Since I (have) met you : Part 4

Author: Okada Kana

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast: Cho Kyuhyun, Kwon Jiah (OC)

Other Cast:

Jung Soo Jung, Kwon Yuri, Choi Siwon, Lee Donghae, Seohyun

 

Disclaimer:

Annyeonghaseyo… Since I (have) Met You Part 4 akhirnya update juga. Apa kabar readers-nimdeul? Masih geregetankah dengan sikap Kyuhyun yang ambigu dan belum bisa dipastikan? Apa pendapat kalian tentang perasaan Jiah sebenarnya? Jika Jiah sudah benar-benar melupakan Kyuhyun, apakah kehidupan mereka akan berjalan dengan baik nantinya? Ja, sesuai janjiku, part ini Kyuhyun’s POV nya akan lebih banyak. Jadi, apa yang ada di pikiran dan hati Kyuhyun akan terkuak sejelas-jelasnya mulai sekarang.

FF ini murni berasal dari kepalaku. Ide cerita yang muncul berasal dari beberapa drama yang sudah aku tonton. Tapi cerita dalam FF ini tidak menggunakan ataupun mengikuti cerita drama yang sudah ada. Seperti biasanya, mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Karena seperti yang aku katakan, ini adalah kisah cinta sederhana yang bisa dialami siapa saja. Aku juga berusaha sebisa mungkin untuk menghindari typo. Tapi, aku juga manusia biasa yang bisa membuat kesalahan, jadi mohon dimaklumi. No bash, smart comments and critics always accepted. Selamat membaca…

.

.

 

.

.

Review Part 3

“Eomma… Eomma bahagia?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Ani… Aku hanya bertanya. Eomma bahagia?”

“Tentu saja, Jiah-ya… Melihatmu kembali, melihat senyum manis itu lagi, mendengar suara merdumu, dan menatap wajah cantik itu. Tentu saja eomma bahagia. Kau?”

“Hmm??? Ah… Jika eomma bahagia, tentu aku juga merasakan kebahagiaan itu, eomma”

——————–

“Sekarang kau dengan mudah mengatakan aku bisa pergi? Setelah semua yang aku lakukan?!?! Jika akan seperti ini, kau tidak perlu meneleponku berkali-kali, Kwon Jiah!!!”

“Akupun tidak mengerti dengan jalan pikiranku. Aku yang bodoh, Cho Kyuhyun. Aku yang bodoh… Aku meneleponmu terus menerus, berharap kau mengangkatnya sekali saja dan mau mendengarkanku untuk tidak perlu datang jika kau sedang sangat sibuk. Aku tetap berada disini menunggumu bahkan setelah lebih dari dua jam, hanya karena memikirkan kau yang akan datang walaupun terlambat. Kau benar. Ini salahku karena memikirkan orang lain yang bahkan tidak sedikitpun memikirkanku!!! Lupakan saja semua hal ini. Lakukan yang kau inginkan…”

——————–

“Cho Kyuhyun…”

“Hmm???”

“Apakah aku bisa menularkan penyakitku?”

“Tentu saja tidak. Kenapa kau bertanya seperti itu? Takut menulariku?”

“Eo… Tidurlah di tempat tidur…”

“Gwaenchanha… Kembalilah tidur…”

“Lakukan saja saat aku masih mengatakannya dengan baik-baik…”

“Kau mengancam dengan suara seperti itu? Tidak akan ada yang takut padamu, Kwon Jiah…”

“Ppalli!”

“Arasseo… Arasseo…”

“Apeujima, Kwon Jiah…”

.

 

 

 

.

.

-Since I (have) met you : Part 4-

.

.

 

 

 

.

.

Kyuhyun’s POV

 

Kami tiba di tempat parkir di depan boutique. Gerimis kecil turun diluar dan Jiah masih terlelap dalam mimpinya. Aku tidak lantas mematikan mesin mobilku, agar Jiah tidak terbangun karena pendingin udara yang juga akan mati. Aku melipat kedua tanganku dan meletakkannya di atas kemudi. Lalu aku berebahkan kepalaku diatasnya sambil menatap Jiah. Jarum jam tanganku sudah menunjukkan pukul 2.48 sore. Eomma pernah mengatakan padaku bahwak boutique ini akan tutup pada pukul 4 jika tidak ada pelanggan yang datang di siang hari. Itu berarti setidaknya kami harus masuk sekarang untuk melakukan fitting baju pengantin. Tapi aku tidak ingin membangunkan Jiah saat ini. Ia masih lemah dan butuh istirahat. Sifat keras kepala yang tidak bisa aku lawan itulah yang membawa kami kesini. Tiba-tiba Jiah mengerjapkan matanya dan meregangkan tubuhnya. Ia bangun. Ia menoleh padaku dan mata kami bertemu selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangannya keluar jendela.

.

“Eo! Diluar gerimis…” kata Jiah dengan suara setengah berbisiknya.

.

“Eo… Baru saja turun…” sambungku. “Kau mau turun sekarang?”

.

Jiah mengangguk cepat masih dengan mata sayu nya yang belum sepenuhnya membuka lebar. Ia menarik tuas disamping untuk menegakkan kembali jok yang ia duduki. Jiah kembali diam. Ia memandang kosong ke arah depan, mengumpulkan kesadarannya. Lalu ia menegakkan posisi duduknya, mengusap matanya dan mengikat rambutnya yang terurai, memperlihatkan leher jenjangnya. Jantungku tiba-tiba saja berdetak lebih cepat. Detakan yang sudah lama tidak ku rasakan. Napasku menjadi berat. Beruntungnya aku karena helaan napasku tersembunyi dibalik lengan yang ku gunakan untuk menumpu kepalaku. Dan Jiah kembali meringsut malas ke jok mobil. Saat ini pikiran dan tubuhnya sedang tidak sejalan. Tanpa ku sadari, bibirku membentuk senyuman hanya karena gerakan yang dibuatnya. Jiah menghela napas panjang dan memejamkan matanya. Saat ia membuka matanya, ia langsung meraih tas nya dan menoleh padaku, seolah mengatakan ia sudah siap untuk keluar dari mobil. Aku pun menegakkan kembali tubuhku dan membuka kunci otomatis pintu mobil. Kami pun keluar dan berlari pelan menuju pelataran boutique karena gerimis yang belum berhenti.

.

