When the Wind Blows Part 3

– When the Wind Blows –

Part 3

 

 

Category: PG-18, Romance, Chapter

Cast:   Kang Seyeon (OC), Cho Kyuhyun, Kang Seulgi, Shim Changmin

Other Cast:
Find them in the story

Disclaimer:

FF ini murni hasil dari isi kepalaku. Kisah dalam FF ini adalah kisah fiktif yang dibuat murni dari ide seorang manusia. Mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Jika readers menemukan kesamaan kisah secara keseluruhan dalam FF ini dengan FF lain yang pernah kalian baca, mohon memberitahukan author/admin. No bash, smart comments and critics always accepted. Selamat membaca…

.

 

 

 

 

.

 

 

 

 

.

Review Part 2

 

“Apakah kau benar-benar yakin bahwa Seo Mi Ran dan Kang Seulgi memiliki hubungan dengan menghilangnya ibuku?”

“Aku belum yakin 100%. Tapi dari yang ku dengar, mereka membicarakan beberapa cara. Mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu menyingkirkanmu. Mereka tidak secara langsung membicarakan rencana mereka. Aku bisa merasakan hal buruk yang ingin mereka lakukan padamu. Aku khawatir aku perlu mengerahkan keamanan padamu kali ini. Aku memiliki keyakinan kali ini bahwa mereka akan menyakitimu. Mentally and physically…

—————

“Presidir Kang menempatkan Kang Seulgi-ssi untuk menggantikan posisi kosong yang ditinggalkan Lee Jiyeon, isanim”.

“Begitu saja? Secara cuma-cuma?”

“Ne. Majseubnida, isanim…”

“Apa maksud dari perkataan mu itu, Kang Seyeon?”

“Kenapa? Aku mengatakan hal yang salah? Maaf jika aku melakukannya. Aku belum melihat CV dan resume mu, bahkan aku tidak melakukan interview padamu. Kau mendapatkan pekerjaan itu secara cuma-cuma, kau ingat?”

“Kau cemburu? Kau bersikap seperti ini karena aku mendapatkannya dengan mudah? Seperti kau tidak saja…”

“Aku memiliki saran untukmu, Kang Seulgi-ssi. Berpikirlah dan ketahuilah kebenaran dari ucapanmu sebelum kata-kata itu keluar dari mulutmu. Kau butuh CV dan resume ku? Yoona-ssi bisa memberikan nya padamu. Tidak akan mengecewakanmu. Dan… Jangan pernah menyamakan aku denganmu…”

—————

“Kenapa kalian tidak masuk, Kyuhyun-ah, Yoona-ya?”

“Bukan Yoona yang datang, sayang”

“Mwo? Lalu sia…..pa? Apa yang kau lakukan disini, Kang Seulgi?”

“Aku hanya berniat baik membawakan berkas-berkas yang harus kau tanda tangani. Tidak bisakah kau setidaknya berterima kasih….. isanim?”

“Naega wae? (Kenapa aku harus melakukannya?) Aku tidak meminta mu melakukannya. Berkas-berkas itu sudah ada ditangan Kyuhyun, sekarang pergilah”.

“Kenapa aku harus pergi? Kyuhyun oppa sudah berjanji akan mempersilahkan aku masuk saat berkas-berkas itu aku berikan padanya, Kang Seyeon. Kau tidak bisa mengusir ku”.

“Mwo??? Usir dia dari sini atau aku yang pergi…..”

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

Try to bother me. And you will know what happen after wake the bad man up.

 

.

 

 

 

 

.

 

 

 

 

.

When the Wind Blows Part 3 begins…

.

 

 

 

.

 

 

 

 

.

Author’s POV

 

“Kang Seyeon, apa yang kau katakan? Bagaimana kau memintaku untuk memilih? Kau bukan pilihan. Jawabannya akan selalu kau. Jangan lakukan itu…” kata Kyuhyun.

.

 

“Lalu oppa akan mengusirku? Oppa sudah berjanji akan memperbolehkan aku masuk. Oppa saja tidak bisa menjaga janji oppa padaku, bagaimana bisa kau percaya Kyuhyun oppa juga akan menepati perkataannya padamu, Kang Seyeon?” tanya Seulgi memanaskan suasana.

 

.

“Diam Kang Seulgi! Jangan mempengaruhi Seyeon!” seru Kyuhyun.

.

 

“Omo… Bahkan oppa tidak memiliki kepercayaan sepenuhnya pada Seyeon? Kalian sudah saling mengenal bertahun-tahun, seharusnya kalian sudah saling mengenal dengan sangat baik. Tapi bahkan oppa berpikir Seyeon akan terpengaruh padaku? Mungkinkah itu? Aku tidak mempengaruhi Seyeon, oppa. Aku hanya mengatakan kemungkinan yang mungkin saja terjadi. Tampaknya kepercayaan diantara kalian tidak sekuat yang aku pikirkan…” sambung Seulgi.

 

.

“Hentikan, Kang Seulgi! Jangan bicara lagi! Aku muak mendengarmu!” seru Seyeon.

.

 

“Seyeon-ah…..” kata sebuah suara dari luar apartment.

 

.

Seyeon menoleh menuju sumber suara yang memanggil namanya itu. “Minhyuk oppa…”

.

 

Kang Minhyuk, kakak kedua Seyeon kembali dari US. Ekspresi wajahnya menunjukkan semua hal yang sudah ia ketahui. Ia mengerutkan keningnya saat berjalan mendekat pada adik bungsu nya yang baru saja meluapkan rasa kesalnya itu. Minhyuk memperhatikan keadaan Seyeon dari atas kepala hingga ujung kaki. Kemudian ia menyentuhkan telapak tangan kanannya di kepala Seyeon. Minhyuk meraih tubuh adiknya ke dalam pelukannya. Ia juga menepuk-nepuk pelan punggung Seyeon seolah merasakan apa yang sedang dialami adik kesayangannya.

 

.

“Annyeonghaseyo, Minhyuk….. oppa. Aku… Ka… Ka…… Kang Seulgi. Aku juga… anak dari…… abeoji”, kata Seulgi terbata.

.

 

Minhyuk melepaskan pelukannya pada Seyeon, kemudian mengecup lembut kepala Seyeon seolah tidak mendengar suara apapun beberapa saat yang lalu. “Gaja… Ikutlah bersama oppa”, kata Minhyuk pada Seyeon.

 

.

“Hyung…..” kata Kyuhyun seolah menunjukkan rasa keberatannya.

.

 

“Jangan khawatir, Kyuhyun-ah. Hanya beberapa hari… atau minggu. Aku….. aku hanya….. rindu pada adikku. Kau bisa menemui nya di apartment ku. Gwaenchanji?” tanya Minhyuk pada Kyuhyun.

 

.

