The Reason(s) Why I Stay: Number 5

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast: Cho Kyuhyun, Lee Hyukjae, Shim Changmin, Choi Sooyoung, Kim Sujin (OC), Kim Sora (OC), Yeri, Wendy, Irene, Seohyun (credit name), Ok Taecyeon (cameo), Jessica Jung (cameo)

Preface:

Annyeonghaseyo. The Reason(s) Why I Stay is back. Seperti yang bisa kalian lihat pada bagian Main Cast, ff ini akan menceritakan Cho Kyuhyun dengan kisah lain. Urutan penulisan nama dalam ff ini tidak ada hubungannya dengan jalan cerita. Kalian masih harus menggunakan persepsi kalian masing-masing untuk menebak siapa pemeran utama wanita dalam ff ini. Alur yang digunakan dalam ff ini adalah alur maju mundur. Aku juga akan menyisipkan beberapa narasi pengantar cerita yang akan diambil dari sudut pandang Kyuhyun. FF ini merupakan FF dengan kisah dan alur yang tidak mengandung teka-teki berat yang memusingkan kepala. Aku hanya menggunakan kisah dengan teka-teki sederhana. Dan, tentu saja, aku selalu mengingatkan bahwa aku juga manusia biasa yang tidak sempurna, jadi jika kalian menemukan typo dimana-mana, aku mohon dimaklumi ^^

As always, jika kalian mau memberikan personal protes, comment, kasih saran, e-mail ke kadanao21@yahoo.com or find me on twitter @kadanao21

 

 

 

 

 

 

 

– The Reason(s) Why I Stay –

 

 

 

 

 

 

Juli 1998

Rumah Kim Sora

Libur musim panas akhirnya tiba. Kegiatan sekolah untuk sementara diistirahatkan. Bagi siswa senior, libur musim panas dijadikan kesempatan beristirahat sejenak sebelum mempersiapkan diri belajar untuk menghadapi ujian penerimaan mahasiswa baru di akhir tahun. Namun situasi berbeda terlihat di rumah Sora. Sooyoung dan Sujin menginap dirumahnya. Ini adalah hari kedua mereka berada disana, karena ayah dan ibu Sora sedang ke London untuk menjenguk kakak perempuan Sora yang baru saja melahirkan. Sora membatalkan keberangkatannya saat Sooyoung menelepon nya dan mengatakan ia akan menginap, karena kedua orang tua nya sedang keluar kota untuk perjalanan bisnis. Tentu saja akhirnya Sujin memutuskan untuk ikut menginap dirumah Sora untuk meramaikan suasana. Ketiganya sedang membaringkan tubuh mereka di sofa ruang keluarga rumah Sora sambil menonton film ke-3 mereka hari itu yang ditayangkan di salah satu stasiun tv nasional.

“Apakah hari ini tidak ada acara musik di televisi?” tanya Sooyoung.

“Aku rasa ada satu program baru sore ini. Program itu menggantikan Bravo New Generation. Hmm… Apa nama acara itu? Aku merasa pernah mendengarnya dari seseorang…” kata Sujin mencoba menjawab pertanyaan Sooyoung.

“Maksudmu Music Bank?” tanya Sora.

“Ah… benar. Music Bank. Program itu lebih baik dari yang sebelumnya. Sistem chart mereka sedang hits akhir-akhir ini”, kata Sujin.

“Benarkah? Siapa yang sedang merajai chart minggu ini? Masih H.O.T? Atau SechsKies?” tanya Sooyoung.

“Molla. Fanbase keduanya benar-benar kuat, cenderung menyeramkan. Kalian pernah mendengar tentang perkelahian kedua fanbase itu? Jangnan aniya….. Tapi, aku lebih suka music SechsKies”, jawab Sujin.

“Aku lebih suka H.O.T. Lagu debut mereka benar-benar menarik perhatianku. Sepupuku mengatakan mereka akan comeback musim gugur tahun ini. Ah… Aku dengar SechsKies comeback bulan ini. Kau sudah mendengar lagunya?” tanya Sooyoung lagi.

“Belum. Pikiranku sedang kacau karena ujian akhir yang semakin dekat. Aku sempat mendengar komentar beberapa fans berat Sechskies di sekolah. Mereka mengatakan album terbaru mereka sangat bagus. Hhh… Sepertinya aku harus membeli CD mereka secepatnya”, jawab Sujin.

“Aku punya satu dikamarku. Kau bisa mendengarkannya jika kau mau”, sambung Sora.

“Mwo? Kau punya? Seorang Kim Sora???” tanya Sujin tidak percaya.

“Kau bersikap seolah tidak mengenal Sora, Sujin-ah. Kau sudah mengetahuinya dengan jelas, Kim Sora mendengarkan semua lagu yang di anggap bagus baginya. Walaupun dia lebih sering menolak music H.O.T. Terakhir kali aku memeriksa CD Playernya, Sora sedang mendengarkan Shinhwa…” ujar Sooyoung.

“Benarkah??? Grup baru milik SM, Shinhwa??? Daebak… Aku pikir kau sejenis dengan Cho Kyuhyun yang bertahan dengan suara Kim Dong Ryul ditelinganya…” sahut Sujin.

“Aku mendengarkan semuanya. H.O.T dan SechsKies memiliki beberapa lagu yang sesuai dengan seleraku. Hanya saja musik Shinhwa lebih sesuai dengan telingaku. Mereka juga memiliki wajah yang menyegarkan mata. Tentu saja Kim Dong Ryul tetap favorite ku”, kata Sora dengan tawa kecil keluar dari bibirnya.

“Ahhh….. Apa yang kita lakukan ini?” kata Sujin memulai keluhannya. “Bukankah kita seharusnya berpergian keluar saat libur musim panas seperti ini? Tapi apa yang justru kita lakukan ini? Aku bahkan belum membeli CD SechsKies-ku…”

“Sejujurnya aku lebih suka seperti ini. Tidak ada uang yang harus dikeluarkan, tidak ada pula keringat yang membasahi tubuh karena panasnya udara diluar sana”, kata Sora menuturkan pendapatnya.

