Since I (have) met you : Part 2

Author: Okada Kana

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast: Cho Kyuhyun, Kwon Jiah (OC)

Other Cast:

Jung Soo Jung, Lee Donghae, Kwon Yuri, Shim Changmin

 

Disclaimer:

FF ini murni berasal dari kepalaku. Ide cerita yang muncul berasal dari beberapa drama yang sudah aku tonton. Tapi cerita dalam FF ini tidak menggunakan ataupun mengikuti cerita drama yang sudah ada. Seperti biasanya, mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Karena seperti yang aku katakan, ini adalah kisah cinta sederhana yang bisa dialami siapa saja. Aku juga berusaha sebisa mungkin untuk menghindari typo. Tapi, aku juga manusia biasa yang bisa membuat kesalahan, jadi mohon dimaklumi. No bash, smart comments and critics always accepted. Selamat membaca…

.

.

 

.

.

Preview Part 1

“Lama tidak bertemu, Kwon Jiah. Bagaimana kabarmu?”

“Seperti yang kau lihat”.

“Lihatlah mereka, Na Young-ah. Mereka sangat serasi berdiri berdampingan seperti itu”.

“Aku tidak salah dalam memilih seorang menantu, bukan?”

“Kalian berdua akan bertunangan bulan depan. Kami masih mencari tanggal yang baik di tahun depan untuk melaksanakan upacara pernikahan kalian”.

“Bagiku semua tanggal baik”.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Apa?”

 

 

.

.

-Since I (have) met you : Part 2-

.

.

 

 

.

.

Author’s POV

Jiah menatap laki-laki yang berdiri mendekat padanya dengan tatapan yang masih menunjukkan rasa marahnya. Kali ini amarah itu bertambah saat melihat senyum tipis di bibir Kyuhyun. Senyum itu pernah membuat Jiah merasakan keresahan yang tidak bisa dijelaskan. Sampai hari ini, Jiah masih tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan nya sendiri. Senyum itu masih menimbulkan efek yang sama dalam dirinya.

.

Mwoya… Senyuman itu lagi. Apa lagi kali ini? Apa yang dia rencanakan sebenarnya? Kenapa dia selalu menyembunyikan semua hal yang ada dipikirannya dengan senyuman menakutkan itu? Aku sudah meyakinkan diriku bahwa tidak ada satupun hal dalam dirinya yang bisa mempengaruhiku. Tapi senyuman itu…… Kenapa sampai saat ini masih menimbulkan perasaan aneh dalam diriku? Apa yang sedang kau coba lakukan, Cho Kyuhyun?

.

“Kwon Jiah, kau baik-baik saja? Ada apa?” tanya Kyuhyun yang menyadari lamunan Jiah.

.

“Hmm??? Ah… Aku baik-baik saja”, jawab Jiah.

.

“Jiah mengatakan ia baik-baik saja, bibi. Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi jika begitu, bukan?” tanya Kyuhyun yang mengundang kebingungan pada Jiah.

.

“Apa maksudmu, Cho Kyuhyun?” tanya Jiah.

.

“Pernikahan. Kau bilang kau baik-baik saja…… dengan tanggal manapun”, jawab Kyuhyun.

.

“Apa??? Aku tidak mengatakan itu”, sanggah Jiah cepat.

.

“Ada apa, Kwon Jiah? Kau baru saja mengatakannya. Tenang saja, eomma, appa, bibi, paman, Jiah sepertinya hanya sedikit terkejut. Karena terakhir kali kami duduk bersama dikelas kami tidak mempunyai banyak kesempatan untuk bicara”, jelas Kyuhyun panjang lebar dengan sikap sopannya.

.

“Kalian duduk bersama saat di SMA?” tanya Nyonya Kwon dengan wajah cerahnya.

.

“Ne, bibi. Kami berbagi moment selama lebih dari enam bulan. Mungkin kami akan duduk bersama selama 3 tahun penuh jika saat itu Jiah tidak pindah. Sangat disayangkan…” kata Kyuhyun yang ditanggapi dengan tatapan tidak bersahabat dari Jiah.

.

“Bagus jika begitu! Itu berarti pernikahan mereka dapat dipercepat, bukan?” tanya Nyonya Cho.

.

“Ne??? Aniyo… tentang itu, bibi……” kata Jiah berusaha menyanggah.

.

“Tidak perlu sampai dipercepat, eomma. Satu tahun tidak akan lama. Benar bukan, Jiah-ya?” tanya Kyuhyun.

.

Jiah mengernyitkan keningnya dan tanpa terasa alis kirinya naik, menunjukkan rasa herannya pada kata yang baru saja didengarnya. Jiah-ya? Kalimatnya semakin lama semakin pendek. Sejak kapan kami sedekat itu? Dia pasti sudah benar-benar gila. Jiah yang masih menatap Kyuhyun tajam, akhirnya menoleh cepat pada Nyonya Cho dan berusaha menunjukkan senyumnya meski terpaksa. “Ne, Kyuhyun benar, bibi. Tidak perlu terburu-buru”.

.

Tiba-tiba Jiah tersentak. Mwoya… Apa yang baru saja aku katakan? Kenapa aku mengatakan itu? Bukankah itu berarti aku menyutujui perjodohan tidak masuk akal ini? Ah Kwon Jiah…… apa yang kau lakukan? Kau memperburuk semua hal ini.