Kyuhyun hanya mengangguk pelan beberapa kali. Kyuhyun tidak mempunyai hak penuh untuk menahan Seyeon bersama nya. Seyeon belum sepenuhnya menjadi miliknya. Terlebih orang yang meminta adalah Kang Minhyuk, yang notabene adalah kakak kandung Seyeon. Walaupun Kyuhyun tidak bisa membohongi rasa cemburu dalam dirinya, karena Minhyuk juga adalah seorang laki-laki. Tapi Kyuhyun tetap tidak bisa berbuat apapun. Minhyuk dan Seyeon pun berlalu menuju ke dalam untuk mengemas beberapa barang Seyeon yang harus dibawanya. Sementara Kyuhyun tetap berdiri di ambang pintu menatap kosong pada lantai tanpa bicara satu katapun. Keadaan Seulgi tidak jauh berbeda. Ia bungkam seribu bahasa sesaat setelah menerima perlakuan Minhyuk yang seolah tidak menganggapnya ada. Kang Seyeon memang tidak bisa menerima kehadirannya, tapi setidaknya Seyeon tetap bicara padanya. Seulgi tetap merasa sebagai ‘seseorang’ saat bicara pada Seyeon. Tapi Minhyuk, sikapnya seolah menampar Seulgi. Sikapnya sama menyakitkannya dengan mengatakan dengan keras dan lantang tepat di depan wajahnya bahwa ia bukan apa-apa, bahkan tidak seperti manusia. Dan tanpa disadari, mata Seulgi mulai berair. Kesombongan dan keangkuhannya runtuh seketika. Air mata menetes di pipinya. Kyuhyun yang menyadari titik air yang jatuh ke lantai pun lantas menoleh pada sumber air itu. Kang Seulgi menangis dihadapan Kyuhyun. Seulgi bahkan menggigit bibirnya, berusaha menahan isakannya. Saat suara langkah kaki terdengar, Seulgi segera menghapus jejak air mata di pipinya.

.

 

Minhyuk melangkahkan kaki nya ke arah pintu dengan membawa sebuah tas dengan ukuran cukup besar ditangan kanannya dan sebuah ransel di punggungnya. Minhyuk menepukkan tangan kirinya dibahu Kyuhyun saat berpapasan dengannya. Kyuhyun dengan berat menyerahkan berkas-berkas milik Seyeon di tangannya pada Minhyuk yang tersenyum tipis padanya. Dan Minhyuk tetap tidak mempedulikan Seulgi yang berubah canggung saat kakak tiri nya itu berjalan mendekat. Seyeon mengikuti beberapa langkah di belakangnya. Seyeon berdiri tepat di hadapan Kyuhyun, menatap wajah Kyuhyun yang menunjukkan ketidakrelaannya atas kepergian Seyeon. Tatapan mata Kyuhyun seolah memohon pada Seyeon agar tidak meninggalkannya. Seyeon yang menyadari arti tatapan itu hanya bisa menggeleng pelan lalu menghambur ke pelukan laki-laki yang sangat berarti dalam hidupnya itu. Kyuhyun menghela napas dengan berat dalam dekapan Seyeon. Bahkan kedua tangannya gemetar hebat, tidak mampu mendekap tubuh Seyeon. Ini adalah kali pertama Seyeon meninggalkannya begitu saja. Kyuhyun bahkan tidak pernah membayangkan respon tubuhnya akan seperti ini saat mengalaminya.

 

.

“Sebentar saja….. Aku hanya akan pergi sebentar saja. Aku akan kembali padamu. Pasti akan kembali padamu. Kau hanya tidak akan melihatku secara rutin. Kau masih bisa melihatku kapanpun kau mau. Aku hanya tidak tinggal disini sementara. Maafkan aku…” jelas Seyeon sambil berusaha melepaskan pelukannya pada Kyuhyun.

.

 

“Seyeon-ah…..” kata Kyuhyun lemah.

 

.
Seyeon mengecup singkat bibir Kyuhyun, lalu mengamati setiap sisi wajah Kyuhyun sebelum kembali menatap matanya. “Aku percaya padamu. Karena aku mencintaimu. Galkke…”

.

 

Seyeon melepaskan pelukannya dan berjalan menghampiri Minhyuk yang masih menunggunya di depan pintu apartment. Minhyuk menggandeng tangan adiknya dan lanjut berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Kyuhyun menatap punggung Seyeon yang semakin menjauh darinya hingga mereka menghilang dibalik pintu lift yang tertutup.

 

.

“Mereka sudah pergi?” tanya Seulgi pelan.

.

 

“Eo…” jawab Kyuhyun singkat.

 

.

Tubuh Seulgi jatuh ke lantai, seolah kaki nya kehilangan seluruh kekuatan untuk berdiri. Ia menghela napas sama beratnya dengan Kyuhyun beberapa saat yang lalu. Perlahan air mata kembali membasahi pipinya. Kini Seulgi terisak dan menjerit tertahan. Ia membekap mulutnya untuk menahan rasa sakit yang ingin ia ungkapkan. Sesekali ia mencoba menghapus jejak air mata di pipinya dengan punggung tangannya. Namun air mata terus saja jatuh membasahi, tidak ada habisnya.

.

 

“Gwaen…..chanha?” tanya Kyuhyun akhirnya, dengan berlutut tidak jauh dari hadapan Seulgi.

 

.

Seulgi kembali mencoba menghapus air mata di pipinya. “Apa aku tidak terlihat, oppa? Bahkan sepasang slipper disana terlihat dengan jelas, ia mengenakannya. Bagaimana denganku? Ia bahkan tidak menatap sehelai rambutpun dari kepalaku. Bukankah aku juga adiknya?”

.

 

“Kang Seulgi…..”

 

.

“Gomawo, oppa. Sampaikan rasa terima kasihku juga pada Seyeon. Setidaknya kalian masih memanusiakan aku”, kata Seulgi sambil terus mencoba membersihkan wajahnya dari basahan air mata. Ia pun kembali berdiri dengan kekuatannya yang tersisa. Kemudian ia menundukkan kepalanya memberi salam pada Kyuhyun dan berlalu meninggalkan Kyuhyun di ambang pintu.

.

 

 

.

 

 

.

Green Tower Apartment

 

Minhyuk membuka pintu apartment nya dan mempersilahkan adiknya untuk masuk terlebih dahulu. Apartment itu terlihat bersih dan rapi. Tampaknya Minhyuk sudah sampai beberapa hari lalu dan membersihkannya. Tapi seingat Seyeon, kakak laki-lakinya itu tidak hadir di acara ulang tahunnya. Jika melihat banyaknya berkas-berkas di meja makan apartment itu, dapat dipastikan bahwa pemiliknya sudah berada disini selama beberapa hari.

.

 

“Aku sudah kembali dua hari sebelum acara ulang tahunmu…” kata Minhyuk seolah mengetahui isi kepala adiknya.

 

.

“Lalu kenapa oppa…..”

.

 

“Changmin sudah memberitahu ku… Semuanya…” kata Minhyuk memotong ucapan Seyeon. “Kami berdiskusi dan aku pikir akan lebih baik jika aku tidak menemui mu beberapa hari untuk menyelidiki beberapa hal. Aku menghubungi Yoona untuk bicara padamu, karena abeoji bisa melacak ponselmu. Tapi Yoona mengatakan kau keluar kantor bersama Kyuhyun dan tidak akan kembali hingga jumat. Aku khawatir keadaanmu akan memburuk jika aku menunggu saat itu. Aku memutuskan untuk datang ke apartment kalian. Secara kebetulan aku tiba beberapa saat setelah gadis itu. Tiba-tiba aku berpikir tempat itu tidak cukup aman bagimu. Terlebih dengan ketidaktahuan Kyuhyun. Ja…..”

