When the Wind Blows Part 1

– When the Wind Blows –

Part 1

Category: PG-15, Romance, Chapter, Mystery

Cast:   Kang Seyeon (OC), Cho Kyuhyun, Kang Seulgi, etc.

Other Cast:
Find them in the story

Disclaimer:

FF ini murni hasil dari isi kepalaku. Kisah dalam FF ini adalah kisah fiktif yang dibuat murni dari ide seorang manusia. Mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter, cerita, atau apapun dalam FF ini. Jika readers menemukan kesamaan kisah secara keseluruhan dalam FF ini dengan FF lain yang pernah kalian baca, mohon memberitahukan author/admin. No bash, smart comments and critics always accepted. Selamat membaca…

.

.

.

There is a day when you can’t avoid how fast the wind that blowing your hair, your clothes, even your heart. The only thing you sure can do is stay and face it with all of the strength you have…

.

.

.

When the Wind Blows begins…

.

.

.

Seyeon’s POV

Bisa mendapatkan semua hal duniawi yang kau inginkan tidak memberikan jaminan kau juga akan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupmu. Setidaknya itu yang aku alami. Namaku Kang Seyeon, umurku 25 tahun. Aku lulus dari S University saat berusia 21 tahun. Saat ini aku adalah seorang Direktur di perusahaan keluargaku, Sky High Group. Aku anak ketiga dari tiga bersaudara. Aku memiliki seorang kakak perempuan bernama Kang Sora (34 tahun) yang selama 4 tahun terakhir tinggal di Jerman bersama dengan suaminya, Yoo Yeon Seok. Aku juga memiliki seorang kakak laki-laki bernama Kang Min Hyuk (30 tahun) yang tinggal di US untuk memegang kendali perusahaan keluarga kami disana. Abeojiku, Kang Joon Sae adalah seorang pewaris bisnis keluarga yang saat ini berada di posisi atas kesuksesan di dunia bisnis. Dari kacamata publik, beliau adalah Abeoji yang sempurna. Banyak anak yang menatap kagum padanya. Tentu saja mereka akan melakukan itu. Abeojiku adalah seorang yang sukses dalam pekerjaan, beliau banyak melakukan charity bagi orang-orang yang membutuhkan, dan beliau juga bisa menjaga kehidupan pribadi nya tetap dirahasiakan dari publik. Dulu… dulu sekali, aku merasa sangat senang akan hal itu. Tapi hari ini, aku justru ingin seluruh dunia mengetahui bagaimana kehidupan keluarga ini.

.

Aku hidup dalam keadaan yang lebih dari cukup. Apapun yang aku butuhkan dan inginkan dapat terpenuhi dengan mudah. Mereka selalu siap siaga memenuhi segala hal yang aku minta. Hanya saja, mereka tidak bisa memberikan dua hal yang paling aku inginkan. Mengembalikan eomma atau mengantarku pada eomma. Tepat dihari kelulusanku 4 tahun yang lalu, eomma meninggalkan rumah. Eomma meninggalkanku tanpa mengatakan apapun. Eomma hanya meninggalkan sebuah kertas kecil yang ditempelkan di kaca meja rias kamarku yang bertuliskan, “Selamat atas kelulusanmu. Maafkan eomma. Jaga dirimu. Aku menyayangimu, Seyeon-ah…” Dihari yang sama, aku diam-diam menaruh rasa kesal pada abeoji. Beliau tidak melakukan apapun. Bahkan mereka bercerai tanpa sepengetahuanku. Hubungan kami yang semula tidak begitu dekat menjadi lebih renggang dari sebelumnya. Kami bagaikan dua orang asing dengan marga yang sama, tinggal di satu atap, tanpa bicara satu sama lain. Dan hari ini, abeoji membuat jarak itu semakin jauh. Bahkan ia memberikanku posisi yang sangat menyesakkan dan mengerikan, tepat ditepi jurang.

.

“Beri salam pada mereka, Kang Seyeon. Mulai hari ini kau memiliki seorang saudara perempuan lagi, namanya Kang Seulgi. Dan itu istri ku, Seo Mi Ran …”

.

“Annyeonghaseyo. Selamat datang dirumah ini…” sapaku dengan sopan.

.

“Berapa usia mu, Seyeon-ah?” tanya wanita yang dikatakan abeoji adalah istrinya itu.

.

“Aku 25 tahun”, jawabku singkat.

.

“25? Kau lahir dibulan apa, Seyeon-ah?” tanya nya lagi.

.

“Bulan ke sepuluh…” jawabku malas. Aku harap wanita itu tidak akan menanyakan hal lainnya lagi.

.

“Wah… Ternyata Seulgi menjadi seorang eonni. Seulgi juga berusia 25 tahun, tapi dia lahir bulan Febuari. Aku senang karna akhirnya Seulgi memiliki seorang saudara perempuan. Biasanya ia selalu kesep…..”

.

“Joesonghajiman, jeoneun eonniga itneundeyo. Oppa do isseoyo, Kang Min Hyuk. Jeo-ui eonni ireumeun Kang Seulgi anira, Kang Sora-yeyo (Aku mohon maaf tapi, aku memiliki seorang kakak perempuan. Seorang kakak laki-laki juga ada, Kang Min Hyuk. Dan nama kakak perempuanku bukan Kang Seulgi, tapi Kang Sora). Dan hal itu tidak akan pernah berubah…”

.

“Kang Seyeon! Jaga bicaramu!” seru abeoji padaku.

.

“Waeyo? Aku salah bicara? Aku mengatakan yang sebenarnya, abeoji”.

.

“Seulgi adalah kakakmu, entah kau suka atau tidak”.

.

“Aku punya hak untuk menolaknya. Dia bukan an…..”

.

“Seulgi adalah anak kandungku”, abeoji memotong.

.

“Mwo? Mworagoyo? Katakan sekali lagi…” pintaku.

.

“Kang Seulgi adalah anak kandungku. Kalian memiliki darah yang sama, darahku dalam tubuh kalian. Kau harus menerima kenyataan itu entah kau suka atau tidak, mengerti?”

.