“Aku setuju dengan Sora. Kita bisa menyalakan AC atau kipas angin didalam rumah. Jika diluar kita hanya bisa mengandalkan angin yang tidak muncul setiap saat. Aku lebih suka disini. Kau juga bisa meminjam CD milik Sora terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk benar-benar membelinya, Sujin-ah. Kim Sora tidak akan mendengarkan CD itu untuk waktu yang lama…” sambung Sooyoung.

“Ani… Aku juga setuju dengan pendapat kalian. Dan tentu saja tanpa aku harus bertanya pun Sora pasti akan memaksa ku membawa pulang CD itu. Tapi bukankah akan lebih menyenangkan jika ada beberapa orang lain agar suasana nya lebih meriah?” tanya Sujin.

“Ya, Kim Sujin…. Katakan poin utama nya secara langsung. Kau ingin menghubungi Lee Hyukjae dan memintanya kesini, bukan? Ya… Kau ini benar-benar kejam, Kim Sujin. Kau selalu bersikap ambigu pada Hyukjae selama ini. Hyukjae jelas mengatakan bahwa ia menyukaimu, tapi kau selalu saja menggantungnya. Saat ini kau ingin aku menyuruhnya datang kesini? Kau juga menyukainya tapi kau malu mengungkapkannya, bukan?” tanya Sora menggoda Sujin.

“Bukan seperti itu, Sora-ya. Aku hanya ingin menguji kesungguhannya…” jawab Sujin pelan.

“Itu berarti kau sungguh menyukainya, bukan? Lalu haruskah aku menghubunginya sekarang?” tanya Sora lagi dengan nada menggodanya.

“Andwae!!!” seru Sooyoung. “Jika kita menghubungi Hyukjae, dia tidak akan datang sendiri…” cegah Sooyoung tiba-tiba.

“Tentu saja dia tidak akan datang sendiri, Choi Sooyoung. Kyuhyun dan Changmin juga harus ikut dengannya. Bukankah memang itu tujuannya?” tanya Sujin.

“Andwae! Jangan lakukan itu, Kim Sujin! Andwae!” cegah Sooyoung bersikeras.

Sujin dan Sora menatap heran pada Sooyoung yang bersikeras melarang Sujin melakukan idenya itu. Sora tersenyum dan tertawa kecil di detik berikutnya. Sujin pun menarik ujung celana bahan Sora, meminta Sora untuk mendekat padanya. Sora akhirnya merubah posisi tubuhnya mendekat ke sofa tempat Sujin berbaring.

“Apa yang terjadi dengannya? Masalah mereka belum selesai?” tanya Sujin berbisik pada Sora.

“Molla. Kau tahu betul setiap saat kita bertanya pada Sooyoung, dia pasti mengelak dan merubah topic pembicaraannya” jawab Sora.

“Bagaimana dengan satu pelaku lainnya?” tanya Sujin lagi.

“Kau tidak mengenal sifat anak itu? Dia selalu mengatakan, ‘semua akan baik-baik saja. Aku bisa mengatasinya. Jangan khawatir’. Hhh… jaesueobseo…” jawab Sora dengan nada kesal, masih dengan berbisik.

“Ckckck… Aku tidak pernah tahan dengan kasus seperti ini. Menjengkelkan…” komentar Sujin.

“Akhir-akhir ini emosi ku pun tidak bisa aku kendalikan jika memikirkan masalah mereka berdua”, sambung Sora.

Sementara objek pembicaraan keduanya masih focus pada layar televisi. Ia bahkan tidak menyadari pembicaraan yang dilakukan kedua sahabatnya tidak jauh dari tempatnya duduk. Sora dan Sujin mengernyitkan keningnya menatap sifat apatis Sooyoung, lalu menggelengkan kepala mereka heran dengan kepribadian sahabatnya itu. Tiba-tiba telepon rumah Sora berbunyi, sontak membuat ketiga nya menoleh pada sumber suara. Sora pun segera beranjak dari sofa tempatnya duduk dan berjalan menghampiri telepon yang diletakkan diatas bupet.

“Yoboseyo, rumah keluarga Ki…..” sapa Sora.

Kim Sora, kau ada dirumah?” tanya seseorang diseberang telepon memotong sapaan Sora.

“Eo… Wae?” tanya Sora pada penelepon yang sudah ia hafal suaranya itu.

Aku akan kesana mengambil beberapa barangku. Kau tidak berencana pergi kemanapun hari ini, bukan?” tanya orang itu lagi.

“Aku belum berencana. Datanglah…” kata Sora mengijinkan. “Bisakah sendiri saja?” tanya Sora selanjutnya dengan berbisik.

Sendiri? Wae? Apa ada se…… ah… Sooyoung ada disana?

“Eo… Mood nya sedang tidak begitu baik”, jawab Sora.

Aku akan berusaha. Tapi aku tidak bisa melarang jika mereka memaksa untuk ikut”, katanya menyanggupi.

“Arasseo… Kau berada dimana sekarang?” tanya Sora.

Di kedai bungeoppang dekat rumahmu. Aku akan berada disana dalam 8 atau 10 menit”.

“Arasseo… Belikan aku juga, eo?” pinta Sora.

Arasseo…

Sora meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya, kemudian ia berjalan menuju sofa dengan ekspresi ragu yang tertangkap oleh Sujin. Mata Sujin tertuju padanya, dan bibirnya berbicara pada Sora dengan membentuk kata ‘wae?’. Sora pun menjawabnya dengan menyipitkan mata kanannya dan tersenyum tipis seolah mengatakan ia juga tidak tahu ada apa, dan apa yang akan terjadi beberapa saat lagi. Dan tepat di menit ke-9 sambungan telepon itu tertutup, terdengar suara gerbang rumah Sora sedang dibuka, kemudian dilanjutkan dengan suara pintu rumah yang terbuka.

“Kim Sora!” seru seseorang dengan suara berat memasuki rumah Sora. “Michyeosseo? Kenapa gerbangmu tidak dikunci?” tanya pemilik suara itu.

Sooyoung dan Sujin menoleh pada Sora, namun Sora justru mengabaikan suara yang baru didengarnya. Sora bahkan tidak menjawab pertanyaan yang baru saja diberikan oleh suara berat yang tentu saja milik seorang laki-laki itu.