 

.

Wait… Tidak cukup aman bagiku? Dari apa? Apa hal yang bisa melukai ku disana? Apa hal yang tidak aku tahu dari permasalahan ini?” tanya Seyeon.

.

 

“Mereka menculik eomma…”

 

.

Seyeon membekap mulutnya terkejut dengan pernyataan Minhyuk. Seketika tubuh Seyeon gemetar dan air matanya mulai berlinang. Namun ia menahannya untuk mendengarkan keseluruhan cerita yang tidak ia ketahui itu.

.

 

 

 

.

Ting Tong…

.

 

 

 

.

Seseorang datang. Minhyuk yang masih berada di dekat pintu pun segera membuka pintunya. Sementara Seyeon menengadahkan kepalanya, mencoba menahan keluarnya air mata dari matanya. Shim Changmin datang dengan ekspresi datarnya. Dasi nya terlihat berantakan akibat ditarik paksa karena stress yang ia rasakan.

 

.

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Hari ini kita bertemu di ruanganku. Tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan kita disana. Apa alasanmu menyembunyikannya dariku? Aku juga perlu tahu kenyataan bahwa mereka menculik eomma. Kita sedang mencari eomma ku, Shim Changmin. Eomma ku!” tanya Seyeon di detik ia menatap Changmin.

.

 

“Dan membiarkan mentalmu jatuh lebih jauh? Aku berpapasan dengan Kang Seulgi di lobby saat aku baru saja tiba disana. Aku tahu dengan benar kalian pasti bertemu cepat atau lambat. Aku kurang beruntung karena bertemu denganmu sebelum dia. Karena itu aku pikir kau harus mengontrol emosi mu untuk menemuinya. Kau pikir kau akan baik-baik saja jika aku memberitahukannya padamu saat itu? Kau pikir kau bisa melawannya setelah kau mengetahui itu? Kau bahkan tidak yakin kau bisa melawan mereka, Kang Seyeon! Jangan berpura-pura kuat dihadapanku. Aku bisa membaca mu dengan mudah. Dan kau harus ingat, eomma mu juga orang yang berarti untukku. Ia ibu asuhku sejak aku dibuang dipanti asuhan. Ia juga sudah seperti ibu untukku! Aish!!!” jawab Changmin sambil melemparkan ponsel nya ke dinding, meluapkan emosi nya yang sudah tidak tertahan. “Apa mereka masih bisa disebut manusia? Bagaimana bisa ada manusia seperti mereka yang hidup di dunia ini?”

 

.

“Mworago? Apa yang kau ketahui, Changmin-ah?” tanya Minhyuk saat mendengar ucapan Changmin.

.

 

“Aish…” Changmin terduduk bersandar di dinding. Ia meremas kuat rambutnya. Dan ia menangis. Shim Changmin menangis. “Ia juga ibu bagiku, Kang Seyeon… Ia juga ibu bagiku…” katanya lagi di tengah tangisannya yang semakin menjadi.

 

.

Suasana ruangan berubah dingin. Atmosfer ruangan itu menggelap seiring dengan tangisan sendu Changmin. Menyadari persaan aneh itu, Seyeon mendekati Changmin dan duduk bertelut dihadapannya, begitupun Minhyuk. “Museun irisseo? Malhae bwa, Shim Changmin. Apa yang terjadi? Apa yang kau ketahui? Temuan apa yang kau temukan? Kau menemukan eomma? Katakan pada kami, eo?”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 Minggu Kemudian

 

Kyuhyun menekan tombol bel apartment Minhyuk dengan cepat. Pagi ini ia mendapatkan kabar keberadaan Seyeon setelah 2 minggu lamanya. Seyeon tidak kembali ke kantor, tidak dapat dihubungi, dan tidak ada yang tahu keberadaannya. Hanya Im Yoona yang bisa mengatakan bahwa Seyeon sedang berada disuatu tempat untuk menenangkan diri. Tapi bahkan satu-satunya orang yang dapat mengatakan hal itu tidak mengetahui tepatnya keberadaan Seyeon. Kyuhyun tidak bisa melakukan apapun. Pekerjaannya hampir selalu ia tinggalkan hanya untuk mencari Seyeon. Dan pagi ini, perempuan yang membuatnya gila kembali. Kali ini dengan hawa dingin di suara nya di telepon pagi tadi.

 

 

“Aish… Kang Seyeon!” kata Kyuhyun di detik yang sama ia melihat Seyeon dibalik pintu yang dibuka. Kyuhyun langsung menyentuhkan kedua telapak tangannya disamping kepala Seyeon. “Bisakah kau tidak membuatku gila seperti ini? Kau ingin membunuhku dengan menghentikan jantungku? Kang Seyeon…..”

 

.

“Aku juga merindukanmu…” kata Seyeon pelan.

.

 

“Mwoya? Kau hanya mengatakan itu setelah membuatku seperti ini?” tanya Kyuhyun marah.

 

.

“Mianhae… Saranghae…” kata Seyeon. Terdapat kesedihan disela kata yang ia ucapkan. Dan Kyuhyun dapat merasakan itu.

.

 

Kyuhyun meraih bibir Seyeon saat Seyeon bermaksud mengatakan sesuatu. Kyuhyun membungkam Seyeon dalam ciuman lembutnya yang sesaat berubah menjadi lumatan yang dipenuhi emosi membuncah dari dadanya. Kyuhyun melangkahkan kaki nya membawa Seyeon masuk ke dalam apartment dan menutup pintu dengan sebelah kakinya. Tangan kanan Kyuhyun berpindah ke punggung Seyeon, mendekatkan tubuh kekasihnya itu padanya, merengkuh kekasihnya yang kembali. Kyuhyun melumat bibir atas dan bawah Seyeon bergantian, begitupun dengan Seyeon. Tiba-tiba Kyuhyun merasakan air mata menyentuh pipinya. Kyuhyun sontak membuka matanya. Seyeon menangis. Kyuhyun pun melepaskan ciumannya dan menatap khawatir pada Seyeon yang masih memejamkan matanya.

 

.

“Ada apa? Apa yang terjadi? Apa aku menyakiti mu?” tanya Kyuhyun cemas.

.

 

Seyeon menggelengkan kepalanya, lalu membuka matanya dan membasuh air matanya dengan punggung tangannya. “Aku hanya terlalu merindukanmu… Kiss me… Please…” pinta Seyeon. “Please…” kata Seyeon lagi saat melihat keraguan di wajah Kyuhyun.

 

.

