat itu? Dan juga, semua tempat itu berada di daerah dengan iklim tropis”, kata Jiah menanggapi.

.

“Memang. Aku tidak ingin berlibur dengan jaket tebal dan pakaian berlapis menyelubungi tubuhku. Jadi, apa pendapatmu? Kau keberatan?”

.

“Katakan sejujurnya padaku, Cho Kyuhyun. Kau sedang melarikan diri dari siapa?” tanya Jiah dengan tatapan mengejeknya.

.

“Hhh… Apa maksudmu? Untuk apa aku melarikan diri?” tanyaku.

.

“Aniya? Jika kau tidak ingin melarikan diri, untuk apa pergi begitu lama? 2 minggu, terlebih semua tempat yang kau rekomendasikan letaknya sangat jauh. Kau ingin melarikan diri dari masa-masa internship mu, bukan? Arasseo… Tempat-tempat yang kau ajukan tidak begitu buruk. Aku memberikan kehormatan padamu untuk memilihnya. I’m okay wherever we’re going to…”

.

“Tentu saja… Kwon Jiah yang selalu cool dengan segala keputusannya…” kataku dengan tawa kecil yang tidak ku sadari keluar begitu saja dari bibirku. Jiahpun tidak bisa menghindari tawa kecil yang juga menghiasi wajahnya. “Ja, bagaimana dengan yang satu ini?”

.

“Apa?” tanya Jiah bingung.

.

Aku menatap tepat pada matanya. Aku juga menegakkan posisi tubuhku lalu berdiri dan menarik kursiku lebih ke belakang agar area gerakku lebih luas dan leluasa. Jiah mengerutkan keningnya melihat satu demi satu gerakan yang ku buat barusan. Ia menatapku dengan tatapan curiga.

.

“Nona Kwon Jiah…… dance with me?” tanyaku sambil menjulurkan tanganku padanya.

.

Senyum lebar kembali menghiasi wajahnya. Kini juga diikuti dengan gelak tawa yang bisa ku dengar walau posisiku saat ini berdiri di hadapannya.

.

“Kau pandai berdansa?” tanya Jiah.

.

“Dangyeonhaji… (Tentu saja…)” jawabku yakin.

.

“Geurae geureom… (Baiklah kalau begitu…)” kata Jiah sambil meletakkan tangannya diatas tanganku.

.

Seketika lagu yang sedang dinyanyikan oleh para penyanyi dihentikan. Suasana berubah hening saat aku menuntun Jiah berjalan bersamaku menuju lantai dansa di tengah gedung. Alunan bossanova yang sebelumnya dimainkan berganti dengan suara piano yang mengawali lagu indah pengantar dimulainya dansa yang akan kami lakukan.

.

.

BGM: Westlife – You Light up My Life

.

.

Jiah meletakkan tangannya dilengan atasku, dan tangan lainnya tetap dalam genggaman tanganku. Kami mulai melangkahkan kaki kami beriringan dengan lagu yang dinyanyikan. Kaki kami melangkah begitu pasti tanpa halangan apapun. Mata kami terkunci pada tatapan satu sama lain. Sebuah senyuman tipis tergambar diwajahnya. Seolah waktu disekitarku berhenti dan setiap kedipan matanya menandakan detik jam yang bergerak. Begitu lambat dan menenangkan. Getaran di dadaku membuatku sontak menarik tubuh Jiah mendekat padaku, membuat jarak diantara kami menipis. Aku memajukan kepalaku tepat ke samping kepalanya. Kemudian mendekatkan bibirku pada telinganya. Aku menyanyikan sepenggal lirik dalam lagu itu di telinganya dengan volume suara yang mungkin hanya bisa didengar olehnya.

.

.

You light up my life

You give me hope to carry on

You light up my days

And fill my nights with song…

.

.

Aku bisa merasakan sebuah remasan pelan di bahuku. Jiah mendengarnya, tapi tidak memberikan respon apapun. Ia tetap melanjutkan gerakannya hingga sampai pada akhir lagu. Tiga kata itu tidak bisa keluar dengan mudah dari bibirku. Tapi aku sudah mengakui perasaanku padamu, Kwon Jiah. Apa arti dari remasan yang kau berikan padaku? Kau bahkan tidak mengatakan sepatah katapun padaku. Apakah ungkapan ini terlalu ringan? Musik berganti. Alunan piano kembali mengawali lagu yang akan dinyanyikan. Kali ini dengan tempo yang lebih lambat dari sebelumnya.

.

.

BGM: Iron & Wine – Flightless Bird, American Mouth (Wedding Version)

.

.

