Since I (have) Met You : Part 1

Author: Okada Kana

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast: Cho Kyuhyun, Kwon Jiah (OC)

Other Cast:

Jung Soo Jung, Kwon Yuri, Choi Siwon, Lee Donghae, Jo Kwon (cameo), Dasom (cameo), Kim Ryeowook (cameo)

 

Disclaimer:

FF ini berasal dari kepalaku. Ide cerita yang muncul berasal dari beberapa drama yang sudah aku tonton. Tapi cerita dalam FF ini tidak menggunakan ataupun mengikuti cerita drama yang sudah ada. Seperti biasanya, mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Karena seperti yang aku katakan, ini adalah kisah cinta sederhana yang bisa dialami siapa saja. Aku juga berusaha sebisa mungkin untuk menghindari typo. Tapi, aku juga manusia biasa yang bisa membuat kesalahan, jadi mohon dimaklumi. No bash, smart comments and critics always accepted. Selamat membaca…

.

.

 

 

.

.

-Since I (have) met you Part 1-

.

.

 

 

.

.

Jiah’s POV

.

Hari berkejaran, musim berganti, tidak terasa sudah 5 tahun aku tidak menginjakkan kaki di tanah kelahiranku ini. Aku kembali. Kota Seoul yang sempat ku tinggalkan kini kembali ku rasakan hembusan anginnya, aroma khas setiap tempatnya, dan perasaan menenangkan di setiap aku menghela napas.

.

Namaku Kwon Jiah. Usiaku 24 tahun. Selama 5 tahun aku pindah ke New York untuk meneruskan sekolah dan kuliah ku disana. Setelah berhasil menyelesaikan kuliahku disalah satu institute seni disana, akhirnya aku kembali ke rumah. Aku adalah anak dari Kwon Dae Won, salah satu pengusaha yang ku dengar cukup terkemuka. Maafkan aku tentang hal ini. Aku terbiasa dibesarkan dalam keluarga yang tidak terlalu mempedulikan hal-hal seperti itu. Ibuku bernama Song Na Young, seorang seniman yang lebih suka disebut tukang gambar. Ah… Aku memiliki dua seorang kakak yang bernama Kwon Yuri. Dia cantik, ramah, bertubuh ideal, dan seorang penari yang berbakat. Yuri eonni sudah menikah dengan seorang laki-laki bernama Choi Siwon. Keduanya sudah dikaruniai seorang anak laki-laki berusia 5 tahun bernama Choi Yuwon.

.

Aku katakan satu hal yang jujur dari dalam hati dan pikiranku, tidak mudah hidup dalam keluarga seperti ini. Semua orang memiliki kesibukannya masing-masing. Terutama setelah kakakku menikah dan memiliki seorang anak. Perlu waktu yang lama untuk menyocokkan jadwal masing-masing untuk berlibur bersama, atau sekedar berkumpul di akhir pekan. Seperti yang kami lakukan hari ini. Tepat dihari ketiga keberadaanku (kembali) dirumah. Kami, Kwon bersaudara dan Siwon oppa, akhirnya dapat duduk bersantai bersama di ruang tengah keluarga kami.

.

“Kwon Jiah, kau yakin kau sudah tidak mengalami jet lag? Kepalamu baik-baik saja?” tanya Siwon oppa.

.

“Tidak, oppa. Kepalaku baik-baik saja. Kenapa oppa bertanya seperti itu?” tanyaku bingung.

.

“Tidak… Hanya saja perkataanmu sedikit tidak masuk di akalku. Kau pergi ke New York untuk belajar seni, lalu kembali dan mengatakan ingin belajar management? Kenapa kau tidak melanjutkan master mu saja?” tanya Siwon oppa.

.

“Yeobo, lebarkan sedikit pikiranmu…” Yuri eonni menyambung. “Jika Jiah memiliki kemampuan dibidang management, suatu hari nanti Jiah bisa membuat sebuah perusahaan yang menaungi seniman, musisi, bahkan para actor. Bukankah otak cerdas adikku ini akan jauh lebih berguna jika seperti itu?”

.

“Benar yang dikatakan Yuri eonni, oppa. Dirumah ini aku memiliki seorang eomma yang merupakan seorang pelukis, lalu oppa yang sangat berbakat dibidang bisnis, ada pula eonni yang merupakan seorang penari handal. Bukankah keluarga ini sudah menjadi paket lengkap? Aku hanya perlu mempelajari lebih dalam mengenai managemen yang bisa aku terapkan dalam perusahaan itu, bukan?” jawabku pada Siwon oppa.

.

“Kau tidak salah. Tapi, tidakkah kau pikir akan lebih bagus jika kau memperdalam kemampuan yang kau miliki?” tanya Siwon lagi.

.

“Aku tahu, oppa. Aku juga masih memikirkannya. Hanya saja… Aku benar-benar ingin belajar…” jawabku.

.

“Pikirkan saja lagi keinginanmu agar lebih matang, Jiah-ya…” kata Yuri eonni.

.

Tiba-tiba eomma masuk dengan seorang pengurus rumah tangga bernama bibi Han yang sudah bekerja dengan keluarga kami selama hampir 30 tahun. Eomma bicara cepat sekali padanya, seolah sedang memberikan instruksi yang juga harus dengan cepat dilakukan. Bahkan bibi Han kali ini harus mencatat instruksi yang diberikan oleh eomma pada sebuah buku catatan agar tidak ada satupun yang tertinggal. Kami menatap kesibukan eomma dengan tatapan bingung. Tidak biasanya. Keluarga ini jarang sekali terlihat sibuk di akhir pekan istirahat kami. Namun sepertinya ada sedikit pengecualian untuk hari ini.

.

“Anak-anak, bersiaplah. Ganti pakaian kalian. Kita akan kedatangan tamu hari ini”, kata eomma pada kami.

.

“Ne, eomma” jawab kami bertiga secara serentak.

.

Siwon oppa pun menggendong Yuwon dan membawanya ke kamar bersama Yuri eonni. Sementara eomma justru mengikuti ku masuk ke kamarku. Aku masuk ke ruang closet ku untuk memilih pakaian. Eomma juga ikut masuk dan membuka pintu disisi lain ruangan. Aku memilih sebuah blouse satin berwarna hitam dan celana panjang abu-abu yang tidak melekat di tubuh. Saat aku berbalik, eomma sedang bertolak pinggang dan menggeleng saat melihat pakaian pilihanku.

.

“Kita bukan akan menghadiri upacara pemakaman, Kwon Jiah. Kenakan pakaian dengan warna cerah. Ini akhir pekan, sayang”, kata eomma yang sedang mengambil pakaian pilihannya dari closet di belakang tubuhnya.

.

“Tapi eomma…… Aku juga bukan tipe gadis yang suka mengenakan one piece berwarna pink muda”, kataku keberatan dengan pakaian pilihan eomma.

.

“Baby pink, Jiah-ya…” koreksi eomma. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan malas beberapa kali. “Baiklah. Eomma mengerti. Pilih pakaian yang kau suka, tapi dengan satu syarat. One piece, atau setidaknya skirt. Apapun kecuali celana panjang. Kau mengerti?”

.

“Ne, eomma” jawabku menyerah.

.

Akupun berakhir dengan sebuah one piece loose berwarna biru muda, ah bukan, maksudku baby blue, dengan hiasan renda putih kecil dilingkaran leher. Aku sengaja membiarkan rambutku tergerai bebas saat eomma mencoba mengaturnya sedemikian rupa. Aku juga berhasil terbebas dari serbuan alat make up milik eomma yang dibawakan bibi Han ke kamarku, karena tamu yang ditunggu ternyata sudah sampai. Eomma pun terpaksa membereskan kembali alat-alat make up miliknya untuk segera bergegas keluar dari kamarku dan menemui tamu yang datang.