Kami masuk ke dalam boutique dan disambut oleh empat orang, tiga perempuan dan satu laki-laki. Mereka mengantar kami ke sebuah ruangan yang dipenuhi tuxedo formal dengan berbagai mode dan warna. Salah seorang dari mereka mengeluarkan mannequin yang mengenakan setelan jas warna serba hitam dengan motif classic dibagian kerahnya. Ia memintaku untuk mencobanya. Pakaian ini sudah dilakukan perubahan sebelumnya. Karena itu pakaian ini terasa benar-benar pas dibadanku sekarang. Aku keluar dari ruang ganti dan melihat Jiah sedang duduk di sofa sambil membaca sebuah majalah. Aku berdeham untuk membuatnya menoleh padaku. Jiah pun mengangkat kepalanya dan melihatku. Setiap detik terasa begitu lambat berjalan. Hingga pada detik ke delapan, ia tersenyum… lalu mengangguk pelan… dengan cantiknya. Jiah mengangkat tangannya ke depan wajahnya kemudian mengangkat ibu jarinya dan senyumannya mengembang, memperjelas komentarnya pada penampilanku. Ini adalah kali pertama. Senyum itu memang selalu ada di wajahnya, hanya saja tidak pernah ia tujukan padaku. Hari ini ia memberikannya padaku. Seolah ada sambungan kabel diantara kami, aku pun tersenyum padanya.

.

Tiba-tiba salah seorang dari karyawan boutique itu membawa sesuatu yang sudah ditutupi oleh pelapis plastik gelap. Dari hanger yang terlihat, aku yakin itu adalah gaun pengantin milik Jiah. Karyawan itu lantas mempersilahkan Jiah masuk ke dalam ruang ganti. Tanpa menunggu lama, Jiah berjalan menuju ruang ganti dengan langkah ringan. Aku pun duduk di sofa yang sebelumnya ditempati oleh Jiah, menunggu tirai putih itu kembali dibuka. Aku tidak tahu jika mengenakan pakaian itu akan memakan waktu yang cukup lama. Bukankah mengenakan gaun pengantin hanya perlu masuk ke dalamnya dan selesai? Aniya? Aku tidak tahu. Karena aku tidak pernah mencobanya. Satu hal yang aku tahu, ini sudah menit ke 10 dan Jiah belum menampakkan dirinya.

.

“Kwon Jiah, kenapa begitu lama?” tanyaku yang mulai bosan.

.

“Sudah selesai. Tunggu sebentar…” jawab Jiah dari dalam ruangan.

.

Tiba-tiba tirai putih itu dibuka, memunculkan tubuh bagian belakang Jiah. Rambutnya digulung keatas, sehingga memperlihatkan punggung terbukanya. Mataku terbelalak. Suasana disekitarku seolah menjadi ruang hampa tanpa suara. Fokusku hanya tertuju padanya. Samar-samar aku mendengar suara tawa kecil Jiah pada dua orang karyawan disebelahnya. Sepertinya mereka membicarakan bagian tubuh Jiah yang mengecil dan membesar hanya dibagian tertentu. Aku tidak benar-benar memperhatikannya. Saraf motorikku seolah lumpuh. Lalu salah seorang karyawan memintanya berbalik menghadapku.

.

.

BGM : Acoustic Collabro – Love You

.

.

Tanpa ku sadari bibirku sedikit terbuka menatap sosok Jiah yang menunduk di depanku. Perlahan ia mengangkat kepalanya dan menatap ku. Ia memegang sebuah bucket bunga didepan perutnya, dengan senyuman tipis diwajahnya. Pucat pasi di wajahnya seakan menyatu dengan putihnya gaun yang ia kenakan. Seharusnya hal itu mengangguku. Namun seperti yang aku katakan, sosok gadis didepan mataku ini sudah melumpuhkan tidak hanya saraf motorikku, namun seluruh saraf yang ada di tubuhku. Meski tanpa riasan sekalipun ia sangat cantik.

.

“Ada apa, Cho Kyuhyun? Kehabisan kata-kata?” tanya Jiah santai sambil merapikan rambut-rambut halus yang keluar dari ikatannya. “Kau akan jatuh cinta jika menatapku terus seperti itu”.

.

“Hmm? Apa yang baru saja kau katakan?” tanyaku yang baru saja mendapatkan seluruh kewarasanku kembali.

.

“Kau benar-benar terpana? Hhh… Jangan lakukan itu, Cho Kyuhyun… Sangat mengganggu…” kata Jiah dengan tawa kecil disela kata yang diucapkannya. “Jangan biarkan dirimu tersesat…” katanya lagi dengan tawa yang sama.

.

“Aku merasa untuk sesaat kewarasanku menghilang…” kataku jujur.

.

“Kau sudah tidak waras sejak dulu, Cho Kyuhyun. Kau yang baru menyadarinya…” katanya dengan nada bercanda, sambil merapikan posisi gaunnya. “Kenapa? Aku terlihat sangat cantik sampai membuatmu kehilangan akal sehatmu?”

.

“Ch… Eo… Kau benar. Puas?” tanyaku dengan tawa yang tidak bisa ku sembunyikan lagi.

.

“Neon jeongmal michyeossnabwa… (Kau benar-benar gila rupanya…)” kata Jiah dengan nada riangnya.

.

Ia benar. Aku rasa aku memang sudah mulai gila. Karena saat ini aku bangkit berdiri dan berjalan mendekat padanya. Aku berhenti tepat dalam jarak 1 meter darinya dan memandang dengan kagum sosok anggun didepanku ini. Tubuhnya yang kurus namun memiliki volume yang cukup memukau, wajah pucat yang tetap terlihat cantik, serta senyuman kecil sebagai pelengkap, sudah benar-benar memenuhi isi pikiranku saat ini. Aku mengulurkan tanganku, meraih helaian rambut tipis yang menghalangi pemandanganku untuk melihat wajahnya. Jiah sontak mengangkat kepalanya menatap wajahku. Aku menyelipkan kembali helaian rambut itu dengan gulungan rambutnya yang lain, lalu menatap wajahnya juga. Ia tersenyum kecil seolah mengejek ekspresi ku saat menatapnya. Ia menoleh ke arah lain sambil menggelengkan kepalanya pelan. Tidak. Jangan menoleh. Tatap aku lagi, Kwon Jiah… Ia kembali menatapku. Masih dengan ekspresi heran yang sama.

.

“Aigoo… Kau dalam masalah, Cho Kyuhyun. Kau benar-benar akan jatuh cinta padaku jika terus seperti ini. Ckckck… Lemah sekali pertahananmu… Kembalilah ke sofa. Aku harus berganti pakaian lagi”, katanya.

.

“Kenapa?” tanyaku dengan bodohnya.

.

“Hmm? Cho Kyuhyun, kau benar-benar kehilangan akal sehatmu? Halo? Cho Kyuhyun… Kau baik-baik saja?” tanya Jiah sambil menjentikkan jarinya didepan wajahku.

.

“Aish… Aku baik-baik saja… Cepat ganti saja pakaianmu…” jawabku dengan nada jengkel yang keluar begitu saja tanpa bisa ku kontrol.

.