Aku menjauhkan tubuhku dari Jiah. Aku menatap matanya dengan tatapan lembut namun menuntut reaksi darinya. Seperti yang ku duga, ia tidak menunjukkan reaksi apapun. Akupun meraih kedua lengannya dan meletakkannya melingkar di leherku. Aku kembali menarik tubuhnya mendekat padaku. Kini kami tanpa jarak. Aku menuntun langkahnya bergerak pelan mengikuti alunan musik. Ia sangat pandai berdansa. Kakinya bergerak mengikuti tuntunanku dengan mudah. Indera ku menangkap beberapa bisikan dari para tamu yang membicarakan kami, bahkan tidak segan menunjuk kami dengan senyuman yang menyertai di wajah mereka. Aku tidak begitu peduli dengan hal itu. Saat ini, pusat duniaku hanya tertuju padanya. Tatapan kami tidak terputus sedikitpun. Dari sudut mataku, aku melihat bibirnya yang bergerak pelan seolah ingin mengatakan sesuatu, namun tidak kunjung terdengar satu kata apapun di telingaku. Tatapan matanya tajam menusukku hingga merenggut napasku perlahan. Ia mengutarakan kebenciannya melalui tatapan itu. Namun ada hal lain yang tersembunyi dibalik tameng rasa benci nya. Tatapannya menggambarkan beribu kebimbangan dan keresahan yang ia rasakan. Tidak Jiah… Jangan meragukanku… Aku selalu memilihmu… Tiba-tiba Jiah menggerakan tangannya, seolah ingin melepasnya dariku, begitupun dengan tatapannya yang mulai menghindariku. Aku meraih kembali lengannya yang sudah berada tepat di depan dadaku. Ia sontak kembali menatapku dengan matanya yang terbelalak. Tidak Jiah… Kali ini kau harus benar-benar menangkap maksudku…

.

“Maafkan aku…” kataku pelan.

.

“Tentang?” tanya Jiah singkat. Nada bicaranya seolah menamparku. Sangat dingin.

.

“Tentang ini…”

.

Tanpa berpikir lagi, aku menarik tubuhnya mendekat dan menyentuhkan bibirku di bibirnya. Tanganku pun melepaskan lengan Jiah, dan beralih menyentuh rahang bawahnya. Perlahan ku angkat wajahnya dengan tanganku, untuk memudahkanku menciumnya. Aku melepaskan bibirku sejenak saat menyadari napas Jiah yang tercekat karena terkejut dengan tindakanku.

.

“Kwon Jiah, bernapas……” bisikku.

.

Tidak. Tentu aku tidak akan melepasnya begitu saja. Hari ini adalah hari pernikahan kami. Alasan itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab semua pertanyaan yang mungkin akan Jiah tanyakan perihal tindakanku ini. Aku tidak akan mendapatkan kesempatan di hari lain setelah hari ini berakhir. Aku pun kembali meraih bibir Jiah yang sedikit terbuka karena keterkejutan yang belum meninggalkan dirinya. Keadaan itu aku manfaatkan untuk memperdalam ciumanku. Aku kehilangan kewarasanku sepenuhnya. Tanganku beralih menuju tengkuknya, menahan kepalanya agar tidak menjauh dariku. Samar-samar aku mendengar sorakan para tamu yang menyaksikan kami dari tempat mereka masing-masing. Aku tidak mempedulikannya. Aku terlalu tenggelam dalam perasaan yang membuncah keluar dari tubuhku. Aku membuka mataku seketika saat aku merasakan kedua tangan Jiah menyentuh pinggangku, kemudian melesak ke dalam jasku menuju punggungku. Aku kembali memejamkan mataku, merasakan bibir Jiah yang lembut membalas setiap ciuman yang ku berikan padanya. Ini terasa begitu nyata dan memabukkan. Seolah untuk sesaat hatiku mendapatkan rasa nyaman yang ditunggu dan dibutuhkan setelah waktu yang sangat lama.

.

Tiba-tiba Jiah melepaskan ciumannya, namun tidak menjauh dariku. Sapuan bulu matanya dapat ku rasakan di kulitku, menandakan ia sudah membuka matanya. Napasnya tersengal dan terasa berat namun hangat. Aku bisa merasakan kecanggungan Jiah menjadi pusat perhatian seperti ini. Aku pun menjauhkan kepalaku darinya dan memberikan kecupan di keningnya. Aku membiarkan bibirku tetap berada disana selama beberapa saat, kemudian menggantikannya dengan daguku, dan kembali memberikan sebuah kecupan singkat disana sampai akhirnya aku benar-benar melepaskan diri darinya. Namun Jiah justru melesak ke dalam pelukanku, menyembunyikan wajahnya. Dia malu. Jiah yang malu sangat menyenangkan… Tentu aku akan melindunginya dari tatapan setiap tamu undangan yang tertuju pada kami. Aku merangkulkan lenganku menyelubungi tubuh Jiah. Aku meletakkan kepalaku diatas kepalanya dan hanya bisa tersenyum malu pada setiap mata yang memandang kami dan bersorak senang hanya dengan melihat kami.

.

.

BGM: Cho Kyuhyun – Piano Forest

          Cho Kyuhyun – Smile

.