Seyeon pun mendekatkan kepala Kyuhyun padanya, kemudian menyentuhkan bibirnya lagi di bibir Kyuhyun. Seyeon memasukkan jari-jarinya di sela rambut ikal Kyuhyun, memperdalam ciumannya. Kyuhyun membalas ciuman menuntut Seyeon. Kyuhyun melingkarkan tangannya di pinggang Seyeon untuk mendekatkan tubuh Seyeon padanya. Mereka pun melepaskan ciuman mereka, lalu saling menatap, memperhatikan wajah lelah satu sama lain. Kyuhyun menyadari berbagai emosi yang tersembunyi dibalik wajah lelah Seyeon. Kyuhyun menyentuhkan tangan kanannya di pipi kiri Seyeon, lalu membelainya dengan ibu jarinya. Seyeon pun menyerah dalam pelukan Kyuhyun. Ia membiarkan tubuhnya tersembunyi dalam pelukan hangat Kyuhyun.

 

 

“Katakan kau tidak akan pergi dariku lagi, Kang Seyeon…” kata Kyuhyun.

 

 

Seyeon menggeleng dalam pelukan Kyuhyun. Ia mengeratkan pelukannya di tubuh Kyuhyun. Memendam kepala nya dalam coat Kyuhyun, menyentuhkan hidungnya pada tulang selangka Kyuhyun yang mengintip di balik T-shirt.

 

 

“Jawab dengan kata-kata, Kang Seyeon”, pinta Kyuhyun.

 

 

“Tidak. Aku tidak akan pergi darimu. Tidak akan pernah walau apapun yang terjadi”, kata Seyeon.

 

 

“Kali ini aku bisa memegang ucapanmu?” tanya Kyuhyun.

 

 

“Eung… Aku berjanji. Aku tidak punya alasan apapun untuk melakukannya”, jawab Seyeon. “Ayo masuk, Kyuhyun-ah…”

 

 

Seyeon melepaskan pelukannya ditubuh Kyuhyun, lalu menggenggam tangan Kyuhyun, dan menariknya untuk berjalan masuk ke dalam apartment. Kyuhyun duduk di sofa abu-abu dan melepaskan coatnya yang tidak bisa ia lepas sebelumnya karena genggaman tangan Seyeon. Sementara Seyeon berlalu menuju dapur untuk mengambilkan segelas minuman untuk Kyuhyun. Seyeon kembali dengan segelas orang juice ditangannya, yang kemudian diberikan pada Kyuhyun. Setelah mengambil jus ditangan Seyeon, Kyuhyun justru menarik tangan Seyeon, memintanya untuk duduk, lalu berdiri dan berjalan menuju meja makan untuk meletakkan jus itu disana. Kyuhyun menghampiri Seyeon yang menatapnya dengan wajah datar, lalu duduk di ujung sofa. Kyuhyun merentangkan tangannya, meminta Seyeon datang ke pelukannya. Seyeon pun tidak berpikir dua kali untuk melakukan itu. Ia merebahkan tubuhnya di dada Kyuhyun, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Kyuhyun. Kyuhyun memeluk tubuh Seyeon erat. Ia menyentuh kepala Seyeon dengan tangan kanannya, kemudian membelai pelan rambut halus Seyeon. Sesekali Kyuhyun mendaratkan kecupan singkat di kening dan puncak kepala Seyeon, lalu membiarkannya tetap dalam posisi itu hingga beberapa saat.

 

 

“Bagaimana kabarmu?” tanya Seyeon dengan suara pelannya.

 

 

“Tidak baik tanpamu…”

 

 

“Seburuk itu?”

 

 

“Lebih buruk dari dugaanmu”

 

 

“Jangan menyakiti dirimu, Cho Kyuhyun…”

 

 

“Jangan pergi dariku, Kang Seyeon”.

 

 

“Aku sudah berjanji padamu”.

 

 

“Aku takut kau melupakannya dan pergi dariku lagi”

 

 

“Kemana aku harus pergi? Minhyuk oppa sudah kembali ke DC. Aku tidak punya siapapun selain kau disini. Jangan membuangku, Cho Kyuhyun”.

 

 

“Kau tahu aku tidak akan pernah melakukan itu, Kang Seyeon… Bagaimana keadaanmu?” tanya Kyuhyun.

 

 

“Lebih baik saat bersamamu…”

 

 

“Apa yang kau lakukan selama ini? Kenapa kau tidak menjawab teleponku sekalipun?” tanya Kyuhyun lagi.

 

 

“Aku hanya pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diriku. Aku tidak membawa ponselku. Maaf membuatmu khawatir. Apa yang kau lakukan selama 2 minggu kemarin?” tanya Seyeon.

 

 

“Rutinitas yang sama. Bangun, ke kantor untuk mengurus proyek akhir tahun, mencarimu, kembali ke rumah, begitu seterusnya. Hanya berputar pada lingkaran itu. Tidak ada yang menarik untuk kau ketahui”.

 

 

“Geurae? Kau sudah melakukan semua hal dengan baik, Cho Kyuhyun. Good job…”

 

 

“Kapan kau akan kembali ke apartment kita?” tanya Kyuhyun.

 

 

“Belum saatnya aku kembali”, jawab Seyeon.

 

 

“Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun tidak mengerti.

 

 

“Nanti ada saat dimana aku akan menceritakannya padamu. Tapi, bisakah kau menginap malam ini? Aku terlalu merindukanmu sampai tidak mampu membiarkanmu pergi”.

 

 

“Tentu. Aku tidak akan pergi kemanapun…”

 

 

Seyeon bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamarnya. Ia kembali dengan membawa selimut dan sebuah bantal besar yang ia letakkan di sudut sofa. Kyuhyun pun membenarkan posisi nya berbaring di sofa berukuran cukup besar itu. Seyeon ikut berbaring bersama Kyuhyun yang didetik berikutnya menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua, kemudian mengeratkan pelukannya di tubuh Seyeon. Kyuhyun mengecup singkat bibir Seyeon sebelum keduanya memejamkan mata hingga terlelap.

 

 

 

 

 

Satu minggu kemudian…

 

Selama beberapa hari Kyuhyun selalu menginap di apartment Seyeon. Seperti hari-hari lainnya, Kyuhyun kembali ke apartment nya sebelum fajar muncul menggantikan gelapnya langit menjadi terang. Ia bergegas mandi dan mengganti pakaiannya dengan kemeja bermotif kotak-kotak kecil berwarna biru dengan dasar putih, serta setelan jas dan celana berwarna senada abu-abu. Kyuhyun menuju dapur, membuat kopi dan setangkup roti untuk dirinya sendiri. Tanpa repot-repot membawa nya ke meja makan, Kyuhyun segera melahap roti dan meminum secangkir kopi sambil menyentuhkan jarinya di layar iPad untuk memeriksa laporan-laporan yang belum sempat ia baca di inbox emailnya. Suasana hatinya sudah membaik setelah kembalinya Seyeon selama 1 minggu belakangan. Sesekali Kyuhyun tersenyum saat ingatan akan kejadian beberapa malam sebelumnya terlintas di pikirannya. Kyuhyun tidak mengingkari pengaruh sentuhan fisik diantara Seyeon dengannya sangat tidak mengenal waktu dan kondisi. Kebutuhan akan satu sama lain dalam diri mereka mengudara begitu saja, menggantikan rasa lelah akan rutinitas menjadi rasa begitu menginginkan. Kyuhyun menertawai dirinya sendiri. Kemudian ia menggeleng cepat untuk mengusir bayangan adegan favorite yang ia lakukan semalam.

