The Reason(s) Why I Stay: Number 4

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast: Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Choi Sooyoung, Kim Sora (OC), Kim Sujin (OC), Lee Hyukjae, Seohyun (cameo)

Preface:

Annyeonghaseyo. The Reason(s) Why I Stay is back. Seperti yang bisa kalian lihat pada bagian Main Cast, ff ini akan menceritakan Cho Kyuhyun dengan kisah lain. Urutan penulisan nama dalam ff ini tidak ada hubungannya dengan jalan cerita. Kalian masih harus menggunakan persepsi kalian masing-masing untuk menebak siapa pemeran utama wanita dalam ff ini. Alur yang digunakan dalam ff ini adalah alur maju mundur. Aku juga akan menyisipkan beberapa narasi pengantar cerita yang akan diambil dari sudut pandang Kyuhyun. FF ini merupakan FF dengan kisah dan alur yang tidak mengandung teka-teki berat yang memusingkan kepala. Aku hanya menggunakan kisah dengan teka-teki sederhana. Dan, tentu saja, aku selalu mengingatkan bahwa aku juga manusia biasa yang tidak sempurna, jadi jika kalian menemukan typo dimana-mana, aku mohon dimaklumi. Jika ada kesamaan nama, tempat, tokoh, alur, cerita dari ff ini, aku minta maaf sebesar-besarnya ^^

As always, jika kalian mau memberikan personal protes, comment, kasih saran, e-mail ke kadanao21@yahoo.com or find me on twitter @kadanao21

 

 

 

 

 

 

 

– The Reason(s) Why I Stay –

 

 

 

 

 

 

 

April 2015

Bon Appetite Restaurant

 

“Sebenarnya siapa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Kyuhyun yang duduk di sebelah Sooyoung.

 

 

“Kalian semua, baboya…” jawab Sujin kesal. “Ckckck… Aku menjadi setuju dengan perkataan Sora. Bertemu dengan Cho Kyuhyun sangat tidak baik untuk kesehatan mentalku”, sambung Sujin diiringi dengan gelak tawa semua orang yang ada di meja itu.

 

 

“Kyuhyun memang seperti itu, Sujin-ah. Tidak ada yang bisa merubahnya kecuali gadis yang dicintainya. Tapi, setelah ku pikir kembali, aku setuju dengan Sooyoung. Hubungan Kyuhyun dan Sora sangat manis dulu, meskipun mereka selalu saja bertengkar setelahnya. Aku bahkan lebih merasa heran dengan berakhirnya hubungan mereka…” kata Changmin.

 

 

“Benar. Kau ingat perhatian menggelikan yang diberikan Kyuhyun pada Sora? Aku bahkan tidak bisa bertahan dalam jarak dekat dengan mereka. Sikap Kyuhyun benar-benar membuatku merinding. Bukan seperti si batu Kyuhyun yang ku kenal…” kata Hyukjae menimpali.

 

 

“Aku lebih tidak bisa menerima jawabannya ketika kita membahas mengenai sikap nya saat itu. Apa yang dia katakan? Kebiasaan? Dia pasti bercanda…” sambung Sujin dengan nada sarkastiknya.

 

 

“Ya… uhuk….. Kenapa kalian masih saja… uhuk… membahasnya… uhuk… uhuk…..?” tanya Kyuhyun.

 

 

“Ah… Kau ini benar-benar. Jauhkan virus mu dariku, Cho Kyuhyun-ssi…” kata Sujin mengeluh. “Kau masih melakukan kebiasaanmu menghisap batu es?” tanya Sujin yang dijawab dengan gelengan oleh Kyuhyun. “Alkohol?”

 

 

“Dia hanya minum cola selama beberapa tahun terakhir, soju di hari ulang tahun”, jawab Sooyoung.

 

 

“Kau masih merokok?” tanya Sujin lagi.

 

 

“Wanjeon kkeut… (Benar-benar tidak [merokok]…) Saat kau melihatnya 18 tahun yang lalu, itu yang pertama dan terakhir”, jawab Sora.

 

 

“Obatmu?” tanya Changmin.

 

 

“Kau pikir manusia berkepala batu ini mau meminumnya?!? Auh… mengingatnya menolak untuk minum obat saja kepala ku sudah pusing”, jawab Sooyoung.

 

 

“Obat-obat itu hanya membuatku… uhuk….. mengantuk. Bagaimana aku bisa… uhuk…. untuk… uhuk… terus bekerja?” jawab Kyuhyun ditengah batuknya yang semakin menjadi.

 

 

“Ah… jinjja….. Ini. Minumlah… Kau selalu saja keras kepala. Jika keadaan sudah memburuk kau baru menyesalinya…” kata Sora sambil menyerahkan segelas air pada Kyuhyun yang segera meminumnya tanpa membantah.

 

 

“Ya! Setidaknya setelah selesai siaran langsung kau bisa meminumnya, bukan?” tanya Sooyoung dengan nada marahnya.

 

 

“Arasseo…” jawab Kyuhyun menyerah.

 

 

“Aigoo… Kau benar-benar beruntung, Cho Kyuhyun. Sejak dulu hingga sekarang kau tetaplah yang mendapatkan perhatian. Johgetda…” Hyukjae berdecak iri.

 

 

“Perhatian katamu? Mereka lebih seperti guru yang sedang memarahi muridnya… Menyebalkan…” kata Kyuhyun.

 

 

“Ya… Setidaknya kau harus bersyukur isteri mu masih memperhatikanmu walaupun dengan kemarahannya”, sambung Sujin dengan tawa yang menyertai.

 

 

“Geundaeyo… Jadi Kyuhyun sunbae dan Dokter Kim berkencan setelah permasalahan dengan Nyonya Seo Joo Hyun?” tanya Yeri.

 

 

“Lalu putus dan tidak kembali bersama lagi?” sambung Wendy.

 

 

“Kami tidak pernah berkencan”, jawab Sora.

 

 

“Ne???” Wendy dan Yeri memberikan respon mereka bersamaan.

 

 

“Jangnanhae?!? (Kau bercanda?!?)” Hyukjae, Sujin, dan Sooyoung memberikan respon tidak setuju mereka dengan nada tinggi.

 

 

“Uri jinjja ansagyeo… (Kami benar-benar tidak berkencan…)” sambung Kyuhyun meyakinkan.

 

 

“Mereka tidak berkencan ‘saat itu’. Mereka berkencan bertahun setelahnya”, Changmin meluruskan jawaban Kyuhyun dan Sora.

 

 

“Kerja bagus, Shim Changmin!” kata Hyukjae sambil meluncurkan hi-five nya pada Changmin.

 

 

“Eonje buteoyo? (Sejak kapan?)” tanya Yeri penasaran.

 

 

 

 

Februari 1998

Sekolah Menengah Atas Provinsi Khusus Seoul

 

Tiga hari berselang setelah pembicaraan Kyuhyun dan Sora di koridor sekolah. Semenjak hari itu Kyuhyun tidak muncul di sekolah. Changmin dan Hyukjae juga tidak mengetahui keberadaan Kyuhyun. Setiap pulang sekolah Changmin dan Hyukjae mampir ke rumah Kyuhyun, tapi tidak ada siapapun disana. Telepon rumahnya pun tidak dijawab sama sekali. Dan hari ini, Seohyun pun tidak memunculkan batang hidungnya di area sekolah. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Sora segera beranjak pergi menuju rumah sakit untuk melakukan check up. Sementara Sooyoung, Sujin, Changmin, dan Hyukjae masih berkumpul di lobby sekolah, merundingkan tindakan yang akan mereka lakukan untuk mencari Kyuhyun.

 

 

“Anak-anak, apa yang sedang kalian lakukan? Kalian tidak kembali ke rumah?” tanya Kim seonsangnim.

 

 

“Annyeonghaseyo, seonsaengnim…” sapa keempatnya.

 

 

“Kami hanya sedang berdiskusi. Kami akan segera pulang, saem” kata Sooyoung menjawab pertanyaan Kim seonsaengnim.

 

 

“Baiklah kalau begitu. Jangan pulang terlalu sore, eo?”

 

 

“Ne, seonsaengnim”, jawab keempatnya serempak.

 

 

“Ah, aku hampir saja lupa. Satu jam yang lalu aku mendapatkan telepon dari orang tua Cho Kyuhyun. Mereka memberitahukan bahwa neneknya meninggal dunia. Hari ini aku tidak bisa pergi ke rumah duka. Jika kalian bertemu dengannya, tolong sampaikan rasa bela sungkawa ku padanya, eo?”

