The Untold Story between Us Part 7

Category: NC-17, Romance, Chapter

 

Cast: Lee Donghae, Ahn Yunji (OC)

 

Other Cast:

Kim Hyuna, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, etc.

 

Preface:

Annyeonghaseyo. Mohon maaf jika ternyata para readers menemukan ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Dan, tentu saja aku juga manusia biasa yang tidak sempurna, jadi jika menemukan typo dimana-mana, mohon dimaklumi.

As always, jika kalian mau memberikan personal protes, comment, kasih saran, e-mail ke kadanao21@yahoo.com or find me on twitter @kadanao21

Selamat membaca…

 

 

 

Review Part 6

“Lama tidak bertemu, Yunji-ya…”

“Kau….. Choi Siwon?”

 

 

 

 

 

The Untold Story between Us Part 7

 

 

 

 

 

Author’s POV

“Dahaengiya… kau masih mengenalku…” kata Siwon lagi.

 

.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Yunji dengan suara pelannya.

.

 

“Menemui mu”, jawab Siwon singkat, santai dan disertai dengan senyuman.

 

.

“Untuk apa?” tanya Yunji lagi.

.

 

“Menemui mu. Menyapa mu. Aku sudah berada di Seoul selama kira-kira 2 minggu. Aku sempat melihatmu di supermarket, tapi karena hari itu aku sedang diburu waktu aku tidak sempat menyapa mu. Kita bukan orang asing bagi satu sama lain, bukan? Sudah sewajarnya jika aku menemui mu…” jawab Siwon masih dengan sikap santainya.

 

.

“Ehem…” Hyuna berdeham. “Bukankah seharusnya tamu dipersilahkan masuk terlebih dahulu? Donghae-ya? Donghae-ya… Lee Donghae!”

.

 

“Eo?” sahut Donghae yang tersadar dari lamunannya karena panggilan Hyuna.

 

.

“Ehm…..” gumam Donghae ragu.

.

 

“Pulanglah…..” kata Yunji singkat, masih dengan suara pelannya.

 

.

“Mwo? Yunji-ssi… baru saja kau meminta kami pulang? Aku tidak salah dengar?” tanya Hyuna.

.

 

“Yunji-ya…..” kata Donghae pelan.

 

.

“Kembalilah lain waktu… Hari ini kami tidak menerima tamu. Mianhaeyo…” kata Yunji lagi.

 

.

Tanpa ragu Yunji menarik lengan Donghae untuk kembali masuk kedalam dan segera menutup pintu apartemen. Yunji bahkan tidak lagi peduli dengan dua orang yang berdiri di depan pintu. Sesaat setelah pintu tertutup, pegangan Yunji dilengan Donghae terlepas. Yunji yang semula meremas kuat lengan Donghae, kini terduduk lemas di lantai. Napas nya memberat. Dahi, wajah dan lehernya basah karna keringat. Wajahnya seketika pucat pasi. Yunji terlihat seperti seseorang yang baru saja melihat hantu paling menakutkan dihadapannya.

 

.

Donghae yang menyadari hal itu segera duduk bersila tepat dihadapan Yunji. Tanpa perlu bertanya terlalu jauh Donghae sudah mengetahui nya. Laki-laki itu adalah kegilaan dan ketakutan yang selalu menghantui Yunji selama ini. Laki-laki itu yang menghadirkan senyum tipis diwajah Yunji ketika membaca catatan biru peninggalannya, namun ia juga yang memunculkan ketakutan dan wajah pucat pasi disetiap saat Yunji mendengar namanya. Yunji duduk memeluk kedua kakinya. Ia juga menumpukkan kepala nya diatas lutut. Yunji mengatur napasnya, sesekali ia berdeham. Donghae pun menyentuh kepala Yunji bermaksud ingin menenangkannya.

.

 

“D..Don….Don’t touch me!” seru Yunji terbata.

 

.

“Yunji-ya…” Donghae menarik cepat tangannya, terkejut dengan respon Yunji.

.

 

“Satu menit…… berikan aku satu menit……” kata Yunji pelan.

.

 

“Baiklah

 

.

Donghae pun ikut duduk memeluk kedua kakinya, namun dengan kepala yang tegak dan mata yang menatap cemas pada Yunji. Donghae tahu benar apa yang menyebabkan sikap Yunji menjadi seperti ini, hanya saja Donghae tidak sepenuhnya mengerti dengan masalah dibalik semua hal yang menurut Donghae aneh ini. Donghae tetap pada posisi nya bahkan setelah menit ke tujuh yang sudah terlewatkan. Napas Yunji sudah mulai kembali seperti semula. Tubuh Yunji pun sudah tidak gemetar seperti sebelumnya. Perlahan Yunji mengangkat kepalanya. Keringat membasahi dahinya, wajahnya memerah entah karena apa, bibirnya terlihat kontras dengan pucat yang masih berada disana, dan matanya… mata itu mengungkapkan banyaknya perasaan dan pikiran yang tercampur dalam dirinya.

.

 

“Bisakah kau memelukku?” tanya Yunji dengan suara seraknya.

 

.

Donghae menatap dengan teliti seluruh wajah Yunji. Kemudian ia menyeka keringat di dahi Yunji dengan punggung tangannya. “Kemarilah…..” kata Donghae selanjutnya.