 

 

Kyuhyun merasakan hal aneh dalam dirinya meski Seyeon sudah kembali bersama nya selama 1 minggu terakhir. Bukan. Perasaan ini justru muncul karena ia sudah menemukan kembali rutinitas hidupnya bersama Seyeon. Ia tidak bisa mengontrol kesabarannya pada denting waktu yang terasa begitu lambat berjalan. Sesaat setelah ia tiba di kantor, setumpuk berkas telah menunggu untuk ia baca dan tanda tangani. Teleponnya pun dihujani dengan panggilan dari klien-klien yang telah mencarinya sejak berhari-hari lalu. Namun setelah semua itu berlalu, ternyata Kyuhyun baru melewatkan 3 jam waktunya berada dikantor. Jam istirahat seolah sedang malas untuk datang lebih awal disaat Kyuhyun sedang sangat menantinya. Akhirnya Kyuhyun menyerah. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi, walaupun ia hanya tinggal menunggu 1 jam sebelum jam istirahat. Kyuhyun bangkit dari tempat duduknya dan mengambil jas yang menggantung tidak jauh dari meja kerjanya. Tidak lupa ia juga membawa serta ponsel dan iPad di tangannya. Kyuhyun berjalan dengan cepat keluar dari gedung kantor dan berhenti di depan sebuah café beberapa meter sebelum kantor Seyeon. ia masuk ke dalam café itu dan menunggu giliran untuk memesan.

 

 

“Selamat siang, selamat datang di café bene, silahkan pesanan anda…”, sapa karyawan café.

 

 

“Selamat siang. Saya ingin memesan satu ice caramel mochacinno dan satu ice chocolate caramel frapuccino”, jawab Kyuhyun.

 

 

“Untuk diminum ditempat atau take away?”

 

 

“Take away”, jawab Kyuhyun sambil memberikan senyumannya.

 

 

“Baik. Saya ulangi, satu ice caramel mochacinno dan satu ice chocolate caramel frapuccino, take away, jumlahnya 8400 WON”. Kyuhyun pun memberikan sejumlah uang yang disebutkan oleh kasir café. “Uang anda 10000 WON, kembali 1600 WON. Terima kasih. Silahkan tunggu pesanan anda selama 5 menit”.

 

 

“Ne. Terima kasih”, jawab Kyuhyun sambil mengambil uang kembali dan struk pembelian.

 

 

Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan mencari tempat duduk yang kira-kira nyaman untuk menunggu pesanannya. Namun seseorang yang duduk disisi kanan café menarik perhatiannya. Kang Seulgi duduk disana seorang diri sambil menatap murung pada cangkir kopinya. Sesekali ia menghela napas panjang dan memejamkan matanya seolah menyerah dengan hal yang sedang dipikirkannya. Kyuhyun pun berjalan menghampirinya setelah ia mengambil pesanannya.

 

 

“Kang Seulgi… apa yang kau lakukan disini?” tanya Kyuhyun.

 

 

“Eo? Kyuhyun oppa. Apa yang sedang oppa lakukan disini?” tanya Seulgi.

 

 

“Aku bertanya padamu. Ini masih dalam jam kantor. Kenapa kau ada disini?” tanya Kyuhyun lagi sambil menarik keluar bangku dan duduk disana.

 

 

“Aku baru saja bertemu dengan klien. Aku hanya mampir untuk membeli secangkir kopi. Oppa-neun?”

 

 

“Aku hanya mampir. Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi? Wajahmu tidak tampak baik”, kata Kyuhyun.

 

 

“Tidak ada. Aku hanya sedang berpikir…” jawab Seulgi.

 

 

“Begitu rupanya…”

 

 

“Minhyuk oppa menemui ku tiga hari sebelum dia akan kembali ke DC”, Seulgi menjelaskan pada Kyuhyun. Seulgi menundukkan kepalanya seolah menimbang apa yang harus ia katakan. Seulgi kembali menatap wajah Kyuhyun sambil menghela napas panjang. “Pembicaraan yang membuat bulu di sekujur tubuhku berdiri”.

 

 

“Apa yang Minhyuk hyung katakan?” tanya Kyuhyun dengan ekspresi datar, tidak benar-benar menunjukkan ketertarikannya.

 

 

“Minhyuk oppa meminta ku pergi dari kehidupan Seyeon. Berhenti bekerja disana, tidak bicara dengannya, tidak menemuinya, bahkan tidak muncul dihadapannya. Minhyuk oppa mengatakan Seyeon mengalami hari yang berat karena keberadaanku. Seyeon tidak menyukai ku. Begitupun Minhyuk oppa. Aku belum pernah bertemu dengan Sora eonni. Sekalipun. aku hanya melihat fotonya yang terpajang di dinding rumah. Dia sangat cantik. Aku sesekali membayangkan bertemu dengannya. Tapi hari itu Minhyuk oppa mengatakan aku tidak perlu repot-repot mengharapkan hal itu. Minhyuk oppa melarangku untuk muncul dihadapan Sora eonni. Aku hanya berpikir. Aku tahu keberadaanku tidak pernah mereka duga sebelumnya. Aku tahu keberadaanku bukan hal yang baik dalam hidup mereka. Tapi aku tidak tahu jika mereka membenciku sebesar ini. Seyeon bahkan tidak ingin menemui ku lagi di kantor. Laporan pekerjaanku tidak pernah langsung sampai di mejanya. Laporan itu hanya bisa aku berikan pada Sekertaris Im untuk kemudian diberikan pada Seyeon. Begitu sebaliknya. Aku mendapatkan hasil koreksi pekerjaanku dari pesan yang disampaikan oleh Sekertaris Im. Inikah yang harus aku terima? Perkataan Minhyuk oppa hari itu sama saja dengan memintaku menghilang dari kehidupan mereka. Aku berusaha mengerti apa yang mereka rasakan. Hanya saja….. aku tidak bisa menutupi rasa sedihku karena mendapatkan perlakuan ini dari saudara-saudaraku sendiri”, jelas Seulgi.

 

 

“Mereka hanya belum terbiasa dengan kehadiranmu. Kau datang secara tiba-tiba. Semua orang yang mengalami itu pasti tidak mudah menerima nya”, kata Kyuhyun.

 

 

“Tapi mereka tidak berusaha untuk terbiasa, oppa. Mereka berusaha untuk menghilangkan aku dari kehidupan mereka”, kata Seulgi lagi.

 

 

“Jangan berpikir begitu, Kang Seulgi. Minhyuk hyung, Sora nuna, dan Seyeon yang aku kenal tidak memiliki sifat sejahat itu pada orang yang tidak bersalah. Kau tidak memiliki andil dalam permasalahan itu. Orang tua kalian lah yang harus bertanggung jawab. Kau hanya perlu bersabar”, kata Kyuhyun.