.

“Keluar dari kamarmu 5 menit lagi. Kau mengerti, sayang?” tanya eomma.

.

“Ne, eomma”, jawabku pada pertanyaan bernada lembut namun memaksa dari eomma.

.

Namun setelah 15 menit berlalu, aku masih berada di kamarku. Aku tidak benar-benar ingin bertemu dengan tamu yang memiliki kesan sangat istimewa itu. Saat ini aku lebih tertarik untuk merebahkan tubuhku di tempat tidur lembut yang sejak tadi sudah memanggil-manggil namaku, merayuku untuk mendekat. Ugh. Aku menyerah. Aku merebahkan tubuhku diatas tempat tidur yang tidak hanya terlihat namun juga terasa sangat nyaman ini. Sebenarnya aku masih sedikit mengalami jet lag. Kesadaran dan kewarasanku masih belum terkumpul benar. Lima hari yang lalu, diwaktu yang sama dengan saat ini, aku sedang tertidur pulas di tempat tidurku. Suasana sekitarku hening, senyap, dan tentu saja tanpa……

.

“Kwon Jiah!” seru eomma pelan saat membuka pintu kamarku. “Apa yang kau lakukan? Kami semua sudah menunggumu sejak tadi”.

.

“Kami semua?” tanyaku mengulangi ucapan eomma.

.

“Ayo, kita keluar”, kata eomma sambil menarik tubuhku bangun.

.

Tanpa menjawab pertanyaanku, eomma menyeretku (tidak dalam arti sebenarnya) keluar dari kamar. Sesekali eomma menoleh padaku yang berjalan malas dibelakangnya, untuk memastikan penampilanku. Beruntung rambutku memiliki cukup pengertian pada pemiliknya. Tidak ada satupun bagian di kepalaku yang terlihat aneh bahkan setelah aksi berbaring-hampir-tertidur-pulas-jika-eomma-tidak-masuk-tiba-tiba yang aku lakukan beberapa saat yang lalu. Eomma pun sontak melepaskan tanganku saat kami sudah berjalan mendekati ruang tamu. Kini aku bisa melambatkan langkahku. Aku sedikit menundukkan kepalaku untuk menghindari tatapan langsung dengan para tamu itu. Langkahku terhenti saat mataku menangkap kaki eomma yang juga berhenti tidak jauh dariku.

.

“Ja, perkenalkan……” kata eomma sambil bergerak satu langkah ke kanan, “Kwon Jiah. Anak bungsu kami” sambung eomma memperkenalkan diriku ke para tamu yang datang.

.

“Dia sangat cantik, Na Young-ah”, kata sebuah suara lembut yang tidak ku kenal pada eomma.

.

“Dia menyerupai kedua orang tuanya, sangat adil membagi feature masing-masing di dirinya”, kata sebuah suara lain yang terdengar berat dan bernada bijaksana.

.

“Tetap cantik seperti yang ku ingat…” kata suara berat lain yang entah mengapa sangat familiar ditelingaku.

.

Mataku sontak terbelalak saat sebuah saraf di otakku menemukan siapa yang pemilik suara itu dalam ingatanku. Seseorang yang ku hindari. Seseorang yang tidak ingin ku temui. Seseorang yang bahkan namanya sekalipun tidak ingin ku dengar. Seseorang yang sudah mengubah sebuah rasa dihatiku. Seseorang yang bahkan setiap sel diotakku mengingatnya dengan baik. Jika keadaan otakku masih baik dan apa yang aku pikirkan benar, maka dia memang ada disini saat ini. Akupun mengangkat kepalaku, namun menoleh beberapa saat sebelum menegak. Aku menghela napasku panjang namun pelan, agar tidak diketahui siapapun. Perlahan aku menggerakkan kepalaku, menoleh pada ketiga sumber suara itu.

.

.

Deg!

.

.

Benar. Dia ada disini. Cho Kyuhyun.

.

.

.

Flashback

6 tahun yang lalu

Seoul Special Province High School

.

Jantungku berdetak tidak menentu saat menemukan sosok yang sudah selama beberapa tahun menjadi pusat perhatianku. Diam-diam terselip rasa lega dalam diriku karena akhirnya aku bisa bertemu lagi dengannya setelah libur panjang kelulusan sekolah menengah pertama satu bulan yang lalu. Cho Kyuhyun. Seorang anak laki-laki yang mengalihkan perhatianku yang selama ini hanya berputar dalam lingkaran yang sama, belajar, bermusik, melukis, menari, buku, dan film. Ini adalah tahun ketigaku menyimpan rapat segala rasa tertarik ku padanya. Aku tentu menyadari satu hal yang juga diketahui banyak orang disekitarku, dia tidak hanya mempesona dimataku, tapi dimata hampir semua gadis di sekolahku terdahulu, bahkan disekolah baruku ini.

.

Cho Kyuhyun. Aku tidak pernah bosan mendengar nama itu di telingaku. Di detik yang sama saat sarafku menangkap nama itu lalu dibawa ke otak untuk diolah, seluruh ingatan tentangnya menyeruak begitu saja memenuhi kepalaku. Cho Kyuhyun dengan tubuh tinggi menjulangnya berdiri tegap dan percaya diri. Sikap dinginnya pada setiap orang yang tidak berhubungan dekat dengannya terlihat jelas di wajah tanpa ekspresinya. Kepintaran dan kemahirannya dalam segala bidang menambah daftar kualifikasi luar biasa dalam dirinya yang menjadi daya tarik bagi siapapun yang mengenalnya. Aku harus menggaris bawahi bagian itu. Siapapun yang mengenalnya, tentu tanpa ada jaminan dia mengenal mereka juga.

.

“Kau tidak bosan menatapnya?” tanya seorang gadis yang sejak tadi menggerutu karena sinar matahari yang mengenai wajahnya.

.

Aku berdeham pelan. “Aku tidak menatapnya, Jung Soo Jung. Jangan bicara yang tidak-tidak”, jawabku.

.

“Aigoo… Siapa yang sedang kau bohongi, Kwon Jiah? Bahkan diwajahmu tertulis dengan jelas kau sedang memuja Cho Kyuhyun. Ch…”

.

“Apa? Tidak. Aku tidak seperti yang kau katakan”, kataku gugup.

.

“Benarkah? Kalau begitu tidak masalah bukan jika kita menyapa Cho Kyuhyun sebentar?” tanya Soo Jung menggodaku.

.

“Tidak! Jangan lakukan itu…” jawabku cepat.

.

“Lihatlah… Lihatlah… Wajahmu sangat panik dan berubah memerah, Kwon Jiah. Aigoo… Kau benar-benar sudah dibutakan oleh seorang Cho Kyuhyun. Aku menyerah…” keluh Soo Jung.

.

“Apakah terlihat dengan jelas?”

.

“Tentu saja, i-gijibae-ya!!! Auh… Aku menyerah Kwon Jiah… Aku menyerah…”

.

Aku tertawa kecil mendengar keluhan Soo Jung yang terus berlanjut dan ekspresi frustrasi berlebihan yang ia tujukkan padaku. Ah… Dia adalah sahabatku, Jung Soo Jung. Kami sudah berteman sejak duduk di sekolah dasar. Kami tidak secara sengaja memilih sekolah yang sama, hanya saja takdir selalu mempertemukan kami. Dan benar, aku tidak pernah bisa membohonginya.

.

“Ayo, kita masuk ke kelas. Semoga masih tersisa tempat duduk tepat di tengah kelas. Aku tidak ingin duduk terlalu depan, atau terlalu belakang”, kataku pada Soo Jung.

.

“Aku juga. Ayo, Jiah-ya…” ajak Soo Jung.