 

 

“Ne?!?” keempatnya kembali memberikan respon secara bersamaan.

 

 

“Ada apa? Kalian tidak mengetahuinya juga? Cho Kyuhyun tidak masuk selama tiga hari karena kondisi neneknya yang kritis di rumah sakit. Rupanya dia tidak memberitahu kalian. Amteun, jangan lupa pesanku. Aku pergi duluan, anak-anak…” kata Kim seonsangnim sambil berlalu pergi meninggalkan mereka yang masih terkejut dengan apa yang baru mereka dengar.

 

 

 

 

Rumah Duka

 

Segera setelah mengetahui kabar duka itu dari Kim seonsaengnim, Sooyoung, Sujin, Changmin, dan Hyukjae kembali ke rumah mereka masing-masing untuk berganti baju dan meminta ijin pada orang tua mereka. Lalu mereka bersama-sama pergi ke rumah duka untuk menemui Kyuhyun. Meskipun hari sudah mulai gelap, suasana di rumah duka sangat ramai dengan pelayat yang berdatangan dari berbagai kalangan. Selama beberapa tahun terakhir, Kyuhyun hanya tinggal dengan neneknya di Seoul. Kedua orang tua dan kakak perempuannya pindah ke Amerika dan tinggal disana. Kyuhyun memiliki hubungan yang sangat dekat dengan neneknya. Karena itulah, Kyuhyun terlihat sangat terpukul duduk menunduk di samping altar tempat mereka menaruh abu neneknya. Disisi kanan terlihat ayah dan paman Kyuhyun sedang menerima tamu-tamu yang datang. Sementara ibu dan kakak perempuan Kyuhyun menjamu para tamu yang hadir. Dan kehadiran seseorang menarik perhatian mereka. Seohyun juga berada disana. Ia sedang membantu menjamu para tamu yang hadir.

 

 

Sooyoung, Sujin, Changmin, dan Hyukjae melangkah mendekati altar, memberikan salam mereka pada ayah dan paman Kyuhyun, lalu memberikan penghormatan terakhir mereka pada nenek Kyuhyun. Mereka pun mengurungkan niat untuk menghampiri Kyuhyun, karena mereka mengenal betul bagaimana perilaku Kyuhyun. Ia tidak akan bisa dibujuk dengan cara apapun. Sooyoung, Sujin, Changmin, dan Hyukjae akhirnya hanya bisa duduk di sebuah meja yang kosong tidak jauh dari pelataran altar. Kemudian kakak perempuan Kyuhyun, Cho Ahra, dan ibunya menghampiri mereka berempat.

 

 

“Annyeonghaseyo…” sapa ke empatnya saat melihat ibu Kyuhyun dan Cho Ahra yang datang membawakan nampan berisi makanan bagi mereka.

 

 

“Terima kasih kalian sudah datang menemui Kyuhyun”, kata Nyonya Cho.

 

 

“Tidak apa-apa, bibi. Sudah seharusnya kami berada disini”, balas Changmin.

 

 

“Tapi, maukah kalian membantuku?” tanya Nyonya Cho.

 

 

“Ne, tentu saja, bibi. Apa yang bisa kami bantu?” tanya Sooyoung.

 

 

“Tolong bujuk Kyuhyun untuk beranjak dari sana…” jawab Nyonya Cho.

 

 

“Ne?” ke empatnya memberikan respon yang sama bersamaan.

 

 

“Kyuhyun belum makan dan minum apapun sejak kemarin. Dia juga tidak tidur selama dua hari. Kami khawatir Kyuhyun akan jatuh sakit jika seperti ini terus”, jelas Cho Ahra. “Aku, appa dan eomma sudah mencobanya, begitupun dengan anggota keluarga yang lain. Tapi Kyuhyun tetap menolak. Tadi siang Kyuhyun bahkan sempat berusaha mengusir teman kalian yang bernama Seohyun. Bisakah kalian membantu kami?” tanya Ahra.

 

 

“Kyuhyun sangat dekat dengan neneknya. Bahkan Kyuhyun memutuskan untuk tetap berada di Seoul bersama neneknya saat kami pindah ke Amerika. Kepergian neneknya menjadi pukulan yang sangat berat untuknya. Aku akan sangat senang jika kalian mau membantuku”, kata Nyonya Cho.

 

 

“Tentu kami akan membantu, bibi. Walaupun kami tahu akan sangat sulit, tapi kami akan mencobanya”, kata Sujin menyanggupi, diikuti dengan anggukan dari Sooyoung, Changmin, dan Hyukjae.

 

 

Mereka pun melakukan seperti yang mereka janjikan pada Nyonya Cho. Satu persatu dari mereka maju mendekati Kyuhyun untuk membujuknya. Namun yang mereka dapatkan hanya penolakan dari Kyuhyun yang bahkan tidak bicara maupun menatap mereka. Kekhawatiran ibu dan kakak Kyuhyun semakin bertambah saat Kyuhyun menggunakan tangan kanannya untuk menopang tubuh lemahnya, dan keringat terlihat membasahi keningnya. Sekali lagi, Changmin, Hyukjae, Sooyoung, dan Sujin mencoba membujuk Kyuhyun. Tapi hasilnya tetap nihil. Si keras kepala Cho Kyuhyun tetap tidak beranjak dari tempatnya. Sampai saat Hyukjae menoleh ke arah lorong datangnya para tamu, seseorang yang sejak tadi mereka tunggu berdiri disana masih dengan seragamnya, menimbang ragu pada langkahnya.

 

 

“Bagaimana hasil pemeriksaanmu?” tanya Hyukjae.

 

 

“Apakah itu hal yang penting untuk dibahas sekarang?” tanya Sora.

 

 

“Kami tidak akan membiarkan kau yang sakit berada disini dan memperburuk keadaanmu, Kim Sora”, jelas Hyukjae.

 

 

“Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan Kyuhyun?” tanya Sora.

 

 

“Dia terpukul. Hanya itu yang kami tahu. Dia tidak tidur, makan, minum, ataupun bicara. Semua orang yang dekat dengannya sudah mencoba. Tapi tidak ada satupun yang berhasil membujuknya. Bahkan ibunya…” jawab Hyukjae.

 

 

“Lakukan sesuatu, Sora-ya…” kata Sooyoung yang bergabung dengan Hyukjae.

 

 

“Apa yang bisa aku lakukan? Dia bahkan menolak semua orang”, kata Sora.

 

 

“Paling tidak cobalah membujuknya… Dia sangat lemah. Jika dia bersikeras tetap seperti itu, kami khawatir dia akan jatuh pingsan”, sambung Sujin yang menghampiri mereka. Dari kejauhan Changmin menatap Sora dan menganggukkan kepalanya, meminta Sora untuk mencoba.

 

 

Sora pun mengangguk menyanggupi permintaan teman-temannya. Dengan langkah yang ragu, Sora berjalan mendekat. Ia memberikan ucapan belasungkawa nya pada ayah dan paman Kyuhyun, lalu memberikan penghormatan terakhirnya pada nenek Kyuhyun. Akhirnya Sora berdiri menghadap Kyuhyun yang duduk dengan kepala yang masih tertunduk. Perlahan Sora berjalan mendekati Kyuhyun, lalu bersimpuh tepat di depan Kyuhyun. Bermacam emosi tiba-tiba seolah menghampiri Sora. Ia merasa takut, sedih, lelah, sakit, dan khawatir. Sora mengambil beberapa lembar tisu di saku jas seragamnya, lalu memberanikan diri menggerakkan tangannya mendekat pada kepala Kyuhyun dan menyeka keringat di kening Kyuhyun. Sora kembali memasukkan tisu yang sudah basah itu ke dalam coatnya. Sekali lagi Sora memberanikan diri menyentuhkan tangannya di bahu Kyuhyun, lalu memberikan usapan lembut disana.

 

 

“Menangislah… Kau boleh menangis, Cho Kyuhyun”, kata Sora akhirnya.

 

 

Perlahan Kyuhyun mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Sora yang menunjukkan ekspresi khawatirnya pada Kyuhyun. Kening Sora berkerut dan bibirnya bergetar melihat wajah lelah Kyuhyun dan ekspresi yang menunjukkan betapa lemah keadaanya saat ini.

 

 

“Gwaenchanha… Kau tidak harus selalu menjadi kuat”, kata Sora lagi.

 

 

Kyuhyun menghela napas panjang. Kemudian ia mengangkat tangan kanannya dan mengarahkannya ke wajah Sora. Kyuhyun menyentuhkan telapak tangannya di pelipis kiri Sora, lalu menghapus jejak kerutan di kening Sora dengan ibu jarinya. Changmin, Hyukjae, Sooyoung, Sujin, Nyonya Cho, dan Ahra, menunjukkan ekspresi khawatir sekaligus lega nya pada apa yang mereka lihat.