 

 

“Aku selalu mencoba bersabar, oppa…”

 

 

“Bertahanlah. Mereka masih membutuhkan waktu. Ja… aku harus pergi. Jangan terlalu lama berada disini. Kau akan mendapatkan masalah jika meninggalkan kantor pada jam kerja. Aku pergi dulu”, kata Kyuhyun sambil berlalu pergi meninggalkan Seulgi.

 

 

“Jalga, oppa…” kata Seulgi. Sesaat setelah Kyuhyun keluar dari pintu café, Seulgi menarik ujung bibirnya membentuk smirk lalu mendesis tertawa.

 

 

 

 

 

 

 

Sky High Group Building

Ruangan Kang Seyeon

 

Kyuhyun duduk di sofa sambil menenggak minumannya sesekali. Ia teringat dengan perkataan Seulgi beberapa waktu lalu di café. Ia masih tenggelam dalam lamunannya saat Seyeon menghampirinya, duduk tepat disampingnya. Seyeon yang tidak menyadari sikap aneh Kyuhyun meneruskan kegiatannya membaca laporan preview majalah edisi bulan itu sbelum diterbitkan. Suasana yang terlalu lama hening kahirnya membuat Seyeon menoleh pada Kyuhyun yang masih berada dalam lamunannya.

 

 

“Cho Kyuhyun, tidak biasa nya kau hanya diam”, kata Seyeon yang kembali membuka halaman laporan ditangannya.

 

 

Tidak ada jawaban dari Kyuhyun. Seyeon pun meletakkan laporan itu di meja, lalu memposisikan dirinya menghadap Kyuhyun. Namun Kyuhyun tetap tidak menyadari hal yang dilakukan Seyeon. Akhirnya Seyeon mendekatkan tubuhnya, lalu memposisikan bibirnya dekat telinga Kyuhyun.

 

 

“Sayang, kau melamun terlalu lama. Jangan memaksa ku menciummu disini”, bisik Seyeon yang akhirnya menyadarkan Kyuhyun dari lamunannya.

 

 

“Kang Seyeon, jangan menggoda ku!” seru Kyuhyun sambil menjauhkan tubuhnya dari Seyeon ke samping.

 

 

Melihat tingkah Kyuhyun, Seyeon pun tertawa dan kembali ke posisi nya semula. Ia meneguk frapuccino nya dan kembali mengangkat laporan untuk ia periksa. “Kau yang menggodaku, Cho Kyuhyun. Kau tahu, wajahmu lebih tampan saat melamun? Tentu kau tidak tahu…” goda Seyeon.

 

 

“Hentikan, Kang Seyeon. Bukankah kita sudah membuat perjanjian untuk tidak menggoda pihak lain di H+1 (setelah mereka melakukan ‘itu’) jika tidak bisa bertanggung jawab?” tanya Kyuhyun dengan nada kesal dibuat-buatnya.

 

 

“Aigoo… Kau bahkan bisa mengingat hal itu dengan baik. Jalhanda, Cho Kyuhyun…” ejek Seyeon. “A… aku tahu situasi ini. Sebenarnya itu adalah maksudmu datang kesini sebelum jam istirahat, bukan? Kau membayangkannya sampai siang hari? Dasar mesum!”

 

 

“Ya! Ya! Naega…… ah… aku menyerah. Aku tidak bisa menyangkalnya”.

 

 

Seyeon menoleh cepat pada Kyuhyun, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Kyuhyun yang malu pun membungkam mulutnya dengan coffee cup ditangannya.

 

 

“Jadi kau benar-benar datang kesini karena pikiran kotormu itu? Ckck… aku berada dalam masalah. Bagaimana nasib hidupku setelah menikah denganmu… aigoo…..”

 

 

“Tentu kau akan selalu bahagia. Aku menjamin itu”, kata Kyuhyun dengan yakin.

 

 

“Baiklah. Baiklah. Katakan saja begitu. Lalu bagaimana dengan otak mesummu?” tanya Seyeon santai.

 

 

“Hhh… Kang Seyeon! Aku kesini tidak sepenuhnya dengan pikiran kotor itu. Aku kesini juga karena merindukanmu. Kau meninggalkan aku selama 2 minggu, kau ingat?”

 

 

“Tentu aku ingat. Tapi aku sudah kembali selama 1 minggu. Lalu, ada hal lain selain itu yang membuatmu melamun dan mengabaikanku?”

 

 

“Hanya beberapa hal yang baru memasuki otakku”, jawab Kyuhyun.

 

 

“Mwonde?”

 

 

Kyuhyun menghela napas panjang sebelum menanyakan hal yang mengganggu pikirannya itu. “Bagaimana hubungan mu dengan Kang Seulgi?” tanya Kyuhyun hati-hati.

 

 

“Hhh… pertanyaan apa itu? Kau tidak bersungguh-sungguh, Cho Kyuhyun…”

 

 

“Aku bersungguh-sungguh. Ani… Kau mengatakan bahwa selama 2 minggu kau pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Lalu sekarang kau sudah kembali. Itu berarti kau sudah menenangkan pikiran dan hatimu, bukan?”

 

 

“Tidak dengan Kang Seulgi”, jawab Seyeon datar.

 

 

“Apalagi masalahnya sekarang?”

 

 

“Benarkah kau kesini hanya untuk membicarakan ini?” tanya Seyeon dengan nada kesal.

 

 

“Kau marah?”

 

 

“Tidak. Aku hanya tidak ingin membicarakan hal itu sekarang”, jawab Seyeon.

 

 

“Baiklah. Kita akan bicara setelah pulang kerja nanti. Aku mengunjungi apartment mu lagi. Aku pergi dulu. Sampai bertemu nanti, sayang”.

 

 

Kyuhyun berdiri dan mencium puncak kepala Seyeon, lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan Seyeon. Suasana ruangan itu berubah hening dan memunculkan hawa panas rasa kesal dari pemiliknya. Seyeon pun melempar laporan ditangannya ke arah pintu, memunculkan suara keras yang terdengar sampai keluar ruangan. Menyadari hal itu, Yoona pun berlari memasuki ruangan Seyeon.

 

 

“Seyeon-ah, ada apa? Kau sakit? Kau butuh sesuatu?” tanya Yoona khawatir sambil mengambil laporan yang dilempar Seyeon dilantai, dan meletakkannya di atas meja.

 

 

“Tidak, Yoona-ya. Aku hanya ingin sendiri saja saat ini. Maaf membuatmu khawatir. Aku akan mengatakannya padamu jika aku membutuhkan sesuatu. Terima kasih banyak…”

 

 

“Baiklah. Katakan padaku apapun yang kau butuhkan. Aku akan meninggalkanmu sendiri. Jangan memaksakan dirimu, Seyeon-ah…”

 

 

“Arasseo…”

 

 

 

 

 

 

 

Green Tower Apartment

 

Kyuhyun bersungguh-sungguh dengan ucapannya siang tadi di ruangan Seyeon. Sesampainya Seyeon di lantai apartement milik kakaknya, ia menemukan Kyuhyun yang sudah berdiri di depan pintu apartement itu. Seyeon menghela napas panjang dan berjalan mendekati Kyuhyun. Seyeon tidak mengatakan apapun pada Kyuhyun, bahkan ia cenderung mengabaikan keberadaan Kyuhyun. Seyeon menekan kombinasi angka password untuk membuka pintu itu.

