The Possibility of Impossible Us Part 4

– The Possibility of Impossible Us Part 4 –

“First Love is Never Die”

 

Category: NC-17, Romance, Chapter

Cast: Cho Kyuhyun, Choi Nara (OC)

Other Cast:

Seohyun, Choi Changjo, etc.

Disclaimer:

FF ini murni hasil dari isi kepalaku. Kisah di ff ini adalah kisah nyata yang dikembangkan ke dunia per-fanfiction-an. This is a simple love story. Beberapa tokoh, karakter, latar tempat dibuat berbeda dengan kisah aslinya. FF ini akan dibuat dengan format yang sedikit berbeda. Jika FF sebelumnya dibuat dengan 3 sudut pandang (sudut pandang author, tokoh utama laki-laki, dan tokoh utama perempuan), FF ini dibuat lebih banyak dengan sudut pandang tokoh perempuan dan beberapa sudut pandang author. Jadi, akan lebih terasa seperti diary si tokoh utama perempuan. Well, FF ini basically adalah romance dengan rating PG-15, tapi mungkin direncanakan akan ada 1 atau 2 part dengan NC didalamnya. Dan sebelumnya aku mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Karena seperti yang aku katakan, ini adalah kisah cinta sederhana yang bisa dialami siapa saja. Aku juga berusaha sebisa mungkin untuk menghindari typo. Tapi, aku juga manusia biasa yang bisa membuat kesalahan, jadi mohon dimaklumi. No bash, smart comments and critics always accepted. Selamat membaca…

.

.

.

.

I can’t forget you at all. You’re still here, in my heart.

.

.

.

.

-The Possibility of Impossible Us Part 4-

.

.

.

.

Tokyo, Jepang

Musim Salju, 2011

Satu tahun kembali terlewatkan olehku di negara ini. Aku sudah sangat terbiasa dengan suasana di kota besar ini. Tokyo membuatku merasa seperti berada di rumah dengan segala keramaian, kepadatan dan keindahannya. Sudah satu tahun setelah pertengkaran tidak masuk akal itu dengan Kyuhyun. Dan sampai hari ini, kami tidak saling menghubungi. Hanya sosial media yang menghubungkan kami, seolah kami saling bicara tanpa suara, saling menatap tanpa mata, saling merasakan kegembiraan hingga kesedihan tanpa pertemuan. Hingga suatu hari di minggu kedua di bulan Desember, Changjo bercerita banyak hal di sesi telepon kami.

.

.

Flashback begins…

Banyak hal yang berubah disini, nuna. Setelah nuna pindah ke Tokyo, Daehyun hyung berganti lokasi tugas mengantarkan susu dengan temannya. Alasannya karena ia tidak bisa lagi melihat nuna dan mendapatkan sapaan nuna…”

.

“Hahahaha… jinjja? Lalu? Apakah ada lagi?”

.

Eomma seringkali tertidur di kamar nuna karena rasa rindunya. Bahkan abeoji terkadang dimarahi karena melarang eomma tidur disana”, jelas Changjo lagi.

.

“Aigoo… hahahha kasihan uri appa. Aku juga merindukan kalian. Karena itu aku mengambil program semester pendek agar aku bisa pulang lebih cepat dari seharusnya. Semoga eomma bisa menahannya sebentar lagi…”

.

Ada lagi…” kata Changjo. “Ada sebuah cerita lagi…

.

“Apa itu?”

.

Entah nuna ingin mendengarnya atau tidak, aku tetap akan menceritakannya…” Changjo menarik napas panjang sebelum akhirnya memulai ceritanya. “Seohyun sunbae adalah seniorku di kelas seni. Hubungan kami juga cukup dekat sebagai senior-junior. Suatu hari Seohyun sunbae menceritakan tentang hubungannya dengan Kyuhyun hyung. Apa saja yang hyung lakukan untuknya, apa saja yang hyung berikan padanya, bahkan apa saja yang membuat mereka bertengkar. Seohyun sunbae mengakui bahwa ia pernah berselingkuh dengan sahabat Kyuhyun hyung. Tapi Kyuhyun hyung masih bertahan dengannya. Kyuhyun hyung memaafkannya begitu saja. Lalu suatu hari, Seohyun sunbae menerima telepon dari Kyuhyun hyung yang mabuk. Hyung meracau dengan mengatakan ‘Aku tidak bisa melupakannya. Ia masih berada didalam sini. Ia tidak pernah pergi’. Hari yang sama, Kyuhyun hyung tidak kembali ke rumahnya. Hyung datang kesini, mengetuk pintu rumah dan segera masuk saat eomma membukakan pintu untuknya… Kami memutuskan untuk tidak menanyakan apapun padanya. Dan… ternyata Kyuhyun hyung masuk ke kamar nuna, dan tidur disana. Lewat tengah malam aku masuk kesana untuk memeriksa keadaan Kyuhyun hyung. Dan yang ku temukan adalah Kyuhyun hyung yang memanggil nama nuna dalam tidurnya. Esoknya aku menanyakan apa yang terjadi padanya. Tapi ternyata yang hyung ceritakan sangat berbeda dari yang aku lihat dan dengar secara langsung. Kyuhyun hyung putus dari kekasihnya. Hubungan mereka berakhir karena dua alasan, pertama karena larangan dari bibi Cho dan kedua karena hyung tidak ingin melukai Seohyun sunbae…

.

“Changjo-ya…..” kataku bermaksud memotong ucapannya.

.

Nuna, cerita ini masih berlanjut…

.

“Geumanhae. Aku sudah cukup mendengarnya. Sudah… sampai disana saja”, kataku.

.

Andwae, nuna. Kau harus mendengar ucapan nya… hanya beberapa kalimat, eo?

.

Aku menghela napasku panjang. “Arasseo…” kataku akhirnya.

.

Hyung hanya mengatakan ini, ‘Masih disana. Perasaan itu masih bertahan disana. Cinta pertama ku tidak pernah meninggalkan posisi nya. Ia tetap disana’. Hyung tidak mengatakan hal lain lagi selain terus mengulangi kalimat-kalimat itu”, jelas Changjo.

.

“Geurae. Terima kasih atas ceritamu, Changjo-ya. Kita sambung lagi lain kali. Aku mempunyai beberapa hal yang harus aku lakukan. Annyeong…”

.

Arasseo, nuna. Annyeong…

.

Flashback ends…

.

.

Hari itu, lubang hitam itu kembali terbuka dan menarikku secara perlahan. Hari demi hari ku lewati dengan niat sekuat tenaga untuk tidak memikirkannya dan segera melupakannya. Namun lubang itu justru semakin melebar dan menakutiku. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku mengurangi waktu bicara ku dengan Changjo dan lebih memilih bicara dengan kedua orang tua ku. Walaupun sesekali mereka juga membicarakan dia. Dan membuat kemungkinan lubang ini untuk tertutup semakin kecil.