Aku kehabisan kata-kata. Ini adalah moment yang sangat langka dalam hidupku. Hari ini aku berbicara cukup banyak dengan abeoji. Aku begitu terkejut dengan moment ini sampai aku dibuat tidak bisa berkata-kata dengan ucapan yang keluar langsung dari bibirnya. Aku melihat dengan ekspresi bingung bercampur marah dan kecewa pada abeoji. Otakku mencerna ucapannya barusan. Menelaah bagian mana yang sudah ku lewatkan. Sebagian kecil dalam diriku menyangkal ucapan itu, merasa ada yang salah dengan pendengaranku. Tapi otakku memberikan pernyataan yang meyakinkanku bahwa ucapan abeoji yang baru saja ku dengar tidaklah salah. Abeoji benar-benar mengatakan bahwa gadis itu adalah anaknya. Anak kandungnya. Bagaimana bisa? Inikah… inikah yang membuat eomma meninggalkan rumah? Inikah alasannya? Abeoji dan istri baru nya mengatakan gadis itu memiliki usia yang sama denganku, hanya saja ia lahir di bulan Febuari. Itu berarti….. abeoji sudah mengkhianati eomma bahkan sebelum aku lahir. Tapi, mengapa? Mengapa eomma baru meninggalkannya 3 tahun lalu?

.

“Uri eomma, apakah mengetahui nya? Tentang….. dia”, tanyaku terbata.

.

“Sebut namanya, Kang Seyeon! Dia saudara perempuanmu juga!” bentak abeoji.

.

“Jawab saja pertanyaanku, Tuan Kang!”

.

“Kang Seyeon, kau tidak boleh seperti itu pada abeoji”, gadis itu akhirnya bersuara membela ayahnya.

.

“Shut up! Aku tidak bicara padamu!” bentakku pada anak abeoji ku itu.

.

“Kang Seyeon!” seru ibu nya.

.

“Anda tidak memiliki hak berseru pada saya, Nyonya Seo Mi Ran. Anda bukan siapa-siapa dalam hidupku…”

.

“Kang Seyeon! Jaga bicaramu!” bentak abeoji.

.

“Jawab aku, abeoji! Jawab aku…..” seruku dengan napas yang tersisa dalam paru-paruku.

.

“Dia tahu… Lee Jang Mi mengetahui nya 4 tahun yang lalu…” jawab abeoji dengan nada tenang.

.

“Hhh….. daebak….. Jadi maksud abeoji, eomma tidak mengetahui apapun selama 21 tahun? Abeoji hebat sekali… sungguh hebat. Jadi benar dugaanku. Eomma meninggalkanku karena eomma mengetahui keberadaan wanita ini dan anak perempuannya, begitu?”

.

“Kang Seyeon!!!” seru abeoji dan istri nya bersamaan.

.

“Ne. Aku Kang Seyeon. Anak dari Lee Jang Mi yang meninggalkanku disini bersama orang-orang yang tidak memiliki akal sehat dan hati nurani seperti kalian. Kenapa baru sekarang, nyonya Seo Mi Ran? Kenapa baru sekarang anda datang ke rumah ini? Kesempatan anda terbuka lebar 4 tahun yang lalu saat eomma ku meninggalkan rumah. Kenapa baru sekarang? Kalian mengalami kesulitan keuangan? Kalian menginginkan hidup yang layak?”

.

Plakk!!!

.

Kang Seulgi menampar pipi kiri ku dengan sangat keras. Bahkan ibu kandungku dan kakakku tidak pernah melakukan itu padaku. Beraninya gadis ini…

.

“Hhh… bahkan ibu dan kedua kakakku tidak pernah menyakitiku dengan cara apapun. Lihatlah rumah ini. Semua orang berpihak padamu, abeoji. Abeoji senang, bukan? Mulai hari ini abeoji akhirnya bisa bersama dengan wanita dan anak perempuan yang sudah sejak lama sekali abeoji sembunyikan. Sudah tidak ada tempatku lagi dirumah ini. Aku pikir keberadaanku disini akan mengacaukan kebahagiaan itu. Aku akan pergi. Aku tidak akan mengganggu kehidupan kalian…” kataku sambil berbalik hendak meninggalkan mereka. “Dan Kang Seulgi… Apa kau tahu kalau kau baru saja membenarkan perkataanku? Karena jika yang aku katakan salah, kau tidak akan menamparku, anak haram!”

.

“Kang Seyeon!!!”

.

Aku kembali berbalik dan melangkah cepat meninggalkan mereka menuju kamarku. Aku mendobrak pintu kamarku dan mengunci nya. Tanpa berpikir dua kali, aku mengemas semua barang pentingku ke dalam beberapa tas. Setelah selesai akupun keluar dari kamar dengan tas-tas dan tak lupa kunci mobil ditanganku. Aku melangkah cepat keluar dari rumah, mengabaikan suara abeoji yang terus saja memanggil namaku bermaksud menghentikan langkahku. Aku tidak akan berbalik. Seberapa keras ia memanggilku, aku tetap pada pendirianku meninggalkan rumah ini. Akupun masuk ke mobilku, memakai sabuk pengaman, dan segera melajukan mobilku meninggalkan rumah itu. Aku merasakan sesak yang begitu menyiksa di dadaku. Betapa hebatnya pria yang selama ini menjadi ayahku. Ia menyembunyikan semua itu dari keluarganya selama bertahun-tahun. Hal yang lebih mengejutkanku adalah, abeoji memilih wanita itu dan anak perempuannya dibandingkan eomma, aku, Minhyuk oppa dan Sora eonni.

.

.

.