.

Author’s POV

Musik kembali berganti dengan tempo yang menghidupkan suasana. Alunan saxophone dan petikan gitar membuat suasana dalam ruangan itu berubah menjadi penuh dengan romantisme musim gugur. Kyuhyun melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuhnya. Ia memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Jiah yang masih tertunduk. Sebuah senyuman mengembang diwajahnya saat melihat wajah Jiah yang masih merah karena malu. Kyuhyun pun kembali merengkuh Jiah dalam pelukannya lalu mengecup pelan puncak kepala Jiah.

.

“Karena itu aku meminta maaf terlebih dahulu padamu” kata Kyuhyun dengan senyum lebarnya.

.

“Hhh… Kau benar-benar keterlaluan, Cho Kyuhyun. Aku sangat tidak menyukai PDA seperti ini”, kata Jiah.

.

“Arasseo, mianhae… Maafkan aku kali ini saja. Aku tidak akan mengulanginya. Lagipula ini adalah pesta pernikahan. Mereka semua akan memakluminya…” kata Kyuhyun.

.

“Michin nom…” kata Jiah pelan.

.

Tiba-tiba seseorang menepuk pelan punggung Kyuhyun. Ia pun menoleh untuk melihat orang yang mengganggu ketenangannya itu. Lee Donghae dengan senyum lebarnya meminta Kyuhyun membiarkannya berdansa dengan perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya itu. Namun Kyuhyun justru memberikan tatapan enggannya pada Donghae.

.

“Mwohanya neo? Ga! (Apa yang kau lakukan? Pergi!)” kata Kyuhyun pelan namun dingin pada Donghae.

.

“Yaish s**kki jinjja… Inikah balasanmu setelah aku selalu membantumu?” tanya Donghae yang ternyata didengar oleh Jiah.

.

Jiah menoleh dari balik bahu Kyuhyun. Donghae langsung memberikan senyum manisnya pada Jiah yang juga terpancing untuk tersenyum saat melihat wajah Donghae.

.

“Kwon Jiah, berdansalah denganku…” kata Donghae sambil mengajukan tangannya.

.

“Arasseo…” jawab Jiah.

.

“Kwon Jiah……” Kyuhyun mencoba protes.

.

“Ya! Dia selalu membantumu selama ini. Lagipula dia juga sahabatku. Lepaskan aku!” kata Jiah sambil melepaskan diri dari Kyuhyun.

.

“Hah… Kwon Jiah… Kau benar-benar keterlaluan sekali padaku…” protes Kyuhyun.

.

Jiah tidak mendengarkannya. Ia tetap melangkah menuju Donghae dan berdansa dengannya. Namun ternyata dibalik protesnya, Kyuhyun justru tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu. Tidak. Kyuhyun sama sekali tidak keberatan saat Donghae meminta Jiah darinya. Begitulah cara mereka berdebat saat menginginkan hal yang sama. Kyuhyun pun menggeleng pelan dan berbalik hendak duduk kembali di tempatnya. Namun seorang gadis kecil menghalanginya. Keponakannya yang berusia 9 tahun, Sowon, diantar oleh kakak perempuan Kyuhyun ke tengah lantai dansa. Senyum keduanya mengembang saat saling menatap satu sama lain. Mereka pun berdansa dengan disertai tawa dari Sowon saat Kyuhyun mengangkat tubuhnya beberapa kali.

.

“Dia terlihat sangat bahagia hari ini”, kata Donghae.

.

“Kau benar. Bagaimanapun hari ini dia bisa merasakan hari off nya dari rumah sakit, bukan?”

.

“Dia bukan bahagia karena hal itu, baboya… Ah cham… Kwo Jiah, kau sangat tidak peka. Bagaimana bisa kau tetap berpikir seperti itu setelah semua hal yang terjadi? Ckckck…”

.

“Terserah padaku ingin berpikir apa. Tidak ada hubungannya denganmu, ahjussi…” kata Jiah dengan nada bercandanya.

.

“Geurae… Lakukan yang kau suka, ahjumma…” balas Donghae membuat keduanya tertawa bersama.

.

“Geunde, dimana Soo Jung? Dia belum menemui ku sejak tadi…” tanya Jiah.

.

“Disana……” jawab Donghae tiba-tiba lesu. Donghae bahkan tidak benar-benar menunjuk tempat yang tepat.

.

“Kalian bertengkar?” tanya Jiah lagi.

.

“Aniya… Soo Jung sedang berbincang dengan Kang Min Hyuk…” jawab Donghae.

.

“Heol… Minhyuk sunbae? Bagaimana dia…… ah… Minhyuk sunbae dan Kyuhyun memiliki hubungan yang baik. Tentu Kyuhyun akan mengundangnya juga. Aku lupa… Cho Kyuhyun benar-benar keterlaluan pada sahabatnya ini. Bagaimana bisa dia tanpa memikirkan perasaan sahabatnya, mengundang mantan kekasih Jung Soo Jung? Ck… Cho Kyuhyun nappeun saram-ida… Lalu, kau…… cemburu?” tanya Jiah menggoda Donghae.