.

.

.

November 2012

Kembali ke rumah

 

Aku kembali. Setelah beberapa tahun aku memandirikan diri di Tokyo, kini aku kembali ke rumah. Hawa rumah bahkan sudah aku rasakan di detik aku melangkahkan kaki keluar dari pesawat. Aku meminta pada keluarga ku untuk tidak menjemput di airport. Namun dari kejauhan aku melihat namaku terpampang di sebuah kertas karton berwarna baby pink. Aku berjalan dengan semangat menuju pintu kedatangan luar negeri untuk menghampiri kertas karton bertuliskan namaku itu. Namun langkahku terhenti dalam jarak tepat setengah meter, ketika orang yang membawa karton itu memunculkan wajahnya. Cho Kyuhyun.

.

Buruknya kerja jantungku. Saat ini detaknya begitu cepat dan menghantam dinding-dinding sekitarnya. Aku merasakan seolah ada barisan kelompok drum band yang sedang berlatih disana. Laki-laki itu berdiri disana dengan senyum tipis diwajahnya. Ia menggunakan T-shirt bergaris biru-putih hadiah dariku 4 tahun yang lalu, ia juga menggunakan jas coklat pilihanku saat pergi berbelanja bersama bertahun lalu. Sebuah kacamata hitam yang bergantung di kerah T-shirt nya menarik perhatianku. Kacamata itu adalah kacamata yang kami beli bersama saat perjalanan ke pulau Jeju. Kami membeli sepasang kacamata berframe hitam dengan tipe, design, dan bentuk yang sama. Bisakah aku menyebut ini adalah takdir? Aku sedang memakai kacamata yang sama saat ini.

.

“Kau melarang appa, eomma, dan adikmu untuk menjemput ke airport. Kau tidak melarangku…” kata Kyuhyun menyadarkan ku dari lamunanku.

.

“Eo… geureohji…”

.

“Welcome home, Choi Nara”, kata Kyuhyun dengan senyumannya yang melebar kali ini.

.

“Gomawo, Cho Kyuhyun…” kataku pelan.

.

Kyuhyun berjalan memutar line pembatas bagi para penjemput penumpang pesawat dan berhenti tepat di hadapanku. Ia membuka kacamata ku dan menaruhnya di saku terluar jas nya. Ia mengerutkan keningnya seolah mencoba membaca ekspresi wajahku yang datar dan cenderung menunjukkan kebingungan padanya.

.

“Ja…” kata Kyuhyun kembali menyadarkanku. “Welcome seonmul-iya…”

.

“Welcome…..seonmul?” tanyaku bingung mengulangi ucapannya.

.

“Eung…”

.

Belum sempat aku kembali bertanya, tiba-tiba Kyuhyun mendaratkan ciumannya di bibirku. Mataku terbelalak terkejut dengan tindakannya. Kyuhyun meraih punggungku dan mendekatkan tubuhku padanya. Aku berdiri terpaku masih dalam keterkejutanku. Menyadari tak adanya respon dariku, Kyuhyun pun menyentuhkan ibu jarinya di dekat bibir bawahku kemudian menariknya pelan ke bawah untuk membuka bibirku. Tanpa membuang waktu Kyuhyun memperdalam ciuman nya, mencuri kesempatan selama aku masih dalam status terkejutku. Perlahan aku mendapatkan kesadaranku kembali. Aku bisa merasakan dengan jelas lumatan bibir Kyuhyun di bibirku. Di detik berikutnya aku merutuki diriku karena tanpa sadar aku memejamkan mataku, merangkulkan tanganku di lehernya, dan membalas ciuman menuntutnya. Damn! Mataku seketika terbuka. Akupun segera menjauhkan tubuhnya. ‘Apa yang kau lakukan?’ Pertanyaan itu ingin sekali aku tanyakan padanya. Tapi setelah mengingat perilaku dibawah alam sadar yang baru saja aku lakukan (re: membalas ciumannya), pertanyaan itu akan terdengar sangat teramat tidak masuk akal. Aku akan dianggap gila oleh orang-orang yang ada disekitar kami saat ini. Oh-My-God! Kami ditonton banyak orang! Kau gila Cho Kyuhyun!!!

.

“Jib-e gaja…” kataku pelan sambil spontan menarik jas nya. Aku mulai berjalan tanpa sedikitpun menatap wajahnya.

.

“Hhh… arasseo. Kemari, aku dorong trolley mu…” kata Kyuhyun dengan senyum mengembang di wajahnya.

.

Akupun berjalan mendahului Kyuhyun, membiarkannya mendorong trolley barang-barangku. Ingatan kejadian beberapa saat yang lalu kembali berputar di kepalaku. Kali ini dalam versi sangat lambat. Cho Kyuhyun yang menurunkan karton bertuliskan namaku untuk memunculkan wajahnya. Cho Kyuhyun yang menyapa ku dengan senyum tipisnya. Senyuman mengembang Kyuhyun terekam dalam otakku saat ia mendekatkan diri untuk mencium bibirku. Lalu gerakan tangannya yang perlahan menuju punggungku untuk menarik tubuhku mendekat. Diikuti dengan perpindahan tangan kirinya ke rahangku. Ia menarik pelan bibir bawahku dan memperdalam ciumannya. Beberapa saat yang lalu akal sehatku melayang entah kemana. Namun ajaibnya semua gerakan Kyuhyun terekam dengan sempurna diotakku. Tidak berarti kah semua usaha ku menjauh darinya selama ini?

.

“Ja… naiklah, Choi Nara”, kata Kyuhyun menyadarkan lamunanku.

.

Ia sudah berdiri dihadapanku, membukakan pintu tempat duduk samping kemudi, dan mempersilahkan ku masuk. Selama sepersekian detik, otakku berputar sangat cepat, mencerna segala tindakan yang ia lakukan untukku. Apa ini, Cho Kyuhyun?

.

“Gomawo…” kataku pelan.

.

Setelah aku masuk ke mobil, ia menutup pintunya dan segera memutar menuju pintu masuk kemudi. Aku memasang seatbelt ku lalu menopangkan daguku dan mengalihkan pandanganku keluar jendela. Aku bisa mendengar desisan Kyuhyun yang segera melajukan mobil meninggalkan bandara. Suasana di dalam mobil sangat hening tanpa satupun diantara kami bersuara. Aku menyerah dengan posisi menopang daguku dan mulai mencari posisi nyamanku dengan menyatu dengan kursi. Sesekali aku menangkap bayangan Kyuhyun di jendela sedang menoleh padaku untuk memeriksa keadaanku. Akhirnya ia menyerah hanya menatapku saja.