Author’s POV

Keadaan rumah itu tampak baik-baik saja tanpa ada permasalahan sedikitpun. Bahkan Kang Joon Sae tidak memikirkan keadaan anak perempuan termuda dari pernikahannya terdahulu. Sudah dua bulan lamanya Seyeon tidak kembali ke rumah itu. Suasana dalam rumah itu terlihat seperti tidak pernah terjadi apapun. Semua tampak sangat baik-baik saja. Namun akhir pekan terakhir yang menutup bulan September menjadi hari yang membuat suasana rumah itu sedikit dilanda kegugupan. Keluarga dari partner kerja Kang Joon Sae datang mengunjungi rumah itu. Keluarga Cho, pemilik Cho Corp, yang sudah sejak lama menjadi partner kerja sekaligus teman baik dari keluarga Kang, setidaknya selalu rutin berkunjung ke rumah itu setiap beberapa bulan sekali. Tentu saja maksud kedatangan mereka adalah untuk membicarakan perkembangan bisnis mereka dan membahas semua hal yang terjadi di lingkungan kehidupan dan pekerjaan mereka. Cho Young Min, CEO dari Cho Corp datang bersama istrinya, Shin Min Jung, dan anak laki-laki mereka, Cho Kyuhyun. Dan tentu saja, ekspresi datar yang menunjukkan kebingungan muncul diwajah para tamu itu saat melihat Seo Mi Ran dan Kang Seulgi lah yang berdiri mendampingi Kang Joon Sae untuk menyambut kedatangan mereka.

.

“Apa kabar, Cho Young Min… lama sekali kita tidak bertemu…” sapa Kang Joon Sae tenang.

.

“Eo… sudah cukup lama aku tidak berkunjung kesini. Kali ini kira-kira….. sudah 1 tahun? Baru kali ini aku tidak berkunjung untuk waktu yang sangat lama”.

.

“Young Min-ssi, kau tidak ingin memperkenalkan kami dengan dua bidadari yang ada disebelahmu ini?” tanya nyonya Cho dengan nada bercanda, menutupi keterkejutan mereka beberapa waktu yang lalu.

.

“Ah… benar. Aku sampai lupa. Perkenalkan, ini Seo Mi Ran, istriku. Dan ini Kang Seulgi, anakku”.

.

“Annyeonghaseyo, Seo Mi Ran ibnida. Senang bertemu dengan keluarga anda…” sapa Seo Mi Ran ramah. “Seulgi-ya, berikan salam pada keluarga Cho…”

.

“Annyeonghasibnikka, Kang Seulgi ibnida. Senang bertemu dengan Tuan dan Nyonya Cho. Dan…..” ucapan Seulgi terhenti, matanya mengarah pada seorang laki-laki yang duduk disebelah Nyonya Cho.

.

“Cho Kyuhyun ibnida…” kata Kyuhyun singkat.

.

“Kau bisa memanggilnya oppa, Seulgi-ya…” kata Nyonya Cho.

.

Cho Kyuhyun yang mendengar itu melirik ibunya sekilas dengan pandangan tidak suka nya, lalu kembali memalingkan wajahnya. Pembahasan bisnis kedua keluarga itupun dimulai. Tuan Kang dan Tuan Cho sudah larut dalam pembicaraan mengenai proyek-proyek bersama yang sedang mereka tangani. Sementara Nyonya Cho dan Nyonya Kang-yang-baru- sibuk dengan pembicaraan mereka tentang resep-resep masakan yang mereka lihat di sebuah acara televisi. Bagaimana dengan Cho Kyuhyun? Laki-laki itu sudah meninggalkan ruang keluarga rumah itu beberapa saat setelah tatapan tidak suka yang ia berikan pada ibunya. Kyuhyun memutuskan untuk duduk disebuah gazebo kecil dekat kolam renang. Ia menatap langit luas yang membentang dihadapannya, sesekali ia memperhatikan air kolam renang yang terkadang berubah ramai karena terpaan angin. Tiba-tiba seseorang menghampiri nya dan duduk tepat disebelahnya. Kang Seulgi.

.

“Sepertinya kau tipe pendiam yang tidak suka keramaian, Kyuhyun…..oppa”.

.

Kyuhyun menoleh padanya sepersekian detik, lalu kembali menatap langit luas. “Dan sepertinya kau tipe yang mudah berdekatan dengan orang asing…”

.

“Hmm… kau benar. Tapi tidak sepenuhnya. Oppa dan keluarga oppa bukan orang asing di rumah ini. Cho ahjussi dan appa mengenal baik satu sama lain. Appa juga mengatakan hubungannya sangat baik dengan keluarga oppa. Itu berarti, oppa dan keluarga oppa bukan orang asing, bukan?” Seulgi mengatakannya dengan senyuman mengembang pada Kyuhyun.

.

“Benar…”

.

“Geunde… berapa usia oppa?” tanya Seulgi.

.

“26 tahun…” jawab Kyuhyun singkat.

.

“Jinjja? Wah… kita hanya berbeda 1 tahun rupanya. Untunglah kau lebih tua dariku… jadi aku bisa memanggilmu oppa…”

.

Ekspresi wajah Kyuhyun berubah saat mendengar ucapan Seulgi barusan. Keningnya bekerut seolah ia sedang berpikir dan berkalkulasi dengan otak cerdasnya. Tidak lama kemudian ekspresi Kyuhyun kembali seperti semula. Datar dan dingin.

.

“Jeogi….. oppa…”

.

“Hmm…”

.

“Karena hubungan keluarga kita sangat dekat, bolehkah aku mengetahui nomor ponselmu?”

.

“Untuk apa?” tanya Kyuhyun dengan nada ketusnya.

.

“Bukankah appa bilang kita bukan orang asing bagi satu sama lain? Jika bukan orang asing, tentu tidak masalah bukan kalau kita saling bertukar nomor ponsel?” tanya Seulgi lagi.

.

“Ani. Keluarga Kang memang bukan orang asing bagiku. Kau yang asing. Dan aku tidak pernah memberikan informasi pribadi apapun pada orang asing. Maaf.”

.

“Wae? Kenapa begitu? Kita kan sudah berkenalan tadi. Jika oppa mau kita tidak asing satu sama lain, bukankah lebih baik kalau kita saling mengenal dan berteman? Dengan itu kita tidak akan lagi menjadi asing, bukan?”

.

“Dengar, Kang Seulgi. Perkenalan kita tadi adalah dasar kesopanan yang harus aku lakukan. Jangan melewati batasmu. Dan satu hal lagi, aku tidak suka berhadapan dengan orang yang agresif. Jadi sekali lagi ja…..”

.

“Sekali lagi mwo?” tanya seseorang dari kejauhan.

.