“Kim Sora, kau ada dirumah?” tanya sebuah suara berat lain dari arah ruang tamu.

Sontak Sora menoleh terkejut dengan adanya suara lain yang baru didengarnya. Mata Sora terbelalak dan ia menggigit bibir bawahnya, menunjukkan keterkejutan dan kegugupannya. Sora yakin beberapa menit yang lalu ia mengatakan dengan jelas pada laki-laki di telepon itu untuk datang seorang diri. Namun ia baru saja mendegar suara selain milik laki-laki penelepon itu. Suara langkah kaki mulai terdengar mendekat. Kekhawatiran Sora pada reaksi Sooyoung semakin meningkat. Kemudian muncullah sosok Kyuhyun di ruang keluarga rumah itu.

“Ada apa denganmu? Aku bertanya padamu, kenapa tidak menjawabku?” tanya Kyuhyun.

“Kalian hanya berdua?” tanya Sora saat melihat Hyukjae berjalan tidak jauh dibelakang Kyuhyun.

“Apa maksudmu? Tentu tidak. Aku tidak bisa meninggalkan seorang temanku begitu saja…” jawab Kyuhyun santai.

Berbeda dengan sikap santai Kyuhyun dan Hyukjae yang memasuki ruang keluarga, Sora dan Sooyoung berubah menegang. Perubahan sikap Sooyoung tentu saja karena kedatangan seseorang lain yang tidak diharapkannya. Sementara perubahan sikap Sora disebabkan oleh atmosfir disekitar Sooyoung yang menyeramkan baginya.

“Ya, Cho Kyuhyun! Michyeosseo?!?” seru Sora pada Kyuhyun.

“Apa?” tanya Kyuhyun dengan ekspresi acuh tak acuhnya. “Ya, kau belum menjawabku. Kenapa gerbangmu tidak dikunci?”, tanya Kyuhyun.

“Ani… Kau juga akhirnya datang kesini, kenapa aku harus menguncinya? Mana bungeoppang ku?” tanya Sora.

“Ja… (Ini…)” kata Kyuhyun memberikan bungkusan bungeoppang ditangannya pada Sora. “Lain kali kunci gerbangmu. Apa yang akan aku katakan pada bibi jika terjadi sesuatu padamu, gijibae-ya? Ck…”

“Arasseo… Kau tidak perlu marah-marah begitu…”

“Geunde, apa yang kalian lakukan disini? Sora mengundang kalian?” tanya Sujin.

“Tidak. Aku kesini untuk mengambil barangku yang belum terbawa. Kebetulan aku sedang bersama mereka…” jawab Kyuhyun.

“Barang-barang? Barang-barang apa? Kenapa ada disini?” tanya Sujin lagi.

“Barang-barangku masih ada dikamar?” tanya Kyuhyun pada Sora, mengacuhkan Sujin.

“Eo… Ambilah…” jawab Sora singkat sambil memasukkan sepotong bungeoppang ke mulutnya.

Kyuhyun pun bergegas masuk ke kamar yang dimaksudnya, tidak jauh dari ruang keluarga. Ia membiarkan pintu kamar itu tetap terbuka, sehingga terlihat kegiatan yang sedang ia lakukan didalam oleh Sora. Hyukjae pun lantas duduk di sofa tempat Sora duduk sebelumnya dengan tenang.

“Kenapa barang-barangmu ada disini?” tanya Sujin lagi.

“Ya, Kim Sujin, kau terlalu banyak bertanya”, kata Hyukjae sambil berusaha mengambil sepotong bungeoppang dari Sora.

“Diamlah aish!! Aku bertanya pada Cho Kyuhyun, bukan padamu. Ya, Cho Kyuhyun! Jawab aku…” kata Sujin.

“Bibi (ibu Sora) menyuruhku untuk meninggalkannya disini untuk dicuci saat aku akan pulang ke rumah”, jawab Kyuhyun dari dalam kamar.

“Bibi? Maksudmu Sora eomma? Kenapa?” tanya Sujin bingung.

“Molla… Bibi datang ke kamar lalu menyuruhku begitu saat aku baru akan memasukkannya ke ranselku”, jawab Kyuhyun santai.

“Jadi, maksudmu, kau menginap disini?” tanya Sujin lagi dengan mata terbelalaknya.

“Eo…” jawab Kyuhyun singkat. “Kim Sora, dimana sweater ku?” tanya Kyuhyun frustrasi tidak bisa menemukan yang ia cari.

“Sweater apa?” tanya Sora dengan nada gugup yang tidak bisa ia sembunyikan itu.

“Sweater abu-ab……. Ya!!! Kau mengenakannya???” tanya Kyuhyun yang muncul di ambang pintu kamar.

“Apa? Apa yang kau cari?” tanya Sora.

“Sweater abu-abu ku. Kau ingat, yang aku kenakan saat malam terakhirku menginap disini? Yang tidak memiliki hoodie, eo? Abu-abu polos…” tanya Kyuhyun.

“Kau benar-benar menginap disini???” seru Sujin terkejut.

“Ya, Kim Sujin, diamlah. Perdebatkan masalah itu nanti”, sambung Hyukjae. “Akh!!! Apeo!!!” seru Hyukjae saat Sujin melayangkan tepukan kerasnya di punggung Hyukjae.

Sora mengerutkan keningnya, berusaha berpikir dan mengingat dimana terakhir kali ia melihat sweater abu-abu yang dimaksud Kyuhyun. “Ah… Aku mengenakannya kemarin untuk jogging. Sepertinya sekarang masih berada di dalam mesin cuci”, jawab Sora santai.

“Mwo??? Sweater abu-abu itu milik Cho Kyuhyun? Wae???” tanya Sujin lagi.

“Mwo??? Ya!!! Kenapa kau mengenakannya???” tanya Kyuhyun juga dengan nada tinggi nya.

“Wae??? Kau mengatakan aku boleh mengatakannya kapanpun aku mau”, jawab Sora pada Kyuhyun.

