When the Wind Blows Part 2

– When the Wind Blows –

Part 2

Category: PG-18, Romance, Chapter

Cast:   Kang Seyeon (OC), Cho Kyuhyun, Kang Seulgi, Shim Changmin.

Other Cast:
Find them in the story

Disclaimer:

FF ini murni hasil dari isi kepalaku. Kisah dalam FF ini adalah kisah fiktif yang dibuat murni dari ide seorang manusia. Mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Jika readers menemukan kesamaan kisah secara keseluruhan dalam FF ini dengan FF lain yang pernah kalian baca, mohon memberitahukan author/admin. No bash, smart comments and critics always accepted. Selamat membaca…

.

.

.

Review Part 1

“Kita bertemu lagi, Kang Seulgi. Ada apa dengan wajahmu? Kau tampak kurang baik malam ini. Memiliki masalah dengan hidup barumu?”

“Ka….kalian? Apa hubunganmu dengan Kyuhyun oppa?”

“… kau tidak seharusnya membuat eonni ku terkejut seperti ini. Walaupun Seulgi eonni bukan kakak kandungku, tapi dia juga keluarga, Kyuhyun-ah… Seulgi eonni harus tahu tentang tunangan adiknya…”

—————

“Apa ini, Kang Seyeon? Kau memelukku begitu erat. Sekarang kau sudah mencintaiku?”

“Aku tidak pernah bisa menjauhkan diriku darimu, Cho Kyuhyun. Kau bagian dari sumber kehidupanku. Kau tahu itu, kan?”

“Aku mencintaimu…”

“Aku tahu. Itulah salah satu alasan kenapa aku tetap bersamamu”.

—————

“Apa eomma yakin rencana itu akan berhasil? Aku tidak suka kegagalan, eomma. Cho Kyuhyun harus menjadi milikku”.

“Kau tidak lihat apa yang sudah kita capai sekarang? Semua ini bukan hasil dari kegagalan, anakku. Rencana kita akan berhasil sekali lagi. Kau tidak perlu khawatir”.

.

.

.

Give your best trying to be me. But, you will never be. There’s a line you can’t cross, or even touch…


 

 

.

 

 

.

When the Wind Blows Part 2 begins…

.

.

.

Author’s POV

Suasana pesta ulang tahun Kang Seyeon masih dipenuhi dengan kolega keluarga Kang. Seo Mi Ran dan Kang Seulgi pun kembali memainkan peran mereka. Keduanya berdiri bersama Tuan Kang, menyambut tamu-tamu yang hadir disana, seolah menunjukkan mereka adalah keluarga yang bahagia, sementara Kang Seyeon tetap menjadi pusat perhatian dalam pesta yang dibuat untuknya itu.

.

“Aku tidak menyangka abeoji akan mengadakan pesta ini untukku…” bisik Seyeon pada Kyuhyun sambil sesekali tetap melayangkan senyum menawan nya pada para tamu yang memperhatikannya.

.

“Beliau tetap ayah mu, kau ingat?” sahut Kyuhyun dengan sikap yang sama dengan Seyeon.

.

“Ia tidak perlu melakukan sejauh ini. Aku tidak benar-benar membutuhkannya. Abeoji lah yang membutuhkannya. Demi status perusahaan di mata publik. Such a lovely family, aren’t we?

.

“Singkirkan nada sarkastis mu itu hari ini, Kang Seyeon. Kita nikmati saja pesta ini. Hari ini kau genap berusia 25 tahun. Kau tidak lagi muda…” goda Kyuhyun.

.

“Hhh… Aku cukup muda untuk menghabiskan waktu ku berada dalam kebahagiaan palsu ini, Cho Kyuhyun. Seo Mi Ran dan puteri kesayangannya merusak selera berpesta ku. Seperti nya aku akan menghindari pesta ulang tahun sampai beberapa bulan ke depan. Beruntung ulang tahunmu sudah berlalu…”

.

“Beruntungnya aku….. tapi…..” Kyuhyun menghentikan kalimatnya.

.

“Tapi? Tapi apa? Jangan menggantungkan kalimatmu, Cho Kyuhyun…”

.

“Seorang laki-laki arah jam 11 sedang memperhatikanmu dengan tatapan seolah ingin menarikmu ke dalam pelukannya. Dan saat ini ia sedang menuju kesini. Jangan katakan kau mengenalnya. Karena hanya dari caranya menatapmu, aku sudah tidak menyukainya”, kata Kyuhyun.

.

“Changmin-ssi?!?” seru Seyeon pada laki-laki yang baru saja disebut oleh Kyuhyun.

.

“Kau mengenalnya?” tanya Kyuhyun dengan tatapan tidak suka nya.

.

Seyeon hanya mengangguk. Senyumnya mengembang saat menatap laki-laki yang diketahui bernama Changmin itu. Laki-laki itu mendekat, lalu menunduk memberi salam dan menjulurkan tangan kanannya. Seyeon menyambut tangan Changmin dan mereka bersalaman sambil memberikan tawa kecil pada satu sama lain. Salaman itu tidak lantas terlepas. Keduanya tetap saling tertawa seolah berbicara dalam tatapan dan senyum mereka, membuat Kyuhyun merasa tidak nyaman dengan pemandangan di depan kedua matanya. Kyuhyun berdeham menyadarkan mereka berdua yang segera melepaskan tautan tangan mereka.

.

“Selamat ulang tahun, nona Kang Seyeon. Semoga kau panjang umur dan selalu diberkati…” kata Changmin membuka percakapan.

.

“Mwoya… Kau lupa dengan janji mu? Kau tidak perlu memanggil ku nona. Aku tidak menyukainya. Aku lebih muda beberapa bulan darimu. Panggil aku Kang Seyeon. Dan jangan gunakan bahasa formal mu lagi. Lagipula bukankah kita berteman?” tanya Seyeon disertai dengan tawa kecil.

.

“Arasseo… Sekali lagi selamat, Kang Seyeon. Kau harus mulai memperhatikan wajahmu.”

.

“Wae? Wae? Apakah ada yang salah pada wajahku? Keriput? Jerawat?” tanya Seyeon sedikit panik.

.

“Hahahaha aku bercanda… kau terlalu muda untuk mengkhawatirkan itu. Santai lah sedikit…”

.

Kyuhyun kembali berdeham, kini Seyeon menyadarinya. “Ah… aku hampir saja lupa. Changmin-ah, ini Cho Kyuhyun. Kyuhyun-ah, ini Shim Changmin”, kata Seyeon memperkenalkan Changmin pada Kyuhyun. Selama beberapa detik Seyeon berpikir title apa yang harus ia berikan pada Changmin untuk diperkenalkan pada Kyuhyun. “…..aku mengenalnya di kampus. Kami berbeda jurusan, in case kau akan bertanya bagaimana aku mengenalnya sementara kau tidak…”

.

“Annyeonghasibnikka, Shim Changmin ibnida”, kata Changmin sambil menjulurkan tangannya sekali lagi.

.

“Cho Kyuhyun ibnida”, jawab Kyuhyun singkat sambil menyambut tangan Changmin.

.

“Geunde, Changmin-ah, bagaimana kau bisa datang kesini? Kau mengenal abeoji ku?” tanya Seyeon.

.

“Ani… Sekertarismu, nona Im Yoona, yang mengundangku kesini. Berbicara tentang itu… kau keterlaluan, Kang Seyeon.”

.

“Wae?”

.

“Kau mengatakannya beberapa menit yang lalu bahwa kita berteman, tapi kau bahkan tidak mengundangku? Ckckck… hanya seperti itukah harga pertemanan kita?”

.

“A… geugeon anigo….. Aku sendiri tidak mengetahui pesta ini akan terjadi. Amteun (bagaimanapun), mianhae….. karena tidak mengundangmu dengan cara yang benar”.

.

“Aniya… gwaenchanha. Tidak perlu dipikirkan… Geunde, sayangnya aku tidak bisa terlalu lama berada disini. Ada beberapa pekerjaan yang ku tinggalkan di kantor. Aku harus kembali untuk melakukan kerja lembur malam ini.”

.