Nyonya Cho dan Nyonya Seo Mi Ran datang menghampiri mereka. Seulgi pun tersenyum lebar pada kedua wanita paruh baya itu. Kyuhyun yang merasakan suasana tidak enak itupun bangkit dari tempatnya duduk, bermaksud meninggalkan tempat itu.

.

“Eomma, aku memiliki janji dengan seseorang. Sepertinya aku harus pergi”, kata Kyuhyun pada ibunya.

.

“Kyuhyun-ah, kenapa terburu-buru? Tidak bisakah dilain hari?” tanya Nyonya Cho.

.

“Eomma, seorang laki-laki tidak boleh mengingkari janji nya, bukan? Eomma sendiri yang mengatakan itu padaku”, jawab Kyuhyun.

.

“Arasseo… arasseo… eomma selalu kalah jika beradu argument dengan mu. Ya sudah, pergilah… Jangan lupa minta izin pada appa mu”.

.

“Ne… ah, bibi Seo, maaf karena aku harus pergi lebih awal. Senang bertemu dan berkenalan dengan anda. Kita bertemu lagi lain waktu”, kata Kyuhyun sopan pada Seo Miran.

.

“Geurae… geurae… hati-hati dijalan…”

.

Kyuhyun memberikan hormatnya pada Seo Miran dan berlalu meninggalkan mereka.

.

“Bibi, Kyuhyun oppa sangat keren. Bibi sangat beruntung…” kata Seulgi pada Nyonya Cho.

.

Nyonya Cho hanya tertawa kecil mendengar pujian Seulgi, namun memandang arah berjalan Kyuhyun dengan tatapan khawatir. Sementara itu, Kyuhyun sudah sampai di ruang keluarga untuk berpamitan dengan Tuan Kang dan ayahnya.

.

“Maaf mengganggu kalian. Appa, samchon, aku harus pergi. Aku sudah memiliki janji dengan seseorang…” kata Kyuhyun menjelaskan.

.

“Secepat ini? Ya… Kyuhyun-ah, kau bahkan belum berbincang-bincang denganku…” kata Kang Jun Sae.

.

“Mianhaeyo, samchon. Hari ini aku benar-benar tidak bisa. Kita bisa berbincang-bincang tentang banyak hal tiga hari lagi. Ulang tahun Seyeon, ingat? Aku pasti akan datang, samchon. Samchon tidak perlu khawatir…”

.

“Ah, benar… ulang tahun Seyeon jatuh dihari selasa. Aku hampir saja lupa, Jun Sae-ah. Tahun ini akan dirayakan dimana? Kau pasti sudah mulai bersiap, bukan? Ada yang perlu aku bantu?” tanya Tuan Cho.

.

“Ah… tidak tidak. Kau tidak perlu repot-repot, Young Min-ah. Kami sudah mempersiapkan semua hal… Kemungkinan akan diadakan di ballroom Hotel Sky. Aku tunggu kau disana, Kyuhyun-ah…” jawab Tuan Kang dengan perubahan di nada bicara nya.

.

“Ne! Tentu saja, samchon. Ja, aku mohon izin. Selamat melanjutkan rapat kalian…”

.

“Hati-hati mengemudi, Kyuhyun-ah…” pesan Tuan Kang pada Kyuhyun. “Emm… Young Min-ah, sepertinya aku harus ke kamar kecil sebentar”.

.

“Eo… geurae geurae…”

.

Tuan Kang meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya. Ia berjalan kesana-kemari dalam kamarnya. Diam-diam ia merutuki dirinya sendiri karena melupakan ulang tahun putri termuda nya itu. Kali ini ia tidak bisa lagi menghindar dari permasalahannya. Ia mungkin bisa menutupi masalah yang terjadi dalam keluarganya, tapi tidak dari keluarga Cho. Ia pun sudah terlanjur mengiyakan adanya perayaan ulang tahun bagi Seyeon. Bagaimana ia bisa membuat perayaan itu jika ia bahkan tidak mengetahui keberadaan tokoh utama dari acara itu. Kemudian ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menekan tombol hijau di layar ponselnya. Setelah beberapa saat menunggu tersambungnya telepon itu, akhirnya seseorang diseberang telepon menerima panggilan itu. Namun tidak satupun kata ia dengar. Si penerima memutuskan untuk diam menunggu kata-kata yang keluar dari Kang Jun Sae.

.

“Seyeon-ah….. abeoji harap kau akan datang hari rabu di Hotel Sky pukul 7 malam. Bagaimanapun keadaannya, kau tetap anakku. Aku tidak mungkin melewatkan pertambahan usia mu begitu saja. Datanglah, Seyeon-ah…”

.

“Untuk apa?” tanya gadis itu akhirnya. “Untuk menyelamatkan image abeoji dari semua orang? Untuk menutupi keadaan sebenarnya dari keluarga yang berantakan ini? Untuk apa, abeoji?”

.

“Benar. Untuk menjaga image. Tapi bukan image ku, melainkan image keluarga besar kita yang dikenal banyak orang. Paling tidak lakukan itu untuk leluhurmu, Kang Seyeon”.

.

Tuan Kang memutuskan sambungan telepon itu tanpa mendengar kata lain dari Seyeon. Perasaannya bercampur aduk. Ia merasa sangat kesal dan juga menyesal. Ia memang bukan orang yang baik bagi mantan istrinya, tapi ia tidak ingin menjadi ayah yang jahat bagi putri kesayangan nya itu. Sayangnya sampai saat ini ia tidak bisa mengungkapkan rasa sayangnya pada Seyeon.

.

.

.

Hari Ulang Tahun Seyeon

Hari yang menegangkan bagi Tuan Kang pun datang. Setelah melakukan persiapan kilat, akhirnya acara yang rutin dilakukan setiap tahun itu berhasil dibuat. Namun ketegangan Tuan Kang belum berakhir. Karena sampai pintu ballroom resmi dibuka, keberadaan Seyeon belum juga diketahui. Ponsel Seyeon dimatikan, pengawal keluarga Kang yang telah dikerahkan pun belum berhasil melacak keberadaan Seyeon. Saat ini sudah pukul 7.58, sudah hampir satu jam dari jadwal dalam undangan yang disebarkan, dan Seyeon belum juga hadir disana. para tamu undangan sudah hampir sepenuhnya hadir. Bahkan Keluarga Cho sudah berada disana sejak 45 menit yang lalu. Seketika ekspresi wajah Tuan Kang berubah masam, namun sesekali ia tutupi dengan senyum tipis saat menyapa tamu. Disebuah sudut ruangan, tampak Seulgi dengan gaun berwarna salem-nya kembali berusaha mendekati Kyuhyun yang sedang menenggak wine nya.