“Ani… Aku memang mengatakan itu. Tapi bukankah aku juga mengatakan padamu beberapa hari yang lalu bahwa aku akan mengambilnya hari ini untuk ku kenakan?”

Sora memutar bola matanya mencoba mengingat apa yang sudah dikatakan Kyuhyun sebelumnya padanya. “Kau mengatakan itu? Kapan? Aku tidak mengingatnya…”

“Arghh… Kim Sora! Kenapa kau melakukan ini padaku? Kau ingin membalas dendam padaku karena mengenakan bantal kesayanganmu untuk alasku tidur? Ya… Aku tidak bisa tidur dengan bantal serendah dikamar itu. Kau masih menyimpan dendam pada hal itu? Wah… Kim Sora jinjja…” kata Kyuhyun mengeluh.

“Mwoya… Kenapa aku harus balas dendam padamu? Aku tidak melakukan itu karena se…..”

“Tunggu! Hentikan perdebatan kalian disana! Hentikan!” seru Sujin yang membuat Kyuhun dan Sora menoleh padanya. “Apa yang sudah kalian berdua lakukan? Cho Kyuhyun, menginap??? Kim Sora, sweater miliknya? Apa yang terjadi disini? Sejak kapan hubungan kalian sampai sejauh menginap dirumah satu sama lain? Kalian mengatakan kalian tidak berkencan, tapi apa ini? Kalian tetap ti…..”

“Ah mwoya Kim Sujin???” tanya Kyuhyun memotong ucapan Sujin. “Aku menginap dirumah Kim Sora karena eomma ku kembali ke Amerika untuk mengurus beberapa berkas sebelum pindah kesini. Jangan salahkan aku jika eomma ku lebih percaya pada Sora bukan kalian. Kau puas? Ah sudahlah, jangan ikut campur dalam pembicaraan kami sebentar saja, oke? Ya, Kim Sora, aku bertanya padamu, kenapa?”

“Ani….. Tidak bolehkah aku meminjamnya?” tanya Sora dengan suara lembut, pipi menggembung dan puppy eyesnya.

“A….. Ani…… Emm…… Emm….. Aniya….. B… Bu….. Bukan seperti itu…..maksudku…..” jawab Kyuhyun terbata. Lalu ia menghela napasnya, mengumpulkan konsentrasi yang hampir buyar karena wajah Sora. “Tentu kau boleh meminjamnya….. Tentu”, jawab Kyuhyun menyerah.

“Hahahahaha mwoya Cho Kyuhyun! Sebenarnya kau berniat marah atau tidak???” goda Hyukjae yang mengundang tawa di wajah Sujin yang sebelumnya terkejut dan merasa kesal.

“Ani… Awalnya aku berniat marah padanya. Tapi aku menyerah saat melihat wajah itu…” jawab Kyuhyun jujur yang mengundang tawa Hyukjae, Sujin dan Sora.

Tiba-tiba Sooyoung berdiri dari tempatnya duduk. “Dimana dia?” tanya Sooyoung.

“Siapa?” tanya Sujin dan Sora secara bersamaan.

“Di ruang tamu. Dia tidak ingin masuk kesini karena tidak mau membuatmu lebih marah”, Hyukjae menjawab pertanyaan Sooyoung.

Tidak seperti dugaan mereka yang mengira Sooyoung akan beranjak pergi ke ruang tamu menemui Changmin, justru Sooyoung kembali duduk di tempatnya semula dengan wajah kesal. Ia menimbang tindakan yang harus ia lakukan dalam situasi seperti ini. Sementara itu, Sora dan Kyuhyun beranjak menuju ruang cuci untuk memeriksa kondisi sweater yang sejak tadi dicari oleh Kyuhyun. Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki dari arah ruang tamu, sedang berbincang dengan Changmin.

“….. Kau tidak masuk?” kata suara laki-laki itu terdengar samar.

Aku akan menyusul, hyung” jawab Changmin.

Arasseo… Kim Sora!!! Oppa wasseo!!!” seru laki-laki itu.

Seorang laki-laki berusia sekitar 23 tahun masuk ke ruang keluarga dengan Sujin, Sooyoung, dan Hyukjae yang menatap bingung padanya. Ketiganya memberikan salam pada laki-laki asing itu. Sujin pun secara otomatis menatap laki-laki itu dair kepala hingga ujung kakinya. Laki-laki itu memiliki tubuh yang tinggi, mungkin sama dengan Kyuhyun dan Changmin. Ia juga memiliki tubuh yang berisi, wajahnya tampan dan ramah. Jika melihat secara lebih teliti, maka Sujin dapat memastikan bahwa laki-laki itu baru saja kembali dari luar negeri. Semua barang yang dikenakannya memiliki merk yang sangat sulit ditemukan. Kulit laki-laki itu juga sedikit lebih gelap.

“Oppa? Benarkah itu kau?” tanya Sora yang baru kembali dari ruang cuci.

“Tuan puteri!!!” seru laki-laki itu lagi.

“Oppa!!!!!” seru Sora sambil berlari menuju laki-laki itu dan melompat ke pelukannya.

Ditempat Sora datang sebelumnya, Kyuhyun berdiri membeku menatap adegan dihadapannya. Senyum Sora, nada bicara Sora, sikap Sora, sangat berbeda dari yang ia tahu. Tiba-tiba perasaan aneh menghampirinya. Ada suatu hal yang memicu jantungnya untuk berdebar lebih cepat, napasnya memburu, dan emosi berkumpul di otaknya.

“Oppa, kapan kau datang?” tanya Sora.

“Aku baru sampai pagi ini. Ah… lelah sekali…”

“Sesampainya di Seoul kau langsung kesini? Kau tidak pulang?” tanya Sora lagi.

“Tidak. Aku mengunjungi kakek sebentar di perusahaan, lalu bermaksud kembali ke rumah. Tapi diperjalanan eomma menghubungiku dan mengatakan tidak ada siapapun dirumah. Akhirnya aku mampir ke restaurant ayam goreng di apgujeong. Aku membeli 3 ekor untukmu. Bibi memberitahuku bahwa teman-temanmu menginap disini…”

“Ah… Aku lupa. Oppa, ini teman-temanku. Disana Sooyoung, lalu ini Sujin dan Hyukjae. Dan itu Kyuhyun. Teman-teman, ini Ok Taecyeon, nae saranghaneun oppa”.