 

 

“Wasseo? (Kau datang?)” tanya Kyuhyun dengan suara seraknya.

 

 

“Eung… Manhi himdeulji? (Ini sangat berat, ya?)” tanya Sora.

 

 

“Eo…” jawab Kyuhyun singkat sambil mengangguk pelan.

 

 

“Apa yang bisa aku lakukan untukmu?”

 

 

“Yeoppe isseojwo… (Tetaplah bersamaku…)” pinta Kyuhyun.

 

 

“Arasseo. Yeoppe isseuljulgeoya. Nan anga. Geunde, jamkkanman swigo, jogeum man meogo, eo? Jebal… (Baiklah. Aku akan tetap bersamamu. Aku tidak pergi. Tapi, beristirahatlah sebentar, makanlah sedikit, ya? Aku mohon…)

 

 

“Eo… Kau juga. Wajahmu pucat”, kata Kyuhyun yang masih saja mengkhawatirkan Sora.

 

 

“Geurae. Kita makan bersama…” kata Sora mengiyakan ucapan Kyuhyun.

 

 

Kyuhyun menggerakan tangannya menuruni wajah Sora. Ia berhenti tepat dibawah rahang Sora, lalu melesakkan tangannya ke sela-sela rambut Sora. Kyuhyun membelai pipi Sora dengan lembut. Tiba-tiba Kyuhyun mengerutkan keningnya dan menghela napasnya.

 

 

“Gwaenchana. Ureodo dwae… Ureodo dwae, Cho Kyuhyun… (Tidak apa. Kau boleh menangis… Kau boleh menangis, Cho Kyuhyun…)” kata Sora.

 

 

Kyuhyun melepaskan tangannya dari wajah Sora, kemudian meletakkannya di lantai untuk menopang tubuh lelahnya. Kyuhyun kembali menundukkan kepalanya. Di detik berikutnya terdengar suara isakan. Sora berusaha menatap wajah Kyuhyun yang terhalang oleh kepalanya. Ternyata Kyuhyun sudah menggenggam erat ujung jas seragam Sora dan menangis dengan keras, menumpahkan segala kesedihan yang ia rasakan. Sora pun meraih Kyuhyun ke dalam pelukannya. Kyuhyun meletakkan kepalanya di bahu Sora, dan menangis sekeras yang ia bisa. Sora menyentuhkan tangannya di punggung Kyuhyun, lalu menepuk pelan untuk menenangkannya. Kyuhyun berteriak tertahan dalam pelukan Sora, membuat Sora tidak bisa menahan air mata keluar dari matanya. Sora menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara tangisan dari bibirnya. Seolah dapat merasakan kesedihan yang dirasakan Kyuhyun, Sora memberikan kecupan singkat di puncak kepala Kyuhyun, lalu meletakkan kepalanya diatas kepala Kyuhyun dan mengusap pelan punggung Kyuhyun. Butuh waktu hampir 10 menit hingga akhirnya tangis Kyuhyun mereda. Sora pun melepaskan pelukannya pada Kyuhyun, dan menghapus air mata di pipinya.

 

 

“Ayo kita makan…” ajak Sora.

 

 

Kyuhyun menganggukkan kepalanya pelan. Sora meraih lengan Kyuhyun, berusaha membantunya bangun. Namun bobot tubuh Kyuhyun jauh melebihi Sora. Dengan sigap Changmin dan Hyukjae menghampiri mereka untuk membantu Sora membawa Kyuhyun ke ruang makan. Changmin menyentuh tangan Sora, melepaskannya dari lengan Kyuhyun, meminta Sora untuk berjalan lebih dahulu menuju ruang makan. Changmin dan Hyukjae membantu Kyuhyun berjalan secara perlahan dengan tubuh lemahnya, kemudian mendudukkan Kyuhyun di tempat yang sudah disiapkan oleh Nyonya Cho dan Ahra di dekat dinding. Kyuhyun menoleh pada Sora, lalu menarik lengan Sora seolah meminta Sora untuk duduk lebih dekat dengannya. Sora menatap Nyonya Cho dan Ahra yang duduk didepan mereka sambil menganggukkan kepala pada Sora, meminta Sora menuruti keinginan Kyuhyun. Sora pun bergeser mendekat pada Kyuhyun. Di kejauhan, Sora bisa merasakan tatapan kesal yang ditunjukkan Seohyun padanya. Tapi saat ini, pikiran Sora hanya terpusat pada keadaan Kyuhyun yang lemah.

 

 

“Cepatlah makan saat nasinya masih hangat”, kata Sora membujuk Kyuhyun.

 

 

Kyuhyun mengangguk dan mulai menyuapkan satu demi satu suapan nasi ke dalam mulutnya. Melihat yang dilakukan Kyuhyun, akhirnya Sora meletakkan lauk serta sayuran di sendok yang akan dimasukkan Kyuhyun ke mulutnya, karena sejak tadi Kyuhyun hanya menyuapkan nasi saja tanpa lauk ataupun sayur. Dan Kyuhyun berhenti di suapan ke sepuluhnya. Nasi dalam mangkuknya masih tersisa setengah, namun Kyuhyun menolak untuk menghabiskannya. Kyuhyun bergerak, bermaksud untuk berdiri dan kembali ke tempatnya semula, namun Sora menahannya.

 

 

“Jamkkan yeogi isseo…… Narang gati… eum? (Tetaplah disini sebentar saja…… Bersamaku… ya?)” pinta Sora.

 

 

Kyuhyun pun mengurungkan niatnya untuk kembali ke pelataran altar tempat abu neneknya di semayamkan. Sora memundurkan posisi duduknya, lalu mengambil segelas air dan memberikannya pada Kyuhyun. Tanpa berpikir panjang, Kyuhyun menghabiskan air dalam gelas itu dan meletakkannya di meja. Tiba-tiba Kyuhyun membuka jas nya dan menutupi kaki Sora yang tidak tertutupi apapun karena ia masih menggunakan rok seragam sekolahnya yang cukup pendek. Di detik berikutnya, Kyuhyun meletakkan kepalanya di pangkuan Sora dan berbaring dilantai.

 

 

“Berjanjilah kau akan tetap disini bersamaku…” kata Kyuhyun.

 

 

“Tentu. Aku tidak akan kemanapun”, balas Sora.

 

 

Changmin datang menghampiri mereka dengan selimut ditangannya. Ia lantas menyelimuti tubuh Kyuhyun yang memejamkan matanya di pangkuan Sora.

 

 

“Cobalah untuk tidur sebentar saja, imma. Kami akan tetap disini bersama mu”, kata Changmin yang dijawab dengan anggukkan oleh Kyuhyun.

(imma = buddy/hey/kid)

 

 

Nyonya Cho juga mendekati mereka dan memberikan sebuah coat tebal untuk dikenakan Sora. “Jal butakhae, Sora-ya… Gomawo… (Aku mengandalkanmu, Sora… Terima kasih…)” kata Nyonya Cho.

 

 

“Ne, bibi…” jawab Sora berbisik.

 

 

 

 

###############

 

 

 

 

Kyuhyun terbangun setelah tidur semalaman. Waktu sudah menunjukkan pukul 4.48 pagi. Ia membuka matanya yang terasa masih sangat berat dan mengerjapkannya beberapa kali untuk mendapatkan kesadarannya. Kyuhyun pun memutar posisi tubuhnya yang miring menjadi terlentang. Perubahan posisi yang ia lakukan membuat tangan Sora yang semula berada di lengannya berpindah ke dadanya. Kyuhyun pun mendongakkan kepalanya, menatap wajah tertidur Sora. Kemudian ia menyadari ada rangkaian lain disebelah Sora. Kyuhyun mengangkat tangan Sora di dadanya, lalu beranjak bangun dari posisi tidurnya dan duduk. Kyuhyun memperhatikan teman-temannya yang ternyata tertidur didekatnya. Changmin tidur bersandar duduk di dinding dengan Sooyoung yang bersandar di bahu kanannya dan Sora di bahu kirinya. Lalu Kim Sujin berbaring dengan meletakkan kepalanya di pangkuan Sooyoung, sementara Hyukjae tidur dengan kaki kurus Changmin sebagai bantalnya. Kyuhyun menghela napas karena melihat bukti kesetiaan mereka menemaninya disana seperti yang sudah mereka katakan. Kemudian Kyuhyun menyandarkan tubuhnya ke dinding, lalu memasukkan tangannya di sela leher Sora yang tidak bersentuhan dengan bahu Changmin, dan menarik tubuh Sora perlahan ke pelukannya. Di detik berikutnya Sora menggeliat membenarkan posisinya di pelukan Kyuhyun. Setelah memastikan Sora tidak lagi bergerak, Kyuhyun pun melingkarkan lengannya di tubuh Sora, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, lalu meletakkan kepalanya diatas kepala Sora. Kyuhyun mengecup puncak kepala Sora selama beberapa saat, kemudian menyandarkan kepalanya diatas kepala Sora.