“Ch… Ppalli dorawassne… Cho Kyuhyun… (Ch… Cepat kembali [sikapnya]… Cho Kyuhyun…)” katanya menanggapi ucapanku.

.

Jiahpun segera berlalu dibalik tirai untuk mencoba gaun malam yang akan ia kenakan saat pesta perayaan pernikahan kami. Aku berjalan menuju ruangan yang lain untuk mengganti pakaian ku juga. Aku akan mengenakan pakaian yang sama untuk acara itu. Pesta perayaan pernikahan kami akan dilangsungkan dengan sederhana. Tidak akan ada pelaminan di tengah gedung, dimana tatapan semua orang akan tertuju pada kami. Konsep acara tersebut akan dibuat seperti acara makan malam pada umumnya. Sebuah stage kecil akan menggantikan pelaminan di tengah gedung.

.

Kali ini tidak butuh waktu lama baginya untuk kembali muncul dari dalam ruangan. Gaun yang ia kenakan cukup sederhana dan memudahkannya untuk berjalan. Sebuah gaun putih gading dengan cutting rendah namun menutupi seluruh lengannya. Bagian depan tubuhnya tertutup rapat hingga ke ujung kakinya. Bagian punggung dibuat transparan hingga ke pinggang, memperlihatkan lekukan tulang belakangnya. Kali ini aku menatapnya dengan menopangkan wajahku di tangan kanan yang ku sandarkan di lengan ujung sofa. Ia menaikkan alisnya seolah menanyakan pendapatku tentang penampilannya. Aku mengangguk pelan padanya. Kau cantik seperti biasanya… kataku dalam pikiranku. Ia tersenyum dan kembali berbalik untuk berganti pakaian. Ia berjalan santai ke arahku dengan pakaian casual nya dan duduk disebelahku. Ia menyandarkan kepalanya di sofa dan menghela napas panjang.

.

“Hah… Hari ini melelahkan sekali…” keluhnya.

.

“Kau tidak melakukan banyak hal hari ini. Kau merasa sangat lelah karena kondisi tubuhmu yang sedang kurang baik”, kataku.

.

“Kau benar… Energy ku seolah berkurang dua kali lipat lebih cepat dari biasanya…” katanya lagi. Kali ini ia memejamkan matanya.

.

“Ja… Aku pinjamkan bahuku padamu…” kataku sambil menepuk pelan bahu kananku.

.

“Dwaessgeodeun… (Tidak perlu…)” sahutnya cepat.

.

“Aigoo… ini dia pasangan calon pengantinnya…” kata sebuah suara yang menghampiri kami.

.

Bibi Lee, sang pemilik boutique datang menghampiri kami. Ia adalah teman dari ibuku, ibu Jiah, dan mendiang bibi Park. Mereka sering menghabiskan waktu bersama disetiap kesempatan yang mereka punya. Kami pun sontak berdiri menyambut Bibi Lee dan memberikan salam padanya. Seperti yang selalu dilakukan orang-orang pada umumnya, Bibi Lee menanyakan kabar dan persiapan kami menjelang pernikahan. Tanpa ku duga, kami memberikan jawaban yang sama pada Bibi Lee. ‘Kami baik-baik saja. Semua hal berjalan dengan baik’. Benarkah semua hal akan berjalan dengan baik? Tiba-tiba aku menemukan sedikit keraguan dalam diriku setelah melihat sikap Jiah padaku hari ini. Ia bersikap lebih santai dari sebelumnya. Tidak ada rasa gugup ataupun khawatir di wajahnya. Ia memberikanku persepsi berbeda di setiap kata yang ia ucapkan. Terkadang aku merasa ia masih menyukaiku dan mulai nyaman bersamaku. Namun perasaan lain muncul disaat yang sama. Aku merasa ia sudah benar-benar melupakanku dan membangun dinding pertahanannya dengan sangat kokoh. Sikapnya berbeda. Ia bukan lagi Jiah yang gugup saat menatapku. Ia juga bukan Jiah yang mudah ku buat bicara dengan kalimat terbatanya. Kwon Jiah yang ada dalam ingatanku tidak lagi sama dengan Kwon Jiah yang berada di hadapanku saat ini.

.

“Tanggal pernikahan kalian sudah semakin dekat, apa kalian merasa gugup?” tanya Bibi Lee menyadarkanku.

.

“Sedikit. Semua berkat para ibu yang bekerja dengan sempurna dibalik semua persiapan ini, Bibi. Aku bahkan masih sulit mempercayai kesempurnaan pekerjaan mereka”, kata Jiah dengan senyum diwajahnya.

.

Aku menoleh menatap wajahnya. Ia pun menoleh padaku, masih dengan senyuman itu diwajahnya. Untuk sesaat aku merasa senyuman itu tidak benar-benar mengatakan apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Jiah kembali menatap wajah Bibi Lee dan mereka tertawa bersama.

.

“Bagaimana denganmu, Kyuhyun-ah? Bibi rasa kau tidak merasa gugup sedikitpun. Kau bahkan lebih sibuk bekerja di rumah sakit daripada mengurus keperluan pernikahan kalian…” kata Bibi Lee.

.

“Tidak begitu, Bibi…” jawabku.

.

Aku pun meraih pinggang Jiah dan menariknya mendekat padaku. Disana. Wajah itu sudah tidak menunjukkan keterkejutannya lagi dengan setiap tindakanku. Ia menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa ku artikan. Ia terlihat seolah tersenyum tipis padaku, namun senyum itu tidak tergambar jelas diwajahnya. Tatapannya bahkan memberikan rasa bimbang dan bingung padaku. Tatapan lembut itu menyimpan hawa dingin di setiap detik aku melihatnya. Ada sebuah cahaya disana yang lagi-lagi tidak bisa ku artikan. Seolah ada harapan dan kebahagiaan, namun disertai dengan ketakutan, bahkan kebencian.

.

“Maksudku, jika aku merasa gugup, bukankah akan berbahaya bagi pasienku, Bibi?” Aku kembali menatap Bibi Lee dan melanjutkan perkataanku. “Aku terpaksa melupakan sejenak kenyataan bahwa aku akan menikah tidak lama lagi. Bukan sengaja melupakannya…”

.

“Ah… Kau benar. Kau tidak boleh gugup demi pasienmu…” kata Bibi Lee.

.

Bibi Lee mengangguk cepat sambil tersenyum mendengar penjelasanku. Dari ekor mataku aku menangkap sudut bibir Jiah tertarik. Tatapan Jiah tertuju pada lantai dan sebuah senyuman terlihat di wajahnya. Bukan senyuman yang menunjukkan rasa senang ataupun malu. Namun sebuah senyuman yang seolah mengatakan ‘Hhh… Jangan bercanda, Cho Kyuhyun…’ lengkap dengan nada sinis yang menyertai. Bibi Lee hampir menoleh dan menatap Jiah, namun aku mengalihkan tatapannya terlebih dahulu dengan bertanya padanya.

