The Possibility of Impossible Us Part 3

– The Possibility of Impossible Us Part 3 –

“Nara’s Memory: It’s getting harder with the time gone by”

 

Category: PG-15, Romance, Chapter

Cast: Cho Kyuhyun, Choi Nara (OC)

Other Cast:
Seohyun, Jang Wooyoung, Choi Changjo, etc.

Disclaimer:

FF ini murni hasil dari isi kepalaku. Kisah di ff ini adalah kisah nyata yang dikembangkan ke dunia per-fanfiction-an. This is a simple love story. Beberapa tokoh, karakter, latar tempat dibuat berbeda dengan kisah aslinya. FF ini akan dibuat dengan format yang sedikit berbeda. Jika FF sebelumnya dibuat dengan 3 sudut pandang (sudut pandang author, tokoh utama laki-laki, dan tokoh utama perempuan), FF ini dibuat lebih banyak dengan sudut pandang tokoh perempuan dan beberapa sudut pandang author. Jadi, akan lebih terasa seperti diary si tokoh utama perempuan. Well, FF ini basically adalah romance dengan rating PG-15, tapi mungkin direncanakan akan ada 1 atau 2 part dengan NC didalamnya. Dan sebelumnya aku mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Karena seperti yang aku katakan, ini adalah kisah cinta sederhana yang bisa dialami siapa saja. Aku juga berusaha sebisa mungkin untuk menghindari typo. Tapi, aku juga manusia biasa yang bisa membuat kesalahan, jadi mohon dimaklumi. No bash, smart comments and critics always accepted. Selamat membaca…

.

.

.

.

We’re not supposed to be friends…

.

.

.

.

-The Possibility of Impossible Us Part 3-

.

.

.

.

Nara’s POV

.

Maret, 2009

Beberapa jam setelah perdebatan dengan Lee Soohyuk

.

.

Aku duduk disisi ranjang tempat tidur sebuah kamar gelap tanpa suara. Hanya dengkuran pelan yang terdengar dikamar yang sunyi ini. Kyuhyun sudah terlelap satu jam yang lalu. Efek obat membuat kelopak matanya menutup dengan mudah. Suhu tubuhnya sudah menurun setidaknya 1.5˚C. Aku belum bisa meninggalkannya. Aku tidak bisa beranjak kemanapun dengan konsidi Kyuhyun yang masih memiliki suhu tubuh 38˚C. Kedua orang tua Kyuhyun dan orang tua ku sedang bepergian keluar kota, sementara Ahra eonni belum kembali dari Jepang. Entah apa yang akan terjadi pada Kyuhyun jika tidak ada seorang pun disini.

.

Tidak. Kyuhyun tidak akan sendirian. Tanpa aku berada disekitarnya pun Kyuhyun masih memiliki seorang kekasih yang bisa dihubunginya. Apa yang kau pikirkan Choi Nara? Seharusnya kau meminta Kyuhyun menghubungi kekasihnya tadi. Kecemasanku pada keadaan Kyuhyun benar-benar tidak berdasar. Karena kecemasan itulah keadaanku dengan Soohyuk menjadi seperti ini. Tidak. Tidak. Kyuhyun dan kondisinya bukan penyebab pertengkaranku dengan Soohyuk. Masalah itu sudah ada diantara kami sejak lama. Apa yang terjadi pada Kyuhyun hanya sebagian kecil dari sekian banyak masalah kami yang tidak pernah ku ungkapkan. Akupun mulai meragu dengan keputusanku meninggalkan Soohyuk.

.

Aku memandang wajah Kyuhyun dari tempatku duduk. Ku ambil kompres yang bertengger di keningnya. Aku juga mengusap kening Kyuhyun untuk memastikan sekali lagi kondisinya. Aku harap Kyuhyun segera pulih. Aku lebih suka Kyuhyun yang sehat dan ceria, bukan Kyuhyun yang terbaring lemah seperti ini di tempat tidur. Sisi lain dalam diriku berharap saat ini Kyuhyun bangun dan menenangkanku.

.

Kyuhyun-ah, Apa yang harus aku lakukan? Kenapa saat ini aku justru merasa begitu jahat pada Soohyuk? Dia jelas-jelas bersalah padaku. Aku sudah mengatakannya tepat didepan matanya. Tapi kenapa hatiku mengatakan apa yang sudah aku lakukan tidak sepenuhnya benar? Soohyuk memang bersalah. Tapi begitupun denganku. Setelah sekian lama kami berhubungan, bahkan aku tidak pernah sedikitpun memiliki perasaan special padanya. Apa yang terjadi padaku, Kyuhyun-ah? Kenapa semua hal yang terjadi padaku selalu berpusat padamu?

.

Aku merasakan sakit di kepalaku dan sepertinya air mata akan segera menetes dari mataku. Akupun beranjak dari kursiku dan melangkah keluar dari kamar Kyuhyun. Aku menutup pintunya pelan dan bergeser menyandar pada dinding tidak jauh dari pintu. Aku terduduk sambil memeluk kakiku. Hari ini waktu terasa berjalan terlalu cepat. Satu demi satu kejadian yang terjadi hari ini seolah berputar dikepalaku bagaikan roll film. Aku menundukkan kepalaku, menopangnya dengan kedua tangan yang ku lipat diatas lututku, dan membiarkan air mata mengalir begitu saja membasahi.

.

Apa yang terjadi padaku? Kenapa semua hal menjadi begitu rumit akhir-akhir ini? Kenapa tidak ada yang berjalan dengan baik? Semua hal terasa sangat normal sebelumnya. Cho Kyuhyun… Seharusnya kau tidak perlu mengatakannya. Aku tidak perlu tahu. Hari itu seharusnya aku tidak perlu bertanya. Jika semua hal akan menjadi seperti ini, aku tidak perlu tahu. Aku tidak ingin tahu. Siapapun cinta pertamamu tidak lagi menjadi masalah saat ini. Karena hal itu hanya terjadi di masa lalu. Ini tidak benar Cho Kyuhyun. Rasa sakit ini tidak benar. Bukankah perasaanku padamu juga terjadi di masa lalu? Lalu kenapa……

.