“Ah… geurae? Seharusnya kau tidak perlu datang kesini jika kau sangat sibuk…” kata Seyeon menyesal.

.

“Tentu saja aku harus datang. Aku tidak bisa melewatkannya begitu saja…” kata Changmin dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah 180˚. Lalu Changmin mengeluarkan sebuah kotak ukuran sedang dari belakang tubuhnya dan memberikannya pada Seyeon. “Ja… ini kado ulang tahun mu dariku. Bukalah saat kau sendiri. Bukan hal yang menakutkan atau mengejutkanmu. Hanya saja….. aku rasa lebih baik kau membuka nya saat kau sedang seorang diri.”

.

“Arasseo…” jawab Seyeon seolah mengerti maksud perkataan Changmin. Kyuhyun yang mendengarkan percakapan mereka hanya bisa berdiri dengan ekspresi tidak nyamannya.

.

.

.

Athena Apartment Building

Kyuhyun dan Seyeon resmi menempati apartment yang diberikan oleh Tuan dan Nyonya Cho di malam yang sama mereka mendapatkannya. Sikap Kyuhyun berubah diam setelah pertemuan pertama nya dengan laki-laki bernama Shim Changmin yang seolah berteman dekat dengan Seyeon. Seyeon nya. Kyuhyun tidak suka dengan kenyataan itu. Kenyataan bahwa Seyeon tidak pernah menceritakan apapun tentang laki-laki itu padanya. Bahkan setelah bertahun-tahun kelulusan Seyeon dari universitas. Selama ini Seyeon tidak pernah menyembunyikan apapun darinya. Tapi hari ini ia menemukan satu hal yang ia lewatkan dari Seyeon. Kyuhyun menatap lurus pada pemandangan tengah malam kota Seoul dari rooftop apartment nya. Udara dingin kota Seoul tidak dengan mudah membuatnya segera masuk ke dalam untuk menghangatkan diri. Ia hanya berdiri disana masih dengan suit fit body dan long coatnya, serta segelas wine di tangannya. Ia menimbang-nimbang rahasia apalagi yang tidak ia ketahui dari Seyeon. Seketika ia merasa Seyeon belum sepenuhnya menjadi miliknya. Seyeon belum bisa mempercayainya sepenuhnya.

.

Tiba-tiba pinggangnya dipeluk erat dari belakang. “Apa yang kau lakukan disini, Kyuhyun-ah? Udara sangat dingin…” kata Seyeon.

.

“Aku hanya sedang menikmati pemandangan. Sudah beberapa tahun aku tinggal di gedung ini, tapi ini kali pertama aku berada disini”, jawab Kyuhyun dengan suara beratnya.

.

“Orang itu benar-benar hanya teman ku. Maaf belum sempat memberitahu mu…”

.

“Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun berpura-pura tidak mengerti.

.

“Fase membohongi satu sama lain diantara kita sudah lewat hampir satu dekade lalu, Cho Kyuhyun. Dan pekerjaan sampinganku adalah membacamu. Sampai saat ini aku belum pernah melakukan kesalahan dalam pekerjaan itu, jika kau ingin mengetahuinya…”

.

Kyuhyun menghela napas panjang lalu menenggak habis wine yang tersisa di gelasnya. Kyuhyun melepaskan lengan Seyeon di tubuhnya, kemudian berbalik dan meletakkan gelasnya di sebuah bench disana. Kyuhyun meraih kepala Seyeon dan tanpa basa-basi mendaratkan ciumannya di kening dan bibir lembut Seyeon. Ia menekan bibir Seyeon dalam, membuat Seyeon akhirnya membuka bibirnya perlahan. Kyuhyun memanfaatkan kesempatan itu untuk memperdalam ciumannya. Ia melumat bibir Seyeon dengan lembut, menumpahkan segala perasaan dalam hatinya yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Seyeon pun membalas setiap ciuman Kyuhyun dengan perlakuan yang sama lembutnya. Seyeon melingkatkan lengannya di pinggang Kyuhyun, mendekatkan tubuh hangat Kyuhyun padanya. Keduanya pun saling melepaskan ciuman mereka. Kyuhyun menatap mata Seyeon yang berbinar karena cahaya bulan tepat diatas mereka, lalu ia mengecup pelipis kanan Seyeon dan memeluk tubuh tunangannya erat. Mereka bertahan pada posisi itu untuk waktu yang cukup lama, seolah memberikan kehangatan satu sama lain di tengah dinginnya angin yang berhembus diatas sana.

.

“Seperti nya kau harus mandi sebelum pergi tidur, Kang Seyeon…” kata Kyuhyun akhirnya.

.

“Wae? Apakah aku bau?” tanya Seyeon pelan, masih merasa nyaman dalam pelukan Kyuhyun.

.

“Ani… karena aku juga harus mandi. Mandilah sebelum kau tidur. Jika kau mencuci rambutmu, jangan lupa mengeringkannya agar kau tidak terserang flu. Kita akan bertemu lagi besok pagi, eo?”

.

Tidak. Kyuhyun dan Seyeon memang sudah cukup lama tinggal bersama. Tapi mereka tidak tidur di kamar yang sama. Tentu Kyuhyun dan Seyeon sudah “melakukannya”. Mereka sudah bersama sejak bayi dan sudah menjalin hubungan yang lebih serius selama lebih dari 5 tahun. Hubungan keduanya tidak bisa hanya dijelaskan dengan kata-kata. Ikatan diantara keduanya tidak terucapkan. Namun keduanya memutuskan untuk tetap menjaga privacy masing-masing, baik sebelum maupun sesudah pernikahan mereka nanti. Mereka akan terus bersama di waktu yang mereka inginkan. Mereka juga nantinya akan terus bersama setelah pernikahan. Sebelum hari itu tiba, mereka akan tetap melakukan kebiasaan itu.

.

.

.

Kyuhyun keluar dari kamar mandi setelah mengenakan T-shirt hitam dan celana tidur panjang polos abu-abu nya. Ia mengambil i-Pad di meja tidak jauh dari kamar mandi dan membawanya bersamanya. Ia duduk bersandar di ranjang sambil membuka ponselnya, mengecek setiap email yang masuk ke ponselnya. Sesekali ia mengerutkan keningnya membaca email yang tidak lain mengenai pekerjaan itu. Ia mengetik dengan cepat, membalas satu persatu email yang membutuhkan keputusannya dengan segera. Kemudian mematikan i-Padnya dan meletakkan benda itu di nakas tepat di sebelah tempat tidurnya. Kyuhyun membuka bed covernya dan berbaring menyamping di dalamnya. Kelopak matanya mulai terasa berat. Tubuhnya mudah sekali lelah akhir-akhir ini dikarenakan pekerjaan yang tidak ada habisnya datang padanya. Bahkan sampai beberapa saat yang lalu (yang notabene sudah lewat tengah malam), Kyuhyun masih harus mengurus masalah pekerjaan. Matanya baru saja terpejam saat seseorang masuk ke kamarnya. Seyeon yang secara kebetulan juga mengenakan T-shirt hitam polos dan celana bahan pendek abu-abu masuk dengan perlahan. Seyeon berjalan lurus menuju tujuannya, tempat tidur Kyuhyun. Seyeon membuka bed cover dan masuk ke dalamnya dengan sangat hati-hati. Ia bergerak mendekat pada punggung Kyuhyun. Seyeon memeluk pinggang Kyuhyun dengan tangan kirinya, lalu mengecup lembut punggung, bahu, dan tengkuk Kyuhyun. Menyadari hal itu, Kyuhyun kembali membuka matanya perlahan, mengalahkan rasa kantuknya. Kyuhyun menyentuhkan telapak tangannya di lengan Seyeon di pinggangnya, menjalar mulai dari punggung tangan hingga ke siku Seyeon.

.

“Wae?” tanya Kyuhyun setengah berbisik.

.

“Tidak ada apa-apa. Kembalilah tidur. Aku akan pergi sebentar lagi…” jawab Seyeon.

.

Kyuhyun pun membalikkan tubuhnya menghadap Seyeon. Ia menatap Seyeon dengan mata sayu mengantuknya, kemudian menyentuhkan telapak tangannya di sisi kanan wajah Seyeon, membuat Seyeon memejamkan matanya sejenak.