.

“Good job, Kwon Jiah” kata Kyuhyun sambil menahan tawa nya.

.

“Cho Kyuhyun, kita harus bicara”, kata Jiah berbisik pada Kyuhyun.

.

“Tentu”, jawab Kyuhyun cepat. “Semuanya, kami permisi sebentar. Ada yang perlu kami berdua diskusikan”, kata Kyuhyun pada semua orang di ruangan itu.

.

Jiah tersenyum tipis, lalu menghela napas panjang. Ia segera berbalik untuk meninggalkan ruangan itu. Namun tanpa ia sadari, tangannya menarik lengan Kyuhyun bersamanya. Hal itupun dilihat sebagai sebuah tanda kedekatan diantara mereka oleh kedua orang tua mereka. Jiah baru menyadari tindakannya saat mereka tiba di sebuah gazebo di halaman belakang rumah Jiah. Ia melepaskan lengan Kyuhyun dengan cepat, lalu menggelengkan kepalanya. Kemudian dengan gerakan yang cepat, Jiah bertolak pinggang, berjalan ke kanan dan kiri sambil sesekali mengusap keningnya. Jiah berdiri membelakangi Kyuhyun, kini dengan tangan kiri yang menutupi matanya. Jiah memikirkan setiap kemungkinan alasan yang bisa ia gunakan untuk menghindari perjodohan itu. Namun tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang menopang diatas kepalanya. Ternyata Kyuhyun meletakkan lengan kirinya diatas kepala Jiah, lalu menopangkan dagunya disana. Kyuhyun memejamkan matanya dan menghela napas pelan.

.

“Apa yang sedang kau pikirkan dengan begitu keras, Kwon Jiah?” tanya Kyuhyun.

.

Sontak Jiah pun bergerak menghindar sehingga topangan lengan Kyuhyun terlepas darinya. Jiah berbalik menghadap pada laki-laki yang selama hampir satu jam membuatnya merasakan sakit yang begitu intens di kepalanya itu. Kembali. Setelah sekian lama Jiah akhirnya melakukan hal ini lagi. Ini sudah kali ke sekian Jiah menghela napas panjang dengan rasa frustrasi yang menumpuk bagai jerami basah di kandang kuda.

.

“Bukankah kau tidak menyukaiku?” tanya Jiah langsung pada poin nya.

.

“Kau terganggu dengan hal itu?” tanya Kyuhyun.

.

“Jawab aku dengan pernyataan, Cho Kyuhyun. Bukan pertanyaan…”

.

“Kau mengetahui jawabannya, Kwon Jiah. Kenapa masih bertanya?” tanya Kyuhyun.

.

“Lalu? Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau tidak mengatakan apapun untuk mencegah semua hal ini terjadi?” tanya Jiah yang sudah mulai tersulut amarahnya.

.

“Kau tidak lelah?” Kyuhyun kembali menjawab pertanyaan Jiah dengan pertanyaan. “Maksudku blind date. Aku dengar keluarga mu juga melakukan itu padamu. Kau tidak lelah? Aku lelah, Kwon Jiah. Batas lelahku sudah hampir habis. Aku tidak ingin terlalu lelah”.

.

“Kau selalu membuatku bingung, Cho Kyuhyun…”

.

“Dengar, Kwon Jiah. Jika kita menerima perjodohan ini, itu berarti tidak akan pernah ada lagi blind date. Kita tidak perlu pergi ke sebuah restoran untuk menemui seseorang yang tidak kita kenal. Kita tidak perlu selalu berusaha bersikap baik pada orang yang tidak kita sukai. Benar, bukan?”

.

“Kau benar. Aku akui. Tapi tidak dengan cara menikah, Cho Kyuhyun. Kita sama-sama tidak menyukai berada dalam situasi ini, kau lupa?” tanya Jiah.

.

“Benarkah? Aku menyukainya. Ini menarik…” jawab Kyuhyun dengan senyum mengembang diwajahnya.

.

“Ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda, Cho Kyuhyun”, kata Jiah dengan nada serius.

.

“Aku tidak bercanda, Kwon Jiah. Seperti katamu, ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda. Aku sudah memikirkannya selama beberapa saat. Aku rasa tidak akan sulit menjalani ini semua. Aku bisa menjadi diriku sendiri dihadapanmu. Dan lihat, kau benar-benar menjadi dirimu sendiri sekarang. Beberapa saat yang lalu kau terlihat terlalu ramah dan sopan, Kwon Jiah. Hhh…”

.

“Apa yang sedang kau rencanakan, Cho Kyuhyun? Apa yang ada dalam pikiran abstrakmu itu?” tanya Jiah dengan nada resah, takut, dan curiga, yang tidak bisa ia sembunyikan.

.

“Aku sudah mengatakannya padamu, Kwon Jiah. Aku lelah dengan semua blind date yang mereka atur. Aku lelah harus bertemu dan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang tidak aku kenal. Aku tidak menginginkan semua hal itu. Aku yakin kau juga merasakan itu. Tapi kau tahu benar, kita tidak berada dalam posisi dapat menolak apa yang mereka minta. Lalu datang sebuah kesempatan dimana aku bisa keluar dari situasi memuakkan itu, yaitu dengan menyetujui rencana ini, menerima perjodohan ini. Aku hanya perlu menghadapi seorang gadis. Kau. Aku rasa kita bisa menangani ini dengan baik, bukan? Saat semua hal sudah terasa benar dan pada tempatnya, kenapa aku harus memikirkan cara untuk menolak dan membiarkan diriku kembali terjebak dalam permainan blind date yang mereka mainkan?”