.

“Oppa, annyeonghaseyo… kita bertemu lagi. Oppa datang sendiri?” tanya Seulgi.

.

“Tentu saja tidak. Aku datang bersama kedua orang tua ku…”

.

“Kalau itu aku tahu. I mean….. your date for this party”.

.

“Kau melihat seseorang datang bersama ku?” tanya Kyuhyun.

.

“Tidak… Tidak satupun”.

.

“Kalau kau tidak melihat satupun, untuk apa kau bertanya lagi, Kang Seulgi?” tanya Kyuhyun dingin.

.

“Hmm… aku hanya memastikan saja. Agar aku tidak salah mengambil keputusan…”

.

“Dan keputusan yang kau maksud adalah?” tanya Kyuhyun.

.

“Aku tidak mungkin mengatakannya pada oppa. Aku akan sangat malu jika oppa mendengar nya langsung dari bibirku…” jawab Seulgi dengan wajah merahnya.

.

“Kau bersenang-senang, Cho Kyuhyun?” tanya sebuah suara yang berasal dari belakang Seulgi.

.

“Akhirnya kau datang juga… Aku sudah menunggumu sejak tadi” kata Kyuhyun dengan senyum mengembangnya.

.

Seulgi terkejut saat melihat senyuman mengembang dengan mudah diwajah Kyuhyun. Seulgi pun penasaran dengan sumber suara yang meregangkan saraf wajah Kyuhyun yang selalu kaku jika berbicara dengannya.

.

“Jangan membohongiku, Cho Kyuhyun. Kau tidak terlihat sedang menunggu ku…”

.

Belum sempat Seulgi menoleh, pemilik suara itu sudah menghampiri mereka. Seorang gadis dengan postur yang tidak asing melewati Seulgi, berjalan kearah Kyuhyun. Gadis itu menggunakan black dress dengan bahu terbuka dan potongan slim yang membentuk tubuh S-line nya. Rambut hitamnya di sanggul ala French Twist. Tubuh 167 cm gadis itu terlihat serasi dengan bantuan stiletto 12cm nya saat berdiri bersama Kyuhyun. Belum juga melihat wajah gadis itu, Seulgi sudah dibuat iri setengah mati dengan keberadaan gadis itu. Di detik setelahnya jantung Seulgi seolah berhenti saat Kyuhyun menarik tubuh gadis itu mendekat hingga jatuh ke pelukannya kemudian mendaratkan kecupan singkat di pipi kanan gadis itu. Tidak hanya itu, kini kaki Seulgi dibuat lemas saat gadis itu merangkulkan tangannya di leher Kyuhyun lalu keduanya berpelukan dengan sangat erat. Bahkan Kyuhyun mengecup bahu gadis itu, seolah menghirup aroma memikat gadis itu dalam-dalam. Seulgi tanpa sadar berdeham pelan, membuat adegan romantis di hadapannya berakhir. Gadis bergaun hitam yang membuat tubuh Seulgi melemas itu pun melepaskan rangkulannya pada Kyuhyun dan berbalik menghadap si pelaku dehaman. Jantung Seulgi kembali dibuat berhenti saat ia melihat siapa gadis yang telah mematahkan hatinya itu.

.

“K…Ka……Kang…… Kang Seyeon?”

.

“Kita bertemu lagi, Kang Seulgi. Ada apa dengan wajahmu? Kau tampak kurang baik malam ini. Memiliki masalah dengan hidup barumu?” tanya Seyeon.

.

“Ka….kalian? Apa hubunganmu dengan Kyuhyun oppa?” tanya Seulgi.

.

“Oppa? Johgetda, Cho Kyuhyun… akhirnya keinginanmu untuk dipanggil oppa terwujud. Walaupun bukan oleh Kang Seyeon, tapi oleh Kang Seulgi. Rasanya tidak jauh berbeda, bukan? Tentu saja… kami kan bersaudara. Benar kan, eonni?” tanya Seyeon yang menekankan kata eonni pada Seulgi.

.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Kang Seyeon…” kata Seulgi dengan wajah kesalnya.

.

“Pertanyaan? Ah… hubunganku dengan Cho Kyuhyun? Dia tidak memberitahu mu? Benarkah? Kau keterlaluan, Cho Kyuhyun… Kau bahkan bercerita akhir pekan lalu kau mampir ke rumah dan berkenalan dengan Seulgi eonni. Kau tidak mengatakan apapun padanya? Kau tidak seharusnya membuat eonni ku terkejut seperti ini. Walaupun Seulgi eonni bukan kakak kandungku, tapi dia juga keluarga, Kyuhyun-ah… Seulgi eonni harus tahu tentang tunangan adiknya…”

.

“Tunangan?” Seulgi mengulang kata itu bagaikan sebuah pertanyaan.

.

“Sudah ku katakan kan padamu kalau keluarga kita sangat dekat? Aku dan Seyeon saling mengenal sejak kami masih bayi. Sampai akhirnya 5 tahun yang lalu aku dan Seyeon bertunangan. Aku sudah berkali-kali memintanya menikah denganku, tapi aku masih harus menunggu paling tidak 1 atau 2 tahun lagi untuk mewujudkannya. Nappeun gijibae…” jawab Kyuhyun.

.

“Kau sudah memiliki segala nya, Cho Kyuhyun. Hanya sebuah upacara pernikahan saja yang belum terpenuhi. Bersabarlah sayang…” balas Seyeon.

.

“Aigoo… Akhirnya calon menantuku yang cantik ini datang juga. Kau tahu sudah berapa lama kami menunggu mu?” tanya sebuah suara menghampiri mereka. Nyonya Cho.

.