.

“Kenapa pergi? Tetaplah disini…” kata Kyuhyun.

.

“Kau tampak sangat lelah. Aku ingin membiarkan mu tidur dengan nyenyak tanpa gangguan dariku”.

.

“Jadi kau kesini untuk mengganggu ku?” goda Kyuhyun masih dengan suara setengah sadarnya.

.

“Ani… Aku tidak bermaksud ‘mengganggu’ seperti yang ada dalam pikiran kotor tapi mengantukmu itu, Cho Kyuhyun. Geunyang… Aku membutuhkanmu. Seluruh saraf ditubuhku seolah menegang, dan rasa kantuk tidak juga datang padaku. Aku berpikir mungkin saja kau bisa menenangkannya dan membiarkanku terlelap dalam pelukanmu sepanjang malam. Jika aku tahu kau sudah tertidur, aku tidak akan kesini dan membangunkanmu. Mianhae…” kata Seyeon menyesal.

.

“Hhh… Untuk apa meminta maaf, sayang? Kau tidak melakukan kesalahan apapun…”

.

“Aku sudah membangunkanmu dan menganggu tidurmu…”

.

Kyuhyun berdeham pelan, membersihkan tenggorokkannya. “Jangan meminta maaf, sayang. Aku harus terbiasa dengan hal itu. Kita akan menikah, kau ingat? Kau akan berada di kamar yang sama denganku setiap malamnya. Kau tidak menggangguku sama sekali. Kau mengatakan bahwa kau membutuhkanku. Dan itu terdengar hampir seperti kau mengatakan kau mencintaiku. Kemarilah… Mendekat padaku. Aku akan memelukmu sepanjang malam.”

.

Seperti yang dikatakan Kyuhyun, Seyeon melesak ke pelukan Kyuhyun dan memeluk pinggang Kyuhyun. Seyeon menghirup aroma Kyuhyun dari tulang selangka yang berada tepat didepan indera penciumannya. Seyeon menyentuhkan hidungnya bergerak naik ke leher Kyuhyun. Merasakan hal itu, Kyuhyun menjauhkan kepalanya dan menatap Seyeon di redupnya pencahayaan ruangan itu.

.

“Jangan menggodaku, nona Kang Seyeon. Walaupun saat ini tubuhku lemah karena lelah, aku tetap bisa melakukan hal yang tidak kau duga karena godaanmu itu…” kata Kyuhyun.

.

Seyeon menghindari tatapan Kyuhyun yang entah sejak kapan berubah tajam. Ia mengerucutkan bibirnya, menimbang apakah ia harus mengatakannya pada Kyuhyun. Lalu tiba-tiba Kyuhyun menyentuhkan hidungnya di kening Seyeon, seolah meminta penjelasan Seyeon atas tindakan yang dilakukannya. Seyeon pun memberanikan diri kembali menatap mata Kyuhyun.

.

“Aku hanya ingin mencium mu…..” kata Seyeon berbisik lalu menggigit bibir bawahnya.

.

Kyuhyun tersenyum mendengar perkataan Seyeon. “Hhh… ‘Hampir seperti saranghae’ yang lain. Jika terus seperti ini, lama kelamaan aku akan lebih terbiasa menerima tindakan daripada ucapan, Kang Seyeon”.

.

Sepersekian detik setelah ia mengakhiri ucapannya, Kyuhyun mengecup bibir Seyeon, melepaskan gigitan disana. Bibir Seyeon yang sudah sejak awal terbuka membuat Kyuhyun dengan mudah memperdalam ciumannya. Kyuhyun melumat bibir atas dan bawah Seyeon bergantian. Seyeon pun membalas setiap ciuman Kyuhyun dengan lumatan pelan namun intens. Sampai akhirnya mereka saling melepaskan, menyadari rasa lelah yang dirasakan satu sama lain. Kyuhyun mengecup lembut kening Seyeon dan membawa tubuh Seyeon mendekat padanya. Mereka pun memejamkan mata dan terlelap.

.

.

.

Seyeon’s POV

.

Sky High Group

Sejujurnya aku benar-benar benci menghadiri sebuah pesta yang diadakan dalam hari-hari kerja. Karena keesokkan harinya, aku akan merasa selelah ini. Terlebih di hari dengan meeting project besar di awal pagi. Pukul 7 pagi aku sudah harus memimpin sebuah meeting untuk turun cetak siang ini. Lalu meeting lainnya di jam 9 lewat 15 menit. Kepalaku sedikit pusing dan tubuhku terasa sangat pegal, terutama kakiku. Sepanjang malam aku harus mengenakan stiletto 12 cm yang membuat seluruh otot di kakiku menegang. Dan pagi ini, sayangnya aku meninggalkan sepatu heels rendah ku dibawah meja kerjaku. Beruntung karena aku juga memiliki sepatu karet flat yang diberikan Kyuhyun masih aku simpan di lemari ruanganku. I feel like dying.

.

.

Tok… Tok… Tok…

.

.

Shim Changmin masuk ke ruanganku setelah tiga kali ketukan dipintu itu. Ia menghampiriku dengan senyum lebar khasnya, membuatku tertawa kecil tanpa disengaja. Ia duduk di sofa dengan tenang dan kembali menatapku. Kali ini senyum lebarnya berubah menjadi senyum tipis. Tentu saja. Kedatangannya pasti mengenai hadiah yang ia berikan padaku semalam. Aku bangkit dari kursiku dan menghampirinya di sofa. Aku duduk di sofa single menghadapnya. Aku menganggukkan kepalaku seolah memintanya untuk bicara.

.

“Bukan pembicaraan yang menyenangkan untuk dibahas di hari pertama setelah pertambahan tahun”, katanya.

.

“Tentu saja. Haruskah kita memilih beberapa intro?” tanyaku santai.

.

“Hmm…” ia menimbang. “Sepertinya tunanganmu tidak menyukai ku…”

.

“Pemilihan intro mu cukup berat, Shim Changmin. Dan ya, aku rasa juga begitu. Wajahnya tidak pernah sekeras itu. Dia akan baik-baik saja. Tidak perlu dipikirkan…”

.

“Aku masih dalam pendapatku untuk tidak memberitahunya, Seyeon-ah. Bukan karena aku mencurigai atau meragukannya. Hanya saja… Aku pikir ketidaktahuan nya justru akan membantu. Tapi…..”

.

“Tapi?” aku mengulang kata terakhirnya yang terhenti.

.

“Tapi jika suatu saat nanti dia mengetahuinya dari orang lain, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Wajah kekasihmu sangat sulit untuk dibaca. Wajahnya terlihat berbeda dengan apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Aku masih memikirkannya hingga pagi ini. Apakah kau harus memberitahu dia atau tidak”, jelas Shim Changmin.

.

“Dan hasil dari proses berpikir panjangmu?” tanyaku.

.

“Untuk masalah itu, sebagai pengacara sekaligus detektif mu, aku menyerahkan sepenuhnya keputusan padamu, Seyeon-ah. Aku hanya akan melakukan tindakan yang kau inginkan. Tidak kurang. Tidak lebih.”

.

“Aku akan memikirkannya…”

.

“Kau juga terlihat sangat lelah di 30 menit sebelum makan siang. Berpesta semalaman, Nona Kang?” tanya Changmin sambil tertawa kecil.

.

“Nope. Tanpa berpesta semalaman pun aku sudah cukup lelah. Aku harus menangani 2 meeting sekaligus pagi ini. Jadi, bagaimana? Apakah kau benar-benar yakin bahwa Seo Mi Ran dan Kang Seulgi memiliki hubungan dengan menghilangnya ibuku?”

.

“Aku belum yakin 100%. Tapi dari yang aku dengar kemarin malam, mereka membicarakan beberapa cara. Mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu menyingkirkanmu. Namun hasil akhir yang ingin mereka tuju berbeda. Ibu tirimu menginginkan asset yang kau miliki jatuh ke tangan puterinya. Sementara kakak tirimu, ia sangat menginginkan Cho Kyuhyun. Mereka tidak secara langsung membicarakan rencana mereka. Aku bisa merasakan hal buruk yang ingin mereka lakukan padamu. Aku khawatir aku perlu mengerahkan keamanan padamu kali ini. Aku memiliki keyakinan kali ini bahwa mereka akan menyakitimu. Mentally and physically.