.

“Tidak”, jawab Donghae cepat.

.

“Geojitmal… Kau pikir aku bodoh? Kau mau ku bantu menyingkirkan Minhyuk sunbae? Aku akan membantumu. Aku juga sahabatmu, bukan?” tanya Jiah kembali dengan nada mengejeknya.

.

“Dwaesseo!” tolak Donghae.

.

“Ck… Aku jadi ragu dengan hubungan kalian. Kau benar-benar sudah menyatakan perasaanmu padanya? Soo Jung benar-benar kekasihmu?”

.

“Tentu saja… Kami sudah berpacaran sejak SMA. Aku bukan Cho Kyuhyun yang lebih suka memendam perasaannya…” kata Donghae dengan rasa kesal tertahannya.

.

“Arasseo… Arasseo… Eo! Soo Jung datang. Cepat ajak dia berdansa. Jangan pernah kehilangan gadis itu, Lee Donghae. Kau tahu aku selalu mendukung kalian, bukan?”

.

Perkataan Jiah seketika mengembalikan senyum Donghae. Keduanya saling melepaskan diri. Kemudian Jiah membenarkan letak dasi Donghae dan merapikan rambut Donghae yang menutupi dahi. “Pergilah…” kata Jiah tanpa suara yang dijawab dengan anggukan oleh Donghae. Jiah menepuk pelan bahu Donghae, memberikan semangat padanya. Donghae pun berbalik dan berjalan menuju Soo Jung, meninggalkan Jiah di lantai dansa yang saat ini dipenuhi pasangan-pasangan lain yang sedang ikut menikmati suasana penuh cinta pesta pernikahan itu. Jiah melipat tangannya dibawah dada sambil tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya di kejauhan yang sedang saling bicara dengan tatapan penuh cinta. Tiba-tiba sepasang tangan hangat menyentuh kedua lengannya dari belakang, kemudian menjalar menuju perut Jiah.

.

“Kwon Jiah jabassda… (Kwon Jiah tertangkap…)” kata Kyuhyun sambil menyandarkan kepalanya di kepala Jiah dan menghela napas panjang. “Kau terlihat sangat lelah”.

.

“Benarkah? Sangat jelas terlihat?” tanya Jiah dengan nada bicara yang memang menunjukkan kelelahannya.

.

“Eum… Sangat jelas dimataku”, jawab Kyuhyun. “Ah… Mereka tetap seperti itu bahkan setelah bertahun-tahun…” kata Kyuhyun mengomentari pemandangan lovey-dovey yang dilakukan Donghae dan Soo Jung.

.

“Bukankah seharusnya memang seperti itu?” tanya Jiah.

.

“Eo… Seharusnya seperti itu…” Begitupun dengan kita, Jiah-ya. Seharusnya seperti itu… sambung Kyuhyun dalam pikirannya.

.

Kyuhyun mulai kembali menggerakkan kakinya, mengikuti irama lagu yang mengalun. Jiah pun perlahan mengikuti langkah kaki Kyuhyun dengan mudah. Sungguh pemandangan yang membuat iri setiap mata yang melihatnya. Meskipun kenyataannya tidak sejalan dengan suasana hati keduanya.

.

“Geunde, kau benar-benar keterlaluan, Cho Kyuhyun…” kata Jiah berbisik.

.

“Mwoga?”

.

“Bagaimana bisa kau mengundang Minhyuk sunbae?” tanya Jiah disertai tawa saat mengingat ekspresi wajah Donghae beberapa menit yang lalu.

.

“Memangnya kenapa?” tanya Kyuhyun.

.

“Kau tidak tahu? Minhyuk sunbae adalah mantan kekasih Soo Jung. Dulu Soo Jung pernah mengatakan padaku bahwa Minhyuk sunbae adalah mantan kekasih yang paling tidak disukai Donghae, karena banyak siswa disekolah yang selalu membeda-bedakannya dengan Minhyuk sunbae”, jawab Jiah.

.

“Benarkah?” tanya Kyuhyun diikuti dengan tawa mengejeknya. “Aku tidak tahu. Bocah itu, Lee Donghae, tidak pernah mengatakannya padaku”.

.

“Tadi ekspresi nya benar-benar kelabu. Dia cemburu karena Soo Jung berbincang lama sekali dengan sunbae. Untung saja dia tidak menangis”, kata Jiah yang juga tertawa.

.