“Ssssttt… jangan menangis, Choi Nara…”

.

Kyuhyun bangun dan keluar dari kamarnya. Ia berjongkok di depanku dan membelai kepalaku. Tangisanku pecah, tapi aku berusaha sebisaku untuk membungkam mulutku sehingga tidak ada suara apapun yang terdengar. Aku bisa merasakan pergerakan Kyuhyun yang duduk bersila didepan ku.

.

“Hei….. sudah sudah… ceritakan padaku. Apa yang terjadi? Ada yang menyakitimu?” tanya Kyuhyun dengan suara serak dan lemahnya.

.

Banyak hal terjadi. Seharusnya yang terjadi adalah aku tersakiti olehnya. Tapi justru aku yang menyakiti dia, Kyuhyun-ah… Aku tidak bisa menceritakannya padamu. Tidak karena ini tentangmu… jawabku dalam hati.

.

Aku menggeleng. Perlahan ku dongakkan kepalaku. Aku menopang daguku diatas tanganku, masih dengan pandangan ke lantai. Aku tidak memiliki kekuatan menatap wajahnya. Hanya dengan kenyataan bahwa Kyuhyun bangun dari tidurnya untuk mencariku, lalu duduk dilantai yang dingin tepat didepanku seperti ini saja sudah membuat rasa sakitku semakin besar. Semua hal yang dilakukan Kyuhyun untukku terasa salah. Bukan. Kyuhyun tidak salah. Semua salahku. Hati ini yang salah. Aku bahkan tidak tahu siapa orang yang harus kumintai maaf.

.

“Arasseo… kau tidak perlu menceritakan apapun. Kemari… biarkan aku memelukmu…”

.

Kyuhyun mendekat. Ia mendekapku dalam pelukannya. Aku bisa merasakan telapak tangannya dipunggungku menepuk-nepuk pelan, berusaha menenangkanku. Aku juga bisa merasakan dagunya diatas kepalaku, yang kemudian berganti dengan bibirnya yang mengecup pelan puncak kepalaku. Aku terisak didadanya. Aku memeluk kakiku semakin erat. Ini hal yang lebih baik aku lakukan. Karena memeluk tubuhnya akan memperburuk keadaan. Keadaanku.

.

“Menangislah, Nara-ya… aku akan tetap memelukmu sampai tangismu mereda. Menangislah sebanyak yang kau mau. Tapi aku mohon jangan terlalu lama. Matamu akan sangat merah dan sakit jika terlalu lama menangis. Aku tidak suka itu… Dan… menangislah hanya saat bersamaku. Aku akan selalu ada untukmu…” kata Kyuhyun lagi.

.

.

.

April, 2009

Kyuhyun masuk begitu saja ke kamarku membawa berita yang seharusnya tidak asing di telingaku. Hubungan Kyuhyun dengan kekasihnya baru saja berakhir. Ia pun menutup pintu kamarku lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidurku. Aku memutar kursi yang sedang ku duduki, memperhatikan sikapnya. Ia tetap begitu tenang bahkan disaat seperti ini. Ia menopang kepalanya dengan kedua tangan, lalu memejamkan matanya dan menghela napas panjang.

.

“Kyuhyun-ah…”

.

“Hmm…”

.

“Bukankah kau terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja putus cinta?” tanyaku santai.

.

“Apa aku harus menangis seperti yang kau lakukan di depan kamarku malam itu?”

.

“Ani… tapi kau terlihat terlalu tenang. Aku hanya tidak ingin kau menjadi sakit jiwa karena terlalu memendam apa yang kau rasakan”.

.

“Aku sudah berbakat sejak lama dalam memendam perasaanku. Aku masih waras, Choi Nara. Tidak perlu khawatir…”

.

“Arasseo…” kataku singkat.

.

Aku kembali berbalik menghadap ke mejaku. Aku kembali membaca beberapa brosur yang ada diatas meja, sesekali ku geser halaman web di iPad-ku, mencocokkan dengan kualifikasiku. Aku tidak melakukan hal-hal yang cukup berarti. Aku hanya sedang membaca beberapa daftar universitas. Minggu lalu kami baru saja menyelesaikan ujian akhir kami. Pagi ini Hwang seonsaengnim mengatakan kami seharusnya sudah memiliki universitas tujuan kami, karena pendaftaran perguruan tinggi sudah akan dimulai bulan depan. Aku sudah memiliki beberapa pilihan. Aku hanya perlu memantapkan hati dan mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian.

.

“Choi Nara…”

.

“Wae?” sahutku singkat.

.

“Kau sedang apa?”

.

“Hanya browsing beberapa universitas di internet…”

.

“Kau sudah menentukan akan melanjutkan kemana?” tanya Kyuhyun.

.

“Ajik… aku masih menimbang-nimbang beberapa hal”.

.

“Jangan lupa memberitahuku jika sudah memutuskannya, arasseo?”

.

“Silheo… kenapa aku harus repot-repot melakukannya?”

.

“Ya! Tentu saja kau harus memberitahu aku. Aku tidak mau tahu, kau harus memberitahu aku, suka atau tidak!” kata Kyuhyun yang sudah dalam posisi duduk ditempat tidurku dan memunculkan wajah merajuknya.

.

“Ough… Cho Kyuhyun yang patah hati benar-benar merepotkan. Gaja! Aku akan mengajakmu makan es krim untuk meredakan hawa panasmu. Kali ini aku yang akan mentraktirmu…”

.

“Silheo… kau harus berjanji dulu padaku, Choi Nara…”

.