.

“Bisakah kau melakukan itu? Maksudku, keamanan. Akan sangat sulit dilakukan di kantor ini. Orang-orang abeoji berada disetiap sudut gedung ini.”

.

“Aku pikir hal itu justru akan mempermudah pekerjaanku. Setidaknya kau akan aman ditempat ini…”

.

.

Tok… Tok… Tok…

.

.

Ketukan yang lain. Kali ini Yoona muncul dari balik pintu. Ia memberikan salam pada Shim Changmin dan mendekat padaku. “Seorang karyawan HRD datang dengan seorang karyawan baru, isanim. Mereka menunggu diluar”, jelas Yoona.

*isanim = Direktur

.

“Seingatku tidak ada lowongan karyawan di divisi ini. Adakah?” tanyaku pada Yoona.

.

“Lee Jiyeon-ssi baru saja mengundurkan diri minggu lalu, isanim. Saya rasa karyawan itu untuk menggantikan posisi nya”.

.

“Tanpa tes? Wawancara dari divisi ini? Dariku?” tanyaku heran.

.

“Joesonghabnida, isanim. Saya tidak teliti akan hal itu”, Yoona meminta maaf.

.

“Aniya… Geurae arasseoyo. Aku akan keluar 5 menit lagi. Terima kasih, Yoona-ssi”.

.

“Ne.” jawab Yoona yang berlalu di balik pintu.

.

“Sepertinya kita harus menunda pembicaraan ini. Im Yoona akan mengirimkan jadwalku padamu. Kita bisa bertemu di jam kerja. Tidak saat istirahat atau setelah jam kerja berakhir. Dia tidak akan suka itu. Kau tahu maksudku…”

.

“Tentu. Aku akan menghubungimu segera setelah aku mendapatkan temuan lain. Aku pergi. Sampai bertemu…”

.

Kami keluar dari ruanganku bersama-sama. Sesampainya diluar ruangan, langkahku terhenti. Aku bisa merasakan langkah Changmin yang juga sempat berhenti. Namun ia meneruskan langkahnya tanpa menoleh lagi. Benar saja. Seseorang yang dimaksudkan akan mengganti posisi karyawanku yang mengundurkan diri adalah gadis itu. Kang Seulgi. Apa yang ia katakan pada abeoji sehingga ia bisa mendapatkan posisi itu tanpa tes dariku? Ia berdiri disana dengan senyum angkuh khas yang selalu aku lihat ada di wajahnya. Belum puaskah dia setelah aku keluar dari rumah? Haruskah dia mengejarku hingga kesini? Begitu banyak divisi di perusahaan ini. Mengapa abeoji harus menempatkannya disini?

.

“Annyeonghaseyo, isanim. Maaf karena saya datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Presidir Kang meminta saya untuk langsung bertemu dengan anda tanpa harus memberitahu anda melalui telepon terlebih dahulu. Sekali lagi saya minta maaf”, kata karyawan HRD yang bernama Park Sunyoung itu.

.

“Aniyo. Tidak perlu meminta maaf. Tentu saja Sunyoung-ssi tidak bisa melakukan apapun dengan keputusan itu. Lalu, apa maksud dan tujuan kau menemui ku?” tanyaku.

.

“Jeogi… Presidir Kang menempatkan Kang Seulgi-ssi untuk menggantikan posisi kosong yang ditinggalkan Lee Jiyeon, isanim”.

.

“Begitu saja? Secara cuma-cuma?” tanya ku dengan nada yang sedikit naik satu kunci. Seketika wajah Park Sunyoung memucat. Tatapan matanya perlahan semakin turun hingga ke lantai.

.

“Mwohaeyo, isanim? Kenapa kau membuat seorang karyawan HRD tertekan seperti itu?” Kang Seulgi mulai membuka mulutnya. Seluruh karyawan di divisi ini seketika menatap kami serentak. Terkejut dengan sikap tidak sopan yang ditunjukkan Kang Seulgi.

.

“Aku bertanya padamu Park Sunyoung-ssi. Benarkah Presidir Kang menempatkannya pada salah satu posisi kosong di divisi ku dengan cuma-cuma, tanpa tes apapun, tanpa melihat kompetensi nya, latar pendidikan dan sikapnya?” tanyaku.

.

“Jeogi…..” Park Sunyoung ragu-ragu untuk menjawab pertanyaanku.

.

“Jawablah sejujurnya. Apapun yang kau katakan aku sudah mengetahui jawabannya. Aku hanya ingin mendengarnya secara langsung dari divisi HRD”, kataku dengan suaraku semula.

.

“Ne. Majseubnida, isanim…” jawab Park Sunyoung pelan.

.

“Mwo?!? Mwoya…” seru Kang Seulgi.

.

“Arasseoyo. Sugohaesseoyo, Sunyoung-ssi. Kau bisa kembali ke ruanganmu”, kataku. Park Sunyoung menunduk memberikan salamnya dan meninggalkan ruangan menuju lift.

.

“Apa maksud dari perkataan mu itu, Kang Seyeon?” tanya Kang Seulgi dengan wajah kesalnya.

.

“Kenapa? Aku mengatakan hal yang salah? Maaf jika aku melakukannya. Aku belum melihat CV dan resume mu, bahkan aku tidak melakukan interview padamu. Kau mendapatkan pekerjaan itu secara cuma-cuma, kau ingat?”

.

“Kau cemburu? Kau bersikap seperti ini karena aku mendapatkannya dengan mudah? Seperti kau tidak saja…” kata Kang Seulgi sarkastis.

.

“Aku memiliki saran untukmu, Kang Seulgi-ssi. Berpikirlah dan ketahuilah kebenaran dari ucapanmu sebelum kata-kata itu keluar dari mulutmu. Kau butuh CV dan resume ku? Yoona-ssi bisa memberikan nya padamu. Tidak akan mengecewakanmu”, jawabku menahan amarahku. “Dan… Jangan pernah menyamakan aku denganmu. Cemburu? Apakah masa pubertasmu terlambat? Atau pubertas kedua mu datang lebih awal? Apakah aku saat ini berada dalam posisi harus cemburu padamu? Aku hanya ingin memastikan bahwa setiap karyawan yang berada dibawah pengawasanku benar-benar berada ditempatnya, kompeten untuk bekerja, dan tidak akan merugikan. Amteun… Selamat datang, Kang Seulgi-ssi. Aku harap kau memanfaatkan keberuntunganmu dan bisa menunjukkan kinerja baik mu. Bang Minah-ssi, tunjukkan meja milik Seulgi-ssi. Hanya itu dariku. Kembalilah bekerja…” kataku sambil berbalik menuju ke ruanganku. Meninggalkan kekacauan dibelakangku.

.

Aku menutup seluruh kaca di ruanganku, menghindari tatapan seluruh karyawan diluar sana. Kepalaku bertambah pusing dan udara terasa begitu pengap. Aku menjatuhkan tubuhku di sandaran sofa panjang. Yoona pun masuk ke ruanganku membawa beberapa berkas ditangannya. Wajahnya menunjukkan kekhawatirannya padaku.

.

“Seyeon-ah, gwaenchanha?” tanya Yoona.

.

“Byeollo (not really)… Apa yang kau bawa?” tanyaku.

.

“Ani… ini hanya…”

.

“Berikan padaku…” pintaku pada Yoona.

.

Benar saja. Dugaanku tepat. Kang Seulgi adalah seorang lulusan dari jurusan akutansi. Apa yang ia lakukan di divisi editorial sebuah majalah fasion dan lifestyle? Memang benar majalah ini merupakan salah satu bagian dari Sky High Group, tapi aku tidak habis pikir abeoji benar-benar melakukan hal sampai sejauh ini. Bukankah akan lebih bijak jika menempatkannya di divisi financial perusahaan? Katakanlah “mungkin saja” Kang Seulgi memiliki kemampuan di dunia fashion dan lifestyle. Tapi bahkan beberapa menit yang lalu aku yakin betul bahwa outfit yang ia kenakan sangat tidak meyakinkan.