.

“Kita tidak saling menyukai satu sama lain, Cho Kyuhyun. Kau tidak memikirkan hal itu?” tanya Jiah.

.

“Benarkah? Kau yakin dengan hal itu?” Kyuhyun mengembalikan pertanyaannya pada Jiah.

.

“Ya. Aku yakin. Tidak ada yang aku ragukan tentang hal itu…”

.

“Bukankah situasi justru bertambah baik? Kau bisa menjalani hidup seperti yang kau inginkan. Apapun yang ingin kau lakukan. Tanpa batasan. Setidaknya itu yang bisa aku janjikan. Kita hanya perlu menuruti keinginan mereka. Ini yang terakhir…”

.

“Dengan menikah? Kau bercanda? Kau pikir pernikahan sesederhana itu? Pernikahan membutuhkan cinta untuk mempertahankannya. Kita tidak memiliki hal itu. Aku tidak ingin menghancurkan hidupku dengan menyesali pernikahan yang tidak didasari dengan cinta, Cho Kyuhyun. Aku tidak ingin ada masalah yang berujung perceraian dalam pernikahanku”, kata Jiah.

.

“Kalau begitu lakukan sesuatu agar hal itu tidak pernah terjadi”, balas Kyuhyun.

.

“Apa yang sedang kau coba katakan?”

.

“Perceraian. Ah Kwon Jiah, ada apa denganmu? Kita belum menikah. Tidak baik membicarakan hal itu…”, kata Kyuhyun dengan senyuman tidak terbaca nya lagi. Ia menundukkan kepalanya, melihat sesuatu di ponselnya. Ia menerima sebuah pesan dari kakak perempuannya beberapa saat yang lalu. “Kita hanya perlu melalukan apapun agar hal itu tidak terjadi, bukan? Kita bisa memikirkan hal itu dengan berjalannya waktu. Ah… selamat, Kwon Jiah…” kata Kyuhyun yang sudah memasukkan ponselnya ke saku celananya lagi.

.

“Selamat? Untuk apa?” tanya Jiah bingung.

.

“Selamat datang di keluarga Cho. Mereka memutuskan untuk mengadakan upacara pernikahan kita tiga bulan setelah acara pertunangan. Kau masih ingin mundur? Lakukanlah… Jika kau bisa dan mampu menentang ibumu. Lakukan sendiri. Karena aku tidak akan pernah melakukan itu. Pikirkanlah…”

.

Kyuhyun pun berlalu meninggalkan Jiah yang membeku karena mendengar kabar yang baru saja didengarnya itu. Tanggal pernikahan sudah ditetapkan. Kedua keluarga sudah menemukan kata sepakat. Jiah tidak mampu memikirkan apapun. Otaknya seolah berhenti bekerja saat memikirkan kenyataan itu. Ia tidak akan pernah bisa melawan mereka semua. Terlebih dengan sikap Kyuhyun yang menerima perjodohan itu dengan mudah. Haruskah aku melakukan ini?

.

.

2 minggu kemudian…

Jiah duduk seorang diri di sebuah café di daerah apgujeong. Di mejanya sudah terdapat segelas ice Americano, gelas keduanya siang itu. Beberapa kali Jiah melihat jam tangannya, lalu beralih ke layar ponsel. Begitu seterusnya hingga seorang gadis masuk ke café dengan wajah tergesa. Gadis itu segera berlari menghampiri Jiah yang duduk di ujung café. Beberapa langkah sebelum tiba disana, gadis itu menoleh pada barista dan memberi isyarat untuk membuatkan kopi favorit di café miliknya itu.

.

“Katakan kau sedang berbohong padaku, Kwon Jiah!” kata gadis itu sesaat setelah ia duduk di hadapan Jiah.

.

Jiah menggeleng lemah. “Untuk apa aku berbohong padamu, Soo Jung-ah…” kata Jiah dengan nada tidak bersemangatnya.

.

“Lalu? Kenapa kau melakukan itu? Dan dari semua laki-laki, kenapa harus Cho Kyuhyun?” tanya Soo Jung dengan nada sarkastisnya saat menyebut nama Kyuhyun.

.

“Aku tidak punya pilihan, Jung Soo Jung. Kau tahu aku tidak pernah bisa menolak eomma…”

.

“Kali ini saja… Satu kali saja… Kau sedang menyetujui perjodohan dengan seorang Cho Kyuhyun, Jiah-ya. Cho Kyuhyun!” kata Soo Jung.

.

“Ah aku tidak tahu lagi… Tidak akan ada yang berubah meskipun aku menentangnya sekarang. Harga diri keluarga ku justru yang akan jatuh jika aku menentang. Aku tidak ingin melakukan itu pada keluargaku, Soo Jung-ah.”

.

“Ah… inilah yang tidak aku sukai darimu. Kau terlalu baik, Kwon Jiah. Lalu apakah tidak apa jika kau yang terluka?” tanya Soo Jung dengan nada kesal.