.

“Bibi akan datang ke pernikahan kami, bukan?” tanyaku.

.

“Tentu saja…” jawab Bibi Lee dengan semangat menggebu nya. Disaat yang sama, Jiah sudah kembali menatap Bibi Lee dengan senyum diwajahnya. “Bibi tidak mungkin melewatkan pernikahan dua anak manis kesayangan Bibi ini…”

.

 .

.

Author’s POV

Satu minggu berlalu setelah Kyuhyun dan Jiah melakukan fitting baju pengantin mereka. Keadaan mereka kembali seperti biasanya. Tidak saling bicara ataupun bertemu. Mereka kembali melakukan kegiatan mereka masing-masing. Project yang dilakukan Jiah sudah terselesaikan dengan baik dan perkuliahan kembali dilaksanakan seperti biasanya. Di sebuah café tidak jauh dari kampus, Jiah dan Donghae duduk bersama. Mereka sudah berada disana sepanjang sore. Jiah yang lelah pun meletakkan kepalanya di meja dan memejamkan matanya. Sementara Donghae masih saja berkutat dengan laptopnya untuk menyelesaikan skripsi nya.

.

“Ya, Kwon Jiah! Jangan tidur… Kau berjanji membantuku, bukan? Ya! Bangun!” seru Donghae.

.

“Aish… Kau berisik sekali, Lee Donghae!” balas Jiah yang mengangkat kepalanya dan menegakkan posisi duduknya dengan cepat. “Aku sudah membantumu dengan mengerjakan 30% di bab satu, 20% di bab dua, dan 49% di bab tiga. Kau masih mengharapkan bantuan lagi dariku? Kerjakan sendiri ish!!!”

.

“Arasseo…… Ch… Kau sensitive sekali hari ini…” kata Donghae menyerah.

.

“Ah, geunde, dimana gadis pujaanmu itu?” kata Jiah.

.

“Aku juga tidak tahu…” jawab Donghae cepat.

.

“Mwoya Lee Donghae… Bagaimana bisa kau tidak mengetahui nya? Bukankah kau mengikutinya kemanapun ia pergi?” tanya Jiah menggoda Donghae.

.

“Kapan aku melakukan itu? Lagipula aku tidak harus selalu mengetahui apa yang dia lakukan. Kau sendiri? Memangnya kau tahu apa saja yang dilakukan Kyuhyun saat ini?” Donghae balas bertanya pada Jiah.

.

“Walaupun aku tidak menyukai orang itu, aku tahu. Hari ini dia sedang berlibur di rumah. Mungkin dia masih tidur siang dengan pulasnya…” jawab Jiah.

.

“Ddaeng!!! Lihatlah… Kalian yang akan menikah tidak lama lagi saja tidak saling mengetahui hal-hal yang dilakukan satu sama lain”.

.

“Apa maksudmu? Aku tidak berbohong akan hal itu. Saat mendiskusikan jadwal kami masing-masing, Cho Kyuhyun mengatakan hari ini dia mendapatkan libur satu hari penuh. Dia bahkan memperlihatkan jadwalnya padaku” kata Jiah menjelaskan.

.

“Aninde… Kyuhyun sedang berada di rumah sakit saat ini. Dia mengatakan ada kasus darurat yang harus ia tangani”, kata Donghae.

.

“Benarkah? Mwo… Bukan hal yang baru untuk seorang dokter…”

.

“Aigoo Nona Kwon Jiah… Bagaimana bisa kau tidak mengetahui kegiatan laki-laki yang akan menikah denganmu tidak lama lagi? Kau masih bisa menyebut dirimu calon isteri nya? Ch…”

.

“Omo! Benar! Benar! Semua yang kau katakan benar! Kalau begitu kenapa tidak kau saja yang menikah? Eo?”

.

“Denganmu? Ayo!” goda Donghae.

.

“Auh… Michin nom…” kata Jiah dengan tawa.

.

“Tapi, Kwon Jiah, apa yang sudah kau lakukan?” tanya Donghae.

.

Jiah mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan pertanyaan Donghae. “Apa maksudmu? Memangnya apa yang sudah aku lakukan?”

.

“Jigeum… Cho Kyuhyun wanjeon dalla… (Saat ini… Cho Kyuhyun benar-benar berbeda…) Dia sangat berubah…” jawab Donghae.

.

“Apa yang kau katakan? Aku tidak menemukan perubahan sedikitpun darinya”.

.

“Kau tahu? Setelah kau pergi dari kelas, dia benar-benar menjadi orang yang sangat buruk. Tidak ada yang bisa bertahan duduk dengannya lebih dari dua minggu. Kau ingat? Peringkat 3 sampai 8 diraih oleh siswa perempuan. Setelah kau pergi, pengaturan tempat duduk diubah, semua bergeser ke kiri. Gadis pertama hanya bertahan 8 hari duduk bersama Kyuhyun. Setiap hari dia harus menghadapi kemarahan Kyuhyun pada penggemar-penggemar yang selalu memberikan hadiah-hadiah. Lalu sikap dingin Kyuhyun yang tidak pernah sedikitpun bicara padanya, belum termasuk bentakan Kyuhyun jika gadis itu melakukan kesalahan sedikiiiiit saja saat mengerjakan tugas kelompok dua orang. Gadis berikutnya hanya 3 hari, lalu satu minggu, ada juga yang hanya bertahan selama satu hari. Ah… Bahkan ada yang memilih pindah ke kelas B. Hanya ada satu gadis yang bertahan 2 minggu duduk bersama Cho Kyuhyun…”

.

“Jung Soo Jung?” tanya Jiah yang dijawab dengan anggukan cepat oleh Donghae. “Hanya selama itulah batas kesabarannya. Sejak SMP Soo Jung tidak menyukai Cho Kyuhyun…”

.

“Kau benar. Soo Jung seringkali mengatakan keluhannya padaku. Karena keadaan itulah akhirnya tempat duduk di kelas A diberikan kebebasan untuk memilih. Kang seonsaengnim bahkan menyerah dengan keadaan itu. Ch… Cho Kyuhyun geu saekki…”

.

“Jadi maksudmu dia berubah ke hal yang lebih buruk?” tanya Jiah.

.

“Tentu saja tidak… Dia hanya melakukan hal itu pada gadis-gadis yang mengganggu nya. Setelah duduk bersamaku sikap nya tidak seburuk itu. Dia hanya memerlukan orang lain untuk membuatnya mengatakan apa yang dia pikirkan dan rasakan…” jawab Donghae.

.