.

“Kau ingin ku buatkan teh?” tanya Seyeon.

.

“Aniya… Aku bisa meminta nya nanti dari office girl. Bisakah kau menghubungi sekertaris Kyuhyun, meminta Kyuhyun untuk meneleponku saat ia sedang tidak sibuk atau saat jam makan siang?”

.

“Arasseo… Aku juga akan meminta office girl untuk membuatkanmu teh”, kata Yoona.

.

“Terima kasih banyak, Yoona-ya. Kau memang sahabat terbaikku…”

.

Yoona berlalu dibalik pintu. Aku menghela napas panjang, berharap semua kekacauan di kepalaku ikut terbuang keluar bersama hembusan napasku. Tapi hal itu tentu saja mustahil untuk terjadi. Jangan bodoh. Kekacauan di kepalaku hanya akan menghilang jika Kang Seulgi juga menghilang dari hidupku. Akupun bangkit dari tempatku duduk untuk kembali ke mejaku dan meneruskan pekerjaanku. Namun tepat disaat aku baru saja mengangkat berkas di mejaku, sebuah panggilan telepon masuk ke ponselku. Tentu saja. Aku tidak menyombongkan diri. Tapi membuat seorang Cho Kyuhyun meneleponku di jam sibuknya akan jauh lebih cepat daripada memanggil seorang karyawan yang letak duduknya dekat ruanganku.

.

“Eo… Kyuhyun-ah…” kataku memulai pembicaraan.

.

Apa terjadi sesuatu? Kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun cemas.

.

“Byeollo…”

.

Wae? Wae? Apa yang terjadi?Aku akan kesana jika kau mau…

.

“Aniya… Tidak separah itu. Kau tidak perlu kesini”.

.

Wae iraenyago? (Aku tanya ada apa?) Katakanlah…

.

“Kang Seulgi bekerja disini. Di divisi ku. Abeoji yang menempatkannya…” kataku sambil menghela napas.

.

Mwo? Bagaimana bisa? Kau tidak bisa menghalanginya?

.

“Sayangnya tidak bisa… Kami baru saja kehilangan seorang karyawan yang resign minggu lalu. Posisi nya kosong. Aku tidak memiliki alasan menolaknya”.

.

Kyuhyun menghela napas panjang. “Apa kau yakin aku tidak perlu kesana?

.

“Jangan…jika kau sedang sibuk”, kataku menyerah jujur.

.

Berikan aku waktu 10 menit”, katanya.

.

“Arasseo…”

.

Aku menyerah. Usahaku untuk tidak mengganggu pekerjaan Kyuhyun runtuh seketika di detik pertama aku mendengar suaranya. Aku membutuhkannya saat ini. Kekuatanku seolah menghilang begitu saja. Dukungan abeoji pada Kang Seulgi meresahkanku. Bukan resah karena cemburu. Aku hanya mengkhawatirkan kemungkinan buruk yang akan ditimbulkan Kang Seulgi dan ibunya pada keluargaku. Sebagai satu-satunya anak yang berada di Seoul, tentu aku harus berusaha mempertahankan semua hal tetap pada tempatnya. Kang Seulgi dan ibunya tentu juga memiliki hak mereka. Tapi bukan berarti mereka bisa merebut hak kami begitu saja.

.

.

.

Author’s POV

Tepat di menit ke 9 Kyuhyun tiba di lantai tempat Seyeon bekerja. Perusahaan mereka hanya 10 meter jauhnya. Hanya butuh 5 menit dengan berlari. Kyuhyun berlari. Namun sebelum itu ia harus menunda rapat yang sedang dipimpinnya tadi, sehingga ia membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai disana. Kyuhyun mengatur napasnya berjalan santai memasuki ruangan divisi editorial perusahaan itu. Ruangan yang di design seperti hall dengan kubikel-kubikel memudahkan setiap Karyawan untuk mengetahui siapa orang yang keluar masuk di pintu utama. Seperti saat Kyuhyun masuk beberapa detik lalu. Karyawan yang dengan tidak sengaja menoleh ke arah pintu utama menundukkan kepala nya memberikan salam pada Kyuhyun. Ia pun membalas salam mereka dengan menundukkan kepala nya juga. Tiba-tiba seseorang menepuk pelan punggung Kyuhyun

.

“Oppa!” panggil Kang Seulgi.

.

Kyuhyun menoleh. Ekspresi nya berubah dingin saat ia mengetahui pemilik suara yang memanggil namanya. “Apa yang kau lakukan disini, Kang Seulgi?” tanya Kyuhyun dingin.

.

“Mulai hari ini aku bekerja disini…” jawabnya dengan senyuman mengembang.

.

“Eo… Chukhahanda. Semoga kau beruntung”, kata Kyuhyun sambil mencoba berbalik. Namun Kang Seulgi mengikuti arah pandangan Kyuhyun dengan cepat.

.

“Apa yang oppa lakukan disini? Urusan pekerjaan? Meeting?” tanya Kang Seulgi bertubi-tubi.

.

“Bukan urusanmu, Kang Seulgi. Jika kau tidak keberatan, aku harus menemui tunanganku saat ini”, kata Kyuhyun sambil berlalu meninggalkan Kang Seulgi.

.

“Jadi alasan oppa datang kesini hanya untuk menemui Kang Seyeon?” tanya Seulgi dengan nada kesalnya.

.

“Jaga bicara mu, Kang Seulgi…” kata Kyuhyun dingin namun pelan. “Kau sendiri yang mengatakan bahwa mulai hari ini kau bekerja disini, bukan? Saat berada disini kau harus sadar bahwa Seyeon adalah atasanmu. Walau apapun status kalian diluar sana. Dan ya, aku kesini hanya untuk menemuinya.”

.

“Cho Kyuhyun…..” panggil suara lembut dari balik punggung Kyuhyun.

.

Seyeon keluar dari ruangannya saat menyadari Kyuhyun yang belum juga datang menemuinya. Kyuhyun sontak menoleh pada sumber suara yang memanggilnya. Wajah marah dan dinginnya berubah menjadi wajah khawatir khas nya. Kyuhyun berjalan mendekati Seyeon, meninggalkan Seulgi yang bertambah kesal saat Kyuhyun seolah melupakan keberadaannya disana. Pandangan Kyuhyun hanya tertuju pada wajah lelah Seyeon dengan senyum tipis saat melihat kedatangannya. Bukan Seyeon yang biasa ia temui dikantor. Sebelum hari ini, Seyeon selalu terlihat kuat, tangguh dan berkharisma saat berdiri dengan setelan baju kerja di depan pintu ruangannya. Namun hari ini, Seyeon yang berdiri di hapannya memang terlihat anggun mengenakan setelan baju kerja blouse baby blue lengan panjang cutting rendah tanpa kerah dan skirt dark blue, namun kali ini dipadu dengan sepatu karet flat, bahu yang lesu dan rambut terurai. Sangat tidak seperti Seyeon nya yang tangguh.

.

Beberapa langkah sebelum menghampiri Seyeon, Kyuhyun berhenti tepat didepan meja Yoona. “Yoona-ssi, apa jadwal Seyeon isanim setelah makan siang?” tanya Kyuhyun pada Yoona.

.

“Tepat setelah makan siang, isanim memiliki beberapa berkas yang harus diperiksa dan ditandatangani. Lalu ada sebuah meeting dengan tim untuk perencanaan konsep artikel bulan depan. Setelah itu isanim memiliki janji dengan anda untuk membicarakan rencana kolaborasi di edisi special yang akan di release 2 bulan mendatang” jelas Im Yoona.

.

“Baiklah… Tolong tunda meeting dengan tim sampai hari jumat, dengan begitu tim bisa membuat konsep yang lebih matang. Lalu aku akan menangani masalah kolaborasi itu lain kali. Kita masih memiliki waktu selama 2 bulan…” kata Kyuhyun.

.

“Ah ne, Cho isanim…” jawab Yoona cepat.

.