“Mianhaeyo, eomeoni. Ada beberapa hal yang masih harus aku kerjakan di kantor sore tadi. Mianhaeyo…”

.

“Gwaenchanha… Yang terpenting aku sudah melihatmu. Aku sangat merindukanmu, anak perempuanku yang manis… Semoga Tuhan selalu melindungi mu. Semoga kau juga selalu diberikan kesabaran dan keberuntungan. Terutama saat menangani anak laki-laki ku yang nakal ini…” kata Nyonya Cho.

.

“Gomawoyo, eomeoni…” kata Seyeon sambil memeluk erat Nyonya Cho.

.

“Ja… ini hadiahmu dari ku dan suamiku…”

.

“Eomeoni… tidak perlu repot memberiku hadiah. Kehadiran kalian disini saja sudah merupakan hadian untukku…”

.

“Aniya… hadiah ini sudah kami persiapkan sejak lama untukmu. Kami baru bisa memberikannya hari ini karena kau genap berusia seperempat abad, dan sudah 5 tahun bertunangan dengan Kyuhyun. Tapi, maafkan aku, karena kau harus berbagi hadiah ini dengan Kyuhyun”.

.

“Ne? Berbagi dengan Kyuhyun? Aku jadi penasaran, eomeoni. Bolehkah aku buka hadiah ini?” tanya Seyeon.

.

“Tentu saja, sayang. Bukalah…”

.

Seyeon langsung membuka kotak kecil berwarna perak yang ada ditangannya itu. Dalam pikiran Seyeon terbersit beberapa kemungkinan isi kotak itu. Cincin, kunci mobil, atau gelang? Seyeon hanya tersenyum membayangkan kemungkinan itu. Seyeon pun terkejut saat kotak itu sudah terbuka. Dugaannya salah, ternyata kotak itu berisikan sebuah kartu dan kertas kecil berwarna pastel. Seyeon membuka kertas itu terlebih dahulu. Ia menemukan 5 angka kombinasi yang bertuliskan ‘021035’. Seyeon menatap Nyonya Cho seolah bertanya apa maksud dari kombinasi angka itu. Seolah mengetahui arti tatapan Seyeon, Nyonya Cho pun tersenyum padanya dan membelai pipi nya lembut.

.

“Kombinasi angka kalian. 02 untuk bulan kelahiran Kyuhyun. 10 untuk bulan kelahiranmu. 3 untuk tanggal kelahiran kalian berdua, sekaligus menandakan tanggal 3 kelima kalian tahun ini. Password apartemen”, Nyonya Cho membisikkan kalimatnya yang terakhir dengan sangat pelan, hingga hanya Seyeon saja yang mendengarnya.

.

“Ne? Apartemen?” Seyeon benar-benar kaget saat mendengarnya.

.

“Itulah mengapa aku meminta maaf karena kau harus membaginya dengan Kyuhyun, sayang. Apartemen milik kalian berdua. Hadiah sebelum pernikahan…”

.

“Bukankah itu apartemen yang sama dengan milikku? Untuk apa eomma membeli di tempat yang sama?” tanya Kyuhyun heran.

.

“Bagaimana bisa kau membandingkan pemberian ku dengan apartemen mu itu, Cho Kyuhyun? Tentu pemberian ku memiliki kelebihannya sendiri. Seyeon-ah… jangan khawatir. Pemberian ku tidak sama dengan milik Kyuhyun. Apartemen itu dua lantai. Dan lantai kedua nya….. sampai ke rooftop. Seluruh rooftop kini milik mu”, jelas Nyonya Cho dengan senyuman nya pada Seyeon.

.

“Jeongmalyo? Aigoo eotteokhae….. Aku sangat menyukai rooftop gedung itu. Eomeoni, neomu neomu gomawoyo… Aku sangat tersentuh dengan hadiah eomeoni dan abeonim. Inikah alasan Kyuhyun tidak mendapatkan hadiah ulang tahunnya Febuari lalu?” tanya Seyeon.

.

“Kau selalu menduga dengan tepat, Seyeon-ah. Tapi Kyuhyun sudah mendapatkan hadiahnya saat itu”, jawab Nyonya Cho.

.

“Kyuhyun sudah melihat hadiah ini sebelumnya?” tanya Seyeon sedikit terkejut.

.

“Ani… Hadiahku saat itu adalah izin untuk selalu bersama mu…” bisik Kyuhyun pada Seyeon.

.

“Mwoya???”

.

“Ya Kang Seyeon… Kau tidak menyukai nya? Aku barusan mengatakan ‘selalu’, benar-benar selalu…”

.

“Jeongmal gomawoyo, eomeoni…” kata Seyeon dengan senyuman mengembang di wajahnya. “Geundaeyo, eomeoni… sebenarnya…..”

.

“Ya Kang Seyeon! Hajima…” sela Kyuhyun.

.

“Ani….. eomeoni sudah memberikan hadiah besar ini, aku tidak mungkin terus menyembunyikannya, Cho Kyuhyun”.

.

“Kalian menyembunyikan sesuatu dariku? Sudah sebesar ini kalian masih saja senang menyimpan rahasia dariku rupanya. Katakanlah, Seyeon-ah… kau tidak perlu khawatir. Kau tahu betul aku tidak pernah marah padamu”, kata Nyonya Cho yang membuat ekspresi wajah Seulgi bertambah kesal.

.

“Sebenarnya….. selama dua bulan terakhir ini kami sudah tinggal bersama, eomeoni…” bisik Seyeon.

.

.

Flashback 2 bulan yang lalu…

.

Seyeon mengendarai mobilnya keluar dari rumah tanpa tujuan. Ia berusaha dengan sisa tenaganya untuk menahan amarah dan air mata yang mendesak mengalir dari matanya. Setelah ia merasa cukup jauh dari rumah, ia menghentikan mobilnya. Ia keluar dan menuju ke sebuah convenience store untuk membeli beberapa kaleng soda sebagai penenang emosi nya. Ia duduk disebuah bangku disana dan menenggak minumannya. Pikirannya seolah buntu. Ia tidak memiliki tujuan. Sempat terbersit dipikirannya untuk naik pesawat terakhir menuju US atau Jerman menyusul kedua kakaknya. Tapi hal tersebut pasti tidak akan mungkin bisa ia lakukan, karena ayahnya pasti saat ini sedang berusaha melacak keberadaannya. Akhirnya hanya satu nama yang melintas di kepalannya. Seyeon mengeluarkan ponsel dari saku coat nya dan menekan tombol nomor milik seseorang.