.

“Aku seorang diri tidak apa, Soo Jung-ah. Lebih baik daripada menyakiti banyak orang, bukan? Aku hanya perlu menghadapi seorang Cho Kyuhyun…” kata Jiah menyerah.

.

“Seorang Cho Kyuhyun untuk seumur hidupmu, Jiah-ya. Kau harus ingat hal itu juga”, sambung Soo Jung.

.

“Aku akan berusaha. Aku pasti bisa…” kata Jiah dengan nada yang bahkan terdengar tidak cukup yakin.

.

“Setuju! Kalau begitu kau bisa melakukannya mulai hari ini…” kata sebuah suara berat yang entah muncul darimana. Cho Kyuhyun.

.

“Apa kau seorang hantu? Kenapa kau ada dimanapun, Cho Kyuhyun? Menjengkelkan…” keluh Soo Jung.

.

“Calon isteriku ada disini. Bukan hal yang aneh jika aku juga berada disini…” jawab Kyuhyun dingin. “Kwon Jiah, ayo kita pergi…”

.

“Kenapa? Kemana?” tanya Jiah.

.

“Kenapa? Karena kau sudah terlalu banyak meminum kopi. Auh… satu setengah gelas? Mulai hari ini satu gelas kopi dilarang. Kau hanya diijinkan meminum setengah. Kemana? Eomeoni memintaku menjemputmu ditengah jadwal ujian ku yang padat. Ayo…”

.

“Eomeoni?” tanya Jiah lagi.

.

“Eung… Eomeoni. Nyonya Song Na Young. Ah… aku diminta memanggilnya begitu. Mengingat aku akan jadi anaknya juga. Ayo cepat… Aku tidak punya cukup energy untuk tetap berada disini…” kata Kyuhyun yang segera pergi mendahului Jiah keluar dari café.

.

“Arasseo… Soo Jung-ah, aku akan menghubungimu lagi. Aku pergi…”

.

“Eo… hati-hati dijalan, Jiah-ya…”

.

.

Jiah’s POV

Hari-hari penuh pencobaanku resmi dimulai. Perlahan keyakinan ku memudar. Menghadapi seorang Cho Kyuhyun tidak semudah yang aku pikirkan. Mood nya yang fluktuatif membuatku kehilangan energy di tubuhku sedikit demi sedikit. Ia bersikap sangat baik lengkap dengan ekspresi menyenangkan. Namun di detik berikutnya wajahnya berubah datar dan dingin, tentu kalimatnya yang diucapkannya semakin pendek. Laki-laki ini benar-benar ingin mencobai kesabaranku.

.

Dan hari pertunanganku pun tiba. Acara dijadwalkan digelar pukul 8. Aku sempat menaruh harap acara ini akan dibatalkan saat mengetahui sosok Kyuhyun yang belum muncul setengah jam sebelum waktu yang ditentukan. Namun laki-laki itu kembali membuatku kehilangan akal sehatku. Ia muncul tepat lima belas menit sebelum acara dimulai. Acara ini pun tentu saja dijalankan sesuai dengan yang sudah direncanakan. Auh… jajjeungna jinjja… Kini tidak ada lagi kata mundur. Mau tidak mau aku harus tetap menghadapinya. Gwaenchanha, Jiah-ya. Kau pasti bisa. Pasti bisa…

.

.

Satu bulan kemudian…

Aku mendapatkan sedikit keberuntunganku setelah hari itu. Jadwal Kyuhyun yang padat membuat kami tidak bisa bertemu selama satu bulan. Jika pada umumnya di masyarakat luas hal ini akan dianggap sebagai hal yang kurang baik, tapi bagiku keadaan ini lebih dari baik. Setelah harus menghadapi laki-laki dingin itu selama dua bulan, akhirnya aku terbebas. Bagiku waktu satu bulan sudah cukup menenangkan. Aku tidak perlu mengalami sakit kepala yang berkepanjangan karena Cho Kyuhyun.

.

“Kwon Jiah!” panggil seseorang yang sedang berlari ke arahku.

.

“Lee Donghae?!?” seruku saat berbalik.

.

“Benar Kwon Jiah! Wah… Lama tidak bertemu! Hebat sekali kau, Kwon Jiah. Hebat sekali… Ada apa dengan melarikan diri keluar negeri tanpa kabar apapun? Kau benar-benar tidak memiliki sense pertemanan…” keluh Donghae.

.

“Maafkan aku, Lee Donghae. Aku sendiri tidak tahu jika proses kepindahanku akan berjalan semudah dan secepat itu. Aku pikir akan memakan waktu paling tidak tiga sampai empat bulan. Mianhae…” kataku.

.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Donghae dengan senyumnya yang sudah kembali.

.

“Sangat baik. Bagaimana denganmu?”

.

“Seperti yang kau lihat, aku selalu baik. Ya… apakah senyum mengembangmu ini tidak terlalu berlebihan? Siapa yang ingin kau berikan pesona itu, Kwon Jiah?” goda Donghae.

.

“Apa yang kau katakan, Lee Donghae? Aku selalu seperti ini, kau tidak tahu?”

.

“Ch… Sepertinya tidak… Kau begitu menyukai kenyataan sebagai tunangan seorang Cho Kyuhyun? Akhirnya?” goda Donghae lagi.