.

Benar saja. Saat kami tiba di pintu belakang kelas, kami menemukan hanya ada 3 kursi yang kosong. Satu kursi di baris ketiga line kedua dari pojok, satu kursi tepat di depannya, dan satu kursi ada di baris paling depan line kedua dari pintu. Kursi kosong di baris paling depan bukan satu-satunya berita buruk saat ini. Karena kursi di baris ketiga yang kosong itu sudah dihuni oleh satu orang. Cho Kyuhyun.

.

“Mwoya…… Pengaturan tempat duduk? Laki-laki dan perempuan? Auh… Sekolah ini terkadang membuatku benar-benar frustrasi”, keluh Soo Jung.

.

“Hanya ada tiga kursi kosong yang tersisa. Bagaimana ini?” tanya ku cemas.

.

“Apa yang bagaimana? Aku kursi kedua”, kata Soo Jung cepat menetapkan teritori nya.

.

“Apa maksudmu? Tidak bisa. Itu tidak adil bagiku. Kita harus mengundi nya”, sambungku.

.

“Kwon Jiah, kau tega padaku? Kita sama-sama tidak menginginkan kursi paling depan. Kau juga tahu benar aku sangat tidak menyukai Cho Kyuhyun. Aku tidak akan tahan duduk sebangku dengannya. Paling tidak kau tertarik padanya, bukan? Aku pilih kursi kedua”, kata Soo Jung.

.

“Lalu bagaimana denganku? Aku tidak mau duduk dengan Cho Kyuhyun. Akan jadi sangat canggung jika kau harus duduk dengannya sepanjang hari”.

.

“Kau bisa duduk di depan jika kau mau. Lihatlah, teman SMP kita si kutu buku Jo Kwon ada disana. Dia sudah menunggumu”, kata Soo Jung sambil tersenyum dan berlalu menuju kursi yang sudah diincarnya.

.

Aku hanya bisa menghela napasku menghadapi sahabatku itu. Benar. Soo Jung sangat tidak menyukai Cho Kyuhyun. Aku tidak mengetahui alasan pasti dibalik ketidaksukaannya itu. Tapi Soo Jung pernah mengatakannya, bahwa ia tidak menyukai sikap yang ditunjukkan Cho Kyuhyun pada orang lain. Aku bisa memahami itu. Selain memiliki banyak pengagum, Cho Kyuhun juga terkenal memiliki banyak anti di sekolah. Tentu saja karena sikap dingin yang terkesan angkuh bagi orang lain. Baik. Aku akan berusaha. Cho Kyuhyun seperti nya bukan orang yang sulit untuk dihadapi. Paling tidak dia orang yang tenang dan tidak banyak berbicara. Aku tidak perlu menghadapi nya. Aku rasa duduk bersama Jo Kwon akan lebih buruk, terutama dengan ambisi nya yang menggebu untuk mengejar peringkat Kyuhyun. Tidak. Terima kasih. Aku tidak berminat duduk dengan si kutu buku itu. Cho Kyuhyun lebih baik.

.

Akupun berjalan perlahan menuju kursi menegangkan itu. Entah kenapa kakiku terasa sangat berat untuk ku langkahkan. Melihat Cho Kyuhyun yang duduk dengan tenang disana sambil membaca sebuah buku membuatku kembali menghela napas panjang. Ini akan jadi hari yang panjang.

.

“Maaf, apa kursi ini kosong?” tanyaku pada Kyuhyun.

.

“Seperti yang terlihat”, jawab Kyuhyun dingin masih dengan tatapannya yang terpaku pada buku ditangannya.

.

Hhh… Awal yang kurang baik. Aku bisa gila.

.

“Kau tidak duduk?” tanya Kyuhyun, kali ini menoleh padaku.

.

“Eo…” jawabku gugup.

.

Aku pun duduk dibangku menegangkan itu. Sontak aku merasakan seluruh mata para gadis (kecuali Soo Jung) dikelas ini mengarah padaku. Ada apa dengan mereka? Apa mereka sudah terpesona oleh Cho Kyuhyun juga? Dihari pertama sekolah? Ah… Apa sebaiknya aku duduk dengan Jo Kwon saja?, pikirku. Awalnya sudah kurang baik seperti ini. Sikap dingin Kyuhyun, sikap menakutkan para gadis bahkan di hari pertama kami di SMA. Tiba-tiba aku mendapatkan firasat buruk hari-hari di tahun pertamaku akan menakutkan. Aku mungkin akan baik-baik saja dengan sikap Kyuhyun, tapi para gadis ini sepertinya sulit dihadapi. Hanya duduk disebelah Kyuhyun saja mereka sudah menatapku seperti ini. Apa reaksi mereka jika melihat aku bicara dengan Kyuhyun? Kau benar-benar mencari masalah, Kwon Jiah.

.

“Aku Jiah. Kwon Ji Ah”, kataku pada Kyuhyun.

.

“Aku tahu. Ada di name tag mu”, kata Kyuhyun singkat tanpa menatapku.

.

“Kita berasal dari SMP yang sama”, kataku mencoba lagi.

.

“Ah… rupanya kau gadis yang memberikan surat itu”, kata Kyuhyun dengan volume suara normalnya, yang terdengar oleh seisi kelas.

.

Sontak aku menoleh padanya dengan mata terbelalak. Hal itu sudah terjadi kira-kira tiga tahun yang lalu. Tapi dia masih mengingatnya. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Disatu sisi aku merasa senang karena dia ingat padaku. Namun disisi lain entah kenapa aku merasa aneh saat mendengar nada bicaranya yang memberikan kesan terganggu. Selain itu, hawa dikelas ini berubah memanas. Mata para gadis yang tidak henti menatapku menajam seolah menembakan sinar laser panas padaku. Auh… ini mulai terasa berat.

.

“Itu terjadi tiga tahun yang lalu. Bagaimana kau…..”

.

“Masih ingat?” tanya Kyuhyun memotong ucapanku. “Aku bahkan masih mengingat isi dari surat itu. Kau ingin aku ingatkan? Sepertinya kau sendiri lupa pada surat yang kau tulis”.

.

“Tidak. Tidak perlu”, jawabku cepat sambil menunduk.

.

“Baik. Jika itu mau mu”, sambung Kyuhyun. “Ah… Jika kau tidak nyaman dengan keadaan ini, bertahanlah… dan bersabar…”

.

Apa? Apakah dia menyadari situasi di kelas ini? Dia mengatakan itu karena mengkhawatirkanku?

.

“Duduk bersama orang yang disukai sepertinya tidak mudah. Semester depan mungkin akan berubah. Karena urutan peringkat akan mulai diterapkan. Kau bisa mengumpulkan moment perasaan gugup dan senangmu itu selama enam bulan kedepan. Hhh…”, sambung Kyuhyun.

.

Aku yang bodoh dalam hal ini. Bisa-bisanya aku mengira seorang Cho Kyuhyun mengkhawatirkanku. Orang itu bahkan tidak pernah mempedulikan orang lain selain dirinya. Kenapa aku bisa menyukai orang seperti ini? Apa aku sudah gila? Benar-benar mengecewakan. Selama tiga tahun aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Aku bahkan tidak berani mendekatkan dalam jangkauannya. Aku hanya bisa melihat mata buta ku ingin lihat. Ternyata inilah sikapnya yang sebenarnya. Tapi… Kenapa aku tidak merasa sedih dengan sikapnya padaku? Argh… Aku rasa aku benar-benar sudah gila karenanya. Tapi……

.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

.

“Apa? Ah… Aku bilang semester depan sistem urutan peringkat untuk posisi duduk akan diterapkan. Kau mungkin tidak akan duduk bersamaku lagi. Atau mungkin tidak akan berada dikelas yang sama”, kata Kyuhyun datar.