“Woo… Lee Donghae…… Karena itu, aku mempersilahkanmu untuk menikah dengannya. Kau sangat memahaminya dan bisa membuatnya berubah. Kau pasangan yang tepat untuknya, Lee Donghae…” kata Jiah dengan nada mengolok nya.

.

“Ash… Molla! Aku tidak tahu lagi harus menggunakan bahasa apa untuk bicara padamu. Bukan itu poin dari pembicaraan kita, Kwon Jiah…”

.

“Lalu, apa poin nya?” tanya Jiah malas.

.

“Poin nya adalah apa yang Cho Kyuhyun bicarakan padaku. Apa yang dia pikirkan dan rasakan. Apa maksud dari semua sikap buruknya. Apa alasannya. Itulah poin nya, inma!!!” jawab Donghae.

.

“Aku tidak ingin mendengarnya… Aku tidak tertarik”, kata Jiah cepat sambil kembali meletakkan kepala nya di meja dan memejamkan matanya.

.

“Ch… Gadis ini…”

.

“Eo! Kwon Jiah-ssi???”

.

Seorang gadis yang melewati mereka memanggil Jiah. Donghae langsung menghentikan kegiatannya dan menoleh pada gadis itu. Begitupun dengan Jiah yang kembali mengangkat kepalanya untuk menatap orang yang memanggil namanya. Jiah pernah bertemu dengan gadis itu. Ia adalah salah satu gadis yang bersama dengan Kyuhyun hari itu. Beberapa waktu yang lalu Kyuhyun memberitahukan namanya pada Jiah. Seohyun, begitu kata Kyuhyun.

.

“Annyeonghaseyo…” sapa Jiah berlaku sopan.

.

“Ah ne, annyeonghaseyo…” Seohyun juga memberikan salamnya pada Jiah. “Apa yang kau lakukan disini?”

.

“Aku ada kelas pagi ini. Lalu aku mampir untuk membantu Donghae disini” jawab Jiah.

.

“Ah… Jadi begitu… Tapi, kau tidak ke rumah sakit?” tanya Seohyun.

.

“Kenapa? Cho Kyuhyun sakit?” tanya Donghae dengan bahasa informalnya. Benar, Donghae tentu mengenal gadis ini.

.

“Aniyo, sunbae. Kyuhyun sunbae tidak sakit”, jawab Seohyun.

.

“Lalu, apa ada alasan lain aku harus ke rumah sakit?” tanya Jiah.

.

“Hari ini Kyuhyun sunbae tidak memiliki jadwal jaga di rumah sakit. Tapi tadi aku bertemu dengannya disana. Dia tampak sangat cemas dan terburu-buru. Aku pikir Jiah-ssi yang memanggil Kyuhyun sunbae kesana. Tapi tampaknya Jiah-ssi sepertinya justru tidak mengetahuinya…”

.

“Mengetahui apa?” tanya Jiah lagi dengan ekspresi cemas diwajahnya.

.

“Kau benar tidak mengetahuinya? Ibumu adalah pasien tetap di bangsal kanker rumah sakit K university. Aku pernah bertemu dengan beliau tahun lalu saat melakukan kemoterapi. Hari ini Kyuhyun sunbae terburu-buru berlari menuju UGD”, jawab Seohyun.

.

“Kau bercanda?” tanya Jiah tidak mempercayai ucapan Seohyun.

.

“Jiah-ssi, aku seorang calon dokter. Hal seperti itu tidak boleh aku jadikan sebagai candaan. Bagaimana ini? Sepertinya aku melakukan kesalahan dengan mengatakannya. Keluarga mu tampaknya merahasiakan hal ini darimu…” kata Seohyun khawatir.

.

“Tidak. Kau melakukan hal yang benar, Seohyun-ah. Sekarang pergilah… Tidak apa-apa…” kata Donghae.

.

“Ah ne, sunbae. Jiah-ssi, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf…” kata Seohyun yang segera meninggalkan Jiah dan Donghae.

.

Jiah membeku di tempatnya. Penjelasan Seohyun seakan menjadi sambaran petir baginya. Ia tidak mengetahui hal sebesar itu terjadi pada ibunya. Bahkan Cho Kyuhyun yang notabene belum menjadi bagian dari keluarganya mengetahui hal itu. Itukah sebabnya eomma mengatakan pernikahanku dan Kyuhyun adalah permintaan pertama dan terakhirnya? Jiah bergelut dengan pikirannya sendiri. Berbagai ingatan pembicaraannya dengan ibunya muncul di pikirannya. Berbagai perasaan bercampur menjadi satu dalam dadanya. Ia merasakan sesak yang teramat menyakitkan. Seolah ia akan meledak jika mengalami benturan sedikit saja.

.

“Donghae… Donghae-ya…… A… Ak… Aku…… Aku…… Aku akan ke… ke…… ke rumah sa… sakit…” kata Jiah terbata.

.

“Jiah-ya, aku akan mengantarmu…” kata Donghae yang sudah merapikan seluruh barangnya ke dalam tas dan berputar duduk disamping Jiah.

.

“Aniya… Aniya… Aku… Aku akan… akan pergi sendiri… Kau… Kau tidak……”

.

Seketika air mata nya pecah, mengalir deras di pipinya. Ia membekap mulutnya, menahan isakan tangis yang terdengar begitu memilukan. Jiah menangis keras dalam dekapan mulutnya. Saat Donghae menjulurkan tangannya ke bahu Jiah untuk menenangkannya, Jiah mencoba berdiri dengan menopang tubuhnya menggunakan tangan kanannya. Namun tubuh Jiah kembali terjatuh ke tempat duduk. Jiah kehilangan kekuatannya. Tangisnya semakin deras. Ia memukul-mukul kakinya, menyalurkan kemarahannya pada dirinya sendiri karena tidak mengetahui hal yang terjadi pada ibunya.

.

“Jiah-ya, biarkan aku mengantarmu ke rumah sakit, eo?” tanya Donghae yang dijawab dengan anggukan cepat oleh Jiah.

.

.

.

####################

.

.

BGM: Super Junior KRY – Coagulation

.

.

.

Jiah berlari cepat sesaat setelah keluar dari mobil Donghae. Beberapa kali ia menghapus air matanya dan terus berlari sambil membaca penunjuk letak UGD. Ia kembali berlari dan terus berlari menuju tempat yang ia tuju, diikuti Donghae yang berlari cemas dibelakangnya. Mereka pun menemukan UGD itu diujung lorong pintu utara. Kecepatan Jiah dalam berlari perlahan berkurang saat kaki nya mendekati ruangan itu. Langkahnya semakin melambat saat ia melihat sosok ayahnya sedang berdiri dengan cemas di depan pintu bertuliskan ‘emergency’ itu. Kakaknya, Yuri, juga berada disana bersama dengan Siwon, Tuan dan Nyonya Cho, dan juga Cho Kyuhyun.