 

.

Yunji mendekat dan memeluk erat tubuh Donghae. Ia meletakkan kepalanya dengan nyaman di bahu Donghae. Kemudian ia membenamkan wajahnya di lekukkan leher Donghae untuk merasakan temperature hangat tubuh Donghae yang selalu menenangkannya. Ia merasa begitu takut, lelah, sedih, dan panik, seolah semua hal itu bisa dikeluarkan dalam bentuk tangisan yang begitu deras. Namun tak ada setitik air matapun yang membasahi wajahnya. Rasa takut itu membuat seluruh saraf di tubuhnya menegang. Mengalahkan kesedihan yang ia rasakan. Donghae merengkuh tubuh Yunji lebih erat di dadanya. Ia membelai kepala Yunji dengan lembut sambil sesekali memberikan kecupan ringan disana. Yunji tidak mengatakan apapun untuk waktu yang cukup lama sampai akhirnya tubuhnya yang menegang perlahan kembali seperti semula. Napasnya kembali teratur dan tubuhnya melemah.

.

 

“Donghae-ya…..” kata Yunji akhirnya dengan suara lemahnya.

 

.

“Wae? Kau butuh sesuatu?” tanya Donghae lembut.

.

 

“Bisakah kau mengambilkan ponselku? Aku harus menghubungi seseorang…”

 

.

“Siapa?”

.

 

“Nanti kau juga akan tahu. Jebal… ambilkan, ya?”

 

.

“Baiklah…” kata Donghae sambil melepaskan pelukan Yunji. “Bangunlah… Duduk di sofa”, kata Donghae lagi sambil mengangkat tubuh Yunji.

.

 

Donghae berjalan menuju kamar untuk mengambil ponsel milik Yunji. Ia kembali di menit berikutnya, menemukan Yunji yang duduk meringkuk diujung sofa dengan selimut biru muda milik Donghae dipelukannya. Donghae menghampirinya dan duduk tepat disebelah kanannya. Menyadari keberadaan Donghae disampingnya, Yunji tidak menunggu waktu lama untuk segera menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Donghae, melupakan ponsel yang diminta nya. Yunji memeluk tubuh Donghae erat, seolah jika sedetik saja ia melepaskannya maka Donghae akan hilang darinya. Donghae menghela napas panjang dan mencium puncak kepala Yunji dengan sayang, lalu membiarkan Yunji memeluknya selama yang Yunji inginkan. Donghae menepuk-nepuk pelan punggung Yunji untuk menenangkan perasaan Yunji yang belum sepenuhnya tenang.

 

.

“Kau tidak jadi menghubungi seseorang?” tanya Donghae pelan.

.

 

“Ehm… benar. Aku lupa…”

 

.

Donghae pun memberikan ponselnya pada Yunji. Tanpa melepaskan pelukannya, Yunji mencari nama di kontak ponselnya kemudian menekan tombol dial dan menempelkan ponselnya di telinga kirinya. Yunji menyandarkan tubuh nya lagi di dada Donghae, kali ini dengan posisi Donghae memeluknya dari belakang. Sambungan telepon Yunji tidak diangkat oleh orang yang dituju. Yunji pun mencoba nya lagi. Yunji memiringkan tubuhnya menghadap ke kiri, bersandar pada sofa. Melihat keresahan Yunji, Donghae pun kembali melingkarkan lengannya di tubuh Yunji, memeluknya bagai selimut. Donghae mencium bahu Yunji singkat lalu naik ke pelipis kanannya.

.

 

Yoboseyo?” kata si penerima telepon akhirnya.

 

.

“Eonni…..”

.

 

Yunji kembali terdiam. Hanya kata itu yang mampu Yunji keluarkan. Kakak perempuan yang sudah beberapa tahun tidak ditemuinya kini berbicara dengannya di telepon. Kini bahkan Yunji dapat merasakan perasaan memanggil nya ‘eonni’ lagi. Seketika jantungnya kembali berdetak cepat, tubuhnya menegang, dan air mata membendung di pelupuk matanya. Donghae bisa merasakan perubahan sikap Yunji. Ia mengeratkan pelukannya pada Yunji dan kembali mengecup pelan pelipis Yunji. Kali ini Donghae membiarkan bibirnya tetap disana saat air mata Yunji akhirnya menetes di pipi.

 

.

“Eonni…..” kata Yunji lagi sambil terisak.

.

 

Yunji-ya, ada apa? Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?” tanya Ye Eun khawatir di seberang telepon. Donghae juga bisa mendengarnya dengan jelas.

 

.

“Eonni….. Ye Eun eonni… tolong aku…..” kata Yunji. Kali ini air mata nya deras membasahi pipinya.

.

 

Ada apa, Yunji-ya? Tolong katakan padaku…

 

.

“Dia kembali, eonni….. Siwon kembali…”

.

 

Mwo??? Apa maksudmu? Dimana dia? Apa dia menyakitimu?

 

.

“Ani… dia hanya……. Dia…” Yunji tidak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya yang bercampur dengan rasa sedih dan takut.

.

 

Yunji-ya, apa yang terjadi sebenarnya? Dimana kau sekarang, Yunji-ya? Tolong bicara padaku…

 

.