“Dan, mengenai berkas… jika tidak merepotkan, bolehkah aku meminta pertolonganmu untuk mengirimkannya saja ke apartemen kami, Yoona-ssi? Atau nanti salah satu asistenku akan mengambilnya kesini dan mengembalikannya sesuai waktu yang kalian butuhkan. Bagaimana?” tanya Kyuhyun.

.

“Kenapa harus seperti itu?” tanya Seyeon.

.

Tidak menjawab pertanyaan Seyeon, Kyuhyun kembali bertanya pada Yoona, “Bagaimana, Yoona-ssi?”

.

“Ne, tentu saja, Cho isanim. Kalau perlu saya sendiri yang akan mengantarnya setelah makan siang”, jawab Yoona. “Geundeyo…..” lanjut Yoona sedikit berbisik. “Memangnya kau akan membawa Seyeon kemana, Cho Kyuhyun?” tanya Yoona dengan status sahabat Seyeon.

.

“Aku akan membawanya pulang, Yoona-ya. Kau bisa melihatnya, Seyeon tampaknya butuh istirahat. Aku akan menjaga nya sampai besok. Jadi Seyeon baru akan kembali di hari jumat. Apakah itu memungkinkan?” tanya Kyuhyun berkonsultasi.

.

“Mwo? Cho Kyuhyun, apa yang sedang coba kau lakukan? Kau ingin membuatku tidak datang bekerja? Aku baik-baik saja… Aku akan baik-baik saja” sambung Seyeon.

.

“Tolong katakan padaku, Yoona-ya, kalau kau juga tidak percaya padanya sepertiku…” kata Kyuhyun kembali tidak menanggapi Seyeon.

.

“Cho Kyuhyun…..” panggil Seyeon dengan nada memohonnya.

.

Yoona menoleh sekilas pada sahabatnya yang hanya mengerutkan kening padanya, “Aku akan menangani nya. Jaga Seyeon untukku juga…” jawab Yoona akhirnya.

.

“Im Yoona…” protes Seyeon dengan respon sahabatnya.

.

“Pergilah… Semua akan baik-baik saja sampai hari jumat nanti”, kata Yoona.

.

Tanpa berpikir panjang, Kyuhyun pun memasuki ruangan Seyeon. Memasukkan semua barang-barang Seyeon ke dalam tas dan membawa serta coat dan sepatunya keluar. Tangan kanan nya membawa tas dan sepatu Seyeon secara bersamaan. Sedangkan coat hitam milik Seyeon ia letakkan di lengannya dan tangan kanan nya pun meraih tangan Seyeon dan menariknya berjalan bersamanya. Kyuhyun melemparkan senyuman nya sekilas pada Yoona, berpamitan. Setelah beberapa langkah, mereka dihadang oleh Kang Seulgi yang menunjukkan wajah keberatan nya.

.

“Bagaimana bisa kalian pergi begitu saja? Dengan status direktur bukan berarti dia bisa keluar kantor seenaknya, bukan?” tanya Seulgi.

.

“Lalu apa? Kau akan mengatakannya pada ayahmu? Katakanlah… Sampaikan salamku padanya. Ayo, Seyeon-ah…” kata Kyuhyun mengacuhkan Seulgi dan kembali melangkahkan kaki nya meninggalkan ruangan serta Seulgi yang masih memandang kesal pada mereka.

.

.

.

 

Athena Apartment Building

Sesampainya di apartment, Kyuhyun meletakkan tas Seyeon di sofa dan berlalu menuju ruang wardrobe mereka. Sementara Seyeon hanya menatap punggung Kyuhyun yang menjauh dengan tatapan datar. Seyeon menyerah. Ia tidak bisa menghentikan si keras kepala Cho Kyuhyun. Tidak. Bukan tidak bisa. Seyeon hanya tidak ingin. Ia lebih suka melihat Kyuhyun melakukan apa yang dia inginkan, selama tindakan itu tidak berlebihan. Lagipula Seyeon cukup puas dengan sikap Kyuhyun pada Seulgi di kantor tadi. Entah kenapa hatinya bersorak girang saat melihat wajah kesal Seulgi. Kali ini Seyeon akan membiarkan sifat kekanakannya menang.

.

Seyeon melepas sepatu karet flatnya dan berjalan menuju dapur. Ia mengambil gelas diatas meja makan dan mendekat ke arah lemari es. Seyeon mengeluarkan pitcher berisi orang juice yang ia buat pagi tadi dan menuangkannya ke gelas. Ditenggaknya setengah isi gelas itu lalu menghela napas panjang setelahnya. Seyeon kembali mengenggak juice yang tersisa di gelasnya sampai habis. Ia meletakkan gelasnya dan menumpukan tangan kanannya itu pada meja dapur. Seyeon baru saja bermaksud untuk meraih pitcher dan menuangkan orange juice itu lagi saat tiba-tiba coat hitam Seyeon ditanggalkan oleh Kyuhyun yang ternyata sudah sejak beberapa detik yang lalu berdiri dibelakangnya. Seyeon pun membiarkan Kyuhyun menanggalkan coat itu untuknya. Beberapa saat kemudian, Kyuhyun mengumpulkan rambut Seyeon dan mengesampingkannya ke sisi sebelah kiri bahu Seyeon. Kyuhyun melingkarkan kedua tangannya di pinggang Seyeon dan mendekatkan tubuh gadis itu, merengkuhnya ke pelukannya. Kyuhyun pun mendaratkan kecupannya di leher kanan terbuka milik Seyeon, kemudian naik menuju rahang dan pelipis kanan Seyeon.

.

“Blouse biru muda panjang cutting rendah dan skirt biru tua….. perpaduan yang selalu membuatku menyerah. Aku senang melihatnya, tapi aku tidak ingin membaginya dengan orang lain, Kang Seyeon”, kata Kyuhyun dengan suara berat pelannya.

.

“Baby blue dan dark blue, Cho Kyuhyun…..” kata Seyeon berbisik menahan napasnya.

.

“Bukan itu yang penting sekarang, Seyeon-ah…” kata Kyuhyun lagi, berbisik tepat disebelah kanan telinga Seyeon. “Bath with me?” tanya Kyuhyun.

.

“Matahari masih terlalu tinggi untuk mandi, Cho Kyuhyun”.

.

“Tidak jika bertujuan untuk menghilangkan penat, Kang Seyeon”. Kyuhyun melepaskan kedua tangannya di pinggang Seyeon. “Come…” kata Kyuhyun sambil meraih tangan Seyeon dan menuntun Seyeon menuju kamarnya.

.

Kyuhyun melepaskan tangan Seyeon saat mereka memasuki kamarnya. Kyuhyun mempersilahkan Seyeon masuk terlebih dahulu. Di detik selanjutnya Kyuhyun pun menutup pintu kamar dan berjalan mengikuti Seyeon menuju kamar mandi. Kyuhyun mengeluarkan kemeja hitam dari dalam celananya dan melepas satu persatu kancing kemeja itu. Setelah terlepas seluruhnya, Kyuhyun menanggalkan kemeja itu dari tubuhnya dan meninggalkannya terlegetak tepat di depan pintu kamar mandi. Kyuhun kembali meraih tangan Seyeon yang hanya berjarak satu langkah didepannya, dan menarik Seyeon mendekat. Seyeon sontak terkejut dengan sikap Kyuhyun yang tidak biasa itu. Namun ia hanya bisa tertawa kecil menanggapinya. Kyuhyun mulai menghapus jarak diantara mereka, perlahan melingkarkan lagi lengannya ke punggung Seyeon. Kyuhyun menundukkan kepalanya, menyentuhkan hidungnya di sepanjang rahang kanan Seyeon, membuat Seyeon menahan napasnya dan menggigit bibir bawahnya. Kyuhyun tersenyum menang saat menyadari reaksi Seyeon pada tindakannya. Kyuhyun pun mengecup tepat dibawah telinga Seyeon, membuat Seyeon kembali menarik napasnya dan menghela nya lembut perlahan. Seyeon meletakkan kedua telapak tangannya di bisep Kyuhyun, lalu meremasnya pelan. Seyeon menolak kalah dari Kyuhyun. Ia pun menyentuhkan bibir lembutnya dan menghembuskan nafas pelan di tulang selangka Kyuhyun, bagian favoritnya. Seyeon berhasil membuat Kyuhyun berdeham tertahan. Seyeon melanjutkannya hingga dagu Kyuhyun. Saat mata mereka bertemu, tatapan lembut Kyuhyun sudah sepenuhnya berubah menyala, panas dan terbakar. Di detik yang sama Kyuhyun meraih bibir lembut Seyeon dengan bibirnya. Kedua nya memejamkan mata, terbuai dalam perasaan mereka. Seyeon melingkarkan tangannya di leher Kyuhyun, memasukkan jari-jarinya di rambut ikal Kyuhyun, seolah tidak ingin membiarkan Kyuhyun menjauh walau sebentar saja. Di tengah atmosfer panas kamar mandi, Kyuhyun melangkahkah kakinya membawa Seyeon masuk ke dalam dan menutup pintu kamar mandi dengan kaki kanannya.