.

“Choi Nara, bicaralah… Sejak tadi kau diam saja. Ingin mendengarkan lagu? Atau ingin membuka jendelanya?” tanya Kyuhyun.

.

“Tidak. Tetaplah seperti ini. Sepertinya aku sedang tidak enak badan. Kepalaku sedikit sakit”, jawabku.

.

“Gwaenchanha? Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi? Kita ke rumah sakit saja, ya?”

.

“Aniya… Aku hanya kelelahan. Geunyang jib-e gaja…”

.

“Nara-ya… sebaiknya kita k…..”

.

“Kali ini kita saja, kita jangan berdebat, eo? Jib-e gaja… Kyuhyun-ah”, kataku lemas.

.

“Katakan sekali lagi”, kata Kyuhyun.

.

“Mwo?”

.

“Panggil namaku seperti itu. Katakan Kyuhyun-ah…”

.

“Silheo”, kataku singkat.

.

“Hanbeon man… eo? Jebal… hanbeon man nae ireum geureohke bulleojwo… (Sekali saja, eo? Aku mohon… sekali saja panggil namaku seperti itu…)”

.

“Jangan bicara lagi. Kepalaku menjadi bertambah sakit. Fokuslah mengemudi, Kyuhyun-ah… Aku ingin segera sampai dirumah”, kataku akhirnya.

.

Tiba-tiba Kyuhyun mengacak rambutku pelan. Kali ini aku tidak lagi melawan seperti yang biasanya aku lakukan dulu. Ia meletakkan tangannya dipuncak kepalaku tanpa menggerakkannya. Seketika rasa kantuk menghampiriku. Mataku menyerah untuk terus terbuka. Perlahan kedua mataku menutup. Lalu aku merasakan belaian lembut tangan Kyuhyun di kepalaku yang membuat aku tenggelam ke alam bawah sadarku.

.

Aku tertidur. Setidaknya begitu yang terakhir kali aku tahu. Aku tidak begitu yakin apakah yang terjadi ini adalah sebuah mimpi yang tidak sengaja mampir dalam tidurku. Namun hal ini terasa begitu nyata untuk disebut sebagai mimpi. Aku dapat merasakan sebuah lengan bergerak dibawah pahaku, dan sebuah lengan yang lain menjalar melewati punggungku. Perlahan tubuhku bergeser dan terangkat ke pelukan seseorang. Tubuhku terguncang pelan. Ia membenarkan letak tubuhku di lengannya. Aku bisa merasakan derap langkah demi langkahnya dari guncangan pelan yang lain ditubuhku. Sesekali aku juga meraskan terpaan hembusan napas di wajahku. Ia membenarkan posisi tubuhku lagi. Kali ini menjadi sangat dekat dengan wajahnya. Aku bisa merasakan dagunya yang menempel di keningku. Samar-samar aku mendengar suara deritan pintu yang membuka dan suara feminine eomma yang berbisik.

.

Aigoo… Apa dia baik-baik saja?” tanya eomma.

.

Ne, gwaenchanhayo, eomeoni. Hanya terlalu kelelahan…”, jawab sebuah suara berat yang ku yakini adalah orang yang sedang membawaku.

.

Berikan saja pada Changjo. Kau kan juga lelah semalaman mengurus keperluan acara pertunangan kakakmu”, kata eomma.

.

Aniyo, eomeoni. Aku saja yang membawa nya ke kamar. Changjo juga lelah. Dia lebih banyak membantu nuna daripada aku…

.

Baiklah. Hati-hati langkahmu, nak…” pesan eomma.

.

Tiba-tiba langkahnya melambat. Ia melangkah dengan sangat pelan dan hati-hati. Dilangkahnya yang ke delapan, ia kembali membenarkan posisiku dilengannya. Lalu ia kembali melangkah perlahan dan mempercepat langkahnya beberapa saat kemudian. Aku kembali mendengar suara deritan pintu yang terbuka. Seketika aroma yang sangat ku kenal memenuhi kepalaku. Aroma yang sangat aku rindukan selama bertahun-tahun masa hidupku di Tokyo. Aroma lembut yang selalu menenangkanku. Langkahnya terhenti, dan ia meletakkan tubuhku. Aroma lembut ini kembali memenuhi kepalaku. Kini aromanya semakin kuat mendesak kuat menyentuh ke alam bawah sadarku. Namun aroma yang biasanya ku kenal kini sudah bercampur dengan aroma lain. Aku mencoba menebak aroma campuran yang terasa baru di indera penciumanku. Aroma ini terasa asing di ruangan ini. Tapi aroma ini sangat familiar dihidungku. Seolah aku baru saja menghirupnya di suatu tempat. Aroma yang bisa ku pastikan adalah aroma maskulin seorang laki-laki ini tiba-tiba dengan mudahnya menuntunku kembali ke alam tidurku. Kembali, aku mendengar samar-samar suara orang bercakap-cakap. Kali ini dua suara berat yang bicara dengan berbisik.

.

Istirahatlah, hyung… Sudah sejak semalam hyung belum tidur, bukan?” tanya suara yang ku yakini adalah Changjo.

.

Eo… Aku akan beristirahat nanti. Aku belum ingin saat ini. Kau pergilah beristirahat, Changjo-ya… Aku baik-baik saja”, balas suara berat yang lain.

.

Nuna sudah disini sekarang. Seharusnya hyung sudah bisa tidur dengan nyenyak…

.

Aku rasa juga begitu. Lanjutkan tidurmu, Changjo-ya. Aku ingin bersama nya sebentar lagi…

.

Arasseo… Hyung juga harus segera beristirahat. Besok kita akan kembali disibukkan oleh ibunda ratu Cho Ahra”, kata Changjo menyerah dengan bujukkannya. “Jaljayo, hyung…

.

Neodo…

.

Kembali, suara deritan pintu itu terdengar. Tiba-tiba suasana menjadi sangat hening. Hanya suara beberapa orang mengobrol dari luar jendela dan suara helaan napas lembut seseorang didekatku yang terdengar. Aku menggeliat, mencari posisi nyamanku di tempat tidur. Seseorang yang tetap bertahan di posisinya duduk disampingku menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Lalu ia menepuk-nepuk pelan bahuku. Seperti yang terjadi beberapa saat lalu di mobil, sentuhan tangannya mampu membuatku tenggelam dalam tidurku. Dari jauh alam sadarku aku bisa mendengar sangat samar sebuah suara menggumamkan lantunan lagu lembut pengantar tidur. Suara maskulin yang berat itu melantunkan lagu itu dengan sangat indah dan menenangkan. Suara itu benar-benar membuai ku dan menarikku jauh menuju alam bawah sadarku lebih dalam. Tiba-tiba terbersit diotakku barisan kata yang memberitahuku judul lagu dari suara indah yang sedang ku dengar. Fly Me to The Moon.