“Ayolah Cho Kyuhyun… kau kan tidak tahu kapan kesempatan seperti ini bisa datang. Aku benar-benar akan mentraktirmu. Kau ingin apa lagi? Pizza? Chicken? Jajangmyun?”

.

“Hamburger?” tanya Kyuhyun dengan senyuman mengembang diwajahnya.

.

“Arasseo… gaja…”

.

.

.

Juni, 2009

Hasil ujian sudah diumumkan. Kami lulus. Sukacita memenuhi gedung tempat acara kelulusan kami. Seluruh siswa sudah menunggu saat-saat ini. Kami mengucapkan selamat satu sama lain dan sesekali berfoto bersama. Kenangan ini harus kami abadikan sebelum kami berjalan menuju tujuan kami masing-masing. Aku tidak melewatkan berfoto bersama 2 sahabatku Soojung dan Eunji yang sudah menjadi partner in crime ku selama 3 tahun terakhir.

.

“Kau tidak ingin berfoto dengan Myungsoo?” Tanya Eunji.

.

“Aku pikir sebaiknya tidak… Myungsoo sedang berfoto dengan hoobae basketnya…” jawabku enggan.

.

“Sejak kapan kau peduli? Ayolah Nara-ya… Kan belum tentu bisa bertemu dengannya lagi”, sambung Eunji.

.

“Benar, Nara-ya. Aku dengar Myungsoo akan ke London bersama keluarganya”, kata Soojung.

.

“Geurae? Johda… sudahlah… Lebih baik kita yang foto bersama”, kataku mengalihkan.

.

“Ya! Michyeosseo? Kita kan masih bisa berfoto besok. Aku dan Eunji tidak akan kemanapun. Kita masih bisa bertemu, Choi Nara. Kalau…”

.

“Sudah sudah…” Eunji memotong Soojung. “Kalau Nara tidak mau tidak usah dipaksa. Kalau jodoh nanti pasti bertemu lagi”, kata Eunji sambil menunjukkan cengiran khasnya.

.

“Aigoo… Eunji-ya, tidak usah membicarakan jodoh terus. Aku jadi merinding…” kataku.

.

“Kenapa kau merinding?” tanya Soojung bingung.

.

“Memang kau tidak pernah mendengarnya? Banyak orang yang mengatakan jodoh itu bisa saja orang yang ada disekitar kita, tapi kita tidak pernah menyadarinya”, sambung Eunji.

.

“Disekitarmu? Kim Myungsoo?” celetuk Soojung sambil terkekeh.

.

“Iya kalau benar Myungsoo. Bagaimana kalau Cho Kyuhyun?” Eunji meneruskan.

.

“Ya! Ya! Geumanhae jom…” seruku menghentikan mereka.

.

“Arasseo… Arasseo… jangan marah Nara-ya…” kata Eunji dengan senyuman manis khasnya.

.

Kamipun menyingkir dari lapangan yang ramai dengan pada siswa. Kami duduk disebuah bangku di taman yang letaknya berada disebelah utara lapangan itu. Aku mendongakkan wajahku menatap langit, lalu didetik berikutnya aku menutup mataku, merasakan angin yang menyentuh wajahku.

.

“Nara-ya, kau sudah tidak follow twitter Myungsoo?” tanya Eunji.

.

“Hmm…” jawabku singkat.

.

“Kenapa?” Soojung ikut bertanya.

.

“Karena sudah tidak ada apa – apa lagi tentang Myungsoo”.

.

“Jadi sudah officially kkeut?” tanya Soojung lagi.

.

Another untold story, huh?” Eunji menimpali.

.

Aku mengernyitkan dahiku mendengar pertanyaan terakhir dari Eunji barusan. Aku langsung membuka mataku lalu bangun dari dudukku dan menatap Soojung dan Eunji yang masih menunggu jawabanku.

.

Untold story? Another? Maksudmu?” tanyaku.

.

“Aku juga tidak mengerti. Apa maksudmu, Eunji-ya?”

.

“Ya… untold story… Begini… Aku bicara terus terang saja padamu. Sudah sangat jelas kalau di antara kau dan Myungsoo ada sebuah untold story. Aku tidak membicarakan bullshit atau gossip apapun. Choi Nara, kalian jelas sama – sama saling menyukai, tapi apa pernah ada yang berusaha? Kau ragu, Myungsoo ragu. Keraguan Myungsoo bertambah karena “The Return of Kyuhyun” yang sebenarnya menyenangkan itu. Lalu Myungsoo menjauh, kau justru berpacaran dengan Soohyuk, berharap kau bisa menyukainya pelan – pelan. Baru 6 atau 7 bulan bersama Soohyuk, Myungsoo kembali dan kau sudah beberapa kali bimbang. Dari 3 laki-laki itu saja sudah ada 2 untold story, Nara-ya…”

.

“Dua?” tanyaku lagi.

.

“Kau hanya berusaha jujur pada Soohyuk kalau kau memang tidak berhasil meningkatkan rasa sukamu padanya, well, menjadi cinta mungkin… Tapi untuk kasus Myungsoo, memangnya pernah ada perasaan yang diungkapkan diantara kalian yang jelas – jelas saling menyukai? Dan another untold story… kau saja baru tahu kalau kau adalah cinta pertama Kyuhyun setelah bertahun – tahun. Aku bertaruh, pasti Kyuhyun sampai hari ini tidak tahu kalau dia juga cinta pertamamu. Benar bukan?”

.

Aku menggeleng.

.

“Cerita antara kau dan Kyuhyun juga baru sedikit jelas saat hubunganmu dan Soohyuk berakhir. ‘It will always be him, Soohyuk’. Kau memilih Kyuhyun daripada Soohyuk dan Myungsoo. Dan sudah. Tidak terjadi apapun juga setelah itu. Kalian hanya sampai disitu. Selesai”.

.

“Aku dan Kyuhyun tidak pernah memulai apa – apa.”