Keduanya tertawa bersama. Jiah menoleh ke kiri, menyembunyikan wajahnya dibawah rahang Kyuhyun. Lalu Kyuhyun menoleh ke kanan, menyentuhkan bibirnya di kening Jiah. Ia membuat suara ‘ssstttt’, meminta Jiah menghentikan tawanya. Ternyata Donghae menoleh pada mereka dengan tatapan curiga. Kyuhyun memalingkan wajahnya menghindari tatapan Donghae. Lalu Soo Jung menarik tangan Donghae bersamanya, berjalan mendekati Kyuhyun dan Jiah.

.

“Hentikan… Mereka datang…” kata Kyuhyun berbisik.

.

Jiah berdeham beberapa kali untuk menghilangkan keinginannya tertawa, kemudian menghela napas panjang yang mengenai leher Kyuhyun. Selama sesaat Kyuhyun membelalakkan matanya merasakan helaan napas Jiah di lehernya. Kini Kyuhyun yang berdeham dengan rasa tidak nyaman yang tiba-tiba dirasakannya.

.

“Mwoya Kwon Jiah…… Belum lama kau mengutarakan kebencian mu pada Cho Kyuhyun, namun apa yang terlihat saat ini?” goda Soo Jung.

.

“Urus saja urusanmu sendiri, Soo Jung-ah…” kata Jiah tidak bisa menyembunyikan tawanya.

.

“Ya! Kalian berdua tidak merasa egois? Banyak tamu yang datang tanpa pasangan, tapi kalian terus saja memperlihatkan pemandangan ini”, kali ini Donghae mengajukan protesnya.

.

“Benar. Kalian tidak merasa pemandangan ini sangat keterlaluan? PDA semacam ini sangat menyakitkan para single yang melihat, kau tahu? Berpisahlah sebentar…” sambung Soo Jung.

.

“Hhh… Arasseo…” kata Kyuhyun sambil tersenyum dan perlahan melepaskan pelukannya di pinggang Jiah.

.

“Hajima…” kata Jiah sambil menahan tangan Kyuhyun.

.

“Mwoya……” protes Soo Jung dan Donghae bersamaan.

.

“Aku sangat lelah saat ini. Setidaknya aku bisa menopangkan tubuhku di tubuh besar Kyuhyun jika seperti ini…” kata Jiah.

.

“Hhh… Nasibku… Kwon Jiah benar-benar pandai memanfaatkan diriku. Kali ini kau ku biarkan…” kata Kyuhyun.

.

“Jiah-ya, kau benar-benar tidak terduga…” sambung Soo Jung.

.

“Mwoga? Jika kau tidak menyukai kenapa tidak kau pinjamkan kekasihmu saja? Asalkan bukan Kyuhyun, bukan?” goda Jiah.

.

“Ya! Michyeosseo?!?! Aku tidak segila itu mau meminjamkan Lee Donghae padamu. Manfaatkan saja suami mu itu…” protes Soo Jung. “Dan kau, Lee Donghae, aku melepaskanmu karena tadi kau berdansa dengan sahabatku. Jika kau berani melakukannya dengan gadis lain… kau akan merasakan akibatnya…”

.

“Ya! Lee Donghae! Lihatlah…” kata Jiah. “Kau cemburu untuk alasan yang tidak masuk akal. Mwoya kalian berdua… Jaesueobseo…”

.

“Hebat sekali kalian berdua. Sadarkah kalian jika kepribadian kalian sama? Cemburu pada satu sama lain, bertengkar, berbaikan, kembali bertengkar. Hhh… Aku saja yang menyaksikannya merasa sangat lelah…” sambung Kyuhyun.

.

“Ya! Cho Kyuhyun! Berkacalah dan katakan hal itu pada dirimu sendiri. Kau lupa selama ini kau me……”

.

“Ya! Ya! Hentikan…” kata Kyuhyun memotong ucapan Donghae. “Ah, Kwon Jiah, kita harus pergi sekarang…” sambung Kyuhyun mengalihkan pembicaraan.

.

“Kemana?” tanya Soo Jung.

.

“Eo… Kita akan kemana?” tanya Jiah juga.

.

“Penerbangan kita dijadwalkan malam ini pukul 11. Semua barang sudah berada di mobil. Kita punya waktu 30 menit untuk bersiap-siap, lalu berangkat ke bandara dan membeli tiket. Kau bisa beristirahat dalam perjalanan”, kata Kyuhyun dengan suaranya yang perlahan menjadi pelan saat mengatakan kalimat terakhirnya.

.

“Arasseo…” kata Jiah yang menegakkan posisi tubuhnya. Ternyata sejak tadi Jiah benar-benar menyandarkan tubuhnya di tubuh Kyuhyun, seperti yang dikatakannya.

.

“Sebentar… Jangan katakan…… kalian akan berbulan madu???” tanya Soo Jung.

.

“Hmm… Kami memilih untuk menyebutnya ‘berlibur’ daripada bulan madu”, jawab Kyuhyun.

.

“Kemana?” tanya Soo Jung.

.

“Eo, benar. Kau belum mengatakannya padaku. Kau sudah memutuskan tujuannya?” tanya Jiah.