 

 

“Emmm… kakiku sakit…” kata Sora bicara masih dengan matanya yang terpejam.

 

 

“Mianhae… Itu salahku…” kata Kyuhyun berbisik seolah menanggapi ucapan Sora.

 

 

“Cho Kyuhyun….. Apeujima….. (Jangan sakit/jangan terluka…)”

 

 

“Arasseo. Tidurlah… Sekarang aku yang akan menjaga mu…”

 

 

“Eo… Geunde, mulai hari ini aku juga akan menjagamu, Cho Kyuhyun …” kata Sora lagi dengan suara bangun tidurnya.

 

 

Kyuhyun sontak membelalakkan matanya mendengar ucapan Sora. Kyuhyun menjauhkan kepalanya dan memperhatikan Sora yang masih memejamkan mata di pelukannya. Kyuhyun baru menyadari bahwa Sora tidak lagi meracau, melainkan menanggapi ucapannya. Ternyata Sora sudah terbangun sejak Kyuhyun memindahkan tubuh Sora. Perlahan Sora membuka matanya dan menatap kosong ke lantai. Sora menghela napas panjang lalu menegakkan posisi tubuhnya. Sora duduk menghadap Kyuhyun, mengerjapkan matanya beberapa kali lalu memperhatikan wajah Kyuhyun seolah membaca isi pikirannya.

 

 

“Maaf aku membangunkanmu…” kata Kyuhyun yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Sora.

 

 

“Bagaimana perasaanmu saat ini?” tanya Sora dengan suaranya yang serak.

 

 

“Lebih baik”, jawab Kyuhyun singkat.

 

 

“Bagus jika begitu…” kata Sora. “Ah, jam berapa upacara persemayaman akan dimulai?” tanya Sora.

 

 

“Mungkin jam 9 atau 10”, jawab Kyuhyun.

 

 

“Baiklah… Sepertinya aku masih memiliki waktu untuk mandi dan berganti pakaian dirumah. Aku akan kembali jam 8. Kau akan baik-baik saja, kan?” tanya Sora.

 

 

“Aku akan mengantarmu…”

 

 

“Tidak. Tidak perlu. Kau tetaplah disini. Aku naik taksi saja. Aku akan kembali secepat yang aku bisa”.

 

 

“Tidak. Aku akan mengantarmu. Tidak ada yang akan keberatan. Dan nenek juga pasti mengerti. Lagipula jika aku tetap disini aku justru akan merasa khawatir padamu. Berikan sedikit ketenangan padaku, Kim Sora” kata Kyuhyun meyakinkan.

 

 

Sora pun hanya bisa mengangguk memperbolehkan Kyuhyun mengantarnya kembali ke rumah untuk membersihkan diri. Mereka bangkit berdiri dan berjalan perlahan meninggalkan ruangan, hati-hati agar tidak membangunkan teman yang lain. Kyuhyun menggandeng tangan Sora menuju mobilnya, membuka pintu kursi disebelah kemudi, lalu dengan mempersilahkan Sora untuk masuk. Tanpa mengatakan apapun, Kyuhyun mengemudikan mobilnya menuju lokasi yang diberitahukan oleh Sora.

 

 

“Beberapa saat yang lalu aku mendengarmu mengatakan sesuatu…” kata Kyuhyun akhirnya, memecah keheningan dalam mobilnya.

 

 

“Kapan? Aku tidak mengatakan apapun”, kata Sora.

 

 

“Aku yakin mendengar kau mengatakan sesuatu sesaat setelah kau bangun”, kata Kyuhyun lagi dengan yakin.

 

 

“Ah… itu. Saat aku mengatakan aku akan menjagamu?”

 

 

“Eo… Bisa kau jelaskan padaku?” tanya Kyuhyun.

 

 

“Mwo..… Aku hanya mengatakan apa yang ada dipikiranku”, kata Sora yang kemudian terdiam dan menghela napas panjang. “Aku tidak tahu apa alasanku mengatakan hal itu padamu. Aku sudah memikirkannya, tapi tidak ada jawaban apapun yang aku dapatkan. Rasanya seolah aku sedang bermimpi berada pada suatu waktu dimana aku tidak mempedulikan apapun. Aku hanya melihatmu dalam kesedihan dan kekacauan dirimu. Lalu tiba-tiba aku tidak memiliki kemampuan untuk meninggalkanmu. Aku tidak berharap kau bisa mengerti apa yang baru saja aku katakan, Cho Kyuhyun. Karena sampai saat ini aku bahkan tidak mengerti dengan semua hal yang ku rasakan”, kata Sora menjelaskan.

 

 

“Kau menyukaiku…” kata Kyuhyun menyimpulkan ucapan Sora, masih sambil mengemudikan mobilnya.

 

 

“Aku tidak pernah tidak menyukaimu, ataupun membencimu…”

 

 

“Tidak seperti itu. Kau…..menyukaiku seperti aku menyukaimu”

 

 

“Amado… (Mungkin saja…) Aku tidak tahu”

 

 

“Gwaenchanha… Pahami dengan perlahan. Aku tidak mengejarmu. Aku tidak ingin kau terjatuh karena mencoba lari (mengelak) dariku ataupun dirimu sendiri”.

 

 

“Aku tidak bisa, Cho Kyuhyun”

 

 

“Mwoga?”

 

 

“Lari. Aku tidak menemukan alasan untuk lari. Bahkan keberadaan Seohyun pun tidak bisa membuatku lari darimu. Jika aku tidak bisa melarikan diri untuk waktu yang lama, kau harus bertanggung jawab, Cho Kyuhyun…”

 

 

“Arasseo…” jawab Kyuhyun sambil menoleh pada Sora dan memberikan senyum tipis di wajah lelahnya.

 

 

 

 

Akhir Febuari 1998

Sekolah Menengah Atas Provinsi Khusus Seoul

 

Suasana sudah kembali pada keadaan yang semestinya. Ke-enam bersahabat kelas III yang terkenal seantero sekolah itupun sudah melupakan hal-hal yang perlu mereka lupakan, dan memperbaiki setiap kesalahan yang mereka perbuat. Tidak banyak hal yang berubah dari mereka setelah apa yang mereka alami. Mereka tetap sekelompok siswa yang memiliki daya tarik besar disekolah itu. Hanya satu perubahan yang cukup terlihat, yaitu mundurnya Seohyun dari lingkungan mereka.

 

 

Seohyun akhirnya memutuskan mundur setelah apa yang ia saksikan sendiri dengan mata kepalanya saat hari kepergian nenek Kyuhyun. Hari itu, Seohyun yang notabene adalah gadis yang penurut, nerd, pendiam, dan selalu patuh pada peraturan, untuk pertama kalinya ia membolos dari sekolah. Seohyun datang ke rumah duka sejak awal ia mendapatkan kabar itu dari seorang utusannya yang diperintahkannya untuk mengikuti Kyuhyun. Seohyun meninggalkan satu hari sekolahnya untuk berada bersama dengan keluarga Kyuhyun, memberikan dukungan moril pada mereka. Namun usaha nya hanya membuahkan hasil penolakan dari Kyuhyun yang bahkan tidak mau menatap ataupun mendengarnya. Seohyun masih meyakinkan diri untuk terus mencoba dengan mendekati ibu dan kakak perempuan Kyuhyun. Dan ternyata sekali lagi, hatinya hancur bagai dibelah dengan pedang. Kim Sora datang dan kembali mencairkan gunung es seorang Cho Kyuhyun dengan sangat mudah. Bahkan Kyuhyun tidak bisa melepaskan pandangannya sedikitpun dari sosok Sora. Mata, tangan, dan seluruh gerak tubuh Kyuhyun hanya tertuju pada Sora. Seolah Kim Sora adalah pusat gravitasinya.