 

 

“Jika kau kesini untuk menemui ku dengan suasana yang tenang, kau boleh masuk. Tapi jika kau ingin meneruskan pembicaraan mu siang tadi, silahkan pergi, Cho Kyuhyun. Aku tidak ingin meladeni mu”, kata Seyeon dengan sikap dinginnya.

 

 

“Tadi siang aku sudah mengatakannya dengan jelas, Kang Seyeon. Kita akan membicarakannya lagi. Kita akan menyelesaikannya hari ini”, balas Kyuhyun.

 

 

“Tidak ada yang perlu dibicarakan dan diselesaikan, Cho Kyuhyun”, kata Seyeon sambil membuka pintu apartment nya.

 

 

Seyeon bermaksud ingin menutup pintu itu agar Kyuhyun pulang, namun Kyuhyun terlebih dahulu menahan pintunya dan masuk ke dalam melewati Seyeon yang masih berdiri dengan rasa kesal yang begitu besar.

 

 

“Pulanglah. Aku tidak ingin bertengkar denganmu”, pinta Seyeon.

 

 

“Kita akan membicarakannya secara baik-baik, Seyeon-ah. Tidak ada pertengkaran”.

 

 

“Itu mustahil. Aku tidak bisa. Pergilah…”

 

 

“Aku hanya ingin mendengar penjelasanmu saja, Seyeon-ah”

 

 

“Penjelasan apa? Apa yang harus aku jelaskan padamu?” tanya Seyeon dengan nada kesal, mengawali pembicaraan rumit mereka.

 

 

“Kenapa kau melakukan ini pada Seulgi? Kenapa kau masih melakukan ini?”

 

 

“Apa yang aku lakukan? Kau bahkan tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Cho Kyuhyun”

 

 

“Aku mengerti, Kang Seyeon. Aku juga memiliki seorang adik tiri, kau ingat? Ayahku melakukan kesalahan hingga lahir seorang anak yang tiba-tiba datang dalam kehidupan keluargaku. Aku juga tidak menyukainya. Aku tidak bisa menerimanya. Tapi aku tidak memperlakukannya seperti kau memperlakukan Seulgi. Awalnya aku bisa memahami sikapmu padanya. Tapi akhir-akhir ini aku mulai tidak bisa memahami mu. Kang seulgi juga saudara mu. Ia anak kandung ayahmu. Bisakah kau sekali saja berpikir untuk berada di posisi nya? Ia bisa menerima penolakan kalian, tapi ia juga manusia. Kang Seyeon yang ku kenal adalah seorang gadis yang baik. Awalnya aku memahami sikapmu yang lebih memilih menghindari nya karena perasaan sakit yang kau rasakan untuk ibumu. Tapi akhir-akhir ini kau menganggapnya tidak ada Seyeon-ah. Seolah ia bukan manusia yang hidup disekitarmu…”

 

.

“Karena memang sebaiknya ia tidak pernah datang ke kehidupan kami”, balas Seyeon dingin.

.

 

“Seyeon-ah…..”

 

.

“Aku mohon Cho Kyuhyun. Jika kau ingin membelanya, jangan melakukannya di hadapanku. Setidaknya jangan ungkapkan pembelaan mu padaku. Simpan untuk mu sendiri. Aku tidak ingin merusak perasaanku padamu. Aku sudah berusaha membangun kepercayaanku padamu bertahun-tahun. Tolong jangan rusak itu…” pinta Seyeon pada Kyuhyun.

.

 

Kyuhyun menghela napas panjang, “Aku hanya meminta kau untuk memperlakukan Seulgi selayaknya makhluk hidup yang ada disekitar mu. Kau bersikap seolah kau tidak melihatnya saat dengan jelas kau menatapnya. Kau tidak menanggapi nya saat bicara padamu. Bahkan saat ini aku pikir tanggapan sarkastis mu itu jauh lebih baik dari sikapmu saat ini. Kau boleh tidak menyukainya. Tapi jangan terlalu membenci dia. Seulgi juga korban dari keegoisan orang tua nya. Ia sama seperti mu, Seyeon-ah…”

 

.

“Tidak. Kami berbeda, Cho Kyuhyun. Jangan samakan aku dengannya. Dan benar, aku sangat membenci nya. Hal itu tidak akan pernah berubah”, sambung Seyeon teguh.

.

 

“Seyeon-ah….. ada apa denganmu? Apa yang terjadi? Kenapa kau menjadi seperti ini?” tanya Kyuhyun dengan nada putus asa nya.

 

.

“Justru itu yang aku pikirkan, Cho Kyuhyun. Ada apa denganmu? Bukankah kau berkata kau akan selalu berada di pihakku? Kau akan selalu mendukungku apapun yang terjadi. Lalu apa ini?”

.

 

“Aku akan berpihak padamu dengan semual hal benar yang kau lakukan, Seyeon-ah…”

 

.

“Lalu kau pikir yang dia lakukan adalah kebenaran? Dan aku yang salah? Itukah yang terlihat oleh mata mu, Cho Kyuhyun? Apa yang sudah dia lakukan padamu?” tanya Seyeon dengan nada naik satu kuncinya.

.

 

“Dia punya nama, Kang Seyeon. Namanya Kang Seulgi. Sebut namanya!” seru Kyuhyun.

 

.

“Mwoya? Selain membela nya, sekarang kau berpihak padanya?”

.

 

“Cukup, Kang Seyeon! Jangan kekanakan!”

 

.

“Aku? Kau bilang aku kekanakan? Ada apa dengan kalian??? Pertama wanita itu mencuci otak ayahku, sekarang anak perempuan nya juga melakukan itu padamu???

.

 

“Kang Seyeon! Hentikan! Berhenti disitu. Jangan lanjutkan lagi. Cukup! Cukup disitu…”

 

.

“Mwo? Apa yang harus aku hentikan? Bersikap seperti ini? Bersikap kekanakan seperti ini? Berhenti membencinya? Berhenti bicara seperti ini tentangnya? Lalu kenapa? Kenapa aku harus menghentikannya? Katakan padaku alasan untuk menghentikannya. Apa alasanmu memintaku menghentikannya? Kau ingin aku memperlakukannya seperti manusia? Kenapa aku harus melakukan itu disaat ia bahkan tidak terlihat seperti itu?”

.

 

“KANG SEYEON!!! Hentikan! Jaga bicaramu!”

 

.

“Kenapa kau membela nya, Cho Kyuhyun? Kenapa kau berpihak padanya? Kenapa kau juga menyakitiku seperti ini? Aku pikir kau tidak akan bersikap seperti abeoji yang berpihak pada mereka. Aku pikir kau akan bersama ku apapun yang terjadi. Aku pikir….. aku pikir kau mencintaiku…”

.