.

“Sudah. Aku rasa New Caledonia akan menyenangkan. Atau kau ingin ke tempat lain? Hawaii?”, tanya Kyuhyun.

.

“Apakah tidak apa-apa jika ke Hawaii?” tanya Jiah dengan senyum tipis di bibirnya.

.

“Tentu”, jawab Kyuhyun juga dengan senyumannya.

.

“Bureobda…… (Aku iri…)” kata Soo Jung. “Jiah-ya, Cho Kyuhyun, tidak bolehkah kami ikut dengan kalian?”

.

“Ya! Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu? Ikut pergi bersama pasangan yang sedang berbulan madu adalah salah satu kejahatan, kau tahu?” kata Donghae berkomentar.

.

“Benarkah? Kejahatan?” tanya Soo Jung polos.

.

“Aniya… Bukan arti yang sebenarnya. Dalam kamus para lelaki itu adalah suatu kejahatan, Jung Soo Jung”, jawab Donghae. “Kita harus membiarkan Kyuhyun melangkah maju, Soo Jung-ah. Kau lupa?” bisik Donghae pada Soo Jung.

.

“Ah, kau benar. Baiklah… Lain kali saja kita berlibur bersama, Jiah-ya. Lagipula Donghae masih harus menyelesaikan skripsinya. Aku harus membantunya juga. Kalian berdua pergilah. Hilangkan segala stress yang kalian rasakan”, kata Soo Jung dengan senyum mengembangnya.

.

“Ayo, Jiah-ya… Kita tidak boleh terlambat…” kata Kyuhyun sambil menggandeng tangan Jiah.

.

“Baiklah. Jaga diri kalian saat aku pergi. Jangan bertengkar…” pesan Jiah pada Soo Jung dan Donghae.

.

Soo Jung dan Donghae menjawab Jiah dengan anggukan dan senyuman. Saat Jiah kembali menoleh pada mereka, keduanya melambaikan tangan mereka pada Kyuhyun dan Jiah yang semakin berjalan menjauh dan hilang dibalik pintu.

.

“Sampai saat ini Jiah belum mengetahuinya?” tanya Soo Jung.

.

“Aku rasa belum. Kau tahu betul bagaimana Cho Kyuhyun…” jawab Donghae.

.

“Ch… Bagaimana bisa dia menahannya bertahun-tahun seperti itu. Entah Cho Kyuhyun itu sabar atau bodoh…” kata Soo Jung.

.

.

.

####################

.

.

.

Jiah’s POV

Suara ombak membangunkanku dari tidur panjangku. Seluruh tubuhku terasa sangat pegal dan mataku terasa berat. Tunggu! Ombak??? Aku sontak bangkit dari tidurku dan melihat sekelilingku. Aku berada di sebuah kamar dengan nuansa putih dan kayu-kayuan. Ada sebuah ayunan gantung di teras depan kamarku. Aku juga bisa melihat ombak berdatangan dari kejauhan. Aku sudah sampai? Tapi, kenapa aku tidak ingat caraku sampai kesini?

.

“Mwoya, Kwon Jiah… Kau mengagetkanku… Aku masih sangat mengantuk…” kata Kyuhyun yang ternyata berbaring disebelahku.

.

“Eo… Mian… Mian… Kembalilah tidur”, kataku sambil bergerak meninggalkan tempat tidur.

.

Aku melangkah keluar dari kamar dan menutup pintunya dengan perlahan. Omo! Ternyata aku berada disebuah resort yang sangat indah walaupun interiornya sederhana. Sama seperti kamarku, resort ini di dominasi dengan warna putih dan cokelat tua barang-barang yang tidak banyak memenuhi ruangan. Tanpa berpikir panjang, aku menuju ruangan yang sejak awal muncul di pikiranku. Dapur. Setelah aku mencoba mengingatnya lagi, aku tidak banyak memakan apapun di pesta semalam. Aku tidak mempunyai nafsu makan di acara itu. Perutku mungkin hanya berisikan beberapa cake dan wine. Begitupun dengan Kyuhyun. Akupun membuka lemari es dan menemukan berbagai bahan makanan yang bisa ku masak. Aku memutuskan untuk membuat sandwich berisi ayam, mozzarella, selada, dan tomat. Ah, sepertinya Kyuhyun tidak menyukai tomat. Biarkan saja. Dia harus memakannya jika bersamaku. Aku mulai memotong bahan-bahan yang akan ku gunakan. Aku menumis bawang bombay dan ayam yang sudah ku potong menjadi potongan-potongan kecil. Aku menambahkan sedikit sekali saus tiram. Aku menyalakan sisi kompor yang lain dengan api kecil, lalu memanggang roti gandum yang sudah ku olesi sedikit butter. Setelah semua kegiatan menggunakan kompor selesai, aku meletakkan dua penggorengan diatas meja. Tiba-tiba pikiran itu kembali muncul. Mwoya… Apakah Cho Kyuhyun yang membawaku kesini tanpa membangunkanku? Heol… Dia menggendongku dari bandara? Tidak mungkin… Tapi tidak ada cara lain untuk membawaku. Dia tidak mungkin meminta bantuan orang lain untuk menggendong istrinya, bukan? Kenapa dia tidak membangunkanku saja?