Melihat keadaan Yunji yang terbata, akhirnya Donghae memutuskan untuk mengambil alih sambungan telepon itu. “Annyeonghaseyo, Ye Eun nuna. Lee Donghae ibnida. Saat ini aku sedang bersama dengan Yunji. Aku akan mengirimkan alamatnya pada nuna melalui sms.

.

 

Arasseo. Aku memohon pertolonganmu…

 

.

“Ne. Nuna tidak perlu khawatir. Nuna tidak perlu terburu-buru. Yunji bersamaku. Aku pasti menjaganya. Hati-hati berkendara, nuna”

.

 

Ne. Terima kasih banyak, Lee Donghae”.

 

.

Setelah sambungan telepon terputus, Donghae segera mengirimkan pesan pada Ye Eun seperti janjinya. Donghae pun kembali menenangkan Yunji yang masih terisak di pelukannya. Donghae tidak tahu harus melakukan apa. Donghae tidak memiliki ide sedikitpun tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Yunji dan pemilik buku catatan itu. Selama ini Donghae mengira pemilik buku catatan itu adalah orang terdekat Yunji yang memiliki kemungkinan akan merebut Yunji hanya dengan kemunculannya kembali. Namun yang Donghae hadapi justru sangat berkebalikan dengan dugaannya. Yunji sangat takut pada pemilik buku catatan itu. Bahkan ini adalah kali pertama bagi Donghae melihat Yunji yang lemah, takut dan tidak berdaya. Setelah beberapa menit, isakan Yunji berhenti, digantikan dengan helaan napas pelan yang mengenai lengan Donghae. Yunji tertidur karena lelah dengan ketakutannya. Donghae pun mengangkat tubuh Yunji perlahan dan membawanya ke kamar, lalu merebahkan tubuh Yunji di tempat tidur. Donghae menarik bed cover untuk menutupi tubuh Yunji. Donghae memilih untuk duduk di lantai dan tetap menatap Yunji yang tampak sangat lemah tertidur dihadapannya. Beberapa saat kemudian bel berbunyi. Kakak perempuan Yunji, Ahn Ye Eun sudah tiba. Donghae pun bangkit dari tempatnya duduk bermaksud untuk membukakan pintu. Namun tiba-tiba Yunji menahan lengan Donghae yang membuat Donghae sontak menoleh pada Yunji.

.

 

“Gajima…..” kata Yunji lemah dengan mata terbuka sayu nya.

 

.

“Aku hanya membukakan pintu untuk Ye Eun nuna. Aku akan kembali dengan cepat, sayang. Kau tidak perlu takut”, kata Donghae meyakinkan Yunji.

.

 

“Gajima… Nal tteonajima…..” kata Yunji lagi. Kali ini Yunji menggenggam tangan Donghae erat.

 

.

“Arasseo. Aku tidak akan kemanapun…” kata Donghae yang kembali duduk dan meraih ponsel Yunji di nakas sebelah tempat tidur.

.

 

Donghae menyerah dan memilih untuk mengirimkan password pintu apartment mereka pada Ye Eun melalui pesan singkat. Hari ini Donghae tidak bisa egois dengan meyakinkan Yunji bahwa semua hal akan baik-baik saja dan meninggalkan Yunji walau sebentar saja. Donghae memutuskan untuk tetap bersama Yunji, seperti permintaan Yunji. Beberapa saat kemudian, Ye Eun masuk ke kamar Yunji masih dengan coat yang belum dilepaskannya. Ye Eun menatap sedih pada adik satu-satunya yang terbaring lemah di tempat tidur dengan mata terpejam, kening berkerut, dan menggenggam erat tangan laki-laki yang satu jam lalu diketahui bernama Donghae itu. Ye Eun akhirnya menanggalkan coat nya, meletakkannya di bangku terdekat dan segera berjalan mendekat pada Yunji. Ye Eun duduk di tempat tidur tepat disisi Yunji, lalu ia menyentuhkan telapak tangannya di punggung Yunji, membuat Yunji membuka matanya dan menoleh pada Ye Eun. Di detik berikutnya, Yunji sudah bangun dan memeluk kakak perempuannya itu dengan tubuh yang gemetar dan napas yang berat. Melihat itu, Donghae pun memutuskan untuk keluar dari kamar Yunji. Namun sekali lagi, Yunji menyadarinya dan menatapnya dengan tatapan lemah.

 

.

“Gajima….. Donghae-ya, gajima…..” kata Yunji terisak.

.

 

Ye Eun pun melepaskan pelukan Yunji. “Jebal gajima…..” kata Yunji lagi.

 

.

“Aku hanya akan ke dapur untuk membuatkan secangkir teh untuk Ye Eun nuna. Aku tidak akan kemanapun, Yunji-ya. Aku tidak akan meninggalkanmu” kata Donghae meyakinkan Yunji.

.

 

“Gajima, eo? Jebal….. Jebal…” kata Yunji tetap bersikeras.

 

.