“Annyeonghaseyo…” sapa Sooyoung, Sujin, dan Hyukjae bersamaan.

“Eo… eo… Ini untuk kalian, makanlah…” kata Taecyeon.

Changmin berjalan memasuki ruang keluarga saat tiba-tiba Kyuhyun berdeham, membuat mereka semua menoleh padanya.

“Aku akan membawa barang-barangku. Aku akan kembali lagi lain kali untuk mengambil sweater ku…” kata Kyuhyun.

“Kau mau kemana?” tanya Hyukjae.

“Aku memiliki suatu hal yang harus aku lakukan dirumah. Aku lupa. Aku pergi dulu…” kata Kyuhyun.

“Ya, imma, kau mau kemana?” tanya Changmin saat ia sudah berada di ruang keluarga.

“Aku harus kembali ke rumah. Kau dan Hyukjae tetaplah disini. Aku akan menghubungi kalian lagi nanti. Galkke…” kata Kyuhyun yang berlalu pergi darai sana.

Semua mata menatap kepergian Kyuhyun yang memiliki ekspresi murung diwajahnya. Beberapa diantara mereka mengernyitkan keningnya bingung dengan sikap Kyuhyun. Namun Sooyoung dan Changmin justru menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis menyaksikan perilaku sahabatnya itu.

“Ada apa dengan anak itu?” tanya Sujin bingung.

“Molla… Aku tahu sikap itu. Tapi aku tidak tahu penyebab sikap itu”, jawab Hyukjae.

“Apakah dia masih marah karena sweater nya?” tanya Sora menduga.

“Hhh… Kalian tidak bisa melihatnya dengan jelas?” tanya Changmin yang beranjak menuju space kosong disamping Sujin.

“Aku bertaruh bahkan Cho Kyuhyun tidak mengetahui apa yang sedang ia rasakan”, sambung Sooyoung.

“Cho Kyuhyun? Itu Cho Kyuhyun???” tanya Taecyeon.

“Eo, hyung. Marga nya Cho. Cho Kyuhyun. Hyung mengenalnya?” tanya Changmin.

“Aku tidak mengenalnya. Tapi aku pernah mendengar bibi menceritakan tentangnya padaku. Anak laki-laki sopan, pintar, baik, dan menyukai Sora. Benar, bukan?” tanya Taecyeon.

“Kau hampir benar, hyung”, jawab Changmin.

“Apa maksudmu? Ada yang belum aku sebutkan?” tanya Taecyeon.

“Wanjeon michin saekki*…” jawab Sooyoung.

“Jaesueobseo*…” sambung Sujin.

“Ssagaji*…” Hyukjae ikut berkomentar.

“Gae-ya, hyung, gae*…” kata Changmin.

(*berbagai umpatan)

“Ada apa dengan kalian? Cho Kyuhyun tidak seburuk itu…” kata Sora memberikan pembelaan.

“Mwoya, Kim Sora??? Kau sudah terjerat dengan pengaruhnya juga???” tanya Sujin heran.

“Kim Sora menyukainya. Kalian tidak tahu?” tanya Taecyeon.

“Benarkah??? Kali ini kau bersungguh-sungguh???” tanya Hyukjae.

“Ah molla…” jawab Sora singkat.

“Tapi, kenapa dia tiba-tiba pergi begitu saja?” tanya Taecyeon.

“Cemburu…” jawab Changmin dan Sooyoung hampir bersamaan.

Sora, Sujin, dan Hyukjae menatap Changmin dan Sooyoung bergantian. Keduanya tidak saling memandang. Mereka memalingkan wajah ke tempat yang berbeda. Lalu mereka berdua berdeham, lagi-lagi dengan waktu yang hampir bersamaan. Hal itupun mengundang senyum mengembang diwajah ketiga sahabatnya.

“Cemburu? Dengan siapa?” tanya Taecyeon yang kini duduk di lantai.

“Dengan oppa…” jawab Sooyoung pelan.

“Dengan Taecyeon oppa??? Kenapa?” tanya Sora terkejut.

“Kau bertanya karena tidak tahu???” tanya Changmin dengan nada kesal. “Kau memeluk Taec hyung didepan matanya, imma. Kau bahkan memperkenalkan Taec hyung dengan sebutan ‘oppa kesayanganmu’. Mwoya, Kim Sora? Kau benar-benar tidak peka…”

“Ah… Kyuhyun mengira Taecyeon oppa adalah pacar Sora?” tanya Sujin yang dijawab dengan anggukan oleh Changmin dan Sooyoung. Keduanya menyadari gerakan satu sama lain, yang akhirnya membuat keduanya kembali bersikap canggung.

“Ada apa juga dengan kalian? Kalian bertengkar?” tanya Taecyeon setelah melihat sikap Changmin dan Sooyoung.

“Pertengkaran yang benar-benar besar”, jawab Sora.

“Ya, Kim Sora! Urus masalahmu sendiri…” kata Changmin.

“Kau Choi Sooyoung, kan?” tanya Taecyeon yang disertai dengan anggukkan Sooyoung. “Tidak perlu marah padanya. Anak ini memang bukan anak yang pintar dalam membaca perasaan seorang gadis. Dia tidak bisa menolak seorang gadis, dia juga tidak bisa menentang seorang gadis, terlebih gadis yang sangat disukainya…”

“Hyung……” kata Changmin berusaha menghentikan Taecyeon.

Taecyeon membuka ketiga kotak ayam goreng yang dibawanya, lalu diletakkan di tengah meja. Sebelumnya, ia sudah mengambil sepotong paha ayam ditangannya.

“Jangan khawatir, Sooyoung-ah. Changmin sangat menyukaimu. Hanya ada kau dimatanya. Bahkan seorang Kim Sora tidak bisa mengalihkan pandangannya. Dia hanya tidak bisa menolak gadis itu dengan cara yang keras. Tapi kau bisa mempercayainya. Dia tidak akan mengkhianatimu…” kata Taecyeon lagi.