.

Mwoya… Ada maksud yang tersembunyi dibalik perkataannya. Dia bilang mungkin kami tidak akan duduk bersama, bahkan mungkin kelas kami berbeda. Jadi, maksudnya adalah…… Mwo??? Dia menganggap aku bodoh? Dia pikir otakku tidak memiliki kemampuan akademis yang baik karena aku pernah memberikan surat padanya? Ch… Sifatnya benar-benar buruk. Bagaimana bisa dia meremehkan orang lain semudah itu? Tunggu dan lihat, Cho Kyuhyun. Aku akan……

.

.

Drrrttt drrrtttt…

.

.

Sebuah pesan masuk ke ponselku. Aku mengambil ponselku dari dalam saku seragamku. Terlihat nama Soo Jung di layar. Kenapa Soo Jung mengirimkan pesan padaku? Bukankah dia bisa mengatakannya langsung saja padaku? Terkadang sahabatku ini memiliki sifat dan sikap yang unik dibalik wajah cantik dan penampilan luar biasanya.

.

.

.

From: S.J Jung

Kau akan apa? Membuktikan padanya?

Kau bahkan tidak bisa marah dan mengatakannya

Jangan hanya bicara dalam kepalamu

Sesekali katakan pada bocah itu!

.

.

.

Omo! Inilah yang aku maksudkan. Seolah bisa membaca isi pikiranku, Soo Jung mengutarakan tanggapannya melalui pesan singkat padaku. Aku koreksi. Sahabatku, Jung Soo Jung memiliki wajah cantik, penampilan luar biasa, sifat dan sikap yang unik dan…… terkadang menakutkan hingga membuatku merinding.

.

.

Keesokkan harinya…

.

Argh!!! Aku benar-benar bisa gila dengan semua ini.

.

Benar saja. Jarum jam baru menunjukkan pukul 6.30 tapi tempat dudukku sudah dipenuhi dengan banyak hadiah, berkotak-kotak kue, surat, bunga…… Apa itu? TIKET KONSER?!?!?! Daebak… Sangat jauh berbeda dari barang-barang yang pernah aku lihat di meja Kyuhyun saat berada di SMP. Semua ini sudah melewati batas ekspektasiku. Sepertinya banyak siswa di sekolah ini yang memiliki kondisi financial yang baik. Ch… Bahkan itu adalah uang orang tua mereka, komentarku sinis. Tapi, jika ingatan masih bekerja dengan benar, Cho Kyuhyun tidak pernah peduli dengan semua ini. Bahkan jika barang-barang yang ada di mejanya adalah barang yang ia sukai sekalipun. Barang-barang ini akan berakhir di tempat sampah. Padahal beberapa kue itu terlihat sangat mengundang selera. Tunggu sebentar……

.

“Aigoo… Bodohnya aku… Tentu hal ini akan terjadi. Ada apa dengan semua gadis ini? Auh… Menjengkelkan…” keluh Soo Jung saat tiba di kelas dan melihat kondisi tempat duduknya yang juga menjadi korban.

.

“Soo Jung-ah…”

.

“Apa?” tanya Soo Jung menoleh padaku. “Ada apa dengan wajahmu? Kau masih saja terkejut melihat hal ini? Hhh… Aku tidak mengerti dengan para gadis ini. Untuk apa mereka menghabiskan uang mereka untuk membelikan barang yang mungkin akan berakhir di tempat sampah ini? Benar… Tentu saja… Ini adalah kali pertama hal ini terjadi. Mereka akan mengetahui nya setelah hari ini. Ckckck…”

.

“Soo Jung-ah……”

.

“Ah mwo??? Jangan hanya memanggil namaku, katakan sesuatu. Sampai berapa kali kau akan mengatakan Soo Jung-ah Soo Jung-ah???” tanya Soo Jung.

.

“Seperti yang kau katakan…… Semua ini akan berakhir di tempat sampah, bukan?” tanyaku.

.

“Eo… Kau mengetahui nya dengan baik tentang hal itu”, jawab Soo Jung.

.

“Tapi……” aku ragu dengan kata yang ingin ku ucapkan.

.

“Kwon Jiah…” kata Soo Jung sambil menunjukkan wajah terkejutnya padaku.

.

Suratku. Cho Kyuhyun tidak membuang suratku. Dia bahkan tidak hanya melihatnya, tapi juga membacanya. Dia mengatakannya dengan jelas kemarin jika dia membacanya dan mengingat isi surat itu dengan baik. Tapi kenapa? Kenapa dia tidak membuangnya seperti surat-surat yang lain? Apakah saat itu hanya ada satu surat yang ia terima karena pernyataan cinta yang lainnya berupa hadiah? Dia menyukaiku? Tidak. Tidak. Jangan bermimpi Kwon Jiah. Kau sudah lupa dengan sikapnya kemarin? Tidak mungkin. Tapi… Dia membiarkanku duduk disebelahnya. Ah tidak… tidak… Tentu dia akan membiarkanku duduk dengannya, karena begitulah peraturan disini. Jika tidak denganku, dia juga akan berakhir dengan duduk bersama gadis lain. Aku mulai tidak bingung dengan sikap laki-laki itu.

.

Tiba-tiba aku mendengar helaan napas panjang dan berat tidak jauh dibelakang kami. Aku menoleh dan menemukan Cho Kyuhyun menatap kesal pada semua barang yang memenuhi tempat duduknya. Kyuhyun mengambil sebuah kardus kosong bekas di sudut depan kelas dan berjalan mendekat ke tempat duduknya lalu menatap barang-barang itu secara menyeluruh. Ia memulai inspeksinya. Tanpa melihat siapa pengirim hadiah-hadiah itu, Kyuhyun memasukkan kotak demi kotak ke kardus besar yang dibawanya. Lalu diikuti dengan berlembar-lembar surat dengan warna amplop yang serupa, merah muda. Kyuhyun melihat sasaran tangannya yang berikutnya. Oh tidak… Itu kue.

.

“Kau akan membuangnya juga?” tanyaku cepat.

.

Kyuhyun menoleh padaku dengan tatapan tajam dinginnya, membuat nyaliku tiba-tiba terbang entah kemana. “Kenapa?” tanya Kyuhyun.

.

“Tidak. Hanya saja…… itu kue”, jawabku.

.

“Aku tahu”, katanya singkat.

.

“Kau akan membuang makanan? Bukankah itu perbuatan yang tidak baik? Diluar sana banyak orang yang bahkan ti……”

.

“Ambilah jika kau menginginkannya. Tidak perlu bicara panjang lebar seperti itu”, kata Kyuhyun lagi dengan nada bicaranya yang naik.

.

“Bukan seperti itu… Hanya saja…… Eo! Kau juga akan membuang bunga-bunga itu?” tanyaku saat tangannya beralih pada beberapa bucket bunga.

.

“Apa lagi? Kau juga menginginkannya?” tanya Kyuhyun dengan nada kesal.

.

“Tidak. Hanya saja bunga-bunga itu terlalu cantik untuk dibuang begitu saja”, kataku pelan.

.

“Karena itulah aku katakan padamu, ambilah! Aku tidak butuh barang-barang ini”.

.

“Kenapa kau bersikap begitu? Mereka mengorbankan uang dan waktu mereka untuk memberikan mu barang-barang ini. Tidak bisakah kau sekedar menghargai usaha mereka? Lihatlah betapa beruntungnya kau mendapatkan semua ini…”

.

“Kau cemburu?” tanya Kyuhyun.

.

“Kenapa aku harus cemburu?” aku balik bertanya padanya.

.