 

I do…” suara Kyuhyun melembut. Ia berbisik mencoba mendekat pada Seyeon. Namun Seyeon melangkahkan kakinya mundur menjauh dari Kyuhyun. “I do love you… Aku mencintaimu, Kang Seyeon. Aku selalu mengatakan itu padamu. Aku tidak pernah berpikir sedetikpun untuk berhenti mencintaimu…”

 

.

“Kau hanya mengatakannya, Cho Kyuhyun… Kau tidak membuktikannya padaku. Aku lelah dengan semua kata cintamu. Kau mengatakan kau mencintaiku, tapi kau meragukanku, tidak percaya padaku. Cinta tidak hanya untuk dikatakan dan dipikirkan, Cho Kyuhyun. Kau harus merasakan dan mempercayai keberadaannya dalam hidupmu. Aku…… aku tidak lagi bisa mempercayai apapun, Cho Kyuhyun. Karena kau…… Aku menyesal sudah memberikan seluruh hatiku padamu. Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun. Aku hanya tidak menyukaimu saat ini. Maafkan aku… Aku tidak bisa melihatmu. Kau menambah rasa sakitku…”

.

 

“Kang Seyeon, apa yang kau katakan? Kau akan pergi lagi dariku? Aku mohon jangan lakukan itu lagi padaku. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Tidak bisakah kita membicarakan ini lagi? Kenapa kita harus berpisah hanya karena masalah ini? Aku berada dipihakmu, Kang Seyeon. Selalu begitu. Aku percaya padamu. Aku sangat mencintaimu …”

 

.

“Tidak, Cho Kyuhyun. Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Aku ingin kembali padamu, tapi aku tidak bisa kembali. Aku ingin memahamimu, tapi sekeras apapun aku mencoba aku tetap tidak bisa lagi membacamu. Aku mencintaimu… ingin tetap begitu… tapi mencintaimu justru menjadi sumber rasa sakitku dan melemahkanku. Sudah selesai. Bersama mu terlalu menyakitiku, Cho Kyuhyun…”

.

 

“Seyeon-ah… Aku mohon jangan katakan itu. Masalah ini tidak bisa menjadi alasannya. Masalah ini diluar hubungan kita, Seyeon-ah. Masalah ini tidak ada hubungannya dengan perasaanku padamu, perasaan kita. Kita tidak perlu membawa masalah ini ke dalam hubungan kita. Aku akan tetap bersama mu walau apapun yang terjadi”.

 

.

“Bagaimana aku bisa melakukan itu, Kyuhyun-ah? Kau……. Kau baru saja menyalahkanku atas sikapku padanya. Kau…….”

.

 

“Seyeon-ah…”

 

.

“Kau memintaku untuk berlaku baik padanya, Cho Kyuhyun. Kau memintaku untuk tidak membencinya. Aku tidak bisa melakukan itu… Tidak akan pernah bisa…”

.

 

“Kau bisa. Kau pasti bisa melakukan itu. Aku pernah mencoba nya. Kau bisa sekedar memperlakukan dia seperti orang lain. Kau tidak perlu menjadi dekat dengannya. Kau pasti bisa jika mencoba…”

 

.

“Aku tidak ingin mencoba nya, Cho Kyuhyun. Tidak akan pernah!”

.

 

“Wae? Kau bukan orang jahat, Kang Seyeon. Kepribadianku jauh lebih buruk darimu, tapi aku bisa melakukannya. Kau hanya perlu focus pada hal yang lain…”

 

.

“Kita berbeda, Cho Kyuhyun. Jangan samakan keadaan ku denganmu…”

.

 

“Tentu. Kau lebih baik dariku. Cobalah… Dan kita bisa kembali seperti semula saat tidak ada masalah apapun…”

 

.

“Tidak! Aku tidak mau! Jangan memaksaku, Cho Kyuhyun! Jangan pernah!”

.

 

“Kang Seyeon…..”

 

.

“Cukup! Sudah cukup! Aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak mau melakukan itu. Dan aku tidak akan melakukan itu. Bukan kepribadian kita yang berbeda, Cho Kyuhyun. Aku hanya tidak akan pernah mau melakukan itu. Jelas? Jangan memaksaku lagi…”

.

 

“Tapi kenapa? Kenapa kau tidak mau melakukannya ketika kau bisa melakukannya?” tanya Kyuhyun frustrasi.

 

.

“Karena adik tirimu tidak membunuh ibumu, Cho Kyuhyun!!! Ibu mu masih hidup!!! Ibu nya yang meninggal….. karena sakit. Bukan dibunuh!!!”

 

 

 

 

.

 

 

 

 

.

 

 

 

 

TBC…

 

 

 

 

Sebuah rahasia akhirnya terkuak. Alasan dibalik sikap Kang Seyeon dan kakaknya pada Kang Seulgi. Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah Kang Seulgi mengetahui kenyataan bahwa Seyeon telah mengetahui perbuatannya? Bagaimana hubungan Kyuhyun dan Seyeon setelah pertengkaran hebat mereka? Nantikan di part selanjutnya…..

Advertisements

25 thoughts on “When the Wind Blows Part 3

  1. itu kyu segitunya sih ngebelain seulgi ga mikirin perasaan seyeon emang sih ga salah kyu juga dia ga tau masalah sebenernya

    Like

  2. Ya ampunnn, apa yg ada dipikiran kyu sampe segitunya dia ngebela seulgi.
    Jangan pernah mempercaya ucapan seulgi kyu, jangan rusak hubungan mu dgn seyeon cuman karena seulgi kyuuuuuu
    Gak habis pikir astaga kyu bersikukuh banget ngebela seulgi di hadapan seyeon.
    Feelnya dapat bgt eon, aku baca nya aja sampe engap2an.
    Lanjut eon lanjutttt
    Kapan ini dilanjutin lagi eonnnnn

    Like

  3. Kenapa juga kyuhyun harus membela seulgi uuuh!!
    Ibunya meninggal serius yg dikereta tokyo itu. Oh jahat bgt. Bakalan gmana kyuhhyun ketika tau ibu seulgi dan seulgi jahatn max. Apa kyuhyun bakalan ttep diputus sama seoyon. Ah molla!!
    Thor ini ff keren bgt berasa lgi nntn drama korea serius. Lupa kalo ini lgi baca ff duuuuuuh daebak!!!

    Like

  4. Apakah yg akan kyu lakukan selanjutnya?bisakah dia menerima sikap kang seyeeon?lalu apalagi rencana kangseulgi untuk memisahkan kyu dan seyeon?berhasilkah rencananya?

    Like

  5. huaaa kerennn ….

    baguslah akhirnya kyuhyun tau juga …
    akhhh kyuhyun sih akhhh jadi seyeonnya minta putus …

    kyuyeon bukankah selalu melakukan “itu” tapi kenapa seyeon gk hamil , atau mungkin kyuhyun pakai pengaman saat melakukannya ??? akkhhh molla-yo

    Like

  6. mwo? jadi eomma tiri kyuhyun itu eomma kandung kyuhyun? 😮 ckckck mistery ga mistery… 😮

    suka banget sama kyuhyun dan kang seyeon d sni, bgmn pun badai dtg mrk ttp bs bersm dan melewatinya bersama… saling mempercayai, benar” romantic… 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s