.

.

.

Pukul 4 sore…

 

Hujan turun membasahi kota Seoul. Titik-titiknya menghiasi jendela lantai teratas apartment. Beruntung hujan tidak disertai dengan kilat dan petir yang menakutkan. Di dalam apartment yang dengan cahaya redup, Seyeon meletakkan kepalanya di lengan kiri Kyuhyun dan memejamkan matanya. Sementara Kyuhyun memeluk tubuh Seyeon dari belakang. Tubuh Seyeon hanya tertutup sebatas paha dengan sweater merah milik Kyuhyun. Sementara kaki telanjangnya berhasil dilindungi dari udara dingin oleh kaki Kyuhyun yang membelit bagai selimut.

.

“Apakah aku berhasil menghilangkan keresahanmu?” tanya Kyuhyun berbisik.

.

“Eung… dan menggantikannya dengan rasa lelah dan kantuk”, jawab Seyeon.

.

Kyuhyun tertawa pelan mendengar jawaban Seyeon. “Menjadi lebih baik atau lebih buruk?” tanyanya lagi.

.

Seyeon berusaha menggerakan tubuhnya. Kyuhyun pun melonggarkan rengkuhannya ditubuh Seyeon. Seyeon memundurkan tubuhnya merapatkan punggungnya ke dada Kyuhyun. “Never been better than this…”, jawab Seyeon sambil mengeratkan rengkuhan Kyuhyun lagi.

.

“Bagaimana perasaanmu saat ini?” tanya Kyuhyun memastikan.

.

“Payah…” jawab Seyeon singkat.

(Payah dalam bahasa inggris dapat diartikan tired/lelah)

.

Kyuhyun meraih ponselnya yang berjarak tidak jauh dari jangkauannya. Ia membuka aplikasi pemutar music dan mencari dalam list lagu favoritnya. Ia memilih lagu Hyukoh yang berjudul Gondry dan menyesuaikan volume nya.

.

“Akhir-akhir ini reaksi jantungku begitu lemah terhadapmu…” kata Seyeon lagi.

.

“Berdegup begitu kencang saat melihatku? Atau melemah sampai payah?” tanya Kyuhyun menggoda.

.

“Berdegup kencang saat kau mengenakan kemeja hitammu dan melemahkan saraf-saraf serta kekuatan ototku….. sampai payah”, jawab Seyeon dengan suara serak nya yang secara tidak langsung menggoda Kyuhyun.

.

“Apa yang ingin kau lakukan besok? Kau mempunyai 1 hari penuh untuk berlibur. Aku akan mengantarmu kemanapun kau mau”, kata Kyuhyun.

.

“Emm…” gumam Seyeon sambil menggeleng pelan. “Aku hanya ingin disini. Seperti ini. Bersamamu. Sepanjang hari. Tanpa siapapun lagi. Hanya Cho Kyuhyun…” kata Seyeon dengan menekankan tiap katanya.

.

“Seperti ini? Saat ini?” tanya Kyuhyun lagi dengan nada jahilnya.

.

“Jauhkan pikiranmu itu, Cho Kyuhyun. Aku lelah menanggapinya…”

.

“Baiklah… Aku akan mengganti pertanyaannya. Hmm… Kau mengatakan ‘seperti ini. bersamaku’, aku dengan T-shirt ku atau tanpa T-shirt ku?” tanya Kyuhyun.

.

“Cho Kyuhyun…..” tegur Seyeon merasa geli dengan pemikiran tunangannya itu.

.

“Jawab saja, Seyeoh-ah. Kita hanya akan membicarakannya, pertahananku sangat kuat saat ini. Kau tidak perlu khawatir…”

.

“Kau dengan T-shirt mu…” jawab Seyeon akhirnya disertai dengan desisan tawanya. “Tapi saat aku menginginkannya, T-shirt itu harus menghilang di detik yang sama”, Seyeon melanjutkan.

.

Kyuhyun tersenyum menahan tawanya. “Aku suka Kang Seyeon seperti ini…”

.

“Seperti?” tanya Seyeon.

.

“Mengenakan sweater atau T-shirt ku yang kebesaran ditubuhmu, sampai menutupi celana luar biasa pendekmu. Karna saat kau melepasnya, aroma tubuhmu seperti aroma ku. Aku menyukai semua jejakku di tubuhmu…” kata Kyuhyun dengan berbisik di kalimat terakhirnya.

.

“Aku lebih suka kau dengan celana pendekmu…” kata Seyeon mengalihkan.

.

“Ada apa dengan celana panjangku?”

.

“Tidak ada apa-apa. Hanya saja, aku penggemar kaki panjangmu”.

.

“Hanya kaki panjangku?” tanya Kyuhyun kembali menggoda Seyeon.

.

“Jangan bertanya lagi. Kau tahu benar apa jawabanku…” jawab Seyeon setengah tertawa malu.

.

Kyuhyun mencium puncak kepala Seyeon masih dengan senyum mengembang diwajahnya. “Bagaimana jika kita membuat sesuatu untuk dimakan? Kau belum makan apapun sejak siang tadi, sayang”, tanya Kyuhyun sambil melonggarkan pelukannya di tubuh Seyeon.

.

“Kau tidak boleh melupakan bahwa kau yang membuatku melewatkan makan siangku, Cho Kyuhyun…” kata Seyeon yang menggerakkan tubuhnya lagi, kali ini bersiap untuk bangun.

.

“Baiklah, kesalahanku. Sebagai permintaan maafku, aku akan memasakkanmu makan malam sesuai dengan keinginanmu. Katakanlah apa yang ingin kau makan”, kata Kyuhyun yang saat ini sudah beranjak duduk di tempat tidur.

.

“Aku ingin fetuccini dengan krim keju”.

.

“Baiklah. Sekarang saatnya kau bangun, nona kecil”.

.

Carry me on your back”, Seyeon menjulurkan kedua tangannya pada Kyuhyun.

.

“Hhh… arasseo gongju-nim…” kata Kyuhyun yang melakukan seperti yang di inginkan Seyeon.

.

.

##########

.

.

Kyuhyun dan Seyeon menikmati makan malam mereka di sofa besar yang berada di ruang tv. Kyuhun duduk dengan kaki kiri pada posisi duduk bersila, dan kaki kanan yang ditekuk keatas. Sementara Seyeon membelitkan kedua kakinya diatas kaki kiri Kyuhyun dan memasuki celah di kaki kanan Kyuhyun. Keduanya memegang piring mereka masing-masing dan melahap suap demi suap fetuccini yang dibuat Kyuhyun sambil menyaksikan drama tv yang menarik perhatian mereka. Kyuhyun menoleh pada Seyeon, lalu tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Seyeon. Ia menolehkan wajah Seyeon dengan punggung tangan kanannya dan melumat ujung bibir Seyeon.

.

“Ah, mwohaaaeee, Cho Kyuhyun???” protes Seyeon yang mengganggunya menonton.

.

“Nal bwa… (lihat aku…)” walaupun protes, namun Seyeon tetap menuruti perkataan Kyuhyun.

.

Kyuhyun mengecup bibir Seyeon sampai menimbulkan bunyi yang terdengar ditengah volume tv yang tidak terbilang kecil. “Aish… jinjja Cho Kyuhyun…”

.