 

 

Seohyun tidak bisa lagi bertahan dengan penolakan yang diberikan Kyuhyun. Sebelumnya ia sudah merasa yakin akan bisa menerima apapun sikap Kyuhyun padanya. Namun, Kyuhyun membuktikan apa yang ia katakan, dalam pidatonya saat acara pemberian penghargaan kepada siswa/i berprestasi. Saat itu Kyuhyun dengan lantang berkata, ‘Setiap orang berhak memilih apa yang ia suka dan yang tidak. Ada dua masa yang menyertai masa sekarang, yaitu masa lalu dan masa depan. Dengan hak yang aku miliki, aku memilih untuk hidup menatap masa yang akan datang, bukan menatap masa yang telah berlalu. Dan aku akan terus bertahan pada sisi yang aku sukai, dengan begitu aku bisa melanjutkan hidupku’. Dalam bahasa sederhana Seohyun menyimpulkan bahwa Kyuhyun tidak mempedulikan keberadaannya. Kyuhyun telah memilih untuk mengabaikan Seohyun dalam hidupnya. Akhirnya Seohyun memutuskan untuk keluar dari bayang-bayang Kyuhyun dan menjauh dari lingkaran lingkungan disekitarnya, termasuk menjauhi ketiga sahabatnya. Seohyun menukar tempat duduknya dikelas dengan seorang siswi di ujung lain kelas, dan benar-benar memutus komunikasi dari sahabat-sahabatnya sepanjang berada di sekolah.

 

 

Bel istirahat baru saja berbunyi, namun Hyukjae, Changmin, dan Kyuhyun sudah berada di koridor depan kelas III-4, bersandar pada dinding disana. Banyak gadis yang berlalu lalang di koridor itu sesekali berjalan melambat saat melewati ketiga anak laki-laki itu. Melihat ramainya koridor di depan kelas mereka, Sooyoung dan Sujin pun langsung berjalan menghampiri keramaian itu. Changmin dan Hyukjae tersenyum dengan lebar saat melihat Sooyoung dan Sujin muncul di ambang pintu, membuat gadis-gadis yang berada di sekitar mereka berdecak terpesona melihat pemandangan langka senyum mengembang Changmin dan Hyukjae dihadapan mereka. Walaupun beberapa gadis masih menunjukkan kekecewaan mereka karena raut wajah Kyuhyun tidak berubah sedikitpun.

 

 

“Apa yang kalian lakukan disini? Membuat keributan saja…” kata Sooyoung pada ketiga anak laki-laki itu.

 

 

“Tentu saja menunggu kalian keluar dan bermain bersama kami”, jawab Hyukjae.

 

 

“Jangan bercanda. Kalian hanya ingin mencari perhatian dari gadis-gadis, bukan?” tanya Sujin curiga.

 

 

“Mungkin kau benar, Sujin-ah. Tapi bukan aku orangnya”, jawab Changmin sambil melirik pada Hyukjae.

 

 

Tanpa berniat ikut dalam pembicaraan itu, Kyuhyun berjalan masuk ke kelas saat Sooyoung dan Sujin sudah berpindah dari ambang pintu untuk menghampiri Changmin dan Hyukjae yang bersandar di dinding pinggir koridor. Seisi kelas kembali ramai karena masuknya Cho Kyuhyun yang notabene belum kehilangan popularitasnya bahkan di kalangan siswa satu angkatannya. Kelas yang semula sedikit kosong tiba-tiba kedatangan beberapa gadis dari kelas lain yang masuk untuk mencari perhatian Kyuhyun. Namun pandangan Kyuhyun hanya tertuju pada seorang gadis diujung baris yang sedang meletakkan kepalanya di meja dan tertidur. Kyuhyun berjalan mendekat lalu duduk tepat disamping tempat duduk gadis itu. Ia menatap gadis itu dengan tatapan yang tidak dapat diartikan dengan kata yang tepat. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran, juga kedamaian. Refleks Kyuhyun menggerakan tangannya mendekati kepala gadis itu dan mengelus rambutnya dengan lembut, membuat gadis itu perlahan membuka matanya yang masih terasa berat karena rasa kantuk. Kyuhyun menyingkirkan helaian rambut yang hampir menutupi wajah gadis itu, lalu menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu.

 

 

“Jam berapa kau sampai dirumah?” tanya Kyuhyun dengan suara rendahnya.

 

 

“Jam 9? 9.30? Aku tidak ingat…” jawab Sora dengan malas masih dengan mata yang coba tetap ia pejamkan.

 

 

“Lalu kau benar-benar langsung belajar untuk ujian?” tanya Kyuhyun lagi. Sora menjawabnya dengan anggukan pelan. “Sampai jam?”

 

 

“2? Aku tidak yakin”, jawab Sora.

 

 

Sora pun mencoba mengangkat kepala menegakkan posisi duduknya. Kini ia duduk bersandar di tembok, mengahadap ke arah Kyuhyun. Matanya sontak terbuka lebar saat menyadari banyaknya gadis yang bahkan beberapa diantara mereka tidak ia kenal, berada di kelasnya. Gadis-gadis itu melakukan banyak hal. Sekelompok kecil di bangku terdepan barisannya sedang membicarakan Kim Dong Ryul, penyanyi kesukaan Kyuhyun. Lalu sekelompok lain dibelakang Kyuhyun sedang membicarakan buku sastra karya penulis yang sering Kyuhyun baca di perpustakaan. Lain lagi dengan sekelompok di bangku terdepan sisi lain kelas, mereka bukan hanya membicarakan Kim Dong Ryul, namun juga menyanyikan lagunya, walaupun suara mereka cukup bisa membuat setiap orang yang mendengarnya ingin melempar sepatu untuk menghentikan mereka.

 

 

“Apa yang mereka lakukan disini?” tanya Sora bingung, belum sadar sepenuhnya. Ia menyandarkan kepalanya juga di dinding lalu memejamkan matanya lagi.

 

 

“Aku tidak peduli”, jawab Kyuhyun dingin. “Kau ingin makan sesuatu? Akan aku belikan. Katakan saja…” tanya Kyuhyun yang diiringi dengan heningnya suasana kelas secara tiba-tiba karena mendengar ucapan yang keluar dari mulut Kyuhyun.

 

 

“Aku sudah makan. Sujin membawakan kimbap”, jawab Sora.

 

 

“Obatmu?”

 

 

“Aku juga sudah meminumnya”, jawab Sora lagi.

 

 

“Semuanya?” tanya Kyuhyun lagi.

 

 

Sontak mata Sora terbuka dan menatap mata Kyuhyun tajam. “Kenapa hari ini kau bicara sangat banyak, Cho Kyuhyun?” tanya Sora kali ini, protes dengan sikap Kyuhyun.

 

 

Jika aku diposisinya, aku rela mendengarnya bicara sepanjang hari”, bisik seorang siswi entah dimana yang didengar oleh Sora. “Mwoya Kim Sora…”, kata beberapa gadis yang lain.

 

 

“Aku sedang mengantuk. Pergilah kemanapun atau lakukan hal yang lain, Cho Kyuhyun…” kata Sora yang kembali meletakkan kepalanya di meja, menghadap ke arah Kyuhyun.

 

 

“Arasseo…” kata Kyuhyun sambil menarik kursi yang didudukinya merapat pada kursi Sora. “Aku akan berada disini dengan tenang”.

 

 

Kyuhyun menopangkan kepalanya dengan tangan kanan diatas meja, lalu meletakkan tangan kirinya di punggung Sora. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Sora untuk membantunya tidur. Kyuhyun terus melakukannya bahkan dalam keramaian kelas yang mulai meningkat karena sikap Kyuhyun yang membuat para gadis disekitarnya tercekat. Beberapa diantara pada gadis itu juga membicarakan dan menyalahkan Sora mengenai perubahan sikap Kyuhyun saat itu. Suasana kelas itu semakin riuh, membuat Sora mengernyitkan keningnya karena tidak bisa tidur dengan tenang.

 

 

“Ya sikkeureo!!!” seru Sora yang tiba-tiba bangun.

 

 

Kyuhyun yang mendengarnya tentu saja terkejut dengan posisi kedua tangan terangkat dari tempatnya semula. Suasana kelas berubah hening. Sora menunjukkan ekspresi kesal sekaligus mengantuknya menghadapi para gadis yang memenuhi kelasnya itu.

 

 

“Wae geurae, Kim Sora? Jaesueobseo… (Ada apa, Kim Sora?)” komentar beberapa gadis di kelas itu.

 

 

“Mwo??? Pergilah ke kelasmu… aish!!!” seru Sora lagi.

 

 

“Aku?” tanya Kyuhyun akhirnya mengakhiri keheningan kelas.

 

 

“Apa?”