.

Kaki Jiah melemah saat jarak diantara mereka tersisa 8 meter saja. Ia jatuh, terduduk di lantai ruangan itu. Semua orang yang berada di depan ruangan itu sontak menoleh pada Jiah. Ia menatap kosong pada lantai putih didepannya. Kesedihan dan rasa sakit kembali menghampirinya. Seakan ada ribuan barisan orang-orang yang sedang memukul dadanya dengan keras. Air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya. Perlahan ia pun mencoba mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan setiap mata yang sedang menatapnya. Air mata nya dengan mudah kembali mengalir membasahi pipinya. Lalu matanya menangkap tatapan Kyuhyun padanya. Jiah kembali menundukkan kepalanya. Kali ini ia menutup matanya dengan kedua tangannya dan menangis dengan rasa sakit yang tidak bisa lagi ia pendam. Kyuhyun pun berjalan menghampiri Jiah. Kyuhyun bertelut tepat di depan Jiah dan menarik Jiah ke dalam pelukannya. Isakan Jiah semakin keras saat Kyuhyun mendekapnya erat sambil menepuk pelan punggungnya, menenangkannya. Jiah melepas kedua tangannya dari wajahnya, menggunakan dada Kyuhyun sebagai penggantinya.

.

“Mianhae… Mianhada, Jiah-ya…” kata Kyuhyun pelan.

.

Jiah tidak mengatakan apapun. Ia bungkam dalam tangisannya. Kemudian Jiah menggerakkan tangan kanannya, mengepalkannya dan meletakkannya di dada Kyuhyun. Jiah memukul pelan dada Kyuhyun dengan kepalan tangannya, menunjukkan rasa sakit yang ia rasakan. Kyuhyun menghela napas panjang saat Jiah memberikan pukulan keduanya yang terasa lebih keras dari sebelumnya.

.

“Mianhae… Mianhae…” Kyuhyun mengulangi ucapannya, lalu mengecup puncak kepala Jiah.

.

“Nappeun nom…” kata Jiah disela isakannya.

.

Tubuh Jiah melemah dalam pelukan Kyuhyun. Kekuatannya seolah sudah menghilang seluruhnya. Menyadari hal itu, secara otomatis Kyuhyun langsung memegang pergelangan tangan Jiah. Nadi Jiah melemah dan napasnya menjadi berat. Dengan cekatan Kyuhyun mengangkat tubuh Jiah dari lantai. Kedua tangan Jiah sontak melingkar di leher Kyuhyun, berpegangan dengan sisa kekuatannya.

.

“Apa yang kau lakukan? Turunkan aku, Cho Kyuhyun…” kata Jiah lemah.

.

“Tidak. Jangan bicara lagi, Kwon Jiah…” Kyuhyun menolak permintaan Jiah. Kyuhyun membenarkan letak tubuh Jiah di tangannya, lalu menoleh pada keluarganya. “Aku akan membawa Jiah ke ruanganku. Sepertinya dia shock, keadaannya melemah…”

.

“Jangan membawaku kemanapun, Cho Kyuhyun. Aku ingin tetap disini…”

.

“Keadaan eomeoni tidak akan memburuk hanya karena kau pergi ke ruanganku, Kwon Jiah”, kata Kyuhyun yang sudah melangkahkan kakinya menjauhi UGD.

.

Kyuhyun membawa Jiah ke ruangan istirahat para intern, tidak jauh dari UGD. Disanalah tempat Kyuhyun dan teman-temannya tidur saat shift malam. Ruangan itu hanya terdiri dari dua tempat tidur ukuran kecil dan dua set meja kerja. Beruntung malam ini ruangan itu tidak sedang digunakan oleh siapapun, karena rekan Kyuhyun yang juga menghuni ruangan itu sedang mendapatkan libur selama dua hari. Saat memasuki ruangan itu, mata Jiah sudah terpejam. Kegiatannya hari ini dan berita mengejutkan yang ia terima sudah membuat tubuhnya lemah dan lelah. Terlebih dengan keadaannya yang kembali melemah setelah exhibition berlangsung. Kyuhyun pun meletakkan tubuh Jiah di tempat tidurnya, lalu menutup pintu ruangan itu. Kyuhyun kembali menghampiri Jiah, membuka sepatunya, dan menggeser tubuhnya ke dekat dinding. Setelah itu ia melepas sepatunya juga dan berbaring disebelah Jiah. Pagi ini Kyuhyun baru kembali dari double shift (sore dan malam) nya saat kabar tumbangnya Nyonya Kwon disampaikan oleh salah seorang pekerja yang ada dirumahnya. Kyuhyun bahkan belum sempat masuk ke kamarnya hanya untuk sekedar berganti pakaian. Karena itulah tubuh Kyuhyun sama menyerahnya dengan tubuh Jiah. Energy nya sudah terkuras habis selama lebih dari 24 jam.

.

Tiba-tiba Jiah bergerak menghadap pada Kyuhyun. Napasnya berangsur kembali normal. Kyuhyun menatap wajah Jiah dengan tatapan khawatir. Lelah yang dirasakan Jiah sangat jelas terlihat di wajahnya, membuat perasaan tidak nyaman membuncah dalam diri Kyuhyun. Ia pun mengangkat kepala Jiah perlahan dan meletakkan lengannya di bawah leher Jiah. Lalu Kyuhyun menarik tubuh Jiah ke pelukannya seperti yang ia lakukan malam itu. Aroma tubuh Jiah yang tertangkap oleh hidungnya terasa sangat menenangkan dan mengantarnya menuju alam mimpi dengan sangat mudah.

.

Beberapa jam berselang, akhirnya Jiah bangun dari tidurnya. Saat kesadarannya sudah terkumpul sepenuhnya, ia menyadari keberadaan Kyuhyun yang sedang tertidur dihadapannya sambil memeluk tubuhnya. Jiah menggerakkan tubuhnya, mencoba melepaskan pelukan Kyuhyun secara perlahan. Namun ternyata gerakan kecilnya itu justru membangunkan Kyuhyun dari tidurnya.

.

“Kau sudah bangun?” tanya Kyuhyun dengan suara seraknya.

.

“Eo… Aku ingin mengetahui keadaan eomma…” kata Jiah sambil kembali berusaha melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun.

.

“Eomeoni sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Kau tidak perlu khawatir…” kata Kyuhyun yang justru mempererat pelukannya.

.

“Kalau begitu aku ingin melihatnya… Lepaskan aku…” kata Jiah bersikeras.

.