Ye Eun pun menoleh pada Donghae dan menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan pada Donghae untuk tidak kemanapun seperti permintaan Yunji. Ye Eun berdiri dan berjalan menuju sisi lain ruangan untuk mengambil kursi lain, lalu membawanya mendekat tepat di dekat tempat tidur Yunji. Sekali lagi Donghae menyerah. Donghae duduk disebelah Yunji, yang langsung disambut dengan pelukan Yunji. Sikap Yunji saat ini sangat membuat Donghae bingung. Yunji tidak pernah sangat bergantung seperti ini padanya sebelumnya. Tapi Yunji saat ini bahkan tidak bisa sedetikpun kehilangan bayangan Donghae dari pandangannya, bahkan setelah kedatangan kakak perempuannya, Ye Eun. Donghae pun melingkarkan lengannya diseluruh tubuh Yunji, membiarkan tubuhnya menjadi penghangat bagi Yunji.

.

 

“Tidurlah… Kau lelah…..” kata Donghae pada Yunji.

 

.

Yunji menggeleng pelan menjawabnya. “Aku takut saat aku menutup mataku kau akan pergi meninggalkanku”.

.

 

“Aniya. Aku tidak akan kemanapun, Ahn Yunji. Aku akan tetap bersamamu saat kau tertidur sampai kau bangun…” jelas Donghae lagi.

 

.

Yunji tetap menggeleng dalam pelukan Donghae. Ye Eun hanya bisa tersenyum tipis namun miris melihat sikap Yunji, seolah memahami apa yang sedang dirasakan oleh Yunji. Ye Eun pun memberikan senyum tipis pada Donghae seakan mengatakan untuk memahami adiknya saat ini. Donghae pun hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali pada Ye Eun, dan mencium puncak kepala Yunji.

.

 

“Aku akan keluar sebentar untuk membeli beberapa makanan. Lee Donghae, tolong jaga adikku, untukku. Yunji-ya, lakukanlah seperti yang dikatakan Donghae. Kau lelah. Tidurlah. Donghae tidak akan kemanapun. Aku tidak akan kemanapun. Eo?”

 

.

Yunji mengangguk pelan menjawab pertanyaan Ye Eun yang bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan kamar Yunji. Kamar itu kembali hening dengan hanya Donghae dan Yunji disana. Donghae pun melepaskan pelukan Yunji dan memegang bahu Yunji. Namun bukan menatap Donghae, Yunji justru menundukkan kepalanya, menatap ke bawah ke tempat tidurnya. Akhirnya Donghae harus membuat Yunji menatapnya dengan menegakkan kepala Yunji dengan tangannya. Yunji tetap tidak menatap mata Donghae sedikitpun. Entah apa yang ada dipikiran Donghae, ia menyentuhkan tangannya di tengkuk Yunji dan menarik kepala Yunji mendekat, lalu menyentuhkan bibir Yunji di bibirnya. Pandangan Yunji terangkat menatap wajah Donghae yang dengan mata terpejam tanpa jarak dengan wajahnya. Donghae membuka bibirnya dan melumat bibir bawah Yunji untuk membuat Yunji juga membuka bibir untuknya. Seperti respon otomatis dari tubuhnya, Yunji membuka bibirnya dan memejamkan matanya. Perlahan kedua tangan Yunji bergerak melingkar di leher Donghae, menahan Donghae untuk menjauhkan diri darinya. Yunji menegakkan tubuhnya dan bergerak mendekat pada Donghae, kemudian tiba-tiba naik ke pangkuan Donghae. Kedua telapak tangan Yunji melesak masuk ke sela-sela rambut Donghae dan meremasnya pelan. Yunji menggigit bibir bawah Donghae yang membuat Donghae mengerutkan keningnya tanpa suara keluhan sama sekali. Keduanya saling bercumbu, menumpahkan perasaan buruk yang mereka rasakan. Yunji menjalarkan tangannya turun melewati tengkuk lalu punggung Donghae. Dengan cepat Yunji menarik baju Donghae, membuat keduanya melepaskan ciuman mereka. Yunji berhasil meloloskan baju itu melewati kepala Donghae. Yunji meletakkan baju Donghae di lantai tepat di samping tempat tidurnya. Yunji bisa melihat setiap lekuk tubuh bagian atas Donghae yang dibalut dengan otot keras yang menonjol di setiap permukaannya. Keduanya saling menatap dengan napas yang memburu. Hanya saling menatap. Sampai akhirnya Yunji menyentuhkan kedua telapak tangannya di dada telanjang Donghae, yang membuat Donghae memejamkan matanya. Tatapan Donghae membara saat matanya terbuka dan menatap tajam pada Yunji, lalu menarik Yunji kembali dalam rengkuhannya.

.

 

 

 

 

.

###############

.

 

 

 

 

.

Donghae duduk disisi tempat tidur sambil mengeringkan sisa-sisa rambutnya yang masih sedikit basah setelah mandi, saat pintu kamar mandi terbuka dan Yunji keluar dari sana. Donghae menatap Yunji yang berjalan keluar dan melepaskan handuk di tubuhnya dengan santai dihadapan Donghae. Ia menghela napas panjang. Yunji nya masih tidak mengatakan apapun sejak Ye Eun keluar sampai saat ini. Yunji hanya bicara dengan ekspresi dan tindakannya yang terkadang tidak dimengerti oleh Donghae.

.

 

“Ahn Yunji…..” panggil Donghae pada Yunji yang baru saja meletakkan sisir di meja riasnya.

 

.