 

 

“Kau memintaku untuk pergi juga?” tanya Kyuhyun lagi.

 

 

“Kapan aku mengatakannya? Kau bilang kau akan berada disini. Atau kau ingin pergi ke tempat lain?” tanya Sora. Kyuhyun hanya menatap Sora dengan tatapan bingungnya. “Arasseo… Ayo kita pergi. Pilih tempat manapun yang kau inginkan, tapi pilihlah yang paling tenang”, kata Sora yang membuat Kyuhyun terdiam untuk berpikir selama beberapa saat.

 

 

“Kau tidak terlihat baik. Tidakkah kau ingin kembali ke rumah saja? Aku akan mengantarmu. Teman-teman yang lain bisa me…..”

 

 

“Ya… michyeosseo?” kata Sora memotong ucapan Kyuhyun. “Kenapa aku harus melakukan itu? Auh… Tidak tidak. Ini sudah kali ke berapa kau menyuruhku kembali ke rumah, eo? Kau ingin nilaiku terjun bebas ke tanah? Kita tidak akan kemanapun diluar sekolah…”

 

 

“Perpustakaan? Ruang kesehatan?” tanya Kyuhyun sambil berbisik.

 

 

Sora mengerjapkan matanya lagi mengumpulkan sisa kesadarannya. Sora lantas berdiri dari tempatnya duduk. “Ayo…” kata Sora sambil menepuk bahu Kyuhyun dua kali, menandakan persetujuannya akan ide Kyuhyun.

 

 

Kyuhyun pun berjalan mengikuti Sora begitu saja, benar-benar tidak mempedulikan siapapun disekitarnya. Gadis-gadis itu pun berdecak kesal dengan apa yang baru saja mereka lihat. Kyuhyun hanya melihat Sora di matanya, bahkan dengan semua keramaian di kelas itu. Usaha yang sudah mereka lakukan menjadi sangat sia-sia. Kyuhyun bahkan tidak mengalihkan pandangannya sedetikpun dari Kim Sora.

 

 

“Kau sudah bangun?” tanya Sooyoung saat Sora dan Kyuhyun tiba di ambang pintu kelas. Sora mengangguk pelan dengan raut wajah yang masih mengantuk.

 

 

“Cho Kyuhyun membangunkanmu?” tanya Sujin dengan nada sedikit kesal.

 

 

“Kau selalu saja menyalahkan aku, Kim Sujin. Aku sejahat itu dimata mu?” tanya Kyuhyun keberatan dengan tuduhan Sujin.

 

 

“Ani… Kami semua berada diluar. Kau masuk ke dalam untuk menghampiri Sora yang sedang tertidur. Lalu tiba-tiba Sora bangun dan keluar. Siapa lagi penjahatnya jika bukan kau?” kata Sujin mengawali perdebatannya dengan Kyuhyun.

 

 

“Ya… Bukan aku. Aku bahkan hanya duduk disana dengan tenang. Aku tidak menganggunya…” kata Kyuhyun membela diri.

 

 

“Hhh… Bahkan jawabanmu masih tidak bisa meyakinkanku, Cho Kyuhyun…” kata Sujin lagi.

 

 

“Ada apa denganmu, Kim Sujin? Kenapa kau sangat tidak menyukaiku? Aku membuat kesalahan padamu? Aku benar-benar tidak melakukannya…” balas Kyuhyun dengan nada kesal.

 

 

“Ya! Ya! Aaahhh… Ada apa dengan kalian berdua? Jangan bertengkar, eo?” sambung Sora.

 

 

“Sora-ya, mau ku belikan susu strawberry?” tanya Changmin tiba-tiba.

 

 

“Ya aish!!!” Hyukjae, Kyuhyun, Sooyoung dan Sujin merespon pertanyaan Changmin pada Sora dengan tanggapan yang serempak.

 

 

“Anak ini benar-benar tidak bisa membaca situasi. Neon babo-ya? (Kau bodoh?)” kata Hyukjae.

 

 

“Mwo??? Mwo??? Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya menawarkan untuk membelikan Sora sekotak susu strawberry…” Changmin memberikan pembelaan dirinya.

 

 

“Hajima aish! Susu strawberry….. Jangan lakukan apapun, arasseo?” kali ini Sooyoung yang meluncurkan seruan keberatannya. Changmin hanya bisa mengangguk cepat menjawab perintah Sooyoung.

 

 

“Teman-teman, sudah hentikan. Kalian bertengkar seperti anak-anak…” kata Sora sambil tertawa kecil. “Ah… kantukku hilang sudah. Ayo kita ke kantin saja. Aku ingin makan makanan kecil. Dan jangan susu strawberry hari ini, Shim Changmin. Aku hanya akan menjadi lebih mengantuk dengan meminumnya”.

 

 

“Kau juga baru meminum obatmu. Tidak disarankan minum susu setelahnya, bukan? Minum yang lain saja. Katakan padaku yang kau inginkan…” sambung Kyuhyun.

 

 

“Mwoya Cho Kyuhyun… Kalian berkencan? Akhirnya?” tanya Sooyoung dengan wajah curiga dan senyum yang mengembang.

 

 

“Eeeiiiiii, benarkah?” tanya Hyukjae ragu.

 

 

“Siapa? Kyuhyun dan Sora? Wae??? Hajima…” tanya Sujin bercanda, yang disambut dengan tatapan tajam Kyuhyun. Sujin menjulurkan lidahnya pada Kyuhyun dan tertawa kecil setelahnya.

 

 

“Ya, ya, ayo kita ke kantin sebelum kantukku kembali…” kata Sora mengajak teman-temannya.

 

 

“Sudah tidak memerlukan perpustakaan atau ruang kesehatan?” tanya Kyuhyun.

 

 

Sora menggeleng sambil tersenyum. “Rasa kantukku mulai memudar. Ayo kita makan sesuatu”, jawab Sora.

 

 

“Arasseo. Perutmu masih kuat menampung banyak makanan setelah kimbap dari Sujin?” tanya Kyuhyun.

 

 

“Aku rasa begitu. Akhir-akhir ini nafsu makanku sedikit meningkat. Aku akan mendapatkan masalah dari eomma jika berat badanku meningkat…” jawab Sora.

 

 

“Kita hanya perlu berolahraga. Tenang saja, aku akan menjelaskannya pada eomeoni. Kau tidak akan mendapatkan masalah apapun jika ada Cho Kyuhyun”, kata Kyuhyun.

 

 

“Whoooo Cho Kyuhyun…” seru Changmin, Hyukjae, Sooyoung dan Sujin menggoda sikap Kyuhyun.

 

 

“Berbeda. Tentu berbeda. Didepan gadis yang dipuja nya tentu tidak ada lagi si dingin Cho Kyuhyun…” sambung Changmin.

 

 

“Tentu saja. Mereka bahkan bicara pada satu sama lain seolah kita tidak berada disekitar mereka. Kalian dengar yang Cho Kyuhyun katakan? Bahkan dia akan membela Sora didepan eomma nya…” sambung Sujin.

 

 

“Apa yang kau lakukan padanya, Sora-ya? Seorang Cho Kyuhyun bisa selembut ini pada seorang gadis. Aku benar-benar tidak pernah menduga hari ini akan tiba”, kata Sooyoung dengan ekspresi terkejut berlebihannya.

 

 

“Kalian berdua benar-benar berkencan, bukan?” tanya Hyukjae.

 

 

 

 

Mei 1998

Taman Belakang Sekolah Menengah Atas Provinsi Khusus Seoul

 

Sora duduk di bangku taman belakang sekolah seorang diri, memperhatikan dua kura-kura yang sedang bermain bersama. Cuaca sudah menunjukkan tanda-tanda meningkatnya suhu yang signifikan. Para siswa masih harus bersabar menunggu libur musim panas yang akan menjelang. Sora tidak benar-benar memikirkan hal itu. Ia selalu menjalani hari-harinya sebaik yang ia bisa. Tentu akan menyenangkan jika hari itu datang lebih cepat. Tapi kenangan tidak dapat dibuat dengan waktu yang terburu. Setiap hari, apapun yang terjadi, akan menjadi kenangan yang dapat diingat suatu saat nanti.