“Tidak perlu… Saat ini sudah larut malam. Yuri nuna sudah menjaga eomeoni. Abeonim dan Siwon hyung sudah kembali ke rumah, begitupun dengan appa dan eomma ku, dan juga Donghae. Pasien hanya diijinkan ditunggu oleh satu orang, Kwon Jiah. Jika kau tidak ingin pulang ke rumah, maka tetap lah disini dan kembali tidur…” kata Kyuhyun menjelaskan.

.

Jiah menyerah. Segigih apapun ia membujuk seorang Cho Kyuhyun, jawabannya akan tetap sama. Kyuhyun tidak akan membiarkan Jiah keluar dari ruangan itu sedetikpun. Jiah pun terdiam, memikirkan segala kemungkinan keadaan ibunya saat ini. Ternyata pikirannya sama menyerahnya dengan tubuhnya saat ini. Ia tidak bisa memikirkan apapun. Ia bahkan tidak bisa lagi membantah ucapan Kyuhyun seperti yang sebenarnya ia ingin lakukan. Akhirnya Jiah hanya bisa membiarkan tubuhnya menyerah dalam pelukan Kyuhyun.

.

“Kenapa kau merahasiakannya dariku?” tanya Jiah tiba-tiba.

.

“Aku terikat pada janji, Kwon Jiah. Janji sebagai seorang dokter dan janji sebagai seorang anak. Eomeoni tidak ingin kau khawatir padanya. Karena itulah selama kau berada di New York, eomeoni tidak pernah mengatakan apapun padamu”, jawab Kyuhyun masih dengan matanya yang terpejam.

.

“Kau sudah mengetahui hal ini sejak lama?” tanya Jiah lagi.

.

“Tidak. Aku baru mengetahuinya beberapa bulan terakhir. Beberapa hari setelah pertemuan pertama kembali kita dirumahmu hari itu. Aku tidak bisa marah pada pasien, karena itu aku marah pada eomma ku karena tidak memberitahukan hal itu padaku. Aku merasa kurang berguna sebagai seorang dokter saat tidak menyadari apa yang terjadi pada eomeoni…” jawab Kyuhyun lagi.

.

“Apakah keadaannya sangat buruk? Apa eomma akan baik-baik saja?” tanya Jiah dengan nada khawatirnya.

.

Kyuhyun pun membuka matanya saat mendengar pertanyaan Jiah. “Kau tidak perlu khawatir. Eomeoni sudah menjalani proses penyembuhannya dengan sangat baik. Saat ini kondisi nya sudah 90% sembuh dari kanker yang diidapnya. Tumbangnya eomeoni hari ini dikarenakan kelelahan yang berlebihan. Eomeoni akan baik-baik saja…”

.

“Kau tidak berbohong padaku, bukan? Eomma benar-benar akan baik-baik saja, bukan? Aku mohon… Katakan kau tidak sedang berbohong padaku…”

.

Kyuhyun menghela napas panjang, lalu mencium kening Jiah dan mempererat pelukannya pada Jiah. “Aku tidak pernah sekalipun berbohong padamu, Kwon Jiah. Kau memiliki hak sepenuhnya untuk percaya atau tidak padaku. Tapi kau bisa memegang ucapanku sebagai seorang dokter. Karena itu, kau tidak perlu khawatir. Dan… Kwon Jiah…”

.

“Hmm???”

.

“Aku rasa sebaiknya kau jangan menemui eomeoni”, kata Kyuhyun.

.

“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh bertemu dengan eomma?”

.

“Karena eomeoni tidak ingin kau mengetahui keadaannya dan menjadi khawatir. Setiap hari ia berusaha agar kau tidak mengetahui hal itu. Jika eomeoni mengetahui kenyataan bahwa kau tahu penyakitnya, aku khawatir hal itu akan mempengaruhi psikologisnya, dan akhirnya mengganggu proses penyembuhannya. Tunggu lah sebentar lagi…”

.

“Apa yang harus aku tunggu?”

.

“Aku sudah membuat eomeoni berjanji padaku untuk mengatakannya padamu setelah kita menikah. Kau hanya perlu menunggu sebentar saja. Aku mohon… Lakukan semua proses ini dengan tenang. Kau sendiri yang mengatakan bahwa kebahagiaan eomeoni sangat penting bagimu. Karena itu, bersabarlah…”

.

Jiah mengangguk pelan. “Baiklah… Aku mengerti…”

.

Jiah menghela napas panjang, menyerah dengan keadaannya saat ini. Ia tidak bisa bersikap egois hanya memikirkan dirinya sendiri yang ingin sekali ikut serta menjaga ibunya. Keadaan yang terjadi adalah Nyonya Kwon tidak mengetahui bahwa Jiah tahu penyakitnya. Karena itu, Jiah akhirnya memilih untuk mengalah dan kembali berpura-pura dihadapan ibunya. Setidaknya hanya untuk sementara waktu. Kondisi fisik dan psikologis Jiah yang lelah akhirnya membuat tubuhnya menyerah. Jiah tidak bisa memikirkan apapun lagi. Bahkan ia tidak menunjukkan sikap keberatannya pada sikap Kyuhyun yang saat ini sedang memeluknya erat.

.

Kyuhyun kembali mencium puncak kepala Jiah saat merasakan helaan napas Jiah yang sudah melembut, menandakan bahwa Jiah sudah kembali tertidur. Kembali. Berbagai hal datang dalam pikirannya, memenuhi setiap sudut di kepalanya dengan pertanyaan. Jiah tidak berusaha melawannya. Namun Kyuhyun tahu benar bahwa hal itu tidak disebabkan oleh lemahnya kepribadian Jiah. Kyuhyun menyadari ada sesuatu yang tersembunyi dari semua sikap yang Jiah tunjukkan padanya akhir-akhir ini. Seketika Kyuhyun merasa kalah. Jiah memang berada di pelukannya saat ini. Tapi Jiah terasa begitu jauh dari jangkauannya. Kyuhyun hanya merasakan raga Jiah, tapi tidak menemukan jiwanya. Sikap yang ditunjukkan Jiah akhir-akhir ini padanya sama dengan sikap yang Jiah tunjukkan pada orang lain. Itulah Jiah. Tidak ada maksud special dibalik sikap Jiah pada Kyuhyun. Apakah selama ini aku salah mengerti? Apa mungkin sejak dulu keadaan yang sebenarnya memang seperti ini? Apakah sebenarnya Jiah memang tidak pernah menyukaiku sejak awal? Berbagai pertanyaan bergumul dalam pikiran Kyuhyun. Keraguannya semakin terbangun seiring dengan berjalannya waktu. Namun disaat yang sama, hatinya menolak untuk menyerah. Aku sudah terlanjur memulainya. Aku harus melakukannya sampai akhir. Kyuhyun membulatkan tekadnya.

.

.

.

Kyuhyun’s POV

.

.