.

.

.

 

 

Beberapa jam kemudian…

.

Mataku terbuka secara perlahan sampai akhirnya aku mendapatkan kesadaranku. Suasana begitu hening di kamarku. Aku melebarkan mataku untuk melihat pada jam yang berdiri diatas meja kecil samping tempat tidurku. Pukul 2.35 dini hari. Aku sangat yakin, sudah banyak waktu yang aku lewatkan untuk tidur. Terakhir kali aku ingat, aku naik ke mobil Kyuhyun di bandara pukul 9 malam. Mobil Kyuhyun? Tapi saat ini aku sedang berada di kamar. Apakah Kyuhyun yang membawaku kesini? Ah… jangan bercanda, Choi Nara. Mungkin saja abeoji yang menggendongku. Tapi, abeoji masih diluar kota bersama Cho ahjussi. Changjo… ya, mungkin Changjo. Akupun menggerakkan tubuhku yang terasa sangat pegal. Aku balikkan tubuhku ke arah berlawanan.

.

“A kkamjag-iya!” seruku karena terkejut dengan sosok seseorang yang duduk tepat disamping tempat tidurku. “Mwohanya neo? (Apa yang kau lakukan?)” tanyaku.

.

“Menontonmu tidur…” jawab Kyuhyun.

.

“Kau tidak mempunyai pekerjaan lain untuk dilakukan?” tanyaku sambil berusaha bangun dari tidurku. Tiba-tiba aku seolah disadarkan oleh jentikan jari tepat di depan mataku. “Kau….. tidak tidur semalaman?” tanyaku lagi.

.

“Ah… benar. Sepertinya begitu. Aku benar-benar tidak menyadari nya…”

.

“Neon…gwaenchanha? Kau yakin tidak ada yang salah dengan kepalamu? Sejak tadi kau seperti kehilangan akal sehatmu. Kau banyak melakukan kesalahan hari ini…” kataku.

.

“Kesalahan? Aku?” tanya Kyuhyun bingung.

.

Aku menggeser tubuhku untuk duduk di tepi tempat tidur. Aku menapakkan kaki ku di lantai kamarku yang dingin. Kesadaranku seolah langsung berkumpul di tubuhku. “Eo… Kesalahan…” kataku lagi sambil berusaha berdiri.

.

Tiba-tiba disaat aku baru akan melangkah menuju pintu, Kyuhyun dengan tangan kanannya menarik tanganku. Sementara tangan kirinya meraih tengkukku. Sepersekian detik berikutnya, bibir Kyuhyun sudah berada di bibirku. Kyuhyun melumat bibirku dengan menggebu. Tangan kanannya sudah berpindah ke rahangku seraya ia memperdalam ciumannya. Aku berusaha mendorong tubuhnya menjauh dengan kedua tanganku. Tapi tubuh besarnya bahkan tidak berpindah sedikitpun. Akhirnya setelah ku kerahkan tenagaku, tubuh kami terpisah.

.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” tanyaku dengan nada tinggi.

.

“Menjelaskan padamu bahwa keduanya bukan kesalahan…” jawab Kyuhyun.

.

“Aku tidak mengerti maksudmu, Cho Kyuhyun…” Aku mengelak darinya, mencoba berjalan menjauh darinya. Tapi sekali lagi ia menghentikanku dengan memegang tanganku. Ia membalikkan tubuhku menghadapnya.

.

“Aku menemukan jawabannya, Choi Nara. Jawaban yang selama hampir seluruh hidupku ku cari. Aku sudah menemukannya. Aku telah bersumpah untuk tidak kehilangan lagi. Aku tidak bisa kehilangan dirimu lagi”, kata Kyuhyun.

.

“Lepaskan tanganku. Jangan bercanda, Cho Kyuhyun…”

.

“Kau pikir aku bercanda? Perasaan yang bertahun-tahun aku rasakan ini tidak selucu itu untuk dijadikan lelucon, Choi Nara. Perasaanku padamu bukan lelucon”, kali ini Kyuhyun mengatakannya dengan kesungguhan yang terpancar di matanya.

.

“Kita sudah pernah membicarakan segala hal yang terjadi diantara kita, Cho Kyuhyun. Terakhir ku ingat, kita bertengkar hebat dan tidak saling bicara satu sama lain. Aku juga sudah mengatakannya dengan jelas padamu bahwa aku menyerah. Hari itu aku sudah menyerah dengan semua perasaan aneh diantara kita. Aku mentolerir tindakanmu hari ini karena aku masih berpikir kita masih bisa berteman. Jangan membuatku merasa ingin pergi darimu lagi, Cho Kyuhyun… aku lelah dengan kekacauanku”, jelasku pada Kyuhyun.

.

“Kalau begitu berhentilah, Choi Nara. Kita tidak perlu menghindarinya lagi. Kita bisa menghadapi semua kekacauan itu bersama-sama. Aku sudah menemukan jawabanku. Apa lagi yang kau cari? Kita tidak bisa terus menerus membuat orang lain berharap memiliki perasaan kita yang sudah jelas tidak bisa kita berikan pada siapapun. Aku mencintaimu, Choi Nara. Seumur hidupku aku selalu mencintaimu…” kata Kyuhyun. Napasku seolah tercekat mendengar ucapannya.

.

Ia kembali melanjutkan ucapannya, “Bahkan disaat orang lain mengisi hati dan hariku, aku tetap mencintaimu. Mereka bisa mengalihkan perhatianku sesaat. Tapi saat kau bersamaku, duniaku hanya berputar padamu. Kalimat itu. Saat kau mengatakan kita tidak semestinya menjadi teman, tahukah kau betapa hancurnya aku? Kau membuatku merasakan ketakutan itu lagi. Pertama, saat kau memutuskan untuk pergi ke Tokyo tanpa memberitahu ku. Saat itu aku marah tanpa memiliki alasan yang tepat. Aku sangat marah padamu karena mau meninggalkanku. Aku bahkan tidak tahu mengapa kemarahanku begitu membakarku sampai aku tidak bisa menahan air mataku. Lalu kedua saat kau mengatakan kalimat menyakitkan itu. Sampai saat kita benar-benar tidak saling berhubungan, aku baru menyadarinya. Aku tidak bisa kehilanganmu lagi. Aku pernah kehilanganmu disaat aku menyadari bahwa kaulah cinta pertamaku. Lalu kau pergi ke Tokyo meninggalkanku disini. Aku merasa seakan napasku tertarik keluar dari tubuhku. Dan hari itu… Aku menyadari bukan kalimat ‘we’re not supposed to be friends’ yang menyakitiku. Tapi saat kau mengatakan kau menyerah padaku. Kalimat itu seolah menjadi akhir detak jantungku, Choi Nara. Di hari keberangkatanmu kembali ke Tokyo, aku datang ke bandara untuk melihatmu. Dan lagi, aku tidak bisa menghentikan air mataku saat kau menghilang dibalik pintu…” Ia menghela napas panjang.