 

 

Tiba-tiba seseorang seperti biasanya menghampiri Sora di taman itu. Changmin duduk disebelah Sora dengan senyum khasnya. Tempat itu belakangan memang menjadi tempat favorite Changmin dan Sora untuk berbagi cerita disaat teman-temannya yang lain sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Changmin dan Sora biasa menghabiskan waktu istirahat mereka untuk saling berbagi cerita, membahas pelajaran yang baru berlalu, bahkan hanya sekedar berada disana untuk menenangkan diri. Taman belakang sekolah itu tidak terbilang ramai, tapi tidak pula terbilang sepi. Beberapa siswa/i masih bisa ditemukan berlalu lalang, hingga duduk di bangku-bangku lain. Tidak jarang Sora mendengar sekelompok gadis membicarakannya tidak jauh dari tempatnya duduk. Sebagian besar isi pembicaraan itu tentu saja berhubungan dengan Cho Kyuhyun. Bagaimana tidak, seantero sekolah sudah mengetahui dengan jelas besarnya perhatian Kyuhyun pada Sora, perbedaan sikap Kyuhyun pada Sora, dan kedekatan Kyuhyun dan Sora yang tidak biasa. Namun ternyata yang sering mereka lihat adalah pemandangan Sora yang lebih banyak menghabiskan waktunya berada di taman belakang sekolah bersama Changmin. Beberapa kali Sora mendengar kata-kata seperti ‘tidak tahu diri’, ‘gadis buruk/jahat’, hingga ‘pengkhianat’. Sora lebih sering tidak mempedulikannya. Tapi ada kalanya Sora tidak tahan dengan umpatan-umpatan yang ia dengar dan memutuskan untuk pergi dari sana.

 

 

“Menikmati umpatan?” tanya Changmin akhirnya, membuat Sora menoleh padanya sambil tersenyum.

 

 

“Aku mulai terbiasa mendengar umpatan akhir-akhir ini”, jawab Sora.

 

 

“Kepalamu baik-baik saja? Tidak bersarang disana dan berputar-putar layaknya film?” tanya Changmin lagi, kali ini diselingi dengan tawa renyahnya.

 

 

“Umpatan mereka bahkan tidak menyentuh saraf otakku sedikitpun. Beruntung kedua telingaku berfungsi dengan baik. Masuk di telinga kiri lalu keluar melalui telinga kanan. Lewat begitu saja”, jawab Sora santai.

 

 

“Yah… Kim Sora. Sudah ku duga kau cool seperti ini. Apa Kyuhyun tahu tentang hal ini?”

 

 

“Apa ada alasan Cho Kyuhyun harus mengetahuinya?” Sora balik bertanya.

 

 

“Ani… Hanya saja, semua umpatan yang kau dapatkan ada hubungannya dengan Kyuhyun, bukan? Mungkin jika Kyuhyun tahu, umpatan mereka akan berkurang beberapa level”, jawab Changmin dengan analisanya.

 

 

“Andai saja… Tapi dugaanku berkata lain. Jika Cho Kyuhyun mengetahuinya, lalu meributkannya dengan mereka, umpatan mereka akan lebih dahsyat dari sebelumnya. Saat ini mereka sudah memendam kekesalan padaku, lalu ditambah kemarahan Kyuhyun? Itu sama saja dengan menambahkan bensin pada api unggun, Changmin-ah. Tidakkah kau memikirkan itu juga?”

 

 

“Ah… Kau benar”, kata Changmin yang disambung dengan tawa mirisnya. “Geunde, bagaimana hubunganmu dengannya?” tanya Changmin.

 

 

“Mwoga?”

 

 

“Kau tahu….. Kyuhyun sudah mengatakannya padamu bahwa dia menyukaimu. Lalu? Bagaimana hubungan kalian setelahnya?”

 

 

“Geunyang…” jawab Sora menggantung.

 

 

“Geunyang?”

 

 

“Kami tidak berkencan, Shim Changmin. Jika itu yang ingin kau ketahui”, jawab Sora dengan senyum mengembangnya.

 

 

“Kenapa?”

 

 

“Perlukah kami melakukan itu? Mungkin saat ini kami belum menemukan alasan untuk melakukannya. Geunde, Changmin-ah…..” kata Sora menghentikan ucapannya.

 

 

“Apa?”

 

 

“Kau….. baik-baik saja? Ekspresi wajahmu tidak terlihat baik. Senyum mu juga tidak seriang biasanya” tanya Sora ragu.

 

 

Suasana diantara mereka berubah hening. Hanya terdengar suara air dalam kolam, bunyi dedaunan yang tertiup angin, dan tentu saja bisikan umpatan bagi Sora yang sesekali masih terdengar. Ekspresi diwajah Changmin tiba-tiba berubah. Tidak ada lagi keceriaan yang ia jadikan sebagai topeng untuk menutupi ekspresi wajahnya yang sebenarnya. Changmin menggembungkan pipinya, lalu dengan cepat mengembalikannya seperti semula. Ia juga menghela napas berat beberapa kali. Dehaman tidak tertinggal untuk melengkapi kebiasaan Changmin saat sedang menimbang apa yang ingin diucapkannya.

 

 

“Aku baik-baik saja. Ini sering terjadi. Kau tidak perlu khawatir. Aku bisa mengatasinya”, jawab Changmin akhirnya.

 

 

“Janngan berbohong padaku. Jangan selalu mengatakan ‘Aku baik-baik saja. Ini sering terjadi. Kau tidak perlu khawatir. Aku bisa mengatasinya’. Bahkan ada keresahan tersembunyi dalam kata-katamu itu, kau tahu? Tidak apa-apa merasa buruk sesekali, Changmin-ah. Kau tidak harus selalu merasa baik-baik saja”, kata Sora.

 

 

“Lalu kau ingin aku bagaimana? Apa yang harus aku katakan?”

 

 

“Katakan apa yang benar-benar kau rasakan…”

 

 

“Aku tidak baik-baik saja, Kim Sora. Kali ini berbeda. Aku sudah terlalu lama membiarkan masalah ini begitu saja”, kata Changmin jujur.

 

 

“Mianhae…”

 

 

“Dan alasanmu meminta maaf adalah?”

 

 

“Aku tidak tahu. Aku hanya ingin mengatakannya. Karena aku tidak bisa banyak membantumu disaat kau justru selalu menjadi penolong bagiku”, jawab Sora. “Jika ada hal yang bisa aku lakukan untuk membantumu, katakanlah. Aku akan melakukannya untukmu, Changmin-ah…”

 

 

“Ada satu hal”, kata Changmin.

 

 

“Apa itu?” tanya Sora.

 

 

“Tetaplah menjadi penghiburku. Kau baik dalam hal itu”.

 

 

“Baiklah. Itu hal yang mudah untuk dilakukan. Aku bahkan bisa melakukannya seumur hidupku”, kata Sora santai.

 

 

“Aigoo… Aku tersentuh dengan kebaikan hati dingin mu itu, Kim Sora”, sambung Changmin dengan nada sarkastiknya yang diikuti dengan tawa renyahnya yang kembali.

 

 

 

 

Sementara itu di Rooftop…

 

Kyuhyun akhirnya dengan terpaksa bangun dari tidurnya di bench bawah kanopi teduh yang ada di rooftop sekolah mereka. Akhir-akhir ini perpustakaan menjadi lebih ramai dengan siswa kelas senior yang sudah mulai mempersiapkan diri mereka untuk ujian masuk universitas akhir tahun nanti. Dengan ramai nya perpustakaan, tentu saja Kyuhyun kehilangan tempatnya untuk tidur dengan tenang. Hanya rooftop tempat bersembunyi yang ia tahu. Namun hari itu, seorang Choi Sooyoung datang dan mengganggu aktivitas tidur siang tenangnya.

 

 

Sooyoung berjalan mondar mandir dihadapan Kyuhyun yang duduk masih dengan matanya yang terpejam. Sesekali terdengar suara helaan napas kasar Sooyoung yang disebabkan oleh rasa kesal yang ia rasakan. Sooyoung pun melakukan kebiasaannya menggigit kuku jarinya disaat-saat seperti ini. Setelah merasa kesadarannya sudah mulai terkumpul, Kyuhyun membuka matanya menatap Sooyoung yang belum menghentikan kegiatannya sejak 10 menit yang lalu tiba di rooftop dan meneriakkan nama Kyuhyun. Tidak tahan terus melihat Sooyoung, Kyuhyun melepaskan tatapannya dari Sooyoung. Kyuhyun bersandar di badan bench lalu melipat tangannya di dada.

 

 

“Ada apa lagi sekarang, Choi Sooyoung? Kau suka sekali mengangguku. Membuatku merasa kesal…” kata Kyuhyun masih dengan wajah mengantuknya.

 

 

“Omo… Kau juga melakukan ini padaku? Bersikap baiklah sekali saja padaku, Cho Kyuhyun…” protes Sooyoung.