“Lalu apa? Ah… Kau ingin aku menerima pemberian darimu? Begitu? Dimana? Tunjukkan padaku apa yang kau berikan kali ini”, kata Kyuhyun.

.

“Aku tidak memberikan apapun! Kenapa aku harus melakukan hal merepotkan itu?”

.

“Karena kau juga sangat menyukai ku. Benar bukan? Kau mengatakan itu karena pemberianmu ada diantara barang-barang ini? Tunjukkan padaku!”

.

“Aku sudah mengatakannya, aku tidak memberikan apapun! Aku hanya tidak suka kau melakukan hal yang bisa menyakiti hati orang lain seperti ini. Mereka melakukan ini untukmu. Karena mereka menyukaimu. Kenapa kau membalas mereka dengan sikap seperti ini?”

.

“Lalu aku harus menerimanya? Semua? Kau gila? Kenapa aku harus melakukan hal merepotkan itu?” tanya Kyuhyun mengulangi pertanyaanku. “Aku tidak meminta mereka melakukannya untukku. Dan semua ini membuatku muak, kau tahu?”.

.

“Hhh… Kau sungguh laki-laki berhati batu, Cho Kyuhyun”, aku melontarkan keluhan pertamaku padanya.

.

“Benarkah? Lalu kenapa kau menyukai laki-laki berhati batu ini, Kwon Jiah?” tanya Kyuhyun.

.

“Apa? Aku…… Aku… Aku tidak……”

.

“Ch… Kau bahkan tidak bisa menjawabnya… Ambil barang yang tidak ingin kau lihat berada di tempat sampah dan jangan mengacau lagi. Menjengkelkan…”, kata Kyuhyun yang segera berlalu membawa kardus ditangannya keluar kelas.

.

Kyuhyun benar-benar membuang semua hadiah yang ada di tempat duduknya, namun menyisakan beberapa kotak kue dan bucket bunga tetap pada tempatnya. Tanpa mempedulikan suasana kelas yang hampir sehening gedung sekolah dimalam hari, Soo Jung pun memilih sebuah kue dan membagikan sisanya ke seluruh siswa dikelas. Beberapa gadis juga meminta beberapa bucket bunga itu padanya. Soo Jung menoleh padaku, melihat sikapku yang masih terdiam menatap tempat dudukku yang kini sudah kembali ke keadaannya semula. Soo Jung duduk ke kursinya, seolah mengerti aku membutuhkan waktuku sendiri untuk mengolah segala kebingunganku ini. Apa itu tadi? Ada apa dengan semua sikapnya tadi? Dan… Dia menyebut namaku?

.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Kyuhyun yang ternyata sudah kembali ke kelas.

.

“Eo?” tanyaku yang terkejut dengan kedatangan tiba-tibanya.

.

“Kau tidak ingin duduk?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Eo… Aku ingin duduk”, jawabku pelan sambil bergegas duduk di tempatku.

.

Aku bisa merasakan Kyuhyun yang menoleh sekilas padaku, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke tas yang sedang dibukanya. Jika penglihatanku masih terbilang baik, ekor mataku menangkap sebuah senyum yang terbentuk di sudut bibirnya. Bukan senyuman yang menenangkan dan membuat setiap hati yang melihatnya merasa senang, tapi senyum yang membuatmu merasakan getaran aneh disekujur tubuhmu. Dia mulai membuatku takut.

.

.

.

Enam bulan kemudian…

.

Waktu benar-benar sangat cepat berlalu. Satu semester berganti dengan mudahnya, meninggalkan hari-hari penyesuaian yang berat jauh dibelakang. Bagaimana dengan keadaanku duduk bersama Cho Kyuhyun selama satu semester lalu? Tidak banyak yang berubah. Cho Kyuhyun masih bertahan dengan sikap dinginnya, sementara aku masih dibingungkan dengan perasaanku yang tidak menentu jika berada disekitarnya. Dia membuatku takut, marah, kesal, bahkan hampir membencinya. Namun dia juga selalu berhasil membuatku lemah dengan sikap baik yang tiba-tiba bisa ia tunjukkan. Seperti yang terjadi beberapa minggu setelah hari kedua ku di sekolah. Saat itu aku sudah mulai menyerah untuk datang lebih pagi, akhirnya aku memilih datang mendekati bel masuk sekolah. Aku tiba di ambang pintu dan berpapasan dengan Kyuhyun yang sedang mengangkat sebuah kursi. Saat ia akan berjalan keluar, ia mengatakan ‘Aku akan segera kembali’. Aku tidak mengerti dengan yang ia katakan. Sampai saat aku masuk ke kelas, aku baru menyadari bahwa kursi yang sedang diangkat Kyuhyun adalah kursiku. Seorang gadis dari luar kelas kami dengan sengaja mengoleskan selai kacang di seluruh kursiku. Saat jam istirahat aku mendengar bahwa pagi itu Kyuhyun membawa ke kursi ku ke gadis yang melakukan perbuatan itu tanpa mengatakan apapun dan berlalu mengambil sebuah kursi baru di gudang. Aku masih tidak mengerti dengan sikapnya.

.

Dan hari ini, menandakan berakhirnya liburan semester kami secara resmi. Kami harus kembali ke sekolah. Itu berarti aku harus kembali bertemu dengan Cho Kyuhyun. Atau tidak. Seperti yang Kyuhyun katakan, akan ada sistem pengaturan letak kelas sesuai dengan peringkat yang didapatkan dari ujian akhir semester. Kyuhyun cukup yakin aku akan duduk di tempat yang jauh darinya, atau bahkan di kelas yang lain darinya. Tapi aku memiliki keyakinanku sendiri. Aku yakin kami hanya akan berjarak beberapa kursi saja. Ujian yang lalu aku kerjakan dengan cukup baik. Aku rasa jaraknya tidak akan cukup……

.

APA?!?!?! LAGI?!?!?! Arrrgghhh… bunuh saja aku!!!

.

“Mwoya Kwon Jiah… Kau peringkat pertama? Heol… Kenapa kau kembali menjadi si jenius?” tanya Soo Jung saat melihat papan pengumuman.

.

“Soo Jung-ah… Kenapa aku?” tanyaku.

.

“Apa maksudmu? Ya!!! Kenapa kau menunjukkan wajah itu padaku? Kau mau menggodaku? Seharusnya kau menunjukkan wajah senang karena kau berada di peringkat pertama di seluruh kelas sepuluh mengalahk…… Ah benar… Hahahahaha kau beruntung Kwon Jiah! Hahahaha sangaaat beruntung… Aku bahagia untukmu sahabatku… Nikmatilah kebersamaanmu sekali lagi dengan Cho Kyuhyun. Hahahahahaha aku mendapatkan peringkat 8, tapi kenapa aku sesenang ini? Hahahahahaha kau bernasib buruk, Kwon Jiah”, goda Soo Jung yang tidak henti tertawa mengetahui kenyataan yang sedang ku ratapi ini.

.

“Mwoya? Kwon Jiah mendapatkan peringkat pertama? Bagaimana mungkin?” kata salah seorang siswi yang baru saja melihat pengumuman.

.

“Benarkah? Dia mengalahkan Cho Kyuhyun? Bagaimana bisa?” tanggap seorang yang lain.

.

“Heol… Skornya 678? Hanya berbeda 2 poin dengan Kyuhyun? Tidak bisa dipercaya…” sambung seorang yang lain.

.

Wajah Soo Jung berubah dengan cepat saat mendengarkan percakapan siswa-siswi yang tidak jauh dari tempat kami berdiri itu. Soo Jung menatap mereka seolah ingin menghampiri mereka dan memberikan pukulan kerasnya pada mereka. Namun aku menahan tangannya dan menggelengkan kepalaku padanya. Aku tidak peduli dengan komentar-komentar seperti itu. Tidak ada satupun yang merugikanku ataupun menyakiti hatiku. Tidak akan ada gunanya jika kami menegur mereka.