Yunji menoleh pada Donghae, masih tanpa kata. Yunji hanya menatap Donghae dan mengernyitkan keningnya seolah bertanya ada apa Donghae menyebut namanya. Ekspresi Yunji membuat senyum tipis terhias di wajah Donghae, diikuti dengan dehaman pelan dan helaan napas didetik berikutnya. Donghae mengangkat tangannya, memberikan tanda pada Yunji untuk mendekat padanya. Yunji pun tanpa ragu berjalan menghampiri Donghae dengan langkah lesunya. Donghae meraih sweater abu-abu nya yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk. Donghae menepuk tempat tepat disebelahnya, meminta Yunji untuk duduk disana. Yunji menuruti Donghae dan duduk disana tanpa mengatakan apapun.

.

 

“Ck… Ahn Yunji….. Kau sungguh-sungguh sedang mencobai aku, eo? Bahkan di keadaan seperti ini, tidak baik keluar dari kamar mandi hanya dengan bra dan celana pendek mu. Kemari, julurkan kedua tanganmu…”

 

.

Tatapan Yunji melembut dan ia melakukan seperti yang diminta Donghae. Yunji menjulurkan tangannya, lalu Donghae memasukkan lengan sweater itu ke tangan Yunji, diikuti dengan bagian kerah ke kepala Yunji. Dan lagi. Seolah terdapat magnet ditubuh Donghae, Yunji dengan santai menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Donghae dan menenggelamkan wajahnya di sela leher Donghae.

.

 

“Hhh… Ahn Yunji yeou-da yeou (serigala)… Pertahananku mungkin sudah runtuh jika aku tidak sedang menghadapi kau yang sekarang. Ja, tidurlah Yunji-ya. Aku sudah cukup membuatmu lelah. Tidurlah…”

 

.

Donghae menggerakkan tubuhnya dengan posisi tubuh Yunji masih dalam pangkuannya. Donghae merebahkan tubuh Yunji di tempat tidur. Sebelum Donghae berhasil menarik bed cover untuk menutupi tubuh Yunji, tubuh Donghae sudah terlebih dahulu ditarik oleh Yunji. Kini Donghae berada tepat disamping Yunji, menerima tatapan lembut Yunji yang masih bungkam. Lalu Yunji mengangkat kepalanya, menarik tangan Donghae dan menjadikan lengan Donghae sebagai penyangga disela leher dan bantalnya. Donghae menarik bed cover untuk menutupi tubuh mereka berdua, lalu melingkarkan tangannya yang lain di pinggang Yunji, mengurung tubuh Yunji dalam belitan lengan kekarnya. Mereka pun perlahan terlelap beberapa saat kemudian.

.

 

Berselang lima belas menit kemudian, Ye Eun kembali. Ia meletakkan makanan yang baru ia beli di dapur, lalu masuk ke kamar Yunji untuk memeriksan keadaan adiknya. Ye Eun terhenti saat melihat adiknya sedang tertidur pulas di pelukan Donghae. Menyadari kedatangan Ye Eun, Donghae terbangun. Ia membuka mata beratnya dan mencoba untuk bangun. Namun Ye Eun menjulurkan tangannya memberi tanda supaya Donghae tetap pada posisinya agar tidak membangunkan Yunji. Kening Ye Eun berkerut saat melihat letak kursi di kamar Yunji berubah tidak seperti saat ia meninggalkannya. Namun Ye Eun memutuskan untuk tidak mengambil pusing hal tersebut. Ye Eun kembali menarik kursi mendekati tempat tidur Yunji, dan duduk disana. Donghae menjadi salah tingkah dengan posisinya, yang akhirnya membuat Ye Eun tersenyum melihat tingkah Donghae.

 

.

“Gwaenchanha… Kau tidak perlu salah tingkah seperti itu…” kata Ye Eun.

.

 

“Sepertinya lebih baik aku bangun dan duduk saja, nuna”

 

.

“Hajima… Kau bisa membangunkan Yunji. Tetaplah seperti itu. Lebih baik kita tidak membuat Yunji resah. Hari ini cukup berat untuknya”, kata Ye Eun lagi.

.

 

“Geunde, nuna…..” Donghae menghentikan ucapannya. Ragu dengan apa yang ingin dia tanyakan.

 

.

“Em… wae?” tanya Ye Eun.

.

 

“Aku….. sudah membaca catatan itu. Beberapa. Aku sempat memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang siapa pemilik catatan itu. Aku bahkan merasakan cemburu yang sangat besar padanya. Setiap catatan yang dia tulis seolah menunjukkan perasaannya pada Yunji, begitupun sebaliknya. Aku bahkan sempat mengira Yunji mempermainkan perasaanku dengan memperlakukan aku seperti dia. Setelah itu aku memutuskan untuk tidak menaruh perhatian pada masalah ini. Tapi akhir-akhir ini masalah yang berhubungan dengan catatan itu bermunculan. Semua masalah itu seolah mengatakan bahwa isi catatan itu tidak sepenuhnya benar, dengan sikap yang ditunjukkan Yunji. Apa yang sebenarnya terjadi, nuna? Apakah dugaanku benar, bahwa tidak semua hal dalam catatan itu benar?” tanya Donghae akhirnya.

 

.

“Eung… Kau seharusnya membaca seluruh halaman Donghae-ya. Kau akan menemukan bagian-bagian tidak rasional didalamnya dengan sendirinya…..” Ye Eun terdiam. “Bagi kami, maksudku Yunji, Youngjae oppa, dan aku, Siwon adalah seorang psycho. Kami menganggap orang itu sakit jiwa.”