.

“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” tanyaku dengan ekspresi terkejut.

.

“Kau tidak perlu tahu itu… Bagaimana? Kau begitu senang hingga wajah itu terlihat sangat cerah? Cham… Kwon Jiah… Aku tidak percaya kalian akan berakhir seperti ini. Chukhahanda!”

.

“Aniya… Tidak seperti itu. Jangan bicara yang tidak-tidak, Lee Donghae”, kataku menyangkal.

.

“Apa? Aku tidak mengatakan hal yang salah. Ah… Apa yang kau lakukan disini?” tanya Donghae.

.

“Aku kuliah disini. Mulai hari ini”, jawabku.

.

Benar. Akhirnya aku memilih untuk mengurungkan niatku untuk belajar management. Setelah berpikir cukup lama, sepertinya meneruskan studi ku di bidang seni adalah pilihan yang lebih baik. Dan hari ini adalah hari pertamaku memulai studi ku di K University. Ini bukan kali pertamaku berada disini. Karena beberapa tahun yang lalu Yuri eonni sempat mengajakku kesini saat ingin mengenalkan aku dengan kekasihnya, tentu saja Siwon oppa. Tapi aku tidak menyangka hal ini sedikitpun. Untuk sampai ke gedung fakultasku, aku harus menempuh jarak yang cukup jauh dari gerbang utama. Seharusnya aku menerima tawaran appa untuk diantar oleh Bae ahjussi.

.

“Wooow… Benarkah? Assa! Kau melanjutkan studi mastermu?” tanya Donghae.

.

“Tentu saja… Kau? Sudah menyelesaikan wajib militer mu?” tanyaku.

.

“Eo… Aku baru saja kembali dua bulan yang lalu. Saat ini aku sedang menyelesaikan skripsiku”.

.

“Jurusan apa yang kau pilih, Donghae-ya?” tanyaku.

.

“Modern Music dan Performing Art”, jawab Donghae.

.

“Double degree? Wooow Lee Donghae… Kau hebat…”

.

.

Drrrtt… Drrrrttt…

.

.

“Ah, sebentar, Donghae-ya. Seseorang menghubungiku”, kataku.

.

Aku segera mengeluarkan ponsel dari saku celanaku. Aku menghela napas panjang saat melihat nama yang muncul di layar. Cho Kyuhyun. Dia benar-benar hantu. Apakah ketenanganku berakhir disini? Akupun segera menggeser panel hijau di layar ponselku.

.

“Yoboseyo?” tanyaku.

.

Kenapa begitu lama mengangkat ponselmu?” tanya Kyuhyun dengan nada bicara yang naik satu oktaf dari biasanya.

.

“Ada apa?” tanyaku tanpa mempedulikan pertanyaannya.

.

Kau dimana?

.

“Kampus. Kenapa?” tanyaku tak kalah ketus dengannya.

.

Aku tunggu di gedung D jam 1 siang. Semoga beruntung dengan hari pertamamu”.

.

.

Tuk.

.

.

Hubungan telepon berakhir begitu saja. Hhh… Memangnya apa yang kau harapkan dari seorang Cho Kyuhyun, Jiah-ya? Ch… Kenapa aku harus bertemu dengannya? Semoga beruntung katanya? Justru dengan bertemu dengannya, maka keberuntunganku hari ini akan berakhir. Akupun memasukkan kembali ponsel ke saku celanaku, lalu kembali menoleh pada Donghae. Aku menatap bingung pada Donghae saat melihat ekspresi aneh yang dibuatnya. Donghae tersenyum sumringah dengan tatapan mengejeknya.

.

“Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanyaku.

.

“Cho Kyuhyun, bukan? Wah… Aku rasa dia benar-benar hantu. Bagaimana dia bisa tahu jika kau sedang bersama seorang laki-laki? Instinct nya begitu tajam…” goda Donghae.

.

“Apa maksudmu? Dia tidak mengatakan apapun tentangmu…”

.

“Kau masih saja tidak bisa mengerti hal ini? Setelah sekian lama? Ckckck… Kau harus lebih lama bersamanya, Kwon Jiah. Dengan begitu kau bisa mengerti semua hal yang dia lakukan. Ja, aku harus ke perpustakaan. Sampai bertemu lagi, Nyonya Cho…” goda Donghae.

.

“Ya!!! Aish… Semoga beruntung dengan skripsi mu, Lee Donghae. Lakukan dengan benar!” seruku pada Donghae.

.

“Ne, sunbaenim!” kata Donghae yang sudah berjalan menjauh sambil melambaikan tangannya.

.

.

####################

.

.

Pukul 1 lewat 30 menit…

Entah apa yang ada dalam pikiranku. Setelah beberapa kali memikirkannya, aku justru memutuskan untuk datang ke tempat yang dikatakan Kyuhyun pagi ini. Aku sudah berusaha untuk tidak memikirkannya sepanjang kelas berlangsung. Namun aku tidak benar-benar bisa mengabaikan hal itu. Kaki ku mengkhinati pikiranku dengan berjalan dengan yakin. Kwon Jiah, ada apa dengan kerja otakmu akhir-akhir ini?

.