.

“Hhh… Apakah dia bahkan mengerjakan ujian itu sendiri?” kata salah seorang dari kerumunan itu.

.

“Benar. Adakah jaminan Cho Kyuhyun tidak membantunya?” kata seorang yang lain.

.

“Kau gila? Seorang Cho Kyuhyun tidak akan pernah melakukan itu seumur hidupnya. Kecuali…… Jika gadis itu yang mencontek seluruh jawaban Cho Kyuhyun”, kata seorang siswi yang ku ketahui bernama Dasom itu.

.

“Kau benar. Gadis itu pasti mencontek jawaban Kyuhyun dan menyalinnya ke lembar jawabannya. Dan 2 poin yang ia dapatkan adalah hasil keberuntungannya memilih acak dua buah soal…”

.

MWO?!?! Beraninya kalian! Kali ini aku tidak bisa mentolerir ucapan mereka. Seenaknya saja mereka mengatakan aku mencontek jawaban Cho Kyuhyun. Terlebih lagi, memilik acak jawaban pada dua buah soal?!?! Mereka gila?!?! Aku belajar siang dan malam untuk ujian itu, dan mereka dengan mudah mengatakan aku mencontek?!?! Hhh… Sehebat apapun Cho Kyuhyun, dia pasti tetap memiliki kelemahan. Dia juga manusia yang bisa melakukan kesalahan. Bahkan pada ujian akhirnya. Aku harus memberi pelajaran pada mereka!

.

“Benarkah?” tanya seorang dengan suara berat tidak jauh dari belakang mereka. Cho Kyuhyun. “Aku baru mengetahui kehebatannya”. Mwoya… Apalagi kali ini? Dia juga ingin mencemoohku seperti mereka? Dasar Cho Kyuhyun kau…… “Hebat sekali dia mencontek padaku dari jarak yang jauh. Ah… Bahkan kelas kami berbeda. Bagaimana caranya? Telepati? Dia punya indera keenam?” kata Kyuhyun menanggapi komentar para siswa yang berkerumun disana dengan caranya.

.

Benar. Kami bahkan melakukan ujian di kelas yang berbeda. Kenapa aku tidak mengingat hal itu? Kyuhyun pun mendekat menuju papan pengumuman untuk memeriksa kertas yang tertuliskan daftar peringkat 50 teratas. Lagi. Dia menarik otot pipi nya, membentuk senyuman tipis dengan sudut bibirnya. Senyum menakutkan itu lagi. Kali ini senyuman itu hanya bertahan selama beberapa detik. Karena di detik selanjutnya, wajahnya kembali menunjukkan ekspresi dingin khasnya.

.

“Menarik…” katanya lagi berkomentar, membuat semua gadis yang berada disana sontak menoleh padanya.

.

Kyuhyun tidak sedikitpun mempedulikan tatapan mereka dan berjalan menjauhi kerumunan itu. Ia berlalu begitu saja tanpa mengatakan apapun. Aku menoleh padanya, menatap punggungnya yang menjauh hingga tidak terlihat di balik pilar. Aku mendengar decak kesal gadis-gadis yang ada di kerumunan itu. Entah masih karena peringkat yang aku dapatkan, atau karena sikap Cho Kyuhyun yang secara tidak langsung seolah memberikan pembelaan padaku.

.

Rangkulan tangan Soo Jung di lenganku menyadarkanku dari lamunan singkatku. Ia menarikku untuk berjalan menuju jalan yang tadi dilewati oleh Kyuhyun. Kami berjalan menyusuri koridor menuju kelas. Tidak jarang aku mendengar komentar-komentar sinis yang .dilontarkan beberapa gadis yang berpapasan denganku sepanjang koridor. Tentu saja aku merasa kesal dengan tuduhan tidak berdasar mereka. Namun Soo Jung menggenggam tanganku kuat sambil tersenyum lebar, seolah memintaku untuk tidak mendengarkan mereka. Akupun hanya bisa menghela napas panjang dan terus berjalan. Sesampainya dikelas, aku hanya menemukan 10 orang disana, termasuk Kyuhyun yang sudah duduk di kursinya.

.

“Annyeong!” sapa seorang siswa laki-laki saat aku tiba di ambang pintu.

.

“Eo… Annyeong!” balasku.

.

“Kau pasti Kwon Jiah. Aku Lee Donghae. Semester lalu aku berada di kelas B”, katanya.

.

“Senang bertemu denganmu, Lee Donghae”, kataku.

.

“Senang bertemu denganmu juga. Ah… Selamat atas peringkatmu. Kau hebat”.

.

“Terima kasih”.

.

“Anyway, aku berada di peringkat 17. Cukup jauh dari tempat dudukmu. Tapi sepertinya aku masih bisa melihatmu dari tempatku”, kata Donghae yang dilanjutkan dengan senyum lebarnya.

.

Tanpa sadar senyum itu menular padaku. Aku tertawa kecil mendengar ucapannya barusan. “Senang mendengar hal itu…” kataku menanggapinya. “Ah… Ini sahabatku, Jung Soo Jung. Kau akan lebih mudah melihatnya. Dia peringkat 8”.

.

“Eo… Kau benar. Senang bertemu denganmu juga, Jung Soo Jung. Aku Lee Donghae”, sapa Donghae dengan sopan.

.

“Begitupun denganku, Lee Donghae”, balas Soo Jung tidak kalah sopannya.

.

“Aku ingin ke kantin. Kalian mau ikut?” tanya Donghae.

.

“Tidak. Aku sudah makan…” jawabku.

.

“Bagaimana denganmu, Soo Jung-ah?” tanya Donghae.

.

“Bisakah aku menitip sebuah makanan saja?” tanya Soo Jung yang dijawab dengan anggukkan mantap dari Donghae. “Aku ingin sebuah sandwich dengan daging asap, susu banana, dan susu…… kau ingin strawberry atau cokelat, Jiah-ah?”

.

“Hmm? Ah… Cokelat saja”, jawabku terkejut.

.

“Baiklah. Aku akan segera kembali”, kata Donghae yang bergegas keluar dari kelas.

.

“Kenapa kau terdengar begitu terkejut?” tanya Soo Jung pelan.

.

“Tidak apa-apa. Hanya……”

.

Aku menggelengkan kepala ku pada Soo Jung lalu berjalan menuju tempat duduk ku yang berada di pojok kelas. Beberapa saat yang lalu tubuhku seolah terkunci saat tatapan mataku dan Kyuhyun bertemu. Tatapan mata itu sangat tajam. Bahkan lebih tajam dari tatapannya di hari kami meributkan barang-barang di atas mejanya. Kali ini tatapan itu seolah menunjukkan amarah yang muncul dari dirinya. Apakah itu yang sebenarnya ia rasakan? Dia marah karena aku mendapatkan peringkat pertama? Bahkan dengan usaha ku sendiri? Tidak bisa dipercaya. Inikah sebenarnya kepribadian seorang Cho Kyuhyun?

.

“Permisi. Aku ingin duduk”, kataku saat tiba di tempat duduk kami.

.

Kyuhyun hanya menoleh dengan sudut lima derajat saja lalu bangkit berdiri dan menggeser tubuhnya untuk membiarkanku masuk ke tempat dudukku. Aku duduk dengan canggung disana saat Kyuhyun kembali ke tempatnya. Awalnya aku pikir ini hanya perasaan berlebihanku saja. Aku merasa seolah aksesku kemanapun tertutup. Aku terperangkap disini dengan Kyuhyun sebagai penjaganya. Hanya tinggal menunggu sesak dalam diriku karena semua perasaan anehku ini.