“Arayo…” kata Sooyoung dengan suara pelan.

“Apa yang kau katakan? Jika kau mengatakannya dengan suara sekecil itu, hanya semut yang bisa mendengarnya. Jangan membuat masalah menjadi berlarut-larut. Ya, Shim Changmin! Kau tidak segera mendekatinya?!?! Menunggu kupukul?!?!” kata Taecyeon.

“Eo… Eo… Arasseo, hyung…” kata Changmin yang bergegas berpindah duduk ke sebelah Sooyoung.

“Lalu bagaimana dengan Kyuhyun?” tanya Sora.

“Apa yang bagaimana?” tanya Hyukjae.

“Biarkan saja. Malam ini aku dan Hyukjae akan bertemu dengannya di sungai Han. Aku akan memberitahu nya”, kata Changmin.

“Tidak. Ya, Shim Changmin, Lee Hyukjae, kalian tidak naik mobil, kan?” tanya Sora yang dijawab dengan gelengan kepala oleh keduanya. “Aku akan melihat keluar. Mungkin Kyuhyun masih ada di halte bus. Kalian jaga rumah untukku. Aku akan kembali. Jangan sentuh dua paha ayam, atau kalian akan tahu akibatnya, arasseo???”

“Arasseo… Geunyang ga!” kata Taecyeon.

Sora pun segera bergegas mengenakan sepatunya dan keluar untuk mengejar Kyuhyun. Sora berlari menuju halte bus terdekat dari rumahnya, berharap bus belum tiba dan Kyuhyun masih ada disana. Kondisi udara yang cukup panas membuat Sora berhenti untuk menghela napas dan mengikat rambutnya yang terurai. Sora bisa melihat sosok Kyuhyun dari tempatnya berhenti dengan jarak beberapa meter dari halte. Akhirnya Sora pun memutuskan untuk berjalan, masih dengan napasnya yang terengah. Sesampainya di halte, Sora lantas duduk tepat disebelah Kyuhyun sambil mengatur napasnya yang tidak kunjung kembali seperti semula. Kyuhyun menoleh dan sontak matanya terbelalak mendapati Sora berada disebelahnya. Sora mengibaskan tangannya didepan wajah demi mendapatkan sedikit angin untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa sangat panas. Ia menggunakan tangan kirinya untuk menyeka keringat di wajah dan lehernya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Kyuhyun.

“Seb….. Seben…… Sebentar saja. Biarkan aku bernapas. Auh panas sekali… auh…” keluh Sora disela ucapannya.

“Kau kesini untuk bicara padaku?” tanya Kyuhyun lagi.

Sora mengatur napasnya dengan helaan kuat yang dapat terdengar jelas di telinga Kyuhyun. Ia berusaha untuk mengumpulkan nyawanya kembali setelah menghilang ditengah panasnya cuaca musim panas.

“Gidaryeo… (Tunggu aku…)” kata Sora akhirnya, masih dengan napasnya yang terengah.

“Mwoga?”

“Aku bilang tunggu aku…” Sora menghela napas panjang. “Tidak akan lama. Aku hanya perlu memastikan perasaanku sedikit lagi. Jadi, tunggu dan bersabarlah, Cho Kyuhyun”, kata Sora.

“Eo…” jawab Kyuhyun sepersekian detik setelah kata terakhir Sora. “Menunggu dan bersabar. Aku ahli dalam hal itu. Arasseo… Aku akan tetap menunggumu jika kau memintaku begitu”.

“Geurae… Sebentar lagi bus nya datang. Aku meninggalkan dua paha ayam ku dirumah. Aku harus kembali sebelum mereka menghabiskannya. Hati-hati dijalan…” kata Sora.

“Baiklah…” kata Kyuhyun dengan senyum yang mengembang diwajahnya.

“Ah….. Oppa itu……. Sepupuku. Anak dari kakak perempuan eomma. Dia baru kembali dari Boston. Dan dia……. Bukan tipeku. Galkke…” kata Sora yang berlalu pergi meninggalkan Kyuhyun di halte bus.

“Kau mau aku antar?” tanya Kyuhyun.

“Dwaesseo… Pergilah…” jawab Sora yang sudah berjalan menjauh sambil melambaikan tangan tanpa menoleh pada Kyuhyun.

Kyuhyun’s Narration: Lagi. Jantungku kembali dibuat berdetak sangat cepat bahkan dengan pernyataan tidak langsungnya. Ada kata yang tersembunyi dibalik setiap perkataannya. Aku mulai terbiasa dengan itu. Setiap maksud perkataannya tidak henti membuatku tersipu dan salah tingkah. Pengendali roler coaster. Begitu julukanku untuknya. Setiap tindakan, perkataan dan ekspresi nya membuatku gila. Sesaat dia membuatku terbang ke langit luas, namun disaat berikutnya dia bisa membuatku terjatuh ke hutan gelap tidak berujung. Dia sedingin udara malam hari di gurun, namun sehangat suasana di ruang sauna jika kau masuk lebih dalam mengikuti alurnya. Aku tergila-gila padanya. Hanya itu kata-kata yang bisa aku temukan dalam otak membeku ku.

April 2015

Bon Appetite Restaurant

“Benar, dokter Kim. Dengarkanlah perkataan suami mu. Itu demi kesehatanmu…” kata Yeri.

“Suami? Siapa maksudmu?” tanya Hyukjae.

“Dokter Shim Changmin. Benar, bukan?” tanya Yeri.

“Changmin menikah dengan Sora? Benarkah? Akhirnya? Kapan?” tanya Sujin.

“Ya! Michyeosseo???” seru Sooyoung pada Yeri dan Sujin sekaligus.

“Waeyo? Aniyo?” tanya Yeri.

“Annyeonghaseyo!!! Maaf aku terlambat…”

Akhirnya Irene tiba di restaurant itu setelah menyelesaikan tugas wawancara nya dengan kakak kelas SMA sekaligus isteri perdana menteri Lee Donghae, Seo Joo Hyun. Irene menghampiri mereka dengan langkah lesu dan wajah datar khasnya saat kelelahan. Changmin pun sontak berdiri dan mengambil sebuah bangku yang kemudian diletakkan disebelah Sooyoung. Beberapa diantara mereka pun berdiri untuk berpindah posisi duduk sambil menarik sebuah meja untuk memperlebar lingkaran mereka.