.

“Karena kau dan Kyuhyun tidak pernah menyatakan isi hati kalian dengan kata – kata yang pasti, Nara-ya. Aku pun heran dengan hal yang satu itu. Kenapa kalian selalu menggunakan kata – kata yang susah untuk dimengerti? Selalu ada maksud lain dibalik kalimat kalian. Dengan kau mengatakan ‘It will always be Kyuhyun’, itu artinya tidak akan ada yang bisa menggantikan dia bahkan kekasihmu sendiri, Nara-ya. Dan… Kyuhyun pun mengatakan ‘menangislah hanya saat bersamaku. Aku akan selalu ada untukmu…’. Jangan katakan padaku kau tidak mengerti maksud dari perkataan itu. Walaupun aku bukan kau yang notabene adalah sahabat Kyuhyun, tapi untuk posisi Kyuhyun yang saat itu memiliki seorang kekasih, kata-kata Kyuhyun padamu seharusnya sudah menjelaskan apa isi hatinya, bukan? Lalu setelah Soohyuk pergi, dan Myungsoo benar-benar pergi, kenapa kalian tidak mencoba untuk make it works? Kau justru mengatakan padaku kalau semua itu karena kalian terbiasa dengan keberadaan dalam kehidupan satu sama lain…” kata Soojung panjang lebar.

.

“Tidak seperti itu, Soojung-ah…”

.

“Lalu? Choi Nara, apa yang kalian tunggu? Jangan menunggu sampai salah seorang dari kalian pergi dan kalian kembali terpisah bertahun-tahun tanpa mengatakan apapun. Lalu… Dan… Oh My God… akan sangat tidak lucu kalau… kalau… kalian benar seperti itu, lalu setelah bertahun-tahun, kau atau Kyuhyun secara tidak sengaja kembali bertemu, TAPI kalian sudah bertungangan dengan seseorang yang lebih lebih lebih baik, dan SURPRISEEEE… ternyata kalian sangat mencintai satu sama lain…” sambung Soojung dengan sorakan sarkastisnya.

.

“Karena itu aku bilang another untold story, kan? Entahlah Nara-ya… aku merasa ucapan Soojung ada benarnya. Dan jujur, sebagai sahabatmu aku tidak ingin hal itu terjadi”, sambung Eunji.

.

“Aku harap itu tidak terjadi…” kataku singkat.

.

“Bagian mana yang kau harap tidak terjadi?” tanya Eunji.

.

“Semua hal yang terakhir Soojung katakan…”

.

“Apa….. maksudmu?” tanya Soojung ragu. “Kyuhyun….. akan pergi lagi?”

.

“Aku yang akan pergi…” kataku dengan raut menyesalku. “Maaf baru memberitahu kalian…”

.

“Mworago? Eo… Eodiga?” tanya Soojung terbata. Eunji bahkan tidak bisa mengatakan apapun.

.

“Tokyo. Aku akan melanjutkan kuliah disana. Mian…”

.

“Geundae, wae? Bukankah kau mengatakan kau akan melanjutkan ke Seoul Uni atau Kyunghee?” tanya Eunji akhirnya.

.

“Geunyang… Aku tertarik dengan program belajar disana. Selain itu aku juga ingin belajar hidup mandiri. Appa dan eomma juga setuju dengan keputusanku. Mereka mendukungku…”

.

“Ini… ada hubungannya dengan Kyuhyun, kan? Katakan sejujurnya, Choi Nara”, kata Soojung.

.

“Aniya… Kyuhyun-ie wae? Naega malhaessjanha… (Aku kan sudah mengatakannya…) Program disana benar-benar bagus. Kalian bisa memeriksanya di internet…”

.

“Kenapa harus Tokyo? Jika kau ingin belajar hidup mandiri, kau bisa pergi ke Busan, atau Jeju. Kau tidak perlu jauh-jauh ke Tokyo, Nara-ya…” sambung Eunji.

.

“Eunji-ya… Soojung-ah… bisakah kalian mendukungku? Aku tidak akan bisa pergi dengan hati yang senang jika kalian tidak mendukungku…”

.

Keduanya pun hanya bisa tersenyum padaku meski terpancar dengan jelas diwajah mereka bahwa mereka tidak bisa merelakanku.

.

.

.

Malam harinya…

“Tokyo? Michyeosseo??? Choi Nara, kau pasti sudah gila, kan? Bukankah terakhir kali kau mengatakan padaku kita akan pergi ke Kyunghee bersama?” tanya Kyuhyun dengan kemarahannya yang sudah memuncak.

.

Kyuhyun masuk ke kamarku dengan terburu-buru beberapa menit yang lalu. Sesampainya di kamarku ia segera menutup pintu lalu membalikkan kursiku. Ia berjalan kesana-kemari sambil bertolak pinggang. Wajahnya tampak memerah karena marah. Keningnya berkerut tanda ia sedang berpikir keras. Ia terus melakukan hal itu sebelum amarahnya keluar dari bibirnya dalam bentuk bentakan barusan.

.

“Wae? Jelaskan padaku. Wae???” tanya Kyuhyun dengan nada tingginya. “Kau lelah dengan sikap kekanakanku? Kau marah padaku? Jika karena itu, aku minta maaf, Nara-ya. Aku benar-benar minta maaf. Kau selalu memaafkan aku setiap kali aku meminta maaf, kan? Kali ini maafkan aku lagi, dan buang jauh-jauh rencana gila mu untuk ke Tokyo itu. Arasseo?”

.

“Kyuhyun-ah…”

.

“MWO???”

.

Kali ini ia benar-benar mengatakannya dengan segala amarah yang sudah memuncak dikepalanya. Napasnya memburu, dan aku harap aku salah melihatnya, ada pantulan cahaya dimatanya. Seolah ada air mata yang menumpuk di pelupuk matanya. Tidak. Cho Kyuhyun tidak akan menangis hanya karena hal ini. Mungkin itu adalah efek dari kemarahannya yang tidak wajar ini.