.

 

“Ne?” respon Donghae menunjukkan keheranannya.

 

.

“Yang aku maksud adalah….. hampir seluruh isi dalam catatan itu fiktif, Donghae-ya. Benar, Yunji pernah tinggal dengan Siwon saat mencari Youngjae oppa. Siwon membantunya, menemaninya kemanapun, menjaganya. Benar, mereka sangat dekat. Tapi kedekatan itu tidak sejauh yang dituliskan Siwon dalam catatan itu. Apa kau membaca catatan saat Siwon dan Yunji bertengkar karena kehadiran Cho Kyuhyun?” tanya Ye Eun.

.

 

“Aniyo. Tapi Yunji sudah menceritakan hubungannya dengan Cho Kyuhyun”.

 

.

“Cho Kyuhyun sempat berusaha menyelamatkan Yunji. Namun gagal. Lalu Kyuhyun mencari Youngjae untuk memberitahu keadaan Yunji, dan menyelamatkan Yunji. Hubungan Kyuhyun dan Yunji tidak berakhir begitu saja. Yunji memilih untuk menjauhi Kyuhyun dengan alasan supaya Siwon tidak melukai Kyuhyun juga. Karena itu Yunji meninggalkan Kyuhyun dan kembali ke Seoul lebih awal…”

.

 

“Menyelamatkan Yunji dari apa tepatnya, nuna?” tanya Donghae yang bertambah bingung.

 

.

Siwon keep Yunji for himself. Siwon tidak mengijinkan Yunji pergi kemanapun tanpa pengawasannya dengan alasan untuk menjaga nya di negara asing. Lalu Siwon sempat memberikan kelonggaran pada Yunji, yang menyebabkan Yunji bisa bertemu dengan Kyuhyun lagi dan berhubungan dengannya. Saat Siwon mengetahuinya, Siwon mengurung Yunji dirumahnya. Bahkan terkadang Yunji dikunci di dalam kamar. Siwon pergi kuliah dan beraktifitas seperti biasa sehari-hari. Namun saat sampai di rumah, Yunji harus bersikap seolah mereka adalah sepasang kekasih. Siwon mengatakan pada Yunji, jika Yunji bisa bersikap seperti itu, maka suatu saat nanti Siwon akan membiarkan Yunji kembali keluar dari rumah. Tapi hari itu tidak juga datang. Siwon tidak pernah benar-benar ingin membiarkan Yunji pergi. Ada saat dimana Yunji melawan dan memberontak untuk keluar dari rumah. Namun yang terjadi, Siwon memukuli nya hingga babak belur. Tapi di detik kemudian Siwon akan meminta maaf dan memohon hingga menangis dan berlutut pada Yunji agar memaafkannya. Begitu seterusnya. Keadaan rumah itu selalu redup, bahkan gelap. Siwon tidak membiarkan ada sedikitpun akses dunia luar masuk ke rumahnya. Hingga akhirnya Kyuhyun dan Youngjae oppa berhasil menyelamatkan Yunji dari rumah itu, dan entah apa yang terjadi pada Siwon selanjutnya, tidak ada yang memberitahukannya padaku”, kata Ye Eun menjelaskan.

.

 

Donghae mengernyitkan keningnya, mengolah setiap kata dalam pikirannya, membuat proyeksi setiap adegan yang diceritakan Ye Eun. “Laki-laki itu….. bukankah dia mencintai Yunji? Yunji tidak mencintainya?” tanya Donghae dengan amarah tertahan.

 

.

“Yang dimiliki Siwon bukan cinta, Donghae-ya. Itu obsesi. Dan Yunji, dulu dia hanya mencintai Kyuhyun. Sekarang dia mencintaimu. Seperti yang telah kau lihat, Siwon adalah mimpi buruk bagi Yunji”, kata Ye Eun dengan wajah cemasnya.

.

 

“Lalu kenapa Yunji tetap tersenyum dan tidak merasakan apapun saat membaca catatan itu? Seolah semua hal benar terjadi dan Yunji terlihat merindukan pemilik catatan itu.”

 

.

“Yunji memiliki trauma yang cukup berat, Donghae-ya. Selama beberapa bulan Yunji selalu merasa terancam, takut, tidak percaya pada siapapun namun tidak ingin ditinggalkan seorang diri, tidak tersentuh, sangat lemah. Kami melakukan terapi pada Yunji dengan bantuan psikiater menggunakan terapi hipnoterapi. Kami berhasil. Perlahan Yunji kembali seperti dirinya sebelumnya. Yunji tidak mengingat kejadian buruk apapun yang terjadi padanya. Tanpa sepengetahuanku dan Youngjae oppa, Siwon mengirimkan catatan itu. Yunji membacanya, percaya pada setiap kata yang ada didalamnya. Kami tidak bisa mencegahnya. Karena jika kami melakukan itu, Yunji akan menanyakan alasan kami melakukannya. Kami tidak mungkin menceritakan kebenaran yang terjadi pada Yunji. Namun entah apa yang terjadi selanjutnya, trauma nya kembali. Bahkan setelah membaca semua kebohongan dalam catatan itu. Siwon yang menakutkan kembali ke ingatan Yunji. Dan terjadilah yang kau lihat hari ini”.