Ia disana. Aku berhenti dalam jarak 15 meter darinya. Ia berada dalam lingkaran kecil sekelompok orang yang terdiri dari empat orang laki-laki dan tiga orang perempuan. Mereka terlihat sedang membicarakan topik yang menyenangkan. Karena sesekali senyum dan tawa menghiasi wajah Kyuhyun yang terbiasa ku lihat datar dan dingin. Ia melihatku. Matanya menangkap keberadaanku. Ia tersenyum. Padaku?

.

“Kwon Jiah!” panggil Kyuhyun sambil melambaikan tangannya.

.

Ia benar-benar tersenyum. Bahkan terkesan sumringah dengan deretan gigi rapi yang ia tunjukkan. Ia menganggukkan kepala cepat beberapa kali seolah memintaku mendekat. Tatapannya itupun diikuti oleh tatapan sekelompok orang disekitarnya. Aku menemukan tatapan bersahabat diantara mereka, namun tentu saja, tatapan para gadis tidak pernah menunjukkan keramahan saat menatapku. Aku menghela napasku pelan sebelum akhirnya kembali melangkahkan kakiku mendekat pada kelompok itu. Sudut mataku menangkap gerakan kecil dua orang gadis yang melipat kedua tangannya di dada. Tatapan mereka memanas saat jarak diantara kami semakin memendek.

.

“Kenapa begitu terlambat? Apa terjadi sesuatu di kelas?” tanya Kyuhyun.

.

Mwoya… Dia bersikap sangat aneh. “Tidak ada. Semua baik-baik saja”, jawabku.

.

“Cho Kyuhyun, siapa dia? Kekasihmu?” tanya seorang teman laki-lakinya.

.

“Wooo Cho Kyuhyun… Benarkah? Dia kekasihmu?” tanya seorang yang lain.

.

“Yang benar saja… Bukan kan, sunbae?” tanya salah seorang gadis yang melipat tangannya.

.

“Aniya…” jawab Kyuhyun disertai senyuman di bibirnya. Mwoya Cho Kyuhyun…

.

“Hhh… Tentu saja…” kata seorang gadis lain.

.

Mwo? Tentu saja??? Ch… Apa dia merasa begitu hebat? Hanya karena dia adalah seorang calon dokter dia merasa hebat? Atau karena aku terlihat begitu sederhana sementara dia sangat glamour dan fashionable? Dia bahkan lebih muda dariku. Tidak sopan…

.

“Aku tadi mendengarnya, namamu Kwon Jiah?” tanya seorang laki-laki yang terlihat sangat ramah. “Aku Changmin. Shim Changmin”.

.

“Ah ne… Senang bertemu denganmu. Aku Kwon Jiah”, kataku.

.

“Kenapa kau berpenampilan seperti itu?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.

.

Aku menoleh padanya dan mengernyitkan keningku menanggapi pertanyaannya. Aku merasa seolah tatapan gadis yang berdiri disampingnya diwakilkan dengan pertanyaan yang baru saja Kyuhyun ajukan padaku. Namun satu hal yang baru saja aku sadari, ekspresi Kyuhyun berubah. Sel-sel diotakku seolah bekerja keras mencari sebuah memory yang tersimpan disana. Ekspresi itu terasa tidak asing. Bukan ekspresi dingin yang biasa ia tunjukkan.

.

“Kau ingin menggoda siapa dengan berpenampilan seperti itu, Kwon Jiah?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Apa maksudmu? Apa yang salah dengan penampilanku?” tanyaku.

.

Aku menundukkan kepalaku untuk memeriksa penampilanku. Aku tidak menemukan hal yang salah dengan caraku berpakaian. Aku mengenakan sebuah T-shirt polos berwarna putih tidak ketat namun cukup memperlihatkan lekuk tubuhku, dan celana jeans biru tua favorite ku. Cardigan baby pink ku sudah terlipat rapi di dalam tasku. Aku memutuskan untuk melepasnya saat merasakan keringat mulai membasahi tubuhku akibat aktivitas naik turun tangga yang aku lakukan untuk mencari ketua tim dan asisten dosen ku baru saja. Tidak ada yang salah dengan pakaian ini. Meski di America sekalipun, pakaian ini masih terbilang normal. Ada apa dengan mata mereka?

.

Aku kembali menengadahkan kepalaku dan memandang bingung pada Kyuhyun. Aku tidak menemukan hal yang aneh sama sekali dengan penampilanku. Menyadari ekspresiku, Kyuhyun pun menghela napas panjang namun pelan. Tiba-tiba ia menurunkan backpack nya dan meletakkannya tepat disebelah kaki kanannya. Lalu ia membuka cardigan abu-abu mudanya, kemudian memakai tas nya lagi. Kyuhyun berjalan ke arahku sambil melebarkan cardigan dengan kedua tangannya dan meletakkan cardigan itu di bahuku. Ia mengambil rambutku yang tertimpa cardigan, mengeluarkannya agar kembali terurai bebas.

.

“Aku sedang kepanasan, Cho Kyuhyun…” protesku.

.

“Ck… Pakai saja…”

.

“Ada apa denganmu tiba-tiba?” tanyaku.

.

“Hhh… Hanya tunjukkan padaku, Kwon Jiah…” kata Kyuhyun.

.

“Mwoga?” tanyaku bingung.

.

“Yah… Cho Kyuhyun. Apa itu barusan? Kau mengatakan bahwa dia bukan kekasihmu…” kata seorang laki-laki yang berdiri di paling kanan.