.

“Geumanhae… eo? Bukankah kau mengatakan kau akan selalu mendukungku?” tanyaku dengan segala tenagaku yang tersisa untuk menghadapi Kyuhyun.

.

“Tapi itu….. itu…… tidak dengan hal ini, Choi Nara. Saat itu kau tidak mengatakan akan pergi kemanapun. Yang aku tahu saat itu kau akan tetap disini… bersamaku…”

.

“Aku akan kembali setiap liburan semester”, kataku mencoba menenangkannya.

.

“Tidak sama dengan melihatmu setiap hari”.

.

“Kita bisa melakukan face time kapanpun kau mau… hmm?”

.

“Kau….. aku tidak percaya kau benar-benar akan melakukan ini padaku, Choi Nara. Baik… lakukan apa yang menurutmu benar. Apapun yang ku katakan, kau pasti akan tetap pergi…”

.

Kyuhyun pergi meninggalkan kamarku begitu saja. Ia benar-benar marah. Ini bukan perpisahan yang aku inginkan. Minggu depan aku sudah akan berangkat. Tiba-tiba aku merasa tidak sanggup jika harus pergi dengan kemarahannya. Tapi aku tetap harus pergi. Aku harus tetap pergi dari sini.

.

.

.

.

Desember, 2010

Incheon Airport

Aku kembali. Tanpa terasa sudah 1,5 tahun aku meninggalkan kota ini. Aku merasa semua rasa lelahku menghilang begitu saja saat keluar dari bandara. Walaupun udara sangat dingin karena salju yang turun, tapi tidak menghentikan langkahku untuk kembali ke rumah dan bertemu keluargaku.

.

“Uwah….. uri nara choigo-ya!” seru seseorang disampingku.

.

“Hmm?”

.

“Uri nara… Daehanminguk choigo! Neo aniya… (Negara ku… Korea Selatan terbaik! Bukan kau…)” katanya sambil terkekeh.

*Nara = Negara, dalam bahasa korea

.

“Ch… Wooyoung sunbae! Geureohjima… sarami hetgallige mandeureo… (Ch… kak Wooyoung! Jangan begitu… Membuat orang bingung…)

.

Jang Wooyoung. 22 tahun. Ia adalah seniorku yang juga kuliah di Tokyo Uni. Ia berasal dari Busan. Natal tahun ini keluarga nya tidak berkunjung ke Tokyo seperti sebelumnya, karena harus mengunjungi nuna nya di Chicago yang baru melahirkan. Wooyoung sunbae adalah asisten lab di kampus kami. Satu hari setelah pergantian tahun, Wooyoung sunbae sudah diminta kembali ke kampus untuk melanjutkan penelitian. Karena itu ia tidak bisa ikut dengan keluarganya ke Chicago. Akhirnya akupun menawarkan untuk melewati Natal bersama keluarga ku di Seoul. Setidaknya jarak Tokyo – Seoul tidak sejauh Tokyo – Chicago.

.

“Hahahaha mian… Choi Nara juga choigo!”

.

“Dwaesseoyo… Maeume andeuroyo… (Sudahlah… aku tidak menyukainya…)”

.

“Hahaha gaja gaja… disini dingin sekali…”

.

“Ne…”

.

.

.

Choi’s Residence

.

“Tadaima!” seruku saat masuk ke rumah.

.

“Eo! Nuna-da! Eomma!!! Nuna wasseoyo!!!” seru Changjo memanggil eomma di dapur.

.

Changjo pun berlari menghampiriku yang masih sibuk memasukkan barang-barang bawaanku ke dalam rumah. Tiba-tiba ia berhenti, senyum berkembangnya pudar digantikan wajah serius menatap seseorang yang berdiri dibelakangku. Wooyoung sunbae yang menyadari tatapan itupun menghentikan aktivitasnya membenarkan letak koper kami dan memberikan senyuman pada Changjo. Suasana sekilas menjadi dingin disekitarku. Akupun baru tersadar dengan atmosfir gelap yang keluar dari adik laki-laki ku itu. Changjo si adik yang posesif muncul. Aku sudah menduga nya sepanjang perjalanan dari bandara tadi.

.

“Ya! Choi Changjo! Mwohae? Insahae… (Ya! Choi Changjo! Apa yang kau lakukan? Beri salam…)” kataku santai sambil berusaha membuka sepatuku.

.

“Hanguk saramiya, nuna? (Dia orang Korea, nuna?)”

.

“Dangyeonhajyo… (Tentu saja…)” jawab Wooyoung sunbae.

.

“Sunbae, tidak perlu menggunakan bahasa baku seperti itu padanya. Banmal-hae…”

.

“Annyeonghaseyo… Nara nuna-ui dongsaeng, Changjo-ibnida. Bangabseubnida…”

.

“Ah… Changjo-kuna… Aku sering mendengar Nara menceritakan tentangmu. Jaemissda… (menarik…)” kata Wooyoung sunbae.

.

“Mwoga? (Apanya?)” tanyaku.

.

“Seonggyeok… (karakter…)” jawab Wooyoung sunbae singkat.

.

“Hhh… Changjo-ya, kenapa kau hanya berdiri disana? Tidak ingin membantuku?” tanyaku menyadarkan Changjo dari tatapan sarkastisnya pada Wooyoung sunbae.

.

Changjo pun dengan setengah hati membantuku membawa barang-barangku. Ia langsung membawanya ke kamarku di lantai atas. Akupun berjalan masuk ke dalam rumah diikuti Wooyoung sunbae dibelakangku. Sesampainya di ruang keluarga, seketika langkahku terhenti. Appa yang semula ku pikir duduk bersama eomma di ruang keluarga, ternyata duduk bersama orang lain. Orang yang sangat tidak ingin ku temui dihari pertama kepulanganku.