.

 

“Baik, katakanlah laki-laki itu terobsesi pada Yunji. Kenapa dia melakukan itu pada Yunji?”

 

.

“Dulu Siwon tidak seperti itu. Siwon dan Youngjae oppa bersahabat. Dia sangat dekat dengan keluarga kami. Aku pernah berhubungan dengan Siwon…..” kata Ye Eun penuh dengan rasa sesal.

.

 

“Mwo?” tanya Kyuhyun pelan. Terkejut namun menahannya agar Yunji tidak terbangun.

 

.

“Kami berpacaran. Semua berjalan baik-baik saja. Lalu aku hamil. Saat itu kami masih sangat muda. Kami belum siap untuk menikah, tapi aku tidak bisa mengaborsi kandunganku. Aku tidak bisa membunuh nyawa baru yang ada di tubuhku. Siwon tidak ingin melepasku, tapi tidak bisa bertanggung jawab dengan bayi kami. Aku yang marah akhirnya meninggalkan Siwon. Memutus segala hubunganku dengannya. Aku terpaksa memberitahu keluarga ku untuk mencari perlindungan atas anakku. Dan keadaan dirumah berubah. Appa kecewa dengan perbuatanku dan merubah sikapnya. Tiba-tiba masa depan kami yang semula dapat dengan bebas kami rencanakan, menjadi terjadwal dan diatur oleh appa. Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Ye Eun. Donghae mengangguk pelan.

.

 

“Youngjae oppa keluar dari rumah, menyalahkanku atas semua hal yang terjadi. Appa mulai berusaha menjodohkan Yunji pada salah seorang anak dari temannya. Yunji menolaknya dan memberontak pada appa. Yunji keluar dari rumah saat keluarga dari teman appa datang berkunjung. Lalu untuk mencegah rasa malu keluarga, akhirnya appa memutuskan untuk menjodohkan orang itu denganku. Kau tahu, walaupun aku meninggalkan Siwon, tapi aku mencintainya. Aku hanya berharap keluarga ku melindungiku, agar aku bisa membesarkan anakku seorang diri. Saat itu aku sangat marah pada Yunji. Aku menemui Yunji dan mengatakan padanya untuk jangan pernah kembali ke rumah atau bahkan muncul dihadapanku. Aku menyalahkan Yunji atas kesalahan yang tidak diperbuatnya. Yunji tidak kembali tinggal dirumah. Eomma membelikan apartment ini untuknya. Yunji hanya kembali di hari pernikahanku, begitupun Youngjae oppa. Sebagai formalitas kelengkapan anggota keluarga. Setelah itu mereka kembali pergi. Aku tidak tahu bahwa Yunji sangat terpukul dengan masalah yang datang bertubi-tubi dalam keluarga kami. Yunji menyalahkan dirinya juga atas kepergian Youngjae oppa. Mengira kecelakaan yang terjadi pada Youngjae oppa bertahun-tahun lalu yang disebabkan olehnya masih menjadi permasalahan diantara mereka”.

 

.

Donghae mengerutkan keningnya seolah menunjukkan pertanyaannya pada maksud dari perkataan Ye Eun. “Ya….. Yunji tidak mengetahui kehamilanku. Bahkan Yunji tidak pernah mengetahui hubunganku dengan Siwon. Itulah mengapa Yunji bisa dengan santainya tinggal bersama Siwon saat berada diluar negeri mencari Youngjae oppa. Ini semua salahku. Tapi Yunji yang menanggung semua ini. Tentang Siwon….. aku tidak tahu dengan jelas kapan ia mulai bersikap seperti itu. Kami memang berpisah, namun aku masih sering mencari kabar tentangnya. Setelah kepergianku, Siwon mulai merasakan kehilangan pertamanya. Kami saling mencintai, Donghae-ya. Dia bahkan ingin menikahiku saat kami sudah benar-benar siap. Tapi dengan kesalahan yang kami buat, ternyata dia harus rela kehilanganku. Siwon tahu pernikahanku. Rasa sakitnya semakin besar. Dan rasa sakit itu semakin menjadi saat kekacauan terjadi dikeluarganya. Kakak perempuannya meninggal karena sakit. Lalu ibunya meninggalkan ayahnya karena laki-laki lain. Siwon memiliki trauma ditinggalkan oleh perempuan-perempuan yang dia cintai. Dugaanku itulah yang menyebabkan Siwon melakukan tindakan itu pada Yunji. Ini salahku. Aku bersalah seumur hidupku pada Yunji…” kata Ye Eun sambil menyeka air mata yang menetes di pipinya.

.

 

“Nuna….. Jangan mengatakan itu. Yunji tidak akan berpikir seperti itu pada nuna.”

 

.

“Aku merasa sangat buruk, Donghae-ya. Sekarang kehidupanku sangat bahagia. Suami ku sangat mencintaiku bahkan setelah dia tahu anak pertama yang aku lahirkan bukan anak kandungnya. Dia memberikan nama keluarganya dan merawatnya seperti anaknya sendiri. Aku mendapatkan kebahagiaan dan cinta dari keluargaku. Namun apa yang terjadi pada Yunji? Dia justru harus menanggung penderitaan yang aku sebabkan. Yunji juga harus bahagia, Donghae-ya. Adikku harus merasakannya juga…”

.