.

“Cho Kyuhyun…..”

.

“Jangan pergi dariku, Choi Nara. Aku tidak tahu lagi bagaimana hidup tanpamu. Aku terlalu mencintaimu…”

.

Jantungku seolah berhenti mendengarnya. Kyuhyun menggenggam kedua tanganku erat seolah menjelaskan ucapannya. Ekspresi nya muram di tengah redupnya pencahayaan di kamarku. Matanya memunculkan sinar bening yang terlihat jelas bahkan di kegelapan. Oh tidak… dia menangis.

.

“Andwae, Kyuhyun-ah…..” aku meraih wajahnya. “Jangan menangis. Aku mohon…..”

.

“Lihatlah begitu sensitifnya aku dihadapanmu. Hanya kau yang bisa mengeluarkan sisi ini dariku, Choi Nara. Dan terkadang itu menyebalkan…”

.

“Kau harus menguranginya, Cho Kyuhyun…”

.

“Mwoga?” tanya Kyuhyun bingung.

.

“Kau terlalu mencintaiku… sampai basah matamu seperti itu. Sangat tidak seperti Kyuhyun-ku…”

.

“Ini semua karena mu, Choi Nara. Kau harus bertanggung jawab!” katanya kembali pada sikap merajuknya.

.

“Arasseo… aku akan bertanggung jawab”, kataku santai.

.

“Eotte? Bagaimana kau bertanggung jawab?”

.

“Ireohke…”

.

Aku mendekatkan wajahnya padaku dan meraih bibir tebalnya. Aku hanya menempelkannya saja, namun di detik berikutnya Kyuhyun membuka bibirnya. Ini diluar rencana ku. Ia mengigit pelan bibir bawahku untuk membuatku membuka bibirku juga. Kyuhyun pun memperdalam ciumannya setelah mendapatkan aksesnya. Ia melumat bibirku perlahan, kemudian berubah menggebu. Tangannya kini berada di pinggangku. Aku tidak tahu sejak kapan ia menarik tubuhku mendekat padanya. Yang aku tahu saat ini kedua tanganku sudah merangkul di lehernya. Ia memagut bibirku lembut dan dalam. Tiba-tiba ciuman itu terlepas. Kyuhyun menempelkan bibirnya di rahang kananku, kemudian menjalar ke bawah telinga ku dan leherku. Kini helaan napasku seberat dan tertahan seperti miliknya. Sapuan bibir Kyuhyun di leherku membuat akalku seolah meninggalkan kepalaku. Bibir Kyuhyun kembali ke bibirku. Ia kembali memagut dan melumat bibirku. Namun saat ini aku bisa merasakan dengan jelas desakan gairah dari setiap gerakan bibirnya.

.

Mata kami bertemu. Kami saling menatap satu sama lain. Kondisi kami sama-sama hanya tertutup oleh pakaian dalam masing-masing. Kami bahkan sudah tidak mempedulikan kemana perginya pakaian yang kami kenakan tadi. Kyuhyun membelai rambut disisi kiri kepalaku. Kemudian mengusap keningku dengan ibu jari nya. Matanya bergerak menatap setiap bagian di wajahku. Tatapan itu kembali ke mataku. Tatapan baru yang belum pernah aku lihat dari seorang Cho Kyuhyun. Tatapan matanya diliputi kabut gairah yang bercampur dengan tatapan penuh cinta dan rasa memuja. Tidak ada senyum diwajahnya, sebagai hasil dari menggebunya perasaan membutuhkan dalam dirinya.

.

“Aku yang pertama untukmu?” tanya Kyuhyun dengan suara seraknya.

.

“Tentu…” jawabku dengan suara berbisik yang tidak ku sengaja. “Bagaimana denganmu?”

.

“Kau selalu menjadi yang pertama bagiku, Choi Nara. Kau harus mulai terbiasa dengan itu. Kau….. baik-baik saja? Aku baik-baik saja jika kau tidak ingin mela…..”

.

“Lakukanlah…” jawabku memotong ucapannya.

.

Tanpa berkata apapun lagi, Kyuhyun pun kembali mencium bibirku. Ia melumat bibir atas dan bawahku secara bergantian. Tangan kirinya memaksa melesak ke bawah punggungku, untuk mencari pengait bra ku. Ia melepaskan ciumannya setelah yakin pengait itu sudah saling menjauh satu sama lain. Bibir Kyuhyun berpindah dengan perlahan ke dagu, rahang dan leherku. Setelah membuang jauh bra ku ke lantai, Kyuhyun segera mengecup lembut puncak payudaraku dengan bibir tebalnya. Ia terus melakukan kegiatannya itu seraya berusaha menurunkan potongan terakhir pakaian di tubuh kami. Bibirnya kembali ke bibirku. Ia melumatnya dalam dan intens sebelum akhirnya kami kembali bertatapan.

.

“Pukul aku, cakar aku, gigit aku, jambak aku sekeras yang kau mau. Jika itu bisa meredakan rasa sakitmu, lakukan lah… arasseo?” tanya Kyuhyun dengan mata menyala terbakar gairah.

.

Aku hanya bisa mengangguk pelan beberapa kali dalam keadaan tanpa akal sehatku. Aku pun menarik tengkuknya untuk mendekatkan bibirnya padaku secara refleks. Napasku menggebu, barisan kupu-kupu menggelitik perutku, perasaan yang sangat aneh seolah mengisi seluruh pembuluh darahku. Aku melumat bibir tebal Kyuhyun dengan tergesa. Sesekali aku mengecup dagu dan rahangnya. Tanpa aku sadari, Kyuhyun mulai memasukkan miliknya di pusat tubuhku. Rasa menyiksa itu dimulai. Aku merasa seolah terbakar oleh bara panas disekujur tubuhku. Kyuhyun memasukkan nya perlahan dengan kekuatan yang ia punya. Tangan kananku mencakar punggungnya, dan tangan kiriku meremas kuat rambutnya, seperti yang ia katakan. Aku merasakan ada sesuatu yang robek dibawah sana. Aku menjerit tertahan di bahu nya. Beruntung setiap kamar dirumahku di lengkapi dengan pelapis kedap suara. Jika tidak, mungkin eomma bisa mendengar kami saat ini.

.

“Apakah sangat sakit? Maaf… Maafkan aku… Kau terlihat sangat kesakitan. Haruskah aku menghentikannya?” tanya Kyuhyun menyesal.

.