.

“Tampaknya kau mendapatkan seorang pengagum baru. Chukhahae…”, kata Kyuhyun dengan suara beratnya.

.

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti”, kataku.

.

“Anak kelas B itu. Sepertinya dia menyukaimu”, katanya lagi.

.

“Benarkah? Mwo… Aku tidak terlalu buruk, kau tahu?”

.

“Hhh… Sayang sekali perasaannya hanya akan bertepuk sebelah tangan”.

.

Aku menoleh padanya karena mendengar komentarnya barusan. Selama hampir 4 tahun aku mengenalnya dan 6 bulan aku duduk bersamanya, aku belum pernah mendengar Kyuhyun bicara dengan nada sesinis ini. Setiap kata yang ia ucapkan terdengar begitu tajam. Bahkan pujiannya tadi lebih terdengar seperti pernyataan perang.

.

“Aku tidak mengerti dengan yang kau katakan, Cho Kyuhyun”, kataku menanggapi.

.

“Kau menyukaiku Kwon Jiah, benar? Dan akan selalu begitu”, kata Kyuhyun.

.

“Apa? Aku…… Tidak lagi. Aku tidak lagi memiliki perasaan padamu”, kataku cepat.

.

“Benarkah? Aku tidak yakin. Bahkan dalam suratmu kau……”

.

“Cho Kyuhyun, itu sudah berlalu. Surat itu sudah tidak berarti apa-apa sekarang”, kataku memotong ucapan Kyuhyun.

.

“Aku tidak berpikir begitu. Kau masih bersikap persis seperti yang ada dalam suratmu. Aku salah?” tanya Kyuhyun yang kini sudah memutar posisi duduknya menghadapku.

.

“Kau salah!”

.

“Begitu? Lalu ada apa dengan sikap gugup dan gemetar mu ini saat berada dekat denganku. Tatapanku melumpuhkan kerja sarafmu? Suaraku seperti alunan musik di padang rumput bagimu. Setiap langkahku seolah berirama seperti sentuhan tuts-tuts piano. Lalu kau ingin berlari padaku, memanggil namaku, dan menyentuhkan tanganmu di tanganmu. Kau ingin memberanikan dirimu untuk me……”

.

“Cukup!!! Cukup kataku!!!” seruku pada Kyuhyun, yang membuat siswa yang sudah berdatangan dalam kelas ini menoleh pada kami. “Apa yang sedang kau lakukan, Cho Kyuhyun? Apa maksud dari semua hal yang kau lakukan padaku?”

.

“Aku tidak menyukaimu”, jawab Kyuhyun sambil mengatupkan rahangnya rapat.

.

“Hhh… Aku juga mengatakan hal yang sama, bukan? Aku juga tidak menyukaimu, Cho Kyuhyun! Berhenti menggangguku!”

.

“Kau yakin aku yang mengganggumu? Bukan sebaliknya? Berhenti menggangguku, Kwon Jiah. Kembalikan ketenanganku. Apa maksudmu yang sebenarnya dengan mengacaukan semua hal? Apa kau tahu bahwa kau sangat menjengkelkan? Kenapa aku harus selalu terkait denganmu? Kenapa aku harus bertemu denganmu?”

.

“Apa? Hhh… Aku tidak percaya ini. Apa hakmu mengatakan hal itu padaku, Cho Kyuhyun? Apa yang sebenarnya sudah aku lakukan padamu? Aku bahkan tidak mengusik satu detikpun dari hidupmu. Kenapa kau melakukan ini?”

.

“Aku bilang karena aku tidak menyukainya!” seru Kyuhyun. “Kau dengar? Aku tidak menyukai semua ini, Kwon Jiah. Kau. Karenamu…”

.

Tiba-tiba aku merasakan air menggenang di mataku. Tidak. Aku tidak boleh menangis. Terlebih di depan laki-laki seperti Cho Kyuhyun. Aku berusaha menahan air mata ku sekuat yang ku bisa. Namun sepertinya perasaanku terlalu lemah karena sudah tercabik oleh kata-kata yang diutarakan Kyuhyun. Air mata akhirnya menetes di pipiku. Dari pandanganku yang berbayang karena tertutup genangan air mata, aku bisa melihat mata Kyuhyun yang terbelalak selama beberapa saat sebelum kembali menunjukan tatapan marahnya. Tidak. Kali ini aku sudah yakin. Laki-laki seperti dia tidak pantas menerima perasaan cinta dari gadis manapun sebelum dia bisa mengubah sikapnya.

.

“Baik…” kataku sambil mengusap air mataku. “Jika itu yang kau inginkan, aku akan melakukannya. Kau akan puas jika sudah tidak melihatku lagi, bukan? Aku bisa melakukan apapun asal kau tidak melihatku, bukan? Baik. Aku bahkan tidak pernah berharap bertemu denganmu lagi setelah semester satu berakhir. Aku akan mengabulkan keinginan pertama dan terakhirmu. Anggap saja ini hadiah perpisahan, berakhirnya perasaanku padamu, Cho Kyuhyun…”

.

Aku berjalan menabrakkan tubuhku padanya, untuk membuka jalanku keluar dari tempat duduk itu, lalu bergegas keluar dari kelas. Aku tidak tahu harus pergi kemana. Yang aku tahu aku harus menjauh dari Kyuhyun saat itu juga. Air mataku kembali menetes di pipiku. Semakin aku melangkahkan kakiku, alirannya semakin deras. Bahkan aku tidak bisa menahan suara isakan yang mulai keluar dari bibirku. Di sepanjang koridor yang ku lewati aku bisa mendengar suara bisikan para siswi yang berpapasan denganku. Tapi mereka tidak sedang membicarakan aku yang sedang menangis. Mereka justru membicarakan pengakuan Kyuhyun yang mengatakan bahwa aku seorang pengganggu. Mereka menyalahkanku atas turunnya peringkat Kyuhyun, yang mereka anggap disebabkan oleh perbuatanku. Akupun berlari secepat yang aku bisa agar aku dapat segera keluar dari suasana yang menyesakkan dadaku itu.

.

####################

Setelah kejadian kemarin pagi, aku memutuskan untuk meminta ijin pulang ke rumah. Kekuatan dan nyali ku terlalu kecil untuk menghadapi Kyuhyun. Hari ini aku kembali ke sekolah dan masuk ke kelas yang sudah berisi hampir 80% siswa. Soo Jung belum datang, sehingga rencanaku untuk keluar dari kelas hingga bel berbunyi bersamanya harus aku batalkan. Sebenarnya aku masih memiliki satu pilihan, yaitu mengajak Donghae. Namun entah kenapa sesuatu dalam hatiku menahanku untuk melakukan itu. Tatapan tajam Kyuhyun kembali terbersit di pikiranku. Dan dia disana. Sudah duduk dengan tenang di kursinya. Ada hal aneh yang terjadi padaku. Jantungku tidak lagi berdetak cepat saat melihatnya. Secepat ini? Apakah semua hal yang ku rasakan menghilang semudah ini? Aku kembali menghela apas. Akhir-akhir ini aku sangat sering menghela napas panjang saat mengawali hariku. Cho Kyuhyun geu sae**!!! Hah… Kini aku bahkan merutuki nya di kepalaku.

.

“Mwoya… Kau mengatakan bahwa kau akan menghilang dari hadapanku, Kwon Jiah. Apa yang kau lakukan sekarang? Kenapa? Kau menyerah? Kau tidak sanggup, bukan?” tanya Kyuhyun dengan suara dingin pelannya saat aku tiba di tempat duduk kami. Ch… kami…

.

“Jangan khawatir, Cho Kyuhyun. Aku akan segera melakukannya”, jawabku tak kalah dingin dengannya.