.

“Choi Nara, wasseo?”

.

“Eo… neodo, Cho Kyuhyun…” kataku mencoba santai sambil berlalu ke meja makan mengambil segelas air.

.

“Nuguya, Nara?” tanya appa.

.

Ah… aku sampai lupa. “Eo! Appa tidak ingat? Wooyoung……oppa, yang membantu appa tiga bulan yang lalu saat datang ke Tokyo”, Wooyoung sunbae langsung menoleh padaku saat mendengar kata oppa keluar begitu saja dari mulutku.

.

“Wooyoung?” tanya appa menyadarkan Wooyoung sunbae.

.

“Ne… Wooyoung-iyo. Bagaimana kabar anda?”

.

“Eo… aku baik-baik saja. Ya… kau terlihat sangat kurus sekarang, aku sampai tidak mengenalimu. Kau diet? Duduklah…”

.

“Aniyo… Aku hanya sedang banyak pekerjaan di kampus. Mungkin aku melewatkan beberapa waktu makan…”

.

“Nugu???” tanya eomma dengan suara nyaring dari arah dapur. Eomma pun menghampiriku di meja makan. “Uri sojunghan Wooyoung-i? (Our precious Wooyoung?)” tanya eomma lagi.

.

Aku yang sedang mengenggak air pun tersedak mendengarnya. “Eomma, mwoya? Uri sojunghan Wooyoung-i? Naneun? Eomma, naneun? (Apa eomma? Wooyoung kami yang berharga? Aku? Eomma, aku?). Eomma bahkan tidak menyambut kedatanganku, bahkan tidak memanggil namaku. Ch… uri sojunghan Wooyoung-i??? Eomma, neomuhae!”

.

Bukannya mendapat kebaikan hati, eomma justru memukul keningku pelan dengan telunjuknya. “Ya! Kau tidak tahu? Saat kami ke Tokyo dan kau harus menyelesaikan ujianmu, uri Wooyoung-i yang menemani kami kemanapun kami mau sampai kau selesai malam hari…” kata eomma sambil berlalu menghampiri Wooyoung sunbae. Sekilas aku melihat ekspresi Kyuhyun yang berubah dingin.

.

“Aigoo… nae saekki (anakku), kenapa kau jadi kurus sekali seperti ini? Kau mengabaikan pesanku? Aku kan sudah bilang kau harus menjaga kesehatanmu. Lihat ini… Aigoo… kalau kau tidak sempat membeli makanan seharusnya kau menyuruh gadis itu membelikannya untukmu… aigoo…” kata eomma lagi sambil menunjukku.

.

“Hahahaha mianhaeyo eomeoni… aku sepertinya lupa dengan pesan eomeoni… jeongmal mianhaeyo…” jawab Wooyoung sunbae.

.

“Daebak….. saat itu bahkan eomma hanya berpesan padaku untuk tidak menghabiskan uang di Tokyo. Chukhahanda, Jang Wooyoung! Selamat datang di keluarga Choi. Jeongmal oppa-ya oppa…”

.

“Ya… Choi Nara si iri hati. Neon mwohae? Tidak memberikan segelas air untuk oppa-mu?” goda Wooyoung.

.

“Ch… cham… arasseo… aku akan mengambilkannya… oppa”, jawabku dengan nada bercanda.

.

Aku kembali ke meja makan untuk mengambilkan segelas air. Dari tempatku berdiri aku bisa melihat Kyuhyun dengan jelas. Ekspresi nya berubah di detik yang sama saat appa dan eomma berbincang-bincang akrab dengan Wooyoung sunbae. Kyuhyun yang diawal kedatanganku masih menunjukkan wajah cerianya, saat ini ia lebih sering memusatkan perhatiannya ke ponsel ditangannya.

.

.

Drrrrtttt

.

.

Ponsel di saku celana ku bergetar kuat. Sebuah pesan masuk ke ponselku. Di satu sisi otak ku menciptakan dugaan Kyuhyun-lah yang mengirimkan pesan itu. Tapi di sisi yang lain, otak ku mengatakan Kyuhyun tidak sesensitif yang aku pikirkan saat ini. Setelah gelas yang ku ambil sudah terisi penuh dengan air, aku pun memutuskan untuk membuka kotak masuk di ponselku. Benar. Pesan dari Kyuhyun.

.

.

From: Kyuhyun

Bicara denganku sebentar…

.

.

Akupun menoleh pada Kyuhyun di detik selanjutnya. Ia sedang menatapku tajam tanpa ekspresi. Aku sudah cukup mengenalnya dengan baik selama bertahun-tahun. Satu hal yang ku yakini saat ini adalah perasaan Kyuhyun sedang tidak baik. Atau bisa aku katakan bahwa laki-laki yang sedang menatapku itu sangat tidak seperti Kyuhyun. Akhirnya aku hanya memberikan anggukan pelan padanya. Aku berjalan kembali ke ruang keluarga dengan segelas air untuk Wooyoung sunbae. Appa, eomma dan Wooyoung sunbae masih terlarut dalam pembicaraan mereka tentang apa saja hal yang sedang dikerjakan oleh Wooyoung sunbae di kampus. Appa dan eomma secara ajaib menaruk ketertarikan yang lebih dari biasanya pada cerita kehidupan kampus. Aku pun memberikan kode pada Kyuhyun untuk menuju teras belakang rumah. Kyuhyun bangkit dari tempatnya duduk dan dengan perlahan berjalan di belakangku. Aku dapat melihat dengann jelas perhatian eomma dan Changjo teralihkan oleh kepergian kami ke teras belakang dari sliding door rumahku yang terbuat dari kaca. Kami berhenti di tempat yang tidak bisa terjangkau oleh pandangan setiap orang yang berada di dalam rumah. Suasana berubah hening. Tidak ada satupun yang bicara diantara kami. Keheningan kami yang pertama setelah cukup lama kami tidak bertemu secara langsung selama 1,5 tahun. Sebuah perasaan aneh kembali menjalar di setiap sel tubuhku. Aku merasakan hawa dingin yang seolah masuk melalui pori-pori kulitku yang membuka karena rasa sesak. Di detik yang sama, otakku memberitahu ku apa yang sedang kami rasakan saat ini. Asing. Kami merasa asing satu sama lain.