“Eo… Eo… Duduklah… Bagaimana wawancara mu?” tanya Hyukjae.

“Augh… Menyebalkan! Geu sarameun wanjeon jaesueobseoyo. Michin nyeon… augh…..” kata Irene melontarkan umpatannya.

“Ya! Jaga bicaramu, Irene-ah. Para sunbae sedang melihatmu…” kata Wendy memperingatkan.

“Ada apa, Irene-ah?” tanya Sujin.

“Dia baru kembali dari wawancara dengan Seohyun”, jawab Changmin.

“MWO?!?!” seru Sujin mengagetkan semua orang yang berada di meja itu. Termasuk Kyuhyun yang sedang menenggak minumannya hingga tersedak.

“Kau bereaksi berlebihan, Kim Sujin…” kata Sora sambil menepuk-nepuk punggung Kyuhyun.

“Ah… Mianhae, Cho Kyuhyun. Kau benar-benar mewawancarainya, Irene-ah? Lalu? Lalu?” tanya Sujin penasaran.

“Dari planet mana datangnya wanita itu aish……” ujar Irene yang masih merasa kesal.

“Ya, Bae Joo Hyun, ada apa? Jangan membuat kami penasaran…” tanya Changmin.

“Ani… sunbae… Memangnya kalau dia adalah isteri perdana menteri lalu kenapa? Apakah dia menjadi wanita paling hebat di dunia? Augh… Bahkan siswa SMA saat ini pun belum tentu mengenalnya. Dia bertingkah seperti orang yang paling penting. Aku harus menunggunya selama 3 jam di salon, lalu 30 menit hanya untuk membeli satu cup Americano, dan 15 menit untuk bicara di telepon dengan teman arisannya. Jaesueobseo….. Jika aku diberikan tugas lagi untuk mewawancarainya, aku lebih baik di skors karena menolak. Aku tidak akan melakukannya lagi! Wanitu itu aish…..” kata Irene menjelaskan kekesalannya.

“Hahahaha… Kau sudah bekerja keras, hoobae-ya…” kata Hyukjae.

“Ja, minumlah… Ini akan menyegarkan otakmu kembali…” sambung Changmin sambil menyerahkan satu cup Mango smoothie pada Irene.

“Gomawoyo, Changmin sunbae. Geunde, apa yang membuatmu berada disini? Tidak biasanya…” tanya Irene.

“Kau bertanya karena benar-benar tidak tahu atau lupa? Kedua sunbae gila mu itu yang memaksaku…” jawab Changmin.

“Ah… Kyuhyun sunbae dan Sooyoung sunbae? Tentu saja mereka akan melakukan itu… Sunbae, keadaanmu sudah membaik?” tanya Irene. Pertanyaan tidak langsung Irene membuat Yeri dan Wendy menatap Irene bersamaan karena bingung kepada siapa pertanyaan itu diluncurkan.

“Eo… Sudah jauh lebih baik. Terima kasih untuk buburmu waktu itu. Kau benar-benar membelinya untukku. Aku merasa tersentuh…” jawab Sora.

“Aniyo… Tentu saja aku harus membelikannya, sunbae. Karena aku tahu suami mu tidak akan punya waktu untuk membelikannya. Alasannya juga akan sangat banyak sampai kau tidak lagi memiliki nafsu makan”, kata Irene.

“Aku setuju! 100% setuju!” kata Changmin menanggapi dengan cepat.

“Aku juga!” sahut Sujin cepat.

“Irene-ah, kau…..mengenal dokter Changmin?” tanya Wendy.

“Tentu saja. Mereka semua adalah sunbae-ku di SMA” jawab Irene.

“Kenapa kau tidak memberitahukannya pada kami?” tanya Wendy.

“Mwo….. Kau tidak bertanya padaku…” jawab Irene lalu menenggak kembali mango smoothie nya.

“Itu berarti, kau tahu kisah cinta mereka, kan???” tanya Yeri lagi.

“Tentu saja!” jawab Irene pasti.

“Dulu Irene adalah salah satu penggemar Kyuhyun. Dia ditolak…” kata Hyukjae.

“Ya!!!” seru kelima sahabatnya bersamaan.

“Kenapa kau membicarakan itu lagi???” protes Kyuhyun.

“Kau benar-benar tidak punya hati, Lee Hyukjae…” kata Sora.

“Aku rasa otaknya tertinggal di studio editing”, sambung Sooyoung sarkastik.

“Walaupun dia suamiku, tapi aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku disaat seperti ini. Deungshin-ah auh…” kata Sujin yang disambut dengan tawa Changmin.

“Kalau begitu…..kau tahu siapa saja pasangan mereka sekarang, bukan?” tanya Yeri masih dengan rasa penasarannya.

“Eo… Wae?” tanya Irene.

“Dokter Kim menikah dengan Dokter Shim, bukan???” tanya Yeri lagi.

“Ya! Michyeosseo???” seru Sooyoung.

“Mwo??? Changmin sunbae dan Sora sunbae? Wae?” Irene balas bertanya.

“Benar, bukan? Aniya?” tanya Yeri.

“Aniya!!!” Sooyoung kembali menjawab dengan nada bicaranya yang meningkat satu oktaf. “Ibwayo, Yeri-ssi, Shim Changmin milikku! Aku satu-satunya gadis yang dikencaninya. Kenapa dia menikah dengan Kim Sora??? Shim Changmin adalah ayah dari anak-anakku!” kata Sooyoung menjelaskan dengan nada kesalnya.

“Ne?!?!” seru Yeri dan Wendy bersamaan karena terkejut.

“Tapi… Tapi… Aku sempat berpikir Sooyoung sunbaelah isteri Kyuhyun sunbae…” kata Wendy.

“Naega wae gae/gye-rang gyeolhonhae? (Kenapa aku menikah dengannya?)” tanya Sooyoung.