“Bohong jika aku katakan tidak sakit. Tapi aku tidak akan memaafkanmu jika kau menghentikannya, Cho Kyuhyun… Bergeraklah… Aku akan baik-baik saja”.

.

Kyuhyun pun mulai menggerakkan pinggulnya. Cakaran tangan kananku dipunggung Kyuhyun akhirnya berpindah pada remasan kuat di seprai tempat tidurku. Malam itu pun berlalu dengan atmosfer cinta pertama yang menyeruak disetiap sudut ruangan.

.

.

.

Keesokan harinya…

.

Tidak seperti pagi hari biasanya, kali ini bukan sinar matahari yang membangunkan ku dari tidurku. Aku membuka mataku dengan sendirinya, seolah waktu tidur yang aku dapatkan sudah lebih dari cukup. Namun sepertinya tubuhku tidak begitu sependapat dengan kedua mataku. Aku masih merasakan pegal dan nyeri di sekujur tubuhku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk mengumpulkan kesadaranku. Ponselku menyala menandakan ada sebuah pesan yang ku terima. Akupun terpaksa bergerak untuk meraih ponselku. Tapi sebuah lengan ternyata menahan pinggangku. Seperti baru saja terkena lemparan bola, aku mendapatkan kesadaranku sepenuhnya. Aku bisa merasakan lembutnya selimut wol dikulit bagian samping kiri tubuhku. Sementara kulit tubuh bagian belakangku bersentuhan dengan kulit tubuh laki-laki yang aku ingat betul tidak meninggalkan kamar ini sejak semalam. Saat ini kami hanya menggunakan pakaian dalam kami. Tiba-tiba ingatan akan kejadian kemarin malam kembali berputar di kepalaku. Bagaimana sentuhannya melemahkanku, bagaimana hanya dengan bibirnya ia bisa menghilangkan akal sehatku, dan bagaimana perlakuan lembutnya membuatku terpukau padanya. Aku pasti sudah gila

.

Akupun berhasil meraih ponselku. Segera ku buka pesan yang berasal dari Changjo itu. Pesan yang dikirim Changjo sangat panjang, lebih terlihat seperti e-mail atau surat. Sepertinya aku harus mengajari adikku lagi mengenai perbedaan pesan singkat dan e-mail.

.

From : Magnae

Nuna, sebenarnya aku tidak ingin menganggu istirahatmu. Aku tahu kau pasti masih lelah dengan perjalananmu. Tapi sepertinya aku harus memberitahu mu. Aku ikut bahagia akhirnya nuna dan Kyuhyun hyung mengakui perasaan kalian masing-masing dan bersatu. Tapi, haruskah aku terlibat sejauh ini? Tadi pagi saat aku keluar dari kamarku, aku melihat eomma sedang menaiki anak tangga. Rasa kantukku tiba-tiba hilang saat aku ingat bahwa Kyuhyun hyung berada di kamar nuna. Sebenarnya eomma juga mengetahuinya bahwa Kyuhyun hyung menginap dirumah. Tapi eomma tentu saja tidak akan menduga sejauh itu mengenai apa yang dilakukan anak tertua nya. Karena itu aku mencegah eomma dengan mengatakan aku yang akan membangunkan kalian berdua. Aku mengetuk pintu kalian berkali-kali tapi tidak ada satupun suara dari dalam kamar. Aku mempertaruhkan nyawa ku dengan membuka pintu itu. Aku tahu kau adalah nuna-ku. Tapi saat ini aku sudah beranjak dewasa dan mengerti hal yang kalian lakukan. Untunglah selimut itu menutupi 7/8 tubuh kalian, sehingga hanya kepala kalian lah yang aku lihat. Aku pun segera mengunci pintu kamarmu dan melemparkan kunci itu ke dalam melalui selah kecil di bawah pintu. Saat eomma mengetahui aku datang padanya tanpa hasil, eomma hanya berpesan agar kalian secepatnya bangun. Karena kami semua tidak mengetahui kapan appa dan Cho ahjussi akan pulang. Kami memaklumi kalian, tapi kedua abeoji itu tidak bisa ditebak. Sedangkan pesanku, segera kenakan pakaian kalian. Eomma memiliki kunci cadangan kamar nuna. Jika eomma masuk dan melihat keadaan kalian, aku tidak menjamin jika pertunangan Ahra nuna tidak akan berubah menjadi pernikahan kalian…

.

.

.

“Gwiyeobta…..” kataku sambil tersenyum lebar menanggapi pesan dari Changjo.

.

“Nugu?” tanya Kyuhyun dengan suara berat dan serak khas bangun tidurnya.

.

Masih dengan rasa kantuknya, Kyuhyun mengeratkan pelukannya dipinggangku. Ia menempelkan hidungnya di bahu kiriku. Sesekali ia menghela napas panjang dan kembali menghirup aroma tubuhku. Aku masih mengingatnya dengan baik jika aku belum sempat mandi sejak kembali dari Tokyo kemarin.

.

“Aku belum mandi, Cho Kyuhyun…” kataku jujur.

.

“Tentu saja aku tahu itu, sayang… Aku tidak meninggalkan mu sedetikpun sejak kita bertemu di bandara kemarin”, kata Kyuhyun dengan suara mendesis pelan. “Aku bertanya padamu, nugu?”

.

“Changjo. Dia mengirim pesan padaku…”

.

“Pesan? Kenapa Changjo harus mengirim pesan? Bukankah dia bisa mengatakannya langsung saja?” tanya Kyuhyun.

.

“Tadi pagi Changjo masuk kesini. Ke kamar ini…”

.

“Mwo???” tanya Kyuhyun terkejut. Ia refleks bangun dari posisi tidurnya. Kesadarannya sudah berkumpul dengan sempurna di tubuhnya.

.

“Wae?” tanyaku singkat.

.

“Kau tanya kenapa? Adik laki-laki mu masuk ke kamar kakak perempuannya yang saat ini hanya mengenakan pakaian dalamnya. Kau masih tanya kenapa?” tanya Kyuhyun lagi.

.

“Kau lupa kalau kakak perempuannya sedang bersama seorang laki-laki yang juga hanya mengenakan pakaian dalamnya? Seharusnya kau bersyukur karena adik laki-laki itu tidak mengusir dan memukuli mu setelah apa yang kau lakukan pada kakak perempuannya…” kataku panjang lebar.

.

Ekspresi wajah Kyuhyun berubah memelas. Ia kembali membaringkan tubuhnya di sampingku, menarikku kembali ke pelukannya dan mengecup singkat bahuku. Kyuhyun menggerakkan hidungnya di sepanjang pipi kiriku. Lalu ia mengecup sisi tepat disamping mataku.

.

“Maafkan aku karena telah melukaimu, Nara-ya… Aku bersumpah tidak akan melakukannya lagi. Mianhae…”

.