.

.

“Kau melupakanku…” kata Kyuhyun akhirnya.

.

“Jangan bercanda, Cho Kyuhyun.”

.

“Aku tidak bercanda. Kau memang melupakanku… pada akhirnya”

.

“Hhh… Aku tidak melakukannya. Mungkin kau hanya sedikit sensitive hari ini. Apa ada sesuatu yang terjadi hari ini?” tanyaku.

.

“Aku? Sensitive? Aniya… Kau memang melupakanku, Choi Nara”.

.

“Benarkah ini yang ingin kau bicarakan denganku, Cho Kyuhyun? Hanya ini? Hhh… aku lelah. Kita bicarakan saja besok”, kata ku bermaksud berbalik untuk kembali masuk ke dalam rumah.

.

Tapi Kyuhyun menggeser posisi berdirinya untuk menghalangi langkahku. “Kau sendiri yang berjanji padaku untuk selalu berkomunikasi denganku. Via telepon, pesan singkat, SNS, messenger, face time…..kau lupa? Sudah tidak berharga kah aku saat ini?”

.

“Jika semua perasaan buruk mu saat ini disebabkan oleh semua hal yang kau sebutkan itu, aku minta maaf. Aku cukup sibuk dengan semua hal di kampus. Banyak waktu ku yang tersita untuk belajar. Aku juga harus mengurus hidupku sendiri disana…kau tahu itu dengan baik, bukan?”

.

“Itulah mengapa… Aku tidak setuju kau kuliah di luar negeri. Semua akan lebih baik jika kau berada disini. Di Seoul. Semua hal yang kau butuhkan bisa kau dapatkan. Ada orang tua mu, Changjo, dan aku disini. Kau masih akan memiliki waktu luang disini. Disana kau hanya se…..”

.

“Cukup, Cho Kyuhyun! Aku pikir pembicaraan ini sudah berakhir lama sekali. Kita sudah membahasnya 1,5 tahun yang lalu. Lagipula darimana kau mendapatkan keyakinan sebesar itu jika aku tidak akan mendapatkan kesulitan berada disini? Kau pikir akan menjadi mudah bagiku jika aku tetap berada disini? Denganmu?”

.

“Geurae! Semua hal akan lebih baik jika kau tetap disini. Kau memiliki waktu luang mu, kau memiliki orang lain yang bisa membantu mu, kau tidak melupakanku, kau juga tidak mengingkari janjimu untuk me…..”

.

“Jadi ini semua masih tentangmu?” tanyaku memotong ucapannya lagi.

.

“Mwo?” ia balik bertanya bingung padaku.

.

“Semua pembicaraan kita, masalah diantara kita, semua hal diantara kita masih saja hanya berpusat padamu. Kau tidak tahu itu? Kau selalu seperti itu, Cho Kyuhyun. 1,5 tahun yang lalu saat kau meluapkan kemarahanmu padaku saat aku memutuskan untuk pergi ke Tokyo, kau ingat yang kau katakan? Saat itu kau bertanya apakah aku marah padamu, apakah aku lelah pada sikapmu. Apa kau pernah sebentar saja berpikir ‘Apa yang sudah kau lakukan? Apakah kau benar-atau-tidak adalah penyebab semua ini terjadi?’. Semua hal yang terjadi seolah akulah sumbernya. Karena kemarahanku. Karena kelelahanku. Aku sudah melakukan semua hal yang aku bisa untuk membuatmu tetap merasakan kehadiranku dengan selalu menghubungimu. Tapi apa yang kau lakukan? Akhir pembicaraan kita di setiap harinya selalu diakhiri dengan kau yang mengatakan ‘aku belum memaafkanmu yang meninggalkanku begitu saja disini’. Jika kau benar-benar ingin tahu jawaban sebenarnya, tidak, aku tidak marah padamu. Tapi, ya, aku lelah dengan sikapmu. Pernahkah kau belajar untuk melihat dari sisiku?”

.

“Maksudmu aku tidak pernah memikirkanmu? Choi Nara, wake up! Apa aku akan bicara padamu seperti ini jika aku tidak memikirkanmu? Aku hanya memikirkan diriku sendiri? Aku hanya merasa sensitive karena kau tidak menghubungiku? Ani. Setiap pagi aku membuka mataku, hal pertama yang aku pikirkan adalah apa yang sedang kau lakukan disana. Aku selalu ingin menelepon untuk mendengar suaramu, tapi aku urungkan niatku karena tidak mau mengganggumu. Enam bulan terakhir kau tidak menghubungi ku, Choi Nara. Enam bulan! Kau hanya menyampaikan pesanmu untukku melalui Changjo. Apakah kau juga tahu, saat kau masuk rumah sakit karena kelelahan 2 bulan yang lalu aku hampir pergi begitu saja ke Tokyo untuk mengunjungi? Tapi langkahku berhenti karena Changjo mengatakan kau memberitahu nya untuk menahanku pergi kesana. Aku lakukan sesuai yang kau inginkan, Choi Nara. Semua hal diantara kita hanya berpusat padaku? Kau benar-benar berpikir aku sepicik itu?” kata Kyuhyun dengan nada sangat marahnya.

.