 

 

Kyuhyun menghela napas panjang. Mulai lagi… kata Kyuhyun dalam hati. Ini sudah kali kelima ia menghadapi Choi Sooyoung yang resah, marah, dan siap meledak. Kyuhyun pernah menghadapi hal yang lebih buruk dari ini sebelumnya. Saat itu Sooyoung menangis dan marah secara bersamaan. Tentu bukan bagian favorite nya. Gadis yang marah sambil menangis bukan tandingannya. Maksudnya adalah Kyuhyun tidak bisa menghadapi atau mengatasi keadaan seperti itu. Kali ini Sooyoung hanya marah, tidak ada air mata yang menetes ataupun makian dan rengekkan keluar dari bibirnya. Cukup aman… Kyuhyun berasumsi dalam pikirannya.

 

 

“Baiklah. Baiklah. Ada apa? Cepat katakan sebelum aku berubah pikiran”, kata Kyuhyun

 

 

“Ani… Apa ini tidak keterlaluan??? Aku sudah mencoba bersabar selama ini. Tapi tidak ada hal yang berubah. Tetap saja pada permasalahan yang sama”.

 

 

“Masih permasalah yang sama? Sampai hari ini? Tidak ada yang lain?” tanya Kyuhyun heran.

 

 

“Apa? Apa yang kau ketahui? Katakan padaku, Cho Kyuhyun…”

 

 

“Ya aish, i-gijibae… (gadis ini…) Haruskah kau selalu menanamkan kecurigaan itu? Maksudku adalah aku bosan selalu mendengarmu membahas permasalahan yang sama. Tidakkah diselesaikan dengan cepat? Kau tidak bosan?”

 

 

“Kau pikir masalah ini sudah selesai? Gadis itu tidak juga merubah pikirannya. Aku sudah memperingatinya berkali-kali. Dia bahkan tidak menjauhkan dirinya sedikitpun. Aku bahkan pernah mengancamnya. Tapi apa yang terjadi? Hadiah-hadiah itu, surat-surat, hingga kotak makan siang tidak pernah berhenti datang. Gadis itu berwajah tembok, kau tahu? Jajjeungna… (menyebalkan…)”, kata Sooyoung menjelaskan dengan emosinya yang meningkat.

 

 

Kyuhyun kembali menghela napas panjang. Ternyata situasi yang ia hadapi tidak seaman yang ia pikirkan. Sooyoung belum mengeluarkan bom emosi nya yang masih tertahan dalam kepalanya. Ini baru permulaan dari semua rasa kesal yang ia rasakan.

 

 

“Bukankah gadis itu sudah ditolak? Seingatku sudah ditolak…” Kyuhyun merespon dengan sisa nyawa yang masih ada ditubuhnya.

 

 

“Kau bilang hal seperti itu disebut penolakan? Bagiku itu lebih terdengar seperti permintaan, Cho Kyuhyun. Tidak bisakah menggunakan pemilihan kata dan nada bicara yang lebih tegas atau bahkan menyakitkan? Gadis itu mengikuti seperti stalker kemanapun, kau tahu itu? Kenapa hanya memberikan reaksi yang disebut penolakan namun lebih terdengar seperti permintaan itu, eo??? Aku tidak pernah mengerti hal itu. Akal sehatku tidak bisa mengerti hal itu…”

 

 

“Ya… Bukankah kau sudah memahami hal itu sejak awal? Kau bilang kau akan mencoba mengerti. Sekarang kau menyerah?” tanya Kyuhyun.

 

 

“Ani… Cho Kyuhyun… Kau pikir ini masuk akal? Gunakan otak cerdasmu untuk berpikir…”

 

 

“Bagaimana aku bisa memikirkan hal itu? Aku belum pernah menghadapi masalah ini. Kim Sora tidak pernah bertingkah sepertimu…”

 

 

 

 

April 2015

Bon Appetite Restaurant

 

“Kim Sora, aku sudah mengatakan pada Professor Yang bahwa keadaanmu sedang kurang sehat. Seminar yang akan diadakan lusa sudah ditangani. Kau tidak perlu datang…” kata Changmin pada Sora.

 

 

“Aniya… Aku baik-baik saja. Aku bisa datang kesana, Changmin-ah”, kata Sora.

 

 

“Dimana seminar itu akan diadakan kali ini?” tanya Sujin sambil menyantap fetuccini didepannya.

 

 

“Busan”, jawab Sora singkat.

 

 

“YA!!! Andwae!!!” seru beberapa orang sekaligus pada Sora.

 

 

“Ah… Kalian mengagetkanku saja. Kecilkan suara kalian”, sambung Sora.

 

 

“Sora-ya, Seoul ke Busan tidak sedekat itu. Kau tidak boleh kelelahan”, kata Sujin.

 

 

“Benar, imma. Kau tidak bisa melakukan perjalanan sejauh itu disaat keadaanmu belum pulih benar…” sambung Hyukjae.

 

 

“Itulah maksudku… Seoul ke Busan bukan jarak yang dekat. Kau masih dalam keadaan yang perlu istirahat. Kali ini saja, jangan pergi, Kim Sora. Aku sudah mendapatkan ijin Profesor Yang untuk ketidakhadiranmu. Jadi, kau tidak perlu datang, eo? Datanglah ke seminar yang lain saat keadaanmu sudah benar-benar pulih. Jangan membantah dan membuat banyak orang khawatir, Kim Sora” kata Changmin.

 

 

“Aku memperingatkanmu, Kim Sora. Jika kau memaksa untuk tetap pergi, aku akan mengikat tubuhmu ditempat tidurmu!” kata Sooyoung.

 

 

“Benar, dokter Kim. Dengarkanlah perkataan suami mu. Itu demi kesehatanmu…” sambung Yeri.

 

 

“Suami? Siapa maksudmu?” tanya Hyukjae.

 

 

“Dokter Shim Changmin. Benar, bukan?” tanya Yeri lagi.

 

 

“Changmin menikah dengan Sora? Benarkah? Akhirnya? Kapan?” tanya Sujin.

 

 

 

 

 

 

 

 

The reasons why I stay? Because…

  1. You’re pretty
  2. You’re a good girl
  3. You’re loyal to your friend
  4. And you’re stay beside me

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

Note:

TBC menyebalkan lainnya? Mianhabnida… Oke, masih pertanyaan yang sama, sudah ada pencerahan lain dari part ini? Sudah terlihat kah pasangan sebenarnya? Apakah Kyuhyun-Sora atau Kyuhyun-Sooyoung? Apakah Changmin-Sora atau Changmin-Sooyoung? Atau masih abu-abu diikuti rasa kesal, gemes, geregetan, karena teka-tekinya belum bisa ditebak? Ja, dalam ff ini tokoh Seohyun sudah mulai meninggalkan cerita sedikit demi sedikit. Narasi Kyuhyun juga tidak ada di part kali ini (author pusing hehe…). Romansa masa SMA sudah dimulai. Moment kebersamaan Changmin dan Sora di taman belakang sekolah terasa lebih hangat, sedangkan Kyuhyun dan Sooyoung di rooftop sekolah terasa bagai persiapan perang. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan? Adakah hubungan topik pembicaraan keempatnya? Kenapa Kyuhyun dan Sora menyangkal hubungan mereka? Lalu siapakah isteri Kyuhyun sebenarnya? Nantikan part selanjutnya. Kana pamit. Annyeongigaseyo!

Advertisements

28 thoughts on “The Reason(s) Why I Stay: Number 4

  1. Kyuhyun sora dong ,, lebih suka dia dari pada kyuyoung ,, dan perdebatan kyuhyun sooyoung sepertinya mengarah ke changmin deh ,,

    Like

  2. aku rasa sora bukan istri changmin, kalo iya kenapa sujin nggak tau, bukan berarti sujin sebodoh itukan sampai dia nggak tau. masih labil antara sora sama sooyoung istri kyuhyun, soalnya ada kalimat “istrimu masih perhatian” pas sooyoung sama sora mengingatkan kyuhyun tentang banyak hal

    Like

  3. sepertinya kyu sooyoung?? soalnya ada perkataan, sdh bagus istrimu mengingatkanmu utk minum obat meskipun dia marah2.

    atau itu hanyalah kebodohanku yg slh tanggap??? bodo ah… mending lanjut ke part 5. paipai

    Like

  4. Akunya pusing
    apalagi part nya sora bnyak yg aku skip.
    pokoknya ga ridho deh kalo kyuyoungnya ga married! T.T
    Ini ff kyuyoung bukan? Diperbnyk dong moment mereka
    well, keep writing! ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s