Kyuhyun tertawa melihat reaksi Seyeon yang kesal namun tersenyum dan kembali memusatkan pandangannya pada drama di televisi. Kening Seyeon berkerut melihat adegan di tv hingga melupakan fetuccini dihadapannya. Kyuhyun pun menyuapkan fetuccini dari piringnya pada Seyeon.

.

“Aaaa…” kata Kyuhyun sambil menyuapkan fetuccini. Seyeon menuruti Kyuhyun tanpa menoleh pada Kyuhyun. Perhatiannya benar-benar terkunci pada alur cerita drama yang menceritakan kisah sekelompok orang yang kembali ke masa kehidupan remaja mereka di tahun 1997.

.

“Ch… Ya Kang Seyeon! Neon naega joha, Seo In Guk joha?” tanya Kyuhyun sambil masih mencoba menyuapkan fetuccini pada Seyeon.

.

“In Guk oppa…” jawab Seyeon dengan fetuccini dimulutnya.

.

“Ch… kalau begitu menikahlah dengan Seo In Guk” kata Kyuhyun dengan nada kekanakannya.

.

“Jeongmal? Geunyang In Guk opparang gyeolhonhae? (Benarkah? Menikah dengan In Guk oppa begitu saja?) Kau akan baik-baik saja?” tanya Seyeon yang akhirnya menoleh pada Kyuhyun.

.

“Ya! Jugeullae?!?”

.

“Hhh… Kau sendiri yang mengatakannya, Cho Kyuhyun…” kata Seyeon setengah tertawa sambil kembali menonton drama.

.

“Aku kan tidak benar-benar bermaksud begitu…” kata Kyuhyun sambil mem-pout-kan bibirnya.

.

Tiba-tiba Seyeon menyentuhkan hidungnya di hidung Kyuhyun ke arah atas, membuat Kyuhyun mendongakkan kepala dan membelalakkan mata karena terkejut. Seyeon lantas mencium bibir Kyuhyun dan perlahan membuka nya untuk memperdalam ciumannya. Kyuhyun yang akhirnya mendapatkan kesadarannya kembali, membalas ciuman Seyeon. Keduanya berciuman selama beberapa saat sampai akhirnya Seyeon menjauhkan kepala nya dan mengecup bibir Kyuhyun lagi sekilas. Seyeon pun beranjak bangun dari sofa membawa piringnya yang ternyata sudah kosong menuju dapur.

.

“Di kehidupan selanjutnya aku akan berusaha menjadi seorang aktris dan bertemu dengan In Guk oppa. Jika aku beruntung aku juga akan menikah dengannya. Di kehidupan ini aku harus berpuas diri bersama Cho Kyuhyun sepanjang hidupku…” kata Seyeon sambil berlalu.

.

Butuh waktu beberapa detik untuk Kyuhyun mencerna kata demi kata yang diucapkan Seyeon. “M… Mw…. Mwo…. Mworago? Ya Kang Seyeon! Apa yang kau katakan?” tanya Kyuhyun menoleh mengikuti gerak tubuh Seyeon.

.

“Mwol?” tanya Seyeon sambil meletakkan piringnya di bak cuci piring dan mengenakan gloves untuk mulai mencuci peralatan masak Kyuhyun.

.

“Apa yang kau katakan barusan?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Mwonde? Aku tidak salah bicara. Uri gyeolhonhandamyeo… Angeurae? (Aku mengatakan kita akan menikah… Bukankah begitu?)”

.

“Eo… geurae…” jawab Kyuhyun dengan senyuman diwajahnya. Namun ekspresi nya berganti saat ia menyadari kalimat Seyeon yang lain. “Geundae, ya!!! Bahkan dikehidupan berikutnya kau juga akan menikah denganku, Kang Seyeon… Jangan coba-coba mengkhianati ku…”

.

Seyeon tertawa mendengar reaksi Kyuhyun yang serius namun kekanakan itu. “Arasseo… Kemarilah, aku harus mencuci piringmu juga…” kata Seyeon menyerah.

.

.

Ting Tong…

.

.

Bel berbunyi. Mereka saling menatap satu sama lain karena hal yang tidak biasa itu, mengingat belum ada siapapun yang benar-benar tahu alamat mereka.

.

“Mungkin itu Yoona. Kau memintanya mengantarkan berkas, kau ingat?” tanya Seyeon.

.

“Ah… maja… Aku akan membukakannya…”

.

Kyuhyun pun melangkah menuju pintu. Tanpa melihat siapa orang yang datang, Kyuhyun langsung membukakan pintunya. Benar saja. Bukan Yoona yang datang membawakan berkas-berkas yang harus ditandatangani Seyeon, tapi Seulgi lah yang berada disana. Ekspresi wajah Kyuhyun berubah seketika menjadi dingin saat melihat calon saudara ipar nya itu ada didepan pintu apartment mereka.

.

“Apa yang kau lakukan disini, Kang Seulgi?” tanya Kyuhyun pelan, khawatir Seyeon akan mendengarnya.

.

“Mengantarkan berkas-berkas yang harus ditanda tangani oleh Kang isanim…”

.

“Berikan padaku!” kata Kyuhyun dengan nada datar kerasnya.

.

“Tidak akan, sebelum oppa mempersilahkan aku masuk kedalam…” kata Seulgi memberikan negosiasi.

.

“Arasseo… Berikan dulu berkas-berkas itu padaku”, pinta Kyuhyun lagi.

.

Seulgi pun dengan mudah memberikan berkas-berkas itu karena nada bicara Kyuhyun yang melembut menyerah padanya. Seolah terhipnotis oleh Kyuhyun, Seulgi tersenyum lebar menatap Kyuhyun.

.

“Kenapa kalian tidak masuk, Kyuhyun-ah, Yoona-ya?” tanya Seyeon dari dalam apartment.

.

“Bukan Yoona yang datang, sayang” kata Kyuhyun kembali dengan nada dinginnya.

.

“Mwo? Lalu sia…..pa?” tanya Seyeon terhenti saat melihat Seulgi-lah yang datang kesana. “Apa yang kau lakukan disini, Kang Seulgi?” tanya Seyeon sama dinginnya dengan Kyuhyun.

.

“Aku hanya berniat baik membawakan berkas-berkas yang harus kau tanda tangani. Tidak bisakah kau setidaknya berterima kasih….. isanim?”

.

“Naega wae? (Kenapa aku harus melakukannya?) Aku tidak meminta mu melakukannya. Berkas-berkas itu sudah ada ditangan Kyuhyun, sekarang pergilah”, kata Seyeon sambil bermaksud berbalik kembali ke dalam.

.

“Kenapa aku harus pergi? Kyuhyun oppa sudah berjanji akan mempersilahkan aku masuk saat berkas-berkas itu aku berikan padanya, Kang Seyeon. Kau tidak bisa mengusir ku”, kata Seulgi berpegang pada pendapatnya.

.

“Mwo???” Seyeon kembali menatap kesal pada Seulgi. Kali ini juga pada Kyuhyun. “Usir dia dari sini atau aku yang pergi…..”

.

.

.

TBC…

Advertisements

22 thoughts on “When the Wind Blows Part 2

  1. itu seulgi muka tembok banget sih kenapa seyeon ga cerita ke kyu tentang rencana seulgi ma ommanya kan kyu bisa ambil tindakan

    Like

  2. Dasar kang seulgi serakah dan muka tembok ngeseliiiin.apa ulah yg akan kang seulgi buat selanjutnya?bagaimana sikap kyu menghadapi seulgi yg nekad dan kang seyeon?

    Like

  3. seulgi parah abis nyebelin nya .. suka deh sama bahasa nya eoni gak terlalu berat tapi ngena trus asik bangett
    . di tunggu kelanjutannya ya 😉 😉

    Like

  4. KESel sama.seulgi.kesel juga sama tuan kang dia.bner” memperlakukan seyeon kaya gitu. Seulgi juga anak kansungnya tapi kenapa seyeon yg tersisih. Jjang kyu milih siapa? Pasti seyeon. MAsih ada tela teli yg belum terungkap semoga cpt terungkap semngat thor

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s