(Gae = anjing. Gye = dia. Pengucapan keduanya sama)

“Lalu, Kyuhyun sunbae menikah dengan siapa?” tanya Wendy.

Pertengahan Juli 1998

Han River di tengah musim panas. Udara disekitar terasa begitu sejuk dengan angin yang berhembus, namun teriknya matahari tetap membuat suasana terasa begitu panas. Changmin, Hyukjae, Sooyoung, dan Sora secara terpaksa menuruti permintaan Sujin untuk melakukan piknik disana. Sujin sudah merencanakan kegiatan piknik itu selama satu minggu. Dimulai dari makanan kecil, makanan berat, hingga permainan-permainan yang bisa mereka mainkan disana. Namun karena panasnya udara musim panas, semangat keempat temannya tentu tidak sebesar ekspektasinya.

“Ah… Ada apa dengan kalian? Dimana semangat kalian?” tanya Sujin.

“Ya, Kim Sujin, tenanglah sebentar. Kau membuat cuaca semakin panas…” kata Hyukjae yang akhirnya harus bersabar karena menerima lemparan topi dari Sujin.

“Auh… Panasnya… Kenapa angin bertiup begitu pelan?” keluh Sooyoung. “Changmin-ah, tolong ambilkan kipasku di dalam tas”.

“Eo… Ini…” kata Changmin memberikan kipas yang dimaksud Sooyoung.

“Agghhh… Dimana Cho Kyuhyun??? Kenapa dia belum datang juga???” tanya Sujin kesal.

“Dia akan datang, Sujin-ah… Bukankah kau menyuruhnya ke Gangnam untuk membeli bungeoppang? Dia akan tiba sebentar lagi…” jawab Sora.

“Itu… Itu… Dia datang…” kata Hyukjae sambil menunjuk dengan dagunya. “Eo, mwoya….. Siapa gadis yang datang bersama Kyuhyun itu?” tanya Hyukjae.

Changmin, Sooyoung, Sora, dan Sujin sontak menoleh pada arah yang sebelumnya ditunjuk oleh Hyukjae. Benar saja, Kyuhyun datang dengan seorang gadis yang menggandeng lengannya dengan sangat akrab. Gadis itu bertubuh kurus namun memiliki lekukan tubuh yang bisa membuat setiap gadis iri padanya. Wajahnya kecil dan cantik. Rambutnya berwarna cokelat muda, dan pakaiannya sangat mengikuti mode. Berbeda dengan ekspresi bersemangat yang ditunjukkan gadis itu, Kyuhyun justru terlihat dingin dan lebih sering menghindar dari tatapan gadis itu. Mereka berdua berjalan mendekati Changmin, Hyukjae, Sooyoung, Sora, dan Sujin yang masih menatap keduanya dengan tatapan bingung. Keduanya duduk dengan santai bersama mereka. Kyuhyun menyerahkan bungeoppang yang diterima oleh Changmin. Kelima nya masih menatap Kyuhyun dengan tatapan yang menjelaskan pertanyaan yang sama.

“Nuguya?” tanya Sooyoung akhirnya.

“Ah… Anak dari teman eomma ku di Amerika. Insahae… Mereka teman-temanku…” kata Kyuhyun.

“Annyeonghaseyo… Aku Jessica. Jessica Jung. Aku kesini untuk liburan musim panas dan juga karena aku merindukan Kyuhyun”, kata Jessica.

Kyuhyun memalingkan wajahnya seperti yang selalu ia lakukan untuk menghindari situasi yang tidak disukainya. Ia mengambil sepotong bungeoppang dan memasukkannya ke mulutnya dengan sikap acuh tak acuh pada situasi disekitarnya.

“Kalian berdua terlihat sangat dekat…” komentar Sujin sarkastik.

“Ne, kami memang sangat dekat”, kata Jessica.

“Apa hubunganmu dengan Cho Kyuhyun?” tanya Sooyoung.

“Aku pacar Kyuhyun…” jawab Jessica.

.

.

.

The reasons why I stay? Because…

  1. You’re pretty
  2. You’re a good girl
  3. You’re loyal to your friend
  4. You’re stay beside me
  5. You run to me

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

Note:

Terbuka sudah siapa pasangan Sooyoung. Untuk tim KyuYoung, SooKyu, apapun sebutan kalian, aku minta maaf ya… Cerita ini tidak diubah dipertengahan jalan kok. Sejak awal memang bukan Sooyoung yang jadi isteri Kyuhyun. Sekali lagi mianhabnida…

Ja, satu persatu teka-teki mulai terbuka. Di awal cerita sempat ada cameo Taecyeon oppa sebentar, tapi ternyata dia hanya sepupu Sora. Tapi apa yang terjadi di akhir cerita? Kyuhyun sebenarnya sudah memiliki kekasih bernama Jessica? Apakah sebenarnya Kyuhyun sudah dijodohkan dengan Jessica? Bagaimana dengan Sora? Apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka yang bahkan belum sempat mereka mulai? Apakah ternyata Jessica lah isteri Kyuhyun? Lalu siapa suami Kim Sora? Mungkinkah Bang Sung Joon? Temukan jawabannya di part terakhir The Reason(s) Why I Stay: Number 6!!! Sementara, Kana pamit!!! Aku usahakan untuk update minggu ini. Annyeongigaseyo…

Advertisements

20 thoughts on “The Reason(s) Why I Stay: Number 5

  1. Ih jessica ngaku2 jadi pacar kyuhyun ,,dugaanku bener kan kalo sora itu istrinya kyuhyun ,,seohyun makin songong ya mentang2 jadi isrtri perdana menteri

    Like

  2. udah tekupas sedikit demi sedikit. bukan seohyun, bukan sujin, dan sekarang bukan soohyeon, tapi aku masih ragu kalo sora istrinya katena kedatangab jesika. tapi aku rasa sora deh tetap pada pilihan pertama. tapi masih bingung, ah nan molla molla

    Like

  3. Owh jadi gitu…
    Oke oke oke
    Aku ngerti dikitlah…
    Kalo nda Sora pasti cewe lain tapi itu bukan Jessica pastinya…
    Peace…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s