“Hmm…” aku hanya bergumam menanggapi permintaan maafnya.

.

“Sebagai gantinya, aku akan membayar kesalahanku dengan seumur hidupku untukmu, bagaimana?” tanya Kyuhyun terdengar bersemangat.

.

“Maksudmu?” tanyaku bingung.

.

“Setelah Ahra eonni menikah, bagaimana kalau kita juga menikah?” tanya Kyuhyun santai.

.

“Naega wae?”

.

“Mwo??? Kau tidak mengijinkan aku menikah denganmu? Tapi kan kita sudah…..” ucapannya terhenti.

.

“Sudah apa? Menyingkir dariku. Aku ingin mandi. Tubuhku rasanya lengket sekali…”

.

“Eodi ga??? Andwae… kau tidak boleh kemanapun. Mulai hari ini aku tidak akan melepasmu lagi. Aku milikmu…”

.

Dan lagi, aku merasakan sekumpulan kupu-kupu terbang dalam tubuhku. Aku kembali dibuat tersanjung dengan kalimat perintah, protektif, dan egoisnya yang selalu ia tutup dengan kalimat manis. Hanya seorang Kyuhyun yang bisa membuatku kesal dengan menahanku seenaknya dan bersikap protektif padaku, namun disaat yang sama ia menyanjungku seolah memuja ku. Ia baru saja mengatakan bahwa ia adalah milikku. Kalimat nya barusan akan terdengar pahit jika ia berkata aku adalah miliknya. Namun bukan seorang Kyuhyun jika ia tidak memilih kata lain untuk mendeskripsikan perasaan yang ia miliki. Baginya, bukan aku yang menjadi miliknya, namun ia yang menjadi milikku. Sebelumnya Kyuhyun juga menanyakan pertanyaan yang berbeda dengan pertanyaan yang biasa ku dengar. Ia tidak bertanya ‘maukah kau menikah denganku?’, tapi ia justru bertanya ‘kau tidak mengijinkan aku menikah denganmu?’. Pemilihan kata dalam setiap kalimatnya begitu menunjukkan bagaimana perasaan yang ia miliki untukku. Hal itulah yang akhirnya membuatku tidak bisa mendorongnya jauh dari hidupku.

.

.

.

Februari 2013

Ulang tahun Kyuhyun

.

Tepat pukul 12.00 aku, bersama dengan Ahra eonni, dan sepupu Kyuhyun, Sunny, merayakan ulang tahunnya yang ke 24. Kami mengobrol bersama dan makan snack malam bersama hingga pukul 2 dini hari. Akhirnya satu persatu dari kami menyerah dan kembali ke kamar masing-masing. Besok pagi, Ahra eonni akan dijemput oleh suami nya untuk kembali ke rumah mereka di Incheon, sementara Sunny memang terkenal dengan ketidaktahanannya dengan rasa kantuk yang berlebihan. Akhirnya aku dan Kyuhyun pun masuk ke kamar (Kyuhyun) yang selama 2 tahun terakhir sudah dipindahkan ke lantai satu rumah keluarga Cho. Orang tua kami sedang tidak berada dirumah, karena mereka sedang disibukkan dengan bisnis keluarga yang mereka bangun di Pulau Jeju. Mereka tidak berencana pulang hingga bulan depan. Sebagai gantinya, kami yang akan mengunjungi mereka minggu depan. Setelah selesai membersihkan diri, aku merebahkan tubuhku di tempat tidur dan mengenakan selimutku, bersiap untuk tidur. Namun tentu Kyuhyun tidak akan dengan mudahnya membiarkanku tidur begitu saja. Kyuhyun masuk kedalam selimut dan mendekap tubuhku erat. Sesekali ia mengecup puncak kepalaku dan membelai lembut punggungku. Kecupannya kemudian turun ke kening, mata, hidung, pipi, dan terakhir bibirku. Ia tidak hanya mengecup bibirku, tapi juga melumatnya. Aku menganggap ini sebagai anugerah. Karena Kyuhyun hanya meminta bercumbu sebagai hadiah ulangtahun nya. Garis bawahi, hanya bercumbu. Tentu tidak terlalu menjadi masalah jika hanya bercumbu dengannya. Namun, hal itu menjadi masalah ketika kantuk sudah menghampiriku. Aku tidak bisa lagi bertahan untuk terjaga hingga pagi tiba. Akupun terpaksa menjauhkan tubuh Kyuhyun dari tubuhku.

.

“Kyuhyun-ah… mianhae. Sepertinya aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Aku sangat mengantuk sekarang. Bisakah kau ganti permintaan hadiah ulang tahunmu itu? Kalau bisa, yang tidak melibatkan kegiatan fisik, hmm?” tanyaku.

.

Aku tidak tahu apakah ini efek dari pertambahan umurnya atau bukan, Kyuhyun tidak menunjukkan wajah kecewa dan merajuk seperti yang biasanya ia lakukan jika keinginannya tidak terpenuhi, terlebih di hari ulang tahunnya. Ia justru tersenyum manis dengan ekspresi memaklumi rasa lelahku yang sudah memuncak ini.

.

“Baiklah… Aku akan membuatnya sederhana…” kata Kyuhyun dengan nada riang tidak biasanya.

.

“Apa itu?”

.

“Sebagai gantinya, kau harus menjawab pertanyaanku saat ini juga. Kau sanggup?”

.

“Bukan pertanyaan memaksa?” tanyaku. Kyuhyun menggeleng pelan. “Baiklah. Katakan…”

.

Would you marry me? Tidak sekarang, secepatnya, beberapa tahun dari sekarang, tapi tentu saja saat kau siap. Aku bukan ingin menekanmu dengan upacara pernikahan esok hari, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan. Aku hanya menginginkan jawabanmu. Apakah kau memiliki pemikiran itu, untuk menikah hanya denganku. Aku hanya menginginkan ketenangan hatiku dengan sebuah jaminan bahwa gadis yang sangat aku cintai akan menikah denganku suatu saat nanti. Jadi, bisakah kau menjawabnya?”

.

“Cho Kyuhyun….. nappeun nom! Kau membuatku kehilangan rasa kantukku sekarang… Mwoya???”

.

“Mianhae mengagetkanmu dengan lamaran tiba-tiba ini. Aku hanya tidak bisa lagi menunggu sampai sikap protektifku ini bertambah parah karena aku tidak mempunyai jaminan itu. Jadi, hanya jawab dengan ya atau tidak. Jawabanmu sudah cukup untuk kondisi ketenangan hari dan hatiku. Jawab aku, Choi Nara…”

.