 

“Sejak pertama kali aku bertemu dengannya, aku belum pernah membuatnya tidak bahagia, nuna. Bahkan dengan sedikit tekanan yang Yunji terima di kantor, aku tetap selalu berusaha membuatnya tertawa”.

 

.

“Tekanan?” tanya Ye Eun membersihkan sisa-sisa bekas air mata di pipinya.

.

 

“Emm… Yunji mendapatkan sedikit tekanan dari karyawan-karyawan perempuan yang ada di kantor. Karena Yunji dekat denganku… Mereka ‘mungkin’ menyukaiku dan tidak menyukai kedekatanku dengan Yunji”, kata Donghae malu-malu.

 

.

“Karena kau memilih Yunji lebih tepatnya…”

.

 

“Ne…” Donghae mengangguk dan memberikan senyum tipisnya. Begitupun dengan Ye Eun. “Tapi…..” Donghae kembali ragu dengan ucapannya.

 

.

“Apa?”

.

 

“Aku hanya menduga…… Mungkinkah keberadaan Cho Kyuhyun disana juga menjadi salah satu faktor kembalinya trauma Yunji?” tanya Donghae.

 

.

“Aku pikir juga begitu… Psikiater mengatakan kami tidak bisa melakukan apapun jika ingatan Yunji kembali dengan sendirinya. Kamipun harus bersiap-siap dengan kemungkinan yang lebih buruk terjadi pada psikologis Yunji. Inilah yang dimaksud psikiater saat itu. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, Donghae-ya. Aku tidak tahu bagaimana menghadapi Siwon saat ini”.

.

 

“Kita harus memberitahu Youngjae hyung dan Cho Kyuhyun mengenai hal ini, nuna. Mereka juga berhak tahu keadaan Yunji dan kedatangan Siwon”, kata Donghae.

 

.

“Kau benar. Mereka harus tahu. Tentu. Ini semua membuatku gila. Aku pikir Siwon akan pergi dari kehidupan kami sepenuhnya. Tiba-tiba aku merasa sangat takut”.

.

 

“Nuna harus bertahan. Kita tidak boleh lemah dihadapan Yunji. Kita harus menolong Yunji keluar dari ketakutannya”.

 

.

“Aku takut Siwon akan merebut anakku dariku. Jinyoung juga anaknya……”

.

 

“Tidak. Itu tidak akan terjadi. Nuna sendiri yang mengatakannya, suami nuna menyayangi nya seperti anak kandungnya sendiri. Suami nuna tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku juga tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku tidak akan membiarkan Siwon menyakiti siapapun lagi, nuna. Tidak Yunji. Tidak juga siapapun dalam keluarga kalian. Karena dengan menyakiti keluarga kalian, maka Yunji akan lebih tersakiti. Aku tidak bisa melihat itu. Seperti kata nuna, Yunji harus bahagia. Sudah cukup rasa sakit yang dirasakannya…”

 

.

Tiba-tiba Yunji menggerakan badannya, menarik tubuh Donghae lebih dekat dengannya. “Gajima, Donghae-ya. Nan neol saranghanikka… (Jangan pergi, Donghae-ya. Karena aku mencintaimu…)” kata Yunji dalam tidurnya.

.

 

“Aku tidak akan pergi kemanapun, Ahn Yunji…..” bisik Donghae ditelinga Yunji.

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

TBC…

 

 

 

 

Note:

Aku mohon kesabarannya menunggu ff ini. Karena ternyata aku menemukan kesulitan menemukan dan merangkai kata-kata untuk melanjutkan kisah ini. Jadi, aku akan terus meminta maaf untuk keterlambatan update ff ini. Joesonghabnida… *bow

Advertisements

10 thoughts on “The Untold Story between Us Part 7

  1. ternyata siwon tu sakit jiwanya sampai bikin yunji trauma gitu moga aja donghae bisa bantu yunji lepas dari siwon bertambah deh masalah mereka da hyuna sekarang siwon

    Like

  2. Yaelah si siwon jdi psycho yg biasanya alay disini mlah jasi psycho 😅😅😅 aigooo si hae beber” manis wehhhh jdi kepengen jug ahhaha
    Hai ngomong” aku reader bru di blogauthor maafya komentnya cmn di part 7 abis ak nemumya yg emng udh di part 7 jdi aku lngsung baca.. maaf yehh 😇
    #vefy nice

    Like

  3. Oh jadi begitu kisah masa lalu Yunji dan Siwon. Kasihan Yunji dia sampai trauma kayak gitu. Dan tujuan Siwon kembali tu untuk apa coba ? Mudah-mudahan Hae bisa melindungi Yunji dari Siwon dan bisa menghilangkan trauma Yunji.

    Like

  4. Annyeong. . .
    Aku reader baru, salam kenal.
    Ternyata masa lalu yunji rumit banget dan sebenarnya yang membuat siwon kembali? Ditunggu kelanjutannya kakak 🙂

    Like

  5. jadi seperti itu masa lalu yunji sma siwon…kasihan skli, dia pasti trauma banget. dan smoga donghae bisa menghilangkn trauma yunji..makin seru next ditunggu..

    Like

  6. Pingback: Your Library | FanWorld FanFiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s