.

“Memang bukan…” jawab Kyuhyun singkat sambil merapikan cardigan dan membantuku memasukkan tanganku ke lengan cardigan.

.

“Jika dia bukan kekasihmu, lalu kenapa kau melakukan itu? Kau sedang mencoba menggodanya? Michin nom…” sahut seorang yang lain.

.

“Ya! Aku hanya sedang membuat pencegahan terhadap mata-mata nakal kalian yang sesekali menatapnya. Niga michin nom-iya… Niga!!!” seru Kyuhyun yang diikuti dengan senyum tipis dibibirnya.

.

“Kenapa sunbae sampai harus melakukan itu? Sunbae hanya perlu memberikan cardigan sunbae. Aku yakin Kwon Jiah-ssi bisa mengenakannya sendiri”, kata seorang gadis dengan tatapan menakutkannya.

.

“Kau benar. Dia sangat mampu melakukan itu. Tapi dia tidak akan mau melakukannya. Gadis ini auh…… selalu saja membuatku frustrasi…” keluh Kyuhyun.

.

“Mwoya… Kau pikir aku sengaja membuatmu frustrasi? Kau yang tidak pernah mengatakannya padaku, Cho Kyuhyun…” sambungku tidak ingin disalahkan.

.

“Baiklah… Baiklah… Salahku…” kata Kyuhyun menyerah.

.

“Mwoya… Aku sangat yakin kalian saling mengenal dengan baik. Jiah-ssi benar-benar kekasihmu bukan, Cho Kyuhyun?” tanya Changmin.

.

“Aku bilang bukan, Shim Changmin…” jawab Kyuhyun cepat.

.

Suasana tiba-tiba menjadi hening. Aku kembali menundukkan kepalaku, memutuskan untuk tidak terlibat dalam kegiatan tatap menatap mencari jawaban akan kebenaran yang sedang terjadi disekitarku. Saat itu juga aku teringat pada sebuah pesan yang aku terima beberapa jam lalu saat aku masih berada di kelas. Aku benar-benar yakin membaca nama eomma sebagai pengirim pesan singkat itu. Namun pesan yang dikirim ke ponselku itu ternyata tidak ditujukan untukku.

.

“Cho Kyuhyun, eomma sudah menghubungimu?” tanyaku pelan.

.

“Eomma? Eomma mu atau yang terjadi padaku sudah terjadi padamu juga (diminta memanggil ‘eomma’ juga oleh Nyonya Cho)?” tanya Kyuhyun.

.

“Uri eomma…” jawabku singkat sambil menatapnya.

.

“Aku tidak menerima panggilan apapun sejak tadi. Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Kyuhyun.

.

“Eomma memintaku untuk menyeretmu ke rumah”.

.

“Menyeret? Sebenarnya apa yang terjadi, Kwon Jiah?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Molla… Makan siang? Aku tidak mendengarnya dengan baik. Eomma menelepon saat aku masih berada di kelas”, jawabku datar.

.

“Aku yakin ada sesuatu yang terjadi… Katakan…” kata Kyuhyun curiga.

.

“Aku bilang tidak ada…” jawabku malas.

.

“Aku juga masih yakin ada sesuatu diantara kalian…” kata Changmin menyambung.

.

“Sunbae, benarkah dia bukan kekasihmu?” tanya seorang gadis yang sejak tadi menunjukkan wajah kesal sekaligus cemasnya itu.

.

“Ch… Berapa kali aku harus mengatakannya pada kalian? Kwon Jiah bukan kekasihku…” kata Kyuhyun dengan tawa yang menyertai ucapannya.

.

“Kalian sangat mencurigakan. Terlalu dekat untuk ukuran hubungan pertemanan”, sahut seorang diujung kanan.

.

“Nada bicara yang mereka gunakan sangat datar dan dingin, tapi ada kedekatan didalamnya. Aku tetap merasakan hal yang aneh…” sambung Changmin.

.

“Kwon Jiah bukan kekasihku… Dia tunanganku…” kata Kyuhyun tiba-tiba.

.

“Ne?!?!”

.

Aku sontak menoleh pada Kyuhyun yang hanya menunjukkan wajah tanpa ekspresinya. Ia menoleh padaku dengan ekspresi yang serupa, sangat tidak terbaca dan sulit dimengerti. Ia kembali menolehkan wajahnya ke teman-temannya lalu menunduk. Apa ini? Cho Kyuhyun yang ku kenal beberapa tahun yang lalu tidak seperti ini. Dia bukan tipe orang yang menyukai publikasi. Mwoya… Dia semakin membuatku bingung. Tiba-tiba dia tersenyum. Disana. Senyum itu lagi. Senyum yang sampai hari ini tidak bisa ku artikan. Rasa takut dan khawatirku perlahan kembali.

.

“Kalian berdua apa? Ei… Jangan bercanda…” kata seorang teman Kyuhyun.

.

“Ada apa dengan kalian? Kenapa tidak pernah percaya padaku? Kalian ingin datang acara pernikahanku baru kalian mempercayaiku?” tanya Kyuhyun.

.

“Cho Kyuhyun……” kataku.