.

“Jiah-ya…” kata Kyuhyun dengan suara serak khas bangun tidurnya, berdiri dibelakangku dan meletakkan kepalanya di bahuku.

.

“Ah kkamjagiya!!! Aish… Buatlah suara saat berjalan. Jangan mengejutkanku seperti ini…” kataku yang terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Kyuhyun.

.

Kyuhyun tertawa masih dengan matanya yang tertutup. “Mianhae… Aku tidak tahu kau akan sangat terkejut… Kau sedang apa?” tanya Kyuhyun.

.

“Kau keluar dari kamar tanpa membuka matamu?” tanyaku.

.

“Hmm…” jawab Kyuhyun yang baru membuka matanya. “Eo! Kau memasak. Ya! Jangan masukan tomat dalam sandwich ku…” Tepat seperti dugaanku…

.

“Makan saja tanpa membantah, Cho Kyuhyun…” kataku. “Duduklah. Aku sudah hampir selesai”.

.

“Baiklah…” kata Kyuhyun yang berjalan lemas menuju meja makan.

.

“Kenapa kau bangun? Bukankah kau mengatakan kau masih sangat mengantuk? Aku berniat membangunkanmu setidaknya setengah jam lagi”, kataku sambil berjalan ke meja makan dengan membawa dua piring berisikan sandwich.

.

“Kau pikir aku bisa kembali tidur setelah guncangan yang kau buat saat bangun? Kenapa kau begitu terkejut? Karena melihatku disampingmu?” tanya Kyuhyun malas yang meletakkan kepalanya di meja.

.

“Untuk apa aku terkejut dengan hal itu? Bukan hal yang aneh melihatmu disana”, jawabku.

.

“Tentu saja… Kwon Jiah kembali menunjukkan sikap cool nya. Kau tidak terkejut melihatku disampingmu? Banyak yang mengatakan hal itu adalah hal pertama yang mengejutkan bagi pasangan pengantin baru”, kata Kyuhyun yang kini menegakkan tubuhnya sambil mendekatkan sandwich nya.

.

“Tidak denganku. Kau tidak semenakutkan itu hingga bisa membuatku terkejut melihatmu berada disampingku. Lagipula ini bukan kali pertama kita tidur di satu tempat tidur. Sepertinya aku sudah mulai terbiasa…” jawabku santai.

.

“Lalu apa yang membuatmu terkejut?” tanya Kyuhyun.

.

“Geunyang… Hal terakhir yang ku ingat, aku berada di pesawat. Aku tidak ingat bagaimana caraku bisa sampai disini”, jawabku.

.

“Tentu saja aku menggendongmu sampai ke tempat tidur…” jawab Kyuhyun yang kemudian memasukkan potongan sandwich ke mulutnya.

.

“Benarkah? Dari pesawat hingga kesini? Heol…”

.

“Kau bahkan tidak mendengar suaraku yang membangunkanmu beberapa kali. Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus meminta bantuan pada seorang pekerja resort yang menjemput kita di bandara untuk membawakan semua barang-barang kita”, jawab Kyuhyun.

.

“Maafkan aku… Apakah tubuhku berat?” tanyaku hati-hati.

.

“Kau bercanda? Ya! Makanlah semua makanan yang bisa kau makan. Tubuhmu terlalu ringan. Kau diet agar baju pengantinmu tidak terasa sempit? Kau tidak perlu mengenakannya lagi sekarang. Jadi, makanlah yang banyak, Kwon Jiah. Tubuhmu bahkan tidak memiliki banyak daging. Tulang rusukmu sudah hampir membentuk dikulitmu”, protes Kyuhyun.

.

“Tidak seperti itu……” kataku mencoba menyangkal.

.

Sebentar… Bagaimana Cho Kyuhyun tahu tentang……… Astaga!!! Benar! Bajuku! Kenapa tidak terpikirkan olehku sebelumnya? Semalam aku mengenakan gaun malam berwarna hitam dan saat ini aku hanya mengenakan T-shirt polos berwarna putih dan celana pendek bergaris biru yang sepertinya bahkan bukan milikku. Apakah Cho Kyuhyun juga yang……

.

“K… Kau…… Kau juga yang…… mengganti bajuku?” tanyaku ragu.

.

Kyuhyun tersedak. Ia segera meletakkan sandwich nya dan meraih gelas berisi air mineral. Ia menenggak seluruh isi gelas sambil menepuk pelan dadanya. Ia meletakkan kembali gelasnya lalu menatapku. Ia menggerakkan matanya menatapku dari atas ke bawah lalu kembali ke atas, membuatku merasa tidak nyaman pada tatapannya.