.

Eo, Seyeon-ah… Kau belum tidur? Tidak biasanya… Ada apa? Kau merindukanku?

.

“Kyuhyun-ah…..”

.

Kang Seyeon… Ada apa? Kenapa suara mu terdengar sangat sedih?

.

“Aku pergi dari rumah… Aku tidak tahu harus kemana. Aku membawa passport ku, mungkin aku bisa menemui Sora eonni atau Minhyuk oppa. Tapi meninggalkan Negara ini sekarang sangatlah tidak mungkin. Apa yang harus aku lakukan, Cho Kyuhyun? Bantu aku…..”

.

Neon eodiya?

.

“Aku….. aku tidak tahu. Aku mengemudi tanpa arah. Aku takut, Cho Kyuhyun…”

.

Arasseo… Aku akan melacak mu. Jangan pergi kemana pun. Masuk kedalam mobilmu, nyalakan mesin dan AC nya, kunci pintunya. Tunggu disana sampai aku datang. Kau mengerti?

.

“Arasseo… ppalli wa…”

.

Tiga puluh lima menit kemudian Kyuhyun tiba ditempat Seyeon berada. Kyuhyun menaiki sebuah taksi untuk sampai kesana. Segera setelah Seyeon memastikan Kyuhyun-lah yang ia lihat, ia mematikan ponselnya agar tidak bisa dilacak oleh ayahnya dan membuka kunci pintu mobilnya. Kyuhyun menghampiri Seyeon yang duduk di kursi samping kemudi. Seyeon membuka pintu mobilnya dan menghambur ke pelukan Kyuhyun. Napasnya terengah seperti baru saja melakukan lari marathon. Kyuhyun mengecup puncak kepala Seyeon dan membelai punggungnya untuk menenangkannya. Kyuhyun melangkahkan kakinya, membawa Seyeon kembali ke tempat duduknya, masih dalam keadaan Seyeon berada di pelukannya.

.

“Sudah… Jangan takut. Aku disini bersama mu…” kata Kyuhyun menenangkan.

.

“Aku….. Aku terlalu marah padanya, Kyuhyun-ah. Aku tidak bisa menerima keadaan dirumah itu lagi. Aku tidak tahan tinggal bersama abeoji. Aku… aku….. aku tidak tahu harus melakukan apa”.

.

“Gwaenchanha… Malam ini kau boleh melupakannya. Tidak perlu kau pikirkan. Kau akan baik-baik saja… Sekarang beritahu aku, kau ingin pergi kemana?” tanya Kyuhyun.

.

“Kemanapun… Asal kau bersamaku…”

.

Kyuhyun pun melepaskan pelukannya dan mengecup kening Seyeon sekilas. Kyuhyun memasukkan kaki Seyeon ke mobil dan menutup pintunya. Lalu Kyuhyun masuk ke mobil dan mengambil alih kemudi. Ia melajukan mobil itu ke sebuah gedung apartemen elit di Seoul. Setelah mobil Seyeon terparkir di sebelah mobilnya, ia membawa Seyeon beserta kopernya keluar dari mobil. Kyuhyun merangkul bahu Seyeon lembut dan mengajaknya masuk ke dalam lift lalu memasukkan kartu apartemen miliknya ke sebuah slot kartu tepat disamping pintu lift. Kartu itulah yang akhirnya membawa mereka ke lantai dimana apartemen Kyuhyun berada. Lantai 8. Pintu lift terbuka dan terpampanglah bagian depan apartemen Kyuhyun. Ia hanya perlu memasukkan kombinasi angka password pintu utama nya sebelum bisa benar-benar masuk ke dalam.

.

“Apartemen ini selalu siaga menerima kehadiranmu kapanpun, Kang Seyeon. Bagaimana bisa kau berpikir tidak ada tempat bagimu dimanapun di kota Seoul?” kata Kyuhyun masih dengan Seyeon dalam rangkulannya.

.

Seyeon melepas rangkulan Kyuhyun lalu memeluk erat tubuh laki-laki yang sudah bersama nya sejak ia masih sangat kecil itu. “Aku tidak akan ditinggalkan sendiri disini, bukan?” tanya nya pelan.

.

“Tidak. Aku akan selalu bersama mu. Seperti keinginanmu…”

.

Flashback end…

.

.

“Eomeoni tidak marah padaku kan?” tanya Seyeon masih dengan suara pelan pada Nyonya Cho.

.

“Tentu saja tidak, sayangku… Apa aku harus tetap merahasiakan ini dari ayahmu?” tanya Nyonya Cho.

.

“Ne… Aku mohon, eomeoni”, pinta Seyeon.

.

“Baiklah, sayang. Kau tidak perlu khawatir. Lagipula mulai hari ini kalian bisa tinggal disana tanpa merahasiakannya lagi”, kata Nyonya Cho dengan senyum lembut keibuannya.

.

“Terima kasih banyak, eomeoni…” kata Seyeon sambil menghambur ke pelukan Nyonya Cho.

.

“Kau tidak perlu berterima kasih, Seyeon-ah… Kau juga putriku…”

.

Setelah pelukan antara Seyeon dan Nyonya Cho terlepas, Seyeon kembali pada Kyuhyun. Kini Seyeon kembali memeluk erat tubuh tinggi tunangannya itu. Seyeon menempelkan hidungnya pada tulang selangka Kyuhyun yang tertutup jas dan kemeja.

.

“Apa ini, Kang Seyeon? Kau memelukku begitu erat. Sekarang kau sudah mencintaiku?” tanya Kyuhyun menggoda Seyeon.

.

“Aku tidak pernah bisa menjauhkan diriku darimu, Cho Kyuhyun. Kau bagian dari sumber kehidupanku. Kau tahu itu, kan?”

.