.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun menoleh padaku. Aku tidak mengatakan apapun padanya, hanya menatap tepat pada matanya. “Ah… Makan siang? Ayo kita pergi. Eomeoni menunggu kita. Teman-teman, aku duluan…”.

.

Tiba-tiba Kyuhyun menggenggam tanganku, kemudian berjalan menarikku. Aku menoleh sesaat menyampaikan salam pada teman-teman Kyuhyun yang masih menatap Kyuhyun dengan tatapan bingung. Lihat… Bahkan teman-temannya terlihat bingung dengan sikapnya. Sebenarnya kau orang seperti apa, Cho Kyuhyun? Kenapa kau selalu membuat orang disekotarmu bingung dengan sikapmu? Saat kami sudah sangat jauh dari teman-temannya, Kyuhyun melepaskan genggaman tangannya padaku. Dia berhenti, lalu berbalik menghadap padaku.

.

“Kau bertemu Lee Donghae dengan berpakaian seperti itu?” tanya Kyuhyun dengan tatapan tajamnya.

.

“Hmm? Apa? Ah… Tidak. Aku mengenakan cardiganku…” jawabku terbata.

.

“Kenapa kau melepas cardiganmu?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Bagaimana kau tahu aku bertemu dengan Lee Donghae?” tanyaku.

.

“Jawab pertanyaanku…” kata Kyuhyun dengan suara beratnya.

.

“Aku sudah mengatakannya padamu. Aku kepanasan. Aku harus naik turun tangga untuk mengurus beberapa hal. Karena itu aku melepas cardiganku. Mwoya Cho Kyuhyun…… kau mempermasalahkan hal itu?” tanyaku sambil menghindari tatapannya.

.

“Benar. Aku mempermasalahkan hal itu. Jangan gunakan T-shirt ini lagi ke kampus. Terlebih jika kau ingin melepas cardiganmu dan melakukan banyak hal hanya dengan mengenakan T-shirt mu itu. Aku tidak tahan dengan tatapan mereka yang seolah membayangkanmu di pikiran mereka”, kata Kyuhyun dengan nada marah.

.

“Sudah cukup. Aku lelah selalu berdebat denganmu, Cho Kyuhyun. Hari ini cukup melelahkan bagiku. Jangan membuat hariku semakin sulit”, kataku menyerah menghadapi kemarahan Kyuhyun.

.

“Baik. Tapi aku sudah mengatakannya dengan jelas padamu. Jangan membuatku mengatakannya lagi”.

.

“Ada apa denganmu? Jangan bertingkah seolah kau peduli padaku, Cho Kyuhyun. Kau lupa kita tidak saling menyukai satu sama lain? Kau tidak perlu repot-repot melakukan hal ini padaku”, kataku dengan emosiku yang mulai tersulut karena mendengar kata-kata diktatornya.

.

“Kau benar… Tapi bagaimanapun keadaan diantara kita, kau tetap akan menikah denganku. Kau bahkan tidak bisa mundur dari ini semua, bukan? Lakukan saja apa yang aku katakan…”

.

“Kenapa aku harus melakukannya? Seperti yang kau katakan, bagaimanapun keadaan diantara kita, meski kita menikah sekalipun, aku akan melakukan apa yang aku inginkan. Bukankah itu tujuan kita sejak awal? Jangan lupakan hal itu, Cho Kyuhyun…” kataku lalu berbalik darinya.

.

Tiba-tiba Kyuhyun menarikku dan memelukku. Mataku terbelalak saat tubuhku sudah berada dalam rengkuhannya. Ia mendekap erat tubuhku lalu mengecup pelan kepalaku. Ia menggerakkan kepalanya ke bahuku. Ia membenamkan wajahnya di lekuk leherku dan menghela napas pelan disana.

.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku masih dengan terkejutanku.

.

“Nuna datang…” jawabnya pelan.

.

“Siapa?”

.

Kyuhyun kembali mengangkat kepalanya dan menyandarkannya di kepalku. “Yuri nuna… Dia ada disini, dengan kameranya. Nyonya Cho dan Nyonya Kwon benar-benar… Mereka sampai melakukan hal sejauh ini…”

.

Lalu Kyuhyun melepaskan pelukannya. Ia pun menatapku yang masih pada keadaan terkejutku. “Ada apa, Kwon Jiah? Jantungmu kembali berdebar? Lihatlah… Kau masih menyukaiku…”

.

“Mwoya… Kau berbohong padaku?” tanyaku curiga.

.

“Kenapa aku harus berbohong padamu? Tidak penting melakukan itu. Hhh… Kwon Jiah… Pada akhirnya kau tidak berhasil melupakanku, bukan? Ini semakin menarik… Kau tidak bisa berbohong. Semoga beruntung…”

.

Kyuhyun mengacak rambutku sambil tersenyum. Jenis senyum yang berbeda. Mwoya… Sebenarnya berapa banyak senyum yang ia punya? Kenapa setiap saat sangat berbeda? Seperti topeng saja… Kyuhyun pun beranjang pergi mendahuluiku. Namun di langkahnya yang kelima, ia berbalik.

.

“Apa yang kau lakukan? Katamu eomeoni menunggu kita… Ayo pergi…” kata Kyuhyun yang kembali berjalan menjauh.

.

“Michin nom…”

.

.

TBC

Advertisements

56 thoughts on “Since I (have) met you : Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s