Aku menghela napas panjang. Aku tidak pernah membayangkan akan mendengar pertanyaan ini pada tengah malam disaat kesadaranku sudah mulai hilang, terlebih di tempat tidur, dengan menggunakan piyama. Hanya Cho Kyuhyun yang mampu melakukan ini padaku. Si tanpa-basa-basi Cho Kyuhyun.

.

“Baiklah….. aku mau… kau puas?” tanyaku dengan senyuman mengembang di bibirku.

.

Ia tersenyum lebar. Matanya memunculkan cahaya yang tidak biasanya. Ia bahagia. Kebahagiaan yang sama besarnya saat ia mendengarku mengatakan aku mencintainya. Kyuhyun pun mengecup pelan keningku, lalu bibirku. Kemudian ia meraihku masuk ke dalam pelukannya, dan menepuk-nepuk pelan punggungku, untuk mengantarku tidur.

.

.

.

Pukul 7.00

.

Rasa kantuk masih menyelimuti ku. Samar-samar aku mendengar ponsel Kyuhyun berdering dari meja disamping tempat tidur. Kyuhyun meraih ponselnya, dan juga meraih tubuhku mendekat padanya. Sesekali aku mendengar nada terkejut dari suaranya. Namun didetik berikutnya aku kembali terlelap karena belaian tangan Kyuhyun di punggungku. Aku merasakan tubuh Kyuhyun bergerak menjauh. Aku bergumam seolah bertanya hendak kemana ia pergi. Jika kesadaranku sudah mulai muncul walaupun sedikit, aku bisa memastikan kalau baru saja aku mendengar Kyuhyun mengatakan ia akan keluar sebentar saja. Tapi aku bahkan tidak yakin dengan kesadaranku.

.

Di detik berikutnya, teriakan terdengar dari luar kamar. Sekelompok orang menyanyikan lagu ulang tahun dengan riangnya. Namun segera dihentikan oleh Kyuhyun. Kesadaranku perlahan mulai terkumpul berkat teriakan mengagetkan beberapa saat lalu. Kembali, samar-samar ku dengar suara perbincangan diluar kamar.

.

Mian mian… Bukannya aku ingin merusak acara surprise kalian. Tapi seorang gadis didalam sana masih tertidur dengan pulas. Aku tidak ingin membangunkannya. Ia baru mendapatkan istirahat selama 3 jam karena aku…

.

Gadis? Siapa? Pacarmu?” tanya seorang temannya.

.

Baiklah. Kesadaranku sudah terkumpul hampir sempurna. Tiba-tiba tenggorokan ku terasa sangat kering menyiksa. Akupun bangun dari tidurku dan berusaha duduk untuk mengumpulkan sisa kesadaranku yang masih menunggu loading nya. Belum sepenuhnya bangun, aku melangkahkan kakiku menuju pintu kamar dan membukanya. Kyuhyun menoleh dan tersenyum tipis padaku. Aku dikejutkan dengan beberapa teman Kyuhyun yang terdiri dari 4 laki-laki dan 3 perempuan, ternyata masih berada di depan pintu kamarnya.

.

“Eo! Inikah gadis yang baru saja disebut oleh Kyuhyun?” tanya seorang teman Kyuhyun.

.

“Eo…” Kyuhyun mengiyakan pertanyaan itu. Kemudian dengan santainya Kyuhyun meraih tubuhku ke pelukannya, dan mengecup kepalaku dengan sayang. Teman-teman Kyuhyun akhirnya bersorak iri melihat sikap Kyuhyun. “Lihat yang kalian lakukan… Gadisku bangun dari tidurnya, kan? Padahal aku tidak ingin membangunkannya…”

.

“Mianhaeyo, kakak ipar, kami telah membangunkanmu”, goda salah seorang teman yang lain.

.

“Eo, eotteohke ara? (Bagaimana kau tahu?)” tanya Kyuhyun.

.

“Mwoga?” temannya itu balik bertanya.

.

“Gadis ini memang sudah bersedia menikah denganku…” jawab Kyuhyun dengan tersipu.

.

Aku memukul pelan dada Kyuhyun karena malu pada teman-temannya. Sementara sorakan bertambah semarak menghujani kami. Akupun menyembunyikan wajahku di pelukannya karena rasa malu yang tidak bisa ku tahan lagi. Namun bayangan seseorang dari balik tubuh Kyuhyun menarik perhatianku. Seorang gadis yang hanya tersenyum tipis dengan keriuhan suasana yang dibuat teman-temannya. Senyum itu lebih terkesan pahit menahan rasa sakit. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk memastikan siapa gadis yang ku lihat itu. Astaga! Itu Seohyun…

.

.

.

.

TBC…

Advertisements

27 thoughts on “The Possibility of Impossible Us Part 4

  1. Ada aja tuh yang Sakit hati sama hubungan mereka. seohyun Tolong Jangan Ganggu hubungan Mereka. Susah banget mereka sampai tahap Ini

    Like

  2. Part ini bikin iri dengan keromantisan kyuhyun-nara, serta entah lucu atau prihatin dengan changjo 🙂
    Akhirnya setelah sekian lama memendam perasaan kyuhyun akhirnya mengungkapkan isi hatinya, langsung ehem pula
    Poor uri changjo

    Like

  3. Akhirnya terjawab sudah haha rasa penasaran gue cuy kkkkk akhirnya kyuhyun mendapatkan keberanian untuk menyatakan suka nya sm nara dan lebih mengejutkan lagi nara nerima lamaran kyuhyun wah

    Like

  4. Euhh…gimana ya???
    Part ini sedikit membuat jengkel dengan scene romantic nya….
    Haha akhirnya mereka bersatu juga, Kyuhyun dah nyadar sama perasaannya!!!.
    Daebakk
    Peace…

    Like

  5. Ooww jadi kyuhyun pun juga baru sadar sama perasaannya dy ke nara..
    Makanya dy selalu bertingkah aneh tanpa alasan…
    Ckckckck dasar lambat…
    Untung belum terlambat..
    Akhirnya bisa bersatu juga..
    Semoga dech cepet nikah

    Like

  6. Akhirnya Nara kau tidak usah move on😍😍
    Selamat Nara akhirnya kau bersedia menikah dengan pangeran embul😁😁
    Udah , seohyun biarin aja gausah dipikirin yg penting udah bisa nikah klian😘😘

    Like

  7. aku gatau lagi…. ini semuanya di part ini astaga gatau lagi… mau nangis kenapa ngefeel bgt sih huwaaaaa udah lama ga baca ff yg ngefeelnya kaya gini sampe bener2 menghayati bacanya hahaha semua adegannya lucu kecuali yg nc tentunya wakakaka gimana kyuhyun perlakuin nara trs semua omongan kyuhyun yg bikin bergetar huwaaaaaaaa bisa apa aku kalo diperlakuin kaya gitu sama calon suami huwaaaaaa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s