“Lalu apa arti semua ini, Cho Kyuhyun? Geurae, kau khawatir padaku. Terima kasih. Dan maafkan aku karena membuatmu begitu. Jika kau terganggu dengan rasa khawatir itu, kau bisa berhenti melakukannya. Aku hanya melakukan apa yang aku anggap benar, Cho Kyuhyun. Bukankah itu yang kau katakan padaku? Berhentilah membuat perasaanku serba salah. Kau membuatku tidak bisa bernapas, Cho Kyuhyun. Berikan saja rasa khawatir mu itu pada Seohyun, jangan padaku. Aku lelah…”

.

“Jangan membawa Seohyun dalam masalah ini, Choi Nara! Ini masalah diantara kita”, sambung Kyuhyun.

.

“Kau pikir aku tidak mengenalmu dengan baik? Kau bersikap seperti ini karena Wooyoung sunbae, bukan? Sikap mu berubah tepat disaat mata mu melihatnya. Seberapa besar kau berusaha untuk menutupi nya aku tetap bisa mengetahuinya, Cho Kyuhyun. Apa masalah mu? Kenapa kau tidak menyukai nya? Dia bukan Lee Soohyuk, dia Jang Wooyoung. Sampai kapan kau akan memperlakukan setiap teman lelaki ku seperti Lee Soohyuk? Dan kau akan mengatakan bahwa kau melakukan itu karena khawatir padaku? Begitu?”

.

Suasana diantara kami kembali hening. Kami hanya saling menatap tanpa mengatakan apapun. Napas kami yang berat seolah saling beradu. Atmosfer diantara kami benar-benar panas, tidak seperti biasanya. “Hentikan sikapmu ini, Cho Kyuhyun. Aku lelah… Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku menyerah…” sambungku lagi.

.

“Apa maksudmu, Choi Nara?” tanya Kyuhyun bingung.

.

“Aku menyerah denganmu. We’re not supposed to be friends…” kataku berbisik sambil melangkahkan kakiku kembali ke dalam rumah.

.

“Mwo???” tanya Kyuhyun dengan nada marahnya.

.

Aku terus saja melangkahkan kakiku. Aku tidak lagi peduli dengan tatapan appa, eomma, Changjo, dan Wooyoung sunbae pada kami. Aku berjalan setengah berlari menuju kamarku. Aku dapat mendengar dengan jelas derap langkah besar Kyuhyun di belakangku. Namun aku berhasil meraih pintu kamarku, membukanya, menutupnya kembali dan menguncinya sebelum Kyuhyun berhasil meraih kenopnya. Aku terduduk menyandar di dinding tepat disebelah pintu kamarku. Aku bisa merasakan ketukan kasar di pintu menjalar sampai dari punggung sampai tulang ekorku. Kyuhyun terus saja mengetuk pintu dan memanggil namaku. Aku bisa mendengar suaranya dengan jelas walaupun ia tidak berteriak. Sesak kembali ku rasakan. Kali ini dengan sebuah lubang besar yang muncul dalam dadaku. Aku merasa seolah ada hantaman tinju yang sangat kuat, dan tusukan pisau menghantam di dadaku. Tanpa aku sadari, air mata mengalir di pipiku. Rasa sakit ini begitu besar sampai melumpuhkan kerja otakku. Suara Kyuhyun yang memanggil namaku seolah menjadi musik penghantar mimpi buruk bagiku.

.

Semua hal yang ia katakan padaku kembali terngiang dalam pikiranku. Bentakan, teriakan, dan kemarahannya seolah menunjukkan padaku seberapa besar kepeduliannya padaku. Tapi sekali lagi, semua itu justru menenggelamkan aku dalam lubang hitam yang besar di lautan. Selama 1,5 tahun aku berusaha untuk kembali menjadi diriku, menjadi aku yang terbiasa tanpa nya, menjadi aku yang tidak membutuhkannya. Namun dengan mudahnya ia membuat semua usaha itu sia-sia hanya dengan kekhawatirannya. Aku merutuki diriku sendiri karena perasaan yang tidak bisa ku kendalikan ini. Aku… aku…… aku terlalu mencintai nya. Aku membutuhkannya. Aku terlalu terbiasa dengan keberadaannya dihidupku. Dan aku tidak seharusnya begitu. Karena itulah, kami tidak semestinya menjadi teman. Lebih baik jika kami tidak pernah bertemu lagi. Lebih baik jika kami tidak saling mengenal.

.

“Pergilah, Cho Kyuhyun… Aku tidak bisa menemui mu lagi…” kataku pelan pada Kyuhyun yang masih berada di depan pintu kamarku.

.

“Choi Nara…..”

.

.

.

.

TBC…

Advertisements

27 thoughts on “The Possibility of Impossible Us Part 3

  1. Ehhheyyyyy…. ad lagi org ke 3 nya.. ya ampunnn, kisah nara gak pernah abis2 ya. . Tapi bkannkah mereka sling suka knpa gak ngomong saja

    Like

  2. Haduh mereka ,, kyuhyun alo cinta ya bilang aja terus nara jangan dulu menyalahkan kyuhyun udah sama2 emosi aja,,terus seohyun itu siapa lagi

    Like

  3. Eyyy kyuhyun yang lemot dan nara yang selalu mengambil kesimpulan sendiri
    Tapi pada dasarnyaa nara seperti perempuan lainnya, yang akan pergi ketika tidak ada kejelasan
    ditambah pulang korea, malah bawa wooyung lagi

    Like

  4. Ck sinara bener2 ga peka bkn ga peka ding tapi apa ya ah susah di jelasin , kyu knp kau tdk menyatakan rasa suka mu pd nara biar jelas gitu

    Like

  5. Pengen cekik Kyuhyun rasanya…
    Yang sabar aja buat Nara!!!
    Please Kyu, kalo kmu ska sama Nara bilang aja, kalo nda ya jauhin, gak tahan liat Nara kaya gini..
    Peace…

    Like

  6. Sebenernya kyuhyun kau masih cinta ga sih sama nara jangan buat baper doang dong😭😭
    Nara semangat kamu pasti bisa move on😣😣

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s