.

“Tentu saja! Kita tiba di bandara pukul 5 sore. Lalu perjalanan menuju ke resort memakan waktu 2 setengah jam. Hari sudah malam, petugas resort yang menjemput kita juga seorang laki-laki. Haruskah aku memintanya membantuku mengganti pakaianmu? Aku tidak gila, Kwon Jiah. Lagipula aku suami mu. Apa yang salah dengan tindakanku?” tanya Kyuhyun santai dan kembali menyantap makanannya.

.

Aku berdeham dan mengalihkan pandanganku ke arah lain. Kyuhyun memang benar tentang hal itu. Tapi tetap saja… Auh… Mwoya Kwon Jiah… Kau lebih parah dari seseorang yang sedang mabuk… Aku pun melahap cepat sisa sandwich ku dan bangkit berdiri dari kursiku. Aku meletakkan piringku di bak pencuci piring, meninggalkan nya disana, dan dengan cepat bergerak pergi dari dapur.

.

“Aku mandi duluan. Tinggalkan saja piringmu disana. Aku akan mencucinya setelah mandi…” kataku sambil berlalu meninggalkan Kyuhyun.

.

.

.

.

TBC…

Special di part ini. Aku akan memberikan Preview Part 6 untuk kalian!

Preview Part 6

 

“Selamat pagi…” sapa Kyuhyun.

“Hmm… Good Morning…” sapaku tanpa menoleh pada Kyuhyun.

Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di kening Jiah. Sontak Jiah menoleh pada Kyuhyun yang terus berjalan ke meja makan.

“Aku berbincang dengan seorang turis kemarin. Dia mengatakan ada sebuah bar yang menampilkan live band setiap malam. Aku berencana ingin kesana malam ini. Bagaimana?” tanya Jiah.

“Baiklah…” jawab Kyuhyun singkat.

————————-

“Kau sudah menghabiskan satu gelas, Jiah-ya. Kau masih sanggup menghabiskan gelas yang lain?”

“Aku mungkin masih sanggup kira-kira setengah gelas lagi. Aku akan black out jika minum terlalu banyak. Toleransi ku pada alcohol tidak cukup baik. Cho Kyuhyun…….”

“Hmm??”

“Itu gelas terakhirmu. Kau tidak diijinkan minum terlalu banyak. Kau mengerti?”

“Arasseo… Ah, bagaimana jika kita berhenti minum dan ikut berdansa bersama mereka?”

“Call!”

Kyuhyun dan Jiah berdansa diiringi musik perkusi yang dimainkan dengan tempo yang berbeda di setiap pergantian lagunya. Hingga Kyuhyun memberanikan diri untuk mencium Jiah.

————————-

“Kau mabuk, Kwon Jiah…”

“Hmm… Aniya… Aku tidak mabuk, Cho Kyuhyun”.

“Aku akan membuatkan teh hijau untukmu. Duduklah…”

“No no sofa. Hanya akan membuat punggung terasa sakit…”.

“No sofa…”

————————-

.

Ja, Jiah dan Kyuhyun sudah resmi menikah. Melihat jalannya pesta dan sikap yang ditunjukkan keduanya, sepertinya Jiah mulai membuka hatinya. Eits! Tapi ternyata belum, readersnim… Another bocoran untuk kalian! Jiah belum membuka hatinya untuk Kyuhyun. Kita bisa lihat di part ini Kyuhyun sudah perlahan melakukan usaha nya demi mendapatkan hati Jiah. Apakah Kyuhyun akan berhasil? Dan bagaimana perjalanan bulan madu mereka? Jika Jiah belum membuka hatinya, lalu apa yang terjadi disana setelah membaca preview diatas? Aku tinggalkan semua itu dalam khayalan kalian masing-masing sebelum part berikutnya benar-benar di publish. Kana pamit! Annyeonghi gaseyo!!!

Advertisements

52 thoughts on “Since I (have) met you : Part 5

  1. Kl kyuhyun saling cinta knp ndaj ditunjukin aja dlu saqt mereka msh SMP kan kl dr dlu si kyuhyun suka sma jiah kan kyuhyun mudah membuka hati nya jiah lg

    Like

  2. Gitu dong kyuhyun kalo cinta ya tunjukin ,,jangan diem aja walaupun belum ada kata cinta yang keluar dari bibir kyuhyum setidaknya udah tau perasaan kyuhyun ke jiah selama ini

    Like

  3. Kyuhyun-jiah menikah
    Kyuhyun sepertinya mencintai jiah sejak masih SMP dulu
    Aku ga nyangka donhae-so jung juga berteman baik dengan kyuhyun
    Donghae-so jung juga tau jelas bagaimana perasaan kyuhyun ke jiah sebenarnya
    Donghae cemburu sama so jung lucu hahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s