“Hhh… disaat seperti ini kau tetap saja tidak mau mengakuinya. Kau tetap Seyeon yang dingin. Beberapa menit yang lalu kau tersenyum sumringah pada eomma ku. Aku pikir kau akan melembutkan sikapmu juga padaku. Kurangi lah sikap dingin mu padaku, Kang Seyeon…”

.

“Kau ingin aku selalu tersenyum, banyak bicara, dan mengejarmu seperti Kang Seulgi? Aku akan melakukannya jika kau mau”.

.

“Tidak. Tetaplah menjadi Seyeon ku. Aku tidak butuh yang lain”, jawab Kyuhyun singkat sambil mengeratkan pelukannya.

.

“Baiklah. Sesuai dengan keinginanmu…”

.

“Aku mencintaimu…”

.

“Aku tahu. Itulah salah satu alasan kenapa aku tetap bersamamu”.

.

Sementara itu dikejauhan, Kang Seulgi sudah meninggalkan tempat dengan segala drama keluarga bahagia yang diciptakan oleh Nyonya Cho, Kang Seyeon dan Cho Kyuhyun itu. Seulgi menghampiri ibunya dan menceritakan semua hal yang ia dengar. Kemudian Seo Mi Ran memberikan kode pada seseorang yang di detik berikutnya datang menghampiri mereka. Ia adalah seorang wanita dengan pakaian casual serba hitam yang diketahui adalah asisten pribadi Seo Mi Ran yang dipekerjakan sejak dua bulan yang lalu. Namanya Kim Dasom.

.

“Nona Dasom, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kau memiliki option yang menarik?” tanya Seo Mi Ran.

.

“Saya memiliki dua buah pilihan, nyonya. Pertama, kita lakukan cara lembut, yaitu dengan mendekati Kang Seyeon, membuatnya percaya bahwa anda dengan tulus menyayangi nya tanpa mengharapkan apapun, dan membuatnya menyerahkan seluruh asset yang diwariskan padanya dengan sukarela sebelum pernikahan dengan Cho Kyuhyun terjadi. Atau anda memiliki pilihan kedua, yaitu tidak lain dengan menyingkirkannya secepat laju kereta express di Tokyo. Pilihan kedua terdengar lebih mudah, nyonya. Karena sebelumnya pilihan itu sudah berhasil kita lakukan dengan baik”, kata Kim Dasom.

.

“Pilihan yang menarik…” Seo Mi Ran merespon.

.

“Aku mau pilihan kedua. Aku tidak tahan lagi melihat Kang Seyeon memiliki semua hal yang dia inginkan”, sambung Seulgi cepat.

.

“Tidak, sayang… Itu akan menjadi kurang menarik jika dia menghilang begitu saja. Bukankah lebih menyenangkan melihatnya tersakiti secara perlahan? Lagipula, kau tidak bisa membuat Cho Kyuhyun berpaling padamu secepat itu. Kau tidak memiliki hatinya bertahun-tahun seperti aku memiliki hati ayahmu. Paling tidak kau harus berusaha merebut Cho Kyuhyun terlebih dahulu, bukan? Kita lakukan pilihan pertama. Jika terlalu lama dan anak itu masih bersikeras, kita bisa melakukan pilihan kedua. Pergilah, nona Kim. Malam ini kita biarkan saja tuan putri malang itu menikmati pesta nya. Kebahagiaan nya tidak akan berlangsung lama…” jelas Seo Mi Ran pada Dasom dan Seulgi.

.

“Baik, nyonya”, kata Kim Dasom yang segera meninggalkan Seo Mi Ran dan Kang Seulgi.

.

“Apa eomma yakin rencana itu akan berhasil? Aku tidak suka kegagalan, eomma. Cho Kyuhyun harus menjadi milikku”, kata Seulgi.

.

“Kau tidak lihat apa yang sudah kita capai sekarang? Semua ini bukan hasil dari kegagalan, anakku. Rencana kita akan berhasil sekali lagi. Kau tidak perlu khawatir”, jawab Seo Mi Ran.

.

Keduanya saling memandang. Kang Seulgi merangkul ibunya dan meletakkan kepala nya di bahu ibunya. Keduanya kembali memerankan tokoh ibu dan saudara tiri yang ikut merasakan kebahagiaan Kang Seyeon. Hingga tanpa mereka sadari, seseorang tidak jauh dari tempat mereka berdiri telah mendengar semua pembicaraan mereka.

.

.

.

TBC

.

Note:

Filosofi judul ff ini: When the Wind Blows atau dalam bahasa Indonesia berarti “Ketika Angin Berhembus”. Kata angin dalam judul ff ini tidak diartikan secara harfiah seperti angin pada umumnya. Ada banyak jenis angin. Ada banyak juga arah angin itu berhembus. Intensitas dan frekuensi angin juga berbeda-beda. Secara sederhana, angin yang kita ketahui berbeda-beda. Angin dalam ff ini diartikan sebagai permasalahan, kejadian, peristiwa, yang terjadi dalam alur cerita. Banyak hal yang bisa menjadi pertanyaan dibalik arti dari judul ff ini. Apa yang terjadi ketika angin berhembus? Apa yang menyebabkannya? Apa jenis angin yang sedang berhembus itu? Apa akibat dari angin itu? Bagaimana cara untuk menghindari angin itu? Bagaimana mengatasi hal-hal yang terjadi saat angin yang tidak diinginkan sedang berhembus? Kisah ini menceritakan tentang Kang Seyeon yang berusaha menghadapi angin tersebut dengan semua hal yang bisa ia lakukan. Semoga cerita dalam ff ini tidak mengecewakan para readers 🙂

Advertisements

23 thoughts on “When the Wind Blows Part 1

  1. Omg kang seulgi dan keluarganya serrigala berbulu domba.semoga saja rencana mereka tidak berjalan mulus.siapakah yg mendengarkan percakapan mereka?apakah tg akan terjadi sama kang seyeon?

    Like

  2. omo..benci aku sama seulgi -_- entah kenapa kalo denger nama kata seulgi bawaannya kesel terus *perannya selalu antogonis jga sih jadi udah tau karakternya 😁* aaa hati2 seyeon,jangan sampe kyuhyun-seyeon berpisah…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s