.

“Benarkah? Apa yang akan kau lakukan?” tanya Kyuhyun yang bangkit berdiri menghadapku.

.

“Kau tidak perlu tahu. Urus saja urusanmu sendiri”, jawabku lalu bergegas masuk ke tempat dudukku, kembali menabrak tubuh tingginya.

.

Aku bersungguh-sungguh dengan apa yang aku katakan. Aku hanya perlu menunggu selama satu minggu hingga kepindahanku ke kelas lain. Kemarin, tanpa berpikir panjang aku menuju ke ruang tata usaha untuk mengubah kelasku. Aku memilih kelas internasional sebagai kelas pilihanku. Namun pihak tata usaha mengatakan aku harus memiliki 1 kelas cadangan lain untuk berjaga-jaga penolakan dari pihak kelas internasional. Akupun memilih kelas B. Kelas itu tidak terlalu buruk. Setidaknya di kelas itu tidak ada siswa yang bernama Cho Kyuhyun. Aku masih bisa menghindarinya di jam istirahat dan pulang sekolah. Tidak akan jadi masalah yang berarti bagiku. Namun sepertinya kelas internasional akan lebih menenangkan.

.

Author’s POV

.

Hari kembali bergulir dengan sangat cepat. Dua minggu sudah berlalu setelah kejadian pertengkaran Kyuhyun dan Jiah yang bahkan hingga saat ini belum diketahui benar apa penyebabnya. Dikelas 10 – A, pemandangan yang aneh terjadi. Satu kursi tampak kosong tanpa penghuni selama lebih dari satu minggu. Beberapa siswa mulai mencari pemilik kursi itu. Namun tidak ada yang pernah memberikan jawaban pasti atas pertanyaan mereka, termasuk wali kelas dan Soo Jung. Benar. Kwon Jiah tidak tampak di kelas itu selama lebih dari satu minggu. Sehari setelah pembicaraan terakhir Jiah dan Kyuhyun, Jiah menghilang begitu saja. Yang menjadi keanehan disana adalah wali kelas mereka tidak mencarinya.

.

“Ja! Perhatian!” seru Park seonsangnim didepan kelas. “Akan ada seorang siswa yang mengisi kekosongan di kelas ini. Kim Ryeowook! Masuklah!” serunya lagi pada seorang siswa yang berada diluar.

.

Siswa yang disebut bernama Kim Ryeowook itupun masuk ke kelas. Dia terlihat sangat rapi dan bersih. Sebuah kacamata yang ia kenakan menunjukkan seberapa giat ia belajar. Dari penampilannya sendiri dapat terlihat dengan jelas bahwa ia bukan berasal dari kelas regular.

.

“Mulai hari ini Kim Ryeowook akan bergabung dengan kalian. Aku sudah melihat hasil belajarnya. Karena itu, mulai dari Jung Soo Jung, kalian bergeser ke kiri. Kim Ryeowook, kau duduk bersama Soo Jung. Ayo, mulai berpindah!” jelas Park seonsaeng.

.

“Bagaimana dengan Kwon Jiah, saem?” tanya salah seorang siswi di kursi belakang.

.

“Ah… Aku belum memberitahukannya pada kalian rupanya. Kwon Jiah sudah mengurus kepindahannya ke kelas internasional. Dia sudah menjalani proses belajar selama satu minggu disana. Dari laporan terakhir yang aku terima, Jiah menerima beasiswa dan akan berangkat akhir pekan ini ke…… US? Benar, Jung Soo Jung?” tanya Park saem.

.

“Ne, saem. Anda benar”, jawab Soo Jung.

“Tapi kenapa tiba-tiba, saem?” tanya Lee Donghae.

“Jiah mengatakan dia sudah memikirkannya sejak libur semester yang lalu. Dengan pencapaian hasil belajar yang dia dapatkan, keinginannya akan sangat mudah untuk didapatkan, Lee Donghae. Jika kau ingin sepertinya, kau harus belajar lebih giat lagi…” jawab Park seonsaeng.

.

“Apakah hanya itu alasannya, saem?” tanya seorang siswa yang lain.

.

“Mwo… Hanya itu yang dikatakan Jiah. Apakah ada alasan lain yang kalian ketahui?”

.

“Mungkin saja karena Jiah tidak nyaman berada di kelas ini”, kata seorang siswi dua baris dibelakang Kyuhyun. “Karena seseorang…” sambungnya.

.

“Sayangnya Jiah tidak mengatakan itu. Ja! Sekian pemberitahuan pagi ini. Selamat belajar anak-anak!”

.

Park seonsangnim pun pergi meninggalkan kelas yang tiba-tiba gaduh. Hampir disetiap sudut mengucapkan nama Jiah dalam pembicaraan mereka. Tentu saja seisi kelas berada di pihak Jiah. Mereka semua mengetahui dengan benar apa yang sudah terjadi hari itu. Cho Kyuhyun mengibarkan bendera perangnya pada Jiah yang bahkan tidak pernah melakukan hal apapun untuk mengusik Kyuhyun. Hanya saja mereka juga belum menemukan alasan dibalik sikap Kyuhyun pada Jiah. Karena tidak ada yang pernah bisa membaca seorang Cho Kyuhyun. Dan ditengah keramaian kelas, Cho Kyuhyun justru terhanyut dalam lamunan dan kebungkamannya.

.

.

Flashback ends…

.

.
Author’s POV

.

“Lama tidak bertemu, Kwon Jiah. Bagaimana kabarmu?” kata Kyuhyun yang berjalan mendekati Jiah.

.

“Seperti yang kau lihat”, jawab Jiah.

.

“Kau tampak baik. Selamat atas kelulusanmu”.

.

“Kau juga. Terima kasih”.

.

“Lihatlah mereka, Na Young-ah. Mereka sangat serasi berdiri berdampingan seperti itu”, kata Nyonya Cho dengan nada riang khasnya.

.

“Aku tidak salah dalam memilih seorang menantu, bukan?” tanya Tuan Cho yang disambut dengan tawa kecil dari isteri serta Tuan dan Nyonya Kwon.

.

“Ne?!?!” seru Jiah dan Kyuhyun bersamaan menoleh pada orang tua mereka.

.

“Kalian berdua akan bertunangan bulan depan. Kami masih mencari tanggal yang baik di tahun depan untuk melaksanakan upacara pernikahan kalian”, sambung Nyonya Kwon.

.

“Pernikahan???” tanya Jiah dan Kyuhyun kembali secara bersamaan.

.

“Lihatah betapa serasinya mereka berdua”, kata Nyonya Cho.

.

“Bahkan kata-kata yang mereka keluarkah serupa”, sambung Nyonya Kwon.

.

“Eomma…” kata Jiah.

.

Tiba-tiba Kyuhyun berdeham pelan membuat Jiah melirik ke arah laki-laki yang sudah berdiri disebelahnya selama beberapa saat itu.

.

“Bagiku semua tanggal baik”, kata Kyuhyun.

.

Jiah sontak menoleh pada laki-laki yang berdiri tidak jauh dari sisinya itu. Tatapannya menunjukkan amarah yang muncul dalam dirinya. Jiah mengatupkan rahangnya keras lalu menghela napas panjang.

.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Jiah berbisik.

.

“Apa?” tanya Kyuhyun lalu diikuti dengan senyum tipis dibibirnya.

.

.

.

TBC

Advertisements

66 thoughts on “Since I (have) Met You : Part 1

  1. Aiiihhhhh…. aku bener2 pen botakin si kyu…

    Dia bilang apa…? APA…? A.P.A…???
    ya ampunn…
    Rasanya ad asap yg menari2 diatass kepalaaa..

    Ceritanya keren bngt thor… keekekeke

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s