BGM: Alex (Clazziquai) – Daydreaming

.

.

Flashback

Hari ketika Jiah sakit dan Kyuhyun menginap…

Hari sudah beranjak pagi. Namun matahari belum menunjukkan kehadirannya. Seolah menjadi kebiasaan setelah seringkali melakukan shift malam di rumah sakit, aku terbangun begitu pagi. Suhu ruangan yang dingin dapat ku rasakan di lenganku yang tidak tertutup oleh selimut. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadaranku. Lalu aku pun tersadar akan suatu hal. Jiah masih tertidur di lengan kiriku. Rasa kebas yang semula ku rasakan seolah lenyap saat aku mendapati posisi tidur Jiah yang menghadap padaku. Ia tidur begitu nyenyak, mungkin masih dalam pengaruh obat yang ia minum semalam. Ada satu hal yang menarik perhatianku. Tangan kiri Jiah tidak berada di samping ataupun di depan tubuhnya. Jiah meletakkan tangan kirinya di belakang tubuhnya agar infuse yang terpasang tidak terlepas atau bersinggungan dengan apapun. Hal sekecil itu menjadi sumber senyuman pertama ku untuk mengawali hari.

.

Aku kembali menatap wajah Jiah yang terlihat sangat tenang saat tidur. Helaan napasnya terdengar lembut. Bulu matanya ternyata sangat panjang dan lentik. Indah seperti pemiliknya. Jika hubungan kami tidak sedingin saat ini, mungkin aku akan memilih untuk tetap berada bersamanya, menjaganya sepanjang hari, tanpa harus keluar dari sini. Aku bisa menghabiskan setiap waktu ku hanya untuk menatap wajahnya dan mengagumi keindahannya. Hhh… Kwon Jiah… Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku benar-benar sudah tidak bisa kemanapun. Kata ‘mundur’ sudah tidak bisa lagi ku gunakan. Aku menyerah pada semua pertahanan yang sudah aku bangun selama bertahun-tahun. Aku terlalu merindukannya, hingga semua kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan akan kepergiannya lenyap begitu saja.

.

Hari ini saja… Biarkan aku menjadi pengecut hari ini saja…

.

Aku mendekatkan wajahku pada wajah manisnya. Aku raih dagunya dengan jari-jariku dan mengangkatnya perlahan. Akupun memejamkan mataku dan mengecup lembut bibirnya yang sejak tadi sudah mengganggu pikiranku. Sejenak berpikir untuk segera melepaskan diri, aku justru menemukan diriku semakin memperdalam ciumanku dibibirnya. Jiah tidak merasakannya. Ia masih terlelap dalam mimpi indahnya saat aku melepaskan tautan bibirku dari bibirnya. Aku menyingkirkan helaian rambut yang hampir menutupi mata terpejamnya. Akupun mengecup keningnya untuk memeriksa kondisi suhu tubuhnya pagi ini. Keadaanya sudah jauh membaik. Demamnya sudah berlalu. Suhu tubuhnya akan tetap normal jika ia bisa beristirahat selama satu hari saja. Aku kembali menjauhkan wajahku darinya dan memandang wajahnya sekali lagi sebelum aku bangun untuk bersiap-siap berangkat ke rumah sakit.

.

“Selamat pagi, Kwon Jiah… Beristirahatlah hari ini…” kataku berbisik.

.

.

.

.

TBC…

.

.

Bagaimana readers-nimdeul? Sudah ketahuan dong apa yang dirasakan Kyuhyun? Di part ini terlihat kan sikap Kyuhyun yang sebenarnya. Dia tidak sedingin es di kutub utara. Dan ternyata Kyuhyun selalu curi-curi kesempatan saat Jiah tidur. Tapi kenapa Kyuhyun merasakan kebimbangan dan keraguan pada Jiah? Ditengah keraguan dan kebimbangannya, Kyuhyun juga tidak mau melepaskan Jiah. Apakah Kyuhyun sudah benar-benar jatuh cinta pada Jiah?

Aku ingin menjelaskan sedikit mengenai sikap Jiah yang dibahas oleh Kyuhyun di part ini. Kyuhyun mengatakan kalau sikap Jiah padanya berbeda. Jadi, maksudnya adalah kepribadian Jiah dari part 1 hingga part 4 ini (di masa sekarang) memang seperti itu. Jiah hanya bersikap dingin pada orang-orang tertentu yang tidak dekat dengannya. Hal itu dibuktikan dengan sikap Jiah pada Donghae yang bisa begitu ramah walaupun mereka pernah tidak bertemu selama bertahun-tahun. Jiah memiliki pribadi yang ramah, menyenangkan, dan baik hati (skripsi Donghae aja dibantuin sama Jiah, dia juga berkorban demi kebahagiaan ibunya). Itulah yang membuat Kyuhyun ragu. Kyuhyun bingung, apakah sikap Jiah padanya dikarenakan Jiah masih menyukainya atau memang seperti itulah diri Jiah yang sebenarnya. Dan untuk keraguan itu, sepertinya Kyuhyun dan para readers masih harus menunggu hingga 2 part berikutnya. Aku kasih sedikit bocoran, di part selanjutnya pernikahan benar-benar akan terjadi dan Kyuhyun akan semakin bingung dengan sikap Jiah padanya.

.

Ini dia clue terakhir untuk kelanjutan kisah mereka…

‘Meja sudah diputar dan sulit untuk dikembalikan. Kau bisa memahami apa yang tidak pernah kau tahu dengan merasakannya sendiri. Kau menuai apa yang telah kau tanam.’

.

Kana pamit. Annyeonghi gaseyo!!!

Advertisements

55 thoughts on “Since I (have) met you : Part 4

  1. Kyuhyun blg suka sma jiah begitupun jga jiah yg suka kyuhyun tp dsini kyuhyun msh ragu” sma perasaan nya ke jiah jd sbner nya gmana perasaan mereka tuh menurut ku msh abu” dan samar

    Like

  2. Bener kan sikap kyuhyun yang nyebelin dulu untuk menutupi perasaannya yang sebenernya ,,sikap.manisnya kalo jiah lagi tidur ,,

    Like

  3. Kyuhyun ternyata menyukai jiah, ahhh bukan hanya menyukai tapi mencintai jiah
    Kyuhyun mencuri start rupanya
    Setelah jiah pindah ke NY, jiah tetap berhubungan dengan so jung dan donghae 🙂

    Like

  4. Aku masih bingung sama mreka berdua…
    Kayaknya perasannya mreka masih abu2 g2..
    Ini apa kyuhyun memang selama ini udah suka sama jiah??
    Tapi karena gengsinya akhirnya dy malah ketus2 g2..
    Dan jiah apa bener dy udah gak cinta sama kyuhyun lagi??
    Ragu juga..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s